You are on page 1of 96
PEDOMAN PENANGGULANGAN KLB - Dep BAG! KEPERAWaTAN DI RS DAN PUSKESMag KATAPENGANTAR Demam Berdarah Dengue merupaken salah satu penyakit yang hampir selalu menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, dan setiap tahun selalu ada serta cenderung meningkat jumlahnya. Melihat kecenderungan tersebut, maka penanganan terhadap demam berdarah dengue membutuhkan penanganan yang komprehensif, melibatkan upaya pencegahan dan penanggulangan yang efektif, efisien, terarah dan terpadu, baik lintas sektor maupun lintas program, termasuk dengan melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat. Pelayanan keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatanan, hendaknya terlibat secara aktif dan dapat berkontribusi secara maksimal dalam upaya pencegahan dan penanggulang tersebut. Terkait dengan penanggulangan KLB DBD Untuk dapat mendukung upaya dimaksud, maka dirasa perlu menyediakan buku Pedoman Penanggulangan KLB-DBD bagi Perawat di Rumah Sakit dan Puskesmas. Buku ini disusun melalui Pokja dan uji coba terhadap konten di sembilan (9 ) Propinsi terpilih yeitu, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Kalbar, Bali, NTB, Sulsel, Kalteng dan Jateng,dimana setiap propinsi diwakili oleh satu rumah sakit dan satu puskesmas, dan penyempurnaan pedoman ini disusun atas Kontribusi berbagai pihak. Dengan diterbitkannya buku pedoman ini diharapkan perawat dapat berkontribusi maksimal dan dapat melaksanakan peran dan fungsinva dalam penanggulangan KLB-DBD serta buku pedoman ini diharapkaii dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya dan digunakan sebagai pedoman kerja bagi perawat baik di rumah sakit maupun di puskesmas. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang terlibat dalam peyusunan buku pedoman ini , kritik dan saran yang membangun selalu kami harapkan untuk penyempumaan buku pedoman ini dimasa yang akan datang Jakarta, Desember 2006 Direktur Dinas Pelayanan Keperawatan Dr. Mulya. A. Hasimy, SpB, M.Kes. NIP : 140 099 269 DAFTAR ISI Kata Pengantar ... Daftar Isi ... Tim Penyusun Kontributor. BAB I, PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I... i Tujuan ill, Sasaran IV. Dasar Hukum BAB Il. GAMBARAN UMUM KLB 1, Definist .... I. Kriteria KLB ll. Jenis Penyakit yang Menimbulkan IV, Penyelidikan dan Penanggulangan KLB BAB Ill, PERAN DAN FUNGS! PERAWAT |, Peran dan Fungsi Perawat ... ll. Kompetensi Keperawatan KLB-DBD .. BAB IV. (Kejadian Luar Biasa - Demam Berdarah Dengue) 1. Pengertian I, Etiologi Ill. Patogenesis . IV. Tatalaksana Kasus .. BAB V. ASUHAN KEPERAWATAN DBD |. Kerangka Kerja Perawat .. Il. Asuhan Keperawatan Individu ..... Ill, Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Masalah Demam Derdarah Dengue .... BABVI. PENCATATAN DAN PELAPORAN ... BAB Vil. PENUTUP .... GLOSARIUAM ..... LAMPIRAN .. DAFTAR PUSTAKA RON= NxrOa 2. PNOREYNS TIM PENYUSUN Dra. Herawani, M Kes, M Kep Rasmanawati, S Kp, MM Saida Simanjuntak, S Kp, MARS Noor Kinteki, SKM, MPH Ida Suaedah, S Kp Rukiah Siregar, S Kp Ucu Djuwitasari Roswhita Sitompul, § Kp, M Kes Pastina Sihotang,S Kp, M Kes 10. Dini Rahmadian DR, S Kp, MHSM 11. Zolaina, SKM, MPHM PNOTeons 2 10, at, 12. 13. 1 15. - KONTRIBUTOR (Nama disusun berdasarkan abjad) Adiningtyaswati, S Kp (RSLTD Pasar Rebo ) Atiyah, S Kp, M Kes (SUD Tarakan, Jakarta) Dewi Mismarita, Dr ( Puskesmas Jagakarsa, Jakarta Selatan) Desmawati, S Kp ( RSU Fatmawati ) Dita Novianti ( Subdit Obat Publik dan Bek Kes, Ditjen Yanfar) Eko Priyono, Dr, M Kes ( Subdit Surveilens, Ditjen P2PL ) Endang Achadiat (Subdin Gadar dan Bencana, Dinkes Prop DK! Jakarta) Herindiati, Dr ( Puskesmas Pulo Gadung, Jakarta Timur ) H Sirait, Drs, MARS ( Ditjen Yanmedik dan Gigi Dasar ) Irawan A ( Ambulance Gawat Darurat 11 8 ) Iriani Samad, Dr ( Subdit Arbovirosis, Ditjen P2PL) Lilik Agusdiana, S Kp ( RSU Dr Cipto Mangunkusumo) Maryati Yusra ( RSUD Budiasih, Jakarta) Tjetiep Ali Akbar, Dr, M Kes ( PPMK Setjen Depkes) Wahyu Wulandari, S Kp (PPNI) BABI PENDAHULUAN L Latar Belakang Indonesia sebagai negara beriklim tropis, terdiri dari kota dan desa baik rawa atau pantai, berpenduduk padat, mobilitas penduduk tinggi, kondisi sanitasi masih kurang baik, pendidikan masyarakatnya secara umum relatif masih rendah, serta kemiskinan mengakibatkan timbulnya beberapa masalah kesehatan. Masalah kesehatan ini dapat mengancam individu maupun masyarakat luas. Masalah kesehatan yang mengancam masyarakat luas yang menimbulkan kejadian kesakitan atau kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu disebut KLB ( Buku Petunjuk Laporan KLB dan Wabah, Dit. Jen PPM & PLP. DepKes th 1985). Beberapa jenis penyakit yang sering menyebabkan timbulnya KLB adalah diare, campak dan Demam Berdarah Dengue ( DBD ). KLB juga dapat disebabkan oleh penyakit tidak menular dan keracunan serta keadaan bencana yang merupakan kondisi yang rentan terjadinya KLB. Pada pedoman ini hanya difokuskan pada penanggulangan KLB DBD. Penyakit Demam berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang setiap tahun selalu ada dan cenderung meningkat jumlah penderitanya serta semakin luas penyebarannya, sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, Penyakit ini sering menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena perjalanan penyakitnya cepat dan dapat menyebabkan kematian dalam waktu yang singkat. Sebagai mana diketahui bahwa cara pencegahan / pemberantasan penyakit ini adalah dengan memberantas nyamuk penular (Aedes Aegypt! ) dan jentik nyamuk ‘Aedes Aegypti, karena vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virusnya belum ada. Setiap tahunnya 90% DBD menyerang anak-anak berusia 15 tahun Data pada tahun 2004, saat terjadi KLB yang besar, jumiah kasus penderita DBD di Indonesia mencapai 30.000 kasus. Sementara data sampai dengan bulan Februari 2005 menunjukkan bahwa penderita demam berdarah di 6 propinsi (DKI Jakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara barat dan Nusa Tenggara Timur) telah tercatat 47 ribu menderita demam berdarah dengan korban meninggal sebanyak 102 orang. ( Sumber data www. Mediinfo. co. vk. Gatra. Com. 3 April 2005 ) Oleh Karena itu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam satu kesempatan wawancara dengan salah satu media masa Indonesia (17 Februari 2005) menyatakan bahwa penanganan korban demam berdarah dengue (DBD) pada tahun 2005 akan ditangani menurut kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB). Melihat kecenderungan diatas, maka penanganan terhadap wabah demam berdarah dengue membutuhkan upaya penanganan yang komprehensif yang melibatkan upaya pencegahan dan penanggulangan efektif, efisien, terarah dan terpadu dari berbagai sektor pelayanan kesehatan yang terlibat termasuk Pemerintah Daerah dan Masyarakat. Pelayanan Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan, sebaiknya harus terlibat secara proaktif untuk berkontribusi dalam upaya tersebut. Untuk dapat memberikan pelayanan keperawatan dengan balk dan benar, maka para perawat yang terlibat baik sebagai pengelola maupun pelaksana di rumah sakit dan puskesmas perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan serta didukung dengan tersedianya standard dan pedoman kerja bagi pengelola program maupun pelaksana pelayanan di lapangan. Untuk dapat mendukung hal tersebut, Departemen Kesehatan dalam hal ini Direktorat Bina Pelayanan Keperawatan sebagai organisasi pemerintah yang bertanggung jawab dalam mengendalikan pelayanan keperawatan di Indonesia (KepMenkes. No 1575/2006) telah menyusun "Pedoman Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (KLB-DBD) bagi perawat”. i, TUJUAN A. Umum: Meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dalam penanggulangan KLB- DBD melalui Penerapan Pedoman Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Demam berdarah Dengue (KLB-DBD) bagi perawat yang pada akhimya akan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian. B. Khusus: |. Meningkatkan pengetahuan perawat tentang KLB-DBD. 2. Meningkatkan pengetahuan perawat tentang peran, fungsi dan kompetensi perawat dalam penanggulangan KLB-DBD. 3. Meningkatkan kemampuan perawat dalam penanggulangan KLB-DBD. 4, Meningkatkan kemampuan perawat dalam meningkatkan asuhan keperawatan pada kasus DBD. ill, Sasaran Perawat di Rumah sakit Pemerintah maupun Swasta, Puskesmas dan Sarana Kesehatan lainnya (klinik, balai kesehatan dll). IV. DASAR HUKUM 1. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular 2, Undang-Undang Republik Indonesia No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembar Negara tahun 1992 nomor 100, tambahan lembar negara No. 3495). 3. Undang-undang Republik Indonesia No, 22 tahun 1999 tentang kewenangan pemerintah Pusat dan Propinsi sebagai daerah otonom. 4, Peraturan Pemerintah No, 40 tahun 1991 tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular. 5, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 983/Menkes/SK/IV/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah sakit Umum. 6. Peraturan Menteri Kesehatan No. 560 tahun 2000 tentang jenis penyakit tertentu yang dapat menimbulkan wabah. 7. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1239/Menkes/SKIXI/2001 tentang Registrasi dan Praktik Keperawatan 8, Keputusan Mentri Kesehatan RI No.462/Menkes/SK/V/2002 tentang Safe Community 9. Keputusan Menteri No.199/Menkes/SKI/II1/2004 tentang Tim Penanggulangan penyakit Demam Berdarah Dengue. 10. Keputusan Direktur Jenderal Pelayanan Medik No. HK, 00.06.3.4.855/SK/ 11/2004 tentang tim pemantauan Penanganan DBD di Rumah sakit. 11. Keputusan Direktur Keperawatan dan Keteknisan Medik Nomor HK.00.06.4.2.157 th 2005 tentang Penyusunan Pedoman Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Bagi Perawat di Rumah Sakit dan Puskesmas. 12, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1277/Menkes/SK/X1/2001 tentang Organisasi dan tata Kerja Departemen Kesehatan Republik Indonesia BABII GAMBARAN UMUM KLB 1 DEFINISI Kejadian Luar Biasa (KLB): Adalah timbuinya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan atau kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. (Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biase, Depkes Ri, Ditjen P2MPL, 2004) Wabah : Adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. (Menteri menetepkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sesuai dengan UU No.4 tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular) Penyelidikan KLB : ‘Adalah kegiatan yang dilaksanakan pada suatu KLB atau adanya dugaan KLB untuk memastikan adanya KLB, mengetahui penyebab, gambaran epidemiologi, sumber-sumber penyebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhinya serta menetapkan cara-cara penanggulangan yang efektif dan efisien, (Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa, Depkes RI. Ditjen P2MPL, 2004) ‘Adalah upaya untuk menanggulangi KLB yang sedang beriangsung dan atau untuk mendapatkan data epidemiologi serta gambaran pelaksanaan upaya-upaya penanggulangan KLB yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan referensi dalam penanggulangan KLB di masa yang akan datang. (Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa, Depkes RI. Ditjen P2MPL, 2004) Penyelidikan Epidemiologi DBD : Adalah kegiatan pencarian penderita/tersangka DBD lainnya dan pemeriksaan Jentik nyamuk penular penyakit DBD dirumah penderita, dalam radius sekurang- kurangnya 100 meter, serta tempat-tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penularan penyakit lebih lanjut. (Suku Saku Pemberantasan Penyakit DBD untuk koordinator DBD Puskesmas, Depkes RI, Ditjen P2MPL, 1997) Penanggulangan KLB : Adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menangani penderita, mencegah periuasan KLB, mencegah timbuinya penderita atau kematian baru pada suatu KLB yang sedang terjadi. (Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa, Depkes Ri. Ditien P2MPL, 2004) Program Penanggulangan KLB : Adalah suatu proses manajemen yang bertujuan agar KLB tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. (Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa, Depkes Ri. Ditjen P2MPL, 2004) I. KRITERIA KLB Penentuan Kejadian Luar Biasa ditegakkan berdasarkan kriteria WHO yaitu peningkatan kejadian kesakitan 2 (dua) kali atau lebih jumlah kasus DBD di suatu wilayah, dalam kurun waktu 1 minggu/1 buian dibandingkan dengan minggu/bulan sebelumnya atau bulan yang sama pada tahun lalu (www.info kesehatan-info ‘medika.com/3/4/05) Wl, JENIS PENYAKIT YANG MENIMBULKAN KLB Beberapa jenis penyakit menular yang sering menyebabkan terjadinya KLB di Indonesia. antara lain Diare, Campak Malaria dan demam berdarah dengue (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 1984, BAB Ill pasal 3). Disamping penyakit menular, ada beberapa penyakit tidak menular yang juga dapat menimbulkan KLB antara lain keracunan dan gizi buruk. IV. PENYELIDIKAN DAN PENANGGULANGAN KLB A. Penyelidikan KLB dilaksanakan 4. Dilaksanakan Pada saat pertama kali nendapat informasi adanya KLB atau adanya dugaan KLB 2. Penyelidikan perkembangan KLB atau penyelidikan KLB lanjutan 3. Penyelidikan KLB untuk mendapatkan data epidemiologi KLB atau penelitian lainnya yang dilaksanakan sesudah KLB berakhir. B, Penanggulangan KLB Dalam UU Republik Indonesia No. 4 tahun 1984 Bab V Upaya Penanggulangan Pasal 5 dinyatakan bahwa: + Ayat (1) upaya penanggulan wabah meliputi 1, Penyelidikan epidemiologis; 2. Pemeriksaan, pengobatan, perawatan, dan isolasi penderita, termasuk tindakan karantina; . Pencegahan dan pengendalian; . Pemusnahan penyebab penyakit; . Penanganan jenazah akibat wabah; . Penyuluhan kepada masyarakat; NOQew . Upaya penanggulangan lainnya. Daiam penjelasan atas UU Republik Indonesia No . 4 tahun 1984, dinyatakan bahwa upaya penanggulangan wabah mempunyai 2 (dua) tujuan pokok yaitu: 1, Berusaha memperkecil angka kematian akibat wabah dengan pengobatan 2, Membatasi penularan dan penyebaran penyakit agar penderita tidak bertambah banyak, dan wabah tidak meluas ke daerah lain. Upaya penanggulangan wabah dilaksanakan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup. Indikator Program Penanggulangan KLB adalah: 1. Terselenggaranya sistim kewaspadaan di wilayah puskesmas, kabupaten/kota, propinsi dan nasional. 2. Deteksi dan respon dini KLB 3. Tidak terjadi KLB Besar KLB di unit-unit pelayanan, Target program yaitu KLB tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat. Skema Penyelidikan dan Penanggulangan KLB Penyelidikan KLB Upaya pengobatan penderita oN Surveilans Ketat (Sumber : Pedoman Penyelidiken dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa, Depkes RI, Dilien P2MPL, 2004) Indikator Keberhasilan penaggulangan KLB 1. Menurunnya frekuensi KLB 2. Menurunnya jumlah kasus pada setiap KLB 3. Menurunnya jumlah kematian pada setiap KLB 4, Memendeknya periode KLB 5. Menyempitnya penyebarluasan wilayah KLB Upaya Penanggulangan KLB DBD 1, Pengobatan’ perawatan penderita 2. Penyelidikan epidemiologi 3. Pemberantasan vector 4, Penyuluhan kepada masyarakat 5, Evaluasi/penilaian penanggulangan KLB (Sumber : Juklak Penanggulangan KLB dan Wabah DBD, Ditjen PPM & PLP, Depkes, 1990) BAB Ill PERAN DAN FUNGSI PERAWAT DALAM PENANGGULANGAN KLB- Pada saat terjadi KLB, penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan perawatan merupakan kegiatan pertama yang segera dilakukan oleh petugas kesehatan terdekat, terutama di pos kesehatan, puskesmas dan rumah sakit. Tim kesehatan pada penanggulangan KLB terdiri dari multi disiplin dan Multi lintas Sektor, bekerja sama dalam penanggulangan KLB. Salah satu anggota tim kesehatan pada penanggulangan KLB adalah perawat, baik sebagai anggota masyarakat maupun sebagai petugas di sarana kesehatan. Perawat tersebut dapat terlibat langsung dalam upaya pelayanan kesehatan baik di rumah sakit maupun puskesmas. 1. Peran dan Fungsi perawat A. Di Puskesmas Beberapa peran penting perawat dalam penanggulangan KLB adalah : 1, Pemberi pelayanan kesehatan Perawat memberikan pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga kelompok dan masyarakat berupa asuhan keperawatan kesehatan masyarakat untuk menangani wabah ( Diare , campak , demam berdarah antraks, dll 2. Penemu kasus Perawat berperan dalam mendeteksi dan menemukan kasus secara aktif (PE, PJB) dan pasif, serta melakukan penelusuran terjadinya penyakit, maupun wabah KLB, 3. Pendidik / Penyuluh kesehatan 10 ‘Sebagai pendidik kesehatan, perawat mampu mengkaji kebutuhan pasien, keadaan pasien dengan melakukan penyelidikan epidemiologi terhadap gejala-gejala pada pasien yang dicurigal didukung dengan pemeriksaan serologis Menyusun program penyuluhan / pendidikan kesehatan untuk topik KLB, baik untuk tingkat pencegahan maupun pemulihan kesehatan dirumah maupun dimasyarakat. Sebagai pengelola Perawat melakukan koordinasi dalam sistem kewaspadaan dini dalam pelaksanaan penanggulangan KLB difokuskan pada tiga kegiatan utama yaitu penyelidikan KLB, kolaborasi dengan dokter dalam upaya pengobatan, perawatan, pencegahan serta penegakan sistem surveilans ketat selama periode KLB. Sebagai konselor Sebagai konselor perawat puskesmas memberikan pelayanan atau informasi pada pasien untuk menolong memecahkan masalah spesifik tentang pencegahan KLB, perawatan lingkungan, perawatan keluarga dan pemanfaatan sarana kesehatan Kegiatan yang dilakukan perawat puskesmas pada pos kesehatan adalah berpartisipasi secara aktif dalam kegiatan-kegiatan : a. Menggalang peran serta tokoh masyarakat setempat untuk menjelaskan kepada masyarakat tentang : KLB yang sedang terjadi, gejala penyakit dan tingkat bahayanya. Melakukan kerja sama dengan tim (misal dengan TGC) Melengkapi obat-obat dan peralatan yang dibutuhkan Menginformasikan upaya penanggulangan yang akan dilakukan oleh Puskesmas dan Dinas kesehatan termasuk distribusi bahan-bahan 41 zo pertolongan dan penanggulangan KLB yang dapat dilakukan oleh masyarakat. Memberikan penyuluhan tentang upaya pencegahan yang perlu dilakukan oleh masyarakat dan mencegah perluasan KLB. Upaya perbaikan lingkungan sebagai sumber penyebaran penyakit. Merujuk kasus ke sarana kesehatan. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan perbaikan gizi dan imunisasi Melakukan pencatatan sesuai ketentuan . Partisipasi perawat pada surveilans Ketat KLB yaitu : Mengidentifikasi data kunjungan berobat. Mengidentifikasi data kasus pada register harian rawat jalan dan rawat inap pos-pos kesehatan , puskesmas dan rumah sakit Mengidentifikasi data lapangan . Melakukan penyelidikan epidimiologi dan pengamatan vektor (PJB) B, Di Rumah Sakit Peran Perawat dalam penanggulangan KLB di Rumah Sakit adalah : 12 + Pelaksana Memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif kepada Individu dan keluarga. a. Melakukan pengkajian untuk menetapkan prioritas masalah baik aktual maupun potensial yang didasarkan pada pengkajian serta mengantisipasi pasien. b. Membuat perencanaan dan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan kondisi pasien sesuai dengan tingkat kegawatan dengan memperhatikan teknik-teknik perawatan penyakit menular, teknik aseptik sesuai ketentuan apabila pasien jelas menderita penyakit menular. c, Melakukan stabilisasi sebelum pasien dipindahan ke unit lain sesuai d. Mengantisipasi pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan dan pelaksanaan koordinasi dalam tim. e. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan, f. Melakukan pendokumentasian. 2. Pendidik Sebagai pendidik, perawat dapat melatih atau sebagai instruktur pelatihan Penanggulangan KLB, baik tenaga keperawatan di rawat inap dan atau rawat jalan 3. Pengelola Sebagai pengelola perawat mengkoordinasikan aktivitas pelayanan keperawatan secara komprehensif serta melakukan koordinasi lintas sektoral dan lintas program. 4, Konselor Sebagai konselor tenaga keperawatan berfungsi memberikan bimbingan konseling bagi pasien dan keluarga terhadap masalah-masalah yang dihadapi. ll, Kompetensi Keperawatan KLB DBD Berdasarkan peran dan fungsi perawat, maka tenaga keperawatan dalam KLB- DBD harus memiliki kompetensi yang berdasarkan pendekatan system dalam fungsi tubuh. A. Sistem Pernafasan 1. Mengenal tanda-tanda asal nafas. 2. Mengetahui adanya sumbatan jalan nafas. 3. Membebaskan jalan nafas. 4, Memberikan nafas buatan. 5. Melakukan resusitasi jantung paru. 13 B. Sistem sirkulasi vaskuler Mengetahui tanda-tanda shock. Memberikan pertolongan pertama pada henti jantung. Meminimalkan perdarahan. Memasang infus/transfusi. ;. Mengatur posisi tiduri baring. ee aera . Menghitung kebutuhan cairan. C. Sistem syaraf 1, Mengetahui tanda-tanda koma dan memberi pertolongan pertama. 2, Mengetahui tanda-tanda kelainan neurology. D. Sistem Gastrointestinal/Pencernaan - Mengetahui adanya tanda-tanda perdarahan abdomen. E. Sistem perkemihan 4, Mampu mengetahui tanda awal penurunan renal blood flow (gagal ginjal). 2, Mampu menghitung balance cairan. F. Sistem integumen / kulit + Mengetahui adanya tanda-tanda perdarahan bawah kulit. G. Aspek Psikologis 1, Mampu mengidentifikasi gangguan psikologis. 2. Mampu memberikan pertolongan pada gangguan psikologis. Selain kompetensi tersebut diatas tenaga keperawatan harus memahami : A. Sistem Pengorganisasian 4. SPGDT-8 dalam penanggulangan KLB-DBD 2. Geomedik mapping. 14 3. Kesehatan lingkungan khusus pasien gawat darurat. 4, Mengkoordinasikan kegiatan pelayanan keperawatan dalam system penanggulangan KLB. B, Sistem komunikasi medik 1. Mengenal berbagai alat komunikasi medis. 2. Mampu mengoperasikan alat komunikasi medis. C. Sistem pencatatan dan pelaporan 1, Mengenal jenis antara penggunaan format untuk pencatatan dan pelaporan. 2. Mampu melaksanakan pencatatan dan pelaporan secara tepat dan benar sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam penanganan pasien dilakukan dengan secara cepat, tepat dan benar berdasarkan penilaian ABCD, Air Way (A), Breathing (B), Circulation (C) dan Drug/ Emergency Drug (D). 15 BABIV - KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE (KLB DBD) L. Pengertian Penyakit Demain Berdarah Dengue ( DBD ) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak 2 - 7 hari tanpa penyebab yang jelas, lemah/lesu, gelisah , nyeri ulu hati, disertal tanda perdarahan di kulit berupa bintik perdarahan (petechiae), lebam ( eechymosis ) atau ruam ( purpura ). dan atau syok (Depkes RI Direktorat Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang, 1999 ). Definisi kasus Dermam Dengue / Demam Berdarah Dengue didiagnosa dengan dua cara yaitu secara klinis dan laboratoris (Depkes RI Dirjen PPMPL, 2004). A, Secara Klinis 1. Kasus DBD ‘Semua gejala berikut ini harus ada : a) Demam akut selama 2 - 7 hari, bersifat bifasik. b) Kecenderungan perdarahan, sekurang-kurangnya salah satu dari : 4). Uji tourniquet positif ( Bila ditemukan lebih dari 10 bintik perdarahan/ petekia, pada luas diameter 2,8 cm 2). Petekia, ekimosis, atau purpura. Perdarahan mukosa, saluran cema, dan lokasi bekas tusukan a 3). jarum suntik. 4). Hematemesis dan atau melena. c). Trombositopenia < 100.000 / 1) d). Kebocoran plasma yang ditandai dengan : 41). Peningkatan nilai hematokrit 2 20% dari nilai baku sesual umur dan jenis kelamin. 16 2).Penurunan nilai hematokrit 2 20% setelah pemberian cairan yang adekuat. Nilai Ht normal diasumsikan sesuai nilai setelah pemberian cairan. 3). Efusi pleura, asites, hipoproteinemi. 2. Shock Syndrom ( DSS/Dengue dengan Renjatan) Definisi kasus DBD ditambah kegagalan sirkulasi yang ditandal dengan : a). Nadi cepat, lemah, tekanan nadi < 20 mm Hg, perfusi jaringan menurun (ektral dingin, kesadaran menurun, sianosis). b). Hipotensi, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah. B. Secara laboratoris 1. Presumtif Positif ( Kemungkinan Demam Dengue) Apabila ditemukan demam akut disertai dua atau lebih manifestasi klinis berikut ini; nyeri kepala, nyeri belakang mata, mialgia, atralgia dan ruam, serta manifestasi perdarahan; leukopenia, uji HI > 1.280 dan atau IgM anti dengue positif, atau pasien berasal dari daerah yang pada saat yang sama ditemukan kasus Confirmed dengue infection. 2. Confirmed DBD (Pasti DBD) Kasus dengan konfirmasi laboratorium sebagai berikut : Deteksi antigen dengue, peningkatan titer antibody > 4 kali pada pasangan serum akut dan serum konvalesens, dan atau isolasi Virus 17 Ul. Etiologi Penyebab penyakit ini adalah Virus dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Bome Virus Arboviroses ) yang sekarang dikenal sebagal genus Flavivirus, famili Flaviviradae dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu; DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4, Infeksi salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan anti bodi yang terbentuk terhadap serotipe lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai tethadap serotipe lain tsb . Seseorang yang tinggal didaerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia . Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukkan manifestasi klinik yang berat. Mekanisme Penularan Penyakit DBD Seseorang yang dalam darahnya mengandung virus dengue merupakan sumber penularan penyakit DBD Virus dengue berada dalam darah selama 4-7 hari mulai 1-2 hari sebelum demam. Bila penderita tsb digigit nyamuk penular, maka virus dalam darah akan ikut terhisap masuk kedalam lambung nyamuk . Selanjutnya virus akan memperbanyak diri dan tersebar diberbagai jaringan tubuh nyamuk termasuk didalam kelenjar liumya . Kira-kira satu minggu setelah menghisap darah penderita, nyamuk tersebut siap untuk menularkan pada orang lain ( masa inkubasi ekstrinsik). Virus ini akan tetap berada dalam tubuh nyamuk sepanjang hidupnya, oleh karena itu nyamuk Aedes Aegypti yang telah menghisap virus dengue ini, menjadi penular (infektif ) sepanjang hidupnya. Penularan ini terjadi karena setiap kali nyamuk menggigit, sebelum menghisap darah akan mengeluarkan air liurya melalui saluran alat tusuk (proboscis), agar darah yang dihisap tidak membeku . Bersame air liur inilah virus dengue dipindahkan dari nyamuk ke orang lain. Gambar I. CARA PENULARAN VECTOR BORNE DISEASE Gigitan nyamuk : Aedes. Aegypti Infekt Manusia sakit ‘Manusia sehat + Viremia 4—6 hari masa inkubasi 2 hari sebelum 5 hari sesudah panas Ill, Patogenesis Virus merupakan mikroorganisme yang hanya dapat hidup didalam sel hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya virus harus bersaing dengan sel manusia sebagai pejamu (host) terutama dalam mencukupi kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan pelaku bila daya tahan baik maka akan terjadi penyembuhan dan timbul anti body, namun bila daya tahan rendah maka perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menimbulkan kematian, Patogenesis DBD dan DSS masih merupakan masalah yang controversial. Dua teori yang banyak dianut pada DBD dan DSS adalah hipotesis infeksi sekunder (Teori Secondary Heterologous Infection) atau hipotesis Himunne Enhancement. Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung, bahwa pasien yang mengalami infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai resiko berat yang lebih besar untuk menderita DBD/ berat. Antibody heterolog yang telah ada sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian membentuk komplek antigen anti body yang kemudian berikatan dengan Fc reseptor dari membran sel lekosit terutama makrofag. Oleh karena anti body heterolog maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan juga 19 mengenai Antibody Dependent Enhancement ( ADE ), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi dan replikasi virus dengue didalam sel mononuclear. Sebagai tanggapan terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan keadaan hipovolumia dan syok. Patogenesis terjadinya syok berdasarkan hipotesis the secondary heterologous infection dapat dilihat pada bagan 1 yang dirumuskan oleh Suvatte tahun 1977. Sebagai akibat infesi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang pasien, respon antibody anamnestik yang akan terjadi dalam waktu beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer tinggi antibody Ig G anti dengue. Disamping itu replikasi virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertansformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah banyak, Hal ini akan mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibody (virus Anti Body Complex ) yang selanjutnya akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intra vaskuler ke ruang ekstra vaskuler. Pada pasien dengan syok berat volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari 30 % dan berlangsung selama 24 - 48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya peningkatan kadar hematokrit, penurunan kadar Natrium dan terdapatnya cairan didalam rongga serosa ( efusi pleura, asites ). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan menyebabkan asidosis dan anoksia yang dapat berakhir fatal, oleh karena itu pengobatan syok sangat penting guna mencegah kematian. Hipotesis kedua, menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat mengalami perubahan genetic akibat tekanan sewaktu virus mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan dalam gemom virus dapat menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia. peningkatan virulensi dan mempunyai potensi untuk menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah besar. Kedua hipotesis tersebut didukung oleh data epidemiologis dan laboratoris 20 Bagan 1: Patogenesis terjadinya syok pada DBD a Secondary heterologous dengue infection —] Replikash. $<» +————_Anamnestik antibod! response Kompleks virus - antibodi | Aktivasi komplemen { Komplemen Anafilatoksin (C3a, C5a) Histamin dalam urine {| meningkat Permibilitas kapiler meningkat | Ht meningkat Perembesan Plasma |—> Natrium menurun | Cairan dalam * rongga serosa Hipovolemia 4 " ‘Syok ——~] Anoksia Asidosis ee Sumber: Suvatte, 1997 (Tata laksana DBD di Indonesia Depkes -P2MPI 2004) ‘Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivasikan sistem koagulasi melalui kerusakan endotel pembuluh darah (bagan 2 ). Kedua faktor tersebut akan menyebabkan perdarahan pada DBD Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks antigen -antibodi pada membran trombosit, 24 mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin dipospat), sehingga trombosit melekat satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh RES ( reticulo endotel system ) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor Ill mengakibatkan terjadi koagulopati konsumtif ( KID = koagulopati intravascular deseminata ). Bagan 2: Patogenesis Perdarahan pada DBD —- Secondary heterologous dengue infection Replikasi virus. —————» | «——__——_ Anamnestik antiboai response l Kompleks virus - antibodi oe Aktivasi Koagulasi Aktivasi Komplemen ‘Agregasi trombosi | t | Aktivasi faktor hageman —————+ | Penghancuran Pengeluaran ve I Trobosit oleh RES platelet faktor II! t Koagulapati Sistem kinin Anafilatoksin konsumtit 1 Trombositopenia | sinn = Pennghatan i ‘okt permeabilitas ¢nurunan faktor kapiler = pembekuan inambball ADP meningket | Ue erdarahen mast <—_—__—— yok Sumber: Suvatte, 1997 (Tata laksana DBD di indonesia Depkes -P2MPi 2004) Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit , sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi baik. Disisi lain, aktifasi koagulasi akan menyebabkan aktivasi faktor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin, sehingga memacu peningkatan permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya syok. ze Jadi perdarahan masif pada DBD diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan faktor pembekuan ( akibat KID ) , kelainan fungsi trombosit dan kerusakan dinding endotel kapiler. Akhimya perdarahan akan memperberat syok yang terjadi. F. Derajat Penyakit (WHO, 1997) Deraiat penyakit DBD diklasifikasikan di A derajat Derajat |: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji tourniquet. Derajat Il : Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain. Derajat Ill : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan lembab. Serta anak tampak gelisah, Derajat IV: Shock berat (profound shock), Nadi tidak dapat dan tekanan darah tidak terukur. Catatan : Adanya trombositopenia disertai hemokonsentrasi membedakan DBD derajat I/II dengan Demam Dengue (DD). Pembagian derajat penyakit dapat juga dipergunakan untuk kasus dewasa. 23 IV. Tatalaksana kasus 1, Tatalaksana DBD pada Anak a. Tatalaksana Kasus Tersangka DBD pada anak. Pada awal perjalanan penyakit DBD tanda/gejalanya tidak spesifik, oleh karena itu orang tua /anggota keluarga diharapkan untuk waspada jika melihat tanda/gejala yang mungkin merupakan awal penyakit DBD Tanda/gejala awal penyakit DBD ialah demam tinggi 2-7 hari mendadak tanpa sebab yang jelas, terus menerus, badan terasa lemah/anak tampak lesu. Pertama-tama tentukan terlebih dahulu : 1), Adakah tanda kedaruratan yaitu tanda syok (gelisah, nafas cepat, bibir biru, tangan dan kaki dingin, kulit lembab) , muntah terus menerus, kejang, kesadaran menurun, muntah darah, berak darah maka pasien periu dirawat (tatalaksana sesuai dengan bagan 3,4,5 ). 2). Apabila tidak dijumpai tanda kedaruratan, periksa uji Tourniquet / uji Rumple Leede / uji bendung dan hitung trombosit. a). Bila uji Tourniquet positif dan atau trombosit - 100.000/y 1, pasien diobservasi (tatalaksana kasus tersangka DBD) Bagan 3. »). Bila uji tourniquet negatif dengan trombosit > 100.000 1 1 atau normal, pasien boleh pulang dengan pesan untuk datang setiap hari sampai suhu turun, Pasien dianjurkan minum banyak seperti air teh, susu, sirop, oralit, jus buah dil serta diberikan obat antipiretik golongan paracetamol, jangan golongan salisilat. Apabila selama di rumah demam tidak turun pada hari sakit ketiga, evaluasi tanda klinis adakah tanda-tanda syok yaitu anak menjadi gelisah, ujung kakiftangan dingin, sakit perut, berak hitam, kencing berkurang bila perlu periksa Hb/Ht dan trombosit. ). Apabila terdapat tanda syok atau terdapat peningkatan Hb/Ht dan atau penurunan trombosit, segera kembali ke rumah sakit. 24 Bagan 3: Tatalaksana Kasus tersengka DBD pada Anak Tersangka DBD Demam tinggi mendadak terus-menerus <7 hari tidak disertal infeksi saluran nafas agian atas, badan a ‘Ada kedaruratan Tidak ada kedaruratan jae [___periksa ul Tourniquet ‘Muntah terus menerus re) Kejang = Pas Uji Tourniquet (+) Uji Tourniquet (-) ‘Muntah darah Berak hitam al Jumiah trombosit Jumiah trombosit + Rawat jalan = 100,000/ 4 > 100.000/y 4 + Parasetamol + Kontrol tiap hari T Kontrol tiap hari sampai demam Rawat jalan : hilang + Minum banyak 1,5 - 2 liter/hr Rawat | | . Parasetamol nap + Kontrol tiap hari sampal demam turun + Periksa Hb, Ht, trombosit tiap kali Tata Laksana Perhatian untuk orang tua : Disesuaikan + Pesan bila timbul tanda syok that nyeri perut, berak hitam, urine kurang Bagan 3, 4, 5 sab : Hb & Ht naik EEE ‘Trotrombosit turun + Nilai tanda klinis, + Periksa trombosit & Htbila demam menetap setelah hari sakit ke-3 Segera bawa ke rumah sakit 25 b Tatalaksana Kasus DBD derajat | dan Ii tanpa peningkatan Hematokrit Pasien dengan keluhan demam 2-7 hari, disertai uji tourniquet positif (DBD derajat 1) atau disertai perdarahan spontan tanpa peningkatan hematokrit (DBD derajat Il) dapat dikelola seperti bagan 3 Apabila pasien masih dapat minum, berikan minum sebanyak 1-2 liter/hari atau satu sendok makan setiap 5 menit. Jenis minuman yang dapat diberikan adalah air putih, teh manis, sirup, jus buah, susu atau oralit. Obat antipiretik (parasetamol) diberikan bila suhu > 38,5 . Pada anak dengan riwayat kejang dapat diberikan obat anti konvulsif. Apabila pasien tidak dapat minum atau muntah terus-menerus, sebaiknya diberikan infus NaCL 0,9 %, dekstrose 5% dipasang dengan tetesan rumatan sesuai berat badan, Disamping itu perlu dilakukan pereriksaan Hb, Ht tiap 6 jam dan trombosit setiap 2 jam. Apabila pada tindak lanjut telah terjadi perbaikan Klinis dan laboratorium, anak dapat dipulangkan, tetapi bila kadar Ht cenderung naik dan trombosit menurun, maka infus cairan diganti dengan ringer laktat dan tetesan disesuaikan seperti pada bagan 5. 26 Bagan 4, Tatalaksana DBD pada penderita anak derajat | - It Tanpa peningkatan hematokrit | DBD derajat | atau derajat II tanpa meningkatkan hematokrit Gejala Klinis : + Demam 2-7 hari + Uji tourniquet positif atau + Perdarahan spontan + Pasien masih dapat minum + Pasien tidek dapat minum Beri minum banyak 1 - 2literhari + Pasien munteh terus menerus Atau 1 sendok makan tlap 5 menit Jenis minuman: air puth, teh manis, sirup, | poe any we Tee Pasang infus NaC 0.9% : + Bila suhu > 38.5° C beri parasetamol la kejang beri obat antikonvulsif sesual Berat badan Dextrose 5 % (1 : 3), tetesan rumatan sesuai berat badan Periksa Hb, Ht, trombosit | Tiap 6 - 12 jam + Monitor gejala klinis dan laboratorium | + Perhatikan tanda syok + Palpasi hati setiap hari Ht naik dan atau trombosit turun + Ukur diuresis setiap hari §=§ ——————» + Awasi perdarahan + Perikea Hb, Ht, tap 6-12 jam Infus ganti ringer laktat (RL) | (tetesan disesuaikan, linat Bagan 6) Perbaikan klinis dan laboratoris \ Pulang (lihat : Kriteria memulangkan pasien) 27 c. Tatalaksana Kasus DBD Derajat 11 dengan Peningkatan Hematokrit 220% Pasien DBD apabila dijumpai demam tinggi mendadak terus menerus selama 2 7 hari tanpa sebab yang, jelas, disertai tanda perdarahan spontan (tersering perdarahan kulit dan mukosa yaitu petekie atau mimisan) disertai penurunan jumlah trombosit - 100.000/u 1, dan peningkatan kadar hematokrit. Pada saat pasien datang, berikan cairan kristaloid ringer laktat/NaCl 0,9% atau dektrose 5 % dalam ringer laktat/NaC! 0.9 % 6-7 ml/Kg BB/jam. Monitor tanda vital dan kadar hematokrit serta trombosit tiap 6 jam selanjutnya evaluasi 12-24 jam. 1), Apabila selama observasi keadaan umm membaik yaitu anak tampak tenang, tekanan nadi kuat, tekanan darah stabil, diuresis cukup, dan kadar Ht cenderung turun minimal dalam 2 kali berturut-turut, maka tetesan dikurangi menjadi § ml/Kg BB/jam. Apabila dalam observasi selanjutnya tanda vital tetap stabil, tetesan dikurangi menjadi 3 mV/Kg BB/jam dan akhimya cairan dihentikan setelah 24-48 jam. 2). Periu diingat bahwa sepertiga kasus akan jatuh kedalam syok. Maka apabila keadaan klinis pasien tidak ada perbaikan, anak tampak gelisah, nafas cepat (distres pernafasan), frekuensi nadi meningkat, diuresis berkurang, tekanan nadi - 20 memburuk, disertai peningkatan Ht, maka tetesan dinaikan menjadi 10 mi/Kg BB/jam, setelah 1 jam tidak ada perbaikan tetesan dinaikan menjadi 15 mi/Kg BB/jam. Apabila terjadi distres pernafasan dan Ht naik maka berikan cairan koloid 20-30 ml/Kg BB/jam, tetapi apabila Ht turun berarti terdapat perdarahan, berikan transfusi darah segar 10 mi/Kg BB/Jam. Bila keadaan klinis membaik, maka cairan disesuaikan seperti pada 1) 28 Bagan 5. Tatalaksana kasus DBD derajat Il dengan peningkatan hematokrit > 20% | DBD derajat Il dengan peningkatan Ht > 20% Cairan awal RLINaCI 0,9% atau RLDS / NaCl 0,9 % + D5, 6-7 mi/kgBB/jam a Monitor tanda vitalinilai Ht dan trombosit tiap 6 jam Perbaikan Tidak ada perbaikan + Tidak gelisah * Nadi kuat Sere + Distress pemafasan + Frekwensi nadi naik + Ht tetap tinggiinaik + Tekanan nadi kurang dari 20 mmHg + Distress kurangltidak ada + Tekanan darah stabil = Diuresis cukup (12 milkg BBjam) + Ht turun (2 x pemeriksaan) Tanda vital memburuk Ht meningkat Tetesan dikurang! an = Tetesan dinalkan . 10-15 mi/kg BB/jam Evaluasi 12-24 jam 5 milkg BBijam Perbalkan Tanda vital tidak stabil Perbaikan ape ea Distres pemafasan Htturun Ht naik 3 mifkg BB/jam Tek. nadi - 20 mmHg IVFD stop pada 24-48 jam Koloid Transfusi darah segar Bila tanda vital/Ht stabil 20-30 milkg BB 10 ml/kg BB Diuresis cukup | Indikasi transfusi pada anak : leet = syok yang bim diatasi - Perdarahan masif 29 30 d. Tatalaksana kasus DBD derajat III/IV (Sindroma Syok Dengue) Sindroma Syok Dengue ialah DBD dengan gejala , gelisah, nafas cepat, nadi teraba kecil, lembut atau tak teraba, tekanan nadi menyempit ( misalnya sistolik 90 dan diastolik 80 mnHg, jadi tekanan nadi - 20 mmHg), bibir biru, tangan dan kaki dingin, tidak ada produksi urin. 1), Segera beri infus kristaloid ( ringer laktat atau NACL 0,9% ) 10-20 milkg BB secepatnya ( diberikan dalam bolus selama 30 menit ) dan oksigen 2 liter/menit. Untuk DSS berat (DBD derajat IV, nadi tidak teraba dan tensi tidak terukur) diberikan ringer laktat 20 mL/Kg BB bersaing kristaloid (lihat butir 2). Observasi tensi dan nadi setiap 15 menit, hematokrit dan trombosit tiap 4-6 jam. Periksa elektrolit dan gula darah. 2). Apabila dalam waktu 30 menit syok belum teratasi, tetesan ringer laktat tetap dilanjutkan 15-20 ml/Kg BB ditambah plasma (fresh frozen plasma) atau koloid (dektrose 40 %) sebanyak 10-20 mi/Ka BB, maksimal 30 mi/Kg BB ( koloid diberikan pada lajur infus yang sama dengan kristaloid, diberikan secepatnya). Observasi keadaan umum, tekanan darah, keadaan naditiap 15 menit, dan periksa hematokrit 4-6 jam, Koreksi asidosis, elektrolit dan gula darah, a), Apabila syok telah teratasi disertai penurunan kadar Hb/Ht, tekanan nadi 2 20 mmHg , nadi kuat, maka tetesan cairan dikurangi menjadi 10 mHg/Kg BB/jam. Volume 10 mmHg/Kg BB/jam dapat dipertahankan sampai 24 jam atau sampai klinis stabil dan hematokrit menurun - 40 %. Selanjutnya cairan diturunkan menjadi 7 mmHg/Kg BB/jam sampai keadaan klinis dan Ht stabil, kemudian secara bertahap cairan diturunkan 5 mi dan seterusnya 3 mi/Kg BB/jam. Dianjurkan pemberian cairan tidak melebihi 48 jam setelah syok teratasi. Observasi Klinis, tekanan darah, nadi, jumtah urin dikerjakan tiap jam ( usahakan urin > 1. mL/kg BB/jam, BD urin - 1.020 ) dan pemeriksaan hematokrit dan trombosit tiap 4-6 jam sampai keadaan umum baik. b). Apabila syok belum dapat teratasi, sedangkan kadar hematokrit menurun tetapi masih >40 vol % berikan darah dalam volume kecil 10 mi/Kg BB. Apabila tampak perdarahan masif, berikan darah segar 20 mi / Kg BB dan lanjutkan cairan kristaloid.10 ml / kg BB / jam. Pemasangan CVP (dipertahankan 5-8 cm H20) pada syok berat kadang-kadang diperlukan, sedangkan pemasangan sonde lambung tidak dianjurkan. 3). Apabila syok masih belum teratasi, pasang CVP untuk mengetahui kebutuhan cairan dan pasang, catheter urin untuk mengetahui jumiah urin. Apabila CVP normal ( > 10 cmH20 maka diberikan dopamin). 34 Bagan 6. Tatalaksana kasus DBD derajat Ill & IV (DSS) DBD derajat Ill & IV | 1. Oksigenisasi (berikan 02 : 2-4 Limnt) 2. Penggantian volume plasma segera (cairan kristaloid isotonis) Ringer laktat / NaC! 0,9 % 20 mi/kg BB secepatnya (bolus dalam 30 menit) Pantau tanda vital tiap10 menit apakah syok teratasi ? | Catat balans cairan selama pemberian cairan intravena Syok teratasi * Kesadaran membaik “Nadi teraba kuat + Tekanan nadi > 20 mmHg + Tidak sesak nafas/sianosis + Extremitas hangat + Diuresis cukup 1 mi/kgBB/jam Cairan dan tetesan disesueikan | 410 mkgBB/jam Evaluasi ketat Tanda vital Tanda perdarahan Diuresis Pantau Hb, Ht, trombosit Stabil dalam 24 jam Tetesan 5 mVkgBBijam Hb stabil dalam 2x pemeriksaan Tetesan 3 mi/kgBB/jam | infus stop tidak melebihi 48 jam setelah syok teratasi 32 ‘Syok tidak teratasi + Kesadaran menurun + Nadi lembutvtidak teraba + Tekanan nadi - 20 mmHg + Distress pmafasan/sianosis + Extremitas dingin + Kulit dingin dan lembab periksa kadar gula darah 4, Lanjutkan cairan 15-20 mikgBBijam 2, Tambahkan koloid/plasma Dextran/FPP 10-20 (max 30) mi/kgBBijam ie ‘Syok belum teratasi | Ht tetap | tinggi/naik Koloid 20 mikgBB Transfusi darah Seger 10 mikgBB Diulangi sesuai kebutu! 3. Tatalaksana DBD pada Dewasa a. Protokol 1 Pasien Tersangka DBD Protokol ¢ ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan pertama pada pasien DBD atau yang diduga DBD di Puskesmas atau Instalasi Gawat Darurat Rumab Sakit dan tempat perawatan lainnya untuk dipakai sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rujuk atau rawat. Manifestasi perdarahan pada pasien DBD pada fase awal, mungkin masih belum tampak , demikian pula hasil pemeriksaan darah tepi ( Hb, Ht, Trombosit dan lekosit) mungkin masih dalam batas-batas normal, sehingga sulit untuk membedakannya dengan gejala penyakit infeksi akut lainnya. Perubahan ini mungkin terjadi dari saat ke saat berikutnya. Maka pada kasus-kasus yang meragukan dalam menentukan indikasi rawat diperiukan observasi/pemeriksaan lebih lanjut. Pada seleksi pertama diagnosis ditegakan berdasarkan anamnesis dan perneriksaan fisik serta hasil peneriksaan Hb, Ht danjumlah trombosit. Indikasi rawat pasien DBD dewasa pada seleksi pertama adalah : 4), DBD dengan syok dengan atau tanpa perdarahan 2), DBD dengan perdarahan masif dengan atau tanpa syok 3). DBD tanpa perdarahan masif dengan : a). Hb, Ht Normal dengan trombosit - 100.000/ y L b). Hb, Ht yang meningkat dengan trombositopenia - 150.000/ 1 L Pasien yang dicurigai menderita DBD dengan hasil Hb, Ht dan trombosit dalam batas normal dapat dipulangkan dengan anjuran kembali kontrol kepoliklinik. rumah sakit dalam waktu 24 jam berikutnya atau bila keadaan pasien memburuk agar segera kembali ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan. Sedangkan pada kasus yang meragukan indikasi rawatnya, maka untuk sementara pasien tetap diobservasi di Puskesmas dengan anjuran minum yang banyak, serta diberikan 33, infus ringer laktat sebanyak 500 cc dalam 4 jam. Setelah itu dilakukan pemeriksaan ulang Hb, Ht dan trombosit. Pasien dirujuk apabila didapat hasil sebagai berikut a.Hb, Ht dalam batas normal dengan jumlah trombosit -100.000/ p L b.Hb, Ht meningkat dengan jumlah trombosit - 150.000 / y L Pasien dipulangkan apabila didapatkan nilai Hb,Ht dalam batas normal dengan jumlah trombosit = 100.000 / y L dalam 24 jam kemudian diminta kontrol ke Puskesmas atau poliklinik atau kembali ke |GD apabila keadaan menjadi memburuk. Apabila masih meragukan pasien tetap diobservasi dan tetap diberikan infus ringer laktat 500 cc dalam waktu 4 jam berikutnya. Setelah itu dilakukan pemeriksaan ulang Hb, Ht dan jumlah trombosit. Pasien dirawat bila didapatkan hasil laboratorium sebagai berikut : a. _Nilai Hb, Ht dalam batas normal dengan jumiah trombosit - 100.000 / pL. b. Nilai Hb,Ht tetap/meningkat dibanding nilai sebelumnya dengan jumlah trombosit normal atau menurun. c. Selama di observasi perlu dimonitor tekanan darah, frekuensi nadi dan pemafasan serta jumlah urin minimal setiap 4 jam. Protokol 1 Tersangka Demam Dengue Dewasa : Observasi & Pemberian Cairan di Ruang Observasi Keluhan DBD : (Kriteria WHO) = Panas 2-7 hari - Rumple leede + ~ Perdarahan spontan + ‘Syok (-) Syok (+) Hb, Ht, TrombositN HB, Ht, HB, Ht, Normal HB, Ht, NH, Ht, meningkat_ Hb, Ht, N/#/4 TrombositN Trombosit —_meningkat Trombosit >180.000 Trombosit NI > 100,000 Trombosit = 150.000 > 100.000 Puleng Obeervasi —_Observasi Rawat Rawat Rawat Infus RL Infus RI Infus RL 4jamikolt 4 jamikolf 4 jamikoit | Hb,HtN Hb,tHENT — HbtHENT Hb, HIN. ‘TrombositN —TrombositN Trombosit -150.000 < 150.000 , of ot og Pulang Observasi Rawat Rawat RL 4 jamkolf Hb, HUN Ho,t HEN T Hb, HEN. TrombositN Trombosit NI. Trombosit N < 100.000 { { { Pulang Rawat Rawat Catatan Pada keadaan KLB indikasi rawat bila: 4. Thrombosit < 120.000 rawat 2.Hb, Htmeningkat —— Ht> 50, Trombosit Normal atau menurun 35 2), Protokol 2 DBD Tanpa perdarahan masif dan syok Pada pasien DBD dewasa tanpa perdarahan masif ( uji Tourniquet positi, petekhie, purpura, epistaksis ringan, perdarahan gusi ringan ) dan tanpa syok di ruang rawet pemberian cairan ringer laktat merupakan pilihan pertama, Cairan lain yang dapat dipergunakan antara lain cairan dekstrosa 5 % dalam ringer laktat atau ringer asetat, dekstrosa 5 % dalam NaCL 0,45 %, dekstrosa 5 % dalam larutan garam atau NaCL 0,9 %. Jumiah cairan yang diberikan dengan perkiraan selama 24 jam, pasien mengalami dehidrasi sedang, maka pada pasien dengan berat badan sekitar 50-70 Kg diberikan ringer laktat per infus sebanyak 3000 cc dalam waktu 24 jam. Pasien denga berat badan kurang dari 50 Kg pemberian cairan infus dapat dikurangi dan diberikan 2000 cc/24 jam, sedangkan pasien dengan berat badan lebih dari 79 kg dapat diberikan cairan infus sampai dengan 4000 cc /24 jam. Jumlah cairan infus yang harus diperhitungkan kembali pada pasien DBD dewasa dengan kehamilan terutama pada usia kehamilan 28-32 minggu atau pada pasien dengan kelainan jantung/ginjal atau pada pasien lanjut usia serta pada pasien dengan riwayat epilepsi. Pada pasien dengan usia 40 tahun atau lebih pemeriksaan EKG merupakan salah satu standar prosedur operasional yana harus dilakukan. Selama fase akut jumiah cairan infus diberikan pada hari berikutnya setiap harinya tetap sama dan pada saat mulai didapatkan tanda-tanda penyembuhan yaitu suhu tubuh mulai turun, pasien dapat minum dalam jumlah cukup banyak ( sekitar 2 liter dalam 24 jam) dan tidak didapatkannya tanda-tanda hemokon- sentrasi serta jumlah trombosit mulai meningkat dari 50 000 yL, maka jumiah cairan infus selanjutnya dapat mulai dikurangi. Mengingat jumlah pemberian cairan infus pada pasien DBD dewasa tanpa perdarahan masif dan tanda renjatan tersebut sedah memadai, maka pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit dilakukan setiap 12 jam untuk pasien dengan jumlah trombosit < 100.000 y L, sedangkan untuk pasien DBD dewasa dengan jumiah trombosit berkisar 100.000 y L -150.000 y L, pemeriksaan Hb,Ht dan trombosit dilakukan setiap 24 jam, Pemeriksaan tekanan darah, frekuensi nadi dan pernafasan, dan jumlah urin dilakukan setiap 6 jam, kecuali bila keadaan pasien semakin memburuk dengan didapatkannya tanda-ianda syok, 36 maka pemeriksaan tanda - tanda vital tersebut harus diperketat. Tranfusi trombosit hanya diberikan pada DBD dengan perdarahan masif (perdarahan dengan jumlah darah 4-5 ml/kg BB/jam ) dengan jumiah trombosit < 100.000 pi L, dengan atau tanpa koagulast intra vaskuler disseminata (KID). Pasien DBD dengan trombositopenia tanpa perdarahan masif tidak diberikan transfusi suspend trombosit. - Pasien dapat pulang apabila: a). Keadaan umum/kesadaran dan hemodinamik baik, serta tidak demam. b). Pada umumiya Hb, Ht dan jumlah trombosit dalam batas normal serta stabil dalam 24 jam, tetapi dalam beberapa keadaan walaupun jumlah trombosit belum mencapai normal (diatas 50000 ) pasien sudah dapat dipulangkan, Apabila pasien dipulangkan sebelum hari ketujuh sejak masa ‘sakitnya atau trombosit belum dalam bats normal maka dimiffta kontrol ke poliklinik dalam waktu 1 kali 24 jam atau bila kemudian keadaan umum kembali memburuk agar segera dibawa ke UGD kembali. v . 37 Protokol 2 Dewasa Tanpa Perdarahan dan Tanpa Syok Observasi & Pemberian Cairan di Ruang Rawat. Kasus DBD Perdarahan Spontan Masif (-) Syok (-) a Hb, Ht (n) Hb, Ht (a) ‘Trombosit > 100 - 150.000 Trombosit > 100.000 RL 4 jamfeolf RL 4 jamholt Hb, Ht, Tromb, tiap 24 jam Hb, Ht, Tromb, tiap 12 jam ~ Hi, HtTrombosit(r) Hb, Ht (a) Hb, Hen) Kinis memburuk 24 jar stabi Trembost > 100 - 150.000, Trombost > 100.000, TD, N, Diresis RLA jamal RL A jamal RL4 jam/tol atau Hi, Ht Trom, tap 1x24 jam Hb, Ht, Tromb, lap 1x 12jam ——_—Pertimbangan : Cairan kolid (plasma expander) Max. 1-15 8/24 jm (bat protacol DBD dan syok 24 jam ne Hb, Ht Trombostt(n) Hemodinamik baik 24 jam stabil Puiang Catatan pulang : - Pasien tidak demam, hemodinamik baik - Bila keadaan pasien memburuk segera ke IGD - Kontrol poliklinik 2 x 24 jam kemudian (OPL) 38 3). Protokol 3 DBD dengan perdarahan spontan/masif tanpa syok Perdarahan spontan dan masif pada pasien DBD dewasa misalnya perdarahan hidung/epistaksis yang tidak terkendali walaupun telah diberikan tampon hidung, perdarahan saluran cema (hematomisis dan melena atau hematoskesia ), perdarahan saluran kencing ( hematuria), perdarahan otak dan perdarahan tersembunyi, dengan jumleh perdarahan sebanyak 4-5 ml/kg BB/jam, Pada keadaan seperti ini jumlah dan kecepatan pemberian cairan ringer laktat tetap seperti keadaan DBD tanpa renjatan lainnya 500 mi setiap 4 jam, Pemeriksaan tekanan darah, nadi, pemafasan dan jumiah urin diakukan sesering mungkin dengan kewaspadaan terhadap tanda- tanda syok sedini mungkin. Pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit seria hemostase harus segera dilakukan dan pemeriksaan Hb, Ht dan trombosit sebaiknya diulang setiap 4-6 jam. Heparin diberikan apabila secara klinis dan laboratoris didapatkan tanda-tanda KID. Transfus! komponen darah diberikan sesuai indikasi. Fresh Frozen Plasma (FFP) diberikan bila didapatkan defisiensi faktor-faktor pembekuan ( PT dan APTT yang memanjang ). Packed Red Cell ( PRC) diberikan bila nilai Hb < 10 gr %. Transfusi trombosit hanya diberikan pada DBD dengan perdarahan spontan dan masif dengan jumlah trombosit < 100.000 J L disertai atau tanpa KID. Pada kasus dengan KID pemeriksaan hemostase diulang 24 jam kemudian. sedangkan pada kasus tanpa KID pemeriksaan hemostase dikerjakan bila masih ada perdarahan. Penderita DBD dengan gejala-gejala tersebut diatas, apabila dijumpai di puskesmas perlu dirujuk dengan infus, idealnya menggunakan plasma expander (Dextran) 1-1,5 Liter/24 jam. Bila tidak tersedia, dapat digunakan cairan kristaloid. 39 Protokol 3 DBD dengan Perdarahan Spontan/Masif, Tanpa Syok Observasi & Pemberian Cairan di Ruang Rawat. Kasus DBD Dewasa ~ Epistaksis tidak terkendali - Perdarahan Spontan Masif : - Hematemesis melena/hemartoskezia = Syok (-) - Perdarahan otak = RIA jamn/koif = DPL, hemostase Dic (+) Dic (+) ~ RL 4 jam/kolf ~ RL4 jam/kolf - Heparinisasi - Transfusi komponen darah : - Transfusi komponen darah + PRC (Hb < 10 gr %) +FEP = Hb, Ht trombo tiap 4-6 jam + PRC (Hb < 109%) = Ulang hemostasis 24 jam, Hb, Ht. + Tr (trombosit <100.000) + Ulang hemostase 24 jam kemudian 4). Protokel 4 DBD dengan syok dan perdarahan spontan. Kewaspadaan terhadap tanda syok dini pada semua kasus DBD sangat penting, karena angka kematian pada DSS sepuluh kali lipat dibandingkan pasien DBD tanpa Syok. DSS dapat terjadi karena keterlambatan penderita DBD mendapatkan pertolongan/pengobatan, penatalaksanaan yang tidak tepat termasuk kurangnya kewaspadaan terhadap tanda syok dini, dan pengobatan DSS yang tidak adekuat. Pada kasus DSS, ringer laktat adalah cairan kristaloid pilihan pertama yang sebaiknya diberikan karena mengandung Na laktat sebagai korektor basa. Pilihan lainnya adalah NaCl 0,9 %. Selain resusits! cairan, pasien juga diberi oksigen 2-4 Limenit, dan pemeriksaan yang harus dilakukan adalah elektrolit natrium, kalium, clorida serta urium dan kreatinin. 40 Pada fase awal ringer laktat diberikan sebanyak 20 mi/kg BB/jam ( infus cepat/guyur) dapat dilakukan dengan memakai jarum infus yang besar/ nomor 12 dievaluasi selama 30-120 menit. Syok sebaiknya dapat diatasi segra/secepat mungkin dalam waktu 30 menit pertama. Syok dinyatakan teratasi bila keadaan umum pasien membaik, kesadaran/keadaan sistem syaraf pusat baik, tekanan sistolik 100 mmHg at lebih dengan tekanan nadi lebih dari 20 mmHg, frekuensi adi kurang dari 100 X/menit dengan volume yang cukup, akral teraba hangat dan kulit tidak pucat, serta diuresis 0,5-1 mi/kg BB/jam. Apabila syok sudah dapat teratasi pemberian ringer laktat selanjutnya dapat dikurangi menjadi 10 mi/kg BB/jam dan evaluasi selama 60-120 menit berikutnya. Bil keadaan klinis stabil, maka pemberian cairan ringer laktat selanjutnya sebanyak 500 c setiap 4 jam, Pengawasan dini kemungkinan terjadi syok berulang harus dilakukan terutama dalam waktu 48 jam pertama sejak terjadinya syok, oleh karena selain proses patogenesis penyakit masih berlangsung, juga sifat cairan kristaloid hanya sekitar 20% saja yang menetap dalam pembuluh darah setelah 1 jam dari saat pemberian. Oleh karena itu apabila hemodinamik masih belum stabil dengan nilai Ht lebih dati 30 % dianjurkan untuk memakai komnbinasi kristaloid dan koloid dengan perbandingan 4 : | atau 3 : | sedangkan bila nilai Ht kurang dari 30 vol % hendaknya diberikan transfuses sel darah merah (packed red cells). Apabila pasien DSS sejak awal pertolongan cairan diberikan kristaloid dan ternyata syok masih tetap belum dapat diatasi, maka sebaiknya segera diberikan juga sel darah merah. Cairan koloid diberikan dalam tetesan cepat 10-20 ml/kg BB/jam dan sebaiknya yang tidak mempengaruhi/mengganggu mekanisme pembekuan darah gangguan mekanisme pembekuan darah ini dapat disebabkan terutama karena pemberian dalam jumlah besar, selain itu karena jenis koloid itu sendiri. Oleh sebab itu koloid dibatasi maksimal sebanyak 1000-1 500 mi dalam 24 jam. Saat ini ada 3 golongan koloid yang masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangannya, yaitu : 41 a), Dekstran b). Gelatin c). Hydroxy ethyl starch/HES Pada Kasus DSS apabila seteiah pemberian cairan koloid syok dapat diatasi, maka penatalaksanaan selanjutaya dapat diberikan ringer laktat dengan kecepatan sekitar 4 - 6 jam setiap 500 cc. Bila syok belum dapat diatasi, selain ringer laktat juga dapat diberikan obat-obatan vasopresor seperti dopamin, dobutamin atau epineprin. Bila dari pemeriksaan hemostase disimpulkan ada KID, maka heparin dan transfusi komponen darah diberikan sesuai dengan indikasi seperti tersebut diatas. Pemeriksaan Hb, Rt dan trombosit dilakukan setiap 4 - 6 jam. Pemeriksaan hemostase ulangan pada kasus dengan KID dilakukan 24 jam kemudian sejak dimulainya pemberian heparin, sedangkan pada kasus tanpa KID, pemeriksaan hemostasis ulangan hanya dilakukan bila masih terdapat perdarahan. Pemberian antibiotik perlu dipertimbangkan pada DSS mengingat kemungkinan infeksi sekunder dengan adanya translokasi bakteri dari saluran cera. Indikasi lain pemakaian antibiotik pada DBD, bila didapatkannya infeksi sekunder di tempatiorgan lainnya, dan antibiotik yang digunakan hendaknya yang tidak menipunyai efek terhadap sistem pembekuan. 42 Protokol 4 _Penatalaksanaan DBD Dewasa dengan Syok dan Perdarahan Spontan DBD Stadium Iil/lV : Perdarahan Spontan & Masif : - Epistaksis tidak terkendali = Hematemesis = Oksigen 2-4 Limenit -Perdarahan otak = RL 20 ml/kg BB/Jam (30 - 120 mnt) ~ ODPL - Analisa Gas Darah - Hemostasis TD INt Diuresis + TD Sistolik t (> 100 mmHg) Cairan koloid (plasma ekspander) | 10 - 20 mi/kg BB/hari tetesan cepat RL 10 mi/kg BB/jam (60-120 menit) Maks 1 - 1,5L/24 jam | RL 4-6 jam/kolf ‘TD, Nadi {N), Diuresis cukup - 4 jam/kolf bila masuk 1 L koloid | ~~ 6 jam/kolf, bila masuk 1,5 L koloid Infus RL 4 jam/kolf KID (+) KID (-) + Heparinisasi - Transfusi Komponen darah * PRC (Hb < 10 gr %) * Hb, Ht, Trombo tiap 4 jam Transfusi komponen darah * TC (Trombo < 100.000) “FFP - Ulang hemostase 24 jam kemudian * PRC (Hb < 10 gr) * TC (Trombo < 100,000) = Hb, Ht, Trombo tiap 4 - 6 jam kemudian 43 5). Protokol 5 Pada prinsipnya pelaksanaan protokol 5 ini sama dengan protokol 4 hanya pemeriksaan secara klinis maupun laboratorium (Hb, Ht, Trombosit ) perlu dilakukan secara teliti dan seksama untuk menentukan kemungkinan adanya perdarahan yang tersembunyi disertai dengan KID, maka pemberian heparin dapat diberikan seperti pada protokol 4. Tetapi bila tidak didapatkan tanda-tanda perdarahan walaupun hasil pemeriksaan hemostasis menunjukan adanya KID, maka heparin tidak diberikan kecuali bila ada perkembangan kearah perdarahan. Protokol 5 Penatalaksanaan DBD dewasa dengan Syok Tanpa Perdarahan DBD Std III/IV Syok Tanpa Perdarahan Spontan 2-4 = Oksigen 2-4 Limenit + Infus RL 20 mikkg BB/jam : 30 - 120 mnt - Periksa DPL - Analisis Gas Darah = Hemostasis - TDINT , Diuresis + TD Sistolik (100 mmHg) = Cairan koloid (plasma ekspander) 10 - 20 ml/kg BB/hari tetesan cepat | ‘Maks : 500 mil2 jam RL 10 mi/kg BBjam 60 - 120 mnt 1-4,5U24 jam =RL 4-6 jam/kolf TD, N (normal), diuresis = Bila peru Vasopresor (dopamin/dobutamin/epinephrin) = Hb, Ht, trombosit tiap 6 jam (pasca Syok) | -RL 4 jamikolf Hb, Ht, trombosit tiap 6 jam (pasca syok) 44 BABV ASUHAN KEPERAWATAN DBD KERANGKA KERJA PERAWAT DALAM PENANGGULANGAN DEMAM BERDARAH | TAHAP 1 : PENEMUAN KASUS : PUSKESMAS/POLI/IGD/POSKO ANAMNESIS PEMERIKSAAN | LABORATORIUM + Data identitas pasien meliputi | » Suhu + Hb umur, jenis kelamin, hubungan | + Tanda-tanda syok | + Ht > 20% dalam keluarga, riwayat} (ujungkakidan | + Trombosit : kesehatan dalam keluarga | _tangan teraba Trombositopenia dingin, nadi (100.000 mm3) | + Riwayat demam dan pola | sangat lemah/ * Lekosit (bila demam (demam < 7 hari) tidak teraba) diperlukan + Perdarahan dari + Keluhan lain: mual, muntah, | _ hidung/gusi nyeri sendi, nyeri ulu hati. |+ Bintik merah di kulit/perdarahan + Data demografi dibawah kulit : (petechie)? Positif + Lingkungan tempat tinggal & | dan tanda DBD sekolah lain = Uji tourniquet + Pengaruh penyakit terhadap | _rumple leede) individu dan keluarga serta masyarakat (sikap individu, keluarga, dan masyarakat) ' KLASIFIKASI Mungkin DBD. DBD Demam Mungkin Bukan DBD 45 MUNGKIN DBD ————— Nyeri ulu hati atau gelisah Bintik perdarahan dikulit dan uji tornequet (rumple leede) negatif. Jika ada sedikit petekic tanpa tanda lain DBD daji uji torniquet tidak dapat dilakukan, klasifikasi sebagai DBD TINDAKAN * Beri dosis pertama paracetamol jika demam tinggi (2 38,5) * Bintik perdarahan di kulit (petekic) dan uji torniquet (rumple leede) positif + Tanda syok (kaki dan tangan dingin, nadi lemah/ tidak teraba) + Muntah bercampur darah + Buang air besar berwarna hitam: + Perdarahan dari hidung/gusi yang berat + Sering muntah tanpa diare Lo TINDAKAN PRA RUJUKAN DBD Bila tidak ada satupun tanda DBD atau mungkin DBD TINDAKAN + Beri dosis pertama paracetamol 46 kompres air hangat (tepid water spong) Anjurkan minum banyak dan kembali kontrol bila ada tanda-tanda DBD (demam tidak turun selama 2 hari) Kolaborasi kemungkinan untuk dirujuk untuk masalah lain Kemungkinan di- pulangkan dengan follow up perawat puskesmas - Bila ada tanda syok : Atasi syok Beri cairan IV RLINaCl 20 mikg BB/30 menit. Setelah 30 menit: Evaluasi = Jika nadi teraba beri cairan IV 10 mi/kgBB Rujuk/ Rawat segera. Jika nadi tidak teraba, beri cairan IV 20mI/kgBB/ jam. Rujuk segera. Beri dosis pertama Paracetamol jika demam tinggi (2 38,5) Bila tidak ada tanda syok Bila anak masih bisa minum, beri minuman apa saja (yang tidak berwama merah atau coklat) sebanyak| mungkin dalam perjalanan ke tempat rujukan Beri dosis pertama Paracetamol jika demam tinggl (2 38,5) sebelum dirujuk. Paracetamol ka demam tinggi (238,5) dan berikan kompres air hangat (tepid water sponge) Obati penyebab lain dari demam Anjurkan minum banyak dan kembali kontrol bila ada tanda- tanda DBD (demam tidak turun selama 2 hari) Dipulangkan dan follow up oleh perawat puskesmas TAHAP Il TINDAKAN PERAWATAN PASIEN DBD DI RUANG RAWAT 47 Derajat | 1. Observasi tenda-tanda syok 2. Observasi tenda-tanda vital tiap 4 jam 3. Berikan kompres air biasa/air hangat pada ketiak, lipat paha dan dahi bila suhu 2 38,5 cc (tepid water sponge) 38,6°C 4, Anjurkan minum banyak 2000 cc/hari pada orang dewasa pada anak sesuai kebutuhan & BB 5. Berikan cairan parenteral (4 cc/kgBB/jam pada anak dan 4 jam/kolf pada dewasa) bila pasien tidak mau minum. Monitor Hb, Ht, Leukosit, Trombosit tiap 12jam 7. Berikan obat penurun panas ( kolaborasi) Penuhi kebutuhan sehari-hari Beri informasi kondisi pasien pada keluarga Derajat I! 1. Observasi tanda-tanda vital tiap 2 jam 2. Awasi tanda-tanda perdarahan dan tanda-tanda syok Penuti kebutuhan cairan oral dan kolaborasi pemberian cairan parenteral (lihat lampiran kebutuhan cairan) 4, Monitor pemasukan dan pengeluaran cairan (balans & diuresis) 5. Monitor kebutuhan pemberian oksigen (kolaborasi) 6. Monitor Hb, Ht, Leukosit, Trombosit tiap 6-12 jam (kolaborasi) 7. Berikan kompres air biasa/air hangat kuku (tepid water sponge) bila suhu 2 38,5°C 8. Penuhi kebutuhan sehari-hari 9. Beri informasi kondisi pasien pada keluarga 10. Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon pasien Derajat Ill 1. Penuhi kebutuhan cairan oral dan parenteral (20 co! ka,BB) 2. Observasi tanda-tanda vital tiap 30 menit 3. Monitor hasil AGD (kolaborasi) 4, Monitor pemberian oksigen (kolaborasi) 48 Derajat IV 5. Monitor pemberian vasopressor/dopamine/plasma ekspander (kolaborasi) 6. Monitor Hb, Ht, dan Trombosit tiap 6 jam 7. Monitor adanya penurunan TD, peningkatan nadi dan penurunan urin (diuresis) 8. Berikan kompres air hangat (tepid water sponge) bila suhu > 38,5°C 9. Beri informasi kondisi pasien pada keluaraga 10. Penuhi kebutuhan sehari-hari 11, Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon pasien 4. Penuhi kebutuhan cairan oral dan parenteral (20 cc! kgBB) . Observasi tanda-tanda vital tiap 30 menit . Monitor hasil AGD (kolaborasi) . Monitor pemberian oksigen (kolaborasi) . Monitor Hb. Ht, dan Trombosit tiap 4-6 jam . Monitor pemberian vasopressor/dopamine/plasma ekspander (kolaborasi) 7. Monitor pemberian Heparin dan komponen darah lain (kolaborasi) D2ARonNn 8. Monitor adanya penurunan TD, peningkatan nadi dan penurunan urin (diuresis) 9. Berikan kompres air hangat (tepid water sponge) bila suhu 2 38,5°C 10. Beri informasi kondisi pasien pada keluarga 41. Penuhi kebutuhan sehari-hari 12, Dokumentasi tindakan keperawatan dan respon pasien 49 TAHAP Ill : PERENCANAAN PENDIDIKAN KESEHATAN UNTUK PASIEN PULANG Meningkatkan daya tahan tubuh Melanjutkan pengobatan yang diberikan dari rumah sakit Membelajarkan kapan harus Kembali segera ke pusat pelayanan kesehatan terdekat bila didapatkan tanda-tanda bahaya sebagai berikut (gejala DBD) + Bila ada tanda-tanda perdarahan pada hidung dan saluran cama + Kaki dan tangan dingin + Sering muntah (warna hitam seperti kopi) + Nyeri ulu hati * Gelisah Mencegah penyakit DBD dengan gerakan PSN Pemberantasan Sarang Nyamuk) dengan 3 M: + Menguras + Menutup + Mengubur 50 Asuhan Keperawatan Individu A. Pengkajian 4, Anamnesis + Data identitas pasien meliputi umur, jenis kelamin, hubungan dalam keluarga, riwayat kesehatan dalam keluarga Riwayat demam dan pola demam Keluhan lain: mual, muntah, nyeri sendi, nyeri ulu hati, keluhan lain berak berdarah, perdarahan gusi dan hidung. + Pengaruh penyakit terhadap individu dan keluarga serta masyarakat (sikap individu, keluarga, dan masyarakat) + Data demografi lingkungan tempat tinggal/sekolah/kerja .. Pemeriksaan Fisik + Keadaan umum (TB, BB, kesadaran) + Tanda-tanda vital ~ Suhu tubuh - Frekuensi nadi - Tekanan darah - Test tourniquet - Frekuensi pernafasan + Tanda-tanda perdarahan - Hasil uji tourniquet ( Rumpie Leede) + (positif) - Adakah petechie, purpura, ekimosis, hematom? - Adakah perdarahan gusi atau mulut? - Adakah perdarahan dari hidung (epistaksis)? - Adakah perdarahan saluran cerna (melena)? - Adakah hematuria? + Tanda-tanda syok - Nadi lemah, cepat dan kecil sampai tak teraba - Gangguan sirkulasi: kulit teraba dingin dan lembab terutama daerah akral seperti tangan dan kaki. - Frekuensi kencing dan jumlahnya. . Pemeriksaan Diagnostik (Telaah hasil: penunjang laboratorium) - Bagaimana hasil pemeriksaan Haemoglobinnya? - Bagaimana hasil pemeriksaan hematokritnya? - Bagaimana hasil pemeriksaan trombositnya? + Bagaimana hasil pemeriksaan leukositnya? 51 52 B, Diagnosis Keperawatan Diagnosis keperawatan yang akan disusun disesuaikan dengan respon klien terhadap penyakit yang merupakan fokus perhatian perawat. Oleh karena itu rumusan diagnosis keperawatan disesualkan dengan respon Klien terhadaip penyakit demam berdarah yang dikategorikan dalam empat derajat. Derajat 1: dengan manifestasi klinis demam, sakit kepala, nyeri orbita, nyeri otot dan sendi, uji torniquet positif, trombositopenia (- 100.000) dan hematokrit > 20 % akan menimbulkan masalah keperawatan sebagai berikt t Risiko defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah Tujuan : Kekurangan cairan tubuh tidak terjadi. Kriteria hasil : 1) Tanda-tanda vital batas normal (tensi, nadi, suhu & pemafasan) 2) Turgor kulit elastis 3) Mukosa bibir lembab 4) Cairan masuk dan keluar seimbang (urine 1-2 cc/kg BB/jam) 5) Hb, Ht, dan Trombosit dalam batas normal Intervensi : 1) Observasi tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital tiap 6 jam 2) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan dalam 24 jam 3) Anjurkan minum banyak sesuai kebutuhan (lihat lampiran kebutuhan cairan) 4) Observasi tanda perdarahan, tanda dehidrasi, turgor kulit, membran mukosa, nadi perifer dan pengisian kapiler setiap 6-8 jam 5) Monitor frekuensi BAK, dan jumlah urin (diuresis) 6) Kolaborasi pemberian cairan parenteral/infus (bila periu) 2. Risiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia a. Tujuan : Perdarahan tidak terjadi pada Klien b._ kriteria hasil: 1) Tidak ada tanda-tanda perdarahan baru 2) Hb, Ht, dan Trombosit dalam batas normal c. Intervensi : 1) Kaji + terjadinya tanda-tanda perdarahan (perdarahan gusi, mukosa, hidung) setiap 6 jam 2) Konsultasikan dengan tim medis apabila terjadi tanda perdarahan 3) Monitor Hb, Ht, dan Trombosit tiap 6-12 jam 4) Monitor karakteristik BAB (frekuensi, wana) 5) Anjurkan tirah baring 3. Gangguan rasa nyaman: hipertermia, nyeri otot dan sendi berhubungan dengan efek proses inflamasi a. Tujuan: Rasa nyaman terpenuhi dalam waktu 2 x 24 jam b. Kriteria hasit 1) Suhu tubuh 36 - 37°C 2) Keluhan, nyeri otot & sendi berkurang c. Intervensi : 1) Monitor keluhan nyeri otot atau sendi 2) Kompres klien dengan air hangat atau air biasa bila suhu 2 38,5. 3) Anjurkan tirah baring selama demam (batasi aktivitas) 4) Anjurkan minum banyak sesuai kebutuhan (lihat lampiran kebutuhan cairan) 5) Berikan cairan parenteral bila dibutuhkan (kolaborasi) 53 6) Monitor perubahan status mental (sikap & perilaku) 4, Risiko gangguan nutris!: Kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat a. Tujuan : Nutrisi klien terpenuhi setiap hari b. Kriteria hasil : 1) Selera makan meningkat 2) Klien menghabiskan porsi makan 3) BB tidak turun atau meningkat c. Intervensi : 1) Kaji stastus nutrisi (BB, keluhan dan penyebab masalah kurang nutrisi) 2) Berikan makanan sesuai kondisi dan kebutuhan pasien 3) 4 Motivasi kiien untuk menghabiskan makanan Beri makanan dalam kondisi hangat dengan porsi kecil dan sering 5) Monitor BB setiap hari 6) Kolaborasi untuk pemberian nutrisi enteral bila sulit makan 5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan teritang proses penyakit dan pengobatan a. Tujuan : Setelah intervensi keperawatan tingkat kecemasan pasien dan keluarga berkurang b. Kriteria hasil: Pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan meningkat. Keadaan pasien dan keluarga lebih tenang. 2 c. Intervensi 1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit dan pengobatannya 2) Diskusikan penyebab penyakit, cara penularan, kebersihan lingkungan, diet, pemeriksaan dan pengobatannya. 3) Beri kesempatan klien dan keluarga untuk bertanya 4) Validasi kembali pengetahuan Klien dan keluarga 5) Jelaskan setiap tindakan yang dilakukan kepada Klien. Derajat ll : dengan manifestasi klinis demam, sakit kepala, nyeri orbita, nyeri otot dan sendi, uji torniquet positif, perdarahan spontan seperti epistaksis, perdarahan gusi, melena, hematemesis, trombositopenia (< 100.000) dan hematokrit > 20 % akan menimbulkan masalah keperawatan sebagai berikut: a Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas pembuluh darah a. Tujuan : Keseimbangan volume cairan tubuh klien terjaga b.Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital batas normal (tensi,nadi, suhu & pemafasan 2) Turgor kulit elastis 3) Mukusa bibir lembab 4) Cairan masuk dan keluar seimbang ( urine 1-2 cc/kg BB) c. Intervensi: 1) Observasi tingkat kesadaran dan tanda-tanda vital tiap 6jam 2) Ukur dan catat pemasukan dan pengeluaran cairan dalam 24 jam 3) Anjurkan minum banyak sesuai kebutuhan (lihat lampiran kebutuhan cairan) 55 56 4) Observasi tanda perdarahan, tanda dehidrasi, turgor kulit, membran mukosa, nadi perifer dan pengisian kapiler setiap 6-8 jam 5) Monitor frekuensi BAK, dan jumlah urin (diuresis) 6) Kolaborasi pemberian cairan parenteral/infus (bilaperiu) 2. Risiko kegagalan sirkulasi berhubungan dengan perdarahan a. Tujuan : Tidak terjadinya kegagalan sirkulasi pada klien b. Kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital batas normal (tensi, nadi, suhu & pemafasan} 2) Tidak ada tanda-tanda perdarahan 3) Hb, Ht, dan Trombosit dalam batas normal c. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital tiap 2 jam 2) Monitor tanda-tanda syok 3) Monitor tanda-tanda perdarahan 4) Monitor Hb, Ht, dan Trombosit tiap 6-12 jam 5) Penuhi kebutuhan cairan oral dan kolaborasi cairan parenteral (lihat lampiran kebutuhan cairan) 6) Kolaborasi pemberian komponen darah sesuai kebutuhan 3. Gangguan rasa nyaman: hipertermia, nyeri otot dan sendi berhubungan dengan efek proses inflamasi a, Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi dalam 2x24 jam b. Kriteria hasil: 4) Suhu tubuh 36 - 37°C. 2) Keluhan nyeri otot & sendi berkurang c. Intervensi : 1) Monitor keluhan nyeri otot atau sendi 2) Kompres klien dengan air hangat atau air biasa bila suhu 2 38,5°C. 3) Anjurkan tirah baring selama demam (batasi aktivitas) 4) Anjurkan minum banyak sesuai kebutuhan (lihat lampiran kebutuhan cairan) 5) Berikan cairan parenteral bila dibutuhkan (kolaborasi) 6) Monitor perubahan status mental ( sikap & perilaku ) Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat a. Tujuan : Terpenuhi kebutuhan nutrisi klien b. Kriteria hasil: 1) BB meningkat 2) Klien menghabiskan porsi makan 3) Selera makan meningkat c.lntervensi : 1) Kaji stastus nutrisi (BB,keluhan dan penyebab masalah kurang nutrisi) 2) Beri makanan sesuai kondisi pasien : makan lunak 3) Motivasi klien menghabiskan makanan 4) Beri makanan dalam kondisi hangat dengan porsi kecil dan string. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat berhubungan dengan perubahan kondisi fisik a. Tujuan : kebutuhan istirahat pasien terpenuhi b. Kriteria hast: + Pasien dapat tidur 8 jam /hari c. Intervensi: 41) Kaji pola istirahat klien 2) Anjurkan klien tirah baring 57 58 3) Batasi pengunjung 4) Atur aktivitas yang berhubungan dengan klien untuk menyediakan waktu istirahat yang cukup bagi klien 5) Bantu klien memenuhi kebutuhan dasamya. 6. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan a. Tujuan : Klien dan keluarga tidak cemas b. Kriteria hasil: 1) Pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan meningkat. 2) Pasien dan keluarga tidak cemas. c. Intervensi : 1) Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit dan pengobatannya 2) Diskusikan penyebab penyakit, cara penularan, kebersihan lingkungan, diet, pemeriksaan dan pengobatannya. 3) Beri kesempatan klien dan keluarga untuk bertanya 4) Validasi kembali pengetahuan klien dan keluarga 5) Jelaskan setiap tindakan yang dilakukan kepada klien. Derajat Ill : dengan manifestasi klinis demam, sakit kepala, nyeri orbita, nyeri otot dan sendi, uji torniquet positif, gangguan sirkulasi seperti nadi lemali, hipotensi, kelemahan, perubahan kesadaran, akral dingin, trombositopenia (< 100.000) dan hematokrit 2 20 % akan menimbulkan masalah keperawatan sebagai berikut 1. Defisit volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas inding capiler yang berlanjut a. Tujuan : Kebutuhan volume cairan Klien terpenuhi b. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam batas normal 2) Akral hangat 3) Kadar Hb, Ht dan Trombosit dalam batas normal 4) Cairan masuk dan keluar seimbang (urin 0,5 - 1 ml/kgBB/| am) 5) Mukosa bibir lembab 6) Turgor kulit elastis c.Intervensi : 1) Penuhi kebutuhan cairan oral dan parenteral (20 cc/kgBB). 2) Observasi tanda-tanda vital tiap 30 menit 3) Monitor adanya penurunan TD, peningkatan nadi dan penurunan urin/ diuresis Oumlah, wama dan berat jenis urin) 4) Monitor Hb, Ht, Leukosit, Trombosit tiap 6 jam 5) Monitor kemungkinan adanya perdarahan atau edema 6) Lakukan pengukuran intake dan output cairan tubuh 7) Penuhi kebutuhan sehari-hari 8) Beri informasi kondisi pasien pada keluarga 9) Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons pasien Gangguan pemenuhan oksigenasi berhubungan dampak penurunan perfusi perifer a. Tujuan : Kebutuhan oksigenasi jaringan terpenuhi b. Kriteria hasil: 1) Pasien tidak pucat/sianosis 2) Capillary refill (Pengisian kapiler) dalam waktu 1-2 detik. 3) Frekwensi nadi normal 4) Nilai AGD norma! 5) Kesadaran compos mentis 59 60 c. Intervensi : 1) Kaji kebutuhan pemenuhan oksigen (peningkatan frekuensi nafas, akral dingin, pucat, nafas cuping hidung) 2) Monitor tanda-tanda gagal hapas (penggunaan otot bantu nafas tambahan) 3) Monitor basil AGD (kolaborasi), dan monitor waktu pengisian kepiler (capillary refill) 4)Berikan dan monitor pemberian oksigen (kolaborasi) 5) Observasi tanda-tanda vital tiap 30 menit 6) Monitor adanya akral yang pucat, dan suhu dingin 7) Monitor pemberian plasma ekspander/ vasopressor/inotropik (kolaborasi) 8) Monitor Hb, Ht, Trombosit tiap 4- 6 jam 9) Penuhi kebutuhan sehari-hari 10)Beri informasi kondisi pasien pada keluarga 44)Dokumentasi tindakan keperawatan dan respons pasien Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan katabolisme a, Tujuan : Diharapkan kebutuhan nutrisi klien terpenuhi sesuai kebutuhannya b.Kriteria hasil: 1) Nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan 2) Hasil Laboratorium (Kadar Hb, Gula darah, Albumin) dalam batas normal 3) BB tidak turun atau meningkat 4) Konjunctiva tidak pucat c. Intervensi : 4) Ukur dan catat pemasukan makanan dan kalori pasien 2) Monitor hasil pemeriksaan albumin dan gula darah 3) Identifikasi berbagai faktor penyebab yang berkaitan dengan tidak efektifnya pemasukan nutrisi 4) Kolaborasi untuk pemberian nutrisi enteral / parenteral 5) Monitor toleransi terhadap pemberian makanan (bising usus, muntah, kembung) 4. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan a, Tujuan : Tingkat kecemasan pasien dan keluarga berkurang b. Kriteria hasil : 1) Pengetahuan tentang proses penyakit dan pengobatan meningkat. 2) Keadaan pasien dan keluarga lebih tenang. c. Intervensi : 1) Berikan penjelasan garis besar prosedur penanggulangan secara jelas : Apa yang telah terjadi, mengapa hal ini terjadi, apa yang akan dilakukan 2)Jelaskan apa yang akan dilakukan oleh perawat termasuk apa yang akan di lihat, di dengar, dan apa yang akan dirasakan oleh klien selama prosedur 3)Memotivasi Klien untuk bertanya hal-hal yang menjadi perhatiannya dan yakinkan klien dapat memahami penjelasan perawat 4) Libatkan klien dalam merencanakan tindakan 5) Jika ada hambatan bahasan minta bantuan penterjemah Derajat IV: dengan manifestasi klinis demam, sakit kepala, nyeri orbita, nyeri otot dan sendi, uji torniquet positil, gangguan sirkulasi seperti nadi lemah 61 62 hipotensi, kelemahan, perubahan kesadaran, akral dingin, perdarahan masif, trombositopenia (< 100.000) dan hematokrit 2 20 % akan menimbulkan masalah keperawatan sebagai berikut: 1 Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan sirkulasi yang berlanjut a. Tujuan : Diharapkan kondisi gangguan pertukaran gas pada klien akan membaik dalain waktu 4-6 jam b. Kriteria hasil : 1) Tidak ada distress pernapasan : pola napas normal, frekwensi napas 20-30 kali/ menit, tidak ada nafas cuping hidung, akral hangat, capillary refill 1-2 detik, isi nadi cukup, tekanan darah dalam batas normal 2) Nilai AGD dalam batas normal c. Intervensi : 1) Lakukan pengkajian terhadap pola napas, frekwensi napas, cuping hidung, penggunaan otot Bantu pernapasan 2) Auskultasi area/ lobus paru setiap 1 - 2 jam 3) Kolaborasi dalam pemberian oksigen dengan masker 6-10 liter/menit (sesuai indikasi) 4 5) Kolaborasi denoan ruang rawat intensif Kolaborasi pengukuran saturasi Oksigen dengan oksimeter (bila ada) atau untuk pengambilan AGD setiap 6jam 6) 7) Siapkan pemasangan arteri line 8) Siapkan alat Bantu napas mekanik 9) Lakukan pengisapan lendir/bekuan darah Siapkan peralatan resusitasi jantung paru di dekat penderita 10) Laporkan setiap adanya perubahan abnormal 11) Lakukan dokumentasi setiap tindakan yang dilakukan 2. Gangguan perfusi serebral berhubungan dengan efek gangguan pertukaran gas berlanjut. a. Tujuan : Gangguan perfusi serebral kembali normal dalam 2x24 jam b. Kriteria hasil : 1) Kesadaran normal, Nilai GCS 14 - 15 2)Reficks pupil +, tidak ada tanda-tanda kejang c. Intervensi 1) Kaji status ncurolo-,i : refieks, tonus otot 2) Atur posisi tidur supine/ datar 3) Awasi adanya tanda-tanda kejang 4) Monitor tingkat kesadaran dengan menggunakan skala glasgow coma minimal setiap shift. 5 6) 7) 8) Awasi kemunkinan terjadinya injury karena jatuh atau aspirasi Jika perlu lakukan pengikatan Berikan obat-obat anti konvulsi sesuai program Jelaskan segala tindakan dan perubahan klien kepada keluarga 3. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan proses kebocoran plasma yang berlanjut a. Tujuan : Diharapkan Perfusi jaringan perifer kembali normal dalam waktu 1 x 24 jam b. Kriteria hrasil : 1) Sistem sirkulasi : isi nadi cukup, Capillary refill 1-2 detik, akral hangat, tidak ada sianosis 63 2) Tanda-tanda vital normal : Nadi 60 - 80 x/menit, Frek napas : 20 - 30 x/menit, suhu tubuh 36,5 - 37,5 'C, 3) Nilai CVP: 5-12 cm H20 c. Intervensi : 1) Kaji system kardiovaskuler : Isi nadi, Irama, frekwensi, Capilary refill 2) Pasang monitor dan alat pantau lain seperti oksimeter dan dinamap 3) Berikan cairan loading 20 cc! kg BB secepatnya. 4) Secepatnya siapkan pemasangan CVP dan lakukan pengukuran setiap jam 5) Ukur dan catat masukan dan pengeluaran cairan : Perdarahan lambung, melena, urine setiap jam 6) Berikan obat-obat inotropik (Dobutamin dan Dopamin) sesuai protokol 7) Dokumentasikan semua tindakan yang dilakukan ‘Syok hipovolemik berhubungan dengan adanya perdarahan massif dampak gangguan faktor pembekuan darah (Trombositopenia) a. Tujuan : Perdarahan dapat diminimalisasi b. Kriteria hasil : 4) Tidak ada perdarahan baru : Hematom, perdarahan spontan 2) Nilai Hb. Ht, Trombosit dalam batas normal intervensi 1) Monitor tanda-tanda vital tiap 10 menit 2) Monitor perdarahan spontan dan massif 3) Berikan suspensi komponen darah berupa trombosit, plasma, packed red sel sesuai program (kolaborasi ) 4) Pantau kemungkinan terjadinya reaksi transfusi a > 5) Monitor pemeriksaan homeostasis darah 6) Kolaborasi dan monitor pemberian Heparin 7) Hindarkan penusukan berulang pada arteri besar dan lakukan penekanan minimal 5 menit setelah tindakali pengambilan darah baik darah arteri atau darah vena 8) Anjurkan keluarga untuk mempersiapkan donor . Kecemasan keluarga bethubungan dengan kondisi klien DBD (DSS) dan dampak hospitalisasi a. Tujuan : Tingkat kecemasan keluarga berkurang b. Kriteria hasil : 1) Tidak tampak bingung, bicara tenang, tidak mengeluh palpitasi 2) Tidak ada keringat dingin c._Intervensi 1) Kaji tingkat kecemasan keluarga 2) Sediakan waktu untuk mendampingi klien pada saat kritis 3) Berikan kesempatan keluarga untuk mengekspresikan kecemasannya 4) Identifikasi strategi koping yang efektif pada keluarga 5) Jelaskan berbagai altematif koping yang efektif 6) Berikan kesempatan untuk menetapkan koping yang sesuai 7) Fasilitasi pemanfaatan support system lain : teman, keluarga, ahli, profesi lain Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi : Kurang dari kebutuhan tubuh berhubunalan dengan Katabolisme dan masukan nutrisi yang tidak adekuat a. Tujuan : Kebutuhan nutrisi tercukupi selama dalam perawatan 65 b. Kriteria Hasil : 1) Glukosa darah dalam kondisi normal : 80 - 120 gridi 2) Elektrolit dalam batas normal : Na 140-145 Meg, K 3,5 - 4,5 Meg, Ca 6-9 Meq 3) Albumin 3,5 - 5 grO/o 4) Perut tidak kembung, tidak ada perdarahan : Hematemesis/ melena c. Intervensi : 1) Kaji status nutrisi : BB, TB sesuai kebutuhan 2) Lakukan bilas larnbung dengan NaCl 0,9 % dingin 3) Berikan terapi cairan nutrisi parenteral yang mengandung unsur glukosa dan protein sesuai program (kolaborasi) Ukur dan pantau perdarahan lambung minimal setiap shift Monitor kadar glukosa dan eleKtrolit sesuai program Ukur dan catat pengeluaran dan pengukuran cairan Lakukan pemeriksaan kadar albumin, ureum dan kreatinin sesuai rogram (kolaborasi) Jika syok teratasi dapat diberikan cairan enteral secara bertahap Mulai dari clearfluid (cairan yang mengandung glukosa), makanan cair dengan rendah laktosa dan lemak (kolaborasi) 9) Dokumentasikan setiap tindakan yang telah dilakukan 4) 5) 6) 7 8) Ml Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Masalah Demam Berdarah Dengue ‘Asuhan keperawatan keluarga dilakukan jika ditemukan salah satu anggota keluar- ga yang menderita demam tinggi atau menderita demam berdarah. Klien dapat diperoleh saat perawat melakukan kunjungan rumah atau sebagai follow up kasus setelah pasien dari rumah sakit atau puskesmas. 66 PENGKAJIAN A.Pengkajian Tahap | Kegiatan pengkajian mencakup upaya berikut : 4. Anamnesa, Melalui ananmesa di peroleh informasi adanya riwayat/ keluhan panas kurang dari seminggu, lemah, gelisah. 2. Hasil pemeriksaan fisik diperoleh data demam, uji tourniquet (+), petechie, purpura, perdarahan dari hidung atau saluran pencemaan, hematuri, bahkan dapat ditemukan tanda-tanda syok. 3. Pemeriksaan kondisi sanitasi lingkungan: a. Adakah vektor nyamuk b. Tempat penampungan air terbuka atau tempat air menggenang c. Terlihat adanya jentik pada air yang menggenang . Pakaian yang bergantungan, tidak ada kawat nyamuk 4, Struktur Keluarga : jumlah anggota keluarga, pembagian tugas setiap anggota keluarga dalam pemeliharaan kesehatan lingkungan, kemampuan keluarga mengungkapkan masalah kesehatan yana dirasakan, aturan-aturan dalam pemeliharaan kebersihan lingkungan. 5. Koping Keluarga : Sejauhmana keluarga mampu melaksanakan fungsi keluarga dengan adanya anggota keluarga yang menderita DBD. (Fungsi keluarga antara lain mencakup fungsi afektif, fungsi ekonomi, fungsi sosial). B, Analisa Masalah Keperawatan Keluarga Kemungkinan masalah keperawatan yang dapat teridentifikasi dalam keperawatan keluarga antara lain : 1. Rosiko adanya masalah penyakit infeksi berat pada anggota keluarga 67 2. Resiko terjadinya penularan penyakit demam berdarah pada anggota keluarga lain 3. Perubahan peran dan fungsi anggota keluarga. C, Pengkajian Tahap It Setelah ditemukan adanya masalah keperawatan tersebut, dilanjutkan dengan identifikasi etiologi masalah. Etiologi masalah dikaitkan dengan kemampuan keluarga melaksanakan tugas pemeliharaan kesehatan yaitu : 1. Apakah keluarga mengenal masalah kesehatan 2. Apakah keluarga mampu mengambil keputusan secara tepat 3. Apakah keluarga mampu merawat anggota keluarga yang menderita DBD/ tersangka DBD Apakah keluarga mampu memodifikasi lingkungan tempat tinggal yang - mendukung kesehatan anggota . Apakah keluarga mampu memanfaatkan sumber yang, ada di masyarakat a D. Perumusan Diagnosa Keperawatan Keluarga Formulasi diagnosa keperawatan keluarga mencakup rumusan Masalah keperawatan keluarga + Etiologi + Symptom. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka dapat dirumuskan diagnosa keperawatan keluarga: 4. Resiko berkembangnya masalah penyakit infeksi berat pada anggota keluarga b/d.ketidakmampuan keluarga mengenal masalah penyakit demam 2. Resiko terjadinya penularan penyakit demam berdarah pada anggota keluarga lain b/d. ketidakmampuan keluarga memberikan perawatan anggota keluarga yang menderita DBD ; Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan 3, Perubahan peran dan fungsi anggota keluarga b/d. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah DBD 68 E, INTERVENSI KEPERAWATAN KELUARGA Berbagal intervensi keperawatan keluarga dapat dilakukan dengan mengaplikasikan berbagai ilmu dan tehnologi yang mampu meningkatkan kemandirian keluarga dalam mengatasi masalahnya. Berikut ini intervensi keperawatan keluarga untuk masing masing diagnosa keperawatan yaitu : 1. Resiko berkembangnya masalah penyakit infeksi berat pada anggota keluarga bid. ketidakmampuan keluarga mengenal masalah penyakit demam a. Tujuan : Diharapkan keluarga mampu mandiri dalam mengatasi masalah penyakit Demam b. Intervensinya: 1) Kaji pemahaman keluarga tentang masalah demam 2) Jelaskan Penyebab penyakit demam dan kemungkinan perkembangannya 3) Jelaskan alternatif penanganan demam di rumah 4) Ajarkan cara merawat penderita demam di rumah (berikan banyak minum, anjurkan istirahat, monitor kondisi penderita, berikan kompres hangat dil.) 5) Motivasi keluarga untuk memodifikasi lingkungan yang dapat meningkatkan kenyamanan dan kesembuhan penderita 6) Anjurkan keluarga untuk membawa penderita demam ke fasilitas kesehatan jika : - Demam tidak teratasi setelah perawatan = Demam disertai perdarahan (mimisan, bintik kemerahan, muntah darah) - Demam disertai gelisah, keluhan lemah 2, Resiko terjadinya penularan penyakit demam berdarah pada anggota keluarga lain b/d. ketidakmampuan keluarga memberikan perawatan anggota keluarga yang menderita DBD; Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan 69 70 a, Tujuan : Keluarga mampu menghindarkan terjadinya penularan DBD pada anggota keluarga yang lain b.intervensinya : 1) Jelaskan bahwa DBD merupakan penyakit menular 2) Jelaskan berbagai alternatif untuk mengatasi masalah resiko penularan 3) Ajarkan cara melakukan perawatan pada penderita DBD di rumah 4) Ajarkan cara menghindarkan tedadinya penularan DBD 5) Motivasi keluarga untuk memodifikasi lingkungan yang dapat menghindarkan perkembangbiakan nyamuk Lakukan PSN (Pasang ovitrek, lakukan 3M, hindarkan pakaian bergelantungan) Berikan bubuk Abate pada air menggenang Gunakan kawat nyamuk Gunakan obat nyamuk jika diperlukan - Mengikuti/ berpartisipasi dalam upaya kerjabakti PSN dan fogging 6) Lakukan pemeriksaa& observasi adanya demam pada anggota keluarea yang lain 7) Hubungi puskesmas atau kader posyandu kemungkinan adanya upaya khusus dalam penanggulangan masajah DBD 8) Segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan jika ada anggota keluarga yang mempunyai keluhan demam tinggi . Gangguan peran orang tua b/d. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat dalam mengatasi masalah DBD a. Tujuan : Keluarga mampu mengambil keputusan secara tepat b Intervensinya: 1 2) 3) 4) 5) 6) ) Berikan kesempatan orang tua untuk mengungkapkan harapannya dalam penanganan masalah DBD Jelaskan tatacara penanganan demam berdarah dan peran serta orang tua dalam perawatan pasien Diskusikan bersama keluarga berbagai alternatif dalam mengatasi masalah klien dengan demam berdarah Identifikasi berbagai sumber yang ada di keluarga dan komunitas yang berkaitan dengan upaya untuk mengatasi masalah Jelaskan betbagai konsekuensi (keuntungan dan kerugian) dari berbagai alternatif dalam penanganan penderita DBD Motivasi keluarga untuk menetapkan keputusan altematif yang terbaik sesuai dengan kondisi keluarga 71 BAB VI PENCATATAN DAN PELAPORAN KEJADIAN LUAR BIASA DEMAM BERDARAH DENGUE (KLB-DBD) Demam berdarah termasuk salah satu penyakit menular dan dapat menimbulkan wabah sesuai dengan Undang-Undang nomor 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit menular serta peraturan Menteri Kesehatan nomor 560 tahun 1989 tentang Jenis penyakit tertentu yang dapat menimbulkan wabah maka bila dijumpai kasus DBD wajib dilaporkan dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, Petugas kesehatan termasuk perawat yang menemukan kasus/ pasien tersangka DBD diwajibkan melaporkan keberadaan kasus kepada puskesmas di daerah atau tempat pasien berdomisili, dan membuat surat pengantar untuk disampaikan kepada kepala desa/kelurahan melalui keluarga pasien. Laporan kasus/tersangka DBD akan diteruskan kepada Dinas Kesehatan dengan tembusan puskesmas yang bersangkutan. Pelaporan dilakukan 24 jam setelah diagnosis Klinis ditegakkan. Jenis formulir laporan kasus DBD dari Puskesmas dan Rumah sakit dibedakan. Laporan dari puskesmas dan Puskesmas Perawatan menggunakan Formulir So. dan laporan dari Puskesmas Perawatan dan Rumah sakit/unit pelayanan kesehatan menggunakan Formulir KDRS. Laporan juga dapat menggunakan surat tersendiri, namun harus memuat data : Nama, Jenis kelamin, Umur, Nama kepala keluarga, Alamat, Tanggal mulai masuk Rumah Sakit/Puskesmas Perawatan. 72 Form : 50 ALUR PELAPORAN KASUS DBD DEPKES —— DINKESTK| ——— DINKES TK II | | kors PENYELIDIKAN DESA —— _ PUSKESMASDAN —— EPIDEMIOLOGI PUSKESMAS PERAWATAN (PE) \\e KELUARGA ———_RS/UNIT YANKES ODOR g707 73 Formulir 1. Formulir Rujukan Pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) Kepada YTH. RS Rujukan Bersama ini kami beritahukan bahwa kami telah merawat seorang pasien : Nama UP Umur oe TH nes BIN Nama Kepala Keluarga : UP Umur .......Th Alamat Rumah Kelurahan Tanggal mulai Sakit —: Tgl/bith Tanggal msk RS/Puskesmas : Tgl/b\/th Jam... Tanggal meninggal —: Tgl/biith No | _HASIL PEMERIKSAAN KLINIS ADA TIDAK 1 | Demam 2. | Perdarahan termasuk uji tourniquet positif 3. | Pembesaran hati 4 | Syok PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tanggal Jam 5 | Trombosit (jumiah per y 1) 6 | Hematokrit / Hb ** PENGOBATAN - Diinfus / tidak * *, tanggal ... DIAGNOSIS KLINIS + DD/DBD/SSD ** **) coret yang tidak perlu 74 Formulir 2 (Form-KDRS) Formulir Pemberitahuan Pasien Tersangka Demam Berdarah Dengue. RS/Klinik ... K.abupaten/Kodya * ropinsi Kepada Yth, Dinas Kesehatan Kab/Kodya Di- Bersama ini kami beritahukan bahwa kami telah merawat/memeriksa seorang pasien: Nama UmurlJenis Kelamin : Nama Orang Tua AlamatRumah —: Ji Rt . RWIRK .. Kelurahan/ Desa Kecamatan Tanggal mulai sakit Perawatan : rawat jalan/ Rawat inap *) Keadaan pasien saat ini : hidup/Meninggal *) (Tglioltth) Diagnosis “*) 1. DD 2. DBD 3, DSS Tembusan: Kepada Yth, Kepala Puskesmas *) Coret yang tidak perlu **) Beri tanda "X" sesuai hasil pemeriksaan 75 FORMULIR PESAN UNTUK ORANG TUA Nama pasien Nomor Rekam Medis Datang ke IGD : Tanggal Isi Pesan 1. Harap kembali ke poliklinik Pada hariTanggal_: . 2, Segera kembali ke IGD membawa kartu pesan ini, apabila timbul salah satu gejala seperti yang tercantum di bawah ini : a, Muntah- muntah b. Anak/pasien menjadi lemas ©, Tidak mau makan/minum d, Tangan/kaki dingin, disertai gelisah e. Kejang f. Mimisan, muntah darah, berak warna hitam, tanda perdarahan lainnya. 76 REKAP (LAPORAN KEPADA MENTERI KESEHATAN) 1. NAMA RUMAH SAKIT : 2, JUMLAH PENDERITA SAAT INI (LAMA DAN BARU) BERDASARKAN JENIS KELAMIN DAN USIA PENDERITA TANGGAL .... DIAGNOSA DEWASA PEREMPUAN | LAKI-LAKI |PEREMPUAN SUSPECT DBD DBD + SYOK 3. JUMLAH PENDERITA MASUK DAN KELUAR PADA TANGGAL .. MASUK (BARU) | PULANG DIAG | DEWASA| ANAK|_MENINGGAL MENINGGAL <24 | >24 JAM JAM r>404 7 | | 1) SMS] SNPS i snpais| | SMHS WAOL ‘3d ONVOSS|aEa NON | sv7art | - 3a ]+3q | TWe | www] aad] Nv my 604 dy smy04 Gog HvTNnt) Wad Snswy We NVHVSNTAY ON ONNGYDOINd NvLvWVvIay SvWSaySNd $002 NNHV1 GSC 814 NVONVINOONWNAd WreaND NVHOdv7 78 Laporan KLB DBD dari Rumah Sakit Untuk Dinas Kesehatan/Suku Dinas Hari Tanggal Instansi Jumlah Pasien Baru] Pasien GE] Morbili | Pasien DBD] Jumiah TT Total Pasien | DBD (+) yang kosong DBD (lengkap dgn alamat) 79 BAB VII PENUTUP Dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan keperawatan, khususnya dalam penanggulangan KLB-DBD, semua perawat harus memahami peran, fungsi dan kompetensi yang harus dimiliki perawat baik yang ada di Puskesmas maupun Rumah sakit. Untuk itu penyebaran Buku Pedoman Penanggulangan KLB - DBD diharapkan dapat membantu perawat baik yang ada di Puskesmas maupun di Rumah Sakit sesuai dengan peran dan fungsinya. Buku pedoman ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja perawat dan dapat dikembangkan sesuai dengan keadaan spesifikasi daerah setempat. Buku ini tentunya masih banyak kekurangannya, oleh karena itu masukan dan koreksi masih dibutuhkan untuk perbaikan edisi berikutnya. 80 GLOSSARIUM DAN SINGKATAN 1. ABCD 2, Adekuat 3. AGD (Analisa Gas Darah) : 4, Aktual 5. Arteri Line 6. Balance cairan 7. Cairan loading 8. Capillary refill 9. CVP 10. DD/DF 11. Defisit : Air way, Breathing, Circulation, Drug : cukup/memadai. Pemeriksaan darah arteri antara lain untuk menilai Ph darah. : kejadian nyata : Jalur/akses pada pembuluh darah arteri untuk pengambilan darah arteri atau memasukan obat : keseimbangan cairan anatara cairan masuk dan keluar. : pemberian cairan dalam jumiah tertentu dan dalam waktu cepat misalnya : 20 CC diguyur. : terisinya kembali pembuluh darah kapiler. : Central Venous Pressure adalah Pengukuran tekanan darah vena : Demam Dengue / Dengue Fever berkurang 81 13. 14. 15. 16, 4G 20. = Zee 82 . Dinamap . Geo medik |. Hematemisis « Injuri DSs/SSD Ekimosis Etiologi Respiratory distress GCS (Glasgow Coma Scale) : Haematum Inotropik : Alat elektrik untuk mengukur tekanan darah yang dilengkapi dengan cuff/manset untuk pengukurannya : Dengue Syok Syndrom/ Syok Syndrom Dengue : perubahan warna kulit menjadi merah lembayung karena perdarahan :Penyebab timbulnya masalah : gagal nafas, Penilaian tingkat koma dengan cara memeriksa pergerakan mata, kemampuan bicara (verbal) dan gerak (motorik). : Pemetaan daerah rawan gangguan kesehatan : Muntah berdarah :Pendarahan di bawah kulit : Perlukaan / trauma : obat-obatan yang berfungsi_ — mem- perkuat kontraktilitas/pompa jantung untuk mendapatkan curah jantung cukup 23. 24, 25. 26. 27. 28. 29. 30. . Oksimeter 3 32. 33. 34, 35. Karakteristik KDRS Kolaborasi Kompetensi Koping Komprehensif Manifestasi klinis Motivasi Ovitrap P.E Perdarahan massif Perfusi Cerebral PJB : Ciri khas : Kewaspadaan Dini Rumah Sakit : kerjasama. : kemampuan minimal yang harus dimiliki seorang perawat. : mekanisme adaptasi. : menyeluruh/paripurna. : anda - tanda yang diperlihatkan dari suatu penyakit. : dorongan dari dalam : Alat elektrik untuk mengukur saturasi / konsentrasi oksigen dalam darah pada daerah perifer. : Alat Pengendali Pemberantasan Aedes Aegepty : Penyelidikan Epidemiologi : perdarahan hebat. : Distribusi aliran darah pada jaringan otak : Pemeriksaan Jentik Berkala 83 37. Plasma ekspender 38. Pokja 39. Potensial 40. Purpura 41, PSN 42, Rumatan 43, SPGDT 44. Support system 45. Symptom 46, Tekanan nadi 47. TWS (Tea Water Sponge) 48.TGC :cairan koloid yang bersifat me- ningkatkan tekanan onkotik + Kelompok kerja : kemungkinan/cenderung terjadi. : Perdarahan dibawah kulit :Pemberantasan Sarang Nyamuk : pemeliharaan. : Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu : sistem pendukung missal : keluarga, tokoh agama, RT, RW. : kumpulan gejala. : selisih nilai antara tekanan systole dan tekanan diastole. : Kompres dengan air hangat kuku pada seluruh tubuh menggunakan waslap selama 5 menit (dilakukan berulang), Caranya : Anak di lap seluruh tubuhnya, kemudian dikipas satu arah selanjutnya dikeringkan, diulang 2 - 3 kali kemudian diukur suhunya kembali. : Tim Gerak Cepat 49, Validasi 50. Vasopresor 54. Vektor 52. Ventilator : mencocokkan/mengecek kembali : Obat yang berfungsi meningkatkan tekanan darah : Penjamu : Alat bantu nafas mekanik 85 Lampiran |: DAFTAR NILAI NORMAL 1. Hasil Laboratorium : Hb (Haemoglobin L (Leukosit) Ht (Hemotrokrit Tr (Trombosit Ureum Kreatinin AG D (Analisa Gas darah) Phe: PcO2 : POs: BE = SatO2 : Na : ies GDS (Gula darah Sewaktu) Albumin 2. Suhu 3. Denyut Nadi 4. Tekanan Darah 5. Respirasi 86 12-14 g/dl 5,000 -1.0.000/ pt 36 - 42 % / vol 150,000 - 500.000 / pI 20-40 05-15 7,35 - 7,45 36 - 45 mmHg 80 - 100 mmhg 25-425 95 135 - 145 mg / Itr 3,5- 5,5 mg/ tr 80 - 110 mg/dl 3,5-5,5 mg/Itr 36° - 37°C 80 - 100 x / menit Sistole : 110 - 120 mmhg Diastole : 70 - 80 mmhg 16 - 20 x / menit Lampiran 2: a. Epidemiatogi adalah = Epi : pada + Demos : Rakyat + Logos: ilmu + limu yang mempelajari sesuatu yang terjadi pada masyarakat. + Studi mengenai terjadinya dan distribusi serta determinan dari suatu peristiwa kesehatan, yang menimpa sekelompok populasi dalam masyarakat, dan diterapkan untuk memecahkan masalah- masalah kesehatan. (WHO Regional Committee Meeting ke 42). a, Entomologi Nyamuk Aedes Aegypti b. Uji Tourniquet/Ruple Leede 1) Uji tourniquet dinyatakan pasitif apabila terdapat terdapat lebih 2 dari 10 petikia dalam diameter 2,8 Cm (1 inchi persegi ) di lengan bawah bagian depan ( Volar ) termasuk pada lipatan siku (fossa cubiti) Cara melakukan uji tourniquet sebagai berikut : Pasang manset pada lengan atas ( ukuran manset sesuaikan dengan umur pasien yaitu anak atau dewasa , dengan lebar manset = 2/3 bag lengan atas Pompa tensi meter untuk mendapat tekanan sistolik dan diastolik Aliran darah pada lengan atas dibendung pada tekanan anatar sistolik dan diastolik selama 5 menit. Bila telah terlihat adanya bintik - bintik merah > 10 buah pembendungan dihentikan ) Lihat pada bagian bawah lengan depan daerah volar ) dan atau daerah pada lipatan siku ( fossa cubiti apakah timbul bintik - bintik merah tanda perdarahan ( petikie) Hasil uji Tourniquet dianggap positif ( + ) bila ditemukan > 10 bintik perdarahan ( petikie ), pada luas dg diameter 2-8 cm?. 87 ¢. Kebutuhan Cairan : 1) Non Syok 2) Syok 88 : BB<15kg 6-7 mi/kg/jam BB 15 - 40 kg : § mifkg/jam BB>40kg : 3-4 milkgijam : 10 - 20 mi/kg (diguyur 10 - 15 menit) DAF'TAR PUSTAKA . Ambulan Gawat Darurat 118, Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu, Jakarta, Tahun 2005 . Depkes R |, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Tata Laksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia, Jakarta, Tahun 2004 . Depkes R |, Ditjen Pelayanan Medik dan Ditjen Keperawatan & Keteknisan Medik, Rancanagn Pedoman Peran dan Fungsi Perawat pada Safe Community, Jakarta, Tahun 2003 . Depkes R I, Ditjen Pelayanan Medik, Pedoman Perawatan Kesehatan Masyarakat Seri B Cetakan ke 2, Jakarta, tahun 1995 . Depkes R |, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Perawatan Kesehatan Masyarakat Seri A Cetakan ke 2, Jakarta, Tahun 1995 ._Depkes R |, Keperawatan Kesehatan Masyarakat Seri C , Jakarta, Tahun 1998 .. Depkes R |, Ditjen Pelayanan Medik, Pedoman Perawatan Kesehatan di Rumah, Jakarta, Tahun 2002 . Depkes R |, Ditjen Pelayanan Medik & Ditjen Pelayanan Keperawatan, Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue, Jakarta, tahun 2003 89 9. Depkes R I, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular Bersumber Binatang, Pedoman Umum Pelayanan Keperawatan Kesehatan Matra, Jakarta tahun 2001 10.Depkes R I, Ditjen PPM & PLP, Buku Saku Pemberantasan Penyakit DBD untuk Koordinator DBD Puskesmas, Jakarta, Tahun 1997 11, Depkes R |, Ditjen Pelayanan Medik, Pedoman Umum Keperawatan Dasar di Rumah Sakit dan Puskesmas, Jakarta, tahun 2004 12. Depkes R |, Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular, Undang-Undang No. 4 Tahun 1984, Jakarta, tahun 2004 13. Depkes R I, Ditjen Pemberantasan Penyakil Menular, Modul Pelatihan Surveilans Epidemiologi, Jakarta, tahun 2004 14.Depkes R |, Pusat Pengendalian Masalah Kesehatan, Prosedur Tetap Penanggulangan Bencana, Jakarta, 2001 15, Depkes RI, Ditjen P2MPL, Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan KLB, Jakarta, Tahun 2004, 16.Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Demam Berdarah, Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2004 17.RSCM, Unit Keperawatan Intensif, Pedoman Prosedur Teknik Keperawatan Unit Perawatan Intensif, Jakarta, tahun 2000 90 18. 20. 21, 22, 23. 24, WMO, Regional Office for South East Asia, Guidelines for treatment for Dengue Fever/Dengue Haemorthagic Fever in Small Hospitals, New Delhi, Tahun 1999 |. Depkes R |, Ditjen Pelayanan Medik Dasara, Pedoman Penanggulangan Bencana dan Korban Massal, Jakarta, Tahun: Hadinegoro, Sri rejeki dan Satari, Hindra I|rawan. Demam Berdarah Dengue: Naskah Lengkap Pelatinan bagi Pelatih Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dalam Tatalaksana Kasus DBD. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002. WHO : Departement of Communicable diseases. Management of Dengue Epidemic. http://w3.Whosea.org/den1/Medical.htm.3/3/2004. Wong, DL. Pediatric Nursing. Philadelphia: Mosby Co. 2001. Doengoes, M.E. and Moorhouse, M.F.L.@Nurses Pocket Guide: Nursing Diagnosis with Intervention. Philadelphia: F.A. Davis Company. 1990 June M, Thompson, Mosby's Manual of Critical Nursing. Second Edition. Philadelphia : The CV Mosby Company.1989. ot