You are on page 1of 31

LAPORAN TAHUNAN

PROGRAM KESEHATAN INDRA


TAHUN 2019

Disusun Oleh:
Hj. OOM ROHMAWATI, S.Kep.NERS
NIP. 196520081 88303 2 001

UPTD KESEHATAN PUSKESMAS


NAGARA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas selesainya Laporan Tahunan Kesehatan
Indra Tahun 2019 ini. Laporan ini disusun sebagai tolak ukur keberhasilan program di
tahun berikutnya.
Dalam menghadapi tantangan ini, kami di UPT Puskesmas Nagara, telah,
sedang, dan akan terus berupaya secara sungguh-sungguh melaksanakan apa yang
menjadi tugas dan fungsi kami sebagai unit pelaksana tekhnis dinas kesehatan.
Laporan tahunan ini di susun untuk memberikan gambaran apa saja yang
selama ini telah dilakukan oleh UPT Puskesmas Nagara pada Tahun 2019 khususnya
Program Kesehatan Indra.
Kami menyadari betul apa yang kami lakukan masih jauh dari apa yang
menjadi harapan, tapi kami akan jadikan kekurangan itu sebagai sesuatu yang
memotivasi untuk melakukan perbaikan.
Mudah-mudahan untuk selanjutnya kami bisa memberikan pelayanan yang
lebih baik lagi dalam upaya mewujudkan dan memandirikan masyarakat Kecamatan
Nagara, untuk bisa hidup lebih sehat.

Nagara, Desember 2019


Pelaksana Program Kesehatan Indra

Hj. SEGARA STINA, S.Kep.NERS


NIP. 196520081 88303 2 001

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i


DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Tujuan ............................................................................................ 2
C. Manfaat .......................................................................................... 3

BAB II GAMBARAN UMUM DAN DEMOGRAFI ................................. 4


A. Gambaran Umum .......................................................................... 4
B. Demografi ...................................................................................... 5
BAB III PEMBAHASAN ............................................................................... 11

A. Indra Penglihatan ................................................................................ 11


B. Indra Pendengaran ............................................................................... 13
C. Indra Peraba ........................................................................................ 16
D. Indra Pengecap .................................................................................... 17
E. Indra Pembau ...................................................................................... 17

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN PROGRAM ....................... 18


BAB IV UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN PROGRAM
INDRA ............................................................................................... 26
BAB V PENUTUP ......................................................................................... 28
A. Kesimpulan ................................................................................... 28
B. Saran .............................................................................................. 29

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
UPT Puskesmas Nagara yang merupakan bagian dari Dinas Kesehatan
Kabupaten Sumedang mempunyai tanggung jawab yang besar dalam
mewujudkannya. Diantaranya adalah memberikan pelayanan di bidang kesehatan
yang tidak hanya pelayanan dalam bentuk kuratif (penyembuhan
penyakit/pengobatan) tetapi juga pelayanan dalam bentuk promotif (upaya
peningkatan kesehatan/penyuluhan), preventif (pencegahan penyakit), serta
rehabilitatif (pemulihan kesehatan).
Program Indra merupakan Upaya Kesehatan Pengembangan yang
dilaksanakan di UPT Puskesmas Nagara. Kegiatan pelayanan Indra mencakup
pelayanan dalam gedung dan luar gedung ( sekolah, posyandu, posbindu ).
Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan
nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan
masyarakat yang optimal. Kebersihan pembangunan kesehatan berperan penting
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, karena 83 % informasi sehari-
hari masuknya melalui jalur penglihatan, melalui pendengaran 11% penciuman 3,5%
dan pengecap 1,0%.
Dari hasil survey kesehatan indra penglihatan dan pendengaran tahun 1993-
1996 yang di lakukan di 8 (delapan) provinsi menunjukan bahwa prevalensi
kebuyuhan di Indonesia 1,5% Menurut WHO prevalensi kebutuhan yang melebihi
1% bukan hanya masalah Medis saja tetapi sudah merupakan masalah sosial yang
perlu di tangani secara lintas program dan lintas sektor, penyebab utama kebutaan
adalah katarak ( 0.78%), glaukoma (0,20%) kelainan refleksi (0,14%) dan penyakit-
penyakit lain yang berhubungan dengan usia lanjut (0,38%).
Menurut perkiraan WHO pada tahun 1995 terdapat 120 juta penderita
gangguan pendengaran di seluruh dunia. Jumlah tsb mengalami peningkatan yang
sangat bermakna pada tahun 2001 menjadi 250 juta orang; 222 juta diantaranya
adalah penderita dewasa sedangkan sisanya ( 28 juta ) adalah anak berusia di bawah
15 tahun. Dari jumlah tersebut kira kira 2/3 diantaranya berada di negara
berkembang. Peningkatan jumlah penderita gangguan pendengaran ini kemungkinan

1
disebabkan oleh peningkatan insidens, identifikasi yang lebih baik atau akibat
meningkatnya usia harapan hidup.
Menurut beberapa penelitian 50% populasi usia diatas 65 tahun akan
mengalami gangguan pendengaran. Pada pertemuan WHO (Geneva, 2000)
dilaporkan bahwa pada tahun 2005 penduduk dunia berusia diatas 60 tahun akan
mencapai 1,2 milyar orang dan 60 % dari jumlah tersebut merupakan penduduk
negara berkembang. Selanjutnya pada tahun 2020 populasi dunia berusia diatas 80
tahun juga akan meningkat sampai 200 %.
Pertemuan WHO (Geneve, 2000) menyatakan bahwa 50 % gangguan
pendengaran dapat dicegah (Preventable deafness) melalui kegiatan Primary Health
Centre (PUSKESMAS).
Adapun faktor faktor penyebab gangguan pendengaran yang dapat dicegah
adalah :
2. OMSK ( Otitis Media Supuratif Kronis)
3. Pemaparan bising
4. Pemakaian obat ototoksik
5. Infeksi selaput otak ( meningitis)
6. Pernikahan antar keluarga
Pada pertemuan konsultasi WHO-SEARO (South East Asia Regional Office)
Intercountry Meeting (Colombo,2002) disimpulkan bahwa pada 9 Negara dibawah
koordinasi WHO SEARO penyebab gangguan pendengaran adalah OMSK, tuli sejak
lahir, presbikusis, pemakaian obat ototoksik, pemaparan bising (noise induced
hearing loss / NIHL) dan serumen prop.

B. Tujuan
1. Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah untuk mengetahui sejauhmana
pencapaian Program Indra di UPT Puskesmas Nagara Tahun 2019.
2. Untuk meningkatkan kinerja pencapaian Program Indra di UPT Puskesmas
Nagara Tahun 2019.
3. Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan Indra kepada masyarakat

2
C. Manfaat
1. Diketahuinya pencapaian Program Indra di UPT Puskesmas Nagara Tahun
2019.
2. Meningkatnya kinerja pencapaian Program Indra di UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019.
3. Meningkatnya pelayanan kesehatan Indra kepada masyarakat
4. Sebagai dasar dari perencanaan UPT Puskesmas Nagara.

3
BAB II
GAMBARAN UMUM DAN DEMOGRAFI

A. Gambaran Umum
Puskesmas Nagara merupakan salah satu dari 52 Puskesmas yanga da
di wilayah Kabupaten Astina. Berdasarkan letak geografisnya bPuskesmas
Nagara berada di wilayah Kecamatan Astina yang merupakan wilayah dataran
rendah
1. Jumlah Desa
Secara administrative wilayah kerja Puskesmas Nagara terdiri dari 5 Desa,
yaitu:
a. Desa Swadikap
b. Desa Nagara
c. Desa Nagararaya
d. Desa Siranipan
e. Desa Naripan
Jumlah RT dan RW serta dusun di wilayah kerja Puskesmas Nagara dapat
dilihat pada table berikut:

Tabel 2.1
Luas Wilayah, Jumlah TD, RW dan Dusun,
Jarak dan Waktu ke Puskesmas Menurut Desa
Puskesmas Nagara
Tahun 2016

Luas Jumlah Waktu


NO Jarak ke
Desa Wilayah DUS Tempuh ke
2
RT RW Puskesmas
(KM ) UN Puskesmas
1 Swadikap 3,88 52 24 6 0,5 Km 5 Menit
2 Nagara 2,11 36 17 5 0,5 Km 5 Menit
3 Nagara Raya 1,9 43 10 4 0,5 Km 5 Menit
4 Siranipan 2,99 35 9 3 1 Km 8 Menit
5 Naripan 2,05 24 11 3 1,5 Km 10 Menit
JUMLAH PUSKESMAS 13 190 70 21
Sumber: Pemerintah Desa di Wilayah Kerja Puskesmas Nagara Tahun 2019

4
2. Luas Wilayah dan Batas Wilayah
a. Luas wilayah kerja Puskesmas Nagara sekirtar 12,93 Km2 dengan luas
tanah pesawahan 4,33 Km2, tanah kering 4,68 Km2 dan sisanya berupa
tanah darat, perbukitan.
b. Batas wilayah kerja Puskesmas Nagara adalah sebagai berikut:
1) Sebelah Utara berdbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas
Kartamerta
2) Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Cibeureum
Kabupaten Aryagumilar
3) Sebelah Barat berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas
Mandalika
4) Sebelah Timur berbatasan dengan Wilayah Kerja Puskesmas Astina
3. Kondisi Daerah
Wilayah Kerja Puskesmas Nagara berada di wilayah Kecamatan
Astina yang merupakan pusat Kota Kabupaten Astina, terdiri atas 5 Desa
yang kondisi wiulayahnya merupakan daerah yang terdiri atas
p[esawahan, dataran rendah dan perbukitan, jarak tempuh ke Puskesmas
Nagara adalah 1,5 Km yaitu dari Desa Naripan yang bias dicapai dalam
waktu 10 menit dengan kendaraan/disesuaikan denga kondisi jalan.

B. Demografi
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Nagara pada tahun 2019
adalah sebanyak 34.248 jiwa. Dengan komposisi penduduk sebagai berikut:
Tabel 2.2
Jumlah Penduduk Jenis Kelamin DAN Kelompok Umur
Puskesmas Nagara
Tahun 2019

Jumlah Penduduk
Kelompok Umur
No Laki-laki+
(Tahun) Laki-Laki Perempuan
Perempuan
1 2 4 5 6
1 0-4 1.180 1.140 2.320
2 5-9 1.169 1.197 2.366
3 10-14 1.276 1.210 2.486
4 15-19 1.113 1.109 2.222
5 20-24 1.143 1.008 2.151
6 25-29 1.274 1.137 2.411
7 30-34 1.150 1.099 2.249
8 35-39 1.078 1.032 2.110

5
9 40-44 1.003 1.078 2.081
10 45-49 935 883 1.818
11 50-54 832 809 1.641
12 55-59 654 673 1.327
13 60-64 516 590 1.106
14 65-69 454 540 994
15 70-74 350 431 781
16 75+ 269 340 609
JUMLAH 14.396 14.276 28.672
Sumber Data: Pemerintah Desa di Wilayah Puskesmas Nagara Tahun 2019
Rasio jenis kelamin adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki
per 10 penduduk perempuan. Data tentang rasio jenis kelamin berguna untuk
pengembangan perencanaan pembangunan berwaasan gender.
Menurut wilayah, rasio jenis kelamin penduduk di wilayah Kerja
Puskesmas Nagara tahun 2019 sebesar 101 yang artinya jumlah penduduk
laki-laki satu persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk prempuan.
Nilai ini berarti bahwa setiap 100 perempuan terdapat 101 laki-laki. Rasio
jenis kelamin terbesar terdapat di dewa Naripan yaitu sebesar 106 yang
terkecil terdapat di Desa Nagara. Rincian Data Rasio Jenis Kelamin
dapatdilihat pada Tabel 2.3 di bawah ini.
Tabel 2.3
Jumlah Penduduk Berdasarkan Jensi Kelamin
Dengan Rasio Jenis Kelamin Menurut Desa
Puskesmas Handapherang
Tahun 2019

Jumlah Penduduk
No Desa Rasio Jenis Kelamin
Laki-Laki Perempuan
1 2 3 4 5
1 Swadikap 3.060 3.041 100,6
2 Nagara 3.451 3.505 98,5
3 Nagara Raya 3.140 3.123 100,5
4 Siranipan 2.690 2.653 101,4
5 Naripan 2.082 1.954 106,6
Jumalah Puskesmas 14.423 14.276 101,0
Sumber Data: Pemerintah Desa di Wilayah Puskesmas Nagara Tahun 2019
Struktur Penduduk menurut jenis kelamin secara grafik dapat
digambarkan dalam bentuk Piramida Penduduk. Dasar Piramida Penduduk
menunjukkan Jumlah Penduduk. Badan Piramida Penduduk bagian kanan
menjukkan jumlah penduduk perempuan menurut kelompok umur. Piramida
tersebut merupakan gambaran struktur penduduk yang terdiri dariu struktur

6
penduduk muda, dewasa dan tua. Struktur penduduk ini menjadi dasar bagi
kebijakan kependudukan, social, budaya dan ekonomi.
Gambar 2.1 Menunjukkan bahwa struktur penduduk di wilayah
Puskesmas Nagara termasuk struktur penduduk muda. Hal ini dapat diketahui
dari banyaknya jumlah penduduk usia muda (0-14 tahun). Badan Piramida
membengkak menunjukkan banyaknya penduduk usia kerja terutama usia 25-
44 tahun.

Gambar 2.1
Piramida Penduduk
Di Wilayah Kerja Puskesmas Nagara
Tahun 2019

-269 340
70-74
-350 431
-454 540
-51660-64 590
-654 673
-832 50-54 809
-935 883
-1,003 40-44 1,078
-1,078 1,032
-1,150 30-34 1,099
-1,274 1,137
-1,143 20-24 1,008
-1,113 1,109
-1,276 10-14 1,210
-1,169 1,197
-1,180 0-4 1,140
-1,500 -1,000 -500 0 500 1,000 1,500

Laki-Laki Perempuan

Sumber Data: Pemerintah Desa di Wilayah Puskesmas Nagara Tahun


2019

Menurut wilayah kerja, dengan luas 12,93 Km2 maka tingkat


kepadatan penduduk pada tahun 2012 sebesar 2220 jiwa per Km2. Tingkat
kepadatan yang tinggi dapat terlihat pada Desa Nagararaya yaitu sebesar
3269 jiwa per Km2. Dengan rata-rata jumlah jiwa per rumah tangga adalah
sebesar 3,58 yang artinya jumlah jiwa pada setiap rumah tangga adalah 3
sampai 4 orang. Jumlah penduduk dan angka kepadatan penduduk per Desa
tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4
Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga dan
Kepadatan Penduduk Menurut Desa
Puskesmas Nagara

7
Tahun 2019

RATA-
KEPADATA
LUAS JUMLAH JUMLAH RATA
N N
DESA WILAYA PENDUDU RUMAH JIWA/
O PENDUDUK
H (Km2) K TANGGA RUMAH
Per Km2
TANGGA
1 2 3 4 5 6 7
1 SWADIKAP 3,88 6.101 1772 3,44 1572
2 NAGARA 2.11 6.956 2026 3,40 3262
3 NAGARARAYA 1,9 6.263 1802 3,48 3296
4 SIRANIPAN 2,99 5.343 1696 3,15 1787
5 NARIPAN 2,05 4.036 1368 2,95 1969
JUMLAH PUSKESMAS 13 28.699 8664 3,31 2220
Sumber Data: Pemerintah Desa di Wilayah Puskesmas Nagara Tahun
2019

Berhubungan dengan persebaran penduduk secara geografis dari


gambar 2.2 dapat diketahui tidak terlalu banyak ketimpangan persebaran
penduduk antar Desa. Pada gambar 2.2 Desa Nagara dengan luas wilayah
geografis sebesar 16% terdapat 24% penduduk, Desa Nagararaya 15%
terdapat 22% penduduk sdangkan Desa Swadikap dengan luas wilayah
geografis 30% terdapat penduduk 21%.
Indikator penting terkait distribusi penduduk menurut umur yang
sering digunakan untuk mengetahui produktivitas penduduk adalah rasio
beban ketergantungan atau Dependency Ratio. Rasio Rasio beban
ketergantungan adalah angka yang menyatakan perbandingan antara
banyaknya orang tidak produktif (umur di bawah 15 tahun dan 65 tahun ke
atas) dengan banyaknya orang yang termasuk umur produktif (umur 15-64
tahun). Secara kasar perbandingan angka beban ketergantungan
menunjukkan dinamika beban tanggungan umur nonproduktif terhadap
umur produktif. Semakin tinggi rasio beban tanggungan, semakin tinggi
pula jumlah penduduk nonproduktif yang ditanggung oleh penduduk umur
produktif.
Tabel 2.5
Jumlah Penduduk dan Angka Beban Ketergantungan
Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Usia Poduktif dan Non
Produktif
Puskesmas Nagara
Tahun 2019

No Usia Laki-Laki Perempuan Laki-Laki dan %

8
Perempuan
1 2 3 4 5 6
1 0-14 tahun 3.652 3.547 7.199 25,10%
2 15-64 tahun 9.698 9.418 19.116 66.6%
3 65 tahun ke atas 1.073 1.311 2.384 8,30%
Jumlah 14.423 14.276 28.699
Angka Beban
48,70% 51,60% 50,10%
Tanggungan
Sumber Data: Pemerintah Desa di Wilayah Puskesmas Nagara Tahun
2019

Komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok umur yang


ditunjukkan oleh Tabel 2.5, menunjukkan bahwa penduduk yang berusia
muda (0-14 tahun) sebesar 25,1 %, yang berusia produktif (15-64 tahun)
sebesar 66,6%, dan yang berusia tua (≥65 tahun) sebesar 8,3%. Dengan
demikian maka angka beban tanggungan (Dependency Ratio) penduduk
Indonesia pada tahun 2012 sebesar 50,1%. Hal ini berarti bahwa 100 orang
Indonesia yang masih produktif akan menanggung 50 orang yang belum
atau sudah tidak produktif lagi. Apabila dibandingkan dengan antar jenis
kelamin, maka angka beban tanggungan yaitu 48,7%, untuk laki-laki dan
51,6% untuk perempuan. Gambar 2.3 menunjukkan angka beban
ketergantungan Desa Nagara adalah 50,1% Desa dengan presentasi angka
beban ketergantungan tertinggi adalah Desa Nagara (51,8%) dan Desa
Naripan 51,73% Presentasi angka beban ketergantungan yang terendah
adalah Desa Siranipan (48,83%)
Gambar 2.3
Angka Beban Tanggungan Menurut Desa
Di Wilayah Kerja Puskesmas Nagara

PANYINGKIRAN

IMBANAGARARAYA

CISADAP

PAWINDAN

IMBANAGARA

47 48 49 50 51 52 53

Sumber Data: Pemerintah Desa di Wilayah Puskesmas Nagara Tahun


2019

9
BAB III
PEMBAHASAN

A. Indra Penglihatan
Indera Penglihat (Mata) Mata memiliki sejumlah reseptor khusus untuk
mengenali perubahan sinar dan warna. Selain itu terdapat otot- otot yang berfungsi
sebagai penggerak bola mata, kotak mata, kelopak mata dan bulu mata. Gambar.
Struktur mata manusia
1. Lapisan Bola Mata Bola mata memiliki garis tengah kira- kira 2,5 cm, bagian
depannya bening. Bola mata terdiri dari tiga lapisan, yaitu sklera, koroid dan retina.
a) Sklera
Sklera merupakan lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat fibrosa dan berwarna
putih. Fungsi lapisan ini sebagai pelindung. Disebelah luar sclera terdapat lapisan
sel- sel ephitelium yang membentuk membrane mukosa yang disebut konjungtiva.
Lapisan konjungtiva menjaga kelembapan mata. Lapisan sclera dibagian depan
bersifat transparan, disebut kornea. Kornea berfungsi menerima cahaya yang
masuk ke bagian dalam mata dan membelokkan berkas cahaya sedemikian rupa
sehingga dapat difokuskan. Lapisan konjungtiva tidak menutupi sclera
b) Koroid
Koroid adalah lapisan yang dibangun oleh jaringan ikat yang memiliki banyak
pembuluh darah dan sejumlah sel pigmem. Letaknya disebelah dalam sclera.
Dibagian depan mata, lapisan koroid memisahkan diri dari sclera membentuk iris
yang tengahnya berlubang. Lubang itu disebut orang- orangan mata atau pupil.
Sinar masuk melalui pupil. Dibelakang iris terdapat selaput berpigmen yang
memancarkan warna biru, hijau, coklat, atau hitam. Melebar atau menyempitnya
pupil diakibatkan oleh kontraksi dan relaksasinya otot yang mengelilingi iris (otot
sirkuler). Jadi iris berfungsi sebagai diafragma. Tepat dibelakang iris terdapat
badan siliaris yang tersusun atas serabut otot sirkuler dan serabut- serabut otot
yang letaknya seperti jari- jari sebuah lingkaran. Selain itu dibelakang iris terdapat
sebuah lensa cembung (bikonveks) yang diikat oleh otot- otot lensa. Badan siliaris
ini berfungsi mengikat lensa mata. Kontraksi dan relaksasi otot sirkuler pada
badan siliaris menentukan tebal- tipisnya lensa (akomodasi).
Akomodasi mata berarti memfokuskan bayangan, sedangkan kemampuan
pemfokusan objek pada jarak yang berbeda disebut daya akomodasi. Akomodasi
bertujuan agar bayangan yang terjadi jatuh tepat pada bintik kuning. Apabila

10
melihat objek yang letaknya jauh, lensa mata menjadi lebih pipih, tetapi jika
melihat objek yang letaknya dekat, lensa mata menjadi lebih cembung. Pengaturan
kecembungan lensa ini diatur oleh otot- otot lensa yang melingkar (otot siliaris).
Saat melihat objek yang jauh otot lensa berelaksasi, sedangkan bila melihat objek
yang dekat otot lensa berkontraksi. Lensa mata berbentuk bikonveks.
Lensa mata membagi mata menjadi dua rongga, yaitu ruangan antara kornea denga
lensa (rongga muka), dan ruangan dibelakang lensa (rongga belakang). Kedua
rongga tersebut diisi cairan kental dan transparan seperti jeli. Rongga depan berisi
aqueous humour (humor berair), sedangkan rongga belakang berisi vitreous
humour (humor bening). Kedua macam cairan tersebut berfungsi membantu
memfokuskan cahaya kedalam retina.
c) Retina
Retina merupakan lapisan bagian dalam yang sangat halus dan sangat sensitive
terhadap cahaya. Pada retina terdapat reseptor (fotoreseptor). Fotoreseptor
berhubungan dengan bagian badan sel- sel saraf yang serabutnya membentyuk urat
saraf optic yang memanjang sampai ke otak. Bagian lapisan retina yang dilewati
berkas urat saraf yang menuju ke otak tidak memiliki reseptor dan tidak peka
terhadap sinar. Apabila sinar mencapai bagian ini kita tidak dapat mengenali
cahaya. Oleh karena itu, daerah ini disebut bintik buta. Gambar. Benda dan
bayangan pada retina Gambar. Struktur retina mata
2. Reseptor Mata Pada retina terdapat dua macam sel reseptor (fotoreseptor), yaitu sel
kerucut (sel konus) dan sel batang (sel basilus).
Jika diurutkan dari arah depan ke belakang, cahaya akan menembus melewati
kornea, aqueous humour, lensa, vitreous humour, dan lapisan retina yang
mengandung sel kerucut dan sel batang. Pada retina terdapat satu daerah yang
disebut fovea atau bintik kuning yang hanya berisi sel- sel kerucut. Penyebaran sel
kerucut dan sel batang pada retina tidak merata. Dibagian tepi (perifer) yang
paling jauh dari bintik kuning hanya berisi sel batang. Gambar. Penampang sel
batang Sel batang berjumlah sekitar 125 juta buah dalam setiap mata. Sel batang
sangat peka terhadap intensitas cahaya rendah, tetapi tidak mampu membedakan
warna. Oleh karena itu kita dapat melihat dimalam hari tetapi yang terlihat hanya
warna hitam dan putih saja. Bayangan yang dihasilkan dari sel ini tidak tajam. Sel
kerucut jumlahnya sekitar 5 juta pada setiap mata. Sel kerucut sangat peka
terhadap intensitas cahaya tinggi. Sehingga berperan untuk penglihatan siang hari

11
dan untuk membedakan warna. Gambar. Sel- sel yang berperan dalam
menghantarkan impuls cahaya
3. Kelainan pada Mata
Jarak titik dekat adalah jarak terpendek antara benda atau objek dengan mata
sehingga mata masih dapat mengenali benda itu dengan jelas. Lebih pendek lagi
jaraknya, mata sudah tidak dapat mengenali benda dengan jelas. Usia seseorang
dapat menyebabkan perubahan jarak titik dekat. Pada usia anak- anak, jarak titik
dekat pendek, tetapi dengan bertambahnya usia, jarak titik dekat semakin panjang.
Sebagai perbandingan pada usia 11 tahun jarak titik dekat sekitar 9 cm, namun
pada seseorang yang berusia 40- 50 tahun jarak titik dekat menjadi 50 cm. itulah
sebabnya orang yang berusia lanjut menjauhkan buku bacaannya apabila dia
membaca buku. Untuk menolongnya digunakan kacamata lensa cembung (+).
Berbagai macam kelainan penglihatan terjadi apabila unsur- unsur sistem optic
tidak menunjang. Macam- macam kelainan mata diantaranya sebagai berikut: Jenis
kelainan
Penyebab Ditolong dengan Hipermetropia (rabun dekat) Lensa mata tidak dapat
mencembung atao bola mata terlalu pendek sehingga bayangan benda jatuh
dibelakang retina.
Lensa cembung (konvergen/ positif) Miopia (rabun jauh). Lensa mata terlalu
cembung atau bola mata terlalu panjang sehingga bayangan benda jatuh didepan
retina. Lensa cekung (divergen/ negatif) Presbiopia Elastisitas mata berkurang
karena usia tua. Lensa rangkap (dua macam lensa) Astigmatisme Permukaan lensa
mata tidak sama sehingga fokusnya tidak sama, dan bayangan benda yang
terbentuk tidak sama. Lensa silindris (silinder) Katarak Lensa mata buram, tidak
elastis akibat pengapuran sehingga daya akomodasi berkurang.
Operasi Glaukoma Adanya penambahan tekanan dalam mata, karena cairan dalam
bilik anterior mata (aqueous humour) belum sempat disalurkan keluar sehingga
tegangan yang ditimbulkan dapat menyebabkan tekanan pada saraf optik; lama-
kelamaan akan menyebabkan hilangnya daya penglihatan. Obat- obatan, operasi
dengan menggunakan laser.

B. Indera Pendengar (Telinga)


Telinga merupakan alat pendengar dan alat keseimbangan. Telinga terdiri
dari tiga bagian, yaitu telinga luar, telinga tengah dan rongga telinga
dalam.Struktur telinga manusia

12
1. Telinga luar Telinga luar terdiri atas daun telinga damn lubang telinga luar.
Daun telinga terdiri atas tulang rawan dan jaringan fibrosa, kecuali pada ujung
telinga bawah, yaitu cuping telinga, terdiri atas lemak. Daun telinga berfungsi
untuk menerima dan mengumpulkan suara yang masuk. Saluran luar yang
dekat denga lubang telinga dilengkapi dengan rambut- rambut halus yang
menjaga agar benda asing tidak masuk, dan terdapat kelenjar lilin yang
berperan menjaga agar permukaan saluran luar dan gendang telinga tidak
kering.
2. Telinga tengah Telinga tengah merupakan rongga yang berhubungan dengan
faring melalui saluran eustachius. Fungsi saluran ini menjaga keseimbangan
tekanan udara antara udara luar dengan udara didalam telinga tengah. Pada
telinga tengah terdapat membrane timpani dan tulang- tulang telinga tengah.
Membrane timpani (disebut juga dengan istilah gendang telinga) merupakan
selaput yang menerima \gelombang bunyi dan memisahkan antara telinga luar
dan telinga dalam. Tulang- tulang telinga tengah terdiri atas tiga macam, yaitu
tulang matil(malleus) yang menempel pada gendang telinga, tulang landasan
(incus), dan tulang sanggurdi (stapes). Tulang martil(bentuknya seperti matil)
melekat pada gendang telinga dan tulang sanggurdi (bentuknya enyerupai
sanggurdi, tempat pijakan kaki dalam menunggang kuda) berhubungan
dengan jendela oval pada telinga dalam. Rangkaian ketiga tulang ini berfungsi
untuk mengalirkan getaran suara dari gendang telinga menuju ke rongga
telinga dalam.
3. Rongga telinga dalam Rongga telinga dalam terdiri dari rongga yang
menyerupai saluran saluran. Rongga rongga ini disebut labirin tulang dan
dilapisi dengan membrane sehingga disebut juga labirin membrane. Labirin
tulang terdiri dari tiga bagian, yaitu vestibula, koklea(rumah siput),dan tiga
saluran satengah lingkaran.labirin membrane terdiri dari utrikulus dan sakulus
didalam vastibula,saluran koklea didalam koklea,dan membrane saluran
setengah lingkaran.vestibula (mengandung utrikulus dan sakulus) dan saluran
setengah lingkaran merupakan orga keseimbangan, sedangkan koklea
merupakan organ pendengar. Rumah siput atau koklea merupakan suatu
tabung yang panjangnya sekitar 3 cm dan bergelung seperti cangkang keong
srta berisi cairan limpa. Koklea tersebut berbentu saluran melingkar yang
terdiri atas tiga ruangan, yaitu skala vestibuli, skala media, dan skala timpani.

13
Skal vestibule dan skala timpani mengandung cairan yang disebut perilimfe.
Skala media juga mengandung cairan yang disebut endolimfe.
Skala festibuli berhubungan dengan skala timpani melalui lubang kecil yang
disebut helikontrema. Skala festibuli berakhir pada jendela oval (foramen
ovale), sedangkan skala timpani berakhir pada jendela bundar. Antara skala
festibuli denga skala media terdapat membran reissner, sedangkan anrata skala
media denga skala timpani terdapat membrane basiler. Didalam skala media
terdapat suatu tonjolan yang disebut membrane tektorial yang sejajar dengan
membrane basiler. Didalam skala media bagian dalam atau tengah terdapat
organ korti. Organ korti berisi ribuan sel rambut sensori yang merupakan
reseptor getaran (reseptor fibrasi). Sel- sel rambut tersebut terletak di atara
membrane basiler dan membrane tektorial dasar dari sel reseptor pendengar
tersebut berhubungan dengan serabut saraf yang bergabung membentuk saraf
pendengar. Gambar. Telinga tengah dan dalam
4) Proses mendengar Mekanisme mendengar dimulai dengan adanya gelombang
bunyi yang masuk melalui liang telinga, yang akan menggetarkan membrane
timpani. Getaran ini akan diteruskan ke dalam telinga tengah melalui tulang-
tulang pendengaran. Selanjutnya getaran di teruskan ke telinga dalam melalui
selaput jendela oval dan mengetarkan cairan perilimfe yang terdapat di dalam
skala vestibuli. Getaran cairan tersebut akan menggetarkan membrane reissner
dan menghgetarkan cairan endolimfe di dalam skala media. Getaran cairan ini
menggerakan membrane basiler yang selanjutnya menggetarkan cairan dalam
skala timpani. Pada saat membrane basiler bergetar akan menggerakan sel- sel
rambut, dan ketika se- sel rambut tersebut menyentuh membrane tektorial
terjadilah rangsangan (impuls) yang akan dikirim ke pusat pendengar didalam
otak melalui saraf sensori (saraf pendengar). Gambar. Proses mendengar
5) Alat keseimbangan Alat ini berupa saluran setengah lingkaran dan setiap
saluran menggembung pada salah satu ujungnya yang disebut ampula. Di
dalam ampula terdapat reseptor yang berupa kelompok sel saraf sensori yang
memiliki rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah, disebut kupula.
Selain tiga saluran setengah lingkaran terdapat alat keseimbangan yuang
terletak di dalam utrikulus dan sakulus yang berupa sekelompok sel saraf yang
ujungnya berupa rambut bebas yang melekat pada otolit, yaitu bola- bola
kalsium karbonat yang ukurannya sangat kecil. Perubahan posisi kepala
menyebabkan otolit bergeser possisinya, akibatnya timbul impuls yang akan

14
dikirim ke otak, sehingga kita merasakan sedang miring atau tegak. Gerakan
melingkar pada kepala mengakibatkan terjadinya cairan limfe dan
menggerakan otolit meskipun kita sudah berhenti berputar. Akibatnya kita
merasa pusing. Gambar. Alat- alat keseimbangan pada telinga
6) Kelainan pada telinga Kelainan pada telinga dapat di kelompokan menjadi dua
kelompok, yaitu: ü Gangguan perambatan suara Suara dari luar dapat
terhambat oleh kotoran telinga, tumor dan zat-zat lain yang menyumbat liang
telinga. Selain itu, kerusakan tulang-tulang pendengaran juga mengganggu
perambatan suara. Kerusakan tulang pendengar di awali oleh gejala telinga
mendengung. Infeksi telinga juga menganggu perambatan suara. Infeksi ini
disebut otitis. Telinga tengah, yang berhubungan dengan faring, dapat
terinfeksi oleh bakteri atau virus. Lukanya menghasilkan nanah dan bau tak
sedap. ü Gangguan saraf pendengaran Gangguan saraf pendengaran biasanya
terjadi pada usia lanjut. Ini disebut presbikusis. Saraf penderita mengalami
kemunduran (degenerasi). Kerusakan saraf pendengaran juga dapat di
akibatkan oleh kebisingan (polusi suara) yang di sebabkan oleh suara
berfrekuensi tinggi.
7) Teknologi membantu pendengaran Teknologi yang umum dijumpai adalah
penggunakan alat bantu dengar. Hal ini di lakukan apabila proses perambatan
impuls suara tidak dapat mencapai telinga tengah, misalnya karena tulang-
tulang pendengar rusak. Pada daun telinga di pasang alat penerima suara, yang
kemudian mengubahnya menjadi sinyal listrik. Sinyal tersebut dirambatkan
melalui elektroda ke telinga dalam. Dengan demikian penderita dapat
menangkap suara.

C. Indera Peraba (Kulit)


Kulit merupakan indra peraba, sebab memiliki ujung-ujung saraf sensori
sebagai reseptor khusus untuk sentuhan, tekanan, temperature (panas dan dingin),
serta rasa sakit. Sebagian reseptor terletak pada lapisan dermis, dan ada juga yang
terletak pada lapisan epidermis. Ujung-ujung saraf tersebut ada yang terbungkus
kapsul (di sebut korpuskula) dan ada yang tidak terbungkus (di sebut ujung-ujung
saraf bebas). Ujung saraf yang tergolong korpuskula adalah korpuskula Meissner
(reseptor untuk sentuhan terletak dekat permukaan kulit), korpuskula Pacini
(raseptor tekanan),dan korpuskula Ruffini (ujung saraf peraba).Ujung saraf bebas
antara lain reseptor untuk rasa sakit dan sentuhan yang keduanya terletak di

15
lapisan epidermis kulit, serta reseptor untuk sentuhan yang terletak di pangkal
setiap rambut. Selain itu ada pula lempeng Merkel yang merupakan ujung saraf
perasa sentuhan dan tekanan ringan.Gambar. Kulit dan reseptor pada manusia

D. Indera Pengecap (Lidah)


Lidah merupakan organ yang tersusun atas otot. Permukaan lidah banyak
tonjolan kecil yang disebut papilla lidah, memberi kesan lidah terkesan kasar. Pada
papilla lidah terdapat indra pengecap. Pemukaan lidah di lapisi lapisan epitelium
yang banyak mengandung kelenjar lendir. Selain itu terdapat reseptor pengecap
berupa kuncup pengecap. Kumcup pengecap tersebut terdiri atas sekelompok sel
sensori yang memiliki tonjoplan seperti rambut. Kuncup pengcap dapat
membedakan empat macam rasa, yaitu manis, pahit,asam, dan asin. Letak kuncup
pengecap tertentu lebih banyak berkumpul pada daerah tertentu pada lidah
(a) letak kuncup pengecap tertentu pada lidah,
(b) struktur kuncup pengecap

E. Indera Pembau (Hidung)


Manusia mampu mendeteksi bau dengan menggunakan reseptor yang ada
di dalam hidung. Sel-sel sensori penerima rangsang gas kimia (kemoreseptor)
terdapat pada lapisan epitelium yang terletak di sebelah dorsal rongga hidung, dan
terlindung oleh lender (mukus). Di akhir setiap sensori terdapat beberapa silia atau
rambut pembau. Molekul-molekul yang larut dalam air dan lemak yang ada di
udara akan larut dalam lapisan lendir tersebut dan menimbulkan sensasi bau.
Aktifnya indra pembau di rangsang oleh gas yang terhirup oleh hidung. Indra
pembau tersebut sangat peka dan kepekaannya mudah hilang jika di hadapkan
pada bau yang sama dalam jangka waktu yang lama. Contohnya jika kita berada
dalam ruangan yang sesak dan pengap, maka kita tidak akan segera merasakan bau
yang tidak enak tersebut. Indra pembau dapat juga menjadi lemah jika selaput
lender hidung sangat kering, sangat basah, atau membengkak. Antara indra
pengecap dan pembau terdapat hubungan yang erat. Makanan atau bahan yang lain
dapat di rasakan kenikmatannya karena adanya kerjasama antara indra pengecap
dan pembau. Apabila salah satu alat itu terganggu, maka kenikmatannya
berkurang. Sebagai contoh orang yang terkena flu (pilek) kurang dapat merasakan
kenikmatan karena ujung-ujung saraf pembau terganggu.

16
BAB IV
SITUASI DERAJAT KESEHATAN PROGRAM

Pada tahun 2019 Prevalensi penyakit tidak menular yang ditemukan


diantaranya, katarak, glaukoma dan gangguan pendengaran termasuk penyakit lama
yang muncul kembali (Reemerging Deseas).
Pencapaian program indra pada tahun 2019 dapat kita lihat pada pembahasan
dibawah ini :
Tabel 3.1
Pencapaian Program Indra Menurut PKP
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
No Jenis Kegiatan Target Pencapaian %
1 Cakupan Skrining Kelainan/ 3.419 3.419 100
gangguan refraksi pada anak
sekolah
2 Cakupan Penanganan kasus 757 757 100
kelaianan refraksi
3 Cakupan skrining katarak 41 41 100
4 Cakupan Penanganan 31 31 100
Penyakit Katarak
5 Cakupan rujukan gangguan 1 1 100
penglihatan pada kasus
Diabetes Militus ke RS
6 Cakupan Kegiatan 922 922 100
Penjaringan Penemuan
Kasus Gangguan
Pendengaran di SD/MI
7 Cakupan Kasus Gangguan 402 402 100
Pendengaran di SD/MI yang
ditangani

Grafik 3.1
Pencapaian Program Indra Menurut PKP
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
4,000
3,500
3,000
2,500
2,000
1,500 Target
1,000
500 Pencapaian
0
%

17
Tabel 3.2

Jumlah Kasus Skrining Katarak


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
Jumlah Kasus Katarak
Desa Jumlah
L P
Swadikap 4 3 7
Nagara 4 2 8
Nagararaya 8 5 13
PaSiranipan 6 5 11
Naripan 7 11 18
Jumlah 27 21 48

Grafik. 3.2
Jumlah Kasus Skrining Katarak
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

18
18

16

14 13

12 11

10
8
8 7

0
Swadikap Nagara Nagararaya Siranipan Naripan

18
Tabel 3.3

Jumlah Kasus Katarak


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

Jumlah Kasus Katarak


Desa Jumlah
L P
Swadikap 2 24 26
Nagara 10 12 22
Nagararaya 12 32 44
PaSiranipan 24 32 56
Naripan 21 41 62
Jumlah 69 141 210

Grafik. 3.3
Jumlah Kasus Katarak
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
100%

90%

80%

70%

60%

50% 26 22 44 56 62

40%

30%

20%

10%

0%
Swadikap Nagara Nagararaya Siranipan Naripan

19
Tabel 3.4

Jumlah Kasus Kelainan Refraksi di Desa


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
Jumlah Kasus Katarak
Desa Jumlah
L P
Swadikap 8 12 20
Nagara 8 7 15
Nagararaya 5 15 20
PaSiranipan 6 3 9
Naripan 10 5 15
Jumlah 37 42 79

Adapun kasus kelainan refrasi pada anak sekolah pada tahun 2019 adalah ….
Jadi jumlah total dengan desa adalah … kasus. Untuk kasus glaucoma hanya … orang
dari desa kadakajaya.
Grafik 3.4

Jumlah Kasus Kelainan Refraksi di Desa


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

20
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

20
Tabel 3.5
Jumlah Kasus Konjungtivitis
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

Jumlah Kasus Katarak


Desa Jumlah
L P
Swadikap 8 12 20
Nagara 8 7 15
Nagararaya 5 15 20
PaSiranipan 6 3 9
Naripan 10 5 15
Jumlah 37 42 79

Grafik 3.5

Jumlah Kasus Konjungtivitis


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

20

18

16

14

12

10 20 20

8 15 15

6
9
4

0
Swadikap Nagara Nagararaya Siranipan Naripan

21
Tabel 3.6

Jumlah Kasus Gangguan Pendengaran ( Serumen Prop )


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

Jumlah Kasus Katarak


Desa Jumlah
L P
Swadikap 0 2 2
Nagara 0 1 1
Nagararaya 2 0 2
PaSiranipan 0 1 1
Naripan 1 0 1
Jumlah 3 4 7

Adapun kasus gangguan pendengaran pada anak sekolah pada tahun 2019
adalah ….. Jadi jumlah total dengan desa adalah ….. kasus. Untuk kasus preskubis
hanya 1 satu orang dari desa kadakajaya.

Grafik 3.6

Jumlah Kasus Gangguan Pendengaran ( Serumen Prop )


UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

5
12
8
Swadikap
Nagara
Nagararaya
Siranipan

10 Naripan
15

22
Tabel 3.7
Jumlah Kasus OMSK
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
Jumlah Kasus Katarak
Desa Jumlah
L P
Swadikap 0 0 0
Nagara 0 0 0
Nagararaya 0 0 0
PaSiranipan 0 0 0
Naripan 0 0 0

Jumlah 0 0 0

Grafik 3.7
Jumlah Kasus OMSK
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0

23
Tabel 3.8
Jumlah Kasus OMA
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019
Jumlah Kasus Katarak
Desa Jumlah
L P
Swadikap 0 2 2
Nagara 0 1 1
Nagararaya 2 0 2
PaSiranipan 0 1 1
Naripan 1 0 1
Jumlah 3 4 7

Grafik 3.8
Jumlah Kasus OMA
UPT Puskesmas Nagara
Tahun 2019

1.8

1.6

1.4

1.2

1 2 2

0.8

0.6
1 1 1
0.4

0.2

0
Swadikap Nagara Nagararaya Siranipan Naripan

24
BAB IV
UPAYA PENINGKATAN
KESEHATAN PROGRAM INDRA

Dari hasil pembahasan pencapaian program Indra pada tahun 2019, maka
upaya yang dilakukan untuk tahun 2020 adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan penyuluhan dalam gedung dan luar gedung ke sekolah,
posyandu, posbindu dan masyarakat ( home visite )
2. Melaksanakan pendataan kasus penglihatan dan pendengaran.
3. Melakukan kerjasama dengan lintas program baik program wajib maupun
program pengembangan lainnya.
4. Melakukan kerjasama lintas sektor.
5. Meningkatkan perencanaan yang lebih baik dalam upaya peningkatan
pencapaian program puskesmas.

25
RENCANA USULAN KEGIATAN YANG AKAN DILAKSANAKAN

Biaya Waktu 2018


No Kegiatan Tujuan Pelaksana Lokasi Sasaran Target Logistik
(Rp) J F M A M J J A S O N D
1 Skrining anak Untuk mengetahui  Petuga sekolah 46 80% BOK transport
SD,MI,DAN SMP, berapa siswa yang s sekolah
SMA. mengalahi indra
gangguan  Dokter
penglihatan
2 Pelacakan pelacakan Untuk  Petugas Desa 5 desa 100% BOK Transpor
katarak dari umur 40 menanggulangi indra t
s/d >65 Tahun kasus katarak  dokter
sehingga dapat
cepat tertangani

3 Melakukan Untuk  Petugas Desa 5 Desa 100% BOK Transpor


penyuluhan untuk menanggulangi indra t
kasus penglihatan kasus penglihatan  dokter
dan pendengaran dan pendengaran

6 Pendampingan Pos Pemantauan Pos OP  Petugas Desa 5 Desa 100% BOK Transpor
OP indra t
 Dokter

26
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Pembuatan Laporan Tahunan Program indra sangat diperlukan baik oleh
Puskesmas maupun bagi pihak yang terkait lainnya, karena dari Laporan
Tahunan ini terangkum semua hasil kegiatan program indra sehingga
memudahkan dalam mencari data secara lengkap.
2. Visi dan Misi Puskesmas belum sepenuhnya dipahami oleh seluruh
jajaran karyawan Puskesmas, sehingga dalam implementasi di lapangan
sering terjebak dalam tugas-tugas yang sifatnya rutinitas tanpa
sepenuhnya dilandasi oleh semangat yang terkandung dalam makna visi
misi puskesmas, yang berdampak terhadap kurang maksimalnya kinerja
dan pencapaian program indra di puskesmas.
3. Walaupun belum maksimal sebagian besar program indra sudah berjalan,
hanya diperlukan upaya peningkatan baik dari kwantitas maupun
kwalitas kegiatan.
4. Kemampuan puskesmas untuk melakukan advokasi terhadap sektor
lainnya yang ada di tingkat kecamatan masih belum optimal, sehingga
peran serta masyarakat didalam konsep pembangunan berwawasan
kesehatan masih disikapi secara pasif oleh masyarakat dan kelembagaan
yang ada diluar kesehatan dan masih ada anggapan bahwa pembangunan
kesehatan masih merupakan tanggungjawab petugas kesehatan/sektor
kesehatan/Puskesmas.
5. Guna meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat maka
direkomendasikan kepada semua unsur yang ada dilingkungan
puskesmas agar melakukan introspeksi terhadap tanggung jawab yang
diembannya serta terus melakukan upaya peningkatan mutu secara
profesional.

27
B. Saran
Kami menyadari bahwa Laporan Tahunan ini masih memerlukan
penyempurnaan, dengan demikian kami sangat terbuka untuk menerima
masukan, petunjuk dan bimbingan dari semua pihak demi perbaikan di masa
yang akan datang.
Demikian Laporan Tahunan Program Kesehatan Indra Tahun 2019
ini dibuat, dengan harapan menjadi sumber data bagi seluruh pihak yang
berkepentingan, sebagai pedoman dalam melakukan upaya peningkatan
kinerja pelayanan serta sebagai dasar dalam menyusun rencana kegiatan yang
akan datang.

Nagara, 31 Desember 2019


Mengetahui
Kepala UPTS Puskesmas Nagara Pelaksana Program Kesehatan Indra
Kabupaten Astina UPTD Puskesmas Nagara

ALINEA STINA, SKM, MM Hj. SEGARA STINA, S.Kep.NERS


NIP. 19780512 200604 2 011 NIP. 196520081 88303 2 001

28