Bab

PROLOG

1.

PENDAHULUAN

Kesejahteraan yang semakin tinggi dan semakin adil senantiasa dicitacitakan oleh banyak pihak, baik kalangan pemerintah, dunia usaha maupun kelompok masyarakat lainnya. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa setiap rejim pengelola pemerintahan, ”pusat” maupun ”daerah” di seluruh negara pada dasarnya selalu menetapkan hal tersebut sebagai ”tujuan akhir” yang ingin diwujudkan di masa pemerintahannya. Perjalanan sejarah menunjukkan bahwa walaupun banyak ”keserupaan” yang dijumpai dalam upaya mewujudkan cita-cita tersebut – dan karenanya dapat memberikan pelajaran berharga yang dapat dipetik, namun setiap negara maupun daerah dihadapkan kepada ”kekhasan” tantangan dan faktor multidimensional lainnya yang tidak dapat diabaikan. Kini, para pengelola pemerintahan, pelaku bisnis, dan kelompok masyarakat lainnya dituntut semakin cerdas melaksanakan perannya dalam mencapai cita-cita tersebut. Dari beragam studi – diperkuat oleh data faktual1 - secara ringkas dapat ditarik beberapa esensi penting, bahwa ”keserupaan” yang dihadapi semua negara sebagai bentuk dinamika perubahan yang saling terkait satu dengan lainnya dan hampir mustahil dihindari adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kecenderungan perkembangan ekonomi internasional yang semakin sarat dengan pengetahuan, kecenderungan perekonomian jaringan, kecenderungan globalisasi, dan kecenderungan semakin berperannya ”faktor-faktor lokasional” dalam tatanan global. Di tengah kompleksitas dan dinamika perkembangan demikian, persaingan (competition) dan sekaligus kerjasama (cooperation), adalah di antara isu yang senantiasa dihadapi oleh semua pihak dalam mewujudkan kesejahteraan. Para pelaku bisnis dituntut semakin mampu bersaing dan sekaligus bekerjasama untuk keberhasilan bisnisnya. Para pengelola pemerintahan perlu semakin cerdas dalam melaksanakan perannya antara lain menciptakan iklim kondusif di wilayah yurisdiksinya bagi persaingan bisnis yang sehat dan adil. Namun tentu, karena bisnis ataupun aktivitas perekonomian tak mengenal batas pemerintahan, mereka pun perlu semakin mampu bekerjasama saling menguntungkan dengan wilayah lainnya. Analog dengan hal tersebut, komunitas iptek seperti perguruan tinggi dan lembaga litbang, dan kelompok masyarakat lain agar berhasil, dituntut, secara individu maupun bersama, untuk semakin kompetitif dalam bidangnya masingmasing dan semakin mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak. Singkatnya, kesejahteraan perlu diwujudkan melalui peningkatan kemampuan bersaing dan bekerjasama di berbagai bidang.

1

Lihat misalnya studi-studi oleh Bank Dunia,OECD, Uni Eropa atau lembaga-lembaga di bawah naungan PBB.

2

n

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Walaupun secara filosofis hal demikian bukanlah sesuatu yang baru sama sekali, namun perkembangan dan tantangan demikian tentu tidak mudah ”diterima” terutama dalam kultur yang lebih menghargai ”kesamaan” ketimbang ”upaya/ikhtiar untuk berlomba memberikan yang terbaik (lebih baik).” Bagi sebagian kelompok masyarakat, kata ”persaingan” (walaupun dalam konteks pengertian positif) boleh jadi masih merupakan hal yang perlu dihindari. Karenanya, upaya-upaya untuk memperkenalkan beragam bentuk perbaikan secara terus-menerus seperti dalam bentuk awareness campaign kepada seluruh lapisan masyarakat merupakan hal yang sangat penting. Indonesia adalah negara yang kaya dengan kebhinekaan, termasuk keragaman kultur, potensi sumber daya alam, dan lainnya. Sebagai bagian integral perekonomian, sosial dan politik, maka proses dan keberhasilan pembangunan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat di tingkat ”daerah” akan terkait dengan tingkat ”nasional,” dan demikian sebaliknya. Perbedaan, walaupun tentu merupakan tantangan, merupakan bagian dari modal dalam mendorong proses dan membangun pilar-pilar kemajuan yang semakin saling mengisi (komplementatif) dan saling memperkuat yang memberikan sinergi. Menyadari bahwa perbedaan pun merupakan anugerah adalah bagian dari perbaikan paradigma dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Ini merupakan di antara titik mulai (starting point) proses agar dengan penuh kesungguhan berupaya secara lebih cerdas mewujudkan kesejahteraan masyarakat di daerah dengan meningkatkan daya saing atau kemampuan bersaing dan kemampuan berkolaborasi sesuai dengan potensi terbaik daerah. Bersaing memiliki arti bahwa semua pihak berlomba memperkuat kemampuannya dan melaksanakan peran terbaiknya untuk menghasilkan keluaran yang lebih baik terus-menerus. Berkolaborasi memiliki arti bahwa para pihak dengan kemampuan dan peran terbaik masing-masing juga akan saling berhubungan, berinteraksi dan bekerjasama saling mengisi dan memperkuat agar memungkinkan sinergi dalam menghasilkan keluaran yang lebih baik terus-menerus. Keluaran yang lebih baik (antara lain misalnya dalam bentuk nilai tambah atau produktivitas ekonomi dan kohesi sosial serta kelestarian lingkungan) memungkinkan kesejahteraan yang lebih tinggi dan lebih adil dapat ditingkatkan secara berkelanjutan. Dalam kaitan ini, inovasi dipandang sebagai faktor yang semakin mempengaruhi, jika tidak ”menentukan (determinan).” Inovasi memungkinkan pembaruan yang membawa kepada perbaikan dalam kehidupan masyarakat. Kesadaran tentang ini, walaupun telah lama berkembang, perlu terus diperbarui. Perubahan yang terus terjadi seringkali memerlukan cara pikir, sikap dan tindakan yang lebih baik dan juga seringkali ”berbeda’ dari sebelumnya. Demikian halnya dengan inovasi. Perubahan itu sendiri, yang akan terus terjadi, memerlukan perbaikan dalam pemahaman dan upayaupaya mendorong berkembangnya inovasi untuk mengatasi/menghadapi dinamika tantangan perubahan tersebut. Cara pandang atau pendekatan sistem kini berkembang sebagai suatu alat untuk memperbaiki kebijakan inovasi pada berbagai tataran. Dalam kerangka semangat inilah, bahasan yang akan disampaikan dalam buku ini dikembangkan dan diajukan untuk menjadi masukan bagi para pihak, terutama pemerintahan daerah sebagai pembuat kebijakan di daerah, yang selanjutnya disesuaikan secara kontekstual dalam memperbaiki upaya dan proses pembangunan daerah masing-masing.

2.

KERANGKA BAHASAN

Gagasan dalam buku ini disampaikan dalam beberapa bagian/bab, yang pembagiannya lebih didasarkan pada pertimbangan praktis. Ini terutama berdasarkan segi penulisan dan alur pikir yang hendak disampaikan, yang dipandang dapat memudahkan pemahaman oleh pembaca tentang beberapa hal yang penulis anggap penting. Perlu disampaikan bahwa diskusi pada setiap “topik” yang disajikan dalam buku ini secara keseluruhan masih bersifat sebagai pengantar/bahasan umum.

BAB 1 PROLOG

n

3

Bab pertama merangkum beberapa hal mendasar menyangkut pentingnya peningkatan daya saing dalam konteks pewujudan kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi dan adil. Dalam kaitan ini, sistem inovasi (pada beragam konteks) yang mampu memperkuat kapasitas inovatif, pada tataran nasional secara umum dan daerah khususnya, semakin menjadi kunci bagi peningkatan keunggulan daya saing yang berkelanjutan. Sebagai suatu ”kerangka konsepsi” atau ”pendekatan,” sistem inovasi tak saja menjadi alat pemahaman tetapi juga membantu dalam merancang, mengimplementasikan dan mengevaluasi upaya-upaya penguatan, khususnya melalui agendaagenda kebijakan, bagi peningkatan inovasi, perkembangan difusi dan proses pembelajaran berbagai aktor. Sementara itu, klaster industri dipandang sebagai suatu pendekatan sekaligus dapat dijadikan pijakan (platform) bersama dan penyusunan agenda bersama banyak pihak yang dapat mendukung pengembangan sistem inovasi (atau kapasitas inovatif) tersebut. Dua dari topik penting ini, yaitu tentang daya saing dan klaster industri, telah dibahas dalam makalah dan buku lain penulis. Berbagai kajian juga telah mengangkat diskusi yang saling melengkapi tentang ini dan beberapa prakarsa nasional telah dimulai. Buku ini akan menititkberatkan pada topik penting terkait lainnya, yaitu sistem inovasi, khususnya dari perspektif kebijakan. Untuk memulai diskusi tersebut, Bab 2 dan 3 memberikan suatu tinjauan ringkas tentang sistem inovasi dan kebijakan serta beberapa aspek penting terkait. Konsep atau beberapa pengertian dasar yang berkembang dipandang perlu disajikan, walaupun tentu saja ini tidak dimaksudkan untuk membatasi pandangan. Kedua bab ini juga diharapkan dapat memberikan suatu landasan dan/atau posisi pandangan (termasuk yang bersifat pandangan subyektif dari penulis) bagi bahasan dalam bab-bab selanjutnya. Selanjutnya Bab 4 dan 5 mengungkapkan contoh ilustratif dan sangat selektif tentang sistem inovasi di beberapa kelompok negara (terutama OECD dan Uni Eropa) dan beberapa negara beserta beberapa contoh tertentu praktik kebijakannya. Sementara itu, Bab 6 membahas singkat gambaran umum nasional beserta beberapa indikator komparatif dan beberapa perkembangan penting yang relevan dengan kebijakan inovasi di Indonesia. Walaupun tidak dimaksudkan sebagai perbandingan ”linier” seperti aple to aple ataupun sebagai suatu upaya benchmarking yang dirancang khusus, ketiga bab ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran umum posisi relatif Indonesia di arena internasional. Beberapa negara memiliki kesamaan dan keragaman ”daerah,” yang sebenarnya juga memiliki keserupaan tertentu dengan Indonesia, dan demikian halnya dengan perbandingan antarnegara. Karena itu, bahasan dalam ketiga bab ini dinilai penting bagi suatu proses pembelajaran, terutama dalam memetik pelajaran berharga tentang kerangka pengembangan sistem inovasi daerah. Intinya, kombinasi aspek universal dan aspek yang bersifat spesifik-lokal sama-sama diperlukan dan perlu dikembangkan untuk memberikan harmoni dan sinergi yang penting bagi sistem inovasi daerah sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem inovasi nasional (sistem nasional inovasi) dengan tetap bertumpu pada potensi-potensi terbaik setempat dan kekhasan karakteristiknya. Dari bab-bab sebelumnya, Bab 7 merangkum beberapa isu kebijakan umum yang menurut hemat penulis perlu dicermati dalam konteks pengembangan sistem inovasi, khususnya sistem inovasi daerah di Indonesia. Berdasarkan diskusi pada bab-bab sebelumnya, pembahasan tentang kerangka umum kebijakan yang dipandang penting bagi pengembangan sistem inovasi daerah disajikan dalam Bab 8 (Strategi Inovasi Daerah) dan Bab 9 (Kerangka Kebijakan Inovasi Daerah). Melalui kedua bab ini, disampaikan diskusi tentang beberapa aspek penting yang perlu dipertimbangkan dalam merancang kebijakan inovasi daerah beserta ”kerangka” secara umum, tanpa secara spesifik dan detail ditujukan bagi kasus-kasus daerah ataupun sektoral. Dengan kondisi yang masih sangat awal bagi perkembangan sistem inovasi di Indonesia, bahasan dalam kedua bab ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran, setidaknya memicu wacana kebijakan dan prakarsa-prakarsa kongkrit pengembangan sistem inovasi daerah. Ini penting untuk disampaikan untuk menghindari persepsi bahwa penulis akan mampu menyajikan hal ini secara paripurna dan mendalam (yang tentu saja bagi penulis sendiri ini akan terlampau ambisius dan tidak realistis).

4

n

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Bab 10 sebagai penutup tidak dimaksudkan untuk merangkum keseluruhan bahasan, melainkan sebagai epilog untuk menekankan kembali beberapa hal penting terkait dengan upaya pengembangan sistem inovasi daerah di Indonesia dari suatu perspektif kebijakan. Sebaik-baik gagasan tentu pada akhirnya akan ditentukan oleh implementasinya secara pragmatis dalam memberikan nilai nyata kepada perbaikan dalam masyarakat. Untuk itu tentu perlu kajian lebih mendalam dalam membumikan beberapa gagasan yang disampaikan dalam buku ini, belajar dari pengalaman diri sendiri dan pihak lain dalam mengembangkan/memperkuat sistem inovasi di Indonesia. Berbagai pengalaman negara lain menunjukkan bahwa kemajuan sistem inovasi sangat berkaitan dengan kepeloporan atau kepemimpinan. Demikian halnya dengan pengembangan/ penguatan sistem inovasi daerah. Sebagai upaya/proses perbaikan, hal ini membutuhkan kepeloporan dan/atau kepemimpinan untuk memulai dan menggerakkannya. Pada gilirannya, prakarsa dan kepemimpinan dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi daerah ini juga memerlukan kemauan dan kemampuan untuk berprakarsa dan mengamalkan kualitas kepeloporan dan kepemimpinan oleh banyak pihak (dan bukan semata pemerintah). Oleh karena itu, yang paling penting sebenarnya hal tersebut pada akhirnya harus dimulai dari diri (daerah) masing-masing, baik di lingkungan pemerintahan maupun kalangan non-pemerintah.

3.

PENINGKATAN DAYA SAING, INOVASI, DAN PENDEKATAN KLASTER INDUSTRI

Dalam perspektif tingkatan yang berbeda (mikro, meso, dan makro), istilah daya saing (competitiveness) memiliki pengertian yang berbeda pula, walaupun saling berkaitan satu dengan lainnya. Secara singkat, Tabel 1.1 berikut merangkum beberapa pengertian tentang daya saing.2

Tabel 1.1 Beberapa Pengertian Umum tentang Daya Saing. Tataran Mikro (Perusahaan) Pengertian Umum Kemampuan suatu perusahaan mengatasi perubahan dan persaingan pasar dalam memperbesar dan mempertahankan keuntungannya (profitabilitas), pangsa pasar, dan/atau ukuran bisnisnya (skala usahanya). Kemampuan suatu industri (agregasi perusahaan dan keterkaitan di antaranya) menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dari industri pesaingnya. Kemampuan/daya tarik (attractiveness) atau kemampuan membentuk (menawarkan) lingkungan paling produktif bagi bisnis (termasuk menarik talenta/talented people, investasi, dan mobile factors lain, serta determinan lain) dan kinerja unggul yang berkelanjutan.

Meso (Industri)

Makro

2

Untuk diskusi lebih lanjut, lihat misalnya Gardiner (2003), McFetridge (1995), makalah/buku lain penulis, dan/atau beberapa bahan lain yang relevan dalam Daftar Pustaka.

BAB 1 PROLOG

n

5

Sejarah menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan ekonomi tidak lagi dapat dicapai semata dengan bertumpu pada sumber daya alam tanpa upaya lebih baik dalam peningkatan nilai tambah. Perkembangan perekonomian internasional yang berkecenderungan didominasi oleh aktivitas dan produk yang semakin sarat dengan pengetahuan/teknologi (knowledge/technologyintensive) semakin menyisihkan posisi negara seperti Indonesia yang secara “konvensional” masih bergantung pada aktivitas dan produk bernilai tambah rendah. Proses perbaikan posisi internasional akan sangat terkait dengan upaya-upaya yang sungguhsungguh dan lebih terarah untuk membangun fondasi dan pilar-pilar serta menumbuhkembangkan aktivitas/proses produktif dan memperkuat dinamika interaksi serta keterkaitannya sebagai determinan bagi pembentukan keunggulan daya saing Indonesia, baik pada tataran daerah maupun nasional. Kecenderungan pergeseran kepada konteks “daerah” (lokalitas) sebenarnya bukanlah sekedar fad ataupun perkembangan sentimentalisme kedaerahan. Hal ini memang dapat dianggap sebagai kecenderungan perkembangan paradigma tentang daya saing yang semakin diyakini sangat kontekstual dengan dinamika perubahan yang dihadapi di era sekarang. Sebagaimana juga diungkap oleh berbagai pakar dengan cara yang beragam namun menyampaikan inti pesan serupa, bahwa daya saing global semakin ditentukan oleh faktor-faktor lokalitas, dan agenda peningkatan daya saing perlu beriringan dengan upaya penguatan kohesi sosial masyarakat yang semakin maju.

Internasional Regional Nasional

Daerah/ Lokal

Kohesi Sosial
l l l l

Daya Saing Global
l l l l

Kecukupan Pembangunan masyarakat Identitas budaya Nilai keluarga

Efektivitas Efisiensi Produktivitas Inovasi

Gambar 1.1 Suatu Perspektif tentang Daya Saing: Peningkatan Tumpuan Faktor Lokal, Interdependensi dan Jangkauan Global.

Menghadapi dinamika perubahan yang cepat dan semakin kompleks, upaya peningkatan daya saing tersebut akan semakin bertumpu pada kemampuan berinovasi berbagai pihak pada beragam dimensi dan berbagai tataran. Seperti ditunjukkan oleh pengalaman berbagai negara, sistem inovasi (dalam arti luas) baik pada tataran daerah maupun nasional akan semakin mempengaruhi/ menentukan keunggulan daya saing. Karena itu, upaya peningkatan daya saing perlu semakin diprioritaskan pada pengembangan sistem inovasi. Seperti akan diuraikan lebih lanjut pada bab-bab berikut, upaya penguatan sistem inovasi kini semakin disadari tidak dapat mengabaikan dimensi spasial (konteks tempat/lokalitas). Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan/penguatan sistem inovasi daerah merupakan suatu agenda yang sangat penting.

6

n

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Dalam kaitan ini, berkembang pandangan yang cenderung semakin kuat dan meluas bahwa pendekatan klaster industri merupakan suatu pendekatan yang dinilai tepat. Hal ini ditunjukkan antara lain dengan semakin meluasnya kesungguhan prakarsa pengembangan klaster industri di berbagai negara (lihat misalnya Taufik, 2004). Rekonseptualisasi dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat karenanya sangat dibutuhkan agar agenda yang dikembangkan efektif dalam mengatasi isu-isu kontekstual, sesuai dengan potensi-potensi terbaik setempat dan semakin mampu menghadapi dinamika perkembangan tantangan dan peluang (ilustrasi Gambar 1.2). Perhatian pada segi dan aktivitas yang sangat penting bagi perbaikan nilai tambah yang sebelumnya telah terabaikan perlu diperbarui dan diperkuat. Dalam tataran meso dan mikro misalnya, kurangnya perhatian hampir seluruh negara berkembang pada aktivitas yang memiliki “daya ungkit (leverage)” besar bagi daya saing tersebut kini mulai diubah (lihat ilusrasi Gambar 1.3). Penciptaan, pemanfaatan dan penyebarluasan pengetahuan/inovasi semakin penting bagi dan dalam aktivitas produktif. Perubahan agenda strategis pembangunan industri di beberapa negara seperti misalnya Malaysia, Thailand, dan beberapa negara Asia lainnya antara lain adalah menyangkut perbaikan dalam konteks ini.

Kesejahteraan/ Kesejahteraan/ Kemakmuran Kemakmuran

Alternatif A . .. .. . Alternatif A

Daya Saing Daya Saing

Alternatif . .. .. .Z Alternatif Z

Peningkatan Efisiensi / Produktivitas secara “Konvensional”

Kapasitas Inovatif Kapasitas Inovatif dan Pembelajaran dan Pembelajaran

Proteksi Pemerintah

Platform ::Klaster-klaster Industri Platform KlasterKlaster-klaster Industri

Isu-isu Kontekstual IsuIsu-isu Kontekstual

Ì
Globalisasi Globalisasi Kemajuan Iptek, Kemajuan Iptek, Inovasi Inovasi Ekonomi Ekonomi Pengetahuan Pengetahuan Ekonomi Ekonomi Jaringan Jaringan Faktor-faktor Faktor-faktor Lokalitas Lokalitas

Gambar 1.2 Rekonseptualisasi dalam Pewujudan Kesejahteraan.

Perkembangan tersebut (termasuk pergeseran paradigma), akan berkaitan dengan pentingnya reformasi kebijakan. Dalam kaitan ini berkembang anjuran/saran yang dikemukakan oleh para pakar. Porter (1997), misalnya, mengungkapkan bahwa ada sepuluh prasyarat penting bagi perbaikan daya saing di suatu negara atau wilayah/daerah geografis tertentu. Kesepuluh prasyarat tersebut adalah: a. Perlu ada sense of urgency tentang perbaikan daya saing yang dirasakan bersama secara luas. Intinya perlu ada motivasi sangat kuat yang mendorong upaya sungguh-sungguh menanggulangi status quo yang problematis. Tugas utama pemimpin, khususnya dari kalangan pemerintah, dalam hal ini antara lain adalah menyusun argumen yang jelas dan menantang tentang mengapa perubahan sangat diperlukan. Tentu saja stabilitas lingkungan politik dan ekonomi sangat penting bagi pencapaian kemajuan yang nyata, karena hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat atas komitmen pemerintah.

BAB 1 PROLOG

n

7

Potensi Nilai tambah

Fokus Umum Produsen di Negara Berkembang

Litbang

Produksi

Pemasaran

Gambar 1.3 Ilustrasi Perubahan Strategis dalam Agenda Peningkatan Daya Saing.

b.

Perlu dikembangkan suatu paradigma bersama tentang peningkatan daya saing. Untuk menggalang berbagai pihak bekerjasama perlu penafsiran yang sama tentang daya saing dan pemahaman tentang bagaimana memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan dengan: £ £ memperluas para konstituen yang berpengaruh terhadap ekonomi (kalangan bisnis, pemerintah, dan lainnya) ke dalam proses. proses edukasi dan komunikasi kepada masyarakat tentang ekonomi modern dan persaingan global serta menariknya ke dalam proses persiapan menghadapinya.

c.

Pendekatan berbasis klaster telah menjadi suatu alat yang sangat berguna untuk membuat kemajuan yang cepat. Pendekatan berbasis klaster mengakui realita penentu produktivitas, utamanya adalah kesaling-tergantungan dan aktivitas bersama (joint activity) antara beragam bidang. Pendekatan klaster membawa para pemimpin secara bersama misalnya dalam pembelajaran dan memahami bahwa keberhasilannya berkaitan dengan bagaimana bagian lain dalam klaster bekerja. Kebijakan ekonomi dan sosial perlu terintegrasi, bukan sebagai hal yang terpisah, berbeda ataupun bertentangan. Warga masyarakat yang terdidik, aman dan sehat sangat dibutuhkan bagi suatu ekonomi yang produktif, dan demikian sebaliknya. Persoalan lingkungan misalnya erat terkait dengan produktivitas. Karenanya para pemimpin perlu mengkomunikasikan bahwa hal ini, yang perlu diselaraskan, bersifat komplementatif dan saling bergantung. Pendeknya, perancangan kebijakan “sosial” perlu membuat masyarakat memperkuat sumber sesungguhnya bagi kemakmuran yang berkelanjutan. Kalangan bisnis dan pemerintah perlu melaksanakan peran masing-masing yang berbeda dan lebih sesuai dari masa sebelumnya. Dalam ekonomi modern, pemerintah mempunyai lima peran dasar, yaitu: £ £ Mencapai stabilitas ekonomi makro dan politik; Memperbaiki kualitas input (ekonomi mikro) dan lembaga umum, seperti jalan, sekolah dan telekomunikasi;

d.

e.

8
£ £ £

n

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN Menciptakan insentif (ekonomi mikro) dan aturan permainan yang menstimulasi inovasi produktivitas; Menumbuhkembangkan dan memperkuat proses formasi klaster; dan Membangun visi ekonomi jangka panjang yang positif, berbeda (distinctive) dan menantang serta program tindak yang menggerakkan pemerintah, bisnis dan masyarakat. Pemerintah tidak dapat memainkan perannya secara efektif tanpa masukan dari bisnis. Pebisnis perlu makin dapat bekerjasama dan mendayagunakan asosiasi bisnisnya misalnya dalam menanggulangi isu-isu seperti pelatihan, informasi dan infrastruktur.

f.

Perlunya perubahan dialog antara bisnis dengan pemerintah. Diperlukan dialog-dialog konsultatif tentang daya saing dan kendala-kendala produktivitas. Untuk itu, mekanismemekanisme kolaboratif bisnis-pemerintah yang efektif (seperti kelompok-kelompok klaster dan lembaga daya saing atas pemerintah dan bisnis) perlu dikembangkan. Prasyarat ketujuh dan kedelapan berkaitan dengan pengembangan yang saling mendukung melalui upaya paralel pada tingkat daerah (yang berbeda), dan perkuatan komplementatif antara prakarsa-prakarsa nasional dan regional (lintas negara). Pengalaman menunjukkan bahwa produktivitas tidak semata dipengaruhi faktor/kondisi di dalam (suatu batas`administratif) saja, melainkan bersifat lintas batas. Keseluruhan upaya harus berorientasi tindakan, bukan sekedar analitis semata. Perlunya kepemimpinan baik di sektor pemerintah maupun swasta.

g.

h. i.

Seperti juga disampaikan dalam beberapa kajian (lihat misalnya OECD dan Porter, berbagai terbitan), pendekatan klaster industri membantu dalam perumusan kebijakan, khususnya dalam konteks perkembangan inovasi, antara lain karena 4 (empat) alasan, yaitu: 1. 2. 3. 4. Klaster mencerminkan pentingnya sifat kesaling-bergantungan (interdependency) dan sistemik dari inovasi; Klaster memungkinkan identifikasi dan penanggulangan ketidaksempurnaan sistemik serta pengembangan bentuk-bentuk penadbiran yang baru (new forms of governance); Pendekatan klaster merupakan suatu cara untuk menyesuaikan kebijakan inovasi dan kebijakan lainnya terhadap kebutuhan-kebutuhan klaster masing-masing; Analisis klaster merupakan alat untuk berdialog dan pembelajaran bagi banyak pihak.

Porter (2001) menekankan potensi kemanfaatan klaster industri terutama dalam konteks daya saing (produktivitas) dan inovasi sebagai faktor kunci daya saing, yang secara ringkas adalah sebagai berikut: 1. Klaster meningkatkan produktivitas/efisiensi: § Akses efisien terhadap input-input, tenaga kerja, informasi, dan lembaga yang terspesialisasi, serta “barang publik” (public goods) seperti program pelatihan dan lembaga pelatihan; Mempermudah koordinasi antara perusahaan; Difusi yang cepat tentang praktik-praktik terbaik; Perbandingan kinerja yang nampak dan insentif kuat untuk melakukan perbaikan.

§ § §

BAB 1 PROLOG 2. Klaster merangsang dan memungkinkan inovasi: § § § Kemampuan yang lebih baik untuk melihat peluang inovasi;

n

9

Kehadiran pemasok dan lembaga yang beragam untuk membantu dalam penciptaan pengetahuan; Mempermudah eksperimentasi dengan ketersediaan sumber daya lokal.

3.

Klaster memfasilitasi komersialisasi: § § Peluang bagi perusahaan-perusahaan baru dan lini bisnis baru lebih nampak; Hambatan masuk (barriers to entry) ke dalam bisnis yang terkait dengan klaster karena ketersediaan keterampilan, pasokan dan lain-lain.

4.

Dalam klaster industri, persaingan pada dasarnya juga akan meningkat akibat eksternalitas, keterkaitan dan hubungan antara perusahaan, industri, dan lembagalembaga terkait.

Lebih lanjut Porter mengungkapkan bahwa klaster industri memberikan lingkungan dan kombinasi aset, lembaga dan pengetahuan yang cenderung menghasilkan tingkat inovasi yang lebih dari biasanya. Hal ini terjadi karena akan lebih mudah melihat peluang dan mengembangkan gagasan jika pelaku berada di tengah tindakan dengan sekelompok perusahaan terkemuka dan pemasok yang ada di sekitarnya (“dekat” dengannya). Yang membuat klaster semakin penting adalah bahwa klaster merupakan tempat di mana komersialisasi gagasan lebih mudah dilakukan. Gagasan-gagasan baru dapat diperkenalkan oleh perusahaan kepada pasar tanpa harus menanggung risiko melakukan semuanya sendiri. Oleh karena itu, klaster industri menyuburkan kondisi mendasar yang memungkinkan inovasi terjadi. Klaster industri cenderung menstimulasi pertumbuhan tenaga kerja terlatih dan sophisticated, serta perkembangan pengetahuan dan teknologi dalam bidang-bidang tertentu. Akibatnya, apabila suatu klaster industri berkembang, ia akan cenderung bukan saja menghasilkan/mengekspor produk, tetapi juga modal intelektual dan teknologi.

4.

PERAN PEMERINTAH

Telah banyak studi/kajian yang esensi utamanya adalah mengungkapkan perlunya reformasi dalam pelaksanaan peran pemerintah menghadapi beragam bentuk dan dinamika perubahan beserta tantangannya yang dihadapi di era Milennium Ketiga.3 Identik dengan konteks klaster industri, maka dalam upaya pengembangan sistem inovasi daerah, setiap pemangku kepentingan (stakeholder) kunci pada prinsipnya mempunyai peran penting, dengan fungsi yang tidak selalu sama. Betapa urgennya bahwa masing-masing pihak menjalankan peran/fungsinya dengan optimal dan secara bersama saling memperkuat. Pergeseran dalam paradigma pengembangan daya saing menuntut perbaikan dalam menjalankan peran pemerintah dan instrumen kebijakan yang dinilai penting bagi pengembangan sistem inovasi daerah.

3

Lihat misalnya Roelandt dan den Hertog (1998); Porter (beragam sumber); dan David Osborne dan Ted Gaebler dengan bukunya yang populer dan terbit tahun 1992 (Reinventing Government: How the Entrepreneurial Spirit is Transforming the Public Sector from Schoolhouse to Statehouse, City Hall to the Pentagon).

10

n

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Mempelajari praktik baik (good practices) di negara lain diharapkan juga dapat membantu perbaikan kebijakan. Organisasi beberapa negara seperti OECD dan Uni Eropa dan asosiasi pemerintahan di beberapa negara misalnya seperti the National Governors Association (NGA) di Amerika Serikat, serta organisasi internasional seperti IMD, WEF, Bank Dunia, dan lainnya mengeluarkan dokumen-dokumen panduan atau saran berkaitan dengan hal ini. Institute for Management Development (IMD) misalnya, menyampaikan suatu “aturan emas daya saing” (the golden rules of competitiveness) dalam membangun daya saing dalam konteks daya saing negara (Garelli, 2003) sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ciptakan lingkungan legislasi yang stabil dan predictable. Bangun struktur ekonomi yang lentur dan fleksibel. Berinvestasi dalam infrastruktur tradisional dan teknologis. Kembangkan tabungan swasta dan investasi domestik. Kembangkan keagresifan pasar internasional (“ekspor”) dan daya tarik investasi asing (foreign direct investment/FDI). Fokus pada kualitas, kecepatan dan transparansi dalam pemerintahan dan administrasi. Pelihara hubungan antara tingkatan upah, produktivitas dan perpajakan. Pertahankan kondisi/struktur sosial dengan mengurangi kesenjangan upah dan memperkuat kelas menengah. Investasi secara sungguh-sungguh dalam edukasi/pendidikan, khususnya pada tingkat menengah, dan pembelajaran seumur hidup (life-long learning) tenaga kerja. Kembangkan keseimbangan ekonomi “proksimitas/kedekatan” dan globalitas untuk menciptakan kesejahteraan, sejalan dengan pemeliharaan sistem nilai yang dikehendaki oleh masyarakat.

Pemerintah daerah (provinsi, kabupaten/kota, ataupun dalam konteks kerjasama beberapa daerah) memiliki peran semakin penting dalam peningkatan inovasi bagi pemajuan daerah, terutama karena: 1. Pergeseran pola pemerintahan: desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan dalam kerangka pewujudan otonomi daerah dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah (sebagaimana juga ditekankan dalam UU No. 32 tahun 2004); Pemerintah daerah berfungsi menumbuhkembangkan motivasi, memberikan stimulasi dan fasilitas, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan, sumber daya, dan jaringan iptek di wilayah pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 18 tahun 2002). Dalam kaitan ini, pemerintah daerah perlu merumuskan prioritas serta kerangka kebijakan, mendorong pengembangan kelembagaan (misalnya Dewan Riset Daerah), dan berperan mengembangkan instrumen kebijakan untuk melaksanakan fungsi tersebut; Kerangka atau pendekatan sistem terhadap inovasi berimplikasi pada pentingnya perhatian pada sisi permintaan dan aspek keterkaitan/interaksi, dan tidak semata-mata pada sisi penyediaan (atau dimensi pengembangan iptek), di mana hal ini juga akan sangat erat dengan konteks spesifik daerah; Upaya pengembangan sistem inovasi sangat ditentukan oleh kedekatan dengan konteks spesifik dan konteks sensitif dalam dinamika proses/interaksi yang berkembang dan

2.

3.

4.

BAB 1 PROLOG

n

11

dengan para aktor yang terlibat dalam sistem inovasi setempat. Hal ini juga menunjukkan semakin pentingnya strategi inovasi yang lebih kontekstual dengan karakteristik lokalitas; 5. Keberhasilan kebijakan inovasi semakin ditentukan oleh hubungan yang terkoordinasi, saling mengisi dan saling memperkuat antara konteks daerah, nasional dan internasional, yang berimplikasi pada koherensi dan sinergi dari strategi, kebijakan, dan tindakan pada berbagai tataran pembuat kebijakan untuk mendorong peningkatan kinerja inovasi dan daya saing.

Dalam kaitan ini, selain peran “baku” sebagai regulator-deregulator untuk hal-hal yang bersifat dasar, maka pemerintah sangatlah menentukan bagi kemajuan/perkembangan sistem inovasi daerah, terutama dalam beberapa hal yang saling terkait berikut ini: £ £ £ £ Sebagai katalis dalam mengembangkan keunggulan daya saing yang dinamis; Memfasilitasi pengembangan/penguatan jaringan (keterkaitan) dalam klaster dan keterkaitan antara klaster dengan infrastruktur umum inovasi; Menstimulasi dan memfasilitasi pengembangan/penguatan kelembagaan kolaboratif yang penting bagi inovasi; Menciptakan/mengembangkan dan memperbaiki struktur insentif untuk menghilangkan (mengurangi) ketidakefisienan/kegagalan pasar (market failures), kegagalan pemerintah (government failures), dan kegagalan sistemik (systemic failures) yang terjadi dalam sistem inovasi.

5.

CATATAN PENUTUP

Meningkatnya kesadaran akan peran penting inovasi mendorong berbagai pihak untuk terus menggali pemahaman yang lebih baik tentang hal ini. Kesejahteraan masyarakat yang semakin tinggi dan semakin adil hanya dapat diwujudkan dengan memperkuat basis/tumpuannya, yaitu peningkatan daya saing, di mana sistem inovasi semakin menjadi faktor penentu (determinan). Karena itu, pengembangan/penguatan sistem inovasi dan peningkatan daya saing merupakan hal yang perlu ditumbuhkembangkan dan menjadi suatu agenda prioritas pembangunan di Indonesia (pada tataran nasional maupun daerah). Inilah pokok pikiran pertama yang ingin disampaikan dalam buku ini. Disadari, akan selalu menjadi pilihan sulit ketika upaya investasi untuk pengembangan sistem inovasi khususnya dan peningkatan daya saing pada umumnya dihadapkan pada isu atau pertimbangan lainnya yang lebih bersifat jangka pendek (dan biasanya dinilai lebih mendesak) sebagai situasi yang mutually exclusive dalam suatu kerangka upaya pembangunan. Oleh karena itu, penentu/pembuat kebijakan inovasi dan para pemangku kepentingan (stakeholder) perlu berpikir dan bekerja dalam kerangka strategik dan sistemik dengan perspektif jangka panjang, tanpa mengabaikan hal-hal urgen yang lebih bersifat jangka pendek (segera) dan memelihara momentum perubahan. Cara pandang demikian merupakan pokok pikiran kedua yang ditawarkan dalam buku ini. Cara pandang kesisteman (sistemik) merupakan pendekatan yang menurut para pakar dan belajar dari pengalaman beragam negara akan membantu para pihak, khususnya pembuat kebijakan, dalam meningkatkan proses dan kinerja inovasi dalam sistem perekonomian. Inovasi dan difusi beserta proses pembelajaran merupakan di antara elemen kunci dalam cara pandang sistem inovasi. Dalam kerangka holistik demikian, keunggulan daya saing dalam berbagai perspektif dan konteksnya, termasuk keunggulan daerah atau tata terpadu pengembangan kewilayahan tertentu, dimungkinkan untuk dikembangkan secara lebih terarah, terkoordinasi dan berkesinambungan.

12

n

PENGEMBANGAN SISTEM INOVASI DAERAH: PERSPEKTIF KEBIJAKAN

Upaya-upaya perbaikan/pengembangan sistem inovasi pada “tataran nasional” sangat penting. Namun setiap negara, baik negara kecil (small size country) ataupun negara besar (large size country), dalam pengertian ukuran dukungan sumber daya dan perkembangan basis iptek serta potensi ukuran pasar, akan menghadapi tantangan yang berbeda. Selain itu, bagi negara berkembang dan memiliki keragaman multidimensi seperti Indonesia, upaya pada “tataran nasional” saja bukanlah agenda yang sederhana.4 Selain aktivitas/proses dan dinamika serta kebutuhan dan tantangan faktual dari sistem inovasi yang sebenarnya terjadi, efektivitas kebijakan yang relevan juga sangat dipengaruhi oleh konteks lokalitas. Dengan demikian, selain memperhatikan tataran nasional (termasuk kerangka regulasi dan kebijakan nasional yang berlaku) dan perkembangan internasional serta “belajar” dari pengalaman praktik pihak lain, upaya membangun sistem inovasi pada tataran daerah perlu disesuaikan dengan konteks lokalitas daerah masing-masing. Sehubungan dengan itu, strategi inovasi (dan daya saing) daerah sangat diperlukan terutama agar semua pihak yang berkepentingan dapat memahami arah, prioritas dan kerangka kebijakan pemerintah daerah (dan pemerintah pusat), serta dapat berfungsi sebagai acuan/pedoman bagi para pemangku kepentingan dalam melaksanakan perannya dalam pengembangan/penguatan sistem inovasi dan peningkatan daya saing daerah. Dengan demikian, pengembangan/penguatan sistem inovasi dan peningkatan daya saing daerah diharapkan dapat menjadi agenda bersama para pihak secara nasional (di seluruh daerah). Anjuran inilah yang merupakan pokok pikiran ketiga yang hendak disampaikan dalam buku ini. Koordinasi dan koherensi kebijakan inovasi di daerah dan antara daerah dengan pihak lain (termasuk ”nasional/pusat”) sangatlah penting. Prakarsa pada beragam tataran (baik nasional maupun daerah, secara sektoral maupun horisontal) yang semakin terkoordinasi dan koheren untuk mengembangkan/memperkuat sistem inovasi perlu terus didorong dan dilakukan secara kongkrit di Indonesia antara lain melalui reformasi/perbaikan kebijakan inovasi. Upaya bersama untuk mendorong perbaikan dalam hal ini dinilai sangat penting dan merupakan pokok pikiran keempat yang diangkat dalam buku ini. Pemajuan sistem inovasi merupakan suatu proses. Karena itu, agenda kebijakan inovasi perlu dirancang sesuai dengan isu/tantangan kebijakan yang urgen untuk dipecahkan dan berbagai pertimbangan penting lain serta berfokus pada agenda-agenda prioritas yang disepakati (sebagai konsensus agenda bersama) dan mendorong proses kebijakan yang partisipatif. Proses kebijakan dan reformasi/perbaikan kebijakan inovasi pada intinya merupakan suatu proses pembelajaran (learning process), bukan saja bagi pembuat kebijakan tetapi juga bagi para pemangku kepentingannya. Namun tentu patut dipahami bahwa perbaikan hanya dapat terjadi melalui tindakan, di mana kepemimpinan dan kepeloporan untuk bertindak sangat penting, agar apa yang didiskusikan dalam buku ini tidak berhenti sebagai ”sekedar” wacana. Semangat dan ajakan untuk berprakarsa dalam konteks ini merupakan pokok pikiran kelima yang mewarnai keseluruhan penyajian bahasan dalam buku ini.

4

Terlebih lagi, Indonesia masih dalam proses “transisi” pemulihan, yang tidak secepat negara tetangga lain seperti Malaysia dan Thailand, mampu keluar dari krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful