Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana (International Strategy for Disaster Reduction/ISDR

)

Universitas Kyoto

Uni Eropa

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalamanpengalaman di Kawasan Asia-Pasifik

2008

1

“Uni Eropa adalah organisasi yang beranggotakan 27 Negara Anggota yang telah memutuskan untuk secara bertahap menggabungkan pengetahuan, sumber daya dan tujuan-tujuan bersama mereka. Dalam perkembangan organisasi selama 50 tahun, secara bersama negara-negara ini telah membangun sebuah kawasan yang stabil, demokratis dan menerapkan pembangunan berkelanjutan, sambil tetap mempertahankan keberagaman budaya, toleransi dan kebebasan individu. Uni Eropa berkomitmen untuk membagikan pencapaian-pencapaian dan nilai-nilai yang dianutnya kepada negara-negara dan bangsa-bangsa yang berada di luar batas-batas wilayahnya.” Catatan “Publikasi ini diterbitkan dengan dukungan Uni Eropa. Isi publikasi ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya sekretariat UN/ISDR dan bagaimana pun juga tidak dapat dianggap sebagai mencerminkan pandangan-pandangan Uni Eropa.”

Tim Editor: Rajib Shaw, Noralene Uy, dan Jennifer Baumwoll Desain Grafis oleh Mario Barrantes Foto pada halaman sampul memperlihatkan sebuah Dhani, suatu tempat kediaman tradisional keluarga di distrik Barmer di Rajasthan, India. Kualitas bangunan Dhani telah ditingkatkan dengan menggunakan teknologi modern yang disebut teknologi bata press saling terikat (Stabilized Compressed Interlocking Block technology/SCEB). Untuk informasi lebih lanjut, lihat “Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Permukiman yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India” dalam publikasi ini. (Sumber Foto Halaman Sampul: SEEDS) Silahkan mengirimkan umpan balik dan saran-saran anda (termasuk studi-studi kasus lebih lanjut yang dapat kami pertimbangkan) kepada: Christel Rose Regional Program Officer UN ISDR Asia dan Pacific rosec@un.org www.unisdr.org Catatan: Informasi dan pandangan-pandangan yang terdapat dalam publikasi ini tidak dengan sendirinya mencerminkan kebijakan-kebijakan sekretariat UN/ISDR

2

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalamanpengalaman di Kawasan Asia-Pasifik Bangkok, Juli 2008

Foto oleh Steve Evans, Thailand, Suku-suku Perbukitan

3

Untuk mencapai tujuan ini. “Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalaman-pengalaman di Kawasan AsiaPasifik” bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kearifan lokal sebagai suatu alat yang efektif untuk mengurangi risiko bencana alam. Perserikatan Bangsa-Bangsa beranggapan bahwa kearifan lokal merupakan sesuatu yang penting dan memasukkannya dalam Prioritas ketiga dari Kerangka Aksi Hyogo. Kearifan lokal tidak hanya berkontribusi pada keberhasilan upaya pembangunan. Salah satu kegiatan utama yang teridentifikasi di bawah prioritas aksi ini berfokus pada pentingnya pengelolaan dan pertukaran informasi. pengetahuan dan praktik-praktik asli masyarakat setempat yang dapat diselaraskan dengan gagasan-gagasan baru untuk menciptakan inovasi. antara lain. yang menitikberatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan. bertindak dan merespons bencana alam dengan menggunakan cara-cara tradisional yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jerry Velasquez Senior Regional Coordinator UN/ISDR Asia Pacific Foto oleh Maureen Keogh. melakukan upaya. pengetahuan tradisional dan warisan budaya yang relevan” yang dapat dibagikan dan diadaptasi oleh masyarakat di tempat lain. pada adanya budaya. Dengan meningkatkan pemahaman akan kearifan lokal dan menyajikan contoh-contoh nyata bagaimana memanfaatkannya.Sambutan Penelitian-penelitian dalam bidang pembangunan memperlihatkan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan upaya pembangunan di tingkat masyarakat tergantung pada sejumlah faktor. saya berharap publikasi ini dapat memberi inspirasi bagi para praktisi dan pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat-masyarakat lokal dan memadukan kekayaan pengetahuan ini ke dalam kerjakerja kebencanaan di masa yang akan datang. Partisipasi dan integrasi upaya masyarakat dalam semua proses kebencanaan merupakan salah satu sarana penting untuk mewujudkan Kerangka Aksi Hyogo dan ini menggarisbawahi pentingnya kearifan lokal dalam membantu mengarusutamakan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pengurangan risiko bencana. Bahkan sebelum kita mengenal sistem-sistem peringatan dini berbasis teknologi tinggi. banyak masyarakat tradisional di seluruh dunia telah mempersiapkan diri. atau prosedur-prosedur operasional standar dalam tanggap darurat. dan menggarisbawahi penggunaan “kearifan lokal. Kamboja 4 . Publikasi ini. mengakui dan menghormati kearifan lokal sebagai salah satu sumber informasi yang sangat berharga dan kontributor utama bagi upaya pengurangan risiko di banyak tempat di seluruh dunia. kita semua perlu memahami. tetapi lebih-lebih pada keberlanjutan upaya tersebut dalam jangka panjangnya.

angin siklon (topan).Kata Pengantar Publikasi ini menyajikan 18 praktik kearifan lokal yang selama ini berkembang di masyarakat-masyarakat yang tinggal di kawasan Asia-Pasifik. dengan membandingkan dan mengkontraskan unsur-unsurnya yang berbeda. penjelasan tentang kisah atau peristiwa spesifik di mana masyarakat bersangkutan berhasil memanfaatkan dengan baik pengetahuan yang dimilikinya. tsunami dan zud (kondisi iklim yang ekstrim). Bagian itu akan menjadi fokus kita di masa yang akan datang. informasi latar belakang untuk memberi arah kepada pembaca tentang aspek demografis dan lokasi dari masyarakat yang diulas. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu. hubungannya dengan keterampilan dan bahan-bahan lokal. Kasus-kasus yang ditampilkan dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut: asal-usul pengetahuan yang bersangkutan. tanah longsor. keberhasilannya dalam tetap bertahan atau mengatasi bencana selama ini. tingkat adaptasi relatifnya selama ini. Jenis-jenis bencana yang dihadapi termasuk gempa bumi. susunan urutan cerita yang seragam akan memudahkan kasus-kasus dianalisis dan didiskusikan sebagai suatu kelompok. erosi tanggul sungai. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua penyumbang tulisan. Bangladesh 5 . penggambaran tentang kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. yaitu sebuah abstrak singkat. Publikasi ini menekankan bahwa prinsip-prinsip kearifan lokal dapat diterapkan di tempat-tempat lain. dan akhirnya ulasan tentang pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kasus spesifik yang diuraikan. dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. kekeringan. dan saya berharap para pembaca akan memperoleh pemahaman tentang bagaimana cara menghargai kearifan lokal dan mempraktikkannya untuk mengurangi risiko dari berbagai jenis bencana. Setiap kasus yang dimuat dalam publikasi ini disajikan dalam format umum yang sama. dan kemungkinan untuk menerapkan praktik-praktik tersebut pada masyarakat lain yang menghadapi situasi serupa. Walau setiap kasus bersifat spesifik. Rajib Shaw Universitas Kyoto Foto oleh Sean Hawkey. Oleh karena itu. Penerapan kearifan lokal merupakan sebuah proses dan membutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan yang lebih luas serta dukungan kebijakan. penyebarluasan praktik-praktik kearifan lokal tertentu seringkali menjadi sebuah tantangan. tentu saja dengan penyesuaian dengan budaya lokal setempat.

yang membangkitkan minat baru pada konsep kearifan lokal. yang telah terbukti sangat berharga dalam menghadapi bencana-bencana alam. yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secara turun-temurun. disebarluaskan secara non-formal.Pendahuluan Setelah Tsunami Samudera Hindia tahun 2004. Pada tahun-tahun belakangan ini semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari hubungan antara kearifan lokal dan bencana alam. Dalam khasanah pustaka pengurangan risiko bencana. Walaupun publikasi ini lebih berfokus pada upaya mengumpulkan strategi-strategi dan mekanisme-mekanisme spesifik masyarakat tertentu yang dapat ditransfer dan diadaptasi oleh masyarakat-masyarakat 6 . Terakhir. Pengetahuan semacam ini mempunyai beberapa karakteristik penting yang membedakannya dari jenisjenis pengetahuan yang lain. Kedua kasus tersebut dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi kasus yang paling sering disebut. Pertama. Indonesia dan kaum Moken. Kearifan lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat. yang hidup di Kepulauan Surin di lepas pantai Thailand dan Myanmar sama-sama memanfaatkan pengetahuan mereka yang diturunkan secara lisan dari nenek moyang mereka untuk menyelamatkan diri dari tsunami yang menghancurkan. dapat ditransfer dan diadaptasi oleh komunitas-komunitas lain yang menghadapi situasi serupa. Kearifan lokal berasal dari dalam masyarakat sendiri. ada empat argumen dasar yang mendukung pentingnya kearifan lokal. Diskusi-diskusi terkini dalam hal ini berfokus pada potensi kearifan lokal dalam meningkatkan kebijakan-kebijakan pengurangan risiko bencana melalui integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan kebencanaan dan sistem peringatan dini. Kedua. tetapi masih ada banyak contoh yang belum banyak diketahui umum dari masyarakat-masyarakat yang juga telah memanfaatkan kearifan lokal mereka untuk menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian bencana dan menghadapi kondisi-kondisi lingkungan hidup yang sulit. Masyarakat Simeulue yang tinggal di lepas pantai Sumatra. ada dua kisah sukses yang muncul. dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan. serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup. menghadapi dan menyelamatkan diri dari bencana-bencana alam yang terjadi belakangan ini telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi para praktisi dan pengambil kebijakan akan pentingnya kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. pemaduan kearifan lokal ke dalam praktik-praktik dan kebijakankebijakan yang ada akan mendorong partisipasi masyarakat yang terkena bencana dan memberdayakan para anggota masyarakat untuk mengambil peran utama dalam semua kegiatan pengurangan risiko bencana. berbagai praktik dan strategi spesifik masyarakat asli yang terkandung di dalam kearifan lokal. Penerapan kearifan lokal oleh masyarakat-masyarakat ini dalam mengurangi risiko. informasi yang terkandung di dalam kearifan lokal dapat membantu meningkatkan pelaksanaan proyek dengan memberikan informasi yang berharga tentang konteks setempat. cara penyebarluasan kearifan lokal yang bersifat non-formal memberi sebuah contoh yang baik untuk upaya pendidikan lain dalam hal pengurangan risiko bencana. Ketiga. yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat. dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi.

lain. Selain itu. Jennifer Baumwoll Ko-editor 7 . Publikasi ini disusun untuk menggugah kesadaran akan nilai berharga dari kearifan lokal dalam mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bermacam jenis ancaman dalam berbagai lingkungan dan lingkup budaya berbeda yang terdapat di kawasan Asia dan Pasifik. Semua masyarakat ini pada umumnya memiliki kemampuan untuk bergantung pada diri mereka sendiri dalam situasi bencana dan mempunyai pemahaman akan ancaman-ancaman setempat serta bagaimana mengurangi risiko-risiko ini. Banyak pengetahuan yang mereka miliki seringkali dianggap oleh pihak luar sebagai inferior dan diabaikan karena dianggap sebagai milik orang-orang yang “terbelakang” dan “kurang terdidik”. Banyak dari masyarakat yang menjadi subjek diskusi dalam publikasi ini hanya mendapat sedikit perhatian dalam mekanisme perencanaan penanggulangan bencana pada umumnya dan mereka telah memanfaatkan pengetahuan mereka untuk menolong diri mereka sendiri dalam menghadapi masa-masa sulit. Upaya penerbitan ini merupakan bagian dari sebuah prakarsa lebih besar di kawasan ini untuk menganalisis pentingnya kearifan lokal dan mengembangkan cara untuk memadukan lebih lanjut pengetahuan ini ke dalam kebijakan dan praktik pengurangan risiko bencana. yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan kebijakan serta pengembangan kurikulum. banyak dari masyarakat ini telah mengembangkan pelajaran-pelajaran dan strategi-strategi yang jitu untuk menghadapi bencana-bencana yang berulang kali terjadi serta berhasil menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian ekstrim yang bahkan peralatan berteknologi tinggi pun tidak dapat membantu. pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah-kisah ini menekankan keseluruhan empat bidang ini. yang diharapkan dapat menjadi sebuah forum untuk saling berbagi pengetahuan sehingga pengalaman-pengalaman dan strategi-strategi dari berbagai masyarakat yang ada di kawasan ini dapat dikomunikasikan kepada para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana utama. Walaupun demikian. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari masyarakatmasyarakat ini. Akhirnya. publikasi ini diharapkan dapat mendorong juga kawasan-kawasan lain untuk mulai mengumpulkan kasus-kasus dari negara-negara di dalam wilayah mereka dan berkontribusi pada upaya untuk menjajaki manfaat global dari kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. koleksi ini diharapkan juga akan mendorong adanya analisis lebih lanjut akan pentingnya kearifan lokal. Publikasi ini adalah langkah pertama.

. . . . . . . . . Papua Nugini. . . . . . . . iii Kata Pengantar. . . . Yukiko Takeuchi dan Rajib Shaw Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver. . . . . Jessica Mercer dan Ilan Kelman Filipina Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Julie Dekens Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Fei He. . . . . . . . . . .. . . . . . . . . . . . . . . . Pakistan . . . . . . Koen Meyers dan Puteri Watson Jepang Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang . . . Jingning Cai dan Peijun Shi India Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir. . . . . . . . . . . . . . . . . Bolormaa Borkhuu Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli . . . . . . . . . . Provinsi Perbatasan Barat Laut. . . . . . . . . . Thapa. . . . . . . . . . . Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath Indonesia Legenda. . Assam. . . . . . Weihua Fang. . . Irene Stephen. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Man B. . . . . . . . . . . . . . . . . . Youba Raj Luintel. Victoria Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava 1 5 9 14 17 23 27 30 35 41 46 52 8 . . . Bhupendra Gauchan dan Kiran Amatya Nepal/Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . v Pendahuluan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .Daftar Isi Sambutan. . vii Cina Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api. . . Lorna P. . . . . . Anshu Sharma dan Mihir Joshi India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Takeshi Komino Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Amir Ali Khan India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India. . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

. . .Filipina Kepulauan Solomon Sri Lanka Thailand Vietnam Gunung Berapi Mayon . . . Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .M. . . . . . . . . . . . . . . Brian G. . . . . . . . . . . . . . . . . . . Noralene Uy dan Rajib Shaw Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Filipina . . . . . . . . . . . . . . Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw 55 59 64 68 73 79 9 . . . . Gerardine Cerdena Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batanes. . . . . . McAdoo. . . . . . . . . . . . . . Madduma Bandara Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . C. Narumon Arunotai Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam . . . . . . . . . . . . . . . Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand . . . . . . . . . . . . . .

menjadi terkenal akan berbagai jenis produk pertaniannya. Karez tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal. yang mencapai 2800-3000 mm. Kawasan Turpan terkenal akan berbagai jenis buah-buahan yang dihasilkannya seperti anggur. yang memiliki ketinggian 32.Turpan. sistem Karez masih dipergunakan untuk mensuplai sumber-sumber air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga. dan muskmelon Hami. saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil. Oleh karena itu. Latar Belakang Cekungan (depresi) Turpan. Saat ini. adalah sekitar -155 m. saluran-saluran air bawah tanah. Ketinggian minimum Danau Aiding. Bentang tanah pegunungan di sekitar lembah Turpan terutama terbentuk oleh pergerakan hercynian pada akhir masa Paleozoic. Pada lapisan penampung air bawah tanah yang dekat permukaan terdapat air berlimpah. semangka. musim panas dan musim gugur. kondisi geologis distrik Turpan cocok untuk konstruksi saluran air bawah tanah dengan hanya sedikit penguatan untuk mengumpulkan sumber air yang cukup memadai. berkapur (cretaceous) serta periode jaman Tersier. Sistem Karez telah memiliki sejarah yang panjang di daerah Xinjiang di Cina.7° C pada musim panas. Batu-batuan terpapar dari Pegunungan Flaming terutama terdiri dari konglomerat berpasir dan batu-batu lumpur dari masa Jurassic. Kisah/Peristiwa Dalam semua musim Turpan sangatlah kering dan sangat panas terutama selama musim semi. Bentang tanah tersebut bersifat keras dan terpatah-patah dan oleh karenanya mudah terbentuk celah-celah yang menampung air. terdapat di lembah Turpan yang merupakan lembah terendah kedua di dunia. Sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. Suhu udara tertinggi yang tercatat adalah 47. yang berada di bagian selatan lembah ini. Tingginya suhu udara dan kuatnya radiasi sinar matahari di daerah tersebut menyebabkan tingkat penguapan tahunan yang tinggi.8 m. Kawasan ini dikelilingi oleh beberapa daerah pegunungan tinggi (3500-5000 m) yang diselimuti gletser atau salju permanen. Di daerah Turpan yang merupakan bagian dari Xinjiang. Jingning Cai dan Peijun Shi Abstrak Karez adalah sebuah sistem pengairan tradisional yang mampu memanfaatkan air bawah tanah dengan efisien. Berkat adanya sistem Karez. Cina Barat Laut Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina Weihua Fang. Turpan.1 Kawasan Turpan berada di pedalaman daratan dan memiliki tingkat curah hujan 1 Ji ZHAO (2001). teknologi modern telah pula dipadukan dengan sistem Karez yang tradisional untuk semakin meningkatkan daya guna dari praktik tradisional yang menguntungkan tersebut. sehingga danau ini menjadi danau yang terendah di Cina. sebuah lembah yang terdapat di kawasan kering di Cina bagian Barat Laut. Fei He. Xinjiang. 10 .

Dalam pembuatan sumur digunakan bantuan tenaga hewan untuk mengeluarkan pasir dan tanah dari dalam lubang galian.016 sistem Karez yang 686 dari antaranya masih operasional.000 kilometer. Jika tanah pertanian berlokasi di daerah pegunungan.org 11 . saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil (Gambar 1). terutama pada jaman-jaman pertanian di masa yang lalu ketika peralatan modern belum dikenal. Karena kuatnya penguapan yang terjadi atau proses evapotranspirasi. 30-40 2 ZHONG dan CHU (1993). distrik Shanshan dan Toksun di lembah Turpan. Struktur sebuah sistem Karez bisa kompleks. Hampir tidak mungkin menggali saluran air di bawah tanah sepanjang ini tanpa lebih dulu menggali sumur vertikal. Kearifan Lokal Karez merupakan suatu sistem irigasi tradisional yang telah memiliki sejarah panjang di kawasan Xinjiang di Cina. tanah tersebut dibangun pada kipas atau dataran alluvial. Total aliran dari sistem-sistem Karez di lembah Turpan adalah 10 meter kubik per detik yang merupakan sekitar 20% dari keseluruhan air dalam saluran-saluran di lembah itu. dan mencapai daerah-daerah pertanian datar di sekitar kaki gunung. Total panjangnya mencapai sekitar 3. 100 meter di bagian atas.tahunan yang hanya sekitar 16-17 mm. Air permukaan tanah sangat sulit didapatkan di hampir seluruh kawasan tersebut. dan 10-30 meter di bagian bawah. www. di distrik Hami dan Turpan. saluran-saluran air bawah tanah. tetapi struktur dasarnya pada hakikatnya tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal. Di distrik Turpan ada 1. Di bawah lingkungan yang keras ini hanya sedikit tumbuhan maupun hewan yang dapat bertahan hidup.2 Saat ini fasilitas-fasilitas modern seperti sumur-sumur elektromekanis mulai dipadukan dengan sistem Karez. sumur vertikal terutama digunakan untuk membantu dalam menggali saluran-saluran di bawah tanah. Jadi. yang menggunakan air tanah dengan sangat efisien. sementara yang paling dalam mencapai 90 meter. penetapan arah yang benar dari saluran air dalam pembangunannya dan untuk mengawasi serta memperbaiki saluran-saluran air setelah dibangun. Jarak antara sumur-sumur vertikal biasanya sekitar 60-100 meter di bagian atas. Sebagian besar sistem Karez yang ada sekarang pada umumnya dibangun antara abad ke-17 dan ke-20. Sumur Vertikal Panjang saluran bawah tanah bervariasi antara sekitar 3 km sampai 30 km. curah hujan (air atau salju) yang jatuh di lereng-lereng gunung akan menguap atau merembes ke bawah pasir dan tanah sebelum akhirnya bersatu dan membentuk aliran-aliran air kecil.karez. Sistem-sistem Karez yang saat ini masih berfungsi tersebar di daerah-daerah kering lereng selatan dari Pegunungan Tianshan di Xinjiang timur. Rata-rata kedalaman saluran air bawah tanah adalah 20 meter. Kedalaman sumur berkisar antara 40-70 meter. 30-60 meter di bagian tengah. Fungsi utama dari sumur-sumur vertikal adalah untuk ventilasi.

tanah di sekitarnya lebih longgar. Pada bagian bawah sumur. roda pengerek dan lampu minyak (seperti diperlihatkan pada Gambar 4). Pembangunan tempat-tempat penampungan air ini meningkatkan tinggi permukaan air sehingga dapat mengairi lahan pertanian yang lebih luas. mayoritas adalah saluran bawah tanah. Lampu minyak besi yang dilengkapi dengan sebuah panah untuk orientasi arah digunakan untuk menggali saluransaluran di dalam tanah. kedua sisi digali untuk saluran air bawah tanah. Langkah pertama yang penting adalah menemukan sumber-sumber air di bagian atas dan mengetahui kedalaman air sesuai dengan lokasi lahan pertanian. palu untuk memalu. Alatalat tersebut antara lain pacul untuk menggali. Selain itu. saluran tersebut menjadi saluran permukaan dan dihubungkan dengan sebuah tempat penampungan air kecil atau langsung dihubungkan dengan sistem saluran pengairan untuk irigasi (Gambar 3b). Namun. Agar tidak mudah runtuh. Dalam membangun berbagai komponen berbeda dari sistem Karez. Saluran-saluran Air Bawah Tanah dan Permukaan Tanah Dari kedua jenis saluran air. air yang disimpan di dalam tempat-tempat penampungan ini memperoleh cahaya matahari sehingga suhunya meningkat. saluran air bawah tanah biasanya diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. Sumur-sumur vertikal dimanfaatkan tidak hanya untuk membantu proses penggalian saluran-saluran air di bawah tanah. dan 3-15 meter di bagian bawah. Keranjang dan roda pengerek digunakan untuk mengeluarkan tanah dan pasir. Pacul dan palu digunakan untuk menggali terowongan-terowongan di bawah tanah. Komponen-komponen tipikal sistem Karez Tempat Penampungan Air Air dikumpulkan di dalam tempat-tempat penampungan air kecil yang dapat disesuaikan tingkat ketinggian dan suhu airnya. penting untuk menjamin agar sumber daya air yang tersedia di sepanjang saluran air bawah tanah cukup memadai. Air yang lebih hangat lebih sesuai untuk keperluan irigasi. keranjang. Gambar 1. Biasanya saluran permukaan lebih pendek untuk membatasi penguapan. tetapi juga untuk menimba air dari saluran-saluran tersebut setelah keseluruhan sistem Karez selesai dibangun. karena rendahnya suhu air yang disebabkan oleh cairnya salju atau air yang berasal dari kedalaman dapat menimbulkan dampak merugikan bagi tanaman pangan. pada saluran-saluran yang lebih dekat ke permukaan. Bermacam-macam peralatan sederhana digunakan untuk membangun sistem Karez. Saluran air di bawah permukaan tanah pada umumnya merupakan bagian dari sebuah jaringan yang memungkinkan terkumpulnya air bawah tanah (seperti ditunjukkan pada Gambar 3a).meter di tengah. Biasanya lapisan tanah dalam di sekitar saluran bawah tanah sangat kuat dan tidak mudah runtuh. Saat ini di kota Hami di Cina digunakan juga sebuah kaca yang dapat memantulkan sinar matahari. Jika saluran air bawah tanah mencapai tanah pertanian. 12 . Lampu tersebut juga dapat dengan mudah ditancapkan pada dinding-dinding saluran. Gambar 2 menyajikan foto udara dari sumur-sumur vertikal.

Sumber: www. Karena sistem Karez memanfaatkan topografi lahan untuk mengalihkan aliran air dalam tanah di bawah permukaan melalui saluran air bawah tanah ke permukaan tanah untuk irigasi dengan memanfaatkan gravitasi bumi. Kearifan lokal ini memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut: 1. 3. Sumber: www.karez. saluran-saluran air bawah tanah juga tidak akan terkena badai debu. dan (b) penjangkauan saluran air bawah tanah ke saluran permukaan. (b) pacul untuk menggali. sehingga sistem ini tidak akan terlalu terpengaruh oleh dampak perubahan iklim.Selanjutnya lokasi penggalian sumur dapat ditetapkan. 13 .chinahw. Cina. Foto udara sumur-sumur vertikal di kawasan Turpan. Sumber air utama sistem Karez adalah salju yang mencair dan air bawah tanah.com Gambar 3. Kualitas Air yang Tinggi. walau adanya perubahan-perubahan lingkungan hidup yang terus terjadi dari masa ke masa. Tidak seperti saluran-saluran air yang berada di atas permukaan tanah. Aliran yang Stabil. selama beribu-ribu tahun kawasan yang memiliki Karez telah didiami oleh populasi penduduk yang stabil.net. Kualitas air yang dihasilkan memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai air minum dan untuk keperluan rumah tangga. Seperti dapat kita lihat.com Pelajaran yang Dapat Dipetik Sistem Karez merupakan teknologi masyarakat asli dalam mengurangi dampak kekeringan yang telah terbukti efektif dan masih dipergunakan. (c) keranjang dan (d) sebuah katrol modern digunakan dalam membangun sistem Karez. (a) lampu minyak tradisional dengan panah samping. Sumber: www. Setelah itu. 2. Dukungan Gravitasi Bumi. biaya yang dibutuhkan untuk peralatan menaikkan air dan perawatan sistem menjadi sangat sedikit sekali.sunnychina.com Gambar 4. (a) saluran air bawah tanah diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. Saluran air bawah tanah dapat meminimalkan penguapan yang tinggi di distrik Turpan yang berangin banyak. Air yang berasal dari salju yang mencair masuk ke dalam sistem dan tanah berfungsi menjadi penyaring yang baik yang menyingkirkan bahanbahan yang telah terpolusi. dan cersp. Sumber: www.travelchinaguide. Gambar 2. walaupun jumlah keseluruhan volume air yang dihasilkan tidak terlalu besar.org. saluran-saluran air bawah tanah meminimalkan polusi air dan pada saat yang sama sangat kaya akan mineral-mineral. Selain itu. Semua ini menyebabkan sistem Karez mampu menyediakan sumber-sumber air yang stabil. sumur-sumur dan saluran-saluran air dapat mulai dibangun secara bertahap mulai dari bagian bawah sampai ke bagian atas mengikuti sumber air.

Pada musim panas akan tersedia cukup sumber air bila airnya berasal dari salju yang mencair. Nilai sistem ini sebagai sebuah teknologi pengurangan dampak kekeringan yang efisien yang berbasis kearifan lokal tidak dapat diabaikan. jumlah volume air Karez terbatas. Shanghai People’s Press.4. Beberapa sistem Karez dibangun di sekitar Dataran Guanzhong di Cina Tengah pada masa Dinasti Han tetapi tidak dapat bertahan karena saluran-saluran air bawah tanahnya runtuh. Pembangunan dan penggunaan sistem ini terbatas secara spasial pada daerah-daerah tertentu saja.). 2001. Shouyi BAI (eds. http://www. Daftar Pustaka SI Maqian. sistem Karez pun memiliki keterbatasan-keterbatasan.karez. Hal ini seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan air untuk pertanian. Penggunaan sistem ini harus dipromosikan dalam menghadapi bencana kekeringan yang kian parah di masa yang akan datang. Xinjiang University Press. Selain itu.sunnychina.htm. Walaupun demikian. Higher Education Press. Xingqi ZHONG dan Huaizhen CHU (eds.com/travel_image/14441/1420/1 http://it. 91 S. Ji ZHAO.jpg.travelchinaguide. Sebagian besar sistem Karez dibangun dengan alat-alat pertukangan yang sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang kompleks. volume air pada sistem Karez dapat berubah sesuai dengan musim walau tidak ada banyak perubahan dalam volume hariannya. www.chinahw. Turpan Karez Sistem (Sistem Karez di Turpan).com/attraction/xinjiang/turpan/karez. Sistem hanya dapat diterapkan di daerah-daerah yang memiliki suplai air bawah tanah yang stabil dan memiliki jenis tanah yang keras. 1993. Dengan demikian saat ini ada kebutuhan untuk memperkuat sistem Karez yang tradisional dengan teknologi modern. pengetahuan tradisional ini harus ditingkatkan dan diperkuat dengan teknologi modern. sementara pada musim gugur dan musim dingin jumlahnya banyak.cersp.net/homepage/2006/baman/homepage/08xinjiang/01xinjiang/01. http://travelguide. Halaman 5-19.). 14 . Geography of China (Geografi Cina). 2004.com/2005/11/06/165519.htm. Konstruksi dengan Peralatan yang Sederhana. General history of China (Sejarah Umum Cina).M.org http://blog. SHIJI (catatan sejarah). Pada musim semi. Sebaliknya.

pegunungan di lembah Kashmir dan Deretan Pegunungan Pir Panjal dan Pegunungan-pegunungan Ladakh dan Kargil di daerah Tibet.6 Mw pada kedalaman 26 km. iklim. Secara administratif. terjadi gempa dengan kekuatan 7. Kondisi iklim bervariasi dari gurun arktik yang dingin di daerah Ladakh sampai temperatur sedang di lembah Kashmir dan subtropis di daerah Jammu. Gempa-gempa yang dahsyat terjadi secara rutin. Di India bagian utara.6 mm di Jammu di daerah Jammu. Studi kasus berikut ini hendak mempelajari kearifan lokal dalam praktik-praktik pembangunan rumah yang aman gempa di daerah-daerah pedesaan dan perkotaan di negara bagian Jammu dan Kashmir di India bagian Utara. negara bagian ini dibagi menjadi empat kawasan geografis. terletak di India bagian utara. perekonomian. perbukitan-perbukitan yang lebih rendah (Deretan Perbukitan Shiwalik). Daerah ini pada dasarnya merupakan kawasan pegunungan.236 km2. dan struktur sosial. pola curah hujan tahunan juga bervariasi dari 92 mm di Leh di daerah Ladakh. Kawasan ini berbeda dari bagian-bagian lain negara tersebut dalam beberapa hal. di mana tingkat kepadatan penduduk di daerah lembah-lembahnya tinggi. 650. utamanya: kawasan dataran tinggi pegunungan dan semi semi pegunungan. Distrik yang paling parah terkena adalah distrik Poonch di daerah Jammu dan distrik Baramula dan Kupwara di daerah Kashmir. Teknik tersebut. Kondisi tanah di lembah Kashmir buruk dan sangat tidak baik untuk konstruksi bangunan. dengan pusat gempa (episenter) terletak pada 34. Dari segi topografi.00 BT dekat kota Muzaffarabad.Negara Bagian Jammu dan Kashmir. dampak terbesar gempa tersebut dirasakan di negara bagian Jammu dan Kashmir. Serupa dengan itu. yang memiliki total wilayah seluas 222. India Utara Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir Amir Ali Khan Abstrak Karena kawasan Kashmir seringkali mengalami gempa bumi. perbukitan Kashmir di barat dan daerah Ladakh di utara dan timur laut. Kisah/Peristiwa Kawasan Kashmir terletak di zona yang memiliki tingkat ancaman gempa bumi yang tinggi. sementara di daerah perbukitan rendah.115. Latar Belakang Negara bagian Jammu dan Kashmir. negara bagian ini dibagi menjadi tiga bagian berbeda. Pada tanggal 8 Oktober 2005. masyarakat yang tinggal di daerah ini mengembangkan praktik-praktik konstruksi setempat untuk pembangunan rumah yang aman gempa. yang getarannya dirasakan di seluruh Pakistan dan India. 73. yang dikenal sebagai sistem “Taq” dan “Dhajji-Dewari”.60 LU. Gempa bumi tersebut melumpuhkan kehidupan sehari-hari yang normal sampai cukup lama karena kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkannya pada rumah- 15 .5 mm di Srinagar di kawasan Kashmir dan 1. yakni daerah Jammu di selatan dan tenggara. termasuk di antaranya dari segi topografi. telah terbukti benar-benar tahan gempa.

sistem Dhajji-Dewari biasanya digunakan untuk tembok- 16 . Balkon kecil yang menggantung biasanya memiliki luasan hampir 1. Ciri yang paling penting dari tipe konstruksi semacam ini adalah penggunaan lapisan lumpur yang tipis sebagai campuran tembok (mortar). Sistem Taq Sistem Taq menggunakan balok-balok kayu besar atau kayu gelondongan sebagai balokbalok horisontal yang ditanam ke dalam dinding-dinding bata/batu. dan dengan demikian mencegah melar serta pecahnya tembok.000 di Jammu tertimpa dampak parah dari gempa ini. sehingga membentuk semacam tangga yang diletakkan/ditempelkan pada tembok menutup dua muka luar dari tembok. Kearifan Lokal Kawasan Kashmir terkenal akan praktik-praktik konstruksi tradisionalnya yang aman gempa. Jumlah penduduk yang terkena dampak gempa mencapai lebih dari setengah juta.rumah dan infrastruktur di kawasan tersebut. Walaupun tingkat kerusakan dan kehancuran begitu tinggi. Sekitar 90. Balok-balok ini mengikat semua unsur bangunan atau rumah menjadi satu dan menjaga keseluruhan struktur agar bergerak sebagai satu kesatuan.5 kaki.000 rumah tangga di Daerah Kashmir dan 8. Foto: Amir Ali Khan Sistem Dhajji-Dewari Sistem Dhajji-Dewari menggunakan kerangka-kerangka kayu untuk mengikat tembok dalam bagian-bagian kecil. di mana ada dua jenis praktik konstruksi yang banyak digunakan: sistem Taq (bangunan tembok yang diikat dengan kayu-kayu) dan sistem Dhajji-Dewari (kerangka kayu dengan dinding pengisi). Balok-balok pengikat ini dihubungkan antara satu sama lainnya dengan potongan-potongan kayu yang lebih kecil. Gambar 1 memperlihatkan rumah-rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Taq.5–2 kaki persegi dan jendela yang menggantung lebarnya sekitar 3. Di daerah yang banyak menggunakan konstruksi ini. teknik-teknik konstruksi setempat yang berdasarkan kearifan lokal telah membantu menyelamatkan nyawa banyak orang. Kerangka kayu tidak hanya memiliki unsur vertikal tetapi juga unsur-unsur diagonal yang membagi tembok dalam berbagai bentuk panel-panel yang kecil. Balok-balok pengikat ini ditempatkan pada lantai dasar dan di atas jendela-jendela. Gambar 1. Tidak ada kebiasaan untuk menggunakan kerangka kayu sepenuhnya. Pada umumnya ini mengacu pada tata letak modular dari balkon kecil dan jendela menjorok yang menjadi ciri dari tipe konstruksi ini. Dalam bahasa setempat Taq berarti tembok. Balok-balok pengikat berfungsi sebagai penguat horisontal yang pada akhirnya mengikat seluruh bangunan tembok menjadi satu kesatuan. serta gangguan yang ditimbulkannya pada komunikasi dan pelayanan-pelayanan masyarakat penting lainnya. Rumah-rumah dengan tipe konstruksi khas Taq di Srinagar.

Sumber: Durgesh C Rai dan C V R Murty (IIT Kanpur. Teknik-teknik tersebut perlu diperkenalkan lagi agar masyarakat mengetahui keunggulan-keunggulannya dibandingkan dengan teknik-teknik modern. Gempa Bumi Kashmir jelas-jelas memperlihatkan keunggulan praktik-praktik tradisional dalam membangun rumah atau bangunan lain dibandingkan dengan teknik-teknik modern yang diterapkan tanpa menggunakan pengetahuan profesional yang memadai. Gambar 3. terbukti tidak dapat bertahan terhadap gempa jika dibangun tanpa bantuan pengetahuan profesional yang tepat dan memadai. 17 . dengan batu yang diplester semen dan campuran kapur dan bata yang diplester semen. terbukti mampu menahan gempa. terutama untuk bagian tembok yang menjorok ke luar atau menggantung. praktik-praktik konstruksi yang umum dilaksanakan di daerah itu dipelajari untuk mencari fitur-fitur relevan yang membuatnya aman gempa. Foto: Amir Ali Khan Pelajaran yang Dapat Dipetik Setelah Gempa Bumi Kashmir pada tahun 2005. a) Bagian-bagian rumah yang menggunakan sistem Dhajji-Dewari (bagian balkon kecil) dan b) sistem Taq (seluruh struktur kecuali bagian balkon) yang selamat dari kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi tahun 2005. Gambar 2. Penelitian mendapatkan bahwa kondisi-kondisi bangunan pada umumnya sangat buruk karena kurangnya fitur-fitur aman gempa pada rumah-rumah dan bangunanbangunan yang ada. India) – Laporan awal dari Gempa Bumi Kashmir Utara 2005 pada 8 Oktober 2005. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang dibangun dengan memanfaatkan kearifan lokal. Berikut ini beberapa hasil observasi yang didapat: 1. Ada banyak contoh di mana bagianbagian rumah atau bangunan yang dibangun dengan sistem Dhajji-Dewari dan Taq mampu mengatasi goncangan gempa. Rumah-rumah yang dibangun dengan bahan-bahan berkualitas seperti tembok yang mampu menahan beban. Tanpa adanya bimbingan profesional.tembok di lantai atas. 3. 2. baik dengan menggunakan sistem Taq ataupun teknik Dhajji-Dewari. Lebih banyak lagi tukang di kawasan Kashmir perlu mendapat pelatihan dalam pembangunan rumah dengan menggunakan teknik-teknik ini. Rumah-rumah dengan sistem konstruksi khas Dhajji-Dewari di Srinagar. struktur-struktur bangunan yang menggunakan beton bertulang menjadi sangat berbahaya dan dapat berakibat pada runtuh totalnya struktur bersangkutan jika mendapat goncangan yang besar. Teknik-teknik tradisional sistem Dhajji-Dewari dan Taq untuk membangun rumah belakangan ini menjadi semakin kurang populer. bahkan walaupun bagian lain dari rumah yang tidak menggunakan sistem tersebut telah runtuh (Gambar 3 a dan b). Beberapa contoh rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Dhajji-Dewari dapat anda lihat pada Gambar 2.

SEEDS. India. selama dua ratus tahun terakhir hujan dan banjir semacam itu tidak pernah terjadi dan masyarakat serta pemerintah setempat tidak siap untuk menghadapi situasi darurat sedahsyat itu. SEEDS dan para mitranya membantu mengembangkan suatu teknologi baru yang memadukan kearifan lokal dengan tambahan masukan teknologi yang terbatas. Namun. yang bentuk dasarnya berupa dinding-dinding lumpur dan atap jerami/alang-alang. Tim mengkaji praktik-praktik konstruksi tradisional di daerah tersebut. Kearifan lokal memang telah memberikan nilai tambah yang tinggi selama beberapa generasi. India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India Anshu Sharma dan Mihir Joshi Abstrak Pada bulan Agustus tahun 2006 beberapa desa di Distrik Barmer yang merupakan bagian dari kawasan gurun dari negara bagian Rajasthan di India Barat yang selalu mengalami kekeringan mengalami hujan deras dan kebanjiran. Berdasarkan catatan sejarah. SEEDS bekerja di daerah/blok Sheo dari distrik Barmer di mana mereka membangun 300 hunian untuk keluargakeluarga yang paling parah terkena dampak banjir. Hujan yang berlangsung selama terusmenerus lebih dari seratus jam menggenangi beberapa desa sampai ketinggian tiga puluh kaki.Barmer. dengan desain rumah yang bundar. distrik ini sepenuhnya berada di kawasan Gurun Thar. walaupun struktur tradisional yang utamanya terdiri dari lumpur ini memang cocok untuk jenis-jenis bencana seperti gempa bumi dan badai pasir. sebuah LSM nasional. Rajasthan. Terletak di sepanjang perbatasan India dan Pakistan. Dengan bantuan Panitia-panitia Pembangunan Desa dibangun beberapa bangunan baru yang dapat beradaptasi dengan ancaman-ancaman bencana yang ada saat ini. yang akan semakin sering terjadi di masa yang akan datang. Latar Belakang Distrik Barmer merupakan sebuah distrik yang terletak pada bagian paling barat dari negara bagian Rajasthan. struktur semacam ini tidak memiliki kapasitas anti air dan oleh karenanya menderita kehancuran yang parah selama banjir. segera melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana tersebut dan melakukan pengkajian kerusakan serta sebuah studi tentang lingkungan hidup alamiah setempat dan lingkungan yang telah dibangun. 18 . dengan sasaran terutama kelompokkelompok yang secara sosial terpinggirkan dan tidak memiliki kapasitas untuk dapat membangun rumah mereka kembali secara mandiri. tetapi dibutuhkan adanya dukungan teknologi yang dapat memperkuat agar kearifan lokal dapat menghadapi tantangan bencana-bencana yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya yang berkaitan dengan perubahan iklim. Rumah-rumah semacam ini memiliki banyak keuntungan dalam menghadapi kondisikondisi lingkungan hidup yang dialami saat ini.

Juga karena jenis lapisan tanah bagian dalam yang tidak menyerap air. dan sekitar 95 persen keluarga yang berada di desa-desa yang terkena (lebih dari 50. Barmer telah menerima curah hujan sebesar 577 mm hanya dalam waktu tiga hari. Perempuan-perempuan desa harus berjalan jauh dengan kendi-kendi di atas kepala untuk mengambil air untuk minum. Karena sebagian besar bangunan terbuat dari lumpur. Sekelompok Dhani membentuk sebuah desa. Kisah/Peristiwa Hujan yang terjadi terus-menerus di gurun di negara bagian Rajasthan menimbulkan salah satu banjir terburuk dalam dua abad terakhir di Rajasthan. Kehidupan di kawasan ini benar-benar sangat berat. Tinggi permukaan banjir mencapai hampir tiga puluh kaki di atas permukaan tanah. Dampak banjir semakin diperparah oleh kenyataan bahwa daerah tersebut memiliki penduduk yang sangat sedikit dan fasilitas-fasilitas infrastruktur pun sangat terbatas sekali. seringkali lebih dari satu kali dalam sehari. memasak dan kegiatan-kegiatan harian lainnya. Dalam situasi banjir hal ini sangat merugikan karena tempat tinggal warga menjadi semacam kantung-kantung yang letaknya rendah dan dengan menjadi arah tujuan larinya air banjir. banyak yang rusak parah dan hancur akibat banjir. Tingkat kepadatan penduduk di distrik Barmer termasuk yang paling rendah di India. Beberapa warga setempat berpikiran bahwa bencana merupakan hukuman dari dewa-dewi yang kurang berkenan terhadap kehidupan mereka. Malua. Bhadkha dan Shiv. Hujan lebat di musim penghujan yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 2006 mendera sekitar seratus desa dari 12 distrik yang ada di Rajasthan. Dalam satu klaster/kelompok permukiman biasanya ada empat sampai lima bangunan bundar yang dikelilingi oleh sebuah tembok rendah. sementara mereka yang lebih ilmiah mengaitkan banjir itu dengan perubahan iklim. dan ini menjadi tempat tinggal sebuah keluarga yang dalam bahasa setempat disebut Dhani.Masyarakat setempat tinggal terpencar-pencar dan dalam jumlah yang sangat sedikit.000 orang) terpaksa kehilangan rumah tempat tinggal mereka. menyimpan barang. sehingga akses warga terhadap pelayanan pemerintah menjadi sangat sulit. 19 . Komunitas-komunitas ini tinggal dalam kondisi iklim yang sangat keras dan mereka harus menggunakan dengan bijaksana sumber-sumber daya yang sangat terbatas di sekitar mereka untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membangun rumah-rumah mereka. Laporan resmi menyebutkan banjir ini menelan korban jiwa 103 orang. Banjir juga menimbulkan kehancuran parah karena sebagian besar rumah di kawasan ini pada umumnya dibangun di daerah cekungan yang terletak di sela-sela perbukitan pasir untuk melindungi diri dari badai pasir. Masyarakat setempat sebelumnya tidak pernah mengalami bencana banjir sedahsyat itu dan mereka begitu terkejut serta tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi situasi seperti itu. Sarana penghidupan yang tersedia sangat terbatas sekali. Air merupakan masalah utama di daerah ini. air banjir menggenang selama berminggu-minggu. Pada malam hari tanggal 21 Agustus 2006. Setiap bangunan digunakan untuk berbagai kegiatan berbeda seperti tidur. Beberapa desa yang paling parah terkena meliputi Kavas. 300 mm lebih banyak daripada rata-rata curah hujan tahunannya. Bahkan rumah-rumah yang masih berdiri tegak di banyak tempat menjadi tidak layak untuk dihuni lagi.

Diagram struktur sebuah dhani Bertahannya dan penyebarluasan kearifan lokal dalam hal konstruksi Teknologi yang berdasarkan kearifan lokal untuk membangun rumah kediaman warga digunakan secara meluas di kawasan tersebut. sementara kaum perempuan mengumpulkan kotoran sapi. Para anggota masyarakat sendiri menjadi penyebar dari teknologi ini dari satu generasi ke generasi berikutnya. Rumah dibangun dengan arah sedemikian rupa sehingga arah angin dan jalan sinar matahari dapat menjamin adanya ventilasi yang baik dan suhu rumah tetap terjaga agar nyaman. Ini terutama dilakukan karena adanya Kawasan Angin dengan Kecepatan Tinggi yang sering mengalami angin kencang terutama di musim panas. bentuk yang bundar juga dapat memberi rumah kekuatan daya tahan lateral. mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap rumah kediaman mereka dan pemahaman akan bahan-bahan bangunan serta cara memprosesnya. Masyarakat biasanya membangun rumah berbentuk bundar dan memilih lokasi di daerah yang tidak terlalu tinggi. Gujarat. Untuk membangun dhani mereka. Gambar 1 menyajikan diagram struktur sebuah dhani. Rumah yang bundar akan mempermudah aliran udara dengan hambatan yang minimum. yang sangat dekat dengan Barmer. Kaum perempuan mengerjakan pemlesteran rumah baru dan selanjutnya mereka juga bertanggung jawab atas perawatan rutin tembok-tembok dan lantai. Pada gempa bumi tahun 2001 di Kutch. 20 . Kaum lelaki mengumpulkan tanah yang berkualitas baik dari tempat-tempat terdekat. Atap dibuat dari anyaman ranting-ranting dan jerami dari tanaman Jowar. Pada umumnya ukuran bukaan pintu-jendela sangat kecil untuk mengurangi panas yang masuk dan melindungi dari badai pasir yang sering terjadi di daerah tersebut. yang kemudian dicampur dengan adonan lumpur menjadi bahan bangunan dasar untuk keperluan konstruksi. yang merupakan sesuatu yang penting di daerah ini karena suhu pada musim panas dapat mencapai 500 C. hanya sedikit rumah dengan desain serupa di kawasan ini yang mengalami kerusakan. semua anggota keluarga memainkan peranan penting dan semua memiliki tanggung jawab masing-masing. berdasarkan Peta Kerawanan Gempa India. Karena kawasan ini juga berlokasi di kawasan rawan gempa sedang sampai tinggi. Gambar 1. Karena seluruh anggota keluarga menjadi bagian dari kegiatan pembangunan rumah.Kearifan Lokal Kearifan lokal untuk kenyamanan dan keberlanjutan permukiman Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan di Rajasthan selama beberapa generasi telah terbiasa membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan setempat dan teknologi tradisional mereke.

Tidak ada listrik dan bahan bakar sangat langka serta harganya tak terjangkau untuk digunakan sebagai pengontrol suhu udara. Tersedianya bahan-bahan bangunan lokal yang gratis Adanya bahan-bahan bangunan lokal. rumah modern yang mereka bangun tidak senyaman seperti rumah-rumah tradisional. Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan Bentuk yang bundar mampu menahan tekanan angin yang ditimbulkan oleh badai pasir dan tekanan gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi. sehingga tercipta tingkat keamanan struktural yang lebih tinggi bagi rumah 21 . Para pemimpin masyarakat memberi contoh dengan menggunakan Teknologi ini Salah satu tradisi penting yang sangat umum yang diikuti oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di India adalah adanya sekelompok orang terhormat di desa yang memberikan contoh bagi seluruh masyarakat. para anggota masyarakat lainnya terdorong untuk mengikuti.Ada lima faktor utama yang menyebabkan teknologi pembangunan rumah tradisional semacam ini dapat bertahan di kawasan gurun yang terpencil dan bagaimana teknologi ini disebarluaskan ke masyarakat lain di wilayah yang lebih luas. Walaupun beberapa orang telah mulai memilih membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan modern. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 2 dan diterangkan di bagian berikut ini. 4. Dinding yang dibuat memiliki kualitas untuk mengisolasi panas atau dingin dan tebal. Kondisi-kondisi iklim yang ekstrim Di Barmer. Di desa-desa di Barmer. Inilah juga hal yang menjadi salah satu alas an mengapa teknologi ini dapat bertahan dan terus digunakan di kawasan pedesaan dan pusat tradisi ini. Atap rumah Dhani juga tersambung baik dengan sistem tembok. yang bebas biaya dan bebas transportasi. merupakan faktor penarik utama bagi masyarakat yang telah dibuat menjadi miskin oleh tidak adanya pilihan-pilihan untuk memperoleh penghidupan dan oleh iklim yang sangat keras. 1. pilihan-pilihan. Para anggota masyarakat seringkali meniru para pemimpin ini dalam hal perilaku. Menyaksikan hal tersebut. sebagian besar orang terhormat di masyarakat hidup di Dhani-dhani. sehingga memberikan suhu udara yang nyaman di dalam rumah baik dalam situasi panas ataupun dingin yang ekstrim. Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan rumah Seluruh masyarakat dan para anggota keluarga terlibat dalam berbagai kegiatan dalam rangka pembangunan rumah. dan cara hidup pada umumnya. Rumah-rumah yang terbuat dari beton menjadi seperti oven di kala udara panas dan dalam suhu dingin menjadi seperti lemari es. 5. 2. 3. Untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi iklim yang ekstrim seperti ini dibutuhkan sebuah rumah yang sesuai. Keterlibatan para anggota keluarga serta saudarasaudara dekat mengurangi beban biaya pembangunan rumah dan memperkuat semangat bermasyarakat. suhu udara pada musim panas dapat mencapai 500 C dan pada musim dingin suhu udara di malam hari mendekati titik beku.

Faktor-faktor yang menentukan kebertahanan dan penyebarluasan teknologi pembangunan rumah milik masyarakat setempat.sebagai suatu unit. dan proses pembangunannya sederhana serta cocok dengan tingkat ketrampilan masyarakat setempat. desain yang bundar melindungi struktur bangunan dari angin kencang dan gempa bumi. Program dimulai dengan penelitian tentang teknologi tepat guna yang dapat mendukung sistem pembangunan tradisional yang sudah ada. yang terbukti memiliki beberapa nilai tambah. Tim pengkaji menilai dan mendokumentasikan praktik-praktik pembangunan rumah di daerah tersebut. Dukungan ilmu pengetahuan SEEDS mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana segera setelah banjir dan melakukan kajian kerusakan serta sebuah studi atas lingkungan setempat. Para pemimpin masyarakat memberikan contoh Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan Teknologi konstruksi rumah asli masyarakat Keterlibatan masyarakat dalam konstruksi rumah Kondisi Iklim yang ekstrim Tersedia bahan bangunan lokal yang gratis Gambar 2. baik lingkungan hidup alami maupun lingkungan bentukan manusia. dan penelitian ini membawa pada penggunaan teknologi bata press saling terikat yang distabilisasikan (Stabilized Compressed Interlocking Earth 22 . rumah-rumah yang dibangun sangat kondusif dan memiliki suhu ruang yang sangat nyaman dalam kondisi cuaca ekstrim yang sering terjadi di kawasan tersebut. Tim mendapati bahwa struktur bangunan ternyata sangat ramah lingkungan karena bahan-bahan bangunan yang dicapai sama sekali tidak menciptakan jejak ekologis atau karbon. SEEDS dan berbagai mitranya membantu dalam pembangunan 300 hunian di bawah Program Barmer Ashray Yojana (Program Perumahan Barmer). Gabungan dari keamanan dan kenyamanan ini telah menghasilkan teknologi pembangunan rumah yang teruji sepanjang masa dan dihargai di tingkat lokal atas manfaat langsung ataupun manfaat jangka panjang yang telah diberikannya.

Panitia Pembangunan Desa (Village Development Committee/VDC) dibentuk di setiap desa untuk mengambil keputusan dan mengarahkan serta memantau proses pembangunan. Gambar 3. Program-program pembangunan rumah pasca-bencana harus memanfaatkan kearifan lokal yang ada dalam hal bahan-bahan bangunan dan teknologi konstruksi. Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik disarikan pada bagian di bawah ini: 1. 3. yang merupakan campuran dari kearifan lokal dan sedikit masukan ilmiah untuk membuatnya semakin tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru (Gambar 3a dan 3b). Pengetahuan dan ketrampilan dalam membangun rumah-rumah ini diturunkan kepada para tukang bangunan setempat sehingga dapat direplikasi dan disebarluaskan di seluruh kawasan. ilmu bahan bangunan. Setelah pembangunan rumah selesai. kemudian dipress menjadi bentuk bata yang memiliki kekuatan struktural tinggi dan kemampuan anti air. Desain tradisional yang bundar dan atap jerami yang “bisa bernafas” tetap dipertahankan. perwakilan-perwakilan LSM dan personil tim proyek bekerja sama erat dengan para pejabat pemerintah setempat. Pembangunan rumah sebagian besar dikerjakan oleh para pemilik rumah sendiri dengan hanya sedikit dukungan dari tim proyek. Panitia ini terdiri dari kaum lelaki. serta sistem-sistem dan proses-proses sosial. Jika dibutuhkan teknologi dapat diperkenalkan. lumpur lokal distabilisasikan dengan semen sebanyak lima persen. rumah-rumah dibangun dengan menggunakan teknologi tepat guna ini. masyarakat setempat lebih memilih struktur-struktur bangunan tradisional ini daripada rumah yang dibangun dengan teknologi beton modern yang disediakan oleh donor lain. 2. Bekerja sama dengan Christian Aid. Ini akan membuat biaya 23 . karena hal ini telah teruji dari generasi ke generasi dan paling sesuai dengan lingkungan hidup serta budaya setempat. para pemimpin masyarakat setempat. tetapi secara minimal saja. Dalam teknologi SCEB. perempuan. Sebuah sistem yang efisien dibangun untuk memproduksi SCEB secara massal untuk menyediakan rumah kepada keluarga-keluarga yang terkena bencana dalam rentang waktu hanya enam bulan. para guru sekolah.Block/SCEB). dan dengan pendanaan dari Departemen Bantuan Kemanusiaan Komisi Eropa. yang berubah menjadi seperti oven di bawah matahari gurun yang panasnya begitu menyengat. Rumah dhani tradisional Pelajaran yang Dapat Dipetik Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari intervensi proyek dan pendokumentasian studi kasus ini berkaitan dengan teknologi pembangunan rumah. Bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunan rumah haruslah sedapat mungkin ramah lingkungan dan berasal dari daerah setempat. untuk memberi nilai tambah kepada sistem-sistem tradisional yang ada dan membuat sistem-sistem tersebut menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru seperti yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Hubungan dengan sektor-sektor lain seperti sektor air. dan membuat desain serta proses pembangunan rumah menjadi cukup fleksibel bagi setiap keluarga agar mereka dapat mengatur sendiri unsur-unsur kecil dari pembangunan rumah yang sesuai dengan pilihan dan kebutuhan mereka. Partisipasi dari para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pemilihan tempat. dan juga meminimalkan jejak karbon dari intervensi proyek. Keterlibatan keluarga-keluarga pemilik dalam proses pembangunan rumah sangat berguna dalam menghemat biaya. sanitasi. 6. Peta Kerentanan India (Vulnerability Atlas of India). SEEDS. 2006. - 24 . Dokumen Proyek. “Barmer Aashray Yojna – Program Restorasi Hunian Pasca Banjir”. Pemerintah India. yang pada jangka panjangnya akan membantu keberlanjutan pendekatan tersebut. SEEDS. 8. Delhi.yang dibutuhkan untuk membangun rumah menjadi rendah. kaum akademisi dan sektor swasta merupakan sesuatu hal yang berguna demi melancarkan pelaksanaan proyek-proyek semacam ini. Hubungan dengan para pemangku kepentingan lokal termasuk pemerintah. lingkungan hidup dan gaya hidup serta akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat. penghidupan dan pendidikan dapat membantu menciptakan paket yang lebih menyeluruh yang berkaitan dengan rumah hunian. memperkuat rasa memiliki. Daftar Pustaka Dewan Promosi Bahan dan Teknologi Bangunan (Building Materials and Technology Promotion Council). 7. 2006. 4. replikasinya dan peningkatannya di kawasan bersangkutan. 2007. dan juga untuk mendorong agar para pemangku kepentingan menerima pendekatan yang ditawarkan. desain dan rincian konstruksi merupakan hal yang sangat menentukan bagi keterlibatan dan kepemilikan masyarakat terhadap proses ini. Alih teknologi kepada para tukang bangunan setempat merupakan sesuatu hal yang sangat berguna demi menjamin keberlanjutan pendekatan konstruksi. 5.

putusnya jembatan dan tanah longsor biasanya menyebabkan warga terperangkap. teknik ini telah memelihara dan menjaga tanggul-tanggul serta melindungi jembatan-jembatan dan jalan-jalan raya dari kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi. Kearifan Lokal Masyarakat telah belajar menghindari kerugian dengan menggunakan metode-metode yang terjangkau dan telah dipraktikkan selama beberapa generasi. Penanaman bambu membantu melindungi tanggul agar tidak tergerus dan mencegah banjir bandang dari aliran sungai bila sungai meluber pada 25 . runtuhnya tanggul sungai dan jalan. daerah luas di sekitar Assam tergenang. Assam. Kondisi fisik kawasan dan faktor-faktor seperti penggundulan hutan. Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath Abstrak Penanaman pohon bambu di sepanjang tanggul saluran air oleh para warga setempat di Desa Nandeswar dalam banyak hal telah menguntungkan desa mereka. salah satu vegetasi Assam yang paling dapat ditemukan di mana-mana di daerah tersebut. India. Secara khusus. Banjir seringkali membobol tanggul dan merusak jalan-jalan yang merupakan penghubung penting antara satu desa dengan desa lainnya. Assam dan negara-negara bagian timur laut lainnya seringkali mengalami banjir selama musim-musim penghujan dari bulan Juni sampai September. Latar Belakang Desa Nandeswar terletak di Distrik Goalpara (Gram Panchayat–Karipara di bawah Daerah/Blok Pembangunan Matia). Dengan ditanami bambu. tahun-tahun antara 1953-1998 merupakan saat-saat kejadian banjir yang terburuk. Assam. Sebagian besar warga Desa Nandeswar adalah petani. Assam Irene Stephen. 2004 dan 2007. India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. dan ini mengakibatkan banyak desa dan kota-kota di Assam menjadi terisolasi. Distrik Goalpara. Selama bertahun-tahun.Desa Nandeswar. Kisah/Peristiwa Walau daerah ini mengalami kejadian banjir yang parah pada tahun 2002. tanggul-tanggul saluran air jadi terlindungi dan tanah terhindar dari erosi lebih lanjut. tekanan penggunaan lahan. Beberapa teknik tradisional dapat membantu sungai dan saluran-saluran air agar terhindar dari pendangkalan dan peluberan yang berlebihan jika hujan deras. masyarakat di kawasan ini berulang kali harus menghadapi hari-hari kebanjiran yang panjang. Selama masa-masa curah hujan tinggi. Penghidupan mereka tergantung pada lahan dan kegiatan-kegiatan berbasis pertanian. Walaupun banjir terjadi setiap tahun di Assam. tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat dan tekanan-tekanan pada aliran-aliran sungai telah menyebabkan adanya perubahan aliran-aliran dan saluran-saluran sungai secara terus-menerus. dan erosi pada tepi sungai di daerah aliran sungai Brahmaputra.

Tanggul-tanggul tanah dibangun dari tanah endapan dan pasir serta ditanami rumput. Permukaannya ditanami rumput untuk mencegah erosi (Gambar 2). Assam. Pelajaran yang Dapat Dipetik Para warga masyarakat Desa Nadeswar telah belajar bagaimana menyiasati banjir dan erosi tanah. di sepanjang tanggul tanah dibuat lubang berjarak 24 inchi yang kemudian ditanami bibit/anakan bambu. Biaya untuk memperbaiki dan memelihara tanggul tanah juga sangat ekonomis. 26 . tanaman bambu yang sudah berumur 5 tahun dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Para warga setempat memperoleh banyak manfaat dari teknik penanaman semacam ini. Akar-akar bambu menjalar di permukaan (dekat lapisan tanah bagian atas) masuk 2. akar-akarnya yang dalam akan menjalar ke segala arah dan menumbuhkan anakan-anakan bambu yang baru serta mengikat tanah. Tidak seperti di masa lalu. Bahan-bahan yang didapat dari pembersihan ini ditumpuk di sepanjang sungai dan saluran air sebagai gundukan tanggul dari tanah.hari-hari hujan deras (Gambar 1). Selain itu. mengurangi pengendapan yang dibawa oleh hujan deras serta mencegah peluberan air sungai. Endapan lumpur yang diambil dari sungai juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan pertanian. Penanaman bambu telah memegang peranan yang penting dalam hal penghidupan dan upaya bertahan hidup masyarakat di Nandeswar. teknik ini menjadi suatu cara yang ekonomis yang dapat membantu warga setempat dalam menjaga kelestarian air dan menghentikan erosi lapisan tanah bagian atas serta tebing sungai. Mereka telah menggunakan penanaman bambu untuk mencegah kerusakankerusakan yang besar. Sejalan dengan tumbuhnya bambu. Gambar 3. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai melindungi sebuah jembatan penting. Sebagai persiapan untuk menghadapi datangnya hari-hari hujan dari bulan Desember sampai Februari. para warga di Desa Nandeswar biasanya membersihkan aliran-aliran sungai dari endapan dan pasir. Selain mengurangi tingkat erosi tanah. Metode yang digunakan membutuhkan investasi yang lebih sedikit untuk perbaikan dan pemeliharaan tanggul. di mana bambu ditanam hanya untuk keperluan komersial. bahan dasar untuk kerajinan dan pembuatan kertas. Setelah satu bulan.5 sampai 3 kaki ke dalam tanah dan pada bagian tanah yang lebih dalam bahkan sampai 5 kaki. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai di Assam. Akar-akar rumput membantu mengikat lapisan tanah di bagian atas. Proses ini dilakukan dengan menggunakan metode penanaman lokal yang disebut teknik penekanan akar bambu. penanaman bambu di sekitar kolam-kolam ikan dan sawah-sawah dapat mencegah erosi tanah serta menjaga agar air tidak menenggelamkan daerah-daerah yang letaknya rendah selama puncak hari-hari banjir. Gambar 1. Kegiatan-kegiatan ini membantu menciptakan lapangan kerja tambahan bagi masyarakat. Gambar 2. Masyarakat juga telah banyak memetik manfaat dari berbagai kegunaan bambu melalui teknik konservasi yang dikembangkan secara lokal ini.

Indonesia Dongeng. Contoh perkampungan khas Siberut dapat dilihat dalam Gambar 2. telah mengangkat ke permukaan pelbagai praktik kearifan lokal yang sebelumnya luput dari perhatian masyarakat internasional yang peduli pada upaya pengurangan risiko bencana. 1 Badan Pusat Statistik Sumatera Utara 27 . dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api Koen Meyers dan Puteri Watson Abstrak Praktik-praktik kearifan lokal terbukti telah mengurangi dampak bencana alam di tiga pulau Sumatra. yang dalam kurun waktu lima tahun mengalami bencana gempa bumi dan tsunami. Siberut Dengan luas 400. kira-kira 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra Utara.030 ha. Praktik-praktik itu mencakup antara lain sarana komunikasi tradisional.63 ha dan terletak kira-kira 155 km dari pulau utama Sumatra. Praktik-praktik itu akan dibahas secara terinci supaya diperoleh pemahaman yang utuh mengenai dampaknya dan bagaimana relevansi praktik dan kearifan lokal bagi pembangunan modern. Nias. Luas wilayahnya 4.000 penduduk asli tinggal di Siberut. Siberut merupakan pulau terbesar di Kepulauan Mentawai yang terdiri dari sekurang-kurangnya 70 pulau. Ritual. serta upacara ritual yang terkait. dan sekitar 40 pulau kecil. Menurut data sensus tahun 2006. jumlah penduduk Nias diperkirakan 713. Mereka termasuk dalam kelompok etnik Mentawai dan merupakan salah satu dari sedikit kelompok masyarakat di Asia Tenggara yang cara hidupnya masih banyak bergantung pada lingkungan alam. di mana pengelolaan lingkungan secara tradisional dan sistem-sistem kepercayaan yang terkait berperan penting dalam kehidupan sehari-hari orang-orangnya. Letaknya di sebelah barat lepas pantai Sumatra Barat. dan Siberut. Wilayahnya berupa kepulauan yang terdiri dari 1 pulau besar. yaitu Nias dan Nias Selatan. Lebih dari 35.1 Gambar 1 memperlihatkan pemandangan sebuah perkampungan di Nias. besar dan kecil. metode pembangunan dan perencanaan hunian. Luasnya sekitar 205. yaitu Pulau Simeulue.045 jiwa. terdiri dari dari dua kabupaten.Simeulue. Latar belakang Simeulue Simeulue adalah bagian dari Provinsi Aceh. Nias Nias terdiri dari sekumpulan pulau yang terletak antara Simeulue dan kepulauan Mentawai. Dengan kebudayaan yang berbedabeda.771 km². ketiga pulau itu. dan Siberut. Di banyak tempat di Siberut masih tampak pola ekonomi yang subsisten. yakni Simeulue. Secara administratif kepulauan Nias termasuk dalam Provinsi Sumatra Utara. Nias.148.

Pulau Nias mengalami dampak serius akibat gempa 26 Desember 2004 dan tsunami yang terjadi setelahnya.2 Ketika terjadi gempa pada 26 Desember 2004. kearifan atau pengetahuan itu berasal dari “pengalaman nenek moyang” pada tahun 1907. Pada Desember 2004 tsunami melanda Simeulue dan Nias. terjadi lagi gempa berkekuatan 8.Kisah/Peristiwa Dalam lima tahun terakhir. dan menyembulkan karang pantai hingga 100 meter dari garis pantai semula.000 rumah harus diperbaiki dan 29. Pada tanggal 12 September 2007 sebuah gempa berkekuatan 7. di mana 95% di antaranya hidup di wilayah pantai. Sebanyak 140 penduduk tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal. Kearifan Lokal Simeulue Salah satu penyebab rendahnya angka korban tewas di Pulau Simeulue adalah kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat. Selain faktor kearifan lokal itu. Kehidupan 90% penduduk terkena dampaknya. di Simeulue hanya jatuh sedikit korban bila dibandingkan dengan di daerah lainnya. dan Siberut mengalami beberapa kejadian gempa bumi dan tsunami.4 Dampak gempa sangat dahsyat sehingga di beberapa tempat menyebabkan tanah terangkat hingga lebih dari 2 meter. tepatnya 28 Maret 2005. Salah satu sebab kecilnya angka korban adalah karena semua orang. hanya jatuh satu korban jiwa. ketika terjadi sebuah gempa besar yang menimbulkan tsunami hingga menewaskan banyak penduduk pulau.7 skala Richter dan merenggut 839 jiwa. begitu merasakan gempa.3 Beberapa bulan kemudian. topografi pulau yang berbukit-bukit juga menjadi faktor penting lain yang memperkecil jumlah korban. Simeulue. Oktober) 28 . Laporan resmi pemerintah setempat menyebutkan hanya ada tujuh korban dari keseluruhan populasi yang jumlahnya sekitar 78. Perbukitan hanya berjarak ratusan meter dari perkampungan dan garis pantai. bergegas meninggalkan rumah dan lari ke tempat terbuka.000.000 lainnya harus dibangun kembali. Ceritacerita tentang peristiwa 1907 ini kemudian diterjemahkan menjadi kisah-kisah. Nias. penduduk Simeulue tahu bahwa mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena ada kemungkinan terjadi tsunami. 2 3 UNORC (2005) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias.9 skala Richter terjadi di dekat Siberut. 15. monumen peringatan. (2005. dan pengingat lainnya. Reaksi yang kompak semacam itu dapat dimungkinkan antara lain karena adanya pengetahuan masyarakat yang dikomunikasikan melalui dongeng dan legenda. Menurut mereka. Reaksi ini telah meminimalkan dampak kerusakan akibat tsunami. Kendati demikian. Oktober) 4 BRR (2005. yang lalu diteruskan kepada anak cucu mereka dengan pola yang bermacam-macam. Namun.

kemudian gelombang raksasa dan banjir. tetapi banyak orang Simeulue amat yakin bahwa istilah itu sudah ada. Orang kerap menyebut peristiwa itu sebagai cara Tuhan untuk meluruskan kembali cara hidup mereka yang telah melanggar norma-norma sosial dan religius. lalu diikuti oleh surutnya air laut. Cerita-cerita itu dikisahkan tidak dengan tujuan menyiapkan anak cucu menghadapi bencana serupa di masa datang. Seperti tampak pada Gambar 3. Di tengah segala kerusakan itu justru tampaklah contoh yang sangat kentara tentang bagaimana praktik tradisional dapat mengurangi dampak bencana. kata smong diturunkan dari ni semongan yang berarti percikan (air). Atap bangunan memiliki konstruksi yang serupa dengan struktur alasnya. yakni sebagai murka Tuhan. Peristiwa itu rupanya meninggalkan trauma yang amat dalam sehingga darinya muncullah cerita-cerita individual. Rumah ditopang oleh tonggak-tonggak vertikal (enomo). Adanya istilah lokal untuk menyebut peristiwa tsunami membuktikan bahwa masyarakat setempat memiliki pengetahuan hingga tingkat tertentu berkaitan dengan fenomena alam itu. yang bertumpu pada balok-balok batu dan sejumlah balok diagonal (ndriwa). Dalam cerita-cerita itu dikisahkan juga tentang monumen alam dari peristiwa tsunami. di mana unsurunsur strukturnya dikaitkan satu sama lain. Nias Gempa tanggal 28 Maret 2005 sangat berdampak terhadap penduduk dan infrastruktur Pulau Nias. smong adalah rentetan peristiwa yang diawali oleh gempa yang besar. Konon. Atap terdiri dari beberapa lapis balok diagonal yang ditepatkan pada posisi lateral. Mereka saling bertumpu satu sama lain pada bagian bawah. misalnya adanya bebatuan karang laut di lahan pertanian di daratan. melainkan untuk memberikan gambaran tentang suatu kejadian dalam sejarah. Peristiwa yang terjadi pada tsunami tahun 1907 diwariskan dari mulut ke mulut dalam masyarakat tanpa struktur yang baku. yang kemudian diceritakan turun-temurun di dalam keluarga atau di masyarakat. Setelah gempa. sebagaimana ditemukan dalam satu dari tiga bahasa setempat. Ndriwa diletakkan di antara enomo. Karena tsunami 1907 terjadi pada hari Jumat. yang artinya sama dengan tsunami. kebanyakan rumah kayu tradisional yang jumlahnya terus berkurang itu ternyata dapat bertahan terhadap goncangan gempa. dengan arah memanjang dan melintang bangunan. peristiwa itu kemudian memperoleh makna simbolik religius. Kedua ujungnya 29 . bukan dipaku. Tidak jelas apakah sebelum tsunami tahun 1907 istilah smong memang sudah ada. Teknik sambungan ini menyebabkan bangunan fleksibel. Tiap-tiap cerita memiliki kisahnya sendiri-sendiri dan tak jarang menyebutkan tentang penderitaan dan kematian anggota keluarga. dan dengan demikian berfungsi sebagai pengikat longitudinal dan lateral sekaligus. Teknik pengikatan ndriwa secara diagonal ke dua arah ini memungkinkan bangunan bertahan terhadap goncangan gempa yang sangat kuat sekalipun.Masyarakat Simeulue menggunakan kata smong untuk menyebut peristiwa itu. juga pada bagian atas yang tepat bertemu dengan balok horizontal di bawah lantai rumah. ketika orang-orang sedang kembali ke rumah seusai melaksanakan ibadah di masjid. rumah tradisional Nias terbuat dari kayu. Menurut pemahaman penduduk sekarang ini.

Berikut ini adalah salah satu versi dongeng di Attabai. Ia sangat dendam terhadap sang pemilik rumah dan semua yang ikut berpesta. sebuah dusun kecil di Siberut selatan: “Pada zaman dahulu kala. Setelah segalanya siap. hiduplah sebuah keluarga besar. sang pemilik rumah memerintahkan para saudara lainnya untuk menghunjamkan tonggak kayu yang besar ke dalam lubang. kemudian meminta saudara tirinya agar mengambilkan cangkulnya itu. 30 . Sang pemilik rumah sesungguhnya tidak menyukai saudara tirinya ini. Sementara itu. arwah sang saudara tiri tidak dapat beristirahat dengan tenteram. Sebelum perayaan berlangsung. Puluhan babi dan ratusan ayam disembelih dan dimasak. yang berhasil mengurangi dampak bencana gempa. salah satu strategi yang tak kasat mata adalah kisah dongeng yang menekankan adanya kaitan metafisik antara manusia dan peristiwa gempa bumi. tibalah waktu untuk menggali lubang bagi tonggak pertama. Struktur alas dan atap semacam ini membentuk struktur tiga dimensi yang meningkatkan elastisitas dan stabilitas bangunan ketika terjadi gempa. uma itu selesai dibangun dan termasyhur di seluruh pulau karena keindahannya. Siberut Pengalaman masyarakat Mentawai atas fenomena alam seperti gempa bumi telah mereka terjemahkan ke dalam pelbagai strategi. Segala persiapan dilakukan: pohon-pohon besar ditebang untuk dijadikan tonggak. sang arwah memperingatkan saudara perempuannya dan anakanaknya agar selama pesta mereka tidak makan di dalam uma. Lalu. secara kasat mata maupun tidak. dan kulit rotan mereka serut untuk dijadikan tali. di sebuah lembah di pantai barat Pulau Siberut. cerita ini juga mengingatkan pendengar bahwa gempa bumi mempunyai asal-usul manusia juga dan berkaitan dengan emosi manusia. hanya ada kesunyian. Selain membangkitkan kesadaran masyarakat atas bahaya gempa. Sesaat terdengar jerit kesakitan. Teknik yang khas itu hingga kini tetap dinilai sebagai contoh yang teruji mengenai arsitektur yang tahan gempa di Pulau Nias. melainkan harus bersembunyi di bawah pohon pisang.bertumpu pada balok-balok vertikal dan diagonal. Dongeng itu mengisahkan secara detail tentang gempa yang pertama kali terjadi di muka bumi. sang pemilik uma menjatuhkan cangkulnya ke dalam lubang. Akhirnya. Sang pemilik rumah mengundang sanak saudara dan kenalan untuk ikut pesta. kayu dipotong-potong untuk dijadikan papan lantai. Mereka ingin membangun sebuah rumah panjang (uma) yang baru dan megah. namun begitu tonggak kayu besar itu tertanam. Mereka meminta bantuan sanak saudara dan kenalan yang tinggal di lembah lainnya. Setelah lubang selesai digali. daun sagu dikumpulkan untuk anyaman atap. tiba saatnya untuk menyelenggarakan pesta besar-besaran sebagai upacara peresmiannya. Sebagai misal. Ketika si saudara tiri sudah berada di dalam lubang.

setiap kali orang hendak mendirikan rumah. kiranya masih perlu menimba hikmah dari tradisi cerita rakyat. Seiring dengan masuknya saluran komunikasi modern seperti radio. Sigegeugeu dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai ‘goncangan’ [dan memiliki makna persis sama dengan kata earthquake dalam bahasa Inggris]. Pertama-tama. televisi. terjadilah peluasan horizon masyarakat dan mengalirnya informasi yang lebih banyak dan luas. penyampaian cerita terjadi di dalam rumah dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya. yang berupaya mempersiapkan masyarakat melalui penyebaran brosur atau diskusi focus-group. Lewat merekalah sistem kepercayaan tradisional diturunkan dan diteruskan. Dalam contoh ini. Semenjak hari itu.Ketika orang-orang sedang berpesta pora dan menyantap hidangan di dalam uma. bukan dari pengalaman masa lalu atau konteks lokal mereka sendiri. Uma yang indah dan megah itu runtuh. melainkan cenderung menyebarkan informasi dengan cara yang jauh lebih luas. yang menyiratkan antropomorfisasi terhadap fenomena alam yang perlu dihadapi dengan rasa hormat dan gentar. Menurut sistem kepercayaan di sana. Di Simeulue. menurut kisah itu. Sesaji diletakkan di dekat tonggak-tonggak utama dengan tujuan menenangkan hati para roh penguasa tanah. mereka harus memberikan sesaji bagi roh penguasa tanah (Taikabaga) agar teteu (kakek) tidak murka dan marah. Program-program pembangunan yang modern. Gempa bumi itu ungkapan balas dendam sang arwah. Tindakan menyiapkan sesaji berguna untuk menanamkan kesadaran kolektif tentang risiko gempa dan membuatnya tetap hidup dalam kesadaran masyarakat. dongeng sebelum tidur tentang peristiwa di masa lampau terbukti dapat menyelamatkan ratusan jiwa. Kedua. Hanya merekalah yang selamat dari kejadian itu. Semua orang di dalamnya mati. Sementara itu. Pelajaran yang Dapat Dipetik Simeulue Ada beberapa hal yang layak disoroti mengenai tradisi penyampaian cerita di Simeulue yang telah berhasil menyelamatkan banyak jiwa pada tahun 2004. orang-orang Mentawai menyebut gempa bumi sebagai teteu yang berarti ‘kakek’. tibatiba saja tanah bergoncang amat keras. Mulailah orang lebih cenderung mengambil pelajaran dari tempat dan peradaban nun jauh di sana. Gambar 4 memperlihatkan tokoh adat yang berperan sebagai shaman atau medium. yaitu sigegeugeu dan teteu. Dua faktor ini merupakan metode komunikasi yang efektif untuk menginformasikan kepada suatu masyarakat tentang risiko bencana di daerah mereka. serta agar rumah itu dilindungi apabila suatu hari nanti teteu datang lagi. 31 . Cara-cara komunikasi modern kurang memperhatikan informasi lokal. dan telepon. Cara-cara baru ini harus mengandung informasi yang relevan dan harus dapat meniru keberhasilan tradisi cerita lisan dalam daya sebar dan relevansinya bagi masyarakat lokal.” Ada dua istilah dalam bahasa Mentawai untuk menyebut gempa bumi. kecuali keluarga sang arwah. perlu dicari cara-cara baru untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya bencana di daerah mereka. ceritacerita itu mengenai informasi setempat. teteu atau ‘kakek’ memiliki makna yang metafisik.

Memang ini terasa ironis karena Pulau Nias pada saat itu dan masih sampai hari ini merupakan tempat ditemukannya salah satu arsitektur tahan gempa yang terbaik di dunia. orang-orang terselamatkan karena pengetahuan yang mereka peroleh dari dongeng dan lagu. Salah satu simbol status di masyarakat adalah menganut desain dan gaya hidup modern. Strategi pengurangan risiko harus diintegrasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat tersebut. Akibatnya. pengetahuan tentang legenda tahun 1907 tidak akan menyelamatkan sedemikian banyak orang. Siberut Cerita tentang teteu merupakan bagian dari sitem kepercayaan tradisional masyarakat Mentawai. Kedua. Ironi ini memperlihatkan kepada kita. kerusakan hebat yang diakibatkan oleh gempa Maret 2005 terhadap penduduk dan ekonomi Nias tidak boleh dilupakan. Kayu keras yang diperlukan untuk membangun rumah tradisional sekarang makin sulit didapatkan. Deforestasi juga membuat keadaan makin parah. sistem kepercayaan tradisional dan dongeng-dongeng yang terkait tak bisa disangkal berperanan mengurangi risiko bencana. Namun. Namun. Ini menunjukkan betapa pentingnya faktor perencanaan permukiman dalam upaya pengurangan risiko bencana. Nias Sejak gempa Maret 2005.Hal yang juga patut diingat adalah peran topografi Pulau Simeulue. semua ini dapat kehilangan makna dan dampaknya dalam masyarakat lokal. walaupun hal itu layak disyukuri. terbukti bahwa ketika yang tradisional digeser oleh yang modern. berhasil segera mencapai perbukitan hingga dapat menyelamatkan diri. yang menyebabkan banyak orang memilih membangun rumah dengan gaya Melayu yang sebetulnya lebih rentan terhadap gempa. Ini pelajaran penting bagi upaya pengurangan risiko bencana di masa mendatang—suatu pendekatan yang menyeluruh perlu diambil demi melindungi kelompok masyarakat terhadap bencana. Modernisasi merupakan faktor penting yang menyebabkan makin berkurangnya arsitektur tradisional Nias. Penduduk kampung. Dongeng yang telah berperan mengurangi jatuhnya korban gempa mungkin memang tidak dapat dianggap sebagai metode pengurangan risiko bencana karena pengaruhnya terkait erat dengan ritual pembangunan rumah tradisional. Seandainya saja akses ke tempat yang aman itu tidak tersedia. praktik-praktik asli masyarakat dalam membangun rumah tradisional di Nias diteliti kembali dan telah mendapat pengakuan karena sifat tahan gempanya. Dalam banyak kasus. bahwa satu praktek kearifan lokal saja tidak dapat berperan banyak dalam mengurangi risiko bencana. Masuknya agama-agama monoteistik 32 . pertama-tama. pelbagai metode dan teknik pembangunan rumah tradisional secara perlahan mulai dilupakan orang karena beton dan batu bata telah menggantikan kayu sebagai bahan bangunan. Akibat tekanan program pembangunan. masyarakat dapat menjadi lebih rentan terhadap risiko bencana. dengan bekal pengetahuan tentang kemungkinan datangnya tsunami. Mereka kerap merujuk pada dongeng dan lagu-lagu tradisional yang menyebabkan mereka bereaksi secara tepat ketika gempa mulai terasa.

karena kebiasaan ini mulai digantikan oleh kepercayaan yang lebih modern. 2005. Oleh karena itu. pengetahuan tersebut pun mulai terlupakan. Membangun Harapan. sebagaimana yang lazim terjadi pada kebanyakan.pdf 33 . contoh-contoh itu masih dipraktikkan hingga hari ini justru karena pulau-pulau itu terpisah dari daratan Sumatra yang sudah lebih maju. termasuk teteu. Nias. Pertanyaan yang mencuat di sini adalah bagaimana pengaruh pembangunan dan modernisasi terhadap praktik masyarakat asli ketika proses pembangunan itu berjalan terus di masa depan? Sehubungan dengan upaya pengurangan risiko bencana. NAD – Nias. Program pembangunan baru perlahan-lahan masuk. 2006. apakah peran praktik masyarakat asli dalam modernisasi ketiga pulau ini? Perlukah diambil langkah-langkah untuk melestarikan contoh praktik masyarakat asli ini. dan transportasi modern. Telah kita lihat bagaimana praktek menyediakan sesaji menguatkan pengetahuan akan gempa dalam ingatan kolektif masyarakat setempat. Hanya ketika kemajuan pembangunan disela oleh alam dengan bentuk bencana alam. For presentation at the National University of Singapore. Benang merah dari uraian tentang ketiga contoh praktik asli masyarakat yang diuraikan di atas adalah: semuanya ditemukan di wilayah-wilayah pedalaman dan terbelakang. barulah praktik-praktik asli itu diperhatikan lagi dan diingat-ingat.membuat orang kehilangan kepercayaan pada arwah leluhur. Selama berabadabad. Present and Future. sehingga pemberian sesaji semakin jarang dilakukan. Herry Yogaswara and Eko Yulianto.caltech. Daftar Pustaka Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. praktik asli. komunikasi. meski tidak semua. Jakarta: UNESCO and LIPI. praktik-praktik asli telah memungkinkan banyak kelompok masyarakat hidup berdampingan dengan bencana.. Oktober. http://sumut. Kini. K.html Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR). agar pengetahuan itu tidak lenyap. pendidikan. Pulau-pulau itu hanya sedikit saja bersentuhan dengan infrastruktur.edu/~sieh/pubs_docs/submitted/Snu. Pengetahuan Lokal Pulau Simeulue: Sejarah dan Kesinambungannya. Sieh. dan dalam banyak hal dapat dikatakan belum tersentuh perkembangan modern. The Sunda Megathrust: Past. makna dan nilai praktik asli itu di dalam konteks modern tidaklah selalu dapat dipahami. 2007. tetapi pengaruhnya sudah langsung terlihat berkaitan dengan praktik dan kearifan lokal dalam mengurangi risiko bencana. 6 month Report. Diunduh dari: www. Meletakkan Fondasi.go. diperlukan alternatif-alternatif modern yang mampu meniru proses penyampaian pengetahuan itu dengan tingkat kepentingan yang sama bagi masyarakat setempat.id/pop/2006/pop05. dan Siberut. Ketika praktik asli tidak digantikan dengan alternatif yang modern.bps.gps. March 7-9. Dalam kasus Simeulue. kelompok masyarakat menjadi lebih rentan terhadap bencana. dan ketika modernisasi bergerak terlampau cepat. atau sungguh naifkah menganggap praktik-praktik ini sebagai solusi yang mudah dikemas yang dapat direproduksi demi kebaikan generasi mendatang? Kecepatan dan ciri pembangunan modern tidak selalu memberikan ruang bagi praktikpraktik masyarakat asli. SMONG.

2005. Diunduh dari: www. Total Population per Simeulue Village District.pdf 34 .humanitarianinfo.- UNORC.org/sumatra/mapscentre/docs/81_Simeulue/30_Population/SU M81-020_Simeulue_Population_Village_HIC_2005_04_18_ A4.

hujan salju di musim dingin. perbedaan iklim udara menjadi sangat besar. Nagara. beberapa di antaranya hingga 3. Jepang Langkah-Langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang Yukiko Takeuchi and Rajib Shaw Abstrak Kearifan lokal dalam penanggulangan bencana banjir di Jepang telah dikembangkan dan diuji dari waktu ke waktu. verifikasi. sekitar 50% populasi dan hampir 75% tanah milik penduduk terletak di area banjir.000 milimeter. Rata-rata curah hujan 1. memanjang di tengah daratan negeri yang panjang dan sempit ini. pengendalian erosi. sebuah wilayah dataran rendah yang kerap diserang banjir. Japan Water Forum (JWF) (2006). Akibatnya. Erosi dan pengikisan tanah terjadi sangat cepat di wilayah pegunungan. salah satu daerah di Jepang yang paling rentan terhadap bencana banjir. Tiga perempat daratannya berupa pegunungan dengan relief yang cukup tajam. berarti dua atau tiga kali lipat dari rata-rata daerah lainnya dengan ketinggian yang sama. sungaisungai di sana pada umumnya pendek dan agak curam. 35 . (1974). terletak pada pertemuan tiga sungai: Kiso. seiring dengan meningkat pesatnya kegiatan dan eksploitasi ekonomi. Mengingat 10% lahan di sana rentan terhadap banjir. curah hujan mencapai 4. Suatu perpaduan antara teknologi pencegahan banjir. Tambahan lagi. Segera setelah turun hujan lebat. dan pengurangan kerusakan tengah diteliti di prefektur Gifu. Nakano et al. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kearifan dan teknologi lokal mensyaratkan adanya dukungan kebijakan yang sesuai dan kesadaran dari para peneliti di satu pihak. Latar Belakang Jepang adalah sebuah kepulauan di wilayah iklim muson yang mengalami udara hangat dan lembap pada musim panas dan udara sejuk di musim dingin.2 Secara khusus. dan terbukti efektif. aliran udara “Bai-u” pada bulan Juni dan Juli. serta peralihan depresi dan aliran udara pada semua musim. 1 2 T. Dengan mendokumentasikan pengalaman ini. Mayoritas penduduk dari total 100 juta jiwa memadati wilayah dataran yang sempit. dan Ibi. dan pengujian teknologi tersebut di pihak lain.Prefektur Gifu.800 milimeter per tahun. serta perekaman. Di wilayah pantai selatan yang menghadap ke Samudera Pasifik. prefektur Gifu.1 Kebanyakan kota di Jepang terkumpul di dataran pantai. Udara lembap dari air terserap dan terkeringkan di daratan berkat topan di musim panas.000 meter di atas permukaan laut. Jepang terletak di area gempa Sabuk Pasifik dan kerap mengalami dampak akibat aktivitas gunung berapi dan gempa yang dahsyat. yang rawan banjir. Jumlah gunung berapi di Jepang kira-kira sepersepuluh gunung berapi di dunia. Berbagai pengubahan lingkungan alam terjadi secara cepat dan besarbesaran. Karena bentuk kepulauan Jepang yang sempit dengan topografi yang bervariasi. Deretan pegunungan. Jepang tengah. Proses urbanisasi yang deras dan kurang terkendali mengakibatkan juga pemakaian lahan secara tidak sesuai. sungai-sungai membanjir. Ketiga sungai ini mengitari dataran Noubi.

tanggul cincin semacam ini ditemukan di beberapa lokasi. Struktur ini disebut Hijiri-ushi yang berarti Sapi Besar. Pengendalian Erosi Untuk meminimalkan erosi. dan Ibi. Orang tidak berusaha menghalanginya. masyarakat membangun tanggul cincin tradisional yang berfungsi melindungi beberapa rumah dan lahan pertanian (Gambar 2). gotong royong. tetapi jiwa dan harta milik dapat dilindungi dengan teknologi sederhana. agaknya karena bentuknya yang secara sepintas mirip dengan seekor 36 . keberadaan tanggul cincin itu mulai dirasakan kurang berguna dan di beberapa tempat bahkan dibongkar agar tanahnya dapat digunakan untuk keperluan lain. pengetahuan. Pencegahan Banjir Untuk mengurangi dampak banjir. tradisi. Karena lokasi dan topografinya. Setiap kampung membentuk pengurus khusus dengan tugas memelihara tanggul cincin itu. Selama lebih dari 200 tahun. khususnya pada area kelokan sungai. Sebagai contoh. masyarakat tidak dapat mengendalikan sungai. Pada akhir abad ke-19 (zaman dinasti Meiji). masyarakat membangun beberapa struktur sederhana di tepian sungai. Dalam peta sejarah. masyarakat di sana berjuang untuk melindungi jiwa dan harta milik dari bencana banjir. antara lain. dataran Noubi mengalami sejumlah bencana banjir. tanggul beton. Nagara. check dam. Dulu. Kearifan Lokal Di masa lalu. Program lain mencakup penanaman bambu sebagai persiapan dan pengurangan risiko bencana banjir. frekuensi banjir di daerah ini berkurang. aktivitas pengurangan risiko bencana banjir dilakukan melalui goninggumi. dan peralatan pompa. Penduduk menamainya Waju (cincin dalam). suatu sistem saling bantu. melainkan membuat perangkat berbasis-pengetahuan untuk mengurangi dampak kerusakan. luapan banjir dari sungai dianggap sebagai gejala alam. serta pengelolaan hutan di dataran banjir.Kisah/Peristiwa Bencana banjir terjadi setiap tahun di dataran aluvial dan daerah delta prefektur Gifu. pintu air. Kerja sama ini membantu tumbuhnya rasa percaya diri dan memperkuat ikatan komunitas setempat. Oleh sebab itu. berbagai teknologi pengendalian banjir diterapkan dengan bantuan para insinyur dari Belanda. Tiga jenis pengetahuan dan teknologi tradisional yang dimiliki masyarakat Gifu diterangkan pada Gambar 1 dan dalam pembahasan di bawah ini. pada awal abad ke-19 (zaman dinasti Edo). dan saling mengawasi yang meliputi lima keluarga pada kelompok masyarakat tertentu. Akibat kebijakan yang dilaksanakan pemerintah pada abad ke-18 terhadap aliran sungai Kiso. dan di banyak tempat saling terhubung. dan gotong royong dalam komunitas. Orang dapat melindungi hidup dan harta milik dengan lebih baik berkat masuknya teknologi seperti.

Terlebih lagi. Di satu pihak. Mizuya dibangun sebagai ruang penyimpanan harta benda rumah tangga. Jenis yang paling umum tampak pada Gambar 3 dan 4. penting jugalah memusatkan perhatian pada 37 . Pengurangan Kerusakan Untuk mengurangi kerusakan akibat banjir. kita perlu memusatkan perhatian pada pengembangan teknologi pengurangan bencana. Ada beberapa jenis Hijiri-ushi berdasarkan bahan yang digunakan. Biasanya satu set Hijiri-ushi terdiri dari 5 struktur. membuat mereka tak berdaya dan menyebabkan kerugian yang lebih banyak. ada beberapa kelemahan jika orang melulu bergantung pada teknologi modern untuk mengurangi dampak bencana. yang disebut Mizuya (Gambar 5). sebuah gudang penyimpanan dan sebuah kamar mandi. Gambar 3. Ketergantungan terhadap teknologi modern membuat orang terlalu bergantung pada sumber daya luar. kendati mengalami perubahan dalam perjalanan waktu. Keluarga yang cukup kaya biasanya juga mempunyai perahu darurat untuk keperluan evakuasi (Gambar 7).sapi. Keluarga-keluarga yang cukup makmur biasanya mempunyai Mizuya di samping bangunan rumah utama. Pengetahuan tradisional telah terbukti bermanfaat dalam konteks kebudayaan dan sosio-ekonomi lokal. Hijiri-Ushi di Sungai Nagara (Foto oleh NIED-KU. Dalam perjalanan waktu fungsi Mizuya mulai diubah sehingga dapat dihuni orang untuk waktu yang lebih lama. sehingga meningkatkan kemandirian masyarakat. Tujuan struktur ini adalah mengurangi kekuatan arus air sungai sehingga memperkecil dampak erosi. Kini beton lebih lazim digunakan daripada kayu sehingga umur pakainya lebih lama. Mizuya yang sudah dimodifikasi terdiri dari dua ruang. Ketika terjadi peristiwa banjir besar tahun 1896. Pada tiap kelokan sungai (bergantung pada panjang pendeknya kelokan) biasanya diletakkan sekitar 13-15 set Hijiri-ushi (Gambar 4). 2007) Gambar 4. Kejadian-kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini banyak memperlihatkan kegagalan sistem tersebut dalam menolong kelompok masyarakat yang terkena bencana. ketinggian Mizuya hanya sekitar 2 meter. 2007) Pelajaran yang Dapat Dipetik Walaupun pengetahuan dan teknologi tradisional semakin tersingkir dan semakin jarang diterapkan di kebanyakan wilayah Jepang. sebagai cadangan hunian pada saat banjir. orang membangun rumah yang ditinggikan. Setelah itu. Di pihak lain. Pada awalnya.3 meter dari ketinggian semula (Gambar 6). keterlibatan masyarakat merupakan unsur penting dalam praktik kearifan lokal. Hijiri-ushi dari beton (Foto oleh NIED-KU. Patut diperhatikan bahwa teknologi yang sama masih digunakan hingga hari ini dengan sedikit perubahan pada jenis bahan yang dipakai. langkah ideal dalam upaya pengurangan bencana seharusnya memuat kombinasi yang seimbang antara teknologi modern dan pengetahuan tradisional. Karena itu. para pemilik rumah membangun Mizuya dengan menambah ketinggiannya 1. sehingga justru mengurangi kapasitas dan kemampuan mereka untuk menolong diri sendiri. Prinsip-prinsip tradisional dipertahankan.

National. Informasi risiko perlu dilengkapi dengan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional agar dapat secara efektif mengurangi risiko bencana dalam komunitas masyarakat lokal. peneliti. (iii) telaah atas kemungkinan penerapannya pada berbagai konteks (fisik. masyarakat setempat perlu dilibatkan agar mereka dapat memahami kelebihan dan kekurangan teknologi itu (mencakup rincian bahan yang digunakan. http://www. Kendati demikian. H. T. khazanah kearifan lokal memainkan peran yang amat penting karena berkaitan langsung dengan kelompok masyarakat. Global. Flood Fighting in Japan: 15.implementasi teknologi.” In Natural Hazards: Local. T.osaka. G. Japan Water Forum (JWF). dan sebagainya). perlu ada kebijakan yang jelas pada berbagai tingkatan. budaya. Agar pengetahuan tradisional dapat dimanfaatkan secara efektif. and I. Sekiguchi. city. pemerintah. Lembaga-lembaga pemerintah dan komunitas peneliti umumnya memiliki ‘informasi risiko’ yang lebih tinggi daripada kelompok-kelompok masyarakat setempat. Bahkan. Komunikasi risiko adalah perangkat interaktif dua arah untuk saling berbagi informasi tentang risiko di antara aparat pemerintah. menjalani proses hingga ujung dan menjembatani jurang antara teori dan praktik. Kadomura.jp/section/222_ shougaigakusports/p106-107. Pentinglah mendokumentasikan pengetahuan tradisional itu secara sistematis.. modal yang harus dipenuhi. demi menunjang pemanfaatannya. perlu menghargai praktik dan teknik tradisional yang masih diterapkan masyarakat agar dapat mengajukan upaya perbaikan yang berdasarkan konteks dan paling sesuai bagi wilayah tertentu. Oxford: Oxford University Press. juga kalangan akademis. dan masyarakat setempat harus saling berbagi pengetahuan. Pemerintah. sosial. edited by White. Daftar Pustaka Nakano. dan ekonomi). 2006. peneliti. (ii) verifikasi tentang kekuatan dan kelemahannya. masyarakat setempat kaya akan kearifan lokal. seandainya ada kebutuhan untuk menerapkan suatu teknologi baru untuk pengurangan bencana. Untuk mengoptimalkan komunikasi risiko. M. Burton. and T.settsu. “Natural hazards: Report from Japan. Untuk ini. Okuda. 231-245. Settu City. pdf - 38 . waktu yang diperlukan. dan (iv) klasifikasi teknologi berdasarkan kriteria tertentu. dalam upaya pengurangan bencana dan dalam penelitian dan pendidikan. Mizutani. 2007. 1974. Langkah-langkah pendokumentasian mencakup: (i) pengumpulan informasi dasar. dan masyarakat setempat.

ibu kota ke dalam beberapa distrik. Peta penggunaan lahan. (iii) salju tebal (lebih dari 70 cm). Semua kondisi ini. termasuk (i) kekeringan parah yang meluas pada musim panas. pengetahuan tentang bencana alam. Pusat soum Mandal terletak di wilayah utara. Masyarakat penggembala Shiver tinggal di soum Mandal.Masyarakat Penggembala Shiver. Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver Bolormaa Borkhuu Abstrak Masyarakat penggembala Shiver di aimag (provinsi) Selenge. Selenge. hujan badai. yakni kelompok 4–5 keluarga yang terikat hubungan darah atau kekerabatan. Karena perubahan iklim dan ekologi. soum ke dalam beberapa bag. Mandal. dan serangan serangga hutan. Masyarakat secara bersama-sama menerapkan kearifan lokal yang dapat digunakan untuk pengurangan risiko bencana. Masyarakat Shiver terdiri dari kira-kira 30 keluarga penggembala. dan (v) rendahnya kandungan nutrisi pada rerumputan. hujan badai. dengan pembagian lebih rinci aimag ke dalam beberapa soum. sangat berdampak pada ekonomi negara dan kehidupan penduduk pedalaman. sepanjang waktu berhadapan dengan bahaya bencana zud (bencana musim dingin yang khas Mongolia). yakni sejenis bencana musim dingin khas Mongolia yang mengganggu kesejahteraan dan keamanan pangan masyarakat penggembala itu akibat tingginya angka korban jiwa manusia dan juga korban ternak. Kisah/Peristiwa Masyarakat pedalaman di Mongolia sangat bergantung pada kondisi iklim dan sering terpapar bencana alam. kebakaran hutan. kekeringan. Sejak zaman dahulu. kaum penggembala di Mongolia biasanya tergabung dalam khot ail. khusunya pada musim dingin. yang paling sering adalah zud. kebakaran hutan. di samping meningkatnya bencana alam. 200 km dari pusat aimag Selenge. 160 km dari Ulaanbaatar (ibu kota Mongolia). Penyebab langsung bencana zud adalah meningkatnya fenomena alam. kekeringan. Kearifan Lokal 39 . kalender musim. (iv) lapisan es di tanah. (ii) temperatur yang luar biasa dingin pada musim gugur dan musim dingin (di bawah -40°C). Zud adalah bencana alam yang paling sering terjadi. Mongolia. frekuensi peristiwa kekeringan dan zud cenderung meningkat. dan serangan serangga hutan. Latar Belakang Mongolia terdiri atas ibu kota dan 21 aimag atau provinsi. dan organisasi sosial adalah beberapa bidang kearifan lokal yang membantu masyarakat mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana sepanjang tahun. dan distrik ke dalam beberapa horoo.

Dampaknya pun bermacam-macam. Permukiman pada musim gugur terletak berdekatan dengan lokasi permukiman musim dingin. penggundulan hutan. Beberapa jenis pengetahuan yang penting pun muncul. Mereka tahu. Peta menunjukkan 30 rumah tangga yang tinggal di 13 permukiman musim dingin (1-5 rumah tanggap pada tiap permukiman). Berikut ini hasil pengamatan mereka: Zud dan kekeringan: Juni-September Kebakaran hutan: April-Juni pada musim semi. misalnya kematian ternak. Tsagaan. pengetahuan tentang sebab dan akibat bencana. Pengetahuan tentang Bencana dan Sebab Akibatnya Para penggembala menyebutkan zud. September-Oktober pada musim gugur Hujan lebat: Juni-Agustus Serangan serangga hutan: Mei (awal musim tanam)-September Organisasi Sosial 40 . dan kekurangan lahan penggembalaan. hutan yang terbakar. Kalender Musim Kalender musim digunakan untuk menentukan kapan tiba dan berapa lama bencana berlangsung. Galsan bulag. mata air. antara lain lembah Chavgants. perubahan komposisi tumbuhan. Permukiman pada musim panas dapat ditemukan di tepian sungai Ar bulag. Ladang jerami memenuhi daerah lembah sungai Shiver dan berdekatan dengan permukiman musim gugur. jalan. sungai. kekeringan. hujan adai. Khuurai Shaazgait. kalender musim. Urtuunii am. dan terusan Nariin. lahan pertanian. jembatan. Shar Khad. lengkap dengan deskripsi penggunaan lahan (Gambar 2). bencana-bencana itu disebabkan oleh macam-macam kondisi semisal kurangnya penegakan hukum. dan serangan serangga hutan sebagai bencana alam yang paling banyak terjadi di wilayah itu. Peta Penggunaan Lahan Dengan melakukan survei. Marz. dan jejaring sosial. para penggembala membuat sebuah peta tentang tempat tinggal mereka. dan perubahan iklim. permasalahan seputar lahan penggembalaan. hutan. dan Saalinch. ladang jerami. Pada peta tergambarkan antara lain letak permukiman musiman. 43 rumah tangga di 8 permukiman musim panas (2-9 rumah tangga tiap permukiman). Jumlah rumah tangga di permukiman musim panas lebih banuyak daripada musim dingin karena banyak keluarga dari perkotaan datang ke daerah pada musim panas dan lalu pulang pada musim gugur. antara lain peta penggunaan lahan. serta area runtuhan salju selama berlangsung zud. keakaran hutan. ladang penggembalaan.Masyarakat penggembala Shiver secara bersama-sama menemukan kearifan lokal yang bermanfaat bagi pengurangan risiko bencana (Gambar 1). Permukiman musim dingin terletak agak berjauhan di lembah gunung.

Masyarakat pedalaman harus mampu memahami kerentanan mereka terhadap bencana yang merugikan ekonomi dan terjadi secara terus-menerus. yakni zud. kaum penggembala dan penduduk lainnya membentuk unit-unit swadaya dan koperasi untuk secara bersama-sama menangani masalah yang diakibatkan oleh kekeringan. 2. kekeringan. dan peralihan ke ekonomi pasar. Sistem manajemen bencana secara lokal pada tingkat akar rumput diperlukan supaya memampukan para penggembala untuk mengatasi bencana dengan kerugian sekecil mungkin. 6. Praktik kearifan lokal menjadi penting karena adanya kebutuhan untuk memobilisasi tindakan manajemen bencana di tingkat akar rumput. Pentinglah agar manajemen juga mencakup cara-cara pemakaian sumber daya alam di daerah itu secara berkelanjutan. kebakaran hutan dan stepa. Pemanfaatan kearifan lokal pada masyarakat pedalaman dalam upaya pengurangan risiko bencana adalah metode yang terbukti hemat biaya dan efisien. Sewaktu terjadi bencana. sangat berbeda dibandingkan dengan negara-negara lain. sanak saudara. Ciri khas bencana alam di sana: durasi cukup lama. Oleh sebab itu. sumber pertolongan yang utama berasal dari para tetangga. kaum penggembala di wilayah pedalaman telah berhasil mengambil inisiatif dan membangun semangat untuk bergabung dalam kelompok-kelompok agar dapat bekerja. serta hujan badai. Penghidupan kaum penggembala Mongolia. kekeringan.Di wilayah pedalaman. 4. serta kebakaran hutan dan stepa. Masyarakat Shiver dapat mengenali bencana-bencana alam yang umum dialami di Mongolia seperti zud. sistem manajemen bencana yang akan diterapkan di sana harus terlebih dahulu disesuaikan dengan kondisi lokal. Manajemen bencana tidak boleh hanya terpaku pada mengupayakan ladang penggembalaan dan ladang jerami yang mencukupi agar para penggembala dapat melewati musim dingin dengan tenang. anggota keluarga. permukiman dan pekerjaan mereka. dan manajemen bencana. Pelajaran yang Dapat Dipetik Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari masyarakat Shiver berkenaan dengan kearifan lokal untuk mengurangi bencana. 41 . maka mereka pulalah yang sangat perlu tahu tentang risiko bencana dan mampu mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak bencana yang akan terjadi. dan menyelesaikan berbagai persoalan dan kesulitan melalui usaha bersama. Bantuan dan dukungan juga datang dari organisasi Palang Merah setempat dan anggota parlemen. dan kebakaran stepa. dan pemerintah soum. Masyarakat lokallah yang terkena bencana. pencegahan dan pengurangan risiko bencana alam. 5. Di Mongolia. serta sangat penting untuk mengurangi risiko bencana yang paling sering terjadi dan paling merusak ekonomi. melakukan aktivitas bisnis. zud. kerugian yang ditimbulkan amat banyak dan luas. penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Tujuan utama masyarakat penggembala adalah penggunaan ladang penggembalaan secara rasional. 1. Pintu dibuka lebar bagi munculnya inisiatif dari tingkat akar rumput berkenaan dengan perkara yang bukan sekadar soal perlindungan air dan padang rumput. melainkan lebih luas hingga ke persoalan tentang perlindungan lingkungan hidup. 3.

Pemahaman mereka tentang manajemen bencana sebagai upaya bantuan pasca-bencana belaka perlu diperluas hingga mencakup pula upaya pengurangan risiko dan pencegahan bencana. inisiatif dari akar rumput harus didukung. 42 .7. Lembaga-lembaga negara perlu menerapkan langkah-langkah yang komprehensif dengan tujuan meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya upaya pengurangan risiko bencana. Di samping itu. terutama justru di kalangan masyarakat miskin. Persepsi masyarakat tentang kerentanan diri mereka terhadap bencana alam haruslah diubah.

Kurangnya manajemen kehutanan yang baik juga berperan menimbulkan longsor. akibat pengendapan lumpur. Proyek Program Penanggulangan Bencana Partisipatif yang didukung oleh UNDP memberikan perhatian banyak pada teknik-teknik mitigasi tanah longsor sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat di distrik Bardiya. yang didasari oleh pengalaman sebelumnya dalam program Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana di Nepal. karena beberapa faktor antara lain topografi wilayahnya. Bhupendra Gauchan. Beberapa kondisi dan perilaku masyarakat turut memperburuk keadaan. gempa bumi. dengan sasaran membangun kapasitas masyarakat secara partisipatif. Risti dan Kyamin di Distrik Tanahu. dan Tanahu. banjir. berkelanjutan. Longsor dapat terjadi di hilir (aliran sungai) atau di hulu (pegunungan). Thapa. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang kearifan lokal dalam penanggulangan bencana adalah hal yang langka di Nepal. Meningginya dasar sungai di hilir. dan kekeringan. Penggundulan hutan secara hebat dan praktik pertanian yang 43 . pembangunan yang tak terencana. dan hemat biaya. dan pesatnya pertumbuhan penduduk. Kisah/Peristiwa Tanah longsor biasa terjadi di banyak tempat di Nepal. banyak masyarakat terpencil di pedalaman memanfaatkan pelbagai macam praktik tradisional mitigasi dan persiapan untuk mengurangi dampak negatif bencana terhadap nyawa dan harta milik mereka. Syangja. Program ini. dapat juga mengakibatkan tanah longsor. Chitwan. disingkat PDMP) mulai dilaksanakan pada tahun 2000 di delapan kampung di empat distrik Nepal. bertujuan memadukan pengetahuan modern dan pengetahuan lokal dalam upaya mitigasi dan kesiagaan terhadap bencana. Memangkas dan menebang pohon pada waktu yang tidak tepat juga merupakan faktor yang menambah persoalan. Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli Man B. dan Kiran Amatya Abstrak Nepal rentan terhadap beberapa bencana alam. Tujuan proyek ini adalah mendorong para pengambil kebijakan agar memasukkan unsur-unsur kearifan lokal yang amat kaya ke dalam upaya penanggulangan bencana negara itu. kebakaran. antara lain tanah longsor. dan Tanahu di Nepal. Sebagai contoh. Youba Raj Luintel. Syangja. Latar Belakang Program Penanggulangan Bencana Partisipatif (Participatory Disaster Management Program. Chitwan.Distrik Bardiya. semakin banyaknya pengambilan bebatuan dan pasir dari dasar sungai dalam skala besar-besaran telah memperparah masalah. Akibatnya. serta Guleria dan Padnaha di Distrik Bardiya. Kahule dan Oreste di Distrik Syangja. Kampung-kampung itu antara lain Bhandara dan Kathar di Distrik Chitwan.

Para petani beranggapan bahwa pepohonan kecil. Oleh sebab itu. Di samping itu. untuk mengendalikan larinya air. Terakhir. melainkan juga karena dilakukan secara sengaja akibat kepercayaan pada mitos bahwa pembakaran hutan membantu proses regenerasi tumbuhan. dalam banyak kasus. bahan bakar dan kandang bagi hewan ternak.) yang tidak ramah terhadap lingkungan alam sekitar. Seringkali tanah semacam itu rentan terhadap bencana tanah longsor. Demikian juga. Semua tanaman ini mengakar secara dalam dan melebar sehingga memperkuat tanah. Petani di Terai menanam tumbuhan seperti itu di lahan pinggiran yang tidak cocok untuk ditanami. sistem drainase natural yang kurang tepat. 44 . erosi parit di punggung bukit dapat menimbulkan tanah longsor. ada kaitan erat antara tanah longsor dan banjir. masyarakat di perbukitan lebih suka menanam pepohonan kecil. semak. Mereka juga berhasil membangun dan mengelola terasering dengan sedikit kemiringan pada pojoknya. atau rumput-rumputan di dan sekitar perkampungan. Tetapi. cekungan. Dandhelo (kebakaran hutan) mempercepat menipisnya sumber daya hutan. juga untuk mempermudah cocok tanam. Memperbaiki terasering Di daerah yang kurang subur.buruk ikut memperburuk keadaan. Kearifan Lokal Masyarakat setempat memiliki serangkaian langkah tradisional untuk menanggulangi tanah longsor. orang menanam bambu di parit. penduduk setempat mengamati tanda-tanda alam yang memungkinkan mereka berjaga-jaga sebelum terjadi bencana. Dengan meletakkan bebatuan dan lumpur pada tepi terasering. tetapi juga menambah pendapatan bagi petani. tanah longsor menyebabkan banjir. selama ratusan tahun para petani berhasil membangun terasering untuk mengurangi laju aliran air dan hilangnya lapisan humus. Dengan cara itu. kadang orang terpaksa bercocok tanam di tanah yang curam. aspal. dan rerumputan di kelokan sungai dan di area yang curam dapat melindungi lahan pertanian terhadap risiko erosi dan tanah longsor. Mereka juga menanam amriso (bouquet grass dalam bahasa Inggrisnya) dan babiyo (eulaliopsis) untuk melindungi pematang terasering. semak. Praktik penanaman dengan cara demikian itu tidak hanya memberikan makanan. Dandhelo terjadi bukan hanya karena kelalaian manusia pada musim kering. Praktik khoria (peladangan tebang-dan-bakar) juga mempercepat proses menipisnya sumber daya hutan. Selain itu. dan bertambahnya pembangunan jalan (rel. Paritparit alam di punggung bukit terbentuk karena penggundulan rumput oleh ternak secara berlebihan. bukan pada tepinya. Sistem penanaman Daripada menanam pepohonan besar. dll. air yang tertahan di teras dapat mengalir melalui pojok itu. Akar bambu juga melebar dan saling bertautan dengan akar bambu lainnya sehingga membentuk suatu sistem penguat tanah alami. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pepohonan kecil dan semak dapat mencegah hilangnya humus dan tidak berisiko tumbang jika terjadi hujan lebat.

Meskipun mendirikan pagar batu merupakan pekerjaan yang mahal dan memerlukan perawatan teratur. Pagar semacam ini merupakan alternatif jikalau bebatuan besar sukar didapatkan di sana. cara ini efektif karena mampu membelokkan aliran sungai dari lahan pertanian. Pagar semacam ini efektif dalam meminimalkan pengaruh banjir. Beberapa jenis tanaman pakan hewan juga kadang digunakan (secara tersendiri atau dikombinasikan dengan pepohonan pagar) semisal badhar. petani mendirikan dinding batu pada sisi lahan pertanian atau di dekat aliran sungai dan parit. Tanaman dewasa dan rerumputan mencegah pengikisan tanah dan longsor. Akar rumput berfungsi menjaga ikatan tanah dan mengurangi laju aliran air hujan maupun air irigasi. Dinding pagar kering. Lebih jauh lagi. selain juga dapat mengalihkan banjir dan menjaga agar binatang liar tidak masuk ke dalam lahan pertanian. 45 . Dua jenis pagar yang umum ditemui adalah dinding pagar kering dan pagar hidup. menanam rumput membantu mengendalikan hilangnya lapisan humus dan mengurangi kemungkinan longsornya dinding terasering. longsor. Pagar hidup. Yang sering digunakan sebagai pagar hidup antara lain sajiwan. phaledo. siris. Karena mengangkut batu-batu besar bukanlah pekerjaan mudah. pengikisan tanah. di atas bebatuan kecil yang diletakkan di atas permukaan tanah. Struktur pagar terdiri dari bebatuan besar yang ditumpangkan di atas galian pondasi. Di samping itu. petani mendirikan struktur semacam ini pada tepian sungai yang arusnya deras. para petani juga membiarkan rerumputan tumbuh di dinding terasering. pohon neem. tanaman berakar dalam ini tidak berebut nutrisi dan udara dengan tanaman pangan seperti gandum. jika bebatuan mudah didapat. Tanaman-tanaman ini berakar dalam dan merontokkan daun pada musim dingin sehingga menyediakan sinar matahari bagi tanaman musiman lainnya. dan ambruknya lereng. Biasanya. Sebagai akibatnya. koiralo. Di area dekat lahan pertanian. gindari. khirro. Pembuatan pagar Membangun pagar adalah salah satu cara yang paling populer untuk melindungi tanaman dari serangan binatang hama dan memungkinkan tanaman dan rerumputan tumbuh pada tanah pinggiran. Di daerah perbukitan. Banyak petani di Terai dan di perkampungan perbukitan lainnya mempraktikkan pembuatan pagar hidup. petani menanam bambu atau tumbuhan lain di samping dinding itu supaya strukturnya lebih kokoh dan awet. dan simali. orang-orang biasanya bergotong royong untuk membangunnya. kutmiro. dabdabe.tanah di lahan curam diubah menjadi lahan pertanian terasering (Gambar 1). teknik tersebut berhasil meminimalkan hilangnya lapisan humus dan mengurangi laju aliran air yang pada akhirnya mengurangi kemungkinan terjadinya longsor. dan tanki. Daun-daunnya yang mati juga berfungsi sebagai zat organik yang menyuburkan tanah. Walau tujuan utamanya untuk memperluas area pertanian.

semakin besarlah kemungkinan bahwa kelompok itu memiliki khazanah kearifan lokal yang kaya. finger millet dengan masyang (black gram). Masyarakat yang tinggi kesadarannya akan solidaritas dan harmoni. Pengetahuan lokal itu tetap bertahan karena dua sebab: Pertama. pengetahuan itu mempunyai manfaat fungsional dalam masyarakat yang berkepentingan. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang mitigasi bencana pada umumnya dan kearifan lokal pada khususnya. Salah satu tujuan utama intensifikasi ini adalah meningkatkan dan meragamkan panen. bertekstur pegunungan. baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat masyarakat.Tumpangsari Petani di perbukitan dan di Terai meningkatkan perolehan tanaman pangan dengan cara tumpangsari. Misalnya. menjadi jelaslah bahwa tidak semua kelompok masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang sama luasnya mengenai mitigasi bencana— sebagaimana bisa diduga. telaah atas literatur yang ada memperlihatkan bahwa praktik dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat ternyata tidak diajarkan di sekolah dan juga tidak dicatat. ada kemungkinan itu pertanda akan terjadinya longsor dalam waktu dekat. literatur tentang kearifan lokal bagi persiapan dan mitigasi bencana amatlah jarang dan tercerai-berai. 46 . dan sebagainya. Setelah hampir setahun lamanya melakukan observasi dan berinteraksi dengan penduduk di delapan perkampungan. sehingga mereka dapat mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi. pengetahuan itu secara dinamis disampaikan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan dan praktik. dan sangat rentan terhadap bencana. Pancaran air di tempat baru juga merupakan pertanda lainnya. Kapasitas negara itu untuk menangani banjir dan bencana alam sangatlah lemah. Di perbukitan mereka menanam jagung dengan kedelai. air dan longsor. Semakin mandiri dan relatif endogen suatu kelompok. Beberapa laporan tersedia tentang nilai kearifan lokal bagi pengelolaan sumber daya alam di Nepal. Selain bermacam-macam teknik mitigasi tersebut. memiliki pengetahuan lebih banyak tentang mitigasi bencana. Lebih jauh lagi. gandum dengan kentang. Namun. bisa dikatakan tidak ada. kelompok-kelompok masyarakat juga memiliki kemampuan untuk mengenai tanda-tanda bahaya jika akan terjadi longsor. Pelajaran yang Dapat Dipetik Nepal adalah sebuah negeri yang kecil. Pengetahuan semacam itu lebih kental di dalam kelompok suku yang homogen daripada dalam kelompok-kelompok pendatang (seperti Brahmin dan Chhetri di distrik Terai). Menanam satu jenis tanaman pada satu waktu berarti tidak membiarkan lahan pertanian menganggur dan terbuka. Berubahnya posisi pohon secara vertikal ataupun horizontal juga menandakan terjadinya longsor di daerah itu atau di sekitarnya. Pengalaman petani selama bertahun-tahun membuktikan bahwa lahan yang terbuka rentan terhadap pengikisan oleh angin. Sekaligus juga cara itu efektif untuk mengurangi hilangnya lapisan humus karena menahan laju peluruhan permukaan tanah. Kedua. seperti Gurung dan Tharu. jika tampak rekahan baru di permukaan tanah.

J. Michigan State University.“Indigenous Management of Community Forest Resources in Middle Hills of Nepal: A Case Study.J. HMG Ministry of Agriculture and Winrock International. Forest Resources and Indigenous Management in Nepal.” an unpublished PhD thesis. and D. East-West Center.1989. Honolulu. D.1989. and P.1991. Gilmour. Michigan. Oleh sebab itu. Masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang amat luas dan beragam tentang mitigasi bencana berdasarkan kearifan lokal. menyusun.A. A. Gautam. Indigenous Pasture Management Systems in High Altitude Nepal: A Review. 7-15. Dhankuta.A. S. Telaah yang mendetail. Gurung. 9(4).1989.Rood. Research Report Series. R.J.” an unpublished graduate diploma essay. Perkawinan atau penyatuan kearifan lokal ini dengan pengetahuan ilmiah modern akan dapat meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.Thapa. Australian National University. 381-391. Gilmour.A. Rusten. thesis. 4. Farmers’ traditional wisdom: where does it stand within the present agricultural research system of Nepal? Pakhribas Agricultural Center Occasional Paper No. Kathmandu. Indigenous Systems of Common Property Forest Management in Nepal.1990. Karena mereka hidup di tebing atau lembah yang terpencil dan sulit dijangkau. Australian National University. semua kelompok terancam bahaya makin terkikisnya kearifan lokal antara lain karena pengaruh modernisasi. “Increase in tree cover on private farm land in Central Nepal. sistematis. Rai. K.” an unpublished M. Process and Practice of Community Forestry in Nepal. Chand.1992. E.D. 10(1).1991. Jackson. dan intensif tentang kearifan lokal dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan penghargaan mengenai peran kearifan lokal demi peningkatan kualitas dan keamanan hidup penduduk. Fisher.P.1989. Forests and Foresters: The Philosophy. Sc. B. John J. “An Investigation of an Indigenous Knowledge System and Management Practices of Tree Fodder Resources in the Middle Hills of Nepal. tetapi juga berkelanjutan dan selaras dengan alam dan budaya. Pencatatan pengetahuan semacam itu akan tampak jika saja ada upaya untuk menjadikan prakarsa peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dalam kelompok masyarakat bukan saja hemat biaya. and Man B. 17. Kathmandu: Sahayogi Press.S. 18.” Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. Navin K.1990.H. “Indigenous Forest Management Systems in Nepal.P. sangatlah perlu dilakukan upaya untuk mengumpulkan. Daftar Pustaka Carter. Gilmour. pp.“Conservation practices at an upper-elevation village of West Nepal.” Mountain Research and Development.” Mountain Research and Development.Bagaimanapun juga. Villagers. mereka mempunyai strategi sendiri dalam menghadapi bencana yang harus mereka hadapi. D. East-West Center.G. Honolulu. W. Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. Metz. - - - - - 47 .1991. pp. and R. dan mensistematisasikan khazanah kearifan lokal yang amat beragam ini sebelum lenyap ditelan waktu.Fisher.

Kearifan lokal juga makin terkikis berkat perubahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosio-ekonomi. serta di distrik Chitral di Provinsi Tapal Batas Barat Laut. Pakistan. baik nasional maupun internasional. Pakistan” Kathmandu: ICIMOD. Abstrak Kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir telah dicatat dalam dua studi kasus yang dilakukan di beberapa masyarakat pedalaman di Terai Timur. Proyek PRB niscaya akan memetik manfaat dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah eksternal dan kearifan lokal demi terciptanya solusi-solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Local Knowledge on Disaster Preparedness in the Eastern Terai of Nepal” dan “Herders of Chitral. Rautahat. yang cenderung hanya memperhatikan pengetahuan ilmiah dari luar. and Sarlahi di Terai Timur. dan pengetahuan ini berperan menyelamatkan jiwa dan mengurangi kerugian harta benda. Pakistan. dan di Distrik Chitral. Seperti lazim di seluruh Himalaya. Terai Timur Diibandingkan dengan masyarakat lain di Nepal. sebaliknya. Contoh-contoh yang diteliti memperlihatkan bahwa dalam perjalanan waktu pada umumnya masyarakat mengembangkan banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir. Nepal. kedua masyarakat menghadapi peruahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosioekonomi. Latar belakang Studi kasus dilakukan di distrik Dhanusa. Pada akhirnya. pemahaman atas praktik dan kearifan lokal merupakan prasyarat jika hendak mengintegrasikan konteks dan kebutuhan lokal ke dalam program PRB. sebagian besar kelompok masyarakat di Terai tergolong konservatif. 2007. Segelintir orang berkasta tinggi di kampung 48 . Nepal. kearifan lokal ini sering dipandang sebelah mata saja oleh pihak-pihak luar. Informasi dikumpulkan mengenai kemampuan orang untuk mengamati. Kelompok-kelompok masyarakat pedalaman dalam studi kasus ini kerap menggabungkan pertanian mandiri dan pekerjaan di luar ladang. Sistem kasta dalam agama Hindu mempengaruhi hubungan sosioekonomis secara cukup kuat. Walau demikian.Terai Timur di Nepal dan Distrik Chitral di Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contohcontoh dari Nepal dan Pakistan Julie Dekens Diambil dan diringkas dari “The Snake and the River Don’t Run Straight. Studi kasus ini menunjukkan perlunya telaah lebih lanjut atas praktik dan kearifan lokal untuk memperkuat praktik lokal yang baik (yang berkelanjutan dan seimbang) dan. Mahottari. The Lost Messengers? Local knowledge on Disaster Preparedness in Chitral District. beradaptasi dengan. mengantisipasi. dan berkomunikasi tentang risiko-risiko banjir. yang mempengaruhi kerentanan mereka terhadap risiko bencana alam serta cara mereka menanggapinya. mengurangi praktik yang tidak berkelanjutan.

di antara kalangan kelompok umur yang berbeda. Kondisi geografis di Chitral secara umum tidak menawarkan banyak pilihan yang aman untuk hidup. Distrik Chitral Kesenjangan sosio-ekonomis di antara penduduk Chitral tidaklah semencolok di Nepal. dan tidak cocok untuk permukiman. seiring bertambahnya migrasi kaum lelaki. terutama untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Namun. semakin banyak lelaki yang bekerja di luar kampung atau bahkan luar negeri sehingga lebih banyak perempuan kini harus juga bekerja di luar rumah. Terai Timur di Nepal beriklim muson yang ditandai dengan musim panas yang panas dan lembap. Untuk membajak tanah. orang-orang yang miskin dan berkasta rendah seringkali menggantungkan hidup mereka pada orang berkasta tinggi karena tidak tersedia jalan untuk memperoleh kekayaan. Daerah lembah sungai terkena banjir berulang-ulang sehingga sama-sama tidak cocok untuk permukiman. tandus. sehingga amat berdampak pula pada penghidupan banyak orang karena sebagian besar warga hidup dari pertanian. terutama tinggal dan bekerja di rumah. dengan akibat besarnya perbedaan curah hujan antarmusim. Bilah-bilah itu kemudian diubah menjadi oasis ketika orang membangun saluran irigasi. hujan lebat di pegunungan dapat memicu terjadinya banjir bandang. tempat itu adalah di sisi pada ujung bilah pegunungan. Nyaris hanya 3. Pada umumnya. kerentanan gender lebih mencolok di wilayah yang diteliti karena perempuan dalam kebudayaan Maithali. Yang unik dalam kasus ini adalah lingkungan fisik masyarakat pegunungan yang terpencil itu. Angka korban tewas akibat banjir memang tergolong rendah. yang dominan di perkampungan.5% wilayah Chitral cocok untuk pertanian. pohon buah-buahan. Orang sering dihadapkan pada situasi di mana mereka harus memilih tempat yang paling kecil risikonya.kebanyakan adalah tuan tanah atau rentenir. banjir merupakan peristiwa yang selalu berulang hampir setiap tahun. Sama halnya. Perbedaan besar dalam hal kerentanan tampak di antara kasta-kasta dan tingkat sosio-ekonomis berbeda. Maka. mereka menggunakan kerbau. Lereng pegunungan banyak yang curam. dan sayuran. musim dingin yang agak agak lembut dan kering. Para petani menanam gandum. Terlebih lagi. Tanah yang mengandalkan irigasi air hujan ini sangatlah subur karena perubahan konstan sedimen yang terkikis. Pada musim muson ini hujan yang deras atau berlangsung agak lama dapat menimbulkan banjir di tanah yang sudah jenuh itu. Kearifan Lokal 49 . Kisah/Peristiwa Dalam kedua studi kasus. tetapi kerusakan yang menimpa lahan pertanian dan harta benda di rumah warga cukup tinggi. Hujan terkonsentrasi pada bulan Juni hingga Agustus. Orang dapat dengan mudah menarik garis batas antara banjir tahunan normal dan banjir luar biasa yang lebih merusak tetapi dengan siklus kejadian lebih panjang. dan juga di dalam rumah tangga.

penerapan strategi baru bercocok tanam semisal menanam di sepanjang sungai. Mereka juga dapat mengidentifikasi tempat-tempat mana saja yang aman bagi manusia dan ternak peliharaan. rumah. serta langkahlangkah yang diambil untuk mengalihkan aliran sungai. membangun gudang penyimpanan makanan. dan karenanya membuat interpretasi tentang di mana tempat membangun. dsb. Ini penting karena pengalaman dan pemahaman masa lalu tentang banjir pasti akan mempengaruhi pengalaman dan pemahaman di masa kini. Salah satu contoh berkaitan dengan kapasitas orang untuk mengamati lingkungan sekitarnya di Chitral.Kearifan lokal yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berperan meningkatkan kapasitas mereka untuk mengurangi risiko bencana mencakup. negara. penyelenggaraan sistem keuangan mikro. reorganisasi pola tanam dan pengolahan tanah. pagar bambu. Akibatnya. yakni kemampuan untuk membaca lingkungan alam. Di sana. singkirkan harta milik berharga.). perubahan awan). adanya ikatan erat dengan lingkungan hidup agar dapat bertahan hidup. pengelolaan sumber daya alam (mis. kepercayaan. dan pengalaman masa lalu tentang banjir. dan menilai didasari oleh pelbagai transaksi. strategi-strategi diversifikasi usaha). dan akumulasi pemahaman tentang lingkungan hidup yang disampaikan dari satu generasi ke generasi lainnya. atau tidak membangun. Pengetahuan tentang proyek pembangunan: Kepercayaan orang tentang akan adanya pihak-pihak dari daerah. dan juga manusia dari air banjir. serta pengaturan waktu (misalnya. (Gambar 1) Pengetahuan non-teknis: Contoh strategi adaptasi yang bersifat nonteknis antara lain tindakan yang diambil berkaitan dengan mobilitas ruang dan sosial (mis. langkah perlindungan dinding. mengawasi. ternak kecil. sekurang-kurangnya. dengan dasar pengamatan sehari-hari atas lingkungan di sekitar mereka. atau membangun lantai untuk menghindarkan barang-barang kecil. Pengetahuan organisasional: Kemampuan merencanakan. kemampuan untuk mengandalkan dukungan sanak saudara dan tetangga. permukiman di Chitral didirikan di daerah yang relatif aman kendati risiko sangat tinggi akibat banjir bandang dan bencana alam lainnya di distrik itu. Orang sering dapat mengantisipasi banjir dengan cara mengamati tanda-tanda peringatan alam (misalnya perubahan warna air. Nepal. atau internasional yang akan mengulurkan tangan ketika mereka mengalami bencana akan berpengaruh pada bagaimana orang akan menanggapi keterlibatan pihak-pihak itu. persepsi. memperkuat dan memperkokoh dinding dengan timbunan lumpur. aspek-aspek berikut ini: Pengetahuan sejarah dan lingkungan: Masyarakat setempat memiliki pengetahuan tentang sejarah dan sifat banjir di daerah merka sendiri dengan mengamati dan mengalami sendiri peristiwa banjir. atau menanam sayuran - - - - 50 . salah satu strategi beradaptasi dengan banjir bandang diperoleh dengan dasar pengetahuan lokal. peraturan tentang menggembalakan ternak dan penebangan pohon. air minum. dan transportasi. gudang atas. Pengetahuan teknis: Contoh strategi teknis sebagai upaya beradaptasi dengan banjir antara lain langkah-langkah yang berkaitan dengan pembangunan rumah. makanan. lalu tinggalkan rumah). dsb. keamanan pangan. Sebagai contoh. di Terai Timur. jika tiba saatnya untuk memasukkan kayu bakar dan makanan lebih duu. kantor. orang menerapkan berbagai strategi sederhana untuk mendirikan rumah (misalnya meninggikan undakan.

Pengetahuan tentang kesiapsiagaan menghadapi banjir diwariskan secara lisan dengan cara belajar sambil melakukan (learning by doing). Dengan demikian. tentang lingkungan sekitar mereka. yang bersifat keseharian dan lokal. penduduk setempat telah mampu mempelajari tanda-tanda awal akan terjadinya banjir bandang yang merusak. menyampaikan pengetahuan dan pelajaran yang dipetik dari peristiwa banjir di masa lalu). bau. setiap hari mengamati keadaan alam sekitar. dan internalisasi praktik-praktik tertentu secara turuntemurun. Beberapa pemimpin adat disegani dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang membuat mereka mampu berbicara di depan publik dan menyampaikan pesan peringatan (misalnya “harap Anda meninggalkan rumah sekarang juga!”) yang akan dipercayai dan diikuti semua penduduk. dan ciri-ciri air sungai pegunungan. GLOF). Nepal. serta terbangunnya relasi-relasi institusional dengan pihak di luar lingkaran masyarakat setempat). Namun. kisah masa lalu disampaikan secara lisan oleh orang-orang tua dengan cara bercerita. seperti halnya di wilayah lain di Himalaya. masyarakat migran mempunyai pengetahuan lebih sedikit daripada masyarakat yang telah tinggal di suatu daerah secara turun-temurun. serta adanya sistem peringatan dini (misalnya siulan. lari menuruni bukit). di samping juga kemampuan meramalkan berdasarkan konstelasi bintang. Tingkat pengetahuan lokal juga bergantung pada sifat suatu masyarakat (misalnya. Masyarakat di Chitral juga telah menerapkan strategi-strategi untuk meningkatkan ketahanan mereka terhadap serangan banjir bandang. Semua orang mempunyai pengetahuannya sendiri. kepercayaan dan sikap batin terhadap perubahan sehingga mampu belajar dari kesalahan masa lampau dan dari peristiwa bencana banjir. teriakan. dan seisi kampung berhasil menyelamatkan diri tepat pada waktunya (Gambar 2). yakni mereka memiliki keahlian penting tertentu yang tidak diketahui semua orang dan yang dapat bermanfaat bagi kesiapsiagaan menghadapi bencana. Pada tahun 2005. peran para sesepuh amat penting karena merekalah yang kerap kali menjadi ingatan sosial bagi 51 . Tanda-tanda itu semisal warna. keterampilan yang berguna dalam pengerjaan meninggikan lantai demi menghindari banjir seperti yang ditemukan di Terai. Strategi komunikasi: Ini mencakup komunikasi secara lisan maupun tertulis tentang peristiwa banjir di masa lampau maupun tentang yang akan datang. Sebagai contoh. peringatan dini tentang akan datangnya banjir) dan di antara generasi (mis. Orang-orang yang dianggap ahli dalam kelompok masyarakat dan beberapa kelompok sosial tertentu juga memiliki pengetahuan spesialis lokal. Contohnya antara lain masyarakat nelayan yang setiap hari hidup berdekatan dengan air. menceritakan dongeng. Dengan demikian. tidak ada korban jiwa satu pun karena penduduk berhasil menafsirkan perilaku aliran sungai sebagai pertanda awal. Kelompok lainnya lagi mungkin memiliki pengetahuan tentang perkayuan dan anyaman bambu. Kendati demikian. Dalam studi kasus ini.- di tepian sungai untuk mengurangi dampak banjir. sebanyak 106 rumah di kampung Brep hancur karena Luapan Banjir Danau Es (Glacial Lake Outburst Flood. kelompokkelompok masyarakat tidak mencatat sejarah dalam buku. tak aneh jika mereka mahir berenang dan peka terhadap perubahan air. Penyebaran pengetahuan ini berlangsung pada dua tingkatan: di antara anggota masyarakat (mis. kelompok masyarakat nomad bisa jadi mempunyai pengetahuan lokal tentang lebih dari satu daerah saja).

kegiatan dan upacara ibadat. Lagu dan peribahasa juga berperan dalam penyampaian strategi penanganan bencana. Pada masyarakat yang banyak mengandalkan tradisi lisan. Lagu dan peribahasa juga dapat membantu membangun kesadaran berkomunitas dan solidaritas di dalam kampung dan/atau dalam beberapa kelompok yang terkait. Beberapa lagu yang dikumpulkan dalam studi kasus di Nepal seluruhnya bercerita tentang banjir. tapi tidak selalu. Sebagai contoh. membentuk pengetahuan bersama. dan dimengerti (dihayati) Dimiliki oleh kelompok masyarakat Tanggap terhadap budaya Pengawasan berlangsung terus-menerus Keandalannya teruji oleh waktu Selaras dengan konteks dan kebutuhan setempat Memberdayakan masyarakat. Ibadat. yang merujuk pada sifat sungai di daerah itu: saluran-saluran air sangat tidak stabil. Sebagai contoh. lagu. Salah satu contohnya adalah peribahasa: “Ular dan sungai tidak pernah berjalan lurus”. lagu dan puisi merupakan bagian penting dalam kebudayaan Nepali dan Terai. termasuk kelompok-kelompok yang paling rentan dan paling kurang beruntung. ingatan. dua studi kasus itu membuktikan bahwa praktik masyarakat asli seringkali. sementara lainnya menyebut soal banjir di samping masalah-masalah lain yang dihadapi penduduk. termasuk bencana banjir. ritual. salah satu etnik minoritas di Distrik Chitral. masyarakat Kalash.masyarakat atau kelompok tertentu. dan upacara tertentu membantu mereka dalam memahami dan mengingat kejadian banjir di masa lampau serta meredakan kegelisahan akan bahaya bencana di masa mendatang. sesaji. ditanamkan ke dalam ingatan melalui cerita dongeng. dipercaya. Pakistan. Nepal. untuk mampu mengambil tindakan dan bukan sekadar mengharapkan bantuan dari luar saja 52 . Pada beberapa kasus. bisa dibandingkan dengan gerak ular. memiliki kelebihan-kelebihan berikut jika dibandingkan dengan kebanyakan strategi yang datang dari luar dan bersifat dari-atas-ke-bawah: Strategi hemat biaya. peribahasa. biasanya. Pelajaran yang Dapat Dipetik Secara keseluruhan. syair. menyelenggarakan upacara bersama yang disebut lavak natek yang agaknya menstimulasikan unsur-unsur peristiwa banjir melalui gerakgerik dan adegan simbolik (mis. berlari menuruni bukit sambil berteriak) sebagai peristiwa katarsis bagi seluruh kelompok masyarakat. Para penyanyi dan pengarang lagu setempat adalah tokoh kunci pembawa pengetahuan dan agen perubahan yang memainkan peran vital dalam pembentukan kesadaran kelompok masyarakat. peristiwa masa lampau. dan membagikan pemahaman yang sama tentang perubahan sehubungan dengan peristiwa banjir yang kadang sering kadang jarang. menggunakan sumber daya dan keterampilan lokal Mudah diterima. dan kreativitas penduduk (Gambar 3). Bentuk sungai di Terai Timur. penerus) atas peristiwa banjir di masa lampau dan dapat membantu merangsang pembelajaran. lagu dan peribahasa menjadi gudang simpanan (atau bisa juga dilihat sebagai relay. setiap saat bisa berubah arah dan mengubah keadaan. dan sebagainya.

atau tidak bisa diketahui lagi seiring perjalanan waktu 6. praktik dan kearifan lokal semakin menjadi tidak pas. merupakan unsur penting yang membantu pemahaman kearifan lokal - Banyak keterbatasan dan hambatan bagi digunakannya kearifan lokal dalam penanganan bencana. tidak relevan. Contoh penerapan kearifan lokal dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana antara lain sebagai berikut: 53 . khususnya sistem kasta. kearifan lokal. dan strategi adaptasi lokal tidak berkelanjutan dan/atau tidak berimbang secara sosial 5. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 1. Kearifan lokal sering dimonopoli oleh kelompok yang dominan di dalam masyarakat 4. penduduk setempat biasanya telah mengembangkan cukup banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir yang berperan memperbesar peluang selamat dan mengurangi kerugian harta benda Relasi sosial. jika dikombinasikan dengan pengetahuan ilmiah. Seringkali campur tangan dari pihak luar mengabaikan kearifan lokal (dalam arti. menyeluruh (mempertimbangkan hal-hal dan prioritas lain yang dapat mempengaruhi kerentanan kelompok masyarakat. atau individu) Berdasarkan dua studi kasus di atas. Akibat perubahan yang cepat. dinilai. Bahaya dan bencana alam telah dianggap sebagai persoalan yang berkaitan dengan ketahanan dan keamanan nasional. memungkinkan organisasi-organisasi pelaksana untuk menciptakan solusi-solusi yang inovatif dan berkesinambungan dalam upaya mengurangi risiko bencana. Dokumentasi dan pemanfaatan kearifan lokal dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak luar untuk menguasai masyarakat tersebut dan sumber daya yang mereka miliki Menambah data dan teknologi belaka tidak akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat jika tidak dibarengi pemahaman atas konteks dan kebutuhan setempat. kepercayaan. sehingga upaya desentralisasi dalam bidang ini menjadi semakin sulit 9. kiranya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Dalam perjalanan waktu. Oleh sebab itu. digeneralisasi. Kearifan lokal sulit untuk diidentifikasi. dan ditiru 3. Masih dominan kepercayaan bahwa pengetahuan ilmiah “lebih tinggi” daripada kearifan lokal 2. Fokus terhadap kearifan lokal dapat dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan nasional dan struktur politik. rumah tangga. digunakan. khususnya di mata rezim yang otoriter 8.- Bersifat holistik. mereka tidak mengerti dan tidak mengakui konteks dan kebutuhan setempat). Beberapa kebiasaan. terutama di kalangan generasi muda 7. diuji. Kearifan lokal semakin tidak dipercaya di dalam kelompok masyarakat sendiri. Dengan cara itu sesungguhnya pihak-pihak luar itu sedang menciptakan kerentanan dan bencana baru akibat tidak adanya gambaran yang menyeluruh dan analisis yang mendalam tentang konteks kerentanan setempat.

dan pendataan lainnya untuk verifikasi informasi 2. Sistem pendidikan yang sekarang berjalan perlu ditimbang ulang supaya terbentuk kaitan yang jelas antara sekolah dan masyarakat setempat sehingga kurikulum sekolah disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan setempat. tetapi yang pasti tidak dapat diabaikan. mana strategi penanganan yang berkelanjutan. dan bencana alam 4. dan bagaimana mengajak orang untuk turut serta dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. namun sekaligus juga peluang baru untuk mengeksplorasi cara-cara baru penganggulangan risiko. dan mempertimbangkan kelompok-kelompok dan individu-individu yang rentan. Mengidentifikasikan. Belajar dari kearifan lokal untuk menciptakan konsep. lokasi pembangunan bangunan dan jalan—karena kearifan lokal dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan keragaman dan kekhususan lingkungan alam setempat 3. Mempertimbangkan nasihat dari penduduk setempat tentang tempat-tempat yang aman. Membangun kepercayaan masyarakat bahwa kearifan dan praktik lokal yang mereka miliki masih tetap relevan dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana. dan perlu diperkuat). Memadukan kearifan lokan dengan pengetahuan ilmiah untuk membuat peta bahaya. tokoh elite setempat. survei. Memahami dan mempertimbangkan persepsi masyarakat setempat mengenai bahaya alam yang mempengaruhi bagaimana orang menilai dan bertindak terhadap bahaya. risiko. dan hubungan kekuasaan 6. Menyesuaikan strategi komunikasi dengan pemahaman dan persepsi orang-orang setempat. Memahami dan mempertimbangkan perubahan dalam kerentanan penduduk terhadap bencana alam seiring berjalannya waktu 7. serta memelihara praktik dan kearifan lokal 10. bagaimana menghentikan praktik yang tidak berkelanjutan. dan strategi yang baru demi perbaikan penanganan bencana dan demi penguatan mekanisme lokal yang relevan dan berkelanjutan untuk menangani bencana 9. Fokus pada praktik dan kearifan lokal membantu mengidentifikasikan dan memanfaatkan kekuatan yang sudah dimiliki masyarakat dan institusi-institusi setempat (daripada membuat institusi baru yang sejenis) 8. 54 . dan memasukkan nilai-nilai lokal ke dalam proses pengambilan keputusan (misalkan sistem peringatan dini) Perubahan lingkungan dan sosio-ekonomi yang berlangsung secara cepat dihadapi oleh banyak kelompok masyarakat sebagai sumber kelemahan baru.1. Seberapa jauh praktik dan kearifan lokal dapat berperan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tentulah tidak hitam putih. memahami. seimbang. Memahami dan mempertimbangkan kompromi (tradeoff) antar risiko yang dilakukan orang dalam kondisi di bawah banyak tekanan 5. metode. Mengidentifikasikan mekanisme apa yang dapat diusulkan pada tingkat lokal (mis.

terutama tanah longsor. dan sekuensial untuk menghadapi dampak bencana yang kerap berulang. dan (v) rentan secara politik dan administratif karena di sana tidak ada struktur penanggulangan bencana. dan tanah yang tidak subur untuk pertanian. (iii) rentan secara ekonomi akibat kemiskinan. fungsional. (iv) rentan secara demografis akibat bertambahnya populasi dan masalah kesehatan. gempa bumi. Seluruh penduduk beragama Islam. anak-anak menikah pada usia muda. pengangguran. Ini dapat dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada sehingga dampak bencana dapat diperkecil. dan menjadi pegawai swasta (mis. penduduk setempat menjadi percaya bahwa bencana adalah bagian kehidupan mereka yang tak dapat dihindari dan mungkin merupakan suatu bentuk hukuman dari Tuhan. geografis. Hujan dan salju umum terjadi di wilayah ini. tanuli. iklim. 55 . Topografinya pegunungan. Semua mekanisme ini bergantung pada kemampuan orang-orang. Pertanian skala kecil. Sebagai akibatnya. Pakistan Takeshi Komino Abstrak Penduduk di distrik Mansehra dan Battangram di Pakistan telah mengembangkan mekanisme bertahan yang bersifat sosial. Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. Provinsi Perbatasan Barat Laut. Iklim bervariasi sepanjang tahun. Selama berabad-abad. Nyaris sulit ditemukan dataran kecuali petak kecil yang biasanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam. dan pashtoon. tetapi terbagi-bagi ke dalam berbagai klan dan aliran semisal gujjar. membuka warung. dan hujan es.Distrik Mansehra and Battagram. badai. sementara Juni dan Juli bulan-bulan terpanas. Latar belakang Distrik Mansehra dan Battagram di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan (Gambar 1) sangat rentan terhadap pelbagai risiko buruk yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. Masyarakat di sana (i) rentan secara fisik akibat ketinggian lokasi dari permukaan laut. kontur wilayah yang pegunungan. dan cuaca yang ekstrem semisal hujan lebat. Januari. swati. bahkan kehendak politik untuk menerapkannya pun tidak ada. tujuan penanggulangan bencana seharusnyalah meningkatkan kemampuan orang agar dapat menghadapi situasi buruk dengan lebih baik. Dampak bencana amat dirasakan oleh kelompok-kelompok masyarakat di pedalaman karena efek jangka panjangnya terhadap penghidupan mereka. cuaca yang ganas. dan Februari merupakan bulan-bulan terdingin. badai salju. Provinsi Perbatasan Barat Laut. dan penurunan hasil pertanian. Ada beberapa hal lain yang membedakan wilayah ini. Karena alasan keagamaan. Karena seringnya kejadian bencana. Oleh sebab itu. (ii) rentan secara arsitektural karena buruknya bangunan dan infrastruktur. di mana Desember. sayed. karyawan bank) adalah sumber penghasilan utama bagi penduduk Mansehra dan Battagram. guru sekolah. penduduk di wilayah-wilayah ini menghadapi banyak bencana yang terjadi berulang-ulang seperti tanah longsor. dan sosial di wilayah itu. orang tidak menjalankan keluarga berencana. banjir bandang. 18-25 dan 15-22.

dan sistem ekonomi. Ketika air mencapai batas kritis. Hasshar adalah saling memberikan bantuan tenaga untuk menyelesaikan masalah dan dalam keadaan darurat. dan “semangat kampung” (village hood). ada empat pranata sosial: kekerabatan. Di samping kelompok-kelompok berbasis komunitas setempat. Masyarakat menggunakan strategi yang mereka peroleh turun-temurun untuk menangani dampak bencana. makanan. penduduk yang tinggal di tempat yang rentan terkena bencana segera dikabari dengan teriakan atau ketukan pintu. dan sekuensial. jirga. hasshar. Kedua. fungsional. Tiap-tiap kategori digunakan oleh masyarakat di Mansehra and Battagram pada beberapa tingkatan masyarakat (individu. Peristiwa bencana yang terakhir terjadi pada 14 Februari 2004. Jirga biasanya dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan dan mencari solusi bagi permasalahan bersama. mengambil bagian dalam penanggulangan bencana dengan cara bekerja sama dengan departemen kehutanan berkaitan untuk menangani masalah penebangan hutan demi mencegah banjir dan erosi tanah akibat hujan lebat. Ketiga. ketika gempa menyerang wilayah itu dan menyebabkan tanah longsor serta kerusakan parah di banyak tempat. kekerabatan memungkinkan orang memperoleh dukungan lebih luas berkenaan dengan suatu masalah atau situasi darurat. sanak saudara membantu kerabat mereka membangun rumah yang roboh dengan cara menyumbangkan tenaga. misalnya. Misalnya. organisasi politik. “semangat kampung” memungkinkan orang membeli dari warung dengan cara mengutang. lembaga keagamaan. Kisah/Peristiwa Tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di Mansehra and Battagram (Gambar 1). kelompok-kelompok masyarakat sering mengawasi ketinggian air selama turun hujan. dan komunitas) untuk menanggulangi bencana. di mana orang dapat meminta bantuan dari kenalan atau kampung tetangga. Komisi Bra-e-Tahaffuz-eJangalat. Pertama. Tidak ada upaya penanggulangan bencana dari pihak pemerintah di Mansehra dan Battagram ketika gempa terjadi. Mekanisme Bertahan secara Sosial Ada struktur-struktur dan relasi formal maupun non-formal yang dapat mengerahkan sumber daya dan membantu menyelesaikan masalah pada tingkat lokal. Jika ada bahaya. Lebih jauh lagi. atau material. Terakhir. Pengangguran dan kemiskinan ada di mana-mana. Kearifan Lokal Kearifan lokal di sana dapat dibagi ke dalam tiga kategori berbeda: mekanisme bertahan secara sosial. Kaum lelaki kerap bermigrasi ke pusat-pusat perekonomian di negara itu. rumah tangga.yang menjadi faktor penyebab pesatnya pertambahan penduduk. Kelompok-kelompok masyarakat memiliki sistem sosial dan organisasi yang kuat. 56 . Di dalamnya tercakup struktur-struktur internal maupun eksternal seperti unit-unit kemasyarakatan.

Konstruksi dinding batu berukuran 2 x 2. Mereka dapat meminjam uang atau bahan makanan dari sanak saudara.penghuni rumah yang terancam bahaya segera memindahkan barang ke rumah kerabat atau kampung tetangga. Akar pohon 57 . penduduk sangat berhati-hati ketika memilih lokasi bangunan rumah. dan orang cacat. khususnya perempuan. Bilah logam agak panjang dipasang di bawah tanah pada tiap tepi atap agar memudahkan aliran air dari atap. semisal pembacaan Al-Quran dan doa bersama setelah peristiwa bencana besar. Pada saat perbaikan pasca-bencana. mereka menanam pohon walnut. Sebelum musim muson. Sama halnya. Di kampung Paras. Selain itu. Bagian tengah atap dibuat sedikit lebih tinggi. sherol. Atap dan bagian sepanjang dinding kemudian dipukuli dengan alat kayu bernama dabkan untuk mencegah rembesan air dan juga untuk memantapkan fondasi rumah. berton-ton tanah disebarkan ke atas atap untuk menahan rembesan air (Gambar 2). Mereka biasanya memilih untuk mendirikan rumah pada area datar. tepi atap dipanjangkan agar air dari atap tidak membasahi dinding. khususnya di kampung Paras. mengungsi ke tempat yang aman. atau pemilik warung. ikatan sosial yang kuat merupakan bantuan bagi keluarga-keluarga miskin yang menjadi korban. Penduduk yang termasuk golongan lebih kaya. dekat jalan. yang menurut kepercayaan setempat berkualitas baik karena lebih padat. Kemudian. Rumah-rumah di perkampungan pada umumnya dibangun dengan jarak 2 sampai 3 kaki satu sama lain. tetangga. diselenggarakan upacara keagamaan. sementara sisi-sisinya menyilang dari tepi sehingga memudahkan air mengalir. Di beberapa kampung.5 kaki menghasilkan kohesi dan mengurangi dampak kerusakan pada infrastruktur. Untuk mengatasi kerentanan tanah. masyarakat menerapkan teknik-teknik pembangunan infrastruktur yang dikembangkan selama ratusan tahun. Anggota keluarga. atap berukuran lebar 1 hingga 2 kaki dibuat dengan perhitungan matang. atau nilon sebelum ditumpangi tanah agar atap lebih aman. rerumputan yang tumbuh di atap disiangi karena akar rumput berperan menyebabkan perembesan air. dan kikar di sekitar rumah. bilah-bilah kayu digunakan pada konstruksi dinding batu untuk menambah kekuatan. tugas ini dilakukan secara bergilir di antara warga masyarakat sepanjang musim penghujan. Mula-mula dibangun tonggak-tonggak kayu pendukung. menambah jumlah tiang dan balok kayu untuk lebih memperkuat rumah mereka. dan di atas tanah putih. Beberapa orang terlebih dahulu menutupi atap dengan lembaran plastik. jute. Rumah-rumah yang dibangun berdempetan biasanya paling banyak mengalami kerusakan akibat bencana dan memakan lebih banyak korban jika batu-batu berguguran dari gunung. jauh dari sumber air. Kadang-kadang batu dipasangkan pada tepi atap untuk menjaga agar atap tidak rusak. Umumnya mereka lebih memilih tempat saudara. anak-anak. teman. Akibat bencana yang berulang kali terjadi. Mekanisme Bertahan secara Fungsional Untuk meminimalkan risiko tanah longsor. kenalan. Di kampung Gantar. atau tetangga.

Pada kejadian bencana hebat. semakin mudah diterapkan. khususnya di bawah bagian dinding bangunan. kapas. jerami. Mekanisme Bertahan secara Sekuensial Pada saat bencana terjadi. warga menggunakan bahan bangunan tradisional yang dicampur dengan lumpur agar stabil. atau teman. di mana spiritualitas. Untuk rumah lumpur. keluarga yang tidak mampu. daun cemara. Walaupun demikian. perangkat besi bernama kalab digunakan untuk mengikat pilar dan bilahbilah kayu atap. bebatuan sengaja diletakkan di atas atap seng agar tidak terbawa angin ketika terjadi badai. pengetahuan itu semakin tertanam di dalam kebudayaan. karena memang saat itu tidak ada struktur pemerintah formal yang bertugas menanggulangi bencana. karung goni yang telah digiling. atau bilah-bilah kayu di atap. Kadang kala. ternak. untuk kemudian mereka jadikan atap atau dinding. kadang orang pindah sementara ke kampung lain. Pengetahuan ini tertanam dalam suatu sistem yang dinamis. dan faktor-faktor lainnya saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain. Dahulu arsitektur rumah lumpur didirikan tanpa sambungan antara pilar dan batar. sebagai jalan terakhir. Departemen Pekerjaan Umum. Beberapa orang menggali pondasi rumah hingga kedalaman 2 kaki.menghunjam sampai jauh sehingga memperkuat ikatan tanah. Ketika warga masyarakat sendiri mengembangkan pengetahuan dalam ketiga kategori itu melalui pelbagai macam pengalaman. Departemen ini juga membangun turap-turap penahan tanah di sepanjang tepi jalan yang rentan longsor (Gambar 4). Ketika dampak bencana sangat luas. perhiasan. mereka menerapkan strategi untuk mengamankan penghidupan. dan perawatan (Gambar 3). waktu. Masyarakat sendirilah yang 58 . biasanya memilih menjual harta milik mereka (mis. selalu dinamis dan kreatif. kelompok-kelompok masyarakat mengerahkan pelbagai sumber daya menurut urutan berdasarkan tingkat kerugian dan kemampuan. kenalan. Tidak ada sistem formal di masyarakat untuk menyebarluaskan kearifan lokal ini. Kadang-kadang anak-anak lelaki dikirim ke pusat perkotaan terdekat atau ke kota-kota besar untuk bekerja. pengetahuan ini berhasil diwariskan secara informal. kekerabatan. politik lokal. bulu kambing. Mereka yang kurang mampu biasa menggunakan lembaran seng sebagai atap dan dengan demikian menghemat tenaga. turun-temurun dari generasi ke generasi melalui perantaraan individu-individu dalam masyarakat. terutama jika keluarga yang terkena dampak bencana belum mendapat pertolongan dan tidak mau tinggal di rumah tetangga. Bahan bangunan tradisional itu antara lain kotoran kerbau. Karena yang paling utama adalah penghidupan. kerap mengunjungi wilayah itu selama musim penghujan untuk memantau risiko tanah longsor. semakin dikenal. Mereka yang miskin segera mengubah pola dan jenis makanan. Lembaga pemerintah. tanah). terus-menerus tumbuh dan menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru. Pengetahuan berevolusi di tempat aslinya. Setelah Februari 2004. Tidak ada seorang pun yang memberikan perhatian pada penerapan strategi tradisional ini sebelum bencana tahun 2004. dan serbuk gergaji.

Misalnya lagi. kapasitas dukungan sosial juga merupakan faktor yang tak ternilai. Terbatasnya sumber daya dan persepsi masyarakat tentang bencana sering mempengaruhi diterima atau tidak diterimanya suatu mekanisme tertentu. tetapi pengetahuan macm ini tidak memadai untuk menghadapi bencanabencana baru yang dialami masyarakat. dan ekonomi di suatu daerah niscaya akan mempengaruhi efektivitas mekanisme-mekanisme itu. kendati demikian. politik. dan secara khusus amat berharga bagi penanggulangan bencana di tingkat masyarakat. Sebagai misal. menyediakan mekanisme yang penting untuk mengurangi risiko bencana. Ini bisa dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada dengan cara yang mengurangi dampak bencana. adanya sistem pendukung yang kuat merupakan tulang punggung keberhasilan mekanisme bertahan di Mansehra dan Battagram. seperti yang dapat dilihat di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan. Mekanisme-mekanisme bertahan tradisional bisa jadi tidak selalu pas.menyebarluaskan dan menerapkan teknik-teknik kearifan lokal dalam beragam cara untuk menangani bencana. menggoyahkan nilai-nilai budaya. atau merongrong sistem-sistem penghidupan tradisional. Memang kemandirian dan solidaritas dalam keluarga dan masyarakat amat sangat bernilai ketika orang menghadapi bencana. Mekanisme-mekanisme bertahan di Mansehra and Battagram amat bergantung pada kemampuan masyarakat yang bersangkutan. Pelajaran yang Dapat Dipetik Kearifan lokal. dan kemudian mengembangkannya dan memastikan bahwa pembangunan tidak menyebabkan masyarakat semakin rentan terhadap bencana alam. Sebagai contoh. Sementara pengetahuan ini membantu mengurangi risiko bencana. dan senantiasa rentan terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal. 59 . Ada kebutuhan yang meningkat untuk mengembangkan mekanisme bertahan ini dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif terhadap masyarakat. Mekanisme-mekanisme asli ini saja tentu tidaklah mencukupi untuk menanggulangi bencana secara efektif. Tujuan penanggulangan bencana haruslah untuk meningkatkan kemampuan orang untuk menangani kejadian-kejadian buruk. pemahaman atas sistem-sistem penghidupan masyarakat asli adalah syarat yang penting agar upaya pembangunan tidak malah menghilangkan kemandirian. mendorong kelompok masyarakat untuk terlibat melalui cara praktik tradisional merupakan strategi yang lebih realistis dan khas-daerahtertentu karena masyarakat setempat memahami situasi mereka berdasarkan pengalaman bencana di masa lalu. Lebih dari itu. pengalaman gempa tahun 2004 menunjukkan bahwa teknik pencegahan rembesan air ternyata berperan meningkatkan jumlah bangunan yang rusak akibat beban tanah di atas atap. Program pembangunan dan penanggulangan bencana semestinya mendukung aktivitas yang menggerakkan dan memperkuat sumber daya lokal pada tingkat keluarga dan komunitas. Para pengambil kebijakan sepatutnya mempertimbangkan untuk melestarikan mekanisme tradisional yang sedemikian efektif itu. mengubah kondisi sosial.

bagaimana tingkat pemahaman mereka tentang bencana. dan bagaimana kemampuan mereka untuk menanggulanginya secara efektif dan berkesinambungan—adalah cara terbaik untuk menerapkan program penanggulangan bencana. Akan sangat membantu jika ada suatu sistem untuk memantau dampak bencana pada tingkat komunitas dan nasional. Yang paling penting. melainkan juga sebagai proses pemberdayaan yang efektif untuk mengetahui akar-akar penyebab kerentanan mereka.Pendekatan yang berbasis komunitas—yang bertujuan memahami bagaimana cara komunitas-komunitas menangani bencana yang berbeda-beda. kesadaran akan bencana. 60 . dan sistem peringatan dini pada tingkat komunitas niscayalah juga akan berguna. baik analisis sosio-ekonomi maupun pendekatan penghidupan berbasis komunitas perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan dan program-program penanggulangan bencana pada kelompok-kelompok masyarakat yang terancam oleh risiko bencana. Partisipasi kelompok masyarakat tidak selayaknya dianggap sebagai proses konsultasi belaka. Adanya peta risiko dan bahaya yang disempurnakan.

perencanaan penggunaan lahan. yang buahnya dikunyah seperti tembakau. Papua Nugini Jessica Mercer dan Ilan Kelman Abstrak Pengalaman penduduk yang tinggal di desa Singas. Penduduk desa Singas berjumlah 296 orang dan terbagi menjadi lima kelompok keluarga. Kota terdekat adalah Mutzing Station. Desa Singas terdiri dari masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini. dan penyeberangan di desa Singas merupakan titik terlebar. kelapa. terutama sebagai akibat dari hilangnya pendapatan dari panen buah pinang. sumber-sumber pendapatan semakin beragam dengan diperkenalkannya sumber pemasukan pendapatan yang dihasilkan dari panenan seperti kacang dan kopi. Lebar Sungai Markham bervariasi dari 3-8 km kalau ditempuh ke arah hilir. mangga (kalau sedang musim) dan ikan. terletak di seberang sungai dari desa Singas. yang merupakan pusat Distrik Markham. akibat adanya suatu penyakit baru yang membunuh pohon tersebut.Desa Singas. Contoh ini sangat penting terutama karena sungai tersebut tidak hanya menyimpan potensi bencana namun juga karena sungai tersebut menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar dan dengan demikian sungai itu sangat penting artinya bagi masyarakat tersebut. strategi pangan dan lingkungan. desa tersebut terkena dampak banjir tahunan yang disebabkan oleh hujan deras yang melanda selama musim penghujan. Latar Belakang Desa Singas terletak di sebuah daerah kantong di Distrik Markham di Provinsi Morobe sepanjang bantaran sungai Markham di Papua Nugini. yang terletak di Provinsi Morobe. Di dekat desa Singas. penduduk desa harus berjalan selama dua hari untuk mencapai tempat di mana ada jembatan yang dapat mereka lewati. Meskipun demikian. Kearifan lokal di lima bidang khusus. sekolah menengah. terdapat tiga sekolah dasar tempat anak- 61 . Tingkat pendidikan di desa tersebut sangat rendah. hubungan sosial. Selama musim penghujan. Akibatnya. itupun sering rusak atau bahkan tidak dapat dilewati sama sekali. Sebagai akibatnya. karena orangtua tidak mampu membayar uang sekolah. telah membantu meningkatkan peran masyarakat dalam mitigasi dampak banjir yang rutin terjadi setiap tahun. Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas. Namun. yaitu Sungai Markham. Masyarakat ini dulunya menggantungkan sumber pendapatan pada pohon pinang. Rute ini hanya dapat dilewati pada musim kemarau dan bahkan pada saat itupun masih sering berbahaya untuk dilewati. Di Mutzing Station terdapat gedung-gedung pemerintahan. Namun. Perjalanan menyeberangi sungai dari Singas ke Mutzing Station makan waktu kurang lebih 2 jam tergantung pada arus sungai (Gambar 1). masyarakat desa Singas sangat proaktif dalam upaya-upaya mitigasi dampak bencana banjir. Papua Nugini menggambarkan bagaimana kearifan lokal berperan penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. masyarakat sekarang sangat menggantungkan mata pencaharian mereka pada penjualan hasil kebun. yaitu metode pembangunan. klinik kesehatan dan pasar terdekat dari Singas.

tergantung pada volume curah hujan yang diterima. Situasi semacam itu memang tidak aneh dalam sebuah masyarakat lokal. masyarakat Singas selalu terancam bahaya banjir. Selama tahun-tahun inilah kearifan lokal yang mereka terapkan sungguh-sungguh bermanfaat dalam upaya mengurangi risiko bencana bagi diri mereka sendiri maupun bagi penghidupannya. Ada berbagai macam alasan mengapa mereka tidak mau pindah. (ii) mereka dekat dengan fasilitas umum (gedung-gedung provinsi terletak di seberang sungai) dan (iii) mereka telah bermukim selama bertahuntahun dan mampu bertahan dari banjir-banjir terdahulu. Metode Pembangunan 62 . pertanian. sehingga tidak dipandang oleh masyarakat sebagai strategi khusus dalam upaya pengurangan risiko bencana. Dalam berbagai kasus strategi-strategi ini melekat dalam budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari.anak bersekolah. Beberapa banjir besar terakhir yang terekam dalam ingatan warga desa adalah banjir di tahun 1998 dan 2002 ketika air naik mencapai tiang penyangga rumah panggung dan sampai masuk ke dalam rumah (Gambar 2). perencanaan penggunaan lahan. Biasanya. meskipun akses ke sekolah ini sering terbatas karena banjir yang melanda. persediaan air dan tanah liat untuk membuat bejana untuk memasak. tidak ada penduduk desa yang bersedia pindah. desa ini dilanda banjir untuk beberapa waktu setiap tahun. terutama sepanjang musim hujan. Akibatnya. namun pada kasus Singas nampak jelas bahwa masyarakat menganggap sungai pertama-tama dan terutama sebagai sumber penghidupan dan menempatkan sungai sebagai ancaman di tempat kedua. hubungan sosial. strategi pangan dan lingkungan. strategi pengurangan risiko bencana masyarakat pribumi menyatu dalam kegiatan hidup sehari-hari karena mereka bergulat tiap hari dengan sungai. Kearifan Lokal Strategi utama pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh masyarakat Singas dalam menangani masalah banjir dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori umum yang mencakup metode pembangunan. masyarakat desa sepenuhnya sadar akan situasi yang mereka hadapi dan sangat proaktif dalam menanggapi banjir agar keberlangsungan hidup mereka di tepi sungai tersebut dapat terjamin. Meskipun ada risiko tersebut. Penduduk desa Singas telah dihimbau untuk memindahkan pemukiman mereka dari bantaran sungai ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit sebagai bagian dari solusi ’topdown’ bagi masalah banjir yang selalu mereka hadapi. dan para murid seringkali harus menyeberangi sungai Markham untuk mencapai sekolah. Kisah/Peristiwa Karena tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini. Namun. antara lain karena (i) sungai tersebut berharga bagi penghidupan mereka misalnya sebagai tempat mencari ikan.

karena seringkali mereka tidak tergantung pada sumber daya mereka sendiri. namun juga murah dan mudah diakses. tingkat kemiskinan. Bangunan rumah yang dibangun di atas tanah terdiri dari dapur yang terbuat dari bahan-bahan kayu yang ringan dan mudah dilepas untuk mengurangi kemungkinan hanyut dalam banjir. dan dengan demikian memperlambat proses pembusukan. ketika kebun mereka hancur diterjang banjir. Lahan dibuka untuk membangun rumah-rumah di tempat tersebut. Masyarakat Singas juga demikian. Jika di masa lalu perhatian lebih ditekankan pada lahan dan perencanaan penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan menggunakan bahan-bahan kayu tradisional yang tidak hanya mudah diangkut dan diperbaiki. Singas merupakan masyarakat yang sangat rukun. Ada juga sikap positif yang kuat untuk menjamin 1 Campbell (1990). Rumah-rumah dibangun pada musim kemarau untuk memberi waktu tiang-tiang penyangga agar dapat tertancap dengan mantap di atas tanah. Kerukunan masyarakat ini mungkin karena adanya pemimpin yang berpengaruh dan aktif dalam menjamin terselenggaranya pertemuan warga rutin untuk membahas hal-hal yang relevan dan cara-cara yang harus ditempuh untuk maju (Gambar 4). sehingga pada saat bencana semua anggota masyarakat sadar akan rencana tindakan terbaik atau di mana mereka akan berkumpul kembali jika perlu. masyarakat ini membangun rumahnya di atas tiang penyangga (panggung). maka saat ini hal tersebut secara bertahap menghilang seiring dengan munculnya kebun-kebun yang ditanami warga secara sembarangan tanpa mengikuti perencanaan tradisional. yang secara bertahap telah diperpanjang setiap tahun untuk mengakomodasi air yang meluap dan insiden banjir yang semakin sering terjadi.1 Meskipun ada konsekuensi dari masuknya masyarakat desa ke dalam ekonomi global – termasuk dampak-dampak dari peningkatan jumlah penduduk. Karena sadar akan kemungkinan bahaya banjir. Mereka menggunakan pengetahuan lingkungan mereka yang sangat dalam untuk mencari tempat yang kering dan kokoh untuk membangun rumah mereka. Gundukan ini kemudian ditutup dengan tanah dan ditanami dengan pohon-pohon sebagai pengencang sebelum memulai pembangunan rumah (Gambar 3). Hubungan Sosial Di masa lalu. Mereka saling membantu pada saat susah seperti pada kerusakan yang diakibatkan oleh kejadian banjir. Sumber daya dan pengalaman dibagikan pada tingkat masyarakat. Mereka juga membangun gundukan tanah yang tinggi di bawah rumah-rumah mereka untuk membendung air sungai yang meluap.Budaya-budaya pedesaan memiliki jenis rumah tradisional mereka sendiri yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. jarang terjadi masyarakat yang mengalami stres akibat banjir atau bahaya lingkungan lainnya. kemudian digunakan sebagai parit untuk menimbun sampah di mana nantinya sedikit demi sedikit sampah akan menggunung sampai terbentuk gundukan besar. 63 . Meski demikian. seluruh anggota masyarakat bergotong-royong ikut membantu menggali dan menanam tanaman yang baru. emigrasi dan bentuk-bentuk perdagangan yang lain selain bentuk-bentuk tradisional seperti barter antar desa – Singas sangat tergantung pada sumber daya yang mereka punyai.

Strategi ini memberi waktu bagi pohon-pohon muda untuk tumbuh besar sambil memastikan ketersediaan bahanbahan bangunan ketika diperlukan pada saat banjir. Penggunaan lahan dan waktu penanaman direncanakan untuk menghindari musim penghujan untuk memperkecil peluang kerusakan dan kehancuran karena kebun ditanami sepanjang bantaran sungai dengan memanfaatkan tanah yang paling subur. Untuk penanaman ubi talas. Misalnya. Jika mungkin. Bambu digunakan untuk menyimpan air dan untuk keperluan memasak. terutama yang ada di sekitar pemukiman warga.2 Warga masyarakat Singas yang menyadari adanya ancaman banjir memiliki sistem saluran air yang digali mengelilingi kebun dan lahan mereka sehingga air banjir dialirkan menjauhi tempat-tempat penting. Penanaman dan pemantauan wilayah sekitar yang cermat juga dilakukan untuk mencari bahan-bahan kayu yang dapat dipakai. karena kalaupun bantuan akan diterima dengan penuh syukur. Warga desa Singas membungkus pisang dengan daun agar terlindung dari incaran burung-burung. Makanan dan benih tanaman juga dikeringkan dan disimpan di bawah sinar matahari sampai mencapai jumlah yang cukup untuk dipakai pada masa tanam tahun depan. 64 . Perencanaan Penggunaan Lahan Lokasi desa-desa dan perkampungan telah sering terkena dampak kerentanan bahaya. tanaman panen tangguh yang bertahan hidup di air luapan banjir.keberlangsungan hidup warganya sendiri. yaitu pohon-pohon yang paling kuat yang cocok untuk membangun dan pohonpohon yang tidak berdampak buruk pada stabilisasi tanah. makanan disimpan di bejana tanah liat sederhana untuk memastikan bahwa makanan tersedia ketika warga terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah mereka. masyarakat memilih tinggal di pemukiman yang berada di tempat tinggi jauh dari serangan badai dan banjir. Tanaman khusus juga digunakan untuk menampung air hujan sepanjang musim penghujan agar penduduk tidak minum air dari sungai ketika banjir dan menjadi jatuh sakit karenanya. yang tidak rawan bahaya tanah longsor. misalnya umbi dan talas ditanam di lereng 2 South Pacific Applied Geo-Science Commission (2004). saluran dibuat untuk mengeringkan tanah. Di antara hasil panen bencana desa Singas adalah pisang. Terdapat juga lokasi aman yang ditandai untuk tempat warga masyarakat mengungsi pada saat banjir besar terjadi. tanaman bunga dan tumbuh-tumbuhan ditanam secara teratur untuk melindungi dan menstabilkan tanah. Menjelang musim hujan dan potensi terjadinya banjir. dan di pulaupulau vulkanik yang tidak terjangkau oleh aliran lava dan di mana angin kencang tidak akan meninggalkan timbunan abu atau hujan asam yang merusak hasil panen. yang berkontribusi pada ketahanan masyarakat dalam masa-masa sulit atau sewaktu bencana. hanya pohon tertentu saja yang ditebang. Pepohonan. Strategi Pangan Masyarakat pribumi pedesaan telah mengembangkan berbagai macam varietas panen yang tahan bahaya. Makanan ini dapat bertahan sampai beberapa bulan dalam bejana tanah liat tersebut dan masih dapat dimakan. Makanan tradisional di daerah tersebut juga digunakan pada saat-saat kekurangan pangan. namun bantuan yang diharapkan mungkin tidak ada.

Dengan saling berbagi sumber daya dan pengalaman pada tingkat masyarakat. tradisi budaya lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk legenda. Lebih lanjut lagi. ”Telik Sandi/intel” sering dikirim ke daerah hulu untuk membaca perilaku sungai dan melaporkan kembali dengan mengirim pesan berantai dari orang yang satu ke orang yang lainnya sehingga pesan dapat sampai ke desa dengan cepat. penduduk desa sudah mengembangkan pengetahuan yang luas yang membuat mereka mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahaya yang akan datang.pegunungan sebagai tanaman selama masa bencana untuk berjaga-jaga apabila warga desa harus mencari perlindungan sementara di atas bukit. Strategi Lingkungan Karena warga masyarakat Singas tergantung pada lingkungan untuk mata pencaharian mereka. Banjir tidak memungkinkan warga mencari ikan di sungai karena air meluap dengan cepat sehingga penduduk desa menggunakan dua danau pedalaman untuk persediaan ikan mereka. jika banjir melanda. visi dan cerita ini sebagai panduan tentang apa yang harus mereka lakukan jika bencana terjadi. dipastikan semua warga desa akan mampu membantu satu sama lain. Kerukunan warga masyarakat desa dan kerelaan untuk saling membantu merupakan faktor mendasar yang kuat dibalik keberhasilan warga desa Singas dalam mengurangi risiko bencana banjir. Misalnya. sikap dan kerukunan sosial ini telah memungkinkan terjadinya penyebaran pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana dalam masyarakat melalui pertemuan umum dan berbagi pengalaman. jika warga dewa mengetahui hujan yang lebat di atas bukit mereka mulai bersiap-siap akan datangnya banjir dengan memberesi barang-barang milik mereka dan memastikan bahwa persediaan makanan cukup banyak. Di Papua Nugini. Pelajaran yang dapat dipetik Praktik-praktik kearifan lokal yang digambarkan di atas dan diterapkan oleh masyarakat desa Singas untuk mengurangi risiko bencana telah terbukti berhasil memperkecil risiko yang dihadapi warganya dan sekaligus memudahkan mereka untuk terus memanfaatkan sungai sebagai sumber penghidupan yang berharga. ketika makanan langka sebagai akibat dari bencana banjir. Kearifan lokal yang diterapkan oleh warga desa Singas untuk mengurangi risiko bencana terus menerus diperkaya dalam masyarakat tersebut. Di dalam keluarga masing-masing. 65 . Para ibu sampai rela membuat ikat pinggang yang terbuat dari kain atau kulit kayu yang diikatkan di sekeliling pinggang mereka untuk mengurangi rasa sakit karena kelaparan. visi dan cerita-cerita rakyat banyak jumlahnya dan warga masyarakat sangat tergantung pada legenda. Penanda juga digunakan untuk menentukan perubahan ketinggian air sungai dan warga desa sendiri selalu dalam keadaan siaga dengan rencana matang siap dilaksanakan untuk mengantisipasi bencana banjir yang mungkin terjadi. anggota keluarga yang sudah dewasa seringkali membatasi asupan makan mereka agar anak-anak dapat makan lebih banyak. Ibu-ibu kampung bekerja sama membentuk lingkaran yang besar untuk menggiring ikan-ikan ke tengah danau kemudian menangkap ikan-ikan tersebut dengan tangan.

(2004). sehingga warga masyarakat menolaknya karena mereka mendukung strategi mereka sendiri. para pembuat keputusan. (2007). Pengenalan. disarankan bahwa masyarakat yang terkena dampak bahaya lingkungan seharusnya menjadi pihak yang mengambil keputusan dan mengembangkan kebijakan yang berhubungan dengan hal tersebut. budaya ’turunan’ dan persepsi bahwa tingkat kerentanan tidak mungkin untuk ditangani.Pengalaman warga desa Singas sangat bertentangan dengan apa yang terjadi di banyak masyarakat di Papua Nugini. 2002. 66 . Meskipun hal ini merupakan strategi yang cukup relevan dalam mengurangi risiko bencana. proses-proses anthropogenik dan non-anthropogenik semakin meningkatkan kemungkinan adanya efek kebalikan dari bahaya-bahaya lingkungan terhadap masyarakat lokal. interaksi ini akan memudahkan terjadinya penyebarluasan kearifan lokal dan memudahkan warga masyarakat lain untuk mengidentifikasi pelajaran-pelajaran apa yang dipetik dan mengembangkan pengetahuan pengurangan risiko bencana mereka sendiri. Dalam kasus desa Singas. maka 3 4 Wisner et al. Hal ini menegaskan kembali pentingnya pengetahuan yang sudah ada mengenai kebencanaan dan menunjukkan perlunya rasa memiliki pada tingkat lokal. namun mereka merasa yakin bahwa mereka memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk menangani bahaya tersebut. sementara pada taraf tertentu memang ada unsur sikap ‘kami tidak dapat berbuat apa-apa’.3 Hal ini menyatakan bahwa cara pandang paternalistik masih sering dipaksakan dengan tidak mendengarkan atau bahkan membungkam suara mereka yang lemah. tetapi warga desa bersikap proaktif dalam strategi mereka menangani bahaya lingkungan. rasa memiliki perlu diatur dari ’bawah-ke-atas (bottom-up)’ dan bukannya disusupkan dari ’atas-ke-bawah (top-down)’ oleh pihak-pihak yang tidak memahami situasi masyarakat yang sebenarnya. Masyarakat desa sangat sadar akan situasi yang mereka hadapi. Yang umum terjadi di Papua Nugini.5 Jika itu tercapai. Harus ada sistem pendukung yang ada bersamaan dengan strategi masyarakat bilamana dukungan yang lebih banyak diperlukan. Secara bertahap. Hay. pencatatan. Solusi ’top down’ yang disarankan tidak mempertimbangkan gambaran besar masalah maupun kebutuhan masyarakat. Seperti yang dapat dilihat dari contoh berikut ini. persiapan dan pemulihan dari bahaya-bahaya lingkungan. Selanjutnya. Wilbanks dan Kates (1999).4 Masyarakat lokal seperti masyarakat Singas selanjutnya dapat mengurangi kerentanan mereka terhadap bahaya banjir melalui perpaduan kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah. Dengan mengakui keberhasilan masyarakat desa Singas memudahkan warganya untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan yang tepat untuk selanjutnya memanfaatkan kemampuan mereka dalam usaha mengurangi risiko bencana. 5 Mercer et al. dan promosi mekanisme penanganan bencana lokal dengan strategi ilmiah yang kompatibel secara budaya hanya dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat lokal untuk mitigasi. Yang diperlukan saat ini adalah perlunya pengalamanpengalaman warga desa Singas diketahui oleh masyarakat lain. kantor-kantor pemerintahan (misalnya kantor penanggulangan bencana tingkat distrik) dan lembaga swadaya masyarakat. terjadi sikap mudah menyerah di antara warga setempat akibat kurangnya dukungan pemerintah.

dan Lloyd. Integrating disaster risk management and adaptation to climate variability and change: needs. 2005. 245-256.E. Nepal. Hay.pdf). Implementing the Yokohama strategy and plan for action: Pacific Islands Regional Progress Report (1994-2004).R. from a South Pacific perspective. South Pacific Applied Geo-Science Commission. International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) Kathmandu. South Pacific Applied Geo-Science Commission.praktik-praktik pengurangan risiko bencana dianggap telah berhasil mengatasi kerentanan masyarakat lokal terhadap ancaman-ancaman lingkungan. 2007. Diakses pada tanggal 08 Desember 2007.org/Depts/Cartographic/map/profile/papua. National Disaster Centre. - - - - - - - - 67 . Gambar 4: Pertemuan warga membahas pengurangan risiko bencana Daftar Pustaka Campbell. The Potential for combining indigenous and western knowledge in reducing vulnerability to environmental hazards in small island developing states.unisdr. J. Hyogo Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters (http://www. Cuba. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2007.un. 2007. 2004. 1990. J. 2002. J. 2005.unisdr. Northern Vanuatu. D. Disasters and development in historical context: tropical cyclone response in the Banks Islands. dengan penyangga yang lebih tinggi digunakan lebih sering sekarang terlihat dari rumah yang lebih baru yang ada di latar belakang foto ini dan permulaan dari gundukan tanah yang dikelilingi oleh parit saluran air yang ada di halaman depan sebelum bangunan rumah... Local Knowledge for Disaster Preparedness: A Literature Review. Fiji. International Journal of Mass Emergencies and Disasters 8 (3).pdf). K.org/eng/hfa/docs/Hyogo-frameworkfor-action-english. United Nations International Strategy for Disaster Reduction. Dekens. 401-424. Diakses pada tanggal 08 Desember 2007. 2007. J. Kelman. I. Mercer. benefits and approaches. National Disaster Centre Port Moresby.. United Nations.. Dominey-Howes. PNG. Havana. Papua New Guinea: Disaster Profile (http://www...org/eng/country-inform/papua-newguinea-disaster. Papua New Guinea National Disaster Risk Reduction and Disaster Management Framework for Action 2005-2015. Gambar Gambar 1: Menyeberangi Sungai Markham Gambar 2: Lumpur yang ditinggalkan banjir Gambar 3: Perumahan tradisional di desa Singas – foto ini menggambarkan rumah panggung. United Nations International Strategy for Disaster Reduction. Environmental Hazards 7 (4). PNG Map (http://www. 2004. United National Development Program Expert Group Meeting – Integrating Disaster Reduction and Adaptation to Climate Change.htm).

Wisner. dan Kates. Global Change in local places: how scale matters.. 2nd Ed. Cannon.. At Risk: Natural Hazards. I.. T. P. T. People’s Vulnerability and Disasters. London. 68 . Climatic Change 43. dan Davis. 2004. Blaikie. 601-628..- Wilbanks.J. B. Routledge. R. 1999.W.

Kota Dagupan, Pangasinan, Filipina Memadukan Kearifan Lokal dan Ilmiah ke dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan. Lorna P. Victoria Abstrak Kanungkong adalah alat tradisional dari bambu yang sudah sejak dahulu digunakan untuk memanggil warga masyarakat untuk berkumpul di kantor desa, dan memperingatkan warga desa atau untuk memanggil anak-anak pulang dari bermain. Sistem peringatan dini banjir yang dipasang di delapan desa di Kota Dagupan, Filipina, telah menghidupkan kembali penggunaan kanungkong bersama dengan tiang pengukur penanda banjir di lokasi-lokasi yang strategis di semua desa di Kota Dagupan. Kearifan lokal dipadukan dengan pengetahuan ilmiah modern dan peralatan modern digunakan dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Latar Belakang Delapan barangay (desa) yang rawan banjir di Kota Dagupan di Provinsi Pangasinan sebelah barat laut Filipina adalah Mangin, Salisay, Tebeng, Bacayao Norte, Bacayao Sur, Lasip Grande, Lasip Chico dan Pogo Grande, telah menerapkan penggunaan kanungkong untuk menyampaikan pesan peringatan secara berantai ke tiap-tiap rumah di delapan desa tersebut, terutama ke rumah-rumah yang terletak di sepanjang bantaran sungai. Desa-desa ini memprioritaskan kegiatan-kegiatan kesiapan dan mitigasi banjir di bawah naungan proyek yang bernama Program Mitigasi Bencana Hidrometerorologi di kota-kota kecil di Asia (Program for Hydro-meteorological Disaster Mitigation in Secondary Cities in Asia/PROMISE). Warga masyarakat mengadakan lokakarya untuk membahas sistem peringatan diri dan melaksanakan latihan penanganan bencana untuk para warganya. Kisah/Peristiwa Kota Dagupan merupakan kota yang rawan terhadap banjir besar. Di tahun 2007, angin puyuh dengan hujan muson melanda Luzon Utara dan Tengah di sepanjang bulan Agustus dan November yang menyebabkan meluapnya sistem sungai di Kota Dagupan. Peristiwa ini menguji efektivitas sistem peringatan dini yang berbasis pada kanungkong. Karena Badan Koordinasi Bencana Barangay (Barangay Disaster Coordinating Council/BDCC) memantau penanda banjir dan melaporkan hal ini kepada Pusat Operasi Darurat Badan Koordinasi Bencana Kota (Emergency Operations Center of the City Disaster Coordinating Council/CDCC), maka desa-desa tersebut sudah disiagakan untuk mengantisipasi banjir besar yang akan melanda. Sistem tersebut berhasil memberi warga cukup waktu untuk bersiap-siap dalam menanggapi kedatangan bencana. Kearifan Lokal Kanungkong atau kentongan merupakan peralatan komunikasi yang di masa lalu digunakan untuk berbagai macam keperluan oleh masyarakat warga Kota Dagupan, yang

69

dekat dengan kota dan provinsi di Luzon Utara (Gambar 1a dan b). Kanungkong dipergunakan untuk memanggil warga untuk berkumpul di balai desa, memperingatkan warga akan adanya kejadian perampokan di malam hari, memanggil dukun bayi untuk membantu persalinan ibu hamil yang siap melahirkan, dan memanggil anak-anak pulang dari bermain. Dengan adanya cara komunikasi modern, penggunaan kanungkong menjadi terlupakan. Kanungkong berasal dari kata mangkanungkong yang bermakna harafiah ’menimbulkan suara’. Kanungkong terbuat dari bambu yang jika dipukul akan menghasilkan suara kung, kung, kung. Sistem peringatan dini tingkat desa menggunakan kanungkong sebagai media komunikasi pembawa pesan berantai lokal. Untuk pemantauan banjir, dan sebagai dasar untuk penyampaian pesan, tiang penanda atau penanda banjir telah diletakkan dan dipantau di lokasi-lokasi yang strategis di desa-desa tersebut. Saat ini, masyarakat telah terbiasa dengan kode peringatan yang dipakai di kota yang sesuai dengan standar warna bencana internasional. Untuk memasukkan kanungkong ke dalam sistem, persetujuan tentang ritme dan bunyi (misalnya jumlah pukulan kanungkong pada interval waktu yang ditentukan) dibuat sesuai dengan tindakan khusus yang dilakukan. Satu kanungkung di tiap 5 rumah menyampaikan peringatan berantai ke rumah-rumah yang ada di sepanjang bantaran sungai. Tabel 1 menjelaskan kode-kode peringatan. Tongkat penanda telah dibangun pada titik-titik terendah di barangay (desa) untuk menyesuaikan dengan peringatan siaga, berdasarkan pada informasi dari banjir-banjir yang melanda desa-desa tersebut di masa lalu (Gambar 2a, b dan c). Titik nol tadinya disarankan untuk distandarisasi oleh pemerintah kota namun saat ini masing-masing desa memiliki penanda banjir sendiri-sendiri yang disetujui bersama yang diletakkan di tempat-tempat strategis di desa. Pengukur menunjukkan sampai tingkat kritis mana para warga harus bersiap-siap untuk meninggalkan rumah dan mengungsi ke pusat-pusat evakuasi. Tabel 1. Kode peringatan yang dipakai di Kota Dagupan Warna Putih (Siaga I) Kuning (Siaga II) Oranye (Siaga III) Tingkat Siaga Normal Siaga (peringatan bahaya) Bersiap untuk evakuasi atau menuju ke tempat pengungsian (banjir besar datang) Evakuasi penuh (evakuasi dari rumah-rumah menuju ke tempat aman yang telah ditentukan) Evakuasi paksa Sinyal Peringatan dengan Kanungkong 5 kali pukulan kanungkung dengan interval 20 menit 10 pukulan dengan interval 20 menit

Merah

Non-stop (15 pukulan dengan interval 10 menit) Non-stop (20 pukulan pada interval 5 menit)

70

Hijau

Situasi kembali normal

Pemantauan dan penyampaian pesan berantai tentang tingkat banjir yang diperoleh dari tongkat penanda dilakukan oleh tim peringatan dan komunikasi barangay dengan menggunakan radio komunikasi (HT) ke pihak BDCC. Kanungkung kemudian dibunyikan dan disampaikan secara berantai dari satu titik ke titik yang lain (setiap 5 rumah) (Gambar 3). Masing-masing BDCC memiliki hubungan radio dengan CDCC, dan informasi disampaikan satu sama lain melalui radio yang ada di Pusat Operasi Darurat (Posko Darurat). Diagram alur dari sistem peringatan dini dijelaskan di Gambar 4. Tanggap Darurat dan/atau Rencana Managemen Risiko Bencana merinci tanggungjawab dari panitia dan personil CDCC dan BDCC dalam hubungannya dengan peringatan dan evakuasi. Sebagai bagian dari rencana, sistem peringatan dini telah disusun melalui serangkaian konsultasi, kunjungan studi dan lokakarya.
Penyiapan Rencana Tanggap Darurat Kota dan/atau Rencana Badan Koordinasi Manajemen Risiko Bencana

Pemasangan Penanda Banjir (Tiang penanda)

Pemantauan Tingkat Air sungai oleh tim Peringatan dan Komunikasi

Penyampaian informasi berantai ke BDCC dan CDCC melalui radio VHF

- Tindakan diambil oleh BDCC dan CDCC; - Tindakan yang dilakukan warga berdasarkan pada tingkat kesiagaan

Gambar 4: Penyampaian informasi berantai ke warga desa dengan menggunakan kanungkung. Pelajaran yang Dapat Dipetik Sistem peringatan banjir Kota Dagupan yang merupakan perpaduan antara kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah modern merupakan tanggapan efektif terhadap masalah klasik banjir yang terjadi di kota tersebut. Dalam merumuskan sistem ada beberapa pelajaran penting sebagai berikut: 1. Penggunaan kanungkong telah memobilisasi kapasitas lokal sambil menghidupkan kembali dan melestarikan praktik-praktik lokal untuk digunakan kembali dalam kesiapsiagaan bencana. 2. Melibatkan masyarakat dalam pengkajian risiko (misalnya pengkajian bahaya, kerentanan dan kapasitas) dan merancang sistem peringatan dini sangat penting dilakukan. 3. Pengujian sistem peringatan dan prosedur evakuasi penting dilakukan melalui simulasi dan latihan praktis yang melibatkan semua anggota masyarakat.

71

Gambar 1a dan b. Kanungkong adalah sarana komunikasi yang digunakan dalam sistem peringatan dini tingkat desa. Badan Koordinasi Bencana tingkat Desa memberikan peringatan awal dengan menggunakan kanungkung. 72 . Gambar 2a dan b. Tiang penanda yang menunjukkan tingkat peringatan yang dipantau oleh tim peringatan dan komunikasi. Kunjungan studi oleh pejabat setempat dan tokoh masyarakat ke proyek-proyek yang sama menumbuhkan refleksi kritis tentang bagaimana meningkatkan kegiatankegiatan yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi mereka.4. Ini akan mendorong warga masyarakat dan pemerintah untuk terus melanjutkan kerja keras mereka. Gambar 4: Penyampaian informasi secara berantai kepada masyarakat dengan menggunakan kanungkung. Belajar dari praktik-praktik baik dengan mengunjungi warga masyarakat yang terlibat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Gambar 3.

Barangay Matanag, Kota Legazpi, Albay, Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi Mayon Gerardine Cerdena Abstrak Tinggal di gunung tidak selalu berarti masyarakat yang tidak dapat berkembang dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kasus desa Matanag, penduduk desa tegar dalam menantang bencana yang ditimbulkan oleh gunung berapi, tetapi masih menganggap gunung berapi sebagai tempat tinggal yang nyaman. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat tentang tanda-tanda peringatan dan bagaimana meramalkan letusan gunung api berperan dalam upaya memperkecil risiko dan menangani bahaya yang ditimbulkan oleh gunung berapi Mayon. “Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, itu tandanya Mayon akan meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang pertamatama mendengarnya,” Domingo Arias, penduduk desa Matanag. Latar Belakang Sebagai salah satu gunung berapi yang aktif di pulau Luzon, Filipina, Gunung Mayon dianggap oleh beberapa orang sebagai gunung berapi yang berbentuk paling sempurna karena kerucutnya yang sangat simetris (Gambar 1). Sebagai salah satu gunung berapi yang berada dalam “Sabuk Gunung Api”, Mayon terletak di bibir Samudera Pasifik di mana kegiatan vulkanik dan gempa sering terjadi. Gunung berapi itu terletak 15 kilometer ke arah barat laut Kota Legazpi, Albay, Filipina di wilayah Bicol. Gunung Berapi Mayon merupakan gunung berapi basal-andesit yang terletak antara lempengan Eurasian dan Filipina yang terbentuk melalui asap tebal dan guguran lava yang memuntahkan abu selama 400 tahun terakhir (Gambar 2). Lereng bagian atas dari gunung berapi tersebut terjal dan kasar, dengan sudut rata-rata 35-40 derajat, dan ditutup dengan kawah kecil. Lereng-lerengnya mengandung lapisanlapisan lava dan material vulkanik lainnya. Magma terbentuk ketika batuan meleleh dan letusan biasanya terjadi ketika guguran lava seperti air panas menyembur keluar dari rekahan panjang di kawah. Desa Matanag di Kota Legazpi adalah sebuah desa pertanian yang didiami oleh 1.400 penduduk dan merupakan salah satu dari wilayah yang mengapit lereng gunung berapi Mayon yang rawan terlanda lava. Daerah tersebut dinyatakan sebagai zona berbahaya oleh ahli vulkanologi dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina dengan menggunakan penginderaan jauh dan satelit. Kisah/Peristiwa

73

Mayon tercatat telah meletus sebanyak 47 kali. Letusan yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 1 Februari 1814 yang memakan korban jiwa sebanyak 2.200 orang dan abu vulkanik mengubur kota Cagsawa. Letusan Mayon terakhir yang dahsyat terjadi pada tahun 1993 ketika lava pijar menelan 77 korban jiwa, kebanyakan para petani. Letusan gunung berapi Mayon sering membuat orang takut kehilangan rumah dan sawah mereka. Ditanya tentang dampak letusan Mayon, Bienvenido Belga Sr., Kepala Desa Matanag menyatakan, ”An niyog tapos mga gulayon nagkakaaralang tapos nagkakagaradan pag nagtutuga an Mayon. Su mga gapo nagdadalagasan nin mga kalayo hali sa Mayon kaya minsan nagigipit kami sa negosyo pagmay eruption. – Kelapa dan sayur mayur layu dan mati akibat letusan gunung Mayon. Batuan panas jatuh berguguran dari gunung Mayon sehingga bisnis kami terganggu.” Kota tersebut sangat tergantung pada hasil panenan kelapa dan padi sebagai sumber pendapatan maupun sebagai makanan pokok. Terlebih lagi, lahar dingin yang membawa abu vulkanik serta batuan besar yang meluncur turun dari gunung Mayon dapat membunuh ratusan jiwa dan membawa lumpur yang sangat banyak sehingga dapat menimbun atap rumah. Sebaliknya, letusan dapat juga dipandang sebagai hal yang menguntungkan karena penduduk tahu bahwa abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi dapat memperkaya tanah, sehingga dapat menghasilkan panen yang lebih baik. Bahkan, ancaman aktivitas gunung berapi yang meningkat dan letusan selama bertahun-tahun tidak menyurutkan semangat para penduduk desa Matanag. Kearifan Lokal Ketika ditanya tentang kearifan lokal mereka yang berhubungan dengan letusan gunung berapi Mayon, beberapa penduduk desa menyatakan: Dakulon an palatandaan na aram mi tungkol sa pagtuga kang Mayon. – Ada banyak tanda-tanda peringatan menjelang letusan.” Mereka menyebutkan bahwa jika sungai dan anak sungai menjadi kering, ini menunjukkan tanda-tanda awal kapan Mayon akan memuntahkan lava yang mematikan. ”Pag ubas an tubig na talagang diretso sa pirang bulan, aram mi na ma tuga na an Mayon. Tapos an lava an pighahaditan ming maray. – Jika air menjadi kering selama 8 bulan penuh, maka kita tahu bahwa Mayon akan segera meletus. Dan lava yang terbentuk dari gunung berapi itulah satu-satunya yang kita takutkan.” Warga desa juga menyebutkan tentang percikan yang berasal dari gunung berapi yang dengan cepat menciptakan lembah berapi di antara rekahan-rekahan dan menandakan terjadinya letusan gunung Mayon. Selain dari itu, para petani setempat dapat mendengar suara gemuruh dan merasakan gempa bumi yang tidak bisa dirasakan oleh penduduk yang tinggal jauh dari gunung. Seperti dinyatakan oleh Domingo Arias, seorang polisi desa, ”Pag may naguusok na kalayo hali sa Mayon, yan an sinales na matuga na. Minsan nahahadit kami, minsan dai man. Sigeng tagog kang bulkan asin nakakadangong inot su mga para tanom ky maluang daguldol. – Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, artinya Mayon akan meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang

74

pertama-tama mendengarnya.” Tiang batu dipakai sebagai tanda untuk melihat apakah angin mengandung abu. Lebih dari itu, binatang seperti baboy-damo (babi hutan liar) dan ayam mengikuti indra perasa elektromagnetiknya. Penduduk desa menyaksikan binatang-binatang ini melarikan diri dari gunung berapi. Ketika binatang-binatang lari menuruni gunung Mayon, ini merupakan pertanda bagi warga bahwa sudah saatnya mengungsi karena binatangbinatang ini dapat merasakan suhu tinggi yang berasal dari gunung api. Menurut salah satu warga, penglihatan gaib dan tahayul yang berhubungan dengan Gunung api Mayon selalu menunjukkan kebenaran. Ditanya tentang apakah mereka khawatir tentang kiamat yang semakin dekat yang disebabkan oleh gunung api ketika mereka melihat dan merasakan tanda-tanda peringatan, mereka menjawab bahwa mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. ”Tiud na kami pagnagtutuga an Mayon, -Kami sudah kebal dengan naiknya suhu Mayon.” Romeo Nantes, seorang petani kelapa dan bapak tiga anak, mengatakan. ”Kami tidak akan mengungsi sekarang kecuali kalau situasi sudah sangat gawat dan ada letusan yang besar,” Rosario Nantes, istri Romeo Nantes, berkata sambil menjaga toko kecilnya. Itulah kenapa meskipun ada perintah evakuasi, banyak warga desa yang tetap tinggal diam di sawah-sawah sekitar gunung api Mayon untuk merawat sawah, kebun dan ternak sambil menjaga rumah dan harta benda milik mereka. Seorang penduduk Matanag yang sudah lama tinggal di sana, Geronimo Toledo, mengatakan, ”Pag mauran, baha ang mas delikado pag natugna an Mayon. Pero pag maray an oras wara man dapat haditan. – Jika Mayon meletus, banjir jika terjadi hujan itulah yang lebih berbahaya. Namun jika cuaca baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Pengetahuan tentang tanda-tanda gunung api ketika memuntahkan gumpalan asap dan abu yang tinggi berkontribusi terhadap pengurangan risiko bencana. Dengan mengikuti kepercayaan ini, para penduduk setempat mengumpulkan tanda-tanda peringatan bahaya dari ancaman di depan mata dan dengan demikian segera bersiap-siap menghadapinya. Orang-orang ini biasanya bersyukur karena para tetua mereka mewariskan pengetahuan ini kepada mereka. ”An mga gurang mi an nagturo samuya kang gabos na dapat ming maaraman. Maski aki mi aram an mga sinales. – Para tetua kami yang mengajarkan apa yang perlu kami pelajari. Bahkan anak-anak kami pun dapat membaca tanda-tanda bahaya.” Arias menegaskan. Ketika ditanya apakah mereka masih memperhatikan pengumuman yang berdasarkan pada pertimbangan ilmiah, Belga, seorang penduduk desa lainnya menjawab: ”Dai kami nagtutubod sa awtoridad ta sala sinda minsan. Masabi na matuga pero wara man kaming napapansin na palatandaan o babala kaya dai kami mina hiro nangad hanggang sigurado kami. Pero pag aram ming tama, ma hali man sana kami siyempre. – Kadangkadang kami tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan oleh pihak berwenang.

75

tentu saja kami akan mengungsi. dan membawa keadilan bagi ketidakpastian dan kekhilafan umat manusia. Tentang letusan gunung Mayon. Tingkat risiko yang akan dihadapi orang karena kearifan lokal mereka mungkin tidak mudah untuk dipercaya. Warga masyarakat setempat tahu bahwa gunung api tidak memuntahkan sesuatu tanpa alasan. Tinggal dekat dengan gunung api tidak berarti mereka tidak dapat sukses hidup dengan alam sekitarnya. tetapi bergantung pada bimbingan penasehat spiritual dan kepercayaan gaib.” kata Belga dengan tegas. Dengan kearifan lokal yang mereka miliki. namun kami tidak melihat tandatandanya sehingga kami memutuskan untuk tidak mengungsi jika kami tidak yakin sekali. sadiri ming kahiruan an kaipuhan. Namun. – Banyak di antara kami yang hanya petani namun kami tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus kami percayai. Kami sudah tahu hal itu sejak lama. Kepercayaan ini membuat mereka mempunyai pengharapan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi bahaya. Para ahli ilmu sosial mengamati bahwa hal ini bukan lagi merupakan pandangan naif tentang alam. Meskipun demikian. Penolakan warga untuk mengungsi ketika gunung berapi memuntahkan lava panas dan mengandung magma yang bergolak murka hanya karena pendirian yang keras kepala kadang-kadang sama saja dengan kekonyolan. Takhayul dan mitos masih menancap dengan kuat dalam kepercayaan masyarakat. Cara pandang yang berbeda tentang letusan gunung api menghasilkan adanya salah pengertian antara ilmuwan dan warga masyarakat yang terkena dampak langsung.” ”Mga para tanom sana kadklan samo digdi pero aram mi kung ano an dapat hibuhan and tubodan. jika kami yakin Mayon akan meletus. para penduduk desa tahu kapan harus menghindari bahaya ketika letusan besar terjadi. ahli geologi dan vukanologi. Bahkan sebaliknya. Pandangan-pandangan ini mengherankan masyarakat ilmiah namun pandangan ini tidak bisa begitu saja dihilangkan. Aram mi yan. Sejujurnya.Mereka mengatakan bahwa Mayon akan meletus. Para ilmuwan yang menggunakan teknologi mutakhir dapat menjembatani kesenjangan antara masyarakat yang berkeras pada pendiriannya agar memanfaatkan hasil yang 76 . menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh alam dan belajar bagaimana bertahan hidup. banyak warga yang tinggal dekat gunung api Mayon memandang letusan sebagai keadaan yang menguntungkan untuk terjadinya penciptaan dan evolusi. kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun membantu mereka memperkecil risiko. Sa pagtuga kang Mayon. kami hanya bergantung pada naluri kami sendiri. kaito pa. tidak semua budaya memandang letusan gunung api sebagai sesuatu yang menghancurkan. Para penduduk tidak mendengarkan para petugas yang berwenang. Pelajaran yang Dapat Dipetik Para aparat pemerintahan sering tidak kuasa membujuk penduduk desa untuk meninggalkan zona bahaya meskipun ada kerentanan alam dan bencana. Namun cerita dan ritual yang tidak masuk akal ini juga membantu mereka menghadapi bencana. Gunung api kadang dianggap sebagai entitas penting yang melampiaskan dendam dan ketidakadilan pada dunia.

mereka tidak boleh meremehkan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat dan harus memahami bagaimana karya mereka akan diterima oleh masyarakat yang sudah sangat akrab mengalami dan menghadapi letusan gunung berapi.mereka ciptakan. Gambar 1: Gunung api Mayon dengan kerucut simetris sempurna. Namun. 77 . Foto: Jenny Exconde Gambar 2: Awan panas yang menuruni lereng puncak Gunung api Mayon.

Kaum Ivatan di Kepulauan Batan. Kepulauan Batan memiliki suhu yang agak sedang yang dapat turun sampai 7o C. namun selalu hujan minimal 8 hari dan maksimal 21 hari dalam sebulan. lautan yang ganas dan sumber daya yang minim. Batan terdiri dari 10 pulau-pulau kecil dan hanya tiga di antaranya yang dihuni. Menjinakkan Angin: Sejarah Etno-Budaya tentang Kaum Ivatan di Kepulauan Batan Abstrak Kaum Ivatan yang tinggal di Kepulauan Batan telah memiliki sejarah panjang dalam berjuang dan menyesuaikan diri terhadap badai. Musim hujan dan musim kemarau tidak terlalu berat. Pulau itu dikelilingi oleh terusan Balintang di bagian selatan. Provinsi itu selalu dihempas badai. Kurang lebih 75% penduduk Ivatan adalah petani dan nelayan. jagung dan umbi- 78 . lembah yang dalam. Masyarakat yang mendiami kepulauan Batan disebut kaum Ivatan. Filipina Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batan. Cuacanya agak sejuk dan berangin. Bawang putih dan ternak adalah sumber pendapatan panen utama namun ada pula hasil bumi lain seperti beras. Syair Cerita Rakyat Ivatan Latar Belakang Kepulauan Batan merupakan bagian dari kumpulan pulau-pulau yang terletak di bagian paling utara negara Filipina.656 di tahun 2000) dan luas wilayah (hanya 230 m2). Sabtang dan Itbayat. serta dinamika sosialnya terbukti mampu bertahan di tengah bencana. yaitu Pulau Batan. Tebing yang curam. bukit yang melandai. 2000. Kemudian datanglah guntur bergemuruh. dan kemudian turunlah hujan dengan lebatnya. Maka datanglah badai yang menghantamnya. Budaya yang luar biasa ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara masyarakat Ivatan dan lingkungannya sebagai sarana bertahan hidup dalam menghadapi bermacam-macam tekanan lingkungan alam mereka. provinsi ini mengingatkan kita pada Irlandia atau Selandia Baru. Kepulauan tersebut juga memiliki bentang alam yang sangat unik. Iklim dan topografi di Batan berbeda dari provinsi lainnya di Filipina. kemudian datanglah petir menyambar-nyambar. Florentino H. pulau tersebut lebih dekat dengan Taiwan (hanya 218 km) daripada dengan daratan Luzon. Terletak antara 121o 45’ sampai 122o 15’ Bujur Timur dan pada 20o 15’ Lintang Utara. hujan dan topan. Sedikit banyak. kearifan lokal yang menyatu dalam teknik pembuatan rumah tradisional dan perahu. Noralene Uy dan Rajib Shaw Disarikan dan diambil dari Hornedo. dan hujan menjadi tongkat jalanku. guntur memukul irama langkahku. Meskipun menghadapi kesulitan seperti ini. Filipina. dataran tinggi yang naik turun serta pantai-pantai yang dibatasi oleh batuan besar menjadi ciri alam di kepulauan itu. Batan merupakan provinsi terkecil di Filipina dalam hal jumlah penduduk (15. namun petir adalah oborku.

1 Kearifan Lokal Arsitektur. Budaya Ivatan secara keseluruhan dibangun atas dasar swa-sembada karena letaknya yang terisolir dari kebudayaan lain. Atap rumah mereka jebol dan seekor sapi jatuh menimpa rumah mereka. kapal tanker Angkatan Laut Filipina kandas di Basco. angin besar merontokkan atap gereja katedral dan membengkokkan menara tanpa kabel. sebuah keluarga sedang berkumpul menunggu badai datang. Koperasi Ivatan dan lembaga bantuan sosial memperkuat ikatan antar anggota masyarakat. Pada tahun 1905 angin yang dahsyat menghempaskan ternak sampai mati. Perahu yang lebih kokoh yang dinamakan paluwas berfungsi sebagai moda transportasi utama dari satu pulau ke pulau lainnya. ibukota provinsi. salah satu kota di Pulau Batan. gubernur provinsi itu menceritakan beberapa malam sebelumnya ketika ada badai. perahu air dan dinamika sosial masyarakat kaum Ivatan akan dijelaskan secara terinci pada bagian berikut ini. Beberapa waktu yang lalu. seorang nelayan terapung-apung menuju ke Taiwan. dengan 8 di antaranya melewati Kepulauan Batan dalam perjalanan dari Filipina selatan menuju ke arah barat laut. pertanian dan lembaga sosial masyarakat Ivatan telah disesuaikan dengan cuaca yang keras dan berubah-ubah. Rumah Tradisional 1 Feleo (2006) 79 . Terakhir. Masyarakat menanami bagian tepi ladang dengan pohon-pohon yang dapat memecah kemurkaan angin sehingga tanaman yang berakar dapat tumbuh. seng itu telah berubah bentuk menjadi bola yang menggelinding ke sana ke mari seperti rumput kering yang dipermainkan angin. Rumah tradisional kaum Ivatan dibangun dengan tembok yang tebal yang terbuat dari batu dan gamping dan diberi atap lapisan tebal rumput cogon (sejenis ilalang yang tinggi yang hanya ada di Filipina) untuk menahan terjangan topan yang ganas. Pada tahun 1987. Rata-rata 20 angin topan menyerang Filipina setiap tahun. Setiap warga Ivatan memiliki cerita sendiri-sendiri tentang Topan. sebuah daerah yang sekarang letaknya di sebelah selatan Vietnam. terutama angin yang paling menakutkan. dan sebuah bangunan sekolah roboh terbawa angin di Mahatao.umbian. Karena desa-desa dan kota-kota di kepulauan tersebut terletak di sepanjang garis pantai. Kisah/Peristiwa Angin merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan kaum Ivatan dan telah ikut membentuk gaya hidup masyarakat Ivatan. Anin. mereka berpesta daging sapi. Sayangnya. perahu nelayan tersapu dari Annam. Pada tahun 1918. atau angin puyuh. adalah angin yang paling sering terjadi di kepulauan Batan karena kepulauan tersebut terletak di sepanjang sabuk angin puyuh. teknik pembuatan perahu. Paginya. kondisi alamnya cocok untuk mencari ikan. Pada tahun 1921. Pada tahun 1952. seorang warga nekat mengejar atap yang terbuat dari seng yang diterbangkan angin dan akhirnya berhasil menangkapnya sampai gedung balai kota. Rumah tradisional.

Ini merupakan pertanda bahwa angin puyuh akan menerjang mereka dalam hitungan hari.2 Tata letak pemukiman juga menyesuaikan dengan keadaan alam. Kebanyakan rumah-rumah Ivatan memiliki dua unit yang terpisah. Daun jendela terbuat dari aneb (daun pintu) kayu yang sangat tebal yang diengselkan ke kusen pintu dengan yembra y machu (engsel) yang tebal pula dan dikunci dari arah dalam dengan panahtah (palang kayu). Sebuah rumah Ivatan dibangun dengan dinding batu gamping dengan tebal sekitar 2-4 kaki dan sebagai atapnya ditumpul berlapis-lapis rumput cogon dan alang-alang. Cerita itu juga memuat gambaran tentang adaptasi. Rumah masyarakat lain kebanyakan terbuat dari bahan-bahan khas daerah tropis semi-permanen (misalnya kayu. Di Filipina. kadang-kadang begitu sempitnya sehingga hampir tidak cukup untuk lewat kendaraan. Jendela dan pintu dibuat sangat kecil dan sempit. Pemukiman di desadesa tersebut kebanyakan berupa rumah-rumah batu yang beratap rendah dan bertembok tebal ditutup dengan atap jerami tebal dan dibangun berhimpitan dalam kelompokkelompok untuk melindungi rumah-rumah sesama warga dari sapuan angin puyuh yang ganas. Struktur ini cukup kokoh untuk menahan serangan angin puyuh yang menerjang kepulauan. Kusina yang merupakan bagian paling penting di rumah. yaitu rakuh (ruang keluarga) dan kusina (dapur).Evolusi dari apa yang disebut rumah tradisional kaum Ivatan adalah cerita turun-temurun tentang perjuangan masyarakat dalam mempertahankan diri dari segala macam cuaca. Ketika angin puyuh datang. Suhu dalam ruangan dapat disesuaikan agar cukup sejuk selama musim panas dan hangat sepanjang musim badai dingin. Sejak berabad-abad yang lalu. Hanya tiga dinding rumah yang memiliki jendela sedangkan dinding yang tidak memiliki jendela menghadap ke arah di mana angin biasa bertiup paling kuat. kaum Ivatan telah tinggal di tempat tinggal batu tradisional untuk melindungi diri dari alam. masyarakat yang memiliki arsitektur rumah tradisional yang terbuat dari batu hanyalah di Kepulauan Batan (Gambar 1). asimilasi dan penggunaan kreatif dari bahan-bahan setempat yang tersedia di alam. Bangunan ini melambangkan kehangatan. Pembuatan kapal adalah tradisi dan teknik perahu air telah diketahui selama berabad-abad dengan tidak ada perubahan teknologi sampai pertengahan abad 20. bambu dan atap daun nipah) yang secara luas dipakai sebagai atap di seluruh pelosok negeri. Teknik yang unik ini adalah hasil dari usaha untuk menyempurnakan perahu air agar dapat mengurangi risiko hilangnya jiwa di laut karena 2 3 Feleo (2006) Villalon (2000).3 Perahu air yang unik dan pengetahuan tentang laut Kaum Ivatan adalah pelaut dan pembuat kapal. keamanan dan sumber kesejahteraan komunal. Jalan-jalan yang memisahkan rumah-rumah tersebut dibuat lurus dan sempit. dibangun mengelilingi kompor besar menyerupai api unggun. seluruh anggota keluarga tinggal di dalam rumah. dengan menggunakan batu untuk mempertahankan diri dari angin dan tekanan curah hujan muson. Kaum Ivatan tahu kapan saatnya mengisi dapur dengan persediaan ketika daun pohon aruyo telah tumbuh sangat panjang dan lembut. 80 .

Pangadiran (angin timur) dan sumla (angin selatan) cenderung lebih lembut. membersihkan kampung. maka akan dikembalikan pada Anda ketika Anda membutuhkannya di masa yang akan datang”. Mereka tahu kecepatan arus hanya dengan melihat tekstur dan irama ombak.5 Untuk memastikan adanya kesempatan yang lebih besar dalam memenangkan perlombaan dengan alam. Pola pendidikan yang menularkan kearifan lokal turun temurun. Koperasi mandiri masyarakat yang disebut yaru di mana setiap rumah tangga mengirimkan setidaknya satu wakil yang sehat secara jasmani untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Paluwa adalah jenis perahu air yang paling umum dijumpai. chinarem. bentuk paluwa tidak sama dengan banca bergandung khas Asia Tenggara (perahu motor). Ketika menyeberangi selat. jika yang Anda investasikan pada saudara yang membutuhkan hari ini. Sebagai pelaut yang terdidik. terutama mengenai pembangunan rumah tradisional dan pembuatan perahu air. Ini merupakan kode beroperasinya kelompok kerja tetap maupun musiman semacam kayvayvanan. chinedkeran dan paluwa. terutama para nelayan. Ketrampilan bagi pembangunan rumah dengan cara tradisional tidak diajarkan di sekolah namun dipelajari dari praktik dan 81 . Perahu air tradisional Ivatan disebut dengan tataya. kapaychahwan. pada dasarnya dilakukan dengan magang dan pengamatan partisipatif. sangat terbukti berperan penting pada saat bencana seperti angin badai. mereka menandai kemajuan perjalanan mereka dengan muncul atau menghilangnya pepohonan di pulau yang mereka lewati. untuk berkelana jauh ke tengah laut ketika kondisi cuaca sedang buruk dan dengan demikian memperkecil kecelakaan laut yang mungkin terjadi. payuhwan. (gambar 2). Sekarang ini.adanya badai yang sering terjadi terutama selama musim angin badai. mereka meramalkan watak lautan. Paluwa adalah perahu kayu dengan dasar bundar yang terlempar dan bergulung bersama dengan gelombang dan meluncur dalam ombak laut yang dahsyat. warga Ivatan telah menciptakan berbagai macam bentuk koperasi buruh yang berdasarkan pada satu prinsip utama: ”Anda tidak perlu bekerja hari ini. Dinamika Sosial Ivatan Keterasingan Batan telah menyebabkan masyarakat kaum Ivatan menjadi masyarakat yang sangat kental satu sama lain yang terbiasa dengan kerasnya hidup dan jauh dari kemewahan yang dianggap normal bagi orang lain. sehingga laut bisa menjadi sangat bergolak. paluwa yang digunakan untuk transportasi mempertahankan bentuk tradisionalnya tetapi telah dilengkapi dengan motor. Karena navigasi antar pulau masih sulit karena arus air yang kuat cenderung tidak dapat diduga. Mereka mengamati waktu dalam sehari dan fase bulan untuk meramalkan pasang surut dan pasang naik. Pengetahuan yang luar biasa tentang lautan ini mencegah warga masyarakat. atau memanen hasil bumi. Bayanihan4 merupakan contoh yang jelas. dan kapanidungan. Idaud (angin utara) biasanya kasar dan avayat (angin barat) biasanya tidak tentu. Ketika alam memporakporandakan kepulauan mereka. warga Ivatan tetap saling berhubungan dan membantu satu sama lain. seperti gotong royong memperbaiki rumah tetangga. Dengan menggunakan arah dan suhu udara. Ivatan membaca wajah laut.

karena nyatanya tingkat kemiskinan di Batan tidak pernah kunjung turun. Kaalamang Bayan (kearifan masyarakat). Hal ini mencontohkan hubungan yang selaras antara masyarakat dan lingkungannya. kearifan lokal masyarakat kaum Ivatan dianggap sebagai primitif dan sering tidak direkomendasikan atau tidak dianggap penting.magang kepada para veteran pembangun rumah di masyarakat. 2. Daftar Pustaka . laut yang ganas dan sumber daya yang terbatas. kelompok masyarakat yang tinggal di kepulauan yang kecil dan terasing mencapai swasembada dengan menggunakan kearifan lokal mereka. Pada umumnya. tetapi tidak lebih dari itu. Meskipun demikian. Pada saat bencana.com/sports/490/Batan/Batanestoday. Budaya tradisional ini telah sangat membantu masyarakat Ivatan dalam berjuang mempertahankan hidup selama berabad-abad.Cafe Ivatan. lembaga-lembaga sosial yang ada membuat upayaupaya komunitas yang terorganisir dan terpadu menjadi mudah.fortunecity. dan kepercayaan bahwa semua berdasarkan pada kearifan lokal dan kebiasaan setempat merupakan ajaran penting dari budaya Ivatan. 3. sejarah dan situasi sekarang menunjukkan bahwa memang budaya tradisional dapat menjamin keberlangsungan hidup. 82 . Batan: A Historical and Descriptive Profile of the Ivatans. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan alam. Misalnya.6 Beberapa pelajaran dapat dipetik dan kesimpulan dapat diambil dari kasus kaum Ivatan. terutama yang sudah terbukti selama berabad-abad dan efektif. Ada kebutuhan untuk melaksanakan program pembangunan yang bermakna di Batan yang mengakui keunikan budaya setempat dan menyediakan dukungan bagi kondisi yang ada. Budaya Ivatan merupakan produk dari sejarah panjang perjuangan dan penyesuaian diri dengan angin badai. Merupakan kebiasaan yang umum dilakukan oleh kaum Ivatan untuk saling membantu. cara hidup. Hal yang sama juga berlaku pada pembangunan perahu air Ivatan. tidak ada budaya satu pun di Filipina yang dengan gemilang berhasil menjinakkan kemarahan angin musiman. Diakses pada tanggal 6 Maret 2008. metode melakukan sesuatu. Khasanah kearifan lokal yang kaya tentang masyarakat kaum Ivatan yang memanfaatkan sumber daya setempat dan dengan demikian sangat murah karena hanya memanfaatkan keterampilan dan materi yang tersedia di alam sekitar. Memang penting untuk mengakui nilai-nilai dari kearifan lokal. yaitu sumber daya yang terbatas dan kondisi cuaca yang sangat buruk. 4. 1. meskipun sudah ada teknologi modern.htm. Proyek menjadi percobaan yang sia-sia karena tidak ada bangunan yang tersisa setelah angin badai menyapu desa. 5. Pelajaran yang Dapat Dipetik Terlepas dari kaum Ivatan. http://uproar. gedung sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan kearifan lokal.

ncca. Navarro. Hornedo.livinginthephilippines. http://www. Batan: Sea and Storm Shape the Islands. The Batan Islands.com/Features/Batan_On_The_Rise.ph/conf2005/conf/ARCH.edu.ph/aboutculture-and -arts/articles-on-c-n-a/article.%20JOSE%20IGNACIO%20PAP ER%20FOR%20ATENEO.htm/ Diakses tanggal 6 Maret 2008. Bibsy M. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Ignacio. Challenges in Preserving the Heritage Houses of Batan.com/philculture/Philippine_articles/batanes. Celerina M.htm. Diakses tanggal 6 Maret 2008.batanesonline. Taming the Wind: Ethno-Cultural History on the Ivatan of the Batan Isles.lib. Feleo. 2000.//www. Something Different Up North. Lainez. Florentino H. 2002.edu/Tagalog/Tagalog_Default_files/Philippine_Culture/Regio nal%20Cultures/northern_luzon_cultures. Diakses tanggal 6 Maret 2008. http. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Manila. Datar.htm. Francisco A.gove... Diakses tanggal 6 Maret 2008.php?igm=4&i=226. Philippines.seasite.batanesonline.com/Features?Majestic. Jose F.htm. Aileen. http://www. Villalon.html.pdf. Augusto F.batanesonline. http. Bandillo Batan. 2006.admu. http. Philippines.//www.com/Features/UpNorth.//rizal. UST Publishing House.//www. Diakses tanggal 29 Mei 2008. Batan on the Rise. 83 . http.niu. 2000. http://www.- - - - - - Carballo. Batan: Another World. Anita. Batan: Majestic Harmony between People and Nature.

Meskipun sistem peringatan dini berbasis pelampung sangat diperlukan dalam mitigasi dampak tsunami antar samudera yang menerjang garis pantai berjam-jam setelah gempa. 3 USGS (2007) 84 . Rencana mitigasi tsunami yang ditujukan untuk melatih penduduk setempat harus mempertimbangkan tidak hanya lingkungan fisik wilayah tersebut.3 Gempa tersebut 1 2 Matthew (1996) Frits dan Kalligeris (2008) melaporkan keterangan saksi mata tentang adanya tsunami kecil di Ranongga yang ditimbulkan oleh gempa lokal berskala 7. demografi etnis Provinsi Barat berubah ketika kelompok etnis Gilbertese bermigrasi dari tempat tinggal asal mereka di Kiribati. karena para pendatang tidak mengenali tanda-tanda kedatangan tsunami. Baik penduduk lokal maupun pendatang hanya memiliki waktu singkat untuk bertindak karena desa mereka letaknya sangat dekat dengan pusat gempa. para warga mendatangi wilayah Provinsi Barat sebagai bagian dari rencana pemukiman kembali oleh pemerintah Kolonial Inggris. sebuah gempa dengan skala 8.Provinsi Barat. Sejak orang-orang Gilbertese pindah ke daerah tersebut mereka belum pernah mengalami gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami. serta pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat. sebuah Negara yang terletak di Samudera Pasifik barat daya di kawasan karang-karang atol yang jauh dari sumber gempa aktif. Walau tinggal di daerah-daerah dengan tingkat kerusakan serupa.2 Richter pada tahun 1959. penduduk Gilbertese secara turuntemurun merupakan penghuni karang atol yang sangat tergantung pada sumber daya laut.1 Richter menggoncang Provinsi Barat Kepulauan Solomon. Kepulauan Solomon Kearifan Lokal Menyelamatkan Banyak Jiwa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007 Brian G. tetapi juga lingkungan masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam tingkat ekonomi dan budaya. jumlah penduduk pendatang yang meninggal jauh lebih tinggi daripada warga setempat.1 skala Richter dan disusul tsunami menerjang kepulauan Solomon dan menelan 52 korban jiwa. sehingga mayoritas pemukiman penduduknya berada di dekat daerah laguna. Jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah banyak jika para penduduk yang tinggal di tepi pantai tidak mengambil tindakan yang tepat.1 Menurut sensus pemerintah Pulau Solomon tahun 2002. Karena menipisnya sumber daya dan kenaikan jumlah penduduk di Kiribati. McAdoo. sebuah gempa bumi berkekuatan 8. sistem tersebut terbatas pada wilayah yang dekat dengan pusat gempa. dan di Honiara di Guadalcanal pada tahun 1952 yang kemungkinan berasal dari gempa yang terjadi jauh di Kachatka di Pasifik Barat laut.2 Kisah/Peristiwa Pada tanggal 2 April 2007 pukul 7:39 pagi waktu setempat. Latar Belakang Antara tahun 1955 dan awal tahun 1960-an. terutama wilayah-wilayah yang sarana dan prasarananya sudah memadai. Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore Abstrak Pada tanggal 2 April 2007.

memporak-porandakan bangunan dan mengoyak koloni terumbu karang. Tsunami kali ini menelan korban jiwa sebanyak 50-52 orang. (2008) Fritz dan Kalligeris 6 McAdoo et al. menunjukkan kurangnya pemahaman tentang sifat tsunami. (2008) 7 McAdoo et al. tetapi kebanyakan korban jiwa ini terjadi pada penduduk pendatang yang minoritas (Dikutip dari McAdoo dkk. yang naik dengan cepat dan bukan gelombang pasang yang bergolak liar. Distribusi ketinggian air naik (run-up heights) tsunami Kepulauan Solomon tanggal 2 April 2007 yang secara spasial berhubungan dengan jumlah korban jiwa. Segera sesudah goncangan berhenti.8 Sementara desa pendatang cenderung memiliki jumlah penduduk yang lebih tinggi. Semakin besar tsunami. Tsunami menyeret kendaraan dan rumah. Bangunan di wilayah tersebut rusak parah dan banyak korban luka karena kejatuhan reruntuhan bangunan dan tersiram air mendidih dari kompor. sektor yang menjadi andalan suku Melanesia pribumi dan pendatang Gilbertese. Pendatang Gilbertese meninggal dengan tingkat yang tidak sepadan dibandingkan dengan penduduk Melanesia pribumi. memperlihatkan dasar laut. dan desa-desa yang dicetak tebal adalah yang menderita korban jiwa. tindakan mereka menghadapi gempa yaitu menyelidiki laguna yang tiba-tiba habis airnya. menghempaskannya ke pedalaman dan menjatuhkannya dengan sedikit kerusakan – gelombang pasang yang kuat cenderung menggulingkan kendaraan dan merobohkan bangunan. Desa yang ada di peta adalah desa-desa yang rusak parah. air meluap dari karang laguna yang dangkal.7 Koloni terumbu karang yang tidak begitu padat dengan permukaan luas yang dasarnya telah dikoyak gempa bergeser ke dekat posisi asal tumbuhnya dan akan berpindah jika diseret arus yang sangat kuat. (2008) 8 McAdoo dkk (di harian) 85 . di harian Natural Hazards). Tsunami datang antara 3-10 menit setelah goncangan berhenti. Masing-masing desa memiliki tebing 4 5 McAdoo et al.000 tanah longsor di pulau vulkanik yang terjal di Ranongga – satu gempa terjadi di desa Mondo menelan dua korban jiwa manusia.6 Goncangan hebat dan kenaikan seismik juga menghancurkan terumbu karang yang ringkih di laguna.5 Gempa juga memicu lebih dari 1. yang akan membawa dampak lama bagi pemulihan perikanan.menyebabkan goncangan hebat (cukup hebat sampai banyak orang tidak mampu berdiri tegak) yang berlangsung lebih dari satu menit. Gambar 1 menjelaskan distribusi geografis ketinggian air ketika naik dalam hubungannya secara spasial dengan jumlah korban jiwa.. jumlah korban jiwa juga cenderung lebih besar. Bukti dari sana-sini yang didukung oleh pengamatan geologis memperlihatkan ada dua atau tiga gelombang yang saling bersusulan dengan kekuatan rendah. Kearifan Lokal Survei geologis menemukan bahwa tsunami yang menerjang daratan pada ketinggian yang sama di lingkungan fisik yang sama di wilayah dengan demografi yang berbeda menghasilkan pola kematian yang tidak konsisten yang tidak dapat dijelaskan oleh bahaya fisik semata.4 sementara pada saat yang sama memperingatkan warga akan potensi terjadinya tsunami. Gambar 1. menurut saksi mata.

Tidak seorang pun yang meninggal dunia di Pailongge. 8 dari 13 orang yang meninggal adalah anak-anak yang belum cukup kuat untuk berenang melawan ombak yang datang. Penduduk Gizo terdiri dari penduduk asli Kepulauan Solomon (kuning) dan pendatang Gilbertese (merah) yang tinggal di desa-desa terpisah. dan memantulkan sebagian energi ombak kembali ke laut.karang/penyangga laguna yang bagus. di mana masing-masing desa pendatang mencatat adanya kematian tanpa perduli letak geografisnya. dan salah satu dari desa pendatang yang terkena dampak (New Manra) bahkan memiliki rumpun bakau tambahan yang tidak dimiliki oleh desa pribumi.7% penduduk yang meninggal karena tsunami adalah anak-anak. sebuah desa pendatang. Seperti terlihat dari gambar 2. Bukti ini menegaskan bahwa faktor utama yang menyumbang pada tingkat kematian yang tinggi adalah tindakan yang tepat berdasarkan pada kebiasaan warga yang tinggal di lengkungan pulau aktif dekat dengan zona penunjaman (sukduksi).9 Menurut mereka yang selamat. anak-anak yang penasaran berlarian dari desa menuju laguna untuk menyelidiki dasar laut yang tersibak. para tetua desa memperhatikan bahwa laguna telah kosong. Di desadesa Gilbertese di New Manra. Laguna yang lebar (100-400 meter) terletak pada bagian depan tebing karang. menurut saksi mata. sebanyak 67. seperti juga halnya desa pendatang Titiana dan kedua desa tersebut memiliki tanah tinggi yang dapat dijangkau untuk menyelamatkan diri. namun juga hutan bakau di depan desa. desa-desa pendatang tercatat memiliki jumlah kematian yang lebih tinggi di Pulau Ghizo. Gambar 2. tidak hanya memiliki tebing karang yang melindungi. ketika goncangan berhenti dan air laut menyusut dari laguna. Desa pribumi Pailongge yang terletak di pantai selatan sangat rawan serangan tsunami yang hebat. lalu mereka membantu menyuruh semua orang naik ke pedalaman. Di Titiana saja. dan hanya dua orang yang meninggal di desa Ghizo yang lebih banyak penduduknya. Air laut surut hampir segera sesudah goncangan gempa berakhir. Masyarakat desa pendatang Titiana jauhnya hanya 3 kilometer ke arah timur Pailongge di pantai selatan Pulau Ghizo yang terkena hantaman tsunami terberat. namun 8 orang dari 206 penduduk desa menjadi korban tsunami. dan setiap kepala keluarga memastikan semuanya termasuk anak-anak baik-baik saja dan mengungsi. Titiana dan Nusa Mbaruku. Bukti geologis menyatakan bahwa bagian depan tebing yang terjal dan laguna yang lebar (100-500 m) memperlambat tsunami yang datang. Di pihak lain. dilaporkan ke Natural Hazards) 9 McAdoo dkk (2008) McAdoo dkk (2008) 11 Fritz dan Kalligeris (2008) 10 86 . seperti Pailongge.. (McAdoo dkk. membanjiri daratan sekitar tiga meter tingginya. New Manra. Bukti dari sana-sini menyatakan bahwa kebanyakan orang dewasa di sini kewalahan menghadapi tsunami sambil menyelamatkan anak-anak mereka.11 Setelah goncangan reda.10 namun ombak masih cukup besar ketika mencapai daratan. tidak terdapat kematian penduduk pribumi di desa Pailongge di Pulau Solomon (jumlah penduduk 76 orang) yang terletak di pantai selatan Ghizo.

yang terletak jauh dari sumber gempa rutin mana pun. Doi:10. yang tidak memiliki penghalang tebing koral karena bentuk alam yang berevolusi pada lambung di bawah angin Pulau Simbo. Ancestral heritage saves tribes during 1 April 2007 Solomon Islands tsunami. Sebaliknya. 31 orang diantaranya (59. Di desa-desa asli yang terletak di Pulau Ghizo yang terkena terjangan tsunami paling dahsyat. terutama jika kepadatan penduduk sangat tinggi seperti yang terjadi di Banda Aceh. 2008. sebagian besar mengambil tindakan yang tepat sehingga korban jiwa dapat dikurangi. New Manra dan Nusa Mbaruku yang tidak mengambil tindakan tepat karena mereka tidak memiliki ingatan akan kejadian serupa dalam tradisi mereka.12 Kiribati adalah Negara karang atol. Kalligeris. 2) rute penyelamatan diri yang terjangkau dan efektif serta dataran tinggi yang dibentuk oleh topografi yang ada. laguna yang dangkal yang memantulkan serta melemahkan kekuatan gelombang tsunami. Anak-anak Gilbertese terutama merupakan pihak yang paling rentan karena tidak saja mereka terlalu lemah untuk berenang melawan arus tsunami yang menyeret pelan namun dalam. Kearifan lokal masyarakat Kepulauan Solomon. dan 3) kearifan lokal tentang apa yang harus dilakukan selama terjadinya gempa besar yang diikuti oleh surutnya air laguna. di mana gunung api aktif dan gempa adalah hal yang biasa. Lokasi-lokasi dengan dataran pantai yang luas akan mengalami kesulitan dalam mengevakuasi warga dari pantai. akan tetapi mereka juga tidak memiliki kearifan lokal yang membuat mereka mengurungkan niat menelusuri mengapa air laguna tiba-tiba surut. Karena tidak pernah ada gempa besar yang menyebabkan tsunami selama 50 tahun perpindahan mereka ke tempat yang baru.13 Desa tempat tinggal pendatang Gilbertese yang sama-sama memiliki fisiografi yang sama dan yang diterjang tsunami dengan intensitas yang sama. dampak tsunami dimitigasi dengan menggabungkan 1) tebing koral sehat dengan penghalang yang curam dan lebar di bagian depan.6%) adalah pendatang Gilbertese dari Titiana. laguna yang lebar dan hutan bakau tidak cukup untuk melindungi penduduk New Manra karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang tsunami di daerah ini. Kearifan lokal dapat menjadi alat pengurangan risiko bencana tsunami yang efektif jika dapat menggabungkan antara pendidikan dan fisiografi. telah mengurangi dampak tsunami. Namun. dan N. tidak memiliki kearifan lokal yang kemudian menyebabkan mereka menderita banyak korban jiwa.Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari 52 orang yang meninggal dunia selama gempa dan tsunami Kepulauan Solomon. penduduk asli Kepulauan Solomon. Geophys Res Lett. Indonesia pada tsunami Samudera Hindia tahun 2004.1029/2007GL031654 12 13 McAdoo dkk (dalam laporan pers) McAdoo dkk (2008) 87 . Banyak orang meninggal dunia di desa asli Tapurau. tebing koral. maka mereka benar-benar tidak memiliki kearifan lokal tentang lingkungan baru mereka yang mungkin dapat menyelamatkan jiwa. Daftar Pustaka Fritz H.

UK. 2008.. affects local economy. Traffic Network.gov/seg/hazard/tsu. V.noaa. Trade and Management of Sharks and Other Cartilaginous Fish: An Overview..” Natural Hazards National Geophysical Data Center. “Kearifan Lokal Menyelamatkan Jiwa selama Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007. 2005. Western Province overview. Solomon Islands Earthquake and tsunami damages reef. P. L. Diakses tanggal 7 Januari 2007 Matthew.. Eathquake Spectra 22 (S3): 661-669 McAdoo B dkk. Solomon Islands. Dengler. 1996. EOS McAdoo B dkk.. 2008. Diakses tanggal 17 Januari 2008.shtml. Cambridge.. Volume II. dan G. Smong: how an oral history saved thousands on Indonesia’s Simeuleu Island. Dalam: Sant G. Dapat diakses di http://www. laporan pers. Hayes E (eds) The Oceania Region’s Harvest. Dapat diakses di http://www.ngdc.com. 2006. Titov.sb/galatheaassist/.ilfhaus.- - - Galathea Expedition Gizo Tsunami Assistance Fund. Prasetya. Tsunami Database. 88 . McAdoo B.

Thailand Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. Ia adalah dewa dari gelombang. Dapat dikatakan bahwa kaum Moken telah diselamatkan oleh sebuah legenda kuno. kaum nomaden/pengembara yang tinggal di laut di Thailand – bahwa kaum Moken memiliki kearifan lokal yang dapat membantu mereka mengurangi risiko bencana. Phayam. dan keterampilan mereka yang tinggi dalam mengendalikan perahu. adalah kelompok nomaden yang tinggal di laut yang di Thailand umumnya dikenal sebagai Chao Lay (orang laut). Selama musim penghujan timur laut yang kering laut cenderung tenang dan kaum Moken tinggal dalam perahuperahu mereka yang disebut kabang.” Salama Klatalay. Komunitas Moken yang besar di Thailand dapat ditemukan di Pulau-pulau seperti Lao. hanya mendengar tentang itu dari orang-orang tua. Walaupun mereka telah tinggal di tempat yang sama 89 . dan Pantai Rawai di Provinsi Phuket. para “pengembara laut” atau “kaum gipsi yang tinggal di laut” yang tinggal di Laut Andaman. Struktur sosial kaum ini berupa kelompok-kelompok kekerabatan yang terdiri dari dua sampai sepuluh keluarga yang bepergian bersama. Mereka membicarakan ‘gelombang tujuh ombak’ yang mengunjungi kami sekali setiap dua generasi. pengamatan yang tajam akan laut dan perasaaan berhati-hati yang kuat. laut menjadi ganas dan sulit diprediksi perilakunya. dewa yang marah yang menghabiskan dan menghancurkan apa saja. bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya di Gugusan Kepulauan Mergui di Laut Andaman untuk mencari penghidupan. Selama musim penghujan barat daya. Saya belum pernah melihat gelombang semacam itu. pengetahuan mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka. “Kami menyebut gelombang besar ini ‘laboon”. Gelombang tersebut merupakan gelombang pembersih yang datang untuk membersihkan pantai yang kotor. seorang tetua Moken Latar Belakang Kaum Moken. Kaum Moken yang berasal dari Kepulauan Surin relatif tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang tradisional dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya.Kepulauan Surin. oleh karenanya kaum Moken beradaptasi dengan situasi ini dengan tinggal di pondok-pondok sementara di teluk-teluk yang terlindung dan mencari penghidupan mereka dari sekitar desa-desa yang mereka diami. Kepulauan Surin di Provinsi Phang-nga. Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand Narumon Arunotai Abstrak Ada sebuah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kasus kaum Moken. Sinhai. Tulisan berikut ini mengkaji pelajaran-pelajaran dari kearifan lokal kaum Moken dalam pengurangan risiko bencana dan implikasi dari penerapan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan praktik-praktik yang terkait. cara mereka memilih lokasi pembangunan desa yang cerdik. dan Chang di Provinsi Ranong.

Sekitar setengah dari populasi ini berusia 18 tahun ke bawah. Selama tahun 2004. Beberapa individu dan keluarga sering berpindah-pindah di antara Kepulauan Surin dan pulau-pulau lainnya di perairan Myanmar dan di antara kedua komunitas yang berdiam di Kepulauan Surin. kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin mengamati adanya perubahan mendadak pada permukaan laut. ada 184 orang Moken tinggal di Kepulauan Surin. Fasilitasfasilitas untuk turis telah secara bertahap dibangun dan selama tahun 2003 Taman ini menerima lebih dari 36. Luas hutan hujan ini mencapai lebih dari 90 persen dari kawasan hutan yang ada. mereka masih menggunakan bahan-bahan dari hutan untuk membangun pondok-pondok mereka dan kadang-kadang memindahkan desa mereka ke lokasi-lokasi yang lain. Kisah/Peristiwa Pada pagi hari Minggu tanggal 26 Desember 2004. 3 Arunotai. Kawasan hutan di kepulauan tersebut sangat terjaga baik dan memainkan peranan yang penting dalam cara hidup kaum Moken yang tradisional.selama bertahun-tahun.4 Sampai dengan bulan Februari 2008. dan Elias (2007): 12. Dari jumlah ini. ada sekitar 220 orang Moken di Pulau Surin Selatan. Secara administratif Kepulauan Surin merupakan bagian dari Distrik Khuraburi di Provinsi Phang-nga. Sebelum tsunami.000 turis selama waktu bukanya yang hanya 6 bulan (dari pertengahan November sampai pertengahan Mei). yang terletak kirakira 720 kilometer sebelah barat daya Bangkok. yang berdiam di sebuah desa besar di Teluk Bon Besar. 77 lakilaki dan 107 perempuan. Saat ini terdapat sekitar 2. yang terdiri dari 30 rumah tangga. sekitar 60 kilometer lepas pantai barat daya Thailand. Bagi beberapa tetua Moken. dan Elias (2007): 8-9 4 Arunotai.1 Kepulauan Surin telah menjadi tempat kediaman dan tempat mencari penghidupan bagi kaum Moken selama berabad-abad.000 warga Moken yang tinggal di Gugusan Kepulauan Mergui di Myanmar dan about 800 orang Moken di Thailand. Populasi kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin berfluktuasi berdasarkan musim dan secara tahunan. dan Elias (2007): 8-9.3 Kepulauan Surin dideklarasikan sebagai taman laut nasional Thailand kedua puluh sembilan pada tahun 1981. berdiam di Teluk Bon Kecil di Pulau Surin Selatan.2 Phang-nga merupakan satu di antara enam provinsi yang terkena dampak terburuk dari tsunami. Wongbusarakum. hal ini menandakan kedatangan 1 2 Arunotai (2006): 140 Arunotai. Wongbusarakum. dan sepertiga dari populasi adalah anak-anak berusia di bawah sepuluh tahun. Salah satu komunitas. berdiam di Teluk Sai-En di Pulau Surin Utara. ada dua komunitas Moken di Kepulauan Surin. Komunitas lainnya. Hal ini terjadi tanpa adanya perubahan cuaca dan mereka menganggap ini sebagai suatu gejala yang sangat tidak biasa. Gugusan kepulauan ini terletak di Laut Andaman. Fitur alami utama Kepulauan Surin adalah terumbu karang dan hutan. Hutan hujan tropis merupakan fitur alami utama lainnya di kepulauan tersebut. yang terdiri dari 16 rumah tangga. 90 . Wongbusarakum. Terumbu karang yang mengelilingi Kepulauan Surin merupakan yang terbesar dan terluas di Thailand.

oleh karenanya disebut “tujuh gelombang”. walaupun seluruh desa tersapu habis berikut beberapa perahu warga. Mereka yang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang mengamati adanya perubahan pada arus air dan memutuskan untuk mengarahkan perahu menjauh dari pantai. Setelah hidup di kawasan pulaupulau dan pantai selama berabad-abad. Kaum Moken dan kabang mereka. Berkat insting mereka yang tajam dan keterampilan mengendalikan perahu yang tinggi. kaum Mokenlah yang mengarahkan staf Taman Nasional dan para turis naik ke atas jalur di hutan di mana mereka sering mencari makanan untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam sambil menanti sebuah kapal yang lebih besar yang akan membawa mereka ke daratan. Setelah kedua desa mereka tersapu oleh tsunami. Legenda tujuh gelombang. dan dengan cerdas mereka menuangkan bahaya dari bencana tsunami ke dalam sebuah legenda tentang laboon atau gelombang yang besar. tetapi juga karena pengamatan mereka yang tajam. nenek moyang mereka telah mengalami kejadian-kejadian tsunami. dan sudah merasa cukup percaya diri untuk pulang kembali ke Kepulauan Surin. Dalam waktu dua minggu mereka sudah merindukan pulau mereka dan laut. Walaupun membicarakan laboon secara terbuka dilarang karena takut akan mengundang gelombang mematikan tersebut kepada mereka. Legenda ini mengajarkan bahwa laboon biasanya datang sebagai serangkaian gelombang. Seluruh warga masyarakat dengan cepat berlari menaiki bukit-bukit di balik desa mereka. Pada saat yang sama. Foto: Paladej Na Pombejra Kearifan Lokal Kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin telah menjadi sangat terkenal di Thailand maupun di tingkat internasional sebagai kelompok masyarakat yang dapat terluput dari tsunami tanpa kerugian berarti. perasaan yang tajam dan ketrampilan-ketrampilan terkait Kaum Moken adalah sebagai berikut: 1. pemilihan yang cerdas akan di mana mereka akan membangun desa. Masyarakat Moken adalah suatu kelompok yang buta huruf tetapi “sastra lisan” mereka kreatif dan kaya. kaum Moken di Kepulauan Surin pindah ke daratan dan mengungsi di sebuah kuil setempat. sebuah legenda yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. dan mereka semua dapat terselamatkan dari bencana tsunami. Secara rinci. mereka tidak berlama-lama larut dalam kesedihan. kewaspadaan dan sikap kehati-hatian mereka. pengetahuan. dan ketrampilan mereka dalam mengendalikan perahu. Kaum Moken mampu bertahan hidup tidak hanya karena mereka mengenal legenda tentang tujuh gelombang. Gambar 1. semua orang mengetahui bahwa jika air laut di pantai tibatiba surut. Sekali lagi. mereka telah menyelamatkan nyawa banyak turis. pengetahuan mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka.“tujuh gelombang”. mereka harus segera berlari ke daratan yang lebih tinggi untuk 91 . lebih dari 20 warga Moken telah bekerja di Taman Nasional. Karena mereka adalah kelompok warga yang hanya memiliki sedikit harta-benda. tetapi langsung melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka seperti pada hari-hari sebelum tsunami.

tanpa bantuan teknologi modern sama sekali. Hal ini disebabkan oleh banyaknya risiko yang harus mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari – mulai dari risiko-risiko alam seperti badai yang datangnya tiba-tiba. kaum Moken memiliki pengetahuan yang mendalam akan ritme-ritme alam. massa air laut dalam jumlah besar yang tiba-tiba surut dengan cepat merupakan sesuatu yang aneh. kaum Moken mengetahui “ke mana” mereka harus berlari karena mereka sangat mengenal lingkungan dan jalan-jalan di hutan. dan mereka yang sedang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang segera mengarahkan perahu-perahu mereka menjauh dari daratan untuk menghindari hempasan gelombang. para perampok dan bandit. Bagi mereka. terutama berkaitan dengan perubahan-perubahan pada cuaca dan kejadian-kejadian tidak biasa lainnya. 2.5 Tanda peringatan akan bahaya tsunami tertanam di dalam sistem kognitif mereka. Setelah berlari mendaki bukit untuk menyelamatkan diri dari dampak tsunami.6 Oleh karena itu. 3. sampai risiko-risiko yang ditimbulkan oleh manusia yang dapat ditelusur balik kepada sejarah panjang kaum Moken yang telah menjadi korban pelecehan dan eksploitasi oleh pihak-pihak luar – para bajak laut. Hidup sebagai “orang laut” yang hidup di. Pengetahuan ini menjadi sistem peringatan bencana alam yang paling efektif. Kaum Moken memiliki pengamatan yang tajam. Kaum Moken yang tinggal di berbagai pulau di Laut Andaman Thailand memilih lokasi yang tepat bagi desa-desa mereka dengan sangat berhati-hati. 5. dan datangnya ombak putih menunjukkan dengan pasti tanda-tanda datangnya laboon karena hal-hal ini terjadi tanpa adanya perubahan angin atau tanpa adanya tanda perubahan di langit. Kiri: Tanda peringatan tsunami yang dapat dilihat di sepanjang pantai selatan Thailand. Gambar 2. Pengetahuan mendalam akan lingkungan laut. dari dan oleh laut. suatu kemampuan untuk mengenali tanda-tanda alam dan membedakan antara gejala-gejala yang “biasa” dan “tidak biasa”. Pengetahuan akan jalur-jalur jalan di hutan dan cara bertahan hidup di alam bebas.menyelamatkan nyawa mereka. hewan-hewan laut dan hutan yang berbahaya. Pemilihan lokasi desa yang cerdik. sehingga mereka semua mampu menyelamatkan diri walaupun sebagian besar dari mereka sebelumnya belum pernah melihat tsunami. Sebuah kajian perbandingan antara permukiman-permukiman masyarakat asli (antara kaum Moken dan Urak Lawoi) membawa pada kesimpulan bahwa setiap permukiman 5 6 Arunotai (2006): 143 Hinshiranan (1996): 131-133 92 . dsb. segera setelah air laut surut secara tidak wajar pada tanggal 26 Desember 2004. Pengamatan yang tajam dan sikap kehati-hatian. yakni kawasan di bagian timur dari pulau-pulau tersebut. pedagang budak. 4. kaum Moken saling memberitahu satu sama untuk melarikan diri dan mengungsi ke bukit di balik desa. Mereka menerapkan prinsip kehati-hatian dan selalu waspada. Kanan: Tanda peringatan semacam ini dapat “ditanamkan” pada diri kaum muda melalui kearifan lokal.

bentuk desa yang kecil dengan pondok-pondok panjang rumah panggung yang dibangun di atas air telah menjadi sebuah bagian penting dari identitas budaya kaum Moken. Keterampilan mengendalikan perahu dan keterampilan terkait laut lainnya.berada dalam teluk yang terlindungi di bagian timur. dan musim penghujan timur laut yang membawa cuaca yang lebih kering dan angin yang lebih lemah. dan 5) praktik serta peninjauan. kaum lelaki dan perempuan. 2) hafalan atau mengingat-ingat. tanpa bahasa tulis. Arunotai dan Elias (2005). desa. dan pondok-pondok mereka. Dengan membangun permukiman di bagian timur pulau warga akan relatif terlindung dari angin barat daya (dan oleh karenanya juga terlindung dari tsunami dari laut lepas). Lebih lanjut. angin kencang. relatif dapat mempertahankan kebugaran fisik mereka karena pekerjaan mereka biasanya berkaitan dengan tenaga fisik. Di mata para warga Thailand yang menetap dan hidup di daratan serta memiliki rumah permanen. Dalam perairan yang bergolak. Terkait dengan penerusan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya. 4) penemuan-eksplorasi-penemuan kembali. gunung tinggi di balik desa juga memberikan dataran tinggi yang cukup untuk evakuasi. 6. Permukiman tradisional kaum Moken.8 Harus diperhatikan di sini bahwa selamatnya mereka dari tsunami sebagian disebabkan oleh “pengamatan mereka yang tajam” – dari tata letak desa tradisional mereka. musim penghujan barat daya yang membawa hujan. muda dan tua. 3) coba-coba atau pengalaman terapan. Bahkan kaum lanjut usia dan anak-anak mampu berlari dan memanjat ke dataran yang lebih tinggi tanpa banyak kesulitan. Para lelaki Moken memiliki keterampilan yang tinggi dalam mengendalikan perahu karena sejak sangat muda mereka telah terbiasa menggunakan perahu dayung dan mengoperasikan perahu motor yang lebih besar.7 Bagi kaum Moken di Kepulauan Surin. termasuk kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang berhubungan dengan pembangunan pondok. Hal ini disebabkan karena pulau-pulau di Laut Andaman dipengaruhi oleh dua musim penghujan. 7 8 Arunotai dan Elias (2005). gelombang besar dan badai-badai. Selain itu. sebagian besar kaum Moken dapat mengamati laut langsung dari pondok mereka. Baik kaum lelaki maupun kaum perempuan juga menguasai keterampilan-keterampilan lainnya yang berkaitan dengan laut seperti berenang dan menyelam. Dari perspektif pendidikan modern. tidak ada sarana untuk mendokumentasikan atau merubah pengetahuan ke dalam bentuk tekstual sehingga orang dapat membaca atau mengikutinya karena bahasa kaum Moken hanya memiliki bentuk lisan. kehidupan nomaden dan sederhana kaum Moken tampak kuno. semuanya mencerminkan kearifan lokal yang membantu kaum Moken hidup dengan nyaman dan aman di lingkungan pantai. para lelaki ini dapat dengan terampil mengarahkan perahu menjauh dari daratan. 93 . hal ini menimbulkan keterbatasan tertentu karena tidak ada cara untuk merekam pengetahuan dan tidak ada “jalan pintas” lain kepada pengetahuan itu kecuali dengan belajar langsung dari mereka yang mengetahui melalui 1) pengamatan.

Pondok-pondok sebelum tsunami. Kearifan lokal ini secara perlahan-lahan dilupakan dan jarang diteruskan kepada generasi-generasi yang lebih muda. dan belajar serta menghargai pengetahuan yang mendalam akan lingkungan laut dan hutan. sehingga arah perubahan lebih mengarah pada jenis pembangunan yang didefinisikan dan diperkenalkan oleh pihak-pihak luar yang memandang mereka sebagai terbelakang dan miskin. kearifan lokal kaum Moken jarang dikenal atau dihargai. tetapi juga sangat mengenal jalan-jalan setapak di hutan yang mereka gunakan sebagai jalur penyelamatan diri dan tinggal/hidup di alam bebas juga 9 Arunotai (2003): 116–117. Pendidikan formal menekankan pengetahuan “eksplisit”. Mereka tidak hanya mampu mengenali tanda-tanda peringatan. Terkait dengan legenda dan cerita-cerita rakyat. Gambar 3. dengan pintu masuk menghadap ke arah dalam pulau tetapi bagian beranda belakang terbuka ke arah laut. 2. tetapi pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang “tersembunyi” telah terbukti sangat penting bagi keberlangsungan hidup fisik dan budaya kaum Moken. dan sastra lisan tidak lagi memiliki banyak arti bagi mereka.10 Sebagai akibatnya.”12 Ada beberapa implikasi untuk menerapkan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan praktik-praktik terkait. rute melarikan diri dan mencapai tempat penampungan darurat. Sayangnya bentuk-bentuk kearifan lokal ini sekarang hanya terbatas dimiliki oleh orangorang dewasa dan para tetua. 11 Ivanoff (2001): 3. Anak harus mendapat kesempatan untuk belajar dari para tetua di masyarakat. Menghargai dan mempromosikan kearifan lokal melalui pengembangan kurikulum lokal yang sesuai dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Arunotai (2006): 141. Pelajaran yang Dapat Dipetik Pelajaran utama yang dapat dipetik di sini adalah bahwa kearifan lokal kaum Moken yang sebelumnya dianggap sebagai “biasa” atau bahkan “kuno” telah memungkinkan kaum Moken (dan orang-orang lainnya) untuk menyelamatkan diri dari bencana tsunami. Bagi kaum Moken. 1. “Menginternalisasikan” tanda-tanda peringatan dini dan rencana-rencana kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana seperti evakuasi.terbelakang dan tidak ada potensi untuk maju. 12 Arunotai (2006): 148 10 94 . kedatangan laboon telah aktual tercetak di dalam sistem kognitif mereka walau sebelumnya lebih berupa setengah mitos dan setengah kenyataan. untuk menyerap dan mempraktikkan “pengamatan yang tajam” dan “prinsip kehati-hatian”. “Beberapa dari cerita-cerita ini hanyalah versi pendek dari cerita-cerita yang lebih panjang.”11 “Kearifan tradisional kaum Moken tidak dianggap sebagai pengetahuan atau ilmu.9 Ini telah menjadi representasi sosial yang diadopsi oleh kaum Moken sendiri dari masyarakat yang lebih luas.

Komunitas kaum Moken biasanya kecil. Arunotai. Elias. Universitas Chulalongkorn. Arunotai.. The Analysis of Moken Opportunistic Foragers’ Intragroup and Intergroup Relations (Analisis Hubungan Oportunistik Intragrup dan Antargrup Kaum Pengembara Moken). Ivanoff. “Moken –Their changing huts and village” (Kaum Moken – pondok-pondok dan desa mereka yang berubah). pertolongan pertama pada kecelakaan. Rings of Coral (Lingkar-lingkar Terumbu Karang). Elias. “Moken traditional knowledge: an unrecognised form of natural resources management and conservation” (Kearifan tradisional kaum Moken: suatu bentuk manajemen dan konservasi sumber daya alam yang tidak dihargai). Wongbusarakum. 2003. (bahasa Thai). Bridging the gap between the rights and needs of indigenous communities and the management of protected areas: Case Studies from Thailand (Menjembatani kesenjangan antara hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat asli dan pengelolaan kawasan-kawasan yang dilindungi: Studi-studi kasus dari Thailand). 3. Bangkok: White Lotus. harus diupayakan adanya pemetaan kaum lanjut usia. dll. Supin. Narumon. loss of knowledge. sehingga mereka saling mengenal satu sama lain dan mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan khusus. dibutuhkan adanya praktik dan dril-dril teratur untuk berbagai bentuk bencana yang mungkin terjadi di suatu daerah. S. Narumon. memanjat. dan orang-orang lainnya yang membutuhkan bantuan khusus sehingga mereka dapat memperoleh perhatian khusus dalam situasi darurat. N. Daftar Pustaka Arunotai. and the sustainability of cultural and natural resources: a case of Urak Lawoi people in the - - - - - - 95 . selain penyebarluasan bahan-bahan pendidikan tentang bencana alam kepada komunitas dan sekolah-sekolah. N. Bangkok. dan D. The World According to the Moken: Reflection from traditional ecological knowledge on marine environment (Dunia Menurut Kaum Moken: Refleksi dari pengetahuan ekologis tradisional atas lingkungan laut). N. Bangkok: Dewan Budaya Nasional. Untuk masyarakat-masyarakat lain. Fakultas Ilmu Politik. Sebuah makalah tidak diterbitkan yang ditulis untuk Proyek Pilot Andaman. Mempelajari pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang penting untuk menyelamatkan diri seperti berenang. Jurnal Internasional Ilmu Sosial. 2001. Hinshiranan. 187: 139-150. Agar selalu siap siaga seseorang harus memiliki kebugaran fisik yang prima. Thesis Master tidak diterbitkan. 2005. Arunotai. Bangkok: UNESCO Bangkok. Universitas Hawai’i. 1996. Untuk masyarakat-masyarakat lain. 2006. 2003. dan D. “For a Better Understanding of the Moken Knowledge and Myth about Chao Lay Ethnic Groups” in Ethnic Groups and Mystification (Untuk Pemahaman yang Lebih Baik akan Pengetahuan Kaum Moken dan Mitos tentang Kelompok-kelompok Etnis Chao Lay. Jacques.bukan masalah besar bagi mereka. Loss of traditional practices. mereka yang cacat. 2007. dalam Kelompok-kelompok Etnis dan Mistifikasi). Paladej Na Pombejr. Wongbusarakum. Disertasi Doktoral tidak diterbitkan. Departemen Kebudayaan. 2005.

dan keberlanjutan sumber daya budaya serta alam: sebuah kasus dari kaum Urak Lawoi di Kepulauan Adang. 96 . Thailand Barat Daya).iucn. Diundun pada 7 Februari 2008.Adang Archipelago. hilangnya kearifan lokal. Southwest Thailand (Hilangnya praktik-praktik tradisional.org/themes/ceesp/WAMIP/Aichi%20Paper%20submitted%2031%20 Aug%2005.doc. Dari http://www.

Kisah/Peristiwa 97 . Karena di beberapa daerah yang masih belum berkembang pelayanan peramalan cuaca hanya tersedia secara terbatas.091.37 ha lahan untuk pertanian. terbagi dalam sekitar 2. terutama pertanian padi. 4833 ha untuk tempat tinggal dan sisanya untuk keperluan budidaya perikanan air tawar serta keperluankeperluan lainnya. langit cerah Terbang rendah.890. 4239 ha lahan untuk hutan. Provinsi Ninh Thuan. Pada tahun 2005.596 rumah tangga dalam total 6 dusun. langit berawan” (Lirik lagu daerah yang digunakan untuk meramal cuaca) Latar Belakang An Hai merupakan satu dari beberapa komunitas pesisir yang berdiam di sebelah Timur Provinsi Ninh Thuan. metode pengamatan bulan dan pengamatan capung untuk meramalkan perubahan cuaca telah memainkan peranan penting dalam kegiatan-kegiatan pertanian komunitas An Hai. Musim Panas-Musim Gugur dari akhir April sampai awal Agustus dan waktu tanam utama dari bulan September sampai awal Desember. Distrik Ninh Phuoc.057. anggur dan sayur-mayur dengan waktu tanam yang pendek (seperti tomat. hujan Terbang tidak tinggi dan tidak rendah. Vietnam Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasankawasan Rawan Kekeringan di Vietnam Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw Abstrak Daerah pesisir provinsi Ninh Thuan merupakan salah satu kawasan yang paling kering di Vietnam. Sumber air utama dalam musim kering adalah air sungai dan air sumur. “Capung terbang tinggi. wortel. cabe dan kentang) sebagai tanaman utama.98 ha dengan 1. Khususnya. Daerah-daerah yang memiliki irigasi dapat menanam padi sebanyak tiga kali: Musim Dingin-Musim Semi dari awal Desember sampai awal April. Penghidupan utama masyarakat adalah pertanian. Pada musim penghujan masyarakat terutama memanfaatkan air hujan untuk kegiatan bercocok tanam mereka. domba dan kambing. Usaya peternakan juga menjadi salah satu kekuatan dari komunitas An Hai. Total luas geografis kawasan ini adalah 2. jumlah total penduduk An Hai adalah 12. Tingkat curah hujan tahunan biasanya berkisar antara 600 mm sampai 800 mm per tahun dengan distribusi yang tidak merata antar bulan. yang sebagian besar terfokus pada ternak sapi.Komunitas An Hai. penggunaan kearifan tradisional untuk peramalan cuaca sangat berguna untuk kepentingan pertanian tanaman pangan di masyarakat.

Masyarakat selalu mencari cara-cara baru untuk beradaptasi. 98 . lebih panjang dan lebih kering dan sebaliknya hujan yang lebih intensif selama musim-musim penghujan. Pindahnya kaum muda ke kota meningkatkan beban kerja pada mereka yang lebih lanjut usia yang terpaksa tinggal di desa. namun demikian. Petani juga telah mulai beralih dari menanam padi kepada jelai atau tanaman-tanaman pangan jangka panjang lainnya serta menggunakan varietas-varietas yang lebih tahan kekeringan. yang dapat tahan dengan suhu udara tinggi. Kaum perempuan seringkali terpaksa harus mengalah dalam penggunaan air dan memberikannya untuk para suami dan anak-anak mereka. Musim penghujan terutama sangat intensif selama tiga bulan antara bulan September sampai Desember. Mereka telah menemukan cara-cara untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan air limbah. Provinsi ini terlanda kekeringan yang parah pada bulan Agustus tahun 2004 dengan tingkat curah hujan yang turun sampai 50% dari normal.Suhu di daratan Vietnam semakin meningkat dan cuaca menjadi semakin ekstrim dan sulit diramalkan. Ada dua musim di kawasan ini: musim penghujan dari bulan Juli sampai November dan musim panas/kering dari bulan Desember sampai Juni. Meningkatnya kejadian-kejadian kekeringan di Provinsi Ninh Thuan telah menjadi masalah besar baik bagi pemerintah maupun masyarakat setempat. Mereka harus merubah jenis tanaman yang mereka tanam dan jadwal penanaman untuk beradaptasi dengan kondisi-kondisi cuaca dan iklim yang keras. para petani mengalami kekeringan karena hujan sekarang datang dengan sangat intensif dalam waktu yang lebih pendek. Rata-rata suhu udara saat ini 1º C lebih tinggi daripada 100 tahun yang lalu. beberapa anggota keluarga terpaksa bermigrasi ke kota-kota untuk mencari pekerjaan. kecenderungan terbesar adalah menuju musim-musim kering yang lebih panas. Para petani bekerja bersama untuk menanam tanaman pangan dan memelihara ternak kambing dan domba keturunan Sultan dari India. Umumnya jumlah curah hujan di daerah-daerah pesisir sangatlah rendah. Ninh Thuan adalah satu dari antara sembilan provinsi yang paling terpengaruh oleh kekeringan di Vietnam. Sementara tingkat curah hujan tahunan terus-menerus meningkat. Kekeringan terus berlanjut pada tahun 2005 dan 2006 dengan curah hujan yang sangat sedikit pada dua musim tanam pertama. Curah hujan tahunan di kota pesisir Phan Rang – Thap Cham (sangat dekat dengan komunitas An Hai) adalah sebanyak 712 mm. tetapi beberapa lainnya juga ada dampak negatifnya. Beberapa teknik adaptasi ini memang produktif. Provinsi ini telah mengalami kekeringan tahunan sejak tahun 2002. Pada saat-saat yang sangat sulit. Kearifan Lokal Melalui peramalan cuaca didapatkan rekomendasi-rekomendasi berkaitan dengan tanggal-tanggal untuk penanaman dan perubahan varietas tanaman pangan yang harus ditanam agar beras dan tanaman-tanaman pangan lainnya dapat tumbuh dengan baik. Perubahan-perubahan dalam pola curah hujan menjadi kompleks dan bervariasi serta sangat tergantung pada lokasi. Semakin panjangnya hari-hari kering telah menimbulkan kerusakan yang signifikan pada pertanian merubah tingkat salinitas air tanah sehingga merusak budidaya perikanan air tawar.

Cincin/Halo di sekitar bulan. Fitur-fitur spektrum ini sekarang telah diketahui berasal dari unsur Besi yang mengandung ion tinggi (Fe (XIV)) yang menunjukkan adanya suhu plasma yang melebihi 10° Kelvin (Aschwanden. Pada halo ini. sebuah halo yang ada di sekitar bulan atau matahari merupakan penunjuk akan cuaca yang berawan atau akan hujan karena awan-awan cirrus dan cirrostratus yang berada di ketinggian yang menyebabkan adanya halo tersebut cenderung melayang di depan sistem frontal (terutama front-front yang hangat) yang memproduksi curah hujan. akan ada tahun kekeringan.5 mikrometer. Halo terbentuk jika sinar matahari atau sinar bulan direfraksikan atau dibelokkan oleh kristal-kristal es yang ada di awan-awan tipis yang berada di ketinggian. Namun. 2004).1 Seringkali. paling mudah disaksikan ketika terjadi gerhana matahari total.” Bulan Bermahkota Mahkota atau corona adalah sejenis “atmosfir” plasma dari matahari atau benda-benda langit lainnya. Trang tan thi mira” Lebih kurang berarti. beberapa cincin juga dapat memiliki pola-pola warna tertentu. banyak petani menanam tanaman pangan mereka berdasarkan pengamatan atas bulan dan mengamati perilaku serangga-serangga. “Mahkota di sekitar bulan. Bulan Bercincin Bulan bercincin atau ber-halo adalah bulan yang dikelilingi oleh sebuah cincin cahaya yang mengelilingi matahari atau bulan dan biasanya tampak sebagai cincin-cincin putih yang terang benderang.Karena pada jaman dahulu peramalan cuaca belum tersedia. sebuah cincin cahaya 22 derajat dari matahari atau bulan diproyeksikan oleh kristal-kristal es heksagonal (dengan enam sisi) yang berdiameter kurang dari 20. hujan akan segera turun. Jenis halo yang paling umum adalah halo 22 derajat. yang mengakibatkan beberapa orang pada abad ke-19 beranggapan bahwa benda ini mengandung unsur yang sebelumnya tidak dikenal. Peribahasa ini menyatakan: “Trang quang thi han. Akar kata bahasa Latin dari kata corona berarti mahkota. Peribahasa ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat. “Coronium”. yang menjangkau jutaan kilometer di angkasa. tetapi juga dapat diamati dengan coronagraf. 1 NASA (2003) 99 . Pengamatan atas Bulan Komunitas An Hai memiliki sebuah peribahasa kuno yang telah digunakan dalam observasi cuaca untuk meramalkan kekeringan dan jadwal penanaman. Tingginya temperatur corona memberinya fitur-fitur spektrum yang tidak biasa. seperti awan cirrus atau cirrostratus. Halo merupakan suatu gejala optikal yang konsepnya lebih kurang mirip dengan pelangi tetapi sekaligus juga sangat berbeda.

hari akan segera hujan.com/forum/f_533/862476. Bulan Bercincin Sumber: http://www8. langit cerah. peramalan cuaca tradisional berdasarkan pengamatan bulan dan serangga memainkan peranan yang penting bagi kegiatan-kegiatan pertanian. Berdasarkan hal tersebut. serta menyusun jadwal penanaman mereka dengan semestinya. Terbang rendah. Karena kearifan lokal ini sangat berguna di kawasan-kawasan yang tidak memiliki akses terhadap metode-metode meteorologis untuk meramal cuaca. benih dan waktu untuk menabur serta menanam. Dengan menggunakan metode pengamatan capung para petani dapat memutuskan waktu untuk menabur dan menanam. Bulan Bermahkota Sumber: http://www8. Pengetahuan akan musim hujan dan peramalan akan tahun-tahun kemarau yang tepat akan membantu para petani untuk memilih jenis tanaman pangan. Lirik bahasa Vietnam dari lagu rakyat tersebut adalah sebagai berikut: “Chuon Chuon bay thap thi mira. Terbang tidak tinggi dan tidak rendah. Ini semua didasarkan pada pengalaman praktis yang telah digunakan selama kurun waktu yang sangat panjang. Gambar 1. langit berawan” Para petani menjelaskan bahwa jika capung-capung terbang pada jarak kurang dari 80 cm dari tanah.com/forum/f_533/862476. Mereka mengamati perilaku capung untuk mengetahui kapan akan hujan dan kapan akan ada sinar matahari.ttvn Gambar 3.Pengamatan Capung Komunitas An Hai juga menggunakan sebuah lagu rakyat lain untuk meramalkan cuaca. Masalah utama pada komunitas An Hai adalah kurangnya air bersih untuk budidaya pertanian.scientificillustrator. Kearifan lokal ini telah diteruskan selama ribuan tahun oleh masyarakat dari satu generasi ke generasi lainnya. strategi-strategi ini dapat dan harus disebarluaskan kepada 100 . Seekor Capung Sumber: http://www. Bay cao thi nang.ttvnol. para petani kemudian mempersiapkan tanah dan bibit-bibit tanaman pangan mereka.ttvn Gambar 2. Di beberapa daerah yang penduduknya tidak memiliki akses terhadap teknologi tinggi.com/illustration/insect Pelajaran yang Dapat Dipetik Pengamatan serangga dan gejala-gejala di atmosfir seperti halo telah digunakan sebagai suatu sarana empirik untuk peramalan cuaca sebelum ilmu meteorologi berkembang. hujan.ttvnol. Bay vira thi ram” Artinya kira-kira: “Capung terbang tinggi.

Dapat diakses di: http://www. Prabhakar SVRK. Adaptasi terhadap Kekeringan: Sebuah Studi Kasus atas Provinsi Ninh Thuan. Rajib Shaw. Praxis Publishing Ltd. Prabhakar SVRK. Trang tan thi mua” http://www8. Vietnam. Fisika Mahkota Matahari.uk/resources/policy/climate_change/downloads/ninh_thaun_re search. Nguyen Ngoc. ISBN 3-540-22321-5. An Introduction).com/forum/f_533/862476. Huy. Penjelasan atas peribahasa “Trang quang thi han.ttvnol.masyarakat-masyarakat lain yang masih tinggal di daerah-daerah yang belum begitu berkembang. Hue city.org. Provash Mondal. Huy Nguyen. Daftar Pustaka Aschwanden. 2007. Simposium Internasional tentang Mitigasi dan Adaptasi terhadap Bencana-bencana Alam yang Ditimbulkan oleh Perubahan Iklim 20–21 September 2007. Vietnam Shaw.oxfam.ttvn - - 101 .pdf Forum Online Sejarah dan Budaya Vietnam. J. 2004. 2007. Pertimbanganpertimbangan Manajemen Kekeringan untuk Adaptasi Perubahan Iklim: Fokus pada Kawasan Mekong. M. Rajib. Rovash Mondal. Sebuah Pengantar (Physics of the Solar Corona..

ecs. Program Manajemen Risiko Bencana Irene. UNESCO Jakarta. New Delhi. Kantor Deputi Komisioner. Assam Irene Stephen. UNDP India.ac. Universitas Kyoto y. Penasihat Teknis untuk Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup k. Pejabat.jp Rajib Shaw.stephen@undp. Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api Koen Meyers.meyers@unesco.kyoto-u. Goalpara. India Indonesia: Legenda. Blok Pembangunan Matia.kyoto-u.Untuk informasi lebih lanjut tentang praktik-praktik yang baik yang disajikan dalam publikasi ini.org Jepang: Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang Yukiko Takeuchi.com India: Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India Anshu Sharma. SEEDS India. National Institute of Disaster Management Departemen Dalam Negeri. Universitas Kyoto shaw@global.mbox. Kementerian Alam dan Lingkungan Hidup Mongolia. Pejabat Pengembangan Pertanian.takeuchi@fw7. Assistant Professor.com Debashish Nath.uk Nepal: Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli 102 . Bagian Pembangunan Berkelanjutan dan Perencanaan Strategis bolorbor@yahoo.org India: Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. Goalpara. Bidang Penanggulangan Bencana.org Rajiv Dutta Chowdhury.ac. India alikhanamir@gmail.cn India: Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir Amir Ali Khan. Assam. Direktur: Strategi anshu@seedsindia. Pemerintah India.jp Mongolia: Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver Bolormaa Borkhuu.co. Assam. India rdchowdhury@gmail.media. silahkan menghubungi langsung para penyumbang tulisan di bawah ini: Cina: Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina Weihua Fang fang@ires.

Universitas Macquarie University.kyoto-u. Departemen Geografi Manusia.com Filipina: Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi Mayon Gerardine Cerdena.com Filipina: Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan Lorna P.ecs. Pusat Kesiapsiagaan Bencana (Center for Disaster Preparedness) Oyvictoria@yahoo. Poughkeepsie.mbox. Papua Nugini Jessica Mercer. Victoria.pk Papua Nugini: Hidup bersama Banjir di Singas. Divisi Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup dan Kehidupan.org Pakistan: Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. Yayasan Dios Mabalos Po Filipina: Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batanes.com 103 .M. New York brmcadoo@vassar. Profesor Emeritus. Christian World Service Pakistan takeshi@cwspa.b. New South Wales. Sydney.jp Rajib Shaw.uy@ky7. Sri Lanka madduband@yahoo. Universitas Kyoto shaw@global.kyoto-u.Man B.ac. Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu (International Centre for Integrated Mountain Development/ICIMOD) jdekens@icimod.thapa@undp.jp Kepulauan Solomon: Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007 Brian G. Pakistan Takeshi Komino. Filipina Noralene Uy. UNDP Nepal. Madduma Bandara.edu Sri Lanka: Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka C. Universitas Peradeniya.org Nepal/Pakistan: Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan Julie Dekens. Universitas Kyoto noralene. McAdoo.media. Provinsi Perbatasan Barat Laut. Vassar College.org. Australia Jessica-mercer@hotmail. Thapa. Program Penanggulangan Bencana Partisipatif man.ac.

th Vietnam: Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam Nguyen Ngoc Huy.ecs.org/africa Sekretariat Amerika. Kyoto 606-8501.unisdr.eu/euro peaid/index_en.jp Sekretariat Asia dan Pasifik.org Sekretariat Eropa.unisdr-wana. Nairobi isdr-africa@unep.org www.eird. Universitas Chulalongkorn.org www.ac.unisdr.ac.org www. Panama eird@eird.ges.ky otou.UN Conference Centre Building Rajdamnern Nok Avenue Bangkok 10200 Thailand Tel: +66 (0)2 288 2745 isdr-bkk@un.media.org Sekretariat Jenewa isdr@un.europa. Universitas Kyoto shaw@global.org Sekretariat Afrika. Jenewa albrito@un.unisdr. Thailand hnarumon@chula. UNIVERSITAS KYOTO Yoshida Honmachi.org www. Sakyo-ku.ac.kyoto-u.Thailand: Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken.mbox.org www.nguyen@ky7.org/europe Sekretariat Asia Barat dan Afrika Utara.org Laboratorium Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana. Cairo info@unisdr-wana. Bangkok c/o UNESCAP . Thailand Tel: +66 2305 2600/2700 Fax: + 66 2255 9113 website: http://ec.ac.iedm. JAPAN Tel/ Fax: 81-75-7535708 (Langsung) Web: http://www.htm 104 .jp/ Uni Eropa Delegasi Komisi Eropa Bangkok.jp Rajib Shaw.kyoto-u. Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand Narumon Arunotai. Jurusan Pasca Sarjana Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup. Universitas Kyoto huy.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful