Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana (International Strategy for Disaster Reduction/ISDR

)

Universitas Kyoto

Uni Eropa

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalamanpengalaman di Kawasan Asia-Pasifik

2008

1

“Uni Eropa adalah organisasi yang beranggotakan 27 Negara Anggota yang telah memutuskan untuk secara bertahap menggabungkan pengetahuan, sumber daya dan tujuan-tujuan bersama mereka. Dalam perkembangan organisasi selama 50 tahun, secara bersama negara-negara ini telah membangun sebuah kawasan yang stabil, demokratis dan menerapkan pembangunan berkelanjutan, sambil tetap mempertahankan keberagaman budaya, toleransi dan kebebasan individu. Uni Eropa berkomitmen untuk membagikan pencapaian-pencapaian dan nilai-nilai yang dianutnya kepada negara-negara dan bangsa-bangsa yang berada di luar batas-batas wilayahnya.” Catatan “Publikasi ini diterbitkan dengan dukungan Uni Eropa. Isi publikasi ini menjadi tanggung jawab sepenuhnya sekretariat UN/ISDR dan bagaimana pun juga tidak dapat dianggap sebagai mencerminkan pandangan-pandangan Uni Eropa.”

Tim Editor: Rajib Shaw, Noralene Uy, dan Jennifer Baumwoll Desain Grafis oleh Mario Barrantes Foto pada halaman sampul memperlihatkan sebuah Dhani, suatu tempat kediaman tradisional keluarga di distrik Barmer di Rajasthan, India. Kualitas bangunan Dhani telah ditingkatkan dengan menggunakan teknologi modern yang disebut teknologi bata press saling terikat (Stabilized Compressed Interlocking Block technology/SCEB). Untuk informasi lebih lanjut, lihat “Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Permukiman yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India” dalam publikasi ini. (Sumber Foto Halaman Sampul: SEEDS) Silahkan mengirimkan umpan balik dan saran-saran anda (termasuk studi-studi kasus lebih lanjut yang dapat kami pertimbangkan) kepada: Christel Rose Regional Program Officer UN ISDR Asia dan Pacific rosec@un.org www.unisdr.org Catatan: Informasi dan pandangan-pandangan yang terdapat dalam publikasi ini tidak dengan sendirinya mencerminkan kebijakan-kebijakan sekretariat UN/ISDR

2

Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalamanpengalaman di Kawasan Asia-Pasifik Bangkok, Juli 2008

Foto oleh Steve Evans, Thailand, Suku-suku Perbukitan

3

“Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana: Praktik-praktik yang Baik dan Pelajaran yang Dapat Dipetik dari Pengalaman-pengalaman di Kawasan AsiaPasifik” bertujuan untuk membangun kesadaran akan pentingnya kearifan lokal sebagai suatu alat yang efektif untuk mengurangi risiko bencana alam. dan menggarisbawahi penggunaan “kearifan lokal. Dengan meningkatkan pemahaman akan kearifan lokal dan menyajikan contoh-contoh nyata bagaimana memanfaatkannya. Salah satu kegiatan utama yang teridentifikasi di bawah prioritas aksi ini berfokus pada pentingnya pengelolaan dan pertukaran informasi. yang menitikberatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan. bertindak dan merespons bencana alam dengan menggunakan cara-cara tradisional yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Perserikatan Bangsa-Bangsa beranggapan bahwa kearifan lokal merupakan sesuatu yang penting dan memasukkannya dalam Prioritas ketiga dari Kerangka Aksi Hyogo.Sambutan Penelitian-penelitian dalam bidang pembangunan memperlihatkan bahwa keberhasilan dan keberlanjutan upaya pembangunan di tingkat masyarakat tergantung pada sejumlah faktor. antara lain. mengakui dan menghormati kearifan lokal sebagai salah satu sumber informasi yang sangat berharga dan kontributor utama bagi upaya pengurangan risiko di banyak tempat di seluruh dunia. Untuk mencapai tujuan ini. atau prosedur-prosedur operasional standar dalam tanggap darurat. pengetahuan dan praktik-praktik asli masyarakat setempat yang dapat diselaraskan dengan gagasan-gagasan baru untuk menciptakan inovasi. Partisipasi dan integrasi upaya masyarakat dalam semua proses kebencanaan merupakan salah satu sarana penting untuk mewujudkan Kerangka Aksi Hyogo dan ini menggarisbawahi pentingnya kearifan lokal dalam membantu mengarusutamakan kebijakan-kebijakan dan praktik-praktik pengurangan risiko bencana. Kamboja 4 . tetapi lebih-lebih pada keberlanjutan upaya tersebut dalam jangka panjangnya. banyak masyarakat tradisional di seluruh dunia telah mempersiapkan diri. kita semua perlu memahami. saya berharap publikasi ini dapat memberi inspirasi bagi para praktisi dan pengambil kebijakan untuk mempertimbangkan pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat-masyarakat lokal dan memadukan kekayaan pengetahuan ini ke dalam kerjakerja kebencanaan di masa yang akan datang. melakukan upaya. pada adanya budaya. Bahkan sebelum kita mengenal sistem-sistem peringatan dini berbasis teknologi tinggi. pengetahuan tradisional dan warisan budaya yang relevan” yang dapat dibagikan dan diadaptasi oleh masyarakat di tempat lain. Publikasi ini. Jerry Velasquez Senior Regional Coordinator UN/ISDR Asia Pacific Foto oleh Maureen Keogh. Kearifan lokal tidak hanya berkontribusi pada keberhasilan upaya pembangunan.

Jenis-jenis bencana yang dihadapi termasuk gempa bumi. dan saya berharap para pembaca akan memperoleh pemahaman tentang bagaimana cara menghargai kearifan lokal dan mempraktikkannya untuk mengurangi risiko dari berbagai jenis bencana. dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu. informasi latar belakang untuk memberi arah kepada pembaca tentang aspek demografis dan lokasi dari masyarakat yang diulas. tanah longsor. susunan urutan cerita yang seragam akan memudahkan kasus-kasus dianalisis dan didiskusikan sebagai suatu kelompok. tentu saja dengan penyesuaian dengan budaya lokal setempat. dengan membandingkan dan mengkontraskan unsur-unsurnya yang berbeda. Oleh karena itu. Walau setiap kasus bersifat spesifik. hubungannya dengan keterampilan dan bahan-bahan lokal. Saya ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua penyumbang tulisan. penyebarluasan praktik-praktik kearifan lokal tertentu seringkali menjadi sebuah tantangan. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan secara spesifik dengan budaya tertentu.Kata Pengantar Publikasi ini menyajikan 18 praktik kearifan lokal yang selama ini berkembang di masyarakat-masyarakat yang tinggal di kawasan Asia-Pasifik. erosi tanggul sungai. penjelasan tentang kisah atau peristiwa spesifik di mana masyarakat bersangkutan berhasil memanfaatkan dengan baik pengetahuan yang dimilikinya. dan kemungkinan untuk menerapkan praktik-praktik tersebut pada masyarakat lain yang menghadapi situasi serupa. Setiap kasus yang dimuat dalam publikasi ini disajikan dalam format umum yang sama. Kasus-kasus yang ditampilkan dipilih berdasarkan kriteria-kriteria berikut: asal-usul pengetahuan yang bersangkutan. Bagian itu akan menjadi fokus kita di masa yang akan datang. yaitu sebuah abstrak singkat. Penerapan kearifan lokal merupakan sebuah proses dan membutuhkan keterlibatan para pemangku kepentingan yang lebih luas serta dukungan kebijakan. penggambaran tentang kearifan lokal yang dimiliki masyarakat. Rajib Shaw Universitas Kyoto Foto oleh Sean Hawkey. dan akhirnya ulasan tentang pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kasus spesifik yang diuraikan. angin siklon (topan). tsunami dan zud (kondisi iklim yang ekstrim). Publikasi ini menekankan bahwa prinsip-prinsip kearifan lokal dapat diterapkan di tempat-tempat lain. kekeringan. keberhasilannya dalam tetap bertahan atau mengatasi bencana selama ini. Bangladesh 5 . tingkat adaptasi relatifnya selama ini.

Masyarakat Simeulue yang tinggal di lepas pantai Sumatra. tetapi masih ada banyak contoh yang belum banyak diketahui umum dari masyarakat-masyarakat yang juga telah memanfaatkan kearifan lokal mereka untuk menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian bencana dan menghadapi kondisi-kondisi lingkungan hidup yang sulit. Pada tahun-tahun belakangan ini semakin banyak orang tertarik untuk mempelajari hubungan antara kearifan lokal dan bencana alam. yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secara turun-temurun. Pengetahuan semacam ini mempunyai beberapa karakteristik penting yang membedakannya dari jenisjenis pengetahuan yang lain.Pendahuluan Setelah Tsunami Samudera Hindia tahun 2004. yang telah terbukti sangat berharga dalam menghadapi bencana-bencana alam. Terakhir. ada empat argumen dasar yang mendukung pentingnya kearifan lokal. dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi. ada dua kisah sukses yang muncul. dapat ditransfer dan diadaptasi oleh komunitas-komunitas lain yang menghadapi situasi serupa. Penerapan kearifan lokal oleh masyarakat-masyarakat ini dalam mengurangi risiko. Indonesia dan kaum Moken. pemaduan kearifan lokal ke dalam praktik-praktik dan kebijakankebijakan yang ada akan mendorong partisipasi masyarakat yang terkena bencana dan memberdayakan para anggota masyarakat untuk mengambil peran utama dalam semua kegiatan pengurangan risiko bencana. yang membangkitkan minat baru pada konsep kearifan lokal. berbagai praktik dan strategi spesifik masyarakat asli yang terkandung di dalam kearifan lokal. dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan. Ketiga. Diskusi-diskusi terkini dalam hal ini berfokus pada potensi kearifan lokal dalam meningkatkan kebijakan-kebijakan pengurangan risiko bencana melalui integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan kebencanaan dan sistem peringatan dini. Kedua kasus tersebut dalam beberapa tahun belakangan ini menjadi kasus yang paling sering disebut. yang hidup di Kepulauan Surin di lepas pantai Thailand dan Myanmar sama-sama memanfaatkan pengetahuan mereka yang diturunkan secara lisan dari nenek moyang mereka untuk menyelamatkan diri dari tsunami yang menghancurkan. Kedua. disebarluaskan secara non-formal. Dalam khasanah pustaka pengurangan risiko bencana. informasi yang terkandung di dalam kearifan lokal dapat membantu meningkatkan pelaksanaan proyek dengan memberikan informasi yang berharga tentang konteks setempat. Kearifan lokal berasal dari dalam masyarakat sendiri. Pertama. Kearifan lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat. menghadapi dan menyelamatkan diri dari bencana-bencana alam yang terjadi belakangan ini telah memberikan banyak pelajaran berharga bagi para praktisi dan pengambil kebijakan akan pentingnya kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat. Walaupun publikasi ini lebih berfokus pada upaya mengumpulkan strategi-strategi dan mekanisme-mekanisme spesifik masyarakat tertentu yang dapat ditransfer dan diadaptasi oleh masyarakat-masyarakat 6 . cara penyebarluasan kearifan lokal yang bersifat non-formal memberi sebuah contoh yang baik untuk upaya pendidikan lain dalam hal pengurangan risiko bencana. serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup.

koleksi ini diharapkan juga akan mendorong adanya analisis lebih lanjut akan pentingnya kearifan lokal. pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari kisah-kisah ini menekankan keseluruhan empat bidang ini. Walaupun demikian. Banyak pengetahuan yang mereka miliki seringkali dianggap oleh pihak luar sebagai inferior dan diabaikan karena dianggap sebagai milik orang-orang yang “terbelakang” dan “kurang terdidik”. Akhirnya.lain. yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan kebijakan serta pengembangan kurikulum. Banyak pelajaran yang dapat kita ambil dari masyarakatmasyarakat ini. Jennifer Baumwoll Ko-editor 7 . yang diharapkan dapat menjadi sebuah forum untuk saling berbagi pengetahuan sehingga pengalaman-pengalaman dan strategi-strategi dari berbagai masyarakat yang ada di kawasan ini dapat dikomunikasikan kepada para pemangku kepentingan pengurangan risiko bencana utama. Banyak dari masyarakat yang menjadi subjek diskusi dalam publikasi ini hanya mendapat sedikit perhatian dalam mekanisme perencanaan penanggulangan bencana pada umumnya dan mereka telah memanfaatkan pengetahuan mereka untuk menolong diri mereka sendiri dalam menghadapi masa-masa sulit. publikasi ini diharapkan dapat mendorong juga kawasan-kawasan lain untuk mulai mengumpulkan kasus-kasus dari negara-negara di dalam wilayah mereka dan berkontribusi pada upaya untuk menjajaki manfaat global dari kearifan lokal bagi pengurangan risiko bencana. Selain itu. Publikasi ini adalah langkah pertama. Semua masyarakat ini pada umumnya memiliki kemampuan untuk bergantung pada diri mereka sendiri dalam situasi bencana dan mempunyai pemahaman akan ancaman-ancaman setempat serta bagaimana mengurangi risiko-risiko ini. Publikasi ini disusun untuk menggugah kesadaran akan nilai berharga dari kearifan lokal dalam mengurangi risiko yang ditimbulkan oleh bermacam jenis ancaman dalam berbagai lingkungan dan lingkup budaya berbeda yang terdapat di kawasan Asia dan Pasifik. Upaya penerbitan ini merupakan bagian dari sebuah prakarsa lebih besar di kawasan ini untuk menganalisis pentingnya kearifan lokal dan mengembangkan cara untuk memadukan lebih lanjut pengetahuan ini ke dalam kebijakan dan praktik pengurangan risiko bencana. banyak dari masyarakat ini telah mengembangkan pelajaran-pelajaran dan strategi-strategi yang jitu untuk menghadapi bencana-bencana yang berulang kali terjadi serta berhasil menyelamatkan diri dari kejadian-kejadian ekstrim yang bahkan peralatan berteknologi tinggi pun tidak dapat membantu.

. . . . . . . . . . . . . Assam. . . . . . . . . . . . . . . . . . Jessica Mercer dan Ilan Kelman Filipina Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan . . . . . . . . . . . . . . . Bhupendra Gauchan dan Kiran Amatya Nepal/Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan. . . . . . . . . . . . . . . . . Man B. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii Kata Pengantar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Jingning Cai dan Peijun Shi India Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Victoria Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava 1 5 9 14 17 23 27 30 35 41 46 52 8 . . . . . . . . . . . . . . . vii Cina Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina. . . . Anshu Sharma dan Mihir Joshi India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Yukiko Takeuchi dan Rajib Shaw Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver. . .Daftar Isi Sambutan. Takeshi Komino Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas. . . . . . . . . . . . . . Thapa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Irene Stephen. . . . . . . . .. . . . . . . Lorna P. . . . . . . . . . . . . . . . Koen Meyers dan Puteri Watson Jepang Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Pakistan . Bolormaa Borkhuu Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath Indonesia Legenda. . . . . . . . . Amir Ali Khan India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Youba Raj Luintel. . . . . v Pendahuluan . . Papua Nugini. . . Fei He. . . . . . . . Julie Dekens Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. . . . . . . . Provinsi Perbatasan Barat Laut. . . . . . . . . . . . . . . . . Weihua Fang. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api. . .

. . . . . . . . . . Filipina . . . . . . . . .M. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Madduma Bandara Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. . . . . . . . . McAdoo. . . . . . . . Narumon Arunotai Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam . Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand . . . Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka. . . Noralene Uy dan Rajib Shaw Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007. C. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . Gerardine Cerdena Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batanes. . . . . . . . . . . . . . . . . . Brian G. . . . . . . . . . . . . .Filipina Kepulauan Solomon Sri Lanka Thailand Vietnam Gunung Berapi Mayon . . . . . . . Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw 55 59 64 68 73 79 9 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .

Sistem Karez telah memiliki sejarah yang panjang di daerah Xinjiang di Cina. dan muskmelon Hami. Kawasan ini dikelilingi oleh beberapa daerah pegunungan tinggi (3500-5000 m) yang diselimuti gletser atau salju permanen. kondisi geologis distrik Turpan cocok untuk konstruksi saluran air bawah tanah dengan hanya sedikit penguatan untuk mengumpulkan sumber air yang cukup memadai.7° C pada musim panas. Kisah/Peristiwa Dalam semua musim Turpan sangatlah kering dan sangat panas terutama selama musim semi. Bentang tanah pegunungan di sekitar lembah Turpan terutama terbentuk oleh pergerakan hercynian pada akhir masa Paleozoic. Sebagai sebuah sistem yang menyeluruh. Bentang tanah tersebut bersifat keras dan terpatah-patah dan oleh karenanya mudah terbentuk celah-celah yang menampung air. sehingga danau ini menjadi danau yang terendah di Cina. Latar Belakang Cekungan (depresi) Turpan. saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil. berkapur (cretaceous) serta periode jaman Tersier.1 Kawasan Turpan berada di pedalaman daratan dan memiliki tingkat curah hujan 1 Ji ZHAO (2001). Jingning Cai dan Peijun Shi Abstrak Karez adalah sebuah sistem pengairan tradisional yang mampu memanfaatkan air bawah tanah dengan efisien. Kawasan Turpan terkenal akan berbagai jenis buah-buahan yang dihasilkannya seperti anggur. saluran-saluran air bawah tanah. Turpan. semangka. terdapat di lembah Turpan yang merupakan lembah terendah kedua di dunia. Oleh karena itu. Ketinggian minimum Danau Aiding.Turpan. yang memiliki ketinggian 32. 10 . Saat ini. adalah sekitar -155 m. sistem Karez masih dipergunakan untuk mensuplai sumber-sumber air untuk irigasi dan kebutuhan rumah tangga. yang mencapai 2800-3000 mm. Karez tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal. Tingginya suhu udara dan kuatnya radiasi sinar matahari di daerah tersebut menyebabkan tingkat penguapan tahunan yang tinggi. Batu-batuan terpapar dari Pegunungan Flaming terutama terdiri dari konglomerat berpasir dan batu-batu lumpur dari masa Jurassic. Cina Barat Laut Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina Weihua Fang. Berkat adanya sistem Karez. Di daerah Turpan yang merupakan bagian dari Xinjiang. teknologi modern telah pula dipadukan dengan sistem Karez yang tradisional untuk semakin meningkatkan daya guna dari praktik tradisional yang menguntungkan tersebut. menjadi terkenal akan berbagai jenis produk pertaniannya. yang berada di bagian selatan lembah ini. sebuah lembah yang terdapat di kawasan kering di Cina bagian Barat Laut. Fei He. Pada lapisan penampung air bawah tanah yang dekat permukaan terdapat air berlimpah. Xinjiang.8 m. musim panas dan musim gugur. Suhu udara tertinggi yang tercatat adalah 47.

30-40 2 ZHONG dan CHU (1993). dan mencapai daerah-daerah pertanian datar di sekitar kaki gunung. Struktur sebuah sistem Karez bisa kompleks. Total aliran dari sistem-sistem Karez di lembah Turpan adalah 10 meter kubik per detik yang merupakan sekitar 20% dari keseluruhan air dalam saluran-saluran di lembah itu. curah hujan (air atau salju) yang jatuh di lereng-lereng gunung akan menguap atau merembes ke bawah pasir dan tanah sebelum akhirnya bersatu dan membentuk aliran-aliran air kecil. yang menggunakan air tanah dengan sangat efisien. tetapi struktur dasarnya pada hakikatnya tersusun dari empat komponen utama: sumur-sumur vertikal. www. Fungsi utama dari sumur-sumur vertikal adalah untuk ventilasi. dan 10-30 meter di bagian bawah. Jadi. Rata-rata kedalaman saluran air bawah tanah adalah 20 meter. Hampir tidak mungkin menggali saluran air di bawah tanah sepanjang ini tanpa lebih dulu menggali sumur vertikal. Di bawah lingkungan yang keras ini hanya sedikit tumbuhan maupun hewan yang dapat bertahan hidup. tanah tersebut dibangun pada kipas atau dataran alluvial.karez. penetapan arah yang benar dari saluran air dalam pembangunannya dan untuk mengawasi serta memperbaiki saluran-saluran air setelah dibangun. Kedalaman sumur berkisar antara 40-70 meter. sumur vertikal terutama digunakan untuk membantu dalam menggali saluran-saluran di bawah tanah. Jika tanah pertanian berlokasi di daerah pegunungan. Kearifan Lokal Karez merupakan suatu sistem irigasi tradisional yang telah memiliki sejarah panjang di kawasan Xinjiang di Cina.2 Saat ini fasilitas-fasilitas modern seperti sumur-sumur elektromekanis mulai dipadukan dengan sistem Karez.000 kilometer. Sebagian besar sistem Karez yang ada sekarang pada umumnya dibangun antara abad ke-17 dan ke-20. Air permukaan tanah sangat sulit didapatkan di hampir seluruh kawasan tersebut.org 11 . saluran-saluran air bawah tanah. 30-60 meter di bagian tengah. distrik Shanshan dan Toksun di lembah Turpan. sementara yang paling dalam mencapai 90 meter. Sumur Vertikal Panjang saluran bawah tanah bervariasi antara sekitar 3 km sampai 30 km.tahunan yang hanya sekitar 16-17 mm. terutama pada jaman-jaman pertanian di masa yang lalu ketika peralatan modern belum dikenal. di distrik Hami dan Turpan. saluran air di atas permukaan tanah dan tempat-tempat penampungan air kecil (Gambar 1). Sistem-sistem Karez yang saat ini masih berfungsi tersebar di daerah-daerah kering lereng selatan dari Pegunungan Tianshan di Xinjiang timur. 100 meter di bagian atas. Karena kuatnya penguapan yang terjadi atau proses evapotranspirasi.016 sistem Karez yang 686 dari antaranya masih operasional. Jarak antara sumur-sumur vertikal biasanya sekitar 60-100 meter di bagian atas. Di distrik Turpan ada 1. Dalam pembuatan sumur digunakan bantuan tenaga hewan untuk mengeluarkan pasir dan tanah dari dalam lubang galian. Total panjangnya mencapai sekitar 3.

saluran air bawah tanah biasanya diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. Agar tidak mudah runtuh. tetapi juga untuk menimba air dari saluran-saluran tersebut setelah keseluruhan sistem Karez selesai dibangun. penting untuk menjamin agar sumber daya air yang tersedia di sepanjang saluran air bawah tanah cukup memadai. pada saluran-saluran yang lebih dekat ke permukaan. Selain itu.meter di tengah. Namun. Biasanya lapisan tanah dalam di sekitar saluran bawah tanah sangat kuat dan tidak mudah runtuh. Pembangunan tempat-tempat penampungan air ini meningkatkan tinggi permukaan air sehingga dapat mengairi lahan pertanian yang lebih luas. Gambar 2 menyajikan foto udara dari sumur-sumur vertikal. Gambar 1. Sumur-sumur vertikal dimanfaatkan tidak hanya untuk membantu proses penggalian saluran-saluran air di bawah tanah. Biasanya saluran permukaan lebih pendek untuk membatasi penguapan. Air yang lebih hangat lebih sesuai untuk keperluan irigasi. Saluran air di bawah permukaan tanah pada umumnya merupakan bagian dari sebuah jaringan yang memungkinkan terkumpulnya air bawah tanah (seperti ditunjukkan pada Gambar 3a). Lampu minyak besi yang dilengkapi dengan sebuah panah untuk orientasi arah digunakan untuk menggali saluransaluran di dalam tanah. Bermacam-macam peralatan sederhana digunakan untuk membangun sistem Karez. dan 3-15 meter di bagian bawah. Saluran-saluran Air Bawah Tanah dan Permukaan Tanah Dari kedua jenis saluran air. Saat ini di kota Hami di Cina digunakan juga sebuah kaca yang dapat memantulkan sinar matahari. Dalam membangun berbagai komponen berbeda dari sistem Karez. palu untuk memalu. kedua sisi digali untuk saluran air bawah tanah. tanah di sekitarnya lebih longgar. mayoritas adalah saluran bawah tanah. Alatalat tersebut antara lain pacul untuk menggali. keranjang. Komponen-komponen tipikal sistem Karez Tempat Penampungan Air Air dikumpulkan di dalam tempat-tempat penampungan air kecil yang dapat disesuaikan tingkat ketinggian dan suhu airnya. air yang disimpan di dalam tempat-tempat penampungan ini memperoleh cahaya matahari sehingga suhunya meningkat. Pacul dan palu digunakan untuk menggali terowongan-terowongan di bawah tanah. saluran tersebut menjadi saluran permukaan dan dihubungkan dengan sebuah tempat penampungan air kecil atau langsung dihubungkan dengan sistem saluran pengairan untuk irigasi (Gambar 3b). Pada bagian bawah sumur. Langkah pertama yang penting adalah menemukan sumber-sumber air di bagian atas dan mengetahui kedalaman air sesuai dengan lokasi lahan pertanian. Lampu tersebut juga dapat dengan mudah ditancapkan pada dinding-dinding saluran. roda pengerek dan lampu minyak (seperti diperlihatkan pada Gambar 4). Jika saluran air bawah tanah mencapai tanah pertanian. 12 . Keranjang dan roda pengerek digunakan untuk mengeluarkan tanah dan pasir. karena rendahnya suhu air yang disebabkan oleh cairnya salju atau air yang berasal dari kedalaman dapat menimbulkan dampak merugikan bagi tanaman pangan.

Kualitas air yang dihasilkan memenuhi syarat untuk dipergunakan sebagai air minum dan untuk keperluan rumah tangga. (c) keranjang dan (d) sebuah katrol modern digunakan dalam membangun sistem Karez. 2. 3. Kearifan lokal ini memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut: 1. Seperti dapat kita lihat. sumur-sumur dan saluran-saluran air dapat mulai dibangun secara bertahap mulai dari bagian bawah sampai ke bagian atas mengikuti sumber air. Cina.org. Karena sistem Karez memanfaatkan topografi lahan untuk mengalihkan aliran air dalam tanah di bawah permukaan melalui saluran air bawah tanah ke permukaan tanah untuk irigasi dengan memanfaatkan gravitasi bumi. walau adanya perubahan-perubahan lingkungan hidup yang terus terjadi dari masa ke masa. Semua ini menyebabkan sistem Karez mampu menyediakan sumber-sumber air yang stabil.net. walaupun jumlah keseluruhan volume air yang dihasilkan tidak terlalu besar.karez. Foto udara sumur-sumur vertikal di kawasan Turpan. saluran-saluran air bawah tanah meminimalkan polusi air dan pada saat yang sama sangat kaya akan mineral-mineral. saluran-saluran air bawah tanah juga tidak akan terkena badai debu. selama beribu-ribu tahun kawasan yang memiliki Karez telah didiami oleh populasi penduduk yang stabil. (b) pacul untuk menggali. Saluran air bawah tanah dapat meminimalkan penguapan yang tinggi di distrik Turpan yang berangin banyak. Aliran yang Stabil. Air yang berasal dari salju yang mencair masuk ke dalam sistem dan tanah berfungsi menjadi penyaring yang baik yang menyingkirkan bahanbahan yang telah terpolusi. Dukungan Gravitasi Bumi. Sumber air utama sistem Karez adalah salju yang mencair dan air bawah tanah. Tidak seperti saluran-saluran air yang berada di atas permukaan tanah. (a) lampu minyak tradisional dengan panah samping.Selanjutnya lokasi penggalian sumur dapat ditetapkan. biaya yang dibutuhkan untuk peralatan menaikkan air dan perawatan sistem menjadi sangat sedikit sekali. Sumber: www. Sumber: www. 13 .com Gambar 3.com Gambar 4. Selain itu. (a) saluran air bawah tanah diperkuat dengan tonggak-tonggak kayu. Gambar 2. dan cersp.com Pelajaran yang Dapat Dipetik Sistem Karez merupakan teknologi masyarakat asli dalam mengurangi dampak kekeringan yang telah terbukti efektif dan masih dipergunakan.travelchinaguide. sehingga sistem ini tidak akan terlalu terpengaruh oleh dampak perubahan iklim.chinahw. Setelah itu. Sumber: www.sunnychina. Kualitas Air yang Tinggi. dan (b) penjangkauan saluran air bawah tanah ke saluran permukaan. Sumber: www.

Pada musim panas akan tersedia cukup sumber air bila airnya berasal dari salju yang mencair. www. Halaman 5-19.htm.travelchinaguide. Hal ini seringkali tidak sejalan dengan kebutuhan air untuk pertanian. 91 S. Daftar Pustaka SI Maqian. 14 . Sistem hanya dapat diterapkan di daerah-daerah yang memiliki suplai air bawah tanah yang stabil dan memiliki jenis tanah yang keras. Nilai sistem ini sebagai sebuah teknologi pengurangan dampak kekeringan yang efisien yang berbasis kearifan lokal tidak dapat diabaikan. sistem Karez pun memiliki keterbatasan-keterbatasan.4. Sebagian besar sistem Karez dibangun dengan alat-alat pertukangan yang sederhana dan tidak membutuhkan peralatan yang kompleks. http://travelguide.org http://blog. 2004. Ji ZHAO. Xingqi ZHONG dan Huaizhen CHU (eds.sunnychina. Selain itu. jumlah volume air Karez terbatas. Shanghai People’s Press.karez. Higher Education Press.com/travel_image/14441/1420/1 http://it.). Walaupun demikian. Turpan Karez Sistem (Sistem Karez di Turpan). General history of China (Sejarah Umum Cina).M.jpg. Shouyi BAI (eds. Geography of China (Geografi Cina).cersp.). 1993. SHIJI (catatan sejarah). Pembangunan dan penggunaan sistem ini terbatas secara spasial pada daerah-daerah tertentu saja. http://www. Dengan demikian saat ini ada kebutuhan untuk memperkuat sistem Karez yang tradisional dengan teknologi modern.com/attraction/xinjiang/turpan/karez. pengetahuan tradisional ini harus ditingkatkan dan diperkuat dengan teknologi modern. Konstruksi dengan Peralatan yang Sederhana.com/2005/11/06/165519. 2001. Penggunaan sistem ini harus dipromosikan dalam menghadapi bencana kekeringan yang kian parah di masa yang akan datang. volume air pada sistem Karez dapat berubah sesuai dengan musim walau tidak ada banyak perubahan dalam volume hariannya.htm. Beberapa sistem Karez dibangun di sekitar Dataran Guanzhong di Cina Tengah pada masa Dinasti Han tetapi tidak dapat bertahan karena saluran-saluran air bawah tanahnya runtuh. Sebaliknya. Pada musim semi. Xinjiang University Press.chinahw. sementara pada musim gugur dan musim dingin jumlahnya banyak.net/homepage/2006/baman/homepage/08xinjiang/01xinjiang/01.

pola curah hujan tahunan juga bervariasi dari 92 mm di Leh di daerah Ladakh. Pada tanggal 8 Oktober 2005. Distrik yang paling parah terkena adalah distrik Poonch di daerah Jammu dan distrik Baramula dan Kupwara di daerah Kashmir. Gempa bumi tersebut melumpuhkan kehidupan sehari-hari yang normal sampai cukup lama karena kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkannya pada rumah- 15 . terjadi gempa dengan kekuatan 7. Gempa-gempa yang dahsyat terjadi secara rutin. perbukitan Kashmir di barat dan daerah Ladakh di utara dan timur laut. 73. Serupa dengan itu.60 LU. iklim.5 mm di Srinagar di kawasan Kashmir dan 1.Negara Bagian Jammu dan Kashmir. utamanya: kawasan dataran tinggi pegunungan dan semi semi pegunungan. Studi kasus berikut ini hendak mempelajari kearifan lokal dalam praktik-praktik pembangunan rumah yang aman gempa di daerah-daerah pedesaan dan perkotaan di negara bagian Jammu dan Kashmir di India bagian Utara. Teknik tersebut.6 Mw pada kedalaman 26 km. India Utara Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir Amir Ali Khan Abstrak Karena kawasan Kashmir seringkali mengalami gempa bumi. yang dikenal sebagai sistem “Taq” dan “Dhajji-Dewari”. pegunungan di lembah Kashmir dan Deretan Pegunungan Pir Panjal dan Pegunungan-pegunungan Ladakh dan Kargil di daerah Tibet. Kisah/Peristiwa Kawasan Kashmir terletak di zona yang memiliki tingkat ancaman gempa bumi yang tinggi.236 km2. Di India bagian utara. perbukitan-perbukitan yang lebih rendah (Deretan Perbukitan Shiwalik). yang getarannya dirasakan di seluruh Pakistan dan India. masyarakat yang tinggal di daerah ini mengembangkan praktik-praktik konstruksi setempat untuk pembangunan rumah yang aman gempa. Kondisi tanah di lembah Kashmir buruk dan sangat tidak baik untuk konstruksi bangunan. dan struktur sosial. yang memiliki total wilayah seluas 222.6 mm di Jammu di daerah Jammu. negara bagian ini dibagi menjadi tiga bagian berbeda. sementara di daerah perbukitan rendah. dampak terbesar gempa tersebut dirasakan di negara bagian Jammu dan Kashmir. perekonomian. Daerah ini pada dasarnya merupakan kawasan pegunungan.00 BT dekat kota Muzaffarabad. 650. Dari segi topografi. yakni daerah Jammu di selatan dan tenggara. Latar Belakang Negara bagian Jammu dan Kashmir.115. Kawasan ini berbeda dari bagian-bagian lain negara tersebut dalam beberapa hal. Secara administratif. negara bagian ini dibagi menjadi empat kawasan geografis. terletak di India bagian utara. termasuk di antaranya dari segi topografi. telah terbukti benar-benar tahan gempa. Kondisi iklim bervariasi dari gurun arktik yang dingin di daerah Ladakh sampai temperatur sedang di lembah Kashmir dan subtropis di daerah Jammu. di mana tingkat kepadatan penduduk di daerah lembah-lembahnya tinggi. dengan pusat gempa (episenter) terletak pada 34.

Dalam bahasa setempat Taq berarti tembok. Walaupun tingkat kerusakan dan kehancuran begitu tinggi. Foto: Amir Ali Khan Sistem Dhajji-Dewari Sistem Dhajji-Dewari menggunakan kerangka-kerangka kayu untuk mengikat tembok dalam bagian-bagian kecil. Kerangka kayu tidak hanya memiliki unsur vertikal tetapi juga unsur-unsur diagonal yang membagi tembok dalam berbagai bentuk panel-panel yang kecil. Balkon kecil yang menggantung biasanya memiliki luasan hampir 1. Balok-balok pengikat berfungsi sebagai penguat horisontal yang pada akhirnya mengikat seluruh bangunan tembok menjadi satu kesatuan. Gambar 1 memperlihatkan rumah-rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Taq. dan dengan demikian mencegah melar serta pecahnya tembok. Sistem Taq Sistem Taq menggunakan balok-balok kayu besar atau kayu gelondongan sebagai balokbalok horisontal yang ditanam ke dalam dinding-dinding bata/batu. Di daerah yang banyak menggunakan konstruksi ini.5 kaki. Balok-balok pengikat ini ditempatkan pada lantai dasar dan di atas jendela-jendela. Sekitar 90. sehingga membentuk semacam tangga yang diletakkan/ditempelkan pada tembok menutup dua muka luar dari tembok.000 rumah tangga di Daerah Kashmir dan 8. Tidak ada kebiasaan untuk menggunakan kerangka kayu sepenuhnya. Pada umumnya ini mengacu pada tata letak modular dari balkon kecil dan jendela menjorok yang menjadi ciri dari tipe konstruksi ini. serta gangguan yang ditimbulkannya pada komunikasi dan pelayanan-pelayanan masyarakat penting lainnya.rumah dan infrastruktur di kawasan tersebut. Balok-balok ini mengikat semua unsur bangunan atau rumah menjadi satu dan menjaga keseluruhan struktur agar bergerak sebagai satu kesatuan. sistem Dhajji-Dewari biasanya digunakan untuk tembok- 16 .5–2 kaki persegi dan jendela yang menggantung lebarnya sekitar 3. Gambar 1. Jumlah penduduk yang terkena dampak gempa mencapai lebih dari setengah juta. di mana ada dua jenis praktik konstruksi yang banyak digunakan: sistem Taq (bangunan tembok yang diikat dengan kayu-kayu) dan sistem Dhajji-Dewari (kerangka kayu dengan dinding pengisi).000 di Jammu tertimpa dampak parah dari gempa ini. Rumah-rumah dengan tipe konstruksi khas Taq di Srinagar. Ciri yang paling penting dari tipe konstruksi semacam ini adalah penggunaan lapisan lumpur yang tipis sebagai campuran tembok (mortar). Balok-balok pengikat ini dihubungkan antara satu sama lainnya dengan potongan-potongan kayu yang lebih kecil. teknik-teknik konstruksi setempat yang berdasarkan kearifan lokal telah membantu menyelamatkan nyawa banyak orang. Kearifan Lokal Kawasan Kashmir terkenal akan praktik-praktik konstruksi tradisionalnya yang aman gempa.

bahkan walaupun bagian lain dari rumah yang tidak menggunakan sistem tersebut telah runtuh (Gambar 3 a dan b). struktur-struktur bangunan yang menggunakan beton bertulang menjadi sangat berbahaya dan dapat berakibat pada runtuh totalnya struktur bersangkutan jika mendapat goncangan yang besar. terbukti mampu menahan gempa. baik dengan menggunakan sistem Taq ataupun teknik Dhajji-Dewari. 2. 17 . Gambar 3. a) Bagian-bagian rumah yang menggunakan sistem Dhajji-Dewari (bagian balkon kecil) dan b) sistem Taq (seluruh struktur kecuali bagian balkon) yang selamat dari kerusakan yang diakibatkan oleh gempa bumi tahun 2005. Rumah-rumah dan bangunan-bangunan yang dibangun dengan memanfaatkan kearifan lokal. Gempa Bumi Kashmir jelas-jelas memperlihatkan keunggulan praktik-praktik tradisional dalam membangun rumah atau bangunan lain dibandingkan dengan teknik-teknik modern yang diterapkan tanpa menggunakan pengetahuan profesional yang memadai. dengan batu yang diplester semen dan campuran kapur dan bata yang diplester semen. Tanpa adanya bimbingan profesional. praktik-praktik konstruksi yang umum dilaksanakan di daerah itu dipelajari untuk mencari fitur-fitur relevan yang membuatnya aman gempa. Rumah-rumah yang dibangun dengan bahan-bahan berkualitas seperti tembok yang mampu menahan beban. terbukti tidak dapat bertahan terhadap gempa jika dibangun tanpa bantuan pengetahuan profesional yang tepat dan memadai. 3.tembok di lantai atas. India) – Laporan awal dari Gempa Bumi Kashmir Utara 2005 pada 8 Oktober 2005. Ada banyak contoh di mana bagianbagian rumah atau bangunan yang dibangun dengan sistem Dhajji-Dewari dan Taq mampu mengatasi goncangan gempa. Beberapa contoh rumah yang dibangun dengan menggunakan tipe konstruksi Dhajji-Dewari dapat anda lihat pada Gambar 2. Berikut ini beberapa hasil observasi yang didapat: 1. Sumber: Durgesh C Rai dan C V R Murty (IIT Kanpur. Gambar 2. Teknik-teknik tersebut perlu diperkenalkan lagi agar masyarakat mengetahui keunggulan-keunggulannya dibandingkan dengan teknik-teknik modern. Penelitian mendapatkan bahwa kondisi-kondisi bangunan pada umumnya sangat buruk karena kurangnya fitur-fitur aman gempa pada rumah-rumah dan bangunanbangunan yang ada. Lebih banyak lagi tukang di kawasan Kashmir perlu mendapat pelatihan dalam pembangunan rumah dengan menggunakan teknik-teknik ini. Foto: Amir Ali Khan Pelajaran yang Dapat Dipetik Setelah Gempa Bumi Kashmir pada tahun 2005. Teknik-teknik tradisional sistem Dhajji-Dewari dan Taq untuk membangun rumah belakangan ini menjadi semakin kurang populer. terutama untuk bagian tembok yang menjorok ke luar atau menggantung. Rumah-rumah dengan sistem konstruksi khas Dhajji-Dewari di Srinagar.

SEEDS dan para mitranya membantu mengembangkan suatu teknologi baru yang memadukan kearifan lokal dengan tambahan masukan teknologi yang terbatas. Namun. Latar Belakang Distrik Barmer merupakan sebuah distrik yang terletak pada bagian paling barat dari negara bagian Rajasthan. Tim mengkaji praktik-praktik konstruksi tradisional di daerah tersebut. segera melakukan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana tersebut dan melakukan pengkajian kerusakan serta sebuah studi tentang lingkungan hidup alamiah setempat dan lingkungan yang telah dibangun. Kearifan lokal memang telah memberikan nilai tambah yang tinggi selama beberapa generasi. distrik ini sepenuhnya berada di kawasan Gurun Thar. SEEDS. sebuah LSM nasional. India. dengan desain rumah yang bundar. Terletak di sepanjang perbatasan India dan Pakistan. dengan sasaran terutama kelompokkelompok yang secara sosial terpinggirkan dan tidak memiliki kapasitas untuk dapat membangun rumah mereka kembali secara mandiri. walaupun struktur tradisional yang utamanya terdiri dari lumpur ini memang cocok untuk jenis-jenis bencana seperti gempa bumi dan badai pasir. Rumah-rumah semacam ini memiliki banyak keuntungan dalam menghadapi kondisikondisi lingkungan hidup yang dialami saat ini. SEEDS bekerja di daerah/blok Sheo dari distrik Barmer di mana mereka membangun 300 hunian untuk keluargakeluarga yang paling parah terkena dampak banjir. Dengan bantuan Panitia-panitia Pembangunan Desa dibangun beberapa bangunan baru yang dapat beradaptasi dengan ancaman-ancaman bencana yang ada saat ini. Hujan yang berlangsung selama terusmenerus lebih dari seratus jam menggenangi beberapa desa sampai ketinggian tiga puluh kaki. 18 . India Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India Anshu Sharma dan Mihir Joshi Abstrak Pada bulan Agustus tahun 2006 beberapa desa di Distrik Barmer yang merupakan bagian dari kawasan gurun dari negara bagian Rajasthan di India Barat yang selalu mengalami kekeringan mengalami hujan deras dan kebanjiran. Rajasthan. yang akan semakin sering terjadi di masa yang akan datang. yang bentuk dasarnya berupa dinding-dinding lumpur dan atap jerami/alang-alang. selama dua ratus tahun terakhir hujan dan banjir semacam itu tidak pernah terjadi dan masyarakat serta pemerintah setempat tidak siap untuk menghadapi situasi darurat sedahsyat itu. tetapi dibutuhkan adanya dukungan teknologi yang dapat memperkuat agar kearifan lokal dapat menghadapi tantangan bencana-bencana yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya yang berkaitan dengan perubahan iklim. struktur semacam ini tidak memiliki kapasitas anti air dan oleh karenanya menderita kehancuran yang parah selama banjir.Barmer. Berdasarkan catatan sejarah.

memasak dan kegiatan-kegiatan harian lainnya. Dalam situasi banjir hal ini sangat merugikan karena tempat tinggal warga menjadi semacam kantung-kantung yang letaknya rendah dan dengan menjadi arah tujuan larinya air banjir. Dalam satu klaster/kelompok permukiman biasanya ada empat sampai lima bangunan bundar yang dikelilingi oleh sebuah tembok rendah. sehingga akses warga terhadap pelayanan pemerintah menjadi sangat sulit. Bhadkha dan Shiv. Setiap bangunan digunakan untuk berbagai kegiatan berbeda seperti tidur. sementara mereka yang lebih ilmiah mengaitkan banjir itu dengan perubahan iklim. dan sekitar 95 persen keluarga yang berada di desa-desa yang terkena (lebih dari 50. Perempuan-perempuan desa harus berjalan jauh dengan kendi-kendi di atas kepala untuk mengambil air untuk minum. Beberapa warga setempat berpikiran bahwa bencana merupakan hukuman dari dewa-dewi yang kurang berkenan terhadap kehidupan mereka. air banjir menggenang selama berminggu-minggu. dan ini menjadi tempat tinggal sebuah keluarga yang dalam bahasa setempat disebut Dhani. Dampak banjir semakin diperparah oleh kenyataan bahwa daerah tersebut memiliki penduduk yang sangat sedikit dan fasilitas-fasilitas infrastruktur pun sangat terbatas sekali. seringkali lebih dari satu kali dalam sehari. Masyarakat setempat sebelumnya tidak pernah mengalami bencana banjir sedahsyat itu dan mereka begitu terkejut serta tidak tahu harus berbuat apa untuk menghadapi situasi seperti itu. Banjir juga menimbulkan kehancuran parah karena sebagian besar rumah di kawasan ini pada umumnya dibangun di daerah cekungan yang terletak di sela-sela perbukitan pasir untuk melindungi diri dari badai pasir. Juga karena jenis lapisan tanah bagian dalam yang tidak menyerap air. Sekelompok Dhani membentuk sebuah desa. Karena sebagian besar bangunan terbuat dari lumpur. Hujan lebat di musim penghujan yang dimulai pada tanggal 16 Agustus 2006 mendera sekitar seratus desa dari 12 distrik yang ada di Rajasthan.Masyarakat setempat tinggal terpencar-pencar dan dalam jumlah yang sangat sedikit. Laporan resmi menyebutkan banjir ini menelan korban jiwa 103 orang. 19 . banyak yang rusak parah dan hancur akibat banjir. Beberapa desa yang paling parah terkena meliputi Kavas. Air merupakan masalah utama di daerah ini.000 orang) terpaksa kehilangan rumah tempat tinggal mereka. Pada malam hari tanggal 21 Agustus 2006. Bahkan rumah-rumah yang masih berdiri tegak di banyak tempat menjadi tidak layak untuk dihuni lagi. 300 mm lebih banyak daripada rata-rata curah hujan tahunannya. Kehidupan di kawasan ini benar-benar sangat berat. Malua. Komunitas-komunitas ini tinggal dalam kondisi iklim yang sangat keras dan mereka harus menggunakan dengan bijaksana sumber-sumber daya yang sangat terbatas di sekitar mereka untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk membangun rumah-rumah mereka. Barmer telah menerima curah hujan sebesar 577 mm hanya dalam waktu tiga hari. Tingkat kepadatan penduduk di distrik Barmer termasuk yang paling rendah di India. Kisah/Peristiwa Hujan yang terjadi terus-menerus di gurun di negara bagian Rajasthan menimbulkan salah satu banjir terburuk dalam dua abad terakhir di Rajasthan. Tinggi permukaan banjir mencapai hampir tiga puluh kaki di atas permukaan tanah. menyimpan barang. Sarana penghidupan yang tersedia sangat terbatas sekali.

Diagram struktur sebuah dhani Bertahannya dan penyebarluasan kearifan lokal dalam hal konstruksi Teknologi yang berdasarkan kearifan lokal untuk membangun rumah kediaman warga digunakan secara meluas di kawasan tersebut. bentuk yang bundar juga dapat memberi rumah kekuatan daya tahan lateral. Karena seluruh anggota keluarga menjadi bagian dari kegiatan pembangunan rumah. yang kemudian dicampur dengan adonan lumpur menjadi bahan bangunan dasar untuk keperluan konstruksi. Karena kawasan ini juga berlokasi di kawasan rawan gempa sedang sampai tinggi. Rumah yang bundar akan mempermudah aliran udara dengan hambatan yang minimum. Para anggota masyarakat sendiri menjadi penyebar dari teknologi ini dari satu generasi ke generasi berikutnya. sementara kaum perempuan mengumpulkan kotoran sapi. Gujarat. Gambar 1. Pada gempa bumi tahun 2001 di Kutch. semua anggota keluarga memainkan peranan penting dan semua memiliki tanggung jawab masing-masing. mereka memiliki rasa kepemilikan terhadap rumah kediaman mereka dan pemahaman akan bahan-bahan bangunan serta cara memprosesnya. Gambar 1 menyajikan diagram struktur sebuah dhani. Kaum lelaki mengumpulkan tanah yang berkualitas baik dari tempat-tempat terdekat.Kearifan Lokal Kearifan lokal untuk kenyamanan dan keberlanjutan permukiman Masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan di Rajasthan selama beberapa generasi telah terbiasa membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan setempat dan teknologi tradisional mereke. yang sangat dekat dengan Barmer. hanya sedikit rumah dengan desain serupa di kawasan ini yang mengalami kerusakan. 20 . Pada umumnya ukuran bukaan pintu-jendela sangat kecil untuk mengurangi panas yang masuk dan melindungi dari badai pasir yang sering terjadi di daerah tersebut. Ini terutama dilakukan karena adanya Kawasan Angin dengan Kecepatan Tinggi yang sering mengalami angin kencang terutama di musim panas. Untuk membangun dhani mereka. yang merupakan sesuatu yang penting di daerah ini karena suhu pada musim panas dapat mencapai 500 C. Masyarakat biasanya membangun rumah berbentuk bundar dan memilih lokasi di daerah yang tidak terlalu tinggi. Atap dibuat dari anyaman ranting-ranting dan jerami dari tanaman Jowar. Rumah dibangun dengan arah sedemikian rupa sehingga arah angin dan jalan sinar matahari dapat menjamin adanya ventilasi yang baik dan suhu rumah tetap terjaga agar nyaman. Kaum perempuan mengerjakan pemlesteran rumah baru dan selanjutnya mereka juga bertanggung jawab atas perawatan rutin tembok-tembok dan lantai. berdasarkan Peta Kerawanan Gempa India.

Tidak ada listrik dan bahan bakar sangat langka serta harganya tak terjangkau untuk digunakan sebagai pengontrol suhu udara. merupakan faktor penarik utama bagi masyarakat yang telah dibuat menjadi miskin oleh tidak adanya pilihan-pilihan untuk memperoleh penghidupan dan oleh iklim yang sangat keras. 4. Kondisi-kondisi iklim yang ekstrim Di Barmer. Para pemimpin masyarakat memberi contoh dengan menggunakan Teknologi ini Salah satu tradisi penting yang sangat umum yang diikuti oleh sebagian besar masyarakat pedesaan di India adalah adanya sekelompok orang terhormat di desa yang memberikan contoh bagi seluruh masyarakat. 5. 1. dan cara hidup pada umumnya. 2. pilihan-pilihan. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 2 dan diterangkan di bagian berikut ini. Walaupun beberapa orang telah mulai memilih membangun rumah dengan bahan-bahan bangunan modern. sehingga memberikan suhu udara yang nyaman di dalam rumah baik dalam situasi panas ataupun dingin yang ekstrim. Untuk dapat bertahan hidup dalam kondisi iklim yang ekstrim seperti ini dibutuhkan sebuah rumah yang sesuai. suhu udara pada musim panas dapat mencapai 500 C dan pada musim dingin suhu udara di malam hari mendekati titik beku. sehingga tercipta tingkat keamanan struktural yang lebih tinggi bagi rumah 21 . Keterlibatan para anggota keluarga serta saudarasaudara dekat mengurangi beban biaya pembangunan rumah dan memperkuat semangat bermasyarakat. yang bebas biaya dan bebas transportasi. sebagian besar orang terhormat di masyarakat hidup di Dhani-dhani. Rumah-rumah yang terbuat dari beton menjadi seperti oven di kala udara panas dan dalam suhu dingin menjadi seperti lemari es. Para anggota masyarakat seringkali meniru para pemimpin ini dalam hal perilaku. rumah modern yang mereka bangun tidak senyaman seperti rumah-rumah tradisional. 3. Dinding yang dibuat memiliki kualitas untuk mengisolasi panas atau dingin dan tebal. para anggota masyarakat lainnya terdorong untuk mengikuti.Ada lima faktor utama yang menyebabkan teknologi pembangunan rumah tradisional semacam ini dapat bertahan di kawasan gurun yang terpencil dan bagaimana teknologi ini disebarluaskan ke masyarakat lain di wilayah yang lebih luas. Tersedianya bahan-bahan bangunan lokal yang gratis Adanya bahan-bahan bangunan lokal. Atap rumah Dhani juga tersambung baik dengan sistem tembok. Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan rumah Seluruh masyarakat dan para anggota keluarga terlibat dalam berbagai kegiatan dalam rangka pembangunan rumah. Menyaksikan hal tersebut. Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan Bentuk yang bundar mampu menahan tekanan angin yang ditimbulkan oleh badai pasir dan tekanan gelombang yang ditimbulkan oleh gempa bumi. Inilah juga hal yang menjadi salah satu alas an mengapa teknologi ini dapat bertahan dan terus digunakan di kawasan pedesaan dan pusat tradisi ini. Di desa-desa di Barmer.

yang terbukti memiliki beberapa nilai tambah. desain yang bundar melindungi struktur bangunan dari angin kencang dan gempa bumi. rumah-rumah yang dibangun sangat kondusif dan memiliki suhu ruang yang sangat nyaman dalam kondisi cuaca ekstrim yang sering terjadi di kawasan tersebut. dan proses pembangunannya sederhana serta cocok dengan tingkat ketrampilan masyarakat setempat. SEEDS dan berbagai mitranya membantu dalam pembangunan 300 hunian di bawah Program Barmer Ashray Yojana (Program Perumahan Barmer). Dukungan ilmu pengetahuan SEEDS mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang terkena bencana segera setelah banjir dan melakukan kajian kerusakan serta sebuah studi atas lingkungan setempat. Tim mendapati bahwa struktur bangunan ternyata sangat ramah lingkungan karena bahan-bahan bangunan yang dicapai sama sekali tidak menciptakan jejak ekologis atau karbon. Program dimulai dengan penelitian tentang teknologi tepat guna yang dapat mendukung sistem pembangunan tradisional yang sudah ada. Para pemimpin masyarakat memberikan contoh Desain yang baik untuk keamanan dan kenyamanan Teknologi konstruksi rumah asli masyarakat Keterlibatan masyarakat dalam konstruksi rumah Kondisi Iklim yang ekstrim Tersedia bahan bangunan lokal yang gratis Gambar 2. Faktor-faktor yang menentukan kebertahanan dan penyebarluasan teknologi pembangunan rumah milik masyarakat setempat. Gabungan dari keamanan dan kenyamanan ini telah menghasilkan teknologi pembangunan rumah yang teruji sepanjang masa dan dihargai di tingkat lokal atas manfaat langsung ataupun manfaat jangka panjang yang telah diberikannya. dan penelitian ini membawa pada penggunaan teknologi bata press saling terikat yang distabilisasikan (Stabilized Compressed Interlocking Earth 22 . baik lingkungan hidup alami maupun lingkungan bentukan manusia. Tim pengkaji menilai dan mendokumentasikan praktik-praktik pembangunan rumah di daerah tersebut.sebagai suatu unit.

serta sistem-sistem dan proses-proses sosial. karena hal ini telah teruji dari generasi ke generasi dan paling sesuai dengan lingkungan hidup serta budaya setempat. kemudian dipress menjadi bentuk bata yang memiliki kekuatan struktural tinggi dan kemampuan anti air. Rumah dhani tradisional Pelajaran yang Dapat Dipetik Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik dari intervensi proyek dan pendokumentasian studi kasus ini berkaitan dengan teknologi pembangunan rumah. Desain tradisional yang bundar dan atap jerami yang “bisa bernafas” tetap dipertahankan. Dalam teknologi SCEB.Block/SCEB). masyarakat setempat lebih memilih struktur-struktur bangunan tradisional ini daripada rumah yang dibangun dengan teknologi beton modern yang disediakan oleh donor lain. Jika dibutuhkan teknologi dapat diperkenalkan. rumah-rumah dibangun dengan menggunakan teknologi tepat guna ini. Panitia Pembangunan Desa (Village Development Committee/VDC) dibentuk di setiap desa untuk mengambil keputusan dan mengarahkan serta memantau proses pembangunan. untuk memberi nilai tambah kepada sistem-sistem tradisional yang ada dan membuat sistem-sistem tersebut menjadi lebih tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru seperti yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Gambar 3. Panitia ini terdiri dari kaum lelaki. Sebuah sistem yang efisien dibangun untuk memproduksi SCEB secara massal untuk menyediakan rumah kepada keluarga-keluarga yang terkena bencana dalam rentang waktu hanya enam bulan. para guru sekolah. Program-program pembangunan rumah pasca-bencana harus memanfaatkan kearifan lokal yang ada dalam hal bahan-bahan bangunan dan teknologi konstruksi. yang merupakan campuran dari kearifan lokal dan sedikit masukan ilmiah untuk membuatnya semakin tangguh dalam menghadapi ancaman-ancaman baru (Gambar 3a dan 3b). perempuan. Ini akan membuat biaya 23 . tetapi secara minimal saja. perwakilan-perwakilan LSM dan personil tim proyek bekerja sama erat dengan para pejabat pemerintah setempat. para pemimpin masyarakat setempat. Pelajaran-pelajaran yang dapat dipetik disarikan pada bagian di bawah ini: 1. dan dengan pendanaan dari Departemen Bantuan Kemanusiaan Komisi Eropa. 2. ilmu bahan bangunan. lumpur lokal distabilisasikan dengan semen sebanyak lima persen. 3. Bekerja sama dengan Christian Aid. Setelah pembangunan rumah selesai. Pengetahuan dan ketrampilan dalam membangun rumah-rumah ini diturunkan kepada para tukang bangunan setempat sehingga dapat direplikasi dan disebarluaskan di seluruh kawasan. yang berubah menjadi seperti oven di bawah matahari gurun yang panasnya begitu menyengat. Pembangunan rumah sebagian besar dikerjakan oleh para pemilik rumah sendiri dengan hanya sedikit dukungan dari tim proyek. Bahan-bahan bangunan yang digunakan untuk pembangunan rumah haruslah sedapat mungkin ramah lingkungan dan berasal dari daerah setempat.

Daftar Pustaka Dewan Promosi Bahan dan Teknologi Bangunan (Building Materials and Technology Promotion Council). replikasinya dan peningkatannya di kawasan bersangkutan. memperkuat rasa memiliki. Pemerintah India. Hubungan dengan sektor-sektor lain seperti sektor air. Hubungan dengan para pemangku kepentingan lokal termasuk pemerintah. lingkungan hidup dan gaya hidup serta akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat. 6. Peta Kerentanan India (Vulnerability Atlas of India). dan juga untuk mendorong agar para pemangku kepentingan menerima pendekatan yang ditawarkan. SEEDS. 2007. Alih teknologi kepada para tukang bangunan setempat merupakan sesuatu hal yang sangat berguna demi menjamin keberlanjutan pendekatan konstruksi. 7.yang dibutuhkan untuk membangun rumah menjadi rendah. 4. sanitasi. SEEDS. 2006. 2006. Delhi. 5. yang pada jangka panjangnya akan membantu keberlanjutan pendekatan tersebut. - 24 . “Barmer Aashray Yojna – Program Restorasi Hunian Pasca Banjir”. Keterlibatan keluarga-keluarga pemilik dalam proses pembangunan rumah sangat berguna dalam menghemat biaya. penghidupan dan pendidikan dapat membantu menciptakan paket yang lebih menyeluruh yang berkaitan dengan rumah hunian. Dokumen Proyek. dan membuat desain serta proses pembangunan rumah menjadi cukup fleksibel bagi setiap keluarga agar mereka dapat mengatur sendiri unsur-unsur kecil dari pembangunan rumah yang sesuai dengan pilihan dan kebutuhan mereka. kaum akademisi dan sektor swasta merupakan sesuatu hal yang berguna demi melancarkan pelaksanaan proyek-proyek semacam ini. 8. desain dan rincian konstruksi merupakan hal yang sangat menentukan bagi keterlibatan dan kepemilikan masyarakat terhadap proses ini. dan juga meminimalkan jejak karbon dari intervensi proyek. Partisipasi dari para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pemilihan tempat.

2004 dan 2007. Banjir seringkali membobol tanggul dan merusak jalan-jalan yang merupakan penghubung penting antara satu desa dengan desa lainnya. dan erosi pada tepi sungai di daerah aliran sungai Brahmaputra. tingkat pertumbuhan penduduk yang cepat dan tekanan-tekanan pada aliran-aliran sungai telah menyebabkan adanya perubahan aliran-aliran dan saluran-saluran sungai secara terus-menerus. Sebagian besar warga Desa Nandeswar adalah petani. salah satu vegetasi Assam yang paling dapat ditemukan di mana-mana di daerah tersebut. Selama bertahun-tahun. Kondisi fisik kawasan dan faktor-faktor seperti penggundulan hutan. Distrik Goalpara. tekanan penggunaan lahan. dan ini mengakibatkan banyak desa dan kota-kota di Assam menjadi terisolasi. Penanaman bambu membantu melindungi tanggul agar tidak tergerus dan mencegah banjir bandang dari aliran sungai bila sungai meluber pada 25 . runtuhnya tanggul sungai dan jalan. Beberapa teknik tradisional dapat membantu sungai dan saluran-saluran air agar terhindar dari pendangkalan dan peluberan yang berlebihan jika hujan deras. Assam. teknik ini telah memelihara dan menjaga tanggul-tanggul serta melindungi jembatan-jembatan dan jalan-jalan raya dari kehancuran yang dapat ditimbulkan oleh curah hujan yang tinggi. daerah luas di sekitar Assam tergenang. Assam. Penghidupan mereka tergantung pada lahan dan kegiatan-kegiatan berbasis pertanian. Assam dan negara-negara bagian timur laut lainnya seringkali mengalami banjir selama musim-musim penghujan dari bulan Juni sampai September. Walaupun banjir terjadi setiap tahun di Assam. Assam Irene Stephen. tahun-tahun antara 1953-1998 merupakan saat-saat kejadian banjir yang terburuk. Dengan ditanami bambu. Latar Belakang Desa Nandeswar terletak di Distrik Goalpara (Gram Panchayat–Karipara di bawah Daerah/Blok Pembangunan Matia). India Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. Rajiv Dutta Chowdhury dan Debashish Nath Abstrak Penanaman pohon bambu di sepanjang tanggul saluran air oleh para warga setempat di Desa Nandeswar dalam banyak hal telah menguntungkan desa mereka. Secara khusus. Kearifan Lokal Masyarakat telah belajar menghindari kerugian dengan menggunakan metode-metode yang terjangkau dan telah dipraktikkan selama beberapa generasi. putusnya jembatan dan tanah longsor biasanya menyebabkan warga terperangkap. masyarakat di kawasan ini berulang kali harus menghadapi hari-hari kebanjiran yang panjang.Desa Nandeswar. Selama masa-masa curah hujan tinggi. tanggul-tanggul saluran air jadi terlindungi dan tanah terhindar dari erosi lebih lanjut. Kisah/Peristiwa Walau daerah ini mengalami kejadian banjir yang parah pada tahun 2002. India.

tanaman bambu yang sudah berumur 5 tahun dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Permukaannya ditanami rumput untuk mencegah erosi (Gambar 2). mengurangi pengendapan yang dibawa oleh hujan deras serta mencegah peluberan air sungai. Mereka telah menggunakan penanaman bambu untuk mencegah kerusakankerusakan yang besar. Endapan lumpur yang diambil dari sungai juga dapat digunakan untuk berbagai keperluan pertanian. Sebagai persiapan untuk menghadapi datangnya hari-hari hujan dari bulan Desember sampai Februari. Setelah satu bulan. Assam. penanaman bambu di sekitar kolam-kolam ikan dan sawah-sawah dapat mencegah erosi tanah serta menjaga agar air tidak menenggelamkan daerah-daerah yang letaknya rendah selama puncak hari-hari banjir. teknik ini menjadi suatu cara yang ekonomis yang dapat membantu warga setempat dalam menjaga kelestarian air dan menghentikan erosi lapisan tanah bagian atas serta tebing sungai. Gambar 3. Gambar 1. Selain mengurangi tingkat erosi tanah. di mana bambu ditanam hanya untuk keperluan komersial. Biaya untuk memperbaiki dan memelihara tanggul tanah juga sangat ekonomis. Tidak seperti di masa lalu. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai melindungi sebuah jembatan penting. Masyarakat juga telah banyak memetik manfaat dari berbagai kegunaan bambu melalui teknik konservasi yang dikembangkan secara lokal ini. Pelajaran yang Dapat Dipetik Para warga masyarakat Desa Nadeswar telah belajar bagaimana menyiasati banjir dan erosi tanah. bahan dasar untuk kerajinan dan pembuatan kertas.5 sampai 3 kaki ke dalam tanah dan pada bagian tanah yang lebih dalam bahkan sampai 5 kaki. para warga di Desa Nandeswar biasanya membersihkan aliran-aliran sungai dari endapan dan pasir. akar-akarnya yang dalam akan menjalar ke segala arah dan menumbuhkan anakan-anakan bambu yang baru serta mengikat tanah. Bahan-bahan yang didapat dari pembersihan ini ditumpuk di sepanjang sungai dan saluran air sebagai gundukan tanggul dari tanah. Para warga setempat memperoleh banyak manfaat dari teknik penanaman semacam ini. di sepanjang tanggul tanah dibuat lubang berjarak 24 inchi yang kemudian ditanami bibit/anakan bambu. Sejalan dengan tumbuhnya bambu. Tanggul-tanggul tanah dibangun dari tanah endapan dan pasir serta ditanami rumput. Akar-akar rumput membantu mengikat lapisan tanah di bagian atas. Penanaman bambu telah memegang peranan yang penting dalam hal penghidupan dan upaya bertahan hidup masyarakat di Nandeswar.hari-hari hujan deras (Gambar 1). Gambar 2. Proses ini dilakukan dengan menggunakan metode penanaman lokal yang disebut teknik penekanan akar bambu. Kegiatan-kegiatan ini membantu menciptakan lapangan kerja tambahan bagi masyarakat. Selain itu. Bambu yang ditanam di sepanjang sungai di Assam. 26 . Akar-akar bambu menjalar di permukaan (dekat lapisan tanah bagian atas) masuk 2. Metode yang digunakan membutuhkan investasi yang lebih sedikit untuk perbaikan dan pemeliharaan tanggul.

Latar belakang Simeulue Simeulue adalah bagian dari Provinsi Aceh. Luasnya sekitar 205. metode pembangunan dan perencanaan hunian. Ritual.Simeulue. Wilayahnya berupa kepulauan yang terdiri dari 1 pulau besar. di mana pengelolaan lingkungan secara tradisional dan sistem-sistem kepercayaan yang terkait berperan penting dalam kehidupan sehari-hari orang-orangnya. dan Siberut. Lebih dari 35. Menurut data sensus tahun 2006. yakni Simeulue. Nias. ketiga pulau itu.63 ha dan terletak kira-kira 155 km dari pulau utama Sumatra.030 ha.1 Gambar 1 memperlihatkan pemandangan sebuah perkampungan di Nias. serta upacara ritual yang terkait. Indonesia Dongeng. Dengan kebudayaan yang berbedabeda. Di banyak tempat di Siberut masih tampak pola ekonomi yang subsisten. 1 Badan Pusat Statistik Sumatera Utara 27 . yaitu Nias dan Nias Selatan. Contoh perkampungan khas Siberut dapat dilihat dalam Gambar 2.771 km². Letaknya di sebelah barat lepas pantai Sumatra Barat.148. kira-kira 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra Utara. dan Siberut. Praktik-praktik itu akan dibahas secara terinci supaya diperoleh pemahaman yang utuh mengenai dampaknya dan bagaimana relevansi praktik dan kearifan lokal bagi pembangunan modern. Luas wilayahnya 4.045 jiwa. telah mengangkat ke permukaan pelbagai praktik kearifan lokal yang sebelumnya luput dari perhatian masyarakat internasional yang peduli pada upaya pengurangan risiko bencana. besar dan kecil. Secara administratif kepulauan Nias termasuk dalam Provinsi Sumatra Utara. jumlah penduduk Nias diperkirakan 713. terdiri dari dari dua kabupaten. dan sekitar 40 pulau kecil. Siberut Dengan luas 400. yaitu Pulau Simeulue. dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api Koen Meyers dan Puteri Watson Abstrak Praktik-praktik kearifan lokal terbukti telah mengurangi dampak bencana alam di tiga pulau Sumatra. Siberut merupakan pulau terbesar di Kepulauan Mentawai yang terdiri dari sekurang-kurangnya 70 pulau. yang dalam kurun waktu lima tahun mengalami bencana gempa bumi dan tsunami.000 penduduk asli tinggal di Siberut. Nias Nias terdiri dari sekumpulan pulau yang terletak antara Simeulue dan kepulauan Mentawai. Mereka termasuk dalam kelompok etnik Mentawai dan merupakan salah satu dari sedikit kelompok masyarakat di Asia Tenggara yang cara hidupnya masih banyak bergantung pada lingkungan alam. Nias. Praktik-praktik itu mencakup antara lain sarana komunikasi tradisional.

monumen peringatan. Reaksi ini telah meminimalkan dampak kerusakan akibat tsunami. kearifan atau pengetahuan itu berasal dari “pengalaman nenek moyang” pada tahun 1907. dan pengingat lainnya. Kearifan Lokal Simeulue Salah satu penyebab rendahnya angka korban tewas di Pulau Simeulue adalah kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat. ketika terjadi sebuah gempa besar yang menimbulkan tsunami hingga menewaskan banyak penduduk pulau.000.4 Dampak gempa sangat dahsyat sehingga di beberapa tempat menyebabkan tanah terangkat hingga lebih dari 2 meter. di Simeulue hanya jatuh sedikit korban bila dibandingkan dengan di daerah lainnya. Oktober) 28 . hanya jatuh satu korban jiwa. dan menyembulkan karang pantai hingga 100 meter dari garis pantai semula. Ceritacerita tentang peristiwa 1907 ini kemudian diterjemahkan menjadi kisah-kisah. Laporan resmi pemerintah setempat menyebutkan hanya ada tujuh korban dari keseluruhan populasi yang jumlahnya sekitar 78. Kehidupan 90% penduduk terkena dampaknya. Simeulue.9 skala Richter terjadi di dekat Siberut. Sebanyak 140 penduduk tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal. begitu merasakan gempa. 2 3 UNORC (2005) Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) NAD-Nias. Salah satu sebab kecilnya angka korban adalah karena semua orang. Kendati demikian. Reaksi yang kompak semacam itu dapat dimungkinkan antara lain karena adanya pengetahuan masyarakat yang dikomunikasikan melalui dongeng dan legenda. Nias. (2005. Pada Desember 2004 tsunami melanda Simeulue dan Nias.000 rumah harus diperbaiki dan 29. yang lalu diteruskan kepada anak cucu mereka dengan pola yang bermacam-macam. penduduk Simeulue tahu bahwa mereka harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena ada kemungkinan terjadi tsunami.000 lainnya harus dibangun kembali.2 Ketika terjadi gempa pada 26 Desember 2004. di mana 95% di antaranya hidup di wilayah pantai. Oktober) 4 BRR (2005. bergegas meninggalkan rumah dan lari ke tempat terbuka. topografi pulau yang berbukit-bukit juga menjadi faktor penting lain yang memperkecil jumlah korban.Kisah/Peristiwa Dalam lima tahun terakhir. Menurut mereka.3 Beberapa bulan kemudian. Pulau Nias mengalami dampak serius akibat gempa 26 Desember 2004 dan tsunami yang terjadi setelahnya. 15. tepatnya 28 Maret 2005. dan Siberut mengalami beberapa kejadian gempa bumi dan tsunami. Selain faktor kearifan lokal itu. Perbukitan hanya berjarak ratusan meter dari perkampungan dan garis pantai. Namun.7 skala Richter dan merenggut 839 jiwa. terjadi lagi gempa berkekuatan 8. Pada tanggal 12 September 2007 sebuah gempa berkekuatan 7.

Rumah ditopang oleh tonggak-tonggak vertikal (enomo). Orang kerap menyebut peristiwa itu sebagai cara Tuhan untuk meluruskan kembali cara hidup mereka yang telah melanggar norma-norma sosial dan religius. Tidak jelas apakah sebelum tsunami tahun 1907 istilah smong memang sudah ada. lalu diikuti oleh surutnya air laut. Di tengah segala kerusakan itu justru tampaklah contoh yang sangat kentara tentang bagaimana praktik tradisional dapat mengurangi dampak bencana. yang bertumpu pada balok-balok batu dan sejumlah balok diagonal (ndriwa). Nias Gempa tanggal 28 Maret 2005 sangat berdampak terhadap penduduk dan infrastruktur Pulau Nias. Karena tsunami 1907 terjadi pada hari Jumat. Adanya istilah lokal untuk menyebut peristiwa tsunami membuktikan bahwa masyarakat setempat memiliki pengetahuan hingga tingkat tertentu berkaitan dengan fenomena alam itu. ketika orang-orang sedang kembali ke rumah seusai melaksanakan ibadah di masjid. sebagaimana ditemukan dalam satu dari tiga bahasa setempat. kebanyakan rumah kayu tradisional yang jumlahnya terus berkurang itu ternyata dapat bertahan terhadap goncangan gempa. yang artinya sama dengan tsunami. Tiap-tiap cerita memiliki kisahnya sendiri-sendiri dan tak jarang menyebutkan tentang penderitaan dan kematian anggota keluarga. Mereka saling bertumpu satu sama lain pada bagian bawah. dan dengan demikian berfungsi sebagai pengikat longitudinal dan lateral sekaligus. kemudian gelombang raksasa dan banjir. Teknik pengikatan ndriwa secara diagonal ke dua arah ini memungkinkan bangunan bertahan terhadap goncangan gempa yang sangat kuat sekalipun. di mana unsurunsur strukturnya dikaitkan satu sama lain. Seperti tampak pada Gambar 3. Peristiwa itu rupanya meninggalkan trauma yang amat dalam sehingga darinya muncullah cerita-cerita individual. tetapi banyak orang Simeulue amat yakin bahwa istilah itu sudah ada.Masyarakat Simeulue menggunakan kata smong untuk menyebut peristiwa itu. Atap bangunan memiliki konstruksi yang serupa dengan struktur alasnya. Setelah gempa. Teknik sambungan ini menyebabkan bangunan fleksibel. yakni sebagai murka Tuhan. rumah tradisional Nias terbuat dari kayu. kata smong diturunkan dari ni semongan yang berarti percikan (air). misalnya adanya bebatuan karang laut di lahan pertanian di daratan. Cerita-cerita itu dikisahkan tidak dengan tujuan menyiapkan anak cucu menghadapi bencana serupa di masa datang. peristiwa itu kemudian memperoleh makna simbolik religius. Atap terdiri dari beberapa lapis balok diagonal yang ditepatkan pada posisi lateral. Ndriwa diletakkan di antara enomo. bukan dipaku. Kedua ujungnya 29 . Menurut pemahaman penduduk sekarang ini. melainkan untuk memberikan gambaran tentang suatu kejadian dalam sejarah. dengan arah memanjang dan melintang bangunan. Konon. yang kemudian diceritakan turun-temurun di dalam keluarga atau di masyarakat. juga pada bagian atas yang tepat bertemu dengan balok horizontal di bawah lantai rumah. Dalam cerita-cerita itu dikisahkan juga tentang monumen alam dari peristiwa tsunami. smong adalah rentetan peristiwa yang diawali oleh gempa yang besar. Peristiwa yang terjadi pada tsunami tahun 1907 diwariskan dari mulut ke mulut dalam masyarakat tanpa struktur yang baku.

Selain membangkitkan kesadaran masyarakat atas bahaya gempa. arwah sang saudara tiri tidak dapat beristirahat dengan tenteram. Sesaat terdengar jerit kesakitan.bertumpu pada balok-balok vertikal dan diagonal. Mereka ingin membangun sebuah rumah panjang (uma) yang baru dan megah. Lalu. dan kulit rotan mereka serut untuk dijadikan tali. Setelah segalanya siap. uma itu selesai dibangun dan termasyhur di seluruh pulau karena keindahannya. hiduplah sebuah keluarga besar. melainkan harus bersembunyi di bawah pohon pisang. Sebelum perayaan berlangsung. Sementara itu. hanya ada kesunyian. Struktur alas dan atap semacam ini membentuk struktur tiga dimensi yang meningkatkan elastisitas dan stabilitas bangunan ketika terjadi gempa. sebuah dusun kecil di Siberut selatan: “Pada zaman dahulu kala. kemudian meminta saudara tirinya agar mengambilkan cangkulnya itu. Dongeng itu mengisahkan secara detail tentang gempa yang pertama kali terjadi di muka bumi. Puluhan babi dan ratusan ayam disembelih dan dimasak. Segala persiapan dilakukan: pohon-pohon besar ditebang untuk dijadikan tonggak. Setelah lubang selesai digali. Akhirnya. Siberut Pengalaman masyarakat Mentawai atas fenomena alam seperti gempa bumi telah mereka terjemahkan ke dalam pelbagai strategi. secara kasat mata maupun tidak. namun begitu tonggak kayu besar itu tertanam. Sang pemilik rumah sesungguhnya tidak menyukai saudara tirinya ini. Ia sangat dendam terhadap sang pemilik rumah dan semua yang ikut berpesta. daun sagu dikumpulkan untuk anyaman atap. 30 . sang pemilik uma menjatuhkan cangkulnya ke dalam lubang. Sebagai misal. Teknik yang khas itu hingga kini tetap dinilai sebagai contoh yang teruji mengenai arsitektur yang tahan gempa di Pulau Nias. tiba saatnya untuk menyelenggarakan pesta besar-besaran sebagai upacara peresmiannya. kayu dipotong-potong untuk dijadikan papan lantai. sang arwah memperingatkan saudara perempuannya dan anakanaknya agar selama pesta mereka tidak makan di dalam uma. Mereka meminta bantuan sanak saudara dan kenalan yang tinggal di lembah lainnya. sang pemilik rumah memerintahkan para saudara lainnya untuk menghunjamkan tonggak kayu yang besar ke dalam lubang. Sang pemilik rumah mengundang sanak saudara dan kenalan untuk ikut pesta. Ketika si saudara tiri sudah berada di dalam lubang. di sebuah lembah di pantai barat Pulau Siberut. yang berhasil mengurangi dampak bencana gempa. tibalah waktu untuk menggali lubang bagi tonggak pertama. salah satu strategi yang tak kasat mata adalah kisah dongeng yang menekankan adanya kaitan metafisik antara manusia dan peristiwa gempa bumi. cerita ini juga mengingatkan pendengar bahwa gempa bumi mempunyai asal-usul manusia juga dan berkaitan dengan emosi manusia. Berikut ini adalah salah satu versi dongeng di Attabai.

yang menyiratkan antropomorfisasi terhadap fenomena alam yang perlu dihadapi dengan rasa hormat dan gentar. Pertama-tama. teteu atau ‘kakek’ memiliki makna yang metafisik. Di Simeulue.Ketika orang-orang sedang berpesta pora dan menyantap hidangan di dalam uma. Mulailah orang lebih cenderung mengambil pelajaran dari tempat dan peradaban nun jauh di sana. Dalam contoh ini. Dua faktor ini merupakan metode komunikasi yang efektif untuk menginformasikan kepada suatu masyarakat tentang risiko bencana di daerah mereka. bukan dari pengalaman masa lalu atau konteks lokal mereka sendiri. Gempa bumi itu ungkapan balas dendam sang arwah. Cara-cara baru ini harus mengandung informasi yang relevan dan harus dapat meniru keberhasilan tradisi cerita lisan dalam daya sebar dan relevansinya bagi masyarakat lokal. Sigegeugeu dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai ‘goncangan’ [dan memiliki makna persis sama dengan kata earthquake dalam bahasa Inggris]. kiranya masih perlu menimba hikmah dari tradisi cerita rakyat. penyampaian cerita terjadi di dalam rumah dari satu anggota keluarga kepada anggota keluarga lainnya. Sementara itu. ceritacerita itu mengenai informasi setempat. serta agar rumah itu dilindungi apabila suatu hari nanti teteu datang lagi. tibatiba saja tanah bergoncang amat keras. Semenjak hari itu. Kedua. Semua orang di dalamnya mati.” Ada dua istilah dalam bahasa Mentawai untuk menyebut gempa bumi. orang-orang Mentawai menyebut gempa bumi sebagai teteu yang berarti ‘kakek’. perlu dicari cara-cara baru untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya bencana di daerah mereka. Pelajaran yang Dapat Dipetik Simeulue Ada beberapa hal yang layak disoroti mengenai tradisi penyampaian cerita di Simeulue yang telah berhasil menyelamatkan banyak jiwa pada tahun 2004. Uma yang indah dan megah itu runtuh. Cara-cara komunikasi modern kurang memperhatikan informasi lokal. yaitu sigegeugeu dan teteu. Sesaji diletakkan di dekat tonggak-tonggak utama dengan tujuan menenangkan hati para roh penguasa tanah. Tindakan menyiapkan sesaji berguna untuk menanamkan kesadaran kolektif tentang risiko gempa dan membuatnya tetap hidup dalam kesadaran masyarakat. dongeng sebelum tidur tentang peristiwa di masa lampau terbukti dapat menyelamatkan ratusan jiwa. Program-program pembangunan yang modern. Menurut sistem kepercayaan di sana. televisi. yang berupaya mempersiapkan masyarakat melalui penyebaran brosur atau diskusi focus-group. kecuali keluarga sang arwah. menurut kisah itu. setiap kali orang hendak mendirikan rumah. mereka harus memberikan sesaji bagi roh penguasa tanah (Taikabaga) agar teteu (kakek) tidak murka dan marah. Lewat merekalah sistem kepercayaan tradisional diturunkan dan diteruskan. 31 . Hanya merekalah yang selamat dari kejadian itu. dan telepon. Seiring dengan masuknya saluran komunikasi modern seperti radio. Gambar 4 memperlihatkan tokoh adat yang berperan sebagai shaman atau medium. melainkan cenderung menyebarkan informasi dengan cara yang jauh lebih luas. terjadilah peluasan horizon masyarakat dan mengalirnya informasi yang lebih banyak dan luas.

Penduduk kampung. berhasil segera mencapai perbukitan hingga dapat menyelamatkan diri. Deforestasi juga membuat keadaan makin parah.Hal yang juga patut diingat adalah peran topografi Pulau Simeulue. sistem kepercayaan tradisional dan dongeng-dongeng yang terkait tak bisa disangkal berperanan mengurangi risiko bencana. Dongeng yang telah berperan mengurangi jatuhnya korban gempa mungkin memang tidak dapat dianggap sebagai metode pengurangan risiko bencana karena pengaruhnya terkait erat dengan ritual pembangunan rumah tradisional. kerusakan hebat yang diakibatkan oleh gempa Maret 2005 terhadap penduduk dan ekonomi Nias tidak boleh dilupakan. Memang ini terasa ironis karena Pulau Nias pada saat itu dan masih sampai hari ini merupakan tempat ditemukannya salah satu arsitektur tahan gempa yang terbaik di dunia. masyarakat dapat menjadi lebih rentan terhadap risiko bencana. pertama-tama. Ironi ini memperlihatkan kepada kita. bahwa satu praktek kearifan lokal saja tidak dapat berperan banyak dalam mengurangi risiko bencana. praktik-praktik asli masyarakat dalam membangun rumah tradisional di Nias diteliti kembali dan telah mendapat pengakuan karena sifat tahan gempanya. Dalam banyak kasus. pengetahuan tentang legenda tahun 1907 tidak akan menyelamatkan sedemikian banyak orang. orang-orang terselamatkan karena pengetahuan yang mereka peroleh dari dongeng dan lagu. Akibat tekanan program pembangunan. walaupun hal itu layak disyukuri. Strategi pengurangan risiko harus diintegrasikan ke dalam seluruh aspek kehidupan masyarakat tersebut. semua ini dapat kehilangan makna dan dampaknya dalam masyarakat lokal. yang menyebabkan banyak orang memilih membangun rumah dengan gaya Melayu yang sebetulnya lebih rentan terhadap gempa. Nias Sejak gempa Maret 2005. Ini menunjukkan betapa pentingnya faktor perencanaan permukiman dalam upaya pengurangan risiko bencana. Ini pelajaran penting bagi upaya pengurangan risiko bencana di masa mendatang—suatu pendekatan yang menyeluruh perlu diambil demi melindungi kelompok masyarakat terhadap bencana. Kayu keras yang diperlukan untuk membangun rumah tradisional sekarang makin sulit didapatkan. Seandainya saja akses ke tempat yang aman itu tidak tersedia. dengan bekal pengetahuan tentang kemungkinan datangnya tsunami. Kedua. terbukti bahwa ketika yang tradisional digeser oleh yang modern. Masuknya agama-agama monoteistik 32 . Akibatnya. Modernisasi merupakan faktor penting yang menyebabkan makin berkurangnya arsitektur tradisional Nias. Namun. Namun. Siberut Cerita tentang teteu merupakan bagian dari sitem kepercayaan tradisional masyarakat Mentawai. pelbagai metode dan teknik pembangunan rumah tradisional secara perlahan mulai dilupakan orang karena beton dan batu bata telah menggantikan kayu sebagai bahan bangunan. Salah satu simbol status di masyarakat adalah menganut desain dan gaya hidup modern. Mereka kerap merujuk pada dongeng dan lagu-lagu tradisional yang menyebabkan mereka bereaksi secara tepat ketika gempa mulai terasa.

sebagaimana yang lazim terjadi pada kebanyakan. Pulau-pulau itu hanya sedikit saja bersentuhan dengan infrastruktur. Diunduh dari: www. dan transportasi modern. Selama berabadabad. diperlukan alternatif-alternatif modern yang mampu meniru proses penyampaian pengetahuan itu dengan tingkat kepentingan yang sama bagi masyarakat setempat. Present and Future. Membangun Harapan. sehingga pemberian sesaji semakin jarang dilakukan. Meletakkan Fondasi. pengetahuan tersebut pun mulai terlupakan. For presentation at the National University of Singapore. http://sumut. NAD – Nias. apakah peran praktik masyarakat asli dalam modernisasi ketiga pulau ini? Perlukah diambil langkah-langkah untuk melestarikan contoh praktik masyarakat asli ini. 2007. atau sungguh naifkah menganggap praktik-praktik ini sebagai solusi yang mudah dikemas yang dapat direproduksi demi kebaikan generasi mendatang? Kecepatan dan ciri pembangunan modern tidak selalu memberikan ruang bagi praktikpraktik masyarakat asli. Benang merah dari uraian tentang ketiga contoh praktik asli masyarakat yang diuraikan di atas adalah: semuanya ditemukan di wilayah-wilayah pedalaman dan terbelakang.caltech. dan dalam banyak hal dapat dikatakan belum tersentuh perkembangan modern. Daftar Pustaka Badan Pusat Statistik Sumatera Utara. Nias. 2006.. Oleh karena itu.edu/~sieh/pubs_docs/submitted/Snu. Sieh.pdf 33 .gps. March 7-9. meski tidak semua. praktik asli.membuat orang kehilangan kepercayaan pada arwah leluhur. praktik-praktik asli telah memungkinkan banyak kelompok masyarakat hidup berdampingan dengan bencana. Kini. Hanya ketika kemajuan pembangunan disela oleh alam dengan bentuk bencana alam. komunikasi.go.bps. Telah kita lihat bagaimana praktek menyediakan sesaji menguatkan pengetahuan akan gempa dalam ingatan kolektif masyarakat setempat. pendidikan. Jakarta: UNESCO and LIPI.id/pop/2006/pop05. Ketika praktik asli tidak digantikan dengan alternatif yang modern. Pertanyaan yang mencuat di sini adalah bagaimana pengaruh pembangunan dan modernisasi terhadap praktik masyarakat asli ketika proses pembangunan itu berjalan terus di masa depan? Sehubungan dengan upaya pengurangan risiko bencana. barulah praktik-praktik asli itu diperhatikan lagi dan diingat-ingat. dan Siberut. SMONG. tetapi pengaruhnya sudah langsung terlihat berkaitan dengan praktik dan kearifan lokal dalam mengurangi risiko bencana. agar pengetahuan itu tidak lenyap. contoh-contoh itu masih dipraktikkan hingga hari ini justru karena pulau-pulau itu terpisah dari daratan Sumatra yang sudah lebih maju. Oktober. Pengetahuan Lokal Pulau Simeulue: Sejarah dan Kesinambungannya. dan ketika modernisasi bergerak terlampau cepat. termasuk teteu. makna dan nilai praktik asli itu di dalam konteks modern tidaklah selalu dapat dipahami. 6 month Report. The Sunda Megathrust: Past. Program pembangunan baru perlahan-lahan masuk. kelompok masyarakat menjadi lebih rentan terhadap bencana. karena kebiasaan ini mulai digantikan oleh kepercayaan yang lebih modern. 2005. K. Herry Yogaswara and Eko Yulianto. Dalam kasus Simeulue.html Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR).

humanitarianinfo. Total Population per Simeulue Village District.org/sumatra/mapscentre/docs/81_Simeulue/30_Population/SU M81-020_Simeulue_Population_Village_HIC_2005_04_18_ A4. 2005.pdf 34 . Diunduh dari: www.- UNORC.

2 Secara khusus. Berbagai pengubahan lingkungan alam terjadi secara cepat dan besarbesaran. Mengingat 10% lahan di sana rentan terhadap banjir. Tambahan lagi.000 milimeter.000 meter di atas permukaan laut. sekitar 50% populasi dan hampir 75% tanah milik penduduk terletak di area banjir. Proses urbanisasi yang deras dan kurang terkendali mengakibatkan juga pemakaian lahan secara tidak sesuai. Jumlah gunung berapi di Jepang kira-kira sepersepuluh gunung berapi di dunia. Tiga perempat daratannya berupa pegunungan dengan relief yang cukup tajam. Karena bentuk kepulauan Jepang yang sempit dengan topografi yang bervariasi. salah satu daerah di Jepang yang paling rentan terhadap bencana banjir. Di wilayah pantai selatan yang menghadap ke Samudera Pasifik. Dengan mendokumentasikan pengalaman ini. yang rawan banjir. Jepang tengah. Segera setelah turun hujan lebat. sebuah wilayah dataran rendah yang kerap diserang banjir. dan pengujian teknologi tersebut di pihak lain. Ketiga sungai ini mengitari dataran Noubi. perbedaan iklim udara menjadi sangat besar. Jepang terletak di area gempa Sabuk Pasifik dan kerap mengalami dampak akibat aktivitas gunung berapi dan gempa yang dahsyat. curah hujan mencapai 4. aliran udara “Bai-u” pada bulan Juni dan Juli. seiring dengan meningkat pesatnya kegiatan dan eksploitasi ekonomi. Nakano et al. Rata-rata curah hujan 1. dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan kearifan dan teknologi lokal mensyaratkan adanya dukungan kebijakan yang sesuai dan kesadaran dari para peneliti di satu pihak. serta perekaman. verifikasi. Akibatnya. Nagara. sungai-sungai membanjir. prefektur Gifu. Deretan pegunungan. dan pengurangan kerusakan tengah diteliti di prefektur Gifu. 1 2 T. berarti dua atau tiga kali lipat dari rata-rata daerah lainnya dengan ketinggian yang sama. Latar Belakang Jepang adalah sebuah kepulauan di wilayah iklim muson yang mengalami udara hangat dan lembap pada musim panas dan udara sejuk di musim dingin. Japan Water Forum (JWF) (2006). terletak pada pertemuan tiga sungai: Kiso. Jepang Langkah-Langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang Yukiko Takeuchi and Rajib Shaw Abstrak Kearifan lokal dalam penanggulangan bencana banjir di Jepang telah dikembangkan dan diuji dari waktu ke waktu. hujan salju di musim dingin. (1974). pengendalian erosi. beberapa di antaranya hingga 3.1 Kebanyakan kota di Jepang terkumpul di dataran pantai.800 milimeter per tahun. dan terbukti efektif. Mayoritas penduduk dari total 100 juta jiwa memadati wilayah dataran yang sempit. Udara lembap dari air terserap dan terkeringkan di daratan berkat topan di musim panas. Erosi dan pengikisan tanah terjadi sangat cepat di wilayah pegunungan. Suatu perpaduan antara teknologi pencegahan banjir. sungaisungai di sana pada umumnya pendek dan agak curam.Prefektur Gifu. 35 . memanjang di tengah daratan negeri yang panjang dan sempit ini. serta peralihan depresi dan aliran udara pada semua musim. dan Ibi.

dan di banyak tempat saling terhubung. Dalam peta sejarah. suatu sistem saling bantu. melainkan membuat perangkat berbasis-pengetahuan untuk mengurangi dampak kerusakan.Kisah/Peristiwa Bencana banjir terjadi setiap tahun di dataran aluvial dan daerah delta prefektur Gifu. Orang dapat melindungi hidup dan harta milik dengan lebih baik berkat masuknya teknologi seperti. masyarakat membangun beberapa struktur sederhana di tepian sungai. Struktur ini disebut Hijiri-ushi yang berarti Sapi Besar. Pengendalian Erosi Untuk meminimalkan erosi. check dam. luapan banjir dari sungai dianggap sebagai gejala alam. Pada akhir abad ke-19 (zaman dinasti Meiji). Selama lebih dari 200 tahun. gotong royong. aktivitas pengurangan risiko bencana banjir dilakukan melalui goninggumi. masyarakat tidak dapat mengendalikan sungai. Setiap kampung membentuk pengurus khusus dengan tugas memelihara tanggul cincin itu. Kearifan Lokal Di masa lalu. frekuensi banjir di daerah ini berkurang. dataran Noubi mengalami sejumlah bencana banjir. keberadaan tanggul cincin itu mulai dirasakan kurang berguna dan di beberapa tempat bahkan dibongkar agar tanahnya dapat digunakan untuk keperluan lain. agaknya karena bentuknya yang secara sepintas mirip dengan seekor 36 . Tiga jenis pengetahuan dan teknologi tradisional yang dimiliki masyarakat Gifu diterangkan pada Gambar 1 dan dalam pembahasan di bawah ini. berbagai teknologi pengendalian banjir diterapkan dengan bantuan para insinyur dari Belanda. tanggul beton. Nagara. Program lain mencakup penanaman bambu sebagai persiapan dan pengurangan risiko bencana banjir. khususnya pada area kelokan sungai. pintu air. masyarakat membangun tanggul cincin tradisional yang berfungsi melindungi beberapa rumah dan lahan pertanian (Gambar 2). Dulu. dan saling mengawasi yang meliputi lima keluarga pada kelompok masyarakat tertentu. Karena lokasi dan topografinya. dan Ibi. masyarakat di sana berjuang untuk melindungi jiwa dan harta milik dari bencana banjir. Penduduk menamainya Waju (cincin dalam). tanggul cincin semacam ini ditemukan di beberapa lokasi. serta pengelolaan hutan di dataran banjir. Akibat kebijakan yang dilaksanakan pemerintah pada abad ke-18 terhadap aliran sungai Kiso. pada awal abad ke-19 (zaman dinasti Edo). antara lain. pengetahuan. dan gotong royong dalam komunitas. Oleh sebab itu. Kerja sama ini membantu tumbuhnya rasa percaya diri dan memperkuat ikatan komunitas setempat. dan peralatan pompa. Orang tidak berusaha menghalanginya. Sebagai contoh. tetapi jiwa dan harta milik dapat dilindungi dengan teknologi sederhana. Pencegahan Banjir Untuk mengurangi dampak banjir. tradisi.

penting jugalah memusatkan perhatian pada 37 . Ketika terjadi peristiwa banjir besar tahun 1896. Pada awalnya.sapi. Ketergantungan terhadap teknologi modern membuat orang terlalu bergantung pada sumber daya luar. Pengurangan Kerusakan Untuk mengurangi kerusakan akibat banjir. Patut diperhatikan bahwa teknologi yang sama masih digunakan hingga hari ini dengan sedikit perubahan pada jenis bahan yang dipakai. Mizuya dibangun sebagai ruang penyimpanan harta benda rumah tangga. keterlibatan masyarakat merupakan unsur penting dalam praktik kearifan lokal. Gambar 3. Biasanya satu set Hijiri-ushi terdiri dari 5 struktur. sehingga meningkatkan kemandirian masyarakat. Keluarga yang cukup kaya biasanya juga mempunyai perahu darurat untuk keperluan evakuasi (Gambar 7). Terlebih lagi. kendati mengalami perubahan dalam perjalanan waktu. Keluarga-keluarga yang cukup makmur biasanya mempunyai Mizuya di samping bangunan rumah utama. Hijiri-Ushi di Sungai Nagara (Foto oleh NIED-KU. Jenis yang paling umum tampak pada Gambar 3 dan 4. sehingga justru mengurangi kapasitas dan kemampuan mereka untuk menolong diri sendiri. Setelah itu. 2007) Pelajaran yang Dapat Dipetik Walaupun pengetahuan dan teknologi tradisional semakin tersingkir dan semakin jarang diterapkan di kebanyakan wilayah Jepang. yang disebut Mizuya (Gambar 5). ketinggian Mizuya hanya sekitar 2 meter. para pemilik rumah membangun Mizuya dengan menambah ketinggiannya 1. 2007) Gambar 4. Kejadian-kejadian bencana yang terjadi akhir-akhir ini banyak memperlihatkan kegagalan sistem tersebut dalam menolong kelompok masyarakat yang terkena bencana. Karena itu. Di satu pihak.3 meter dari ketinggian semula (Gambar 6). sebuah gudang penyimpanan dan sebuah kamar mandi. Ada beberapa jenis Hijiri-ushi berdasarkan bahan yang digunakan. sebagai cadangan hunian pada saat banjir. kita perlu memusatkan perhatian pada pengembangan teknologi pengurangan bencana. Mizuya yang sudah dimodifikasi terdiri dari dua ruang. Di pihak lain. ada beberapa kelemahan jika orang melulu bergantung pada teknologi modern untuk mengurangi dampak bencana. Pada tiap kelokan sungai (bergantung pada panjang pendeknya kelokan) biasanya diletakkan sekitar 13-15 set Hijiri-ushi (Gambar 4). Tujuan struktur ini adalah mengurangi kekuatan arus air sungai sehingga memperkecil dampak erosi. Pengetahuan tradisional telah terbukti bermanfaat dalam konteks kebudayaan dan sosio-ekonomi lokal. membuat mereka tak berdaya dan menyebabkan kerugian yang lebih banyak. langkah ideal dalam upaya pengurangan bencana seharusnya memuat kombinasi yang seimbang antara teknologi modern dan pengetahuan tradisional. Prinsip-prinsip tradisional dipertahankan. Kini beton lebih lazim digunakan daripada kayu sehingga umur pakainya lebih lama. Dalam perjalanan waktu fungsi Mizuya mulai diubah sehingga dapat dihuni orang untuk waktu yang lebih lama. orang membangun rumah yang ditinggikan. Hijiri-ushi dari beton (Foto oleh NIED-KU.

sosial. Lembaga-lembaga pemerintah dan komunitas peneliti umumnya memiliki ‘informasi risiko’ yang lebih tinggi daripada kelompok-kelompok masyarakat setempat. dan masyarakat setempat. and I. Kadomura.” In Natural Hazards: Local. Bahkan. Kendati demikian. and T. T. peneliti. 1974. M. Flood Fighting in Japan: 15. “Natural hazards: Report from Japan. Pemerintah. Burton. http://www. Sekiguchi. budaya. demi menunjang pemanfaatannya. 231-245. pemerintah. Agar pengetahuan tradisional dapat dimanfaatkan secara efektif. (ii) verifikasi tentang kekuatan dan kelemahannya. Pentinglah mendokumentasikan pengetahuan tradisional itu secara sistematis.. city. peneliti. seandainya ada kebutuhan untuk menerapkan suatu teknologi baru untuk pengurangan bencana. masyarakat setempat perlu dilibatkan agar mereka dapat memahami kelebihan dan kekurangan teknologi itu (mencakup rincian bahan yang digunakan. 2007.osaka. Okuda. dan (iv) klasifikasi teknologi berdasarkan kriteria tertentu. juga kalangan akademis. Global. perlu menghargai praktik dan teknik tradisional yang masih diterapkan masyarakat agar dapat mengajukan upaya perbaikan yang berdasarkan konteks dan paling sesuai bagi wilayah tertentu. Untuk ini. Informasi risiko perlu dilengkapi dengan kearifan lokal dan pengetahuan tradisional agar dapat secara efektif mengurangi risiko bencana dalam komunitas masyarakat lokal. dalam upaya pengurangan bencana dan dalam penelitian dan pendidikan. 2006. T. Untuk mengoptimalkan komunikasi risiko. G. dan sebagainya). dan ekonomi). Japan Water Forum (JWF). menjalani proses hingga ujung dan menjembatani jurang antara teori dan praktik. edited by White. Langkah-langkah pendokumentasian mencakup: (i) pengumpulan informasi dasar.implementasi teknologi. National. dan masyarakat setempat harus saling berbagi pengetahuan. Settu City. pdf - 38 . Oxford: Oxford University Press. (iii) telaah atas kemungkinan penerapannya pada berbagai konteks (fisik. masyarakat setempat kaya akan kearifan lokal. waktu yang diperlukan. modal yang harus dipenuhi.jp/section/222_ shougaigakusports/p106-107. perlu ada kebijakan yang jelas pada berbagai tingkatan. Daftar Pustaka Nakano. khazanah kearifan lokal memainkan peran yang amat penting karena berkaitan langsung dengan kelompok masyarakat. Mizutani. H.settsu. Komunikasi risiko adalah perangkat interaktif dua arah untuk saling berbagi informasi tentang risiko di antara aparat pemerintah.

dan (v) rendahnya kandungan nutrisi pada rerumputan. Latar Belakang Mongolia terdiri atas ibu kota dan 21 aimag atau provinsi. Pusat soum Mandal terletak di wilayah utara. Masyarakat secara bersama-sama menerapkan kearifan lokal yang dapat digunakan untuk pengurangan risiko bencana. dan organisasi sosial adalah beberapa bidang kearifan lokal yang membantu masyarakat mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana sepanjang tahun. frekuensi peristiwa kekeringan dan zud cenderung meningkat. dan serangan serangga hutan. Masyarakat Shiver terdiri dari kira-kira 30 keluarga penggembala. yakni sejenis bencana musim dingin khas Mongolia yang mengganggu kesejahteraan dan keamanan pangan masyarakat penggembala itu akibat tingginya angka korban jiwa manusia dan juga korban ternak. ibu kota ke dalam beberapa distrik.Masyarakat Penggembala Shiver. Mongolia. kaum penggembala di Mongolia biasanya tergabung dalam khot ail. dan distrik ke dalam beberapa horoo. kebakaran hutan. Kisah/Peristiwa Masyarakat pedalaman di Mongolia sangat bergantung pada kondisi iklim dan sering terpapar bencana alam. (iii) salju tebal (lebih dari 70 cm). Zud adalah bencana alam yang paling sering terjadi. 160 km dari Ulaanbaatar (ibu kota Mongolia). Masyarakat penggembala Shiver tinggal di soum Mandal. sepanjang waktu berhadapan dengan bahaya bencana zud (bencana musim dingin yang khas Mongolia). Karena perubahan iklim dan ekologi. Kearifan Lokal 39 . kebakaran hutan. kekeringan. yang paling sering adalah zud. (iv) lapisan es di tanah. yakni kelompok 4–5 keluarga yang terikat hubungan darah atau kekerabatan. soum ke dalam beberapa bag. khusunya pada musim dingin. dengan pembagian lebih rinci aimag ke dalam beberapa soum. pengetahuan tentang bencana alam. di samping meningkatnya bencana alam. sangat berdampak pada ekonomi negara dan kehidupan penduduk pedalaman. Mandal. Semua kondisi ini. hujan badai. Sejak zaman dahulu. termasuk (i) kekeringan parah yang meluas pada musim panas. kalender musim. dan serangan serangga hutan. Penyebab langsung bencana zud adalah meningkatnya fenomena alam. (ii) temperatur yang luar biasa dingin pada musim gugur dan musim dingin (di bawah -40°C). Mongolia Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver Bolormaa Borkhuu Abstrak Masyarakat penggembala Shiver di aimag (provinsi) Selenge. 200 km dari pusat aimag Selenge. Selenge. hujan badai. Peta penggunaan lahan. kekeringan.

antara lain peta penggunaan lahan. Shar Khad. lahan pertanian. jembatan. 43 rumah tangga di 8 permukiman musim panas (2-9 rumah tangga tiap permukiman). Pada peta tergambarkan antara lain letak permukiman musiman. kalender musim. para penggembala membuat sebuah peta tentang tempat tinggal mereka. Ladang jerami memenuhi daerah lembah sungai Shiver dan berdekatan dengan permukiman musim gugur. Galsan bulag. dan perubahan iklim. hutan. Kalender Musim Kalender musim digunakan untuk menentukan kapan tiba dan berapa lama bencana berlangsung. Urtuunii am. Mereka tahu. Khuurai Shaazgait. September-Oktober pada musim gugur Hujan lebat: Juni-Agustus Serangan serangga hutan: Mei (awal musim tanam)-September Organisasi Sosial 40 . Berikut ini hasil pengamatan mereka: Zud dan kekeringan: Juni-September Kebakaran hutan: April-Juni pada musim semi. lengkap dengan deskripsi penggunaan lahan (Gambar 2). dan kekurangan lahan penggembalaan. pengetahuan tentang sebab dan akibat bencana. Tsagaan. hutan yang terbakar. Marz. antara lain lembah Chavgants. Peta menunjukkan 30 rumah tangga yang tinggal di 13 permukiman musim dingin (1-5 rumah tanggap pada tiap permukiman). Jumlah rumah tangga di permukiman musim panas lebih banuyak daripada musim dingin karena banyak keluarga dari perkotaan datang ke daerah pada musim panas dan lalu pulang pada musim gugur. dan terusan Nariin. dan Saalinch. Permukiman pada musim panas dapat ditemukan di tepian sungai Ar bulag. dan serangan serangga hutan sebagai bencana alam yang paling banyak terjadi di wilayah itu. keakaran hutan.Masyarakat penggembala Shiver secara bersama-sama menemukan kearifan lokal yang bermanfaat bagi pengurangan risiko bencana (Gambar 1). kekeringan. Peta Penggunaan Lahan Dengan melakukan survei. jalan. dan jejaring sosial. Pengetahuan tentang Bencana dan Sebab Akibatnya Para penggembala menyebutkan zud. Permukiman pada musim gugur terletak berdekatan dengan lokasi permukiman musim dingin. hujan adai. sungai. perubahan komposisi tumbuhan. Beberapa jenis pengetahuan yang penting pun muncul. Dampaknya pun bermacam-macam. permasalahan seputar lahan penggembalaan. misalnya kematian ternak. ladang penggembalaan. serta area runtuhan salju selama berlangsung zud. mata air. bencana-bencana itu disebabkan oleh macam-macam kondisi semisal kurangnya penegakan hukum. Permukiman musim dingin terletak agak berjauhan di lembah gunung. penggundulan hutan. ladang jerami.

Di wilayah pedalaman. pencegahan dan pengurangan risiko bencana alam. dan pemerintah soum. kaum penggembala di wilayah pedalaman telah berhasil mengambil inisiatif dan membangun semangat untuk bergabung dalam kelompok-kelompok agar dapat bekerja. 6. serta hujan badai. serta kebakaran hutan dan stepa. sangat berbeda dibandingkan dengan negara-negara lain. melainkan lebih luas hingga ke persoalan tentang perlindungan lingkungan hidup. Sistem manajemen bencana secara lokal pada tingkat akar rumput diperlukan supaya memampukan para penggembala untuk mengatasi bencana dengan kerugian sekecil mungkin. Pelajaran yang Dapat Dipetik Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dipetik dari masyarakat Shiver berkenaan dengan kearifan lokal untuk mengurangi bencana. Manajemen bencana tidak boleh hanya terpaku pada mengupayakan ladang penggembalaan dan ladang jerami yang mencukupi agar para penggembala dapat melewati musim dingin dengan tenang. Ciri khas bencana alam di sana: durasi cukup lama. Pintu dibuka lebar bagi munculnya inisiatif dari tingkat akar rumput berkenaan dengan perkara yang bukan sekadar soal perlindungan air dan padang rumput. sistem manajemen bencana yang akan diterapkan di sana harus terlebih dahulu disesuaikan dengan kondisi lokal. Penghidupan kaum penggembala Mongolia. Tujuan utama masyarakat penggembala adalah penggunaan ladang penggembalaan secara rasional. Masyarakat pedalaman harus mampu memahami kerentanan mereka terhadap bencana yang merugikan ekonomi dan terjadi secara terus-menerus. kebakaran hutan dan stepa. dan manajemen bencana. dan menyelesaikan berbagai persoalan dan kesulitan melalui usaha bersama. dan peralihan ke ekonomi pasar. Masyarakat Shiver dapat mengenali bencana-bencana alam yang umum dialami di Mongolia seperti zud. serta sangat penting untuk mengurangi risiko bencana yang paling sering terjadi dan paling merusak ekonomi. sumber pertolongan yang utama berasal dari para tetangga. Oleh sebab itu. Bantuan dan dukungan juga datang dari organisasi Palang Merah setempat dan anggota parlemen. kerugian yang ditimbulkan amat banyak dan luas. 1. 2. sanak saudara. Sewaktu terjadi bencana. zud. 4. 41 . Pemanfaatan kearifan lokal pada masyarakat pedalaman dalam upaya pengurangan risiko bencana adalah metode yang terbukti hemat biaya dan efisien. kaum penggembala dan penduduk lainnya membentuk unit-unit swadaya dan koperasi untuk secara bersama-sama menangani masalah yang diakibatkan oleh kekeringan. Masyarakat lokallah yang terkena bencana. dan kebakaran stepa. 3. Di Mongolia. kekeringan. maka mereka pulalah yang sangat perlu tahu tentang risiko bencana dan mampu mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak bencana yang akan terjadi. yakni zud. Praktik kearifan lokal menjadi penting karena adanya kebutuhan untuk memobilisasi tindakan manajemen bencana di tingkat akar rumput. 5. kekeringan. melakukan aktivitas bisnis. penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan. anggota keluarga. Pentinglah agar manajemen juga mencakup cara-cara pemakaian sumber daya alam di daerah itu secara berkelanjutan. permukiman dan pekerjaan mereka.

42 . terutama justru di kalangan masyarakat miskin. Pemahaman mereka tentang manajemen bencana sebagai upaya bantuan pasca-bencana belaka perlu diperluas hingga mencakup pula upaya pengurangan risiko dan pencegahan bencana. Lembaga-lembaga negara perlu menerapkan langkah-langkah yang komprehensif dengan tujuan meningkatkan kesadaran penduduk tentang pentingnya upaya pengurangan risiko bencana. Persepsi masyarakat tentang kerentanan diri mereka terhadap bencana alam haruslah diubah. inisiatif dari akar rumput harus didukung.7. Di samping itu.

Kisah/Peristiwa Tanah longsor biasa terjadi di banyak tempat di Nepal. Chitwan. Nepal Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli Man B. Program ini. dapat juga mengakibatkan tanah longsor. disingkat PDMP) mulai dilaksanakan pada tahun 2000 di delapan kampung di empat distrik Nepal. Sebagai contoh. semakin banyaknya pengambilan bebatuan dan pasir dari dasar sungai dalam skala besar-besaran telah memperparah masalah. Penggundulan hutan secara hebat dan praktik pertanian yang 43 . Akibatnya. Chitwan. dengan sasaran membangun kapasitas masyarakat secara partisipatif. akibat pengendapan lumpur. Risti dan Kyamin di Distrik Tanahu. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang kearifan lokal dalam penanggulangan bencana adalah hal yang langka di Nepal. dan Tanahu. Thapa. dan Kiran Amatya Abstrak Nepal rentan terhadap beberapa bencana alam. pembangunan yang tak terencana. Syangja. Youba Raj Luintel. karena beberapa faktor antara lain topografi wilayahnya. yang didasari oleh pengalaman sebelumnya dalam program Peningkatan Kapasitas Penanggulangan Bencana di Nepal. gempa bumi. kebakaran. banyak masyarakat terpencil di pedalaman memanfaatkan pelbagai macam praktik tradisional mitigasi dan persiapan untuk mengurangi dampak negatif bencana terhadap nyawa dan harta milik mereka. Beberapa kondisi dan perilaku masyarakat turut memperburuk keadaan. Bhupendra Gauchan. banjir. Memangkas dan menebang pohon pada waktu yang tidak tepat juga merupakan faktor yang menambah persoalan. Syangja. Kurangnya manajemen kehutanan yang baik juga berperan menimbulkan longsor. Kahule dan Oreste di Distrik Syangja.Distrik Bardiya. dan hemat biaya. Latar Belakang Program Penanggulangan Bencana Partisipatif (Participatory Disaster Management Program. berkelanjutan. Proyek Program Penanggulangan Bencana Partisipatif yang didukung oleh UNDP memberikan perhatian banyak pada teknik-teknik mitigasi tanah longsor sebagaimana dipraktikkan oleh masyarakat di distrik Bardiya. dan Tanahu di Nepal. bertujuan memadukan pengetahuan modern dan pengetahuan lokal dalam upaya mitigasi dan kesiagaan terhadap bencana. Meningginya dasar sungai di hilir. Tujuan proyek ini adalah mendorong para pengambil kebijakan agar memasukkan unsur-unsur kearifan lokal yang amat kaya ke dalam upaya penanggulangan bencana negara itu. antara lain tanah longsor. dan kekeringan. Longsor dapat terjadi di hilir (aliran sungai) atau di hulu (pegunungan). serta Guleria dan Padnaha di Distrik Bardiya. dan pesatnya pertumbuhan penduduk. Kampung-kampung itu antara lain Bhandara dan Kathar di Distrik Chitwan.

Memperbaiki terasering Di daerah yang kurang subur. atau rumput-rumputan di dan sekitar perkampungan. semak. juga untuk mempermudah cocok tanam. Dandhelo (kebakaran hutan) mempercepat menipisnya sumber daya hutan. Akar bambu juga melebar dan saling bertautan dengan akar bambu lainnya sehingga membentuk suatu sistem penguat tanah alami. melainkan juga karena dilakukan secara sengaja akibat kepercayaan pada mitos bahwa pembakaran hutan membantu proses regenerasi tumbuhan. Sistem penanaman Daripada menanam pepohonan besar. dll. selama ratusan tahun para petani berhasil membangun terasering untuk mengurangi laju aliran air dan hilangnya lapisan humus. Mereka juga menanam amriso (bouquet grass dalam bahasa Inggrisnya) dan babiyo (eulaliopsis) untuk melindungi pematang terasering. penduduk setempat mengamati tanda-tanda alam yang memungkinkan mereka berjaga-jaga sebelum terjadi bencana. Seringkali tanah semacam itu rentan terhadap bencana tanah longsor.) yang tidak ramah terhadap lingkungan alam sekitar. Mereka juga berhasil membangun dan mengelola terasering dengan sedikit kemiringan pada pojoknya. masyarakat di perbukitan lebih suka menanam pepohonan kecil. Praktik penanaman dengan cara demikian itu tidak hanya memberikan makanan. tanah longsor menyebabkan banjir.buruk ikut memperburuk keadaan. Kearifan Lokal Masyarakat setempat memiliki serangkaian langkah tradisional untuk menanggulangi tanah longsor. 44 . tetapi juga menambah pendapatan bagi petani. Dengan cara itu. Semua tanaman ini mengakar secara dalam dan melebar sehingga memperkuat tanah. air yang tertahan di teras dapat mengalir melalui pojok itu. Petani di Terai menanam tumbuhan seperti itu di lahan pinggiran yang tidak cocok untuk ditanami. Selain itu. Dengan meletakkan bebatuan dan lumpur pada tepi terasering. Demikian juga. bahan bakar dan kandang bagi hewan ternak. Pengalaman mereka menunjukkan bahwa pepohonan kecil dan semak dapat mencegah hilangnya humus dan tidak berisiko tumbang jika terjadi hujan lebat. Praktik khoria (peladangan tebang-dan-bakar) juga mempercepat proses menipisnya sumber daya hutan. untuk mengendalikan larinya air. dan rerumputan di kelokan sungai dan di area yang curam dapat melindungi lahan pertanian terhadap risiko erosi dan tanah longsor. orang menanam bambu di parit. Para petani beranggapan bahwa pepohonan kecil. Tetapi. Dandhelo terjadi bukan hanya karena kelalaian manusia pada musim kering. Paritparit alam di punggung bukit terbentuk karena penggundulan rumput oleh ternak secara berlebihan. dan bertambahnya pembangunan jalan (rel. ada kaitan erat antara tanah longsor dan banjir. cekungan. erosi parit di punggung bukit dapat menimbulkan tanah longsor. aspal. sistem drainase natural yang kurang tepat. bukan pada tepinya. kadang orang terpaksa bercocok tanam di tanah yang curam. Terakhir. semak. Oleh sebab itu. dalam banyak kasus. Di samping itu.

Di daerah perbukitan. petani mendirikan struktur semacam ini pada tepian sungai yang arusnya deras. cara ini efektif karena mampu membelokkan aliran sungai dari lahan pertanian. orang-orang biasanya bergotong royong untuk membangunnya. Pagar semacam ini merupakan alternatif jikalau bebatuan besar sukar didapatkan di sana. siris. tanaman berakar dalam ini tidak berebut nutrisi dan udara dengan tanaman pangan seperti gandum. Pagar hidup. pengikisan tanah. Daun-daunnya yang mati juga berfungsi sebagai zat organik yang menyuburkan tanah. pohon neem. selain juga dapat mengalihkan banjir dan menjaga agar binatang liar tidak masuk ke dalam lahan pertanian. longsor. kutmiro. phaledo. Akar rumput berfungsi menjaga ikatan tanah dan mengurangi laju aliran air hujan maupun air irigasi. Tanaman dewasa dan rerumputan mencegah pengikisan tanah dan longsor. Lebih jauh lagi. dan tanki. Yang sering digunakan sebagai pagar hidup antara lain sajiwan. Di area dekat lahan pertanian. Dua jenis pagar yang umum ditemui adalah dinding pagar kering dan pagar hidup. dan ambruknya lereng. Banyak petani di Terai dan di perkampungan perbukitan lainnya mempraktikkan pembuatan pagar hidup. koiralo. teknik tersebut berhasil meminimalkan hilangnya lapisan humus dan mengurangi laju aliran air yang pada akhirnya mengurangi kemungkinan terjadinya longsor. Tanaman-tanaman ini berakar dalam dan merontokkan daun pada musim dingin sehingga menyediakan sinar matahari bagi tanaman musiman lainnya. menanam rumput membantu mengendalikan hilangnya lapisan humus dan mengurangi kemungkinan longsornya dinding terasering. di atas bebatuan kecil yang diletakkan di atas permukaan tanah. Pembuatan pagar Membangun pagar adalah salah satu cara yang paling populer untuk melindungi tanaman dari serangan binatang hama dan memungkinkan tanaman dan rerumputan tumbuh pada tanah pinggiran. para petani juga membiarkan rerumputan tumbuh di dinding terasering.tanah di lahan curam diubah menjadi lahan pertanian terasering (Gambar 1). Meskipun mendirikan pagar batu merupakan pekerjaan yang mahal dan memerlukan perawatan teratur. dan simali. petani mendirikan dinding batu pada sisi lahan pertanian atau di dekat aliran sungai dan parit. Dinding pagar kering. petani menanam bambu atau tumbuhan lain di samping dinding itu supaya strukturnya lebih kokoh dan awet. gindari. Walau tujuan utamanya untuk memperluas area pertanian. jika bebatuan mudah didapat. Beberapa jenis tanaman pakan hewan juga kadang digunakan (secara tersendiri atau dikombinasikan dengan pepohonan pagar) semisal badhar. dabdabe. Biasanya. Karena mengangkut batu-batu besar bukanlah pekerjaan mudah. 45 . Sebagai akibatnya. Struktur pagar terdiri dari bebatuan besar yang ditumpangkan di atas galian pondasi. Pagar semacam ini efektif dalam meminimalkan pengaruh banjir. khirro. Di samping itu.

Pancaran air di tempat baru juga merupakan pertanda lainnya. Sekaligus juga cara itu efektif untuk mengurangi hilangnya lapisan humus karena menahan laju peluruhan permukaan tanah. Menanam satu jenis tanaman pada satu waktu berarti tidak membiarkan lahan pertanian menganggur dan terbuka. Namun. dan sangat rentan terhadap bencana. Setelah hampir setahun lamanya melakukan observasi dan berinteraksi dengan penduduk di delapan perkampungan. Beberapa laporan tersedia tentang nilai kearifan lokal bagi pengelolaan sumber daya alam di Nepal. Pengetahuan lokal itu tetap bertahan karena dua sebab: Pertama. Misalnya. baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat masyarakat. Pengalaman petani selama bertahun-tahun membuktikan bahwa lahan yang terbuka rentan terhadap pengikisan oleh angin. Lebih jauh lagi. Pelajaran yang Dapat Dipetik Nepal adalah sebuah negeri yang kecil. Kedua. Kapasitas negara itu untuk menangani banjir dan bencana alam sangatlah lemah. Pengetahuan semacam itu lebih kental di dalam kelompok suku yang homogen daripada dalam kelompok-kelompok pendatang (seperti Brahmin dan Chhetri di distrik Terai). seperti Gurung dan Tharu. air dan longsor.Tumpangsari Petani di perbukitan dan di Terai meningkatkan perolehan tanaman pangan dengan cara tumpangsari. bisa dikatakan tidak ada. semakin besarlah kemungkinan bahwa kelompok itu memiliki khazanah kearifan lokal yang kaya. ada kemungkinan itu pertanda akan terjadinya longsor dalam waktu dekat. pengetahuan itu mempunyai manfaat fungsional dalam masyarakat yang berkepentingan. memiliki pengetahuan lebih banyak tentang mitigasi bencana. menjadi jelaslah bahwa tidak semua kelompok masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang sama luasnya mengenai mitigasi bencana— sebagaimana bisa diduga. pengetahuan itu secara dinamis disampaikan dari generasi ke generasi melalui tradisi lisan dan praktik. literatur tentang kearifan lokal bagi persiapan dan mitigasi bencana amatlah jarang dan tercerai-berai. finger millet dengan masyang (black gram). Berubahnya posisi pohon secara vertikal ataupun horizontal juga menandakan terjadinya longsor di daerah itu atau di sekitarnya. sehingga mereka dapat mempersiapkan diri sebelum bencana terjadi. 46 . gandum dengan kentang. Masyarakat yang tinggi kesadarannya akan solidaritas dan harmoni. dan sebagainya. jika tampak rekahan baru di permukaan tanah. telaah atas literatur yang ada memperlihatkan bahwa praktik dan kearifan lokal yang dimiliki masyarakat setempat ternyata tidak diajarkan di sekolah dan juga tidak dicatat. Salah satu tujuan utama intensifikasi ini adalah meningkatkan dan meragamkan panen. kelompok-kelompok masyarakat juga memiliki kemampuan untuk mengenai tanda-tanda bahaya jika akan terjadi longsor. Semakin mandiri dan relatif endogen suatu kelompok. Di perbukitan mereka menanam jagung dengan kedelai. Penelitian yang mendalam dan sistematis tentang mitigasi bencana pada umumnya dan kearifan lokal pada khususnya. Selain bermacam-macam teknik mitigasi tersebut. bertekstur pegunungan.

1992. John J. Rai. menyusun. tetapi juga berkelanjutan dan selaras dengan alam dan budaya. A. Chand.A.1989. Telaah yang mendetail. “Increase in tree cover on private farm land in Central Nepal. Forest Resources and Indigenous Management in Nepal. E. Australian National University. - - - - - 47 . East-West Center. Process and Practice of Community Forestry in Nepal. Daftar Pustaka Carter. Farmers’ traditional wisdom: where does it stand within the present agricultural research system of Nepal? Pakhribas Agricultural Center Occasional Paper No.” Mountain Research and Development.A. Honolulu.1991.“Conservation practices at an upper-elevation village of West Nepal. R. Sc.Fisher. Gurung. Jackson. Villagers.” an unpublished graduate diploma essay. Kathmandu. dan intensif tentang kearifan lokal dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif dan penghargaan mengenai peran kearifan lokal demi peningkatan kualitas dan keamanan hidup penduduk.” Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. thesis. 7-15. D.J. and D. Gilmour. Michigan State University.Thapa.S. 18.P. Oleh sebab itu.J. dan mensistematisasikan khazanah kearifan lokal yang amat beragam ini sebelum lenyap ditelan waktu.G. Karena mereka hidup di tebing atau lembah yang terpencil dan sulit dijangkau. 4.” Mountain Research and Development. D. K. HMG Ministry of Agriculture and Winrock International. Indigenous Pasture Management Systems in High Altitude Nepal: A Review. semua kelompok terancam bahaya makin terkikisnya kearifan lokal antara lain karena pengaruh modernisasi. Research Report Series.1990. pp. 17.1989. B. and R. Perkawinan atau penyatuan kearifan lokal ini dengan pengetahuan ilmiah modern akan dapat meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana.A. sangatlah perlu dilakukan upaya untuk mengumpulkan. East-West Center. Pencatatan pengetahuan semacam itu akan tampak jika saja ada upaya untuk menjadikan prakarsa peningkatan kapasitas penanggulangan bencana dalam kelompok masyarakat bukan saja hemat biaya. Indigenous Systems of Common Property Forest Management in Nepal. Michigan. pp.” an unpublished PhD thesis.H.1989. and P. Environment and Policy Institute (EAPI) Working Paper No. Gilmour. Rusten. Forests and Foresters: The Philosophy. Masyarakat memiliki khazanah pengetahuan yang amat luas dan beragam tentang mitigasi bencana berdasarkan kearifan lokal. sistematis. mereka mempunyai strategi sendiri dalam menghadapi bencana yang harus mereka hadapi.1991. Dhankuta. 381-391.1991. S. “An Investigation of an Indigenous Knowledge System and Management Practices of Tree Fodder Resources in the Middle Hills of Nepal. Metz. 10(1). Australian National University. Gilmour. Gautam.1990. 9(4). Kathmandu: Sahayogi Press. W. Navin K.Rood.” an unpublished M. Honolulu. “Indigenous Forest Management Systems in Nepal.“Indigenous Management of Community Forest Resources in Middle Hills of Nepal: A Case Study.Bagaimanapun juga.J. Fisher.1989.P.D. and Man B.

Local Knowledge on Disaster Preparedness in the Eastern Terai of Nepal” dan “Herders of Chitral. Sistem kasta dalam agama Hindu mempengaruhi hubungan sosioekonomis secara cukup kuat. Contoh-contoh yang diteliti memperlihatkan bahwa dalam perjalanan waktu pada umumnya masyarakat mengembangkan banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir. sebagian besar kelompok masyarakat di Terai tergolong konservatif. mengurangi praktik yang tidak berkelanjutan. mengantisipasi.Terai Timur di Nepal dan Distrik Chitral di Pakistan Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contohcontoh dari Nepal dan Pakistan Julie Dekens Diambil dan diringkas dari “The Snake and the River Don’t Run Straight. Informasi dikumpulkan mengenai kemampuan orang untuk mengamati. Nepal. Seperti lazim di seluruh Himalaya. Rautahat. Segelintir orang berkasta tinggi di kampung 48 . baik nasional maupun internasional. Pada akhirnya. pemahaman atas praktik dan kearifan lokal merupakan prasyarat jika hendak mengintegrasikan konteks dan kebutuhan lokal ke dalam program PRB. kedua masyarakat menghadapi peruahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosioekonomi. Pakistan. Pakistan” Kathmandu: ICIMOD. sebaliknya. Walau demikian. The Lost Messengers? Local knowledge on Disaster Preparedness in Chitral District. dan di Distrik Chitral. yang mempengaruhi kerentanan mereka terhadap risiko bencana alam serta cara mereka menanggapinya. Nepal. and Sarlahi di Terai Timur. 2007. Kelompok-kelompok masyarakat pedalaman dalam studi kasus ini kerap menggabungkan pertanian mandiri dan pekerjaan di luar ladang. beradaptasi dengan. Kearifan lokal juga makin terkikis berkat perubahan pesat dalam konteks lingkungan hidup dan sosio-ekonomi. Studi kasus ini menunjukkan perlunya telaah lebih lanjut atas praktik dan kearifan lokal untuk memperkuat praktik lokal yang baik (yang berkelanjutan dan seimbang) dan. yang cenderung hanya memperhatikan pengetahuan ilmiah dari luar. dan pengetahuan ini berperan menyelamatkan jiwa dan mengurangi kerugian harta benda. Abstrak Kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir telah dicatat dalam dua studi kasus yang dilakukan di beberapa masyarakat pedalaman di Terai Timur. Mahottari. serta di distrik Chitral di Provinsi Tapal Batas Barat Laut. Latar belakang Studi kasus dilakukan di distrik Dhanusa. Pakistan. Proyek PRB niscaya akan memetik manfaat dengan menggabungkan pengetahuan ilmiah eksternal dan kearifan lokal demi terciptanya solusi-solusi yang inovatif dan berkelanjutan. Terai Timur Diibandingkan dengan masyarakat lain di Nepal. dan berkomunikasi tentang risiko-risiko banjir. kearifan lokal ini sering dipandang sebelah mata saja oleh pihak-pihak luar.

Terlebih lagi. hujan lebat di pegunungan dapat memicu terjadinya banjir bandang. Hujan terkonsentrasi pada bulan Juni hingga Agustus. Kearifan Lokal 49 . Lereng pegunungan banyak yang curam. seiring bertambahnya migrasi kaum lelaki. Namun. tempat itu adalah di sisi pada ujung bilah pegunungan. Kondisi geografis di Chitral secara umum tidak menawarkan banyak pilihan yang aman untuk hidup. Orang dapat dengan mudah menarik garis batas antara banjir tahunan normal dan banjir luar biasa yang lebih merusak tetapi dengan siklus kejadian lebih panjang. musim dingin yang agak agak lembut dan kering. di antara kalangan kelompok umur yang berbeda. dan tidak cocok untuk permukiman. tandus. sehingga amat berdampak pula pada penghidupan banyak orang karena sebagian besar warga hidup dari pertanian. mereka menggunakan kerbau. Nyaris hanya 3. yang dominan di perkampungan. Pada musim muson ini hujan yang deras atau berlangsung agak lama dapat menimbulkan banjir di tanah yang sudah jenuh itu. Sama halnya. Para petani menanam gandum.5% wilayah Chitral cocok untuk pertanian. Kisah/Peristiwa Dalam kedua studi kasus. kerentanan gender lebih mencolok di wilayah yang diteliti karena perempuan dalam kebudayaan Maithali. Distrik Chitral Kesenjangan sosio-ekonomis di antara penduduk Chitral tidaklah semencolok di Nepal. Terai Timur di Nepal beriklim muson yang ditandai dengan musim panas yang panas dan lembap. dengan akibat besarnya perbedaan curah hujan antarmusim. Angka korban tewas akibat banjir memang tergolong rendah. Pada umumnya. semakin banyak lelaki yang bekerja di luar kampung atau bahkan luar negeri sehingga lebih banyak perempuan kini harus juga bekerja di luar rumah. Tanah yang mengandalkan irigasi air hujan ini sangatlah subur karena perubahan konstan sedimen yang terkikis. Untuk membajak tanah. dan juga di dalam rumah tangga. Bilah-bilah itu kemudian diubah menjadi oasis ketika orang membangun saluran irigasi. Orang sering dihadapkan pada situasi di mana mereka harus memilih tempat yang paling kecil risikonya. terutama tinggal dan bekerja di rumah. dan sayuran. Daerah lembah sungai terkena banjir berulang-ulang sehingga sama-sama tidak cocok untuk permukiman. Perbedaan besar dalam hal kerentanan tampak di antara kasta-kasta dan tingkat sosio-ekonomis berbeda. Maka.kebanyakan adalah tuan tanah atau rentenir. Yang unik dalam kasus ini adalah lingkungan fisik masyarakat pegunungan yang terpencil itu. pohon buah-buahan. terutama untuk memenuhi kebutuhan sendiri. orang-orang yang miskin dan berkasta rendah seringkali menggantungkan hidup mereka pada orang berkasta tinggi karena tidak tersedia jalan untuk memperoleh kekayaan. banjir merupakan peristiwa yang selalu berulang hampir setiap tahun. tetapi kerusakan yang menimpa lahan pertanian dan harta benda di rumah warga cukup tinggi.

Sebagai contoh. Salah satu contoh berkaitan dengan kapasitas orang untuk mengamati lingkungan sekitarnya di Chitral. penerapan strategi baru bercocok tanam semisal menanam di sepanjang sungai. kepercayaan. aspek-aspek berikut ini: Pengetahuan sejarah dan lingkungan: Masyarakat setempat memiliki pengetahuan tentang sejarah dan sifat banjir di daerah merka sendiri dengan mengamati dan mengalami sendiri peristiwa banjir. dengan dasar pengamatan sehari-hari atas lingkungan di sekitar mereka. makanan. rumah. reorganisasi pola tanam dan pengolahan tanah. permukiman di Chitral didirikan di daerah yang relatif aman kendati risiko sangat tinggi akibat banjir bandang dan bencana alam lainnya di distrik itu. ternak kecil. pengelolaan sumber daya alam (mis. jika tiba saatnya untuk memasukkan kayu bakar dan makanan lebih duu. gudang atas. langkah perlindungan dinding. serta pengaturan waktu (misalnya. dan akumulasi pemahaman tentang lingkungan hidup yang disampaikan dari satu generasi ke generasi lainnya. Pengetahuan teknis: Contoh strategi teknis sebagai upaya beradaptasi dengan banjir antara lain langkah-langkah yang berkaitan dengan pembangunan rumah. Orang sering dapat mengantisipasi banjir dengan cara mengamati tanda-tanda peringatan alam (misalnya perubahan warna air. persepsi. Mereka juga dapat mengidentifikasi tempat-tempat mana saja yang aman bagi manusia dan ternak peliharaan. atau internasional yang akan mengulurkan tangan ketika mereka mengalami bencana akan berpengaruh pada bagaimana orang akan menanggapi keterlibatan pihak-pihak itu. dan juga manusia dari air banjir. atau tidak membangun. sekurang-kurangnya. pagar bambu. membangun gudang penyimpanan makanan. dsb.). keamanan pangan. memperkuat dan memperkokoh dinding dengan timbunan lumpur. Akibatnya. peraturan tentang menggembalakan ternak dan penebangan pohon. dsb. singkirkan harta milik berharga. negara. adanya ikatan erat dengan lingkungan hidup agar dapat bertahan hidup. perubahan awan). mengawasi. lalu tinggalkan rumah). air minum. (Gambar 1) Pengetahuan non-teknis: Contoh strategi adaptasi yang bersifat nonteknis antara lain tindakan yang diambil berkaitan dengan mobilitas ruang dan sosial (mis. yakni kemampuan untuk membaca lingkungan alam. Ini penting karena pengalaman dan pemahaman masa lalu tentang banjir pasti akan mempengaruhi pengalaman dan pemahaman di masa kini. strategi-strategi diversifikasi usaha). penyelenggaraan sistem keuangan mikro. di Terai Timur. dan karenanya membuat interpretasi tentang di mana tempat membangun. kemampuan untuk mengandalkan dukungan sanak saudara dan tetangga. Pengetahuan tentang proyek pembangunan: Kepercayaan orang tentang akan adanya pihak-pihak dari daerah. Di sana. Pengetahuan organisasional: Kemampuan merencanakan. dan pengalaman masa lalu tentang banjir. kantor. Nepal. dan menilai didasari oleh pelbagai transaksi.Kearifan lokal yang dimanfaatkan oleh masyarakat yang berperan meningkatkan kapasitas mereka untuk mengurangi risiko bencana mencakup. atau menanam sayuran - - - - 50 . orang menerapkan berbagai strategi sederhana untuk mendirikan rumah (misalnya meninggikan undakan. atau membangun lantai untuk menghindarkan barang-barang kecil. serta langkahlangkah yang diambil untuk mengalihkan aliran sungai. salah satu strategi beradaptasi dengan banjir bandang diperoleh dengan dasar pengetahuan lokal. dan transportasi.

serta adanya sistem peringatan dini (misalnya siulan. dan seisi kampung berhasil menyelamatkan diri tepat pada waktunya (Gambar 2). tak aneh jika mereka mahir berenang dan peka terhadap perubahan air. tidak ada korban jiwa satu pun karena penduduk berhasil menafsirkan perilaku aliran sungai sebagai pertanda awal. kisah masa lalu disampaikan secara lisan oleh orang-orang tua dengan cara bercerita. tentang lingkungan sekitar mereka. sebanyak 106 rumah di kampung Brep hancur karena Luapan Banjir Danau Es (Glacial Lake Outburst Flood. kelompokkelompok masyarakat tidak mencatat sejarah dalam buku. menyampaikan pengetahuan dan pelajaran yang dipetik dari peristiwa banjir di masa lalu). Tanda-tanda itu semisal warna. serta terbangunnya relasi-relasi institusional dengan pihak di luar lingkaran masyarakat setempat). Orang-orang yang dianggap ahli dalam kelompok masyarakat dan beberapa kelompok sosial tertentu juga memiliki pengetahuan spesialis lokal. Dalam studi kasus ini. Contohnya antara lain masyarakat nelayan yang setiap hari hidup berdekatan dengan air. di samping juga kemampuan meramalkan berdasarkan konstelasi bintang. Namun. peringatan dini tentang akan datangnya banjir) dan di antara generasi (mis. setiap hari mengamati keadaan alam sekitar. Kelompok lainnya lagi mungkin memiliki pengetahuan tentang perkayuan dan anyaman bambu. Dengan demikian. Masyarakat di Chitral juga telah menerapkan strategi-strategi untuk meningkatkan ketahanan mereka terhadap serangan banjir bandang. Semua orang mempunyai pengetahuannya sendiri. kepercayaan dan sikap batin terhadap perubahan sehingga mampu belajar dari kesalahan masa lampau dan dari peristiwa bencana banjir. Strategi komunikasi: Ini mencakup komunikasi secara lisan maupun tertulis tentang peristiwa banjir di masa lampau maupun tentang yang akan datang. Penyebaran pengetahuan ini berlangsung pada dua tingkatan: di antara anggota masyarakat (mis. Nepal. teriakan. seperti halnya di wilayah lain di Himalaya. Pada tahun 2005.- di tepian sungai untuk mengurangi dampak banjir. bau. Dengan demikian. keterampilan yang berguna dalam pengerjaan meninggikan lantai demi menghindari banjir seperti yang ditemukan di Terai. penduduk setempat telah mampu mempelajari tanda-tanda awal akan terjadinya banjir bandang yang merusak. kelompok masyarakat nomad bisa jadi mempunyai pengetahuan lokal tentang lebih dari satu daerah saja). yakni mereka memiliki keahlian penting tertentu yang tidak diketahui semua orang dan yang dapat bermanfaat bagi kesiapsiagaan menghadapi bencana. Tingkat pengetahuan lokal juga bergantung pada sifat suatu masyarakat (misalnya. lari menuruni bukit). dan ciri-ciri air sungai pegunungan. peran para sesepuh amat penting karena merekalah yang kerap kali menjadi ingatan sosial bagi 51 . GLOF). dan internalisasi praktik-praktik tertentu secara turuntemurun. Beberapa pemimpin adat disegani dan memiliki keterampilan berkomunikasi yang membuat mereka mampu berbicara di depan publik dan menyampaikan pesan peringatan (misalnya “harap Anda meninggalkan rumah sekarang juga!”) yang akan dipercayai dan diikuti semua penduduk. Pengetahuan tentang kesiapsiagaan menghadapi banjir diwariskan secara lisan dengan cara belajar sambil melakukan (learning by doing). Kendati demikian. masyarakat migran mempunyai pengetahuan lebih sedikit daripada masyarakat yang telah tinggal di suatu daerah secara turun-temurun. Sebagai contoh. yang bersifat keseharian dan lokal. menceritakan dongeng.

penerus) atas peristiwa banjir di masa lampau dan dapat membantu merangsang pembelajaran. termasuk kelompok-kelompok yang paling rentan dan paling kurang beruntung. Bentuk sungai di Terai Timur. bisa dibandingkan dengan gerak ular. Salah satu contohnya adalah peribahasa: “Ular dan sungai tidak pernah berjalan lurus”. dan upacara tertentu membantu mereka dalam memahami dan mengingat kejadian banjir di masa lampau serta meredakan kegelisahan akan bahaya bencana di masa mendatang. lagu dan puisi merupakan bagian penting dalam kebudayaan Nepali dan Terai. syair. lagu. sesaji. termasuk bencana banjir. masyarakat Kalash. Pada masyarakat yang banyak mengandalkan tradisi lisan. setiap saat bisa berubah arah dan mengubah keadaan. membentuk pengetahuan bersama. berlari menuruni bukit sambil berteriak) sebagai peristiwa katarsis bagi seluruh kelompok masyarakat. dua studi kasus itu membuktikan bahwa praktik masyarakat asli seringkali. Pakistan. biasanya. ingatan. lagu dan peribahasa menjadi gudang simpanan (atau bisa juga dilihat sebagai relay. sementara lainnya menyebut soal banjir di samping masalah-masalah lain yang dihadapi penduduk. Lagu dan peribahasa juga berperan dalam penyampaian strategi penanganan bencana. Sebagai contoh. untuk mampu mengambil tindakan dan bukan sekadar mengharapkan bantuan dari luar saja 52 . tapi tidak selalu. peribahasa. Beberapa lagu yang dikumpulkan dalam studi kasus di Nepal seluruhnya bercerita tentang banjir. dan kreativitas penduduk (Gambar 3). yang merujuk pada sifat sungai di daerah itu: saluran-saluran air sangat tidak stabil. dan dimengerti (dihayati) Dimiliki oleh kelompok masyarakat Tanggap terhadap budaya Pengawasan berlangsung terus-menerus Keandalannya teruji oleh waktu Selaras dengan konteks dan kebutuhan setempat Memberdayakan masyarakat. Pelajaran yang Dapat Dipetik Secara keseluruhan. dan membagikan pemahaman yang sama tentang perubahan sehubungan dengan peristiwa banjir yang kadang sering kadang jarang. Pada beberapa kasus.masyarakat atau kelompok tertentu. dan sebagainya. memiliki kelebihan-kelebihan berikut jika dibandingkan dengan kebanyakan strategi yang datang dari luar dan bersifat dari-atas-ke-bawah: Strategi hemat biaya. salah satu etnik minoritas di Distrik Chitral. peristiwa masa lampau. Ibadat. Sebagai contoh. Lagu dan peribahasa juga dapat membantu membangun kesadaran berkomunitas dan solidaritas di dalam kampung dan/atau dalam beberapa kelompok yang terkait. kegiatan dan upacara ibadat. menyelenggarakan upacara bersama yang disebut lavak natek yang agaknya menstimulasikan unsur-unsur peristiwa banjir melalui gerakgerik dan adegan simbolik (mis. dipercaya. Nepal. menggunakan sumber daya dan keterampilan lokal Mudah diterima. ditanamkan ke dalam ingatan melalui cerita dongeng. Para penyanyi dan pengarang lagu setempat adalah tokoh kunci pembawa pengetahuan dan agen perubahan yang memainkan peran vital dalam pembentukan kesadaran kelompok masyarakat. ritual.

Masih dominan kepercayaan bahwa pengetahuan ilmiah “lebih tinggi” daripada kearifan lokal 2. kiranya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Dalam perjalanan waktu. penduduk setempat biasanya telah mengembangkan cukup banyak praktik dan kearifan lokal mengenai kesiapsiagaan menghadapi banjir yang berperan memperbesar peluang selamat dan mengurangi kerugian harta benda Relasi sosial. Dokumentasi dan pemanfaatan kearifan lokal dapat disalahgunakan oleh pihak-pihak luar untuk menguasai masyarakat tersebut dan sumber daya yang mereka miliki Menambah data dan teknologi belaka tidak akan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat jika tidak dibarengi pemahaman atas konteks dan kebutuhan setempat. Contoh penerapan kearifan lokal dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana antara lain sebagai berikut: 53 . memungkinkan organisasi-organisasi pelaksana untuk menciptakan solusi-solusi yang inovatif dan berkesinambungan dalam upaya mengurangi risiko bencana. jika dikombinasikan dengan pengetahuan ilmiah. sehingga upaya desentralisasi dalam bidang ini menjadi semakin sulit 9. Akibat perubahan yang cepat. Kearifan lokal sering dimonopoli oleh kelompok yang dominan di dalam masyarakat 4. atau tidak bisa diketahui lagi seiring perjalanan waktu 6. tidak relevan. Kearifan lokal sulit untuk diidentifikasi. Beberapa kebiasaan. Bahaya dan bencana alam telah dianggap sebagai persoalan yang berkaitan dengan ketahanan dan keamanan nasional. merupakan unsur penting yang membantu pemahaman kearifan lokal - Banyak keterbatasan dan hambatan bagi digunakannya kearifan lokal dalam penanganan bencana. Oleh sebab itu. kepercayaan. digunakan. Seringkali campur tangan dari pihak luar mengabaikan kearifan lokal (dalam arti. mereka tidak mengerti dan tidak mengakui konteks dan kebutuhan setempat). praktik dan kearifan lokal semakin menjadi tidak pas. dan strategi adaptasi lokal tidak berkelanjutan dan/atau tidak berimbang secara sosial 5. Fokus terhadap kearifan lokal dapat dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan nasional dan struktur politik. khususnya sistem kasta. dinilai. atau individu) Berdasarkan dua studi kasus di atas. digeneralisasi. diuji. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut: 1. khususnya di mata rezim yang otoriter 8. terutama di kalangan generasi muda 7. rumah tangga. menyeluruh (mempertimbangkan hal-hal dan prioritas lain yang dapat mempengaruhi kerentanan kelompok masyarakat. dan ditiru 3.- Bersifat holistik. kearifan lokal. Dengan cara itu sesungguhnya pihak-pihak luar itu sedang menciptakan kerentanan dan bencana baru akibat tidak adanya gambaran yang menyeluruh dan analisis yang mendalam tentang konteks kerentanan setempat. Kearifan lokal semakin tidak dipercaya di dalam kelompok masyarakat sendiri.

memahami. survei. Sistem pendidikan yang sekarang berjalan perlu ditimbang ulang supaya terbentuk kaitan yang jelas antara sekolah dan masyarakat setempat sehingga kurikulum sekolah disesuaikan dengan realitas dan kebutuhan setempat. dan mempertimbangkan kelompok-kelompok dan individu-individu yang rentan. Memahami dan mempertimbangkan persepsi masyarakat setempat mengenai bahaya alam yang mempengaruhi bagaimana orang menilai dan bertindak terhadap bahaya. dan hubungan kekuasaan 6. serta memelihara praktik dan kearifan lokal 10. Menyesuaikan strategi komunikasi dengan pemahaman dan persepsi orang-orang setempat.1. Mengidentifikasikan mekanisme apa yang dapat diusulkan pada tingkat lokal (mis. lokasi pembangunan bangunan dan jalan—karena kearifan lokal dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan keragaman dan kekhususan lingkungan alam setempat 3. Fokus pada praktik dan kearifan lokal membantu mengidentifikasikan dan memanfaatkan kekuatan yang sudah dimiliki masyarakat dan institusi-institusi setempat (daripada membuat institusi baru yang sejenis) 8. Memahami dan mempertimbangkan kompromi (tradeoff) antar risiko yang dilakukan orang dalam kondisi di bawah banyak tekanan 5. bagaimana menghentikan praktik yang tidak berkelanjutan. dan bagaimana mengajak orang untuk turut serta dalam kegiatan pengurangan risiko bencana. metode. Mengidentifikasikan. risiko. 54 . mana strategi penanganan yang berkelanjutan. dan strategi yang baru demi perbaikan penanganan bencana dan demi penguatan mekanisme lokal yang relevan dan berkelanjutan untuk menangani bencana 9. tokoh elite setempat. namun sekaligus juga peluang baru untuk mengeksplorasi cara-cara baru penganggulangan risiko. dan pendataan lainnya untuk verifikasi informasi 2. seimbang. dan perlu diperkuat). Mempertimbangkan nasihat dari penduduk setempat tentang tempat-tempat yang aman. Memadukan kearifan lokan dengan pengetahuan ilmiah untuk membuat peta bahaya. Belajar dari kearifan lokal untuk menciptakan konsep. tetapi yang pasti tidak dapat diabaikan. Memahami dan mempertimbangkan perubahan dalam kerentanan penduduk terhadap bencana alam seiring berjalannya waktu 7. dan memasukkan nilai-nilai lokal ke dalam proses pengambilan keputusan (misalkan sistem peringatan dini) Perubahan lingkungan dan sosio-ekonomi yang berlangsung secara cepat dihadapi oleh banyak kelompok masyarakat sebagai sumber kelemahan baru. Membangun kepercayaan masyarakat bahwa kearifan dan praktik lokal yang mereka miliki masih tetap relevan dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana. dan bencana alam 4. Seberapa jauh praktik dan kearifan lokal dapat berperan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tentulah tidak hitam putih.

badai. dan cuaca yang ekstrem semisal hujan lebat. Seluruh penduduk beragama Islam. 18-25 dan 15-22. fungsional. dan menjadi pegawai swasta (mis. (iv) rentan secara demografis akibat bertambahnya populasi dan masalah kesehatan.Distrik Mansehra and Battagram. tujuan penanggulangan bencana seharusnyalah meningkatkan kemampuan orang agar dapat menghadapi situasi buruk dengan lebih baik. Pertanian skala kecil. kontur wilayah yang pegunungan. tetapi terbagi-bagi ke dalam berbagai klan dan aliran semisal gujjar. geografis. Selama berabad-abad. dan (v) rentan secara politik dan administratif karena di sana tidak ada struktur penanggulangan bencana. membuka warung. tanuli. pengangguran. Iklim bervariasi sepanjang tahun. Karena alasan keagamaan. karyawan bank) adalah sumber penghasilan utama bagi penduduk Mansehra dan Battagram. Ini dapat dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada sehingga dampak bencana dapat diperkecil. Pakistan Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. dan tanah yang tidak subur untuk pertanian. gempa bumi. guru sekolah. Ada beberapa hal lain yang membedakan wilayah ini. Oleh sebab itu. swati. penduduk di wilayah-wilayah ini menghadapi banyak bencana yang terjadi berulang-ulang seperti tanah longsor. Sebagai akibatnya. 55 . dan hujan es. Masyarakat di sana (i) rentan secara fisik akibat ketinggian lokasi dari permukaan laut. iklim. dan penurunan hasil pertanian. di mana Desember. Provinsi Perbatasan Barat Laut. Hujan dan salju umum terjadi di wilayah ini. dan sekuensial untuk menghadapi dampak bencana yang kerap berulang. Nyaris sulit ditemukan dataran kecuali petak kecil yang biasanya dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Januari. penduduk setempat menjadi percaya bahwa bencana adalah bagian kehidupan mereka yang tak dapat dihindari dan mungkin merupakan suatu bentuk hukuman dari Tuhan. dan pashtoon. dan sosial di wilayah itu. Topografinya pegunungan. Dampak bencana amat dirasakan oleh kelompok-kelompok masyarakat di pedalaman karena efek jangka panjangnya terhadap penghidupan mereka. sementara Juni dan Juli bulan-bulan terpanas. Semua mekanisme ini bergantung pada kemampuan orang-orang. dan Februari merupakan bulan-bulan terdingin. Latar belakang Distrik Mansehra dan Battagram di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan (Gambar 1) sangat rentan terhadap pelbagai risiko buruk yang disebabkan oleh kondisi lingkungan. (iii) rentan secara ekonomi akibat kemiskinan. bahkan kehendak politik untuk menerapkannya pun tidak ada. badai salju. Pakistan Takeshi Komino Abstrak Penduduk di distrik Mansehra dan Battangram di Pakistan telah mengembangkan mekanisme bertahan yang bersifat sosial. orang tidak menjalankan keluarga berencana. sayed. terutama tanah longsor. (ii) rentan secara arsitektural karena buruknya bangunan dan infrastruktur. anak-anak menikah pada usia muda. Provinsi Perbatasan Barat Laut. cuaca yang ganas. banjir bandang. Karena seringnya kejadian bencana.

ketika gempa menyerang wilayah itu dan menyebabkan tanah longsor serta kerusakan parah di banyak tempat.yang menjadi faktor penyebab pesatnya pertambahan penduduk. sanak saudara membantu kerabat mereka membangun rumah yang roboh dengan cara menyumbangkan tenaga. Lebih jauh lagi. Kelompok-kelompok masyarakat memiliki sistem sosial dan organisasi yang kuat. Tiap-tiap kategori digunakan oleh masyarakat di Mansehra and Battagram pada beberapa tingkatan masyarakat (individu. dan sekuensial. Misalnya. Mekanisme Bertahan secara Sosial Ada struktur-struktur dan relasi formal maupun non-formal yang dapat mengerahkan sumber daya dan membantu menyelesaikan masalah pada tingkat lokal. dan komunitas) untuk menanggulangi bencana. penduduk yang tinggal di tempat yang rentan terkena bencana segera dikabari dengan teriakan atau ketukan pintu. Komisi Bra-e-Tahaffuz-eJangalat. Jirga biasanya dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan dan mencari solusi bagi permasalahan bersama. Di samping kelompok-kelompok berbasis komunitas setempat. Pertama. organisasi politik. Hasshar adalah saling memberikan bantuan tenaga untuk menyelesaikan masalah dan dalam keadaan darurat. di mana orang dapat meminta bantuan dari kenalan atau kampung tetangga. Ketiga. Terakhir. dan “semangat kampung” (village hood). makanan. rumah tangga. Jika ada bahaya. Kaum lelaki kerap bermigrasi ke pusat-pusat perekonomian di negara itu. Kedua. Di dalamnya tercakup struktur-struktur internal maupun eksternal seperti unit-unit kemasyarakatan. kelompok-kelompok masyarakat sering mengawasi ketinggian air selama turun hujan. Pengangguran dan kemiskinan ada di mana-mana. atau material. Masyarakat menggunakan strategi yang mereka peroleh turun-temurun untuk menangani dampak bencana. “semangat kampung” memungkinkan orang membeli dari warung dengan cara mengutang. 56 . lembaga keagamaan. mengambil bagian dalam penanggulangan bencana dengan cara bekerja sama dengan departemen kehutanan berkaitan untuk menangani masalah penebangan hutan demi mencegah banjir dan erosi tanah akibat hujan lebat. Kisah/Peristiwa Tanah longsor merupakan fenomena yang umum terjadi di Mansehra and Battagram (Gambar 1). fungsional. misalnya. dan sistem ekonomi. Tidak ada upaya penanggulangan bencana dari pihak pemerintah di Mansehra dan Battagram ketika gempa terjadi. ada empat pranata sosial: kekerabatan. kekerabatan memungkinkan orang memperoleh dukungan lebih luas berkenaan dengan suatu masalah atau situasi darurat. jirga. hasshar. Ketika air mencapai batas kritis. Peristiwa bencana yang terakhir terjadi pada 14 Februari 2004. Kearifan Lokal Kearifan lokal di sana dapat dibagi ke dalam tiga kategori berbeda: mekanisme bertahan secara sosial.

Mereka biasanya memilih untuk mendirikan rumah pada area datar. Mekanisme Bertahan secara Fungsional Untuk meminimalkan risiko tanah longsor. atap berukuran lebar 1 hingga 2 kaki dibuat dengan perhitungan matang. Sama halnya. menambah jumlah tiang dan balok kayu untuk lebih memperkuat rumah mereka. atau nilon sebelum ditumpangi tanah agar atap lebih aman. dekat jalan. Mereka dapat meminjam uang atau bahan makanan dari sanak saudara. Pada saat perbaikan pasca-bencana.penghuni rumah yang terancam bahaya segera memindahkan barang ke rumah kerabat atau kampung tetangga. Rumah-rumah yang dibangun berdempetan biasanya paling banyak mengalami kerusakan akibat bencana dan memakan lebih banyak korban jika batu-batu berguguran dari gunung. khususnya di kampung Paras. tugas ini dilakukan secara bergilir di antara warga masyarakat sepanjang musim penghujan. tepi atap dipanjangkan agar air dari atap tidak membasahi dinding. Akibat bencana yang berulang kali terjadi. atau pemilik warung. dan orang cacat. rerumputan yang tumbuh di atap disiangi karena akar rumput berperan menyebabkan perembesan air. ikatan sosial yang kuat merupakan bantuan bagi keluarga-keluarga miskin yang menjadi korban. bilah-bilah kayu digunakan pada konstruksi dinding batu untuk menambah kekuatan.5 kaki menghasilkan kohesi dan mengurangi dampak kerusakan pada infrastruktur. berton-ton tanah disebarkan ke atas atap untuk menahan rembesan air (Gambar 2). dan di atas tanah putih. teman. Di kampung Gantar. Akar pohon 57 . Beberapa orang terlebih dahulu menutupi atap dengan lembaran plastik. jute. mereka menanam pohon walnut. dan kikar di sekitar rumah. semisal pembacaan Al-Quran dan doa bersama setelah peristiwa bencana besar. Bagian tengah atap dibuat sedikit lebih tinggi. mengungsi ke tempat yang aman. Di kampung Paras. jauh dari sumber air. tetangga. sherol. Bilah logam agak panjang dipasang di bawah tanah pada tiap tepi atap agar memudahkan aliran air dari atap. Untuk mengatasi kerentanan tanah. Kadang-kadang batu dipasangkan pada tepi atap untuk menjaga agar atap tidak rusak. Sebelum musim muson. Mula-mula dibangun tonggak-tonggak kayu pendukung. Penduduk yang termasuk golongan lebih kaya. Umumnya mereka lebih memilih tempat saudara. Atap dan bagian sepanjang dinding kemudian dipukuli dengan alat kayu bernama dabkan untuk mencegah rembesan air dan juga untuk memantapkan fondasi rumah. Rumah-rumah di perkampungan pada umumnya dibangun dengan jarak 2 sampai 3 kaki satu sama lain. sementara sisi-sisinya menyilang dari tepi sehingga memudahkan air mengalir. masyarakat menerapkan teknik-teknik pembangunan infrastruktur yang dikembangkan selama ratusan tahun. Di beberapa kampung. anak-anak. khususnya perempuan. Kemudian. atau tetangga. Selain itu. penduduk sangat berhati-hati ketika memilih lokasi bangunan rumah. diselenggarakan upacara keagamaan. Anggota keluarga. Konstruksi dinding batu berukuran 2 x 2. yang menurut kepercayaan setempat berkualitas baik karena lebih padat. kenalan.

dan serbuk gergaji. Pengetahuan berevolusi di tempat aslinya. keluarga yang tidak mampu. pengetahuan itu semakin tertanam di dalam kebudayaan. Pengetahuan ini tertanam dalam suatu sistem yang dinamis. Mekanisme Bertahan secara Sekuensial Pada saat bencana terjadi. di mana spiritualitas. atau teman. dan faktor-faktor lainnya saling terhubung dan mempengaruhi satu sama lain. pengetahuan ini berhasil diwariskan secara informal. karung goni yang telah digiling. Karena yang paling utama adalah penghidupan. semakin dikenal. perangkat besi bernama kalab digunakan untuk mengikat pilar dan bilahbilah kayu atap. kerap mengunjungi wilayah itu selama musim penghujan untuk memantau risiko tanah longsor. Mereka yang miskin segera mengubah pola dan jenis makanan. Departemen ini juga membangun turap-turap penahan tanah di sepanjang tepi jalan yang rentan longsor (Gambar 4). dan perawatan (Gambar 3). terutama jika keluarga yang terkena dampak bencana belum mendapat pertolongan dan tidak mau tinggal di rumah tetangga. Untuk rumah lumpur. Setelah Februari 2004. perhiasan. Beberapa orang menggali pondasi rumah hingga kedalaman 2 kaki. atau bilah-bilah kayu di atap. tanah).menghunjam sampai jauh sehingga memperkuat ikatan tanah. jerami. daun cemara. kekerabatan. biasanya memilih menjual harta milik mereka (mis. karena memang saat itu tidak ada struktur pemerintah formal yang bertugas menanggulangi bencana. Tidak ada seorang pun yang memberikan perhatian pada penerapan strategi tradisional ini sebelum bencana tahun 2004. bebatuan sengaja diletakkan di atas atap seng agar tidak terbawa angin ketika terjadi badai. ternak. Kadang-kadang anak-anak lelaki dikirim ke pusat perkotaan terdekat atau ke kota-kota besar untuk bekerja. Pada kejadian bencana hebat. kadang orang pindah sementara ke kampung lain. turun-temurun dari generasi ke generasi melalui perantaraan individu-individu dalam masyarakat. Lembaga pemerintah. Bahan bangunan tradisional itu antara lain kotoran kerbau. terus-menerus tumbuh dan menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan baru. khususnya di bawah bagian dinding bangunan. Kadang kala. untuk kemudian mereka jadikan atap atau dinding. bulu kambing. sebagai jalan terakhir. semakin mudah diterapkan. politik lokal. Ketika warga masyarakat sendiri mengembangkan pengetahuan dalam ketiga kategori itu melalui pelbagai macam pengalaman. Walaupun demikian. kenalan. warga menggunakan bahan bangunan tradisional yang dicampur dengan lumpur agar stabil. Tidak ada sistem formal di masyarakat untuk menyebarluaskan kearifan lokal ini. mereka menerapkan strategi untuk mengamankan penghidupan. kelompok-kelompok masyarakat mengerahkan pelbagai sumber daya menurut urutan berdasarkan tingkat kerugian dan kemampuan. Dahulu arsitektur rumah lumpur didirikan tanpa sambungan antara pilar dan batar. kapas. waktu. Mereka yang kurang mampu biasa menggunakan lembaran seng sebagai atap dan dengan demikian menghemat tenaga. Masyarakat sendirilah yang 58 . Ketika dampak bencana sangat luas. selalu dinamis dan kreatif. Departemen Pekerjaan Umum.

Para pengambil kebijakan sepatutnya mempertimbangkan untuk melestarikan mekanisme tradisional yang sedemikian efektif itu. Mekanisme-mekanisme asli ini saja tentu tidaklah mencukupi untuk menanggulangi bencana secara efektif. Sebagai contoh.menyebarluaskan dan menerapkan teknik-teknik kearifan lokal dalam beragam cara untuk menangani bencana. Sebagai misal. Mekanisme-mekanisme bertahan di Mansehra and Battagram amat bergantung pada kemampuan masyarakat yang bersangkutan. politik. dan secara khusus amat berharga bagi penanggulangan bencana di tingkat masyarakat. kapasitas dukungan sosial juga merupakan faktor yang tak ternilai. kendati demikian. adanya sistem pendukung yang kuat merupakan tulang punggung keberhasilan mekanisme bertahan di Mansehra dan Battagram. Program pembangunan dan penanggulangan bencana semestinya mendukung aktivitas yang menggerakkan dan memperkuat sumber daya lokal pada tingkat keluarga dan komunitas. mengubah kondisi sosial. dan ekonomi di suatu daerah niscaya akan mempengaruhi efektivitas mekanisme-mekanisme itu. pemahaman atas sistem-sistem penghidupan masyarakat asli adalah syarat yang penting agar upaya pembangunan tidak malah menghilangkan kemandirian. Sementara pengetahuan ini membantu mengurangi risiko bencana. menyediakan mekanisme yang penting untuk mengurangi risiko bencana. tetapi pengetahuan macm ini tidak memadai untuk menghadapi bencanabencana baru yang dialami masyarakat. 59 . Lebih dari itu. dan senantiasa rentan terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal. menggoyahkan nilai-nilai budaya. Terbatasnya sumber daya dan persepsi masyarakat tentang bencana sering mempengaruhi diterima atau tidak diterimanya suatu mekanisme tertentu. Tujuan penanggulangan bencana haruslah untuk meningkatkan kemampuan orang untuk menangani kejadian-kejadian buruk. Mekanisme-mekanisme bertahan tradisional bisa jadi tidak selalu pas. Memang kemandirian dan solidaritas dalam keluarga dan masyarakat amat sangat bernilai ketika orang menghadapi bencana. Ini bisa dicapai dengan memahami persepsi masyarakat dan memperkuat mekanisme bertahan yang sudah ada dengan cara yang mengurangi dampak bencana. pengalaman gempa tahun 2004 menunjukkan bahwa teknik pencegahan rembesan air ternyata berperan meningkatkan jumlah bangunan yang rusak akibat beban tanah di atas atap. seperti yang dapat dilihat di Provinsi Perbatasan Barat Laut Pakistan. atau merongrong sistem-sistem penghidupan tradisional. Pelajaran yang Dapat Dipetik Kearifan lokal. dan kemudian mengembangkannya dan memastikan bahwa pembangunan tidak menyebabkan masyarakat semakin rentan terhadap bencana alam. mendorong kelompok masyarakat untuk terlibat melalui cara praktik tradisional merupakan strategi yang lebih realistis dan khas-daerahtertentu karena masyarakat setempat memahami situasi mereka berdasarkan pengalaman bencana di masa lalu. Misalnya lagi. Ada kebutuhan yang meningkat untuk mengembangkan mekanisme bertahan ini dengan cara yang sedemikian rupa sehingga tidak berdampak negatif terhadap masyarakat.

bagaimana tingkat pemahaman mereka tentang bencana. dan bagaimana kemampuan mereka untuk menanggulanginya secara efektif dan berkesinambungan—adalah cara terbaik untuk menerapkan program penanggulangan bencana. Yang paling penting.Pendekatan yang berbasis komunitas—yang bertujuan memahami bagaimana cara komunitas-komunitas menangani bencana yang berbeda-beda. Akan sangat membantu jika ada suatu sistem untuk memantau dampak bencana pada tingkat komunitas dan nasional. 60 . baik analisis sosio-ekonomi maupun pendekatan penghidupan berbasis komunitas perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan dan program-program penanggulangan bencana pada kelompok-kelompok masyarakat yang terancam oleh risiko bencana. kesadaran akan bencana. Adanya peta risiko dan bahaya yang disempurnakan. melainkan juga sebagai proses pemberdayaan yang efektif untuk mengetahui akar-akar penyebab kerentanan mereka. dan sistem peringatan dini pada tingkat komunitas niscayalah juga akan berguna. Partisipasi kelompok masyarakat tidak selayaknya dianggap sebagai proses konsultasi belaka.

Rute ini hanya dapat dilewati pada musim kemarau dan bahkan pada saat itupun masih sering berbahaya untuk dilewati. Kota terdekat adalah Mutzing Station. Latar Belakang Desa Singas terletak di sebuah daerah kantong di Distrik Markham di Provinsi Morobe sepanjang bantaran sungai Markham di Papua Nugini. akibat adanya suatu penyakit baru yang membunuh pohon tersebut. dan penyeberangan di desa Singas merupakan titik terlebar. yang terletak di Provinsi Morobe. Penduduk desa Singas berjumlah 296 orang dan terbagi menjadi lima kelompok keluarga. telah membantu meningkatkan peran masyarakat dalam mitigasi dampak banjir yang rutin terjadi setiap tahun. penduduk desa harus berjalan selama dua hari untuk mencapai tempat di mana ada jembatan yang dapat mereka lewati. itupun sering rusak atau bahkan tidak dapat dilewati sama sekali. sekolah menengah. Sebagai akibatnya. strategi pangan dan lingkungan. terdapat tiga sekolah dasar tempat anak- 61 . Kearifan lokal di lima bidang khusus. klinik kesehatan dan pasar terdekat dari Singas. terletak di seberang sungai dari desa Singas. desa tersebut terkena dampak banjir tahunan yang disebabkan oleh hujan deras yang melanda selama musim penghujan. karena orangtua tidak mampu membayar uang sekolah. masyarakat desa Singas sangat proaktif dalam upaya-upaya mitigasi dampak bencana banjir. Selama musim penghujan. Namun. Desa Singas terdiri dari masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini. Meskipun demikian. mangga (kalau sedang musim) dan ikan. yang buahnya dikunyah seperti tembakau. kelapa. Contoh ini sangat penting terutama karena sungai tersebut tidak hanya menyimpan potensi bencana namun juga karena sungai tersebut menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar dan dengan demikian sungai itu sangat penting artinya bagi masyarakat tersebut. hubungan sosial. Tingkat pendidikan di desa tersebut sangat rendah. Di Mutzing Station terdapat gedung-gedung pemerintahan. Papua Nugini Hidup bersama Banjir di Singas. Masyarakat ini dulunya menggantungkan sumber pendapatan pada pohon pinang.Desa Singas. perencanaan penggunaan lahan. masyarakat sekarang sangat menggantungkan mata pencaharian mereka pada penjualan hasil kebun. yang merupakan pusat Distrik Markham. Namun. yaitu Sungai Markham. Perjalanan menyeberangi sungai dari Singas ke Mutzing Station makan waktu kurang lebih 2 jam tergantung pada arus sungai (Gambar 1). sumber-sumber pendapatan semakin beragam dengan diperkenalkannya sumber pemasukan pendapatan yang dihasilkan dari panenan seperti kacang dan kopi. Lebar Sungai Markham bervariasi dari 3-8 km kalau ditempuh ke arah hilir. yaitu metode pembangunan. terutama sebagai akibat dari hilangnya pendapatan dari panen buah pinang. Papua Nugini menggambarkan bagaimana kearifan lokal berperan penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. Di dekat desa Singas. Akibatnya. Papua Nugini Jessica Mercer dan Ilan Kelman Abstrak Pengalaman penduduk yang tinggal di desa Singas.

Meskipun ada risiko tersebut. pertanian. Kisah/Peristiwa Karena tinggal di sepanjang bantaran salah satu sungai besar di Papua Nugini. Beberapa banjir besar terakhir yang terekam dalam ingatan warga desa adalah banjir di tahun 1998 dan 2002 ketika air naik mencapai tiang penyangga rumah panggung dan sampai masuk ke dalam rumah (Gambar 2). meskipun akses ke sekolah ini sering terbatas karena banjir yang melanda. sehingga tidak dipandang oleh masyarakat sebagai strategi khusus dalam upaya pengurangan risiko bencana. perencanaan penggunaan lahan. strategi pengurangan risiko bencana masyarakat pribumi menyatu dalam kegiatan hidup sehari-hari karena mereka bergulat tiap hari dengan sungai. tidak ada penduduk desa yang bersedia pindah. Situasi semacam itu memang tidak aneh dalam sebuah masyarakat lokal. Kearifan Lokal Strategi utama pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh masyarakat Singas dalam menangani masalah banjir dapat dikelompokkan ke dalam lima kategori umum yang mencakup metode pembangunan. Selama tahun-tahun inilah kearifan lokal yang mereka terapkan sungguh-sungguh bermanfaat dalam upaya mengurangi risiko bencana bagi diri mereka sendiri maupun bagi penghidupannya. Penduduk desa Singas telah dihimbau untuk memindahkan pemukiman mereka dari bantaran sungai ke tempat yang lebih tinggi di atas bukit sebagai bagian dari solusi ’topdown’ bagi masalah banjir yang selalu mereka hadapi. antara lain karena (i) sungai tersebut berharga bagi penghidupan mereka misalnya sebagai tempat mencari ikan. namun pada kasus Singas nampak jelas bahwa masyarakat menganggap sungai pertama-tama dan terutama sebagai sumber penghidupan dan menempatkan sungai sebagai ancaman di tempat kedua. Namun. Dalam berbagai kasus strategi-strategi ini melekat dalam budaya masyarakat dan kehidupan sehari-hari. Metode Pembangunan 62 . desa ini dilanda banjir untuk beberapa waktu setiap tahun. terutama sepanjang musim hujan. hubungan sosial. persediaan air dan tanah liat untuk membuat bejana untuk memasak. Akibatnya. (ii) mereka dekat dengan fasilitas umum (gedung-gedung provinsi terletak di seberang sungai) dan (iii) mereka telah bermukim selama bertahuntahun dan mampu bertahan dari banjir-banjir terdahulu. dan para murid seringkali harus menyeberangi sungai Markham untuk mencapai sekolah. masyarakat Singas selalu terancam bahaya banjir. Biasanya.anak bersekolah. tergantung pada volume curah hujan yang diterima. masyarakat desa sepenuhnya sadar akan situasi yang mereka hadapi dan sangat proaktif dalam menanggapi banjir agar keberlangsungan hidup mereka di tepi sungai tersebut dapat terjamin. strategi pangan dan lingkungan. Ada berbagai macam alasan mengapa mereka tidak mau pindah.

Rumah-rumah dibangun pada musim kemarau untuk memberi waktu tiang-tiang penyangga agar dapat tertancap dengan mantap di atas tanah. Sumber daya dan pengalaman dibagikan pada tingkat masyarakat. karena seringkali mereka tidak tergantung pada sumber daya mereka sendiri. Karena sadar akan kemungkinan bahaya banjir. emigrasi dan bentuk-bentuk perdagangan yang lain selain bentuk-bentuk tradisional seperti barter antar desa – Singas sangat tergantung pada sumber daya yang mereka punyai. Mereka menggunakan pengetahuan lingkungan mereka yang sangat dalam untuk mencari tempat yang kering dan kokoh untuk membangun rumah mereka. Ada juga sikap positif yang kuat untuk menjamin 1 Campbell (1990). 63 . Kerukunan masyarakat ini mungkin karena adanya pemimpin yang berpengaruh dan aktif dalam menjamin terselenggaranya pertemuan warga rutin untuk membahas hal-hal yang relevan dan cara-cara yang harus ditempuh untuk maju (Gambar 4). Jika di masa lalu perhatian lebih ditekankan pada lahan dan perencanaan penggunaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat. dan dengan demikian memperlambat proses pembusukan. Mereka saling membantu pada saat susah seperti pada kerusakan yang diakibatkan oleh kejadian banjir. jarang terjadi masyarakat yang mengalami stres akibat banjir atau bahaya lingkungan lainnya. Singas merupakan masyarakat yang sangat rukun. Masyarakat Singas juga demikian. Gundukan ini kemudian ditutup dengan tanah dan ditanami dengan pohon-pohon sebagai pengencang sebelum memulai pembangunan rumah (Gambar 3). Mereka juga membangun gundukan tanah yang tinggi di bawah rumah-rumah mereka untuk membendung air sungai yang meluap. Lahan dibuka untuk membangun rumah-rumah di tempat tersebut. maka saat ini hal tersebut secara bertahap menghilang seiring dengan munculnya kebun-kebun yang ditanami warga secara sembarangan tanpa mengikuti perencanaan tradisional. yang secara bertahap telah diperpanjang setiap tahun untuk mengakomodasi air yang meluap dan insiden banjir yang semakin sering terjadi. sehingga pada saat bencana semua anggota masyarakat sadar akan rencana tindakan terbaik atau di mana mereka akan berkumpul kembali jika perlu. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan menggunakan bahan-bahan kayu tradisional yang tidak hanya mudah diangkut dan diperbaiki. Bangunan rumah yang dibangun di atas tanah terdiri dari dapur yang terbuat dari bahan-bahan kayu yang ringan dan mudah dilepas untuk mengurangi kemungkinan hanyut dalam banjir. ketika kebun mereka hancur diterjang banjir.1 Meskipun ada konsekuensi dari masuknya masyarakat desa ke dalam ekonomi global – termasuk dampak-dampak dari peningkatan jumlah penduduk. Meski demikian. seluruh anggota masyarakat bergotong-royong ikut membantu menggali dan menanam tanaman yang baru. Hubungan Sosial Di masa lalu. tingkat kemiskinan. masyarakat ini membangun rumahnya di atas tiang penyangga (panggung).Budaya-budaya pedesaan memiliki jenis rumah tradisional mereka sendiri yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat. kemudian digunakan sebagai parit untuk menimbun sampah di mana nantinya sedikit demi sedikit sampah akan menggunung sampai terbentuk gundukan besar. namun juga murah dan mudah diakses.

misalnya umbi dan talas ditanam di lereng 2 South Pacific Applied Geo-Science Commission (2004). Misalnya. saluran dibuat untuk mengeringkan tanah. Strategi ini memberi waktu bagi pohon-pohon muda untuk tumbuh besar sambil memastikan ketersediaan bahanbahan bangunan ketika diperlukan pada saat banjir. Penggunaan lahan dan waktu penanaman direncanakan untuk menghindari musim penghujan untuk memperkecil peluang kerusakan dan kehancuran karena kebun ditanami sepanjang bantaran sungai dengan memanfaatkan tanah yang paling subur.keberlangsungan hidup warganya sendiri. Terdapat juga lokasi aman yang ditandai untuk tempat warga masyarakat mengungsi pada saat banjir besar terjadi. masyarakat memilih tinggal di pemukiman yang berada di tempat tinggi jauh dari serangan badai dan banjir. makanan disimpan di bejana tanah liat sederhana untuk memastikan bahwa makanan tersedia ketika warga terpaksa tidak bisa meninggalkan rumah mereka. Untuk penanaman ubi talas. Makanan ini dapat bertahan sampai beberapa bulan dalam bejana tanah liat tersebut dan masih dapat dimakan. yang tidak rawan bahaya tanah longsor. Menjelang musim hujan dan potensi terjadinya banjir. Tanaman khusus juga digunakan untuk menampung air hujan sepanjang musim penghujan agar penduduk tidak minum air dari sungai ketika banjir dan menjadi jatuh sakit karenanya. namun bantuan yang diharapkan mungkin tidak ada. Strategi Pangan Masyarakat pribumi pedesaan telah mengembangkan berbagai macam varietas panen yang tahan bahaya. yang berkontribusi pada ketahanan masyarakat dalam masa-masa sulit atau sewaktu bencana. terutama yang ada di sekitar pemukiman warga. Di antara hasil panen bencana desa Singas adalah pisang. Makanan dan benih tanaman juga dikeringkan dan disimpan di bawah sinar matahari sampai mencapai jumlah yang cukup untuk dipakai pada masa tanam tahun depan. Penanaman dan pemantauan wilayah sekitar yang cermat juga dilakukan untuk mencari bahan-bahan kayu yang dapat dipakai. Makanan tradisional di daerah tersebut juga digunakan pada saat-saat kekurangan pangan. Warga desa Singas membungkus pisang dengan daun agar terlindung dari incaran burung-burung. Bambu digunakan untuk menyimpan air dan untuk keperluan memasak. hanya pohon tertentu saja yang ditebang. dan di pulaupulau vulkanik yang tidak terjangkau oleh aliran lava dan di mana angin kencang tidak akan meninggalkan timbunan abu atau hujan asam yang merusak hasil panen. karena kalaupun bantuan akan diterima dengan penuh syukur. Perencanaan Penggunaan Lahan Lokasi desa-desa dan perkampungan telah sering terkena dampak kerentanan bahaya. tanaman bunga dan tumbuh-tumbuhan ditanam secara teratur untuk melindungi dan menstabilkan tanah. 64 .2 Warga masyarakat Singas yang menyadari adanya ancaman banjir memiliki sistem saluran air yang digali mengelilingi kebun dan lahan mereka sehingga air banjir dialirkan menjauhi tempat-tempat penting. tanaman panen tangguh yang bertahan hidup di air luapan banjir. Jika mungkin. Pepohonan. yaitu pohon-pohon yang paling kuat yang cocok untuk membangun dan pohonpohon yang tidak berdampak buruk pada stabilisasi tanah.

Ibu-ibu kampung bekerja sama membentuk lingkaran yang besar untuk menggiring ikan-ikan ke tengah danau kemudian menangkap ikan-ikan tersebut dengan tangan. tradisi budaya lisan yang diturunkan dari generasi ke generasi dalam bentuk legenda. Strategi Lingkungan Karena warga masyarakat Singas tergantung pada lingkungan untuk mata pencaharian mereka. dipastikan semua warga desa akan mampu membantu satu sama lain. Banjir tidak memungkinkan warga mencari ikan di sungai karena air meluap dengan cepat sehingga penduduk desa menggunakan dua danau pedalaman untuk persediaan ikan mereka.pegunungan sebagai tanaman selama masa bencana untuk berjaga-jaga apabila warga desa harus mencari perlindungan sementara di atas bukit. jika banjir melanda. ”Telik Sandi/intel” sering dikirim ke daerah hulu untuk membaca perilaku sungai dan melaporkan kembali dengan mengirim pesan berantai dari orang yang satu ke orang yang lainnya sehingga pesan dapat sampai ke desa dengan cepat. Lebih lanjut lagi. Para ibu sampai rela membuat ikat pinggang yang terbuat dari kain atau kulit kayu yang diikatkan di sekeliling pinggang mereka untuk mengurangi rasa sakit karena kelaparan. Di dalam keluarga masing-masing. Penanda juga digunakan untuk menentukan perubahan ketinggian air sungai dan warga desa sendiri selalu dalam keadaan siaga dengan rencana matang siap dilaksanakan untuk mengantisipasi bencana banjir yang mungkin terjadi. ketika makanan langka sebagai akibat dari bencana banjir. Kerukunan warga masyarakat desa dan kerelaan untuk saling membantu merupakan faktor mendasar yang kuat dibalik keberhasilan warga desa Singas dalam mengurangi risiko bencana banjir. 65 . Pelajaran yang dapat dipetik Praktik-praktik kearifan lokal yang digambarkan di atas dan diterapkan oleh masyarakat desa Singas untuk mengurangi risiko bencana telah terbukti berhasil memperkecil risiko yang dihadapi warganya dan sekaligus memudahkan mereka untuk terus memanfaatkan sungai sebagai sumber penghidupan yang berharga. sikap dan kerukunan sosial ini telah memungkinkan terjadinya penyebaran pengetahuan tentang pengurangan risiko bencana dalam masyarakat melalui pertemuan umum dan berbagi pengalaman. penduduk desa sudah mengembangkan pengetahuan yang luas yang membuat mereka mampu mengidentifikasi tanda-tanda bahaya yang akan datang. jika warga dewa mengetahui hujan yang lebat di atas bukit mereka mulai bersiap-siap akan datangnya banjir dengan memberesi barang-barang milik mereka dan memastikan bahwa persediaan makanan cukup banyak. Misalnya. visi dan cerita-cerita rakyat banyak jumlahnya dan warga masyarakat sangat tergantung pada legenda. Di Papua Nugini. Dengan saling berbagi sumber daya dan pengalaman pada tingkat masyarakat. anggota keluarga yang sudah dewasa seringkali membatasi asupan makan mereka agar anak-anak dapat makan lebih banyak. visi dan cerita ini sebagai panduan tentang apa yang harus mereka lakukan jika bencana terjadi. Kearifan lokal yang diterapkan oleh warga desa Singas untuk mengurangi risiko bencana terus menerus diperkaya dalam masyarakat tersebut.

Yang umum terjadi di Papua Nugini. Solusi ’top down’ yang disarankan tidak mempertimbangkan gambaran besar masalah maupun kebutuhan masyarakat. namun mereka merasa yakin bahwa mereka memiliki pengetahuan yang diperlukan untuk menangani bahaya tersebut.5 Jika itu tercapai.4 Masyarakat lokal seperti masyarakat Singas selanjutnya dapat mengurangi kerentanan mereka terhadap bahaya banjir melalui perpaduan kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah. Harus ada sistem pendukung yang ada bersamaan dengan strategi masyarakat bilamana dukungan yang lebih banyak diperlukan.Pengalaman warga desa Singas sangat bertentangan dengan apa yang terjadi di banyak masyarakat di Papua Nugini. persiapan dan pemulihan dari bahaya-bahaya lingkungan. kantor-kantor pemerintahan (misalnya kantor penanggulangan bencana tingkat distrik) dan lembaga swadaya masyarakat. pencatatan. disarankan bahwa masyarakat yang terkena dampak bahaya lingkungan seharusnya menjadi pihak yang mengambil keputusan dan mengembangkan kebijakan yang berhubungan dengan hal tersebut. maka 3 4 Wisner et al. Wilbanks dan Kates (1999).3 Hal ini menyatakan bahwa cara pandang paternalistik masih sering dipaksakan dengan tidak mendengarkan atau bahkan membungkam suara mereka yang lemah. tetapi warga desa bersikap proaktif dalam strategi mereka menangani bahaya lingkungan. Selanjutnya. Yang diperlukan saat ini adalah perlunya pengalamanpengalaman warga desa Singas diketahui oleh masyarakat lain. Hay. (2007). sehingga warga masyarakat menolaknya karena mereka mendukung strategi mereka sendiri. Seperti yang dapat dilihat dari contoh berikut ini. Meskipun hal ini merupakan strategi yang cukup relevan dalam mengurangi risiko bencana. dan promosi mekanisme penanganan bencana lokal dengan strategi ilmiah yang kompatibel secara budaya hanya dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat lokal untuk mitigasi. (2004). para pembuat keputusan. sementara pada taraf tertentu memang ada unsur sikap ‘kami tidak dapat berbuat apa-apa’. 2002. 5 Mercer et al. terjadi sikap mudah menyerah di antara warga setempat akibat kurangnya dukungan pemerintah. rasa memiliki perlu diatur dari ’bawah-ke-atas (bottom-up)’ dan bukannya disusupkan dari ’atas-ke-bawah (top-down)’ oleh pihak-pihak yang tidak memahami situasi masyarakat yang sebenarnya. proses-proses anthropogenik dan non-anthropogenik semakin meningkatkan kemungkinan adanya efek kebalikan dari bahaya-bahaya lingkungan terhadap masyarakat lokal. Dalam kasus desa Singas. budaya ’turunan’ dan persepsi bahwa tingkat kerentanan tidak mungkin untuk ditangani. Hal ini menegaskan kembali pentingnya pengetahuan yang sudah ada mengenai kebencanaan dan menunjukkan perlunya rasa memiliki pada tingkat lokal. Masyarakat desa sangat sadar akan situasi yang mereka hadapi. 66 . Secara bertahap. Pengenalan. interaksi ini akan memudahkan terjadinya penyebarluasan kearifan lokal dan memudahkan warga masyarakat lain untuk mengidentifikasi pelajaran-pelajaran apa yang dipetik dan mengembangkan pengetahuan pengurangan risiko bencana mereka sendiri. Dengan mengakui keberhasilan masyarakat desa Singas memudahkan warganya untuk berinteraksi dengan para pemangku kepentingan yang tepat untuk selanjutnya memanfaatkan kemampuan mereka dalam usaha mengurangi risiko bencana.

. Hyogo Framework for Action 2005-2015: Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters (http://www. 2005. J. Integrating disaster risk management and adaptation to climate variability and change: needs. Implementing the Yokohama strategy and plan for action: Pacific Islands Regional Progress Report (1994-2004). dengan penyangga yang lebih tinggi digunakan lebih sering sekarang terlihat dari rumah yang lebih baru yang ada di latar belakang foto ini dan permulaan dari gundukan tanah yang dikelilingi oleh parit saluran air yang ada di halaman depan sebelum bangunan rumah.org/Depts/Cartographic/map/profile/papua. 2007. United Nations International Strategy for Disaster Reduction. D. 2002..org/eng/hfa/docs/Hyogo-frameworkfor-action-english.praktik-praktik pengurangan risiko bencana dianggap telah berhasil mengatasi kerentanan masyarakat lokal terhadap ancaman-ancaman lingkungan.unisdr. Havana. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2007. - - - - - - - - 67 . Diakses pada tanggal 08 Desember 2007. K. I. 2007. Gambar 4: Pertemuan warga membahas pengurangan risiko bencana Daftar Pustaka Campbell. J..pdf). 2007. Cuba. Dominey-Howes. Local Knowledge for Disaster Preparedness: A Literature Review.unisdr. 1990. 2005.htm). The Potential for combining indigenous and western knowledge in reducing vulnerability to environmental hazards in small island developing states. 2004. Gambar Gambar 1: Menyeberangi Sungai Markham Gambar 2: Lumpur yang ditinggalkan banjir Gambar 3: Perumahan tradisional di desa Singas – foto ini menggambarkan rumah panggung. from a South Pacific perspective. Nepal. Mercer. Dekens. PNG Map (http://www. Papua New Guinea: Disaster Profile (http://www. dan Lloyd. benefits and approaches. Hay. International Journal of Mass Emergencies and Disasters 8 (3). International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) Kathmandu. United Nations. 401-424. J. Kelman. 245-256.org/eng/country-inform/papua-newguinea-disaster. 2004.un. National Disaster Centre Port Moresby.R.E. Environmental Hazards 7 (4).pdf). South Pacific Applied Geo-Science Commission... United National Development Program Expert Group Meeting – Integrating Disaster Reduction and Adaptation to Climate Change. Diakses pada tanggal 08 Desember 2007. United Nations International Strategy for Disaster Reduction.. Papua New Guinea National Disaster Risk Reduction and Disaster Management Framework for Action 2005-2015. J. PNG. Northern Vanuatu. Disasters and development in historical context: tropical cyclone response in the Banks Islands. South Pacific Applied Geo-Science Commission. National Disaster Centre. Fiji.

P.W. T. London. B.. 68 .- Wilbanks. Climatic Change 43. At Risk: Natural Hazards. 2004. 2nd Ed. R. dan Davis. People’s Vulnerability and Disasters. I.J. Cannon. Wisner.. 601-628.. Global Change in local places: how scale matters. Blaikie. Routledge. dan Kates. 1999. T..

Kota Dagupan, Pangasinan, Filipina Memadukan Kearifan Lokal dan Ilmiah ke dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan. Lorna P. Victoria Abstrak Kanungkong adalah alat tradisional dari bambu yang sudah sejak dahulu digunakan untuk memanggil warga masyarakat untuk berkumpul di kantor desa, dan memperingatkan warga desa atau untuk memanggil anak-anak pulang dari bermain. Sistem peringatan dini banjir yang dipasang di delapan desa di Kota Dagupan, Filipina, telah menghidupkan kembali penggunaan kanungkong bersama dengan tiang pengukur penanda banjir di lokasi-lokasi yang strategis di semua desa di Kota Dagupan. Kearifan lokal dipadukan dengan pengetahuan ilmiah modern dan peralatan modern digunakan dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Latar Belakang Delapan barangay (desa) yang rawan banjir di Kota Dagupan di Provinsi Pangasinan sebelah barat laut Filipina adalah Mangin, Salisay, Tebeng, Bacayao Norte, Bacayao Sur, Lasip Grande, Lasip Chico dan Pogo Grande, telah menerapkan penggunaan kanungkong untuk menyampaikan pesan peringatan secara berantai ke tiap-tiap rumah di delapan desa tersebut, terutama ke rumah-rumah yang terletak di sepanjang bantaran sungai. Desa-desa ini memprioritaskan kegiatan-kegiatan kesiapan dan mitigasi banjir di bawah naungan proyek yang bernama Program Mitigasi Bencana Hidrometerorologi di kota-kota kecil di Asia (Program for Hydro-meteorological Disaster Mitigation in Secondary Cities in Asia/PROMISE). Warga masyarakat mengadakan lokakarya untuk membahas sistem peringatan diri dan melaksanakan latihan penanganan bencana untuk para warganya. Kisah/Peristiwa Kota Dagupan merupakan kota yang rawan terhadap banjir besar. Di tahun 2007, angin puyuh dengan hujan muson melanda Luzon Utara dan Tengah di sepanjang bulan Agustus dan November yang menyebabkan meluapnya sistem sungai di Kota Dagupan. Peristiwa ini menguji efektivitas sistem peringatan dini yang berbasis pada kanungkong. Karena Badan Koordinasi Bencana Barangay (Barangay Disaster Coordinating Council/BDCC) memantau penanda banjir dan melaporkan hal ini kepada Pusat Operasi Darurat Badan Koordinasi Bencana Kota (Emergency Operations Center of the City Disaster Coordinating Council/CDCC), maka desa-desa tersebut sudah disiagakan untuk mengantisipasi banjir besar yang akan melanda. Sistem tersebut berhasil memberi warga cukup waktu untuk bersiap-siap dalam menanggapi kedatangan bencana. Kearifan Lokal Kanungkong atau kentongan merupakan peralatan komunikasi yang di masa lalu digunakan untuk berbagai macam keperluan oleh masyarakat warga Kota Dagupan, yang

69

dekat dengan kota dan provinsi di Luzon Utara (Gambar 1a dan b). Kanungkong dipergunakan untuk memanggil warga untuk berkumpul di balai desa, memperingatkan warga akan adanya kejadian perampokan di malam hari, memanggil dukun bayi untuk membantu persalinan ibu hamil yang siap melahirkan, dan memanggil anak-anak pulang dari bermain. Dengan adanya cara komunikasi modern, penggunaan kanungkong menjadi terlupakan. Kanungkong berasal dari kata mangkanungkong yang bermakna harafiah ’menimbulkan suara’. Kanungkong terbuat dari bambu yang jika dipukul akan menghasilkan suara kung, kung, kung. Sistem peringatan dini tingkat desa menggunakan kanungkong sebagai media komunikasi pembawa pesan berantai lokal. Untuk pemantauan banjir, dan sebagai dasar untuk penyampaian pesan, tiang penanda atau penanda banjir telah diletakkan dan dipantau di lokasi-lokasi yang strategis di desa-desa tersebut. Saat ini, masyarakat telah terbiasa dengan kode peringatan yang dipakai di kota yang sesuai dengan standar warna bencana internasional. Untuk memasukkan kanungkong ke dalam sistem, persetujuan tentang ritme dan bunyi (misalnya jumlah pukulan kanungkong pada interval waktu yang ditentukan) dibuat sesuai dengan tindakan khusus yang dilakukan. Satu kanungkung di tiap 5 rumah menyampaikan peringatan berantai ke rumah-rumah yang ada di sepanjang bantaran sungai. Tabel 1 menjelaskan kode-kode peringatan. Tongkat penanda telah dibangun pada titik-titik terendah di barangay (desa) untuk menyesuaikan dengan peringatan siaga, berdasarkan pada informasi dari banjir-banjir yang melanda desa-desa tersebut di masa lalu (Gambar 2a, b dan c). Titik nol tadinya disarankan untuk distandarisasi oleh pemerintah kota namun saat ini masing-masing desa memiliki penanda banjir sendiri-sendiri yang disetujui bersama yang diletakkan di tempat-tempat strategis di desa. Pengukur menunjukkan sampai tingkat kritis mana para warga harus bersiap-siap untuk meninggalkan rumah dan mengungsi ke pusat-pusat evakuasi. Tabel 1. Kode peringatan yang dipakai di Kota Dagupan Warna Putih (Siaga I) Kuning (Siaga II) Oranye (Siaga III) Tingkat Siaga Normal Siaga (peringatan bahaya) Bersiap untuk evakuasi atau menuju ke tempat pengungsian (banjir besar datang) Evakuasi penuh (evakuasi dari rumah-rumah menuju ke tempat aman yang telah ditentukan) Evakuasi paksa Sinyal Peringatan dengan Kanungkong 5 kali pukulan kanungkung dengan interval 20 menit 10 pukulan dengan interval 20 menit

Merah

Non-stop (15 pukulan dengan interval 10 menit) Non-stop (20 pukulan pada interval 5 menit)

70

Hijau

Situasi kembali normal

Pemantauan dan penyampaian pesan berantai tentang tingkat banjir yang diperoleh dari tongkat penanda dilakukan oleh tim peringatan dan komunikasi barangay dengan menggunakan radio komunikasi (HT) ke pihak BDCC. Kanungkung kemudian dibunyikan dan disampaikan secara berantai dari satu titik ke titik yang lain (setiap 5 rumah) (Gambar 3). Masing-masing BDCC memiliki hubungan radio dengan CDCC, dan informasi disampaikan satu sama lain melalui radio yang ada di Pusat Operasi Darurat (Posko Darurat). Diagram alur dari sistem peringatan dini dijelaskan di Gambar 4. Tanggap Darurat dan/atau Rencana Managemen Risiko Bencana merinci tanggungjawab dari panitia dan personil CDCC dan BDCC dalam hubungannya dengan peringatan dan evakuasi. Sebagai bagian dari rencana, sistem peringatan dini telah disusun melalui serangkaian konsultasi, kunjungan studi dan lokakarya.
Penyiapan Rencana Tanggap Darurat Kota dan/atau Rencana Badan Koordinasi Manajemen Risiko Bencana

Pemasangan Penanda Banjir (Tiang penanda)

Pemantauan Tingkat Air sungai oleh tim Peringatan dan Komunikasi

Penyampaian informasi berantai ke BDCC dan CDCC melalui radio VHF

- Tindakan diambil oleh BDCC dan CDCC; - Tindakan yang dilakukan warga berdasarkan pada tingkat kesiagaan

Gambar 4: Penyampaian informasi berantai ke warga desa dengan menggunakan kanungkung. Pelajaran yang Dapat Dipetik Sistem peringatan banjir Kota Dagupan yang merupakan perpaduan antara kearifan lokal dan pengetahuan ilmiah modern merupakan tanggapan efektif terhadap masalah klasik banjir yang terjadi di kota tersebut. Dalam merumuskan sistem ada beberapa pelajaran penting sebagai berikut: 1. Penggunaan kanungkong telah memobilisasi kapasitas lokal sambil menghidupkan kembali dan melestarikan praktik-praktik lokal untuk digunakan kembali dalam kesiapsiagaan bencana. 2. Melibatkan masyarakat dalam pengkajian risiko (misalnya pengkajian bahaya, kerentanan dan kapasitas) dan merancang sistem peringatan dini sangat penting dilakukan. 3. Pengujian sistem peringatan dan prosedur evakuasi penting dilakukan melalui simulasi dan latihan praktis yang melibatkan semua anggota masyarakat.

71

Kunjungan studi oleh pejabat setempat dan tokoh masyarakat ke proyek-proyek yang sama menumbuhkan refleksi kritis tentang bagaimana meningkatkan kegiatankegiatan yang berhubungan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi mereka. 72 . Gambar 4: Penyampaian informasi secara berantai kepada masyarakat dengan menggunakan kanungkung.4. Ini akan mendorong warga masyarakat dan pemerintah untuk terus melanjutkan kerja keras mereka. Badan Koordinasi Bencana tingkat Desa memberikan peringatan awal dengan menggunakan kanungkung. Tiang penanda yang menunjukkan tingkat peringatan yang dipantau oleh tim peringatan dan komunikasi. Gambar 2a dan b. Kanungkong adalah sarana komunikasi yang digunakan dalam sistem peringatan dini tingkat desa. Belajar dari praktik-praktik baik dengan mengunjungi warga masyarakat yang terlibat dalam kesiapsiagaan dan mitigasi bencana berbasis masyarakat. Gambar 3. Gambar 1a dan b.

Barangay Matanag, Kota Legazpi, Albay, Filipina Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi Mayon Gerardine Cerdena Abstrak Tinggal di gunung tidak selalu berarti masyarakat yang tidak dapat berkembang dengan lingkungan sekitarnya. Dalam kasus desa Matanag, penduduk desa tegar dalam menantang bencana yang ditimbulkan oleh gunung berapi, tetapi masih menganggap gunung berapi sebagai tempat tinggal yang nyaman. Kearifan lokal yang dimiliki masyarakat tentang tanda-tanda peringatan dan bagaimana meramalkan letusan gunung api berperan dalam upaya memperkecil risiko dan menangani bahaya yang ditimbulkan oleh gunung berapi Mayon. “Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, itu tandanya Mayon akan meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang pertamatama mendengarnya,” Domingo Arias, penduduk desa Matanag. Latar Belakang Sebagai salah satu gunung berapi yang aktif di pulau Luzon, Filipina, Gunung Mayon dianggap oleh beberapa orang sebagai gunung berapi yang berbentuk paling sempurna karena kerucutnya yang sangat simetris (Gambar 1). Sebagai salah satu gunung berapi yang berada dalam “Sabuk Gunung Api”, Mayon terletak di bibir Samudera Pasifik di mana kegiatan vulkanik dan gempa sering terjadi. Gunung berapi itu terletak 15 kilometer ke arah barat laut Kota Legazpi, Albay, Filipina di wilayah Bicol. Gunung Berapi Mayon merupakan gunung berapi basal-andesit yang terletak antara lempengan Eurasian dan Filipina yang terbentuk melalui asap tebal dan guguran lava yang memuntahkan abu selama 400 tahun terakhir (Gambar 2). Lereng bagian atas dari gunung berapi tersebut terjal dan kasar, dengan sudut rata-rata 35-40 derajat, dan ditutup dengan kawah kecil. Lereng-lerengnya mengandung lapisanlapisan lava dan material vulkanik lainnya. Magma terbentuk ketika batuan meleleh dan letusan biasanya terjadi ketika guguran lava seperti air panas menyembur keluar dari rekahan panjang di kawah. Desa Matanag di Kota Legazpi adalah sebuah desa pertanian yang didiami oleh 1.400 penduduk dan merupakan salah satu dari wilayah yang mengapit lereng gunung berapi Mayon yang rawan terlanda lava. Daerah tersebut dinyatakan sebagai zona berbahaya oleh ahli vulkanologi dari Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina dengan menggunakan penginderaan jauh dan satelit. Kisah/Peristiwa

73

Mayon tercatat telah meletus sebanyak 47 kali. Letusan yang paling dahsyat terjadi pada tanggal 1 Februari 1814 yang memakan korban jiwa sebanyak 2.200 orang dan abu vulkanik mengubur kota Cagsawa. Letusan Mayon terakhir yang dahsyat terjadi pada tahun 1993 ketika lava pijar menelan 77 korban jiwa, kebanyakan para petani. Letusan gunung berapi Mayon sering membuat orang takut kehilangan rumah dan sawah mereka. Ditanya tentang dampak letusan Mayon, Bienvenido Belga Sr., Kepala Desa Matanag menyatakan, ”An niyog tapos mga gulayon nagkakaaralang tapos nagkakagaradan pag nagtutuga an Mayon. Su mga gapo nagdadalagasan nin mga kalayo hali sa Mayon kaya minsan nagigipit kami sa negosyo pagmay eruption. – Kelapa dan sayur mayur layu dan mati akibat letusan gunung Mayon. Batuan panas jatuh berguguran dari gunung Mayon sehingga bisnis kami terganggu.” Kota tersebut sangat tergantung pada hasil panenan kelapa dan padi sebagai sumber pendapatan maupun sebagai makanan pokok. Terlebih lagi, lahar dingin yang membawa abu vulkanik serta batuan besar yang meluncur turun dari gunung Mayon dapat membunuh ratusan jiwa dan membawa lumpur yang sangat banyak sehingga dapat menimbun atap rumah. Sebaliknya, letusan dapat juga dipandang sebagai hal yang menguntungkan karena penduduk tahu bahwa abu vulkanik yang berasal dari letusan gunung berapi dapat memperkaya tanah, sehingga dapat menghasilkan panen yang lebih baik. Bahkan, ancaman aktivitas gunung berapi yang meningkat dan letusan selama bertahun-tahun tidak menyurutkan semangat para penduduk desa Matanag. Kearifan Lokal Ketika ditanya tentang kearifan lokal mereka yang berhubungan dengan letusan gunung berapi Mayon, beberapa penduduk desa menyatakan: Dakulon an palatandaan na aram mi tungkol sa pagtuga kang Mayon. – Ada banyak tanda-tanda peringatan menjelang letusan.” Mereka menyebutkan bahwa jika sungai dan anak sungai menjadi kering, ini menunjukkan tanda-tanda awal kapan Mayon akan memuntahkan lava yang mematikan. ”Pag ubas an tubig na talagang diretso sa pirang bulan, aram mi na ma tuga na an Mayon. Tapos an lava an pighahaditan ming maray. – Jika air menjadi kering selama 8 bulan penuh, maka kita tahu bahwa Mayon akan segera meletus. Dan lava yang terbentuk dari gunung berapi itulah satu-satunya yang kita takutkan.” Warga desa juga menyebutkan tentang percikan yang berasal dari gunung berapi yang dengan cepat menciptakan lembah berapi di antara rekahan-rekahan dan menandakan terjadinya letusan gunung Mayon. Selain dari itu, para petani setempat dapat mendengar suara gemuruh dan merasakan gempa bumi yang tidak bisa dirasakan oleh penduduk yang tinggal jauh dari gunung. Seperti dinyatakan oleh Domingo Arias, seorang polisi desa, ”Pag may naguusok na kalayo hali sa Mayon, yan an sinales na matuga na. Minsan nahahadit kami, minsan dai man. Sigeng tagog kang bulkan asin nakakadangong inot su mga para tanom ky maluang daguldol. – Jika Mayon memuntahkan percikan-percikan panas, artinya Mayon akan meletus. Kadang-kadang kami khawatir tentang itu, tetapi kadang-kadang tidak. Gunung berapi selalu menimbulkan suara-suara gemuruh sayup-sayup dan para petanilah yang

74

pertama-tama mendengarnya.” Tiang batu dipakai sebagai tanda untuk melihat apakah angin mengandung abu. Lebih dari itu, binatang seperti baboy-damo (babi hutan liar) dan ayam mengikuti indra perasa elektromagnetiknya. Penduduk desa menyaksikan binatang-binatang ini melarikan diri dari gunung berapi. Ketika binatang-binatang lari menuruni gunung Mayon, ini merupakan pertanda bagi warga bahwa sudah saatnya mengungsi karena binatangbinatang ini dapat merasakan suhu tinggi yang berasal dari gunung api. Menurut salah satu warga, penglihatan gaib dan tahayul yang berhubungan dengan Gunung api Mayon selalu menunjukkan kebenaran. Ditanya tentang apakah mereka khawatir tentang kiamat yang semakin dekat yang disebabkan oleh gunung api ketika mereka melihat dan merasakan tanda-tanda peringatan, mereka menjawab bahwa mereka sudah terbiasa dengan situasi tersebut. ”Tiud na kami pagnagtutuga an Mayon, -Kami sudah kebal dengan naiknya suhu Mayon.” Romeo Nantes, seorang petani kelapa dan bapak tiga anak, mengatakan. ”Kami tidak akan mengungsi sekarang kecuali kalau situasi sudah sangat gawat dan ada letusan yang besar,” Rosario Nantes, istri Romeo Nantes, berkata sambil menjaga toko kecilnya. Itulah kenapa meskipun ada perintah evakuasi, banyak warga desa yang tetap tinggal diam di sawah-sawah sekitar gunung api Mayon untuk merawat sawah, kebun dan ternak sambil menjaga rumah dan harta benda milik mereka. Seorang penduduk Matanag yang sudah lama tinggal di sana, Geronimo Toledo, mengatakan, ”Pag mauran, baha ang mas delikado pag natugna an Mayon. Pero pag maray an oras wara man dapat haditan. – Jika Mayon meletus, banjir jika terjadi hujan itulah yang lebih berbahaya. Namun jika cuaca baik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Pengetahuan tentang tanda-tanda gunung api ketika memuntahkan gumpalan asap dan abu yang tinggi berkontribusi terhadap pengurangan risiko bencana. Dengan mengikuti kepercayaan ini, para penduduk setempat mengumpulkan tanda-tanda peringatan bahaya dari ancaman di depan mata dan dengan demikian segera bersiap-siap menghadapinya. Orang-orang ini biasanya bersyukur karena para tetua mereka mewariskan pengetahuan ini kepada mereka. ”An mga gurang mi an nagturo samuya kang gabos na dapat ming maaraman. Maski aki mi aram an mga sinales. – Para tetua kami yang mengajarkan apa yang perlu kami pelajari. Bahkan anak-anak kami pun dapat membaca tanda-tanda bahaya.” Arias menegaskan. Ketika ditanya apakah mereka masih memperhatikan pengumuman yang berdasarkan pada pertimbangan ilmiah, Belga, seorang penduduk desa lainnya menjawab: ”Dai kami nagtutubod sa awtoridad ta sala sinda minsan. Masabi na matuga pero wara man kaming napapansin na palatandaan o babala kaya dai kami mina hiro nangad hanggang sigurado kami. Pero pag aram ming tama, ma hali man sana kami siyempre. – Kadangkadang kami tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakan oleh pihak berwenang.

75

tetapi bergantung pada bimbingan penasehat spiritual dan kepercayaan gaib. Tingkat risiko yang akan dihadapi orang karena kearifan lokal mereka mungkin tidak mudah untuk dipercaya. menghadapi bahaya yang ditimbulkan oleh alam dan belajar bagaimana bertahan hidup. – Banyak di antara kami yang hanya petani namun kami tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang harus kami percayai. para penduduk desa tahu kapan harus menghindari bahaya ketika letusan besar terjadi. jika kami yakin Mayon akan meletus.Mereka mengatakan bahwa Mayon akan meletus. Tinggal dekat dengan gunung api tidak berarti mereka tidak dapat sukses hidup dengan alam sekitarnya. Para ahli ilmu sosial mengamati bahwa hal ini bukan lagi merupakan pandangan naif tentang alam. Takhayul dan mitos masih menancap dengan kuat dalam kepercayaan masyarakat. Aram mi yan. dan membawa keadilan bagi ketidakpastian dan kekhilafan umat manusia. Gunung api kadang dianggap sebagai entitas penting yang melampiaskan dendam dan ketidakadilan pada dunia. Meskipun demikian. kaito pa. Namun cerita dan ritual yang tidak masuk akal ini juga membantu mereka menghadapi bencana. Bahkan sebaliknya. Tentang letusan gunung Mayon. Para penduduk tidak mendengarkan para petugas yang berwenang. tentu saja kami akan mengungsi. Sejujurnya.” ”Mga para tanom sana kadklan samo digdi pero aram mi kung ano an dapat hibuhan and tubodan. Para ilmuwan yang menggunakan teknologi mutakhir dapat menjembatani kesenjangan antara masyarakat yang berkeras pada pendiriannya agar memanfaatkan hasil yang 76 . Kepercayaan ini membuat mereka mempunyai pengharapan dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi bahaya. Dengan kearifan lokal yang mereka miliki. tidak semua budaya memandang letusan gunung api sebagai sesuatu yang menghancurkan. kami hanya bergantung pada naluri kami sendiri. Pelajaran yang Dapat Dipetik Para aparat pemerintahan sering tidak kuasa membujuk penduduk desa untuk meninggalkan zona bahaya meskipun ada kerentanan alam dan bencana. Namun. Penolakan warga untuk mengungsi ketika gunung berapi memuntahkan lava panas dan mengandung magma yang bergolak murka hanya karena pendirian yang keras kepala kadang-kadang sama saja dengan kekonyolan.” kata Belga dengan tegas. Warga masyarakat setempat tahu bahwa gunung api tidak memuntahkan sesuatu tanpa alasan. Cara pandang yang berbeda tentang letusan gunung api menghasilkan adanya salah pengertian antara ilmuwan dan warga masyarakat yang terkena dampak langsung. Pandangan-pandangan ini mengherankan masyarakat ilmiah namun pandangan ini tidak bisa begitu saja dihilangkan. sadiri ming kahiruan an kaipuhan. Kami sudah tahu hal itu sejak lama. Sa pagtuga kang Mayon. banyak warga yang tinggal dekat gunung api Mayon memandang letusan sebagai keadaan yang menguntungkan untuk terjadinya penciptaan dan evolusi. ahli geologi dan vukanologi. namun kami tidak melihat tandatandanya sehingga kami memutuskan untuk tidak mengungsi jika kami tidak yakin sekali. kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun membantu mereka memperkecil risiko.

Namun. Gambar 1: Gunung api Mayon dengan kerucut simetris sempurna. 77 .mereka ciptakan. Foto: Jenny Exconde Gambar 2: Awan panas yang menuruni lereng puncak Gunung api Mayon. mereka tidak boleh meremehkan kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat dan harus memahami bagaimana karya mereka akan diterima oleh masyarakat yang sudah sangat akrab mengalami dan menghadapi letusan gunung berapi.

yaitu Pulau Batan. Kemudian datanglah guntur bergemuruh. 2000. Kepulauan tersebut juga memiliki bentang alam yang sangat unik. Masyarakat yang mendiami kepulauan Batan disebut kaum Ivatan. dataran tinggi yang naik turun serta pantai-pantai yang dibatasi oleh batuan besar menjadi ciri alam di kepulauan itu.656 di tahun 2000) dan luas wilayah (hanya 230 m2). Provinsi itu selalu dihempas badai. kemudian datanglah petir menyambar-nyambar. Meskipun menghadapi kesulitan seperti ini. Sabtang dan Itbayat. provinsi ini mengingatkan kita pada Irlandia atau Selandia Baru. namun petir adalah oborku. lautan yang ganas dan sumber daya yang minim. kearifan lokal yang menyatu dalam teknik pembuatan rumah tradisional dan perahu. Pulau itu dikelilingi oleh terusan Balintang di bagian selatan. Batan merupakan provinsi terkecil di Filipina dalam hal jumlah penduduk (15. guntur memukul irama langkahku. Kurang lebih 75% penduduk Ivatan adalah petani dan nelayan. Noralene Uy dan Rajib Shaw Disarikan dan diambil dari Hornedo. Kepulauan Batan memiliki suhu yang agak sedang yang dapat turun sampai 7o C. namun selalu hujan minimal 8 hari dan maksimal 21 hari dalam sebulan. Filipina Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batan. Filipina. Maka datanglah badai yang menghantamnya. bukit yang melandai. Terletak antara 121o 45’ sampai 122o 15’ Bujur Timur dan pada 20o 15’ Lintang Utara. lembah yang dalam. Tebing yang curam. Menjinakkan Angin: Sejarah Etno-Budaya tentang Kaum Ivatan di Kepulauan Batan Abstrak Kaum Ivatan yang tinggal di Kepulauan Batan telah memiliki sejarah panjang dalam berjuang dan menyesuaikan diri terhadap badai. Cuacanya agak sejuk dan berangin. jagung dan umbi- 78 . Musim hujan dan musim kemarau tidak terlalu berat. dan hujan menjadi tongkat jalanku. Bawang putih dan ternak adalah sumber pendapatan panen utama namun ada pula hasil bumi lain seperti beras. Syair Cerita Rakyat Ivatan Latar Belakang Kepulauan Batan merupakan bagian dari kumpulan pulau-pulau yang terletak di bagian paling utara negara Filipina. Sedikit banyak. pulau tersebut lebih dekat dengan Taiwan (hanya 218 km) daripada dengan daratan Luzon. hujan dan topan. Florentino H. Iklim dan topografi di Batan berbeda dari provinsi lainnya di Filipina. Budaya yang luar biasa ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat erat antara masyarakat Ivatan dan lingkungannya sebagai sarana bertahan hidup dalam menghadapi bermacam-macam tekanan lingkungan alam mereka. Batan terdiri dari 10 pulau-pulau kecil dan hanya tiga di antaranya yang dihuni. serta dinamika sosialnya terbukti mampu bertahan di tengah bencana.Kaum Ivatan di Kepulauan Batan. dan kemudian turunlah hujan dengan lebatnya.

Beberapa waktu yang lalu. Pada tahun 1952. angin besar merontokkan atap gereja katedral dan membengkokkan menara tanpa kabel. Pada tahun 1905 angin yang dahsyat menghempaskan ternak sampai mati. Pada tahun 1987. terutama angin yang paling menakutkan. Rumah Tradisional 1 Feleo (2006) 79 . Rumah tradisional kaum Ivatan dibangun dengan tembok yang tebal yang terbuat dari batu dan gamping dan diberi atap lapisan tebal rumput cogon (sejenis ilalang yang tinggi yang hanya ada di Filipina) untuk menahan terjangan topan yang ganas. atau angin puyuh. Terakhir. Perahu yang lebih kokoh yang dinamakan paluwas berfungsi sebagai moda transportasi utama dari satu pulau ke pulau lainnya. seorang warga nekat mengejar atap yang terbuat dari seng yang diterbangkan angin dan akhirnya berhasil menangkapnya sampai gedung balai kota. Anin. Setiap warga Ivatan memiliki cerita sendiri-sendiri tentang Topan. pertanian dan lembaga sosial masyarakat Ivatan telah disesuaikan dengan cuaca yang keras dan berubah-ubah. dan sebuah bangunan sekolah roboh terbawa angin di Mahatao. Atap rumah mereka jebol dan seekor sapi jatuh menimpa rumah mereka. Rata-rata 20 angin topan menyerang Filipina setiap tahun.umbian. sebuah daerah yang sekarang letaknya di sebelah selatan Vietnam. mereka berpesta daging sapi. teknik pembuatan perahu. Karena desa-desa dan kota-kota di kepulauan tersebut terletak di sepanjang garis pantai. seorang nelayan terapung-apung menuju ke Taiwan. adalah angin yang paling sering terjadi di kepulauan Batan karena kepulauan tersebut terletak di sepanjang sabuk angin puyuh. Sayangnya. kondisi alamnya cocok untuk mencari ikan. sebuah keluarga sedang berkumpul menunggu badai datang. Pada tahun 1918. Masyarakat menanami bagian tepi ladang dengan pohon-pohon yang dapat memecah kemurkaan angin sehingga tanaman yang berakar dapat tumbuh. dengan 8 di antaranya melewati Kepulauan Batan dalam perjalanan dari Filipina selatan menuju ke arah barat laut. perahu air dan dinamika sosial masyarakat kaum Ivatan akan dijelaskan secara terinci pada bagian berikut ini. seng itu telah berubah bentuk menjadi bola yang menggelinding ke sana ke mari seperti rumput kering yang dipermainkan angin. Rumah tradisional.1 Kearifan Lokal Arsitektur. gubernur provinsi itu menceritakan beberapa malam sebelumnya ketika ada badai. Kisah/Peristiwa Angin merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan kaum Ivatan dan telah ikut membentuk gaya hidup masyarakat Ivatan. perahu nelayan tersapu dari Annam. salah satu kota di Pulau Batan. Paginya. Pada tahun 1921. Koperasi Ivatan dan lembaga bantuan sosial memperkuat ikatan antar anggota masyarakat. kapal tanker Angkatan Laut Filipina kandas di Basco. Budaya Ivatan secara keseluruhan dibangun atas dasar swa-sembada karena letaknya yang terisolir dari kebudayaan lain. ibukota provinsi.

asimilasi dan penggunaan kreatif dari bahan-bahan setempat yang tersedia di alam. kadang-kadang begitu sempitnya sehingga hampir tidak cukup untuk lewat kendaraan. Ini merupakan pertanda bahwa angin puyuh akan menerjang mereka dalam hitungan hari. dibangun mengelilingi kompor besar menyerupai api unggun.Evolusi dari apa yang disebut rumah tradisional kaum Ivatan adalah cerita turun-temurun tentang perjuangan masyarakat dalam mempertahankan diri dari segala macam cuaca. Sejak berabad-abad yang lalu. Cerita itu juga memuat gambaran tentang adaptasi. seluruh anggota keluarga tinggal di dalam rumah. Jalan-jalan yang memisahkan rumah-rumah tersebut dibuat lurus dan sempit. Struktur ini cukup kokoh untuk menahan serangan angin puyuh yang menerjang kepulauan. Di Filipina.3 Perahu air yang unik dan pengetahuan tentang laut Kaum Ivatan adalah pelaut dan pembuat kapal. Kusina yang merupakan bagian paling penting di rumah. Rumah masyarakat lain kebanyakan terbuat dari bahan-bahan khas daerah tropis semi-permanen (misalnya kayu. Sebuah rumah Ivatan dibangun dengan dinding batu gamping dengan tebal sekitar 2-4 kaki dan sebagai atapnya ditumpul berlapis-lapis rumput cogon dan alang-alang. masyarakat yang memiliki arsitektur rumah tradisional yang terbuat dari batu hanyalah di Kepulauan Batan (Gambar 1). Kaum Ivatan tahu kapan saatnya mengisi dapur dengan persediaan ketika daun pohon aruyo telah tumbuh sangat panjang dan lembut. bambu dan atap daun nipah) yang secara luas dipakai sebagai atap di seluruh pelosok negeri.2 Tata letak pemukiman juga menyesuaikan dengan keadaan alam. 80 . Bangunan ini melambangkan kehangatan. Jendela dan pintu dibuat sangat kecil dan sempit. keamanan dan sumber kesejahteraan komunal. Pembuatan kapal adalah tradisi dan teknik perahu air telah diketahui selama berabad-abad dengan tidak ada perubahan teknologi sampai pertengahan abad 20. Daun jendela terbuat dari aneb (daun pintu) kayu yang sangat tebal yang diengselkan ke kusen pintu dengan yembra y machu (engsel) yang tebal pula dan dikunci dari arah dalam dengan panahtah (palang kayu). kaum Ivatan telah tinggal di tempat tinggal batu tradisional untuk melindungi diri dari alam. Ketika angin puyuh datang. Hanya tiga dinding rumah yang memiliki jendela sedangkan dinding yang tidak memiliki jendela menghadap ke arah di mana angin biasa bertiup paling kuat. Suhu dalam ruangan dapat disesuaikan agar cukup sejuk selama musim panas dan hangat sepanjang musim badai dingin. Teknik yang unik ini adalah hasil dari usaha untuk menyempurnakan perahu air agar dapat mengurangi risiko hilangnya jiwa di laut karena 2 3 Feleo (2006) Villalon (2000). dengan menggunakan batu untuk mempertahankan diri dari angin dan tekanan curah hujan muson. yaitu rakuh (ruang keluarga) dan kusina (dapur). Pemukiman di desadesa tersebut kebanyakan berupa rumah-rumah batu yang beratap rendah dan bertembok tebal ditutup dengan atap jerami tebal dan dibangun berhimpitan dalam kelompokkelompok untuk melindungi rumah-rumah sesama warga dari sapuan angin puyuh yang ganas. Kebanyakan rumah-rumah Ivatan memiliki dua unit yang terpisah.

Dengan menggunakan arah dan suhu udara. Koperasi mandiri masyarakat yang disebut yaru di mana setiap rumah tangga mengirimkan setidaknya satu wakil yang sehat secara jasmani untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. seperti gotong royong memperbaiki rumah tetangga. jika yang Anda investasikan pada saudara yang membutuhkan hari ini. warga Ivatan tetap saling berhubungan dan membantu satu sama lain. Sebagai pelaut yang terdidik. kapaychahwan. Karena navigasi antar pulau masih sulit karena arus air yang kuat cenderung tidak dapat diduga. pada dasarnya dilakukan dengan magang dan pengamatan partisipatif. maka akan dikembalikan pada Anda ketika Anda membutuhkannya di masa yang akan datang”. atau memanen hasil bumi.5 Untuk memastikan adanya kesempatan yang lebih besar dalam memenangkan perlombaan dengan alam. Idaud (angin utara) biasanya kasar dan avayat (angin barat) biasanya tidak tentu. Pengetahuan yang luar biasa tentang lautan ini mencegah warga masyarakat. mereka meramalkan watak lautan. Ivatan membaca wajah laut. bentuk paluwa tidak sama dengan banca bergandung khas Asia Tenggara (perahu motor). payuhwan. mereka menandai kemajuan perjalanan mereka dengan muncul atau menghilangnya pepohonan di pulau yang mereka lewati. Paluwa adalah perahu kayu dengan dasar bundar yang terlempar dan bergulung bersama dengan gelombang dan meluncur dalam ombak laut yang dahsyat. Mereka tahu kecepatan arus hanya dengan melihat tekstur dan irama ombak. Perahu air tradisional Ivatan disebut dengan tataya. terutama para nelayan. Ketika menyeberangi selat. Pola pendidikan yang menularkan kearifan lokal turun temurun. Ini merupakan kode beroperasinya kelompok kerja tetap maupun musiman semacam kayvayvanan. sangat terbukti berperan penting pada saat bencana seperti angin badai. membersihkan kampung. dan kapanidungan.adanya badai yang sering terjadi terutama selama musim angin badai. paluwa yang digunakan untuk transportasi mempertahankan bentuk tradisionalnya tetapi telah dilengkapi dengan motor. (gambar 2). Pangadiran (angin timur) dan sumla (angin selatan) cenderung lebih lembut. Ketrampilan bagi pembangunan rumah dengan cara tradisional tidak diajarkan di sekolah namun dipelajari dari praktik dan 81 . Sekarang ini. Mereka mengamati waktu dalam sehari dan fase bulan untuk meramalkan pasang surut dan pasang naik. Dinamika Sosial Ivatan Keterasingan Batan telah menyebabkan masyarakat kaum Ivatan menjadi masyarakat yang sangat kental satu sama lain yang terbiasa dengan kerasnya hidup dan jauh dari kemewahan yang dianggap normal bagi orang lain. chinedkeran dan paluwa. sehingga laut bisa menjadi sangat bergolak. warga Ivatan telah menciptakan berbagai macam bentuk koperasi buruh yang berdasarkan pada satu prinsip utama: ”Anda tidak perlu bekerja hari ini. chinarem. Ketika alam memporakporandakan kepulauan mereka. terutama mengenai pembangunan rumah tradisional dan pembuatan perahu air. Paluwa adalah jenis perahu air yang paling umum dijumpai. untuk berkelana jauh ke tengah laut ketika kondisi cuaca sedang buruk dan dengan demikian memperkecil kecelakaan laut yang mungkin terjadi. Bayanihan4 merupakan contoh yang jelas.

Hal ini mencontohkan hubungan yang selaras antara masyarakat dan lingkungannya. gedung sekolah dibangun tanpa mempertimbangkan kearifan lokal. karena nyatanya tingkat kemiskinan di Batan tidak pernah kunjung turun. Pada umumnya. cara hidup. yaitu sumber daya yang terbatas dan kondisi cuaca yang sangat buruk. Pada saat bencana. laut yang ganas dan sumber daya yang terbatas. Hal yang sama juga berlaku pada pembangunan perahu air Ivatan.magang kepada para veteran pembangun rumah di masyarakat. Diakses pada tanggal 6 Maret 2008. Proyek menjadi percobaan yang sia-sia karena tidak ada bangunan yang tersisa setelah angin badai menyapu desa. kearifan lokal masyarakat kaum Ivatan dianggap sebagai primitif dan sering tidak direkomendasikan atau tidak dianggap penting. 4. tidak ada budaya satu pun di Filipina yang dengan gemilang berhasil menjinakkan kemarahan angin musiman. http://uproar. terutama yang sudah terbukti selama berabad-abad dan efektif. sejarah dan situasi sekarang menunjukkan bahwa memang budaya tradisional dapat menjamin keberlangsungan hidup. Misalnya. Memang penting untuk mengakui nilai-nilai dari kearifan lokal. 82 . Ada kebutuhan untuk melaksanakan program pembangunan yang bermakna di Batan yang mengakui keunikan budaya setempat dan menyediakan dukungan bagi kondisi yang ada. lembaga-lembaga sosial yang ada membuat upayaupaya komunitas yang terorganisir dan terpadu menjadi mudah. Pelajaran yang Dapat Dipetik Terlepas dari kaum Ivatan. meskipun sudah ada teknologi modern.Cafe Ivatan. Khasanah kearifan lokal yang kaya tentang masyarakat kaum Ivatan yang memanfaatkan sumber daya setempat dan dengan demikian sangat murah karena hanya memanfaatkan keterampilan dan materi yang tersedia di alam sekitar. Budaya tradisional ini telah sangat membantu masyarakat Ivatan dalam berjuang mempertahankan hidup selama berabad-abad. Daftar Pustaka . 1. Meskipun menghadapi berbagai keterbatasan alam. tetapi tidak lebih dari itu. Meskipun demikian. Kaalamang Bayan (kearifan masyarakat). Merupakan kebiasaan yang umum dilakukan oleh kaum Ivatan untuk saling membantu. metode melakukan sesuatu. 3. 5.htm. kelompok masyarakat yang tinggal di kepulauan yang kecil dan terasing mencapai swasembada dengan menggunakan kearifan lokal mereka.fortunecity.6 Beberapa pelajaran dapat dipetik dan kesimpulan dapat diambil dari kasus kaum Ivatan.com/sports/490/Batan/Batanestoday. dan kepercayaan bahwa semua berdasarkan pada kearifan lokal dan kebiasaan setempat merupakan ajaran penting dari budaya Ivatan. 2. Batan: A Historical and Descriptive Profile of the Ivatans. Budaya Ivatan merupakan produk dari sejarah panjang perjuangan dan penyesuaian diri dengan angin badai.

Something Different Up North. Batan on the Rise.edu/Tagalog/Tagalog_Default_files/Philippine_Culture/Regio nal%20Cultures/northern_luzon_cultures.lib. 83 .niu.//www.- - - - - - Carballo. Lainez.ncca.. Batan: Majestic Harmony between People and Nature. UST Publishing House. Diakses tanggal 6 Maret 2008. The Batan Islands.com/Features?Majestic. Datar. Celerina M. Bandillo Batan. Aileen.batanesonline.//www. http://www.//www. http://www.com/philculture/Philippine_articles/batanes.livinginthephilippines.htm.ph/aboutculture-and -arts/articles-on-c-n-a/article.%20JOSE%20IGNACIO%20PAP ER%20FOR%20ATENEO. Francisco A.//rizal. http. Hornedo. Jose F. Diakses tanggal 6 Maret 2008.admu. Villalon.com/Features/UpNorth. 2006. Manila. 2000.edu. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Batan: Sea and Storm Shape the Islands. 2000. Bibsy M.html. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Anita. Feleo. http://www. Augusto F.ph/conf2005/conf/ARCH. Ignacio. Challenges in Preserving the Heritage Houses of Batan. Florentino H. Philippines.pdf.php?igm=4&i=226.batanesonline. http. http.htm.seasite. 2002.gove. Philippines.htm/ Diakses tanggal 6 Maret 2008. Navarro. Diakses tanggal 29 Mei 2008.htm.. http. Batan: Another World. Diakses tanggal 6 Maret 2008. Taming the Wind: Ethno-Cultural History on the Ivatan of the Batan Isles.com/Features/Batan_On_The_Rise.batanesonline.

2 Richter pada tahun 1959. karena para pendatang tidak mengenali tanda-tanda kedatangan tsunami. Jumlah tersebut kemungkinan akan bertambah banyak jika para penduduk yang tinggal di tepi pantai tidak mengambil tindakan yang tepat. sistem tersebut terbatas pada wilayah yang dekat dengan pusat gempa. Jennifer Baumwoll dan Andrew Moore Abstrak Pada tanggal 2 April 2007.2 Kisah/Peristiwa Pada tanggal 2 April 2007 pukul 7:39 pagi waktu setempat.1 skala Richter dan disusul tsunami menerjang kepulauan Solomon dan menelan 52 korban jiwa. Latar Belakang Antara tahun 1955 dan awal tahun 1960-an. jumlah penduduk pendatang yang meninggal jauh lebih tinggi daripada warga setempat. sehingga mayoritas pemukiman penduduknya berada di dekat daerah laguna. McAdoo. Baik penduduk lokal maupun pendatang hanya memiliki waktu singkat untuk bertindak karena desa mereka letaknya sangat dekat dengan pusat gempa.1 Richter menggoncang Provinsi Barat Kepulauan Solomon. Meskipun sistem peringatan dini berbasis pelampung sangat diperlukan dalam mitigasi dampak tsunami antar samudera yang menerjang garis pantai berjam-jam setelah gempa. Walau tinggal di daerah-daerah dengan tingkat kerusakan serupa.1 Menurut sensus pemerintah Pulau Solomon tahun 2002. sebuah Negara yang terletak di Samudera Pasifik barat daya di kawasan karang-karang atol yang jauh dari sumber gempa aktif. Kepulauan Solomon Kearifan Lokal Menyelamatkan Banyak Jiwa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007 Brian G. tetapi juga lingkungan masyarakat yang terdiri dari bermacam-macam tingkat ekonomi dan budaya. Karena menipisnya sumber daya dan kenaikan jumlah penduduk di Kiribati. demografi etnis Provinsi Barat berubah ketika kelompok etnis Gilbertese bermigrasi dari tempat tinggal asal mereka di Kiribati.3 Gempa tersebut 1 2 Matthew (1996) Frits dan Kalligeris (2008) melaporkan keterangan saksi mata tentang adanya tsunami kecil di Ranongga yang ditimbulkan oleh gempa lokal berskala 7. 3 USGS (2007) 84 . sebuah gempa bumi berkekuatan 8. Sejak orang-orang Gilbertese pindah ke daerah tersebut mereka belum pernah mengalami gempa yang berpotensi menimbulkan tsunami. sebuah gempa dengan skala 8. terutama wilayah-wilayah yang sarana dan prasarananya sudah memadai. dan di Honiara di Guadalcanal pada tahun 1952 yang kemungkinan berasal dari gempa yang terjadi jauh di Kachatka di Pasifik Barat laut. penduduk Gilbertese secara turuntemurun merupakan penghuni karang atol yang sangat tergantung pada sumber daya laut. serta pengetahuan mereka tentang lingkungan setempat.Provinsi Barat. para warga mendatangi wilayah Provinsi Barat sebagai bagian dari rencana pemukiman kembali oleh pemerintah Kolonial Inggris. Rencana mitigasi tsunami yang ditujukan untuk melatih penduduk setempat harus mempertimbangkan tidak hanya lingkungan fisik wilayah tersebut.

. dan desa-desa yang dicetak tebal adalah yang menderita korban jiwa. (2008) 7 McAdoo et al. menunjukkan kurangnya pemahaman tentang sifat tsunami. menghempaskannya ke pedalaman dan menjatuhkannya dengan sedikit kerusakan – gelombang pasang yang kuat cenderung menggulingkan kendaraan dan merobohkan bangunan. Gambar 1. (2008) Fritz dan Kalligeris 6 McAdoo et al. di harian Natural Hazards). Gambar 1 menjelaskan distribusi geografis ketinggian air ketika naik dalam hubungannya secara spasial dengan jumlah korban jiwa. air meluap dari karang laguna yang dangkal. Semakin besar tsunami.7 Koloni terumbu karang yang tidak begitu padat dengan permukaan luas yang dasarnya telah dikoyak gempa bergeser ke dekat posisi asal tumbuhnya dan akan berpindah jika diseret arus yang sangat kuat. Tsunami kali ini menelan korban jiwa sebanyak 50-52 orang. Kearifan Lokal Survei geologis menemukan bahwa tsunami yang menerjang daratan pada ketinggian yang sama di lingkungan fisik yang sama di wilayah dengan demografi yang berbeda menghasilkan pola kematian yang tidak konsisten yang tidak dapat dijelaskan oleh bahaya fisik semata. Bukti dari sana-sini yang didukung oleh pengamatan geologis memperlihatkan ada dua atau tiga gelombang yang saling bersusulan dengan kekuatan rendah. Segera sesudah goncangan berhenti. menurut saksi mata. Pendatang Gilbertese meninggal dengan tingkat yang tidak sepadan dibandingkan dengan penduduk Melanesia pribumi.menyebabkan goncangan hebat (cukup hebat sampai banyak orang tidak mampu berdiri tegak) yang berlangsung lebih dari satu menit. Desa yang ada di peta adalah desa-desa yang rusak parah. sektor yang menjadi andalan suku Melanesia pribumi dan pendatang Gilbertese. Masing-masing desa memiliki tebing 4 5 McAdoo et al. tindakan mereka menghadapi gempa yaitu menyelidiki laguna yang tiba-tiba habis airnya. yang naik dengan cepat dan bukan gelombang pasang yang bergolak liar. Bangunan di wilayah tersebut rusak parah dan banyak korban luka karena kejatuhan reruntuhan bangunan dan tersiram air mendidih dari kompor. Tsunami datang antara 3-10 menit setelah goncangan berhenti.6 Goncangan hebat dan kenaikan seismik juga menghancurkan terumbu karang yang ringkih di laguna. tetapi kebanyakan korban jiwa ini terjadi pada penduduk pendatang yang minoritas (Dikutip dari McAdoo dkk. memporak-porandakan bangunan dan mengoyak koloni terumbu karang. jumlah korban jiwa juga cenderung lebih besar.4 sementara pada saat yang sama memperingatkan warga akan potensi terjadinya tsunami. Tsunami menyeret kendaraan dan rumah.5 Gempa juga memicu lebih dari 1. Distribusi ketinggian air naik (run-up heights) tsunami Kepulauan Solomon tanggal 2 April 2007 yang secara spasial berhubungan dengan jumlah korban jiwa. (2008) 8 McAdoo dkk (di harian) 85 . yang akan membawa dampak lama bagi pemulihan perikanan.8 Sementara desa pendatang cenderung memiliki jumlah penduduk yang lebih tinggi. memperlihatkan dasar laut.000 tanah longsor di pulau vulkanik yang terjal di Ranongga – satu gempa terjadi di desa Mondo menelan dua korban jiwa manusia.

karang/penyangga laguna yang bagus. tidak terdapat kematian penduduk pribumi di desa Pailongge di Pulau Solomon (jumlah penduduk 76 orang) yang terletak di pantai selatan Ghizo. 8 dari 13 orang yang meninggal adalah anak-anak yang belum cukup kuat untuk berenang melawan ombak yang datang. sebanyak 67. Laguna yang lebar (100-400 meter) terletak pada bagian depan tebing karang. Air laut surut hampir segera sesudah goncangan gempa berakhir. Titiana dan Nusa Mbaruku. Di Titiana saja. Masyarakat desa pendatang Titiana jauhnya hanya 3 kilometer ke arah timur Pailongge di pantai selatan Pulau Ghizo yang terkena hantaman tsunami terberat. Penduduk Gizo terdiri dari penduduk asli Kepulauan Solomon (kuning) dan pendatang Gilbertese (merah) yang tinggal di desa-desa terpisah. dan hanya dua orang yang meninggal di desa Ghizo yang lebih banyak penduduknya. dan salah satu dari desa pendatang yang terkena dampak (New Manra) bahkan memiliki rumpun bakau tambahan yang tidak dimiliki oleh desa pribumi. Bukti ini menegaskan bahwa faktor utama yang menyumbang pada tingkat kematian yang tinggi adalah tindakan yang tepat berdasarkan pada kebiasaan warga yang tinggal di lengkungan pulau aktif dekat dengan zona penunjaman (sukduksi). Bukti dari sana-sini menyatakan bahwa kebanyakan orang dewasa di sini kewalahan menghadapi tsunami sambil menyelamatkan anak-anak mereka. Di pihak lain. para tetua desa memperhatikan bahwa laguna telah kosong. sebuah desa pendatang. lalu mereka membantu menyuruh semua orang naik ke pedalaman. Desa pribumi Pailongge yang terletak di pantai selatan sangat rawan serangan tsunami yang hebat. menurut saksi mata. seperti juga halnya desa pendatang Titiana dan kedua desa tersebut memiliki tanah tinggi yang dapat dijangkau untuk menyelamatkan diri. seperti Pailongge. Gambar 2. namun 8 orang dari 206 penduduk desa menjadi korban tsunami.7% penduduk yang meninggal karena tsunami adalah anak-anak. membanjiri daratan sekitar tiga meter tingginya. dan memantulkan sebagian energi ombak kembali ke laut. di mana masing-masing desa pendatang mencatat adanya kematian tanpa perduli letak geografisnya. namun juga hutan bakau di depan desa. ketika goncangan berhenti dan air laut menyusut dari laguna. Di desadesa Gilbertese di New Manra.11 Setelah goncangan reda. (McAdoo dkk. Seperti terlihat dari gambar 2. anak-anak yang penasaran berlarian dari desa menuju laguna untuk menyelidiki dasar laut yang tersibak. desa-desa pendatang tercatat memiliki jumlah kematian yang lebih tinggi di Pulau Ghizo.10 namun ombak masih cukup besar ketika mencapai daratan.. Bukti geologis menyatakan bahwa bagian depan tebing yang terjal dan laguna yang lebar (100-500 m) memperlambat tsunami yang datang. dan setiap kepala keluarga memastikan semuanya termasuk anak-anak baik-baik saja dan mengungsi. dilaporkan ke Natural Hazards) 9 McAdoo dkk (2008) McAdoo dkk (2008) 11 Fritz dan Kalligeris (2008) 10 86 . tidak hanya memiliki tebing karang yang melindungi. Tidak seorang pun yang meninggal dunia di Pailongge.9 Menurut mereka yang selamat. New Manra.

Banyak orang meninggal dunia di desa asli Tapurau. 2008. sebagian besar mengambil tindakan yang tepat sehingga korban jiwa dapat dikurangi. laguna yang lebar dan hutan bakau tidak cukup untuk melindungi penduduk New Manra karena mereka tidak memiliki pengetahuan tentang tsunami di daerah ini. Kalligeris. dampak tsunami dimitigasi dengan menggabungkan 1) tebing koral sehat dengan penghalang yang curam dan lebar di bagian depan. Daftar Pustaka Fritz H. Kearifan lokal dapat menjadi alat pengurangan risiko bencana tsunami yang efektif jika dapat menggabungkan antara pendidikan dan fisiografi. Lokasi-lokasi dengan dataran pantai yang luas akan mengalami kesulitan dalam mengevakuasi warga dari pantai. Kearifan lokal masyarakat Kepulauan Solomon.1029/2007GL031654 12 13 McAdoo dkk (dalam laporan pers) McAdoo dkk (2008) 87 .13 Desa tempat tinggal pendatang Gilbertese yang sama-sama memiliki fisiografi yang sama dan yang diterjang tsunami dengan intensitas yang sama. Namun. yang terletak jauh dari sumber gempa rutin mana pun. dan 3) kearifan lokal tentang apa yang harus dilakukan selama terjadinya gempa besar yang diikuti oleh surutnya air laguna. dan N. tebing koral. maka mereka benar-benar tidak memiliki kearifan lokal tentang lingkungan baru mereka yang mungkin dapat menyelamatkan jiwa. 2) rute penyelamatan diri yang terjangkau dan efektif serta dataran tinggi yang dibentuk oleh topografi yang ada. tidak memiliki kearifan lokal yang kemudian menyebabkan mereka menderita banyak korban jiwa. Karena tidak pernah ada gempa besar yang menyebabkan tsunami selama 50 tahun perpindahan mereka ke tempat yang baru. Geophys Res Lett. di mana gunung api aktif dan gempa adalah hal yang biasa. Indonesia pada tsunami Samudera Hindia tahun 2004. laguna yang dangkal yang memantulkan serta melemahkan kekuatan gelombang tsunami. telah mengurangi dampak tsunami. terutama jika kepadatan penduduk sangat tinggi seperti yang terjadi di Banda Aceh. Ancestral heritage saves tribes during 1 April 2007 Solomon Islands tsunami. penduduk asli Kepulauan Solomon.Pelajaran yang Dapat Dipetik Dari 52 orang yang meninggal dunia selama gempa dan tsunami Kepulauan Solomon. New Manra dan Nusa Mbaruku yang tidak mengambil tindakan tepat karena mereka tidak memiliki ingatan akan kejadian serupa dalam tradisi mereka. akan tetapi mereka juga tidak memiliki kearifan lokal yang membuat mereka mengurungkan niat menelusuri mengapa air laguna tiba-tiba surut. 31 orang diantaranya (59. Di desa-desa asli yang terletak di Pulau Ghizo yang terkena terjangan tsunami paling dahsyat. Sebaliknya. Doi:10. Anak-anak Gilbertese terutama merupakan pihak yang paling rentan karena tidak saja mereka terlalu lemah untuk berenang melawan arus tsunami yang menyeret pelan namun dalam. yang tidak memiliki penghalang tebing koral karena bentuk alam yang berevolusi pada lambung di bawah angin Pulau Simbo.6%) adalah pendatang Gilbertese dari Titiana.12 Kiribati adalah Negara karang atol.

Tsunami Database.. 2005. Titov..- - - Galathea Expedition Gizo Tsunami Assistance Fund. Cambridge. Prasetya.ngdc. 1996. V.. 88 . “Kearifan Lokal Menyelamatkan Jiwa selama Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007. Eathquake Spectra 22 (S3): 661-669 McAdoo B dkk.” Natural Hazards National Geophysical Data Center. dan G. Volume II. 2006.com.ilfhaus. laporan pers. Trade and Management of Sharks and Other Cartilaginous Fish: An Overview. L. Hayes E (eds) The Oceania Region’s Harvest. Dalam: Sant G. 2008. Solomon Islands.gov/seg/hazard/tsu. 2008.sb/galatheaassist/. EOS McAdoo B dkk. Dengler. Dapat diakses di http://www.. affects local economy.shtml. Western Province overview.. Traffic Network. Smong: how an oral history saved thousands on Indonesia’s Simeuleu Island. Diakses tanggal 17 Januari 2008. Diakses tanggal 7 Januari 2007 Matthew. Dapat diakses di http://www. McAdoo B. UK. P.noaa. Solomon Islands Earthquake and tsunami damages reef.

Kepulauan Surin. seorang tetua Moken Latar Belakang Kaum Moken. kaum nomaden/pengembara yang tinggal di laut di Thailand – bahwa kaum Moken memiliki kearifan lokal yang dapat membantu mereka mengurangi risiko bencana. dan keterampilan mereka yang tinggi dalam mengendalikan perahu. Phayam. pengamatan yang tajam akan laut dan perasaaan berhati-hati yang kuat. Selama musim penghujan barat daya. pengetahuan mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka. bepergian dari satu pulau ke pulau lainnya di Gugusan Kepulauan Mergui di Laut Andaman untuk mencari penghidupan. “Kami menyebut gelombang besar ini ‘laboon”. Tulisan berikut ini mengkaji pelajaran-pelajaran dari kearifan lokal kaum Moken dalam pengurangan risiko bencana dan implikasi dari penerapan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan praktik-praktik yang terkait. Saya belum pernah melihat gelombang semacam itu. dan Pantai Rawai di Provinsi Phuket. Dapat dikatakan bahwa kaum Moken telah diselamatkan oleh sebuah legenda kuno. dan Chang di Provinsi Ranong. Kepulauan Surin di Provinsi Phang-nga. cara mereka memilih lokasi pembangunan desa yang cerdik. para “pengembara laut” atau “kaum gipsi yang tinggal di laut” yang tinggal di Laut Andaman. Struktur sosial kaum ini berupa kelompok-kelompok kekerabatan yang terdiri dari dua sampai sepuluh keluarga yang bepergian bersama. Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand Narumon Arunotai Abstrak Ada sebuah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kasus kaum Moken. Walaupun mereka telah tinggal di tempat yang sama 89 . Gelombang tersebut merupakan gelombang pembersih yang datang untuk membersihkan pantai yang kotor. laut menjadi ganas dan sulit diprediksi perilakunya. Selama musim penghujan timur laut yang kering laut cenderung tenang dan kaum Moken tinggal dalam perahuperahu mereka yang disebut kabang. Komunitas Moken yang besar di Thailand dapat ditemukan di Pulau-pulau seperti Lao. adalah kelompok nomaden yang tinggal di laut yang di Thailand umumnya dikenal sebagai Chao Lay (orang laut). Thailand Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. Sinhai. oleh karenanya kaum Moken beradaptasi dengan situasi ini dengan tinggal di pondok-pondok sementara di teluk-teluk yang terlindung dan mencari penghidupan mereka dari sekitar desa-desa yang mereka diami. dewa yang marah yang menghabiskan dan menghancurkan apa saja. Mereka membicarakan ‘gelombang tujuh ombak’ yang mengunjungi kami sekali setiap dua generasi.” Salama Klatalay. hanya mendengar tentang itu dari orang-orang tua. Kaum Moken yang berasal dari Kepulauan Surin relatif tetap mempertahankan gaya hidup mereka yang tradisional dibandingkan dengan kelompok-kelompok lainnya. Ia adalah dewa dari gelombang.

Sekitar setengah dari populasi ini berusia 18 tahun ke bawah. ada 184 orang Moken tinggal di Kepulauan Surin. Bagi beberapa tetua Moken. berdiam di Teluk Bon Kecil di Pulau Surin Selatan.2 Phang-nga merupakan satu di antara enam provinsi yang terkena dampak terburuk dari tsunami.000 turis selama waktu bukanya yang hanya 6 bulan (dari pertengahan November sampai pertengahan Mei). Populasi kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin berfluktuasi berdasarkan musim dan secara tahunan. Beberapa individu dan keluarga sering berpindah-pindah di antara Kepulauan Surin dan pulau-pulau lainnya di perairan Myanmar dan di antara kedua komunitas yang berdiam di Kepulauan Surin.1 Kepulauan Surin telah menjadi tempat kediaman dan tempat mencari penghidupan bagi kaum Moken selama berabad-abad. berdiam di Teluk Sai-En di Pulau Surin Utara. hal ini menandakan kedatangan 1 2 Arunotai (2006): 140 Arunotai. Hal ini terjadi tanpa adanya perubahan cuaca dan mereka menganggap ini sebagai suatu gejala yang sangat tidak biasa. Wongbusarakum. yang terdiri dari 30 rumah tangga. Kawasan hutan di kepulauan tersebut sangat terjaga baik dan memainkan peranan yang penting dalam cara hidup kaum Moken yang tradisional. Fitur alami utama Kepulauan Surin adalah terumbu karang dan hutan. dan Elias (2007): 8-9. ada sekitar 220 orang Moken di Pulau Surin Selatan. Terumbu karang yang mengelilingi Kepulauan Surin merupakan yang terbesar dan terluas di Thailand. yang terletak kirakira 720 kilometer sebelah barat daya Bangkok. dan sepertiga dari populasi adalah anak-anak berusia di bawah sepuluh tahun.4 Sampai dengan bulan Februari 2008. ada dua komunitas Moken di Kepulauan Surin. Salah satu komunitas. sekitar 60 kilometer lepas pantai barat daya Thailand. kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin mengamati adanya perubahan mendadak pada permukaan laut. Gugusan kepulauan ini terletak di Laut Andaman. Saat ini terdapat sekitar 2. Fasilitasfasilitas untuk turis telah secara bertahap dibangun dan selama tahun 2003 Taman ini menerima lebih dari 36. Hutan hujan tropis merupakan fitur alami utama lainnya di kepulauan tersebut. Komunitas lainnya. dan Elias (2007): 8-9 4 Arunotai. Wongbusarakum.3 Kepulauan Surin dideklarasikan sebagai taman laut nasional Thailand kedua puluh sembilan pada tahun 1981. Dari jumlah ini. Secara administratif Kepulauan Surin merupakan bagian dari Distrik Khuraburi di Provinsi Phang-nga. Selama tahun 2004. yang terdiri dari 16 rumah tangga. 3 Arunotai. 90 . yang berdiam di sebuah desa besar di Teluk Bon Besar. Kisah/Peristiwa Pada pagi hari Minggu tanggal 26 Desember 2004. 77 lakilaki dan 107 perempuan. Wongbusarakum. Sebelum tsunami. dan Elias (2007): 12. mereka masih menggunakan bahan-bahan dari hutan untuk membangun pondok-pondok mereka dan kadang-kadang memindahkan desa mereka ke lokasi-lokasi yang lain.000 warga Moken yang tinggal di Gugusan Kepulauan Mergui di Myanmar dan about 800 orang Moken di Thailand. Luas hutan hujan ini mencapai lebih dari 90 persen dari kawasan hutan yang ada.selama bertahun-tahun.

kewaspadaan dan sikap kehati-hatian mereka. tetapi langsung melanjutkan kehidupan sehari-hari mereka seperti pada hari-hari sebelum tsunami.“tujuh gelombang”. Secara rinci. Dalam waktu dua minggu mereka sudah merindukan pulau mereka dan laut. pengetahuan mendalam akan lingkungan laut dan hutan mereka. Kaum Moken dan kabang mereka. pengetahuan. nenek moyang mereka telah mengalami kejadian-kejadian tsunami. Setelah hidup di kawasan pulaupulau dan pantai selama berabad-abad. tetapi juga karena pengamatan mereka yang tajam. dan dengan cerdas mereka menuangkan bahaya dari bencana tsunami ke dalam sebuah legenda tentang laboon atau gelombang yang besar. Berkat insting mereka yang tajam dan keterampilan mengendalikan perahu yang tinggi. pemilihan yang cerdas akan di mana mereka akan membangun desa. sebuah legenda yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. kaum Moken di Kepulauan Surin pindah ke daratan dan mengungsi di sebuah kuil setempat. kaum Mokenlah yang mengarahkan staf Taman Nasional dan para turis naik ke atas jalur di hutan di mana mereka sering mencari makanan untuk mencari tempat yang aman untuk bermalam sambil menanti sebuah kapal yang lebih besar yang akan membawa mereka ke daratan. Kaum Moken mampu bertahan hidup tidak hanya karena mereka mengenal legenda tentang tujuh gelombang. Gambar 1. Foto: Paladej Na Pombejra Kearifan Lokal Kaum Moken yang tinggal di Kepulauan Surin telah menjadi sangat terkenal di Thailand maupun di tingkat internasional sebagai kelompok masyarakat yang dapat terluput dari tsunami tanpa kerugian berarti. mereka harus segera berlari ke daratan yang lebih tinggi untuk 91 . Seluruh warga masyarakat dengan cepat berlari menaiki bukit-bukit di balik desa mereka. oleh karenanya disebut “tujuh gelombang”. lebih dari 20 warga Moken telah bekerja di Taman Nasional. Pada saat yang sama. Setelah kedua desa mereka tersapu oleh tsunami. Legenda ini mengajarkan bahwa laboon biasanya datang sebagai serangkaian gelombang. Legenda tujuh gelombang. mereka telah menyelamatkan nyawa banyak turis. perasaan yang tajam dan ketrampilan-ketrampilan terkait Kaum Moken adalah sebagai berikut: 1. Walaupun membicarakan laboon secara terbuka dilarang karena takut akan mengundang gelombang mematikan tersebut kepada mereka. Masyarakat Moken adalah suatu kelompok yang buta huruf tetapi “sastra lisan” mereka kreatif dan kaya. semua orang mengetahui bahwa jika air laut di pantai tibatiba surut. dan ketrampilan mereka dalam mengendalikan perahu. dan sudah merasa cukup percaya diri untuk pulang kembali ke Kepulauan Surin. Sekali lagi. dan mereka semua dapat terselamatkan dari bencana tsunami. walaupun seluruh desa tersapu habis berikut beberapa perahu warga. Mereka yang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang mengamati adanya perubahan pada arus air dan memutuskan untuk mengarahkan perahu menjauh dari pantai. Karena mereka adalah kelompok warga yang hanya memiliki sedikit harta-benda. mereka tidak berlama-lama larut dalam kesedihan.

Setelah berlari mendaki bukit untuk menyelamatkan diri dari dampak tsunami. 2.5 Tanda peringatan akan bahaya tsunami tertanam di dalam sistem kognitif mereka. Pengamatan yang tajam dan sikap kehati-hatian. Mereka menerapkan prinsip kehati-hatian dan selalu waspada. sampai risiko-risiko yang ditimbulkan oleh manusia yang dapat ditelusur balik kepada sejarah panjang kaum Moken yang telah menjadi korban pelecehan dan eksploitasi oleh pihak-pihak luar – para bajak laut. hewan-hewan laut dan hutan yang berbahaya. tanpa bantuan teknologi modern sama sekali. dan datangnya ombak putih menunjukkan dengan pasti tanda-tanda datangnya laboon karena hal-hal ini terjadi tanpa adanya perubahan angin atau tanpa adanya tanda perubahan di langit. para perampok dan bandit. dari dan oleh laut. 5. Pengetahuan akan jalur-jalur jalan di hutan dan cara bertahan hidup di alam bebas.menyelamatkan nyawa mereka. dsb.6 Oleh karena itu. Kaum Moken yang tinggal di berbagai pulau di Laut Andaman Thailand memilih lokasi yang tepat bagi desa-desa mereka dengan sangat berhati-hati. kaum Moken memiliki pengetahuan yang mendalam akan ritme-ritme alam. dan mereka yang sedang mengantarkan turis untuk menyelam di terumbu karang segera mengarahkan perahu-perahu mereka menjauh dari daratan untuk menghindari hempasan gelombang. yakni kawasan di bagian timur dari pulau-pulau tersebut. suatu kemampuan untuk mengenali tanda-tanda alam dan membedakan antara gejala-gejala yang “biasa” dan “tidak biasa”. Hal ini disebabkan oleh banyaknya risiko yang harus mereka hadapi dalam kehidupan mereka sehari-hari – mulai dari risiko-risiko alam seperti badai yang datangnya tiba-tiba. Kiri: Tanda peringatan tsunami yang dapat dilihat di sepanjang pantai selatan Thailand. segera setelah air laut surut secara tidak wajar pada tanggal 26 Desember 2004. kaum Moken mengetahui “ke mana” mereka harus berlari karena mereka sangat mengenal lingkungan dan jalan-jalan di hutan. Hidup sebagai “orang laut” yang hidup di. kaum Moken saling memberitahu satu sama untuk melarikan diri dan mengungsi ke bukit di balik desa. massa air laut dalam jumlah besar yang tiba-tiba surut dengan cepat merupakan sesuatu yang aneh. Gambar 2. Sebuah kajian perbandingan antara permukiman-permukiman masyarakat asli (antara kaum Moken dan Urak Lawoi) membawa pada kesimpulan bahwa setiap permukiman 5 6 Arunotai (2006): 143 Hinshiranan (1996): 131-133 92 . Pengetahuan ini menjadi sistem peringatan bencana alam yang paling efektif. Pengetahuan mendalam akan lingkungan laut. 4. pedagang budak. Kanan: Tanda peringatan semacam ini dapat “ditanamkan” pada diri kaum muda melalui kearifan lokal. 3. Kaum Moken memiliki pengamatan yang tajam. sehingga mereka semua mampu menyelamatkan diri walaupun sebagian besar dari mereka sebelumnya belum pernah melihat tsunami. Bagi mereka. Pemilihan lokasi desa yang cerdik. terutama berkaitan dengan perubahan-perubahan pada cuaca dan kejadian-kejadian tidak biasa lainnya.

Para lelaki Moken memiliki keterampilan yang tinggi dalam mengendalikan perahu karena sejak sangat muda mereka telah terbiasa menggunakan perahu dayung dan mengoperasikan perahu motor yang lebih besar. Terkait dengan penerusan kearifan lokal dari satu generasi ke generasi berikutnya. Keterampilan mengendalikan perahu dan keterampilan terkait laut lainnya. Dengan membangun permukiman di bagian timur pulau warga akan relatif terlindung dari angin barat daya (dan oleh karenanya juga terlindung dari tsunami dari laut lepas). relatif dapat mempertahankan kebugaran fisik mereka karena pekerjaan mereka biasanya berkaitan dengan tenaga fisik. 4) penemuan-eksplorasi-penemuan kembali. 2) hafalan atau mengingat-ingat. desa. bentuk desa yang kecil dengan pondok-pondok panjang rumah panggung yang dibangun di atas air telah menjadi sebuah bagian penting dari identitas budaya kaum Moken. Lebih lanjut. 93 . kehidupan nomaden dan sederhana kaum Moken tampak kuno. angin kencang. gelombang besar dan badai-badai. 3) coba-coba atau pengalaman terapan. Permukiman tradisional kaum Moken. 7 8 Arunotai dan Elias (2005). kaum lelaki dan perempuan. Di mata para warga Thailand yang menetap dan hidup di daratan serta memiliki rumah permanen. Baik kaum lelaki maupun kaum perempuan juga menguasai keterampilan-keterampilan lainnya yang berkaitan dengan laut seperti berenang dan menyelam. sebagian besar kaum Moken dapat mengamati laut langsung dari pondok mereka. 6.7 Bagi kaum Moken di Kepulauan Surin. tidak ada sarana untuk mendokumentasikan atau merubah pengetahuan ke dalam bentuk tekstual sehingga orang dapat membaca atau mengikutinya karena bahasa kaum Moken hanya memiliki bentuk lisan. tanpa bahasa tulis. semuanya mencerminkan kearifan lokal yang membantu kaum Moken hidup dengan nyaman dan aman di lingkungan pantai. muda dan tua. gunung tinggi di balik desa juga memberikan dataran tinggi yang cukup untuk evakuasi.8 Harus diperhatikan di sini bahwa selamatnya mereka dari tsunami sebagian disebabkan oleh “pengamatan mereka yang tajam” – dari tata letak desa tradisional mereka. Dalam perairan yang bergolak.berada dalam teluk yang terlindungi di bagian timur. Arunotai dan Elias (2005). Dari perspektif pendidikan modern. dan musim penghujan timur laut yang membawa cuaca yang lebih kering dan angin yang lebih lemah. musim penghujan barat daya yang membawa hujan. termasuk kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik yang berhubungan dengan pembangunan pondok. hal ini menimbulkan keterbatasan tertentu karena tidak ada cara untuk merekam pengetahuan dan tidak ada “jalan pintas” lain kepada pengetahuan itu kecuali dengan belajar langsung dari mereka yang mengetahui melalui 1) pengamatan. Hal ini disebabkan karena pulau-pulau di Laut Andaman dipengaruhi oleh dua musim penghujan. dan 5) praktik serta peninjauan. dan pondok-pondok mereka. Bahkan kaum lanjut usia dan anak-anak mampu berlari dan memanjat ke dataran yang lebih tinggi tanpa banyak kesulitan. para lelaki ini dapat dengan terampil mengarahkan perahu menjauh dari daratan. Selain itu.

2. rute melarikan diri dan mencapai tempat penampungan darurat. Bagi kaum Moken. 12 Arunotai (2006): 148 10 94 . kedatangan laboon telah aktual tercetak di dalam sistem kognitif mereka walau sebelumnya lebih berupa setengah mitos dan setengah kenyataan.”12 Ada beberapa implikasi untuk menerapkan pelajaran-pelajaran ini pada kebijakan dan praktik-praktik terkait.9 Ini telah menjadi representasi sosial yang diadopsi oleh kaum Moken sendiri dari masyarakat yang lebih luas. Anak harus mendapat kesempatan untuk belajar dari para tetua di masyarakat. Terkait dengan legenda dan cerita-cerita rakyat. dengan pintu masuk menghadap ke arah dalam pulau tetapi bagian beranda belakang terbuka ke arah laut. Pelajaran yang Dapat Dipetik Pelajaran utama yang dapat dipetik di sini adalah bahwa kearifan lokal kaum Moken yang sebelumnya dianggap sebagai “biasa” atau bahkan “kuno” telah memungkinkan kaum Moken (dan orang-orang lainnya) untuk menyelamatkan diri dari bencana tsunami. tetapi juga sangat mengenal jalan-jalan setapak di hutan yang mereka gunakan sebagai jalur penyelamatan diri dan tinggal/hidup di alam bebas juga 9 Arunotai (2003): 116–117.terbelakang dan tidak ada potensi untuk maju.”11 “Kearifan tradisional kaum Moken tidak dianggap sebagai pengetahuan atau ilmu.10 Sebagai akibatnya. kearifan lokal kaum Moken jarang dikenal atau dihargai. dan sastra lisan tidak lagi memiliki banyak arti bagi mereka. 1. “Menginternalisasikan” tanda-tanda peringatan dini dan rencana-rencana kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana seperti evakuasi. Gambar 3. Pendidikan formal menekankan pengetahuan “eksplisit”. Menghargai dan mempromosikan kearifan lokal melalui pengembangan kurikulum lokal yang sesuai dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan pendidikan. Arunotai (2006): 141. tetapi pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang “tersembunyi” telah terbukti sangat penting bagi keberlangsungan hidup fisik dan budaya kaum Moken. “Beberapa dari cerita-cerita ini hanyalah versi pendek dari cerita-cerita yang lebih panjang. untuk menyerap dan mempraktikkan “pengamatan yang tajam” dan “prinsip kehati-hatian”. dan belajar serta menghargai pengetahuan yang mendalam akan lingkungan laut dan hutan. Sayangnya bentuk-bentuk kearifan lokal ini sekarang hanya terbatas dimiliki oleh orangorang dewasa dan para tetua. 11 Ivanoff (2001): 3. Pondok-pondok sebelum tsunami. sehingga arah perubahan lebih mengarah pada jenis pembangunan yang didefinisikan dan diperkenalkan oleh pihak-pihak luar yang memandang mereka sebagai terbelakang dan miskin. Kearifan lokal ini secara perlahan-lahan dilupakan dan jarang diteruskan kepada generasi-generasi yang lebih muda. Mereka tidak hanya mampu mengenali tanda-tanda peringatan.

Untuk masyarakat-masyarakat lain. “Moken –Their changing huts and village” (Kaum Moken – pondok-pondok dan desa mereka yang berubah). Narumon. Thesis Master tidak diterbitkan. 2005. mereka yang cacat. Bangkok. 3. N. Mempelajari pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang penting untuk menyelamatkan diri seperti berenang. 2001. S. Loss of traditional practices. 2006. 187: 139-150. Komunitas kaum Moken biasanya kecil. memanjat. 2003. Universitas Hawai’i. Bridging the gap between the rights and needs of indigenous communities and the management of protected areas: Case Studies from Thailand (Menjembatani kesenjangan antara hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat asli dan pengelolaan kawasan-kawasan yang dilindungi: Studi-studi kasus dari Thailand). dalam Kelompok-kelompok Etnis dan Mistifikasi). Rings of Coral (Lingkar-lingkar Terumbu Karang). dan D. “Moken traditional knowledge: an unrecognised form of natural resources management and conservation” (Kearifan tradisional kaum Moken: suatu bentuk manajemen dan konservasi sumber daya alam yang tidak dihargai). Arunotai. dibutuhkan adanya praktik dan dril-dril teratur untuk berbagai bentuk bencana yang mungkin terjadi di suatu daerah. “For a Better Understanding of the Moken Knowledge and Myth about Chao Lay Ethnic Groups” in Ethnic Groups and Mystification (Untuk Pemahaman yang Lebih Baik akan Pengetahuan Kaum Moken dan Mitos tentang Kelompok-kelompok Etnis Chao Lay. N. pertolongan pertama pada kecelakaan. Supin. Ivanoff. loss of knowledge. dan D. dan orang-orang lainnya yang membutuhkan bantuan khusus sehingga mereka dapat memperoleh perhatian khusus dalam situasi darurat. Wongbusarakum. Jacques. Fakultas Ilmu Politik. Universitas Chulalongkorn.bukan masalah besar bagi mereka. harus diupayakan adanya pemetaan kaum lanjut usia. 2005. Elias. and the sustainability of cultural and natural resources: a case of Urak Lawoi people in the - - - - - - 95 . Arunotai. Arunotai. The World According to the Moken: Reflection from traditional ecological knowledge on marine environment (Dunia Menurut Kaum Moken: Refleksi dari pengetahuan ekologis tradisional atas lingkungan laut). (bahasa Thai). Wongbusarakum. Elias. Jurnal Internasional Ilmu Sosial. sehingga mereka saling mengenal satu sama lain dan mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan khusus. Bangkok: UNESCO Bangkok. 1996. N. Bangkok: Dewan Budaya Nasional. Agar selalu siap siaga seseorang harus memiliki kebugaran fisik yang prima. Hinshiranan. Sebuah makalah tidak diterbitkan yang ditulis untuk Proyek Pilot Andaman. Untuk masyarakat-masyarakat lain. Narumon. Departemen Kebudayaan. Disertasi Doktoral tidak diterbitkan. selain penyebarluasan bahan-bahan pendidikan tentang bencana alam kepada komunitas dan sekolah-sekolah. 2003. dll.. Daftar Pustaka Arunotai. Bangkok: White Lotus. 2007. The Analysis of Moken Opportunistic Foragers’ Intragroup and Intergroup Relations (Analisis Hubungan Oportunistik Intragrup dan Antargrup Kaum Pengembara Moken). Paladej Na Pombejr.

dan keberlanjutan sumber daya budaya serta alam: sebuah kasus dari kaum Urak Lawoi di Kepulauan Adang.Adang Archipelago. 96 . Thailand Barat Daya). Southwest Thailand (Hilangnya praktik-praktik tradisional.iucn.doc. hilangnya kearifan lokal. Diundun pada 7 Februari 2008.org/themes/ceesp/WAMIP/Aichi%20Paper%20submitted%2031%20 Aug%2005. Dari http://www.

Vietnam Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasankawasan Rawan Kekeringan di Vietnam Nguyen Ngoc Huy dan Rajib Shaw Abstrak Daerah pesisir provinsi Ninh Thuan merupakan salah satu kawasan yang paling kering di Vietnam. hujan Terbang tidak tinggi dan tidak rendah. 4239 ha lahan untuk hutan. wortel. terbagi dalam sekitar 2.057. Penghidupan utama masyarakat adalah pertanian. yang sebagian besar terfokus pada ternak sapi. cabe dan kentang) sebagai tanaman utama. anggur dan sayur-mayur dengan waktu tanam yang pendek (seperti tomat. jumlah total penduduk An Hai adalah 12. 4833 ha untuk tempat tinggal dan sisanya untuk keperluan budidaya perikanan air tawar serta keperluankeperluan lainnya. Khususnya. langit berawan” (Lirik lagu daerah yang digunakan untuk meramal cuaca) Latar Belakang An Hai merupakan satu dari beberapa komunitas pesisir yang berdiam di sebelah Timur Provinsi Ninh Thuan.37 ha lahan untuk pertanian. Distrik Ninh Phuoc. Pada musim penghujan masyarakat terutama memanfaatkan air hujan untuk kegiatan bercocok tanam mereka.98 ha dengan 1. Pada tahun 2005. Karena di beberapa daerah yang masih belum berkembang pelayanan peramalan cuaca hanya tersedia secara terbatas.091. “Capung terbang tinggi. langit cerah Terbang rendah. penggunaan kearifan tradisional untuk peramalan cuaca sangat berguna untuk kepentingan pertanian tanaman pangan di masyarakat. Provinsi Ninh Thuan. Tingkat curah hujan tahunan biasanya berkisar antara 600 mm sampai 800 mm per tahun dengan distribusi yang tidak merata antar bulan. Usaya peternakan juga menjadi salah satu kekuatan dari komunitas An Hai. Musim Panas-Musim Gugur dari akhir April sampai awal Agustus dan waktu tanam utama dari bulan September sampai awal Desember. Kisah/Peristiwa 97 . domba dan kambing.Komunitas An Hai. Total luas geografis kawasan ini adalah 2. Daerah-daerah yang memiliki irigasi dapat menanam padi sebanyak tiga kali: Musim Dingin-Musim Semi dari awal Desember sampai awal April.596 rumah tangga dalam total 6 dusun. terutama pertanian padi.890. metode pengamatan bulan dan pengamatan capung untuk meramalkan perubahan cuaca telah memainkan peranan penting dalam kegiatan-kegiatan pertanian komunitas An Hai. Sumber air utama dalam musim kering adalah air sungai dan air sumur.

Pada saat-saat yang sangat sulit.Suhu di daratan Vietnam semakin meningkat dan cuaca menjadi semakin ekstrim dan sulit diramalkan. Para petani bekerja bersama untuk menanam tanaman pangan dan memelihara ternak kambing dan domba keturunan Sultan dari India. 98 . Kekeringan terus berlanjut pada tahun 2005 dan 2006 dengan curah hujan yang sangat sedikit pada dua musim tanam pertama. Beberapa teknik adaptasi ini memang produktif. Masyarakat selalu mencari cara-cara baru untuk beradaptasi. Sementara tingkat curah hujan tahunan terus-menerus meningkat. Provinsi ini terlanda kekeringan yang parah pada bulan Agustus tahun 2004 dengan tingkat curah hujan yang turun sampai 50% dari normal. beberapa anggota keluarga terpaksa bermigrasi ke kota-kota untuk mencari pekerjaan. Mereka telah menemukan cara-cara untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan air limbah. Ada dua musim di kawasan ini: musim penghujan dari bulan Juli sampai November dan musim panas/kering dari bulan Desember sampai Juni. tetapi beberapa lainnya juga ada dampak negatifnya. para petani mengalami kekeringan karena hujan sekarang datang dengan sangat intensif dalam waktu yang lebih pendek. Provinsi ini telah mengalami kekeringan tahunan sejak tahun 2002. Perubahan-perubahan dalam pola curah hujan menjadi kompleks dan bervariasi serta sangat tergantung pada lokasi. Meningkatnya kejadian-kejadian kekeringan di Provinsi Ninh Thuan telah menjadi masalah besar baik bagi pemerintah maupun masyarakat setempat. Petani juga telah mulai beralih dari menanam padi kepada jelai atau tanaman-tanaman pangan jangka panjang lainnya serta menggunakan varietas-varietas yang lebih tahan kekeringan. Semakin panjangnya hari-hari kering telah menimbulkan kerusakan yang signifikan pada pertanian merubah tingkat salinitas air tanah sehingga merusak budidaya perikanan air tawar. Kearifan Lokal Melalui peramalan cuaca didapatkan rekomendasi-rekomendasi berkaitan dengan tanggal-tanggal untuk penanaman dan perubahan varietas tanaman pangan yang harus ditanam agar beras dan tanaman-tanaman pangan lainnya dapat tumbuh dengan baik. yang dapat tahan dengan suhu udara tinggi. namun demikian. kecenderungan terbesar adalah menuju musim-musim kering yang lebih panas. Pindahnya kaum muda ke kota meningkatkan beban kerja pada mereka yang lebih lanjut usia yang terpaksa tinggal di desa. Ninh Thuan adalah satu dari antara sembilan provinsi yang paling terpengaruh oleh kekeringan di Vietnam. Musim penghujan terutama sangat intensif selama tiga bulan antara bulan September sampai Desember. Mereka harus merubah jenis tanaman yang mereka tanam dan jadwal penanaman untuk beradaptasi dengan kondisi-kondisi cuaca dan iklim yang keras. Umumnya jumlah curah hujan di daerah-daerah pesisir sangatlah rendah. Kaum perempuan seringkali terpaksa harus mengalah dalam penggunaan air dan memberikannya untuk para suami dan anak-anak mereka. Curah hujan tahunan di kota pesisir Phan Rang – Thap Cham (sangat dekat dengan komunitas An Hai) adalah sebanyak 712 mm. lebih panjang dan lebih kering dan sebaliknya hujan yang lebih intensif selama musim-musim penghujan. Rata-rata suhu udara saat ini 1º C lebih tinggi daripada 100 tahun yang lalu.

Pada halo ini. Pengamatan atas Bulan Komunitas An Hai memiliki sebuah peribahasa kuno yang telah digunakan dalam observasi cuaca untuk meramalkan kekeringan dan jadwal penanaman. 1 NASA (2003) 99 . sebuah halo yang ada di sekitar bulan atau matahari merupakan penunjuk akan cuaca yang berawan atau akan hujan karena awan-awan cirrus dan cirrostratus yang berada di ketinggian yang menyebabkan adanya halo tersebut cenderung melayang di depan sistem frontal (terutama front-front yang hangat) yang memproduksi curah hujan. Halo merupakan suatu gejala optikal yang konsepnya lebih kurang mirip dengan pelangi tetapi sekaligus juga sangat berbeda. Akar kata bahasa Latin dari kata corona berarti mahkota. “Mahkota di sekitar bulan. tetapi juga dapat diamati dengan coronagraf. Bulan Bercincin Bulan bercincin atau ber-halo adalah bulan yang dikelilingi oleh sebuah cincin cahaya yang mengelilingi matahari atau bulan dan biasanya tampak sebagai cincin-cincin putih yang terang benderang. yang mengakibatkan beberapa orang pada abad ke-19 beranggapan bahwa benda ini mengandung unsur yang sebelumnya tidak dikenal. Cincin/Halo di sekitar bulan. sebuah cincin cahaya 22 derajat dari matahari atau bulan diproyeksikan oleh kristal-kristal es heksagonal (dengan enam sisi) yang berdiameter kurang dari 20. beberapa cincin juga dapat memiliki pola-pola warna tertentu. hujan akan segera turun. Tingginya temperatur corona memberinya fitur-fitur spektrum yang tidak biasa.5 mikrometer. Halo terbentuk jika sinar matahari atau sinar bulan direfraksikan atau dibelokkan oleh kristal-kristal es yang ada di awan-awan tipis yang berada di ketinggian. Trang tan thi mira” Lebih kurang berarti. 2004).” Bulan Bermahkota Mahkota atau corona adalah sejenis “atmosfir” plasma dari matahari atau benda-benda langit lainnya. yang menjangkau jutaan kilometer di angkasa. banyak petani menanam tanaman pangan mereka berdasarkan pengamatan atas bulan dan mengamati perilaku serangga-serangga.Karena pada jaman dahulu peramalan cuaca belum tersedia. Peribahasa ini diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam masyarakat. Jenis halo yang paling umum adalah halo 22 derajat. Peribahasa ini menyatakan: “Trang quang thi han. Fitur-fitur spektrum ini sekarang telah diketahui berasal dari unsur Besi yang mengandung ion tinggi (Fe (XIV)) yang menunjukkan adanya suhu plasma yang melebihi 10° Kelvin (Aschwanden.1 Seringkali. “Coronium”. seperti awan cirrus atau cirrostratus. Namun. paling mudah disaksikan ketika terjadi gerhana matahari total. akan ada tahun kekeringan.

strategi-strategi ini dapat dan harus disebarluaskan kepada 100 . Kearifan lokal ini telah diteruskan selama ribuan tahun oleh masyarakat dari satu generasi ke generasi lainnya. langit cerah.ttvnol.com/illustration/insect Pelajaran yang Dapat Dipetik Pengamatan serangga dan gejala-gejala di atmosfir seperti halo telah digunakan sebagai suatu sarana empirik untuk peramalan cuaca sebelum ilmu meteorologi berkembang. Terbang tidak tinggi dan tidak rendah. Masalah utama pada komunitas An Hai adalah kurangnya air bersih untuk budidaya pertanian. Bay vira thi ram” Artinya kira-kira: “Capung terbang tinggi. Mereka mengamati perilaku capung untuk mengetahui kapan akan hujan dan kapan akan ada sinar matahari. para petani kemudian mempersiapkan tanah dan bibit-bibit tanaman pangan mereka. Terbang rendah.scientificillustrator. Bulan Bercincin Sumber: http://www8. Berdasarkan hal tersebut. Gambar 1. Pengetahuan akan musim hujan dan peramalan akan tahun-tahun kemarau yang tepat akan membantu para petani untuk memilih jenis tanaman pangan. serta menyusun jadwal penanaman mereka dengan semestinya.Pengamatan Capung Komunitas An Hai juga menggunakan sebuah lagu rakyat lain untuk meramalkan cuaca. Bay cao thi nang. Di beberapa daerah yang penduduknya tidak memiliki akses terhadap teknologi tinggi.ttvn Gambar 2. peramalan cuaca tradisional berdasarkan pengamatan bulan dan serangga memainkan peranan yang penting bagi kegiatan-kegiatan pertanian. Seekor Capung Sumber: http://www.ttvnol.com/forum/f_533/862476. Dengan menggunakan metode pengamatan capung para petani dapat memutuskan waktu untuk menabur dan menanam.ttvn Gambar 3.com/forum/f_533/862476. Bulan Bermahkota Sumber: http://www8. hujan. langit berawan” Para petani menjelaskan bahwa jika capung-capung terbang pada jarak kurang dari 80 cm dari tanah. Karena kearifan lokal ini sangat berguna di kawasan-kawasan yang tidak memiliki akses terhadap metode-metode meteorologis untuk meramal cuaca. Ini semua didasarkan pada pengalaman praktis yang telah digunakan selama kurun waktu yang sangat panjang. Lirik bahasa Vietnam dari lagu rakyat tersebut adalah sebagai berikut: “Chuon Chuon bay thap thi mira. benih dan waktu untuk menabur serta menanam. hari akan segera hujan.

Daftar Pustaka Aschwanden. Simposium Internasional tentang Mitigasi dan Adaptasi terhadap Bencana-bencana Alam yang Ditimbulkan oleh Perubahan Iklim 20–21 September 2007. Nguyen Ngoc. Sebuah Pengantar (Physics of the Solar Corona.ttvnol. Vietnam. Adaptasi terhadap Kekeringan: Sebuah Studi Kasus atas Provinsi Ninh Thuan. J. Penjelasan atas peribahasa “Trang quang thi han. Praxis Publishing Ltd. Vietnam Shaw.oxfam. Trang tan thi mua” http://www8. Dapat diakses di: http://www. 2007.org.pdf Forum Online Sejarah dan Budaya Vietnam.uk/resources/policy/climate_change/downloads/ninh_thaun_re search. 2007. Rajib Shaw. 2004. Prabhakar SVRK.ttvn - - 101 . Fisika Mahkota Matahari.. An Introduction).masyarakat-masyarakat lain yang masih tinggal di daerah-daerah yang belum begitu berkembang.com/forum/f_533/862476. Provash Mondal. Rajib. Huy Nguyen. Pertimbanganpertimbangan Manajemen Kekeringan untuk Adaptasi Perubahan Iklim: Fokus pada Kawasan Mekong. M. Hue city. Huy. ISBN 3-540-22321-5. Rovash Mondal. Prabhakar SVRK.

Direktur: Strategi anshu@seedsindia.ecs. Ritual dan Arsitektur di Kawasan Sabuk Gunung Api Koen Meyers.ac. UNDP India.co.ac. Assam. Penasihat Teknis untuk Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup k. UNESCO Jakarta. Bidang Penanggulangan Bencana.uk Nepal: Kearifan Lokal dalam Mitigasi Bencana: Membangun Upaya untuk Saling Melengkapi antara Pengetahuan Masyarakat dan Pengetahuan Para Ahli 102 .org Rajiv Dutta Chowdhury.jp Rajib Shaw.org India: Konservasi Tanah dan Air melalui Penanaman Bambu: Sebuah Teknik Penanggulangan Bencana yang Diadopsi oleh Masyarakat Nandeswar. India alikhanamir@gmail. silahkan menghubungi langsung para penyumbang tulisan di bawah ini: Cina: Teknologi Karez untuk Pengurangan Bencana Kekeringan di Cina Weihua Fang fang@ires. Pemerintah India.stephen@undp.takeuchi@fw7. SEEDS India. Universitas Kyoto y. Universitas Kyoto shaw@global. National Institute of Disaster Management Departemen Dalam Negeri. Assistant Professor. Program Manajemen Risiko Bencana Irene.com Debashish Nath. Blok Pembangunan Matia.media. India rdchowdhury@gmail.meyers@unesco. Assam Irene Stephen.com India: Kearifan Lokal dan Ilmu Pengetahuan Modern Memberi Solusi untuk Tempat Bermukim yang Ramah Lingkungan di Kawasan Gurun yang Rawan Banjir di India Anshu Sharma.cn India: Praktik-praktik Pembangunan Rumah Tradisional yang Aman Gempa di Kashmir Amir Ali Khan.Untuk informasi lebih lanjut tentang praktik-praktik yang baik yang disajikan dalam publikasi ini. Kantor Deputi Komisioner.jp Mongolia: Kearifan Lokal dalam Pengurangan Risiko Bencana pada Masyarakat Penggembala Shiver Bolormaa Borkhuu.mbox. Goalpara. Pejabat. New Delhi.org Jepang: Langkah-langkah Tradisional untuk Mengurangi Bencana Banjir di Jepang Yukiko Takeuchi. Goalpara. Bagian Pembangunan Berkelanjutan dan Perencanaan Strategis bolorbor@yahoo. Kementerian Alam dan Lingkungan Hidup Mongolia.kyoto-u.kyoto-u. Pejabat Pengembangan Pertanian. India Indonesia: Legenda. Assam.

ecs. UNDP Nepal. Universitas Peradeniya. Victoria. New York brmcadoo@vassar. Pakistan Takeshi Komino.jp Kepulauan Solomon: Kearifan Lokal Menyelamatkan Nyawa dalam Tsunami Kepulauan Solomon tahun 2007 Brian G. Divisi Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup dan Kehidupan.org Nepal/Pakistan: Pengetahuan Lokal tentang Kesiapsiagaan dalam Menghadapi Banjir: Contoh-contoh dari Nepal dan Pakistan Julie Dekens. Universitas Kyoto noralene. Universitas Kyoto shaw@global.uy@ky7. Sri Lanka madduband@yahoo.ac.org.kyoto-u. Papua Nugini Jessica Mercer. McAdoo.M.com Filipina: Menggabungkan Kearifan Lokal dan Pengetahuan Ilmiah dalam Sistem Peringatan Banjir Kota Dagupan Lorna P. Poughkeepsie.Man B.jp Rajib Shaw.ac.thapa@undp. Pusat Internasional untuk Pembangunan Pegunungan Terpadu (International Centre for Integrated Mountain Development/ICIMOD) jdekens@icimod. Pusat Kesiapsiagaan Bencana (Center for Disaster Preparedness) Oyvictoria@yahoo. Universitas Macquarie University. New South Wales.b. Provinsi Perbatasan Barat Laut.edu Sri Lanka: Sistem Tangki Air Desa Bertingkat: Pendekatan Tradisional untuk Mitigasi Kekeringan dan Kesejahteraan Masyarakat Desa di Pedesaan-pedesaan Purana di Sri Lanka C.media. Christian World Service Pakistan takeshi@cwspa.kyoto-u. Departemen Geografi Manusia. Yayasan Dios Mabalos Po Filipina: Dibentuk oleh Angin dan Topan: Kearifan Lokal Kaum Ivatan di Kepulauan Batanes. Sydney. Australia Jessica-mercer@hotmail.com Filipina: Pengetahuan Masyarakat Asli tentang Mistisisme Muntahan Lava Gunung Berapi Mayon Gerardine Cerdena.org Pakistan: Mekanisme Bertahan Masyarakat Asli dalam Penanggulangan Bencana di Distrik Mansehra dan Battagram. Profesor Emeritus.com 103 . Program Penanggulangan Bencana Partisipatif man. Vassar College. Thapa.pk Papua Nugini: Hidup bersama Banjir di Singas. Filipina Noralene Uy.mbox. Madduma Bandara.

org Sekretariat Afrika. UNIVERSITAS KYOTO Yoshida Honmachi.ecs. Jenewa albrito@un.org/europe Sekretariat Asia Barat dan Afrika Utara.mbox.org www.org Laboratorium Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana.unisdr.Thailand: Diselamatkan oleh Sebuah Legenda Kuno dan Pengamatan yang Tajam: Kasus Kaum Moken. Thailand Tel: +66 2305 2600/2700 Fax: + 66 2255 9113 website: http://ec.europa. Sakyo-ku. Panama eird@eird.ges. Thailand hnarumon@chula. Jurusan Pasca Sarjana Ilmu-ilmu Lingkungan Hidup.unisdr-wana.ky otou.jp/ Uni Eropa Delegasi Komisi Eropa Bangkok.jp Rajib Shaw.jp Sekretariat Asia dan Pasifik.eu/euro peaid/index_en.ac.ac.org www.eird.UN Conference Centre Building Rajdamnern Nok Avenue Bangkok 10200 Thailand Tel: +66 (0)2 288 2745 isdr-bkk@un. Kyoto 606-8501.iedm.ac.htm 104 .org/africa Sekretariat Amerika. Universitas Chulalongkorn.org www.org Sekretariat Jenewa isdr@un.org www. Universitas Kyoto shaw@global.nguyen@ky7.th Vietnam: Peramalan Cuaca melalui Kearifan Lokal untuk Budidaya Tanaman di Kawasan-kawasan Rawan Kekeringan di Vietnam Nguyen Ngoc Huy. Kaum Nomaden yang Tinggal di Laut di Thailand Narumon Arunotai.org Sekretariat Eropa. Nairobi isdr-africa@unep. JAPAN Tel/ Fax: 81-75-7535708 (Langsung) Web: http://www.kyoto-u.unisdr.unisdr.org www. Cairo info@unisdr-wana.media.kyoto-u. Bangkok c/o UNESCAP . Universitas Kyoto huy.ac.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful