1

PROYEK AKHIR




RANCANG BANGUN SISTEM PENGGERAK PINTU
AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI
ALTERNATIF MATAHARI

(HARDWARE/SOFTWARE)



TRIYAS IKA WULANDARI
NRP. 7306 040 015


Dosen Pembimbing:
Ir. GIGIH PRABOWO, MT
NIP. 19621205 199103 1 003

INDHANA SUDIHARTO,ST, MT
NIP. 19660227 199403 1 001




JURUSAN TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2

2010

PROYEK AKHIR




RANCANG BANGUN SISTEM PENGGERAK PINTU
AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI
ALTERNATIF MATAHARI


(HARDWARE/SOFTWARE)


TRIYAS IKA WULANDARI
NRP. 7306 040 015


Dosen Pembimbing:
Ir. GIGIH PRABOWO, MT
NIP. 19621205 199103 1 003

INDHANA SUDIHARTO,ST, MT
NIP. 19660227 199403 1 001


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI
POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2010
3

RANCANG BANGUN SISTEM PENGGERAK PINTU AIR
DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI ALTERNATIF
MATAHARI
Oleh:
Triyas Ika Wulandari
NRP.7306.040.015

Proyek Akhir ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST)
Di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Disetujui oleh :
Tim Penguji Proyek Akhir Dosen Pembimbing



1. Ir. Joke Pratilastiarso, MT.
NIP. 196209201988031002






1. Ir. Gigih Prabowo, MT.
NIP. 19621205 199103 1 003

2. Drs. Irianto, MT.
NIP. 196405221991031003

Ir
Abdul Nasi31 964 534

2. Indhana Sudiharto,ST, MT.
NIP. 19660227 199403 1 001

3. Renny Rachmawati, ST, MT
NIP. 197210241999032001









Surabaya, 5 Agustus 2010
Mengetahui
Ketua Jurusan
Teknik Elektro Industri


Ainur Rofiq Nansur, ST, MT
NIP. 19640713198903 1 005






4

ABSTRAK

Dalam proyek akhir ini telah dibuat simulator sistem penggerak
pintu air menggunakan sumber solar cell. Solar cell mempunyai
kelemahan sangat tergantung adanya sinar matahari. Untuk mengatasi
masalah pada solar cell bila cuaca mendung supply energi listrik di catu
melalui baterai backup untuk sistem penggerak pintu air. Cara ini
dimaksudkan agar pintu air dapat bekerja sewaktu-waktu dalam segala
kondisi secara otomatis. Untuk mendapatkan tegangan keluaran solar
cell yang tetap, diberikan rangkaian battery charger sehingga output
tegangan dari rangkaian battery charger dapat dijaga tetap 13,6V. Sistem
buka tutup pintu air digerakkan oleh Motor DC berdasarkan sensor
ketinggian air sungai. Sebagai sistem pengontrolan buka tutup pintu air
menggunakan kontrol logika fuzzy untuk menggerakkan motor pada
penggerak pintu air. Dari sistem ini didapatkan kondisi ideal dari
otomatisasi sistem penggerak pintu air.

Kata Kunci : Solar cell, battery charger, driver motor, sensor level.



5

ABSTRACT
This final project has made driving simulator sluice system
using solar cell source. Solar cell has a weakness depends on the
existence of the sun. To overcome the problems of the solar cell when
the weather was overcast in the supply of electrical energy through the
battery backup power supply for propulsion systems sluice. This method
is intended to sluice can work at any time in all conditions
automatically. To get the solar cell output voltage is fixed, given a series
battery charger so that the output voltage of the battery charger circuit
can be kept fixed at 13,6V. Open and close the door of the water system
is driven by DC motors based on river water level sensor. As a system of
controlling opening and closing of water gates using fuzzy logic control
to drive the motor at the driving gate. From this system obtained under
ideal conditions of the driving gate automation system.

Key Words Solar cell, battery charger, driver motor, sensor level.






















6


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah
SWT karena hanya dengan rahmat, hidayah dan inayah-Nya
kami dapatmenyelesaikan proyek akhir ini dengan judul :

Rancang Bangun Sistem Penggerak Pintu Air Dengan
Memanfaatkan Energi Alternatif Matahari

Dalam menyelesaikan proyek akhir ini, kami berpegang pada teori
yang pernah kami dapatkan dan bimbingan dari dosen pembimbing
proyek akhir. Dan pihak – pihak lain yang sangat membantu hingga
sampai terselesaikannya proyek akhir ini.
Proyek akhir ini merupakan salah satu syarat akademis untuk
memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST) di Politeknik
Elektronika Negeri Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada
perancangan dan pembuatan buku proyek akhir ini. Oleh karena itu,
besar harapan kami untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Semoga buku ini dapat memberikan manfaaat bagi para mahasiswa
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada umumnya dan dapat
memberikan nilai lebih untuk para pembaca pada khususnya.


Surabaya, Juli 2010

Penulis






7

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, atas berkah dan karunia Allah SWT penulis dapat
menyelesaikan Proyek Akhir ini dan dalam pelaksanaan pembuatannya
penulis banyak mendapatkan bimbingan dan dukungan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini Penulis mengucapkan
terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada :
1. Allah SWT, karena Perlindungan, Pertolongan, dan Ridho-Nya
saya mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini serta hambanya yang
termulia Nabi Besar Muhammad SAW.
2. Bapak, Ibu, dan keluarga yang telah memberikan cinta dan kasih
sayang baik itu berupa dorongan moral maupun material. Terima
kasih bapak dan ibu, jangan pernah berhenti berdoa demi
kesuksesan anakmu, AMIN.
3. Dr. Dadet Pramadiharto, M.Eng, selaku Direktur PENS-ITS.
4. Ainur Rofiq Nansur, ST. MT, selaku Ketua Jurusan Teknik
Elektro Industri
5. Ir. Gigih Prabowo, MT dan Indhana Sudihato, ST, MT selaku
dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk
membimbing kami setiap saat.
6. Bapak Darwis yang telah banyak membantu dan memberi nasehat
selama pengerjaan Tugas Akhir.
7. Pak Eko PPNS yang telah membantu dalam pengerjaan mekanik
dalam Tugas Akhir ini.
8. Seluruh dosen penguji yang telah bersedia meluangkan waktunya
untuk menguji dan mengoreksi hasil proyek akhir ini.
9. Teman-teman D4 Elin ’06, terima kasih atas segala bantuan dan
doanya.
10. Seluruh rekan - rekan dan karyawan Politeknik Elektronika Negeri
Surabaya ITS yang tercantum maupun tidak tercantum namanya
semoga mendapat balasan kebaikan dari ALLAH SWT dan
limpahan rahmat dan hidayat-NYA untuk kita semua.

Akhir kata penulis berharap agar buku ini dapat bermanfaat
bagi senua pihak dan mudah-mudahan dapat dikembangkan dan dapat
berguna di masa yang akan datang.



8

DAFTAR ISI


HALAMAN JUDUL......................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................. ii
ABSTRAK ........................................................................................ iii
KATA PENGANTAR ...................................................................... v
UCAPAN TERIMA KASIH ............................................................. vi
DAFTAR ISI ..................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................ xi
DAFTAR TABEL ............................................................................. xiv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................. 1
1.1. Latar Belakang ............................................................. 1
1.2. Tujuan .......................................................................... 2
1.3. Permasalahan.................................................................. 2
1.4. Batasan Masalah .......................................................... 2
1.5. Tinjauan Pustaka .......................................................... 3
1.6. Metodologi ................................................................... 5
1.7. Sistematika Penulisan .................................................. 6


BAB II TEORI PENUNJANG ........................................................ 7
2.1. Solar Cell ..................................................................... 7
2.2. Motor DC ..................................................................... 12
2.2.1. Prinsip kerja. ...................................................... 12
2.2.2. Konstruksi Motor DC. ....................................... 13
2.2.3. Rugi-rugi dan Efisiensi. ..................................... 14
2.2.4. Jenis-jenis Motor DC ......................................... 15
2.2.5. Karakteristik Motor DC. .................................... 15
2.2.6. Pengaturan Kecepatan Motor DC. ..................... 16
2.3. Boost Konverter ........................................................... 17
2.3.1. Prinsip Kerja ...................................................... 18
2.4. Battery Charger ............................................................ 20
2.5. Aki / Accumulator ....................................................... 21
2.6. Desain Induktor ........................................................... 25
2.6.1. Maxsimum fluk density. .................................... 28
2.6.2. Induktansi. ......................................................... 29
2.6.3. Winding area. ..................................................... 29
9

2.6.4. Winding Resistance. .......................................... 30
2.7. Rangkaian Snubber ...................................................... 32
2.8. The Metal Oxide Semiconductor FET (MOSFET). ..... 33
2.8.1. Mosfet sebagai switch. ...................................... 35
2.9. Pulse Width Modulation. ............................................ 36
2.10. H-Bridge Driver. ........................................................ 37
2.11. Optocoupler. .............................................................. 39
2.12. Sensor Level. ............................................................. 41
2.13. Mikrokontroller .......................................................... 41
2.13.1. Mikrokontroller AVR AT-Mega16. ................ 41
2.13.2. Port Sebagai Input/Output Digital. .................. 46
2.13.3. Rutin-rutin Standart. ........................................ 48
2.13.4. Port Sebagai Analog Digital Converter. .......... 50
2.13.5. Code Vision AVR 1.24.0.1. ............................. 52

BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT ................ 55
3.1. Konfigurasi Sistem ...................................................... 55
3.2. Perancangan Hardware ................................................ 56
3.2.1. Desain Prototype Pintu Air ................................ 56
3.2.2. Perancangan dan Pemasangan Solar Cell .......... 58
3.2.3. Desain boost Converter ...................................... 59
3.2.4. Desain Snubber .................................................. 64
3.2.5. Perencanaan dan Perancangan sistem Pengisian
pada Battery Charger ........................................ 65
3.2.5.1. Komponen Kontrol battery charger ..... 65
3.2.5.2. Rangkaian Battery Charger .................. 67
3.2.6. Driver Motor ...................................................... 68
3.2.7. Sensor Level ...................................................... 68
3.3. Perancangan Perangkat Lunak (Software). .................. 71
3.3.1.Sistem Mikrokontroller ....................................... 71
3.3.2.Cara Penulisan CodeVision AVR ....................... 73
3.3.3.Pembacaan Tegangan oleh Mikrokontroller
melalui ADC Channel......................................... 74
3.3.4.Perencanaan dan Pembuatan Hardware dan
Program LCD ..................................................... 75
3.3.5.Pembuatan Program Fuzzy ................................. 76
3.3.6.Desain Crisp Input dan Crisp Output .................. 77
3.3.7.Fungsi Keanggotaan ........................................... 79
3.3.8.Proses Kuantisasi ................................................ 81
10

3.3.9.Desain Rule Base ................................................ 82
3.3.10.Fuzzy Evaluation .............................................. 83
3.3.11.Defuzzyfikasi .................................................... 84


BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA .......................................... 87
4.1. Metode Pengujian ........................................................ 87
4.2. Pengujian Parsial ......................................................... 87
4.2.1.Pengujian Tegangan Output Solar Cell............... 87
4.2.2.Pengujian Battery Charger .................................. 88
4.2.3.Pengukuran Nilai Induktor ................................. 90
4.2.4.Pengujian PWM .................................................. 91
4.2.5.Pengujian Boost Converter ................................. 92
4.2.6.Pengujian Sensor Level ...................................... 93
4.2.7.Pengujian Minimum Sistem Mikrokontroller ..... 94
4.2.8.Pengujian ADC ................................................... 95
4.2.9.Pengujian Program Fuzzy ................................... 98
4.3. Pengujian Integrasi ...................................................... 100

BAB V PENUTUP........................................................................... 105
5.1. Kesimpulan .................................................................. 105
5.2. Saran-saran .................................................................. 105

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... xv
LAMPIRAN
11

DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1. Solar cell ......................................................... 7
2.2. Grafik I-V curve ............................................ 9
2.3. Grafik arus terhadap temperatur ..................... 10
2.4. Grafik arus terhadap tegangan ........................ 11
2.5. Ekstra luasan panel PV dalam posisi datar ..... 12
2.6. Prinsip Kerja Motor DC. ................................ 13
2.7. Diagram Skematik Motor DC . ..................... 13
2.8. Konstruksi Motor DC ..................................... 14
2.9. Rangkaian Ekivalen Motor DC Penguat
Terpisah. ........................................................ 16
2.10.a Grafik Fungsi Torsi Terhadap Kecepatan. ...... 17
2.10.b Karakteristik Torsi dan Kecepatan Saat
Pembebanan. ................................................. 17
2.11. Rangkaian Boost Konverter ........................... 18
2.12.a Motor Saklar ON ........................................... 18
2.12.b Motor Saklar OFF.......................................... 18
2.13. Proses Charge dengan Arus Konstan ............. 21
2.14. Proses Discharge dengan Arus Konstan ......... 22
2.15. Proses Charge dengan Daya Konstan ............. 22
2.16. Proses Discharge dengan Daya Konstan ........ 23
2.17. Proses Charge dengan Arus Konstan atau
Tegangan Konstan ........................................... 23
2.18. Proses Discharge dengan Resistansi Konstan 23
2.19. Rangkaian Ekivalen Induktor ......................... 26
2.20. Bentuk Ekivalen Induktor .............................. 27
2.21. Rangkaian Ekivalen Magnetic ........................ 28
2.22. Winding Area ................................................. 30
2.23. Rangkaian snubber ......................................... 33
2.24. Simbol Mosfet ................................................ 34
2.25. Mosfet Sebagai Switch ................................... 35
2.26. Gelombang tegangan input dan output ........... 36
2.27. Rangkaian PWM ............................................ 36
2.28. Gelombang pulsa keluaran PWM ................... 37
2.29. Rangkaian H-Bridge ....................................... 38
2.30.a Rangkaian H-Bridge Bergerak maju .............. 38
2.30.b Rangkaian H-Bridge Bergerak mundur ......... 38

12

Gambar Halaman
2.31. Arsitektur H-Bridge ........................................ 39
2.32. Optocoupler .................................................... 40
2.33. Pin-pin AT-Mega 16 Kemasan 40-pin ........... 44
2.34. Arsitektur CPU dari AVR .............................. 45
2.35. Alur Pemrograman AVR Menggunakan
CodeVision AVR ............................................ 46
2.36. Code Vision AVR 1.24.0.1 ............................. 53
2.37. Blok Penginisialisasian Program .................... 54
2.38. Bagian Penulisan Program.............................. 54
3.1. Blok diagram sistem ....................................... 55
3.2. Prototype Pintu Air Tampak Keseluruhan...... 56
3.3. Desain Pintu Air ............................................. 57
3.4 Pemasangan Solar Cell ................................... 58
3.5. Boost Konverter .............................................. 59
3.6. Rangkaian Simulasi Boost Konverter ........... 63
3.7. Tegangan keluaran boost converter ................. 63
3.8. Rangkaian RCD dan RC Snubber ................... 65
3.9. Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350 ..... 66
3.10. Konfigurasi Pin LM324................................... 66
3.11. Rangkian Battery Charger ............................... 67
3.12. Rangkaian Driver Motor DC ........................... 68
3.13. Potensiometer .................................................. 69
3.14.a Gambar Skematik Potensiometer .................... 69
3.14.b Potensiometer dengan Parameter Tegangan ... 69
3.15.a Potensiometer sebagai Sensor Level Tampak
Depan .............................................................. 70
3.15.b Potensiometer sebagai Sensor Level Tampak
Samping .......................................................... 70
3.16. Grafik Linieritas Sensor Ketinggian Level Air 70
3.17. Flowchart sistem ............................................. 72
3.18. Proses Menulis Program .................................. 73
3.19. Seting ADC pada AT-Mega 16 ....................... 75
3.20. Rangkaian LCD 2x16 ...................................... 75
3.21. Flowchart Logika Fuzzy .................................. 77
3.22. Proses Pemasuka Crisp input Error dan Delta
Error ................................................................ 78
3.23. Proses Pemasukan Crisp Output ...................... 79
3.24. Fungsi Keanggotaan Error ............................... 80
13

Gambar Halaman
3.25. Fungsi Keanggotaan Delta Error ..................... 80
3.26. Fungsi Keanggotaan Output ............................ 81
3.27. Rule Base ......................................................... 83
3.28. Membership Function Error dan Delta Error
pada Program Fuzzy Evaluation ..................... 83
3.29. Rule Strength ................................................... 84
3.30. Fuzzy Output ................................................... 85
4.1. Gambar solar Cell............................................ 87
4.2. Rangkaian Battery Charger ............................. 89
4.3. Pengukuran Nilai Induktor .............................. 90
4.4. Pengujian Rangkaian PWM ............................ 91
4.5. Hasil Pengujian PWM ..................................... 91
4.6. Pengujian Boost Konverter. ............................ 92
4.7. Hasil Pengujian LCD....................................... 95
4.8. Hasil Pembacaan Input, Error dan Output
Fuzzy ............................................................... 99
4.9. Simulasi Sistem Kerja dari Pintu Air .............. 101








14

DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
2.1. Kapasitas Aki ................................................... 24
2.2. Konfigurasi pin port ......................................... 47
3.1. Winding data .................................................... 62
3.2. Tabel Input/Output Mikro ................................. 71
3.3. Tabel Definisi Fungsi Keanggotaan .................. 82
4.1. Data pengujian solar cell ................................... 88
4.2. Data Pengujian Battery Charger ........................ 89
4.3. Data Pengukuran Nilai Induktor ....................... 90
4.4. Pengujian boost konverter ............................... 92
4.5. Pengujian Sensor Ketinggian Air ...................... 93
4.6. Tabel Data Pengujian ADC Internal
Mikrokontroller ................................................. 97
4.7. Pengujian Output Fuzzy ..................................... 99
4.8. Pengujian Sistem Rangkaian Daya dengan
Menggunakan Solar Cell .................................... 100
4.9. Respon Kecepatan buka Tutup Pintu air ............ 101
















15

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang
Pada saat ini penggunaan sistem penggerak pintu air di
sebagian besar pintu air sungai di Indonesia masih secara manual. Pintu
air dikendalikan oleh manusia, yang bertugas menjaga supaya air di hulu
dan hilir tetap stabil. Dalam hal ini air di hulu tidak melebihi batas yang
ditentukan. Oleh karena itu, petugas penjaga pintu air harus siap siaga
setiap saat. Tapi sangat tidak mungkin petugas itu setiap saat ada untuk
menjaga pintu air. Alat ini berguna sebagai pengganti sebagian atau
bahkan seluruh kerja dari seorang operator. Fakta ini diperkuat dengan
masih sering terjadinya banjir di sebagian besar daerah di Indonesia.
Meskipun sebagian kota besar di Indonesia menggunakan
motor AC sebagai sistem penggerak pintu air yang mendapatkan supply
energi dari PLN. Akan tetapi sistem tersebut dianggap kurang efektif
karena belum bisa bekerja secara otomatis. Dilain pihak, PLN sebagai
penyedia sumber energi listrik di Indonesia masih banyak mengalami
kesulitan dalam menyediakan listrik. PLN masih menggunakan bahan
bakar minyak bumi, gas alam, batubara, energi hidro, panas bumi dan
disel. Dapat kita ketahui bahwa minyak bumi, gas alam dan batubara
adalah sumber energi yang semakin menipis dan mahal. Masalah lain
adalah sering terjadinya pemadaman listrik sehingga menghambat
sistem kerja dari penggerak pintu air yang sudah ada.
Pada tugas akhir ini akan dirancang suatu sistem penggerak
pintu air secara otomatis yang memanfaatkan energi matahari sebagai
sumber utama, sehingga alat ini diharapkan dapat terealisasi di semua
pintu air di Indonesia. Motor DC sebagai penggerak pintu air yang
dikontrol berdasarkan level air sungai, sehingga dapat menggerakkan
pintu air sungai secara otomatis. Sistem penggerak pintu air ini
mendapatkan sumber energi dari solar cell dan aki.
1.2. Tujuan
Tujuan dari proyek akhir ini adalah membuat perencanaan
Sistem Penggerak Pintu Air dengan menggunakan Solar Cell dan Aki
16

sebagai sumber hybrid. Dengan menggunakan Solar cell diharapkan
dapat menghemat energi listrik pada sistem penggerak pintu air. Alat ini
juga dapat digunakan untuk pintu air yang jauh dari supply PLN.
Dengan adanya sistem pengendalian ketinggian air secara otomatis,
diharapkan akan menghasilkan efisiensi yang tinggi dan responsif.
1.3. Permasalahan
Berikut rumusan masalah yang akan dihadapi dalam proses
pengerjaan Proyek Akhir ini :
a. Bagaimana mendesain boost konverter sebagai penggerak motor
DC.
b. Bagaimana mendesain rangkaian charge untuk baterai aki dengan
masukan solar cell.
c. Bagaimana mendesain rangkaian PWM untuk menyulut mosfet.
d. Bagaimana membuat sensor level ketinggian air.
1.4. Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dalam proyek akhir ini adalah sebagai
berikut :
a. Penggunaan Boost Converter sebagai penaik tegangan dari Aki
sebagai supply Motor DC.
b. Penggunaan Rangkaian Regulator sebagai Charger Baterai ke Aki.
c. Desain prototype ini untuk pintu air berskala kecil.
d. Penggunaan sensor level air sebagai pembanding tinggi air sungai
sehingga system penggerak pintu air dapat bekerja secara otomatis
(diasumsikan daerah hulu merupakan daerah yang padat
penduduk).
1.5. Tinjauan Pustaka
Dalam sebuah artikel berlabel RAPI-Nusantara..NET
memaparkan bahwa banjir bukan sekedar fenomena alam. Fenomena
alamnya adalah hujan. Tetapi hujan belaka tidak otomatis menyebabkan
banjir. Oleh sebab itu, untuk meminimalisasi terjadinya banjir, teknologi
yang dapat dikembangkan adalah bagaimana mengendalikan
pembuangan air. Air yang mengalir di permukaan harus dibuang ke laut
dengan mengoptimalkan sistem kerja dari pintu air sungai. Perlu
17

diketahui, selama ini sistem penggerak pintu air yang sudah ada masih
menggunakan sistem manual. Walaupun sebagian sistem penggerak
pintu air di kota-kota besar sudah menggunakan motor listrik sebagai
penggerak pintu air, namun cara kerja dari sistem tersebut masih
dilakukan dengan sistem on/off secara manual. Serta sistem yang sudah
ada tersebut menggunakan sumber energi listrik dari PLN.
Untuk mengatasi permasalahan yang dikemukakan diatas
banyak cara yang dapat dilakukan. Salah satunya dengan perancangan
sistem penggerak pintu air secara otomatis dengan memanfaatkan energi
matahari yaitu menggunakan solar cell sebagai supply utama. solar cell
bekerja untuk menyuplai seluruh beban pada sistem penggerak pintu air
dan sebagian energinya diisi ke Aki sebagai cadangan daya. Solar Cell
mempunyai beberapa kelemahan ketika dia bekerja menyuplai beban
dan mengisi ke Aki. Solar Cell akan lebih banyak menyuplai ke beban
yang mempunyai kebutuhan energi yang besar daripada beban
selainnya, akibatnya apabila daya dalam Aki telah habis maka energi
dari Solar Cell lebih tersupply ke Aki daripada ke beban yaitu motor
DC. Selain itu juga karakteristik dari Solar Cell hanya mempunyai daya
maksimum pada waktu-waktu tertentu saja dan tidak setiap waktu
mempunyai daya yang besar.
Hal ini seperti juga yang dikemukakan dalam buku tugas akhir
Surya Darma Adi mengenai Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan
menggunakan Tenaga Surya (PENS-ITS), dalam artikel tersebut salah
satunya menjelaskan bahwa kemampuan Solar Cell dalam mengisi
dayanya ke Aki. Daya dari Solar Cell tersebut mengalir melalui battery
charger yang berfungsi untuk rangkaian charge ke aki. Dengan battery
charger ini sumber yang dikeluarkan oleh Solar Cell dapat diisi ke Aki
sesuai dengan daya yang dibutuhkan,apabila daya dari aki sudah penuh
maka battery charger akan memutuskan sumber ke Aki dan
mengalirkannya daya itu ke beban. Aki tersebut bekerja ketika sumber
dari Solar Cell tersebut tidak mendapatkan energi cahaya dari matahari.
Pada kondisi itu battery charger akan menutup kontak dari sumber Aki
sehingga sumber akan dialiri oleh Aki.
Dalam tugas akhir ini, dirancang suatu sistem penggerak pintu
air dengan menggunakan solar cell sebagai sumber utama. Dengan
mengoptimasi Solar cell dan Aki sebagai supply, sistem penggerak pintu
air akan tetap terjaga, sehingga dapat meminimalisasi penggunaan
energi listrik dari PLN. Sistem penggerak pintu air ini menggunakan
mikrokontroller sebagai pembanding data ketinggian air yang dibaca
18

oleh sensor dengan seting data yang telah ditentukan. Sensor yang
dipakai yaitu sensor level karena memiliki keakuratan yang bagus
dengan harga yang relatif murah. Output dari sensor level akan masuk
sebagai data input dari sensor pada komparator yaitu mikrokontroler.
1.6. Metodologi
Untuk mencapai tujuan diatas maka perlu ditempuh langkah-
langkah sebagai berikut :
1. Studi literatur tentang teori penunjang proyek akhir.
Mengumpulkan dan mempelajari literatur sehubungan dengan
permasalahan yang dihadapi seperti rangkaian PWM, mosfet, desain
boost konverter, serta desain battery charger.
2. Perencanaan sistem
Melakukan perencanaan sistem proyek akhir secara umum, yaitu
boost konverter serta desain battery charger.
3. Pengujian alat
Melakukan pengujian dan analisa terhadap hasil output PWM, boost
converter, serta battery charger yang telah dirancang.
4. Penyempurnaan alat
Perbaikan terhadap kerusakan dan penyempurnaan dari sistem yang
telah dibuat.
5. Penyusunan buku
Menyimpulkan hasil perencanan, dan pengujian alat dengan hasil
pengujian dan analisa sehingga tersusunlah buku proyek akhir ini.

1.7. Sistematika Penulisan
Sistematika pembahasan penyusunan proyek akhir
direncanakan sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini membahas pendahuluan yang terdiri dari latar
belakang, tujuan, metodologi, batasan masalah, sistematika
pembahasan proyek akhir dan tinjauan pustaka.
BAB II : TEORI PENUNJANG
Bab ini membahas teori-teori yang menunjang dan berkaitan
dengan penyelesaian proyek akhir, antara lain teori mengenai
19

motor DC, desain boost converter, solar cell , rangkaian
mosfet, rangkaian PWM, aki, dll.
BAB III: PERENCANAAN DAN PEMBUATAN
Bab ini membahas tahap perencanaan dan proses pembuatan
perangkat keras proyek akhir.
BAB IV: PENGUJIAN DAN ANALISA
Bab ini membahas secara keseluruhan dari sistem dan
dilakukan pengujian serta analisa pada setiap percobaan
modul praktikum serta, Mengintegrasikan seluruh sistem dan
pengujian, kemudian berdasarkan data hasil pengujian dan
dilakukan analisa terhadap keseluruhan sistem.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini membahas kesimpulan dari pembahasan,
perencanaan, pengujian dan analisa berdasarkan data hasil
percobaan. Untuk meningkatkan hasil akhir yang lebih baik
diberikan saran-saran terhadap hasil pembuatan proyek akhir.



















20
















‖Halaman Ini Sengaja Dikosongkan‖



















21

BAB II
TEORI PENUNJANG

2.1 Solar Cell
1

Suatu sumber energi listrik yang memanfaatkan cahaya
matahari sebagai sumber energi diubah menjadi listrik. Pada
kenyataanya solar cell juga sebagai sumber energi yang ramah
lingkungan dan sangat menjanjikan pada masa yang akan datang, karena
tidak ada polusi yang dihasilkan selama proses konversi energi dan
berlimpahnya sumber energi matahari yang berasal dari alam, terlebih di
negeri tropis semacam Indonesia yang menerima sinar matahari
sepanjang tahun.
Cara kerja solar cell sendiri sebenarnya identik dengan piranti
semikonduktor dioda. Ketika cahaya bersentuhan dengan solar cell dan
diserap oleh bahan semikonduktor bertipe p dan n (p-n junction
semiconductor), sehingga terjadi pelepasan elektron.


Gambar 2.1. Solar cell


Apabila elektron tersebut dapat menempuh perjalanan menuju
bahan semi-konduktor pada lapisan yang berbeda maka akan terjadi
perubahan sigma gaya-gaya pada bahan. Gaya tolakan antar bahan semi-
konduktor akan menyebabkan aliran medan listrik dan menyebabkan
elektron dapat disalurkan ke saluran awal dan akhir untuk digunakan
pada perabot listrik. Gambar 2.1 merupakan bentuk dari solar sel.


1
‖Strategi Aplikasi Sel Surya (Photovoltaic Cell) Pada Perumahan
dan Bangunan Komersial‖, hal 129-130, Diakses 20 Desember
2009 http://puslit.petra.ac.id/journals/architecture/aplikasisolar
cellpada perumahan.pdf

22

Perkembangan pembuatan solar cell atau sel surya mengalami kemajuan
dari berbagai jaman dan dipengaruhi oleh bahan-bahan pembuatan cell-
cell tersebut. Bahan-bahan yang dipakai antara lain sebagai berikut :
a. Mono-crystalline (Si)
Dibuat dari silikon kristal tunggal yang didapat dari peleburan
silikon dalam bentuk bujur. Sekarang mono-crystalline dapat dibuat
setebal 200 mikron, dengan nilai effisiensi sekitar 24%.
b. Poly-crystalline/Multi-crystalline (Si)
Dibuat dari peleburan silikon dalam tungku keramik, kemudian
pendinginan perlahan untuk mendapatkan bahan campuran silikon yang
akan timbul diatas lapisan silikon. Sel ini kurang efektif dibanding
dengan sel polycrystalline( efektivitas 18% ), tetapi biaya lebih murah.
c. Gallium Arsenide (GaAs)
Sel surya III-V semikonduktor yang sangat efisien sekitar 25%.
Karakteristik kerja dari solar cell ketika sinar matahari jatuh
pada diode silikon(silikon cell) yang menghasilkan photon, secara
konstan yang akan menghasilkan energi berkisar ± 0.5 volt — max. 600
mV pada 2 ampere, dengan kekuatan radiasi solar matahari 1000 W/m2
= ‖1 sun‖ akan menghasilkan arus listrik (I) sekitar 30 mA/cm2 per sel
surya. Pada grafik I-V curve gambar 2.2 yang menggambarkan keadaan
sebuah sel surya beroperasi secara normal. Sel surya akan menghasilkan
energi maximum jika nilai Vm dan Im juga maximum. Sedangkan Isc
adalah arus listrik maximum pada nilai volt = nol; Isc berbanding
langsung dengan tersedianya sinar matahari. Voc adalah volt maximum
pada nilai arus nol; Voc naik secara logaritma dengan peningkatan sinar
matahari, karakter ini yang memungkinkan sel surya untuk mengisi accu









Gambar 2.2. Grafik I-V curve
2




2
ibid, hal. 131
23

Keterangan Gambar 2.2 :
Isc = Arus hubung singkat.
Vsc = Tegangan tanpa beban.
Vm = Tegangan maksimum.
Im = Arus maksimum.
Pm = Daya maksimum.

Faktor pengoperasian maximum solar cell sangat tergantung
pada :
a. Ambient air temperature
b. Radiasi solar matahari (insolation)
c. Kecepatan angin bertiup
d. Keadaan atmosfir bumi
e. Orientasi panel atau array PV
f. Posisi letak sel surya (array) terhadap matahari (tilt angle )

Sebuah Sel surya dapat beroperasi secara maximum jika temperatur sel
tetap normal (pada 25 derajat celsius), kenaikan temperatur lebih tinggi
dari temperatur normal pada PV sel akan melemahkan voltage (Voc).
Setiap kenaikan temperatur sel surya 1 derajat celsius (dari 25 derajat)
akan berkurang sekitar 0.4 % pada total tenaga yang dihasilkan 8 atau
akan melemah 2x lipat untuk kenaikkan temperatur sel per 10 derajad C.
Gambar 2.3 merupakan grafik pengaruh temperatur pada solar cell
dalam
o
C.












Gambar 2.3. Grafik arus terhadap temperatur

24

Radiasi solar matahari di bumi dan berbagai lokasi bervariable, dan
sangat tergantung keadaan spektrum solar ke bumi. Insolation solar
matahari akan banyak berpengaruh pada current (I) sedikit pada volt.
Gambar 2.4 merupakan grafik pengaruh temperatur pada solar cell
dalam W/m
2
.










Gambar 2.4. Grafik arus terhadap tegangan
3

Kecepatan tiup angin disekitar lokasi PV array dapat membantu
mendinginkan permukaan temperatur kaca-kaca PV array. Keadaan
atmosfir bumi—berawan, mendung, jenis partikel debu udara, asap, uap
air udara (Rh), kabut dan polusi sangat mementukan hasil maximum
arus listrik dari deretan PV.
Orientasi dari rangkaian PV (array) ke arah matahari secara
optimum adalah penting agar panel/deretan PV dapat menghasilkan
energi maximum. Selain arah orientasi, sudut orientasi (tilt angle) dari
panel/deretan PV juga sangat mempengaruhi hasil energi maximum
(lihat penjelasan tilt angle). Sebagai guidline: untuk lokasi yang terletak
di belahan utara latitude, maka panel/deretan PV sebaiknya
diorientasikan ke Selatan, orientasi ke timur—barat walaupun juga dapat
menghasilkan sejumlah energi dari panel-panel/deretan PV, tetapi tidak
akan mendapatkan energi matahari optimum.
Pada gambar 2.5 tilt angle (sudut orientasi matahari)
mempertahankan sinar matahari jatuh ke sebuah permukaan panel PV
secara tegak lurus akan mendapatkan energi maximum ± 1000 W/m2
atau 1 kW/m2.



3
ibid, hal. 132
25

Kalau tidak dapat mempertahankan ketegak lurusan antara sinar
matahari dengan bidang PV, maka extra luasan bidang panel PV
dibutuhkan (bidang panel PV terhadap sun altitude yang berubah setiap
jam dalam sehari).








Gambar 2.5. Ekstra luasan panel PV dalam posisi datar

2.2. Motor DC
Untuk pembahasan teori tentang motor dc akan dibahas
mengenai prinsip kerja, karakteristik motor dc, konstruksi motor dc,
rugi-rugi dan efisiensi serta pengaturan kecepatan pada motor.

2.2.1. Prinsip Kerja
Motor DC atau motor arus searah adalah suatu mesin yang
berfungsi untuk mengubah tenaga listrik searah menjadi tenaga gerak
atau tenaga mekanik berupa putaran dari rotor. Prinsip kerja motor dc
hampir sama dengan generator dc. Kecuali pada konversi daya yang
dihasilkan. Prinsip dasar motor dc yaitu: ―Apabila suatu kawat berarus
diletakkan diantara kutub-kutub magnet Utara dan selatan (U-S), maka
pada kawat itu akan bekerja suatu gaya yang menggerakkan kawat
tersebut‖ seperti ditunjukkan pada gambar 2.6.









Gambar 2.6. Prinsip kerja Motor DC
U
S
26

Bila sebuah lilitan terletak dalam medan magnet yang homogen
arah gerakanditunjukkan seperti gambar diatas, karena kedua sisi belitan
mempunyai arah arus yang berlawanan.

2.2.2. Konstruksi Motor DC
Bagian-bagian penting dari motor dc ditunjukkan seperti pada
Gambar 2.7 berikut :



Gambar 2.7. Diagram Skematik Motor DC

Stator mempunyai kutub menonjol dan diteral oleh satu atau
lebih kumparan medan. Pembagian fluks celah udara yang dihasilkan
oleh lilitan medan secara simetris berada disekitar garis tengah kutub
medan. Sumbu ini dinamakan sumbu medan atau sumbu langsung.
Gambar 2.8 menunjukkan gambar konstruksi motor dc.

Gambar 2.8. Konstruksi motor dc
27


Kumparan penguat dihubungkan seri. Jangkar merupakan besi
berlaminasi yang bergerak untuk mengurangi arus Eddy. Letak
kumparan jangkar pada slot besi disebelah luar permukaan jangkar. Pada
kumparan jangkar terdapat komutator yang berbentuk silinder dan
terisolasi. Sisi kumparan dihubungkan dengan segmen komutator pada
beberapa bagian yang berbeda, sesuai dengan jenis belitan motor itu
sendiri.

2.2.3. Rugi-rugi dan Efisiensi
Sebagian tenaga listrik (input) motor dc hilang atau berubah
menjadi panas. Rugi-rugi lain yang terjadi dalam mesin arus searah atau
motor dc adalah :
1. Rugi besi, yang terdiri atas rugi histerisis dan rugi arus Eddy
2. Rugi listrik, yang dikenal sebagai rugi tembaga (I²R)
3. Rugi mekanik yang terdiri atas rugi geser pada sikat, pada sumbu dan
rugi angin efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan daya output
dengan daya input.

Effisiensi=
DayaInput
DayaOutput
x100%………………(2.1)

2.2.4. Jenis-jenis Motor DC
Berdasarkan sumber arus penguat magnet motor dc dapat
dibedakan menjadi :

1. Motor DC Penguat Terpisah,
jika arus penguat magnet diperoleh dari sumber dc di luar motor.
2. Motor DC Penguat Sendiri,
bila arus penguat magnet berasal dari motor itu sendiri.

2.2.5. Karakteristik Motor DC
Untuk menentukan karakteristik motor dc hal yang harus
diingat adalah 2 persamaan dasar yaitu :

1. Kecepatan n =
o .
.
C
Ra Ia V ÷
……………………….. (2.2)
28

2. Torsi T = K . Ia . Ф…………………………………(2.3)

Keterangan :

n : Kecepatan dalam rotasi per menit (rpm)
T : Torsi dalam Newton Meter (Nm)

Berdasarkan persamaan diatas, dapat dilihat bahwa kecepatan
(n), dapat diatur dengan merubah besaran Ф, Ra atau Vt.

2.2.6. Pengaturan Kecepatan Motor DC
Salah satu pengaturan kecepatan motor dc adalah dengan
mengatur tegangan Vt, pada pengaturan kecepatan motor dc dengan
penguat sendiri yang diatur adalah tegangan jepit pada kumparan
jangkar Vt atau Va. Hampir sama dengan motor dc penguat terpisah
hanya saja pada motor dc penguat sendiri pada proyek akhir ini adalah
menggunakan magnet permanen, ditunjukkan pada gambar 2.9.

Gambar 2.9. Rangkaian ekivalen motor dc penguat terpisah

Pada saat start, motor dc penguat sendiri pertama kali berputar
pada kecepatan (ω) rendah dan torsi (τ) pada motor sangat tinggi.
Kondisi seperti ini berlanjut apabila kecepatan motor dc semakin tinggi
maka torsi pada motor akan semakin rendah. Hal ini sesuai dengan
persamaan, bahwa :
T =
e
P
……………………………………… (2.4)

dimana : T = Torsi motor
P = Daya motor
29

ω = Kecepatan motor

Sesuai persamaan diatas bahwa kecepatan dan torsi saling
berbanding terbalik. Artinya semakin besar kecepatan motor maka torsi
motor semakin kecil dan apabila kecepatan motor semakin kecil maka
torsi motor semakin besar. Gambar 2.10 menunjukkan garfik fungsi torsi
terhadap tegangan.


a. b.

Gambar 2.10.(a) Grafik fungsi torsi terhadap kecepatan
(b)Karakteristik Torsi dan Kecepatan saat
pembebanan
2.3. Boost Converter
Konverter boost adalah konverter DC- DC jenis penaik tegangan
atau step up. Konverter boost mampu menghasilkan nilai tegangan
output sama atau lebih besar dari tegangan inputnya. Konverter boost
dapat menaikkan tegangan tanpa membutuhkan trafo. Karena hanya
menggunakan satu buah semikonduktor, konverter boost memiliki
efisiensi yang tinggi. Gambar 2.11. Rangkaian dasar Konverter boost
memiliki 2 mode, yaitu mode switch on dan switch off. Pada mode 1 (
transistor on ), arus masukan meningkat mengalir melalui induktor L
dan switch 1. Pada mode 2 saat switch 1 dimatikan arus mengalir
melalui resistor yang berasal dari induktor L dan difilter oleh kapasitor
C.


30


Gambar 2.11. Rangkaian Boost Converter

2.3.1. Prinsip kerja
Boost converter memiliki 2 mode, yaitu mode switch on dan
switch off. Pada mode 1 ( transistor on ), arus masukan meningkat
mengalir melalui induktor L dan switch 1,seperti gambar 2.12.a. Pada
mode 2 saat switch 1 dimatikan arus mengalir melalui resistor yang
berasal dari induktor L dan difilter oleh kapasitor C, seperti pada gambar
2.12.b.

R
Vd
L
D
C
V0
+
-
R
Vd
L
D
C
V0
+
-

Gambar 2.12.a. Mode saklar
On
Gambar 2.12.b. Mode saklar
Off


Boost converter memiliki 5 komponen utama, yaitu:
1. PWM generator, yaitu pembangkit pulsa berfrekuensi tinggi (diatas
20 KHz) yang duty cycle-nya dapat diubah-ubah bergantung besar
tegangan output yang diinginkan dan tegangan input yang ada.
Output dari PWM generator ini digunakan untuk men-drive
MOSFET yang berfungsi sebagai saklar elektronik. Besar duty cycle
untuk mengeluarkan tegangan output yang diinginkan dapat dihitung
dengan rumus:

D
V
V
d
=
0
………………………………(2.5)
V
d
31


Dimana:
V
0
= tegangan output yang diinginkan
D = duty cycle PWM
V
d
= tegangan input.

2. MOSFET
3. Diode freewheel
4. Induktor digunakan untuk menyimpan arus untuk sementara waktu
yang menyebabkan tegangan output bisa menjadi lebih besar dari
inputnya. Untuk perhitungan nilai Induktor dapat dihitung dengan
rumus :

…………………………(2.6)

Dimana:
L = Induktor (H)
Vo = tegangan output yang diinginkan (V)
d = duty cycle PWM
Vd = tegangan input (V)
f = frekuensi switching
ΔIL= delta arus

5. Kapasitor sebagai filter tegangan untuk mengurangi ripple tegangan.
Untuk perhitungan nilai Induktor dapat dihitung dengan rumus :
Vo f
D I
C
A ×
×
= ………………..............(2.7)

Dimana:
C = kapasitor (H)
Vo = tegangan output yang diinginkan (V)
f = frekuensi switching
ΔV
o
= riple tegangan





L
i f
Vd D
L
A ×
×
=
32

2.4. Battery Charger
4

Pengertian dari battery charger adalah suatu alat yang berfungsi
untuk mengisi battery dengan tegangan konstan hingga mencapai
tegangan yang ditentukan. Bila level tegangan yang ditentukan itu telah
tercapai, maka arus pengisian akan turun secara otomatis sesuai dengan
settingan dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih lambat
sehingga indikator menyala menandakan battery telah terisi penuh.
Didalam rangkaian battery charger terdapat rangkaian regulator
dan rangkaian komparator. Rangkaian regulator berfungsi untuk
mengatur tegangan keluaran agar tetap konstan, sedangkan rangkaian
comparator berfungsi untuk menurunkan arus pengisian secara otomatis
pada battery pada saat tegangan pada battery penuh dan menahan arus
pengisian hingga menjadi lebih lambat sehingga menyebabkan indikator
aktif menandakan battery telah terisi penuh.

2.5. Aki / Accumulator
Baterry (accumulator) merupakan salah satu komponen yang sangat
penting untuk memberikan supply tenaga terutama pada kendaraan
bermotor, akan tetapi dalam tugas proyek akhir ini yang berjudul Sistem
Penggerak Pintu Air Dengan Memanfaatkan
Energi Alternatif Matahari, accumulator digunakan untuk
menyimpan energi listrik yang berasal dari solar cell karena cahaya
matahari yang berubah-ubah sehingga tegangan keluaran dari solar cell
juga berubah-ubah.
Penelitian atau percobaan tentang charge discharge telah
menghasilkan banyak sekali metode yaitu antara lain:

2.5.1. Proses Charge Discharge dengan Arus Konstan.
Proses Charge dan Proses Discharge dengan arus konstan yang
ditunjukkan pada Gambar 2.13 dan Gambar 2.14 dapat diambil
kesimpulan bahwa, proses charge discharge akan berakhir.








4
http://www.eouguelph.ca/‖antoon-pemanfaatan rangkaian baterry
charger‖ , diakses pada tanggal 28 Januari 2009.

33

Ketika waktu yang telah diset terlampaui atau apabila kapasitas baterry
(accumulator) yang ditentukan telah terpenuhi.











Gambar 2.13. Proses Charge dengan Arus Konstan












Gambar 2.14. Proses Discharge dengan Arus Konstan

2.5.2. Proses Charge Discharge dengan Daya Konstan.
Proses Charge dengan daya konstan yang ditunjukkan pada
Gambar 2.15 dilakukan ketika tegangan naik dan arus turun, proses ini
berakhir ketika set time terpenuhi atau tegangan pada battery terpenuhi.
Sedangkan Proses Discharge dengan daya konstan yang ditunjukkan
pada Gambar 2.16 dilakukan ketika tegangan baterry turun dan arus naik
dan discharge berakhir saat set time terlampaui atau tegangan beban
terpenuhi.




34










Gambar 2.15. Proses Charge dengan Daya Konstan










Gambar 2.16. Proses Discharge dengan Daya Konstan

2.5.3. Gambar 2.17 menunjukkan Proses Charge dengan arus konstan
ketika tegangan terminal lebih rendah dari pada tegangan charge.








Gambar 2.17. Proses Charge dengan arus konstan atau tegangan
konstan

2.5.4. Gambar 2.18 menunjukkan Proses Discharge dengan resistansi
konstan ketika tegangan baterry turun dan arus juga turun.



35










Gambar 2.18. Proses Discharge dengan Resistansi Konstan

Pada aki biasanya tertera angka yang menunjukan
kemampuannya, disini akan kita gunakan ..Ah misalnya 50Ah. Hal ini
berarti aki tersebut akan benar2 habis dalam 30 jam jika digunakan pada
beban 1 Ampere.
Untuk mendapatkan umur yang panjang aki tidak boleh
digunakan pada beban yang melebihi nilai Ah-nya di bagi 10. Biasanya
beban yang digunakan berada pada kisaran Ah/3 atau 4 atau 6. Misalnya
aki dengan kapasitas 50 Ah penggunaan beban maksimum yang dapat
digunakan adalah 5 Ampere agar tidak merusak aki.
Selain dengan mengukur berat jenis atau densiti dari air aki, aki
dapat di uji dengan menggunakan Volt meter. Seperti kita ketahui aki
yang baik adalah aki yang menunjukkan voltase 12,6Volt. Namun pada
saat setelah pengisian penuh aki biasanya dapat mencapai 13,8Volt,
apabila pengisian dihentikan maka voltase13,8 V itu akan turun dengan
cepat ke 13 dan perlahan-lahan turun hingga 12,6 volt.
Berikut merupakan data dari kapasitas aki pada saat kosong
sampai pada kondisi aki terisi penuh dengan menggunakan aki GS
70Ah.

Tabel 2.1. Kapasitas Aki

Kapasitas Aki (%) Tegangan (Volt)
0 % 11
10 % 11,2
20 % 11,4
30 % 11,6
40 % 11,8
36

dayaA
dayaAh
50 % 12
60 % 12,2
70 % 12,4
80 % 12,6
90 % 12,8
100 % 13

Untuk mengetahui waktu dalam proses pengisian
accumulator, dapat menggunakan perhitungan dibawah ini :
1. Lamanya pengisian Arus :
Ta =
A
Ah
………………………………...(2.8)
Keterangan :
Ta = Lamanya pengisian arus (jam).
Ah = Besarnya kapasitet accumulator (Ampere hours).
A = Besarnya arus pengisian ke accumulator(Ampere).
2. Lamanya pengisian Daya :

Td = …………………………..(2.9)

Keterangan :
Td = Lamanya pengisian Daya (jam).
daya Ah = Besarnya daya yang didapat dari perkaliAh dengan
besar tegangan accumulator (Watt hours).
daya A = Besarnya daya yang didapat dari perkaliA dengan
besar tegangan accumulator (Watt).


37

R L
i(t)
2.6. Desain Induktor
5

Banyak faktor yang mempengaruhi dalam mendesain peralatan
magnetik. Puncak flux density inti tidak boleh saturasi. Puncak ac flux
density juga harus cukup kecil, untuk memenuhi jumlah banyak putaran
pada inti.
Pokok bahasan ini yang sangat berpengaruh adalah area untuk
menggulung kawat (wire cross section area) harus seluas mungkin,
untuk mengurangi gulungan resistor dc dan rugi tembaga. Tetapi apabila
kawat terlalu padat sehingga tidak dapat diterima karena dapat
menyebabkan efek permukaan kawat (proximity effect). Celah udara
dibutuhkan untuk peralatan yang menyimpan energi seperti induktor
pada rangkaian buck boost converter.
Induktor dapat dimodelkan seperti rangkaian ekivalen pada
Gambar 2.19 merupakan resistansi dc kumparan.
Maka induktor dapat menghasilkan induktansi dan resistansi R pada
kumparan. Induktor tidak saturasi apabila menggunakan worstcase arus
puncak Imax.
Sebagai catatan hubungan antara R ekivalen dan rugi tembaga Pcu
ditunjukkan pada persamaan berikut :

R I P rms
cu
2
=
...........................................................(2.10)

Keterangan : Pcu = Daya output pada Tembaga.
Irms = Arus Maksimum dibagi akar 2.
R = Tahanan.





Gambar 2.19. Rangkaian Ekuivalen Induktor
Resistansi kumparan induktor mempengaruhi efisiensi dan
tegangan keluaran konverter. Maka pada desain konverter diperlukan
konstruksi induktor dengan resistansi kumparan yang kecil.




5
Ir. Moh. Zaenal Efendi, MT,‖Design of Inductance 2008’, Mata
Kuliah Desain Komponen & Elektromagnetik,2008.

38

c
u
Bentuk induktor dapat diasumsikan bahwa ukuran induktor
yang ditunjukkan sebagai bentuk pengganti ditunjukkan pada Gambar
2.20 untuk rangkaian ekivalen magnetik ditunjukkan pada Gambar 2.21
Untuk besar nilai reluktansi inti Rc dan reluktansi celah udara Rg
ditunjukkan pada persamaan berikut :
c o
c
c
A
l
R
u
=
...........................................................(2.11)
c o
g
g
A
l
R
u
= .........................................................(2.12)

Dimana : l
c
= Lebar bagian Inti Magnetik.
A c = Inti cross section area.
= Permeabilitas Udara.
l
g
= Lebar Celah Udara.

Reluktansi inti dan reluktansi celah udara dapat diasumsikan
bahwa inti dan celah udara mempunyai luas penampang yang sama.
Persamaan untuk Gambar 2.20 adalah

( )
g c i
R R n + u =
...............................................(2.13)

Biasanya, Rc << Rg dan persamaan (2.13) dapat
disederhanakan sebagai berikut:
( )
g i
R n u ~ .............................................................(2.14)











39











Gambar 2.20. Bentuk ekivalen induktor
6











Gambar 2.21. Rangkaian ekivalen magnetic
7


2.6.1 Maximum flux density
Dengan memberikan arus puncak Imax, diharapkan inti dapat
bekerja pada nilai puncak fluk density Bmax. Besar dari Bmax dipilih
yang lebih kecil dari pada worst-case saturasi flux density bahan dari
inti.

Subtitusikan Φ = BAc pada persamaan (2.13) diperoleh
persamaan berikut:
g c i
R BA n =
...........................................................(2.15)






6
ibid, hal.13
7
ibid, hal.21

40

g
c o
g
l
n A
R
n
L
2 2
u
= =
Apabila max I = I
max
dan B
max
= B , maka diperoleh :
o
g
maks g c maks maks
L
B R A B nI
u
= =
……..(2.16)

Keterangan : n = Jumlah Lilitan.
I
maks
= Arus Maksimum pada Induktor.
B
maks
= Nilai kerapatan Fluks.
Ac = Luas Penampang Induktor.
Rg = Tahanan Air gap.


2.6.2 Induktansi
Nilai induktansi L harus ditentukan. Induktansi dapat diperoleh
dengan persamaan berikut :


.........................................(2.17)


Keterangan : L = Nilai Induktansi.
n = Jumlah Lilitan.
µ
0
= Permeabilitas Udara.
A
c
= Luas Penampang Lilitan.

2.6.3 Winding area
Winding area ditunjukkan pada Gambar 2.22 Gulungan kawat
harus tersusun rapi dan rapat pada inti yang merupakan lubang tengah
daripada inti. Cross section area konduktor, luas penampang konduktor
AW. Apabila gulungan mempunyai n putaran, maka area untuk
konduktor tembaga adalah

w
nA ...............................................................(2.18)
Apabila inti mempunyai window area WA, kemudian dapat dinyatakan
area untuk gulungan konduktor sebagai berikut :


U A
K W ............................................................(2.19)

41

Ku merupakan window utilization factor atau fill factor. Maka desain
selanjutnya dapat dinyatakan sebagai berikut :

w U A
nA K W > ................................(2.20)

Keterangan : W
A
= Inti Wilayah Kumparan.
A
W
= Luas Wilayah Kumparan.
K
U
= Faktor Kerapatan Kumparan.

Nilai Ku untuk inti dengan gulungan pada bobbin adalah 0,5 untuk
induktor tegangan rendah, 0,25-0,3 untuk off-line transformator, 0,05-
0,2 untuk transformator tegangan tinggi untuk supplai berkisar kV, dan
0,65 untuk transformator foil dan induktor tegangan rendah.













Gambar 2.22. Winding area
8


2.6.4 Winding resistance

Besar nilai resistansi pada gulungan adalah
W
W
A
l
R p = ...........................................................(2.21)
ρ adalah tahanan jenis dai bahan induktor, W l adalah panjang kawat dan
W A adalah luas penampang kawat. Tahanan jenis tembaga pada suhu
ruangan adalah 1,724 x 10-6 Ohm-cm.

8
ibid, hal.13
42

) ( 10
5 8
2
2 2
Cm
K R B
I L
K
u
maks
maks
g
× ×
× ×
>
p
Panjang kawat terdiri dari n putaran gulungan dapat dinyatakan sebagai
berikut :
) (MLT n l
W
= ......................................................(2.22)
MLT (mean-length-per-turn) adalah panjang kawat dalam satu
putaran. Panjang kawat dalam satu putaran (MLT) merupakan fungsi
geometri inti. Subtitusikan persamaan (2.21) ke persamaan (2.22)
diperoleh persamaan berikut :

W
A
MLT n
R
) (
p =
.................................................(2.23)

Parameter yang harus diperhatikan dalam pembuatan
komponen L adalah sebagai berikut :
a. Resistansi penghantar ρ= 1,74.10-6 (Ω-cm)
b. Arus maksimum I=I+ΔI(A)
c. Induktansi L(H)
d. Resistansi kumparan R(Ω)
e. Faktor kerapatan kumparan Ku = 0,5
f. Kerapatan fluk maksimum Bmax = 0,25(tesla)
g. Kerugian kumparan Pcu = 10mw-1,5w
h. Permeabilitas dari bahan μo=4π.10-7
i. Dimensi inti besi yang meliputi (bisa dilihat di manual book)

Untuk dimensi inti dalam pembuatan induktor mempunyai
parameter sebagai berikut :

a. Luas wilayah inti = Ac (cm
2
)
b. Luas wilayah kumparan = Aw (cm
2
)
c. Panjang kawat per satu putaran = MLT (cm
2
)
Prosedur mendesain induktor dapat diikuti dengan langkah-
langkah berikut :
A. Menentukan ukuran inti besi(core size)
Ditentukan oleh faktor konstanta geometri inti (the core
geometri constant Kg)


.........(2.24)

43

W W P
I
P
R
cu
maks
cu
75 , 0 5 , 1 ,
2
÷ = =
) ( 10
4
max
2
max
2
mm
A B
I L
l
c
o
g
×
× ×
=
u
4
max
max
10
c
A B
I L
n
×
×
=
) (
2
cm
n
W K
A
A u
w
×
s
Dimana:

....................(2.25)


Pilih inti yang mempunyai Kg yang lebih besar dari yang dihitung.

B. Menentukan panjang celah udara(air gap length)


.....................(2.26)


A
c
dalam cm
2

C. Menentukan jumlah lilitan

........................................(2.27)


A
c
dalam cm
2

D. Menentukan ukuran kawat


....................(2.28)


2.7. Rangkaian Snubber
Pada rangkaian converter DC-DC sangat dibutuhkan sekali
rangkaian snubber untuk memotong tegangan Vds yang mempunyai
spike yang tinggi atau melampaui tegangan Vds pada MOSFET. Untuk
rangkaian flyback converter setelah disupply tegangan pada sisi input,
tegangan spike yang ditimbulkan oleh leakage inductance (induktansi
bocor) cukup tinggi. Untuk itu digunakan rangkaian snubber yng
berfungsi meredam tegangan spike tersebut. Pada rangkaian snubber
semakin besar nilai kapasitor yang digunakan, semakin besar tegangan
yang dipotong. Tetapi nilai kapasitor kapasitor yang digunakan harus
44

menyesuaikan dengan resistor yang diseri dengan kapasitor dan fast
diode yang dipasang parallel.



Gambar 2.23. Rangkaian snubber

Pada Gambar 2.23 (a) menunjukkan rangkaian RCD snubber,
dimana untuk penggunannya dipasang secara paralel terhadap
tranformator, sedangkan Gambar 2.23 (b) adalah menunjukkan
rangkaian RC snubber, dimana penggunannya dilakukan dengan
memasangkan secara paralel terhadap MOSFET. Walaupun konfigurasi
rangkaianya berbeda akan tetapi fungsi dari kedua rangkaian snubber
tersebut adalah sama yaitu untuk mengurangi tegangan Vds dengan nilai
spike yang tinggi.
Pada rangkaian snubber gambar 2.23 (b), nilai R diperoleh melalui
rumus :
C
T D
C
t
Rs
on
5
.
5
= = ............................................................(2.29)
Dan untuk menghitung nilai Cs adalah :
f
f L
V
t I
C
2
= ...................................................................(2.30)
2.8. Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor
(MOSFET)
Dalam JFET, besar keefektifan pada channel dikontrol oleh medan
listrik yang diberikan ke channel melalui P-N junction. Bentuk lain dari
piranti pengaruh medan dicapai dengan penggunaan bahan elektroda
gate yang dipisahkan oleh lapisan oxide dari channel semikonduktor.
Pengaturan metal oxide semikonduktor (MOS) mengijinkan
45

karakteristik channel dikontrol oleh medan listrik dengan memberikan
tegangan diantara gate dan body semikonduktor dan pemindahan
melalui lapisan oxide. Seperti halnya piranti yang disebut dengan mosfet
atau MOS transistor. Hal ini penting digaris bawahi dengan kenyataan
bahwa IC lebih banyak dibuat dengan piranti MOS dari pada jenis
piranti semikonduktor lain.
Ada dua tipe mosfet. Deplesi mosfet mempunyai tingkah laku
yang sama dengan JFET pada saat tegangan gate nol dan tegangan drain
tetap, arus akan maksimum dan kemudian menurun dengan diberikan
potensial gate dengan polaritas yang benar (piranti normally on). Jenis
yang lain dari piranti ini disebut dengan Enhancement mosfet yang
menunjukkan tidak ada arus pada saat tegangan gate nol dan besar arus
keluaran besar dengan bertambah besar potensial gate (normally off).
Kedua tipe dapat berada dalam salah satu jenis channel P atau N.
Terdapat 4 simbol yang digunakan untuk mosfet yang
ditunjukkan pada Gambar 2.24. Simbol-simbol pada Gambar (a) dan (b)
merupakan mosfet tipe N yang digunakan untuk enhancement dan
depletion device. Simbol pada Gambar (c) dan (d) merupakan mosfet
tipe P yang digunakan pada mode enhancement dan depletion device .






Gambar 2.24. Simbol mosfet

Pengertian positif untuk semua terminal arus menuju ke dalam
piranti. Kemudian mosfet chanel N, Id adalah positif dan Is adalah
negatif. Ketika Id = Is, Ig sebenarnya berharga nol. Tegangan drop
diantara drain dan source didesain oleh Vds, Vds digunakan untuk
menunjukkan tegangan drop dari gate ke source. Untuk mosfet channel
P digunakan dengan arah reverse. Terminal arus dan terminal tegangan
adalah negatif sebanding dengan kualitas mosfet channel N. Source dan
substrate dihubung singkatkan di dalam mosfet channel P yang
standard.



46

2.8.1 MOSFET Sebagai Switch
9

MOSFET digunakan secara ekstensif dalam rangkaian digital
yang mana piranti ini memiliki karakteristik switch. Rangkaian yang
ditunjukkan pada gambar 2.25. berikut menampilkan pengoperasian
switch pengendali Bentuk gelombang tegangan masukan dan keluaran
rangkaian seperti terlihat pada Gambar 2.26. Untuk t<T, tegangan input
1,5 Volt, kemudian karakteristik V0 – V1 pada Gambar 2.26 (a), dapat
diketahui bahwa V0 = 4 Volt.


Gambar 2.25. Mosfet Sebagai Switch
Arus pada rangkaian ID1 adalah nol. Karakteristik switch open ini
seperti tegangan yang melewati switch cukup besar, sedangkan arus
adalah nol.
Untuk t>T, tegangan masukan adalah 5 Volt, Vo = 1,5 Volt dan ID1 =
250 μA. Bentuk gelombang output ditampilkan pada Gambar 2.26 (b).

Untuk t>T, tegangan masukan adalah 5 Volt, Vo = 1,5 Volt dan ID1 =
250 μA. Bentuk gelombang output ditampilkan pada Gambar 2.26 (b).









Gambar 2.26. Gelombang Tegangan Input dan Output


9
Issa Batarseh,‖ Power Electronics Handbook”, Academic Press,
2001, hal 75-78


47

2.9. Pulse Width Modulation
10
PWM merupakan pulsa yang mempunyai lebar pulsa (duty
cycle) yang dapat diubah-ubah. Pada Gambar 2.27 merupakan proses
pembuatan PWM yang terdiri dari gelombang segitiga, tegangan
referensi dan komparator.

Komparator merupakan piranti yang digunakan untuk membandingkan
dua buah sinyal masukan. Dua sinyal masukan yang dibandingkan
adalah gelombang segitiga dengan tegangan referensi yaitu tegangan
DC.








Gambar 2.27 Rangkaian PWM

Pada Gambar 2.28 adalah hasil perbandingan gelombang segitiga
dengan tegangan DC yang menghasilkan gelombang kotak dengan lebar
pulsa yang dapat diatur. Pengaturan lebar pulsa dapat dilakukan dengan
cara mengubah-ubah nilai tegangan DC referensi.



Gambar 2.28 Gelombang pulsa keluaran PWM
11



10
Yahya Shakweh,‖ Power Electronics Handbook”, Academic
Press, 2001, hal 650
11
ibid, hal. 652




48

Apabila menginginkan gelombang kotak yang mempunyai waktu ON
dan OFF berkebalikan maka diperlukan tegangan DC referensi yang
negatif. Untuk memperoleh tegangan DC negatif adalah dengan
memasukkan tegangan DC positif ke rangkaian pembalik (inverting).


2.10. H-Bridge Driver
12
H-Bridge atau yang diterjemahkan secara kasar sebagai
―Jembatan H‖, adalah sebuah rangkaian dimana motor menjadi titik
tengahnya dengan dua jalur yang bisa dibuka tutup untuk melewatkan
arus pada motor tersebut, persis seperti huruf ―H‖ (dengan motor berada
pada garis horizontal), seperti gambar 2.29 berikut:



Gambar 2.29 Rangkaian H-Bridge

Dua terminal motor a dan b dikontrol oleh 4 saklar (1 s/d 4).
Ketika saklar satu dan dua diaktifkan (saklar 3 dan 4 dalam keadaan
off), maka terminal motor a akan mendapatkan tegangan (+) dan
terminal b akan terhubung ke ground (-), hal ini menyebabkan motor
bergerak maju (atau searah jarum jam), sedangkan sebaliknya, bila
saklar 1 dan 2 dalam keadaan off, saklar 3 dan 4 dalam keadaan aktif,




12‖
H-Bridge Driver Kontrol Arah Motor‖, diakses 20 Agustus 2009
http://blogstats.blogspot.com/ihsan sains project/H-bridge driver kontrol
arah motor.htm

49

maka terminal a akan terhubung ke ground (-) dan terminal b
akan mendapatkan tegangan (+), dan tentunya hal ini dapat
menyebabkan motor berubah arah putarnya, menjadi bergerak mundur
(atau berlawanan dengan arah jarum jam), ditunjukkan pada gambar
2.30.




Gambar 2.30.(a) Rangkaian H-Bridge bergerak maju
(b) Rangkian H-Bridge bergerak mundur

Untuk mengimplementasikan H-Bridge ini, tidak bisa langsung
dihuhubungkan ke output yang diambil dari pin I/O mikrokontroler.
Sebab output dari mikrokontroler hanya mempunyai daya yang sangat
kecil. Sedangkan untuk motor sendiri, kadang-kadang membutuhkan
daya yang tidak kecil (misalnya 200 mA, 1 A atau bahkan lebih). Jika
kita memaksakan menghubungkan output digital dari mikrokontroler
langsung ke motor, bisa jadi merusak mikrokontroler itu sendiri. Untuk
itu kita membutuhkan sebuah rangkaian penguat yang dapat dikontrol
dari input digital.
Arsitektur dari half H-Bridge ini sebenarnya terdiri dari 2 amplifier,
seperti terlihat pada gambar 2.31


Gambar 2.31. arsitektur H-Bridge
(a) (b)
50

Untuk membuat motor berhenti ada 2 cara:
1. Memberikan logic yang sama pada x dan y
2. Tidak memberikan speed (speed=0)

2.11. Optocoupler
13

Optocoupler merupakan piranti elektronika yang berfungsi
sebagai pemisah antara rangkaian power dengan rangkaian control.
Optocoupler merupakan salah satu jenis komponen yang memanfaatkan
sinar sebagai pemicu on/off-nya.
Opto berarti optic dan coupler berarti pemicu. Sehingga bisa
diartikan bahwa optocoupler merupakan suatu komponen yang bekerja
berdasarkan picu cahaya optic opto-coupler termasuk dalam sensor,
dimana terdiri dari dua bagian yaitu transmitter dan receiver. Dasar
rangkaian dapat ditunjukkan seperti pada gambar 2.32 dibawah ini:

Gambar 2.32. Optocoupler
Bagian pemancar atau transmitter dibangun dari sebuah led
infra merah untuk mendapatkan ketahanan yang lebih baik daripada
menggunakan led biasa. Sensor ini bisa digunakan sebagai isolator dari
rangkaian tegangan rendah kerangkaian tegangan tinggi. Selain itu juga
bisa dipakai sebagai pendeteksi adanya penghalang antara transmitter
dan receiver dengan memberi ruang uji dibagian tengah antara led
dengan photo transistor. Penggunaan ini bisa diterapkan untuk
mendeteksi putaran motor atau mendeteksi lubang penanda disket pada
disk drive computer. Tapi pada proyek akhir ini optocoupler untuk
mendeteksi putaran.

13‖
Sensor Optocoupler‖, diakses 20 Agustus 2009
http://elektronika-elektronika.blogspot.com/ sensor optocoupler.htm

51

Penggunaan dari optocoupler tergantung dari kebutuhannya.
Ada berbagai macam bentuk, jenis, dan type. Seperti MOC 3040 atau
3020, 4N25 atau 4N33dan sebagainya. Pada umumnya semua jenis
optocoupler pada lembar datanya mampu dibebani tegangan sampai
7500 Volt tanpa terjadi kerusakan atau kebocoran. Biasanya dipasaran
optocoupler tersedianya dengan type 4NXX atau MOC XXXX dengan
X adalah angka part valuenya. Untuk type 4N25 ini mempunyai
tegangan isolasi sebesar 2500 Volt dengan kemampuan maksimal led
dialiri arus fordward sebesar 80 mA. Namun besarnya arus led yang
digunakan berkisar antara 15mA - 30 mA dan untuk menghubungkan-
nya dengan tegangan +5 Volt diperlukan tahanan pembatas.

2.12. Sensor Level
Rangkaian sensor level yang digunakan pada Proyek Akhir ini
menggunakan sebuah pelampung yang terhubung dengan potensiometer.
Sensor ini dipasang untuk mendeteksi tinggi air sungai pada daerah
sebelum pintu air (diasumsikan daerah hulu), maka bila terjadi
perubahan level air , sensor akan terkoneksi dengan mikrokontroller
sehingga mikrokontroller akan memberi output pada driver untuk
membuka pintu air sesuai dengan level yang terbaca pada sensor dengan
pembukaan pintu diatas dari level yang terbaca oleh sensor, proses ini
diatur dengan menggunakan kontrol fuzzy. Dan begitupun sebaliknya
bila level air turun sampai dengan batas level nominal pembukaan pintu
air.

2.13. Mikrokontroller
Sistem pemrograman pada proyek akhir ini menggunakan
mikrokontroller AT-Mega 16 seperti yang dijelaskan sebaagi berikut:
2.13.1. Mikrokontroller AVR AT-Mega 16
14
AVR merupakan seri mikrokontroller CMOS 8-bit buatan
Atmel, betbasis arsitektur RISC (Reduced Instruction Set Computer).

Hampir semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock. AVR
mempunyai 32 register general-purpose, timer/ counter fleksibel dengan
mode compare, interrupt internal dan eksternal, serial UART,
programmable Watchdog Timer, dan mode power saving. Beberapa
diantaranya mempunyai ADC dan PWM internal.

14
Atmel,‖ Data Sheet 8-bit AVR Microkontroller ATmega16‖, Atmel
Corporation, 2002, hal. 1

52

AVR juga mempunyai In-System Programmable Flash on-chip yang
mengijinkan memori program untuk diprogram ulang dalam sistem
menggunakan hubungan serial SPI. Chip AVR yang digunakan adalah
Atmega16.
Atmega16 adalah mikrokontroller CMOS 8-bit daya-rendah
berbasis arsitektur RISC yang ditingkatkan. Kebanyakan intruksi
dikerjakan pada satu siklus clock, Atmega16 mempunyai throughput
mendekati 1 MIPS per MHz membuat disainer sistem untuk
mengoptimasi konsumsi daya versus kecepatan proses.
Beberapa keistimewaan dari AVR Atmega16 antara lain:
A. Advanced RISC Architecture
1. 130 Powerful Instructions – Most Single Clock Cycle
Execution
2. 32 x 8 General Purpose Working Registers
3. Fully Static Operation
4. Up to 16 MIPS Throughput at 16 MHz
5. On-chip 2-cycle Multiplier
B. Nonvolatile Program and Data Memories
6. 8K Bytes of In-System Self-Programmable Flash
- Endurance: 10,000 Write/ Erase Cycles
7. Optional Boot Code Section with Independent Lock
Bits
- In-System Programming by On-Chip Boot Program
- True Read-While-Write Operati
8. 512 Bytes EEPROM
- Endurance: 100,000 Write/Erase Cycles
9. 512 Bytes Internal SRAM
10. Programming Lock
C. Peripheral Features
11. Two 8-bit Timer/Counters with Separate Prescalers
and Compare Modes
12. One 16-bit Timer/Counter with Separate Prescaler,
Compare Mode, and Capture Mode
13. Real Time Counter with Separate Oscillator
4. Four PWM Channels
53

5. 8-Channel, 10-bit ADC
- 8 Single-ended Channels
- 7 Differential Channels for TQFP Package Only
- 2 Differential Channels with Programmable Gain at
1x, 10x, or 200x for TQFP Package Only
6. Byte-oriented Two-wire Serial Interface
7. Programmable Serial USART
8. Master/Slave SPI Serial Interface
9. Programmable Watchdog Timer with Separate On-
chip Oscillator
10. On-chip Analog Comparator
D. Special Microcontroller Features
1. Power-on Reset and Programmable Brown-out
Detection
2. Internal Calibrated RC Oscillator
3. External and Internal Interrupt Sources
4. Six Sleep Modes: Idle, ADC Noise Reduction, Power-
save, Power-down, Standby and Extended Standby

E. I/O and Packages
1. 32 Programmable I/O Lines
2. 40-pin PDIP, 44-lead TQFP, 44-lead PLCC, and 44-
pad MLF
F. Operating Voltages
1. 2.7 - 5.5V for ATmega16L
2. 4.5 - 5.5V for ATmega16
G. Speed Grades
1. 0 - 8 MHz for ATmega16L
2. 0 - 16 MHz for ATmega16
54


Gambar 2.33. Pin-pin ATmega16 kemasan 40-pin
15

Pin-pin pada ATmega16 dengan kemasan 40-pin DIP (dual in-
line package) ditunjukkan oleh gambar 2.33.
Guna memaksimalkan performa dan paralelisme, AVR
menggunakan arsitektur Harvard (dengan memori dan bus terpisah
untuk program dan data). Arsitektur CPU dari AVR ditunjukkan oleh
gambar 2. Instruksi pada memori program dieksekusi dengan pipelining
single level. Selagi sebuah instruksi sedang dikerjakan, instruksi
berikutnya diambil dari memori program, seperti pada gambar 2.34.
15
ibid, hal. 4



55


Gambar 2.34. Arsitektur CPU dari AVR
16

Program ditulis menggunakan tool CodeVisionAVR.
CodeVisionAVR merupakan crosscompiler. Program cukup ditulis
menggunakan bahasa-C. Alur pemrograman ditunjukkan pada gambar
2.35.












16
ibid, hal. 6



56



Gambar 2.35. Alur pemrograman AVR menggunakan CodeVisionAVR
17

2.13.2 Port sebagai input/output digital
ATmega16 mempunyai empat buah port yang bernama PortA,
PortB, PortC, dan PortD. Keempat port tersebut merupakan jalur bi-
directional dengan pilihan internal pull-up.
Tiap port mempunyai tiga buah register bit, yaitu DDxn, PORTxn, dan
PINxn. Huruf ‗x‘mewakili nama huruf dari port sedangkan huruf ‗n‘
mewakili nomor bit. Bit DDxn terdapatpada I/O address DDRx, bit
PORTxn terdapat pada I/O address PORTx, dan bit PINxn terdapat pada
I/O address PINx.
Bit DDxn dalam regiter DDRx (Data Direction Register)
menentukan arah pin. Bila DDxn diset 1 maka Px berfungsi sebagai pin
output. Bila DDxn diset 0 maka Px berfungsi sebagai pin input.
Bila PORTxn diset 1 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin
input, maka resistor pull-up akan diaktifkan. Untuk mematikan resistor
pull-up, PORTxn harus diset 0 atau pin dikonfigurasi sebagai pin output.
Pin port adalah tri-state setelah kondisi reset.
Bila PORTxn diset 1 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin
output maka pin port akan berlogika 1.

Dan bila PORTxn diset 0 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin
output maka pin port akan berlogika 0.
Saat mengubah kondisi port dari kondisi tri-state (DDxn=0,
PORTxn=0) ke kondisi output high (DDxn=1, PORTxn=1) maka harus
ada kondisi peralihan apakah itu kondisi pull-up enabled (DDxn=0,
PORTxn=1)atau kondisi output low (DDxn=1, PORTxn=0).

17
ibid, hal. 6



57

Biasanya, kondisi pull-up enabled dapat diterima sepenuhnya,
selama lingkungan impedansi tinggi tidak memperhatikan perbedaan
antara sebuah strong high driver dengan sebuah pull-up. Jika ini bukan
suatu masalah, maka bit PUD pada register SFIOR dapat diset 1 untuk
mematikan semua pull-up dalam semua port.
Peralihan dari kondisi input dengan pull-up ke kondisi output low
juga menimbulkan masalah yang sama. Kita harus menggunakan kondisi
tri-state (DDxn=0, PORTxn=0) atau kondisi output high (DDxn=1,
PORTxn=0) sebagai kondisi transisi.
Lebih detil mengenai port ini dapat dilihat pada manual datasheet dari
IC ATmega16, ditunjukkan pada tabel 2.2.

Tabel 2.2. Konfigurasi pin port
18




Bit 2 – PUD : Pull-up Disable
Bila bit diset bernilai 1 maka pull-up pada port I/O akan dimatikan
walaupun register DDxn dan PORTxn dikonfigurasikan untuk
menyalakan pull-up (DDxn=0, PORTxn=1).








18
ibid, hal. 8

58

2.13.3 Rutin-rutin standar
Pada software CodeVisionAVR telah disediakan beberapa rutin
standar yang dapat langsung digunakan. Anda dapat melihat lebih detil
pada manual dari CodeVisionAVR. Beberapa contoh fungsi yang telah
disediakan antara lain adalah:

Fungsi LCD
Berada pada header lcd.h yang harus di-include-kan sebelum digunakan.
Sebelum melakukan include terlebih dahulu disebutkan pada port mana
LCD akan diletakkan. Hal ini juga dapat dengan mudah dilakukan
dengan menggunakan CodeWizardAVR.

/* modul LCD dihubungkan dengan PORTC */
#asm
.equ __lcd_port=0x15
#endasm
/* sekarang fungsi LCD dapat di-include*/
#include <lcd.h>

Fungsi-fungsi untuk mengakses LCD diantaranya adalah :
• unsigned char lcd_init(unsigned char lcd_columns)
Untuk menginisialisasi modul LCD, menghapus layar dan
meletakkan posisi karakter pada baris ke-0 kolom ke-0. Jumlah kolom
pada LCD harus disebutkan(misal, 16). Kursor tidak ditampakkan. Nilai
yang dikembalikan adalah 1 bila modul LCD terdeteksi, dan bernilai 0
bila tidak terdapat modul LCD. Fungsi ini harus dipanggil pertama kali
sebelum menggunakan fungsi yang lain.

• void lcd_clear(void)
Menghapus layar LCD dan meletakkan posisi karakter pada
baris ke-0 kolom ke-0.
• void lcd_gotoxy(unsigned char x, unsigned char y)
Meletakkan posisi karakter pada kolom ke-x baris ke-y. Nomor
baris dan kolom dimulai dari nol.
• void lcd_putchar(char c)
Menampilkan karakter c pada LCD.
• void lcd_puts(char *str)
Menampilkan string yang disimpan pada SRAM pada LCD.

59

Fungsi Delay
Menghasilkan delay dalam program-C. Berada pada header delay.h
yang harus di-includekan sebelum digunakan. Sebelum memanggil
fungsi, interrupsi harus dimatikan terlebih dahulu, bila tidak maka delay
akan lebih lama dari yang diharapkan. Juga sangat penting untuk
menyebutkan frekuensi clock chip IC AVR yang digunakan pada menu
Project- Configure-C Compiler-Code Generation.
Fungsi delay yang disediakan adalah:
• void delay_us(unsigned int n)
menghasilkan delay selama n µ-detik, n adalah nilai konstan
• void delay_ms(unsigned int n)
menghasilkan delay selama n mili-detik, n adalah nilai konstan.
Kedua fungsi tersebut secara otomatis akan me-reset watchdog-timer
setiap 1 milidetik dengan mengaktifkan instruksi wdr.

2.13.4 Port sebagai Analog Digital Converter (ADC)
ATMega 16 memiliki kelebihan berupa 10 bit internal ADC.
ADC ini terhubung p3ada 8 channel multiplexer analog yang
melewatkan 8 jenis masukan dari pin-pin pada port A. Piranti ini juga
dilengkapi 16 kombinasi masukan tegangan differensial. Dua dari
masukan differensial (ADC 1, ADC 0 dan ADC 2, ADC 3) juga
dilengkapi dengan programmable gain stage. Pin-pin ADC ini juga
memiliki rangkaian sample dan hold, yang membuat nilai masukan
menjadi konstan hingga berakhir konversi. Waktu yang diperlukan ADC
untuk menyelesaikan konversi adalah 60 –260 uS. Internal ADC dapat
diaktifkan dengan cara mengatur ADC enable bit, ADEN didalam
ADCSRA. Tegangan referensi dan pemilihan channel masukan tidak
akan berjalan sampai ADEN telah diset. Hasil berupa 10 bit data
disimpan didalam register-register khusus, yaitu ADC Data Registers
(ADCH dan ADCL). Ketika konversi telah selesai maka ADC dapat
menginterupt diri sendiri. Saat ADC berada dalam posisi antara
membaca register ADCH dan ADCL, maka interupsi akan aktif
meskipun data yang telah dihasilkan hilang. Hal-hal yang berhubungan
dengan internal ADC pada ATMega 16 sebagai berikut :

1. Channel masukan ADC
Single Conversion Mode. Pada saat menggunakan mode Single
Conversion Mode, harus selalu dipastikan telah memilih salah satu
channel sebagai masukan. Untuk memindahkan channel masukan harus
60

menunggu hingga ADC selesai melakukan konversi. Free Running
Mode: Sama seperti pada Single Conversion Mode, namun karena
masukan ADC telah dimulai secara otomatis, maka hasil konversi ini
merupakan cerminan dari hasil konversi yang lalu pada channel tersebut.
Ketika memindah ke channel penguatan differensial, hasil dari konversi
pertama memiliki akurasi yang buruk, sehingga disarankan untuk tidak
menggunakan hasil konversi yang pertama.



2. Tegangan Referensi
Tegangan Referensi dari ADC (VREF) menunjukkan range
konversi dari ADC. VREF dapat dipilih mulai dari AVCC, internal 2.56
V referensi, atau melalui pin AREF. AVCC terhubung dengan ADC
melalui switch pasif, sementara internal 2.56 V dihasilkan dari internal
bandgap (VBG) penguat internal dan pin AREF langsung terhubung ke
ADC. Ketika menggunakan tegangan referensi eksternal (AREF) maka
tidak diperbolehkan untuk menggunakan tegangan referensi internal.

3. Akurasi ADC
n-bit single-ended ADC mengkonversi tegangan secara linear
antara GND dan VREF dalam tingkat 2n (LSB). Kode terendah dibaca
sebagai 0 dan kode tertinggi dibaca 2n – 1.

4. Offset:
Penyimpangan dari perpindahan pertama (0x000 ke 0x001)
dibandingkan dengan perpindahan ideal (pada 0.5 LSB). Nilai adalah 0
LSB.

5. Gain Error:
Setelah menaikkan nilai offset, gain error ada sebagai
penyimpangan pada saat perpindahan terakhir (0x3FE ke 0x3FF)
dibandingkan dengan perpindahan yang ideal (pada 1.5 LSB dibawah
maksimum). Dengan nilai ideal 0 LSB.

6. Integral Non-Linearity (INL) :
Setelah Offset dan Gain error, INL adalah penyimpangan
maksimum dari perpindahan aktual dibandingkan dengan perpindahan
ideal untuk semua kode. Dengan nilai idealnya adalah 0 LSB.
61


7. Differential Non-Linearity(DNL) :
Penyimpangan maksimum pada lebar perpindahan actual (jarak
antara dua batas perpindahan) terhadap lebar perpindahan ideal (1 LSB).
Nilai idealnya adalah 0 LSB.
8. Hasil Konversi ADC
Setelah konversi selesai (ADIF dalam posisi high), hasil dari
konversi ini dapat ditemukan di ADC Result Registers (ADCH, ADCL).
Untuk Single-Ended Conversion, menghasilkan

Vref
V
ADC
in
1024 ×
=
……………………………(2.31)
Keterangan:
Vin = tegangan pada pin masukan
Vref = tegangan referensi yang dipilih

Jika menggunakan penguatan differensial, maka:

Vref
Gain Vneg Vpos
ADC
512 ) ( × × ÷
=
………(2.32)

Keterangan :
Vpos = tegangan pada masukan pin positif
Vneg = tegangan pada masukan pin negatif
Gain = faktor penguatan yang dipilih
Vref = tegangan referensi yang dipilih


2.13.5. Code Vision AVR 1.24.0.1
Merupakan suatu software yang digunakan dalam penulisan
program yang nantinya akan di download pada microcontroller AVR
ATmega 16. Dapat dilihat seperti struktur program pada gambar 2.36
dibawah ini :
62



Gambar 2.36. Code Vision AVR 1.24.0.1

Dalam penggunaan microcontroller AVR menggunakan
software CodeVision AVR. Seperti umumnya microcontroller, program
untuk microcontroller AVR ditulis menggunakan bahasa assembly.
CodeVision AVR merupakan software C-cross compiler, dimana
program dapat ditulis menggunakan bahasa-C. dengan menggunakan
pemrograman bahasa-C diharapkan waktu desain (deleloping time) akan
menjadi lebih singkat. Setelah program dalam bahasa-C ditulis dan
dilakukan kompilasi tidak terdapat kesalahan (error) maka proses
download dapat dilakukan. Microcontroller AVR mendukung system
download secara ISP (In-System Programming)
Dalam menggunakan program ini terlebih dahulu diperlukan
inisialisasi chip yang digunakan, clock, I/O port, dan segala hal
diperlukan dalam mendesain suatu pemrograman pada umumnya. Blok
inisialisasi dapat dilihat pada gambar 2.37 di bawah ini:

63



Gambar 2.37. Blok Penginisialisasian Program

Setelah penginisialisasian chip maka selanjutnya ―Generate,
Save and Exit”. Selanjutnya yaitu penulisan program pada blok bagian
yang telah tersedia, seperti ditunjukkan pada gambar 2.38 berikut:














Gambar 2.38. Bagian Penulisan Program


64
















‖Halaman ini sengaja dikosongkan‖



















65

BAB III
PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT

3.1 Konfigurasi Sistem
Secara garis besar perencanaan dan pembuatan seluruh sistem
proyek akhir ini ditunjukkan dalam gambar 3.1. Hal ini dimaksudkan
untuk mempermudah proses perbaikan alat dan analisa. Secara umum
blok diagram terdebut terdiri atas :
1. Perancangan Prototype Pintu Air.
2. Perancangan Kapasitas Aki dan Solar Cell.
3. Desain Boost Converter.
4. Desain Battery Charger.
5. Perancangan sensor pada system penggerak pintu air.

Gambar 3.1. Blok diagram system

Pada blok diagram diatas dijelaskan bahwa untuk mengetahui
kapasitas dari solar cell maka diperlukan total daya yang dipakai beban.
Dalam perhitungan digunakan solar cell dengan kapasitas 50 Wp(Watt
Peak). Solar cell tersebut akan mengeluarkan daya yang kemudian
disimpan dalam aki. Sebelum solar cell yang mempunyai V
maks
=20 Volt
dan V
min
= 1 Volt mengisi energinya ke aki terlebih dahulu masuk ke
66

rangkaian battery charger. Output dari battery charger yang disetting
sekitar 13,8 - 14,7 Volt digunakan untuk mengisi aki dengan kapasitas
12 V.

3.2. Perancangan Hardware
Dalam perancangan hardware pada tugas akhir ini, ialah dengan
menggunakan sebuah prototype pintu air beserta saluran air serta
rangkaian-rangkaian pendukung lainnya.

3.2.1. Desain Prototype Pintu Air
Prototype saluran air pada tugas akhir ini ditunjukkan pada
gambar 3.2. Dengan panjang saluran 200 cm, lebar saluran 10 cm dan
tinggi saluran 15 cm.









Gambar 3.2. Prototype Pintu Air Tampak keseluruhan
Sedangkan pada prototype pintu air ditunjukkan pada gambar 3.3.
sebagai berikut:
67


Gambar 3.3. Desain Pintu Air
Untuk mengetahui berapa daya motor yang diperlukan agar
mampu menggerakkan pintu air, yaitu dengan langkah-langkah
perhitungan sebagai berikut:
Lebar : 10 cm
Panjang : 15 cm
Tebal : 0.3 cm
Berat jenis besi : 8,76 cm
3
/gr
Berat pintu air :
gr
gr cm
cm
Brtjenis
Volume
14 , 5
/ 76 , 8
45
3
3
= =

Langkah selanjutnya adalah mencari kekuatan angkat dari ulir
yaitu:
Diameter ulir : 8 mm
σ
t
(kekuatan tarik ulir) : 40kg/mm
2

w (beban maksimum ulir): 6,37 kg = 63,7 Newton
sehingga dari berat 63,7 N dapat diperoleh nilai Torsi yang diperlukan
agar mampu menggerakkan pintu air, yaitu dengan cara mengalikan jari-
jari dari gear yang terpasang pada ulir sebesar 5.10
-2
m, didapatkan nilai
Torsi yaitu: 3,2 Nm.
Dengan demikian besarnya daya motor yang diperlukan untuk
menggerakkan pintu air dapat diketahui dengan cara sebagai berikut:
n : 60 rpm
T : 3,2 Nm
P = ώT = 2πfT =
W T
n
1 , 20 2 , 3
60
60 14 , 3 2
60
2
= ×
× ×
= ×
× t

68

Dalam perencanaan desain prototype pintu air menggunakan motor DC
dengan kapasitas 24 Volt-1,2 Ampere dengan daya 28,8 W.

3.2.2. Perancangan dan Pemasangan Solar Cell
Untuk merencanakan kapasitas besar daya solar cell yang
dipakai dalam sistem penggerak pintu air, terlebih dulu harus diketahui
total daya yang dipakai pada beban. Setelah diketahui total beban yang
dipakai dalam system penggerak pintu air barulah dapat diketahui besar
kapasitas solar cell yang akan dipakai. Solar Cell yang dipakai dalam
proyek akhir ini terdapat pada gambar 3.4.









Gambar 3.4. Pemasangan Solar Cell


Total Beban :
1 Motor DC 24 V = 29 W / 1.2A
1 Mikrokontroller 9 V = 4 W/ 0.4 A
2 Relay 12 V = 10 W
1 sensor level CD 4066 = 2 W
Total Daya = 45 W
*Jadi Solar Cell Yang diperlukan :
P total = 45 W atau ± 50 Wp
dengan I total output dari Solar Cell = 45 / 12 V
= 3.75 A
69


3.2.3. Desain Boost Converter
Perencanaan dan pembuatan rangkaian boost converter secara
lengkap ditunjukkan pada Gambar 3.5. sebagai berikut:


Gambar 3.5. Boost Konverer
Pada Gambar 3.5. merupakan rangkaian dasar dari boost
konverter dengan PWM yang digunakan sebagai penyulut mosfet pada
rangkaian tersebut. PWM untuk penyulutan mosfet boost converter
dirancang dengan frekuensi 25 kHz. Rangkaian snubber didalam
rangkaian ini digunakan untuk melindungi mosfet dari arus kejut pada
saat switching berlangsung. Boost konverter memperoleh masukan dari
aki sebesar 12 Volt dan dirancang menghasilkan tegangan keluaran
sebesar 24 Volt. Boost ini digunakan untuk menaikkan tegangan aki
agar tegangan output dari aki tersebut dapat digunakan untuk mendrive
motor DC.
Pada proyek akhir ini didesain untuk boost conventer dengan
ketentuan sebagai berikut:
Paramater :
Vin min = 12 V
Vin max = 13 V
Vout = 24 V
Iout = 2 A
Switching frequency (fs) = 25 KHz
Ac ferrit core = 2,545 x 10
-6
cm
2


Penyelesaian :

70

)
1
( ) ( ] [ )
1
(
min
min
L out
in
in out
I Vf V
V
V Vf V
f
L
A
×
+
× ÷ + × =
÷
÷
a. Duty cycle :
= × ÷ = × ÷ =
÷
% 100 )
24
12
1 ( % 100 ) 1 (
min
Vout
V
D
in
50%
b. Nilai Induktor :
=
+
× × =
+
× × = × = A
÷
]
12
7 , 0 24
[ 2 4 , 0 ] [ 4 , 0 4 , 0
min in
out
out in L
V
Vf V
I I I
1,6A



)
65 , 1
1
( )
7 , 0 24
12
( ] 12 7 , 0 24 [ )
25000
1
( ×
+
× ÷ + × = L

= × × =
65 , 1
1
17 , 6
25000
1
L
0,15 mH
c. Arus maksimum induktor:

=
+
× =
+
× = ]
12
7 , 0 24
[ 2 ] [
in
F out
out in
V
V V
I I
4,12 A

= + =
A
+ =
2
65 , 1
12 , 4
2
L
in maks
I
I I
4,945 A
d. Arus Rms Inductor
=
|
|
.
|

\
|
+ =
|
|
.
|

\
| A
+ =
2
2
2
2
3
2 / 65 , 1
12 , 4
3
2 /
L
in
I
I Irms
4,15 A
e. Arus puncak dioda :
A
D
Io
I
peak D
4
5 , 0
2
,
= = =

f. Arus RMS diode :
= × = × = 5 , 0 4
, ,
D I I
peak D rms D
2,83 A
g. Arus RMS kapasitor :
2 4 4 8 2 83 , 2
2 2 2
,
2
,
= = ÷ = ÷ = ÷ = Io I I RMS D
rms C
A
h. Ripel tegangan output :

C
T D I
C
Q
Vo
RMS C
× ×
=
A
= A
,


= × = × ± = A 24 001 , 0 % 1 , 0 Vo Vo
0,024 Volt
i. Kapasitansi output
71

=
× ×
=
A
× ×
=
A
A
=
÷
0024 , 0
10 . 25 5 , 0 2
6
,
Vo
T D I
Vo
Q
C
RMS C
10,42 mF
Jumlah Lilitan
Ac B
ax L
n
×
× ×
=
max
10 Im
4

3 , 1 25 , 0
10 945 , 4 10 15 , 0
4 3
×
× × ×
=
÷
n

n =22,8=23 lilitan
Panjang Kawat
Lg =2 x π x r x n + (40% x 2 x π x r x n)
Lg = 2 x 3,14 x 0,65 x 23 + (40% x 2 x 3,14 x 0,65 x 23)
Lg = 131,44 cm
Lg = 132 cm

Setelah kita menentukan arus maksimum sehingga kita bisa menentukan
nilai KHA dan AWG dari kawat sehingga bisa menentukan diamenter
kawat yang akan dipakai atau dipilih seperti dalam tabel 3.1 :










72

Tabel 3.1. Winding Data











Didapatkan dari hitungan diatas yaitu I
maks
= 4,15 A. Dalam datasheet
4,15 A menunjukkan AWG 17 dengan diameter kawat 1,15 mm .
Berdasarkan hasil perhitungan untuk rancangan boost konverter
maka dapat disimulasikan menggunakan Psim diperoleh hasil simulasi
pulsa penyulutan mosfet, tegangan keluaran boost konverter yang
ditunjukkan pada Gambar 3.6 dan Gambar 3.7, sebagai berikut :
73


Gambar 3.6. Rangkaian simulasi Boost Converter

Gambar 3.7. Tegangan keluaran Boost Converter

3.2.4. Desain Snubber
Pada rangkaian converter DC-DC sangat dibutuhkan sekali
rangkaian snubber yang ditempatkan pada mosfet yang bertujuan untuk
melindungi mosfet dari arus spike yang sangat tinggi ketika penyulutan
pada pertama pada mosfet. Arus spike tersebut dapat merusak mosfet
yang berfungsi sebagai switch atau penyulutan untuk boost konverter.
Komponen pada snubber ini terdiri dari Rs (Resisor), Cs (Capasitor),
dan Ds (Diode). Cara kerja rangkaian snubber ini adalah pada waktu
penyulutan mosfet dalam keadaan on arus spike pada mosfet akan
mengalir ke Rs dan kemudian disimpan ke Kapasitor. Ketika penyulutan
74

mosfet dalam keadaan off arus yang disimpan kapasior tadi akan
dibuang ke dalam beban sedangkan fungsi dari Ds adalah sebagai
pelindung apabila terdapat arus balik yang masuk ke dalam subber.
Desain rangkaian Snubber Boost Konverter :
- Desain Capasitor Snubber (Cs) :
Tf 1MBH60-100= 0.85 uS.
Voff
Tfall Ion
Cs
×
×
=
2

24 2
10 85 , 0 12 , 4
6
×
× ×
=
÷
Cs
=72,96 nF
- Desain Resistor Snubber (Rs) :
Cs
T Dt
Rs
×
×
× =
2
5 , 0 =
9
6
10 96 , 72 2
10 25 5 , 0
5 , 0
÷
÷
× ×
× ×
×
=42,8Ω

- Desain Diode Snubber (Ds) :
Besar diode snubber yang dipakai adalah sesuai dengan arus input
yang mengalir pada boost konverter. Dalam proyek akhir ini type diode
snubber yang dipakai adalah FR-307 dengan I
maks
= 4,945 A.
Pada gambar 3.8 merupakan gambar rangkaian snubber yang terdiri dari
komponen Rs (Resistor Snubber), Cs (Kapasitor Snubber), dan Ds
(Diode Snubber).






Gambar 3.8. Rangkaian RCD dan RC Snubber
75


3.2.5. Perencanaan dan Perancangan sistem pengisian pada Battery
Charger
Perencanaan dan perancangan sistem pengisian pada battery
charger yang dibahas pada proyek akhir ini terdiri dari komponen-
komponen yang dijelaskan sebagai berikut:
3.2.5.1. Komponen Kontrol Battery Charger
Dalam Sistem ini akan menggunakan dua buah kontrol untuk
mengatur pengisian battery pada rangkaian sistem pengisian battery
charger, yang meliputi:


1. Regulator LM350
Rangkaian Regulator ini merupakan regulator pengatur tegangan
yang mampu mengatur atau menjaga tegangan agar tetap berada
pada nilai tegangan yang ditentukan. Konfigurasi dari Rangkaian
dasar LM350 ditunjukkan pada Gambar 3.9






Gambar 3.9. Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350.

2. Comparator LM 324
Rangkaian Comparator ini berfungsi untuk membandingkan
tegangan antara Vref pada pin 3 dengan tegangan pengisian ke aki
pada pin 2 sehingga bila tegangan pada aki sudah sama dengan
tegangan pada Vref maka relay akan putus dan led akan mati yang
berarti bahwa aki sudah penuh. Gambar 3.10 menunjukkan
Konfigurasi Pin dari LM324.
76


Gambar 3.10. Konfigurasi Pin LM324


3.2.5.2. Rangkaian Battery Charger
Battery Charger adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengisi
battery dengan arus konstan hingga mencapai tegangan yang ditentukan.
Bila level tegangan yang ditentukan itu telah tercapai, maka arus
pengisian akan turun secara otomatis ke level yang aman tepatnya yang
telah ditentukan dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih
lambat sehingga indicator led mati menandakan battery telah terisi
penuh. Rangkaian Battery Charger yang digunakan dalam Proyek Akhir
ini ditunjukkan pada Gambar 3.11.

Gambar 3.11. Rangkaian Battery Charger
77

Terdapat dua kondisi pada rangkaian baterai charger, sebagai berikut:
a. Kondisi pertama, yaitu saat rangkaian aktif tapi tidak terhubung
dengan aki, maka LED mati.
b. Kondisi kedua, yaitu saat rangkaian terhubung dengan aki dan
aki belum terisi penuh diindikasikan dengan kontak ON, relay
aktif dan LED nyala, ketika aki sudah terisi penuh maka
rangkaian ini akan secara otomatis menonaktifkan pangisianke
aki. LED mati mengindikasikan bahwa aki sudah terisi penuh.

3.2.6. Driver Motor
Pada proyek akhir ini digunakan motor DC 24 volt sebagai
penggerak buka tutup pintu air. Maka dari itu diperlukan suatu
rangkaian yang bisa digunakan untuk mendrive motor DC tersebut.
Dalam hal ini rangkaian motor yang dibutuhkan adalah rangkaian motor
DC bolak-balik karena motor bergerak bolak-balik yaitu menggerakkan
buka tutup pintu air. Dalam rangkaian ini digunakan rangkaian H-Bridge
dan optocoupler yang berfungsi sebagai protektor agar tidak terjadi arus
balik dari supply motor yang sebesar 24 volt ke mikrokontroller.
Rangkaian H-Bridge ditunjukkan pada gambar 3.12 berikut:


Gambar 3.12. Rangkaian driver motor dc

3.2.7. Sensor Level
Sensor yang digunakan dalam penentuan level air adalah sensor
mekanik yang berupa potensiometer. Potensiometer adalah sebuah
variable resistor yang nilai hambatannya bisa diubah – ubah dengan cara
memutar potensiometer. Dalam alat ini potensiometer digunakan
sebagai sensing tegangan. Pada prototype pintu air ini digunakan sebuah
besi ulir yang akan menggerakkan sebuah pitu air dimana terdapat
78

resistor geser yang dikopel dengan pintu air serta sebuah potensiometer
yang terhubung dengan pelampung pada sisi sebelum pintu air . Bila
terjadi perubahan level air maka potensiometer yang berfungsi sebagai
sensor ini akan mengalami perubanhan tegangan Maka dari itu bisa kita
gunakan potensiometer sebagai sensornya, karena pergerakan kekanan
dan kekiri batang tersebut bisa digunakan untuk memutar potensio
sehingga terjadi perubahan resistansi, konfigurasi kaki pada
potensiometer ditunjukkan pada gambar 3.13. berikut:








Gambar 3.13. Potensiometer
Gambar 3.14 dan gambar 3.15 berikut ini merupakan gambar rangkaian
dari potensiometer serta gambar desai dari potensio yang terhubung
dengan pelampung sebagai sensor level.
VCC
GND
Data
ADC
MIKRO

GND
VCC
ADC
MIKRO
V

(a) (b)
Gambar 3.14. (a)Gambar Skematik Potensiometer
(b)Potensiometer dengan parameter tegangan
79













(a) (b)
Gambar 3.15. (a)Potensiometer sebagai sensor level tampak depan
(b)Potensiometer sebagai sensor level tampak samping


Gambar 3.16. Grafik Linieritas sensor ketinggian level air

3.3 Perancangan perangkat lunak (Software)
Perancangan perangkat lunak pada proyek akhir ini menggunakan
pemrograman CodeVision AVR dengan mikrokontroller AT-Mega 16
yang dijelaskan sebagai berikut:

80

3.3.1. Sistem Mikrokontroller
Mikrokontroler yang digunakan dalam sistem ini adalah
Mikrokontroler ATmega16 dengan memori program internal 512 Kbyte.
Mikrokontroler ATmega16 dipilih karena mempunyai ADC internal di
dalam chip-nya dengan tingkat kestabilan yang cukup presisi,
mempunyai compiler canggih dengan bahasa pemrograman tingkat
tinggi yaitu bahasa C sehingga lebih memudahkan programmer. Selain
itu juga karena mikrokontroler jenis ini memiliki memori, jumlah
timer/counter, serta jumlah port yang cukup untuk digunakan
dalamproyek akhir ini. Dengan mengunakan ATmega16 pengontrolan
sistem lebih mudah.
Mikrokontroler dipergunakan untuk mengontrol system dengan
acuan pembacaan data tegangan dari sensor level dan sebagai pengolah
data dari sensor level. Pembacaan dari sensor berupa level tegangan
yang langsung dimasukkan ke dalam mikrokontroler dan kemudian
diproses untuk dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan oleh
fuzzy logic controller.
Berikut ini merupakan pemakaian Port pada mikrokontroller.

Tabel 3.1. Tabel Input/Output Mikro

PORT BIT INPUT/
OUTPUT
KETERANGAN
PORT A 0 INPUT Data ADC
2 INPUT Data ADC
3 INPUT Data ADC
PORT B 0 INPUT Driver Motor
1 INPUT Driver Motor
PORT C 0-7 OUTPUT LCD
PORT D 0-7 INPUT Data DAC

Gambar 3.17 berikut merupakan gambar flowchart sistem dari
perancangan software.
81

START
INISIALISASI PROGRAM
SET POINT LEVEL AIR
LEVEL AIR > SETPOINT?
LEVEL AIR <
SETPOINT?
LEVEL AIR ==
SETPONT?
SETPOINT
BERUBAH?
YA
TIDAK
YA
TIDAK
YA
TIDAK
YA
TIDAK
MOTOR PUTAR
KANAN
TAMPILKAN KE LCD
TAMPILKAN KE LCD
MOTOR PUTAR
KIRI
MOTOR
BERHENTI
TAMPILKAN KE LCD

Gambar 3.17. Flowchart system
Pembuatan software pada proyek akhir ini meliputi, bagian
program ADC internal untuk sensor, PWM serta tampilan di LCD.


3.3.2. Cara Penulisan Code Vision AVR
Penulis menggunakan tool atau program CodeVision AVR
untuk menuliskan program ADC ke flash memori ATMega 16. Buka
program Code Vision AVR dengan langkah-langkah sebagai berikut :

82

1. Buka program Code Vision AVR dengan cara klik Start Menu All
Programs Code Vision AVR (namun program ini harus diinstal
terlebih dahulu ke komputer).
2. Membuat proyek baru dengan cara klik Create New New Project.
3. Sebelum menuliskan program, terlebih dahulu menentukan jenis
mikrokontroler apa yang akan dipergunakan dengan men-setting
fasilitas yang diberikan berupa Code Vision Wizard (jenis
mikrokontroler, serial, parallel, clock frekuensi kristal dsb).
4. Setelah itu menuliskan program seperti gambar 3.18.



Gambar 3.18. Proses Menulis Program


Secara garis besar algoritma dari program utama dapat
dijelaskan sebagai berikut:



1. Proses Inisialisasi
Dalam tahap ini meliputi proses inisialisasi dari mikrokontroler
ATMega16 yang meliputi pin-pin ATMega16 untuk internal ADC,
LCD, PWM dan alamat input/output.

2. Tampilan Menu LCD
83

Setelah proses inisialisasi selesai, pada LCD ditampilkan menu-
menu yang memudahkan untuk membaca set point logika fuzzy dan
melihat semua parameter-parameter logika fuzzy yang ada.

3. Proses Eksekusi
Setelah semua program selesai maka proses selanjutnya program
di compile sehingga dapat ditampilkan pada LCD dan untuk semua
parameter-parameternya.


3.3.3. Pembacaan tegangan oleh mikrokontroler melalui ADC
channel
Pembacaan nilai tegangan-tegangan yang diinginkan melalui 10
bit ADC 8 channel yang terdapat pada mikrokontroler AT MEGA16.
Tegangan-tegangan yang dibaca yaitu tegangan pada sensor level. Nilai
tegangan yang terbaca pada potensio sebagai sensor level digunakan
sebagai umpan balik bagi kontroler untuk dapat mempertahankan nilai
tegangan output sesuai dengan setting yang diinginkan.
Hal pertama yang dilakukan dalam menggunakan ADC
channel pada AT MEGA16 adalah membuat setting terhadap
ADC. Setting yang dilakukan adalah pada panjang data apakah 8 atau 10
bit. Kemudian setting trigger yang terdapat banyak pilihan. Setting ADC
dapat menggunakan wizard pada CV AVR seperti yang terlihat pada
Gambar 3.19.



Gambar 3.19. Setting ADC pada AT MEGA 16



84

3.3.4. Perencanaan dan pembuatan hardware dan program LCD
Pada proyek akhir ini LCD digunakan sebagai tampilan
monitoring output dari system fuzzy pada proses buka tutup pintu air.
LCD yang digunakan adalah jenis Liquid Cristal 16 x 2. Proses
pembuatan program LCD sangatlah mudah, ini dikarenakan sudah
tersedianya wizard dari LCD pada software C compiler CodeVision
AVR.


Gambar 3.17. Rangkaina LCD 2x16

Berikut ini adalah inisialisasi LCD pada mikrokontroler
ATmega16 dengan menggunakan Code Wizart AVR Automatic
Program Generator pada software CodeVision AVR.














// Alphanumeric LCD Module functions
#asm
.equ __lcd_port=0x1b
#endasm
#include <lcd.h>
// LCD module initialization
lcd_init(16);
85

3.3.5. Pembuatan Program Fuzzy
Dalam proses perancangan perangkat lunak (software) program
fuzzy logic controller memerlukan program development yang
digunakan untuk membangun parameter-parameter yang dibutuhkan
dalam proses penulisan program fuzzy. Berikut ini adalah flowchart
proses pengendali logika fuzzy secara lengkap beserta blok diagram
kontroler secara lengkap ditunjukkan pada gambar 3.20 sebagai berikut:

START
CRISP INPUT
FUZZYFICATION
FUZZY INPUT
RULE EVALUATION
FUZZY OUTPUT
DEFUZZYFICATION
CRISP OUTPUT
OUTPUT
MEMBERSHIP
FUNCTION
RULE BASE
INPUT
MEMBERSHIP
FUNCTION
PROSES
KUANTISASI


Gambar 3.20. Flowchart Logika Fuzzy


3.3.6. Desain Crisp Input dan Crisp Output
Langkah pertama dalam proses pembuatan sistem logika fuzzy
diawali dengan penentuan dan pembuatan crisp input dan crisp output.
Langkah pertama dalam proses logika fuzzy mengandung transformasi
domain yang dinamakan fuzzyfikasi. Masukan crisp ini berupa besaran
86

numerik yang nantinya akan diubah menjadi besaran linguistic pada
proses fuzzyfikasi. Sebagai contoh, masukan crisp 100 derajat akan
ditransformasikan dalam variable linguistik berupa ‗low‘. Untuk
mengubah bentuk masukan crisp menjadi besaran linguistic sebagai
masukan fuzzy, fungsi keanggotaan pertama kali harus ditentukan untuk
setiap masukan. Sekali fungsi keanggotaan ditentukan, nilai tersebut
akan diproses menggunakan fuzzyfikasi secara realtime. Setelah itu nilai
tersebut akan dibandingkan dengan informasi fungsi keanggotaan yang
tersimpan untuk menghasilkan nilai masukan fuzzy.
Pada proyek akhir ini menggunakan dua input dan satu output.
Input yang digunakan adalah error (error = setting point - preset value)
dan delta error (delta error = Error – (Error-1)). Range masukan yang
digunakan adalah ketinggian dengan setting point 10 cm. Jumlah
membership function yang digunakan adalah sebanyak 3 buah dengan
jenis segitiga. Sedangkan Output range sebesar 0 –5 volt. Langkah -
langkah pertama dalam merancang fuzzy sistem adalah menentukan
nilai crisp input dan crisp output, proses tersebut ditunjukan seperti pada
Gambar 3.21 dan gambar 3.22 sebagai berikut:


Gambar 3.21. Proses pemasukan nilai crisp input error dan delta error
87



Gambar 3.22. Proses pemasukan nilai crisp output


3.3.7. Fungsi Keanggotaan
Fungsi keanggotaan (membership function) digunakan untuk
menyatakan fungsi secara keseluruhan dari sistem yang akan dibangun
dalam proyek akhir ini. Untuk menyatakan derajat keanggotaan
(membership function) bagi masing -masing variable adalah error, delta
error dan output.
Bentuk fungsi keanggotaan yang digunakan adalah berbentuk
segi tiga dengan jumlah label sebanyak 5 buah untuk input dan output.
Nama label untuk masing – masing input dan output dijelaskan pada
gambar 3.23 dan gambar 3.24. Setiap masukan crisp kedalam sistem
fuzzy dapat memiliki banyak label yang mengacu padanya. Secara
umum besarnya jumlah label menunjuk pada variable masukan yang
digambarkan, semakin tinggi resolusi resultan system control fuzzy akan
memberikan hasil dalam respon yang lebih baik.
Berikut ini adalah bentuk membership function untuk error dan
delta error :
88



Gambar 3.23. Fungsi keanggotaan Error



Gambar 3.24. Fungsi keanggotaan delra Error

Pada proses pembuatan bentuk dari membership function output
sama dengan langkah memasukan membersip function input, akan tetapi
titik yang dimasukan hanya satu, karena bentuk dari membership
function output adalah singleton. Bentuk dari membership function
output dapat dilihat pada gambar 3.25 dibawah ini:

89



Gambar 3.25. Fungsi keanggotaan Output

Ketika singleton digunakan untuk menggambarkan fungsi
keanggotaan keluaran, defuzzyfikasi COA mereduksi ke perhitungan
rata-rata secara sederhana. Menggambarkan singleton adalah merupakan
aksi keluaran resultan yang mungkin tidak mewakili respon terdekat
yang dituju.


3.3.8. Proses Kuantisasi
Untuk memulai proses fuzzifikasi, terlebih dahulu diawali
dengan proses kuantitasi, yaitu suatu proses pengambilan masukan suatu
masukan numerik yaitu error dan delta error kemudian mengubahnya
menjadi tingkat kuantitasi dengan berdasarkan pada Tabel kuantitasi
yang telah dibuat sebelumnya. Kebalikan dari proses kuantitasi adalah
proses penentuan sinyal kontrol, yaitu Pada proses defuzzyfikasi. Pada
proses ini nilai numerik sinyal kontrol yang masih berupa tingkat
kuantitasi dirubah menjadi nilai yang sesungguhnya sebagai nilai
keluaran.
Proses kuantitasi bekerja berdasarkan Tabel kuantitasi yang
telah ditentukan sebelumnya. Jumlah tingkat kuantitasi biasanya selalu
ganjil misalnya tiga, lima, tujuh , sembilan, dan seterusnya. Semakin
banyak jumlah tingkat kuantisasi yang digunakan, maka semakin rumit
90

perhitungannya dan kompleks sistem kontrolnya, demikian juga
sebaliknya. Dengan demikian jumlah tingkat kuantitasi ikut menentukan
ketelitian dalam pengambilan keputusan.
Pada proyek akhir ini direncanakan menggunakan tiga belas
tingkat kuantitasi, yaitu dimulai dari 0 sampai dengan 12. Sebagai
inputnya adalah error berupa level air, delta error berupa delta level air
dan sinyal kontrol dari posisi pintu air .

Tabel 3.2. Tabel definisi fungsi keanggotaan

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
NB 1 1 0,9 0,9 0 0 0 0 0 0 0
Z 0 0 0,1 0,1 0.8 0,8 0,8 0 0 0 0
PB 0 0 0 0 0,2 0,2 0,2 0.7 0.7 0 0


3.3.9. Desain Rule Base
Rule base adalah kumpulan aturan fuzzy dalam berhubungan
dengan keadaan sinyal masukan dan sinyal keluaran. Rule base
merupakan dasar dari pengambilan keputusan atau inference proses
untuk mendapatkan aksi keluaran sinyal kontrol dari suatu kondisi
masukan yaitu error dan delta error dengan berdasarkan rule-rule yang
telah ditetapkan. Pendefinisian rule base tergantung dari sinyal kontrol.
Pendefinisian rule - rule tergantung dari kebutuhan dan sesuaikan
dengan data yang telah didefinisikan pada tabel kuantisasi. Pada tugas
ini digunakan rule base yang ditulis pada table rule – rule matrik dapat
dilihat pada gambar dibawah ini:




Gambar 3.26. Rule Base
91



3.3.10. Fuzzy Evaluation
Langkah berikutnya dalam proses fuzzy adalah evaluasi rule,
yaitu mengevaluasi hubungan atau derajat keanggotaan antecedent
setiap aturan. Untuk mengetahui hubungan tiap antecedent, perpanjang
garis referensi vertical melalui masukan crisp (nilai sumbu X) dan
dapatkan nilai Y simana keduanya berpotongan pada fungsi
keanggotaan.
Sebagai contoh ditunjukan pada gambar 3.27 dibawah ini,
misalnya masukan Error adalah 7 cm ditemukan pada titik 0,9 set fuzzy
―Negatif small‖ dan di titik 0,1 set fuzzy ―Zero‖. Masukan Delta Error
adalah 6 cm akan didapatkan pada perpotongan pada titik 0,9 set fuzzy
―Zero‖ dan pada titik 0,1 set fuzzy ―Positif‖ .



Gambar 3.27. Membership Function Error dan Delta Error pada Proses
Fuzzy Evaluation

Setelah setiap hubungan dari tiap antecedent telah ditentukan,
langkah berikutnya adalah mendapatkan derajat kebenaran (rule strenght) untuk
setiap rule. Saat antecedent dihubungkan melalui Operator ―AND‖, rule strength
akan mengasunsikan nilai-nilai strength terkecil dari antecedent rule. Nilai
minimum inilah yang akan menjadi nilai kebenaran bagi rule base tersebut.
Berikut ini adalah contoh rule strength yang didapat dari contoh pada keadaan
diatas:
Error = 5 cm ; Derror = 11 cm
Rule strenght dari rule yang terseleksi dari sistem control adalah sebagai berikut:
If Zero (0,6) AND Positif (0,8) THEN Zero => Rule Strength(0,2)
92

If Positif small (0,4) AND Negatif small (0,2) THEN Positif 1 => Rule
Strength(0,6)
Keluaran Fuzzy (Fuzzy output ) adalah 0,1 untuk Zero, 0,9 untuk
Negatif 1 dan 0,1 untuk Positif 1, seperti terlihat pada gambar 3.28 dibawah ini:



Gambar 3.28. Rule Strength


3.3.11. Defuzzyfikasi
Dalam proses deffuzifikasi semua keluaran fuzzy yang signifikan
akan dikombinasikan ke dalam bentuk variabel keluaran yang spesifik.
Dalam proses ini seluruh nilai keluaran fuzzy secara efektif akan
mengubah fungsi keanggotaan keluarannya. Seperti halnya pada proses
evaluasi rule, dengan menyimpan rule strength yang terbesar untuk tiap
consequent, maka rule yang paling benar akan mendominasi. Gambar
3.29 merupakan hasil dari fuzzy output.

93



Gambar 3.29. Fuzzy Output

























94













“Halaman ini sengaja dikosongkan”
























95

BAB IV
PENGUJIAN DAN ANALISA
4.1 Metode Pengujian
Pengujian terhadap seluruh sistem rangkaian yang telah dibuat
dilakukan setelah semua rangkaian disusun secara keseluruhan
berdasarkan perencanaan pada blok diagram sistem. Pengujian
dimaksudkan untuk mendapatkan evaluasi terhadap setiap rangkaian
dalam sistem agar diperoleh kinerja yang lebih baik. Kinerja yang lebih
baik didapatkan dengan melakukan perbaikan terhadap setiap komponen
rangkaian yang mengalami kekeliruan yang diketahui saat melakukan
pengujian.
Metode pengujian dari proyek akhir ini dilakukan menjadi dua
tahap, yaitu pengujian parsial dan pengujian integrasi. Dalam pengujian
parsial dilakukan beberapa pengujian untuk panel surya, rangkaian
baterai charger, Boost konverter, sensor level dan driver motor.
Sedangkan untuk pengujian integrasi, pengujian meliputi keseluruhan
dari sistem kerja buka tutup pada pintu air.

4.2 Pengujian Parsial
Pada Proyek akhir ini dilakukan pengujian per bagian dari
rangkaian yaitu seperti yang dijelaskan sebagai berikut:

4.2.1. Pengujian Tegangan Output Solar Cell

Gambar 4.1. Gambar Solar Cell
Pada gambar 4.1 pengujian solar cell yang dilakukan untuk
mengetahui tegangan ouput dari solar cell. Pengujian ini dilakukan
untuk mengambil data karakteristik dari solar cell tersebut. Hasil output
dari solar cell tersebut sebagai masukan pada rangkaian baterai charger
96

sebagai regulator pengisian ke aki. Hasil pengujian solar cell dapat
dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini :
Tabel 4.1. Data pengujian solar cell
No. Jam V-open
(Volt)
V-short
(Volt)
I (A)
1 07.00 19,2 7,72 0,79
2 08.00 18,5 13 1,13
3 09.00 18,34 15,5 1,62
4 10.00 18,3 15,12 1,38
5 11.00 18,65 16,53 1,67
6 12.00 18.55 16,5 1,64
7 13.00 18,7 16,19 1,65
8 14.00 18,91 12,62 1,26
9 15.00 18,94 12,75 1,29
10 16.00 18 3,45 0,34

4.2.2. Pengujian Baterai Charger
Pengujian digunakan untuk mengetahui kemampuan rangkaian
baterai charger (gambar 4.2) dalam proses pengisian dari solar cell
dengan tegangan yang berubah-ubah mampu mengisi aki dengan
tegangan konstan. Diperoleh data hasil pengukuran pada Rangkaian
Baterai Charger pada tabel 4.2.

97


Gambar 4.2. Rangkaian Baterai Charger

Tabel 4.2. Data pengujian Baterai Charger
No Tegangan input
(Vin)
Tegangan output
(Vout) (sebelum
terhubung
dengan aki)
Tegangan Output
(Vout)(terhubung
dengan aki)
1 15 volt 13,67 volt 12,95 volt
2 16 volt 14,07 volt 13,01 volt
3 17 volt 14.07 volt 13,01 volt
4 18 volt 14.07 volt 13,01 volt
5 19 volt 14.07 volt 13,01 volt
6 20 volt 14.07 volt 13,01 volt
7 21 volt 14.07 volt 13,01 volt

Pengujian pertama battery charger dilakukan pukul 11.02, dengan
menggunakan resistor 20Watt10ΩJ. dengan
hasil pengukuran :
Tegangan pengisian : 12.3 Volt
Arus pengisian : 0,94 Ampere
Pengujian berikutnya dengan aki 12 Volt 70 Ah dengan hasil :
Tegangan pengisian : 12.95 Volt
Arus pengisian : 0,75 Ampere
Sehingga lamanya waktu pengisian sesuai dengan persamaan 2.8 adalah
:
jam
A
Ah
Ta 16
75 , 0
12
= = =
98


4.2.3. Pengukuran Nilai Induktor
Pengukuran nilai inductor dimaksudkan untuk mengetahui
induktansi yang telah dibuat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
apabila nilai induktansi inductor terlalu kecil atau atau lebih kecil dari
desain yang direncanakan maka hal ini akan menyebabkan converter
tidak dapat maksimal. Pengukuran induktansi inductor menggunakan
LCR meter didapatkan hasil seperti gambar 4.3. dan table 4.3. berikut:



Gambar 4.3. Pengukuran nilai induktor

Tabel 4.3. Data pengukuran nilai inductor

Perhitungan Teori Pengukuran dengan LCR Keterangan
0,2 mH 0.212 mH Boost




4.2.4. Pengujian PWM
Pengujian rangkaian PWM yang ditunjukkan Gambar 4.4.
pengujian rangkaian PWM yang dilakukan untuk mengetahui output
gelombang kotak yang dihasilkan oleh rangkaian tersebut. Ditunjukkan
pada gambar 4.4. dan hasil pengujian rangkaian PWM ditunjukkan pada
gambar 4.5 dengan duty cycle 50%.

99



Gambar 4.4. Pengujian rangkaian PWM

Gambar 4.5. Hasil pengujian PWM

4.2.5. Pengujian Boost Converter
Pengujian boost konverter dilakukan pada keluaran
rangkaian. boost konverter memperoleh tegangan masukan sebesar
V
min
=11 Vdc dan V
maks
=12 Vdc, dan di sisi keluaran diberi beban
berupa electronic load. Pada saat tidak ada penyulutan maka besar
tegangan 0 Vdc. Apabila mosfet pada boost konverter diberi
frekuensi penyulutan sebesar 25 kHz dengan duty cycle 0,5, maka
dipadatkan hasil pengukuran seperti tabel 4.4. Rangkaian Boost
Konverter yang dipakai dalam proyek akhir ini seperti pada gambar
4.6.
100





Gambar 4.6. Pengujian Boost Converter

Tabel 4.4. Pengujian boost konverter
Vin
(V)
Iin (A) Vout
(V)
Iout
(A)
Effisiensi
(%)
12 0,5 23,3 0,2 77,66
12 1,2 21,9 0,5 76,04
12 1,8 20 0,8 74,07
Vin
(V)
Iin (A) Vout
(V)
Iout
(A)
Effisiensi
(%)
12 2,32 19,9 1,02 72,9
12 2,8 19,64 1,24 72,48
12 3,43 18,8 1,54 70,34
12 3,69 18,2 1,64 67,4
12 4,12 17,4 1,84 64,76
12 4,55 16,6 2,02 61,41
101


Pada tabel 4.4. pengujian boost dilakukan untuk mengambil
parameter nilai tegangan input dan outputnya. Pengambilan data ini
dengan nilai PWM disetting duty cycle sebesar 0,5 dengan frekuensi 25
Khz. Maka didapatkan niai tegangan output seperti pada table 4.

4.2.6. Pengujian Sensor Ketinggian Air
Untuk menentukan kelayakan dari potensio yang digunakan
sebagai sensor memerlukan beberapa pengujian output hasil dari
potensio itu sendiri. Pengujian dilakukan setiap kenaikan 1 cm, hasil
yang didapatkan berupa data ADC seperti pada table 4.5 sebagai berikut:

Tabel 4.5. Pengujian sensor level
Jarak (cm) Output Potensio (ADC)
1 26
1.5 37
2 55
2.5 73
3 85
3.5 90
4 112
4,5 128
5 135
5.5 149
6 165
6.5 179
7 190
7.5 204
8 216
8.5 228
9 241
9.5 247
10 255


102

4.2.7. Pengujian Minimum Sistem Mikrokontroller
Tujuan dari pengujian rangkaian ini adalah untuk mengetahui
apakah rangkaian sistem minimum ATmega 16 sudah dapat berfungsi
dengan baik atau tidak. Pengujian dilakukan dengan cara melakukan
pengetesan pada jalur port–port yang dimiliki oleh mikrokontroller
ATmega 16. Port-Port tersebut dihubungkan dengan perangkat input dan
perangkat output yang digunakan dalam proyek akhir ini. Perangkat-
perangkat tersebut diantaranya adalah: LCD dan pembacaan ADC. Cara
pengujiannya yaitu terlebih dahulu IC mikrokontroler di isi program
menggunakan software CodeVisionAVR V1.25.3 Standard. Setelah itu
program di-compile dengan tujuan untuk mengetahui apakah program
masih terdapat error atau tidak. Untuk men-download program,
dilakukan dengan cara menghubungkan langsung mikrokontroler
dengan PC menggunakan komunikasi pararel dan menggunakan
rangkaian ISP downloader sebagai rangkaian buffer.
Peralatan yang digunakan dalam proses pengujian rangkaian
sistem minimum ini adalah: modul rangkaian mikrokontroler ATmega
16 beserta modul LCD sebagai indikator keluaran port, rangkaian power
supply sebagai catu daya, kabel konektor, rangkaian ISP downloader
dan seperangkat PC beserta software CodeWizardAVR V1.25.3
Standard.
Listing program yang di-download-kan ke mikrokontroler dibuat
untuk menyalakan PortA yang dihubungkan dengan potensio sebagai
pembacaan ADC, PortC yang dihubungkan dengan LCD dan PortD
yang dihubungkan dengan driver putar balik motor. Program pengujian
dapat dilihat pada lampiran di akhir buku ini. Setelah program selesai di-
download ke mikrokontroler, perangkat-perangkat yang terhubung
dengan sistem minimum mikrokontroler tersebut dapat berfungsi dengan
baik. Potensio yang terhubung dengan port A dapat terbaca. LCD yang
terhubung dengan PortC dapat menampilkan pesan sesuai dengan yang
dituliskan pada program. Driver putar balik motor yang terkoneksi
dengan PortD juga bisa membaca masukan dengan baik pada system
minimum mikrokontroler. Hasil pengujian dapat dilihat pada gambar 4.7
dibawah ini.

103


Gambar 4.7. Hasil Pengujian LCD


4.2.8. Pengujian ADC
Pengujian analog to digital converter (ADC) internal
mikrokontroler ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dari ADC dalam
mengkonversi tegangan analog ke tegangan digital. ADC yang
digunakan adalah 8 bit internal ADC pada channel 0 (PORTA.0).
Tegangan referensi (Vreff) yang digunakan adalah pada Pin Areff
dimana tegangan sama dengan tegangan sumber dari mikrokontroler,
yaitu sebesar 5 volt. Setting ADC menggunakan clock sebesar 691.200
Khz dengan menggunakan automatic scant Input.
Pengujian ini dilakukan dengan cara memberikan masukan pada
ADC internal mikrokontroler ATmega16 pada channel nol berupa
tegangan analog dengan nilai maksimal sama dengan Vreff yaitu sebesar
5 Volt DC. Tegangan analog berasal dari keluaran sensor tekanan
menggunakan rangkaian potensiometer yang berfungsi untuk mengatur
level tegangan analog yang masuk ke Port ADC channel 0. Untuk
mengetahui nilai konversi yang terbaca oleh mikrokontroler digunakan
LCD sebagai display.
Dalam proses perhitungan pembacaan konversi tegangan analog
ke tegangan digital secara teori dapat dilakukan dengan menggunakan
persamaan 4.2. sebelum menghitung nilai rata-rata 1 Heksadesimal
dapat dihitung menggunakan persamaan 4.1 dibawah ini.
volt
FF Max
Vreff
h 0195 . 0
5
1 = = = ………………..…(4.1)
256 2
8
x
Vreff
Vin
x
Vreff
Vin
Vadc = = ………………....(4.2)
Dimana:
Vadc = tegangan terstruktur yang masuk ke mikrokontroller
104

Vin = tegangan analog yang masuk ke pin ADC
Vreff = tegangan referensi sebesar 5 volt
2
8
= setting ADC yang digunakan yaitu sebanyak 8 bit

Untuk membandingkan hasil pembacaan teori dengan pembacaan
praktek menggunakan persamaan 4.3 dibawah ini.
% 100 _ % x
Vteori
Vteori Vpengujian
Vadc Error
÷
= …(4.3)
Berikut ini adalah contoh perhitungan ADC secara teori, dengan
tegangan VREFF = 5 Volt dan dengan tegangan Vin yang berubah-ubah.
a. Perhitungan dengan tegangan Input Vin sebesar 1 volt adalah
sebagai berikut:
volt x Vadc 2 , 51 256
5
1
= =
Dengan perhitungan diatas, setelah dibandingkan dengan hasil
pengujian maka didapatkan prosentase error sebagai berikut:
% 34 , 2 % 100
50
50 2 , 51
_ % =
÷
= x Vadc Error
b. Perhitungan dengan tegangan Input Vin sebesar 2.5 volt adalah
sebagai berikut:
volt x Vadc 128 256
5
5 , 2
= =
Dengan perhitungan diatas, setelah dibandingkan dengan hasil
pengujian maka didapatkan prosentase error sebagai berikut:
% 0 % 100
128
128 128
_ % =
÷
= x Vadc Error
c. Perhitungan dengan tegangan Input Vin sebesar 4.5 volt adalah
sebagai berikut:
volt x Vadc 4 , 230 256
5
5 , 4
= =
Dengan perhitungan diatas, setelah dibandingkan dengan hasil
pengujian maka didapatkan prosentase error sebagai berikut:
105

% 48 , 1 % 100
227
227 4 , 230
_ % =
÷
= x Vadc Error
Data hasil pengujian ADC dapat dilihat pada tabel 4.6 berikut ini:




Tabel 4.6. Tabel Data Pengujian ADC Internal Mikrokontroller


NO.
Teg.
Input
ADC
(Volt)
Output ADC
(praktek)
Output ADC
(teori)
%
Error
Dec. Teg.
(Volt)
Dec. Teg.
(Volt)
Dec.
(%)
Teg.
(%)
1. 1 50 0,98 51.2 1,00 2,34 2,00
2. 2 102 2,00 102,4 2,00 0,39 0,00
3. 3 151 2,98 153,6 3,00 1,69 0,67
4. 4 204 4,00 204,8 4,00 0,39 0,00
5. 5 255 4,98 256 5,00 0,39 0,40

4.2.9. Pengujian Program Fuzzy
Tujuan dari pengujian program control logika fuzzy ini adalah
untuk mengetahui kerja dari kontroler tersebut apakah sudah bekerja
dengan baik atau belum. Yang dimaksud baik disini adalah sesuai
dengan perencanaan yang dilakukan pada bab sebelumnya. Untuk
melihat hasil pengujian program control logika fuzzy pada masing-
masing proses digunakan LCD, seperti pada gambar 4.8 dan tabel 4.7
berikut:




106




Gambar 4.8. Hasil Pembacaan Input, Error dan Output Fuzzy

Tabel 4.7. Pengujian Output Fuzzy

Error D_Error Output Fuzzy
System
0 0 1,67
3 1 1,75
8 2 1,84
8 3 1,97
13 4 2,05
18 5 2,12
23 6 2,20
27 7 2,27
32 8 2,43
37 9 2,5
42 10 2,58
47 10 2,67





107

4.3 .Pengujian Integrasi
Pengujian integrasi yang dilakukan pada proyek akhir ini
meliputi pengujian dari keseluruhan sistem yaitu proses pengisian solar
cell ke aki serta sistem kerja dari pintu air. Sistem kerja dari pintu air
disimulasikan seperti keadaan sebenarnya yaitu bila terjadi kenaikan air
maka sensor level ketinggian air akan mendeteksi kenaikan air sehingga
pintu air akan membuka sesuai dengan set point pada pembukaan pintu.
Proses ini dilakukan dengan kontrol logika fuzzy.
Pada pengujian terakhir ini kita akan mendapatkan data dari
keseluruhan sistem pada rangkaian daya untuk sistem penggerak pintu
air. Proses pengisian dari solar cell ke battery charger untuk mengisi ke
aki. Pada tabel 4.8 di bawah ini akan menunjukkan data-data hasil
pengujian keseluruhan sistem rangkaian daya pada sistem penggerak
pintu air dengan membandingkan daya dari sumber solar cell dengan
pemakaian daya dari beban motor DC.

Tabel 4.8. Pengujian sistem rangkaian daya dengan menggunakan
solar cell

Proses simulasi pada buka tutup pintu air ditunjukkan pada
gambar 4.9. Sistem kerja pada buka tutup pintu air ini dapat bekerja
Jam Solar
Cell
Batery
Charg
er
Arus Batery Boost
Konver
ter
Arus
(A)
08.00 17 14.75 0,4 13.6 24 1,54
08.30 17 14.75 0,3 13.6 23,9 1,5
09.00 18 14.75 0,3 13.6 23,9 1,5
09.30 18 14.75 0,5 13.6 23,9 1,5
10.00 19 14.75 0.3 13.6 23,8 1,5
10.30 19.5 14.75 0,5 13.6 23,8 1,54
11.00 20 14.75 0,5 13.6 23,9 1,5
12.00 20 14.75 0,5 13.6 23,9 1,52
13.00 18.9 14.75 0,3 13.6 23,8 1,52
14.00 18.9 14.75 0,3 13.6 23,8 1,52
15.00 18.6 14.75 0,3 13.6 23,8 1,52
108

dengan baik sesuai dengan setiap kenaikan atau penurunan level air dari
pembacaan sensor.


Gambar 4.9. Simulasi Sistem Kerja dari Pintu Air

Pada Proses Simulasi sistem penggerak pintu air diperoleh respon
kecepatan buka tutup pintu air terhadap setiap kenaikan level air, seperti
ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut:

Tabel 4.9. Respon Kecepatan Buka Tutup Pintu Air

Kenaikan Level air
(cm)
Respon Pintu air (s) Posisi Pintu Air
(cm)
1 3 1,1
2 5 2,1
3 8 3,1
4 10 4,1
5 12 5
6 15 5,9
7 17 6,8
109

8 19 7,8
9 20 8,7

Daya dari sumber Solar Cell :





Daya dari sumber baterai yang telah dinaikkan tegangannya
menggunakan rangkaian Boost Konverter:





Daya dari beban motor DC :






Efisiensi Daya dari sumber Solar Cell :








Efisiensi Daya dari sumber Baterai:





watt P
P
I V P
96 , 36
54 , 1 24
÷
× ÷
× ÷
Watt P
P
I V P
40
2 20
÷
× ÷
× ÷
watt P
P
I V P
8 , 28
2 , 1 24
÷
× ÷
× ÷
% 80
% 100
50
40
% 100
÷
× ÷
× ÷
P
P
P
P
P
solarCell
percobaan
efisiensi
% 4 , 4
% 100
840
96 , 36
% 100
÷
× ÷
× ÷
P
P
P
P
P
baterai
percobaan
efisiensi
110

Efisiensi Daya dari sumber baterai terhadap beban motor DC :









- Data Perhitungan
Daya yang dibangkitkan dari solar cell ( rating 20 V 2 A )
P = 20 x 2 = 40 W
Arus pengisian accu
I = P/tegangan pengisian = 40/12,5 = 3,2 A

Lama pengisian ACCU
1. Untuk aki 35 Ah
Waktu yang dibutuhkan pengisian = 35/3,2 = 11 jam
2. Untuk aki 70 Ah
Waktu yang dibutuhkan pengisian = 70/3,2= 22 jam

Lama pemakaian
a. Beban penggerak pintu air (20 W)
Daya pada aki (35 Ah) = 35 x 12 = 420 Wh
Lama pemakaian = 420/20 = 21 jam
Daya pada aki (70 Ah) = 70 x 12 = 840 Wh
Lama pemakaian = 840/20 = 42 jam

- Data lapangan
Tegangan keluaran solar cell yang dibangkitkan = 20 Vdc
Arus pengisian pada ACCU = 1 A
Energi yang dihasilkan solar cell perhari 8jam x 50W = 0,4 KWH.
Kapasitas Aki = 2 x 3 x kebutuhan listrik
Faktor pengali 3 untuk mengantisipasi bila hujan/mendung terus
menerus selama 3 hari. Faktor pengali 2 disebabkan baterai tidak
boleh lebih dari 50% kehilangan kapasitasnya bila ingin baterai
tahan lama.
% 9 , 77
% 100
96 , 36
8 , 28
% 100
÷
× ÷
× ÷
n
n
n
baterai
beban
P
P
111

Waktu pengisian untuk ACCU 70 Ah = 70 jam pada kondisi
matahari maksimum
Lama pemakain aki
1. Untuk beban penggerak pintu air (max 20 W)
Pemakaian 8 jam/ hari ACCU habis dalam 9 hari


































112

BAB V
KESIMPULAN

5.1 KESIMPULAN
Setelah melalui proses perencanaan dan pembuatan alat
yang kemudian dilanjutkan pada tahap pengujian alat secara
keseluruhan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Tegangan keluaran solar cell yang dapat digunakan untuk
pengisian arus battery atau aki melalui Rangkaian Battery
Charger rata-rata sebesar 18,6 volt.

2. Daya dari solar cell sebesar 0,4 KWH perhari dapat digunakan
untuk mensuply beban penggerak pintu air dengan daya 20W ,
pemakaian 8jam/hari aki 70 Ah habis dalam 9 hari, sehingga
sistem ini dapat bekerja secara efektif dalam proses pengisian
ke aki meskipun waktu pengisiannya relatif lama, karena
dalam sistem penggerak pintu air ini keseluruhan sistem tidak
bekerja secara terus menerus selama 24 jam.

3. Sistem kerja pada buka tutup pintu air ini dapat bekerja dengan
baik sesuai dengan setiap kenaikan atau penurunan level air
dari pembacaan sensor ketinggian level air.

5.2 SARAN
Dari hasil tugas akhir ini, masih terdapat beberapa
kekurangan yang dapat ditambahkan dalam proses penyempurnaan
alat yang ada, dan yang dapat ditambahkan yaitu:
1. Pada sistem penggerak pintu air sebaiknya ditambahkan
mekanik agar dapat bekerja secara manual atau otomatis.
2. Sistem dapat dimonitoring melalui PC sehingga system
kerjanya dapat dilihat setiap saat.
.



113

DAFTAR PUSTAKA
1. DESDM (2007), PLN Targetkan Pemakaian Energi Listrik
Terbarukan 10 %, Jakarta.
diakses tanggal : 13/01/2009 21:09 dari DESDM (2007).
http://www.esdm.go.id/berita/listrik/39-listrik/129-pln-targetkan-
pemakaian-energi-listrik-terbarukan-10.html

2. Rashid, Muhammad H., ―Power Electronic Circuit, Devices, and
Apllications,‖ Second Edition, Prentice-Hall International, Inc,
1993.

3. Bagus Mahendrawan, ― DESAIN PEMBANGKIT TENAGA
LISTRIK HYBRID UNTUK SISTEM PENERANGAN DI
TAMBAK ―, Proyek Akhir 2008.

4. Fani Bagus, ―OPTIMASI MANAJEMEN PENGGUNAAN
ENERGI LISTRIK DARI BEBERAPA SUMBER PADA
PEDESTRIAN TRAFFIC LIGHT‖, Proyek Akhir 2009.

5. Surya Darma Adi,―PENERANGAN JALAN UMUM (PJU)
DENGAN MENGGUNAKAN TENAGA SURYA‖, Proyek Akhir
PENS-ITS, 2009.

6. Fandi Budiawan, ―RANCANG BANGUN ALAT PENYIRAM
TAMAN DENGAN MENGGUNAKAN MATAHARI SEBAGAI
ENERGI ALTERNATIF (BUCK KONVERTER)‖, Proyek Akhir
2009.

7. Ridwan Arif, ―RANCANG BANGUN SISTEM PENGATURAN
TEKANAN POMPA AIR MENGGUNAKAN SISTEM
KONTROL LOGIKA FUZZY‖, Proyek Akhir 2009.

8. Datasheet of LM350 3.0 A, Adjustable Output, Positive Voltage
Regulator. diakses tanggal : 9/06/2009 08:20 dari Uoguelph.
http://www.alldatasheet.com/view.jsp?Searchword=LM350

9. Iklanum, Cara kerja baterai aki, Jakarta diakses tanggal :
15/06/2009 20:15 dari iklanum.
http://www.iklanumum.com/forum/index.php/topic,30.0.html
114


10. Datasheet of ATmega16 8-bit Microcontroller with 16K Bytes In-
System Programmable Flash diakses tanggal : 9/06/2009 08:38
dari alldatasheet.
http://www.alldatasheet.com/datasheet
pdf/pdf/78532/ATMEL/ATMEGA16.html

11. Datasheet of IRF540 N-CHANNEL 100V - 0.055 W - 22A TO-
220 LOW GATE CHARGE STripFET™ II POWER MOSFET.
diakses tanggal : 9/06/2009 08:25 dari alldatasheet.
http://www.alldatasheet.com/datasheet-
pdf/pdf/17799/PHILIPS/IRF540.html



























115

LAMPIRAN
LISTING PROGRAM MIKROKONTROLER

/****************************************************
This program was produced by the
CodeWizardAVR V1.25.3 Professional
Automatic Program Generator
© Copyright 1998-2007 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l.
http://www.hpinfotech.com

Project :
Version :
Date : 1/12/2006
Author : F4CG
Company : F4CG
Comments:


Chip type : ATmega16
Program type : Application
Clock frequency : 11.059200 MHz
Memory model : Small
External SRAM size : 0
Data Stack size : 256
*****************************************************/
#include <mega16.h>
#include <delay.h>
// Alphanumeric LCD Module functions
#asm
.equ __lcd_port=0x15 ;PORTC
#endasm
#include <lcd.h>

#define ADC_VREF_TYPE 0x20

// Read the 8 most significant bits
// of the AD conversion result
unsigned char read_adc(unsigned char adc_input)
{
116

ADMUX=adc_input | (ADC_VREF_TYPE & 0xff);
// Start the AD conversion
ADCSRA|=0x40;
// Wait for the AD conversion to complete
while ((ADCSRA & 0x10)==0);
ADCSRA|=0x10;
return ADCH;
}

void nilaitegangan2(float fnilai,int x,int y,int tanda)
{
int satuan,ribuan,ratusan,puluhan,inilai;

lcd_gotoxy(x,y);
if (tanda==1)
{if (fnilai<0)
{ fnilai = -fnilai;
lcd_putchar('-'); }
else
{ lcd_putchar('+'); }
}
inilai = fnilai *100;
ribuan = inilai/1000;
if (ribuan!=0)
lcd_putchar(ribuan+0x30);
else
lcd_putchar(' ');
ratusan = (inilai - (ribuan*1000))/100;
lcd_putchar(ratusan+0x30);
lcd_putchar('.');
puluhan = (inilai - (ribuan*1000)-(ratusan*100))/10;
lcd_putchar(puluhan+0x30);
satuan = inilai - (ribuan*1000)- (ratusan*100)-(puluhan*10);
lcd_putchar(satuan+0x30);
}

struct rulex
{
int input1;
117

int input2;
float finput1;
float finput2;
int output;
float strengthx;
}
rulext[9];

flash float error[3,4]= {{-49,-49,-49,0},{-49,0,0,49},{0,49,49,49}};
flash float derror[3,4]= {{-10,-10,-10,0},{-10,0,0,10},{0,10,10,10}};
flash float outputx[7]= {0,0.83,1.67,2.5,3.33,4.17,5};

flash int rule[9,3]=
{{0,0,0},{0,1,1},{0,2,2},{1,0,1},{1,1,2},{1,2,3},{2,0,2},{2,1,3},{2,2,4}
};

//****************main program here
*******************************************
void main(void)
{

float ferror[3];
float fderror[3];
float foutput[7];

///////////////parameter//////////////////
/*
float seting = 10.0;
float rinput = 98.0;
int resolusi = 255;
float routput = 5.0;
int jumError = 3;
int jumdError = 3;
int jumOutput = 7;
float rasioin;
rasioin = rinput/resolusi; */

int i;
unsigned char outalat;
118

unsigned char teginput;
int s,t;
// float keluaran;
float err1,err2,derr,jum,pembagi;
// float rasioin = 98.0/255;
// float rasiout = 5.0/255;

// Port Init
PORTA=0x00;
DDRA=0x00;

PORTB=0xc0;
DDRB=0x3f; //Port B sebagai Output kecuali 2 bit terakhir, bit 6 n bit 7

PORTC=0x00;
DDRC=0x00;

PORTD=0x00;
DDRD=0xff; //Port D sebagai Output

// Timer/Counter 0 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: 11059.200 kHz
// Mode: Fast PWM top=FFh
// OC0 output: Non-Inverted PWM
TCCR0=0x69;
TCNT0=0x00;
OCR0=0x37; //pwm duty cycle 50%

// ADC initialization
// ADC Clock frequency: 172.800 kHz
// ADC Voltage Reference: AREF pin
// ADC High Speed Mode: On
// ADC Auto Trigger Source: Free Running
// Only the 8 most significant bits of
// the AD conversion result are used
ADMUX=ADC_VREF_TYPE;
ADCSRA=0xA6;
SFIOR&=0x1F;
119


// LCD module initialization
lcd_init(16);
PORTD=0;
PORTB=0xc0;

for(i=0;i<=8;i++)
{
rulext[i].input1 = rule[i,0];
rulext[i].input2 = rule[i,1];
rulext[i].output = rule[i,2];
}

// 12345678901234567890
lcd_putsf("AVR Fuzzy ver1.0");
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf("Copyright by YZ");
delay_ms(1000);

lcd_clear();
lcd_gotoxy(0,0);
lcd_putsf("Err: ");
lcd_putchar(51);
lcd_putchar(' ');
lcd_putsf("dErr: ");
lcd_putchar(51);
lcd_gotoxy(0,1);
lcd_putsf("Output: ");
lcd_putchar(55);
delay_ms(1000);

lcd_clear();
lcd_gotoxy(0,0);
// 12345678901234567890
lcd_putsf("I:00.00 ");
lcd_putsf("E:00.00");
lcd_gotoxy(0,1);
// 12345678901234567890
lcd_putsf("Out:00.00V");
120

err2= 0;

while(1)
{
teginput = read_adc(0);
nilaitegangan2 (teginput*(98.0/255),2,0,0);
err1=(teginput*(98.0/255))-10.0;
nilaitegangan2 (err1,10,0,1);
derr= err1-err2;
//nilaitegangan2 (derr,12,2,1);
err2 = err1;

// fuzifikasi error and get membership value
for (i=0 ;i<3; i++)
{
if (err1 < error[i][0])
{ferror[i]= 0; goto terus;}
if (err1 > error[i][3])
{ferror[i]= 0; goto terus;}
if (err1 <= error[i][1])
{
if (error[i][0] == error[i][1])
{ferror[i]= 1; goto terus;}
else
{ferror[i]= ((err1 - error[i][0]) / (error[i][1] -
error[i][0])); goto terus;}
}
if (err1 >= error[i][2])
{
if (error[i][2] == error[i][3])
{ferror[i] =1; goto terus;}
else
{ferror[i] =((error[i][3] - err1) /(error[i][3] -
error[i][2])); goto terus;}
}
ferror[i]= 1;
terus:
}

121

//nilaitegangan2(ferror[0],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi
tampilan di lcd
//nilaitegangan2(ferror[1],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi
tampilan di lcd
//nilaitegangan2(ferror[2],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi
tampilan di lcd

// fuzifikasi derror and get membership value
for (i=0 ;i<3; i++)
{
if (derr < derror[i][0])
{ fderror[i]= 0; goto terus2;}
if (derr > derror[i][3])
{ fderror[i]= 0; goto terus2;}
if (derr <= derror[i][1])
{
if (derror[i][0] == derror[i][1])
{fderror[i]= 1; goto terus2;}
else
{fderror[i]= ((derr - derror[i][0]) /
(derror[i][1] - derror[i][0])); goto terus2;}
}
if (derr >= derror[i][2])
{
if (derror[i][2] == derror[i][3])
{fderror[i] =1; goto terus2;}
else
{fderror[i] =((derror[i][3] - derr)
/(derror[i][3] - derror[i][2])); goto terus2;}
}
fderror[i]= 1;
terus2:
}

//nilaitegangan2(fderror[0],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(fderror[1],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
122

//nilaitegangan2(fderror[2],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd

// evaluation rule
for (i=0 ;i<9; i++)
{
rulext[i].finput1 = ferror[rulext[i].input1];
rulext[i].finput2 = fderror[rulext[i].input2];
if (rulext[i].finput1 < rulext[i].finput2)
rulext[i].strengthx = rulext[i].finput1;
else
rulext[i].strengthx = rulext[i].finput2;
}

//nilaitegangan2(rulext[0].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[1].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[2].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[3].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[4].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[5].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[6].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[7].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(rulext[8].strengthx,x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera
untuk posisi tampilan di lcd

// find max for each membership output
for (i=0 ;i<7; i++)
{
foutput[i]=0;
}

123

for (i=0 ;i<9; i++)
{
// d=rulext[i].output;
if (rulext[i].strengthx > foutput[rulext[i].output])
foutput[rulext[i].output]=rulext[i].strengthx;
}

//nilaitegangan2(foutput[0],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(foutput[1],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(foutput[2],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(foutput[3],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(foutput[4],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(foutput[5],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd
//nilaitegangan2(foutput[6],x,y,0); //x dan y diisi sesuai selera untuk
posisi tampilan di lcd

// fuzifikasi output
jum=0;
pembagi=0;
for (i=0 ;i<7; i++)
{
jum=jum + (foutput[i] * outputx[i]);
pembagi=pembagi + foutput[i];
}

// keluaran = jum/pembagi;
// outalat = keluaran/rasiout;
if ((jum!=0) && (pembagi!=0))
{ outalat = (jum/pembagi)/(5.0/255);
// }
PORTD= outalat;

nilaitegangan2((jum/pembagi),4,1,0);
124


s=read_adc(2); // pintu air
t=read_adc(5); //setting

/* if (t<3)
{ PORTB=0x00;
}
else
{
if (t>253)
PORTB=0x00; // limit max

else
{*/

if (s<t+5) // maju
{
if (PINB.6==0)
{PORTB=0xc3;
lcd_gotoxy(11,1);
lcd_putsf("UP ");
}
else
{PORTB=0xc0;
lcd_gotoxy(11,1);
lcd_putsf("STPUP");
}
}

if (s>t+5) // mundur
{
if(PINB.7==0)
{ PORTB=0xc2;
lcd_gotoxy(11,1);
lcd_putsf("DW ");
}
else
{PORTB=0xc0;
lcd_gotoxy(11,1);
125

lcd_putsf("STPDW");
}
}

if ((s<=t+5)&&(s>=t+5)) // stop
{
PORTB=0xc0;
lcd_gotoxy(11,1);
lcd_putsf("STP ");
delay_ms(500);
}
// }
// }

}

}
}





















126



Biodata Penulis



Nama : Triyas Ika Wulandari
TTL : Kediri, 27 Juli 1987
Alamat : Ds. Seketi-Ngadiluwih-Kediri
Hp : 085648812487
Email : iyash33@gmail.com

Penulis terlahir sebagai anak ketiga dari 3 bersaudara dari
pasangan Sukarji dan Mudawaroh termasuk sosok yang periang dan
mudah bersosialisasi. Dan memiliki motto ―man jadda wa jadda‖.

Riwayat pendidikan formal yang ditempuh:
 SDN Jambean 1 lulus tahun 2000
 MTsN Kediri 2 lulus tahun 2003
 SMA Negeri 1 Kediri lulus tahun 2006
 Diploma 4 Jurusan Teknik Elektro Industri
Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Pada tanggal 22 Juli 2010 mengikuti Seminar Proyek Akhir
sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Sains
Terapan (S.ST.) di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya - Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (PENS - ITS).

2010

PROYEK AKHIR

RANCANG BANGUN SISTEM PENGGERAK PINTU AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI ALTERNATIF MATAHARI

(HARDWARE/SOFTWARE)

TRIYAS IKA WULANDARI NRP. 7306 040 015

Dosen Pembimbing: Ir. GIGIH PRABOWO, MT NIP. 19621205 199103 1 003 INDHANA SUDIHARTO,ST, MT NIP. 19660227 199403 1 001
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO INDUSTRI POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2010
2

RANCANG BANGUN SISTEM PENGGERAK PINTU AIR DENGAN MEMANFAATKAN ENERGI ALTERNATIF MATAHARI Oleh: Triyas Ika Wulandari NRP.7306.040.015 Proyek Akhir ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan (S.ST) Di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Disetujui oleh : Dosen Pembimbing Tim Penguji Proyek Akhir

1. Ir. Joke Pratilastiarso, MT. NIP. 196209201988031002

1.

Ir. Gigih Prabowo, MT. NIP. 19621205 199103 1 003

2. Drs. Irianto, MT. NIP. 196405221991031003 Ir Abdul Nasi31 964 534 3. Renny Rachmawati, ST, MT NIP. 197210241999032001

2.

Indhana Sudiharto,ST, MT. NIP. 19660227 199403 1 001

Surabaya, 5 Agustus 2010 Mengetahui Ketua Jurusan Teknik Elektro Industri

Ainur Rofiq Nansur, ST, MT NIP. 19640713198903 1 005
3

driver motor. battery charger. Untuk mendapatkan tegangan keluaran solar cell yang tetap.6V. Dari sistem ini didapatkan kondisi ideal dari otomatisasi sistem penggerak pintu air. Kata Kunci : Solar cell. diberikan rangkaian battery charger sehingga output tegangan dari rangkaian battery charger dapat dijaga tetap 13. Cara ini dimaksudkan agar pintu air dapat bekerja sewaktu-waktu dalam segala kondisi secara otomatis. sensor level.ABSTRAK Dalam proyek akhir ini telah dibuat simulator sistem penggerak pintu air menggunakan sumber solar cell. Solar cell mempunyai kelemahan sangat tergantung adanya sinar matahari. Sebagai sistem pengontrolan buka tutup pintu air menggunakan kontrol logika fuzzy untuk menggerakkan motor pada penggerak pintu air. Sistem buka tutup pintu air digerakkan oleh Motor DC berdasarkan sensor ketinggian air sungai. 4 . Untuk mengatasi masalah pada solar cell bila cuaca mendung supply energi listrik di catu melalui baterai backup untuk sistem penggerak pintu air.

Key Words Solar cell. driver motor. From this system obtained under ideal conditions of the driving gate automation system. given a series battery charger so that the output voltage of the battery charger circuit can be kept fixed at 13. To overcome the problems of the solar cell when the weather was overcast in the supply of electrical energy through the battery backup power supply for propulsion systems sluice.ABSTRACT This final project has made driving simulator sluice system using solar cell source. battery charger.6V. Open and close the door of the water system is driven by DC motors based on river water level sensor. 5 . sensor level. Solar cell has a weakness depends on the existence of the sun. This method is intended to sluice can work at any time in all conditions automatically. As a system of controlling opening and closing of water gates using fuzzy logic control to drive the motor at the driving gate. To get the solar cell output voltage is fixed.

hidayah dan inayah-Nya kami dapatmenyelesaikan proyek akhir ini dengan judul : Rancang Bangun Sistem Penggerak Pintu Air Dengan Memanfaatkan Energi Alternatif Matahari Dalam menyelesaikan proyek akhir ini. Proyek akhir ini merupakan salah satu syarat akademis untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan (S. Juli 2010 Penulis 6 .KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT karena hanya dengan rahmat. kami berpegang pada teori yang pernah kami dapatkan dan bimbingan dari dosen pembimbing proyek akhir. Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan pada perancangan dan pembuatan buku proyek akhir ini. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. besar harapan kami untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca. Semoga buku ini dapat memberikan manfaaat bagi para mahasiswa Politeknik Elektronika Negeri Surabaya pada umumnya dan dapat memberikan nilai lebih untuk para pembaca pada khususnya. Surabaya.ST) di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Oleh karena itu. Dan pihak – pihak lain yang sangat membantu hingga sampai terselesaikannya proyek akhir ini.

ST. MT.rekan dan karyawan Politeknik Elektronika Negeri Surabaya ITS yang tercantum maupun tidak tercantum namanya semoga mendapat balasan kebaikan dari ALLAH SWT dan limpahan rahmat dan hidayat-NYA untuk kita semua. Teman-teman D4 Elin ’06. 7 . selaku Direktur PENS-ITS. dan keluarga yang telah memberikan cinta dan kasih sayang baik itu berupa dorongan moral maupun material. Terima kasih bapak dan ibu. AMIN. Ibu. Dadet Pramadiharto. 9. Akhir kata penulis berharap agar buku ini dapat bermanfaat bagi senua pihak dan mudah-mudahan dapat dikembangkan dan dapat berguna di masa yang akan datang. Pertolongan. jangan pernah berhenti berdoa demi kesuksesan anakmu. M. 8. Bapak. ST. 6. 2.UCAPAN TERIMA KASIH Alhamdulillah. Ir. dan Ridho-Nya saya mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini serta hambanya yang termulia Nabi Besar Muhammad SAW. MT dan Indhana Sudihato. Ainur Rofiq Nansur. terima kasih atas segala bantuan dan doanya. karena Perlindungan. selaku Ketua Jurusan Teknik Elektro Industri 5. Seluruh dosen penguji yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk menguji dan mengoreksi hasil proyek akhir ini. 10. Gigih Prabowo.Eng. Bapak Darwis yang telah banyak membantu dan memberi nasehat selama pengerjaan Tugas Akhir. Seluruh rekan . 7. Pak Eko PPNS yang telah membantu dalam pengerjaan mekanik dalam Tugas Akhir ini. 4. Dr. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan ikhlas kepada : 1. MT selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk membimbing kami setiap saat. Allah SWT. 3. atas berkah dan karunia Allah SWT penulis dapat menyelesaikan Proyek Akhir ini dan dalam pelaksanaan pembuatannya penulis banyak mendapatkan bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak.

.. 2............... xiv BAB I PENDAHULUAN ..................................1............................................................................................................... 2.............................................4...... Tinjauan Pustaka ..... Solar Cell ........................2.................... 3 1............ v UCAPAN TERIMA KASIH ....... i LEMBAR PENGESAHAN ........... Winding area........... 2......... Motor DC ... 8 7 7 12 12 13 14 15 15 16 17 18 20 21 25 28 29 29 .................... 2.......... 2.......................... Desain Induktor ..................................................... iii KATA PENGANTAR ......3............ 2..............................................................................6.......1........................... Prinsip Kerja ..5....3................. Metodologi ..............................................................1...2.... ........ Karakteristik Motor DC...........1.2.2............................... 2................. Batasan Masalah .........3............................. Rugi-rugi dan Efisiensi. 2......................................... 6 BAB II TEORI PENUNJANG.................... Konstruksi Motor DC............6.. xi DAFTAR TABEL ........... 2.. Pengaturan Kecepatan Motor DC....................... .....1......................... 2............... 2 1..........................................7. Sistematika Penulisan ...........................................3...............................2. 1 1............ 2....................... ii ABSTRAK ....... Jenis-jenis Motor DC .... ................................................5..................... .. 2........ ................................ 2............... 1 1...................................................2....... Battery Charger ... Maxsimum fluk density....... 2 1........................ 2...................................6.............. viii DAFTAR GAMBAR ............................4..... 2 1....................6..........................6......2............................................................................................. 2........................3. 2. Prinsip kerja................5... Boost Konverter ....................... Permasalahan......................................................4............................................... ..............2..............................2.......... Latar Belakang ..6........................2...................... vi DAFTAR ISI ........ Aki / Accumulator ................................................................. 5 1.....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL........................................................ Induktansi............................................. ... Tujuan ................................

Sistem Mikrokontroller ....2..... Desain Prototype Pintu Air ... Sensor Level....2....5............. 2. 3.....5...... 2............ 2.2...13... Mikrokontroller AVR AT-Mega16.............3.. 3...2... Driver Motor ...... 9 30 32 33 35 36 37 39 41 41 41 46 48 50 52 55 55 56 56 58 59 64 65 65 67 68 68 71 71 73 74 75 76 77 79 81 ....... 2............9. 2.................. Konfigurasi Sistem ......8....2........ Desain boost Converter............................... Rangkaian Snubber .......5.....3. H-Bridge Driver..1....................... 2....... 2.... 3............... Sensor Level .................... 3.......................3............... Perancangan Perangkat Lunak (Software)........... Rutin-rutin Standart...................Pembacaan Tegangan oleh Mikrokontroller melalui ADC Channel...................................... Perancangan Hardware ..........................2....8.......1.................... 3........ Winding Resistance.................5... .........1.......................Cara Penulisan CodeVision AVR .....11.....3..........................2..... ............13............3. 3.................................... 3.......................... 2.......... 2.13...... 3.0...2. Perancangan dan Pemasangan Solar Cell ....6........12.. 3.....4...... 3..... Port Sebagai Input/Output Digital..............Perencanaan dan Pembuatan Hardware dan Program LCD .. 3..... .............. Mikrokontroller.........3.............3......... .. .2................ ............. .........3.... Desain Snubber ................3..............24.....2........... 3.........................13.......Pembuatan Program Fuzzy .....2.. 3...Proses Kuantisasi .........7..4........2...................2.1....................................... 3...13...............1.....Desain Crisp Input dan Crisp Output .......5......... 3......... . 3...2............ Code Vision AVR 1....... 2................. 3...... Rangkaian Battery Charger .... ....4.... 3............1.......... Optocoupler.......... 3.....10.3...6.. Komponen Kontrol battery charger .. 2................... 3.13..................6........8.........1............ 2.......................................................2....4. . ............7................ Pulse Width Modulation....7.............Fungsi Keanggotaan .................. BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT ..... ........ Port Sebagai Analog Digital Converter............................ 2....... The Metal Oxide Semiconductor FET (MOSFET).....3........ .... Perencanaan dan Perancangan sistem Pengisian pada Battery Charger ....................3...... Mosfet sebagai switch....

..7................3........9..................................................................Pengujian Battery Charger . xv LAMPIRAN 10 ... 105 5.. 105 DAFTAR PUSTAKA ...............................Defuzzyfikasi ........... 4..............2... Saran-saran ........................................8.Pengujian Boost Converter .2.5..............2...... 4..............................1........... 4....................................................3....... 4.. 4.............. 4...Pengujian PWM .6.......... Kesimpulan .................................................2...Pengukuran Nilai Induktor .... Pengujian Integrasi ..............Pengujian Sensor Level ................ 4................... 4................................2.Desain Rule Base ............. 4................9.............................2......................................................3...........2........1..............10........Pengujian Minimum Sistem Mikrokontroller ............................... 87 87 87 87 88 90 91 92 93 94 95 98 100 BAB V PENUTUP....Pengujian Program Fuzzy .........Pengujian ADC . Metode Pengujian .Pengujian Tegangan Output Solar Cell................1........................................................................2.....2.......4.......2. 84 BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA .......... 83 3...............3..3........11..... Pengujian Parsial ...................... 4............2.......... 105 5.... 82 3..2... 4...........................Fuzzy Evaluation ...............3........................................... 4.

.25......5...... 2..24..... 2.. 17 Karakteristik Torsi dan Kecepatan Saat Pembebanan............... 2..................... 34 Mosfet Sebagai Switch ............... 35 Gelombang tegangan input dan output ............................ 2.........29....... 2........................ 2..... 22 Proses Discharge dengan Daya Konstan .8....16.................. 36 Gelombang pulsa keluaran PWM ......a 2........ 38 11 ..................11.... 2... 2..............9.....12....... 36 Rangkaian PWM ..... 2.20........ 2.. 23 Proses Charge dengan Arus Konstan atau Tegangan Konstan.......... 2. 17 Rangkaian Boost Konverter ......... 2..1....3.......b Halaman Solar cell................. 18 Proses Charge dengan Arus Konstan ........... 9 Grafik arus terhadap temperatur ....17................................................... 2.. 26 Bentuk Ekivalen Induktor ......15.... 21 Proses Discharge dengan Arus Konstan ......................... 38 Rangkaian H-Bridge Bergerak maju .........................12...... 33 Simbol Mosfet .... 2.. 2.6....... 12 Prinsip Kerja Motor DC............. 2. 30 Rangkaian snubber ......21.. 13 Konstruksi Motor DC ............... 2....................................................26....22.......... 14 Rangkaian Ekivalen Motor DC Penguat Terpisah. 2...a 2.......10.....19...... 2.. 16 Grafik Fungsi Torsi Terhadap Kecepatan..............4.............10......23.......... 37 Rangkaian H-Bridge .....................14...... 2.. 2.... 2.. .DAFTAR GAMBAR Gambar 2..............30...... 13 Diagram Skematik Motor DC ............................. .........b 2.............. 28 Winding Area ...................b 2................... 2.............. 18 Motor Saklar OFF..18...........a 2....................... 22 Proses Charge dengan Daya Konstan ... 23 Proses Discharge dengan Resistansi Konstan 23 Rangkaian Ekivalen Induktor ......... 10 Grafik arus terhadap tegangan .........30......................... 2.... 27 Rangkaian Ekivalen Magnetic .... ......... 18 Motor Saklar ON .27..............28.. 2.......2.......7...... ............ 2...... 7 Grafik I-V curve ... 38 Rangkaian H-Bridge Bergerak mundur ................ 2................................... 11 Ekstra luasan panel PV dalam posisi datar . ........13...............

.. 2.......b 3.. 3..2..18........34. 3........................... 70 Grafik Linieritas Sensor Ketinggian Level Air 70 Flowchart sistem ..36.24.......... 72 Proses Menulis Program.. 63 Tegangan keluaran boost converter ......... 3. 54 Bagian Penulisan Program. 3............... 53 Blok Penginisialisasian Program ............................... Halaman Arsitektur H-Bridge ............ 69 Potensiometer dengan Parameter Tegangan ................................ 3................................................1.. 39 Optocoupler ....... 79 Fungsi Keanggotaan Error ...... 80 12 ..... 56 Desain Pintu Air ........ 3.... 78 Proses Pemasukan Crisp Output ..... 77 Proses Pemasuka Crisp input Error dan Delta Error .............. 66 Konfigurasi Pin LM324. 3....................... 3..............22..... 44 Arsitektur CPU dari AVR ...7...............6.................... 65 Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350 .................... 3....14....38...5..............................32..... 3. 58 Boost Konverter ...19........................ 75 Rangkaian LCD 2x16 ..Gambar 2......... 3.......... 2.........................15......24...... 67 Rangkaian Driver Motor DC ........................................................ 75 Flowchart Logika Fuzzy ..17........... 70 Potensiometer sebagai Sensor Level Tampak Samping ..... 54 Blok diagram sistem ......4 3......16. 2................14............ 68 Potensiometer ..1.......................................... 46 Code Vision AVR 1.33..... 40 Pin-pin AT-Mega 16 Kemasan 40-pin .10...................................................... 3............ 2..................... 55 Prototype Pintu Air Tampak Keseluruhan...................... 2...3............20........ 3......35........................12........ 69 Gambar Skematik Potensiometer ..................................... 59 Rangkaian Simulasi Boost Konverter ....................b 3......13.....a 3...15..0.................11..... 3.. 3...... 2.............. 66 Rangkian Battery Charger ................................... 3.............................. 3.. 3............23. 3... 63 Rangkaian RCD dan RC Snubber ............ 2...... 57 Pemasangan Solar Cell . 3..37.............31.....a 3. 3..................... 45 Alur Pemrograman AVR Menggunakan CodeVision AVR . 73 Seting ADC pada AT-Mega 16 ..........9.....8.....21..... 69 Potensiometer sebagai Sensor Level Tampak Depan .....

.........27................. 92 Hasil Pengujian LCD.................................. 4...... 3............... 3... 89 Pengukuran Nilai Induktor . 4.....................................2.............. 85 Gambar solar Cell.. 3.............. 90 Pengujian Rangkaian PWM ......... 95 Hasil Pembacaan Input....30..... 87 Rangkaian Battery Charger ............ Halaman Fungsi Keanggotaan Delta Error .................4...... 4.. 4................ 84 Fuzzy Output ...... 80 Fungsi Keanggotaan Output ......... 3..7............ 83 Rule Strength ........... 91 Pengujian Boost Konverter...29.............. 4.......5.6.......... 81 Rule Base......... ..3............28.....8.............................1......... 3................... 101 13 .9.26.... 99 Simulasi Sistem Kerja dari Pintu Air ..........................................................25........................................Gambar 3............ 4.. 4....... 91 Hasil Pengujian PWM ....................... 83 Membership Function Error dan Delta Error pada Program Fuzzy Evaluation . 4...................................... Error dan Output Fuzzy ... 4.

....... 4.................. 88 Data Pengujian Battery Charger .....8................................... 2..................9...... 92 Pengujian Sensor Ketinggian Air ... 3.......... 99 Pengujian Sistem Rangkaian Daya dengan Menggunakan Solar Cell ......... 24 Konfigurasi pin port ..................3... 4. Halaman Kapasitas Aki ............2.......2. 4............ 4....1.................6..................................... 4............ 100 Respon Kecepatan buka Tutup Pintu air ...........7........................ 71 Tabel Definisi Fungsi Keanggotaan ................. 47 Winding data ....1................. 4........... 4... 4.......1........ 89 Data Pengukuran Nilai Induktor ........... 82 Data pengujian solar cell ................. 62 Tabel Input/Output Mikro ............5................ 97 Pengujian Output Fuzzy ... 3..2.... 4..3...................4....................... 90 Pengujian boost konverter .............. 3........ 101 14 ...............DAFTAR TABEL Tabel 2......... 93 Tabel Data Pengujian ADC Internal Mikrokontroller .

Dilain pihak. PLN sebagai penyedia sumber energi listrik di Indonesia masih banyak mengalami kesulitan dalam menyediakan listrik. batubara. Tujuan Tujuan dari proyek akhir ini adalah membuat perencanaan Sistem Penggerak Pintu Air dengan menggunakan Solar Cell dan Aki 15 . Latar belakang Pada saat ini penggunaan sistem penggerak pintu air di sebagian besar pintu air sungai di Indonesia masih secara manual.1.BAB I PENDAHULUAN 1. sehingga alat ini diharapkan dapat terealisasi di semua pintu air di Indonesia. Dalam hal ini air di hulu tidak melebihi batas yang ditentukan. Dapat kita ketahui bahwa minyak bumi. Pada tugas akhir ini akan dirancang suatu sistem penggerak pintu air secara otomatis yang memanfaatkan energi matahari sebagai sumber utama. Motor DC sebagai penggerak pintu air yang dikontrol berdasarkan level air sungai. yang bertugas menjaga supaya air di hulu dan hilir tetap stabil. Akan tetapi sistem tersebut dianggap kurang efektif karena belum bisa bekerja secara otomatis.2. 1. gas alam. Pintu air dikendalikan oleh manusia. Tapi sangat tidak mungkin petugas itu setiap saat ada untuk menjaga pintu air. Oleh karena itu. petugas penjaga pintu air harus siap siaga setiap saat. Masalah lain adalah sering terjadinya pemadaman listrik sehingga menghambat sistem kerja dari penggerak pintu air yang sudah ada. sehingga dapat menggerakkan pintu air sungai secara otomatis. gas alam dan batubara adalah sumber energi yang semakin menipis dan mahal. Alat ini berguna sebagai pengganti sebagian atau bahkan seluruh kerja dari seorang operator. PLN masih menggunakan bahan bakar minyak bumi. Meskipun sebagian kota besar di Indonesia menggunakan motor AC sebagai sistem penggerak pintu air yang mendapatkan supply energi dari PLN. panas bumi dan disel. energi hidro. Sistem penggerak pintu air ini mendapatkan sumber energi dari solar cell dan aki. Fakta ini diperkuat dengan masih sering terjadinya banjir di sebagian besar daerah di Indonesia.

c. c. d. Fenomena alamnya adalah hujan. 1. Tetapi hujan belaka tidak otomatis menyebabkan banjir. Bagaimana membuat sensor level ketinggian air. Penggunaan Boost Converter sebagai penaik tegangan dari Aki sebagai supply Motor DC. Tinjauan Pustaka Dalam sebuah artikel berlabel RAPI-Nusantara. d. Dengan menggunakan Solar cell diharapkan dapat menghemat energi listrik pada sistem penggerak pintu air.sebagai sumber hybrid. Bagaimana mendesain rangkaian PWM untuk menyulut mosfet. Penggunaan Rangkaian Regulator sebagai Charger Baterai ke Aki.4. Batasan Masalah Adapun batasan masalah dalam proyek akhir ini adalah sebagai berikut : a. Desain prototype ini untuk pintu air berskala kecil. Oleh sebab itu.. b.NET memaparkan bahwa banjir bukan sekedar fenomena alam. Air yang mengalir di permukaan harus dibuang ke laut dengan mengoptimalkan sistem kerja dari pintu air sungai. Dengan adanya sistem pengendalian ketinggian air secara otomatis. Permasalahan Berikut rumusan masalah yang akan dihadapi dalam proses pengerjaan Proyek Akhir ini : a. Bagaimana mendesain rangkaian charge untuk baterai aki dengan masukan solar cell. Penggunaan sensor level air sebagai pembanding tinggi air sungai sehingga system penggerak pintu air dapat bekerja secara otomatis (diasumsikan daerah hulu merupakan daerah yang padat penduduk).3. 1. b. 1. Alat ini juga dapat digunakan untuk pintu air yang jauh dari supply PLN. untuk meminimalisasi terjadinya banjir. Perlu 16 . diharapkan akan menghasilkan efisiensi yang tinggi dan responsif. Bagaimana mendesain boost konverter sebagai penggerak motor DC. teknologi yang dapat dikembangkan adalah bagaimana mengendalikan pembuangan air.5.

diketahui. solar cell bekerja untuk menyuplai seluruh beban pada sistem penggerak pintu air dan sebagian energinya diisi ke Aki sebagai cadangan daya. sistem penggerak pintu air akan tetap terjaga. Pada kondisi itu battery charger akan menutup kontak dari sumber Aki sehingga sumber akan dialiri oleh Aki. akibatnya apabila daya dalam Aki telah habis maka energi dari Solar Cell lebih tersupply ke Aki daripada ke beban yaitu motor DC. Dalam tugas akhir ini. Dengan battery charger ini sumber yang dikeluarkan oleh Solar Cell dapat diisi ke Aki sesuai dengan daya yang dibutuhkan. Walaupun sebagian sistem penggerak pintu air di kota-kota besar sudah menggunakan motor listrik sebagai penggerak pintu air. Selain itu juga karakteristik dari Solar Cell hanya mempunyai daya maksimum pada waktu-waktu tertentu saja dan tidak setiap waktu mempunyai daya yang besar. namun cara kerja dari sistem tersebut masih dilakukan dengan sistem on/off secara manual. Salah satunya dengan perancangan sistem penggerak pintu air secara otomatis dengan memanfaatkan energi matahari yaitu menggunakan solar cell sebagai supply utama. Solar Cell akan lebih banyak menyuplai ke beban yang mempunyai kebutuhan energi yang besar daripada beban selainnya. Untuk mengatasi permasalahan yang dikemukakan diatas banyak cara yang dapat dilakukan. dalam artikel tersebut salah satunya menjelaskan bahwa kemampuan Solar Cell dalam mengisi dayanya ke Aki. Hal ini seperti juga yang dikemukakan dalam buku tugas akhir Surya Darma Adi mengenai Penerangan Jalan Umum (PJU) dengan menggunakan Tenaga Surya (PENS-ITS). selama ini sistem penggerak pintu air yang sudah ada masih menggunakan sistem manual. dirancang suatu sistem penggerak pintu air dengan menggunakan solar cell sebagai sumber utama. sehingga dapat meminimalisasi penggunaan energi listrik dari PLN.apabila daya dari aki sudah penuh maka battery charger akan memutuskan sumber ke Aki dan mengalirkannya daya itu ke beban. Sistem penggerak pintu air ini menggunakan mikrokontroller sebagai pembanding data ketinggian air yang dibaca 17 . Solar Cell mempunyai beberapa kelemahan ketika dia bekerja menyuplai beban dan mengisi ke Aki. Dengan mengoptimasi Solar cell dan Aki sebagai supply. Serta sistem yang sudah ada tersebut menggunakan sumber energi listrik dari PLN. Daya dari Solar Cell tersebut mengalir melalui battery charger yang berfungsi untuk rangkaian charge ke aki. Aki tersebut bekerja ketika sumber dari Solar Cell tersebut tidak mendapatkan energi cahaya dari matahari.

1. Penyusunan buku Menyimpulkan hasil perencanan. 1. Pengujian alat Melakukan pengujian dan analisa terhadap hasil output PWM. Sensor yang dipakai yaitu sensor level karena memiliki keakuratan yang bagus dengan harga yang relatif murah. antara lain teori mengenai 18 . Output dari sensor level akan masuk sebagai data input dari sensor pada komparator yaitu mikrokontroler. 3. metodologi. batasan masalah. 5. dan pengujian alat dengan hasil pengujian dan analisa sehingga tersusunlah buku proyek akhir ini. 4. 2. Mengumpulkan dan mempelajari literatur sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi seperti rangkaian PWM.6. Perencanaan sistem Melakukan perencanaan sistem proyek akhir secara umum.oleh sensor dengan seting data yang telah ditentukan.7. serta battery charger yang telah dirancang. BAB II : TEORI PENUNJANG Bab ini membahas teori-teori yang menunjang dan berkaitan dengan penyelesaian proyek akhir. boost converter. Studi literatur tentang teori penunjang proyek akhir. Sistematika Penulisan Sistematika pembahasan direncanakan sebagai berikut : penyusunan proyek akhir BAB I : PENDAHULUAN Bab ini membahas pendahuluan yang terdiri dari latar belakang. tujuan. Metodologi Untuk mencapai tujuan diatas maka perlu ditempuh langkahlangkah sebagai berikut : 1. yaitu boost konverter serta desain battery charger. sistematika pembahasan proyek akhir dan tinjauan pustaka. serta desain battery charger. desain boost konverter. mosfet. Penyempurnaan alat Perbaikan terhadap kerusakan dan penyempurnaan dari sistem yang telah dibuat.

BAB III: PERENCANAAN DAN PEMBUATAN Bab ini membahas tahap perencanaan dan proses pembuatan perangkat keras proyek akhir. rangkaian mosfet. pengujian dan analisa berdasarkan data hasil percobaan. rangkaian PWM. kemudian berdasarkan data hasil pengujian dan dilakukan analisa terhadap keseluruhan sistem. BAB IV: PENGUJIAN DAN ANALISA Bab ini membahas secara keseluruhan dari sistem dan dilakukan pengujian serta analisa pada setiap percobaan modul praktikum serta. Untuk meningkatkan hasil akhir yang lebih baik diberikan saran-saran terhadap hasil pembuatan proyek akhir. Mengintegrasikan seluruh sistem dan pengujian. solar cell . desain boost converter. aki. 19 .motor DC. perencanaan. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini membahas kesimpulan dari pembahasan. dll.

‖Halaman Ini Sengaja Dikosongkan‖ 20 .

sehingga terjadi pelepasan elektron.petra. hal 129-130. karena tidak ada polusi yang dihasilkan selama proses konversi energi dan berlimpahnya sumber energi matahari yang berasal dari alam.pdf 21 .1 Solar Cell1 Suatu sumber energi listrik yang memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber energi diubah menjadi listrik.id/journals/architecture/aplikasisolar cellpada perumahan.BAB II TEORI PENUNJANG 2. Gaya tolakan antar bahan semikonduktor akan menyebabkan aliran medan listrik dan menyebabkan elektron dapat disalurkan ke saluran awal dan akhir untuk digunakan pada perabot listrik.1. Solar cell Apabila elektron tersebut dapat menempuh perjalanan menuju bahan semi-konduktor pada lapisan yang berbeda maka akan terjadi perubahan sigma gaya-gaya pada bahan. Gambar 2. Ketika cahaya bersentuhan dengan solar cell dan diserap oleh bahan semikonduktor bertipe p dan n (p-n junction semiconductor). 1 ‖Strategi Aplikasi Sel Surya (Photovoltaic Cell) Pada Perumahan dan Bangunan Komersial‖. Pada kenyataanya solar cell juga sebagai sumber energi yang ramah lingkungan dan sangat menjanjikan pada masa yang akan datang. Gambar 2.1 merupakan bentuk dari solar sel. Cara kerja solar cell sendiri sebenarnya identik dengan piranti semikonduktor dioda. Diakses 20 Desember 2009 http://puslit. terlebih di negeri tropis semacam Indonesia yang menerima sinar matahari sepanjang tahun.ac.

secara konstan yang akan menghasilkan energi berkisar ± 0. 131 22 . b. dengan nilai effisiensi sekitar 24%. Voc adalah volt maximum pada nilai arus nol. kemudian pendinginan perlahan untuk mendapatkan bahan campuran silikon yang akan timbul diatas lapisan silikon.2 yang menggambarkan keadaan sebuah sel surya beroperasi secara normal.2. Isc berbanding langsung dengan tersedianya sinar matahari. Poly-crystalline/Multi-crystalline (Si) Dibuat dari peleburan silikon dalam tungku keramik. Gallium Arsenide (GaAs) Sel surya III-V semikonduktor yang sangat efisien sekitar 25%.Perkembangan pembuatan solar cell atau sel surya mengalami kemajuan dari berbagai jaman dan dipengaruhi oleh bahan-bahan pembuatan cellcell tersebut. Mono-crystalline (Si) Dibuat dari silikon kristal tunggal yang didapat dari peleburan silikon dalam bentuk bujur. Karakteristik kerja dari solar cell ketika sinar matahari jatuh pada diode silikon(silikon cell) yang menghasilkan photon. Sekarang mono-crystalline dapat dibuat setebal 200 mikron. Voc naik secara logaritma dengan peningkatan sinar matahari. c.5 volt — max. Grafik I-V curve2 2 ibid. karakter ini yang memungkinkan sel surya untuk mengisi accu Gambar 2. Pada grafik I-V curve gambar 2. Sel surya akan menghasilkan energi maximum jika nilai Vm dan Im juga maximum. 600 mV pada 2 ampere. tetapi biaya lebih murah. dengan kekuatan radiasi solar matahari 1000 W/m2 = ‖1 sun‖ akan menghasilkan arus listrik (I) sekitar 30 mA/cm2 per sel surya. Sedangkan Isc adalah arus listrik maximum pada nilai volt = nol. Sel ini kurang efektif dibanding dengan sel polycrystalline( efektivitas 18% ). Bahan-bahan yang dipakai antara lain sebagai berikut : a. hal.

Faktor pengoperasian maximum solar cell sangat tergantung pada : a. Ambient air temperature b. Pm = Daya maksimum.3 merupakan grafik pengaruh temperatur pada solar cell dalam oC. Posisi letak sel surya (array) terhadap matahari (tilt angle ) Sebuah Sel surya dapat beroperasi secara maximum jika temperatur sel tetap normal (pada 25 derajat celsius). Kecepatan angin bertiup d. kenaikan temperatur lebih tinggi dari temperatur normal pada PV sel akan melemahkan voltage (Voc). Grafik arus terhadap temperatur 23 .3. Orientasi panel atau array PV f. Radiasi solar matahari (insolation) c. Gambar 2. Vm = Tegangan maksimum.Keterangan Gambar 2. Gambar 2.2 : Isc = Arus hubung singkat. Vsc = Tegangan tanpa beban.4 % pada total tenaga yang dihasilkan 8 atau akan melemah 2x lipat untuk kenaikkan temperatur sel per 10 derajad C. Im = Arus maksimum. Setiap kenaikan temperatur sel surya 1 derajat celsius (dari 25 derajat) akan berkurang sekitar 0. Keadaan atmosfir bumi e.

Selain arah orientasi. Grafik arus terhadap tegangan3 Kecepatan tiup angin disekitar lokasi PV array dapat membantu mendinginkan permukaan temperatur kaca-kaca PV array. hal. Gambar 2. Sebagai guidline: untuk lokasi yang terletak di belahan utara latitude.Radiasi solar matahari di bumi dan berbagai lokasi bervariable. mendung.5 tilt angle (sudut orientasi matahari) mempertahankan sinar matahari jatuh ke sebuah permukaan panel PV secara tegak lurus akan mendapatkan energi maximum ± 1000 W/m2 atau 1 kW/m2. Insolation solar matahari akan banyak berpengaruh pada current (I) sedikit pada volt. Gambar 2. orientasi ke timur—barat walaupun juga dapat menghasilkan sejumlah energi dari panel-panel/deretan PV. 132 24 .4.4 merupakan grafik pengaruh temperatur pada solar cell dalam W/m2. Keadaan atmosfir bumi—berawan. Pada gambar 2. uap air udara (Rh). sudut orientasi (tilt angle) dari panel/deretan PV juga sangat mempengaruhi hasil energi maximum (lihat penjelasan tilt angle). asap. jenis partikel debu udara. maka panel/deretan PV sebaiknya diorientasikan ke Selatan. 3 ibid. kabut dan polusi sangat mementukan hasil maximum arus listrik dari deretan PV. dan sangat tergantung keadaan spektrum solar ke bumi. tetapi tidak akan mendapatkan energi matahari optimum. Orientasi dari rangkaian PV (array) ke arah matahari secara optimum adalah penting agar panel/deretan PV dapat menghasilkan energi maximum.

2.2.1. Prinsip kerja Motor DC 25 . karakteristik motor dc. Ekstra luasan panel PV dalam posisi datar 2. Prinsip dasar motor dc yaitu: ―Apabila suatu kawat berarus diletakkan diantara kutub-kutub magnet Utara dan selatan (U-S). Prinsip Kerja Motor DC atau motor arus searah adalah suatu mesin yang berfungsi untuk mengubah tenaga listrik searah menjadi tenaga gerak atau tenaga mekanik berupa putaran dari rotor. Prinsip kerja motor dc hampir sama dengan generator dc.Kalau tidak dapat mempertahankan ketegak lurusan antara sinar matahari dengan bidang PV.6. rugi-rugi dan efisiensi serta pengaturan kecepatan pada motor. Motor DC Untuk pembahasan teori tentang motor dc akan dibahas mengenai prinsip kerja. konstruksi motor dc. U S Gambar 2.5. Kecuali pada konversi daya yang dihasilkan. Gambar 2. 2. maka pada kawat itu akan bekerja suatu gaya yang menggerakkan kawat tersebut‖ seperti ditunjukkan pada gambar 2.6. maka extra luasan bidang panel PV dibutuhkan (bidang panel PV terhadap sun altitude yang berubah setiap jam dalam sehari).

Gambar 2.8 menunjukkan gambar konstruksi motor dc. Sumbu ini dinamakan sumbu medan atau sumbu langsung.Bila sebuah lilitan terletak dalam medan magnet yang homogen arah gerakanditunjukkan seperti gambar diatas. Pembagian fluks celah udara yang dihasilkan oleh lilitan medan secara simetris berada disekitar garis tengah kutub medan.2.7. Konstruksi motor dc 26 .8. Diagram Skematik Motor DC Stator mempunyai kutub menonjol dan diteral oleh satu atau lebih kumparan medan.2. Gambar 2. Konstruksi Motor DC Bagian-bagian penting dari motor dc ditunjukkan seperti pada Gambar 2.7 berikut : Gambar 2. 2. karena kedua sisi belitan mempunyai arah arus yang berlawanan.

2) C. Letak kumparan jangkar pada slot besi disebelah luar permukaan jangkar.1) DayaInput 2. Sisi kumparan dihubungkan dengan segmen komutator pada beberapa bagian yang berbeda. Rugi besi. jika arus penguat magnet diperoleh dari sumber dc di luar motor. Kecepatan n = V  Ia.3.. 2. Motor DC Penguat Sendiri. Rugi-rugi lain yang terjadi dalam mesin arus searah atau motor dc adalah : 1. Motor DC Penguat Terpisah. Rugi listrik. Karakteristik Motor DC Untuk menentukan karakteristik motor dc hal yang harus diingat adalah 2 persamaan dasar yaitu : 1. yang terdiri atas rugi histerisis dan rugi arus Eddy 2.2. bila arus penguat magnet berasal dari motor itu sendiri.4. Rugi-rugi dan Efisiensi Sebagian tenaga listrik (input) motor dc hilang atau berubah menjadi panas. pada sumbu dan rugi angin efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan daya output dengan daya input. Jangkar merupakan besi berlaminasi yang bergerak untuk mengurangi arus Eddy.Ra ……………………….2.2. Pada kumparan jangkar terdapat komutator yang berbentuk silinder dan terisolasi. Rugi mekanik yang terdiri atas rugi geser pada sikat. (2.Kumparan penguat dihubungkan seri. Effisiensi= DayaOutput x100%………………(2. 2. 2.5. yang dikenal sebagai rugi tembaga (I²R) 3. sesuai dengan jenis belitan motor itu sendiri. 27 . Jenis-jenis Motor DC Berdasarkan sumber arus penguat magnet motor dc dapat dibedakan menjadi : 1.

pada pengaturan kecepatan motor dc dengan penguat sendiri yang diatur adalah tegangan jepit pada kumparan jangkar Vt atau Va. Hal ini sesuai dengan persamaan.3) Keterangan : n T : Kecepatan dalam rotasi per menit (rpm) : Torsi dalam Newton Meter (Nm) Berdasarkan persamaan diatas. Torsi T = K . Ia . dapat dilihat bahwa kecepatan (n). ditunjukkan pada gambar 2.2.2. 2. Hampir sama dengan motor dc penguat terpisah hanya saja pada motor dc penguat sendiri pada proyek akhir ini adalah menggunakan magnet permanen. Gambar 2. motor dc penguat sendiri pertama kali berputar pada kecepatan (ω) rendah dan torsi (τ) pada motor sangat tinggi. Rangkaian ekivalen motor dc penguat terpisah Pada saat start.9. Pengaturan Kecepatan Motor DC Salah satu pengaturan kecepatan motor dc adalah dengan mengatur tegangan Vt. Kondisi seperti ini berlanjut apabila kecepatan motor dc semakin tinggi maka torsi pada motor akan semakin rendah. Ф…………………………………(2.9.6.4) dimana : T = Torsi motor P = Daya motor 28 . dapat diatur dengan merubah besaran Ф. Ra atau Vt. bahwa : T= P  ……………………………………… (2.

29 . Boost Converter Konverter boost adalah konverter DC.3. Gambar 2.10 menunjukkan garfik fungsi torsi terhadap tegangan. Rangkaian dasar Konverter boost memiliki 2 mode.ω = Kecepatan motor Sesuai persamaan diatas bahwa kecepatan dan torsi saling berbanding terbalik.11.10.(a) Grafik fungsi torsi terhadap kecepatan (b)Karakteristik Torsi dan Kecepatan saat pembebanan 2. Artinya semakin besar kecepatan motor maka torsi motor semakin kecil dan apabila kecepatan motor semakin kecil maka torsi motor semakin besar. a. Pada mode 2 saat switch 1 dimatikan arus mengalir melalui resistor yang berasal dari induktor L dan difilter oleh kapasitor C.DC jenis penaik tegangan atau step up. b. Konverter boost mampu menghasilkan nilai tegangan output sama atau lebih besar dari tegangan inputnya. Gambar 2. Pada mode 1 ( transistor on ). yaitu mode switch on dan switch off. Gambar 2. konverter boost memiliki efisiensi yang tinggi. Karena hanya menggunakan satu buah semikonduktor. arus masukan meningkat mengalir melalui induktor L dan switch 1. Konverter boost dapat menaikkan tegangan tanpa membutuhkan trafo.

b.V d Gambar 2.12.3. L Vd D C + L Vd R D C + V0 - R V0 - Gambar 2. yaitu pembangkit pulsa berfrekuensi tinggi (diatas 20 KHz) yang duty cycle-nya dapat diubah-ubah bergantung besar tegangan output yang diinginkan dan tegangan input yang ada.11.a.12. Mode saklar On Gambar 2. Prinsip kerja Boost converter memiliki 2 mode.b. Rangkaian Boost Converter 2.seperti gambar 2.1.12. Pada mode 2 saat switch 1 dimatikan arus mengalir melalui resistor yang berasal dari induktor L dan difilter oleh kapasitor C. Mode saklar Off Boost converter memiliki 5 komponen utama. Pada mode 1 ( transistor on ). yaitu mode switch on dan switch off. PWM generator. Output dari PWM generator ini digunakan untuk men-drive MOSFET yang berfungsi sebagai saklar elektronik.a. seperti pada gambar 2.5) D 30 . yaitu: 1.12. arus masukan meningkat mengalir melalui induktor L dan switch 1. Besar duty cycle untuk mengeluarkan tegangan output yang diinginkan dapat dihitung dengan rumus: V0  Vd ………………………………(2.

Diode freewheel 4.(2.. MOSFET 3. Untuk perhitungan nilai Induktor dapat dihitung dengan rumus : L D  Vd f  i L …………………………(2. 2.... Untuk perhitungan nilai Induktor dapat dihitung dengan rumus : C Dimana: C = Vo = f = ΔVo = ID ………………... Induktor digunakan untuk menyimpan arus untuk sementara waktu yang menyebabkan tegangan output bisa menjadi lebih besar dari inputnya.. Kapasitor sebagai filter tegangan untuk mengurangi ripple tegangan.7) f  Vo kapasitor (H) tegangan output yang diinginkan (V) frekuensi switching riple tegangan 31 .6) Dimana: L = Induktor (H) Vo = tegangan output yang diinginkan (V) d = duty cycle PWM Vd = tegangan input (V) f = frekuensi switching ΔIL= delta arus 5......Dimana: V0 = tegangan output yang diinginkan D = duty cycle PWM Vd = tegangan input..

Aki / Accumulator Baterry (accumulator) merupakan salah satu komponen yang sangat penting untuk memberikan supply tenaga terutama pada kendaraan bermotor.4. http://www.13 dan Gambar 2.2.14 dapat diambil kesimpulan bahwa.eouguelph. 2. Proses Charge Discharge dengan Arus Konstan.1.5. sedangkan rangkaian comparator berfungsi untuk menurunkan arus pengisian secara otomatis pada battery pada saat tegangan pada battery penuh dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih lambat sehingga menyebabkan indikator aktif menandakan battery telah terisi penuh. akan tetapi dalam tugas proyek akhir ini yang berjudul Sistem Penggerak Pintu Air Dengan Memanfaatkan Energi Alternatif Matahari. proses charge discharge akan berakhir. 4 32 .5. Didalam rangkaian battery charger terdapat rangkaian regulator dan rangkaian komparator.ca/‖antoon-pemanfaatan rangkaian baterry charger‖ . diakses pada tanggal 28 Januari 2009. maka arus pengisian akan turun secara otomatis sesuai dengan settingan dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih lambat sehingga indikator menyala menandakan battery telah terisi penuh. accumulator digunakan untuk menyimpan energi listrik yang berasal dari solar cell karena cahaya matahari yang berubah-ubah sehingga tegangan keluaran dari solar cell juga berubah-ubah. Battery Charger4 Pengertian dari battery charger adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengisi battery dengan tegangan konstan hingga mencapai tegangan yang ditentukan. Proses Charge dan Proses Discharge dengan arus konstan yang ditunjukkan pada Gambar 2. Bila level tegangan yang ditentukan itu telah tercapai. Rangkaian regulator berfungsi untuk mengatur tegangan keluaran agar tetap konstan. Penelitian atau percobaan tentang charge discharge telah menghasilkan banyak sekali metode yaitu antara lain: 2.

2. Proses Charge dengan Arus Konstan Gambar 2. Sedangkan Proses Discharge dengan daya konstan yang ditunjukkan pada Gambar 2. 33 .14. Proses Discharge dengan Arus Konstan 2.5. Proses Charge Discharge dengan Daya Konstan.16 dilakukan ketika tegangan baterry turun dan arus naik dan discharge berakhir saat set time terlampaui atau tegangan beban terpenuhi.Ketika waktu yang telah diset terlampaui atau apabila kapasitas baterry (accumulator) yang ditentukan telah terpenuhi.13.15 dilakukan ketika tegangan naik dan arus turun. Proses Charge dengan daya konstan yang ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 2. proses ini berakhir ketika set time terpenuhi atau tegangan pada battery terpenuhi.

Gambar 2.3.18 menunjukkan Proses Discharge dengan resistansi konstan ketika tegangan baterry turun dan arus juga turun.5.15. Proses Discharge dengan Daya Konstan 2. Gambar 2.4. 34 . Gambar 2.5.Gambar 2.17. Proses Charge dengan Daya Konstan Gambar 2.16. Proses Charge dengan arus konstan atau tegangan konstan 2.17 menunjukkan Proses Charge dengan arus konstan ketika tegangan terminal lebih rendah dari pada tegangan charge.

Tabel 2.2 11.8 V itu akan turun dengan cepat ke 13 dan perlahan-lahan turun hingga 12.1.6 11. apabila pengisian dihentikan maka voltase13. Seperti kita ketahui aki yang baik adalah aki yang menunjukkan voltase 12. Selain dengan mengukur berat jenis atau densiti dari air aki. Berikut merupakan data dari kapasitas aki pada saat kosong sampai pada kondisi aki terisi penuh dengan menggunakan aki GS 70Ah. disini akan kita gunakan .6 volt.Gambar 2.Ah misalnya 50Ah. Misalnya aki dengan kapasitas 50 Ah penggunaan beban maksimum yang dapat digunakan adalah 5 Ampere agar tidak merusak aki.18. aki dapat di uji dengan menggunakan Volt meter.8Volt. Kapasitas Aki Kapasitas Aki (%) 0% 10 % 20 % 30 % 40 % 35 Tegangan (Volt) 11 11. Proses Discharge dengan Resistansi Konstan Pada aki biasanya tertera angka yang menunjukan kemampuannya.6Volt. Biasanya beban yang digunakan berada pada kisaran Ah/3 atau 4 atau 6. Namun pada saat setelah pengisian penuh aki biasanya dapat mencapai 13.4 11..8 . Hal ini berarti aki tersebut akan benar2 habis dalam 30 jam jika digunakan pada beban 1 Ampere. Untuk mendapatkan umur yang panjang aki tidak boleh digunakan pada beban yang melebihi nilai Ah-nya di bagi 10.

(2.8 13 Untuk mengetahui waktu dalam proses pengisian accumulator. dapat menggunakan perhitungan dibawah ini : 1.(2.2 12... 36 .9) Keterangan : Td daya Ah daya A = Lamanya pengisian Daya (jam). Ah = Besarnya kapasitet accumulator (Ampere hours).4 12. 2.50 % 60 % 70 % 80 % 90 % 100 % 12 12. Lamanya pengisian Daya : Td = dayaAh dayaA …………………………. = Besarnya daya yang didapat dari perkaliAh dengan besar tegangan accumulator (Watt hours)..8) Keterangan : Ta = Lamanya pengisian arus (jam). Lamanya pengisian Arus : Ta = Ah A ………………………………. A = Besarnya arus pengisian ke accumulator(Ampere).6 12. = Besarnya daya yang didapat dari perkaliA dengan besar tegangan accumulator (Watt).

..2008.2....6......19. untuk mengurangi gulungan resistor dc dan rugi tembaga. Puncak flux density inti tidak boleh saturasi. Maka pada desain konverter diperlukan konstruksi induktor dengan resistansi kumparan yang kecil.. Tetapi apabila kawat terlalu padat sehingga tidak dapat diterima karena dapat menyebabkan efek permukaan kawat (proximity effect)... MT.. Zaenal Efendi..... L i(t) Gambar 2. untuk memenuhi jumlah banyak putaran pada inti.. Pokok bahasan ini yang sangat berpengaruh adalah area untuk menggulung kawat (wire cross section area) harus seluas mungkin...‖Design of Inductance 2008’. Induktor tidak saturasi apabila menggunakan worstcase arus puncak Imax........ 5 Ir. Puncak ac flux density juga harus cukup kecil...(2.. Induktor dapat dimodelkan seperti rangkaian ekivalen pada Gambar 2.10) cu Keterangan : Pcu Irms R R = Daya output pada Tembaga.... Celah udara dibutuhkan untuk peralatan yang menyimpan energi seperti induktor pada rangkaian buck boost converter... Rangkaian Ekuivalen Induktor Resistansi kumparan induktor mempengaruhi efisiensi dan tegangan keluaran konverter. Desain Induktor5 Banyak faktor yang mempengaruhi dalam mendesain peralatan magnetik. Moh... Sebagai catatan hubungan antara R ekivalen dan rugi tembaga Pcu ditunjukkan pada persamaan berikut : P  I 2 rms R .. 37 ........... = Tahanan.. Mata Kuliah Desain Komponen & Elektromagnetik.. Maka induktor dapat menghasilkan induktansi dan resistansi R pada kumparan.. = Arus Maksimum dibagi akar 2....19 merupakan resistansi dc kumparan....

....... = Permeabilitas Udara.........(2.........................................................20 untuk rangkaian ekivalen magnetik ditunjukkan pada Gambar 2..........................14) 38 ........... Rc << Rg disederhanakan sebagai berikut: dan persamaan (2.....................Bentuk induktor dapat diasumsikan bahwa ukuran induktor yang ditunjukkan sebagai bentuk pengganti ditunjukkan pada Gambar 2.(2....... Reluktansi inti dan reluktansi celah udara dapat diasumsikan bahwa inti dan celah udara mempunyai luas penampang yang sama...(2.........12)  lc Ac c lg = Lebar bagian Inti Magnetik.... = Lebar Celah Udara..21 Untuk besar nilai reluktansi inti Rc dan reluktansi celah udara Rg ditunjukkan pada persamaan berikut : Rc  Rg  Dimana : lc  o Ac ...............13) dapat ni  Rg  ............. Persamaan untuk Gambar 2............... = Inti cross section area.......(2...............13) Biasanya.....11) o Ac lg .......20 adalah ni  Rc  Rg  .....

..... diharapkan inti dapat bekerja pada nilai puncak fluk density Bmax...6. Rangkaian ekivalen magnetic7 2............... Besar dari Bmax dipilih yang lebih kecil dari pada worst-case saturasi flux density bahan dari inti...........13 ibid..15) 6 7 ibid.. hal......20.21.1 Maximum flux density Dengan memberikan arus puncak Imax...... hal.... Subtitusikan Φ = BAc pada persamaan (2.....21 39 .Gambar 2.. Bentuk ekivalen induktor6 Gambar 2.(2.13) diperoleh persamaan berikut: ni  BAc Rg ........

2 Induktansi Nilai induktansi L harus ditentukan.... 2....... = Permeabilitas Udara..(2... = Luas Penampang Lilitan..... 2....17) n2  Rg lg Keterangan : L n µ0 Ac = Nilai Induktansi.........18) Apabila inti mempunyai window area WA. = Arus Maksimum pada Induktor... Cross section area konduktor. = Luas Penampang Induktor.... = Nilai kerapatan Fluks...... maka diperoleh : nI maks  Bmaks Ac Rg  Bmaks Keterangan : n Imaks Bmaks Ac Rg Lg o ……....Apabila max I = I max dan B max = B . kemudian dapat dinyatakan area untuk gulungan konduktor sebagai berikut : W A KU .(2.....22 Gulungan kawat harus tersusun rapi dan rapat pada inti yang merupakan lubang tengah daripada inti..... Apabila gulungan mempunyai n putaran...............6.......... = Tahanan Air gap.........(2...3 Winding area Winding area ditunjukkan pada Gambar 2......... maka area untuk konduktor tembaga adalah nAw ....................................16) = Jumlah Lilitan........6... luas penampang konduktor AW.......(2..............19) 40 . = Jumlah Lilitan.... Induktansi dapat diperoleh dengan persamaan berikut : L  2  o Ac n........

......... 0........... Tahanan jenis tembaga pada suhu ruangan adalah 1.20) Keterangan : WA AW KU = Inti Wilayah Kumparan.6....Ku merupakan window utilization factor atau fill factor....... Winding area8 2...3 untuk off-line transformator.21) AW ρ adalah tahanan jenis dai bahan induktor.050.. Gambar 2.. 0...2 untuk transformator tegangan tinggi untuk supplai berkisar kV.....(2......13 41 . W l adalah panjang kawat dan W A adalah luas penampang kawat. Nilai Ku untuk inti dengan gulungan pada bobbin adalah 0. = Luas Wilayah Kumparan.. Maka desain selanjutnya dapat dinyatakan sebagai berikut : W A KU  nAw . dan 0.......... hal.....5 untuk induktor tegangan rendah.... 8 ibid.(2......724 x 10-6 Ohm-cm...65 untuk transformator foil dan induktor tegangan rendah.......25-0.22.4 Winding resistance Besar nilai resistansi pada gulungan adalah R  lW .. = Faktor Kerapatan Kumparan................

............ Resistansi penghantar ρ= 1..... Induktansi L(H) d...... Panjang kawat per satu putaran = MLT (cm2) Prosedur mendesain induktor dapat diikuti dengan langkahlangkah berikut : A..... Permeabilitas dari bahan μo=4π.(2.. Arus maksimum I=I+ΔI(A) c....(2............. Resistansi kumparan R(Ω) e..... Kerapatan fluk maksimum Bmax = 0......23) AW Parameter yang harus diperhatikan dalam pembuatan komponen L adalah sebagai berikut : a.....74.....Panjang kawat terdiri dari n putaran gulungan dapat dinyatakan sebagai berikut : lW  n(MLT ) .22) diperoleh persamaan berikut : R  n( MLT ) .....24) ) 42 ...(2... Faktor kerapatan kumparan Ku = 0.22) MLT (mean-length-per-turn) adalah panjang kawat dalam satu putaran......5w h..10-7 i... Dimensi inti besi yang meliputi (bisa dilihat di manual book) Untuk dimensi inti dalam pembuatan induktor mempunyai parameter sebagai berikut : a.. Subtitusikan persamaan (2.....25(tesla) g..... Menentukan ukuran inti besi(core size) Ditentukan oleh faktor konstanta geometri inti (the core geometri constant Kg) Kg    L2  I 2 maks B 2 maks  R  Ku 5 108 (Cm. Luas wilayah inti = Ac (cm2) b........10-6 (Ω-cm) b......5 f....21) ke persamaan (2. Panjang kawat dalam satu putaran (MLT) merupakan fungsi geometri inti. Luas wilayah kumparan = Aw (cm2) c.... Kerugian kumparan Pcu = 10mw-1.........

(2....... Menentukan ukuran kawat Aw  K u  WA (cm 2 ).26) 104 ( mm) C........ Menentukan jumlah lilitan n L  I max .... P  1..25) W cu I 2 maks Pilih inti yang mempunyai Kg yang lebih besar dari yang dihitung... Pada rangkaian snubber semakin besar nilai kapasitor yang digunakan..(2...... Tetapi nilai kapasitor kapasitor yang digunakan harus 43 ...(2...Dimana: R P cu ....... tegangan spike yang ditimbulkan oleh leakage inductance (induktansi bocor) cukup tinggi. Menentukan panjang celah udara(air gap length) lg   o  L  I 2 max B 2 max  Ac Ac dalam cm2 ..........7..(2..28) n 2.. Untuk rangkaian flyback converter setelah disupply tegangan pada sisi input..27) 104 Bmax  Ac Ac dalam cm2 D................ semakin besar tegangan yang dipotong............75. B....................... Untuk itu digunakan rangkaian snubber yng berfungsi meredam tegangan spike tersebut. Rangkaian Snubber Pada rangkaian converter DC-DC sangat dibutuhkan sekali rangkaian snubber untuk memotong tegangan Vds yang mempunyai spike yang tinggi atau melampaui tegangan Vds pada MOSFET.5W  0..

.........30) Dan untuk menghitung nilai Cs adalah : C 2.. Walaupun konfigurasi rangkaianya berbeda akan tetapi fungsi dari kedua rangkaian snubber tersebut adalah sama yaitu untuk mengurangi tegangan Vds dengan nilai spike yang tinggi...... Bentuk lain dari piranti pengaruh medan dicapai dengan penggunaan bahan elektroda gate yang dipisahkan oleh lapisan oxide dari channel semikonduktor....... Rangkaian snubber Pada Gambar 2......29)  5C 5C .................. besar keefektifan pada channel dikontrol oleh medan listrik yang diberikan ke channel melalui P-N junction....23 (b) adalah menunjukkan rangkaian RC snubber.......23...................23 (a) menunjukkan rangkaian RCD snubber..... dimana untuk penggunannya dipasang secara paralel terhadap tranformator............menyesuaikan dengan resistor yang diseri dengan kapasitor dan fast diode yang dipasang parallel....... sedangkan Gambar 2......T .(2.(2.8..... dimana penggunannya dilakukan dengan memasangkan secara paralel terhadap MOSFET... nilai R diperoleh melalui rumus : Rs  ton D. Pengaturan metal oxide semikonduktor (MOS) mengijinkan 44 .....23 (b)..... Pada rangkaian snubber gambar 2... I Lt f 2V f Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor (MOSFET) Dalam JFET........ Gambar 2.......

24. arus akan maksimum dan kemudian menurun dengan diberikan potensial gate dengan polaritas yang benar (piranti normally on). Simbol pada Gambar (c) dan (d) merupakan mosfet tipe P yang digunakan pada mode enhancement dan depletion device . Jenis yang lain dari piranti ini disebut dengan Enhancement mosfet yang menunjukkan tidak ada arus pada saat tegangan gate nol dan besar arus keluaran besar dengan bertambah besar potensial gate (normally off). Vds digunakan untuk menunjukkan tegangan drop dari gate ke source. Terminal arus dan terminal tegangan adalah negatif sebanding dengan kualitas mosfet channel N. Simbol mosfet Pengertian positif untuk semua terminal arus menuju ke dalam piranti. Tegangan drop diantara drain dan source didesain oleh Vds. Simbol-simbol pada Gambar (a) dan (b) merupakan mosfet tipe N yang digunakan untuk enhancement dan depletion device. Untuk mosfet channel P digunakan dengan arah reverse.karakteristik channel dikontrol oleh medan listrik dengan memberikan tegangan diantara gate dan body semikonduktor dan pemindahan melalui lapisan oxide. Source dan substrate dihubung singkatkan di dalam mosfet channel P yang standard. 45 . Ig sebenarnya berharga nol. Kemudian mosfet chanel N. Kedua tipe dapat berada dalam salah satu jenis channel P atau N. Seperti halnya piranti yang disebut dengan mosfet atau MOS transistor. Ada dua tipe mosfet. Ketika Id = Is. Id adalah positif dan Is adalah negatif. Gambar 2. Hal ini penting digaris bawahi dengan kenyataan bahwa IC lebih banyak dibuat dengan piranti MOS dari pada jenis piranti semikonduktor lain. Deplesi mosfet mempunyai tingkah laku yang sama dengan JFET pada saat tegangan gate nol dan tegangan drain tetap. Terdapat 4 simbol yang digunakan untuk mosfet yang ditunjukkan pada Gambar 2.24.

tegangan masukan adalah 5 Volt.1 MOSFET Sebagai Switch9 MOSFET digunakan secara ekstensif dalam rangkaian digital yang mana piranti ini memiliki karakteristik switch. berikut menampilkan pengoperasian switch pengendali Bentuk gelombang tegangan masukan dan keluaran rangkaian seperti terlihat pada Gambar 2. 2001. sedangkan arus adalah nol. Gambar 2. Bentuk gelombang output ditampilkan pada Gambar 2. Untuk t>T.25.25. Untuk t<T.8. Academic Press. Bentuk gelombang output ditampilkan pada Gambar 2.5 Volt. kemudian karakteristik V0 – V1 pada Gambar 2. tegangan input 1.26 (b).5 Volt dan ID1 = 250 μA. Gambar 2. Mosfet Sebagai Switch Arus pada rangkaian ID1 adalah nol. tegangan masukan adalah 5 Volt. dapat diketahui bahwa V0 = 4 Volt.2. Karakteristik switch open ini seperti tegangan yang melewati switch cukup besar. Vo = 1. Untuk t>T.26.5 Volt dan ID1 = 250 μA.‖ Power Electronics Handbook”.26.26 (a). Gelombang Tegangan Input dan Output 9 Issa Batarseh. Vo = 1. Rangkaian yang ditunjukkan pada gambar 2. hal 75-78 46 .26 (b).

Pengaturan lebar pulsa dapat dilakukan dengan cara mengubah-ubah nilai tegangan DC referensi. Dua sinyal masukan yang dibandingkan adalah gelombang segitiga dengan tegangan referensi yaitu tegangan DC. tegangan referensi dan komparator.9.2. Komparator merupakan piranti yang digunakan untuk membandingkan dua buah sinyal masukan. Gambar 2. hal 650 11 ibid. 2001.27 merupakan proses pembuatan PWM yang terdiri dari gelombang segitiga. hal. Pulse Width Modulation10 PWM merupakan pulsa yang mempunyai lebar pulsa (duty cycle) yang dapat diubah-ubah.28 Gelombang pulsa keluaran PWM11 10 Yahya Shakweh.‖ Power Electronics Handbook”. Gambar 2. Pada Gambar 2.27 Rangkaian PWM Pada Gambar 2. 652 47 . Academic Press.28 adalah hasil perbandingan gelombang segitiga dengan tegangan DC yang menghasilkan gelombang kotak dengan lebar pulsa yang dapat diatur.

maka terminal motor a akan mendapatkan tegangan (+) dan terminal b akan terhubung ke ground (-). H-Bridge Driver12 H-Bridge atau yang diterjemahkan secara kasar sebagai ―Jembatan H‖.com/ihsan sains project/H-bridge driver kontrol arah motor. 12‖ H-Bridge Driver Kontrol Arah Motor‖.10.29 Rangkaian H-Bridge Dua terminal motor a dan b dikontrol oleh 4 saklar (1 s/d 4). adalah sebuah rangkaian dimana motor menjadi titik tengahnya dengan dua jalur yang bisa dibuka tutup untuk melewatkan arus pada motor tersebut.blogspot. bila saklar 1 dan 2 dalam keadaan off.htm 48 . 2. seperti gambar 2. hal ini menyebabkan motor bergerak maju (atau searah jarum jam). Ketika saklar satu dan dua diaktifkan (saklar 3 dan 4 dalam keadaan off).29 berikut: Gambar 2. diakses 20 Agustus 2009 http://blogstats. saklar 3 dan 4 dalam keadaan aktif. persis seperti huruf ―H‖ (dengan motor berada pada garis horizontal). Untuk memperoleh tegangan DC negatif adalah dengan memasukkan tegangan DC positif ke rangkaian pembalik (inverting). sedangkan sebaliknya.Apabila menginginkan gelombang kotak yang mempunyai waktu ON dan OFF berkebalikan maka diperlukan tegangan DC referensi yang negatif.

(a) (b) Gambar 2. 1 A atau bahkan lebih). Sebab output dari mikrokontroler hanya mempunyai daya yang sangat kecil. kadang-kadang membutuhkan daya yang tidak kecil (misalnya 200 mA.31.(a) Rangkaian H-Bridge bergerak maju (b) Rangkian H-Bridge bergerak mundur Untuk mengimplementasikan H-Bridge ini.30.maka terminal a akan terhubung ke ground (-) dan terminal b akan mendapatkan tegangan (+). arsitektur H-Bridge 49 .31 Gambar 2. Jika kita memaksakan menghubungkan output digital dari mikrokontroler langsung ke motor. menjadi bergerak mundur (atau berlawanan dengan arah jarum jam). ditunjukkan pada gambar 2. tidak bisa langsung dihuhubungkan ke output yang diambil dari pin I/O mikrokontroler. dan tentunya hal ini dapat menyebabkan motor berubah arah putarnya. Sedangkan untuk motor sendiri. Untuk itu kita membutuhkan sebuah rangkaian penguat yang dapat dikontrol dari input digital. Arsitektur dari half H-Bridge ini sebenarnya terdiri dari 2 amplifier. bisa jadi merusak mikrokontroler itu sendiri. seperti terlihat pada gambar 2.30.

Dasar rangkaian dapat ditunjukkan seperti pada gambar 2. Penggunaan ini bisa diterapkan untuk mendeteksi putaran motor atau mendeteksi lubang penanda disket pada disk drive computer. Optocoupler merupakan salah satu jenis komponen yang memanfaatkan sinar sebagai pemicu on/off-nya. diakses 20 Agustus 2009 http://elektronika-elektronika.blogspot. Selain itu juga bisa dipakai sebagai pendeteksi adanya penghalang antara transmitter dan receiver dengan memberi ruang uji dibagian tengah antara led dengan photo transistor. Optocoupler13 Optocoupler merupakan piranti elektronika yang berfungsi sebagai pemisah antara rangkaian power dengan rangkaian control.htm 50 . Tidak memberikan speed (speed=0) 2. 13‖ Sensor Optocoupler‖. Optocoupler Bagian pemancar atau transmitter dibangun dari sebuah led infra merah untuk mendapatkan ketahanan yang lebih baik daripada menggunakan led biasa.32 dibawah ini: Gambar 2. dimana terdiri dari dua bagian yaitu transmitter dan receiver. Tapi pada proyek akhir ini optocoupler untuk mendeteksi putaran.32. Opto berarti optic dan coupler berarti pemicu.com/ sensor optocoupler. Sehingga bisa diartikan bahwa optocoupler merupakan suatu komponen yang bekerja berdasarkan picu cahaya optic opto-coupler termasuk dalam sensor.Untuk membuat motor berhenti ada 2 cara: 1.11. Sensor ini bisa digunakan sebagai isolator dari rangkaian tegangan rendah kerangkaian tegangan tinggi. Memberikan logic yang sama pada x dan y 2.

Mikrokontroller Sistem pemrograman pada proyek akhir ini menggunakan mikrokontroller AT-Mega 16 seperti yang dijelaskan sebaagi berikut: 2.13. Atmel 1 51 . 2. 2002. 2. Dan begitupun sebaliknya bila level air turun sampai dengan batas level nominal pembukaan pintu air.Penggunaan dari optocoupler tergantung dari kebutuhannya. serial UART.30 mA dan untuk menghubungkannya dengan tegangan +5 Volt diperlukan tahanan pembatas. interrupt internal dan eksternal. Hampir semua instruksi dieksekusi dalam satu siklus clock.‖ Data Sheet 8-bit AVR Microkontroller ATmega16‖. proses ini diatur dengan menggunakan kontrol fuzzy.1. Atmel. timer/ counter fleksibel dengan mode compare. dan type. Namun besarnya arus led yang digunakan berkisar antara 15mA . betbasis arsitektur RISC (Reduced Instruction Set Computer). 4N25 atau 4N33dan sebagainya. Beberapa diantaranya mempunyai ADC dan PWM internal. Sensor ini dipasang untuk mendeteksi tinggi air sungai pada daerah sebelum pintu air (diasumsikan daerah hulu). AVR mempunyai 32 register general-purpose. sensor akan terkoneksi dengan mikrokontroller sehingga mikrokontroller akan memberi output pada driver untuk membuka pintu air sesuai dengan level yang terbaca pada sensor dengan pembukaan pintu diatas dari level yang terbaca oleh sensor. maka bila terjadi perubahan level air . Untuk type 4N25 ini mempunyai tegangan isolasi sebesar 2500 Volt dengan kemampuan maksimal led dialiri arus fordward sebesar 80 mA. jenis. Ada berbagai macam bentuk. hal.12. programmable Watchdog Timer.13. Pada umumnya semua jenis optocoupler pada lembar datanya mampu dibebani tegangan sampai 7500 Volt tanpa terjadi kerusakan atau kebocoran. Sensor Level Rangkaian sensor level yang digunakan pada Proyek Akhir ini menggunakan sebuah pelampung yang terhubung dengan potensiometer. Seperti MOC 3040 atau 3020. Mikrokontroller AVR AT-Mega 1614 AVR merupakan seri mikrokontroller CMOS 8-bit buatan Atmel. dan mode power saving. 14 Corporation. Biasanya dipasaran optocoupler tersedianya dengan type 4NXX atau MOC XXXX dengan X adalah angka part valuenya.

and Capture Mode 13. Compare Mode. Atmega16 adalah mikrokontroller CMOS 8-bit daya-rendah berbasis arsitektur RISC yang ditingkatkan. 32 x 8 General Purpose Working Registers 3. Beberapa keistimewaan dari AVR Atmega16 antara lain: A. 512 Bytes Internal SRAM 10.AVR juga mempunyai In-System Programmable Flash on-chip yang mengijinkan memori program untuk diprogram ulang dalam sistem menggunakan hubungan serial SPI. 512 Bytes EEPROM  Endurance: 100. Four PWM Channels 52 . One 16-bit Timer/Counter with Separate Prescaler. Kebanyakan intruksi dikerjakan pada satu siklus clock. Peripheral Features 11. Fully Static Operation 4. 130 Powerful Instructions – Most Single Clock Cycle Execution 2. Two 8-bit Timer/Counters with Separate Prescalers and Compare Modes 12.000 Write/Erase Cycles 9. Optional Boot Code Section with Independent Lock Bits  In-System Programming by On-Chip Boot Program  True Read-While-Write Operati 8. 8K Bytes of In-System Self-Programmable Flash  Endurance: 10. Chip AVR yang digunakan adalah Atmega16. Nonvolatile Program and Data Memories 6. Advanced RISC Architecture 1. Programming Lock C. Atmega16 mempunyai throughput mendekati 1 MIPS per MHz membuat disainer sistem untuk mengoptimasi konsumsi daya versus kecepatan proses. Real Time Counter with Separate Oscillator 4. On-chip 2-cycle Multiplier B.000 Write/ Erase Cycles 7. Up to 16 MIPS Throughput at 16 MHz 5.

Byte-oriented Two-wire Serial Interface 7. Power-down. 53 .D.16 MHz for ATmega16 5. 0 . and 44pad MLF Operating Voltages 1.5. 0 . 4. 8-Channel. 32 Programmable I/O Lines 2. E. Power-on Reset and Programmable Brown-out Detection 2.7 . On-chip Analog Comparator Special Microcontroller Features 1. External and Internal Interrupt Sources 4. Powersave. Six Sleep Modes: Idle.8 MHz for ATmega16L 2. 44-lead TQFP. G. 10x. 40-pin PDIP. Programmable Serial USART 8. F. Standby and Extended Standby I/O and Packages 1. 44-lead PLCC. Internal Calibrated RC Oscillator 3. Master/Slave SPI Serial Interface 9. ADC Noise Reduction. 10-bit ADC  8 Single-ended Channels  7 Differential Channels for TQFP Package Only  2 Differential Channels with Programmable Gain at 1x.5V for ATmega16L 2. or 200x for TQFP Package Only 6. 2. Programmable Watchdog Timer with Separate Onchip Oscillator 10.5V for ATmega16 Speed Grades 1.5 .5.

instruksi berikutnya diambil dari memori program. Selagi sebuah instruksi sedang dikerjakan. seperti pada gambar 2. Instruksi pada memori program dieksekusi dengan pipelining single level.33.Gambar 2.34. Arsitektur CPU dari AVR ditunjukkan oleh gambar 2. Pin-pin ATmega16 kemasan 40-pin15 Pin-pin pada ATmega16 dengan kemasan 40-pin DIP (dual inline package) ditunjukkan oleh gambar 2. 15 ibid. hal.33. 4 54 . Guna memaksimalkan performa dan paralelisme. AVR menggunakan arsitektur Harvard (dengan memori dan bus terpisah untuk program dan data).

CodeVisionAVR merupakan crosscompiler. Alur pemrograman ditunjukkan pada gambar 2. 16 ibid. Arsitektur CPU dari AVR16 Program ditulis menggunakan tool CodeVisionAVR. hal.34. Program cukup ditulis menggunakan bahasa-C.Gambar 2. 6 55 .35.

dan PortD. maka resistor pull-up akan diaktifkan. PORTxn=0) ke kondisi output high (DDxn=1. dan bit PINxn terdapat pada I/O address PINx. hal. PORTxn.Gambar 2. Alur pemrograman AVR menggunakan CodeVisionAVR 17 2. PORTxn=1)atau kondisi output low (DDxn=1. dan PINxn. Bila DDxn diset 1 maka Px berfungsi sebagai pin output. bit PORTxn terdapat pada I/O address PORTx. PORTxn=1) maka harus ada kondisi peralihan apakah itu kondisi pull-up enabled (DDxn=0. PORTxn=0). 6 56 . Huruf ‗x‘mewakili nama huruf dari port sedangkan huruf ‗n‘ mewakili nomor bit.2 Port sebagai input/output digital ATmega16 mempunyai empat buah port yang bernama PortA. Pin port adalah tri-state setelah kondisi reset. Saat mengubah kondisi port dari kondisi tri-state (DDxn=0.35. Bit DDxn dalam regiter DDRx (Data Direction Register) menentukan arah pin. Bila DDxn diset 0 maka Px berfungsi sebagai pin input. Dan bila PORTxn diset 0 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin output maka pin port akan berlogika 0. Tiap port mempunyai tiga buah register bit. 17 ibid. Bit DDxn terdapatpada I/O address DDRx. PortC. Bila PORTxn diset 1 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin input.13. PORTxn harus diset 0 atau pin dikonfigurasi sebagai pin output. Keempat port tersebut merupakan jalur bidirectional dengan pilihan internal pull-up. Untuk mematikan resistor pull-up. Bila PORTxn diset 1 pada saat pin terkonfigurasi sebagai pin output maka pin port akan berlogika 1. PortB. yaitu DDxn.

maka bit PUD pada register SFIOR dapat diset 1 untuk mematikan semua pull-up dalam semua port. Jika ini bukan suatu masalah.Biasanya. PORTxn=0) atau kondisi output high (DDxn=1. Lebih detil mengenai port ini dapat dilihat pada manual datasheet dari IC ATmega16. Tabel 2. PORTxn=1). selama lingkungan impedansi tinggi tidak memperhatikan perbedaan antara sebuah strong high driver dengan sebuah pull-up. 8 57 . ditunjukkan pada tabel 2. Konfigurasi pin port18 Bit 2 – PUD : Pull-up Disable Bila bit diset bernilai 1 maka pull-up pada port I/O akan dimatikan walaupun register DDxn dan PORTxn dikonfigurasikan untuk menyalakan pull-up (DDxn=0.2. kondisi pull-up enabled dapat diterima sepenuhnya. 18 ibid. PORTxn=0) sebagai kondisi transisi. Kita harus menggunakan kondisi tri-state (DDxn=0. Peralihan dari kondisi input dengan pull-up ke kondisi output low juga menimbulkan masalah yang sama. hal.2.

unsigned char y) Meletakkan posisi karakter pada kolom ke-x baris ke-y.equ __lcd_port=0x15 #endasm /* sekarang fungsi LCD dapat di-include*/ #include <lcd. • void lcd_gotoxy(unsigned char x.3 Rutin-rutin standar Pada software CodeVisionAVR telah disediakan beberapa rutin standar yang dapat langsung digunakan. Fungsi ini harus dipanggil pertama kali sebelum menggunakan fungsi yang lain. 58 . • void lcd_clear(void) Menghapus layar LCD dan meletakkan posisi karakter pada baris ke-0 kolom ke-0. /* modul LCD dihubungkan dengan PORTC */ #asm . Nilai yang dikembalikan adalah 1 bila modul LCD terdeteksi. Kursor tidak ditampakkan. • void lcd_puts(char *str) Menampilkan string yang disimpan pada SRAM pada LCD. dan bernilai 0 bila tidak terdapat modul LCD.h yang harus di-include-kan sebelum digunakan. Jumlah kolom pada LCD harus disebutkan(misal. 16). Nomor baris dan kolom dimulai dari nol.h> Fungsi-fungsi untuk mengakses LCD diantaranya adalah : • unsigned char lcd_init(unsigned char lcd_columns) Untuk menginisialisasi modul LCD. • void lcd_putchar(char c) Menampilkan karakter c pada LCD. Sebelum melakukan include terlebih dahulu disebutkan pada port mana LCD akan diletakkan. Anda dapat melihat lebih detil pada manual dari CodeVisionAVR.2. Hal ini juga dapat dengan mudah dilakukan dengan menggunakan CodeWizardAVR. Beberapa contoh fungsi yang telah disediakan antara lain adalah: Fungsi LCD Berada pada header lcd. menghapus layar dan meletakkan posisi karakter pada baris ke-0 kolom ke-0.13.

Hasil berupa 10 bit data disimpan didalam register-register khusus. Ketika konversi telah selesai maka ADC dapat menginterupt diri sendiri. ADC ini terhubung p3ada 8 channel multiplexer analog yang melewatkan 8 jenis masukan dari pin-pin pada port A. yang membuat nilai masukan menjadi konstan hingga berakhir konversi.Configure-C Compiler-Code Generation. Hal-hal yang berhubungan dengan internal ADC pada ATMega 16 sebagai berikut : 1. Dua dari masukan differensial (ADC 1. Untuk memindahkan channel masukan harus 59 . Pada saat menggunakan mode Single Conversion Mode. 2. Internal ADC dapat diaktifkan dengan cara mengatur ADC enable bit. bila tidak maka delay akan lebih lama dari yang diharapkan. Berada pada header delay. Piranti ini juga dilengkapi 16 kombinasi masukan tegangan differensial. harus selalu dipastikan telah memilih salah satu channel sebagai masukan. Saat ADC berada dalam posisi antara membaca register ADCH dan ADCL. interrupsi harus dimatikan terlebih dahulu. ADC 3) juga dilengkapi dengan programmable gain stage. Sebelum memanggil fungsi. n adalah nilai konstan • void delay_ms(unsigned int n) menghasilkan delay selama n mili-detik. Juga sangat penting untuk menyebutkan frekuensi clock chip IC AVR yang digunakan pada menu Project. Channel masukan ADC Single Conversion Mode. Kedua fungsi tersebut secara otomatis akan me-reset watchdog-timer setiap 1 milidetik dengan mengaktifkan instruksi wdr. yaitu ADC Data Registers (ADCH dan ADCL). Fungsi delay yang disediakan adalah: • void delay_us(unsigned int n) menghasilkan delay selama n µ-detik. n adalah nilai konstan.4 Port sebagai Analog Digital Converter (ADC) ATMega 16 memiliki kelebihan berupa 10 bit internal ADC. Pin-pin ADC ini juga memiliki rangkaian sample dan hold.Fungsi Delay Menghasilkan delay dalam program-C. Tegangan referensi dan pemilihan channel masukan tidak akan berjalan sampai ADEN telah diset. Waktu yang diperlukan ADC untuk menyelesaikan konversi adalah 60 –260 uS. ADEN didalam ADCSRA.13. ADC 0 dan ADC 2.h yang harus di-includekan sebelum digunakan. maka interupsi akan aktif meskipun data yang telah dihasilkan hilang.

Kode terendah dibaca sebagai 0 dan kode tertinggi dibaca 2n – 1. VREF dapat dipilih mulai dari AVCC. Nilai adalah 0 LSB. Dengan nilai ideal 0 LSB.56 V dihasilkan dari internal bandgap (VBG) penguat internal dan pin AREF langsung terhubung ke ADC. 5. sementara internal 2. Offset: Penyimpangan dari perpindahan pertama (0x000 ke 0x001) dibandingkan dengan perpindahan ideal (pada 0. namun karena masukan ADC telah dimulai secara otomatis. maka hasil konversi ini merupakan cerminan dari hasil konversi yang lalu pada channel tersebut. gain error ada sebagai penyimpangan pada saat perpindahan terakhir (0x3FE ke 0x3FF) dibandingkan dengan perpindahan yang ideal (pada 1. INL adalah penyimpangan maksimum dari perpindahan aktual dibandingkan dengan perpindahan ideal untuk semua kode. atau melalui pin AREF. Dengan nilai idealnya adalah 0 LSB. sehingga disarankan untuk tidak menggunakan hasil konversi yang pertama. Gain Error: Setelah menaikkan nilai offset.5 LSB). Tegangan Referensi Tegangan Referensi dari ADC (VREF) menunjukkan range konversi dari ADC. 6. Akurasi ADC n-bit single-ended ADC mengkonversi tegangan secara linear antara GND dan VREF dalam tingkat 2n (LSB). 4. 2. Free Running Mode: Sama seperti pada Single Conversion Mode. AVCC terhubung dengan ADC melalui switch pasif.5 LSB dibawah maksimum). Ketika menggunakan tegangan referensi eksternal (AREF) maka tidak diperbolehkan untuk menggunakan tegangan referensi internal. internal 2.56 V referensi. hasil dari konversi pertama memiliki akurasi yang buruk.menunggu hingga ADC selesai melakukan konversi. 60 . Integral Non-Linearity (INL) : Setelah Offset dan Gain error. 3. Ketika memindah ke channel penguatan differensial.

menghasilkan ADC  V in1024 ……………………………(2.36 dibawah ini : 61 .32) Vref Keterangan : Vpos = tegangan pada masukan pin positif Vneg = tegangan pada masukan pin negatif Gain = faktor penguatan yang dipilih Vref = tegangan referensi yang dipilih 2. Hasil Konversi ADC Setelah konversi selesai (ADIF dalam posisi high).13. hasil dari konversi ini dapat ditemukan di ADC Result Registers (ADCH.24.5.0. Nilai idealnya adalah 0 LSB.31) Vref Keterangan: Vin = tegangan pada pin masukan Vref = tegangan referensi yang dipilih Jika menggunakan penguatan differensial.1 Merupakan suatu software yang digunakan dalam penulisan program yang nantinya akan di download pada microcontroller AVR ATmega 16. maka: ADC  (Vpos  Vneg)  Gain  512 ………(2. 8. Dapat dilihat seperti struktur program pada gambar 2.7. Differential Non-Linearity(DNL) : Penyimpangan maksimum pada lebar perpindahan actual (jarak antara dua batas perpindahan) terhadap lebar perpindahan ideal (1 LSB). Code Vision AVR 1. Untuk Single-Ended Conversion. ADCL).

36. Seperti umumnya microcontroller.1 Dalam penggunaan microcontroller AVR menggunakan software CodeVision AVR. dengan menggunakan pemrograman bahasa-C diharapkan waktu desain (deleloping time) akan menjadi lebih singkat. Setelah program dalam bahasa-C ditulis dan dilakukan kompilasi tidak terdapat kesalahan (error) maka proses download dapat dilakukan.24.Gambar 2. dan segala hal diperlukan dalam mendesain suatu pemrograman pada umumnya. Microcontroller AVR mendukung system download secara ISP (In-System Programming) Dalam menggunakan program ini terlebih dahulu diperlukan inisialisasi chip yang digunakan.37 di bawah ini: 62 .0. CodeVision AVR merupakan software C-cross compiler. dimana program dapat ditulis menggunakan bahasa-C. Code Vision AVR 1. I/O port. Blok inisialisasi dapat dilihat pada gambar 2. program untuk microcontroller AVR ditulis menggunakan bahasa assembly. clock.

38. seperti ditunjukkan pada gambar 2.38 berikut: Gambar 2.37. Save and Exit”. Blok Penginisialisasian Program Setelah penginisialisasian chip maka selanjutnya ―Generate.Gambar 2. Bagian Penulisan Program 63 . Selanjutnya yaitu penulisan program pada blok bagian yang telah tersedia.

‖Halaman ini sengaja dikosongkan‖ 64 .

Secara umum blok diagram terdebut terdiri atas : 1. 5. Desain Battery Charger. 2. Solar cell tersebut akan mengeluarkan daya yang kemudian disimpan dalam aki. 4. Perancangan sensor pada system penggerak pintu air.BAB III PERENCANAAN DAN PEMBUATAN ALAT 3. Desain Boost Converter. Dalam perhitungan digunakan solar cell dengan kapasitas 50 Wp(Watt Peak). Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah proses perbaikan alat dan analisa. Perancangan Prototype Pintu Air. 3. Sebelum solar cell yang mempunyai V maks =20 Volt dan Vmin = 1 Volt mengisi energinya ke aki terlebih dahulu masuk ke 65 .1 Konfigurasi Sistem Secara garis besar perencanaan dan pembuatan seluruh sistem proyek akhir ini ditunjukkan dalam gambar 3. Gambar 3.1.1. Blok diagram system Pada blok diagram diatas dijelaskan bahwa untuk mengetahui kapasitas dari solar cell maka diperlukan total daya yang dipakai beban. Perancangan Kapasitas Aki dan Solar Cell.

3. Prototype Pintu Air Tampak keseluruhan Sedangkan pada prototype pintu air ditunjukkan pada gambar 3. lebar saluran 10 cm dan tinggi saluran 15 cm.2.rangkaian battery charger.2.2. Desain Prototype Pintu Air Prototype saluran air pada tugas akhir ini ditunjukkan pada gambar 3. Gambar 3. sebagai berikut: 66 . ialah dengan menggunakan sebuah prototype pintu air beserta saluran air serta rangkaian-rangkaian pendukung lainnya. 3. Perancangan Hardware Dalam perancangan hardware pada tugas akhir ini.7 Volt digunakan untuk mengisi aki dengan kapasitas 12 V.8 . 3. Dengan panjang saluran 200 cm. Output dari battery charger yang disetting sekitar 13.14.1.2.

14  60  3. didapatkan nilai Torsi yaitu: 3.76 cm3/gr 3 Berat pintu air : Volume  45cm  5. yaitu dengan cara mengalikan jarijari dari gear yang terpasang pada ulir sebesar 5.37 kg = 63. Dengan demikian besarnya daya motor yang diperlukan untuk menggerakkan pintu air dapat diketahui dengan cara sebagai berikut: n : 60 rpm T : 3.14gr Brtjenis 8.10-2 m.76cm 3 / gr Langkah selanjutnya adalah mencari kekuatan angkat dari ulir yaitu: Diameter ulir : 8 mm σt (kekuatan tarik ulir) : 40kg/mm2 w (beban maksimum ulir): 6. yaitu dengan langkah-langkah perhitungan sebagai berikut: Lebar : 10 cm Panjang : 15 cm Tebal : 0.Gambar 3.7 Newton sehingga dari berat 63.2 Nm P = ώT = 2πfT = 2  n  T  2  3.2 Nm.3 cm Berat jenis besi : 8.7 N dapat diperoleh nilai Torsi yang diperlukan agar mampu menggerakkan pintu air.2  20.3. Desain Pintu Air Untuk mengetahui berapa daya motor yang diperlukan agar mampu menggerakkan pintu air.1W 60 60 67 .

2A = 4 W/ 0.4 A = 10 W =2W = 45 W . Perancangan dan Pemasangan Solar Cell Untuk merencanakan kapasitas besar daya solar cell yang dipakai dalam sistem penggerak pintu air. Setelah diketahui total beban yang dipakai dalam system penggerak pintu air barulah dapat diketahui besar kapasitas solar cell yang akan dipakai.2.8 W.75 A 68 = 29 W / 1.4.2.4. Gambar 3. Pemasangan Solar Cell Total Beban : 1 Motor DC 24 V 1 Mikrokontroller 9 V 2 Relay 12 V 1 sensor level CD 4066 Total Daya *Jadi Solar Cell Yang diperlukan : P total = 45 W atau ± 50 Wp dengan I total output dari Solar Cell = 45 / 12 V = 3.Dalam perencanaan desain prototype pintu air menggunakan motor DC dengan kapasitas 24 Volt-1. 3.2 Ampere dengan daya 28. terlebih dulu harus diketahui total daya yang dipakai pada beban. Solar Cell yang dipakai dalam proyek akhir ini terdapat pada gambar 3.

Boost Konverer Pada Gambar 3. sebagai berikut: Gambar 3. Pada proyek akhir ini didesain untuk boost conventer dengan ketentuan sebagai berikut: Paramater : Vin min = 12 V Vin max = 13 V Vout = 24 V Iout =2A Switching frequency (fs) = 25 KHz Ac ferrit core = 2. Boost ini digunakan untuk menaikkan tegangan aki agar tegangan output dari aki tersebut dapat digunakan untuk mendrive motor DC.5.3.545 x 10-6 cm2 Penyelesaian : 69 . PWM untuk penyulutan mosfet boost converter dirancang dengan frekuensi 25 kHz. Boost konverter memperoleh masukan dari aki sebesar 12 Volt dan dirancang menghasilkan tegangan keluaran sebesar 24 Volt. Rangkaian snubber didalam rangkaian ini digunakan untuk melindungi mosfet dari arus kejut pada saat switching berlangsung.5.3.5.2. Desain Boost Converter Perencanaan dan pembuatan rangkaian boost converter secara lengkap ditunjukkan pada Gambar 3. merupakan rangkaian dasar dari boost konverter dengan PWM yang digunakan sebagai penyulut mosfet pada rangkaian tersebut.

001 24  0. peak  Io 2   4A D 0.1%  Vo  0.65 4. Nilai Induktor : I L  0.12 2     4.65 0.7  12]  ( )( ) 25000 24  0.rms  I D.832  2 2  8  4  4  2 A h. Arus RMS diode : I D.15 mH I in  I out  [ Vout  VF 24  0.15 A     3  3    e.65 / 2  2 Irms  I in   L   4.6A ]  0.024 Volt 70 .7 1.12 A ]  2 [ ] V in 12 c.4  I out  [ V 1 1 L  ( )  [Vout  Vf  Vinmin ]  ( inmin )  ( ) f Vout  Vf I L L( 1 12 1 )  [24  0.5 f. RMS  D  T Vo   C C i. Arus puncak dioda : I D. Ripel tegangan output : Q I C . Arus RMS kapasitor : I C . RMS  Io 2  2.17   25000 1. Kapasitansi output Vo  0.65 1 1 L  6. peak  D  4  0.5  2.945 A  4. Arus maksimum induktor: I maks  I in  I L 1. Duty cycle : D  (1  Vinmin 12 )  100%  (1  )  100%  50% Vout 24 Vout  Vf 24  0.83 A g.a.rms  I 2 D .4  I in  0.7 1. Arus Rms Inductor  I / 2   1.12   2 2 2 2 d.4  2  [ ] Vin min 12 b.7 4.

0024 Jumlah Lilitan L  Im ax  104 n B max Ac C n 0. RMS  D  T 2  0.10 6 10.42 mF    Vo Vo 0.Q I C .14 x 0.15  103  4.14 x 0.65 x 23 + (40% x 2 x 3.8=23 lilitan Panjang Kawat Lg =2 x π x r x n + (40% x 2 x π x r x n) Lg = 2 x 3.25  1.3 n =22.1 : 71 .5  25.945  104 0.44 cm Lg = 132 cm Setelah kita menentukan arus maksimum sehingga kita bisa menentukan nilai KHA dan AWG dari kawat sehingga bisa menentukan diamenter kawat yang akan dipakai atau dipilih seperti dalam tabel 3.65 x 23) Lg = 131.

15 A. sebagai berikut : 72 .15 mm . tegangan keluaran boost konverter yang ditunjukkan pada Gambar 3. Berdasarkan hasil perhitungan untuk rancangan boost konverter maka dapat disimulasikan menggunakan Psim diperoleh hasil simulasi pulsa penyulutan mosfet.Tabel 3. Winding Data Didapatkan dari hitungan diatas yaitu I maks = 4.15 A menunjukkan AWG 17 dengan diameter kawat 1. Dalam datasheet 4.7.1.6 dan Gambar 3.

Gambar 3. Cara kerja rangkaian snubber ini adalah pada waktu penyulutan mosfet dalam keadaan on arus spike pada mosfet akan mengalir ke Rs dan kemudian disimpan ke Kapasitor. Tegangan keluaran Boost Converter 3. Arus spike tersebut dapat merusak mosfet yang berfungsi sebagai switch atau penyulutan untuk boost konverter.2.7.6. Komponen pada snubber ini terdiri dari Rs (Resisor).4. Desain Snubber Pada rangkaian converter DC-DC sangat dibutuhkan sekali rangkaian snubber yang ditempatkan pada mosfet yang bertujuan untuk melindungi mosfet dari arus spike yang sangat tinggi ketika penyulutan pada pertama pada mosfet. dan Ds (Diode). Ketika penyulutan 73 . Cs (Capasitor). Rangkaian simulasi Boost Converter Gambar 3.

Gambar 3. dan Ds (Diode Snubber). Pada gambar 3.8Ω 2  Cs 2  72. Cs (Kapasitor Snubber). Rangkaian RCD dan RC Snubber 74 . Desain rangkaian Snubber Boost Konverter : Desain Capasitor Snubber (Cs) : Tf 1MBH60-100= 0.5  =42.945 A.8.96 nF 2  24 Desain Resistor Snubber (Rs) : Rs  0.mosfet dalam keadaan off arus yang disimpan kapasior tadi akan dibuang ke dalam beban sedangkan fungsi dari Ds adalah sebagai pelindung apabila terdapat arus balik yang masuk ke dalam subber.8 merupakan gambar rangkaian snubber yang terdiri dari komponen Rs (Resistor Snubber).96  10 9 - Desain Diode Snubber (Ds) : Besar diode snubber yang dipakai adalah sesuai dengan arus input yang mengalir pada boost konverter.85 uS.12  0.85  106 =72.5  25  10 6 = 0.5  Dt  T 0. Dalam proyek akhir ini type diode snubber yang dipakai adalah FR-307 dengan Imaks = 4. Ion  Tfall Cs  2  Voff Cs  - 4.

2.10 menunjukkan Konfigurasi Pin dari LM324.2. yang meliputi: 1. Regulator LM350 Rangkaian Regulator ini merupakan regulator pengatur tegangan yang mampu mengatur atau menjaga tegangan agar tetap berada pada nilai tegangan yang ditentukan. Konfigurasi dari Rangkaian dasar LM350 ditunjukkan pada Gambar 3. Comparator LM 324 Rangkaian Comparator ini berfungsi untuk membandingkan tegangan antara Vref pada pin 3 dengan tegangan pengisian ke aki pada pin 2 sehingga bila tegangan pada aki sudah sama dengan tegangan pada Vref maka relay akan putus dan led akan mati yang berarti bahwa aki sudah penuh.1.9.3.5. 75 . Perencanaan dan Perancangan sistem pengisian pada Battery Charger Perencanaan dan perancangan sistem pengisian pada battery charger yang dibahas pada proyek akhir ini terdiri dari komponenkomponen yang dijelaskan sebagai berikut: 3. Gambar 3.2.9 Gambar 3. Konfigurasi Rangkaian Dasar dari LM350. Komponen Kontrol Battery Charger Dalam Sistem ini akan menggunakan dua buah kontrol untuk mengatur pengisian battery pada rangkaian sistem pengisian battery charger.5.

11. Bila level tegangan yang ditentukan itu telah tercapai. Gambar 3. Rangkaian Battery Charger yang digunakan dalam Proyek Akhir ini ditunjukkan pada Gambar 3. Rangkaian Battery Charger 76 .10.11. maka arus pengisian akan turun secara otomatis ke level yang aman tepatnya yang telah ditentukan dan menahan arus pengisian hingga menjadi lebih lambat sehingga indicator led mati menandakan battery telah terisi penuh. Rangkaian Battery Charger Battery Charger adalah suatu alat yang berfungsi untuk mengisi battery dengan arus konstan hingga mencapai tegangan yang ditentukan.5.Gambar 3.2.2. Konfigurasi Pin LM324 3.

sebagai berikut: a. ketika aki sudah terisi penuh maka rangkaian ini akan secara otomatis menonaktifkan pangisianke aki. maka LED mati. Dalam alat ini potensiometer digunakan sebagai sensing tegangan. Pada prototype pintu air ini digunakan sebuah besi ulir yang akan menggerakkan sebuah pitu air dimana terdapat 77 .12. yaitu saat rangkaian aktif tapi tidak terhubung dengan aki. Kondisi kedua. Dalam hal ini rangkaian motor yang dibutuhkan adalah rangkaian motor DC bolak-balik karena motor bergerak bolak-balik yaitu menggerakkan buka tutup pintu air. LED mati mengindikasikan bahwa aki sudah terisi penuh. relay aktif dan LED nyala.6. 3.12 berikut: Gambar 3.2. yaitu saat rangkaian terhubung dengan aki dan aki belum terisi penuh diindikasikan dengan kontak ON. Maka dari itu diperlukan suatu rangkaian yang bisa digunakan untuk mendrive motor DC tersebut.Terdapat dua kondisi pada rangkaian baterai charger.7. Sensor Level Sensor yang digunakan dalam penentuan level air adalah sensor mekanik yang berupa potensiometer. Potensiometer adalah sebuah variable resistor yang nilai hambatannya bisa diubah – ubah dengan cara memutar potensiometer.2. b. Rangkaian driver motor dc 3. Kondisi pertama. Driver Motor Pada proyek akhir ini digunakan motor DC 24 volt sebagai penggerak buka tutup pintu air. Dalam rangkaian ini digunakan rangkaian H-Bridge dan optocoupler yang berfungsi sebagai protektor agar tidak terjadi arus balik dari supply motor yang sebesar 24 volt ke mikrokontroller. Rangkaian H-Bridge ditunjukkan pada gambar 3.

resistor geser yang dikopel dengan pintu air serta sebuah potensiometer yang terhubung dengan pelampung pada sisi sebelum pintu air . Bila terjadi perubahan level air maka potensiometer yang berfungsi sebagai sensor ini akan mengalami perubanhan tegangan Maka dari itu bisa kita gunakan potensiometer sebagai sensornya, karena pergerakan kekanan dan kekiri batang tersebut bisa digunakan untuk memutar potensio sehingga terjadi perubahan resistansi, konfigurasi kaki pada potensiometer ditunjukkan pada gambar 3.13. berikut:

Gambar 3.13. Potensiometer Gambar 3.14 dan gambar 3.15 berikut ini merupakan gambar rangkaian dari potensiometer serta gambar desai dari potensio yang terhubung dengan pelampung sebagai sensor level.
VCC
VCC

Data

ADC MIKRO

ADC MIKRO

V
GND

GND

(a) (b) Gambar 3.14. (a)Gambar Skematik Potensiometer (b)Potensiometer dengan parameter tegangan

78

(a) (b) Gambar 3.15. (a)Potensiometer sebagai sensor level tampak depan (b)Potensiometer sebagai sensor level tampak samping

Gambar 3.16. Grafik Linieritas sensor ketinggian level air 3.3 Perancangan perangkat lunak (Software) Perancangan perangkat lunak pada proyek akhir ini menggunakan pemrograman CodeVision AVR dengan mikrokontroller AT-Mega 16 yang dijelaskan sebagai berikut:

79

3.3.1. Sistem Mikrokontroller Mikrokontroler yang digunakan dalam sistem ini adalah Mikrokontroler ATmega16 dengan memori program internal 512 Kbyte. Mikrokontroler ATmega16 dipilih karena mempunyai ADC internal di dalam chip-nya dengan tingkat kestabilan yang cukup presisi, mempunyai compiler canggih dengan bahasa pemrograman tingkat tinggi yaitu bahasa C sehingga lebih memudahkan programmer. Selain itu juga karena mikrokontroler jenis ini memiliki memori, jumlah timer/counter, serta jumlah port yang cukup untuk digunakan dalamproyek akhir ini. Dengan mengunakan ATmega16 pengontrolan sistem lebih mudah. Mikrokontroler dipergunakan untuk mengontrol system dengan acuan pembacaan data tegangan dari sensor level dan sebagai pengolah data dari sensor level. Pembacaan dari sensor berupa level tegangan yang langsung dimasukkan ke dalam mikrokontroler dan kemudian diproses untuk dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan oleh fuzzy logic controller. Berikut ini merupakan pemakaian Port pada mikrokontroller. Tabel 3.1. Tabel Input/Output Mikro PORT PORT A BIT 0 2 3 0 1 0-7 0-7 INPUT/ OUTPUT INPUT INPUT INPUT INPUT INPUT OUTPUT INPUT KETERANGAN Data ADC Data ADC Data ADC Driver Motor Driver Motor LCD Data DAC

PORT B PORT C PORT D

Gambar 3.17 berikut merupakan gambar flowchart sistem dari perancangan software.

80

bagian program ADC internal untuk sensor.17. Cara Penulisan Code Vision AVR Penulis menggunakan tool atau program CodeVision AVR untuk menuliskan program ADC ke flash memori ATMega 16. Flowchart system Pembuatan software pada proyek akhir ini meliputi. 3. Buka program Code Vision AVR dengan langkah-langkah sebagai berikut : 81 .START INISIALISASI PROGRAM SET POINT LEVEL AIR YA LEVEL AIR > SETPOINT? MOTOR PUTAR KANAN TAMPILKAN KE LCD TIDAK YA LEVEL AIR < SETPOINT? MOTOR PUTAR KIRI TAMPILKAN KE LCD TIDAK YA LEVEL AIR == SETPONT? MOTOR BERHENTI TIDAK TAMPILKAN KE LCD SETPOINT BERUBAH? YA TIDAK Gambar 3.3.2. PWM serta tampilan di LCD.

Membuat proyek baru dengan cara klik Create New New Project. 4. Buka program Code Vision AVR dengan cara klik Start Menu All Programs Code Vision AVR (namun program ini harus diinstal terlebih dahulu ke komputer). Setelah itu menuliskan program seperti gambar 3. clock frekuensi kristal dsb). PWM dan alamat input/output. 2. serial.18. Proses Inisialisasi Dalam tahap ini meliputi proses inisialisasi dari mikrokontroler ATMega16 yang meliputi pin-pin ATMega16 untuk internal ADC.18. Gambar 3.1. Tampilan Menu LCD 82 . 3. 2. Sebelum menuliskan program. terlebih dahulu menentukan jenis mikrokontroler apa yang akan dipergunakan dengan men-setting fasilitas yang diberikan berupa Code Vision Wizard (jenis mikrokontroler. LCD. parallel. Proses Menulis Program Secara garis besar algoritma dari program utama dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.

Hal pertama yang dilakukan dalam menggunakan ADC channel pada AT MEGA16 adalah membuat setting terhadap ADC. pada LCD ditampilkan menumenu yang memudahkan untuk membaca set point logika fuzzy dan melihat semua parameter-parameter logika fuzzy yang ada. Tegangan-tegangan yang dibaca yaitu tegangan pada sensor level. Kemudian setting trigger yang terdapat banyak pilihan.19. Gambar 3. 3.Setelah proses inisialisasi selesai. Nilai tegangan yang terbaca pada potensio sebagai sensor level digunakan sebagai umpan balik bagi kontroler untuk dapat mempertahankan nilai tegangan output sesuai dengan setting yang diinginkan. Setting ADC pada AT MEGA 16 83 . Setting ADC dapat menggunakan wizard pada CV AVR seperti yang terlihat pada Gambar 3. Setting yang dilakukan adalah pada panjang data apakah 8 atau 10 bit.3.19. Pembacaan tegangan oleh mikrokontroler melalui ADC channel Pembacaan nilai tegangan-tegangan yang diinginkan melalui 10 bit ADC 8 channel yang terdapat pada mikrokontroler AT MEGA16.3. Proses Eksekusi Setelah semua program selesai maka proses selanjutnya program di compile sehingga dapat ditampilkan pada LCD dan untuk semua parameter-parameternya. 3.

84 . // Alphanumeric LCD Module functions #asm . Perencanaan dan pembuatan hardware dan program LCD Pada proyek akhir ini LCD digunakan sebagai tampilan monitoring output dari system fuzzy pada proses buka tutup pintu air. Rangkaina LCD 2x16 Berikut ini adalah inisialisasi LCD pada mikrokontroler ATmega16 dengan menggunakan Code Wizart AVR Automatic Program Generator pada software CodeVision AVR.17. Gambar 3. Proses pembuatan program LCD sangatlah mudah. LCD yang digunakan adalah jenis Liquid Cristal 16 x 2. ini dikarenakan sudah tersedianya wizard dari LCD pada software C compiler CodeVision AVR.h> // LCD module initialization lcd_init(16).3.4.3.equ __lcd_port=0x1b #endasm #include <lcd.

3. Pembuatan Program Fuzzy Dalam proses perancangan perangkat lunak (software) program fuzzy logic controller memerlukan program development yang digunakan untuk membangun parameter-parameter yang dibutuhkan dalam proses penulisan program fuzzy.5. Masukan crisp ini berupa besaran 85 .20 sebagai berikut: START PROSES KUANTISASI CRISP INPUT INPUT MEMBERSHIP FUNCTION FUZZYFICATION FUZZY INPUT RULE BASE RULE EVALUATION FUZZY OUTPUT OUTPUT MEMBERSHIP FUNCTION DEFUZZYFICATION CRISP OUTPUT Gambar 3.20. Flowchart Logika Fuzzy 3. Berikut ini adalah flowchart proses pengendali logika fuzzy secara lengkap beserta blok diagram kontroler secara lengkap ditunjukkan pada gambar 3.3.3.6. Langkah pertama dalam proses logika fuzzy mengandung transformasi domain yang dinamakan fuzzyfikasi. Desain Crisp Input dan Crisp Output Langkah pertama dalam proses pembuatan sistem logika fuzzy diawali dengan penentuan dan pembuatan crisp input dan crisp output.

22 sebagai berikut: Gambar 3. Sebagai contoh. Input yang digunakan adalah error (error = setting point . Proses pemasukan nilai crisp input error dan delta error 86 .21 dan gambar 3.numerik yang nantinya akan diubah menjadi besaran linguistic pada proses fuzzyfikasi. Range masukan yang digunakan adalah ketinggian dengan setting point 10 cm. Untuk mengubah bentuk masukan crisp menjadi besaran linguistic sebagai masukan fuzzy. Pada proyek akhir ini menggunakan dua input dan satu output.preset value) dan delta error (delta error = Error – (Error-1)). Jumlah membership function yang digunakan adalah sebanyak 3 buah dengan jenis segitiga. Sekali fungsi keanggotaan ditentukan. Setelah itu nilai tersebut akan dibandingkan dengan informasi fungsi keanggotaan yang tersimpan untuk menghasilkan nilai masukan fuzzy.21. Sedangkan Output range sebesar 0 –5 volt. masukan crisp 100 derajat akan ditransformasikan dalam variable linguistik berupa ‗low‘. Langkah langkah pertama dalam merancang fuzzy sistem adalah menentukan nilai crisp input dan crisp output. proses tersebut ditunjukan seperti pada Gambar 3. fungsi keanggotaan pertama kali harus ditentukan untuk setiap masukan. nilai tersebut akan diproses menggunakan fuzzyfikasi secara realtime.

23 dan gambar 3. Nama label untuk masing – masing input dan output dijelaskan pada gambar 3.Gambar 3. Proses pemasukan nilai crisp output 3. Bentuk fungsi keanggotaan yang digunakan adalah berbentuk segi tiga dengan jumlah label sebanyak 5 buah untuk input dan output. Setiap masukan crisp kedalam sistem fuzzy dapat memiliki banyak label yang mengacu padanya. delta error dan output.24.3. Fungsi Keanggotaan Fungsi keanggotaan (membership function) digunakan untuk menyatakan fungsi secara keseluruhan dari sistem yang akan dibangun dalam proyek akhir ini.22. Berikut ini adalah bentuk membership function untuk error dan delta error : 87 . Untuk menyatakan derajat keanggotaan (membership function) bagi masing -masing variable adalah error.7. semakin tinggi resolusi resultan system control fuzzy akan memberikan hasil dalam respon yang lebih baik. Secara umum besarnya jumlah label menunjuk pada variable masukan yang digambarkan.

23. Fungsi keanggotaan delra Error Pada proses pembuatan bentuk dari membership function output sama dengan langkah memasukan membersip function input. karena bentuk dari membership function output adalah singleton.24. Fungsi keanggotaan Error Gambar 3. Bentuk dari membership function output dapat dilihat pada gambar 3.25 dibawah ini: 88 .Gambar 3. akan tetapi titik yang dimasukan hanya satu.

Fungsi keanggotaan Output Ketika singleton digunakan untuk menggambarkan fungsi keanggotaan keluaran. dan seterusnya. Pada proses ini nilai numerik sinyal kontrol yang masih berupa tingkat kuantitasi dirubah menjadi nilai yang sesungguhnya sebagai nilai keluaran.3. Jumlah tingkat kuantitasi biasanya selalu ganjil misalnya tiga. lima. 3. Semakin banyak jumlah tingkat kuantisasi yang digunakan. defuzzyfikasi COA mereduksi ke perhitungan rata-rata secara sederhana. maka semakin rumit 89 . Proses Kuantisasi Untuk memulai proses fuzzifikasi.25.Gambar 3. yaitu Pada proses defuzzyfikasi.8. terlebih dahulu diawali dengan proses kuantitasi. tujuh . Proses kuantitasi bekerja berdasarkan Tabel kuantitasi yang telah ditentukan sebelumnya. Menggambarkan singleton adalah merupakan aksi keluaran resultan yang mungkin tidak mewakili respon terdekat yang dituju. Kebalikan dari proses kuantitasi adalah proses penentuan sinyal kontrol. sembilan. yaitu suatu proses pengambilan masukan suatu masukan numerik yaitu error dan delta error kemudian mengubahnya menjadi tingkat kuantitasi dengan berdasarkan pada Tabel kuantitasi yang telah dibuat sebelumnya.

Dengan demikian jumlah tingkat kuantitasi ikut menentukan ketelitian dalam pengambilan keputusan.1 0 3 0. demikian juga sebaliknya.3.8 0.7 9 0 0 0 10 0 0 0 NB Z PB 3.9.2 5 0 0.1 0 4 0 0. Pendefinisian rule .2 7 0 0 0.2.perhitungannya dan kompleks sistem kontrolnya. Rule base merupakan dasar dari pengambilan keputusan atau inference proses untuk mendapatkan aksi keluaran sinyal kontrol dari suatu kondisi masukan yaitu error dan delta error dengan berdasarkan rule-rule yang telah ditetapkan. Pada proyek akhir ini direncanakan menggunakan tiga belas tingkat kuantitasi. Rule Base 90 .9 0.rule tergantung dari kebutuhan dan sesuaikan dengan data yang telah didefinisikan pada tabel kuantisasi. Tabel definisi fungsi keanggotaan 0 1 0 0 1 1 0 0 2 0. yaitu dimulai dari 0 sampai dengan 12. Desain Rule Base Rule base adalah kumpulan aturan fuzzy dalam berhubungan dengan keadaan sinyal masukan dan sinyal keluaran. Pendefinisian rule base tergantung dari sinyal kontrol.8 0. Sebagai inputnya adalah error berupa level air.9 0.2 6 0 0. delta error berupa delta level air dan sinyal kontrol dari posisi pintu air . Pada tugas ini digunakan rule base yang ditulis pada table rule – rule matrik dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Gambar 3. Tabel 3.7 8 0 0 0.26.8 0.

Nilai minimum inilah yang akan menjadi nilai kebenaran bagi rule base tersebut. langkah berikutnya adalah mendapatkan derajat kebenaran (rule strenght) untuk setiap rule.1 set fuzzy ―Positif‖ . Masukan Delta Error adalah 6 cm akan didapatkan pada perpotongan pada titik 0. Berikut ini adalah contoh rule strength yang didapat dari contoh pada keadaan diatas: Error = 5 cm .2) 91 . Gambar 3. Saat antecedent dihubungkan melalui Operator ―AND‖. Sebagai contoh ditunjukan pada gambar 3.27 dibawah ini. Derror = 11 cm Rule strenght dari rule yang terseleksi dari sistem control adalah sebagai berikut: If Zero (0. misalnya masukan Error adalah 7 cm ditemukan pada titik 0.6) AND Positif (0. Untuk mengetahui hubungan tiap antecedent.3. Membership Function Error dan Delta Error pada Proses Fuzzy Evaluation Setelah setiap hubungan dari tiap antecedent telah ditentukan. rule strength akan mengasunsikan nilai-nilai strength terkecil dari antecedent rule.9 set fuzzy ―Negatif small‖ dan di titik 0. Fuzzy Evaluation Langkah berikutnya dalam proses fuzzy adalah evaluasi rule. yaitu mengevaluasi hubungan atau derajat keanggotaan antecedent setiap aturan.1 set fuzzy ―Zero‖.3.10.8) THEN Zero => Rule Strength(0.27. perpanjang garis referensi vertical melalui masukan crisp (nilai sumbu X) dan dapatkan nilai Y simana keduanya berpotongan pada fungsi keanggotaan.9 set fuzzy ―Zero‖ dan pada titik 0.

2) THEN Positif 1 => Rule Strength(0.9 untuk Negatif 1 dan 0.1 untuk Zero.11.1 untuk Positif 1. Dalam proses ini seluruh nilai keluaran fuzzy secara efektif akan mengubah fungsi keanggotaan keluarannya.4) AND Negatif small (0. Defuzzyfikasi Dalam proses deffuzifikasi semua keluaran fuzzy yang signifikan akan dikombinasikan ke dalam bentuk variabel keluaran yang spesifik. Seperti halnya pada proses evaluasi rule. 0.28.28 dibawah ini: Gambar 3.3.6) Keluaran Fuzzy (Fuzzy output ) adalah 0. maka rule yang paling benar akan mendominasi. 92 . dengan menyimpan rule strength yang terbesar untuk tiap consequent. Rule Strength 3.If Positif small (0. Gambar 3. seperti terlihat pada gambar 3.29 merupakan hasil dari fuzzy output.

Gambar 3.29. Fuzzy Output 93 .

“Halaman ini sengaja dikosongkan” 94 .

1. Pengujian dimaksudkan untuk mendapatkan evaluasi terhadap setiap rangkaian dalam sistem agar diperoleh kinerja yang lebih baik. Gambar Solar Cell Pada gambar 4.2 Pengujian Parsial Pada Proyek akhir ini dilakukan pengujian per bagian dari rangkaian yaitu seperti yang dijelaskan sebagai berikut: 4. rangkaian baterai charger. Pengujian Tegangan Output Solar Cell Gambar 4. Boost konverter. pengujian meliputi keseluruhan dari sistem kerja buka tutup pada pintu air.2. sensor level dan driver motor.1. yaitu pengujian parsial dan pengujian integrasi.1 pengujian solar cell yang dilakukan untuk mengetahui tegangan ouput dari solar cell. Pengujian ini dilakukan untuk mengambil data karakteristik dari solar cell tersebut.BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA 4. Dalam pengujian parsial dilakukan beberapa pengujian untuk panel surya. 4. Sedangkan untuk pengujian integrasi. Hasil output dari solar cell tersebut sebagai masukan pada rangkaian baterai charger 95 . Metode pengujian dari proyek akhir ini dilakukan menjadi dua tahap. Kinerja yang lebih baik didapatkan dengan melakukan perbaikan terhadap setiap komponen rangkaian yang mengalami kekeliruan yang diketahui saat melakukan pengujian.1 Metode Pengujian Pengujian terhadap seluruh sistem rangkaian yang telah dibuat dilakukan setelah semua rangkaian disusun secara keseluruhan berdasarkan perencanaan pada blok diagram sistem.

34 18.91 18. Data pengujian solar cell No.64 1.72 0.2 7.1.00 19.67 1. 96 .13 1.29 0.00 10.00 09.26 1.00 15.1 di bawah ini : Tabel 4.7 18.00 16.62 1.00 14. Hasil pengujian solar cell dapat dilihat pada tabel 4.62 12.2.55 18.38 1. Jam V-open V-short I (A) (Volt) (Volt) 1 07.34 Pengujian Baterai Charger Pengujian digunakan untuk mengetahui kemampuan rangkaian baterai charger (gambar 4.94 18 13 15.75 3.00 4.79 2 3 4 5 6 7 8 9 10 08.2. Diperoleh data hasil pengukuran pada Rangkaian Baterai Charger pada tabel 4.sebagai regulator pengisian ke aki.65 1.00 11.3 18.45 1.19 12.53 16.00 12.5 15. 18.12 16.2) dalam proses pengisian dari solar cell dengan tegangan yang berubah-ubah mampu mengisi aki dengan tegangan konstan.65 18.5 18.00 13.5 16.2.

07 volt 14.01 volt 13.07 volt 14.95 volt 13. Rangkaian Baterai Charger Tabel 4. dengan menggunakan resistor 20Watt10ΩJ.01 volt 1 2 3 4 5 6 7 15 volt 16 volt 17 volt 18 volt 19 volt 20 volt 21 volt Pengujian pertama battery charger dilakukan pukul 11.8 adalah : Ta  Ah 12   16 jam A 0.95 Volt Arus pengisian : 0.2.Gambar 4.3 Volt Arus pengisian : 0.07 volt 14.07 volt 14.01 volt 13. dengan hasil pengukuran : Tegangan pengisian : 12.94 Ampere Pengujian berikutnya dengan aki 12 Volt 70 Ah dengan hasil : Tegangan pengisian : 12.01 volt 13.02.67 volt 14.07 volt Tegangan Output (Vout)(terhubung dengan aki) 12.01 volt 13.01 volt 13.07 volt 14.75 Ampere Sehingga lamanya waktu pengisian sesuai dengan persamaan 2.75 97 .2. Data pengujian Baterai Charger No Tegangan input (Vin) Tegangan output (Vout) (sebelum terhubung dengan aki) 13.

4. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apabila nilai induktansi inductor terlalu kecil atau atau lebih kecil dari desain yang direncanakan maka hal ini akan menyebabkan converter tidak dapat maksimal. Pengukuran Nilai Induktor Pengukuran nilai inductor dimaksudkan untuk mengetahui induktansi yang telah dibuat. berikut: Gambar 4. dan table 4.3. Data pengukuran nilai inductor Perhitungan Teori 0. 98 . dan hasil pengujian rangkaian PWM ditunjukkan pada gambar 4.3.3.2.5 dengan duty cycle 50%. Pengujian PWM Pengujian rangkaian PWM yang ditunjukkan Gambar 4. Ditunjukkan pada gambar 4.3.212 mH Keterangan Boost 4.4.4.2 mH Pengukuran dengan LCR 0.4.3. pengujian rangkaian PWM yang dilakukan untuk mengetahui output gelombang kotak yang dihasilkan oleh rangkaian tersebut. Pengukuran nilai induktor Tabel 4. Pengukuran induktansi inductor menggunakan LCR meter didapatkan hasil seperti gambar 4.2.

maka dipadatkan hasil pengukuran seperti tabel 4.5. Pada saat tidak ada penyulutan maka besar tegangan 0 Vdc. Rangkaian Boost Konverter yang dipakai dalam proyek akhir ini seperti pada gambar 4. 99 . Apabila mosfet pada boost konverter diberi frekuensi penyulutan sebesar 25 kHz dengan duty cycle 0. Hasil pengujian PWM 4. boost konverter memperoleh tegangan masukan sebesar Vmin=11 Vdc dan Vmaks=12 Vdc.5.Gambar 4.6.2.4.5.4. Pengujian Boost Converter Pengujian boost konverter dilakukan pada keluaran rangkaian. Pengujian rangkaian PWM Gambar 4. dan di sisi keluaran diberi beban berupa electronic load.

4 64.5 0.3 21.2 17.66 76.55 Vout (V) 23. Pengujian boost konverter Vin (V) 12 12 12 Vin (V) 12 12 12 12 12 12 Iin (A) 0.32 2.8 Iout (A) 1.34 67.48 70.6 Iout (A) 0.07 Effisiensi (%) 72.54 1.02 1.64 18.84 2.4.76 61.02 Effisiensi (%) 77.8 18.43 3.9 19.Gambar 4.9 20 Vout (V) 19. Pengujian Boost Converter Tabel 4.41 100 .12 4.8 3.4 16.2 1.04 74.8 Iin (A) 2.6.64 1.5 1.69 4.2 0.9 72.24 1.

6.Pada tabel 4.5 3 3. hasil yang didapatkan berupa data ADC seperti pada table 4.5 10 Output Potensio (ADC) 26 37 55 73 85 90 112 128 135 149 165 179 190 204 216 228 241 247 255 101 .5 dengan frekuensi 25 Khz. 4. Pengujian Sensor Ketinggian Air Untuk menentukan kelayakan dari potensio yang digunakan sebagai sensor memerlukan beberapa pengujian output hasil dari potensio itu sendiri. Pengujian dilakukan setiap kenaikan 1 cm.5 7 7.5 9 9.4. Pengambilan data ini dengan nilai PWM disetting duty cycle sebesar 0. pengujian boost dilakukan untuk mengambil parameter nilai tegangan input dan outputnya.5 8 8.5 6 6.5 5 5.5 sebagai berikut: Tabel 4.5.5 2 2.2.5 4 4. Maka didapatkan niai tegangan output seperti pada table 4. Pengujian sensor level Jarak (cm) 1 1.

Setelah program selesai didownload ke mikrokontroler. Hasil pengujian dapat dilihat pada gambar 4. Untuk men-download program.3 Standard.3 Standard. dilakukan dengan cara menghubungkan langsung mikrokontroler dengan PC menggunakan komunikasi pararel dan menggunakan rangkaian ISP downloader sebagai rangkaian buffer. Program pengujian dapat dilihat pada lampiran di akhir buku ini. perangkat-perangkat yang terhubung dengan sistem minimum mikrokontroler tersebut dapat berfungsi dengan baik. kabel konektor.2. Pengujian dilakukan dengan cara melakukan pengetesan pada jalur port–port yang dimiliki oleh mikrokontroller ATmega 16. Perangkatperangkat tersebut diantaranya adalah: LCD dan pembacaan ADC. PortC yang dihubungkan dengan LCD dan PortD yang dihubungkan dengan driver putar balik motor. Listing program yang di-download-kan ke mikrokontroler dibuat untuk menyalakan PortA yang dihubungkan dengan potensio sebagai pembacaan ADC. Cara pengujiannya yaitu terlebih dahulu IC mikrokontroler di isi program menggunakan software CodeVisionAVR V1. Pengujian Minimum Sistem Mikrokontroller Tujuan dari pengujian rangkaian ini adalah untuk mengetahui apakah rangkaian sistem minimum ATmega 16 sudah dapat berfungsi dengan baik atau tidak. Potensio yang terhubung dengan port A dapat terbaca. Driver putar balik motor yang terkoneksi dengan PortD juga bisa membaca masukan dengan baik pada system minimum mikrokontroler. rangkaian ISP downloader dan seperangkat PC beserta software CodeWizardAVR V1. LCD yang terhubung dengan PortC dapat menampilkan pesan sesuai dengan yang dituliskan pada program.25. Port-Port tersebut dihubungkan dengan perangkat input dan perangkat output yang digunakan dalam proyek akhir ini. Setelah itu program di-compile dengan tujuan untuk mengetahui apakah program masih terdapat error atau tidak.7. 102 . Peralatan yang digunakan dalam proses pengujian rangkaian sistem minimum ini adalah: modul rangkaian mikrokontroler ATmega 16 beserta modul LCD sebagai indikator keluaran port. rangkaian power supply sebagai catu daya.25.7 dibawah ini.4.

.0195volt ………………. Setting ADC menggunakan clock sebesar 691.2) Vreff Vreff Dimana: Vadc = tegangan terstruktur yang masuk ke mikrokontroller 103 . Tegangan analog berasal dari keluaran sensor tekanan menggunakan rangkaian potensiometer yang berfungsi untuk mengatur level tegangan analog yang masuk ke Port ADC channel 0.7. ADC yang digunakan adalah 8 bit internal ADC pada channel 0 (PORTA.…(4. Tegangan referensi (Vreff) yang digunakan adalah pada Pin Areff dimana tegangan sama dengan tegangan sumber dari mikrokontroler.(4. 1h  Vreff 5   0. Pengujian ini dilakukan dengan cara memberikan masukan pada ADC internal mikrokontroler ATmega16 pada channel nol berupa tegangan analog dengan nilai maksimal sama dengan Vreff yaitu sebesar 5 Volt DC. Untuk mengetahui nilai konversi yang terbaca oleh mikrokontroler digunakan LCD sebagai display.2. Dalam proses perhitungan pembacaan konversi tegangan analog ke tegangan digital secara teori dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan 4.Gambar 4. sebelum menghitung nilai rata-rata 1 Heksadesimal dapat dihitung menggunakan persamaan 4. Hasil Pengujian LCD 4.0).1 dibawah ini.200 Khz dengan menggunakan automatic scant Input.2... yaitu sebesar 5 volt.8. Pengujian ADC Pengujian analog to digital converter (ADC) internal mikrokontroler ini bertujuan untuk mengetahui kinerja dari ADC dalam mengkonversi tegangan analog ke tegangan digital.1) Max FF Vadc  Vin Vin x 28  x256 ………………..

5 volt adalah sebagai berikut: Vadc  2.4volt 5 Dengan perhitungan diatas. setelah dibandingkan dengan hasil pengujian maka didapatkan prosentase error sebagai berikut: % Error _ Vadc  c.2  50 x100%  2.2volt 5 Dengan perhitungan diatas.3 dibawah ini. Perhitungan dengan tegangan Input Vin sebesar 1 volt adalah sebagai berikut: 1 Vadc  x256  51. setelah dibandingkan dengan hasil pengujian maka didapatkan prosentase error sebagai berikut: % Error _ Vadc  b. % Error _ Vadc  Vpengujian Vteori x100% …(4. a.5 volt adalah sebagai berikut: Vadc  4.34% 50 Perhitungan dengan tegangan Input Vin sebesar 2. dengan tegangan VREFF = 5 Volt dan dengan tegangan Vin yang berubah-ubah.3) Vteori Berikut ini adalah contoh perhitungan ADC secara teori. 51. Perhitungan dengan tegangan Input Vin sebesar 4.5 x256  128volt 5 128  128 x100%  0% 128 Dengan perhitungan diatas. setelah dibandingkan dengan hasil pengujian maka didapatkan prosentase error sebagai berikut: 104 .5 x256  230.Vin Vreff 28 = tegangan analog yang masuk ke pin ADC = tegangan referensi sebesar 5 volt = setting ADC yang digunakan yaitu sebanyak 8 bit Untuk membandingkan hasil pembacaan teori dengan pembacaan praktek menggunakan persamaan 4.

4 153. 3. (Volt) 51. (%) 2.8 256 1.98 4.6 204.00 0.% Error _ Vadc  230. Pengujian Program Fuzzy Tujuan dari pengujian program control logika fuzzy ini adalah untuk mengetahui kerja dari kontroler tersebut apakah sudah bekerja dengan baik atau belum. Tabel Data Pengujian ADC Internal Mikrokontroller Teg.98 Output ADC (teori) Dec.6 berikut ini: Tabel 4.2. Yang dimaksud baik disini adalah sesuai dengan perencanaan yang dilakukan pada bab sebelumnya. (Volt) 50 102 151 204 255 0. Untuk melihat hasil pengujian program control logika fuzzy pada masingmasing proses digunakan LCD. ADC (Volt) 1.00 0.67 0.40 4.00 4.00 2.6.00 2.00 % Error Dec.00 5. Teg. 1 2 3 4 5 Output ADC (praktek) Dec.98 2. (%) 2. 5.34 0.00 0. Input NO.00 4. seperti pada gambar 4. Teg.69 0.9. 4.48% 227 Data hasil pengujian ADC dapat dilihat pada tabel 4.7 berikut: 105 . 2.8 dan tabel 4.39 Teg.39 0.2 102.00 3.4  227 x100%  1.39 1.

Gambar 4.8. Hasil Pembacaan Input, Error dan Output Fuzzy Tabel 4.7. Pengujian Output Fuzzy Error 0 3 8 8 13 18 23 27 32 37 42 47 D_Error 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 10 Output Fuzzy System 1,67 1,75 1,84 1,97 2,05 2,12 2,20 2,27 2,43 2,5 2,58 2,67

106

4.3 .Pengujian Integrasi Pengujian integrasi yang dilakukan pada proyek akhir ini meliputi pengujian dari keseluruhan sistem yaitu proses pengisian solar cell ke aki serta sistem kerja dari pintu air. Sistem kerja dari pintu air disimulasikan seperti keadaan sebenarnya yaitu bila terjadi kenaikan air maka sensor level ketinggian air akan mendeteksi kenaikan air sehingga pintu air akan membuka sesuai dengan set point pada pembukaan pintu. Proses ini dilakukan dengan kontrol logika fuzzy. Pada pengujian terakhir ini kita akan mendapatkan data dari keseluruhan sistem pada rangkaian daya untuk sistem penggerak pintu air. Proses pengisian dari solar cell ke battery charger untuk mengisi ke aki. Pada tabel 4.8 di bawah ini akan menunjukkan data-data hasil pengujian keseluruhan sistem rangkaian daya pada sistem penggerak pintu air dengan membandingkan daya dari sumber solar cell dengan pemakaian daya dari beban motor DC. Tabel 4.8. Pengujian sistem rangkaian daya dengan menggunakan solar cell
Jam Solar Cell 17 17 18 18 19 19.5 20 20 18.9 18.9 18.6 Batery Charg er 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 14.75 Arus Batery Boost Konver ter 24 23,9 23,9 23,9 23,8 23,8 23,9 23,9 23,8 23,8 23,8 Arus (A) 1,54 1,5 1,5 1,5 1,5 1,54 1,5 1,52 1,52 1,52 1,52

08.00 08.30 09.00 09.30 10.00 10.30 11.00 12.00 13.00 14.00 15.00

0,4 0,3 0,3 0,5 0.3 0,5 0,5 0,5 0,3 0,3 0,3

13.6 13.6 13.6 13.6 13.6 13.6 13.6 13.6 13.6 13.6 13.6

Proses simulasi pada buka tutup pintu air ditunjukkan pada gambar 4.9. Sistem kerja pada buka tutup pintu air ini dapat bekerja
107

dengan baik sesuai dengan setiap kenaikan atau penurunan level air dari pembacaan sensor.

Gambar 4.9. Simulasi Sistem Kerja dari Pintu Air

Pada Proses Simulasi sistem penggerak pintu air diperoleh respon kecepatan buka tutup pintu air terhadap setiap kenaikan level air, seperti ditunjukkan pada tabel 4.9 berikut: Tabel 4.9. Respon Kecepatan Buka Tutup Pintu Air Kenaikan Level air (cm) 1 2 3 4 5 6 7 Respon Pintu air (s) 3 5 8 10 12 15 17
108

Posisi Pintu Air (cm) 1,1 2,1 3,1 4,1 5 5,9 6,8

8watt Efisiensi Daya dari sumber Solar Cell : Pefisiensi  P Ppercobaan PsolarCell  100% 40  100% 50 P  80% Efisiensi Daya dari sumber Baterai: Pefisiensi  P Ppercobaan Pbaterai  100% 36.7 P V  I P  20  2 P  40Watt Daya dari sumber baterai yang telah dinaikkan tegangannya menggunakan rangkaian Boost Konverter: P V  I P  24  1.96  100% 840 P  4.54 P  36.2 P  28.4% 109 .8 8.8 9 Daya dari sumber Solar Cell : 19 20 7.96watt Daya dari beban motor DC : P V  I P  24  1.

2= 22 jam Lama pemakaian a.9%  Data Perhitungan Daya yang dibangkitkan dari solar cell ( rating 20 V 2 A ) P = 20 x 2 = 40 W Arus pengisian accu I = P/tegangan pengisian = 40/12.96   77.5 = 3.Efisiensi Daya dari sumber baterai terhadap beban motor DC :   Pbeban  100% Pbaterai 28.4 KWH. 110 . Beban penggerak pintu air (20 W) Daya pada aki (35 Ah) = 35 x 12 = 420 Wh Lama pemakaian = 420/20 = 21 jam Daya pada aki (70 Ah) = 70 x 12 = 840 Wh Lama pemakaian = 840/20 = 42 jam  Data lapangan Tegangan keluaran solar cell yang dibangkitkan = 20 Vdc Arus pengisian pada ACCU = 1 A Energi yang dihasilkan solar cell perhari 8jam x 50W = 0.2 = 11 jam 2.2 A Lama pengisian ACCU 1. Kapasitas Aki = 2 x 3 x kebutuhan listrik Faktor pengali 3 untuk mengantisipasi bila hujan/mendung terus menerus selama 3 hari. Faktor pengali 2 disebabkan baterai tidak boleh lebih dari 50% kehilangan kapasitasnya bila ingin baterai tahan lama.8  100% 36. Untuk aki 70 Ah Waktu yang dibutuhkan pengisian = 70/3. Untuk aki 35 Ah Waktu yang dibutuhkan pengisian = 35/3.

Waktu pengisian untuk ACCU 70 Ah = 70 jam pada kondisi matahari maksimum Lama pemakain aki 1. Untuk beban penggerak pintu air (max 20 W) Pemakaian 8 jam/ hari ACCU habis dalam 9 hari 111 .

5.BAB V KESIMPULAN 5.1 KESIMPULAN Setelah melalui proses perencanaan dan pembuatan alat yang kemudian dilanjutkan pada tahap pengujian alat secara keseluruhan. masih terdapat beberapa kekurangan yang dapat ditambahkan dalam proses penyempurnaan alat yang ada. . 2. sehingga sistem ini dapat bekerja secara efektif dalam proses pengisian ke aki meskipun waktu pengisiannya relatif lama. pemakaian 8jam/hari aki 70 Ah habis dalam 9 hari. 2. dan yang dapat ditambahkan yaitu: 1.2 SARAN Dari hasil tugas akhir ini. Sistem kerja pada buka tutup pintu air ini dapat bekerja dengan baik sesuai dengan setiap kenaikan atau penurunan level air dari pembacaan sensor ketinggian level air. Tegangan keluaran solar cell yang dapat digunakan untuk pengisian arus battery atau aki melalui Rangkaian Battery Charger rata-rata sebesar 18. Pada sistem penggerak pintu air sebaiknya ditambahkan mekanik agar dapat bekerja secara manual atau otomatis.4 KWH perhari dapat digunakan untuk mensuply beban penggerak pintu air dengan daya 20W . 3. maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Sistem dapat dimonitoring melalui PC sehingga system kerjanya dapat dilihat setiap saat. 112 . Daya dari solar cell sebesar 0. karena dalam sistem penggerak pintu air ini keseluruhan sistem tidak bekerja secara terus menerus selama 24 jam.6 volt.

html Rashid. DAFTAR PUSTAKA DESDM (2007). 2009. 1993. http://www.alldatasheet. . Proyek Akhir 2009. 3.go.0 A. http://www.. Prentice-Hall International.esdm. Proyek Akhir 2008. Proyek Akhir 2009. ―RANCANG BANGUN SISTEM PENGATURAN TEKANAN POMPA AIR MENGGUNAKAN SISTEM KONTROL LOGIKA FUZZY‖. Ridwan Arif. Proyek Akhir PENS-ITS.html 113 2. 8.jsp?Searchword=LM350 Iklanum.iklanumum. Datasheet of LM350 3.php/topic. PLN Targetkan Pemakaian Energi Listrik Terbarukan 10 %. Inc. Bagus Mahendrawan. Positive Voltage Regulator.com/view. ―OPTIMASI MANAJEMEN PENGGUNAAN ENERGI LISTRIK DARI BEBERAPA SUMBER PADA PEDESTRIAN TRAFFIC LIGHT‖. 9. Fandi Budiawan. http://www. Devices. 4. Adjustable Output. Cara kerja baterai aki.―PENERANGAN JALAN UMUM (PJU) DENGAN MENGGUNAKAN TENAGA SURYA‖.‖ Second Edition. diakses tanggal : 13/01/2009 21:09 dari DESDM (2007). Fani Bagus. Jakarta. 7. Jakarta diakses tanggal : 15/06/2009 20:15 dari iklanum. diakses tanggal : 9/06/2009 08:20 dari Uoguelph.1. Muhammad H. ― DESAIN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK HYBRID UNTUK SISTEM PENERANGAN DI TAMBAK ―. ―RANCANG BANGUN ALAT PENYIRAM TAMAN DENGAN MENGGUNAKAN MATAHARI SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF (BUCK KONVERTER)‖. Proyek Akhir 2009. 5.com/forum/index. and Apllications.30. Surya Darma Adi. 6.0. ―Power Electronic Circuit.id/berita/listrik/39-listrik/129-pln-targetkanpemakaian-energi-listrik-terbarukan-10.

alldatasheet.html 11. http://www. Datasheet of ATmega16 8-bit Microcontroller with 16K Bytes InSystem Programmable Flash diakses tanggal : 9/06/2009 08:38 dari alldatasheet.com/datasheet pdf/pdf/78532/ATMEL/ATMEGA16.html Datasheet of IRF540 N-CHANNEL 100V .055 W .alldatasheet. 114 .com/datasheetpdf/pdf/17799/PHILIPS/IRF540. http://www.22A TO220 LOW GATE CHARGE STripFET™ II POWER MOSFET.0.10. diakses tanggal : 9/06/2009 08:25 dari alldatasheet.

LAMPIRAN LISTING PROGRAM MIKROKONTROLER /**************************************************** This program was produced by the CodeWizardAVR V1.25.3 Professional Automatic Program Generator © Copyright 1998-2007 Pavel Haiduc, HP InfoTech s.r.l. http://www.hpinfotech.com Project : Version : Date : 1/12/2006 Author : F4CG Company : F4CG Comments:

Chip type : ATmega16 Program type : Application Clock frequency : 11.059200 MHz Memory model : Small External SRAM size : 0 Data Stack size : 256 *****************************************************/ #include <mega16.h> #include <delay.h> // Alphanumeric LCD Module functions #asm .equ __lcd_port=0x15 ;PORTC #endasm #include <lcd.h> #define ADC_VREF_TYPE 0x20 // Read the 8 most significant bits // of the AD conversion result unsigned char read_adc(unsigned char adc_input) {
115

ADMUX=adc_input | (ADC_VREF_TYPE & 0xff); // Start the AD conversion ADCSRA|=0x40; // Wait for the AD conversion to complete while ((ADCSRA & 0x10)==0); ADCSRA|=0x10; return ADCH; } void nilaitegangan2(float fnilai,int x,int y,int tanda) { int satuan,ribuan,ratusan,puluhan,inilai; lcd_gotoxy(x,y); if (tanda==1) {if (fnilai<0) { fnilai = -fnilai; lcd_putchar('-'); } else { lcd_putchar('+'); } } inilai = fnilai *100; ribuan = inilai/1000; if (ribuan!=0) lcd_putchar(ribuan+0x30); else lcd_putchar(' '); ratusan = (inilai - (ribuan*1000))/100; lcd_putchar(ratusan+0x30); lcd_putchar('.'); puluhan = (inilai - (ribuan*1000)-(ratusan*100))/10; lcd_putchar(puluhan+0x30); satuan = inilai - (ribuan*1000)- (ratusan*100)-(puluhan*10); lcd_putchar(satuan+0x30); } struct rulex { int input1;
116

int input2; float finput1; float finput2; int output; float strengthx; } rulext[9]; flash float error[3,4]= {{-49,-49,-49,0},{-49,0,0,49},{0,49,49,49}}; flash float derror[3,4]= {{-10,-10,-10,0},{-10,0,0,10},{0,10,10,10}}; flash float outputx[7]= {0,0.83,1.67,2.5,3.33,4.17,5}; flash int rule[9,3]= {{0,0,0},{0,1,1},{0,2,2},{1,0,1},{1,1,2},{1,2,3},{2,0,2},{2,1,3},{2,2,4} }; //****************main program here ******************************************* void main(void) { float ferror[3]; float fderror[3]; float foutput[7]; ///////////////parameter////////////////// /* float seting = 10.0; float rinput = 98.0; int resolusi = 255; float routput = 5.0; int jumError = 3; int jumdError = 3; int jumOutput = 7; float rasioin; rasioin = rinput/resolusi; */ int i; unsigned char outalat;
117

TCNT0=0x00. float err1. // float rasioin = 98.unsigned char teginput.200 kHz // Mode: Fast PWM top=FFh // OC0 output: Non-Inverted PWM TCCR0=0x69.0/255. ADCSRA=0xA6. DDRA=0x00.pembagi. 118 . // Port Init PORTA=0x00. //Port D sebagai Output // Timer/Counter 0 initialization // Clock source: System Clock // Clock value: 11059. PORTD=0x00. SFIOR&=0x1F. // float keluaran. bit 6 n bit 7 PORTC=0x00. PORTB=0xc0. DDRB=0x3f. //Port B sebagai Output kecuali 2 bit terakhir. OCR0=0x37. DDRD=0xff.err2.t.800 kHz // ADC Voltage Reference: AREF pin // ADC High Speed Mode: On // ADC Auto Trigger Source: Free Running // Only the 8 most significant bits of // the AD conversion result are used ADMUX=ADC_VREF_TYPE. DDRC=0x00. int s. //pwm duty cycle 50% // ADC initialization // ADC Clock frequency: 172. // float rasiout = 5.derr.jum.0/255.

00V"). // 12345678901234567890 lcd_putsf("Out:00.00 "). rulext[i].output = rule[i. PORTB=0xc0.// LCD module initialization lcd_init(16). lcd_putsf("Copyright by YZ"). lcd_gotoxy(0. lcd_putchar(' '). lcd_putchar(51). lcd_gotoxy(0.0"). lcd_putsf("Err: ").0].i++) { rulext[i]. } // 12345678901234567890 lcd_putsf("AVR Fuzzy ver1. lcd_putsf("Output: ").1). delay_ms(1000).0).i<=8.input2 = rule[i. 119 . for(i=0. lcd_gotoxy(0. PORTD=0. lcd_clear().1). lcd_putsf("E:00. lcd_putsf("dErr: "). rulext[i].2]. lcd_gotoxy(0. lcd_clear(). lcd_putchar(51).00"). lcd_gotoxy(0.0). lcd_putchar(55).1). // 12345678901234567890 lcd_putsf("I:00.input1 = rule[i.1]. delay_ms(1000).

error[i][0]) / (error[i][1] error[i][0])). derr= err1-err2.0/255). i++) { if (err1 < error[i][0]) {ferror[i]= 0.10. goto terus. goto terus. err2 = err1.2.} if (err1 <= error[i][1]) { if (error[i][0] == error[i][1]) {ferror[i]= 1. nilaitegangan2 (err1. terus: } 120 . while(1) { teginput = read_adc(0). nilaitegangan2 (teginput*(98.0. goto terus.0/255))-10. goto terus. goto terus.12.1).0.0).2.} } ferror[i]= 1. goto terus.} if (err1 > error[i][3]) {ferror[i]= 0.} } if (err1 >= error[i][2]) { if (error[i][2] == error[i][3]) {ferror[i] =1.0. // fuzifikasi error and get membership value for (i=0 .err2= 0. err1=(teginput*(98.} else {ferror[i]= ((err1 . //nilaitegangan2 (derr.i<3.err1) /(error[i][3] error[i][2])).1).} else {ferror[i] =((error[i][3] .

} else {fderror[i]= ((derr . //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(ferror[1].x.} if (derr > derror[i][3]) { fderror[i]= 0.0).0). i++) { if (derr < derror[i][0]) { fderror[i]= 0.y. goto terus2.y.x.x. goto terus2.0).y.//nilaitegangan2(ferror[0].} if (derr <= derror[i][1]) { if (derror[i][0] == derror[i][1]) {fderror[i]= 1. //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(ferror[2]. //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi tampilan di lcd 121 .} else {fderror[i] =((derror[i][3] derr) /(derror[i][3] .i<3. //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi tampilan di lcd // fuzifikasi derror and get membership value for (i=0 .derror[i][2])).x. goto terus2. //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(fderror[1].0).} } fderror[i]= 1.y. terus2: } //nilaitegangan2(fderror[0].0).} } if (derr >= derror[i][2]) { if (derror[i][2] == derror[i][3]) {fderror[i] =1. goto terus2.y. goto terus2.x.derror[i][0]) / (derror[i][1] .derror[i][0])). goto terus2.

rulext[i].x. untuk posisi tampilan di lcd // find max for each membership output for (i=0 .0).y. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[8]. if (rulext[i].strengthx.strengthx. i++) { rulext[i]. } //nilaitegangan2(rulext[0].input2]. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[1]. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[2]. i++) { foutput[i]=0.y. //x dan y diisi sesuai selera untuk posisi tampilan di lcd // evaluation rule for (i=0 .y.0).y.y.0).strengthx = rulext[i].finput2) rulext[i].0).y.x.x. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[6].strengthx.strengthx = rulext[i].i<7. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[7].y.strengthx. } //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera //x dan y diisi sesuai selera 122 .0).x.input1].x.x.//nilaitegangan2(fderror[2]. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[4].strengthx.0).0).0).x.0).finput2.0).strengthx.strengthx.y.y.finput1.i<9.x.finput2 = fderror[rulext[i]. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[5].x.strengthx.strengthx.finput1 < rulext[i]. else rulext[i]. untuk posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(rulext[3].y.x.finput1 = ferror[rulext[i].

x. 123 .0). // } PORTD= outalat.output]=rulext[i].i<7. if (rulext[i].0).strengthx > foutput[rulext[i].y. pembagi=pembagi + foutput[i].x. for (i=0 .x. // outalat = keluaran/rasiout. posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(foutput[4].y. pembagi=0.0). } // keluaran = jum/pembagi.4.x.i<9.y. if ((jum!=0) && (pembagi!=0)) { outalat = (jum/pembagi)/(5.0).y. posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(foutput[1].output. posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(foutput[5].y.output]) foutput[rulext[i].for (i=0 .x.1. posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(foutput[3]. posisi tampilan di lcd //x dan y diisi sesuai selera untuk //x dan y diisi sesuai selera untuk //x dan y diisi sesuai selera untuk //x dan y diisi sesuai selera untuk //x dan y diisi sesuai selera untuk //x dan y diisi sesuai selera untuk //x dan y diisi sesuai selera untuk // fuzifikasi output jum=0.y. } //nilaitegangan2(foutput[0].strengthx.0).x. posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(foutput[6]. i++) { // d=rulext[i].y.0).0). i++) { jum=jum + (foutput[i] * outputx[i]).0). posisi tampilan di lcd //nilaitegangan2(foutput[2].0/255).x. nilaitegangan2((jum/pembagi).

// pintu air t=read_adc(5).6==0) {PORTB=0xc3.1).1).7==0) { PORTB=0xc2. 124 . // limit max else {*/ if (s<t+5) // maju { if (PINB.1). //setting /* if (t<3) { PORTB=0x00. lcd_putsf("UP "). } else { if (t>253) PORTB=0x00. lcd_gotoxy(11. } else {PORTB=0xc0. lcd_gotoxy(11. lcd_putsf("STPUP").1). lcd_gotoxy(11. } } if (s>t+5) // mundur { if(PINB. lcd_gotoxy(11. lcd_putsf("DW ").s=read_adc(2). } else {PORTB=0xc0.

} } if ((s<=t+5)&&(s>=t+5)) // stop { PORTB=0xc0.lcd_putsf("STPDW"). lcd_gotoxy(11. lcd_putsf("STP "). delay_ms(500). } // } // } } } } 125 .1).

27 Juli 1987 : Ds.ITS). Dan memiliki motto ―man jadda wa jadda‖. Riwayat pendidikan formal yang ditempuh:  SDN Jambean 1 lulus tahun 2000  MTsN Kediri 2 lulus tahun 2003  SMA Negeri 1 Kediri lulus tahun 2006  Diploma 4 Jurusan Teknik Elektro Industri Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Pada tanggal 22 Juli 2010 mengikuti Seminar Proyek Akhir sebagai salah satu persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Sains Terapan (S. 126 . Seketi-Ngadiluwih-Kediri : 085648812487 : iyash33@gmail.Biodata Penulis Nama TTL Alamat Hp Email : Triyas Ika Wulandari : Kediri.Institut Teknologi Sepuluh Nopember (PENS .ST.com Penulis terlahir sebagai anak ketiga dari 3 bersaudara dari pasangan Sukarji dan Mudawaroh termasuk sosok yang periang dan mudah bersosialisasi.) di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful