D.

Pengelolaan Tanah dan Air Pengelolaan tanah dan air (soil and water management) merupakan kunci utama untuk keberhasilan pengembangan pertanian di lahan rawa pasang surut, termasuk tanah sulfat masam. Pengelolaan tanah dan air ini meliputi jaringan tata air makro maupun mikro, penataan lahan, ameliorasi, dan pemupukan.

a. Jaringan tata air makro Pengembangan lahan rawa meliputi kegiatan reklamasi dan pengelolaan. Kegiatan reklamasi dimulai dari perencanaan, penelitian dan pelaksanaan di lapangan. Penelitian yang mendukung perencanaan reklamasi sangat diperlukan terutama penelitian sumberdaya lahan meliputi tanah, air, iklim, dan hidrologi serta aspek lingkungan. Dalam pelaksanaannya reklamasi mencakup pekerjaan penebangan hutan dan pembakaran, konstruksi jalan, dan pembuatan saluran drainase (Widjaja-Adhi, 1995). Sistem reklamasi lahan rawa di Indonesia telah dilakukan sejak proyek P4S yang dimulai awal Pelita I di lahan rawa pasang surut pantai timur Sumatera, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan serta Kalimantan Barat. Menurut Subagjo dan Widjaja-Adhi (1998) selama PJP I telah ditetapkan lima sistem jaringan tata air makro, yaitu: 1) sistem garpu, 2) tangga, 3) sisir tunggal, 4) sisir berpasangan, dan 5) kombinasi garpu dengan sisir. Selain kelima sistem tersebut UGM telah mengkombinasikan dengan pembuatan kolam pada ujung saluran primer atau sekunder (Gambar 1) yang disebut dengan sistem kolam. Keuntungan dari sistem kolam ini adalah asamasam atau racun dapat diendapkan dalam kolam tersebut tidak masuk ke dalam lahan pertanian dan memelihara aliran sewaktu air surut. Sistem kolam ini telah dilaksanakan di Pulau Petak dan Barabai Kalimantan Selatan.

Sistem jaringan tata air tersebut sebenarnya tidak berlaku umum tetapi tergantung kepada tipologi lahan dan tipe luapan di daerah itu. Sistem jaringan tata air selain dibedakan menurut bentuknya dapat pula dibedakan menurut hubungan tata air, yaitu sistem terbuka dan sistem tertutup. Sistem reklamasi jaringan tertutup adalah cara pembukaan lahan yang jaringan tata airnya tidak berhubungan satu sama lain (zonasi). Sistem ini seperti yang dilakukan oleh petani Suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah dan Suku Bugis di Pulau Sumatera. Pada sistem tertutup ini pembuatan saluran atau handil sangat hati-hati dengan memperhatikan karakteristik tanah dan tipe luapan air sungai. Handil itu dibuat tegak lurus sungai ke arah hutan mengikuti garis kontur sehingga handil itu tidak selalu lurus dan panjangnya tergantung air pasang masuk (4-10 km). Cara reklamasi seperti ini umumnya berhasil dalam meningkatkan produktivitas lahan rawa, terutama padi, palawija, dan tanaman buah-buahan. Berdasarkan hasil penelitian Badan Litbang Pertanian bahwa lahan pasang surut memiliki prospek yang besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian terutama dalam kaitannya dalam mendukung program ketahanan pangan dan agribisnis melalui peningkatan dan diversifikasi produksi, peningkatan pendapatan dan lapangan kerja. Namun untuk mendukung

. Selanjutnya dalam pembuatan saluran baik primer. pengaturan pintu air sebaiknya mulai dilakukan di tingkat tersier ke bawah. sebab penurunan muka air yang drastis akan mengakibatkan teroksidasi lapisan pirit. pengelolaan air di lahan pasang surut dibedakan ke dalam : (1) Pengelolaan air makro. kawasan retarder dan sepadan sungai/laut dan saluran intersepsi bila diperlukan serta kawasan tampung hujan. tetapi untuk tersier sebaiknya tidak dianjurkan. (2) pengelolaan air mikro. dan 5) sebagai pendukung bagi proses reklamasi. 1998). 3) sebagai alat trasportasi. (1992). Dalam rancangan infrastruktur hidrologi. tinggi air di saluran rata. Selain itu penurunan permukaan air yang drastis juga akan menyebabkan gambut kering tak balik (irrevisible drying) sehingga akan mempercepat penurunan permukaan gambut (subsidence) dan atau cepat hilangnya lapisan gambut. sekunder dan tersier perlu memperhatikan tata letak. Pembuatan saluran harus mengikuti atau memperhatikan garis kontur dan tipologi lahannya. Fungsi jaringan tata air sebagai alat transportasi perlu dipertimbangkan pada tahapan mana ini dapat diberlakukan. Al. yaitu 1) berfungsi sebagai saluran drainase. Saluran dengan mempertimbangkan garis kontur maka aliran air dapat mengalir dengan baik. yaitu pemanfaatan jaringan tata air berikut salurannya dan tata ruang untuk penataan lahannya (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. 1998). dimensi dan cara pembuatan salurannya disesuaikan dengan fisiografi dan kondisi lahan sehingga menunjang kelestarian dan produktivitas lahan.kearah pengembangan pertanian yang berhasil dan berkesinambungan dilahan pasang surut ada dua hal penting yang harus diperhatikan dalam reklamasi lahan. besi. dan konservasi sumber air. dan sulfat akan muncul ke permukaan dan dengan adanya air hujan akan meningkatkan kemasaman (pH) air di saluran. Hal ini akan sangat berpengaruh dalam proses pencucian bahan-bahan beracun dari lahan ke saluran dan seterusnya ke sungai berjalan lancar. 4) berfungsi sebagai konservasi sumberdaya air rawa. pemasok air. Pengelolaan air makro yaitu penguasaan air di tingkat kawasan reklamasi yang bertujuan mengelola berfungsinya jaringan drainase/irigasi (navigasisekundertersier). mendukung proses reklamasi. Pembuatan tata ruang sebelum saluran dibuat perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pola penggunaan lahan hipotetik yang dikemukakan oleh Widjaja-Adhi. Untuk mencapai jaringan tata air ini hendaknya berpegang kepada pola penggunaan lahan dan pola pemanfaatan sekaligus diharapkan dapat berfungsi sebagai saluran drainase. dan (3) pengelolaan air tingkat tersier yaitu mengkaitkan antara pengelolaan air makro dan pengelolaan air mikro (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah. (1995) sedikitnya terbuka lima peluang fungsi dari jaringan pengairan rawa. Pembuatan pintu air pada saluran primer atau sekunder seperti dilahan ex-PLG sangat tidak efisien karena mengganggu fungsi transportasi masyarakat sekitar sehingga akhirnya dijebol. Pada tahap saluran primer dan sekunder mungkin fungsi ini dapat diberlakukan. Menurut Harjono. 2) sebagai pemasukan air. Dimensi dan kedalaman saluran perlu dipertimbangkan sehubungan dengan keadaan hidrologi di daerah tersebut.

dan (5) menjaga kualitas air di petakan lahan dan di saluran. kemudian air tersebut dikeluarkan setelah pengolahan tanah selesai. (1999). Untuk lebih memperlancar keluar masuknya air pada petakan lahan yang sekaligus memperlancar pencucian bahan racun. Widjaja-Adhi (1995) menganjurkan pembuatan saluran cacing pada petakan lahan dan di sekeliling petakan lahan. semakin rapat pula jarak antar saluran cacing tersebut. Tata Air Mikro Sistem pengelolaan tata air mikro berfungsi untuk : (1) mencukupi kebutuhan evapotranspirasi tanaman. Oleh karena itu. (2) mengatur tinggi muka air di saluran dan secara tidak langsung di petakan lahan. baik dari hujan maupun dari air pasang. sedangkan di dalam petakan lahan dibuat saluran cacing dengan interval 3-12 m dan di sekeliling petakan lahan tergantung pada kondisi lahannya. Penataan air di lahan petani dapat dilakukan dengan sistem aliran satu arah (one-way flow system) dan sistem aliran yang sifatnya bolak-balik (twoway flow system). (3) mencegah terjadinya bahan beracun bagi tanaman melalui penggelontoran dan pencucian. Pengelolaan air tingkat tersier ditujukan untuk mengatur saluran tersier agar berfungsi: (1) memasukkan air irigasi. Dalam hal ini.Kawasan retarder dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya banjir di daerah hulu sungai termasuk mengurangi kedalaman dan lama genangan air dilahan lebak dangkal dan tengahan. Hasil penelitian Suriadikarta et al. Sistem pengelolaan air di tingkat tersier dan mikro tergantung kepada tipe luapan air pasang dan keracunan di petakan lahan. b. saluran kuarter biasanya dibuat di setiap batas pemilikan lahan. air di petakan lahan perlu diganti setiap dua minggu pada saat pasang besar. Oleh karena itu. seyogyanya lebak dalam dapat dimanfaatkan sebagai kawasan retarder dengan jalan diperdalam dan alirannya diarahkan ke sungai di bagian hilirnya. (4) mengatur tinggi muka air. Usaha pencucian ini akan berjalan baik apabila terdapat cukup air segar. Hal yang perlu . Semakin tinggi tingkat keracunan. (2) mencegah pertumbuhan tanaman liar pada padi sawah. Kawasan tampung hujan dimaksudkan sebagai daerah sumber air untuk irigasi. Saluran itersepsi dimaksudkan untuk menampung aliran permukaan dan sebagai tempat memproses air yang mengandung bahan beracun agar tidak memasuki areal pertanian. Hasil penelitian Subagyono et al. Saluran ini dibuat di daerah perbatasan lahan kering dan rawa menyerupai waduk panjang serta diarahkan untuk menyalurkan kelebihan air ke sungai di bagian hilirnya. sistem pengelolaan tata air mikro mencakup pengaturan dan pengelolaan tata air di saluran kuarter dan petakan lahan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman dan sekaligus memperlancar pencucian bahan beracun. dan (3) mengatur kualitas air dengan membuang bahan beracun yang terbentuk di petakan lahan serta mencegah masuknya air asin ke petakan lahan. (1999) pencucian bahan beracun dari petakan lahan dilakukan dengan memasukkan air ke petakan lahan sebelum tanah dibajak. yaitu antara 300-800% bobotnya. Kawasan tampung hujan sebaiknya dialokasikan pada lahan gambut di bagian hulu sungai karena gambut memiliki daya menahan dan melepas air tinggi.

mendapat perhatian khusus dalam sistem tata air adalah sinkronisasi antara tata air makro dan mikro (Subagyono et al. maka pola pemanfaatan lahan dapat dilaksanakan dengan sistem surjan. Dalam melakukan penataan lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan. Hasil rata-rata ubinan padi varietas Cisadane mencapai 6. c. Pencucian lahan dimaksudkan agar unsur yang bersifat racun bagi tanaman seperti Fe2+.2 pada saat sebelum pengolahan tanah menjadi rata-rata 4.44 t/ha GKP. sedangkan untuk lahan bertipe luapan C dan D. Penataan lahan Penataan lahan perlu dilakukan untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. Pintu klep (flapgate) dipasang berlawanan arah. dan Al3+ keluar dari lahan usaha dan pH tanah menjadi lebih baik. sayuran atau buah-buahan. sehingga pencucian lahan dapat berlangsung dengan efektif. Aliran satu arah dikombinasikan dengan pengolahan tanah memakai traktor tangan dan pemberian dolomit pada lahan sulfat masam dalam satu unit tata air saluran sekunder (50 ha) oleh Proyek ISDP (1997). 1999). dan pola pemanfaatannya seperti pada tipologi sulfat masam potensial dengan tipe luapan A. sulfat. Skesta kedua sistem tata air tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3.26 t/ha GKP sedangkan varietas Cisangarung dapat mencapai 9. Pada saluran irigasi pintu klep membuka ke arah dalam sedang pada saluran drainase pintu klep membuka ke arah luar.8 pada saat penanaman dan 5. Misalnya. maka penataan lahan sebaiknya untuk sawah. Guludan dibuat secara bertahap dan tanahnya diambil dari lapisan atas. (1995) menunjukkan adanya peningkatan kualitas lahan dan hasil tanaman dari musim ke musim. Tata air pada lahan yang bertipe luapan A dan B perlu diatur dalam sistem aliran satu arah (one way flow system). Nilai pH air tanah meningkat dari rata-rata 4. penerapan aliran sistem satu arah untuk pencucian hanya akan berjalan efektif jika kondisi saluran tersier. Pintu air tersebut dapat berupa stoplog maupun pintu ayun atau pintu engsel (flapgate). Hasil penelitian pengelolaan tata air mikro dengan cara tersebut pada lahan sulfat masam dengan berbagai sistem penataan lahan di Karang Agung Ulu oleh Djayusman et al. Tetapi bila tipe luapan B. dan primer semuanya dalam kondisi baik dan arah aliran tidak bolak-balik. karena pirit akan lebih stabil tidak mengalami oksidasi dan tanaman padi dapat tumbuh dengan baik. sekunder. dapat secara cepat meningkatkan kualitas lahan dan memberikan hasil yang baik bagi tanaman padi dan palawija. tipe luapan. . Hal ini dilakukan untuk menghindari oksidasi pirit. saluran air perlu ditabat/disekat dengan stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut. 1998). palawija. Pada sistem aliran satu arah dirancang saluran irigasi dan saluran drainase secara terpisah. Sedangkan kandungan Fe++ 160 ppm pada saat tanam dan 72 ppm pada saat panen. Untuk keperluan pengaturan tata air ini perlu dibangun pintu-pintu yang sesuai sebagai pengendali air. Untuk tanah sulfat masam potensial pengolahan tanah dan pembuatan guludan sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Sistem surjan dapat digunakan untuk tanaman padi..4 pada pada saat panen (Widjaja-Adhi dan Alihamsyah.

banyak terdapat di daerah rawa. Program Pascasarjana. dan 5-9 tabukan.E dari 5 Posting) Keterangan: * : Makalah Pengelolaan Kesuburan Tanah.5-0. baik pada pasang surut maupun lebak. Indonesia. namun bila telah teroksidasi maka akan memunculkan problem. Program Magister (S2). Lebar guludan 3-5 m. kopi. Pengelolaan Lahan Sulfat Masam Melalui Aktivitas Mikroorganisme Tanah sulfat masam merupakan tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2). Program Pascasarjana. Untuk tanah gambut tekstur lapisan tanah dibawahnya sangat menentukan dalam pola pemanfaatan lahannya. Universitas Sriwijaya. Indonesia.6 m. (Bagian 4. Universitas Sriwijaya. Palembang. bagi tanah. *** : Dosen Mata Kuliah Pengelolaan Kesuburan Tanah. Tabukan surjan ditanami padi sawah. Propinsi Sumatera Selatan. Mikroorganisme sangat berperan dalam pembentukan tanah tersebut. Universitas Sriwijaya. ** : Program Studi Ilmu Tanaman. Program Studi Ilmu Tanaman. dan tinggi 0. Oleh: Masayu Rodiah** dan Abdul Madjid Rohim*** (Bagian 4. dan kelapa). Indonesia. Propinsi Sumatera Selatan. Program Studi Ilmu Tanaman. Dari Tabel diatas ditunjukkan bagaimana pola pemanfaatan lahan dalam kaitannya tipologi lahan dan tipe luapan.Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman dilahan rawa. sedangkan guludan ditanami dengan palawija. . Palembang.E dari 5 Posting) E. Propinsi Sumatera Selatan. kualitas kimia perairan dan biota-biota yang berada baik di dalam tanah itu sendiri maupun yang berada di badan-badan air. Setiap ha lahan dapat dibuat 6-10 guludan. Sistem surjan baik dilakukan pada tipe luapan B dan C sedangkan tipe luapan D lebih baik untuk sistem pertanian lahan kering. Palembang. Program Magister (S2). Program Pascasarjana. sedangkan tabukan dibuat dengan lebar 15 m. Pada kondisi tergenang senyawa tersebut bersifat stabil. dan tanaman industri (kencur. Program Magister (S2). sayuran.

Adanya proses oksidasi senyawa pirit dan proses reduksi dari hasil oksidasi tersebut membawa berbagai dampak negatif bagi pertumbuhan tanaman dan lingkungan sekitarnya. Akibatnya terjadi oksidasi senyawa pirit. Karena itu perlu dilakukan upaya penanggulangan agar dampak negatif tersebut dapat ditekan seminimal mungkin tanpa banyak mengurangi tingkat produksi padi. Untuk itu perlu dipelajari proses-proses oksidasi dan reduksi dari senyawa pirit tersebut agar diketahui cara-cara pengelolaannya yang sesuai. topografi dan ketersediaan air. Dilihat dari potensi dan dampaknya. yang dapat meracuni tanaman padi. diperkirakan terdapat sekitar 6. lahan tersebut sebenarnya mempunyai potensi untuk pengembangan tanaman pangan dan tahunan. akan terjadi proses reduksi. Proses tersebut meningkatkan pembentukan besi ferro dan sulfida. maka tanah tersebut membutuhkan pengelolaan yang tepat dan terintregasi dari berbagai aspek. terutama pada musim kemarau. Topografi termasuk kategori datar (<3%) style=""> air yang bervariasi tergantung tipe luapan air. yang menghasilkan asam sulfat. Namun aktivitas kedua bakteri tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya. pembentukan pirit atau H2S sangat ditentukan olek aktivtas bakteri pereduksi sulfat Desulfovibro sp. Sumatera.. Dilihat luasan. bila tergenang pada musim hujan. Ditinjau dari aspek biologi. Sedangkan dalam kondisi reduksi.. baik kimia. dan Irian (Nugroho et al. karena adanya saling ketergantungan satu sama lain antara bakteri dan lingkungannya.7 ha lahan berpirit tersebut. Mensvoort dan Dent (1998) menyebutkan bahwa senyawa pirit tersebut merupakan sumber masalah pada tanah tersebut. Permukaan air tanah turun di bawah permukaan lapisan pirit. Pembukaan lahan pada tanah tersebut selalu dibarengi dengan pembuatan saluran air untuk kepentingan transportasi dan dranase/irigasi kawasan tersebut. Di Indonesia.dimana hasil oksidasi tersebut tercuci ke perairan tersebut. Tanah-tanah yang sudah teroksidasi ini. dan ditanami padi. palawija dan buah-buahan dengan hasil yang bervariasi. 1992). Kemasaman yang rendah tersebut berdampak negatif terhadap sifat kimia tanah dan aktivitas mikroba tanah. maka kecepatan oksidasi senyawa pirit sangat ditentukan oleh peran dari bakteri pengoksidasi pirit yang disebut Thiobacillus sp. Tapi dalam kenyataannya. yang tersebar di pulau Kalimantan. membuat pH tanah sangat masam. pengelolaan air tak terkendali dengan baik. Reaksi oksidasi dan reduksi pada tanah tersebut dipengaruhi berbagai aspek. Karena itu dalam pengelolaan tanah sulfat masam dapat didekati melalui pemanfaatan peranan kedua bakteri tersebut. . Sebagian lahan tersebut telah dibuka untuk pemukiman transmigrasi. biologi maupun fisika tanah. dan umumnya dibawah potensi produksi tanaman.

 Mengurangi suplai oksigen melalui penggenangan. sehingga lahan tidak layak digunakan untuk pertanian.  Pemberian kapur. Hasil pengujian Polford et al. Selain itu.5¶ dichlorophenylmethane) dan deterjen efektif mencegah kerja bakteri pengoksidasi Thiobacillus ferrooxidans. berdasarkan hasil penelitian Arkesteyn (1980). terjadi suksesi bakteri dengan perubahan pH tanah. kemampuan oksidasi secara biologi tidak berbeda dengan secara kimia.0 akibatnya aktivitas bakteri pengoksidasi terhambat. Hasil penelitian Arkesteyn (1980) menunjukkan bahwa adanya penambahan kapur mencegah pemasaman. bakteri pengoksidasi pirit lainnya seperti Leptospirillum ferrooxidans atau genus Metallogenium gagal diisolat. temperatur 5-55oC (optimal 30oC).5-5. Ini artinya pada pH diatas 4. tetapi berguna untuk menghambat Streptomyces scabies penyebab penyakit pada kentang. bakteri tersebut adaptif pada pH rendah (optimum untuk pertumbuhannya 2-3) dengan konsentrasi besi ferro yang tinggi.5-4. pH yang cocok untuk habitat Thiobacillus ferrooxidans adalah 1. sehingga kerja bakteri pengoksidasi terhambat. oksidasi kimia (tanpa bakteri) lebih rendah dibanding tanah yang diberi bakteri Thiobacillus ferrooxidans (oksidasi biologi). Aktivitas bakteri pengoksidasi dapat ditekan melalui pemberian bakterisida yang spesifik. pemberian NaN3 dan N-ethylmaleimide (NEM) mampu menghambat oksidasi Fe2+ dan So.5 didominasi oleh bakteri metalogenium. Menurut Anonim (2002b).0. Kemasaman ini menyebabkan masalah pada organisme lain dan melarutkan logam-logam berat. sehingga pH meningkat diatas 5.2¶ dyhydrpxy 5. besi tersebut digunakan sebagai donor elektron. pH 1. Selain itu. melalui:  Pemberian bakterisida. Wako et al.3). Mencegah atau memperlambat terjadi proses oksidasi. adanya ion Ca yang berasal dari kapur akan menetralkan ion sulfat membentuk gipsum (CaSO4) sehingga menurunkan aktivitas ion sulfat. Mempercepat proses reduksi sulfat dan besi.0 (optimal 3. 2. (1988) mendapatkan bahwa bakterisida seperti Panasida (2. terlihat betapa besarnya peran dari mikroorganisma. Hasil reduksi tersebut dikeluarkan dari lahan melalui air . dimana pada pH dibawah 4. karena meningkatnya populasi bakteri lainnya yang dapat menyaingi dalam pengambilan berbagai kebutuhan hidupnya seperti oksigen dan lainnya. sedangkan pada pH netral didominasi oleh bakteri Thiobacillus thioparus. karena itu pendekatan pengelolaan tanah sulfat masam melalui mikroorganisma dapat didekati melalui: 1. yaitu mencegah kerja dari bakteri pengoksidasi tersebut.0. dengan suhu optimal 30-35oC. yaitu berjalan sangat lambat.5. (1984 diacu dalam Mensvoort dan Dent 1998) menyebutkan bahwa kondisi optimum untuk oksidasi pirit sama dengan kondisi optimum untuk oksidasi besi oleh Thiobacillus ferrooxidans yaitu konsentrasi oksigen > 0. Pada percobaan tersebut. (1984) dan Jaynes et al. adanya udara mempercepat oksidasi S yang menyebabkan pH turun kurang dari 1. Menurut Mills (2002). dimana pengaruh pH pada konsentrasi besi direpleksikan dengan energi yang dihasilkan. dengan menciptakan kondisi lingkungan yang diperlukan oleh bakteri tersebut. Menurut Anonim (2002b).01 Mole fraksi (1%).Dalam proses oksidasi-reduksi pada tanah sulfat masam. Pada pH 3.5-3.

Sedangkan pada proses reduksi. Kecepatan oksidasi dan reduksi secara kimia berjalan lambat. bakteri tersebut dapat tumbuh sampai pH 2 dan meningkatkan pH media menjadi 6. Adanya bantuan bakteri pengoksidasi atau pereduksi sebagai katalisator mempercepat reaksi tersebut beberapa ratus sampai juta kali. Adanya oksidasi senyawa pirit menyebabkan tanah menjadi masam. yang menggunakan sulfate.drainase saat air surut. Cd sebagai metal sulfide. kelarutan logam-logam meningkat. 1. basa-basa tercuci. Pengelolaan tanah sulfat masam dapat dilakukan melalui pengendalian aktivitas mikroorganisma yaitu menghambat aktivitas bakteri pengoksidasi melalaui pemberian bakterisida. pemutusan suplai oksigen melalui penggenangan dan pemberian kapur agar terjadi suksesi bakteri. thiosulphate (S2O3) dan sulfide (SO3-) atau ion yang mengandung sulfur tereduksi sebagai terminal aseptor elektron dalam proses metabolisme. 4. SO2 dari lahan basah bergabung dengan yang berasal dari industri dapat membentuk formasi hujan asam. Adanya senyawa pirit merupakan salah satu penciri tanah sulfat masam dan merupakan sumber masalah pada tanah tersebut. Bakteri tersebut memerlukan subtrat organik yang berasal dari asam organik berantai pendek seperti asam laktat atau asam piruvat. SRB merupakan bakteri obligat anaerob yang menggunakan H2 atau organik sebagai donor elektron (chemolithotrophic). dimana SO42. Laktat digunakan oleh SRB selama respirasi anaerobik untuk menghasilkan acetat dengan reaksi berikut: 2 CH3CHOHCOO. Dua gas terpenting adalah SO2 dan H2S.+ SO42CH3COO. Menurut Anonim (2002a) dan Gadd (1999). dimana SO2 diserap secara kimia. aktivitas mikroorganisma tanah dan kehidupan biota perairan menjadi terganggu. H2S mungkin dikonsumsi oleh pengoksidasi S. al. 5. Proses oksidasi senyawa pirit dan reduksi dari ion atau senyawa yang dihasilkannya terjadi secara kimia dan biologi. asam tersebut dihasilkan oleh aktivitas fermentasi dari bakteri anaerob lainnya. reduksi sulfat tersebut dimedia oleh organisme yang diketahui secara kolektif sebagai bakteri pereduksi sulfur (SRB). Pada kondisi aerobik. pada percobaan lab dengan media agar. selanjutnya dapat mengendapkan logam-logam toksik sebagai logam sulfida. bakteri pereduksi sulfat dapat mereduksi sulfat pada kondisi anaerob menjadi sulfida.+ 2HCO3. Beberapa gas dihasilkan dalam oksidasi-reduksi sulfur tersebut dan tervolatilisasi ke atmosfer dengan jumlah kurang dari 5% dari total residu sulfur.sebagai aseptor elektron. Menurut Beckett et.4.+ H2S H2S tersebut berguna untuk mengendapkan Cu. Menurut Saida (2002). Kelompok organisme pereduksi sulfat ini secara generik diberi nama awal dengan ³desulfo´. perlu dirangsang dengan pemberian bahan organik sebagai sumber elektron dan energi serta penggenangan untuk memutus suplai oksigen sebagai aseptor elektron . 2002). Menurut Anonim (2002b). Zn. (diacu dalam Sullivan et al. reduksi sulfat ke sulfide dalam lingkungan anarobik dilakukan oleh bakteri dan fungi. 3. Dalam kondisi alamiah. Menurut Mills (2002) bakteri tersebut berasal dari genus Desulfovibrio dan Desulfotomaculum yang merupakan organisme heterotrophic. 2.

yang telah dan sedang serta terus mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh faktor-faktor: Bahan Induk. secara kimiawi berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N. dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota (organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-zat aditif (pemacu tumbuh. Ca. Kajian ini meliputi: Fisika Tanah. yang ketiganya secara integral mampu menunjang produktivitas tanah untuk menghasilkan biomass dan produksi baik tanaman pangan. Agrohidrologi. dan Ilmu Ukur Tanah. Evaluasi Kesesuaian Lahan. maupun kehutanan. industri perkebunan. Analisis Bentang Lahan. 2. P. Kimia Tanah. Paduan antara Pedologis dan Edaphologis: Meliputi kajian: Pengelolaan Tanah dan Air. Ekologi Tanah. Kajian Pedologis: Mengkaji tanah berdasarkan dinamika dan evolusi tanah secara alamiah atau berdasarkan Pengetahuan Alam Murni. Pupuk dan Pemupukan. 2. Iklim. proteksi) bagi tanaman. dan Waktu. Organisme. Kata Pedo =i gumpal tanah. Konservasi Tanah dan Air. Klasifikasi Tanah. Cu. Topografi. dan Bioteknologi Tanah. Tanah adalah media tumbuh tanaman Perbedaan Pedologis dan Edaphologis 1. Kajian Edaphologis: Mengkaji tanah berdasarkan peranannya sebagai media tumbuh tanaman. Pendekatan Geologi (Akhir Abad XIX) Tanah: adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam. Fungsi Tanah 1. tanaman obat-obatan. K. Morfologi Tanah. Biologi tanah. Zn. B. Pengelolaan Tanah Rawa.Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran . S.Definisi Tanah 1. Definisi Tanah (Berdasarkan Pengertian yang Menyeluruh) Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi sebagai tempat tumbuh & berkembangnya perakaran penopang tegak tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara. Mn. Fe. Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Tata Guna Lahan. 3. sehingga membentuk regolit (lapisan partikel halus). Pendekatan Pedologi (Dokuchaev 1870) Pendekatan Ilmu Tanah sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Murni. Tanah: adalah bahan padat (mineral atau organik) yang terletak dipermukaan bumi. Pendekatan Edaphologis (Jones dari Cornel University Inggris) Kata Edaphos = bahan tanah subur. Survei dan Pemetaan Tanah. Mg. Kajian ini meliputi: Kesuburan Tanah. Cl).

dan asamasam organik.Penyedia kebutuhan primer tanaman (air. Profil dari tanah yang berkembang lanjut biasanya memiliki horison-horison sbb: O ±A ± E ± B C ± R. antibiotik dan toksin anti hama. Dua Pemahaman Penting tentang Tanah: 1. dan unsur-unsur hara) 3. Profil Tanah Profil Tanah adalah irisan vertikal tanah dari lapisan paling atas hingga ke batuan induk tanah.2. enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara) 4. dan 2. berwarna terang B : Horison illuvial atau horison tempat terakumulasinya bahan-bahan yang tercuci dari harison diatasnya (akumulasi bahan eluvial).A) dan solum tanah (O ± A ± E ± B) (2) Kelengkapan atau differensiasi horison pada profil (3) Warna Tanah Komponen Tanah 4 komponen penyusun tanah : (1) Bahan Padatan berupa bahan mineral (2) Bahan Padatan berupa bahan organik (3) Air (4) Udara .Tanah juga berfungsi sebagai pelindung tanaman dari serangan hama & penyakit dan dampak negatif pestisida maupun limbah industri yang berbahaya. liat silikat. udara. Fe dan Al) rendah tetapi pasir dan debu kuarsa (seskuoksida) dan mineral resisten lainnya tinggi.Sebagai habitat biota tanah.Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon. vitamin. C : Lapisan yang bahan penyusunnya masih sama dengan bahan induk (R) atau belum terjadi perubahan R : Bahan Induk tanah Kegunaan Profil Tanah (1) untuk mengetahui kedalaman lapisan olah (Lapisan Tanah Atas = O . maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman. baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut. Solum Tanah terdiri dari: O ± A ± E ± B Lapisan Tanah Atas meliputi: O ± A Lapisan Tanah Bawah : E ± B Keterangan: O : Serasah / sisa-sisa tanaman (Oi) dan bahan organik tanah (BOT) hasil dekomposisi serasah (Oa) A : Horison mineral ber BOT tinggi sehingga berwarna agak gelap E : Horison mineral yang telah tereluviasi (tercuci) sehingga kadar (BOT.Tanah sebagai tempat tumbuh dan penyedia kebutuhan tanaman.

Bahan tanah tersebut rata-rata 50% bahan padatan (45% bahan mineral dan 5% bahan organik). . 25% air dan 25% udara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful