You are on page 1of 9

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Tidak dapat dipungkiri bahwa penemuan dan penggunaan herbisida untuk pertanian telah menaikkan produktivitas kerja petani. Bisa kita bayangkan, kalau seorang petani mengendalikan gulma secara manual saja maka jumlah lahan yang bisa dikelolanya sangat terbatas dan hasil panennya hanya cukup untuk beberapa orang saja. Tetapi dengan penggunaan herbisida, seorang petani dapat mengelola areal pertanian yang jauh lebih luas dan hasil pertaniannya bisa memenuhi kebutuhan banyak orang. Pengendalian gulma pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai teknik pengendalian termasuk diantaranya pengendalian secara manual (tenaga manusia dilengkapi dengan peralatan kecil), memanfaatkan tanaman penutup tanah (leguminous cover crop), mekanis, ekologis, solarisasi, biologis, menggunakan bahan kimia (herbisida) dan teknik budidaya lainnya. Masing-masing teknik pengendalian tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangan dari masing-masing teknik pengendalian dapat diperkecil dengan menerapkan konsep pengendalian gulma secara terpadu (integrated weed management) yaitu memadukan cara-cara pengendalian yang kompatibel satu sama lain. Teknik pengendalian secara kimia (dengan menggunakan herbisida) cenderung mengalami peningkatan (kualitas dan kuantitas) dari tahun ke tahun di banyak negara di dunia ini. Volume pemakaian herbisida ini jauh lebih tinggi (70%) di negara-negara maju dibanding dengan di negara negara sedang berkembang (Valverde, 2003). Peningkatan penggunaan herbisida dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain, ketersediaan tenaga kerja terbatas, dengan herbisida waktu pelaksanaan pengendalian gulma relatif singkat, dan biaya pengendalian lebih murah (cost-effective) dibanding dengan teknik lain. Secara umum, semakin kecil persentase jumlah penduduk suatu negara yang hidup dari sektor pertanian semakin luas kepemilikan lahan setiap petani. Hal tersebut tentunya tidak akan bisa tercapai kalau pengendalian gulma mengandalkan tenaga manusia saja, seperti kita lihat di negara-negara sedang berkembang dimana sekitar 50% waktu petani hanya untuk menyiang (Labrada, 1997). Hal ini berakibat buruk tidak saja terhadap penurunan produksi tanaman tetapi juga terhadap tersedianya waktu bagi keluarga petani untuk kegiatan lain. Sebaliknya, pemakaian herbisida dapat membuat petani lebih mudah melakukan pekerjaan pengendalian, sehingga satu orang petani mampu mendukung lebih banyak penduduk yang

Berdasarkan sejumlah alasan tersebut. petani di negara maju (atau petani maju di negara sedang berkembang) cenderung memilih teknik pengendalian gulma secara khemis (dengan herbisida) dibanding dengan cara pengendalian lain (khususnya manual).hidup diluar sektor pertanian. . Tujuan Praktikum y Untuk mengamati pengaruh aplikasi herbisida kontak dan sistemik terhadap pertumbuhan gulma pada tanaman jagung y Untuk membandingkan hasil aplikasi herbisida dengan perlakuan kontrol.

Contoh herbisida kontak adalah paraquat. 1. yang berarti membunuh semua tumbuhan yang ada. Herbisida digunakan sebagai salah satu sarana pengendalian tumbuhan "asing" ini. perolehan cahaya matahari. Keistimewaannya. Yang pertama disebarkan pada lahan setelah diolah namun sebelum benih ditebar (atau segera setelah benih ditebar). Kelemahannya. Cara kerja herbisida Cara kerja herbisida di kelompokkan menjadi dua yaitu: herbisida kontak dan sistemik. Karena kompetisi dalam mendapatkan hara di tanah. Yang kedua diberikan setelah benih memunculkan daun pertamanya. Sehingga bermanfaat jika waktu penanaman harus segera dilakukan. Biasanya herbisida jenis ini bersifat nonselektif. gulma akan tumbuh kembali secara cepat sekitar 2 minggu kemudian. dan atau keluarnya substansi alelopatik. Cara kerja lain adalah dengan mengganggu keseimbangan produksi bahan-bahan kimia yang diperlukan tumbuhan. dalam arti tidak mengganggu tumbuhan pokoknya. terutama bagian yang berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Terdapat dua tipe herbisida menurut aplikasinya: herbisida pratumbuh (preemergence herbicide) dan herbisida pascatumbuh (postemergence herbicide). tumbuhan lain ini tidak diinginkan keberadaannya.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Herbisida adalah senyawa atau material yang disebarkan pada lahan pertanian untuk menekan atau memberantas tumbuhan yang menyebabkan penurunan hasil (gulma). Herbisida kontak. 2-3 jam setelah disemprot gulma sudah layu dan 2-3 hari kemudian mati. Herbisida ini hanya mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja. Pada umumnya herbisida bekerja dengan mengganggu proses anabolisme senyawa penting seperti pati. . Lahan pertanian biasanya ditanami sejenis atau dua jenis tanaman pertanian. Herbisida menjadi kompetitor karena memiliki struktur yang mirip dan menjadi kosubstrat yang dikenali oleh enzim yang menjadi sasarannya. dapat membasmi gulma secara cepat. Namun demikian tumbuhan lain juga dapat tumbuh di lahan tersebut. asam lemak atau asam amino melalui kompetisi dengan senyawa yang "normal" dalam proses tersebut. Herbisida jenis ini harus selektif.

Keistimewaannya.4D amina atau dengan herbisida Metsulfuron. Beberapa faktor yang mempengaruhi efektivitas herbisida sistemik. Contoh herbisida sistemik adalah glifosat. Herbisida Sistemik. sulfosat. Cara kerja herbisida ini di alirkan ke dalam jaringan tanaman gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun. titik tumbuh. Tidak menyemprot menjelang hujan. sehingga menghambat pertumbuhan gulma tersebut. Gunakan air bersih sebagai bahan pelarut.tunas yang ada dalam tanah. tunas sampai ke perakarannya. yaitu: Gulma harus dalam masa pertumbuhan aktif Cuaca cerah waktu menyemprot.2. Boleh dicampur dengan herbisida 2. . dapat mematikan tunas . Keringkan areal yang akan disemprot.

2. 2. Lahan diolah secara minimum. 4. Urea. herbisida terlebih dahulu disemprotkan ke tanah yang belum ditanami benih jagung.BAB III METODE PRAKTIKUM Alat dan bahan Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1. Lahan dibagi menjadi empat plot yaitu plot yang pertama untuk aplikasi herbisida preemergence. Diantara jarak barisan benih jagung diberi pupuk KCl + urea. 5. Herbisida (preemergance. Benih jagung dimasukan ke dalam lubang sebanyak dua buah. . 4. plot kedua untuk aplikasi herbisida kontak. dan sistemik). KCl. Tugal. Prosedur Praktikum Penyiapan lahan 1. kontak. Lahan ditugal sebanyak tiga lubang (satu lubang untuk benih dan dua lubang untuk pupuk). Untuk aplikasi herbisida preemergence. Benih jagung. plot ketiga untuk aplikasi herbisida sistemik dan plot keempat sebagai kontrol 3. 3. Penanaman 1. 2. Pengamatan pertumbuhan gulma dari keempat plot tersebut. 3.

Axonopus compressus. Cynodon dactylon. Namun. 2 71 Mimosa pundica. Muscari botricoides. dilakukan pengujian herbisida baik kontak maupun sistemik terhadap tanaman jagung yang preemergance dan yang sedang tumbuh. Euleusine indica Gulma yang tumbuh Pada paraktikum kali ini. terdapat perbedaan jumlah gulma yang hidup.BAB IV Hasil dan Pembahasan Rabu. Dari hasil pengamatan untuk setiap plot. 9 Desember 2009 Pengamatan minggu ke-1 setelah penanaman Petak ke1 2 3 4 Jumlah biji yang ditanam 24 40 35 30 Jumlah biji yang tumbuh 22 37 27 9 Jumlah tanaman yang disulam 11 Cyperus rotundus. Cynodon dactylon. 16 Desember 2009 Pengamatan minggu ke-2 setelah penanaman Petak keJumlah tanaman yang tumbuh 1 52 Ageratum conyzoides. Mimosa indica 3 44 Imperata pundica. Ageratum conyzoides 4 21 Lantana camara. Ini disebabkan oleh penanganan pada saat preemergance yang . Elephanthopus psicatus. Untuk plot 1 dan 4 jumlah tanaman yang tidak dikehendaki untuk tumbuh lebih banyak dibandingkan pada plot 2 dan 3. Axonopus compressus. Ipomea sp. Muscari botricoides. Perawatan untuk setiap plot diseragamkan untuk dapat melihat perbedaan dari setiap perlakuan. Cynodon dactylon. Mimosa indica. Setiap perlakuan dibuat plot-plot untuk memudahkan dalam pengamatan. Hal yang menjadi indikator dalam praktikum ini adalah jumlah gulma yang hidup pada masing-masing plot. Mimosa indika Gulma yang tumbuh Rabu. Muscari botricoides. Cyperus rotundus. untuk plot 2 jumlah gulma yang hidup lebih banyak dibandingkan dengan plot 1. Biden pilosa.

cara kerjanya hanya merusak bagian tertentu dari tubuh gulma saja. Gulma tidak akan tumbuh kembali. meskipun telah meninggalkan ubi maupun akar jalar. 2. . Atau dapat dikatakan pelumpuhan sementara. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya perlakuan pemberantasan gulma. sedangkan titik tumbuh gulma tersebut dapat terus berkembang melanjutkan pertumbuhannya. Untuk plot 2. seperti pada plot 1. agar tanaman yang akan dibudidayakan dapat tumbuh dengan optimal. karena tidak adanya inhibitor yang mampu menghambat pertumbuhan gulma. Walaupun reaksinya terbilang lebih lama dari herbisida kontak tetapi ampuh dalam menuai hasilnya. Herbisida ini menekan pertumbuhan gulma dari titik tumbuhnya. Pada plot 3. Ini disebabakan oleh penggunaan herbisida sistemik pada tanaman jagung. Pada plot 4 atau kontrol. karena telah dirusak titik tumbuhnya. untuk plot 3 dan plot 4. Herbisida masuk ke dalam metabolisme tubuh gulma dan merusak jaringan tumbuhnya. Data lain memperlihatkan hasil yang bertolak belakang yaitu. Aplikasi pada saat preemergance. plot tidak dilakukan perlakuan sama sekali. Kejadian ini wajar sekali dengan banyaknya gulma yang tumbuh di atas areal kontrol. dan 3 yaitu dengan menggunakan senyawa kimia (herbisida). menghendaki untuk menekan pertumbuhan gulma sejak dini.selektif terhadap gulma tetapi tidak untuk tanaman yang lain. gulma yang tumbuh hanya sedikit dibandingkan pada plot 4. yaitu dengan herbisida kontak. Hasilnya gulma tumbuh paling banyak diantara yang lain.

BAB V Kesimpulan .

wikipedia.org/wiki/Herbisida .DAFTAR PUSTAKA http://id.