STANDAR PERENCANAAN IRIGASI

PERSYARATAN TEKNIS BAGIAN PEMETAAN TOPOGRAFI PT – 02

PENGANTAR

Standar Perencanaan Irigasi yang telah ditetapkan tahun 1986 dan disusun dalam 3(tiga) kelompok yaitu Kriteria Perencanaan, Gambar Bangunan Irigasi, Persyaratan Teknis sejak tahun 2007 dilakukan penyesuaian Standar Perencanaan Irigasi yang

diprogamkan 3(tiga) tahun anggaran dengan alasan sebagai berikut :

Umur berlakunya Standar Perencanaan Irigasi sudah 20 thn (dari tahun 1986 s/d thn 2006) Bertambahnya type bendung (diantaranya bendung karet, bendung tyroll) Berkembangnya teknologi alat survei yang umumnya sudah digital (diantaranya alat pengukur debit sungai/saluran, alat survei topografi) Perubahan sosial budaya masyarakat Perubahan daerah tangkapan air (catchmen area) Ketentuan standar lama tidak sesuai lagi Berubahnya peraturan dan kebijakan

Kriteria Perencanaan tetap tidak berubah terdiri dari 7 (tujuh) bagian atau 7(tujuh) buku yang berisikan Kriteria Perencanaan Teknis untuk Perencanaan Irigasi (system planning), Perencanaan Bangunan Irigasi Jaringan Utama, Sekunder, Tersier, Parameter Bangunan, dan Standar Penggambaran.

Gambar Bangunan Irigasi tetap tidak berubah terdiri dari 2 (dua) bagian atau 2 (dua) buku yaitu Type Bangunan Irigasi yang berisi kumpulan gambar-gambar sebagai contoh informasi yang akan memberikan gambaran bentuk dan model bangunan dan Standar Bangunan Irigasi yang berisi kumpulan gamba-gambar bangunan yang telah distandarisasi serta langsung dapat digunakan.

Persyaratan Teknis tetap

tidak berubah terdiri dari 4 (empat)

bagian atau 4 (empat) buku yang berisi minimal syarat-syarat teknis harus dipenuhi dalam pembangunan irigasi.

Salah satu dari 4 (empat) bagian atau 4 (empat) buku persyaratan teknis yaitu Bagian Pengukuran Topografi dilakukan penyesuaian dengan alasan sebagai berkut :

Perubahan judul Menggabungkan sejenis Perubahan produk umumnya sudah digital Perubahan dan penyesuaian alat ukur yang digunakan Penggambaran tidak lagi manual beberapa pekerjaan pemetaan yang

Meskipun persyaratan teknis Bagian Pemetaan Topografi dengan batasan dan syarat yang tertuang dalam tiap bagian buku siap untu digunakan perencana irigasi, namun demikian dalam penerapannya masih memerlukan kajian teknis dari penggunanya, dengan demikian siapapun yang menggunakan persyaratan teknis Bagian Pemetaan Topografi ini tidak lepas dari tanggung jawab sebagai

perencana irigasi dalam merencanakan pembangunan irigasi yang aman dan memadai.

Setiap masalah di luar batas-batas dan syarat atau dalam batasbatas dan syarat persyaratan teknis Bagian Pemetaan Topografi mempunyai tingkat kesulitan dan kepentingan , harus dipecahkan dengan tenaga ahli khusus dan atau melaui konsultasi dengan Direktotat Irigasi Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan Umum sebagai pembina.

Semoga persyaratan teknis Bagian Pemetaan Topografi dapat bermanfaat dan memberikan sumbangan dalam pengembangan irigasi di Indonesia, kami mengharapkan langsung kritik dan saran untuk perbaikan kesempurnaan persyaratan teknis Bagian

Pemetaan Topografi.

Jakarta, 2007

Desember

Direktur Irigasi

DAFTAR ISI BAGIAN PEMETAAN TOPOGRAFI SUB BAGIAN 1 : PEMETAAN FOTOGRAMETRIS SUB BAGIAN 2 : PEMETAAN TERESTRIS SUB BAGIAN 3: PEMETAAN TRASE RENCANA SALURAN DAN LOKASI KHUSUS SUB BAGIAN 4 : PEMETAAN SUNGAI DAN LOKASI BENDUNG .

SUB BAGIAN I PEMETAAN FOTOGRAMETRIS .

...................6 Mutu Diaspositif Digital .. 3...................... 1....................................5...... 3............................................... Lebar Kamera ...................2 3.......... 3........................................................................3........... Pemasangan Premark (Tanda Kenal) .........................4................. Mutu Negative ......2 3........................ 3.... Pesawat dan Awak Pesawat (crew) .........................................................4 Film Udara ......3 Rencana Penerbangan .................... HASIL DAN DATA YANG DISERAHKAN KEPADA PEMILIK PEKERJAAN 3....... Luas Daerah Pemotretan .2 3...............3 3....................... 3........ 2......3........3 Basis Survei .3 3.............................1 3...........4.1 3.........2 Ruang Lingkup Pekerjaan ..4..............3............4 Tinggi dan Arah Terbang ......................... Daerah Pemotretan dan Penerbangan ............ Kondisi Pemotretan .5 Mutu Film dan Negative ................... Filter . .................1 3.5............4........4 Kalibrasi ..................................... Persyaratan Teknis Kamera .............................................................5............. 1.......................... PEMOTRETAN UDARA VERTIKAL 3.. IKHTISAR PEKERJAAN 1................ Exposure .................1 Umum ..3 3............................................1 3.....DAFTAR ISI PEMETAAN FOTOGRAMETRIS 1..5................2 3.......... Pemrosesan Foto Udara .........

........ 4.5 Penentuan Koordinat Fotogrametri .. 4......................2 Pemilihan Titik Model dan Pemberiann Tanda .......2 4......................... 5.... PEMROSESAN PETA FOTO DIGITAL . 4.......3. 4...................................................... 5..4...........................1..................... Metode Pengamatan dan Pengukuran ...................4 Pencatatan............................................................. 5.....2 Pengukuran Sipat Datar ..............1 Kelengkapan Receiver GPS ...........3..................................... 5......3 Pencatatan ............ 5..1 Desain Jaringan Titik Kontrol ........ 4...................... 4............................... 4.....4 Pembuatan Diagram Foto ....2 4..........................................1...................3 Pemindahan dan Penandaan Titik Kontrol ..................................................................4 Identifikasi Lapangan ... Pemrosesan . Reduksi . 4............................4...7 3..........3............ 4....4.6 Perataan Blok .2 Rencana Jaringan .....................................1 4..........................1 Persiapan Trianggulasi Udara ...1 Pengamatan GPS ......... 5.................... TRIANGGULASI UDARA 5......8 3. 6. 4.................3 Pengukuran Titik Rincik ..........3........ TITIK KONTROL TANAH 4............... Dokumentasi dan Anotasi .....9 Kualitas Fotogrametris .... Pencetakan dan Foto Indek .....................3 Pemasanaga Benchmark .......................................Reduksi dan Pemrosesan Hasil Lapangan ......3...............

............................. Titik Rincik dan Penumpangan Kontur(Contour overlay) dan Kontur Fotogrametri .. Kartografi Digital .............................1 7.......2 Orofoto Digital ............... Digital Elevasi Model(DEM) ........... Proses Ortofoto Digital .................................................... Digital Stereo Ploting ...................................2 6....... ..............................3 7.. 6..................6 Kartografi Digital .................000 ..... 8...000 .....................4......................3 6....... 7.... Identifikasi Lapangan ................................ 9............. 6..............7 Pengecekan Ketelitian Peta Foto Digital ...... 6........4 Penggambaran Halus Titik Rincik dan Kontur ................ 6...... 7.............................6.000 8...........1 Peta Orofoto Skala Digital 1 : 5................Bencmark dan Grid . PEMROSESAN PETA GARIS DIGITAL Interprestasi Foto Udara ..................................1 6..........2 Peta Foto Digital Skala 1 : 20........4.................................... 8.......................... TATA LETAK PETA FOTO DIGITAL SKALA 1 : 5. INFORMASI TITIK TINGGI DAN KARTOGRAFI 7................................ 6.................................................................................4 Peralatan dan Bahan .........1 Georeferencing ...........................5 Mosaik (Perakitan) ............................... Scanning Foto Udara . Penulisan nama...........000 DAN SKALA 1 : 20.................2 Informasi Titik Tinggi ........................................................

......................10.... TATA LETAK PETA GARIS SKALA 1: 5............000 ............................... ..000 DAN SKALA 1: 20.000 ..000 Peta Garis Digital Skala 1:5... Peta Garis Digital Skala 1:20.......

Tahap berikutnya pekerjaan Triangulasi Udara memperbanyak titik kontrol minor untuk orientasi foto udara yang dilanjutkan dengan pemrosesan ortofoto skala 1 : 5. batas daerah pemotretan udara sesuai dengan yang sudah ditentukan oleh pemilik pekerjaan dan negatif film milik Pemilik Pekerjaan. hasil Foto Udara Stereoskopis skala 1 : 10.1.000 yang kegiatannya meliputi pemasangan Benchmark (Benchmark) untuk kebutuhan Perencanaan Irigasi dengan ukuran dan interval jarak Benchmark yang sudah ditentukan. Ruang Lingkup Pekerjaan Pemetaan Ortofoto skala 1 : 5.000 dan skala 1 : 20.000 dan skala 1 : 20.2. IKHTISAR PEKERJAAN 1.000 pankhromatis hitam putih dengan pertampalan ke muka ± 60 % dan ke samping ± 30 %.000. Seluruh Benchmark dan Premark di ukur langsung di lapangan melalui pengamatan GPS dengan ketelitian Orde 3 (tiga). pengukuran harus terikat kepada titik tetap kepunyaan Bakosurtanal.1. Umum Pemotretan Udara dilaksanakan dalam posisi Vertikal dimana sebelumnya sudah terpasang Premark (Tanda Lapangan) di atas tanah untuk kontrol Triangulasi Udara dengan ukuran dan interval jarak Premark yang sudah ditentukan. 1. Pelaksana pekerjaan harus mempergunakan segala peralatan dan perlengkapan serta bahan-bahan yang memenuhi syarat teknis.000 meliputi kegiatankegiatan sebagai berikut : . Foto Udara Stereoskopis digunakan untuk peta Ortofoto atau peta Garis skala 1 : 5. kamera yang digunakan kamera metrik yang memiliki jarak fokus yang sudah di kalibrasi antara 151 mm-152 mm.

1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Pemasangan Premark (Tanda Lapangan) Pemotretan Udara Vertikal Pemasangan Benchmark (Benchmark ) Pengukuran Titik Kontrol Tanah Pengukuran Titik Rincik Ketinggian Triangulasi Udara Pemrosesan Ortofoto Kontur Fotogrametri Reproduksi Kartografi 10) Hasil Akhir Peta Ortofoto 11) Pemrosesan Peta Garis 1.y) dan pengukuran tinggi (z) menggunakan titik tetap Bakosurtanal.000 atau Skala yang lebih besar Bakosurtanal.3. 2. Semua negatif potret udara dalam tabung plastik 2. 3 (tiga) set foto udara hitam putih pada kertas double-weight . Hasil dan data Pemotretan Udara 1. Basis Survei Peta yang dibutuhkan untuk menetapkan jalur terbang Peta Rupa Bumi Skala 1 : 50. Referensi yang digunakan sebagai titik ikat pengukuran koordinat (x. 1 (satu) set diapositif tiap-tiap negatif foto udara 3. HASIL-HASIL DAN DATA-DATA YANG HARUS DISERAHKAN KEPADA PIHAK PEMILIK PEKERJAAN Seluruh hasil-hasil dan data-data diperiksa oleh pengawas pekerjaan dan diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan sebagai berikut : A.

5 m dan titik-titik tinggi (spot heights) dan softcopy dalam vcd/dvd. 8) 1 (satu) set foto perbesaran dengan skala 1 : 5.000 yang sudah digunakan selama pengukuran titik rincik ketinggian di lapangan.4. B. 4) Peta digital ortofoto yang asli dan penggambaran halus kontur dan overlay titik tinggi dalam bentuk vcd/dvd. 3 (tiga) set daftar beserta keterangan mengenai lokasi dan koordinat semua titik dengan tanda kenal. sertifikat kalibrasi kamera dan laporan mengenai hasil uji foto udara. 6. 7) Gambaran letak titik-titik secara lengkap. 3 (tiga) set foto indeks berskala 1 : 50. Hasil dan data Ortofoto 1) 3 (tiga) set peta digital ortofoto skala 1 : 5. kemajuan kerja.000 diatas kertas transparan. skala 1 : 20. 3) 1 (satu) peta digital skala 1 : 50.000 dengan kontur selang 0. 5) Semua foto asli dan satu set fotokopi semua pekerjaan pengamatan dan pengukuran dan perhitungan diberi indeks dijilid dan dilengkapi dengan keterangan/referensi.000 yang mencantumkan semua benchmark dengan jalur sipat datar utama dan sekunder. 2) 2 (dua) set peta digital ortofoto dengan selang kontur tiap 5 meter. 6) Daftar koordinat dari benchmark yang dibuat lengkap dengan data pilar triangulasi yang digunakan sebagai titik ikat. termasuk elevasinya.000. dimana dijelaskan baik posisi setiap jalur terbang maupun hubungan foto satu dengan yang lainnya. koordinat-koordinat dan dua foto dari semua pilar yang digunakan. . 5. 6 (enam) salinan laporan akhir yang isinya menyangkut penerbangan harian.

4) Peta garis digital yang asli dan penggambaran halus kontur dan overlay titik tinggi dalam bentuk vcd/dvd. termasuk elevasinya. 3. koordinat-koordinat dan 5 (lima) foto dari semua benchmark yang digunakan.5 m dan titik-titik tinggi (spot heights) dan softcopy dalam vcd/dvd. Pemasangan Premark (tanda kenal) c. 8) 1 (satu) set foto perbesaran dengan skala 1 : 5. skala 1 : 20.000 yang mencantumkan semua benchmark dengan jalur sipat datar utama dan sekunder. 3) 1 (satu) peta digital skala 1 : 50.000. PEMOTRETAN UDARA Pemotretan Udara dilaksanakan dalam posisi vertikal yang meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut : a. 2) 2 (dua) set peta garis digital dengan selang kontur tiap 5 meter. 5) Semua foto asli dan satu set fotokopi semua pekerjaan pengamatan dan pengukuran dan perhitungan diberi indeks dijilid dan dilengkapi dengan keterangan/referensi. Persyaratan Teknis Kamera d. Daerah Pemotretan dan Penerbangan e.000 dengan kontur selang 0. Hasil dan Data Peta Garis Digital 1) 3 (tiga) set peta garis digital skala 1 : 5. 7) Gambaran letak titik-titik secara lengkap.000 yang sudah digunakan selama pengukuran titik rincik ketinggian di lapangan. Mutu Film dan Negative .C. 6) Daftar koordinat dari benchmark yang dibuat lengkap dengan data pilar triangulasi yang digunakan sebagai titik ikat. Rencana Penerbangan b.

000 atau lebih besar.1. Rencana Penerbangan Rencana penerbangan harus dibuat untuk menetapkan jumlah jalur. dan arah pemotretan sesuai dengan ketentuan dibawah ini : 1) Arah jalur penerbangan pemotretan udara Arah jalur terbang yang akan dilakukan yaitu Timur-Barat atau UtaraSelatan. Terputusnya pemotretan dalam satu strip diperbolehkan apabila kondisi cuaca memang tidak memungkinkan untuk melanjutkan pemotretan atau dikarenakan mengubah tinggi terbang untuk penyesuaian skala.2. 2) Pemotretan Pada Satu Jalur Masing-masing jalur terbang harus dipotret secara berurutan dan setiap jalur terbang harus tercakup dalam 1 kali penerbangan /pemotretan. Pemasangan Premark (Tanda Kenal) . jumlah foto udara.Ketentuan pemotretan udara harus mengikuti ketentuan dibawah ini : 3. 3. 3) Awal dan Akhir Pemotretan Setiap awal dan akhir pemotretan untuk masing-masing jalur terbang harus mencakup minimum 2 exposure di luar batas area yang dipotret. Rencana jalur terbang dengan arah jalur penerbangan tersebut di atas harus dimasukkan dan digambar dalam usulan teknis pada peta rupa bumi skala 1 : 250.

60 m yang sesuai gambar 3. maka lakukan identifikasi foto dengan ketentuan berikut : Diperlukan 3 (tiga) titik (x. 4) Apabila ternyata premark tidak ditemui didaerah-daerah yang dimaksud didalam foto udara. . Tugu dipasang Premark berbentuk palang dengan ukuran keseluruhan 4 m dan lebar lengan 0.2 dan juga plastik berwarna putih atau orange. 3) Pemasangan Premark mengikuti ketentuan berikut : Sebelum pemotretan udara dimulai harus dipasang Premark dalam bentuk Tugu dengan interval 6-8 km yang melingkupi daerah pemetaan atau dengan interval 4 (empat) sampai dengan 6 (enam) basis foto udara sepanjang jalur terbang dan pada side lap di awal dan akhir yang tegak lurus jalur terbang serta ditempatkan minimal pada tugu yang terdistribusi secara merata di tengah wilayah pemotretan udara. Deskripsi Tugu yang menjelaskan lokasi dilapangan dan nomor Tugu sebanyak 5 (lima) kali dengan posisi 4 (empat) mata angin dan 1 (satu) dari atas. Premark dipasang sama dengan ketinggian tanah.y) dan 2 (dua) titik(z) yang ada di foto. daerah terbuka. 2) Pemasangan premark atau signalization harus dipasang sesuai dengan kebutuhan Triangulasi Udara dengan cara PAT-M atau PAT-B sehingga bayangannya dapat terlihat jelas dalam foto udara dan mudah mengidentifikasikannya dengan alat Stereo Ploter.1) Pemasangan premark untuk kontrol triangulasi udara dengan cara premarking (signalisasi) atau identifikasi foto hingga kerapatan dan ketelitiannya cukup untuk dapat mencapai ketelitian yang telah ditentukan.4. sehingga keadaan antara premark dan lingkungan menjadi kontras. Lihat pada Gambar 3.

sedangkan digunakan jaringan tertutup sipat datar.6). titik-titik tinggi 3. asalkan kualitas titik harus memenuhi syarat. diberi nomor titik foto.3. Jika memungkinkan. daerah terbuka datar dengan tekstur yang baik. 6) Tugu-tugu diukur berdasarkan pengamatan receiver GPS dan harus dipasang ditempat terbuka yang memungkinkan receiver GPS menerima langsung signal satelit GPS dengan ketinggian 15 derajat di atas horizon. Persyaratan Teknis Kamera . Titik-titik foto yang bersangkutan ditandai secara jelas pada bagian belakang foto (dapat dilakukan dengan menggunakan jarum) dan. Ini meliputi nomor titik foto. titik-titik tersebut harus jelas terlihat pada semua foto yang bersangkutan. Jika titik-titik tinggi dan denah dipisahkan. 5) Apabila titik kontrol foto identifikasi tidak berada dalam jalur benchmark maka hubungan ke benchmark dapat dilakukan dengan pengukuran sudut dan jarak antara.foto-foto tersebut detail-detailnya harus jelas. Sketsa serta keterangan yang jelas mengenai titik tersebut dibuat pada saat identifikasi (lihat Gambar. nomor foto udara. hubungan antara titik ke detail sekelilingnya dan ke titik utama. arah utara. dan tidak terdapat gangguan bayangan. hal ini harus dinyatakan secara jelas pada foto dan penjelasannya.3. tanggal dan juga nama dan tanda tangan juru ukur. radius permukaan tanah rata di sekitar titik. titik-titik foto akan ditempatkan pada sisi yang berhimpitan pada jalur-jalur yang berdampingan. kontras yang tinggi. tanggal identifikasi dan juga nama dan tanda tangan juru ukur.

3) Panel data-data kamera harus dicatat secara fotografis pada masingmasing pengambilan foto (exposure).1) Kamera yang digunakan adalah tipe presisi yang konstruksi lensanya menghasilkan citra dengan distrosi tidak melebihi 15 mikrometer. dan apabila ada kamera yang dipergunakan di luar masa berlaku tersebut.3.00 mm sampai dengan 155. serta telah disetujui oleh badan kalibrasi yang ditunjuk oleh pabrik pembuat kamera tersebut. 3) Sertifikat tersebut memuat data-data sebagai berikut : a. Film selama exposure harus dalam keadaan posisi mendatar untuk menjaga agar fokus tetap tajam dan memperkecil distorsi citra. jam harus cocok dengan waktu setempat dan altimeter harus disetel agar cocok dengan altimeter yang dikalibrasi. Informasi kalibrasi kamera udara . b. 3. kecuali untuk sudut-sudut format foto.00 mm. Kalibrasi 1) Setiap unit optik kamera yang akan digunakan selama survei harus sudah dikalibrasi tanpa menggunakan filter dan tetap diuji. 2) Format negatif harus 230 x 230 mm dan jarak fokus lensa yang dipakai adalah antara 151.1. hasil fotonya adalah menjadi tanggung jawab Pelaksana Pekerjaan yang bersangkutan. Sertifikat tersebut harus dianggap mempunyai masa berlaku satu tahun. Surat tanda kalibrasi Kamera udara yang digunakan sudah dikalibrasi dengan tanda surat kalibrasi. 2) Sertifikat kalibrasi kamera dipegang oleh Pelaksana Pekerjaan dan sebelum dimulainya pemotretan udara harus diserahkan kepada pemberi pekerjaan.

dipasang (diset) pada posisi nilai maksimum. Kesalahan sudut antara kedua garis diagonal yang menghubungkan kedua tanda tepi (fiducial mark) dengan pusat lensa tidak boleh melebihi 10” busur (10 second of arc). • Kesalahan sudut pusat autocollimation tidak boleh melebihi 10” busur (10 second of arc). Distorsi radial kamera udara tidak boleh melebihi 0.005 mm. Kalibrasi panjang fokus kamera dengan toleransi akurasi 0.005 mm pada setiap posisi diagonal dari pusat lensa ke masing-masing tepi. Pembagian posisi dari pusat lensa disetiap tepi adalah selang 5° atau 7°. Filter 1) Filter optik yang harus dipergunakan hanyalah filter bikinan pabrik yang bersangkutan. c. Keseragaman penyinaran sepanjang kedua diagonal bidang negatif film harus merata (uniform). menengah dan minimum.010 mm. • • Kesalahan jarak antara kedua tanda tepi (fiducial mark) yang bersisian tidak melebihi 0. • • • Waktu efektif dan efisien untuk kecepatan bukaan lensa.• • • • Nama pelaksana dan tanggal saat kalibrasi. atau yang memenuhi spesifikasi optik yang telah disetujui. Hasil Test Kamera Udara • Kenampakan resolusi lensa sepanjang garis diagonal baik untuk posisi radial dan tangensial mempunyai selang 5° atau 7°.3.2. Informasi kedataran pelat bidang fokus. Nomer seri lensa. 3. .

000. Pelaksana Pekerjaan harus memberikan salinan rencana . dan kondisi-kondisi selama pemotretan. Lebar Kamera 1) Sebelum pemotretan setiap lebar kamera (camera window) yang akan dipakai harus diperiksa oleh lembaga kalibrasi.2) Pemilihan filter yang cocok digunakan untuk mengatur penerangan relatif dari bagian tengah kebagian tepi-tepi bidang titik api kamera. 2) Lebar kamera tersebut harus dipasang dalam bahan peredam getaran untuk menghindari tekanan-tekanan mekanis pada lebar kamera. dan bahwa lebar kamera tersebut benar-benar bebas dari guratan-guratan. Daerah Pemotretan dan Penerbangan Daerah pemotretan dan penerbangan meliputi ketentuan tinggi dan arah terbang. Foto yang menyimpang 5 % dari persyaratan yang telah disepakati. luas daerah pemotretan. untuk menjamin bahwa tidak akan terjadi efek yang merugikan resolusi dan distorsi lensa. Tinggi dan Arah Terbang 1) Tinggi terbang diatas permukaan tanah rata-rata harus dicapai oleh Pelaksana Pekerjaan agar dapat mencapai skala foto sekitar 1 : 10. setelah mempertimbangkan variasi relief. goresan-goresan dan ketidakserasian lainnya. bisa ditolak oleh Pemberi Pekerjaan.3. 3) Kamera harus dipasang dalam suatu bantalan yang meredamkan efek getaran Pesawat terbang. atau UtaraSelatan kecuali jika ada persetujuan lain dari Pemberi Pekerjaan. 2) Jalur-jalur arah penerbangan harus dari Timur ke Barat. 3.3.

maka perlu diatur posisi jalur-jalur tersebut sedemikian sehingga areal potret yang mencakup muka laut diusahakan sekecil-kecilnya. tergantung dari hambatan yang berasal dari siklus waktu kamera.penerbangannya kepada Pemberi Pekerjaan untuk disetujui sebelum penerbangan dimulai.4. maka pertampalan di tambah sampai nominal 90. yaitu dengan cara mengatur lebar jalur terbang tersebut dengan batasan-batasan sampai dengan 10 %. maka kedua bagian garis itu harus bertampalan pada titik putus tersebut dengan sekurang-kurangnya dua model stereoskopis. Apabila perlu memutus garis dan kemudian meneruskannya lain waktu. 5) Semua garis-garis foto harus ditempuh dengan jalur terbang yang tidak terputus-putus. 3) Jika strip memotong baris pantai pada sudut tegak lurus. 2) Pertampalan muka dan samping yaitu antara exposure yang berurutan dalam setiap strip adalah 60 % dengan toleransi 5 % dan pertampalan sisi antar strip-strip foto yang berdampingan adalah 30 % dengan toleransi 5 %. Maka suatu variasi yang wajar masih diizinkan dalam pertampalan-pertampalan yang disebutkan. asalkan selalu pertampalan muka dan samping tidak kurang dari 55 % dan pertampalan samping tidak kurang dari 25 %. 4) Apabila jalur terbang berarah sejajar dengan garis pantai. agar daratan terpotret sebesar-besarnya. 3. Jika ketinggian tanah dalam daerah pertampalan menyimpang lebih dari 10% terhadap ketinggian penerbangan. . atau sudut miring.1. Luas Daerah Pemotretan 1) Daerah pemotretan sesuai dengan rencana arah terbang.

6) Gerak sedat (crab) tidak diperkenankan melebihi sudut 5 derajat. kecepatan dan pergerakkan exposure. bayangan awan tebal dan asap yang menutupi lebih dari 5 % dari daerah negatif seluruhnya. 3. Kondisi Pemotretan 1) Awan. dari garis basis yang bersangkutan dengan garis-garis yang sejajar dengan kerangka negatif. Mutu Film dan Negative Mutu Film dan negative meliputi ketentuan kualitas film. diperbolehkan apabila cuaca sangat buruk. kualitas pemrosesan. sehingga tidak menimbulkan kesenjangan stereoskopis dalam hal pemotretannya. bayangan awan tebal atau asap menutupi lebih dari 3 % dari daerah negatif seluruhnya. . Juga tidak boleh terdapat suatu kumpulan awan. Exposure terisolasi dengan kemiringan sampai 40.5. bayangan awan tebal atau asap tidak boleh terdapat diatas titik utama foto atau homologusnya pada foto-foto yang berdekatan. Demikian juga tidak boleh terdapat gumpalan awan. tipe filter. mutu negative. kualitas fotogrametris. 3) Pemotretan dapat diterima jika ketinggian matahari melebihi 25 derajat. 2) Pemotretan udara hanya diadakan dalam keadaan sedemikian rupa sehingga penglihatan tidak secara fisik merusak intensitas warna (tone) reproduksi di dalam negatif. Apabila diukur. Kemiringan biasanya tidak boleh melebihi 2°. dokumentasi dan anotasi.

3) Stabilitas dimensional dasar harus sedemikian rupa sehingga dalam suatu negatif panjang dan lebar antara fiducial tidak boleh berada lebih dari 0. 3. gerakan citra sampai 90 mikrometer dapat diterima. 2) Gerakan citra biasanya tidak boleh melebihi 30 mikrometer.3 % dari ukuran-ukuran yang sama yang diambil pada kamera. dan belum melewati batas masa kadaluarsa. tetapi jika kurang terdapatnya cahaya. diaduk terus menerus.1. . khusus untuk pemotretan udara. Film harus dijaga dan disimpan dalam tabung plastik sesuai dengan anjuran pabrik.4 hanya berlaku untuk film dengan kecepatan lebih dari 250 ASA (Affective Aerial Film Speed). bahan dasar yang stabil. dan bahwa perbedaan antara ukuran-ukuran tersebut tidak melebihi 0.1 cm.04 %. Film Udara 1) Tipe film udara yang harus digunakan di dalam kontrak adalah Pankromatik hitam putih. 4) Harga bersih kabut tidak boleh melebihi D 0.5.2. 3) Filter yang dipakai harus memberikan tone reproduksi optimal. 2) Ketebalan dasar tidak boleh kurang dari 0.1 mm dan mempunyai format lebar 24.2 atau D 0. Densitas 0.5.3.4 diatas densitas penunjang ketika sepenuhnya diproses di dalam developer D 19 pada suatu 200 C selama 10 menit. Exposure 1) Kecepatan shutter harus memenuhi ketentuan-ketentuan baik gerakan citra minimal maupun aperture lensa optimal untuk kondisi-kondisi iluminasi yang berlaku.

4 maka hal ini dapat diterima apabila sifat film-film yang dipakai mempunyai nilai kecepatan nominal lebih dari 250 ASA. lubang-lubang kecil.6) dapat dipakai untuk pencetakan yang dapat memberikan kejelasan terhadap detail-detail lokasi yang dibutuhkan baik segi sinarnya maupun segi bayangannya.0 mikrogram mikrogram per cm². mampu Pemrosesan Foto Udara mencapai kualitas negative yang disyaratkan tanpa 1) Peralatan yang dipakai pemrosesan adalah alat otomatis harus menyebabkan distrorsi film. Mutu Negative film dilakukan tanpa mempengaruhi stabilitas Densitas. tekanan atau tanda-tanda statis bekas-bekas jeruji. E dari 0.6-1.3. 2) Tingkat kabut negatif biasanya tidak boleh melebihi densitas D 0. 2) Kandungan thiosulphate residual dari film yang telah diproses tidak boleh melebihi 2.5. 4) Seluruh negatif yang diproses harus bebas dari lepuh-lepuh. garis-garis lapisan. Apabila harga densitas kabut lebih bebas dari D 0. kekontrasan warna dan tidak adanya bayangan kabut harus diusahakan sedemikian rupa sehingga jenis-jenis kertas yang ada di pasaran (termasuk Log.3.5.2 jika diukur didaerah yang bebas dari detail citra. batasan-batasan. 3. . gelembung-gelembung. goresan-goresan ringan.4. 3) Pengeringan dimensinya. noda-noda dan tanda-tanda pengeringan. coretan-coretan ringan.

dan akibat lain yang merusak citra foto itu sendiri. Mutu Diapositif Digital Bahan diapositif yang dipergunakan untuk triangulasi udara dan proses ortofoto adalah duplicating film yang khusus untuk pembuatan diapositif dengan ketebalan 0. 5) Semua tanda-tanda tepi (fiducial marks) harus terlihat jelas pada setiap negatif.5 diatas dasar. . waktu pemotretan. nivo.18 mm dan belum melewati batas kadaluarsa. 7) Semua negative film yang dihasilkan harus terbebas dari noda-noda bahan kimia. panjang focus. Kualitas tone diapositif yang dihasilkan harus uniform dan detail yang paling terang maupun yang paling gelap terlihat dengan jelas. ditambah harga kabut. 6) Panel peralatan kamera harus terlihat jelas pada setiap negatif yang sudah diproses seperti nomer foto. 4) Densitas maksimum dalam daerah-daerah penting pada negatif tidak boleh melebihi D 1.2 diatas base/dasar ditambah harga kabut seperti yang dijelaskan dalam pasal 4.3) Detail bayangan minimum terbaik biasanya tidak boleh kurang dari densitas bersih D 0.0 dapat dibenarkan. Bagaimanapun juga densitas minimum harus berada di bawah D 0. tanda tepi. tinggi terbang.52 diatas. nomor kamera. lain halnya pada daerah-daerah berefleksi tinggi dimana densitas maksimum D 2. dan informasi lainnya. goresan.1 dan diatas dasar.

Model dipasang dalam alat restitusi analog. garis besar bentuk detailnya jelas. Mutu resolusi model dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : BAIK Ulangan bacaan ketinggian konsisten. isi data berikut dalam formulir. dan goresangoresan. b. SEDANG . Semua informasi yang diperlukan. cacat pada saat proses. kontrasnya baik.Diapositif yang dihasilkan harus bebas dari noda bahan kimia. Kualitas Fotogrametris Pemotretan yang diperoleh harus dijamin oleh Pemilik Pekerjaan bahwa hasilnya secara fotogrametris dapat diterima untuk pemetaan ortofoto. Penyetelan seluruh peralatan yang dipakai. Posisi sejumlah besar paralaks didalam stereo-model. Lakukan orientasi absolut dan relatif dengan tampakan alamiah. ketinggiannya. 2) Uji coba stereo-model harus mencakup hal-hal sebagai berikut : a. Uji coba stereo model dan dimensi negative film udara diuraikan sebagai berikut : 1) Setelah pemrosesan negative film udara pilih satu (1) stereo-model per lima puluh (50) model dari hasil pemotretan udara yang mempunyai daerah terbuka yang tanahnya kelihatan disetiap posisi agar paralaks menjadi jelas.

detailnya tidak pasti. kontras jelek. tapi dapat diterima sejauh untuk keperluan pemetaan.01 mm untuk menunjukkan ketepatan fiducial mark. keadaan tidak memungkinkan untuk mendapatkan data yang dapat digunakan. ukur keempat sisi dan diagonal negative film sampai ketelitian ± 0. SANGAT BURUK Hampir tidak mungkin membuat catatan pembacaan ketinggian.12 mm dan/atau diukur dari setiap dua sisi tidak boleh melebihi ± 0. Jika selama diadakannya uji selama coba pemrosesan terdapat peta selanjutnya termasuk pemrosesan ortofoto.Ulangan bacaan ketinggian terdapat variasi. 3) Uji coba dimensional mencakup hal sebagai berikut : Pilih stereo model negatif film yang asli. maka semua kerangka/frame negatif film udara dimana uji coba itu dibuat harus diperiksa dan dibuatkan suatu laporan. kontras tidak jelas. garis besar bentuk detailnya jelas. Hal-hal yang tidak terlihat yang dapat menimbulkan kesulitan-kesulitan c.20 mm. baik untuk pemetaan garis maupun pemetaan ortofoto. tanda-tanda penyelesaian yang BURUK atau SANGAT BURUK. 4) Toleransi dimensional perbedaan antara jarak yang dikalibrasi dan yang diukur dari setiap satu sisi tidak boleh melebihi ± 0. goresan atau noda. Posisi dari tanda-tanda yang berlebihan. . BURUK Kesukaran dalam membuat bacaan ketinggian yang konstan.

hal ini tergantung dari keadaan yang berlaku. Dokumentasi dan Anotasi 1) Setiap negative foto udara diberi anotasi tinta yang mempunyai sifat permanen sehingga tidak mudah hilang (tinta china). Apabila ternyata hasil tes menunjukkan bahwa resolusi jelek. F–G H / I J K / L–M-N / O . maka pihak Pemilik Pekerjaan dapat menolak atau menerimanya. 2) Anotasi negative harus mengikuti tata cara anotasi Bakosurtanal seperti contoh di bawah ini : Anotasi per jalur terbang. Anotasi untuk foto udara yang pertama dan yang terakhir dalam satu jalur ditulis sebagai berikut : A B C / D-E . jika hasil uji coba foto udara menunjukkan jumlah paralaks nol. data dimensi masih di dalam batas toleransi. Resolusi/penyelesaian yang sangat buruk. Keadaan menunjukkan foto udara tidak diterima untuk pemetaan ortofoto.5) Jika suatu uji coba menunjukkan salah satu indikasi sebagai berikut : Sejumlah besar paralaks. serta hasil tes resolusi BAIK/SEDANG. Perbedaan dimensional yang melebihi toleransi. maka hasil pemotretan yang telah diuji coba tersebut dianggap dapat diterima.

TC=03.PCIR=02.HPIR=04) E F : Penggunaan produksi foto (pemetaan=PEM) : Arah jalur terbang (derajat) satuan meter H : Provinsi daerah pemotretan I J L : Nama pelaksanaan pekerjaan : Tanggal pemotretan udara : Nomor roll film G : Tinggi terbang pesawat diatas permukaan referensi (MSL) dalam K : Skala foto udara M : Nomor jalur terbang O : Nomor jumlah foto dalam satu jalur Anotasi untuk negative film setelah foto pertama sampai sebelum foto terakhir cukup ditulis sebagai berikut : H / A J K / L–M-N Pencetakan dan Foto Indek Pencetakan Foto Udara ukuran (23 x 23) cm hitam putih. Pencetakan mini print harus dibuat mosaik untuk keperluan pemeriksaan pertampalan kesamping dan kemuka. .Keterangan : A : Initial pemilik pekerjaan B : Tahun Pelaksanaan Pemotretan C : Nama Daerah Irigasi D : Material yang digunakan (HP=01.

TITIK KONTROL TANAH Titik kontrol tanah dalam bentuk Tugu (Benchmark) yang ukurannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku membentuk jaring segitiga meliputi daerah yang akan dipetakan. Desain Jaringan Titik Kontrol Pekerjaan desain jaringan meliputi kelengkapan receiver GPS dan rencana jaringan baseline (jarak antara benchmark) sebagai berikut : pembangunan irigasi 4. koordinat geografi dan proyeksi harus ditampilkan. Kelengkapan Receiver GPS 1) Seluruh pengamatan harus mempergunakan receiver GPS type Geodetik yang mampu mengamati data fase.3) Peta indek dibuat pada peta berskala 1 : 50. Sumber pembuatan peta. kegunaannya untuk kontrol pemetaan dan perencanaan selanjutnya. sera posisi setiap 5 (lima) foto udara sepanjang jalur tersebut. lokasi dan nomor urut titik utama foto udara pertama dan terakhir pada setiap jalur.000 memuat gambargambar jalur terbang. .1. Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan dengan menggunakan pengamatan receiver GPS sedangkan untuk ketinggian tetap menggunkan level tidak menggunakan elevasi dari pengamatan receiver GPS karena ada perbedaan referensi.1.

000 atau yang lebih besar harus menunjukkan kekuatan jaringan sehingga syarat ketelitian dapat terpenuhi (strenge of figure). Rencana Jaringan 1) Rencana jaringan dibuat di atas peta rupa bumi skala 1 : 50. danau.2.2. 2) Pembuatan Grid minimal 8 (delapan) titik terdistribusi secara merata ditempatkan pada wilayah peta Ortofoto atau peta garis. Pemasangan Benchmark (Tugu) 1) Benchmark diberi nomor dan ukuran sesuai dengan gambar 3. 4. 3) Jumlah baseline yang membentuk jaringan tertutup paling banyak 4 (empat) buah baseline. tebing. tidak boleh diperpanjang melebihi standar pabrik. 4.1. 5) Komponen receiver GPS harus dari merk yang sama. 4) Hindari pengamatan receiver GPS dilokasi-lokasi pemantulan sinyal GPS mudah terjadi seperti di pantai. 2) Benchmark tersebut harus dipasang sesuai dengan kriteria berikut : . 3) Kemampuan antena sesuai dengan kemampuan receiver GPS.1. bangunan bertingkat atau antena harus dilengkapi dengan Ground plane untuk mereduksi pengaruh multipath. 4) Tiap baseline sebaiknya terdistribusi secara seragam diseluruh jaringan daerah pemetaan yang ditunjukkan yang relatif sama.2) Receiver GPS yang digunakan single frekuensi (L1) namun demikian penggunaan dual frekuensi (L1+L2) lebih diharapkan. setiap benchmark mewakili luas area ± 500 ha atau interval jarak 2-3 km. setiap stasiun dihubungkan dengan minimal 3 (tiga) buah baseline non-trival yang diperoleh dari minimal 2 (dua) session pengamatan yang berbeda.

selatan. harus ditempatkan direncana saluran . ditempatkan hampir rata dengan permukaan tanah. (b) Benchmark-benchmark harus berada pada lokasi terbuka yang bebas pandangan ke segala arah sehingga alat penerima GPS dapat menerima satelit kira-kira pada radius clearance 15 derajat di atas horizon. sawah. dan atas. (c) Benchmark-benchmark jaringan irigasi (d) Benchmark tersebut tidak harus saling kelihatan 3) Semua benchmark harus dijelaskan selengkap mungkin seperti tercantum pada gambar 3. untuk tanah yang lebih lunak dibutuhkan ukuran panjang yang lebih dari 30 cm. (e) Koordinat-koordinat titik benchmark akan ditambahkan pada deskripsi apabila perhitungannya sudah selesai. (b) Lima (5) foto benchmark dari arah utara. barat. ujungnya diberi paku sehingga mudah ditemukan. hindarkan di daerah rawa.3. antara lain mencakup : (a) Sketsa ukuran penampang melintang benchmark yang dibuat. tegangan tinggi yang akan mempengaruhi gelombang/sinyal GPS.(a) Benchmark-benchmark ditempatkan pada tanah keras. timur. (c) Sketsa lokasi dengan jarak-jarak titik detail yang ada disekitar benchmark (d) Sketsa gambaran umum lokasi lengkap dengan deskripsi sekitarnya. 4) Titik-titik koordinat lainnya dibuat dari patok kayu yang kuat dengan ukuran panjang sekurang-kurangnya 30 cm dengan penampang melintang 5 x 5 cm. patok kayu tersebut harus tahan selama pengukuran berlangsung.

2) Pengamatan receiver GPS Geodetic dilakukan dengan cara Double Difference berdasarkan data fase dengan metoda Static atau Rapid static (static singkat) dengan alat Receiver GPS single frekuensi (L1) atau dual frekuensi (L1 + L2). Level aktifitas atmosfer dan ionosfer relative sedang. 4.1. Pengamatan dilakukan siang hari atau malam hari. Besaran GDOP (geometrical dilution of precisition) lebih kecil dari 8.y) dilakukan dari pengamatan receiver GPS Geodetic sedangkan kontrol vertikal (z) di ukur dengan alat ukur Level biasa atau Level digital.3. Pengamatan GPS 1) Alat ukur yang digunakan minimal 3 (tiga) buah GPS Geodetic model digital yang mempunyai ketelitian 5 mm + 1 ppm(H) dan 10 mm + 2 ppm(V).3. Metoda Pengamatan dan Pengukuran di Lapangan Untuk menentukan kontrol horizontal (x. Panjang Baseline(km ) 0–5 5 – 10 10 – 30 Statis singkat Statik singkat Statik 90 menit 60 menit 60 menit 30 menit Metoda Lama 1) 30 menit 15 menit Lama Pengamatan(L1+L2) Pengamatan Pengamatan(L . Lama pengamatan berdasarkan panjang baseline. 3) Kententuan pengamatan harus mengikuti ketentuan berikut : Satelit yang diamati minimum 4 (empat) buah dalam kondisi tersebar.4.

Statistik reduksi baseline Untuk setiap jaring orde 3 standar deviation (s) hasil hitungan dari komponen baseline toposentrik (dN. 4. masing-masing 15 (lima belas) detik. Reduksi baseline 1) Geometri dari jaringan harus memenuhi spesifikasi ketelitian dan persyaratan strenght of figure yaitu : a. 7) Setelah session pengamatan seluruh data harus didownload dan disimpan dalam sebuah CD dan dibuatkan cadangannya.3.1.4) Pengamatan GPS dengan data fase digunakan dalam model penentuan posisi relatif untuk menentukan komponen baseline antara dua titik. 8) Tidak diizinkan untuk mengamati satelit dengan elevasi dibawah 15 derajat.dH) yang dihasilkan oleh software reduksi baseline harus memenuhi hubungan berikut : σN ≤ σM .dE. 5) Setiap receiver GPS harus dapat menyimpan data selama mungkin dari minimum 4 (empat) buah satelit dengan kecepatan minimum 4 (empat) epoh dalam 1 (satu) menit. mengumpulkan data dengan kecepatan dan epoh yang sama.1. memastikan bahwa semua receiver melakukan pengamatan terhadap satelit-satelit yang sama secara bersamaan. 6) Tidak diizinkan untuk menggunakan merek dan jenis receiver GPS yang berbeda dalam satu session. 7) Terdapat minimal 1 (satu) titik sekutu yang menghubungkan 2 (dua) session.

b.2.σE ≤ σM σH ≤ 2σM dimana σM = [102 + (10d)2]1/21. Perataan Jaring 1) Perataan jaring bebas dan terikat dari seluruh jaring harus dilakukan dengan menggunakan software perataan kuadrat terkecil yang telah .Baseline yang lebih pendek dari 4 (empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.3. 4) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi troposfer untuk semua data pengamatan. 5) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi ionosfer untuk semua data pengamatan. Data dual frekuensi harus digunakan untuk mengeliminasi pengaruh ionosfer jika ambiguiti fase single tidak dapat dipecahkan. 4.05 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0. 3) Koordinat pendekatan dari titik referensi yang digunakan dalam reduksi baseline tidak boleh lebih dari 10 m dari nilai sebenarnya. Baseline yang diamati 2 (dua) kali .10 m 2) Seluruh reduksi baseline harus dilakukan dengan menggunakan software processing GPS yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah yang bereputasi baik.96 mm dan d = panjang baseline. .03 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0.06 m.1.Baseline yang lebih panjang dari 4 (empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.

dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah bereputasi baik.3. Analisis statistik mengenai residual komponen baseline termasuk jika ditemukan koreksi yang besar pada confidence level yang digunakan.3 Analisa 1) Integritas pengamatan jaring harus dinilai berdasarkan : - Analisis dari baseline yang diamati 2 (dua) kali (penilaian keseragaman) - Analisis terhadap perataan kuadrat terkecil jaring bebas (untuk menilai konsistensi data) Analisis perataan kuadrat terkecil untuk jaring terikat berorde lebih tinggi (untuk menilai konsistensi terhadap titik kontrol) - 2) Akurasi komponen horizontal jaring akan dinilai terutama dari analisis ellip kesalahan garis 2D yang dihasilkan oleh perataan jaring bebas 3) Koordinat benchmark dari hasil pengamatan GPS disajikan dalam system proyeksi UTM dan ellipsoid WRG 84.1. Ellip kesalahan titik untuk setiap stasiun/titik. 2) Informasi di bawah ini harus dihasilkan dari setiap perataan - Hasil dari test Chi-Square atau Variance Ratio pada residual setelah perataan (test ini harus dapat melalui confidence 99 % yang berarti bahwa data-data tersebut konsisten terhadap model matematika yang digunakan). Daftar koordinat hasil perataan. Daftar baseline hasil perataan termasuk koreksi dari komponenkomponen hasil pengamatan. . - - - 4.

di mana hasil ukuran disaat alat ditempatkan di tengah harus dibandingkan dengan hasil ukuran disaat alat ditempatkan di dekat salah satu titik. 4) Rambu ukur ditempatkan pada tatakan dari metal pada setiap pengukuran (kecuali pada benchmark atau benchmark sementara). Nivo kotak dan kompensator otomatis juga harus selalu di cek secara teratur.4) Tinggi benchmark hasil ukuran GPS dikoreksi terhadap besaran undulasi (N) atau di koreksi terhadap titik MSL yang ada disekitar lokasi. mid-base atau cara-cara sejenis sampai dengan jarak 100 m. 3) Setiap alat harus dicek kolimasinya (kesalahan garis bidik) setiap hari dengan menggunakan 2 patok-uji (peg test). dalam metode mid-base dicari perbedaan tinggi antara dua titik. agar . 2) Pengukuran digunakan alat rambu ukur metrik dan tatakan rambu yang terbuat dari metal.2.3. pemindahan elevasi ke benchmark yang di buat sesudah selesainya penyipatan datar tidak akan diterima.05 mm/m. 4. Pengukuran Sipat Datar Pengukuran sipat datar dilakukan dengan alat ukur level automatic atau level automatic digital dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Sistem patok benchmark sudah terpasang sebelum dilakukan pengukuran sipat datar. untuk jaring sipat datar utama digunakan alat sipat datar digital atau non digital. Penyesuaian harus dilakukan apabila kesalahan kolimasinya lebih dari 0. Juru ukur harus menginstruksikan kepada pemegang rambu. Pelaksana pekerjaan harus membuat catatan lengkap mengenai seluruh hasil pengecekan dan penyesuaian yang telah dilakukan.

5) Metode stan ganda (double-stand) pada pengukuran sifat datar tidak boleh digunakan. hanya merupakan pengecekan aritmatik dapat menghindarkan kesalahan yang tidak terlihat karena data yang tidak benar. serta harus ditandatangani oleh juru ukur yang bersangkutan. Perbedaan antara hasil bacaan belakang. lantai pengeringan padi. Tidak dibenarkan melakukan pembidikan silang (intermediate sight). Titik-titik tersebut ditandai serta dicatat secara lengkap. 8) Juru ukur harus memasukkan data-data mengenai tinggi dan rendahnya hasil ukuran pada setiap formulir yang sudah ditentukan. 6) Pembacaan rambu tidak boleh dilakukan melebihi 20 cm dari batas bawah rambu dan juga 20 cm dari batas bagian atas rambu. dan muka harus sama dengan hasil beda tinggi (∆h). Bidikan ke belakang kira-kira sama dengan bidikan ke muka. dan lain sebagainya. secara sistematis setiap hari.rambu ukur selalu tepat vertikal dengan menggunakan stafflevel atau carpenters level (penempatannya harus juga dicek). bacaan muka. jarak bidikan tidak diperkenankan lebih dari 50 m. Perbedaan antara kedua harga . 7) Untuk membantu pelaksanaan pengukuran titik-titik rincik ketinggian dianjurkan agar titik tinggi sementara dipasang pada waktu pengukuran sipat datar utama antara lain : gorong-gorong. tangga rumah. untuk menghindari kesalahan kolimasi. 10) Ketelitian sipat datar sebagai berkut : Jalur utama yang pada umumnya merupakan jaring tertutup. 9) Pengecekan harus dilakukan pada setiap halaman dan setiap bagian pengukuran sipat datar. beda tinggi ∆h (+ dan -) harus dijumlahkan. bacaan belakang. harus diukur dua kali yaitu pergi dan pulang.

Di daerah pengukuran yang datar titik-titik rincikan harus diperlihatkan pada interval antara 1 cm dan 2 cm pada peta skala 1 : 5. Setiap juru ukur diberi lembaran foto udara daerah yang ditentukan yang sudah diperbesar mendekati skala peta 1 : 5.000. masingmasing daerah yang diukur oleh para juru ukur harus saling bertampalan sebesar 50 m pada daerah yang berbatasan sehingga jumlah pertampalannya 100 m. maka kepadatan titik-titik rincik tersebut harus lebih diperbanyak lagi pada tempat-tempat yang curam.000. data digital foto udara skala 1 : 10. terjal dan tempat-tempat yang tertutup tumbuh-tumbuhan. Jalur sekunder yang umumnya terikat dengan titik-titik jaringan utama untuk kontrol foto dan titik-titik ikat pengukuran rincikan cukup satu kali dengan ketelitian 20 √k mm.000 yang berarti 50 m dan 100 m di lapangan. dimana k adalah jarak dalam km antara benchmark atau di sekitar jalur tertutup. dimana k adalah jarak dalam km antar benchmark tersebut. supaya perbedaan relief dapat digambarkan lebih teliti.3 Pengukuran Titik Rincik Pada saat melakukan pengukuran rincikan setiap juru ukur harus membawa foto udara yang sudah dibesarkan skalanya yaitu skala 1 : 5. . 4. ii.000 dengan cara men-scan diapositif foto udara hasil pemotretan dengan menggunakan scanner presisi resolusi 2400 dpl.untuk masing-masing seksi harus kurang dari 7 √k mm. penyebaran titik-titik rincik diperlukan kontrol dari hasil sipat datar utama dengan mengikatkannya pada benchmark tersebut.000 diplot menggunakan inkjet plotter pada kertas foto dengan perbesaran 2 kali skala foto udara sama dengan 1 : 5.3. 1) Metoda Pengukuran Rincikan (titik tinggi) i.

Posisi titik rincik di identifikasi sudut horizontal. Untuk daerah yang luas (misalnya : hutan yang mencakup seluruh foto perbesaran) penentuan tinggi titik rincikan harus dihubungkan dengan jaringan utama yang secara khusus dianggap sebagai kontrol perimeter untuk tinggi titik rincikan. dan tinggi semuanya di catat dengan penjelasan singkat mengenai posisi titik rincik. viii. jika hal ini tidak mungkin untuk menentukan lokasi titik rincik digunakan tacheometri. dan apabila sudah pasti maka titik-titik tersebut akan di anotasi dan di plot pada foto perbesaran. Jarak lihat ke titik-titik rincik tidak boleh lebih dari 100 m (2 cm dipeta). Apabila mungkin titik rincik ketinggian ditentukan posisinya secara identifikasi langsung. sungai. tanggul jalan. iv. posisi alat dan titiktitik yang di bidik harus di anotasikan pada foto perbesaran tersebut. tinggi titik dengan cara tersebut diplot pada kertas transparan yang kemudian digabungkan dengan peta ortofoto . panjang maksimum yang dilakukan dengan cara tacheometri adalah 2 km (memotong satu lembar foto perbesaran). v. Jaring-jaring perimeter sekunder perlu diukur untuk memasukkan benchmark atau titik-titik tinggi sementara yang sudah ditetapkan selama pengukuran sipat datar utama dan titik-titik ikat umumnya yang terletak pada keempat sudut dari masing-masing foto perbesaran dan akan di pindahkan ke foto-foto perbesaran lainnya yang bersebelahan untuk menjamin kejelasan ketinggian-ketinggian yang telah didapatkan.iii. misalnya sawah. kampung. pada peta pembesaran. selanjutnya diukur garis-garis yang saling berpotongan dari sipat datar tersebut untuk melengkapi penyebaran titik-titik rincik. jarak. Identifikasi titik-titik rincik harus dicocokkan dengan sudut dan jarak yang sudah diukur. vi. vii.

apabila peta tersebut telah mencantumkan titik tinggi dan kontur. ix. Untuk daerah kecil dimana identifikasi sukar dilakukan, penentuan titik rincik ketinggian dapat dilakukan dengan cara tacheometri antara titik-titik yang diidentifikasi pada perbesaran, jaring tersebut diplot pada kertas transparan, untuk daerah yang datar pengeplotan bisa dilakukan pada foto perbesaran kemudian dilakukan penelitian ulang untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan hasil identifikasi atau detail foto sehingga ketinggian titik rincik boleh dipindahkan ke foto perbesaran, jika pada medan yang tidak teratur dimana distorsi ketinggian dalam perbesaran sangat menyolok ketinggian titik rincik diplot langsung ke peta ortofoto. x. Pada kedua kasus di atas, hasil pengamatan harus dianotasi pada lembar pengamatan sebagai “Tidak Dapat Diidentifikasi”. Jalur poligon digambarkan secara kasar dan ditandai dengan garis putus-putus pada foto pembesaran. xi. Cara tacheometri hanya dapat digunakan untuk penentuan tinggi titik rincik di daerah curam dan atas persetujuan pemilik pekerjaan. 2) Pengukuran Ketinggian Titik Rincik i. Pada setiap sawah harus diukur tinggi titik rincik kira-kira jaraknya lebih dari 50 x 50 m. ii. Daerah pengukuran yang “tidak luas” selang/jarak antara tiap titik kira-kira 75 m, daerah sawah yang kering, rambu ukur harus ditempatkan tepat ditengahnya guna meningkatkan hasil identifikasi dan anotasi, daerah sawah basah, rambu ukur ditempatkan di tepi sawah tersebut (tidak di pematang), rambu ukur tidak boleh ditenggelamkan pada tanah sawah tersebut, tetapi diletakkan setinggi permukaan tanah sawah. iii. Lokasi titik rincik tersebut harus diletakkan pada perbatasan antara

kampung dan sawah, satu pada sawah yang lainnya di kampung, apabila jalan melewati sawah maka titik rincik tersebut harus ditempatkan satu pada jalan dan titik lainnya pada kedua sisi sawah. iv. Rincik ketinggian akan diambil sepanjang dasar lembah baik yang memiliki anak sungai maupun yang tidak dan pada punggung bukit serta pada titik bukit yang teratas, seluruh jalur-jalur yang ada tempat air mengalir harus diukur (seperti : kanal, sungai, selokan) dan ditandai pada peta hasil pembesaran dengan tanda panah sesuai arah alirannya. Jika sungai dangkal dan kering titik rincik ketinggian ditempatkan di sepanjang dasar sungai dan bagian atas tebing dengan interval 50 meter, apabila aliran sungai ternyata tidak tampak pada foto perbesaran, ini akan diamati dengan cara tacheometri untuk menentukan bentuk sungai, misalnya tikungan, pertemuan dua sungai kecil. v. Daerah rawa harus ditentukan juga titik rincik yang meliputi keliling daerah rawa, pemegang rambu harus masuk ke rawa sampai dengan setinggi lutut. vi. Daerah yang berhutan lebat jalur pengukuran akan banyak terputus, pengukuran dilakukan pada satu jalur tunggal yang diorientasikan oleh kompas untuk menjaga keseragaman, jalur-jalur paralel berjarak 100 meter, dalam hal ini terserah pada pihak pemilik pekerjaan berhubung pengukuran susulan bisa saja dilakukan setelah hutan ditebang, garis-garis jalur harus bermula dan berakhir pada titik kontrol yang sudah di ketahui, bisa pada titik yang dipakai selama pengukuran jaring-jaring koordinat kontrol planimetri atau pada titiktitik detail yang dapat dilihat pada foto. vii. Pelaksana pekerjaan harus memeriksa apakah rincik ketinggian di

lapangan sudah diamati secara memadai sesuai dengan perubahanperubahan elevasi antara rincik ketinggian dan detail yang

dicantumkan dalam foto udara. viii. Ketelitian Titik Rincik Ketinggian sebagai berikut : Seluruh perhitungan rincik ketinggian harus diselesaikan dan diperiksa ketelitiannya sebelum dipindahkan ke foto perbesaran. Ketinggian relatif untuk tinggi rincikan harus memenuhi ketelitian ± 5 cm. Harga tinggi titik rincikan dihitung sampai dengan sentimeter, posisi titik-titik tersebut ditandai dengan koma (titik) desimal dari harga ketinggiannya atau koma yang terpisah dengan menggunakan tanda panah apabila detailnya menjadi kabur karena nomor-nomor lokasi sebelumnya. Semua titik rincikan yang diberi nomor harus jelas sehingga pemeriksaan yang dilakukan lewat lembar-lembar pengamatan pada tahap berikutnya akan lebih mudah.

4.3.4 Identifikasi Lapangan Identifikasi lapangan adalah proses pengumpulan data dari lapangan baik untuk kelengkapan pembuatan peta ortofoto maupun peta garis, dilaksanakan dengan membawa foto yang sudah dibesarkan skala 1 : 5.000, dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Batas Administrasi, garis batas administrasi pemerintahan (batas provinsi, kabupaten, kecamatan, dan batas desa/kelurahan) harus di identifikasi dimana letak garis batas harus di konfirmasi dengan instansi pemerintah terkait, pemerintah setempat.

2) Nama dan fungsi bangunan, semua detail bangunan harus di lengkapi dengan data yang menyangkut fungsi bangunan/penggunaan dan namanya antara lain : Bangunan perkantoran baik pemerintah dan swasta. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat pendidikan seperti TK, SMP, SMU dan Perguruan Tinggi. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat pelayanan masyarakat seperti kantor pos, Rumah Sakit, Kantor Kecamatan/Kelurahan/Desa, Pasar, Hotel. Bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah seperti Masjid, Gereja, Vihara dsb. Bangunan yang merupakan perumahan. Nama Jalan harus jelas. Nama Sungai dan Aliran, Danau, Bendung, Bendungan, dsb harus jelas. Nama Daerah Irigasi dan Rawa yang sudah ada batas-batasnya harus jelas termasuk sumber airnya. Pertanian yang sudah ada harus jelas batas-batasnya, sawah, ladang, tambak, kelapa, karet, tebu dsb. Untuk tanaman penduduk sebagai tanaman pelengkap atau tumpang sari cukup di tulis sebagai ladang. Kuburan, untuk area kuburan cukup di tulis kuburan tidak perlu di tulis jenis kuburan. Titik Kontrol, harus di identifikasi di tandai dan di catat.

troposfer. tanggal. pemrosesan hasil pengamatan di lapangan harus mengikuti ketentuan di bawah ini.y) perlu direduksi dan dirata-ratakan pada setiap titik dan diperiksa apakah memenuhi toleransi yang sudah ditetapkan. 4. reduksi koordinat (x. temperatur dan tekanan udara. hal ini menyangkut nama pengamat. reduksi. yang disebut terakhir ini harus ditandai dengan jelas sehingga bisa saling dicocokkan.4.4 Pencatatan. nomor titik. seluruh lembar data harus disertai tanggal dan tandatangan pengamat dan orang yang telah melakukan pemeriksaan. disertai tanggal pemeriksaan oleh pelaksana . kesalahan titik nol alat.y) termasuk juga koreksi bias ionosfer.2 Reduksi 1) Koordinat (x. 3) Seluruh laporan pengamatan yang dilakukan di lapangan diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. nomor alat juga penjelasanpenjelasan lainnya seperti ketinggian alat.4. Reduksi dan Pemrosesan Hasil Pengamatan di Lapangan Pencatatan. 2) Pengamatan di lapangan perlu direduksi setiap harinya lalu ditandatangani. termasuk juga bagian-bagian yang telah diulang.4. dan koreksi faktor skala dimana dianggap perlu. 2) Penjelasan-penjelasan yang dibutuhkan dimasukkan ke lembar pengamatan sementara pekerjaan berlangsung. 4.1 Pencatatan 1) Pelaksana pekerjaan harus menyerahkan laporan hasil hitungan dengan menggunakan software dari distribusi alat-alat merk apa saja dalam bentuk softcopy VCD atau DVD.

Pengecekan penutup koordinat tertutup. hasil pengamatan harus disimpan dengan rapi dan diberi nomor referensi agar mudah dicari bilamana diperlukan dikemudian hari. . Perataan dari loop dengan metode Dell (atau metode lainnya). Penyesuaian kesalahan koordinat. 4.pekerjaan.4. Pengecekan azimut antara titik-titik triangulasi dan hasil pengamatan. 2) Untuk kontrol planimeter ini meliputi : Pengecekan hasil penghitungan koordinat. hal ini dimaksudkan untuk menghindari kelambatan pada tahapan selanjutnya. Perhitungan dari tiap loop/kring. bila sudah diarsipkan. Perhitungan ∆h untuk seksi-seksi antara titik-titik tetap (benchmark) dan kontrol foto. ∑ Bacaan muka. agar memperoleh ketinggian yang tepat untuk dipakai pada perhitungan rincik ketinggian nantinya. Penghitungan dari ∆x dan ∆y untuk mencek hasil planimetrik. 4) Perhitungan blok-blok pengukuran lapangan harus disesuaikan dengan batas-batas triangulasi udara. hasil-hasil pengamatan itu tidak boleh dibawa ke lapangan lagi.3 Pemrosesan 1) Penghitungan harus dilakukan di lapangan untuk memeriksa apakah pengamatan telah sesuai dengan standar ketepatan. 3) Untuk kontrol ketinggian kegiatan pemrosesan ini meliputi : Pemeriksaan hasil hitungan dari ∑ Bacaan belakang. ∑ Perbedaan tinggi (∆h).

Kesalahan penutup linier ∆x. ∆y dari setiap loop atau jalur koordinat antara titik-titik simpul dan kesalahan penutup fraksi yang dipilih dengan jumlah titik. diragukan. tidak dipakai lagi.5) Apabila hasil pekerjaan lapangan telah disetujui oleh pengawas. 8) Seluruh hasil penghitungan. Detail-detail hasil pengamatan yang ditolak.x jarak akumulasi jumlah jarak poligon seluruhnya Hal yang sama berlaku untuk simpangan utara. perataan lebih baik dilakukan sebelum triangulasi udara. 9) Setidak-tidaknya dilaksanakan perataan kuadrat terkecil asalkan kegiatan ini tidak akan menyebabkan tertundanya proses berikutnya. 6) Penyesuaian planimetri harus dihitung mencakup seluruh titik-titik triangulasi yang ada di lapangan. . hasil pengamatan serta hasil hitungannya segera dikirim ke kantor pelaksana pekerjaan untuk dilakukan perhitungan akhir. azimut kontrol atau azimut yang diperoleh dari loop yang berdekatan. pengamatan dan informasi seperti yang didaftar di bawah ini harus diserahkan kepada pihak Pemilik pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan sementara. Kesalahan penutup sudut pada setiap bagian/seksi. 7) Penyesuaian titik-titik poligon harus sesuai dengan jarak. bersama-sama dengan jumlah titik dalam setiap seksi. Urutan cara perhitungan loop atau jalur koordinat antara benchmark. hal ini berarti bahwa koreksi dalam koordinat simpangan timur (easting) sama dengan: salah-penutup dalam simpangan timur --------------------------------------------------.

bebas dari awan. hindari kesenjangan di antara foto. pemindahan titik model. Comparator.y.z) titik-titik kontrol minor melalui fotogrametris yang kegiatannya meliputi persiapan. 5. TRIANGULASI UDARA Triangulasi udara adalah untuk menentukan koordinat (x. bebas dari bayangan awan sehingga menutupi detail foto. foto udara minimum pertampalan ke samping 30 % dan pertampalan ke muka 60 %. pembacaan koordinat model.5. 3) Diagram foto harus menunjukkan secara grafis dan numeris hal-hal berikut : Kesenjangan (gap) pada foto udara Daerah berawan . pantulan air. Alat Plotting Stereo Presisi atau Soft Copy Photogrametri.1 Persiapan Triangulasi Udara Pekerjaan persiapan meliputi kegiatan seleksi foto udara yang paling cocok dan pembuatan diagram foto untuk triangulasi udara dan pembuatan ortofoto dengan ketentuan seperti dibawah ini : 1) Foto udara menunjukkan pertampalan. proses perataan udara (block adjustment) dan pembuatan indek model dimana alat yang digunakan harus salah satu jenis dari yang disebutkan dibawah : Plotter Analitik. hindari pertampalan ke samping dan ke muka jika ada perbedaan gelap dan terang. pemilihan titik model. 2) Harus dibuat diagram foto udara diatas peta skala 1 : 50.000 dimana dijelaskan topografi dari daerah yang bersangkutan dan batas administrasinya.

nomor foto.Pertampalan lebih kecil dari 30 % (ke samping) dan 60 % (ke muka) Titik utama. Titik-titik ini akan digunakan untuk menghubungkan model-model di sebelahnya yang terdapat pada jalur yang sama. sungai. pemilihan titik model mengikuti ketentuan berikut : 1) Setiap stereo model yang dipersiapkan untuk triangulasi udara sekurang-kurangnya mempunyai 6 titik model yang tersebar pada posisi yang lazim.75 cm dan nomor pada diapositif digital dan cetakan foto. tanggal seperti contoh dibawah ini : 5. Jika ada pertampalan sisi antar jalur yang berdampingan maka titik-titik model harus dipilih dalam batas pertampalan sehingga terdapat suatu ikatan antara jalur-jalur tersebut. dan nomor jalur Danau. diberi nomor. dan rawa-rawa Batas pemetaan yang diusulkan Gambaran topografi lainnya 4) Diagram harus di identifikasi. . garis pantai. Titik tersebut boleh dipakai untuk 2 macam keperluan (sebagai titik penghubung dalam jalur yang bersangkutan dan sebagai titik pengikat antara jalur-jalur) asal saja saat melakukan pemindahan titik-titik tersebut sudah tepat.z) didapat dari triangulasi udara dengan cara fotogrametris.2 Penentuan Titik Model dan Pemberian Tanda Titik model adalah sembarang titik yang ada di daerah pertampalan ke muka dan ke samping dimana koordinatnya (x. skala. masing-masing diberi tanda lingkaran dengan diameter 0.y.

maka diperlukan suatu pola titik-titik model yang zigzag (saling silang) 6) Titik kontrol foto yang telah dipilih pada paper print dipindahkan pada diapositif film dan dilanjutkan pricking model demi model yang saling pertampalan ke muka dan ke samping.2) Jika perlu diadakan penyambungan jalur-jalur foto udara arah ke samping dan ke muka. . adalah 60 mikro 8) Penomoran titik-titik model harus uniform. 3) Titik kontrol yang ditempatkan pada posisi yang lazim. maka titik model ini sama sekali tidak boleh dipindahkan selama dilakukan penyesuaian triangulasi udara. 7) Djarum pricking maksimum yang diizinkan untuk tanda diapositif digital tersebut. Harus dijamin agar titik pada model yang berdampingan adalah merupakan titik yang sama dalam penggabungan titik. jika suatu titik kontrol digunakan sebagai suatu titik model. 9) Penomoran model-model di seluruh proyek harus dari 1 (satu) sampai ke model “N” dimana “N” adalah sama dengan jumlah model-model stereo yang akan diukur selama proses triangulasi udara. 5) Jika terdapat pertampalan sisi (lateral overlap) yang berlebihan. maka diperlukan pertampalan sekurangkurangnya terdiri dari satu stereo-model penuh. sebaiknya tidak digunakan sebagai titik model. 4) Apabila mungkin titik model akan dipilih pada stereo model di permukaan tanah pada daerah yang rata dan detailnya cukup terang sehingga kedudukan titik tersebut dapat lebih jelas dan sebaiknya hindari bayangan yang bertentangan. untuk ketepatan pekerjaan ini digunakan alat pricking yaitu point transfer device Wild PUG 4 atau yang setingkat. atau sistem penomoran lain yang telah disepakati oleh Pelaksana Pekerjaan dengan pihak Pemilik Pekerjaan.

11) Stereo model yang diperlukan untuk pembuatan ortofoto tetapi yang tidak penting untuk triangulasi udara harus mempunyai sekurangkurangnya 6 (enam) koordinat untuk memungkinkan dilakukannya pemberian skala dengan praktis. Pada umumnya model-model yang bersebelahan. umpamanya pada ketinggian pohon atau di dalam bayangan awal. 5. Model-model tersebut boleh dihilangkan. maka pihak pelaksana pekerjaan harus bersedia untuk kembali lagi ke tahap permulaan/persiapan dan ke pemilihan titik kontrol pemindahannya. penandaan dan pemindahan titik-titik model harus dilakukan dengan amat sangat berhati-hati.3 Pemindahan dan Penandaan Titik Kontrol Pemindahan dan penandaan titik kontrol tujuannya adalah pemindahan titik kontrol dari cetakan foto ke diapositif dan titik kontrol tersebut diberi nomor.10) Jika suatu titik model ditempatkan pada suatu posisi yang tidak ideal. yang setingkat dengan WILD PUG 4 dengan ukuran maksimum yang diizinkan untuk tanda diapositif digital tersebut adalah diameter 60 mikro. 2) Suatu titik kontrol tanah harus di tandai pada diapositif digital dengan menggunakan alat stereoskopis pemindahan titik. pemindahan dan penandaan titik kontrol harus mengikuti ketentuan seperti dibawah ini : 1) Setiap titik kontrol hasil identifikasi lapangan harus dipindahkan dari cetakan foto ke diapositif digital asli. apabila tidak memperjelek blok secara keseluruhan maupun blok-blok yang bersebelahan. 12) Pemilihan. maka harus ada catatan keadaannya ini. jika memang tadinya dipakai. Apabila timbul kesulitan pada tahap penyesuaian. .

tetapi jenis-jenis kontrol tersebut seperti : premark. harus mudah diketahui dengan sistem penomoran yang dipakai tersebut.4 Pembuatan Diagram Foto Pembuatan diagram foto tujuannya adalah sebagai dasar pengamatan fotogrametris dimana ketentuannya sebagai berikut : 1) Pelaksana Pekerjaan harus menyusun.1) setelah selesainya pemilihan titik-titik model. Semua titik-titik kontrol yang sudah di beri nomor dan tanda sesuai dengan klasifikasinya. Titik-titik utama foto udara yang digunakan hanya untuk produksi ortofoto. 5. 4) Pemindahan suatu titik kontrol. kontrol horizontal. maka harus di buat catatan mengenai keadaannya dan di buat sedemikian rupa agar dapat di lihat setiap waktu. lengkap dengan nomor foto dan nomor jalur. kontrol vertikal dan sebagainya. Semua titik-titik diberi nomor dan tanda sesuai dengan klasifikasinya dan berada pada posisi yang relatif tepat dengan titik utama (agar lebih jelas nomor titik model dapat dihilangkan) . harus ditandai dengan simbol yang berbeda dengan simbol pada diagram seleksi foto udara untuk keperluan triangulasi udara. dengan skala yang memadai. suatu Diagram (diagram) Persiapan (lihat gambar 6. dan berada pada posisi yang relatif tepat dengan titik-titik utama tersebut.3) Pemindahan titik dari cetakan foto ke diapositif digital harus teliti sekali. yang merinci hal-hal berikut : Titik-titik utama pada foto yang digunakan selama proses triangulasi udara dan pembuatan peta ortofoto. 5) Penomoran titik kontrol di seluruh proyek sesuai dengan keinginan pemilik pekerjaan.

Diagram tersebut nantinya dapat berfungsi sebagai Diagram Hubungan (Connection Diagram). mempunyai skala. sungai besar dan tepi pantai. 5.212). Batas-batas pemetaan proyek dan blok PAT-B Danau. atau stereo comparator.2 di atas).5 Pengamatan Fotogrametri Pengamatan fotogrametri atau triangulasi udara tujuannya adalah memperbanyak titik kontrol minor dengan fotogrametri dengan cara triangulasi udara dimana ketentuannya seperti dibawah ini : 1) Penentuan koordinat secara fotogrametri dari semua titik kontrol dan titik-titik model harus dilaksanakan dengan metode triangulasi udara yang sudah diakui.6. 2) Semua proses triangulasi udara harus diselesaikan dengan menggunakan alat restitusi analog yang mempunyai ketelitian tinggi (First Order) atau analiytical plotter. dan untuk penyesuaian data digunakan program PAT-M atau PAT-B (atau program lain yang disetujui oleh Direktorat). berdasarkan diagram seleksi foto udara (lihat 5. bernomor.3.15 berikut ini).4).Setiap batas dan nomor stereo-model yang akan digunakan untuk proses triangulasi udara. dengan di kontrol horizontal dan vertikal (lihat bagian 3. lihat 6. 2) Diagram foto harus diidentifikasi dengan jelas. bertanggal dan dibuat dalam bentuk yang sama. dan 3. alat yang dipilih harus bisa dihubungkan pada suatu alat pencatat data . Batas masing-masing pertampalan (nomor model tidak diperlukan hanya untuk keperluan produksi ortofoto saja (Hal ini merupakan suatu pengecualian lihat 6.

5.elektronik untuk memperoleh hasil koordinat-koordinat model fotogrametri yang teliti.6 Perataan Blok Penyesuaian blok tujuannya adalah sebagai dasar pembuatan peta ortofoto dan peta garis dimana ketentuannya seperti dibawah ini : 1) Penyesuaian blok triangulasi udara dapat diselesaikan dengan menggunakan paket Program PAT-M atau PAT-B atau program yang setingkat dan disetujui terlebih dahulu oleh pemilik pekerjaan. 3) Pelaksana Pekerjaan harus menjelaskan di dalam usulan. harus disimpan oleh pelaksana pekerjaan.M atau PAT-B. 6) Semua catatan dan berkas yang membuat koodinat-koordinat tiap model hasil triangulasi udara. selanjutnya pelaksanaan pekerjaan harus bertanggungjawab terhadap standar ketelitian yang ditentukan dalam melaksanakan pekerjaan yang bersangkutan. berikut laporan terbaru mengenai pemeliharaan perbaikan dan kalibrasi. 5) Pelaksana pekerjaan yang memakai peralatan untuk triangulasi udara yang memerlukan perhitungan pusat perspektif boleh menghitung harga-harga itu selama dilakukan pengamatan triangulasi udara atau menggunakan fasilitas yang disediakan oleh program paket PAT. untuk pemeriksaan yang akan dilakukan oleh pemilik pekerjaan (Direktorat Irigasi). mengenai peralatan dan metode yang akan digunakan. Sebelum proses penyesuaian seluruh blok. 4) Perlunya pencatatan data yang akurat selama penentuan koordinat dan dalam perhitungan pusat perspektif jangan terlalu dilebihlebihkan. diajukan agar data-data .

01 % dari tinggi terbang daerah datar sedangkan untuk daerah curam tidak boleh lebih besar dari 0. bisa digunakan sebagai titik ikat (x. harus dibuat catatan penelitian tersebut.y.y. tidak lebih besar dari 40 mikron skala foto Tinggi (z). maka diadakan pengamatan ulang di lapangan jika tidak tersedia titik pengganti. tidak lebih besar dari 0. dan disimpan untuk diperiksa oleh pemilik pekerjaan.03 % dari tinggi terbang.y).y). Titik Kontrol Tanah Horizontal (x. tidak lebih besar dari 25 mikron.yang akan dipakai harus sudah disaring dengan cara melaksanakan penyesuaian strip-strip atau blok dan memeriksa hasil-hasilnya. kecuali kalau semua titik-titik tersebut sudah diseleksi dan sudah diberi tanda. Tinggi (z). 3) Untuk keperluan PAT-M atau PAT-B haruslah diyakinkan bahwa titik kontrol (x.z). . 6) Jika pada suatu ketika tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari kesalahan titik kontrol. 5) Pelaksana pekerjaan harus mengadakan penelitian untuk mengetahui asal/sumber kesalahan jika titik kontrol melebihi apa yang telah ditentukan.z) tidak boleh digunakan sebagai titik ikat. tidak lebih besar dari 0. 4) Ketelitian yang diperlukan pada setiap titik kontrol minor dan titik kontrol tanah setelah dilakukan perataan harus sedemikian rupa agar harga-sisa (residual value) tidak melampaui harga-harga berikut : Titik Kontrol Minor Horizontal (x. 2) Koordinat-koordinat tanah untuk titik-titik kontrol hasil pengamatan di lapangan akan dimasukkan ke dalam program untuk melakukan perataan.01 % dari tinggi terbang .

5 Pusat perspektif Standar ketelitian kontrol x 3. 12) Pemisahan titik model antar strip harus sedikit mungkin.0 9) Penelitian tersebut mencakup beberapa atau semua hal-hal berikut : Kebenaran data penomoran titik dan model. Pengamatan ulang model sehingga menjadi jelas pada permulaan atau sesudah dilakukannya pengamatan ulang. usahakan tidak lebih dari 5% untuk seluruh blok.5) : Titik-titik Model Standar ketelitian kontrol x 1. 8) Pelaksana pekerjaan harus melakukan penelitian untuk mengetahui sumber-sumber kesalahan sesudah dilakukan perataan. titik-titik kontrol sama sekali tidak boleh dipindahkan dari perataan tersebut. titik-titik model tidak boleh dihapus dari perhitungan perataan. 14) Walau bagaimanapun. apabila sisa kesalahan fotogrametri melampaui sebagai berikut (lihat 6. 10) Titik-titik model boleh dipisahkan (dengan penomoran kembali pada satu model atau lebih) dengan mengikuti kriteria sebagai berikut : 11) Jika terjadi pemberian nomor ulang hendaknya diperhatikan agar semua dokumen yang bersangkutan dirubah sesuai dengan yang baru.7) Dalam keadaan bagaimana pun. 13) Tidak diizinkan memisahkan titik pusat perspektip. pemisahan titik pada modelmodel yang berurutan tidak diperkenankan. Kemungkinan tidak bersambungnya masing-masing titik-titik yang membawa akibat serius pada blok. .6. Ketelitian dalam pemindahan titik antar model.

maka sekurang. . maka pelaksana pekerjaan harus mempersiapkan diagram hubungan (Gambar 6. b. Jumlah hitungan interasi yang dilakukukan untuk (x.z) harus sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil yang paling pantas (seperti perbedaan maksimum koordinat titik (x. Ketelitian perataan titik-titik model dalam blok bersebelahan tidak lebih besar dari : Horizontal (x dan y) 0.5 m).1 (c)).4. Sesudah perataan selesai. sesudah step tersebut digunakan. (kecuali pada 6. maka dibuat Diagram Hubungan dua (2) salinan dari hasil hitungan penyesuaian dan dua (2) salinan dari Diagram Hubungan.y) dan z sedangkan interasi tidak boleh lebih dari 0.y) dan (z) dengan koordinat akhir (x. Semua titik model dan titik kontrol (diberi nomor).5 mm x denominator (bilangan penyebut) skala akhir peta Vertikal Kontur hasil pengukuran lapangan z x Interval Kontur Kontur hasil fotogrametri 1 x Interval Kontur c.2) yang merinci : Semua stereo model (diberi nomor). Jika koreksi kelengkungan bumi dan koreksi refraksi pada PAT-M atau PAT-B digunakan. Tiap-tiap yang diulangi penomorannya harus dicatat dengan jelas 14) Apabila pelaksana pekerjaan telah yakin bahwa tingkat hasil perataan memuaskan perbandingan dengan blok di dekatnya.y. Garis hubungan untuk memperlihatkan model-model setiap titik tersebut untuk itu harus dipakai warna yang kontras dan jelas.kurangnya perlu ditambahkan sepasang step interasi lagi.a.

kecuali untuk blok yang hanya sebagian saja yang disetujui. Model yang dihilangkan menggunakan koordinat-koordinat dari blok sebelahnya. Suatu model yang dianggap tidak cukup pengontrolnya dalam x. Model yang ditolak disebabkan hasil perataan tidak memenuhi syarat.y atau z dan yang bukan bagian dari blok yang bersebelahan. Segera setelah hasil seluruh perataan disetujui. tidak diizinkan menggunakan salinan (copy) selain salah satu dari kedua dokumen tersebut. (catatan hal tersebut akan ditambahkan pada referensi lembar peta yang bersangkutan pada waktu diadakan penyelesaian). maka masing-masing model diklasifikasikan sebagai berikut : Model yang disetujui untuk pembuatan ortofoto dan kontur.15) Seluruh hasil perataan dan diagram hubungan yang diterima Direktorat akan dipertimbangkan apakah hasil tersebut dapat diterima seluruhnya atau sebagian. blok mana yang sudah sepenuhnya disetujui dan tidak akan diberi tanda. 18) Pelaksana pekerjaan menerima satu salinan print-out perataan dan diagram hubungan diberi catatan. 19) Hasil perataan sementara (print-out) harus diserahkan kepada pemilik pekerjaan untuk disimpan sampai hasil akhir perataan disetujui. 17) Pihak pemilik pekerjaan akan menandai secara jelas pada print-out blok. maka seluruh laporan penyusunan sementara tersebut harus dimusnahkan oleh pelaksana . 16) Apabila pemilik pekerjaan puas karena ketelitian memenuhi syarat maka perataan dapat disetujui dan dilanjutkan proses fotogrametri. Model yang disetujui hanya untuk pembuatan ortofoto. akan diberi catatan sebagai semi kontrol.

dengan memperhatikan elemen orientasi (kappa. 2) Sebelum dilakukan pengambilan data.7 Digital Elevasi Model (DEM) Digital Elevasi Model maksudnya adalah melakukan pengeplotan terhadap titik-titik yang diamati ketinggiannya dan dapat dianggap mewakili bentuk dari relief permukaan tanah. sebenarnya pada foto udara ambil data tinggi yang dapat mewakili setiap break line yang ada. 5) Teknik pengambilan DEM point untuk break line diuraikan sebagai berikut : Sungai. untuk menghindari penyalahgunaan data yang tidak disetujui. untuk menghasilkan bentuk permukaan tanah yang sama dengan bentuk relief. absolut.pekerjaan. menggunakan alat stereoplotter yang dilengkapi komputer dan software dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Proses DEM point dilakukan dari model ke model yang mencakup seluruh daerah pemetaan. dimana jarak antara titik DEM sekurang-kurangnya 100 m untuk daerah datar. 50 m untuk daerah yang relatif sedang. DEM terlebih dahulu dilakukan orientasi baik orientasi dalam. 4) Selain data tinggi diatas. . sungai diamati ketinggiannya sepanjang tepi air sungai (kirikanan) dengan kerapatan pengambilan data disesuaikan dengan kondisi relief. bx. 5. by) dan besarnya penyimpanan tinggi maupun planimetris untuk setiap model. omega. phy. 25 m pada daerah terjal. 3) Pengambilan DEM point dilakukan dengan metoda teratur bentuk grid. relatif. 20) Tidak ada proses fotogrametri dilakukan sampai keseluruhan perataan disetujui seluruhnya.

6) Selesai pengamatan DEM pada model tersebut. Editting dan Entry data. PEMROSESAN DAN PERAKITAN PETA ORTOFOTO Proses pembuatan peta ortofoto digital skala 1 : 5. Garis aliran air. Selokan besar. garis aliran air di perbukitan diamati dengan kerapatan disesuaikan dengan bentuk topografi semakin terjal semakin rapat pengamatannya. dimana kegiatannya meliputi pekerjaan berikut : Scanning Foto Udara. lakukan penarikan kontur dengan interval kontur 1.000 adalah dari hasil pemotretan foto udara yang telah mempunyai titik kontrol koordinat tanah digitalisasi dengan software Orto Engine (PCI Versi 9. punggungan bukit diamati sepanjang punggungan dengan kerapatan disesuaikan dengan topografi punggungan bukit.1 Peralatan dan Bahan peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan peta ortofoto digital. 6.Punggungan. diamati sepanjang garis tengah jalan. 1) Harus dijelaskan pemeliharaan. 2) Pembuatan positif dari ortofoto digital harus menggunakan kertas yang stabil atau menggunakan kertas yang cocok. 6. selokan besar diamati pada garis tengah selokan. servis dan informasi . Jalan. kalibrasi.0 m secara teliti dan di simpan dalam format interchange drawing sehingga dapat digunakan untuk keperluan selanjutnya. Ortofoto Digital.1).

z). 6. jika perlu tanda yang dibuat untuk keperluan . 2) Mengganti diapositif akibat kerusakan dan sebagainya harus diperhatikan agar model dan titik kontrol dipindahkan secara akurat dengan menggunakan alat stereoskopis yang dilengkapi dengan alat pemindahan titik. 3) Diapositif yang telah diganti harus disimpan pelaksana pekerjaan diberi tanda yang jelas untuk menghindari agar tidak terpakai pada saat proses ortofoto digital. 4) Setiap diapositif yang dihasilkan harus memuat minimal 9 (sembilan) titik koordinat (x.3) Screen yang digunakan harus mempunyai 133 dot screen (atau lebih banyak) artinya 133 dot pada setiap inci membentuk sudut 450 terhadap ujung lembar peta bagian sebelah bawah (sebelah selatan).2 Scanning Foto Udara Maksud scanning foto udara adalah untuk mendapatkan image foto udara dalam bentuk digital dari diapositif foto udara skala 1 : 10.3 pada ortofoto digital. jika ada goresan.y. citra kualitas diapositif yang diganti harus sama dengan sebelumnya. sekurang-kurangnya 6 (enam) dari titik-titik tersebut harus ditandai dan harus kelihatan dengan jelas. dot yang membentuk citra half one ini harus tajam dengan ukuran maksimum dan minimum 8 % dan 20 % sesuai dengan densitas citra 1. Persyaratan ini berguna untuk mengecek ketepatan ukuran dan membantu selama tahap perakitan.3 dan 0.000 yang sudah dilengkapi titik-titik kontrol minor hasil triangulasi udara dengan ketentuan berikut : 1) Diapositif yang digunakan harus diperiksa dulu agar dapat menjamin kualitas ortofoto digital. noda atau kerusakan maka diapositif digital harus diganti.

dengan cara ini menggunakan seluruh foto udara tunggal (bukan dari model stereo). dan fidusial mark tidak lebih besar dari 12 .3. 5) Scanner yang digunakan scanner fotogrametri yang dilengkapi dengan komputer dan software yang mempunyai resolusi tinggi 2400 dpl.1 Geoferencing Geoferencing adalah suatu metoda atau cara untuk menghubungkan koordinat dari koordinat foto ke koordinat tanah.triangulasi udara ditambah dan titik-titik tambahan tersebut bisa dipindahkan dari diapositif sebelahnya dengan menggunakan alat pemindah stereoskopis. 6. 6. 2) Pada tahapan pekerjaan ini diperlukan data kalibrasi kamera dan koordinat titik minor dan titik kontrol hasil triangulasi udara. 4) Ketelitian titik minor micron. 3) Melakukan pengamatan pada titik kontrol minor yang ada pada foto udara dan fidusial mark foto udara. ketentuannya sebagai berikut : 1) Menghubungkan koordinat foto udara digital ke koordinat tanah menggunakan software PCI.3 Proses Ortofoto Digital Metoda ortofoto digital merupakan cara ortofoto analistis dengan menggunakan perangkat lunak tertentu dimana foto yang akan diproses orto telah berbentuk data digital yang merupakan proses dari scanning dimana kegiatannya meliputi geoferencing dan proses ortofoto digital.

resolusi.3. 2) Memasukkan data-data (parameter) seperti yang disebut no 1) sebagai data input. dan tone. 3) Pelaksana pekerjaan harus berusaha mengurangi semaksimal mungkin variasi tone (tonal variations) antara positif-positif ortofoto digital yang berdekatan agar hasil fotografi tetap baik. proses ini full automatic pada komputer dengan menggunakan perangkat lunak khusus untuk pengolahan ortofoto. 4) Perbedaan tone yang menyolok.2 Ortofoto Digital Proses Ortofoto digital merupakan proses rektifikasi differensial foto udara digital secara analitis.Foto udara digital Proses Geofere ncing Foto udara yg sudah dikoreksi Data kalibrasi kamera & AT 6. skala. mengikuti ketentuan sebagai berikut : 1) Data yang dibutuhkan dalam pekerjaan ini data foto udara digital yang sudah dikoreksi dan digital elevasi model (DEM point) . ortofoto digital yang berdampingan. akan ditolak oleh pemilik pekerjaan yang selanjutnya akan . data-data tersebut akan menentukan bentuk. ukuran.

Melakukan perbesaran skala image dari skala 1 : 10.000 dengan ketentuan sebagai berikut : Edge matching dari image foto ortofoto yang berurutan. 5) Jika tidak dapat dihindarkan adanya variasi tone antara ortofoto digital yang berdampingan maka usaha untuk memperbaiki keadaan tersebut dapat dilakukan dengan pengulangan pada tahap produksi selanjutnya nanti. Catatan : Tahapan edge matching sampai dengan melakukan pemotongan image dilakukan dengan menggunakan software .000 Data DEM jg sudah dirapatkan Proses ortofoto digital dgn software PCI foto ortofoto digital 6.menginstruksikan dilakukannya tinjauan ulang model-model yang tidak dapat diterima tersebut. parameter Foto udara digital skala 1:5.000.3. Melakukan pemotongan image sesuai dengan lembar petanya. Menajamkan image mosaik . Menyamakan tone dari mosaik tersebut.000 ke Skala 1 : 5.3 Mosaik Digital Pembuatan mosaik pada skala foto udara 1 : 10.

2 mm.PCI sedangkan tahap perbesaran menggunakan software Adobe Photoshop. bahan-bahan kimia yang digunakan untuk keperluan . 3) Arah utara. 2) Jaringan garis-garis grid dengan interval jarak tiap 10 cm diberi tanda garis silang dengan panjang garis 1 cm dan tebal 0. nama bangunan buatan manusia dan alam harus tercantum dalam peta dengan jelas.000 dan garis-garis grid UTM setiap interval 500 m. ketentuan dan informasi yang harus ada pada peta ortofoto digital sebagai berikut : 1) Ukuran peta ortofoto digital 50 cm x 50 cm yang mencakup daerah seluas 2.4 Editing dan Entry Data Setelah proses pemotongan image foto selesai. benchmark dengan nomor yang jelas. setiap garis diberi notasi yang lengkap. 5) Penomoran dan pembagian lembar peta disesuaikan dengan pembagian dan penomoran peta yang ada di direktorat irigasi.5 km x 2. 6.5 km dengan skala 1 : 5. 4) Setiap peta saling bertampalan sekurang-kurangnya 1 garis grid penuh sepanjang pertampalan tersebut. dengan menggunakan harga-harga koordinat planimetris. untuk menjadi peta ortofoto harus dilengkapi dengan informasi hasil identifikasi lapangan dan memenuhi kaidah peta. 6) Batas administrasi pemerintahan. skala grafis dan numeris digambarkan secara jelas. grid tercakup di dalam peta. 7) Perbedaannya Intensifikasi atau reduksi suatu positif dapat dicoba untuk memperbaiki tone yang besar agar sesuai dengan positif-positif yang lain.

3) Peta ortofoto tidak boleh mempunyai garis-garis scanning yang menyolok atau variasi tone yang menyolok antara exposure di sebelahnya 4) Perbandingan garis-garis scanning. jika ada kesalahan yang lebih besar dari 0. 8) Tujuan dari hal tersebut diatas adalah agar supaya sedapat mungkin dicapai suatu bentuk tone yang bersambungan di seluruh lembar peta dan juga menghindari perbedaan yang nampak menyolok antara ortofoto-ortofoto yang bersebelahan. 5) Kekurangan lain seperti terdapatnya guratan-guratan dan citra dari guratan-guratan ataupun hal lainnya yang dapat mempengaruhi . dalam hal demikian pemilik pekerjaan tidak dapat menyetujuinya.5 mm harus diteliti kembali. 6. garis-garis mosaik atau batasbatas lembar peta apabila digabungkan dengan penafsiran gambar muka bumi tidak sesuai.tersebut harus mengikuti instruksi yang diberikan oleh pabrik pembuat bahan-bahan kimia.5 Pengecekan Ketelitian Ortofoto Digital Sebelum ortofoto di edit harus diperiksa dengan ketentuan berikut : 1) Satu persatu ketelitian planimetrisnya di periksa dengan cara membandingkan dan posisi dari model-model atau titik-titik kontrol pada ortofoto dengan semua yang ada pada lembar peta. 2) Harus membuat diagram vektor yang memperlihatkan perbedaan setiap titik model dalam milimeter. atau tidak sesuai dengan bentuk estetiknya maka menurut pemilik pekerjaan ada ketidakcocokan keseluruhan ortofoto yang melebihi 1 (satu) milimeter atau ketidakcocokan pada suatu tempat tertentu melebihi 2 (dua) milimeter.

0 m 2) Indeks kontur digambarkan interval 10 m jika blok pemetaan kontur digambar 1.0 m 2. dapat ditolak.1 Informasi Titik Tinggi 1) Secara umum kemiringan digambarkan berdasarkan interpolasi kontur setengah meter. sebagaimana selalu terjadi pada pemotretan lokasi yang tidak bisa lengkap terselusuri oleh jangkauan potret. GAMBARAN MENGENAI INFORMASI TITIK TINGGI DAN KETENTUAN KARTOGRAFI Gambaran informasi titik tinggi dan ketentuan kartografi tujuannya adalah ketentuan penarikan garis kontur dan kelengkapan peta sebagai berikut : 7.0 m 0. 6.0 m jika blok pemetaan kontur digambar 0.5 m 1.kemurnian hasil foto udara.5 m. terlebih lagi apabila mempengaruhi hasil estetis foto. Tabel berikut dapat digunakan sebagai dasar penentuan interval garis kontur Kemiringan 0 – 2% 2 – 5% 5 – 20% Lebih curam dari 20% Interval 0. .0 m dan indeks kontur digambarkan interval 5. untuk mencegah rapatnya garis kontur yang mengakibatkan kurang jelasnya detail peta agar kontur digambarkan dengan memadai.

5 milimeter atau 1/10 jarak mendatar antara kontur tersebut. 9) Pada daerah yang mempunyai kemiringan tanah lebih besar dari 2 %. 5) Semua kontur tersebut harus masuk toleransi dengan pergeseran dalam perubahan posisi vertikalnya yang telah diplot tidak lebih dari 0. akan digunakan stereoskopis untuk mengecek kebenaran interpretasi. garis-garis kontur bisa diinterpolasi antara titik rincik ketinggian. 6) Daerah sawah pada peta ortofoto.3) Kriteria yang diberikan di atas hanya merupakan panduan saja. 8) Apabila ada 2 kontur atau lebih. jalan. tujuannya adalah untuk menjaga kesamaan garis kontur pada seluruh lembar peta (kecuali di daerah yang sangat curam/terjal). kontur fotogrametri harus diplot untuk membantu interpolasi titik-titik . 7) Interpolasi kontur dilakukan dengan mempertimbangkan detail yang ada pada foto dan kalau memang cocok. 4) Semua garis kontur harus benar-benar sesuai dengan ketentuan dalam penarikan interval kontur dan sekurang-kurangnya 85 % dari semua kontur harus mempunyai harga yang sesuai dengan harga ½ (setengah) interval kontur. bukannya mengikuti batas-batas golongan sawah. yang berdekatan dan hampir berimpit (misalnya batas kampung. tanggul. kelokan saluran) kontur digambarkan dengan garis putus-putus untuk menghindari tertutupnya detail dari ortofoto. apabila dicek berdasarkan hasil pengukuran lapangan dengan alat ukur sipat datar yang diikatkan pada kontrol titik tetap Benchmark yang terdekat. Walaupun demikian perubahan interval dalam lembar peta akan diizinkan dalam hal adanya perubahan kecuraman menyeluruh dalam suatu daerah. tetapi tidak dalam hal perubahan lokal.

2) Gambar konsep (draft) yang pertama harus digambarkan dengan pensil. Hal tersebut akan di kombinasikan dengan data-data ukur dan bentuknya didapat dari kontur fotogrametri. termasuk informasi mengenai datum (duga) titik tinggi dan sumber informasi yang dipakai. pensil gambar dan gambar akhir. Sebelum dilakukan interpolasi garis kontur titik-titik rincikan yang diidentifikasi oleh tim ukur pada foto udara perbesaran . termasuk tanda-tanda registrasi yang terletak pada sudut setiap lembar dan petunjuk arah utara.tinggi hasil pengukuran. harus mengikuti ketentuan berikut : 1) Harus disiapkan dua lembar kalkir yang berisi titik-titik rincik dan garis kontur. tidak beraturan dan curam. harus jelas indikasinya. 10) Jika keadaan medan terbuka (tidak banyak tumbuh-tumbuhan). 7. dan Kontur Fotogrametris Titik rincik dan penumpangan kontur maksudnya adalah titik rincik dan garis kontur digambarkan pada waktu penumpangan kalkir (kertas transparan) pada hasil rakitan peta ortofoto sedangkan kontur fotogrametris adalah penarikan kontur dengan cara fotogrametris.2 Titik Rincik. Dalam hal ini kontrol tinggi yaitu kontrol tinggi titik foto akan diamati dengan melakukan penyipatan datar pada keempat sudut dari masing-masing model yang akan dipakai untuk penarikan kontur. yang sudah dikerjakan dengan tinta untuk setiap lembar peta ortofoto dengan menggunakan bahan gambar transparan. dimana semua koreksi atau perbaikan akan dilakukan pada konsep tersebut. Penumpangan Kontur. gunakan kontur fotogrametri. 11) Detail mengenai metode kontur yang digunakan harus jelas dicatumkan pada semua lembar peta. Semua hasil plot.

d. 3) Kontur hasil fotogrametri dengan interval 1 atau 2 meter harus diplot pada kertas transparan yang stabil. Prosedur pekerjaan ini akan menunjukkan kontur fotogrametri. Perlu disiapkan diagram untuk masing-masing model yang memperlihatkan perbedaan posisi horizontal pada setiap titik model . c. f.dipindahkan ke detail yang ada pada peta ortofoto. buku lapangan. 4) Prosedur pekerjaan plotting dijelaskan sebagai berikut : a. asal saja harga-harga tersebut bebas dari kesalahan besar. Perbedaan yang besar akan segera diketahui dengan perbesaran foto udara. b. Tinggi-tinggi model harus dibandingkan dengan sampel rincikan lapangan yang tersebar dengan baik dari konsep penggambaran rincikan. yang diplot langsung. dan penumpangan draft titik rincikan. atau pada print-out triangulasi udara. Mesin plotting fotogrametris harus diatur dahulu dengan menggunakan kontrol hasil triangulasi udara yang selanjutnya digunakan untuk keperluan orientasi absolut. Titik-titik rincik yang tidak dapat diidentifikasi harus dipindahkan dulu ke transparan yang stabil. akan memerlukan perbaikan sedikit saja. e. terutama jika kontur-kontur dicek dengan rincikan pada intervalnya selama pekerjaan plotting dan perbedaan-perbedaan harga diteliti dengan cara seperti di atas. perakitan ortofoto. maka orientasi absolut dapat menggunakan harga tinggi dari harga-harga rincikan lapangan (yang lebih teliti daripada tinggi triangulasi udara. Secara umum lembar dasar (base sheet) yang telah digunakan untuk memplot titik kontrol digunakan bagi keperluan scanning. Jika perbedaannya kecil (umumnya di bawah 2 meter dengan beberapa titik mencapai 2 meter).

(lihat gambar 7.1). Titik-titik model dan semua titik rincikan yang digunakan dalam pekerjaan orientasi absolut perlu juga dibuat daftarnya dan dengan jelas memperlihatkan perbedaan dengan hasil triangulasi udara, tinggi-tinggi model yang telah diorientasi dan tinggi lapangan. 5) Kontur-kontur fotogrametri harus di edit dengan baik agar dapat dipakai untuk kerapatan dan ketelitian network (kerangka) dari pekerjaan pengukuran rincikan di lapangan; sedangkan bentuk tanah yang diperlihatkan dengan cara fotogrametri. Adanya perubahan yang penting dari persyaratan dalam pekerjaan kontur fotogrametri harus digambar pada konsep gambar transparan rincikan, bukan pada hasil asli hasil kontur fotogrametri. Perbedaan-perbedaan yang masih ada dapat diteliti, jika dituntut oleh persyaratan seperti di atas harus diinterpolasi pada gambar konsep rincikan. 6) Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penarikan kontur : Di dalam suatu hal tertentu pelaksana pekerjaan dapat diizinkan untuk melaksanakan kontur fotogrametri tanpa menunggu hasil pindahan titik rincik lapangan pada kertas transparan. Titik tinggi (spot height) fotogrametri harus diplot pada semua punggung medan, lembah dan pada patahan, dan juga pada daerah datar yang intervalnya cukup wajar, atau bahkan daerah yang miring. Pencatatan ketinggian pada daerah-daerah tersebut digambarkan dengan satu angka desimal dalam meter. Perlu disiapkan diagram untuk memperlihatkan perbedaan pada titiktitik model setelah dilakukan penyipatan datar (levelling), termasuk perbedaan antara triangulasi udara dan kontrol lapangan. Pekerjaan editing dan interpolasi dapat dilaksanakan apabila gambar konsep (overlay) ukuran rincikan dari lapangan sudah ada, tetapi hal

ini akan memerlukan lebih banyak pekerjaan. Perbedaan-perbedaan antara tinggi hasil ukuran lapangan dan fotogrametri yang lebih dari 2 meter harus diteliti kembali. Garis kontur hasil editing harus digambar dengan menggunakan bentuk yang tidak berombak (smooth) dan tidak diizinkan menggambarkannya dalam bentuk yang bergelunggelung (“artistic looping”). 7.3 Penggambaran Halus Titik Rincik dan Kontur

1) Setelah gambar draft telah disetujui maka selanjutnya dilakukan peningkatan pada kertas transparan yang digunakan untuk keperluan penumpangan pada negatif ortofoto, titik rincik harus dipindahkan dengan menggunakan tinta ke atas kertas transparan, dilakukan sebelum penggambaran halus garis kontur yang telah di edit. 2) Rincian harus ditulis dengan menggunakan stensil atau leterring set ukuran 1,5 mm dengan mata pena 0,1 mm, letak rincikan harus diindikasikan sampai dengan fraksi desimal; jika bentuk detail terganggu oleh harga rincikan, maka angkanya dapat ditunjukkan dan posisinya ditunjukkan dengan tanda panah. Titik desimal tersebut harus diletakkan relatif terhadap angka-angka, seperti terlihat : 24316 bukan 243.16 3) Rincikan yang ditentukan dengan pengukuran lapangan diperlihatkan dalam dua angka desimal meter, contoh 243,16 Rincian yang ditentukan dari hasil fotogrametri diperlihatkan hanya dengan satu angka desimal, contoh 243.2 4) Semua garis kontur digambar dengan menggunakan pena yang berukuran 0,1 mm, kecuali untuk indeks kontur yang digambarkan pada setiap interval 10 m digunakan pena ukuran 0,3 mm. Hargaharga garis kontur dituliskan hanya pada garis kontur yang berharga 1 meter dan harga juga pada indeks kontur, dan harus diulang pada

setiap 15 sampai 20 centimeter pada peta. Harga-harga garis kontur ditulis dengan menggunakan lettering set ukuran 1,5 mm dan mata pena ukuran 0,2 mm. Harga garis-garis kontur ditulis dengan arah dari puncak ke lereng, secara kasar untuk pengarahan, diperlihatkan sebagai berikut :
Benar 29 Benar 30 Benar 32 31 30 29 Benar salah 28 29 30 31 salah

5) Apabila kontur fotogrametri saja yang ada akan diperlihatkan dengan menggunakan garis putus-putus. Ukuran garis putus-putus tersebut diperlihatkan sebagai berikut : ___ ___ ___ ___ ___ ___ ___ ___ 1m 5m

6) Garis kontur harus berhenti pada jalan-jalan raya dan sungai-sungai besar, dalam hal ini garis kontur tidak boleh digambarkan memotong sungai tetapi harus berhenti pada salah satu tebing sungai dan selanjutnya bersambung pada tebing sungai yang di seberang lainnya.

7.4

Penulisan Nama, Benchmark, dan Grid mosaik positif (sebelum negatifnya diproduksi) atau pada overlay kontur, sesuai keinginan pemilik pekerjaan. Harus dilakukan pertimbangan mengenai kerapatan citra detail di sekeliling nama. Jika detail pada rakitan positif sangat gelap, maka nama harus di tulis pada kontur overlay sehingga pada peta akhir akan terlihat putih. Jika detail pada rakitan positif amat terang, maka nama harus ditulis

1) Nama-nama sungai, kampung, gunung dsb, ditulis pada rakitan

31 32

indek kontur 0.5m kontur 1m kontur

dengan tinta hitam sebelum negatif dari ortofoto diproduksi sehingga pada peta akhir akan terlihat hitam.
2) Ketentuan nama kampung dan sungai sebagai berikut :

(a) Semua nama yang ditulis harus menggunakan stensil atau yang sejenis, ukuran huruf tersebut adalah sebagai berikut :
i. Kampung : Stensil ukuran 3 mm dengan mata pena ukuran 0,3 mm ii. Sungai : Ukuran huruf seimbang dengan lebar sungai; aliran sungai

harus digambarkan dengan tanda panah (b) Nama tulis dengan huruf besar tiap awal tulisan, contoh Tanah Merah. 3) Benchmark (BM) ditulis dengan cara diatas, ukurannya 2 mm dan memakai mata pena berikut :
N o m o r p ila r (B M ) T in g gi p ila r (B M )
3m m

0,2

mm

, dapat dilihat bentuknya sebagai

T R 24 4 2 .7 6

2m m 2m m

Posisi benchmark harus dicek pada deskripsi lapangan dari titik tersebut, untuk memastikan bahwa pengeplotan yang dilakukan sesuai dengan detail sekelilinya. Titik-titik triangulasi yang ada juga diplot dengan cara yang sama tetapi simbolnya berbentuk segitiga. 4) Ketentuan penulisan Grid sebagai berikut : Garis silang (grid) panjang 10 x 10 mm, dan pada sisi peta garis silangnya sepanjang 5 mm, dengan menggunakan mata pena 0,1 mm. Koordinat-koordinat garis silang dapat ditulis pada overlay kontur atau pada perakitan positif mosaik, penggunaan warna hitam atau warna putih. Koordinat-koordinat garis silang ditulis di luar lembar peta. Koordinat tersebut ditulis dengan tinta hitam tiap selang 500 m, sepanjang keempat sisi dari peta. Angka harus ditulis dengan tinggi tulisan 2,5

000 1) Tata letak (layout) dan penyajian peta ortofoto digital akan mengikuti contoh tata letak Gambar 8. TATA LETAK PETA ORTOFOTO SKALA 1 : 5.1. 8.000 DAN SKALA 1 : 20. ketentuannya sebagai berikut : 8. penyampaian diluar ketentuan oleh pelaksana pekerjaan hanya dapat diperbolehkan dengan persetujuan pemilik pekerjaan. 3) Pelaksana pekerjaan harus menyerahkan kepada pemilik pekerjaan suatu contoh salinan dari catatan panel (Footnote panel) yang digunakan selama penyelesaian pembuatan peta ortofoto digital untuk disetujui.000 maksudnya adalah hubungan komponen peta yang disajikan dalam lembar peta. 4) Pada penyajian akhir tiap peta ortofoto digital harus dibuat di atas kertas bromida yang bermutu tinggi dan stabil. 5) Setiap lembar peta ortofoto digital yang sesuai dengan nomor serinya masing-masing harus dibuat dalam bentuk VCD atau DVD. .000 Tata letak peta ortofoto skala 1 : 5.000 dan 1 : 20.3 mm.mm serta ditulis dengan menggunakan stensil atau lettering set dengan mata pena ukuran 0.1 Peta Ortofoto Skala 1 : 5. 2) Adanya hal-hal lainnya yang tidak disebutkan di dalam ketentuan ini harus disampaikan kepada pihak pemilik pekerjaan untuk dimintakan penjelasan atau petunjuk mengenai penggunaan simbol.

keterangan yang mendetail lembar peta harus disetujui oleh pemilik pekerjaan 6) Pada tahap penyerahan akhir masing-masing peta gabungan harus dibuat di atas kertas bromida yang bermutu tinggi dan stabil 7) Masing-masing lembar sesuai dengan susunan serinya harus dibuatkan dalam bentuk VCD atau DVD. reduksi tiap peta ortofoto digital harus berada pada posisi yang tepat terhadap jaringan garis-garis grid tersebut.2 Peta Ortofoto Skala 1 : 20. 4) Harus dijaga selama perakitan peta gabungan.2. 9.000 DAN SKALA 1 : 20. 3) Suatu jaringan garis-garis grid lengkap digambarkan pada setiap lembar peta interval 12. 5) Tata letak masing-masing lembar harus sesuai dengan gambar 8.000 dengan ketentuan sebagai berikut : . 2) Garis-garis kontur yang diambil dari peta ortofoto digital berskala 1 : 5.000 harus pada interval 5 m dan pada daerah curam interval kontur dibuat tiap 10 m atau pada suatu perkalian 10 m yang disetujui oleh pemilik pekerjaan.5 cm. PETA GARIS DIGITAL SKALA 1 : 5.8.000.000 1) Seri peta ortofoto digital yang dibuat pada skala 1 : 20.000 merupakan perkecilan dari peta ortofoto digital yang berskala 1 : 5.000 Peta garis digital maksudnya adalah format vektor dari pengambilan data kartografik (detail planimetrik) dari foto udara dengan menggunakan alat digital stereoplotting menghasilkan peta garis digital skala 1 : 5.

5 m. Kelengkapan detail harus diperiksa dengan menggunakan foto udara yang bersangkutan. Penyimpangan tinggi antara ploter dan titik kontrol tidak boleh lebih 0. Penyimpangan maksimum posisi planimetrik titik yang digambar pada peta dasar tidak boleh lebih dari 0. . 9.2 mm. dipilih dari titik detail yang dapat diidentifikasi dengan jelas di foto dan terdefinisi dengan baik di lapangan. Unsur geografi digambar dalam bentuk yang sebenarnya dengan simbol-simbol yang sudah ditetapkan. Interval kontur 0.03 % dari tinggi terbang rata-rata. harus sesuai dengan data lapangan. Data dan informasi harus sesuai dengan informasi lapangan.1 Kartografi Kartografi adalah etiket peta yang harus ada sesuai kaidah umum yang dipenuhi sebuah peta dengan ketentuan sebagai berikut : Simbol harus dilakukan dengan mengikuti kaidah-kaidah kartografi yang sudah ditetapkan. Memplot titik detail yang akan digunakan dan membuat daftar koordinatnya dengan jumlah minimal 20 (dua puluh) titik untuk setiap model dan terdistribusi secara merata. Semua detail planimetris di gambar sesuai dengan symbol yang telah ditentukan. Penulisan nama-nama geografik jalan dan bangunan dll. Obyek penggambaran adalah seluruh obyek detail.Kelaikan alat-alat yang digunakan harus dibuktikan dengan hasil kalibrasi.

Jika garis batas administrasi berimpit dengan detail bersangkutan dan jika garis batas terletak pada sungai. Pojok atap bangunan di gambar siku-siku kecuali bangunan yang arsitekturnya tidak siku-siku. semak dan hutan. hanya garis batas administrasi yang paling tinggi tingkatannya yang digambar. Jika terdapat dua atau lebih garis batas administrasi pada satu lokasi. garis tersebut di gambar ditengah-tengah dua garis detail yang bersangkutan atau sesuai hasil identifikasi lapangan.5 m. digambar dengan symbol pohon. jika pada areal tersebut terlihat garis batas yang tidak jelas. pepohonan heterogen. Pemberian symbol pada daerah cukup luas diwakili dengan beberapa symbol dan di distribusikan merata.000 . selokan. atau jalan. Ukuran peta (50x50)cm. misalnya antara semak dan ladang. Interval kontur peta garis 0. Areal yang di tumbuhi semak.000 dan Skala 1 : 20. Detail dalam satu lembar harus bersambung pada lembar sebelahnya. batas tersebut tidak perlu digambar kecuali jika areal tersebut termasuk kawasan hutan yang jelas. 9.Semua keterangan dalam bentuk teks dicantumkan sesuai dengan ketentuan ukuran dan ketebalan teks yang telah ditentukan.000. Selain kaidah-kaidah tersebut diatas terdapat pula ketentuan-ketentuan khusus yang digunakan sebagai berikut : Pembagian dan penomoran lembar peta skala 1 : 5. saluran air.2 Tata Letak Peta Garis Digital Skala 1 : 5.

000 1) Tata letak (layout) dan penyajian peta garis digital akan mengikuti contoh tata letak Gambar 8.2.2 Peta Garis Digital Skala 1 : 20. ketentuannya sebagai berikut : 9. 2) Garis-garis kontur yang diambil dari peta garis digital berskala 1 : 5. 4) Pada penyajian akhir tiap peta garis digital harus dibuat di atas kertas bromida yang bermutu tinggi dan stabil . 5) Setiap lembar peta garis digital yang sesuai dengan nomor serinya masing-masing harus dibuat dalam bentuk VCD atau DVD.000.000 maksudnya adalah hubungan komponen peta yang disajikan dalam lembar peta.000 dan 1 : 20. 3) Pelaksana pekerjaan harus menyerahkan kepada pemilik pekerjaan suatu contoh salinan dari catatan panel (Footnote panel) yang digunakan selama penyelesaian pembuatan peta garis digital untuk disetujui.000 merupakan perkecilan dari peta garis digital yang berskala 1 : 5.1 Peta Garis Digital Skala 1 : 5.1. 9. .000 1) Seri peta garis digital yang dibuat pada skala 1 : 20.000 harus ada pada interval vertikal 5 m dan pada daerah curam interval kontur dibuat tiap 10 m atau pada suatu perkalian 10 m yang disetujui oleh pemilik pekerjaan .Tata letak peta garis digital skala 1 : 5. 2) Adanya hal-hal lainnya yang tidak disebutkan di dalam ketentuan ini harus disampaikan kepada pihak pemilik pekerjaan untuk dimintakan penjelasan atau petunjuk mengenai penggunaan simbol . penyampaian diluar ketentuan oleh pelaksana pekerjaan hanya dapat diperbolehkan dengan persetujuan pemilik pekerjaan.2.

6) Pada tahap penyerahan akhir masing-masing peta harus di buat di atas kertas bromida yang bermutu tinggi dan stabil 7) Masing-masing lembar sesuai dengan susunan serinya harus dibuatkan dalam bentuk VCD atau DVD. 4) Reduksi tiap peta garis digital harus berada pada posisi yang tepat terhadap jaringan garis-garis grid lengkap tersebut. keterangan yang mendetail lembar peta harus disetujui oleh pemilik pekerjaan.2.3) Suatu jaringan garis-garis grid lengkap digambarkan pada lembar setiap interval 12.5 cm. . 5) Tata letak masing-masing lembar harus sesuai dengan gambar 8.

SUB BAGIAN 2 PEMETAAN TERESTRIS .

5 Pengukuran Sipat Datar .DAFTAR ISI PEMETAAN TERESTRIS 1.3 Pemrosesan . 1.7 Pencatatan. TITIK KONTROL TANAH Persiapan Pemasangan Benchmark Pemasangan Benchmark 4.4 Pengukuran Sudut Vertikal 4.1 Umum.6 Pengukuran Situasi Detail 4. HASIL DAN DATA YANG DISERAHKAN KEPADA PEMILIK PEKERJAAN.2 Reduksi 4. Pengukuran Sudut Horizontal (Poligon) Utama. Reduksi. Pengukuran Sudut Horizontal (Poligon) Cabang. Pengukuran Azimut Matahari 4. Pemrosesan Data 4. METODE PENGAMATAN DAN PENGUKURAN. 3.7.2 Ruang Lingkup Pekerjaan 1. 4.7.1 Pencatatan 4.7.3 Basis Survey 2. IKHTISAR PEKERJAAN 1.

PENGGAMBARAN PETA SITUASI SKALA !:2.2 Ketelitian Penggambaran 6.1 Kartografi 5. PENGGAMBARAN PETA SITUASI SKALA 1:5.000 .000 5.5.

bila ternyata ketentuan teknis tidak terpenuhi menurut penilaian pihak pemilik pekerjaan maka pelaksana pekerjaan harus menanggung biaya pekerjaan tambahan. IKHTISAR PEKERJAAN 1. Pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya ketentuan teknis yang telah ditetapkan. . alat yang digunakan. harus dilampirkan termasuk jenis-jenis alat dan nomor-nomor seri.1 Umum Pemetaan teristris maksudnya adalah semua data yang diperlukan untuk membuat peta sesuai dengan skala yang diinginkan. Pengukuran sipat datar. Pegawai-pegawai praktikan atau pegawai yang sedang dilatih dapat digunakan asalkan mereka berada dalam pengawasan yang sebagaimana mestinya. 1. dimana pelaksana pekerjaan harus mempergunakan segala peralatan dan perlengkapan serta juga bahan-bahan yang memenuhi syarat dan ketepatan dan standar ketelitian yang telah disetujui dalam ketentuan teknis.2 Ruang Lingkup Pekerjaan Secara garis besar pekerjaan pemetaan teristris terdiri dari : Pemasangan benchmark dan patok kayu. Pelaksana pekerjaan harus dapat memberikan hasil yang berkualitas tinggi. Pelaksana pekerjaan harus mempekerjakan pegawai yang telah mendapat latihan dalam bidangnya serta cukup berpengalaman dalam berbagai pekerjaan yang diberikan.1. Pengukuran koordinat. yang diperoleh dengan jalan melakukan pengukuran langsung di lapangan (darat). Hasil pengecekannya.

3) Semua eksemplar asli dan satu set fotokopi semua pekerjaan observasi dan perhitungan.000 atau Skala yang lebih besar Bakosurtanal. termasuk elevasinya. diberi indeks. dijilid dan dilengkapi dengan keterangan/referensi.000/1 : 25. HASIL DAN DATA YANG HARUS DISERAHKAN KEPADA PIHAK PEMILIK PEKERJAAN 1) Satu set peta asli digital skala 1 : 2. pengukuran. Referensi yang digunakan sebagai titik ikat pengukuran koordinat (x.Pengukuran situasi detail.3 Basis Survei Peta yang dibutuhkan rencana untuk menetapkan daerah dan pemetaan. pada kertas transparan yang stabil dan dalam bentuk VCD/DVD. 4) Daftar koordinat dari benchmark yang dibuat. .000/1 : 5.y) dan pengukuran tinggi (z) menggunakan titik tetap Bakosurtanal. lengkap dengan datadata pilar triangulasi yang digunakan sebagai titik ikat. koordinat-koordinat dan lima foto untuk masing-masing benchmark yang digunakan. 2. 5) Gambaran letak titik-titik secara lengkap. Perhitungan.00 yang dilengkapi dengan titik-titik tinggi pada kertas transparan yang stabil dan dalam bentuk VCD/DVD. Penggambaran 1.000 yang dilengkapi dengan garis-garis tinggi. digunakan Peta Rupa Bumi Skala 1 : 50. 2) Satu set peta asli digital dengan skala 1 : 10. rencana menetapkan pemasangan Benchmark.

y) dan tinggi (z) yang digunakan untuk kepentingan pembangunan irigasi dan kontrol pemetaan.y) dan tinggi (z) harus diikatkan pada titik tetap orde 0 atau orde1 Bakosurtanal. Laporan itu meliputi diagram-diagram jaring koordinat dan sifat-sifat dasar serta penjelasan mengenai semua titiktitik tetap dan titik-titik koordinat.1 Ketentuan Umum Pemasangan Benchmark 1) Seluruh pengukuran koordinat (x.6) Sepuluh salinan/kopi laporan akhir yang meliputi penelitian lapangan. 3. 2) Kerapatan setiap satu titik kontrol mewakili luas areal ± 250 ha atau setiap jarak 2. ketepatan sebenarnya yang diperoleh dan kesulitan-kesulitan yang dijumpai serta pemecahannya pada seluruh tahap pekerjaan. 3) Benchmark dalam bentuk tugu harus mencakup semua daerah yang akan dipetakan dan sebagai kontrol perimeter. proses serta hasilnya. Laporan tersebut tidak boleh semata-mata mengulangi isi ketentuan-ketentuan teknis tetapi harus benar-benar berdasarkan hasil pelaksanaan. pemasangan benchmark dipasang lebih dulu sebelum pekerjaan lapangan dimulai.5 km di sepanjang jalur koordinat dan setiap titik simpul. ketentuannya mengikuti dibawah ini : 3. ketepatan dari titik tersebut harus memenuhi ketentuanketentuan yang telah ditetapkan. Laporan tersebut harus merinci metode sebenarnya yang digunakan. . TITIK KONTROL TANAH Titik kontrol tanah dalam bentuk tugu sebagai benchmark untuk menyimpan data koordinat (x. sebagai catatan jumlah keseluruhan dari titik-titik tetap tersebut dapat melebihi jumlah yang telah dihitung dari daerah nominal yang akan dipetakan.

Benchmark dan tanda lapangan dipasang paling sedikit 10 meter dari pinggir jalan dan di daerah yang tidak akan terkena perubahan. Benchmark besar dan kecil dipasang dengan jarak antara 100-150 m. Sketsa gambaran umum lokasi. satu buah foto dari atas lengkap dengan daerah sekitarnya. harus kelihatan satu sama lainnya karena akan digunakan untuk pengikatan azimut matahari. bagian yang muncul diatas tanah setinggi 20 cm. Benchmark ditempatkan pada tanah keras (hindarkan pemasangan di daerah rawa atau sawah). empat buah foto dari empat mata angin. b. lengkap dengan deskripsi pendekatan ke sekitar titik tetap.2 Pemasangan Benchmark 1) Benchmark yang harus dipasang ada 2 macam yaitu benchmark besar dan kecil. Lima foto untuk setiap benchmark yang sudah jadi. Jenis konstruksi untuk penanda azimut terserah pada pelaksana pekerjaan. dilengkapi dengan pelat nomor dan baut kuningannya. konstruksi penanda azimut akan dibuat pada titik pertama di sepanjang jalur koordinat dari benchmark. Benchmark ini akan ditempatkan di sekitar jalur saluran irigasi dan pembuang yang sudah ada atau yang baru diusulkan.3. 2) Bilamana mungkin benchmark tersebut harus ditempatkan sesuai dengan kriteria berikut : a. 3) Semua harus dijelaskan selengkap mungkin pada saat pemasangan antara lain mencakup : Sketsa ukuran (penampang melintang) benchmark yang dibuat. tetapi sebelumnya harus diperlihatkan untuk kemudian disetujui oleh pihak pemilik pekerjaan. . Sketsa lokasi lengkap dengan jarak-jarak titik detail yang ada disekitar benchmark dan lokasi penanda azimut (azimut mark). c.

000. Ketentuan pengukuran dengan menggunakan alat Total Station dan level automatic atau level automatic digital sebagai berkut : . Tanah yang lebih lunak membutuhkan patok-patok yang lebih panjang. Nomor titik akan diperlihatkan pada patok yang dicat merah. METODA PENGAMATAN DAN PENGUKURAN Pengamatan dan pengukuran koordinat (x. 4.Penanda azimut dapat dideskripsikan dalam formulir yang sama dengan benchmark atau dalam formulir lain. seluruh benchmark harus diukur koordinat (x. Koordinat-koordinat titik akan ditambahkan pada deskripsi apabila perhitungannya sudah tuntas. 4) Titik-titik koordinat selain benchmark atau penanda azimut dibuat dari patok kayu yang kuat. ukuran panjang sekurang-kurangnya 50 cm dengan penampang melintang 5 x 5 cm. Jika menggunakan Receiver pengamatan GPS ketentuannya seperti diatas. letak titik itu harus diperlihatkan dengan patok lain atau pohon yang mudah dilihat yang jaraknya tidak lebih dari 3.000 dan Skala 1 : 5.y) maupun tinggi (z).y) dan level automatic atau automatic digital (z).0 meter.y) dan tinggi (z) di lapangan untuk memperoleh data lapangan (darat) dalam membuat peta skala 1 : 2. menurut keinginan pelaksana pekerjaan. dipasang sedemikian rupa sehingga patok-patok tersebut dapat bertahan selama pengukuran (sekurang-kurangnya 6 bulan). alat ukur yang digunakan Total Station (x. patok-patok tersebut harus muncul ± 10 cm dari permukaan tanah dan pada ujungnya diberi paku agar titik yang tepat mudah ditemukan.

memastikan bahwa semua receiver melakukan pengamatan terhadap satelit-satelit yang sama secara bersamaan. .1 Pengamatan GPS digital yang mempunyai ketelitian 5 mm + 1 ppm(H) dan 10 mm + 2 ppm(V). 1) Alat ukur yang digunakan minimal 3 (tiga) buah GPS Geodetic model 2) Pengamatan receiver GPS Geodetic dilakukan dengan cara Double Difference berdasarkan data fase dengan metoda Static atau Rapid static (static singkat) dengan alat Receiver GPS single frekuensi (L1) atau dual frekuensi (L1 + L2) 3) Ketentuan pengamatan harus mengikuti ketentuan berikut : Satelit yang diamati minimum 4 (empat) buah dalam kondisi tersebar Besaran GDOP (geometrical dilution of precisition) lebih kecil dari 8 Pengamatan dilakukan siang hari atau malam hari Level aktifitas atmosfer dan ionosfer relative sedang Lama pengamatan berdasarkan panjang baseline Panjang Baseline (km) 0–5 5 – 10 10 – 30 4) Metoda Pengam atan Statis singkat Statik singkat Statik 90 menit 60 menit 60 menit 30 menit Lama Pengamat an(L1) 30 menit 15 menit Lama Pengamatan(L1+L2) Pengamatan GPS dengan data fase digunakan dalam model penentuan posisi relatif untuk menentukan komponen baseline antara dua titik.4. mengumpulkan data dengan kecepatan dan epoh yang sama.

4.1. masing-masing 15 (lima belas) detik. 8) Tidak diizinkan untuk mengamati satelit dengan elevasi dibawah 15 derajat.Baseline yang lebih pendek dari 4 (empat) km . 7) Terdapat minimal 1 (satu) titik sekutu yang menghubungkan 2 (dua) session. 6) Tidak diizinkan untuk menggunakan merek dan jenis receiver GPS yang berbeda dalam satu session. Baseline yang diamati 2 (dua) kali . Statistik reduksi baseline Untuk setiap jaring orde 3 standar deviation (s) hasil hitungan dari komponen baseline toposentrik (dN.96 mm dan d = panjang baseline b.1 1) Reduksi baseline Geometri dari jaringan harus memenuhi spesifikasi ketelitian dan persyaratan strenght of figure yaitu : a.dE.5) Setiap receiver GPS harus dapat menyimpan data selama mungkin dari minimum 4 (empat) buah satelit dengan kecepatan minimum 4 (empat) epoh dalam 1 (satu) menit.dH) yang dihasilkan oleh software reduksi baseline harus memenuhi hubungan berikut : σN ≤ σM σE ≤ σM σH ≤ 2σM dimana σM = [102 + (10d)2]1/21. 9) Setelah session pengamatan seluruh data harus didownload dan disimpan dalam sebuah CD dan dibuatkan cadangannya.

3) Koordinat pendekatan dari titik referensi yang digunakan dalam reduksi baseline tidak boleh lebih dari 10 m dari nilai sebenarnya. 4) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi troposfer untuk semua data pengamatan.10 m. Data dual frekuensi harus digunakan untuk mengeliminasi pengaruh ionosfer jika ambiguiti fase single tidak dapat dipecahkan. 2) Seluruh reduksi baseline harus dilakukan dengan menggunakan software processing GPS yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah yang bereputasi baik.06 m.Baseline yang lebih panjang dari 4 (empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.03 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0. 5) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi ionosfer untuk semua data pengamatan. .2 Perataan Jaring 1) Perataan jaring bebas dan terikat dari seluruh jaring harus dilakukan dengan menggunakan software perataan kuadrat terkecil yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah bereputasi baik.Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.1. 4.05 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0. 2) Informasi di bawah ini harus dihasilkan dari setiap perataan - Hasil dari test Chi-Square atau Variance Ratio pada residual setelah perataan (test ini harus dapat melalui confidence 99 % yang berarti .

3) Koordinat benchmark dari hasil pengamatan GPS disajikan dalam system proyeksi UTM dan ellipsoid WRG 84. Ellip kesalahan titik untuk setiap stasiun/titik. Analisa dari baseline yang diamati 2 (dua) kali (penilaian - - 4.1. Analisis statistik mengenai residual komponen baseline termasuk jika ditemukan koreksi yang besar pada confidence level yang digunakan.2 1) Pengukuran Poligon Utama Basis poligon meliputi daerah pemetaan yang merupakan jaringjaring tertutup (closed loop) dan diikatkan ke titik tetap orde 0 atau . - Daftar koordinat hasil perataan. 4) Tinggi benchmark hasil ukuran GPS di koreksi terhadap besaran undulasi (N) atau dikoreksi terhadap titik MSL yang ada disekitar lokasi.bahwa data-data tersebut konsisten terhadap model matematika yang digunakan).3 1) Integritas pengamatan jaring harus di nilai berdasarkan : - Analisis keseragaman) - Analisis terhadap perataan kuadrat terkecil jaring bebas (untuk menilai konsistensi data) Analisis perataan kuadrat terkecil untuk jaring terikat berorde lebih tinggi (untuk menilai konsistensi terhadap titik kontrol) - 2) Akurasi komponen horizontal jaring akan di nilai terutama dari analisis ellip kesalahan garis 2D yang dihasilkan oleh perataan jaring bebas. 4. Daftar baseline hasil perataan termasuk koreksi dari komponenkomponen hasil pengamatan.

hanya target dan teodolit saja yang berpindah/berubah. hal . 8) Di titik-titik dimana pekerjaan hari itu berakhir dan pekerjaan hari berikutnya mulai. pelaksana pekerjaan harus menyiapkan semua catatan yang berkenaan dengan pemeriksaan dan penyesuaian peralatan yang dilakukan. jika titik-titik triangulasi yang sudah ada tidak terlihat lagi dan/atau pada interval 25 titik di sepanjang masing-masing poligon. titik-titik triangulasi yang digunakan harus saling berhubungan dengan titik triangulasi yang lainnya. Selama pengamatan berlangsung statip dan kiap tersebut harus tetap berada disatu titik. 2) Apabila mungkin titik-titik yang ada akan digunakan sebagai azimut awal dan azimut akhir. kolimasi akan diperiksa apabila melebihi 1’ (satu menit). 7) Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu pada saat melakukan sentring maka perlu digunakan 4 buah statip dan 4 buah kiap (tribrach). kaki-kaki poligon harus sepanjang mungkin dan sistem statip tetap (fixed tripod) seperti yang diuraikan di bawah ini dipakai untuk mendapatkan ketelitian yang diisyaratkan. sentering harus dilakukan dengan hati-hati. 4) Statip harus ditempatkan pada tanah yang stabil untuk memperoleh hasil pengamatan sudut horizontal dan jarak yang teliti.orde 1 Bakosurtanal. 6) Theodolit harus mampu mengukur sampai 1” (satu detik ) dan dilengkapi dengan komponen yang diperlukan. 3) Untuk kontrol orientasi harus dilakukan pengamatan azimut matahari. 5) Semua theodolit harus dalam keadaan baik dan setelannya akan diperiksa terus selama pengamatan berlangsung. poligon yang melalui daerah sawah harus diikuti secara hati-hati untuk menghindari lokasi-lokasi sulit di daerah genangan sawah atau pada pematang-pematang yang tidak stabil.

pengukuran sudut horizontal dan jarak dilakukan minimum 2 kali pengamatan. Toleransi untuk kesalahan penutup pada azimut matahari harus 10” √n dimana n adalah jumlah sudut.000 dari panjang totalnya. untuk satu kali pengamatan dilakukan sejumlah pembacaan dengan urutan sebagai berikut : Bidik kiri (FL) untuk bacaan target belakang Bidik kiri (FL) untuk bacaan target ke depan Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke depan Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke belakang Dua kali pengamatan diambil dari titik nol secara terpisah. .yang sama berlaku juga pada waktu dilakukan pengamatan ulang ditempat yang sama. jika kesalahan penutupnya masih berada dalam toleransi maka sudut itu akan disesuaikan dengan azimut matahari dan jika toleransi tersebut dilampaui. 9) Kedudukan nivo kotak dan pengunting optic harus sering diperiksa dengan bantuan unting-unting gantung dan penyesuaian- penyesuaian dilakukan bilamana perlu. poligon akan dijaga agar tetap pendek untuk menjamin bahwa kesalahan penutup pada jaringjaring atau bagian tidak lebih dari satu meter. 2FR) melebihi 5”. 11) Ketelitian pengukuran poligon : Semua hasil pengamatan di reduksi di lapangan jika perbedaan antara keempat harga sudut yang diperoleh (2FL. Kesalahan penutup linear poligon utama tidak boleh lebih besar dari 1 : 10. 10) Sebelum pengamatan dilakukan theodolit harus di setel sebaikbaiknya. maka azimut dan/atau sudut-sudut tersebut harus di ulang dan dicek. maka harus dilakukan pengukuran ulang.

Poligon cabang harus dimulai dari poligon utama diakhiri pada poligon utama. sentering harus dilakukan dengan hati-hati.3 Pengukuran Poligon Cabang i. Di titik-titik dimana pekerjaan hari itu berakhir dan pekerjaan hari berikutnya di mulai. iii. hal yang sama berlaku juga pada waktu dilakukan pengamatan ulang ditempat yang sama. Bidik kiri (FL) untuk bacaan target ke depan ix. Kedudukan nivo kotak dan pengunting optic harus sering diperiksa dengan bantuan unting-unting gantung dan penyesuaian-penyesuaian dilakukan bilamana perlu.5 km dan diusahakan sisi poligon sama panjangnya untuk untuk mencapai ketelitian yang memenuhi syarat. pengukuran sudut horisontal dan jarak dilakukan minimum 1 (satu) kali pengamatan dengan pembacaan urutan sebagai berikut : vii. Selama pengamatan berlangsung statip dan kiap tersebut harus tetap berada di satu titik. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke depan x. hanya target dan theodolit saja yang berpindah/berubah. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke belakang xi. iv. vi.4. Poligon cabang di bagi atas seksi-seksi dengan panjang maksimum 2. sehingga titik-titik poligon utama akan merupakan kontrol hasil pengukuran poligon cabang. ii. Ketelitian pengukuran poligon : . Sebelum pengamatan dilakukan theodolit harus disetel sebaikbaiknya. v. Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu pada saat melakukan sentering maka perlu digunakan 2 buah statip dan 2 buah kiap (tribrach). Bidik kiri (FL) untuk bacaan target belakang viii.

3) Pembacaan sudut horizontal pada pengamatan azimut matahari harus diberikan koreksi akibat tidak mendatarnya kedudukan alat. 2) Pengamatan dilakukan sebagai berikut : Bidik kiri (target). maka azimut dan/atau sudut-sudut tersebut harus diulang .4 Pengukuran Azimut Matahari 1) Azimut matahari akan diamati pagi dan sore hari. poligon akan dijaga agar tetap pendek untuk menjamin bahwa kesalahan penutup pada jaring-jaring atau bagian tidak lebih dari satu meter. 4. jika kesalahan penutupnya masih berada dalam toleransi maka sudut itu akan disesuaikan dengan azimut matahari dan jika toleransi tersebut dilampaui. xiii.000 dari panjang totalnya. Semua hasil pengamatan direduksi di lapangan jika perbedaan antara kedua harga sudut yang diperoleh (FL. Koreksi ini sangat penting dan dapat dihitung dari hasil bacaan kedudukan gelembung nivo tabung tersebut atau apabila alat theodolit dilengkapi . Bidik kiri (matahari). Toleransi untuk kesalahan penutup pada azimut matahari harus 20” √n dimana n adalah jumlah sudut. dilakukan masingmasing sedikitnya 5 kali pengamatan. Kesalahan penutup linear poligon utama tidak boleh lebih besar dari 1 : 5.xii. FR) melebihi 10” maka harus dilakukan pengukuran ulang. xiv. dalam satu seri tidak boleh lebih dari 30”. Bidik kanan (target) Seri ini merupakan satu kali pengamatan. Bidik kanan (matahari).

dari pembacaan lingkaran vertikal pada sudut kanan pada masing-masing sisi garis bidik. jika mungkin usahakan ketinggian matahari di bawah 400. Perlengkapan-perlengkapan tambahan yang diperlukan terdiri dari jam tangan yang ketepatannya dicocokkan satu menit sebelum tanda waktu resmi berbunyi. Pembacaan temperatur dan tekanan udara akan dilakukan untuk keperluan koreksi refraksi.dengan kompensator otomatis. Sistem patok benchmark sudah terpasang sebelum dilakukan pengukuran sipat datar. 4. pemindahan elevasi ke benchmark yang dibuat sesudah selesainya penyipatan datar tidak akan diterima. . 4) Metode yang dipakai untuk menentukan azimut tergantung keinginan pelaksana pekerjaan. tabel deklimasi matahari dan table refraksi. walaupun demikian hal-hal berikut harus diperhatikan bila akan digunakan azimut dengan metode ketinggian matahari : Pengamatan matahari dilakukan apabila tinggi matahari lebih besar dari 200 karena apabila dilakukan pengamatan pada waktu tinggi matahari dibawah 200 refraksi (pembiasan) menjadi terlalu besar dan tidak menentu. 5) Jika untuk pengukuran azimut digunakan metode sudut waktu maka bisa dilakukan pengamatan pada saat tinggi matahari di bawah 200. tetapi waktu pengamatan harus jauh lebih teliti.5 Pengukuran Sipat Datar (z) Pengukuran sipat datar dilakukan dengan alat ukur level automatic atau level automatic digital dengan ketentuan sebagai berikut : a. prisma Reoloff.

untuk menghindari kesalahan kolimasi. Metode stan ganda (double-stand) pada pengukuran sifat datar tidak boleh digunakan. Setiap alat harus dicek kolimasinya (kesalahan garis bidik) setiap hari dengan menggunakan 2 patok-uji (peg test). agar rambu ukur selalu tepat vertikal dengan menggunakan stafflevel atau carpenters level (penempatannya harus juga dicek).05 mm/m. Pembacaan rambu tidak boleh dilakukan melebihi 20 cm dari batas bawah rambu dan juga 20 cm dari batas bagian atas rambu. Tidak dibenarkan melakukan pembidikan silang (intermediate sight). di mana hasil ukuran di saat alat ditempatkan di tengah harus dibandingkan dengan hasil ukuran di saat alat ditempatkan di dekat salah satu titik. Bidikan ke belakang kira-kira sama dengan bidikan ke muka. g. Pelaksana pekerjaan harus membuat catatan lengkap mengenai seluruh hasil pengecekan dan penyesuaian yang telah dilakukan. f. dalam metode mid-base di cari perbedaan tinggi antara dua titik. Juru ukur harus menginstruksikan kepada pemegang rambu. Rambu ukur ditempatkan pada tatakan dari metal pada setiap pengukuran (kecuali pada benchmark atau benchmark sementara). d.b. Pengukuran digunakan alat rambu ukur metrik dan tatakan rambu yang terbuat dari metal. untuk jaring sipat datar utama digunakan alat sipat datar digital atau non digital c. Untuk membantu pelaksanaan pengukuran titik-titik rincik ketinggian dianjurkan agar titik tinggi sementara dipasang pada waktu . jarak bidikan tidak diperkenankan lebih dari 50 m. Nivo kotak dan kompensator otomatis juga harus selalu dicek secara teratur. e. Penyesuaian harus dilakukan apabila kesalahan kolimasinya lebih dari 0. mid-base atau cara-cara sejenis sampai dengan jarak 100 m.

harus di ukur dua kali yaitu pergi dan pulang. dan lain sebagainya. dan muka harus sama dengan hasil beda tinggi (∆h). 4.6 Pengukuran Situasi Detail 1) Alat yang digunakan adalah Total Station atau yang sederajat ketelitiannya. Pengecekan harus dilakukan pada setiap halaman dan setiap bagian pengukuran sipat datar. i. j. Titik-titik tersebut ditandai serta dicatat secara lengkap. Juru ukur harus memasukkan data-data mengenai tinggi dan rendahnya hasil ukuran pada setiap formulir yang sudah ditentukan. lantai pengeringan padi. dimana k adalah jarak dalam km antar benchmark tersebut. Ketelitian sipat datar sebagai berkut : Jalur utama yang pada umumnya merupakan jaring tertutup. dimana k adalah jarak dalam km. Perbedaan antara hasil bacaan belakang. tangga rumah. Perbedaan antara kedua harga untuk masing-masing seksi harus kurang dari 7 √k mm. 2) Metode yang digambarkan adalah Raai dengan jarak antara Raai 20 m sampai dengan 40 m atau Voorstraal dengan jarak pengambilan titik detail 20 m sampai dengan 40 m atau kombinasi Raai dan Voorstraal . bacaan belakang. Jalur sekunder yang umumnya terikat dengan titik-titik jaringan utama untuk kontrol titik detail cukup satu kali dengan ketelitian 20 √k mm. h. secara sistematis setiap hari. hanya merupakan pengecekan aritmatik dapat menghindarkan kesalahan yang tidak terlihat karena data yang tidak benar. bacaan muka. beda tinggi ∆h (+ dan -) harus dijumlahkan.pengukuran sipat datar utama antara lain : gorong-gorong. serta harus ditandatangani oleh juru ukur yang bersangkutan.

sadel. 4) Semua tampakan yang ada. 7) Pengukuran situasi harus dilebihkan sebesar ± 250 m dari batas yang telah ditentukan. lembah. azimut matahari. baik alamiah maupun buatan manusia di ambil sebagai titik detail. 3) Ketelitian poligon raai untuk sudut 20√n. alur. dll. di bawah ini : 4.y) dalam proyeksi UTM. 4. 8) Sudut poligon kombinasi Raai dan Voorstraal cukup 1 (satu) seri. dan pemrosesan hasil pengamatan di lapangan harus mengikuti ketentuan Pencatatan 1) Seluruh proses perhitungan koordinat (x.dengan jarak 40 m dan pekerjaan tersebut dapat dilakukan sekaligus pada saat pengukuran poligon utama atau poligon cabang.000. dimana n = banyak titik sudut. 6) Sketsa lokasi detail harus di buat rapi.7 Pencatatan.7. 9) Ketelitian tinggi poligon raai 10 cm √D (D dalam km). 5) Kerapatan titik detail (± 40 m di lapangan) harus di buat sedemikian rupa sehingga bentuk topografi dan bentuk buatan manusia dapat digambarkan sesuai dengan keadaan lapangan. ketelitian linier poligon kombinasi Raai dan Voorstraal 1 : 2. dan . misalnya : bukit. Reduksi dan Pemrosesan Hasil Lapangan Pengamatan di Pencatatan.1 reduksi. jelas dan lengkap sehingga memudahkan penggambaran dan memenuhi persyaratan mutu yang baik dari peta. tinggi (z) terhadap permukaan air laut rata-rata.

hal ini menyangkut nama pengamat. tanggal. temperatur dan tekanan udara. seluruh lembar data harus disertai tanggal dan tanda tangan pengamat dan orang yang telah melakukan pemeriksaan. termasuk juga bagian-bagian yang telah di ulang. 2) Pengamatan di lapangan perlu di reduksi setiap harinya lalu ditandatangani. nomor alat juga penjelasanpenjelasan lainnya seperti ketinggian alat. 3) Penjelasan-penjelasan yang dibutuhkan dimasukkan ke lembar pengamatan sementara pekerjaan berlangsung.y) perlu di reduksi dan dirata-ratakan pada setiap titik dan di periksa apakah memenuhi toleransi yang sudah ditetapkan. 2) Pelaksana pekerjaan harus menyerahkan laporan hasil hitungan dengan menggunakan software dari distribualat alat merk apa saja dalam bentuk softcopy VCD atau DVD.y) termasuk juga koreksi kesalahan titik nol alat. reduksi koordinat (x.yang disebut terakhir ini harus ditandai dengan jelas sehingga bisa saling dicocokkan.2 Reduksi 1) Koordinat (x. 4) Seluruh laporan pengamatan yang dilakukan di lapangan diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. hasil pengamatan harus di simpan dengan rapi dan diberi nomor referensi agar mudah di cari bilamana diperlukan dikemudian . di sertai tanggal pemeriksaan oleh pelaksana pekerjaan. dan koreksi faktor skala dimana dianggap perlu.perhitungan titik detail menggunakan software distributor alat merk apa saja yang berlaku di Indonesia. 4. nomor titik.7.

Pengecekan penutup koordinat tertutup. . hal ini dimaksudkan untuk menghindari kelambatan pada tahapan selanjutnya.7. Penyesuaian kesalahan koordinat. Perataan dari loop dengan metode Dell (atau metode lainnya). 3) Untuk kontrol ketinggian kegiatan pemrosesan ini meliputi : Pemeriksaan hasil hitungan dari ∑ Bacaan belakang. ∑ Perbedaan tinggi (∆h).hari. 5) Apabila hasil pekerjaan lapangan telah disetujui oleh pengawas. Pengecekan azimut antara titik-titik triangulasi dan hasil pengamatan. hasil pengamatan serta hasil hitungannya segera di kirim ke kantor pelaksana pekerjaan untuk dilakukan perhitungan akhir.3 Pemrosesan Data 1) Penghitungan harus dilakukan di lapangan untuk memeriksa apakah pengamatan telah sesuai dengan standar ketelitian. Perhitungan ∆h untuk seksi-seksi antara titik-titik tetap (benchmark) . bila sudah diarsipkan. 4. Penghitungan dari ∆x dan ∆y untuk mencek hasil planimetrik. 4) Perhitungan blok-blok pengukuran lapangan harus disesuaikan dengan batas-batas triangulasi udara. ∑ Bacaan muka. 6) Penyesuaian planimetri harus dihitung mencakup seluruh titik-titik triangulasi yang ada di lapangan. Perhitungan dari tiap loop/kring. agar memperoleh ketinggian yang tepat untuk di pakai pada perhitungan rincik ketinggian nantinya. hasil-hasil pengamatan itu tidak boleh dibawa ke lapangan lagi. 2) Untuk kontrol planimeter ini meliputi : Pengecekan hasil penghitungan koordinat.

PENGGAMBARAN PETA SITUASI TERISTRIS SKALA 1 : 5. Detail-detail hasil pengamatan yang ditolak.5 kali peta situasi teristris skala 1 : 2. tidak dipakai lagi.7) Penyesuaian titik-titik poligon harus sesuai dengan jarak. ∆y dari setiap loop atau jalur koordinat antara titik-titik simpul dan kesalahan penutup fraksi yang dipilih dengan jumlah titik.000 sebagai berikut : . bersama-sama dengan jumlah titik dalam setiap seksi. 5. pengamatan dan informasi seperti yang di daftar dibawah ini harus diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan dalam bentuk VCD atau DVD untuk mendapatkan persetujuan sementara. diragukan.000 dilakukan dengan cara memperkecil 2. hal ini berarti bahwa koreksi dalam koordinat simpangan timur (easting) sama dengan : salah-penutup dalam simpangan timur --------------------------------------------------. Kesalahan penutup linier ∆x.x jarak akumulasi jumlah jarak poligon seluruhnya Hal yang sama berlaku untuk simpangan utara. Urutan cara perhitungan loop atau jalur kordinat antara benchmark. azimut kontrol atau azimut yang diperoleh dari loop yang berdekatan. 8) Seluruh hasil penghitungan. Kesalahan penutup sudut pada setiap bagian/seksi. ketentuan yang harus ada dalam peta situasi teristris skala 1 : 5.000 Penggambaran peta situasi teristris skala 1 : 5.000 menggunakan software dari distributor merk apa saja yang berlaku di Indonesia.

skala peta yang dibuat skala 1 : 2. 2) Ketentuan titik detail yang diukur untuk peta setuasi skala 1 : 5.000 setiap 0.0 m sedangkan untuk peta situasi skala 1 : 2. 5) Ketentuan interval grid peta dalam peta situasi skala 1 : 5. 3) Untuk luasan-luasan dibawah 100 m2 demikian juga jarak-jarak dibawah 10 m dalam skala 1 : 5. dengan demikian yang tercantum dalam peta situasi skala 1 : 5.000 6.0 m.000 dengan jarak 1 cm sampai dengan 2 cm di peta atau jarak 50 m sampai 100 m di lapangan sedangkan titik detail yang diukur dengan 1 cm sampai dengan 2 cm di peta atau jarak 20 m sampai dengan 40 m di lapangan. dengan demikian yang tercantum dalam peta situasi skala 1 : 5. dengan demikian yang tercantum dalam peta situasi skala 1 : 5.000 setiap 500 m sedangkan untuk peta situasi skala 1 : 2. dengan demikian yang harus tercantum dalam peta situasi skala 1 : 5.000 sedangkan untuk Skala 1 : 5.5 m.000 pengecilan dari skala 1 : 2.000 setiap 500 ha sedangkan untuk peta situasi skala 1 : 2.000 setiap 250 m. 4) Ketentuan interval kontur dalam peta situasi skala 1 : 5.000 interval kontur 1. 6) Ketentuan kartografi dan ketelitian penggambaran dalam skala 1 : 5000 sama dengan ketentuan kartografi skala 1 : 2.000 setiap 250 ha.1) Ketentuan pemasangan benchmark untuk peta situasi skala 1 : 5.000 benchmark setiap 500 ha.000 dengan .000 Peralatan yang digunakan untuk penggambaran Autocad ukuran A-1 yang dikeluarkan oleh distributor apa saja berlaku di Indonesia demikian juga komputer yang digunakan. PENGGAMBARAN PETA SITUASI TERISTRIS SKALA 1 : 2.000 adalah titik detail dengan jarak 50 m sampai dengan 100 m di lapangan.000 setiap 1.000 setiap 500 m.000 dihapus/dihilangkan.

informasi legenda sesuai dengan yang ada di lembar peta .1 1) Kartografi Ukuran peta (50x50) cm. garis silang untuk grid dibuat setiap 10 cm dengan ukuran (10x10) mm.y).5 m untuk daerah datar dan 5 m untuk daerah berbukit dengan ketebalan yang sudah ditetapkan serta harus tercantum data elevasi. skala peta 1 : 2.000 dan titik pengukuran poligon utama dan raai/voorstraal harus dilakukan di atas kertas transparan stabil untuk di setujui pemilik pekerjaan. garis sambungan peta 10 cm. 4) 5) Pencantuman legenda pada gambar harus sesuai dengan ketentuan Direktorat Irigasi dan sesuai dengan topografi yang ada di lapangan. 2) Semua benchmark. titik ikat horizontal bakosurtanal. 6) Gambar/peta situasi skala 1 : 2.000. ketentuan penggambaran sebagai berikut : 6. disetiap . 3) Pada setiap interval 5 (lima) garis kontur di buat tebal dari garis kontur lainnya dengan ketebalan ukuran yang telah ditentukan dan ditulis angka elevasinya. keterangan titik referensi harus ada lembar peta dicantumkan dibawah legenda. dan titik tinggi bakosurtanal yang ada di lapangan harus digambar dengan legenda yang telah ditentukan dan di lengkapi dengan elevasi (z) dan koordinat (x.000 di buat grafis dan numeris. Penarikan kontur cukup 2. 7) Gambar konsep (draft) lengkap Skala 1 : 2. indek peta dengan ukuran yang sudah ditentukan.membuang beberapa detail yang tidak diperlukan untuk skala 1 : 5.000 digambar di atas kertas transparan stabil atau sesuai dengan keinginan pemilik pekerjaan dengan ukuran A-1.

benchmark. jalan. rencana bendung dan lain-lain tampakan yang ada di daerah pengukuran dengan interval kontur cukup tiap 12. jembatan. poligon cabang dan poligon raai di gambar dengan sistem koordinat. tidak diperkenankan di gambar dengan cara grafis.6 mm diukur dari garis grid atau titik kontrol horizontal terdekat.8) 9) Gambar kampung.5 m untuk daerah datar dan 25 m untuk daerah berbukit. Sisanya 5 % (lima persen) tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 1.000 di gambar dengan cara pengecilan peta skala 1 : 2.3 mm yang di ukur dari garis grid. sungai. saluran dan sungai tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 0. .2 mm. 10) Pada peta ikhtisar skala 1 : 10.000 harus tercantum nama kampung. Peta ikhtisar skala 1 : 10. 2) Titik kontrol posisi horizontal tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 0. dan jembatan. 6. 12) Titik poligon utama. rawa buatan alam dan manusia harus diberi nama yang jelas dan harus diberi batas. 3) Sembilan puluh lima persen (95 %) dari bangunan penting seperti bendung. nama sungai.3 mm yang di ukur dari titik kontrol horizontal terdekat. grid peta ikhtisar tiap 10 cm.2 Ketelitian Penggambaran 1) Semua tanda silang untuk grid koordinat tidak boleh mempunyai kesalahan lebih dari 0. 11) Lembar peta harus di beri nomor urut yang jelas dan teratur serta format gambar etiket peta harus sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemilik pekerjaan.000 menggunakan software dari distributor merk apa saja yang berlaku di Indonesia pada kertas transparan stabil.

garis kontur. yang diperhitungkan dari titik kontrol horizontal. saluran.4) Sembilan puluh persen (90 %) dari penarikan garis kontur tidak boleh menyimpang lebih dari setengah kali interval kontur yang bersangkutan dari letak sebenarnya. bangunan. sungai. harus tepat tersambung.3 mm. . Batas pergeseran yang diperbolehkan maksimum 0. sisanya 10 % (sepuluh persen) tidak boleh menyimpang dari satu kali interval kontur yang bersangkutan. 5) Pada sambungan lembar peta satu dengan yang lain.

SUB BAGIAN 3 PEMETAAN SITUASI TRASE RENCANA SALURAN DAN LOKASI KHUSUS .

...................... 73 73 74 75 76 77 78 .......................... IKHTISAR PEKERJAAN .......2 Pemasangan Benchmark...........4 Pengukuran Sipat Datar .................................. 4......................................... 4... 3... TITIK KONTROL TANAH ........................3 Basis Survei ............ 70 3.........1 Pengukuran Sudut Horizontal (Poligon) ............................. HASIL DAN DATA YANG HARUS DISERAHKAN KEPADA PEMILIK PEKERJAAN ...................... 71 71 71 4.............2 Pengamatan Azimut Matahari ....................... 4..5 Pengukuran Situasi RencanaTrase Saluran ...................... 1........................................................5........... 4.......... 1..............3 Pengukuran Sudut Vertikal ....2 Ruang Lingkup Pekerjaan ..1 Pengukuran Situasi Lokasi Khusus ..............................................1 Umum ..................................1 Persiapan Pemasangan Benchmark ... 1......................... METODE PENGUKURAN SITUASI TRASE RENCANA SALURAN SISTIM KONTUR .......... 4.DAFTAR ISI PEMETAAN SITUASI TRASE RENCANA SALURAN DAN LOKASI KHUSUS 1.................. 69 69 69 70 2........ 3.................. 4...............................

.....4 Peta Penampang memanjang ............ 5...................................... 5...3 Pengukuran Sudut Horizontal (Poligon).............. 6............................. Grid ... 82 82 83 84 85 85 6......1 Pencatatan ....... PENGGAMBARAN SITUASI TRASE RENCANA SALURAN SISTIM KONTUR ..5 Peta Potongan Melintang ...................................4 Pengukuran Penampang Memanjang dan Melintang 87 87 ............... 5........6.. 6...........3 Peta Situasi Lokasi Khusus ............6...................................... 4. 4............ Benchmark..................1 Pemasangan Benchmark dan Patok Kayu ... 4................. 79 4............... Pemrosesan Data Lapangan ..........................5..................... 79 80 80 80 81 5.................2 Penulisan Nama........................... 6... 4...........1 Peta Situasi Trase Rencana Saluran ............... 5.............2 Pengukuran Titik Rincik (Detail) Antara Penampang melintang ..... 4... Situasi ..2 Penyelusuran Trase Rencana Saluran ........................6 Pencatatan.................................5. Azimut Matahari... METODE PENGUKURAN DAN PENGGAMBARAN SITUASI TRASE RENCANA SALURAN SISTEM IP ......2 Reduksi . 5.................. Sipat Datar...........................6........... Reduksi............3 Pemrosesan ................................3 Ketelitian Pengukuran Titik Rincik .. 86 86 87 6................................

........................................6........ 91 90 90 90 91 88 88 89 .......................... Pengukuran Sudut Horizontal (Poligon) .................. Perhitungan ..... METODE PENGUKURAN SITUASI TRASE RENCANA SALURAN TERSIER ............................................. Pengukuran Sipat Datar ............. Perhitungan dan Penggambaran ............................. Pengukuran Penampang Melintang dan Memanjang 89 Pengukuran Situasi Trase Rencana Saluran Tersier .....................................5 Penggambaran Situasi Trase Rencana Saluran Sistim IP 88 7.......................................................... Penggambaran Situasi Trase Rencana Saluran Tersier ............. Penggambaran .

.000 ha gunakan Sistem IP yang maksudnya adalah untuk memberikan kepastian perencanan saluran utama dan sekunder termasuk bangunan yang harus ada disaluran tersebut.000 ha gunakan sistem kontur sedangkan untuk luas Irigasi di atas 10. Pelaksana pekerjaan harus mempekerjakan personil yang telah mendapat latihan dalam bidangnya serta cukup berpengalaman dalam berbagai pekerjaan yang diberikan sehingga dipelukan sertifikasi keahlian termasuk manajer poyek yang mempunyai keahlian manager proyek dipekerjakan selama masa kontrak berlangsung.1 Umum Pengukuran rencana trase saluran ada 2 (dua) pendekatan yaitu sistem kontur dan sistem Intersection Point (IP).y) dan tinggi (z) yang memenuhi syarat dengan ketelitian yang telah disetujui dalam ketentuan teknis. Dalam hal ini diperlukan data-data situasi sepanjang trase tersebut dengan lebar kiri-kanan trase yang sudah ditentukan dan data-data potongan memanjang/melintang sehingga diperlukan koordinat (x.1. untuk efisiensi pekerjaan luas Irigasi di bawah 10. Pelaksana pekerjaan harus dapat memberikan hasil yang berkualitas sesuai dengan ketentuan teknis. IKHTISAR PEKERJAAN 1. demikian juga dengan pengukuran rencana saluran tersier.

Pemrosesan Data.2 Ruang Lingkup Pekerjaan Garis besar pengukuran rencana trase saluran terdiri dari : Pemasangan Benchmark. Referensi yang digunakan sebagai titik ikat pengukuran trase saluran adalah minimal 2 (buah) benchmark yang sudah dipasang . bila ternyata ketentuan tidak terpenuhi menurut penilaian pihak pemilik pekerjaan maka pelaksana pekerjaan harus menanggung risiko pengulangan pengukuran. Reduksi. 1.000 atau peta garis skala 1 : 5. Pengukuran RencanaTrase Saluran.000 atau peta ortofoto digital skala 1 : 5. Pengukuran Poligon . Pengukuran Potongan Memanjang.3 Basis Survei Peta yang dibutuhkan untuk menetapkan daerah pengukuran rencana trase saluran adalah peta situasi teristris skala 1 : 5. Pencatatan. Pengukuran Azimut Matahari Pengukuran Sipat Datar . Penggambaran 1.000. Pengukuran Potongan Melintang .pekerjaan akan diperiksa sewaktu-waktu untuk menjamin terpenuhinya ketentuan teknis yang telah ditetapkan.

koordinat-koordinat dan 5 (lima) foto dari 4 (empat) penjuru angin dan 1 (satu) dari atas.000. HASIL DAN DATA YANG HARUS DISERAHKAN KEPADA PIHAK PEMILIK PEKERJAAN 1) Tiga kopi (cetakan) dan satu set negatif dan gambar-gambar dan dalam bentuk VCD atau DVD berikut : Peta situasi rencana trase saluran yang dilengkapi dengan garis-garis tinggi skala 1 : 2. Gambar potongan melintang skala 1 : 200 ke arah horizontal dan vertikal.000 ke arah horizontal dan 1 : 200 ke arah vertikal. di jilid dan dilengkapi dengan keterangan/referensi dalam bentuk VCD atau DVD. 3) Daftar koordinat dari patok beton yang di buat. 4) Gambaran letak titik-titik Benchmark secara lengkap termasuk elevasi. laporan tersebut harus merinci metode sebenarnya yang digunakan. laporan itu meliputi diagram-diagram jaring poligon dan . lengkap dengan datadata titik ikat Bakosurtanal. proses serta hasilnya. ketelitian sebenarnya yang diperoleh dan kesulitankesulitan yang dijumpai serta pemecahannya pada seluruh tahap pekerjaan.000 dan minimal 1 (satu) buah koordinat (x.y) titik tetap Bakosurtanal orde 0 atau orde 1 sedangkan pengukuran tinggi (z) menggunakan titik tetap Bakosurtanal. Gambar potongan memanjang rencana trase saluran skala 1 : 2.pada saat pengukuran situasi skala 1 : 5. perhitungan diberi indeks. 2) Semua eksemplar asli dan satu set fotokopi semua hasil pekerjaan pengukuran. 2. 5) Tiga salinan laporan akhir yang meliputi penelitian lapangan.

jauhnya paling tidak 25. pemasangan benchmark di pasang lebih dulu sebelum pekerjaan lapangan dimulai. laporan tersebut tidak boleh semata-mata mengulangi isi ketentuan teknis tetapi harus benar-benar berdasarkan hasil pelaksanaan pekerjaan.1 Ketentuan Umum Pemasangan Benchmark pada titik tetap orde 0 atau orde 1 Bakosurtanal dan Benchmark skala 1 : 5.y) dan tinggi (z) harus diikatkan 2) Kerapatan setiap satu titik benchmark setiap jarak 2. sebagai catatan jumlah keseluruhan dari titik-titik tetap tersebut dapat melebihi jumlah yang telah dihitung dari daerah nominal yang akan dipetakan. 3. TITIK KONTROL TANAH Titik kontrol tanah dalam bentuk tugu sebagai benchmark untuk menyimpan data koordinat (x. ketentuannya mengikuti dibawah ini : 3.0 meter dari tepi dan bila trase . 4) Bila trase saluran memotong sungai atau lembah yang lebar maka akan dipasang benchmark-benchmark sementara di kedua sisi sungai atau lembah.5 km di sepanjang jalur as trase saluran. 3) Benchmark dalam bentuk tugu harus mencakup sepanjang rencana trase saluran yang akan dipetakan dan sebagai kontrol perimeter.y) dan tinggi (z) yang digunakan untuk kepentingan pembangunan irigasi dan kontrol pemetaan.sifat-sifat dasar serta penjelasan mengenai semua titik-titik tetap dan titik-titik koordinat.000. 1) Seluruh pengukuran koordinat (x. ketepatan dari titik tersebut harus memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan.

benchmark besar dan kecil di pasang dengan jarak antara 100-150 m. Benchmark ini akan ditempatkan di sekitar jalur saluran irigasi dan pembuang yang sudah ada atau yang baru diusulkan. bagian yang muncul diatas tanah setinggi 20 cm. 2) Bilamana mungkin benchmark tersebut harus ditempatkan sesuai dengan kriteria berikut : Benchmark ditempatkan pada tanah keras (hindarkan pemasangan didaerah rawa atau sawah).2 Pemasangan Benchmark 1) Benchmark yang harus dipasang ada 2 macam yaitu benchmark besar dan kecil. harus kelihatan satu sama lainnya karena akan digunakan untuk pengikatan azimut matahari. jenis konstruksi untuk penanda azimut terserah pada pelaksana pekerjaan tetapi sebelumnya harus diperlihatkan untuk kemudian disetujui oleh pihak pemilik pekerjaan. 3) Semua harus dijelaskan selengkap mungkin pada saat pemasangan antara lain mencakup : Sketsa ukuran (penampang melintang) benchmark yang dibuat. .saluran memotong sungai atau lembah yang lebih kecil maka hanya satu benchmark sementara saja yang akan dipasang dengan sebuah penanda azimut didekatnya jika tidak ada penanda azimut atau benchmark lain yang langsung kelihatan. 3. Benchmark dan tanda lapangan dipasang paling sedikit 10 meter dari pinggir jalan dan di daerah yang tidak akan terkena perubahan. konstruksi penanda azimut akan dibuat pada titik pertama di sepanjang jalur rencana trase saluran.

alat ukur yang . 6) Titik-titik koordinat selain benchmark atau penanda azimut dibuat dari patok kayu yang kuat. menurut keinginan pelaksana pekerjaan. 4) Penanda azimut dapat dideskripsikan dalam formulir yang sama dengan benchmark atau dalam formulir lain. ukuran panjang sekurang-kurangnya 50 cm dengan penampang melintang 5 x 5 cm. tanah yang lebih lunak membutuhkan patok-patok yang lebih panjang.000. empat buah foto dari empat mata angin satu buah foto dari atas lengkap dengan daerah sekitarnya. letak titik itu harus diperlihatkan dengan patok lain atau pohon yang mudah dilihat yang jaraknya tidak lebih dari 3.Lima foto untuk setiap benchmark yang sudah jadi di lengkapi dengan pelat nomor dan baut kuningannya. dipasang sedemikian rupa sehingga patok-patok tersebut dapat bertahan selama pengukuran (sekurang-kurangnya 6 bulan). Sketsa lokasi lengkap dengan jarak-jarak titik detail yang ada di sekitar benchmark dan lokasi penanda azimut (azimut mark). 5) Koordinat-koordinat titik akan ditambahkan pada deskripsi apabila perhitungannya sudah tuntas. METODA PENGUKURAN RENCANA TRASE SALURAN SISTEM KONTUR Pengamatan dan pengukuran koordinat (x. patok-patok tersebut harus muncul ± 10 cm dari permukaan tanah dan pada ujungnya diberi paku agar titik yang tepat mudah ditemukan. lengkap dengan deskripsi pendekatan ke sekitar titik tetap. Sketsa gambaran umum lokasi. 4.000 dan Skala 1 : 5.y) dan tinggi (z) di lapangan untuk memperoleh data lapangan (darat) dalam membuat peta situasi rencana trase saluran skala 1 : 2. nomor titik ditulis pada patok yang dicat merah.0 meter.

seluruh benchmark harus diukur koordinat (x.y) dan level automatic atau automatic digital (z). Pengamatan GPS 1) Alat ukur yang digunakan minimal 3 (tiga) buah GPS Geodetic model digital yang mempunyai ketelitian 5 mm + 1ppm(H) dan 10 mm + 2 ppm(V) 2) Pengamatan receiver GPS Geodetic dilakukan dengan cara Double Difference berdasarkan data fase dengan metoda Static atau Rapid static (static singkat) dengan alat Receiver GPS single frekuensi (L1) atau dual frekuensi (L1 + L2) 3) Kententuan pengamatan harus mengikuti ketentuan berikut : Satelit yang diamati minimum 4 (empat) buah dalam kondisi tersebar Besaran GDOP (geometrical dilution of precisition) lebih kecil dari 8 Pengamatan dilakukan siang hari atau malam hari Level aktifitas atmosfer dan ionosfer relative sedang Lama pengamatan berdasarkan panjang baseline Panjang Baseline (km) 0–5 5 – 10 10 – 30 Metoda Pengam atan Statis singkat Statik singkat Statik 90 menit 60 menit 60 menit 30 menit Lama Pengamat an(L1) 30 menit 15 menit Lama Pengamatan(L1+L2) .digunakan Total Station (x.1.y) maupun tinggi (z). Ketentuan pengukuran dengan menggunakan alat Total Station dan level automatic atau level automatic digital sebagai berkut : 4.

9) Setelah session pengamatan seluruh data harus di download dan di simpan dalam sebuah CD dan dibuatkan cadangannya.4) Pengamatan GPS dengan data fase digunakan dalam model penentuan posisi relatif untuk menentukan komponen baseline antara dua titik.96 mm dan d = panjang baseline b.1.dH) yang dihasilkan oleh software reduksi baseline harus memenuhi hubungan berikut : σN ≤ σM σE ≤ σM σH ≤ 2σM dimana σM = [102 + (10d)2]1/21. 4. 5) Setiap receiver GPS harus dapat menyimpan data selama mungkin dari minimum 4 (empat) buah satelit dengan kecepatan minimum 4 (empat) epoh dalam 1 (satu) menit masing-masing 15 (lima belas) detik. 6) Tidak diizinkan untuk menggunakan merek dan jenis receiver GPS yang berbeda dalam satu session. Baseline yang diamati 2(dua) kali .dE. mengumpulkan data dengan kecepatan dan epoh yang sama. 8) Tidak diizinkan untuk mengamati satelit dengan elevasi dibawah 15 derajat. 7) Terdapat minimal 1 (satu) titik sekutu yang menghubungkan 2 (dua) session. Statistik reduksi baseline Untuk setiap jaring orde 3 standar deviation (s) hasil hitungan dari komponen baseline toposentrik (dN. memastikan bahwa semua receiver melakukan pengamatan terhadap satelit-satelit yang sama secara bersamaan. Reduksi Baseline 1) Geometri dari jaringan harus memenuhi spesifikasi ketelitian dan persyaratan strenght of figure yaitu : a.1.

2) Informasi di bawah ini harus dihasilkan dari setiap perataan - Hasil dari test Chi-Square atau Variance Ratio pada residual setelah perataan (test ini harus dapat melalui confidence 99 % yang berarti . 4) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi troposfer untuk semua data pengamatan. Data dual frekuensi harus digunakan untuk mengeliminasi pengaruh ionosfer jika ambiguiti fase single tidak dapat dipecahkan. Perataan Jaring 1) Perataan jaring bebas dan terikat dari seluruh jaring harus dilakukan dengan menggunakan software perataan kuadrat terkecil yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah bereputasi baik. 5) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi ionosfer untuk semua data pengamatan.03 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0. .06 m..10 m 2) Seluruh reduksi baseline harus dilakukan dengan menggunakan software processing GPS yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah yang bereputasi baik 3) Koordinat pendekatan dari titik referensi yang digunakan dalam reduksi baseline tidak boleh lebih dari 10 m dari nilai sebenarnya.05 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0.Baseline yang lebih panjang dari 4(empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.2.Baseline yang lebih pendek dari 4 (empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.1. 4.

- Daftar koordinat hasil perataan.3 Analisa 1) Integritas pengamatan jaring harus dinilai berdasarkan : - Analisis dari baseline yang diamati 2 (dua) kali (penilaian keseragaman) - Analisis terhadap perataan kuadrat terkecil jaring bebas (untuk menilai konsistensi data) Analisis perataan kuadrat terkecil untuk jaring terikat berorde lebih tinggi (untuk menilai konsistensi terhadap titik kontrol) Akurasi komponen horizontal jaring akan dinilai terutama dari analisis ellip kesalahan garis 2D yang dihasilkan oleh perataan jaring bebas - 2) 3) Koordinat benchmark dari hasil pengamatan GPS disajikan dalam system proyeksi UTM dan ellipsoid WRG 84. Analisis statistik mengenai residual komponen baseline termasuk jika ditemukan koreksi yang besar pada confidence level yang digunakan. 4) Tinggi benchmark hasil ukuran GPS dikoreksi terhadap besaran undulasi (N) atau dikoreksi terhadap titik MSL yang ada disekitar lokasi.2 Pengukuran Poligon . Ellip kesalahan titik untuk setiap stasiun/titik. 4.bahwa data-data tersebut konsisten terhadap model matematika yang digunakan).1. Daftar baseline hasil perataan termasuk koreksi dari komponenkomponen hasil pengamatan. - - 4.

kaki-kaki poligon harus sepanjang mungkin dan sistem statip tetap (fixed tripod) seperti yang diuraikan di bawah ini dipakai untuk mendapatkan ketelitian yang diisyaratkan. titik-titik tetap yang digunakan harus saling berhubungan dengan titik tetap yang lainnya. jika titk-titik tetap yang sudah tidak ada dan/atau pada interval 25 titik di sepanjang masing-masing poligon. pelaksana pekerjaan harus menyiapkan semua catatan yang berkenaan dengan pemeriksaan dan penyesuaian peralatan yang dilakukan.000 titik. 6) Semua theodolit harus dalam keadaan baik dan setelannya akan diperiksa terus selama pengamatan berlangsung. 7) Theodolit harus mampu mengukur sampai 1” (satu detik ) dan dilengkapi dengan komponen yang diperlukan.1) Alat ukur yang digunakan adalah Theodolit Total Station yang mempunyai ketelitian 5” dengan kemampuan memory minimal 15. 2) Basis poligon meliputi daerah pemetaan yang merupakan jaring-jaring terbuka dan diikatkan ke titik tetap orde 0 atau orde 1 Bakosurtanal dan benchmark skala 1 : 5. 5) Statip harus ditempatkan pada tanah yang stabil untuk memperoleh hasil pengamatan sudut horizontal dan jarak yang teliti. 8) Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu pada saat melakukan sentering maka perlu digunakan 4 buah statip dan 4 buah . 3) Apabila mungkin titik-titik yang ada akan digunakan sebagai azimut awal dan azimut akhir.000. kolimasi akan diperiksa apabila melebihi 1’ (satu menit). poligon yang melalui daerah sawah harus di ikuti secara hati-hati untuk menghindari lokasi-lokasi sulit di daerah genangan sawah atau pada pematang-pematang yang tidak stabil. 4) Untuk kontrol orientasi harus dilakukan pengamatan azimut matahari.

jika kesalahan penutupnya masih berada dalam toleransi maka sudut itu akan disesuaikan dengan azimut matahari dan jika toleransi tersebut dilampaui. hal yang sama berlaku juga pada waktu dilakukan pengamatan ulang ditempat yang sama. hanya target dan teodolit saja yang berpindah/berubah. 10) Kedudukan nivo kotak dan pengunting optic harus sering diperiksa dengan bantuan unting-unting gantung dan penyesuaian-penyesuaian dilakukan bilamana perlu. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke belakang 12) Ketelitian pengukuran poligon : Semua hasil pengamatan di reduksi di lapangan jika perbedaan antara keempat harga sudut yang diperoleh (2FL. Selama pengamatan berlangsung statip dan kiap tersebut harus tetap berada disatu titik. pengukuran sudut horizontal dan jarak dilakukan minimum 1 (satu) kali pengamatan dengan jumlah urutan pembacaan sebagai berikut : Bidik kiri (FL) untuk bacaan target belakang.kiap (tribrach). 9) Di titik-titik dimana pekerjaan hari itu berakhir dan pekerjaan hari berikutnya mulai sentering harus dilakukan dengan hati-hati. 2FR) melebihi 5”. Bidik kiri (FL) untuk bacaan target ke depan. . Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke depan. 11) Sebelum pengamatan dilakukan theodolit harus disetel sebaikbaiknya. Toleransi untuk kesalahan penutup pada azimut matahari harus 10” √n dimana n adalah jumlah sudut. maka harus dilakukan pengukuran ulang. maka azimut dan/atau sudut-sudut tersebut harus diulang.

walaupun demikian hal-hal berikut harus diperhatikan bila akan digunakan azimut dengan metode ketinggian matahari.Kesalahan penutup linear poligon utama tidak boleh lebih besar dari 1 : 10.3 Pengukuran Azimut Matahari 1) Untuk menentukan arah rencana trase saluran dilakukan Azimut matahari yang diamati pagi dan sore hari.000 dari panjang totalnya. koreksi ini sangat penting dan dapat dihitung dari hasil bacaan kedudukan gelembung nivo tabung tersebut atau apabila alat theodolit di lengkapi dengan kompensator otomatis. Bidik kiri (matahari). poligon akan dijaga agar tetap pendek untuk menjamin bahwa kesalahan penutup pada jaring-jaring atau bagian tidak lebih dari satu meter. Pengamatan matahari dilakukan apabila tinggi matahari lebih besar dari 200 karena apabila dilakukan pengamatan pada waktu tinggi matahari dibawah 200 refraksi (pembiasan) menjadi terlalu besar dan . masing-masing sedikitnya 3 (tiga) kali pengamatan. 4) Metode yang dipakai untuk menentukan azimut tergantung keinginan pelaksana pekerjaan. 2) Pengamatan dilakukan sebagai berikut : Bidik kiri (target). dari pembacaan lingkaran vertikal pada sudut kanan pada masing-masing sisi garis bidik. 4. Bidik kanan (matahari). 3) Pembacaan sudut horizontal pada pengamatan azimut matahari harus diberikan koreksi akibat tidak mendatarnya kedudukan alat. Bidik kanan (target) Seri ini merupakan satu kali pengamatan. dalam satu seri tidak boleh lebih dari 30”.

jika mungkin usahakan ketinggian matahari di bawah 400. tetapi waktu pengamatan harus jauh lebih teliti. Pembacaan temperatur dan tekanan udara akan dilakukan untuk keperluan koreksi refraksi. tabel deklimasi matahari dan tabel refraksi.tidak menentu. 3) Pengukuran digunakan alat rambu ukur metrik dan tatakan rambu yang terbuat dari metal.4 Pengukuran Sipat Datar 1) Pengukuran sipat datar digunakan dengan alat ukur level automatic atau level automatic digital. mid-base atau cara-cara sejenis sampai dengan jarak 100 m. 5) Jika untuk pengukuran azimut digunakan metode sudut waktu maka bisa dilakukan pengamatan pada saat tinggi matahari di bawah 20°. untuk jaring sipat datar utama digunakan alat sipat datar digital atau non digital 4) Setiap alat harus dicek kolimasinya (kesalahan garis bidik) setiap hari dengan menggunakan 2 patok-uji (peg test). Nivo . Perlengkapan-perlengkapan tambahan yang diperlukan terdiri dari jam tangan yang ketepatannya dicocokkan satu menit sebelum tanda waktu resmi berbunyi. Penyesuaian harus dilakukan apabila kesalahan kolimasinya labih dari 0. pemindahan elevasi ke benchmark yang dibuat sesudah selesainya penyipatan datar tidak akan diterima. 4. prisma Reoloff. dalam metode mid-base dicari perbedaan tinggi antara dua titik.05 mm/m. 2) Sistem patok benchmark sudah terpasang sebelum dilakukan pengukuran sipat datar. di mana hasil ukuran disaat alat ditempatkan di tengah harus dibandingkan dengan hasil ukuran di saat alat ditempatkan di dekat salah satu titik.

jarak bidikan tidak diperkenankan lebih dari 50 m. 6) Metode stan ganda (double-stand) pada pengukuran sifat datar tidak boleh digunakan. 8) Untuk membantu pelaksanaan pengukuran titik-titik rincik ketinggian dianjurkan agar titik tinggi sementara dipasang pada waktu pengukuran sipat datar utama antara lain : gorong-gorong. Tidak dibenarkan melakukan pembidikan silang (intermediate sight). Perbedaan antara hasil bacaan belakang. hanya merupakan pengecekan aritmatik dapat menghindarkan kesalahan yang tidak terlihat karena data yang tidak benar. 7) Pembacaan rambu tidak boleh dilakukan melebihi 20 cm dari batas bawah rambu dan juga 20 cm dari batas bagian atas rambu. 5) Rambu ukur ditempatkan pada tatakan dari metal pada setiap pengukuran (kecuali pada benchmark atau benchmark sementara).kotak dan kompensator otomatis juga harus selalu dicek secara teratur. Bidikan ke belakang kira-kira sama dengan bidikan ke muka. bacaan muka. dan lain sebagainya. Titik-titik tersebut ditandai serta dicatat secara lengkap. untuk menghindari kesalahan kolimasi. lantai pengeringan padi. beda tinggi ∆h (+ dan -) harus dijumlahkan. bacaan belakang. 9) Juru ukur harus memasukkan data-data mengenai tinggi dan rendahnya hasil ukuran pada setiap formulir yang sudah ditentukan. agar rambu ukur selalu tepat vertikal dengan menggunakan stafflevel atau carpenters level (penempatannya harus juga dicek). Pelaksana pekerjaan harus membuat catatan lengkap mengenai seluruh hasil pengecekan dan penyesuaian yang telah dilakukan. Juru ukur harus menginstruksikan kepada pemegang rambu. . tangga rumah. dan muka harus sama dengan hasil beda tinggi (∆h).

0 meter untuk saluran lurus dan 25. secara sistematis setiap hari.000. dimana k adalah jarak dalam km antar benchmark tersebut. serta harus ditandatangani oleh juru ukur yang bersangkutan. 4. 4) Letak potongan-potongan melintang akan ditetapkan dengan menggunakan patok-patok kayu seperti dijelaskan di atas.0 meter untuk potongan saluran melengkung. . poligon (garis kerangka peta situasi trase saluran) yang terbentuk oleh patokpatok itu. akan sedekat mungkin mengikuti trase saluran yang ditunjukkan yang ditandai pada peta skala 1 : 5. 11) Ketelitian sipat datar sebagai berkut : Jalur utama yang pada umumnya merupakan jaring terbuka yang terikat dengan titik referensi harus diukur dua kali yaitu pergi dan pulang. 3) Jarak antara potongan melintang yang akan diambil tegak lurus terhadap as saluran adalah sekitar 50. 2) Semua jarak diukur langsung di lapangan dengan menggunakan alat total station. perbedaan antara kedua harga untuk masing-masing seksi harus kurang dari 10√k mm.10) Pengecekan harus dilakukan pada setiap halaman dan setiap bagian pengukuran sipat datar.5 Pengukuran Situasi Rencana Trase Saluran 1) Menentukan elevasi tanah untuk situasi trase saluran akan dilakukan dengan metode potongan melintang sedangkan detail-detail yang ada di antara potongan-potongan melintang akan ditentukan dengan pengukuran rincikan agar variasi dalam relief dapat digambarkan dengan tepat pada waktu dilakukan penggambaran kontur. atau menurut petunjuk pemilik pekerjaan.

gorong-gorong. 10) Ketinggian-ketinggian software total station. alur saluran akan diukur dengan potongan melintang dari jarak 500 meter ke hulu sampai 500 meter ke hilir dari titik potong. 8) Semua tampakan seperti rumah-rumah. pagar. 9) Bahan-bahan khusus yang dijumpai di permukaan tanah.1 Pengukuran Situasi Lokasi Khusus Pengukuran situasi lokasi khusus maksudnya adalah lokasi trase saluran yang memotong sungai atau lembah dengan ketentuan sebagai berikut : 1) Lokasi khusus sebagaimana ditunjukkan pada peta skala 1 : 5. patok beton dan vegetasi (jenis dan kerapatannya) akan dicatat. potongan melintang ini akan dibuat 10. 7) Semua jalan air berapapun ukurannya (saluran. fasilitas.0 meter jauhnya. potongan melintang akan dicatat dalam . seperti batuan. parit-parit di sawah) akan diamati termasuk lebar dasar. elevasi dan arah aliran . jembatan. tanah longsor dan sebagainya harus dicatat. jalan.000 di mana trase saluran memotong sungai atau lembah yang lebar. 6) Potongan melintang yang akan diukur akan membentang sedikitdikitnya 75. rawa-rawa.5. pembuang.0 meter di kedua sisi as saluran atau mengikuti petunjuk dari pemilik pekerjaan.0 meter jauhnya. 4.5) Poligon harus tertutup terhadap titik terdekat yang sudah ditetapkan (benchmark atau penanda azimut) guna mencek ketelitian. potongan melintang ini akan dibuat 10. 2) Bila trase saluran memotong sungai atau lembah yang kecil maka alur saluran akan diukur dengan potongan melintang dari jarak 100 meter ke hulu sampai 100 meter ke hilir dari titik potong.

Daerah landai titik-titik tinggi akan diambil dengan beda tinggi maksimum 0. Tinggi normal permukaan air dan tanggal pencatatan. Daerah yang tidak teratur misalnya di daerah berbukit-bukit.3) Detail-detail berikut akan ditentukan dan dicatat : Elevasi maksimum banjir. Posisi titik dan jarak langsung terukur dengan software alat total station dan dicatat dengan penjelasan singkat mengenai posisi titik rincik. Sifat-sifat bahan tanah di dasar dan pinggir sungai atau lembah Tumbuhan atau tanaman yang punya nilai tinggi 4) Ketinggian-ketinggian di dalam potongan melintang akan dicatat dalam software total station. dasar sungai.2 Pengukuran Melintang Titik Rincik (Detail) Antara Potongan 1) Titik-titik tinggi di antara potongan-potongan melintang akan dicatat sebagai berikut: Posisi tinggi diukur dengan cara tacheometri.25 meter atau pada setiap 20 meter di lapangan mana saja yang lebih segera dapat dicapai. tanggul jalan (bagian atas atau bawah). kampung. Jarak ke titik-titik rincik tidak boleh lebih dari 100 m.5. misalnya sawah. 4. Cara tacheometri hanya dapat dipakai untuk penentuan tinggi titik rincik di daerah curam dan hanya atas persetujuan pemilik pekerjaan. perbatasan kampung. lembah dan semacamnya. 5) Ketelitian titik-titik tinggi potongan melintang akan ditentukan sebagaimana diuraikan bawah. titik-titik tinggi .

untuk daerah sawah basah rambu ukur boleh ditempatkan di tepi sawah tersebut (tidak di pematang). untuk daerah pengukuran yang tidak luas selang/jarak antara tiap titik kira-kira 75 m. 6) Pelaksana pekerjaan harus memeriksa apakah rincik ketinggian di lapangan sudah diamati secara memadai sesuai dengan perubahanperubahan elevasi antara rincik ketinggian dan detail yang diperlihatkan dalam peta. satu titik pada sawah yang lainnya di kampung.dengan jarak yang lebih pendek agar bisa diperoleh gambar yang lebih jelas dengan situasi lengkap di daerah ini. . rambu ukur tidak boleh ditenggelamkan pada tanah sawah tersebut tetapi diletakkan setinggi permukaan tanah sawah dan harus dilakukan dengan hati-hati. untuk daerah sawah yang kering rambu ukur harus ditempatkan tepat ditengah. 3) Pada daerah sawah titik rincik ketinggian harus ada pada setiap sawah tersebut yang kira-kira jaraknya lebih dari 50 x 50 m. 5) Rincik ketinggian akan diambil sepanjang dasar dari lembah-lembah baik yang memiliki anak sungai maupun yang tidak dan pada punggung bukit serta pada titik-titik bukit yang teratas. 2) Pada umumnya titik-titik tinggi akan diberikan di semua lokasi di mana kemiringan bisa berubah dan di tempat-tempat di mana bisa terjadi perubahan ketinggian secara mendadak. apabila jalan melewati sawah maka titik rincik tersebut harus ditempatkan satu titik pada jalan dan titik lainnya pada kedua sisi sawah. 4) Lokasi dari titik rincik tersebut harus diletakkan pada perbatasan antara kampung dan sawah.

4. 4) Semua titik rincik diberi nomor yang jelas sehingga pemeriksaan yang dilakukan lewat lembar-lembar pengamatan pada tahap berikutnya akan lebih mudah.6 Pencatatan.5. .y) dalam proyeksi UTM. 2) Pelaksana pekerjaan harus menyerahkan laporan hasil hitungan dengan menggunakan software dari distributor alat alat merk apa saja dalam bentuk softcopy VCD atau DVD. dan perhitungan titik detail menggunakan software distributor alat merk apa saja yang berlaku di Indonesia. tinggi (z) terhadap permukaan air laut rata-rata. Reduksi.6. Pemrosesan Hasil Pengamatan di Lapangan Pencatatan. pemrosesan hasil pengamatan di lapangan harus mengikuti ketentuan di bawah ini : 4.3 Ketelitian Pengukuran Titik Rincik 1) Seluruh perhitungan rincik ketinggian harus diselesaikan dan diperiksa ketelitiannya sebelum meninggalkan lapangan. posisi titik-titik tersebut ditandai dengan koma (titik) desimal dari harga ketinggiannya atau koma yang terpisah dengan menggunakan tanda panah apabila detailnya menjadi kabur karena nomor-nomor lokasi sebelumnya. 3) Harga tinggi titik rincik dihitung sampai dengan sentimeter terdekat.1 Pencatatan 1) Seluruh proses perhitungan koordinat (x. 2) Ketinggian relatif tinggi titik rincik harus memenuhi ketelitian ± 5 cm. azimut matahari. reduksi. 4.

nomor titik. dan koreksi faktor skala dimana dianggap perlu.6. 4. temperatur dan tekanan udara.y) termasuk juga koreksi kesalahan titik nol alat.3) Penjelasan-penjelasan yang dibutuhkan dimasukkan ke lembar pengamatan sementara pekerjaan berlangsung. termasuk juga bagian-bagian yang telah diulang. hasil-hasil pengamatan itu tidak boleh dibawa ke lapangan lagi.2 Reduksi 1) Koordinat (x. yang disebut terakhir ini harus ditandai dengan jelas sehingga bisa saling dicocokkan. hasil pengamatan harus disimpan dengan rapi dan diberi nomor referensi agar mudah di cari bilamana diperlukan dikemudian hari. reduksi koordinat (x. 4. hal ini menyangkut nama pengamat.6. 2) Pengamatan di lapangan perlu di reduksi setiap harinya lalu ditandatangani.y) perlu di reduksi dan dirata-ratakan pada setiap titik dan diperiksa apakah memenuhi toleransi yang sudah ditetapkan. 2) Untuk kontrol planimeter ini meliputi : Pengecekan hasil penghitungan koordinat. seluruh lembar data harus disertai tanggal dan tanda tangan pengamat dan orang yang telah melakukan pemeriksaan. . bila sudah diarsipkan.3 Pemrosesan Data 1) Penghitungan harus dilakukan di lapangan untuk memeriksa apakah pengamatan telah sesuai dengan standar ketelitian. 4) Seluruh laporan pengamatan yang dilakukan di lapangan diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. tanggal. disertai tanggal pemeriksaan oleh pelaksana pekerjaan. nomor alat juga penjelasanpenjelasan lainnya seperti ketinggian alat.

Perhitungan ∆h untuk seksi-seksi antara titik-titik tetap (benchmark) . 6) Penyesuaian planimetri harus dihitung mencakup seluruh titik-titik trianggulasi yang ada di lapangan. hal ini dimaksudkan untuk menghindari kelambatan pada tahapan selanjutnya. agar memperoleh ketinggian yang tepat untuk dipakai pada perhitungan rincik ketinggian nantinya. . 7) Penyesuaian titik-titik poligon harus sesuai dengan jarak. 3) Untuk kontrol ketinggian kegiatan pemrosesan ini meliputi : Pemeriksaan hasil hitungan dari ∑ Bacaan belakang. ∑ Bacaan muka.x jarak akumulasi jumlah jarak poligon seluruhnya Hal yang sama berlaku untuk simpangan utara. Perhitungan dari tiap loop/kring. Penyesuaian kesalahan koordinat. hasil pengamatan serta hasil hitungannya segera dikirim ke kantor pelaksana pekerjaan untuk dilakukan perhitungan akhir. Perataan dari loop dengan metode Dell (atau metode lainnya). Pengecekan azimut antara titik-titik triangulasi dan hasil pengamatan. 4) Perhitungan blok-blok pengukuran lapangan harus disesuaikan dengan batas-batas trianggulasi udara. Penghitungan dari ∆x dan ∆y untuk mencek hasil planimetrik. ∑ Perbedaan tinggi (∆h). 5) Apabila hasil pekerjaan lapangan telah disetujui oleh pengawas.Pengecekan penutup koordinat tertutup. hal ini berarti bahwa koreksi dalam koordinat simpangan timur (easting) sama dengan: salah-penutup dalam simpangan timur --------------------------------------------------.

5 meter. tidak dipakai lagi. diragukan. Kesalahan penutup linier ∆x. Detail-detail hasil pengamatan yang ditolak. 1) Secara umum kemiringan untuk situasi trase saluran akan ditunjukkan 2) Untuk mencegah terlalu padat garis kontur pada detail peta situasi trase yang mengakibatkan kekurangjelasan dan agar bentuk permukaan tanah tetap tergambarkan dengan memadai. tabel berikut ini dapat digunakan sebagai dasar penentuan interval garis kontur : . mengikuti ketentuan dibawah ini : VCD atau DVD untuk mendapatkan persetujuan 5. PENGGAMBARAN PETA RENCANA TRASE SALURAN SKALA 1 : 2. 5. Kesalahan penutup sudut pada setiap bagian/seksi.000 Penggambaran dilakukan dengan Autocad ukuran A-1 type apa saja yang dikeluarkan dari distributor tunggal yang berlaku di Indonesia.1 Peta Situasl Rencana Trase Saluran dengan interpolasi kontur 0.8) Seluruh hasil penghitungan. azimut kontrol atau azimut yang diperoleh dari loop yang berdekatan. pengamatan dan informasi seperti yang didaftar dibawah ini harus diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan dalam bentuk sementara. bersama-sama dengan jumlah titik dalam setiap seksi. ∆y dari setiap loop atau jalur koordinat antara titik-titik simpul dan kesalahan penutup fraksi yang dipilih dengan jumlah titik. Urutan cara perhitungan loop atau jalur koordinat antara benchmark.

5 milimeter atau 1/10 jarak mendatar antara kontur tersebut dan dimana saja di dalam skala peta yang dianggap lebih besar dapat diterima.0 m maka indeks kontur harus ada pada interval 5 m.5 dan 1. jalan. tanggul. 5) Semua garis kontur harus benar sesuai dengan ketentuan dalam penarikan interval kontur.0 m 10. semua kontur tersebut harus masuk toleransi dengan pergeseran dalam perubahan posisi vertikalnya yang telah diplot tidak lebih dari 0. 4) Kriteria yang diberikan hanya merupakan panduan saja. tujuannya adalah untuk menjaga kesamaan garis kontur pada seluruh lembar peta (kecuali di daerah yang sangat curam/terjal).Kemiringan 0-2% 2-5% 5 – 20 % Lebih curam dari 20 % Interval 0. 6) Apabila ada 2 (dua) kontur atau lebih yang berdekatan dan hampir berimpit (misalnya batas kampung. .0 m 2.0 m 3) Indeks kontur harus ada pada interval 10 m pada semua hal kecuali di mana keseluruhan pemetaan harus digambarkan dengan kontur 0.5 m 1. dan sekurang-kurangnya 85% dari semua kontur harus mempunyai harga yang sesuai dengan harga ½ (setengah) interval kontur apabila dicek berdasarkan hasil pengukuran lapangan dengan alat ukur sipat datar yang diikatkan dari kontrol titik tetap (benchmark) yang terdekat. walaupun demikian perubahan interval dalam lembar peta akan diizinkan dalam hal adanya perubahan kecuraman menyeluruh dalam suatu daerah tetapi tidak dalam hal perubahan kemiringan setempat. kelokan saluran) kontur digambarkan dengan garis putus-putus .

termasuk informasi mengenai datum (duga) titik tinggi dan sumber informasi yang dipakai.7) Detail mengenai metode kontur yang digunakan harus jelas dicantumkan pada semua lembar peta. Benchmark. Grid 31 32 indek kontur 0.2 Penulisan Nama. 5. 9) Titik rincik harus ditulis dengan menggunakan ukuran 1. letak titik rincik harus diindikasikan sampai dengan fraksi desimal.5 mm. diperlihatkan sebagai berikut : Benar 29 Benar 30 Benar 32 31 30 29 Benar salah 28 29 30 31 salah 12) Garis kontur harus berhenti pada jalan-jalan raya dan sungai-sungai besar. jika bentuk detail terganggu oleh harga titik rincik maka angkanya dapat ditulis di sebelahnya. 11) Harga-harga garis kontur dituliskan dengan arah dari puncak ke lereng.1 mm kecuali untuk indeks kontur digunakan ukuran 0. secara kasar untuk pengarahan. 10) Semua garis kontur digambar dengan menggunakan ukuran 0. 8) Titik rincik harus digambar selambat-lambatnya sebelum penggambaran halus garis kontur dan sebelum dilakukan interpolasi garis kontur atau editing. harga-harga garis kontur dituliskan hanya pada indeks kontur setiap lima garis kontur. dalam hal ini garis kontur tidak boleh digambarkan memotong sungai tetapi harus berhenti pada salah satu tebing sungai dan selanjutnya bersambung pada tebing sungai yang di seberang lainnya.5m kontur 1m kontur .3 mm.

angka harus ditulis dengan tinggi tulisan 2.3 Peta Situasi Lokasi Khusus . koordinat-koordinat tersebut ditulis dengan selang 250 m sepanjang keempat sisi dari peta. bukan TANAH MERAH.1) Nama-nama sungai.3 mm. gunung dsb. ditulis pada peta dengan ukuran huruf tersebut adalah sbb : Kampung dengan ukuran 0. Sungai ukuran huruf seimbang dengan lebar sungai. contoh : Tanah Merah. kampung. dapat dilihat bentuknya sbb: N o m o r p ila r (B M ) T in g gi p ila r (B M ) 3m m T R 24 4 2 . peta-peta dilengkapi dengan keterangan (legenda) situasi menurut standar yang berlaku berkenaan dengan ukuran garis. titik-titik tetap yang ada juga diplot dengan cara yang sama tetapi simbolnya berbentuk segitiga. arsiran dan simbol yang diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. aliran sungai harus digambarkan dengan tanda panah. 3) Garis silang (grid) panjang 10 x 10 mm. 2) Benchmark ditulis dengan cara di atas ukurannya 2 mm. dan pada sisi peta garis silangnya sepanjang 5 mm dan koordinat-koordinat garis silang ditulis di dalam atau di luar batas lembar peta bergantung dari keinginan pemilik pekerjaan.5 mm.7 6 2m m 2m m Posisi benchmark harus dicek pada deskripsi lapangan dari titik tersebut untuk memastikan bahwa pengeplotan yang dilakukan sesuai dengan detail sekelilingnya. Nama ditulis dengan huruf besar tiap awal tulisan. 5. 3) Kertas yang akan dipakai adalah transparan stabil atau yang sejenis.

Garis-garis kontur situasi akan digambar dengan Autocad ukuran A-1. padang rumput. Pada tiap lembar set peta akan menunjukkan peta petunjuk lembar. titik duga (datum) yang dipakai untuk kontrol horizontal dan vertikal serta data-data teknis yang lain akan diperlihatkan pada lembar peta. batas-batas desa.rawa. Garis hubung untuk lembar di sebelahnya dari masing-masing peta adalah berupa garis koordinat. elevasi banjir besar.Dimensi peta. Semua titik-titik poligon akan diplot dengan koordinat sebelum memplot penunjuk ketinggian. interval kontur akan diatur seperti telah diuraikan di atas. tampakantampakan ini termasuk (tetapi tidak perlu dibatasi sampai pada) halhal berikut : batas-batas dan jenis pengolahan tanah. jalan-jalan. hutan. batu singkapan. Pada gambar-gambar tersebut aliran saluran akan diarahkan dari kiri ke kanan. Semua benchmark akan ditunjukkan dalam semua gambar yang bersangkutan dengan perencanaan. . Peta-peta itu akan memperlihatkan semua tampakan (feature) buatan yang biasanya ditunjukkan pada peta-peta situasi. blok judul dan tebal garis akan sesuai dengan standar yang sudah diberikan oleh pemilik pekerjaan. daerah-daerah berpasir atau berbatu-batu. saluran. parit-parit sawah dan bangunan-bangunan yang ada. termasuk elevasi tanah desa. hutan belantara dan rawa. tanpa pertampalan (overlap). kelompok rumah. Simbol-simbol standar situasi. deskripsi dan elevasi.

1 : 200 atau 1 : 500 agar seluruh daerah yang diukur bisa diliput dalam satu lembar peta.25 meter untuk skala 1 : 500.Peta situasi saluran akan selalu digambar terpisah dari peta situasi umum dengan skala 1 : 2. Peta peta lokasi khusus akan dibuat dengan aliran saluran dari kiri ke kanan. 5.25 m untuk skala 1 : 100 dan 1 : 200. jika dalam satu gambar dijumpai beberapa as sekaligus dalam potongan melintang. 5. Interval kontur adalah 0. potongan-potongan melintang akan digambar dengan skala 1 : 200 atau 1 : 100 ke arah horizontal dan vertikal. dan 0.5 Peta Potongan Memanjang . sebuah garis vertikal yang menunjukkan titik potong as dan potongan melintang saluran.4 Peta Potongan Melintang Pada gambar-gambar tersebut menunjukkan potongan-potongan melintang sebagai berikut : nomor masing-masing potongan melintang.000. satu di atas yang lain. potongan-potongan melintang akan digambar menghadap ke arah aliran hilir. skala peta akan dibuat 1 : 100. semua titik-titik tinggi potongan melintang yang berhasil diamati di lapangan serta jarak antara titik-titik itu. maka as-as itu akan digambar ke arah vertikal.50/0.

yang memperlihatkan potongan memanjang saluran. 2) Panjang potongan memanjang adalah panjang total trase saluran sebagaimana ditetapkan di lapangan. hal-hal berikut akan ditunjukkan : nomor-nomor potongan melintang. potongan memanjang. jarak antara potongan-potongan melintang dan jarak akumulasi bentang saluran. atau 1 : 100 ke arah vertikal. jarak akumulasi dalam kilometer dengan dua desimal.1) Peta situasi saluran dan potongan memanjang bentang saluran yang sama yang mengalir dari kiri ke kanan akan di gambar pada lembar yang sama. 6. sedangkan pengukuran poligon. METODA PENGUKURAN RENCANA TRASE SALURAN SISTEM IP Metoda pengukuran trase saluran sistem IP menunjukkan trase saluran tersebut sudah ada kepastian arah trase saluran sehingga ada kepastian dimana lokasi benchmark harus dipasang. dimulai dari pengambilan di dekat bendung untuk saluran primer atau di bangunan sadap dari saluran primer untuk saluran sekunder. 3) Bila potongan memanjang dan dengan demikian juga peta situasi saluran harus digambar pada beberapa lembar kertas maka jarak akumulasi (chainage) akan diteruskan pada setiap lembar berikutnya. potongan melintang. sipat datar. 4) Pada gambar itu. skala untuk potongan-potongan memanjang adalah 1 : 2. menurut pengarahan dari pihak pemilik pekerjaan. dan penggambaran .000 ke arah horizontal dan 1 : 200 ke arah vertikal. elevasi tanah pada titik potong trase saluran dan potongan melintang. azimut matahari.

1 Pemasangan Benchmark dan Patok Kayu 1) Sepanjang jalur trase akan dipasang 3 (tiga) macam benchmark yaitu benchmark A. B dan C dimana benchmark tersebut diberi warna untuk membedakan satu dan lainnya Benchmark A diberi warna merah. benchmark C sebagai target azimut sisi poligon. 6. 10) Agar mudah di kenal dari jauh. ujung akhir.sama dengan ketentuan metoda pengukuran trase sistem kontur. jarak antara benchmark A dan C sekitar 100 m-150 m dan trase C harus terlihat dari benchmark A. 9) Tiap benchmark harus dibuat sketsa lokasinya dan difoto dalam 5 (lima) posisi yaitu 4 (empat) posisi mata angin dan 1 (satu) dari atas. dan tiap jarak 5 km dari trase saluran. maka patok-patok kayu yang dipasang sepanjang trase saluran diberi warna sebagai berikut : . 4) Benchmark A dan C digunakan untuk pengamatan azimut matahari. 7) Benchmark A dan C dipasang ± 50 m dari sumbu trase saluran kecuali benchmark B untuk IP.000. dan tiap jarak 2. 3) Benchmark C dipasang pada ujung awal. B warna putih dan C warna kuning.5 km dari trase saluran. 2) Benchmark A dipasang pada ujung awal. 8) Lokasi benchmark pada trase harus dicantumkan juga pada peta 1 : 5. 6) Benchmark B dipasang pada (sekitar) lokasi bangunan dan benchmark C sebagai penanda azimutnya. 5) Benchmark B juga dipasang pada lokasi titik potong (IP) final. ujung akhir.

5) Pelaksana pekerjaan tambahan seandainya ada instruksi dari Perencana.3 Pengukuran Potongan Memanjang dan Melintang 1) Pengukuran penampang melintang dilakukan tiap interval jarak 50 meter (untuk jarak trase lurus).2 Penyelusuran Trase Saluran 1) Penelusuran dan pemasangan patok IP (sementara) dilakukan oleh tenaga-tenaga perencanaan dan pengukuran. (UNTUK PEKERJAAN PENGUKURAN POLIGON. Putih untuk patok-patok poligon sementara. 6. . 4) Lokasi IP (final) dilapangan harus dinyatakan melakukan dengan pengukuran pilar beton (benchmark) tipe B warna putih.Merah untuk patok-patok profil tiap jarak 50 m dan patok-patok pada lengkungan. SIPAT DATAR. AZIMUT MATAHARI KETENTUANNYA SAMA SEPERTI DI ATAS) 6. 2) Penelusuran dan pemasangan patok IP (sementara) berdasarkan tata letak pendahuluan saluran di atas peta skala 1 : 5. 3) Lokasi IP (sementara) dilapangan dinyatakan dengan patok kayu berwarna putih. Kuning untuk patok-patok sipat datar sementara Ukuran kayu 5 cm x 5 cm x 40 cm. 2) Untuk trase yang berbelok dilakukan tiap interval lebih kecil dari ketentuan tersebut di atas dengan memperhatikan busur kelengkungannya yaitu tiap 25 meter. ditanam sedalam 30 cm dan 10 cm muncul di atas permukaan tanah.000.

Penampang memanjang skala jarak 1 : 2. Sketsa dari pengukuran harus dibuat dengan rapih dan jelas. Penampang melintang dibuat tiap 25 meter untuk bagian yang lurus dan untuk belokan harus ditambah pada belokannya.000 dan skala tinggi1 : 200 Penampang melintang. Penampang melintang tiap 50 m untuk bagian yang lurus dan 25 m untuk bagian yang berbelok-belok dengan lebar 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan dari tepi saluran. Pengukuran penampang melintang saluran adalah tegak lurus trase dengan lebar 75 m ke kiri dan 75 m ke kanan (sudut profil melintang harus diukur). maka harus dibuat : Penampang melintang 100 m ke udik dan 100 m ke hilir. untuk memudahkan penggambaran. 5) Setiap perubahan elevasi tanah harus diambil sebagai titik detail untuk penampang melintang/memanjang.3) Bila trase saluran melintas (memotong) sungai besar. yaitu benang atas. maka harus dibuat penampang melintang dan memanjang sungai/lembah tersebut dengan ketentuan : Penampang melintang dibuat 200 m ke udik dan 200 m ke hilir dari pertemuan tersebut. (KETENTUAN PENGGAMBARAN SAMA SEPERTI DIATAS) . Skala seperti di atas. benang tengah dan benang bawah atau dengan pita ukur baja sampai pembacaan dalam sentimeter. lembah besar. Jarak-jarak penampang melintang diambil secara optis dengan membaca ketiga benang pada alat ukur. skala jarak 1 : 200 dan skala tinggi1 : 200 4) Bila trase saluran memotong sungai/lembah kecil.

000. . dimana N = jumlah sudut. tidak diperlukan pemasangan benchmark baru tetapi menggunakan benchmark yang ada sepanjang jaringan utama dan sekunder. dan harus diplot untuk menggambarkan trase saluran.2 Pengukuran Sipat Datar Bila trase saluran yang akan diukur adalah trase baru maka elevasi bagian atas patok kayu dan elevasi tanah harus langsung di ukur sipat datar. Untuk pembacaan sudut akan dipakai metode pembacaan satu seri. Jika ternyata gambarnya berbeda dari tata letak akhir (definitive) yang telah di buat sebelumnya. maka harus dilakukan pengukuran ulang.1 Pengukuran Poligon Sudut horizontal pada setiap titik poligon harus di ukur dengan alat yang mempunyai ketelitian di atas 1’.5√N. 7. Jarak antar patok kayu adalah 50 m dan harus diukur sekurangkurangnya dua kali dengan pita ukur. Ketelitian linier adalah 1/1. Ketelitian sudut adalah 2. Pengukuran poligon mulai dari bangunan yang sudah ada atau yang baru direncana dan mengikuti arah aliran air. Setiap boks kuarter atau tersier harus merupakan titik poligon. Pengukuran poligon mulai dan berakhir pada titik kontrol. metode spring station tidak diperbolehkan. METODA PENGUKURAN RENCANA TRASE SALURAN TERSIER Pengukran trase tersier dilaksanakan setelah tata letak jaringan tersier telah disetujui oleh pemilik pekerjaan sehingga trase saluran tersier sudah ada kepastian arah dan jarak. 7. Pengamatan matahari untuk kontrol azimut harus dilakukan setiap 50 titik poligon.7.

Sketsa relief lapangan harus dicatat dalam buku ukur pada waktu melakukan pengukuran potongan melintang. maka permukaan tanah yang harus diukur adalah yang lebih tinggi. Lebar pengukuran harus ditambah di tempat-tempat tertentu jika hal ini dikehendaki oleh pemilik pekerjaan. Untuk pengukuran ini.Elevasi bagian atas setiap patok (5 cm) harus diukur sekurangkurangnya dua kali dengan pengukuran sipat datar. Pada lokasi bangunan harus dilakukan pengukuran potongan melintang.5 meter untuk masing-masing sisi as saluran. 7. Pengukuran potongan melintang harus dilakukan di setiap titik dengan lebar minimum 7. kesalahan yang diizinkan (mm) = 10 mm √D dimana D = jarak total penyipatan datar ( km). dasar saluran dan tinggi tanggul kanan dan kiri harus diukur. Penyipatan datar harus mulai dan berakhir pada titik kontrol. Jika trase saluran yang baru bertepatan dengan trase saluran yang sudah ada maka elevasi patok. .3 Pengukuran Potongan Melintang dan Memanjang Alat yang dipakai untuk pekerjaan ini adalah automatic level . dapat dipakai metode stadia (stadia surveying method) atau menggunakan pita ukur. Kesalahan penutup dalam penyipatan datar yang telah disebutkan di atas harus kurang dari kesalahan yang diizinkan dan diperkirakan. Jika trase saluran yang baru bertepatan dengan tanggul sawah. Sipat datar harus di ukur dua kali dengan arah yang berlawanan. Potongan melintang harus dibuat setiap jarak 50 m dan untuk daerah berkelok-kelok setiap jarak 25 m.

4 Pengukuran Rencana Trase Saluran Tersier Lebar trase saluran yang diukur minimum 7. 7. Cek azimut antara titik ikat atau azimut matahari. jalan dan sebagainya harus di ukur jika di lewati oleh trase saluran.5.5 Perhitungan dan Penggambaran Perhitungan dilaksanakan sebagai dasar penggambaran di samping untuk memeriksa ketelitian pengamatan dengan ketentuan sebagai berikut : 7. Trase harus sejauh mungkin mengikuti tanggul sawah. Untuk menghindari kekeliruan trase saluran.000.5 m. Perataan kesalahan penutup. Kontrol tinggi akan mencakup : . Perhitungan ∆x. gambar-gambar pengukuran situasi harus cocok dengan tata letak akhir.000 dan interval garis-garis kontur 0. Sketsa kondisi lapangan harus dicatat dalam buku ukur pada waktu dilakukan pengukuran topografi. perhitungan dilakukan dengan metode Bowdich.7. ∆y untuk mencek penutup planimetris. Tanggul. Cek penutup sudut untuk jaring-jaring tertutup (closed loop). Kontrol horizontal akan mencakup : Sudut rata-rata dan jarak rata-rata aritmatik metode stadia dan pita ukur.1 Perhitungan Koordinat masing-masing titik potongan harus di ukur dengan system proyeksi seperti peta dasar skala 1 : 2.5 m dengan skala 1 : 2.

000.Cek perhitungan untuk ∑ bidikan ke belakang.2 Penggambaran Konsep peta dan gambar harus di buat pada kertas millimeter yang berkualitas baik. Lembar indeks peta di gambar berdasarkan grid peta. Konsultan boleh menggunakan system yang umum di pakai di daerah setempat dengan seizin pemilik pekerjaan. Titik tinggi harus di plot pada peta hingga sentimeter. Keterangan peta (legenda) harus sesuai dengan yang digunakan dalam Buku Petunjuk Perencanaan Peta Tersier dari Direktorat Irigasi. ∑ bidikan ke muka. Titik poligon di gambar dengan titik poligon koordinat bukan dengan metode grafik kecuali untuk titik tinggi.3 Penggambaran Situasi Rencana Trase Saluran Tersier . Jalur poligon dan kontrol vertikal harus di gambar pada peta. Pertampalan (overlap) peta adalah 5 cm.5. Perhitungan ∆h untuk seksi-seksi antara dua benchmark. Jarak dan tinggi tempat akan dihitung dengan metoda trigonometris dan tacheometri. 7.5. ∑ ∆h. 7. Seluruh titik poligon harus di hitung dengan proyeksi yang sama dengan skala 1 : 2. Garis-garis kontur diplot dengan menginterpolasikan permukaan tanah asli sawah bukan dari tanggul sawah. Perhitungan jaring-jaring (loop). Koordinat-koordinat sistem proyeksi tidak boleh memakai metode grafis.

000 dan interval garis kontur 0. Peta-peta dan gambar-gambar berikut dengan skalanya harus diserahkan kepada pemilik pekerjaan Peta topografi daerah irigasi dengan ketentuan sebagai berikut : o o daerah datar skala 1 : 2. Peta topografi trase harus digambarkan pada kertas transparan stabil. 0. daerah berbukit-bukit skala 1 : 200 dan interval garis kontur m.000.25 m.000. Peta topografi trase saluran dengan skala 1 : 2.50 . Gambar-gambar potongan memanjang dengan skala horizontal dan vertikal 1 : 2.Peta situasi trase saluran tersier harus disetujui oleh pemilik pekerjaan. Jika mungkin peta tersier tercakup dalam satu lembar peta jika tidak mungkin boleh beberapa lembar peta dengan pertampalan 5 cm.

SUB BAGIAN4 PEMETAAN SITUASI SUNGAI DAN LOKASI BENDUNG .

2 Ketelitian Titik Detail 3.DAFTAR ISI PEMETAAN SITUASI SUNGAI DAN LOKASI BENDUNG 1. METODE PENGUKURAN SITUASI SUNGAI 3.1 Pemasangan Benchmark 3.2 Reduksi 3.7 Pencatatan. Reduksi dan Pemrosesan Data 3.5 Pengukuran Sipat Datar 3.1 Pengukuran Titik Detail Antara Penampang melintang 3.2 Ruang Lingkup Pekerjaan 1.3 Pemrosesan .6 Pengukuran Ditil Sungai 3.3 Pengamatan Azimut Matahari 3.7.7.6.6.7.1 Pencatatan 3.3 Basis Survei 2. HASIL DAN DATA YANG DISERAHKAN KEPADA PEMILIK PEKERJAAN 3.4 Pengukuran Sudut Vertikal 3. IKHTISAR PEKERJAAN 1.2 Pengukuran Sudut Horizontal (Poligon) 3.1 Umum 1.

PENGGAMBARAN SITUASI LOKASI BENDUNG .4. Reduksi dan Pemrosesan Hasil Lapangan 6.4 Pencatatan.3 Pengukuran Detail Lokasi Bendung 5.2 Pengukurann Sudut Horizontal (Poligon).1 Pemasangan Benchmark 5. Azimut Matahari. Sudut Vertikal.2 Penampang Melintang 4.1 Peta Situasi Sungai 4.3 Penampang Memanjang 5. METODE PENGUKURAN SITUASI LOKASI BENDUNG 5. Sipat Datar 5. PENGGAMBARAN SITUASI SUNGAI 4.

hal ini untuk menunjang perencanaan bendung dan komponen lainnya.1 Umum Pemetaan situasi sungai dilaksanakan minimal sepanjang 2 (dua) km (satu km ke arah upstream dan satu km ke arah downstream dari rencana bendung) dengan skala 1 : 2. Pelaksana pekerjaan harus mempekerjakan personil yang telah mendapat latihan dalam bidangnya serta cukup berpengalaman dalam berbagai pekerjaan yang diberikan sehingga dipelukan sertifikasi keahlian termasuk manajer poyek yang mempunyai keahlian manager proyek dipekerjakan selama masa kontrak berlangsung. Pelaksana pekerjaan harus dapat memberikan hasil yang berkualitas sesuai dengan ketentuan teknis.5 km ke arah downstream dari rencana bendung) dengan skala 1 : 500. . IKHTISAR PEKERJAAN 1.y) dan tinggi(z) serta situasi lokasi yang memenuhi syarat dengan ketelitian yang telah disetujui dalam ketentuan teknis. Dalam hal ini data-data situasi sepanjang sungai dan lokasi bendung dengan lebar kiri-kanan sungai yang sudah ditentukan dan data-data situasi lokasi bendung sehingga diperlukan koordinat(x.000 sedangkan pemetaan lokasi bendung dilaksanakan minimal sepanjang 1 (satu) km (0.1.5 km ke arah upstream dan 0.

pekerjaan

akan

diperiksa

sewaktu-waktu

untuk

menjamin terpenuhinya ketentuan teknis yang telah ditetapkan, bila ternyata ketentuan tidak terpenuhi menurut penilaian pihak pemilik pekerjaan maka pelaksana pekerjaan harus menanggung pengulangan pengukuran. risiko

1.2

Ruang Lingkup Pekerjaan

Garis besar pengukuran dan penggambaran sungai terdiri dari :
Pemasangan Benchmark. Pengukuran Poligon. Pengukuran Azimut Matahari. Pengukuran Sipat Datar. Pengukuran Potongan Memanjang. Pengukuran Potongan Melintang. Pengukuran Situasi. Pencatatan, Reduksi, Pemrosesan Data. Penggambaran.

Sedangkan garis besar pengukuran dan penggambaran lokasi bendung terdiri dari :
Pemasangan Benchmark. Pengukuran Poligon. Pengukuran Azimut Matahari. Pengukuran Sipat Datar. Pengukuran Situasi. Pencatatan, Reduksi, Pemrosesan Data.

Penggambaran.

1.3

Basis Survei

Peta yang dibutuhkan untuk menetapkan daerah pengukuran sungai dan lokasi bendung adalah peta situasi teristris skala 1 : 5.000 atau peta ortofoto digital skala 1 : 5.000 atau peta garis skala 1 : 5.000. Referensi yang digunakan sebagai titik ikat pengukuran trase saluran adalah minimal 2 (buah) benchmark yang sudah dipasang pada saat pengukuran situasi skala 1 : 5.000 dan minimal 1 (satu) buah koordinat (x,y) titik tetap Bakosurtanal orde 0 atau orde 1 sedangkan pengukuran tinggi (z) menggunakan titik tetap Bakosurtanal. 2. HASIL DAN DATA YANG HARUS DISERAHKAN KEPADA PIHAK PEMILIK PEKERJAAN 1) Satu hardcopy gambar-gambar berikut : Peta situasi sungai yang dilengkapi dengan garis-garis tinggi skala 1 : 2.000. Gambar-gambar melintang skala 1 : 200 ke arah horizontal dan vertikal. Gambar potongan memanjang sungai dengan skala 1 : 2.000 (ke arah horizontal) dan 1 : 200 (ke arah vertikal). Peta situasi lokasi bendung dengan garis-garis tinggi skala 1 : 500. 2) Semua eksemplar asli dan satu set softcopy dalam bentuk VCD/DVD semua hasil pekerjaan observasi pengukuran dan perhitungan diberi indeks, dijilid dan dilengkapi dengan keterangan/referensi. 3) Hardcopy daftar koordinat dari patok beton yang dibuat, lengkap dengan data-data titik referensi yang digunakan sebagai titik ikat.

4) Hardcopy gambaran letak titik-titik secara lengkap, termasuk elevasinya, koordinat-koordinat dan lima foto dari seluruh benchmark. 5) Tiga salinan/kopi laporan akhir yang meliputi penelitian lapangan, proses serta hasilnya. Laporan tersebut harus merinci metode sebenarnya yang digunakan, ketepatan sebenarnya yang diperoleh, dan kesulitan-kesulitan yang dijumpai serta pemecahannya pada seluruh tahap pekerjaan. Laporan itu meliputi diagram-diagram jaring poligon dan sifat-sifat datar serta penjelasan mengenai semua titiktitik tetap dan titik-titik koordinat. Laporan tersebut tidak boleh semata-mata mengulangi isi ketentuan-ketentuan teknis tetapi harus benar-benar berdasarkan hasil pelaksanaan pekerjaan.
3. PENGUKURAN SITUASI SUNGAI Pengukuran situasi sungai dilaksanakan menggunakan alat Total Station yang dapat menyimpan data dengan perlengkapan lainnya dan Automatic Level, lebih disukai Automatic Level Digital, ketentuan setiap tahap pekerjaan sebagai berikut :

3.1.

Pengamatan GPS

1) Alat ukur yang digunakan minimal 3 (tiga) buah GPS Geodetic model digital yang mempunyai ketelitian 5 mm + 1ppm(H) dan 10 mm + 2 ppm(V) 2) Pengamatan receiver GPS Geodetic dilakukan dengan cara Double Difference berdasarkan data fase dengan metoda Static atau Rapid static (static singkat) dengan alat Receiver GPS single frekuensi (L1) atau dual frekuensi (L1 + L2) 3) Kententuan pengamatan harus mengikuti ketentuan berikut : Satelit yang diamati minimum 4 (empat) buah dalam kondisi tersebar

Besaran GDOP (geometrical dilution of precisition) lebih kecil dari 8 Pengamatan dilakukan siang hari atau malam hari Level aktifitas atmosfer dan ionosfer relative sedang Lama pengamatan berdasarkan panjang baseline Panjang Baseline(km ) 0–5 5 – 10 10 – 30 Statis singkat Statik singkat Statik 90 menit 60 menit 4) Pengamatan GPS dengan data fase digunakan dalam model penentuan posisi relatif untuk menentukan komponen baseline antara dua titik, memastikan bahwa semua receiver melakukan pengamatan terhadap satelit-satelit yang sama secara bersamaan, mengumpulkan data dengan kecepatan dan epoh yang sama. 5) Setiap receiver GPS harus dapat menyimpan data selama mungkin dari minimum 4 (empat) buah satelit dengan kecepatan minimum 4 (empat) epoh dalam 1 (satu) menit masing-masing 15 (lima belas) detik. 6) Tidak diizinkan untuk menggunakan merek dan jenis receiver GPS yang berbeda dalam satu session.
7) Terdapat minimal 1 (satu) titik sekutu yang menghubungkan 2 (dua) session.

Metoda

Lama 1) 30 menit 60 menit

Lama Pengamatan(L1+L2)

Pengamatan Pengamatan(L 15 menit 30 menit

8) Tidak diizinkan untuk mengamati satelit dengan elevasi dibawah 15 derajat. 9) Setelah session pengamatan seluruh data harus di download dan di simpan dalam sebuah CD dan dibuatkan cadangannya.

4) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi troposfer untuk semua data pengamatan.3.96 mm dan d = panjang baseline b.Baseline yang lebih pendek dari 4 (empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0. Reduksi Baseline 1) Geometri dari jaringan harus memenuhi spesifikasi ketelitian dan persyaratan strenght of figure yaitu a.1.dE. . .06 m.03 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0. Baseline yang diamati 2(dua) kali .05 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0.Baseline yang lebih panjang dari 4(empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0. Statistik reduksi baseline Untuk setiap jaring orde 3 standar deviation (s) hasil hitungan dari komponen baseline toposentrik (dN.dH) yang dihasilkan oleh software reduksi baseline harus memenuhi hubungan berikut : σN ≤ σM σE ≤ σM σH ≤ 2σM dimana σM = [102 + (10d)2]1/21.1.10 m 2) Seluruh reduksi baseline harus dilakukan dengan menggunakan software processing GPS yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah yang bereputasi baik 3) Koordinat pendekatan dari titik referensi yang digunakan dalam reduksi baseline tidak boleh lebih dari 10 m dari nilai sebenarnya.

Analisis statistik mengenai residual komponen baseline termasuk jika ditemukan koreksi yang besar pada confidence level yang digunakan. Perataan Jaring 1) Perataan jaring bebas dan terikat dari seluruh jaring harus dilakukan dengan menggunakan software perataan kuadrat terkecil yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah bereputasi baik. Ellip kesalahan titik untuk setiap stasiun/titik.1. Daftar koordinat hasil perataan.5) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi ionosfer untuk semua data pengamatan. Daftar baseline hasil perataan termasuk koreksi dari komponenkomponen hasil pengamatan. 3.3 Analisa 1) Integritas pengamatan jaring harus dinilai berdasarkan : - Analisis dari baseline yang diamati 2 (dua) kali (penilaian keseragaman) - Analisis terhadap perataan kuadrat terkecil jaring bebas (untuk menilai konsistensi data) . Data dual frekuensi harus digunakan untuk mengeliminasi pengaruh ionosfer jika ambiguiti fase single tidak dapat dipecahkan.2. - - - 3.1. 2) Informasi di bawah ini harus dihasilkan dari setiap perataan - Hasil dari test Chi-Square atau Variance Ratio pada residual setelah perataan (test ini harus dapat melalui confidence 99 % yang berarti bahwa data-data tersebut konsisten terhadap model matematika yang digunakan).

2) Masing-masing benchmark akan ditandai dengan sebuah patok beton seperti tampak pada gambar 3.2 Pemasangan Benchmark untuk keperluan pemetaan dan digunakan untuk keperluan proyek irigasi yang akan datang. 3) Bilamana mungkin benchmark-benchmark tersebut harus ditempatkan sesuai dengan kriteria berikut : Patok beton ditempatkan pada tanah keras (hindarkan pemasangan di daerah rawa atau sawah).- Analisis perataan kuadrat terkecil untuk jaring terikat berorde lebih tinggi (untuk menilai konsistensi terhadap titik kontrol) 2) Akurasi komponen horizontal jaring akan dinilai terutama dari analisis ellip kesalahan garis 2D yang dihasilkan oleh perataan jaring bebas 3) Koordinat benchmark dari hasil pengamatan GPS disajikan dalam system proyeksi UTM dan ellipsoid WRG 84. satu untuk masing-masing benchmark kecuali jika benchmark berikutnya dapat dilihat dengan mudah. sebagai tambahan akan dibuat 2 penanda azimut dari beton. Jenis konstruksi untuk penanda azimut diperlihatkan pada gambar S. 1) Benchmark-benchmark akan ditetapkan yang merupakan kontrol . 4) Tinggi benchmark hasil ukuran GPS dikoreksi terhadap besaran undulasi (N) atau dikoreksi terhadap titik MSL yang ada disekitar lokasi. satu benchmark di ujung hulu. Konstruksi penanda azimut akan dibuat pada titik pertama di sepanjang jalur poligon dari benchmark. satu di tengah-tengah (as rencana bendung) dan satu di ujung hilir sepanjang sungai yang diukur 2 (dua) km.1.1. 3.

Sketsa gambaran umum lokasi lengkap dengan deskripsi pendekatan ke sekitar titik tetap. Penanda azimut dapat dideskripsikan dalam formulir lain menurut keinginan pemilik pekerjaan. 4(empat) buah dibuat berdasarkan mata angin dengan daerah sekitarnya dan satu buah dari atas.Patok beton dan tanda lapangan di pasang paling sedikit 10 meter dari tanggul sungai dan di daerah yang tidak akan terkena perubahan. dipasang sedemikian rupa sehingga patok-patok tersebut dapat bertahan selama pengukuran (sekurang-kurangnya 6 bulan). Patok-patok tersebut rata atau hampir rata dengan permukaan tanah dan pada ujungnya diberi paku agar titik yang tepat mudah ditemukan. Patok beton ini akan ditempatkan di sepanjang tanggul sungai. Lima foto untuk setiap patok beton yang sudah terpasang dilengkapi dengan pelat nomor dan baut kuningan. Tanah yang lebih lunak membutuhkan patok-patok yang lebih panjang. 5) Titik-titik poligon selain benchmark dan penanda azimut harus dibuat titik poligon dengan interval 50 m dari patok kayu yang kuat. Sketsa lokasi lengkap dengan jarak-jarak titik detail yang ada di sekitar patok beton dan lokasi patok beton penanda azimut (azimut Mark). antara lain mencakup : Sketsa ukuran (penampang melintang) patok beton yang dibuat. Koordinat-koordinat titik akan ditambahkan pada deskripsi apabila perhitungannya sudah tuntas. Letak titik itu harus terlihat dengan patok lain atau . 4) Semua patok beton harus dijelaskan selengkap mungkin pada saat pemasangan seperti tertera pada gambar 33. ukuran panjang sekurang-kurangnya 30 cm dengan penampang melintang 5 x 5 cm.

kaki-kaki poligon harus melalui patok kayu dan benchmark dan sistem statip tetap (fixed tripod) seperti yang diuraikan di bawah ini dipakai untuk mendapatkan ketelitian yang diisyaratkan.000.0 meter. 5) Statip harus ditempatkan pada tanah yang stabil untuk memperoleh hasil pengamatan sudut horizontal dan jarak yang teliti. 6) Semua theodolit harus dalam keadaan baik dan setelannya akan diperiksa terus selama pengamatan berlangsung.pohon yang mudah dilihat yang jaraknya tidak lebih dari 3. kolimasi akan diperiksa apabila melebihi 1’ (satu menit).000 titik. pelaksana pekerjaan harus 1) Alat ukur yang digunakan adalah Theodolit Total Station yang . beberapa titik dapat di-seislag. 6) Patok kayu dipasang sebelah kiri dan kanan sungai dan harus dilalui poligon. Harus ada nomor titik pada patok dan/atau penanda yang lain.3 Pengukuran Poligon mempunyai ketelitian 5” dengan kemampuan memory minimal 15. 2) Basis poligon meliputi daerah pemetaan yang merupakan jaring-jaring tertutup dan diikatkan ke titik tetap orde 0 atau orde 1 Bakosurtanal dan benchmark skala 1 : 5. titik-titik tetap yang digunakan harus saling berhubungan dengan titik tetap yang lainnya. poligon yang melalui daerah sawah harus diikuti secara hati-hati untuk menghindari lokasi-lokasi sulit di daerah genangan sawah atau pada pematangpematang yang tidak stabil. 4) Untuk kontrol orientasi harus dilakukan pengamatan azimut matahari di ujung-ujung daerah pemetaan sungai. 3) Apabila mungkin titik-titik yang ada akan digunakan sebagai azimut awal dan azimut akhir. 3.

hal yang sama berlaku juga pada waktu dilakukan pengamatan ulang ditempat yang sama. pengukuran sudut horisontal dan jarak dilakukan minimum 2(dua) seri pengamatan. 11)Sebelum pengamatan dilakukan theodolit harus disetel sebaik-baiknya. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke depan. . untuk 1 (satu) seri dengan jumlah urutan pembacaan sebagai berikut : Bidik kiri (FL) untuk bacaan target belakang. 2FR) melebihi 5”. 10) Kedudukan nivo kotak dan pengunting optic harus sering diperiksa dengan bantuan unting-unting gantung dan penyesuaian-penyesuaian dilakukan bilamana perlu. 7) Theodolit harus mampu mengukur sampai 1” (satu detik ) dan dilengkapi dengan komponen yang diperlukan. hanya target dan teodolit saja yang berpindah.menyiapkan semua catatan yang berkenaan dengan pemeriksaan dan penyesuaian peralatan yang dilakukan. Selama pengamatan berlangsung statip dan kiap tersebut harus tetap berada disatu titik. 9) Di titik-titik dimana pekerjaan hari itu berakhir dan pekerjaan hari berikutnya mulai sentering harus dilakukan dengan hati-hati. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke belakang 12) Ketelitian pengukuran poligon : Semua hasil pengamatan direduksi di lapangan jika perbedaan antara keempat harga sudut yang diperoleh (2FL. maka harus dilakukan pengukuran ulang. 8) Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu pada saat melakukan sentering maka perlu digunakan 4 buah statip dan 4 buah kiap (tribrach). Bidik kiri (FL) untuk bacaan target ke depan.

1) Untuk menentukan arah orientasi sungai dilakukan azimut matahari 12) Pengamatan dilakukan sebagai berikut : Bidik kiri (target). Kesalahan penutup linear poligon utama tidak boleh lebih besar dari 1 : 10. Bidik kanan (target) Seri ini merupakan satu kali pengamatan. koreksi ini sangat penting dan dapat dihitung dari hasil bacaan kedudukan gelembung nivo tabung tersebut atau apabila alat theodolit dilengkapi . Bidik kiri (matahari). Bidik kanan (matahari).Toleransi untuk kesalahan penutup sudut terhadap azimut harus 10”√n dimana n adalah jumlah sudut. poligon akan dijaga agar tetap pendek untuk menjamin bahwa kesalahan penutup pada jaring-jaring atau bagian tidak lebih dari 1 m.000 dari panjang totalnya. maka azimut dan/atau sudut-sudut tersebut harus diulang. 3. Hasil rata-rata dari keempat ujung garis tersebut harus mempunyai persamaan lebih dari ± (10 mm + 10 ppm dari jarak) kalau tidak maka pengamatan ulang perlu dilakukan. masing-masing sedikitnya 3(tiga) kali pengamatan.4 Pengukuran Azimut Matahari yang diamati pagi dan sore hari. jika kesalahan penutupnya masih berada dalam toleransi maka sudut itu akan disesuaikan dengan azimut matahari dan jika toleransi tersebut dilampaui. 13) Pembacaan sudut horisontal pada pengamatan azimut matahari harus diberikan koreksi akibat tidak mendatarnya kedudukan alat. dalam satu seri tidak boleh lebih dari 30”.

tabel deklimasi matahari dan tabel refraksi. 14) Metode yang dipakai untuk menentukan azimut tergantung keinginan pelaksana pekerjaan.5 Pengukuran Sipat Datar 1) Pengukuran sipat datar digunakan dengan alat ukur level automatic atau level automatic digital.dengan kompensator otomatis. Pembacaan temperatur dan tekanan udara akan dilakukan untuk keperluan koreksi refraksi. Perlengkapan-perlengkapan tambahan yang diperlukan terdiri dari jam tangan yang ketepatannya dicocokkan satu menit sebelum tanda waktu resmi berbunyi. 2) Semua patok kayu dan benchmark sudah terpasang sebelum dilakukan pengukuran sipat datar. 3. 5) Jika untuk pengukuran azimut digunakan metode sudut waktu maka bisa dilakukan pengamatan pada saat tinggi matahari di bawah 20°. walaupun demikian hal-hal berikut harus diperhatikan bila akan digunakan azimut dengan metode ketinggian matahari. prisma Reoloff. tetapi waktu pengamatan harus jauh lebih teliti. . pemindahan elevasi ke benchmark yang dibuat sesudah selesainya penyipatan datar tidak akan diterima. jika mungkin usahakan ketinggian matahari di bawah 400. dari pembacaan lingkaran vertikal pada sudut kanan pada masing-masing sisi garis bidik. Pengamatan matahari dilakukan apabila tinggi matahari lebih besar dari 200 karena apabila dilakukan pengamatan pada waktu tinggi matahari dibawah 200 refraksi (pembiasan) menjadi terlalu besar dan tidak menentu.

7) Pembacaan rambu tidak boleh dilakukan melebihi 20 cm dari batas bawah rambu dan juga 20 cm dari batas bagian atas rambu. 4) Setiap alat harus dicek kolimasinya (kesalahan garis bidik) setiap hari dengan menggunakan 2 patok-uji (peg test).3) Pengukuran digunakan alat rambu ukur metrik dan tatakan rambu yang terbuat dari metal. untuk jaring sipat datar utama digunakan alat sipat datar digital atau non digital. untuk menghindari kesalahan kolimasi. Tidak dibenarkan melakukan pembidikan silang (intermediate sight). agar rambu ukur selalu tepat vertikal dengan menggunakan stafflevel atau carpenters level (penempatannya harus juga dicek). 8) Untuk membantu pelaksanaan pengukuran titik-titik rincik ketinggian dianjurkan agar titik tinggi sementara dipasang pada waktu . 6) Metode stan ganda (double-stand) pada pengukuran sifat datar tidak boleh digunakan. di mana hasil ukuran disaat alat ditempatkan di tengah harus dibandingkan dengan hasil ukuran disaat alat ditempatkan di dekat salah satu titik. Bidikan ke belakang kira-kira sama dengan bidikan ke muka. Juru ukur harus menginstruksikan kepada pemegang rambu. mid-base atau cara-cara sejenis sampai dengan jarak 100 m. Pelaksana pekerjaan harus membuat catatan lengkap mengenai seluruh hasil pengecekan dan penyesuaian yang telah dilakukan. dalam metode mid-base dicari perbedaan tinggi antara dua titik. Nivo kotak dan kompensator otomatis juga harus selalu dicek secara teratur. Penyesuaian harus dilakukan apabila kesalahan kolimasinya labih dari 0.05 mm/m. jarak bidikan tidak diperkenankan lebih dari 50 m. 5) Rambu ukur ditempatkan pada tatakan dari metal pada setiap pengukuran (kecuali pada benchmark atau benchmark sementara).

9) Juru ukur harus memasukkan data-data mengenai tinggi dan rendahnya hasil ukuran pada setiap formulir yang sudah ditentukan. secara sistematis setiap hari. dimana k adalah jarak dalam km antar benchmark tersebut. tangga rumah. lantai pengeringan padi. dan lain sebagainya. bacaan belakang.6 Pengukuran Situasi Sungai metode potongan melintang sedangkan detail-detail yang ada di antara potongan-potongan melintang akan ditentukan dengan pengukuran rincikan agar variasi dalam relief dapat digambarkan dengan tepat pada waktu dilakukan penggambaran kontur. hanya merupakan pengecekan aritmatik dapat menghindarkan kesalahan yang tidak terlihat karena data yang tidak benar. dan muka harus sama dengan hasil beda tinggi (∆h). Titik-titik tersebut ditandai serta dicatat secara lengkap. beda tinggi ∆h (+ dan -) harus dijumlahkan. 10) Pengecekan harus dilakukan pada setiap halaman dan setiap bagian pengukuran sipat datar. perbedaan antara kedua harga untuk masing-masing seksi harus kurang dari 10√k mm. sudut. bacaan muka. dan tinggi diukur langsung di lapangan dengan menggunakan alat total station. 3. 2) Semua jarak. serta harus ditandatangani oleh juru ukur yang bersangkutan.pengukuran sipat datar utama antara lain : gorong-gorong. 1) Menentukan elevasi tanah untuk situasi sungai akan dilakukan dengan . Perbedaan antara hasil bacaan belakang. 11) Ketelitian sipat datar sebagai berkut : Jalur utama yang pada umumnya merupakan jaring tertutup yang terikat dengan titik referensi harus diukur dua kali yaitu pergi dan pulang.

4) Letak potongan-potongan melintang akan ditetapkan dengan menggunakan patok-patok kayu yang sudah dipasang. 9) Bahan-bahan khusus yang dijumpai di permukaan tanah.6. patok beton dan vegetasi (jenis dan kerapatannya) akan dicatat. 6) Potongan melintang yang akan diukur akan membentang sedikitdikitnya 250 m di kedua sisi as sungai atau mengikuti petunjuk dari pemilik pekerjaan.0 meter untuk potongan yang berbelok atau menurut petunjuk pemilik pekerjaan. 5) Poligon harus tertutup terhadap titik terdekat yang sudah ditetapkan (benchmark atau penanda azimut) guna mencek ketelitian.1 Pengukuran Titik Rincik Antara Potongan Melintang 1) Titik-titik tinggi di antara potongan-potongan melintang akan dicatat sebagai berikut: . 3. jalan. 7) Semua jalan air berapapun ukurannya (saluran. pembuang. gorong-gorong. poligon (garis kerangka peta situasi sungai) yang terbentuk oleh patok-patok itu. rawa-rawa. 10)Ketinggian potongan melintang akan dicatat dalam software total station.000. elevasi dan arah aliran. pagar. fasilitas. jembatan. akan sedekat mungkin mengikuti alur sungai yang ditunjukkan pada peta skala 1 : 5. tanah longsor dan sebagainya harus dicatat.3) Jarak antara potongan melintang yang akan diambil tegak lurus terhadap as sungai adalah sekitar 50. seperti batuan. 8) Semua tampakan seperti rumah-rumah. parit-parit di sawah) akan diamati termasuk lebar dasar.0 meter untuk saluran lurus dan 25.

25 meter atau pada setiap 20 meter di lapangan mana saja yang lebih segera dapat dicapai. Daerah landai titik-titik tinggi akan diambil dengan beda tinggi maksimum 0. lembah dan semacamnya.Posisi tinggi diukur dengan cara tacheometri untuk daerah terjal. untuk daerah sawah yang kering rambu ukur harus ditempatkan tepat ditengah. 3) Pada daerah sawah titik rincik ketinggian harus ada pada setiap sawah tersebut yang kira-kira jaraknya lebih dari 50 x 50 m. titik-titik tinggi dengan jarak yang lebih pendek agar bisa diperoleh gambar yang lebih jelas dengan situasi lengkap di daerah ini. 2) Pada umumnya titik-titik tinggi harus dicantumkan di semua lokasi di mana kemiringan bisa berubah dan di tempat-tempat di mana bisa terjadi perubahan ketinggian secara mendadak. Cara tacheometri hanya dapat dipakai untuk penentuan tinggi titik rincik di daerah curam dan hanya atas persetujuan pemilik pekerjaan. untuk daerah pengukuran yang tidak luas selang/jarak antara tiap titik kirakira 75 m. untuk daerah sawah basah rambu ukur boleh ditempatkan di tepi sawah tersebut (tidak di pematang). rambu ukur tidak boleh ditenggelamkan pada tanah sawah tersebut tetapi diletakkan setinggi permukaan tanah sawah dan harus dilakukan dengan hati-hati. Jarak ke titik-titik rincik tidak boleh lebih dari 20 m. Daerah yang tidak teratur misalnya di daerah berbukit-bukit. Posisi titik dan jarak langsung diukur dengan alat total station dan dicatat dengan penjelasan singkat mengenai posisi titik rincik. tanggul jalan (bagian atas atau bawah). perbatasan kampung. . kampung. dasar sungai. misalnya sawah.

4) Lokasi dari titik rincik tersebut harus diletakkan pada perbatasan antara kampung dan sawah. apabila jalan melewati sawah maka titik rincik tersebut harus ditempatkan satu titik pada jalan dan titik lainnya pada kedua sisi sawah. Reduksi.7 Pencatatan. 6) Ketinggian relatif tinggi titik rincik harus memenuhi ketelitian ± 5 cm. dan Pemrosesan Hasil Pengamatan di Lapangan . satu titik pada sawah yang lainnya di kampung. 6) Pelaksana pekerjaan harus memeriksa apakah rincik ketinggian di lapangan sudah diamati secara memadai sesuai dengan perubahanperubahan elevasi antara rincik ketinggian dan detail yang diperlihatkan dalam peta. 8) Semua titik rincik diberi nomor yang jelas sehingga pemeriksaan yang dilakukan lewat lembar-lembar pengamatan pada tahap berikutnya akan lebih mudah. posisi titik-titik tersebut ditandai dengan koma (titik) desimal dari harga ketinggiannya atau koma yang terpisah dengan menggunakan tanda panah apabila detailnya menjadi kabur karena nomor-nomor lokasi sebelumnya.6. 3. 5) Rincik ketinggian akan diambil sepanjang dasar dari lembah-lembah baik yang memiliki anak sungai maupun yang tidak dan pada punggung bukit serta pada titik-titik bukit yang teratas. 7) Harga tinggi titik rincik dihitung sampai dengan sentimeter terdekat. 3.2 Ketelitian Titik Rincik 1) Seluruh perhitungan rincik ketinggian harus diselesaikan dan diperiksa ketelitiannya sebelum meninggalkan lapangan.

nomor alat juga penjelasan-penjelasan lainnya seperti ketinggian alat. azimut matahari. 3) Seluruh laporan pengamatan yang dilakukan di lapangan dalam bentuk hardware dan VCD/DVD diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. seluruh lembar data harus disertai tanggal dan tanda tangan pengamat dan orang yang telah melakukan pemeriksaan.y) termasuk juga koreksi kesalahan titik nol alat. dan perhitungan titik detail menggunakan software distributor alat merk apa saja yang berlaku di Indonesia. dan koreksi faktor skala dimana dianggap perlu. hal ini menyangkut nama pengamat.7. reduksi. 2) Pengamatan di lapangan perlu direduksi setiap harinya lalu ditandatangani. 3. temperatur dan tekanan udara. termasuk juga bagian-bagian yang telah diulang.1 Pencatatan 1) Seluruh proses perhitungan koodinat (x. yang disebut terakhir ini harus ditandai dengan jelas sehingga bisa saling dicocokkan.Pencatatan. nomor titik. pemrosesan hasil pengamatan di lapangan harus mengikuti ketentuan di bawah ini : 3. 2) Penjelasan-penjelasan yang dibutuhkan di fotocopi dari rekaman software dimasukkan ke lembar pengamatan sementara pekerjaan berlangsung. disertai tanggal pemeriksaan oleh pelaksana .y) perlu direduksi dan dirata-ratakan pada setiap titik dan diperiksa apakah memenuhi toleransi yang sudah ditetapkan.7.2 Reduksi 1) Koordinat (x. tinggi (z) terhadap permukaan air laut rata-rata.y) dalam proyeksi UTM. tanggal. reduksi koordinat (x.

∑ Perbedaan tinggi (∆h).7. Penyesuaian kesalahan koordinat. Perhitungan ∆h untuk seksi-seksi antara titik-titik tetap (benchmark) . ∑ Bacaan muka. hal ini berarti bahwa koreksi dalam koordinat x sama dengan : Salah penutup dalam koordinat x . 3. Penghitungan dari ∆x dan ∆y untuk mencek hasil planimetrik. hasil pengamatan serta hasil hitungannya segera dikirim ke kantor pelaksana pekerjaan untuk dilakukan perhitungan akhir. 2) Untuk kontrol planimeter ini meliputi : Pengecekan hasil penghitungan koordinat. 5) Penyesuaian titik-titik poligon harus sesuai dengan jarak. bila sudah diarsipkan. Pengecekan penutup koordinat tertutup.pekerjaan. agar memperoleh ketinggian yang tepat untuk dipakai pada perhitungan rincik ketinggian nantinya. 3) Untuk kontrol ketinggian kegiatan pemrosesan ini meliputi : Pemeriksaan hasil hitungan dari ∑ Bacaan belakang. hasil pengamatan harus disimpan dengan rapi dan diberi nomor referensi agar mudah dicari bilamana diperlukan dikemudian hari. 4) Apabila hasil pekerjaan lapangan telah disetujui oleh pengawas. Perhitungan dari tiap loop/kring. Perataan dari loop dengan metode Dell (atau metode lainnya). Pengecekan azimut antara titik-titik triangulasi dan hasil pengamatan.3 Pemrosesan Data 1) Penghitungan harus dilakukan di lapangan untuk memeriksa apakah pengamatan telah sesuai dengan standar ketelitian. hasil-hasil pengamatan itu tidak boleh dibawa ke lapangan lagi.

pengamatan dan informasi seperti yang didaftar dibawah ini harus diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan dalam bentuk hardware dan VCD atau DVD untuk mendapatkan persetujuan sementara. diragukan. 4. tujuannya adalah untuk menjaga kesamaan garis kontur pada seluruh lembar peta (kecuali di daerah yang sangat curam/terjal). ∆y dari setiap loop atau jalur koordinat antara titik-titik simpul dan kesalahan penutup fraksi yang dipilih dengan jumlah titik. tidak dipakai lagi.x jarak akumulasi jumlah jarak poligon seluruhnya Hal yang sama berlaku untuk koodinat y.--------------------------------------------------. azimut kontrol atau azimut yang diperoleh dari loop yang berdekatan.000 dengan kemiringan untuk situasi sungai akan ditunjukkan dengan interpolasi kontur 0. 7) Urutan cara perhitungan loop atau jalur koordinat antara benchmark. mengikuti ketentuan dibawah ini : 4. 6) Seluruh hasil penghitungan. 8) Kesalahan penutup sudut pada setiap bagian/seksi. 10) Detail-detail hasil pengamatan yang ditolak. walaupun demikian . PENGGAMBARAN SITUASI DAN POTONGAN MEMANJANG / MELINTANG SUNGAI Penggambaran dilakukan dengan Autocad ukuran A-1 type apa saja yang dikeluarkan dari distributor tunggal yang berlaku di Indonesia. 9) Kesalahan penutup linier ∆x.1 Peta Situasi Sungai 1) Secara umum peta situasi sungai skala 1 : 2. bersama-sama dengan jumlah titik dalam setiap seksi. 2) Kriteria yang diberikan hanya merupakan panduan saja.5 meter dan indeks kontur harus ada pada interval 5 m.

1 mm kecuali untuk indeks kontur digunakan ukuran 0.5 mm. termasuk informasi mengenai datum (duga) titik tinggi dan sumber informasi yang dipakai. 5) Titik rincik harus digambar selambat-lambatnya sebelum penggambaran halus garis kontur dan sebelum dilakukan interpolasi garis kontur atau editing.3 mm. peta-peta dilengkapi dengan keterangan (legenda) situasi menurut . 9) Kertas yang akan dipakai adalah transparan stabil atau yang sejenis. tanggul. angka harus ditulis dengan tinggi tulisan 2. 7) Semua garis kontur digambar dengan menggunakan ukuran 0. jalan. 6) Titik rincik harus ditulis dengan menggunakan ukuran 1. 3) Apabila ada 2 (dua) kontur atau lebih yang berdekatan dan hampir berimpit (misalnya batas kampung.perubahan interval dalam lembar peta akan diizinkan dalam hal adanya perubahan kecuraman menyeluruh dalam suatu daerah tetapi tidak dalam hal perubahan kemiringan setempat. harga-harga garis kontur dituliskan hanya pada indeks kontur setiap lima garis kontur. dan pada sisi peta garis silangnya sepanjang 5 mm dan koordinat-koordinat garis silang ditulis di dalam atau di luar batas lembar peta bergantung dari keinginan pemilik pekerjaan. 8) Garis silang (grid) panjang 10 x 10 mm. letak titik rincik harus diindikasikan sampai dengan fraksi desimal. kelokan saluran) kontur digambarkan dengan garis putus-putus . koordinat-koordinat tersebut ditulis dengan selang 250 m sepanjang keempat sisi dari peta.5 mm. 4) Detail mengenai metode kontur yang digunakan harus jelas dicantumkan pada semua lembar peta. jika bentuk detail terganggu oleh harga titik rincik maka angkanya dapat ditulis di sebelahnya.

elevasi banjir besar. Arah utara akan ditunjukkan pada setiap lembar. 10) Persyaratan kartografi peta situasi sungai adalah sebagai berikut : Pada tiap lembar set peta akan menjelaskan peta kunci petunjuk lembar. dengan perencanaan. Garis hubung untuk lembar di sebelahnya dari masing-masing peta adalah berupa garis koordinat.2 Peta Potongan Melintang . Semua benchmark akan ditunjukkan dalam semua gambar yang bersangkutan. 4. sawah dan bangunan-bangunan yang ada. kelompok rumah. Pada gambar-gambar tersebut aliran sungai akan diarahkan dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Peta-peta itu akan memperlihatkan semua tampakan (feature) buatan yang biasanya ditunjukkan pada peta-peta situasi. termasuk elevasi tanah desa. hutan belantara dan rawa-rawa. tanpa pertampalan (overlap). padang rumput. hutan. daerah-daerah berpasir atau berbatu-batu.standar yang berlaku berkenaan dengan ukuran garis. jalan. arsiran dan symbol yang diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. Semua titik-titik poligon akan diplot dengan koordinat-koordinat. sebelum memplot penunjuk ketinggian. Tampakantampakan ini termasuk (tetapi tidak perlu dibatasi sampai pada) halhal berikut : batas-batas dan jenis pengolahan tanah. parit. deskripsi dan elevasi. batu singkapan. saluran. batas-batas desa.

Tinggi muka air di sungai (kalau ada) pada hari-hari pengukuran dan bahan-bahan dasar kontruksi. hal-hal berikut akan ditunjukkan : Nomor-nomor potongan melintang. Potongan melintang akan digambar dengan skala 1 : 200 ke arah horisontal dan vertikal. Tinggi dasar sungai pada as sungai tersebut. 1) Gambar potongan melintang sungai akan diturunkan dari potongan . panjang potongan memanjang adalah jarak total antara potongan-potongan melintang pada sungai.Pada gambar-gambar tersebut yang menunjukkan potongan-potongan melintang sungai. dengan ketentuan sebagai berikut : Nomor masing-masing potongan melintang Semua titik-titik tinggi profil melintang dan jarak antara titik-titik tersebut.3 Peta Potongan Memanjang melintang. 4. Tinggi tanggul kiri. 2) Pada gambar itu. Tinggi tanggul kanan. yang memperlihatkan potongan memanjang saluran. Potongan-potongan melintang akan digambar menghadap ke arah aliran hilir. Palung yang sudah ditetapkan (titik terdalam di dasar sungai). garisgaris palung potongan melintang yang muncul pada satu gambar akan digambar vertikal satu di atas yang lain. Jarak antara potongan-potongan melintang dan jarak akumulasi bentang sungai.

kecuali ada ketentuan lain. ketentuan setiap tahap pekerjaan sebagai berikut : 5. pengukuran situasi dengan menggunakan alat Total Station yang dapat menyimpan data dengan perlengkapan lainnya dan Automatic Level. Jarak vertikal atau ketinggian akan digambar dengan skala 1 : 200. PENGUKURAN LOKASI BENDUNG Pengukuran bersamaan situasi dengan lokasi bedung dilaksanakan sungai.Panjang sungai (jarak horisontal pada palung) akan digambar dengan skala 1 : 2.000. 5.1 Pengamatan GPS 1) Alat ukur yang digunakan minimal 3 (tiga) buah GPS Geodetic model digital yang mempunyai ketelitian 5 mm + 1ppm(H) dan 10 mm + 2 ppm(V) 2) Pengamatan receiver GPS Geodetic dilakukan dengan cara Double Difference berdasarkan data fase dengan metoda Static atau Rapid static (static singkat) dengan alat Receiver GPS single frekuensi (L1) atau dual frekuensi (L1 + L2) 3) Kententuan pengamatan harus mengikuti ketentuan berikut : Satelit yang diamati minimum 4 (empat) buah dalam kondisi tersebar Besaran GDOP (geometrical dilution of precisition) lebih kecil dari 8 Pengamatan dilakukan siang hari atau malam hari Level aktifitas atmosfer dan ionosfer relative sedang Lama pengamatan berdasarkan panjang baseline . lebih disukai Automatic Level Digital.

1. 7) Terdapat minimal 1 (satu) titik sekutu yang menghubungkan 2 (dua) session. memastikan bahwa semua receiver melakukan pengamatan terhadap satelit-satelit yang sama secara bersamaan. 8) Tidak diizinkan untuk mengamati satelit dengan elevasi dibawah 15 derajat. 5.1. 6) Tidak diizinkan untuk menggunakan merek dan jenis receiver GPS yang berbeda dalam satu session.Panjang Baseline (km) 0–5 5 – 10 10 – 30 Metoda Pengam atan Statis singkat Statik singkat Statik Lama Pengamat an(L1) 30 menit 60 menit 90 menit Lama Pengamatan(L1+L2) 15 menit 30 menit 60 menit 4) Pengamatan GPS dengan data fase digunakan dalam model penentuan posisi relatif untuk menentukan komponen baseline antara dua titik. 9) Setelah session pengamatan seluruh data harus di download dan di simpan dalam sebuah CD dan dibuatkan cadangannya. mengumpulkan data dengan kecepatan dan epoh yang sama. 5) Setiap receiver GPS harus dapat menyimpan data selama mungkin dari minimum 4 (empat) buah satelit dengan kecepatan minimum 4 (empat) epoh dalam 1 (satu) menit masing-masing 15 (lima belas) detik. Reduksi Baseline .

4) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi troposfer untuk semua data pengamatan.96 mm dan d = panjang baseline b. Statistik reduksi baseline Untuk setiap jaring orde 3 standar deviation (s) hasil hitungan dari komponen baseline toposentrik (dN. 5) Proses reduksi baseline harus mampu menghitung besarnya koreksi ionosfer untuk semua data pengamatan.dE.Baseline yang lebih panjang dari 4(empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0.Baseline yang lebih pendek dari 4 (empat) km Komponen lintang dan bujur dari kedua baseline tidak boleh berbeda lebih besar dari 0. Data dual frekuensi harus . .06 m.dH) yang dihasilkan oleh software reduksi baseline harus memenuhi hubungan berikut : σN ≤ σM σE ≤ σM σH ≤ 2σM dimana σM = [102 + (10d)2]1/21.03 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0.10 m 2) Seluruh reduksi baseline harus dilakukan dengan menggunakan software processing GPS yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah yang bereputasi baik 3) Koordinat pendekatan dari titik referensi yang digunakan dalam reduksi baseline tidak boleh lebih dari 10 m dari nilai sebenarnya.1) Geometri dari jaringan harus memenuhi spesifikasi ketelitian dan persyaratan strenght of figure yaitu : a. Baseline yang diamati 2(dua) kali .05 m sedangkan komponen tinggi tidak boleh berbeda lebih dari 0.

3 Analisa 1) Integritas pengamatan jaring harus dinilai berdasarkan : - Analisis dari baseline yang diamati 2 (dua) kali (penilaian keseragaman) - Analisis terhadap perataan kuadrat terkecil jaring bebas (untuk menilai konsistensi data) Analisis perataan kuadrat terkecil untuk jaring terikat berorde lebih tinggi (untuk menilai konsistensi terhadap titik kontrol) - .2. 5. - - - 5. Daftar koordinat hasil perataan. Ellip kesalahan titik untuk setiap stasiun/titik.digunakan untuk mengeliminasi pengaruh ionosfer jika ambiguiti fase single tidak dapat dipecahkan. Analisis statistik mengenai residual komponen baseline termasuk jika ditemukan koreksi yang besar pada confidence level yang digunakan. Perataan Jaring 1) Perataan jaring bebas dan terikat dari seluruh jaring harus dilakukan dengan menggunakan software perataan kuadrat terkecil yang telah dikenal dibuat oleh agen software atau badan peneliti ilmiah bereputasi baik.1.1. 2) Informasi di bawah ini harus dihasilkan dari setiap perataan - Hasil dari test Chi-Square atau Variance Ratio pada residual setelah perataan (test ini harus dapat melalui confidence 99 % yang berarti bahwa data-data tersebut konsisten terhadap model matematika yang digunakan). Daftar baseline hasil perataan termasuk koreksi dari komponenkomponen hasil pengamatan.

pengukuran ketentuannya mengikuti ketentuan seperti di atas.3 Metoda Pengukuran di Lapangan Pengukuran bersamaan poligon dengan dan sipat datar situasi dilakukan sungai.0 meter.2 Pemasangan Benchmark untuk keperluan pemetaan dan digunakan untuk keperluan proyek irigasi yang akan datang. 4) Tinggi benchmark hasil ukuran GPS dikoreksi terhadap besaran undulasi (N) atau dikoreksi terhadap titik MSL yang ada disekitar lokasi. 3) Patok kayu dipasang sebelah kiri dan kanan sungai dan harus dilalui poligon. 1) Benchmark-benchmark akan ditetapkan yang merupakan kontrol 2) Titik-titik poligon selain benchmark harus dibuat titik poligon dengan interval 15 m dari patok kayu yang kuat. harus ada nomor titik pada patok dan/atau penanda yang lain. 5.2) Akurasi komponen horizontal jaring akan dinilai terutama dari analisis ellip kesalahan garis 2D yang dihasilkan oleh perataan jaring bebas 3) Koordinat benchmark dari hasil pengamatan GPS disajikan dalam system proyeksi UTM dan ellipsoid WRG 84. letak titik itu harus terlihat dengan patok lain atau pohon yang mudah dilihat yang jaraknya tidak lebih dari 3. satu di tengah-tengah (as rencana bendung) yang sudah terpasang pada saat pengukuran sungai dan satu di seberang sungai as rencana bendung. 5. beberapa titik dapat di-seislag. .

kolimasi akan diperiksa apabila melebihi 1’ (satu menit). .5. 6) Semua theodolit harus dalam keadaan baik dan setelannya akan diperiksa terus selama pengamatan berlangsung. kaki-kaki poligon harus melalui patok kayu dan benchmark dan sistem statip tetap (fixed tripod) seperti yang diuraikan di bawah ini dipakai untuk mendapatkan ketelitian yang diisyaratkan. 7) Theodolit harus mampu mengukur sampai 1” (satu detik ) dan dilengkapi dengan komponen yang diperlukan. 5) Statip harus ditempatkan pada tanah yang stabil untuk memperoleh hasil pengamatan sudut horizontal dan jarak yang teliti. 2) Basis poligon meliputi daerah pemetaan yang merupakan jaring-jaring tertutup dan diikatkan ke titik tetap orde 0 atau orde 1 Bakosurtanal dan benchmark skala 1 : 5. titik-titik tetap yang digunakan harus saling berhubungan dengan titik tetap yang lainnya. 4) Untuk kontrol orientasi harus dilakukan pengamatan azimut matahari di ujung-ujung daerah pemetaan sungai.000.000 titik. pelaksana pekerjaan harus menyiapkan semua catatan yang berkenaan dengan pemeriksaan dan penyesuaian peralatan yang dilakukan. 3) Apabila mungkin titik-titik yang ada akan digunakan sebagai azimut awal dan azimut akhir. poligon yang melalui daerah sawah harus diikuti secara hati-hati untuk menghindari lokasi-lokasi sulit di daerah genangan sawah atau pada pematangpematang yang tidak stabil.3.1 Pengukuran Poligon 1) Alat ukur yang digunakan adalah Theodolit Total Station yang mempunyai ketelitian 5” dengan kemampuan memory minimal 15.

8) Untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang tidak perlu pada saat melakukan sentering maka perlu digunakan 4 buah statip dan 4 buah kiap (tribrach). Bidik kiri (FL) untuk bacaan target ke depan. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke depan. 10) Kedudukan nivo kotak dan pengunting optic harus sering diperiksa dengan bantuan unting-unting gantung dan penyesuaian-penyesuaian dilakukan bilamana perlu. 2FR) melebihi 5”. jika kesalahan penutupnya masih berada dalam toleransi maka sudut itu akan disesuaikan . 9) Di titik-titik dimana pekerjaan hari itu berakhir dan pekerjaan hari berikutnya mulai sentering harus dilakukan dengan hati-hati. Selama pengamatan berlangsung statip dan kiap tersebut harus tetap berada disatu titik. 11)Sebelum pengamatan dilakukan theodolit harus disetel sebaik-baiknya. hanya target dan teodolit saja yang berpindah. untuk 1 (satu) seri dengan jumlah urutan pembacaan sebagai berikut : Bidik kiri (FL) untuk bacaan target belakang. Bidik kanan (FR) untuk bacaan target ke belakang 12) Ketelitian pengukuran poligon : Semua hasil pengamatan direduksi di lapangan jika perbedaan antara keempat harga sudut yang diperoleh (2FL. pengukuran sudut horisontal dan jarak dilakukan minimum 2(dua) seri pengamatan. hal yang sama berlaku juga pada waktu dilakukan pengamatan ulang ditempat yang sama. maka harus dilakukan pengukuran ulang. Toleransi untuk kesalahan penutup sudut terhadap azimut harus 10”√n dimana n adalah jumlah sudut.

Nivo kotak dan kompensator otomatis juga harus selalu dicek secara teratur. mid-base atau cara-cara sejenis sampai dengan jarak 100 m. maka azimut dan/atau sudut-sudut tersebut harus diulang. untuk jaring sipat datar utama digunakan alat sipat datar digital atau non digital.3.000 dari panjang totalnya. Hasil rata-rata dari keempat ujung garis tersebut harus mempunyai persamaan lebih dari ± (10 mm + 10 ppm dari jarak) kalau tidak maka pengamatan ulang perlu dilakukan.2 Pengukuran Sipat Datar 1) Pengukuran sipat datar digunakan dengan alat ukur level automatic atau level automatic digital. poligon akan dijaga agar tetap pendek untuk menjamin bahwa kesalahan penutup pada jaring-jaring atau bagian tidak lebih dari 1 m. Penyesuaian harus dilakukan apabila kesalahan kolimasinya labih dari 0. Pelaksana pekerjaan harus membuat catatan lengkap . pemindahan elevasi ke benchmark yang dibuat sesudah selesainya penyipatan datar tidak akan diterima. Kesalahan penutup linear poligon utama tidak boleh lebih besar dari 1 : 10. 2) Semua patok kayu dan benchmark sudah terpasang sebelum dilakukan pengukuran sipat datar.05 mm/m. di mana hasil ukuran disaat alat ditempatkan di tengah harus dibandingkan dengan hasil ukuran disaat alat ditempatkan di dekat salah satu titik.dengan azimut matahari dan jika toleransi tersebut dilampaui. 5. 4) Setiap alat harus di cek kolimasinya (kesalahan garis bidik) setiap hari dengan menggunakan 2 patok-uji (peg test). dalam metode mid-base dicari perbedaan tinggi antara dua titik. 3) Pengukuran digunakan alat rambu ukur metrik dan tatakan rambu yang terbuat dari metal.

lantai pengeringan padi. beda tinggi ∆h (+ dan -) harus dijumlahkan. bacaan muka. untuk menghindari kesalahan kolimasi. 8) Untuk membantu pelaksanaan pengukuran titik-titik rincik ketinggian dianjurkan agar titik tinggi sementara dipasang pada waktu pengukuran sipat datar utama antara lain : gorong-gorong. 9) Juru ukur harus memasukkan data-data mengenai tinggi dan rendahnya hasil ukuran pada setiap formulir yang sudah ditentukan. 6) Metode stan ganda (double-stand) pada pengukuran sifat datar tidak boleh digunakan. bacaan belakang.mengenai seluruh hasil pengecekan dan penyesuaian yang telah dilakukan. agar rambu ukur selalu tepat vertikal dengan menggunakan stafflevel atau carpenters level (penempatannya harus juga dicek). tangga rumah. Juru ukur harus menginstruksikan kepada pemegang rambu. Perbedaan antara hasil bacaan belakang. jarak bidikan tidak diperkenankan lebih dari 50 m. dan muka harus sama dengan hasil beda tinggi (∆h). Titik-titik tersebut ditandai serta dicatat secara lengkap. hanya merupakan pengecekan aritmatik dapat menghindarkan kesalahan yang tidak terlihat karena data yang tidak benar. 5) Rambu ukur ditempatkan pada tatakan dari metal pada setiap pengukuran (kecuali pada benchmark atau benchmark sementara). dan lain sebagainya. Bidikan ke belakang kira-kira sama dengan bidikan ke muka. . Tidak dibenarkan melakukan pembidikan silang (intermediate sight). 7) Pembacaan rambu tidak boleh dilakukan melebihi 20 cm dari batas bawah rambu dan juga 20 cm dari batas bagian atas rambu.

3 Pengukuran Situasi Sungai 1) Menentukan elevasi tanah untuk situasi lokasi bendung akan dilakukan dengan metode potongan melintang sedangkan detail-detail yang ada di antara potongan-potongan melintang akan ditentukan dengan pengukuran rincikan agar variasi dalam relief dapat digambarkan dengan tepat pada waktu dilakukan penggambaran kontur. 5. perbedaan antara kedua harga untuk masing-masing seksi harus kurang dari 10√k mm. patok-patok kayu tersebut ditetapkan sebagai titik-titik poligon. 4) Letak dari potongan-potongan melintang tersebut ditetapkan dengan patok-patok kayu. titik-titik tinggi akan diambil pada potonganpotongan melintang tersebut setiap 5 m demikian juga lokasi antara profil melintang. secara sistematis setiap hari.3. 2) Luas lokasi bendung termasuk pekerjaan-pekerjaan pelengkap. masing-masing di satu sisi sungai. serta harus ditandatangani oleh juru ukur yang bersangkutan. dimana k adalah jarak dalam km antar benchmark tersebut. 11) Ketelitian sipat datar sebagai berkut : Jalur utama yang pada umumnya merupakan jaring tertutup yang terikat dengan titik referensi harus diukur dua kali yaitu pergi dan pulang. . tanggul banjir dan tanggul penutup akan diukur dengan potongan melintang setiap 15 m. 3) Potongan-potongan melintang yang akan diukur akan mencakup sekurang-kurangnya 50 m dari sisi sungai kiri dan kanan atau sebagaimana ditunjukkan oleh pemilik pekerjaan.10)Pengecekan harus dilakukan pada setiap halaman dan setiap bagian pengukuran sipat datar.

2) Titik rincik harus ditulis dengan menggunakan ukuran 1. dan pada sisi peta garis silangnya sepanjang 5 mm dan koordinat-koordinat garis silang ditulis di dalam atau di luar batas lembar peta bergantung dari keinginan pemilik pekerjaan. pemrosesan hasil pengamatan di lapangan harus mengikuti ketentuan di atas. 6. 4) Garis silang (grid) panjang 10 x 10 mm. dan Pemrosesan Hasil Pengamatan di Lapangan Pencatatan. mengikuti ketentuan dibawah ini : 1) Secara umum peta situasi lokasi bendung skala 1 : 500 dengan kemiringan untuk situasi lokasi bendung akan ditunjukkan dengan interpolasi kontur 0.3 mm. 3) Semua garis kontur digambar dengan menggunakan ukuran 0. Reduksi. koordinat-koordinat tersebut ditulis dengan selang . letak titik rincik harus diindikasikan sampai dengan fraksi desimal. indeks kontur harus ada pada interval 1 m. 5. harga-harga garis kontur dituliskan hanya pada indeks kontur setiap lima garis kontur. PENGGAMBARAN SITUASI LOKASI BENDUNG Penggambaran dilakukan dengan Autocad ukuran A-1 type apa saja yang dikeluarkan dari distributor tunggal yang berlaku di Indonesia. jika bentuk detail terganggu oleh harga titik rincik maka angkanya dapat ditulis di sebelahnya.5 mm.1 mm kecuali untuk indeks kontur digunakan ukuran 0.5) Ketelitian titik-titik tinggi potongan melintang ditentukan sebagaimana diuraikan di atas.4 Pencatatan.1 meter. reduksi.

5) Kertas yang akan dipakai adalah transparan stabil atau yang sejenis.50 m sepanjang keempat sisi dari peta.5 mm. angka harus ditulis dengan tinggi tulisan 2. arsiran dan symbol yang diserahkan kepada pihak pemilik pekerjaan. 6) Ketentuan lainnya mengikuti ketentuan di atas. . peta-peta dilengkapi dengan keterangan (legenda) situasi menurut standar yang berlaku berkenaan dengan ukuran garis.

3. memakai foto udara yang mencakup luas sekitar 30. Diagram di atas memperlihatkan suatu blok pemetaan seluas 25. Kontrol tinggi fotogrametri diperlukan pada setiap interval 4 (empat) panjang basis sepanjang masing-masing ujung setiap strip/jalur.Z) harus ada plan and height control (X.Z) kontrol tinggi saja ( Z ) *) height control only ( Z ) *) penentuannya terserah pelaksana pekerjaan disposition at discretion of contractor CATATAN UNTUK GAMBAR 1 1.000 ha dalam 12 strip/jalur terbang di mana setiap jalur. Keempat titik sudut harus ditempatkan pada x. Persyaratan blok PAT-M/PAT-B.Y.Y.y dan z.y dan z dan penempatan tinggi-tingginya harus diketahui dari foto identifikasi (jika tidak ada premark). 2. 4. Jadi kontrol tersebut sudah siap ditempatkan untuk x.Y.Z) *) plan and height control (X. begitu juga skala fotonya. Bagaimanapun juga penempatan kontrol horizontal mungkin bervariasi tetapi Direktorat Irigasi dalam hal ini hanya memperlihatkan suatu contoh yang paling sedikitnya harus memenuhi syarat seperti pada diagram di atas.y. jumlah keseluruhan titik-titik kontrol yang diperlihatkan adalah 65 buah.Z) obligatory kontrol denah dan tinggi (X. dengan penyebaran yang cukup seragam di seluruh blok. dengan titik berat pada sudut-sudut untuk menghindarkan terjadinya kesalahan besar. termasuk kontrol di sekeliling perimeter. akan selalu menyebabkan penyimpangan- .000 ha dan tercakup pada foto udara dengan skala 1 : 10.Y.000 dengan pertampalan (overlap) 60 % (muka dan belakang) dan 30 % pertampalan samping. Daerah pemetaan yang tidak teratur dan perhimpitannya bervariasi.z).panjang 4 basis 4 base lengths ujung blok Pat-M/Pat-B edge of Pat-M/Pat-B block batas daerah pemetaan mapping area boundary pertampalan batas jalur harus rapi neat overlap boundary of strips kontrol denah dan tinggi (X. Hal ini berhubungan erat dengan kerapatan benchmark (x. masing-masing terdiri dari 17 model.

penyimpangan dari keseimbangan ideal antara persyaratan-persyaratan teknik dan kontrol fotogrametris.

Gambar 1 Contoh Skema Kontrol Untuk Triangulasi Udara

30

20 150 20 150 20 30 400

titik tetap benchmark

kerangka penyangga dari kayu atau kaso wooden supports

plastik kuning yellow plastic sheets

150

50

30

20

400

Gambar 2 Konstruksi Tanda Lapangan

150

PROYEK DI IDENTIFIKASI OLEH TANGGAL
SKETS :

FOTO IDENTIFIKASI SKETS DARI FOTO IDENTIFIKASI FOTO

FP 26 RUN 7 : 16 RUN 7 : 15.16

u KH 26/1 POHON

KH 26

19.8m KH 25/8 A B rumah pagar SETAPAK JALAN

135 mm

58 mm 95 mm

CATATAN 1. FP 26 A terletak di samping atap rumah,

± 2,5 m. diatas tanah. Titik

baik untuk (x,y). 2. FP 26 B . terletak di daerah datar di antara rumah dan pagar, dan di 172 mm tengah - tengah jalan setapak. Daerah datar sekitar 3 meter. Titik baik untuk (z)

Gambar 3 Contoh Sketsa Identifikasi Foto

LAPORAN UJI COBA PEMOTRETAN UDARA

FORMULIR A No.Uji Coba

SEKSI 1 No. Negatif Roll Nomor-nomor Exposure Tanggal Pemotretan Tinggi Terbang SEKSI 2 UJI COBA STEREO PENYETELAN PERALATAN : K1 W1 Q1 BY Bφ K2 W2 Q2 BY BX

. .. . ..

Tipe Kamera Kamera P.D Tanggal Uji Coba Alat Uji Coba & No.

..

3 No. +1 5

4 2+ 6 No.

.. .. .. ..

φ

Catat jumlah peralaks pada setiap posisi yang di tetapkan (1 s/d 6) Jumlah perkiraan dalam mm. Catat semua besar paralaks termasuk bacaan-bacaan Zero (zero reading). Catatan-catatan mengenai kualitas dan kondisi umum*) diapositif/negatif film udara.

3 +1 5

4 2+ 6
Uji coba diselesaikan oleh : .

Resolusi diapositif SEKSI 3 UJI COBA DIMENSIONAL PANEL DATA

Catat semua ukuran A sampai F dalam mm PANEL DATA

2 A 1 F E

B

3 C

2

3

D

4

1

4

Emulsi naik / turun selama pengukuran *) Catat informasi yang bisa dipakai Uji coba diselesaikan oleh :

Gambar 4 Laporan Pemotretan Udara

20

. Pen kuningan level Bross level control pin

tanah asli/ ground level begel Ø6mm-15cm slirrup Tiang Ø10mm bar

1m No

10 65 0

10 10 20 10

beton 1:2:3 Concrete
15

20 40

pelat marmer 12x12cm marble plate
20

10

20

pasir yang dipadatkan well compacted sand
40

ukuran dalam cm dimention in cm

Gambar 5 Konstruksi Pilar Titik Tetap dari Beton

Ø6cm paku nail pipa peralatan plastic drainpipe nomor titik station number tanah asli/ ground level nomor titik yang ditandai pada pipa paralon station number to be marked on drainpipe setiap penandaan azimut tertentu. harus terlihat dari titik tetap ybs one azimuth mark to be visible from every benchmark 25 A12 100 75 beton concrette ukuran dalam cm dimention in cm Gambar 6 Contoh Konstruksi Penanda Azimut .

58 17116.16 17446. ke arah martapura sepanjang jalan raya sejauh 12.2 x 0.4.76 50. Dari kantor polisi Buaymadang sebagai titik tolak. Tinggi pilar dari atas permukaan tanah kira-kira 0.12 10654.23 meter 20 25 Tanah Asli 10 8 68 Foto Benchmark 15 20 Pasir 40 Ukuran Cm Nomor BENCHMARK AZIMUT MARK PREMARK KH 42 A42 KH 42/1 E (m) 17423.133 °D dan . Premark di pasang dengan kedudukan terhadap BM tersebut seperti tertentu pada gambar di atas. Titik A42 dapat di tentukan dari KH42 dengan A42 magnetic 251 jarak 326 meter.18 57. FOTO UDARA RUN 3 : 44.38 Elevasi (m) 58. 2.5 km.Suryana No mor Bench Mark Tanggal KH 42 19.82 KH 42 merupakan pilar yang tetap.41 N (m) 10762.2 meter.4 km sampai menemui persimpangan jalan.45 RUN 4 : 132.Tanah merah sejauh 0.24 SKETSA DETIL catatan Tinggi diatas pilar Tinggi diatas paralon Tinggi di permukaan tanah SKETSA LOKASI SEKITARNYA ke buaymadang ° 251 /326 m KH 42 mag74° KH 42/1 12 KH 41 25 m A 42 ke Tanah Merah 33 m Pagar kayu U KE MARTAPURA U SEKOLAH DESKRIPSI DAN CATATAN 1.46 10769. dengan ukuran 1.0 x 0. 3.PROYEK DI UKUR OLEH DISKRIPSI BENCHMARK Komering Hulu A. Dari sekolah tersebut belok kiri mengikuti jalan setapak sejauh 90 meter. kemudian belok ke arah kiri menuju ke arah sekolah di Kp. Pilar BM tersebut akan diketemukan pada jarak 12 meter di arah sebelah kanan dari jalan setapak tersebut.

Gambar 7 Contoh Penjelasan Mengenai Letak Benchmark TT BM TT BM titik ikat tie poin 50 m daerah yang di ukur bertampalan 100m surveyed areas to overlap by 100m 50 m daerah dalam garis putus-putus dan 50 m di luarnya harus diukur area within packed line including 50 m outside to be surveyed perbesaran terhadap skala peta (kurang lebih) enlargement to mapping scale (approx) titik ikat tie point Gambar 8 Foto Perbesaran Sesuai Skala Pendekatan Peta .

91 b 2.15 a 4.80 c 2.12 ng .85 a b b S .53 T.3 T.14 S .48 S .03 b 3.20 b 4.24 U .47 sawah e 3.25 U .2 3.12 P .89 S .39 d 3.21 4.48 3.20 3.36 T.1 b 3.6 3.8 4.37 b c 3.20 Gambar 9 Bayangan/Citra Foto Telah Dihilangkan Agar Supaya Contoh Ini Lebih Jelas titik tinggi spot height pematang bund sawah rice field sawah rice field kampung village a jalan road b sungai river/stream c sawah rice field d ka m pu sawah a 4.43 sawah jalan P .99 a 3.62 S .72 S .28 U .20 T.1 3.43 P .76 P .96 a 3.67 S .18 3.5 kampung a b T.00 b 4.62 b a ta s S .46 a 3.01 c 3.1 2.33 sawah P .6 a a U .9 4.23 4.27 a 3.86 c 4.2 3.76 b 3.85 S .52 jalan a 3.75 3.5 4.37 b a 4.19 3.17 a U .03 b d 3.b 2.7 3.22 4.4 a 3.96 T.26 U .2 3.3 3.97 b 3.85 P .66 sawah 4.17 3.56 U .88 f 2.86 P .7 H R.7 2.93 d 3.6 3.3 3.10 T.4 3.3 3.4 3.

SAP 1/83 SCALE 1 : 50000 BLOCK NAME DATE : OLEH : SELECTED AERIAL PHOTOGRAPHY DIAGRAM Gambar 11 Contoh Ikhtisar dari Diagram Foto Udara yang Telah Diseleksi .Gambar 10 Lokasi Titik-titik Tinggi 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 RUN 4 UN A 10 DESA C RUN 5 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 R 33 RUN 6A RUN 6 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 KOTA 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 RUN 7 +12 PRINCIPAL POINT &PHOTO NUMBER EXTENT OF STRIP SELECTED C CLOUD MAPPING LIMIT S CLOUD SHADOW DIAGARAM NO.

ATP 1/83 SCALE 1 : 50000 BLOCK NAME DATE : OLEH : HEIGHT ONLY AERIAL TRIANGULATION PREPARATION DIAGRAM Gambar 12 Diagram Persiapan .(49) (50) 6 8 (51) 10 (52) 12 (53) 14 (54) 16 (55) 18 (56) 20 (57) 22 01 (58) 24 RUN 4 4 69004 43040 131050 151050 15 63040 171050 17 83000 191050 19 103040 211050 21 123040 231050 23 70 143040 251050 25 163040 271050 27 183040 291050 29 71 311050 203040 223040 243040 18001 ( 7 13 N ) 331050 A 10 33 73 01 (74) 4 00 RUN 5 13 (64) 22004 (65) (66) (67) (68) (69) (70) (71) (72) U 31 R (73) 23004 171060 191060 19 211060 21 231060 23 251060 25 23004 271060 27 011061 291060 253050 031061 311060 273050 31 (90) 29 051061 071061 24004 293050 33 313050 35 091061 0 10 63 333050 RUN 6 17 (82) 96004 81070 8 101070 10 (83) (84) (85) (86) (87) (88) 313040 (91) (92) 37 (93) 39 053051 073051 261070 093051 281070 233040 121070 12 141070 14 253040 161070 16 273040 181070 4 04 70 97 293040 27002 20 22 24 RUN 7 (102) (103) (104) (105) (106) 18 26 (107) (108) (109) (110) (111) 28 (112) 12 PRINCIPAL POINT MODEL POINT & MODEL LIMITS (53) MODEL NUMBER CONTROL POINTS PLAN ONLY PLAN & HEIGHT MAPPING LIMIT DIAGARAM NO.

(49) (50) 6 8 (51) 10 (52) 12 (53) 14 (54) 16 (55) 18 (56) 20 (57) 22 (58) 24 RUN 4 4 69004 43040 131050 151050 15 63040 171050 17 83000 191050 19 103040 211050 21 123040 231050 23 0 70 143040 251050 25 163040 271050 27 183040 291050 29 01 71 311050 223040 203040 243040 18001 RUN 5 13 (64) (65) (66) (67) (68) (69) (70) (71) (72) UN 31 R ( 7) 331050 13 0A 1 04 (73) 33 73 01 (74) 23004 22004 171060 191060 19 211060 21 231060 23 251060 25 23004 271060 27 011061 291060 253050 031061 311060 273050 31 (90) 051061 071061 24004 313050 35 293050 33 091061 0 10 63 333050 37 RUN 6 17 (82) (83) (84) (85) (86) (87) 29 (88) 313040 053051 073051 (92) 093051 281070 (93) 39 96004 81070 8 101070 10 121070 12 233040 141070 14 253040 161070 16 273040 181070 4 00 97 293040 27002 20 22 24 261070 RUN 7 (102) (103) (104) (105) (106) 18 (107) (108) (109) (110) 26 (111) 28 (112) 12 PRINCIPAL POINT MODEL POINT & MODEL LIMITS (53) MODEL NUMBER CONTROL POINTS PLAN ONLY PLAN & HEIGHT MAPPING LIMIT DIAGARAM NO. ATC 1/83 SCALE 1 : 50000 BLOCK NAME DATE : OLEH : HEIGHT ONLY AERIAL TRIANGULATION CONNECTIONS DIAGRAM Gambar 13 Diagram Sambungan-sambungan .

Garis kontur digeser.3 Gambar 14 Diagram Vektor Residu Titik Model dalam Model Ortofoto atau Rakitan Peta Ortofoto 600 550 500 450 400 550 500 450 400 550 500 450 400 350 550 500 450 400 350 salah wrong benar right b. 450 500 550 600 650 tinggi high benar right .3 0612217 02 0400766 0.PROYEK MODEL JALUR ALAT : : : : 00 0400727 01 0611217 TANGGAL PENGAMATAN : ATAU PROYEK LEMBAR TANGGAL PERAKITAN DIPERIKSA : : : : 0632217 00 100251 0. yang memotong rumah harus salah wrong benar right 600 450 500 550 600 650 a.0 0400765 0. Angka-angka garis kontur harus tegak ke arah yang lebih tinggi dan tegak lurus pada garis kontur.

Garis kontur tidak mungkin bersilangan ataupun 35 bersinggungan. Hal ini penting sebab garis yang tidak betul-betul hitam bila dicetak akan hilang. Ini harus berlaku bagi seluruh lembar. Tidak diperkenankan mengikuti letak bangunan. Karena peta yang dibuat adalah merupakan satu seri peta. serta JAYA nama-nama desa tidak diperbolehkan menimpa detail lain. 31 0 31 5 h.c. Peletakan simbol jembatan jangan terbalik. Ketebalan penarikan garis harus tetap. ? 325 i. dan garis silang grid. Silang-silang grid dilengkapi tiap 10 cm. Angka kontur dituliskan menurut kontur interval yang telah ditetapkan. salah wrong P benar right e. salah wrong benar right f. ketinggian. Kecuali bila jalan dilewati bangunan air di atasnya seperti talang dan lain-lain. Simbol bangunan hendaknya tegak lurus dan sejajar dengan garis tepi samping. 10 cm 10 cm g. JAYA b enar right P d. Yang diberi jembatan adalah jalan bukan kalinya. Dengan demikian detail yang lain s alah wrong dikalahkan. 30 0 300 320 325 315 320 10 cm 310 315 salah wrong benar right 310 325 . sehingga garis 310 betul-betul hitam. Simbol.

maka simbol aliran air yang berupa anak panah diletakkan di antara kedua garis. 100 100 75 75 salah wrong benar right l. Penyebaran simbol pada tata guna tanah harus diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak bertumpukan dengan simbol lainnya.Bila sungai digambar dengan 2 garis.j.Bila sungai digambar 1 garis simbol anak panah k. salah wrong benar right Gambar 15 . salah benar right wrong . Penggambaran arah aliran air sungai : . Peletakkan simbol pada suatu areal tata guna tanah tertentu digambar merata walaupun terdapat sungai/anak sungai di dalam areal tersebut.

500 531.500 532.000 532.500 531.0 0 0 . Huruf (W) menunjukkan bahwa nama satu identifikasi ditulis dalam suatu bentuk citra stensil (ialah : putih di atas bayangan positif atau peta ortofoto).500 532.000 9 8 0 . Gambar 16 Contoh : Susunan Peta Ortofoto 1 : 5.000 530. tinggi titik rincikan dan kontur tidak dimasukkan dalam contoh ini agar lebih jelas.5 0 0 AM E (w ) 9 7 8 .5 0 0 R IV ER N V IL L A G E N A M E (w ) 9 7 8 . 8.0 0 0 532.000 530. Lihat bag. 3.000 531.5 0 0 10 m m 20 T R IG (w ) 9 7 9 .0 0 0 20 10 m m 9 7 9 .000 20 .000 531.0 0 0 9 7 7 .500 20 9 7 7 .4 untuk hal-hal yang terserah kepada pihak Pelaksana Pekerjaan.5 0 0 9 7 9 .530.0 0 0 9 7 9 . kecuali apabila detail positifnya menggunakan warna pucat di mana tulisan huruf harus tampak hitam.0 0 0 9 7 8 . 20 B M (w ) 9 7 8 .5 0 0 530. Citra ortofoto. 2.500 9 8 0 .5 0 0 P e tu n ju k L embar P E TA IN D E X S ka la 1 :5 0 0 0 K E TE R A NG A N N AM A P RO YEK CATATAN : 1.

000 522.000 520.000 530.000 ini berasal dari peta ortofoto skala 1 : 5.000 Gambar 17 Contoh : Susunan Peta Ortofoto 1 : 20. Catatan harus menjelaskan bahwa peta ortofoto skala 1 : 20.500 6 970. 2.000 20 9 977.500 520.530.500 525.000 20 .000 977.000 522.500 C D E F 980.000 527.000 P ETA INDEX U K ETERANGAN S kala 1:20000 NAMA P ROYEK O rthophoto Map W ith 5 m 10 CATATAN : 1.000 527.000 980.500 525.000 20 970.500 975.000 20 7 972. Citra ortofoto dan kontur tidak dimasukkan dalam contoh ini agar terlihat lebih jelas.500 8 975.500 20 972.