You are on page 1of 17

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Hukum lingkungan merupakan salah satu cabang hukum yang mengatur segala hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Hukum lingkungan menjadi sarana penting untuk mengatur perilaku-perilaku manusia terhadap lingkungan dan segala aspeknya, supaya tidak terjadi perusakan, gangguan, dan kemerosotan nilai-nilai lingkungan itu. Lingkungan merupakan jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita. Lingkungan hidup memberi fungsi yang amat penting dan mutlak bagi manusia. Begitu pula, manusia dapat membina atau memperkokoh ketahanan lingkungan melalui budi, daya dan karsanya.1 Menurut ilmu ekologi, semua benda termasuk makhluk hidup, daya dan juga keadaan memiliki nilai fungsi ekosistem, yakni berperan mempengaruhi kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dengan demikian tidak ada yang tidak bernilai dalam pengertian lingkungan hidup karena satu dengan lainnya memiliki kapasitas mempengaruhi dalam pola ekosistem. Lingkungan hidup sebagai salah satu aspek kebutuhan hidup manusia, flora dan fauna. Maka perlu dijaga kelestariannya. Dalam hukum lingkungan diatur tentang objek dan subjek, yang masingmasing adalah lingkungan dan manusia. Lingkungan hidup sebagai objek pengaturan dilindungi dari perbuatan manusia supaya interaksi antara keduanya tetap berada dalam suasana serasi dan saling mendukung. Hukum Lingkungan mendasarkan semua aspek lingkungan sebagai obyek yang menjadi cakupannya. Hukum lingkungan memiliki ruang lingkup (scope) yang sangat luas berhubungan dengan semua sektor sumber daya dan lingkungan, baik yang dalam kategori fisik, maupun sosial, serta yang terbagi-bagi baik dalam
N.H.T. Siahaan Hukum Lingkungan, edisi revisi, pancuran Alam, Jakarta, 2008, halaman. 43
1

1

2

berbagai kategori secara alamiah, maupun secara administratif sektoral, merupakan bagian menyeluruh dari lingkungan (environment) Lingkungan hidup memberi fungsi yang amat penting dan mutlak bagi manusia. Begitu pula, manusia dapat membina atau memperkokoh ketahanan lingkungan melalui budi, daya / dan karsanya. Menurut ilmu ekologi, semua benda termasuk semua makhluk hidup, daya / dan juga keadaan memiliki nilai fungsi ekositem, yakni berperan mempengaruhi kelangsungan kehidupan manusia dan mahkluk hidup lainnya. Dengan demikian tidak ada yang tidak bernilai dalam pengertian lingkungan hidup karena satu dengan lainnya memiliki kapasitas saling mepengaruhi dalam pola ekosistem. Dengan demikian, hukum lingkungan tidak hanya mengatur tentang tentang bagaimana pemanfaatan (economic value), tetapi juga mengatur

mempertahankan keberadaannya supaya senantiasa berkelanjutan (sustainable) dengan kondisi yang baik, tidak sampai mengakibatkan rusak, tidak berfungsi, tidak berkurang nilainya terutama mengenai kualitasnya dan tidak habis atau punah supaya terdapat jaminan terpenuhnya kepentingan generasi sekarang dan generasi mendatang. Sesuai dengan tujuannya yang tidak hanya semata-mata sebagai alat ketertiban, maka hukum lingkungan mengandung pula tujuan-tujuan kepada pembaharuan masyarakat (social engineering). Hukum sebagai alat rekayasa sosial sangat penting artinya dalam hukum lingkungan. Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan / dan pengendalian lingkungan hidup (UUPPLH 1997 : Pasal 1 angka 2). Menurut (UUPLH 2009 Pasal 1 angka 2) “ Perlindungan dan Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum. Pengelolaan lingkungan merupakan upaya manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan guna mempertahankan kehidupan dan mencapai kesejahteraannya. Istilah “pengelolaan” menurut kamus Bahasa

3

Indonesia, berasal dari kata “kelola” dan selanjutnya dalam kata kerja mengelola, yang artinya: mengendalikan, menyelenggarakan (pemerintahan dan sebagainya). Menjalankan, mengurus (perusahaan, proyek, dan sebagainya) Pengelolaan: 1. Proses, cara, perbuatan mengelola; 2. Proses melakukan kegiatan tertentu dengan menggerakkan tenaga orang lain; 3. Proses yang membantu merumuskan kebijaksanaan dan tujuan organisasi; 4. Proses yang memberikan pengawasan pada semua hal yang terlibat dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan pencapaian tujuan.2 Dalam mengatasi pengelolaan lingkungan masyarakat sangat mempunyai peran penting yaitu masyarakat merupakan sumber daya yang penting bagi tujuan pengelolaan lingkungan. Bukan saja diharapkan sebagai sumber daya yang bisa didayagunakan untuk pembinaan lingkungan, tetapi lebih dari pada itu komponen masyarakat juga bisa memberikan alternatif penting bagi lingkungan hidup seutuhnya. Dalam pengelolaan lingkungan, Asas keterbukaan dan peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan, terutama dalam proses administratif perizinan lingkungan dan AMDAL sebagai instrument pencegahan pencemaran lingkungan. Amdal adalah kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. (Pasal 1 angka 11 UUPPLH No.32 Tahun 2009). “Pasal 1 angka 20 Undang-Undang No. 32 Tahun 2009: Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan”. Limbah bersumber dari kegiatan industri baik karena proses secara langsung maupun proses secara tidak langsung. Limbah yang bersumber langsung dari kegiatan industri yaitu limbah yang terproduksi bersamaan dengan proses produksi sedang berlangsung, dimana produk dan limbah hadir pada saat yang sama. Sedangkan limbah tidak langsung terproduksi sebelum proses maupun sesudah proses produksi. Limbah yang banyak disoroti adalah limbah industri karena mengandung senyawa pencemaran yang dapat merusak lingkungan hidup.

2

Ibid, halaman. 85

4

Industri mempunyai potensi pembuat pencemaran karena adanya limbah yang dihasilkan baik dalam bentuk padat, gas, maupun cair yang mengandung senyawa organik dan anorganik dengan jumlah melebihi batas yang di tentukan. Seperti limbah kelapa sawit terdiri dari limbah cair dan limbah padat berupa janjangan kosong serabut dan kulit cangkang. Limbah cair pabrik ini merupakan sisa dari proses produksi yang mengandung konsentrasi padatan tinggi dan sangat potensial menciptakan pencemaran. Limbah cair pabrik minyak kelapa sawit mengalir ditengah-tengah perkebunan dan berakhir pada sungai atau perairan umum yang banyak dimanfaatkan penduduk. Limbah cair pada PMKS (Pabrik Minyak Kelapa Sawit) merupakan sisa dari proses produksi yang mengandung konsentrasi padatan tinggi dan sangat potensial menciptakan pencemaran. Limbah yang dihasilkan harus memenuhi standar baku mutu limbah dan sesuai dengan baku mutu lingkungan yang berlaku bagi kondisi lingkungan agar tidak terjadi kerusakan dan pencemaran lingkungan disekitarnya. Dimana kegiatan industri sedang berlangsung. Pengelolaan limbah dengan memanfaatkan teknologi pengelolaan dapat dilakukan dengan cara fisika, kimia dan biologis. Pada Pasal 1 angka 2 KEPMENLH No.KEP-51/MENLH/10/1995 menyatakan bahwa Baku Mutu Limbah Cair adalah Batas maksimum limbah cair yang diperolehkan dibuang ke lingkungan. Selanjutnya Pasal 1 angka 3 KEPMENLH No. KEP-51/MENLH/10/1995 Menyatakan bahwa limbah cair adalah limbah dalam wujud cair yang dihasilkan oleh kegiatan industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan. Tidak semua limbah mengandung bahan berbahaya dan beracun. Limbah dapat dipergunakan kembali atau didaur ulang sesuai dengan jenis dan sifatnya limbah tersebut. Contohnya seperti limbah industri kertas ataupun plastik yang dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali setelah melalui proses dengan teknologi. Baku Mutu Lingkungan adalah batas atau kadar yang diperolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat dalam media lingkungan sehingga dapat tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya.

5

Dari uraian di atas, maka dipilih judul skripsi mengenai “Aspek Hukum Lingkungan Dalam pengelolaan Limbah Pabrik Kelapa Sawit (Studi Di PTPN II Pagar Merbau)”. B. Rumusan Masalah Dalam suatu rencana penelitian langkah utama yang perlu diperhatikan adalah apa yang menjadi masalah pokok penelitian tersebut. Berdasarkan uraian sebelumnya maka penulis dapat merumuskan suatu masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana pengaturan hukum tentang pengelolaan lingkungan UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan hidup menurut 2. 3.

Pengelolaan Lingkungan Hidup? Bagaimana pelaksanaan pengelolaan limbah pabrik kelapa sawit Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan oleh PTPN II Pagar oleh PTPN II Pagar Merbau? Merbau dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan hidup? C. Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan penelitian dalam penulisan proposal skripsi ini adalah : 1. Untuk mengetahui bagaimana pengaturan hukum tentang pengelolaan lingkungan hidup menurut UU No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. 2. 3. Untuk mengetahui pelaksanaan pengelolaan limbah pabrik kelapa sawit oleh PTPN II Pagar Merbau. Untuk mengetahui upaya-upaya yang dilakukan oleh PTPN II Pagar Merbau dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan hidup. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat / faedah yang sangat berarti antara lain sebagai berikut :

6

1. 2. 3.

Secara teoritis sebagai bahan informasi tetang data empiris baik bahan dasar maupun bahan perbandingan. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana hukum. Secara praktis sebagai bahan bacaan bagi peneliti lain yang konsen dalam hukum lingkungan. Sedangkan bagi perusahaan penelitian ini sebagai sosialisasi kepada masyarakat dalam pengelolaan limbah pabrik.

E. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Hukum Lingkungan Istilah hukum lingkungan merupakan terjemahan dari beberapa istilah yaitu ”Environmental Law” dalam bahasa Inggris dan “Millieeurecht” dalam bahasa Belanda. Di Indonesia istilah hukum lingkungan dipergunakan ketika berlangsungnya seminar segi-segi hukum penggelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional (BPHN) dengan universitas padjadjaran Bandung. Tergantung dari apa yang dipandang sebagai Environmental Concern.3 Hukum Lingkungan juga merupakan bidang ilmu yang masih muda, yang perkembangannya baru terjadi pada tiga dasawarsa akhir ini. Apabila dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek lingkungan, maka panjang atau pendeknya sejarah tentang peraturan tersebut Salah satu bidang yang menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan sistem aturan atau norma masyarakat dalam interaksinya dengan lingkungan hidup adalah hukum lingkungan. Hukum lingkungan merupakan salah satu cabang hukum yang mengatur segala hal yang berhubungan dengan lingkungan hidup. Hukum lingkungan hadir sejalan dengan perkembangan masalah lingkungan hidup yang mengalami banyak persoalan sehubungan dengan pembangunan. Hukum lingkungan menjadi sarana penting untuk mengatur perilaku-perilaku manusia terhadap lingkungan dan segala aspeknya, supaya tidak terjadi perusakan, gangguan, dan kemerosotan nilai-nilai lingkungan itu. Menurut St. Munadjat Danusaputro Hukum Lingkungan adalah ”Hukum yang mendasari penyelenggaraan perlindungan dan tata
3

Muhamad Erwin, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, Refika Aditama, Bandung, 2009, halaman. 8

7

pengelolaan serta peningkatan ketahanan lingkungan” sedangkan Drupsteen mengemukakan bahwa hukum lingkungan (Milieurecht) adalah hukum yang berhubungan dengan lingkungan alam(Natuurlijk Milieu) dalam arti seluas-luasnya.4 2. Peranan Hukum Lingkungan Peranan hukum lingkungan sangat penting dalam pembangunan. Hukum berfungsi sebagai alat keteraturan, yakni menata perilaku setiap orang dalam interaksinya pada lingkungan. Hukum berfungsi sebagai alat keadilan, memiliki peran untuk menciptakan bagi semua dalam kerangka penataan dan pengelolaan lingkungan atau sumber-sumber alam. Hukum sebagai alat rekayasa sosial, berperan merubah sikap sosial masyarakat, mengarakan perilaku budaya setiap orang kepada paradigma pemanfaatan, pengelolaan energi / sumber-sumber alam dengan pola efisien dengan minimasi kerusakan dan impak. Demikian juga terciptanya interaksi lingkungan yang bertujuan menyerasikan pembangunan dengan lingkungan. Dengan kata lain, untuk mencapai keserasian dan tidak saling bertentangan antara pembangunan dengan lingkungan, peranan hukum lingkungan untuk mengatur, menata, mengelola dan mengarakannya kearah keserasian itu, sangat dibutuhkan. 3. Pengertian Pengelolaan Lingkungan Hidup Pengelolaan lingkungan merupakan Upaya manusia untuk berinteraksi dengan lingkungan guna mempertahankan kehidupan dan mencapai kesejahteraannya. Pasal 1 angka 2 UUPPLH menyatakan bahwa perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup adalah “Upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum”. Adapun yang menjadi ruang lingkup pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 4 UUPPLH No. 32 tahun 2009) meliputi :
St. Munadjad Danusaputro, hukum lingkungan buku IV: Global Binacipta, Bandung, 1982, halaman. 28
4

8

a. Perencanaan; b. Pemanfaatan; c. Pengendalian; d. Pemeliharaan; e. Pengawasan dan f. Penegakan Hukum. Berdasarkan Pasal 2 UUPPLH No. 32 tahun 2009 “Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan berdasarkan asas : a. Tanggungjawab Negara; b. Kelestariaan dan Keberlanjutan; c. Keserasian dan Keseimbangan; d. Keterpaduan; e. Manfaat; f. Kehati- hatian; g. Keadilan; h. Ekoregion; i. Keanekaragaman Hayati; j. Pencemar Membayar; k. Partisipatif; l. Kearifan Lokal; m.Tata Kelola Pemerintah yang baik dan n. Otonomi Daerah. Sedangkan Tujuan Perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup (Pasal 3 UUPPLH) bertujuan : a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. Melindungi Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup; Menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia; Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem; Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup; Mencapai keserasian, keselarasan, dan keseimbangan lingkungan hidup; Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan generasi masa depan; Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia; Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana; Mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan Mengatisipasi isu lingkungan global.

4. Pengertian Limbah dan Baku Mutu Lingkungan

9

Selanjutnya pada Pasal 1 angka 20 UUPPLH No. 32 Tahun 2009 menyatakan bahwa limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan. Setiap limbah yang keluar dari perusahaannya adalah menjadi kewajiban pengusaha untuk mengelolanya agar limbah yang dihasilkan tidak sampai mencemarkan lingkungan. Limbah yang dihasilkan harus memenuhi kriteria baku mutu limbah yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku. Pengendalian pencemaran dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain : Mengunakan teknologi pengelolaan limbah, perbaikan teknologi proses produksi, daur ulang, reuse, recovery dan juga penghematan bahan baku dan energi. Limbah boleh memenuhi syarat baku mutu lingkungan. Sebagaimana halnya teknologi proses produksi yang terdiri dari berbagai macam jenis demikian juga halnya dengan teknologi pengolahan limbah. Adapun karakteristik limbah cair dapat diketahui menurut sifat-sifat dan karakteristik kimia, fisika dan biologis. Karakteristik limbah perlu dilakukan agar dapat dipahami sifat-sifat tersebut serta konsentrasinya dan sejauh mana tingkat pencemaran dapat ditimbulkan limbah terhadap lingkungan. Ada limbah yang mengandung parameter tertentu walau tidak termasuk golongan berbahaya dan beracun tapi sangat sensitif terhadap lingkungan. Pemahaman tentang karakteristik dapat diketahui melalui pengambilan sampel.5 Jenis-jenis limbah pabrik minyak kelapa sawit (PMKS) adalah limbah cair dan limbah padat. Limbah cair adalah sisa dari proses produksi yang mengandung konsentrasi padatan tinggi dan sangat potensial menciptakan pencemaran. Limbah cair minyak kelapa sawit mengalir ditengah-tengah perkebunan dan berakhir pada sungai atau perairan umum yang banyak dimanfaatkan oleh penduduk. Sedangkan limbah padat merupakan janjangan kosong serabut dan kulit cangkang. Janjangan kosong di bakar dalam tanur pembakaran sedangkan karnel dan serabut di gunakan menjadi bahan bakar boiler.6 “Koesnadi Hardjasoemantri” berpendapat bahwa, Hukum lingkungan dapat meliputi aspek-aspek sebagai berikut: 1. 2.
5

Hukum Tata Lingkungan Hukum Perlindungan Lingkungan

Perdana Ginting, Sistem Pengelolaan Lingkungan dan Limbah Industri, Yrama Widya, Bandung 2007, halaman. 45 6 Ibid, halaman. 44

10

3. 4. 5. 6.

Hukum Kesehatan Lingkungan Hukum Pencemaran Lingkungan Hukum Lingkungan Internasional Hukum Perselisihan Lingkungan7 Pasal 1 angka 13 UUPPLH menjelaskan bahwa Baku Mutu Lingkungan

adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup. Baku Mutu Limbah (Environmental Quality Standard) atau biasa disingkat dengan BML, berfungsi sebagai tolak ukur untuk mengetahui apakah telah terjadi perusakan atau pencemaran lingkungan. Batas-batas daya dukung, daya tenggang, daya toleransi, atau kemampuan lingkungan disebut dengan Nilai Ambang Batas (NAB) ialah batas tertiggi (max) dan terendah (min) dari kandungan zat-zat, makhluk hidup atau komponen-komponen lain yang diperolehkan dalam setiap interaksi yang berkenaan dengan lingkungan, khususnya yang berpotensi mempengaruhi mutu tata lingkungan hidup atau ekologi. Adapun berbagai cara untuk pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yaitu : a. Pencegahan b. Penanggulangan c. Pemulihan Di dalam Pasal 20 angka 2 UUPPLH terdapat jenis-jenis Baku Mutu Lingkungan yaitu : a. b. c. d. e. f.
7

Baku mutu air; Baku mutu air limbah; Baku mutu air laut; Baku mutu udara ambien; Baku mutu emisi; Baku mutu gangguan dan

Koesnadi Hardjasoemantri, Hukum Tata Lingkunganp (Edisi ketiga), Gadjah Mada University Press, Yogyakarta, 1988, halaman.10

11

g. Baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk menentukan tolak ukur apakah limbah dari suatu industri / pabrik telah menyebabkan pencemaran atau tidak, maka digunakan dua sistem baku mutu limbah, yakni: 1. Menetapkan suatu effluent standard, yaitu Kadar maksimum limbah yang diperkenankan untuk dibuang ke media lingkungan seperti air, tanah, dan udara. Kadar maksimum bahan polutan yang terkandung dalam limbah tersebut ditentukan pada waktu limbah tersebut meninggalkan pabrik / industri. 2. Menetapkan ketentuan tentang Stream Standard, yaitu penetapan batas kadar bahan-bahan poluta pada sumber daya tertentu seperti sungai, danau, waduk, perairan pantai, dan lain-lain.8 Baku Mutu Limbah (BML) merupakan instrument yang berguana bagi pengelolaan lingkungan hidup, oleh karena itu undang-undang sendiri menegaskan supaya tidak melanggar Baku Mutu Limbah (BML). Baku Mutu Limbah (BML) memiliki banyak kegunaan, yang dapat dipakai kepada berbagai keperluan. Apabila diinventarisasikan oleh dari berbagai penerapan yang dilakukan maka di bawah ini disebutkan beberapa kegunaan dari Baku Mutu Limbah (BML) : a. Sebagai alat evaluasi bagi badan-badan yang berwenang atas mutu lingkungan suatu daerah atau kompartemen tertentu. b. Berguna sebagi alat pentaatan hukum administratif bagi pihakpihak yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. c. Dapat berguna bagi pelaksanaan amdal yang merupakan konsep pengendalian lingkungan. d. Sebagai alat kontrol untuk memudahkan pengelolaan dan pengawasan perizinan (lisence management). e. Dapat berguna bagi penentuan telah terjadinya pelanggaran hukum pidana terutama dalam penetuan pelanggaran delik formal.9 Untuk menentukan terjadinya kerusakan lingkungan hidup, ditetapkan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Pasal 21 UUPPLH menjelaskan bahwa kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup meliputi : 1. Kriteria baku kerusakan ekosistem meliputi :

8 Muhammad Erwin, Hukum Lingkungan Dalam Sistem kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup, Bandung, 2009, halaman. 69 9 N.H.T. Siahaan, Hukum Lingkungan, edisi revisi, pancuran Alam, Jakarta, 2008, halaman. 251

12

a. Kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa; b. Kriteria baku kerusakan terumbu karang; c. Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan atau lahan; d. Kriteria baku kerusakan mangrove; e. Kriteria baku kerusakan padang lamun; f. Kriteria baku kerusakan gambut; g. Kriteria baku kerusakan karst dan h. Kriteria baku kerusakan ekosistem lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. a. b. c. d. 5. Kriteria baku kerusakan akibat perubahan iklim meliputi : Kenaikan temperatur; Kenaikan muka air laut; Badai dan Kekeringan.

Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) Pasal 1 angka 11 UUPPLH Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah

kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) merupakan hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Sedangkan Analisis Dampak lingkungan (ANDAL) merupakan telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak penting suatu kegiatan yang direncanakan. Menurut Amril, sebagaimana dikutip oleh N.H.T. Siahaan menyatakan bahwa Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) dipergunakan dengan beberapa istilah asing, yakni Environmental Impact Analysis. Prof Otto Soemarwoto menggunakan istilah tersebut dengan “Analisis Dampak Lingkungan” dan berkenaan dengan itu tetapi dalam tekanan lain dengan “Analisis Manfaat dan Resiko Lingkungaan”.10 Dalam mekanisme Amdal dikenal adanya dokumen-dokumen yang harus dipenuhi, yakni Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). PP No. 27
N.H.T. Siahaan Hukum Lingkungan, edisi revisi, pancuran Alam, Jakarta, 2008, haamanl. 189
10

13

Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menetukan bahwa pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan (Andal). Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan instansi yang berkompeten. Mengenai Andal (Analisis Dampak Lingkungan), telah dijelaskan di atas yakni sebagai telaahan yang cermat tentang dampak dari suatu rencana kegiatan. Pada dasarnya Andal bertujuan untuk mengidentifikasi suatu rencana kegiatan yang bepotensial berdampak lingkungan. Selain itu Andal ditujukan sebagai sarana mengidentifikasi rona lingkungan, memprakirakan dan mengevaluasi dampak penting. Manfaatnya ialah membantu pengambilan keputusan tetang kelayakan lingkungan dari berbagai kegiatan, serta sebagai pedoman untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan. F. Metode Penelitian Penelitian hukum ini menggunakan yuridis sosiologis dengan menjelaskan dasar ketentuan aturan-aturan hukum yang dihubungkan dengan penerapan aturan hukum di masyarakat. Bahan dari yuridis sosiologis berupa data sekunder dan data primer sebagai bahan pelengkap. Dalam pengumpulan data ini digunakan metode penelitian: a. Penelitian Kepustakaan (Library Research) dan studi wawancara untuk mendapatkan data sekunder. Dengan membaca beberapa literatur berupa buku-buku ilmiah, peraturan perundang-undangan dan dokumentasi lainnya yang berhubungan erat dengan aspek hukum lingkungan dalam pengelolaan limbah pabrik kelapa sawit. b. Penelitian Lapangan (field Research) dilakukan untuk memperoleh data Dalam penelitian lapangan ini ditentukan daerah penelitian adalah PTPN II Pagar Merbau untuk memperoleh hasil data yang akurat. Objek penelitian ini adalah pengelolaan limbah pabrik di PTPN II Pagar Merbau. Subyek penelitiannya adalah PTPN II yang di wakilkan oleh karyawan divisi pengelolaan primer,

14

limbah pabrik di PTPN II Pagar Merbau. Pengumpulan data ini dilakukan dengan proses wawancara terbuka. 1. Jenis data penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder antara lain : a. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum berupa peraturan-peraturan mengenai Lingkunan Hidup yang berkaitan dengan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer berupa buku-buku yang berhubungan dengan objek yang diteliti 2. G. Data primer adalah sampel dari pengelolaan limbah PTPN II Pagar Merbau. Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam pembahasan skripsi ini disusun atas V (lima) bagian yang terdiri dari beberapa sub bagian. Adapun sistematika penulisan tersebut disusun sebagai berikut : BAB I Pendahuluan, bab ini terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan. BAB II Pengaturan hukum Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Berdasarkan Undang–Undang No. 32 tahun 2009 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, bab ini membahas tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pemanfaatan Lingkungan Hidup dan Analisis Dampak Lingkungan Mengenai Lingkungan Hidup oleh Perusahaan. BAB III Pelaksanaan Pengelolaan Limbah Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau, bab ini membahas tentang Jenis-jenis Limbah Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau, Pengelolaan Limbah Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau dan Pemanfaatan Limbah Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau bagi Masyarakat. BAB IV Upaya PTPN II Pagar Merbau dalam Mencegah Terjadinya Pencemaran Lingkungan Hidup bab ini membahas tentang Upaya-upaya yang di

15

lakukan oleh PTPN II Pagar Merbau dalam mencegah terjadinya Pencemaran Lingkungan Hidup, Upaya Meminimalisasikan Dampak Negatif Limbah Limbah Pabrik Kelapa Sawit PTPN II Pagar Merbau kepada Masyarakat dan Hambatan yang dihadapi oleh PTPN II Pagar Merbau dalam Upaya Menangani Lingkungan Hidup. BAB V Penutup, pada bab ini berisikan Kesimpulan dan Saran yang dianggap dapat memberikan kesimpulan dari isi skripsi dan masukan-masukan.

16

DAFTAR PUSTAKA

A.

Buku- buku Sumatera Utara Press, Medan.

Arifin, Syamsul, 1993, Perkembangan Hukum Lingkungan Indonesia, Universitas Hamzah, Jur Andi, 2005, Penegakan Hukum Lingkungan, sinar Grafika, Jakarta Erwin, Muhammad, 2009, Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan lingkungan Hidup, Refika Aditama, Bandung. Ginting, Perdana, 2007, Sistem Pengelolaan lingkungan dan limbah industry, Yrama Widya, Bandung. Hardjasoemantri, Koesnadi, 2006, Hukum Tata Lingkungan Edisi VIII, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Husin, Sukanda, 2009, Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. Makarao, Taufik, 2004, Aspek-Aspek Hukum Lingkungan, Indeks, Jakarta. Rahman, Usman, 2001 Pembaharuan Hukum Lingkungan Nasional, Arikha Media Cipta, Jakarta Rangkuti, Siti Sundari, 2005, Hukum Lingkungan dan Kebijaksanaan Lingkungan Nasional (Edisi Ketiga) Airlangga University Press, Surabaya Siahaan, N.H.T, 2008, Hukum Lingkungan edisi revisi, Pancuran alam, Jakarta. Soemartono, R.M. Gatot P, 1996, Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika. Jakarta. Supriadi, 2006, Hukum Lingkungan Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta. Soejono, 1995, Hukum Lingkungan dan Peranannya dalam Pembangunan, Rineka Cipta, Jakarta.

17

B.

Peraturan Perundang – Undangan

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup