You are on page 1of 1

3. Formasi Nglanggran Terdiri dari breksi gunung api, angglomerat dan lava andesit-basalt dan tuff.

Batuan ini menempati bagian utara daerah Inventarisasi tersingkap di Sungai Dengkeng, Kecamatan Nglipar. Batuan pembentuk utamanya breksi gunung api, tidak berlapis, dengan komponen dari batuan andesit hingga basal, berukuran 2 hingga 50 sentimeter. Lensa batugamping koral terdapat di bagian tengah dari satuan ini. Batupasir gunung api epiklastika dan tuff berlapis baik terdapat sebagai sisipan dan sebarannya setempat. Struktur sedimen perairan sejajar, perlapisan bersusun, dan cetakan beban memberikan indikasi adanya aliran longsoran (debris flow). Pada lapisan bagian atas permukaannya ererosi yang menunjukan adanya arus kuat. Hadirnya batugamping koral menunjukkan lingkungan laut. Lingkungan pengendapan batuan ini adalah laut yang disertai dengan longsoran bawah laut. Formasi semilir ditindih selaras oleh satuan batuan gunung api yang dikenal sebagai Formasi nglanggaran. Satuan ini tidak mengandung fosil, dan umurnya diduga akhir Miosen Awal hingga permulan Miosen Tengah (Samosusastro, 1956). Formasi Nglanggaran berlokasi tipa di Gunung Nglanggran, di Pematnag Baturagung Utara Wonosari. Formasi Nglanggran berumur Miosen Awal hingga Miosen Tengah, ketebalannya sekitar 530 meter, Formasi ini menjemari dengan Formasi semilir, tertindih selaras dengan formasi Sambipitu, selanjutnya tertindih tidak selaras dengan Formasi Oyo dan Formasi Wonosari. 4. Formasi Semilir Tediri dari tuff, breksi batuapung dasitan, batupasir tuffaan dan serpih batuan ini menempati bagian utara dari bagian daerah inventarisasi. Formasi ini di bagian bawahnya mempunyai struktur sedimen berlapis baik, perairan, silangsiur berskala menengah dan permukaan erosi. Lignit yang berasosiasi dengan batupasir tufa gampingan dan kepingan koral pada breksi gunung api mewarnai satuan ini pada bagian tengan. Bagian atas satuan ini terdapat batulempung dan serpih, ketebalannya sekitar 15 sentimeter, mempunyai struktur longsoran bawah laut. Secara keseluruhan ketebalan satuan ini diperkirakan 460 meter. Formasi Semilir menindih selaras Foermasi Kebobutak, secara setempat tidak selaras, kemudian menjemari dengan Formasi Nglanggran dan Formasi Oyo menindih secara tidak selaras. Formasi Semilir menindih selaras satuan di bawahnya. Runtutannya terdiri dari tuff, serpih, tuff batuapung dasitik, breksi dasitik, breksi batuapung, batupasir, dan batulempung. Bothe (1928) menyebutkan jika satuan ini jarang mengandung fosil dan beberapa jenis foraminifera yang ditemukannya menunjukkan lingkungannya adalah laut. Ismoyowati & Sumarno (1975) menemukan satuan yang berlokasi tipe di gunung semilir (Pematang Baturagung) ini merupakan endapan turbidit yang terbentuk di lingkungan Bathial (Ismoyowati & Sumarno, 1975 ; Rahardjo 1995). 5. Formasi Sambipitu Terdiri dari batupasir dan batulempung. Satuan ini menempati bagian utara. Satuan ini bagian bawahnya disusun oleh batupasir kasar tidak berlapis dan batupasir halus, secara setempat diselingi serpih, batulanau gampingan, lensa breksi andesit, klstika lempung dan fragmen karbon. Arus turbidit telah membentuk struktur sedimen perlapisan bersusun, perairan sejajar, dan gelembur gelombang. Bagian atas dari satuan ini terdapat struktur sedimen perlapisan bersusun, perairan sejajar, silang siur dan gelembur gelombang yang memberikan indikasi adanya endapan longsoran bawah laut kemudian berkembang menjadi arus turbidit. Runtutan sedimen klasik Formasi Sambipitu menindih selaras satuan gunung api di bawahnya. Formasi Sambipitu mempunyai lokasi tipe di Desa Sambipitu, Utara Wonosari. Umur satuan ini diperkirakan Miosen Tengah dengan ketebalan sekitar 230 meter.