'PEMBELAJARAN MELALUI METODE PBL (PROBLEMBASEDLEARNING) DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN' Disusun Oleh: Wianti Aisyah, Yola

Desnera dan Rizki Amelia Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Disusun dalam rangka mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa Edisi Revisi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masyarakat dan bangsa Indonesia perlu dipersiapkan memasuki milenium ketiga dengan tuntutan-tuntutan global. Pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan tinggi, belum bermakna bagi peningkatan kualitas manusia Indonesia. Kehidupan moral, etos kerja, kemampuan dan keterampilan yang masih rendah. Kehidupan global menuntut penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, pendidikan tinggi belum sepenuhnya dapat memenuhi tuntutan-tuntutan tersebut. Jatuh bangunnya kualitas pendidikan di Indonesia disebabkan sering berubahnya kurikulum yang diterapkan pada pembelajaran. Fenomena yang sering terjadi di Indonesia yaitu setiap pergantian kabinet pemerintahan, dalam hal ini menteri pendidikan, berubah pula kurikulum yang diterapkan. Pendidikan dalam rangka untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang baru, tentunya mengalami berbagai hambatan dan tantangan. Tantangan-tantangan tersebut ada yang berasal dari dalam (internal) antara lain sebagai warisan kebijakan-kebijakan pendidikan masa lalu. Tantangan-tantangan internal tersebut antara lain, masalah kesatuan bangsa, demokratisasi pendidikan, desentralisasi manajemen pendidikan, dan kualitas pendidikan. Selain itu, terdapat tantangan global yaitu pendidikan yang kompetitif dan inovatif. Di dalam persaingan diperlukan kualitas individu yang dapat berkompetisi. Kemampuan berkompetisi tersebut dihasilkan oleh pendidikan yang kondusif dan efektif. Suatu sistem pendidikan dapat saja menghasilkan tenaga-tenaga pemikir yang berkembang tetapi apabila tidak inovatif maka kemampuan berpikirnya tidak akan mendapat makna di dalam kehidupan bersama. Metode konvensional juga sudah banyak dikritik dan dituntut untuk diperbaiki. Pembelajaran konvensional yang sifatnya searah yaitu dari dosen ke mahasiswa dan mahasiswa hanya pasif menerima materi dari dosen, sekarang dianggap cara yang kurang tepat lagi. Diperlukan metode pembelajaran yang lebih efektif yaitu membuat mahasiswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk maksud ini adalah metode ProblemBasedLearning (Jogiyanto, 2006). Pembelajaran berbasis masalah (ProblemBasedLearning), merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada mahasiswa. PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan mahasiswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga mahasiswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah (Ward, 2002). Saat ini banyak lulusan perguruan tinggi di Indonesia hanya memiliki karakteristik antara lain, hanya memahami teori, memiliki keterampilan individual, motivasi belajar hanya untuk lulus ujian, hanya berorientasi pada pencapaian grade atau pembatasan target, orientasi belajar hanya pada mata kuliah individual secara terpisah, proses belajar bersifat pasif, hanya menerima informasi dari dosen, serta penggunaan teknologi terpisah dari proses belajar. Padahal, sumber daya manusia yang diperlukan dalam pasar kerja,

Kesenjangan utama yang terjadi di atas. Definisi ProblemBasedLearning (PBL) .Menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang mampu mengelola masalah masalah baik akademik maupun profesional dari mereka yang mencari atau membutuhkan pelayanan dalam bentuk yang kompeten. berorientasi pada peningkatan terus-menerus dengan tidak dibatasi pada target tertentu saja. mempelajari bagaimana belajar yang efektif. membutuhkan pengetahuan terintegrasi antardisiplin ilmu untuk solusi masalah yang kompleks. memiliki keterampilan team work. 1.1. Setiap target yang tercapai akan terus-menerus ditingkatkan.Memahami konsep pembelajaran berdasarkan masalah atau ProblemBasedLearning.Mampu memahami langkah-langkah pembelajaran PBL dalam menyelesaikan suatu masalah. bekerja adalah suatu proses berinteraksi dengan orang lain dan memproses informasi secara aktif.antara lain kemampuan solusi masalah berdasarkan konsep ilmiah.Bagaimana kesiapan infrastruktur dan sumber daya pengajar dalam menerapkan metode PBL? 1. membutuhkan perubahan proses belajar di perguruan tinggi dari metode konvensional berupa kuliah atau ceramah. Manfaat Manfaat yang ingin dicapai dari pembuatan karya tulis ini. 3. 2.Bagaimana pengimplementasian metode PBL terhadap paradigma metode konvensional saat ini? 3. antara lain: 1. menjadi case ProblemBasedLearning yang mengandalkan analisis kasus dan solusi masalah sehingga memperoleh keterampilan sebagai problem solver yang handal. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas.Mengintegrasikan pengetahuan dasar keterampilan solusi masalah. 2. 2007). maka dapat diid entifikasikan masalah-masalah sebagai berikut: 1. BAB II TELAAH PUSTAKA 2.4.3. 1.Apakah metode PBL dapat diaplikasikan untuk segala bentuk mata kuliah? 2. penggunaan teknologi merupakan bagian integral dari proses belajar untuk solusi masalah (Ragil Turyanto. melalui mengajukan pertanyaan-pertanyaan lintas topik sehingga mampu beradaptasi dengan lingkungan dan memperoleh keberhasilan (Ragil Turyanto.2. Kurikulum perguruan tinggi di Indonesia seyogyanya diarahkan untuk case ProblemBasedLearning yang dilakukan melalui teori-teori ilmu pengetahuan diorganisasikan di seputar masalah-masalah nyata yang diambil dari praktik-praktik profesional. Tujuan Tujuan yang hendak dicapai dari pembuatan karya tulis ini. 2007). sebagai berikut: 1.Menerapkan metode PBL dalam team work secara langsung. dan keterampilan kerja sama. keterampilan pembelajaran mandiri yang efektif.

Margetson (1991) pula menganggap PBL sebagai konsep pengetahuan. Menurut Duch (1995). Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. Di dalam melaksanakan proses pembelajaran PBL ini.S.. Barrows (1982). 8. Bridges (1992) dan Charlin (1998) telah menggariskan beberapa ciri-ciri utama yang perlu ada di dalamnya seperti berikut: 1.Mahasiswa berpeluang untuk meningkatkan serta mengorganisasikan pengetahuan.Pengetahuan yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa semasa proses pembelajaran disusun berdasarkan masalah. PBL adalah proses pembelajaran yang titik awal pembelajaran berdasarkan masalah dalam kehidupan nyata lalu dari masalah ini mahasiswa dirangsang untuk mempelajari masalah berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang telah mereka punyai sebelumnya (prior knowledge) sehingga dari prior knowledge ini akan terbentuk pengetahuan dan pengalaman baru. (Gallagher. PBL adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerja sama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah-masalah di dunia nyata.the learning which result from the process of working towards the understanding of.Pembelajaran berpusat atau bermula dengan masalah. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis.Para mahasiswa bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka sendiri.Kebanyakan pembelajaran berlaku dalam kumpulan kecil dibanding menerusi kaidah perkuliahan. Mahasiswa akan membina kebolehan berpikir secara kritis secara kontinu berkaitan dengan ide yang dihasilkan serta apa yang akan dilakukan dengan maklumat yang diterima.. Diskusi dengan menggunakan kelompok kecil merupakan poin utama dalam penerapan PBL. 2004). 9. dkk. 6. or resolution of.Mahasiswa akan bersifat aktif dengan pemrosesan maklumat. 7. H. Dengan demikian. Boud dan Tamblyn (1980) mendefinisikan PBL sebagai . sebagai pakar PBL menyatakan bahwa definisi PBL adalah sebuah metode pembelajaran yang didasarkan pada prinsip bahwa masalah (problem) dapat digunakan sebagai titik awal untuk mendapatkan atau mengintegrasikan ilmu (knowledge) baru. pemahaman dan pendidikan secara mendalam berbeda daripada kebanyakan konsep yang terletak di bawah pembelajaran berasaskan mata kemahasiswaan.Masalah yang digunakan merupakan masalah dunia sebenarnya yang mungkin akan dihadapi oleh mahasiswa dalam kerja profesional mereka di masa depan. 5. 2. 2003). masalah yang ada digunakan sebagai sarana agar anak didik dapat belajar sesuatu yang dapat menyokong keilmuannya. Menurut Boud dan Felleti (1991.Pengetahuan sedia ada akan diaktifkan serta menyokong pembangunan pengetahuan yang baru. 4.Pengetahuan akan diperoleh dalam konteks yang bermakna. serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber-sumber pembelajaran. PBL merupakan satu proses pembelajaran di mana masalah merupakan pemandu utama ke arah pembelajaran tersebut. dalam Saptono. Dengan menggunakan pendekatan PBL ini. 1997). mahasiswa akan bekerja secara kooperatif dalam kumpulan untuk menyelesaikan masalah sebenarnya dan yang paling penting membina kemahiran untuk menjadi mahasiswa yang boleh belajar secara sendiri (Hamizer. .PBL adalah metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru (Suradijono. 3. a problem. 2003) menyatakan bahwa ³ProblemBasedLearning is a way of constructing and teaching course using problem as a stimulus and focus on student activity´.

Sebelum akhir sesi pertama. Metode PBL Alder dan Milne (1997:195) mendefinisikan PBL dengan metode yang berfokus kepada identifikasi permasalahan serta penyusunan kerangka analisis dan pemecahan. Mereka ditantang untuk memahami situasi berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang ada. Selama diskusi. mendiskusikan hal-hal yang tidak atau kurang dipahami serta berbagi peran untuk melaksanakan tugas dan saling melaporkan. metode PBL ini memberikan mahasiswa permasalahan yang tidak terstruktur dengan baik dan pemecahan masalah yang tidak satu saja karena berfokus pada pembelajaran sendiri (self-learning) serta sangat jauh dari penjelasan yang langsung ke inti atau penjelasan yang langsung diberikan oleh pengajar. Penstimulusan pengetahuan yang ada akan memfasilitasi integrasi pengetahuan baru. banyak kerja sama dan interaksi. Metode ini dilakukan dengan membentuk kelompok-kelompok kecil.1. Belajar akan lebih baik jika mahasiswa bisa mengajukan pertanyaan dan mencari jawabannya sendiri.2. pengajar mendampingi mahasiswa untuk fokus terhadap . Mahasiswa mengorganisasikan apa yang telah mereka pahami tentang permasalahan dan mencoba mengidentifikasi hal-hal terkait. Milne dan McConnell (2001:64-65) memberikan gambaran proses ideal dari PBL yang terlihat dalam tabel di bawah ini: Tabel 2. Apa yang diketahui? Mahasiswa berlatih mengobservasi. Konteksnya relevan sehingga akan lebih memotivasi. Belajar secara terus-menerus mengarah kepada kebiasaan. Proses Ideal Metode PBL Proses Tujuan Hasil Pengajar memulai sesi awal PBL dengan presentasi permasalahan yang akan dihadapi oleh mahasiswa. Mahasiswa terstimulus untuk berusaha menyelesaikan permasalahan di lapangan yang nantinya bisa saja menjadi situasi nyata tempat mereka bekerja.2. Menurut Peterson (2004). Belajar sesuai konteksnya akan diingat lebih lama dan dipahami lebih mudah. mahasiswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang tidak mereka pahami (Apa yang ingin diketahui?) Mahasiswa terdorong untuk mengidentifikasi apa yang tidak mereka ketahui atau pahami. Ini melengkapi dasar mereka dalam menghadapi tantangan belajar selanjutnya.

. Pada awal sesi ini mahasiswa diharapkan dapat membagi pengetahuan baru yang mereka peroleh. Mahasiswa berlatih mentransfer pengetahuan dalam konteks nyata. Pengetahuan baru dan Pemahaman diaplikasikan pada permasalahan. Mereka membagi pemahaman baru dengan mempresentasikan serta menanyakannya. Mahasiswa mungkin membutuhkan penguraian solusi walaupun tidak selamanya itu penting. Mahasiswa berlatih menukar informasi dari bermacam sumber.pertanyaan yang dianggap penting. Mahasiswa menguji validitas dari pendekatan awal dan menyaringnya. Mahasiswa belajar mengaplikasikan pengetahuan baru terhadap permasalahan semula atau permasalahan yang akan terjadi nantinya. Mahasiswa belajar cara untuk mendapatkan informasi dari bermacam sumber. Mahasiswa belajar bagaimana untuk mempresentasikan informasi dan bagaimana bertanya. Setelah periode self-study. Mahasiswa menentukan cara membagi tanggung jawab untuk menyelidiki pertanyaan (Apa yang akan dilakukan? Apa yang harus dilakukan sebagian dari kita? Siapa yang melakukan apa?) Mahasiswa bisa memahami hal yang terjadi secara lengkap dan belajar menggunakan interrelating ide serta pengetahuan dari bermacam disiplin. Kerja tim dan keahlian manajemen akan terbangun. sesi kedua dilakukan. Kerja tim dan rasa kebersamaan juga akan berkembang. Integrasi dari belajar membantu untuk menggabungkan pemahaman.

Key process is teaching. Pertanyaan yang diajukan bersifat menggali pendapat dan mengembangkan kemampuan analisis mahasiswa. Sedangkan. tetapi juga harus menguasai metode penyampaian . Partisipasi mahasiswa rendah karena mahasiswa hanya diberi kebebasan untuk bertanya mengenai materi yang telah dijelaskan oleh dosen sehingga metode konvensional masih kurang menggugah daya pemikiran mahasiswa. Pada hPBL. berbeda dengan kurikulum yang dikenal selama ini yang disebut dengan kurikulum konvensional. Pada jam pertama perkuliahan. early clinical exposure. pada satu jam terakhir. dosen memberikan rangkuman dan inti dari diskusi pada hari itu disertai dengan inti dari konteks materi dihubungkan dengan implementasi di lapangan. Mahasiswa menjelaskan (two way learning). Setelah melalui proses ini. Terdapat dua jenis kurikulum PBL. Dalam pelaksanaan hPBL digunakan strategi SPICES (student centered. Dosen hanya menyiapkan materi. Perbedaan Metode Konvensional dengan PBL Metode konvensional berupa kuliah atau ceramah yang memusatkan perhatian mahasiswa sepenuhnya kepada dosen sehingga yang aktif di sini hanya dosen.2. 2. Dosen bertanya. Perbedaan Metode Konvensional dengan Metode PBL Metode Konvensional Metode PBL Berfokus pada dosen Berfokus di mahasiswa Dosen menerangkan dan mahasiswa mendengarkan (one way learning). self directed learning) dengan tetap memperhatikan adanya pengulangan materi yang bersifat spiral atau helix. metode yang diterapkan adalah diskusi.4.3.2. 2005). hanya sebagian dari kurikulum konvensional yang diubah dan ditransformasikan ke sistem blok. Dosen merangkum materi berdasarkan hasil diskusi/pemikiran mahasiswa. yaitu hybrid PBL (hPBL) dan PBL curriculum (PBLc). Perbedaan pokok antara keduanya terletak pada aspek integrasi disiplin ilmu. Mahasiswa bertanya. Komisi yang dapat melakukan validasi antara lain Komisi Pengkajian Kurikulum yang dapat dibentuk di tingkat jurusan atau fakultas. sedangkan mahasiswa hanya tunduk mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh dosen. tidak serumit PBLc. Key process is learning. Kurikulum PBL bersifat sentral atau tidak lagi bersifat departemental. community oriented. Tabel 2. metode PBL adalah metode perkuliahan yang berbasis kepada partisipasi para mahasiswa. 2005). Kemudian. Dosen memberikan pertanyaan kepada mahasiswa yang ditunjuk secara acak. Dosen tidak hanya menyiapkan materi. dan ciri-ciri tiap disiplin ilmu (Supeno Djanali. problembasedlearning. Dosen menjelaskan seluruh materi. Hybrid PBL bersifat sederhana. Kurikulum PBL mengubah dan menstransformasikan seluruh kurikulum konvensional menjadi sistem blok melalui pemetaan kurikulum dan tujuan belajar yang terintegrasi. kurikulum yang telah tersusun perlu melalui beberapa tahap validasi sebelum dilaksanakan. Model hPBL seperti ini tidak mengganggu kurikulum konvensional yang ada (Harsono. struktur unit ranah. Kurikulum PBL Pada saat ini beberapa program studi di beberapa perguruan tinggi menerapkan kurikulum (PBL). atau sebagai salah satu komisi dalam senat fakultas.

Tidak mungkin orang dapat belajar secara serius jika motivasi membaca disebabkan oleh ketertarikan terhadap daya pikat kata -kata pengarangnya.5. Berikut ini bagan evaluasi diri dalam pengembangan sikap kritis dalam belajar: Gambar 2. 2002) Dalam pendidikan gaya bank. Semakin tekun kita belajar semakin kita mempunyai pandangan global dan makin mampu mengaplikasikannya ketika membaca suatu teks dengan cara memilah-milah komponennya. tetapi sekedar hafalan. Berikut ini beberapa cara untuk mengembangkan sikap kritis dalam belajar menurut Paulo Freire (1999) : a. dalam hal ini adalah pelajar merasa tertantang oleh teks yang disodorkan padanya dan tujuan membaca adalah untuk memahami makna yang lebih dalam. hanya berusaha menghafal pemikiran pengarangnya. Mahasiswa aktif (partisipatif tinggi). yang dimulai dengan terus mengamati kebenaran yang tersembunyi di balik fakta yang dipaparkan dalam teks-teks. Sekali lagi bukannya memahami teks. Sikap kritis dalam belajar sama dengan sikap yang diperlukan untuk menghadapi dunia (yakni dunia dan kehidupan nyata pada umumnya). 2006) 2. Sebaliknya pendidikan semacam itu justru pada dasarnya membunuh semangat. untuk bertanya dalam hati. serta terus mencarinya.1.Pada dasarnya praktik belajar adalah bersikap terhadap dunia. Obyek dan Komponen Evaluasi Diri (Sumber : Buku Pedoman Evaluasi-Diri BAN PT. terpesona oleh kekuatan magis. Pengembangan Sikap Kritis dalam Belajar Sesungguhnya. belajar itu merupakan pekerjaan yang cukup berat yang menuntut sikap kritis-sistemik dan kemampuan intelektual yang hanya dapat diperoleh dengan praktik langsung. Kualitas perilaku belajar tidak bisa diukur dengan jumlah halaman yang dibaca selama . b. Mahasiswa pasif (partisipatif rendah). tetapi tugasnya hanya menghafal dan jika mahasiswa melakukannya berarti telah memenuhi kewajibannya. Orang yang sedang belajar tidak boleh menghentikan rasa ingin tahunya terhadap orang lain dan kehidupan nyata. dan kreativitas kita (Paulo Freire. Mahasiswa dapat dengan mudah menangkap esensi dari perkuliahan. terutama catatan (reading habit rendah). Belajar adalah memikirkan pengalaman. Mereka itu selalu bertanya dan berusaha menemukan jawaban. atau jika dia bersikap pasif dan terbelenggu. atau jika pembaca dijadikan sebuah ¶bejana¶ yang cukup diisi dengan kutipan-kutipan dari teks yang termaktub di dalamnya. keingintahuan. Dengan memelihara sikap ingin tahu ini menyebabkan kita menjadi cekatan dan mendapat banyak keuntungan. Sikap kritis manusia sama sekali tidak dapat dihasilkan oleh pendidikan yang bergaya bank (banking education). Membaca ulang sebuah teks untuk mengetahui batasan-batasan komponen tersebut akan menciptakan pemahaman yang lebih signifikan secara keseluruhannya.materi yang efektif. Lain halnya dengan visi pendidikan yang kritis : seorang pembaca. (Magister Management UI. Mahasiswa membaca sesuai silabus sebelum kuliah dimulai (reading habit tinggi). Mahasiswa hanya menghafal materi) dan kemudian lupa. dan memikirkan pengalaman adalah cara terbaik untuk berpikir secara benar. atau jika dia membiarkan dirinya ¶diserbu¶ oleh pemikiran pengarang. Mahasiswa membaca menjelang ujian. 1999).Pembaca harus mengetahui peran dirinya. yang dibutuhkan bukanlah pemahaman akan isi.

karena akan memberikan kebiasaan ³berpikir melalui masalah (think through the real problems)´. 2. 2. Peran serta mahasiswa yang dimaksud adalah seperti menghadiri dan mengikuti keseluruhan perkuliahan dan tidak diperkenankan men-drop mata kuliah di saat mata kuliah tersebut sedang berjalan. Berikut ini bagan Standar Keterkaitan Tri Dharma Perguruan Tinggi Terintegrasi dengan Perwujudan Suasana Akademik Kondusif: Gambar 2.Mahasiswa mampu berpikir kritis. Studi kasus mengembangkan kemampuan penggunaan atau penerapan ilmu pengetahuan secara efektif dalam menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah. Belajar menganalisis dan menyelesaikan studi kasus merupakan penerapan ³body of knowledge´ yang penting dan sesungguhnya.2. 2004): 1. Latihan-latihan solusi masalah dalam studi kasus merupakan pelatihan dan persiapan yang baik bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja (bisnis dan industri) maupun akan meniti karier sebagai ilmuwan. waktu kegiatan disesuaikan dengan beban kurikulum yang hendak dicapai. namun menciptakan dan terus menciptakan ide. yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata atau setidak-tidaknya mendekati dunia nyata. Studi kasus menempatkan pembelajaran dalam konteks dunia. mengembangkan inisiatif. Mahasiswa sering bertanya mengapa mereka perlu mempelajari suatu topik atau informasi apa yang akan diperoleh dan digunakan oleh mereka ketika mempelajari topik. Metode studi kasus menggunakan strategi pembelajaran kooperatif atau kolaborasi antara dosen yang berfungsi sebagai fasilitator dan mahasiswa sebagai team (kelompok) melalui diskusi dan presentasi kelompok. 2. Langkah-Langkah Kegiatan PBL Peran mahasiswa secara umum dalam perkuliahan ber-PBL adalah mempersiapkan diri untuk belajar dan bekerja secara kelompok serta berperan aktif dalam kuliah.Mahasiswa memperoleh pengetahuan dasar (basic sciences) yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah yang dijumpainya. 3. Mekanisme Standar Keterkaitan Tri Dharma Perguruan Tinggi Terintegrasi dengan Perwujudan Suasana Akademik Kondusif (Sumber : Buku Pedoman Evaluasi-Diri BAN PT. Belajar bukanlah mengonsumsi ide. . Latihan-latihan berpikir yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa sebagai team work dalam melakukan analisis studi kasus adalah serupa analogi dengan aktivitas ilmuwan dalam riset. Dalam mengikuti kegiatan PBL.Student-centered: mahasiswa belajar secara aktif dan mandiri (sebagai adult learner) dengan sajian materi terintegrasi (horisonal dan vertikal) dan relevan dengan real setting (profesionalisme).7.6. 2002) Konsep inovasi pendidikan (Harsono. Studi Kasus dalam Metode PBL Metode studi kasus memungkinkan mahasiswa mempraktikkan keterampilan komunikasi baik secara tertulis maupun lisan. Setiap pengajar memiliki kebijakan sendiri dalam menyusun waktu kegiatan yang akan dilaksanakan.satu semester.

Hipotesis/penjelasan logis sistematis 4. Informasi pada karya tulis ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari buku tentang kehidupan politik pendidikan di Indonesia. 4. Perangkuman hasil/penyusunan laporan ke masalah berikutnya Fasilitator BAB III METODE PENULISAN 3. 3. Filosofi. Pencarian dan pengumpulan data yang dilakukan melalui studi literatur yang dilakukan baik di perpustakaan maupun di internet. Selain itu. Penyusunan karya tulis ini bertempat di Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran. Identifikasi masalah 2.2. Waktu dan Tempat Penulisan Penulisan dilaksanakan pada bulan Februari 2008. 3. Identifikasi pengetahuan Fasilitator Belajar mandiri/ individual 1. Pengulangan kegiatan 2.3. Sintesis pengetahuan lama dan baru untuk diterapkan pada permasalahan Narasumber Diskusi kelompok II 1. Identifikasi pengetahuan baru 3. Analisis masalah 3. Jatinangor. Pendekatan dan Penerapan Pembelajaran Metode Kasus. Menelaah metode PBL di Indonesia. pengumpulan data dilakukan juga melalui pencarian berbagai jurnal dan artikel di internet yang memuat informasi mengenai metode ProblemBasedLearning (PBL) baik pengaruh maupun pengaplikasiannya. 2. Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan diantaranya sebagai berikut : 1. Mengamati dan menelaah mengenai PBL.Tabel 2. Penentuan sumber pembelajaran 2. Metode Penulisan Metode penulisan yang dilakukan pada karya tulis ini adalah dengan cara penelusuran data.1. Langkah-langkah PBL berikut ini: Kegiatan Langkah-langkah Pembimbing Diskusi kelompok I 1. Analisis informasi yang meliputi : . Menyimpulkan hal yang tidak dipelajari 3.

sebaiknya urutan-urutan pembelajaran mahasiswa paralel dengan urutan kejadian yang terjadi di dunia kerja sehingga mahasiswa akan mendapatkan keterampilan kognitif dan pengetahuan yang mereka butuhkan di dunia kerja saat mereka belajar dengan konteks dunia kerja. dan belajar bagaimana mendapatkan informasi yang dibutuhkan lewat berbagai sumber termasuk sumber-sumber online. Mereka menerapkan apa yang telah mereka ketahui. PBL bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan kecakapan yang penting yakni pemecahan masalah. profesional dan para pakar. Dalam proses ini mahasiswa bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri karena keterampilan itu yang akan mereka butuhkan nantinya dalam kehidupan profesional mereka. Menginterpretasikan data berdasarkan hubungan antara data yang satu dengan data yang lainnya.Barrows. yang barangkali sama tuanya dengan peradaban manusia. Berbagai fakultas yang mempunyai berbagai bidang baik eksakta maupun non-eksakta. dimana hasil interpretasi data dari sumber-sumber yang ada dirangkai secara sistematis dan logis dalam bentuk karya tulis. belajar sendiri. yaitu membandingkan data yang sama dari narasumber yang berbeda kemudian menentukan data yang digunakan berdasarkan informasi yang paling akurat c. PBL telah mengembangkan metode pembelajaran ini. tentu memiliki suatu permasalahan yang secara tidak langsung harus dapat dipecahkan oleh mahasiswa. Karena itu. 2005). Mata kuliah yang sangat relevan dilaksanakan dengan metode PBL adalah kelompok Mata Kuliah . perpustakaan. b. dimana pemula mempelajari pengetahuan dan keterampilan dari bidang yang dipilihnya dengan mengerjakan sesuatu dibawah panduan dan pengajaran seorang yang ahli. dan memungkinkan mahasiswa mengambil banyak manfaat saat mereka belajar. Selayaknya seorang pakar. dengan pemahaman baru melalui penelitian tentang pendidikan dan pengalaman dalam tiga puluh tahun terakhir. Klarifikasi data. mulai dari sekolah dasar hingga pendidikan pascasarjana profesional. kerja sama tim. Tidak semua mata kuliah atau mata pelajaran dimungkinkan untuk dilaksanakan dengan metode PBL. PBL kini telah meluas digunakan di seluruh dunia untuk semua tingkatan pendidikan. dan pemerolehan yang luas atas pengetahuan (H. Penerapan Metode PBL pada Mata Kuliah Howard Barrows (2005) menyatakan PBL merepresentasikan metode belajar yang ³Learn-by-doing´ dan akar dasarnya adalah metode pemagangan (apprenticeship). PBL juga optimal untuk berbagai fakultas dan bidang. Strategi dalam PBL adalah memberikan mahasiswa ³problem´ dan tugas yang akan mereka hadapi dalam dunia kerja dan dalam proses usaha mereka memecahkan masalah tersebut mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan atas masalah itu. sampai ia nantinya mampu menghasilkan karyanya sendiri. BAB IV PEMBAHASAN 4. Klasifikasi data. menemukan apa yang perlu mereka ketahui. Mata kuliah tingkat lanjut lebih cocok diajarkan dengan metode PBL karena dalam PBL pembelajaran mahasiswa dilakukan dengan cara membangun penalaran dari semua pengetahuan yang dimiliki mahasiswa dan dari semua yang diperoleh sebagai hasil kegiatan berinteraksi dengan sesama individu. d. Penulisan laporan. yaitu pengelompokkan data berdasarkan permasalahan yang akan dibahas. seorang pengajar menjadi tutor yang akan memfasilitasi proses pembelajaran.a.1. Singkatnya.

Di sisi lain.Keahlian Berkarya (MKB). Para pengajar juga harus ³belajar´ dan ³belajar ulang´ agar tetap terus relevan dan menginspirasi mahasiswa kita untuk memaksimalkan potensi mereka. Lalu. mata kuliah kuantitatif lebih cocok menggunakan metode PBL. Mata kuliah selain kelompok MKB perlu ditingkatkan untuk mendukung pelaksanaan mata kuliah ber-PBL dan mendukung paradigma studendcentered learning. Dari paparan tersebut dapat diketahui bahwa penerapan PBL dalam pembelajaran dapat mendorong mahasiswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. mahasiswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis (I Wayan Dasna dan Sutrisno. 2007). mahasiswa diberikan soal hitungan yang sederhana. pengembangan proses pembelajaran secara alamiah disimulasi oleh masalah-masalah pada situasi nyata dimana PBL menstimulasi proses belajar dengan menggunakan masalah-masalah tersebut pada situasi nyata dari suatu bidang. juga perlu memberikan contoh-contoh pemecahan problem nyata dengan memanfaatkan teori-teori yang ada. Para pengajar. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermacam-macam pertanyaan di sekitar masalah seperti ³apa yang dimaksud dengan«. Institusi. ³apa yang harus dilakukan´ atau ³bagaimana melakukannya´ dan seterusnya. Bila pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah. apalagi bila masalah tersebut bersifat kontekstual. pengajar masing-masing punya peran yang saling menunjang.´. Dengan demikian. Oleh sebab itu.´. Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh mahasiswa yang diajar dengan PBL yaitu: . fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga pembelajar tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut. inti materi hari tersebut serta kaitannya dengan materi untuk pertemuan minggu selanjutnya ditekankan kembali. Pada akhir pertemuan. Bila pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri mahasiswa maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Pembahasan tugas tersebut dilanjutkan dengan lecturing. 2007). mahasiswa. Dengan demikian. mahasiswa bisa diminta satu per satu untuk mengerjakan tugas di depan atau ditanya satu per satu. Mahasiswa dapat mengerjakan soal tersebut cukup dengan membaca materi dari text book. ³mengapa bisa terjadi«. mahasiswa merasa percaya diri mengikuti perkuliahan hari tersebut karena merasa bisa mengerjakan tugas yang diberikan. maka dapat terjadi ketidaksetimbangan kognitif pada diri mahasiswa. Para Pengajar harus mampu mengeluarkan kemampuan setiap mahasiswa dan memungkinkan mereka berkembang. Para pengajar harus meneliti ulang peran mereka kini. terutama punya peran memberikan inspirasi agar potensi mahasiswa dimaksimalkan. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya. Pendidikan tinggi selain memberikan teori-teori yang cukup. Pada kondisi tersebut diperlukan peran dosen sebagai fasilitator untuk mengarahkan mahasiswa tentang ³konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah´. ³bagaimana mengetahuinya«´ dan seterusnya. Untuk menghasilkan bibit mahasiswa yang baru. ketika perkuliahan dimulai dengan pembahasan tugas. Dalam PBL. Dalam model PBL. Proses pembelajaran dalam mata kuliah tersebut ditingkatkan dengan mengadopsi pilar student-centered learning (Sudarman. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. para pengajar dan institusi juga harus berubah.

mereka dapat mengemukakan ide pemecahan yang logis. Diskusi secara tidak resmi dapat menumbuhkan suasana kolaborasi. bermanfaat bagi mahasiswa dalam menyelidiki permasalahan. Mahasiswa yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Dukungan sosial dan kontekstual. PBL juga bertujuan untuk membantu mahasiswa mahasiswa belajar secara mandiri. Artinya belajar . Fleksibelitas kognisi merepresentasi materi pokok dalam upaya memahami kompleksitas yang berkaitan dengan domain pengetahuan. argumentasi yang logis. membantu mahasiswa untuk memahami pokok-pokok permasalahan secara implisit. Lingkungan belajar konstruktivistik mencakup beberapa faktor yaitu (Jonassen dalam Reigeluth (Ed). Dukungan sosial dalam kelompok. Kasus-kasus berhubungan dapat membantu mahasiswa belajar mengidentifikasi akar masalah atau sumber masalah utama yang berdampak pada munculnya masalah yang lain. Mahasiswa yang melakukan inkuiri dalam pembelajaran akan menggunakan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skill) di mana mereka akan melakukan operasi mental seperti induksi. Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Fleksibelitas kognisi dapat menumbuhkan kreativitas berpikir divergen di dalam mempresentasikan masalah.1. Sumber-sumber informasi. Belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors). Percakapan dan kolaborasi. klasifikasi. Dalam konteks belajar sains. Inkuiri dan keterampilan melakukan pemecahan masalah. dan sikap ilmiah. deduksi. Fleksibelitas kognisi dapat ditingkatkan dengan memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memberikan ide-idenya. Suasana kompetitif antarkelompok juga dapat mendukung kinerja kelompok. dan dukungan sosial dan kontekstual. pengetahuan sains yang dimiliki siswa terhadap masalah yang dipecahkan dapat digunakan sebagai acuan awal dan dalam penelusuran bahan pustaka sesuai dengan masalah yang mereka pecahkan. Diskusi yang intensif dimana terjadi proses menjelaskan dan memperhatikan penjelasan peserta diskusi dapat membatu siswa mengembangkan komunikasi ilmiah. Berdasarkan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa PBL sebaiknya digunakan d alam pembelajaran karena: 1. Dukungan sosial dan kontekstual hendaknya dapat diakomodasi oleh para dosen untuk menyukseskan pelaksanaan pembelajaran (I Wayan Dasna dan Sutrisno. Kegiatan belajar seperti itu dapat membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan berpikir kritis yang sangat berguna dalam kehidupan seharihari (I Wayan Dasna dan Sutrisno. berhubungan dengan bagaimana masalah yang menjadi fokus pembelajaran dapat membuat mahasiswa termotivasi untuk memecahkannya. dan reasoning. pemodelan yang dinamis. adanya kondisi yang saling memotivasi antarmahasiswa dapat menumbuhkan kondisi ini. 2. Inkuiri dan keterampilan proses dalam pemecahan masalah telah dipaparkan sebelumnya. 2007). Informasi dikonstruksi dalam model mental dan perumusan hipotesis yang menjadi titik tolak dalam memanipulasi ruang permasalahan. Dari masalah yang mahasiswa tetapkan. percakapan dan kolaborasi. Pembelajaran PBL dapat diterapkan bila didukung lingkungan belajar yang konstruktivistik. 1999:218): kasus-kasus berhubungan. 2007). Keterampilan belajar mandiri (skills for independent learning). fleksibelitas kognisi. Kasus-kasus berhubungan. dilakukan dengan diskusi dalam proses pemecahan masalah. cognitive tools. Ide-ide tersebut dapat didiskusikan dahulu dalam kelompok kecil sebelum dilaksanakan. yang menggambarkan pemahamannya terhadap permasalahan. dan 3. mereka dapat mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah. sumber-sumber informasi.

atau perubahan-perubahan sementara dari organisme. di Bonoma. Dalam situasi PBL.tersebut ada pada konteks aplikasi konsep.1996. Artinya. PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Berikut ini bagan Proses Transformasi-Produktif di Perguruan Tinggi: Gambar 4. mahasiswa belajar teori dan metode ilmiah agar dapat memecahkan masalah yang menjadi pusat perhatiannya (I Wayan Dasna dan Sutrisno. Masalah tersebut dapat berasal dari mahasiswa atau mungkin juga diberikan oleh pengajar. penerapan model ini mulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan atau dicari pemecahannya oleh mahasiswa. kematangan. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. 2002) Ada beberapa cara menerapkan PBL dalam pembelajaran. model PBL mungkin dapat menjadi salah satu solusi untuk mendorong mahasiswa berpikir dan bekerja dibanding menghafal dan bercerita. Dengan demikian mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Bila keadaan ini berlangsung terus maka mahasiswa akan mengalami kesulitan mengaplikasikan pengetahuan yang diperolehnya di kelas dengan kehidupan nyata. motivasi internal untuk belajar. Dengan kata lain. Proses Transformasi-Produktif di Perguruan Tinggi (Sumber : Buku Pedoman Evaluasi-Diri Program Studi ±BAN PT. 4. penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada mahasiswa. dengan arti lain. dengan keadaan bahwa karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi asli. Oleh sebab itu. menumbuhkan inisiatif mahasiswa dalam bekerja.(Learning is the process by which an activity originates or is changed through reacting to an encountered situation. pelajaran di kelas adalah untuk memperoleh nilai ujian dan nilai ujian tersebut belum tentu relevan dengan tingkat pemahaman mereka. or temporary state of the organism) (Hilgard dan Bower. 2.2. Mahasiswa akan memusatkan pembelajaran di sekitar masalah tersebut.hal 2. Gejala umum yang terjadi pada mahasiswa pada saat ini adalah ³malas berpikir´ mereka cenderung menjawab suatu pertanyaan dengan cara mengutip dari buku atau bahan pustaka lain tanpa mengemukakan pendapat atau analisisnya terhadap pendapat tersebut. Oleh sebab itu. provided that the characteristics of the change in activity cannot be explained on the basis of native response tendencies. maturation. dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. 3. mahasiswa mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan. Oleh sebab itu. penggunaan PBL dapat memberikan pengalaman belajar .1. Pengimplementasian Metode PBL dalam Pembelajaran Pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi. 2007).1987). Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika mahasiswa berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan. Dengan demikian mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. Secara umum. apa yang mereka lakukan sesuai dengan keadaan nyata bukan lagi teoritis sehingga masalahmasalah dalam aplikasi suatu konsep atau teori mereka akan temukan sekaligus selama pembelajaran berlangsung.

dan alat-alat laboratorium. Berikut Diagram Sebab-Akibat Pembentukan Suasana Akademik Kondusif: Gambar 4.Menganalisis data. Dalam hal ini dosen harus berperan sebagai fasilitator agar pembelajaran tetap pada bingkai yang direncanakan. sangat penting adanya pendampingan oleh dosen pada tahap ini. kurang relevan dengan konteks materi pembelajaran. 5. Institusi dalam PBL adalah perguruan tinggi atau satuan pendidikan. atau suatu masalah yang sangat menyimpang dengan tingkat berpikir siswa dapat menyebabkan tidak tercapainya tujuan pembelajaran. Ketiga komponen ini bekerja sesuai peran atau tugas masing-masing untuk mencapai pembelajaran dalam mata kuliah ber-PBL secara optimal. 4. 2002) Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Pannen. 2.Memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya. (2) menjamin keterlaksanaan . Artinya. 2001). yaitu: 1. Dalam perkuliahan dengan metode PBL ada tiga komponen yang akan bekerja yaitu (1) insitusi.Mengidentifikasi masalah. Langkah mengidentifikasi masalah merupakan tahapan yang sangat penting dalam PBL. Oleh sebab itu.Infrastruktur dan Sumber Daya Pengajar dalam Menerapkan Metode PBL Sebelum melaksanakan perkuliahan dengan metode PBL perlu dilakukan persiapan yang lebih intensif. 3. Pemilihan masalah yang tepat agar dapat memberikan pengalaman belajar yang mencirikan kerja ilmiah seringkali menjadi ´masalah´ bagi dosen dan siswa.Mengumpulkan data. (2) dosen dan asisten dosen.3.melakukan kerja ilmiah yang sangat baik kepada mahasiswa. Namun yang harus dicapai pada akhir pembelajaran adalah kemampuannya untuk memahami permasalahan dan alasan timbulnya permasalahan tersebut serta kedudukan permasalahan tersebut dalam tatanan sistem yang sangat luas. pemilihan masalah yang kurang luas. Setiap tahap dalam pemecahan masalah. perpustakaan. Suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan dalam PBL adalah pertanyaan berbasis why bukan sekedar how. 6. Empat tahap yang pertama mutlak diperlukan untuk berbagai kategori tingkat berpikir.Melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. dan (3) mahasiswa. sedangkan empat tahap berikutnya harus dicapai bila pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). dan 8. tetapi kemampuan menjelaskan permasalahan dan bagaimana permasalahan dapat terjadi. 7. Institusi ini akan mendukung pelaksanaan pembelajaran ber-PBL antara lain: (1) mempersiapkan sarana perkuliahan.2.Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan.Merencanakan penerapan pemecahan masalah.Memilih cara untuk memecahkan masalah. Walaupun dosen tidak melakukan intervensi terhadap masalah tetapi dapat memfokuskan masalah melalui pertanyaan-pertanyaan agar mahasiswa melakukan refleksi lebih dalam terhadap masalah yang dipilih. 4. keterampilan mahasiswa dalam tahap tersebut hendaknya tidak semata-mata keterampilan how. Diagram Sebab-Akibat Pembentukan Suasana Akademik Kondusif (Sumber : Buku Pedoman Evaluasi-Diri Program Studi ±BAN PT.

2. pengajar masing-masing mempunyai peran yang saling menunjang. Untuk itu secara berkelanjutan. Walaupun peran dosen tidak lagi dominan dalam pelaksanaan perkuliahan ber-PBL. Dalam PBL. 1.Secara umum pengimplementasian model ini mulai dengan adanya masalah yang harus dipecahkan oleh mahasiswa. (3) menyediakan asisten perkuliahan. dosen perlu mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan dan melakukan perbaikan segera bilamana diperlukan baik dari sisi content maupun proses. namun tetap dosen bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian tujuan perkuliahan. Institusi. 1.1. output.4. tetapi tidak semua mata kuliah dimungkinkan untuk dilaksanakan dengan metode PBL. sebaliknya mendorong dilakukannya diskusi dan pembelajaran antar para mahasiswa. (4) mempersiapkan sarana jaringan komputer. 3. peran dosen dan asisten adalah sebagai fasilitator pembelajaran dan membangun komunitas pembelajaran.Infrastruktur harus dipersiapkan dalam pelaksanaan PBL dengan baik. Kesimpulan 1. mahasiswa. 2. Mata kuliah yang sangat relevan dilaksanakan dengan metode PBL adalah mata kuliah kelompok Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB). Para . Pemecahan masalah dalam PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. dan (5) merekam kehadiran perkuliahan mahasiswa dalam database sehingga informasinya dapat digunakan untuk evaluasi pelaksanaan mata kuliah ber-PBL.Secara bertahap mempersiapkan materi perkuliahan dalam bentuk file elektronik dan memberikan beberapa sumber antara lain buku referensi dan link website.ProblemBasedLearning (PBL) optimal untuk segala fakultas. BAB V PENUTUP 5. dan outcome dari perkuliahan. Peran dosen adalah: 1.Mendorong para mahasiwa untuk mengeksplorasi pengetahuan yang diperlukan selanjutnya.Mempersiapkan skenario yang akan dibahas pada tiap sesi dan mengatur silabus mata kuliah dalam format Rencana Program Kegiatan Pembelajaran Semester (RPKPS). 2. Dengan demikian mahasiswa belajar memecahkan masalah secara sistematis dan terencana. 3.3. Jumlah sesi disesuaikan dengan cakupan materi. 1. 4. Dosen umumnya diharapkan untuk menahan diri tidak memberikan informasi.Sebagai evaluator.perkuliahan dengan mengganti kuliah yang tak terselenggara dan bila diperlukan membentuk tim dosen mata kuliah.

2. sehingga dapat dihasilkan lulusan yang kompeten. Howard Barrows. serta mampu mencari solusi pemecahan masalah. Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi. Ferdian. Diakses dari http://www. 2002. Saran Adapun saran yang dapat diberikan oleh penulis. Improving The Quality of Accounting Students¶Learning Through Action-Oriented Learning Tasks. 6 No. Pendekatan dan Penerapan Pembelajaran Metode Kasus. 1997.pengajar. Supeno. Diakses dari http://info. Ralph W. Riset Multidisiplin Dan Terpadu Untuk Pelaksanaan Tridharma Di Unpad Sebagai (Calon) Perguruan Tinggi Bhpmn Dengan Visi Research University. 2005. 2005.id pada tanggal 10 Februari 2008. MD). 2004. Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi . Yogyakarta. Medika: Fakultas Kedokteran UGM. I Wayan. 5. Bahti.ibii. Politik Pendidikan Kebudayaan. Diakses dari http://www. Jogiyanto. Paulo.2.unpad. 2005. Amir. Husein H. Diakses dari http://www. Kekuasaan. PBL Optimal Untuk Segala Bentuk Fakultas (Wawancara dengan Prof.stieperbanas. Makalah Seminar Penumbuhan Inovasi Sistem Pembelajaran: Pendekatan ProblemBasedLearning berbasis ICT (Information and Communication Technology). Harsono.ac. 2005.Kurikulum perguruan tinggi di Indonesia seyogyanya diarahkan untuk case ProblemBasedLearning (PBL) yang dilakukan melalui teori-teori ilmu pengetahuan diorganisasikan diseputar masalah-masalah nyata yang diambil dari praktik-praktik profesional. M. Pengalaman inovasi pendidikan di Fakultas Kedokteran UGM. peka terhadap perubahan di lingkungan.Departemen Pendidikan Nasional. mampu berkompetisi.kopertis4. Taufiq. Buku Pedoman Penjaminan Mutu (Quality Assurance) Pendidikan Tinggi.kopertis4. Harsono. Diakses dari http://www. Accounting Education. .id/files/newsletter/edisi3/ pada tanggal 21 Februari 2008.id/ pada tanggal 21 Februari 2008.ac. Malang: Lembaga Penelitian UM. edisi kedua. antara lain: 1. terutama mempunyai peran memberikan inspirasi agar potensi mahasiswa dimaksimalkan. Pengaruh Problem-BasedLearning (Pbl) Pada Pengetahuan Tentang Kekeliruan DanKecurangan (Errors And Irregularities).or. Riki. pada tanggal 15 Mei 2004.or. Suasana Akademik. 2006. Penggunaan Model Pembelajaran Problem-basedLearning dan Kooperatif learning untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar kuliah metodologi penelitian. Pengantar Problem-BasedLearning.ac. Filosofi. Freire. 2005. 3: 191-215. DAFTAR PUSTAKA Adler. 2003. and Milne. Dasna. kreatif. dan Pembahasan. Markus J.Diperlukan penerapan metode ProblemBasedLearning (PBL) di berbagai fakultas. Supeno. 2006. 2006. cerdas. Vol. Djanali.id/makalah/ pada tanggal 10 Februari 2008. Yogyakarta. Djanali. Depdiknas.id/ pada tanggal 21 Februari 2008. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

serta mampu untuk mendapatkan dan menggunakan secara tepat sumber sumber pembelajaran.te. PBL Ada beberapa definisi dan intepretasi terhadap ProblemBasedLearning (PBL). Diakses dari http://ragilt.mmui. 2007. M. 2003. Magister Management-UI. ProblemBasedLearning (PBL).wordpress. 2007.html pada tanggal 10 Februari 2008.edu/pcl.org/archives/case-problem-based-learning.id/ pada tanggal 10 Februari 2008.com/2007/09/04-sudarman. Turyanto. Wikandari. Diakses dari http://ragilt. Diakses dari http://zulharman79.html pada tanggal 10 Februari 2008.files. Simulasi masalah digunakan untuk mengaktifkan keingintahuan siswa sebelum mulai mempelajari suatu subyek. R.. Warmada. Diakses dari http://www.. Yang menjadi ciri khas dari pelaksanaan PBL di mcmaster adalah filosofi pendidikan yang berorientasi pada masyarakat. Sudarman. Ragil.html pada tanggal 11 Februari 2008. Problem-basedlearning: Apa dan bagaimana? Makalah Seminar Penumbuhan Inovasi Sistem Pembelajaran: Pendekatan ProblemBasedLearning berbasis ICT (Information and Communication Technology). 2005. 1998. Saptono. Prima. Suradijono.ac. I Wayan.com/2007/07/15/problem-based-learning-pbl/ pada tanggal 10 Februari 2008.wordpress. Yogyakarta. PBL menyiapkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis.pdf pada tanggal 23 Februari 2008. SHR. Nur. Case (Problem) BasedLearning. Surabaya: IKIP Surabaya. Ragil Turyanto. terfokus pada . Sejarah PBL Program inovatif PBL pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of McMaster University di Kanada pada tahun 1966. R. 2007.ugm. 15/5/2004. Proses Belajar-Mengajar. Zulharman. Yogyakarta. Problem-basedlearning (PBL) berbasis teknologi informasi (ICT). 3.Yogyakarta: Andi.org/archives/case-problem-based-learning. 2004. 2007. 2004.. Pendekatan-pendekatan Konstruktivis dalam Pembelajaran. Case (Problem) BasedLearning. ProblemBasedLearning Suatu Model Pembelajaran untuk Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah. Salahsatunya menurut Duch (1995): ProblemBasedLearning (PBL) adalah metode pendidikan yang medorong siswa untuk mengenal cara belajar dan bekerjasama dalam kelompok untuk mencari penyelesaian masalah -masalah di dunia nyata. 22-23 October 2003. 2. Diakses dari http://jurnaljpi. Diakses dari http://www. Is ProblemBasedLearning (PBL) a better approach for engineering education? CAFEO-21 (21st Conference of the Asian Federation of Engineering Organization).

serta diarahkan untuk tidak terlalu tergantung pada guru. mereka dihadapkan pada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dari pengetahuan yang mereka dapat selama kuliah. Pertama -tama . Kemudian pada tahun 1976. Ketika siswa menjadi lebih cakap dalam menjalani proses belajar PBL. Prinsip-prinsip PBL Dalam PBL. Mahasiswa tidak dibiasakan berpikir kritis dalam mengidentifikasi masalah. tutor akan berkurang keaktifannya. Setelah lulus dan menjadi dokter. PBL telah diadopsi baik secara keseluruhan atau sebagian oleh banyak fakultas kedokteran di dunia. PBL membentuk siswa mandiri yang dapat melanjutkan proses belajar pada kehidupan dan karir yang akan mereka jalani. Maastricht Faculty of Medicine di Belanda menyusul sebagai institusi pendidikan kedokteran kedua yang mengadopsi PBL. Motivasi menggunakan PBL Dalam pendidikan kedokteran konvensional. 5. melalui pendekatan antar cabang ilmu pengetahuan dan belajar berdasar masalah. Kekhasan pelaksanaan PBL di Maastrich terletak pada konsep tes kemajuan (progress test) dan pengenalan keterampilan medik sejak awal dimulainya program pendidikan.manusia. sehingga nantinya dapat selalu diingat dan diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah masalah yang akan dihadapi. Proses dalam PBL Siswa dihadapkan pada masalah dan mencoba untuk menyelesaikan dengan bekal pengetahuan yang mereka miliki. Proses belajar PBL dibentuk dari ketidakteraturan dan kompleksnya masalah yang ada di dunia nyata. serta aktif dalam mencari cara penyelesainnya. mahasiswa lebih banyak menerima pengetahuan dari perkuliahan dan literatur yang diberikan oleh dosen. Dalam perkembangannya. Masalah -masalah yang didesain dalam PBL memberi tantangan pada siswa untuk lebih mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah secara efektif. Mereka diharuskan mempelajari beragam cabang ilmu kedokteran dan menghapal begitu banyak informasi. 4. Seorang guru lebih berperan sebagai fasilitator atau tutor yang memandu siswa menjalani proses pendidikan. siswa dituntut bertanggungjawab atas pendidikan yang mereka jalani. Sistem pendidikan kedokteran konvensional cenderung membentuk mahasiswa sebagai pembelajar pasif. Hal tersebut digunakan sebagai pendorong bagi siswa untuk belajar mengintegrasikan dan mengorganisasi informasi yang didapat.

Di akhir proses. Langkah selanjutnya. Melalui cara ini.mereka mengidentifikasi apa yang harus dipelajari untuk memahami lebih baik permasalahan dan bagaimana cara memecahkannya. mereka kembali pada masalah dan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari untuk lebih memahami dan menyelesaikannya. siswa melakukan p enilaian terhadap dirinya dan memberi kritik mambangun bagi kolega. siswa mulai mencari informasi dari berbagai sumber seperti buku. jurnal. laporan. Setelah mendapatkan informasi. informasi online atau bertanya pada pakar yang sesuai dengan bidangnya. . belaj ar dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan dan gaya tiap individu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful