VALIDASI METODA ANALISIS By Dhunik Lukitasari Faculty of Pharmacy Jember University A.

PENGERTIAN Validasi metoda analisis adalah suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu, berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa parameter tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya. Validasi metode analisis bertujuan untuk memastikan dan mengkonfirmasi bahwa metode analisis tersebut sudah sesuai untuk peruntukannya. Validasi biasanya diperuntukkan untuk metode analisa yang baru dibuat dan dikembangkan. Sedangkan untuk metode yang memang telah tersedia dan baku (misal dari AOAC, ASTM, dan lainnya), namun metode tersebut baru pertama kali akan digunakan di laboratorium tertentu, biasanya tidak perlu dilakukan validasi, namun hanya verifikasi. Tahapan verifikasi mirip dengan validasi hanya saja parameter yang dilakukan tidak selengkap validasi. Berikut adalah beberapa alasan diperlukannya validasi : 1. Agar dihasilkan data yang akurat, ajeg dan terpercaya, 2. Memenuhi persyaratan • GMP • GLP (Good Laboratory Practices) • GCP (Good Clinical Practices) • ISO • FDA (Food and Drug Administration) • EPA (Environmental Protectionagency) Aktifitas Quality Control (QC) dalam suatu metode validasi sangatlah penting, karena digunakan untuk melakukan jaminan terhadap suatu tes kesesuaian perlakuan. Dalam industri obat, aktifitas Quality Control (QC) dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: 1. Sampling, pemilihan sample agar dapat mewakili material yang akan dianalisis

2. 3. •

Persiapan sampel, memberikan perlakuan awal terhadap

hasil sampling agar mudah dianalisis Melakukan analisis terhadap sampel, meliputi : Pelarutan sample • • 4. Pengukuran Perhitungan dan interpretasi data. B. METODE SAMPLING Metode populasinya. Metode sampling dalam praktek kefarmasiaan, dibagi dalam dua cara, yaitu : 1. metode sampling dengan akar N, 2. metode sampling dengan tabel standar dari militer. B. 1. Metode sampling dengan akar N Contoh penggunaan akar N pada penerimaan satu partai bahan awal obat ataupun jamu diindustri farmasi, sbb : Contoh 1 Diterima 25 kaleng ampisillin @ 2kg, bagaimana cara sampling

Pengubahan bentuk molekul analit (zat yang diuji) menjadi bentuk yang sesuai dengan metode yang digunakan

sampling

bertujuan

untuk

memperoleh

sampel

yang

representatif, artinya hasil analisis dari sampel tersebut bisa mewakili untuk

Sampling unit ⇒N = 25 Periksa 25 kaleng homogen (no. Batch sama) Periksa bahwa kristal ampisilin seragam (atas, tengah dan bawah) Jumlah kaleng ampisilin yang diperiksa untuk analisis penuh ⇒ akar N n=√N ⇒ disebut “n plan” n = √ 25 n=5

• •

p.• Jumlah kaleng yang harus diperiksa untuk analisis kualitatif adalah : p=0. p or r 2 3 4 5 6 7 8 9 10 n plan Up to 4 5-9 10-16 17-25 26-36 37-49 50-64 65-81 82-100 Values of N p plan Up to 25 26-56 57-100 101-156 157-225 r plan Up to 2 3-4 5-7 8-11 12-16 17-22 23-28 29-36 37-44 ⇒ disebut “r plan” Diindustri farmasi yang banyak digunakan adalah modifikasi metode sampling akar N.4√25 p=2 ⇒ disebut “p plan” Contoh 2 Diterima 20 karung jahe @50kg. maka n = 6 . yaitu akar N +1 n = √ N +1 Bila N=25. karena bahan jamu tidak homogen maka jumlah karung yang harus diperiksa : r = 1. dan r disebut selected sample / sample size Tabel berikut menunjukkan jumlah sampling unit yang berbeda-beda untuk jumlah selected sample yang sama Value of n.5 √ N r=7 n.4 √ N p = 0.

Instrumen. Installation Qualification (IQ). tabel ini diunakan untuk sampling pada penerimaan bahan kemas primer. Dokumen berupa dukungan pustaka tentang prosedur analisis. EQ meliputi : 1. protokol validasi dll C. meliputi ketersediaan reference standards.B. antara lain cangkang kapsul.bahan. dilakukan produsen dalam pengembangan dan software suatu peralatan atau instrumen. dll C. sifat fisika kimia. 2. Bahan. 2. HAL-HAL SEBELUM MELAKUKAN VALIDASI Hal-hal terkait sebelum melakukan validasi metode : 1. 3. Metode Sampling dengan tabel satndar dari militer (Military Standard 105D table): Penggunaannya dikembangkan oleh angkatan bersenjata AS sejak perang Dunia II (mulai 1942). pelatihan dan pengalaman) 4. botol sirup. Analis berupa kualifikasi (pendidikan. meliputi kualifikasi dan kalibrasi 2. Operational Qualification (OQ). reagents. Design Qualification (DQ). 1. Kualifikasi Instrumen/EQUIPMENT QUALIFICATION Kualifikasi instrumen adalah semua proses yang menjamin bahwa suatu alat / instrumen sesuai dengan pemakaian yang diinginkan. . untuk pengujian instrumen dan untuk menjamin bahwa instrument tersebut memenuhi persyaratan dan spesifikasi yang ditentukan terlebih dahulu. untuk pelaksanaan dan dokumentasi suatu pemasangan instrumen ditempat yang tepat. tube salep. blanko /plasebo 3. Diindustri farmasi.

D.4. Ada dua metode verifikasi yaitu : 1. Performance Qualification (PQ). Sebelum memvalidasi suatu produksi tahapan awal yang harus kita lakukan adalah melakukan pengembangan (development). untuk pengujian bahwa sistem secara konsisten bekerja sesuai aplikasi yang diinginkan. VERIFIKASI Verifikasi dan validasi adalah proses pengujian produk yang mempunyai spesifikasi dan hal tersebut ditujukan untuk tujuan tertentu. Metode compendial Prosedur analitiknya diatur dalam USP/ NF 2. TAHAPAN DAN PARAMETER VALIDASI DEVELOPMENT OPTIMIZATION RE-VALIDATION VALIDATION IMPLEMENTATION Gambar 1. Biasanya dalam tahapan produksi farmasi. pengembangan disini yang dimaksud adalah melakukan pengembangan . Ada beberapa komponen dalam sistem manajemen quality kontrol seperti ISO 9000. E. Metode non-compendial Alternatif prosedur analitiknya ditujukan sebagai pengganti aturan prosedur analitik. Skema tahapan produksi Berdasarkan skema diatas kita bisa melihat bahwa ada beberapa tahapan yang dilakukan sebelum melakukan validasi suatu produksi.

Oleh karena itu untuk mencapai kecermatan yang tinggi hanya dapat dilakukan dengan cara mengurangi galat sistematik tersebut seperti menggunakan peralatan yang telah dikalibrasi. jika tidak maka produk tersebut tidak dapat dinyatakan valid dan produk yang telah dirancang tidak dapat diproduksi. Penentuan suatu kecermatan/ akurasi suatu sampel produksi dapat dilakukan dengan dua cara berikut : a. Presisi 4. menggunakan pereaksi dan pelarut yang baik. Kekuatan (Robutsness) Kecermatan (Accuracy) Kecermatan (Accuracy) adalah ukuran yang menunjukkan derajat kedekatan hasil analis dengan kadar analit yang sebenarnya.formulasi obat. sejumlah analit bahan murni (senyawa pembanding kimia CRM atau SRM) ditambahkan ke dalam campuran bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) lalu campuran tersebut dianalisis dan hasilnya . Kecermatan hasil analis sangat tergantung kepada sebaran galat sistematik di dalam keseluruhan tahapan analisis. Kecermatan dinyatakan sebagai persen perolehan kembali (recovery) analit yang ditambahkan. Linieritas dan Rentang 5. Kecermatan (Accuracy) 2. pengontrolan suhu. taat asas sesuai prosedur. maka perlu dilakukan optimasi produksi. jika tahapan ini telah selesai barulah kita melakukan proses validasi. Dalam proses validasi ada beberapa parameter yang harus diperhatikan dan parameter ini mutlak untuk dipenuhi. Metode simulasi (spiked-placebo recovery) Dalam metode simulasi. Setelah pengembangan formulasi selesai. Selektivitas (Spesifitas) 3. Batas Deteksi (LOD) 6. Ketangguhan Metode (Ruggedness) 8. dan pelaksanaannya yang cermat. Batas Kuantitasi (LOQ) 7. Parameter-parameter validasi tersebut adalah sebagai berikut : 1.

b. lalu dianalisis dengan metode tersebut. atau karena analitnya berupa suatu senyawa endogen misalnya metabolit sekunder pada kultur kalus. Metode adisi dapat dilakukan dengan menambahkan sejumlah analit dengan konsentrasi tertentu pada sampel yang diperiksa. Metode penambahan baku (standart addition) Dalam metode penambahan baku. dkk . Vanderwielen. Persen perolehan kembali ditentukan dengan menentukan berapa persen analit yang ditambahkan tadi dapat ditemukan. Kriteria kecermatan sangat tergantung kepada konsentrasi analit dalam matriks sampel dan pada keseksamaan metode (RSD). Tetapi bila tidak memungkinkan membuat sampel plasebo karena matriksnya tidak diketahui seperti obat-obatan paten. Dalam kedua metode tersebut. sampel dianalisis lalu sejumlah tertentu analit yang diperiksa ditambahkan ke dalam sampel dicampur dan dianalisis lagi. cairan biologis) kemudian ditambah analit dengan konsentrasi tertentu (biasanya 80% sampai 120% dari kadar analit yang diperkirakan). Selisih kedua hasil dibandingkan dengan kadar yang sebenarnya (hasil yang diharapkan). berikut rumus secara matematiknya : % Perolehan kembali = (CF –CA) X 100 C*A dimana : CF = konsentrasi total sampel yang diperoleh dari pengukuran CA = konsentrasi sampel sebenarnya C*A = konsentrasi analit yang ditambahkan Persen perolehan kembali dapat ditentukan dengan cara membuat sampel plasebo (eksepien obat. maka dapat dipakai metode adisi.dibandingkan dengan kadar analit yang ditambahkan (kadar yang sebenarnya). persen peroleh kembali dinyatakan sebagai rasio antara hasil yang diperoleh dengan hasil yang sebenarnya. kemudian dianalisis dengan metode yang akan divalidasi.

100 X0 <5% -.5 % n Xd = X1 – X0 dimana : X1 = hasil analisis X0 = hasil yang sebenarnya I = nilai t pada tabel t’ student pada atas 95% S = simpangan baku relatif dari semua pengujian n = jumlah sampel yang dianalisis Kadar analit dalam metode penambahan baku dapat dihitung sebagai berikut: C C+S C=S C = kadar analit dalam sampel S = kadar analit yang ditambahkan pada sampel R1 = respon yang diberikan sampel R2 = respon yang diberikan campuran sampel dengan tambahan analit Pada metode penambahan baku. mengubah pH atau kapasitas dapar.5% atau kurang. 100 X0 Xd .(S ( 0. Kriteria tersebut dinyatakan secara matematik sebagai berikut : Xd . dll.menyatakan bahwa selisih kadar pada berbagai penentuan (Xd) harus 5% atau kurang pada setiap konsentrasi analit pada mana prosedur dilakukan. Kriteria kecermatan dilakukan sama seperti pada metode simulasi. misalnya analit yang ditambahkan menyebabkan kekurangan pereaksi.95 n – I ) ) < 1. Metode ini tidak dapat digunakan jika penambahan analit dapat mengganggu pengukuran. pengukuran blanko tidak diperlukan lagi. = R1 R2 R1 R2 – R1 . Harga ratarata selisih secara statistik harus 1.

Persen perolehan kembali seharusnya tidak melebihi nilai presisi RSD.Pada percobaan penetapan kecermatan.834 mg Meloksikam yg ditambahkan: 151. Komposisi tablet tdd : Zat aktif : 20 x 7. % 98-102 98-102 97-103 95-105 90-107 90-107 80-110 80-110 60-115 40-120 . Penimbangan 20 tablet : 20 x 175 mg = 3500 mg.043 x 99.001 (10 ppb) 0.001 0.364.046 mg Perolehan kembali 80.791 mg ditambahkan dengan Meloksikam: 151.1 0. 100 dan 120 % Perbandingan yang digunakan untuk spike placebo : baku yang ditambahkan = 70:30 Perolehan kembali 80% = 80% x 4 mg = 3.000.000.2 mg Rata-rata yang diperoleh.34% = 150. % 100 > 10 >1 > 0.1 (1 ppb) Contoh perhitungan: Perolehan kembali Analit Dianggap bobot tiap tablet 175 mg. sedikitnya lima sampel yang mengandung analit dan plaseo yang harus disiapkan dengan kadar antara 50% sampai 150% dari kandungan yang diharapkan.000.043 mg = 3.1 (1 ppm) 0.000.515.5 mg = 150 mg Berat zat tambahan : 3500 mg – 150 mg = 3350 mg Penimbangan serbuk plasebo: 3.01 (100 ppb) 0.000.01 0. Rentang kesalahan yang diijinkan pada setiap konsentrasi analit pada matriks dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Analit pada matriks sampel.

9521 1000 Penimbangan serbuk plasebo : 53.2 mg = 0.05 x 3515.8 mg Terdiri dari serbuk plasebo = 70/100 x 4.046 mg = 2.83 mg = 78.271 mg (CA) % Perolehan kembali = (CF . larutkan dalam metanol 100 ml metanol. Rec 100% = 100% x 4 mg = 4 mg Terdiri dari serbuk plasebo = 70/100 x 4 mg = 2.36 /150.929 mg. Pipet 2 ml untuk sekali penambahan sebagai baku.2 mg Penimbangan baku : 24.234 mg (CF) 6569.83 mg = 52.8 mg = 1.05 x 3515.8 mg = 3.96mg Penimbangan baku : 9.2 mg = 2. larutkan dalam metanol 100 ml metanol.Terdiri dari serbuk plasebo = 70/100 x 3.215 mg serbuk plasebo terdapat meloksikam sebanyak : 53.34 % = 29.128 mg x 99.36 mg % Penimbangan setara 3. larutkan dalam metanol 20 ml. Contoh perhitungan % Perolehan kembali Rata-rata area : 17128752+ 1718115 = 1715495 Jumlah meloksikam total : 1715495 + 3282.96 mg (C*A) Dalam 53.34 % = 0. Rec 120% = 120% x 4 mg = 4.96 mg.664 mg x 99.73 mg % Baku = 30/100 x 4.215 mg Baku yang ditambahkan : 0.24/150.05 x 3515.8 mg serbuk plasebo = 2.24 mg % Penimbangan setara 2.83 mg = 65. Pipet 5 ml untuk sekali penambahan sebagai baku.834 x 150.608 mg % Baku = 30/100 x 4 mg = 1.9347 x 50 = 3.24 mg serbuk plasebo = 2.36 mg serbuk plasebo = 3.34 % = 24.80 /150.49 mg % Baku = 30/100 x 3.80 mg % Penimbangan setara 2.315 mg x 99.1545 mg.44 mg Penimbangan baku : 30. Pipet 5 ml untuk sekali penambahan sebagai baku.215 / 3515.CA) x 100 .

10 dan 15 ml larutan masukkan dalam labu ukur 50 ml dan tambahkan 2 ml larutan baku dalam.0173 x + 0.636 47.34%) meloksikam dimasukkan dalam labu ukur 200ml.3499211 Kadar meloksikam = 1.0 0.454 79.06% 3. Tambahkan fase gerak s/d tanda.818 31. Ultrasonik selama 30 menit.3832 1553935. 6.271 x 100 % = 100. larutkan dalam metanol.0173 92.634 Keterangan : Persamaan regresi : y = 0.046 = 3.5 Ratio M/P = 1.–9 620.5 0. 2 3 40 .5 2.053 x 150.3499211 . Pipet 2. r = 0.0 0.5615 1545185. (lihat tabel 1 di bawah ini) Tabel 1.0 1.0 1303159.831 % Perolehan Kembali = 3.853 x 100% = 98.C*A % Perolehan kembali = 3 .090 118.053 mg mengandung Luas kromatogram rataAngka banding luas rata mV.det kromatogram piroksikam Piroksikam Meloksikam dan meloksikam 1551193.9999 Contoh perhitungan : Rata rata luas puncak meloksikam : 2081430.0 449819.5 3207326. Hasil pengukuran kurva kalibrasi meloksikam Konsentrasi meloksikam (μg/ ml) 15.5 Rata rata luas puncak piroksikam : 1541890.212 mg labu ukur 100 ml dilarutkan dalam metanol.92857 mg 3516.852mg 0.31 mg Metode Spiked Placebo Recovery Penimbangan baku meloksikam : 79.8434 1554005.929 1000 Serbuk plasebo yang ditimbang 92.2900 1546303.0 2149441.01700 x 50 = 3.5 868274.615 mg (99.01700.0640 .0. 4. Larutan baku dalam : 81.

larutan uji dan larutan blanko. dan dibandingkan terhadap hasil analisis sampel yang tidak mengandung bahan lain yang ditambahkan. selektivitas ditentukan melalui perhitungan daya resolusinya (Rs). Selanjutnya dibuat larutan baku. hasil urai. senyawa asing lainnya. senyawa asing lainnya atau pembawa plasebo dengan hasil analisis sampel tanpa penambahan bahan-bahan tadi. Pembuatan larutan baku tetrasiklin HCl . Cara penentuan: Selektivitas metode ditentukan dengan membandingkan hasil analisis sampel yang mengandung cemaran.0 mg baku Tetrasiklin HCl. masukan kedalam labu ukur 50. Derajat kesesuaian kedua hasil analisis tersebut merupakan ukuran selektivitas. senyawa sejenis. Penyimpangan hasil jika ada merupakan selisih dari hasil uji keduanya. Jika cemaran dan hasil urai tidak dapat diidentifikasi atau tidak dapat diperoleh.Selektivitas (Spesifitas) Selektivitas atau spesifisitas suatu metode adalah kemampuannya yang hanya mengukur zat tertentu saja secara cermat dan seksama dengan adanya komponen lain yang mungkin ada dalam matriks sampel. . hasil urai. Selektivitas seringkali dapat dinyatakan sebagai derajat penyimpangan (degree of bias) metode yang dilakukan terhadap sampel yang mengandung bahan yang ditambahkan berupa cemaran. Pada metode analisis yang melibatkan kromatografi.0 ml. a. dan Differential Scanning Calorimetry. senyawa sejenis. analisis kelarutan fase. Cara kerja : Untuk uji selektifitas maka zat yang akan diuji harus ditentuka dulu panjang gelombang maksimum.Timbang 25. maka selektivitas dapat ditunjukkan dengan cara menganalisis sampel yang mengandung cemaran atau hasil uji urai dengan metode yang hendak diuji lalu dibandingkan dengan metode lain untuk pengujian kemurnian seperti kromatografi. Dalam hal ini larutan tetrasiklin HCl mempunyai panjang gelombang maksimum 360 nm.

Presisi Presisi adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian antara hasil uji individual. kocok.0 ml. jumlah sampel. Biasanya ditujukan sebagai standar deviasi atau sebagai koefisien variasi (standar deviasi relatif). . Hasil kromatogram Tetrasiklin HCl standar dan sampel harus menunjukkan waktu retensi yang sama dan pada daerah sekitar waktu retensi tetrasiklin tersebut tidak boleh ada gangguan yang dapat dilihat dari kromatogram larutam blanko. Akan tetapi kriteria ini sangat fleksibel tergantung pada konsentrasi analit yang diperiksa. Amati puncaknya pada kromatogram HPLC. dan kondisi laboratorium.Larutkan dengan air sampai 50.Suntikkan 20 μl larutan uji pada HPLC.Saring dengan kertas saring Durapore membrane filter 0. Amati puncaknya pada kromatogram HPLC. . diukur melalui penyebaran hasil individual dari rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang diambil dari campuran yang homogen. setelah metode lengkap dilakukan secara berulang terhadap sampel terpisah dan identik didalam suatu bahan yang homogen.0 mg serbuk obat tetrasiklin HCl.45 μm HV -Suntikan 20 μl larutan uji pada HPLC. Kriteria seksama diberikan jika metode memberikan simpangan baku relatif (RSD) atau koefisien variasi (CV) 2% atau kurang. masukan ke dalam labu ukur 100..0 ml. Pembuatan larutan uji tetrasiklin HCl .0 ml.Timbang 100. Dari penelitian dijumpai bahwa koefisien variasi meningkat dengan menurunnya kadar analit yang dianalisis.Larutkan dengan air sampai 100. Presisi dapat dinyatakan sebagai repeatability (keterulangan) atau reproducibility (ketertiruan). kocok. b. . . Presisi diukur sebagai simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi).

standar deviasi relatif antara laboratorium adalah sekitar 2. . Jika hubungan antara respond an konsentrasi yang tidak linier. akurasi. Pada metode yang sangat kritis. dan pada kadar part per bilion (ppb) adalah 32%. Pada kadar satu per sejuta (ppm) RSDnya adalah 16%. Rentang metode menyatakan rentang antara konsentrasi analit terendah dan tertinggi dalam sampel yang dapat ditetapkan menggunakan metode tersebut dengan presisi.Ditemukan bahwa koefisien variasi meningkat seiring dengan menurunnya konsentrasi analit. Pada kadar 1% atau lebih.5% ada pada satu per seribu adalah 5%. Sebaiknya keseksamaan ditentukan terhadap sampel sebenarnya yaitu berupa campuran dengan bahan pembawa sediaan farmasi (plasebo) untuk melihat pengaruh matriks pembawa terhadap keseksamaan ini. standardisasi dapat dilakukan memakai kurva kalibrasi Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Demikian juga harus disiapkan sampel untuk menganalisis pengaruh pengotor dan hasil degradasi terhadap keseksamaan ini. Percobaan keseksamaan dilakukan terhadap paling sedikit enam replika sampel yang diambil dari campuran sampel dengan matriks yang homogen. Perlakuan matematik dalam pengujian linearitas adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit. Kedua karakteristik ini ditentukan dengan menggunakan metode analisis yang divalidasi dan sampel yang diuji memiliki konsentrasi analit berada pada rentang konsentrasi yang dinyatakan untuk metode tersebut. secara umum diterima bahwa RSD harus lebih dari 2%. dan linieritas yang dapat diterima. Linieritas dan rentang Linieritas metode analisis adalah kemampuan metode analisis untuk memberikan hasil uji yang berbanding langsung dengan konsentrasi analit dalam sampel.

semua perhitungan matematik tersebut dapat diukur Batas Deteksi Batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan dengan blangko. Pada analisis instrumen batas deteksi dapat dihitung dengan mengukur respon blangko beberapa kali lalu dihitung simpangan baku respon blangko dan formula di bawah ini dapat digunakan untuk perhitungan: Q = (k x Sb)/Sl .Dalam beberapa kasus. Dengan menggunakan kalkulator atau perangkat lunak komputer. Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang digunakan. Pada analisis yang tidak menggunakan instrumen batas tersebut ditentukan dengan mendeteksi analit dalam sampel pada pengenceran bertingkat. Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual (Sy). data yang diperoleh diolah melalui transformasi matematik dulu sebelum dibuat analisis regresinya. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Sebagai parameter adanya hubungan linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX. sering ditemukan rentang konsentrasi yang digunakan antara 0 – 200%. Di dalam pustaka. Hubungan linier yang r = +1 atau –1 bergantung pada arah garis. Penentuan batas deteksi suatu metode berbeda-beda tergantung pada metode analisis itu menggunakan instrumen atau tidak. digunakan satu seri larutan yang berbeda konsentrasinya antara 50 – 150% kadar analit dalam sampel. Dalam praktek. Batas kuantitasi merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama. Bila pengukuran akhir didasarkan pada pembacaan alat. Jumlah sampel yang dianalisis sekurang-kurangnya delapan buah sampel blanko. harus dilakukan perhitungan terhadap respon dasar ( karakteristik sinyal terhadap derau dari respon yang teramati). untuk memperoleh hubungan proporsional antara hasil pengukuran dengan konsentrasi analit.

maka: LoD = (3 Sy/x)/ Sl b.) a.Dimana: Q = LOD (batas deteksi) atau LOQ (batas kuantitasi) k = 3 untuk batas deteksi atau 10 untuk batas kuantitasi Sb = simpangan baku respon analitik dari blangko Sl = arah garis linear (kepekaan arah) dari kurva antara respon terhadap konsentrasi = slope (b pada persamaan garis y = a+bx) Batas deteksi dan kuantitasi dapat dihitung secara statistik melalui garis regresi linier dari kurva kalibrasi. Batas kuantitasi adalah konsentrasi analit terendah dalam sampel yang dapat diukur secara kuantitatif dengan akurasi dan presisi yang dapat diterima dengan menggunakan metode yang ditentukan. selanjutnya perhitungan seperti tersebut di atas. jika diambil dari tinggi puncak derau atas dan bawah (Np-p) maka s0 = Np-p/5 sedangkan kalau dari puncak derau bawah saja (puncak negatif) maka s0 = Np/2. maka: LoQ = (10 Sy/x)/Sl Cara lain untuk menentukan batas deteksi dan kuantitasi adalah melalui penentuan rasio S/N (signal to noise ratio). Batas deteksi (LoD) Karena k = 3. Nilai simpangan baku blanko ditentukan dengan cara menghitung tinggi derau pada pengukuran blanko sebanyak 20 kali pada titik analit memberikan respon. Nilai pengukuran akan sama dengan nilai b pada persamaan garis linier y = a + bx. Simpangan baku blanko juga dihitung dari tinggi derau puncak ke puncak. Simpangan baku (Sb) = Sy/x. Batas kuantitasi ditentukan dengan menganalisis sampel yang mengandung analit dengan konsentrasi yang dikurangi sebanyak tertentu dan menentukan konsentrasi analit rendah yang dapat diukur tetapi akurasi dan presisi yang dapat diterima tetap dapat dicapai. besaran respon dasar . sedangkan simpangan baku blanko sama dengan simpangan baku residual (Sy/x. Bila pengukuran akhir berdasarkan pada pembacaan alat. Batas kuantitasi (LoQ) Karena k = 10. Simpangan baku (Sb) = Sy/x.

komposisi fase gerak. kondisi lingkungan. waktu vorteks Tes Robustness memeriksa/menguji pengaruh parameter operasional pada hasil analisis. diduga kondisi opersional antar laboratorium dan antar analis. volum injeksi. sebagai contoh. Dalam beberapa kasus. Ruggedness adalah jumlah reprodusibilitas hasil tes pada kondisi normal. Uji GC : kolom yang berbeda. Untuk menentukan metode robustness. laju alir. • Validasi metode analisis umumnya dilakukan terhadap 4 jenis : uji identifikasi uji kuantitatif kandungan impuritas (impurity) . panjang gelombang atau komposisi fase gerak divariasikan dengan suatu range yang realistis dan pengaruh banyaknya variable ditentukan. sejumlah parameter metode. pada perubahan kecil yang disengaja Misal : perubahan standar yang ditimbang. Perolehan data pada pengaruh-pengaruh ini membantu untuk menilai apakah suatu metode perlu untuk divalidasi ulang ketika satu atau lebih parameter diubah. kolom yang berbeda. analis. laju alir. mengganti kerja kolom melebihi waktu. Robustness adalah kemampuan suatu metoda analisis untuk tetap memberikan hasil yang dapat dipercaya. pH. • Variasi Robustness Semua pengujian : manipulasi preparasi sampel. waktu ekstraksi Uji HPLC : temperatur. temperatur. Ruggedness Ruggedness dalam USP diartikan sebagai derajat reprodusibilitas dari hasil yang diperoleh pada kondisi yang bervariasi. sebagai contoh. seperti laboratorium. parameter itu dikatakan berada pada range metode robustness. operator dan bahan yang berbeda. laju alir. Jika pengaruh parameter dengan toleransi? Sebelumnya. batas kuantisasi kira .kira dua kali dari batas deteksi. Ruggedness ditentukan dengan analisis aliquot dari bahan-bahan yang sama pada laboratorium yang berbeda.(rasio sinyal terhadap derau) harus dinilai dan diperhitungkan. temperature kolom. instrumen.

Penetapan kadar bertujuan untuk menentukan kadar analit dalam sampel. tepat dan jelas. Karakteristik validasi yang .uji kuantitatif zat aktif dalam sampel bahan atau obat atau komponen tertentu dalam obat Metode analisis lain. reaksi kimia. Kedua pengujian tersebut berbeda diperlukan untuk uji batas impuritas. Untuk obat. Pengujian impuritas dapat dilakukan melalui uji kuantitatif atau uji batas impuritas dalam sampel. Cakupan. profil kromatrogram. Isinya mencakup : 1. Pendahuluan 3. dan lain-lain) terhadap bahan baku pembanding. hendaklah juga divalidasi. Persetujuan (sertifikasi terhadap Program Lengkap Validasi) 2.- uji batas impuritas . Uji ini biasanya dilakukan dengan membandingkan karakteristik sampel (misalnya spektrum. Dalam hal ini penetapan kadar menunjukkan pengukuran komponen utama yang terkandung dalam bahan aktif. seperti uji disolusi untuk obat atau penentuan ukuran partikel untuk bahan baku aktif. Rencana Induk Validasi adalah suatu dokumen yang menyajikan informasi mengenai program kerja validasi perusahaan itu. karakteristik validasi yang serupa juga berlaku untuk penetapan kadar zat aktif atau komponen tertentu. Seluruh kegiatan validasi hendaklah direncanakan. RIV hendaklah merupakan dokumen yang singkat. Karakteristik validasi yang sama juga dapat dilakukan dilakukan untuk penetapan kadar yang berkaitan dengan metode analisis lain (misal uji disolusi). Daftar isltilah bertujuan merefleksikan secara tepat karakteristik kemurnian dari sampel. pengetahuan. Unsur utama program validasi hendaklah dirinci dengan jelas dan didokumentasikan di dalam Rencana Induk Validasi (RIV) atau Validation Master Plan (VMP) atau dokumen sementara. Uji identifikasi bertujuan untuk memastikan identitas analit dalam sampel. Pertanggung jawaban berkaitan dengan rencana hendaklah dinyatakan. Dokumen ini hendaklah memberi rincian jadwal kerja validasi yang harus dilaksanakan. pertanggungjawaban 4.

dan kualifikasi operacional. karakteristik produk. Kebutuhan Sumber Daya dan Penjadwalan 18.Protocol validasi tertulis hendaklah dibuat untuk merinci kualifikasi dan validasi yang akan dilakukan. peralatan dan batas pengambilan keputusan terhadap hasil uji yang dapat diterima. Protokol Validasi Protocol validasi adalah suatu rencana tertulis mulai dari bagaimana validasi akan dilaksanakan termasuk parameter pengujian. 8. Protocol hendaklah dikaji dan disetujui oleh kepala bagian Manajemen Mutu ( Pemastian Mutu). Dokumentasi validasi 14. mengenai protap dan validasi) 15. Prosedur Pengujian dalam Pengawasan Mutu – Pengawasan dalam laboratorium 12. Sarana penunjang-layanan mekanik. Program kalibrasi dan Program Pemeliharaan Pencegahan 10. klasifikasi area. Alur. Deskripsi area. Pengendalian dan pengarsipan Dokumen 16.5. Manajemen Proses validasi 17. Pelatihan personalia (pelatihan CPOB. 7. Isinya meliputi : – – – – – – – objektivitas studi validasi dan kualifikasi Site of the study Pertanggungjawaban personel Deskripsi alat SOPs Standard kriteria untuk produk dan proses yang relevan . daftar jadwal dan lampiran F. Daftar peralatan dan kualifikasi peralatan 9. Prosedur tetap 13. tahap dan Proses validasi 11. Protocol validasi hendaklah merinci langkah kritis dan kriteria penerimaan. Gambar rekayasa dan Rancang Bangun Sarana 6. listrik dan air.

Laporan Validasi Hendaklah dibuat laporan yang mengacu pada protokol kualifikasi dan/atau protokol validasi dan memuat ringkasan hhasil yang diperoleh. Tiap perubahan terhadap rencana yang ditetapkan dalam protokol hendaklah didokumentsikan dengan pertimbangan yang sesuai. kesimpulan dan rekomendasi perbaikan. Isinya meliputi : – – – – – – – judul objektivitas studi sama dengan protokol detail bahan peralatan Programmes and cycles use Detail prosedur dan metode uji .G. tanggapan terhadap penyimpangan yang terjadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful