MATERIAL ANORGANIK PADA BATUBARA

Sari Materi Anorganik Mineral Matter Mineral matter pada batubara dapat diartikan sebagai mineral–mineral dan material anorganik lainnya yang berasosiasi dengan batubara. Secara keseluruhan mencakup tiga gologan material, yaitu: 1. Mineral dalam bentuk partikel diskrit dan kristalin pada batubara 2. Unsur atau senyawa anorganik yang terikat dengan molekul organik batubara biasanya tidak termasuk unsur nitrogen dan sulfur. 3. Senyawa anorganik yang larut dalam air pori batubara dan air permukaan. Abstrac Inorganic MaterialMineral MatterMineral matter in coal can be interpreted as the minerals and inorganic materials associated with coal. Overall gologan includes three materials, namely: 1. Minerals in the form of discrete particles and crystalline in coal 2. Inorganic elements or compounds that are bound with coal organic molecules and usually does not include elements of nitrogen and sulfur. 3. Inorganic compounds dissolved in the coal pore water and surface water. Latar Belakang Beberapa jenis unsur dapat menjadi parameter identifikasi lapisan yang berguna dalam korelasi stratigrafi lapisan dan menunjukkan kecenderungan jenis mineral serta asosiasinya dengan golongan maseral. Kelimpahan unsur jejak V, Ni, Cr, Co, Mo, Cu, Zn, Pb, Mn, Sn, Sr, Ba, Cd, As, dan Ag (dari analisis kimia abu batubara) serta beberapa unsur yang umumnya bukan tergolong jejak, yaitu Si, Al, Ca, Mg, Fe, Na, dan K (dari analisis kimia fraksi batubara) dalam lapisan batubara, dapat digunakan sebagai parameter identifikasi lapisan batubara. Pada satu lapisan batubara tertentu yang terdapat pada urutan lapisan batubara (coal measure). Penentuan kelimpahan unsur ditentukan pada 5 percontoh inti-bor, tersebar sepanjang 1300 m dalam arah jurus lapisan. dan

45 g/cc dengan menggunakan prosedur sink and float.35 – 1. berdasarkan data umum peneliti terdahulu. 1981) golongan maseral hasil prosedur sink and float dilakukan dengan menggunakan korelasi statistik. Identifikasi lapisan memakai unsur jejak ini ditentukan dengan analisis principal component. . Perbedaan kelimpahan unsur yang ditentukan pada abu dan batubara diharapkan dapat menunjukkan kecederungan asal organik atau anorganik (dari mineral) dari unsur tersebut. Asal organik atau anorganik dari unsur jejak yang ditentukan pada abu dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi statistik. dan > 1.35 g/cc. Gambar 1 Peta sketsa geologi dengan struktur daerah Delta Mahakam (Sumber: Hamilton.25 g/cc – 1. Berbagai data hasil analisis statistik dapat menghasilkan suatu sintesis tentang kemungkinan lingkungan geokimia yang mempengaruhi kelimpahan unsur jejak maupun yang umum terdapat sebagai bahan mineral serta asosiasinya dengan golongan maseral selama proses susut laut dan genang laut.25 g/cc.45 g/cc.Untuk mengetahui kecenderungan asosiasi mineral dengan golongan maseral. 1. 1. percontoh ukuran -100 mesh dipisahkan menjadi fraksi dengan rapat massa < 1.

menurut Rollinson (1995) berjumlah < 0. 1984). Perbedaan antara kandungan total unsur dengan kandungan yang berasal dari mineral tadi akan lebih nyata untuk batubara yang rendah peringkatnya (Ward. Kelimpahan unsur anorganik dalam batubara umumnya tergolong kecil sekali dan disebut unsur jejak (trace element).Teori Unsur kimia anorganik dalam batubara mencakup unsur dari tanaman asal. Kehomogenan unsur tadi menunjukkan bahwa mineral yang terdiri dari unsur tadi telah terdeposisi sebelum diagenesis (pradiagenesis) gambut.01 % (100 ppm) berat. et al. (1979) unsur tergolong unsur jejak apabila terkonsentrasi dalam batuan lebih kurang sebesar beberapa ribu ppm. 1998). dan variasi unsur menunjukkan bahwa pembentukan mineral terjadi selama diagenesis. dan menurut Abernethy. Menurut Cox. 1981).al. pada abu dapat sekaligus juga dideteksi unsur yang terikat pada molekul organik. maupun unsur yang terikat dalam molekul organik atau mengisi lubang antar bahan organik setelah tanaman mati menjadi gambut sampai dengan akhir diagenesis batubara (Bouska. 1981). serta yang terserap pada koloid lempung. Unsur-unsur tersebut akan terdapat dalam abu batubara setelah pembakaran. Asal unsur dapat diketahui dari jenis mineral yang akan tampak dalam mikroskop untuk bahan bukan tanaman dan yang tidak terikat pada molekul organik. Analisis kimia cara basah pada batubara pada umumnya hanya mendeteksi unsur jejak dari padatan kristalin (mineral detritus) atau garam dalam air pori. Kandungan unsur pada abu batubara juga dipakai oleh Dorsey & Kopp (1985) untuk membuat studi banding antara unsur dalam batubara dengan sedimen klastik di atap batubara. karena unsur dalam bentuk non-kristalin akan lebih banyak dalam batubara peringkat rendah. unsur yang terikat pada molekul organik sebelum tanaman mati. et al. Kandungan unsur jejak dalam batubara pada umumnya dinyatakan dalam ppm atau % untuk keseluruhan tebal satu lapisan hasil rerata gabungan nilai ppm percontoh selang (misalnya per meter) tebal lapisan. Materi anorganik di dalam batubara terbagi menjadi tiga katagori menurut pembentukannya (Taylor et. & Gibson (1963) apabila konsentrasinya tidak lebih dari 0. Nilai kandungan unsur dari analisis kimia pada batubara dapat cocok dengan yang ada pada abu batubara dengan memakai faktor koreksi/kalibrasi (Harris. Pembahasan Mineral matter pada batubara dapat berasal dari unsur anorganik pada tumbuh.. Sementara itu. Unsur itu disebut tersebar homogen apabila kelimpahannya dalam selang-selang tegak dari tebal lapisan sama besarnya. yaitu: .tumbuhan pembentuk batubara atau disebut inherent mineral serta mineral yang berasal dari luar rawa atau endapan yang kemudian di transport ke dalam cekungan pengendapan batubara melalui air atau angin dan disebut “extraneous” atau ‘adventitious’ mineral matter. karena unsur yang terikat pada molekul senyawa organik (yaitu kerogen) tidak larut dengan asam organik. dan tidak homogen apabila bervariasi.1% (1000 ppm) berat.

1982. Contoh: Mineral zirkon(ZrSiO4) dan pertukaran hidrogen dalam karbonat menjadi kalsium karbonat. tekanan. Epigenetic minerals Terbentuk setelah proses konsolidasi batubara oleh kristalisasi dalam rekahan atau lubang atau oleh alterasi mineral yang terendapkan secara primer. Selanjutnya oleh bakteri anaerobik dan fungi diubah menjadi gambut (Stach. mineral sulfida dan mineral oksida. N. Silika. sub bituminus. hingga meta antrasit. 1982. op cit Susilawati 1992). Syngenetic inorganic/organic complexs Materi anorganik yang terbentuk selama tahap awal penggambutan. Pada tahap ini prosentase karbon akan meningkat. op cit Susilawati 1992). Material tumbuhan yang busuk ini melepaskan H. dan NH3 untuk menjadi humus. sedangkan prosentase hidrogen dan oksigen akan berkurang (Fischer. H2O. 1927. dan waktu terhadap komponen organik dari gambut (Stach. Proses pembatubaraan didefinisikan sebagai peningkatan karbon secara bertahap dari materi fosil organik dalam suatu proses yang alami. temperatur. op cit Susilawati 1992). semi antrasit. dan C dalam bentuk senyawa CO2. 3. (T&P) 5(C6Hl005) + mineral matter C125H105O10NS + 3CH4 + 8H20 + 6C02 + CO (Selulosa) (lignit) (gasmetan) Tahap pembatubaraan (coalification) merupakan gabungan proses biologi. berasal dari luar yang terbawa oleh air atau angin kedalam gambut. Contoh: Pirit dan mineral Karbonat. mineral karbonat. Kebanyakan dari kehadiran bahan inorganik dalam batubara ialah berupa mineral– mineral yang terdistribusi di dalam atau diantara maseral–maseral. Syngenetic anorganic matter Merupakan materi anorganik yang berasal dari tumbuhan pembentuk batubara. 2. dan fisika yang terjadi karena pengaruh pembebanan dari sedimen yang menutupinya. Mineral yang banyak terdapat dalam batubara ialah mineral lempung. Proses ini akan menghasilkan batubara dalam berbagai tingkat kematangan material organiknya mulai dari lignit. kimia. antrasit. Mineral terdistribusi diantara maseral dengan ukuran antara satu μm hingga ratusan mikrometer. Adapun proses kimia yang terjadi pada tahap penggabutan yaitu.1. O. bituminus.5 – 10 meter. Proses ini dibedakan menjadi Contoh: . Tahap Pembentukan Batubara Tahap penggambutan (peatification) adalah tahap dimana sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi tersimpan dalam kondisi reduksi di daerah rawa dengan sistem pengeringan yang buruk dan selalu tergenang air pada kedalaman 0.

antrasit. sampai metaantrasit. Selama tahap hard brown coal (lignitsub bituminus) maka sisa terakhir dari selulose dan lignin ditransformasikan menjadi material humik. Sementara itu.tahapan biokimia yang meliputi seluruh proses pembentukan rawa gambut (peatification) dan tahapan geokimia (biochemical coalification) yang merupakan proses metamorfosis. Adapun proses kimia dari coalification adalah sebagai berikut. Tahapan yang dicapai oleh batubara dalam deret pembatubaraan ini disebut sebagai peringkat batubara. H. gambut mengalami perubahan komposisi dari unsur–unsur karbon. dan hidrogen. Derajat pembatubaraan ditentukan oleh perubahan komposisi kimianya (C. Sifat porositas dan anisotropi ini paralel dengan bidang perlapisan dan bisa dikorelasikan dengan tekanan overburden. Proses pembatubaraan meliputi perubahan baik secara fisik dan kimia dari gambut melalui lignit. Pada tahap antrasit dicirikan oleh turunnya hidrogen dan perbandingan H terhadap C secara drastis. Proses pembatubaraan terutama disebabkan oleh naiknya temperatur dan waktu. Adapun peringkat batubara dari tinggi ke rendah adalah sebagai berikut. tekanan yang bertambah besar akan mengakibatkan porositas gambut berkurang dan peningkatan anisotropi. bertambah kuatnya reflektivitas dan anisotropisme. Kenaikan peringkat batubara juga dapat diamati pada kedalaman yang lebih besar (Hukum Hilt) yang disebabkan oleh kenaikan temperatur akibat bertambahnya kedalaman. Kontrol utama perubahan ini adalah derajat metamorfisme (temperatur dan tekanan). Menurut Hilt kecepatan peningkatan peringkat bergantung juga pada gradien geotermal . (T&P) 2(C125H105O10NS) C137H97O9NS + 5CH4 + 1OH2O + 8C02 + CO (Lignit) (bituminous) (gas metan) (T&P) 2(C137H97O9NS) C240H90O4NS + 5CH4 + 1OH2O + 8C02 + CO (bituminous) (antrasit) (gas metan) Pada proses ini. O dan VM) atau dengan sifat optis (reflektansi vitrinit). oksigen. bituminus. Perubahan paling menonjol pada batas peringkat sub bituminous C dan B adalah perubahan petrografis yang disebabkan oleh proses gelifikasi geokimia (vitrinisasi) dari substansi hunik yang berubah menjadi hitam dan mengkilap. . sub-bituminus. Pengaruh temperatur dipercayai sangat dominan disebabkan sering ditemukan adanya intrusi–intrusi batuan beku yang berdekatan dengan lapisan batubara dengan peringkat tinggi (antrasit) karena terjadi kontak metamorfisme. Sifat porositas ini dapat dilihat dari kandungan airnya (moisture content) yang berkurang selama proses perubahan dari gambut menjadi brown coal. Asam humik terkondensasi menjadi molekul yang lebih besar dan kehilangan sifat keasamannya membentuk humin yang tak larut dalam alkali. secara kimia.

Untuk menjelaskan tempat terbentuknya batubara dikenal dua macam teori: 1. Proses Pengolahan Batubara . Gambut.1. 5. Dengan demikian tumbuhan yang telah mati diangkut oleh media air dan berakumulasi di suatu tempat. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air. mengandung antara 86% – 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%. Antrasit adalah kelas batubara tertinggi. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia didapatkan di lapangan batubara Mahakampurba. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran tidak luas. Tempat Terbentuknya Batubara Pembentukan batubara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada eraera tertentu sepanjang sejarah geologi. 2. Teori Insitu Teori ini mengatakan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara. Teori Drift Teori ini menyebutkan bahwa bahan-bahan pembentuk lapisan batubara terjadinya di tempat yang berbeda dengan tempat tumbuhan semula hidup dan berkembang. Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya. kualitas kurang baik karena banyak mengandung material pengotor yang terangkut bersama selama proses pengangkutan dari tempat asal tanaman ke tempat sedimentasi. Jenis batubara yang terbentuk dengan cara ini mempunyai penyebaran luas dan merata. dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus. Batubara terbentuk dengan cara yang sangat kompleks dan memerlukan waktu yang lama (puluhan sampai ratusan juta tahun). berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah. Kalimantan Timur. terbentuknya ditempat di mana tumbuh-tumbuhan asal itu berada.dengan demikian maka setelah tumbuhan tersebut mati. tetapi dijumpai di beberapa tempat. 2. tertutup oleh batuan sedimen dan mengalami proses coalification. 4. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia. Bituminus mengandung 68 – 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. belum mengalami proses transportasi segera tertutup oleh lapisan sedimen dan mengalami proses coalification. kualitasnya lebih baik karena kadar abunya relatif kecil. 3. Batubara yang terbentuk seperti ini di Indonesia di lapangan batubara Muara Enim (Sumatera Selatan). dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik.

Atau bisa pula terjadi setelah proses pembatubaraan berlangsung. Volatile Matter (Zat Terbang) . air hujan. air yang terserap dan menempel pada batubara oleh adanya proses sekunder. maka nilai karbon tetap akan turun. Kandungan Abu Bawaan. Adapun analisa tersebut antara lain sebagai berikut. A. (%)} Antara kandungan zat terbang dan karbon tetap terdapat korelasi yang saling berlawanan. bila tingkat pembatubaraan semakin tinggi. Analisa ultimat . Kadar Abu 1. Inherent Moisture. Dari sisa pembakaran. Bagian dari batu bara yang akan berubah menjadi zat terbang jika dipanaskan pada suhu lebih kurang 950o C. air yang dipakai untuk hydraulic mining. B. Fixed Carbon (%) = 100 – {Water (%) + Ash (%) + V. Surface Moisture. dalam arti bila kandungan zat terbang naik. Fixed Carbon (karbon Tetap). Secara umum. dan sebagainya 3. Kandungan abu serapan terjadi akibat adanya intrusi lumpur dan pasir saat tetumbuhan tersedimentasi. air pada proses preparasi batubara. Jumlah kandungan kedua jenis air di dalam batubara b. d. Kandungan karbon tetap didapatkan dari analisis tak langsung. 2.M. Moisture (Kadar Air) 1. dan sulit untuk diambil melalui proses pemisahan. dan demikian sebaliknya. sebaliknya. menyebabkan lumpur dan pasir ikut tercampur masuk (intrusi). jumlahnya sedikit. Kandungan volatile matter ini tergantung dari peringkat batubara. setelah hasilnya dikurangi dengan kandungan abu. air penyiraman saat penambangan. maka hasilnya inilah yang berupa nilai karbon tetap. misalnya dari air tanah. maka kandungan zat terbang akan semakin turun. dan dihitung dari persamaan berikut. air yang terserap ke dalam batubara manakala batubara berada dalam kesetimbangan kelembaban dengan udara bebas. Semakin tinggi tingkat batubara maka akan semakin rendah.Analisa Kualitas Batubara Sebelum melakukan proses pengolahan batubara. 2. Total Moisture. Kandungan Abu Serapan. dimana akibat adanya retakan dan sebagainya. Analisa proksimat a. c. Kandungan abu bawaan diperoleh dari abu yang terkandung pada tumbuh-tumbuhan yang menjadi batubara. nilai karbon tetap akan bertambah. kita harus mengetahui kualitas batubara tersebut.

Nilai kalori merupakan panas yang dilepaskan saat unit kuantitas batubara terbakar sempurna. Selain menjadi penyebab korosi temperatur tinggi dan temperatur rendah di dalam boiler. CO2 maupun H2O yang terjadi. Nilai kalori ini dibagi menjadi 2. biasanya berkisar antara 0. Akan tetapi. Kedua metode ini. lalu dihitung persentase kandungan karbon dan hidrogen. Kandungan Sulfur (total Sulfur).5~2. namun terdapat kecenderungan bahwa kandungan nitrogen cukup tinggi untuk batubara berasap. Kandungan Nitrogen. dapat dilakukan dengan metode Liebig ataupun metode temperatur tinggi Scheffeld.0%.1-0. Dari penambahan berat yang terjadi. pada zona temperatur antara 900~1000°C.01~0. sebagian nitrogen dalam batubara akan berubah menjadi NOx dan dilepas ke udara. b. Kandungan klor di dalam batubara. Hg . menggunakan sampel sebanyak 0. Kandungan Klor. KCl. Pada proses pembakaran. Sebenarnya tidak terdapat hubungan yang khusus antara kandungan nitrogen di dalam batubara dengan tingkat pembatubaraan. sehingga berpengaruh terhadap lingkungan. c. Gross Calorific Value. Pada pembakaran semua fosfat ini akan berubah menjadi abu. Penentuan kandungan nitrogen dilakukan dengan metode Kjeldahl atau metode semi-mikro Kjeldahl. dan kebanyakan terdapat sebagai NaCl. yaitu: 1. dan sedikit untuk batubara antrasit.02%. lalu diserap dengan menggunakan pipa absorpsi. Kandungan Karbon dan Hidrogen. klor juga berpengaruh atas terjadinya korosi pada peralatan desulfurisasi asap buangan.Pada saat terjadi pembakaran. Kandungan Fosfor.5 gram yang dimasukkan ke dalam pipa pembakaran (combustion pipe). gas-gas ini juga menjadi penyebab terjadinya korosi terhadap permukaan penghantar panas pada boiler d. Di dalam batubara. Kandungan fosfor tidak terlalu diperhitungkan dalam hal pembakaran akan tetapi pada tahap metalurgi C. lalu dibakar. Penentuan kandungan karbon dan hidrogen. kandungan belerang dalam batubara akan berubah menjadi gas SO2 dan SO3. Fosfor dalam batubara dalam bentuk fosfat dan senyawa organic fosfat. senyawa tersebut akan kembali ke bentuk cair dan dalam kondisi sebagai leburan/lelehan. pada temperatur 1400-1500°C akan berbentuk uap. Nilai Kalor. Kandungan sulfur dibagi menjadi 2 bagian yaitu organic sulfur dan anorganic sulfur( sulfate sulfur dan pyritic sulfur). e. Senyawasenyawa ini. Selain menjadi penyebab terjadinya polusi udara. Rasio/persentase perubahan ini sangat tergantung kepada kondisi persenyawaan dalam batubara dan kondisi pembakarannya itu sendiri.a. terdapat kandungan nitrogen sekitar 0. dan sebagainya. Analisa lainnya a.

c. Al2O3: 15~35% . Bentuk piramida segitiga ini lalu dimasukkan ke dalam tungku listrik (electric furnace). dan idealnya bernilai 1300°C ke atas. Bila titik lelehnya rendah. b. lalu temperatur tungku dinaikkan. lalu digerus hingga berukuran lebih kecil dari 200 mesh. seperti penurunan daya hantar panas maupun daya ventilasi. Temperatur saat menjadi bentuk setengah bola. Temperatur dimana piramida segitiga mulai mengalami perubahan bentuk dinamakan titik pelunakan (softening point). Adanya klinker ini akan menyebabkan berbagai masalah. Titik Leleh Abu Saat batubara dibakar. Batubara yang telah terbakar habis menjadi abu. Titik leleh abu mempunyai hubungan yang erat dengan pembentukan klinker. dinamakan titik alir. Net Calorific Value. dinamakan titik leleh (melting point). komposisi abu batubara Jepang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut: 1.2. pada pembakaran sebenarnya dengan menggunakan boiler dan sebagainya. maka abu dan kandungan inorganik lain akan meleleh. umumnya berada pada kisaran 1000~1500°C. dan nilai ini adalah nilai yang diperoleh dari hasil analisis. Hn Yang dimaksud dengan gross calorivic value adalah nilai kalori total. yaitu setelah dikurangi dengan nilai kalor laten-nya. dilakukan sebagai berikut. Contohnya untuk batubara Jepang. sehingga pada hakikatnya kalor laten tersebut tidak dapat dimanfaatkan. Pengukuran titik leleh abu. SiO2: 40~60% 2. terkandung pula nilai kalor laten (= panas tersembunyi) dari uap air yang terbentuk akibat pembakaran kandungan air dan hidrogen dalam batubara. lalu dibentuk menjadi piramida segitiga (limas segitiga). Di dalam nilai tersebut. Titik leleh abu. dengan kandungan utama berupa silika dan alumina. Akan tetapi. komposisinya tak jauh berbeda dengan mineral lempung (clay minerals). Perubahan terhadap bentuk piramida segitiga akibat kenaikan temperatur lalu diamati dan dicatat. uap air ini dilepaskan begitu saja lewat cerobong asap tanpa proses kondensasi. Lelehan ini lalu akan menempel dan mengeras di permukaan penghantar panas pada tungku membentuk klinker. maka klinker akan mudah terbentuk. Sedangkan net calorific value adalah nilai kalori murni. Umumnya. Komposisi abu Komposisi abu batubara berbeda-beda tergantung kepada jenis batubaranya. Ketika temperatur terus dinaikkan sehingga akhirnya abu meleleh mengalir.

MgO: 0. Ukuran maksimum umpan awal ini direncanakan 300 mm. Oleh sebab itu analisa diakukan sesuai dengan permintaan dari konsumen. Fe2O3: 5~25% 5. a. Alkali (Na2 + K2O). Baik umpan batubara dari tambang maupun hasil pengecilan ulang semuanya dimasukkan ke hopper menggunakan wheel loader untuk dilanjutkan ke proses reduksi dan pengayakan sampai diperoleh produk akhir yang siap jual. Akan tetapi jika melebihi 10 % maka diperlukan suatu perlakuan khusus untuk mengurangi kadar abu tersebut. TiO2: 1~2% 4. Abu batubara adalah bahan anorganik yang terdapat di dalam batubara dan tidak habis terbakar pada proses pembakaran batubara. sedangkan terhadap umpan yang lebih besar dari 300 mm akan dilakukan pengecilan secara manual menggunakan hammer breaker. Tingginya kadar abu pada batubara (di atas 10 %) akan membuat batubara tersebut kurang bisa diterima di pasaran. Aluminium Oksida (Al2O3). Adapun proses reduksi batubara adalah sebagai berikut. Proses Reduksi Batubara Dari sekian banyak analisa kualitas batubara diatas. Persiapan pengumpanan (feeding) Sebagai umpan (feed) awal proses pengolahan adalah batubara dari tambang atau ROM atau raw coal yang ditumpuk di stockpile di lokasi pengolahan. Magnesium Oksida (MgO). dan Sulfur Trioksida (SO3). Abu batubara berasal dari clay. Hal ini disebabkan karena proses analisa menggunakan biaya yang mahal. Ferric Oksida (Fe2O3).01~0. Hal ini disebabkan karena kadar abu dari suatu batubara yang dihasilkan dapat menghasilkan banyak masalah. Pengayakan dengan Grizzly . dan mineral lainnya. CaO: 1~15% 6. limestone. Untuk kadar abu yang dibawah 10% biasanya langsung bisa dipasarkan. b.3.1% Komposisi abu ini sangat penting untuk perhitungan korosi pada boiler dan tingkat pemanasan batubara. Adapun analisa yang sering digunakan pada umumnya yaitu dengan menganalisa kadar abu dan fixed carbon pada analisa proksimat. tidak semua pemeriksaan dilakukan. Komposisi kimia dari abu batubara terdiri dari Silika (SiO2). misalnya hujan asam dan korosi pada alat pengolahan.

Apabila hasil yang didapat sesuai dengan kriteria konsumen. Hasil reduksi ulang dikembalikan lagi ke grizzly untuk pemisahan atau pengayakan ulang. semua belerang organik dan sebagian belerang pirit menjadi SO2. maka batubara siap dipasarkan. c. Unsur ini terdapat dalam batubara dalam 3 bentuk yakni belerang organik. pirit dan sulfat. d. Dalam pembakaran batubara. Pemisahan Sulfur Unsur belerang terdapat pada batubara dengan kadar bervariasi dari rendah (jauh di bawah 1%) sampai lebih dari 4%. Lubang bukaan (opening) grizzly berukuran 300 mm x 300 mm. Undersize grizzly -300 mm diangkut belt conveyor untuk umpan crusher primer.sirkulasi sebagai umpan crusher primer untuk diremuk ulang. Untuk itu perlu dilakukan penaksiran dimensi (panjang dan lebar) dari ayakan (screen) yang harus dipasang.Grizzly berfungsi memisahkan fraksi batubara berukuran +300 mm dengan -300 mm dan posisinya terletak tepat di bawah hopper. Fraksi -150 mm adalah umpan secondary crusher. Proses pengayakan adalah salah satu proses yang bertujuan untuk mengelompok-kan ukuran fraksi batubara. Sedangkan fraksi +300 mm dikembalikan ke tumpukan untuk direduksi ulang menggunakan hammer breaker. Peremukan tahap awal (primary crusher) Proses peremukan awal bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -300 mm menjadi ukuran rata-rata 150 mm. dianalisa kembali untuk menentukan ke tahapan proses selanjutnya. Apabila tidak maka dilakukan proses selanjutnya misalnya proses pencucian batubara untuk menghilangkan kadar sulfur. Alat yang digunakan adalah roll crusher yang berkapasitas 500 ton/jam. Alat yang digunakan sama seperti peremuk primer. Sedangkan belerang sulfat disamping stabil dan sulit menjadi oksida belerang. Proses ini berlangsung terus menerus selama shift kerja berlangsung. sehingga disebut juga dengan proses classification. yaitu roll crusher berkapasitas 500 ton/jam. Proses Pemisahan Batubara 1. Alat yang dipakai untuk pengayakan biasanya ayakan getar (vibrating screen). Proses peremukan sekunder adalah proses peremukan sekunder bertujuan untuk mereduksi ukuran fraksi batubara -150 mm menjadi ukuran rata-rata 50 mm. e. Produkta dari proses pengayakan harus selalu dijaga konsistensi laju kapasitasnya sebanyak 500 ton/jam. kadar relatifnya sangat rendah . Oksida belerang ini selanjutnya dapat teroksidasi menjadi SO3. Pada pengolahan batubara ini proses pengayakan tahap awal menggunakan vibrating screen-1 untuk memisahkan fraksi ukuran +150 mm dan -150 mm. Selain itu proses ini juga berfungsi untuk memisahkan pirit sulfur yang berbentuk butiran yang terdapat pada batubara. Setelah didapat batubara yang berukuran relatif seragam. sedangkan + 150 mm dire. Dari ketiga bentuk belerang tersebut. belerang organik dan belerang pirit merupakan sumber utama emisi oksida belerang.

dibanding belerang bentuk lainnya. Beberapa sulfur yang ada sebagai bintik kecil di batu bara disebut sebagai “pyritic sulfur ” karena ini dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite. Salah satu cara terbaik untuk mengurangi NOx adalah menghindari dari bentukan asalnya. Konsep ini disebut “staged combustion” karena batubara dibakar secara . Fasilitas pencucian ini dinamakan “coal preparation plants” yang membersihkan batubara dari pengotor-pengotornya. Adapun proses pembentukan hujan asam adalah sebagai berikut. bentuk ini sebagai nitrogen oksida atau kadang kala itu disebut sebagai NOx. secara normal atom-atom nitrogen mengambang terikat satu sama lainnya seperti pasangan kimia. 1. Pemisahan NOx Nitrogen secara umum adalah bagian yang besar dari pada udara yang dihirup. beberapa cara telah ditemukan untuk membakar barubara di pemabakar dimana ada lebih banyak bahan bakar dari pada udara di ruang pembakaran yang terpanas. NOx adalah polutan yang dapat menyebabkan kabut coklat yang kabur yang kadang kala terlihat di seputar kota besar. selain itu dikenal sebagai “fool’s gold” dapat dipisahkan dari batubara. Di bawah kondisi ini kebanyakan oksigen terkombinasikan dengan bahan bakar daripada dengan nitrogen. atom nitrogen ini terpecah dan terikat dengan oksigen. pada kenyataannya 80% dari udara adalah nitrogen. NOx juga dapat dibentuk dari atom nitrogen yang terjebak didalam batubara. bongkahan batubara dimasukkan ke dalam tangki besar yang terisi air . Oksida-oksida belerang yang terbawa gas buang dapat bereaksi dengan lelehan abu yang menempel dinding tungku maupun pipa boiler sehingga menyebabkan korosi. dan dapat membantu terbentuknya sesuatu yang disebut “ground level ozone”. Di udara. Campuran pembakaran kemudian dikirim ke ruang pembakaran yang kedua dimana terdapat proses yang mirip berulang-ulang sampai semua bahan bakar habis terbakar. Secara khusus pada proses satu kali. Sebagian SO2 yang diemisikan ke udara dapat teroksidasi menjadi SO3 yang apabila bereaksi dengan uap air menjadi kabut asam sehingga menimbulkan turunnya hujan asam. batubara mengambang ke permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam. FES2 + O2 FE2O3 + SO2 SO2 + OH HSO3 HSO3 + O2 HO2 + SO3 SO3 + H2O H2SO4 Adapun proses pemisahan sulfur dari batubara yaitu dengan cara memecah batubara ke bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. tetapi ketika udara dipanaskan seperti pada nyala api boiler (3000 F=1648 C). juga sebagai polusi yang membentuk “acid rain” (hujan asam). tipe lain dari pada polusi yang dapat membuat kotornya udara.

Humifikasi dapat terhenti selama diagenesis. Silika. lingkungan geokimia berubah lagi menjadi oksidasi akibat penirisan yang lancar. Syngenetic anorganic matter Merupakan materi anorganik yang berasal dari tumbuhan pembentuk batubara.bertahap. proses ini akan menghasilkan humat dengan kation Ca. pirit. dan kaolinit. Beberapa dari alat ini menggunakan bahan kimia khusus yang disebut katalis yang mengurai bagian NOx menjadi gas yang tidak berpolusi. Humifikasi sebagai awal proses penggambutan berlangsung pada tumpukan bahan kayu oleh aktivitas mikrobial. K yang terdapat dalam air laut yang masuk ke rawa paralik. Syngenetic inorganic/organic complexs Contoh: . K-Mg. 2. dan oksidasi lemah yang dipercepat oleh adanya oksigen. sehingga larutan dalam masa gel kehilangan sifat asam menjadi netral atau alkalin. Pada lingkungan alkalin dan oksidasi pada bahan organik yang terpendam akan terendapkan siderit. masukan terigen intensif lagi dan deposisi terjadi pada susut-laut.73) dan III (r = 0. Kesimpulan Mineral matter pada batubara dapat berasal dari unsur anorganik pada tumbuh. Sulfat dalam air laut yang masuk ke rawa dapat mengendap sebagai gips pra-diagenesis. keduanya pradiagenesis yang dimungkinkan apabila Si terlarut makin berkurang.tumbuhan pembentuk batubara atau disebut inherent mineral serta mineral yang berasal dari luar rawa atau endapan yang kemudian di transport ke dalam cekungan pengendapan batubara melalui air atau angin dan disebut “extraneous” atau ‘adventitious’ mineral matter. Materi anorganik di dalam batubara terbagi menjadi tiga katagori menurut pembentukannya (Taylor et. walaupun alat ini lebih mahal dari “low-NOx burners. K-Al. Ada juga teknologi baru yang bekerja seperti “scubbers” yang membersihkan NOX dari flue gases (asap) dari boiler batu bara. 1998). dan muka tumpukan bahan kayu lebih tinggi daripada muka air (Teichmuller & Teichmuller. Pada kondisi gelifikasi biokimia sebagai lanjutan humifikasi. Kadang disebut juga sebagai “low-NOx burners” dan telah dikembangkan sehingga dapat mengurangi kangdungan Nox yang terlepas di uadara lebih dari separuh.” namun dapat menekan lebih dari 90% polusi Nox. dan juga mineral lempung illit/smektit selama diagenesis (seperti yang terlihat pada koefisien korelasi cukup kuat sampai kuat antara KSi. sangat kuat antara Na-K dalam fraksi III). muka airtanah menurun. 1982). Adanya kuarsa dan kalsit terlihat pada koefisien korelasi Si dengan Ca searah kuat pada fraksi I (r = 0.80). yaitu: 1.al. Di samping asam humik dan humin. kalsit. Na. Bersamaan dengan pemendaman sedimen di atas gambut. Mnkarbonat (selama diagenesis). bahan aluminosilikat asal terigen yang masuk ke rawa dapat menghasilkan kuarsa..

.H. Distribution of Elements and Minerals between A Coal and its Overlying Sedimentary Rocks in a Limnic Environment. Bureau of Mines. Elsevier Science Publishing Co. Cox.D. Contoh: Mineral zirkon(ZrSiO4) dan pertukaran hidrogen dalam karbonat menjadi kalsium karbonat. George Allen & Unwin London. 262-274 (1985).. 3. Harris.h. 60-66 (1984). Dorsey. Contoh: Pirit dan mineral Karbonat. J. Vol. Using Geochemical Data: Evaluation. 5. International Journal of Coal Geology..E. Melbourne. United Kingdom (1995). K. Ward. R. Elsevier Science Publishing Co. 332-358 (1981). & O. F. Gibson.Materi anorganik yang terbentuk selama tahap awal penggambutan. Geochemistry of Coal. “Mineral Matter in Coal”.... 3. Bouska. et.C. h.G. 189-216 (1981). h. Daftar pustaka 1. Rare Elements in Coal.A. h. Bell. Elsevier Science Publishing Co.R. Abernethy. dalam Coal geology and coal technology. Vol. Rollinson. 5. H. 1. International Journal of Coal Geology. h. 1. R.al. V. berasal dari luar yang terbawa oleh air atau angin kedalam gambut. Elemental Concentration and their Distribution in Two Bituminous Coals of Different Paleoenvironment. 6. L. .. Coal Science and Technology 1. & Pankhurst. Epigenetic minerals Terbentuk setelah proses konsolidasi batubara oleh kristalisasi dalam rekahan atau lubang atau oleh alterasi mineral yang terendapkan secara primer. Information Circular 8163. and Interpretation. Longman Group. 2.F. 4. 175-193 (1981).J... Blackwell Science Publishing. The Interpretation of Igneous Rock. Presentation. Kopp.R. United States Department of lnterior (1963). &. A. C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.