BAB I PENDAHULUAN Demam tifoid adalah suatu penyakit sistemik yang disebabkan oleh Salmonella typhi.

Penyakit ini ditandai oleh panas yang berkepanjangan, di topang dengan bakteremia tanpa terlibat struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan Peyer¶s patch. Sampai saat ini demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, serta berkaitan dengan sanitasi yang buruk terutama negara-negara berkembang. Di negara-negara berkembang perkiraan angka kejadian demam tifoid bervariasi dari 10 sampai 540 per 100.000 penduduk. Meskipun angka kejadian demam tifoid turun dengan adanya sanitasi pembuangan di berbagai negara berkembang, diperkirakan setiap tahun masih terdapat 35 juta kasus dengan 500.000 kematian terdapat di dunia. Di Indonesia demam tifoid masih merupakan penyakit endemik dengan angka kejadian yang masih tinggi. Di antara penyakit yang tergolong penyakit infeksi usus, demam tifoid menduduki urutan kedua setelah gastroenteritis. BAB II URAIAN 1. Etiologi Salmonella typhi sama dengan Salmonella yang lain adalah bakteri Gram-negatif, mempunyai flagela, tidak berkapsul, tidak membentuk spora fakultatif anaerob. Mempunyai antigen somatik (O) yang terdiri dari oligosakarida, flagelar antigen (H) yang terdiri dari protein dan envelope antigen (K) yang terdiri polisakarida. Mempunyai makromolekular

lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel da dinamakan endotoksin. Salmonella typhi juga dapat memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi terhadap multipel antibiotik. 2. Patogenesis Salmonella typhi hanya dapat menyebabkan gejala demam tifoid pada manusia. Salmonella typhi termasuk bakteri famili Enterobacteriaceae dari genus Salmonella. Kuman berspora, motile, berflagela,berkapsul, tumbuh dengan baik pada suhu optimal 37ºC (15ºC-41ºC), bersifat fakultatif anaerob, dan hidup subur pada media yang mengandung empedu. Kuman ini mati pada

0 sebagian besar kuman akan terbunuh dengan cepat. hipoklorhidria atau aklorhidria maka akan mempengaruhi kondisi asam lambung. Kuman Salmonella typhi masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. 3.typhi ke dinding sel epitel usus. yaitu (1) proses invasi kuman S. Ada beberapa faktor yang menentukan apakah kuman dapat melewati barier asam lambung. Untuk menimbulkan infeksi diperlukan S.4ºC selama satu jam. Bila kuman berhasil mengatasi mekanisme pertahanan tubuh di lambung. Patogenesis demam tifoid secara garis besar terdiri dari 3 proses. berkembang biak dan selanjutnya akan difagositosis oleh monosit dan makrofag. Pada keadaan tersebut S. dan (2) mekanisme pertahanan spesifik yaitu kekebalan tubuh humoral dan selular. Akan tetapi tubuh mempunyai beberapa mekanisme pertahanan untuk menahan dan membunuh kuman patogen ini. dan 60ºC selama 15 menit. Setelah kuman sampai di lambung maka mula-mula timbul usaha pertahanan non-spesifik yang bersifat kimiawi yaitu adanya suasana asam oleh asam lambung dan enzim yang dihasilkannya. Sebagian kuman yang tidak mati akan mencapai usus halus yang memiliki mekanisme pertahanan lokal berupa motilitas dan flora normal usus. Di samping itu adanya bakteri anaerob di usus juga akan merintangi pertumbuhan kuman dengan pembentukan asam lemak rantai pendek yang akan menimbulkan suasana asam. Pendekatan Diagnosis Demam Tifoid . Salmonella memunyai karakteristik fermentasi terhadap glukosa dan manosa.typhi lebih mudah melewati pertahanan tubuh. Setelah menembus epitel usus. baik secara kimiawi maupun fisik. (2) proses kemampuan hidup dalam makrofag dan (3) proses berkembang biaknya kuman dalam makrofag.typhi sebanyak 105-109 yang tertelan melalui makanan atau minuman. maka kuman akan melekat pada permukaan usus. Pada penderita yang mengalami gastrotektomi. kuman akan masuk ke dalam kripti lamina propria.pemanasan suhu 54. serta tahan pada pembekuan dalam jangka lama. yaitu dengan adanya (1) mekanisme pertahanan non spesifik di saluran pencernaan. Namun demikian S. Keadaan asam lambung dapat menghambat multiplikasi Salmonella dan pada pH 2. yaitu (1) jumlah kuman yang masuk dan (2) kondisi asam lambung.typhi dapat bertahan hidup dan berkembang biak dalam fagosit karena adanya perlindungan oleh kapsul kuman. namun tidak terhadap laktosa dan sukrosa. Tubuh berusaha menghanyutkan kuman keluar dengan usaha pertahanan tubuh non spesifik yaitu oleh kekuatan peristaltik usus.

Rose spots (bercak makulopapular) ukuran 1-6 mm. dan (3) pemeriksaan melacak DNA kuman S. bakteriologis.Demam tifoid pada anak biasanya memberikan gambaran klinis yang ringan bahkan asimtomatik. Jika tidak ada komplikasi dalam 2-4 minggu. pembesaran hati dan limpa. Akibatnya sering terjadi kesulitan dalam menegakkan diagnosis bila hanya berdasarkan gejala klinis. gejala dan tanda klinis menghilang namun malaise dan letargi menetap sampai 1-2 bulan. malaise. limfositosis realtif dan menghilangnya eosinofil (aneosinofilia). anoreksia. Keadaan suhu tubuh tinggi dengan bradikardia lebih sering terjadi pada anak dibandingkan dewasa. Lemah. umumnya ditandai dengan leukopenia. dan serologis. cairan duodenum dan rose spot. nyeri abdomen dan diare. Diduga leukopenia disebabkan oleh destruksi leukosit oleh toksin dalam peredaran darah. Dalam waktu seminggu panas dapat meningkat. Patogenesis perubahan gambaran darah tepi pada demam tifoid masih belum jelas. ditemukan pada 4080% penderita dan berlangsung singkat (2-3 hari). serta gangguan status mental. menjadi berat. Timbulnya gejala klinis biasanya bertahap dengan manifestasi demam dan gejala konstitusional seperti nyeri kepala. sedangkan sembelit lebih jarang terjadi. namun hanya sebagian kecil penderita demam tifoid mempunyai gambaran tersebut. Dapat dijumpai depresi mental dan delirium. Diare hanya terjadi pada setengah dari anak yang terinfeksi. letargi. nyeri dan kekakuan abdomen. Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis demam tifoid perlu ditunjang pemeriksaan laboratorium yang diandalkan.typhi. Dahulu dikatakan bahwa leukopenia mempunyai nilai diagnostik yang penting. Sembelit dapat merupakan gangguan gastointestinal awal dan kemudian pada minggu ke-dua timbul diare. . (2) gangguan saluran pencernaan. tinja. Gambaran klinis lidah tifoid pada anak tidak khas karena tanda dan gejala klinisnya ringan bahkan asimtomatik. Walaupun gejala klinis sangat bervariasi namun gejala yang timbul setelah inkubasi dapat dibagi dalam (1) demam. penurunan berat badan. urin. dan (3) gangguan kesadaran. seperti darah. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid meliputi pemeriksaan darah tepi. Dalam kepustakaan lain disebutkan bahwa pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis demam tifoid dibagi dalam tiga kelompok.typhi dan menentukan adanya antigen spesifik dari Salmonella typhi. sumsum tulang. yaitu (1) isolasi kuman penyebab demam tifoid melalui biakan kuman dari spesimen penderita. dapat timbul pada kulit dada dan abdomen. anoreksia. (2) uji serologi untuk mendeteksi antibodi terhadap antigen S.

(2) perbandingan volume darah dan media empedu. meskipun kegunaannya masih banyak diperdebatkan. sumsum tulang. Oleh karena itu pemeriksaan biakan darah sebaiknya dilakukan sebelum pemberian antibiotik. tinja. sedangkan kuman di dalam sumsum tulang lebih sukar dimatikan. jika interpretasi dilakukan dengan hati-hati dan memperdebatkan sensitivitas.typhi sebenarnya amat diagnostik namun memerlukan waktu 3-5 hari.typhi dari darah. Walaupun metoda biakan kuman S. karena 1-2 hari setelah diberi antibiotik kuman sudah sukar ditemukan di dalam darah. Berkaitan dengan patogenesis. Biakan sumsum tulang sering tetap positif selama perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan. Bila terjadi relaps. maka kuman lebih mudah ditemukan di dalam darah dan sumsum tulang di awal penyakit.typhi memerlukan waktu 3-5 hari. Untuk menetralisir efek bakterisidal oleh antibodi atau komplemen yang dapat menghambat kuman pertumbuhan kuman. spesifitas. Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid. serta perkiraan nilai Widal pada laboratorium dan populasi setempat. sangat jarang ditemukan kuman di dalam darah. Biakan darah positif ditemukan pada 75-80% penderita pada minggu pertama sakit. cairan duodenum atau rose spots. maka angka Widal cukup bermakna. Pemeriksaan Widal. urin. Setelah minggu ke-empat penyakit. sedangkan pada stadium berikutnya didalam urin dan tinja. Biakan kuman ini sulit dilakukan di tempat pelayanan kesehatan sederhana yang tidak memiliki sarana laboratorium lengkap. sedangkan pada akhir minggu ke-tiga. maka biakan darah akan positif kembali. maka darah harus diencerkan 5-10 kali. karena hasilnya tergantung beberapa faktor. Biakan darah seringkali positif pada awal penyakit sedangkan biakan urin dan tinja. Biakan sumsum tulang dan kelenjar limfe atau jaringan retikulo endotelial lainnya sering masih positif setelah darah steril. positif setelah terjadi septikemia sekunder. serta (3) waktu pengambilan darah. Diagnosis pasti demam tifoid bila ditemukan kuman S. Faktor tersebut adalah (1) jumlah darah yang diambil. . biakan darah positif hanya pada 10% penderita.Diagnosis demam tifoid dengan biakan kuman sebenarnya amat diagnostik namun identifikasi kuman S. Waktu pengambilan darah paling baik adalah pada saat demam tinggi atau sebelum pemakaian antibiotik. Pengobatan antibiotik akan mematikan kuman di dalam darah beberapa jam setelah pemberian. namun hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid.

Komplikasi ini umumnya didahului dengan suhu tubuh dan tekanan darah menurun. pemberian antibiotik.typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin.typhi. Antibodi H timbul lebih lambat. Jika pada serum terdapat antibodi maka akan terjadi aglutinasi. sedangkan antibodi O lebih cepat hilang. Komplikasi ini biasanya terjadi pada minggu ke-3 sakit. disertai dengan peningkatan denyut nadi. Pada pengidap S. Banyak senter mengatur pendapat apabila titer O aglutinin sekali periksa • 1/200 atau pada titer sepasang terjadi kenaikan 4 kali maka diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan.5-3% dan perdarahan usus yang berat ditemukan pada 1-10% anak dengan demam tifoid. Meskipun uji serologi Widal untuk menunjang diagnosis demam tifoid telah luas digunakan di seluruh dunia. Prinsip uji Widal adalah serum penderita dengan pengenceran yang berbeda ditambah dengan antigen dalam jumlah yang sama. Pada seseorang yang telah sembuh. 4. teknik laboratorium. sedangkan aglutinin H menetap lebih lama antara 9 bulan ± 2 tahun. antibodi Vi cenderung meningkat. tetapi hanya dipakai untuk menentukan pengidap S. gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non endemis). sedang Vi aglutinin dipakai pada deteksi pembawa kuman Salmonella typhi (karier). riwayat mendapat imunisasi sebelumnya.typhi. dan reaksi silang. Perforasi terjadi pada 0. Pada uji Widal terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. Aglutinin H banyak dikaitkan dengan pasca imunisasi atau infeksi masa lampau. Antibodi Vi timbul lebih lambat dan biasanya menghilang setelah penderita sembuh dari sakit. Interpretasi pemeriksaan Widal harus hati-hati karena banyak faktor yang mempengaruhi antara lain stadium penyakit. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum. Uji telah digunakan sejak tahun 1896.typhi yaitu uji Widal. Antigen Vi biasanya tidak dipakai untuk menentukan diagnosis infeksi. Di Indonesia pengambilan angka titer O aglutinin • 1/40 dengan memakai uji widal slide aglutination menunjukkan nilai ramal positif 96%.Uji serologi standar yang rutin digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman S. Pada demam tifoid mula-mula akan terjadi peningkatan titer antibodi O. aglutinin O masih tetap dijumpai setelah 4-6 bulan. namun manfaatnya masih menjadi perdebatan. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada demam tifoid adalah komplikasi intestinal berupa perdarahan sampai perforasi usus. namun akan tetap menetap lama sampai beberapa tahun. Sampai saat ini uji serologi Widal sulit dipakai sebagai pegangan karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut off point). Perforasi jarang terjadi tanpa adanya perdarahan sebelumnya .

hilangnya keredupan hepar dan tanda-tanda peritonitis yang lain. Sistitis dan pielonefritis dapat juga merupakan penyulit demam tifoid. muntah-muntah.000 /µl³. Penatalaksananaan Pengobatan terhadap demam tifoid merupakan gabungan antara pemberian antibiotik yang sesuai. parotitis. Proteinuria transien sering dijumpai. trombositopenia. Komplikasi lain yang juga dapat terjadi adalah enselopati. Gambaran Darah Tepi Anemia normokrom normositik terjadi sebagai akibat perdarahan usus atau supresi pada sumsum tulang jumlah leukosit rendah. Sebagian besar bermanifestasi gangguan kesadaran. dan afasia. otak. demam timbul kembali seminggu setelah penghentian antibiotik. Pneumonia sebagai komplikasi sering dijumpai pada demam tifoid. trombosis serebral.dan sering terjadi di ileum bagian bawah. diorientasi. osteomielitis. artritis. Hemolytic Uremic Syndrome. Relaps yang didapat pada 5-10% kasus demam tifoid saat era pre antibiotik. nyeri pada perabaan abdomen. sekarang lebih jarang ditemukan. Ikterus dengan atau tanpa disertai kenaikan kadar transaminase maupun kolesistitis akut juga dapat dijumpai. ataksia. namun jarang di bawah 3000 /µl³. kadang-kadang berlangsung beberapa minggu. obtudansi. delirium. perawatan penunjang termasuk pemantauan. kelenjar ludah dan persendian. manajemen cairan. Pada umumnya relaps lebih ringan dibandingkan gejala demam tifoid sebelumnya. Trombositopenia sering dijumpai. hati. Adanya komplikasi neuropsikiatri. sedang kolesistitis kronik yang terjadi pada penderita setelah mengalami demam tifoid dapat dikaitkan dengan adanya batu empedu dan fenomena pembawa kuman (karies).000-25. sedangkan glomerulonefritis yang dapat bermanifestasi sebagai gagal ginjal maupun sindrom nefrotik mempunyai prognosis buruk. 5. Dilaporkan pula komplikasi berupa orkitis. Perforasi biasanya ditandai dengan peningkatan nyeri abdomen. Hepatitis tifosa asimtomatik dapat dijumpai pada kasus demam tifoid dengan ditandai peningkatan kadar transaminase yang tidak mencolok. defence muskular. seringkali akibat infeksi sekunder oleh kuman lain. fokal infeksi di beberapa lokasi sebagai akibat bakteremia misalnya infeksi pada tulang. 6. kaku abdomen. serta pengenalan . Apabila terjadi relaps. endokarditis. Apabila terjadi abses piogenik maka jumlah leukosit dapat meningkat mencapai 20. limpa. dan meningitis. stupor bahkan koma. otot. pankreatitis. koagulasi intrvaskular diseminata.

adalah alternatif pengganti seftriakson yang cukup handal. atau kuman penyebab adalah MDRST (multidrug resistant S. dibagi 2 dosis. (4) tidak mudah resisten. Lini ke dua. Banyak penelitian membuktikan bahwa obat ini masih cukup sensitif untuk Salmonella typhi namun perhatian khusus harus diberikan pada kasus dengan leukopenia (tidak dianjurkan pada leukosit <2000/ul)> Ampisilin dengan dosis 150-200 mg/kgBB/hari diberikan peroral/iv selama 14 hari. komplikasi. selama 14 hari. (5) efek samping minimal. masih merupakan pilihan pertama dalam urutan antibiotik. yang terdiri atas : Seftriakson dengan dosis 50-80 mg/kgBB/hari. (3) cara pemberian mudah untuk anak. dan (6) adanya bukti efikasi klinis. Penyembuhan sampai 90% juga dilaporkan pada pengobatan 3-5 hari. Saat redanya demam (time of fever defervescence) merupakan parameter keberhasilan pengobatan. diberikan pada kasus-kasus demam tifoid yang disebabkan S. (2) penetrasi ke jaringan cukup. diberikan dengan dosis 50-100 mg/kgBB/hari secara intravena dalam 4 dosis selama 10-14 hari. Pemilihan antibiotik sebelum dibuktikan adanya infeksi Samonella dapat dilakukan secara empiris dengan memenuhi kriteria berikut (1) spektrum sempit. sedang bila menetap mungkin ada infeksi lain. Demam lebih dari 7 hari disertai gejala gastointestinal. perforasi dan gangguan hemodinamik). dan saat tersebut menentukan efektifitas antibiotik.typhi) Penggunaan antibiotik yang dianjurkan selama ini adalah sebagai berikut : Lini pertama Kloramfenikol.typhi yang resisten terhadap berbagai obat (MDR=multidrug resistance). . tanpa gejala penyerta lain. pada anak usia di atas 5 tahun. Pengobatan akan berhasil dengan baik bila penegakan diagnosis dilakukan dengan tepat. atau Kotrimoksazol dengan dosis 10 mg/kgBB/hari trimetoprim. berarti membaik. Bila suhu turun. dosis tunggal selama 10 hari . Sefiksim dengan dosis 10-12 mg/kgBB/hari peroral. dapat dicurigai menderita demam tifoid. dibagi dalam 2 dosis selama 14 hari.dini dan tata laksana terhadap adanya komplikasi (perdarahan usus.

7. namun di pihak lain ketakutan akan terjadinya kejang dan kenyamanan anak terganggu. diikuti dengan 1 mg/kgBB setiap 6 jam selama 2 hari. sudah dipakai untuk pengobatan. Asitromisin dengan pemberian 5-7 hari juga telah dicoba dalam beberapa penelitian dengan hasil baik. sering membutuhkan pemberian antipiretik.Florokinolon dilaporkan lebih superior daripada derivat sefalosporin diatas. sehingga keseimbangan cairan sangat penting diperhatikan. serta imunisasi secara aktif dengan vaksin terhadap demam tifoid. Namun pemberian obat ini masih kontroversial dalam pemberian untuk anak mengingat adanya pengaruh buruk terhadap pertumbuhan kartilago. Penderita demam tifoid sering menderita demam tinggi. Terapi dietetik pada anak dengan demam tifoid tidak seketat penderita dewasa. Setelah demam turun. koma. 10 mg/kgBB/hari dalam 2 dosis. Deksametason diberikan dengan dosis awal 3 mg/kbBB. ataupun syok. Pemberian kortikosteroid juga dianjurkan pada demam tifoid berat. Beberapa jenis vaksin telah beredar di Indonesia saat ini. Pemberian antipiretik masih kontroversial. di satu pihak demam diperlukan untuk efektifitas respons imun dan pemantauan keberhasilan pengobatan. anoreksia dan diare. Pengobatan terhadap demam tifoid dengan antibiotik memerlukan acuan data adanya angka kejadian demam tifoid yang bersifat MDR.5ºC. Penggunaan obat-obat ini dianjurkan pada kasus demam tifoid dengan MDR. dapat diberikan makanan lebih padat dengan kalori yang adekuat. Siprofloksasin. namun tidak dianjurkan sebagai pengobatan lini pertama. Pencegahan terhadap demam tifoid dilakukan dengan memperbaiki sanitasi lingkungan dan perilaku sehari-hari. Demam biasanya turun dalam 5 hari. berupa penurunan demam sebelum hari ke 4. Makanan bebas serat dan mudah dicerna dapat diberikan. Pemberian cairan dan kalori yang adekuat sangat penting. misalnya bila ditemukan status kesadaran delir. Dianjurkan pemberian antipiretik bila suhu di atas 38. di samping kemudahan pemberian secara oral. dengan angka penyembuhan mendekati 100% dalam kesembuhan kinis dan bakteriologis. stupor. Pengobatan suportif akan sangat sangat menentukan keberhasilan pengobatan demam tifoid dengan antibiotik. Lama pemberian obat dianjurkan 2-10 hari. Pencegahan . Aztreonam juga diuji pada beberapa kasus demam tifoid pada anak dengan hasil baik.

maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Widodo Darmowandoyo. Penurunan endemisitas suatu negara/daerah tergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi. dapat juga merupakan kesalahan strategi sejak awal tata laksana dalam diagnosis sampai pemantauan DAFTAR PUSTAKA 1. 9. KESIMPULAN Tatalaksana kasus demam tifoid pada anak harus didasari strategi yang sesuai dengan patogenesis penyakti tersebut. dan komplikasi. Demam Tifoid. kuman hidup dan komponen Vi dari Salmonella typhi. untuk memperkecil kemungkinan tercemar S.typhi. Jakarta . memberi daya perlindungan 6 tahun. Vaksin Demam Tifoid Saat sekarang dikenal tiga macam vaksin untuk penyakit demam tifoid. Dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis.Secara umum. Bayi muda dan penderita dengan gangguan imun sering mempunyai keterlibatan sistemik. Salmonella typhi di dalam air akan mati apabila dipanasi setinggi 57ºC untuk beberapa menit atau dengan proses iodinasi/klorinasi. pemanasan sampai suhu 57ºC beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Edisi pertama. 2002. dalam perjalanan penyakit yang lama. Vaksin ini diberikan pada anak berumur diatas 2 tahun. Vaksin yang berisi kuman Salmonella typhi hidup yang dilemahkan (Ty-21a) diberikan peroral tiga kali dengan interval pemberian selang sehari. Vaksin yang berisi komponen Vi dari Salmonella typhi diberikan secara suntikan intramuskular memberikan perlindungan 60-70% selama 3 tahun.Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI: 367-375 . Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam tifoid. Kegagalan pengobatan tidak selalu berarti antibiotik yang diberikan sudah resisten. Untuk makanan. 8. yaitu yang berisi kuman yang dimatikan. Prognosis jelek pada anak dengan meningitis Salmonella (angka mortalitas 50%) atau endokarditis. Prognosis Penyembuhan sempurna adalah peran pada anak sehat yang berkembang gastroenteritis Salmonella.

Ikatan Dokter Anak Indonesia: 37-46 . 2003. Jakarta . Dalam Pediatrics Update. Alan R.2. Diagnosis dan Tata laksana Demam Tifoid. Cetakan pertama. Tumbelaka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful