You are on page 1of 98

setahun

koin keadilan
sebuah kenangan dan penghargaan
untuk semua orang yang
berkehendak baik
setahun
koin keadilan
sebuah kenangan dan penghargaan
untuk semua orang yang
berkehendak baik
Setahun Koin Keadilan:
Sebuah Kenangan dan
Penghargaan untuk Orang-orang
yang Berkehendak Baik

Editor Ventura Elisawati

Penerbit Rumah Langsat

Perancang Visual
Wongso Barjo Rénésubur

Pelaksana Visual Antemono Barjibarbèh

© Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Anda diperbolehkan mencetak, menggandakan,


mengutip, dan menyebarkan sebagian maupun
keseluruhan isi buku ini asalkan menyebutkan
sumbernya dan bukan untuk kepentingan komersial.

Jalan Langsat 1/3A


Kramat Pela
Kebayoran Baru
Jakarta 12130
rumah@langsat.net
rumah.langsat.net

Jakarta, Desember 2010

Tim penyusun dan penerbit berterima kasih sekaligus


memohon maaf jika pemuatan tulisan maupun gambar
dalam penerbitan nonkomersial ini hanya menyebutkan
sumber tanpa meminta izin terlebih dahulu.
setahun
koin keadilan
sebuah kenangan dan penghargaan
untuk semua orang yang
berkehendak baik

ba n demp o s u tr i ma n
JAKARTA
DESEMBER 2010
Daftar Isi
Beranda vii

Pengantar
“Koin Protes” untuk “Keadilan Recehan” • Imam B. Prasodjo xi

Bab 1 Keadilan yang Terlukai


Mereka Diikat oleh Satu Hal: Solidaritas • Cindy Silviana 3

Bab 2 Melawan dengan Kepatuhan


Prita I, Prita II, dan Jejaring Langsat • Enda Nasution 13
Sebuah Ringkasan Komikal tentang Prita • Cah Ndableg 19

Bab 3 Langsat, Sebuah Tempat


Kebun Binatang Bernama Langsat • Antyo Rentjoko 29
Pemulung Cilik dan Kejujuran • Muhammad Zamroni 33
Sana-sini Kompilasi Catatan • Muhammad Zamroni 37

Bab 4 Koin, Media Sosial, dan Masyarakat


Dari Dunia Maya ke Dunia Nyata • Ventura Elisawati 49
Recehan • Goenawan Mohamad 53
Koin Prita • Putu Setia 57
Koin Pecas Ndahé • Ndoro Kakung 61
Rp 15 Juta dari Konser untuk Prita • detik.com 63

Bab 5 Penutup dan Hikmah


Menangani Komunikasi • Ventura Elisawati 67
Mau, Dapat Penghargaan sebagai
Pemecah Rekor? • Yusro M. Santoso 71
Pengumpulan Koin: Membantu Prita,
Menolong Bank Sentral • Yusro M. Santoso 77

Setahun Koin Keadilan v


Beranda

M
embuat buku tentang Koin Keadilan telah menjadi mimpi
kami sejak aktivitas koin masih berlangsung. Tujuannya agar
kegiatan yang telah melibatkan lintas komunitas dan profesi
ini bisa terdokumentasi dengan baik. Pun peristiwa ini bisa menjadi
pembelajaran bagi masyarakat. Dan yang lebih penting, melalui buku
ini kami bisa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah terlibat dalam kegiatan koin keadilan. Sederhana, dan kami
pikir mudah mengeksekusinya.

Setahun Koin Keadilan vii


[...] namun Membuat buku, notebene adalah menulis. menerbitkannya dalam bentuk e-book. Buku ini
sepertinya Dan menulis adalah hobi kami. Dari sekedar nulis didesain dengan penuh dedikasi oleh Antyo
antrean di komen di blog teman, nulis status di Facebook Rentjoko. Sesepuh Langsat ini pula yang menciptakan
percetakan atau Twitter, atau menyiapkan artikel di blog kami. logo Koin Untuk Prita, serta badge Bebaskan Prita
Atas dasar hobi itulah kami kemudian memutuskan yang beredar di penjuru dunia maya.
begitu
untuk membukukan kisah Koin Keadilan. Sepertinya Melalui buku ini kami mengucapkan banyak
panjang,
mudah dan akan bisa selesai cepat. Ternyata tidak. terima kasih kepada semua relawan penghitung
sehingga Bahan-bahan baik yang berupa cerita, rekaman koin, yang tak mungkin kami sebut satu persatu yang
kami tidak video, dokumentasi foto maupun kliping ada datang silih berganti siang dan malam. Apresiasi
tahu kapan setumpuk. Gampangnya, tinggal dipilih. Ternyata yang tinggi kepada masyarakat luas yang telah
buku ini akan menyortir semua bahan itu juga tidak gampang. merelakan keping rupiahnya dan mengantarkannya
naik cetak. Apalagi itu harus dilakukan di sela-sela kesibukan ke Langsat, Markas Koin.
Akhirnya rutin kami. Jabat tangan erat juga kami sampaikan
kami Untungnya sejumlah relawan eks-Koin Keadilan kepada rekan-rekan Milis Sehat yang sejak awal
memutuskan (yang juga aktif saat pengumpulan koin), masih bahu membahu mengumpulkan koin. Kepada
bersedia membantu menyeleksi bahan-bahan yang detik.com, Kaskus.us, Hukum-online.
untuk
ada. Bahkan seperti Cindy Silviana Sukma com, Virtual Consulting, Tiki JNE, dan
menerbit-
pun tak cuma menyeleksi, tapi juga melakukan pihak-pihak yang tidak bisa kami sebut semuanya,
kannya dalam wawancara serta menuliskannya. terimakasih dukungan dan suplai amunisi makanan
bentuk Seperti halnya pengumpulan koin, buku inipun untuk para relawan.
e-book. bisa terwujud berkat kerjasama para relawan. Untuk rekan-rekan MyIndo, RumahWeb
Anandita Puspitasari dan Ndaru Victor dan Inmark Communications, terima
yang menyeleksi setumpuk dokumentasi, menyeken, kasih karena telah merelakan halaman kantornya
dan memilih materi yang layak. Cindy melakukan menjadi berisik kurang lebih tiga pekan, selama
wawancara sejumlah relawan dan menuliskannya. penghimpunan koin berlangsung. Juga kepada
Ada Yusro M. Santoso, Wicaksono penghuni Langsat: Didi Nugrahadi, Happy
(alias Ndoro Kakung), Enda Nasution, Hanantoputro, Susie Rahayu, Untung
Muhammad Zamroni, Antyo Rentjoko, dan Hartono dan Eki Priyana yang setia menerima
Ventura Elisawati yang turut menyumbangkan kiriman koin dari subuh sampai dini hari.
tulisan di buku ini. Juga Mas Imam Prasojo yang Penghargaan juga kami sampaikan kepada
“ditodongæ untuk memberikan kata pengantar. seluruh media baik mainstream maupun alternatif,
Ada pula tulisan Goenawan Mohamad yang khususnya kepada TV One, Metro TV
dikutip di sini. dan SCTV yang melakukan liputan live. Tanpa
Semula buku ini akan kami cetak, namun penyeberan informasi dari media, inisiatif Koin
sepertinya antrean di percetakan begitu panjang, Keadilan pasti tidak akan menjadi sebuah ”gerakan”
sehingga kami tidak tahu kapan buku ini akan masyarakat.
naik cetak. Akhirnya kami memutuskan untuk Terimakasih juga kami sampaikan kepada

viii Setahun Koin Keadilan


MEMILAH. Tahap
pertama penghitungan
koin adalah memilah
berdasarkan jenis dan
denominasi. Kalau sudah
terkelompokkan maka
penghitungan receh ini
lebih mudah.
n dar u

Bank Indonesia dan Bank Mandiri. Dari


mengangkut satu mobil kontainer koin, sampai
tujuh hari kerja plus lembur untuk menghitung ulang
jumlah koin, bukanlah pekerjaan kecil. Keduanya
telah menuntaskan amanat Koin Keadilan untuk
menyampaikan seluruh rupiah yang terkumpul
kepada yang berhak: Prita Mulyasari.
Mudah-mudahan buku ini bisa bermanfaat,
memberikan inspirasi tentang keadilan,kebersamaan,
berbagi, saling menolong serta kekuatan cinta
dan kepedulian masyarakat. Melakukan apa yang
bisa diperbuat, tentu lebih bermanfaat ketimbang
sekadar meneriakkan protes ketidaksetujuan.

Selamat membaca.

Ventura Elisawati
Editor

Setahun Koin Keadilan ix


CLEANING SERVICE.
Apa bedanya mobilisasi
dan partisipasi? Koin
Keadilan menjawabnya:
pada penyampaian pesan
terjadi mobilisasi ajakan
oleh sesama warga,
kemudian yang hatinya
terketuk ikut terlibat –
termasuk dari gedung-
gedung perkantoran tapi
tak dianggap sebagai
orang kantoran.
n dar u

x Setahun Koin Keadilan


Pengantar
“Koin Protes” untuk
“Pengadilan Recehan”

Imam B. Prasodjo
Sosiolog dari Universitas Indonesia,
aktif di pelbagai kegiatan sosial.
Ketua Yayasan Nurani Dunia.

B
icara gerakan pengumpulan “koin keadilan” bagi Prita Mulyasari,
mau tak mau kita harus melihat makna simbolik di baliknya.
Kekuatan koin yang dikumpulkan rakyat sebagai media ekspresi
untuk mendukung Prita, tidak terletak pada berapa besar nilai rupiah
yang terhimpun, namun terletak pada tajamnya satir yang terkandung
di dalamnya. Tentu saja, seberapa efektif ketajaman koin sebagai
senjata simbolik untuk menohok pihak-pihak yang menjadi sasaran,
sangat tergantung pada kepekaan hati dan kecerdasan orang-orang
yang terkena tohokan itu.

Setahun Koin Keadilan xi


Munculnya Untuk memahami betapa kuatnya peran dilakukan rakyat Indonesia di saat mereka secara
kasus simbol dalam membangun imaji sosial, apapun kasat mata melihat proses pengadilan yang
bertubi-tubi makna yang dibangun di dalamnya, kita dapat dianggapnya berjalan mengikuti jalur-jalur “satanik”?
merujuk pada salah satu peristiwa sejarah agama. Apakah rakyat harus mengumpulkan kerikil dan
semacam
Ambil saja contoh ritual dalam ibadah haji. Saat melemparkannya ke lokasi proses pengadilan
ini tentu
para jamaah memasuki kota Mina, ada ritual wajib satanik yang tengah berlangsung atau langsung
membantu yang harus dilakukan, yaitu melempar tujuh butir saja para aktor yang memerankannya? Bukankah
ingatan batu kerikil ke arah jumroh, sebuah bangunan para penegak hukum yang telah beku nuraninya,
kolektif berbentuk tembok panjang. Saat pelemparan sulit berempati pada nasib Prita Mulyasari, seorang
rakyat dilakukan, tentu makna pokoknya bukan ekspresi ibu yang perutnya berat karena tengah hamil, yang
tentang kebencian terhadap jumroh yang hanya berupa digelandang ke kursi pengadilan hanya gara-gara
begitu bangunan mati itu. Namun, ini merupakan simbol berkeluh-kesah via e-mail atas perlakuan semena-
banyaknya penolakan tegas orang beriman terhadap segala mena RS Omni Internasional Alam Sutra? Alih-alih
peristiwa bentuk sifat satanik. Ritual ini diambil dari peristiwa keluhannya didengar, yang terjadi malah ia dituduh
sejarah Nabi Ibrahim saat ia mengusir setan yang mencemarkan nama baik. Polisi, Jaksa, dan hakim
ketidak-
datang mengganggunya dengan melempari batu tampak bersekutu, memainkan pasal-pasal hukum
adilan hukum
kerikil. Peristiwa yang terjadi sekitar 2000 SM ini, formal, dan tak peka lagi pada rasa keadilan (sense
yang pernah kini terus diperagakan sebagai simbol penolakan of justice). Tak heran bila publik melihat kasus ini
menimpa pada kesesatan. Pada setiap musim haji, tak kurang sebagai peragaan kedunguan dan kecongkakan.
orang kecil. dari 2,5 juta jamaah dari berbagai bangsa di dunia Akibatnya, hukum di Indonesia menjadi
hadir di kota Mina, “berdemonstrasi” melempar tampak begitu timpang. Apalagi, pada saat hampir
jumroh. Ini tidak saja dimaknai sebagai penolakan bersamaan, rakyat Indonesia juga dipertontonkan
pada godaan setan, tetapi lebih dari itu, penolakan kasus Nenek Minah dari Banyumas yang divonis 1,5
terhadap segala bentuk perilaku satanik. bulan kurungan dengan masa percobaan tiga bulan
Kembali ke soal koin. Apa yang harus hanya karena tuduhan mencuri tiga buah kakao dari
ALAMAT TUJUAN? kebun milikPT. RSA 4. Belum lagi kasus pengadilan
Boks ini berisi koin untuk Aguswandi Tanjung yang tengah berlangsung, yang
Prita, dialamatkan ke memperagakan absurditas pengadilan dimana
RS Omni, tapi oleh sang seseorang hanya karena tuduhan mencuri stroom
pembawa dibawa ke
Langsat. listrik saat ia men-charge HP di koridor apartemen
Roxy Mas, tempat ia tinggal. Sungguh sepele.
Namun publik juga tahu, di balik alasan formal
sepele ini, pasti terjadi proses hukum yang tengah
bekerja menindas Agusandi Tanjung yang lemah itu,
dan sebaliknya akan condong berpihak pada orang-
orang berduit yang rajin mengeruk keuntungan di
n dar u

atas penderitaan orang lain.

xii Setahun Koin Keadilan


Munculnya kasus kebobrokan sistemik Namun,
bertubi-tubi semacam lembaga pengadilan rakyat
ini tentu membantu secara keseluruhan.
Indonesia
ingatan kolektif Penjelasannya sederhana.
rupanya
rakyat tentang begitu Kalau ini akibat ulah
banyaknya peristiwa oknum, tentu kasus
masih cukup
ketidak-adilan hukum semacam ini tidak sering sopan. [...]
yang pernah menimpa terjadi. mereka
orang kecil. Kita pun Karena itu, tak terlihat
teringat kasus Sengkon mengherankan bila masih enggan
dan Karta 23 tahun gerakan pengumpulan mengumpul-
lalu yang secara salah koin, dengan mudah kan batu
telah divonis masing- mengundang partisipasi kerikil untuk
masing 12 tahun dan berbagai kalangan,dari
dilemparkan
7 tahun penjara oleh kalangan profesional, ibu
pada para
Pengadilan Tinggi rumah tangga, tukang
Jawa Barat karena becak, pedagang kaki
pelaku yang
tuduhan pembunuhan. lima, hingga pemulung dianggap
Kita pun bertanya, sampah. Mereka semua sebagai
adakah perubahan menghendaki perubahan biang keladi
berarti dalam sistem total dalam peradilan di kesesatan.
peradilan kita sejak dua n dar u negeri ini. Gerakan Koin
dasawarsa lalu?Berapa banyak sebenarnya orang- Keadilan jelas merupakan simbol luapan kekesalan
orang tak bersalah harus menjalani hukuman di publik sekaligus ekspresi dambaan akan perubahan
negeri ini hanya karena tembok pengadilan yang substansial. Tidakkah para penegak hukum melihat
selalu berpihak pada orang-orang atau pihak-pihak kegeraman luar biasa di kalangan rakyat?
berduit? Namun, rakyat Indonesia rupanya masih cukup
Tampaknya publik melihat kasus Prita bukan sopan. Saat meluapkan protes dan rasa geram,
sekedar gambaran kesesatan kasuistik yang terjadi mereka terlihat masih enggan mengumpulkan batu
sporadis tanpa sengaja. Publik telah memahami kerikil untuk dilemparkan pada para pelaku yang
bahwa kesesatan ini terjadi secara integratif dalam dianggap sebagai biang keladi kesesatan. Mungkin,
keseluruhan sistem peradilan yang berlaku di negeri rakyat tidak ingin serta merta menyamakan
ini. Ketidak-adilan yang dirasakan Prita, juga dirasakan semua Polisi, Jaksa dan Hakim sebagai setan-
banyak orang di kalangan rakyat banyak. Derita setan yang pantas dilempari kerikil sebagaimana
Prita bukan karena sekedar ulah “oknum tertentu” dulu Nabi Ibrahim melakukannya terhadap setan.
yang berkolusi dengan “oknum polisi”, “oknum Rakyat menyadari, masih cukup banyak polisi, jaksa
jaksa” atau pun “oknum hakim,” namun akibat dan hakim yang berpotensi baik, dan bersedia

Setahun Koin Keadilan xiii


Ya, mungkin melakukan perubahan. Karena itu, saat Prita didenda tanda kegembiraan.
nurani Pengadilan Tinggi Banten sebesar Rp. 204.286.360, Sayang, berita baik ini kembali terkubur oleh
jaksa yang protes rakyat cukup diekspresikan dengan sopan, langkah pengajuan kasasi yang dilakukan pihak
menangani walau pun tentu sangat menusuk bagi yang kejaksaan pada 11 Januari 2010. Rupanya pihak
memahaminya, yaitu dengan mengumpulkan koin kejaksaan belum rela atas putusan bebas murni
kasus ini
untuk membantu putusan tidak adil terhadap yang dijatuhkan. Akibatnya, jalan panjang proses
memang
Prita Mulyasari. Bila saja rakyat diberi kesempatan pengadilan Prita tanpaknya belum juga berakhir
perlu dicuci. berbicara, tentu mereka akan berkata: “walaupun tuntas. Kita pun perlu mengingat ucapan Syamsu
Namun apa kami hanya memiliki uang recehan, namun kami Anwar, kuasa hukum PritaMulyasari: ”Kalau Jaksa
bisa? Jangan- akan kumpulkan untuk menebus denda Rp. 204 [berani] melakukan kasasi atas keputusan sidang ini,
jangan juta yang dikenakan pada Prita.” berarti nurani jaksa tersebut perlu dicuci.” (Kabar
seluruh indra Mengikuti ceritera ini, harusnya para penegak Nusantara, 29 Desember 2009).
mereka hukum yang waras di negari ini, merasa terpukul. Ya, mungkin nurani jaksa yang menangani
memang telah Gerakan ”koin keadilan” telah menempatkan posisi kasus ini memang perlu dicuci. Namun apa bisa?
telanjur mati. penegak hukum yang harusnya dihormati rakyat, kini Jangan-jangan seluruh indra mereka memang telah
justru dilecehkan dan tidak dihormati. Apa artinya terlanjur mati. Saya jaditeringat sebuah ayat Qur’an:
menjadi penegak hukum bila keputusan-keputusan Summumbukmun ’umyunfahum la_ yarji’un. Artinya,
yang dihasilkan bertentangan dengan hati rakyat? ”merekatuli, bisu, dan buta, maka tidaklah mereka
Ini sudah ”lampu merah”. Sudah sepantasnyalah akan kembali (kejalan yang benar)” (Al Baqarah,
para penegak hukum bebenah diri. Tidak ada kata 18). Wah, mudah-mudahan tidak demikian!
lain kecuali reformasi total pada lembaga peradilan. Buku kecil ini diterbitkan, tak lain sekadar
Bila tidak, jangan menyesal bila kelak, ibu-ibu di untuk terus mengingatkan tentang pentingnya
saat menjelang tidur menasihati anak-anaknya: mendengarkan suara hati rakyat dan selalu
”Bila kelak engkau sudah besar, janganlah engkau menetapi rasa keadilan. Peristiwa Prita Mulyasari
bekerja sebagai polisi, jaksa atau hakim. Mereka dan gerakan”koinkeadilan” harus menjadi pelajaran
adalah musuh rakyat.” Wah amit-amit, semoga tidak kita semua yang mendambakan terwujudnya sistem
terjadi! pengadilan yang baik. Semoga batu kerikil Nabi
Di tengah rasa pesimis ini,tiba-tiba ada setitik Ibrahim tidak pernah dilemparkan di Indonesia.
harapan muncul dari Majelis Hakim Pengadilan Dan semoga tidak ada setan yang mengusai
Negeri Tangerang yang diketuai Arthur Hangewa. lembaga peradilan di negeri kita.
Pada sidangSelasa 29 Desember 2009, Pengadilan
Negeri Tangerang memutuskan bahwa Prita bebas
dari tuntutan hukum. Padahal sebelumnya, Jaksa
Riyadi dan Rahmawati Utami menuntut Pritad
dengan hukuman enam bulan penjara. Rakyat
pun menyambut lega. Para tetangga Pritapun
mengadakan acara dang-dutan bersama sebagai

xiv Setahun Koin Keadilan


Bab 1:
Keadilan yang Terlukai

“Ini kesempatan dan


momen yang tepat
bagaimana cara
menolong orang-orang
yang ingin menegakkan
keadilan. Tak hanya
untuk Prita, tapi untuk
membangkitkan semua
orang.”

Oma Erna Octobaran Musu (67), seorang


relawati yang aktif

Setahun Koin Keadilan 1


PENGHITUNGAN KOIN DIMULAI. Tanpa
upacara khusus, tiada pidato sambutan, koin dibawa
ke tengah karpet lantas dikerumuni, dibuka, dihitung,
dikelompokkan, dicatat.
n dar u

2 Setahun Koin Keadilan


Mereka Diikat oleh
Satu Hal: Solidaritas

Cindy Silviana
facebook.com/profile.php?id=692124934
Twitter : @cindysilviana

P
rita Mulyasari mungkin tak menduga jika email yang ia kirim
ke beberapa temannya menyebar dan berbuntut panjang
menghantarnya ke meja hijau. Email itu berisi komentar dan
pengalaman buruknya saat mendapat pelayanan dari, RS Omni
Internasional.
Pihak RS menggugat Prita dengan 2 perkara. Pertama tindak
pidana pencemaran nama baik terhadap RS dan para dokternya.
Dan gugatan perdata karena dianggap merugikan secara moral
dan material RS tersebut. Nilai gugatan perdatanya tak tanggung-
tanggung, Rp 500 juta.

Setahun Koin Keadilan 3


Sederhana Kasus ini mengundang perhatian publik, karena kelas atas hingga kelas bawah, dari Jakarta hingga
tapi Kejaksaan Tengerang, menetapkan Prita sebagai ke berbagai pelosok daerah, dari generasi muda
Fenomenal! tahanan ketika kasusnya masih dalam penyidikan. hingga tua, berbagai profesi baik karyawan, guru,
Ibu dua anak yang masih menyusui ketika itu, sempat siswa,pedagang, politikus, bahkan pemulung ikut
Mampukah
ditahan selama 21 hari. Inilah yang menggores rasa meyumbangkan dana.
mengumpul-
keadilan publik. Jeratan pasal 27 UU ITE yang Diantara mereka, banyak yang merasa senasib
kan koin dikenakan oleh jaksa, menyamakan Prita sebagai bahwa keadilan belum ditegakkan sepenuhnya.
hingga seorang kriminal yang mesti ditahan dan harus Gerakan ini menjadi momen yang penting
tercapai berisah dengan anak yang masih disusuinya. untuk menggebrak dan membuktikan kekuatan
nominal Rp. Perdebatan panjang tentang pengenaan UU masyarakat melawan ketidak adilan. “Jangan sampai
204 juta? ITE mengundang dukungan pengguna internet ada Prita yang lain. Cukup satu Prita saja”.
Kenyataan- seperti blogger, facebooker, tweeps dan komunitas
nya, lebih dari online lainnya untuk membantu Prita. Sosok Ibu Dua Ratus Empat Juta Rupiah
angka itu. muda yang mesti dipisahkan dengan bayinya juga Uang ratusan juta itu harus ditanggung seorang
mengundang empati kalangan ibu. Prita Mulyasari akibat tuntutan pihak RS Omni
Di sisi yang lain, layanan kesehatan yang belum Internasional atas gugatan perdata pencemaran
sepenuhnya bisa memuaskan pengguna jasa, juga nama baik melalui surat elektronik (e-mail) yang ia
memunculkan kesamaan rasa di masyarakat untuk kirimkan ke teman-temannya. Namun, tak ada yang
ingin mengawal perbaikan pelayanan kesehatan. menduga jika gugatan perdata tersebut mendapat
Karenanya, Prita menjadi sosok yang lengkap reaksi yang luar biasa dari masyarakat hampir
mewakili aneka interes. di seluruh wilayah di Indonesia. Sederhana tapi
Dalam kasus pidana, Pengadilan Negeri Fenomenal! Mampukah mengumpulkan koin hingga
Tangerang sudah membebaskan Prita dari segala tercapai nominal Rp. 204 juta? Kenyataannya,lebih
tuduhan. Meski begitu, keputusan tersebut belum dari angka itu.
final karena jaksa melakukan upaya banding. Sedang Bantuan datang dari berbagai pihak. Mulai dari
dalam kasus perdata, Prita masih harus menunggu komunitas blogger, kaum ibu, para pelajar, politikus,
keputusan kasasi. Sebab Pengadilan Tinggi Banten bahkan pemulung pun turut merogoh koceknya
menyatakan Prita kalah dan harus mengganti untuk Prita. Motivasi para relawan bermacam-
kerugian RS Omni sebesar Rp 204 juta. macam, ada yang iba, pernah mengalami kasus yang
Tergerak melihat perjuangan seorang ibu dua serupa, namun satu tujuan, melawan ketidakadilan
anak melawan ketidakadilan itu, maka sejumlah dengan gerakan kepatuhan. Ya. Patuh, karena tidak
komunitas blogger pun bertindak. Gerakan destruktif, tidak ada pembangkangan. Bahkan
mengumpulkan koin sampai Rp 204 juta menjadi mematuhi putusan denda yang ditetapkan hukum,
sebuah gagasan yang menarik dan disambut yang “dianggap” tidak adil dengan membayar secara
banyak pihak. Meski bukan suatu hal yang baru, patungan.
gerakan ini menjadi fenomenal, saat seluruh rakyat Gerakan ini secara positif, dapat menyadarkan
berbondong-bondong ikut membantu, mulai dari betapa kuatnya solidaritas masyarakat Indonesia

4 Setahun Koin Keadilan


untuk saling membantu melawan ketidakadilan itu.
Dan koin menjadi sebuah simbol, dia adalah uang
receh yang tak dianggap perlu. Dia sering tercecer
di lantai, di sudut ruang, bahkan di tempat yang tak
diingat oleh pemiliknya. Satu keping mungkin nilainya
tak berarti, namun saat koin dikumpulkan, arti nilai
itu tak hanya dapat melunasi tuntutan, tetapi juga
menggerakan aspirasi dan simbol kekuatan rakyat.
Gerakan ini juga mengajarkan bahwa dengan hal
yang sederhana dan dapat dilakukan semua orang,
dan memberi efek yang besar bagi beberapa pihak.
Dimana keadilan direcehkan.

f o t o - f o t o : n dar u
Di Jakarta dan sekitarnya, pengumpulan koin
tak hanya dilakukan di Langsat dan Kantor Milis
Sehat saja. Ada puluhan posko yang melakukan
pengumpulan secara bersamaan. Di Tebet, Dicky
Darwis, seorang blogger, mendirikan posko.
Di Bintaro, Meruya, Pramuka, kantor-kantor hari peringatan hari Hak Asasi Manusia (HAM) BOCAH PUN
pemerintah, swasta, bahkan pangkalan ojek dan Internasional di Perhimpunan Bantuan Hukum TERLIBAT.
Tak sedikit anak-anak
pasar tradisional. Di Bekasi, Tangerang, Depok Indonesia (PBHI) pada 10 Desember 2009.
yang ikut membantu,
sampai Cilegon. Posko-posko tersebut akhirnya Adapun yang mengamen dan mengumpulkan koin sebagai relawan
mengirim hasil pengumpulan koinnya ke Langsat. di kantornya. penghitung koin, dengan
Pengumpulan koin tak hanya terjadi di Jakarta Hampir sama dengan teman-teman di Bali, setahu dan bahkan diajak
orangtuanya.
saja, teman-teman dari luar daerah ikut membantu mereka yang berada di Medan juga mengumpulkan
berjalannya gerakan ini secara sukarela. Masing- koin saat berlangsung dengan aksi AntiKorupsi se-
masing memiliki cerita seru yang mungkin belum dunia pada 9 Desember di Medan. Ratusan massa
banyak diketahui dan terekspos media massa. Di dari elemen buruh, organisasi kemahasiswaan,
sini, kami paparkan beberapa bagian menarik yang hingga pengamen jalanan turun ke jalan untuk
terjadi di beberapa posko di beberapa daerah. memperingati hari Anti Korupsi.
Mulai dari pengumpulannya hingga beberapa Dalam aksinya massa juga mengumpulkan
kesulitan pengiriman koin ke Jakarta. koin untuk Prita Mulyasari. Kotak putih bertuliskan
Memanfaatkan momen penting tampaknya “Kotak Koin Prita” dibawa pengamen jalanan. Kotak
cukup efektif untuk mengumpulkan koin, dijalankan diiringi lagu yang dibawakan lima penga-
apalagi bagi Komunitas blogger Bali Orange men dengan alat musik gitar dan gendang. Salah
Communication, Sloko Institute, seorang pengamen, mengakui, pengumpulan Koin
Manikaya Kauci, dan lainnya yang berada di Prita, sebagai bentuk pembelaan terhadap proses
Pulau Dewata. Kotak koin diedarkan saat diskusi hukum yang dijalani Prita (Tempointeraktif.com,

Setahun Koin Keadilan 5


f o t o - f o t o : n dar u
DATANG, Rabu, 09 Desember 2009, 13:12 WIB) koin keadilan Prita di Sulawesi Tengah.
BERGABUNG, Tak kalah dengan beberapa kota besar lainnya, Ketika koin terkumpul dan siap dikirim, teman-
MENGHITUNG.
Para relawan bekerja gerakan pengumpulan koin juga berlangsung di teman dari Komunitas Blogger Makassar
bergantian, tanpa jadwal Palu, Sulawesi Tengah. Gerakan ini dipelopori oleh Anging Mammiri menemui kendala saat akan
gilir, sejauh badan Dian Candra Anggraeni (38), seorang guru mengirimkan ke Jakarta. Berbekal dengan nomor
mendukung dan agenda Information and Communication Technology (ICT) rekening Bank Mandiri yang telah diinformasikan,
pribadi menenggang. Dari
pagi hingga pagi. yang mengajar di sebuah sekolah berbasis ICT. Kala Ira dan Ntan pergi ke Bank Mandiri terdekat
itu, Dian tengah mengajarkan cara menyampaikan untuk menyetor. Teller-nya sempat terbelalak kaget
aspirasi dan pendapat melalui email, blog, dan karena yang disetor semuanya koin. Namun, giliran
chatting kepada murid-murid SMP. Terlintas di mereka yang terkejut karena untuk mentransfer
benaknya, kasus Prita yang berawal dari email. koin harus memenuhi regulasi khusus BI yang
Para murid pun tampak antusias dan mengirim sangat tidak mungkin dilakukan, melihat suasana
dukungannya kepada Prita lewat internet. antrian yang begitu panjang.
Kabar mengenai gerakan pengumpulan koin Namun beruntunglah sebuah perusahaan jasa
mulai terngiang di telinga Dian, terlintas dalam pengiriman, Tiki JNE, bersedia mengirimkan semua
pikirannya untuk melakukan hal yang sama di koin yang terkumpul dari seluruh penjuru negeri ini
Palu. Sambutan hangat pun muncul dari berbagai menuju Langsat, tanpa sepeser biaya pun. JNE tanpa
pihak, seperti para guru, murid bahkan orangtua pamrih mendukung gerakan ini. “Itulah yang kami
murid. Hingga akhirnya, SMP Negeri Model bisa untuk mendukung gerakan pengumpulan koin
Terpadu Madani menjadi tempat pengumpulan untuk keadilan,” ujar Sylvia, PR Manager JNE.

6 Setahun Koin Keadilan


Sylvia sangat tergerak ketika menyimak
pemberitaan seputar pengumpulan koin. Andaikata mereka tak ada
Secara sepontan dia mengirimkan surat kepada Seorang ibu ‘kan jatuh dalam keputusasaan
koinkeadilan.com, untuk ikut membantu gerakan menghadapi ketidakadilan
ini. Berikut adalah surat Sylvia. Andaikata mereka tak bersatu padu
Pejuang Koin Solidaritas rakyat kecil mungkin tak ‘kan terasa
Andaikata mereka tak punya ketekad’an hati
Ketidakadilan makin merajalela
Senang sekali bila JNE dapat ikut berperan untuk Hati yang tulus, jiwa yang berani, kebersamaan yang
pengumpulan Koin Keadilan. tinggi
Pejuang tanpa tanda jasa
Sebagaimana yang kami sampaikan bahwa
teknis pelaksanaan yang dapat kami lakukan Merekalah... sang pejuang koin...
adalah sebagai berikut:
Sepenggal puisi diatas merupakan cerminan
1. JNE Jakarta akan meinformasikan kepada bagi para pejuang koin yang telah mengorbankan
semua cabang JNE di seluruh Indonesia bahwa
akan ada penyerahan Sejumlah Koin oleh waktu, materi, tenaga, dan pikiran sehingga
personil yang identitasnya akan kami sampaikan terbentuk dan berjalannya gerakan koin keadilan
kemudian. Sosialisasi akan kami lakukan Prita ini. Sebenarnya semua relawan yang turut
bilamana kami telah mendapatkan data berikut berpartisipasi dalam menyumbang maupun
nominal yang akan diserahkan. “Bantuan
menghitung koin merupakan para pejuang koin.
dari masyara-
2. Melalui pimpinan cabang  JNE di masing- Tak ada status atau perbedaan kelas disini. Mulai
masing daerah koin akan ditukar dan Dana dari pemulung, tukang sapu, mahasiswa, guru, publik
kat saat saya
akan ditransfer ke rekening yang juga akan kami figur, dan blogger turut berpartisipasi dan menjadi membutuh-
informasikan kemudian. kan itu, tidak
pejuang koin. Beberapa di bawah ini menjadi kisah
3. Bila dilakukan serentak, JNE JKT membutuhkan pejuang koin yang mewakili pejuang koin lainnya. pernah akan
waktu 2 (dua) hari setelah masa serah terima saya lupakan,”
koin kepada JNE di daerah untuk diserahkan
kepada POSKO di Jakarta.
Opa Koin ujarnya.
Selama 3 hari penghitungan koin, selalu nampak [...] dengan
Demikian yang dapat kami sampaikan. Mohon hadir lelaki tua tetapi masih sangat bersemangat. suka rela
konfirmasi secepatnya beserta data lengkap Dia adalah Yos Sudarso, 71 tahun. Dia tergerak
seperti nama contact person disetiap daerah, no membantu
untuk membantu penghitungan koin setelah
contact dan nominalnya. penghitungan
melihat berita di TV.
“Saya ingin membalas budi dengan bantuan
koin sampai
Terima kasih,
Sylvia yang sudah saya terima,” katanya. Siapa yang dini hari,
Public Relations Manager JNE membantu? Dia lalu berkisah, di masa lalu ia pernah selam 3 hari
www.jne.co.id
mengalami perlakuan hukum yang dirasanya tidak berturut-
adil. Ketika itu dia masih menjadi karyawan sebuah turut.

Setahun Koin Keadilan 7


OPA DAN OMA
KOIN.
Yos Sudarso (71) dan
Erna Octobaran Musu
(68), dua relawan yang
selalu bersemangat. Usia
bukan masalah. Malah
mereka menyemangati
yang muda-muda.
n dar u

n dar u
perusahaan farmasi. Yos, memprotes penyediaan bahkan jutaan keping koin keadilan. Dari pagi hingga
rumah untuk karyawan yang dirasa tidak sesuai malam. Terkadang sambil diselingi canda dan cerita
dengan bestek. Protes Yos dilakukan mengirimkan masa lalunya kepada relawan lain.
surat kepada direksi. Banyak para relawan yang membantu karena
Hasilnya, protes tak digubris, malah dia dipecat. memiliki pengalaman yang sama seperti apa yang
Dia lalu menceritakan pengalamannya di surat Prita alami. Dan ini menjadi salah satu motivasi
pembaca sebuah media. Dukungan dan rasa mereka untuk menolong Prita. Bukan karena
empati, mengalir padanya, termasuk Pemerintah hanya rasa kasihan, mereka tak tahan dengan
Jerman yang memberikan pekerjaan pada Opa ketidakadilan sehingga melalui gerakan ini, mereka
Yos – begitu para relawan memanggil – hingga usia bersatu padu menggalang kekuatan melawan
pensiun. ketidakadilan dengan koin.
“Bantuan dari masyarakat saat saya
membutuhkan itu, tidak pernah akan saya lupakan,” Oma Koin
ujarnya. Karenanya dia dengan suka rela membantu Ada opa, ada juga Oma Koin. Sejak hari
penghitungan koin sampai dini hari, selam 3 hari pertama hingga hari terakhir, Oma yang satu ini
berturut-turut. selalu meluangkan waktunya menghitung koin
Opa Yos termasuk salah satu relawan yang bersama para relawan lainnya. Ditemani sang
rajin dan tak pernah absen menghitung ribuan cucu Azzahara, Oma termasuk pejuang koin yang

8 Setahun Koin Keadilan


selalu memberi motivasi dan semangat kepada
relawan lainnya. Oma mendengar kasus Prita dan
pengumpulan koin melalui media massa.
Bagi Oma Erna Octobaran Musu (67) ini
adalah momen yang tetap untuk berpartisipasi dan
membantu orang lain.
“Ini kesempatan dan momen yang tepat
bagaimana cara menolong orang-orang yang ingin
menegakkan keadilan. Tak hanya untuk Prita, tapi
untuk membangkitkan semua orang,” ujarnya.
Menurutnya, sangat mudah mempersatukan
rasa solidaritas masyarakat Indonesia ketika ada
kemauan dan keikhlasan dalam diri kita untuk
membantu.
Bagi Oma, gerakan ini selain menumbuhkan
n dar u
rasa persatuan, juga sarana mendapat beberapa
teman baru, seperti Tante Pretty dan Tante
Frida yang mempunyai satu motivasi yang sama. menuju ke Jalan Langsat, markas koin berada. PULANG SEKOLAH.
Bersama kawan-kawan “seperjuangan”, suasana “Waktu itu saya tak bisa bantu banyak di Dua siswi SMA Tarakanita
I, Jakarta Selatan,
penghitungan koin menjadi ceria dan hidup. hari pertama penghitungan koin. Datang pun tak
mendaftarkan diri sebagai
Kadang-kadang jika koin yang dihitung telah habis, membawa koin, tapi saya ingin ikut serta. Senang relawan dan langsung
mereka meneriakkan “Koin! Koin! Koin!” , tak sabar aja gitu ada kepedulian sangat besar,” ujarnya yang bekerja bersama teman-
menunggu menghitung kepingan koin selanjutnya. mengaku belum pernah bertemu Prita secara temannya.
langsung. “Senang sekali rasanya jika bisa bertemu
Figur Publik dengan Prita,” lanjutnya.
Artis dan publik figur identik dengan kehidupan Meski belum pernah mengalami kejadian
mewah dan serba sibuk. Namun, hal ini tampaknya seperti Prita, namun ia mengaku merasakan banyak
berbeda bagi Indah Sita Nursanti, atau yang orang yang mempunyai cerita yang serupa, kecewa
dikenal dengan Sita RSD. Melalui media massa, Sita terhadap pelayanan institusi. Dari gerakan ini, ia
sering mengikuti kasus Prita dan melihat betapa melihat ketika kekuatan rakyat bersatu padu, efeknya
besar solidaritas masyarakat Indonesia . sangat luar biasa dan perlu dijadikan gerakan yang
Ditengah kesibukannya sebagai penyanyi dan kontinu. “Yang harus dilanjutkan adalah bagaimana
penyiar radio, Sita menyempatkan diri datang dan kita menjadi peka terhadap apa yang terjadi di
membantu menghitung koin bersama relawan sekitar kita,” tambahnya.
lainnya. Senin siang (14/12/2009), sekitar pukul Mungkin selain Sita, masih banyak artis
14.00 WIB, Sita yang baru selesai bekerja di salah atau publik figur yang turut berpartisipasi
satu radio yang berlokasi di Jalan Thamrin, pergi menyumbangkan materi, tenaga, dan waktu

Setahun Koin Keadilan 9


Komunitas luangnya di tengah kesibukan mereka sebagai publik Komunitas Koin
Koin figur, seperti para penyanyi yang sukarela memberi Di Langsat, lebih 350 orang relawan penghitung
(Komunitas suaranya dalam konser Koin Keadilan Untuk Prita koin dipertemukan. Mereka semula tak saling
Orang yang menjadi ajang solidaritas para musisi melawan kenal. Namun kerja sosial selama 4 hari telah
ketidakadilan. memunculkan hasrat kebersamaan yang begitu
Indonesia),
kuat. Mereka tak ingin kebersamaan itu berakhir
begitu
Kaum Pelajar ketika gerakan pengumpulan koin ini usai.
mereka Saat di markas koin, para kaum muda yang Komunitas Koin (Komunitas Orang Indonesia),
menyebut, terdiri dari mahasiswa perguruan tinggi dan dosen begitu mereka menyebut, didirikan tanpa ketua,
didirikan datang untuk ikut menghitung koin. Di antaranya wakil mapun pengurus lainnya. Dasarnya adalah
tanpa ketua, berasal dari Universitas Dokter Moestopo setelah mengalami kerja bareng, mereka merasa
wakil mapun (Beragama), STIKOM The London cocok, mereka secara intensif melkukan komunikasi
pengurus School of Public Relations Jakarta, dan melalui telepon dan jejaring sosial. Anggota mereka
lainnya. beberapa perguruan tinggi dan SMA lain. Sekitar sangat beragam dalam usia. Ada Oma Erna yang
Dasarnya 20 mahasiswa dari Universitas Moestopo dari sudah sepuh, Tante Pretty dan Frida yang tengah
fakultas Ilmu Komunikasi datang bersama dengan baya, mahasiswa seperti Cindy, pelajar SMA seperti
adalah setelah
sang dosen, Ajeng (29), yang mengajak para She, sampai anggota Iwan Fals Fan Club.
mengalami
mahasiswanya untuk dapat membantu menghitung Komunitas ini setelah usainya gerakan
kerja bareng... koin. “Seenggaknya gak memberi materi, tapi bisa pengumpulan koin, sudah dua kali berkumpul.
bantu dari tenaga,” ujar Akbar Garis, salah Oma Erna dan Tante Frida adalah figur yang bisa
satu mahasiswa Moestopo yang datang dengan menyatukan mereka. Dalam setiap pertemuan
bus bersama teman-temannya. Saat itu, mereka keduanya rajin menanyakan anggota yang tidak
sebenarnya bolos pelajaran yang dibimbing oleh datang melalui telepon genggamnya. Memang
sang dosen itu sendiri. belum ada rencana komunitas ini akan bergerak di
Tak jauh berbeda, rombongan mahasiswa dari bidang apa. Yang pasti, “Kalau ada gerakan seperti
STIKOM LSPR juga datang untuk ikut membantu Koinkeadilan, kami akan siap membantu. Kami akan
menghitung. Mereka menceritakan, salah satu memberikan apa yang kami bisa untuk kegitan
dosennya, Silih Agung Wasesa, mengatakan sosial, membantu sesama yang membutuhkan,” ujar
bahwa di markas koin yang berjalan di Jalan Langsat Tante Frida.
membutuhkan banyak tenaga untuk menghitung
koin. Mendengar itu, hati mereka tergerak dan
berupaya membantu setelah selesai jam kuliah.
Di saat mereka sebenarnya mempunyai waktu
bersenang-senang pergi ke mal dan jalan-jalan,
mereka meluangkan waktu untuk membantu
sesama.

10 Setahun Koin Keadilan


Bab 2:
Melawan dengan
Kepatuhan
“Koin Prita membuktikan
satu hal: rakyat dapat
melawan kesewenangan
dengan cara damai.
Nggak pake huru-hara.
Kehidupan nafkah
khalayak nggak keganggu.
Para tuan besar pun
terusik.”

Seorang relawan dalam sebuah percakapan


di Wetiga, Desember 2009

Setahun Koin Keadilan 11


F O T O : ba n demp o

DUKUNGAN SAAT BERDISKUSI. Obrolan Langsat 9 September 2009, tiga bulan sebelum gerakan pengumpulan
koin, menampilkan Prita sebagai narasumber. Para pengguna Twitter, baik yang hadir maupun memonitor dari tempat
lain, membulatkan dukungannya untuk Prita. Semua kicauan disiarkan secara langsung melalui proyektor. Dunia nyata dan
maya pun bersua dan menyatu.

12 Setahun Koin Keadilan


Prita I,
Prita II,
Koin Keadilan,
dan Jejaring Langsat

Enda Nasution
enda.goblogmedia.com
Facebook: enda.nasution
Twitter : @enda

T
idak akan lengkap uraian dan catatan ini tanpa menceritakan
sedikit tentang apa itu Jejaring Langsat, yang berasal dari
nama jalan tempat dagdigdug.com, sebuah penyedia
layanan blog, berkantor. Layanan yang lahir setelah Pesta Blogger
2007 itu memiliki alamat lengkap di Jalan Langsat 1 no 3A. Di kantor
inilah kegiatan-kegiatan yang diberi nama sebagai kegiatan Jejaring
Langsat berlangsung. Kini DDD, begitu dagdigdug biasa disebut,
adalah juga rumah bagi sekumpulan situs participatory lainnya seperti
Politikana.com dan Ngerumpi.com.

Setahun Koin Keadilan 13


Bagian yang tidak dapat dilepaskan dari tempat Obrolan Pertama itu
ini adalah juga keberadaan warung angkringan Dalam beberapa kesempatan obrolan di
selepas waktu kantor yang berada di pelataran Wetiga, markas Jejaring Langsat seringkali dijadikan
parkir kantor mungil tersebut. Warung Angkringan tempat untuk melakukan kegiatan offline, baik
dengan nama Wetiga (wetiga.com), yang sosialisasi sebuah program, meetup komunitas
merupakan singkatan dari Warung Wedangan Wi-Fi online, event promosi, baik yang resmi maupun tidak
ini, memberi ruang fisik bagi keberadaan teman- resmi. Salah satu kegiatan offline juga, yang diinisiasi
teman penggiat dunia maya untuk bertemu muka oleh penghuni Jejaring Langsat sendiri adalah yang
secara langsung, anjangsana, kangen-kangenan diberi nama Obrolan Langsat (www.facebook.
dan bertemu orang-orang baru. Sebuah kualitas com/obrolanlangsat dan obrolanlangsat.com).
pertemuan dengan intensitas yang, hingga sekarang Obrolan Langsat adalah sebuah forum offline
pun, tetap tidak bisa digantikan oleh hubungan yang yang ”agak” berformat, di mana diskusi dilakukan
terjadi di dunia maya. dengan agak rapih mengingat waktu yang terbatas.
Dari kantor dan kemudian pelataran parkir Dalam diskusi-diskusi Obrolan Langsat, biasanya
itulah, melalui jaringan pertemanan yang kebanyakan dihadirkan narasumber dan dipandu oleh seorang
adalah teman-teman yang berkecimpung di dunia moderator.
STANDING online, dan niatan, ujung-ujungnya, tentu ingin Pak Boediono, Wakil Presiden RI, sebelum
BANNER. melihat negri yang lebih baik, teman-teman saling menjadi Wapres pernah hadir di sebagai salah
Penanda acara diskusi berkiprah dengan aktifitasnya masing-masing, satu narasumber Obrolan Langsat dengan tema
bersama Prita, 9 dengan Langsat sebagai salah satu wahana yang ”Budiono Menjawab” pada tanggal 26 Mei 2009.
September 2009, tiga
bulan sebelum gerakan dapat dimanfaatkan. Begitu juga dengan Pak Erry Riyana
koin. Karena pembuatan Tidak ada organisasi yang formal, apalagi Hardjapamekas, mantan Wakil Ketua KPK yang
materi terburu-buru, maka ketua umum di Jejaring Langsat. Yang ada adalah, hadir di Obrolan Langsat dengan tema ”Bubarkan
logo Obrolan Langsat meminjam judul buku karangan David Weinberger, KPK?” di tanggal 28 Juli 2009.
menggunakan versi yang
tidak resmi. :) Small Pieces Loosely Joined (smallpieces.com), Prita Mulyasari sendiri pernah hadir sebagai
sebuah jejaring yang merupakan refleksi dari dunia narasumber di Obrolan Langsat 4, di tanggal bulan
maya, tanpa sebuah otoritas sentral, yang terkait puasa, 9 September 2009, sebelum gerakan Koin
satu sama lain, menganut nilai-nilai yang sama, Keadilan lahir dalam episode bertema “Menjaga
bekerja tanpa sadar bersama. Kebebasan Berekspresi (Belajar dari Kasus Prita)”.
Siapapun dapat hadir, dan dinanti kedatangannya. Tapi Obrolan Langsat yang bersejarah adalah
Setelah berdiskusi, berdebat ramai di milis, blog, Obrolan Langsat pertama tanggal 25 Mei, yang
Facebook, maupun Twitter, peserta perdebatan diadakan di Es Teler 77, Jalan Adityawarman, Jakarta
dapat berkumpul bersama, melihat mata masing- Selatan, yang mengambil tema UU ITE (Informasi
masing dan tersenyum sambil menikmat hidangan dan Transaksi Elektronik, lihat di http://bit.ly/aNJ9L0)
teh wedang ditemani dengan sego kucing. dimana kita pertama kali mendengar tentang kasus
Prita Mulyasari.
Narasumber dalam episode perdana saat itu

14 Setahun Koin Keadilan


menghadirkan Anggara Suwahju (anggara. Gerakan online di tahap ini selain dengan
org), Ari Juliano Gema (arijuliano.blogspot. meningkatkan kesadaran akan masalah Prita
com) yang masing-masing adalah blogger yang Mulyasari melalui kanal-kanal social media seperti
berkiprah di dunia legal dan juga Edy Cahyono milis, forum, facebook, twitter dan juga memasang
(caplang.net) sebagai salah seorang blogger yang banner dukungan. Para pendukung juga dalam
mengajukan Pengujian UU ITE ke Mahkamah sebuah gerakan mengirikan email keberatan
Konstitusi bersama di tanggal 2 Juni, bersama-sama membanjiri
Dalam diskusi yang tengah berlangsung itulah, akun email RS Omni dan pengacara dari RS Omni
muncul informasi pertama tentang Prita Mulyasari, sebagai sebuah bentuk protes
seorang ibu yang saat ini dalam kondisi sebagai Dibantu dengan bantuan liputan media yang
tahanan pengadilan dengan tuduhan melanggar gencar, termasuk di koran, radio dan stasiun- PENGGALANGAN.
UU ITE, walaupun sebenarnya Tempo sudah stasiun TV, serta suasana politik pada saat itu Aslinya poster ini berukuran
30 x 40 cm, dibuat oleh
menurunkan berita tentang Prita ini sejak Oktober menjelang pemilu, dimana masing-masing kandidat
seorang blogger. Versi untuk
2008 (http://bit.ly/dvmdaz). menunjukkan juga simpatinya pada Prita membuat web disebar, termasuk via
Mulai informasi ini dimulai maka teman-teman dalam waktu 9 hari sejak Obrolan Langsat dan Facebook. Dibuat pada
mulai menyuarakan gerakan untuk membebaskan gerakan dimulai Prita sudah dibebaskan dari 3 Juni 2009, saat sidang
berlangsung di Pengadilan
Prita Mulyasari dari tahanan dan menggugurkan tahanan pada tanggal 3 Juni dan memperoleh
Negeri Tangerang, enam
tuduhan terhadap Prita. status tahanan rumah. bulan sebelum gerakan
Gerakan ini dikoordinasi dari blog ibuprita. koin.
suatuhari.com (saat ini sudah tidak ada lagi, Kasus Belum Selesai
domainnya berganti pemilik, isinya berbeda) yang Kebebasan terbatas yang dimiliki Prita sejak
menyediakan informasi terkini, banner untuk tanggal 3 Juni, disadari betul sebagai sebuah kondisi
dipasang di blog masing-masing dan mengkoordinasi sementara, karena kasus penuntutan Prita masih
gerakan pembebasan Prita menggantung di Pengadilan Negeri Tengerang.
Gerakan pembebasan lainnya juga terbentuk di Kekhawatiran yang dirasakan adalah ketika
Cause Facebook ”Dukungan bagi Prita Mulyasari” tekanan publik dan media tertutupi oleh isu lain
(http://apps.facebook.com/causes/290597) yang yang berakibat pada diputuskannya Prita bersalah
mengumpulkan dukungan dengan sangat cepat, atas tuduhan yang dilemparkan.
saat ini tercatat ada 388.531 pendukung, seratus Untuk tetap mengingatkan publik pada kasus
ribu orang terkumpul dalam waktu kurang dalam Prita, maka Obrolan Langsat IV, mengundang Prita
satu minggu. untuk hadir di Langsat di bulan September 2009
Sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi untuk membahas dan berbagi tentang kemajuan
sebelumnya di ajang Facebook Indonesia saat itu. dari kasus yang sedang berjalan tersebut.
Sebuah media komunikasi lain juga terbentuk
seperti Milis Keadilan untuk Prita (http://groups. Prita II dan Koin Keadilan
google.com/group/keadilan-untuk-prita) Sambil persidangan yang terus berjalan, baik di
pengadilan pidana maupun perdatanya, di tanggal 2

Setahun Koin Keadilan 15


Dana dalam Desember 2009, kita mendengar kabar bahwa Prita hadir mengumpulkan koin dan dalam kapasitas me-
bentuk koin Mulyasari ditemukan bersalah dalam kasus perdata reka masing-masing.
yang akhirnya oleh PN Tangerang dan diharuskan membayar Penghitungan koin kemudian dilakukan di pe-
terkumpul denda Rp 204 juta. lataran parkir Jejaring Langsat dengan meminta
Keputusan dan denda yang belum memiliki bantuan dari para relawan dari tanggal 14-17 De-
adalah
kekuatan hukum penuh inilah (karena masih dapat sember 2009 yang total menghadirkan sekitar 300
sejumlah naik banding lagi) yang mengingatkan dan membuat relawan koin dari orang tua, kakek-nenek, komu-
Rp 650 juta masyarakat bereaksi keras terhadap permasalahan nitas Iwan Fals hingga mahasiswa. Semua bahu
rupiah, kasus Prita Mulyasari kembali. membahu, dengan dukungan logistik, makanan dan
ditambah Dari ide yang berkembang dan lahir dari minuman yang juga hasil sumbangan, menghitung
dengan percakapan di Milis Sehat (http://health.groups. koin tanpa lelah dari pagi hingga dini hari.
bentuk yahoo.com/group/sehat/) timbul gagasan untuk Komunitas musisi, dikoordinir oleh Adib Hi-
dukungan mengumpulkan uang receh (koin) dari masyarakat dayat dari majalah Rolling Stones Indonesia dan
lain menjadi untuk membayar denda Rp 204 juta tersebut. Andre Opa dari Trax mengadakan Konser
Rp 815 juta Ide yang bergulir ini juga ditangkap oleh Jejaring Koin Keadilan di tanggal 20 Desember dengan
Langsat dengan membuat situs dukungan dengan dukungan puluhan artis dan musisi terkenal, dimana
rupiah yang
nama gerakan Prita II ini yaitu Koin Keadilan yang ajang musik tersebut juga menjadi tempat untuk
diserahkan beralamat di http://koinkeadilan.com yang lahir di mengumpulkan dana yang kemudian disumbang-
pada Prita hari Jumat tanggal 5 Desember, tiga hari setelah kan ke gerakan Koin Keadilan.
Mulyasari. dijatuhkannya keputusan bersalah dan denda Rp Koin sudah menggunung di Langsat dan akhir-
204 juta. nya di tanggal 23 Desember, gunungan koin ter-
Situs koinkeadilan.com dimaksudkan untuk sebut diangkut ke BI, dengan dukungan dari Bank
mengkoordinasi informasi tentang gerakan Koin Mandiri juga, untuk dimasukkan dan diserahkan ke
Keadilan dari semua elemen masyarakat yang Prita secara langsung.
hendak membantu, termasuk juga mengkoordi- Dana dalam bentuk koin yang akhirnya terkum-
nasikan informasi tentang Posko-Posko koin yang pul adalah sejumlah Rp 650 juta rupiah, ditambah
bermunculan di puluhan kota di Indonesia. dengan bentuk dukungan lain menjadi Rp 815 juta
Dengan memilih semboyan ”ketika keadilan rupiah yang diserahkan pada Prita Mulyasari
direcehkan, kita pun mengumpulkan receh”, aksi Gerakan Koin Keadilan, selain sebuah gerakan
pengumpulan koin bermunculan di banyak tempat, pengumpulan dana juga berupa gerakan protes
kota, kantor maupun sekolah. dari publik terhadap jalannya proses hukum di In-
Dukungan teman-teman media tidak kalah he- donesia ini juga, perjuangan mempertahankan ke-
batnya, TV One bahkan merelakan studionya di bebasan berekspresi sebagai sebuah individu dan
Wisma Nusantara untuk menjadi salah satu posko juga sebagai konsumen.
pengumpulan koin. Teman-teman media lain juga Mereka yang hadir dan mendukung gerakan
menurunkan liputan yang tidak kalah gencarnya. Koin Keadilan, gemas dan gatal untuk melakukan
Tokoh-tokoh publik dari berbagai kalangan juga sesuatu agar Indonesia jadi lebih baik. Gemas dan

16 Setahun Koin Keadilan


gatal ingin memperjuangkan dan melihat kebena-
ran akan hadir di bumi pertiwi.
Sambil gerakan Koin Keadilan berjalan, dengan
respon yang luar biasa dari publik, RS Omni akhir-
nya menyadari mereka berada di sisi yang tidak
mungkin menang di hati masyarakat dan menyata-
kan untuk mencabut gugatan perdata mereka.
Pada tanggal 29 Desember 2009, para penggiat
Koin Keadilan, hadir bersama-sama relawan koin di
Persidangan Pidana Prita di PN Tangerang untuk
mendengarkan keputusan majelis hakim atas kasus
pidana yang dituduhkan pada Prita Mulyasari.
Majelis Hakim menyatakan bahwa Prita tidak
bersalah dan dinyatakan bebas demi hukum!
Perjuangan belum selesai.
UU-ITE akar masalah dari kasus ini belum

f o t o - f o t o : r . m . a n tem o n o
tersentuh, dan dukungan publik tidak bisa terus
menerus diharapkan untuk semua kasus.
Tapi minimal, di kesempatan ini, dalam kasus ini,
kebenaran sudah menemukan jawabannya.

NYATA, MAYA,
NYATA. Sebetulnya
pengertian "dunia maya"
dalam beberapa kasus
itu perlu dipertanyakan.
Diskusi dengan Prita 9
September 2009, dua
bulan sebelum Koin
Keadilan, itu nyata tapi
digemakan di media sosial.
Demikian pula poster
dukungan untuk Prita saat
itu, yang dicetak terbatas
tapi disdebarkan di media
sosial sehingga sempat
menjadi avatar banyak
orang.

Setahun Koin Keadilan 17


n dar u

ANAK-ANAK . Bisa saja muncul pertanyaan


layakkah melibatkan anak-anak, atau membiarkan
anak-anak terlibat, dalam gerakan sosial dan terlebih
politik? Kasus Prita bisa kita timbang, dan sejauh ini
masyarakat punya kearifan mana yang layak dan
mana yang tidak. Karena paparan media, banyak
anak menyerahkan celengannya, dan tak sedikit
yang mengantarkan sendiri koinnya dengan diantar
orangtua masing-masing.

18 Setahun Koin Keadilan


Sebuah
Ringkasan Komikal
tentang Prita

Cah Ndableg
politikana.com/profil/ndableg.html
ndableg.com
Twitter : @cah_ndableg

M
ari mencoba mempersegar ingatan melalui komik ringkas,
untuk memahami apa yang sebetulnya terjadi. Bahkan hanya
dengan menyimak komik ini Anda langsung mengenali
pokok masalahnya. Mari...

Setahun Koin Keadilan 19


RANJAU
PENGANCAM.
Kasus Prita mengingatkan
banyak orang tentang
ranjau bernama Undang-
Undang Informasi dan
Transaksi Elektronik,
terutama pasak 27 ayat
3. Pasal itu melawan
prinsip kebebasan
menyatakan pendapat.
dan bisa menjerat
seseorang dengan tuduhan
penghinaan.

20 Setahun Koin Keadilan


Setahun Koin Keadilan 21


••

22 Setahun Koin Keadilan


•••

Setahun Koin Keadilan 23


••••

24 Setahun Koin Keadilan


•••••

Setahun Koin Keadilan 25


••••••

26 Setahun Koin Keadilan


Bab 3:
Langsat,
Sebuah Tempat
“Ini posko satgas partai
apa sih? Kok nggak ada
yang pake seragam? Kalo
ini rumah, kok kayak
kantor? Tapi... kok santai
banget malah ada yang
bercelana pendek?”

Seorang relawan yang baru datang bertanya


kepada seorang warga Rumah Langsat, pada
hari kedua penghitungan koin.

Setahun Koin Keadilan 27


DARI JAUH. Dari
segala penjuru koin
berdatangan ke Rumah
Langsat. Tentu selain
Langsat ada juga pos-pos
lain yang di luar Jakarta.
Para pemberi yakin bahwa
bantuan akan disalurkan.
f o t o - f o t o : n dar u

28 Setahun Koin Keadilan


Kebun Binatang
Bernama Langsat

Antyo Rentjoko
antyo.rentjoko.net
Facebook: antyo.rentjoko
Twitter : @pamantyo

“M
au dibawa ke mana, sih?” tanya juragan teh botolan di
Gandaria, Jakarta Selatan, itu sambil mendorong troli
pemuat tumpukan krat ke mobil pengangkut.
“Ke Langsat,” jawab saya.
“Oh, itu tempat koin Prita ya?”
“Kok tahu?”
“Iya, di TV kan nongol terus. Tempat ngumpulin koin dibilang di
Langsat. Rumah siapa itu?”

Setahun Koin Keadilan 29


Maka Sebagai orang Gandaria dia sudah lama tahu Pengandaian kami
hasilnya, ada jalan bernama Langsat, dekat Lab School waktu itu, sebagian
sosok Langsat Kebayoran Baru. Tapi orang Jakarta lainnya, bahkan teman dari kalangan
di Selatan, belum tentu tahu karena Jalan Langsat itu pengguna internet
menjadi
kecil. Malah banyak orang lebih tahu Jalan Radio sudah tahu tempat
tidak penting
Dalam ketimbang Jalan Ahmad Dahlan, itu. Setidaknya pernah
– seperti padahal kedua jalan itu satu poros. mendengar. Kalaupun
yang kami Rumah siapa di Langsat? belum, mereka bisa
inginkan. Tentu bukan rumah saya. Itu rumah pemilik menanya temannya.
Bahkan yang dikontrak oleh teman-teman saya. Kemudian Ketika di benak
relawan yang beberapa teman dari teman-teman itu hanya sebagian orang Lang-
berasal dari menyebutnya Langsat, karena beralamat di Jalan sat menjadi identifikasi
kalangan non- Langsat, Kramat Pela, Kebayoran Baru. nama rumah untuk
online pun Siapa saja di rumah Jalan Langsat 1/3A itu? kantor, mungkin itu dinilai berlebihan. Kenapa? Di
Sejumlah orang yang bekerja untuk dan bersama Langsat ada banyak rumah.
tak peduli itu
Inmark Communications dan Inmark:Digital. Sebetulnya ini wajar. Ini seperti kita menyebut
rumah apa
Yang pertama adalah perusahaan jasa rumah nenek sebagai "Sawo Matang" karena
dan siapa. komunikasi pemasaran. Yang kedua juga mirip, tapi beralamatkan di Jalan Sawo Matang. Kita juga sadar
lebih ke layanan internet. Begitulah, Rumah Langsat bahwa di sana ada puluhan rumah.
adalah kantor. Tapi untuk kepentingan internal keluarga kita,
Aha, mulai teraba sosok kebun binatang itu Sawo Matang adalah rumah nenek. Sama seperti
meski isinya bukan satwa. Lantas apa pula itu Wetiga kita menyebut "Semarang" yang dalam konteks
Langsat, seperti kerap disebut oleh media? tertentu berarti rumah paman tertua, dan "keluarga
Kata "we-ti-ga" ini bukan hasil branding secara Makassar" berarti keluarga besan.
terencana. Wetiga adalah nama angkringan, yang Ya, ya, ya. Jelas. Tapi kenapa selama dan hingga
mulanya disingkat WWW. Itu singkatan Warung pengumpulan koin usai tak pernah dinyatakan
Wedangan Wi-Fi. Untuk mudahnya maka bahwa Langsat adalah markasnya dagdigdug.
disebut Wetiga -- pelafalan dari "W3". com (layanan blog host gratis), politikana.
Warung itu beroperasi malam hari di pelataran com (media diskusi politik), ngerumpi.com
rumah samping Inmark di Jalan Langsat. Maka dari (media diskusi perempuan), dan seterusnya?
hari ke hari orang menyebutnya Wetiga Langsat. Sejak awal keterlibatan dalam Koin Keadilan
Ketika warga rumah Langsat 1/3A dan kami tak ingin menumpang nama. Koin adalah koin,
teman-teman yang sering bertandang ingin untuk Prita, untuk keadilan, untuk kebersamaan,
menemani Pos Jatipadang (Milis Sehat) dalam bukan untuk promosi pihak tertentu terutama
mengumpulkan koin untuk Prita, maka dipilihlah kami.
sebuah collecting point bernama Wetiga Langsat. Maka hasilnya, sosok Langsat menjadi tidak
penting –– seperti yang kami inginkan. Bahkan

30 Setahun Koin Keadilan


relawan yang berasal dari kalangan non-online pun pikiran kami. Kami seperti mengatakan kepada
tak peduli itu rumah apa dan siapa. diri sendiri bahwa apa yang kami lakukan saat itu
Masalah lain muncul ketika harus ada dari kami bukanlah pekerjaan sebuah public relations agency
yang menjadi juru bicara. Maka harus ada yang maupun event organizer.
ditunjuk. Dalam candaan kami, harus ada yang Naif? Mungkin. Konon kehendak baik orang
dikorbankan untuk berhubungan dengan media. biasa punya stiker atribut bernama kenaifan.
Misalnya Yusro M. Santoso, Ndaru Victor, Tulisan ini dibuat karena tak sedikit yang
dan Enda Nasution. bertanya apa itu Langsat. :)
Koin Keadilan bukanlan gerakan setengah
bawah tanah yang diincar aparat keamanan. Tak Antyo Rentjoko, publisher dan co-founder
dagdigdug.com dan turut menggagas sejumlah
perlu menetapkan juru bicara secara bergiliran
wadah online dari Rumah Langsat
seperti gerakan mahasiswa (tertentu) ketika
memperjuangkan reformasi pada 1997-1998 dulu.
Maka ditunjuklah orang tertentu – atau secara

F O T O - F O T O : P A I D J O K A M P I y UN sakdja n é
alami kami biarkan terjebak dalam peran – sebagai
juru bicara.
Menjadi juru bicara bukan supaya tenar, tetapi
itu tak terhindarkan. Sebuah keapabolehbuatan.
Mereka yang menjadi juru bicara mau tak mau
harus selalu terbarui oleh perkembangan terbaru,
termasuk hasil penghitungan koin terakhir.
Mulanya bikin kikuk tapi ya harus dilakukan
sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada
masyarakat, terutama para penyumbang koin.
Teman-teman dari Milis Sehat pun RUMAH GAGASAN.
mengalami kekikukan itu. Wajar, karena yang Di Jalan Langsat 1/3A
terpikir sejak awal mengumpulkan koin. Bagaimana inilah bermacam gagasan
untuk melakukan
eskalasi tuntutan informasi dari media kurang
banyak hal bisa mencuat
begitu terpikirkan sejak awal. Tepatnya: terpikir dikarenakan obrolan
tapi tak masuk dalam prioritas utama karena lebih selama silaturahmi. Mirip
penting menangani koin dan kemudian relawan sanggar.
penghitung.
Lebih konyol lagi, sebagian warga Rumah
Langsat, sebagai pelaku bisnis komunikasi
pemasaran, bahkan dari mereka pernah menjadi
orang media, juga berpikir serupa.
“Entar aja sambil jalan,” kira-kira begitulah

Setahun Koin Keadilan 31


KOIN DI MANA-MANA. Selama kegiatan Koin
Keadilan, rumah kecil di Langsat itu penuh koin, sampai
meja untuk bekerja pun sesak jadinya.

n dar u

32 Setahun Koin Keadilan


Pemulung Cilik
dan Kejujuran

Muhammad Zamroni
matriphe.com | jengjeng,matriphe.com
Facebook: matriphe
Twitter : @matriphe

P
emulung cilik itu menunggu cukup lama sebelum mendekati
tempat sampah di Langsat yang penuh dengan tumpukan
kardus, kaleng, dan bekas celengan. Rupanya dia menunggu
kumpulan gelas plastik minuman kemasan yang tercecer untuk
diletakkan di tempat sampah itu.
Begitu kardus berisi gelas-gelas plastik itu diletakkan di dekat
tempat sampah (karena tempat sampah sudah tidak muat), pemulung
cilik itu dengan cekatan segera menyortir dan mengumpulkan benda-
benda yang sekiranya bisa dia ambil dan dijual kembali, ke dalam
karung palstik besar berwarna putih kusam yang ia bawa.

Setahun Koin Keadilan 33


JUJUR DAN TAHU DIRI. Bocah pemulung yang
tak diketahui namanya rajin mengambili barang bekas
selama pengumpulan koin. Dia tahu mana yang menjadi
haknya dan mana yang bukan. Masih ada kejujuran
dan ketahudirian di negeri ini, bahkan di kalangan kaum
marginal yang sering kita sepelekan.

NDARU

34 Setahun Koin Keadilan


Kardus, kaleng-kaleng, dan bekas celengan Perilaku jujurnya ini juga ditunjukkan sejak awal. Si pemulung
plastik yang telah disobek untuk dikeluarkan isinya, Dia memilih menunggu hingga gelas-gelas plastik seolah bisa
berkeping-keping uang logam untuk dihitung di yang memang tercecer di seputaran posko, ditaruh
mengerti,
Posko Langsat, menjadi sasaran utamanya. Selain dahulu di tempat sampah, meski jika dia mengambil
mana yang
gelas-gelas plastik bekas air minum dalam kemasan ceceran gelas plastik itu secara langsung pun tidak
yang sepertinya sudah diincarnya sejak tadi akan dianggap sebagai masalah. Seolah-olah ia ingin
menjadi
tentunya. memastikan, bahwa gelas-gelas platik itu benar- haknya dan
Posko Koin Keadilan rupanya juga membawa benar menjadi haknya, berada di tempat sampah. mana yang
berkah bagi orang lain. Contoh nyatanya adalah Kami yang melihatnya pun tergerak. Bantuan bukan haknya.
si pemulung cilik yang diceritakan di atas. Terjadi logistik untuk para relawan penghitung koin berupa Sampah
sebuah simbiosis mutualisme. makanan dan minuman begitu melimpah di Langsat. adalah
Tumpukan sampah yang menggunung, rupanya Seseorang di antara kami menawarkan si pemulung miliknya,
bisa menjadi ladang rezeki bagi orang lain. Tempat cilik untuk mengambil nasi kotak. Si pemulung namun koin
sampah Langsat pun kembali kosong dan siap menolak, dengan alasan dia sudah mengambil
itu bukan,
menampung sampah-sampah berikutnya. jatah dari sisa-sisa nasi kotak. Sontak kami yang
koin itu milik
Tiba-tiba terdengar bunyi gemerincing. Koin- mendengarnya langsung terdiam.
koin yang tercecer dan masih berada di dalam Hampir tengah malam, ketika si pemulung
Prita.
kaleng, terselip di sela-sela lipatan kardus, atau di cilik itu kembali ke Langsat untuk meneruskan
dalam celengan yang mungkin lupa terambil oleh pengumpulan sampahnya, kami akhirnya harus
relawan, kembali dilemparkan si pemulung cilik ke sedikit memaksa si pemulung cilik untuk tidak
atas karpet tempat penghitungan koin. menolak pemberian nasi kotak.
Kami yang melihatnya langsung terdiam, Kami memaksanya untuk membawa beberapa
sementara si pemulung cilik seakan tidak mengetahui nasi kotak, untuk dibawanya pulang, untuk
kami yang memperhatikan gerak-geriknya, masih disantapnya bersama keluarganya.
sibuk mengorek-korek sampah. Tidak satu-dua kali
aksinya melempar kembali koin yang ditemukannya
di tempat sampah kembali ke posko penghitungan.
Bisa saja si pemulung cilik mengambil dan
menyimpan koin-koin yang tercecer itu. Bila
dikumpulkan pun, hasilnya cukup lumayan, walau
toh tak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah
yang terkumpul yang saat itu hingga mencapai
sekitar 280 juta.
Namun ini tidak dilakukannya. Si pemulung
seolah bisa mengerti, mana yang menjadi haknya
dan mana yang bukan haknya. Sampah adalah
miliknya, namun koin itu bukan, koin itu milik Prita.

Setahun Koin Keadilan 35


BANDUNG. Salah satu
kotak koin di luar Jakarta,
dipasang di Tobucil (Toko
Buku Kecil), Bandung.

KALENG PERTAMA.
Bekas wadah Marie Regal
menjadi kaleng pertama
penampung koin, di

TO B U C I L
Wetiga Langsat.

atm o n ad i dj o n i g u del

36 Setahun Koin Keadilan


Sana-Sini:
Kompilasi Catatan

Muhammad Zamroni
matriphe.com | jengjeng,matriphe.com
Facebook: matriphe
Twitter : @matriphe

S
eorang ibu mengendarai motor bebek sejauh 60 km untuk
menyerahkan koin. Dan 54 karung koin yang dikirim dari
posko Milis Sehat Jatipadang tak cukup diangkut dengan truk
pasir. Koin-koin juga dikirim oleh dermawan dalam wadah cantik,
sejak celengan sampai stoples sehingga barang-barang itu menjadi
kegemaran pemulung.

Setahun Koin Keadilan 37


pernah jadi anak jalanan, ngamen dan meminta-
NDARU

minta di seputar Monas dan Stasiun Gambir. Suatu


hari dia bertemu dengan seseorang yang bersedia
menampungnya. “Saya bilang, saya mau kerja apa
saja, asal saya bisa sekolah. Dan sejak saat itu, saya
merasa benar-benar hidup,” ujar lelaki yang baru
saja menamatkan pendidikan S2 itu.
Dengan menyumbang koin, ia merasa bisa
membalas budi terhadap orang-orang yang pernah
membantunya. Ia sangat yakin, masih banyak
masyarakat yang bersedia berbagi membantu
sesama. Namun dia juga tak menutup mata dengan
ketidakadilan, karena dia berkali-kali merasakannya,
ketika hidup di jalanan.
Ketut sangat peka melihat ketidakadilan dalam
KOIN DAN PUISI. ZAMAN EDAN kehidupan saat ini. Di hadapan para relawan koin
Dia datang antarkan keadilan, ia tumpahkan semua kesaksiannya tentang
Seorang lelaki mengeluarkan sekantong koin
koin lalu membacakan
puisi tentang raibnya rasa dari balik jaketnya. Dia mengaku tak tahu jumlahnya ketidakadilan itu. Dia membenarkan ramalan Jaya
keadilan. berapa. Yang penting dia merasa gembira bisa Baya, bahwa zaman ini adalah zaman edan. Lalu dia
menyumbang koin di markas koinkeadilan.com, bacakan puisi karangannya tentang zaman edan
langsat. yang begitu panjang. Setelah itu, ia pamit sambil
Lelaki itu adalah Ketut, seorang guru sebuah tersenyum. Ia nampak lega setelah mengeluarkan
Sekolah Menengah. Ia bercerita, sebenarnya sudah pergolakan hatinya.
sejak dua hari sebelumnya dia ingin menyumbangkan
koinnya. Namun dia tak mau menyumbang sendiri,
ia ingin melibatkan anak didiknya untuk ikut Koin dalam Berbagai
mendonasi. Tapi, malang. “Saya tak bisa meyakinkan Mata Uang
teman-teman sejawat, bahwa kegiatan ini, benar- Selain dalam mata uang rupiah, banyak pula
benar kegiatan sosial yang penting bagi anak didik,” koin-koin yang dikirim dalam mata uang asing. Mulai
katanya. dari mata uang negara Malaysia, Jepang, Hongkong,
Koleganya malah memperingatkan, jangan Korea, Inggris, RRC, USA, Thailand, Arab Saudi, dan
libatkan murid, karena kegiatan pengumpulan koin sebagainya. Nilainya pun bermacam-macam, mulai
itu ada aspek politiknya. “Ya sudah, saya jalan sendiri 1 sen hingga 10 dolar.
saja,” ujarnya datar. Koin-koin ini juga ditemukan dan disisihkan dari
Kenapa ketut begitu bersemangat? kumpulan koin yang dihitung oleh para relawan.
Rupanya itu berhubungan dengan masa lalunya. Ukuran, bentuk, dan warna ini beraneka warna,
Dia mengaku hidup di Jakarta sebatang kara. Dia cukup menambah wawasan saya yang belum

38 Setahun Koin Keadilan


pernah melihat koin mata uang ini sebelumnya. Sorakan Semangat
Jumlahnya mencapai sekaleng penuh biskuit “Horeeee!!!”, teriak para relawan yang
Khong Guan ukuran besar. Sekali lagi, terima kasih menghitung koin di posko Langsat setiap kali ada
atas kiriman koinnya! relawan datang, koin kiriman dari posko lain, atau
datang kiriman logistik berupa makanan. Sorakan
ini memang bisa menambah akrab dan hangat
suasana di posko.
Relawan datang dari berbagai daerah dan
latar belakang. Ada mahasiswa, pekerja kantoran,
wartawan, hingga ibu rumah tangga. Semuanya
asyik pada tugasnya masing-masing, berkonsentrasi
pada koin-koin yang tersebar di depannya. Untuk
menghilangkan kejenuhan, berteriak dan bersorak
merupakan salah satu cara.
NDARU

Suasana pun bertambah akrab dan hangat


karena sorakan semangat ini. Jika penasaran dan
Game COINS: Tanda Hukum ingin merasakan kehangatan dan keakraban di
Bisa Dimainkan? posko, silakan datang ke posko. Namun bersiaplah
Masih soal kiriman koin yang lucu dan unik- untuk mendapat sorakan khas dari posko Langsat.
unik di Langsat. Kali ini koin-koin yang tidak bisa Apa lagi ketika relawan yang datang adalah CELENGAN EMPAT
diuangkan dan hanya berlaku untuk menjalankan serombongan mahasiswi. TAHUN. Koin datang
dalam pelbagai kemasan,
mesin-mesin video game ini dikirimkan ke Langsat. Dua kampus yang mengerahkan mahasiswanya termasuk celengan ini.
Bentuk, ukuran, dan tulisan yang ada di koin- adalah London School of Public Relations dan Akhirnya wadah-wadah
koin tersebut pun bermacam-macam. Ada dari Universitas Moestopo Beragama, keduanya di itu dimanfaatkan oleh
Timezone, gamezone Cineplex 21, Fantasia, Super Jakarta. pemulung.
Game, Mars Game Center, Fun World, Mega Dunia, “Horeeeeee…..!!!”
Game Master, Happy Day, bahkan koin untuk loker
bandara. Koin Keadilan
Koin-koin ini ditemukan dan disisihkan dari Membawa Berkah
kumpulan koin-koin yang tengah dihitung oleh para Rame-rame di Posko Keadilan di Langsat
relawan. Jumlahnya mencapai sepertiga volume rupanya membawa berkah tersendiri bagi sebagian
kaleng biskuit berdiameter sekitar 20 cm. Cukup orang. Contohnya adalah seorang bocah pemulung
banyak juga. yang memanen banyak kardus, kaleng minuman,
Inikah wujud ekspresi bahwa hukum dan dan berbagai benda yang bisa diambilnya dari
PA I M O S U R OTO

keadilan yang bisa dimainkan? Terima kasih atas tempat sampah.


kiriman koinnya! Kardus, kaleng, celengan, botol minuman,
merupakan benda-benda yang dicari oleh para

Setahun Koin Keadilan 39


pemulung. Di tempat sampah posko, benda-benda benda-benda yang dikirimkan memiliki pesan
itu teronggok sangat banyak. Simbiosis mutalisme moral tertentu.
pun terjadi, bocah pemulung mendapat rezeki, Koin jumbo dengan nilai nominal 500 rupiah
tempat sampah Langsat pun kosong dan kembali ini dikirimkan ke Langsat dengan maksud untuk
ba n g saad

bersih. diserahkan kepada ibu Prita dan disimpan sebagai


Ketika menemukan koin-koin yang mungkin kenang-kenangan. Diameternya sekitar 10 cm
STOPLES. Wadah tercecer di dalam kaleng atau celengan, si bocah dan terbuat dari bahan tembaga-kuningan. Entah
beling macam ini banyak, pemulung pun melemparkan koin itu kembali bagaimana buatnya tapi koin jumbo ini sangat
setelah koin dituang pasti ke area perhitungan. Tidak ada maksud untuk keren! Mirip dengan koin asli, hanya ukurannya yang
jadi favorit pemulung. jumbo.
mengambilnya, meski si bocah berkesempatan.
Terima kasih, nak! Selain koin jumbo, Posko Langsat juga menerima
Beberapa kali anak itu menolak dikasih mealbox, koin dengan pesan kepada Anggodo. Koin disusun
dengan alasan sudah mendapatkan dari kaisan (boks sedemikian rupa hingga berbentuk timbangan,
yang masih ada sisa isi). Akhirnya ketika dini hari dia di mana timbangan bertulis “awam, jujur, tanpa
kembali, dia “dipaksa” untuk membawa pulang lebih sogokan” kalah berat dengan timbangan berisi
dari satu kotak santapan, untuk keluarganya. “uang sogokan”. Sebuah sindiran akan timpangnya
Bila kita menanam kebaikan, maka yang akan hukum negeri ini.
dipetik pun adalah kebaikan. Salam koin! Koin ini bertuliskan pesan “Dukung Anggodo.
Capres 2014 Orang Terkuat Di Republik Saat Ini.”
sebagai wujud kekesalan. Koin ini dikirimkan oleh
“fans Prita”. Tak ayal, timbangan ini pun sempat jadi
sasaran favorit kamera wartawan.

Teknik Hitung Dengan Pralon


Menghitung koin yang jumlahnya luar biasa ini
dibutuhkan ketelitian tinggi. Setelah selama dua hari
para relawan memilah, menumpuk, dan menghitung
satu per satu koin-koin tersebut, seorang relawan
berhasil menemukan metode untuk mempercepat
n dar u

penghitungan koin.
Caranya, dengan sebuah pralon berdiameter
Koin Jumbo dan Koin koin Rp 500,- putih, dengan tinggi sekitar 25 cm,
“untuk Anggodo” akan bernilai setara dengan tumpukan koin Rp
Berbagai wujud dukungan masyarakat 500,- sejumlah Rp 50.000,-. Jadi, relawan hanya
dikirimkan melalui posko Koin Keadilan di Langsat. cukup memasukkan koin gopekan ke dalam
Cukup banyak yang lucu dan unik, yang merupakan pralon ini hingga sampai batas atas, maka otomatis
wujud dari kreativitas masyarakat. Tentu saja, tumpukan koin ini nilainya Rp 50.000,-.

40 Setahun Koin Keadilan


BARU
SETENGAHNYA.
Sekitar separo dari 54
karung(total Rp 154 juta)
yang dikirim dari pos Milis
Sehat di Jatipadang ke
Langsat. Saru truk tidak
cukup sehingga harus
dibantu satu mobil boks.
NDARU

Sebelumnya memang dilakukan riset, tumpukan


koin dimasukkan ke dalam pralon, dan benar, setelah
dihitung memang jumlahnya Rp 50.000,-. Jadilah
dengan menerapkan metode ini, penghitungan
menjadi lebih cepat.

Koin Rp 195 juta

NDARU
Diangkut Truk Pasir
Tak gampang ternyata untuk menghitung dan
memindahkan koin, apalagi kalau jumlahnya banyak. sebuah mobil box.
Itulah yang terjadi di Posko Koin Peduli Prita, di Koin diantarkan oleh Samsul Nur Abidin dan
Kompleks PWR,   Jalan Taman Margasatwa 60, Dokter Ade Novita, Minggu siang 13 Desember. Pos
Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. di Jatipadang dikoordinasikan oleh Milis Sehat.
Dalam seminggu pengumpulan koin, jumlah
yang didapat adalah sekitar Rp 195.000.000. Setelah Koin Kembalian Belanja
dilakukan pembicaraan dengan koinkeadilan.com, Kaca meja penerima tamu di Langsat itu terlalu
akhirnya koin tersebut dikirim ke Langsat. tinggi bagi Rere, bocah perempuan kelas dua SD
Untuk membawanya semula diperkirakan Gunung 3 Pagi  Jakarta Selatan, untuk menuliskan
cukup dengan sebuah truk pasir. Kenyataannya, nama.
baru setengah dari 54 karung dinaikkan ke truk, Untunglah masih ada sisa alas tulis di tempat
mobil itu tak mampu, karena tonasenya yang begitu yang lebih rendah. Dia datang membawa koin
berat. Baru bisa terangkut semua setelah ditambah yang terbungkus serbet dapur. “Ini uang kembalian

Setahun Koin Keadilan 41


RERE. Seusai sekolah, Lagu: Maju Terus Mbak Prita
Rere, kelas 2 SD Gunung, Adalah sebuah lagu spontanitas yang diciptakan
Jakarta Selatan, minta
opanya untuk mengatar ke oleh Arfi dan dinyanyikan oleh istrinya sendiri
Langsat dan menyerahkan Ita.
koin.. Semata-mata diciptakan untuk memberikan
semangat untuk perjuangan Prita Mulyasari
dan teman-teman di seluruh Indonesia yang
mengumpulkan Koin Keadilan Prita
Inilah syair lagu “Maju Terus Mbak
Prita”

Kami yang di sini


Berkumpul mendukungmu
n dar u

Kami yang di sini


Bersatu, bersamamu
belanja di rumah,” katanya. Untuk maju, untuk maju
Dia datang sepulang sekolah, diantar opanya. Maju terus mbak Prita huuuu
“Itu serbetnya diminta lagi,” kata sang opa Kami akan selalu ada di sampingmu
mengingatkan. Maju terus mbak Prita huuuu
Sang opa bercerita, Rere begitu ngotot untuk Berjuang demi keadilan semua
menyumbang setelah ia menontot tayangan TV. Lewat milis, facebook, twitter, kami berpadu
Sudah 2 hari opanya bingung mencari alamat Berdoa bersatu menyatukan dana
markas koinkeadilan.com di Jalan Langsat. Ketika 204 juta yang kau butuhkan
ketemu Rere menjadi sangat gembira. Kami kan sediakan
Terima kasih, Rere. Kami kan usahakan
TIGA PENDUKUNG. Maju terus mbak Prita huuuu
Pasangan Arfi dan Ita Kami akan selalu ada di bersamamu
(pencipta dan pembawa Maju terus mbak Prita huuuu
lagu) bersama Dokter Berjuang demi keadilan semua
Wati dari Milis Sehat,
saat kunjungan Prita ke Kami akan selalu ada di bersamamu
Langsat. Maju terus mbak Prita huuuu
Berjuang demi keadilan semua

42 Setahun Koin Keadilan


p é y a n g pe n dj o l

n dar u
Ibu yang Naik Motor Yenni Wahid dan Suami
Bebek 60 km Ikut Nyumbang
Hujan sudah usai, Mentari sudah bersinar lagi, Siapa tak kenal Yenni Wahid. Dia adalah
tapi basah tanah masih tersisa di Langsat ketika ibu Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, putri kedua KH
dari Islamic Village, Tangerang, itu tiba sekitar pukul Abdurrahman Wahid, yang belum lama menikah.
15.40. Bersama suaminya, Dhohir Farisi, mendatangi
Setelah turun dari motornya dia lipat rapi markas koinkeadilan.com, di jalan Langsat, pada 8
jaketnya. “Saya mau nyerahin koin,” katanya. Desember 2009;.
Dia mengikuti kasus Prita sejak awal. Dan baru Dia menyumbangkan sebanyak Rp 5 juta rupiah,
siang ini dia berkesempatan menitipkan koinnya. dalam sebuah peti kayu, semuanya koin. Untuk
“Nggak banyak sih,” katanya. mendapatkan koin, pasangan politisi rela mengantri
Jarak rumahnya ke Langsat, Jakarta Selatan, setengah hari di Bank Indonesia, menukarkan uang
sekitar 30 km. Bolak-balik sekitar 60 km. Terima uang kertas ke koin.
kasih, Bu. “Koin Keadilan untuk Prita` adalah simbol
protes masyarakat, karena tak ada saluran bagi
rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Koin ini simbol
protes bagi ketidakadilan terhadap pelayanan
publik dan kepedulian kita semua terhadap rakyat,”
katnya.

Setahun Koin Keadilan 43


TERGERAK,
TERLIBAT. Apapun
layar belakangnya, tak
pandang seleb atau orang
biasa, tak soal pengguna
media sosial atau bukan
onliners, semua bahu
membahu.
Searah jarum jam dari
kiri atas: Sekeluarga
menyerahkan koin •
Sekarung koin harus
diangkut relawan karena
beratnya • Pensiunan
dan anak muda menjadi
relawan • Ada pula
relawan suami-istri yang
membawa anak • Oppie
Andaresta dan anaknya
menyerahkan koin ke
Langsat.

f o t o - f o t o : n dar u

44 Setahun Koin Keadilan


Cerita Tentang Logo
Semuanya serbamendadak. Niatnya hanya
menyebarkan pesan, dan menggerakkan sebanyak
mungkin orang. Maka logo Koin untuk Keadilan
(kemudian orang menyebutnya Koin Keadilan) pun
dibuat secara kilat bersamaan dengan pemesanan
domain dan pembuatan blog koinkeadilan.com.
Dalam pembuatan logo ini berlaku tiga prinsip
LAYAK TERAP.
sederhana. Logo Koin Keadilan dan
Pertama: melambangkan pengolahannya di tempat

omuniuum
gerakan pengumpulan koin. lain. Misalnya di distro
Omuniuum, Bandung.
Kedua: warnanya mudah dikenali,
sosoknya takkan berubah karena pengecilan dan
pembesaran untuk web (termasuk avatar).

P A N T I A K ON S E R
Ketiga: mudah ditiru untuk dicetak
dengan inkjet printer manapun di seluruh
Indonesia. Kalaupun kuningnya agak berbeda,
karena tinta menipis, itu bukan soal.

wah y u ad i t y a kdr i
Siapa perancang logo ini tidak penting, dia
hanyalah seorang blogger yang menyukai dunia
visual (foto dan desain grafis).
Memang sih logo ini sempat mengundang
ledekan karena memberi kesan ada hubungan PESAN VISUAL. Ada
dengan Partai Keadilan. lebih dari dua desain
Apa boleh buat, di negeri yang menjadikan visual di luar contoh
warna sebagai simbol aliran politik ini warna pilihan ini. Itu bukti bahwa
masyarakat tergerak dan
kita bisa ditafsirkan macam-macam. merasa memiliki. Bahkan
Tentu gerakan pengumpulan koin tak mengenal masyarakat pula yang
monopoli. Makin banyak yang tergerak makin bagus. akhirnya menemukan
Itu sebabnya Langsat girang ketika pengumpulan nama yang lebih ringkas
“koin keadilan” yang
koin sudah berlanngsung kemudian Wahyu Aditya kemudian menjadi nama
alias Mas Gembol KDRI juga membuat ikon domain koinkeadilan.com.
prangko keren lagi meledek, yang kemudian dipakai
untuk konser. Warnya merah.
Apakah bisa dihubungkan dengan PDIP?
Tentu tidak perlu dan tak usah. Tak ada yang bisa
memonopoli warna di negeri ini.

Setahun Koin Keadilan 45


KAYA DAN MISKIN? Di sebuah negeri yang
kepastian hukum hanya teka-teki maka dengan mudah
rakyat yakin bahwa keadilan bisa dibeli. Persepsi ini hanya
akan menipis jika banyak hal terus diperbaiki.

n dar u

46 Setahun Koin Keadilan


Bab 4:
Koin, Media Sosial,
dan Masyarakat
Dengarkan tetangga saya
ketika mencemplungkan
dua recehan koin: “Pak
Hakim dan Pak Dokter,
makan ini uang, tak bo-
sannya menyiksa rakyat.”
Putu Setia, dalam "Koin Prita, rubrik Cari
Angin, di Koran Tempo, Minggu 13 Desember
2009

Setahun Koin Keadilan 47


PELBAGAI WADAH. Koin berdatangan
dalam bermacam kemasan, dari kantong kertas,
kantong plastik, kaleng biskuit, sampai stoples
plastil maupun kaca. Penuangan koin untuk
dihitung adalah proses yang cukup melelahkan.
f o t o - f o t o : n dar u

48 Setahun Koin Keadilan


Solidaritas Koin:
Dari Dunia Maya
ke Dunia Nyata

Ventura Eliswati
vlisa.com
Facebook: vlisa
Twitter : @venturaE

P
engumpulan koin logam untuk Prita Mulyasari, sungguh menjadi
gerakan yang sangat fenomenal. Dalam waktu 10 hari, tanpa
ada komando, masyarakat berhasil mengumpulkan uang koin
lebih dari Rp 615 juta.
Ternyata, paduan rasa ketidak adilan, koin sebagai simbol
rakyat terbawah, dan gerak cepat social media yang kemudian
didukung mainstream media, telah melahirkan solidaritas masyarakat
yang luar biasa.

Setahun Koin Keadilan 49


PRESENSI. Relawan Alat bukti “Tindak Pidana” yang dituduhkan
datang dan disambut kepada Prita adalah e-mail. Padahal saat ini bisa
sesama relawan untuk dipastikan lebih dari 30 juta pengguna internet di
didata. Orang tak saling
kenal tapi diikat oleh satu
Indonesia menggunakan e-mail di dalam kegiatann-
kepentingan bernama ya sehari-hari. Itu artinya, begitu banyak orang yang
kepedulian akan keadilan. berpotensi “dipritakan”.
Prita juga menjadi simbol ketidak berdayaan,
masyarakat kecil melawan kekuatan pemilik modal
dalam mencari keadilan. Dia juga merepresentasi-
kan “ketegaan” aparat menggunakan alat bernama
hukum untuk memenjarakan seorang ibu yang me-
miliki anak balita, dan harus berpisah dengan ana-
knya selama 20 hari. Prita juga perwujudan posisi
yang lemah dari seorang konsumen. Pembeli jasa
yang sudah membayar mahal, tidak mendapatkan
pelayanan yang semestinya, malah harus membayar
denda yang begitu mahal.

Kenapa koin?
Gerakan sosial pengumpulan koin, adalah san-
gat tepat menyimbolkan kekuatan rakyat kecil yang
NDARU

selama ini tak pernah dihitung oleh penguasa. Koin


adalah uang pecahan terkecil yang sah di negeri ini.
Namun eksistensinya seperti sudah diabaikan. Lihat
...para pelaku Prita memang bukan siapa-siapa. Tapi dia telah saja, berapa banyak supermarket yang menyedia-
social media menjadi simbol yang lengkap dari sekeping uang kan uang kembalian belanja dalam bentuk koin
telah mampu logam yang bisa dilihat dari berbagai sisi. untuk sebuah pecahan kecil? Mereka lebih suka
“Kejahatan” dituduhkan kepadanya ketika ia
mengkon- mengganti koin dengan permen. Di rumah-rumah
mengungkapkan ketidaknyamanan atas sebuah koin juga sudah termarjinalkan. Dia tidak pernah di
vergensikan pelayanan publik yang ia terima dengan bayaran
kekuatan hitung, dikeluarkan dari dompet dan saku, lalu di-
yang tidak kecil. Ini bisa diartikan ancaman terhadap taruh dalam sebuah kaleng. Saat pengemis datang
dunia maya kebebasan mengemukakan pendapat. Apakah koin itulah yang diberikan.
ini dengan kelak, orang lain juga akan dipenjarakan ketika ia Yang pasti, koin pasti bisa dimiliki oleh semua
dunia nyata, mengingatkan temannya untuk tidak berbelanja di orang. Karenanya gerakan pengumpulan koin ini
dan bukan se- super market “A” karena dia punya pengalaman berpotensi untuk didukung semua orang di negeri
kedar kopdar berbelanja di supermarket tersebut mendapatkan ini.
(kopi darat). barang yang sudah kadaluarsa?

50 Setahun Koin Keadilan


MANUAL. Penghitungan
secara manual menuntut
mobilisasi manusia. Media

f o t o - f o t o : n dar u
sosial dan media “lama”
(organisasi pemberitaan)
saling dukung dalam
menggelindingkan isu agar
masyarakat tergerak.

Media Sosial maya, meskipun, mainstream media juga memberi-


Sepertinya penggagas dan pelaku gerakan pen- takan keriuhan di internet tersebut. Namun, di du-
gumpulan koin sudah belajar dari pengalaman pe- nia nyata gaung kegiatan itu kurang begitu berasa.
manfaatan social media pada peristiwa sebelumnya. Social media dalam kasus pengumpulan koin
Saat kasus Prita muncul pertama kali, dibuatlah ini, seperti virus yang menyebar begitu cepat tanpa
blog ibuprita.suatuhari.com, lalu ada halaman du- batas ruang dan waktu, melalui koinkeadilan.com
kungan di facebook. Pendukungnya mencapai ham- sebagai pusat informasi. Yang menjadi nilai tambah,
pir 300 ribu. media sosial kali ini, tak cuma bergerak di ranah
Ketika kasus ledakan bom Mega kuningan ter- maya, para pelaku social media telah mampu meng-
jadi, hal serupa dilakukan penggiat social media, konvergensikan kekuatan dunia maya ini dengan
Indonesiaunite didukung lebih dari 400 ribu dunia nyata, dan bukan sekedar kopdar (kopi dar-
facebookers. at). Koinlah instrumen yang menjembatani aktivi-
Dalam kasus Bibit – Chandra, dukungan fa- tas sosial ini. Masyarakat pemilik koin secara nyata
cebookers meningkat sangat signifikan, mencapai bersatu dalam ikatan emosi dan hakiki kultural
1.300.000. Tapi keriuhan itu cuma terasa di dunia khas Indonesia: bergotong royong. Semua lapisan

Setahun Koin Keadilan 51


HASIL
KONVERGENSI.
Banyak kaum sepuh,
yang bukan pengguna
media sosial, datang
menjadi relawan. Mereka
digerakkan oleh TV, radio,
dan koran, media yang
mendapatkan umpan
dari media sosial lalu
menggemakannya.
n dar u

masyarakat ikut terlibat, dari seorang tukang sapu pengguna internet dan masyarakat jika itu terkai
yang menyumbang Rp 250 sampai politisi yang me- dengan hal-hal yang mjenyangkut hal-hal ketidak
nyumbang Rp 5 juta, semua dengan koin. adilan, sesuatu yang bisa membahayakan publik,
Masyarakat ternyata tak punya sekat sosial da- Dan memang inilah ciri masyarakat Socialno-
lam pengumpulan koin untuk keadilan ini. Semua mics, seperti yang dipaparkan Erik Qualman dalam
memiliki ketulusan dan keinginan yang sama, yaitu bukunya bertajuk, ”Socialnomics”. Bahwa saat ini
melakukan gerakan sosial yang tidak destruktif, un- kita berada di awal sebuah revolusi, yang dipicu dan
tuk membuka mata para penguasa bahwa rakyat didorong oleh social media. Dimana ada kemudahan
di bawah begitu kuat ketika bersatu. Bahkan tanpa dan kecepatan informasi yang menjangkau pelbagai
ada yang memimpin. lapisan sosial masyarakat. Kita sedang memasuki
Peningkatan pemanfaatan medium internet dan peradaban baru, sebuah dunia baru, dan ini dunia
maraknya pengguna jejaring sosial memang tidak socialnomics. Dimana ada sebuah perubahan
serta merta membuat pelbagai insiatif ’pengerahan’ sosial-ekonomi besar-besaran. Sadar atau tidak kita
massa akan mengangguk dukungan. Secara spesifik sudah memulainya.
kegiatan itu akan mendapat simpati luas dari

52 Setahun Koin Keadilan


Recehan

Goenawan Mohamad
goenawanmohamad.com
Facebook: profile.php?id=526197285
Twitter : @gm_gm

D
i Jakarta yang macet, jalan menampik alasannya sendiri. Sejak
Daendels membentangkan 1400 km “La Grande Route” di
Jawa di abad ke-18, sampai dengan ketika dinas pekerjaan
umum Republik Indonesia membuka jalur-jalur baru di abad ke-21,
jalan diasumsikan sebagai ruang untuk mobilitas, peringkas waktu
tempuh. Ia bagian dari arah dan gerak, dari dunia modern yang
dinamis dan tak tergantung langsung pada alam. Tapi apa yang kita
alami kini? Dengan lekas bisa anda jawab: di Jakarta, jalan sama dengan
kelambatan dan hambatan; jalan adalah »

Setahun Koin Keadilan 53


Kongesti adalah bagian kota yang rentan pada gangguan faatkan kemacetan itu -- yang mengambil kira-kira
mendorong alam. Jalan adalah lahan banjir. tiga jam dalam hidupnya sehari, atau sekitar 18 jam
orang untuk Ada lagi yang menampik alasannya sendiri: seminggu, atau sekitar tiga hari kerja dalam sebulan.
mobil. Kendaraan ini berkembang biak dengan ce- Yang agaknya jelas adalah implikasinya bagi kehidu-
melihat orang
pat. Dan dengan cepat pula mobil, sebuah tanda pan bersama. Kongesti itu – berjubelnya mobil di
lain yang di
modernitas yang lain – teknologi dengan dinamika jalan-jalan Jakarta tiap hari itu – adalah sebuah ge-
sebelah, di tinggi -- telah terbalik posisinya: ia malah jadi simp- jala perpecahan sosial.
depan, dan tom kesumpekan. Kita bisa hitung berapa meter Kongesti mendorong orang untuk melihat
mungkin juga persegi wilayah jalan yang diambil oleh satu mo- orang lain yang di sebelah, di depan, dan mungkin
di belakang- bil, dan berapa jadinya jika ada 500.000 buah jenis juga di belakangnya sebagai pihak yang tak diing-
nya sebagai kendaraan itu, dibandingkan dengan betapa kecil- inkan. Kompetisi, bahkan antagonisme, berlangsung
pihak yang nya bagian kota yang tersedia untuk penghuni baru diam-diam (kadang-kadang dengan teriak: pakai
tak diingin- itu. Saya gemar mengutip Hirsch di dalam soal ini: mulut atau klakson). Menutup mata tidur juga bisa
kan. inilah kongesti, inilah “batas sosial dari pertumbu- jadi sikap tak mengacuhkan orang yang di luar
han (ekonomi)”. sana.
Mungkin menarik untuk meneliti atau mem- Kemacetan lalu lintas lantaran mobil juga akibat
perkirakan dengan rada persis bagaimana akibat dari yang disebut Hirsch, dalam The Social Limits
kongesti ini bagi hidup kejiwaan. Berapa banyak to Growth, sebagai ”the tyranny of small decisions”:
orang makin naik tekanan darahnya jika tiap hari keputusan individual yang tak bertautan satu sama
mereka terjebak macet dan harus menempuh jarak lain dalam mengadakan transaksi di pasar. Jika saya
lima kilometer dalam satu jam, terutama sekitar pu- membeli mobil, saya tak memikirkan apa dam-
kul tujuh malam hari? Atau jangan-jangan telah ber- paknya bagi kelancaran lalu lintas atau bagi ber-
kembang sikap sabar yang tak terhingga? sihnya cuaca — hal-hal yang merupakan bagian
Bagi saya, macet memang memberi kesem- kebersamaan.
patan tidur lelap di jok mobil. Atau menulis sajak. Itu sebabnya, di jalan-jalan, masyarakat – yang
Tapi saya tak tahu bagaimana orang lain meman- biasa dibayangkan sebagai sebuah bangunan utuh
-- tak hadir. Polisi lalu lintas – jika pun ada – mem-
perkuat raibnya keutuhan sosial itu, ketika ia meng-
gunakan kekuasaannya untuk menarik uang sogok.
Sebagaimana banyak orang menghayati mobil dan
ruas jalan sebagai milik privat,polisi itu juga mem-
berlakukan otoritasnya sebagai kekuasaan privat.
Saya selalu mengatakan, korupsi adalah privatisasi
kekuasaan yang didapat dari orang banyak.
Kita akhirnya melalaikan bahwa manusia selalu
perlu barang dan jasa masyarakat yang, dalam kata-
n dar u

kata Marx, “dikomunikasikan, tapi tak pernah diper-

54 Setahun Koin Keadilan


tukarkan; diberikan, tapi tak pernah dijual; didapat, Ketika zaman neoliberal kini ditinggalkan, ketika “Kompromi
tapi tak pernah dibeli.” Di kemacetan jalan Jakarta, “kompromi Keynesian” diangkat untuk dijadikan Keynesian”
kita tak lagi bertanya, tak lagi peduli, di mana ge- kebijakan lagi, timbul lagi keyakinan bahwa perila- mengakui
rangan hukum, kelancaran, dan udara bersih. ku pasar tak bisa dijadikan tauladan bagi seluruh
bahwa tak
Berangsur-angsur, tiap orang pun merasa bisa perilaku sosial. Ada pengakuan bahwa kekuatan
semua bisa
mengabaikan public spirit, moralitas dan semangat yang bukan-pasar (Negara dan para teknokrat-
untuk kepentingan publik. nya) harus – dan bisa -- memiliki ketahanan untuk
diserahkan
Ada ikhtiar untuk menangkal kecenderungan mengembangkan nilai yang berbeda, khususnya ni- kepada pasar.
itu dengan mengendalikan kapitalisme dari ba- lai yang tak membenarkan manusia memaksimal- Diakui bahwa
haya “tirani keputusan-keputusan kecil”. Itulah inti kan kepentingan diri. public spirit
dari “kompromi Keynesian”, cara Keynes untuk Tapi benarkah asumsi yang tersirat dalam selamanya
menyelamatkan kapitalisme dari fragmentasi yang “kompromi Keynesian” itu, bahwa para para peja- perlu.
berkelanjutan. “Kompromi Keynesian” mengakui bat Negara yang jadi pengelola sistem sosial-politik
bahwa tak semua bisa diserahkan kepada pasar. dan ekonomi niscaya punya nilai tersendiri?
Diakui bahwa public spirit selamanya perlu. Kenyataannya di Indonesia, institusi yang ber-
n dar u

Setahun Koin Keadilan 55


RUMAH SAKIT. kuasa tak dengan sendirinya bebas dari “tirani
Yang namanya masyarakat keputusan-keputusan kecil”. Di atas saya telah se-
itu luas, termasuk
butkan korupsi sebagai privatisasi kekuasaan. Maka
sekelompok orang yang
kebetulan berstatus kita pun bertanya dengan murung: masih adakah
karyawan rumah sakit. tempat bekerjanya apa “yang-sosial”, apa yang me-
Mereka menyumbangkan nampik nafsi-nafsi?
koin untuk seorang Prita
Mungkin jawabnya bukan di kantor pemerin-
yang sedang bersengketa
dengan rumah sakit lain. tah dan pos polisi di pojok perempatan. Mungkin
jawabnya bukan di jalan-jalan yang macet di mana
orang saling hendak menyisihkan. Jawabnya ada di
dekat kita sendiri.
Ketika Prita didenda Hakim – yakni petugas
Negara yang tak adil – kita secara spontan
berduyun-duyun datang untuk bersama perempuan
yang dizalimi itu. Kita datang dengan uang
recehan – fragmen dari sebuah kesatuan yang tak
nampak -- yang justru menunjukkan sesuatu yang
mengagumkan: kita belum menyerah kepada “tirani
keputusan-keputusan kecil”. Kita adalah bebrayan:
sesama yang bisa punya saat bersama. Setidaknya
sampai hari ini.
n dar u

* Dimuat di Tempo, 14 Desember 2009

56 Setahun Koin Keadilan


Koin Prita

Putu Setia
jerosetia.blogspot.com
Ida Bhawati Putu Setia, pensiunan
wartawanTempo yang menjadi brahmana, dan
tentu saja tetap menulis.

K
onon, manusia dari sononya sudah dibekali dua pikiran yang
berseberangan. Ada pikiran buruk, ada pikiran baik. Saat ini,
pikiran buruk saya meminta Prita Mulyasari menolak tawaran
berdamai dengan manajemen Rumah Sakit Omni. Bahkan Prita saya
sarankan tidak naik banding atas putusan Pengadilan Tinggi Banten,
yang mengharuskannya membayar Rp 204 juta.

Setahun Koin Keadilan 57


Ya, itu pikiran
buruk saya,
berharap ada
“tsunami
koin” yang
menggerujuki
Rumah Sakit
Omni. Lalu
pikiran yang
baik seperti
apa?

PADA SUATU DINI


HARI. Penghitungan
masih berlangsung,
koin terus berdatangan
dan menggunung, tapi
apa daya raga tak lagi
mendukung, maka kantuk

n dar u
pun tak terbendung.

Jika saran saya itu diikutinya, ada kesempatan dibayar Prita, juga kepada anggota Dewan Perwa-
lahir sebuah drama yang mungkin sangat unik. Saya kilan Daerah. Namun saya mengusulkan, uang itu
membayangkan diri saya ikut dalam rombongan disimpan. Prioritaskan koin yang dikumpulkan so-
orang-orang yang mengantar koin senilai Rp 204 pir angkot, murid taman kanak-kanak, pengamen,
juta ke RS Omni, bersama tukang becak, pemulung, orang-orang desa dari berbagai penjuru. Beri me-
anak-anak sekolah, entah siapa lagi. Saya sudah reka kesempatan menunjukkan perlawanan kepada
mengirim koin dalam kaleng bekas roti ke Jakarta, kekuasaan, khususnya melawan kebobrokan hukum
yang nilainya terus terang lebih rendah ketimbang di Nusantara ini. Perlawanan yang sangat sederha-
ongkos kirimnya. Koin berasal dari anak-anak dan na, lewat koin.
tetangga sekitar, persis yang dilakukan sejumlah Mereka mungkin tak bisa berteriak di jala-
anak di berbagai daerah. nan melakukan aksi unjuk rasa, perlu biaya untuk
Membayar denda dengan koin adalah ide ce- transportasi dan membuat poster. Pengumpul koin
merlang dari sang penggagas. Hormat saya tak ku- mungkin pula tak bisa berteriak lewat Facebook,
rang kepada mantan Menteri Perindustrian Fahmi perlu keterampilan khusus dan alat yang mahal. Te-
Idris, yang menyumbang separuh denda yang harus tapi mereka ingin berteriak tentang ketidakadilan

58 Setahun Koin Keadilan


n dar u
n dar u

dan, alhamdulillah, saluran itu terbuka lewat koin. itu orang kaya (”Cuma pegang-pegang saja minta
Dengarkan tetangga saya ketika mencemplungkan bayaran Rp 50 ribu”) dan tak pantas menuntut
dua recehan koin: “Pak Hakim dan Pak Dokter, ma- ganti rugi demikian besar. Inilah pikiran yang se-
kan ini uang, tak bosannya menyiksa rakyat.” derhana. Di balik kesederhanaan itu, kini tersimpan
Hakim dan lembaga peradilan menjadi “musuh magma perlawanan yang gigih dan solidaritas sosial
bersama” sebagian besar rakyat saat ini. Nenek yang demikian tinggi melewati batas wilayah dan
pencuri tiga buah cokelat diproses ke pengadilan, sekat-sekat primordial.
Anggodo, yang diduga makelar kasus, gentayangan Ya, itu pikiran buruk saya, berharap ada ”tsu-
bebas--dan kini berangsur-angsur dilupakan media nami koin” yang menggerujuki Rumah Sakit Omni.
massa gara-gara ada berita Century yang lebih Lalu pikiran yang baik seperti apa? Tentu saja per-
“seksi”. Seorang sopir membawa satu ekstasi dihu- damaian antara Prita dan Omni terwujud. Tak
kum berat, jaksa menjual ratusan ekstasi bisa bebas. ada bayar-membayar ganti rugi, tak ada pula yang
Mata kuliah apa yang diajarkan di fakultas hukum masuk penjara. Hikmah perdamaian lalu dijadikan
untuk menjelaskan kasus ini? Jangkankan rakyat introspeksi kedua belah pihak, tanpa ada yang me-
yang awam, yang tak awam pun--tapi bukan sarjana rasa malu dan dipermalukan--kecuali pihak ketiga,
hukum--bisa bingung. yakni hakim. Kasus ini memberi pelajaran yang
Lalu kenapa dokter ikut dimaki tetangga saya? berharga buat negeri ini: berhentilah melecehkan
Ya, tentu saja karena Prita, yang dia bela, ”bermusu- rakyat kecil.
han” dengan dokter, khususnya dokter RS Omni
yang mengadukan hal itu. Bagi rakyat desa, dokter Dimuat di Koran Tempo Minggu 13 Desember 2009

Setahun Koin Keadilan 59


HITUNG, HITUNG,
DAN HITUNG.
Konsekuensi sumbangan
dalam bentuk koin
adalah meminta tolong
banyak orang untuk
menghitungnya. Semua
penghitung mengalami
jemari tangannya
menghitam karena
bergesekan dengan
ratusan bahkan ribuan
koin. Tapi kebanyakan
relawan tak mau
mengenakan sarung
tangan plastik.
n dar u

60 Setahun Koin Keadilan


Koin Pecas Ndahé

Ndoro Kakung
ndorokakung.com
Facebook: ndorokakung
Twitter : @ndorokakung

Ketika keadilan direcehkan,


kita pun mengumpulkan receh.

K
alimat itu tertulis di blog Koin Keadilan yang terbit sejak Jumat
malam pekan lalu. Blog ini adalah salah satu simpul informasi
dukungan terhadap Prita Mulyasari, ibu rumah tangga yang oleh
Pengadilan Tinggi Banten diputuskan bersalah dan harus membayar
denda Rp 204 juta kepada RS Omni Internasional Alam Sutera yang
menggugatnya secara perdata.

Setahun Koin Keadilan 61


Sebagai salah satu simpul, blog ini tak diniatkan sung datang ke mini studio TV One untuk menye-
sebagai pusat atau sejenisnya, sehingga pengelola rahkan koin lengkap dengan celengannya. Juga ada
menyambut baik uluran kerja sama dan kemuncu- beberapa penelepon dari luar kota yang membe-
lan inisiatif serupa dari siapa pun. Semuanya demi rikan dukungan dan menanyakan cara pengiriman
Prita dan kebebasan menyatakan pendapat. koin. Betapa mengharukan.
Tentu saja ada kekurangan, persoalan, dan keru- Sebuah niat dan perbuatan baik sudah dimulai.
mitan, di sana-sini. Namanya juga gerakan spontan, Sampean boleh memilih untuk mendukung, menci-
tanpa hierarki, dan tanpa banyak rapat. Misalnya? bir, atau mengabaikannya. Hidup adalah pilihan bu-
Bagaimanakah cara melaporkan perolehan kan? Tapi pilihan akan menunjukkan siapa sampean
n dar u

koin secara periodik, baik per titik pengumpulan sesungguhnya.


maupun keseluruhan?
SEBELUM DIPECAH. Jika ada pendukung yang berhalangan datang ke *) Dimuat di blog ndorokakung.com, 7 Desember
Banyak yang mengirimkan
tempat pengumpulan koin, lalu ingin mentransfer, 2009
koin berserta celengannya.
Mau tak mau celengan harus ke rekening siapa?
itu harus dibedah, jika Untuk donatur di luar negeri, apakah
berbahan tembikar harus dimungkinkan menyampaikan sumbangan melalui
dipecah.
PayPal?
Sejauh ini pengelola masih berupaya terus
mencari solusi untuk ketiga pertanyaan tersebut.
Sampean juga boleh menyumbangkan saran mau-
pun gagasan.
Salah satu sumbangan yang bisa sampean beri-
kan, misalnya, menyebarkan kabar tentang gerakan
ini. Seperti yang sudah dilakukan beberapa media
mulai Jumat pekan lalu. Begitu gerakan koin kepedu-
lian untuk Prita ini digemakan melalui media-media
sosial seperti Twitter, para jurnalis pun bergerak ce-
pat. Mereka mewawancarai dan menuliskan gera-
kan tersebut. Hasilnya, berita tentang gerakan sosial
ini tersebar di situs media-media daring (online)
maupun cetak.
TV One tadi pagi bahkan mewawancarai Prita
Mulyasari bersama mantan menteri tenaga kerja
Fahmi Idris, Wakil Ketua DPD La Ode Ida, dan Ade
Novita, salah satu aktivis pengumpul koin. Dan, res-
pons pun berdatangan.

n dar u
Saya melihat ada tiga bapak-bapak yang lang-

62 Setahun Koin Keadilan


Rp 15 Juta
dari Konser untuk Prita

Laporan detik.com, Minggu 20 Desember 2009


(http://bit.ly/konserkoin)

P
undi-pundi koin sumbangan bagi Prita Mulyasari terus
bertambah. Konser Koin untuk Keadilan yang di gelar di Hard
Rock Cafe berhasil mengumpulkan Rp 15 juta lebih untuk
Prita.
“Sampai jam 8 malam ini telah terkumpul Rp 15.800.000 ditambah
sumbangan dari penjualan kaos Rp 2.880.000,” ujar Master Of
Ceremony (MC) acara tersebut ketika memandu acara Konser Koin
untuk Keadilan di Hard Rock Cafe, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat,
Minggu (20/12/2009) malam.

Setahun Koin Keadilan 63


Dalam acara tersebut Prita juga datang. Wanita

a n tara
berkerudung ini pun menjadi 'bintang' dalam konser
amal yang diselenggarakan untuk mendukungnya.
Acara yang dimulai sejak pukul 15.00 WIB tersebut
tampak diserbu pengunjung yang ingin memberikan
bantuan kepada Prita.
Acara amal tersebut semakin meriah dengan
kehadiran band-band dan artis papan atas Indonesia,
seperti Slank, Gigi, Sheila on Seven, Sherina, Ari
Lasso dan TT DJ. Rencananya Prita yang tengah
hamil dua bulan ini akan menggelar jumpa pers
terkait dengan dukungan kepada dirinya di cafe
tersebut.

KONSER. Giring Nidji


di atas pentas Hard
Rock Cafe Jakarta (kanan
atas). Didampingi Adib
Hidayat dari Rolling Stone
Indonesia, Prita bersama
wakil relawan, menerima
sumbangan dari musisi,
antara lain Abdee Negara
Slank.
n dar u

64 Setahun Koin Keadilan


Bab 5:
Penutup
dan Hikmah
Kegiatan ad-hock pun
perlu komunikasi yang
tepat. Setelah uang ter-
kumpul ada saja yang
mendekati, dari pencari
utang sampai orang par-
tai. Bank Sentral sangat
terbantu, karena koin yang
kembali ke BI itu sedikit
padahal saban hari BI
mengeluarkan koin baru.

Setahun Koin Keadilan 65


MENANGIS. Prita menangis ketika pentas dadakan di
Langsat menampilkan pasangan Arfi dan Ita menyanyikan
“Maju Terus Mbak Prita” di depan para relawan. Klip
mereka sudah lebih dulu tertayang di YouTube.

n dar u

66 Setahun Koin Keadilan


Menangani Komunikasi

Ventura Elisawati
vlisa.com
Facebook: vlisa
Twitter : @venturaE

A
ktivitas pengumpulan koin keadilan untuk Prita terlahir karena
sebuah spontanitas milis sehat dan komunitas Langsat.
Dalam hitungan hari telah menjadi isu terhangat di media
mainstream. Dimana semua media saling berlomba menampilkan
berita tentang koin keadilan dari pelbagai sudut pandang.

Setahun Koin Keadilan 67


Ini tentu bukan hal yang mudah untuk dihadapi daya yang terbatas, maka para inisitor koinpun se-
para relawan koin. Karena seperti diketahui, aktifitas gera mengambil sikap terutama untuk penanganan
ini hadir begitu saja, tanpa ada yang memimpin, tak media. Karena disadari jika ini tak dikelola baik dari
ada organisasi formal yang menaunginya. Yang ter- sisi konten (apa yang disampaikan) dan konteks
libat di sini hanya para relawan yang peduli kepada (siapa yang menyampaikan) dikhawatirkan aktifitas
nasib Prita. Ketika tiba-tiba para aktifitas milis sehat ini bisa dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan yang
dan komunitas Langsat menjadi kejaran wartawan, lain, seperti politik.
merekapun kebingungan. Bahkan di saat awal, para Maka, milis sehat dan komunitas Langsat se-
ibu anggota milis sehat di Pejaten ini, sempat ku- pakat menunjuk key spokespersons (juru bicara),
cing-kucingan dengan wartawan yang ingin mewa- yang bertugas melayani para wartawan yang ingin
wancarai mereka seputar inisitif pengumpulan koin tahu perkembangan kegiatan koin keadilan. Mereka
ini. Dikejar-kejar wartawan pagi, siang dan malam. adalah: Enda Nasution,Yusro M. Santoso, dan Ndaru
Situasi ini tentu saja sebuah hal yang baru bagi para Victor. Selain menyepakati jurubicara, kedua belah
sebagian relawan di milis sehat. Dan merekapun pihak juga membuat arahan pesan-pesan yang bisa
merasa tidak nyaman dan sempat memilih ”tutup” disampaikan, yakni seputar perkembangan peng-
pintu. umpulan koin. Kemudian sebagai pendukung, infor-
Peran media tentu saja cukup besar dalam masi penting seputar koin juga diunggah melalui
penyebaran info tentang koin untuk Prita ini. Tentu situs resmi kegiatan koin untuk Prita di koinkea-
DALAM SOROTAN.
Dirubung awak media, saja situasi ”boom” ini tak bisa dihindari begitu saja, dilan.com. Keberadaan situs ini – yang terus di-
apalagi TV , bisa membuat tapi justru harus dihadapi dan dikelola dengan baik. perbaharui dengan pelbagai perkembangan terkini
kikuk. Mengingat situasi yang serba mendadak, sumber – cukup vital. Tak cuma info positif saja tapi juga
untuk mengklarifikasi sejumlah informasi yang tidak
benar. Seperti ketika muncul rumor bahwa biaya
operasional perhitungan koin selama 4 hari dibiayai
dari perolehan koin.
Boleh dibilang selama dua minggu ketiga juru
bicara ini mendadak menjadi selebritis. Hampir se-
tiap saat muncul di pemberitaan media, baik cetak
maupun elektronik. Sebagai gambaran selain me-
dia nasional, ada 4 TV asing yang meliput aktifitas
koin ini. Dan yang pasti ada 3 TV nasional : TVone,
MetroTV dan SCTV yang melakukan tayangan langs-
ung dari Langsat. Tak heran jika jalanan sempit itu
disesaki dengan combivan TV-TV itu, yang sudah
stand by sejak pagi hari.
Tak cuma melayani liputan media di markas
n dar u

koin, tapi juga harus siap hadir di studio TV untuk

68 Setahun Koin Keadilan


sebuah wawancara langsung, misalnya di acara Apa hitungan koin sampai penyerahan koin tersebut ke
Kabar Indonesia. Mau tak mau para relawan yang rekening yang dituju. Kemudian BI lah yang meng-
dalam kesehariannya biasa tampil kasual dengan hubungi Bank Mandiri, dimana Prita punya rekening
t-shirt, harus tampil berbatik. Dan ini kerap jadi di bank tersebut.
bahan selorohan para awak Langsat lainnya, ke- Pada dasarnya penyebaran informasi – apapun
tika misalnya suatu pagi melihat Yusro sudah rapi keperluannya – mesti dikelola dengan baik. Mulai
dengan batiknya, ”Kalau pakai batik berarti mau dari perumusan pesan, manajemen penyampaian
siaran tivi.” pesan: pemilihan juru bicara, kanal pendukung
Peran media begitu besar dalam hal ini. Ia tak sampai evaluasi dari pemberitaan yang muncul. Ka- SETELAH KOIN APA?
Sebuah kaos sablonan
cuma mem-blow-up kegiatan koin tapi media juga rena sejatinya media adalah mitra yang tak sekadar
bikinan sendiri yang dikirim
menjembatani beberapa kepentingan aksi tersebut. untuk penyebaran informasi, tapi juga sebagai alat oleh seorang penyumbang
Seperti ketika Langsat menghadapi masalah, kema- untuk mengukur respon. Sehingga bisa disimpulkan koin. Pertanyaan itu
na koin yang sudah menggunung ini harus dibawa? bahwa keberhasilan aksi koin keadilan ini juga di- ditujukan kepada kita
semua.
Ketika pesan ini ditulis di Kompas, dalam hitungan topang oleh kepiawaian mengelola aspek komuni-
jam, Bank Indonesia merespon melalui telepon. kasinya.
Intinya bank sentral sanggup memfasilitasi peng-

PRITA DAN KOIN.


Akhirnya Prita datang ke
Langsat, dengan agak kikuk
karena sambutan relawan
dan reporter. Di salah
satu ruang penyimpanan
koin Prita sedang
mendengarkan penjelasan
dari Yusro M.S., salah satu
warga Rumah Langsat.
Mikrofon dipakai supaya
khalayak di luar rumah
n dar u
n dar u

bisa menyimak.

Setahun Koin Keadilan 69


UANG DAN UANG.
Rumah L:angsat penuh
duit, tapi bukan milik
sendiri. Foto kiri: Feby,
Susie, dan Eki, ketiganya
anggota staf, selalu
membagi waktu antara
urusan dinas dan urusan
koin. Foto kanan: salah
satu sudut favorit yang
sering dipakai sebagian
blogger untuk berpose
seolah merasakan sensasi
Paman Gober.

f o t o - f o t o : n dar u

70 Setahun Koin Keadilan


Mau, Dapat
Penghargaan sebagai
Pemecah Rekor?

Yusro M. Santoso
politikana.com/profil/yusro
Twitter : @orsuy

Ingin menggenapi pembayaran ganti rugi Rp 204 juta dengan


koin? Bukan mencari sensasi apalagi berniat memecahkan rekor.
Ini adalah cara kita menyampaikan pesan tentang rasa keadilan
yang terlukai.

T
ulisan itu terpajang di halaman depan situs koinkeadilan.com.
Meski begitu, sebuah lembaga rekor di Indonesia menghubungi
kami melalui telepon. Lembaga ini akan memberikan piagam
penghargaan, kepada »

Setahun Koin Keadilan 71


inisiator gerakan koin ini. Mereka memberikan gerakan pengumpulan koin adalah, hasil inisiasi
berbagai alasan, bahwa gerakan ini sangat pantas kolektif. Semua orang boleh menjalankan gerakan
dicatat sebagai sebuah rekor. Bukan saja hasil koin ini. Tak harus dikumpulkan melalui koinkeadilan.
yang dikumpulkan, tapi juga kemampuan gerakan com. Silakan kumpulkan koin dan boleh langsung
ini mendapat dukungan masyarakat, liputan media disumbangkan kepada Prita.
yang begitu masiv yang mampu menyeruak di Terus terang, selain merasa tidak sepantasnya
tengah isu terpanas Pansus Century di DPR. kami menerima piagam penghargaan sebagai
Panjang lebar kami menjelaskan bahwa pemegang rekor pengumpul koin, sejak awal gerakan
ini memang tidak diniatkan untuk memecahkan
rekor. Tapi lembaga ini tak puas dengan penjelasan
kami. Melalui e-mail, sekali lagi mereka menanyakan:
Kebersediaan menerima piagam rekor, dan nama
lembaga atau pribadi yang mesti ditulis di piagam
tersebut.
DIANGKUT KE
Kami sangat menghormati lembaga pencatat
BANK SENTRAL.
Penghitungan koin rekor tersebut, dan kami tidak melarang mereka
dinyatakan selesai, mencatat rekor pengumpulan koin. Tapi sekali
lantas keping-keping lagi, koinkeadilan.com dan atau pribadi-pribadi
uang itu dibawa ke Bank
yang berkecimpung di situ, merasa tidak berhak
Indonesia dalam mobil
lapis baja tersegel, untuk namanya tercantum dalam piagam itu. Kalau mau
dihitung ulang dan ditukar memberikan piagam rekor pengumpulan koin,
dengan uang kertas yang berikan piagam itu kepada semua penyumbang
mkemudian menjadi uang
koin, dan relawan yang mengumpulkan serta
giral.
menghitungnya, yang sudah barang tentu kami tidak
tahu berapa jumlahnya dan siapa saja mereka. Itulah
jawaban kami.
Disaat konser koin untuk keadilan digelar,
datang seorang dari lembaga pencatat rekor
yang lain. Pencatat rekor yang kabarnya terafiliasi
dengan lembaga pencatat rekor dunia ini, malah
sudah membawa draft, piagam rekor. Dua nama
pribadi relawan koin sudah dimasukkan sebagai
pencetak rekor pengumpulan koin, keduanya
f o t o - f o t o : n dar u

Yusro M. Santoso dan Ade Novita. Lembaga ini


akan mencetak piagam tersebut setelah hasil akhir
penghitungan koin ditetapkan.
Sekali lagi, kami sampaikan, silakan catat rekor

72 Setahun Koin Keadilan


pengumpulan kin ini untuk seluruh relawan yang telah menggugatnya.
telah menyumbang, mengumpulkan dan mengitung Kami tak bisa memenuhi permintaan Rahmat
koin untuk Prita tersebut. Karena semua ini terjadi, Shah, untuk menukarkan sebagai atau semua koin
karena keberadaan mereka. dengan rekening dengan nilai yang sama atau pun
Sejak awal gerakan ini memang tidak lebih. Meskipun kami sangat menghormati niat
diniatkan untuk mencatatkan sebuah rekor, dalam mulia Rahmat Shah membuat monumen keadilan.
pengumpulan koin, misalnya, pelibatan masyarakat, Langkah kami ini rupanya dibenarkan oleh
liputan media, bahkan juga mencatatkan rekor Bank Indonesia. Dalam sebuah pertemuan antara
sebagi penolak piagam rekor dari 2 lembaga. BI (Adnan, Deputi Direktur BI), Rahmad Shah, dan
koinkeadilan (Yusro M. Santoso). BI menjelaskan
Bikin monumen keadilan bahwa pemanfaatan koin rupiah untuk sebuah
“Saya Rahmat Shah, dari Medan,” begitu monumen, dengan cara membuat sebuah patung
seseorang memperkenalkan diri di ujung telepon. yang dipastikan merusak dan menghilangkan fungsi
Dia lalu menuturkan ingin membeli sebagaian atau uang sebagai alat tukar, adalah melanggar hukum.
semua koin yang terkumpul di koinkeadilan.com, BI menyarankan agar inisiatif membuat monumen
untuk dibuat sebuah monumen keadilan di Medan. koin keadilan, dikomunikasikan secara resmi ke
WESEL POS. Namanya
Rahmat Shah yang ternyata seorang anggota Bank Sentral. Dengan begitu Bank Indonesia bisa memang Koin untuk
DPD, sangat bernafsu untuk membuat sebuah membuatkan replikasi uang (yang tentu saja tidak Keadilan, tetapi sumbangan
monumen keadilan karena, dia sudah merasakan punya nilai tukar) untuk pembuatan monumen melalui paypel, transfer
tersebut. antarbank, dan wesel pos
betapa susah dan mahalnya mendapatkan keadilan
juga diterima.
di Indonesia. “Kalau saya yang wakil rakyat dan
punya akses ke pejabat tinggi negara pun bisa
dipermainkan oleh penegak hukum. Maka jangan
tanya, masyarakat bawah, yang tak punya kedudukan
dan akses,” katanya. Dia sangat yakin gerakan
pengumpulan koin, dengan label koinkeadilan ini
akan membuka mata dan pikiran para penegak
hukum dan masyarakat. Karenanya dia memandang
membuatnya dalam sebuah monumen menjadi
sangat penting.
Tanpa mengurangi rasa hormat, kami sampaikan
bahwa koinkeadilan.com, tidak dalam posisi bisa
berhak menjual (menukar) koin yang terkumpul.
Nawaitunya sejak awal cuma mengumpulkan koin
untuk diserahkan kepada Prita Mulyasari, agar bisa
memenuhi kewajiban hukum, membayar ganti rugi

n dar u
terhadap dokter dan RS Omni Internasional yang

Setahun Koin Keadilan 73


PENGERAHAN.
Menjelang tutup tahun,
tepatnya dua hari sebelum
Natal, Bank Indonesia
mengerahkan awak di
bagian yang menangani
uang lama logam untuk
bekerja. Alat mereka
memadai.
f oto - f oto : s u s i e r i z a

KENAPA TAK SEJAK Tak jelas benar sampai di mana inisiatif


AWAL? Begitu tanya pembuatan monumen ini. Yang pasti, gerakan koin
bernada canda seseorang
kepada Langsat, kenapa ini telah menjadi monumen dalam ingatan banyak
tak sejak hari pertama orang, sebagai sebuah gerakan yang menyadarkan
menggunakan mesin bahwa masyarakat Indonesia masih sangat lekat
penghitung koin. Kalau dengan ikatan kultural, gotong royong, peduli dan
pakai mesin, relawan
yang kadung datang berbagi.
bagaimana? :)
Buatlah kegiatan
sejenis sampai 2014
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan
pengumpulan koin yang dilakukan teman-teman
Langsat,” begitu seorang aktifis partai yang cukup

74 Setahun Koin Keadilan


dikenal publik, memberikan komentar. Dia cukup
rajin menghubungi per telepon, meminta update
jumlah pengumpulan koin.
Akhirnya, dia bilang. Silakan Langsat dan teman-
teman koinkeadilan, membuat inisiatif aktivitas
sejenis, yang bisa tersebar ke seluruh nusantara.
Tak perlu memikirkan biaya operasional kegiatan
tersebut, bahkan koordinatorat kalau perlu
diberikan honor. “Kami siapkan budget-nya,” begitu
aktivis partai ini berjanji.
Dia juga berpesan, kegiatan tersebut tak
perlu membawa bendera partai pada awalnya.
Yang penting kegiatan ini terus berkesinambungan
sampai tahun 2014 mendatang. “Partai baru akan

n dar u
muncul pada satu tahun terakhir kegiatan sosial
yang kalian lakukan,” begitu katanya.
Untuk ajakan ini, kami tegas menolaknya. Dia terkesan sangat mengikuti perkembangan kasus PRITA KE BANK
Prita di Pengadilan maupun pengumpulan koin ini. INDONESIA.
Didampingi wakil relawan,
Dari pengobatan sampai “Begini, koin yang terkumpul kan jumlahnya sudah antara lain pasangan Ari
modal usaha melebihi nilai denda yang ditetapkan pengadilan. Juliano dan Ade Novita,
Selain menerima relawan penyumbang koin, Prita sendiri di media bilang tidak akan menggunakan Prita Mulyasari disambut
uang sumbangan koin untuk kepentingan pribadinya. dua pejabat BI untuk
penerima koin dan penghitung koin, markas menyaksikan penyerahan
koinkeadilan di Langsat juga menerima cukup Jadi bisakah saya mendapatkan sebagian dari koin koin.
banyak tamu yang ingin dibantu. Mereka umumnya yang terkumpul ini untuk modal usaha,” ucapnya
mengungkapkan rasa empatinya terhadap persoalan tegas.
yang dihadapi Prita. Mereka juga memuji gerakan Dia lalu menceritakan derita yang dialami
pengumpulan koin untuk membantunya. keluarganya. Orang tuanya tertipu teman usahanya.
“Saya yakin yang maha kuasa akan membantu Padahal modal usaha patungan dengan temannya
Ibu Prita,” kata seorang Ibu. Dia menceritakan bahwa itu berasal dari pinjaman rentenir.
dirinya mengikuti perkembangan kasus Prita melalui Hari teraakhir penghitungan koin, datang
pemberitaan TV. Akhirnya dia juga berkisah bahwa sorang tamu, wanita separuh baya. Dia mengaku
keluarganya juga sedang menderita. Anaknya sakit pengusaha. Tanpa babibu, pengusaha yang mengaku
berkepanjangan dan dia tak mampu membawa dari Jakarta Pusat ini, bilang ingin memutarkan hasil
ke rumah sakit untuk berobat. “Kalau boleh saya pengumpulan koin, untuk mendapatkan hasil yang
meminta sebagian koin yang terkumpul untuk lebih besar.
pengobatan anak saya,” ucap ibu itu memelas. “Saya baca di media jumlah koin yang terkumpul
Hari yang lain datang seorang wanita dewasa. sudah lebih dari 500 juta. Dan kasus Prita kan masih

Setahun Koin Keadilan 75


kasasi, biasanya makan waktu tahunan untuk dapat menjawabnya. Kami tak punya hak untuk
putusan. Jadi uang yang terkumpul ketimbang tidak meminjamkan, membagikan ataupun membisniskan
berkembang, saya putar saja. Kebetulan saya punya koin yang terkumpul ini. Tujuan kami uma satu
proposal bisnis yang menguntungkan,” ujar Ibu ini. menyerahkan seluruh uang yang terkumpul
Dia lalu mengeluarkan dokumen surat perintah kepada Prita. Selanjtnya terserah kepada Prita, mau
kerja, dari sebuah instansi pemerintah, dengan nilai menggunakan untuk apa.
Rp 750 juta. “Uang koin itu bisa untuk mendanai
proyek ini. Dalam setahun, setidaknya saya bisa
beri untung 15%,” ujarnya. Untuk lebih meyakinkan,
pengusaha ini mengeluarkan sertifikat deposito atas
nama dirinya senilai Rp 800 juta yang jatuh tempo
pada bulan Maret 2010. “Deposito ini bisa dijadikan
jaminan. Saya tidak akan menipu,” katanya.
Terhadap semua tamu yang menginginkan
sesuatu dari koin yang terkumpul, kami tegas

TERIMA KASIH.
Berlatarkan tempelan
catatan penghitungan
koin, Prita yang canggung
karena diperlakukan
bak seleb, hanya dapat
mengucapkan terima
kasih kepada relawan
dan penyumbang, serta
berharap kasusnya tak
akan menimpa siapa pun.

n dar u

76 Setahun Koin Keadilan


Pengumpulan Koin:
Membantu Prita,
Menolong Bank Sentral

Yusro M. Santoso
politikana.com/profil/yusro
Twitter : @orsuy

T
ernyata tak cuma Prita Mulyasari yang senang dengan aksi
pengumpulan koin yang dilakukan oleh koinkeadilan.com, Koin
Peduli Prita, dan yang lain itu. Bank Indonesia pun menyambut
germbira gerakan itu. BI tak cuma senang, tapi juga berterimakasih.
“Bank Sentarl sangat terbantu dengan gerakan ini,” ujar Budi Rochadi,
Deputi Gubernur BI.

Setahun Koin Keadilan 77


... Uang logam ini menurut Budi, adalah mata uang wan ini tingkat akurasinya pasti tidak maksimal.
penghitungan paling unik. Dia alat bayar yang perputaran balik ke Sebabnya, relawan tak memiliki keahlian dalam
ulang di Bank Sentral kecil sekali. Mekipun kebutuhannya menghitung koin. Waktu penghitungan dari jam 10
BI, dengan tidak tinggi, BI setiap hari mesti mengeluarkan uang – jam 02, juga bukan waktu manusia dalam kondisi
mengerahkan logam baru. Lain dengan uang kertas, setiap hari prima. Selain itu, koin yang berasal dari koordinato-
balik ke BI. rat lain sebanyak Rp 270 juta, juga tidak dilakukan
70 orang
Dari sekitar Rp 3,7 trilyun uang koin yang be- penghitungan ulang, karena jumlah tersebut sudah
karyawan
redar, perputaran balik ke BI bisa dibilang tidak ada. dilengkapi dengan berita acara penghitungan.
BI dan Bank Penggantian uang logam yang rusak juga sangat ke- Koin yang 396 plastik dan 65 karung tersebut,
Mandiri, cil. Peredaran uang logam ini ternyata banyak yang dilakukan penghitungan ulang di BI, dengan menge-
lengkap mandek di celengan anak-anak di rumah, bahkan rahkan 70 orang karayawan BI dan Bank Mandiri
dengan 12 diperkirakan tidak sedikit orang yang melebur uang lengkap dengan 12 mesin hitung koin. Selama se-
mesin hitung logam jenis tertentu, maklum harga intrinsik uang minggu, kasir BI dan Bank Madiri menghitung koin
koin. Selama logam itu lebih tinggi dibanding nilai mata uangnya. tersebut. Memang membutuhkan waktu lebih lama,
seminggu, BI bahkan pernah melakukan studi banding ke dibanding relawan di Langsat.
kasir BI dan Filipina tentang perputaran uang koin ini. Di Filipina Lamanya penghitungan koin di BI, karena BI
pernah dilakukan program agar uang koin itu ber- tak cuma memperhatikan hasil akhir. Tapi dilaku-
Bank Madiri
putar. Caranya Bank Sentral di sana memberikan kan seleksi terlebih dahulu, mulai dari jenis uang
menghitung
insentif kepada masyarakat agar perputaran uang logam. Dari jenisnya ada 4, putih, kuning, perak, dan
koin tersebut. logam kembali ke Bank Sentral bisa normal terjadi. campuran perak dan kuning. Setelah itu dipisahkan
Tapi program ini urung diadopsi, karena: ternyata berdasarkan nilai dan tahun emisi. Selain itu juga
program yang secara konsep sangat menarik, dalam dipisahkan berdasarkan kondisi fisik uang. Yang ma-
praktiknya tak berjalan sebagaimana mestinya. In- sih layak edar akan diedarkan kembali, sedang yang
sentif jatuhnya lebih banyak ke oknum-oknum bank jelek akan dilebur.
operasional. Nah BI khawatir mental pelaksana unit Hasil akhir penghitungan koin di BI menemu-
perbankan di sini tak jauh beda dengan di Filipina. kan jumlah uang logam yang terkumpul sebanyak
Koin yang terkumpul dari gerakan masyarakat Rp 615.562.043. Lebih besar Rp10 juta, dari
selama sepuluh hari yang akhirnya di-pool di Lang- penghitungan yang dilakukan relawan di Langsat.
sat, yang menjadi markas koinkeadilan.com. Peng- Sedang, uang kertas yang disumbangkan masyara-
hitungan koin yang dilakukan di Langsat oleh lebih kat bebarengan dengan pengumpulan koin, dalam
dari 350 relawan selama 4 hari, jumlahnya sekitar perhitungan relawan hanya sebesar Rp 83.088.000.
Rp 605 juta. Julah tersebut berasal dari penghimpu- Namun dalam perhitungan kasir bank, jumlahnya
nan koin yang dilakukan di Langsat Rp 335 juta, dan meningkat menjadi Rp 92.353.475.
Rp 270 juta berasal dari koordinatorat lain seperti Bisa jadi penyebab terjadinya perbedaan per-
Koin Peduli Prita oleh Milis Sehat, Pemirsa TV One hitungan ini karea para relawan tidak menghitung
dan sebagainya. uang yang rusak dan sudah dinyatakan tidak ber-
Disadari sejak awal, penghitungan oleh rela- laku. Namun, kasir bank punya pertimbangan lain.

78 Setahun Koin Keadilan


Sepanjang kerusakan uang masih sepertiga bagian, tetap bekerja, selain itu jam kerjanya diperpanjang
uang masih bisa ditukarkan. Demikian juga dengan sampai jam 20.00. Meski begitu BI, sangat berteri-
uang emisi lama, yang dalam pemahaman umum makasih dengan gerakan pengumpulan koin ini. “Se-
sebagai uang tidak laku, ternyata oleh kasir bank cara cukup signifikan kami bisa menarik uang-uang
tetap dihitung, karena uang emisi lama bisa ditukar logam yang sudah tidak layak edar, untuk meng-
dengan uang emisi baru di BI. gantinya dengan yang baru. Ini tidak pernah terjadi
Total koin dan uang kertas setelah dilakukan selama ini. Gerakan penghimpunan koin ini sangat
verifikasi oleh BI dan Bank Mandiri jumlahnya men- membantu Bank Sentral,” kata Budi Rochadi.
capai Rp 707.915.518. Jumlah sebanyak itu lah yang BI tak cuma berterimakasih dengan program
pada tanggal 30 Desember bisa disetorkan ke re- pengumpulan koin ini, tapi dia juga menantang agar
kening tabungan Prita Mulyasari di Bank Mandiri. program serupa ini dilakukan berkala. ”BI bersedia
BI memang cukup repot dalam melakukan dilibatkan sejak awal, sehingga bisa bisa berperan
penghitungan koin, karena selain mesti menyiapkan dalam urusan teknis penghitungannya,” ucap Budi
tenaga khusus yang jumlahnya tidak kecil, para kasir Rochadi. Nah siapa sanggup menjawab tantangan
tersebut juga mesti kerja lembur. Hari sabtu pun BI?

396 KANTONG
PLASTIK, 65
KARUNG. Seluruh
koin di Langsat diangkut
dengan mobil berlapis
baja ke Bank Indonesia.
Penghitungan di sana
mencatat Rp 615.562.043
koin, Rp 10 juta lebih
banyak dari penghitungan
di Langsat.

n dar u

Setahun Koin Keadilan 79


HARI-HARI AKHIR. Ketika sisa koin yang harus
dihitung kian menipis, dan loncatan angka perolehan
terasa lamban, sejumlah relawan masih bertahan. Mereka
punya gurauan tentang “sakauw koin”: bingung ketika
tak ada gerojogan koin sehingga berulah aneh-aneh dan
mengundang tawa. Padahal sebelumnya mereka tak saling
kenal. Mereka dipertemukan oleh koin, dan jadi akrab.
n dar u

80 Setahun Koin Keadilan


Rp 615.562.043
UANG LOGAM
B ermula dari e-mail berujung ke
kurungan dan denda Rp 204 juta
untuk Prita Mulyasari. Dia didakwa dan
digugat karena mencemarkan nama
baik sebuah rumah sakit.

Masyarakat marah, tak terima. Lalu


mereka mengumpulkan koin, receh
demi receh, untuk membayarkan denda,
pada Desember 2009.

Buku ini mencatat gagasan yang


Jalan Langsat 1/3A berbiak, tindakan yang beranak pinak,
Kramat Pela dan terkumpullah bertruk-truk koin.
Kebayoran Baru
Jakarta 12130
rumah@langsat.net Terima kasih untuk Anda yang
rumah.langsat.net membantu dan bersimpati.