HUKUM PERDAGANGAN

INTERNASIONAL

Prinsip-prinsip dan Konsepsi Dasar


Huala Adolf






ii

Kata Pengantar

Hukum Perdagangan Internasional adalah materi yang relatif baru
diajarkan di perguruan tinggi. Perkembangannya sangat cepat. Hukum ini
sebenarnya sudah ada sejak lama. Ia sudah ada sejak bangsa-bangsa mulai
melintasi sungai, laut, dan daratan luas, untuk berdagang dengan bangsa-
bangsa lainnya.
Buku ini ditulis karena bacaan di bidang hukum perdagangan
internasional masih sangat kurang. Literatur dasar untuk memahami bidang
hukum ini dalam bahasa Indonesia sangatlah minim.
Dalam proses penulisan ini, penulis memperoleh banyak bantuan dari
banyak pihak. Sdr. Bursok Arbenius SH membantu penulis membaca ulang
teks-teks awal buku ini. Sdr. Pitman SH merevisi dan memberi masukan BAB
V mengenai Letter of Credit. Sdr. Amirullah SH meluangkan waktunya
mengecek BAB VI mengenai E-Commerce. Bantuan dari rekan-rekan yang
baik ini penulis ucapkan terima kasih. Bantuan bahan bacaan dari
perpustakaan FH Unpad sangat membantu. Saya ucapkan terima kasih
kepada Sdr Yulius Sarto, pustakawan, yang dengan baik hati memberi segala
bahan yang diperlukan. Dalam kesempatan ini penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada penerbit PT Rajawali Pers yang selalu bersedia
menerbitkan buku-buku penulis.
Kepada buah hati dan penghibur penulis yang masih kecil, Magda Pia
Rani, penulis merasa berutang budi atas waktunya yang hilang untuk
bermain bersama. Kepada istri penulis, An-An Chandrawulan, saya ucapkan
terima kasih atas segala bantuannya dalam merampungkan buku ini.
Buku ini masih banyak kekurangan. Kesalahan, kekeliruan atau
kekhilafan dalam penulisan buku ini adalah tanggung jawab pribadi penulis.
Saran perbaikan, komentar atau kritik terhadap muatan buku ini, sangat
penulis nantikan dengan rasa terima kasih.
Bandung, November 2004,



Huala Adolf SH LLM PhD

iii

Daftar Isi

BAB I PENGANTAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar dan Definisi
1. Definisi
a. Definisi Schmitthoff
b. Definisi Rafiqul Islam
c. Definisi Michelle Sanson
d. Definisi Hercules Booysen
2. Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional
a. Hubungan Hukum Perdagangan Internasional dan Bidang Hukum
Lainnya
b. Hukum Perdagangan Internasional bersifat Interdisipliner
B. Prinsip-prinsip Hukum Perdagangan Internasional
1. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak
2. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda
3. Prinsip Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase
4. Prinsip Kebebasan Komunikasi (Navigasi)
C. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional
D. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional
E. Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional
1. Perlunya Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan
Internasional
2. Lembaga-lembaga Yang Bergerak dalam Unifikasi dan Harmonisasi
Hukum
a. World Trade Organization (WTO)
b. The International Institute for the Unification of Private Law
(UNIDROIT)
c. The United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL)
d. Kamar Dagang Internasional (ICC)
F. Penutup

BAB II. SUBYEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
B. Negara
1. Peran Negara
2. Imunitas Negara
C. Organisasi Perdagangan Internasional
D. Individu
1. Perusahaan Multinasional
2. Bank
E. Penutup

BAB III. SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
iv
A. Pengantar
B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional
1. Perjanjian Internasional
2. Hukum Kebiasaan Internasional
3. Prinsip-prinsip Hukum Umum
4. Putusan Badan Pengadilan dan Doktrin
5. Kontrak
6. Hukum Nasional
C. Penutup

BAB IV. ATURAN-ATURAN HUKUM PERDAGANGAN MENURUT GATT
A. Pengantar
B. Sejarah GATT
C. Ketentuan-ketentuan Perdagangan dalam GATT
D. Prinsip-prinsip GATT
E. Garis-garis besar Ketentuan GATT
F. Penutup

BAB V. LETTER OF CREDIT DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
B. Bentuk-bentuk Pembiayaan Perdagangan Internasional
1. Kredit Berdokumen (Documentary Credit)
2. Bentuk Khusus Kredit Berdokumen
C. Penutup

BAB VI. E-COMMERCE MENURUT UNCITRAL MODEL LAW ON ELECTRONIC COMMERCE
1996
A. Pengantar
B. Masalah Hukum: Pengawasan
C. UNCITRAL Model Law
1. Pengantar
2. Penerapan Persyaratan Hukum terhadap Pesan Data
3. Kekuatan Pembuktian Pesan Data
4. Penyimpanan Pesan Data
5. Komunikasi Pesan Data
6. Bentuk dan Keabsahan Kontrak
7. Pengakuan terhadap Pesan Data
8. Pengakuan Penerimaan
9. Waktu dan Tempat Pengiriman dan Penerimaan Pesan Data
10. Bagian II: Obyek tertentu: Pengiriman Brg
11. Dokumen Pengangkutan (Bill of Lading)
12. Tanda Tangan Digital dan Pejabat Verifikasi
D. Penutup

BaAB VII. PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
v
A. Pengantar
B. Para Pihak dalam Sengketa
C. Prinsip-prinsip Penyelesaian Sengketa
1. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus)
2. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa
3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum
4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith)
5. Prinsip Exhaustion of Local Remedies
D. Forum Penyelesaian Sengketa
1. Negosiasi
2. Mediasi
3. Konsiliasi
4. Arbitrase
5. Pengadilan (Nasional dan Internasional)
E. Hukum Yang Berlaku
1. Pengantar
2. Kebebasan Para Pihak
F. Pelaksaan Putusan Sengketa Dagang
1. Pengantar
1. Pelaksanaan Putusan APS
2. Pelaksanaan Putusan Arbitrase (Asing)
3. Pelaksanaan Putusan Pengadilan
G. Penutup

BAB I
PENGANTAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar dan Definisi
Hukum perdagangan internasional adalah bidang hukum yang
berkembang cepat. Ruang lingkup bidang hukum ini pun cukup luas.
Hubungan-hubungan dagang yang sifatnya lintas batas dapat
mencakup banyak jenisnya. Dari bentuknya yang sederhana, yaitu
dari barter, jual beli barang atau komoditi (produk-produk
pertanian, perkebunan, dan sejenisnya), hingga hubungan atau
transaksi dagang yang kompleks.
Kompleksnya hubungan atau transaksi dagang internasional
ini sedikit banyak disebabkan oleh adanya jasa teknologi
(khususnya teknologi informasi). Sehingga, transaksi-transaksi
dagang semakin berlangsung dengan cepat. Batas-batas negara bukan
lagi halangan dalam bertransaksi. Bahkan dengan pesatnya
teknologi, dewasa ini para pelaku dagang tidak perlu mengetahui
atau mengenal siapa rekanan dagangnya yang berada jauh di belahan
bumi lain. Hal ini tampak dengan lahirnya transaksi-transaksi
yang disebut dengan e-commerce.
Ada berbagai motif atau alasan mengapa negara atau subyek
hukum (pelaku dalam perdagangan) melakukan transaksi dagang
internasional. Yang menjadi fakta adalah bahwa perdagangan
internasional sudah menjadi tulang punggung bagi negara untuk
menjadi makmur, sejahtera dan kuat. Hal ini sudah banyak terbukti
dalam sejarah perkembangan dunia.
Besar dan jayanya negara-negara di dunia tidak terlepas
dari keberhasilan dan aktivitas negara-negara tersebut di dalam
perdagangan internasional. Sebagai satu contoh, kejayaan Cina
masa lalu tidak terlepas dari kebijakan dagang yang terkenal
dengan nama ‘Silk Route’ atau jalan suteranya. Silk Route tidak
lain adalah rute-rute perjalanan yang ditempuh oleh saudagar-
saudagar Cina untuk berdagang dengan bangsa-bangsa lain di
dunia.
1

Setelah kejayaan Cina, menyusul negara-negara lain seperti
Spanyol dengan Spanish Conquistadors-nya, Inggris dengan The
British Empire-nya (beserta perusahaan multinasionalnya yang
pertama di dunia, yakni ‘the East-India Company’, Belanda dengan
VOC-nya, dll. Kejayaan negara-negara ini tidak terlepas dari
kebijakan pemerintahnya untuk melakukan transaksi dagang
internasional.
Kesadaran untuk melakukan transaksi dagang internasional
ini juga telah cukup lama disadari oleh para pelaku pedagang di
tanah air sejak. Adalah Amanna Gappa, seorang kepala suku Bugis
yang sadar akan pentingnya dagang (dan pelayaran) bagi
kesejahteraan sukunya. Keunggulan suku bugis dalam berlayar
dengan hanya menggunakan perahu-perahu bugis yang kecil telah
mengarungi lautan luas hingga ke Malaya (sekarang menjadi wilayah
Singapura dan Malaysia).
2

Yang menjadi esensi untuk bertransaksi dagang ini adalah
dasar filosofinya. Telah dikemukakan bahwa berdagang ini adalah

1
Jonathan Reuvid, (ed.), The Strategic Guide to International Trade,
London: Kogan Page, 1997, para. xv.
2
PH.O.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa, Ujung
Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1977, hlm. 154. Di
Singapura, misalnya, ada suatu daerah yang khusus untuk menghormati
suku Bugis ini karena keunggulan mereka sebagai pelaut dan pedagang.
Pemerintah Singapura memberi nama pada suatu daerah di tengah Singapura
dengan nama Bugis (di wilayah Bugis Junction). Di Bugis Junction ini
kita dapat melihat replika perahu kecil suku Bugis yang berlayar ke
Malaka (sekarang Singapura). Bahkan pernah ada data yang mengungkapkan
bahwa perahu Bugis telah juga mengunjungi wilayah utara benua
Australia. Prestasi ini telah membuat kagum banyak bangsa di dunia.
Bahkan banyak ahli hukum dari berbagai dunia, khususnya Inggris dan
Belanda, yang mempelajari hukum-hukum bangsa Bugis ini yang disalin
oleh Amanna Gappa. Mereka mempelajari hukum-hukum pelayaran dan hukum
dagang bangsa Bugis untuk kemungkinan diterapkan pada keadaan dewasa
ini. Menurut hemat penulis, sesungguhnya, apa yang diperbuat oleh ahli-
ahli hukum Belanda dan ahli hukum Inggris tersebut merupakan pukulan
telak pada ahli hukum di tanah air. Kenapa justru ahli hukum asing yang
mempelajari dan menggali hukum dagang (internasional) Bugis, bukannya
bangsa kita sendiri.
suatu “kebebasan fundamental” (fundamental freedom).
3
Dengan
kebebasan ini siapa saja harus memiliki kebebasan untuk
berdagang. Kebebasan ini tidak boleh dibatasi oleh adanya
perbedaan agama, suku, kepercayaan, politik, sistem hukum, dll.
Piagam Hak-hak dan Kewajiban Negara (Charter of Economic
Rights and Duties of States) juga mengakui bahwa setiap negara
memiliki hak untuk melakukan perdagangan internasional. (“Every
State has the right to engage in international trade”) (Pasal 4).




3
Lihat buku penulis, Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2002, Bab I.
1. Definisi
Cepatnya perkembangan bidang hukum ini ternyata masih belum
ada kesepakatan tentang definisi untuk bidang hukum ini. Hingga
dewasa ini terdapat berbagai definisi yang satu sama lain
berbeda.
a. Definisi Schmitthoff
Definisi pertama adalah definisi yang dikeluarkan oleh
Sekretaris Jenderal PBB dalam laporannya tahun 1966.
4
Definisi
ini sebenarnya adalah definisi buatan seorang guru besar ternama
dalam hukum dagang internasional dari City of London College,
yaitu Professor Clive M. Schmitthoff. Sehingga dapat dikatakan
bahwa definisi yang tercakup dalam Laporan Sekretaris Jenderal
tersebut tidak lain adalah laporan Schmitthoff.
Schmitthoff mendefinisikan hukum perdagangan internasional
sebagai: “... the body of rules governing commercial relationship
of a private law nature involving different nations”.
5

Dari definisi tersebut dapat tampak unsur-unsur berikut:
1) Hukum perdagangan internasional adalah sekumpulan aturan
yang mengatur hubungan-hubungan komersial yang sifatnya
hukum perdata,
2) Aturan-aturan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi
yang berbeda negara.
Definisi di atas menunjukkan dengan jelas bahwa aturan-
aturan tersebut bersifat komersial. Artinya, Schmitthoff dengan
tegas membedakan antara hukum perdata (“private law nature”) dan
hukum publik.
Dalam definisinya itu, Schmitthoff menegaskan bahwa ruang
lingkup bidang hukum ini tidak termasuk hubungan-hubungan
komersial internasional dengan ciri hukum publik. Termasuk dalam

4
United Nations, Progressive Development of the Law of International
Trade: Report of the Secretary General of the United Nations 1966, New
York: United Nations, 1966, hlm. 1. (Selanjutnya disebut Secreatry
General Report).
5
Secretary General Report, op.cit., para. 10.
bidang hukum publik ini yakni aturan-aturan yang mengatur tingkah
laku atau perilaku negara-negara dalam mengatur perilaku
perdagangan yang mempengaruhi wilayahnya.
6

Dengan kata lain, Schmitthoff menegaskan wilayah hukum
perdagangan internasional tidak termasuk atau terlepas dari
aturan-aturan hukum internasional publik yang mengatur hubungan-
hubungan komersial. Misalnya, aturan-aturan hukum internasional
yang mengatur hubungan dagang dalam kerangka GATT atau aturan-
aturan yang mengatur blok-blok perdagangan regional, aturan-
aturan yang mengatur komoditi, dsb.
7
Dalam salah satu tulisannya
Schmitthoff dengan jelas menegaskan sebagai berikut:
“First, the modern law of international trade is not a
branch of international law; it does not form part of the
jus gentium, but it is applied in every national
jurisdiction by tolerance of the national sovereign whose
public policy may override or qualify a particular rule of
that law.”
8


Dari latar belakang definisi tersebut pun berdampak pada
ruang lingkup cakupan hukum dagang internasional. Schmitthoff
menguraikan bidang-bidang berikut sebagai bidang cakupan bidang
hukum ini:
1) Jual beli dagang internasional: (i) pembentukan kontrak; (ii)
perwakilan-perwakilan dagang (agency); (iii) Pengaturan
penjualan eksklusif;

6
Secretary General Report, op.cit., para. 11.
7
Secretary General Report, op.cit., para. 11.
8
Schmitthoff, “The Unification of the Law of International Trade,”
(1968) JBL 109 (pendapat Schmitthoff ini juga adalah pendapat sarjana
terkemuka hukum perdagangan internasional Profesor Aleksander
Goldštajn). Menurut hemat penulis salah satu kelemahan dari definisi
ini adalah sulitnya diterima bahwa berlakunya hukum perdagangan
internasional ke dalam jurisdiksi nasional negara-negara di dunia
adalah berdasarkan apa yang beliau sebut “tolerance of the national
sovereign.” Dalam hukum, sulit diterima adanya toleransi ini. Yang ada
adalah penundukan diri baik secara diam-diam maupun tegas seperti dalam
ratifikasi atau aksesi suatu perjanjian internasional (dalam hal ini
hukum perdagangan internasional) oleh suatu negara. Seperti kita
ketahui, masalah ratifikasi atau aksesi terhadap suatu perjanjian
internasional (tidak terkecuali perjanjian di bidang hukum perdagangan
2) Surat-surat berharga
3) Hukum mengenai kegiatan-kegiatan tentang tingkah laku mengenai
perdagangan internasional
4) Asuransi
5) Pengangkutan melalui darat dan kereta api, laut, udara,
perairan pedalaman
6) Hak milik industri
7) Arbitrase komersial.
9

b. Definisi M. Rafiqul Islam
Dalam upayanya memberi batasan atau definisi hukum
perdagangan internasional, Rafiqul Islam menekankan keterkaitan
erat antara perdagangan internasional dan hubungan keuangan
(financial relations). Dalam hal ini Rafiqul Islam memberi
batasan perdagangan internasional sebagai "... a wide ranging,
transnational, commercial exchange of goods and services between
individual business persons, trading bodies and States".
10

Hubungan finansial terkait erat dengan perdagangan
internasional. keterkaitan erat ini tampak karena hubungan-
hubungan keuangan ini mendampingi transaksi perdagangan antara
para pedagang (dengan pengecualian transaksi barter atau counter-
trade).
11


internasional) tunduk pada prinsip-prinsip hukum internasional publik,
dalam hal ini prinsip hukum perjanjian internasional.
9
Secretary General Report, op.cit., para. 10.
10
Rafiqul Islam, International Trade Law, NSW: LBC, 1999, hlm. 1.
Sarjana-sarjana dewasa ini cenderung untuk membagi ruang lingkup
perdagangan internasional ke dalam dua bagian:perdagangan barang dan
jasa (sebagaimana halnya dengan Rafiqul Islam di atas). Lihat misalnya,
Pablo Vilanueva, "Patterns and Trends in World Trade," dalam: Jonathan
Reuvid (ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan page
(tt), hlm 3. (Villanueva menggambarkan bidang perdagangan internasional
ke dalam dua bidang: (1) Perdagangan barang (merchandise trade) yang
mencakup mineral, produk pertanian, barang industri; dan (2) jasa
komersial (commercial services) yang mencakup perbankan, konsultasi dan
pariwisata).
11
Pengecualian terhadap kedua bentuk transaksi tersebut karena memang
untuk kedua transasi tersebut tidak terkait dengan adanya hubungan
keuangan. (Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1).
Dengan adanya keterkaitan erat antara perdagangan
internasional dan keuangan, Rafiqul Islam mendefinisikan "hukum
perdagangan dan keuangan ("international trade and finance law")
sebagai suatu kumpulan aturan, prinsip, norma dan praktek yang
menciptakan suatu pengaturan (regulatory regime) untuk transaksi-
transaksi perdagangan transnasional dan sistem pembayarannya,
yang memiliki dampak terhadap perilaku komersial lembaga-lembaga
perdagangan.
12
Kegiatan-kegiatan komersial tersebut dapat dibagi
ke dalam kegiatan "komersial" yang berada dalam ruang lingkup
hukum perdata internasional atau Conflict of Laws; perdagangan
antar pemerintah atau antar negara, yang diatur oleh hukum
internasional publik.
13

Dari batasan tersebut tampak bahwa ruang lingkup hukum
perdagangan internasional sangat luas.
14
Karena ruang lingkup
kajian bidang hukum ini sifatnya adalah lintas batas atau
transnasional, konsekuensinya adalah terkaitnya lebih dari satu
sistem hukum yang berbeda.
c. Definisi Michelle Sanson
Sarjana lainnya yang mencoba memberi batasan bidang hukum
ini adalah sarjana Australia Sanson. Sanson memberi batasan
bidang ini sesuai dengan pengeritan kata-kata dari bidang hukum
ini, yaitu hukum, dagang dan internasional (dengan kata dasar
nasion atau negara).
Hukum perdagangan internasional menurut definisi Sanson
‘can be defined as the regulation of the conduct of parties

12
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
13
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1. Selengkapanya Rafiqul Islam menulis
sebagai berikut: "international trade and finance law is a body of
rules, principles, norms and their associated payments systems, with a
controlling impact on the commercial behaviour of the trading
entities").
14
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
involved in the exchange of goods, services and technology
between nations.’
15

Definisi di atas sederhana. Ia tidak menyebut secara jelas
bidang hukum ini jatuh ke bidang hukum yang mana: hukum privat,
publik, atau hukum internasional. Sanson hanya menyebut bidang
hukum ini adalah the regulation of the conduct of parties. Para
pihaknya pun dibuat samar, hanya disebut parties. Sedangkan obyek
kajiannya, Sanson agak jelas: yaitu jual beli barang, jasa dan
teknologi.
Meskipun memberi definisi yang mengambang tersebut, Sanson
membagi hukum perdagangan internasional ini ke dalam dua bagian
utama, yaitu hukum perdagangan internasional publik (public
interntional trade law) dan hukum perdagangan internasional
privat (private international trade law).
16

Yang pertama, public international trade law adalah hukum
yang mengatur perilaku dagang antar negara. Sedangkan yang kedua,
private international trade law adalah hukum yang mengatur
perilaku dagang secara orang perorangan (private traders) di
negara-negara yang berbeda.
17

Meskipun ada pembedaan ini, namun para sarjana mengakui
bahwa batas-batas kedua istilah ini pun sangat sulit untuk dibuat
garis batasnya. Sanson menyatakan bahwa ‘the modern development
is that the distinction between publik and privat international
trade law has less meaning.’
18


15
M. Sanson, Essential International Trade Law, Sydney: Cavendish,
2002, hlm. 3.
16
M. Sanson, op.cit., hlm. 4. Lihat pula pendekatan Rafiqul Islam,
supra, dan Schmitthoff, supra..
17
M. Sanson, op.cit., hlm. 4.
18
M. Sanson, op.cit., hlm. 4. Sanson dengan benar memberi contoh
tentang hukum WTO. Perjanjian WTO adalah bidang hukum perdagangan
internasional publik. Tetapi aturan hukumnya terjewantahkan ke dalam
bidang-bidang privat, misalnya saja dalam hal tarif, dumping,
perpajakan. (Ibid).
Mirip dengan Sanson, Rafiqul Islam melihat hubungan atau
keterkaitan ini juga sulit untuk tidak bersentuhan dan saling
mempengaruhi. Beliau menulis:
‘The effect of public international law on private
transactons is indirect but can be very profound in certain
aspects. Some such aspects of private transactions will be
considered merely because public international law has
shaped, or is in the process of reshaping, their legal
order.’
19


d. Definisi Hercules Booysen
Booysen sarjana Afrika Selatan tidak memberi definisi
secara tegas. Beliau menyadari bahwa ilmu hukum sangatlah
kompleks. Karena itu, upaya untuk membuat definisi bidang hukum,
termasuk hukum perdagangan internasional, sangatlah sulit dan
jarang tepat.
20

Karena itu dalam upayanya memberi definisi tersebut, beliau
hanya mengungkapkan unsur-unsur dari definisi hukum perdagangan
internasional. Menurut beliau ada tiga unsur, yakni:
(1) Hukum perdagangan internasional dapat dipandang sebagai suatu
cabang khusus dari hukum internasional (international trade
law may also be regarded as a specialised branch of
international law).
(2) Hukum perdagangan internasional adalah aturan-aturan hukum
internasional yang berlaku terhadap perdagangan barang, jasa
dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI).
(International trade law can be described as those rules of
international law which are applicable to trade in goods,
services and the protection of intellectual property).
Bentuk-bentuk hukum perdagangan internasional seperti ini

19
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
20
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm). Bandingkan dengan pendapat Reuvid, bahwa istilah
‘Perdagangan internasional’ mencakup bidang dan teknik dagang yang
sangat luas (‘internasional trade covers a bewildering mumber of
activities and procedures’ (Jonathan Reuvid, (ed.), hlm. xv).)
misalnya saja adalah aturan-aturan WTO, perjanjian
multilateral mengenai perdagnagan mengenai barang seperti
GATT, perjanjian mengenai perdagangan di bidang jasa
(GATS/WTO, dan perjanjia mengenai aspek-aspek yang terkait
dengan HAKI (TRIPS).
21

Dalam lingkup definisi ini diakui bahwa negara bukanlah
semata-mata pelaku utama dalam bidang perdagangan
internasional. Negara lebih berperan sebagai regulator
(pengatur). Karena itu hukum perdagangan internasional juga
mencakup aturan-aturan internasional mengenai transaksi-
transaksi nyata yang bersifat internasional dari para
pedagang (international law merchants). Karenanya,
international law merchants ini adalah bagian dari hukum
perdagangan internasional.
22

(3) Hukum perdagangan internasional terdiri dari aturan-aturan
hukum nasional yang memiliki atau pengaruh langsung terhadap
perdagangan internasional secara umum. Karena sifat aturan-
aturan hukum nasional tersebut, maka atura-aturan tersebut
merupakan bagian dari hukum perdagangan internasional. contoh
dari aturan hukum nasional seperti itu adalah perundang-
undangan yang ekstrateritorial (the extraterritorial
legislation).
23

Dari 4 (empat) definisi di atas tampak semuanya ada
benarnya. Tetapi penulis lebih pro kepada definisi Rafiqul Islam.
Dari batasan Rafiqul Islam di atas, tampak adanya keterkaitan
erat antara hukum perdagangan internasional dengan hukum
internasional publik. Memang sekilas tampak bahwa dampak dan
pengaruh hukum internasional publik ini tidak langsung. Namun
demikian pengaruh ini dapat berdampak cukup luas terhadap

21
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
22
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
23
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
beberapa aspek dari hukum perdagangan internasional. Hal ini
disebabkan karena hukum internasional publik dalam beberapa hal
telah membentuk dan sedang dalam proses pembentukan ketentuan-
ketentuan yang mengatur aspek-aspek perdata dari transaksi
perdagangan internasional.
24



24
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
2. Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional
a. Hubungan antara Hukum Perdagangan Internasional dan Bidang
Hukum lainnya
Satu catatan lain yang juga penting adalah hubungan antara
hukum perdagangan internasional dan hukum lainnya yang terkait
dengan perdagangan internasional. Di bagian awal tulisan ini
tampak luasnya bidang cakupan hukum perdagangan internasional
ini. Luasnya bidang cakupan membuat cakupan yang dikajinya sulit
untuk tidak tumpang tindih dengan bidang-bidang lainnya. Misalnya
dengan hukum ekonomi internasional, hukum transaksi bisnis
internasional, hukum komersial internasional, dll.
25

Catatan di atas menunjukkan kedudukan penulis yang mengakui
adanya keterkaitan antara hukum perdagangan internasional dengan
hukum internasional. Di sisi lain, penulis berpendirian bahwa
hukum ekonomi internasional adalah juga bagian atau cabang dari
hukum internasional.
26

Masalahnya adalah di mana letak atau garis batas di antara
hukum perdagangan dengan bidang-bidang hukum lain disebut di
atas, khususnya hukum ekonomi internasional. Ada bidang-bidang
yang sama-sama tunduk pada dua bidang hukum ini. Misalnya saja,
pembahasan mengenai subyek-subyek dan sumber-sumber dari kedua
bidang hukum sedikit banyak hampir sama.
27

Sementara ini pendekatan yang ditempuh untuk membedakan
kedua bidang hukum ini adalah melihat subyek hukum yang tunduk
kepada kedua bidang hukum tersebut. Hukum ekonomi internasonal
lebih banyak mengatur subyek hukum yang bersifat publik (policy),
seperti misalnya hubungan-hubungan di bidang ekonomi yang
dilakukan oleh negara atau organisasi internasional. Sedangkan

25
Cf., M. Sanson, op.cit., hlm. 2.
26
Lihat buku penulis, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar,
Jakarta: Rajagrafindo, cet. 3, 2003, Bab I.
27
Lihat lebih lanjut mengenai hukum ekonomi internasional ini, buku
penulis, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar, Jakarta:
Rajagrafindo, cet. 3, 2003, Bab I dst.
hukum perdagangan internasional lebih menekankan kepada hubungan-
hubungan hukum yang dilakukan oleh badan-badan hukum privat.
Dalam kenyataannya pendirian tersebut tidak begitu valid.
Hukum ekonomi internasional dalam kenyataannya juga mengatur
kegiatan-kegiatan atau transaksi-transaksi badan hukum privat
atau yang terkait dengan kepentingan privat, misalnya mengenai
perlindungan dan nasionalisasi atau ekspropriasi perusahaan
asing. Selain itu, meskipun hukum ekonomi internasional mengatur
subyek-subyek hukum publik atau negara, namun aturan-aturan
tersebut bagaimana pun juga akan berdampak pada individu atau
subyek-subyek hukum lainnya di dalam wilayah suatu negara.

b. Hukum Perdagangan Internasional Bersifat Interdisipliner

Karakteristik lain dari hukum perdagangan internasional ini
adalah pendekatannya yang interdisipliner. Untuk dapat memahami
bidang hukum ini secara komprehensif, dibutuhkan sedikit banyak
bantuan disiplin-disiplin (ilmu) lain. Dalam bidang hukum ini
terkait dengan bidang pengangkutan (darat, udara dan khususnya
laut). Hal ini membutuhkan bantuan dan pemahaman disiplin ilmu
pelayaran.
Keterkaitan dengan pembayaran dalam perdagangan
internasional akan terkait dengan praktik perbankan dan lembaga
keuangan lainnya. Hal ini membutuhkan bantuan dan pemahaman
disiplin ilmu perbankan dan keuangan.
Keterkaitan dengan perdagangan itu sendiri akan terkait
dengan praktik dan teknik-teknik perdagangan. Hal ini membutuhkan
bantuan dan pemahaman ilmu praktik perdagangan.
Disiplin-disiplin ilmu lainnya yang terkait lainnya
misalnya adalah teknologi, ekonomi. Yang juga penting adalah ilmu
politik, yaitu bagaimana kebijakan politik suatu negara yang
berpengaruh terhadap kebijakan dagang suatu negara.

B. Prinsip-prinsip Dasar Hukum Perdagangan Internasional
Prinsip-prinsip dasar (fundamental principles) yang dikenal
dalam hukum perdagangan internasional diperkenalkan oleh sarjana
hukum perdagangan internasional Profesor Aleksancer Goldštajn.
Beliau memperkenalkan 3 (tiga) prinsip dasar tersebut, yaitu (1)
prinsip kebebasan para pihak dalam berkontrak (the principle of
the freedom of contract); (2) prinsip pacta sunt servanda; dan
(3) prinsip penggunaan arbitrase.
28

1. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak
Prinsip pertama, kebebasan berkontrak, sebenarnya adalah
prinsip universal dalam hukum perdagangan internasional. Setiap
sistem hukum pada bidang hukum dagang mengakui kebebasan para
pihak ini untuk membuat kontrak-kontrak dagang (internasional).
Schmitthoff menanggapi secara positif kebebasan pertama
ini. Beliau menyatakan:
“The autonomy of the parties’ will in the law of contract
is the foundation on which an autonomous law of
international trade can be built. The national sovereign
has,..., no objection that in that area an autonomous law
of international trade is developed by the parties,
provided always that that law respects in every national
jurisdiction the limitations imposed by public policy.”
29

Kebebasan tersebut mencakup bidang hukum yang cukup luas.
Ia meliputi kebebasan untuk melakukan jenis-jenis kontrak yang
para pihak sepakati. Ia termasuk pula kebebasan untuk memilih
forum penyelesaian sengketa dagangnya. Ia mencakup pula kebebasan
untuk memilih hukum yang akan berlaku terhadap kontrak, dll.
Kebebasan ini sudah barang tentu tidak boleh bertentangan
dengan UU, kepentingan umum, kesusilaan, kesopanan, dan lain-lain
persyaratan yang ditetapkan oleh masing-masing sistem hukum.
2. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda

28
Aleksander Goldštajn, “The New Law of Merchant,” (1961) JBL 12.
29
Clive M. Schmitthoff, Commercial Law in a Changing Economic Climate,
London: Sweet and Maxwell, 1981, hlm. 22. (Selanjutnya disebut
“Commercial Law”).
Prinsip kedua, pacta sunt servanda adalah prinsip yang
mensyaratkan bahwa kesepakatan atau kontrak yang telah
ditandatangani harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (dengan
itikad baik). Prinsip ini pun sifatnya universal. Setiap sistem
hukum di dunia menghormati prinsip ini.
3. Prinsip Dasar Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase
Prinsip ketiga, prinsip penggunaan arbitrase tampaknya
terdengar agak ganjil. Namun demikian pengakuan Goldštajn
menyebut prinsip ini bukan tanpa alasan yang kuat. Arbitrase
dalam perdagangan internasional adalah forum penyelesaian
sengketa yang semakin umum digunakan. Klausul arbitrase sudah
semakin banyak dicantumkan dalam kontrak-kontrak dagang.
30
Oleh
karena itulah prinsip ketiga ini memang relevan.
Goldštajn menguraikan kelebihan dan alasan mengapa
penggunaan arbitrase ini beliau jadikan prinsip dasar dalam hukum
perdagangan internasional:
“Moreover, to the extent that the settlement of differences
is referred to arbitration, a uniform legal order is being
created. Arbitration tribunals often apply criteria other
than those applied in courts. Arbitrators appear more ready
to interpret rules freely, taking into account customs,
usage and business practice. Further, the fact that the
enforcement of foreign arbitral awards is generally more
easy than the enforcement of foreign court decisions is
conducive to a preference for arbitration.”
31

4. Prinsip Dasar Kebebasan Komunikasi (Navigasi)
Di samping tiga prinsip dasar tersebut, prinsip dasar
lainnya yang menurut penulis relevan adalah prinsip dasar yang
dikenal dalam hukum ekonomi internasonal, yaitu prinsip kebebasan
untuk berkomunikasi (dalam pengertian luas, termasuk di dalamnya
kebebasan bernavigasi). Komunikasi atau navigasi adalah kebebasan
para pihak untuk berkomunikasi untuk keperluan dagang dengan
siapa pun juga dengan melalui berbagai sarana navigasi atau

30
Lihat secara khusus, Rene David, Arbitration in International Trade,
The Hague: Kluwer, 1985 (membahas panjang lebar tentang peran arbitrase
dalam perdagangan internasional).
31
Aleksander Goldštajn, “The New Law of Merchant,” (1961) JBL 12.
komunikasi, baik darat, laut, udara, atau melalui sarana
elektronik. Kebebasan ini sangat esensial bagi terlaksananya
perdagangan internasional. Aturan-aturan hukum (internasional)
memfasilitasi kebebasan ini.
32

Dalam berkomunikasi untuk maksud berdagang ini kebebasan
para pihak tidak boleh dibatasi oleh sistem ekonomi, sistem
politik, atau sistem hukum. Bandingkan dengan pendapat profesor
Goldštajn di bawah ini ketika beliau membahas hubungan antara
sistem ekonomi dan politik dalam kaitannya dengan hukum
perdagangan internasional:
“The law governing trade transactions is neither capitalist
nor socialist; it is a means to an end, and therefore, the
fact that the beneficiaries of such transactions are
different in this or that country is no obstacle to the
development of international trade. The law of
international trade is based on the general principles
accepted in the entire world.”
33
(Huruf miring oleh
penulis).
Pernyataan terakhir Goldštajn di atas, yaitu bahwa hukum
perdagangan internasional didasarkan pada prinsip-prinsip umum
yang diterima di seluruh dunia menyatakan seolah-seolah hukum
perdagangan internasional dapat diterima oleh sistem hukum di
dunia. Pendapat ini benar. Sarjana terkemuka lainnya, Profesor
Tammer, memperkuat pernyataan tersebut:
“The law of external trade of the countries of planned
economy does not differ in its fundamental principles from
the law of external trade of other countries, such as,
e.g., Austria or Switzerland. Consequently, international
trade law specialists of all countries have found without
difficulty that they speak a ‘common language.”
34



32
Lihat lebih lanjut, Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali pers, cet. 3, 2003, hlm. 29.
33
Schmitthoff, op.cit., (Commercial Law), hlm. 19.
34
Schmitthoff, ‘The Unification of the Law of Internatioal Trade,’
(1968) JBL 109 (mengutip Tammer, The Sources of the Law International
Trade, 1964, hlm. 42).
C. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional
Hubungan-hubungan perdagangan internasional antar negara
sudah ada sejak lama. Hubungan-hubungan ini sudah ada sejak
adanya negara-negara dalam arti negara kebangsaan, yaitu bentuk-
bentuk awal negara dalam arti modern. Perjuangan negara-negara
ini untuk memperoleh kemandirian dan pengawasan (kontrol)
terhadap ekonomi internasional telah memaksa negara-negara ini
untuk mengadakan hubungan-hubungan perdagangan yang mapan dengan
negara-negara lainnya. Mereka menyadari bahwa perdagangan adalah
satu-satunya cara untuk pembangunan ekonomi mereka.
35

Seperti telah dikemukakan di awal tulisan ini, sejak dulu
dan bahkan dewasa ini semakin banyak negara sadar bahwa kebijakan
menutup diri sudah jauh-jauh ditinggalkan. Pendirian ini semakin
mendorong negara untuk memperluas aktivitas perdagangannya.
36

Cara pandang ini sedikit banyak dilatarbelakangi dan
dipengaruhi oleh beberapa aliran atau teori ekonomi. Pada awal
perkembangannya, terutama abad ke 15 dan 16, teori atau aliran
yang mula lahir adalah teori merkantilisme. Para merkantilis
berpendirian perdagangan internasional sebagai instrumen
kebijakan nasional. Mereka menekankan pentingnya ekspor sebesar-
besarnya dan menekan impor serendah-rendahnya. Keuntungan dari
selisih ekspor - impor merupakan keuntungan bagi negara (yang
waktu itu diwujudkan dalam bentuk emas).
Reaksi dari aliran itu adalah teori keunggulan komparatif
yang diperkenalkan oleh David Ricardo (1772-1823). Ricardo
menekankan spesialisasi dari hasil suatu produk. Smith menganggap
perdagangan internasional sebagai salah satu bagian dari
keunggulan komparatif (principle of comparative advantage). Teori
beliau menyatakan bahwa untuk menjadi pemain utama dalam

35
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 1.
36
Lihat antara lain: Ademuni-Odeke, The Law of International Trade,
London: Blackstone, 1999, hlm. 3-4.
perdagangan, faktor yang penting bukanlah ukuran, tetapi
bagaimana memaksimalkan potensi.
37

Contoh klasik adalah Jepang. Dari segi geografis, kekayaan
alam dan luas wilayah, Jepang relatif kurang beruntung. Tetapi
dengan kekuatan manajemen dalam perdagangan internasionalnya,
negeri ini berhasil menjadikannya sebuah negara yang paling
penting di dunia dewasa ini.
Semakin luasnya aktivitas perdagangan ini yang dewasa ini
dikenal dengan "liberalisasi perdagangan", sistem keuangan atau
pasar internasional yang stabil untuk memberikan modal untuk
melaksanakan perdagangan internasional tersebut. Karena itu,
keterkaitan antara perdagangan internasional dan sistem keuangan
atau moneter internasional menjadi semakin penting.
38

Tidak terlalu mengherankan apabila masyarakat internasional
kemudian menyelenggarakan konperensi Bretton Woods guna
mendirikan Bank Dunia - IMF untuk maksud ini. Berdirinya ke-2
lembaga keuangan ini semata-mata untuk menjaga agar sistem
moneter internasional dapat terpelihara (stabil) dan juga memberi
pinjaman jangka pendek guna menanggulangi kesulitan neraca
pembayaran yang disebabkan oleh adanya defisit perdagangan
ekspor-impor negara-negara.
39
Krisis keuangan internasional pada
tahun 1970-an juga telah mempertegas pentingnya hubungan erat
ini.
Dalam upaya negara-negara ini meningkatkan pertumbuhan
ekonomi mereka, dewasa ini mereka cenderung membentuk blok-blok
perdagangan baik bilateral, regional maupun multilateral. Dalam
kecenderungan ini pun peran perjanjian internasional menjadi
semakin penting.
40


37
Lihat misalnya, Ademuni-Odeke, Ibid., hlm. 3-4, M. Sanson, op.cit.,
hlm. 3; Jonathan Reuvid, op.cit., para. xv.
38
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
39
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
40
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
Semakin pentingnya peran perjanjian-perjanjian di bidang
ekonomi atau perdagangan ini pun telah melahirkan aturan-aturan
yang mengatur perdagangan internasional di bidang barang, jasa
dan penamaman modal di antara negara-negara.
41

Tujuan hukum perdagangan internasional sebenarnya tidak
berbeda dengan tujuan GATT (General Agreement on Tariffs and
Trade, 1947) yang termuat dalam Preambule-nya. Tujuan tersebut
adalah:
(a) untuk mencapai perdagangan internasional yang stabil dan
menghindari kebijakan-kebijakan dan praktek-praktek
perdagangan nasional yang merugikan negara lainnya.
(b) untuk meningkatkan volume perdaganan dunia dengan menciptakan
perdagangan yang menarik dan menguntungkan bagi pembangunan
ekonomi semua negara;
(c) meningkatkan standar hidup umat manusia; dan
(d) meningkatkan lapangan tenaga kerja.
Tujuan lainnya yang juga relevan adalah:
(e) untuk mengembangkan sistem perdagangan multilateral, bukan
sepihak suatu negara tertentu, yang akan mengimplementasikan
kebijakan perdagangan terbuka dan adil yang bermanfaat bagi
semua negara;
42
dan
(f) meningkatkan pemanfaatan sumber-sumber kekayaan dunia dan
meningkatkan produk dan transaksi jual beli barang.
43

Ada pula yang menyatakan bahwa aturan-aturan perdagangan
internasional juga pada analisis akhirnya akan menciptakan
perdamaian dan keamanan internasional. Hal ini antara lain
dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri AS, Hull. Tesis ini tampaknya

41
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2.
42
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2. Lihat pula tujuan menurut Aleksander
Goldštajn yang menyatakan: “only deliberate regulation on the
international level will make it possible to do justice, on the basis
of equality, to the interests and general welfare of all members of the
international community.” (Aleksander Goldštajn, “The New Law of
Merchant,” (1961) JBL 12.
benar. Manakala dua atau lebih negara berhubungan dan
bertransaksi dagang dan mereka memperoleh keuntungan dari
perdagangan tersebut, otomatis keadaan dunia menjadi sedikit
banyak lebih baik. Artinya, situasi dan kondisi dunia akan
semakin kondusif.
Sebenarnya tesis Hull tersebut sudah lama dikumandangkan
oleh Immanuel Kant, yang selama ini dikenal juga sebagi bapak
hukum internasional. Dalam tulisannya berjudul ‘On Eternal
Peace,’ Kant menyatakan bahwa ‘spirit of trade could not co-exist
with war.’
44

Yang juga cukup menarik adalah tesis Hull di atas juga
telah cukup lama disadari di tanah air. Salah seorang kepala suku
Bugis ternama, yaitu Amanna Gappa, juga menyadari bahwa tujuan
(unifikasi) hukum dagang adalah untuk mencegah persaingan di
antara suku bangsanya dan juga memajukan kerjasama di antara
mereka guna kesejahteraan di antara mereka.
45
Terjemahan saduran
hasil penelitian terhadap suku terkenal Bugis ini yang terkenal
dengan hukum pelayaran dan dagangnya tergambarkan sebagai
berikut:
“One of thse chiefs was Amanna Gappa (=father of Gappa) who
headed his countrymen at Makassar. Most probably he was a
very intelligent and energetic man and he may have been the
first to realize the great importance of navigation and
trade for his people as the only fields of endeavour in
which they could earn a living. We may assume that this was
the bacground of his taking initiative in inviting his
colleagues from other parts of Indonesia in order to
collect the different rules which were in force in their
respective regions and to compile a uniform navigation and
trade law. By doing so he tried to prevent heavy
competition among his countrymen and to stimulate co-
operation for their own welfare.”
46
(Huruf miring oleh
kami).

43
Cf., Preamble GATT dan Preamble Perjanjian WTO (Marrakesh Agreement
Establishing The World Trade Organization).
44
Lihat, Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law and Practice, Bath:
Euromoney, 1983, hlm. Xxi.
45
Lihat lebih lanjut, PH. O.L. Tobing, op.cit., hlm. 154.
46
Lihat lebih lanjut, PH. O.L. Tobing, op.cit., hlm. 154.
Meskipun adanya tujuan bagus tersebut di atas, hukum
perdagangan internasional masih memiliki cukup banyak kelemahan.
Kelemahan tersebut tampaknya juga dapat ditemui dalam bidang-
bidang hukum lainnya, yakni terdapatnya pengecualian-pengecualian
atau klausul-klausul 'penyelamat' yang bersifat memperlonggar
kewajiban-kewajiban hukum. Kelemahan spesifik tersebut yaitu:
(a) hukum perdagangan internasional sebagian besar bersifat
pragmatis dan permisif. Hal ini mengakibatkan aturan-aturan
hukum perdagangan internasional kurang obyektif di dalam
'memaksakan' negara-negara untuk tunduk pada hukum. Dalam
kenyataannya, negara-negara yang memiliki kekuatan politis dan
ekonomi memanfaatkan perdagangan sebagai sarana kebijakan
politisnya.
(b) Aturan-aturan hukum perdagangan internasional bersifat
mendamaikan dan persuasif (tidak memaksa). Kelemahan ini
sekaligus juga kekuatan bagi perkembangan hukum perdagangan
internasional yang menyebabkan atau memungkinkan perkembangan
hukum ini di tengah krisis.
47




47
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 2-3.
D. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional
Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagangan
internasional telah ada sejak lahirnya negara dalam arti modern.
Sejak saat itu, hukum perdagangan internasional telah mengalami
perkembangan yang cukup pesat sesuai dengan perkembangan
hubungan-hubungan perdagangan.
Dilihat dari perkembangan sumber hukumnya (dalam arti
materil), maka perkembangan hukum perdagangan internasional dapat
dikelompokkan ke dalam 3 tahap, yakni:
(1) Hukum perdagangan internasional dalam masa awal pertumbuhan.
Hukum perdagangan internasional lahir pada awalnya dari
praktek para pedagang. Hukum yang diciptakan oleh para pedagang
ini lazim disebut pula sebagai lex mercatoria (law of merchant).
48

Pada awal perkembangannya ini Lex Mercatoria tumbuh dari
adanya 4 faktor berikut:
(a) lahirnya aturan-aturan yang timbul dari kebiasaan dalam
berbagai pekan raya (the law of the fairs);
(b) lahirnya kebiasaan-kebiasaan dalam hukum laut;
(c) lahirnya kebiasaan-kebiasaan yang timbul dari praktek
penyelesaian sengketa-sengketa di bidang perdagangan; dan
(d) berperannya notaris (public notary) dalam memberi pelayanan
jasa-jasa hukum(dagang).
49

(2) Hukum perdagangan internasional yang dicantumkan dalam hukum
nasional
Dalam tahap perkembangan ini, negara-negara mulai sadar
perlunya pengaturan hukum perdagangan internasional. Mereka lalu
mencantumkan aturan-aturan perdagangan internasional dalam kitab

48
United Nations, Progressive Development of the Law of Internatoinal
Trade: Report of the Secretary-General of the United Nations, 1966,
para. 20; Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essay on
International Trade Law, Doredrecht/Boston/London: Martinus Nijhoff &
Graham & Trotman, 1988, hlm. 21.
49
Schmitthoff, “The Unification of the Law of International Trade,”
(1968) JBL 106.
undang-undang hukum (perdagangan internasional) mereka. Aturan-
aturan tersebut sedikit banyak adalah aturan-aturan yang mereka
adopsi dari lex mercatoria. Misalnya saja Perancis membuat Kitab
Undang-undang Hukum Dagang-nya (code de commerce) tahun 1807,
Jerman menerbitkan Allgemeine Handelsgezetbuch tahun 1861, dll.
50

(3) Lahirnya aturan-aturan hukum perdagangan internasional dan
Munculnya Lembaga-lembaga Internasional yang mengurusi
Perdagangan Internasional.
Dalam perkembangan ketiga ini, aturan-aturan hukum
perdagangan internasional lahir sebagian besar karena dipengaruhi
oleh semakin banyaknya berbagai perjanjian internasional yang
ditandatangani baik secara bilateral, regional, maupun
multilateral.
51

Secara khusus tahap ketiga ini muncul secara signifikan
setelah berakhirnya Perang Dunia II. Salah satu perjanjian
multilateral yang ditandangani pada masa ini adalah disepakati
lahirnya GATT tahun 1947. Tahap ketiga ini disebut juga dengan
tahap “internationalism”. Schmitthoff menyatakan sebagai berikut:
“We are beginning to rediscover the international character
of commercial law and the circle now contemplates itself:
the general trend of commercial law everywhere is to move
away from the restrictions of national law to a universal,
international conception of the law of international
trade.”
52

Sejak berdiri hingga dewasa ini aturan-aturan perdagangan
GATT telah berkembang dan mengalami pembangunan yang cukup
penting. Bahkan dalam putaran perundingan tahun 1986-1994,
negara-negara anggota GATT telah sepakat untuk membentuk suatu
badan atau lembaga internasional baru, yaitu WTO.
Perubahan dari GATT ke WTO berdampak luas terhadap bidang
hukum perdagangan internasional. Alasannya, bidang pengaturan

50
United Nations, op.cit., para. 20; Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit.,
hlm. 48.
51
United Nations, op.cit., para. 20.
52
Schmitthoff, “The Unification of the Law of International Trade,”
(1968) JBL 108.
yang tercakup di dalam WTO sekarang ini adalah kompleks. Ia tidak
semata-mata lagi mengatur tarif dan barang, tetapi juga mengatur
jasa, hak kekayaan intelektual, penanaman modal, lingkungan,
dll.
53

Ciri kedua dalam perkembangan tahap ketiga ini yakni
munculnya organisasi internasional. Salah satu badan yang
menonjol adalah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sebetulnya
peran PBB di bidang perdagangan internasional tidaklah langsung.
Peran PBB di bidang ekonomi dan perdagangan ini termuat dalam
pasal 1:3 Piagam PBB, yakni aturan tentang tujuan PBB yakni
mencapai kerjasama internasional di dalam antara lain
menyelesaikan masalah-masalah ekonomi internasional.
Tujuan-tujuan PBB di atas diupayakan pemenuhannya melalui
berbagai langkah berikut:
i. Negara-negara anggota PBB mendirikan the United Nations
Conference on Trade and Development (UNCTAD) pada tahun 1964.
Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kesempatan yang lebih
besar kepada negara sedang berkembang untuk ikut serta dalam
merumuskan kebijakan-kebijakan perdagangan, dengan memperhatikan
kepentingan-kepentingan khusus negara-negara sedang berkembang
ini.
54

ii. negara-negara anggota PBB mengesahkan the Charter of Economic
Rights and Duties of States pada tahun 1974 (serta disahkannya
the Declaration and Programme of Action on the Establishment of
the New International Economic Order). Pembentukan Piagam ini
diawali dengan langkah Majelis Umum PBB mengesahkan the
International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights
pada tahun 1966.

53
Uraian tentang perkembangan dari GATT ke WTO, lihat antara lain: Ray
August, Internatoinal Business Law: Text, Cases and Readings, New
Jersey: Prentice Hall, 3
rd
.ed., 2000, hlm. 355-360.
54
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 6.
Dokumen-dokumen penting ini pada pokoknya mengakui dan
memberi perlakuan khusus kepada negara-negara sedang berkembang
di bidang perdagangan, keuangan dan penanaman modal.
55

Ciri ketiga yang juga menonjol adalah disepakatinya
pendirian badan-badan ekonomi regional di suatu kawasan region
tertentu. Blok perdagangan regional yang mula-mula membawa
pengaaruh cukup luas adalah the European Single Market (1992) dan
segera diikuti oleh blok perdagangan Amerika Utara (The North
American Free Trade Agreeement atau NAFTA) (1994).
Di kawasan Asia Tenggara, negara-negara ASEAN mengikuti
langkah serupa dengan membentuk Asean Free Trade Area (AFTA).
AFTA berlaku efektif sejak 1 Januari 2003.
56

Kecenderungan pembentukan kelompok-kelompok regional ini di
satu sisi positif. Namun di sisi lain organisasi-organisasi
regional tersebut menimbulkan kekhawatiran dari masyarakat
internasional karena terdapatnya blok-blok perdagangan tersebut
melahirkan peraturan-peraturan regional eksklusif yang ternyata
menyimpangi ketentuan-ketentuan umum yang terdapat dalam
GATT/WTO.

55
Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 6.
56
Uraian lebih lanjut mengenai AFTA ini lihat: Huala Adolf, Hukum
Ekonomi Internasional ..., op.cit., hlm. 110-124.
E. Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional
1. Perlunya Unifikasi dan Harmonisasi Hukum
Di atas dikemukakan bahwa negara-negara mencantumkan
atuaran-aturan hukum perdagangan internasional dalam hukum
nasionalnya. Aturan-aturan hukum nasional di bidang perdagangan
internasional ini karenanya menjadi sumber hukum yang cukup
penting dalam hukum perdagangan internasional.
Tetapi adanya berbagai aturan hukum nasional ini sedikit
banyak kemungkinan dapat berbeda antara satu sama lainnya.
Perbedaan ini kemudian dikhawatirkan akan juga mempengaruhi
kelancaran transaksi perdagangan itu sendiri.
Masalah ini sebelumnya sudah cukup lama disadari oleh
bangsa-bangsa di dunia, termasuk organisasi dunia PBB. Dalam
resolusi Majelis Umum PBB No 2102 (XX), PBB menyatakan bahwa:
"Conflicts and divergencies arising from the laws of different
states in matters relating to international trade constitute an
obstacle to the development of world trade."
57

Untuk menghadapi masalah ini, sebenarnya ada 3 teknik yang
dapat dilakukan. Pertama, negara-negara sepakat untuk tidak
menerapkan hukum nasionalnya. Sebaliknya mereka menerapkan hukum
perdagangan internasional untuk mengatur hubungan-hubungan hukum
perdagangan mereka.
Kedua, apabila aturan hukum perdagangan internasional tidak
ada dan atau tidak disepakati oleh salah satu pihak, maka hukum
nasional suatu negara tertentu dapat digunakan. Cara penentuan
hukum nasional yang akan berlaku dapat digunakan melalui
penerapan prinsip choice of laws. Choice of Laws adalah klausul
pilihan hukum yang disepakati oleh para pihak yang dituangkan
dalam kontrak (internasional) yang mereka buat.
58


57
United Nations, op.cit., para. 14.
58
Klausul choice of law tidak wajib sifatnya untuk harus ada dalam
kontrak-kontrak internasional. Tetapi keberadaan klausul ini akan
sedikit banyak membantu para pihak dalam penyelesaian sengketanya
(apabila sengketa memang timbul) di kemudian hari (Lihat Sudargo
Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni, 1977, hlm. 26.
Ketiga, teknik yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan
unifikasi dan harmonisasi hukum aturan-aturan substantif hukum
perdagangan internasional.
59
Teknik ketiga ini dipandang cukup
efisien. Cara ini memungkinkan terhindarnya konflik di antara
sistem-sistem hukum yang dianut oleh masing-masing negara.
Kedua kata ini hampir sama maksudnya, namun ada nuansa atau
perbedaan yang perlu untuk dicatat. Kedua kata sama-sama berarti
upaya atau proses menyeragamkan substansi pengaturan sistem-
sistem hukum yang ada. Penyeragaman tersebut mencakup
pengintegrasian sistem hukum yang sebelumnya berbeda.
Perbedaan kedua kata tersebut terletak pada derajat
penyeragaman tersebut. Dalam unifikasi hukum, penyeragaman
mencakup penghapusan dan penggantian suatu sistem hukum dengan
sistem hukum yang baru.
60
Contohnya adalah pemberlakuan Perjanjian
TRIPS/WTO.
Dengan diperkenalkannya substansi bidang-bidang perjanjian
TRIPS/WTO yang mencakup ketentuan mengenai hak cipta, merek
dagang, indikasi geografis, disain industri, paten, dll.,
meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk membuat aturan-
aturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi perjanjian
TRIPS/WTO.

(Sudargo Gautama menulis: “Tegaslah apabila tidak dilakukan pilihan
hukum, maka berbagai kemungkinan dan berbagai kesulitan yang akan
timbul tentang hukum yang harus dipakai ii. Maka para lawyers condong
untuk selalu menganjurkan para clientnya jangan lewati kesempatan untuk
menentukan hukum yang berlaku itu. Dan jika mungkin, maka kamu harus
selalu pakai hukum nasional dari negaramu sendiri karena ini adalah
hukum yang paling kamu kenal dan paling dikenal oleh Hakim-Hakim yang
akan mengadili perkaramu itu”).
59
United Nations, op.cit., para. 15.
60
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 109. UNCITRAL, badan PBB yang
mengurus hukum perdagangan internasional menggambarkan perbedaan kedua
kata tersebut: “While the terms are closely interrelated,
"harmonization" may conceptually be thought of as the process through
which domestic laws may modified to enhance predictability in cross-
border commercial transactions; and "unification" may be seen as the
adoption by States of a common legal standard governing particular
aspects of international business transactions.”

(http://www.uncitral.org/en-index.htm).
Harmonisasi hukum tidak sedalam unifiksi hukum. Tujuan
utama harmonisasi hukum hanya berupaya mencari keseragaman atau
titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat fundamental dari
berbagai sistem hukum yang ada (yang akan diharmonisasikan).
61

Untuk dapat melaksanakan unifikasi dan harmonisasi hukum
ini karenanya hanya dapat dicapai oleh para ahli hukum yang
mendalami atau menguasai perbandingan hukum. Upaya ini dapat
dilakukan oleh suatu tim ahli perbandingan hukum yang terdiri
dari para ahli hukum yang berlatar belakang sistem hukum yang
berbeda-beda yang hendak diupayakan unifikasi dan harmonisasi
hukumnya.
Dalam upaya unifikasi dan harmonisasi hukum, masalah
esensialnya adalah bagaimana metode yang akan diterapkannya.
Dalam kaitan itu, masalah-masalah mengenai perbedaan konsepsi dan
perbedaan bahasa yang terdapat dalam berbagai sistem hukum
tersebut hanya dapat ditanggulangi dengan cara menerapkan metoda
komparatif.
62

Menurut Schmitthoff, dalam metode komparatif, dikenal 3
metode, yaitu metode dengan memberlakukan:
a. perjanjian/konvensi internasional (international convention);
b. hukum seragam (uniform laws); dan
c. aturan seragam (uniform rules).
63

Ad. a. Perjanjian atau Konvensi Internasional
Penerapan atau pemberlakuan perjanjian atau konvensi
internasional adalah cara yang paling banyak digunakan dalam

61
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 109.
62
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 109.
63
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 110. Cf., Katerina Pistor
mengemukakan pula (1) perjanjian bilateral sebagai instrumen untuk
unifikasi hukum (bandingkan dengan perjanjian internasional dari konsep
Schmitthoff); dan (2) aturan-aturan yang bersifat rekomendatif
(bandingkan dengan uniform laws and uniform rules-nya Schmitthoff).
(Katerina Pistor, "The Standardization of Law and Its Effect on
Developing Countries," 50 Am.J.Comp.L. 97 (2002). Pistor mengungkapkan
pula, dengan adanya upaya ini maka biaya utnuk transaksi dagang dapat
menjadi berkurang. Selain itu, yang juga penting, unifikasi hukum dapat
mencapai unifikasi hukum. Cara ini dipandang tepat untuk
memperkenalkan suatu ketentuan hukum yang bersifat memaksa ke
dalam sistem hukum nasional.
64
Pemberlakuan perjanjian TRIPS/WTO
di atas merupakan salah satu contoh.
Gambaran lainnya adalah CISG 1980 atau Konvensi mengenai
Kontrak Jual Beli Barang Internasional. Konvensi ini dapat
dipandang sebagai upaya mengunifikasi hukum kontrak jual beli
barang internasional. Para perancang konvensi ini telah berupaya
mengkawinkan prinsip-prinsip kontrak yang dikenal dalam sistem
hukum Civil Law dan sistem hukum Common Law.
Salah satu pembatasan cara ini adalah adanya kehendak dari
sesuatu negara untuk mengikatkan diri atau meratifikasi
perjanjian atau konvensi internasional tersebut. Dalam
kenyataannya, untuk mencapai kehendak tersebut banyak bergantung
pada faktor ekonomi, politis, juridis, dll.
b. Hukum seragam (Uniform Laws)
Hukum seragam tidak lain adalah model-model hukum yang
dapat kita lihat misalnya dalam model hukum arbitrase UNCITRAL
1985 (Model Law on International Commercial Arbitration). Model
hukum ini memberikan keleluasaan kepada negara-negara yang hendak
menerapkannya ke dalam hukum nasionalnya.
Keleluasaan tersebut mencakup keleluasaan kepada negara
yang bersangkutan apakah akan menerapkan secara penuh aturan-
aturan substantif Model Law. Kemungkinan lain, negara tersebut
memutuskan untuk menerapkannya dengan melakukan beberapa revisi
atau menerapkan beberapa pengecualian terhadap aturan-aturan di
dalamnya.
Sifat hukum seragam tidak mengikat. Ia hanya bersifat
persuasif. Karena itu derajat pengadopsian atau penerapannya
sangat bergantung kepada masing-masing negara. Model hukum ini

memberi sumbangan bagi perbaikan kualitas (lembaga-lembaga) hukum di
suatu negara (ibid).
64
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 110.
karena itu berbeda dengan perjanjian atau konvensi internasional.
Pada saat suatu negara turut serta, aksesi atau meratifikasi
suatu perjanjian atau konvensi internasional, maka pada
prinsipnya seluruh aturan perjanjian mengikat negara tersebut.
c. Aturan Seragam (Uniform Rules)
Aturan-aturan seragam lebih rendah tingkatannya daripada
hukum seragam (Uniform Laws). Bentuk aturan seragam tampak antara
lain dalam modal-model kontrak standar atau kontrak baku. Contoh
bentuk aturan seperti ini adalah the Uniform Customs and Practice
for Documentary Credits (1974) yang dikeluarkan oleh ICC. Aturan
hukum ini telah diterapkan dan dipraktekkan oleh para subyek
hukum perdagangan internasional di dunia.
65

Bentuk lainnya adalah klausul standar (baku) yang
dicantumkan oleh para pihak dalam kontrak-kontrak yang mereka
buat.
66
Tidak jarang pula lembaga-lembaga atau asosiasi-asosiasi
memperkenalkan klausul-klausul yang perlu dicantumkan dalam suatu
kontrak apabila para pihak hendak memanfaatkan fasilitas lembaga
atau asosiasi yang bersangkutan.
Hal ini antara lain banyak ditemui dalam klausul-klausul
arbitrase baik nasional maupun asing. Klausul-kluasul standar
arbitrase tersebut dimaksudkan agar para pihak tidak perlu lagi
merancang klausul choice of forum-nya, dalam hal ini arbitrase.
67

Bagaimana unifikasi dan harmonisasi dapat bekerja, agak
sulit untuk dipaparkan di sini. Namun demikian, Katerina Pistor,
guru besar di Columbia Law School, mengemukakan istilah yang
dinamakannya standardization of law (standardisasi hukum).
Maksud standardisasi di sini mengacu kepada suatu tahap
dari kekhususan dari suatu hukum (the level of specificity of
law). Standar hanya mencakup prinsip-prinsip hukum (legal

65
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 111.
66
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 111.
67
Lihat Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta:
Rajagrafindo, cet. 3, 2003.
principles), bukan atau tidak aturan-aturan hukumnya (legal
rules).
68

Upaya unifikasi dan harmonisasi hukum ini telah cukup
serius dilakukan khususnya oleh the World Trade Organization
(WTO), the International Institute for the Unification of Private
Law (UNIDROIT), The Hague Conference of Private International Law
dan PBB khususnya the United Nations Commission on International
Trade Law (UNCITRAL) dan the United Nations Conference on
International Trade and Law (UNCTAD).
Di samping itu terdapat pula lembaga-lembaga internasional
non-pemerintah yang juga berkepentingan dengan upaya unifikasi
dan harmonisasi hukum perdagangan internasional, yakni, antara
lain, International Chamber of Commerce (ICC atau Kamar Dagang
Internasional), dan International Law Association (ILA atau
Asosiasi Hukum Internasional).
69

2. Lembaga-lembaga yang Bergerak dalam Unfikasi dan Harmoniasi
Hukum
Berikut adalah uraian secara ringkas beserta upaya badan-
badan atau organisasi-organisasi internasional tersebut di bidang
unifikasi dan harmonisasi hukum perdagangan internasional. Tidak
semua upaya badan atau organisasi internasional akan diuraikan.
Pembahasan dibatasi pada WTO, UNCITRAL, UNIDROIT dan ICC.


68
Katarina Pistor, op.cit., hlm 97.
69
Schmitthoff, op.cit., “Commercial Law,” hlm. 24 (beliau mengemukakan
formulating agencies dalam mengupayakan unifikasi hukum perdagangan
internasional, yaitu: (1) UNCITRAL; (2) The International Institute for
the Unification of Private Law (UNIDROIT, Rome); (3) The Hague
Conference on Private International Law (The Hague); dan (4) The
Council for Mutual Economic Assistance (CMEA, Moscow). Sedangkan
organisasi internasional swasta (non pemerintah) yaitu: (5) ICC; (6)
The International Maritime Committee (IMC, Antwerp); dan (7) The
International Law Association (ILA, London).
a. World Trade Organization (WTO)
1. Pengantar
World Trade Organization atau WTO dihasilkan dari Putaran
Uruguay GATT (1986-1993). Organisasi ini memiliki kedudukan yang
unik karena ia berdiri sendiri dan terlepas dari badan kekhususan
PBB.
Pembentukan WTO ini merupakan realisasi dari cita-cita lama
negara-negara pada waktu merundingkan GATT pertama kali (1948).
Yakni hendak mendirikan suatu organisasi perdagangan internasional
(yang dulu namanya adalah International Trade Organization atau
ITO).
Struktur WTO akan dikepalai oleh suatu badan tertinggi yang
disebut Konperensi Tingkat Menteri (Ministerial Conference). Badan
ini akan bersidang sedikitnya sekali dalam dua tahun. Badan ini
terdiri dari para perwakilan dari semua anggota WTO. Semua
keputusan mengenai kebijakan yang berkaitan dengan perdagangan
multilateral dilakukan melalui badan ini.
Untuk pelaksanaan pekerjaannya sehari-hari, badan tertinggi
ini dibantu oleh badan-badan kelengkapan utama, yaitu Dewan Umum
(General Council) yang terdiri dari semua anggota WTO. Badan ini
bertugas memberikan laporan mengenai kegiatan-kegiatannya kepada
the Ministerial Conference.
General Council memiliki dua fungsi lainnya. Pertama, sebagai
suatu Badan Penyelesaian sengketa (Dispute Settlement Body).
Fungsi kedua, sebagai badan peninjau kebijakan perdagangan negara-
negara anggota GATT (Trade Policy Review Body).
Selain itu, badan ini juga bertugas mengamati masalah-masalah
perdagangan yang akan dicakup oleh WTO. Ia akan menetapkan tiga
badan subsider yakni The Council for Trade in Goods, Council for
Trade in Services, dan Council for TRIPs.
The Council for Trade in Goods mengawasi pelaksanaan dan
berfungsinya semua perjanjian mengenai perdagangan barang (Annex
1A Perjanjian WTO) meskipun sebetulnya untuk perjanjian-pejanjian
tertentu umumnya mereka memiliki badan pengawasnya sendiri. Dua
dewan lainnya memiliki tanggung jawabnya masing-masing berkaitan
dengan perjanjian WTO dan badan-badan tersebut dapat mendirikan
badan-badan subsider lainnya manakala dipandang perlu.
Tiga badan lainnya didirikan oleh the Ministerial Conference
dan mereka melaporkan pekerjaannya kepada the General Council.
Ketiga badan tersebut adalah the Committee on Trade and
Development, yakni badan yang bertanggung jawab untuk masalah-
masalah yang terdapat di negara-negara sedang berkembang. Kedua,
the Committee on Balance of Payments bertanggung jawab untuk
menyelenggarakan konsultasi di antara negara-negara anggota WTO
dan negara-negara yang melaksanakan tindakan-tindakan restriktif
perdagangan (Pasal XII dan XVII GATT), yakni tindakan- tindakan
untuk menghadapi kesulitan-kesulitan neraca pembayarannya.
Ketiga, the Committee on Budget, Finance and Administration
bergerak dalam mengatur masalah-masalah keuangan dan anggaran
WTO.
70

Di samping badan-badan tersebut, WTO membentuk pula badan-
badan khusus yang mengawasi pelaksanaan perjanjian-perjanjian
plurilateral (yang sifatnya sukarela), yakni badan untuk
perdagangan pesawat udara sipil, badan untuk pengadaan barang
pemerintah (government procurement), badan untuk produk susu dan
daging (dairy products and bovine meat). Badan-badan khusus ini
melaporkan tugas-tugasnya kepada the General Council.
Sekretariat WTO berkedudukan di Jenewa, Swiss. Sampai tulisan
ini dibuat, Sekretariat WTO memiliki sekitar 450 staf dan diketuai
oleh seorang Direktur Jenderal (Diretor General) dan 4 orang
pembantu Direktur Jenderal.
Dalam membuat putusan, WTO melanjutkan praktek yang telah
lama dilakukan dalam GATT, yaitu melalui konsensus. Namun dalam
hal konsensus ini gagal, maka putusan akan diambil melalui
pemungutan suara atau voting.

70
WTO, Trading into the Future,.Geneva, 1995, hlm. 13.
Di samping itu, ada 4 hal atau situasi dalam perjanjian WTO
yang memungkinkan dilakukannya voting. Pertama, mayoritas 2/3 dari
anggota WTO diperlukan untuk mengesahkan suatu penafsiran
perjanjian perdagangan multilateral.
Kedua, mayoritas 2/3 dari anggota WTO diperlukan bagi the
Ministerial Conference untuk memutuskan penanggalan suatu
kewajiban yang dikenakan terhadap suatu negara oleh suatu
perjanjian multilateral.
Ketiga, keputusan untuk merubah ketentuan perjanjian
multilateral dapat disahkan melalui kesepakatan seluruh anggotanya
atau melalui mayoritas 2/3 dari anggota WTO. Perubahan-perubahan
demikian hanyalah berlaku bagi negara-negara yang menerimanya
saja.
Keempat, suatu mayoritas 2/3 dari negara anggota WTO
diperlukan untuk menerima masuknya suatu negara menjadi anggota
WTO.
71

2. Kebijakan Unifikasi dan Harmonisasi WTO
WTO adalah salah satu contoh yang telah di sebut di atas,
di mana unifikasi aturan-aturan atau hukum perdagangan
internasional diterapkan terhadap negara-negara anggotanya. Pasal
XVI Perjanjian Pembentukan WTO menyatakan: "Each member shall
ensure the conformity of its laws, regulations and administrative
procedures with its obligations as provided in the annexed
Agreements." (Pasal XVI ayat 4 Agreement Establishing the World
Trade Organization).
Ketentuan pasal tersebut menjadi indikator penting
bagaimana WTO mewajibkan negara-negara anggotanya untuk
menyesuaikan aturan-aturan atau hukum perdagangannya dengan
aturan-aturan yang termuat dalam Annex perjanjian WTO. Bahkan
ketentuan pasal XVI tersebut juga mewajibkan negara anggotanya
untuk menyesuaikan administrative procedures-nya (birokrasi)
sesuai dengan administrative procedure-nya WTO.

71
WTO, Trading into the Future, Geneva, 1995, hlm. 14.
3. Perjanjian-perjanjian di Bawah Piagam WTO
Perjanjian-perjanjian yang termuat dalam lampiran (Annex)
WTO adalah perjanjian dalam TRIPS (telah diuraikan secara singkat
di atas). Perjanjian-perjanjian lainnya adalah:
GATT 1994; Agreement on Agriculture; Sanitary and Phytosanitary
Measures; Textiles and Clothing; Technical Barriers to Trade;
Trade-Related Investment Measures (TRIMs); Anti-dumping (Article
VI of GATT 1994); Customs valuation (Article VII of GATT 1994);
Preshipment Inspection; Rules of Origin; Import Licensing;
Subsidies and Countervailing Measures; Safeguards; General
Agreement on Trade in Services (GATS); Trade-Related Aspects of
Intellectual Property Rights (TRIPS); Dispute Settlement
Understanding.
Sebenarnya di samping unifikasi hukum, WTO juga berupaya
mendorong harmonisasi hukum, termasuk harmonisasi standar-standar
teknis-nya. Upaya harmonisasi ini telah lama diupayakan GATT
(pendahulu WTO). Pada tahun 1979, GATT berhasil mengeluarkan The
GATT Code on Technical Standards (Standard Code).
Aturan Standard Code ini mendorong negara-negara anggotanya
untuk mengharmonisasikan standar-standar produk domestiknya.
Upaya ini ditempuh agar kebijakan negara-negara mengenai standar
produk tidak malah menjadi penghalang bagi perdagangan dunia.
72

Perjanjian lainnya yang dapat digolongkan ke dalam
harmonisasi hukum adalah perjanjian-perjanjian yang berada di
bawah 'Plurilateral Agreement'(Annex 4 Perjanjian WTO).
Perjanjian-perjanjian ini adalah: Agreement on Trade in Civil
Aircraft (Annex 4 (a)); Agreement on Government Procurement
(Annex 4 (b)); International Dairy Agreement (Annex 4 (c));
International Bovine Meat Agreement (Annex 4 (d)).

72
Michael Trebilcock and Robert Howse, The Regulation of International
Trade, London: Routledge, 1995, hlm. 29.
b. The International Institute for the Unification of Private Law
(UNIDROIT).
1. Pengantar
The International Institute for the Unification of Private
Law (UNIDROIT) adalah sebuah organisasi antar pemerintah yang
sifatnya independen. UNCITRAL dibentuk pada tahun 1926 sebagai
suatu badan pelengkap Liga Bangsa-Bangsa (LBB). Sewaktu LBB
bubar, UNIDROIT dibentuk kembali pada tahun 1940 berdasarkan
suatu perjanjian multilateral yakni Statuta UNIDROIT (the
UNIDROIT Statute). UNIDROIT berkedudukan di kota Roma.
Tujuan utama pembentukannya adalah melakukan kajian untuk
memodernisasi, mengharmonisasi dan mengkoordinasikan hukum
privat, khususnya hukum komersial (dagang) di antara negara atau
di antara sekelompok negara.
Keanggotaan UNIDROIT terbatas hanya untuk negara-negara
yang menundukkan dirinya kepada Statuta UNIDROIT. Negara-negara
ini berasal dari 5 benua dan mewakili berbagai sistem hukum,
ekonomi, politik dan budaya yang berbeda.
Dewasa ini UNIDROIT memiliki 59 negara anggota, yakni:
Argentina, Australia, Austria, Belanda, Belgium, Bolivia, Brazil,
Bulgaria, Canada, Chile, China, Colombia, Croatia, Cuba, Cyprus,
Republik Czech, Denmark, Mesir, Estonia, Federasi Rusia
Finlandia, Perancis, Jerman, Holy See (Tahta Suci), Hungaria,
India, Iran, Iraq, Ireland, Israel, Italy, Japan, Luxembourg,
Malta, Mexico, Nikaragua, Nigeria, Norwegia, Pakistan, Paraguay,
Poland, Portugal, Republik Korea, Romania, San Marino, Slovakia,
Slovenia, Africa Selatan, Spanyol, Swedia, Swiss, Tunisia, Turki,
Inggris, Amerika Serikat, Uruguay, Venezuela, Yugoslavia (Federal
Republic of), Yunani.
2. Kebijakan Harmonisasi dan Unifikasi UNIDROIT
Tujuan utama UNIDROIT sebenarnya adalah mempersiapkan
harmonisasi aturan-aturan hukum privat. Upaya ini dipandang
penting mengingat perkembangan teknologi baru, praktek-praktek
pedagangan, dll memerlukan aturan hukum yang baru. Biasanya
aturan-aturan baru tersebut juga dibuat oleh negara-negara.
Masalahnya adalah peraturan tersebut bisa saja berbeda antara
satu aturan hukum dengan aturan hukum lainnya. Karen itu aturan
tersebut perlu diharmonisasi, atau bahkan diunifikasi guna
memperlancar perdagangan internasional.
Masalahnya adalah harmonisasi atau unifikasi hukum tersebut
banyak bergantung kepada keinginan dan kerelaan negara-negara
untuk mau menerimanya.
Meskipun menyadari adanya kesulitan upaya tersebut,
UNIDROIT memiliki kedudukannya yang menguntungkan sebagai
organsiasi antar pemerintah. Dalam kaitan ini, UNDIROIT
menerapkan pemberlakuan konvensi atau perjanjian internasional
yang mensyaratkan penerimaan dari negara-negara anggotanya.
Tujuannya adalah menerapkan aturan-aturan konvensi tersebut ke
dalam sistem hukum negara-negara anggota yang menundukkan dirinya
kepada konvensi tersebut.
Penerimaan suatu aturan konvensi oleh negara akan jauh
lebih memudahkan pemberlakuan aturan-aturan konvensi tersebut ke
dalam wilayah negara anggotanya (termasuk kepada warga negara
atau subyek-subyek hukum di wilayah negara tersebut).
3. Konvensi atau Perjanjian Yang Dihasilkan UNIDROIT
Selama berdiri UNIDROIT telah melakukan lebih dari 70
kajian. Kajian-kajian ini ada yang telah menghasilkan berbagai
perjanjian atau konvensi internasional berikut:
(1) Convention relating to a Uniform Law on the Formation of
Contracts for the International Sale of Goods (The Hague
1964);
(2) Convention relating to a Uniform Law on the International
Sale of Goods (The Hague, 1964);
(3) International Convention on the Travel Contract (Brussels,
1970);
(4) Convention providing a Uniform Law on the Form of an
International Will (Washington, 1973);
(5) Convention on Agency in the International Sale of Goods
(Geneva, 1983);
(6) UNIDROIT Convention on International Financial Leasing
(Ottawa, 1988);
(7) UNIDROIT Convention on International Factoring (Ottawa,
1988);
(8) UNIDROIT Convention on Stolen or Illegally Exported Cultural
Objects (Rome, 1995);
(9) Convention on International Interests in Mobile Equipment
(Cape Town, 2001);
(10) Protocol to the Convention on International Interests in
Mobile Equipment on Matters specific to Aircraft Equipment
(Cape Town, 2001).

c. The United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL)
73

1. Pengantar
1. The United Nations Commission on International Trade Law
(UNCITRAL) adalah badan kelengkapan khusus dari Majelis Umum PBB.
Badan ini dibentuk pada tahun 1966. Pembentukannya didasarkan
pada Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2205 (XXI) tanggal 17
Desember 1966.
Tugas utamanya adalah mengurangi perbedaan-perbedaan hukum
di antara negara-negara anggota yang dapat menjadi rintangan bagi
perdagangan internasional. Untuk melaksanakan tugas tersebut
UNCITRAL berupaya memajukan perkembangan harmonisasi dan
unifikasi hukum perdagangan internasional secara progresif (the
progressive harmonization and unification of the law of
international trade).
Sejak berdiri UNCITRAL telah mempersiapkan berbagai
Konvensi, Model Hukum dan instrumen hukum lainnya yang mengatur
transaksi perdagangan atau aspek-aspek hukum bisnis lainnya yang
memiliki pengaruh terhadap perdagangan internasional.
2. Kebijakan Harmonisasi dan Unifikasi UNCITRAL
Dua kata harmonisasi dan unifikasi di atas memiliki
pengertian tersendiri bagi UNICTRAL. UNCITRAL beranggapan mandat
"Harmonization" dan "unification" hukum perdagangan
internasional ini dimaksudkan agar perdagangan internasional
dapat berlangsung secara lancar. Hal ini penting mengingat
perdagangan internasional acapkali terhalang atau tidak lancar
karena faktor-faktor seperti tidak adanya kepastian hukum (lack
of a predictable governing law), hukum yang ada sudah tidak
sesuai lagi dengan perkembangan jaman.

73
http://www.uncitral.org/en-index.htm. Lihat pula: Gerold Hermann,
“United Nations Commission on International Trade Law,” dalam: R.
Bernhardt (ed.), Encyclopedia of Public International Law: Instalment
5, 1983, hlm. 298-301; Schmitthoff, op.cit., Commercial Law, hlm. 24-
25.
Karena itu upaya badan ini tidak lain adalah berupaya
membuat produk atau instrumen hukum yang modern yang dapat
memberi kebutuhan hukum untuk memperlancar perdagangan
internasional dan perkembangan ekonomi dunia.
74

UNCITRAL merancang dan mengesahkan setiap instrumen hukum.
Dalam upaya ini, tidak semua negara anggota UNCITRAL turut serta.
Hanya negara-negara tertentu saja yang merupakan wakil dari
region-regiona di dunia.
75

Pihak lain yang juga dapat turut serta dalam proses
perancangan tersebut adalah LSM internasional atau organisasi-
organisasi antar pemerintah yang berminat. Keputusan untuk
mengesahkan instrumen hukum dilakukan secara konsensus.
Instrumen hukum yang dirancang UNCITRAL bisa berupa
legislative texts umumnya berupa Konvensi.
76
Legislative texts

74
Cf., mirip mandatnya dengan UNIDROIT., supra.
75
Terdapat lima kelompok regional yang terwakili dalam UNCITRAL. Mereka
adalah: (1) Negara-negara Afrika, yakni: Benin, Burkina Faso,
Cameroon, Kenya, Morocco, Rwanda, Sierra Leone, Sudan and Uganda; (2)
Negara-negara Asia:- China, Fiji, India, Iran (Islamic Rep. of), Japan,
Singapore, and Thailand; (3) Negara-negara Eropa Timur: Hungary,
Lithuania, Romania, Russian Federation, The former Yugoslav Republic of
Macedonia; (4) Amerika Latin dan Karibia: Argentina, Brazil, Colombia,
Honduras, Mexico, Paraguay and Uruguay; (5) Eropa Barat dan Lainnya:-
Austria, Canada, France, Germany, Italy, Spain, Sweden, United States
of America and United Kingdom.
76
Konvensi tersebut adalah: Convention on the Limitation Period in the
International Sale of Goods (New York, 1974); United Nations Convention
on Contracts for the International Sale of Goods (Vienna, 1980); United
Nations Convention on the Carriage of Goods by Sea, 1978 (Hamburg
Rules); United Nations Convention on the Liability of Operators of
Transport Terminals in International Trade (1991); United Nations
Convention on International Bills of Exchange and International
Promissory Notes (New York, 1988); United Nations Convention on
Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit New York, 1995);
Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards
(New York 1958) (the "New York" Convention); United Nations Convention
on Contracts for the International Sale of Goods (Vienna 1980) ("CISG");
Convention on the Limitation Period in the International Sale of Goods
(New York 1974); United Nations Convention on International Bills of
Exchange and International Promissory Notes (New York, 1988); United
Nations Convention on Independent Guarantees and Stand-by Letters of
Credit (New York, 1995); United Nations Convention on the Assignment of
Receivables in International Trade (2001); United Nations Convention on
the Carriage of Goods by Sea (1978) (the "Hamburg Rules"); United
misalnya saja: United Nations Convention on Contracts for the
International Sale of Goods; Convention on the Limitation Period
in the International Sale of Goods; United Nations Convention on
Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit; United
Nations Convention on International Bills of Exchange and
International Promissory Notes; United Nations Convention on the
Carriage of Goods by Sea, 1978 (Hamburg); United Nations
Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals
in International Trade; and the United Nations Convention on the
Assignment of Receivables in International Trade.
Sedangkan instrumen hukum lainnya berupa legislative guides
dan non-legislative guides. Legislative guides misalnya adalah
instrumen-instrumen hukum berupa model law dan rules. Instrumen
ini merupakan instrumen yang tidak mengikat negara anggota.
Negara anggota bebas untuk mengikui atau tidak mengikuti
legislative guides tersebut.
Non-legislative texts adalah instrumen hukum lainnya yang
sifatnya juga tidak mengikat. Contoh instrumen hukum seperti ini
misalnya saja: UNCITRAL Arbitration Rules; UNCITRAL Conciliation
Rules; UNCITRAL Notes on Organizing Arbitral Proceedings;
UNCITRAL Legal Guide on Drawing Up International Contracts for
the Construction of Industrial Works; and UNCITRAL Legal Guide on
International Countertrade Transactions.



Nations Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals
in International Trade (Vienna, 1991).
d. Kamar Dagang Internasional (ICC)
77

1. Pengantar
The International Chamber of Commerce (ICC) didirikan pada
tahun 1919. Badan ini berkedudukan di Paris. Tujuannya pada waktu
itu, dan sampai sekarang masih terus berlaku, adalah melayani
dunia usaha dengan memajukan perdagangan, penanaman modal,
membuka pasar untuk barang dan jasa, serta memajukan aliran modal
(to serve world business by promoting trade and investment, open
markets for goods and services, and the free flow of capital).
Selama ini ICC dipandang sebagai corongnya dunia usaha
(pengusaha) untuk pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja,
dan kemakmuran. Peran ini sangat penting dalam kaitannya dengan
keadaan dunia saat ini. Negara-negara di dunia kerap membuat
kebijakan atau keputusan-keputusan yang dapat mempengaruhi
perdagangan. Karena itulah, peran atau adanya suatu badan dunia
yang menyuarakan para pedagang yang terkena oleh kebijakan atau
keputusan (suatu) negara menjadi sangat penting. Untuk itu, ICC
memiliki akses langsung kepada pemerintah negara-negara di dunia
melalui national committee ICC (KADIN Nasional) yang terdapat
hampir di setiap negara di dunia.
Peran penting lain ICC adalah sebagai badan dalam membuat
kebijakan-kebijakan atau aturan-aturan yang dapat memfasilitasi
perdagangan internasional. Peran lain yang juga cukup penting
adalah:
(1) sebagai forum penyelesaian sengketa khususnya melalui
arbitrase;
78


77
http://www.iccwbo.org/home/menu_what_is_icc.asp; Schmitthoff,
op.cit., Commercial Law, hlm. 24-25.
78
ICC memiliki badan arbitrase serta aturan (rules) arbitrasenya. The
ICC International Court of Arbitration terbentuk pada tahun 1923 atas
jasa Presiden ICC pertama, yaitu Etienne Clémentel, mantan menteri
perdagangan Perancis. Badan arbitrase ICC telah terkenal menjadi badan
penyelesaian sengketa bisnis ternama. Pada tahun 2002 saja badan
arbitrase ICC menerima 590 kasus atau kira-kira 50 kasus per bulan.
(http://www.iccwbo.org/home/menu_what_is_icc.asp).
(2) sebagai forum untuk menyebarluaskan informasi dan kebijakan
serta aturan-aturan hukum dagang internasional di antara
pengusaha-pengusaha di dunia; dan
(3) memberikan pelatihan-pelatihan dan teknik-teknik dalam
merancang kontrak serta keahlian-keahlian praktis lainnya
dalam perdagangan internasional.
2. Kebijakan Harmonisasi Hukum ICC
ICC tidak berupaya menciptakan unifikasi hukum. Kebijakan
yang ditempuhnya adalah memberikan aturan-aturan dan standar-
standar (Rules and Standards) di bidang hukum perdagangan
internasional. Kedua bentuk aturan ini sifatnya tidak mengikat.
Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari pendirian ICC bahwa
dunia usaha sebaiknya tidak atau dipengaruhi sedikit mungkin oleh
campur tangan penguasa (pemerintah). ICC karenanya tidak mau
menjadi penguasa seperti itu. Ia berpendirian, biarlah dunia
usaha saja yang mengatur atau membuat aturan bagi mereka sendiri.
Dana turan-aturan yang sifatnya atau yang datang dari luar,
termasuk aturan-aturan yang dibuat ICC, haruslah bersfiat
sukarelah saja.
Namun demikian aturan-aturan ICC (termasuk standar-standar
ICC) ini memiliki pengaruh yang cukup tinggi. Bahkan beberapa
aturan (Rules)-nya telah diikuti dengan sukarela dan seksama oleh
para pelaku dagang, seperti misalnya perbankan. Bahkan standar-
standar yang dikeluarkan oleh ICC telah banyak dimasukkan ke
dalam kontrak-kontrak dagang yang dibuat oleh para pelaku bisnis.

3. Aturan-aturan dan Standar yang Dikeluarkan ICC
Dewasa ini ICC memiliki 16 Komisi para ahli yang berasal
dari sektor swasta. Para ahli ini terdiri berbagai bidang
keahlian di bidang bisnis internasional. Keahlian bidang mereka
antara lain mencakup teknis-teknis perbankan (jasa keuangan),
perpajakan, hukum persaingan, telekomunikasi, HAKI, teknologi
informasi, pengangkutan (udara dan laut), penanaman modal dan
kebijakan perdagangan.
Para ahli dalam komisi-komisi tersebut berperan cukup
penting dalam merumuskan kebijakan, aturan-aturan dan standar-
standar yang digunakan atau diterapkan terhadap perdagangan
internasional, termasuk kontrak internasional, meskipun sifatnya
tidak mengikat.
Maksud utama dengan adanya aturan-aturan tersebut adalah
untuk mempermudah perusahaan-perusahaan atau para pedagang di
seluruh dunia untuk bertransaksi dagang. Selain itu yang juga
penting adalah untuk mempermudah mereka membuat kontrak-kontrak
dagang.
Selama ini, aturan-aturan yang sifatnya tidak mengikat atau
sukarelah tersebut adalah:
79

(1) ICC International Code on Sponsorship (September 2030);
(2) Compendium of ICC Rules on Children and Young People and
Marketing (April 2003);
(3) Rules for Expertise (Januari 2003);
(4) Paction - the online model sales contract application
Create, negotiate and sign your model contracts online, 2002
(5) ICC DOCDEX Rules (Oktober 1997 dan Maret 2002);
(6) ICC International Code of Sales Promotion (Mei 2002);
(7) GUIDEC II: General Usage for International Digitally Ensured
Commerce (Oktober 2001); dan GUIDEC I (6 November 1997);
(8) Compendium of Rules for Users of the Telephone in Sales,
Marketing and Research (Juni 2001);
(9) ICC International Code of Direct Marketing (September 1998
dan Juni 2001);
(10) ICC International Code of Direct Selling (Juni 1999);
(11) ICC Rules of Conduct to Combat Extortion and Bribery (1999);
(12) ICC Recommended Code of Practice for Competition Authorities
on Searches and Subpoenas of Computer Records (16 Oktober
1998);
(13) Model Clauses for use in Contracts involving Transborder Data
Flows (23 September 1998);
(14) ICC Guidelines on Advertising and Marketing on the Internet
(April 1998);
(15) The Rules of Arbitration of the ICC (1 Januari 1998);

79
<http://www.iccwbo.org/home/statements_rules/menu_rules.asp>
(16) ICC International Code of Advertising Practice (April 1997);
(17) ICC International Customs Guidelines (10 Juli 1997);
(18) The Business Charter for Sustainable Development (1996);
(19) Rules for Pre-arbitral referee, (1 Januari 1990);
(20) The Uniform Customs and Practice for Documentary Credits
(UCP) 1933 dan 1994.
(21) The International Commercial Terms (Incoterms) (1936, 2000).
Dua produk hukum ICC yang disebut terakhir, yaitu UCP dan
Incoterms perlu mendapat sedikit catatan. UCP mengalami beberapa
kali revisi. Revisi terakhir adalah UCP 500, yang mulai berlaku
Januari 1994. UCP telah digunakan oleh bank di seluruh dunia.
Suatu tambahan terhadap UCP 500, yaitu the eUCP, ditambahkan pada
tahun 2002. eUCP mengatur penampilan semua atau sebagian doumen
elektronik.
Incoterms dibentuk untuk memberikan definisi baku secara
universal mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam transaksi
perdagangan internasional, seperti misalnya Ex quay, CIF dan FOB.
Seperti halnya UCP, Incoterms telah mengalami beberapa revisi.
Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2000 (Incoterms 2000), yang
mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2000.
Schmitthoff memuji peran badan ini dalam upayanya
merumuskan unifikasi hukum perdagangan internasional dengan
menyatakan bahwa “(ICC) contribution to the unification of
international trade law has been singular successful.”
80

Sebagai catatan akhir dari bagian ini, penting pula
mengutip nasihat Schmitthoff. Beliau melihat keberadaan lembaga-
lembaga internaisonal yang berupaya mengunifikasi aturan-aturan
perdagangan internasional ini adalah positif. Namun beliau
mengingatkan agar lembaga-lembaga ini harus saling kerjasama agar
upaya unifikasi efektif.
81



80
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 213.
81
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 214.
F. Penutup
Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagangan
internasional adalah bidang hukum yang sangat luas ruang
lingkupnya. Hal ini sudah barang tentu merupakan tantangan bagi
para mahasiswa dan sarjana hukum untuk mendalami bidang ini.
Dari perkembangannya, tersirat pula pertumbuhan bidang
hukum ini yang sudah ada sejak manusia mulai merasakan
kekurangannya dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Untuk itu
manusia mulai berdagang. Metode transaksi awalnya sangatlah
sederhana: barter atau tukar menukar. Dalam perkembangannya,
orang sudah transaksi dengan menerapkan teknologi canggih:
perdagangan dengan sarana telekomunikasi.
Canggihnya transaksi perdagangan merupakan tantangan bagi
hukum perdagangan internasional. Bidang hukum ini ditantang untuk
mengakomodasi perkembangan cepat ini melalui aturan-aturan
hukumnya. Adanya aturan-aturan ini sangat dibutuhkan bagi pelaku
perdagangan untuk adanya kepastian hukum, sekaligus mendapatkan
perlindungan hukumnya.
Upaya hukum nasional sudah barang tentu sangat terbatas
kewenangan hukumnya untuk mengatur transaksi-tansaksi lintas
batas atau internasional. Peran hukum nasional hanya mencakup
aturan-aturan yang mengikat bagi kegiatan dan transaksi dagang
dalam wilayahnya.
Karena itu, upaya-upaya pengaturan perdagangan
internasional sedikit banyak bergantung pada peran organisasi
internasional baik yang sifatnya antar negara, misalnya WTO,
maupun yang sifatnya privat, misalnya Kamar Dagang Internasional
(International Chamber of Commerce).
Upaya organisasi internasional pun hingga dewasa ini lebih
banyak pada upaya harmonisasi hukum daripada upaya unifikasi
hukum. Upaya ini tampaknya wajar dilakukan mengingat perkembangan
hukum perdagangan internasional yang cukup progresif. Upaya
mengkristalisasi aturan hukum perdagangan internasional dalam
suatu dokumen perjanjian internasional yang sifatnya stabil dan
berlaku lama tampaknya sangat sulit.
Tujuan akhir dari hukum perdagangan internasional
sebenarnya adalah tujuan dari eksistensi hukum perdagangan
internasional itu sendiri. Di bagian awal Bab ini (yaitu bagian
B. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional),
terungkap beberapa tujuan bidang hukum perdagangan internasional
ini yang terdengar sangat positif, yaitu antara lain,
mensejahterakan negara-negara (dan warga negaranya).
Satu hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa
untuk mencapai tujuan positif tersebut mau tidak mau harus
dibarengi dengan pemahaman terhadap hukum perdagangan itu
sendiri. Artinya, masyarakat atau negara yang tidak mengetahui
aturan-aturan hukum perdagangan internasional janganlah berharap
dapat mengambil manfaat dari hukum perdagangan internasional.

DAFTAR PUSTAKA
Ademuni-Odeke, The Law of International Trade, London: Blackstone,
1999.
August, Ray, Internatoinal Business Law: Text, Cases and Readings, New
Jersey: Prentice Hall, 3
rd
.ed., 2000.
Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essay on
International Trade Law, Doredrecht/Boston/London: Martinus
Nijhoff & Graham & Trotman, 1988.
David, Rene, Arbitration in International Trade, The Hague: Kluwer,
1985.
Goldštajn, Aleksander, “The New Law of Merchant,” (1961) JBL 12.
Hermann, Gerold, “United Nations Commission on International Trade
Law,” dalam: R. Bernhardt (ed.), Encyclopedia of Public
International Law: Instalment 5, 1983.
Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajagrafindo,
cet. 3, 2003.
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar, Jakarta:
Rajawali Pers, cet. 3, 2002.
Interlegal's Definitions (http://home.yebro.co.za/~interlegal/
definitions.htm).
Islam, Rafiqul M., International Trade Law, NSW: LBC, 1999.
Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law and Practice, Bath:
Euromoney, 1983.
PH.O.L. Tobing, Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa, Ujung
Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan, 1977.
Reuvid, Jonathan (ed.), The Strategic Guide to International Trade,
London: Kogan Page, 1997.
Sanson, Michelle, Essential International Trade Law, Sydney: Cavendish,
2002.
Schmitthoff, Clive M., ‘The Unification of the Law of Internatioal
Trade,’ (1968) JBL 106.
Schmitthoff, Clive M., Commercial Law in a Changing Economic Climate,
London: Sweet and Maxwell, 1981.
Sudargo Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni, 1977.
Pistor, Katerina, "The Standardization of Law and Its Effect on
Developing Countries," 50 Am.J.Comp.L. 97 (2002).
Trebilcock, Michael and Robert Howse, The Regulation of International
Trade, London: Routledge, 1995.
United Nations, Progressive Development of the Law of International
Trade: Report of the Secretary-General of the United Nations, New
York: United Nations, 1966.
Vilanueva, Pablo, "Patterns and Trends in World Trade," dalam: Jonathan
Reuvid (ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan
page (tt),.
WTO, Trading into the Future,.Geneva, 1995.


1
BAB II
SUBYEK HUKUM DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
Dalam aktivitas perdagangan internasional terdapat beberapa
subyek hukum yang berperan penting di dalam perkembangan hukum
perdagangan internasional. Maksud subyek hukum di sini adalah:
(1) para pelaku (stake holders) dalam perdagangan internasional
yang mampu mempertahankan hak dan kewajibannya di hadapan
badan peradilan; dan
(2) para pelaku (stake holders) dalam perdagangan internasional
yang mampu dan berwenang untuk merumuskan aturan-aturan
hukum di bidang hukum perdagangan internasional.
Dari batasan tersebut sebagai tolok ukur, maka subyek hukum
yang dapat tergolong ke dalam lingkup hukum perdagangan
internasional adalah negara, organisasi internasional, individu,
dan bank. Uraian berikut akan menganalisa lebih lanjut tiga
subyek hukum ini.
B. Negara
1. Peran Negara
Negara merupakan subyek hukum terpenting di dalam hukum
perdagangan internasional. Sudah dikenal umum bahwa negara adalah
subyek hukum yang paling sempurna. Pertama, ia satu-satunya
subyek hukum yang memiliki kedaulatan.
Berdasarkan kedaulatan ini, negara memiliki wewenang untuk
menentukan dan mengatur segala sesuatu yang masuk dan keluar dari
wilayahnya.
1
Booysen menggambarkan kedaulatan negara ini sebagai
berikut:

1
Hercules Boosen, International Trade Law on Goods and Services,
Pretoria: Interlegal, 1999, hlm. 2.

2
“... a state can absolutely determine whether anything from
outside the state. The state would also have the power to
determine the conditions on which the goods may be imported
into the state or exported to another country. ... Every
state would have the power to regulate arbitrarily the
conditions of trade.”
2

Dengan atribut kedaulatannya ini, negara antara lain
berwenang membuat hukum (regulator) yang mengikat segala subyek
hukum lainnya (yaitu individu, perusahaan), mengikat benda dan
peristiwa hukum yang terjadi di dalam wilayahnya, termasuk
perdagangan, di wilayahnya.
3

Kedua, negara juga berperan baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam pembentukan organisasi-organisasi
(perdagangan) internasional di dunia, misalnya WTO, UNCTAD,
UNCITRAL, dll.
4
Organisasi-organisasi internasional di bidang
perdagangan internasional inilah yang kemudian berperan dalam
membentuk aturan-aturan hukum perdagangan internasional.
Ketiga, peran penting negara lainnya adalah negara juga
bersama-sama dengan negara lain mengadakan perjanjian
internasional guna mengatur transaksi perdagangan di antara
mereka. Contoh perjanjian seperti ini adalah perjanjian
Friendship, Commerce and Navigation, perjanjian penanaman modal
bilateral, perjanjian penghindaran pajak berganda, dll.
5

Keempat, negara berperan juga sebagai subyek hukum dalam
posisinya sebagai pedagang. Dalam posisinya ini, negara adalah
salah satu pelaku utama dalam perdagangan internasional. Dalam
awal tulisan ini, negara dengan perusahaan negaranya mengadakan
transaksi dagang dengan negara lainnya. Negara memiliki sumber
daya alam, perkebunan, pertambangan, dll. Bahan-bahan alam ini
disamping dikelola untuk kebutuhan di dalam negeri juga

2
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 2.
3
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 2.
4
Hans Van Houtte, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, hlm. 31.
5
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 31.

3
diperdagangkan (dijual) ke subyek hukum lainnya yang
memerlukannya.
Dalam melaksanakan fungsinya ini, tidak jarang negara
membuat badan-badan hukum milik negara. Di tanah air misalnya,
untuk mengeksplorasi, mengeksploitasi dan memasarkan hasil
pertambangan minyak, negara mendirikan Pertamina. Untuk mengelola
sumber daya air untuk kepentingan rakyat negara mendirikan
perusahaan air minum, dst.
Sebagai suatu institusi yang besar, negara membutuhkan
teknologi, infrastruktur, kendaraan, pesawat kenegaraan, sumber-
sumber kebutuhan yang dibutuhkan rakyatnya (pengadaan barang dan
jasa atau procurement). Untuk memenuhi semua ini, negara
membelinya dari para pihak yang menyediakannya (penjual atau
supplier). Dengan demikian, negara dapat bertindak sebagai pelaku
dalam transaksi perdagangan.
6

Semua transaksi perdagangan tersebut tunduk pada aturan-
aturan hukum yang bentuk dan muatan pengaturannya bergantung pada
jenis transaksi. Manakala negara bertransaksi dagang dengan
negara lain, kemungkinan hukum yang akan mengaturnya adalah hukum
internasional. Manakala negara bertransaksi dengan subyek hukum
lainnya, maka hukum yang mengaturnya adalah hukum nasional (dari
salah satu pihak).
7



6
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 4-5.
7
Hercules Booysen, Op.cit., hlm. 4.

4
2. Imunitas Negara
Salah satu masalah yang kerap timbul dalam kaitannya dengan
negara adalah atribut kedaulatan negara itu sendiri. Prinsip umum
yang diakui adalah bahwa dengan atribut kedaulatan, negara
memiliki imunitas terhadap pengadilan negara lain.
Arti imunitas di sini adalah bahwa negara tersebut memiliki
hak untuk mengklaim kekebalannya terhadap tuntutan (klaim)
terhadap dirinya. Sheldrick dengan tepat menggambarkan imunitas
negara ini sebagai berikut:
“Sovereign immunity is a long-established precept of public
international law which requires that a foreign government
or head of state cannot be sued without its consent. In its
traditional form, this rule applied to all types of suit,
criminal and civil, including those arising out of purely
commercial transactions undertaken by the foreign
sovereign.”
8

Dalam perkembangannya, konsep imunitas ini mengalami
pembatasan. Minimal ada 4 pembatasan terhadap muatan imunitas
suatu negara ini.
Pertama, pembatasan oleh hukum internasional. Dalam
bertransaksi dagang, hukum internasional meskipun mengakui
imunitas negara ini, tetapi juga sekaligus membatasinya. Hukum
internasional regional di Eropa misalnya memiliki the European
Convention on State Immunity (16 Mei 1972). Konvensi
beranggotakan Austria, Belgia, Belanda, Siprus, Jerman, Inggris,
Luxemburg, dan Swis.
9

Hukum internasional juga mensyaratkan negara-negara untuk
bekerjasama dengan negara lain untuk memajukan ekonomi. Deklarasi
mengenai prinsip-prinsip hukum internasional antara lain
menyatakan bahwa:

8
Andrew W. Sheldrick, “Capacity, sovereign immunity and acts of state,”
dalam: Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law and Practice, Bath:
Euromoney, 1983, hlm. 164.
9
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 33.

5
“... states have the duty to co-operate with one another,
irrespective of the difference in their political, economic
and social system,...”
10

Kedua, pembatasan oleh hukum nasional. Dewasa ini beberapa
negara memiliki UU mengenai imunitas yang sifatnya membatasi
imunitas negara-negara (asing) yang melakukan transaksi dagang di
dalam wilayahnya atau dengan warga negaranya. Negara-negara yang
memiliki UU seperti ini misalnya: Canada (State Immunity Act
1982); Australia (Foreign States Immunity Act 1985), Amerika
Serikat (Foreign Sovereign Immunities Act 1976), dan Inggris
(State Immunity Act 1978).
UU Inggris tahun 1978 menyatakan bahwa suatu negara tidak
dapat lagi mengklaim imunitasnya dalam persidangan yang terkait
dengan:
(a) sengketa-sengketa mengenai transaksi komersial (dagang)
yang dilakukan oleh suatu negara;
(b) sengketa-sengketa yang lahir dari adanya kontrak yang
dilaksanakan sebagian atau seluruhnya di Inggris;
(c) kontrak-kontrak ketenagakerjaan yang dibuat di Inggris
atau yang berkaitan dengan jasa-jasa yang dilaksanakan
sebagian atau seluruhnya di Inggris;
(d) tindakan-tindakan mengenai tort (dalam sistem hukum kita
semacam perbuatan melawan hukum) untuk menuntut ganti
rugi karena meninggal, luka-luka, atau kerugian terhadap
harta benda, di mana tindakan tersebut terjadi di
Inggris;
(e) sengketa-sengketa yang terkait dengan keanggotaan dalam
suatu perusahaan baik yang terdaftar atau yang memiliki
kegiatan usaha utamanya di Inggris;

10
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 33 dan 33n.

6
(f) sengketa-sengketa yang terkait dengan klaim-klaim
pengangkutan di laut terhadap kapal atau muatan atau yang
digunakan untuk tujuan-tujuan komersial; dan
(g) sengketa-sengeta yang terkait dengan perpajakan atau
cukai.
11

Ketiga, pembatasan secara diam-diam dan sukarela.
Pembatasan ini dianggap terjadi manakala suatu negara secara
sukarela menundukkan dirinya ke hadapan suatu badan peradilan
yang mengadili sengketanya. Apabila pengadilan memanggil negara
tersebut untuk mengadiri persidangan dan negara tersebut
mematuhinya, maka negara tersebut dianggap telah dengan sukarela
menanggalkan imunitasnya.
12

Keempat, kemungkinan lain yang menjadi indikasi pembatasn
imunitas ini adalah apabila negara memasukkan klausul arbitrase
ke dalam kontrak dagangnya. Dengan demikian dapat dianggap bahwa
negara tersebut telah menanggalkan imunitasnya untuk menghadap ke
badan arbitrase yang dipilihnya untuk menyelesaikan sengketa
dagangnya.
13

Dengan adanya pembatasan-pembatasan tersebut, kekebalan
suatu negara untuk hadir di hadapan badan peradilan (nasional
asing, internasional atau arbitrase) tidak lagi berlaku. Namun
masalah sesungguhnya dalam kaitanya dengan pembatasan negara di
hadapan badan peradilan adalah pelaksanaan putusan pengadilannya.
Hal inilah yang menjadi nasalah utama yang justru sangat krusial.
Percumalah doktrin dan aturan-aturan mengenai imunitas ini

11
Scheldrick, op.cit., hlm. 163 dan 164.
12
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 33.
13
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 33. Dengan adanya pembatasan-
pembatasan terhadap imunitas ini kemudian lahir teori yang disebut
dengan teori pembatasan imunitas negara (“restrictive theory
doctrine”). (Scheldrick, op.cit., hlm. 163). Teori ini juga menyatakan
bahwa negara dengan melakukan tindakan-tindakan yang bersifat non-
pemerintah (publik) atau ‘non-governmental activities’, negara tersebut
secara implisit telah menanggalkan hak-haknya untuk mengklaim imunitas.
(Scheldrick, op.cit., hlm. 163).

7
apabila di kemudian hari ternyata putusan pengadilan tidak dapat
dilaksanakan.
Berdasarkan hukum internasional, suatu badan peradilan
tidak dapat menyita harta milik negara lain atau memaksakan
putusannya terhadap harta milik negara lain yang digunakan atau
yang memiliki fungsi pelayanan publik (public services).
14
Hukum
internasional melarang suatu negara menahan kapal perang asing
yang sedang menyandar di pelabuhan suatu negara asing atau
menyita bangunan kedutaan negara asing.
15

Menurut Houtte, pelaksanaan putusan pengadilan hanya
memungkinkan terhadap aset-aset yang negara asing yang
bersangkutan tidak dibutuhkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi
pelayanan publik.
16



14
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 34.
15
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 34.
16
Hans van Houtte, op.cit., hlm. 34. (Pendapat ini juga mengutip
berbgai sarjana antara lain C. Schreur).

8
C. Organisasi Perdagangan Internasional
1. Organisasi Internsional Antar Pemerintah (Publik)
17

Organisasi internasional yang bergerak di bidang
perdagangan internasional memainkan peran yang signifikan.
Organisasi internasional dibentuk oleh dua atau lebih ngara guna
mencapai tujuan bersama.
Untuk mendirikan suatu organisasi internasional perlu
dibentuk suatu dasar hukum yang biasanya adalah perjanjian
internasional. Dalam perjanjian inilah termuat tujuan, fungsi,
dan struktur organisasi perdagangan internasional yang
bersangkutan.
Biasanya peran organisasi internasional dalam perdagangan
internasional kurang begitu signifikan. Memang organisasi
internasional membeli kebutuhan-kebutuhannya dari penjual
(procurement). Misalnya komputer, peralatan kantor/administrasi,
telekomunikasi, transportasi, dll.
Namun procurement organisasi internasional tidak terlalu
besar kuantitasnya. Dari segi hukum perdagangan internasional pun
organisasi seperti ini lebih banyak bergerak sebagai regulator.
Dalam kapasitasnya ini organisasi internasional lebih banyak
mengeluarkan peraturan-peraturan yang bersifat rekomendasi dan
guidelines.
18
Biasanya pun aturan-aturan seperti rekomendasi atau
guidelines tersebut lebih banyak ditujukan kepada negara. Jarang
dimaksudkan untuk mengatur individu.
19


17
Kajian ekstensif tentang organisasi internasional publik, lihat
antara lain: M.A.G. Meerhaeghe, International Economic Institutions,
The Netherlands: Kluwer, 1998, 7
th
.ed., 1998.
18
Michael P. Ryan, W.C. Lenhardt and K. Tamai, “International
Governmental Organization: Knowledge Management for Multilateral Trade
Law Making,” 15 Am. U.J.Int’l.L. Rev 1360 (2000) (Ryan et.al., menyebut
pembuatan peraturan ini sebagai fungsi ke-lima dari organisasi
internasional publik. Fungsi lainnya adalah: fungsi administratif,
fungsi penyebarluasan informasi, fungsi penelitian, fungsi dukungan
hukum [legal support]).
19
Michael P. Ryan et.al., ibid.; Booysen, op.cit., hlm. 26.

9
Di antara berbagai organisasi internasional yang ada dewasa
ini, organisasi perdagangan internasional di bawah PBB,
20
seperti
UNCITRAL atau UNCTAD. UNCITRAL adalah organisasi internasional
yang berperan cukup penting dalam perkembangan hukum perdagangan
internasional.
Badan ini didirikan pada tahun 1966 berdasarkan Resolusi
Majelis Umum PBB Nomor 2205 (XXI), 12 Desember 1966. Tujuan atau
mandat utama badan ini adalah mendorong harmonisasi dan unifikasi
hukum perdagangan internasional secara progresif.
Dalam upayanya tersebut UNCITRAL disyaratkan juga untuk
mempertimbangkan kepentingan semua negara khususnya negara sedang
berkembang dalam mengembangkan perdagangan internasional secara
ekstensif. Dalam teks aslinya, mandat dalam Resolusi tahun 1966
tersebut berbunyi:
“With a mandate to further the progressive development of
the law of internatonal trade and in that respect to bear
in mind the interests of all people, in particular those of
developing countries, in the extensive development of
international trade.”
UNCITRAL misalnya, telah melahirkan Vienna Convention on
the International Sale of Goods (1980); Convention on the
international Multi-moda Transport (1980); UNCITRAL Arbitration
Rules (1976); UNCITRAL Model Law on Arbitration (1985), dll.
UNCTAD telah melahirkan berbagai kesepakatan internasional
di bidang perdagangan yang juga cukup penting, antara lain
misalnya: UN Convention on a Code of Conduct for Liner Conference
(1974); GSP (1968); UN Convention on Carriage of Goods by Sea
(1978).
Di luar keluarga PBB, organisasi perdagangan internasional
yang dewasa ini berpengaruh luas adalah GATT (1947). GATT dengan

20
Selama ini PBB lebih dikenal sebagai organisasi internasional yang
bersifat politis. Bab IX Piagam PBB sebenarnya memuat aturan-aturan
khusus untuk pengembangan dan majuan ekonomi dan sosial yang bertujuan,

10
ke-38 pasalnya semula hanya mengatur tarif dan perdagangan.
Perannya pada tahun 1994 digantikan oleh WTO.
Lahirnya WTO, bidang pengaturannya menjadi sangat luas.
Hampir semua sektor perdagangan, jasa, penanaman modal, hingga
hak atas kekayaan intelektual, menjadi bidang cakupan pengaturan
(perjanjian) WTO.


antara lain, meningkatkan standar hidup dan pembangunan ekonomi dan
sosial. (Lihat, Houtte, op.cit., hlm. 39-40).

11
2. Organisasi Internasional Non-Pemerintah
Di samping organisasi internasional antar pemerintah di
atas, terdapat subyek hukum lainnya yang juga cukup penting yaitu
NGO (Non-Governmental Organization) swasta (non-pemerintah atau
yang kerap kali disebut pula dengan LSM internasional).
NGO Internasional dibentuk oleh pihak swasta (pengusaha)
atau asosiasi dagang. Peran penting NGO dalam mengembangkan
aturan-aturan hukum perdagangan internasional tidak dapat
dipandang dengan sebelah mata. Misalnya, ICC (International
Chamber of Commerce atau Kamar Dagang Internasional), telah
berhasil merancang dan melahirkan berbagai bidang hukum
perdagangan dan keuangan internasional, misalnya: INCOTERMS,
Arbitration Rules dan Court of Arbitration, serta Uniform Customs
and Practices for Documentary Credits (UCP).
Khusus untuk UCP, misalnya, aturan-aturannya sekarang sudah
menjadi acuan hukum sangat penting bagi pengusaha dalam
melaksanakan transaksi perdagangan internasional. Aturan-aturan
UCP yang terkait dengan sistem pembayaran melalui perbankan telah
ditaati dan dihormati oleh sebagian besar pengusaha-pengusaha
besar di dunia.
Gambaran lainnya adalah ICC Arbitration Rules. Banyak
pengusaha besar di dunia telah memanfaatkan aturan arbitrase ICC
untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dagang mereka. Dalam
klausul-klausul kontrak dagang internasional, para pengusaha
telah cukup banyak mencantumkan klausul arbitrase dengan mengacu
kepada ICC Arbitration Rules untuk hukum acara badan
arbitrasenya.
21


21
Lihat lebih lanjut: George Curmi, “The Role of the Internatonal
Chamber of Commerce,” dalam J. Reuvid (ed.), op.cit., hlm. 79 et.seq.,;
Houtte, op.cit., hlm. 48-49 (memberi contoh NGO lainnya yang cukup
penting. Misalnya saja, FIDIC (Fèdèration Internationale des ingènieurs
des conseils), kumpulan para insinyur dari berbagai negara yang telah
merumuskan berbagai kontrak standar untuk pembangunan konstruksi atau
proyek pembangunan.; atau IATA (International Association of Transport

12
D. Individu
Individu atau perusahaan adalah pelaku utama dalam
perdagangan internasional. Adalah individu yang pada akhirnya
akan terikat oleh aturan-aturan hukum perdagangan internasional.
Selain itu, aturan-aturan hukum yang dibentuk oleh negara
memiliki tujuan untuk memfasilitasi perdagangan internasional
yang dilakukan individu.
22

Dibanding dengan negara atau organisasi internasional,
status individu dalam hukum perdagangan internasional tidaklah
terlalu penting. Biasanya individu dipandang sebagai subyek hukum
dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law
nature).
23

Individu itu sendiri hanya (akan) terikat oleh ketentuan-
ketentuan hukum nasional yang negaranya buat. Karena itu individu
tunduk pada hukum nasionalnya (tidak pada aturan hukum
perdagangan internasional). Dia pun hanya dapat mempertahankan
hak dan kewajibannya yang berasal dari hukum nasionalnya tersebut
di hadapan badan-badan peradilan nasional.
24

Negara jarang sekali membuat kesepakatan-kesepakatan yang
mengikat individu. Umumnya kesepakatan negara-negara hanya
mengikat mereka. AFTA antara lain adalah organisasi yang hanya
mengatur komitmen negara-negara anggotanya saja. Dalam hukum
perdagangan internasional, ia adalah subyek hukum dalam arti yang
terbatas.
Apabila individu merasa bahwa hak-hak dalam bidang
perdagangannya terganggu atau dirugikan, maka yang dapat ia
lakukan adalah meminta bantuan negaranya untuk memajukan klaim
terhadap negara yang merugikannya ke hadapan badan-badan

Association), kumpulan para perusahaan penerbangan, yang merumuskan
misalnya saja aturan-aturan pengangkutan udara dan pengaturan mengenai
tarif penerbangan.
22
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 7.
23
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 13.
24
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 7.

13
peradilan internasional. Mekanisme seperti ini misalnya tampak
pada GATT/ WTO dan Mahkamah Internasional.
Hanya dalam keadaan-keadaan tertentu saja suatu individu
dapat mempertahankan hak-haknya berdasarkan suatu perjanjian
internasional. Individu misalnya diperkenankan untuk mengajukan
tuntutan kepada negara berdasarkan Konvensi ICSID.
Konvensi ICSID mengakui hak-hak individu untuk menjadi
pihak di hadapan badan arbitrase ICSID. Namun demikian hak ini
bersifat terbatas. Pertama, sengketanya hanya dibatasi untuk
sengketa-sengketa di bidang penanaman modal yang sebelumnya
tertuang dalam kontrak.
Kedua, negara dari individu yang bersangkutan harus juga
disyaratkan untuk telah menjadi anggota Konvensi ICSID (Konvensi
Washington 1965). Persyaratan ini sifatnya mutlak. RI telah
meratifikasi dan mengikatkan diri terhadap Konvensi ICSID melalui
UU Nomor 5 tahun 1968.
Status individu sebagai subyek hukum perdagangan
internasional tetaplah tidak boleh dipandang kecil. Aturan-aturan
di bidang perdagangan yang mereka buat sendiri kadang-kadang
memiliki kekuatan mengikat seperti halnya hukum nasional.
Contoh nyata adalah aturan-aturan yang tergolong ke dalam
Lex Mercatoria atau hukum para pedagang. Salah satu wujudnya,
seperti telah diutarakan di atas, adalah the Uniform Customs and
Practice for Documentay Credit (UCP). Meskipun UCP tidak
diundangkan sebagaimana layaknya hukum nasional, namun para
pengusaha sangat menghormati dan menaati ketentuan-ketentuan
dalam UCP.
Disebutkan di atas bahwa individu adalah subyek hukum
dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law
nature). Subyek hukum lainnya yang termasuk ke dalam kategori ini
adalah (a) perusahaan multinasional; dan (b) bank.

14
1 Perusahaan Multinasional
Perusahaan multinasional (MNCs atau Multinational
Corporations) telah lama diakui sebagai subyek hukum yang
berperan penting dalam perdagangan internasional. Peran ini
sangat mungkin karena kekuatan finansial yang dimilikinya. Dengan
kemampuan finansialnya, hukum (perdagangan) internasional
berupaya mengaturnya.
Pasal 2 (2) (b) Piagam Hak dan Kewajiban Ekonomi Negara-
negara antara lain menyebutkan bahwa MNCs tidak boleh campur
tangan terhadap masalah-masalah dalam negeri dari suatu negara.
Pasal 2 (2) (b) Piagam antara lain berbunyi sebagai berikut: “...
Transnational corporation shall not intervene in the internal
affairs of a host State.”
25

Alasan pengaturan ini tampaknya masuk akal. Tidak jarang
MNCs seperti Freport McMoran Company (yang beroperasi di Papua),
Mitsubishi, atau MNCs di bidang telekomunikasi, ABC, CNN,
Singapore Telecommunication (Singtel yang memiliki saham
mayoritas PT Indosat), sedikit banyak dapat mempengaruhi situasi
dan kondisi politik dan ekonomi di Indonesia.
Kekuatan dan kekayaan yang sangat besar ini memang dapat
berdampak yang cukup besar. The Economist menggambarkan dengan
tepat peran dan keberadaan MNCs:
“Many people ... now think of multinationals as more
powerful than nation states, and see them as bent on
destroying livelihoods, the environment, left-wing
political opposition and anything else that stands in the
way of their profits.”
26

Perlunya aturan-aturan yang mengontrol aktivitas MNCs
memang perlu untuk menjembatani perbedaan kepentingan.
kepentingan negara tuan rumah, apalagi negara sedang berkembang,

25
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 14.
26
The Economist, “The World’s View of Multinationals,” 29 January 2000,
hlm. 19.

15
biasanya adalah mengharapkan masuknya MNCs ke dalam wilayah
negaranya dapat memberi kontribusi bagi pembangunannya.
Sedangkan perspektif MNCs berbeda. Sebagaimana halnya
dengan perusahaan umumnya, MNCs bertujuan mencapai target utama
perusahaan, yaitu mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
27

Karena itu agar kedua kepentingan ini pada titik tertentu dapat
bertemu, maka perlu aturan-aturan hukum untuk menjembataninya.
28

2. Bank
Memang agak mengherankan bahwa para sarjana memasukkan bank
sebagai subyek hukum dengan kategori private law nature. Sama
seperti individu atau MNCs, bank dapat digolongkan sebagai subyek
hukum perdagangan internasional dalam arti yang terbatas. Bank
pun tunduk pada hukum nasional di mana bank tersebut didirikan.
Yang membuat subyek hukum ini penting adalah:
(a) peran bank dalam perdagangan internasional dapat dikatakan
sebagai pemain kunci. Tanpa bank, perdagangan internasional
mungkin tidak dapat berjalan.
29

(b) Bank menjembatani antara penjual dan pembeli yang satu sama
lain mungkin saja tidak mengenal karena mereka berada di
negara yang berbeda. Perannya di sini adalah peran bank dalam
memfasilitasi pembayaran antara penjual dan pembeli.
(c) Bank berperan penting dalam menciptakan aturan-aturan hukum
dalam perdagangan internasional khususnya dalam mengembangkan
hukum perbankan internasional. Salah satu instrumen hukum
yang bank telah kembangkan adalah sistem pembayaran dalam
transaksi perdagangan internasional. Misalnya adalah
terbentuknya ‘kredit berdokumen’ yang disebut ‘documentary
credit’. Mekanisme dan praktek ini kemudian dikodifikasi dan
dirumuskan secara sistematis oleh ICC menjadi UCP (di atas).

27
The Economist, Ibid.
28
Rafiqul Islam, International Trade Law, NSW: LBC, 1999, hlm. 273.
29
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 14.

16
E. Penutup
Uraian di atas menggambarkan stake-holders, aktor, atau
subyek hukum dalam hukum perdagangan internasional, yaitu negara,
organisasi internasional dan individu (yang terdiri dari
perusahaan multinasional dan bank).
Subyek-subyek hukum tersebut di atas menunjukkan
terbatasnya subyek hukum dalam hukum perdagangan internasional.
Hal ini tidak terlepas dari realita pragmatis dari perdagangan
internasional.
Imunitas negara dengan statusnya sebagai subyek hukum penuh
atau lengkap dalam hukum perdagangan internasional tampak semakin
terbatas. Hukum nasional, hukum internasional, dan penundukan
diri kepada suatu lembaga peradilan (arbitrase) menghendaki dan
mensyaratkan tidak mungkinnya bagi suatu negara untuk membawa
atribut imunitasnya dalam perdagangan internasional.
Dari ketiga stake-holders hukum perdagangan internasional,
yang paling unik adalah bank. Bank hanyalah suatu lembaga
keuangan. Ia bukan pelaku utama perdagangan internasional.
Fungsinya menjembatani dan memfasilitasi pembayaran antara
penjual dan pembeli. Namun demikian bank telah menciptakan suatu
praktek kebiasaan di bidang perdagangan yang mengikat stake-
holders lainnya yang berhubungan dengannya.


17
DAFTAR PUSTAKA
Booysen, Hercules, International Trade Law on Goods and Services,
Pretoria: Interlegal, 1999.
Curmi, George, “The Role of the Internatonal Chamber of
Commerce,” dalam J. Reuvid (ed.), The Strategic Guide to
International Trade, London: Kogan Page, 1997.
Houtte, Hans Van, The Law of International Trade, London: Sweet
and Maxwell, 1995.
Islam, Rafiqul, International Trade Law, NSW: LBC, 1999.
Meerhaeghe, M.A.G., International Economic Institutions, The
Netherlands: Kluwer, 1998, 7
th
.ed., 1998.
Ryan, Michael P., W.C. Lenhardt and K. Tamai, “International
Governmental Organization: Knowledge Management for
Multilateral Trade Law Making,” 15 Am. U.J.Int’l.L. Rev
1360 (2000).
Sheldrick, Andrew W., “Capacity, sovereign immunity and acts of
state,” dalam: Lew and Stanbrook, Interational Trade: Law
and Practice, Bath: Euromoney, 1983.
The Economist, “The World’s View of Multinationals,” 29 January
2000.


1
BAB III
SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
Sumber hukum perdagangan internasional merupakan bab yang
penting. Dari sumber hukum inilah kita dapat menemukan hukum
tersebut untuk dapat diterapkan kepada suatu fakta tertentu dalam
perdagangan internasional.
Dalam Bab I buku ini, penulis mengikuti pendirian Houtte,
Rafiqul Islam, dan Booysen. Inti dari pendirian para sarjana
terkemuka ini adalah bahwa ada keterkaitan erat antara hukum
perdagangan internasional dan hukum internasional.
Keterkaitan antara dua bidang hukum ini membawa konsekuensi
bahwa sumber-sumber hukum internasional yang dikenal dalm
lapangan ini, yaitu:(1) perjanjian internasional; (2) hukum
kebiasaan internasional; (3) prinsip-prinsip hukum umum; dan (4)
putusan-putusan pengadilan dan publikasi sarjana-sarjana
terkemuka (doktrin), juga dapat diadopsi sebagai sumber-sumber
hukum dalam hukum perdagangan internasional.
1

Namun demikian, di samping keempat sumber hukum tersebut,
khusus dalam bidang hukum perdagangan internasional, terdapat
satu bidang hukum lainnya yang juga berperan penting dalam
mengatur transaksi perdagangan internasional. Hukum ‘kelima’ ini
adalah hukum nsional.
Hukum nasional dalam banyak hal ternyata justru memiliki
peran ‘lebih’ dibandingkan ke-4 sumber hukum yang tersebut
sebelumnya. peran dan diakuinya hukum nasional sebagai sumber

1
Pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional. Cf., Perlu dikemukakan
di sini bahwa dalam literatur hukum perdagangan internasional, apa yang
menjadi sumber hukum perdagangan internasional belum ada kesepakatan.
Sarjana terkemuka hukum perdagangan internasional Profesor Clive
Schmitthoff hanya mengakui 2 (dua) sumber hukum saja, yaitu (1)
perjanjian internasional (istilah beliau: international legislation);
dan (2) hukum kebiasaan internasional (istilah beliau: international
commercial custom). (Clive M. Schmitthoff, Commercial Law in a Changing
Economic Climate, London: Sweet and Maxwell, 1981, hlm. 22 et.seq.).

2
hukum perdagangan internasional tidaklah terelakan karena sejak
awal atau tahap awal suatu pihak akan memulai transaksi-
transaksinya, selalu atau acapkali diawali dengan keterkaitannya
pada hukum nasional negaranya.
2

B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional
1. Perjanjian Internasional
Perjanjian internasional adalah salah satu sumber hukum
yang terpenting. Secara umum, perjanjian internasional terbagi ke
dalam tiga bentuk, yaitu perjanjian multilateral, regional dan
bilateral.
Perjanjian internasional atau multilateral adalah
kesepakatan tertulis yang mengikat lebih dari dua pihak (negara)
dan tunduk pada aturan hukum internasional.
3
Beberapa perjanjian
internasional membentuk suatu pengaturan perdagangan yang
sifatnya umum di antara para pihak. Ada juga perjanjian
internasional yang memberikan kekuasaan tertentu di bidang
perdagangan atau keuangan kepada suatu organisasi internasional.
Perjanjian internasional kadang kala juga berupaya mencari suatu
pengaturan yang seragam guna mempercepat transaksi perdagangan.
Perjanjian regional adalah kesepakatan-kesepakatan di
bidang perdagangan internasional yang dibuat oleh negara-negara
yang tergolong atau berada dalam suatu regional tertentu. Di Asia
Tenggara misalnya, perjanjian-perjanjian seperti ini adalah
perjanjian pembentukan AFTA.
Suatu perjanjian adalah bilateral manakala perjanjian
tersebut hanya mengikat hanya dua subyek hukum internasional

2
Lihat lebih lanjut dalam uraian di bawah ini.
3
Pengaturan mengenai perjanjian internasional terdapat dalam Konvensi
Wina tentang Hukum Perjanjian tahun 1969 (the Vienna Convention on the
Law of Treaties of 1969). Pengertian perjanjian termuat dalam Pasal 2
(1) (1) Konvensi: “treaty” means an international agreement concluded
between States in written form and governed by international law,
whether embodied in a single instrument or in two or more related
instrumetns and whatever its particular designation; ….

3
(negara atau organisasi internasional). Termasuk dalam kelompok
perjanjian ini adalah perjanjian penghindaraan pajak berganda.
4

Dalam perjanjian persahabatan bilateral, kedua negara
memberikan beberapa preferensi atau perlakuan khusus tertentu
berkaitan dengan kegiata ekspor-impor kedua negara. Perjanjian
ini bisanya disebut juga dengan nama FCN-Treaties (Friendship,
Navigation and Commerce).
5

a. Daya Mengikat Perjanjian (Perdagangan) Internasional
Suatu perjanjian perdagangan internasional mengikat
berdasarkan kesepakatan para pihak yang membuatnya. Karena itu,
sebagaimana halnya perjanjian internasional pada umumnya,
perjanjian perdagangan internasional pun hanya akan mengikat
suatu negara apabila negara tersebut sepakat untuk menandatangani
atau meratifikasinya.
Manakala suatu negara telah meratifikasinya, maka adalah
kewajiban negara tersebut untuk mengundangkannya ke dalam aturan
hukum nasionalnya. Perjanjian internasional yang telah
diratifikasi tersebut kemudian menjadi bagian dari hukum nasional
negara tersebut.
Kadangkala perjanjian internasional membolehkan suatu
negara untuk tidak menerapkan atau mengecualikan beberapa
pengaturan atau pasal dari perjanjian internasional. Atau
sebaliknya, suatu perjanjian internaisonal tidak mengijinkan
adanya pensyaratan ini. GATT atau Perjanjian WTO misalnya tidak
menghendaki adanya pensyaratan ini. Artinya, GATT dan Perjanjian
WTO mensyaratkan pemberlakuan keseluruhan pasal-pasalnya.
Salah satu cara lainnya bagi suatu negara untuk terikat
kepada suatu perjanjian internasional adalah melalui penundukan

4
Hans Van Houtte, , The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, hlm. 3.
5
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 3. Untuk kumpulan perjanjian-perjanjian
internasional (Konvensi, Protokol, dll., dalam hukum perdagangan
internasional), lihat: Indira Carr and Richard Kidner, Statutes and
Convention on International Trade Law, London: Cavendish, 1993, hlm.
263-446).

4
secara diam-diam. Artinya, tanpa mengikatkan diri secara tegas
melalui penandatanganan dan ratifikasi (yang biasanya instrumen
ratifikasi tersebut didepositkan kepada suatu badan yang
berwenang, misalnya Sekjen PBB), suatu negara dapat saja
mengikatkan dirinya dengan cara mengadopsi muatan suatu
perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya.
Biasanya penundukan secara diam-diam dilakukan antara lain
karena negara tersebut tidak mau secara tegas terikat terhadap
suatu perjanjian internasional. Misalnya, RI tidak meratifikasi
Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian. Tetapi dalam UU
Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional, sebagian
besar muatannya sama dengan Konvensi Win 1969 tersebut.
Tetapi perlu pula diingat bahwa penundukan diri secara
diam-diam ini tidak akan berlaku apabila perjanjian internasional
tersebut secara tegas mensyaratkan demikian. Atau, apabila muatan
perjanjian internasional tersebut memberikan hak-hak (konsesi)
tertentu kepada suatu negara anggotanya, dan tidak kepada non-
anggota. Negara-negara non-anggota yang berupaya secara diam-diam
untuk menundukan dirinya kepada aturan tersebut karenanya tidak
akan efektif.
GATT, Misalnya, adalah suatu kesepakatan umum di bidang
perdagangan dan tarif. Siapa saja yang menjadi anggota harus
terlebih dahulu bernegosiasi dengan negara-negara anggota GATT
mengenai konsesi-konsesi yang akan diberikannya sebelum ia dapat
memanfaatkan ke-38 pasal GATT.
b. Isi Perjanjian
Dari muatan yang terkandung di dalamnya, perjanjian
perdagangan internasional pada umumnya memuat hal-hal berikut:
1) liberalisasi perdagangan
Perjanjian yang memuat liberalisasi perdagangan adalah
meliberalisasi perdagangan. Dalam hal ini, negara-negara anggota
suatu perjanjian internasional berupaya menanggalkan berbagai
rintangan pengaturan atau kebijakan (negara) yang dapat

5
menghambat atau mengganggu kelancaran transaksi perdaganagn
internasional.
2) Integrasi ekonomi
Perjanjian seperti ini berkembang belum begitu lama.
Negara-negara anggota dalam suatu perjanjian internasional
berupaya mencapai suatu integrasi ekonomi melalui pencapaian
kesatuan kepabeanan (customs union), suatu kawasan perdagangan
bebas (free trade zone), atau bahkan suatu kesatuan ekonomi
(economic union). Perjanjian seperti ini biasanya memberi
kewenangan kepada suatu organisasi internasional guna mencapai
tujuan integrasi ekonomi ini.
3) Harmonisasi Hukum
Tujuan utama harmonisasi hukum hanya berupaya mencari
keseragaman atau titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat
fundamental dari berbagai sistem hukum yang ada (yang akan
diharmonisasikan).
6

4) Unifikasi Hukum
Dalam unifikasi hukum, penyeragaman mencakup penghapusan
dan penggantian suatu sistem hukum dengan sistem hukum yang
baru.
7
Contohnya adalah pemberlakuan Perjanjian TRIPS/WTO.
Dengan diperkenalkannya substansi bidang-bidang perjanjian
TRIPS/WTO yang mencakup ketentuan mengenai hak cipta, merek
dagang, indikasi geografis, disain industri, paten, dll.,
meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk membuat aturan-
aturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi perjanjian
TRIPS/WTO.
5) Model Hukum dan Legal Guide
Pembentukan Model Hukum dan Legal Guide sebenarnyat idak
terlepas dari upaya harmonisasi di atas. Bentuk hukum seperti ini
biasanya ditempuh karena didasari sulitnya bidang hukum yang akan

6
Lihat Bab I di atas.
7
Lihat Bab I di atas.

6
disepakati atau diatur. Karena itu mereka membuat Model Hukum ini
yang sifatnya tidak mengikat. Pembuat atau perancang Model Hukum
berharap, meski namanya model hukum atau legal guide, negara-
negara dapat mengacu muatan aturan-aturan model hukum atau legal
guide ini ke dalam hukum nasionalnya.
Dengan (semakin) banyaknya negara yang mengadopsi model
hukum atau legal guide ini, akhirnya diharapkan akan tercipta
keseragaman atau harmonisasi di bidang muatan model hukum atau
legal guide tersebut.
Contoh terkenal Model Hukum seperti ini adalah UNCITRAL
Model Law on International Commercial Arbitration tahun 1985.
Model Hukum 1985 ini memuat aturan-aturan model (acuan) bagi
negara-negara di dunia dalam mengundangkan peraturan
perundangannya di bidang arbitrase komersial internasional.
Dengan diadopsinya model hukum arbitrase ini diharapkan akan
tercipta pengaturan arbitrase yang bersifat universal. Artinya,
diharapkan aturan-aturan UU arbitrase suatu negara sedikit banyak
tidak akan berbeda dengan aturan UU arbitrase negara lainnya.
Legal guide yang cukup terkenal adalah UNCITRAL Legal Guide
on Drawing Up International Contracts for the Construction of
Industrial Works 1988. Legal Guide 1988 bertujuan terciptanya
keseragaman pengaturan klausul-klausul dalam menyusun kontrak di
bidang konstruksi.


7
c. Standar Internasional
Standar internasional adalh norma-norma yang disyaratkan
untuk ada di dalam perjanjian internasional, yang merupakan
syarat penting di dalam tata ekonomi internasional, serta syarat
suatu negara untuk berpartisipasi di dalam transaksi ekonomi
internasional. Syarat-syarat dasar tersebut adalah: i. Minimum-
standard or equitable treatment; ii. Most-favoured nation clause;
iii. Equal Treatment; dan iv. Preferential Treatment.
ad. i. Minimum-standard atau equitable treatment
Minimum-standard atau equitable treatment adalah norma atau
aturan dasar yang semua negara harus taati untuk dapat turut
serta dalam transaksi-transaksi perdagangan internasional.
8

Contoh standar minimum ini antara lain tampak dalam perjanjian-
perjanjian di bidang perlindungan hak kekayaan intelektual.
Misalnya Berne Convention for the Protection of Literary and
Artistic Works. Konvensi ini meletakkan persyaratan standar
minimum mengenai perlindungan hukum bagi karya cipta dan karya
seni.
9

ad. ii. Most-Favoured Nation Clause
Klausul Most-Favoured Nation (MFN) adalah klausul yang
mensyaratkan perlakun non-diskriminasi dari suatu negara terhadap
negara lainnya. Perlakuan ini diberikan karena masing-masing
negara terikat dalam suatu perjanjian internasional. Berdasarkan
klausul ini salah satu negara yang memberikan perlakuan khusus
atau preferensi kepada suatu negara, maka perlakuan tersebut
harus juga diberikan kepada negara-negara lainnya yang tergabung
dalam suatu perjanjian.
10


8
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 6.
9
RI meratifikasi Konvensi Bern melalui UU Nomor 18 tahun 1997 (Lembaran
Negara No 35 tahun 1977). Mengenai Konvensi Bern ini, lihat lebih
lanjut: Anthony D’Amato dan Doris Estelle Long, International
Intellectual Property Law, The Hague: Kluwer, 1997, hlm. 241).
10
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 6.

8
Peran klausul ini penting. Klausul ini menurut Houtte,
memberikan suatu derajat perlakuan sama (equitable treatment)
dalam hubungan ekonomi internasional. Dengan klausul ini,
hubungan-hubungan perdagangan internasional dapat berkembang.
11

Menurut Houtte, klausul MFN biasanya diikuti oleh dua sifat
cukup penting, yaitu:
(a) reciprocal (timbal balik), artinya pemberian MFN ini
diberikan dan disyaratkan oleh masing-masing negara. Jadi
sifatnya timbal balik; dan
(b) unconditional (tidak bersyarat), artinya negara anggota
lainnya dalam suatu perjanjain berhak atas perlakuan-
perlakuan khusus yang diberikan kepada negara ketiga.
12

Ad. iii. Equal treatment
Equal treatment (perlakuan sama) adalah klausul lainnya
yang juga disyaratkan harus ada dalam perjanjian-perjanjian
internasional. Menurut klausul ini, negara-negara peserta dalam
suatu perjanjian disyaratkan utuk memberikan perlakuan yang sama
satu sama lain. Klausul ini karena itu menyatakan bahwa warga
negara dari suatu negara anggota harus juga diperlakukan sama
halnya seperti warga negara di negara anggota lainnya.
Klausul seperti ini hingga sekarang ini jarang ditemukan
dalam praktek perjanjian antar negara.
13
Memang, sulit untuk
menemukan klausul ini dalam praktik. Suatu negara bagaimana pun
juga memiliki kewajiban utama kepada negaranya daripada kepada
warga negara asing. Adalah kewajiban suatu negara untuk
mensejahterakan warga negaranya (daripada mensejahterakan warga
negara anggota lain yang berada di dalam wilayahnya).
Namun demikian klausul ini tampak nyata dalam kesepakatan-
kesepakatan hukum internasional di bidang penyelesaian sengketa,

11
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 7.
12
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 8.
13
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 8.

9
misalnya arbitrase internasional. Misalnya pasal 18 UNCITRAL
Model Law on International Commercial Arbitration. Pasal 18 ini
yang berada di bawah judul ‘Equal Treatment of Parties’,
menyebutkan: “The parties shall be treated with equality and each
party shall be given a full opportunity of presenting his case.”
Pasal 18 ini menggambarkan prinsip universal mengenai
perlakuan sama di depan hukum. Pasal ini mensyaratkan perlakuan
sama terhadap para pihak yang bersengketa. Mereka pun harus
diberi kesempatan yang sama untuk membela perkaranya di hadapan
badan arbitrase. Dalam berbagai sistem hukum di dunia, tidak ada
ketentuan yang dapat mengenyampingkan prinsip ini.
Ad. iv. Preferential Treatment
Prinsip ini sebenarnya adalah pengecualian terhadap prinsip
non-diskriminasi. Prinsip ini biasanya diterapkan di antara
negara-negara yang memiliki hubungan politis atau ekonomis.
Berdasarkan prinsip ini suatu negara dapat saja memberikan
perlakuan khusus yang lebih menguntungkan (preferential
treatment) kepada suatu negara daripada kepada negara lainnya.
14

Biasanya perlakuan demikian diberikan kepada negara-negara
yang sedang berkembang atau miskin. Perlakuan berbeda dan khusus
biasa juga diberikan kepada negara-negara yang memiliki
keterkaitan sejarah sebelumnya. Misalnya, negara-negara eks
jajahan atau eks-koloninya.
d. Resolusi-resolusi Organisasi Internasional
Dewasa ini berbagai organisasi internasional acap kali pula
mengeluarkan keputusan-keputusan berupa resolusi-resolusi yang
sifatnya tidaklah mengikat. Daya mengikat resolusi-resolusi
seperti ini biasanya disebut juga sebagai soft-law. Karena memang
negara-negara pesertanya tidak menginginkan keputusan-keputusan

14
Han Van Houtte, op.cit., hlm. 8.

10
yang dibuat oleh organisasi internasional tidak mengikat mereka
secara hukum.
Tetapi resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh organisasi
internasional kadang kala juga mengikat. Salah satu contoh
instrumen terkenal yang dipandang soft-law oleh negara-negara
(maju) tetapi ternyata daya berlakunya sangat luas adalah Piagam
Hak-hak dan Kewajiban Ekonomi Negara-negara (Charter on the
Economic Rights and Duties of States atau CERDS). Sepertiga
bagian (11 pasal) dari dari keseluruhan pasal Piagam ini mengatur
mengenai perdagangan internasional.
Meskipun CERDS bersifat soft law, namun jiwa dan nilai-
nilai hukum yang terdapat di dalamnya berpengaruh cukup luas
terhadap aturan-aturan atau perjanjian-perjanjian internasional
yang lahir kemudian.
15



15
Lihat lebih lanjut, Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu
Pengantar, Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2003.

11
2. Hukum Kebiasaan Internasional
Sebagai suatu sumber hukum, hukum kebiasaan perdagangan
merupakan sumber hukum yang dapat dianggap sebagai sumber hukum
yang pertama-tama lahir dalam hukum perdagangan internasional.
Dari awal perkembangannya, yang disebut dengan hukum perdagangan
internasional justru lahir dari adanya praktek-praktek para
pedagang yang dilakukan berulang-ulang sedemikian rupa sehingga
kebiasaan yang berulang-ulang dengan waktu yang relatif lama
tersebut menjadi mengikat.
16

Dalam studi hukum perdagangan internasional, sumber hukum
ini disebut juga sebagai lex mercatoria atau hukum para pedagang
(the law of the merchants). Istilah ini logis karena memang para
pedagang-lah yang mula-mula ‘menciptakan’ aturan hukum yang
berlaku bagi mereka untuk transaksi-transaksi dagang mereka.
Contoh (lembaga hukum) yang mula-mula para pedagang lakukan dan
kembangkan adalah barter
17
dan counter-trade.
Suatu kebiasaan tidak selamanya menjadi mengikat dan
karenanya menjadi hukum. Suatu praktek kebiasaan untuk menjadi
mengikat harus memenuhi syarat-syarat berikut:
(1) Suatu praktek yang berulang-ulang dilakukan dan diikuti oleh
lebih dari dua pihak (praktek negara); dan
(2) Praktek ini diterima sebagai mengikat (opnio iuris sive
necessitatis).
Ketentuan Lex Mercatoria dapat ditemukan antara lain di
dalam kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dan dituangkan dalam

16
Tetapi, bandingkan dengan pendapat sarjana yang menyatakan bahwa
hukum kebiasaan internasional hanya memiliki peran yang terbatas
(misalnya Zamora atau Heutte, dalam Hans van Houtte, op.cit., hlm. 10).
Houtte berpendapat bahwa “… international customary law has a role
(albeit a limited one) to play in international and finance law”.
Penulis sependapat dengan Booysen yang berpendapat bahwa: “Because of
the frequency of contact between states in international trade,
customary law is and should be very relevant.” (Hercules Booysen,
op.cit., hlm. 58).
17
Michelle Sanson, Essential International Trade Law, Sydney:
Cavendish, 2002, hlm. 6.

12
kontrak-kontrak perdagangan internasional, misalnya berupa
klausul-klausul kontrak standar (baku), atau kontrak-kontrak di
bidang pengangkutan (maritim).
Kontrak-kontrak atau klausul kontrak perdagangan yang
biasanya dirancang oleh asosiasi atau organisasi perdagangan
tertentu (misalnya oleh ICC, FIDIC, dll) dan diikuti oleh anggota
dari organisasi atau asosiasi tersebut.
Kebiasaan-kebiasaan perdagangan memiliki peran yang sangat
penting di dalam sesuatu transaksi perdagangan internasional.
Misalnya, kebiasaan tersebut terkodifikasi dalam kontrak
konstruksi atau pengiriman barang, fob, cif, dll.
Masalah utama yang menjadi ganjalan bagi pemberlakuan lex
mercatoria ini adalah masih disangsikannya kekuatan mengikatnya.
Seperti dapat dimaklumi, bagi para pedagang atau pelaku
perdagangan, daya atau kekuatan mengikat lex mercatoria tidaklah
sulit bagi mereka. Mereka secara sukarelah menaati dan
melaksanakan serta memandangnya mengikat karena merekalah yang
menciptakannya.
Kekuatan mengikat karena kebiasaan praktek perdagangan ini
sebenarnya juga diakui oleh berbagai hukum nasional. Tidaklah
sulit menemukan hukum nasional mengakui kekuatan hukum adanya
praktek kebiasaan ini. Hukum Indonesia misalnya mengakui praktek
kebiasaan ini. Pasal 1339 tentang akibat suatu perjanjian
misalnya menyatakan:
“Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang
dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk
segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan
oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang.” (Huruf
miring oleh penulis).
Bunyi pasal di atas secara tegas mengakui kebiasaan. Tetapi
khusus untuk kebiasaan internasional, banyak negara yang
mengambil jarak. Bahkan untuk kebiasaan dagang internasional
seperti ini, pengadilan tidak jarang masih mempertanyakan
keabsahannya.

13
Pendirian ini antara lain disebabkan karena kebiasaan
perdagangan internasional, meskipun terkodifikasi oleh upaya
lembaga-lembaga internasional seperti ICC atau Kamar Dagang
Internasional, UNCITRAL, dll., bukanlah bersifat perjanjian
internasional. Aturan-aturan internasional yang dibuat oleh ICC
menurut badan pengadilan dapat digolongkan soft-law. Aturannya
tidak mengikat. Misalnya, ICC merumuskan UCP 500 untuk Letter of
Credit. UCP 500 tidak mensyaratkan ratifikasi oleh negara-negara
untuk mengikat.
18
Karena sifatnya itu pula, UCP tidak pernah
meletakkan kewajiban bagi negara untuk terikat terhadapnya.
19



18
Hal ini logis saja karena ICC adalah lembaga yang anggotanya adalah
swasta, bukan negara. Lihat pula: Clive Schmitthoff, op.cit., hlm. 27.
19
Di negara-negara sedang berkembang yang pengadilannya masih kental
menganut aliran positif hukum, kerap kali memandang bahwa setiap aturan
yang tidak dibuat sesuai dengan konstitusi, misalnya melalui proses
pengundangan suatu ketentuan secara formal, misalnya melalui pengumuman
di lembaran negara, bukanlah hukum dan karenanya tidak mengikat. Uraian
lebih lanjut mengenai lex mercatoria lihat: Huala Adolf, Arbitrase
Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali pers, cet. 3., 2003.

14
3. Prinsip-prinsip Hukum Umum
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip hukum
umum belum ada pengertian yang diterima luas. Peran sumber hukum
ini biasanya diyakini lahir baik dari sistem hukum nasional
maupun hukum internasional.
Sumber hukum ini akan mulai berfungsi manakala hukum
perjanjian (internasional) dan hukum kebiasaan internasional
tidak memberi jawaban atas sesuatu persoalan. Karena itu prinsip-
prinsip hukum umum ini dipandang sebagai sumber hukum penting
dalam upaya mengembangkan hukum,
20
termasuk sudah barang tentu
hukum perdagangan internasional.
Beberapa contoh dari prinsip-prinsip hukum umum ini antara
lain adalah prinsip itikad baik, prinsip pacta sunt servanda, dan
prinsip ganti rugi.
21
Ketiga prinsip ini terdapat dan diakui dalam
hampir semua sistem hukum di dunia,
22
dan terdapat pula dalam
hukum (perdagangan) internasional.



20
Hercules Booysen, International Trade Law on Goods and Services,
Pretoria: Interlegal, 1999, hlm 58.
21
Sanson, op.cit., hlm. 6.
22
Sanson, op.cit., hlm. 6.

15
4. Putusan-putusan Badan Pengadilan dan Doktrin
Sumber hukum ke-4 ini tampaknya memiliki fungsi dan peran
pelengkap seperti halnya prinsip-prinsip hukum umum. Sumber hukum
ini akan memainkan perannya apabila sumber-sumber hukum terdahulu
tidak memberi kepastian atau jawaban atas suatu persoalan hukum
(di bidang perdagangan internasional).
Putusan-putusan pengadilan dalam hukum perdagangan
internasional tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat seperti
yang dikenal dalam sistem hukum Common Law (Anglo Saxon).
Statusnya sedikit banyak sama seperti yang kita kenal dalam
sistem hukum kontinental (Civil Law). Bahwa putusan pengadilan
sebelumnya hanya untuk dipertimbangkan. Jadi ada semacam
‘kewajiban’ yang tidak mengikat bagi badan-badan pengadilan untuk
mempertimbangkan putusan-putusan pengadilan sebelumnya (dalam
sengketa yang terkait dengan perdagangan internasional).
Sifat putusan pengadilan ini ditegaskan dalam sengketa
Japan-Taxes on Alcoholic Beverages yang diputus oleh Badan
Penyelesaian Sengketa (DSB atau Dispute Settlement Body) WTO.
Dalam tahap banding di DSB, Badan Banding (Appellate Body) antara
lain menyatakan:
“Adopted panel reports ... are often considered by
subsequent panels. They create legitimate expectations
among WTO members, and, therefore, should be taken into
account where they are relevant to any dispute.”
23
[Huruf
miring oleh penulis].
Begitu pula dengan doktrin, yaitu pendapat-pendapat atau
tulisan-tulisan sarjana terkemuka (dalam hal ini di bidang hukum
perdagangan internasional). Peran dan fungsinya cukup penting
dalam menjelaskan sesuatu hukum perdagangan internasional. Bahkan
doktrin dapat pula digunakan untuk menemukan hukum.
24
Doktrin ini
penting manakala sumber-sumber hukum sebelumnya ternyata juga

23
Japan - Taxes on Alocholic Beverages, [WT/DS8, 10,11/AB/R, 4 October
1996, hlm. 15; terkutip dalam Booysen, op.cit., hlm. 61.
24
Hercules Booysen, op.cit., hlm. 62.

16
tidak jelas atau tidak mengatur sama sekali mengenai suatu hal di
bidang perdagangan internasional.
25



25
Michelle Sanson, op.cit., hlm. 7.

17
5. Kontrak
Sumber hukum perdagangan internasional yang sebenarnya
merupakan sumber utama dan terpenting adalah perjanjian atau
kontrak yang dibuat oleh para pedagang sendiri. Seperti kita
dapat pahami, kontrak tersebut adalah ‘undang-undang’ bagi para
pihak yang membuatnya.
26

Dapat pula kita sadari bahwa para pelaku perdagangan
(pedagang) atau stake-holders dalam hukum perdagangan
internasional dalam melakukan transaksi-transaksi perdagangan
internasional, mereka menuangkannya dalam perjanjian-perjanjian
tertulis (kontrak). Karena itu, kontrak adalah sangat esensial.
Karena itu kontrak berperan sebagai sumber hukum yang perlu dan
terlebih dahulu mereka jadikan acuan penting dalam melaksanakan
hak dan kewajiban mereka dalam perdagangan internasional.
Dalam hukum kontrak, kita mengenal penghormatan dan
pengakuan terhadap prinsip konsensus dan kebebasan para pihak
(party autonomy). Syarat-syarat perdagangan dan hak serta
kewajiban para pihak seluruhnya diserahkan kepada para pihak dan
hukum menghormati kesepakatan ini yang tertuang dalam perjanjian.
Meskipun kebebasan para pihak sangatlah esensial, namun
kebebasan tersebut ada batas-batasnya. Ia tunduk pada berbagai
pembatasan yang melingkupinya. Pertama, pembatasan yang utama
adalah bahwa kebebasan tersebut tidak boleh bertentangan dengan
undang-undang, dan dalam taraf tertentu, dengan ketertiban umum,
kesusilaan, dan kesopanan.
Pembatasan kedua adalah status dari kontrak itu sendiri.
Kontrak dalam perdagangan internasional tidak lain adalah kontrak
nasional yang ada unsur asingnya.
27
Artinya, kontrak tersebut,

26
Cf., Alinea pasal 1 Pasal 1338 KUH Perdata: “Semua perjanjian yang
dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya.”
27
Sudargo Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni, 1976
(Gautama menyatakan bahwa kontrak dengan orang asing adalah kontrak
yang terdapat unsur asing atau foreign element).

18
meskipun di bidang perdagangan internasional, sedikit banyak
tunduk dan dibatasi oleh hukum nasional (suatu negara tertentu).
28

Ketiga, menurut Sanson, pembatasan lain yang juga penting
dan mengikat para pihak adalah kesepakatan-kesepakatan atau
‘kebiasaan’ dagang yang sebelumnya dilakukan oleh para pihak yang
bersangkutan. Daya mengikat kesepakatan-kesepakatan sebelumnya
ini meskipun tidak tertulis tetapi mengikat ini, digambarkannya
sebagai berikut:
“In addition to the contractual terms agreed by the
parties, the course of past dealings between traders may
result in terms becoming part of an agreement between them.
These past dealings, or trade ‘usages’ between the parties,
may apply to the contractual relationship despite their not
being incorporated into it in written form.”
29




28
Michelle Sanson, op.cit., hlm. 7.
29
Michelle Sanson, op.cit., hlm. 7; lihat pula Hans van Houtte,
op.cit., hlm. 12 (Houtte menekankan bukan kontrak yang dibuat oleh para
pedagang, tetapi kontrak-kontrak negara (state contracts).

19
6. Hukum Nasional
Signifikansi hukum nasional sebagai sumber hukum dalam
hukum perdagangan internasional tampak dalam uraian mengenai
kontrak sebagai sumber hukum perdagangan internasional di atas.
Peran hukum nasional ini antara lain akan mulai lahir manakala
timbul sengketa sebagai pelaksanaan dari kontrak. Dalam hal
demikian ini maka pengadilan (badan arbitrase) pertama-tama akan
melihat klausul pilihan hukum dalam kontrak untuk menentukan
hukum yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketanya.
Peran hukum nasional sebenarnya sangatlah luas dari sekedar
mengatur kontrak dagang internasional. Peran signifikan dari
hukum nasional lahir dari adanya jurisdiksi (kewenangan) negara.
Kewenangan ini sifatnya mutlak dan eksklusif. Artinya, apabila
tidak ada pengecualian lain, maka kekuasaan itu tidak dapat
diganggu gugat.
Jurisdiksi atau kewenangan tersebut adalah kewenangan suatu
negara untuk mengatur segala (a) peristiwa hukum, (b) subyek
hukum, dan (c) benda yang berada di dalam wilayahnya. Kewenangan
mengatur ini mencakup membuat hukum (nasional) baik yang sifatnya
hukum publik maupun hukum perdata (privat).
Kewenangan atas peristiwa hukum di sini dapat berupa
transaksi jual beli dagang internasional, atau transaksi dagang
internasional. Dalam hal ini maka hukum nasional yang dibuat
suatu negara dapat mencakup hukum perpajakan, kepabeanan,
ketenaga-kerjaan, persaingan sehat, perlindungan konsumen,
kesehatan, perlindungan HAKI (intellectual property rights),
hingga perizinan ekspor-impor suatu produk.
Kewenangan atas subyek hukum (pelaku atau stake-holders)
dalam perdagangan internasional, mencakup kewenangan negara dalam
membuat dan meletakkan syarat-syarat (dan izin) berdirinya suatu
perusahaan, bentuk-bentuk perusahaan beserta syarat-syaratnya,
hingga pengaturan pengakhiran perusahaan (dalam hal perusahaan
pailit, dsb).

20
Kewenangan suatu negara untuk mengatur atas suatu benda
yang berada di dalam wilayahnya mencakup pengaturan obyek-obyek
apa saja yang dapat atau tidak dapat untuk diperjual-belikan.
Termasuk di dalamnya adalah larangan untuk masuknya produk-produk
yang dianggap membahayakan moral, kesehatan manusia, tanaman,
lingkungan, produk tiruan, dll.


21
C. Penutup
Sumber-sumber hukum perdagangan internasional adalah materi
bahasan yang penting. Dari sumber-sumber inilah kita dapat
menemukan hukum perdagangan internasional. Dari sumber-sumber
inilah kita dapat mengomentari, menganalisis dan menilai sesuatu
persoalan dalam hukum perdagangan internasional.
Dibanding dengan sumber-sumber hukum konvensional yang
terdapat dalam hukum internasional, dalam hukum perdagangan
internasional dapat ditemui sumber-sumber yang dibuat secara
khusus oleh para pihak (aktor) dalam perdagangan internasional.
Sumber hukum ini yaitu kontrak (dan kebiasaan-kebiasaan dagang)
memang sesungguhnya adalah hukum bagi para pihak yang membuatnya.
Pengakuan terhadap kontrak sebagai salah satu sumber dalam
hukum perdagangan internasional mencerminkan dua hal berikut.
Pertama, kontrak sebagai salah satu sumber hukum perdagangan
internasional merefleksikan unsur private law nature dari hukum
perdagangan internasional.
Kedua, kontrak sebagai salah satu sumber dari hukum
perdagangan internasional mencerminkan saling keterkaitan antara
bidang hukum perdagangan internasional dengan bidang hukum lain,
khususnya hukum kontrak internasional di samping hukum
internasional, hukum ekonomi internasional, hukum penanaman
modal, dll.



22

DAFTAR PUSTAKA
Booysen, Hercules Booysen, International Trade Law on Goods and
Services, Pretoria: Interlegal, 1999.
Carr, Indira and Richard Kidner, Statutes and Convention on
International Trade Law, London: Cavendish, 1993.
D’Amato, Anthnoy, dan Doris Estelle Long, International
Intellectual Property Law, The Hague: Kluwer, 1997.
Houtte, Hans Van, The Law of International Trade, London: Sweet
and Maxwell, 1995.
Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali
pers, cet. 3., 2003.
Huala Adolf, Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar,
Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2003.
Sanson, Michelle, Essential International Trade Law, Sydney:
Cavendish, 2002.
Schmitthoff, Clive M., Commercial Law in a Changing Economic
Climate, London: Sweet and Maxwell, 1981.
Sudargo Gautama, Kontrak Dagang Internasional, Bandung: Alumni,
1976.

1
BAB IV
ATURAN-ATURAN HUKUM PERDAGANGAN MENURUT GATT
A. Pengantar
Salah satu sumber hukum yang penting dalam hukum
perdagangan internasional adalah Persetujuan Umum mengenai Tarif
dan Perdagangan (General Agreement on Tariff and Trade atau
GATT). Muatan di dalamnya tidak saja penting dalam mengatur
kebijakan perdagangan antar negara tetapi juga dalam taraf
tertentu aturannya menyangkut pula aturan perdagangan antara
pengusaha. Contoh yang terakhir ini adalah pengaturan mengenai
barang tiruan atau kepabeanan.
GATT dibentuk pada Oktober tahun 1947. Lahirnya WTO pada
tahun 1994 membawa dua perubahan yang cukup penting bagi GATT.
Pertama, WTO mengambil alih GATT dan menjadikannya salah satu
lampiran aturan WTO. Kedua, prinsip-prinsip GATT menjadi kerangka
aturan bagi bidang-bidang baru dalam perjanjian WTO, khususnya
Perjanjian mengenai Jasa (GATS), Penanaman Modal (TRIMs), dan
juga dalam Perjanjian mengenai Perdagangan yang terkait dengan
Hak Atas Kekayaan Intelektual (TRIPs).
Tujuan pembentukan GATT adalah untuk menciptkan suatu iklim
perdagangan internasional yang aman dan jelas bagi masyarakat
bisnis, serta untuk menciptakan liberalisasi perdagangan yang
berkelanjutan, lapangan kerja dan iklim perdagangan yang sehat.
Untuk mencapai tujuan itu, sistem perdagangan internasional yang
diupayakan GATT adalah sistem yang dapat meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia.
1

Tujuan utama GATT dapat tampak dengan jelas pada preambule-
nya. Pada pokoknya ada empat tujuan penting yang hendak dicapai
GATT:
1) meningkatkan taraf hidup umat manusia;

1
Olivier Long, Law and Its Limitations in the GATT Multilateral Trade
System, Martinus Nijhoff Publishers, 1987, hlm. 101.
2
2) meningkatkan kesempatan kerja;
3) meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan
4) meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.
Ada tiga fungsi utama GATT dalam mencapai tujuannya:
pertama, sebagai suatu perangkat ketentuan (aturan) multilateral
yang mengatur transaksi perdagangan yang dilakukan oleh negara-
negara anggota GATT dengan memberikan suatu perangkat ketentuan
perdagangan (the ‘rules of the road’ for trade).
Kedua, sebagai suatu forum (wadah) perundingan perdagangan.
Di sini diupayakan agar praktek perdagangan dapat dibebaskan dari
rintangan-rintangan yang mengganggu (liberalisasi perdagangan).
Selain itu, GATT mengupayakan agar aturan atau praktek
perdagangan demikian itu menjadi jelas (predictable) baik melalui
pembukaan pasar nasional atau melalui penegakan dan
penyebarluasan pemberlakuan peraturannya.
Dalam perundingan tersebut, keputusan-keputusan mengenai
materi-materi yang penting khususnya yang menyangkut ketentuan-
ketentuan atau pasal-pasal GATT, keputusannya dibuat berdasarkan
mayoritas biasa (Pasal XXV). Namun pada umumnya keputusan-
keputusan demikian diambil tanpa harus mengikuti suatu cara
pengambilan putusan yang formal: umumnya keputusan diambil
berdasarkan konsensus.
2

Sejak berdiri, GATT telah mensponsori berbagai macam
perundingan-perundingan utama/pokok yang biasanya disebut juga
dengan istilah putaran (rounds). Tujuan dari putaran atau
perundingan ini bertujuan untuk mempercepat liberalisasi
perdagangan internasional.
Putaran perundingan perdagangan ini mempunyai keuntungan-
keuntungan sebagai berikut:

2
Gunther Jaenicke, “General Agreement om Tariffs and Trade (1946),
dalam Bernhard (ed)., Encyclopedia of Public International Law,
Instalment 5 (1983), hlm. 21.
3
Pertama, perundingan perdagangan memungkinkan para pihak
secara bersama-sama dapat memecahkan masalah-masalah perdagangan
yang cukup luas;
Kedua, para pihak akan lebih mudah membahas komitmen-
komitmen perdagangan di suatu putaran perundingan daripada
membahasnya dalam lingkup bilateral;
Ketiga, negara-negara sedang berkembang dan negara-negara
kurang maju akan lebih memiliki kesempatan yang lebih luas dalam
membahas sistem perdagangan multilateral dalam lingkup suatu
perundingan dan akan lebih menguntungkan negara-negara sedang
berkembang dibandingkan apabila mereka berunding langsung dengan
negara-negara maju; dan
Keempat, dalam merundingkan sektor perdagangan dunia yang
sensitif, pembahasan atau perundingan akan relatif dapat lebih
mudah dalam konteks suatu forum yang sifatnya global. Misalnya
adalah pembahasan isu pertanian dalam Perundingan Uruguay.
3

Putaran-putaran pertama GATT pada umumnya difokuskan kepada
upaya penurunan tarif. Penurunan tarif ini sudah berlangsung
sejak pembentukan GATT pada tahun 1947. Sejak tahun 1947, putaran
yang telah dilaksanakan adalah Putaran Jenewa (1947 – diikuti
oleh 23 negara); Putaran Annecy-Perancis (1947 – 13 negara);
Putaran Torquay-Inggris (1951 – 38 negara); Putaran Jenewa (1956
– 26 negara); Putaran Jenewa atau Putaran Dillon (1960-61 – 26
negara). Proses liberalisasi perdagangan ini terus berlanjut
dalam putaran-putaran berikutnya, yaitu Putaran Kennedy (1964-67
diikuti oleh 62 negara yang khusus membahas tarif dan anti-
dumping), Putaran Tokyo (1973-1979, diikuti 102 negara) dan
Putaran Uruguay (1986 – 1994 diikuti oleh 123 negara).
Putaran Tokyo (1973 – 1979) dapat pula dianggap sebagai
putaran yang terpenting sebelum Putaran Uruguay. Putaran Tokyo
dipandang sebagai suatu ‘percobaan pertama’ yang berupaya
mereformasi sistem perdagangan internasional.

3
WTO, The Roots of the WTO, No. Publ., 1996, hlm. 1.
4
Seperti umumnya putaran-putaran perdagangan GATT
sebelumnya, Putaran Tokyo bertujuan untuk terus menurunkan tarif
secara progresif. Di akhir perundingan, negara-negara sepakat
untuk memotong 1/3 dari tingkat tarif yang berlaku pada waktu
itu. Putaran Tokyo mengalami kegagalan dan beberapa kesepakatan.
Kegagalan yang dialaminya antara lain, tidak tercapainya
kesepakatan negara-negara mengenai masalah-masalah yang melilit
sektor pertanian dan kegagalan untuk membuat rumusan aturan
mengenai ‘safeguards’, (tindakan-tindakan pengamanan).
Keberhasilan Putaran Tokyo yang patut dicatat antara lain
tercapainya serangkaian kesepakatan aturan-aturan GATT, dan
berhasilnya dicapainya 9 kesepakatan lainnya yakni :
1) Subsidi dan tindakan balasan (Subsidies and countervalling
measures), yakni kesepakatan yang menafsirkan Pasal VI,
XVI dan XXIII GATT;
2) Rintangan-rintangan teknik terhadap perdagangan (technical
barrier to trade), yang kadang-kala disebut pula sebagai
‘Standard Code’);
3) Prosedur lisensi impor;
4) Kesepakatan mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah
(Government procurement);
5) Penaksiran bea cukai (Customs Valuation) yang menafsirkan
pasal VII GATT;
6) Anti-Dumping, yang menafsirkan Pasal VI dan menggantikan
the Kennedy Round Anti-Dumping Code;
7) Pengaturan mengenai daging olahan (Bovine Meat
Arrangement);
8) Perdagangan dalam pesawat udara sipil (Trade in Civil
Aircraft).
Pada waktu putaran Tokyo dirampungkan, hanya sedikit negara
yang mengikatkan diri kepada perjanjian-perjanjian atau
5
kesepakatan hasil putaran Tokyo tersebut. Itu pun umumnya adalah
negara-negara maju saja.
Di putaran Uruguay, sebagian dari kesepakatan tersebut di
atas telah mengalami pembahasan dan perluasan. Kesepakatan-
kesepakatan mengenai subsidi dan countervailing measures,
rintangan-rintangan teknis terhadap perdagangan, lisensi impor,
penaksiran bea cukai dan kesepakatan anti-dumping sekarang telah
terlebur ke dalam komitmen WTO.

Hal tersebut berarti bahwa semua negara anggota WTO mau
tidak mau tunduk dan terikat terhadap semua kesepakatan atau
perjanjian tersebut. Sedangkan kesepakatan mengenai pengadaan
barang-barang bagi pemerintah (government procurement), bovine
meat, dairy products dan pesawat udara sipil masih tetap berada
di bawah kesepakatan ‘plurilateral’ yang sifatnya terbuka bagi
negara anggota WTO untuk tunduk atau tidak (sukarela) terhadap
kesepakatan-kesepakatan yang disebut terakhir tersebut. Fungsi
ketiga GATT adalah sebagai suatu ‘pengadilan’ internasional
dimana para anggotanya menyelesaikan sengketa dagangnya dengan
anggota-anggota GATT lainnya.
Fungsi penyelesaian sengketa ini sifatnya penting dan
pengaturannya mengalami perkembangan yang menarik. Telah
dikemukakan di atas, GATT semula hanyalah aturan kesepakatan
mengenai perdagangan internasional. GATT bukan lembaga khusus
yang dilengkapi dengan badan khusus atau aturan khusus tentang
penyelesaian sengketa perdagangan multilateral.

B. Sejarah GATT
GATT dibentuk sebagai suatu dasar (atau wadah) yang
sifatnya sementara setelah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul
6
kesadaran masyarakat internasional akan perlunya suatu lembaga
multilateral di samping Bank Dunia dan IMF.
4

Kebutuhan akan adanya suatu lembaga multilateral yang
khusus ini pada waktu itu sangat dirasakan benar. Pada waktu itu
masyarakat internasional menemui kesulitan untuk mencapai kata
sepakat mengenai pengurangan dan penghapusan berbagai pembatasan
kuantitatif serta diskriminasi perdagangan. Hal ini dilakukan
untuk mencegah terulangnya praktek proteksionisme yang
berlangsung pada tahun 1930-an yang memukul perekonomian dunia.
5

Seperti disebutkan di muka, pada waktu pembentukannya,
negara-negara yang pertama kali menjadi anggota adalah 23 negara.
Ke-23 ini juga yang membuat dan merancang Piagam International
Trade Organization (Organisasi Perdagangan Internasional) yang
pada waktu itu direncanakan sebagai suatu badan khusus PBB.
Piagam tersebut dimaksudkan bukan saja untuk memberikan
ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan dalam perdagangan dunia
tetapi juga membuat keputusan-keputusan mengenai ketenagakerjaan
(employment), persetujuan komoditi, praktek-praktek restriktif
(pembatasan) perdagangan, penanaman modal internasional dan jasa.
Benih sejarah pembentukan GATT sebenarnya berawal dari pada waktu
ditandatanganinya Piagam Atlantik (Atlantic Charter) pada bulan
Agustus 1941. Salah satu tujuan dari piagam ini adalah
menciptakan suatu sistem perdagangan dunia yang didasarkan pada
non-diskriminasi dan kebebasan tukar menukar barang dan jasa.
Dengan tujuan tersebut, serangkaian pembahasan dan
perundingan telah berlangsung antara tahun 1943-1944, khususnya
antara Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Pada tanggal 6
Desember, Amerika Serikat pertama kalinya mengusulkan perlunya
pembentukan suatu Organisasi Perdagangan Internasional (ITO).
Tujuan organisasi ini, menurut versi Amerika Serikat pada
waktu itu, adalah untuk menciptakan liberalisasi perdagangan

4
Lihat Olivier Long,, Op.cit., hlm. 1.
7
secara bertahap, memerangi monopoli, memperluas permintaan
komoditi dan mengkoordinasi kebijakan perdagangan negara-negara.
6

Usul pembentukan suatu organisasi perdagangan ini disambut
baik oleh ECOSOC (Economic and Social Council). Badan khusus PBB
ini menyatakan keinginannya untuk menyelenggarakan suatu
konperensi. Untuk maksud itu, negara-negara berhasil membentuk
suatu komisi persiapan. Persidangan-persidangan komisi
berlangsung di London dari tanggal 18 Oktober sampai dengan 26
Desember 1946.
7
Komisi berhasil mengeluarkan suatu Rancangan
Piagam London (the London Draft Charter). Namun para anggota
peserta pertemuan ini gagal mencapai kata sepakat untuk
mengesahkan Rancangan Piagam tersebut.
Dengan adanya kegagalan ini kemudian negara-negara besar
tersebut membentuk suatu komisi perancang yang beranggotakan
Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis dan negara-negara
Benelux. Tugas komisi ini adalah mencari rumusan baru untuk
merancang suatu organisasi perdagangan baru.
8

Komisi baru ini mengadakan pertemuan kedua yang berlangsung
di Lake Succes, New York dari tanggal 20 Januari sampai 25
Februari 1947. Pertemuan ini membahas masalah-masalah tertentu
atau terbatas saja. Pertemuan tidak membahas hal-hal penting.
9

Pertemuan penting diselenggarakan di Jenewa dari bulan
April sampai November 1947. Dari tanggal 10 April sampai dengan
22 Agustus, panitia persiapan melanjutkan tugasnya membuat
rancangan Piagam ITO, dan dari tanggal 10 April sampai 30
Oktober, perundingan-perundingan bilateral berlangsung antar
negara-negara anggota komisi, antara lain, Brazil, Burma, Ceylon,
Pakistan dan Rhodesia Selatan.

5
Lihat, M.A.G. Van Meerghaeghe, International Economic institutions,
The Netherlands: Kluwer, 1987, hlm. 101.
6
M.A.G. Van Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 101.
7
M.A.G. Van Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 101.
8
M.A.G. Van Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 101.
9
John H. Jackson, et.al., The Legal Problems of International Economic
Relations,.St Paul Minn.: West, 1995, hlm. 32.
8
Hasil perundingan mengenai konsesi timbal balik (reciprocal
tariff concession) dicantumkan ke dalam GATT yang ditandatangani
pada tanggal 30 Oktober 1947. Hasil perundingan tersebut berisi
pula suatu kodifikasi sementara mengenai hubungan-hubungan
perdagangan di antara negara-negara penandatangan. Berdasarkan
persyaratan-persyaratan protokol tanggal 30 Oktober 1947, GATT
ditetapkan sejak tanggal 1 Januari 1948, sambil berlakunya ITO.
10

Pertemuan penting keempat berlangsung di Havana (21
November 1947 – 24 Maret 1948). Pertemuan ini membahas Piagam ITO
oleh delegasi dari 66 negara. Pertemuan berhasil mengesahkan
Piagam Havana. Namun sampai dengan pertengahan tahun 1950-an,
negara-negara peserta menemui kesulitan dalam meratifikasinya.
11

Hal ini lebih disebabkan karena Amerika Seriakt, pelaku
utama dalam perdagangan dunia, pada tahun 1958, menyatakan bahwa
negaranya tidak akan meratifikasi Piagam tersebut. Sejak itu
pulalah ITO secara efektif menjadi tidak berfungsi sama sekali.
Meskipun tidak pernah berlaku, namun minimnya ratifikasi
tersebut tidak menyebabkan GATT menjadi tidak berlaku. Para
perunding GATT mengeluarkan suatu perjanjian internasional baru
yaitu the Protocol of Provisional Application, yaitu suatu
protokol (perjanjian) yang memberlakukan GATT untuk sementara
(provisional). Sejak dikeluarkannya protokol inilah, GATT
kemudian terus berlaku sampai saat ini.
Pada tahun 1954 – 1955, teks GATT mengalami perubahan. Ada
dua perubahan penting yang terjadi. Pertama, dikeluarkannya
protokol yang merubah bagian 1 dan Pasal XXIX dan XXX dan
protokol yang merubah preambule dan bagian 2 dan 3. Protokol
pertama mensyaratkan penerimaan oleh semua negara peserta. Namun
karena Uruguay tidak meratifikasinya, protokol ini menjadi tidak

10
M.A.G. Van Meerghaeghe, Loc.cit.
11
Sampai dengan tahuan 1950-an, hanya dua negara saja yang
meratifikasi Piagam ini, yakni Liberia dan Australian (M.A.G. Van
Meerghaeghe, Op.cit., hlm. 102).
9
berlaku sejak tanggal 1 Januari 1968. Sedangkan protokol kedua
mulai berlaku sejak tanggal 28 November 1957.
Pada tahun 1965, GATT mendapat tambahan bagian baru, yaitu
bagian keempat. Bagian ini berlaku secara de facto tanggal 8
Februari 1965 dan mulai berlaku efektif tanggal 27 Juni 1965.
Bagian ini khusus mengatur kepentingan perluasan ekspor bagi
negara-negara sedang berkembang (Pasal XXXVI – XXXVIII).
12


C. Ketentuan-ketentuan Perdagangan dalam GATT.
Ketentuan-ketentuan perdagangan yang membentuk suatu sistem
perdagangan multilateral yang terkandung dalam GATT, memiliki 3
ketentuan utama. Pertama, dan yang paling penting adalah GATT itu
sendiri beserta ke-38 pasalnya.
Ketentuan kedua, yang dihasilkan dari perundingan putaran
Tokyo (Tokyo Round 1973-1979) adalah ketentuan-ketentuan yang
mencakup anti-dumping, subsidi dan ketentuan non-tarif atau
masalah-masalah sektoral. Meskipun keanggotaan pada ketentuan ke-
2 ini terbatas sifatnya, yaitu berkisar 30-an negara, namun
demikian negara-negara ini menguasai sebagian besar perdagangan
dunia.
13


12
M.A.G. Van Meerhaeghe, Op.cit., hlm. 103.
13
Putaran Tokyo menghasilkan 6 kesepakatan yang tertuang dalam dokumen
berjudul the Tokyo Round Codes. Keenam kesepakatan tersebut yaitu 1)
the Agreement on technical Barrier to Trade (Standards Code); yaitu
kesepakatan bahwa pemerintah maupun badan-badan lainnya dalam membuat
dan menerapkan peraturan dan standar teknis, tidak menimbulkan hambatan
terhadap perdagangan; 2) the Agreement on Government Procurement, yaitu
kesepakatan mengenai jaminan terlaksananya kesempatan secara
internasional yang lebih luas dalam tender untuk mendapatkan kontrak-
kontrak pemerintah; 3) the Agreement on Interpretation and Application
of Article VI, XVI and XXIII (Subsidies Codes), yaitu kesepakatan untuk
menjamin bahwa setiap pelaksanaan kebijakan subsidi tidak menimbulkan
akibat negatif terhadap perdagangan negara lain; 4) the Agreement on
Implementation of Article VII (Customs Valuation Code), yaitu
kesepakatan mengenai sistem penilaian barang yang netral, seragam dan
adil untuk kepentingan bea dan cukai; 5) the Agreement on Import
Licensing Procedures, yaitu kesepakatan mengenai jaminan bahwa
pemberian lisensi tidak menimbulkan hambatan terhadap impor; dan
terakhir, 6) the Agreement on Implementation of Article VI (Anti
Dumping Code), yakni kesepakatan mengenai perubahan Anti Dumping Code
10
Yang ketiga adalah ketentuan mengenai “multi fibre
arrangements”. Ketentuan ini merupakan pengecualian terhadap
ketentuan-ketentuan GATT umumnya terutama menyangkut tekstil dan
pakaian.

D. Prinsip-prinsip GATT.
Untuk mencapai tujuan-tujuannya, GATT berpedoman pada 5
prinsip utama. Prinsip yang dimaksud adalah:
1. Prinsip most-favoured-nation.
Prinsip ‘most-favoured-nation (MFN) ini termuat dalam pasal
I GATT. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu kebijakan perdagangan
harus dilaksanakan atas dasar non-diskriminatif. Menurut prinsip
ini, semua negara anggota terikat untuk memberikan negara-negara
lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor
dan ekspor serta yang menyangkut biaya-biaya lainnya.
14

Perlakuan yang sama tersebut harus dijalankan dengan segera
dan tanpa syarat (‘immediately and unconditionally’) terhadap
produk yang berasal atau yang diajukan kepada semua anggota
GATT.
15
Karena itu sesuatu negara tidak boleh memberikan perlakuan
istimewa kepada negara lainnya atau melakukan tindakan
diskriminasi terhadapnya. Prinsip ini tampak dalam pasal 4
perjanjian yang terkait dengan hak kekayaan intelektual (TRIPS)
dan tercantum pula dalam pasal 2 Perjanjian mengenai Jasa (GATS).
Pendek kata, semua negara harus diperlakukan atas dasar
yang sama dan semua negara menikmati keuntungan dari suatu
kebijaksanaan perdagangan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya

yang dihasilkan pada Putaran Kennedy (1964 – 1967). (Departemen
Perdagangan RI, GATT dan Uruguay Round, Seri Informasi Perdagangan
Internasional no. 14, 1993/1994, hlm. 7-9).
14
Cf. Olivier Long, Op.cit., hlm. 8-11.
15
Gunther Jaenicke, Op.cit., hlm. 22. Namun demikian prinsip ini tidak
berlaku terhadap transaksi-transaksi komersial di antara anggota GATT
yang secara teknis bukan merupakan impor atau ekspor ‘produk-produk’
seperti pengangkutan internasional, pengalihan paten, lisensi dan hak-
hak tak berwujud lainnya atau aliran modal.
11
prinsip ini mendapat pengecualian-pengecualiannya, khususnya
dalam menyangkut kepentingan negara sedang berkembang.
Jadi, berdasarkan prinsip itu, suatu negara anggota pada
pokoknya dapat menuntut untuk diperlakukan sama terhadap produk
impor dan ekspornya di negara-negara anggota lain. Namun demikian
ada beberapa pengecualian terhadap prinsip ini.
Pengecualian tersebut sebagian ada yang ditetapkan dalam
pasal-pasal GATT itu sendiri dan sebagian lagi ada yang
ditetapkan dalam putusan-putusan dalam konperensi-konperensi GATT
melalui suatu penanggalan (waiver) dan prinsip-prinsip GATT
berdasarkan Pasal XXV. Pengecualian yang dimaksud adalah:
(a) keuntungan yang diperoleh karena jarak lalu lintas
(frontier traffic advantage), tidak boleh dikenakan
terhadap anggota GATT lainnya (Pasal VI);
(b) perlakuan preferensi di wilayah-wilayah tertentu
yang sudah ada (misalnya kerjasama ekonomi dalam ‘British
Commonwealth’; the French Union (Perancis dengan negara-
negara bekas koloninya); dan Banelux (Banelux Economic
Union), tetap boleh terus dilaksanakan namun tingkat
batas preferensinya tidak boleh dinaikan (Pasal I ayat 2-
4);
(c) anggota-anggota GATT yang membentuk suatu Customs
Union atau Free Trade Area yang memenuhi persyaratan
Pasal XXIV tidak harus memberikan perlakuan yang sama
kepada negara anggota lainnya.
Untuk negara-negara yang membentuk pengaturan-
pengaturan preferensial regional dan bilateral yang tidak
memenuhi persyaratan Pasal XXIV, dapat membentuk
pengecualian dengan menggunakan alasan ‘penanggalan’
(waiver) terhadap ketentuan GATT.
Penanggalan ini dapat pula dilakukan atau diminta oleh
suatu negara anggota. Menurut prinsip ini suatu negara
dapat, manakala ekonominya atau keadaan perdagangannya
12
dalam keadaan yang sulit, dapat memohon pengecualian dari
kewajiban tertentu yang ditetapkan oleh GATT.
(d) pemberian prefensi tarif olef negara-negara maju
kepada produk impor dari negara yang sedang berkembang
atau negara-negara yang kurang beruntung (least
developed) melalui fasilitas Generalised System of
Preference (sistem preferensi umum).
16

Pengecualian lainnya adalah apa yang disebut dengan
ketentuan ‘pengamanan’ (safeguard rule). Pengecualian ini
mengakui bahwa suatu pemerintah, apabila tidak mempunyai upaya
lain, dapat melindungi atau memproteksi untuk sementara waktu
industri dalam negerinya.
Pengaturan ‘safeguard’ ini yang diatur dalam Pasal XIX,
memperbolehkan kebijakan demikian namun hanya dipakai dalam
keadaan-keadaan tertentu saja. Suatu negara anggota dapat
membatasi atau menangguhkan suatu konsesi tarif pada produk-
produk yang diimpor dalam suatu jumlah (kuantitas) yang meningkat
dan yang menyebabkan kerusakan serius (serious injury) terhadap
produsen dalam negeri.
Dalam tahun-tahun belakangan ini, cukup banyak anggota GATT
yang menerapkan pengaturan bilateral diskriminatif yang juga
seringkali disebut dengan ‘voluntary export restraints’ (VERs).
Kebijakan perdagangan ini dilakukan untuk menghindari salah satu
isu yang cukup hangat dibahas dalam Putaran Uruguay yakni
perdagangan tekstil.
VERs adalah cara 'halus' negara maju untuk menekan negara
sedang berkembang yang umumnya adalah penghasil tekstil. Untuk
membatasi masuknya produk tekstil ke dalam pasar dalam negerinya,
negara maju secara halus menyatakan kepada negara berkembang
untuk mengekspor tekstilnya dalam jumlah tertentu saja. Dalam hal
ini, negara maju menekankan bahwa pembatasan jumlah tersebut

16
Gunther Jaenicke, Op.cit., hlm. 23.
13
semata-mata haruslah sukarela sifatnya yang datang atau berasal
dari kehendak negara berkembang.

2. Prinsip National Treatment.
Prinsip National Treatment terdapat dalam pasal III GATT.
Menurut prinsip ini, produk dari suatu negara yang diimpor ke
dalam suatu negara harus diperlakukan sama seperti halnya produk
dalam negeri.
17
Prinsip ini sifatnya berlaku luas. Prinsip ini
juga berlaku terhadap semua macam pajak dan pungutan-pungutan
lainnya. Ia berlaku pula terhadap perundang-undangan, pengaturan
dan persyaratan-persyaratan (hukum) yang mempengaruhi penjualan,
pembelian, pengangkutan, distribusi atau penggunaan produk-produk
di pasar dalam negeri. Prinsip ini juga memberikan perlindungan
terhadap proteksionisme sebagai akibat upaya-upaya atau kebijakan
administratif atau legislatif.
18

Prinsip national treatment dan prinsip MFN merupakan
prinsip sentral dibandingkan dengan prinsip-prinsip lainnya dalam
GATT. Kedua prinsip ini menjadi prinsip pada pengaturan bidang-
bidang perdagangan yang kelak lahir di dalam perjanjian putaran
Uruguay. Misalnya, prinsip ini tercantum dalam pasal 3 Perjanjian
TRIPs. Kedua prinsip diberlakukan pula dalam the General
Agreement on Trade in Service (GATS). Dalam GATS, negara-negara
anggota WTO diwajibkan untuk memberlakukan perlakuan yang sama
(MFN treatment) terhadap jasa-jasa atau para pemberi jasa dari
suatu negara dengan negara lainnya.
Meskipun demikian, perjanjian WTO membolehkan suatu negara
untuk meminta pembebasan dari penerapan kewajiban MFN ini yang
mencakup upaya-upaya tertentu (specific measures) yang pada
mulanya tidak dapat menawarkan perlakuan demikian.
Untuk maksud tersebut, manakala suatu negara meminta
pembebasan kewajiban MFN, maka permintaan tersebut akan ditinjau

17
Olivier Long, Op.cit., hlm. 9.
18
Ibid.
14
setiap lima tahun. Pembebasan dari penerapan kewajiban MFN ini
hanya boleh dilakukan untuk jangka waktu 10 tahun.
Prinsip national treatment merupakan suatu kewajiban dalam
GATS yang mana negara-negara secara eksplisit harus menerapkan
prinsip ini terhadap jasa-jasa atau kegiatan jasa-jasa tertentu.
Oleh karena itulah prinsip national treatment atau perlakuan
nasional ini pada umumnya merupakan hasil dari negosiasi atau
perundingan di antara negara-negara anggota.
15
3. Prinsip Larangan Restriksi (Pembatasan) Kuantitatif.
Yang menjadi ketentuan dasar GATT adalah larangan restriksi
kuantitatif yang merupakan rintangan terbesar terhadap GATT.
Restriksi kuantitatif terhadap ekspor atau impor dalam bentuk
apapun (misalnya penetapan kuota impor atau ekspor, restriksi
penggunaan lisensi impor atau ekspor, pengawasan pembayaran
produk-produk impor atau ekspor), pada umumnya dilarang (Pasal
IX). Hal ini disebabkan karena praktek demikian mengganggu
praktek perdagangan yang normal.
Restriksi kuantitatif dewasa ini tidak begitu meluas di
negara maju. Namun demikian, tekstil, logam, dan beberapa produk
tertentu, yang kebanyakan berasal dari negara-negara sedang
berkembang masih acapkali terkena rintangan ini.
Namun demikian dalam pelaksanaannya, hal tersebut dapat
dilakukan dalam hal: pertama, untuk mencegah terkurasnya produk-
produk esensial di negara pengekspor; kedua, untuk melindungi
pasal dalam negeri khususnya yang menyangkut produk pertanian dan
perikanan;
ketiga, untuk mengamankan, berdasarkan escape clause (Pasal XIX),
meningkatnya impor yang berlebihan (increase of imports) di dalam
negeri sebagai upaya untuk melindungi, misalnya, terancamnya
produksi dalam negeri.
keempat, untuk melindungi neraca pembayaran (luar negerinya)
(Pasal XII).
Meskipun demikian restriksi tersebut tidak boleh diterapkan
di luar yang diperlukan untuk melindungi neraca pembayarannya.
Restriksi itu pun secara progesif harus dikurangi bahkan
dihilangkan apabila tidak dibutuhkan kembali.
Dengan adanya pengakuan sebagaimana diatur dalam Pasal
XVII, pengecualian itu telah diperluas pada negara-negara sedang
berkembang. Dalam hal ini negara tersebut dapat memberlakukan
restriksi kuantitatif untuk mencegah terkurasnya valuta asing
(devisa) mereka yang disebabkan oleh adanya permintaan untuk
16
impor yang diperlukan bagi pembayaran atau karena mereka sedang
mendirikan atau memperluas produksi dalam negerinya.
Bagi kepentingan negara tersebut, GATT menyelenggararakan
konsultasi secara reguler yang diadakan dengan negara yang
mengajukan restriksi impor untuk melindungi neraca pembayarannya.
Menurut Pasal XIII, restriksi kuantitatif ini, meskipun
diperbolehkan, tidak boleh diterapkan secara diskriminatif.
4. Prinsip Perlindungan melalui Tarif.
Pada prinsipnya GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi
terhadap industri domestik melalui tarif (menaikan tingkat tarif
bea masuk) dan tidak melalui upaya-upaya perdagangan lainnya
(non-tarif commercial measures).
19

Perlindungan melalui tarif ini menunjukan dengan jelas
tingkat perlindungan yang diberikan dan masih memungkinkan adanya
kompetisi yang sehat.
20

Sebagai kebijakan untuk mengatur masuknya barang ekspor
dari luar negeri, pengenaan tarif ini masih dibolehkan dalam
GATT. Negara-negara GATT umumnya banyak menggunakan cara ini
untuk melindungi industri dalam negerinya dan juga untuk menarik
pemasukan bagi negara yang bersangkutan.
Meskipun dibolehkan, penggunaan tarif ini tetap tunduk pada
ketentuan-ketentuan GATT. Misalnya saja, pengenaan atau penerapan
tarif tersebut sifatnya tidak boleh diskriminatif dan tunduk pada
komitmen tarifnya kepada GATT/WTO.
Komitmen tarif ini maksudnya adalah tingkat tarif dari
suatu negara terhadap suatu produk tertentu. Tingkat tarif ini
menjadi komitmen negara tersebut yang sifatnya mengikat. Karena
itu, suatu negara yang telah menyatakan komitmennya atas suatu
tarif, ia tidak dapat semena-mena menaikkan tingkat tarif yang
telah ia sepakati, kecuali diikuti dengan negoisasi mengenai

19
Departement Perdagangan RI, Op.cit., hlm. 3.
20
Olivier Long, Op.cit., hlm. 10.
17
pemberian mengenai kompensasi dengan mitra-mitra dagangnya (Pasal
XXVII).
Perlu dikemukakan di sini bahwa negoisasi tarif di antara
negara-negara merupakan salah satu pekerjaan GATT (yang juga
sekarang dilanjutkan oleh WTO). Tujuan GATT dalam hal ini adalah
berupaya menurunkan tingkat tarif ke titik atau level yang
serendah-rendahnya.
Ketika GATT terbentuk pada tahun 1948 sampai dengan
disahkannya perjanjian hasil Putaran Uruguay, tingkat tarif yang
diterapkan negara-negara telah turun cukup tajam. Dari rata-rata
sebesar 38% di tahun 1948, pada tahun 1994 telah jatuh menjadi
sekitar 4% saja.
Dalam putaran Uruguay, komitmen negara-negara terhadap
akses pasar yang lebih besar dicapai, antara lain, melalui
penurunan suku bunga yang dilakukan oleh lebih dari 120 negara.
Komitmen negara-negara ini dituangkan dalam 22.500 halaman
national tarif schedules.
Dalam pengurangan tarif ini, WTO mensyaratkan agar
pengurangan tersebut dapat diturunkan sampai 40% (khususnya
terhadap produk-produk industri di negara-negara maju) untuk
jangka waktu 5 tahun (tahun 2000). Pada waktu putaran Uruguay
ditutup (1994), tingkat tarif yang umumnya berlaku adalah sekitar
6,8%. Dengan tingkat tarif yang menurun demikian, diharapkan akan
terjadi peningkatan penerimaan produk-produk industri maju yang
memperoleh pembebasan bea masuk (yakni dari 20% menjadi 4% di
negara-negara maju).
Seperti halnya tarif, GATT juga mensyaratkan negara-negara
anggotanya untuk menerapkan prinsip transparansi. Prinsip ini
pula yang menjadi kunci bagi prasyarat perdagangan yang pasti
(predictable).
Prinsip transparansi ini mensyaratkan keterbukaan atau
transparansi hukum atau perundang-undangan nasional dan praktek
perdagangan suatu negara. Cukup banyak aturan dalam perjanjian
18
WTO memuat prinsip transparansi yang mensyaratkan negara-negara
anggotanya untuk mengumumkan pada lingkup nasional dengan
menerbitkan pada lembaran-lembaran resmi negara atau dengan cara
memberitahukannya secara formal kepada WTO.
5. Prinsip Resiprositas.
Prinsip ini merupakan prinsip fundamental dalam GATT.
Prinsip ini tampak pada preambule GATT dan berlaku dalam
perundingan-perundingan tarif yang didasarkan atas dasar timbal
balik dan saling menguntungkan kedua belah pihak.
21
Paragraph 3
Preambul GATT menyatakan:
"Being desirous of contributing to these objectives by
entering into reciprocal and mutually advantageous
arrangements directed to the substantial reduction of
tarifs and other varriers to trade and to the eliminations
of discriminatory treatment in international commerce."


21
Lihat lebih lanjut: Olivier Long, Op.cit., hlm. 10-11.
19
6. Perlakuan Khusus Bagi Negara Sedang Berkembang.
Sekitar dua pertiga negara-negara anggota GATT adalah
negara-negara sedang berkembang yang masih berada dalam tahap
awal pembangunan ekonominya. Untuk membantu pembangunan mereka,
pada tahun 1965, suatu bagian baru yaitu Part IV yang memuat tiga
pasal (Pasal XXXVI-XXXVIII), ditambahkan ke dalam GATT.

Tiga
pasal baru dalam bagian tersebut dimaksudkan untuk mendorong
negara-negara industri membantu pertumbuhan ekonomi negara-negara
sedang berkembang.
Bagian IV ini mengakui kebutuhan negara sedang berkembang
untuk menikmati akses pasar yang lebih menguntungkan. Bagian ini
juga melarang negara-negara maju untuk membuat rintangan-
rintangan baru terhadap ekspor negara-negara sedang berkembang.
Negara-negara industri juga mau menerima bahwa mereka tidak akan
meminta balasan dalam perundingan mengenai penurunan atau
penghilangan tarif dan rintangan-rintangan lain terhadap
perdagangan negara-negara sedang berkembang.
Pada waktu Putaran Tokyo 1979 berakhir, negara-negara
sepakat dan mengeluarkan putusan mengenai pemberian perlakuan
yang lebih menguntungkan dan partisipasi yang lebih besar bagi
negara sedang berkembang dalam perdagangan dunia (‘enabling
clause’). Keputusan tersebut mengakui bahwa negara sedang
berkembang juga adalah pelaku yang permanen dalam sistem
perdagangan dunia. Pengakuan ini juga merupakan dasar hukum bagi
negara industri untuk memberikan GSP (Generalized System of
Preferences atau sistem preferensi umum) kepada negara-negara
sedang berkembang.

20
E. Garis-garis Besar Ketentuan GATT
22

GATT memiliki 38 pasal. Secara garis besarnya, dari pasal-
pasal tersebut dibagi ke dalam 4 bagian:
Bagian Pertama mengandung dua pasal, yaitu:
a) Pasal I, berisi pasal utama yang menetapkan prinsip
utama GATT, yaitu keharusan negara anggota untuk
menerapkan klausul ‘most favoured nation’ treatment,
kepada semua anggotanya.
b) Pasal II berisi tentang penurunan tarif yang
disepakati berdasarkan penurunan tarif yang disepakati.
Kesepakatan penurunan tarif dicantumkan dalam lampiran
ketentuan GATT dan menjadi bagian dari GATT.
Bagian dua memuat 30 pasal, dari Pasal III sampai Pasal
XXII. Pasal III berisi larangan pengenaan pajak dan upaya-upaya
lainnya yang diskriminatif terhadap produk-produk impor dengan
tujuan untuk melindungi produksi dalam negeri. Pengertian upaya-
upaya lainnya disini adalah segala upaya, apa itu pungutan di
dalam negeri atau penerbitan Undang-undang, peraturan atau
persyaratan-persyaratan administratif yang mempengaruhi
penjualan, penawaran pembelian, pengangkutan, distribusi atau
penggunaan produk.
Berdasarkan prinsip perlakuan nasional ini, semua produk
impor yang sudah memenuhi aturan-aturan kepabeanan harus mendapat
perlakuan yang sama seperti halnya produk-produk dalam negeri di
negara tersebut.
Pasal IV berada di bawah judul ketentuan-ketentuan khusus
mengenai film sinematografi (cinematograph film). Pasal ini
membolehkan suatu negara untuk menetapkan kuota terhadap film-
film melalui peraturan tentang pembatasan film. Namun demukian
pembatasan-pembatasan atau kuota ini harus tetap tunduk kepada

22
Lihat GATT, Op.cit., hlm. 19 et.seqq.
21
negoisasi dengan pihak-pihak yang terpengaruh oleh adanya
pembatasan-pembatasan dalam bentuk kuota ini.
Pasal V mengatur kebebasan transit. Pasal ini mengakui
adanya kebebasan transit barang-barang, termasuk perahu dan
sarana angkutan lainnya melalui wilayah suatu negara anggota
dengan menggunakan rute-rute yang digunakan untuk transit
internasional guna melakukan transit ke atau dari wilayah negara
anggota GATT lainnya (ayat 2).
Dalam hal adanya transit ini, setiap negara anggota dapat
mengenakan bea-bea dan menetapkan peraturan-peraturan terhadap
transit ke dan dari wilayah-wilayah negara anggota lainnya.
Pengenaan biaya dan pembuatan peraturan tersebut haruslah wajar
dengan memperhatikan keadaan-keadaan atau kondisi dari lalu
lintas transit (ayat 4).
Pasal VI mengatur anti-dumping dan bea masuk tambahan.
Pasal ini berperan cukup penting dan cukup banyak digunakan oleh
negara-negara maju terhadap produk-produk negara sedang
berkembang. Negara maju menuduh negara sedang berkembang
(tertentu) telah memasukkan barangnya ke pasar mereka dengan
harga dumping. Dumping adalah praktek suatu negara yang menjual
produknya di negara lain dengan harga yang lebih murah (di bawah
harga normal) dengan maksud untuk merebut pasar (persaingan tidak
jujur). Pasal VI ini dengan tegas memberikan batasan mengenai
pengertian harga di bawah harga normal, yaitu:
a. lebih rendah dari harga untuk produk di negara di mana
produk tersebut akan dikonsumsi di negara pengekspor (harga
domesik); b. manakala tidak ada petunjuk mengenai harga
domestik, maka harga normal adalah harga tertinggi untuk
produk tersebut yang ditunjuk atau diekspor ke negara
ketiga; atau c. biaya produksi untuk produk tersebut
ditambah biaya tambahan (ongkos-ongkos) dan keuntungan yang
layak.
22
Apabila suatu negara menemukan bukti-bukti positif bahwa
suatu produk tertentu adalah dumping, maka negara tersebut dapat
mengenakan bea masuk anti dumping dan bea masuk tambahan atas
produk tersebut.
Pasal VII (valuation for custom purposes atau penilaian
atas barang impor untuk maksud-maksud kepabeanan). Pasal ini
menetapkan kriteria mengenai penilaian atas barang impor oleh
pejabat-pejabat (bea cukai) dari negara-negara anggota GATT
terhadap barang impor.
Pasal ini mensyaratkan bahwa nilai barang-barang impor
untuk maksud kepabeanan harus didasarkan pada nilai nyata barang
(actual value of the imported merchandise), bukan pada nilai asal
barang atau pada nilai yang tanpa dasar atau dibuat-buat
(arbitrary or fictitious values).
Pasal VIII berada di bawah judul fees and formalities
(biaya-biaya dan formalitas-formalitas). Pasal ini mensyaratkan
agar semua biaya dan pungutan (selain daripada bea masuk impor
dan ekspor serta pajak yang diatur dalam pasal III) yang
dikenakan atas atau dalam hubungannya dengan impor atau ekspor
harus dibatasi.
Pasal ini menegaskan bahwa pungutan-pungutan seperti itu
tidak boleh dijadikan sebagai proteksi tidak langsung terhadap
produk-produk domestik atau merupakan suatu pemajakan terhadap
impor atau ekspor untuk maksud fiskal (Pasal VIII ayat 1 (a).
Ayat 1 (b) pasal ini mensyaratkan negara-negara anggota untuk
mengurangi jumlah-jumlah biaya dan pungutan seperti itu.
Pasal VIII ayat 1 (c) mensyaratkan negara-negara anggota
untuk: 1) menyederhanakan pengaturan dan rumitnya formalitas-
formalitas impor dan ekspor; 2) mengurangi dan menyederhanakan
persyaratan-persyaratan dokumentasi impor dan ekspor.
Ketentuan-ketentuan pasal ini berlaku pula terhadap biaya-
biaya, pungutan, formalitas dan persyaratan-persyaratan yang
23
dikenakan oleh pejabat-pejabat pemerintah berkaitan dengan impor
dan ekspor, termasuk:
a) transaksi-transaksi konsuler, seperti faktur-faktur dan
sertifikat konsuler; b) pembatasan kuantitatif; c) lisensi;
d) pengawasan devisa (exchange control); e) jasa-jasa
statistik; f) dokumen, dokumentasi dan sertifikasi; g)
analisis dan inspeksi; h) karantina atau sanitasi.
Pasal IX mengatur tanda asal (marks of origin). Pada
prinsipnya pasal ini mensyaratkan agar semua negara anggota harus
memberikan perlakuan yang sama (no lees favourable treatment)
berkaitan dengan persyaratan asal barang ini terhadap semua
produk dari negara-negara anggota seperti halnya perlakuan
terhadap produk serupa dari negara ketiga (ayat 1).
Ayat 6 pasal IX ini mensyaratkan agar negara-negara anggota
harus bekerja sama dalam mencegah penggunaan nama dagang yang
tidak menggambarkan asal barang suatu produk, dengan merugikan
nama-nama regional atau geografis dari produk suatu negara
anggota yang dilindungi oleh hukum.
Pasal X mengatur persyaratan publikasi dan administrasi
pengaturan-pengaturan perdagangan. Pasal ini menegaskan bahwa
Undang-undang, peraturan-peraturan, putusan-putusan pengadilan
dan administratif mengenai klasifikasi atau penilaian produk
untuk tujuan kepabeanan, pajak, pungutan, atau segala persyaratan
yang mempengaruhi penjualan, distribusi, transportasi, asuransi,
inspeksi, pemrosesan, penggunaan, dll., harus dipublikasikan
secara wajar sehingga para negara anggota dan para pedagang
mengetahuinya.
Pasal XI sampai XV mengatur restriksi atau pembatasan
kuantitatif. Restriksi kuantitatif yang sering dipraktekkan
adalah pengenaan kuota, lisensi impor atau ekspor atau upaya
lainnya disamping bea masuk, pajak atau pungutan lainnya.
Pasal XI menegaskan bahwa praktek seperti ini dilarang.
Pasal XII membolehkan suatu negara untuk menerapkan pembatasan-
24
pembatasan masuknya produk impor demi untuk mengamankan neraca
pembayarannya (restriction to safeguard the balance of payment).
Pasal XIII mensyaratkan bahwa penerapan restriksi
kuantitatif tersebut harus dilaksanakan tanpa diskriminasi. Jadi,
misalnya suatu negara membatasi masuknya suatu produk dari suatu
negara, misalnya dari B, maka pembatasan tersebut harus juga
diberlakukan terhadap negara ketiga, misalnya C.
Pasal XIV mengatur pengecualian-pengecualian penerapan
restriksi kuantitatif dalam hal pembatasan masuknya produk-produk
impor karena alasan-alasan moneter tertentu.
Pasal XV mengatur pengaturan mengenai pembayaran. Pasal ini
mensyaratkan perlunya kerjasama antara GATT dengan IMF.
Pasal XVI mengatur subsidi. Pasal ini mengakui adanya
praktek negara-negara yang masih memberikan subsidi terhadap
produk-produk dalam negerinya dengan maksud agar dapat bersaing
di pasar internasional. Namun pasal ini mewajibkan negara
tersebut untuk memberitahu GATT tentang adanya subsidi ini.
Dalam perkembangan pengaturan GATT sebagaimana kemudian
tercantum dalam ayat 2, 3, dan 4 pasal XVI ini, GATT mensyaratkan
negara-negara anggotanya untuk menghapus subsidi ini.
23

Pasal XVII mengatur perusahaan dagang negara (state trading
enterprises). GATT menyadari bahwa perusahaan dagang negara dapat
menimbulkan praktek-praktek perdagangan yang tidak ‘fair’. Oleh
karena itu, pasal ini dengan tegas menyatakan bahwa perusahaan-
perusahaan seperti ini harus bertindak sesuai dengan prinsip-
prinsip umum mengenai perlakuan non-diskriminatif dalam kaitannya
dengan upaya-upaya pemerintah yang mempengaruhi impor dan ekspor
oleh para pedagang.
Pasal XVIII berada di bawah judul ‘governmental assistance
to economic development’ (bantuan pemerintah kepada pembangunan

23
Dalam perkembangan mengenai pengaturan mengenai subsidi ini, Putaran
Uruguay berhasil merumuskan aturan mengenai isu ini yang termuat dalam
the Agreement on Subsidy.
25
ekonomi). Pasal ini mengakui bahwa negara-negara sedang
berkembang membutuhkan tarif yang fleksibel dan dapat menerapkan
beberapa restriksi kuantitatif untuk mempertahankan alat tukar
luar negerinya untuk kebutuhan pembangunannya.
Pasal XIX mengatur tindakan darurat atas impor produk-
produk tertentu. Pasal ini memberi hak atau pembenaran bagi suatu
negara untuk menangguhkan sebagian atau seluruh kewajibannya
berdasarkan GATT atau menarik atau memodifikasi sebagian atau
seluruh konsesinya. Pasal baru ini dapat diterapkan apabila suatu
produk impor masuk ke dalam suatu negara yang kehadiran jumlah
produk tersebut telah mengakibatkan atau mengancam akan memukul
secara serius produsen dalam negerinya. Ayat 2 pasal ini
mensyaratkan negara yang hendak menerapkan pasal ini untuk
terlebih dahulu memberitahu dan mengkonsultasikannya dengan GATT.
Pasal XX mengatur pengecualian umum (general exeptions),
yakni pengecualian-pengecualian yang dimungkinkan untuk
menanggalkan aturan-aturan atau kewajiban-kewajiban suatu negara
terhadap GATT, khususnya dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan
yang diperlukan untuk:
(a) m elindungi moral masyarakat;
(b) melindungi kehidupan atau kesehatan manusia, hewan atau
tanaman;
(c) impor atau ekspor emas atau perak;
(d) perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual;
(e) produk-produk yang berasal dari hasil kerja para narapidana;
(f) perlindungan kekayaan nasional, kesenian, sejarah atau
purbakala;
(g) konservasi kekayaan alam yang dapat habis;
(h) dalam kaitannya dengan adanya kewajiban-kewajiban yang timbul
dari perjanjian-perjanjian komoditi antar pemerintah; dll.
26
Pasal XXI GATT membenarkan suatu negara untuk menanggalkan
kewajibannya berdasar GATT dengan alasan keamanan (security
exeption).
Pasal XXII dan XXIII mengatur penyelesaian sengketa di
dalam GATT.
Bagian ketiga berisi 11 pasal. Pasal XXIV mengatur
bagaimana customs union and free trade area dapat memanfaatkan
pengecualian-pengecualian terhadap prinsip most-favored-nation.
Pasal XXV menetapkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para
pemerintah dari negara-negara anggota GATT. Pasal ini mengakui
pula diperbolehkannya beberapa pengecualian (waiver) terhadap
aturan GATT.
Pasal XXVI sampai XXXV adalah pasal-pasal berisi tentang
pemberlakuan GATT, berupa penerimaan dan berlakunya ketentuan
GATT (Pasal XXVI); status (kondisi) tarif dari negara bukan
anggota (Pasal XXVII); ketentuan untuk perundingan tarif dan
perubahan-perubahan dalam daftar tarif (Pasal XXVIII), hubungan
antara GATT dengan Piagam Havana (Pasal XXIX), perubahan terhadap
GATT (Pasal XXX), penarikan atau pengunduran diri anggota dari
GATT (Pasal XXXI), batasan contracting parties (keanggotaan GATT)
(Pasal XXXII), masuknya menjadi anggota GATT (Pasal XXXIV), dan
tidak diterapkannya beberapa aturan GATT di antara anggota-
anggota GATT tertentu (Pasal XXXV).
Bagian keempat terdiri dari 3 pasal (Pasal XXXVI-XXXVIII)
yang ditambahkan pada tahun 1965. pasal XXXVI menyadari adanya
kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara sedang Berkembang di
bidang perdagangan internasional. Pasal XXXVII mengatur komitmen
negara-negara (maju), kecuali ada alasan-alasan mendesak untuk
tidak melaksanakan pasal ini, untuk memberikan bantuan ekonomi
dan perdagangan kepada negara sedang berkembang. Pasal XXXVIII
mengatur tindakan bersama oleh para anggota untuk membantu
perdagangan negara sedang berkembang.

27
F. Penutup
Uraian di atas menyiratkan beberapa catatan berikut.
GATT sebagai aturan perdagangan yang dibuat pada tahun 1947
ternyata masih relevan bahkan masih terus relevan untuk masa yang
akan datang. Aturan dan prinsip yang diaturnya memuat aturan-
aturan yang dapat diterima oleh hampir banyak negara (meskipun
dari keanggotaannya masing-masing negara memiliki sistem hukum
yang berbeda). Khususnya prinsip non-diskriminasi merupakan
prinsip yang memang dapat diterima universal.
Sebenarnya masalah utama dari adanya aturan GATT ini adalah
bagaimana dapat memanfaatkannya, khususnya bagi negara sedang
berkembang. Dari preambul GATT tersirat tujuan pentingnya, yaitu
meningkatkan taraf hidup umat manusia; meningkatkan kesempatan
kerja; meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia; dan
meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.
Aturan-aturan GATT tampaknya telah memberi aturan yang
seimbang, antara hak dan kewajiban bagi negara-negara para
pesertanya. Bagi negara sedang berkembang, meskipun aturannya
tidak jelas dan tidak memberi ‘muatan’ yang jelas, tetapi yang
penting aturan khusus untuk negara sedang berkembang sudah ada.
24

Tujuan penting itu menyiratkan satu hal penting. Tujuan
tersebut hanya akan dapat terealisasi apabila negara (berkembang)
yang bersangkutan memahami aturan-aturan GATT. Pemahaman yang
baik akan memungkinkan negara tersebut untuk dapat memanfaatkan
aturan-aturan GATT bagi kepentingan perdagangannya.
Sebaliknya kekurang-pahaman aturan-aturan GATT akan
mengakibatkan sulitnya pemanfaatan aturan-aturan tersebut bagi
kepentingan perdagangan negara yang bersangkutan. Artinya,
tujuan-tujuan yang baik di atas, tidak akan tercapai.


24
Ketidak-tegasan pengaturan untuk kepentingan negara sedang berkembang
sebenarnya juga adalah kelemahan dari aturan GATT itu sendiri.
28
Daftar Pustaka
Departemen Perdagangan RI, GATT dan Uruguay Round, Seri Informasi
Perdagangan Internasional no. 14, 1993/1994.
Jackson, John H. Jackson, et.al., The Legal Problems of International
Economic Relations,.St Paul Minn.: West, 1995.
Jaenicke, Gunther, “General Agreement om Tariffs and Trade (1946),
dalam Bernhard (ed)., Encyclopedia of Public International Law,
Instalment 5 (1983).
Long, Olivier, Law and Its Limitations in the GATT Multilateral Trade
System, Martinus Nijhoff Publishers, 1987.
Meerghaeghe, M.A.G. Van, International Economic institutions, The
Netherlands: Kluwer, 1987.
WTO, The Roots of the WTO, No. Publ., 1996.


BAB V
LETTER OF CREDIT DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL
A. Pengantar
Perdagangan internasional terwujud karena adanya kesepakatan
antara penjual dan pembeli yang mereka tuangkan dalam kontrak.
Dalam kontrak ini biasanya mereka juga cantumkan bagaimana cara,
sistem atau klausul pembayarannya.
Sistem pembayaran ini merupakan salah satu hal yang penting
dalam transaksi perdagangan. Dalam transaksi dagang yang sifatnya
terbatas di mana penjual dan pembeli berada dalam wilayah atau
tempat yang sama, pembayaran dan penyerahan barang dapat
dilakukan secara langsung. Lain halnya dengan perdagangan
internasional. Para pihak mungkin kurang begitu saling kenal.
Domisili mereka berjauhan.
Di samping sistem pembayaran, sistem pembiayaannya pun akan
sangat berpengaruh terhadap kelancaran perdagangan internasional.
Karena itu pula dapat dinyatakan bahwa perdagangan Internasional
akan lebih berjalan lancar dengan tersedianya fasilitas
pembiayaan (kredit) bagi jual-beli barang dalam perdagangan
internasional.
1

Dalam perdagangan Internasional, pembeli dan penjual
terpisah oleh jarak yang jauh. Mereka juga acap kali memiliki
praktek pembiayaan yang berbeda di masing-masing negara.
Di samping itu pula, terdapat kepentingan para pihak yang
berbeda dalam perdagangan internasional. Penjual berupaya dan
berkepentingan untuk menguasai dan mengontrol barangnya sampai ia
menerima harga yang disepakati dalam kontrak. Selain itu penjual
juga berkepentingan agar pembayaran (proceeds atau dana hasil
ekspor) dapat segera diterimanya tanpa harus menunggu berbulan-
bulan lamanya tatkala barangnya masih dalam perjalanan di kapal
(in transit).

1
Hans Van Houtte, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, 257; Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor
Impor, Jakarta: PPM, Edisi 2, Juli 2001, hlm. 2.
Di pihak lain, pembeli berkepentingan untuk tidak segera
membayar sejumlah uang yang dia janjikan sesuai kontrak selama ia
belum memeriksa barangnya apakah sesuai dengan spesifikasi yang
dicantumkan dalam kontrak, atau setidaknya ada bukti tertulis
bahwa barangnya telah dikapalkan.
Hal ini berarti menimbulkan kesulitan bagi penjual untuk
menentukan cara pembayaran yang akan digunakan oleh pembeli
asing. Demikian juga bagi pembeli mengalami kesulitan untuk
mempercayai reputasi dan integritas penjual asing.
Dalam hal demikian, Bank memainkan peran penting yang dapat
menjembatani kedua kepentingan yang berbeda antara penjual dan
pembeli. Dalam hal ini Bank memberi jaminan kelaikan kredit
sebagai jaminan untuk transaski jual beli barang tersebut.
Peran bank ini tampak pula pada upayanya dalam mengembangkan
sistem pembiayaan dan pembayaran selama bertahun-tahun lamanya
dengan semakin meningkatnya permintaan kredit bagi perdagangan
internasional.
2




2
Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 257.
B. Bentuk-bentuk Pembiayaan Perdagangan Internasional
Disebutkan di atas bahwa Bank telah mengembangkan berbagai
sistem pembiayaan dalam perdagangan internasional. Di antara
berbagai sistem yang cukup banyak tersebut, berikut adalah
sistem-sistem yang umum digunakan:
1. Kredit berdokumen (Documentary Credit);
2. Kredit komersial jangka pendek, menengah dan panjang
(Short, Medium and Long term commercial credit);
3. Bentuk-bentuk pembiayaan khusus (Particular financing
techniques), terutama: (i) factoring internasional
(Intenasional factoring); (ii) Forfaiting; dan (iii)
Leasing internasional (International leasing).
4. Jaminan Bank (Bank Guarantee atau Auotonomous Guarantee)
Dalam bab ini, pembahasan hanya akan mengkonsentrasikan pada
ad. 1 di atas, yaitu kredit berdokumen. Alasan utama dan alasan
praktis adalah kredit berdokumen ini lebih banyak digunakan
(penting) dan telah lama mengalami perkembangan pengaturannya.
Praktil menggunakan kredit berdokumen ini telah lama
dilakukan, khususnya sejak awal tahun 1700-an.
3
Pengaturannya pun
telah berkembang lama. Ellinger menyatakan bahwa aturan mengenai
kredit berdokujmen ini telah sedikit banyak mencapai harmoniasi
dan keseragaman pengaturan.
4




3
E.P. Ellinger, “Letters of Credit” dalam: Norbert Horn and Clive M.
Schmitthoff (eds.), The Transnational Law of International Commercial
Transactions, Deventer: Kluwer, 1982, hlm. 242.
4
E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 271.
1. Kredit Berdokumen (Documentary Credit)
a. Pendahuluan
Di atas dikemukakan tentang beda kepentingan antara pembeli
dan penjual. Pembeli (importir) tidak mau membayar sebelum ia
memiliki barangnya dan memeriksa barangnya apakah barang tersebut
sesuai dengan kontrak. Penjual (eksportir) juga tidak akan
mengirim barangnya selama ia belum mendapat kepastian bahwa harga
yang telah disepakati dalam kontrak dibayar.
Karena jarak kedua pihak, praktek perdagangan yang mungkin
berbeda dan mungkin saja satu sama lain tidak kenal, maka semua
perbedaan ini dapat menjadi hambatan bagi perdagangan
internasional.
Namun dengan lahirnya sistem kredit berdokumen (documentary
credits), yang juga dikenal dengan Letters of Credit (L/C),
perbedaan-perbedaan itu dapat dijembatani. Kredit berdokumen ini
terus berkembang. Sistem inilah yang paling banyak digunakan dan
berperan penting sangat penting untuk membayar barang-barang
dalam perdagangan internasional.
5

Dalam kaitannya dengan perdagangan internasional, L/C
memainkan peran yang cukup penting. Pengadilan Inggris misalnya
telah lama mengakui bahwa L/C adalah mekanisme pembayara yang
paling penting dalam perdagangan internasional.
6
Pengadilan
Inggris memandang L/C sebagai “the life blood of international
commerce.”
7
Peran tersebut adalah:
(1) memudahkan pelunasan pembayaran transaksi ekspor;
(2) mengamankan dana yang disediakan importir untuk membayar
barang impor;

5
Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM,
Edisi 2, Juli 2001, hlm. 1 Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan
Aspek Hukum dan Bisnis, Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2000, hlm 1.
(Ramlan Ginting menyebutkan pula bahwa L/C ini adalah primadona dalam
pembayaran transaksi ekspor-impor. Dari sini tergambar bahwa L/C
mempunyai fungsi sebagai suatu sistem pembayaran).
6
Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essays on
International Trade Law, London: Martinus Nijhoff Publ., 1988, hlm. 574.
7
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 574.
(3) menjamin kelengkapan dokumen pengapalan.
8

Karena itu tampak bahwa L/C merupakan jaminan atas pelunasan
barang yang akan dikirim oleh penjual (eksportir). Jadi untuk
kepentingan eksportir, L/C harus dibuka terlebih dahulu sebelum
barang dikirim.
Di pihak lain, pembukaan L/C merupakan jaminan pula bagi
importir untuk memperoleh pengapalan barang secara utuh sesuai
dengan kontrak. Sedangkan dana L/C tersebut tidak akan dicairkan
tanpa penyerahan dokumen pengapalan. Dengan demikian L/C tampak
sebagai suatu instrumen yang ditawarkan bank devisa untuk
memudahkan lalu lintas pembiayaan dalam transaksi dagang
internasional.
9

Dari uraian di atas, tampak bahwa sangatlah wajar bila L/C
kemudian menjadi lebih banyak disukai oleh para pihak, khususnya
penjual dan pembeli dalam bertransaksi dagang secara lintas
batas. Alasan utama para pedagang menyukai sistem ini, adalah
karena adanya unsur janji bayar yang ada pada sistem ini.
10
Ramlan
Ginting menggambarkan sebagai berikut:
“Penerima yang menjual barang kepada pemohon merasa aman
dibayar dengan cara L/C karena adanya janji pembayaran dari
bank penerbit kepadanya. Sebaliknya, pemohon juga merasa
aman membeli barang dengan cara L/C karena akan menerima
dokumen-dokumen yang dikehendakinya sebab pemenuhannya
merupakan syarat pembayaran langsung.”
11



8
Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM,
edisi 2, Juli 2001, hlm. 1; M. Rafiqul Islam, International Trade Law,
Sydney: LBC, 1999, hlm. 340-341.
9
Amir M.S., op.cit., hlm. 2.
10
Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 18
11
Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 18
b. Batasan
Hans van Houtte mendefinisikan kredit berdokumen ini sebagai
berikut:
"... an arrangement in which the bank, acting for and on
behalf of the buyer (customer), undertakes to pay the seller
(beneficiary) a sum of money or to accept a bill of exchange
drawn by the seller, or to authorize another bank to do so
on presentation by the seller of specified document and on
condition that all other credit terms are met."
12

Amir M.S. menggambarkan L/C sebagai berikut:
"L/C adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa
atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan
dan ditujukan kepada eksportir di luar negara yang menjadi
relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan
bahwa eksportir penerma L/C diberi hak oleh importir untuk
menarik wewel (surat perintah untuk melunasi utang) atas
importir bersangkutan untuk sejumlah uang yang disebut dalam
surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin untuk
megnakseptir atau menghonorir wesel yang ditarik tersebut
asal sesuai dan memenuhi semua syarat yang tercantum di
dalam surat itu."
13

UCP (Pasal 2 UCP 500) memberi definisi L/C sebagai berikut:
"L/C adalah janji membayar dari bank penerbit kepada
penerima yang pembayarannya hanya dapat dilakukan oleh bank
penerbit jika penerima menyerahkan kepada bank penerbit
dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C.”
14


12
Hans Van Houtte, 258. Definisi ini disarikan beliau dari batasan yang
terdapat dalam Pasal 2 the Uniform Customs and Practice for Documentary
Credits (UCP) yang berbunyi sebagai berikut: "Any arrangement, however
named or described, whereby a bank (the Issuing Bank), acting at the
request and on the instructions of a customer (the Applicant) or on its
own behalf,
(i) is to make a payment to or to the order of a third party (the
Beneficiary), or is to accept and pay bills of exchange (draft(s)) drawn
by the Beneficiary; or
(ii) authorises another bank to effect such payment, or to accept and
pay such bills of exchange (draft(s)); or
(iii) authorises another bank to negotiate;
against stipulated document(s), provided that the terms and conditions
of the Credit are complied with."
13
Amir M.S., op.cit., 2001, hlm. 1.
14
Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 11 (Ramlan Ginting juga memberikan
aneka definisi yang diberikan oleh para sarjana, op.cit., hlm. 11 dst.
Teks inggris Pasal 2 UCP berbunyi: "For the purposes of these articles,
the expressions "Documentary /credit(s)" and "Standby Letter(s) of
Credit" (hereinafter referred to as "Credit(s)", means any arrangement,
however, named or described, whereby a bank (the "issuing bank") acting
Beberapa hal penting dari definisi di atas yaitu:
(a) Bank yang memberikan jaminan pembayaran tersebut adalah bank
yang menerbitkan Kredit Dokumenter L/C tersebut (bank penerbit
atau Issuing Bank).
(b) Dokumen-dokumen yang disyaratkan dapat berupa dokumen
perdagangan ataupun dokumen yang diterbitkan instansi-instansi
pemerintah, asuransi maupun pengangkutan.
15

(c) Karena Kredit Dokumenter (L/C) merupakan Jaminan bersyarat,
maka pembayaran sudah tentu dilakukan atas nama Buyer
(pembeli), dan pembayaran itu dilaksanakan bila dokumen-
dokumen yang disyaratkan telah diserahkan.
(d) Karena dokumen-dokumen tersebut mewakili barang, maka
penyerahan dokumen itu berarti memberikan hak kepada buyer
(pembeli) atas pemilikan barang-barang yang dikapalkan
tersebut.
(e) Karena Kredit Dokumenter (L/C) merupakan jaminan bank, maka
segera setelah pengapalan barang, Seller akan meminta
pembayaran dari Bank, bukan mengandalkan kemampuan dan
kesediaan Buyer (pembeli) untuk membayar.
Namun sekalipun demikian, berhubung jaminan tersebut adalah
jaminan bersyarat, maka seller (penjual) hanya berhak meminta
pembayaran apabila dia sudah memenuhi semua syarat yang telah
ditetapkan dalam Kredit Dokumenter tersebut.
f. Untuk kelancaran pembayaran atas dasar Kredit Berdokumen (L/C)
diperlukan paling tidak dua buah bank, yaitu Bank pembeli

at the request and on the instructions of a customer (the "Applicant")
or on its own behalf, i. is to make a payment to or to the order of a
third party (the "beneficiary") or is to accept and pay bills of
exchange (Draft(s)) drawn by the Benficiary, or ii. authorises another
bank to effect such payment, or to accept and pay such bills of
exchangge (Draft(s)), or iii. authorises another bank to negotiate,
against stipulated document(s), provided that the terms and conditions
of the Credit are complied with. For the purpose of these Articles,
branches of a bank in different countries are considered another bank.
15
Secara umum dokumen-dokumen itu antara lain: Commercial Invoice
(Faktur Dagang), Packing and Weight List, Certificate of Origin,
Polis/Sertifikat Asuransi serta Bill of Lading/Airway Bill (dokumen
pengangkutan) atau dokumen pengangkutan lainnya, seperti Certificate of
Inspection. (khusus di Indonesia dengan penambahan LKP yang dikeluarkan
SGS untuk impor dan ekspor barang-barang tertentu), dll.
sebagai penerbit L/C (Issuing Bank atau bank penerbit) dan
Bank penjual yang terletak di negara penjual itu sendiri.

c. Kontrak Penjualan Sebagai Dasar Terbitnya L/C
Persiapan yang harus ada untuk terbitnya L/C adalah
kesepakatan antara Seller dan Buyer untuk membuat dan
menandatangani sebuah sales contract (kontrak penjualan).
Yang mendasari terbitnya sebuah L/C adalah kontrak jual beli
atau sales contract yang sudah disepakati bersama dan kemudian
disahkan dengan penandatanganan oleh masing-masing pihak antara
penjual dan pembeli.
Kontrak penjualan tersebut biasanya mencantumkan pula
bagaimana barang tersebut akan dikirim: apakah melalui darat,
laut atau udara; dan pihak mana yang akan menutup asuransi.
Kredit berdokumen juga dikeluarkan untuk proyek-proyek
konstruksi internasional jangka panjang dan proyek-proyek
investasi.
16
Pasal 4 UCP memberlakukan kredit berdokumen ini
terhadap bukan saja untuk barang tetapi juga terhadap jasa dan
bentuk-bentuk lainnya ('services and/or other performances'),
meskipun untuk hal-hal yang terakhir ini lebih banyak digunakan
Standby L/C atau Bank Garansi.
17

L/C sendiri adalah dokumen kontrak. Namun demikian,
kedudukan L/C sebagai suatu kontrak dan kontrak jual belinya
sifatnya adalah terpisah atau independen.
18
Sifat independen L/C
tampak pada aplikasi L/C dan realisasi pembayaran L/C.
Dalam aplikasi L/C, bank penerbit (issuing bank) tidak
meminta atau mensyaratkan diperlihatkannya kontrak penjualan dari
pemohon (buyer atau pembeli). Dalam realisasi pembayaran L/C,
bank hanya memeriksa apakah dokumen-dokumen yang dipersyaratkan

16
Hans Van Houtte, op.cit., 257.
17
Hans Van Houtte, op.cit., 258n.
18
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 15; Hans van Houtte, op.cit., hlm 259.
(Menurut van Houtte, dengan tidak adanya hubungan antara kontrak
penjualan atau jual beli dengan L/C, seorang nasabah (penjual) tidak
dapat meminta bank penerbit untuk tidak melakukan pembayaran dengan
alasan bahwa barang yang dikirim kepadanya tidak sesuai dengan kontrak).
L/C telah terpenuhi.
19
Hal inilah yang disebut juga sebagai
prinsip otonomi dari L/C.
20

Pasal 3 UCP 500 menegaskan sifat independen ini:
"Credits, by their nature, are separate transactions from
the sales or other contract(s) on which they may be based
and banks are in no way concerned with or bound by such
contract(s), even if any reference whatsoever to such
contract(s) is included in the Credit. Consequently, the
undertaking of a bank to pay, accept and pay Draft(s) or
negotiate and/or to fulfill any other obligation under the
Credit, is not subject to claims or defences by the
Applicant resulting from his relationships with the issuing
bank or the beneficiary." (Huruf miring oleh penulis).


19
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 15.
20
E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 263 (menyebutkan ‘the principle of the
autonomy of the L/C’. Prinsip ini didasarkan pada fakta bahwa bank lebih
berkepentingan atau lebih peduli dengan dokumen-dokumen, bukan denga
barang-barang yang tercantum di dalamnya).
d. Hubungan Hukum antara Para Pihak dalam Transaksi L/C

Pada umumnya, para pihak yang terlibat dalam pembukaan
transaksi L/C adalah:
(1) Applicant (buyer atau pembeli): adalah pihak yang meminta
kepada sebuah bank untuk membuka L/C atas namanya (sebagai
pembeli).
(2) Penerima (Beneficiary) adalah pihak yang disebutkan dalam L/C
(sebagai penjual).
(3) Bank penerbit (Opening Bank atau issuing bank) adalah bank
yang membuka atau menerbitkan L/C (Bank pembeli).
(4) Bank penerus atau Advising Bank adalah Bank yang meneruskan
L/C yang diterima dari opening bank kepada beneficiary (bisa
Bank penjual).
21

Di antara para pihak tersebut di atas, hubungan hukum yang
timbul adalah sebagai berikut:
(1) Nasabah dengan Bank
Nasabah atau disebut juga pemohon dengan banknya biasanya
menandantangani kesepakatan atau perjanjian tentang permintaan
penerbitan L/C. Kesepakatan ini sudah barang tentu tunduk pada
syarat yang ditetapkan oleh pihak bank. Dalam hal ini biasanya
bank mensyaratkan adanya jaminan dari nasabahnya. Misalnya, bank
mensyaratkan dokumen-dokumen pengapalan (bill of lading atau

21
Di samping 4 pihak tersebut di atas, pihak-phak lain yang dapat
terkait adalah:
(1) Negotiating Bank adalah Bank yang melakukan negosiasi atas draft
(wesel) dan dokumen pengapalan milik seller (biasanya advising bank juga
merupakan negotiating bank).
(2) Reimbursing Bank adalah Bank kepada siapa penagihan atas pengapalan
barang dilakukan (bisa opening bank atau bank lain yang berfungsi
sebagai imbursing bank). Penunjukan bank ini biasanya terjadi apabila
antara eksportir dan importir tidak ada hubungan rekening untuk
menyelesaikan pembayarannya.
(3)Confirming Bank (bank pengkonfirmasi) adalah Bank yang diminta oleh
bank untuk menambahkan konfirmasi pada L/C.
(4) Pihak lainnya yang tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan L/C,
yakni: Perusahaan Pelayaran/Perkapalan; Bea dan Cukai/Pabean; Perusahaan
Asuransi; Badan-badan pemeriksa (perwakilan Sucofindo); Badan-badan
penelitian lainnya. (Amir M.S., op.cit. (note 1), hlm. 3,4).
konosemen). Bank, jika menurutnya diperlukan, menahan dokumen-
dokumen ini sampai klien telah membayar.
22

(2) Bank Penerbit dan Penerima
Bank penerbit menandatangani L/C untuk kepentingan penjual.
L/C di dalamnya mengandung persyaratan dari Bank untuk membayar
atau menerima atau menegosiasikan suatu bill of exchange segera
setelah dokumen yang dipersyaratkan dalam kontrak dasar
diperlihatkan. L/C menetapkan tanggal jatuh tempo dan tempat
untuk mengajukan dokumen untuk pembayaran.
23

Dalam hal ini, hukum nasional negara-negara berbeda mengenai
hubungan hukum antara bank penerbit dan penerima ini. Misalnya,
menurut negara-negara Common Law (misalnya hukum Inggris dan
Amerika Serikat), hubungan hukum antara bank penerbit dan
penerima termuat dalam kontrak (kontraktual).
24

Sedangkan menurut negara dengan sistem hukum Civil, misalnya
hukum Belgia dan Belanda, hubungan hukum tersebut tampak pada
kehendak tegas dari para pihak. Perbedaan dalam sistem hukum ini
menjadi penting dalam praktek.
25

Jika prestasi bank bersifat kontraktual, maka dalam hal
demikian itu prestasi tersebut harus diperlihatkan bahwa penerima
telah menerima usulan tersebut. Eksportir atau penjual dapat
mengajukan gugatan terhadap bank penerbit berasarkan L/C. Dalam
hal ini ia berhak atas pembayaran jika ia telah memenuhi syarat-
syarat dalam L/C.
26

(3) Bank Penerbit dan Bank Penerus
Hubungan hukum antara bank penerbit dan bank penerus seperti
halnya antara seorang prinsipal dan agen. Dalam hal ini bank
penerbit bertindak atas nama dan untuk bank penerbit. Jika bank
penerbit telah membayar sejumlah uang kepada penerima sesuai

22
Hans Van Houtte, op.cit., 263; Chia-Jui Cheng, op.cit., hlm. 581.
23
Hans Van Houtte, op.cit., 263; Chia-Jui Cheng, op.cit., hlm. 581.
24
Hans Van Houtte, op.cit., 264.
25
Hans Van Houtte, op.cit., 264.
26
Hans Van Houtte, op.cit., 264; lihat pula Ramlan Ginting, op.cit.,
hlm. 88-89; Chia-Jui Cheng, op.cit., hlm. 582.
dengan mandatnya, atau telah menerima suatu bill of exchange
(wesel) yang ditarik oleh penerima, maka ia berhak atas
pembayaran dari bank penerbit.
27

(4) Penerima dan Bank Penerus
Terhadap penerima, bank penerus seolah-olah bertindak
sebagai agen dari bank penerbit. Karenanya, penerima tidak berhak
untuk menggugat bank penerbit.
28

(5) Bank Penerbit dan Bank Pengkonfirmasi
Jika bank lain menjadi Confirming Bank (Bank
Pengkonfirmasi), yakni bank yang turut menjamin pembayaran L/C,
maka ia bersama-sama dengan bank penerbit bertanggung jawab untuk
membayar suatu bill of exchange.
29



27
Hans Van Houtte, op.cit., 264; lihat pula Ramlan Ginting, op.cit.,
hlm. 89.
28
Hans Van Houtte, op.cit., 264; lihat pula Ramlan Ginting, op.cit.,
hlm. 92.
29
Hans Van Houtte, op.cit., 264.
e. Pembukaan L/C
1). Aplikasi (Application)
Segera setelah penjual dan pembeli menandatangani kontrak
penjualan. Dalam kontrak tersebut memuat kesepakatan bahwa
transaksi akan diselesaikan dengan Letter of Credit (L/C), maka
pembeli akan meminta kepada banknya untuk membuka L/C.
Data-data yang harus tercantum dalam formulir aplikasi
terdiri dari:
(1) Nama dan alamat Beneficiary;
(2) Nama dan alamat pembeli/pemohon;
(3) Nilai L/C yang dibuka dengan shipping terms yang talah
disetujui (FOB/CIF/C&F);
(4) Jenis L/C (Revocable/Irrevocable);
(5) Syarat pembayaran (Sight/Usance);
(6) Uraian barang;
(7) Dokumen-dokumen yang diperlukan, baik jenis maupun jumlahnya;
(8) Masa berlakunya L/C (Validity of the Credit) dengan
menetapkan “expire date”;
(9) Tanggal pengapalan terakhir;
(10) Pelabuhan bongkar muat;
(11) Persyaratan barang yang harus dikirim oleh penjual;
(12) Ketentuan-ketentuan khusus yang diperlukan (misalnya: boleh
tidaknya penggantian kapal; atau boleh tidaknya pengapalan
sebagian);
(13) Cara penyampaian L/C lewat surat atau teleks, dan sebagainya.
2) Pembukaan/Penerbitan L/C (Opening/Issuing of the Credit)
Atas dasar aplikasi pembukaan L/C yang telah disetujui, bank
penerbit membuka dan menerbitkan L/C yang ditujukan kepada
penerima, yang isinya sesuai benar dengan apa yang telah
tercantum pada formulir aplikasi.
Ketentuan-ketentuan yang ditambahkan oleh bank penerbit
tersebut umumnya terdiri dari:
(1) Syarat pengapalan, seperti: larangan terhadap penggunaan
kapal-kapal berbendera negara tertentu;
(2) jangka waktu penyerahan dokumen;
(3) ketentuan-ketentuan tentang endorsement terhadap dokumen-
dokumen yang negotiable seperti B/L, Draft dan sebagainya;
(4) reimbursement instruction (perintah kepada negotiating bank
untuk penagihan terhadapnya);
(5) ketentuan pengiriman dokumen, ke mana dan berapa kali
pengiriman,.
3) Syarat-syarat L/C
L/C yang dibuka oleh suatu bank harus memenuhi syarat-syarat
umum yaitu:
(1) Menyebutkan nama dan alamat penerima dan pemohon dengan jelas;
(2) Menyebutkan masa berlakunya L/C;
(3) mencantumkan nama bank penerus (advising bank) yang dituju;
(4) Mencantumkan dengan tegas jenis L/C;
(5) Uraian barang harus jelas dan tegas;
(6) Ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat dalam L/C harus jelas
tidak berbelit-belit dan tidak mensyaratkan hal-hal yang tidak
mungkin dipenuhi oleh penerima (beneficiary); dan
(7) Menyatakan bahwa L/C tunduk pada UCPDC dengan mencantumkan
klausul yang berbunyi: “This credit is subject to Uniform
Costums and Practice for Documentary Credit 1993 revision, ICC
Publication 500.”

f. Aturan Hukum Yang Berlaku (Applicable Rules)
Kredit berdokumen digunakan untuk membiayai transaksi
perdagangan internasional. Karena itu masalah hukum apa yang akan
mengaturnya merupakan salah satu persoalan yang penting.
Di samping itu, ada juga negara-negara yang mengeluarkan
hukumnya sendiri guna mengatur Kredit Dokumenter. Dalam hal
demikian, dapat saja antara hukum nasional suatu negara akan
menjadi konflik dengan hukum nasional negara lainnya.
30

Guna mencegah agar konflik tersebut tidak menjadi hambatan
bagi perdagangan internasional, suatu pemecahan atau jalan keluar
perlu ditempuh. Salah satu pemecahan yang acapkali ditempuh
adalah dengan mengacu kepada prinsip-prinsip hukum perdata
internasional yang relevan dalam mengatur L/C.
Ada juga keinginan agar hukum yang mengatur kredit
berdokumen itu tercipta adanya suatu keseragaman hukum. Salah
satu upaya ke arah unifikasi hukum tersebut adalah lahirnya UCP
oleh ICC.
Berdasarkan uraian di atas, aturan hukum yang mengatur
kredit berdokumen ini adalah: (1) Ketentuan-ketentuan Hukum
Perdata Internasional; dan (2) The Uniform Customs and Practice
(UCP).
31

(1) Hukum Perdata Internasional
Hukum yang berlaku terhadap L/C sebenarnya harus dibedakan
dengan hukum yang berlaku terhadap kontrak induk (yakni kontrak
penjualan yang menjadi dasar lahirnya L/C). Menurut van Houtte,
prinsip-prinsip berikut adalah yang biasanya berlaku dalam
praktek:
(a) Dalam hubungan antara nasabah dan bank penerbit (the issuing
bank), jika kesepakatan atau perjanjian kredit memuat klausul
pilihan hukum, maka hukum yang dipilih para pihaklah yang akan
berlaku terhadap kontrak.

30
Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 574 (Schmitthoff menggambarkan
hukum nasional Inggris tentang L/C, yakni Section 72 dari the Bills of
Exchange Act 1882).
Bila tidak ada hukum yang dipilih, maka hubungan hukum antara
nasabah dan bank penerbit (the issuing bank) pada umumnya
diatur oleh hukum di negara di mana 'the most characteristic
performance' (pelaksanaan kontrak yang paling
berkarakteristik) adalah yang akan digunakan, atau di mana
pihak melaksanakan performance (prestasi) berdomisi, yaitu
biasanya negara di mana bank yang memberikan kredit berada;
32

(b) dalam hal kaitannya antara bank penerbit (the issuing bank),
bank penerus (the adivising bank) dan penerima (the
beneficiary), maka hukum yang berlaku adalah hukum yang
dipilih mereka.
33

Bila tidak ada hukum yang dipilih, maka hukum yang berlaku
adallah hukum di negara di mana kredit tersebut dicairkan. Hal
ini adalah hukum di (negara) mana penerima (beneficiary) atau
penjual menerima dokumen dan menerima pembayaran, yaitu
biasanya negara dari bank penerus (the adivising bank) atau
bank pengkonfirmasi (confirming bank).
34

(c) Jika tidak ada hukum yang dipilih oleh bank, maka hubungan
antara bank penerbit (the issuing bank) dan bank penerus (the
advising bank) diatur oleh hukum di mana bank penerbit
(advising bank) berada (didirikan). Hal ini biasanya berlaku
terhadap hubungan antara bank penerus (the advising bank) dan
penerima (the beneficiary). Sulit untuk diterima bila sistem
hukum yang berbeda diterapkan terhadap dua aspek dari satu
atau transaksi yang sama.
35



31
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 25; Hans Van Houtte, op.cit., 265.
32
Hans Van Houtte, op.cit., 264. Di negara-negara Common Law, penerapan
hukum perdata internasional menunjukkan bahwa dalam hubungan hukum antar
para pemohon (nasabah) dengan bank penerbit prinsip hukum perdata
interansional yang akan diterapkan adalah the law of the closest
connection and most real connection (Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm.
580.
33
M. Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 350 (mengaskan bahwa “... the parties
to the underlying transaction specify a choice of law and forum and
submit themselves to the law and jurisdictions of that country in the
case of a dispute”); Lihat pula Ramlan Ginting, op.cit., 25.
34
Hans Van Houtte, op.cit., 265.
(2) Uniform Customs and Practice
36

International Chamber of Commerce (ICC) yaitu Kamar Dagang
International telah menerbitkan ketentuan mengenai kredit
berdokumen. Ketentuan tersebut yakni Uniform Customs and Practice
for Documentary Credit (UCPDC). Aturan-aturan yang termuat di
dalamnya merupakan kodifikasi dari praktek-praktek perdagangan
internasional dan praktek perbankan.
37

ICC untuk pertama kali menerbitkan UCP pada tahun 1933. UCP
mengalami beberapa kali revisi. Revisi dilakukan pada tahun 1951,
1962, 1974, 1983 dan terakhir 1993 (UCP DC No 500 tahun 1993 yang
berlaku mulai tanggal 1 Januari 1994). Revisi ini dilakukan untuk
mengakomodasi perkembangan teknologi, perkembangan teknik dan
perkembangan di bidang pengangkutan.
Dalam pelaksanaan Kredit Dokumenter, bank-bank pada umumnya
di lebih dari 170 negara telah menundukkan diri kepada UCP. Dalam
dokumen L/C mereka mencantumkan klausul berbunyi: "This credit is
subject to Uniform Custems and practice for Documentary Credit,
ICC Publication No 500 1993 Revision."
38

UCP 500 memuat ketentuan-ketentuan dan penjelasan -
penjelasan tentang Kredit Dokumenter (L/C). UCP terdiri dari 49
pasal, yang dikelompokkan ke dalam sub bagian berikut:
A. General provisions and definitions
B. Form and notification of credits
C. Liabilities and responsibilities
D. Documents
E. Miscellaneuous provisions
F. Transferable credits
G. Assignment of proceeds.


35
Han van Houte, op.cit., hlm. 265.
36
Lihat antara lain, E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 248 et.seq., George
Curmi, "Documentary Credits and Their Administration," dalam Jonathan
Reuvid (ed.), Strategic Guide to International Trade, Kogan Page, 1997,
hlm. 133 et.seqq.; M. Rafiqul Islam, op.cit., hlm. 350-351.
37
Ellinger mengungkapkan bahwa praktik awal penggunaan kredit
berdokumen in bermula pada praktik perbankan Amerika Serikat, yaitu
ketika dilangsungkannya the New American Commercial Credit Conference di
New York pada tahun 1920. (E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 248).
38
Sesuai dengan bunyi ketentuan pasal 1 UCP.
Aturan-turan UCP sifat atau kekuatan hukumnya semata-mata
mengatur. Kesepakatan para pihak masih tetap berlaku. Bahkan
kesepakatan para pihak dapat mengenyampingkan beberapa aturan
ketentuan dari UCP. Hal ini dapat terjadi manakala mereka
beranggapan bahwa aturan tertentu dari UCP tidak sesuai dengan
keinginan mereka.
39

Meskipun UCP telah diimplementasikan di banyak negara, UCP
sendiri memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
(1) UCP pada prinsipnya akan berlaku hanya atau sepanjang bank
penerbit mencantumkan atau memilih UCP secara tegas sebagai
aturan yang mengatur L/C.
40
Dalam kaitan ini Ellinger
menyatakan bahwa:
“... it would appear advisable to regard the Code ... as being
applicable by reason of its incorporation in documentary
credit transaction. It would, thus, constitute a contractual
document and would not enjoy the status of a set of norms
consecreated by usage.”
41


(2) UCP tidak mengatur masalah penipuan dalam transaksi L/C.
Menurut Ginting, unsur penipuan ini merupakan alasan hukum
bagi bank penerbit atau kuasanya untuk menolak melakukan
pembayaran L/C kepada penerima meskipun semua dokumen yang
disyaratkan sesuai dengan persyaratan.
42

(3) UCP tidak memuat aturan mengenai pilihan hukum. Disebutkan di
atas, bahwa negara-negara pun kadang kala memiliki aturan
hukum nasional yang mengatur kredit berdokumen. Dalam hal
terjadinya konflik hukum, UCP tidak memuat aturan tegas
mengenai penyelesaiannya.


39
Ademuni-Odeke, The Law of International Trade, London: Blackstone,
1999, hlm. 271. (Beliau menegaskan bahwa "... the UCP is subject to the
express terms of the credit"); lihat pula E.P. Ellinger, op.cit., hlm.
251 et.seq. (mengungkapkan kekuatan mengikat UCP di berbagai negara yang
ternyata berbeda-beda).
40
Lihat pasal 1 UCP; Lihat pula Clive M. Schmitthoff, “The New Uniform
Customs for Letters of Credit,” dalam: Chia-Jui Chen (ed.), op.cit.,
hlm. 449.
41
E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 252-253.
42
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 3.

g. Klasifikasi L/C
(1). Jenis-jenis L/C.
(1) Revocable L/C
Jenis L/C dapat berupa Irrevocable L/C dan Revocable L/C.
43

Menurut UCP, para pihak harus menegaska apakah suatu L/C adalah
Revocable atau Irrevocable.
44

Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan
oleh penerbit secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak
penerima. Pasal 8 UCP menyatakan: “A revocable credit may be
amended or cancelled by the Issuing Bank at any moment and
without prior notice to the Beneficiary.”
Dalam hal ini, kedudukan penerima lemah. Ia menanggung
resiko yang tidak ringan. Hal ini antara lain karena sifatnya,
maka L/C tersebut tiba-tiba dibatalkan atau diubah oleh penerbit.
Namun demikian UCP tetap melindungi penerima (bank penerima) yang
beritikad baik. Bank penerima (negotiating bank) yang telah
membayar L/C kepada penerima sebelum ia diberitahu adanya
pembatalan sepihak dari penerbit, ia tetap berhak atas pembayaran
dari penerbit. Pembayaran L/C dapat dilakukan dengan cara
pembayaran secara unjuk (sight payment), akseptasi (acceptance),
negosiasi (negotiation), dan pembayaan kemudian (deferred
payment).
45
Pasal 8 UCP menyatakan:
“...the Issuing Bank must:
i. reimburse another bank with which revocable Credit has
been made available for sight payment, acceptance or
negotiation – for any payment, acceptance or
negotiation made by such bank – prior to receipt by it
of notice of amendment or cancellation against
documents which appear on their face to be in
compliance with the terms and conditions of the
Credit;
ii. reimburse another bank with which a revocable Credit
has been made available for deferred payment, if such
a bank has, prior to receipt by it of notice of
amndment or cancellation, taken up documents which

43
Pasal 6 (a) UCP.
44
Pasal 6 (b) UCP.
45
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 36.
appear on their face to be in compliance with the
terms and conditions of the Credit.


(2) Irrevocable L/C
Disebutkan di atas bahwa para pihak harus menegaskan jenis
L/C-nya. Dalam hal tidak ada penegasan tersebut, maka suatu L/C
dianggap sebagai Irrevocable L/C.
46
Contoh klausul Irrevocable L/C
memuat ketentuan atau bunyi klausul berikut:
“We undertake to honour such drafts on presentation provided
that they are drawn and presented in conformity with the
terms of this credit.”
47

Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat dibatalkan atau
diubah secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang
terlibat dalam transaksi L/C yaitu penerima dan bank penerbit.
Kedudukan penerima lebih terjamin dari risiko. Tiap-tiap
perubahan harus ada persetujuannya. Karena sifatnya yang tidak
dapat diubah secara sepihak, maka jenis L/C ini yang paling
banyak disukai oleh penerima dan bank (bank penerima yang
menyediakan kredit ekspor).




46
Pasal 6 (c) UCP.
47
Ademuni-Odeke, op.cit., hlm. 277.
(3) Irrevocable Confirmed L/C
Jenis L/C adalah Irrevocable apabila L/C tersebut
mendapatkan konfirmasi sebuah bank pengkonfirmasi (Confirming
Bank). Dalam hal ini bank pengkonfirmasi turut menjamin kewajiban
bank penerbit dengan memberikan konfirmassi atau janjinya untuk
membayar L/C.
Tampak bahwa jenis L/C ini memberi kepastian jaminan kepada
penerima. Jika bank penerbit tidak melakukan pembayaran atas
barang yang dikapalkan, maka bank pengkonfirmasi akan membayar
barang yang telah dikapalkan.
Permintaan demikian demikian biasanya dituliskan dengan
kata-kata sebagai berikut dalam L/C: “Please advice beneficiary
with adding your confirmation”.
Yang dapat menjadi bank pengkonfirmasi bisa bank penerus
atau bank lain yang diminta oleh bank penerbit. Dengan adanya
permohonan korfirmasi tersebut, dan jika bank yang diminta
confirm L/C tersebut menyepakatinya, maka ia akan menambahkan
konfirmasinya dalam L/C, sebelum L/C diserahkan kepada penerima.

(4) Sight (Payment) L/C
Jenis Sight L/C (Payment L/C) adalah L/C yang pembayaranya
dilakukan secara tunai segera setelah dokumen-dokumen yang
disyaratkan diajukan atau diserahkan.
Setelah penerima mengapalkan barang, maka dia dapat langsung
minta pembayaran kepada negotiating bank dengan menyerahkan
dokoumen-dokumen pengapalan yang diperlukan disertai dengan
wesel/draf-nya.
Atas pembayaran yang dilakukan, maka bank penegosiasi
(negotiating bank) segera melakukan penagihan/reimbursement
kepada bank penerbit (opening/issuing bank). Bank penerbit akan
segera pula melakukan pembayaran pada saat menerima dokumen-
dokumen tersebut.

(5) Acceptance L/C
Jenis Acceptance L/C atau L/C berjangka adalah L/C yang
pembayarannya dilakukan pada suatu jangka waktu tertentu setelah
wesel diunjukan atau setelah barang dikapalkan.
Acceptance L/C merupakan pemberian kredit kepada pembeli
oleh penjual sebab pembeli di luar negeri akan menerima barang-
barang tanpa melakukan pembayaran pada saat yang sama melainkan
pada jangka waktu tertentu sesuai dengan yang ditetapkan dalam
L/C.


2. Bentuk Khusus Kredit Berdokumen
(1) Standby L/C
Jenis Standby L/C lebih dikenal sebagai alat atau sarana
penjamin. Jenis L/C ini acapkali disebut pula sebagai Guarantee
L/C. Jenis ini cenderung digunakan di wilayah suatu negara di
mana isu jaminan itu tidak dimungkinkan atau tidak dibolehkan.
48

Jenis L/C ini dimaksudkan untuk melindungi penerima jika pihak
lainnya wanresptasi (berdasarkan kontrak).
Menurut Ginting, jenis L/C ini adalah “bahwa bank penerbit
bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya dalam hal pemohon
wanprestasi.”
49

Perlu pula dinyatakan di sini bahwa Standby L/C dalam hal
tertentu berbeda dengan bank guarantee (garansi bank). Perbedaan
tersebut Standby L/C merupakan kewajiban utama dari bank
penerbit.
50
Yang membedakan jenis L/C ini dengan jaminan bank
adalah bahwa Standby L/C tunduk pada UCP.
51
Sedangkan Bank garansi
tunduk pada hukum nasional. Di samping itu, dalam hal adanya
default (non-performance), pencairan dana langsung dilaksanakan
oleh Bank berdasarkan klaim yang diterima. Sedangkan pada bank
garansi, bank penerbit garansi bank baru mencairkan dana atau
membayar penerima (beneficiary) setelah berhasil dibuktikan
adanya default (non performance).
52




48
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
49
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 50. Cf., Ellinger menyatakan bahwa
standby credit ini “... is furnished at the instruction of the seller to
protect the buyer if the goods turn out to be faulty” (E.P. Ellinger,
op.cit., hlm. 247).
50
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 50.
51
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
52
Masukan dari Sdr. Pitman, 23 Oktober 2004.
(2) Transferable L/C
Transferable L/C adalah jenis L/C yang dapat dialihkan dari
penerima I kepada satu atau lebih penerima lainnya. Kredit yang
dialihkan dapat seluruh atau sebagiannya.
53
Dalam hal ini penerima
1 hanya dapat mengajukan permohonan. Ia tidak dapat memerintah
bank-nya untuk mengalihkan kredit. Keputusan untuk mengahlihkan
atau tidak tetap berada pada keputusan bank penerus (atau bank
pengkonfirmasi).
54

Jenis L/C ini diatur dalam pasal 48 UCP. Pasal ini
menyatakan:
“A transferable Credit is a Credit under which the
Beneficiary (First Beneficiary) may request the bank
authorised to pay, incur a deferred payment undertaking,
accept or negotiate (the “Transferring Bank” or in the case
of a freely negotiable Credit, the bank specifically
authorised in the Credit as a Transferring Bank, to make the
Credit available in whole or in part to one or more other
Beneficiary(ies) (Second Beneficiary(ies)).”




53
George Curmi, op.cit., hlm. 133.
54
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
(3) Back to Back L/C
Back to Back L/C adalah L/C yang dibuka oleh penerima I dari
sebuah L/C kepada penerima lainnya. Di dalam jenis ini, transaksi
L/C melibatkan dua L/C, L/C induk (Master L/C) dan L/C anak (Baby
L/C).
Dalam L/C back to Back penerima I semata-mata bertindak
sebagai pemohon. Ia bertanggung jawab penuh terhadap
pembayarannya kepada penerima II. Kewajiban penerima II adalah
memenuhi ketentuan-ketentuan sesuai dengan yang ditetapkan dalam
Back to Back L/C, tanpa melihat syarat dan ketentuan yang ada
pada L/C induknya (Master L/C).
L/C induk dan L/C anak masing-masing terpisah, meskipun
persyaratannya sama. Yang berbeda adalah nilai L/C dan tanggal
jatuh tempo L/C. L/C induk lainnya relatif lebih besar daripada
L/C anak. L/C Induk memiliki jatuh tempo yang lebih lama
dibandingkan jatuh tempo L/C anak.
55

Jenis L/C ini lebih banyak digunakan jika kredit yang
ditransfer tidak dapat digunakan karena berbagai alasan. Misalnya
adanya perbedaan dalam nilai mata uang pembelian dan nilai mata
uang penjualan barang dan dokumen-dokumen pengapalan barang yang
harus diubah atau diganti.
56




55
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 47.
56
George Curmi, op.cit., hlm. 134.
(4) Revolving L/C
Revolving L/C adalah L/C yang secara otomatis berlaku secara
berulang-ulang oleh penerima dalam jumlah tertentu selama jangka
waktu tertentu, tanpa harus memasukkan permohonan penerbitan L/C
baru atau memohon perubahan terhadap L/C.
57

Revolving L/C dapat bersifat Kummulatif atau Non-kummulatif.
Dalam hal Revolving L/C kumulatif, bila nilai L/C tidak
direalisasi seluruhnya, maka sisa nilai L/C tersebut akan
ditambahkan dengan nilai L/C semula untuk pengapalan periode
berikutnya. Dalam hal Non-kummulatif, sisa L/C yang tidak
direalisasi dihapus, dan untuk masa berlaku/ periode berikutnya
adalah sebesar nilai L/C semula.
58



57
Lihat pula George Curmi, op.cit., hlm. 134.
58
Amir M.S., op.cit., hlm. [FIND PLS].
(5) Red Clause L/C
Red Clause L/C adalah jenis L/C yang dibayar di muka setelah
terpenuhinya syarat-syarat tertentu. Misalnya, dengan
diperlihatkannya tanda terima yang sederhana (yang ada), invoice
dan dokumen pengapalan. Nilai pembayaran di muka ini dinyatakan
dalam L/C. misalnya, 30 % atau 40 % dari nilai barang.
59

Jenis L/C ini memuat klausul khusus yang memberi wewenang
kepada bank penerus (advising bank) untuk melakukan pembayaran
sejumlah uang muka kepada penerima sebelum dokumen-dokumen
diserahkan atau pun sebelum barang dikapalkan. Klausul Red Clause
yang dicantumkan dan dicetak dengan “warna merah” (red clause)
yang isinya memungkinkan penerima menarik pembayaran L/C di
muka.
60



59
George Curmi, op.cit., hlm. 134. Jenis yang sama dengan Red Clause
L/C adalah Green Clause L/C. Kedua jenis L/C ini pada prinsipnya adalah
sama. Hanya dalam Green Clause, biasanya bank mensyaratkan dokumen-
dokumen tambahan yang membuktikan lebih kuat adanya barang yang
diperjual-belikan. Misalnya saja, tanda terima gudang barang, dsb.
(George Curmi, op.cit., hlm. 134).
60
Ramlan Ginting, op.cit., hlm. 47.
C. Penutup
Dari uraian di atas dapat dikemukakan beberapa catatan
berikut:
(1) Kredit berdokumen (L/C) merupakan salah satu instrumen
pembayaran yang lahir dari praktek kebiasaan yang sangat
dibutuhkan oleh para pihak (penjual dan pembeli).
(2) Kredit berdokumen merupakan salah satu instrumen yang lahir
karena peran perbankan dalam memfasilitasi transaksi
perdagangan internasional. Peran inilah yang menjadikan
indikasi mengapa dalam hukum perdagangan internasional bank
dipandang pula sebagai salah satu subyek hukum yang cukup
penting.
61

(3) Sebagai sarana pembayaran, salah satu keunikan dari L/C ini
adalah sifatnya yang independen atau terlepas dari kontrak
penjualan. Dengan sifatnya ini, ketidakabsahan suatu kontrak
penjualan tidak mengakibatkan tidak sahnya pembayaran yang
dilakukan melalui L/C.
(4) Yang dapat menjadi masalah dalam L/C ini adalah kekuatan
hukumnya, khususnya aturan-aturan L/C yang tercantum dalam
UCPDC (UCP). UCP pun sebenarnya adalah instrumen hukum yang
lahir karena kebiasaan dagang. Kebiasaan dagang yang
dilakukan terus menerus dan kemudian adanya perasaan atau
anggapan bahwa kebiasaan tersebut mengikat, maka sebenarnya
kebiasaan tersebut adalah hukum. Namun khusus untuk UCP ini,
meskipun hukum, tetapi masih perlu adanya penegasan dari para
pihak untuk menundukkan dirinya secara tegas pada UCP.
(5) Yang mungkin dapat pula menjadi masalah adalah bagaimana
posisi badan peradilan terhadap penundukan diri para pihak
terhadap UCP. Sesuai dengan prinsip hukum perdagangan
internasional, khususnya prinsip kebebasan para pihak, maka
seyogyanyalah badan peradilan menghormati kehendak para pihak
tersebut terhadap aturan-aturan UCP yang mengikat mereka.

61
Lihat Bab 2 buku ini mengenai subyek hukum perdagangan
internasional,supra.
DAFTAR PUSTAKA
Ademuni-Odeke, The Law of International Trade, London: Blackstone, 1999.
Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM,
Edisi 2, Juli 2001.
Bugeja, John, "Trade Finance and Its Sources," dalam: Jonathan Reuvid
(ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan Page,
1997.
Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essays on
International Trade Law, London: Martinus Nijhoff Publ., 1988.
Curmi, George, "Demand Guarantees and Contracts Bonds," dalam: Jonathan
Reuvid (ed.), The Strategic Guide to International Trade, Kogan
Page, 1997.
Ellinger, E.P., ‘Letter of Credit,’ dalam: Norbert Horn and Clive M.
Schmitthoff (eds.), The Transnational Law of International
Commercial Transactions, Deventer: Kluwer, 1982.
Islam, Rafiqul M., International Trade Law, Sydney: LDC, 1999.
Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis,
Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2000.
Siswanto Sutojo, Membiayai Perdagangan Ekspor Impor: International Trade
Financing. Seri Manajemen No. 3, Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka,
2001.
Van Houtte, Hans, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995.


1
BAB VI
E-COMMERCE MENURUT UNCITRAL MODEL LAW ON ELECTRONIC
COMMERCE 1996

A. Pengantar
Perkembangan perdagangan internasional tidak akan pernah
terlepas dari perkembangan teknologi.
1
Karenanya dalam upaya
bangsa-bangsa mencapai kemakmuran, teknologi tidak terlepas dari
upaya tersebut.
Perkembangan aturan-aturan perdagangan juga tidak terlepas
dari pengaruh perkembangan teknologi. Pengaruh tersebut dewasa
ini semakin nyata dengan lahirnya e-commerce (electronic
commerce). Perkembangan ini cukup signifikan antara lain tampak
dari kuantitas transaksi melalui sarana ini. John Nielson, salah
seorang pimpinan perusahaan Microsoft, menyatakan bahwa dalam
kurun waktu 30 tahun, 30 % dari transaksi penjualan kepada
konsumen akan dilakukan melalui e-commerce.
2

Batasan e-commerce adalah transaksi-transaksi dalam
perdagangan internasional yang dilakukan melalui pertukaran data
elektronik dan cara-cara komunikasi lainnya.
3
Pertukaran data
elektronik tersebut dilakukan melalui berbagai teknologi. Salah
satunya adalah melalui electronic data interchange (EDI).
4

Perkembangan e-commerce mulai berkembang secara signifikan
ketika internet mulai diperkenalkan. Perkembangan internet ini

1
Cf., Assafa Endeshaw, Internet and E-commerce Law, Singapore: Prentice
Hall, 2001, hlm. 3 (mengutip Nathan Rosenberg, 1982, bahwa “the history
of mankind is also a history of the development of artefacts, the
history of technology”).
2
Abu Bakar Munir, Cyber Law: Policies and Challenges, Malaysia,
Singapore, Hong Kong: Butterworths Asia, 1999, hlm. 205.
3
Definisi UNCITRAL, dalam Resolusi Majelis Umum-PBB, 51/162
(“transactions in international trade which are carried out by means of
electonic data interchange and other means of communications”).
4
EDI mulai digunakan di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an.
Sistem ini menghemat biaya, waktu dan kertas. Namun penggunaan EDI
kurang begitu populer. Hanya 5 % dari perusahaan-perusahaan di dunia
yang menggunakan EDI. (Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205); Assafa
Endeshaw, op.cit., hlm. 243, et.seq.

2
mendorong transaksi-transaksi perdagangan internasional semakin
cepat. Dengan internet batas-batas wilayah negara dalam melakukan
transkasi dagang menjadi tidak lagi signifikan. Praktek
perdagangan melalui internet digambarkan juga sebagai 'final
frontiers of commerce' pada abad ke-21 ini.
5

Transaksi melalui e-commerce ini memiliki beberapa ciri
berikut:
(1) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak memasuki
pasar global secara cepat tanpa dirintangi oleh batas-batas
negara;
(2) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak
berhubungan tanpa mengenal satu sama lainnya;
(3) transaksi melalui e-commerce sangat bergantung pada sarana
(teknologi) yang keandalannya kurang dijamin. Karena itu
transaksi secara e-commerce ini keamanannya belum atau tidak
begitu dapat diandalkan.
6

Transaksi melalui e-commerce memiliki beberapa keuntungan:
(1) transaksi dagang menjadi lebih efektif dan cepat;
(2) transaksi dagang menjadi lebih efisien, produktif dan
bersaing;
(3) lebih memberi kecepatan dan ketepatan kepada konsumen;
(4) mengurangi biaya administratif;
(5) memperkecil masalah-masalah sebagai akibat perbedaan budaya,
bahasa dan praktek perdagangan;
(6) meningkatkan pendistribusian logistik;
7
dan
(7) Memungkinkan perusahaan-perusahaan kecil untuk menjual
produknya secara global.
8


5
Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205.
6
Abu Bakar Munir, op.cit., hlm. 205; Sanson, op.cit., hlm. 144 (Sanson
mengungkapkan pula 4 masalah dalam bertransaksi secara e-commerce, ini:
(1) kerahasiaan; (2) keaslian data (authentication); (3) integritas
data; dan (4) masalah non-repudiation, yaitu masalah pengakuan pengirim
data bahwa memang ia telah mengirim data tersebut).
7
Rafiqul Islam, International Trade Law, London: LBC, 1999, hlm. 426.

3
B. Masalah Hukum: Pengawasan
Meningkatnya transaksi-transaksi dagang melalui e-commerce
ternyata juga telah melahirkan berbagai masalah lain dalam hukum
perdagangan internasional. Masalah ini timbul mengingat transaksi
secara e-commerce adalah praktik baru di bidang perdagangan dan
berkembang progresif. Sedangkan aturan-aturan hukum dibuat untuk
mengatur hal-hal atau hubungan-hubungan hukum yang sedang atau
telah terjadi sehingga sifatnya agak statis.
Masalah utamanya adalah apakah ketentuan-ketentuan atau
aturan-aturan hukum yang ada dapat mengakomodasi lahirnya
transaksi-transkasi yang dilahirkan melalui media e-commerce ini
yang sifatnya transnasional ini.
Di samping itu masalah lain yang juga penting adalah apakah
peraturan hukum perdagangan inernasional yang ada sekarang dapat
memberi perlindungan atau keseimbangan pengaturan antara
pengusaha, konsumen dan pemerintah.
Secara khusus masalah-masalah tersebut dapat diuraikan
lebih lanjut menjadi masalah-maalah berikut:
(1) masalah pembuktian mengenai data-data yang terdapat dalam e-
commerce;
(2) masalah keabsahan suatu kontrak dan bentuk kontrak e-commerce
ini, khususnya mengenai pembuktian orisinalitas data
(originality); syarat tertulis (writing); dan masalah tanda
tangan (signature);
(3) masalah kapan kata sepakat telah terjadi dalam transaksi-
transaksi yang dilakukan secara e-commerce;
(4) masalah pengesahan, pengakuan penerimaan, penyimpanan data
elektronik;
(5) masalah hilangnya wewenang bank sentral untuk mengawasi nilai
tukar mata uang dan penerimaan pemerintah dari transaksi-
transaksi dagang yang dikeluarkan secara elektronik;
9
dan

8
Sanson, op.cit., hlm. 143.
9
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 426.

4
(6) masalah rintangan-rintangan (perdagangan) dari adanya
kebijakan-kebijakan (perdagangan) negara yang mengakibatkan
transaksi-transaksi e-commerce ini menjadi tidak lancar
(terganggu).
Negara-negara di dunia menjadi semakin sadar tentang
masalah-masalah yang lahir dari transaksi-transaksi e-commerce
ini. Kekhawatiran ini tidak bisa tidak harus segera diantisipasi
mengingat transaksi-transkasi e-commerce menjadi semakin
meningkat sehubungan dengan meningkatnya globalisasi ekonomi dan
hubungan-hubungan dagang.
Menghadapi perkembangan ini, umumnya negara-negara di dunia
mengeluarkan aturan-aturan hukum nasionalnya untuk
mengantisipasinya. Namun aturan hukum nasional tersebut yang
cenderung berbeda dengan aturan hukum nasional negara lainnya
dapat menjadi rintangan cukup serius terhadap perdagangan
internasional.
10

Sebenarnya ada cara efektif yang dapat ditempuh negara-
negara untuk membuat atau menciptakan aturan internasional di
bidang e-commerce. Cara tersebut adalah membuat suatu perjanjian
atau konvensi internasional yang berlaku bagi negara-negara di
dunia. (Sudah barang tentu setelah menempuh cara-cara atau
prosedur normal untuk terikatnya suatu perjanjian internasional
terhadap suatu negara).
Badan atau organisasi internasional yang berkpentingan
dengan aturan internasional antara lain adalah UNCITRAL.
11
Tetapi
yang ditempuh UNCITRAL adalah justru menempuh cara yang tidak
tersebut di atas, tetapi merumuskan suatu Model Law.
Sesuai dengan namanya, yaitu Model Law, aturan-aturannya
tidak mengikat negara. Negara-negara bebas untuk mengikuti
sepenuhnya mengikuti sebagian atau menolak Model Law tersebut.

10
Negara yang mula-mula berinisiatif menyusun aturan-aturan hukum di
bidang e-commerce ini adalah Amerika Serikat yang kemudian diikuti
negara-negara Eropa Barat.

5
Pada tahun 1996,UNCITRAL berhasil merumuskan suatu aturan
hukum cukup penting yakni UNCITRAL Model Law on Electronic
Commerce.
12
Tujuan dari Model Law ini adalah menggalakkan aturan-
aturan hukum yang seragam dalam penggunaan jaringan komputer guna
transaksi-transaksi komersial.
Alasan utama digunakannya instrumen Model Law tampak dalam
resolusi No 51/162 tahun 1996 yang menyatakan sebagai berikut:
“Convinced that the establishment of a model law
facilitating the use of electronic commerce that is
acceptable to States with different legal, social and
economic systems, could contribute significantly to the
development of harmonious international economic relations,
Noting that the Model Law on Electronic Commerce was
adopted by the Commission at its twenty-ninth session after
consideration of the observations of Governments and
interested organizations,
Believing that the adoption of the Model Law on Electronic
Commerce by the Commission will assist all States
significantly in enhancing their legislation governing the
use of alternatives to paper-based methods of communication
and storage of information and in formulating such
legislation where none currently exists,...”.
Dari bunyi resolusi di atas, terdapat 3 (tujuan) alasan
utama pemilihan Model Law ini, yaitu:
(1) Model Law yang sifatnya dapat diterima oleh negara-negara
dengan sistem hukum, sosial dan ekonomi yang berbeda. Model
Law dapat pula memberi perkembangan secara signifikan
terhadap perkembangan hubungan-hubungan ekonomi
internasional yang harmonis;
(2) Model Law dipilih karena memang sebelumnya negara-negara
(dan organisasi internasional yang berkepentingan)
mengusulkan digunakannya instrumen hukum ini; dan
(3) Digunakannya Model Law dapat membantu negara-negara di
dalam membuat perundangan nasionalnya di bidang e-commerce.

11
Lihat Bab I di atas mengenai upaya UNCITRAL dalam mengupayakan
harmonisasi (dan unifikasi) hukum perdagangan internasional.
12
UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce with Guide to Enactment,
1996, with additional article 5 bis as adopted in 1998. (Selanjutnya
disebut “Guide to Enactment”).

6
Sebenarnya organisasi internasional yang memperhatikan
masalah hukum e-commerce ini tidak hanya UNCITRAL. Berbagai
lembaga internasional yang juga menjadikan masalah (hukum) e-
commerce ini dalam agendanya antara lain adalah WTO,
International Telecommunication Union (ITU); World Intellectual
Property Organization (WIPO); Kamar Dagang Internasional
(International Chamber of Commerce atau ICC), dll.
13


C. UNCITRAL MODEL LAW
1. Pengantar
Majelis Umum PBB mengesahkan UNCITRAL Model Law dengan
Resolusi 51/162 tanggal 16 Desember 1996. UNCITRAL Model Law ini
dibentuk sebagai aturan dasar untuk mengatur keabsahan,
pengakuan, dan akibat dari pesan-pesan elektronik (electronic
messaging) yang didasarkan pada penggunaan komputer dalam
perdagangan.
14

Tujuan utama atau tujuan khusus dari Model Law ini adalah:
(1) memberikan aturan-aturan mengenai e-commerce yang ditujukan
kepada badan-badan legislatif nasional atau badan pembuat UU
suatu negara;
(2) memberikan aturan-aturan yang besifat lebih pasti untuk
transaksi-transaksi perdagangan secara elektronik.
15

Model Law terdiri dari 17 pasal yang terbagi ke dalam 2
bagian dan 4 Bab. Bagian I Bab 1 memuat ketentuan umum. Bab 2
mengatur penerapan persyaratan-persyaratan hukum terhadap pesan
data. Bab 3 mengatur komunikasi pesan data. Bagian II mengatur e-

13
Lihat lebih lanjut: E. Saefullah dan Danrivanto Budhijanto,
’Perspektif Hukum Internasional tentang Cyber Law,’ dalam: Mieke Komar
Kantaatmadja, et.al. (eds.), op.cit., hlm. 93-94; Sanson, op.cit., hlm.
145.
14
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 426.
15
Abdul Bakar Munir, Op.cit., hlm. 213.

7
commerce dalam bidang-bidang khusus. Bagian II ini hanya terdiri
dari 1 bab saja, yaitu bab mengenai pengangkutan barang.
16

Maksud "pesan data elektronik (electronic data message)
adalah pengiriman dan penerimaan dan penyimpananan informasi
melalui cara-cara elektronik, optik atau cara-cara lainnya
seperti EDI, electronic mail, telegram, telex atau telecopy.
(Dalam tulisan ini selanjutnya, penggunaan data elektronik dan
pesan data mempunyai pengertian yang sama).
Sedangkan kata perdagangan (commerce) mengandung pengertian
luas, yakni semua hubungan yang bersifat komersial. Hubungan-
hubungan tersebut dapat lahir karena adanya hubungan-hubungan
yang bersifat kontraktual atau bukan. Lebih lanjut Model Law
memberikan ilustrasi hubungan-hubungan komersial (dagang) yang
luas tersebut, yakni:
“Relationships of a commercial nature include, but are not
limited to, the following transactions: any trade
transaction for the supply or exchange of goods or
services; distribution agreement; commercial representation
or agency; factoring; leasing; construction of works;
consulting; engineering; licensing; investment; financing;
banking; insurance; exploitation agreement or concession;
joint venture and other forms of industrial or business
cooperation; carriage of goods or passengers by air, sea,
rail or road.”
17


Model Law mensyaratkan penafsiran secara itikad baik
terhadap aturan-aturannya. Penafsiran tersebut harus sesuai
dengan:

16
Dari struktur atau komposisi Bab yang diaturnya tampak sekilas bahwa
bab-bab UNCITRAL Model Law tidak lengkap. Khususnya bab terakhir yaitu
bidang-bidang khusus (specific areas), ternyata hanya memuat 1 bab saja
yaitu bab mengenai pengangkutan barang. Hal ini memang oleh perancang
Model Law sengaja dibuat demikian. Perancang Model Law sebenarnya
berharap bahwa di kemudian hari ada perkembangan pengaturan yang khusus
mengenai bidang-bidang lainnya. Sehingga Model Law memuat ketentuan
demikian. Lihat pula para. 11 dan 12 Guide to Enactment. Sebagai contoh
pada tahun 1998, UNCITRAL memasukkan pasal tambahan baru untuk pasal 5
yaitu pasal 5 bis.
17
Pasal 1 Model Law.

8
(1) prinsip hukum internasional tentang penafsiran;
18

(2) kebutuhan-kebutuhan khusus untuk memajukan keseragaman dalam
penerapannya.
19

Dalam mengesahkan Model Law ini, para pihak dapat mengubah
atau menyesuaikan aturan-aturan muatan Model Law berdasarkan
kesepakatan, sesuai dengan kebutuhannya, terutama Bab II dan III.
UNCITRAL Model Law memuat dua prinsip pendekatan penting
yang menjadi landasan pengaturannya. Dua prinsip pendekatan
tersebut adalah (i) functional equivalence approach; dan (ii)
technology neutrality approach.
Maksud functional equivalence approach (pendekatan yang
secara fungsinya sama) adalah bahwa dokumen dan komunikasi-
komunikasi elektronik memiliki fungsi dan tujuan yang sama
seperti halnya dokumen-dokumen kertas dan komunikasi.
20

Maksud technology neutrality approach (pendekatan
kenetralan suatu teknologi) berarti bahwa suatu komunikasi
elektronik diperlakukan sama terhadap teknologi komunikasi
elektronik lainnya. Dengan demikian persyaratan-persyaratan umum
untuk dianggap sebagai teknologi berlaku secara umum.
21


18
Cf., lihat Bab III di atas mengenai sumber-sumber hukum perdagangan
internasional. Dalam hal mengenai penafsiran, hukum internasional telah
memberi aturan mengenai penafsiran dalam Konvensi Wina 1969 tentang
Hukum Perjanjian (the Vienna Convention on the Law of Treaties of
1969).
19
Pasal 3 UNCITRAL Model Law tidak secara tegas menjelaskan apa yang
dimaksud dengan kebutuhan-kebutuhan khusus ini. Tetapi dalam Guide to
Enactment kita dapat pahami bahwa yang dimaksud dengan kebutuhan-
kebutuhan khusus tersebut tidak lain adalah Model Law itu sendiri. Para.
5 Guide to Enactment berbunyi sebagai berikut: “... Furthermore, at an
international level, the Model Law may be useful in certain cases as a
tool for interpreting existing international conventions and other
international instruments that create legal obstacles to the use of
electronic commerce, for example by prescribing that certain documents
or contractual clauses be made in written form. As between those States
parties to such international instruments, the adoption of the Model Law
as a rule of interpretation might provide the means to recognize the use
of electronic commerce and obviate the need to negotiate a protocol to
the international instrument involved.” (Huruf tebal oleh penulis).
20
Para. 16 Guide to Enactment; Sanson, Op.cit., hlm. 145.
21
Sanson, Op.cit., hlm. 145.

9
Pada intinya muatan UNCITRAL Model Law memuat ketentuan-
ketentuan umum berikut:
(1) suatu data elektronik seperti halnya dokumen-dokumen hukum
lainnya harus mengikat secara hukum;
(2) suatu data elektronik dapat berisikan informasi yang dapat
digunakan sebagai referensi;
(3) suata data elektronik adalah suatu tulisan untuk tujuan
hukum, apabila dapat diakses sebagai referensi di kemudian
hari;
(4) suatu data elektronik mencakup suatu tanda tangan, apabila
dapat diidentifikasi orang yang mengirim pesan tersebut dan
indikasi bahwa orang tersebut telah menyetujui informasi
dalam data tersebut;
(5) suatu data elektronik merupakan suatu dokumen asli
(original) apabila informasi yang dikandung dapat secara
terpercaya dipertahankan dalam bentuk aslinya; dan
(6) suatu pertukaran data elektronik dapat menimbulkan suatu
penawaran (offer) dan penerimaan (acceptance) dan karenanya
membentuk suatu kontrak yang sah.
22




22
Mieke Komar Kantaatmadja, “Pengaturan Kontrak Untuk Perdagangan
Elektronik (E-Contracts),” dalam: Mieke Komar Kantaatmadja, et.al.
(eds.), Cyber Law: Suatu Pengantar, Jakarta: ELIPS, 2002, hlm. 3-4
(mengacu kepada Gerald R. Ferrera, et.al., Cyber Law, Ohio: South-
Western College, 2001, hlm. 363.

10
2. Penerapan Persyaratan Hukum Terhadap Pesan Data
Bab 2 Model Law diawali dengan judul ‘Penerapan Persyaratan
Hukum terhadap Pesan Data.’ Bab ini diawali dengan pasal 5 yang
juga dianggap sebagai inti dari Model Law. Pasal ini mengakui
akibat hukum, keabsahan dan dapat dipaksanakannya informasi dalam
bentuk pesan/data elektronik (electronic message) yang digunakan
dalam transaksi-transaksi dagang.
23

Model Law meletakkan aturan-aturan hukum mengenai kapan
suatu pesan data elektronik (electornic data messages) memenuhi
persyaratan hukum mengenai syarat "tertulis", tanda tangan atau
keasliannya (original). Ketiga syarat ini termuat dalam pasal 6 –
8 Model Law. Dan ketiga pasal tersebut harus dibaca bersama-sama
(satu kesatuan).
24

Maksud dari pengaturan-pengaturan ini adalah untuk
memecahkan masalah pembuktian, khususnya bukti-bukti dokumen atau
persyaratan dokumen asli dalam sistem hukum di dunia. Model Law
mengakui atau memperbolehkan dokumen-dokumen elektronik ini
sebagai bukti yang diakui keabsahannya (menurut hukum).

a. Syarat Tertulis
Persyaratan hukum tertulis terpenuhi oleh adanya pesan data
ini apabila informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses
("accessible") setiap saat. Selain itu pula, pesan data tersebut
selanjutnya atau dapat digunakan dan dirujuk sebagai referensi
(bahan acuan) selanjutnya.
25

b. Syarat Tanda Tangan
Persyaratan tanda tangan terpenuhi oleh adanya pesan data
apabila:
(1) si pembuat (originator) dapat mengenali informasi yang
terdapat di dalamnya oleh suatu metode tertentu; dan

23
Pasal 5 UNCITRAL Model Law.
24
Para. 47 Guide to Enactment.

11
(2) Metoda tertentu tersebut dapat diandalkan dan layak untuk
dapat mengetahui pesan data tersebut.
26

c. Syarat Keaslian
Persyaratan hukum dari presentasi (penampilan) atau
penyimpanan suatu informasi dalam bentuk aslinya terpenuhi pada
suatu pesan data, apabila:
(1) Terdapat jaminan mengenai integritas informasi pada waktu
pertama kali dituangkan dalam bentuk akhir sebagai suatu pesan
data; dan
(2) informasi dapat ditampilkan kepada suatu pihak yang
disyaratkan untuk ditampilkan terhadapnya.
Integritas suatu informasi ditentukan berdasarkan pada
sifat pesan data tersebut yaitu, bahwa informasi tersebut tetap
atau tidak berubah. Jadi di sini yang ditekankan adalah status
atau kestabilan muatan dari pesan data tersebut. Model Law di
sini mensyaratkan bahwa pesan data atau data elektronik tersebut
harus tidak dapat diubah.
Model Law melihat ke-3 syarat ini cukup sulit sebab syarat
keaslian suatu ‘dokumen’ dari suatu pesan data sudah barang tentu
sangat berbeda denga dokumen-dokumen asli yang pada umumnya
disyaratkan untuk transaksi-transaksi tertentu, misalnya akte
tanah, polis asuransi, dll. Dokumen-dokumen tertulis terakhir ini
relatif agak sulit untuk dipalsukan atau diubah oleh salah satu
pihak. Hal ini berbeda dengan pesan data atau data elektronik.
Oleh karena itu, pendekatan yang ditempuh oleh Model Law
adalah mengenakan persyaratan minim (‘minimum requirement’),
seperti tampak dalam pasal 8 tersebut di atas. Pendekatan ini
dianggap juga sama sebagai ‘functional equivalent” dari suatu
sifat atau tujuan dari keaslian dokumen.
27



25
Pasal 6 UNCITRAL Model Law.
26
Pasal 7 UNCITRAL Model Law.
27
Para. 63 dan 64 Guide To Enactment.

12
3. Kekuatan Pembuktian Pesan Data
Model Law secara tegas menyatakan bahwa untuk masalah
pembuktian, pengadilan nasional tidak boleh mempermasalahkan
pesan data ini sebagai bukti semata-mata karena bukti tersebut
terdapat dalam bentuk pesan data.
Pengaturan ini tampaknya sederhana. Tetapi justru inilah
yang akan menjadi masalah khususnya di negara-negara yang secara
tradisional telah lama mengakui bukti-bukti konvensional yang
diakui oleh sistem hukum nasionalnya.
28

Kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan nilai-nilai
dari suatu pesan data adalah:
(1) asal dari pesan data, disimpan atau dikomunikasikan;
(2) integritas dari informasi;
(3) dikenalnya si pembuat aslinya (originator);
(4) faktor-faktor lainnya yang relevan dengan informasi.
29

4. Penyimpanan Pesan Data
Manakala suatu informasi atau dokumen disimpan dan dibuka
(ditampilkan) melalui media elektronik, Model Law meletakkan
kritieria atau syarat-syarat hukum mengenai penyimpanan data
(record retention) dan penampilannya (kembali).
30
Kriteria-
kriteria ini adalah:
(1) informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses sehingga
dapat digunakan untuk rujukan (referensi) selanjutnya;

28
Di Indonesia misalnya, tidaklah gampang untuk menyatakan bahwa data
elektronik dapat dijadikan bukti sebagaimana dinyatakan dalam UNCITRAL
Model Law tersebut. Cf., lihat Danrivanto Budhijanto, Op.cit., hlm. 67
(mengungkapkan kemungkinan timbulnya masalah dalam pembuktian pesan
data elektronik sebagai alat bukti, yaitu: (1) pesan data tidak banyak
berbeda dari salinan pesan itu sendiri; (2) pesan data tidak terdapat
tanda tangan; (3) pesan data itu tidak termuat dalam secarik kertas
(paperless); dan (4) masih dimungkinkannya penipuan pesan data); Cf.,
masalah-masalah dalam e-commerce, supra, khususnya Sanson, op.cit.,
hlm. 144.
29
Pasal 9 UNCITRAL Model Law.
30
Pasal 10 UNCITRAL Model Law.

13
(2) pesan data disimpan dalam format yang sama dengan semula,
dikirim atau diterima, atau dalam bentuk yang dapat
ditampilkan sehingga informasi yang akurat sejak awal, dikirim
atau diterima; dan
(3) informasi tersebut disimpan guna memungkinkan atau
mengidentifikasi asal mula dan tujuan dari suatu pesan data,
dan tanggal dan waktu data tersebut dikirim atau diterima.

5. Komunikasi Pesan Data
Bab III menguraikan aturan-aturan mengenai masalah-masalah
kontraktual yang timbul dalam penggunaan teknologi komputer dalam
transaksi internasional. Maksud Bab ini sebenarnya tidak untuk
mempermasalahkan hukum mengenai pembentukan suatu kontrak. Bab
ini hanya menyinggung isu-isu pembentukan kontrak dan bagaimana
para pihak dalam kontrak dapat mengemukakan offer dan acceptance
mereka dalam kontrak melalui berbagai cara (khususnya melalui
sarana elektronik).
Tujuan Bab ini adalah untuk menciptakan kepastian dalam
hubungan-hubungan komersial dan kepercayaan dalam perdagangan
secara elektronik. Dengan tujuan ini diharapkan perdagangan
internasional dapat berkembang.
Model Law bermaksud menghapus keragu-raguan yang mungkin
timbul dari pengungkapan offer dan acceptance melalui sarana
elektronik tersebut. Masalahnya adalah penyampaian kehendak
(offer dan acceptance) tersebut tidak diungkapkan secara langsung
oleh para pihak tetapi diungkapkan melalui ‘cara’ lain (yaitu
komunikasi elektronik dan tidak adanya dokumen tertulis).
31




31
Para. 76 Guide to Enactment.

14
6. Bentuk dan Keabsahan Kontrak
Model Law mengakui prinsip otonomi para pihak (party
autonomy) dan kebebasan berkontrak. Para pihak berhak untuk
membuat kontrak mereka melalui offer dan acceptance yang
dinyatakan oleh cara-cara elektronik.
32

Pembuatan kontrak melalui e-commerce adalah sah dan
mengikat (valid and enforceable contract).
33
Penegasan tentang
keabsahan berkontrak ini ditegaskan dalam pasal 11 ayat (1) yang
berbunyi:
“(1) In the context of contract formation, unless otherwise
agreed by the parties, an offer and the acceptance of an
offer may be expressed by means of data messages. Where a
data message is used in the formation of a contract, that
contract shall not be denied validity or enforceability on
the sole ground that a data message was used for that
purpose.

Begitu pula suatu pernyataan kehendak atau pernyataan
lainnya yang dinyatakan dalam bentuk suatu pesan data oleh si
pembuat (originator) dan alamat si penerima (addressee) dari
suatu pesan harus mempunyai akibat hukum, keabsahan dan daya
mengikatnya (enforceability).
34



32
Dilihat dari syarat-syarat yang ditetapkannya, tampak bahwa Model Law
lebih cenderung mengacu kepada syarat-syarat sahnya suatu kontrak
berdasarkan sistem Common Law. Berdasarkan Common Law, syarat sahnya
suatu kontrak adalah: (1) kesepakatan para pihak untuk mengikatkan
diri. Syarat ini mencakup: “(a) adanya suatu penawaran (offer) dari
pihak offeror sebagai pihak pertama; (b) adanya penyampaian penawaran
tersebut kepada offeree sebagai pihak kedua; (c) adanya penerimaan
penawaran oleh pihak kedua yang menyatakan kehendaknya untuk terikat
pada persyaratan dalam penawaran tersebut; dan (d) adanya penyampaian
penerimaan (acceptance) oleh pihak kedua kepada pihak pertama; (2)
Consideration (‘something of value’) yang dipertukarkan antara para
pihak; (3) kecakapan untuk membuat perjanjian; dan (4) suatu obyek yang
halal.” (Mieke Komar Kantaatmadja, op.cit., hlm. 4-5; mengutip Henry R.
Cheeseman, Business Law, Prentice Hall, hlm 180-181).
33
Pasal 11 UNCITRAL Model Law.
34
Pasal 12 UNCITRAL Model Law. Pasal ini disusun pada tahap akhir
perumusan Model Law. Pasal ini dibuat untuk menegaskan prinsip dari
akibat dari suatu kontrak yang sah. (Para. 81 Guide to Enactment).

15
7. Pengakuan terhadap Pesan Data
Masalah pengakuan terhadap pesan data menjadi relevan
manakala timbul masalah mengenai apakah suatu pesan data benar-
benar dikirim oleh si pembuat asli (originator). Untuk menjawab
masalah ini Model Law memberi jawabannya dalam pasal 13.
35
Pasal
ini menyatakan bahwa suatu pesan data dianggap berasal dari orang
yang membuatnya manakala:
(1) pesan data tersebut dikirim oleh: (a) pihak pembuat sendiri;
(b) orang yang memiliki wewenang atau kuasa untuk bertindak
atas nama pihak originator (pembuat asli) atau (c) suatu
sistem informasi yang terprogram oleh atau atas nama pihak
pembuat asli (originator) untuk mengoperasikannya secara
otomatis;
(2) bahwa pihak penerima (addressee) sebelumnya memberikan
persetujuan mengenai suatu prosedur untuk memastikan bahwa
suatu pesan data berasal dari pembuat asli (originator); atau
(3) bahwa pesan data yang diterima oleh pihak penerima (addressee)
berasal dari tindakan-tindakan agent dari pembuat asli yang
memungkinkan agent tersebut untuk memperoleh akses terhadap
suatu metoda yang digunakan oleh pihak originator untuk
mengidentifikasi data-data sebagai miliknya.
36

Ketentuan terakhir pasal 13, yaitu ayat (6) memuat aturan
mengenai duplikasi pesan data yang salah. Ayat ini meletakkan
kewajiban kepada pihak penerima untuk melakukan tindakan kehati-
hatian (‘standard of care’) untuk membedakan apakah suatu pesan
data duplikasi yang keliru (salah) dan pesan data yang terpisah
(‘separate data message’). Model Law dalam hal ini menyatakan

35
Bunyi pasal ini sebenarnya mengacu kepada pasal 5 dari Model Law
UNCITRAL mengenai transfer kredit internasional (UNCITRAL Model Law on
International Credit Transfer). Pasal ini meletakkan kewajiban-
kewajiban dari pengirim dalam melakukan tansfer kredit. (Para. 83 Guide
to Enactment).
36
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 429. Maksud utama pasal ini bukan untuk
menentukan siapa yang akan bertanggung jawab tetapi untuk memberi
kriteria mengenai pengiriman pesan-pesan data denga menetapkan suatu
praduga kapan suatu pesan data berasal dari pengirim asli (originator).
[CEK APA BENAR INI PENJELASANNYA, BUKANNYA MASUK KE FN No 35].

16
bahwa pihak penerima (addressee) berhak untuk menduga bahwa suatu
pesan data berasal/milik pemilik asli yang bermaksud untuk
mengirimnya kepadanya. Pihak penerima berhak untuk memperlakukan
setiap pesan data yang diterimanya sebagai suatu pesan data yang
terpisah, kecuali pesan data tersebut adalah atau berupa salinan
dari yang aslinya tersebut. Namun si penerima menjadi tidak
berhak manakala:
(1) ia telah menerima pemberitahuan dari originator (pihak pembuat
asli) bahwa pesan datanya bukan berasal darinya, dan waktu
yang layak tidak digunakannya untuk pesan data; atau
(2) ia mengetahui atau seharusnya telah mengetahui dengan
menggunakan tata cara dan prosedur yang disepakati bahwa: (a)
pesan data tidak berasal dari pembuat asli (originator); (2)
transmisi pengirim pesan data gagal; atau (c) pesan data
merupakan salinan.
37



37
Pasal 13 UNCITRAL Model Law.

17
8. Pengakuan Penerimaan
Ketentuan mengenai pengakuan penerimaan suatu pesan data
semata-mata merupakan masalah persyaratan mengenai adanya bukti
bahwa offer telah diterima. Masalah ini bukan mengenai akibat
hukum dari adanya penerimaan suatu pesan data (dalam hal ini
adalah offer).
38

Pihak originator dapat meminta pada saat atau sebelum
mengirim suatu data atau telah setuju dengan pihak penerima
(addressee), bahwa penerimaan pesan data diakuinya dan bahwa
mereka masing-masing sepakat mengenai bentuk khusus atau metode
tertentu untuk maksud itu.
Dalam hal tidak adanya bentuk atau metode, suatu pengakuan
dapat diberikan oleh setiap alat komunikasi tertentu itu, yang
cukup untuk menunjukkan kepada originator bahwa pesan data telah
diterima. Jika pesan data dibuat dengan persyaratan mengenai
penerima pengakuan, maka pesan data dianggap tidak pernah
dikirimkan sampai pengakuan telah diterima.
Dalam hal tidak adanya persyaratan atau kesepakatan yang
ditentukan/disepakati, orginator yang belum menerima suatu
pengakuan dapat memberikan pemberitahuan dalam jangka waktu yang
layak kepada pihak penerima bahwa ia akan mengirim pemberitahuan
kepada pihak penerima. Dan dengan memberikan jangka waktu yang
layak, ia mengharapkan penerimaan pengakuan dari penerima.
Kelalaian untuk memenuhi jangka waktu ini akan dianggap
bahwa pesan data dianggap belum pernah dikirim oleh pihak
originator.
39

Dalam hal suatu pengakuan diterima oleh pihak originator,
asumsinya adalah bahwa pesan data diterima oleh pihak penerima.
Apabila pengakuan menunjukkan bahwa pesan data diterima telah

38
Para. 93 Guide to Enactment. Lihat pula Rafiqul Islam, Op.cit., hlm.
430; lihat pula Assafa Endeshaw, op.cit., hlm. 254 (beliau menyatakan
bahwa Model Law tidak mengatur ... ”which party will have the rights
and which party bears the liabiities in the specific contractual
arrangement”).
39
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 429.

18
memenuhi standar atau persyaratan teknis yang berlaku, asumsinya
adalah bahwa standar dan persyaratan-persyaratan tersebut telah
terpenuhi.
9. Waktu dan Tempat Pengiriman dan Penerimaan Pesan Data
Model Law mengangkat masalah waktu dan tempat pengiriman
dan penerimaan pesan data ini dalam pasal 15. Diaturnya masalah
ini sebab transaksi-transaksi melalui elektronik ini sangatlah
sulit untuk menentukan kapan secara pasti mengenai di mana dan
kapan salah satu pihak telah menerima suatu pesan data.
Seperti kita maklumi dalam sistem hukum pada umumnya,
termasuk RI, kapan terjadinya kesepakatan dan dimana kesepakatan
terjadi adalah faktor-faktor yang relevan yang dapat mempengaruhi
terjadinya suatu perikatan.
Kesulitan transaksi melalui elektronik ini adalah bahwa
salah satu pihak tidak tahu di mana pihak lainnya berada. Apa
yang diupayakan oleh Model Law di sini adalah bahwa lokasi di
mana sistem informasi berada tidaklah relevan. Model Law hanya
menyatakan bahwa kriteria obyektif untuk menentukan tempat adalah
tempat usaha para pihak. Oleh karena itu ketentuan pasal mengenai
waktu dan tempat tidak menjadi acuan bagi pengaturan dalam hukum
perdata internasional.
40

Menurut pasal 15 Model Law, suatu pesan data dianggap telah
dikirim ketika pesan data tersebut memasuki suatu sistem
informasi di luar kontrol dari originator atau agen yang
disepakati untuk bertindak atas namanya. Waktu penerimaan suatu
pesan data terjadi karena keadaan-keadaan berikut:
(1) Segera setelah pesan data memasuki suatu sistem informasi yang
dibuat/ditetapkan oleh pihak penerima (addressee) untuk maksud
menerima pesan data tersebut;
(2) Jika pesan data dikirim kepada suatu sistem informasi dari
pihak penerima yang tidak dibuat/ditetapkan untuk maksud itu,

40
Para. 100 Guide to Enactment.

19
maka penerimaan suatu pesan data terjadi segera setelah pesan
data dibuka (retrieved) olehnya; dan
(3) Jika tidak ada sistem informasi yang dibuat/ditetapkan oleh
pihak penerima, maka waktu penerimaan pesan data terjadi
segera setelah pesan data memasuki sistem informasi dari pihak
penerima.
41

Aturan-aturan ini berlaku meski lokasi dari sistem
informasi dan tempat di mana pesan data tersebut yang akan
diterima ternyata berbeda. Tempat pengiriman dan penerimaan pesan
data adalah tempat usaha dari pihak originator dan juga si
penerima (addressee).
42

Dalam hal terdapat lebih dari satu tempat usaha (place of
business), tempat usaha adalah tempat yang memiliki hubungan
terdekat (closest link) dengan transaksi yang bersangkutan. Dalam
hal tidak ada hubungan terdekat tersebut, maka tempat usahanya
adalah tempat usaha pokoknya (the principal place of business).
Dalam hal tidak adanya tempat usaha, maka pengiriman dan
penerimaan suatu pesan data akan berlangsung di tempat kediaman
biasanya (their habitual residence). Namun demikian baik pihak
originator dan pihak penerima (addressee) dapat menyepakati untuk
membuat aturan-aturan tersendiri bagi mereka. Para pihak tidak
perlu untuk menetapkan kriteria-kriteria tersebut di atas.


41
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 430.
42
Perlu untuk dikemukakan di sini bahwa suatu pesan data tidak boleh
dipertimbangkan isinya apabila pesan data tersebut sekedar sampai pada
sistem informasi si penerima, tetapi gagal untuk masuk ke dalamnya.
Dalam hal ini Model Law tidak secara tegas mengatur masalah kemungkinan
tidak berfungsinya (rusaknya) sistem informasi sebagai dasar untuk
lahirnya tanggung jawab, khususnya manakala sistem informasi penerima
tidak berfungsi sama sekali atau berfungsi tetapi ada kerusakan atau
meskipun dapat berfungsi dengan baik namun tidak dapat dimasuki oleh
adanya pesan data. Karena itu pengiriman berdasarkan Model Law tidak
terjadi. (Para. 104 Guide to Enactment).

20
10. Bagian II: Obyek Tertentu: Pengiriman Barang
Bagian I Model Law di atas memuat aturan-aturan umum dari
e-commerce. Dalam bagian kedua sekarang ini, Model Law memuat
aturan-aturan khusus mengenai pengiriman barang yang dilakukan
melalui pesan data melalui sistem komunikasi komputer
(elektronik). Informasi yang dikomputerkan dapat digunakan dalam
hubungannya dengan suatu kontrak pengiriman barang dan dokumen-
dokumen pengangkutan terkait.
Perlu ditekankan di sini bahwa bagian dua ini sifatnya
tidaklah eksklusif atau berdiri sendiri. Aturan dalam bagian I,
khususnya aturan-aturan mengenai persyaratan tertulis, tanda
tangan dan keaslian suatu ‘dokumen’ (pasal 6 – 8 Model Law) juga
berlaku terhadap bagian II ini.
43

Pasal 16 memuat daftar mengenai hal-hal pesan data secara
elektronik (electronic data message) yang dapat berlaku. Daftar
tersebut adalah:
(1) pemberian tanda, angka, jumlah dan berat barang;
(2) memuat sifat atau nilai barang;
(3) penerbitan surat penerimaan untuk barang;
(4) perintah kepada kapal pengangkut;
(5) klaim pengiriman barang;
(6) perintah/kuasa untuk melepaskan barang
(7) memuat pemberitahuan mengenai hilang atau kerusakan terhadap
barang;
(8) memberikan pemberitahuan lainnya mengenai pelaksanaan
kontrak;
(9) upaya untuk mengirim barang kepada orang yang telah
ditentukan atau seseorang yang mengklaim pengiriman; dan

43
Model Law menyatakan: “... Part two of the Model Law does not in any
way limit or restrict the field of application of the general
provisions of the Model Law.” (Para. 109 Guide to Enactment).

21
(10) hal-hal lain yang terkait dengan hak atas barang, hak dan
kewajiban berdasarkan kontrak.
44

11. Dokumen Pengangkutan (Bill of Lading)
Pasal 17 memuat aturan-aturan untuk memfasilitasi
penggunaan bill of lading elektronis yang dapat digunakan untuk
moda-moda pengangkutan lainnya di samping pengangkutan laut.
Termasuk di dalamnya moda angkutan melalui jalan raya, kereta
api, dan pengangkutan udara.
45

Persyaratan hukum mengenai syarat tertulis dan penggunaan
suatu dokumen kertas, dapat terpenuhi dengan penggunaan satu atau
lebih pesan data. Model Law hanya mensyaratkan bahwa metode atau
cara pengiriman pesan data tersebut dapat diandalkan.
Model Law mengakui dokumen-dokumen pengangkutan secara
elektronik ini. Dalam Model Law ternyata yang menjadi aturan(-
aturan) khusus di sini baru atau hanya dokumen pengangkutan
(laut, darat, kereta api, udara).
Dilihat dari kata yang digunakannya, yaitu areas, jelas
bahwa Model Law masih melihat adanya kemungkinan pengaturan-
pengaturan untuk bidang-bidang khusus lainnya di samping dokumen
pengangkutan secara elektronik (e-bill of lading).



44
Daftar-daftar di atas tidak bersifat sebagai ilustrasi semata. Daftar
tersebut juga tidak hanya untuk sektor pengangkutan laut (maritim),
tetapi juga moda-moda angkutan lainnya (Para. 122 Guide to Enactment).
45
Para. 110 Guide to Enactment.

22
12. Tanda Tangan Digital dan Pejabat Verifikasi
a. Tanda Tangan Digital (Digital Signature)
Di samping Model Law 1996 tersebut di atas, UNCITRAL telah
pula secara aktif merancang aturan-aturan untuk tanda tangan
digital dan pejabat verifikasi. Untuk itu, UNCITRAL membentuk
suatu badan khusus, yaitu UNCITRAL Working Group.
Sejak bulan Februari 1997, UNCITRAL Working Group telah
mempersiapkan aturan-aturan mengenai 'digital signature' dan
'Certifying Authority' (CA atau pejabat atau lembaga
sertifikasi). Pembentukan kelompok kerja ini sebagai implementasi
dari pasal 7 Model Law 1996.
Digital signature adalah ‘sejumlah karakter alphanumerik
yang dihasilkan dari operasi matematik dan kriptografi’.
46
Hingga
saat ini "cryptography" masih dipandang cara terbaik untuk
memproteksi data dari kemungkinan perubahan-perubahan yang tidak
diinginkan.
47

Cryptography telah digunakan secara umum. Penggunaannya
acapkali didasarkan pada penggunaan fungsi-fungsi 'algorithmic'
(algoritma). Pada prinsipnya cara kerja cryptograhy sederhana
saja. Cryptography mengubah informasi menjadi kode. Pengirim
mengirim informasi melalui kode-kode. Penerima kode (informasi)
kemudian membuka kode tersebut untuk dapat membacanya. Dalam
mengirim-menerima code, dilakukan dengan menggunakan 2 kunci.
Kunci ini tidak lain adalah angka-angka.
Satu kunci digunakan untuk menerjemahkan data dan untuk
mengkonfirmasi digital signature (kunci privat atau private
keys).
Kunci lainnya, yaitu kunci publik (public keys), digunakan
untuk meverifikasi suatu tanda tangan digital dari pesan yang
kembali ke bentuk aslinya (public key).
48


46
Danrivanto Budhijanto, Op.cit., hlm. 67.
47
Danrivanto Budhijanto, Op.cit., hlm. 67.
48
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431; Danrivanto Budhijanto, op.cit.,
hlm. 68 dan 72; Sanson, op.cit., hlm. 144.

23
b. Certification Authority
Certification Authority (CA) adalah konsep yang baru
berkembang, yakni suatu provider jasa pihak ke-3 yang netral dan
independen. CA mengeluarkan serifikat 'untuk menghubungkan suatu
kunci dengan si penandantangan. CA juga bertugas mendaftarkan
suatu public key bersama-sama dengan nama dari pelanggan
(pengguna) sertifikat sebagai 'subyek' sertifikat.
Dengan dimulainya diskusi secara umum mengenai isu yang
dibahas, Working Group mempersiapkan teks-teks mengenai aturan-
aturan seragam pada akhir 1997. Aturan-aturan hukum seragam ini
disahkan oleh Working Group pada sidangnya yang ke-32 di Wina
pada tangggal 19-30 Januari 1998. UNCITRAL mengesahkannya pada
sidangnya yang ke 31 di New York, pada tanggal 1 - 12 Juni 1998.
Aturan-aturan hukum seragam ini antara lain mengatur ruang
lingkup berlakunya aturan (Bab I), tanda tangan elektronik (Bab
2), pejabat sertifikasi dan isu-isu terkait (Bab 3), dan
pengakuan tanda tangan elektronik asing (Bab 4).
49



49
Digital Signatures, Certification Authorities and Related Legal
Issues, Doc. Nos. A/CV.9/WG.IV/WP/73 dan A/CN.9/457); Rafiqul Islam,
Op.cit., hlm. 431.

24
D. Penutup
UNCITRAL telah menempuh suatu pendekatan fungsional dalam
Model Law. UNCITRAL tidak menempuh upaya menyusun kembali aturan-
aturan yang ada untuk mengakomodasi e-commerce. Namun yang
dilakukan UNCITRAL adalah menemukan pemecahan secara teknis untuk
memenuhi persyaratan-persyaratan hukum yang ada (dengan sedikit
penyesuaian). Misalnya, masalah integritas dan keaslian
(authenticity) dari suatu pesan data dari tanda tangan elektronis
telah diselesaikan dengan penggunaan metode cryptography.
50

Di samping penggunaan cryptography, sebenarnya apa yang
Model Law sumbangkan secara signifikan adalah pengakuan hukum
terhadap pesan data.
51
Endeshaw mentakan bahwa Model Law ini
semata-mata menetapkan “legal recognition of data message
transmitted via electronic or other form.”
Oleh karena itulah mengapa beberapa negara telah membuat
rancangan UU-nya mengenai perdagangan secara e-commerce ini
dengan didasarkan kepada seluruh atau sebagian ketentuan dari
Model Law ini. Termasuk antara lain Amerika Serikat dalam
'Uniform Commercial Code'-nya, the Illinois Electronic Commerce
Security Act, dan the Danish Bill for an Act on Digital
Signature. Malaysia telah mengundangkan perundang-undangannya
mengenai electronic commerce dan tanda tangan digital. Negara-
negara lainnya telah pula mempertimbangkan UU nasionalnya untuk
bidang electronic commerce dan tanda tangan digital ini. Sejak
bulan Oktober 1997, Inggris telah memperkenalkan perdagangan
elektronik-nya di pasar modalnya (Stock Exchange). Di Jerman
telah pula mengundangkan the Digital Signature Ordinance pada
tahun 1997 (mulai berlaku pada tanggal 1 November 1997).
52


50
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431.
51
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431.
52
Rafiqul Islam, Op.cit., hlm. 431; lihat pula: Mieke Komar
Kantaatmadja, op.cit., hlm. 3 dan 9 (mengungkapkan upaya Amerika
Serikat dan Uni Eropa dalam mempersiapkan aturan-aturan hukum di bidang
e-commercenya).

25
Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah
menyikapi hadirnya e-commerce ini. Sebenarnya masalah utamanya
adalah sederhana, aturan hukum RI hanya perlu mengakui keabsahan
transaksi-transaksi melalui e-commerce.
53

Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengakuan terhadap
data elektronik sebagai alat bukti di hadapan pengadilan. Alat
bukti yang diakui hukum Indonesia adalah: (1) bukti tulisan; (2)
bukti saksi-saksi; (3) persangkaan-persangkaan; (4) pengakuan;
dan (5) bukti sumpah.
54
Bukti data elektronik hingga tulisan ini
dibuat belum ada pengakuan.
55

Sebagai perbandingan, negara berkembang lainnya adalah
Cina. Pada bulan Maret 1999, Cina mengeluarkan hukum kontrak
yaitu the Contract Law of the People’s Republic of China. UU
tahun 1999 ini menyatakan bahwa tulisan dapat berupa berbagai
wujud atau bentuk, termasuk tulisan-tulisan yang ‘disimpan secara
visual’ (‘visually recorded’). Dalam pengertian tersebut yang
tercakup ke dalamnya adalah kontrak-kontrak elektronik. Karena
kontrak-kontrak tersebut dapat ‘dilihat’, maka kontrak demikian
sah menurut hukum kontrak Cina.



53
Cf., Mieke Komar Kantaatmadja, op.cit., hlm. 1 (pengakuan ini perlu
untuk menciptakan kepastian hukum dalam bertransaksi melalui e-commerce
di Indonesia).
54
Pasal 1866 BW dan 154 HIR.
55
Sebenarnya UU kita secara tidak langsung mengakui dokumen perusahaan
sebagai alat bukti tertulis otentik. UU Nomor 8 tahun 1997 tentang
Dokumen Perusahaan telah mengakui adanya data elektronik ini. (Lihat
lebih lanjut: Isis Ikhwansyah, ‘Prinsip-prinsip Universal Bagi Kontrak
Melalui E-Commerce dan Sistem Hukum pembuktian Perdata dalam Teknologi
Informasi,’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja, op.cit., hlm. 33).

26
DAFTAR PUSTAKA
Abu Bakar Munir, Cyber Law: Policies and Challenges, Malaysia,
Singapore, Hong kong: Butterworths Asia, 1999.
Danrivanto Budhijanto, ‘Aspek Hukum “Digital Signature” dan
“Certification Authority” dalam Transaksi E-Commerce,”
dalam: Mieke Komar Kantaatmadja, et.al. (eds.), Cyber Law:
Suatu Pengantar, Jakarta: Elips, 2002.
Endeshaw, Assafa, Internet and Ecommerce Law, Singapore: prentice
Hall, 2001.
Isis Ikhwansyah, ‘Prinsip-prinsip Universal Bagi Kontrak Melalui
E-Commerce dan Sistem Hukum pembuktian Perdata dalam
Teknologi Informasi,’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja,
et.al. (eds.), Cyber Law: Suatu Pengantar, Jakarta: Elips,
2002.
Islam, Rafiqul, International Trade Law, London: LBC, 1999.
Mieke Komar Kantaatmadja, “Pengaturan Kontrak Untuk Perdagangan
Elektronik (E-Contracts),” dalam: Mieke Komar Kantaatmadka,
et.al. (eds.), Cyber Law: Suatu Pengantar, Jakarta: Elips,
2002.
Mieke Komar Kantaatmadja, et.al. (eds.), Cyber Law: Suatu
Pengantar, Jakarta: Elips, 2002.
UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce with Guide to
Enactment, 1996, with additional Article 5 bis as adopted in
1998.


1
BAB VII
PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

A. Pengantar
Transaksi-tansaksi atau hubungan dagang banyak bentuknya.
Dari berupa hubungan jual beli barang, pengiriman dan penerimaan
barang, produksi barang dan jasa berdasarkan suatu kontrak, dll.
Semua transaksi tersebut sarat dengan potensi melahirkan sengketa.
Umumnya sengketa-sengketa dagang kerap didahului oleh
penyelesaian oleh negosiasi. Manakala cara penyelesaian ini gagal
atau tidak berhasil, barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti
penyelesaian melalui pengadilan atau arbitrase.
1

Penyerahan sengketa baik kepada pengadilan maupun ke
arbitrase kerap kali didasarkan pada suatu perjanjian di antara
para pihak. Langkah yang biasa ditempuh adalah dengan membuat
suatu perjanjian atau memasukkan suatu klausul penyelesaian
sengketa ke dalam kontrak atau perjanjian yang mereka buat, baik
ke pengadilan atau ke badan arbitrase.
2

Yang menjadi dasar hukum bagi forum atau badan penyelesaian
sengketa yang akan menangani sengketa adalah kesepakatan para
pihak. Kesepakatan inilah hukum. Kesepakatan tersebut diletakkan
baik pada waktu kontrak ditandatangani atau setelah sengketa
timbul.
Biasanya pula kelalaian para pihak untuk menentukan forum ini
akan berakibat pada kesulitan dalam penyelesaian sengketanya.
Karena, dengan adanya kekosongan pilihan forum tersebut akan
menjadi alasan yang kuat bagi setiap forum untuk menyatakan
dirinya berwewenang untuk memeriksa suatu sengketa.

1
Gerald Cooke, ‘Disputes Resolution in International Trading,’ in:
Jonathan Reuvid (ed)., The Strategic Guide to International Trade,
London: Kogan Page, 1997, p. 193.
2
Pada umumnya di samping menyepakati lembaga atau forum yang akan
menyelesaikan sengketa, para pihak perlu juga menyepakati hokum apa yang
akan diterapkan oleh badan peradilan yang baru disepakati para pihak.
(Gerald Cooke, op. cit., p. 193).

2
Lazimnya dalam sistem hukum (Common Law) dikenal dengan
konsep 'long arm' jurisdiction. Dengan konsep ini, pengadilan
dapat menyatakan kewenangannya untuk menerima setiap sengketa yang
dibawa ke hadapannya meskipun hubungan antara pengadilan dengan
sengketa tersebut tipis sekali.
3
Misalnya, badan peradilan di
Amerika Serikat dan Inggris kerapkali selalu menerima sengketa
yang para pihak serahkan kehadapannya meskipun hubungan atau
keterkaitan sengketa dengan badan peradilan sangatlah kecil.
Misalnya, pihak termohon memiliki usaha di Amerika Serikat atau
dalam kontrak tersebut secara tegas atau diam-diam mengacu kepada
salah satu negara bagian Amerika Serikat atau hukum Inggris.
4

Di samping forum pengadilan atau badan arbitrase, para pihak
dapat pula menyerahkan sengketanya kepada cara alternatif
penyelesaian sengketa, yang lazim dikenal sebagai ADR (alternative
dispute resolution) atau APS (alternatif penyelesaian sengketa).
5

Pengaturan alternatif di sini dapat berupa cara altrnatif di
samping pengadilan. Bisa juga berarti alternatif penyelesaian
secara umum, yaitu berbagai alternatif penyelesaian sengketa yang
para pihak dapat gunakan, termasuk alternatif penyelesaian melalui
pengadilan.
6

Biasanya pula dalam klausul tersebut dimasukkan atau
dinyatakan pula hukum yang akan diterapkan oleh badan penyelesaian
sengketa.


3
Bandingkan pula dengan prinsip hukum di Indonesia, bahwa badan peradilan
tidak boleh menolak setiap sengketa yang dibawa ke hadapannya.
4
Gerald Cooke, op. cit., p. 194.
5
Gerald Cooke, op. cit., p. 194.
6
Penulis berpandangan pada yang luas ini. Kata alternatif mencakup semua
alternatif penyelesaian sengketa yang dapat digunakan para pihak,
termasuk di dalamnya pengadilan.

3
B. Para Pihak dalam Sengketa
Bab 3 memuat beberapa stake-holders atau subyek hukum dalam
hukum perdagangan internasional, yaitu negara, perusahaan atau
individu, dll. Dalam uraian berikut, para pihak yang menjadi
pembahasan dibatasi pada pihak pedagang (badan hukum atau
individu) dan negara. Karena sifat dari hukum perdagangan
internasional adalah lintas batas, pembahasan pun dibatasi hanya
antara 1. pedagang dan pedagang; dan 2. Pedagang dan negara asing.
Ad. 1. Sengketa antara pedagang dan pedagang.
Sengketa antara dua pedagang adalah sengketa yang sering dan
paling banyak terjadi. Sengketa seperti ini terjadi hampir setiap
hari. Sengketanya diselesaikan melalui berbagai cara. Cara
tersebut semuanya bergantung pada kebebasan dan kesepakatan para
pihak.
Kesepakatan dan kebebasan akan pula menentukan forum
pengadilan apa yang akan menyelesaian sengketa mereka. Kesepakatan
dan kebebasan pula yang akan menentukan hukum apa yang akan
diberlakukan dan diterapkan oleh badan pengadilan yang mengadili
sengketanya.
Kesepakatan dan kebebasan para pihak adalah esensil. Hukum
menghormati kesepakatan dan kebebasan tersebut. Sudah barang
tentu, kesepakatan dan kebebasan tersebut ada batas-batasnya.
Biasanya batas-batas tersebut adalah tidak melanggar UU dan
ketertiban umum.

Ad.2. Sengketa antara pedagang dan negara asing
Sengketa antara pedagang dan negara juga bukan merupakan
kekecualian. Kontrak-kontrak dagang antara pedagang dan negara
sudah lazim ditandatangani. Kontrak-kontrak seperti ini biasanya
dalam jumlah (nilai) yang relatif besar. Termasuk di dalamnya
adalah kontrak-kontrak pembangunan (development contracts).
Misalnya, kontrak di bidang pertambangan.

4
yang menjadi masalah adalah adanya konsep imunitas negara
yang diakui hukum internasional. Dengan adanya konsep iimunitas
inilah yang sedikit banyak berpengaruh terhadap keputusan pedagang
untuk menentukan penyelesain sengketanya. Masalah utamnya adalah
dengan adanya konsep imunitas ini, suatu negara dalam situasi
apapun, tidak akan pernah dapat diadili di hadapan badan-badan
peradilan asing.
Namun demikian hukum internasional ternyata fleksibel. Hukum
internasional tidak semata-mata mengakui atribut negara sebagai
subyek hukum internasional yang sempurna (par excellence). Hukum
internasional menghormati pula individu (pedagang) sebagai subyek
hukum internasional terbatas.
Karena itu dalam hukum internasional berkembang pengertian
jure imperii dan jure gestiones. Yang pertama adalah tindakan-
tindakan negara di bidang publik dalam kapasitasnya sebagai suatu
negara yang berdaulat. Karena itu tindakan-tindakan seperti itu
tidak akan pernah dapat diuji atau diadili di hadapan badan
peradilan.
Konsep kedua, jure gesiones, yaitu tindakan-tindaka negara di
bidang keperdataan atau dagang. Karena itu, tindakan-tindakan
seperti itu tidak lain adalah tindakan-tindakan negara dalam
kapasitasnya seperti orang-perorangan (pedagang atau privat).
Sehingga tindakan-tindakan seperti itu dapat dianggap sebagai
tindakan-tindakan sebagaimana layaknya para pedagang biasa. Karena
itu tindakan-tindakan seperti itu yang kemudian menimbulkan
sengketa, dapat saja diselesaikan di hadapan badan-badan peradilan
umum, arbitrase, dll.
Sebaliknya negara-negara yang mengajukan bantahannya bahwa
suatu badan peradilan tidak memiliki jurisdiksi untuk mengadili
neggara sebagai pihak dalam sengketa bisnis, biasanya ditolak.
Badan peradilan umumnya menganut adanya konsep jure gestiones ini.
7


7
Lihat selanjutnya, Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum
Internasional, Jakarta: Rajawali pers, cet. 3, 2002, hlm. 255 et.seq.

5

C. Prinsip-prinsip Penyelesaian Sengketa
Dalam hukum perdagangan internasional, dapat dikemukakan di
sini prinsip-prinsip mengenai penyelesaian sengketa perdagangan
internasional.
1. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus)
Prinsip kesepakatan para pihak merupakan prinsip fundamental
dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional. Prinsip
inilah yang menjadi dasar untuk dilaksanakan atau tidaknya suatu
proses penyelesaian sengketa.
Prinsip ini pula dapat menjadi dasar apakah suatu proses
penyelesaian sengketa yang sudah berlangsung diakhiri. Jadi
prinsip ini sangat esensial. Badan-badan peradilan (termasuk
arbitrase) harus menghormati apa yang para pihak sepakati.
Termasuk dalam lingkup pengertian kesepaktan ini adalah:
(1) bahwa salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak berupaya
menipu, menekan atau menyesatkan pihak lainnya;
(2) bahwa perubahan atas kesepakatan harus berasal dari
kesepakatan kedua belah pihak. Artinya, pengakhiran
kesepakatan atau revisi terhadap muatan kesepakatan harus
pula berdasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak.
8

2. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa
Prinsip penting kedua adalah prinsip dimana para pihak
memiliki kebebasan penuh untuk menentukan dan memilih cara atau
mekanisme bagaimana sengketanya diselesaikan (principle of free
choice of means).
Prinsip ini termuat antara lain dalam Pasal 7 The UNCITRAL
Model Law on International Commercial Arbitration. Pasal ini
memuat definisi mengenai perjanjian arbitrase, yaitu perjanjian
penyerahan sengketa ke suatu badan arbitrase. Menurut pasal ini

6
penyerahan sengketa kepada arbitrase merupakan kesepakatan atau
perjanjian para pihak. Artinya, penyerahan suatu sengketa ke badan
arbitrase haruslah berdasarkan pada kebebasan para pihak untuk
memilihnya.
9

3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum
Prinsip penting lainnya adalah prinsip kebebasan para pihak
untuk menentukan sendiri hukum apa yang akan diterapkan (bila
sengketanya diselesaikan) oleh badan peradilan (arbitrase)
terhadap pokok sengketa. Kebebasan para pihak untuk menentukan
hukum ini termasuk kebebasan untuk memilih kepatutan dan kelayakan
(ex aequo et bono).
10

Yang terakhir ini adalah sumber di mana pengadilan akan
memutus sengketa berdasarkan prinsip-prinsip keadilan, kepatutan
atau kelayakan suatu penyelesaian sengketa. Contoh kebebasan
memilih ini yang harus dihormati oleh badan peradilan adalah pasal
28 ayat (1) UNCITRAL Model Law on International Commercial
Arbitration:
“The arbitral tribunal shall decide the dispute in accordance
with such rules of law as are chosen by the parties as
applicable to the substance of the dispute. Any designation
of the law or legal system of a given State shall be
construed, unless otherwise expressed, as directly referring
to the substantive law of that State and not to its conflict
of laws rules.”

8
Cf., Pasal 1338 KUH Perdata Indonesia.
9
Pasal 7 UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbtration:
‘“Arbitration Agreement” is an agreement by the parties to submit to
arbitration all or certain disputes which have arisen or which may arise
between them in respect of a defined legal relationship , whether
contractual or not. An arbitration agreement may be in the form of an
arbitration clause in a contract or in the form of a separate agreement.’
10
Pasal 38:2 Statuta Mahkamah Internasional: "This provision shall not
prejudice the power of the Court to decide a case ex aequo et bono, if
the parties agree hereon."

7
4. Prinsip Itikad Baik (Good Faith)
Prinsi itikad baik dapat dikatakan sebagai prinsip
fundamental dan paling sentral dalam penyelesaian sengketa.
Prinsip ini mensyaratkan dan mewajibkan adanya itikad baik dari
para pihak dalam menyelesaikan sengketanya.
Dalam penyelesaian sengketa, prinsip ini tercemin dalam dua
tahap. Pertama, prinsip itikad baik disyaratkan untuk mencegah
timbulnya sengketa yang dapat mempengaruhi hubungan-hubungan baik
di antara negara.
Kedua, prinsip ini disyaratkan harus ada ketika para pihak
menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa
yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional, yakni
negosiasi, mediasi, konsiliasi, arbitrase, pengadilan atau cara-
cara pilihan para pihak lainnya.
11

5. Prinsip Exhaustion of Local Remedies
Prinsip Exhaustion of Local Remedies sebenarnya semula lahir
dari prinsip hukum kebiasaan internasional. Dalam upayanya
merumuskan pengaturan mengenai prinsip ini, Komisi Hukum
Internasional PBB (International Law Commission) memuat aturan
khusus mengenai prinsip ini dalam pasal 22 mengenai ILC Draft
Articles on State Responsibility. Pasal 22 ini menyatakan sebagai
berikut:
“When the conduct of a State has created a situation not in
conformity with the result of it by an international
obligation concerning the treatment too be accorded to

11
Dalam instrumen-instrumen hukum internasional, prinsip ini jarang
sekali ditemui. Hal ini mungkin disebabkan karena sulitnya patokan yang
dapat digunakan untuk mengukur sesuatu pihak telah atau tidak
melaksanakan sesuatu perbuatan dengan itikad baik. Dalam hukum naisonal,
prinsip ini antara lain tampak dalam pasal 1338 KUH Perdata dan UU Nomor
30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.
Pasal 6 ayat (1) UU No 30 tahun 1999 menyatakan: “(1) Sengketa atau beda
pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif
penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan
mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri.“

8
aliens, whether natural or juridical persons, but the
obligation allows that this or an equivalent result may
nevertheless be achieved by subsequent conduct of the State,
there is a breach of the obligation only if the aliens
concerned have exhausted the effective local remedies
available to them without obtaining the treatment called for
by the obligation or, where that is not possible, an
equivalent treatment.”
12

Menurut prinsip ini, hukum kebiasaan internasional menetapkan
bahwa sebelum para pihak mengajukan sengketanya ke pengadilan
internasional, maka langkah-langkah penyelesaian sengketa yang
tersedia atau diberikan oleh hukum nasional suatu negara harus
terlebih dahulu ditempuh (exhausted). Dalam sengketa the
Interhandel Case (1959), Mahkamah Internasional menegaskan:
"Before resort may be had to an international court... the
state where the violation occured should have an opportunity
to redress it by its own means, within the framework of its
own domestic legal system."
13




12
Terkutip dari D.J. Harris, Cases and Materials on International Law,
London: Sweet and Maxwell, 5
th
.ed., 1998, hlm. 617.
13
Lihat lebih lanjut uraian tentang exhaustion of local remedies ini
dalam tulisan kami: Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum
Internasional, Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2002, hlm. 276 et.seq.

9
D. Forum Penyelesaian Sengketa
Forum penyelesaian sengketa dalam hukum perdagangan
internasional pada prinsipnya juga sama dengan forum yang dikenal
dalam hukum penyelesaian sengketa (internasional) pada umumnya.
Forum tersebut adalah negosiasi, penyelidikan fakta-fakta
(inquiry), mediasi, konsiliasi, arbitrase, penyelesaian melalui
hukum atau melalui pengadilan, atau cara-cara penyelesaian
sengketa lainnya yang dipilih dan disepakati para pihak.
14

Cara-cara sengketa di atas telah dikenal dalam berbagai
negara dan sistem hukum di dunia. Cara-cara tersebut dipandang
sebagai bagian integral dari penyelesaian sengketa yang diakui
dalam sistem hukumnya. Misalnya, hukum nasional Ri yang dapat
ditemukan dalam pasal 6 UU Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase
dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Negara lainnya adalah
Amerika Serikat, Inggris dan Australia.
15

Berikut adalah uraian singkat mengenai forum-forum tersebut.
Tidak semua forum dibahas, tetapi akan dibatasi pada negosiasi,
mediasi, konsiliasi, pengadilan dan arbitrase. Sedangkan
penyelidikan fakta (inquiry) atau cara-cara lainnya yang para
pihak sepakati tidak termasuk dalam bahasan.
1. Negosiasi
Negosiasi adalah cara penyelesaian sengketa yang paling dasar
dan yang paling tua digunakan.
16
Penyelesaian melalui negosiasi
merupakan cara yang paling penting. Banyak sengketa diselesaikan

14
Cf., pasal 33 Piagam PBB: “The parties to any dispute, the continuance
of which is likely to endanger the maintenance of international peace and
security, shall, first of all, seek a solution be negotiation, enquiry,
mediation, conciliation, arbitration, judicial settlement, resort to
regional agencies or arrangements, or other peaceful means of their own
choice.” (Huruf tebal oleh kami).
15
Gerald Cooke, op.cit., hlm. 200.
16
W. Poeggel and E. Oeser, "Methods of Diplomatic Settlement," dalam
Mohammed Bedjaoui (ed)., International Law: Achievements and Prospects,
Paris: UNESCO and Martinus Nijhoff, 1991, hlm. 514.

10
setiap hari oleh negosiasi ini tanpa adanya publisitas atau
menarik perhatian publik.
17

Alasan utamanya adalah karena dengan cara ini, para pihak
dapat mengawasi prosedur penyelesaian sengketanya. Setiap
penyelesaiannya pun didasarkan pada kesepakatan atau konsensus
para pihak.
18
Senada dengan itu Kohona mengatakan bahwa negosiasi
adalah "an efficacious means of settling disputes relating to an
agreement, because they enable parties to arrive at conclusions
having regard to the wishes of all the disputants."
19

Kelemahan utama dalam penggunaan cara ini dalam menyelesaikan
sengketa adalah: pertama, manakala para pihak berkedudukan tidak
seimbang. Salah satu pihak kuat, yang lain lemah. Dalam keadaan
ini, salah satu pihak kuat berada dalam posisi untuk menekan pihak
lainnya. Hal ini acapkali terjadi manakala dua pihak bernegosiasi
untuk menyelesaikan sengketanya di antara mereka.
20

Kelemahan kedua adalah bahwa proses berlangsungnya negosiasi
acapkali lambat dan bisa memakan waktu lama. Ini terutama karena
sulitnya permasalahan-prmasalahan yang timbul di antara para
pihak. Selain itu jarang sekali adanya persyaratan penatapan batas
waktu bagi para pihak untuk menyelesaian sengketanya melalui
negosiasi ini.
21


17
F.V. Garcia-Amador, The Canging Law of International Claims, USA:
Oceana Publications, Inc., 1984, hlm. 518.
18
Peter Behrens, "Alternative Methods of Dispute Settlement in
International Economic Relations," dalam: Ernst-Ulrich Petersmann and
Gunther Jaenicke, Adjudication of International Trade Dispute in
International and National Economic Law, Fribourg U.P., 1992.op.cit.,
hlm. 14.
19
Palitha TB. Kohona, , The Regulation of International Economic
Relations through Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff Publ.,
1985op.cit., hlm. 161.
20
G. Malinverni, "The Settlement of Disputes within International
Organizations," dalam Mohammed Bedjaoui, op.cit., hlm. 550; Palitha TB
Kohona, op.cit., hlm. 159.
21
G. Malirveni, "The Settlement of Disputes within International
Organizations," dalam Mohammed Bedjaoui (ed)., International Law:

11
Kelemahan ketiga, adalah manakala suatu pihak terlalu keras
dengan pendiriannya. Keadaan ini dapat mengakibatkan proses
negosiasi ini menjadi tidak produktif.
22

Mengenai pelaksanaan negosiasi, prosedur-prosedur yang
terdapat di dalamnya perlu dibedakan sebagai berikut: pertama,
negosiasi digunakan manakala suatu sengketa belum lahir (disebut
pula sebagai konsultasi); dan kedua, negosiasi digunakan manakala
suatu sengketa telah lahir, maka prosedur negosiasi ini merupakan
proses penyelesaian sengketa oleh para pihak (dalam arti
negosiasi).


Achievements and Prospects, Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers and
UNESCO, 1991, hlm. 159.
22
Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 159.

12
2. Mediasi
Mediasi adalah suatu cara penyelesaian melalui pihak ketiga.
Ia bisa individu (pengusaha) atau lembaga atau organisasi profesi
atau dagang. Mediator ikut serta secara aktif dalam proses
negosiasi. Biasanya ia dengan kapasitasnya sebagai pihak yang
netral berupa mendamaikan para pihak dengan memberikan saran
penyelesaian sengketa.
23

Usulah-usulan penyelesaian melalui mediasi dibuat agak tidak
resmi (informal). Usulan ini dibuat berdasarkan informasi-
informasi yang diberikan oleh para pihak. Bukan atas
penyelidikannya.
24

Jika usulan tersebut tidak diterima, mediator masih dapat
tetap melanjutkan fungsi mediasinya dengan membuat usulan-usulan
baru. Karena itu, salah satu fungsi utama mediator adalah mencari
berbagai solusi (penyelesaian), mengidentifikasi hal-hal yang
dapat disepakati para pihak serta membuat usulah-usulan yang dapat
mengakhiri sengketa.
25

Seperti halnya dalam negosiasi, tidak ada prosedur-prosedur
khusus yang harus ditempuh dalam proses mediasi. Para pihak bebas
menentukan prosedurnya. Yang penting adalah kesepakatan para pihak
mulai dari proses (pemilihan) cara mediasi, menerima atau tidaknya
usulah-usulan yang diberikan oleh mediator, sampai kepada
pengakhiran tugas mediator.
Gerald Cooke menggambarkan kelebihan mediasi ini sebagai
berikut:
26


23
W. Poeggel and E. Oeser, op.cit., hlm. 515.
24
Peter Behrens, op. cit., hlm. 22.
25
ibid., hlm. 23.
26
Gerald Cooke, op. cit., p. 200. Lihat pula Michelle Sanson, Essential
International Trade Law, Sydney: Cavendish, 2002, hlm. 132. (Sanson
menyatakan bahwa mediasi lebih banyak dipraktekkan oleh negara-negara di
Asia khususnya Taiwan dan Vietnam), Hong Kong dan Filipina). Di Indonesia
cara mediasi juga cukup aktif diterapkan untuk sengketa-sengketa bisnis
khususnya oleh pengadilan dan badan arbitrase. Dalam pengadilan dan

13
“Where mediation is successfully used, it generally provides
a quick, cheap and effective result. It is clearly
appropriate, therefore, to consider providing for mediation
or other alternative dispute resolution techniques in the
contractual dispute resolution clause.” (Huruf tebal oleh
penulis).

Cooke juga dengan benar mengingatkan bahwa penyelesaian
melalui mediasi ini tidaklah mengikat. Artinya, para pihak meski
telah sepakat untuk menyelesaikan senketanya melalui mendiasi,
namun mereka tidak wajib atau harus menyelesaikan sengketanya
melalui mediasi.
Manakala para pihak gagal menyelesaikan sengketanya melalui
mediasi, mereka masih dapat menyerahkan ke forum yang mengikat
yaitu penyelesaian melalui hukum, yaitu pengadilan atau arbitrase.



arbitrase, adalah suatu ‘kewajiban’ bagi hakim dan arbiter untuk
menawarkan terlebih dahulu kepada para pihak yang bersengketa untuk
menyelesaikan sengketanya melalui arbitrase. Mediasi juga aktif
diperkenalkan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa lingkungan antara
pengusaha dan penduduk setempat.

14
3. Konsiliasi
Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. Kedua cara ini
adalah melibatkan pihak ketiga untuk menyelesaikan sengketanya
secara damai. Konsiliasi dan mediasi sulit untuk dibedakan.
Istilahnya acapkali digunakan dengan bergantian.
27
Namun menurut
Behrens, ada perbedaan antara kedua istilah ini: konsiliasi lebih
formal daripada mediasi.
28

Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seroang individu atau
suatu badan yang disebut dengan badan atau komisi konsiliasi.
Komisi konsiliasi bisa yang sudah terlembaga atau ad hoc
(sementara) yang berfungsi untuk menetapkan persyaratan-
persyaratan penyelesaian yang diterima oleh para pihak. Namun
putusannya tidaklah mengikat para pihak.
29

Persidangan suatu komisi konsiliasi biasanya terdiri dari dua
tahap: tahap tertulis dan tahap lisan. Pertama, sengketa (yang
diuraikan secara tertulis) diserahkan kepada badan konsiliasi.
Kemudian badan ini akan mendengarkan keterangan lisan dari para
pihak. Para pihak dapat hadir pada tahap pendengaran tersebut,
tetapi bisa juga diwakili oleh kuasanya.
Berdasarkan fakta-fakta yang diperolehnya, konsiliator atau
badan konsiliasi akan menyerahkan laporannya kepada para pihak
disertai dengan kesimpulan dan usulan-usulan penyelesaian
sengketanya. Sekali lagi, usulan ini sifatnya tidaklah mengikat.
Karenanya diterima tidaknya usulan tersebut bergantung sepenuhnya
kepada para pihak.
30

Contoh komisi konsiliasi yang terlembaga adalah badan yang
dibentuk oleh Bank Dunia untuk menyelesaikan sengketa-sengketa

27
Sanson, op. cit., hlm. 132.
28
Peter Behrens, op. cit., hlm. 22.
29
Peter Behrens, op. cit., hlm. 24.
30
Peter Behrens, op.cit., hlm. 23.

15
penanaman modal asing, yaitu the ICSID Rules of Procedure for
Conciliaiton Proceedings (Conciliaiton Rules).
31
Namun dalam
prakteknya, penggunaan cara ini kurang populer.
Sejak berdiri (1966), badan konsiliasi ICSID hanya menerima
dua kasus. Kasus pertama diterima pada 5 Oktober 1982. (Jadi
selama 16 tahun kosong). Namun sebelum badan konsiliasi terbentuk,
para pihak sepakat mengakhiri persengketaannya.
Kasus kedua yaitu Tesoro Petroleum Corp. v. Government of
Trinidad and Tobago diterima tahun 1983.
32
Kasus ini berhasil
diselesaikan pada tahun 1985 setelah para pihak sepakat untuk
menerima usulan-usulan yang diberikan oleh konsiliator.
33



31
Cf. I. Seidl-Hohenveldern, "General Course on Public International
Law," 198 Recueil des Cours 198 (1986): Sanson, op.cit., hlm. 132-133.
32
ICSID Case No. CONC/83/1.
33
Huala Adolf, “The Settlement of Investment Disputes under the ICSID
Arbitration”, Thesis, Department of Law, Sheffield University, 1995, hlm.
1.

16
4. Arbitrase.
34

a. Mengapa Arbitrase Dipilih?
Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada
pihak ketiga yang netral. Pihak ketiga ini bisa individu,
arbitrase terlembaga atau arbitrase sementara (ad hoc). Badan
arbitrase dewasa ini sudah semakin populer. Dewasa ini arbitrase
semakin banyak digunakan dalam menyelesaikan sengketa-sengketa
dagang nasional maupun internasional.
Adapun alasan utama mengapa badan arbitrase ini semakin
banyak dimanfaatkan adalah sebagai berikut:
(1) kelebihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase yang pertama
dan terpenting adalah penyelesaiannya yang relatif lebih cepat
daripada proses berperkara melalui pengadilan. Dalam arbitrase
tidak dikenal upaya banding, kasasi atau peninjauan kembali
seperti yang kita kenal dalam sistem peradilan kita. Putusan
arbitrase sifatnya final dan mengikat. Kecepatan penyelesaian
ini sangat dibutuhkan oleh dunia usaha.
(2) Keuntungan lainnya dari penyelesaian sengketa melalui arbitrase
ini adalah sifat kerahasiaannya. Baik kerahasiaan mengenai
persidangannya maupun kerahasiaan putusan arbitrasenya.
(3) Dalam penyelesaian melalui arbitrase, para pihak memiliki
kebebasan untuk memilih ‘hakimnya’ (arbiter) yang menurut
mereka netral dan akhli atau spesialis mengenai pokok sengketa
yang mereka hadapi. Pemilihan arbiter sepenuhnya berada pada
kesepakatan para pihak. Biasanya arbiter yang dipilih adalah
mereka yang tidak saja ahli tetapi juga ia tidak selalu harus
ahli hukum. Bisa saja ia menguasai bidang-bidang lainnya. Ia

34
Pembahasan mengenai hal ini lihat lebih lanjut antara lain: Huala
Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali Pers, cet.2.,
1994; Huala Adolf, Hukum Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta:
Rajawali pers, 1994.

17
bisa insinyur, pimpinan perusahaan (manajer), ahli asuransi,
ahli perbankan, dll.
35

(4) Keuntungan lainnya dari badan arbitrase ini adalah
dimungkinkannya para arbiter untuk menerapkan sengketanya
berdasarkan kelayakan dan kepatutan (apabila memang para pihak
menghendakinya).
36

(5) Dalam hal arbitrase internasional, putusan arbitrasenya relatif
lebih dapat dilaksanakan di negara lain dibandingkan apabila
sengketa tersebut diselesaikan melalui misalnya pengadilan. Hal
ini dapat terwujud antara lain karena dalam lingkup arbitrase
internasional ada perjanjian khusus mengenai hal ini, yaitu
Konvensi New York 1958 mengenai Pengakuan dan Pelaksanaan
Putusan Arbitrase Asing.
37

b. Perjanjian Arbitrase
Dalam praktik, biasanya penyerahan sengketa ke suatu badan
peradilan tertentu, termasuk arbitrase, termuat dalam klausul
penyelesaian sengketa dalam suatu kontrak. Biasanya judul klausul
tersebut ditulis secara langsung dengan ‘Arbitrase’. Kadang-kadang
istilah lain yang digunakan adalah ‘choice of forum’ atau ‘choice
of jurisdiction’.
Kedua istilah tersebut mengandung pengertian yang agak
berbeda. Istilah choice of forum berarti pilihan cara untuk
menadili sengketa, dalam hal ini pengadilan atau badan arbitrase.
Istilah choice of jurisdiction berarti pilihan tempat dimana

35
Namun dalam praktek, dewan arbitrase yang menangani kasus, peranan ahli
hukum tetap minimal ada dalam komposisi dewan. Misalnya, dalam kasus
terkenal dalam GATT, yaitu the DISC, Panel GATT yang mengadili kasus ini
terdiri dari 2 orang ahli ekonomi dan seorang ahli hukum. Peranan ahli
hukum bagaimana pun juga tetap signifikan dalam proses beracara,
penentuan hak dan kewajiban para pihak dan penentuan prinsip-prinsip
hukum dalam suatu sengketa.
36
Hans Bagner, op.cit., hlm. 173.
37
Indonesia meratifikasi Konvensi New York 1958 dengan Keppres Nomor 34
tahun 1981.

18
pengadilan memiliki kewenangan untuk menangani sengketa. Tempat
yang dimaksud misalnya Inggris, Belanda, Indonesia, dll.
38

Penyerahan suatu sengketa kepada arbitrase dapat dilakukan
dengan pembuatan suatu submission clause, yaitu penyerahan kepada
arbitrase suatu sengketa yang telah lahir. Alternatif lainnya,
atau melalui pembuatan suatu klausul arbitrase dalam suatu
perjanjian sebelum sengketanya lahir (klausul arbitrase atau
arbitration clause).
Baik submission clause atau arbitration clause harus
tertulis. Syarat ini sangat esensial. Sistem hukum nasional dan
internasional mensyaratkan ini sebagai suatu syarat utama untuk
arbitrase. Dalam hukum nasional kita, syarat ini tertuang dalam
pasal 1 (3) UU Nomor 3 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa. Dalam instrumen hukum internasional,
termuat dalam Pasal 7 ayat (2) UNCITRAL Model Law on International
Commercial Arbitration 1985, atau pasal II Konvensi New York 1958.
Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa klausul arbitrase
melahirkan jurisdiksi arbitrase. Artinya, klausul tersebut memberi
kewenangan kepada arbitrator untuk menyelesaikan sengketa. Apabila
pengadilan menerima suatu sengketa yang di dalam kontraknya
terdapat klausul arbitrase, maka pengadilan harus menolak untuk
menangani sengketa.
39

c. Lembaga-lembaga Arbitrase

38
Gerald Cooke, op.cit., hlm. 194.
39
Lihat, misalnya, pasal 3 dan pasal 11 UU Nomor 30 tahun 1999; pasal 8
ayat (1) UNCITRAL Model Law mengenai Arbitrase Komersial Internaisonal
1985; dan pasal II ayat (3) Konvensi New York 1958. Pasal II ayat (3)
Konvensi 1958 ini dipandang penting mengingat ketentuan ini dibuat sudah
cukup relatif lama (sejak 1958). Pengakuan kewenangan arbitrase ini dalam
suatu klausul arbitrase ini berbunyi sebagai berikut: “3. The court of a
Contracting State, when seized of an action in a matter in respect of
which the parties have made an agreement within the meaning of this
article, shall, at the request of one of the parties, refer the parties
to arbitration, unless it finds that the said agreement is null and void,
inoperative or incapable of being performed.”

19
Peran arbitrase difasilitasi oleh adanya lembaga-lembaga
arbitrase internasional terkemuka. Badan-badan tersebut misalnya
adalah the London Court of International Arbitration (LCIA), the
Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce
(ICC) dan the Arbitration Institute of the Stockholm Chamber of
Commerce (SCC).
Di samping kelembagaan, pengaturan arbitrase sekarang ini
ditunjang pula oleh adanya sutau aturan berabitrase yang menjadi
acuan bagi banyak negara di dunia, yaitu Model Law on
International Commercial Arbitration yang dibuat oleh the United
Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL).
40



40
Gerald Cooke, op. cit., p. 196.

20
5. Pengadilan (Nasional dan Internasional)
Metode yang memungkinkan untuk menyelesaikan sengketa selain
cara-cara tersebut di atas adalah melalui pengadilan nasional atau
internasional. Penggunaan cara ini biasanya ditempuh apabila cara-
cara penyelesaian yang ada ternyata tidak berhasil.
41

Penyelesaian sengketa dagang melalui badan peradilan biasanya
hanya dimungkinkan manakala para pihak sepakat. Kesepakatan ini
tertuang dalam klausul penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang
para pihak. Dalam klausul tersebut biasanya ditegaskan bahwa
manakala timbul sengketa dari hubungan dagang mereka, maka mereka
sepakat untuk menyerahkan sengketanya kepada suatu pengadilan
(negeri) suatu negara tertentu.
Kemungkinan kedua, para pihak dapat menyerahkan sengketanya
kepada badan pengadilan internasional. Salah satu badan peradilan
yang menangani sengketa dagang ini misalnya saja adalah WTO. Namun
perlu ditekankan di sini, WTO hanya menangani sengketa antar
negara anggota WTO. Umumnya pun sengketanya lahir karena adanya
suatu pihak (pengusaha atau negara) yang dirugikan karena adanya
kebijakan perdagangan negara lain anggota WTO yang merugikannya.
Alternatif badan peradilan lain adalah Mahkamah Internasional
(International Court of Justice). Namun penyerahan sengketa ke
Mahkamah Internasional, menurut hasil pengamatan beberapa sarjana,
kurang begitu diminati oleh negara-negara.
42

Sebagai ilustrasi adalah peranan Mahkamah Internasional (the
International Court of Justice). Peranan Mahkamah dalam
menyelesaikan sengketa-sengketa ekonomi (termasuk perdagangan),

41
Cf. Prinsip exhaustion of local remedies, di atas.
42
Palith TB. Kohona, op.cit., hlm. 192; Verloren van Themaat, The
Changing Structure of International Economic Law, the Netherlands:
Martinus Nijhoff Publishers, 1981, hlm. 189.

21
menurut Mann, sangatlah 'suram'.
43
Selama berdiri (sejak 1945)
sampai tulisan ini dibuat, Mahkamah Internasional hanya mengadili
2 kasus di bidang ekonomi internasional, yakni the ELSI Case
antara Amerika Serikat melawan Italia,
44
dan the Barcelona Traction
Case antara Belgia melawan Spanyol.
45

Sengketa The Barcelona Traction adalah sengketa terkenal.
Dalam sengketa ini sebuah perusahaan Kanada, Barcelona Traction,
Light and Power, Co., didirikan pada tahun 1911. Perusahaan ini
mengoperasilan pembangunan dan pengadaan tenaga listrik di
Spanyol.
Pada tahun 1968, pengadilan Spanyol memutuskan perusahaan
tersebut pailit. Keputusan ini ditindak-lanjuti oleh serangkaian
tindakan dalam rangka kepailitan tersebut. Pemerintah Kanada
kemudian turut campur dalam sengketa ini dalam upayanya melindungi
kepentingan warga negaranya. Masalahnya menjadi rumit karena
ternyata pemegang saham mayoritas dalam perusahaan tersebut
dimiliki warga negara Belgia, yaitu sebesar 88 %. Pemerintah
Belgia dalam upaya melindungi warga negaranya yang dirugikan oleh
tindakan pemerintah Spanyol itu membawa sengketanya ke Mahkamah
Internasional. Spanyol menolak gugatan pemerintah Belgia dengan
dalil bahwa Belgia tidak memiliki dasar hukum yang sah (locus
standi) untuk membawa kasus ini. Dalam putusannya, Mahkamah
Internasional setuju dengan Spanyol.
46

Alasan F.A. Mann menyatakan 'hasil kerja' Mahkamah
Internasional ini 'suram', pada dasarnya karena dua alasan.
Pertama, kurang adanya penghargaan terhadap fakta-fakta spesifik
mengenai duduk perkaranya. Kedua, kurangnya keahlian atau

43
F.A. Mann, "Foreign Investment in the International Court of Justice:
the ELSI Case," 86 AJIL 92 (1992).
44
1989 ICJ Rep. 15 (Judgment of July 20).
45
1970 ICJ Rep. 3, (Judgment of Feb. 5).
46
Lihat lebih lanjut, D.J. Harris, op.cit., (Cases and Materials on
International Law), hlm. 604, et.seq.

22
kemampuan Mahkamah pada permasalahan-permasalahan bidang (hukum)
ekonomi atau perdagangan internasional.
47

Selain itu, pengadilan-pengadilan permanen internasional ini
juga jurisdiksinya kadangkala terbatas hanya kepada negara saja,
misalnya Mahkamah Internasional. Sedangkan kegiatan-kegiatan atau
hubungan-hubungan perdagangan internasional dewasa ini peranan
subyek-subyek hukum perdagangan internasional non-negara juga
penting.
48

Bentuk kedua adalah pengadilan ad hoc atau pengadilan khusus.
Dibandingkan dengan pengadilan permanen, pengadilan ad hoc atau
khusus ini lebih populer, terutama dalam kerangka suatu organisasi
perdagangan internasional. Badan pengadilan ini berfungsi cukup
penting dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul dari
perjanjian-perjanjian perdagangan internasional.
49

Contoh yang menonjol adalah peranan badan-badan pengadilan
khusus dalam kerangka GATT (kemudian digantikan oleh WTO), yakni
dengan adanya badan-badan panel yang menyelesaikan sengketa-
sengketa ekonomi internasional antar negara-negara anggota
GATT/WTO.
Faktor penting yang mendorong negara-negara untuk menyerahkan
sengketanya kepada badan-badan peradilan seperti ini adalah karena
hakim-hakimnya yang tidak harus seorang ahli hukum. Ia bisa saja
seorang ahli atau spesialis mengenai pokok sengketa. Kedua, adanya
perasaan dari sebagian besar negara yang kurang percaya kepada
suatu badan peradilan (internasional) yang dianggap kurang tepat
untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dalam bidang perdagangan
internasional.
50


47
F.A. Mann, loc.cit.
48
Cf., I. Seidl-Hohenveldern, op.cit., hlm. 199.
49
Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 197.
50
Cf., Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 152. Cf., supra, mengenai
keengganan masyarakat internasional menyerahkan sengketanya kepada
Mahkamah Internasional.

23
E. Hukum Yang Berlaku
1. Pengantar
Masalah hukum yang akan diberlakukan atau diterapkan oleh
badan peradilan termasuk arbitrase adalah salah satu masalah
krusial dalam hukum kontrak internasional, termasuk dalam hukum
perdagangan internasional.
51

Masalahnya adalah hukum yang berlaku ini menjadi penentu
kepastian hukum terutama bagi badan peradilan bahwa ia telah
menerapkan hukumnya dengan benar. Dalam hal ini, badan peradilan
tidak mengambil jalan pintas dalam menerapkan suatu hukum terhadap
suatu sengketa yang dibawa ke hadapannya.
Perlu ditegaskan di sini bahwa pilihan hukum (choice of law,
proper law atau applicable law) suatu hukum nasional dari suatu
negara tertentu tidak berarti bahwa badan peradilan negara tesebut
secara otomatis yang berwenang menyelesaikan sengketanya. Yang
terakhir ini disebut juga choice of forum (pembahasan di atas).
Artinya, choice of law tidak sama dengan choice of forum.
52

Peran choice of law di sini adalah hukum yang akan digunakan
oleh badan peradilan (pengadilan atau arbitrase) untuk:
(1) menentukan keabsahan suatu kontrak dagang;
(2) menafsirkan suatu kesepakatan-kesepakatan dalam kontrak;
(3) menentukan telah dilaksanakan atau tidak dilaksanakannya suatu
prestasi (pelaksanaan suatu kontrak dagang); dan
(4) menentukan akibat-akibat hukum dari adanya pelanggaran terhadap
kontrak.
53


51
Mauro Rubino-Sammartano, International Arbitration Law, Deventer,
Boston: Kluwer Law, 1990, hlm. 251.
52
Gerald Cooke, op.cit., hlm. 195.
53
Tetapi perlu dicatat di sini bahwa praktek negara (badan peradilannya)
berbeda mengenai pandangannya terhadap choice of law dan choice of forum
ini. Di Inggris dan Wales, pemilihan suatu hukum tertentu, dalam hal ini
hukum Inggris atau Wales, mensyaratkan jurisdiksi pengadilan tersebut
untuk mengadili suatu sengketa. Dasarnya dalah bahwa para pihak dianggap
secara diam-diam telah memilih jurisdiksi (keweangan badan peradilan
Inggris atau Wales) dengan memilih hukum Inggris atau hukum Wales untuk
mengatur kontraknya. (Gerald Cooke, op.cit., hlm. 195).

24
Hukum yang akan berlaku ini dapat mencakup beberapa macam
hukum. Hukum-hukum tersebut adalah:
(1) hukum yang akan diterapkan terhadap pokok sengketa (applicable
substantive law atau lex causae);
(2) hukum yang akan berlaku untuk persidangan (procedural law);
Hukum yang akan berlaku akan sedikit banyak bergantung pada
kesepakatan para pihak. Hukum yang akan berlaku tersebut dapat
berupa hukum nasional suatu negara tertentu. Biasanya hukum
nasional tersebut ada atau terkait dengan nasionalitas salah satu
pihak. Cara pemilihan inilah yang lazim diterapkan dewasa ini.
Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak sepakat
mengenai salah satu hukum nasional tersebut, biasanya kemudian
mereka akan berupaya mencari hukum nasional yang relatif lebih
netral.
Alternatif lainnya yang memungkinkan dalam hukum perdagangan
internasional adalah menerapkan prinsip-prinsip kepatutan dan
kelayakan (ex aequo et bono). Namun demikian penerapan prinsip ini
pun harus berdasarkan pada kesepakatan para pihak.
54

2. Kebebasan Para Pihak
Di atas telah dikemukakan bahwa dalam menentukan hukum yang
akan berlaku, prinsip yang berlaku adalah kesepakatan para pihak
yang didasarkan pada kebebasan para pihak dalam membuat perjanjian
atau kesepakatan (party autonomy).
Kebebasan para pihak ini tampaknya sudah menjadi prinsip
hukum umum. Artinya, hampir setiap sistem hukum di dunia, yaitu
Common Law, Civil Law, dll., mengakui eksistensinya.
Bahkan, praktek para pelaku bisnis atau pedagang melihat
prinsip kebebasan para pihak untuk menetapkan aturan-aturan dagang
yang berlaku di antara mereka, merupakan suatu prinsip yang telah
terkristalisasi. Prinsip inilah yang antara lain melahirkan
prinsip atau doktrin lex mercatoria.

54
Lihat Mauro Rubino-Sammartano, International Arbitration Law, Deventer,
Boston: Kluwer Law and Taxation Publsihers, 1990, hlm. 251-255.

25
Kebebasan dalam memilih hukum yang berlaku ini (lex causae)
sudah barang tentu ada batas-batasnya. Yang paling umum dikenal
adalah bahwa kebebasan memilih hukum tersebut adalah:
(1) tidak bertentangan dengan UU atau ketertiban umum;
(2) kebebasan tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik;
55

(3) hanya berlaku untuk hubungan dagang;
(4) hanya berlaku dalam bidang hukum kontrak (dagang);
(5) tidak berlaku untuk menyelesaikan sengketa tanah; dan
(6) tidak untuk menyelundupkan hukum.
Menurut Cooke, kebebasan para pihak ini pun akan banyak
dipengaruhi oleh sistem hukum nasional yang akan dipilih (baik
oleh salah satu pihak atau kedua pihak). Tidak sekedar hanya
menentukan hukum suatu negara, tetapi juga mempertimbangkan apakah
hukum di negara tersebut konsisten atau tidak. Artinya, apakah
hukum di sesuatu negara tertentu sering berubah-ubah tidak. Gerald
Cooke dengan tepas menyatakan sebagai berikut:
“The significance of needing to provide for the 'proper' law
is that the parties will frequently prefer to have their
disputes dealt with by a legal system which is perhaps
independent of each of the parties or which is recognised to
have highly sophisticated and consistent trading laws.”
56

Dalam hukum nasional Indonesia mengenai arbitrase, yaitu UU
Nomor 30 tahun 1999 mengenai Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian
Sengketa, hukum yang akan diberlakukan oleh para pihak diserahkan
sepenuhnya kepada mereka. Pasal 56 UU tersebut menyatakan:
"(1) Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan
berdasarkan ketentuan hukum, atau berdasarkan keadilan
dan kepatutan.
(2) Para pihak berhak menentukan pilihan hukum yang akan
berlaku terhadap penyelesaian sengketa yang mungkin
telah timbul antara para pihak."


55
M. Hulieatt-James and N. Gould, International Commercial Arbitration,
London: LLP, 1996, hlm. 16.
56
Gerald Cooke, op. cit., p. 195.

26
Model Arbitration Law 1985 juga menghormati kebebasan para
pihak untuk memilih hukum yang akan berlaku. Pasal 28 Model Law
menggariskan sebagai berikut:

"(1) The arbitral tribunal shall decide the dispute in
accordance with such rules of law as are chosen by the
parties as applicable to the substance of the dispute. Any
designation of the law or legal system of a given State shall
be construed, unless otherwise expressed, as directly
referring to the substantive law of that State and not to its
conflict of laws rules."
(2) Failing any designation by the parties, the arbitral
tribunal shall apply the law determined by the conflict of
laws rules which it considers applicable.
(3) The arbitral tribunal shall decide ex aequo et bono or
amiable compositeur only if the parties expressly authorized
to do so.
(4) In all cases, the arbitral tribunal shall decide in
accordance with the terms of the contract and shall take into
account the usages of the trade applicable to the
transaction.'

Dari kedua instrumen hukum di atas, terdapat beberapa catatan
pinggir yang cukup penting. Pertama, yang menonjol adalah bahwa
kedua instrumen berbeda di dalam hal prioritas pengaturan mengenai
hukum yang berlaku terhadap kontrak. UU Nomor 30 tahun 1999
menekankan bahwa arbitrator atau badan arbitrase harus
menyandarkan pada hukum untuk mengambil putusan. Pasal ini tidak
menentukan atau mensyaratkan bahwa hukum yang akan diterapkan
tersebut haruslah pilihan hukum para pihak. Sedangkan Model Law
dengan tegas menyatakan bahwa badan arbitrase harus menerapkan
hukum yang dipilih para pihak. Tampaknya, ketentuan UU Nomor 30
tahun 1999 ini perlu disempurnakan dengan mengacu atau
mencantumkan klausul Model Law ini.
Kedua, UU Nomor 30 tahun 1999 membolehkan arbitrator atau
badan arbitrase untuk menerapkan ex aequo et bono (pasal 56 ayat
1). Ketentuan yang sama dalam Model Law tercantum dalam pasal 28
ayat 3. Bedanya adalah, UU nasional kita tidak tegas bahwa
penerapan keadilan dan kepatutan ini hanya akan boleh dilakukan

27
apabila para pihak dengan tegas diperintahkan oleh para pihak.
Penjelasan pasal 56 hanya menyebut: 'Dalam hal arbiter diberi
kebebasan...'). Rumusan ini tidak tegas siapa yang memberi
kebebasan untuk memberikan putusan berdasarkan keadilan dan
kepatutan.
Ketiga, adalah masalah manakala para pihak tidak memilih
hukum yang akan berlaku terhadap kontrak. Dalam hal ini, UU
nasional kita dan Model Law memuat aturan yang berbeda. UU
nasional kita tampaknya menganut jalan pintas. Penjelasan pasal 56
UU Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyebutkan,
apabila para pihak tidak menentukan pilihan hukum, maka arbitrator
atau badan arbitrase harus menerapkan hukum tempat arbitrase
dilakukan.
Sedangkan Model Law menyatakan bahwa apabila para pihak tidak
memilih hukum, maka badan arbitrase atau arbitrator harus mengacu
kepada hukum yang ditentukan berdasarkan aturan-aturan hukum
perdata internasional (conflict of laws rules) yang oleh
arbitrator atau badan arbitrase dianggap berlaku.


28
F. Pelaksanaan Putusan Sengketa Dagang
1. Pengantar
Masalah pelaksanaan putusan penyelesaian sengketa (khususnya
yang dibuat di luar negeri) hingga kini masih menjadi suatu
masalah yang tidak mudah. Hal ini disebabkan karena pihak yang
kalah di dalam suatu sengketa tidak jarang merasa keberatan
melaksanakan putusan tersebut. Bersamaan dengan itu, pengadilan di
dalam negeri tersebut yang diharapkan dapat membantu proses
pelaksanaan putusan ternyata kurang memberikan respon yang
konstruktif.
Masalah ini pula yang saat ini menjadi ciri utama kelemahan
dari putusan-putusan penyelesaian sengketa oleh badan-badan
penyelesaian sengketa asing. Inti masalahnya adalah dilaksanakan
sutau putusan mencerminkan efektivitas suatu putusan.
57

Dalam bagian ini, uraian akan melihat secara singkat
pelaksanaan putusan dari masing-masing cara penyelesaian sengketa,
yaitu putusan melalui alternatif penyelesaian sengketa, arbitrase
asing dan pengadilan (asing).
2. Pelaksanaan Putusan APS
Penyelesaian sengketa melalui alternatif penyelesaian
sengketa (APS) memiliki risiko yang cukup tinggi dalam hal pihak
yang kalah tidak mau melaksanakan putusan yang dikeluarkan.
Pelaksanaan putusan melalui APS lebih banyak bergantung kepada
itikad baik para pihaknya. Hal ini semata-mata karena sifat
putusannya yang sejak awal dilandasi oleh asas konsensuil.
Masalahnya akan menjadi lebih sulit apabila putusan APS
tersebut dibuat di luar negeri. Upaya pihak yang menang yang
berupaya agar putusan APS dapat dilaksanakan semakin sangat
bergantung kepada itikad baik ini. Tidak ada kepastian hukum kapan
dan apakah pihak yang kalah mau melaksanakan putusan APS tersebut.

57
Hans Van Houtte, The Law of International Trade, London: Sweet and
Maxwell, 1995, p. 369.

29
3. Pelaksanaan Putusan Arbitrase (Asing)
Pelaksanaan putusan arbitrase asing sudah menjadi isu yang
lama. Masalah ini pula yang menjadi kelemahan utama dari cara
penyelesaian melalui pengadilan atau hakim partikelir ini. Seperti
telah disebut di muka, umumnya yang menjadi kendala dalam masalah
ini adalah pelaksanaan (eksekusi) putusan oleh pihak yang kalah.
Upaya masyarakat internasional dalam mengurangi dan
memperbaiki kelemahan ini telah lama dilakukan, yaitu sejak tahun
1927. Waktu itu masyarakat internasional mengeluarkan Konvensi
Jenewa tentang Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase.
Konvensi ini kemudian direvisi oleh Konvensi New York 1958.
Sebenarnya timbulnya masalah ini merupakan refleksi dari
konvensi-konvensi internasional pada umumnya, termasuk Konvensi
New York 1958 ini. Masalahnya adalah konvensi internasional
seperti ini tidak mengatur peraturan-peraturan yang detail. Ia
hanya mengatur hal-hal pokoknya saja. Dalam lingkup nasional,
Konvensi internasional ini ibarat Undang-undang Pokok yang
pelaksanaannya dijabarkan oleh Peraturan Pemerintah, Keputusan
Presiden, dan seterusnya (implementing legislation-nya).
Kalau di dalam lingkup nasional ada hierarki pengaturan yang
jelas, sebaliknya dalam lingkup internasional tidak ada. Masin-
masing negara memiliki cara melaksanakan implementing legislation-
nya. Keadaan demikian jelas menambah ruwetnya masalah pelaksanaan
suatu putusan arbitrase asing.
58

Konvensi New York 1958 (Convention on the Recognition and
Enforcement of Foreign Arbitral Awards) ditandatangani 10 Juni
1958 di kota New York. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni
1959. Konvensi ini hanya mensyaratkan tiga ratifikasi agar

58
Lihat hasil penelitian yang dilakukan oleh Karl Heinz Boockstiegel yang
menyimpulkan sebagai berikut: “if we now turn to the enforcement of
arbitration awards ... the information collected shows many variations
between national laws. (Karl Heinz Bockstiegel, Arbitration and State
Enterprises, KlUwer Law and Taxation Publishers, 1989, h1m. 50).

30
berlaku. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah
ratifikasi ketiga terpenuhi.
59

Konvensi mengandung 16 pasal. Dari pasal-pasal ini dapat
ditarik 5 (lima) prinsip berikut di bawah ini:
(1) Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan
putusan arbitrase luar negeri dan menempatkan putusan tersebut
pada kedudukan yang sama dengan putusan peradilan nasional.
(2) Konvensi ini mengakui prinsip putusan arbitrase yang mengikat
tanpa perlu dicantumkan dalam putusannya.
(3) Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double
enforcement process).
(4) Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang
diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan
putusan. Dalam hal ini Konvensi hanya mensyaratkan dua dokumen
saja untuk dapat melaksanakan suatu putusan, yaitu: (a) Dokumen
putusan atau salinannya yang sah dan (b) dokumen perjanjian
arbitrase atau salinannya yang sah (pasal IV).
60

(5) Konvensi New York lebih lengkap dan komprehensif daripada hukum
nasional pada umumnya. Konvensi New York di samping mengatur
pelaksanaan, juga mengatur pengakuan (recognition) terhadap
suatu putusan arbirase asing.
61

Indonesia adalah anggota Konvensi New York dengan aksesi
melalui Keputusan Presiden No. 34 tahun 1981, 5 Agustus 1981.
Aksesi ini didaftar di Sekretaris Jenderal PBB 7 Oktober 1981.


59
Lihat, pasal XII Konvensi.
60
Rene David berpendapat bahwa pasal ini memberi keuntungan kepada pihak
yang menang di dalam memohon eksekusi karena ia cukup menunjukkan dua
dokumen tersebut kepada Pengadilan (Rene David, Arbitration in
International Trade, Netherlands: Kluwer, 1985, h1m. 96).
61
Samir Saleh, "The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral
Awards in the States of the Arab Middle East", dalam Julian DM Lew,
(ed)., Contemporary Problems in International Arbitration, Netherlands:
Martinus Nijhoff Publ., 1986, h1m. 344.

31
3. Pelaksanaan Putusan Pengadilan
Masalah pelaksanaan putusan pengadilan juga masih menjadi
masalah yang cukup serius. Pengadilan adalah refleksi kedaulatan
negara dalam mengadili sesuatu sengketa. Putusan pengadilan
karenanya tidak secara otomatis dapat dilaksanakan di wilayah
kedaulatan negara lain.
Untuk supaya putusan tersebut dapat dilaksanakan di suatu
negara lain, ada dua kemungkinan berikut:
(1) menyidangkan kembali kasus tersebut dari awal sebagai suatu
sengketa baru di pengadilan tersebut (di mana putusan
dimintakan pelaksanaannya);
(2) pelaksanaan putusan pengadilan di suatu negara dapat
dilaksanakan apabila negara-negara yang terkait (ke-dua
negara, dimana pelaksanaa putusan dimintakan) terikat baik
apda suatu perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral
mengenai pelaksanaan putusan pengadilan di bidang sengketa-
sengketa dagang (padanan kata asingnya yaitu sengketa-sengketa
komersial).
Untuk hal yang pertama, sudah barang tentu sulit. Prosesnya
jadi panjang dan berlarut-larut. Belum lagi pertimbangan biaya
yang akan dikeluarkan untuk proses tersebut. Biasanya proses
berperkara di pengadilan di luar negeri tidaklah murah. Belum lagi
timbul ketidak-pastian apakah putusannya akan sama dengan putusan
yang dikeluarkan oleh badan peradilan sebelumnya.
Untuk hal yang kedua, adalah alternatif yang cukup layak.
Sayangnya, perjanjian-perjanjian seperti ini baru berupa
perjanjian bilateral dan regional di Eropa Barat. Perjanjian
bilateral dapat ditemukan di antara negara-negara Eropa Barat
dalam hal pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan secara
bilateral.
62


62
Hans Van Houtte, op. cit., p. 356. (Biasanya perjanjian bilateral ini
memuat hal-hal yang tidak tercakup dalam Perjanjian Regional mengenai

32
a. Konvensi Brussel 1968
Perjanjian regional di Eropa Barat mengenai pelaksanaan
putusan pengadilan ini adalah the Convention on Jurisdiction and
the Enforcement of Judgment in Civil and Commercial Matters
(Konvensi Brussel), 27 september 1968. Konvensi Brussel ini
beranggotakan Belgia, Belanda, Luxembourg, Perancis, Jerman, dan
Italia). Selanjutnya negara-negara yang bergabung adalah Inggris,
Irlandia, dan Denmark (1978), Spanyol dan Portugal (26 Mei 1989).
Konvensi Brussel bertujuan:
(1) mengatur jurisdiksi pengadilan di negara-negara anggotanya;
(2) memperkenalkan prosedur sederhana untuk pengakuan dan
pelaksanaan putusan; dan
(3) mengatur pengakuan terhadap dokumen-dokumen otentik dari
negara-negara anggotanya.
63

b. Konvensi Lugano 1988
Konvensi kedua yaitu the Convention on Jurisdiction and the
Enforcement of Judgment in Civil and Commercial Matters (Konvensi
Lugano) ditandatangani di Lugano, 16 September 1988. Negara
anggota Konvensi ini adalah 12 negara Masyarakat Eropa dan 6
negara anggota European Free Trade Area (EFTA) yaitu Finlandia,
Islandia, Norwegia, Austria, Swedia dan Swis.
Tujuan Konvensi ini adalah sama dengan Konvensi Brussel,
yaitu mendorong pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan di
antara negara anggotanya. Fungsi ini umumnya berkaitan dengan hal-
hal yang tidak diatur dalam Konvensi Brussel.
64



masalah pelaksanaan putusan dagang oleh pengadilan di antara negara-
negara anggota Konvensi Brussel dan Konvensi Lugano, lihat infra).
63
Hans Van Houtte, op. cit., p. 355.
64
Hans Van Houtte, op. cit., p. 356 (menurut Houtte, hal lain yang
membedakannya adalah bahwa Konvensi Lugano tidak memberikan jaminan
penafsiran yang seragam dibandingkan dengan Konvensi Brussel. Houtte,
op.cit., hlm. 356).

33
G. Penutup
Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagagan
internasional memberi kebebasan dan peluang yang cukup besar
kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketanya. Dalam kebebasan
memilih cara-cara penyelesaian sengketa termasuk pula kebebasan
untuk memilih hukum yang akan diterapkan untuk menyelesaikan
sengketa. Untuk kedua hal ini badan peradilan harus
menghormatinya.
Mengenai forum penyelesaian sengketa yang tersedia, tampak
masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahannya. Baik itu APS
atau pengadilan masing-masing memiliki cirinya. Hal inilah yang
perlu dipertimbangkan dengan seksama oleh para pihak yang hendak
menyelesaikan sengketanya.
Mengenai kebebasan para pihak untuk menentukan hukumnya,
faktor yang penting adalah kestabilan hukum tersebut. Di dalam
pengertian ini adalah pengetahuan para pihak terhadap hukum
tersebut. Selain itu pula perlu diperhatikan praktik dan
pendekatan yang diterapkan badan peradilan yang akan
menyelesaikannya. Seperti diuraikan di atas, para pihak perlu
menyadari adanya praktik yang berbeda-beda antara badan peradilan
di suatu negara dengan badan peradilan di negara lainnya.
Pertimbangan penting lainnya yang justru sangat esensial
adalah pertimbangan kemungkinan dapat atau tidak dapatnya
dilaksanakannya putusan (ekseskusi). Kegagalan atau kealpaan untuk
mempertimbangkan faktor ini akan membuat upaya-upaya penyelesaian
sengketa yang dipilih berdasarkan kebebasan para pihak menjadi
tidak berarti.



34

DAFTAR PUSTAKA
Bagner, Hans, “Dispute Settlement,” dalam: Julian D.M. Lew and
Clive Stanbrook (eds.), International Trade: Law and Practice,
London: Euromoney, 1983.
Beherens, Peter, "Alternative Methods of Dispute Settlement in
International Economic Relations," dalam: Ernst-Ulrich
Petersmann and Gunther Jaenicke, Adjudication of International
Trade Dispute in International and National Economic Law,
Fribourg U.P., 1992.
Cooke, Gerald, “Disputes Resolution in International Trading,”
dalam: Jonathan Reuvid (ed.), The Strategic Guide to
International Trade, London: Kogan Page, 1997.
David, Rene, Arbitration in International Trade, Netherlands:
Kluwer, 1985.
Garcia-Amador, F.V., The Canging Law of International Claims, USA:
Oceana Publications, Inc., 1984.
Harris, D.J., Cases and Materials on International Law, London:
Sweet and Maxwell, 5
th
.ed., 1998.
Houtte, Hans Van, The Law of International Trade, London: Sweet
and Maxwell, 1995.
Huala Adolf, “The Settlement of Investment Disputes under the
ICSID Arbitration”, Thesis, Department of Law, Sheffield
University, 1995.
Huala Adolf, Arbitrase Komersial Internasional, Jakarta: Rajawali
Pers, cet.2., 1994.
Huala Adolf, Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional,
Jakarta: Rajawali Pers, cet. 3, 2002.
Hulieatt-James M., and N. Gould, International Commercial
Arbitration, London: LLP, 1996.
Islam, M. Rafiqul, International Trade Law, Sydney: LBC, 1999.
Kohona, Palitha TB., , The Regulation of International Economic
Relations through Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff
Publ., 1985.
Malirveni, G., "The Settlement of Disputes within International
Organizations," dalam Mohammed Bedjaoui (ed)., International
Law: Achievements and Prospects, Dordrecht: Martinus Nijhoff
Publishers and UNESCO, 1991.
Mann, F.A., "Foreign Investment in the International Court of
Justice: the ELSI Case," 86 AJIL 92 (1992).
Poeggel W., and E. Oeser, "Methods of Diplomatic Settlement,"
dalam Mohammed Bedjaoui (ed)., International Law: Achievements
and Prospects, Paris: UNESCO and Martinus Nijhoff, 1991.

35
Rubino-Sammartano, Mauro, International Arbitration Law, Deventer,
Boston: Kluwer Law and Taxation Publsihers, 1990.
Saleh, Samir, "The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral
Awards in the States of the Arab Middle East", dalam Julian DM
Lew, (ed)., Contemporary Problems in International
Arbitration, Netherlands: Martinus Nijhoff Publ., 1986.
Sanson, Michelle, Essential International Trade Law, Sydney:
Cavendish, 2002.
Seidl-Hohenveldern, I., "General Course on Public International
Law," 198 Recueil des Cours 198 (1986).
Themaat, Verloren van, The Changing Structure of International
Economic Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff Publishers,
1981.

ii

!

" # % % & " ( ' " " "

" "

$ " #

" # ) * # +

*

# ,

#

# " -$ ./ /0

" !+ !

iii

Daftar Isi BAB I PENGANTAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. Pengantar dan Definisi 1. Definisi a. Definisi Schmitthoff b. Definisi Rafiqul Islam c. Definisi Michelle Sanson d. Definisi Hercules Booysen 2. Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional a. Hubungan Hukum Perdagangan Internasional dan Bidang Hukum Lainnya b. Hukum Perdagangan Internasional bersifat Interdisipliner B. Prinsip-prinsip Hukum Perdagangan Internasional 1. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak 2. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda 3. Prinsip Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase 4. Prinsip Kebebasan Komunikasi (Navigasi) C. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional D. Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional E. Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional 1. Perlunya Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional 2. Lembaga-lembaga Yang Bergerak dalam Unifikasi dan Harmonisasi Hukum a. World Trade Organization (WTO) b. The International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT) c. The United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) d. Kamar Dagang Internasional (ICC) F. Penutup BAB II. SUBYEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. Pengantar B. Negara 1. Peran Negara 2. Imunitas Negara C. Organisasi Perdagangan Internasional D. Individu 1. Perusahaan Multinasional 2. Bank E. Penutup BAB III. SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

iv A. Pengantar B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional 1. Perjanjian Internasional 2. Hukum Kebiasaan Internasional 3. Prinsip-prinsip Hukum Umum 4. Putusan Badan Pengadilan dan Doktrin 5. Kontrak 6. Hukum Nasional C. Penutup BAB IV. ATURAN-ATURAN HUKUM PERDAGANGAN MENURUT GATT A. Pengantar B. Sejarah GATT C. Ketentuan-ketentuan Perdagangan dalam GATT D. Prinsip-prinsip GATT E. Garis-garis besar Ketentuan GATT F. Penutup BAB V. LETTER OF CREDIT DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. Pengantar B. Bentuk-bentuk Pembiayaan Perdagangan Internasional 1. Kredit Berdokumen (Documentary Credit) 2. Bentuk Khusus Kredit Berdokumen C. Penutup BAB VI. E-COMMERCE MENURUT UNCITRAL MODEL LAW ON ELECTRONIC COMMERCE 1996 A. Pengantar B. Masalah Hukum: Pengawasan C. UNCITRAL Model Law 1. Pengantar 2. Penerapan Persyaratan Hukum terhadap Pesan Data 3. Kekuatan Pembuktian Pesan Data 4. Penyimpanan Pesan Data 5. Komunikasi Pesan Data 6. Bentuk dan Keabsahan Kontrak 7. Pengakuan terhadap Pesan Data 8. Pengakuan Penerimaan 9. Waktu dan Tempat Pengiriman dan Penerimaan Pesan Data 10. Bagian II: Obyek tertentu: Pengiriman Brg 11. Dokumen Pengangkutan (Bill of Lading) 12. Tanda Tangan Digital dan Pejabat Verifikasi D. Penutup BaAB VII. PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Prinsip-prinsip Penyelesaian Sengketa 1. Pelaksanaan Putusan Pengadilan G. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus) 2. Konsiliasi 4. Prinsip Exhaustion of Local Remedies D. Para Pihak dalam Sengketa C. Pelaksanaan Putusan APS 2. Penutup . Negosiasi 2. Pelaksaan Putusan Sengketa Dagang 1. Pengadilan (Nasional dan Internasional) E. Arbitrase 5. Hukum Yang Berlaku 1. Pengantar 2.v A. Pengantar B. Prinsip Itikad Baik (Good Faith) 5. Kebebasan Para Pihak F. Pengantar 1. Pelaksanaan Putusan Arbitrase (Asing) 3. Forum Penyelesaian Sengketa 1. Mediasi 3. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa 3. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum 4.

dewasa ini para pelaku dagang tidak perlu mengetahui atau mengenal siapa rekanan dagangnya yang berada jauh di belahan bumi lain. Hal ini sudah banyak terbukti dalam sejarah perkembangan dunia. tidak terlepas Cina dari keberhasilan dan aktivitas negara-negara tersebut di dalam internasional. Pengantar dan Definisi Hukum perdagangan internasional adalah bidang hukum yang berkembang cepat. Bahkan dagang internasional teknologi banyak disebabkan informasi). Ada berbagai motif atau alasan mengapa negara atau subyek hukum (pelaku dalam Yang perdagangan) menjadi fakta melakukan adalah transaksi bahwa dagang internasional. yaitu komoditi hingga (produk-produk hubungan atau pertanian. sejahtera dan kuat. perkebunan. Besar perdagangan dan jayanya negara-negara Sebagai di dunia contoh. transaksi dagang yang kompleks.BAB I PENGANTAR HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. jual dagang beli yang barang sifatnya atau lintas batas dapat mencakup banyak jenisnya. Hal ini tampak dengan lahirnya transaksi-transaksi yang disebut dengan e-commerce. Kompleksnya ini sedikit (khususnya lagi hubungan atau transaksi oleh Sehingga. dan sejenisnya). satu kejayaan masa lalu tidak terlepas dari kebijakan dagang yang terkenal dengan nama ‘Silk Route’ atau jalan suteranya. Silk Route tidak lain adalah rute-rute perjalanan yang ditempuh oleh saudagar- . Ruang lingkup bidang hukum ini pun cukup luas. Hubungan-hubungan dari barter. adanya jasa teknologi dalam transaksi-transaksi dengan pesatnya dagang semakin berlangsung dengan cepat. Batas-batas negara bukan halangan bertransaksi. teknologi. Dari bentuknya yang sederhana. perdagangan internasional sudah menjadi tulang punggung bagi negara untuk menjadi makmur.

menyusul negara-negara lain seperti Spanyol British VOC-nya. (beserta multinasionalnya tidak terlepas pertama di dunia.). The Strategic Guide to International Trade. Bahkan pernah ada data yang mengungkapkan bahwa perahu Bugis telah juga mengunjungi wilayah utara benua Australia. Pemerintah Singapura memberi nama pada suatu daerah di tengah Singapura dengan nama Bugis (di wilayah Bugis Junction). yakni ‘the East-India Company’. Belanda dengan Kejayaan negara-negara untuk pemerintahnya melakukan transaksi dagang internasional. xv. yang mempelajari hukum-hukum bangsa Bugis ini yang disalin oleh Amanna Gappa. para. misalnya. sesungguhnya. kebijakan dengan Spanish Conquistadors-nya. hlm. apa yang diperbuat oleh ahliahli hukum Belanda dan ahli hukum Inggris tersebut merupakan pukulan telak pada ahli hukum di tanah air. Telah dikemukakan bahwa berdagang ini adalah 1 Jonathan Reuvid. Kesadaran untuk melakukan transaksi dagang internasional ini juga telah cukup lama disadari oleh para pelaku pedagang di tanah air sejak. Di Singapura. Tobing. Menurut hemat penulis. Mereka mempelajari hukum-hukum pelayaran dan hukum dagang bangsa Bugis untuk kemungkinan diterapkan pada keadaan dewasa ini. 1 Cina untuk berdagang dengan bangsa-bangsa lain di Setelah kejayaan Cina. Adalah Amanna Gappa. Bahkan banyak ahli hukum dari berbagai dunia. seorang kepala suku Bugis yang sadar akan pentingnya dagang suku (dan bugis pelayaran) dalam bagi kesejahteraan sukunya. 2 PH. ada suatu daerah yang khusus untuk menghormati suku Bugis ini karena keunggulan mereka sebagai pelaut dan pedagang. Prestasi ini telah membuat kagum banyak bangsa di dunia. khususnya Inggris dan Belanda. Keunggulan berlayar dengan hanya menggunakan perahu-perahu bugis yang kecil telah mengarungi lautan luas hingga ke Malaya (sekarang menjadi wilayah Singapura dan Malaysia).saudagar dunia. (ed. London: Kogan Page. Kenapa justru ahli hukum asing yang mempelajari dan menggali hukum dagang (internasional) Bugis. bukannya bangsa kita sendiri. Di Bugis Junction ini kita dapat melihat replika perahu kecil suku Bugis yang berlayar ke Malaka (sekarang Singapura).O. 154. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa. .2 Yang menjadi esensi untuk bertransaksi dagang ini adalah dasar filosofinya. 1977. perusahaan ini Inggris dengan The yang dari Empire-nya dll. 1997.L.

cet.3 kebebasan oleh Dengan untuk adanya kebebasan berdagang. Huala Adolf. 3. Jakarta: Rajawali Pers. dll. Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar. (“Every State has the right to engage in international trade”) (Pasal 4). sistem hukum.suatu “kebebasan ini fundamental” saja ini (fundamental memiliki boleh freedom). suku. kepercayaan. . 3 Lihat buku penulis. Bab I. 2002. Piagam Hak-hak dan Kewajiban Negara (Charter of Economic Rights and Duties of States) juga mengakui bahwa setiap negara memiliki hak untuk melakukan perdagangan internasional. politik. siapa harus tidak Kebebasan dibatasi perbedaan agama.

para. . yaitu Professor Clive M. a. Schmitthoff. Progressive Development of the Law of International Trade: Report of the Secretary General of the United Nations 1966.. Definisi ini sebenarnya adalah definisi buatan seorang guru besar ternama dalam hukum dagang internasional dari City of London College. op. hlm. 5 Secretary General Report.cit. Hingga dewasa berbeda. Schmitthoff dengan tegas membedakan antara hukum perdata (“private law nature”) dan hukum publik. Dalam definisinya itu.1. Definisi Schmitthoff Definisi pertama adalah definisi yang dikeluarkan 4 ini terdapat berbagai definisi yang satu sama lain oleh Sekretaris Jenderal PBB dalam laporannya tahun 1966. Definisi di atas menunjukkan dengan jelas bahwa aturan- aturan tersebut bersifat komersial. Sehingga dapat dikatakan bahwa definisi yang tercakup dalam Laporan Sekretaris Jenderal tersebut tidak lain adalah laporan Schmitthoff. New York: United Nations.. 1966.. Schmitthoff menegaskan bahwa ruang lingkup bidang hukum ini tidak termasuk hubungan-hubungan komersial internasional dengan ciri hukum publik. Definisi Cepatnya perkembangan bidang hukum ini ternyata masih belum ada kesepakatan tentang definisi untuk bidang hukum ini. Artinya. the body of rules governing commercial relationship of a private law nature involving different nations”. 10. 1. Termasuk dalam 4 United Nations.5 Dari definisi tersebut dapat tampak unsur-unsur berikut: 1) Hukum yang perdagangan mengatur internasional adalah sekumpulan yang aturan hubungan-hubungan komersial sifatnya hukum perdata. 2) Aturan-aturan hukum tersebut mengatur transaksi-transaksi yang berbeda negara. Schmitthoff mendefinisikan hukum perdagangan internasional sebagai: “. (Selanjutnya disebut Secreatry General Report).

op. dsb.” (1968) JBL 109 (pendapat Schmitthoff ini juga adalah pendapat sarjana terkemuka hukum perdagangan internasional Profesor Aleksander Goldštajn). sulit diterima adanya toleransi ini.”8 Dari latar belakang definisi tersebut pun berdampak pada ruang lingkup cakupan hukum dagang internasional. 11.bidang hukum publik ini yakni aturan-aturan yang mengatur tingkah laku atau perilaku negara-negara dalam 6 mengatur perilaku perdagangan yang mempengaruhi wilayahnya. Secretary General Report.cit. Yang ada adalah penundukan diri baik secara diam-diam maupun tegas seperti dalam ratifikasi atau aksesi suatu perjanjian internasional (dalam hal ini hukum perdagangan internasional) oleh suatu negara.7 Dalam salah satu tulisannya Schmitthoff dengan jelas menegaskan sebagai berikut: “First. para. para. “The Unification of the Law of International Trade. Menurut hemat penulis salah satu kelemahan dari definisi ini adalah sulitnya diterima bahwa berlakunya hukum perdagangan internasional ke dalam jurisdiksi nasional negara-negara di dunia adalah berdasarkan apa yang beliau sebut “tolerance of the national sovereign. masalah ratifikasi atau aksesi terhadap suatu perjanjian internasional (tidak terkecuali perjanjian di bidang hukum perdagangan . 6 7 dagang (agency).cit. but it is applied in every national jurisdiction by tolerance of the national sovereign whose public policy may override or qualify a particular rule of that law. (ii) perwakilan-perwakilan penjualan eksklusif. Misalnya. (iii) Pengaturan Secretary General Report. the modern law of international trade is not a branch of international law. op. Dengan perdagangan kata lain. aturanaturan yang mengatur komoditi. aturan-aturan hukum internasional yang mengatur hubungan dagang dalam kerangka GATT atau aturanaturan yang mengatur blok-blok perdagangan regional. 11. Schmitthoff menguraikan bidang-bidang berikut sebagai bidang cakupan bidang hukum ini: 1) Jual beli dagang internasional: (i) pembentukan kontrak.. Seperti kita ketahui. 8 Schmitthoff.” Dalam hukum. it does not form part of the jus gentium. Schmitthoff tidak menegaskan atau wilayah terlepas hukum dari internasional termasuk aturan-aturan hukum internasional publik yang mengatur hubunganhubungan komersial..

dalam hal ini prinsip hukum perjanjian internasional." dalam: Jonathan Reuvid (ed. (Villanueva menggambarkan bidang perdagangan internasional ke dalam dua bidang: (1) Perdagangan barang (merchandise trade) yang mencakup mineral. Dalam Rafiqul batasan perdagangan internasional sebagai ". op. hlm 3.2) Surat-surat berharga 3) Hukum mengenai kegiatan-kegiatan tentang tingkah laku mengenai perdagangan internasional 4) Asuransi 5) Pengangkutan melalui darat dan kereta api. The Strategic Guide to International Trade. konsultasi dan pariwisata). trading bodies and States". hlm. transnational. (Rafiqul Islam. commercial exchange of goods and services between individual business persons..10 Hubungan internasional. "Patterns and Trends in World Trade. perairan pedalaman 6) Hak milik industri 7) Arbitrase komersial.. International Trade Law. 1999. hlm. Rafiqul Islam Dalam erat antara upayanya memberi batasan atau dan definisi hubungan Islam hukum perdagangan internasional. 1). 10. barang industri.. 10 Rafiqul Islam. Lihat misalnya. Sarjana-sarjana dewasa ini cenderung untuk membagi ruang lingkup perdagangan internasional ke dalam dua bagian:perdagangan barang dan jasa (sebagaimana halnya dengan Rafiqul Islam di atas). . produk pertanian.11 internasional) tunduk pada prinsip-prinsip hukum internasional publik. Definisi M.. para.). finansial keterkaitan terkait erat ini erat dengan karena perdagangan hubungan- tampak hubungan keuangan ini mendampingi transaksi perdagangan antara para pedagang (dengan pengecualian transaksi barter atau countertrade). 9 Secretary General Report. Pablo Vilanueva.cit.cit. Kogan page (tt). Rafiqul Islam menekankan keterkaitan perdagangan internasional hal ini keuangan memberi (financial relations). udara. 11 Pengecualian terhadap kedua bentuk transaksi tersebut karena memang untuk kedua transasi tersebut tidak terkait dengan adanya hubungan keuangan. 1.9 b. laut. NSW: LBC. op. a wide ranging. dan (2) jasa komersial (commercial services) yang mencakup perbankan.

1. with a controlling impact on the commercial behaviour of the trading entities"). op.. dagang dan internasional (dengan kata dasar nasion atau negara). principles. yang diatur oleh hukum internasional publik.Dengan adanya keterkaitan erat antara perdagangan internasional dan keuangan. Hukum perdagangan internasional menurut definisi Sanson ‘can be defined as the regulation of the conduct of parties 12 13 Rafiqul Islam. Selengkapanya Rafiqul Islam menulis sebagai berikut: "international trade and finance law is a body of rules. norma dan praktek yang menciptakan suatu pengaturan (regulatory regime) untuk transaksitransaksi perdagangan transnasional dan sistem pembayarannya. 14 Rafiqul Islam. Rafiqul Islam.cit. 1. op. Sanson memberi batasan bidang ini sesuai dengan pengeritan kata-kata dari bidang hukum ini. Definisi Michelle Sanson Sarjana lainnya yang mencoba memberi batasan bidang hukum ini adalah sarjana Australia Sanson. c. 1. norms and their associated payments systems. hlm. perdagangan antar pemerintah atau 13 antar negara.. op. prinsip. lingkup bidang adalah lintas transnasional. hlm. hlm..cit. Dari perdagangan kajian batasan tersebut ini tampak sifatnya bahwa 14 ruang Karena lingkup ruang batas hukum atau internasional hukum sangat luas. . konsekuensinya adalah terkaitnya lebih dari satu sistem hukum yang berbeda.12 Kegiatan-kegiatan komersial tersebut dapat dibagi ke dalam kegiatan "komersial" yang berada dalam ruang lingkup hukum perdata internasional atau Conflict of Laws.cit. yang memiliki dampak terhadap perilaku komersial lembaga-lembaga perdagangan. Rafiqul Islam mendefinisikan "hukum perdagangan dan keuangan ("international trade and finance law") sebagai suatu kumpulan aturan. yaitu hukum.

atau hukum internasional. hlm. 4.cit. hlm. yaitu hukum trade perdagangan law) dan internasional publik (public interntional hukum perdagangan internasional privat (private international trade law). Sanson menyatakan bahwa ‘the modern development is that the distinction between publik and privat international trade law has less meaning. hlm. jasa dan teknologi. dumping.. Essential International Trade Law. Sanson. Sanson.’ Definisi di atas sederhana. Para pihaknya pun dibuat samar..cit. op. 3. perpajakan.16 Yang pertama. Perjanjian WTO adalah bidang hukum perdagangan internasional publik. 16 M. Sanson.involved in the 15 exchange of goods. public international trade law adalah hukum yang mengatur perilaku dagang antar negara. 18 M. Meskipun ada pembedaan ini. (Ibid). 17 M. Sedangkan obyek kajiannya.. hlm. hanya disebut parties. supra. Meskipun memberi definisi yang mengambang tersebut. private perilaku international dagang secara trade orang 17 law adalah hukum yang mengatur di perorangan (private traders) negara-negara yang berbeda. 2002. 4. op. Sanson membagi hukum perdagangan internasional ini ke dalam dua bagian utama. services and technology between nations. supra. dan Schmitthoff.cit. misalnya saja dalam hal tarif. Sanson dengan benar memberi contoh tentang hukum WTO. Sanson agak jelas: yaitu jual beli barang. 4. Lihat pula pendekatan Rafiqul Islam. . Sydney: Cavendish. namun para sarjana mengakui bahwa batas-batas kedua istilah ini pun sangat sulit untuk dibuat garis batasnya. Sanson hanya menyebut bidang hukum ini adalah the regulation of the conduct of parties. Sedangkan yang kedua.. Sanson. Ia tidak menyebut secara jelas bidang hukum ini jatuh ke bidang hukum yang mana: hukum privat. Tetapi aturan hukumnya terjewantahkan ke dalam bidang-bidang privat. publik.’18 15 M. op.

cit. services and the hukum protection perdagangan of intellectual property). hlm. Definisi Hercules Booysen Booysen secara termasuk tegas. hukum 20 sarjana Beliau Afrika Selatan bahwa tidak ilmu memberi hukum definisi sangatlah sulit dan menyadari kompleks.htm).. their legal order. Bandingkan dengan pendapat Reuvid. xv). (International trade law can be described as those rules of international law which are applicable to trade in goods.Mirip dengan Sanson. bahwa istilah ‘Perdagangan internasional’ mencakup bidang dan teknik dagang yang sangat luas (‘internasional trade covers a bewildering mumber of activities and procedures’ (Jonathan Reuvid. yakni: (1) Hukum perdagangan internasional dapat dipandang sebagai suatu cabang khusus dari hukum internasional (international trade law may also be regarded as a specialised branch of international law).). Rafiqul Islam melihat hubungan atau keterkaitan ini juga sulit untuk tidak bersentuhan dan saling mempengaruhi.) . Interlegal's Definitions (http://home. upaya untuk membuat definisi bidang hukum.za/~interlegal/ definitions. jasa dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Some such aspects of private transactions will be considered merely because public international law has shaped.’19 d. hlm. Beliau menulis: ‘The effect of public international law on private transactons is indirect but can be very profound in certain aspects. Karena itu. 1.yebro. Karena itu dalam upayanya memberi definisi tersebut. Menurut beliau ada tiga unsur.co. perdagangan internasional. sangatlah jarang tepat. beliau hanya mengungkapkan unsur-unsur dari definisi hukum perdagangan internasional. (2) Hukum perdagangan internasional adalah aturan-aturan hukum internasional yang berlaku terhadap perdagangan barang. op. seperti ini Bentuk-bentuk 19 20 internasional Rafiqul Islam. or is in the process of reshaping. (ed.

saja adalah aturan-aturan perdagangan WTO. Namun pengaruh berdampak cukup luas terhadap Interlegal's Definitions (http://home. di perjanjian seperti jasa bidang multilateral mengenai perdagnagan mengenai barang perjanjian mengenai (GATS/WTO. (3) Hukum perdagangan internasional terdiri dari aturan-aturan hukum nasional yang memiliki atau pengaruh langsung terhadap perdagangan internasional secara umum.co. 23 Interlegal's Definitions (http://home.21 Dalam lingkup definisi pelaku Negara ini utama lebih diakui dalam berperan bahwa negara bukanlah regulator transaksidari dari para hukum Karenanya. maka atura-aturan tersebut merupakan bagian dari hukum perdagangan internasional.co.yebro. Tetapi penulis lebih pro kepada definisi Rafiqul Islam.htm).misalnya GATT.za/~interlegal/ definitions. ini perdagangan Memang dapat internasional tampak dengan hukum dan internasional demikian 21 sekilas bahwa dampak pengaruh hukum internasional publik ini tidak langsung. Karena sifat aturanaturan hukum nasional tersebut. semata-mata internasional. Dari 4 (empat) definisi di atas tampak semuanya ada benarnya.htm). tampak adanya keterkaitan erat antara hukum publik.htm). 22 Interlegal's Definitions (http://home. . dan perjanjia mengenai aspek-aspek yang terkait dengan HAKI (TRIPS). mencakup transaksi pedagang bidang sebagai mengenai perdagangan (pengatur). Dari batasan Rafiqul Islam di atas.yebro.za/~interlegal/ definitions. contoh dari aturan hukum 23 nasional seperti itu (the adalah perundang- undangan yang ekstrateritorial extraterritorial legislation).za/~interlegal/ definitions. adalah bagian (international merchants international perdagangan internasional. Karena itu hukum perdagangan internasional juga aturan-aturan nyata law yang internasional bersifat law ini 22 internasional merchants).co.yebro.

Hal ini disebabkan karena hukum internasional publik dalam beberapa hal telah membentuk dan sedang dalam proses pembentukan ketentuanketentuan yang mengatur 24 aspek-aspek perdata dari transaksi perdagangan internasional. hlm.cit. op. 24 Rafiqul Islam. 1.beberapa aspek dari hukum perdagangan internasional. ..

hukum komersial internasional. Sedangkan 25 26 Cf. op. Pendekatan Hukum Perdagangan Internasional a. Jakarta: Rajagrafindo.. 3. cet. 3. Di sisi lain. M. 2003. . Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar. Misalnya dengan hukum ekonomi internasional. dll. Luasnya bidang cakupan membuat cakupan yang dikajinya sulit untuk tidak tumpang tindih dengan bidang-bidang lainnya. buku penulis. Misalnya saja. Catatan di atas menunjukkan kedudukan penulis yang mengakui adanya keterkaitan antara hukum perdagangan internasional dengan hukum internasional.2. Hukum ekonomi internasonal lebih banyak mengatur subyek hukum yang bersifat publik (policy). Sanson.cit. khususnya hukum ekonomi internasional. Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar.. Hubungan antara Hukum Perdagangan Internasional dan Bidang Hukum lainnya Satu catatan lain yang juga penting adalah hubungan antara hukum perdagangan internasional dan hukum lainnya yang terkait dengan tampak perdagangan luasnya internasional. 27 Lihat lebih lanjut mengenai hukum ekonomi internasional ini. Bab I. Lihat buku penulis. pembahasan mengenai subyek-subyek dan sumber-sumber dari kedua bidang hukum sedikit banyak hampir sama. 2003. hukum transaksi 25 bisnis internasional.27 Sementara ini pendekatan yang ditempuh untuk membedakan kedua bidang hukum ini adalah melihat subyek hukum yang tunduk kepada kedua bidang hukum tersebut. hlm. penulis berpendirian bahwa hukum ekonomi internasional adalah juga bagian atau cabang dari hukum internasional. Ada bidang-bidang yang sama-sama tunduk pada dua bidang hukum ini. 2.26 Masalahnya adalah di mana letak atau garis batas di antara hukum perdagangan dengan bidang-bidang hukum lain disebut di atas. cakupan Di bagian awal tulisan ini bidang hukum perdagangan internasional ini. Jakarta: Rajagrafindo. Bab I dst. seperti misalnya hubungan-hubungan di bidang ekonomi yang dilakukan oleh negara atau organisasi internasional. cet.

ekonomi. Selain itu. Untuk dapat memahami bidang hukum ini secara komprehensif. misalnya mengenai nasionalisasi publik atau ekspropriasi namun perusahaan asing. Keterkaitan keuangan lainnya. Hukum Perdagangan Internasional Bersifat Interdisipliner Karakteristik lain dari hukum perdagangan internasional ini adalah pendekatannya yang interdisipliner.hukum perdagangan internasional lebih menekankan kepada hubunganhubungan hukum yang dilakukan oleh badan-badan hukum privat. b. Dalam kenyataannya pendirian tersebut tidak begitu valid. Hal ini membutuhkan bantuan dan pemahaman disiplin ilmu pelayaran. udara dan khususnya laut). . aturan-aturan tersebut bagaimana pun juga akan berdampak pada individu atau subyek-subyek hukum lainnya di dalam wilayah suatu negara. yaitu ilmu lainnya yang terkait suatu lainnya yang misalnya adalah teknologi. meskipun hukum ekonomi internasional mengatur hukum negara. Dalam bidang hukum ini terkait dengan bidang pengangkutan (darat. Hal ini membutuhkan bantuan dan pemahaman ilmu praktik perdagangan. Disiplin-disiplin politik. Yang juga penting adalah ilmu bagaimana kebijakan politik negara berpengaruh terhadap kebijakan dagang suatu negara. Hukum ekonomi internasional atau dalam kenyataannya badan juga mengatur privat kegiatan-kegiatan perlindungan subyek-subyek dan transaksi-transaksi atau hukum atau yang terkait dengan kepentingan privat. Keterkaitan dengan perdagangan itu sendiri akan terkait dengan praktik dan teknik-teknik perdagangan. dengan Hal ini pembayaran membutuhkan dalam bantuan perdagangan dan pemahaman internasional akan terkait dengan praktik perbankan dan lembaga disiplin ilmu perbankan dan keuangan. dibutuhkan sedikit banyak bantuan disiplin-disiplin (ilmu) lain.

. provided always that that law respects in every national jurisdiction the limitations imposed by public policy. 2. Schmitthoff.”29 Kebebasan tersebut mencakup bidang hukum yang cukup luas. Prinsip Dasar Kebebasan Berkontrak Prinsip pertama. yaitu (1) prinsip kebebasan para pihak dalam berkontrak (the principle of the freedom of contract). sebenarnya adalah prinsip universal dalam hukum perdagangan internasional. 1981. Commercial Law in a Changing Economic Climate. The national sovereign has. Prinsip Dasar Pacta Sunt Servanda 28 29 Aleksander Goldštajn. London: Sweet and Maxwell. no objection that in that area an autonomous law of international trade is developed by the parties. Beliau memperkenalkan 3 (tiga) prinsip dasar tersebut. Setiap sistem hukum pada bidang hukum dagang mengakui kebebasan para pihak ini untuk membuat kontrak-kontrak dagang (internasional).. Clive M. hlm. Ia meliputi kebebasan untuk melakukan jenis-jenis kontrak yang para pihak sepakati.28 1. dan (3) prinsip penggunaan arbitrase. dll. Prinsip-prinsip Dasar Hukum Perdagangan Internasional Prinsip-prinsip dasar (fundamental principles) yang dikenal dalam hukum perdagangan internasional diperkenalkan oleh sarjana hukum perdagangan internasional Profesor Aleksancer Goldštajn. 22. Schmitthoff menanggapi secara positif kebebasan pertama ini. . kesopanan. dan lain-lain persyaratan yang ditetapkan oleh masing-masing sistem hukum. Ia mencakup pula kebebasan untuk memilih hukum yang akan berlaku terhadap kontrak. Beliau menyatakan: “The autonomy of the parties’ will in the law of contract is the foundation on which an autonomous law of international trade can be built.” (1961) JBL 12.. kepentingan umum. “The New Law of Merchant. Kebebasan ini sudah barang tentu tidak boleh bertentangan dengan UU. kebebasan berkontrak..B. Ia termasuk pula kebebasan untuk memilih forum penyelesaian sengketa dagangnya. kesusilaan. (2) prinsip pacta sunt servanda. (Selanjutnya disebut “Commercial Law”).

Further. Prinsip Dasar Kebebasan Komunikasi (Navigasi) Di samping tiga prinsip dasar tersebut. perdagangan penyelesaian sengketa yang semakin umum digunakan. . yaitu prinsip kebebasan untuk berkomunikasi (dalam pengertian luas. The Hague: Kluwer. termasuk di dalamnya kebebasan bernavigasi). Klausul arbitrase sudah semakin banyak dicantumkan dalam kontrak-kontrak dagang.30 Oleh karena itulah prinsip ketiga ini memang relevan. 31 Aleksander Goldštajn. Arbitration tribunals often apply criteria other than those applied in courts. Komunikasi atau navigasi adalah kebebasan para siapa 30 pihak pun untuk juga berkomunikasi melalui untuk keperluan sarana dagang dengan atau dengan berbagai navigasi Lihat secara khusus. Goldštajn menguraikan kelebihan dan alasan mengapa penggunaan arbitrase ini beliau jadikan prinsip dasar dalam hukum perdagangan internasional: “Moreover. Setiap sistem hukum di dunia menghormati prinsip ini. Arbitration in International Trade. the fact that the enforcement of foreign arbitral awards is generally more easy than the enforcement of foreign court decisions is conducive to a preference for arbitration. Arbitrators appear more ready to interpret rules freely. Prinsip Dasar Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase Prinsip terdengar dalam ketiga.Prinsip mensyaratkan kedua. Prinsip ini pun sifatnya universal. prinsip Namun penggunaan demikian adalah arbitrase pengakuan forum tampaknya Goldštajn Arbitrase agak ganjil. to the extent that the settlement of differences is referred to arbitration.”31 4. taking into account customs. “The New Law of Merchant. 1985 (membahas panjang lebar tentang peran arbitrase dalam perdagangan internasional). 3. bahwa pacta sunt servanda atau adalah kontrak prinsip yang yang telah kesepakatan ditandatangani harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya (dengan itikad baik). a uniform legal order is being created. prinsip dasar lainnya yang menurut penulis relevan adalah prinsip dasar yang dikenal dalam hukum ekonomi internasonal. menyebut prinsip ini bukan tanpa internasional alasan yang kuat. Rene David. usage and business practice.” (1961) JBL 12.

The Sources of the Law International Trade. The law of international trade is based on the general principles accepted in the entire world.”33 (Huruf miring oleh penulis). e.’ (1968) JBL 109 (mengutip Tammer. international trade law specialists of all countries have found without difficulty that they speak a ‘common language. . Bandingkan dengan pendapat profesor Goldštajn di bawah ini ketika beliau membahas hubungan antara sistem ekonomi dan politik dalam kaitannya dengan hukum perdagangan internasional: “The law governing trade transactions is neither capitalist nor socialist. sistem politik. hlm. (Commercial Law).g. 3. Huala Adolf. the fact that the beneficiaries of such transactions are different in this or that country is no obstacle to the development of international trade. 33 Schmitthoff. such as.komunikasi.. 29. 42). op.cit. 1964. atau hukum melalui sarana Kebebasan esensial bagi terlaksananya internasional. memperkuat pernyataan tersebut: “The law of external trade of the countries of planned economy does not differ in its fundamental principles from the law of external trade of other countries. 2003. perdagangan baik darat.. 34 Schmitthoff. hlm. 19. Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar. hlm. and therefore. Sarjana terkemuka lainnya. Pendapat ini benar. Jakarta: Rajawali pers. ini laut. Profesor Tammer. Consequently.”34 32 Lihat lebih lanjut. ‘The Unification of the Law of Internatioal Trade. sangat udara. atau sistem hukum. elektronik. it is a means to an end.32 Dalam berkomunikasi untuk maksud berdagang ini kebebasan para pihak tidak boleh dibatasi oleh sistem ekonomi. Austria or Switzerland. yaitu bahwa hukum perdagangan internasional didasarkan pada prinsip-prinsip umum yang diterima di seluruh dunia menyatakan seolah-seolah hukum perdagangan internasional dapat diterima oleh sistem hukum di dunia. Aturan-aturan (internasional) memfasilitasi kebebasan ini. cet. Pernyataan terakhir Goldštajn di atas.

hlm. Mereka menekankan pentingnya ekspor sebesarbesarnya dan menekan impor serendah-rendahnya. Eksistensi dan Tujuan Hukum Perdagangan Internasional Hubungan-hubungan sudah ada sejak lama. yaitu bentukbentuk awal negara dalam arti modern. . terutama abad ke 15 dan 16.36 Cara pandang ini sedikit banyak dilatarbelakangi dan dipengaruhi oleh beberapa aliran atau teori ekonomi. Pendirian ini semakin mendorong negara untuk memperluas aktivitas perdagangannya. 3-4. 1. perdagangan internasional ini antar ada negara sejak Hubungan-hubungan sudah adanya negara-negara dalam arti negara kebangsaan.impor merupakan keuntungan bagi negara (yang waktu itu diwujudkan dalam bentuk emas).. 1999. Smith menganggap perdagangan beliau internasional bahwa sebagai untuk bagian utama keunggulan komparatif (principle of comparative advantage). hlm. London: Blackstone. Lihat antara lain: Ademuni-Odeke. The Law of International Trade. Mereka menyadari bahwa perdagangan adalah satu-satunya cara untuk pembangunan ekonomi mereka. Para merkantilis instrumen berpendirian perdagangan internasional sebagai kebijakan nasional. teori atau aliran yang mula lahir adalah teori merkantilisme. Reaksi dari aliran itu adalah teori keunggulan komparatif yang diperkenalkan oleh David Ricardo salah (1772-1823). sejak dulu dan bahkan dewasa ini semakin banyak negara sadar bahwa kebijakan menutup diri sudah jauh-jauh ditinggalkan. Perjuangan negara-negara ini untuk memperoleh kemandirian dan pengawasan (kontrol) terhadap ekonomi internasional telah memaksa negara-negara ini untuk mengadakan hubungan-hubungan perdagangan yang mapan dengan negara-negara lainnya. op. Teori menyatakan menjadi 35 36 Rafiqul Islam. Keuntungan dari selisih ekspor .cit.C.35 Seperti telah dikemukakan di awal tulisan ini. Pada awal perkembangannya. satu pemain Ricardo dari dalam menekankan spesialisasi dari hasil suatu produk.

. para. dewasa ini mereka cenderung membentuk blok-blok perdagangan baik bilateral. Berdirinya ke-2 semata-mata guna 39 moneter internasional dapat terpelihara (stabil) dan juga memberi pendek menanggulangi adanya kesulitan disebabkan oleh defisit perdagangan ekspor-impor negara-negara. hlm.cit. xv. op. Tetapi dengan negeri kekuatan ini manajemen dalam perdagangan sebuah internasionalnya.cit.. Dalam kecenderungan ini pun peran perjanjian internasional menjadi semakin penting. sistem keuangan atau pasar internasional yang stabil untuk memberikan tersebut.38 Tidak terlalu mengherankan apabila masyarakat internasional kemudian lembaga pinjaman pembayaran menyelenggarakan keuangan jangka yang ini konperensi untuk Bretton menjaga Woods agar guna sistem neraca mendirikan Bank Dunia . hlm. ini.40 37 Lihat misalnya. Dari segi geografis..cit. Contoh klasik adalah Jepang. modal Karena untuk itu. Semakin luasnya aktivitas perdagangan ini yang dewasa ini dikenal dengan "liberalisasi perdagangan".cit. regional maupun multilateral. 39 Rafiqul Islam... Dalam upaya Krisis keuangan internasional pada tahun 1970-an juga telah mempertegas pentingnya hubungan erat negara-negara ini meningkatkan pertumbuhan ekonomi mereka. op. Jonathan Reuvid.cit.perdagangan. 38 Rafiqul Islam. Jepang relatif kurang beruntung. 3-4. 2. Sanson. tetapi bagaimana memaksimalkan potensi. 2.. op. op. M. yang paling berhasil menjadikannya negara penting di dunia dewasa ini. 3. 40 Rafiqul Islam. hlm. 2. op. Ademuni-Odeke. melaksanakan perdagangan internasional keterkaitan antara perdagangan internasional dan sistem keuangan atau moneter internasional menjadi semakin penting. kekayaan alam dan luas wilayah. hlm. faktor yang penting 37 bukanlah ukuran. Ibid. hlm. .IMF untuk maksud ini.

Tujuan lainnya yang juga relevan adalah: (e) untuk mengembangkan sistem perdagangan multilateral.cit. dinyatakan oleh Menteri Luar Negeri AS. yang akan mengimplementasikan kebijakan perdagangan terbuka dan adil yang bermanfaat bagi semua negara. Tujuan tersebut stabil dan menghindari kebijakan-kebijakan praktek-praktek perdagangan nasional yang merugikan negara lainnya. hlm.43 Ada pula yang menyatakan bahwa aturan-aturan perdagangan internasional perdamaian dan juga pada analisis akhirnya Hal akan ini menciptakan antara lain keamanan internasional.42 dan (f) meningkatkan pemanfaatan sumber-sumber kekayaan dunia dan meningkatkan produk dan transaksi jual beli barang. dan (d) meningkatkan lapangan tenaga kerja.” (Aleksander Goldštajn. 2. op. (c) meningkatkan standar hidup umat manusia..Semakin pentingnya peran perjanjian-perjanjian di bidang ekonomi atau perdagangan ini pun telah melahirkan aturan-aturan yang mengatur perdagangan internasional di bidang barang. 2. Rafiqul Islam.. on the basis of equality. hlm. .” (1961) JBL 12. bukan sepihak suatu negara tertentu. op.cit. Tesis ini tampaknya 41 42 Rafiqul Islam. Hull.41 Tujuan hukum perdagangan internasional sebenarnya tidak berbeda dengan tujuan GATT (General Agreement on adalah: (a) untuk mencapai perdagangan internasional dan yang Tariffs and Trade. (b) untuk meningkatkan volume perdaganan dunia dengan menciptakan perdagangan yang menarik dan menguntungkan bagi pembangunan ekonomi semua negara. Lihat pula tujuan menurut Aleksander Goldštajn yang menyatakan: “only deliberate regulation on the international level will make it possible to do justice. 1947) yang termuat dalam Preambule-nya. jasa dan penamaman modal di antara negara-negara. “The New Law of Merchant. to the interests and general welfare of all members of the international community.

L. hlm. Xxi. Lew and Stanbrook.”46 (Huruf miring oleh kami). yang selama ini dikenal juga sebagi bapak hukum internasional. O. 46 Lihat lebih lanjut. hlm. mereka memperoleh dan keadaan sedikit Artinya. Preamble GATT dan Preamble Perjanjian WTO (Marrakesh Agreement Establishing The World Trade Organization). 154. Dalam tulisannya berjudul ‘On Eternal Peace. Tobing.benar.cit. 45 Lihat lebih lanjut. op.. yaitu Amanna Gappa. PH.. PH. Tobing. By doing so he tried to prevent heavy competition among his countrymen and to stimulate cooperation for their own welfare. 43 Cf. Manakala dua atau dan otomatis lebih negara dunia berhubungan keuntungan menjadi dunia dan dari akan bertransaksi perdagangan banyak lebih dagang tersebut.. 154. situasi kondisi semakin kondusif. 1983. Salah seorang kepala suku Bugis ternama. juga menyadari bahwa tujuan (unifikasi) hukum dagang adalah untuk mencegah 45 persaingan di antara suku bangsanya dan juga memajukan kerjasama di antara mereka guna kesejahteraan di antara mereka. Interational Trade: Law and Practice.’44 Yang juga cukup menarik adalah tesis Hull di atas juga telah cukup lama disadari di tanah air. Sebenarnya tesis Hull tersebut sudah lama dikumandangkan oleh Immanuel Kant. We may assume that this was the bacground of his taking initiative in inviting his colleagues from other parts of Indonesia in order to collect the different rules which were in force in their respective regions and to compile a uniform navigation and trade law. hlm. baik. . dengan berikut: hukum pelayaran dan dagangnya Terjemahan saduran sebagai hasil penelitian terhadap suku terkenal Bugis ini yang terkenal tergambarkan “One of thse chiefs was Amanna Gappa (=father of Gappa) who headed his countrymen at Makassar. O.L. Bath: Euromoney. op.cit. Most probably he was a very intelligent and energetic man and he may have been the first to realize the great importance of navigation and trade for his people as the only fields of endeavour in which they could earn a living. 44 Lihat.’ Kant menyatakan bahwa ‘spirit of trade could not co-exist with war.

op. . hukum perdagangan internasional masih memiliki cukup banyak kelemahan.cit. (b) Aturan-aturan mendamaikan dan hukum perdagangan (tidak internasional memaksa). Kelemahan tersebut tampaknya juga dapat ditemui dalam bidangbidang hukum lainnya.Meskipun adanya tujuan bagus tersebut di atas. yakni terdapatnya pengecualian-pengecualian atau klausul-klausul 'penyelamat' yang bersifat memperlonggar kewajiban-kewajiban hukum. kenyataannya.. 2-3. hlm. Hal ini mengakibatkan aturan-aturan obyektif pada 'memaksakan' ekonomi negara-negara hukum. bersifat ini persuasif Kelemahan sekaligus juga kekuatan bagi perkembangan hukum perdagangan internasional yang menyebabkan atau memungkinkan perkembangan hukum ini di tengah krisis. Kelemahan spesifik tersebut yaitu: (a) hukum hukum perdagangan perdagangan internasional internasional untuk sebagian kurang tunduk sebagai besar bersifat di dalam Dalam pragmatis dan permisif.47 47 Rafiqul Islam. negara-negara yang memiliki kekuatan politis dan memanfaatkan perdagangan sarana kebijakan politisnya.

1988.D. Chia-Jui Cheng (ed. Clive M. Hukum perdagangan internasional lahir pada awalnya dari praktek para pedagang. “The Unification of the Law of International Trade. Hukum yang diciptakan oleh para pedagang ini lazim disebut pula sebagai lex mercatoria (law of merchant). para. yakni: (1) Hukum perdagangan internasional dalam masa awal pertumbuhan. dan (d) berperannya notaris (public notary) dalam memberi pelayanan jasa-jasa hukum(dagang). Perkembangan Hukum Perdagangan Internasional Dari uraian di atas tampak bahwa hukum perdagangan internasional telah ada sejak lahirnya negara dalam arti modern. . 21. Dilihat dari perkembangan sumber hukumnya (dalam arti materil). Doredrecht/Boston/London: Martinus Nijhoff & Graham & Trotman.). hukum perdagangan internasional telah mengalami perkembangan yang cukup pesat sesuai dengan perkembangan hubungan-hubungan perdagangan. 49 Schmitthoff. hlm. maka perkembangan hukum perdagangan internasional dapat dikelompokkan ke dalam 3 tahap. 1966. (c) lahirnya kebiasaan-kebiasaan yang timbul dari praktek penyelesaian sengketa-sengketa di bidang perdagangan. 20. negara-negara mulai sadar perlunya pengaturan hukum perdagangan internasional. Progressive Development of the Law of Internatoinal Trade: Report of the Secretary-General of the United Nations.” (1968) JBL 106. Sejak saat itu. Schmitthoff's Select Essay on International Trade Law. Mereka lalu mencantumkan aturan-aturan perdagangan internasional dalam kitab 48 United Nations. (b) lahirnya kebiasaan-kebiasaan dalam hukum laut.48 Pada awal perkembangannya ini Lex Mercatoria tumbuh dari adanya 4 faktor berikut: (a) lahirnya aturan-aturan yang timbul dari kebiasaan dalam berbagai pekan raya (the law of the fairs).49 (2) Hukum perdagangan internasional yang dicantumkan dalam hukum nasional Dalam tahap perkembangan ini.

bidang pengaturan United Nations. hlm.. ditandatangani multilateral. Jerman menerbitkan Allgemeine Handelsgezetbuch tahun 1861.50 (3) Lahirnya aturan-aturan hukum perdagangan internasional dan Munculnya Lembaga-lembaga Internasional yang mengurusi Perdagangan Internasional. para. Perubahan dari GATT ke WTO berdampak luas terhadap bidang hukum 50 perdagangan internasional. multilateral yang ditandangani pada masa ini adalah disepakati lahirnya GATT tahun 1947. Alasannya. 48. op.cit. 52 Schmitthoff. Schmitthoff menyatakan sebagai berikut: “We are beginning to rediscover the international character of commercial law and the circle now contemplates itself: the general trend of commercial law everywhere is to move away from the restrictions of national law to a universal. .. international conception of the law of international trade. aturan-aturan internasional regional. Bahkan putaran perundingan 1986-1994. hukum yang perdagangan internasional lahir sebagian besar karena dipengaruhi berbagai secara perjanjian bilateral. op. Chia-Jui Cheng (ed. “The Unification of the Law of International Trade. negara-negara anggota GATT telah sepakat untuk membentuk suatu badan atau lembaga internasional baru.cit. Tahap ketiga ini disebut juga dengan tahap “internationalism”. 20. yaitu WTO. Secara setelah maupun khusus tahap ketiga Dunia ini muncul Salah secara satu signifikan perjanjian berakhirnya Perang II. Aturanaturan tersebut sedikit banyak adalah aturan-aturan yang mereka adopsi dari lex mercatoria.” (1968) JBL 108. para.undang-undang hukum (perdagangan internasional) mereka. Dalam oleh semakin 51 perkembangan banyaknya baik ketiga ini. 20. op.cit. Misalnya saja Perancis membuat Kitab Undang-undang Hukum Dagang-nya (code de commerce) tahun 1807. dll.”52 Sejak berdiri hingga dewasa ini aturan-aturan perdagangan GATT telah berkembang dalam dan mengalami pembangunan tahun yang cukup penting. 51 United Nations..).

Peran PBB di bidang ekonomi dan perdagangan ini termuat dalam pasal 1:3 Piagam PBB..53 Ciri munculnya menonjol kedua adalah dalam perkembangan internasional. penanaman modal. ini badan yakni yang hak kekayaan intelektual. yakni aturan tentang di tujuan PBB yakni lain mencapai kerjasama internasional dalam antara menyelesaikan masalah-masalah ekonomi internasional. negara-negara anggota PBB mengesahkan the Charter of Economic Rights and Duties of States pada tahun 1974 (serta disahkannya the Declaration and Programme of Action on the Establishment of the New International Economic Order). Tujuan utamanya adalah untuk memberikan kesempatan yang lebih besar kepada negara sedang berkembang untuk ikut kepentingan-kepentingan ini. lihat antara lain: Ray August. dll. 6. Pembentukan Piagam ini diawali dengan langkah Majelis Umum PBB mengesahkan the International Covenant on Economic. tahap Salah ketiga satu (PBB). 2000.ed. Ia tidak semata-mata lagi mengatur tarif dan barang. hlm. dengan memperhatikan khusus negara-negara sedang ii. 54 serta dalam berkembang merumuskan kebijakan-kebijakan perdagangan. Social and Cultural Rights pada tahun 1966. 355-360. New Jersey: Prentice Hall. . lingkungan. hlm. 3rd. 54 Rafiqul Islam. Internatoinal Business Law: Text.yang tercakup di dalam WTO sekarang ini adalah kompleks. organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Sebetulnya peran PBB di bidang perdagangan internasional tidaklah langsung.cit.. tetapi juga mengatur jasa. Tujuan-tujuan PBB di atas diupayakan pemenuhannya melalui berbagai langkah berikut: i. Negara-negara anggota PBB mendirikan the United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) pada tahun 1964. Cases and Readings. op. 53 Uraian tentang perkembangan dari GATT ke WTO.

. negara-negara ASEAN mengikuti langkah serupa dengan membentuk Asean Free Trade Area (AFTA). 6. Huala Adolf. 110-124.55 Ciri tertentu.. op. hlm. Hukum .. AFTA berlaku efektif sejak 1 Januari 2003. tersebut Namun di sisi lain organisasi-organisasi dari masyarakat regional menimbulkan kekhawatiran internasional karena terdapatnya blok-blok perdagangan tersebut melahirkan peraturan-peraturan regional eksklusif yang ternyata menyimpangi GATT/WTO. ketentuan-ketentuan umum yang terdapat dalam 55 56 Rafiqul Islam. Di kawasan Asia Tenggara. op.cit. ketiga Blok yang juga menonjol adalah disepakatinya membawa pendirian badan-badan ekonomi regional di suatu kawasan region perdagangan regional yang mula-mula pengaaruh cukup luas adalah the European Single Market (1992) dan segera diikuti oleh blok perdagangan Amerika Utara (The North American Free Trade Agreeement atau NAFTA) (1994)...Dokumen-dokumen penting ini pada pokoknya mengakui dan memberi perlakuan khusus kepada negara-negara sedang berkembang di bidang perdagangan. hlm.cit. Uraian lebih lanjut mengenai AFTA ini lihat: Ekonomi Internasional . keuangan dan penanaman modal.56 Kecenderungan pembentukan kelompok-kelompok regional ini di satu sisi positif.

sudah cukup lama disadari PBB. oleh Dalam termasuk organisasi dunia resolusi Majelis Umum PBB No 2102 (XX). Tetapi adanya berbagai aturan hukum nasional ini sedikit banyak kemungkinan ini dapat berbeda antara akan satu juga sama lainnya. op.E. para."57 Untuk menghadapi masalah ini.. 1977. Kedua. 26. Aturan-aturan hukum nasional di bidang perdagangan karenanya menjadi penting dalam hukum perdagangan internasional. sebenarnya ada 3 teknik yang dapat dilakukan. Perlunya Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Di atas dikemukakan hukum ini bahwa negara-negara internasional sumber hukum mencantumkan dalam yang hukum cukup atuaran-aturan internasional perdagangan nasionalnya. Masalah bangsa-bangsa ini di sebelumnya dunia. . Tetapi keberadaan klausul ini akan sedikit banyak membantu para pihak dalam penyelesaian sengketanya (apabila sengketa memang timbul) di kemudian hari (Lihat Sudargo Gautama. Perbedaan kemudian dikhawatirkan mempengaruhi kelancaran transaksi perdagangan itu sendiri. Klausul choice of law tidak wajib sifatnya untuk harus ada dalam kontrak-kontrak internasional. apabila aturan hukum perdagangan internasional tidak ada dan atau tidak disepakati oleh salah satu pihak. hlm.cit. Unifikasi dan Harmonisasi Hukum Perdagangan Internasional 1. Cara penentuan hukum nasional yang akan berlaku dapat digunakan melalui penerapan prinsip choice of laws. Sebaliknya mereka menerapkan hukum perdagangan internasional untuk mengatur hubungan-hubungan hukum perdagangan mereka. Bandung: Alumni. negara-negara sepakat untuk tidak menerapkan hukum nasionalnya. Kontrak Dagang Internasional. Pertama.58 57 58 United Nations. maka hukum nasional suatu negara tertentu dapat digunakan. PBB menyatakan bahwa: "Conflicts and divergencies arising from the laws of different states in matters relating to international trade constitute an obstacle to the development of world trade. 14. Choice of Laws adalah klausul pilihan hukum yang disepakati oleh para pihak yang dituangkan dalam kontrak (internasional) yang mereka buat.

59 United Nations.. meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk membuat aturanaturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi perjanjian TRIPS/WTO. op. Dan jika mungkin. maka berbagai kemungkinan dan berbagai kesulitan yang akan timbul tentang hukum yang harus dipakai ii. pada derajat Dalam unifikasi penyeragaman mencakup penghapusan dan penggantian suatu sistem hukum dengan sistem hukum yang baru. Cara ini memungkinkan terhindarnya konflik di antara sistem-sistem hukum yang dianut oleh masing-masing negara. indikasi geografis.60 Contohnya adalah pemberlakuan Perjanjian TRIPS/WTO.org/en-index. Maka para lawyers condong untuk selalu menganjurkan para clientnya jangan lewati kesempatan untuk menentukan hukum yang berlaku itu.. Perbedaan penyeragaman kedua tersebut. disain industri. maka kamu harus selalu pakai hukum nasional dari negaramu sendiri karena ini adalah hukum yang paling kamu kenal dan paling dikenal oleh Hakim-Hakim yang akan mengadili perkaramu itu”). "harmonization" may conceptually be thought of as the process through which domestic laws may modified to enhance predictability in crossborder commercial transactions. hlm.uncitral. 15. UNCITRAL. Kedua kata sama-sama berarti upaya sistem atau proses menyeragamkan ada.Ketiga. paten.59 Teknik ketiga ini dipandang cukup efisien. yang mencakup ketentuan mengenai hak cipta.cit.).. namun ada nuansa atau perbedaan yang perlu untuk dicatat. Dengan diperkenalkannya substansi bidang-bidang perjanjian TRIPS/WTO dagang. substansi pengaturan tersebut sistemmencakup hukum yang Penyeragaman pengintegrasian sistem hukum yang sebelumnya berbeda.” (http://www. 109. Kedua kata ini hampir sama maksudnya. 60 Chia-Jui Cheng (ed. and "unification" may be seen as the adoption by States of a common legal standard governing particular aspects of international business transactions. kata tersebut terletak hukum.cit. teknik yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan unifikasi dan harmonisasi hukum aturan-aturan substantif hukum perdagangan internasional. (Sudargo Gautama menulis: “Tegaslah apabila tidak dilakukan pilihan hukum.htm). para. . badan PBB yang mengurus hukum perdagangan internasional menggambarkan perbedaan kedua kata tersebut: “While the terms are closely interrelated. op. merek dll.

109. a. Perjanjian atau Konvensi Internasional Penerapan internasional 61 62 atau adalah pemberlakuan cara yang perjanjian banyak atau konvensi dalam paling digunakan Chia-Jui Cheng (ed. Cf. masalah-masalah mengenai perbedaan konsepsi dan terdapat dalam berbagai tersebut hanya dapat ditanggulangi dengan cara menerapkan metoda komparatif. dalam metode komparatif...cit. "The Standardization of Law and Its Effect on Developing Countries. Dalam esensialnya perbedaan upaya adalah bahasa unifikasi bagaimana yang dan harmonisasi yang akan hukum.Comp. dengan adanya upaya ini maka biaya utnuk transaksi dagang dapat menjadi berkurang.). dan c. 97 (2002).). op. Pistor mengungkapkan pula. hlm. 63 Chia-Jui Cheng (ed. Chia-Jui Cheng (ed. 109. (Katerina Pistor. 110.. unifikasi hukum dapat . aturan seragam (uniform rules).63 Ad. dilakukan oleh suatu tim ahli perbandingan hukum yang terdiri dari para ahli hukum yang berlatar belakang sistem hukum yang berbeda-beda hukumnya. Tujuan utama harmonisasi hukum hanya berupaya mencari keseragaman atau titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat fundamental dari berbagai sistem hukum yang ada (yang akan diharmonisasikan). b. yang juga penting. perjanjian/konvensi internasional (international convention)." 50 Am. op.62 Menurut Schmitthoff. hlm. hukum seragam (uniform laws).Harmonisasi hukum tidak sedalam unifiksi hukum. Selain itu. dan (2) aturan-aturan yang bersifat rekomendatif (bandingkan dengan uniform laws and uniform rules-nya Schmitthoff). Katerina Pistor mengemukakan pula (1) perjanjian bilateral sebagai instrumen untuk unifikasi hukum (bandingkan dengan perjanjian internasional dari konsep Schmitthoff).J.61 Untuk dapat melaksanakan unifikasi dan harmonisasi hukum ini karenanya atau hanya dapat dicapai oleh para ahli Upaya hukum ini yang dapat mendalami menguasai perbandingan hukum.cit. op.L. sistem hukum Dalam kaitan itu.cit. dikenal 3 metode. masalah yang hendak diupayakan unifikasi dan harmonisasi metode diterapkannya. hlm..). yaitu metode dengan memberlakukan: a.

Konvensi ini dapat dipandang sebagai upaya mengunifikasi hukum kontrak jual beli barang internasional. dll. Salah satu pembatasan cara ini adalah adanya kehendak dari sesuatu negara atau untuk mengikatkan diri atau meratifikasi Dalam perjanjian konvensi internasional tersebut. pengadopsian Ia hanya bersifat derajat atau penerapannya sangat bergantung kepada masing-masing negara. negara tersebut memutuskan untuk menerapkannya dengan melakukan beberapa revisi atau menerapkan beberapa pengecualian terhadap aturan-aturan di dalamnya. Sifat persuasif. Cara ini dipandang tepat untuk memperkenalkan suatu ketentuan hukum yang bersifat memaksa ke dalam sistem hukum nasional. b. hlm. Model hukum ini memberi sumbangan bagi perbaikan kualitas (lembaga-lembaga) hukum di suatu negara (ibid). Model hukum ini memberikan keleluasaan kepada negara-negara yang hendak menerapkannya ke dalam hukum nasionalnya.64 Pemberlakuan perjanjian TRIPS/WTO di atas merupakan salah satu contoh. op. politis. kenyataannya. hukum Karena seragam itu tidak mengikat.mencapai unifikasi hukum.). juridis. 64 Chia-Jui Cheng (ed. Kemungkinan lain. untuk mencapai kehendak tersebut banyak bergantung pada faktor ekonomi. Para perancang konvensi ini telah berupaya mengkawinkan prinsip-prinsip kontrak yang dikenal dalam sistem hukum Civil Law dan sistem hukum Common Law. Hukum seragam (Uniform Laws) Hukum seragam tidak lain adalah model-model hukum yang dapat kita lihat misalnya dalam model hukum arbitrase UNCITRAL 1985 (Model Law on International Commercial Arbitration). Keleluasaan tersebut mencakup keleluasaan kepada negara yang bersangkutan apakah akan menerapkan secara penuh aturanaturan substantif Model Law. ..cit. 110. Gambaran lainnya adalah CISG 1980 atau Konvensi mengenai Kontrak Jual Beli Barang Internasional.

op. 3. Chia-Jui Cheng (ed.).cit. Namun demikian. Pada saat suatu suatu perjanjian negara turut serta. Aturan hukum ini telah diterapkan dan dipraktekkan oleh para subyek hukum perdagangan internasional di dunia. Columbia Law School. Jakarta: .). 2003. c.cit. Klausul-kluasul standar arbitrase tersebut dimaksudkan agar para pihak tidak perlu lagi merancang klausul choice of forum-nya. agak sulit untuk dipaparkan di sini. Arbitrase Komersial Rajagrafindo. 111. mengemukakan istilah yang dinamakannya standardization of law (standardisasi hukum). 111. 67 Lihat Huala Adolf.66 Tidak jarang pula lembaga-lembaga atau asosiasi-asosiasi memperkenalkan klausul-klausul yang perlu dicantumkan dalam suatu kontrak apabila para pihak hendak memanfaatkan fasilitas lembaga atau asosiasi yang bersangkutan.. hlm.karena itu berbeda dengan perjanjian atau konvensi internasional. cet. Internasional.67 Bagaimana guru besar di unifikasi dan harmonisasi dapat bekerja. standardisasi hanya di sini mengacu kepada suatu hukum tahap (legal dari kekhususan dari suatu hukum (the level of specificity of Standar mencakup prinsip-prinsip 65 66 Chia-Jui Cheng (ed. Katerina Pistor. hlm. Aturan Seragam (Uniform Rules) Aturan-aturan seragam lebih rendah tingkatannya daripada hukum seragam (Uniform Laws). Maksud law).65 Bentuk lainnya adalah klausul standar (baku) yang dicantumkan oleh para pihak dalam kontrak-kontrak yang mereka buat. op. dalam hal ini arbitrase. Bentuk aturan seragam tampak antara lain dalam modal-model kontrak standar atau kontrak baku. meratifikasi maka pada prinsipnya seluruh aturan perjanjian mengikat negara tersebut. aksesi atau atau konvensi internasional. Contoh bentuk aturan seperti ini adalah the Uniform Customs and Practice for Documentary Credits (1974) yang dikeluarkan oleh ICC. Hal ini antara lain banyak ditemui dalam klausul-klausul arbitrase baik nasional maupun asing..

yakni. (3) The Hague Conference on Private International Law (The Hague). op. Moscow)..cit. (2) The International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT. dan (7) The International Law Association (ILA.69 2. hlm 97. Antwerp). 68 bukan atau tidak aturan-aturan hukumnya (legal Upaya serius unifikasi dan harmonisasi oleh the hukum World ini Trade telah cukup dilakukan khususnya Organization (WTO). International Chamber of Commerce (ICC atau Kamar Dagang Internasional). The Hague Conference of Private International Law dan PBB khususnya the United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) dan the United Nations Conference on International Trade and Law (UNCTAD). Schmitthoff. London). Sedangkan organisasi internasional swasta (non pemerintah) yaitu: (5) ICC. Tidak semua upaya badan atau organisasi internasional akan diuraikan. Pembahasan dibatasi pada WTO. yaitu: (1) UNCITRAL. Di samping itu terdapat pula lembaga-lembaga internasional non-pemerintah yang juga berkepentingan dengan upaya unifikasi dan harmonisasi hukum perdagangan internasional. UNCITRAL. dan (4) The Council for Mutual Economic Assistance (CMEA. dan International Law Association (ILA atau Asosiasi Hukum Internasional). .principles). the International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT). 24 (beliau mengemukakan formulating agencies dalam mengupayakan unifikasi hukum perdagangan internasional. 68 69 Katarina Pistor. antara lain. UNIDROIT dan ICC. Rome)..” hlm. “Commercial Law. rules). (6) The International Maritime Committee (IMC. Lembaga-lembaga yang Bergerak dalam Unfikasi dan Harmoniasi Hukum Berikut adalah uraian secara ringkas beserta upaya badanbadan atau organisasi-organisasi internasional tersebut di bidang unifikasi dan harmonisasi hukum perdagangan internasional.cit. op.

Ia akan menetapkan tiga badan subsider yakni The Council for Trade in Goods. Pembentukan WTO ini merupakan realisasi dari cita-cita lama negara-negara pada waktu merundingkan GATT pertama kali (1948). Pertama. Organisasi ini memiliki kedudukan yang unik karena ia berdiri sendiri dan terlepas dari badan kekhususan PBB. sebagai suatu Badan Penyelesaian sengketa (Dispute Settlement Body). badan tertinggi ini dibantu oleh badan-badan kelengkapan utama. dan Council for TRIPs. Selain itu. yaitu Dewan Umum (General Council) yang terdiri dari semua anggota WTO. The Council for Trade in Goods mengawasi pelaksanaan dan berfungsinya semua perjanjian mengenai perdagangan barang (Annex 1A Perjanjian WTO) meskipun sebetulnya untuk perjanjian-pejanjian . General Council memiliki dua fungsi lainnya. World Trade Organization (WTO) 1. badan ini juga bertugas mengamati masalah-masalah perdagangan yang akan dicakup oleh WTO. Untuk pelaksanaan pekerjaannya sehari-hari. Council for Trade in Services. Badan ini akan bersidang sedikitnya sekali dalam dua tahun. Fungsi kedua. Semua mengenai berkaitan perdagangan multilateral dilakukan melalui badan ini.a. Badan ini bertugas memberikan laporan mengenai kegiatan-kegiatannya kepada the Ministerial Conference. Badan ini terdiri keputusan dari para perwakilan kebijakan dari yang semua anggota dengan WTO. Pengantar World Trade Organization atau WTO dihasilkan dari Putaran Uruguay GATT (1986-1993). Struktur WTO akan dikepalai oleh suatu badan tertinggi yang disebut Konperensi Tingkat Menteri (Ministerial Conference). Yakni hendak mendirikan suatu organisasi perdagangan internasional (yang dulu namanya adalah International Trade Organization atau ITO). sebagai badan peninjau kebijakan perdagangan negaranegara anggota GATT (Trade Policy Review Body).

badan perjanjian-perjanjian yakni badan untuk barang pengadaan plurilateral perdagangan dalam mengatur masalah-masalah keuangan dan anggaran sipil. WTO membentuk pula badanbadan khusus yang (yang pesawat mengawasi sifatnya udara pelaksanaan sukarela). khusus ini 70 WTO. Namun dalam hal konsensus ini gagal. Swiss. the Committee on Balance of Payments bertanggung jawab untuk menyelenggarakan konsultasi di antara negara-negara anggota WTO dan negara-negara yang melaksanakan tindakan-tindakan restriktif perdagangan (Pasal XII dan XVII GATT)..Geneva. Dua dewan lainnya memiliki tanggung jawabnya masing-masing berkaitan dengan perjanjian WTO dan badan-badan tersebut dapat mendirikan badan-badan subsider lainnya manakala dipandang perlu. 13. Dalam membuat putusan. Sekretariat WTO berkedudukan di Jenewa. yakni tindakan. Sampai tulisan ini dibuat. Trading into the Future. Kedua. yakni badan yang bertanggung jawab untuk masalahmasalah yang terdapat di negara-negara sedang berkembang. Tiga badan lainnya didirikan oleh the Ministerial Conference dan mereka melaporkan pekerjaannya kepada the General Council. WTO melanjutkan praktek yang telah lama dilakukan dalam GATT. Sekretariat WTO memiliki sekitar 450 staf dan diketuai oleh seorang Direktur Jenderal (Diretor General) dan 4 orang pembantu Direktur Jenderal. yaitu melalui konsensus.70 Di samping badan-badan tersebut. the Committee on Budget. Ketiga badan tersebut adalah the Committee on Trade and Development. Ketiga. 1995. .tindakan untuk menghadapi kesulitan-kesulitan neraca pembayarannya. untuk pemerintah (government procurement). Badan-badan melaporkan tugas-tugasnya kepada the General Council.tertentu umumnya mereka memiliki badan pengawasnya sendiri. maka putusan akan diambil melalui pemungutan suara atau voting. Finance and Administration bergerak WTO. badan untuk produk susu dan daging (dairy products and bovine meat). hlm.

Kedua. hlm. mayoritas 2/3 dari anggota WTO diperlukan bagi the Ministerial kewajiban Conference yang dikenakan untuk memutuskan suatu penanggalan negara oleh suatu suatu terhadap perjanjian multilateral. ada 4 hal atau situasi dalam perjanjian WTO yang memungkinkan dilakukannya voting. Pertama. 1995. Kebijakan Unifikasi dan Harmonisasi WTO WTO adalah salah satu contoh yang telah di sebut di atas. Pasal XVI Perjanjian Pembentukan WTO menyatakan: "Each member shall ensure the conformity of its laws. Trading into the Future. . Geneva.71 2. di mana unifikasi aturan-aturan atau hukum perdagangan internasional diterapkan terhadap negara-negara anggotanya." (Pasal XVI ayat 4 Agreement Establishing the World Trade Organization). Bahkan ketentuan pasal XVI tersebut juga mewajibkan negara anggotanya untuk menyesuaikan administrative procedures-nya (birokrasi) sesuai dengan administrative procedure-nya WTO. Ketiga. regulations and administrative procedures with its obligations as provided in the annexed Agreements. 14.Di samping itu. Perubahan-perubahan demikian saja. Keempat. keputusan untuk merubah ketentuan perjanjian multilateral dapat disahkan melalui kesepakatan seluruh anggotanya atau melalui mayoritas 2/3 dari anggota WTO. Ketentuan bagaimana menyesuaikan WTO pasal tersebut atau menjadi hukum indikator anggotanya penting untuk dengan suatu mayoritas 2/3 dari negara anggota WTO hanyalah berlaku bagi negara-negara yang menerimanya diperlukan untuk menerima masuknya suatu negara menjadi anggota mewajibkan negara-negara aturan-aturan perdagangannya aturan-aturan yang termuat dalam Annex perjanjian WTO. WTO. 71 WTO. mayoritas 2/3 dari anggota WTO diperlukan untuk mengesahkan suatu penafsiran perjanjian perdagangan multilateral.

Aturan Standard Code ini mendorong negara-negara anggotanya untuk mengharmonisasikan standar-standar produk domestiknya. Customs valuation (Article VII of GATT 1994). 72 Michael Trebilcock and Robert Howse. Perjanjian-perjanjian di Bawah Piagam WTO Perjanjian-perjanjian yang termuat dalam lampiran (Annex) WTO adalah perjanjian dalam TRIPS (telah diuraikan secara singkat di atas).3. Sanitary and Phytosanitary Measures. Import Licensing. Anti-dumping (Article VI of GATT 1994). Sebenarnya di samping unifikasi hukum. GATT berhasil mengeluarkan The GATT Code on Technical Standards (Standard Code). Settlement perjanjian-perjanjian berada 'Plurilateral (Annex (b)). Dispute Agreement on Trade in Services (GATS). Upaya ini ditempuh agar kebijakan negara-negara mengenai standar produk tidak malah menjadi penghalang bagi perdagangan dunia. Perjanjian-perjanjian lainnya adalah: GATT 1994. Trade-Related Aspects of Intellectual Understanding. Pada tahun 1979. International Agreement (Annex International Bovine Meat Agreement (Annex 4 (d)). . Textiles and Clothing. General Countervailing Property Rights Measures. Upaya harmonisasi ini telah lama diupayakan GATT (pendahulu WTO). and Rules of Origin. 1995. (TRIPS). 4 Agreement'(Annex Agreement Dairy on Perjanjian Perjanjian-perjanjian ini adalah: Agreement on Trade in Civil (a)). termasuk harmonisasi standar-standar teknis-nya. Trade-Related Investment Measures (TRIMs). Safeguards.72 Perjanjian harmonisasi bawah Aircraft (Annex 4 hukum lainnya adalah yang dapat digolongkan yang 4 ke dalam di WTO). Government Procurement 4 (c)). Technical Barriers to Trade. hlm. The Regulation of International Trade. Preshipment Subsidies Inspection. Agreement on Agriculture. London: Routledge. 29. WTO juga berupaya mendorong harmonisasi hukum.

Croatia. Nigeria. 1940 Sewaktu LBB (the UNIDROIT perjanjian dibentuk kembali tahun Statuta berdasarkan multilateral UNIDROIT UNIDROIT Statute). Slovenia. Republik Korea. Yugoslavia (Federal Republic of). Romania. Luxembourg. politik dan budaya yang berbeda. Nikaragua. Dewasa ini UNIDROIT memiliki 59 negara anggota. Holy See (Tahta Suci). Israel. Pakistan. khususnya hukum komersial (dagang) di antara negara atau di antara sekelompok negara. Yunani. Turki. Venezuela. UNCITRAL dibentuk pada tahun 1926 sebagai suatu bubar. Belgium. Denmark. Tunisia. teknologi adalah Upaya baru. India. 2. Pengantar The International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT) adalah sebuah organisasi antar pemerintah yang sifatnya independen. Perancis. Iraq. China. Japan. Italy. Poland. Uruguay. Keanggotaan UNIDROIT terbatas hanya untuk negara-negara yang menundukkan dirinya kepada Statuta UNIDROIT. Hungaria. Mesir. yakni: Argentina. Africa Selatan.b. Federasi Rusia Finlandia. ekonomi. Estonia. Mexico. suatu badan pelengkap Liga Bangsa-Bangsa pada yakni (LBB). mengharmonisasi dan mengkoordinasikan hukum privat. Portugal. Colombia. Norwegia. Spanyol. Bolivia. Swiss. The International Institute for the Unification of Private Law (UNIDROIT). Swedia. Chile. Paraguay. Cyprus. Inggris. Canada. Malta. Ireland. Australia. Jerman. Cuba. mempersiapkan ini dipandang praktek-praktek aturan-aturan hukum mengingat . Bulgaria. UNIDROIT berkedudukan di kota Roma. Belanda. Republik Czech. Iran. 1. Austria. Slovakia. Tujuan utama pembentukannya adalah melakukan kajian untuk memodernisasi. Kebijakan Harmonisasi dan Unifikasi UNIDROIT Tujuan harmonisasi penting utama UNIDROIT perkembangan sebenarnya privat. Amerika Serikat. Brazil. San Marino. Negara-negara ini berasal dari 5 benua dan mewakili berbagai sistem hukum.

Kajian-kajian ini ada yang telah menghasilkan berbagai perjanjian atau konvensi internasional berikut: (1) Convention relating to a Uniform Law on the Formation of Contracts for the International Sale of Goods (The Hague 1964). (2) Convention relating to a Uniform Law on the International Sale of Goods (The Hague.pedagangan. . Penerimaan suatu aturan konvensi oleh negara akan jauh lebih memudahkan pemberlakuan aturan-aturan konvensi tersebut ke dalam wilayah negara anggotanya (termasuk kepada warga negara atau subyek-subyek hukum di wilayah negara tersebut). sebagai UNDIROIT memiliki antar kedudukannya pemerintah. (3) International Convention on the Travel Contract (Brussels. mensyaratkan negara-negara Tujuannya adalah menerapkan aturan-aturan konvensi tersebut ke dalam sistem hukum negara-negara anggota yang menundukkan dirinya kepada konvensi tersebut. Masalahnya adalah harmonisasi atau unifikasi hukum tersebut banyak bergantung kepada keinginan dan kerelaan negara-negara untuk mau menerimanya. tersebut. atau bahkan diunifikasi guna memperlancar perdagangan internasional. dll memerlukan tersebut aturan juga hukum dibuat yang oleh baru. Masalahnya adalah peraturan tersebut bisa saja berbeda antara satu aturan hukum dengan aturan hukum lainnya. Konvensi atau Perjanjian Yang Dihasilkan UNIDROIT Selama berdiri UNIDROIT telah melakukan lebih dari 70 kajian. 3. Meskipun UNIDROIT organsiasi menerapkan yang menyadari adanya kesulitan yang Dalam atau dari kaitan upaya ini. konvensi penerimaan menguntungkan perjanjian pemberlakuan internasional anggotanya. Karen itu aturan tersebut perlu diharmonisasi. Biasanya aturan-aturan baru negara-negara. 1970). 1964).

(5) Convention on Agency in the International Sale of Goods (Geneva. (7) UNIDROIT 1988). 2001). .(4) Convention providing a Uniform Law on the Form of an International Will (Washington. 1973). 2001). 1995). (10) Protocol to the Convention on International Interests in Mobile Equipment on Matters specific to Aircraft Equipment (Cape Town. 1988). 1983). (8) UNIDROIT Convention on Stolen or Illegally Exported Cultural Objects (Rome. (6) UNIDROIT Convention on International Financial Leasing (Ottawa. (Cape Town. (9) Convention on International Interests in Mobile Equipment Convention on International Factoring (Ottawa.

Pembentukannya didasarkan pada Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2205 (XXI) tanggal 17 Desember 1966. The United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) adalah badan kelengkapan khusus dari Majelis Umum PBB.. 2425.uncitral. .org/en-index. hlm. 298-301. Encyclopedia of Public International Law: Instalment 5. Bernhardt (ed. 1983. Tugas utamanya adalah mengurangi perbedaan-perbedaan hukum di antara negara-negara anggota yang dapat menjadi rintangan bagi perdagangan UNCITRAL internasional. 2. Schmitthoff. Sejak berdiri UNCITRAL telah mempersiapkan berbagai Konvensi.). op.htm. “United Nations Commission on International Trade Law. Pengantar 1.” dalam: R. hlm. The United 73 Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL) 1. Model Hukum dan instrumen hukum lainnya yang mengatur transaksi perdagangan atau aspek-aspek hukum bisnis lainnya yang memiliki pengaruh terhadap perdagangan internasional.cit. Kebijakan Harmonisasi dan Unifikasi UNCITRAL Dua kata harmonisasi dan ini secara dan unifikasi di hukum ini penting atas memiliki pengertian tersendiri bagi UNICTRAL. Commercial Law. Badan ini dibentuk pada tahun 1966. Hal perdagangan internasional mengingat dimaksudkan perdagangan perdagangan internasional acapkali terhalang atau tidak lancar karena faktor-faktor seperti tidak adanya kepastian hukum (lack of a predictable governing law). Untuk melaksanakan tugas tersebut dan of berupaya memajukan and perkembangan unification harmonisasi of the law unifikasi hukum perdagangan internasional secara progresif (the progressive harmonization international trade). Lihat pula: Gerold Hermann. 73 http://www.c. UNCITRAL beranggapan mandat "Harmonization" internasional dapat berlangsung "unification" agar lancar. hukum yang ada sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan jaman.

United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods (Vienna. Hanya negara-negara tertentu 75 saja yang merupakan wakil dari region-regiona di dunia. Russian Federation. The former Yugoslav Republic of Macedonia. (3) Negara-negara Eropa Timur: Hungary. Kenya. 1988). Spain. 1978 (Hamburg Rules). France. 1980). Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards (New York 1958) (the "New York" Convention). Singapore. Cameroon. United Nations Convention on the Assignment of Receivables in International Trade (2001).. United Nations Convention on International Bills of Exchange and International Promissory Notes (New York. mirip mandatnya dengan UNIDROIT. 1988). (4) Amerika Latin dan Karibia: Argentina. Lithuania. Sweden. Pihak organisasi lain antar yang juga dapat yang turut serta dalam proses untuk perancangan tersebut adalah LSM internasional atau organisasipemerintah berminat. Burkina Faso. Romania. Canada. Convention on the Limitation Period in the International Sale of Goods (New York 1974). Germany.74 UNCITRAL merancang dan mengesahkan setiap instrumen hukum. United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods (Vienna 1980) ("CISG"). United Nations Convention on International Bills of Exchange and International Promissory Notes (New York. India. supra. Colombia. Mexico. Brazil. United . Fiji. yakni: Benin. Paraguay and Uruguay. United Nations Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals in International Trade (1991). of). 1995). and Thailand. 1995). United Nations Convention on the Carriage of Goods by Sea (1978) (the "Hamburg Rules"). Sudan and Uganda. (5) Eropa Barat dan Lainnya:Austria.. Iran (Islamic Rep. Instrumen legislative hukum yang dirancang UNCITRAL bisa berupa texts Konvensi. United Nations Convention on the Carriage of Goods by Sea.Karena membuat memberi itu upaya atau badan ini untuk tidak lain adalah berupaya dapat produk instrumen hukum hukum yang modern yang kebutuhan memperlancar perdagangan internasional dan perkembangan ekonomi dunia. Sierra Leone. 1974). Morocco. United Nations Convention on Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit New York. United Nations Convention on Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit (New York.76 texts umumnya berupa Legislative 74 75 Cf. Dalam upaya ini. Rwanda. Honduras.China. (2) Negara-negara Asia:. Japan. 76 Konvensi tersebut adalah: Convention on the Limitation Period in the International Sale of Goods (New York. Italy. Keputusan mengesahkan instrumen hukum dilakukan secara konsensus. Mereka adalah: (1) Negara-negara Afrika. Terdapat lima kelompok regional yang terwakili dalam UNCITRAL. United States of America and United Kingdom. tidak semua negara anggota UNCITRAL turut serta.

misalnya saja: United Nations Convention on Contracts for the International Sale of Goods. 1991). United Nations Convention on the (Hamburg). Nations Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals in International Trade. Nations Convention on the Liability of Operators of Transport Terminals in International Trade (Vienna. Sedangkan instrumen hukum lainnya berupa legislative guides dan non-legislative guides. 1978 Bills of Exchange United and International Promissory Notes. UNCITRAL Notes on Organizing Arbitral Proceedings. Legislative guides misalnya adalah instrumen-instrumen hukum berupa model law dan rules. Contoh instrumen hukum seperti ini misalnya saja: UNCITRAL Arbitration Rules. UNCITRAL Legal Guide on Drawing Up International Contracts for the Construction of Industrial Works. United Nations Carriage Convention of Goods on by International Sea. UNCITRAL Conciliation Rules. Instrumen ini merupakan anggota instrumen bebas yang untuk tidak mengikat atau negara tidak anggota. Convention on the Limitation Period in the International Sale of Goods. . United Nations Convention on Independent Guarantees and Stand-by Letters of Credit. and UNCITRAL Legal Guide on International Countertrade Transactions. Non-legislative texts adalah instrumen hukum lainnya yang sifatnya juga tidak mengikat. and the United Nations Convention on the Assignment of Receivables in International Trade. mengikuti Negara mengikui legislative guides tersebut.

ICC memiliki akses langsung kepada pemerintah negara-negara di dunia melalui national committee ICC (KADIN Nasional) yang terdapat hampir di setiap negara di dunia. adalah melayani dunia usaha dengan memajukan perdagangan. Badan ini berkedudukan di Paris.org/home/menu_what_is_icc. Badan arbitrase ICC telah terkenal menjadi badan penyelesaian sengketa bisnis ternama. 24-25. op. mantan menteri perdagangan Perancis. peran atau adanya suatu badan dunia yang menyuarakan para pedagang yang terkena oleh kebijakan atau keputusan (suatu) negara menjadi sangat penting. Selama ini ICC dipandang sebagai corongnya dunia usaha (pengusaha) untuk pertumbuhan ekonomi. Karena itulah. 78 ICC memiliki badan arbitrase serta aturan (rules) arbitrasenya. Pengantar The International Chamber of Commerce (ICC) didirikan pada tahun 1919. Negara-negara di dunia dapat kerap membuat kebijakan atau keputusan-keputusan yang mempengaruhi perdagangan. Untuk itu. Pada tahun 2002 saja badan arbitrase ICC menerima 590 kasus atau kira-kira 50 kasus per bulan. Peran ini sangat penting dalam kaitannya dengan keadaan dunia saat ini. Peran lain yang juga cukup penting adalah: (1) sebagai forum 78 penyelesaian sengketa khususnya melalui arbitrase.. yaitu Etienne Clémentel. Kamar Dagang Internasional (ICC)77 1. (http://www. Schmitthoff. open markets for goods and services. membuka pasar untuk barang dan jasa. Commercial Law. penanaman modal. and the free flow of capital). Peran penting lain ICC adalah sebagai badan dalam membuat kebijakan-kebijakan atau aturan-aturan yang dapat memfasilitasi perdagangan internasional. Tujuannya pada waktu itu. The ICC International Court of Arbitration terbentuk pada tahun 1923 atas jasa Presiden ICC pertama. serta memajukan aliran modal (to serve world business by promoting trade and investment.asp). penciptaan lapangan kerja.org/home/menu_what_is_icc.iccwbo. dan kemakmuran.iccwbo.d. dan sampai sekarang masih terus berlaku.asp. .cit. hlm. 77 http://www.

persaingan. Bahkan standarstandar yang dikeluarkan oleh ICC telah banyak dimasukkan ke dalam kontrak-kontrak dagang yang dibuat oleh para pelaku bisnis. Keahlian bidang mereka teknis-teknis perbankan keuangan). biarlah dari dunia luar. Kebijakan Harmonisasi Hukum ICC ICC tidak berupaya menciptakan unifikasi hukum. . usaha saja yang mengatur atau membuat aturan bagi mereka sendiri. pengangkutan (udara dan laut).(2) sebagai forum untuk menyebarluaskan informasi dan kebijakan serta aturan-aturan hukum dagang internasional di antara dalam lainnya pengusaha-pengusaha di dunia. Namun demikian aturan-aturan ICC (termasuk standar-standar ICC) ini memiliki pengaruh yang cukup tinggi. Kedua bentuk aturan ini sifatnya tidak mengikat. Bahkan beberapa aturan (Rules)-nya telah diikuti dengan sukarela dan seksama oleh para pelaku dagang. dan (3) memberikan merancang pelatihan-pelatihan kontrak serta dan teknik-teknik praktis keahlian-keahlian dalam perdagangan internasional. teknologi perpajakan. mencakup hukum Para ahli ini terdiri berbagai (jasa HAKI. itu. Ia ICC karenanya tidak mau penguasa seperti yang berpendirian. bidang keahlian di bidang bisnis internasional. 2. turan-aturan sifatnya yang datang termasuk aturan-aturan dibuat haruslah bersfiat sukarelah saja. atau yang ICC. Aturan-aturan dan Standar yang Dikeluarkan ICC Dewasa ini ICC memiliki 16 Komisi para ahli yang berasal dari antara sektor lain swasta. penanaman modal dan kebijakan perdagangan. telekomunikasi. Hal ini sebenarnya tidak terlepas dari pendirian ICC bahwa dunia usaha sebaiknya tidak atau dipengaruhi sedikit mungkin oleh campur menjadi Dana tangan penguasa (pemerintah). informasi. 3. seperti misalnya perbankan. Kebijakan yang ditempuhnya (Rules adalah and memberikan di aturan-aturan bidang hukum dan standarstandar Standards) perdagangan internasional.

(15) The Rules of Arbitration of the ICC (1 Januari 1998). (7) GUIDEC II: General Usage for International Digitally Ensured Commerce (Oktober 2001). 79 <http://www. 2002 (5) ICC DOCDEX Rules (Oktober 1997 dan Maret 2002). Maksud utama dengan adanya aturan-aturan tersebut adalah untuk mempermudah perusahaan-perusahaan atau para pedagang di seluruh dunia untuk bertransaksi dagang. (11) ICC Rules of Conduct to Combat Extortion and Bribery (1999). termasuk kontrak internasional. (6) ICC International Code of Sales Promotion (Mei 2002). Selama ini. Selain itu yang juga penting adalah untuk mempermudah mereka membuat kontrak-kontrak dagang. (10) ICC International Code of Direct Selling (Juni 1999). (4) Paction . (8) Compendium of Rules for Users of the Telephone in Sales.iccwbo. (14) ICC Guidelines on Advertising and Marketing on the Internet (April 1998). meskipun sifatnya tidak mengikat. aturan-aturan dan standaryang digunakan diterapkan terhadap perdagangan internasional. (3) Rules for Expertise (Januari 2003). negotiate and sign your model contracts online. (9) ICC International Code of Direct Marketing (September 1998 dan Juni 2001).Para standar ahli dalam komisi-komisi atau tersebut berperan cukup penting dalam merumuskan kebijakan. (13) Model Clauses for use in Contracts involving Transborder Data Flows (23 September 1998). (12) ICC Recommended Code of Practice for Competition Authorities on Searches and Subpoenas of Computer Records (16 Oktober 1998).org/home/statements_rules/menu_rules. (2) Compendium of ICC Rules on Children and Young People and Marketing (April 2003).asp> .the online model sales contract application Create. Marketing and Research (Juni 2001). dan GUIDEC I (6 November 1997). aturan-aturan yang sifatnya tidak mengikat atau sukarelah tersebut adalah:79 (1) ICC International Code on Sponsorship (September 2030).

CIF dan FOB. 213. Revisi terakhir adalah UCP 500. hlm. yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 2000. . Schmitthoff merumuskan menyatakan bahwa memuji “(ICC) peran badan to ini the dalam upayanya dengan of unifikasi hukum perdagangan internasional contribution unification international trade law has been singular successful. (1 Januari 1990).cit. seperti misalnya Ex quay. Namun beliau mengingatkan agar lembaga-lembaga ini harus saling kerjasama agar upaya unifikasi efektif.(16) ICC International Code of Advertising Practice (April 1997). yang mulai berlaku Januari 1994. 2000). Dua produk hukum ICC yang disebut terakhir. Incoterms telah mengalami beberapa revisi. (19) Rules for Pre-arbitral referee. ditambahkan pada tahun 2002. hlm.81 80 81 Chia-Jui Cheng (ed. (18) The Business Charter for Sustainable Development (1996). Suatu tambahan terhadap UCP 500.).. UCP mengalami beberapa kali revisi. op. yaitu UCP dan Incoterms perlu mendapat sedikit catatan.. op. (17) ICC International Customs Guidelines (10 Juli 1997). yaitu the eUCP. 214. eUCP mengatur penampilan semua atau sebagian doumen elektronik. Revisi terakhir dilakukan pada tahun 2000 (Incoterms 2000). UCP telah digunakan oleh bank di seluruh dunia. Beliau melihat keberadaan lembagalembaga internaisonal yang berupaya mengunifikasi aturan-aturan perdagangan internasional ini adalah positif. Seperti halnya UCP.”80 Sebagai catatan akhir dari bagian ini. Chia-Jui Cheng (ed.). Incoterms dibentuk untuk memberikan definisi baku secara universal mengenai istilah-istilah yang digunakan dalam transaksi perdagangan internasional. and Practice for Documentary Credits (21) The International Commercial Terms (Incoterms) (1936. (20) The Uniform Customs (UCP) 1933 dan 1994. penting pula mengutip nasihat Schmitthoff.cit.

Bidang hukum ini ditantang untuk mengakomodasi perkembangan cepat ini melalui aturan-aturan hukumnya. Adanya aturan-aturan ini sangat dibutuhkan bagi pelaku perdagangan untuk adanya kepastian hukum. Upaya kewenangan hukum nasional untuk sudah barang tentu sangat terbatas lintas hukumnya mengatur transaksi-tansaksi batas atau internasional. Karena internasional internasional itu. sekaligus mendapatkan perlindungan hukumnya. menerapkan perdagangan dengan sarana telekomunikasi. perdagangan organisasi WTO. sedikit baik upaya-upaya banyak yang sifatnya pengaturan pada peran antar negara. misalnya Kamar Dagang Internasional (International Chamber of Commerce). Hal ini sudah barang tentu merupakan tantangan bagi para mahasiswa dan sarjana hukum untuk mendalami bidang ini. Peran hukum nasional hanya mencakup aturan-aturan yang mengikat bagi kegiatan dan transaksi dagang dalam wilayahnya. Upaya organisasi internasional pun hingga dewasa ini lebih banyak hukum pada upaya harmonisasi hukum yang daripada cukup upaya unifikasi Upaya dalam hukum. Upaya ini tampaknya wajar dilakukan mengingat perkembangan perdagangan internasional hukum progresif. Dari hukum manusia orang ini perkembangannya. Penutup Dari uraian di atas bidang tampak hukum bahwa yang hukum sangat perdagangan luas ruang internasional adalah lingkupnya. misalnya bergantung maupun yang sifatnya privat. atau transaksi Metode transaksi barter perkembangannya. Canggihnya transaksi perdagangan merupakan tantangan bagi hukum perdagangan internasional. mengkristalisasi aturan perdagangan internasional . Dalam bidang itu manusia merasakan Untuk sangatlah canggih: kekurangannya mulai sudah sederhana: pemenuhan tukar dengan kebutuhan menukar.F. berdagang. yang sudah ada dalam tersirat sejak pula pertumbuhan mulai awalnya teknologi hidupnya.

masyarakat atau negara yang tidak mengetahui aturan-aturan hukum perdagangan internasional janganlah berharap dapat mengambil manfaat dari hukum perdagangan internasional. Artinya. Di bagian awal Bab ini (yaitu bagian Eksistensi yang Hukum Perdagangan yaitu Internasional).suatu dokumen perjanjian internasional yang sifatnya stabil dan berlaku lama tampaknya sangat sulit. Satu hal yang perlu digaris bawahi di sini adalah bahwa untuk mencapai tujuan positif tersebut mau tidak mau harus itu dibarengi dengan pemahaman terhadap hukum perdagangan sendiri. Tujuan sebenarnya B. antara lain. . ini akhir adalah dan dari tujuan Tujuan hukum dari perdagangan hukum internasional perdagangan eksistensi internasional itu sendiri. mensejahterakan negara-negara (dan warga negaranya). terungkap beberapa tujuan bidang hukum perdagangan internasional terdengar sangat positif.

August.). 1966. Katerina.ed. Sydney: Cavendish." dalam: Jonathan Reuvid (ed. Sanson. Internatoinal Business Law: Text.. 1999. Vilanueva. Arbitration in International Trade. Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar. ‘The Unification of the Law of Internatioal Trade. Hermann. Pistor. London: Blackstone.” (1961) JBL 12. WTO.. 3. Interlegal's Definitions (http://home. Progressive Development of the Law of International Trade: Report of the Secretary-General of the United Nations. Commercial Law in a Changing Economic Climate. London: Kogan Page. The Strategic Guide to International Trade. Chia-Jui Cheng (ed. Tobing. New Jersey: Prentice Hall. Gerold. 1977. Aleksander.. Bernhardt (ed. Islam. The Regulation of International Trade. NSW: LBC. Bath: Huala Jakarta: PH. David. Jakarta: Rajagrafindo. 3. 1999.htm). Clive M. Kogan page (tt). 2003. Huala Adolf. 1997. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan. Clive M. Trebilcock.Geneva. 2000. Michael and Robert Howse..Comp. 1983.” dalam: R. Rene.).co. The Strategic Guide to International Trade.za/~interlegal/ definitions. 1988. 2002. Rajawali Pers. cet. "The Standardization of Law and Its Effect on Developing Countries. Kontrak Dagang Internasional. Michelle. Schmitthoff. Goldštajn. “The New Law of Merchant. International Trade Law. Lew and Stanbrook. Encyclopedia of Public International Law: Instalment 5. Reuvid. Ray. Jonathan (ed. Trading into the Future. Interational Euromoney.DAFTAR PUSTAKA Ademuni-Odeke." 50 Am.yebro. Clive M. Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa. The Hague: Kluwer. Bandung: Alumni.). The Law of International Trade. New York: United Nations. 1981.’ (1968) JBL 106. Doredrecht/Boston/London: Martinus Nijhoff & Graham & Trotman. “United Nations Commission on International Trade Law. 1995. Pablo. "Patterns and Trends in World Trade.J. Cases and Readings. 1983. 3rd. Essential International Trade Law.L. 2002. . Trade: Law and Practice.). Arbitrase Komersial Internasional.. United Nations. Schmitthoff's Select Essay on International Trade Law. 1985. London: Sweet and Maxwell.O.L. cet. 97 (2002). 1995.. Schmitthoff. Sudargo Gautama. Rafiqul M. 1977. Adolf. London: Routledge.

Negara 1. Sudah dikenal umum bahwa negara adalah paling sempurna. satu-satunya subyek hukum yang memiliki kedaulatan. Law on Goods and Services. berikut menganalisa subyek hukum ini. Pengantar Dalam aktivitas perdagangan internasional terdapat beberapa subyek hukum yang berperan penting di dalam perkembangan hukum perdagangan internasional. individu.1 Booysen menggambarkan kedaulatan negara ini sebagai berikut: 1 Hercules Boosen. 2. Dari batasan tersebut sebagai tolok ukur. Berdasarkan kedaulatan ini. negara memiliki wewenang untuk menentukan dan mengatur segala sesuatu yang masuk dan keluar dari wilayahnya. organisasi internasional. .1 BAB II SUBYEK HUKUM DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. B. International Trade Pretoria: Interlegal. dan (2) para pelaku (stake holders) dalam perdagangan internasional yang mampu dan berwenang untuk merumuskan aturan-aturan hukum di bidang hukum perdagangan internasional. Peran Negara Negara subyek hukum merupakan yang subyek hukum terpenting Pertama. maka subyek hukum yang dan dapat bank. di ia dalam hukum perdagangan internasional. hlm. 1999. Maksud subyek hukum di sini adalah: (1) para pelaku (stake holders) dalam perdagangan internasional yang mampu mempertahankan hak dan kewajibannya di hadapan badan peradilan. tergolong Uraian ke dalam akan lingkup hukum lebih perdagangan lanjut tiga internasional adalah negara.

Ketiga. dll. termasuk perdagangan. 31. hlm. pertambangan. hlm.cit. perjanjian penanaman modal bilateral. negara berperan juga sebagai subyek hukum dalam posisinya sebagai pedagang.. The state would also have the power to determine the conditions on which the goods may be imported into the state or exported to another country. perjanjian penghindaran pajak berganda. bidang dalam langsung dll. di wilayahnya. negara antara lain berwenang membuat hukum (regulator) yang mengikat segala subyek hukum lainnya (yaitu individu. 31.. a state can absolutely determine whether anything from outside the state. 2. bersama-sama internasional mereka. Dalam awal tulisan ini. op. perkebunan. op. tidak (perdagangan) UNCITRAL.. 4 Hans Van Houtte.cit.4 pembentukan dunia. dll. Kedua. . 1995. negara juga dalam berperan di baik secara langsung WTO.. hlm.. negara dengan perusahaan negaranya mengadakan transaksi dagang dengan negara lainnya. London: Sweet and Maxwell. Hercules Booysen. op. di maupun UNCTAD. negara adalah salah satu pelaku utama dalam perdagangan internasional. mengikat benda dan peristiwa hukum yang terjadi 3 di dalam wilayahnya. Bahan-bahan alam ini disamping 2 3 dikelola untuk kebutuhan di dalam negeri juga Hercules Booysen. perusahaan). Negara memiliki sumber daya alam. Every state would have the power to regulate arbitrarily the conditions of trade. The Law of International Trade.”2 Dengan atribut kedaulatannya ini.2 “. peran guna penting mengatur negara lainnya adalah negara di juga dengan negara lain transaksi seperti mengadakan perdagangan ini adalah perjanjian antara perjanjian Contoh perjanjian Friendship. hlm.cit.. . Commerce and Navigation.. organisasi-organisasi misalnya internasional Organisasi-organisasi inilah yang internasional kemudian perdagangan internasional berperan membentuk aturan-aturan hukum perdagangan internasional. 2. Dalam posisinya ini.5 Keempat. 5 Hans Van Houtte.

infrastruktur. op. negara membutuhkan teknologi. Untuk mengelola rakyat mendirikan perusahaan air minum. Dengan demikian. dari para Untuk yang memenuhi semua ini. Manakala negara bertransaksi dengan subyek hukum lainnya. hlm. kemungkinan hukum yang akan mengaturnya adalah hukum internasional. . tidak dan jarang negara hasil (dijual) ke subyek hukum lainnya yang membuat badan-badan hukum milik negara. negara atau membelinya pihak menyediakannya (penjual supplier). mengeksplorasi. kendaraan. sumbersumber kebutuhan yang dibutuhkan rakyatnya (pengadaan barang dan jasa atau procurement).cit. daya air untuk mengeksploitasi kepentingan memasarkan negara pertambangan minyak. dst.6 Semua transaksi perdagangan tersebut tunduk pada aturanaturan hukum yang bentuk dan muatan pengaturannya bergantung pada jenis transaksi. Di tanah air misalnya. pesawat kenegaraan. Op. 4. negara dapat bertindak sebagai pelaku dalam transaksi perdagangan. maka hukum yang mengaturnya adalah hukum nasional (dari salah satu pihak). Dalam untuk sumber melaksanakan fungsinya ini..cit. Hercules Booysen. negara mendirikan Pertamina.7 6 7 Hercules Booysen. hlm.. Manakala negara bertransaksi dagang dengan negara lain.3 diperdagangkan memerlukannya. 4-5. Sebagai suatu institusi yang besar.

hlm. “Capacity. hlm.9 Hukum internasional juga mensyaratkan negara-negara untuk bekerjasama dengan negara lain untuk memajukan ekonomi. 164. negara memiliki imunitas terhadap pengadilan negara lain. 9 Hans Van Houtte. tetapi juga sekaligus membatasinya. Deklarasi mengenai prinsip-prinsip hukum internasional antara lain menyatakan bahwa: 8 Andrew W. In its traditional form. Inggris. Arti imunitas di sini adalah bahwa negara tersebut memiliki hak untuk mengklaim kekebalannya terhadap tuntutan (klaim) terhadap dirinya. meskipun Dalam internasional mengakui imunitas negara ini. 33. Siprus. Pertama.” dalam: Lew and Stanbrook. Imunitas Negara Salah satu masalah yang kerap timbul dalam kaitannya dengan negara adalah atribut kedaulatan negara itu sendiri. Sheldrick dengan tepat menggambarkan imunitas negara ini sebagai berikut: “Sovereign immunity is a long-established precept of public international law which requires that a foreign government or head of state cannot be sued without its consent.4 2.”8 Dalam perkembangannya. including those arising out of purely commercial transactions undertaken by the foreign sovereign. Jerman.cit. hukum oleh hukum internasional. Prinsip umum yang diakui adalah bahwa dengan atribut kedaulatan. Luxemburg. Interational Trade: Law and Practice. this rule applied to all types of suit.. konsep imunitas ini mengalami pembatasan. Hukum internasional regional di Eropa misalnya memiliki the European Convention on State Immunity (16 Mei 1972). Belgia. Bath: Euromoney. Sheldrick. 1983. sovereign immunity and acts of state. op. dan Swis. bertransaksi pembatasan dagang. . criminal and civil. Minimal ada 4 pembatasan terhadap muatan imunitas suatu negara ini. Konvensi beranggotakan Austria. Belanda.

memiliki UU seperti ini misalnya: Immunities (State Immunity Act 1978). di melawan mana hukum) untuk menuntut ganti di rugi karena meninggal. .. pembatasan oleh hukum nasional. (b) sengketa-sengketa yang lahir dari adanya kontrak yang dilaksanakan sebagian atau seluruhnya di Inggris. op.5 “.. states have the duty to co-operate with one another.. Immunity Act Amerika Inggris dan States 1985). (d) tindakan-tindakan mengenai tort (dalam sistem hukum kita semacam harta perbuatan benda. (c) kontrak-kontrak ketenagakerjaan yang dibuat di Inggris atau yang berkaitan dengan jasa-jasa yang dilaksanakan sebagian atau seluruhnya di Inggris.cit. Negara-negara yang Canada (State Immunity Act Act 1976). irrespective of the difference in their political. UU Inggris tahun 1978 menyatakan bahwa suatu negara tidak dapat lagi mengklaim imunitasnya dalam persidangan yang terkait dengan: (a) sengketa-sengketa mengenai transaksi komersial (dagang) yang dilakukan oleh suatu negara. economic and social system.”10 Kedua. Serikat Australia (Foreign (Foreign Sovereign warga negaranya. atau kerugian terhadap tindakan tersebut terjadi Inggris. hlm. (e) sengketa-sengketa yang terkait dengan keanggotaan dalam suatu perusahaan baik yang terdaftar atau yang memiliki kegiatan usaha utamanya di Inggris.. Dewasa ini beberapa negara memiliki UU mengenai imunitas yang sifatnya membatasi imunitas negara-negara (asing) yang melakukan transaksi dagang di dalam wilayahnya atau dengan 1982). 10 Hercules Booysen. luka-luka... 33 dan 33n.

maka negara tersebut dianggap telah dengan sukarela menanggalkan imunitasnya. Apabila pengadilan memanggil negara tersebut untuk mengadiri persidangan dan negara tersebut mematuhinya. (Scheldrick. Pembatasan ini pembatasan dianggap secara terjadi diam-diam manakala suatu dan sukarela. Hal inilah yang menjadi nasalah utama yang justru sangat krusial. Namun masalah sesungguhnya dalam kaitanya dengan pembatasan negara di hadapan badan peradilan adalah pelaksanaan putusan pengadilannya. hlm. op. 163 dan 164.. secara yang terkait dengan perpajakan atau negara sukarela menundukkan dirinya ke hadapan suatu badan peradilan yang mengadili sengketanya. 12 11 . op.cit. internasional atau arbitrase) tidak lagi berlaku. op..11 Ketiga.cit. dan (g) sengketa-sengeta cukai. hlm. op. Percumalah doktrin dan aturan-aturan mengenai imunitas ini Scheldrick.12 Keempat. kemungkinan lain yang menjadi indikasi pembatasn imunitas ini adalah apabila negara memasukkan klausul arbitrase ke dalam kontrak dagangnya. Hans van Houtte.. 33.13 Dengan adanya pembatasan-pembatasan tersebut. hlm.6 (f) sengketa-sengketa yang terkait dengan klaim-klaim pengangkutan di laut terhadap kapal atau muatan atau yang digunakan untuk tujuan-tujuan komersial. kekebalan suatu negara untuk hadir di hadapan badan peradilan (nasional asing. 13 Hans van Houtte. Dengan adanya pembatasanpembatasan terhadap imunitas ini kemudian lahir teori yang disebut dengan teori pembatasan imunitas negara (“restrictive theory doctrine”).cit. Dengan demikian dapat dianggap bahwa negara tersebut telah menanggalkan imunitasnya untuk menghadap ke badan arbitrase yang dipilihnya untuk menyelesaikan sengketa dagangnya. 163). 33. Teori ini juga menyatakan bahwa negara dengan melakukan tindakan-tindakan yang bersifat nonpemerintah (publik) atau ‘non-governmental activities’. 163). hlm..cit. (Scheldrick. hlm.. negara tersebut secara implisit telah menanggalkan hak-haknya untuk mengklaim imunitas.cit. op.

cit. op. hlm. terhadap tidak pelaksanaan aset-aset untuk putusan yang pengadilan asing hanya yang negara dibutuhkan melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan publik. 34. Berdasarkan tidak dapat hukum internasional.14 Hukum internasional melarang suatu negara menahan kapal perang asing yang sedang menyandar di pelabuhan suatu negara asing atau menyita bangunan kedutaan negara asing. 34.cit.. berbgai sarjana antara lain C. Schreur). (Pendapat ini juga mengutip . hlm. Hans van Houtte.15 Menurut memungkinkan bersangkutan Houtte. hlm.cit.16 14 15 Hans van Houtte. op.7 apabila di kemudian hari ternyata putusan pengadilan tidak dapat dilaksanakan.. milik negara suatu lain badan atau peradilan memaksakan menyita harta putusannya terhadap harta milik negara lain yang digunakan atau yang memiliki fungsi pelayanan publik (public services). 34. op.. 16 Hans van Houtte.

ibid.. Dalam perjanjian inilah termuat tujuan. Meerhaeghe. fungsi dukungan hukum [legal support])..C.ed. Booysen. hlm. W.J. International Economic Institutions.19 17 Kajian ekstensif tentang organisasi internasional publik. Tamai.A. 26. Jarang dimaksudkan untuk mengatur individu.8 C. fungsi penelitian. Ryan.. menyebut pembuatan peraturan ini sebagai fungsi ke-lima dari organisasi internasional publik. Namun procurement organisasi internasional tidak terlalu besar kuantitasnya. Misalnya komputer.” 15 Am. dll. lihat antara lain: M. 18 Michael P. Organisasi Perdagangan Internasional 1. peralatan kantor/administrasi. Lenhardt and K. Fungsi lainnya adalah: fungsi administratif. fungsi.cit. op.al. 7th. struktur organisasi perdagangan internasional bersangkutan.G. The Netherlands: Kluwer. Ryan et. Dari segi hukum perdagangan internasional pun organisasi seperti ini lebih banyak bergerak sebagai regulator. 19 Michael P. transportasi. peraturan-peraturan yang rekomendasi Biasanya pun aturan-aturan seperti rekomendasi atau guidelines tersebut lebih banyak ditujukan kepada negara. Organisasi internasional dibentuk oleh dua atau lebih ngara guna mencapai tujuan bersama. U.Int’l. . Untuk dibentuk dan mendirikan dasar suatu hukum organisasi yang internasional adalah perlu suatu biasanya perjanjian yang internasional..L. Biasanya peran organisasi internasional dalam perdagangan internasional internasional kurang membeli begitu signifikan. fungsi penyebarluasan informasi. telekomunikasi.. 1998. Memang dari organisasi penjual kebutuhan-kebutuhannya (procurement).al. Dalam kapasitasnya 18 ini organisasi internasional bersifat lebih banyak dan mengeluarkan guidelines. Organisasi Internsional Antar Pemerintah (Publik)17 Organisasi perdagangan internasional yang bergerak peran yang di bidang internasional memainkan signifikan. 1998. Rev 1360 (2000) (Ryan et. “International Governmental Organization: Knowledge Management for Multilateral Trade Law Making.

telah melahirkan Vienna Convention on the International Sale of Goods (1980).” UNCITRAL misalnya. dll. UNCTAD telah melahirkan berbagai kesepakatan internasional di bidang perdagangan yang juga cukup penting. UN Convention on Carriage of Goods by Sea (1978). in particular those of developing countries. Tujuan atau mandat utama badan ini adalah mendorong harmonisasi dan unifikasi hukum perdagangan internasional secara progresif. Di luar keluarga PBB. Bab IX Piagam PBB sebenarnya memuat aturan-aturan khusus untuk pengembangan dan majuan ekonomi dan sosial yang bertujuan. Badan ini didirikan pada tahun 1966 berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 2205 (XXI). 12 Desember 1966. Dalam teks aslinya. antara lain misalnya: UN Convention on a Code of Conduct for Liner Conference (1974). GSP (1968).20 seperti UNCITRAL atau UNCTAD. Convention on the international Multi-moda Transport (1980). in the extensive development of international trade. organisasi perdagangan internasional yang dewasa ini berpengaruh luas adalah GATT (1947). Dalam upayanya tersebut UNCITRAL disyaratkan juga untuk mempertimbangkan kepentingan semua negara khususnya negara sedang berkembang dalam mengembangkan perdagangan internasional secara ekstensif. mandat dalam Resolusi tahun 1966 tersebut berbunyi: “With a mandate to further the progressive development of the law of internatonal trade and in that respect to bear in mind the interests of all people. UNCITRAL Arbitration Rules (1976). GATT dengan 20 Selama ini PBB lebih dikenal sebagai organisasi internasional yang bersifat politis. . UNCITRAL Model Law on Arbitration (1985). UNCITRAL adalah organisasi internasional yang berperan cukup penting dalam perkembangan hukum perdagangan internasional.9 Di antara berbagai organisasi internasional yang ada dewasa ini. organisasi perdagangan internasional di bawah PBB.

bidang pengaturannya menjadi sangat luas. Hampir semua sektor perdagangan. hlm.. hingga hak atas kekayaan intelektual. Houtte. jasa.cit. antara lain. op. menjadi bidang cakupan pengaturan (perjanjian) WTO. meningkatkan standar hidup dan pembangunan ekonomi dan sosial. Lahirnya WTO. 39-40). penanaman modal. Perannya pada tahun 1994 digantikan oleh WTO. . (Lihat.10 ke-38 pasalnya semula hanya mengatur tarif dan perdagangan.

Houtte. misalnya: merancang melahirkan berbagai perdagangan keuangan internasional. hlm. op. para Banyak Dalam pengusaha besar di dunia telah memanfaatkan aturan arbitrase ICC menyelesaikan sengketa-sengketa dagang Rules klausul-klausul kepada ICC 21 kontrak internasional. NGO Internasional dibentuk oleh pihak swasta (pengusaha) atau asosiasi dagang. FIDIC (Fèdèration Internationale des ingènieurs des conseils). Dagang dengan sebelah Commerce dan Internasional). Kamar atau dan internasional Misalnya. 21 Lihat lebih lanjut: George Curmi. misalnya.)... atau IATA (International Association of Transport ..” dalam J. Khusus untuk UCP.. mereka. Organisasi Internasional Non-Pemerintah Di samping organisasi internasional antar pemerintah di atas. op. Arbitration Rules dan Court of Arbitration. aturan-aturannya sekarang sudah menjadi acuan hukum sangat penting bagi pengusaha dalam melaksanakan transaksi perdagangan internasional. Misalnya saja. Gambaran untuk lainnya adalah ICC Arbitration dagang Rules.cit. 79 et.seq. INCOTERMS. kumpulan para insinyur dari berbagai negara yang telah merumuskan berbagai kontrak standar untuk pembangunan konstruksi atau proyek pembangunan.cit. “The Role of the Internatonal Chamber of Commerce. 48-49 (memberi contoh NGO lainnya yang cukup penting.. serta Uniform Customs and Practices for Documentary Credits (UCP). hlm. Reuvid (ed.11 2. Aturan-aturan UCP yang terkait dengan sistem pembayaran melalui perbankan telah ditaati dan dihormati oleh sebagian besar pengusaha-pengusaha besar di dunia. terdapat subyek hukum lainnya yang juga cukup penting yaitu NGO (Non-Governmental Organization) swasta (non-pemerintah atau yang kerap kali disebut pula dengan LSM internasional). untuk hukum pengusaha badan telah cukup banyak mencantumkan klausul arbitrase dengan mengacu Arbitration acara arbitrasenya. hukum Peran penting NGO dalam ICC mengembangkan tidak dapat telah hukum (International bidang aturan-aturan dipandang Chamber berhasil of perdagangan mata.

hlm. 24 Hercules Booysen.22 Dibanding dengan negara atau organisasi internasional. Biasanya individu dipandang sebagai subyek hukum dengan sifat 23 hukum perdata (legal persons of a private law nature). . AFTA antara lain adalah organisasi yang hanya negara-negara perdagangan internasional. op.cit.. hlm.12 D. hlm. ia adalah subyek hukum dalam arti yang dirugikan. Individu itu sendiri hanya (akan) terikat oleh ketentuanketentuan hukum nasional yang negaranya buat. atau perusahaan Adalah hukum adalah pelaku yang utama pada oleh dalam internasional..24 Negara jarang sekali membuat kesepakatan-kesepakatan yang mengikat mengatur terbatas. Karena itu individu tunduk pada hukum nasionalnya (tidak pada aturan hukum perdagangan internasional). Dia pun hanya dapat mempertahankan hak dan kewajibannya yang berasal dari hukum nasionalnya tersebut di hadapan badan-badan peradilan nasional. yang merumuskan misalnya saja aturan-aturan pengangkutan udara dan pengaturan mengenai tarif penerbangan. status individu dalam hukum perdagangan internasional tidaklah terlalu penting. komitmen Umumnya kesepakatan anggotanya negara-negara saja. Individu Individu perdagangan Selain memiliki itu.cit. aturan-aturan untuk individu yang akhirnya negara akan terikat oleh aturan-aturan hukum perdagangan internasional. op. op. ke dapat lakukan adalah meminta bantuan negaranya untuk memajukan klaim negara merugikannya hadapan badan-badan Association). 13. kumpulan para perusahaan penerbangan. 7. 23 Hercules Booysen..cit. Dalam hanya hukum mengikat mereka. dibentuk tujuan memfasilitasi perdagangan internasional yang dilakukan individu. Apabila perdagangannya terhadap individu terganggu yang merasa atau bahwa hak-hak maka dalam yang bidang ia individu. 22 Hercules Booysen. 7.

Salah satu wujudnya. Mekanisme seperti ini misalnya tampak pada GATT/ WTO dan Mahkamah Internasional. Status di bidang individu perdagangan sebagai yang mereka subyek buat hukum sendiri perdagangan kadang-kadang internasional tetaplah tidak boleh dipandang kecil. UCP namun tidak para diundangkan sebagaimana sangat menghormati ketentuan-ketentuan hukum perdata (legal persons private nature). seperti telah diutarakan di atas. di bidang hak-hak individu hanya modal untuk menjadi untuk pihak di hadapan badan arbitrase ICSID. sengketanya penanaman dibatasi yang sengketa-sengketa sebelumnya tertuang dalam kontrak. Individu misalnya diperkenankan untuk mengajukan tuntutan kepada negara berdasarkan Konvensi ICSID. hukum menaati Meskipun nasional. . Disebutkan dengan sifat di atas bahwa individu adalah of a subyek hukum law for Documentay Credit layaknya dan (UCP). Konvensi bersifat ICSID mengakui Pertama. Aturan-aturan memiliki kekuatan mengikat seperti halnya hukum nasional.13 peradilan internasional. Namun demikian hak ini terbatas. Contoh nyata adalah aturan-aturan yang tergolong ke dalam Lex Mercatoria atau hukum para pedagang. RI telah meratifikasi dan mengikatkan diri terhadap Konvensi ICSID melalui UU Nomor 5 tahun 1968. adalah the Uniform Customs and Practice pengusaha dalam UCP. dan (b) bank. Kedua. Persyaratan ini sifatnya mutlak. Subyek hukum lainnya yang termasuk ke dalam kategori ini adalah (a) perusahaan multinasional. negara dari individu yang bersangkutan harus juga disyaratkan untuk telah menjadi anggota Konvensi ICSID (Konvensi Washington 1965). Hanya dalam keadaan-keadaan tertentu saja suatu individu dapat mempertahankan hak-haknya berdasarkan suatu perjanjian internasional.

Transnational corporation shall not intervene in the internal affairs of a host State.14 1 Perusahaan Multinasional Perusahaan Corporations) berperan kemampuan penting multinasional lama diakui dalam (MNCs sebagai atau subyek Multinational hukum Peran yang ini telah perdagangan hukum internasional. CNN..”25 Alasan pengaturan ini tampaknya masuk akal. Kekuatan dan kekayaan yang sangat besar ini memang dapat berdampak yang cukup besar. now think of multinationals as more powerful than nation states. Pasal 2 (2) (b) Piagam antara lain berbunyi sebagai berikut: “. op. kepentingan negara tuan rumah. The Economist. left-wing political opposition and anything else that stands in the way of their profits. sangat mungkin karena kekuatan finansial yang dimilikinya.” 29 January 2000. 25 26 Hercules Booysen. “The World’s View of Multinationals. Pasal 2 (2) (b) Piagam Hak dan Kewajiban Ekonomi Negaranegara antara lain menyebutkan bahwa MNCs tidak boleh campur tangan terhadap masalah-masalah dalam negeri dari suatu negara. yang ABC. hlm. saham Telecommunication (Singtel memiliki mayoritas PT Indosat).. apalagi negara sedang berkembang. . (perdagangan) internasional berupaya mengaturnya. Dengan finansialnya. sedikit banyak dapat mempengaruhi situasi dan kondisi politik dan ekonomi di Indonesia.cit.. Tidak jarang MNCs seperti Freport McMoran Company (yang beroperasi di Papua). and see them as bent on destroying livelihoods. Singapore atau MNCs di bidang telekomunikasi. Mitsubishi. the environment. 14. hlm. The Economist menggambarkan dengan tepat peran dan keberadaan MNCs: “Many people ... 19.” 26 Perlunya memang perlu aturan-aturan untuk yang mengontrol aktivitas MNCs menjembatani perbedaan kepentingan.

Perannya di sini adalah peran bank dalam memfasilitasi pembayaran antara penjual dan pembeli. hlm. hlm. bank dapat digolongkan sebagai subyek hukum perdagangan internasional dalam arti yang terbatas. 273.15 biasanya adalah mengharapkan masuknya MNCs ke dalam wilayah negaranya dapat memberi kontribusi bagi pembangunannya. terbentuknya ‘kredit berdokumen’ yang disebut ‘documentary credit’. Tanpa bank. Rafiqul Islam. 1999. Sedangkan perusahaan. Sama seperti individu atau MNCs. Salah satu instrumen Misalnya hukum adalah yang bank telah kembangkan adalah sistem pembayaran dalam transaksi perdagangan internasional. Yang membuat subyek hukum ini penting adalah: (a) peran bank dalam perdagangan internasional dapat dikatakan sebagai pemain kunci. Bank pun tunduk pada hukum nasional di mana bank tersebut didirikan. International Trade Law.28 2. perspektif MNCs berbeda.cit. 14. op.. Hercules Booysen. .27 Karena itu agar kedua kepentingan ini pada titik tertentu dapat bertemu. (c) Bank berperan penting dalam menciptakan aturan-aturan hukum dalam perdagangan internasional khususnya dalam mengembangkan hukum perbankan internasional. keuntungan Sebagaimana halnya dengan perusahaan umumnya. Mekanisme dan praktek ini kemudian dikodifikasi dan dirumuskan secara sistematis oleh ICC menjadi UCP (di atas). 27 28 29 The Economist. Bank Memang agak mengherankan bahwa para sarjana memasukkan bank sebagai subyek hukum dengan kategori private law nature. Ibid. perdagangan internasional mungkin tidak dapat berjalan. maka perlu aturan-aturan hukum untuk menjembataninya. NSW: LBC.29 (b) Bank menjembatani antara penjual dan pembeli yang satu sama lain mungkin saja tidak mengenal karena mereka berada di negara yang berbeda. MNCs bertujuan mencapai target utama yaitu mendapatkan sebesar-besarnya.

terdiri atau dari subyek hukum dalam hukum perdagangan internasional. (yang aktor. menjembatani di memfasilitasi perdagangan pembayaran mengikat penjual dan pembeli. Fungsinya praktek bukan pelaku dan utama perdagangan internasional. Namun demikian bank telah menciptakan suatu kebiasaan bidang yang holders lainnya yang berhubungan dengannya. dan penundukan diri kepada suatu lembaga peradilan (arbitrase) menghendaki dan mensyaratkan tidak mungkinnya bagi suatu negara untuk membawa atribut imunitasnya dalam perdagangan internasional. Hukum nasional. yaitu negara. internasional individu perusahaan multinasional dan bank). Imunitas negara dengan statusnya sebagai subyek hukum penuh atau lengkap dalam hukum perdagangan internasional tampak semakin terbatas. Hal ini tidak terlepas dari realita pragmatis dari perdagangan internasional. hukum internasional. yang paling Ia unik adalah bank.16 E. . Subyek-subyek hukum tersebut di atas menunjukkan terbatasnya subyek hukum dalam hukum perdagangan internasional. Bank hanyalah suatu lembaga antara stakekeuangan. Penutup Uraian organisasi di atas menggambarkan dan stake-holders. Dari ketiga stake-holders hukum perdagangan internasional.

Rev 1360 (2000). U. The Strategic Guide to International Trade. International Trade Law on Goods and Services. 1998. 1999. Andrew W. 1995. “Capacity. “The Role of the Internatonal Chamber of Commerce. Hans Van. 1998. “International Governmental Organization: Knowledge Management for Multilateral Trade Law Making.ed. Reuvid (ed. Lenhardt and K. Meerhaeghe. Michael P. London: Kogan Page.A. Tamai.. 1983. 1997.C. London: Sweet and Maxwell.” 29 January 2000. Curmi. M. 1999. sovereign immunity and acts of state. Ryan. 7th.. George.” 15 Am. The Economist.17 DAFTAR PUSTAKA Booysen.Int’l.J.G.” dalam J.. Rafiqul. W. Bath: Euromoney.). Interational Trade: Law and Practice. NSW: LBC. Sheldrick. International Trade Law.” dalam: Lew and Stanbrook. Pretoria: Interlegal. Islam. Hercules. Houtte. The Netherlands: Kluwer.. The Law of International Trade. . International Economic Institutions. “The World’s View of Multinationals.L.

apa yang menjadi sumber hukum perdagangan internasional belum ada kesepakatan. Inti terkemuka ini adalah bahwa ada dari pendirian para sarjana keterkaitan erat antara hukum kita dapat menemukan hukum tersebut untuk dapat diterapkan kepada suatu fakta tertentu dalam perdagangan internasional dan hukum internasional. dan (4) putusan-putusan pengadilan sarjana-sarjana terkemuka (doktrin).). dan Booysen.. (Clive M. publikasi kebiasaan internasional.1 Namun demikian. Pengantar Sumber hukum perdagangan internasional merupakan bab yang penting. Dalam Bab I buku ini. 1981. Hukum ‘kelima’ ini adalah hukum nsional. juga dapat diadopsi sebagai sumber-sumber hukum dalam hukum perdagangan internasional. penulis mengikuti pendirian Houtte. khusus satu dalam bidang hukum hukum lainnya perdagangan yang juga internasional. yaitu (1) perjanjian internasional (istilah beliau: international legislation). 22 et. Cf.seq. Keterkaitan antara dua bidang hukum ini membawa konsekuensi bahwa sumber-sumber ini.1 BAB III SUMBER HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. berperan terdapat dalam bidang penting mengatur transaksi perdagangan internasional. hukum internasional yang dikenal (2) dalm hukum lapangan yaitu:(1) perjanjian dan internasional. (3) prinsip-prinsip hukum umum. di samping keempat sumber hukum tersebut. Perlu dikemukakan di sini bahwa dalam literatur hukum perdagangan internasional. Dari sumber hukum inilah perdagangan internasional. Rafiqul Islam. dan (2) hukum kebiasaan internasional (istilah beliau: international commercial custom). hlm. Commercial Law in a Changing Economic Climate. peran dan diakuinya hukum nasional sebagai sumber 1 Pasal 38 ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional. Sarjana terkemuka hukum perdagangan internasional Profesor Clive Schmitthoff hanya mengakui 2 (dua) sumber hukum saja. London: Sweet and Maxwell. Schmitthoff. . Hukum nasional dalam banyak hal ternyata justru memiliki peran ‘lebih’ dibandingkan ke-4 sumber hukum yang tersebut sebelumnya.

Perjanjian internasional atau multilateral adalah kesepakatan tertulis yang mengikat lebih dari dua pihak (negara) dan tunduk pada aturan hukum internasional. whether embodied in a single instrument or in two or more related instrumetns and whatever its particular designation.3 Beberapa perjanjian internasional sifatnya umum internasional membentuk di yang antara suatu para pengaturan pihak. Pengertian perjanjian termuat dalam Pasal 2 (1) (1) Konvensi: “treaty” means an international agreement concluded between States in written form and governed by international law. Suatu tersebut perjanjian mengikat adalah hanya bilateral dua subyek manakala hukum perjanjian hanya internasional 2 3 Lihat lebih lanjut dalam uraian di bawah ini. regional dan bilateral. perjanjian-perjanjian seperti ini adalah perjanjian pembentukan AFTA. Secara umum. Perjanjian regional adalah kesepakatan-kesepakatan di bidang perdagangan internasional yang dibuat oleh negara-negara yang tergolong atau berada dalam suatu regional tertentu.2 B. Sumber Hukum Perdagangan Internasional 1. selalu atau acapkali diawali dengan keterkaitannya pada hukum nasional negaranya. …. Perjanjian Internasional Perjanjian internasional adalah salah satu sumber hukum yang terpenting. Pengaturan mengenai perjanjian internasional terdapat dalam Konvensi Wina tentang Hukum Perjanjian tahun 1969 (the Vienna Convention on the Law of Treaties of 1969). Perjanjian internasional kadang kala juga berupaya mencari suatu pengaturan yang seragam guna mempercepat transaksi perdagangan. kekuasaan Ada perdagangan juga di yang bidang perjanjian memberikan tertentu perdagangan atau keuangan kepada suatu organisasi internasional.2 hukum perdagangan internasional tidaklah terelakan karena sejak awal atau tahap awal suatu pihak akan memulai transaksitransaksinya. perjanjian internasional terbagi ke dalam tiga bentuk. . yaitu perjanjian multilateral. Di Asia Tenggara misalnya.

mengikat berdasarkan kesepakatan para pihak yang membuatnya.5 a. 1995. GATT atau Perjanjian WTO misalnya tidak menghendaki adanya pensyaratan ini. . 3. Untuk kumpulan perjanjian-perjanjian internasional (Konvensi. . Protokol. 5 Hans Van Houtte. London: Sweet and Maxwell. Daya Mengikat Perjanjian (Perdagangan) Internasional Suatu sebagaimana perjanjian perjanjian halnya perdagangan internasional pada akan mengikat umumnya. maka adalah kewajiban negara tersebut untuk mengundangkannya ke dalam aturan hukum nasionalnya. dll. Salah satu cara lainnya bagi suatu negara untuk terikat kepada suatu perjanjian internasional adalah melalui penundukan 4 Hans Van Houtte. Artinya. Statutes and Convention on International Trade Law.4 Dalam memberikan perjanjian beberapa persahabatan atau bilateral. GATT dan Perjanjian WTO mensyaratkan pemberlakuan keseluruhan pasal-pasalnya.. dalam hukum perdagangan internasional). op. hlm. 1993. tidak suatu Atau menerapkan mengecualikan beberapa perjanjian internaisonal mengijinkan adanya pensyaratan ini.3 (negara atau organisasi internasional). perlakuan kedua khusus negara tertentu preferensi berkaitan dengan kegiata ekspor-impor kedua negara. London: Cavendish. hlm. Karena itu. 263-446). Navigation and Commerce). Termasuk dalam kelompok perjanjian ini adalah perjanjian penghindaraan pajak berganda. Kadangkala negara untuk pengaturan sebaliknya.cit.. perjanjian internasional pun hanya perdagangan internasional suatu negara apabila negara tersebut sepakat untuk menandatangani atau meratifikasinya. lihat: Indira Carr and Richard Kidner. Perjanjian internasional yang telah diratifikasi tersebut kemudian menjadi bagian dari hukum nasional negara tersebut. 3. atau suatu perjanjian tidak pasal dari internasional atau perjanjian membolehkan internasional. Perjanjian ini bisanya disebut juga dengan nama FCN-Treaties (Friendship. The Law of International Trade. hlm. Manakala suatu negara telah meratifikasinya.

apabila muatan perjanjian internasional tersebut memberikan hak-hak (konsesi) tertentu kepada suatu negara anggotanya. b. Artinya. mengikatkan tersebut misalnya dirinya didepositkan Sekjen dengan PBB). Atau. Negara-negara non-anggota yang berupaya secara diam-diam untuk menundukan dirinya kepada aturan tersebut karenanya tidak akan efektif. adalah suatu kesepakatan umum di bidang perdagangan dan tarif. Tetapi dalam UU Nomor 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional. negara-negara anggota internasional atau menanggalkan (negara) rintangan pengaturan kebijakan yang . Misalnya. cara kepada suatu suatu negara badan dapat muatan yang saja suatu mengadopsi perjanjian internasional ke dalam hukum nasionalnya. Tetapi perlu pula diingat bahwa penundukan diri secara diam-diam ini tidak akan berlaku apabila perjanjian internasional tersebut secara tegas mensyaratkan demikian. Biasanya penundukan secara diam-diam dilakukan antara lain karena negara tersebut tidak mau secara tegas terikat terhadap suatu perjanjian internasional. Dalam hal ini. Siapa saja yang menjadi anggota harus terlebih dahulu bernegosiasi dengan negara-negara anggota GATT mengenai konsesi-konsesi yang akan diberikannya sebelum ia dapat memanfaatkan ke-38 pasal GATT. Misalnya. perjanjian perdagangan internasional pada umumnya memuat hal-hal berikut: 1) liberalisasi perdagangan Perjanjian suatu perjanjian yang memuat liberalisasi berupaya perdagangan adalah berbagai dapat meliberalisasi perdagangan. GATT. tanpa mengikatkan diri secara tegas melalui penandatanganan dan ratifikasi (yang biasanya instrumen ratifikasi berwenang. Isi Perjanjian Dari muatan yang terkandung di dalamnya. sebagian besar muatannya sama dengan Konvensi Win 1969 tersebut. dan tidak kepada nonanggota.4 secara diam-diam. RI tidak meratifikasi Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian.

Lihat Bab I di atas. ini dalam berkembang suatu ekonomi belum begitu lama. yang mencakup ketentuan mengenai hak cipta. 2) Integrasi ekonomi Perjanjian Negara-negara berupaya bebas seperti anggota suatu zone). paten. suatu kawasan perdagangan (free bahkan seperti suatu ini kesatuan biasanya (economic union). Bentuk hukum seperti ini biasanya ditempuh karena didasari sulitnya bidang hukum yang akan 6 7 Lihat Bab I di atas. perjanjian internasional pencapaian ekonomi memberi mencapai trade integrasi atau melalui kesatuan kepabeanan (customs union). 3) Harmonisasi Hukum Tujuan fundamental utama dari harmonisasi berbagai hukum hanya yang berupaya ada mencari akan keseragaman atau titik temu dari prinsip-prinsip yang bersifat sistem hukum (yang diharmonisasikan). disain industri. Dengan diperkenalkannya substansi bidang-bidang perjanjian TRIPS/WTO dagang.5 menghambat atau mengganggu kelancaran transaksi perdaganagn internasional. sistem penyeragaman hukum mencakup sistem penghapusan hukum yang penggantian dengan baru. merek dll. 5) Model Hukum dan Legal Guide Pembentukan Model Hukum dan Legal Guide sebenarnyat idak terlepas dari upaya harmonisasi di atas. meletakkan kewajiban kepada negara anggota untuk membuat aturanaturan HAKI nasionalnya yang sesuai dengan substansi perjanjian TRIPS/WTO. indikasi geografis.7 Contohnya adalah pemberlakuan Perjanjian TRIPS/WTO.6 4) Unifikasi Hukum Dalam dan unifikasi suatu hukum. Perjanjian kewenangan kepada suatu organisasi internasional guna mencapai tujuan integrasi ekonomi ini. ..

diharapkan aturan-aturan UU arbitrase suatu negara sedikit banyak tidak akan berbeda dengan aturan UU arbitrase negara lainnya. Dengan (semakin) banyaknya negara yang mengadopsi model hukum atau legal guide ini. Legal Guide 1988 bertujuan terciptanya keseragaman pengaturan klausul-klausul dalam menyusun kontrak di bidang konstruksi. Artinya. Model Hukum 1985 negara-negara perundangannya Dengan di di ini memuat aturan-aturan model (acuan) bagi dunia bidang model dalam arbitrase hukum mengundangkan komersial ini peraturan akan internasional. Legal guide yang cukup terkenal adalah UNCITRAL Legal Guide on Drawing Up International Contracts for the Construction of Industrial Works 1988. meski namanya model hukum atau legal guide. Karena itu mereka membuat Model Hukum ini yang sifatnya tidak mengikat. diharapkan diadopsinya arbitrase tercipta pengaturan arbitrase yang bersifat universal. Pembuat atau perancang Model Hukum berharap.6 disepakati atau diatur. akhirnya diharapkan akan tercipta keseragaman atau harmonisasi di bidang muatan model hukum atau legal guide tersebut. . Contoh terkenal Model Hukum seperti ini adalah UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration tahun 1985. negaranegara dapat mengacu muatan aturan-aturan model hukum atau legal guide ini ke dalam hukum nasionalnya.

Mengenai Konvensi Bern ini. International Intellectual Property Law. dan iv.9 ad. transaksi-transaksi bidang perlindungan ini perdagangan hak internasional. diberikan masing-masing negara terikat dalam suatu perjanjian internasional. Literary and standar Contoh standar minimum ini antara lain tampak dalam perjanjianperjanjian Artistic seni.7 c. Minimumstandard or equitable treatment. 1997. The Hague: Kluwer. Berdasarkan klausul ini salah satu negara yang memberikan perlakuan khusus atau preferensi kepada suatu negara. ii. Equal Treatment.. . 6. hlm. i. ad. 241). iii. 6. hlm. op. ii. hlm.. op.10 8 9 Han Van Houtte. Most-favoured nation clause. Syarat-syarat dasar tersebut adalah: i.8 intelektual.cit. RI meratifikasi Konvensi Bern melalui UU Nomor 18 tahun 1997 (Lembaran Negara No 35 tahun 1977). Minimum-standard atau equitable treatment Minimum-standard atau equitable treatment adalah norma atau aturan dasar yang semua negara harus taati untuk dapat turut serta dalam di Works. Most-Favoured Nation Clause Klausul negara Most-Favoured Perlakuan Nation ini (MFN) adalah karena klausul yang kekayaan Misalnya Berne Convention for the Konvensi Protection of meletakkan persyaratan minimum mengenai perlindungan hukum bagi karya cipta dan karya mensyaratkan perlakun non-diskriminasi dari suatu negara terhadap lainnya. serta syarat negara berpartisipasi transaksi internasional. Preferential Treatment. di dalam yang disyaratkan merupakan ekonomi perjanjian yang syarat penting di dalam tata ekonomi internasional. lihat lebih lanjut: Anthony D’Amato dan Doris Estelle Long. maka perlakuan tersebut harus juga diberikan kepada negara-negara lainnya yang tergabung dalam suatu perjanjian.cit. Standar Internasional Standar untuk suatu ada di internasional dalam untuk adalh norma-norma internasional. 10 Han Van Houtte.

12 Ad. 7. Klausul ini karena itu menyatakan bahwa warga negara dari suatu negara anggota harus juga diperlakukan sama halnya seperti warga negara di negara anggota lainnya.13 Memang. klausul hubungan-hubungan perdagangan internasional dapat berkembang. 11 12 13 Han Van Houtte. Han Van Houtte. hlm. . Klausul sama ini menurut Houtte. hlm. 8.8 Peran memberikan dalam klausul suatu ini penting. derajat ekonomi perlakuan (equitable Dengan treatment) hubungan internasional. yaitu: (a) reciprocal (timbal balik). dan (b) unconditional lainnya dalam (tidak suatu bersyarat). perjanjain artinya berhak negara atas anggota perlakuan- perlakuan khusus yang diberikan kepada negara ketiga.cit. Menurut klausul ini. artinya pemberian MFN ini diberikan dan disyaratkan oleh masing-masing negara. negara-negara peserta dalam suatu perjanjian disyaratkan utuk memberikan perlakuan yang sama satu sama lain. iii. op.cit. op. Adalah kewajiban suatu negara untuk mensejahterakan warga negaranya (daripada mensejahterakan warga negara anggota lain yang berada di dalam wilayahnya).. klausul MFN biasanya diikuti oleh dua sifat cukup penting. Equal treatment Equal yang juga treatment (perlakuan harus sama) adalah klausul lainnya disyaratkan ada dalam perjanjian-perjanjian internasional.. op. ini. Namun demikian klausul ini tampak nyata dalam kesepakatankesepakatan hukum internasional di bidang penyelesaian sengketa. 8. hlm. Han Van Houtte. Suatu negara bagaimana pun juga memiliki kewajiban utama kepada negaranya daripada kepada warga negara asing.cit. Jadi sifatnya timbal balik. Klausul seperti ini hingga sekarang ini jarang ditemukan dalam praktek perjanjian antar negara. sulit untuk menemukan klausul ini dalam praktik.11 Menurut Houtte..

iv. Resolusi-resolusi Organisasi Internasional Dewasa ini berbagai organisasi internasional acap kali pula mengeluarkan sifatnya keputusan-keputusan mengikat. yang memiliki eks keterkaitan sebelumnya.” Pasal sama 18 ini para menggambarkan pihak yang prinsip universal Mereka mengenai pun harus perlakuan sama di depan hukum. Model Law on International Commercial Arbitration. Ad. op. diberi kesempatan yang sama untuk membela perkaranya di hadapan badan arbitrase. tidak ada ketentuan yang dapat mengenyampingkan prinsip ini.. memberikan menguntungkan (preferential treatment) kepada suatu negara daripada kepada negara lainnya. judul Misalnya pasal 18 of UNCITRAL Parties’. Preferential Treatment Prinsip ini sebenarnya adalah pengecualian terhadap prinsip non-diskriminasi. negara-negara jajahan atau eks-koloninya. . 8.cit.14 Biasanya perlakuan demikian diberikan kepada negara-negara yang sedang berkembang atau miskin. hlm. Karena memang negara-negara pesertanya tidak menginginkan keputusan-keputusan 14 Han Van Houtte. negara-negara Berdasarkan perlakuan Prinsip ini yang ini suatu lebih biasanya hubungan negara diterapkan politis dapat atau saja di antara yang prinsip khusus memiliki ekonomis.9 misalnya yang arbitrase di internasional. Dalam berbagai sistem hukum di dunia. Pasal 18 ini berada bawah ‘Equal Treatment menyebutkan: “The parties shall be treated with equality and each party shall be given a full opportunity of presenting his case. berupa resolusi-resolusi yang tidaklah Daya mengikat resolusi-resolusi seperti ini biasanya disebut juga sebagai soft-law. d. Perlakuan berbeda dan khusus biasa juga diberikan sejarah kepada negara-negara Misalnya. Pasal ini mensyaratkan perlakuan terhadap bersengketa.

soft-law Salah oleh satu contoh terkenal yang dipandang Ekonomi of negara-negara on the (maju) tetapi ternyata daya berlakunya sangat luas adalah Piagam dan Kewajiban and Negara-negara States atau (Charter CERDS). Rights Duties Sepertiga bagian (11 pasal) dari dari keseluruhan pasal Piagam ini mengatur mengenai perdagangan internasional.15 15 Lihat lebih lanjut. 3. Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar. . Huala Adolf. Meskipun CERDS bersifat soft law. cet. Tetapi resolusi-resolusi yang dikeluarkan oleh organisasi internasional instrumen Hak-hak Economic kadang kala juga mengikat. Jakarta: Rajawali Pers.10 yang dibuat oleh organisasi internasional tidak mengikat mereka secara hukum. 2003. namun jiwa dan nilainilai hukum yang terdapat di dalamnya berpengaruh cukup luas terhadap aturan-aturan atau perjanjian-perjanjian internasional yang lahir kemudian.

16 Dalam studi hukum perdagangan internasional. 2002. 17 Michelle Sanson. Contoh (lembaga hukum) yang mula-mula para pedagang lakukan dan kembangkan adalah barter17 dan counter-trade. op. bandingkan dengan pendapat sarjana yang menyatakan bahwa hukum kebiasaan internasional hanya memiliki peran yang terbatas (misalnya Zamora atau Heutte. 58).” (Hercules Booysen. Ketentuan Lex Mercatoria dapat ditemukan antara lain di dalam kebiasaan-kebiasaan yang berkembang dan dituangkan dalam 16 Tetapi. Istilah ini logis karena memang para pedagang-lah berlaku bagi yang mula-mula untuk ‘menciptakan’ aturan hukum yang mereka transaksi-transaksi dagang mereka.. customary law is and should be very relevant. Houtte berpendapat bahwa “… international customary law has a role (albeit a limited one) to play in international and finance law”.cit. Hukum Kebiasaan Internasional Sebagai suatu sumber hukum. Penulis sependapat dengan Booysen yang berpendapat bahwa: “Because of the frequency of contact between states in international trade. Suatu praktek kebiasaan untuk menjadi mengikat harus memenuhi syarat-syarat berikut: (1) Suatu praktek yang berulang-ulang dilakukan dan diikuti oleh lebih dari dua pihak (praktek negara). Suatu kebiasaan tidak selamanya menjadi mengikat dan karenanya menjadi hukum. dalam Hans van Houtte. . sumber hukum ini disebut juga sebagai lex mercatoria atau hukum para pedagang (the law of the merchants). hukum kebiasaan perdagangan merupakan sumber hukum yang dapat dianggap sebagai sumber hukum yang pertama-tama lahir dalam hukum perdagangan internasional. op. 6.11 2. dan (2) Praktek ini diterima sebagai mengikat (opnio iuris sive necessitatis). hlm. yang disebut dengan hukum perdagangan internasional kebiasaan yang justru lahir dari adanya praktek-praktek yang relatif para lama pedagang yang dilakukan berulang-ulang sedemikian rupa sehingga berulang-ulang dengan waktu tersebut menjadi mengikat. Dari awal perkembangannya. Essential International Trade Law.cit. hlm. 10).. Sydney: Cavendish. hlm.

Hukum Indonesia misalnya mengakui praktek kebiasaan ini. Tetapi khusus seperti untuk ini. Tidaklah sulit menemukan hukum nasional mengakui kekuatan hukum adanya praktek kebiasaan ini. Bunyi pasal di atas secara tegas mengakui kebiasaan. atau kontrak-kontrak di bidang pengangkutan (maritim). Masalah utama yang menjadi ganjalan bagi pemberlakuan lex mercatoria ini adalah masih disangsikannya kekuatan mengikatnya. untuk tidak kebiasaan jarang banyak dagang masih negara yang mengambil jarak.12 kontrak-kontrak perdagangan internasional. Pasal 1339 tentang akibat suatu perjanjian misalnya menyatakan: “Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya. kebiasaan atau undang-undang. Kebiasaan-kebiasaan perdagangan memiliki peran yang sangat penting di dalam sesuatu transaksi perdagangan internasional. dll. cif. kebiasaan tersebut terkodifikasi konstruksi atau pengiriman barang. tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian. FIDIC. Kekuatan mengikat karena kebiasaan praktek perdagangan ini sebenarnya juga diakui oleh berbagai hukum nasional. bagi para pedagang sukarelah atau pelaku dan perdagangan. .” (Huruf miring oleh penulis). dalam kontrak Misalnya. Kontrak-kontrak biasanya dirancang atau oleh klausul kontrak atau perdagangan yang asosiasi organisasi perdagangan tertentu (misalnya oleh ICC. internasional mempertanyakan keabsahannya. Seperti sulit dapat bagi dimaklumi. daya atau kekuatan mengikat lex mercatoria tidaklah mereka. diharuskan oleh kepatutan. fob. Mereka secara menaati melaksanakan serta memandangnya mengikat karena merekalah yang menciptakannya. dll) dan diikuti oleh anggota dari organisasi atau asosiasi tersebut. kebiasaan Bahkan pengadilan internasional. misalnya berupa klausul-klausul kontrak standar (baku).

Uraian lebih lanjut mengenai lex mercatoria lihat: Huala Adolf. UCP tidak pernah meletakkan kewajiban bagi negara untuk terikat terhadapnya. 27. Jakarta: Rajawali pers. bukan negara. terkodifikasi bersifat internasional Kamar bukanlah perjanjian internasional.18 Karena sifatnya itu pula.. kerap kali memandang bahwa setiap aturan yang tidak dibuat sesuai dengan konstitusi. misalnya melalui proses pengundangan suatu ketentuan secara formal. ICC merumuskan UCP 500 untuk Letter of Credit. Aturannya tidak mengikat. . hlm. 3.cit. misalnya melalui pengumuman di lembaran negara. Aturan-aturan internasional yang dibuat oleh ICC menurut badan pengadilan dapat digolongkan soft-law. bukanlah hukum dan karenanya tidak mengikat. Arbitrase Komersial Internasional. op. Lihat pula: Clive Schmitthoff.19 18 Hal ini logis saja karena ICC adalah lembaga yang anggotanya adalah swasta. Misalnya. cet. ini antara lain disebabkan ICC karena atau kebiasaan oleh upaya Dagang internasional. 2003. UCP 500 tidak mensyaratkan ratifikasi oleh negara-negara untuk mengikat. meskipun seperti dll..13 Pendirian perdagangan lembaga-lembaga Internasional. UNCITRAL.. 19 Di negara-negara sedang berkembang yang pengadilannya masih kental menganut aliran positif hukum.

20 termasuk sudah barang tentu hukum perdagangan internasional. 20 Hercules Booysen.22 dan terdapat pula dalam hukum (perdagangan) internasional. hlm.. op.14 3. 6. . Sumber perjanjian hukum ini akan mulai berfungsi manakala hukum (internasional) dan hukum kebiasaan internasional tidak memberi jawaban atas sesuatu persoalan. op.cit. 22 Sanson. Peran sumber hukum ini biasanya diyakini lahir baik dari sistem hukum nasional maupun hukum internasional.cit.21 Ketiga prinsip ini terdapat dan diakui dalam hampir semua sistem hukum di dunia. Karena itu prinsipprinsip hukum umum ini dipandang sebagai sumber hukum penting dalam upaya mengembangkan hukum. hlm 58. prinsip pacta sunt servanda. 21 Sanson.. Prinsip-prinsip Hukum Umum Sebenarnya apa yang dimaksud dengan prinsip-prinsip hukum umum belum ada pengertian yang diterima luas. 1999. dan prinsip ganti rugi. Pretoria: Interlegal. 6. hlm. International Trade Law on Goods and Services. Beberapa contoh dari prinsip-prinsip hukum umum ini antara lain adalah prinsip itikad baik.

therefore. op. [WT/DS8. Begitu pula dengan doktrin. Putusan-putusan Badan Pengadilan dan Doktrin Sumber hukum ke-4 ini tampaknya memiliki fungsi dan peran pelengkap seperti halnya prinsip-prinsip hukum umum. Peran dan fungsinya cukup penting dalam menjelaskan sesuatu hukum perdagangan internasional. Badan Banding (Appellate Body) antara lain menyatakan: “Adopted panel reports . and. Bahkan doktrin dapat pula digunakan untuk menemukan hukum.. should be taken into account where they are relevant to any dispute. hlm.24 Doktrin ini penting manakala sumber-sumber hukum sebelumnya ternyata juga 23 Japan . 4 October 1996.cit. hlm. Putusan-putusan yang dikenal dalam pengadilan sistem hukum dalam Common hukum Law perdagangan Saxon).Taxes on Alocholic Beverages. 15. 10. op. Bahwa putusan pengadilan dipertimbangkan. dalam internasional tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat seperti (Anglo Statusnya sebelumnya sedikit hanya banyak untuk sama seperti yang kita Jadi kenal ada sistem hukum kontinental (Civil Law). 61. . Dalam tahap banding di DSB. 62. terkutip dalam Booysen.. yaitu pendapat-pendapat atau tulisan-tulisan sarjana terkemuka (dalam hal ini di bidang hukum perdagangan internasional). They create legitimate expectations among WTO members.11/AB/R. pengadilan semacam (dalam ‘kewajiban’ yang tidak mengikat bagi badan-badan pengadilan untuk mempertimbangkan putusan-putusan sebelumnya sengketa yang terkait dengan perdagangan internasional). are often considered by subsequent panels. 24 Hercules Booysen. Sifat Japan-Taxes putusan on pengadilan ini ditegaskan yang dalam sengketa Badan Alcoholic Beverages diputus oleh Penyelesaian Sengketa (DSB atau Dispute Settlement Body) WTO... hlm.cit.”23 [Huruf miring oleh penulis].15 4. Sumber hukum ini akan memainkan perannya apabila sumber-sumber hukum terdahulu tidak memberi kepastian atau jawaban atas suatu persoalan hukum (di bidang perdagangan internasional).

7.16 tidak jelas atau tidak mengatur sama sekali mengenai suatu hal di bidang perdagangan internasional. . op.25 25 Michelle Sanson..cit. hlm.

Seperti kita dapat pahami. Alinea pasal 1 Pasal 1338 KUH Perdata: “Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. 1976 (Gautama menyatakan bahwa kontrak dengan orang asing adalah kontrak yang terdapat unsur asing atau foreign element). Pembatasan kedua adalah status dari kontrak itu sendiri. Kontrak Dagang Internasional.27 Artinya. Karena itu kontrak berperan sebagai sumber hukum yang perlu dan terlebih dahulu mereka jadikan acuan penting dalam melaksanakan hak dan kewajiban mereka dalam perdagangan internasional. dan kesopanan. Dalam (party hukum kontrak.. kontrak adalah sangat esensial. kontrak tersebut. dan dalam taraf tertentu. Pertama. kontrak tersebut adalah ‘undang-undang’ bagi para pihak yang membuatnya. Bandung: Alumni. Ia tunduk pada berbagai yang melingkupinya. Kontrak dalam perdagangan internasional tidak lain adalah kontrak nasional yang ada unsur asingnya. mereka menuangkannya dalam perjanjian-perjanjian tertulis (kontrak). kita mengenal perdagangan penghormatan dan hak dan serta pengakuan terhadap prinsip konsensus dan kebebasan para pihak autonomy). kesusilaan. dengan ketertiban umum. pembatasan adalah bahwa kebebasan tersebut tidak boleh bertentangan dengan undang-undang. yang namun utama kebebasan tersebut ada batas-batasnya. Kontrak Sumber merupakan hukum perdagangan dan internasional adalah yang sebenarnya atau sumber utama terpenting perjanjian kontrak yang dibuat oleh para pedagang sendiri. . Karena itu.17 5. Meskipun pembatasan kebebasan para pihak sangatlah esensial. Syarat-syarat kewajiban para pihak seluruhnya diserahkan kepada para pihak dan hukum menghormati kesepakatan ini yang tertuang dalam perjanjian.26 Dapat (pedagang) internasional pula atau dalam kita sadari bahwa para pelaku hukum perdagangan perdagangan perdagangan stake-holders melakukan dalam transaksi-transaksi internasional. 26 Cf.” 27 Sudargo Gautama.

. hlm. 7. 12 (Houtte menekankan bukan kontrak yang dibuat oleh para pedagang. op. op. sedikit banyak tunduk dan dibatasi oleh hukum nasional (suatu negara tertentu).cit.cit. digambarkannya sebagai berikut: “In addition to the contractual terms agreed by the parties. menurut Sanson. . 7. op.. lihat pula Hans van Houtte. the course of past dealings between traders may result in terms becoming part of an agreement between them. hlm..28 Ketiga.”29 28 29 Michelle Sanson.cit.18 meskipun di bidang perdagangan internasional. pembatasan lain yang juga penting dan mengikat para Daya pihak adalah kesepakatan-kesepakatan atau ‘kebiasaan’ dagang yang sebelumnya dilakukan oleh para pihak yang bersangkutan. may apply to the contractual relationship despite their not being incorporated into it in written form. Michelle Sanson. mengikat kesepakatan-kesepakatan sebelumnya ini meskipun tidak tertulis tetapi mengikat ini. or trade ‘usages’ between the parties. hlm. These past dealings. tetapi kontrak-kontrak negara (state contracts).

Peran hukum nasional sebenarnya sangatlah luas dari sekedar mengatur kontrak dagang internasional. Kewenangan mengatur ini mencakup membuat hukum (nasional) baik yang sifatnya hukum publik maupun hukum perdata (privat). hukum sehat. kesehatan. dsb). konsumen. untuk Dalam hal demikian ini maka pengadilan (badan arbitrase) pertama-tama akan kontrak menentukan hukum yang akan digunakan untuk menyelesaikan sengketanya. Dalam hal ini maka suatu negara dapat mencakup HAKI ketenaga-kerjaan. hingga pengaturan pengakhiran perusahaan (dalam hal perusahaan pailit. perlindungan (intellectual hingga perizinan ekspor-impor suatu produk. rights). Kewenangan ini sifatnya mutlak dan eksklusif. persaingan hukum nasional perpajakan. Hukum Nasional Signifikansi hukum perdagangan hukum nasional sebagai tampak sumber hukum dalam internasional dalam uraian mengenai kontrak sebagai sumber hukum perdagangan internasional di atas. dan (c) benda yang berada di dalam wilayahnya. Artinya. mencakup kewenangan negara dalam membuat dan meletakkan syarat-syarat (dan izin) berdirinya suatu perusahaan. (b) subyek hukum. atau transaksi dagang internasional. maka kekuasaan itu tidak dapat diganggu gugat. perlindungan property yang dibuat kepabeanan. bentuk-bentuk perusahaan beserta syarat-syaratnya. apabila tidak ada pengecualian lain. Kewenangan atas subyek hukum (pelaku atau stake-holders) dalam perdagangan internasional.19 6. Peran hukum nasional ini antara lain akan mulai lahir manakala timbul melihat sengketa klausul sebagai pilihan pelaksanaan hukum dalam dari kontrak. Peran signifikan dari hukum nasional lahir dari adanya jurisdiksi (kewenangan) negara. Jurisdiksi atau kewenangan tersebut adalah kewenangan suatu negara untuk mengatur segala (a) peristiwa hukum. Kewenangan atas peristiwa hukum di sini dapat berupa transaksi jual beli dagang internasional. .

Termasuk di dalamnya adalah larangan untuk masuknya produk-produk yang dianggap membahayakan moral. lingkungan. tanaman. . dll. kesehatan manusia.20 Kewenangan suatu negara untuk mengatur atas suatu benda yang berada di dalam wilayahnya mencakup pengaturan obyek-obyek apa saja yang dapat atau tidak dapat untuk diperjual-belikan. produk tiruan.

menganalisis dan menilai sesuatu persoalan dalam hukum perdagangan internasional. Kedua. dll. perdagangan internasional merefleksikan unsur private law nature dari hukum perdagangan internasional. kontrak sebagai salah satu sumber dari hukum perdagangan internasional mencerminkan saling keterkaitan antara bidang hukum perdagangan internasional dengan bidang hukum lain. Dibanding terdapat dalam internasional dengan hukum dapat sumber-sumber internasional. Sumber hukum ini yaitu kontrak (dan kebiasaan-kebiasaan dagang) memang sesungguhnya adalah hukum bagi para pihak yang membuatnya.21 C. Dari sumber-sumber internasional. Penutup Sumber-sumber hukum perdagangan internasional adalah materi bahasan menemukan yang penting. inilah Dari kita dapat hukum perdagangan sumber-sumber inilah kita dapat mengomentari. penanaman . hukum ekonomi internasional. Pengakuan terhadap kontrak sebagai salah satu sumber dalam hukum perdagangan kontrak internasional sebagai salah mencerminkan satu sumber dua hukum hal berikut. hukum dalam konvensional hukum yang dibuat yang secara perdagangan ditemui sumber-sumber khusus oleh para pihak (aktor) dalam perdagangan internasional. Pertama. khususnya modal. hukum kontrak internasional di samping hukum hukum internasional.

International Intellectual Property Law. London: Cavendish. Arbitrase Komersial Internasional. 1997. 1995. 1999. 3. The Law of International Trade. London: Sweet and Maxwell. 2003. The Hague: Kluwer. cet. Sudargo Gautama. 1993. D’Amato. 1981. Carr. Essential International Trade Law. 2002. Statutes and Convention on International Trade Law. 3. Jakarta: Rajawali pers. Michelle. Indira and Richard Kidner. Hercules Booysen. Huala Adolf. Hans Van. Bandung: Alumni. Huala Adolf. 1976. dan Doris Estelle Long. Jakarta: Rajawali Pers. Kontrak Dagang Internasional. Houtte.. . Schmitthoff. 2003. Anthnoy. Sydney: Cavendish.. cet.22 DAFTAR PUSTAKA Booysen. Hukum Ekonomi Internasional: Suatu Pengantar. London: Sweet and Maxwell. Sanson. Pretoria: Interlegal. Clive M. Commercial Law in a Changing Economic Climate. International Trade Law on Goods and Services.

prinsip-prinsip GATT menjadi kerangka aturan bagi bidang-bidang baru dalam perjanjian WTO. Contoh yang terakhir ini adalah pengaturan mengenai barang tiruan atau kepabeanan. Pada pokoknya ada empat tujuan penting yang hendak dicapai GATT: 1) meningkatkan taraf hidup umat manusia. WTO mengambil alih GATT dan menjadikannya salah satu lampiran aturan WTO. Law and Its Limitations in the GATT Multilateral Trade System. 1987. 1 Olivier Long. Martinus Nijhoff Publishers. serta untuk menciptakan liberalisasi perdagangan yang berkelanjutan. GATT dibentuk pada Oktober tahun 1947. Tujuan pembentukan GATT adalah untuk menciptkan suatu iklim perdagangan internasional yang aman dan jelas bagi masyarakat bisnis. Pengantar Salah dan satu sumber (General hukum yang on penting Tariff penting dalam Trade dalam hukum atau taraf antara perdagangan internasional adalah Persetujuan Umum mengenai Tarif Perdagangan Muatan di Agreement tidak negara pula and GATT). Kedua. dalamnya antar saja dalam mengatur kebijakan tertentu perdagangan aturannya tetapi aturan juga menyangkut perdagangan pengusaha. sistem perdagangan internasional yang diupayakan GATT adalah sistem yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan di seluruh dunia.1 Tujuan utama GATT dapat tampak dengan jelas pada preambulenya. Pertama. Penanaman Modal (TRIMs). lapangan kerja dan iklim perdagangan yang sehat.1 BAB IV ATURAN-ATURAN HUKUM PERDAGANGAN MENURUT GATT A. dan juga dalam Perjanjian mengenai Perdagangan yang terkait dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual (TRIPs). Untuk mencapai tujuan itu. 101. Lahirnya WTO pada tahun 1994 membawa dua perubahan yang cukup penting bagi GATT. hlm. khususnya Perjanjian mengenai Jasa (GATS). .

dalam Bernhard (ed). keputusan-keputusan mengenai materi-materi yang penting khususnya yang menyangkut ketentuanketentuan atau pasal-pasal GATT. Namun pada umumnya keputusansuatu cara diambil demikian putusan diambil yang tanpa formal: harus mengikuti umumnya keputusan berdasarkan konsensus. 3) meningkatkan pemanfaatan kekayaan alam dunia. Di sini diupayakan agar praktek perdagangan dapat dibebaskan dari rintangan-rintangan yang mengganggu (liberalisasi perdagangan). dan 4) meningkatkan produksi dan tukar menukar barang.2 Sejak dengan berdiri. sebagai suatu forum (wadah) perundingan perdagangan. Ada tiga fungsi utama GATT dalam mencapai tujuannya: pertama. untuk biasanya bertujuan mempercepat liberalisasi perdagangan internasional. Encyclopedia of Public International Law. Kedua. Instalment 5 (1983). GATT telah mensponsori yang Tujuan dari berbagai disebut putaran macam juga atau perundingan-perundingan istilah ini putaran perundingan utama/pokok (rounds). Selain itu. 21. . “General Agreement om Tariffs and Trade (1946). GATT mengupayakan nasional atau agar aturan atau praktek dan perdagangan demikian itu menjadi jelas (predictable) baik melalui pembukaan pasar melalui penegakan penyebarluasan pemberlakuan peraturannya. sebagai suatu perangkat ketentuan (aturan) multilateral yang mengatur transaksi perdagangan yang dilakukan oleh negaranegara anggota GATT dengan memberikan suatu perangkat ketentuan perdagangan (the ‘rules of the road’ for trade).2 2) meningkatkan kesempatan kerja. keputusannya dibuat berdasarkan mayoritas keputusan pengambilan biasa (Pasal XXV). Putaran perundingan perdagangan ini mempunyai keuntungankeuntungan sebagai berikut: 2 Gunther Jaenicke. Dalam perundingan tersebut.. hlm.

3 WTO. Putaran Jenewa (1956 – 26 negara). Putaran Annecy-Perancis (1947 – 13 negara). 1996. No.3 Pertama. putaran yang telah dilaksanakan adalah Putaran Jenewa (1947 – diikuti oleh 23 negara). Kedua.. hlm. Putaran Tokyo dipandang sebagai suatu ‘percobaan pertama’ yang berupaya mereformasi sistem perdagangan internasional. . The Roots of the WTO. diikuti Proses oleh 62 liberalisasi negara Tokyo yang perdagangan khusus ini terus tarif 102 berlanjut dan antidan dalam putaran-putaran berikutnya. Putaran Jenewa atau Putaran Dillon (1960-61 – 26 negara). Putaran (1973-1979. negara) Putaran Uruguay (1986 – 1994 diikuti oleh 123 negara).3 Putaran-putaran pertama GATT pada umumnya difokuskan kepada upaya penurunan tarif. Misalnya adalah pembahasan isu pertanian dalam Perundingan Uruguay. Penurunan tarif ini sudah berlangsung sejak pembentukan GATT pada tahun 1947. perundingan perdagangan memungkinkan para pihak secara bersama-sama dapat memecahkan masalah-masalah perdagangan yang cukup luas. pembahasan atau perundingan akan relatif dapat lebih mudah dalam konteks suatu forum yang sifatnya global. Sejak tahun 1947. dan Keempat. Ketiga. 1. dalam merundingkan sektor perdagangan dunia yang sensitif. Putaran Torquay-Inggris (1951 – 38 negara). negara-negara sedang berkembang dan negara-negara kurang maju akan lebih memiliki kesempatan yang lebih luas dalam membahas sistem dan perdagangan akan lebih multilateral menguntungkan dalam lingkup suatu sedang perundingan negara-negara berkembang dibandingkan apabila mereka berunding langsung dengan negara-negara maju. Putaran Tokyo (1973 – 1979) dapat pula dianggap sebagai putaran yang terpenting sebelum Putaran Uruguay. komitmen para pihak di akan lebih mudah membahas komitmendaripada perdagangan suatu putaran perundingan membahasnya dalam lingkup bilateral. Publ. yaitu Putaran Kennedy (1964-67 membahas diikuti dumping).

yang kadang-kala disebut pula sebagai ‘Standard Code’). 4) Kesepakatan mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah (Government procurement). 2) Rintangan-rintangan teknik terhadap perdagangan (technical barrier to trade). (tindakan-tindakan pengamanan). Kegagalan sektor yang dialaminya dan antara lain. dan berhasilnya dicapainya 9 kesepakatan lainnya yakni : 1) Subsidi dan tindakan balasan (Subsidies and countervalling measures). Putaran Tokyo bertujuan untuk terus menurunkan tarif progresif. tidak tercapainya aturan kesepakatan negara-negara mengenai masalah-masalah yang melilit pertanian kegagalan untuk membuat rumusan mengenai ‘safeguards’. yakni kesepakatan yang menafsirkan Pasal VI. yang menafsirkan Pasal VI dan menggantikan the Kennedy Round Anti-Dumping Code. hanya sedikit negara yang mengikatkan diri kepada perjanjian-perjanjian atau dalam pesawat udara sipil (Trade in Civil mengenai daging olahan (Bovine Meat . perdagangan negara-negara GATT sepakat sebelumnya. Pada waktu putaran Tokyo dirampungkan. akhir untuk memotong 1/3 dari tingkat tarif yang berlaku pada waktu itu. 3) Prosedur lisensi impor. Keberhasilan Putaran Tokyo yang patut dicatat antara lain tercapainya serangkaian kesepakatan aturan-aturan GATT. 8) Perdagangan Aircraft). 7) Pengaturan Arrangement). 5) Penaksiran bea cukai (Customs Valuation) yang menafsirkan pasal VII GATT.4 Seperti secara umumnya Di putaran-putaran perundingan. 6) Anti-Dumping. Putaran Tokyo mengalami kegagalan dan beberapa kesepakatan. XVI dan XXIII GATT.

penaksiran bea cukai dan kesepakatan anti-dumping sekarang telah terlebur ke dalam komitmen WTO. Fungsi sebagai ‘pengadilan’ internasional dimana para anggotanya menyelesaikan sengketa dagangnya dengan anggota-anggota GATT lainnya. dairy products dan pesawat udara sipil masih tetap berada di bawah kesepakatan ‘plurilateral’ yang sifatnya terbuka bagi negara anggota WTO untuk tunduk atau tidak (sukarela) terhadap kesepakatan-kesepakatan ketiga GATT adalah yang disebut suatu terakhir tersebut. Pada masa itu timbul . Hal tersebut berarti bahwa semua negara anggota WTO mau tidak mau tunduk perjanjian barang-barang bagi dan terikat terhadap semua kesepakatan atau Sedangkan kesepakatan (government mengenai pengadaan bovine pemerintah procurement). Itu pun umumnya adalah negara-negara maju saja. yang dilengkapi dengan badan khusus atau aturan khusus tentang penyelesaian sengketa perdagangan multilateral. Di putaran Uruguay.5 kesepakatan hasil putaran Tokyo tersebut. lembaga hanyalah kesepakatan perdagangan internasional. meat. tersebut. Sejarah GATT GATT dibentuk sebagai suatu dasar (atau wadah) yang sifatnya sementara setelah Perang Dunia II. B. Fungsi pengaturannya dikemukakan mengenai di penyelesaian mengalami atas. sebagian dari kesepakatan tersebut di atas telah mengalami mengenai pembahasan subsidi dan perluasan. lisensi impor. GATT sengketa semula ini sifatnya yang bukan aturan penting dan Telah khusus perkembangan GATT menarik. kesepakatan dan countervailing rintangan-rintangan teknis terhadap perdagangan. Kesepakatanmeasures.

hlm. Benih sejarah pembentukan GATT sebenarnya berawal dari pada waktu ditandatanganinya Piagam Atlantik (Atlantic Charter) pada bulan Agustus 1941.cit. praktek Hal ini dilakukan yang mencegah proteksionisme berlangsung pada tahun 1930-an yang memukul perekonomian dunia. pembahasan Pada dan 6 perundingan telah berlangsung antara tahun 1943-1944. Amerika Serikat pertama kalinya mengusulkan perlunya pembentukan suatu Organisasi Perdagangan Internasional (ITO). negara-negara yang pertama kali menjadi anggota adalah 23 negara. Tujuan organisasi ini.. khususnya Amerika Serikat. Inggris serangkaian dan Kanada.. Piagam tersebut dimaksudkan bukan saja dalam untuk memberikan dunia ketentuan-ketentuan (employment). pada waktu pembentukannya. Ke-23 ini juga yang membuat dan merancang Piagam International Trade Organization (Organisasi Perdagangan Internasional) yang pada waktu itu direncanakan sebagai suatu badan khusus PBB. Op. perdagangan tetapi juga membuat keputusan-keputusan mengenai ketenagakerjaan persetujuan praktek-praktek restriktif (pembatasan) perdagangan.4 Kebutuhan akan adanya suatu lembaga multilateral yang khusus ini pada waktu itu sangat dirasakan benar. Pada waktu itu masyarakat internasional menemui kesulitan untuk mencapai kata sepakat mengenai pengurangan dan penghapusan berbagai pembatasan kuantitatif untuk serta diskriminasi terulangnya perdagangan. atau aturan-aturan komoditi. adalah untuk menciptakan liberalisasi perdagangan Lihat Olivier Long. Salah satu tujuan dari piagam ini adalah menciptakan suatu sistem perdagangan dunia yang didasarkan pada non-diskriminasi dan kebebasan tukar menukar barang dan jasa. penanaman modal internasional dan jasa. tanggal Desember. menurut versi Amerika Serikat pada waktu 4 itu.5 Seperti disebutkan di muka. . 1. Dengan antara tujuan tersebut.6 kesadaran masyarakat internasional akan perlunya suatu lembaga multilateral di samping Bank Dunia dan IMF.

Jackson.A.G. 1995. The Legal Problems of International Economic Relations. M.cit. Burma.cit. hlm. Komisi ini untuk menyelenggarakan suatu komisi Rancangan untuk konperensi. Van Meerghaeghe.G.St Paul Minn. Op.al. 101. antara lain. New York dari tanggal 20 Januari sampai 25 Februari 1947.. Dengan adanya kegagalan ini kemudian negara-negara besar tersebut Amerika Benelux. Brazil.9 Pertemuan 22 Agustus. Badan khusus PBB ini suatu Desember peserta menyatakan komisi 1946.G. membentuk Serikat. The Netherlands: Kluwer.6 Usul pembentukan suatu organisasi perdagangan ini disambut baik oleh ECOSOC (Economic and Social Council). Dari tanggal 10 April sampai dengan melanjutkan tanggal 10 bilateral tugasnya April berlangsung membuat 30 antar rancangan Oktober.A. Piagam sampai perundingan-perundingan negara-negara anggota komisi.. Inggris. . penting panitia ITO. 101. et. International Economic institutions.: West. 101.cit. hlm. hlm. Pertemuan ini membahas masalah-masalah tertentu atau terbatas saja. Pakistan dan Rhodesia Selatan. Van Meerghaeghe. 1987. Tugas suatu ini komisi adalah perancang Perancis mencari yang dan beranggotakan negara-negara baru untuk Kanada. memerangi monopoli. Op.. Van Meerghaeghe. hlm. Op.7 secara bertahap.A. 5 Lihat. Van Meerghaeghe. 101.A. Ceylon. memperluas permintaan komoditi dan mengkoordinasi kebijakan perdagangan negara-negara. 9 John H. 32. 7 M. negara-negara berhasil membentuk Persidangan-persidangan mengeluarkan mencapai kata suatu berlangsung di London dari tanggal 18 Oktober sampai dengan 26 berhasil gagal Piagam London (the London Draft pertemuan Charter).. Pertemuan tidak membahas hal-hal penting. Namun para anggota sepakat mengesahkan Rancangan Piagam tersebut. 6 M. Untuk maksud itu.G. 8 M.8 Komisi baru ini mengadakan pertemuan kedua yang berlangsung di Lake Succes.. komisi rumusan merancang suatu organisasi perdagangan baru. hlm.7 keinginannya persiapan. diselenggarakan persiapan dan dari di Jenewa dari bulan April sampai November 1947.

yaitu inilah. sambil berlakunya ITO.8 Hasil perundingan mengenai konsesi timbal balik (reciprocal tariff concession) dicantumkan ke dalam GATT yang ditandatangani pada tanggal 30 Oktober 1947. teks GATT mengalami perubahan. berlangsung Pertemuan di Havana (21 November 1947 – 24 Maret 1948). pada tahun 1958. 102). kemudian terus berlaku sampai saat ini. negara-negara peserta menemui kesulitan dalam meratifikasinya. Pasal XXIX dikeluarkannya dan XXX dan protokol protokol yang merubah preambule dan bagian 2 dan 3. Pertemuan ini membahas Piagam ITO berhasil mengesahkan Piagam Havana. Op. 1 dan Pertama. Sejak pulalah ITO secara efektif menjadi tidak berfungsi sama sekali. pelaku itu utama dalam perdagangan dunia.G. Para suatu GATT perunding GATT mengeluarkan suatu perjanjian internasional baru the Protocol Sejak Provisional dikeluarkannya Application. Namun sampai dengan pertengahan tahun 1950-an. Namun karena Uruguay tidak meratifikasinya. Ada dua perubahan yang penting merubah yang bagian terjadi. protokol ini menjadi tidak 10 11 M.G. hanya meratifikasi Piagam ini.11 Hal negaranya ini lebih akan disebabkan karena Amerika Seriakt. Hasil perundingan tersebut berisi pula suatu kodifikasi di antara sementara negara-negara mengenai hubungan-hubungan Berdasarkan perdagangan penandatangan. Van Meerghaeghe. Meskipun tidak pernah berlaku.cit. GATT protokol protokol (perjanjian) yang memberlakukan untuk sementara (provisional). Loc.cit.A. Sampai dengan tahuan 1950-an. Van . menyatakan bahwa tidak meratifikasi Piagam tersebut. Pada tahun 1954 – 1955.10 Pertemuan oleh delegasi penting dari 66 keempat negara. namun minimnya ratifikasi tersebut yaitu tidak menyebabkan of GATT menjadi tidak berlaku. hlm. dua negara saja yang Australian (M.A. Protokol pertama mensyaratkan penerimaan oleh semua negara peserta. persyaratan-persyaratan protokol tanggal 30 Oktober 1947.. yakni Liberia dan Meerghaeghe. GATT ditetapkan sejak tanggal 1 Januari 1948.

yaitu kesepakatan untuk menjamin bahwa setiap pelaksanaan kebijakan subsidi tidak menimbulkan akibat negatif terhadap perdagangan negara lain. Ketentuan kedua. 103. Op. XVI and XXIII (Subsidies Codes).12 C. 6) the Agreement on Implementation of Article VI (Anti Dumping Code). Van Meerhaeghe. yang dihasilkan dari perundingan putaran Tokyo (Tokyo Round 1973-1979) subsidi yaitu adalah dan ketentuan-ketentuan ketentuan 30-an non-tarif negara. Ketentuan-ketentuan Perdagangan dalam GATT. Sedangkan protokol kedua mulai berlaku sejak tanggal 28 November 1957. yaitu kesepakatan mengenai jaminan terlaksananya kesempatan secara internasional yang lebih luas dalam tender untuk mendapatkan kontrakkontrak pemerintah. 5) the Agreement on Import Licensing Procedures. yakni kesepakatan mengenai perubahan Anti Dumping Code . GATT mendapat tambahan bagian baru. Meskipun keanggotaan pada ketentuan keterbatas sifatnya. Keenam kesepakatan tersebut yaitu 1) the Agreement on technical Barrier to Trade (Standards Code).13 12 13 M. Putaran Tokyo menghasilkan 6 kesepakatan yang tertuang dalam dokumen berjudul the Tokyo Round Codes. Pertama. hlm. masalah-masalah sektoral. Bagian ini khusus mengatur kepentingan perluasan ekspor bagi negara-negara sedang berkembang (Pasal XXXVI – XXXVIII). yang atau namun mencakup 2 ini anti-dumping. Ketentuan-ketentuan perdagangan yang membentuk suatu sistem perdagangan multilateral yang terkandung dalam GATT. Pada tahun 1965. yaitu kesepakatan bahwa pemerintah maupun badan-badan lainnya dalam membuat dan menerapkan peraturan dan standar teknis. yaitu kesepakatan mengenai sistem penilaian barang yang netral. 4) the Agreement on Implementation of Article VII (Customs Valuation Code). yaitu kesepakatan mengenai jaminan bahwa pemberian lisensi tidak menimbulkan hambatan terhadap impor. dan terakhir. memiliki 3 ketentuan utama.A.G. dan yang paling penting adalah GATT itu sendiri beserta ke-38 pasalnya. 2) the Agreement on Government Procurement. yaitu bagian keempat.cit. 3) the Agreement on Interpretation and Application of Article VI.. seragam dan adil untuk kepentingan bea dan cukai. Bagian ini berlaku secara de facto tanggal 8 Februari 1965 dan mulai berlaku efektif tanggal 27 Juni 1965.9 berlaku sejak tanggal 1 Januari 1968. berkisar demikian negara-negara ini menguasai sebagian besar perdagangan dunia. tidak menimbulkan hambatan terhadap perdagangan.

10
Yang ketiga adalah ketentuan ini mengenai “multi fibre

arrangements”. pakaian.

Ketentuan

merupakan

pengecualian

terhadap

ketentuan-ketentuan GATT umumnya terutama menyangkut tekstil dan

D. Prinsip-prinsip GATT. Untuk mencapai tujuan-tujuannya, GATT berpedoman pada 5

prinsip utama. Prinsip yang dimaksud adalah: 1. Prinsip most-favoured-nation. Prinsip ‘most-favoured-nation (MFN) ini termuat dalam pasal I GATT. Prinsip ini menyatakan bahwa suatu kebijakan perdagangan harus dilaksanakan atas dasar non-diskriminatif. Menurut prinsip ini, semua negara anggota terikat untuk memberikan negara-negara lainnya perlakuan yang sama dalam pelaksanaan dan kebijakan impor dan ekspor serta yang menyangkut biaya-biaya lainnya.14 Perlakuan yang sama tersebut harus dijalankan dengan segera dan tanpa syarat (‘immediately atau yang and unconditionally’) kepada semua terhadap anggota tindakan pasal 4 produk yang berasal diajukan atau ini

GATT.15 Karena itu sesuatu negara tidak boleh memberikan perlakuan istimewa kepada negara lainnya Prinsip melakukan dalam diskriminasi terhadapnya. tampak

perjanjian yang terkait dengan hak kekayaan intelektual (TRIPS) dan tercantum pula dalam pasal 2 Perjanjian mengenai Jasa (GATS). Pendek yang sama kata, dan semua negara harus diperlakukan keuntungan atas dari dasar suatu

semua

negara

menikmati

kebijaksanaan perdagangan. Namun demikian, dalam pelaksanaannya

yang dihasilkan pada Putaran Kennedy (1964 – 1967). (Departemen Perdagangan RI, GATT dan Uruguay Round, Seri Informasi Perdagangan Internasional no. 14, 1993/1994, hlm. 7-9). 14 Cf. Olivier Long, Op.cit., hlm. 8-11. 15 Gunther Jaenicke, Op.cit., hlm. 22. Namun demikian prinsip ini tidak berlaku terhadap transaksi-transaksi komersial di antara anggota GATT yang secara teknis bukan merupakan impor atau ekspor ‘produk-produk’ seperti pengangkutan internasional, pengalihan paten, lisensi dan hakhak tak berwujud lainnya atau aliran modal.

11
prinsip ini mendapat pengecualian-pengecualiannya, khususnya

dalam menyangkut kepentingan negara sedang berkembang. Jadi, berdasarkan prinsip itu, suatu negara anggota pada pokoknya dapat menuntut untuk diperlakukan sama terhadap produk impor dan ekspornya di negara-negara anggota lain. Namun demikian ada beberapa pengecualian terhadap prinsip ini. Pengecualian tersebut sebagian ada yang ditetapkan dalam pasal-pasal melalui GATT itu sendiri dan sebagian dan lagi ada yang GATT ditetapkan dalam putusan-putusan dalam konperensi-konperensi GATT suatu penanggalan (waiver) prinsip-prinsip berdasarkan Pasal XXV. Pengecualian yang dimaksud adalah: (a) keuntungan yang diperoleh karena jarak lalu lintas traffic advantage), tidak boleh dikenakan

(frontier

terhadap anggota GATT lainnya (Pasal VI); (b) perlakuan preferensi di wilayah-wilayah tertentu

yang sudah ada (misalnya kerjasama ekonomi dalam ‘British Commonwealth’; the French Union (Perancis dengan negaranegara bekas koloninya); dan Banelux (Banelux Economic Union), 4); (c) Union anggota-anggota GATT yang membentuk suatu Customs atau Free Trade Area yang memenuhi persyaratan tetap boleh terus dilaksanakan namun tingkat batas preferensinya tidak boleh dinaikan (Pasal I ayat 2-

Pasal XXIV tidak harus memberikan perlakuan yang sama kepada negara anggota lainnya. Untuk memenuhi negara-negara persyaratan dengan yang Pasal membentuk XXIV, dapat pengaturanmembentuk

pengaturan preferensial regional dan bilateral yang tidak pengecualian menggunakan alasan ‘penanggalan’

(waiver) terhadap ketentuan GATT. Penanggalan ini dapat pula dilakukan atau diminta oleh suatu negara anggota. Menurut prinsip ini suatu negara dapat, manakala ekonominya atau keadaan perdagangannya

12
dalam keadaan yang sulit, dapat memohon pengecualian dari kewajiban tertentu yang ditetapkan oleh GATT. (d) atau pemberian prefensi tarif olef negara-negara beruntung maju

kepada produk impor dari negara yang sedang berkembang negara-negara melalui yang kurang (least of developed) fasilitas Generalised System

Preference (sistem preferensi umum).16 Pengecualian ketentuan lainnya adalah apa yang disebut dengan ini

‘pengamanan’

(safeguard

rule).

Pengecualian

mengakui bahwa suatu pemerintah, apabila tidak mempunyai upaya lain, dapat melindungi atau memproteksi untuk sementara waktu industri dalam negerinya. Pengaturan memperbolehkan keadaan-keadaan membatasi atau ‘safeguard’ kebijakan tertentu ini yang Suatu diatur dalam Pasal XIX, dalam dapat produk-

demikian saja. suatu

namun konsesi

hanya negara tarif

dipakai anggota pada

menangguhkan

produk yang diimpor dalam suatu jumlah (kuantitas) yang meningkat dan yang menyebabkan kerusakan serius (serious injury) terhadap produsen dalam negeri. Dalam tahun-tahun belakangan ini, cukup banyak anggota GATT yang menerapkan pengaturan bilateral diskriminatif yang juga seringkali disebut dengan ‘voluntary export restraints’ (VERs). Kebijakan perdagangan ini dilakukan untuk menghindari salah satu isu yang cukup hangat dibahas dalam Putaran Uruguay yakni perdagangan tekstil. VERs adalah cara 'halus' negara maju untuk menekan negara sedang berkembang yang umumnya adalah penghasil tekstil. Untuk membatasi masuknya produk tekstil ke dalam pasar dalam negerinya, negara ini, maju secara maju halus menyatakan bahwa kepada negara berkembang tersebut untuk mengekspor tekstilnya dalam jumlah tertentu saja. Dalam hal negara menekankan pembatasan jumlah

16

Gunther Jaenicke, Op.cit., hlm. 23.

13
semata-mata haruslah sukarela sifatnya yang datang atau berasal dari kehendak negara berkembang.

2. Prinsip National Treatment. Prinsip National Treatment terdapat dalam pasal III GATT. Menurut prinsip ini, produk dari suatu negara yang diimpor ke dalam suatu negara harus diperlakukan sama seperti halnya produk dalam negeri.17 Prinsip ini sifatnya berlaku luas. Prinsip ini juga berlaku terhadap semua macam pajak dan pungutan-pungutan lainnya. Ia berlaku pula terhadap perundang-undangan, pengaturan dan persyaratan-persyaratan (hukum) yang mempengaruhi penjualan, pembelian, pengangkutan, distribusi atau penggunaan produk-produk di pasar dalam negeri. Prinsip ini juga memberikan perlindungan terhadap proteksionisme sebagai akibat upaya-upaya atau kebijakan administratif atau legislatif.18 Prinsip national treatment dan prinsip MFN merupakan

prinsip sentral dibandingkan dengan prinsip-prinsip lainnya dalam GATT. Kedua prinsip ini menjadi prinsip pada pengaturan bidangbidang perdagangan yang kelak lahir di dalam perjanjian putaran Uruguay. Misalnya, prinsip ini tercantum dalam pasal 3 Perjanjian TRIPs. Kedua prinsip diberlakukan pula dalam the General Agreement on Trade in Service (GATS). Dalam GATS, negara-negara anggota WTO diwajibkan untuk memberlakukan perlakuan yang sama (MFN treatment) terhadap jasa-jasa atau para pemberi jasa dari suatu negara dengan negara lainnya. Meskipun demikian, perjanjian WTO membolehkan suatu negara untuk meminta pembebasan dari penerapan kewajiban MFN ini yang mencakup upaya-upaya tertentu (specific measures) yang pada mulanya tidak dapat menawarkan perlakuan demikian. Untuk maksud tersebut, manakala suatu negara meminta

pembebasan kewajiban MFN, maka permintaan tersebut akan ditinjau
17 18

Olivier Long, Op.cit., hlm. 9. Ibid.

14 setiap lima tahun. . Oleh karena itulah prinsip national treatment atau perlakuan nasional ini pada umumnya merupakan hasil dari negosiasi atau perundingan di antara negara-negara anggota. Prinsip national treatment merupakan suatu kewajiban dalam GATS yang mana negara-negara secara eksplisit harus menerapkan prinsip ini terhadap jasa-jasa atau kegiatan jasa-jasa tertentu. Pembebasan dari penerapan kewajiban MFN ini hanya boleh dilakukan untuk jangka waktu 10 tahun.

meningkatnya impor yang berlebihan (increase of imports) di dalam negeri sebagai upaya untuk melindungi. logam. untuk mengamankan. untuk mencegah terkurasnya produkproduk esensial di negara pengekspor. ketiga. Namun demikian dalam pelaksanaannya. Dalam hal ini negara tersebut dapat memberlakukan restriksi (devisa) kuantitatif mereka yang untuk mencegah oleh terkurasnya adanya valuta asing untuk disebabkan permintaan . terancamnya produksi dalam negeri. Yang menjadi ketentuan dasar GATT adalah larangan restriksi kuantitatif yang merupakan rintangan terbesar terhadap GATT. misalnya. pengecualian itu telah diperluas pada negara-negara sedang berkembang. praktek pengawasan demikian pembayaran mengganggu produk-produk impor atau ekspor). Meskipun demikian restriksi tersebut tidak boleh diterapkan di luar yang diperlukan untuk melindungi neraca pembayarannya. restriksi penggunaan IX). untuk melindungi neraca pembayaran (luar negerinya) (Pasal XII). dan beberapa produk dari negara-negara sedang berkembang masih acapkali terkena rintangan ini. pada umumnya dilarang (Pasal disebabkan praktek perdagangan yang normal. Dengan adanya pengakuan sebagaimana diatur dalam Pasal XVII. keempat. Restriksi itu pun secara progesif harus dikurangi bahkan dihilangkan apabila tidak dibutuhkan kembali. Restriksi tertentu. hal tersebut dapat dilakukan dalam hal: pertama. yang kuantitatif kebanyakan dewasa berasal ini tidak begitu meluas di negara maju. Prinsip Larangan Restriksi (Pembatasan) Kuantitatif. Restriksi kuantitatif terhadap ekspor atau impor dalam bentuk apapun (misalnya penetapan kuota impor atau ekspor. Namun demikian. tekstil. Hal lisensi ini impor atau karena ekspor. untuk melindungi pasal dalam negeri khususnya yang menyangkut produk pertanian dan perikanan.15 3. berdasarkan escape clause (Pasal XIX). kedua.

meskipun diperbolehkan. . Meskipun dibolehkan. Misalnya saja. 10. Olivier Long.cit. Op.19 Perlindungan melalui tarif ini menunjukan dengan jelas tingkat perlindungan yang diberikan dan masih memungkinkan adanya kompetisi yang sehat. Pasal XIII. 3. hlm. GATT menyelenggararakan konsultasi Menurut secara reguler yang diadakan dengan negara yang mengajukan restriksi impor untuk melindungi neraca pembayarannya. restriksi kuantitatif ini. Tingkat tarif ini menjadi komitmen negara tersebut yang sifatnya mengikat. 4. Pada prinsipnya GATT hanya memperkenankan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui tarif (menaikan tingkat tarif bea masuk) dan tidak melalui upaya-upaya perdagangan lainnya (non-tarif commercial measures). penggunaan tarif ini tetap tunduk pada ketentuan-ketentuan GATT. hlm. kecuali diikuti dengan negoisasi mengenai 19 20 Departement Perdagangan RI. Negara-negara pengenaan tarif GATT umumnya ini masih dibolehkan dalam banyak menggunakan cara untuk melindungi industri dalam negerinya dan juga untuk menarik pemasukan bagi negara yang bersangkutan. pengenaan atau penerapan tarif tersebut sifatnya tidak boleh diskriminatif dan tunduk pada komitmen tarifnya kepada GATT/WTO. Prinsip Perlindungan melalui Tarif.16 impor yang diperlukan bagi pembayaran atau karena mereka sedang mendirikan atau memperluas produksi dalam negerinya. Bagi kepentingan negara tersebut. ia tidak dapat semena-mena menaikkan tingkat tarif yang telah ia sepakati. suatu negara yang telah menyatakan komitmennya atas suatu tarif... Komitmen tarif ini maksudnya adalah tingkat tarif dari suatu negara terhadap suatu produk tertentu.20 Sebagai GATT.cit. tidak boleh diterapkan secara diskriminatif. Karena itu. kebijakan untuk mengatur masuknya barang ekspor ini dari luar negeri. Op.

Dalam pengurangan terhadap pengurangan tersebut tarif industri ini. 22. Dalam akses pasar putaran yang Uruguay. Tujuan GATT dalam hal ini adalah menurunkan tingkat serendah-rendahnya. Seperti halnya tarif.500 terhadap melalui halaman penurunan suku bunga yang dilakukan oleh lebih dari 120 negara.17 pemberian mengenai kompensasi dengan mitra-mitra dagangnya (Pasal XXVII). GATT juga mensyaratkan negara-negara anggotanya untuk menerapkan prinsip transparansi. tingkat tarif yang umumnya berlaku adalah sekitar 6. Cukup banyak aturan dalam perjanjian . pada tahun 1994 telah jatuh menjadi sekitar 4% saja. Pada waktu putaran Uruguay ditutup (1994). lebih besar ini komitmen dicapai. diharapkan akan terjadi peningkatan penerimaan produk-produk industri maju yang memperoleh pembebasan bea masuk (yakni dari 20% menjadi 4% di negara-negara maju). Prinsip ini pula yang menjadi kunci bagi prasyarat perdagangan yang pasti (predictable). tingkat tarif yang diterapkan negara-negara telah turun cukup tajam. Ketika GATT terbentuk pada tahun 1948 sampai dengan disahkannya perjanjian hasil Putaran Uruguay. Dengan tingkat tarif yang menurun demikian. Komitmen negara-negara dituangkan national tarif schedules. Dari rata-rata sebesar 38% di tahun 1948. Perlu dikemukakan di sini bahwa negoisasi tarif di antara negara-negara berupaya merupakan salah satu tarif pekerjaan ke titik GATT atau (yang level juga yang sekarang dilanjutkan oleh WTO). Prinsip transparansi ini mensyaratkan keterbukaan atau transparansi hukum atau perundang-undangan nasional dan praktek perdagangan suatu negara. negara-negara antara dalam lain.8%. di WTO mensyaratkan 40% maju) agar untuk dapat diturunkan sampai (khususnya produk-produk negara-negara jangka waktu 5 tahun (tahun 2000).

cit. Op." 21 Lihat lebih lanjut: Olivier Long.. hlm. Prinsip Resiprositas. 10-11. dalam tampak preambule perundingan-perundingan tarif yang didasarkan atas dasar timbal balik dan saling menguntungkan kedua belah pihak. . 5. Prinsip Prinsip ini ini merupakan pada prinsip fundamental GATT dan dalam berlaku GATT.18 WTO memuat prinsip transparansi yang mensyaratkan negara-negara anggotanya untuk mengumumkan pada lingkup nasional dengan menerbitkan pada lembaran-lembaran resmi negara atau dengan cara memberitahukannya secara formal kepada WTO.21 Paragraph 3 Preambul GATT menyatakan: "Being desirous of contributing to these objectives by entering into reciprocal to and the mutually advantageous reduction of arrangements directed substantial tarifs and other varriers to trade and to the eliminations of discriminatory treatment in international commerce.

. Bagian IV ini mengakui kebutuhan negara sedang berkembang untuk menikmati akses pasar yang lebih menguntungkan. Negara-negara industri juga mau menerima bahwa mereka tidak akan meminta balasan dalam dan perundingan mengenai penurunan lain atau penghilangan tarif rintangan-rintangan terhadap perdagangan negara-negara sedang berkembang. berkembang negara Keputusan juga tersebut mengakui bahwa permanen negara dalam perdagangan dunia.19 6. ditambahkan ke dalam GATT. pada tahun 1965. Perlakuan Khusus Bagi Negara Sedang Berkembang. Pengakuan ini juga merupakan dasar hukum bagi industri atau (Generalized kepada System Preferences umum) negara-negara sedang berkembang. Sekitar dua pertiga negara-negara anggota GATT adalah negara-negara sedang berkembang yang masih berada dalam tahap awal pembangunan ekonominya. Bagian ini juga melarang negara-negara maju untuk membuat rintanganrintangan baru terhadap ekspor negara-negara sedang berkembang. negara-negara perlakuan (‘enabling sedang sistem of dan mengeluarkan berkembang adalah untuk sistem mengenai pemberian dunia yang lebih menguntungkan dan partisipasi yang lebih besar bagi sedang perdagangan yang GSP clause’). pasal baru dalam bagian tersebut dimaksudkan untuk Tiga mendorong negara-negara industri membantu pertumbuhan ekonomi negara-negara sedang berkembang. suatu bagian baru yaitu Part IV yang memuat tiga pasal (Pasal XXXVI-XXXVIII). Pada sepakat negara waktu Putaran Tokyo putusan dalam pelaku memberikan preferensi 1979 berakhir. Untuk membantu pembangunan mereka.

b) Pasal II berisi tentang penurunan tarif yang disepakati berdasarkan penurunan tarif yang disepakati. Pengertian upayaupaya lainnya disini adalah segala upaya. yaitu keharusan ‘most negara anggota untuk menerapkan klausul favoured nation’ treatment. Secara garis besarnya. Bagian dua memuat 30 pasal.20 E. apa itu pungutan di dalam negeri atau penerbitan pembelian. semua produk impor yang sudah memenuhi aturan-aturan kepabeanan harus mendapat perlakuan yang sama seperti halnya produk-produk dalam negeri di negara tersebut. Kesepakatan penurunan tarif dicantumkan dalam lampiran ketentuan GATT dan menjadi bagian dari GATT.cit. yaitu: a) Pasal I. . Pasal IV berada di bawah judul ketentuan-ketentuan khusus mengenai film sinematografi (cinematograph film). berisi pasal utama yang menetapkan prinsip utama GATT. hlm. Pasal III berisi larangan pengenaan pajak dan upaya-upaya lainnya yang diskriminatif terhadap produk-produk impor dengan tujuan untuk melindungi produksi dalam negeri. Op. Undang-undang. Pasal ini membolehkan suatu negara untuk menetapkan kuota terhadap filmfilm melalui peraturan tentang pembatasan film. dari pasalpasal tersebut dibagi ke dalam 4 bagian: Bagian Pertama mengandung dua pasal. dari Pasal III sampai Pasal XXII. yang pengangkutan.. Berdasarkan prinsip perlakuan nasional ini. Garis-garis Besar Ketentuan GATT22 GATT memiliki 38 pasal. Namun demukian pembatasan-pembatasan atau kuota ini harus tetap tunduk kepada administratif mempengaruhi 22 Lihat GATT. penawaran penggunaan produk. kepada semua anggotanya. 19 et.seqq. peraturan distribusi atau atau persyaratan-persyaratan penjualan.

Pasal VI ini dengan tegas memberikan batasan mengenai pengertian harga di bawah harga normal. manakala yang tidak ada petunjuk atau mengenai ke harga negara tersebut produk tersebut akan dikonsumsi di negara pengekspor (harga domesik). Pasal adanya sarana dengan V mengatur lainnya kebebasan melalui transit. yaitu: a. produk ketiga. domestik. ditunjuk diekspor produk biaya produksi untuk ditambah biaya tambahan (ongkos-ongkos) dan keuntungan yang . setiap negara anggota dapat mengenakan transit dengan ke bea-bea dan dan menetapkan peraturan-peraturan negara atau anggota terhadap lainnya. layak. Dalam hal adanya transit ini. sedang dengan Pasal ini berperan cukup penting dan cukup banyak digunakan oleh negara-negara berkembang. maka harga normal adalah harga tertinggi untuk tersebut atau c. yang perahu negara untuk menggunakan rute-rute digunakan internasional guna melakukan transit ke atau dari wilayah negara anggota GATT lainnya (ayat 2). Dumping adalah praktek suatu negara yang menjual produknya di negara lain dengan harga yang lebih murah (di bawah harga normal) dengan maksud untuk merebut pasar (persaingan tidak jujur). lebih rendah dari harga untuk produk di negara di mana b.21 negoisasi dengan pihak-pihak yang terpengaruh oleh adanya pembatasan-pembatasan dalam bentuk kuota ini. Pasal VI mengatur maju Negara telah anti-dumping dan bea masuk negara mereka tambahan. wilayah Pasal termasuk suatu ini mengakui dan anggota transit kebebasan angkutan transit barang-barang. (tertentu) terhadap maju produk-produk negara ke pasar menuduh sedang berkembang memasukkan barangnya harga dumping. lalu dari wilayah-wilayah keadaan-keadaan Pengenaan biaya dan pembuatan peraturan tersebut haruslah wajar memperhatikan kondisi dari lintas transit (ayat 4).

2) mengurangi dan menyederhanakan persyaratan-persyaratan dokumentasi impor dan ekspor. menetapkan kriteria mengenai penilaian atas barang impor oleh pejabat-pejabat (bea cukai) negara-negara anggota terhadap barang impor. pungutan. Ketentuan-ketentuan pasal ini berlaku pula terhadap biayabiaya. bukan pada nilai asal barang atau pada nilai yang tanpa dasar atau dibuat-buat (arbitrary or fictitious values). Pasal atas barang VII (valuation untuk for custom purposes atau penilaian Pasal ini GATT impor maksud-maksud dari kepabeanan). Pasal ini mensyaratkan bahwa nilai barang-barang impor untuk maksud kepabeanan harus didasarkan pada nilai nyata barang (actual value of the imported merchandise). maka negara tersebut dapat mengenakan bea masuk anti dumping dan bea masuk tambahan atas produk tersebut. Pasal ini menegaskan bahwa pungutan-pungutan seperti itu tidak boleh dijadikan sebagai proteksi tidak langsung terhadap produk-produk domestik atau merupakan suatu pemajakan terhadap impor atau ekspor untuk maksud fiskal (Pasal VIII ayat 1 (a).22 Apabila suatu negara menemukan bukti-bukti positif bahwa suatu produk tertentu adalah dumping. Pasal VIII ayat 1 (c) mensyaratkan negara-negara anggota untuk: 1) menyederhanakan pengaturan dan rumitnya formalitasformalitas impor dan ekspor. Pasal VIII berada di bawah judul fees and formalities (biaya-biaya dan formalitas-formalitas). Pasal ini mensyaratkan agar semua biaya dan pungutan (selain daripada bea masuk impor dan ekspor serta pajak yang diatur dalam pasal III) yang dikenakan atas atau dalam hubungannya dengan impor atau ekspor harus dibatasi. Ayat 1 (b) pasal ini mensyaratkan negara-negara anggota untuk mengurangi jumlah-jumlah biaya dan pungutan seperti itu. formalitas dan persyaratan-persyaratan yang .

Pasal kuantitatif. menegaskan penilaian peraturan-peraturan. XI sampai XV mengatur restriksi yang atau pembatasan atau upaya Restriksi kuantitatif sering dipraktekkan adalah pengenaan kuota. d) pengawasan f) devisa dokumen. analisis dan inspeksi. Pasal IX mengatur tanda asal (marks of origin). termasuk: a) transaksi-transaksi konsuler. atau segala persyaratan yang mempengaruhi penjualan. inspeksi. transportasi. pungutan. mengenai putusan-putusan klasifikasi untuk tujuan kepabeanan..23 dikenakan oleh pejabat-pejabat pemerintah berkaitan dengan impor dan ekspor. Pasal X mengatur persyaratan publikasi Pasal ini atau dan administrasi bahwa produk pengadilan pengaturan-pengaturan Undang-undang. secara pemrosesan. Pasal XII membolehkan suatu negara untuk menerapkan pembatasan- . harus dan dipublikasikan para pedagang wajar anggota mengetahuinya. pajak. (exchange control). asuransi. c) lisensi. dan administratif perdagangan. distribusi. pajak atau pungutan lainnya. Pada prinsipnya pasal ini mensyaratkan agar semua negara anggota harus memberikan perlakuan yang sama (no lees favourable treatment) berkaitan produk dengan persyaratan asal barang ini terhadap semua dari negara-negara anggota seperti halnya perlakuan terhadap produk serupa dari negara ketiga (ayat 1). lisensi impor atau ekspor lainnya disamping bea masuk. dan e) jasa-jasa g) statistik. seperti faktur-faktur dan sertifikat konsuler. b) pembatasan kuantitatif. para negara dll. dengan merugikan nama-nama regional atau geografis dari produk suatu negara anggota yang dilindungi oleh hukum. sehingga penggunaan. dokumentasi sertifikasi. Pasal XI menegaskan bahwa praktek seperti ini dilarang. Ayat 6 pasal IX ini mensyaratkan agar negara-negara anggota harus bekerja sama dalam mencegah penggunaan nama dagang yang tidak menggambarkan asal barang suatu produk. h) karantina atau sanitasi.

pasal ini dengan tegas menyatakan bahwa perusahaanperusahaan seperti ini harus bertindak sesuai dengan prinsipprinsip umum mengenai perlakuan non-diskriminatif dalam kaitannya dengan upaya-upaya pemerintah yang mempengaruhi impor dan ekspor oleh para pedagang. maka pembatasan tersebut harus juga diberlakukan terhadap negara ketiga. Pasal XIV mengatur pengecualian-pengecualian penerapan restriksi kuantitatif dalam hal pembatasan masuknya produk-produk impor karena alasan-alasan moneter tertentu. misalnya C. dan 4 pasal XVI ini. Namun tersebut untuk memberitahu GATT tentang adanya subsidi ini. Pasal praktek di XVI mengatur subsidi. Putaran Uruguay berhasil merumuskan aturan mengenai isu ini yang termuat dalam the Agreement on Subsidy. . misalnya suatu negara membatasi masuknya suatu produk dari suatu negara. Pasal ini mensyaratkan perlunya kerjasama antara GATT dengan IMF.23 Pasal XVII mengatur perusahaan dagang negara (state trading enterprises). Jadi.24 pembatasan masuknya produk impor demi untuk mengamankan neraca pembayarannya (restriction to safeguard the balance of payment). misalnya dari B. Oleh karena itu. GATT mensyaratkan negara-negara anggotanya untuk menghapus subsidi ini. Pasal XV mengatur pengaturan mengenai pembayaran. Dalam perkembangan pengaturan GATT sebagaimana kemudian tercantum dalam ayat 2. Pasal XIII mensyaratkan bahwa penerapan restriksi kuantitatif tersebut harus dilaksanakan tanpa diskriminasi. GATT menyadari bahwa perusahaan dagang negara dapat menimbulkan praktek-praktek perdagangan yang tidak ‘fair’. masih Pasal ini mengakui subsidi mewajibkan adanya negara-negara yang memberikan pasal ini terhadap negara produk-produk dalam negerinya dengan maksud agar dapat bersaing pasar internasional. 3. Pasal XVIII berada di bawah judul ‘governmental assistance to economic development’ (bantuan pemerintah kepada pembangunan 23 Dalam perkembangan mengenai pengaturan mengenai subsidi ini.

(c) impor atau ekspor emas atau perak. sejarah atau kehidupan atau kesehatan manusia. (d) perlindungan terhadap hak atas kekayaan intelektual. Pasal XX mengatur pengecualian umum (general exeptions). (b) melindungi tanaman. khususnya dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk: (a) m elindungi moral masyarakat. Pasal ini mengakui bahwa negara-negara sedang berkembang membutuhkan tarif yang fleksibel dan dapat menerapkan beberapa restriksi kuantitatif untuk mempertahankan alat tukar luar negerinya untuk kebutuhan pembangunannya. (h) dalam kaitannya dengan adanya kewajiban-kewajiban yang timbul dari perjanjian-perjanjian komoditi antar pemerintah. hewan atau . kekayaan nasional. dll. yakni pengecualian-pengecualian yang dimungkinkan untuk menanggalkan aturan-aturan atau kewajiban-kewajiban suatu negara terhadap GATT. kesenian. (g) konservasi kekayaan alam yang dapat habis.25 ekonomi). Ayat 2 pasal ini ini untuk mensyaratkan negara hendak menerapkan pasal terlebih dahulu memberitahu dan mengkonsultasikannya dengan GATT. Pasal ini memberi hak atau pembenaran bagi suatu untuk menangguhkan kewajibannya berdasarkan GATT atau menarik atau memodifikasi sebagian atau seluruh konsesinya. (e) produk-produk yang berasal dari hasil kerja para narapidana. (f) perlindungan purbakala. Pasal baru ini dapat diterapkan apabila suatu produk impor masuk ke dalam suatu negara yang kehadiran jumlah produk tersebut telah mengakibatkan atau mengancam akan memukul secara serius produsen yang dalam negerinya. Pasal negara XIX mengatur tindakan sebagian darurat atau atas seluruh impor produk- produk tertentu.

Pasal XXXVII mengatur komitmen negara-negara (maju). Pasal dalam GATT. Pasal XXXVIII mengatur tindakan bersama oleh para anggota untuk membantu perdagangan negara sedang berkembang. Bagian keempat terdiri dari 3 pasal (Pasal XXXVI-XXXVIII) yang ditambahkan pada tahun 1965. dan tidak diterapkannya beberapa aturan GATT di antara anggotaanggota GATT tertentu (Pasal XXXV). batasan contracting parties (keanggotaan GATT) (Pasal XXXII). berupa status penerimaan (kondisi) dan berlakunya dari ketentuan bukan dan tarif tarif negara (Pasal XXVII).26 Pasal XXI GATT membenarkan suatu negara untuk menanggalkan kewajibannya exeption). kecuali ada alasan-alasan mendesak untuk tidak melaksanakan pasal ini. untuk memberikan bantuan ekonomi dan perdagangan kepada negara sedang berkembang. XXVI). hubungan antara GATT dengan Piagam Havana (Pasal XXIX). pasal XXXVI menyadari adanya kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara sedang Berkembang di bidang perdagangan internasional. Pasal XXVI sampai XXXV adalah pasal-pasal berisi tentang pemberlakuan GATT (Pasal anggota GATT. . Pasal XXIV mengatur XXII dan XXIII mengatur penyelesaian sengketa di berdasar GATT dengan alasan keamanan (security bagaimana customs union and free trade area dapat memanfaatkan pengecualian-pengecualian terhadap prinsip most-favored-nation. masuknya menjadi anggota GATT (Pasal XXXIV). ketentuan untuk perundingan perubahan-perubahan dalam daftar tarif (Pasal XXVIII). Bagian ketiga berisi 11 pasal. Pasal ini mengakui pula diperbolehkannya beberapa pengecualian (waiver) terhadap aturan GATT. penarikan atau pengunduran diri anggota dari GATT (Pasal XXXI). Pasal XXV menetapkan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh para pemerintah dari negara-negara anggota GATT. perubahan terhadap GATT (Pasal XXX).

Tujuan yang tersebut hanya akan dapat terealisasi apabila negara (berkembang) bersangkutan memahami aturan-aturan Pemahaman baik akan memungkinkan negara tersebut untuk dapat memanfaatkan aturan-aturan GATT bagi kepentingan perdagangannya. penting. Khususnya prinsip non-diskriminasi merupakan prinsip yang memang dapat diterima universal. meningkatkan pemanfaatan tampaknya sedang kekayaan telah bagi alam dunia. tujuan-tujuan yang baik di atas. . Aturan-aturan seimbang. tidak akan tercapai. Dari preambul GATT tersirat tujuan pentingnya. aturan dan yang para meningkatkan produksi dan tukar menukar barang. meningkatkan kesempatan kerja. GATT sebagai aturan perdagangan yang dibuat pada tahun 1947 ternyata masih relevan bahkan masih terus relevan untuk masa yang akan datang. Sebenarnya masalah utama dari adanya aturan GATT ini adalah bagaimana dapat memanfaatkannya. pesertanya. 24 Ketidak-tegasan pengaturan untuk kepentingan negara sedang berkembang sebenarnya juga adalah kelemahan dari aturan GATT itu sendiri. antara Bagi GATT hak negara memberi dan kewajiban negara-negara meskipun berkembang. Sebaliknya mengakibatkan kepentingan kekurang-pahaman pemanfaatan negara aturan-aturan aturan-aturan yang GATT tersebut akan bagi sulitnya perdagangan bersangkutan. Penutup Uraian di atas menyiratkan beberapa catatan berikut. Artinya.24 Tujuan yang penting itu menyiratkan satu hal GATT.27 F. khususnya bagi negara sedang berkembang. tetapi yang penting aturan khusus untuk negara sedang berkembang sudah ada. Aturan dan prinsip yang diaturnya memuat aturanaturan yang dapat diterima oleh hampir banyak negara (meskipun dari keanggotaannya masing-masing negara memiliki sistem hukum yang berbeda). yaitu meningkatkan taraf hidup umat manusia. aturannya tidak jelas dan tidak memberi ‘muatan’ yang jelas.

Seri Informasi Perdagangan Internasional no. Martinus Nijhoff Publishers. Jaenicke. Jackson. Meerghaeghe. 1993/1994.al. Law and Its Limitations in the GATT Multilateral Trade System. 14.G. et. dalam Bernhard (ed). institutions. No.. Publ.. 1987. 1995.A. WTO. International Economic Netherlands: Kluwer.: West. Jackson. Van..28 Daftar Pustaka Departemen Perdagangan RI. The Legal Problems of International Economic Relations. The Roots of the WTO. GATT dan Uruguay Round.St Paul Minn. 1996. Long.. John H. 1987. Olivier. Instalment 5 (1983). Encyclopedia of Public International Law. “General Agreement om Tariffs and Trade (1946). Gunther. The . M.

1995. Jakarta: PPM. Dalam transaksi dagang yang sifatnya terbatas di mana penjual dan pembeli berada dalam wilayah atau tempat yang sama. Pengantar Perdagangan internasional terwujud karena adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli yang mereka tuangkan dalam kontrak. 2. sistem pembiayaannya pun akan sangat berpengaruh terhadap kelancaran perdagangan internasional. 1 Hans Van Houtte. Para pihak mungkin kurang begitu saling kenal. pembayaran langsung. Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor. Amir M. 257. Di samping itu pula. dan penyerahan halnya dengan barang dapat dilakukan secara Lain perdagangan internasional. Domisili mereka berjauhan. Mereka juga acap kali memiliki praktek pembiayaan yang berbeda di masing-masing negara. Selain itu penjual juga berkepentingan agar pembayaran (proceeds atau dana hasil ekspor) dapat segera diterimanya tanpa harus menunggu berbulanbulan lamanya tatkala barangnya masih dalam perjalanan di kapal (in transit).BAB V LETTER OF CREDIT DALAM HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. Juli 2001. hlm. Edisi 2. Sistem pembayaran ini merupakan salah satu hal yang penting dalam transaksi perdagangan. Penjual berupaya dan berkepentingan untuk menguasai dan mengontrol barangnya sampai ia menerima harga yang disepakati dalam kontrak. sistem atau klausul pembayarannya. Di samping sistem pembayaran. The Law of International Trade.. pembeli terpisah oleh jarak yang jauh.1 perdagangan Internasional. Dalam kontrak ini biasanya mereka juga cantumkan bagaimana cara. terdapat kepentingan para pihak yang berbeda dalam perdagangan internasional.S. Karena itu pula dapat dinyatakan bahwa perdagangan Internasional akan lebih berjalan (kredit) lancar dengan tersedianya dalam fasilitas perdagangan dan penjual pembiayaan Dalam bagi jual-beli barang internasional. . London: Sweet and Maxwell.

Di pihak lain, pembeli berkepentingan untuk tidak segera membayar sejumlah uang yang dia janjikan sesuai kontrak selama ia belum memeriksa barangnya apakah sesuai dengan spesifikasi yang dicantumkan dalam kontrak, atau setidaknya ada bukti tertulis bahwa barangnya telah dikapalkan. Hal ini berarti menimbulkan kesulitan bagi penjual untuk menentukan asing. cara pembayaran juga bagi yang akan digunakan oleh pembeli untuk Demikian pembeli mengalami kesulitan

mempercayai reputasi dan integritas penjual asing. Dalam hal demikian, Bank memainkan peran penting yang dapat menjembatani kedua kepentingan yang berbeda antara penjual dan pembeli. Dalam hal ini Bank memberi jaminan kelaikan kredit sebagai jaminan untuk transaski jual beli barang tersebut. Peran bank ini tampak pula pada upayanya dalam mengembangkan sistem pembiayaan dan pembayaran selama bertahun-tahun lamanya dengan semakin meningkatnya permintaan kredit bagi perdagangan internasional.2

2

Hans Van Houtte, op.cit., hlm. 257.

B. Bentuk-bentuk Pembiayaan Perdagangan Internasional Disebutkan di atas bahwa Bank telah mengembangkan berbagai sistem pembiayaan sistem dalam yang perdagangan banyak internasional. tersebut, Di antara adalah berbagai cukup berikut

sistem-sistem yang umum digunakan: 1. Kredit berdokumen (Documentary Credit); 2. Kredit komersial jangka pendek, khusus (i) (ii) menengah dan panjang (Short, Medium and Long term commercial credit); 3. Bentuk-bentuk techniques), (Intenasional pembiayaan terutama: factoring); (Particular Forfaiting; financing dan (iii) factoring internasional

Leasing internasional (International leasing). 4. Jaminan Bank (Bank Guarantee atau Auotonomous Guarantee) Dalam bab ini, pembahasan hanya akan mengkonsentrasikan pada ad. 1 di atas, yaitu kredit berdokumen. Alasan utama dan alasan praktis adalah kredit berdokumen kredit ini lebih banyak ini
3

digunakan lama

(penting) dan telah lama mengalami perkembangan pengaturannya. Praktil menggunakan berdokumen telah dilakukan, khususnya sejak awal tahun 1700-an. Pengaturannya pun

telah berkembang lama. Ellinger menyatakan bahwa aturan mengenai kredit berdokujmen ini telah sedikit banyak mencapai harmoniasi dan keseragaman pengaturan.4

3

E.P. Ellinger, “Letters of Credit” dalam: Norbert Horn and Clive M. Schmitthoff (eds.), The Transnational Law of International Commercial Transactions, Deventer: Kluwer, 1982, hlm. 242. 4 E.P. Ellinger, op.cit., hlm. 271.

1. Kredit Berdokumen (Documentary Credit) a. Pendahuluan Di atas dikemukakan tentang beda kepentingan antara pembeli dan penjual. Pembeli (importir) tidak mau membayar sebelum ia memiliki barangnya dan memeriksa barangnya apakah barang tersebut sesuai dengan kontrak. Penjual (eksportir) juga tidak akan mengirim barangnya selama ia belum mendapat kepastian bahwa harga yang telah disepakati dalam kontrak dibayar. Karena jarak kedua pihak, praktek perdagangan yang mungkin berbeda dan mungkin saja satu sama lain tidak kenal, maka semua perbedaan ini dapat menjadi hambatan bagi perdagangan internasional. Namun dengan lahirnya sistem kredit berdokumen (documentary credits), yang juga dikenal dengan Letters of Credit (L/C), perbedaan-perbedaan itu dapat dijembatani. Kredit berdokumen ini terus berkembang. Sistem inilah yang paling banyak digunakan dan berperan penting sangat penting untuk membayar barang-barang dalam perdagangan internasional.5 Dalam kaitannya dengan perdagangan internasional, L/C

memainkan peran yang cukup penting. Pengadilan Inggris misalnya telah lama mengakui bahwa L/C adalah mekanisme pembayara yang paling penting dalam perdagangan internasional.6 Pengadilan Inggris memandang L/C sebagai “the life blood of international commerce.”7 Peran tersebut adalah: (1) memudahkan pelunasan pembayaran transaksi ekspor; (2) mengamankan dana yang disediakan importir untuk membayar barang impor;

5

Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM, Edisi 2, Juli 2001, hlm. 1 Ramlan Ginting, Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis, Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2000, hlm 1. (Ramlan Ginting menyebutkan pula bahwa L/C ini adalah primadona dalam pembayaran transaksi ekspor-impor. Dari sini tergambar bahwa L/C mempunyai fungsi sebagai suatu sistem pembayaran). 6 Chia-Jui Cheng (ed.), Clive M. Schmitthoff's Select Essays on International Trade Law, London: Martinus Nijhoff Publ., 1988, hlm. 574. 7 Chia-Jui Cheng (ed.), op.cit., hlm. 574.

(3) menjamin kelengkapan dokumen pengapalan.8 Karena itu tampak bahwa L/C merupakan jaminan atas pelunasan barang yang akan dikirim oleh penjual (eksportir). Jadi untuk kepentingan eksportir, L/C harus dibuka terlebih dahulu sebelum barang dikirim. Di pihak lain, pembukaan L/C merupakan jaminan pula bagi importir untuk memperoleh pengapalan barang secara utuh sesuai dengan kontrak. Sedangkan dana L/C tersebut tidak akan dicairkan tanpa penyerahan dokumen pengapalan. Dengan demikian L/C tampak sebagai suatu
9

instrumen lintas

yang

ditawarkan dalam

bank

devisa

untuk dagang

memudahkan

lalu

pembiayaan

transaksi

internasional.

Dari uraian di atas, tampak bahwa sangatlah wajar bila L/C kemudian menjadi lebih banyak disukai oleh para pihak, khususnya penjual dan pembeli dalam bertransaksi dagang secara lintas batas. Alasan utama para pedagang menyukai sistem ini, adalah karena adanya unsur janji bayar yang ada pada sistem ini.10 Ramlan Ginting menggambarkan sebagai berikut: “Penerima yang menjual barang kepada pemohon merasa aman dibayar dengan cara L/C karena adanya janji pembayaran dari bank penerbit kepadanya. Sebaliknya, pemohon juga merasa aman membeli barang dengan cara L/C karena akan menerima dokumen-dokumen yang dikehendakinya sebab pemenuhannya merupakan syarat pembayaran langsung.”11

8

Amir M.S., Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor, Jakarta: PPM, edisi 2, Juli 2001, hlm. 1; M. Rafiqul Islam, International Trade Law, Sydney: LBC, 1999, hlm. 340-341. 9 Amir M.S., op.cit., hlm. 2. 10 Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 18 11 Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 18

b. Batasan Hans van Houtte mendefinisikan kredit berdokumen ini sebagai berikut: "... an arrangement in which the bank, acting for and on behalf of the buyer (customer), undertakes to pay the seller (beneficiary) a sum of money or to accept a bill of exchange drawn by the seller, or to authorize another bank to do so on presentation by the seller of specified document and on condition that all other credit terms are met."12 Amir M.S. menggambarkan L/C sebagai berikut: "L/C adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan dan ditujukan kepada eksportir di luar negara yang menjadi relasi dari importir tersebut. Isi surat itu menyatakan bahwa eksportir penerma L/C diberi hak oleh importir untuk menarik wewel (surat perintah untuk melunasi utang) atas importir bersangkutan untuk sejumlah uang yang disebut dalam surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin untuk megnakseptir atau menghonorir wesel yang ditarik tersebut asal sesuai dan memenuhi semua syarat yang tercantum di dalam surat itu."13 UCP (Pasal 2 UCP 500) memberi definisi L/C sebagai berikut: "L/C adalah janji membayar dari bank penerbit kepada penerima yang pembayarannya hanya dapat dilakukan oleh bank penerbit jika penerima menyerahkan kepada bank penerbit dokumen-dokumen yang sesuai dengan persyaratan L/C.”14
12

Hans Van Houtte, 258. Definisi ini disarikan beliau dari batasan yang terdapat dalam Pasal 2 the Uniform Customs and Practice for Documentary Credits (UCP) yang berbunyi sebagai berikut: "Any arrangement, however named or described, whereby a bank (the Issuing Bank), acting at the request and on the instructions of a customer (the Applicant) or on its own behalf, (i) is to make a payment to or to the order of a third party (the Beneficiary), or is to accept and pay bills of exchange (draft(s)) drawn by the Beneficiary; or (ii) authorises another bank to effect such payment, or to accept and pay such bills of exchange (draft(s)); or (iii) authorises another bank to negotiate; against stipulated document(s), provided that the terms and conditions of the Credit are complied with." 13 Amir M.S., op.cit., 2001, hlm. 1. 14 Ramlan Ginting, Op.cit., hlm. 11 (Ramlan Ginting juga memberikan aneka definisi yang diberikan oleh para sarjana, op.cit., hlm. 11 dst. Teks inggris Pasal 2 UCP berbunyi: "For the purposes of these articles, the expressions "Documentary /credit(s)" and "Standby Letter(s) of Credit" (hereinafter referred to as "Credit(s)", means any arrangement, however, named or described, whereby a bank (the "issuing bank") acting

dokumen-dokumen atas tersebut barang. Packing and Weight List. dll. Polis/Sertifikat Asuransi serta Bill of Lading/Airway Bill (dokumen pengangkutan) atau dokumen pengangkutan lainnya. or ii. branches of a bank in different countries are considered another bank. maka seller (penjual) hanya berhak meminta pembayaran apabila dia sudah memenuhi semua syarat yang telah ditetapkan dalam Kredit Dokumenter tersebut. 15 Secara umum dokumen-dokumen itu antara lain: Commercial Invoice (Faktur Dagang). is to make a payment to or to the order of a third party (the "beneficiary") or is to accept and pay bills of exchange (Draft(s)) drawn by the Benficiary. (d) Karena pembayaran dilaksanakan mewakili bila dokumenmaka dokumen yang disyaratkan telah diserahkan. authorises another bank to effect such payment. yaitu Bank pembeli at the request and on the instructions of a customer (the "Applicant") or on its own behalf. maka pembayaran dan sudah tentu itu dilakukan atas nama Buyer (pembeli).Beberapa hal penting dari definisi di atas yaitu: (a) Bank yang memberikan jaminan pembayaran tersebut adalah bank yang menerbitkan Kredit Dokumenter L/C tersebut (bank penerbit atau Issuing Bank).15 (c) Karena Kredit Dokumenter (L/C) merupakan Jaminan bersyarat. provided that the terms and conditions of the Credit are complied with. berhubung jaminan tersebut adalah jaminan bersyarat. i. (khusus di Indonesia dengan penambahan LKP yang dikeluarkan SGS untuk impor dan ekspor barang-barang tertentu). or to accept and pay such bills of exchangge (Draft(s)). Certificate of Origin. Seller akan meminta dan pembayaran bukan mengandalkan kemampuan pemilikan barang-barang dikapalkan kesediaan Buyer (pembeli) untuk membayar. (e) Karena Kredit Dokumenter (L/C) merupakan jaminan bank. Namun sekalipun demikian. . authorises another bank to negotiate. yang penyerahan dokumen itu berarti memberikan hak kepada buyer (pembeli) tersebut. against stipulated document(s). Untuk kelancaran pembayaran atas dasar Kredit Berdokumen (L/C) diperlukan paling tidak dua buah bank. f. asuransi maupun pengangkutan. For the purpose of these Articles. maka segera setelah dari pengapalan Bank. or iii. (b) Dokumen-dokumen yang disyaratkan dapat berupa dokumen perdagangan ataupun dokumen yang diterbitkan instansi-instansi pemerintah. barang. seperti Certificate of Inspection.

.sebagai penerbit L/C (Issuing Bank atau bank penerbit) dan Bank penjual yang terletak di negara penjual itu sendiri.

15.. Kontrak penjualan tersebut biasanya mencantumkan pula bagaimana barang tersebut akan dikirim: apakah melalui darat. . op. hlm. meskipun untuk hal-hal yang terakhir ini lebih banyak digunakan Standby L/C atau Bank Garansi. Hans Van Houtte. 18 Ramlan Ginting. Dalam aplikasi L/C. Kredit konstruksi investasi. Namun demikian.18 Sifat independen L/C tampak pada aplikasi L/C dan realisasi pembayaran L/C.16 bentuk-bentuk berdokumen internasional Pasal 4 UCP juga dikeluarkan panjang untuk dan proyek-proyek proyek-proyek berdokumen ini jangka memberlakukan and/or kredit other terhadap bukan saja untuk barang tetapi juga terhadap jasa dan lainnya ('services performances'). dengan tidak adanya hubungan antara kontrak penjualan atau jual beli dengan L/C. op. Yang mendasari terbitnya sebuah L/C adalah kontrak jual beli atau sales contract yang sudah disepakati bersama dan kemudian disahkan dengan penandatanganan oleh masing-masing pihak antara penjual dan pembeli. hlm 259.cit.. bank penerbit (issuing bank) tidak meminta atau mensyaratkan diperlihatkannya kontrak penjualan dari pemohon (buyer atau pembeli). Dalam realisasi pembayaran L/C. sebagai suatu kontrak dan kontrak jual belinya sifatnya adalah terpisah atau independen. (Menurut van Houtte. laut atau udara. Kontrak Penjualan Sebagai Dasar Terbitnya L/C Persiapan yang harus ada untuk terbitnya kesepakatan antara Seller dan Buyer untuk L/C adalah dan membuat menandatangani sebuah sales contract (kontrak penjualan).cit. seorang nasabah (penjual) tidak dapat meminta bank penerbit untuk tidak melakukan pembayaran dengan alasan bahwa barang yang dikirim kepadanya tidak sesuai dengan kontrak). Hans van Houtte.. op. bank hanya memeriksa apakah dokumen-dokumen yang dipersyaratkan 16 17 Hans Van Houtte.c.. 257. dan pihak mana yang akan menutup asuransi.17 L/C kedudukan sendiri L/C adalah dokumen kontrak.cit. op. 258n.cit.

Consequently. . 15. 263 (menyebutkan ‘the principle of the autonomy of the L/C’. 19 20 Ramlan Ginting. the undertaking of a bank to pay. op. by their nature. even if any reference whatsoever to such contract(s) is included in the Credit. is not subject to claims or defences by the Applicant resulting from his relationships with the issuing bank or the beneficiary." (Huruf miring oleh penulis). Ellinger.19 Hal inilah yang disebut juga sebagai prinsip otonomi dari L/C. bukan denga barang-barang yang tercantum di dalamnya).. accept and pay Draft(s) or negotiate and/or to fulfill any other obligation under the Credit.20 Pasal 3 UCP 500 menegaskan sifat independen ini: "Credits. E.L/C telah terpenuhi. op. Prinsip ini didasarkan pada fakta bahwa bank lebih berkepentingan atau lebih peduli dengan dokumen-dokumen.cit. hlm.. hlm. are separate transactions from the sales or other contract(s) on which they may be based and banks are in no way concerned with or bound by such contract(s).P.cit.

4). (3) Bank penerbit (Opening Bank atau issuing bank) adalah bank yang membuka atau menerbitkan L/C (Bank pembeli). yakni: Perusahaan Pelayaran/Perkapalan.S. Penunjukan bank ini biasanya terjadi apabila antara eksportir dan importir tidak ada hubungan rekening untuk menyelesaikan pembayarannya. . op.21 Di antara para pihak tersebut di atas. Kesepakatan ini sudah barang tentu tunduk pada syarat yang ditetapkan oleh pihak bank. (2) Reimbursing Bank adalah Bank kepada siapa penagihan atas pengapalan barang dilakukan (bisa opening bank atau bank lain yang berfungsi sebagai imbursing bank).. pihak-phak lain yang dapat terkait adalah: (1) Negotiating Bank adalah Bank yang melakukan negosiasi atas draft (wesel) dan dokumen pengapalan milik seller (biasanya advising bank juga merupakan negotiating bank). Bea dan Cukai/Pabean. (3)Confirming Bank (bank pengkonfirmasi) adalah Bank yang diminta oleh bank untuk menambahkan konfirmasi pada L/C. Dalam hal ini biasanya bank mensyaratkan adanya jaminan dari nasabahnya.cit. bank mensyaratkan dokumen-dokumen pengapalan (bill of lading atau 21 Di samping 4 pihak tersebut di atas. hubungan hukum yang timbul adalah sebagai berikut: (1) Nasabah dengan Bank Nasabah atau disebut juga pemohon dengan banknya biasanya menandantangani kesepakatan atau perjanjian tentang permintaan penerbitan L/C. para pihak yang terlibat dalam pembukaan transaksi L/C adalah: (1) Applicant (buyer atau pembeli): adalah pihak yang meminta kepada sebuah bank untuk membuka L/C atas namanya (sebagai pembeli). Misalnya. (note 1). (2) Penerima (Beneficiary) adalah pihak yang disebutkan dalam L/C (sebagai penjual).d. Badan-badan penelitian lainnya. Badan-badan pemeriksa (perwakilan Sucofindo). (4) Bank penerus atau Advising Bank adalah Bank yang meneruskan L/C yang diterima dari opening bank kepada beneficiary (bisa Bank penjual). hlm. Perusahaan Asuransi. (4) Pihak lainnya yang tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan L/C. (Amir M. Hubungan Hukum antara Para Pihak dalam Transaksi L/C Pada umumnya. 3.

Cheng. Chia-Jui 24 Hans Van Houtte. menahan dokumendokumen ini sampai klien telah membayar. op.26 (3) Bank Penerbit dan Bank Penerus Hubungan hukum antara bank penerbit dan bank penerus seperti halnya antara seorang prinsipal dan agen. 263. misalnya hukum Belgia dan Belanda.cit.. hlm. Jika bank penerbit 22 23 telah membayar sejumlah uang kepada penerima sesuai Hans Van Houtte. op.. op. op. op. op. Eksportir atau maka dalam hal demikian itu prestasi tersebut harus diperlihatkan bahwa penerima menerima usulan tersebut. Perbedaan dalam sistem hukum ini menjadi penting dalam praktek. 25 Hans Van Houtte.cit. hlm. 264. Sedangkan menurut negara dengan sistem hukum Civil. Bank. Common Law hukum (misalnya antara 24 hukum bank Inggris penerbit dan dan hubungan penerima termuat dalam kontrak (kontraktual). hlm.25 Jika telah prestasi bank bersifat kontraktual. L/C di dalamnya mengandung persyaratan dari Bank untuk membayar atau menerima atau menegosiasikan suatu bill of exchange segera setelah dokumen L/C yang dipersyaratkan tanggal dalam jatuh 23 kontrak dan dasar tempat diperlihatkan.. 582. Misalnya. 264. lihat hlm. op.cit. 581.. 581. hukum nasional negara-negara berbeda mengenai hubungan hukum antara bank penerbit dan penerima ini.cit. penjual dapat mengajukan gugatan terhadap bank penerbit berasarkan L/C.cit. menetapkan tempo untuk mengajukan dokumen untuk pembayaran.. Chia-Jui Hans Van Houtte.. hubungan hukum tersebut tampak pada kehendak tegas dari para pihak.konosemen). op.. Dalam hal ini. Dalam hal ini bank penerbit bertindak atas nama dan untuk bank penerbit. Dalam hal ini ia berhak atas pembayaran jika ia telah memenuhi syaratsyarat dalam L/C. 264. 88-89. Chia-Jui Cheng. jika menurutnya diperlukan..cit.22 (2) Bank Penerbit dan Penerima Bank penerbit menandatangani L/C untuk kepentingan penjual. .cit. 26 Hans Van Houtte. 263. op. menurut Amerika negara-negara Serikat). Cheng. pula Ramlan Ginting..cit.cit.

. yang atau telah oleh menerima suatu bill of exchange penerima. 264. op.28 (5) Bank Penerbit dan Bank Pengkonfirmasi Jika bank lain menjadi Confirming Bank (Bank Pengkonfirmasi). . lihat pula Ramlan Ginting. maka ia berhak atas ditarik pembayaran dari bank penerbit.cit.cit..29 27 Hans Van Houtte. op.cit.dengan (wesel) mandatnya.. op. 264. 264.cit.cit.. Karenanya.27 (4) Penerima dan Bank Penerus Terhadap penerima. 92. maka ia bersama-sama dengan bank penerbit bertanggung jawab untuk membayar suatu bill of exchange. lihat pula Ramlan Ginting. hlm. 29 Hans Van Houtte. op. hlm. penerima tidak berhak untuk menggugat bank penerbit. yakni bank yang turut menjamin pembayaran L/C.. bank penerus seolah-olah bertindak sebagai agen dari bank penerbit. 89. op. 28 Hans Van Houtte.

Aplikasi (Application) Segera setelah penjual dan pembeli menandatangani kontrak penjualan. Dalam kontrak tersebut memuat kesepakatan bahwa transaksi akan diselesaikan dengan Letter of Credit (L/C). Pembukaan L/C 1). dan sebagainya. baik jenis maupun jumlahnya. Data-data terdiri dari: (1) Nama dan alamat Beneficiary. (3) Nilai L/C yang dibuka dengan shipping terms yang talah yang harus tercantum dalam formulir aplikasi disetujui (FOB/CIF/C&F). (5) Syarat pembayaran (Sight/Usance). (2) Nama dan alamat pembeli/pemohon. (7) Dokumen-dokumen yang diperlukan. 2) Pembukaan/Penerbitan L/C (Opening/Issuing of the Credit) Atas dasar aplikasi pembukaan L/C yang telah disetujui. (13) Cara penyampaian L/C lewat surat atau teleks. Ketentuan-ketentuan ditambahkan oleh bank penerbit tersebut umumnya terdiri dari: . (9) Tanggal pengapalan terakhir. maka pembeli akan meminta kepada banknya untuk membuka L/C. (12) Ketentuan-ketentuan khusus yang diperlukan (misalnya: boleh tidaknya penggantian kapal. atau boleh tidaknya pengapalan sebagian). (6) Uraian barang. (4) Jenis L/C (Revocable/Irrevocable). (8) Masa berlakunya L/C (Validity of the Credit) dengan menetapkan “expire date”. (11) Persyaratan barang yang harus dikirim oleh penjual. membuka yang dan isinya menerbitkan sesuai yang L/C yang dengan ditujukan apa yang kepada telah benar tercantum pada formulir aplikasi. (10) Pelabuhan bongkar muat.e. bank penerbit penerima.

ke mana dan berapa kali pengiriman. (3) ketentuan-ketentuan tentang endorsement terhadap dokumendokumen yang negotiable seperti B/L. 3) Syarat-syarat L/C L/C yang dibuka oleh suatu bank harus memenuhi syarat-syarat umum yaitu: (1) Menyebutkan nama dan alamat penerima dan pemohon dengan jelas. Draft dan sebagainya. (2) jangka waktu penyerahan dokumen. (2) Menyebutkan masa berlakunya L/C. (5) ketentuan pengiriman dokumen. dan (7) Menyatakan bahwa L/C tunduk pada UCPDC dengan mencantumkan klausul yang berbunyi: “This credit is subject to Uniform Costums and Practice for Documentary Credit 1993 revision.. (4) Mencantumkan dengan tegas jenis L/C. ICC Publication 500. (6) Ketentuan-ketentuan atau syarat-syarat dalam L/C harus jelas tidak berbelit-belit dan tidak mensyaratkan hal-hal yang tidak mungkin dipenuhi oleh penerima (beneficiary).(1) Syarat pengapalan. seperti: larangan terhadap penggunaan kapal-kapal berbendera negara tertentu. (3) mencantumkan nama bank penerus (advising bank) yang dituju. (5) Uraian barang harus jelas dan tegas.” . (4) reimbursement instruction (perintah kepada negotiating bank untuk penagihan terhadapnya).

f. maka hukum yang dipilih para pihaklah yang akan berlaku terhadap kontrak. Ada keinginan berdokumen itu tercipta adanya suatu keseragaman hukum. hlm. ada juga negara-negara yang mengeluarkan hukumnya demikian.). dan (2) The Uniform Customs and Practice berikut adalah yang biasanya berlaku dalam Chia-Jui Cheng (ed.cit. jika kesepakatan atau perjanjian kredit memuat klausul pilihan hukum. 574 (Schmitthoff menggambarkan hukum nasional Inggris tentang L/C. Aturan Hukum Yang Berlaku (Applicable Rules) Kredit berdokumen digunakan untuk membiayai transaksi perdagangan internasional. sendiri dapat guna saja mengatur antara Kredit Dokumenter.. dengan juga Salah mengacu satu pemecahan yang acapkali hukum mengatur ditempuh perdata kredit kepada agar prinsip-prinsip hukum yang internasional yang relevan dalam mengatur L/C. Salah satu upaya ke arah unifikasi hukum tersebut adalah lahirnya UCP oleh ICC. suatu pemecahan atau jalan keluar perlu adalah ditempuh. Di samping itu. op. Karena itu masalah hukum apa yang akan mengaturnya merupakan salah satu persoalan yang penting. prinsip-prinsip praktek: (a) Dalam hubungan antara nasabah dan bank penerbit (the issuing bank). Berdasarkan kredit (UCP). yakni Section 72 dari the Bills of Exchange Act 1882). Menurut van Houtte. aturan hukum yang mengatur Hukum berdokumen adalah: (1) Ketentuan-ketentuan Perdata Internasional. 30 uraian ini di atas. . Dalam hal hukum nasional suatu negara akan menjadi konflik dengan hukum nasional negara lainnya.31 (1) Hukum Perdata Internasional Hukum yang berlaku terhadap L/C sebenarnya harus dibedakan dengan hukum yang berlaku terhadap kontrak induk (yakni kontrak penjualan yang menjadi dasar lahirnya L/C).30 Guna mencegah agar konflik tersebut tidak menjadi hambatan bagi perdagangan internasional.

. 25.cit.cit.cit.cit. bank penerus (the maka 33 adivising hukum yang bank) berlaku dan penerima hukum (the yang beneficiary). maka hubungan antara bank penerbit (the issuing bank) dan bank penerus (the advising bank) diatur oleh hukum di mana bank penerbit (advising bank) berada (didirikan). hlm. maka hukum yang berlaku adallah hukum di negara di mana kredit tersebut dicairkan. 580. op. op. Rafiqul Islam. op... Di negara-negara Common Law. 265. 34 Hans Van Houtte. hlm. Hans Van Houtte... 25. penerapan hukum perdata internasional menunjukkan bahwa dalam hubungan hukum antar para pemohon (nasabah) dengan bank penerbit prinsip hukum perdata interansional yang akan diterapkan adalah the law of the closest connection and most real connection (Chia-Jui Cheng (ed. dipilih mereka.cit. 350 (mengaskan bahwa “. Lihat pula Ramlan Ginting. op. Hal ini biasanya berlaku terhadap hubungan antara bank penerus (the advising bank) dan penerima (the beneficiary). adalah Bila tidak ada hukum yang dipilih. Sulit untuk diterima bila sistem hukum yang berbeda diterapkan terhadap dua aspek dari satu atau transaksi yang sama. maka hubungan hukum antara nasabah dan bank penerbit (the issuing bank) pada umumnya diatur oleh hukum di negara di mana 'the most characteristic performance' pihak (pelaksanaan performance kontrak (prestasi) yang berdomisi.. 265..32 (b) dalam hal kaitannya antara bank penerbit (the issuing bank).cit. hlm.34 (c) Jika tidak ada hukum yang dipilih oleh bank.).cit. .. Hans Van Houtte. op. the parties to the underlying transaction specify a choice of law and forum and submit themselves to the law and jurisdictions of that country in the case of a dispute”). op. atau di mana melaksanakan biasanya negara di mana bank yang memberikan kredit berada. yaitu biasanya negara dari bank penerus (the adivising bank) atau bank pengkonfirmasi (confirming bank).35 31 32 Ramlan Ginting. 264.Bila tidak ada hukum yang dipilih. 33 M. op.. paling yaitu berkarakteristik) adalah yang akan digunakan. Hal ini adalah hukum di (negara) mana penerima (beneficiary) atau penjual menerima dokumen dan menerima pembayaran.

G.P. E. yaitu ketika dilangsungkannya the New American Commercial Credit Conference di New York pada tahun 1920.seqq.cit. op. D. Kogan Page..cit. 37 Ellinger mengungkapkan bahwa praktik awal penggunaan kredit berdokumen in bermula pada praktik perbankan Amerika Serikat.seq. Rafiqul Islam. UCP mengalami beberapa kali revisi. perkembangan teknik dan perkembangan di bidang pengangkutan. 1997. (E. ICC Publication No 500 1993 Revision. 1962. Dalam dokumen L/C mereka mencantumkan klausul berbunyi: "This credit is subject to Uniform Custems and practice for Documentary Credit.cit. op..(2) Uniform Customs and Practice36 International Chamber of Commerce (ICC) yaitu Kamar Dagang International telah menerbitkan ketentuan mengenai kredit berdokumen."38 UCP 500 memuat ketentuan-ketentuan dan penjelasan penjelasan tentang Kredit Dokumenter (L/C). M. E..37 ICC untuk pertama kali menerbitkan UCP pada tahun 1933. C. 248). op. Ellinger." dalam Jonathan Reuvid (ed.cit. B. 35 36 Han van Houte. 1974. hlm. Aturan-aturan yang termuat di dalamnya merupakan kodifikasi dari praktek-praktek perdagangan internasional dan praktek perbankan. Strategic Guide to International Trade.. yang dikelompokkan ke dalam sub bagian berikut: A. George Curmi. F. Ellinger. "Documentary Credits and Their Administration. UCP terdiri dari 49 pasal. hlm. Lihat antara lain. General provisions and definitions Form and notification of credits Liabilities and responsibilities Documents Miscellaneuous provisions Transferable credits Assignment of proceeds. 248 et.). hlm. bank-bank pada umumnya di lebih dari 170 negara telah menundukkan diri kepada UCP. 133 et. hlm. Ketentuan tersebut yakni Uniform Customs and Practice for Documentary Credit (UCPDC).. 38 Sesuai dengan bunyi ketentuan pasal 1 UCP. hlm. 350-351. 265.P. 1983 dan terakhir 1993 (UCP DC No 500 tahun 1993 yang berlaku mulai tanggal 1 Januari 1994). Dalam pelaksanaan Kredit Dokumenter. op. Revisi dilakukan pada tahun 1951. .. Revisi ini dilakukan untuk mengakomodasi perkembangan teknologi.

. op. 449..40 Dalam kaitan ini Ellinger menyatakan bahwa: “.). Lihat pula Clive M.P. 252-253. 3. Disebutkan di atas. London: Blackstone.. 42 Ramlan Ginting. beberapa manakala Bahkan aturan mereka kesepakatan dapat mengenyampingkan dapat terjadi beranggapan bahwa aturan tertentu dari UCP tidak sesuai dengan keinginan mereka. as being applicable by reason of its incorporation in documentary credit transaction.. memuat Dalam terjadinya mengenai penyelesaiannya. ketentuan Kesepakatan para dari pihak UCP. The Law of International Trade.Aturan-turan UCP sifat atau kekuatan hukumnya semata-mata mengatur. unsur penipuan ini merupakan alasan hukum kuasanya untuk menolak melakukan pembayaran L/C kepada penerima meskipun semua dokumen yang disyaratkan sesuai dengan persyaratan.cit. UCP sendiri memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: (1) UCP pada prinsipnya akan berlaku hanya atau sepanjang bank penerbit mencantumkan atau memilih UCP secara tegas sebagai aturan yang mengatur L/C.. Menurut Ginting.cit. constitute a contractual document and would not enjoy the status of a set of norms consecreated by usage. hlm. 41 E.cit. hlm. Ellinger. 39 Ademuni-Odeke. op. hlm. pun UCP kadang kredit tidak kala memiliki aturan aturan hal tegas nasional mengatur berdokumen.. it would appear advisable to regard the Code . para Hal pihak ini masih tetap berlaku.42 (3) UCP tidak memuat aturan mengenai pilihan hukum. hukum bahwa negara-negara yang konflik hukum.39 Meskipun UCP telah diimplementasikan di banyak negara...seq. op. 271. “The New Uniform Customs for Letters of Credit. lihat pula E.. hlm. 1999. the UCP is subject to the express terms of the credit"). 40 Lihat pasal 1 UCP. thus. (mengungkapkan kekuatan mengikat UCP di berbagai negara yang ternyata berbeda-beda)..”41 (2) UCP bagi tidak bank mengatur penerbit masalah atau penipuan dalam transaksi L/C. 251 et.” dalam: Chia-Jui Chen (ed.cit. Ellinger.. Schmitthoff.P. (Beliau menegaskan bahwa ". op. hlm. It would.

.

taken up documents which ii. Hal ini antara lain karena sifatnya.cit. Ramlan Ginting. L/C Bank penerima penerima L/C dan (negotiating sebelum dapat ia bank) yang telah adanya cara kepada diberitahu dengan pembatalan sepihak dari penerbit.” Dalam hal ini. Pembayaran dilakukan pembayaran secara unjuk (sight payment). acceptance or negotiation – for any payment. Klasifikasi L/C (1). negosiasi (negotiation). acceptance or negotiation made by such bank – prior to receipt by it of notice of amendment or cancellation against documents which appear on their face to be in compliance with the terms and conditions of the Credit.. reimburse another bank with which a revocable Credit has been made available for deferred payment. 36. Pasal 6 (b) UCP. prior to receipt by it of notice of amndment or cancellation. Ia menanggung resiko yang tidak ringan.. if such a bank has. kedudukan penerima lemah. Jenis-jenis L/C. ia tetap berhak atas pembayaran penerbit.43 Menurut UCP. (1) Revocable L/C Jenis L/C dapat berupa Irrevocable L/C dan Revocable L/C. pembayaan kemudian (deferred payment). . 43 44 45 Pasal 6 (a) UCP. akseptasi (acceptance).45 Pasal 8 UCP menyatakan: “..g. hlm.the Issuing Bank must: i.44 Revocable L/C adalah L/C yang dapat diubah atau dibatalkan oleh penerbit or secara sepihak by the tanpa Issuing persetujuan Bank at any dari pihak and penerima. reimburse another bank with which revocable Credit has been made available for sight payment. maka L/C tersebut tiba-tiba dibatalkan atau diubah oleh penerbit. Namun demikian UCP tetap melindungi penerima (bank penerima) yang beritikad membayar dari baik. para pihak harus menegaska apakah suatu L/C adalah Revocable atau Irrevocable. Pasal 8 UCP menyatakan: “A revocable credit may be amended cancelled moment without prior notice to the Beneficiary. op.

appear on their face to be in compliance with the terms and conditions of the Credit. .

46 Contoh klausul Irrevocable L/C memuat ketentuan atau bunyi klausul berikut: “We undertake to honour such drafts on presentation provided that they are drawn and presented in conformity with the terms of this credit.”47 Irrevocable L/C adalah L/C yang tidak dapat dibatalkan atau diubah secara sepihak tanpa persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi L/C yaitu penerima dan bank penerbit. Ademuni-Odeke. op. Tiap-tiap perubahan harus ada persetujuannya. 46 47 Pasal 6 (c) UCP. hlm. . penerima maka dan jenis bank L/C ini yang paling yang disukai (bank penerima menyediakan kredit ekspor). Dalam hal tidak ada penegasan tersebut. maka suatu L/C dianggap sebagai Irrevocable L/C. 277. Karena sifatnya yang tidak dapat banyak diubah secara oleh sepihak.(2) Irrevocable L/C Disebutkan di atas bahwa para pihak harus menegaskan jenis L/C-nya..cit. Kedudukan penerima lebih terjamin dari risiko.

sebelum L/C diserahkan kepada penerima. maka ia akan menambahkan konfirmasinya dalam L/C. Dengan adanya permohonan korfirmasi tersebut. maka bank pengkonfirmasi akan membayar barang yang telah dikapalkan. Tampak bahwa jenis L/C ini memberi kepastian jaminan kepada penerima. Dalam hal ini bank pengkonfirmasi turut menjamin kewajiban bank penerbit dengan memberikan konfirmassi atau janjinya untuk membayar L/C. Permintaan demikian demikian biasanya dituliskan dengan kata-kata sebagai berikut dalam L/C: “Please advice beneficiary with adding your confirmation”.(3) Irrevocable Confirmed L/C Jenis mendapatkan L/C adalah Irrevocable bank apabila L/C tersebut konfirmasi sebuah pengkonfirmasi (Confirming Bank). dan jika bank yang diminta confirm L/C tersebut menyepakatinya. Yang dapat menjadi bank pengkonfirmasi bisa bank penerus atau bank lain yang diminta oleh bank penerbit. . Jika bank penerbit tidak melakukan pembayaran atas barang yang dikapalkan.

Atas pembayaran bank) yang segera dilakukan. melakukan pada maka bank penegosiasi (negotiating segera pula penagihan/reimbursement saat menerima dokumenpengapalan diperlukan disertai kepada bank penerbit (opening/issuing bank). . Bank penerbit akan melakukan pembayaran dokumen tersebut.(4) Sight (Payment) L/C Jenis Sight L/C (Payment L/C) adalah L/C yang pembayaranya dilakukan secara tunai segera setelah dokumen-dokumen yang disyaratkan diajukan atau diserahkan. maka dia dapat langsung minta pembayaran kepada negotiating yang bank dengan menyerahkan dengan dokoumen-dokumen wesel/draf-nya. Setelah penerima mengapalkan barang.

Acceptance L/C merupakan pemberian kredit kepada pembeli oleh penjual sebab pembeli di luar negeri akan menerima barangbarang tanpa melakukan pembayaran pada saat yang sama melainkan pada jangka waktu tertentu sesuai dengan yang ditetapkan dalam L/C. .(5) Acceptance L/C Jenis Acceptance L/C atau L/C berjangka adalah L/C yang pembayarannya dilakukan pada suatu jangka waktu tertentu setelah wesel diunjukan atau setelah barang dikapalkan.

Ramlan Ginting. op. 52 Masukan dari Sdr. dalam hal adanya default (non-performance). jenis L/C ini adalah “bahwa bank penerbit bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya dalam hal pemohon wanprestasi.. pencairan dana langsung dilaksanakan oleh Bank berdasarkan klaim yang diterima. 134.. 51 George Curmi. Cf. Jenis ini cenderung digunakan di wilayah suatu negara di mana isu jaminan itu tidak dimungkinkan atau tidak dibolehkan. Di samping itu. Bentuk Khusus Kredit Berdokumen (1) Standby L/C Jenis Standby L/C lebih dikenal sebagai alat atau sarana penjamin. 50.cit. Pitman..P.cit. 50. op. Ellinger menyatakan bahwa standby credit ini “. op. Jenis L/C ini acapkali disebut pula sebagai Guarantee L/C. hlm. bank penerbit garansi bank baru mencairkan dana atau membayar penerima (beneficiary) setelah berhasil dibuktikan adanya default (non performance).”49 Perlu pula dinyatakan di sini bahwa Standby L/C dalam hal tertentu berbeda dengan bank guarantee (garansi bank).cit.50 Yang membedakan jenis L/C ini dengan jaminan bank adalah bahwa Standby L/C tunduk pada UCP.2. 50 Ramlan Ginting. . Menurut Ginting. hlm. Ellinger.. 247).. hlm.cit.52 48 49 George Curmi..cit. is furnished at the instruction of the seller to protect the buyer if the goods turn out to be faulty” (E. Sedangkan pada bank garansi... 134. op.48 Jenis L/C ini dimaksudkan untuk melindungi penerima jika pihak lainnya wanresptasi (berdasarkan kontrak). hlm. 23 Oktober 2004.51 Sedangkan Bank garansi tunduk pada hukum nasional. hlm. op. Perbedaan tersebut Standby L/C merupakan kewajiban utama dari bank penerbit.

54 Jenis menyatakan: “A transferable Credit is a Credit under which the Beneficiary (First Beneficiary) may request the bank authorised to pay..53 Dalam hal ini penerima 1 hanya dapat mengajukan permohonan.cit. the bank specifically authorised in the Credit as a Transferring Bank. incur a deferred payment undertaking.” L/C ini diatur dalam pasal 48 UCP. Kredit yang dialihkan dapat seluruh atau sebagiannya.cit.. Ia tidak dapat memerintah bank-nya untuk mengalihkan kredit. George Curmi. 133. accept or negotiate (the “Transferring Bank” or in the case of a freely negotiable Credit. hlm. op. 134. Pasal ini 53 54 George Curmi. op. .(2) Transferable L/C Transferable L/C adalah jenis L/C yang dapat dialihkan dari penerima I kepada satu atau lebih penerima lainnya. to make the Credit available in whole or in part to one or more other Beneficiary(ies) (Second Beneficiary(ies)). Keputusan untuk mengahlihkan atau tidak tetap berada pada keputusan bank penerus (atau bank pengkonfirmasi). hlm.

tanpa melihat syarat dan ketentuan yang ada pada L/C induknya (Master L/C)... hlm. 47. L/C Induk memiliki jatuh 55 tempo yang lebih lama dibandingkan jatuh tempo L/C anak. hlm. L/C induk lainnya relatif lebih besar daripada L/C anak. .56 55 56 Ramlan Ginting. 134. George Curmi. op. Jenis L/C ini lebih banyak digunakan jika kredit yang ditransfer tidak dapat digunakan karena berbagai alasan. meskipun persyaratannya sama. Yang berbeda adalah nilai L/C dan tanggal jatuh tempo L/C. Dalam L/C back to Back penerima I semata-mata bertindak sebagai pemohon. Kewajiban penerima II adalah memenuhi ketentuan-ketentuan sesuai dengan yang ditetapkan dalam Back to Back L/C.(3) Back to Back L/C Back to Back L/C adalah L/C yang dibuka oleh penerima I dari sebuah L/C kepada penerima lainnya. L/C induk (Master L/C) dan L/C anak (Baby L/C). op. Misalnya adanya perbedaan dalam nilai mata uang pembelian dan nilai mata uang penjualan barang dan dokumen-dokumen pengapalan barang yang harus diubah atau diganti.cit.cit. Ia bertanggung jawab penuh terhadap pembayarannya kepada penerima II. Di dalam jenis ini. L/C induk dan L/C anak masing-masing terpisah. transaksi L/C melibatkan dua L/C.

134.. [FIND PLS]. sisa direalisasi dihapus. sisa semula L/C bila untuk nilai L/C L/C tidak akan tidak periode direalisasi ditambahkan berikutnya.cit. hlm. Dalam hal Revolving dengan Dalam L/C kumulatif. op.. op. hlm. tanpa harus memasukkan permohonan penerbitan L/C baru atau memohon perubahan terhadap L/C.S. Amir M.57 Revolving L/C dapat bersifat Kummulatif atau Non-kummulatif. dan untuk masa berlaku/ periode berikutnya adalah sebesar nilai L/C semula.(4) Revolving L/C Revolving L/C adalah L/C yang secara otomatis berlaku secara berulang-ulang oleh penerima dalam jumlah tertentu selama jangka waktu tertentu. ..58 57 58 Lihat pula George Curmi. seluruhnya.cit. nilai hal maka nilai tersebut yang pengapalan L/C Non-kummulatif.

op. Klausul Red Clause yang dicantumkan dan dicetak dengan “warna merah” (red clause) yang muka. 30 % atau 40 % dari nilai barang.(5) Red Clause L/C Red Clause L/C adalah jenis L/C yang dibayar di muka setelah terpenuhinya syarat-syarat tertentu.cit. . 134). hlm. 134. Misalnya saja.cit. Kedua jenis L/C ini pada prinsipnya adalah sama. biasanya bank mensyaratkan dokumendokumen tambahan yang membuktikan lebih kuat adanya barang yang diperjual-belikan. Misalnya.. isinya 60 memungkinkan penerima menarik pembayaran L/C di 59 George Curmi.. dengan diperlihatkannya tanda terima yang sederhana (yang ada). op.cit. Hanya dalam Green Clause. invoice dan dokumen pengapalan. dsb. (George Curmi. 60 Ramlan Ginting.. misalnya. hlm. tanda terima gudang barang. 47. op. hlm. Nilai pembayaran di muka ini dinyatakan dalam L/C. Jenis yang sama dengan Red Clause L/C adalah Green Clause L/C.59 Jenis L/C ini memuat klausul khusus yang memberi wewenang kepada bank penerus (advising bank) untuk melakukan pembayaran sejumlah uang muka kepada penerima sebelum dokumen-dokumen diserahkan atau pun sebelum barang dikapalkan.

Penutup Dari berikut: (1) Kredit berdokumen yang (L/C) merupakan praktek salah satu instrumen sangat pembayaran lahir dari kebiasaan yang uraian di atas dapat dikemukakan beberapa catatan dibutuhkan oleh para pihak (penjual dan pembeli). indikasi mengapa dalam hukum perdagangan internasional bank dipandang pula sebagai salah satu subyek hukum yang cukup penting. Namun khusus untuk UCP ini.supra. meskipun hukum. Dengan sifatnya ini. maka seyogyanyalah badan peradilan menghormati kehendak para pihak tersebut terhadap aturan-aturan UCP yang mengikat mereka. ketidakabsahan suatu kontrak penjualan tidak mengakibatkan tidak sahnya pembayaran yang dilakukan melalui L/C. UCP pun sebenarnya adalah instrumen hukum yang lahir karena kebiasaan dagang. khususnya prinsip kebebasan para pihak.61 (3) Sebagai sarana pembayaran.C. maka sebenarnya kebiasaan tersebut adalah hukum. ini mengenai subyek hukum perdagangan . (2) Kredit berdokumen merupakan salah satu instrumen yang lahir karena peran perbankan dalam Peran memfasilitasi inilah yang transaksi menjadikan perdagangan internasional. (5) Yang mungkin UCP. dapat pula menjadi masalah adalah hukum bagaimana posisi badan peradilan terhadap penundukan diri para pihak terhadap Sesuai dengan prinsip perdagangan internasional. salah satu keunikan dari L/C ini adalah sifatnya yang independen atau terlepas dari kontrak penjualan. 61 Lihat Bab 2 buku internasional. tetapi masih perlu adanya penegasan dari para pihak untuk menundukkan dirinya secara tegas pada UCP. (4) Yang dapat menjadi masalah dalam L/C ini adalah kekuatan hukumnya. khususnya aturan-aturan L/C yang tercantum dalam UCPDC (UCP). Kebiasaan dagang yang dilakukan terus menerus dan kemudian adanya perasaan atau anggapan bahwa kebiasaan tersebut mengikat.

Schmitthoff's Select Essays on International Trade Law. The Law of International Trade. The Law of International Trade.S. London: Martinus Nijhoff Publ. Schmitthoff (eds.P. Islam. Membiayai Perdagangan Ekspor Impor: International Trade Financing. ‘Letter of Credit. "Demand Guarantees and Contracts Bonds. Sydney: LDC. Kogan Page. Bugeja.. 1995. Siswanto Sutojo. E. "Trade Finance and Its Sources. 1999.). 2001. . London: Blackstone. Chia-Jui Cheng (ed. 1988. Letter of Credit: Dalam Bisnis Ekspor Impor. Seri Manajemen No. Clive M. The Strategic Guide to International Trade. The Strategic Guide to International Trade. Edisi 2. 1997. Curmi. Kogan Page. Amir M." dalam: Jonathan Reuvid (ed. John. Ramlan Ginting. Letter of Credit: Tinjauan Aspek Hukum dan Bisnis. International Trade Law.. Hans. Juli 2001. Ellinger.)." dalam: Jonathan Reuvid (ed. 1982.)..). 1997. 3. George.. 1999. London: Sweet and Maxwell. Jakarta: PT Damar Mulia Pustaka. Jakarta: PPM. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. The Transnational Law of International Commercial Transactions.’ dalam: Norbert Horn and Clive M. Rafiqul M. Van Houtte.DAFTAR PUSTAKA Ademuni-Odeke. 2000. Deventer: Kluwer.

2 Abu Bakar Munir. 3 Definisi UNCITRAL. 4 EDI mulai digunakan di Amerika Serikat pada akhir tahun 1960-an. 1999. 1982. Hanya 5 % dari perusahaan-perusahaan di dunia yang menggunakan EDI.2 Batasan elektronik dan e-commerce cara-cara adalah komunikasi transaksi-transaksi lainnya. the history of technology”). Pengaruh tersebut dewasa ini semakin nyata dengan lahirnya e-commerce (electronic commerce). hlm. Perkembangan ini cukup signifikan antara lain tampak dari kuantitas transaksi melalui sarana ini. teknologi tidak terlepas dari upaya tersebut. et.cit. salah seorang kurun pimpinan 30 perusahaan tahun. 2001. Assafa Endeshaw.3 Pertukaran dalam data perdagangan internasional yang dilakukan melalui pertukaran data elektronik tersebut dilakukan melalui berbagai teknologi. Cyber Law: Policies and Challenges. dalam Resolusi Majelis Umum-PBB. Internet and E-commerce Law.cit. bahwa “the history of mankind is also a history of the development of artefacts. Perkembangan internet ini 1 Cf. hlm.. Perkembangan aturan-aturan perdagangan juga tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Salah satunya adalah melalui electronic data interchange (EDI). Pengantar Perkembangan terlepas dari perdagangan internasional 1 tidak akan dalam pernah upaya perkembangan teknologi. dari menyatakan bahwa dalam kepada waktu transaksi penjualan konsumen akan dilakukan melalui e-commerce. Singapore: Prentice Hall. op.1 BAB VI E-COMMERCE MENURUT UNCITRAL MODEL LAW ON ELECTRONIC COMMERCE 1996 A. 51/162 (“transactions in international trade which are carried out by means of electonic data interchange and other means of communications”). (Abu Bakar Munir. Hong Kong: Butterworths Asia. 243.seq. hlm.4 Perkembangan e-commerce mulai berkembang secara signifikan ketika internet mulai diperkenalkan. op. 3 (mengutip Nathan Rosenberg. Karenanya bangsa-bangsa mencapai kemakmuran. Malaysia. .. Singapore. 30 % Microsoft. Sistem ini menghemat biaya. waktu dan kertas. 205. Namun penggunaan EDI kurang begitu populer.. 205). hlm. John Nielson. Assafa Endeshaw.

.cit. International Trade Law.cit. Dengan internet batas-batas wilayah negara dalam melakukan transkasi perdagangan dagang melalui menjadi internet tidak lagi 5 signifikan. pada sarana itu (teknologi) kurang Karena transaksi secara e-commerce ini keamanannya belum atau tidak begitu dapat diandalkan.2 mendorong transaksi-transaksi perdagangan internasional semakin cepat. 7 Rafiqul Islam. hlm. op.. op. dan (4) masalah non-repudiation. 205. (5) memperkecil masalah-masalah sebagai akibat perbedaan budaya. Transaksi berikut: melalui e-commerce ini memiliki beberapa ciri (1) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak memasuki pasar global secara cepat tanpa dirintangi oleh batas-batas negara. Abu Bakar Munir. (3) transaksi melalui yang e-commerce keandalannya sangat bergantung dijamin. 5 6 Abu Bakar Munir. London: LBC. (3) integritas data.. op.7 dan (7) Memungkinkan perusahaan-perusahaan 8 dagang menjadi lebih efisien. (2) transaksi bersaing. hlm. (6) meningkatkan pendistribusian logistik. (2) keaslian data (authentication). 205. bahasa dan praktek perdagangan. (3) lebih memberi kecepatan dan ketepatan kepada konsumen. hlm.cit. hlm. (4) mengurangi biaya administratif. 426. ini: (1) kerahasiaan. . juga sebagai Praktek 'final digambarkan frontiers of commerce' pada abad ke-21 ini. 1999. (2) transaksi secara e-commerce memungkinkan para pihak berhubungan tanpa mengenal satu sama lainnya.6 Transaksi melalui e-commerce memiliki beberapa keuntungan: (1) transaksi dagang menjadi lebih efektif dan cepat. 144 (Sanson mengungkapkan pula 4 masalah dalam bertransaksi secara e-commerce. produktif dan kecil untuk menjual produknya secara global. Sanson. yaitu masalah pengakuan pengirim data bahwa memang ia telah mengirim data tersebut).

Rafiqul Islam. . konsumen dan pemerintah. Op. khususnya mengenai pembuktian orisinalitas data (originality). 426. hlm. (3) masalah kapan kata sepakat telah terjadi dalam transaksi- transaksi yang dilakukan secara e-commerce.cit. Di samping itu masalah lain yang juga penting adalah apakah peraturan hukum perdagangan inernasional yang ada sekarang dapat memberi perlindungan atau keseimbangan pengaturan antara pengusaha.cit.3 B. pengakuan penerimaan. hlm.. Masalah Hukum: Pengawasan Meningkatnya transaksi-transaksi dagang melalui e-commerce ternyata juga telah melahirkan berbagai masalah lain dalam hukum perdagangan internasional. 143. (4) masalah pengesahan. syarat tertulis (writing). penyimpanan data elektronik. Sedangkan aturan-aturan hukum dibuat untuk mengatur hal-hal atau hubungan-hubungan hukum yang sedang atau telah terjadi sehingga sifatnya agak statis.9 dan 8 9 Sanson. (5) masalah hilangnya wewenang bank sentral untuk mengawasi nilai tukar mata uang dan penerimaan pemerintah dari transaksitransaksi dagang yang dikeluarkan secara elektronik. (2) masalah keabsahan suatu kontrak dan bentuk kontrak e-commerce ini. dan masalah tanda tangan (signature). op. Masalah aturan-aturan utamanya hukum adalah yang ada apakah dapat ketentuan-ketentuan mengakomodasi atau lahirnya transaksi-transkasi yang dilahirkan melalui media e-commerce ini yang sifatnya transnasional ini. Secara khusus masalah-masalah tersebut dapat diuraikan lebih lanjut menjadi masalah-maalah berikut: (1) masalah pembuktian mengenai data-data yang terdapat dalam ecommerce. Masalah ini timbul mengingat transaksi secara e-commerce adalah praktik baru di bidang perdagangan dan berkembang progresif..

10 Negara yang mula-mula berinisiatif menyusun aturan-aturan hukum di bidang e-commerce ini adalah Amerika Serikat yang kemudian diikuti negara-negara Eropa Barat. umumnya negara-negara di dunia mengeluarkan aturan-aturan Namun aturan cukup hukum hukum nasionalnya nasional tersebut untuk yang mengantisipasinya. aturan-aturannya tidak mengikat negara.4 (6) masalah rintangan-rintangan e-commerce (perdagangan) negara ini yang menjadi dari tidak adanya lancar kebijakan-kebijakan transaksi-transaksi (terganggu). Negara-negara masalah-masalah mengingat yang di (perdagangan) mengakibatkan dunia menjadi semakin sadar tentang lahir dari transaksi-transaksi e-commerce menjadi e-commerce semakin ini. dapat menjadi 10 cenderung berbeda dengan aturan hukum nasional negara lainnya rintangan serius terhadap perdagangan internasional. tetapi merumuskan suatu Model Law. Sebenarnya ada cara efektif yang dapat ditempuh negara- negara untuk membuat atau menciptakan aturan internasional di bidang e-commerce.11 Tetapi yang ditempuh UNCITRAL adalah justru menempuh cara yang tidak tersebut di atas. Negara-negara bebas untuk mengikuti sepenuhnya mengikuti sebagian atau menolak Model Law tersebut. Sesuai dengan namanya. . Badan atau organisasi internasional yang berkpentingan dengan aturan internasional antara lain adalah UNCITRAL. Kekhawatiran ini tidak bisa tidak harus segera diantisipasi transaksi-transkasi meningkat sehubungan dengan meningkatnya globalisasi ekonomi dan hubungan-hubungan dagang. Cara tersebut adalah membuat suatu perjanjian atau konvensi internasional yang berlaku bagi negara-negara di dunia. (Sudah barang tentu setelah menempuh cara-cara atau prosedur normal untuk terikatnya suatu perjanjian internasional terhadap suatu negara). Menghadapi perkembangan ini. yaitu Model Law.

.UNCITRAL berhasil merumuskan suatu aturan hukum cukup 12 penting yakni UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce. sosial dan ekonomi yang berbeda..”. Alasan utama digunakannya instrumen Model Law tampak dalam resolusi No 51/162 tahun 1996 yang menyatakan sebagai berikut: “Convinced that the establishment of a model law facilitating the use of electronic commerce that is acceptable to States with different legal. with additional article 5 bis as adopted in 1998. 12 UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce with Guide to Enactment. could contribute significantly to the development of harmonious international economic relations. Tujuan dari Model Law ini adalah menggalakkan aturan- aturan hukum yang seragam dalam penggunaan jaringan komputer guna transaksi-transaksi komersial. (2) Model Law dipilih karena memang sebelumnya negara-negara (dan organisasi internasional yang berkepentingan) mengusulkan digunakannya instrumen hukum ini. 1996. social and economic systems. 11 Lihat Bab I di atas mengenai upaya UNCITRAL dalam mengupayakan harmonisasi (dan unifikasi) hukum perdagangan internasional. Noting that the Model Law on Electronic Commerce was adopted by the Commission at its twenty-ninth session after consideration of the observations of Governments and interested organizations. .. yaitu: (1) Model Law yang sifatnya dapat diterima oleh negara-negara dengan sistem hukum. Dari bunyi resolusi di atas. Believing that the adoption of the Model Law on Electronic Commerce by the Commission will assist all States significantly in enhancing their legislation governing the use of alternatives to paper-based methods of communication and storage of information and in formulating such legislation where none currently exists.5 Pada tahun 1996. dan (3) Digunakannya Model Law dapat membantu negara-negara di dalam membuat perundangan nasionalnya di bidang e-commerce. (Selanjutnya disebut “Guide to Enactment”). Model Law dapat pula memberi perkembangan secara signifikan ekonomi terhadap perkembangan hubungan-hubungan internasional yang harmonis. terdapat 3 (tujuan) alasan utama pemilihan Model Law ini.

Pengantar Majelis dibentuk pengakuan. antara Kamar adalah International Telecommunication Union (ITU).6 Sebenarnya masalah commerce Property hukum ini organisasi e-commerce dalam internasional tidak hanya yang memperhatikan Berbagai WTO. 426. Bagian I Bab 1 memuat ketentuan umum. hlm. 14 Rafiqul Islam. hlm.. Model Law terdiri dari 17 pasal yang terbagi ke dalam 2 bagian dan 4 Bab. ini UNCITRAL.cit. hlm. Bagian II mengatur e- 13 Lihat lebih lanjut: E.cit. lain lembaga internasional yang juga menjadikan masalah (hukum) eagendanya (WIPO). UNCITRAL Model Law ini sebagai dan yang aturan dari didasarkan mengatur elektronik keabsahan.’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja. Op. op..13 C.cit. Saefullah dan Danrivanto Budhijanto.al. 15 Abdul Bakar Munir. Bab 2 mengatur penerapan persyaratan-persyaratan hukum terhadap pesan data.14 Tujuan utama atau tujuan khusus dari Model Law ini adalah: (1) memberikan aturan-aturan mengenai e-commerce yang ditujukan kepada badan-badan legislatif nasional atau badan pembuat UU suatu negara. (electronic dalam akibat pesan-pesan penggunaan komputer perdagangan. (2) memberikan aturan-aturan yang besifat lebih pasti 15 untuk transaksi-transaksi perdagangan secara elektronik. . dll.. Sanson..cit. op. hlm. 213. (eds. UNCITRAL MODEL LAW 1. Op.). et. 145. 93-94. messaging) Umum PBB mengesahkan dasar pada UNCITRAL untuk Model Law dengan Resolusi 51/162 tanggal 16 Desember 1996. World Intellectual Organization Dagang Internasional (International Chamber of Commerce atau ICC). Bab 3 mengatur komunikasi pesan data. ’Perspektif Hukum Internasional tentang Cyber Law.

Penafsiran tersebut 16 Dari struktur atau komposisi Bab yang diaturnya tampak sekilas bahwa bab-bab UNCITRAL Model Law tidak lengkap. engineering. Khususnya bab terakhir yaitu bidang-bidang khusus (specific areas). yaitu bab mengenai pengangkutan barang. construction of works. sea. carriage of goods or passengers by air. distribution agreement. exploitation agreement or concession. factoring. electronic telegram. Sehingga Model Law memuat ketentuan demikian. Hal ini memang oleh perancang Model Law sengaja dibuat demikian. licensing. joint venture and other forms of industrial or business cooperation. consulting. leasing. financing. insurance. commercial representation or agency. .16 Maksud adalah melalui seperti "pesan data dan elektronik optik (electronic atau data message) informasi lainnya telecopy. but are not limited to. penggunaan data elektronik dan pesan data mempunyai pengertian yang sama). UNCITRAL memasukkan pasal tambahan baru untuk pasal 5 yaitu pasal 5 bis. Lebih lanjut memberikan ilustrasi hubungan-hubungan komersial luas tersebut. Sedangkan kata perdagangan (commerce) mengandung pengertian luas. banking. 17 Pasal 1 Model Law. Sebagai contoh pada tahun 1998. Perancang Model Law sebenarnya berharap bahwa di kemudian hari ada perkembangan pengaturan yang khusus mengenai bidang-bidang lainnya. pengiriman cara-cara EDI. the following transactions: any trade transaction for the supply or exchange of goods or services. yakni: “Relationships of a commercial nature include. rail or road. Hubunganhubungan tersebut dapat lahir karena adanya hubungan-hubungan Model Law yang (dagang) yang bersifat kontraktual atau bukan.”17 Model terhadap dengan: Law mensyaratkan penafsiran secara itikad harus baik sesuai aturan-aturannya. Lihat pula para. dan penyimpananan cara-cara atau telex elektronik. investment. (Dalam tulisan ini selanjutnya. penerimaan mail. 11 dan 12 Guide to Enactment. yakni semua hubungan yang bersifat komersial. ternyata hanya memuat 1 bab saja yaitu bab mengenai pengangkutan barang.7 commerce dalam bidang-bidang khusus. Bagian II ini hanya terdiri dari 1 bab saja.

19 Pasal 3 UNCITRAL Model Law tidak secara tegas menjelaskan apa yang dimaksud dengan kebutuhan-kebutuhan khusus ini. Furthermore. hlm. Tetapi dalam Guide to Enactment kita dapat pahami bahwa yang dimaksud dengan kebutuhankebutuhan khusus tersebut tidak lain adalah Model Law itu sendiri..19 Dalam mengesahkan Model Law ini. Dua prinsip pendekatan tersebut adalah (i) functional equivalence approach.. 145. lihat Bab III di atas mengenai sumber-sumber hukum perdagangan internasional. Maksud kenetralan elektronik technology suatu diperlakukan neutrality berarti sama terhadap approach bahwa (pendekatan komunikasi komunikasi teknologi) suatu teknologi elektronik lainnya. 5 Guide to Enactment berbunyi sebagai berikut: “.. the adoption of the Model Law as a rule of interpretation might provide the means to recognize the use of electronic commerce and obviate the need to negotiate a protocol to the international instrument involved. hukum internasional telah memberi aturan mengenai penafsiran dalam Konvensi Wina 1969 tentang Hukum Perjanjian (the Vienna Convention on the Law of Treaties of 1969). para pihak dapat mengubah atau menyesuaikan aturan-aturan muatan Model Law berdasarkan kesepakatan. sesuai dengan kebutuhannya.” (Huruf tebal oleh penulis). hlm. Op.cit.18 (2) kebutuhan-kebutuhan khusus untuk memajukan keseragaman dalam penerapannya.cit. the Model Law may be useful in certain cases as a tool for interpreting existing international conventions and other international instruments that create legal obstacles to the use of electronic commerce. 20 Para.8 (1) prinsip hukum internasional tentang penafsiran. Dalam hal mengenai penafsiran. UNCITRAL Model Law memuat dua prinsip pendekatan penting yang menjadi landasan pengaturannya. As between those States parties to such international instruments. Sanson. 145. for example by prescribing that certain documents or contractual clauses be made in written form... terutama Bab II dan III. 21 Sanson. Op.21 18 Cf. Para. Dengan demikian persyaratan-persyaratan umum untuk dianggap sebagai teknologi berlaku secara umum. Maksud secara komunikasi functional sama) elektronik equivalence adalah memiliki approach dokumen dan (pendekatan dan 20 yang sama fungsinya bahwa fungsi komunikasiyang tujuan seperti halnya dokumen-dokumen kertas dan komunikasi. at an international level. dan (ii) technology neutrality approach. . 16 Guide to Enactment.

hlm. Cyber Law.al. (5) suatu data elektronik merupakan suatu dokumen asli data elektronik adalah suatu tulisan untuk tujuan hukum.). (eds. 3-4 (mengacu kepada Gerald R. . 363. 2001. dan (6) suatu pertukaran data elektronik dapat menimbulkan suatu penawaran (offer) dan penerimaan (acceptance) dan karenanya membentuk suatu kontrak yang sah. Jakarta: ELIPS. “Pengaturan Kontrak Untuk Perdagangan Elektronik (E-Contracts). Ohio: SouthWestern College. (3) suata hari.22 22 Mieke Komar Kantaatmadja. apabila dapat diakses sebagai referensi di kemudian (original) apabila informasi yang dikandung dapat secara terpercaya dipertahankan dalam bentuk aslinya.” dalam: Mieke Komar Kantaatmadja. Ferrera. et.9 Pada intinya muatan UNCITRAL Model Law memuat ketentuanketentuan umum berikut: (1) suatu data elektronik seperti halnya dokumen-dokumen hukum lainnya harus mengikat secara hukum. 2002. Cyber Law: Suatu Pengantar.. apabila dapat diidentifikasi orang yang mengirim pesan tersebut dan indikasi bahwa orang tersebut telah menyetujui informasi dalam data tersebut. et. hlm. (2) suatu data elektronik dapat berisikan informasi yang dapat digunakan sebagai referensi. (4) suatu data elektronik mencakup suatu tanda tangan.al.

Para. Syarat Tertulis Persyaratan hukum tertulis terpenuhi oleh adanya pesan data ini apabila informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses ("accessible") setiap saat. tanda tangan atau keasliannya (original). 47 Guide to Enactment. Pasal ini mengakui akibat hukum. Ketiga syarat ini termuat dalam pasal 6 – 8 Model Law. khususnya bukti-bukti dokumen atau persyaratan dokumen asli dalam sistem hukum di dunia. Model Law mengakui atau memperbolehkan dokumen-dokumen elektronik ini sebagai bukti yang diakui keabsahannya (menurut hukum).’ Bab ini diawali dengan pasal 5 yang juga dianggap sebagai inti dari Model Law. keabsahan dan dapat dipaksanakannya informasi dalam bentuk pesan/data elektronik (electronic message) yang digunakan dalam transaksi-transaksi dagang. a. .10 2. Dan ketiga pasal tersebut harus dibaca bersama-sama (satu kesatuan). Selain itu pula.23 Model Law meletakkan aturan-aturan hukum mengenai kapan suatu pesan data elektronik (electornic data messages) memenuhi persyaratan hukum mengenai syarat "tertulis".24 Maksud dari pengaturan-pengaturan ini adalah untuk memecahkan masalah pembuktian. pesan data tersebut selanjutnya atau dapat digunakan dan dirujuk sebagai referensi (bahan acuan) selanjutnya. Penerapan Persyaratan Hukum Terhadap Pesan Data Bab 2 Model Law diawali dengan judul ‘Penerapan Persyaratan Hukum terhadap Pesan Data.25 b. dan 23 24 Pasal 5 UNCITRAL Model Law. Syarat Tanda Tangan Persyaratan tanda tangan terpenuhi oleh adanya pesan data apabila: (1) si pembuat (originator) dapat mengenali informasi yang terdapat di dalamnya oleh suatu metode tertentu.

Para. Hal ini berbeda dengan pesan data atau data elektronik. Model Law melihat ke-3 syarat ini cukup sulit sebab syarat keaslian suatu ‘dokumen’ dari suatu pesan data sudah barang tentu sangat berbeda denga dokumen-dokumen asli yang pada umumnya akte disyaratkan untuk transaksi-transaksi tertentu. Syarat Keaslian Persyaratan hukum dari presentasi (penampilan) atau penyimpanan suatu informasi dalam bentuk aslinya terpenuhi pada suatu pesan data. Pasal 7 UNCITRAL Model Law. pendekatan yang ditempuh oleh Model Law adalah mengenakan persyaratan minim (‘minimum requirement’). Model Law di sini mensyaratkan bahwa pesan data atau data elektronik tersebut harus tidak dapat diubah. polis asuransi. c. Pendekatan ini dianggap juga sama sebagai ‘functional equivalent” dari suatu sifat atau tujuan dari keaslian dokumen. dll.27 25 26 27 Pasal 6 UNCITRAL Model Law. dan (2) informasi dapat ditampilkan kepada suatu pihak yang jaminan mengenai integritas informasi pada waktu pertama kali dituangkan dalam bentuk akhir sebagai suatu pesan disyaratkan untuk ditampilkan terhadapnya. bahwa informasi tersebut tetap atau tidak berubah. Dokumen-dokumen tertulis terakhir ini relatif agak sulit untuk dipalsukan atau diubah oleh salah satu pihak. Jadi di sini yang ditekankan adalah status atau kestabilan muatan dari pesan data tersebut. 63 dan 64 Guide To Enactment. . Oleh karena itu. seperti tampak dalam pasal 8 tersebut di atas. apabila: (1) Terdapat data.11 (2) Metoda tertentu tersebut dapat diandalkan 26 dan layak untuk dapat mengetahui pesan data tersebut. misalnya tanah. Integritas suatu informasi ditentukan berdasarkan pada sifat pesan data tersebut yaitu.

cit.cit. Law secara tegas menyatakan tidak bahwa untuk masalah pengadilan nasional boleh mempermasalahkan pesan data ini sebagai bukti semata-mata karena bukti tersebut terdapat dalam bentuk pesan data. Pengaturan ini tampaknya sederhana. 29 Pasal 9 UNCITRAL Model Law. dan (4) masih dimungkinkannya penipuan pesan data). 28 Di Indonesia misalnya. hlm. Penyimpanan Pesan Data Manakala suatu informasi atau dokumen disimpan dan dibuka (ditampilkan) kritieria (record melalui media elektronik. 144. supra. yaitu: (1) pesan data tidak banyak berbeda dari salinan pesan itu sendiri. (3) pesan data itu tidak termuat dalam secarik kertas (paperless).12 3.29 4. . hukum Model Law 30 meletakkan data Kriteria- atau syarat-syarat dan mengenai penyimpanan retention) penampilannya (kembali). kriteria ini adalah: (1) informasi yang terkandung di dalamnya dapat diakses sehingga dapat digunakan untuk rujukan (referensi) selanjutnya.. disimpan atau dikomunikasikan. Kekuatan Pembuktian Pesan Data Model pembuktian. 67 (mengungkapkan kemungkinan timbulnya masalah dalam pembuktian pesan data elektronik sebagai alat bukti. hlm. (2) pesan data tidak terdapat tanda tangan. lihat Danrivanto Budhijanto.28 Kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan nilai-nilai dari suatu pesan data adalah: (1) asal dari pesan data. (2) integritas dari informasi. masalah-masalah dalam e-commerce.. (4) faktor-faktor lainnya yang relevan dengan informasi. Tetapi justru inilah yang akan menjadi masalah khususnya di negara-negara yang secara tradisional telah lama mengakui bukti-bukti konvensional yang diakui oleh sistem hukum nasionalnya. Cf. khususnya Sanson. Cf. 30 Pasal 10 UNCITRAL Model Law. Op. (3) dikenalnya si pembuat aslinya (originator). op.. tidaklah gampang untuk menyatakan bahwa data elektronik dapat dijadikan bukti sebagaimana dinyatakan dalam UNCITRAL Model Law tersebut..

Bab ini hanya menyinggung isu-isu pembentukan kontrak dan bagaimana para pihak dalam kontrak dapat mengemukakan offer dan acceptance mereka dalam kontrak melalui berbagai cara (khususnya melalui sarana elektronik). dikirim atau diterima. Model Law bermaksud menghapus keragu-raguan yang mungkin timbul dari pengungkapan tersebut.13 (2) pesan data disimpan dalam format yang sama dengan semula. 76 Guide to Enactment. 5. Tujuan secara Bab ini adalah Dengan untuk dan tujuan menciptakan ini kepastian dalam hubungan-hubungan komersial kepercayaan dalam perdagangan perdagangan elektronik. diharapkan internasional dapat berkembang. dan (3) informasi tersebut disimpan guna memungkinkan atau mengidentifikasi asal mula dan tujuan dari suatu pesan data. atau dalam bentuk yang dapat ditampilkan sehingga informasi yang akurat sejak awal. Maksud Bab ini sebenarnya tidak untuk mempermasalahkan hukum mengenai pembentukan suatu kontrak. . offer dan acceptance melalui sarana elektronik Masalahnya adalah penyampaian kehendak (offer dan acceptance) tersebut tidak diungkapkan secara langsung oleh para pihak tetapi diungkapkan melalui ‘cara’ lain (yaitu komunikasi elektronik dan tidak adanya dokumen tertulis). dikirim atau diterima. dan tanggal dan waktu data tersebut dikirim atau diterima. Komunikasi Pesan Data Bab III menguraikan aturan-aturan mengenai masalah-masalah kontraktual yang timbul dalam penggunaan teknologi komputer dalam transaksi internasional.31 31 Para.

33 adalah Penegasan sah dan enforceable tentang keabsahan berkontrak ini ditegaskan dalam pasal 11 ayat (1) yang “(1) In the context of contract formation. mengutip Henry R. syarat sahnya suatu kontrak adalah: (1) kesepakatan para pihak untuk mengikatkan diri. Berdasarkan Common Law.cit. op. Business Law.34 32 Dilihat dari syarat-syarat yang ditetapkannya. (b) adanya penyampaian penawaran tersebut kepada offeree sebagai pihak kedua. Where a data message is used in the formation of a contract. 33 Pasal 11 UNCITRAL Model Law. 81 Guide to Enactment). Bentuk dan Keabsahan Kontrak Model autonomy) membuat Law dan mengakui kebebasan mereka prinsip melalui otonomi Para offer 32 para pihak pihak berhak (party untuk yang berkontrak. an offer and the acceptance of an offer may be expressed by means of data messages.” (Mieke Komar Kantaatmadja. dan (4) suatu obyek yang halal. (c) adanya penerimaan penawaran oleh pihak kedua yang menyatakan kehendaknya untuk terikat pada persyaratan dalam penawaran tersebut. Cheeseman. 4-5. hlm. 34 Pasal 12 UNCITRAL Model Law. keabsahan dan daya mengikatnya (enforceability). Begitu pembuat pula suatu dan pernyataan alamat si kehendak penerima atau pernyataan dari lainnya yang dinyatakan dalam bentuk suatu pesan data oleh si (originator) (addressee) suatu pesan harus mempunyai akibat hukum. kontrak dan acceptance dinyatakan oleh cara-cara elektronik. tampak bahwa Model Law lebih cenderung mengacu kepada syarat-syarat sahnya suatu kontrak berdasarkan sistem Common Law. that contract shall not be denied validity or enforceability on the sole ground that a data message was used for that purpose. Pembuatan mengikat berbunyi: (valid kontrak and melalui e-commerce contract). Pasal ini dibuat untuk menegaskan prinsip dari akibat dari suatu kontrak yang sah.14 6. dan (d) adanya penyampaian penerimaan (acceptance) oleh pihak kedua kepada pihak pertama.. . hlm 180-181). (2) Consideration (‘something of value’) yang dipertukarkan antara para pihak. (3) kecakapan untuk membuat perjanjian. (Para. Syarat ini mencakup: “(a) adanya suatu penawaran (offer) dari pihak offeror sebagai pihak pertama. Pasal ini disusun pada tahap akhir perumusan Model Law. unless otherwise agreed by the parties. Prentice Hall.

cit. yaitu ayat (6) memuat aturan mengenai duplikasi pesan data yang salah.15 7. Maksud utama pasal ini bukan untuk menentukan siapa yang akan bertanggung jawab tetapi untuk memberi kriteria mengenai pengiriman pesan-pesan data denga menetapkan suatu praduga kapan suatu pesan data berasal dari pengirim asli (originator). Pengakuan terhadap Pesan Data Masalah pengakuan terhadap pesan data menjadi relevan manakala timbul masalah mengenai apakah suatu pesan data benarbenar dikirim oleh si pembuat asli (originator). Op. Ketentuan terakhir pasal 13. BUKANNYA MASUK KE FN No 35]. Model Law dalam hal ini menyatakan 35 Bunyi pasal ini sebenarnya mengacu kepada pasal 5 dari Model Law UNCITRAL mengenai transfer kredit internasional (UNCITRAL Model Law on International Credit Transfer). Ayat ini meletakkan kewajiban kepada pihak penerima untuk melakukan tindakan kehatihatian (‘standard of care’) untuk membedakan apakah suatu pesan data duplikasi yang keliru (salah) dan pesan data yang terpisah (‘separate data message’). 36 Rafiqul Islam. (2) bahwa pihak penerima mengenai (addressee) prosedur sebelumnya untuk memberikan bahwa asli (originator) mengoperasikannya persetujuan suatu memastikan suatu pesan data berasal dari pembuat asli (originator).. Pasal ini meletakkan kewajibankewajiban dari pengirim dalam melakukan tansfer kredit. hlm. (b) orang yang memiliki wewenang atau kuasa untuk bertindak atas nama pihak originator (pembuat untuk asli) atau (c) suatu secara sistem informasi yang terprogram oleh atau atas nama pihak pembuat otomatis. . 83 Guide to Enactment). 429.35 Pasal ini menyatakan bahwa suatu pesan data dianggap berasal dari orang yang membuatnya manakala: (1) pesan data tersebut dikirim oleh: (a) pihak pembuat sendiri. [CEK APA BENAR INI PENJELASANNYA. atau (3) bahwa pesan data yang diterima oleh pihak penerima (addressee) berasal dari tindakan-tindakan agent dari pembuat asli yang memungkinkan agent tersebut untuk memperoleh akses terhadap suatu metoda yang digunakan oleh pihak originator 36 untuk mengidentifikasi data-data sebagai miliknya. (Para. Untuk menjawab masalah ini Model Law memberi jawabannya dalam pasal 13.

37 37 Pasal 13 UNCITRAL Model Law. dan waktu yang layak tidak digunakannya untuk pesan data. Pihak penerima berhak untuk memperlakukan setiap pesan data yang diterimanya sebagai suatu pesan data yang terpisah. (2) transmisi pengirim pesan data gagal. atau (2) ia mengetahui atau seharusnya telah mengetahui dengan menggunakan tata cara dan prosedur yang disepakati bahwa: (a) pesan data tidak berasal dari pembuat asli (originator). kecuali pesan data tersebut adalah atau berupa salinan dari yang aslinya tersebut.16 bahwa pihak penerima (addressee) berhak untuk menduga bahwa suatu pesan data berasal/milik pemilik asli yang bermaksud untuk mengirimnya kepadanya. . Namun si penerima menjadi tidak berhak manakala: (1) ia telah menerima pemberitahuan dari originator (pihak pembuat asli) bahwa pesan datanya bukan berasal darinya. atau (c) pesan data merupakan salinan.

asumsinya adalah bahwa pesan data diterima oleh pihak penerima. lihat pula Assafa Endeshaw. hlm. Lihat pula Rafiqul Islam. hlm.cit. suatu pengakuan dapat diberikan oleh setiap alat komunikasi tertentu itu. yang cukup untuk menunjukkan kepada originator bahwa pesan data telah diterima. dianggap dikirimkan sampai pengakuan telah diterima. 254 (beliau menyatakan bahwa Model Law tidak mengatur . Dalam hal suatu pengakuan diterima oleh pihak originator.. ”which party will have the rights and which party bears the liabiities in the specific contractual arrangement”).cit.. . 93 Guide to Enactment. 430. Dalam hal tidak adanya persyaratan atau kesepakatan yang ditentukan/disepakati. Masalah ini bukan mengenai akibat hukum dari adanya penerimaan suatu pesan data (dalam hal ini adalah offer). Op. originator data bahwa dapat meminta pesan pada data saat atau pihak sebelum penerima dan bahwa suatu atau telah setuju dengan penerimaan diakuinya mereka masing-masing sepakat mengenai bentuk khusus atau metode tertentu untuk maksud itu. op. orginator yang belum menerima suatu pengakuan dapat memberikan pemberitahuan dalam jangka waktu yang layak kepada pihak penerima bahwa ia akan mengirim pemberitahuan kepada pihak penerima.38 Pihak mengirim (addressee).. hlm.17 8. Dan dengan memberikan jangka waktu yang layak. Op.. Pengakuan Penerimaan Ketentuan mengenai pengakuan penerimaan suatu pesan data semata-mata merupakan masalah persyaratan mengenai adanya bukti bahwa offer telah diterima. penerima Jika pesan data maka dibuat pesan dengan data persyaratan tidak mengenai pernah pengakuan. ia mengharapkan penerimaan pengakuan dari penerima. 39 Rafiqul Islam.cit. Apabila pengakuan menunjukkan bahwa pesan data diterima telah 38 Para. 429.. Dalam hal tidak adanya bentuk atau metode. Kelalaian bahwa pesan 39 untuk memenuhi jangka waktu ini akan dianggap pihak data dianggap belum pernah dikirim oleh originator.

40 Para. (2) Jika pesan data dikirim kepada suatu sistem informasi dari pihak penerima yang tidak dibuat/ditetapkan untuk maksud itu. termasuk RI.18 memenuhi standar atau persyaratan teknis yang berlaku. Apa yang diupayakan oleh Model Law di sini adalah bahwa lokasi di mana sistem informasi berada tidaklah relevan. suatu pesan data dianggap telah dikirim informasi ketika di pesan luar data tersebut dari memasuki suatu agen sistem yang kontrol originator atau disepakati untuk bertindak atas namanya. Waktu dan Tempat Pengiriman dan Penerimaan Pesan Data Model Law mengangkat masalah waktu dan tempat pengiriman dan penerimaan pesan data ini dalam pasal 15. . Kesulitan transaksi melalui elektronik ini adalah bahwa salah satu pihak tidak tahu di mana pihak lainnya berada. Oleh karena itu ketentuan pasal mengenai waktu dan tempat tidak menjadi acuan bagi pengaturan dalam hukum perdata internasional. Model Law hanya menyatakan bahwa kriteria obyektif untuk menentukan tempat adalah tempat usaha para pihak. Seperti kita maklumi dalam sistem hukum pada umumnya. asumsinya adalah bahwa standar dan persyaratan-persyaratan tersebut telah terpenuhi. 100 Guide to Enactment. 9.40 Menurut pasal 15 Model Law. Waktu penerimaan suatu pesan data terjadi karena keadaan-keadaan berikut: (1) Segera setelah pesan data memasuki suatu sistem informasi yang dibuat/ditetapkan oleh pihak penerima (addressee) untuk maksud menerima pesan data tersebut. Diaturnya masalah ini sebab transaksi-transaksi melalui elektronik ini sangatlah sulit untuk menentukan kapan secara pasti mengenai di mana dan kapan salah satu pihak telah menerima suatu pesan data. kapan terjadinya kesepakatan dan dimana kesepakatan terjadi adalah faktor-faktor yang relevan yang dapat mempengaruhi terjadinya suatu perikatan.

maka pengiriman dan penerimaan suatu pesan data akan berlangsung di tempat kediaman biasanya (their habitual residence). Perlu untuk dikemukakan di sini bahwa suatu pesan data tidak boleh dipertimbangkan isinya apabila pesan data tersebut sekedar sampai pada sistem informasi si penerima. Tempat pengiriman dan penerimaan pesan adalah tempat usaha originator dan juga penerima (addressee).19 maka penerimaan suatu pesan data terjadi segera setelah pesan data dibuka (retrieved) olehnya. maka waktu penerimaan pesan data terjadi segera setelah pesan data memasuki sistem informasi dari pihak penerima. tempat usaha adalah tempat yang memiliki hubungan terdekat (closest link) dengan transaksi yang bersangkutan. khususnya manakala sistem informasi penerima tidak berfungsi sama sekali atau berfungsi tetapi ada kerusakan atau meskipun dapat berfungsi dengan baik namun tidak dapat dimasuki oleh adanya pesan data. Dalam hal tidak adanya tempat usaha.42 Dalam hal terdapat lebih dari satu tempat usaha (place of business). 104 Guide to Enactment). Namun demikian baik pihak originator dan pihak penerima (addressee) dapat menyepakati untuk membuat aturan-aturan tersendiri bagi mereka. tetapi gagal untuk masuk ke dalamnya. 430.41 Aturan-aturan informasi data dan ini di berlaku mana dari meski data lokasi dari sistem akan si tempat pesan pihak tersebut yang diterima ternyata berbeda. (Para. 41 42 Rafiqul Islam. Dalam hal ini Model Law tidak secara tegas mengatur masalah kemungkinan tidak berfungsinya (rusaknya) sistem informasi sebagai dasar untuk lahirnya tanggung jawab. .. hlm. Karena itu pengiriman berdasarkan Model Law tidak terjadi.cit. Para pihak tidak perlu untuk menetapkan kriteria-kriteria tersebut di atas. dan (3) Jika tidak ada sistem informasi yang dibuat/ditetapkan oleh pihak penerima. maka tempat usahanya adalah tempat usaha pokoknya (the principal place of business). Dalam hal tidak ada hubungan terdekat tersebut. Op.

jumlah dan berat barang.” (Para.20 10. (9) upaya untuk mengirim barang kepada orang yang telah pemberitahuan lainnya mengenai pelaksanaan ditentukan atau seseorang yang mengklaim pengiriman. (8) memberikan kontrak. dan 43 Model Law menyatakan: “. aturan-aturan mengenai persyaratan tertulis. Aturan dalam bagian I. Informasi yang dikomputerkan dapat digunakan dalam hubungannya dengan suatu kontrak pengiriman barang dan dokumendokumen pengangkutan terkait. Bagian II: Obyek Tertentu: Pengiriman Barang Bagian I Model Law di atas memuat aturan-aturan umum dari e-commerce.. (3) penerbitan surat penerimaan untuk barang. (2) memuat sifat atau nilai barang. angka. (5) klaim pengiriman barang.43 Pasal 16 memuat daftar mengenai hal-hal pesan data secara elektronik (electronic data message) yang dapat berlaku. tangan dan keaslian suatu ‘dokumen’ (pasal 6 – 8 Model Law) juga berlaku terhadap bagian II ini. Daftar tersebut adalah: (1) pemberian tanda. Dalam bagian kedua sekarang ini. (4) perintah kepada kapal pengangkut. . Part two of the Model Law does not in any way limit or restrict the field of application of the general provisions of the Model Law. Perlu khususnya ditekankan di sini bahwa bagian dua ini sifatnya tanda tidaklah eksklusif atau berdiri sendiri. 109 Guide to Enactment). (6) perintah/kuasa untuk melepaskan barang (7) memuat pemberitahuan mengenai hilang atau kerusakan terhadap barang.. Model Law memuat aturan-aturan khusus mengenai pengiriman barang yang dilakukan melalui pesan data melalui sistem komunikasi komputer (elektronik).

45 Para. darat. Model Law hanya mensyaratkan bahwa metode atau cara pengiriman pesan data tersebut dapat diandalkan.21 (10) hal-hal lain yang terkait dengan hak atas barang. Dalam Model Law ternyata yang menjadi aturan(khusus pengangkutan (laut. kereta api. 110 Guide to Enactment. penggunaan bill of lading elektronis yang dapat digunakan untuk pengangkutan lainnya samping pengangkutan Termasuk di dalamnya moda angkutan melalui jalan raya. dapat terpenuhi dengan penggunaan satu atau lebih pesan data. adanya yaitu areas. tetapi juga moda-moda angkutan lainnya (Para.44 11. Dokumen Pengangkutan (Bill of Lading) Pasal moda-moda 17 memuat aturan-aturan di untuk memfasilitasi laut. hak dan kewajiban berdasarkan kontrak. udara). Model aturan) Law mengakui di sini dokumen-dokumen baru atau hanya pengangkutan dokumen secara elektronik ini. dan pengangkutan udara. jelas melihat kemungkinan pengaturan- pengaturan untuk bidang-bidang khusus lainnya di samping dokumen pengangkutan secara elektronik (e-bill of lading). Dilihat bahwa Model dari Law kata masih yang digunakannya. . kereta api.45 Persyaratan hukum mengenai syarat tertulis dan penggunaan suatu dokumen kertas. Daftar tersebut juga tidak hanya untuk sektor pengangkutan laut (maritim). 122 Guide to Enactment). 44 Daftar-daftar di atas tidak bersifat sebagai ilustrasi semata.

cit.. Op. hlm. Pembentukan kelompok kerja ini sebagai implementasi dari pasal 7 Model Law 1996. Danrivanto Budhijanto. Satu keys).cit.cit. 431. UNCITRAL membentuk suatu badan khusus..cit. op. yaitu UNCITRAL Working Group.22 12. UNCITRAL telah pula secara aktif merancang aturan-aturan untuk tanda tangan digital dan pejabat verifikasi.cit. Tanda Tangan Digital dan Pejabat Verifikasi a. yaitu kunci publik (public keys). 67. hlm. Danrivanto Budhijanto. acapkali didasarkan pada penggunaan fungsi-fungsi 'algorithmic' prinsipnya mengubah cryptograhy kode. Tanda Tangan Digital (Digital Signature) Di samping Model Law 1996 tersebut di atas.46 Hingga "cryptography" terbaik memproteksi data dari kemungkinan perubahan-perubahan yang tidak diinginkan. hlm.. Digital saat ini signature adalah masih ‘sejumlah dipandang karakter cara alphanumerik untuk yang dihasilkan dari operasi matematik dan kriptografi’. tersebut membacanya. hlm. hlm. Op.47 Cryptography (algoritma). saja. . 67.48 46 47 kunci digunakan untuk menerjemahkan (kunci data dan untuk mengkonfirmasi digital signature privat atau private Danrivanto Budhijanto. Sanson. op. 2 mengirim-menerima dilakukan dengan menggunakan Kunci ini tidak lain adalah angka-angka. Penggunaannya sederhana Pengirim Dalam kunci. 68 dan 72. Untuk itu.. Sejak 'Certifying bulan Februari 1997.. 48 Rafiqul Islam. digunakan untuk meverifikasi suatu tanda tangan digital dari pesan yang kembali ke bentuk aslinya (public key). Cryptography membuka informasi untuk menjadi dapat mengirim informasi melalui kode-kode. Kunci lainnya. Op. Penerima kode (informasi) kemudian kode code. Pada telah digunakan cara secara kerja umum. 144. (CA UNCITRAL atau Working Group telah dan mempersiapkan aturan-aturan Authority' mengenai 'digital pejabat signature' atau lembaga sertifikasi).

9/WG. 431.cit.9/457). Nos. Dengan dimulainya diskusi secara umum mengenai isu yang dibahas. pejabat sertifikasi dan isu-isu terkait (Bab 3). dan pengakuan tanda tangan elektronik asing (Bab 4). UNCITRAL mengesahkannya pada sidangnya yang ke 31 di New York.. hlm. Working Group mempersiapkan teks-teks mengenai aturanaturan seragam pada akhir 1997. Op. yakni suatu provider jasa pihak ke-3 yang netral dan independen. Aturan-aturan hukum seragam ini disahkan oleh Working Group pada sidangnya yang ke-32 di Wina pada tangggal 19-30 Januari 1998. Doc. Certification Authorities and Related Legal Issues.49 49 Digital Signatures. Certification Authority Certification Authority (CA) adalah konsep yang baru berkembang. A/CV.IV/WP/73 dan A/CN. Rafiqul Islam.12 Juni 1998. Aturan-aturan hukum seragam ini antara lain mengatur ruang lingkup berlakunya aturan (Bab I).23 b. tanda tangan elektronik (Bab 2). CA mengeluarkan serifikat 'untuk menghubungkan suatu kunci dengan si penandantangan. pada tanggal 1 . . CA juga bertugas mendaftarkan suatu public key bersama-sama dengan nama dari pelanggan (pengguna) sertifikat sebagai 'subyek' sertifikat.

cit.51 cryptography. op. Misalnya. Rafiqul Islam.cit. dan Danish Bill for Malaysia telah mengundangkan perundang-undangannya mengenai electronic commerce dan tanda tangan digital. hlm. Namun yang dilakukan UNCITRAL adalah menemukan pemecahan secara teknis untuk memenuhi persyaratan-persyaratan hukum yang ada (dengan sedikit penyesuaian). 431. perdagangan Di Jerman elektronik-nya pasar modalnya (Stock telah pula mengundangkan the Digital Signature Ordinance pada tahun 1997 (mulai berlaku pada tanggal 1 November 1997). Sejak bulan Oktober 1997. Op. the Illinois Electronic Commerce Security Signature.. Act. Negaranegara lainnya telah pula mempertimbangkan UU nasionalnya untuk bidang electronic commerce dan tanda tangan digital ini. Op. 431..50 Di terhadap samping pesan penggunaan data. masalah integritas dan keaslian (authenticity) dari suatu pesan data dari tanda tangan elektronis telah diselesaikan dengan penggunaan metode cryptography. hlm. lihat pula: Mieke Komar Kantaatmadja.cit. 3 dan 9 (mengungkapkan upaya Amerika Serikat dan Uni Eropa dalam mempersiapkan aturan-aturan hukum di bidang e-commercenya). di Inggris telah memperkenalkan Exchange).. . mengenai Termasuk the perdagangan antara lain secara Amerika an e-commerce Serikat Act on ini dalam Digital dengan didasarkan kepada seluruh atau sebagian ketentuan dari 'Uniform Commercial Code'-nya. Op.cit. 52 Rafiqul Islam. hlm. hlm.” Oleh karena itulah mengapa beberapa negara telah membuat rancangan Model Law UU-nya ini. Penutup UNCITRAL telah menempuh suatu pendekatan fungsional dalam Model Law. 431. mentakan sebenarnya bahwa of Model data apa Law yang ini Model Law sumbangkan secara signifikan adalah pengakuan hukum Endeshaw “legal semata-mata menetapkan recognition message transmitted via electronic or other form. UNCITRAL tidak menempuh upaya menyusun kembali aturanaturan yang ada untuk mengakomodasi e-commerce.52 50 51 Rafiqul Islam..24 D.

dan (5) bukti sumpah. 1 (pengakuan ini perlu untuk menciptakan kepastian hukum dalam bertransaksi melalui e-commerce di Indonesia). (Lihat lebih lanjut: Isis Ikhwansyah. op. hlm. Cina mengeluarkan hukum kontrak yaitu the Contract Law of the People’s Republic of China. UU Nomor 8 tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan telah mengakui adanya data elektronik ini. (3) persangkaan-persangkaan.cit. 54 Pasal 1866 BW dan 154 HIR. ‘Prinsip-prinsip Universal Bagi Kontrak Melalui E-Commerce dan Sistem Hukum pembuktian Perdata dalam Teknologi Informasi.. . negara berkembang lainnya adalah Cina. 33). UU tahun 1999 ini menyatakan bahwa tulisan dapat berupa berbagai wujud atau bentuk. Pada bulan Maret 1999.’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja. hlm.. (2) bukti saksi-saksi. aturan hukum RI hanya perlu mengakui keabsahan transaksi-transaksi melalui e-commerce.25 Salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia adalah menyikapi hadirnya e-commerce ini. 53 Cf. Mieke Komar Kantaatmadja.cit. Karena kontrak-kontrak tersebut dapat ‘dilihat’.55 Sebagai perbandingan. maka kontrak demikian sah menurut hukum kontrak Cina. (4) pengakuan.54 Bukti data elektronik hingga tulisan ini dibuat belum ada pengakuan. termasuk tulisan-tulisan yang ‘disimpan secara visual’ (‘visually recorded’).. Dalam pengertian tersebut yang tercakup ke dalamnya adalah kontrak-kontrak elektronik. 55 Sebenarnya UU kita secara tidak langsung mengakui dokumen perusahaan sebagai alat bukti tertulis otentik. Sebenarnya masalah utamanya adalah sederhana.53 Yang juga tidak kalah pentingnya adalah pengakuan terhadap data elektronik sebagai alat bukti di hadapan pengadilan. Alat bukti yang diakui hukum Indonesia adalah: (1) bukti tulisan. op.

al. . et. 2002. 2002. 1999.al. Mieke Komar Kantaatmadja. Cyber Law: Suatu Pengantar.” dalam: Mieke Komar Kantaatmadka. ‘Prinsip-prinsip Universal Bagi Kontrak Melalui E-Commerce dan Sistem Hukum pembuktian Perdata dalam Teknologi Informasi. (eds. ‘Aspek Hukum “Digital Signature” dan “Certification Authority” dalam Transaksi E-Commerce. “Pengaturan Kontrak Untuk Perdagangan Elektronik (E-Contracts).26 DAFTAR PUSTAKA Abu Bakar Munir. Islam. Cyber Law: Suatu Pengantar. Jakarta: Elips. 2001. Cyber Law: Suatu Pengantar. London: LBC. et. 1996. (eds.al.). 1999. Jakarta: Elips. with additional Article 5 bis as adopted in 1998. Endeshaw. Jakarta: Elips. UNCITRAL Model Law on Electronic Commerce with Guide to Enactment. Jakarta: Elips. et.). Assafa. 2002.al. Singapore: prentice Hall. International Trade Law.” dalam: Mieke Komar Kantaatmadja.). Mieke Komar Kantaatmadja. et. Singapore.). (eds. Hong kong: Butterworths Asia. Cyber Law: Suatu Pengantar. Rafiqul.’ dalam: Mieke Komar Kantaatmadja. Cyber Law: Policies and Challenges. (eds. Danrivanto Budhijanto. Malaysia. Isis Ikhwansyah. 2002. Internet and Ecommerce Law.

sengketa yang baik biasa kepada ditempuh suatu pengadilan adalah maupun ke arbitrase kerap kali didasarkan pada suatu perjanjian di antara Langkah dengan membuat perjanjian atau memasukkan klausul penyelesaian sengketa ke dalam kontrak atau perjanjian yang mereka buat. (Gerald Cooke. 193). para pihak perlu juga menyepakati hokum apa yang akan diterapkan oleh badan peradilan yang baru disepakati para pihak. Dari berupa hubungan jual beli barang. pengiriman dan penerimaan barang. 1 . tersebut akan menyatakan Karena. produksi barang dan jasa berdasarkan suatu kontrak. cit. Umumnya sengketa-sengketa dagang kerap didahului oleh penyelesaian oleh negosiasi. 1997. Biasanya pula kelalaian para pihak untuk menentukan forum ini akan berakibat dengan alasan pada yang kesulitan kuat bagi dalam penyelesaian forum forum sengketanya. London: Kogan Page. Kesepakatan tersebut diletakkan waktu ditandatangani sengketa timbul. barulah ditempuh cara-cara lainnya seperti penyelesaian melalui pengadilan atau arbitrase. The Strategic Guide to International Trade. op. menjadi adanya kekosongan pilihan setiap untuk dirinya berwewenang untuk memeriksa suatu sengketa.. Semua transaksi tersebut sarat dengan potensi melahirkan sengketa. 193.2 Yang menjadi dasar hukum bagi forum atau badan penyelesaian sengketa baik pada yang akan menangani kontrak sengketa adalah atau kesepakatan setelah para pihak. Pengantar Transaksi-tansaksi atau hubungan dagang banyak bentuknya.1 BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERDAGANGAN INTERNASIONAL A. 2 Pada umumnya di samping menyepakati lembaga atau forum yang akan menyelesaikan sengketa. baik ke pengadilan atau ke badan arbitrase. Kesepakatan inilah hukum. dll.1 Penyerahan para suatu pihak. p.’ in: Jonathan Reuvid (ed). ‘Disputes Resolution in International Trading. Gerald Cooke. p.. Manakala cara penyelesaian ini gagal atau tidak berhasil.

. bahwa badan peradilan tidak boleh menolak setiap sengketa yang dibawa ke hadapannya.4 Di samping forum pengadilan atau badan arbitrase. konsep pengadilan dapat menyatakan kewenangannya untuk menerima setiap sengketa yang dibawa ke hadapannya meskipun hubungan antara pengadilan dengan sengketa Amerika yang tersebut Serikat pihak tipis sekali. para pihak dapat pula menyerahkan sengketanya kepada cara alternatif penyelesaian sengketa. yaitu berbagai alternatif penyelesaian sengketa yang para pihak dapat gunakan. op. Kata alternatif mencakup semua alternatif penyelesaian sengketa yang dapat digunakan para pihak.2 Lazimnya konsep 'long dalam arm' sistem hukum (Common Dengan Law) dikenal ini.. 4 Gerald Cooke. 6 Penulis berpandangan pada yang luas ini. cit.6 Biasanya sengketa. pula dalam klausul tersebut dimasukkan atau dinyatakan pula hukum yang akan diterapkan oleh badan penyelesaian 3 Bandingkan pula dengan prinsip hukum di Indonesia.3 Misalnya.. 5 Gerald Cooke. termasuk di dalamnya pengadilan. cit. termasuk alternatif penyelesaian melalui pengadilan. pihak termohon memiliki usaha di Amerika Serikat atau dalam kontrak tersebut secara tegas atau diam-diam mengacu kepada salah satu negara bagian Amerika Serikat atau hukum Inggris. 194. op. para serahkan kehadapannya meskipun keterkaitan sengketa peradilan Misalnya. badan peradilan hubungan di dan Inggris dengan kerapkali badan selalu menerima sangatlah sengketa atau kecil. p. berarti alternatif penyelesaian secara umum. dengan jurisdiction. 194. p. yang lazim dikenal sebagai ADR (alternative dispute resolution) atau APS (alternatif penyelesaian sengketa).5 Pengaturan samping alternatif di Bisa sini juga dapat berupa cara altrnatif di pengadilan.

kontrak di bidang pertambangan. sifat pihak (badan hukum menjadi dibatasi pedagang negara. dalam adalah jumlah antara pedagang dan negara antara besar. Para Pihak dalam Sengketa Bab 3 memuat beberapa stake-holders atau subyek hukum dalam hukum perdagangan dll. Sengketanya diselesaikan melalui berbagai cara. juga bukan merupakan negara Kontrak-kontrak (nilai) yang dagang relatif pedagang Termasuk dan di sudah lazim ditandatangani. Ad. Hukum menghormati tentu. Pedagang dan negara asing. Sengketa antara pedagang dan pedagang. Misalnya.3 B. Kesepakatan pula yang menentukan hukum diberlakukan dan diterapkan oleh badan pengadilan yang mengadili sengketanya. Kesepakatan dan kebebasan dan kebebasan akan akan pula menentukan apa yang forum akan pengadilan apa yang akan menyelesaian sengketa mereka.2. Karena perdagangan internasional adalah lintas batas. Sengketa antara dua pedagang adalah sengketa yang sering dan paling banyak terjadi. pihak. Sengketa antara pedagang dan negara asing Sengketa kekecualian. uraian pada pihak yaitu negara. dan internasional. pembahasan individu) Dalam berikut. Ad. 1. Biasanya kesepakatan dan dan kebebasan adalah tersebut. pedagang dan pedagang. pembahasan pun dibatasi hanya antara 1. para dari perusahaan yang hukum atau atau individu. Sengketa seperti ini terjadi hampir setiap hari. ada tidak Sudah barang UU dan kesepakatan kebebasan tersebut batas-batasnya. dan 2. Cara tersebut semuanya bergantung pada kebebasan dan kesepakatan para batas-batas tersebut melanggar ketertiban umum. . Kesepakatan dan kebebasan para pihak adalah esensil. Kontrak-kontrak seperti ini biasanya dalamnya kontrak-kontrak pembangunan (development contracts).

255 et. Huala Adolf. 3. dll. Badan peradilan umumnya menganut adanya konsep jure gestiones ini. bantahannya biasanya bahwa suatu badan peradilan tidak memiliki jurisdiksi untuk mengadili sengketa ditolak. Hukum internasional menghormati pula individu (pedagang) sebagai subyek hukum internasional terbatas. jure gesiones. Yang pertama adalah tindakantindakan negara di bidang publik dalam kapasitasnya sebagai suatu negara yang berdaulat. Dengan adanya konsep iimunitas inilah yang sedikit banyak berpengaruh terhadap keputusan pedagang untuk menentukan penyelesain sengketanya.7 Lihat selanjutnya. Namun demikian hukum internasional ternyata fleksibel. Jakarta: Rajawali pers. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional. cet. Sebaliknya neggara sebagai negara-negara pihak dalam yang mengajukan bisnis. yaitu tindakan-tindaka negara di bidang seperti Sehingga itu keperdataan itu tidak atau lain dagang. sebagai tindakan-tindakan (pedagang dapat itu kapasitasnya seperti orang-perorangan seperti itu tindakan-tindakan dianggap tindakan-tindakan sebagaimana layaknya para pedagang biasa. Masalah utamnya adalah dengan adanya konsep imunitas ini. Karena tindakan-tindakan seperti yang kemudian menimbulkan sengketa. tindakan-tindakan negara atau dalam privat). 7 . adalah Karena itu. Konsep kedua. Hukum internasional tidak semata-mata mengakui atribut negara sebagai subyek hukum internasional yang sempurna (par excellence). suatu negara dalam situasi apapun. Karena itu dalam hukum internasional berkembang pengertian jure imperii dan jure gestiones.seq. Karena itu tindakan-tindakan seperti itu tidak akan pernah dapat diuji atau diadili di hadapan badan peradilan. 2002. arbitrase. dapat saja diselesaikan di hadapan badan-badan peradilan umum. hlm. tidak akan pernah dapat diadili di hadapan badan-badan peradilan asing.4 yang menjadi masalah adalah adanya konsep imunitas negara yang diakui hukum internasional.

(2) bahwa perubahan kedua atau atas revisi kesepakatan pihak. 2. Termasuk dalam lingkup pengertian kesepaktan ini adalah: (1) bahwa salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak berupaya menipu. Prinsip Kesepakatan Para Pihak (Konsensus) Prinsip kesepakatan para pihak merupakan prinsip fundamental dalam penyelesaian sengketa perdagangan internasional.5 C. Prinsip Kebebasan Memilih Cara-cara Penyelesaian Sengketa Prinsip penting kedua adalah prinsip dimana para pihak memiliki kebebasan penuh untuk menentukan dan memilih cara atau mekanisme bagaimana sengketanya diselesaikan (principle of free choice of means). Menurut pasal ini . Prinsip penyelesaian prinsip ini ini pula dapat yang menjadi sudah dasar apakah suatu proses Jadi sengketa sangat berlangsung diakhiri. yaitu perjanjian penyerahan sengketa ke suatu badan arbitrase. Prinsip-prinsip Penyelesaian Sengketa Dalam hukum perdagangan internasional. esensial. menekan atau menyesatkan pihak lainnya. berasal dari harus kesepakatan kesepakatan belah pengakhiran 8 muatan kesepakatan pula berdasarkan pada kesepakatan kedua belah pihak. Badan-badan peradilan (termasuk arbitrase) harus menghormati apa yang para pihak sepakati. dapat dikemukakan di sini prinsip-prinsip mengenai penyelesaian sengketa perdagangan internasional. terhadap harus Artinya. Prinsip inilah yang menjadi dasar untuk dilaksanakan atau tidaknya suatu proses penyelesaian sengketa. Prinsip ini termuat antara lain dalam Pasal 7 The UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration. 1. Pasal ini memuat definisi mengenai perjanjian arbitrase.

6 penyerahan sengketa kepada arbitrase merupakan kesepakatan atau perjanjian para pihak.’ 10 Pasal 38:2 Statuta Mahkamah Internasional: "This provision shall not prejudice the power of the Court to decide a case ex aequo et bono. if the parties agree hereon. Artinya." 9 8 .” Cf. An arbitration agreement may be in the form of an arbitration clause in a contract or in the form of a separate agreement. as directly referring to the substantive law of that State and not to its conflict of laws rules. penyerahan suatu sengketa ke badan arbitrase haruslah berdasarkan pada kebebasan para pihak untuk memilihnya.10 Yang atau 28 terakhir ini adalah sumber di mana pengadilan Contoh akan memutus sengketa berdasarkan prinsip-prinsip keadilan. whether contractual or not. on kebebasan Commercial memilih ini yang harus dihormati oleh badan peradilan adalah pasal International Arbitration: “The arbitral tribunal shall decide the dispute in accordance with such rules of law as are chosen by the parties as applicable to the substance of the dispute. Prinsip Kebebasan Memilih Hukum Prinsip penting lainnya adalah prinsip kebebasan para pihak untuk menentukan pokok sendiri hukum oleh Kebebasan apa yang para akan pihak diterapkan untuk (bila sengketanya terhadap diselesaikan) sengketa. Pasal 1338 KUH Perdata Indonesia. kepatutan kelayakan ayat (1) suatu UNCITRAL penyelesaian Model Law sengketa. unless otherwise expressed. Pasal 7 UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbtration: ‘“Arbitration Agreement” is an agreement by the parties to submit to arbitration all or certain disputes which have arisen or which may arise between them in respect of a defined legal relationship .9 3. badan peradilan (arbitrase) menentukan hukum ini termasuk kebebasan untuk memilih kepatutan dan kelayakan (ex aequo et bono).. Any designation of the law or legal system of a given State shall be construed.

yakni negosiasi.7 4.11 5. prinsip Law ini. Commission) Dalam upayanya Hukum aturan merumuskan pengaturan Komisi memuat Internasional (International khusus mengenai prinsip ini dalam pasal 22 mengenai ILC Draft Articles on State Responsibility. prinsip ini tercemin dalam dua tahap. Dalam hukum naisonal. Pasal 22 ini menyatakan sebagai berikut: “When the conduct of a State has created a situation not in conformity with the result of it by an international obligation concerning the treatment too be accorded to Dalam instrumen-instrumen hukum internasional. prinsip ini jarang sekali ditemui. Kedua. Hal ini mungkin disebabkan karena sulitnya patokan yang dapat digunakan untuk mengukur sesuatu pihak telah atau tidak melaksanakan sesuatu perbuatan dengan itikad baik. arbitrase. Pertama. prinsip ini antara lain tampak dalam pasal 1338 KUH Perdata dan UU Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. mediasi. paling sentral penyelesaian Prinsip ini mensyaratkan dan mewajibkan adanya itikad baik dari para pihak dalam menyelesaikan sengketanya. prinsip ini disyaratkan harus ada ketika para pihak menyelesaikan sengketanya melalui cara-cara penyelesaian sengketa yang dikenal dalam hukum (perdagangan) internasional.“ 11 . prinsip itikad baik disyaratkan untuk mencegah timbulnya sengketa yang dapat mempengaruhi hubungan-hubungan baik di antara negara. konsiliasi. Prinsip Exhaustion of Local Remedies Prinsip Exhaustion of Local Remedies sebenarnya semula lahir dari prinsip hukum PBB kebiasaan mengenai internasional. Prinsip Itikad Baik (Good Faith) Prinsi fundamental itikad dan baik dapat dikatakan dalam sebagai prinsip sengketa. Pasal 6 ayat (1) UU No 30 tahun 1999 menyatakan: “(1) Sengketa atau beda pendapat perdata dapat diselesaikan oleh para pihak melalui alternatif penyelesaian sengketa yang didasarkan pada itikad baik dengan mengesampingkan penyelesaian secara litigasi di Pengadilan Negeri. pengadilan atau caracara pilihan para pihak lainnya. Dalam penyelesaian sengketa.

cet.. 617. Harris.J. Mahkamah Internasional menegaskan: "Before resort may be had to an international court. terlebih langkah-langkah sengketa sengketa tersedia atau diberikan oleh hukum nasional suatu negara harus dahulu ditempuh (exhausted).ed. but the obligation allows that this or an equivalent result may nevertheless be achieved by subsequent conduct of the State. 1998. there is a breach of the obligation only if the aliens concerned have exhausted the effective local remedies available to them without obtaining the treatment called for by the obligation or. hlm. 3. 5th. 276 et..”12 Menurut prinsip ini. Jakarta: Rajawali Pers.8 aliens. Interhandel Case (1959). 2002. Cases and Materials on International Law. where that is not possible. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional. London: Sweet and Maxwell. 13 Lihat lebih lanjut uraian tentang exhaustion of local remedies ini dalam tulisan kami: Huala Adolf.. the state where the violation occured should have an opportunity to redress it by its own means. whether natural or juridical persons. within the framework of its own domestic legal system."13 Terkutip dari D. 12 . an equivalent treatment. hlm.seq. hukum kebiasaan internasional menetapkan bahwa sebelum para maka pihak mengajukan sengketanya penyelesaian Dalam ke pengadilan yang the internasional.

Forum hukum tersebut atau adalah negosiasi. judicial settlement. Poeggel and E. fakta pengadilan atau dan arbitrase. Misalnya. pasal 33 Piagam PBB: “The parties to any dispute. 200. "Methods of Diplomatic Settlement. 1991.14 Cara-cara sebagai dalam dan bagian sengketa integral dalam negara dan sistem hukum di dunia. Paris: UNESCO and Martinus Nijhoff. resort to regional agencies or arrangements. di dari atas sengketa lainnya yang dipilih dan disepakati para pihak. 15 lainnya Amerika Serikat. melalui konsiliasi. penyelesaian pengadilan. arbitration.. the continuance of which is likely to endanger the maintenance of international peace and security." dalam Mohammed Bedjaoui (ed). 514. first of all. shall. mediation. Oeser. atau telah penyelidikan cara-cara dikenal fakta-fakta melalui penyelesaian berbagai diakui dapat adalah (inquiry). mediasi. conciliation. 16 W. arbitrase. mediasi. nasional Negara ditemukan dalam pasal 6 UU Nomor 30 tahun 1999 tentang Arbitrase Alternatif Penyelesaian Sengketa. lainnya Sedangkan yang para penyelidikan (inquiry) cara-cara pihak sepakati tidak termasuk dalam bahasan. op. Berikut adalah uraian singkat mengenai forum-forum tersebut. Banyak sengketa diselesaikan Cf. Negosiasi Negosiasi adalah cara penyelesaian sengketa yang paling dasar dan yang paling tua digunakan. 1. Tidak semua forum dibahas. seek a solution be negotiation.” (Huruf tebal oleh kami).9 D.cit. International Law: Achievements and Prospects. Inggris dan Australia.16 Penyelesaian melalui negosiasi merupakan cara yang paling penting. 14 . enquiry. konsiliasi. Cara-cara tersebut dipandang penyelesaian hukum sengketa Ri yang yang sistem hukumnya.. Forum Penyelesaian Sengketa Forum penyelesaian sengketa dalam hukum perdagangan internasional pada prinsipnya juga sama dengan forum yang dikenal dalam hukum penyelesaian sengketa (internasional) pada umumnya. hlm. 15 Gerald Cooke. or other peaceful means of their own choice. hlm. tetapi akan dibatasi pada negosiasi..

atau Setiap penyelesaiannya para pihak. op. Ini terutama karena sulitnya waktu permasalahan-prmasalahan para 21 yang timbul di antara para pihak.op. hlm. Malinverni. salah satu pihak kuat berada dalam posisi untuk menekan pihak lainnya..20 Kelemahan kedua adalah bahwa proses berlangsungnya negosiasi acapkali lambat dan bisa memakan waktu lama.cit.10 setiap hari oleh negosiasi ini tanpa adanya publisitas atau menarik perhatian publik.. Selain itu jarang sekali adanya persyaratan penatapan batas bagi pihak untuk menyelesaian sengketanya melalui negosiasi ini. 21 G. Palitha TB Kohona." dalam: Ernst-Ulrich Petersmann and Gunther Jaenicke.cit." dalam Mohammed Bedjaoui (ed). "Alternative Methods of Dispute Settlement in International Economic Relations. Dalam keadaan ini. manakala para pihak berkedudukan tidak seimbang. hlm. 18 Peter Behrens.cit. Malirveni. Adjudication of International Trade Dispute in International and National Economic Law.. op.17 Alasan utamanya adalah karena dengan cara ini. hlm. "The Settlement of Disputes within International Organizations. International Law: 17 ... Kohona. hlm. Fribourg U. 161..cit. yang lain lemah. Salah satu pihak kuat. the Netherlands: Martinus Nijhoff Publ." 19 Kelemahan utama dalam penggunaan cara ini dalam menyelesaikan sengketa adalah: pertama. F. The Canging Law of International Claims.. . 1984. because they enable parties to arrive at conclusions having regard to the wishes of all the disputants. The Regulation of International Economic Relations through Law. Hal ini acapkali terjadi manakala dua pihak bernegosiasi untuk menyelesaikan sengketanya di antara mereka. Inc. 1985op. para pihak dapat mengawasi pun 18 prosedur penyelesaian pada sengketanya. hlm.P." dalam Mohammed Bedjaoui. 19 Palitha TB. 518. 14. Garcia-Amador.. 20 G. 159. "The Settlement of Disputes within International Organizations. USA: Oceana Publications.V. 1992. didasarkan kesepakatan konsensus Senada dengan itu Kohona mengatakan bahwa negosiasi adalah "an efficacious means of settling disputes relating to an agreement. 550.

Keadaan ini dapat 22 mengakibatkan proses negosiasi ini menjadi tidak produktif. . maka prosedur negosiasi ini merupakan proses penyelesaian sengketa oleh para pihak (dalam arti negosiasi). dibedakan prosedur-prosedur sebagai berikut: yang dalamnya pertama. Achievements and Prospects. 22 Palitha TB Kohona. 1991. dan kedua.. op. hlm. adalah manakala suatu pihak terlalu keras dengan pendiriannya.11 Kelemahan ketiga. Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers and UNESCO. 159. 159. Mengenai terdapat di pelaksanaan perlu negosiasi.cit. hlm. negosiasi digunakan manakala suatu sengketa belum lahir (disebut pula sebagai konsultasi). negosiasi digunakan manakala suatu sengketa telah lahir.

yang 24 Usulan diberikan ini dibuat para berdasarkan pihak. cit.. p. tidak ada prosedur-prosedur khusus yang harus ditempuh dalam proses mediasi..cit. Ia bisa individu (pengusaha) atau lembaga atau organisasi profesi atau netral dagang. mediator masih dapat tetap melanjutkan fungsi mediasinya dengan membuat usulan-usulan baru. Di Indonesia cara mediasi juga cukup aktif diterapkan untuk sengketa-sengketa bisnis khususnya oleh pengadilan dan badan arbitrase.25 Seperti halnya dalam negosiasi. Peter Behrens. op.. Mediasi Mediasi adalah suatu cara penyelesaian melalui pihak ketiga. 26 Gerald Cooke. op. mengidentifikasi hal-hal yang dapat disepakati para pihak serta membuat usulah-usulan yang dapat mengakhiri sengketa. 23. menerima atau tidaknya usulah-usulan yang diberikan oleh mediator. 2002. Hong Kong dan Filipina). 132. berupa Mediator ia ikut serta secara aktif dalam proses yang saran negosiasi. hlm. Gerald berikut:26 23 24 Cooke menggambarkan kelebihan mediasi ini sebagai W. hlm. salah satu fungsi utama mediator adalah mencari berbagai solusi (penyelesaian).12 2. Karena itu. cit.23 Usulah-usulan penyelesaian melalui mediasi dibuat agak tidak resmi (informal). hlm. sampai kepada pengakhiran tugas mediator. 25 ibid. Sydney: Cavendish. Para pihak bebas menentukan prosedurnya. 22. Poeggel and E. Yang penting adalah kesepakatan para pihak mulai dari proses (pemilihan) cara mediasi. 515. Jika usulan tersebut tidak diterima. Lihat pula Michelle Sanson. Dalam pengadilan dan . hlm. informasiBukan atas informasi oleh penyelidikannya. Biasanya dengan para kapasitasnya pihak sebagai pihak mendamaikan dengan memberikan penyelesaian sengketa. op.. 200. Essential International Trade Law. Oeser. (Sanson menyatakan bahwa mediasi lebih banyak dipraktekkan oleh negara-negara di Asia khususnya Taiwan dan Vietnam).

arbitrase. Manakala para pihak gagal menyelesaikan sengketanya melalui mediasi. therefore. para pihak meski sepakat mereka untuk tidak menyelesaikan wajib atau melalui harus menyelesaikan sengketanya melalui mediasi. Mediasi juga aktif diperkenalkan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa lingkungan antara pengusaha dan penduduk setempat. It is clearly appropriate.13 “Where mediation is successfully used. . yaitu pengadilan atau arbitrase. to consider providing for mediation or other alternative dispute resolution techniques in the contractual dispute resolution clause.” (Huruf tebal oleh penulis). cheap and effective result. Artinya. adalah suatu ‘kewajiban’ bagi hakim dan arbiter untuk menawarkan terlebih dahulu kepada para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan sengketanya melalui arbitrase. it generally provides a quick. Cooke telah namun juga dengan benar mengingatkan senketanya bahwa penyelesaian mendiasi. mereka masih dapat menyerahkan ke forum yang mengikat yaitu penyelesaian melalui hukum. melalui mediasi ini tidaklah mengikat.

Peter Behrens.cit. 22.. . cit. hlm.29 Persidangan suatu komisi konsiliasi biasanya terdiri dari dua tahap: tahap tertulis dan tahap lisan. usulan ini sifatnya tidaklah mengikat. Karenanya diterima tidaknya usulan tersebut bergantung sepenuhnya kepada para pihak.. cit. Peter Behrens. hlm. Peter Behrens. konsiliator atau badan konsiliasi dengan akan menyerahkan dan laporannya kepada para pihak disertai kesimpulan usulan-usulan penyelesaian sengketanya. formal daripada mediasi. op. 24. hlm. Sekali lagi. hlm. op. Kemudian badan ini akan mendengarkan keterangan lisan dari para pihak. Berdasarkan fakta-fakta yang diperolehnya. tetapi bisa juga diwakili oleh kuasanya. 23.. konsiliasi sudah untuk diterima terlembaga menetapkan oleh para atau (sementara) persyaratan berfungsi penyelesaian putusannya tidaklah mengikat para pihak. ada perbedaan antara kedua istilah ini: konsiliasi lebih Konsiliasi bisa juga diselesaikan oleh seroang individu atau suatu Komisi badan yang yang disebut bisa dengan yang yang badan atau komisi konsiliasi. ad hoc Namun persyaratanpihak. op. cit. Para pihak dapat hadir pada tahap pendengaran tersebut. sengketa (yang diuraikan secara tertulis) diserahkan kepada badan konsiliasi. Konsiliasi Istilahnya acapkali digunakan dengan bergantian. 132. op.30 Contoh komisi konsiliasi yang terlembaga adalah badan yang dibentuk oleh Bank Dunia untuk menyelesaikan sengketa-sengketa 27 28 29 30 Sanson. Konsiliasi Konsiliasi memiliki kesamaan dengan mediasi. Kedua cara ini adalah secara melibatkan damai.. Pertama. pihak ketiga dan untuk mediasi menyelesaikan sulit untuk 27 sengketanya dibedakan.28 Namun menurut Behrens.14 3.

para pihak sepakat mengakhiri persengketaannya. 33 Huala Adolf. 1. Department of Law. “The Settlement of Investment Disputes under the ICSID Arbitration”. Namun sebelum badan konsiliasi terbentuk. 1995. (Jadi selama 16 tahun kosong). hlm. "General Course on Public International Law. badan konsiliasi ICSID hanya menerima dua kasus. CONC/83/1. Thesis. penggunaan cara ini kurang populer.cit. 31 . Seidl-Hohenveldern.32 para Kasus pihak ini berhasil untuk diselesaikan tahun sepakat menerima usulan-usulan yang diberikan oleh konsiliator." 198 Recueil des Cours 198 (1986): Sanson. hlm.33 Cf. Kasus pertama diterima pada 5 Oktober 1982. Sejak berdiri (1966). 132-133. Kasus kedua yaitu Tesoro Petroleum Corp. op. yaitu the Conciliaiton Proceedings ICSID Rules of Procedure for Rules).15 penanaman modal asing. Sheffield University.31 Namun dalam (Conciliaiton prakteknya. 32 ICSID Case No. v. I. Government of Trinidad and Tobago pada diterima 1985 tahun setelah 1983..

atau Pihak ketiga ini bisa (ad individu. para pihak yang memiliki menurut kebebasan memilih ‘hakimnya’ (arbiter) mereka netral dan akhli atau spesialis mengenai pokok sengketa yang mereka hadapi. Hukum Arbitrase Komersial Internasional. Putusan arbitrase sifatnya final dan mengikat. Baik kerahasiaan mengenai persidangannya maupun kerahasiaan putusan arbitrasenya. arbitrase dewasa ini sudah semakin populer. Huala Adolf. Mengapa Arbitrase Dipilih? Arbitrase adalah penyerahan sengketa secara sukarela kepada pihak ketiga yang netral. kasasi atau peninjauan kembali seperti yang kita kenal dalam sistem peradilan kita. Kecepatan penyelesaian ini sangat dibutuhkan oleh dunia usaha. Ia Pembahasan mengenai hal ini lihat lebih lanjut antara lain: Huala Adolf. 1994. Dalam arbitrase tidak dikenal upaya banding.16 4. Jakarta: Rajawali pers. (2) Keuntungan lainnya dari penyelesaian sengketa melalui arbitrase ini adalah sifat kerahasiaannya. 34 . 1994. Badan arbitrase semakin terlembaga arbitrase dalam sementara hoc).. Jakarta: Rajawali Pers. Biasanya arbiter yang dipilih adalah mereka yang tidak saja ahli tetapi juga ia tidak selalu harus ahli hukum. cet.34 a. Adapun alasan utama mengapa badan arbitrase ini semakin banyak dimanfaatkan adalah sebagai berikut: (1) kelebihan penyelesaian sengketa melalui arbitrase yang pertama dan terpenting adalah penyelesaiannya yang relatif lebih cepat daripada proses berperkara melalui pengadilan. Pemilihan arbiter sepenuhnya berada pada kesepakatan para pihak. Arbitrase Komersial Internasional. Arbitrase. Dewasa ini arbitrase banyak digunakan menyelesaikan sengketa-sengketa dagang nasional maupun internasional. Bisa saja ia menguasai bidang-bidang lainnya. (3) Dalam penyelesaian untuk melalui arbitrase.2.

biasanya penyerahan sengketa ke suatu badan peradilan tertentu. yaitu the DISC.17 bisa insinyur. hlm. penentuan hak dan kewajiban para pihak dan penentuan prinsip-prinsip hukum dalam suatu sengketa. Perjanjian Arbitrase Dalam praktik. of jurisdiction berarti pilihan tempat Namun dalam praktek. ahli perbankan.. op.36 sengketanya berdasarkan kelayakan dan kepatutan (apabila memang para pihak (5) Dalam hal arbitrase internasional. 37 Indonesia meratifikasi Konvensi New York 1958 dengan Keppres Nomor 34 tahun 1981. 36 Hans Bagner. dalam hal ini pengadilan atau badan arbitrase. Panel GATT yang mengadili kasus ini terdiri dari 2 orang ahli ekonomi dan seorang ahli hukum. yaitu Konvensi New York 1958 37 mengenai Pengakuan dan Pelaksanaan Putusan Arbitrase Asing. 173. ahli asuransi. Misalnya. putusan arbitrasenya relatif lebih dapat dilaksanakan di negara lain dibandingkan apabila sengketa tersebut diselesaikan melalui misalnya pengadilan. dewan arbitrase yang menangani kasus. Biasanya judul klausul tersebut ditulis secara langsung dengan ‘Arbitrase’. Peranan ahli hukum bagaimana pun juga tetap signifikan dalam proses beracara. 35 . pimpinan perusahaan (manajer). Kedua berbeda. dalam kasus terkenal dalam GATT. Kadang-kadang istilah lain yang digunakan adalah ‘choice of forum’ atau ‘choice of jurisdiction’.35 (4) Keuntungan lainnya para dari arbiter badan untuk arbitrase menerapkan ini adalah dimungkinkannya menghendakinya). termuat dalam klausul penyelesaian sengketa dalam suatu kontrak. peranan ahli hukum tetap minimal ada dalam komposisi dewan. b. Hal ini dapat terwujud antara lain karena dalam lingkup arbitrase internasional ada perjanjian khusus mengenai hal ini.cit. dll. termasuk arbitrase. Istilah istilah tersebut of mengandung forum pengertian pilihan yang cara agak untuk dimana Istilah choice choice berarti menadili sengketa.

maka pengadilan harus menolak untuk menangani sengketa. Dalam hukum nasional kita. Pengakuan kewenangan arbitrase ini dalam suatu klausul arbitrase ini berbunyi sebagai berikut: “3.cit. syarat ini tertuang dalam pasal 1 (3) UU Nomor 3 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. hlm. atau pasal II Konvensi New York 1958. dll. when seized of an action in a matter in respect of which the parties have made an agreement within the meaning of this article. klausul tersebut memberi kewenangan kepada arbitrator untuk menyelesaikan sengketa. Syarat ini sangat esensial. misalnya. Apabila pengadilan menerima suatu sengketa yang di dalam kontraknya terdapat klausul arbitrase. pasal 3 dan pasal 11 UU Nomor 30 tahun 1999. inoperative or incapable of being performed. yaitu penyerahan kepada arbitrase atau perjanjian suatu sengketa yang suatu telah lahir lahir. suatu atau melalui pembuatan klausul arbitrase (klausul dalam sebelum sengketanya arbitrase arbitration clause). at the request of one of the parties. refer the parties to arbitration. The court of a Contracting State. Sistem hukum nasional dan internasional mensyaratkan ini sebagai suatu syarat utama untuk arbitrase.38 Penyerahan suatu sengketa kepada arbitrase dapat dilakukan dengan pembuatan suatu submission clause.39 c. Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa klausul arbitrase melahirkan jurisdiksi arbitrase. Lembaga-lembaga Arbitrase Gerald Cooke. unless it finds that the said agreement is null and void. Indonesia. pasal 8 ayat (1) UNCITRAL Model Law mengenai Arbitrase Komersial Internaisonal 1985. Alternatif lainnya. Belanda.” 39 38 . Lihat. Artinya. Pasal II ayat (3) Konvensi 1958 ini dipandang penting mengingat ketentuan ini dibuat sudah cukup relatif lama (sejak 1958). dan pasal II ayat (3) Konvensi New York 1958. 194. Tempat yang dimaksud misalnya Inggris. Baik submission clause atau arbitration clause harus tertulis. shall. op..18 pengadilan memiliki kewenangan untuk menangani sengketa. Dalam instrumen hukum internasional. termuat dalam Pasal 7 ayat (2) UNCITRAL Model Law on International Commercial Arbitration 1985.

19

Peran

arbitrase

difasilitasi

oleh

adanya

lembaga-lembaga

arbitrase internasional terkemuka. Badan-badan tersebut misalnya adalah the London Court of International Arbitration (LCIA), the Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce (ICC) dan the Arbitration Institute of the Stockholm Chamber of Commerce (SCC). Di acuan samping bagi kelembagaan, negara pengaturan di dunia, arbitrase yaitu sekarang Law ini on ditunjang pula oleh adanya sutau aturan berabitrase yang menjadi banyak Model International Commercial Arbitration yang dibuat oleh the United Nations Commission on International Trade Law (UNCITRAL).40

40

Gerald Cooke, op. cit., p. 196.

20

5. Pengadilan (Nasional dan Internasional) Metode yang memungkinkan untuk menyelesaikan sengketa selain cara-cara tersebut di atas adalah melalui pengadilan nasional atau internasional. Penggunaan cara ini biasanya ditempuh apabila caracara penyelesaian yang ada ternyata tidak berhasil.41 Penyelesaian sengketa dagang melalui badan peradilan biasanya hanya dimungkinkan manakala para pihak sepakat. Kesepakatan ini tertuang dalam klausul penyelesaian sengketa dalam kontrak dagang para pihak. Dalam klausul tersebut biasanya kepada ditegaskan suatu bahwa manakala timbul sengketa dari hubungan dagang mereka, maka mereka sepakat untuk menyerahkan sengketanya pengadilan (negeri) suatu negara tertentu. Kemungkinan kedua, para pihak dapat menyerahkan sengketanya kepada badan pengadilan internasional. Salah satu badan peradilan yang menangani sengketa dagang ini misalnya saja adalah WTO. Namun perlu ditekankan di sini, WTO hanya menangani sengketa antar negara anggota WTO. Umumnya pun sengketanya lahir karena adanya suatu pihak (pengusaha atau negara) yang dirugikan karena adanya kebijakan perdagangan negara lain anggota WTO yang merugikannya. Alternatif badan peradilan lain adalah Mahkamah Internasional (International Court of Justice). Namun penyerahan sengketa ke Mahkamah Internasional, menurut hasil pengamatan beberapa sarjana, kurang begitu diminati oleh negara-negara.42 Sebagai ilustrasi adalah peranan Mahkamah Internasional (the International menyelesaikan Court of Justice). Peranan Mahkamah dalam sengketa-sengketa ekonomi (termasuk perdagangan),

Cf. Prinsip exhaustion of local remedies, di atas. Palith TB. Kohona, op.cit., hlm. 192; Verloren van Themaat, The Changing Structure of International Economic Law, the Netherlands: Martinus Nijhoff Publishers, 1981, hlm. 189.
42

41

21

menurut 2 kasus

Mann, di

sangatlah

'suram'.43

Selama

berdiri yakni

(sejak the ELSI

1945) Case

sampai tulisan ini dibuat, Mahkamah Internasional hanya mengadili bidang ekonomi internasional, antara Amerika Serikat melawan Italia,44 dan the Barcelona Traction Case antara Belgia melawan Spanyol.45 Sengketa The Barcelona Traction adalah sengketa terkenal.

Dalam sengketa ini sebuah perusahaan Kanada, Barcelona Traction, Light and Power, Co., didirikan pada tahun 1911. Perusahaan ini mengoperasilan Spanyol. Pada tindakan tahun dalam 1968, rangka pengadilan kepailitan Spanyol memutuskan perusahaan Kanada karena tersebut Pemerintah pembangunan dan pengadaan tenaga listrik di

tersebut pailit. Keputusan ini ditindak-lanjuti oleh serangkaian tersebut. Pemerintah rumit %. kemudian turut campur dalam sengketa ini dalam upayanya melindungi kepentingan ternyata dimiliki warga negaranya. saham Belgia, Masalahnya dalam yaitu menjadi 88 pemegang warga mayoritas perusahaan

negara

sebesar

Belgia dalam upaya melindungi warga negaranya yang dirugikan oleh tindakan pemerintah Spanyol itu membawa sengketanya ke Mahkamah Internasional. Spanyol menolak gugatan pemerintah Belgia dengan dalil bahwa Belgia tidak memiliki dasar hukum yang sah (locus standi) untuk membawa kasus ini. Dalam putusannya, Mahkamah Internasional setuju dengan Spanyol.46 Alasan Internasional mengenai F.A. ini Mann menyatakan pada 'hasil kerja' dua Mahkamah alasan. atau

'suram', perkaranya.

dasarnya

karena

Pertama, kurang adanya penghargaan terhadap fakta-fakta spesifik duduk Kedua, kurangnya keahlian

F.A. Mann, "Foreign Investment in the International Court of Justice: the ELSI Case," 86 AJIL 92 (1992). 44 1989 ICJ Rep. 15 (Judgment of July 20). 45 1970 ICJ Rep. 3, (Judgment of Feb. 5). 46 Lihat lebih lanjut, D.J. Harris, op.cit., (Cases and Materials on International Law), hlm. 604, et.seq.

43

22

kemampuan Mahkamah pada permasalahan-permasalahan bidang (hukum) ekonomi atau perdagangan internasional.47 Selain itu, pengadilan-pengadilan permanen internasional ini juga jurisdiksinya kadangkala terbatas hanya kepada negara saja, misalnya Mahkamah Internasional. Sedangkan kegiatan-kegiatan atau hubungan-hubungan subyek-subyek penting.48 Bentuk kedua adalah pengadilan ad hoc atau pengadilan khusus. Dibandingkan dengan pengadilan permanen, pengadilan ad hoc atau khusus ini lebih populer, terutama dalam kerangka suatu organisasi perdagangan internasional. Badan pengadilan ini berfungsi cukup penting dalam menyelesaikan sengketa-sengketa yang timbul dari perjanjian-perjanjian perdagangan internasional.49 Contoh yang menonjol adalah peranan badan-badan pengadilan khusus dalam kerangka GATT (kemudian digantikan oleh WTO), yakni dengan sengketa GATT/WTO. Faktor penting yang mendorong negara-negara untuk menyerahkan sengketanya kepada badan-badan peradilan seperti ini adalah karena hakim-hakimnya yang tidak harus seorang ahli hukum. Ia bisa saja seorang ahli atau spesialis mengenai pokok sengketa. Kedua, adanya perasaan dari sebagian besar negara yang kurang percaya kepada suatu badan peradilan (internasional) yang dianggap kurang tepat untuk menyelesaikan sengketa-sengketa dalam bidang perdagangan internasional.50
47 48

perdagangan

internasional

dewasa

ini

peranan juga

hukum

perdagangan

internasional

non-negara

adanya

badan-badan

panel

yang antar

menyelesaikan negara-negara

sengketaanggota

ekonomi

internasional

F.A. Mann, loc.cit. Cf., I. Seidl-Hohenveldern, op.cit., hlm. 199. 49 Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 197. 50 Cf., Palitha TB Kohona, op.cit., hlm. 152. Cf., supra, mengenai keengganan masyarakat internasional menyerahkan sengketanya kepada Mahkamah Internasional.

Perlu ditegaskan di sini bahwa pilihan hukum (choice of law.51 Masalahnya kepastian hukum adalah hukum bagi yang berlaku ini menjadi bahwa penentu telah terutama badan peradilan ia menerapkan hukumnya dengan benar. 1990. Artinya. pemilihan suatu hukum tertentu. Boston: Kluwer Law.23 E. Di Inggris dan Wales.. Dalam hal ini. 195. . op. 52 Gerald Cooke. Yang terakhir ini disebut juga choice of forum (pembahasan di atas). Dasarnya dalah bahwa para pihak dianggap secara diam-diam telah memilih jurisdiksi (keweangan badan peradilan Inggris atau Wales) dengan memilih hukum Inggris atau hukum Wales untuk mengatur kontraknya. (Gerald Cooke. termasuk dalam hukum perdagangan internasional.cit. badan peradilan tidak mengambil jalan pintas dalam menerapkan suatu hukum terhadap suatu sengketa yang dibawa ke hadapannya. mensyaratkan jurisdiksi pengadilan tersebut untuk mengadili suatu sengketa. hlm. Hukum Yang Berlaku 1. (2) menafsirkan suatu kesepakatan-kesepakatan dalam kontrak. dan (4) menentukan akibat-akibat hukum dari adanya pelanggaran terhadap kontrak. 53 Tetapi perlu dicatat di sini bahwa praktek negara (badan peradilannya) berbeda mengenai pandangannya terhadap choice of law dan choice of forum ini. proper law atau applicable law) suatu hukum nasional dari suatu negara tertentu tidak berarti bahwa badan peradilan negara tesebut secara otomatis yang berwenang menyelesaikan sengketanya.. 251. 195). op. hlm. (3) menentukan telah dilaksanakan atau tidak dilaksanakannya suatu prestasi (pelaksanaan suatu kontrak dagang). International Arbitration Law. Pengantar Masalah hukum yang akan diberlakukan atau diterapkan oleh badan peradilan termasuk arbitrase adalah salah satu masalah krusial dalam hukum kontrak internasional. Deventer.cit.52 Peran choice of law di sini adalah hukum yang akan digunakan oleh badan peradilan (pengadilan atau arbitrase) untuk: (1) menentukan keabsahan suatu kontrak dagang.53 51 Mauro Rubino-Sammartano. choice of law tidak sama dengan choice of forum. hlm. dalam hal ini hukum Inggris atau Wales.

Civil Law. biasanya kemudian mereka akan berupaya mencari hukum nasional yang relatif lebih . hlm. Cara pemilihan inilah yang lazim diterapkan dewasa ini. Kebebasan Para Pihak Di atas telah dikemukakan bahwa dalam menentukan hukum yang akan berlaku. 54 salah satu hukum nasional tersebut. Boston: Kluwer Law and Taxation Publsihers. prinsip yang berlaku adalah kesepakatan para pihak yang didasarkan pada kebebasan para pihak dalam membuat perjanjian atau kesepakatan (party autonomy). hampir setiap sistem hukum di dunia. Alternatif lainnya yang memungkinkan dalam hukum perdagangan internasional adalah menerapkan prinsip-prinsip kepatutan dan kelayakan (ex aequo et bono).54 2. mengakui eksistensinya. Prinsip inilah yang antara lain melahirkan prinsip atau doktrin lex mercatoria. Hukum yang akan berlaku akan sedikit banyak bergantung pada kesepakatan para pihak. Lihat Mauro Rubino-Sammartano. Bahkan. dll. 251-255. 1990. Deventer. merupakan suatu prinsip yang telah terkristalisasi. Biasanya hukum nasional tersebut ada atau terkait dengan nasionalitas salah satu pihak. Artinya. Kebebasan para pihak ini tampaknya sudah menjadi prinsip hukum umum.24 Hukum yang akan berlaku ini dapat mencakup beberapa macam hukum. Hukum yang akan berlaku tersebut dapat berupa hukum nasional suatu negara tertentu. Hukum-hukum tersebut adalah: (1) hukum yang akan diterapkan terhadap pokok sengketa (applicable substantive law atau lex causae).. Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak tidak sepakat mengenai netral. yaitu Common Law. (2) hukum yang akan berlaku untuk persidangan (procedural law). Namun demikian penerapan prinsip ini pun harus berdasarkan pada kesepakatan para pihak. praktek para pelaku bisnis atau pedagang melihat prinsip kebebasan para pihak untuk menetapkan aturan-aturan dagang yang berlaku di antara mereka. International Arbitration Law.

atau berdasarkan keadilan dan kepatutan. tetapi juga mempertimbangkan apakah hukum di negara tersebut konsisten atau tidak. International Commercial Arbitration. Pasal 56 UU tersebut menyatakan: "(1) Arbiter atau majelis arbitrase mengambil putusan berdasarkan ketentuan hukum.55 (3) hanya berlaku untuk hubungan dagang. (4) hanya berlaku dalam bidang hukum kontrak (dagang). satu kebebasan atau para pihak pihak). Yang paling umum dikenal adalah bahwa kebebasan memilih hukum tersebut adalah: (1) tidak bertentangan dengan UU atau ketertiban umum. Artinya. apakah hukum di sesuatu negara tertentu sering berubah-ubah tidak. hlm. (2) Para pihak berhak menentukan pilihan hukum yang akan berlaku terhadap penyelesaian sengketa yang mungkin telah timbul antara para pihak. 55 . Hulieatt-James and N. yaitu UU Nomor 30 tahun 1999 mengenai Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. (2) kebebasan tersebut harus dilaksanakan dengan itikad baik. ini pun akan banyak hanya dipengaruhi oleh sistem hukum nasional yang akan dipilih (baik pihak kedua Tidak sekedar menentukan hukum suatu negara. Gould. (5) tidak berlaku untuk menyelesaikan sengketa tanah..”56 Dalam hukum nasional Indonesia mengenai arbitrase. London: LLP. Menurut oleh salah Cooke. op. 1996." M. dan (6) tidak untuk menyelundupkan hukum. 16. p. 56 Gerald Cooke. 195. Gerald Cooke dengan tepas menyatakan sebagai berikut: “The significance of needing to provide for the 'proper' law is that the parties will frequently prefer to have their disputes dealt with by a legal system which is perhaps independent of each of the parties or which is recognised to have highly sophisticated and consistent trading laws.25 Kebebasan dalam memilih hukum yang berlaku ini (lex causae) sudah barang tentu ada batas-batasnya. cit. hukum yang akan diberlakukan oleh para pihak diserahkan sepenuhnya kepada mereka.

" (2) Failing any designation by the parties. Tampaknya. Ketentuan yang sama dalam Model Law tercantum dalam pasal 28 ayat 3. (4) In all cases. ketentuan UU Nomor 30 disempurnakan dengan mengacu mencantumkan klausul Model Law ini. (3) The arbitral tribunal shall decide ex aequo et bono or amiable compositeur only if the parties expressly authorized to do so. unless otherwise expressed. Bedanya adalah.' Dari kedua instrumen hukum di atas. Pasal 28 Model Law menggariskan sebagai berikut: "(1) The arbitral tribunal shall decide the dispute in accordance with such rules of law as are chosen by the parties as applicable to the substance of the dispute. Kedua. Pasal ini tidak mensyaratkan bahwa hukum diterapkan menerapkan atau tersebut haruslah pilihan hukum para pihak. yang menonjol adalah bahwa kedua instrumen berbeda di dalam hal prioritas pengaturan mengenai hukum yang berlaku bahwa atau terhadap arbitrator kontrak. terdapat beberapa catatan pinggir yang cukup penting. as directly referring to the substantive law of that State and not to its conflict of laws rules.26 Model Arbitration Law 1985 juga menghormati kebebasan para pihak untuk memilih hukum yang akan berlaku. Pertama. Any designation of the law or legal system of a given State shall be construed. atau bahwa badan UU Nomor 30 tahun 1999 harus menekankan menentukan dengan tahun badan yang arbitrase akan harus menyandarkan pada hukum untuk mengambil putusan. UU Nomor 30 tahun 1999 membolehkan arbitrator atau badan arbitrase untuk menerapkan ex aequo et bono (pasal 56 ayat 1). Sedangkan Model Law tegas 1999 menyatakan ini perlu arbitrase hukum yang dipilih para pihak. the arbitral tribunal shall decide in accordance with the terms of the contract and shall take into account the usages of the trade applicable to the transaction. the arbitral tribunal shall apply the law determined by the conflict of laws rules which it considers applicable. UU nasional kita tidak tegas bahwa penerapan keadilan dan kepatutan ini hanya akan boleh dilakukan .

27 apabila para pihak dengan tegas diperintahkan oleh para pihak. Penjelasan kebebasan kepatutan. maka badan arbitrase atau arbitrator harus mengacu kepada perdata hukum yang ditentukan berdasarkan of laws aturan-aturan rules) yang hukum oleh internasional (conflict arbitrator atau badan arbitrase dianggap berlaku. nasional kita tampaknya menganut jalan pintas. Sedangkan Model Law menyatakan bahwa apabila para pihak tidak memilih hukum. maka arbitrator atau arbitrase hukum tempat dilakukan. Rumusan ini memberikan berdasarkan keadilan berlaku terhadap Law kontrak. aturan berbeda. hukum yang nasional UU kita adalah akan dan dan masalah Model manakala memuat para pihak Dalam yang tidak hal memilih ini. UU UU pasal untuk 56 hanya menyebut: tidak putusan 'Dalam tegas hal siapa arbiter yang diberi memberi dan kebebasan.'). Penjelasan pasal 56 Arbitrase badan Alternatif harus Penyelesaian menerapkan Sengketa menyebutkan.. . Ketiga. arbitrase apabila para pihak tidak menentukan pilihan hukum..

Tidak ada kepastian hukum kapan dan apakah pihak yang kalah mau melaksanakan putusan APS tersebut. uraian akan melihat secara singkat pelaksanaan putusan dari masing-masing cara penyelesaian sengketa. yaitu putusan melalui alternatif penyelesaian sengketa. menjadi APS lebih bergantung ternyata memberikan semata-mata sulit apabila yang putusannya yang sejak awal dilandasi oleh asas konsensuil. Pelaksanaan Putusan APS Penyelesaian yang itikad kalah baik tidak putusan para sengketa mau melalui alternatif putusan banyak yang penyelesaian dikeluarkan. The Law of International Trade. Pelaksanaan Putusan Sengketa Dagang 1. Hal ini disebabkan karena pihak yang dalam sengketa yang jarang dapat merasa keberatan proses yang melaksanakan putusan tersebut. Masalah ini pula yang saat ini menjadi ciri utama kelemahan dari putusan-putusan penyelesaian sengketa oleh badan-badan penyelesaian sengketa asing. Inti masalahnya adalah dilaksanakan sutau putusan mencerminkan efektivitas suatu putusan. Upaya pihak dilaksanakan semakin sangat bergantung kepada itikad baik ini. 369. arbitrase asing dan pengadilan (asing). Bersamaan dengan itu. p. Masalahnya tersebut berupaya dibuat agar akan di putusan lebih dapat putusan menang luar negeri. 1995. kepada sifat APS yang karena sengketa (APS) memiliki risiko yang cukup tinggi dalam hal pihak melaksanakan APS Hal ini Pelaksanaan melalui pihaknya. 57 . Pengantar Masalah pelaksanaan putusan penyelesaian sengketa (khususnya yang kalah dalam dibuat di di luar suatu negeri) hingga tidak kini masih menjadi suatu masalah yang tidak mudah.57 Dalam bagian ini. pengadilan di negeri tersebut putusan diharapkan kurang membantu respon pelaksanaan konstruktif.28 F. 2. London: Sweet and Maxwell. Hans Van Houtte.

Kalau di dalam lingkup nasional ada hierarki pengaturan yang jelas. Upaya 1927. (Karl Heinz Bockstiegel. 1989. yaitu sejak tahun masyarakat Pengakuan timbulnya ini. Presiden. 58 . umumnya yang menjadi kendala dalam masalah ini adalah pelaksanaan (eksekusi) putusan oleh pihak yang kalah. Arbitrase.29 3. Pokok nasional.. yang Keputusan peraturan-peraturan ibarat mengatur hal-hal internasional Undang-undang pelaksanaannya dijabarkan Peraturan Pemerintah. termasuk yang lingkup Konvensi Ia internasional detail. Arbitration and State Enterprises. sebaliknya dalam lingkup internasional tidak ada. Pelaksanaan Putusan Arbitrase (Asing) Pelaksanaan putusan arbitrase asing sudah menjadi isu yang lama. Masinmasing negara memiliki cara melaksanakan implementing legislationnya. 50). internasional dan mengeluarkan Putusan Konvensi tentang Pelaksanaan ini adalah saja.58 Konvensi New York 1958 (Convention on the Recognition and Enforcement 1959. Seperti telah disebut di muka. dari Konvensi ini kemudian direvisi oleh Konvensi New York 1958. h1m.. Masalah ini pula yang menjadi kelemahan utama dari cara penyelesaian melalui pengadilan atau hakim partikelir ini. KlUwer Law and Taxation Publishers. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni Konvensi hanya mensyaratkan ratifikasi Lihat hasil penelitian yang dilakukan oleh Karl Heinz Boockstiegel yang menyimpulkan sebagai berikut: “if we now turn to the enforcement of arbitration awards . the information collected shows many variations between national laws. of Foreign ini Arbitral Awards) ditandatangani tiga 10 Juni agar 1958 di kota New York. Jenewa Waktu masyarakat itu internasional dalam mengurangi dan memperbaiki kelemahan ini telah lama dilakukan. Sebenarnya konvensi-konvensi New hanya York 1958 seperti Konvensi ini tidak masalah merupakan konvensi Dalam refleksi internasional Masalahnya pokoknya ini oleh mengatur pada umumnya. dan seterusnya (implementing legislation-nya). Keadaan demikian jelas menambah ruwetnya masalah pelaksanaan suatu putusan arbitrase asing.

Arbitration in International Trade. Netherlands: Kluwer. yaitu: (a) Dokumen putusan atau salinannya yang sah dan (b) dokumen perjanjian arbitrase atau salinannya yang sah (pasal IV). Konvensi dengan melalui Keputusan Presiden No. Contemporary Problems in International Arbitration. 60 59 .30 berlaku.. 1985. (ed). 1986. (2) Konvensi ini mengakui prinsip putusan arbitrase yang mengikat tanpa perlu dicantumkan dalam putusannya. 96). Indonesia juga adalah mengatur anggota pengakuan 61 (recognition) New York terhadap aksesi suatu putusan arbirase asing. 34 tahun 1981. dalam Julian DM Lew. Netherlands: Martinus Nijhoff Publ.59 Konvensi (1) Konvensi mengandung ini 16 pasal. Aksesi ini didaftar di Sekretaris Jenderal PBB 7 Oktober 1981. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah ratifikasi ketiga terpenuhi. Rene David berpendapat bahwa pasal ini memberi keuntungan kepada pihak yang menang di dalam memohon eksekusi karena ia cukup menunjukkan dua dokumen tersebut kepada Pengadilan (Rene David.60 (5) Konvensi New York lebih lengkap dan komprehensif daripada hukum nasional pada umumnya. 61 Samir Saleh. prinsip Dari pasal-pasal dan ini dapat ditarik 5 (lima) prinsip berikut di bawah ini: menerapkan pengakuan pelaksanaan putusan arbitrase luar negeri dan menempatkan putusan tersebut pada kedudukan yang sama dengan putusan peradilan nasional. Dalam hal ini Konvensi hanya mensyaratkan dua dokumen saja untuk dapat melaksanakan suatu putusan. 344.. h1m. (3) Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double enforcement process). h1m. Konvensi New York di samping mengatur pelaksanaan. 5 Agustus 1981. "The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in the States of the Arab Middle East". (4) Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan putusan. pasal XII Konvensi. Lihat.

ada dua kemungkinan berikut: (1) menyidangkan kembali kasus tersebut dari awal sebagai suatu sengketa baru di pengadilan tersebut di (di mana negara terkait terikat putusan dapat (ke-dua baik dimintakan pelaksanaannya).. (Biasanya perjanjian bilateral ini memuat hal-hal yang tidak tercakup dalam Perjanjian Regional mengenai 62 . Pengadilan adalah refleksi kedaulatan Putusan pengadilan di wilayah karenanya tidak dilaksanakan kedaulatan negara lain. Pelaksanaan Putusan Pengadilan Masalah negara dalam pelaksanaan mengadili secara putusan sesuatu otomatis pengadilan sengketa. (2) pelaksanaan dilaksanakan negara. cit. berperkara di pengadilan di luar negeri tidaklah murah.62 Hans Van Houtte. 356. sudah barang tentu sulit. Untuk hal yang kedua. Untuk hal yang pertama. Sayangnya. putusan apabila pengadilan putusan suatu yang negara-negara dimana pelaksanaa dimintakan) apda suatu perjanjian bilateral atau perjanjian multilateral mengenai pelaksanaan putusan pengadilan di bidang sengketasengketa dagang (padanan kata asingnya yaitu sengketa-sengketa komersial). p. op. adalah alternatif yang cukup layak. Prosesnya jadi yang panjang akan dan berlarut-larut. Belum lagi timbul ketidak-pastian apakah putusannya akan sama dengan putusan yang dikeluarkan oleh badan peradilan sebelumnya.31 3. perjanjian bilateral dalam hal perjanjian-perjanjian bilateral dapat pengakuan dan dan regional di ditemukan seperti di Eropa putusan ini baru Eropa berupa Barat secara Barat. Untuk supaya putusan tersebut dapat dilaksanakan di suatu negara lain. dapat juga masih menjadi masalah yang cukup serius. Perjanjian antara negara-negara pelaksanaan pengadilan bilateral. untuk Belum lagi pertimbangan Biasanya biaya proses dikeluarkan proses tersebut.

op. 63 Hans Van Houtte.. 356 (menurut Houtte. Jerman.. Konvensi Brussel 1968 Perjanjian the Enforcement regional of di Eropa in Barat mengenai pelaksanaan Matters ini putusan pengadilan ini adalah the Convention on Jurisdiction and Judgment 27 Civil 1968. cit. dan Denmark (1978). op.32 a. Austria. Perancis.64 masalah pelaksanaan putusan dagang oleh pengadilan di antara negaranegara anggota Konvensi Brussel dan Konvensi Lugano. and Commercial (Konvensi Brussel). hal lain yang membedakannya adalah bahwa Konvensi Lugano tidak memberikan jaminan penafsiran yang seragam dibandingkan dengan Konvensi Brussel. yaitu mendorong pengakuan dan pelaksanaan putusan pengadilan di antara negara anggotanya.cit. Irlandia. dan Italia). Luxembourg. Islandia. p. Konvensi Lugano 1988 Konvensi kedua yaitu the Convention on Jurisdiction and the Enforcement of Judgment in Civil and Commercial Matters (Konvensi Lugano) anggota ditandatangani Konvensi ini di adalah Lugano. Selanjutnya negara-negara yang bergabung adalah Inggris. 355. dan pengakuan terhadap dokumen-dokumen negara-negara anggotanya. 356). Tujuan Konvensi ini adalah sama dengan Konvensi Brussel. Belanda. hlm. 64 . op. lihat infra). Norwegia.63 b. (2) memperkenalkan (3) mengatur prosedur sederhana untuk pengakuan otentik dan dari pelaksanaan putusan. Swedia dan Swis.. Konvensi Brussel bertujuan: (1) mengatur jurisdiksi pengadilan di negara-negara anggotanya. cit. Hans Van Houtte. Fungsi ini umumnya berkaitan dengan halhal yang tidak diatur dalam Konvensi Brussel. Spanyol dan Portugal (26 Mei 1989). 12 16 September Masyarakat 1988. Eropa Negara dan 6 negara negara anggota European Free Trade Area (EFTA) yaitu Finlandia. Houtte. september Konvensi Brussel beranggotakan Belgia. p.

Kegagalan atau kealpaan untuk mempertimbangkan faktor ini akan membuat upaya-upaya penyelesaian sengketa yang dipilih berdasarkan kebebasan para pihak menjadi tidak berarti. Pertimbangan adalah penting lainnya yang dapat justru atau sangat tidak esensial dapatnya pertimbangan kemungkinan dilaksanakannya putusan (ekseskusi). Mengenai pengertian tersebut. pendekatan ini kebebasan adalah itu para pihak untuk para menentukan pihak hukumnya. para diterapkan Seperti menyelesaikannya. Dalam kebebasan memilih cara-cara penyelesaian sengketa termasuk pula kebebasan untuk memilih hukum yang akan hal diterapkan ini badan untuk menyelesaikan harus sengketa. . hukum dan akan perlu faktor yang penting adalah kestabilan hukum tersebut. tampak masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahannya. Di dalam pengetahuan pula perlu badan di terhadap praktik yang pihak Selain yang diperhatikan peradilan atas. diuraikan menyadari adanya praktik yang berbeda-beda antara badan peradilan di suatu negara dengan badan peradilan di negara lainnya. Untuk kedua peradilan menghormatinya. Mengenai forum penyelesaian sengketa yang tersedia. Penutup Dari uraian di atas tampak dan bahwa peluang hukum yang perdagagan cukup besar internasional memberi kebebasan kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketanya. Hal inilah yang perlu dipertimbangkan dengan seksama oleh para pihak yang hendak menyelesaikan sengketanya.33 G. Baik itu APS atau pengadilan masing-masing memiliki cirinya.

cet. "The Settlement of Disputes within International Organizations.ed. 1996. 1995. "Methods of Diplomatic Settlement.). Harris. Inc. 3." 86 AJIL 92 (1992). 1984. London: Kogan Page.J. 1992. Hans Van. Malirveni.” dalam: Jonathan Reuvid (ed. Peter. Fribourg U. International Trade: Law and Practice. Cases and Materials on International Law. Sydney: LBC. Arbitrase Komersial Internasional. and E. Jakarta: Rajawali Pers. Huala Adolf. cet. 5th. Arbitration in International Trade. Palitha TB. Gould. Rene. Netherlands: Kluwer.. Paris: UNESCO and Martinus Nijhoff. "Foreign Investment in the International Court of Justice: the ELSI Case." dalam Mohammed Bedjaoui (ed). USA: Oceana Publications.” dalam: Julian D. and N. 2002. Gerald. Adjudication of International Trade Dispute in International and National Economic Law. 1985. Thesis. Houtte." dalam: Ernst-Ulrich Petersmann and Gunther Jaenicke. Cooke. 1991.2. Oeser. Kohona..). M. The Canging Law of International Claims. Huala Adolf. Sheffield University. G. Poeggel W. Aspek-aspek Negara dalam Hukum Internasional.. 1997. The Strategic Guide to International Trade. “Dispute Settlement. International Law: Achievements and Prospects. "Alternative Methods of Dispute Settlement in International Economic Relations. 1995. Islam. Mann. 1985. International Law: Achievements and Prospects. Jakarta: Rajawali Pers. Huala Adolf. . Department of Law. 1994. the Netherlands: Martinus Nijhoff Publ.. Lew and Clive Stanbrook (eds." dalam Mohammed Bedjaoui (ed). London: LLP.. D. Garcia-Amador. London: Euromoney. 1991. Beherens. F. International Commercial Arbitration. “Disputes Resolution in International Trading. London: Sweet and Maxwell...A.. The Law of International Trade..V. “The Settlement of Investment Disputes under the ICSID Arbitration”.. Dordrecht: Martinus Nijhoff Publishers and UNESCO... David..M. . Hulieatt-James M.P.. The Regulation of International Economic Relations through Law. International Trade Law. Hans. 1999. Rafiqul. London: Sweet and Maxwell. 1983. F.34 DAFTAR PUSTAKA Bagner. 1998.

Verloren van. 2002.. Sanson. International Arbitration Law. "The Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards in the States of the Arab Middle East". The Changing Structure of International Economic Law. Sydney: Cavendish. Samir. Deventer. Seidl-Hohenveldern.. I. . Saleh.. Contemporary Problems in International Arbitration. the Netherlands: Martinus Nijhoff Publishers. Essential International Trade Law. 1981. 1990. (ed). 1986. Michelle. Boston: Kluwer Law and Taxation Publsihers. Themaat. dalam Julian DM Lew." 198 Recueil des Cours 198 (1986).35 Rubino-Sammartano. Mauro. Netherlands: Martinus Nijhoff Publ. "General Course on Public International Law.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful