1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan merupakan salah satu sumber dana diantaranya dalam bentuk perkreditan bagi masyarakat, perorangan, atau badan usaha untuk memenuhi kebutuhan konsumsinya atau untuk meningkatkan produksinya.1 Produk jasa perbankan, sepanjang memerlukan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, maka produk tersebut menjadi produk perkreditan.2 Kata kredit secara etimologi, berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Credere yang berarti kepercayaan. Kepercayaan dilihat dari sisi bank adalah suatu keyakinan bahwa uang yang akan diberikan akan dapat dikembalikan tepat pada waktunya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak yang tertuang dalam akta perjanjian kredit. Keyakinan bank tentu berdasarkan studi kelayakan usaha masing-masing debitur yang akan dibiayai.3 Sumber dana yang dipinjamkan kepada masyarakat dalam bentuk kredit tersebut bukan dana milik bank sendiri karena modal perbankan juga sangat terbatas, tetapi merupakan dana-dana masyarakat yang disimpan pada bank tersebut sehingga perbankan berusaha dan berlomba-lomba menarik dan mengumpulkan dana masyarakat agar bersedia menyimpan dananya pada bank tersebut dengan berbagai undian, hadiah, dan iming-iming lainnya dengan tujuan semata-mata agar masyarakat menyimpan dananya dalam bank untuk jangka waktu yang lama. Dana yang disimpan masyarakat pada bank, pada umumnya dalam bentuk tabungan, deposito, giro, setipikat deposito dan lain-lain. Dana masyarakat yang terkumpul dalam jumlah yang sangat besar dengan jangka waktu cukup lama merupakan sumber utama bagi bank dalam menyalurkan kembali kepada masyarakat yang memerlukan dalam bentuk pinjaman atau kredit. Inilah
1

Sutarno, S.H., M.M., Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank, (Bandung : CV. Alfabeta, 2004), hlm. 1.
2 Try Widiyono, S.H., M.H., Sp.N., Aspek Hukum Operasional Transaksi Produk Perbankan di Indonesia. ( Bogor : Ghalia Indonesia, 2006), hlm. 256. 3

Suharno, Analisa Kredit, (Jakarta : Djambatan, 2003), hlm. 1.

Universitas Indonesia

2

yang dinamakan fungsi bank sebagai intermediasi. Karena itu suatu bank yang tidak memiliki sumber dana dari masyarakat yang memadai akan sangat mengganggu usaha dan kegiatan bank dan bank juga tidak mampu memperluas ekspansinya.4 Fungsi utama bagi perbankan di Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat.
5

Fungsi perbankan tersebut dlama penerapannya

disesuaikan dengan jenis banknya dan sebagaimana yang terdapat dalam pasal 5 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, jenis-jenis bank adalah bank umum dan bank perkreditan rakyat, yang masing-masing memiliki cakupan bidang usaha yang berbeda. Terkait dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penulisan ini, usaha bank umum meliputi :6 a. menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu; b. c. d. e. f. memberikan kredit; menerbitkan surat pengakuan hutang; membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan dan atas perintah nasabahnya; memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan nasabah; menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya; g. h. menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan perhitungan dengan atau antar pihak ketiga; menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;

4

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, Seri Hukum Bisnis Jaminan Fidusia (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm.2.
5 Indonesia, Undang-Undang Perbankan, UU No.10 Tahun 1998, LN No.182 Tahun 1998, TLN No.3790, ps. 3. 6

Ibid., ps. 6.

Universitas Indonesia

3

i. j. k.

melakukan

kegiatan

penitipan

untuk

kepentingan

pihak

lain

berdasarkan suatu kontrak; melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek; membeli melalui pelelangan agunan baik semua maupun sebagian dalam hal debitur tidak memenuhi kewajibannya kepada bank, dengan ketentuan agunan yang dibeli tersebut wajib dicairkan secepatnya; l. m. n. melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat; menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah; melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini dan peraturan perundangundangan yang berlaku. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa Perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan mempunyai nilai strategis dalam kehidupan perekonomian suatu negara, dimana kegiatan utamanya sebagai intermediasi pihak-pihak yang mempunyai kelebihan dana (surplus of fund) dengan pihak-pihak yang kekurangan dan memerlukan dana (lack of funds). Dalam rangka mencapai kemanfaatan yang maksimal dari kegiatan perbankan tersebut perlu adanya aturan dan ketentuan pokok sebagai dasar hukum dalam operasional perbankan yang kemudian oleh pemeritah diundangkan berupa Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 yang merupakan amandemen dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dalam undang-undang tersebut dijelaskan definisi bank sebagai penghimpun dana dan kemudian disalurkan dalam bentuk kredit berbunyi sebagai berikut : a. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. 7
7

Undang-Undang Perbankan, Ibid., ps. 1 angka 2.

Universitas Indonesia

4

b. Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.8 Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang, dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :9 a. Kepercayaan, yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. b. waktu. c. Risiko, yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. d. Prestasi, atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang, tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. Kredit dapat dibedakan menurut kriteria lembaga pemberi dan penerima kredit yang menyangkut struktur pelaksanaan kredit di Indonesia, maka jenis kredit terdiri dari:10 a. Kredit Perbankan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha dan atau konsumsi. Kredit ini diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia usaha untuk ikut membiayai sebagian kebutuhan permodalan, dan atau kredit dari bank Waktu, yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang

8 9

Ibid., ps. 1 angka 11.

Febby M. Sukatendel, 2006. “Kredit dan Masalah Keuangan, Panduan Bantuan Hukum di Indonesia”. YLBHI, Jakarta.
10

Muhamad Djumhana, Hukum Perbankan Di Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1993), hlm.221-224.

Universitas Indonesia

berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. yang berbunyi :12 “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Buku III KUHPerdata tersebut berisi perikatan-perikatan yang timbul karena perjanjian. “Aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan. sehingga biasa disebut Hukum Perjanjian yang mengandung asas Kebebasan dalam Membuat Perjanjian. para pihak juga tunduk kepada perjanjian yang telah disetujui dan disepakati oleh para pihak yang selanjutnya dituangkan dalam Akta Perjanjian Kredit. yaitu kredit yang diberikan oleh Bank Sentral kepada bankbank yang beroperasi di Indonesia. hlm. kredit ini diberikan oleh Bank Indonesia kepada lembaga pemerintah atau semi pemerintah. Misalnya Bank Indonesia memberikan kredit langsung kepada Bulog dalam rangka pelaksanaan program pengadaan barang. 23. Subekti dan R. S. Dalam pemberian kredit perbankan. 1313.. 12 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek].11 Pengertian perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUHPerdata.H. Diterjemahkan oleh R. Tjitrosudibio. cet. 13 Widjanarko. Infobank. 30. yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai perkreditannya. cit.5 kepada individu untuk membiayai pembelian kebutuhan hidup yang berupa barang maupun jasa. Universitas Indonesia . (Jakarta : Pradnya Paramita. ps.1999). MBA.. yaitu yang dimaksud perikatan adalah suatu perhubungan hukum (mengenai kekayaan harta benda) antara dua orang yang memberi hak kepada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya. 1998) : 4. c. sedangkan orang yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan.” Kumpulan Tulisan. yang dapat disimpulkan dari pasal 1338 KUHPerdata yang menyatakan bahwa segala perjanjian yang dibuat secara sah. Kredit Langsung. b. op. Kredit Likuiditas.13 11 Widjanarko. (Jakarta. selain tunduk pada peraturan perundang-undangan. Terjadinya perjanjian tersebut karena adanya pihak-pihak yang membuat perjanjian sebagaimana hukum yang mengatur perikatan di Indonesia terdapat dalam Buku III KUHPerdata yang berjudul Perikatan (verbintenissen).

3. 158160. Nopember-Desember 1992 hlm. Perjanjian kredit mempunyai beberapa fungsi yaitu diantaranya : 15 a. Perjanjian kredit berfungsi sebagai perjanjian pokok. diharapkan dapat diketahui mengenai kedudukan hukum. Berdasarkan uraian di atas. 2000). Melalui penelitian mengenai “Aspek Hukum Kerjasama Penyaluran Kredit Antara Bank X dengan PT Y”. b. penulis tertarik untuk mendalami tentang aspek hukum dalam pemberian kredit yaitu khususnya tentang perjanjian kredit atau yang dipersamakan dengan itu.64-69 dikutip dari: Drs.14 Lebih lanjut mengenai perjanjian kredit perlu mendapat perhatian khusus bagi pihak-pihak yang terkait. pengelolaannya maupun penatalaksanaan kredit itu sendiri. S. Cet. 1993). Bank dan Manajemen. Gatot Wardoyo. imbalan. 1. Perumusan Masalah 14 Sutan Remi Sjahdeini.H.2. hlm. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit yang menyangkut jangka waktu.. 228. karena perjanjian kredit mempunyai fungsi yang sangat penting dalam pemberian. Hukum Perbankan di Indonesia. cara penarikan kredit dan pembayaran kembali serta besarnya bunga yang harus dibayar oleh debitur serta perjanjian ikutan lainnya (accessoir). serta penyelesaian kredit berdasarkan kerjasama tersebut. (Bandung: Citra Aditya Bakti. hak dan kewajiban. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang Bagi Para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank. c. Muhammad Djumhana. artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidaknya perjanjian lain yang mengikutinya misalnya pengikatan jaminan. CH. 15 Universitas Indonesia . atau pembagian hasil keuntungan. hubungan hukum para pihak. (Jakarta : Institut Bankir Indonesia. Sekitar Klausul-klausul Perjanjian Kredit Bank.6 Perjanjian Kredit adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga. Perjanjian kredit berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban di antara kreditur dan debitur. hlm.

maka permasalahan-permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Y dalam rangka penyaluran kredit ke Penerima Kredit. antara lain kedudukan hukum. Y. Permasalahan hukum apa yang terdapat dalam pelaksanaan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT.7 Sesuai dengan judul tesis ini yaitu “Aspek Hukum Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan Antara Bank X dengan PT. serta Bank X pada khususnya. yaitu : 1. 2.4. Y dalam rangka penyaluran kredit kepada Penerima Kredit (end user) ? 2. 1. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam tesis ini adalah sebagai berikut: 1. Universitas Indonesia . 2. Y” dan berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas. Menguraikan dan menganalisa permasalahan dalam penyelesaian kredit berdasarkan perjanjian restrukturisasi kredit antara Bank X dengan PT. Memberikan solusi terhadap masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan dan penyelesaian kredit terkait dengan perjanjian kerjasama antara Bank dengan badan usaha lain. Menguraikan dan menganalisa aspek hukum kerjasama antara Bank X dengan PT. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan akan berguna bagi masyarakat pada umumnya. Y? 1.3. Memberikan masukan bagi Bank X untuk melakukan perbaikan dan penyempurnaan sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian kerjasama dan penyelesaian kredit sejenis di masa mendatang. hak dan kewajiban serta hubungan hukum para pihak dalam perjanjian kerjasama dan perjanjian kredit. Memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat mengenai perjanjian kerjasama antara Bank dengan badan usaha lain dalam penyaluran kredit ke Penerima Kredit/End User. 3. Bagaimana pelaksanaan penyelesaian kredit berdasarkan perjanjian restrukturisasi kredit antara Bank X dengan PT.

8

1.5.

Kerangka Teori dan Definisi Operasional Dalam rangka melaksanakan pembangunan, Bank sebagai salah satu

lembaga keuangan yang paling penting dan besar peranannya dalam kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan masyarakat hukumpun mengalami perkembangan masyarakat. Kontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi juga sangat ditentukan oleh teori. Teori hukum mempunyai fungsi yaitu menerangkan atau menjelaskan, menilai dan memprediksi serta mempengaruhi hukum positif, misalnya menjelaskan ketentuan yang berlaku, menilai suatu peraturan atau perbuatan hukum dan memprediksi hak dan kewajiban yang akan timbul dari suatu perjanjian, teori hukum disusun dengan memperhatikan fakta-fakta dan filsafat hukum, dalam tesis ini dipergunakan teori kepentingan umum (public interest) dengan menggunakan prinsip kehati-hatian, karena teori ini berkaitan dengan usaha perbankan dalam menghimpun dana masyarakat dalam bentuk tabungan dan deposito yang kemudian ditempatkan/diberikan dalam bentuk kredit kepada masyarakat yang kekurangan dana (lack of funds) dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 yaitu “Dalam memberikan kredit, Bank Umum wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan”.16 Fungsi dan peran bank sangat krusial bagi perekonomian suatu negara, keberadaan aset bank dalam bentuk kepercayaan masyarakat sangat penting dijaga guna meningkatkan efisiensi penggunaan bank dan efisiensi intermediasi. Kepercayaan dari masyarakat juga diperlukan karena bank tidak memiliki uang tunai yang cukup untuk membayar kewajiban kepada seluruh nasabahnya sekaligus. Adapun masyarakat menyimpan dananya di bank karena adanya unsur kepercayaan terhadap bank tersebut, oleh karena itu bank dalam memberikan kredit kepada debitur haruslah sesuai prinsip atau asas kehati-hatian mengingat
16

Undang-Undang Perbankan, op.cit., ps. 8.

Universitas Indonesia

9

dana yang diberikan oleh bank merupakan simpanan masyarakat yang dipercayakan kepada bank, yang menyangkut kepentingan umum dalam jasa keuangan untuk meningkatkan taraf hidup rakyat banyak, sehingga perbankan dalam menjalankan fungsinya harus mengenyampingkan kepentingan individual karena terdapat kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan umum. Sehingga dalam menjalankan peranannya bank bertindak sebagai salah satu bentuk lembaga keuangan yang bertujuan memberikan kredit dan jasa-jasa keuangan lainnya. Adapun pemberian kredit itu dilakukan baik dengan modal sendiri atau dengan dana-dana yang dipercayakan oleh pihak ketiga maupun dengan jalan memperedarkan alat-alat pembayaran baru berupa uang giral. 17 Sedangkan kredit adalah suatu kepercayaan, dimana kreditur yang memberikan kredit percaya bahwa debitur (penerima kredit) akan sanggup memenuhi segala sesuatu yang telah diperjanjikan, baik menyangkut jangka waktunya maupun prestasi dan kontra prestasinya. 18 Salah satu obyek yang terpenting dalam hal ini adalah aspek hukum karena sangat berperan dalam operasional perbankan, terdapat adanya perjanjian di antara pelaku jasa perbankan yaitu bagi nasabah debitur terhadap bank yang disebut dengan Perjanjian Kredit. Menurut Hukum Perdata Indonesia, salah satu bentuk perjanjian pinjam meminjam yang diatur dalam Buku Ketiga KUHPerdata pasal 1754 sampai dengan 1789, namun demikian dalam praktek perbankan modern tidak hanya perjanjian pinjam meminjam melainkan adanya campuran dengan bentuk perjanjian yang lainnya seperti perjanjian pemberian kuasa dan perjanjian lainnya. Sehubungan dengan pemberian kredit oleh bank maka setiap pemberian kredit tersebut haruslah dituangkan dalam perjanjian kredit (akad kredit) secara tertulis dengan tetap harus dipedomani yaitu bahwa perjanjian tersebut rumusanya tidak boleh kabur atau tidak jelas dan harus memperhatikan keabsahan dan persyaratan secara hukum dengan menyebutkan jumlah besarnya kredit, jangka waktu, tata cara pembayaran, serta persyaratan lainnya. Untuk

17

Drs. O. P. Simorangkir, Kamus Perbankan, cet. 2, (Jakarta : Bina Aksara, 1989), hlm.33.
18

Drs. Muhammad Djumhana, S.H., op .cit., hlm. 365-366.

Universitas Indonesia

10

mencegah adanya kebatalan dari perjanjian, sehingga secara yuridis telah memberikan perlindungan yang memadai bagi bank.19 Adapun definisi dari beberapa istilah yang sering digunakan penulis sehingga dapat menunjang dan membantu dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut : 1. Bank Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi orang perseorangan, badan-badan usaha swasta, badan-badan usaha milik negara, bahkan lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya. Melalui kegiatan perkreditan dan berbagai jasa yang diberikan, bank melayani kebutuhan pembiyaan serta melancarkan mekanisme sistem pembayaran bagi semua sektor perekonomian.20 Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan: 21 “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak”. 2. Debitur Nasabah Debitur adalah Nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan.22 Selanjutnya dalam penulisan tesis ini akan disebut debitur. Debitur adalah One who owes a debt to another who is called the director; one who may be compelled to pay a claim or demand; anyone lieable on a claim, whether due or to become due. 23
19

Ibid., hlm. 385.
20

Hermansyah, S.H., M.Hum., Hukum Perbankan Nasional Indonesia, (Jakarta : Prenada Media, 1999), hlm. 7.
21

Undang-Undang Perbankan, op.cit., ps.1 angka 2.

22

Ibid., ps.1 angka 18.
23

Universitas Indonesia

11

3.

Kredit Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan : 24 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/2/PBI/2009 : 25 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara Bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga, termasuk: a. cerukan (overdraft), yaitu saldo negatif pada rekening giro nasabah yang tidak dapat dibayar lunas pada akhir hari; b. pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang; c. pengambilalihan atau pembelian kredit dari pihak lain.” Perjanjian Perjanjian adalah suatu perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.26 Perjanjian dalam KUHPerdata diatur dalam buku III tentang perikatan, bab kedua, bagian kesatu sampai dengan bagian keempat. Pengertian perjanjian yang dikemukakan oleh Subekti menyebutkan bahwa suatu perjanjian adalah suatu peristiwa di mana seorang berjanji kepada

4.

Henry Black Campbell, Black’s Law Dictionary, Sixth Edition, (St. Paul Minn: West Publishing Co, 1990), hlm. 404.
24

Indonesia, Undang-Undang Perbankan, op.cit., ps.1 angka 11.
25

Indonesia, Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, PBI No.11/2/PBI/2009 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005, ps. 1 angka 5.
26

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek], op.cit., ps. 1313.

Universitas Indonesia

hlm. hlm. hlm. yaitu tahap pra-contractual (adanya penawaran dan penerimaan). Menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. 2004). Cet. 29 Ibid. yaitu : 28 “Perjanjian adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Segi-Segi Hukum Perjanjian. cet. (Jakarta : Sinar Grafika. op.. maka unsur-unsur di dalam perjanjian adalah sebagai berikut : 31 a. 27 Prof. hlm. 26.1. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. Ada tiga tahap untuk membuat perjanjian. 20.27 Untuk memperjelas pengertian perjanjian.” Di dalam teori baru tersebut. Yahya Harahap. 6. (Jakarta : PT. Universitas Indonesia . yang diartikan dengan perjanjian. 28 Salim H. tidak hanya melihat perjanjian semata-mata tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya. Hukum Perjanjian. 2.S. 31 Salim H. 2006).. b. 25-26. cet.30 Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian perjanjian tersebut.12 seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.. Intermasa. Subekti. (Bandung: Alumni. 26. Adanya Hubungan Hukum. yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan kepada pihak lain untuk menunaikan prestasi..S. cit. Adanya Subyek Hukum. Hukum Kontrak : Teori dan Teknik Penyusunan Kontrak. hlm. Yahya Harahap mengartikan perjanjian sebagai hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua orang atau lebih. maka dapat ditemukan di dalam doktrin. 30 M. 4. tahap contractual (adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak) dan tahap post-contractual (pelaksanaan perjanjian). Sedangkan menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne.29 Sementara M.. Subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban. R. Hubungan hukum merupakan hubungan yang menimbulkan akibat hukum. 1986).

suatu hal tertentu. cet. op. Adanya Prestasi. 5. 1995). b.cit. Prestasi terdiri dari memberikan (menyerahkan) sesuatu.. untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan empat syarat sebagai berikut : 32 a. Gramedia Pustaka Utama. waktu. Dasar-Dasar Perkreditan. Waktu. 12-13. atau pembagian hasil keuntungan.. dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :34 a. sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. b. Di bidang harta kekayaan. 33 Sutan Remi Sjahdeini. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. suatu sebab yang halal. c. op. 34 Drs. (Jakarta: PT. Berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata. Perjanjian Kredit Perjanjian Kredit adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga. 1320. d. Thomas Suyatno. yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang 32 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. 4. melakukan sesuatu. d. Universitas Indonesia .33 Perjanjian Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang. Kepercayaan.13 c. imbalan. kecakapan untuk membuat suatu perikatan. ps. atau tidak melakukan sesuatu.cit. hlm.

36 Ibid. pengertian dari kerjasama adalah :35 a. Tipe Penelitian Penelitian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kegiatan pengumpulan. hlm.36 Sebagai upaya melakukan penelitian terhadap pokok permasalahan yang ingin ditulis. Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. 1163. pengolahan. 1. tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. 6.6. d. cet. Universitas Indonesia . yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. b. hlm. dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.1. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang atau pihak untuk mencapai tujuan bersama. Prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Metode Penelitian 1. 428.6. Interaksi sosial antara individu atau kelompok secara bersama-sama mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. (Jakarta : Balai Pustaka.. 3. Prestasi. Risiko. analisis.14 c. 2002). atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. Kerjasama Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. penulis 35 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

15 dalam penulisan ini menggunakan metode penelitian normatif yang dikenal juga dengan istilah penelitian kepustakaan. sedangkan data sekunder diperoleh dengan melakukan penelusuran kepustakaan atau dokumentasi atau berupa norma hukum tertulis sehingga alat pengumpulan data dengan studi kepustakaan berupa bahan-bahan terdiri dari: a. 14. Data yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer (atau data dasar). 15. 3 (Jakarta : Rajawali Pers. Bahan hukum sekunder. jurnal-jurnal. cet. sekunder dan tertier. yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat39. 40 Ibid. sedangkan yang diperoleh dari bahan-bahan pustaka lazimnya dinamakan data sekunder38. Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat. Teknik Penyusunan Karya Ilmiah Untuk Perguruan Tinggi (Jakarta : Nina Dinamika. hlm. 1986). b. 1990). 39 Ibid. yang diterbitkan di Jakarta oleh Penerbit UI-Press pada tahun 1986. Jenis Data Dalam penelitian pada umumnya dibedakan antara data yang diperoleh secara langsung dari masyarakat dan dari bahan-bahan pustaka. hlm. 52.2. Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. makalah-makalah atau karya ilmiah. Penelitian hukum dapat dibedakan antara penelitian hukum normatif dengan penelitian hukum sosiologis atau empiris. maka yang diteliti pada awalnya adalah data sekunder. Pada penelitian hukum normatif yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder. 37 1. Lihat juga Rasyid Sartuni. serta artikel-artikel yang berkaitan dengan permasalahan yang akan ditulis. Pada penelitian hukum sosiologis atau empiris. Penelitian ini bersifat yuridis normatif dengan menggunakan data primer dan data sekunder. antara lain Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. Universitas Indonesia . cet. hlm.3. untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap data primer di lapangan atau masyarakat. yaitu berupa bahan-bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer40. yang mungkin mencakup bahan hukum primer. Bahan hukum primer. 38 37 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Menurut Soerjono Soekanto dalam bukunya Pengantar Penelitian Hukum. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan pihak Bank X.6. meliputi buku-buku.

4.8. Universitas Indonesia . baik secara teoritis maupun praktis.6. Bahan hukum tertier. 1. Kegunaan Teoritis dan Praktis Faedah yang diharapkan dari tulisan ini sangat berguna. Selanjutnya Bank dan pihak-pihak lain yang terkait dapat melakukan perbaikan dan penyempurnaan sehubungan dengan pelaksanaan perjanjian kerjasama dan penyelesaian kredit sejenis di masa mendatang. Kegunaan Teoritis Memberikan sumbangan penting dan memperluas wawasan dalam pemahaman konsep hukum perjanjian kerjasama dalam rangka penyaluran kredit. 1. kemudian diseleksi untuk diambil data khusus. Kamus Besar Bahasa Indonesia.16 c. 1. Cara Menganalisa Data Data yang didapat akan dianalisa sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan kemudian akan dikaitkan dengan kaidah-kaidah yang ada dalam konsep perjanjian kerjasama dalam rangka penyaluran kredit.6. Kamus Bahasa Inggris. 1. sehingga diharapkan dapat memberikan suatu analisis logis. yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder41 seperti Kamus Hukum. Sistematika Penelitian 41 Ibid. Metode Pengolahan Data Data-data sekunder dan data-data primer yang telah diperoleh akan dikumpulkan. yaitu data yang lebih khusus berkaitan dengan permasalahan yang akan ditulis. Kegunaan Praktis Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pikiran di bidang hukum mengenai perkreditan untuk menentukan konsep kerjasama antara Bank dengan badan usaha lain dalam rangka penyaluran kredit ke End User.3.7. b. yaitu : a.

serta Sistematika Penelitian. Dalam bab ketiga membahas mengenai Aspek Hukum Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT.1. Analisa Perjanjian Kredit antara PT. Y. Tinjauan Umum Perkreditan 2.1. Bab keempat merupakan bab penutup yang menguraikan Kesimpulan dan Saran. Pengertian Kredit Universitas Indonesia .1.17 Dalam sistematika penelitian ini. yaitu: Dalam bab kesatu yaitu Pendahuluan. Y dengan Penerima Kredit (End User) dan Analisa Perjanjian Restrukturisasi Kredit antara Bank X dengan PT. Dalam bab kedua membahas mengenai Tinjauan Umum Perkreditan dan Pelaksanaannya Pada Bank X yang terdiri dari Tinjauan Umum Perkreditan. Y. Kerangka Konsepsional. dan dibagi lagi dalam pokok-pokok pembahasan. Metode Penelitian. Y. Buku Pedoman Perusahaan Perkreditan Bank X. Kegunaan Teoritis dan Praktis. Y yang terdiri dari Analisa Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. BAB II TINJAUAN UMUM PERKREDITAN DAN PELAKSANAANNYA PADA BANK X 2. penulis membagi pokok penulisan tesis dalam 4 (empat) bab. diuraikan mengenai Latar Belakang. Perumusan Masalah. serta Pelaksanaan Kredit dalam Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. dan dalam tiap-tiap bab tersebut terdapat pula beberapa sub bab. Tujuan Penelitian. Manfaat Penelitian.

c. Kepercayaan. ps. Produk jasa perbankan... Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang Undang-Undang Perbankan. 1 ayat 11.” dalam rumusan kredit tersebut dapat ditafsirkan sangat luas. Universitas Indonesia . sepanjang memerlukan penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Thomas Suyatno..43 Perjanjian Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. 43 Try Widiyono.. op. op.. dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :44 a.. 44 Drs. Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan : 42 “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. op. b. hlm 256. waktu.. cit.18 Bank dalam usahanya adalah menghimpun dana masyarakat dan kemudian menyalurkan dana-dana tersebut dalam bentuk kredit.cit. hlm. penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. 42 Waktu. 12-13. maka produk tersebut menjadi produk perkreditan. cit. Risiko. Kata-kata dalam pasal 1 ayat 11 Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan “. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”.

Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. yang selanjutnya digunakan sebagai dana untuk membiayai perkreditannya. Kredit Perbankan kepada masyarakat untuk kegiatan usaha dan atau konsumsi. Kredit ini diberikan oleh bank pemerintah atau bank swasta kepada dunia usaha untuk ikut membiayai sebagian kebutuhan permodalan. op. tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. b. cit. 2. 46 Ibid. dan atau kredit dari bank kepada individu untuk membiayai pembelian kebutuhan hidup yang berupa barang maupun jasa. Kredit Likuiditas..19 d.2. hlm.45 Kredit dapat dibedakan menurut kriteria lembaga pemberi dan penerima kredit yang menyangkut struktur pelaksanaan kredit di Indonesia.1. Universitas Indonesia . hlm. Jenis-Jenis Kredit Perkembangan kredit saat ini memang sudah jauh dari bentuk awalnya. Begitu banyaknya jenis kredit memperlihatkan begitu eratnya eksistensi kredit dengan usaha pemenuhan kebutuhan manusia. 45 Muhamad Djumhana. waktu.233. atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. Salah satu bukti perkembangan kredit tersebut dapat dilihat melalui jenis-jenis kredit yang dikenal saat ini. Dapat disimpulkan bahwa prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya dan unsur-unsur yang terdapat dalam kredit yaitu kepercayaan. terutama karena berbagai kebutuhan manusia yang semakin beragam. Sebenarnya perkembangan jenis kredit tersebut tidak dapat dipisahkan dari kebijakan perkreditan yang ditetapkan sesuai dengan tujuan pembangunan. yaitu kredit yang diberikan oleh Bank Sentral kepada bank-bank yang beroperasi di Indonesia.221-224.. maka jenis kredit terdiri dari: 46 a. risiko dan prestasi. Prestasi.

Penggolongan berdasarkan jangka waktu : a. c. yang timbul karena : Penarikan atau pembebanan giro yang melampaui saldonya. Kredit yang dimaksud dan akan dibahas oleh penulis adalah kredit perbankan. yang dibagi menjadi : i. perburuhan dan sarana pertanian. Kredit sektor pertambangan. Kredit cerukan. Penggolongan berdasarkan bidang ekonomi : a. 2. tergantung dari ketentuan banknya. b. Kredit jangka menengah (medium term loan). 1 (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.15-21. Kredit sektor pertanian. Misalnya Bank Indonesia memberikan kredit langsung kepada Bulog dalam rangka pelaksanaan program pengadaan barang. gas dan air. yang saat ini sudah sangat jarang Kredit dengan instrumen surat berharga. Penggolongan berdasarkan dokumentasi : a. Hukum Perkreditan Kontemporer. Universitas Indonesia . b. Kredit lisan. Kredit sektor perindustrian. Jangka waktu untuk masing-masing kredit berbeda-beda. jenis-jenis kredit perbankan digolongkan berdasarkan kriteria yang digunakan. 3. Kredit dengan perjanjian tertulis. Kredit sektor konstruksi. Penarikan atau pembebanan R/C yang melampaui plafondnya. Misalnya untuk kredit jangka pendek ada bank yang memberlakukan jangka waktu tidak lebih dari satu tahun. iii. Kredit tanpa surat perjanjian. Kredit jangka pendek (short term loan). kredit ini diberikan oleh Bank Indonesia kepada lembaga pemerintah atau semi pemerintah. ada juga bank yang memberlakukan jangka waktu untuk dua tahun. hlm. cet. d. e.20 c. Untuk lebih mudah memahaminya. 1996). Kredit jangka panjang (long term loan). ii. yaitu: 47 1. c. 47 Munir Fuady (A). Kredit sektor listrik. Kredit Langsung. b.

Penggolongan berdasarkan obyek yang ditransfer : a. yang pencairannya secara tunai atau dengan pemindahbukuan ke rekening debitur. seperti tunai atau pemindahbukuan. Kredit tidak tunai. Kredit sekali jadi (aflopend). Kredit sektor lain-lain. Kredit sektor jasa. barang dan jasa. untuk membeli modal lancar yang habis dalam pemakaiannya. yang baru akan dibayar bila terjadi perbuatan tertentu. yang pencairannya sekaligus. untuk membantu perusahaan yang sedang kesulitan likuiditas. b. Kredit uang. Kredit konsumtif. yang merupakan jaminan pembayaran dalam kegiatan ekspor impor. yang pencairannya tidak dilakukan saat pinjaman dibuat. Kredit sektor pengangkutan. i. Kredit produktif. Garansi Bank atau Stand by L/C. Kredit investasi. yang pemberiannya dalam bentuk dilakukan dalam bentuk uang. 5. yang diberikan untuk keperluan konsumsi seharihari. yang terdiri dari : i. ii. Penggolongan berdasarkan cara penarikannya : a. b. h. tahan lama. namun pengembaliannya dalam bentuk uang. ii. perdagangan dan komunikasi. untuk membeli barang modal atau barang yang Universitas Indonesia . Kredit modal kerja atau kredit eksploitasi. Penggolongan berdasarkan tujuan penggunaannya : a.21 f. Kredit sektor perdagangan. restoran dan hotel. g. yang pemberian dan pengembaliannya Kredit bukan uang. b. iii. 4. Kredit Likuiditas. Letter of Credit. Penggolongan berdasarkan waktu pencairannya : a. seperti : i. 6. Kredit tunai. 7.

48 Try Widiyono. Kredit sindikasi (syndicated loan). b.3. 8. Penggolongan berdasarkan jumlah kreditur : a. Executing dan Referensi Sehubungan dengan kajian kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan pada penulisan ini. Kredit berulang-ulang (revolving loan). 293. Penggolongan berdasarkan pola penyaluran kredit :48 a. executing dan referensi sebagai berikut : 49 Channeling agent merupakan pola pemberian kredit kepada debitur. d. c. Kredit rekening koran. Kredit tiap transaksi (self-liquidating credit) yang penarikannya sekaligus untuk satu transaksi tertentu dan pengembaliannya diambil dari hasil transaksi yang bersangkutan. c. hlm. Kredit Pola Channeling. e. Kredit bertahap. ibid.. op. misalnya bilyet giro atau cek. tetapi melalui lembaga/perusahaan (agent) yang berhubungan langsung dengan debitur.1. Kredit dengan kredit tunggal (single loan). 2. Universitas Indonesia . hlm. 293-297. Kredit Channeling.. cit. 9. terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai kredit pola channeling. yang pencairannya dalam beberapa termin/bertahap. Kredit Referensi Selain kriteria yang digunakan di atas. yang mempunyai lebih dari satu kreditur dengan satu kreditur sebagai lead creditor/lead bank.22 b. 49 Try Widiyono. yang diberikan sesuai kebutuhan selama dalam batas maksimum dan masih dalam jangka waktu yang diperjanjikan. Kredit Executing. Penjabaran semua kriteria itu pada dasarnya hendak memperlihatkan perkembangan kredit yang telah mengisi berbagai segi kegiatan manusia. masih banyak lagi kriteria yang dapat digunakan untuk menggolongkan berbagai jenis kredit. yang waktu penarikannya tidak teratur dan dapat dilakukan berulang kali selama plafond kredit masih tersedia. b.

Penetapan demikian wajib didukung oleh kewenangan yang terdapat dalam perjanjian kerjasama. Jika tidak. khususnya dalam hal channeling agent diberikan hak untuk menetapkan secara bebas suku bunga kredit kepada end user/debitur. Sebagai kuasa. Dalam hal ini perlu diperhatikan. channeling agent tidak dapat bertindak di luar kuasa yang diberikan. Ada perbedaan utama antara pola channeling dengan executing. kredit diberikan kepada debitur melalui lembaga/perusahaan lain. kreditur wajib memberikan kuasa untuk melaksanakan hak-hak kreditur dalam melakukan tagihan atau eksekusi agunan jika end user/debitur melakukan wanprestasi. maka pemberian fasilitas kredit tersebut bukan merupakan tanggung jawab pihak pemberi kuasa. maka agen yang bersangkutan wajib mendapatkan kuasa dari kreditur (bank) karena agen dalam hal ini bertindak dalam kapasitasnya berdasarkan kuasa dan oleh karena itu. siapakah yang menandatangani perjanjian kredit. untuk dan atas nama bank/kreditur. Fungsi lembaga/perusahaan (agent) lain dalam pola channeling ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama. Channeling agent dengan pola tidak adanya kewajiban agen untuk mengambil alih kredit (take over) jika end user/debitur wanprestasi. Pada pola channeling agent terdapat beberapa variasi yang masing-masing mempunyai aspek hukum yang berbeda-beda dan wajib dimuat dalam perjanjian kerjasama sebagai berikut : a. kreditur tidak perlu memberikan kuasa untuk melaksanakan hak-hak kreditur dalam melakukan tagihan dan atau eksekusi agunan jika end user/debitur wanprestasi. pola executing bukan demikian. b. Dalam pola ini. Hal yang perlu diperhatikan adalah hak dan kewajiban perusahaan (agent) tersebut. Dalam hal perjanjian kredit ditandatangani antara debitur dengan agen. Dalam pemberian kredit berpola channeling atau executing dapat berupa Kredit Investasi atau Kredit Modal Kerja atau kredit-kredit lainnya. Dalam pola ini. Pada pola channeling. Channeling agent dengan pola adanya kewajiban agen untuk mengambil alih kredit (take over) jika end user/debitur wanprestasi.23 Lembaga/perusahaan tersebut harus telah melakukan perjanjian kerja sama dengan bank/kreditor. Sementara. Universitas Indonesia .

Dalam hal ini bank memberikan kuasa kepada agen untuk bertindak atas nama bank dalam menandatangani SPPK (surat pemberitahuan persetujuan kredit). Pernyataan dan tanggung jawab agen mengenai benda/barang yang dibiayai (dibeli) end user merupakan tanggung jawab agen. Artinya. sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh bank. baik spesifikasi maupun kualitasnya. pengikatan agunan. Oleh karena itu. antara lain sebagai berikut : a. c. termasuk self financing/persentase pembiayaan sendiri (end user). PK (perjanjian kredit). Channeling agent dengan pola pembelian kredit-kredit existing yang telah dibiayai oleh lembaga pembiayaan. misalnya kreditur 75% dan agen 25%. Menarik dan atau menjual jaminan kredit debitur. yang disebut juga dengan pola purchasing agreement. PK serta pengikatan agunan dan tingkat suku bunga harus diketahui atau disetujui oleh bank. hak-hak dan kewajiban agen harus diperinci dalam perjanjian kerjasama channeling antara bank dengan agen. d. terdapat agen menaikkan suku bunga kredit dari yang ditetapkan bank.24 c. Kewajiban-kewajiban agen dalam memberikan kredit kepada end user menurut prosedur dan tata cara pemberian kredit yang sehat. d. f. Meneliti kapabilitas dari debitur. Kewajiban agen untuk menagih kepada debitur dan menyerahkannya kepada bank/kreditur. yang dibolehkan Universitas Indonesia . isi SPPK. e. Hal yang penting dalam perjanjian kerjasama. Channeling agent dengan pola bahwa agen ikut membiayai kredit tersebut. mewakili bank di dalam dan di luar pengadilan berkaitan dengan pelaksanaan pemberian fasilitas kredit secara channeling. g. Dibebaskan atau tidak dibebaskan untuk meningkatkan suku bunga kredit dari bunga yang ditentukan oleh bank. penarikan dan atau penjualan agunan. termasuk persyaratan calon debitur yang layak untuk diberikan fasilitas serta meyakini dan bertanggung jawab atas seluruh dokumen kredit yang diserahkan dan atau terkait dengan pemberian fasilitas kredit kepada end user. b. yang juga dikenal joint financing. Persyaratan tata cara.

dalam pasal 27 (1) dinyatakan bahwa perusahaan pembiayaan dilarang: a. Dengan demikian. berikut sanksi apabila ternyata agen tidak mau atau tidak mampu mangambil alih (take over). berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan RI No. dapat disimpulkan bahwa pengertian buy back guarantee dalam pola Universitas Indonesia . Dengan demikian. tabungan dan bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.017/2000 tentang Perusahaan Pembiayaan.25 h. j. untuk membuat perjanjian kerja sama pemberian kredit dengan pola channeling agent yang dalam perjanjian kerja samanya memuat adanya take over atau buy back guarantee atau with recourse atau avalis harus diperhatikan dan diyakini bahwa perusahaan yang menjadi channeling agent tersebut bukan perusahaan pembiayaan. Pengertian pemberian jaminan sebagaimana dimaksud dalam SK Menkeu tersebut adalah pemberian jaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1820 KUHPerdata. c. Menerbitkan surat sanggup bayar (promissory note). Hal penting juga untuk dikemukakan. Ini berarti pihak channeling agent melakukan penjaminan apabila debitur (end user) tidak memenuhinya. guna kepentingan si berpiutang. Mengambil alih (take over) kredit oleh agen apabila debitur (end user) wanprestasi. maka pihak channeling agent akan menjamin pembayaran kewajiban debitur tersebut. mengikatkan diri untuk memenuhi pengikatannya si berutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya. Sedangkan pengertian buy back guarantee dalam pola channeling agent adalah bahwa apabila debitur (end user) tidak dapat membayar kewajibannya kepada bank. 448/KMK. Umum diperjanjikan juga bahwa agen harus menempatkan dananya pada bank/kreditur dalam jumlah tertentu sebagai jaminan apabila debitur ternyata menunggak/tidak membayar kredit. b. dan Memberikan jaminan dalam segala bentuknya kepada pihak lain. kecuali sebagai jaminan atas utang kepada bank yang menjadi krediturnya. i. deposito. Melaporkan semua kegiatan agen berdasarkan kewenangan yang diberikan oleh bank yang termuat dalam surat kuasa. Menarik dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk giro. yang menyatakan bahwa penanggungan adalah suatu persetujuan dengan mana seorang pihak ketiga.

Jadi. agen yang dalam perjanjian kerja samanya dapat sebagai penanggung kredit. juga agunan yang diperlukan. maka itu dilarang.1. maka hal tersebut termasuk pengertian “penjaminan” sebagaimana dimaksud dalam SK Menkeu di atas. Disamping itu.26 demikian hakikatnya adalah penjaminan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1820 KUHPerdata. tetapi fungsi agen hanyalah untuk memberikan referensi atas calon debitur kepada bank. hal terpenting dalam pola pemberian kredit melalui agen adalah hak. 2. termasuk pada kewajiban memberikan calon nasabah yang memenuhi syarat yang ditentukan oleh kreditur. Namun demikian. biasanya untuk menetapkan syarat penarikan. maka kalusula buy back guarantee dalam perjanjian kerja sama dengan perusahaan pembiayaan seyogianya dihindari karena hal ini bertentangan dengan ketentuan Menkeu tersebut. Hubungan hukum antara agen dengan nasabahnya (nasabah agen/end user) adalah hubungan hukum yang terpisah dengan hubungan hukum antara bank dengan agen. Berbeda dengan channeling. Oleh karena agen adalah debitur. dan tanggung jawab dari agen yang bersangkutan. fungsi agen semata-mata hanya sebagai sales atau pihak yang mencari nasabah. antara lain ditentukan adanya aplikasi nasabah agen yang mengajukan kredit kepada agen dan selanjutnya agen tersebut meminta kepada bank untuk dapat menarik/mencairkan fasilitas kredit. dalam executing debitur adalah agen tersebut langsung.4. kewajiban. khususnya berkaitan dengan syarat penarikan. apabila pengertian buy back guarantee adalah termasuk cakupan dalam pengertian penjaminan sebagaimana dikemukakan dalam pasal 1820 KUHPerdata tersebut. Dengan demikian. yang apabila dilakukan oleh perusahaan pembiayaan penjaminan. terdapat pola pemberian kredit melalui agen. Prinsip-Prinsip dalam Pemberian Kredit Universitas Indonesia . Memperhatikan uraian tersebut. Dalam hal ini. maka agen harus memenuhi syarat dan ketentuan bidang perkreditan sebagaimana mestinya. Hak dan kewajiban pihak agen harus secara tegas diatur dalam perjanjian kerja sama antara bank dengan agen karena. sekalipun sebagai referensi. Hal terpenting dalam kredit pola executing adalah perjanjian kredit yang dibuat harus lebih rinci.

Untuk memperoleh keyakinan tersebut. (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Bank Indonesia menerbitkan ketentuan-ketentuan yang harus ditaati oleh bank sebagai upaya untuk meminimalisasi risiko akibat kredit dan berkenaan dengan prinsip kehati-hatian bank.51 Hal tersebut tidak terkecuali dalam usaha penyaluran kredit. 2. 27/162/KEP/DIR tanggal 31 Maret 1995 tentang Kewajiban Penyusunan dan Pelaksanaan Kebijakan Perkreditan Bank bagi Bank Umum.52 Disadari bahwa kredit yang diberikan oleh bank mengandung risiko. 51 Bank Indonesia. Bank harus memperoleh keyakinan bahwa kredit yang disalurkannya tersebut dapat dikembalikan kembali oleh debitur tepat pada waktunya. Ketentuan-ketentuan tersebut antara lain penentuan Batas Minimum Pemberian Kredit (BMPK). bank wajib memperhatikan prinsip kehati-hatian (prudent principle). rasio kredit terhadap simpanan (Loan to Deposit Ratio/LDR). ps. bank akan mengikuti prosedur pemberian kredit (Standard Of Procedure/SOP)53 yang 50 Gunawan Widjaja & Ahmad Yani. SK No. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No. 2004). 53 Bank Indonesia. maka lahirlah kewajiban pada diri kreditur.27 Pada dasarnya pemberian kredit dapat diberikan pada siapa saja yang memiliki kemampuan untuk itu melalui perjanjian utang piutang antara pemberi utang (kreditur) di satu pihak dan penerima utang (debitur) di lain pihak. alokasi jumlah kredit untuk golongan usaha tertentu dan batas minimum perolehan bank. hlm. Manajemen Perkreditan Bank Umum. Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia tentang Kualitas Aktiva Produktif. maka dalam proses pemberian kredit.1. dengan hak untuk menerima kembali uang itu dari debitur pada waktunya. 44-50. sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat. 2001). Universitas Indonesia . Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR). Seri Hukum Bisnis: Jaminan Fidusia. yaitu untuk menyerahkan uang yang diperjanjikan kepada debitur. disertai dengan bunga yang disepakati oleh para pihak pada saat perjanjian kredit tersebut disetujui oleh para pihak.50 Dalam melakukan setiap usahanya. (Bandung: Alfabeta. Setelah perjanjian disepakati dan debitur telah menyerahkan sejumlah jaminan bagi kredit yang diperolehnya. 30/267/KEP/DIR/1998. hlm. 52 Rachmat Firdaus dan Maya Ariyani.

penilaian karakter debitur harus ditentukan sejak ia memulai langkah pertama untuk mendapatkan pinjaman. 16 September 2004. maka kredit tidak akan berhasil tanpa perlu memperhatikan faktor-faktor lainnya. Jakarta. Kemampuan (Capacity).” (Makalah disampaikan pada Pelatihan Kriminalisasi Kredit Macet Perbankan sebagai Tindak Pidana Korupsi). kemungkinan ia akan mencari jalan untuk menghindari membayar kembali.54 Karakter tidak diragukan lagi adalah faktor yang sangat penting untuk dipertimbangkan jika ingin memberikan kredit.28 berlaku di internal bank untuk melakukan penilaian yang seksama atas kemampuan debitur yang lazim menggunakan ukuran 5’Cs yaitu Watak (Character).1.” (Makalah disampaikan pada Pelatihan Aspek Hukum Perkreditan bagi Staf PT Bank NISP Tbk). Seseorang yang incompetence menjalankan bisnis tidak diragukan lagi akan menjalankan bisnisnya dengan buruk. Beberapa lembaga pinjaman mempunyai aturan-aturan pinjaman yang memuat batas rasio maksimal aset dan pasiva. Untuk itu. biaya dan bunga.55 Sedangkan modal (capital) berhubungan dengan kekuatan keuangan dari sipeminjam. Apabila debitur tidak jujur. dapat dilihat melalui dua kategori. Jika seseorang tidak ingin membayar kembali kreditnya. “Kredit Macet : Antara Kerugian Negara atau Kerugian Korporasi. sehingga bank dapat mengetahui bahwa usaha proyek yang dibiayainya layak (feasible) dan bankable. Universitas Indonesia . “Kendala dan Masalah. Modal (Capital). 56 Ibid. yaitu kondisi internal dan kondisi eksternal yang akan mempengaruhi peminjam dan kemampuan debitur untuk mengembalikan. hlm. 25-26 Januari 2010. Bank berhak mengetahui tujuan dari pinjaman. Kedua belah pihak baik bank maupun debitur menyusun kontrak yang memuat hal-hal yang berkaitan dengan kredit.56 Conditions. Orang yang tidak jujur ataupun curang akan selalu mencari jalan untuk mengambil keuntungan. ataupun incompetence. 55 Zulkarnain Sitompul. Jakarta. dan hasilnya kredit akan mengandung resiko tinggi. hlm. Agunan (Collateral) dan prospek usaha (Condition of economy). hlm. Ada beberapa cara untuk menentukan apakah modal seseorang itu memuaskan.2.1. curang. Langkah pertama adalah mendapatkan laporan aset dan pasiva dari sipeminjam dan harus dipastikan data tersebut akurat.. Hal ini membantu bank menilai 54 Agus Santoso.

58 59 Ibid.29 resiko dari pinjaman. Demikian juga apabila berlebih diberikan akan mematikan debitur. kredit bagaikan suatu obat yang dapat menyembuhkan atau atau bahkan dapat mematikan. Calon debitur umumnya diminta untuk menyediakan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. karena bila kredit yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan debitur. dikutip dari PM Weaver & CD Kingsley.59 Kegiatan perkreditan merupakan proses pembentukan aset bank. Kenapa. Universitas Indonesia .. (Sydney: Lawbook Co. Kesulitan bank dalam melakukan analisis dengan menggunakan prinsip 5 C sebagaimana dikemukakan di atas dapat diatasi dengan adanya skim penjaminan atau skim asuransi kredit. Kredit merupakan risk asset bagi bank karena aset bank itu dikuasai oleh pihak luar bank yaitu debitur. hlm. 2001). karena keuntungan atas obyek yang dibiayai tidak mencukupi untuk membayar kewajibannya kepada bank sehingga memberi peluang dana yang diberikan tidak digunakan sebagaimana seharusnya.57 Collateral (agunan) diperlukan untuk menanggung pembayaran kredit macet.58 Kredit dari sisi bank merupakan sumber pendapatan yang memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pendapatan bank itu sendiri. Agunan berfungsi sebagai jaminan tambahan. tipe dari produk pinjaman dan keamanan apa yang diperlukan. Banking & Lending Practice. Sedangkan bagi debitur. produktif dan collectable. Akibatnya pada saat jangka waktu berakhir kredit tidak dapat diselesaikan sebagaimana seharusnya. Ibid. maka kredit tersebut tidak bermanfaat karena tidak cukup untuk membiayai usaha debitur. sehingga usaha debitur juga tidak jalan. Setiap bank menginginkan dan berusaha keras agar kualitas risk asset ini sehat. 97-104. Dengan adanya skim tersebut maka bank lebih mudah menilai risiko kredit yang diberikannya. Bank tidak memberikan kredit untuk tujuan yang illegal misalnya memberikan kredit untuk tujuan yang dapat membahayakan lingkungan. Namun kredit yang diberikan kepada debitur selalu ada resiko berupa kredit tidak dapat kembali tepat pada waktunya 57 Ibid.

b. Organisasi dan manajemen perkreditan. II. (Bandung: Alfabeta. bagaimana memonitori kredit dan bagaimana menyelematkan kredit bermasalah. tiap-tiap bank mempunyai kebebasan untuk mekanisme penyaluran 60 Sutarno.5. 61 Rachmat Firdaus dan Maya Ariyani.62 Dengan memperhatikan prinsip dan pedoman kebijakan dalam perkreditan bank di atas. risiko politik/kebijakan pemerintah..30 yang dinamakan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL). Administrasi dan dokumentasi kredit. Monitoring dan pengawasan kredit. 2004). PPKPB tersebut mengatur mengenai bagaimana cara memberikan kredit (prosedur). risiko geografis. karena bank tidak mungkin menghindari adanya kredit bermasalah. Kebijakan persetujuan kredit. Suatu kebijakan perkreditan bank minimal memuat ketentuan-ketentuan sebagai berikut : 61 a.cit. Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank. Portofolio kredit yang sehat. Aspek-Aspek Hukum Perkreditan Pada Bank. 41-52. 62 Ibid.60 2. op. Kebijakan ini dilakukan untuk menghindari dampak dari risiko kredit yang mungkin terjadi antara lain adalah risiko usaha. hlm. Universitas Indonesia . hlm.31 Maret 1995 tentang Pedoman Penyusunan Kebijaksanaan Perkreditan Bank (PPKPB). Cet. d. suatu bank juga mempunyai Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank sebagaimana yang diamanatkan oleh Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 27/162/KEP/Dir. risiko ketidakpastian dan risiko lainnya.. 263. Pedoman Kebijakan Perkreditan Bank Setelah memperhatikan prinsip-prinsip perkreditan yang umum dikenal. c. 36. f. e.1. Penyelamatan dan penyelesaian kredit bermasalah. hlm. Bank hanya dapat berusaha menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai Pengawas Perbankan. risiko keramaian/keamanan/tawuran/perkelahian.

kegiatan analisis yang harus dilakukan dalam pemberian kredit antara lain : a.31 kredit.. Universitas Indonesia . analisis atau penilaian kredit.. Permohonan Kredit Setiap nasabah yang ingin mendapatkan fasilitas kredit harus melampirkan berkas permohonan kredit yang terdiri dari surat permohonan yang ditandatangani secara lengkap dan sah. hlm. hlm. daftar isian yang disediakan oleh bank dan diisi dengan benar dan lengkap oleh nasabah serta daftar lampiran lainnya. 2. Surat permohonan yang diterima harus dalam register khusus yang disediakan dan akan dinyatakan lengkap jika telah memenuhi persyaratan yang ditentukan. pelaksanaan dan administrasi kredit. Mempersiapkan pekerjaan penguraian dari segala aspek untuk mempertimbangkan apakah permohonan kredit dapat diterima. cit. 91. 63 Ibid. 64 Adapun tahap-tahap ini merupakan tahap umum dari suatu pemberian kredit yang berupa tindakan yang harus dilakukan sejak diajukannya permohonan kredit sampai dengan lunasnya kredit yang diberikan oleh bank tersebut : 65 1.. 35. Berkas permohonan harus dipelihara dalam selama dalam proses dan bank biasanya menggunakan Daftar Isian Permohonan Kredit untuk memudahkan bank memperoleh data yang diperlukan. hlm. 64 Ibid. Analisis Kredit Dalam menganalisis kredit. Selain itu. 69. pengumpulan data yang berhubungan dengan permohonan kredit yang diiajukan nasabah. op. Mekanisme pemberian kredit adalah tahap-tahap yang harus dilalui sebelum suatu kredit diputuskan untuk diberikan.63 Mekanisme pemberian kredit tersebut meliputi persiapan kredit. pemeriksaan atau penyidikan atas kebenaran dan kewajiban mengenai hal yang dikemukakan nasabah dan penyusunan laporan mengenai hasil penyidikan. keputusan kredit. supervisi kredit dan pembinaan debitur. 65 Thomas Suyatno. hal-hal yang dilakukan meliputi wawancara dengan pemohon kredit.

Analisis kebutuhan investasi. Setiap keputusan permohonan kredit harus memperhatikan penilaian syarat-syarat umum yang pada dasarnya tercantum dalam laporan pemeriksaan kredit dan analisis kredit serta bahan pertimbangan yang diperoleh harus dibubuhkan secara tertulis (disposisi). Keputusan atas Permohonan Kredit Pihak yang berhak mengambil keputusan untuk meyetujui permohonan kredit adalah Kepala Bagian Kredit/Cabang tanpa mengusulkan terlebih dahulu kepada kantor pusat karena sudah sesuai dengan jenis yang telah dilakukan. Penelitian atas realisasi-realisasi usaha. Penelitian data. Menyusun laporan analisis yang diperlukan. 4. 3. g. Persetujuan Permohonan Kredit Bank akan memberikan persetujuan baik sebagian maupun seluruhnya permohonan kredit dari calon nasabah debitur tetapi akan ditegaskan lebih dulu mengenai syarat-syarat fasilitas kredit dan prosedur yang harus ditempuh oleh Universitas Indonesia . b.32 b. f. 5. Penelitian atas rencana-rencana usaha. c. tapi jika permohonan diluar batas wewenangnya maka harus diusulkan terlebih dahulu kepada kantor pusat melalui surat dan Bank Indonesia juga dapat memberikan keputusan sesuai dengan wewenang yang ditentukan. berisi penguraian dan kesimpulan serta penyajian alternatif sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan dari permohonan kredit nasabah. d. Penolakan Permohonan Kredit Bagian Kredit/Cabang dapat menolak permohonan kredit yang secara jelas dianggap oleh bank secara teknis tidak memenuhi persyaratan dan harus disampaikan kepada nasabah secara tertulis dengan disertai alasan penolakannya atau setelah mendapat keputusan penolakan dari Direksi. Penelitian pendahuluan atas laporan keuangan (financial statement). Setelah memperoleh data pokoknya maka yang harus dikerjakan adalah : a. Analisis kebutuhan modal kerja. Penelitian dan penilaian barang jaminan tambahan. e.

h. Adapun langkah-langkah yang harus dijalani adalah : a. Penyelamatan dan Penyelesaian Kredit Bermasalah Universitas Indonesia . i. 6. Pengikatan jaminan. Penandatanganan perjanjian kredit. dengan cara antara lain menarik cek atau giro bilyet. Pembayaran provisi kredit atau commitment fee. Membuat informasi untuk bagian lain.33 nasabah dalam rangka melindungi kepentingan bank. e. 2. jumlah dan syarat lainnya.6.1. c. Setelah itu harus dilakukan verifikasi yang meliputi pencocokan dan keabsahan pencairan. Penandatanganan surat aksep. Surat penegasan persetujuan permohonan kredit kepada pemohon dibuat secara tertulis dan dalam lima rangkap. Pembayaran bea materai kredit. Pencairan Fasilitas Kredit Bank hanya menyetujui pencairan kredit oleh nasabah bila syarat-syarat yang harus dipenuhi nasabah telah dilaksanakan. pencairan kredit berupa pembayaran dan/atau pemindahbukuan atas beban rekening pinjaman atau fasilitas lainnya. b. kuitansi maupun dengan dokumen lainnya. d. f. 7. g. misalnya bagian kas dan bagian ekspor/impor. Surat ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari surat perjanjian kredit karena dengan tegas telah disebutkan nomor dan tanggalnya. Dalam prakteknya. Pengikatan jaminan secara sempurna dan penandatanganan warkat-warkat kredit (perjanjian kredit atau surat aksep borgtocht) mutlak harus mendahului pencairan kredit. Mengasuransikan barang jaminan. Pelunasan Fasilitas Kredit Dengan dipenuhinya semua kewajiban nasabah terhadap bank berarti kredit tersebut telah lunas dan berakibat hapusnya ikatan perjanjian kredit. Membuat asuransi kredit.

Macet Kualitas kredit yang termasuk dalam Non Performing Loan (kredit bermasalah) adalah Kurang Lancar. yaitu eksekusi barang jaminan oleh bank baik melalui pelelangan umum maupun penjualan barang jaminan secara sukarela. Apabila debitur kooperatif dalam mencari solusi penyelesaian kredit bermasalah dan usaha debitur masih memiliki prospek. kepercayaan masyarakat. Kurang Lancar d. Tindakan bank dalam usaha menyelamatkan atau menyelesaikan kredit bermasalah akan beraneka ragam tergantung pada kondisi kredit bermasalah tersebut. pengikatan barang jaminan. Bagi debitur yang beritikad tidak baik namun dari aspek hukum kuat maka tindakan hukum merupakan pilihan yang tidak dapat dihindarkan. Mengingat bahwa kredit bermasalah tersebut membawa pengaruh pada kelangsungan hidup bank. cit. maka dilakukan restrukturisasi kredit. terganggunya kelancaran dan laju pembangunan nasional secara keseluruhan. Diragukan dan Macet. Sebaliknya bagi debitur yang memiliki itikad tidak baik (tidak kooperatif) untuk penyelesaian kredit tergantung dari kuat tidaknya dari aspek hukum perjanjian kredit. Diragukan e. Universitas Indonesia . Dalam Perhatian Khusus c. kondisi fisik jaminan dan nilai jaminan karena jaminan inilah satu-satunya sumber pengembalian kredit. op. maka dilakukan langkah-langkah penanganan yang bersifat antisipatif.12 ayat (3).34 Bank Indonesia memberikan penggolongan mengenai kualitas kredit apakah kredit yang diberikan bank termasuk Performing Loan (kredit tidak bermasalah) atau Non Performing Loan (kredit bermasalah). yaitu dengan melakukan Restrukturisasi Kredit apabila prospek usahanya masih memungkinkan atau dilakukan tindakan eksekusi jaminan untuk melunasi hutang/kewajibannya kepada bank. Misalnya apakah debitur kooperatif dalam menyelesaikan kredit bermasalah atau tidak. ps. 66 Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum.. Kualitas dapat digolongkan sebagai berikut : 66 a. Lancar b.

Itikad kurang baik pemilik/pengurus dan pegawai bank . c. Kebijaksanaan pemberian kredit yang terlalu ekspansif. Kebijakan pemberian kredit yang hanya didasarkan pada pencapaian target jumlah tertentu tanpa memperhatikan aspek-aspek lainnya hanya akan menimbulkan masalah yang pada gilirannya dapat mempengaruhi tingkat kesehatan bank di kemudian hari. 67 Siswanto Sutojo. selain juga tidak jelas debiturnya (debitur fiktif). Lemahnya sistem informasi kredit serta system pengawasan dan administrasi kredit. Universitas Indonesia . 1997). Cet. yang dilakukan untuk menghindari terjadinya penumpukan dana yang ideal akibat penghimpunan dana yang cukup besar.1. Peningkatan penghimpunan dana pihak ketiga yang cukup cepat menyebabkan beberapa bank melakukan kebijakan pertumbuhan kredit yang melebihi tingkat wajar. (Jakarta: Pustaka Binawan Pressindo. Kegiatan usaha tersebut misalnya kegiatan-kegiatan yang kurang jelas tujuannya. Faktor Intern Penyebab kredit Bermasalah :67 a. yaitu misalnya penggunaan dana yang sebenarnya berbeda dengan yang tercantum pada bukti-bukti yang ada. hlm. Penyimpangan pemberian kredit. d. b.20-21. yaitu faktor intern dan faktor ekstern sebagai berikut : 1. Praktek-praktek yang terjadi adalah pihak-pihak tersebut memberikan kredit pada debitur yang sebenarnya tidak “bankable”.35 Kredit bermasalah dapat disebabkan oleh dua macam sumber. Menangani Kredit Bermasalah : Konsep. Penyimpangan pemberian kredit terhadap prosedur atau kebijakan yang ada pada umumnya disebabkan oleh kurangnya kuantitas maupun kualitas pejabat-pejabat pemberi kredit selain disebabkan oleh adanya dominasi pemutusan kredit oleh pejabat tertentu kepada bank yang bersangkutan. Teknik dan Kasus. Bank seharusnya tetap melakukan kebijakan pemberian kredit dengan prosedur yang berhati-hati untuk menghindari terjadinya risiko kredit bermasalah.

distribusi. Sebagai kelanjutannya. 22. 30 Agustus 1996. 68 Ibid. Erman Munzir. Selain itu bank cenderung melakukan gambaran perkreditan yang lebih baik dari keadaan yang sebenarnya kepada Bank Indonesia dengan tujuan mendapatkan penilaian tingkat kesehatan yang lebih baik. Kejenuhan yang terjadi pada suatu industry dapat menyebabkan runtunhnya industry tersebut yang selanjutnya akan menimbulkan pula dampak yang serius terhadap industry perbankan yang ikut membiayai proyek-proyek pada industri tersebut. Padahal hal ini justru menyulitkan bank karena tidak memiliki informasi yang akurat mengenai kredit bermasalah yang sebenarnya sehingga bank tidak dapat mengambil langkah-langkah pencegahan kredit bermasalah secara lebih dini. Deputi Direktur Bank Indonesia. hlm. Pengamatan yang cermat terhadap kecenderungan suatu industry juga merupakan factor kunci terhadap keberhasilan suatu usaha.36 Oleh karena lemahnya sistem pengawasan dan administrasi kredit. mereka tidak dapat segera melakukan tindakan koreksi apabila terjadi penurunan kondisi bisnis dan keuangan debitur atau terjadi penyimpangan dari perjanjian kredit. Faktor tersebu dapat berupa kegagalan produksi. dikutip dari seminar Penghapusan Kredit Macet: Problematika dan Pemecahannya yang diselenggarakan di Jakarta. pimpinan bank tidak dapat memantau penggunaan kredit serta perkembangan kegiatan usaha maupun kondisi keuangan debitur secara cermat. Universitas Indonesia . Faktor Ekstern Penyebab Kredit Bermasalah :68 a. Namun demikian. pemasaran maupun adanya regulasi terhadap suatu industri. Pemberian kredit oleh bank dapat dilakukan setelah pihak bank mendapatkan keyakinan yang tinggi bahwa usaha debitur akan berjalan dengan aman dan tidak bersifat spekulatif. disampaikan oleh DR. 2. Kegagalan usaha debitur dapat dipengaruhi oleh beberapa factor yang terdapat dalam lingkungan debitur.. Kegagalan usaha debitur. seharusnya bank dapat mengantisipasi risiko-risiko tersebut pada saat melakukan penilaian terhadap kelayakan usaha debitur.

badai. op. Akibatnya jumlah produksi. Pada akhirnya pemberian kredit yang berlebihan kepada debitur dari jumlah yang diperlukan dapat mendorong debitur yang bersangkutan menggunakan kelebihan dana tersebut untuk tujuan spekulatif. 174. yaitu debitur meninggal dunia atau sarana usahanya mengalami kebakaran sementara debitur dan atau bank tidak melakukan pengamanan melalui penutupan asuransi. musim kemarau yang berkepanjangan seringkali merusak atau menurunkan kapasitas produksi. d.. Selain itu bencana alam seperti gempa bumi. Tingginya suku bunga kredit dan menurunnya kegiatan ekonomi terutama pada sector-sektor usaha tertentu akibat adanya kebijakan pemerintah untuk melakukan penyejukan perekonomian karena kegiatan ekonomi yang overheated telah menjadi salah satu penyebab kesulitan debitur untuk memenuhi kewajibannya kepada bank.69 Dalam prakteknya penyelesaian kredit bermasalah yang oleh bank-bank dilakukan dengan dua alternatif. yaitu negosiasi dan litigasi. Universitas Indonesia .37 b. peralatan produksi yang dioperasikan oleh debitur. Pemanfaatan iklim persaingan perbankan yang tidak sehat oleh debitur Adanya iklim persaingan perbankan yang ketat sering dimanfaatkan oleh calon debitur dengan cara tertentu yang mendorong bank menawarkan persyaratan kredit yang lebih ringan dan jumlah kredit yang lebih besar. Beberapa kredit bermasalah yang sering terjadi memang karena adanya musibah yang dialami oleh debitur.cit. Namun tetap diakui bahwa kedua alternatif tersebut terlepas dari 69 Suharno. Menurunnya kegiatan ekonomi dan tingginya suku bunga. hlm. Musibah yang terjadi pada usaha debitur atau kegiatan usahanya. Tindakan penyelamatan kredit dilakukan oleh bank apabila debitur telah menunjukkan gejala tidak mampu lagi untuk menyelesaikan kewajibannya kepada pihak bank tepat pada waktunya. c. banjir. hasil penjualan produk dan keuntungan menurun yang mempunyai akibat lebih lanjut memburuknya likuiditas keuangan debitur.

subrogasi. dapat membayar bunga meskipun kemampuannya tetap melemah dan tidak dapat membayar angsurannya.38 adanya bank-bank yang melakukan penagihan kredit macet dengan menggunakan jasa “debt collector”. Restrukturisasi Kredit Restrukturisasi Kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya. pengurangan tunggakan pokok Kredit.. dan atau f. penambahan fasilitas Kredit. d. 70 Ibid. kompensasi atau hanya berupa addendum atas perjanjian kredit yang telah ada. Semua upaya tersebut dapat disebut dengan kredit yang diselamatkan. yang dilakukan antara lain melalui : 71 a. hlm.1 angka 25 Universitas Indonesia . yaitu kredit yang semula tergolong bermasalah atau macet kemudian terjadi kesepakatan antara debitur dan bank untuk diperbaiki. c. penurunan suku bunga Kredit.. b. perpanjangan jangka waktu Kredit. Penyelesaian kredit bermasalah dengan negosiasi ini dilakukan terhadap debitur yang usahanya masih berjalan meskipun tersendat-sendat. 174-175. e. pengurangan tunggakan bunga Kredit. Adapun bentuk penyelamatan kredit tersebut secara umum berupa : 70 1. yang tentunya diikuti dengan suatu perjanjian kredit yang baru. op. baik berupa novasi. Ps. 71 Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. konversi Kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara. Bahkan terhadap debitur yang usahanya sudah tidak berjalanpun dapat dilakukan penyelesaiannya dengan negosiasi sebagai contoh yaitu apabila ratio agunan atau jaminan kredit masih mencukupi dan ada usaha lain yang dianggap lebih layak dan dapat menghasilkan maka kepada debitur yang bersangkutan dimungkinkan untuk diberikan suntikan baru yang hasilnua dapat dipergunakan untuk membayar seluruh kewajibannya. cit.

Bila dari hasil analisa usaha debitur tersebut layak maka permohonan novasi dapat disetujui dan sebaliknya. (3) Apabila sebagai akibat suatu perjanjian baru. Novasi Subjektif. Kompensatie dan Percampuran Hutang.39 Kredit dapat direstruktur apabila usaha debitur masih memiliki prospek yang baik. 73 J. 1413. 2. Novasi Objektif. Untuk itu semua perikatan dan perjanjian asesoris harus diperbaharui. Cessie. hlm. Untuk itu bank harus melakukan analisa kredit sebagaimana analisa debitur baru. Novatie.. contoh perjanjian jual beli diganti menjadi perjanjian utang piutang.. (Bandung : Alumni. yang oleh siberpiutang dibebaskan dari perikatannya. yang dihapuskan karenanya. Universitas Indonesia . novasi objektif b. cet. terhadap siapa si berutang dibebaskan dari perikatannya. (2) Apabila seorang berutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berutang lama. 72 causanya diganti.H. Satrio. yang didalamnya mengandung suatu objek perikatan yang lain berupa novasi objektif benda/zaaknya diganti. yang didalamnya mengandung suatu subjek Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. 106-133. Pada saat dilakukan novasi. Novasi (Pembaharuan Utang) diatur dalam Pasal 1413 KUHPerdata sebagai berikut : 72 “ Ada tiga macam jalan untuk melaksanakan pembaharuan utang : (1) Apabila seorang yang berutang membuat suatu perikatan utang baru guna orang yang mengutangkan kepadanya. 1999). secara otomatis fasilitas debitur lama (yang diambil alih) dianggap telah lunas dan pihak yang mengambil alih pinjaman merupakan debitur baru. yang menggantikan utang yang lama. telah atau mempunyai potensi kesulitan pembayaran pokok/bunga kredit. ps.. op. Subrogatie. yaitu suatu novasi dimana perikatan yang lama diganti dengan perikatan yang baru. S. seorang berpiutang baru ditunjuk untuk menggantikan orang berpiutang lama. contoh jual beli kendaraan diganti dengan jual beli rumah. Novasi Kredit Novasi kredit adalah tindakan penyelamatan dengan cara pengambilalihan kredit oleh pihak ke III. yaitu suatu novasi dimana perikatan yang lama diganti dengan perikatan yang baru. cit.” Bentuk Novasi dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut :73 a.2.

exprommissio. Pada saat kredit direstrukturisasi atau dinovasi sebagai tindakan preventif bagi bank hal yang sangat penting penting mendapat perhatian adalah dari aspek hukumnya.debitur lama digantikan oleh debitur yang baru. Beberapa alternatif penyelesaian kredit yang dapat dilakukan oleh bank tergantung parah tidaknya usaha dan niat baik dari debitur itu sendiri untuk menyelesaikan kewajibannya. Hal ini biasanya akan memakan waktu yang cukup lama. novasi subjektif pasif . Hambatan terbut dilakukan dengan melalui pengadilan. Setelah berhasil dimenangkan bank. novasi dan janji-janji untuk pihak ketiga.kreditur lama digantikan oleh kreditur yang baru. Addendum perjanjian kredit Maksudnya apakah dalam addendum telah tercantum dengan baik syaratsyarat perubahan perjanjian kredit dengan adanya restrukturisasi yaitu antara lain menyangkut. Akhirnya harga jual setelah dikurangi biaya pengadilan dan perawatan lebih kecil dengan kerugian yang diderita pihak bank (bunga plus pokok). yaitu menyangkut : 1. novasi ganda. Likuidasi Agunan Calon debitur umumnya diminta untuk menyediakan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang diterimanya. Berdasarkan Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 Pasal 8 ayat (1) yaitu : “Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah. besarnya suku bunga kredit. likuidasi agunan merupakan alternatif terakhir yang diambil oleh pihak bank. Dalam upaya penyelamatan kredit. besarnya angsuran dan jadwal angsuran kredit serta kemungkinan adanya tambahan kredit yang harus Universitas Indonesia . Bank Umum wajib mempunyai keyakinan berdasarkan analisis yang mendalam atau itikad baik dan kemampuan serta kesanggupan Nasabah Debitur untuk melunasi utangnya atau mengembalikan pembiayaan dimaksud sesuai dengan yang diperjanjikan”. 3. sering kali pihak bank masih harus mengeluarkan sejumlah biaya khususnya untuk biaya perawatan.40 perikatan yang lain yaitu novasi subjektif aktif . karena tidak seluruh debitur merelakan barang yang dijamnkan disita oleh bank. jangka waktu.

e. c. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pemberian kredit/ pelepasan kredit atau restrukturisasi kredit akan terlahirlah suatu perjanjian antara dua pihak yaitu peminjam (debitur) dan yang meminjamkan (kreditur). Sebagai pengaman terhadap kemungkinan terjadinya wansprestasi oleh debitur (tidak memenuhi kesepakatan yang diperjanjikan) atas fasilitas kredit yang dinikmatinya. 74 Keputusan Direksi Bank X tentang Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan Produk kredit yang dimiliki Bank X terdiri dari beberapa jenis kredit. 2. Sedangkan pengikatan atas barang-barang agunan akan dilakukan setelah perjanjian kredit ditandatangani dan sebelum pencairan kredit. Pelaksanaan Kredit pada Bank X 2.163 tahun 2010 tanggal 14 April 2010. Kredit Investasi. 2. Kredit Bagi Komisaris dan Direksi. dibedakan berdasarkan kebutuhan dan persyaratan yang diberikan Bank. d. dan mutlak bahwa pengikatan terhadap barang jaminan harus secara notarial. f. Universitas Indonesia . b.2. Kredit Bagi Pegawai Honor Tetap Bank X.1.41 diikuti dengan pertambahan penyerahan jaminan/ agunan oleh debitur yang nilai ekonomisnya harus mengcover besarnya limit kredit. Kredit Sindikasi (Joint Financing). Pengikatan terhadap barang jaminan Maksudnya apakah barang jaminan/ agunan tersebut tidak cacat hukum untuk dilakukan pengikatan sesuai dengan jenis pengikatannya. yaitu sebagai berikut : 74 a.2. SK Dir No. maka sangat perlu untuk perjanjian pokok berikut perjanjian ikutan (accesoir) dibuat secara notarial dihadapan notaris yang berwenang. Kredit Bagi Pegawai Tetap Bank X. yaitu antara lain dalam bentuk pengikatan secara Fiducia dan pengikatan dengan Hak Tanggungan yang dibuat dihadapkan Notaris yang berwenang. Kredit Modal Kerja.

r. u. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan. Pada Bank X. Kredit Pemilikan Rumah Sangat Sederhana. Buku II Jenis-Jenis Produk. Kredit Pemilikan Rumah. Surat Kredit Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN). Letter of Credit. diklasifikasikan ke dalam empat buku pedoman yaitu Buku I Kebijakan Umum. Hapus Buku dan Hapus Tagih. diklasifikasikan ke dalam dua buku pedoman yaitu Buku I Kebijakan Umun dan Buku II Sistem dan Prosedur. BPP terdiri dari : a. p. i. Buku III Kebijakan dan Prosedur dan Buku IV Formulir dan Petunjuk Pengisian. Kredit Dana Talangan. sehingga dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat. bank akan mengikuti prosedur pemberian kredit (Standard Of Procedure/SOP).42 g. o. s. b. Universitas Indonesia . t. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit. h. Bank harus memperoleh keyakinan bahwa kredit yang disalurkannya tersebut dapat dikembalikan kembali oleh debitur tepat pada waktunya. n. Terkait dengan operasional kredit. k. Garansi Bank. Kredit Paket Lebaran. Kredit Multiguna Kembang. j. maka dalam proses pemberian kredit. q. Kredit Multiguna. Kredit Laris. Kredit Dana Bergulir. Non Restrukturisasi Kredit. l. SOP diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan (BPP). Cash Collateral Credit. Untuk memperoleh keyakinan tersebut. Kredit Tenaga Kerja dan Wira Usaha Baru. dan Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. Disadari bahwa kredit yang diberikan oleh bank mengandung risiko. Penyisihan Penghapusan Aktiva. Kredit Bagi Golongan Usaha Skala Kecil (GUSK). m.

sedangkan Joint financing adalah pembiayaan bersama terhadap nasabah/end user yang dilakukan oleh bank bersama dengan Bank Perkreditan Rakyat dan atau Multifinance. angka (1). 78 Ibid.2. op. 77 Ibid. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Kerjasama Penyaluran Pembiayaan Pedoman kebijakan dan prosedur kerjasama penyaluran pembiayaan di Bank X saat ini diatur dalam Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan Buku II Bab U.43 Sehubungan dengan kajian yang akan dibahas. Meningkatkan pendapatan Difersifikasi produk pembiayaan Mengurangi resiko konsentrasi Memberi nilai tambah bagi nasabah/end user 77 Pemberian 75 Keputusan Direksi Bank X No. Kerjasama penyaluran pembiayaan adalah pemberian pembiayaan kepada nasabah atau end user melalui lembaga penyaluran pembiayaan dengan pola executing. d. 76 Ibid.cit. Universitas Indonesia . channeling dan joint financing. c. penulis akan memaparkan mengenai SOP Bank X terkait dengan sistem dan prosedur dalam Kerjasama Penyaluran Pembiayaan.76 Sasaran pemberian pembiayaan nasabah/end user untuk kebutuhan produktif maupun konsumtif melalui kerjasama dengan agen. Channeling adalah pinjaman yang diberikan oleh bank kepada nasabah melalui “agent” yang tidak mempunyai kewenangan memutus pembiayaan kecuali mendapat surat kuasa dari bank. 2.2. Sub Bab 01. Pembiayaan melalui kerjasama dengan agen sebagai upaya untuk : 78 a. b. 75 Executing adalah pinjaman yang diberikan kepada bank perkreditan rakyat dalam rangka pembiayaan (untuk diterus pinjamkan) kepada nasabah mikro dan kecil.163 tahun 2010.

cara pembayaran kembali. persetujuan pemberian pembiayaan. sifat penyaluran pembiayaan. tujuan.2. persetujuan pembiayaan (kewenangan proses. Koperasi dan Bank Umum) b. terdiri dari :80 a. Hapus Buku dan Hapus Tagih. yaitu: 79 a. agunan dan pengikatan. usulan pembiayaan perusahaan. Penyisihan Penghapusan Aktiva. channeling dan Joint Financing).3. Hapus Buku dan Hapus Tagih yaitu pada Buku II Sistem dan Prosedur. persyaratan administrasi agent (Lembaga Pembiayaan (multifinance). 91 Tahun 2008 Tanggal 27 Juni 2008. Bab I. 2. analisa pembiayaan (analisa aspek usaha. Sub bab 01: Ketentuan Umum Ketentuan umum mengatur mengenai pengertian. Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit di Bank X diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan Restrukturisasi Kredit. Latar Belakang 79 Ibid. c. administrasi kerjasama penyaluran pembiayaan (perjanjian kerjasama pembiayaan. analisa keuangan perusahaan). SK Dir No. denda dan keterlambatan. sasaran. 80 Surat Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi.44 Pedoman Kebijakan dan Prosedur Perkreditan Buku II Bab U terdiri dalam 3 (tiga) Sub Bab. penandatanganan). bunga. Sub bab 02 : Kebijakan Penyaluran Pembiayaan Kebijakan Penyaluran Pembiayaan meliputi pola pembiayaan (executing. Non Restrukturisasi Kredit. pengelolaan rekening). Non Restrukturisasi. PPA. asuransi. maksimum pembiayaan. Universitas Indonesia . Bank Perkreditan Rakyat (BPR). jenis penyaluran pembiayaan (pembiayaan produktif dan pembiayaan konsumtif). jangka waktu. kewenangan memutus. provisi. biaya administrasi. Sub bab 03 : Prosedur Pembiayaan Prosedur pembiayaan meliputi permohonan formulir pembiayaan.

perlakuan untuk kredit konsumsi). Prosedur Restrukturisasi Kredit Prosedur Penanganan Kredit meliputi Prosedur Penanganan (Kredit ritel dan konsumtif. penambahan fasilitas kredit. Perlakuan Akuntansi Perlakuan akuntansi mengatur mengenai penerapan perlakuan akuntansi terhadap kredit-kredit yang telah direstrukturisasi. Dokumen pelengkap (surat permohonan debitur. Penggolongan Kualitas Kredit Penggolongan Kualitas kredit terdiri dari kredit bermasalah dan kredit hapus buku. konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. Pelaporan Pelaporan meliputi proses laporan selama berjalannya restrukturisasi kepada pihak internal Bank dan Bank Indonesia oleh Unit Kerja yang bertanggung jawab. memorandum pengusulan). Universitas Indonesia . Analisis Restrukturisasi Kredit Analisis Restrukturisasi Kredit meliputi analisa dan rekomendasi usulan (perpanjangan jangka waktu kredit. c. h. Pemantauan Pemantauan meliputi kegiatan-kegiatan pemantauan dan unit kerja yang melakukan pemantauan. penurunan suku bunga kredit. e. kredit menengah dan korporasi). b. d. penangguhan pembayaran tunggakan bunga kredit (interest balloning payment). g. Keputusan Restrukturisasi Kredit Keputusan Restrukturisasi kredit meliputi pembagian kewenangan memutus hasil analisa.45 Restrukturisasi kredit mengacu kepada Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum Nomor 11/9/PBI/2009 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 7/2/PBI/2005. pengurangan tunggakan bunga kredit. pengurangan tunggakan pokok kredit. f. relas kredit.

direktur pemasaran dan direktur kepatuhan. Kerjasama kedua belah pihak tersebut dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut : a.3.000. aspek hubungan dengan bank. permohonan PT. risiko pasar. 25. Analisa Berdasarkan permohonan kerjasama PT. Y yang merupakan perusahaan multifinance yang bergerak di bidang kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor. Y. aspek keuangan. yaitu aspek umum dan manajemen.1. aspek teknis dan produksi/pembelian. b. Y 2. Y disetujui oleh seluruh anggota Komite Pemutus Kredit sejumlah Rp. Bank X melakukan kerjasama dengan PT. risiko likuiditas dan risiko operasional serta melakukan kunjungan ke salah satu cabang PT. Bank X juga melakukan mitigasi risiko atas risiko kredit.000. Selanjutnya..3. Pelaksanaan Kredit dalam Kerjasama Penyaluran Kredit/ Pembiayaan antara Bank X dengan PT. Permohonan kerjasama PT. Y dengan suratnya tertanggal 11 Oktober 2006 mengajukan Permohonan Kerjasama Fasilitas Channeling kepada Bank X sejumlah Rp. Y di Pekanbaru.000.000.000.46 2.000.(dua puluh lima milyar rupiah). Bank X melakukan analisa kredit dengan mempertimbangkan berbagai aspek. 25. Pemberian Kredit Bank X dalam salah satu kegiatan usahanya adalah memberi kredit atau pembiayaan kepada masyarakat dengan berbagai jenis kredit diantaranya yaitu Kerjasama Penyaluran Pembiayaan (kredit channeling).(dua puluh lima Universitas Indonesia . direktur keuangan. aspek pemasaran. Keputusan Hasil analisa kemudian ditindaklanjuti dengan menyampaikan Memorandum Pengusulan Kredit ke Komite Pemutus Kredit yang terdiri dari direktur utama.. Untuk itu dalam rangka mengembangkan bisnis ritel. c.

Y. ps.83 Perlu diketahui bahwa kredit untuk pembelian kendaraan bermotor tersebut disalurkan kepada masyarakat yang mayoritas pekerjaannya adalah petani kelapa sawit. 1. Y pada tanggal 4 April 2007. dibuatlah Perjanjian Kerjasama Penyaluran Pembiayaan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak pada tanggal 20 April 2007.Y di seluruh Indonesia berdasarkan Perjanjian Kredit antara nasabah dengan PT. Universitas Indonesia . Y baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor kepada masyarakat. 81 Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor tanggal 20 April Tahun 2007. 82 Ibid.81 Pihak/nasabah yang menerima fasilitas kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor dari Bank X dilakukan melalui kantor cabang PT.47 milyar rupiah) dengan masing-masing direktur memberikan pertimbangan dan pendapat.Y. 83 Ibid.Y. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan.Y sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada PT. Pelaksanaan kredit berdasarkan Kerjasama Penyaluran Pembiayaan tersebut dilakukan dengan cara Bank X memberikan kuasa kepada PT. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Bank X yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut. Berdasarkan keputusan Komite Pemutus Kredit. Bank X menerbitkan Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK) Kerjasama Penyaluran Pembiayaan atas nama PT. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama Setelah ketentuan dan persyaratan yang diberikan oleh Bank X telah disepakati oleh PT.82 Selanjutnya. nasabah wajib membayar secara berkala dalam jumlah tertentu sebagai angsuran kepada Bank X melalui PT. berisi mengenai persetujuan kredit disertai penjelasan mengenai ketentuan dan persyaratan yang sifatnya belum mengikat. d.

2. dengan suratnya (surat pemberitahuan persetujuan restrukturisasi kredit/ SPPRK) tertanggal 27 April 2009 berisi persetujuan untuk melakukan restrukturisasi tersebut. ps. ps. Y.48 Plafond kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh Bank X kepada nasabah melalui PT. Kemudian akta perjanjian restrukturisasi kredit ditandatangani antara Bank X dengan PT. Hal ini mengakibatkan angsuran atau pembayaran kembali kredit ke Bank X menjadi terhambat dan kualitas kredit menjadi memburuk. Surat permohonan pencairan kredit/pembiayaan. setelah PT. Y bersifat nonrevolving sampai dengan sejumlah 25 milyar rupiah.. perjanjian fidusia dan surat kuasa pembebanan jaminan fidusia. Restrukturisasi Kredit Setelah kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan berjalan selama satu tahun. Sehubungan dengan permasalahan tersebut PT. Y dilaksanakan secara bertahap.. 86 Ibid. Universitas Indonesia .Y kepada nasabah berupa Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) kendaraan yang dibiayai Bank X dan Corporate Guarantee dari Holding Company yang dibuat secara notariil. berdasarkan permintaan PT. ps. 6. terjadi kesulitan pembayaran dari para end user (penerima kredit) yang disebabkan adanya penurunan harga kelapa sawit dunia yang drastis. berdasarkan permohonan debitur tersebut. Y pada tanggal 29 Juni 2009.2. Y mengajukan proposal penyelasaian kredit dengan restrukturisasi kredit tertanggal 30 Desember 2008. Tembusan perjanjian kredit/pembiayaan.4. Y menyampaikan kepada Bank X berupa: 85 a. c. Jaminan atas kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh Bank X melalui PT. b. Bank X segera mengambil upaya penyelamatan kredit. Daftar alokasi penyaluran kredit/pembiayaan dan jadwal pembayaran angsuran nasabah.86 2.84 Penyaluran dan atau pencairan kredit/pembiayaan oleh Bank X kepada PT. 85 Ibid.3. 84 Ibid..

b. hlm. pelaksanaan restrukturisasi kredit harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 90 a. penurunan suku bunga Kredit. Berdasarkan Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit Bank X. memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi. cit. yang dilakukan antara lain melalui : 89 a. d. f. 87 88 Suharno.cit. yang tentunya diikuti dengan suatu perjanjian kredit yang baru. e. pengurangan tunggakan pokok Kredit. Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan terhadap debitur-debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit. Universitas Indonesia . 174-175. dan atau konversi Kredit menjadi Penyertaan Modal Sementara. perpanjangan jangka waktu Kredit.49 Tindakan penyelamatan kredit dilakukan oleh bank apabila debitur telah menunjukkan gejala tidak mampu lagi untuk menyelesaikan kewajibannya kepada pihak bank tepat pada waktunya. yaitu kredit yang semula tergolong bermasalah atau macet kemudian terjadi kesepakatan antara debitur dan bank untuk diperbaiki. Novasi Kredit dan Likuidasi Agunan. 174. subrogasi.. baik berupa novasi. pengurangan tunggakan bunga Kredit. 88 Ibid. kompensasi atau hanya berupa addendum atas perjanjian kredit yang telah ada.. c. penambahan fasilitas Kredit. op. cit. 90 Surat Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi. op. 89 Peraturan Bank Indonesia tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum. Adapun bentuk penyelamatan kredit tersebut secara umum berupa : Restrukturisasi Kredit. hlm.87 Semua upaya tersebut dapat disebut dengan kredit yang diselamatkan. op. Restrukturisasi Kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan Bank dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan untuk memenuhi kewajibannya.

atau penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual. d.. f. d. Pola-pola restrukturisasi kredit di Bank X adalah sebagai berikut : 92 a. Universitas Indonesia . Penurunan suku bunga kredit. Pelaksanaan dengan pola ini belum dapat diaplikasikan pada Bank X. peningkatan pembentukan PPA91. e. b.11/9/2009 tentang Penilaian Kualitas Aktiva. Selain itu untuk menjaga obyektivitas. Pengurangan tunggakan pokok kredit. Restrukturisasi kredit dilarang dilakukan oleh Bank. 91 Berdasarkan PBI No. maka restrukturisasi kredit wajib dilakukan oleh pejabat yang lebih tinggi dari pejabat yang memutus pemberian kredit. h.50 b. e. Perlakuan untuk kredit konsumtif. c. jika bertujuan hanya untuk menghindari : penurunan penggolongan kualitas kredit. memperhatikan praktek-praktek perbankan yang sehat (good corporate governance) dan penerapan manajemen risiko secara memadai. Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. Penangguhan pembayaran tunggakan bunga kredit. Pengurangan tunggakan bunga kredit. Restrukturisasi kredit harus dilakukan berdasarkan analisis yang cermat. 92 Surat Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi.1 angka 19. Penambahan fasilitas kredit. Penyisihan Penghapusan Aktiva yang untuk selanjutnya disebut PPA adalah cadangan yang harus dibentuk sebesar persentase tertentu berdasarkan kualitas Aktiva. g. Restrukturisasi Kredit diharapkan dapat memperbaiki kualitas kredit. Bab 1 huruf (C) angka (5). cit. Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis sebagain dasar pelaksanaan Restrukturisasi Kredit yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan manajemen risiko sebagaimana diatur oleh ketentuan Bank Indonesia. ps. op. Perpanjangan jangka waktu kredit. sebagai upaya untuk menurunkan rasio Non Performing Loan (NPL) terhadap eksposur kredit secara keseluruhan. c.

Sedangkan Universitas Indonesia . Sedangkan analisa penyelesaian kredit dititik beratkan pada pembayaran kembali kredit dan perjanjian restrukturisasi kredit. penyelesaian fasilitas kredit lama dan memberikan fasilitas kredit baru dengan jumlah angsuran dan jangka waktu yang telah disepakati oleh debitur dan bank. BAB III ASPEK HUKUM KERJASAMA PENYALURAN KREDIT/PEMBIAYAAN ANTARA BANK X DENGAN PT. maka dapat ditemukan di dalam doktrin. perlu dilakukan beberapa analisa antara lain Analisa Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT.Y. Analisa Perjanjian Kredit antara PT. Untuk memperjelas pengertian perjanjian.51 Pada kredit konsumtif. Pengertian perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUHPerdata. Semua upaya tersebut diharapkan dapat memperbaiki kualitas kredit di Bank X yang semula tergolong kredit bermasalah atau macet menjadi kredit lancar. yang berbunyi: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Analisa terhadap perjanjian kerjasama dan perjanjian kredit dilakukan dengan menitikberatkan pada kedudukan hukum perjanjian. ruang lingkup perjanjian serta hak dan kewajiban para pihak.Y dengan End User (penerima kredit) dan Analisa Penyelesaian Kredit. Y Menjawab permasalahan dalam penulisan ini. Menurut doktrin (teori lama) yang disebut perjanjian adalah perbuatan hukum berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.

S. maka unsur-unsur di dalam perjanjian adalah sebagai berikut : 96 a. op. Adanya Subyek Hukum Subyek hukum yaitu pendukung hak dan kewajiban.. mengenai asas-asas dalam suatu perjanjian. Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban.. 6. hlm. 26. b. op. yaitu tahap pra-contractual (adanya penawaran dan penerimaan). 97 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. cit. hlm.. hlm. cit. tidak hanya melihat perjanjian semata-mata tetapi juga harus dilihat perbuatan sebelumnya. Ada tiga tahap untuk membuat perjanjian. c. op. 96 Salim H.52 menurut teori baru yang dikemukakan oleh Van Dunne. d..1338. melakukan sesuatu. yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan kepada pihak lain untuk menunaikan prestasi. Adanya Hubungan Hukum Hubungan hukum merupakan hubungan yang menimbulkan akibat hukum. op.95 Berdasarkan uraian dari beberapa pengertian perjanjian tersebut. Universitas Indonesia .” Di dalam teori baru tersebut. yaitu : 93 “Perjanjian adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum. Yahya Harahap mengartikan perjanjian sebagai hubungan hukum dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua orang atau lebih.S. 94 Ibid. 26.. hlm. 25-26. cit. Pasal 1338 KUHPerdata menyebutkan : 97 93 Salim H. atau tidak melakukan sesuatu.94 Sementara M. yang diartikan dengan perjanjian.. Selanjutnya. Yahya Harahap. Adanya Prestasi Prestasi terdiri dari memberikan (menyerahkan) sesuatu. cit. Di bidang harta kekayaan. 95 M. ps. tahap contractual (adanya persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak) dan tahap post-contractual (pelaksanaan perjanjian).

Masing-masing pihak harus melaksanakan perjanjian dengan sempurna dan tepat sesuai dengan apa yang telah disetujui untuk dilakukan. Satrio.100 98 Mariam Darus Badrulzaman. Pelaksanaan yang dimaksud di sini adalah realisasi atau pemenuhan hak dan kewajiban yang telah diperjanjikan oleh pihak-pihak agar perjanjian tersebut mencapai tujuannya. Universitas Indonesia . Pasal ini berisikan asas hukum yang biasa disebut asas “kebebasan berkontrak”.U. Pasal 1338 KUHPerdata ini juga memuat asas “Pacta Sunt Servanda”. 1982). namanya apa saja. Kata “semua” menunjukan perjanjian yang dimaksud tidak hanya perjanjian bernama. Pasal 1338 KUHPerdata juga mengandung asas “Konsensualisme”. 102. 1995). (Bandung : Alumni. maka sebenarnya orang terikat pada janjinya sendiri. Dalam kata “semua” terkandung azas partij autonomie.Perdata Buku III Hukum Perikatan dengan Penjelasan. Hukum Perikatan : Perikatan yang Lahir dari Perjanjian Buku II.98 Selain asas kebebasan berkontrak. Berdasarkan Pasal 1320 KUHPerdata. yang berarti setiap orang diberi kebebasan untuk membuat perjanjian dengan siapa saja. kecakapan para pihak. maka lahirlah perjanjian yang harus dilaksanakan oleh kedua belah pihak tersebut. (Bandung : Citra Aditya Bakti. Disamping kedua asas tersebut.H. K. Keterikatan para pihak pada perjanjian adalah keterikatan pada isi perjanjian yang ditentukan oleh mereka sendiri. hlm. syarat sah perjanjian adalah : kesepakatan. Hukum Perikatan (Bandung : Alumni. yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian yang dibuat secara sah mengikat bagi para pembuatnya.53 “Semua perjanjian yang dibuat secara sah mengikat sebagai undangundang bagi mereka yang membuatnya”. 99 J.99 Setelah tercapai kesepakatan oleh kedua belah pihak. isinya apa saja. tetapi juga perjanjian tak bernama. janji yang diberikan kepada pihak lain dalam perjanjian. 145. Karena isinya mereka tentukan sendiri. hlm. hlm. 1996). obyek tertentu dan kausa yang halal. yaitu asas yang menyatakan bahwa perjanjian itu mengikat setelah adanya kata sepakat atau kesepakatan. 100 Abdul Kadir Muhammad. 107.

Bunga. Pra-contractual Perjanjian bermula dari Surat Permohonan dari PT.1. b. b. Dalam Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. 2002). Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor”. Secara hukum. perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Contractual Persesuaian pernyataan kehendak (kesepakatan) antara Bank X dan PT. Interaksi sosial antara individu atau kelompok secara bersama-sama mewujudkan kegiatan untuk mencapai tujuan bersama. (Jakarta : Balai Pustaka. c.Y. hlm. cet.Y 3. ditandatangani oleh para pihak di hadapan notaris di Jakarta pada tanggal 20 April 2007. 428. 3. tiga tahap dalam pembuatan perjanjian kerjasama tersebut adalah : a. Y kepada Bank X untuk melakukan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan. Y.54 3. Denda. Universitas Indonesia . pengertian dari kerjasama adalah : 101 a.1 Hak dan Kewajiban Para Pihak Perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Analisa Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. Kamus Besar Bahasa Indonesia.1. Jaminan dan lain sebagainya. Kegiatan atau usaha yang dilakukan oleh beberapa orang atau pihak untuk mencapai tujuan bersama. Post Contractual 101 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor”. dibuat dengan judul perjanjian “Perjanjian Kerjasama Perjanjian Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X deangan PT. Y bukanlah merupakan perjanjian kredit. kemudian ditanggapi dengan persetujuan Bank X dalam Surat Pemberitahuan Persetujuan Kredit (SPPK). namun pada kenyataannya perjanjian kerjasama dimaksud mencantumkan klausul-klausul sebagaimana diatur dalam suatu perjanjian kredit seperti ketentuan mengenai Plafond. Y dituangkan dalam akta “Perjanjian Kerjasama Perjanjian Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X deangan PT.

e. Suzuki. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan tersebut. berbunyi : “Ruang lingkup kerjasama ini adalah penyaluran kredit/pembiayaan oleh Pihak Pertama kepada masyarakat untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua merk Kanzen. g. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Universitas Indonesia . n. k. h.55 Pelaksanaan perjanjian berupa pemenuhan hak-hak dan kewajibankewajiban sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati antara Bank X dan PT. Honda. f. 4 : Tujuan Kredit/Pembiayaan Pada Perjanjian Kerjasama tersebut. m. Yamaha. d. p. q. Bank X sebagai Pihak Pertama dan PT. Y. Kawasaki melalui Pihak Kedua.Y sebagai Pihak Kedua. c. o. j. l. Pasal 1 Pasal 2 Pasal 5 Pasal 6 Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 Pasal 12 Pasal 13 Pasal 14 Pasal 15 Pasal 16 Pasal 17 Pasal 18 : Ruang Lingkup dan Pengertian : Plafond dan Jangka Waktu Kredit/Pembiayaan : Pelunasan dipercepat : Jaminan Kredit dan Asuransi : Tarif Bunga Kredit/Pembiayaan dan Provisi : Hak dan Kewajiban : Laporan dan Pemeriksaan : Pembukaan Rekening : Jangka Waktu : Pengakhiran Perjanjian : Force Majeur : Larangan Pengalihan Hak : Pemberitahuan : Penyelesaian Perselisihan dan Domisili Hukum : Addendum : Lain-lain Pasal 3. Y disusun dalam beberapa pasal sebagai berikut : a. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. i.” Disamping itu dijelaskan pula pada pasal 1 ayat (2) bahwa : “Pihak Kedua bertindak sebagai kuasa Pihak Pertama. b. baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua kepada masyarakat. Ruang lingkup perjanjian kerjasama ini seperti tersebut di atas telah diatur pada pasal 1 ayat (1).

Y.000. Pasal 7 ayat (4) berbunyi : “Tarif bunga yang dibebankan oleh Pihak Kedua kepada Nasabah adalah sebesar tarif bunga yang ditetapkan oleh Pihak Pertama pada ayat (1) Pasal ini ditambah dengan tarif bunga (spread) untuk keuntungan Pihak Kedua yang ditentukan oleh Pihak Kedua. c. Meninjau Nasabah. e. Y dalam hal nasabah wanprestasi guna pelunasan kredit/pembiayaannya sesuai dengan yang ditetapkan dalam huruf l ayat (2) pasal ini mengenai Hak-Hak PT. Kewajiban Bank X yang diatur dalam Pasal 8 ayat (1) adalah menyediakan plafond kredit/pembiayaan sejumlah Rp.00 (dua puluh lima milyar rupiah). 25. Y dalam Pasal 8 ayat (2) adalah menerima selisih bunga sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini serta pendapatanpendapatan lain yang merupakan hak atau keuntungan PT. Y berdasarkan ketentuan pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini. Menerima data dan dokumen Nasabah dari PT. Melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen calon Nasabah sesuai dengan persyaratan dan ketentuan Bank X. d. Y. Hak Bank X diatur pada Pasal 8 ayat (1) yaitu : a.000. b.” Berdasarkan Pasal 7 ayat (1) dan ayat (6). Hak PT. Pihak Pertama (Bank X) menetapkan bunga pinjaman sebesar 16% (enam belas persen) efektif pertahun dihitung dari kembali kerjasama kredit/pembiayaan ini apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada Universitas Indonesia .56 Pihak Pertama yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut pada ayat 1 pasal ini.” Hak dan Kewajiban Bank X dan PT Y dalam Perjanjian Kerjasama akan dijelaskan sebagai berikut. kuasa mana apabila diperlukan akan dibuat secara tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akta ini. Menerima pembayaran dari PT. Y berdasarkan Perjanjian ini.000. Menerima pembayaran angsuran hutang pokok dan bunga atas kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Bank X kepada Nasabah setelah diperhitungkan dengan hak PT.

Menyimpan asli dokumen Perjanjian Kredit/Pembiayaan dan surat-surat lainnya yang berkaitan dengan pemberian kredit/pembiayaan. Meneliti keabsahan semua dokumen yang berkaitan dengan Perjanjian Kredit/Pembiayaan. c. Mengadakan evaluasi atas permohonan kredit/pembiayaan yang diajukan oleh calon Nasabah berikut dokumen penununjangnya. Surat Kuasa Pembebanan Jaminan Fidusia dan Surat Kuasa Menjual. Menyetujui atau menolak permohonan kredit/pembiayaan yang diajukan oleh calon Nasabah.57 pencairan kredit dan setiap pencairan kredit dikenakan provisi sebesar 1% (satu persen) yang langsung dipotong dari pencairan kredit. b. Y diatur dalam Pasal 8 ayat (2) sebagai berikut: a. untuk mengurangi timbulnya risiko sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan. menyeleksi dan memutuskan calon Nasabah yang akan memperoleh kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor dengan memenuhi kriteria dan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 perjanjian ini dan tidak terdapat kredit/pembiayaan ganda atas nama Nasabah yang sama. d. Menjamin dan bertanggung jawab atas kelancaran pembayaran Angsuran Nasabah kepada Bank X sesuai jadwal yang ditetapkan. melakukan perhitungan jumlah kredit/pembiayaan yang diberikan. Melakukan pemotongan pajak. jumlah hutang pokok dan bunga serta biaya yang terhutang oleh setiap Nasabah. kelayakan usaha serta kemampuan pembayarannya. Menandatangani perjanjian dengan Nasabah antara lain Perjanjian Fidusia. i. denda serta biaya-biaya lain yang dikenakan kepada Nasabah dengan tetap berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang berlaku. Menetapkan besarnya jumlah kredit/pembiayaan yang akan diberikan berikut tarif bunga sebagaimana dimaksud pada pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini. Mencari. Universitas Indonesia . bea atau iuran sebagaimana ditetapkan oleh ketentuan perpajakan yang berlaku. e. f. j. g. k. Menerapkan prinsip-prinsip pemberian kredit/pembiayaan dan manajemen kredit/pembiayaan yang sehat dan berlaku umum di Indonesia. termasuk untuk jenis kendaraan yang akan dibiayai. Membukukan kredit/pembiayaan. Kewajiban PT. h.

denda maupun biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan pemberian kredit/pembiayaan serta mengeluarkan kuitansi atau tanda bukti pembayaran yang sah. n. melakukan setiap tindakan hukum yang diperlukan guna melindungi kepentingan Bank X. Apabila terdapat Nasabah menunggak pembayaran angsuran lebih dari 3 (tiga) kali angsuran.58 l. Universitas Indonesia . arbitrase. maka PT. bunga. klaim. Y kepada Nasabah tersebut dengan menyetorkan seluruh dana atau porsi kredit/pembiayaan yang disalurkan dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sejak Nasabah menunggak. ii) Melaporkan kepada Bank X mengenai hasil dari langkah-langkah penyelesaian yang telah diambil terhadap Nasabah yang wanprestasi yang meliputi : Melakukan penguasaan dan penarikan barang jaminan kredit/pembiayaan. Y wajib mengupayakan untuk mendapatkan kembali dana atau porsi kredit/pembiayaan Bank X yang telah disalurkan oleh Bank X melalui PT. Y sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (4) Perjanjian ini kepada Bank X. Menerima pembayaran angsuran kredit/pembiayaan baik berupa angsuran pokok. penyitaan. kepolisian atau pihak-pihak lain yang berwenang sehubungan dengan pelaksanaan hak-hak Bank X. diantaranya tetapi tidak terbatas pada mengeluarkan surat peringatan. pengaduan dan tindakan hukum lainnya tanpa ada yang dikecualikan di hadapan badan peradilan. Melakukan penjualan atau dengan cara lain mengalihkan hak atas kendaraan bermotor yang dibiayai kepada pihak manapun menurut harga pasar yang wajar dengan memperhitungkan hasil penjualan barang jaminan dengan jumlah yang terhutang oleh Nasabah. Dalam hal Nasabah wanprestasi maka : i) Sebagai kuasa dari Bank X. penagihan kepada Nasabah dan pihak-pihak lainnya sehubungan dengan administrasi penyelesaian kredit/pembiayaan. somasi. o. m. Menyetorkan semua dan setiap pembayaran yang diterima berdasarkan huruf (k) di atas setelah diperhitungkan dengan hak atau keuntungan PT. Mengajukan gugatan.

maka PT. Dari sisi bahasa antara lain istilah “Penyaluran Pembiayaan”. Apabila PT. Ketentuan mengenai jaminan kredit diatur dalam Perjanjian Kerjasama pasal 6 ayat (1) sampai dengan ayat (4) dimana Bank X sebagai Pihak Pertama dan PT. Y sebagai Pihak Kedua sebagai berikut : “(1) Sebagai jaminan atas kredit/pembiayaan yang disalurkan/dicairkan oleh Pihak Pertama melalui Pihak Kedua kepada Nasabah. Y tidak melakukan penyetoran pada tanggal yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam butir 2. huruf k Pasal ini. Dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 12 dijelaskan bahwa : “Pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil. asli Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) kendaraan yang dibiayai.” Universitas Indonesia .” Ketentuan-ketentuan tersebut baik dari segi bahasa maupun materi yang dikandung banyak memiliki hal-hal yang inkonsistensi sehingga perlu dikaji dari Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1988 dan Buku Pedoman Perusahaan Bank X.59 p. lebih tepat digunakan pada produk perbankan syariah. Y wajib membayar denda keterlambatan sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari tarif bunga yang berlaku pertahun untuk per hari keterlambatan dihitung dari jumlah tertunggak.2. (4) Corporate Guarantee dari Holding Company yang dibuat secara notariil. (2) Asli Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) sebagaimana dimaksud ayat (1) pasal ini dismpan oleh Pihak Kedua sampai kredit dinyatakan lunas oleh Pihak Pertama. Y. (3) Pihak Kedua wajib menyampaikan secara tertulis kepada Pihak Pertama setiap akhir bulan. sedangkan Bank X adalah termasuk perbankan konvensional. yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. maka Nasabah tersebut wajib menyerahkan jaminan tersebut berupa. jumlah Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) yang telah diserahkan oleh Nasabah kepada Pihak Kedua dan Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) yang sedang dalam proses pengurusan.

cit. 103 Penulis melihat penggunaan istilah “end user” pada suatu akta “Perjanjian Kerjasama Dalam Rangka Pemberian Fasilitas Pembiayaan (Joint Financing)” tanggal 24 Juli 2007 yang dilaksanakan oleh PT.. penggunaan istilah “Nasabah/end user” untuk menyebut penerima/pengguna kredit pada perjanjian kerjasama antara Bank X dan PT. baik pembiayaan produktif maupun pembiayaan konsumtif”. Pihak Kedua maupun Bank Indonesia dan tidak terdapat kredit/pembiayaan ganda atas nama calon end user yang sama”. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. walaupun seringkali disebutkan pada perjanjian kerjasama dimaksud. Sub Bab 01 angka (1) huruf (f). Pada praktek perbankan. Tbk. Dalam Perjanjian Kerjasama Pasal 1 ayat (3) huruf (c) dijelaskan pengertian dari Nasabah sebagai berikut : “Nasabah adalah pihak yang menerima fasilitas kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan dari Pihak Pertama melalui Kantor Cabang Pihak Kedua di seluruh Indonesia yang tidak termasuk dalam daftar orang-orang yang mempunyai kredit bermasalah di Pihak Pertama. Bank Mandiri. Y juga kurang tepat. sedangkan istilah “Nasabah” dalam Pasal 1 angka 16 sampai dengan angka 18 berturut-turut dijelaskan sebagai berikut : 102 Keputusan Direksi Bank X tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. Universitas Indonesia . istilah yang lebih tepat digunakan untuk penyaluran dana ke masyarakat adalah “Kredit” sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 11 : “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu. Kemudian. op.60 Dalam perbankan konvensional. tidak dijelaskan pengertiannya. hal ini diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai Kerjasama Penyaluran Pembiayaan yang berbunyi:102 “Nasabah/end user adalah pihak yang memperoleh pembiayaan melalui Lembaga Penyaluran Perkreditan. Sedangkan istilah end user. Namun demikian. istilah ini sering digunakan dalam kerjasama penyaluran kredit103 walaupun tidak dikenal dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.

47. 3.” Dengan demikian. 47-50. istilah “Nasabah” yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dan PT. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama Pasal 1 ayat (2). hlm. karena dalam undang-undang pengertian Nasabah sendiri dibedakan lagi menjadi dua yaitu Nasabah Penyimpan dan Nasabah Debitur. Nasabah Penyimpan adalah nasabah yang menempatkan dananya di bank dalam bentuk simpanan berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. Debitur ataupun End User. 105 Ibid. Penulis berpendapat istilah yang lebih tepat digunakan untuk menyebut penerima kredit adalah Nasabah Debitur. PT. Op. surat kuasa dapat diartikan sebagai surat yang berisi pemberian sebagian kekuasaan atau hak yang dimiliki oleh subyek hukum kepada subyek hukum lainnya untuk melakukan perbuatan hukum tertentu. Y (lembaga/perusahaan lain).61 “Nasabah adalah pihak yang menggunakan jasa bank. Y sebagai channeling agent bertindak sebagai kuasa dari Bank X dalam rangka penyaluran kredit/pembiayaan kepada masyarakat. Y masih bersifat luas. kredit diberikan kepada end user (penerima kredit) melalui PT.. yang menerimanya untuk dan atas namanya menyelenggarakan suatu urusan. Fungsi lembaga/perusahaan lain dalam pola channeling ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama. Universitas Indonesia .1.104 Batasan tersebut mempunyai 4 (empat) unsur penting :105 a. Adanya Persetujuan 104 Try Widiyono. hlm..2 Kedudukan Hukum Para Pihak Pada bab sebelumnya telah dijelaskan mengenai penyaluran kredit dengan pola channeling. Cit. yang menyatakan bahwa pemberian kuasa adalah suatu persetujuan dengan mana seseorang memberikan kekuasaan kepada seseorang lain. Nasabah Debitur adalah nasabah yang memperoleh fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah atau yang dipersamakan dengan itu berdasarkan perjanjian bank dengan nasabah yang bersangkutan. Pada pola channeling seperti pada kajian penulisan ini. tetapi undang-undang telah memberikan batasan yang diatur dalam pasal 1792 KUHPerdata. Sekalipun secara etimologi.

apakah pemberi kuasa bertindak atas dirinya sendiri atau dalam suatu jabatan Universitas Indonesia . Bertindak atas Nama Pemberi Kuasa Sebagaimana telah disinggung di atas. suatu hal tertentu. Hal lain yang penting berkaitan dengan persetujuan ini adalah Pasal 1320 KUHPerdata yang mengatur mengenai syarat-syarat sahnya suatu persetujuan. c.62 Unsur ini merupakan unsur dalam suatu perikatan yang lahir oleh karena adanya persetujuan (vide Pasal 1233 jo Pasal 1313 KUHPerdata). yakni hukum yang mengatur mengenai berbagai badan. kewenangan tersebut perlu kita minta buktinya untuk meyakini kewenangan itu. Pasal 1313 KUHPerdata menyatakan suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Berkaitan dengan badan ini perlu diperhatikan aspek hukum korporasi. Kehadiran penerima kuasa tersebut mewakili pemberi kuasa. baik badan hukum maupun bukan badan hukum. Ketentuan ini maksudnya adalah surat kuasa tersebut diberikan dari dan untuk subjek hukum. b. maka pihak penerima kuasa harus bertanggung jawab sendiri. Perwakilan itu memberi konsekuensi bahwa seakan-akan pemberi kuasa tersebut hadir dalam melakukan perbuatan hukum tersebut. kecakapan untuk membuat suatu perikatan. oleh karena itu diwakili oleh pihak lain. yaitu : sepakat mereka yang mengikatkan dirinya. baik orang atau badan. Dalam hal tertentu. harus diperhatikan dasar bertindak atau dasar pemberian kuasa tersebut (kewenangan bertindak). Kewenangan itu harus dilihat. Jadi. bahwa pemberi kuasa dalam surat kuasa tidak dapat melakukan perbuatan hukum sendiri. baik pihak pemberi kuasa maupun kuasanya. dan suatu sebab yang halal. sebatas dengan kuasa atau kewenangan yang diberikan oleh pihak pemberi kuasa. Dimaksud dengan subjek hukum tersebut harus memenuhi unsur kecakapan dan punya kewenangan bertindak. Antara Pemberi kepada Penerima Kuasa Surat kuasa diberikan oleh oleh pemberi kuasa kepada pihak lain. Di luar kuasa atau kewenangan yang diberikan oleh pemberi kuasa.

Dalam hal perjanjian kredit ditandatangani antara end user sebagai penerima kredit dengan PT. Jika dalam kapasitas tertentu. Jika tidak. maka PT. wajib disebutkan dasarnya juga. Sehubungan dengan kajian mengenai kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT. Jadi. Kedudukan PT. yang dikuasakan tersebut harus jelas serta rinci dan sedapat mungkin tidak dapat diinterpretasikan lain sehingga tidak mudah menimbulkan dispute. Semua akibat hukum yang ditimbulkan merupakan tanggung jawab dari pemberi kuasa. hal yang perlu diperhatikan adalah hak dan kewajiban PT. siapakah yang menandatangani perjanjian kredit. khususnya dalam hal channeling agent diberikan hak untuk menetapkan secara bebas suku bunga kredit kepada end user. Sebagai kuasa. pemberi kuasa dapat menggugat secara langsung orang dengan siapa si kuasa telah bertindak dalam kedudukannya dan menuntut daripadanya pemenuhan persetujuannya. Y sebagai agen. Dalam hal ini perlu diperhatikan. Oleh karena itu. Y wajib mendapatkan kuasa dari Bank X sebagai kreditur karena PT. berdasarkan pasal 1799 KUHPerdata. hal ini diatur dalam pasal 1 ayat (2) sebagai Universitas Indonesia . Oleh karena itu. Untuk Menyelenggarakan Suatu Urusan Suatu pemberian kuasa dimaksudkan untuk mewakili pihak pemberi kuasa kepada penerima kuasa dalam suatu urusan. untuk dan atas nama Bank X. maka pemberian fasilitas kredit tersebut bukan merupakan tanggung jawab pihak pemberi kuasa. Y dalam perjanjian kerjasama adalah sebagai kuasa bank dalam berikut : melakukan penyaluran kredit dengan mewakili bank dalam penandatanganan perjanjian kredit. Y dalam hal ini bertindak dalam kapasitasnya berdasarkan kuasa dan oleh karena itu. Penerima kuasa hanya bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa.63 tertentu. Y. Penetapan demikian wajib didukung oleh kewenangan yang terdapat dalam perjanjian kerjasama. d. Y sebagai channeling agent tidak dapat bertindak di luar kuasa yang diberikan. PT. Apabila telah memenuhi syarat-syarat tersebut berarti perbuatan tersebut seakan-akan dilakukan sendiri oleh pemberi kuasa. suatu urusan tersebut wajib dicantumkan dalam suatu surat kuasa. Y.

” Disamping itu. SK Dir. Universitas Indonesia . Namun demikian. 106 Keputusan Direksi Bank X tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan.” Kuasa yang dimaksud pada Perjanjian Kerjasama pasal 1 ayat (2) sampai saat ini tidak dibuat secara tersendiri. Y untuk melaksanakan pemberian kredit/pembiayaan tersebut. dengan demikian kuasa hanya diberikan terbatas pada hal-hal yang diatur dalam pasal 1 ayat (2) tersebut di atas. walaupun Bank X telah memberikan kuasa kepada PT.66 Tahun 2003 tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. Y bertindak mewakili/atas nama Bank X dalam pemberian kredit kepada end user. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan tersebut. b. ketentuan mengenai penandatanganan perjanjian kredit tersebut diatur pula dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai Kerjasama Penyaluran Pembiayaan sebagai berikut: 106 ”(1) Perjanjian Kredit ditandatangani antara Bank X dengan Debitur yang diajukan oleh Agen atau antara Agen dengan Debitur. Pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan. Y. 5 ayat (1) dan ayat (2). ps. Pelaksanaan segala hak-hak Bank X yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan. Menerima data dan dokumen Nasabah dari PT. kuasa mana apabila diperlukan akan dibuat secara tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akta ini. baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua kepada masyarakat. yaitu kuasa untuk : a. kuasa ini dibatasi oleh klausul yang terdapat pada pasal 8 Perjanjian Kerjasama mengenai Hak-Hak Bank X sebagai berikut : a. Konsekuensi hukum dari kuasa yang tercantum dalam Perjanjian Kerjasama adalah PT. No.64 “Pihak Kedua bertindak sebagai kuasa Pihak Pertama. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Pihak Pertama yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut pada ayat 1 pasal ini. Pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua kepada masyarakat. (2) Penandatanganan Perjanjian Kredit berdasarkan kuasa dari Bank X kepada Agen dituangkan dalam perjanjian kerjasama penyaluran pembiayaan. c.

Y dengan sifat Non Revolving (sekaligus). Y (Pihak Kedua) sebagai pemberi kuasa dan penerima kuasa. X melakukan penelitian terhadap pemenuhan persyaratan untuk pencairan kredit. Dengan demikian. Y adalah sebagai mitra usaha sebagaimana dijelaskan dalam komparisi (pembukaan) perjanjian kerjasama sebagai berikut : Universitas Indonesia . plafond kredit/pembiayaan disalurkan oleh Bank X kepada end user melalui PT. e. Bank X berhak menolak permohonan pencairan kredit dari PT. Bank X merupakan Kreditur dari end user. Bank X tetap menjalankan fungsinya sebagai Bank karena Bank X juga melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen dari Calon Nasabah serta dapat menolak permohonan pencairan kredit. Melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen calon Nasabah sesuai dengan persyaratan dan ketentuan Bank X. Meninjau kembali kerjasama kredit/pembiayaan ini apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan dalam penyaluran kredit/pembiayaan kepada Nasabah (end user). Y menyampaikan tembusan perjanjian kredit/pembiayaan dan accesoirnya antara PT. Disamping itu. d. maka hubungan hukum antara Bank X dengan PT. Menerima pembayaran angsuran hutang pokok dan bunga atas kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Bank X kepada Nasabah setelah diperhitungkan dengan hak PT. maka dapat disimpulkan bahwa kedudukan PT. Y dengan end user dan PT. berdasarkan hak-hak Bank X dalam Perjanjian Kerjasama. diatur pula dalam Pasal 4 mengenai Permintaan Penyaluran Kredit/ Pembiayaan bahwa penyaluran kredit/pembiayaan oleh Bank X melalui PT.65 b. Y dalam perjanjian kerjasama ini bukan sebagai Debitur. Y dalam hal nasabah wanprestasi guna pelunasan kredit/pembiayaannya. Y jika Calon Nasabah tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh Bank X. Selanjutnya. Apabila dilihat dari tujuan penyaluran kredit/pembiayaan sesuai dengan Pasal 2 jo Pasal 3 Perjanjian Kerjasama. c. Y. Menerima pembayaran dari PT. yaitu Perjanjian Kerjasama. Dilihat dari bentuk perjanjiannya. dan berdasarkan kedudukan hukum Bank X (Pihak Pertama) dengan PT. Y dilakukan setelah terlebih dahulu PT. Disamping itu.

Berdasarkan konstruksi dan hubungan hukum yang ada. dibuat dengan judul perjanjian “Perjanjian Pembiayaan Konsumen”. Y. Seharusnya tanggung jawab PT. Pembuatan Perjanjian Kredit antara PT. Perjanjian Pembiayaan Konsumen tersebut merupakan perjanjian kredit/pembiayaan sebagaimana diatur pada pasal 1 ayat 3 huruf e Perjanjian Kerjasama sebagai berikut : “Perjanjian Kredit/Pembiayaan adalah perjanjian yang dibuat oleh dan antara Pihak Kedua dengan Nasabah sebagai pelaksanaan dari Perjanjian ini yang bentuk dan isinya sesuai dengan ketentuan/standard yang berlaku pada Pihak Kedua”.66 “Bahwa dalam rangka mengembangkan bisnis ritel. Sedangkan di lain pihak. Y hanya meliputi penyimpangan-penyimpangan atas penyaluran kredit yang tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama. Pihak Pertama bermaksud menjalin kerjasama dengan perusahaan pembiayaan (multi finance) sebagai mitra usaha dalam memberikan kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan bermotor kepada masyarakat”. PT. Pra-contractual Perjanjian bermula dari Surat Permohonan dari end user untuk memperoleh fasilitas dana pembiayaan berupa sejumlah uang untuk 3.2. wanprestasi end user terkait dengan pembayaran kembali/pelunasan kredit ke Bank X bukanlah menjadi tanggung jawab dari PT. 3. Y dengan Penerima Kredit Perjanjian antara PT. Bank X memperoleh keuntungan berupa provisi dan bunga pinjaman sebagai akibat dari meluasnya penyaluran kredit ke masyarakat melalui PT.1 Hak dan Kewajiban Para Pihak Universitas Indonesia . Y memperoleh keuntungan berupa spread (selisih) antara bunga pinjaman dari bank dengan bunga pinjaman kepada end user. ditandatangani oleh para pihak secara bawah tangan (tidak notariil). Y.Y dengan end user terdiri dari tiga tahap sebagai berikut : a. Y hanya terbatas pada pemberian kredit/pembiayaan dan tindakan wanprestasi dari PT.2 Analisa Perjanjian Kredit antara PT. Y dengan penerima kredit (end user). Dalam kerjasama ini.

Y dengan end user dituangkan dalam akta “Perjanjian Pembiayaan Konsumen”.67 pembelian kendaraan bermotor. Disamping itu. i. e. Akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. d. c. k. Post Contractual Pelaksanaan perjanjian berupa pemenuhan hak-hak dan kewajibankewajiban sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati antara PT. tidak disebutkan bahwa PT. Y. f. Y bertindak sendiri sebagai kreditur atau dengan kata lain tidak mewakili Bank X. perjanjian kredit tersebut dapat dimohonkan kembali kepada bank lain untuk pencairan kredit serupa. j. Pasal 1 Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4 Pasal 5 Pasal 6 Pasal 7 Pasal 8 Pasal 9 Pasal 10 Pasal 11 : Fasilitas Pembiayaan : Jumlah Fasilitas Pembiayaan : Tata Cara Pembayaran : Hak dan Kewajiban atas Barang Jaminan : Wanprestasi : Berakhirnya Perjanjian : Lain-Lain : Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia : Penyelesaian Perselisihan : Kuasa Pembebanan Jaminan Fidusia : Kuasa Berdasarkan komparisi (pembukaan) perjanjian kredit antara PT. g. b. Y dengan end user. Y dengan end user. c. Y merupakan kuasa dari Bank X dalam meyalurkan kredit. Y. h. Ketentuan-ketentuan dalam perjanjian kredit antara PT. Berdasarkan perjanjian kredit ini. Y dengan end user disusun dalam beberapa pasal sebagai berikut : a. kemudian ditanggapi dengan persetujuan PT. Contractual Persesuaian pernyataan kehendak (kesepakatan) antara PT. Hak dan Kewajiban para pihak meliputi: Hak end user adalah memperoleh pinjaman uang melalui fasilitas pembiayaan untuk pembelian barang dari penjual berupa satu unit kendaraan Universitas Indonesia . b. sehingga dalam kedudukan hukumnya PT.

d. Membayar kembali hutang pembiayaan (pokok dan bunga) dengan cara mengangsur dengan tertib dan teratur sesuai jadwal pembayaran angsuran tanpa terlebih dahulu dilakukan penagihan/pemberitahuan oleh PT. b. sedangkan kewajiban end user diatur dalam pasal 3 jo pasal 4 perjanjian kredit sebagai berikut : a. Y sebagai Barang Jaminan. Membayar denda keterlambatan sebesar 2 ‰ (dua permil) perhari dari jumlah angsuran yang tertunggak atas setiap keterlambatan pembayaran angsuran hutang pembiayaan. Barang jaminan yang berada di bawah penguasaan Penerima Fasilitas/Pemberi Jaminan hilang atau musnah. sedangkan kewajiban PT. c. Barang jaminan disita atau terancam oleh suatu tindakan penyitaan oleh pihak lain atau siapapun juga dan karena sebab apapun. Menyerahkan setiap unit sepeda motor merk apapun yang dibeli oleh end user dari penjual melalui akad pembiayaan dari PT. dalam pasal 1 jo pasal 2 ayat (1) perjanjian kredit. Penerima Fasilitas tidak/lalai melakukan pembayaran angsuran Hutang Pembiayaan pada tanggal jatuh tempo angsuran. Y dan pembayaran dilakukan pada hari kerja di tempat PT. Y adalah memperoleh pembayaran kembali hutang pembiayaan dari end user berupa pokok dan bunga dan hak-hak lain dalam Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia. Hak PT. Ketentuan mengenai keadaan wanprestasi oleh end user diatur dalam Pasal 5 sebagai berikut : a. Penerima Fasilitas lalai dan/atau tidak dan/atau gagal memenuhi satu atau lebih kewajiban sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini dan/atau Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia. Y. Universitas Indonesia . b. c.68 bermotor roda dua dengan spesifikasi sesuai dengan permohonan end user. adalah memberikan pinjaman uang melalui fasilitas pembiayaan dengan jaminan hak milik secara Fidusia kepada end user untuk pembelian barang dari penjual berupa satu unit kendaraan bermotor roda dua dengan spesifikasi sesuai dengan permohonan end user. kemudian barang jaminan tersebut diikat secara Fidusia dan tunduk pada Perjanjian Pemberian Jaminan Fidusia. Y.

Keputusan Direksi Bank X tentang Kerjasama Penyaluran Pembiayaan. atau pembagian hasil keuntungan.66 Tahun 2003. meninggal dunia atau mengajukan penundaan pembayaran hutang. op. Y (Pihak Kedua) bahwa : “Pihak Kedua bertindak sebagai kuasa Pihak Pertama.108 Dalam kredit perbankan. ps.cit.” Disamping itu dijelaskan pula pada pasal 1 ayat (2) perjanjian kerjasama antara Bank X (Pihak Pertama) dengan PT. 3. op. 5 ayat (1) dan ayat (2). 1 angka 11. imbalan.69 e.. berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. No. 108 Sutan Remi Sjahdeini. ps.2 Kedudukan Hukum Para Pihak Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu.107 Perjanjian Kredit adalah perjanjian antara bank sebagai kreditur dengan nasabah sebagai nasabah debitur mengenai penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu yang mewajibkan nasabah-nasabah debitur untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga. (2) Penandatanganan Perjanjian Kredit berdasarkan kuasa dari Bank X kepada Agen dituangkan dalam perjanjian kerjasama penyaluran pembiayaan.. op. cit. diletakkan di bawah pengampuan. baik dalam pelaksanaan pemberian kredit/pembiayaan untuk pembelian kendaraan 107 Undang-Undang Perbankan. hubungan hukum antara Bank dengan Debitur pada prinsipnya didasarkan pada perjanjian kredit.2. Penerima Fasilitas atau Pemberi Jaminan dinyatakan pailit.cit. 109 Universitas Indonesia . Ketentuan mengenai penandatanganan perjanjian kredit dalam rangka pemberian/penyaluran kredit kepada end user diatur dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai Kerjasama Penyaluran Pembiayaan sebagai berikut:109 ”(1) Perjanjian Kredit ditandatangani antara Bank X dengan Debitur yang diajukan oleh Agen atau antara Agen dengan Debitur.

Waktu. op. tetapi juga dapat berbentuk barang dan jasa. kuasa mana apabila diperlukan akan dibuat secara tersendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari akta ini. yaitu bahwa setiap pemberian kredit mempunyai risiko akibat adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian kredit dengan pembayaran kembali. cit. c.” Secara hukum. maupun dalam pelaksanaan segala hak-hak Pihak Pertama yang timbul sehubungan dengan pemberian kredit/pembiayaan tersebut pada ayat 1 pasal ini. dimana terdapat unsur-unsur di dalamnya sebagai berikut :110 a. Di samping itu. Prestasi yang wajib dilakukan oleh debitur atas kredit yang diberikan kepadanya adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya. Thomas Suyatno. karena dalam perjanjian disebutkan bahwa PT. perjanjian tersebut telah memenuhi unsur-unsur perjanjian kredit. d. Universitas Indonesia .70 bermotor roda dua kepada masyarakat. waktu. Namun dalam obyek kredit yang menyangkut uanglah yang sering dijumpai dalam praktek perkreditan. Prestasi.. perjanjian tersebut merupakan perjanjian kredit. Risiko. b. 12-13. pengadministrasian pemberian kredit/pembiayaan tersebut. Kepercayaan. hlm. Semakin panjang jangka waktu pemberian kredit semakin tinggi resiko kredit tersebut. yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh sipenerima kredit dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. Y bertindak sebagai Pemberi Fasilitas (kreditur) dan end user bertindak sebagai Penerima Fasilitas (debitur). Perjanjian Kredit merupakan perjanjian antara debitur dan kreditur di mana hak dan kewajibannya termuat dalam perjanjian tersebut dan dikenal dengan perjanjian utang piutang. atau obyek kredit itu tidak saja diberikan dalam bentuk uang. yaitu bahwa pemberian kredit dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh tenggang 110 Drs.

atau obyek kredit diberikan dalam bentuk uang sejumlah pembelian kendaraan bermotor yang dimohonkan oleh end user. Hal yang perlu dicermati adalah dari awal perjanjian Bank sama sekali tidak disebut sebagai pihak dalam perjanjian tersebut. 3. selain itu kedudukan Bank sebagai mediasi tidak memiliki dasar hukum yang jelas.71 Pada perjanjian kredit antara PT. Y dengan end user telah dipenuhi unsurunsur perjanjian kredit. sehingga hubungan hukum yang harusnya terbentuk dari perjanjian yang berjudul “Perjanjian Pembiayaan Konsumen” tersebut adalah Bank X sebagai Kreditur dan end user sebagai Debitur. yaitu keyakinan dari PT. Prestasi. Kepercayaan. Risiko. Keyakinan ini didasarkan pada analisa dan evaluasi atas permohonan kredit dan pengikatan jaminan yang diberikan oleh end user. yaitu bahwa pemberian kredit kepada end user dengan pembayaran kembali tidak dilakukan pada waktu yang bersamaan melainkan dipisahkan oleh jangka waktu kredit. Y bertindak sebagai kuasa dari Bank X untuk menandatangani perjanjian kredit/pembiayaan dengan end user. Universitas Indonesia . b. Analisa Penyelesaian Kredit 3. Y bahwa kredit tersebut akan dibayar kembali oleh end user dalam jangka waktu tertentu yang telah diperjanjikan. yaitu : a.1. d. c.3. yaitu bahwa setiap pemberian kredit kepada end user mempunyai risiko yang akan ditanggung oleh PT.3. Waktu. Prestasi yang wajib dilakukan oleh end user adalah tidak semata-mata melunasi utangnya tetapi juga disertai dengan bunga. Pembayaran Kembali Kredit Hak Bank X sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (1) angka 1 huruf c perjanjian kerjasama adalah menerima pembayaran angsuran hutang pokok dan bunga atas kredit/pembiayaan yang diberikan oleh Bank X kepada end user setelah diperhitungkan dengan hak PT. Berdasarkan ketentuan dalam perjanjian kerjasama dan Buku Pedoman Perusahaan tersebut. Y. Pada bagian penutup dari perjanjian kredit ini disebutkan bahwa Bank sebagai mediasi. seharusnya PT. Y.

yaitu pada Pasal 8 ayat (2) angka 2 huruf (l) dan (m). bahwa kewajiban PT. Y sebagai pemilik rekening. bukan oleh end user. melakukan setiap tindakan hukum yang diperlukan guna melindungi kepentingan Bank X. Melaporkan kepada Bank X mengenai hasil dari langkah-langkah penyelesaian yang telah diambil terhadap end user yang wanprestasi. Mengenai pembayaran kembali. karena seharusnya kuasa pendebetan rekening PT. Menerima pembayaran angsuran kredit/pembiayaan dari end user baik berupa angsuran pokok. Y wajib membuka rekening pada Bank X guna menampung pencairan kredit/pembiayaan dan pembayaran angsuran serta biaya-biaya lain. Y dalam perjanjian kerjasama. Y diberikan oleh PT. Ketentuan pada pasal 10 ayat (2) tersebut tidak sesuai dengan kaidah hukum. diantaranya tetapi tidak terbatas pada mengeluarkan surat peringatan. Menyetorkan semua dan setiap pembayaran yang diterima dari end user setelah diperhitungkan dengan hak atau keuntungan PT.72 Sehubungan dengan pembayaran kembali kredit ini. b. yaitu pada Pasal 8 ayat (2) angka 2 huruf (n) dan (o). Y dalam hal end user wanprestasi adalah : a. penagihan kepada end user dan pihak-pihak lainnya sehubungan dengan administrasi penyelesaian kredit/pembiayaan. sebagai berikut : a. Y kepada end user tersebut dengan menyetorkan seluruh dana atau porsi kredit/pembiayaan yang disalurkan Universitas Indonesia . c. maka PT. kewajiban PT. Sebagai kuasa dari Bank X. bunga. Apabila terdapat end user yang menunggak pembayaran angsuran lebih dari 3 (tiga) kali angsuran. telah diatur dalam perjanjian kerjasama. Y. Kemudian pada Pasal 10 ayat (2) diatur bahwa Bank X diberi kuasa oleh end user untuk mendebet rekening PT. b. Y wajib mengupayakan untuk mendapatkan kembali dana atau porsi kredit/pembiayaan yang telah disalurkan oleh Bank X melalui PT. Y sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 pasal ini. somasi. dalam Pasal 10 ayat (1) perjanjian kerjasama mengenai Pembukaan Rekening diatur bahwa PT. Selanjutnya. denda maupun biaya-biaya lainnya yang berkaitan dengan pemberian kredit/pembiayaan serta mengeluarkan kuitansi atau tanda bukti pembayaran yang sah.

.. Hal ini mengakibatkan angsuran/pembayaran kembali kredit ke Bank X menjadi terhambat dan kualitas kredit menjadi memburuk. Perjanjian Restrukturisasi Kredit Setelah kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan berjalan selama satu tahun.2. 174-175. pelaksanaan restrukturisasi kredit harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 112 111 Ibid. Y tidak melakukan penyetoran pada tanggal yang ditentukan. Bank X berhak menerima pembayaran dari PT. yaitu tahun 2008. op. 3. Bab I huruf (A). Kemudian. maka PT. terjadi kesulitan pembayaran dari para end user (penerima kredit) yang disebabkan adanya penurunan harga kelapa sawit dunia yang drastis akibat krisis ekonomi global. Y selaku kuasa dan mitra usaha dari Bank X dengan kewajibannya menanggung pelunasan kredit/pembiayaan end user selaku debitur dalam hal terjadi wanprestasi oleh end user. hlm. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. Apabila PT. cit. Y.73 dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender sejak end user menunggak.3. Y wajib membayar denda keterlambatan sebesar 150% (seratus lima puluh persen) dari tarif bunga yang berlaku pertahun untuk per hari keterlambatan dihitung dari jumlah tertunggak. Y dalam hal end user wanprestasi guna pelunasan kredit/pembiayaannya. ketentuan mengenai keadaan wanprestasi debitur tidak diatur dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. melainkan hanya diatur dalam perjanjian kredit antara PT. Adapun bentuk penyelamatan kredit tersebut secara umum berupa : 111 Restrukturisasi Kredit. Y dengan end user. Berdasarkan Pedoman Kebijakan dan Prosedur Restrukturisasi Kredit Bank X. Selain itu. Ketentuan mengenai pembayaran kembali tersebut menimbulkan inkonsistensi antara kedudukan hukum PT. pada Pasal 8 ayat (1) angka 1 huruf d perjanjian kerjasama. 112 Keputusan Direksi Bank X tentang Restrukturisasi. Bank X segera mengambil upaya penyelamatan kredit. Novasi Kredit dan Likuidasi Agunan. d. Universitas Indonesia .

atau penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual. Restrukturisasi kredit dilarang dilakukan oleh Bank. e. c.. Pengurangan tunggakan pokok kredit. jika bertujuan hanya untuk menghindari : penurunan penggolongan kualitas kredit. Restrukturisasi kredit harus dilakukan berdasarkan analisis yang cermat. Penurunan suku bunga kredit. d. e. Restrukturisasi Kredit diharapkan dapat memperbaiki kualitas kredit. Perpanjangan jangka waktu kredit. Penangguhan pembayaran tunggakan bunga kredit. f.74 a. Konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara. d. peningkatan pembentukan PPA. Bab I huruf (C) angka (5). g. maka restrukturisasi kredit wajib dilakukan oleh pejabat yang lebih tinggi dari pejabat yang memutus pemberian kredit. Pelaksanaan dengan pola ini belum dapat diaplikasikan pada Bank X. Selain itu untuk menjaga obyektivitas. b. Restrukturisasi kredit hanya dapat dilakukan terhadap debitur-debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan atau bunga kredit. Pola-pola restrukturisasi kredit di Bank X adalah sebagai berikut : 113 a. memperhatikan praktek-praktek perbankan yang sehat (good corporate governance) dan penerapan manajemen risiko secara memadai. sebagai upaya untuk menurunkan rasio Non Performing Loan (NPL) terhadap eksposur kredit secara keseluruhan. Universitas Indonesia . Penambahan fasilitas kredit. 113 Ibid. Bank wajib memiliki kebijakan dan prosedur tertulis sebagain dasar pelaksanaan Restrukturisasi Kredit yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kebijakan manajemen risiko sebagaimana diatur oleh ketentuan Bank Indonesia. memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit direstrukturisasi. c. Pengurangan tunggakan bunga kredit. b.

dan End User sebagai Debitur. Y. Y selaku Agen/Kuasa dari Bank X. c. Pada kredit konsumtif. kemudian ditambah dengan jaminan piutang PT. b. Y atas end user yang diikat dengan Jaminan Fidusia. PT. Y atas end user kepada Bank X yang diikat secara Fidusia dan didaftarkan kepada instansi yang berwenang. serta penyerahan jaminan tagihan/piutang PT. Perlakuan untuk kredit konsumtif. Y tersebut dilaksanakan bersamaan dengan penyerahan fisik BPKB sebagai jaminan kredit dan diikat secara bawah tangan. hubungan hukum antara Bank dengan Debitur pada prinsipnya didasarkan pada Perjanjian Kredit.75 h. penyelesaian fasilitas kredit lama dan memberikan fasilitas kredit baru dengan jumlah angsuran dan jangka waktu yang telah disepakati oleh debitur dan bank. sehingga pelaksanaan Universitas Indonesia . Jaminan restrukturisasi yang semula hanya berupa BPKB (Bukti Pemilikan Kendaraan Bermotor) yang fisiknya disimpan oleh PT. d. kemudian Bank X dengan suratnya (surat pemberitahuan persetujuan restrukturisasi kredit/ SPPRK) tertanggal 27 April 2009 memutuskan untuk menyetujui restrukturisasi kredit tersebut. Bank X dan PT. Perpanjangan jangka waktu fasilitas kredit selama 24 bulan sejak tanggal kredit jatuh tempo. Dalam kredit perbankan. Jumlah rekening pinjaman yang sebelumnya sesuai dengan jumlah dan atas nama end user menjadi satu rekening pinjaman atas nama PT. Y sepakat dan setuju untuk melakukan restrukturisasi kredit dengan membuat akta Perjanjian Restrukturisasi Kredit pada tanggal 29 Juni 2009 yang mengatur beberapa hal : a. Y serta corporate guarantee. Y mengajukan proposal penyelesaian kredit dengan restrukturisasi kredit tertanggal 30 Desember 2008. PT. Sehubungan dengan Perjanjian Restruturisasi Kredit yang dibuat antara Bank X dan PT. perlu dilihat kembali kedudukan hukum para pihak yaitu Bank X sebagai Kreditur. Y. Terbentur dengan kesulitan yang dialami oleh end user dalam pembayaran kembali kredit. Penandatanganan Akta Perjanjian Restrukturisasi Kredit antara Bank X dengan PT. Mengubah pola kredit dari kredit channeling menjadi kredit executing.

Ada perbedaan utama antara pola channeling dengan executing. Pada pola channeling. Y restrukturisasi kredit dilakukan antara lain dengan melakukan perubahan yang mendasar. dapat disimpulkan bahwa dalam Perjanjian Restrukturisasi Kredit tersebut kedudukan debitur dalam pelaksanaan kredit telah berubah. sebagaimana diatur pada Perjanjian Restrukturisasi Kredit Pasal 2 dan Pasal 3 ayat (1) meliputi : a. Jumlah rekening pinjaman yang sebelumnya sesuai dengan jumlah dan atas nama end user menjadi satu rekening pinjaman atas nama PT. Sedangkan kredit dengan pola executing. Y (selaku Kuasa dari Bank X) dengan Penerima Kredit/End User yang dibuat dengan judul “Perjanjian Pembiayaan Konsumen”. untuk dan atas nama bank/kreditur.76 restrukturisasi dapat dilakukan dengan mengubah ketentuan-ketentuan pada perjanjian kreditnya. Oleh karena agen adalah debitur. maka agen yang bersangkutan wajib mendapatkan kuasa dari kreditur (bank) karena agen dalam hal ini bertindak dalam kapasitasnya berdasarkan kuasa dan oleh karena itu. maka agen harus memenuhi syarat dan ketentuan bidang perkreditan sebagaimana mestinya. Dalam hal perjanjian kredit ditandatangani antara debitur dengan agen. Y sebagai debitur baru. Hubungan hukum antara agen dengan nasabahnya (nasabah agen/end user) adalah hubungan hukum yang terpisah dengan hubungan hukum antara bank dengan agen. b. perbuatan seperti ini merupakan suatu Pembaharuan Utang atau Novasi. Mengubah pola kredit dari kredit channeling menjadi kredit executing. sehingga perbuatan ini harus ditegaskan secara tegas dan nyata. kredit diberikan kepada debitur melalui lembaga/perusahaan lain. Y. Berdasarkan kesepakatan antara Bank X dengan PT. debitur adalah agen tersebut langsung. Perjanjian Kredit yang dimaksud dalam kajian ini telah dijelaskan sebelumnya adalah Perjanjian Kredit/Pembiayaan antara PT. Sehubungan dengan hal tersebut. Secara hukum. Fungsi lembaga/perusahaan (agent) lain dalam pola channeling ditetapkan dalam Perjanjian Kerjasama. Hal ini diatur dalam pasal 1417 KUHPerdata sebagai berikut : 114 114 Universitas Indonesia . kedudukan hukum end user sebagai debitur telah digantikan oleh PT.

Satrio. Akibat hukum yang muncul dari peristiwa seperti itu adalah bahwa paling-paling kreditur sekarang mempunyai tambahan seorang debitur lagi yang dapat ditagih untuk memenuhi perikatan yang ada antara kreditur dengan debitur. tetapi yang benar adalah dengan pembayaran oleh debitur baru debitur lama menjadi bebas. Dikutip dari J. “Overnemen van en toetreding tot eens anders schuld” dalam V. 116 Seharusnya pelaksanaan restrukturisasi kredit sebagaimana dijelaskan di atas. 116 Pitlo. Vollmar. Y secara terpisah. 118. didahului dengan pembuatan Akta Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi) antara Bank X dengan PT. 1417. Novasi tersebut tidak secara tegas dinyatakan dalam suatu Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi). dengan tegas menyatakan bahwa ia membebaskan debitur lama dari keterikatannya berdasarkan perikatan yang lama dari kewajibannya berprestasi (lebih lanjut) terhadap kreditur. dengan mana seorang berutang memberikan kepada orang yang mengutangkan padanya seorang berutang baru mengikatkan dirinya kepada si berpiutang.. pada novasi yang tidak selesai maka paling-paling ada borgtocht (penanggungan) atau penyediaan diri untuk menjadi debitur serta (mede-schuldenaar). P. hlm. S. bukan sebagai debitur dari Bank X. op. Verbintenissenrecht. hlm. dari perikatannya.77 “ Delegasi atau pemindahan. Universitas Indonesia .. jika si berpitang tidak secara tegas menyatakan bahwa ia bermaksud membebaskan orang berutang yang melakukan pemindahan itu. 298 menganggap syarat yang seperti tersebut dalam pasal 1417 [Burgerlijk Wetboek] perlu karena tidak tertutup kemungkinan bahwa memang maksud para pihak adalah hanya mau menambah seorang debitur disamping debitur yang lama. hlm. cit. Y pada perjanjian kerjasama berkedudukan hukum sebagai mitra usaha. op.. Kemudian. ibid. Y. 119. BAB IV PENUTUP Kitab Undang-Undang Hukum Perdata [Burgerlijk Wetboek]. 115 J. sehingga bukan dengan penerimaan debitur yang baru debitur lama terbebaskan. 461. ps. mengatakan bahwa dalam hal demikian. Novasi baru terjadi kalau kreditur. tidak menerbitkan suatu pembaharuan utang..G. cit. hlm.115 Pada prakteknya.H.H.” Pengalihan tersebut semakin mempertegas bahwa benar kedudukan PT. 279. hlm.. setelah menerima/menyetujui persoon debitur yang baru. S.. Satrio. dibuat Akta Perjanjian Kredit antara Bank X dengan PT. Scholten. Verbintenissenrecht.

Y. Y. maka kedudukan PT. maka hubungan hukum antara Bank X dengan PT. Dengan demikian. Y dalam rangka penyaluran kredit ke end user (penerima kredit) adalah sebagai berikut : a. Y hanya meliputi penyimpanganpenyimpangan atas penyaluran kredit yang tidak sesuai dengan perjanjian kerjasama. melainkan Universitas Indonesia . maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Y adalah sebagai mitra usaha sebagaimana dijelaskan dalam komparisi perjanjian kerjasama. tidak ada kewajiban bagi PT. Y baik dari segi bahasa maupun materi yang dikandung banyak memiliki hal-hal yang inkonsistensi sehingga perlu dikaji dari Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1988 dan Buku Pedoman Perusahaan Bank X sebagai berikut : i) Dilihat dari bentuk perjanjian yang mendasari kerjasama ini.1. yaitu “Perjanjian Kerjasama Penyaluran Kredit/Pembiayaan antara Bank X dengan PT. Permasalahan hukum yang terdapat dalam pelaksanaan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT.Berdasarkan tujuan penyaluran kredit/pembiayaan sesuai dengan Pasal 2 jo Pasal 3 Perjanjian Kerjasama bahwa plafond kredit/pembiayaan disalurkan oleh Bank X kepada end user melalui PT. Y dalam perjanjian kerjasama ini bukan sebagai Debitur. Ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian Kerjasama antara Bank X dengan PT. PT. Y bertanggung jawab hanya terbatas pada pemberian kredit/pembiayaan dan tindakan wanprestasi dari PT.78 4. dan berdasarkan kedudukan hukum Bank X (Pihak Pertama) dengan PT. Y (Pihak Kedua) sebagai pemberi kuasa dan penerima kuasa. sebagai mitra usaha yang diatur dalam perjanjian kerjasama penyaluran kredit kepada end user. Kesimpulan Berdasarkan uraian-uraian yang telah penulis kemukakan dalam bab-bab terdahulu dari tesis ini. Y untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh keadaan wanprestasi dari end user. ii) Berdasarkan hubungan hukum yang ada antara Bank X dengan PT. Y untuk Pembelian Kendaraan Bermotor”.

iii) Dalam hubungan mitra usaha ini. Disamping itu.79 sebagai Agen atau Kuasa dari Bank X. Y dengan end user yang dibuat dengan judul “Perjanjian Pembiayaan Konsumen” merupakan perjanjian kredit dimana PT. iv) Istilah “Penyaluran Pembiayaan” yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Y masih bersifat luas. v) Istilah “Nasabah” yang digunakan dalam perjanjian kerjasama antara Bank X dan PT. istilah yang lebih tepat digunakan untuk penyaluran dana ke masyarakat adalah “Kredit” sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Pasal 1 angka 11. Bank X memperoleh keuntungan berupa provisi dan bunga pinjaman sebagai akibat dari meluasnya penyaluran kredit ke masyarakat melalui jasa PT. Dalam perbankan konvensional. sedangkan di lain pihak PT. Sehubungan dengan hal tersebut. maka diketahui bahwa Bank X tetap menjalankan fungsinya sebagai Bank. b. sedangkan Bank X adalah termasuk perbankan konvensional. Y. Debitur ataupun End User. penulis berpendapat agar istilah yang lebih tepat digunakan untuk menyebut penerima kredit adalah Nasabah Debitur. Y memperoleh keuntungan berupa spread (selisih) antara bunga pinjaman dari bank dengan bunga pinjaman kepada end user. Y (Kuasa dari Bank X) berkedudukan sebagai Kreditur Universitas Indonesia . Dalam kredit perbankan. hubungan hukum antara Bank dengan Debitur berikut : i) pada prinsipnya didasarkan pada Perjanjian Kredit. Bank X juga berhak melakukan analisa dan evaluasi terhadap permohonan dan dokumen dari calon Nasabah (end user). karena dalam undang-undang pengertian Nasabah sendiri dibedakan lagi menjadi dua yaitu Nasabah Penyimpan dan Nasabah Debitur. Y lebih tepat digunakan pada produk perbankan syariah. Sehubungan dengan hal tersebut terdapat permasalahan sebagai Perjanjian antara PT.

Namun demikian. ketentuan mengenai keadaan wanprestasi debitur tidak diatur dalam perjanjian Universitas Indonesia . a. berdasarkan komparisi (pembukaan) perjanjian kredit antara PT. 2. Sehubungan dengan permasalahan tersebut.80 dan end user berkedudukan sebagai Debitur. Y dengan end user. Hal yang perlu dicermati adalah dari awal perjanjian Bank sama sekali tidak disebut sebagai pihak dalam perjanjian tersebut. tidak disebutkan bahwa PT. Akibat hukumnya adalah perjanjian tersebut tidak memiliki hubungan hukum dengan perjanjian kerjasama antara Bank X dengan PT. Y bertindak sendiri sebagai kreditur atau dengan kata lain tidak mewakili Bank X. Bank X segera mengambil upaya penyelamatan kredit dengan cara merestrukturisasi kredit tersebut. ii) Pada bagian penutup dari perjanjian kredit ini disebutkan bahwa Bank sebagai mediasi. Y selaku kuasa dan mitra usaha dari Bank X dengan kewajibannya menanggung pelunasan kredit/pembiayaan end user selaku debitur dalam hal terjadi wanprestasi oleh end user. Disamping itu. perjanjian kredit tersebut dapat dimohonkan kembali kepada bank lain untuk pencairan kredit serupa. Selain itu. sehingga dalam kedudukan hukumnya PT. Hal-hal yang dikaji dalam penyelesaian kredit ini adalah permasalahan dalam ketentuan mengenai Pembayaran Kembali Kredit dan pelaksanaan restrukturisasi kredit. Y merupakan kuasa dari Bank X dalam meyalurkan kredit. selain itu kedudukan Bank sebagai mediasi tidak memiliki dasar hukum yang jelas. Pada ketentuan mengenai Pembayaran Kembali Kredit terdapat inkonsistensi yaitu : i) Ketidaksesuaian antara kedudukan hukum PT. namun pada kenyataannya telah terjadi kesulitan pembayaran dari para end user (penerima kredit) sehingga kualitas kredit menjadi memburuk. Pelaksanaan penyelesaian kredit dilakukan dengan tahapan awal adalah pembayaran kembali kredit. Y.

Ketentuan mengenai kuasa pendebetan rekening ini tidak sesuai dengan kaidah hukum. pada prakteknya perjanjian tersebut tidak didahului dengan Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi) yang mencakup peralihan hak dan kewajiban dari end user selaku debitur lama kepada PT. Y. Saran Universitas Indonesia . Kedudukan hukum end user sebagai debitur telah digantikan oleh PT. Pengalihan tersebut semakin mempertegas bahwa Bank X. bukan oleh end user. b. karena seharusnya kuasa pendebetan rekening PT. Secara hukum. Y” telah disepakati bahwa pola kredit diubah dari kredit channeling menjadi kredit executing. Y. ii) Dalam Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) perjanjian kerjasama mengenai Pembukaan Rekening diatur bahwa PT. Y. Selanjutnya. benar kedudukan PT. dalam “Perjanjian Restrukturisasi Kredit antara Bank X dengan PT. melainkan hanya diatur dalam perjanjian kredit antara PT. sehingga kredit masing-masing end user beralih menjadi satu kredit dengan atas nama PT. Y diberikan oleh PT. Y sebagai debitur baru. Y pada perjanjian kerjasama berkedudukan hukum sebagai mitra usaha. Y sebagai pemilik rekening.2. Y dengan end user. selanjutnya Bank X diberi kuasa oleh end user untuk mendebet rekening PT. Y wajib membuka rekening pada Bank X guna menampung pencairan kredit/pembiayaan dan pembayaran angsuran serta biaya-biaya lain. perbuatan seperti ini merupakan suatu Pembaharuan Utang atau Novasi. bukan sebagai debitur dari 4.81 kerjasama antara Bank X dengan PT. Y selaku debitur baru. Namun demikian.

perlu dilakukan suatu penyempurnaan dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X mengenai konsep hukum yang tepat dalam penyaluran kredit dengan pola kerjasama pembiayaan (channeling). Universitas Indonesia . sehingga perjanjian kredit yang dibuat seharusnya berdasarkan standar dan pedoman peraturan perkreditan yang ada di Bank X. 3. mengingat bahwa suatu hubungan hukum dan kedudukan para pihak akan menentukan tanggung jawab atau akibat hukum bagi para pihak. Lembaga Pembiayaan selaku Agen dengan End User selaku Debitur. Selanjutnya klausul yang harus dimasukkan di dalam perjanjian tersebut adalah penegasan bahwa PT. Y didahului dengan membuat Perjanjian Pembaharuan Utang (Novasi). Kemudian. Y (Kuasa dari Bank X). Dalam Buku Pedoman Perusahaan Bank X sama sekali tidak diatur mengenai Novasi Kredit (Pembaharuan Utang). Seharusnya restrukturisasi kredit antara Bank X dengan PT. Sehubungan dengan permasalahan yang terdapat pada pelaksanaan kerjasama penyaluran kredit/pembiayaan antara Bank X dengan PT. 4. bukan standar yang ada di PY. Novasi tersebut diikuti dengan Perjanjian Kredit tersendiri antara Bank X selaku Kreditur dengan PT. untuk itu perlu adanya penyempurnaan Buku Pedoman Perusahaan Bank X sehubungan dengan Novasi Kredit dalam rangka penyelamatan kredit. maka penulis memberikan saran-saran sebagai berikut : 1. terutama mengenai hubungan hukum antara Bank selaku Kreditur. padahal pada praktek perbankan hal ini sudah lazim dilakukan. karena perbuatan Novasi harus secara tegas dinyatakan. 2. Y. Y bertindak selaku Kuasa dari Bank X.82 Berdasarkan kesimpulan-kesimpulan yang telah penulis kemukakan di atas. Y selaku Debitur. Hubungan hukum antara Bank X dengan End User adalah hubungan antara Debitur dengan Kreditur.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful