HASIL STUDI ASPEK HUKUM KASUS PENCEMARAN/PERUSAKAN TELUK BUYAT I. PENDAHULUAN I.1.

Latar Belakang Masalah Tim Peer Review penanganan kasus Teluk Buyat mengadakan persidangan tanggal 23 –25 Agustus 2004 di Cikampek dan merumuskan beberapa telaah diantaranya telaah aspek hukum. Hasil rumusan Tim Peer Review dipresentasikan pada pertemuan antara Tim Pengarah, Tim Teknis, dan Tim Peer Review pada tanggal 31 Agustus 2001 di Jakarta,. Hasil telaah Tim Peer Review menyimpulkan adanya beberapa permasalahan hukum terkait kasus Buyat: • • Bahwa ditinjau dari peraturan perundangan yang ada, terdapat indikasi bahwa PT NMR melanggar peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pembuangan limbah B3 (PP. No. 18/1999 jo PP No. 85/1999). Bahwa PT NMR sejak tahun 1996 telah membuang tailing yang merupakan limbah B3 secara illegal, karena dilakukan tanpa memperoleh Izin dari Menteri KLH/kepala BAPEDAL, apabila ditinjau dari aspek hukum, surat Menteri Lingkungan Hidup Nomor B-1456/Bapedal/07/2000 bukan merupakan izin sementara Bahwa terdapat indikasi bahwa PT NMR melanggar ketentuan yang telah ditetapkan, oleh karena berdasarkan Laporan Pelaksanaan RKL/RPL Triwulan I – Triwulan IV Tahun 1999, kualitas tailing, kualitas air tanah, kualitas air permukaan di dalam dan di luar lokasi tambang, kualitas air laut maupun kualitas udara di atas baku mutu yang dibolehkan.

Berdasarkan hasil tersebut, Tim Peer Review memberi rekomendasi kepada Tim Teknis Penanganan Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Teluk Buyat Ratatotok Minahasa Selatan yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup No. 97 tahun 2004. Rekomendasi yang diberikan oleh Tim Peer Review kepada Tim Teknis tersebut adalah pelaksanaan kajian terhadap seluruh dokumen PT NMR yang berkaitan dengan pemenuhan kewajiban sebagaimana yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Disamping itu, Tim Peer Review juga merekomendasikan agar dilakukan proses penegakan hukum. I.2. Tujuan Kajian Sesuai dengan hasil telaah dan rekomendasi tim Peer Review serta dengan merujuk kepada TOR Pembentukan Tim Independen Penanganan Kasus Teluk Buyat, maka tim tekhnis bidang penegakan hukum telah melakukan rangkaian kajian dalam kerangka untuk : 1. Mengidentifikasi pelanggaran peraturan yang terjadi dalam kasus Buyat; 2. Menganalisis bahan hukum dalam kerangka penegakan hukum; 3. Memberikan masukan terhadap kebijakan pasca tambang dan pembuangan tailing ke laut. I.3. Ruang Lingkup Kajian Melakukan Studi dan evaluasi dokumen-dokumen dan peraturan perundangan lingkungan hidup dan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait dengan operasional pertambangan PT. NMR.

1

I.4. Metode Kajian Studi aspek hukum ini dilakukan dengan pendekatan studi dogmatik, dengan cara melakukan identifikasi, analisisis dan klarifikasi terhadap dokumen-dokumen pemerintah, perusahaan, dan peraturan-peraturan perundang-undangan yang terkait dengan kegiatan pertambangan PT Newmont Minahasa Raya sejak tahun 1986 sampai dengan 2004. Disamping itu juga dilakukan klarifikasi terhadap wakil instansi yang bersangkutan untuk mendapatkan gambaran aktual kasus. Hal-hal penting yang jadi tekanan utama studi adalah perizinan dan pengelolaan lingkungan, pembuangan tailing kelaut dan penutupan tambang. Dalam studi ini, peristiwa konkrit yang berupa terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan Teluk Buyat yang diduga telah dilakukan oleh PT NMR dengan dukungan bukti yang cukup dikonfrontasikan dan dikonstruksikan kedalam peraturan perundang-undangan untuk menemukan peristiwa hukum dalam kerangka penyusunan pendapat hukum atas kasus pencemaran/perusakan lingkungan Teluk Buyat ini. I.5 Bahan Hukum I.5.1.Peraturan Perundang-undangan : a. Undang-Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup; b. Undang-undang No. 1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing c. Undang-Undang No. 11 tahun 1967 tentang Pertambangan Umum; d. Peraturan Pemerintah No. 18 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B-3 ; e. Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B-3; f. Peraturan Pemerintah No.19 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Laut; g. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; h. KepMen PE Nomor 620.K/008/M.PE/1994 i. KepMen PE Nomor 1211.K/0088/M.PE/1995 j. Keputusan Ketua Komisi AMDAL Pusat DPE Nomor 02.K/702/KAP/1994 I.5.2. Dokumen – dokumen dan Surat : a. Dokumen Kontrak Karya Antara Pemerintah Republik Indonesia dan PT Newmont Minahasa Raya b. Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL ) PT. NMR; c. Dokumen RKL/RPL PT. NMR; d. Perjanjian Kontrak Karya antara PT.NMR dengan Pemerintah RI No. B43/Pres/11/1986 tanggal 6 Nopember 1986; e. Dokumen Ecological Risk Assesment (ERA) yang disusun oleh PT.NMR (pra penilaian komisi penilai ); f. Dokumen Berita Acara rapat hasil penilaian ERA; g. Dokumen Berita Acara Hasil Pertemuan Bapedal, Departemen Pertambangan dan Energi, Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan tentang Pengelolaan Limbah Tailing PT NMR, 11 April 2000; h. Dokumen Hasil tim Peer Review i. Evaluasi Laporan Pelaksanaan RKL/RPL PT NMR tahun 2001-2004 (Unit Detoksifikasi) j. Surat PT. NMR No. 121/IV/RN/NMR/2000 tanggal 17 April 2000; k. Surat Menteri LH/ Kepala Bapedal No. B-1456/BAPEDAL/07/2000 tanggal 11 Juli 2000; l. Surat PT NMR No. 038/III/rn-ki/NMR/01 tanggal 16 April 2001 m. Surat Bapedal kepada Dirjen Pertambangan Umum Departemen ESDM No. B2227/4/10/2000 tentang Pembuangan Tailing PT NMR; n. Surat-surat, dan dokumen lain yang terkait dengan permasalahan pencemaran/perusakan teluk Buyat;

2

o. Laporan Penelitian Penanganan Dugaan Kasus Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup di Buyat Pantai dan Desa Ratatotok Kecamatan Ratatotok Timur Kabupaten Minahasa Selatan Propinsi Sulawesi Utara oleh Tim Terpadu (2004).

3

Pasal 20 ayat 4 “ Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri”. Pasal 45 “Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. d. 4 Tahun 1982 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang diikuti dengan penerbitan peraturan pelaksanaan yang antara lain berupa PP No. yayasan atau organisasi lain. Bahwa dalam UU No. yayasan atau organisasi lain. 23 tahun 1997 mengenai Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai pengganti UU No. Bahwa pada tahun 1997. h. KAJIAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Kajian Peraturan Perundang-Undangan a. perserikatan. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Pasal 18 ayat (1) “Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis damapk lingkungan hidup untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pasal 18 ayat (2) “Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku” g. perserikatan. Pasal 46 ayat (1) :”Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. f. PP No. i. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup 1. e. Pasal 6 ayat (2) “Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup”. Pasal 20 ayat 5 “Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan”. 2. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup ditentukan dan diatur tentang hal-hal yang berkaitan dengan limbah B3 sebagai berikut : a. perseroan. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga”. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap 4 . setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup” b. c.II. 18 tahun 1999 jo. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup”. Pasal 15 ayat (1) “Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.. diterbitkan UU No. UU No. perseroan. Pasal 20 ayat 1 “Tanpa suatu keputusan izin.

perseroan. PP No. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : (1) perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. 27 Tahun 1997 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Pasal 7 ayat (1) “analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang” Pasal 7 ayat (2)” Permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan 5 . m. 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing Pasal 8 ayat (1) “Penanaman modal asing di bidang pertambangan didasarkan pada suatu kerjasama dengan pemerintah atas dasar kontrak karya atau bentuk lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. perseroan. perserikatan. dan/atau (3) perbaikan akibat tindak pidana. dan/atau (2) penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. perserikatan. perseroan. j. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus.” c. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya” . Pasal 46 ayat (2) “Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. dan dilakukan oleh orang-orang. dan/atau (6) menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) tahun” b. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan”.badan hukum. perseroan. l. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. Pasal 46 ayat (4) “Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. k. dan/atau (5) meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. 23 tahun 1997 :”Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. Pasal 47 UU No. UU No. yayasan atau organisasi lain. perserikatan atau organisasi lain. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. dan/atau (4) mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap”. perserikatan. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perseroan. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama”. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. yayasan atau organisasi lain. Pasal 46 ayat (3) “Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yayasan atau organisasi lain. perserikatan.

keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab”. 6 . 12 tahun 1995 ditentukan dan diatur ketentuan yang berkaitan dengan pengelolaan limbah B3 antara lain : Pasal 6 ayat (1) “ Penghasil limbah B3 wajib melakukan pengolahan limbah B3” Pasal 21 ayat 1 butir (a) ” Setiap badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan dan/atau pengolahan limbah B3 wajib memiliki izin dari Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkunganr”. 19 tahun 1994 jo PP No. 19 tahun 1994 jo PP No. Peraturan Perundang-Undangan tentang Perusakan dan/atau Pencemaran Laut Bahwa dalam PP No. pengolahan. e. 12 tahun 1995 digantikan dengan dalam PP No. 19 tahun 1999 tentang Pencemaran dan/atau Perusakan Laut ditentukan hal-hal sebagai berikut : Pasal 1 angka 10 tentang Ketentuan Umum “Pembuangan (dumping) adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan atau kegiatan dan atau benda lain yang tidak terpakai atau kadaluarsa ke laut”. Pasal 18 ayat (1) ”Setiap orang atau penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang dilakukan. pengumpulan. mengolah limbah B3 dan/atau menimbun limbah B3” Pasal 40 ayat (1) huruf (a) “Setiap badan usaha yang melakukan kegiatan penyimpanan. Bahwa kemudian PP No. pemanfaatan. dan/atau penimbunan limbah B3 wajib memilki izin operasi dari Kepala istansi yang bertanggung jawab”. melakukan dumping ke laut wajib mendapat izin Menteri”. Pasal 18 ayat (2) “ Tata cara dumping sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri. d. 18 tahun 1999 jo PP No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 diatur dan ditentukan hal-hal sebagai berikut: Pasal 9 ayat (1) “Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi limbah B3. Peraturan Perundang-Undangan tentang Pengelolaan Limbah B3 Bahwa dalam PP No.

T/99 tanggal 11 Juni 1999. Bahwa dengan diterbitkannnya UU No. dan pemerintah berhak untuk menangguhkan persetujuannya atas rencana-rencana dan rancangan-rancangan yang berhubungan dengan konstruksi. perluasan. Kontrak Karya • Bahwa PT. Newmont Minahasa Raya (PT. dan pemukiman penduduk. FAKTA – FAKTA III.2. Bahwa dalam dokumen Amdal disebutkan bahwa pembuangan limbah batuan yang berbentuk lumpur ke dalam laut dengan menggunakan istilah Submarine Tailing Disposal/Submarine Tailing Placement (pembuangan tailing ke dasar laut/penempatan tailing di bawah laut disingkat STD/STP) dilakukan pada kedalaman 82 m di bawah lapisan Thermocline • • 7 . operasi.T/1994 tanggal 17 November 1994. (2) Perusahaan harus memasukkan ke dalam studi kelayakan setiap operasi pertambangannya suatu studi Analisa Dampak Lingkungan untuk menganalisa pengaruh yang mungkin timbul akibat operasinya terhadap tanah. NMR) telah disetujui oleh Komisi Amdal Pusat Departemen ESDM berdasarkan Surat Menteri Pertambangan No. NMR melakukan kegiatan usaha berdasarkan Kontrak Karya antara Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini diwakili oleh Menteri Pertambangan dan Energi Republik Indonesia dengan PT Newmont Minahasa Raya sesuai dengan Surat Persetujuan Presiden Republik Indonesia Nomor : B-43/Pres/11/1986 tanggal 6 Nopember 1986. modifikasi. sumber daya biologis. Bahwa dalam perjanjian kontrak karya ditentukan bahwa : (1) Perusahaan. maka rencana-rencana dan rancangan-rancangan dimaksud dianggap telah disetujui (lihat Psl. AMDAL • • Bahwa dalam ketentuan pasal 26 Perjanjian Kontrak Karya ditentukan bahwa Perusahaan harus menyusun studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) Bahwa dokumen ANDAL PT.16 ayat (2) Kontrak Karya). air. dan apabila dalam waktu 3 (tiga) bulan setelah diserahkannya rencana-rencana dan rancangan-rancangan itu Pemerintah tidak menyatakan keberatannya. sesuai dengan undang-undang dan peraturan-peraturan Lingkungan Hidup dan suaka alam yang berlaku di Indonesia. Menteri Pertambangan dan Energi telah memberikan persetujuan revisi AMDAL kepada PT NMR melalui surat Nomor 2049/28/SJN. • • III. (lihat psl 26 Kontrak Karya ). Persetujuan Pemerintah tersebut tidak akan ditahan atau ditangguhkan secara tidak wajar. udara.23 tahun 1997 beserta peraturan pelaksanaan tentang AMDAL. Bahwa Pemerintah melalui Menteri dapat menyatakan kepada perusahaan keberatankeberatan tertentu sehubungan dengan rencana-rencana dan rancangan-rancangan perusahaan.1. melindungi sumber daya alam terhadap kerusakan yang tidak perlu dan mencegah pencemaran dan pengotoran lingkungan.III. dan penggantian fasilitas-fasilitas perusahaan yang tidak serasi dan tidak wajar yang dapat merusak lingkungan hidup atau membatasi potensi pengembangannya lebih lanjut atau sangat mengganggu stabilitas sosial politik di daerah.4791/0115/SJ. harus melakukan kegiatannya sedemikian rupa untuk mengendalikan pemborosan atau kehilangan sumber daya alam.

2004 • Bahwa tanggal 17 April 2000 PT NMR mengirim surat No. NMR No. terlampir 3 Surat terlampir 8 . Dalam surat tersebut diatas. halaman 3-38 sampai dengan halaman 3-43. Arsen (As). Bahwa tanggal 11 Juli 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Timbal (Pb). 19 tahun 1994 mengenai Pengelolaan Limbah B3 yang kemudian mengalami perubahan melalui PP No. diatur secara lengkap ketentuan. (Sb) serta senyawa sianida (CN) 2. 19 tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah B3. mengandung beberapa bahan kimia yang tergolong sebagai logam berat seperti: Merkuri (Hg). 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 yang menggantikan PP No. Bahwa pada tahun 1997 berlaku UU No. 4 tahun 1982 tentang Pokok-pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup Bahwa UU No.3. halaman 3-37. yang bergabung dengan Arsen dalam larutan membentuk Feri Arsenate1 Bahwa dalam dokumen AMDAL disebutkan tailing yang merupakan limbah dari hasil pengolahan bijih emas. No. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini”. 12 tahun 1995 • • III.ketentuan sebagai berikut : • 1 2 Dokumen ANDAL. NMR. 121/IV/RN/NMR/2000 tanggal 17 April 2000. mengandung beberapa bahan kimia yang tercantum dalam lampiran PP No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup yang menggantikan UU. Tembaga (Cu). 19 tahun 1994 melalui PP No. Sonny Keraf. Bahwa pada tahun 1999 berlaku PP No. 19 tahun 1999. menggunakan ion-ion Feri yang dipasok sebagai Feri Klorida atau Feri Sulfat. 121/IV/RN/NMR/20003 yang ditandatangani oleh Richard B Ness. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dalam pasal 49 ayat (1) menyatakan bahwa “ Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-Undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. 19 tahun 1994 jo PP No.12 tahun 1995 Bahwa PT NMR membuang tailing ke laut sejak tahun 1996 hingga tahun 2004 Bahwa limbah dari hasil pengolahan bijih emas yang dihasilkan oleh PT. 19 tahun 1994 Jo. Besi (Fe). Perak (Ag). Pada tahun 1995. Pengelolaan Limbah B3 dan Dumping/Pembuangan Tailing ke Laut Periode 1996-1999 • • • Bahwa pada tahun 1994 berlaku PP No. 12 tahun 1995 tentang Pengelolaan Limbah B3. 18 tahun 1999 Jo PP No. terlampir Dokumen ANDAL. Bahwa dalam dokumen Amdal disebutkan bahwa tata cara penanganan limbah B3 akan mengikuti PP No. • • • Periode 1999.• Bahwa detoksifikasi limbah dilakukan untuk menghilangkan Arsen dan Antimon. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal yang berisi pengajuan izin untuk penempatan tailing di bawah laut sesuai dengan ketentuan PP No. Presiden Direktur PT NMR kepada Soni Keraf. PP No. 12 tahun 1995 dan juga sesuai dengan daftar limbah B3 dari kegiatan pertambangan. terjadi amandemen terhadap beberapa ketentuan pada PP No. menerbitkan Surat B-1456/BAPEDAL/07/2000 yang merupakan tanggapan atas surat PT.

Ketentuan lebih lanjut tentang baku mutu dan pembuangan limbah tailing ke Teluk Buyat oleh PT NMR akan ditetapkan berdasarkan hasil Risk Assessment pada butir 3. Melaporkan hasil studi ERA secara periodik (minimum sekali dalam sebulan) kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal dengan tembusan Menteri Pertambangan dan Energi.0 2. LSM. Bahwa kronologis mengenai pembahasan ERA adalah sebagai berikut: • Bahwa tanggal 15 Januari 2001. 4.008 1. 015/I/ENV/01 kepada Bapedal perihal Dokumen ERA. 1. PT NMR mengirim surat No. PT NMR harus melakukan Studi Ecological Risk Assessment (ERA) untuk pembuangan tailing ke Teluk Buyat yang melibatkan instansi terkait antara lain: Kantor Meneg LH/Bapedal.0 3. Dep Pertambangan dan Energi. Bupati Boloang Mangondow.5 0. Bupati Minahasa.• Sehubungan dengan surat Saudara Nomor 121/IV/RM/NRM/2000 tanggal 17 April 2000 perihal Pembuangan Tailing ke Teluk Buyat. Bahwa PT NMR telah menyusun Studi Ecological Risk Assessment (ERA) dan diserahkan kepada Bapedal pada tanggal 15 Januari 2001. dan Tokoh Masyarakat setempat.5 0. Limbah tailing yang dibuang PT NMR ke Teluk Buyat dengan debit 5000 m3 per hari dan harus memenuhi baku mutu sebagai berikut : Parameter PH As (III) CN WAD CN Free Hg Cu Fe Konsentrasi (mg/l) 6-9 0. maka bersama ini disampaikan bahwa Saudara diperkenankan untuk membuang limbah tailing ke Teluk Buyat dengan ketentuan sebagai berikut : 1. Penyerahan hasil ERA ini dilakukan kurang lebih dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah disampaikannya surat oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. TOR dan lampiran 9 . menerbitkan Surat B1456/BAPEDAL/07/2000. Kanwil DPE Propinsi Sulawesi Utara. Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sulawesi Utara. Sonny Keraf. Perguruan Tinggi. 3. Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sulawesi Utara dan Instansi lainnya 5. 3. Kemudian terjadi surat menyurat antara PT NMR dan Bapedal secara kontinyu mengenai pembahasan ERA. Surat berisi tindak lanjut pembahasan ERA tanggal 15 Januari 2001 dan pengiriman 7 buah salinan dokumen ERA.5 0. Studi Ecological Risk Assessment tersebut harus dapat diselesaikan oleh PT NMR dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak dikeluarkannya surat ini.

PT NMR akan memenuhi kesepakatan yang dicantumkan dalam notulensi rapat 4 5 Surat dan notulensi terlampir Surat terlampir 6 Surat terlampir 7 Surat terlampir 8 Surat terlampir 9 Surat terlampir 10 Surat terlampir 11 Surat terlampir 10 . 038/III/rnki/NMR/01 kepada Kepada Deputi pengendalian Pencemaran Lingkungan. Surat berisi : Pertama.• • • • • • • • Notulensi berisi Kesepakatan hasil Pembahasan studi ERA yang ditandatangani oleh Dra Masnellyarti (BAPEDAL) dan Kadar Wiryanto (PT NMR) 4 Bahwa tanggal 30 Januari 2001.7 Bahwa tanggal 22 Maret 2001. perihal presentasi dokumen ERA. Surat berisi pemberitahuan PT NMR mengenai penundaan presentasi ERA menjadi tanggal 30 Maret 2001 dikarenakan pimpinan tim kajian ERA dan konsultan PT NMR tidak bisa hadir6 Bahwa tanggal 23 Februari 2001.10 . Perihal rapat studi ERA. Bahwa tanggal 4 April 2001. PT NMR mengirim surat No. 007A/I/ki/NMR/2001 kepada Bapedal perihal penundaan pertemuan yang dijadualkan tanggal 1 Februari menjadi bulan Maret 20015 Bahwa tanggal 21 Februari 2001.Surat berisi pemberitahuan bahwa PT NMR belum dapat mempresentasikan dokumen ERA. Selanjutnya. dimana PT NMR menangkap bahwa BAPEDAL meminta PT NMR mengulang kembali proses ERA. B714/IV/03/2001 kepada Presiden Direktur PT NMR perihal tanggapan atas studi ERA. Perihal penyampaian Laporan rapat studi ERA yang dilaksanakan pada 29 –30 Maret 200111 Bahwa tanggal 16 April 2001. Perihal pembahasan studi ERA PT NMR untuk tanggal 29-30 Maret 20019 Bahwa tanggal 30 Maret 2001 terdapat notulensi hasil rapat studi ERA PT NMR tanggal 29-30 Maret 2001. 019A/II/rn-ki/NMR/ 2001 kepada Deputi Bidang Penaatan Hukum dan Manajemen Lingkungan BAPEDAL. yang ditandatangani oleh Johny P. PT NMR bahwa akan memberikan jawaban tertulis yang disampaikan pada saat pembahasan studi ERA. dan PT NMR tidak keberatan menambah joint sampling. pandangan PT NMR atas laporan rapat ERA PT NMR. BAPEDAL mengirim surat No. Kusumo (Bapedal) dan Khrisna Ismaputra (PT NMR). B751/IV/03/2001 kepada Tim Studi ERA PT NMR. PT NMR mengirim surat No. kesepakatan PT NMR akan memastikan tanggal pertemuan dengan BAPEDAL dan PT NMR akan memberikan jawaban/tanggapan kepada BAPEDAL) 8 Bahwa tanggal 28 Maret 2001. perihal presentasi dokumen ERA. Surat berisi tanggapan BAPEDAL atas studi ERA dan notulensi. PT NMR mengirim surat No. Kedua. 018A/II/rn-ki/NMR/2001 kepada Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan BAPEDAL. BAPEDAL mengirim surat No. BAPEDAL mengirim surat No. (Isi notulensi: tanggapan dari 9 instansi dan para ahli terhadap ERA PT NMR. PT NMR mengirim surat No. B-818/ II/04/2001 Kepada Presiden Direktur PT NMR.

PT NMR mengirim surat No. Bahwa tanggal 10 September 2001.16 Bahwa tanggal 21 – 22 Juni 2001 terdapat Berita Acara Pembahasan Joint Sampling Studi ERA ditandatangani oleh Kadar Wiryanto (PT NMR) dan Sudarsono SH (BAPEDAL)17 Bahwa tanggal 13 Juli 2001. BAPEDAL mengirim surat No. jadual kegiatan. 195/V/rnkw/NMR/01 kepada Deputi Bidang Penataan Hukum Lingkungan. Surat berisi tindak lanjut rencana survei bathymetri yang telah disepakati tanggal 2 Juli 2001 dan 30 Juli 2001 dan pemberitahuan penundaan survei akibat ketidaksiapan peralatan20.15 Bahwa tanggal 8 Juni 2001. B1397/IV/06/2001 kepada Presiden Direktur PT NMR perihal tindak lanjut studi ERA. B1706/IV/07/2001 perihal persiapan joint sampling studi ERA PT NMR tanggal 17 Juli 200118 Bahwa tanggal 26 Juli 2001. BAPEDAL mengirim surat No. peralatan/bahan untuk sampling dan analisa. perihal joint sampling yang akan dilaksanakan pada 30 Juli 2001 dengan agenda: pembahasan SOP. Perihal Pertemuan lanjutan hasil studi ERA Surat berisi undangan untuk mengadakan pertemuan tangal 16 Mei 2001 dengan acara evaluasi studi ERA PT NMR 14 Bahwa tanggal 10 Mei 2001. waktu. B1123/IV/05/2001 kepada Presiden Direktur PT NMR. Perihal pertemuan lanjutan hasil studi ERA. OA/OC. 061/IX/ki/NMR/2001 kepada Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan. BAPEDAL mengirim surat No. karena keterlambatan yang terjadi akan sangat mempengaruhi PT NMR 12 dalam beroperasi dan berinvestasi . 12 13 14 15 16 17 18 19 20 Surat dan jawaban terlampir Surat terlampir Surat terlampir Surat terlampir Surat terlampir Berita Acara Pembahasan Joint Sampling terlampir Surat terlampir Surat terlampir Surat terlampir 11 . Didalam surat tersebut PT NMR berharap memperoleh izin permanen dengan segera. PT NMR mengirim surat No. Bahwa tanggal 4 Mei 2001. personalia19 . PT NMR mengirim surat No. BAPEDAL mengirim surat No. B1839/IV/07/2001 kepada PT NMR. 190/V/RN/NMR/2001 kepada Kepada Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan. Surat berisi penyampaian alasan PT NMR yang tidak dapat memenuhi permintaan BAPEDAL untuk melakukan evaluasi lanjutan studi ERA tanggal 16 Mei 2001. Perihal hasil analisis statistik dan rencana pertemuan ERA 13 Bahwa tanggal 9 Mei 2001. Perihal survei bathymetri. Surat berisi undangan pertemuan tanggal 21 Juni 2001 dengan agenda pembahasan tindak lanjut studi ERA berkaitan dengan penentuan parameter.• • • • • • • • tanggal 29 – 30 Maret 2001. tempat dan metodologi pengambilan sample.

serta menyampaikan hasil survei sesegera mungkin kepada Bapedal. B3219/IV/11/2001yang ditandantangani oleh Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan. PT NMR mengirim surat No. Surat berisi bahwa pelaksanaan survei hendaknya mengacu pada kesepakatan yang telah dicapai tim teknis BAPEDAL dan PT NMR. Surat berisi PT NMR akan melaksanakan survei tanpa BAPEDAL. 064/X/kw/NMR/2001 kepada Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan. Surat berisi informasi ketidakikutsertaan BAPEDAL dalam survei karena pelaksanaan survei pada bulan November dirasakan tidak tepat sebab tujuan survei bathymetri terkait dengan pengambilan data fisika. Pembahasan rencana selanjutnya mengenai survei Bathymetri dan joint sampling akan dibicarakan dengan Menteri Negara Lingkungan Hidup dan PT NMR pada tanggal 21 November 200123. III. Hasil-hasil Penelitian Tim Teknis • Bahwa konsentrasi Arsen. 068/XI/kw/NMR/2001 kepada Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan. BAPEDALmengirim surat No. Surat berisi perencanaan kembali pelaksanaan survei Bathymetri. Perihal survei bathymetri. Survei akan dilaksanakan tanggal 21 November 2001 sampai dengan selesai 22 Bahwa tanggal 20 November 2001. PT NMR mengirim surat No. kepada Presiden Direktur PT NMR. 2556/IV/09/2001 kepada Presiden Direktur PT NMR perihal survei bathymetri. Surat berisi penundaan pelaksanaan survei karena konsultan PT NMR mengalami travel warning. Masnellyarti Hilman. Merkuri. dan Sianida terlarut dalam air laut teluk Buyat lebih tinggi bila dibandingkan sedimen teluk Totok dan Titik Kontrol. Bahwa tanggal 3 Oktober 2001. Arsen total dan Merkuri total dari semua hasil penelitian menunjukan trend meningkat bila dibandingkan dengan hasil Amdal 1994. PT NMR mengirim surat No. Perihal survei bathymetri. 4. Perihal penundaan survei bathymetri.21 Bahwa tanggal 7 November 2001. Bahwa tanggal 21 November 2001.• • • • • Bahwa tanggal 27 September 2001 BAPEDAL mengirim surat No. (data laporan tim tekhnis). 21 22 Surat terlampir Surat terlampir 23 Surat terlampir 24 Surat terlampir 12 . 069/XI/kw/NMR/2001 kepada Kepada Deputi Bidang Penaatan Hukum Lingkungan. Kemudian mengharapkan pembicaraan lebih lanjut mengenai hal tersebut dengan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal24. kimia dan biologi laut yang mewakili Musim Timur (Juni s/d Agustus) dan pakar Bathymetri yang seharusnya ikut berhalangan hadir. Perihal survei bathymetri. dan hendaknya PT NMR melibatkan beberapa stakeholder yang telah disepakati.

061 – 0. artinya telah mengalami perturbasi (gangguan).B. kadar Arsen yang berasal dari 4 (empat) sumur penduduk di desa Buyat diatas baku mutu yang dipersyaratkan dalam PERMENKES No.493. (data tim tekhnis) Bahwa pada tahun 2000 sampai Desember 2003.099 yang menyatakan adanya pencemaran berat.493. sesuai dengan ASEAN Marine Water Quality Criteria. • • • • • Hasil-hasil penelitian tim tekhnis yang meliputi penelitian batimetri.• Bahwa dari konsentrasi Arsen dan Merkuri terlihat bahwa sedimen di lokasi penempatan tailing termasuk polluted sediment. sedimen. Bahwa kadar arsen total rata-rata pada ikan (1. 907/MENKES/SK/VII/2002. 2004. benthos dan ikan secara lengkap dapat dilihat pada Laporan Penelitian Penanganan Dugaan Kasus Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Hidup di Desa Buyat Pantai dan Desa Ratatotok Kecamatan Ratatatoto Timur Kabupaten Minahasa Selatan Propinsi Sumatera Selatan (dalam laporan ini disebut sebagai Laporan Penelitian Tim Tekhnis) 13 . kualitas air. E di Teluk Buyat diperoleh nilai sebesar 0. Indeks diversitas fitoplankton (I.C. WB7. (lihat data laporan tim teknis) Bahwa berdasarkan index keragaman plankton dan bentos ditemukan Indeks diversitas fitoplankton (I. Dari informasi diketahui bahwa sumber air minum berasal dari sumur bor desa Ratatotok (WB2.37 mg/kg) sudah melampaui baku mutu kadar total arsen yang ditetapkan oleh Dirjen POM sebesar 1 mg/kg. Indeks diversitas pada benthos (I.B. Dari data sumur bor yang diambil dari desa Ratatotok menunjukan bahwa air telah melampaui baku mutu Arsen menurut PERMENKES No.C. Dari 6 (enam) contoh air sumur penduduk. Berdasarkan rona awal Amdal diketahui kandungan Arsen tidak terdeteksi pada sumur penduduk desa Buyat. E di Teluk Buyat diperoleh nilai sebesar 0. 907/MENKES/SK/VII/2002.D Simpson) di daerah penimbunan tailing stasiun A.D Simpson) di daerah penimbunan tailing stasiun A. plankton.D.NMR melalui truk tangki. air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat pantai Buyat disuplai oleh PT.D Shannon & Wienner) di daerah penimbunan tailing stasiun A.061 – 0. E di Teluk Buyat diperoleh nilai sebesar 0.B. dan WB8).683 – 1.C. artinya telah mengalami perturbasi (gangguan).

Mengenai detoksifikasi. Bahwa sebagai institusi yang diberi kewenangan untuk menerbitkan kelayakan lingkungan dan ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Triwulan I/ 2002. pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 5. Triwulan III/2000.23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 1. 27 tahun 1999. 23 tahun 1997. parameter Hg. yang merupakan pengganti atas Peraturan Pemerintah No. ditemukan fakta beberapa pelanggaran mengenai syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup berdasarkan ketentuan surat Menteri LH No. B-1456/BAPEDAL/07/2000 . ditentukan bahwa dokumen AMDAL terdiri dari dokumen KA.IV. 27 tahun 1999 pasal 23 ayat (2) point c ). wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan (lihat pasal 18 ayat (1) ) 2. Dokumen ANDAL merupakan suatu dokumen hasil kajian ilmiah tentang dampak lingkungan. CU. maka Menteri Lingkungan Hidup/ Kepala Bapedal diberikan kewenangan untuk melakukan evaluasi dan monitoring atas penaatan RKL/RPL (pasal 22 UU No. 14 . triwulan I. 2004) terjadi pelanggaran pada pengelolaan tailing (unit detoksifikasi. 23 tahun 1997 ditentukan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. terlampir. Fe. 1. Bahwa dalam Peraturan Pemerintah No. CN WAD. III dan IV/2001. 27 tahun 1999). KLH. parameter Hg. ANDAL serta dokumen RKL/RPL merupakan dokumen studi kelayakan lingkungan. CN WAD. 23 tahun 1997. maka berdasarkan ketentuan peralihan UU No. As pada elemen ranutan tailing) dan kualitas udara. CU. yaitu: • Evaluasi RKL-RPL. Berdasarkan Analisa RKL/RPL (sumber KLH. As pada elemen ranutan tailing) dan kualitas udara. 23 tahun 1997 jo psl 32 PP No. tailing Newmont sebelum dibuang ke laut (setelah detoksifikasi) mengandung logam berat (As. Berdasarkan Analisa RKL/RPL (sumber KLH. Cu dan CN) diatas standar yang diizinkan sesuai surat Menteri LH No. Bahwa dalam UU No. 3. sedangkan dokumen RKL/RPL merupakan dokumen yang akan menjadi prasyarat atas putusan kelayakan lingkungan yang akan menjadi syarat atas izin yang akan dikeluarkan oleh instansi yang berwenang mengeluarkan izin usaha (lihat pasal 2 ayat (1) jo pasal 7 jo pasal 17) 4. 51 tahun 1993. Hasil evaluasi dan pengawasan penaatan RKL/RPL tersebut disampaikan kepada instansi sektoral yang berwenang menerbitkan izin sebagai bahan bagi pengawasan dan tindakan administrasi terhadap pemegang izin (Lihat PP No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. B-1456/BAPEDAL/07/2000 • 25 Evaluasi Laporan RKL/RPL. Fe. setiap pelaku usaha harus menyesuaikan dengan ketentuan yang ada didalam UU No. 200425) terjadi pelanggaran pada pengelolaan tailing (unit detoksifikasi. Fe. Bahwa berdasarkan hasil Evaluasi Laporan Pelaksanaan RKL/RPL yang dilakukan oleh MenLH.AMDAL Bahwa dengan terbitnya Undang-undang No. Bahwa untuk melaksanakan dan mengatur lebih lanjut tentang analisis mengenai dampak lingkungan. • Evaluasi RKL – RPL. ANALISIS HUKUM IV.

dan pH telah melebihi BML. WB 07 Penting diperhatikan detoxification performance mengingat hasil analisa parameter As 3+. CN Free. Sistem ini dirancang untuk menjamin bahwa padatan tailing mengendap di dasar laut dekat mulut pipa pembuangan. Bahwa dalam dokumen Amdal disebutkan sistem pembuangan tailing ke bawah laut akan mencakup pembuangan lumpur pekat dengan kandungan bahan padat antara 45% sampai 55% yang dilepas di dekat dasar laut pada kedalaman 82 m.IV LH/3/200226 tentang Hasil Evaluasi Laporan Periodik Pelaksanaan RKl/RPL berisi Rekomendasi atas hasil evaluasi terhadap laporan pelaksanaan RKL/RPL PT NMR Triwulan I tahun 1999 sampai Triwulan IV 2001 sebagai berikut: • • Data yang disampaikan seharusnya menggunakan angka yang pasti (tidak menggunakan besaran) Penting diperhatikan kualitas air tanah pada sumur penduduk mengingat hasil analisa parameter warna total hardness. Penting diperhatikan kualitas udara mengingat parameter CO. As.6. As. Cu. SW 12 dan SP. B-533/Dep. Hg. Bahwa berdasarkan penelitian tim teknis pada kedalaman 82 m tidak ditemukan lapisan Thermocline. H2S. Adanya “Thermocline” yang bervariasi kedalamannya antara lain 50 m sampai 80 m akan mencegah padatan tailing memasuki kolom yang lebih tinggi27. Kementerian LH dalam suratnya No. NH3. Mn. • • • • • • Bahwa berdasarkan hasil evaluasi atas RKL/RPL yang telah disampaikan oleh Kementerian LH sebagaimana tersebut diatas dapat disimpulkan telah terjadi pelanggaran atas ketentuan RKL/RPL yang dapat dipergunakan sebagai dasar bagi upaya penegakan hukum. sejauh 900 meter dari pantai. Hg. Total coliform dan e coli telah melebihi BML khususnya SW 9. 7. halaman 6-26 15 . Penting diperhatikan kualitas air permukaan mengingat pH. khususnya pada lokasi B09 Penting diperhatikan kualitas air tanah mengingat hasil analisa parameter kekeruhan. kesadahan total. Cl total. SW 12 dan SP 6. total coliform dan e coli telah melebihi BML khususnya lokasi SP 01. SP 02. 8. Mn. Penting diperhatikan kualitas air laut mengingat parameter As dan As total telah melebihi BML khususnya As total di lokasi B pada kedalaman 62 m. SW 10. dan total coliform telah melebihi baku mutu lingkungan (BML) yang telah ditetapkan. Mn. dan debu telah melebihi BML khususnya lokasi SW 9. Fe. CL total. Hg. SW 19. Bahwa pada tanggal 22 Maret 2002. total coliform. Penting diperhatikan kualitas air permukaan di lokasi tambang mengingat parameter pH TSS. Ba. total hardness. SW 10. Posisi anus pipa pembuangan tailing pada kedalaman 82 m merupakan 26 27 Surat terlampir Dokumen ANDAL. NH3. dan e coli telah melebihi BML khususnya SW 17. SO2. Fe total. warna.

telah diketahui bahwa penempatan tailing pada kedalaman –82 m tersebut kurang tepat.posisi di atas lapisan Thermocline dan telah terjadi gangguan dan pencemaran pada daerah euphotik. Pasal 43 ayat (3) UU No. • • • IV. Pihak konsultan PT NMR yang mengerjakan modeling penempatan tailing ini menyarankan untuk melaksanakan kembali modeling setahun setelah pembuangan tailing dilakukan. Bahwa pada pertemuan antara Bapedal dengan PT NMR tanggal 27 s/d 30 Maret 2000. • • Bahwa berdasarkan fakta tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa PT NMR telah memberikan informasi yang tidak benar mengenai Thermocline. 23 tahun 199729. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain”. Pengelolaan Limbah B3 dan Dumping/Pembuangan Tailing ke Laut 1. akan tetapi ternyata PT NMR tidak memiliki itikad baik untuk melakukan modelling ulang. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin berada pada Menteri Lingkungan Hidup. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp 450. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bahwa berdasarkan ketentuan UU No.2. 23 tahun 1997 :”Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. tetapi PT NMR tidak melaksanakannya28. 23 tahun 1997 :”Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat(1).000. Bahwa walaupun PT NMR telah mengetahui atau setidaknya patut mengetahui bahwa penentuan titik Thermocline tidak valid.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah)”. B2227/IV/10/2000. terlampir Pasal 43 ayat (2) UU No. Bahwa kealpaan tidak validnya penentuan titik Thermocline dan tidak dilakukannya modelling ulang merupakan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 42 (1) dan ayat (2) Bahwa pemberian informasi yang salah yang kemudian mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) UU No.000. 23 tahun 1997 pasal 20 bahwa setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan kecuali dengan izin. Bahwa penentuan letak Thermocline didasarkan pada asumsi-asumsi modelling yang tidak valid seperti yang telah disebutkan pada dokumen AMDAL. Hal ini dikarenakan modeling penempatan tailing yang dilakukan oleh PT NMR hanyalah dengan data satu musim saja dan perlu diketahui bahwa Indonesia mempunyai musim barat dan musim timur. 29 16 . 9. 28 Surat BAPEDAL kepada Direktur Jendral Pertambangan Umum Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral No.

85 tahun 1999 ditentukan bahwa setiap badan usaha yang melakukan kegiatan penyimpanan. 30 ANDAL halaman 3-38 sampai dengan halaman 3-43 17 . Timbal (Pb). dan/atau penimbunan limbah B3 wajib memilki izin operasi dari Kepala istansi yang bertanggung jawab” 11. 9. Pada tahun 1995. Bahwa dalam dokumen ANDAL disebutkan bahwa tata cara penanganan limbah B3 akan mengikuti PP No. PP No. PP No. Bahwa berdasarkan Pasal 9 ayat (1). 19 tahun 1999 pasal 18 ayat (1) ditentukan bahwa setiap orang atau penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang melakukan dumping ke laut wajib mendapat izin Menteri Lingkungan Hidup. Bahwa limbah dari hasil pengolahan bijih emas yang dihasilkan oleh PT NMR. Besi (Fe). pengelolaan. (Sb) serta senyawa sianida (CN) 30. 19 tahun 1994 melalui PP No. 121/IV/RN/NMR/2000 kepada Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BAPEDAL yang berisi pengajuan permohonan izin untuk penempatan tailing di bawah laut PT NMR sesuai dengan ketentuan PP No. Bahwa pada tahun 1999 pemerintah menerbitkan PP No. 6. 12 tahun 1995 tentang Pengelolaan Limbah B3. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B3 yang menggantikan PP No. 12 tahun 1995 tergolong sebagai limbah B3. 19 tahun 1994 jo PP No. No. Bahwa dalam PP No.19 tahun 1999 jo PP No. 4. mengolah limbah B3 dan/atau menimbun limbah B3” 10.2. melanggar ketentuan UU No 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup pasal 20 ayat (1). 8. Arsen (As). 19 tahun 1994 tentang Pengelolaan Limbah B3. Perak (Ag). 19 tahun 1994 jo. 7. pengumpulan. 18 tahun 1999 jo. Melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. 12 tahun 1995. pemanfaatan. 18 tahun 1999 jo PP No. 5. PT NMR mengirimkan surat No. PP no. 85 tahun 1999 ditentukan bahwa setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah B3 wajib melakukan reduksi limbah B3. Bahwa berdasarkan pasal 21 butir (a) PP No. 18 tahun 1999 Jo. PP No. 19 tahun 1999. PP No. Bahwa berdasarkan Pasal 40 ayat (1) huruf a. 12 tahun 1995 setiap badan usaha yang melakukan kegiatan pengumpulan dan/atau pengolahan limbah B3 wajib memiliki izin dari Kepala BAPEDAL. mengandung beberapa bahan kimia yang tergolong sebagai logam berat seperti: Merkuri (Hg). Bahwa pada tanggal 17 April 2000. mengandung beberapa bahan kimia yang menurut PP No. 3. terjadi amandemen terhadap beberapa ketentuan pada PP No. Bahwa dalam dokumen ANDAL disebutkan tailing yang merupakan limbah dari hasil pengolahan bijih emas. Tembaga (Cu).

NMR meminta kepada LH untuk menunda rapat pembahasan ERA serta survei bathymetri karena alasan tertentu. NMR tidak pernah memberikan laporan kepada Bapedal/KLH tentang pelaksanaan survei tersebut. Hal ini menunjukan bahwa pemerintah telah menanggapi usulan ERA yang disampaikan oleh PT. 14. Bahwa memang benar PT NMR pernah mengajukan dokumen ERA. Berdasarkan surat-surat yang ada diketahui bahwa beberapa kali PT.3) ditindaklanjuti dengan pertemuan-pertemuan. 19 tahun 1994 Jo.3 pada intinya dapat disimpulkan bahwa: a. Surat terakhir yang disampaikan oleh PT. NMR menanggapi surat No. c. PP No.3). B-1456/BAPEDAL/07/2000. 16.1456/BAPEDAL/07/2000 tertanggal 11 Juli 2000 yang pada intinya berisi tentang petunjuk untuk dapat memperoleh izin (lihat point III. Berdasarkan telaah dokumen tidak ditemukan izin pengolahan limbah B3 sesuai dengan ketentuan Pasal 21 ayat (1) butir (a) PP No. B3219/IV/11/2001. ditemukan fakta beberapa pelanggaran mengenai syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup berdasarkan ketentuan surat Menteri LH No.3) 13. Bahwa dengan demikian dapat disimpulkan bahwa salah satu syarat untuk mendapatkan izin pembuangan tailing dalam hal ini adalah dokumen ERA tidak dapat terpenuhi. menyatakan bahwa PT. NMR. Sehingga dengan demikian izin pembuangan tailing tidak pernah diterbitkan oleh MenLH. Bahwa Menteri Lingkungan Hidup memberikan surat jawaban dalam surat No. Bahwa berdasarkan uraian fakta-fakta hukum sebagaimana termuat dalam uraian III.12. Bahwa salah satu persyaratan penting yang dipersyaratkan oleh Menteri Lingkungan untuk dapat menerbitkan izin penempatan tailing yang diajukan oleh PT NMR adalah ketentuan yang mengharuskan PT NMR menyusun ERA/Ecological Risk Asessment. 15. 12 tahun 1995 dari Kepala BAPEDAL kepada PT NMR b. d. Tanpa suatu keputusan izin. b. 23 tahun 1997 18 . Bahwa berdasarkan hasil Evaluasi Laporan Pelaksanaan RKL/RPL yang dilakukan oleh MenLH. kemudian hal ini langsung ditanggapi oleh BAPEDAL (dapat dilihat melalui surat-menyurat point III. tanggal 20 November 2001. melanggar ketentuan pasal 20 ayat (1) UU No. NMR akan melakukan survei bathymetri tanpa melibatkan Bapedal dan akan menyerahkan hasil survei tersebut sesegera mungkin. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. Bahwa ada kesepakatan antara MenLH dan PT NMR untuk melakukan joint sampling akan tetapi pada kenyataannya joint sampling ini tidak pernah terlaksana (selengkapnya lihat pada point III. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa PT NMR telah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yakni: a. Sejak surat itu hingga sekarang PT. 17.

18. Tidak dilakukannya kewajiban pengolahan limbah B3 dengan baik sesuai dengan Pasal 9 ayat (1) PP No. Bahwa dengan demikian pembuangan tailing tersebut merupakan perbuatan pembuangan limbah B3 tanpa izin yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 43 ayat (1) dan pasal 44 ayat (1) UU No. Melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup tanpa suatu keputusan izin. 18 tahun 1999 Jo. B-1456/BAPEDAL/07/2000 (Limbah tidak tereduksi dengan baik/hasil detoksifikasi melebihi baku mutu) e. 19 tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut. PP No. 19 . 85 tahun 1999 d. Berdasarkan telaah dokumen tidak ditemukan izin pengolahan limbah B3 sesuai dengan ketentuan Pasal 40 ayat (1) huruf (a) PP No. ditemukan fakta beberapa pelanggaran mengenai syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup berdasarkan ketentuan surat Menteri LH No. Melakukan dumping ke laut tanpa izin. Hasil Evaluasi Laporan Pelaksanaan RKL/RPL yang dilakukan oleh MenLH. 18 tahun 1999 jo PP No. 85 tahun 1999. melanggar Pasal 20 ayat (1) UU No. 23 tahun 1997 f. melanggar ketentuan Pasal 18 ayat (1) PP No. 23 tahun 1997.c.

23 tahun 1997 :”Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat(1). Pengelolaan B3 dan Pembuangan/Dumping Tailing ke Laut • • Bahwa PT. PENDAPAT HUKUM V.NMR melakukan dumping tailing yang telah dilakukan sejak tahun 1996 tanpa memiliki izin Bahwa terhadap tindakan yang dilakukan oleh PT. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 23 tahun 1997 • • • • • Pasal 43 ayat (2) UU No.a. Bahwa walaupun PT NMR telah mengetahui atau setidaknya patut mengetahui bahwa penentuan titik Thermocline tidak valid. 23 tahun 1997 :”Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. 23 tahun 1997 Bahwa pemberian informasi yang salah yang kemudian mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) UU No.1.1. akan tetapi ternyata PT NMR tidak memiliki itikad baik untuk melakukan modelling ulang. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp 450. Informasi AMDAL • Bahwa berdasarkan hasil evaluasi atas RKL/RPL yang telah disampaikan oleh Kementerian LH sebagaimana tersebut diatas dapat disimpulkan telah terjadi pelanggaran atas ketentuan RKL/RPL yang secara hukum dapat dikategorikan sebagai pelanggaran atas syarat izin dan dapat dipergunakan sebagai dasar bagi instansi pemberi izin untuk menerapkan sanksi administrasi. 23 tahun 199731.000. Bahwa kealpaan tidak validnya penentuan titik Thermocline dan tidak dilakukannya modelling ulang merupakan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 42 (1) dan ayat (2) UU No.000. Pasal 43 ayat (3) UU No. NMR yang telah melakukan dumping tailing sejak 1999 hingga 2004 tanpa memiliki izin adalah melanggar Pasal 20 ayat (1) UU No.1. V. Bahwa penentuan letak Thermocline didasarkan pada asumsi-asumsi modelling yang tidak valid seperti yang telah disebutkan pada dokumen AMDAL. Bahwa berdasarkan fakta tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa PT NMR telah memberikan informasi yang tidak benar mengenai Thermocline.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah)”.V. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain”. 31 20 .b. Pelanggaran Izin V.

• Bahwa terhadap tindakan yang dilakukan oleh PT. V. telah menyatakan keberatannya terhadap rencana dan rancangan yang dilakukan oleh PT NMR (belum menyetujui rancangan ERA PT NMR). 97 tahun 2004. 23 tahun 1997. 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut. dari proses surat-menyurat dapat disimpulkan bahwa Pemerintah. NMR masih berada diatas standar yang ditentukan di dalam surat Menteri LH No.3. B- • • Bahwa dengan demikian pembuangan tailing tersebut merupakan perbuatan pembuangan limbah B3 tanpa izin yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 43 ayat (1) dan pasal 44 ayat (1) UU No. NMR yang telah membuang limbah B3 ke laut sejak 1999 hingga 2004 tanpa memiliki izin adalah melanggar PP No. Klausul Kontrak Karya • Bahwa berdasarkan bukti surat menyurat yang dilakukan antara MenLH dengan PT. Lingkungan Hidup No. B1456/BAPEDAL/07/2000. 121/IV/RN/NMR/2000 tanggal 3217 April 2000. B-1456/BAPEDAL/07/2000 yang merupakan tanggapan atas surat PT. PP No. Bahwa Surat yang dikeluarkan oleh Menteri 1456/BAPEDAL/07/2000 bukan merupakan izin. 85 tahun 1999 • • • V. NMR setelah dikeluarkannya Surat MenLH No. kadar logam berat setelah proses detoksifikasi yang dilakukan oleh PT. Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan • Bahwa berdasarkan temuan Tim Teknis Penanganan Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Teluk Buyat Ratatotok Minahasa Selatan yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia berdasarkan SK Menteri Lingkungan Hidup No. Hal ini dipertegas dengan surat PT NMR tanggal 16 April 2001 dimana PT NMR menangkap bahwa BAPEDAL meminta PT NMR mengulang kembali proses ERA. • 32 Dokumen terlampir 21 .2. NMR yang telah melakukan dumping tailing ke laut sejak 1999 hingga 2004 tanpa memiliki izin adalah melanggar Pasal 9 ayat (1) PP No. Berdasarkan Evaluasi Laporan Pelaksanaan RKL/RPL yang dilakukan oleh MenLH limbah B3 PT NMR tidak tereduksi dengan baik (hasil detoksifikasi melebihi baku mutu). 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Laut. 85 tahun 1999 Berdasarkan telaah dokumen tidak ditemukan izin pengolahan limbah B3 sesuai dengan ketentuan Pasal 40 ayat (1) huruf (a) PP No. PP No. hal ini melanggar Pasal 9 ayat (1) PP No. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemerintah tidak melanggar ketentuan pasal 16 ayat (2) Kontrak Karya. Bahwa terhadap tindakan yang dilakukan oleh PT. 18 tahun 1999 Jo. 18 tahun 1999 Jo. NMR No. dalam hal ini MenLH. diperoleh temuan-temuan sebagai berikut: Bahwa berdasarkan hasil Evaluasi Laporan Pelaksanaan RKL/RPL yang dilakukan oleh MenLH.

2004. air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat pantai Buyat disuplai oleh PT. artinya termasuk dalam kategori mempunyai resiko tinggi terhadap kesehatan manusia. (data laporan tim tekhnis).45 kg per hari telah melampaui standar WHO yaitu 2 mg/kg dengan makan ikan sebanyak 250 gr/minggu.061 – 0.D Simpson) di daerah penimbunan tailing stasiun A. artinya telah mengalami perturbasi (gangguan). E di Teluk Buyat diperoleh nilai sebesar 0. Environmental Toxicants 2nd Ed. 907/MENKES/SK/VII/2002. (lihat laporan tim teknis) Bahwa pada tahun 2000 sampai Desember 2003. E di Teluk Buyat diperoleh nilai sebesar 0.37 mg/kg) sudah melampaui baku mutu kadar total arsen yang ditetapkan oleh Dirjen POM sebesar 1 mg/kg.B. Human Exposures and Their Health Effects) Arsenic dapat masuk ke dalam tubuh • • • • • • • • • • 22 . Bahwa asupan Hg harian penduduk dewasa Desa Buyat Pante sebanyak 82. Bahwa kadar arsen total rata-rata pada ikan (1.B. Dari informasi diketahui bahwa sumber air minum berasal dari sumur bor desa Ratatotok (WB2.061 – 0. kadar Arsen yang berasal dari 4 (empat) sumur penduduk di desa Buyat diatas baku mutu yang dipersyaratkan dalam PERMENKES No.493.C.D Shannon & Wienner) di daerah penimbunan tailing stasiun A. Dari data sumur bor yang diambil dari desa Ratatotok menunjukan bahwa air telah melampaui baku mutu Arsen menurut PERMENKES No. Arsen total dan Merkuri total dari semua hasil penelitian menunjukan trend meningkat bila dibandingkan dengan hasil Amdal 1994.98 % dari TDI/15 kg telah mendekati batas TDI (mengacu pada standar US EPA) Dengan konsumsi ikan 0. dan WB8). Bahwa dari perhitungan Daily Intake (DI) didapatkan nilai Hazard Index (HI) melebihi 1.683 – 1.2000.82 % dari TDI (Tolerable Daily Intake)/60 kg. Bahwa dari konsentrasi Arsen dan Merkuri terlihat bahwa sedimen di lokasi penempatan tailing termasuk polluted sediment. Berdasarkan rona awal Amdal diketahui kandungan Arsen tidak terdeteksi pada sumur penduduk desa Buyat.• Bahwa konsentrasi Arsen. Indeks diversitas pada benthos (I.C. Dari 6 (enam) contoh air sumur penduduk. 907/MENKES/SK/VII/2002.B. Bahwa berdasarkan literatur (Morton Lippmann.D Simpson) di daerah penimbunan tailing stasiun A. E di Teluk Buyat diperoleh nilai sebesar 0.C.099 yang menyatakan adanya pencemaran berat. sedangkan untuk anak-anak berbobot badan 15 kg adalah 80. WB7. dan Sianida terlarut dalam sedimen teluk Buyat lebih tinggi bila dibandingkan sedimen teluk Totok dan Titik Kontrol. (lihat laporan tim teknis) Bahwa berdasarkan index keragaman plankton dan bentos ditemukan Indeks diversitas fitoplankton (I.493. Merkuri.NMR melalui truk tangki.D. sesuai dengan ASEAN Marine Water Quality Criteria. artinya telah mengalami perturbasi (gangguan). (mengacu pada standar US EPA). Indeks diversitas fitoplankton (I.

Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas. and several cancer.manusia secara umum melalui makanan dan minuman baik dalam bentuk organik maupun inorganik. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan. dan ikan mendekati dan melebihi baku mutu yang ditetapkan. bentos.4. Bahwa hal tersebut di atas merupakan akibat dari suatu perbuatan perbuatan pidana yang perlu pembuktian akibatnya. maka tindakan yang telah dilakukan oleh PT. Perbuatan ini diatur dan diancam dalam pasal 41 jo pasal 42 jo pasal 43 UU No. NMR dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 45 jo pasal 46 ayat (1) UU No. 23 tahun 1997 • V. Tindak Pidana Korporasi • Bahwa Undang Undang Np. air suplai.23 tahun 1997.23 tahun 1997 memberikan pengaturan tentang Tindak Pidana Korporasi sebagaimana diatur dan diancam dalam ketentuan pasal 46 UU No. epithelima. suatu tindak pidana dapat dikatagorikan sebagai tindak pidana korporasi jika memenuhi syarat utama yakni (a) Power dan (b) Acceptance dan (c) perbuatan tersebut dilakukan dalam rangka mencapai tujuan perusahaan. Bahwa berdasarkan uraian sebelumnya telah dapat dibuktikan secara nyata bahwa pembuangan limbah tailing kedalam teluk Buyat adalah merupakan tindakan yang dirancang. Gejala akibat keracunan Arsenic akan mengakibatkan antara lain hyperkeratosis. Kondisi ini telah menimbulkan dampak terhadap kualitas lingkungan serta kesehatan manusia. dikehendaki. Bahwa berdasarkan doktrin ilmu pengetahuan dan yurisprudensi yang ada. • Bahwa dari fakta-fakta tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perubahan kualitas air sumur gali. phitoplankton. sedimen. didalam kendali manajemen perusahaan dan dalam kerangka untuk mencapai kepentingan perusahaan . plankton. direncanakan sejak dalam studi kelayakan sebagaimana termuat dalam dokumen AMDAL . Pembuktian pencemaran dan kerusakan dapat membandingkan dengan standar dan/atau referensi dan/atau pendapat ahli.air sumur bor. • • • 23 .

c. • Berdasarkan telaah dokumen tidak ditemukan adanya izin pengolahan limbah B3 sesuai ketentuan Pasal 40 ayat (1) huruf (a) PP No. d.Pengelolaan Limbah B3 dan Dumping/Pembuangan Tailing ke Laut a. melanggar ketentuan Pasal 18 ayat (1) PP No. Bahwa pemberian informasi yang salah yang kemudian mengakibatkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan dapat dikategorikan sebagai perbuatan pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 43 ayat (2) dan ayat (3) UU No. 23 tahun 1997.1. VI. 23 tahun 1997 b. 85 tahun 1999 • Melakukan dumping ke laut tanpa izin. VI. Pembuktian pencemaran dan kerusakan dapat membandingkan dengan standar dan/atau referensi dan/atau pendapat ahli. 23 tahun 1997 24 . 85 tahun 1999. Bahwa dumping/pembuangan tailing yang telah dilakukan merupakan perbuatan pembuangan limbah B3 tanpa izin yang dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 43 ayat (1) jo pasal 44 ayat (1) UU No.1. Perbuatan ini diatur dan diancam dalam pasal 41 jo pasal 42 UU No. Pencemaran dan/atau Perusakan Lingkungan Bahwa terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan merupakan akibat dari suatu perbuatan perbuatan pidana yang perlu pembuktian akibatnya. KESIMPULAN DAN SARAN VI. 19 tahun 1999 dan Pasal 20 ayat (1) UU No. Bahwa berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa PT NMR telah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yakni: • Tidak dilakukannya kewajiban pengelolaan limbah B3 dengan baik sesuai dengan Pasal 9 ayat (1) PP No. Bahwa kealpaan tidak validnya penentuan titik Thermocline dan tidak dilakukannya modelling ulang merupakan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup dapat dikategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 42 (1) dan ayat (2) e.Tentang AMDAL Bahwa berdasarkan hasil evaluasi atas RKL/RPL yang telah disampaikan oleh Kementerian LH sebagaimana tersebut diatas dapat disimpulkan telah terjadi pelanggaran atas ketentuan RKL/RPL yang secara hukum dapat dikategorikan sebagai pelanggaran atas syarat izin dan dapat dipergunakan sebagai dasar bagi instansi pemberi izin untuk menerapkan sanksi administrasi. 23 tahun 1997. Bahwa walaupun PT NMR telah mengetahui atau setidaknya patut mengetahui bahwa penentuan titik Thermocline tidak valid. VI. Bahwa penentuan letak Thermocline didasarkan pada asumsi-asumsi modelling yang tidak valid seperti yang telah disebutkan pada dokumen AMDAL.VI. akan tetapi ternyata PT NMR tidak memiliki itikad baik untuk melakukan modelling ulang. Bahwa berdasarkan fakta tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa PT NMR telah memberikan informasi yang tidak benar mengenai Thermocline.3.2.1. b. 18 tahun 1999 jo PP No. Thermocline a. 18 tahun 1999 jo PP No.

VI.Tindak Pidana Korporasi Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut diatas. NMR dapat dikategorikan sebagai tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi sebagaimana diatur dan diancam dalam pasal 45 jo pasal 46 ayat (1) UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan 25 .4. maka tindakan yang telah dilakukan oleh PT.

Mengingat adanya pelanggaran delik formil maupun delik materiil perlu ditindak lanjuti dengan tindakan penegakan hukum pidana sesuai dengan UU No.NMR menarik semua iklan di semua media cetak dan elektronik yang menyesatkan tentang kondisi kualitas lingkungan di teluk Buyat.23 Tahun 1997 2. Penutup Data yang dimiliki tim teknis penegakan hukum untuk dianalisa masih sangat terbatas. Menyarankan kepada Pemerintah untuk melaksanakan kewajibannya dalam pengawasan dan pembinaan serta meningkatkan dana pemantauan dan pengawasan. Saran 1. dokumentasi surat PT NMR. Upaya ini harus diikuti dengan pengaturan koordinasi yang tegas antara kedua jenis izin tersebut ditingkat instansi terkait. Jakarta. data berkaitan dengan tata ruang (untuk mensinkronkan apakah penempatan tailing mentaati kaidah tata ruang. termasuk pada kewenangan dan mandat hukumnya33. Dalam kerangka penerapan prinsip kehatia-hatian (Precautionary principle34) maka menyarankan kepada Pemerintah untuk melarang pemakaian metode Pembuangan Tailing kelaut (STD/STP). Menyarankan kepada Pemerintah untuk menerapkan izin Lingkungan terpadu dan pengintegrasian izin teknis/ sektor dengn izin lingkungan hidup. 4. Disarankan juga kepada Pemerintah untuk mempublikasikan hasil laporan ini kepada masyarakat sehingga masyarakat dapat menerima informasi yang benar tentang kasus ini. 6. 18 tahun 1999 jo PP No. 8 November 2004 Tim Tekhnis Lampiran I 33 34 Penjelasan penerapan izin lingkungan terpadu lihat pada lampiran Penjelasan penerapan Precautionary Principle lihat pada lampiran 26 .5. Dan segera melengkapi peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup khususnya mengenai baku mutu logam berat di sedimen. 5. yaitu penempatan dan pemanfaatan sesuai dengan fungsi dan peruntukkannya). juga disarankan agar Pemerintah kepada PT. udara. ikan dan tubuh manusia. 85 tahun 1999)di lokasi pertambangan dan buangan limbah PT NMR. Menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan amandemen Dokumen Penutupan tambang PT NMR untuk memberikan jaminan dilakukannya pemantauan selama 30 tahun (berdasarkan PP No.VI. 3. Beberapa dokumen belum didapat oleh tim teknis diantaranya: dokumen ESDM.

2. artinya tailing tidak mungkin dibuang ke kewasan perairan 7. maka dalam kontek penegakan prinsip Precautionary Principle (Prinsip Kehati-hatian) . ekonomi. Canada dan Australia. The debate over the use of this technology is very controversial. Secara otomatis dilarang melalui “Undang-Undang Perikanan” tahun 1977 yang salah satu bagiannya menyatakan bahwa ambang batas padatan dalam air adalah 50 mg/liter.” (184) 6. The impacts of STD use need to be scientifically reviewed to understand risks further. Bahwa akibatnya saat Metode pembuangan limbah ini (STD) di terapkan. and truly informed decisions can be made. tidak boleh digunakan (sebagai alasan) untuk menunda atau menghambat langkah preventif yang tepat untuk mencegah kerusakan lingkungan.. Bahwa berdasarkan Deklarasi Rio 1992. Only when these are satisfactorily understood. Bahwa Metode STD juga sudah dilarang penerapannya dinegara-negara maju seperti Amerika Serikat. telah tercapai kesepakatan global untuk mengembangkan dan menegakkan hukum lingkungan berdasarkan prinsip Precautionary Principle (Prinsip Kehati-hatian) sebagaimana termuat dalam prinsip 15 Deklarasi Rio 1992. 4. Bahwa dilain pihak Pembuangan Tailing ke laut adalah Metode yang masih kontroversial didunia karena dianggap tidak aman. Perhatian secara khusus terhadap STD juga diberikan oleh Kajian Industri Ekstraktif Bank Dunia (WB -EIR) yang dilakukan sejak tahun 2002 – 2004. Bagian 184 laporan ini menyatakan : “Of special concern is the use of submarine tailings disposal (STD) by mining companies. Penerapan Precautionary Principle (Prinsip Kehati-hatian) 1. tanggal 23 – 30 April 2001 di Manado. Because of the potential risks of this technology on marine biodiversity. sedimen dan udara. Belajar dari kasus Buyat. budaya dan kesehatan masyarakat pesisir. 5. ikan. Bahwa berdasarkan fakta sebagaimana tersebut diatas. Di Amerika Serikat Secara otomatis pembuangan tailing ke laut dilarang melalui “Clean Water Act” 1977.” lingkungan hidup di Indonesia tidak mampu mengcover dampak karena belum mengatur hal tersebut.tidak adanya kepastian ilmiah. ada kebutuhan mengenai baku mutu kandungan logam berat pada tubuh manusia. peraturan 27 . tidak adanya atau kurang memadainya informasi ilmiah. indikasi telah 3.SUMBANGSIH UNTUK PERBAIKAN KEDEPAN 1. Salah satu forum ilmiah internasional yang mendiskusikan hal tersebut adalah Konferensi Internasional Pembuangan Tailing ke laut. Indonesia. Bahwa salah satu kesimpulan penting pada Konferensi yang dihadiri 15 negara ini adalah bahwa STD merusak ekosistem perairan yang rawan dan mengakibatkan dampak serius bagi kehidupan sosdial. the EIR suggest that the WBG follows the precautionary principle and refrain from financing mining projects that propose to use this technology for the time being.. Bahwa Precautionary Principle (Prinsip Kehati-hatian) disini yang dimaksud adalah merujuk kepada Prinsip 15 Deklarasi Rio 1992 yaitu “ . should a decision be made concerning WBG involvement in STD projects.

izin pengangkutan limbah B3. izin pembuangan limbah cair. Bahwa pengintegrasian yang kedua adalah pengintegrasian izin teknis/sektor dengan izin lingkungan hidup. Bahwa langkah pengintegrasian yang paling strategis adalah mengintegrasikan izinizin lingkungan yang ada seperti izin Ordonansi Gangguan (HO). minimal koordinasi antara kedua izin tersebut perlu secara tegas diatur. 5. Bahwa penerapan prinsip ini telah diterima dalam praktek hukum di Indonesia yakni dalam putusan PN Bandung No. 2. 28 . pemanfaatan. 2. maka besar kemungkinan perangkat perizinan sulit berfungsi sebagai alat pengendalian/pengawasan. pengumpulan. Bahwa rekomendasi yang terakhir dalam hal ini adalah perlunya Peraturan pelarangan Pembuangan Tailing kelaut atau Submarine Tailing Disposal (STD)/ STP di Indonesia. Disinilah perlunya pengaturan koordinasi yang tegas antara kedua jenis izin tersebut. Pengembangan Izin Terintegrasi 1. 9. izin pemanfaatan limbah B3.BDG dalam kasus tanah longsor Mandalawangi. termasuk pada kewenangan dan mandat hukumnya. 3. Selama ini pengawasan pelaksanaan izin tidak menyatu dengan pemberian izin. 8. pengolahan dan/atau penimbunan limbah B3. Bahwa perizinan merupakan perangkat penting dalam penegakan hukum. apabila rejim perizinan tidak terintegrasi dan terkoordinasi. Bahwa pengintegrasian izin-izin yang ada menjadi Izin Lingkungan Terpadu merupakan langkah penting untuk mencegah ketidakpraktisan dan mempermudah pengawasan.G/2003/PN. baik karena tiadanya keterkaitan antara kewenangan dalam pengawasan pelaksanaan izin dengan kewenanganan pemberian sanksi atas pelanggaran izin. dan izin dumping.terjadinya bahaya kerusakan dan atau pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbah tailing sebagaimana telah diuraikan diatas sudah merupakan faktas hukum yang lebih dari cukup bagi penegak hukum untuk melakukan pencegahan bagi terjadinya pencemaran/perusakan lingkungan melalui perangkat penegakan hukum lingkungan. Namun. Izin sektor disarankan berubah fungsinya menjadi persetujuan. dalam hal ini izin yang dikeluarkan oleh Mentamben dan MenLH. serta memberikan kepastian hukum tentang institusi yang memiliki kewenangan dalam pengambilan titik veto dalam proses perizinan. 4. sehingga memberikan peluang bagi izin lingkungan menjadi satu-satunya perangkat izin sebagai alat pengendalian/pengawasan terhadap regulated community. Bahwa sistem perizinan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari sistem pengawasan dan penegakan hukum administrasi. Apabila pengintegrasian antara izin teknis dengan izin lingkungan hidup tidak dapat dilakukan. izin penyimpanan.49/Pdt. maupun karena kurangnya kehendak dari intansi pemebri izin untuk melakukan pengawasan izin dengan alasan keterbatasan kapasitas tenaga pengawasan izin.

including but not limited to any pipe. a municipal or industrial facility) to the navigable waters of the United States or beyond must obtain a National Pollutant Discharge Elimination System (NPDES) permit. discrete fissure. Clean Water Act. confined and discrete conveyance. atau lautan yang dilakukan tampa izin adalah illegal”. conduit. 1362 (10). sehingga tidak menimbulkan bahaya penyakit atau bahaya lainnya bagi masyarakat sekitarnya Bahwa tim tekhnis mendukung sepenuhnya rekomendasi yang diberikan oleh Tim Peer Review dalam kaitan dengan amandemen terhadap dokumen tutup tambang yang mewajibkan PT NMR untuk melakukan pemantauan selama 30 tahun terhitung sejak ditutupnya tambang. sehingga penting pemerintah segera menyusun Peraturan mengenai penutupan tambang dengan melibatkan berbagai pihak dan mempertimbangkan kondisi aktual pada lokasi-lokasi pertambangan yang sudah tutup dan ditingggalkan. Navigable waters dijelaskan sebagai perairan di wilayah AS termasuk teritorial laut. • 29 . any discharge of a pollutant from a point source (e.S.C. Perbandingan Kajian Peraturan Perundang-undangan di USA : A. Sedangkan Ocean didefinisikan sebagai ‘any portion of high seas beyond the contiguous zone’. pemegang kuasa pertambangan yang bersangkutan diwajibkan mengembalikan tanah sedemikian rupa. (33 U. ditch. Under CWA section 402. 1972 • Section 403 yang juga diatur di peraturan federal sebagai pasal 33 U. Bahwa belum ada aturan Khusus tentang Penutupan tambang. or vessel or other floating craft. (or) …any addition of any pollutant to the waters of the contiguous zone or the ocean from any point of source other than vessel or other floating craft’. concentration animal feeding operation. 23 tahun 1997. Amandemen Dokumen Penutupan Tambang • Bahwa UU No 11 tahun 1967 tentang Pertambangan Umum Pasal 30 disebutkan Apabila selesai melakukan penambangan bahan galian pada suatu tempat pekerjaan. • • • 4. • Berkaitan dengan sumber asal limbah CWA mendefinisikan point of source sebagai ‘ any discernible. Bahwa Tim Tekhnis merekomendasikan kepada Penyidik untuk memasukkan kewajiban pemantauan lingkungan selama 30 tahun sebagaimana tersebut diatas kedalam bagian dari tindakan tata tertib sebagaimana diatur dan diancam dalam ketentuan pasal 47 Undang-Undang No.. rolling stock. well.3. tunnel. secs. channel. sec. from which pollutants are or may be discharged.C. container. CWA menjelaskan ‘any discharge of pollutant’ sebagai ‘any addition of any pollutant to navigable waters from any point of source.g.1251 mengatur bahwa: “Setiap pembuangan limbah dari sumber tertentu ( a point of source) ke perairan AS.S.

tribes. committed in violation of the law of the nations or a treaty of the United states. Foreign Corrupt Practices Act Secara umum Foreign Corrupt Practices Act melarang perusahaan Amerika untuk melakukan pembayaran yang tidak resmi (corrupt payment) kepada petugas dari luar negeri untuk kepentingan melakukan dan menjaga bisnisnya. Kementerian Kehakiman AS saat ini sedang Aliens Tort Claim Act (ATCA). CWA section 301 (h). sec. provide for a publicly owned treatment works (POTWs) that discharge to marine waters to apply for a waiver of the Act’s secondary treatment requirements. UU ini memberikan perlindungan terhadap hak asasi manusia di dalam pengadilan AS. EPA or an authorized Stated may not issued a permit for a discharge into ocean waters unless the discharge complies with the guidelines An NPDES permit allows a facility to discharge a specific amount of a pollutant into a receiving water body under certain conditions. maka ia mempunyai hak untuk mengajukan gugatan di pengadilan federal AS. 135035.” 35 30 . Alien Tort Claims Act Hukum Federal Amerika memberikan kewenangan kepada pengadilan untuk menangani kasus tertentu.which requires compliance with technology-and water quality-based treatment standards.C. perdata. The NPDES program is administered by the United State Environmental Protection Agency (EPA) and Authorized States. • Two sections of the CWA deal specifically with discharges to marine and ocean waters. tindakan pemerintah lainnya berupa larangan melakukan kegiatan bisnis dengan pemerintah. Menurut Alien Tort Claims Act (ATCA). These criteria specifically address impacts for such discharge on marine resources. pasal 28. artikel 28 U.S. Jadi setiap orang (tidak harus warga Negara Amerika) bila telah mengalami kerugian (tort) yang bertentangan dengan hukum internasional dan perjanjian di AS. UU ini telah dipakai dalam kasus Unocal di Birma. Dampak terhadap kesehatan yang secara langsung menimbulkan ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia (the right to life) yang ditimbulkan akibat kegiatan tailing dapat dijadikan dasar diajukannya gugatan ini. any discharge to the territorial seas or beyond also must comply with the Ocean Discharge Criteria established under CWA section 403. Sanksi yang diberikan dapat berupa sanksi pidana. Under Section 403 (a). added to the CWA in 1977. Under CWA section 403. and territories. UU ini juga melarang pembayaran yang tidak resmi (corrupt payment) melalui intermediary (pihak ketiga) dimana diketahui bahwa sejumlah atau sebagian dana akan secara langsung maupun tidak langsung akan diterima oleh pejabat di tempat bisnis dilaksanakan. provided they can show compliance with stringent criteria intended to assure their discharge will not adversely affect the marine environment • • B. Sanksi lain juga berupa gugatan yang dilakukan oleh pihak lain karena merasa dirugikan akibat tindakan tersebut. (private cause of action). C. “The district court shall have original jurisdiction of any civil action by an alien for a tort only. Kongres AS memberikan kewenangan kepada pengadilan federal untuk menyidangkan “setiap gugatan yang dilakukan oleh orang asing (alien) khusus Kerugian (tort) yang dilakukan yang bertentangan dengan hukum internasional dan Perjanjian di Amerika”.

melakukan investigasi terhadap tindakan korupsi yang dilakukan oleh perusahaan Amerika yang melakukan kegiatan tambang di Peru. 8 November 2004 Tim Tekhnis 31 . Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful