BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pendidikan mempunyai perencanaan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu, terutama bagi pembangunan bangsa dan negara. Kemajuan suatu kebudayaan bergantung kepada cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai, dan memanfaatkan sumber daya manusia dan hal ini berkaitan erat dengan kualitas pendidikan yang diberikan kepada anggota masyarakatnya, kepada peserta didik. Sumber daya manusia yang berkualitas hanya dapat diciptakan lewat lembaga pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Kedua lembaga ini secara simultan memproses row input untuk dapat lebih cerdas sebagaimana yang diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 Alinea ke empat, “……mencerdaskan kehidupan bangsa……” Indikator sumber daya manusia yang berkualitas, satu diantaranya adalah munculnya produk kreatif seseorang. Produk kreatif akan muncul bila mana ada motivasi baik motivasi intrinsik maupun ekstrinsik disertai komitmen yang tinggi untuk mencapai prestasi serta adanya wahana yang memungkinkan munculnya kreativitas. Semakin tinggi potensi kreativitas seseorang dan didukung keterbukaan wahana untuk mengekspresikan kreativitasnya, maka semakin terbuka pulalah peluang munculnya produk kreatif.

1

2

Berkenaan dengan hal diatas, maka fungsi sekolah sebagai wahana menumbuh kembangkan kreativitas jiwa harus dioptimalkan. (Dedi Supriyadi, 1997:18). Guru harus piawai didalam menyusun skenario pembelajaran. Skenario atau desain pembelajaran yang baik adalah yang memungkinkan siswa dapat mengekspresikan kreativitasnya. Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupanya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, seluruh komponen bangsa wajib mencerdaskan kehidupan bangsa yang merupakan salah satu tujuan negara Indonesia. UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) Nomor 20 Tahun 2003. Tujuan pendidikan pada umumnya ialah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuanya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudakan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Setiap orang mempunyai bakat dan kemampuan yang berbeda-beda pula. Pendidikan bertujuan untuk memandu (yaitu mengidentifikasi dan membina serta memupuk (yaitu mengemengembangkan dan meningkatkan) bakat tersebut,

3

termasuk dari mereka yang berbakat istimewa atau memiliki kemampuuan dan kecerdasan luar biasa. (Munandar. 1999:6). Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Penerimaan seseorang sebagai peserta didik dalam suatu satuan pendidikan diselenggarakan dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras, kedudukan sosial, dan tingkat kemampuan ekonomi dengan tetap mengindahkan kekhususan satuan pendidikan yang bersangkutan. Adapun pendidikan formal seperti yang diuraikan pada pasal 14 UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menyatakan bahwa jenjang pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Berkaitan dengan usaha pemerintah meningkatkan kesiapan calon peserta didik untuk jenjang pendidikan dasar, maka diberlakukan kebijakan pendidikan anak usia dini. Program pendidikan nasional, secara umum, meliputi tiga tahapan yaitu pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Pendidikan dasar dimulai ketika anak menginjak usia enam tahun atau lebih. Sementara itu ketika anak berusia kurang dari enam tahun (antara empat sampai dengan lima tahun ), anak umumnya telah mengikuti pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK), walaupun menurut program pendidikan nasional, pendidikan TK ini bukan

merupakan jenjang pendidikan yang harus diikuti. Pendidikan di TK merupakan bentuk pendidikan fakultatif dalam rangka mempersiapkan anak-anak masuk ke pendidikan SD. Sekalipun bersifat fakultatif pendidikan di TK, tetap diakui eksistensinya sebagai suatu jenis pendidikan yang penting karena keberadaanya

4

itu merupakan basis bagi pendidikan selanjutnya, terutama dalam bidang pendidikan kreatif. Dalam PP RI Nomor 27, tahun 1990 tentang pendidikan prasekolah menjadi lebih kuat setelah munculnya dasar hukum tambahan. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0486 / U / 1992 Bab I Pasal 2 Ayat (1) yang telah dinyatakan bahwa Pendidikan Taman Kanakkanak merupakan wadah untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rokhani anak didik sesuai dengan sifat-sifat alami anak (Soemantri Patmodewo, 2000 :44). Taman Kanak-kanak didirikan sebagai usaha mengembangkan seluruh segi kepribadian anak didik dalam rangka menjembatani pendididkan dalam keluarga ke pendidikan sekolah. TK merupakan salah satu bentuk pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik diluar lingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar. Kegiatan di Taman Kanak-kanak tentunya sangat berbeda dengan kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar. Kegiatan di TK dilaksanakan dengan cara bermain sesuai dengan prinsip TK yaitu “bermain sambil belajar, dan belajar seraya bermain”, hal ini merupakan cara yang paling efektif, karena dengan bermain anak dapat mengembangkan berbagai kreativitas anak didik di TK, termasuk perkembangan motorik halus anak, meningkatkan penalaran dan memahami keberadaan lingkungan, terbentuk imajinasi, mengikuti imajinasi, mengikuti peraturan, tata tertib dan disiplin. Dalam kegiatan bermain anak menggunakan seluruh aspek pancainderanya.

5

Dengan bermain anak dapat menemukan lingkungan orang lain, dan menemukan dirinya sendiri, sehingga anak dapat bersosialisasi dengan lingkungan tersebut, anak dapat menghargai orang lain, tenggang rasa terhadap orang lain, tolong menolong sesama teman dan yang lebih utama anak dapat menemukan pengalaman baru dalam kegiatan tersebut. Bermain dapat memotivasi anak untuk mengetahui segala sesuatu secara lebih mendalam, dan secara spontan anak dapat mengembangkan bahasanya, dengan bermain anak dapat bereksperimen. Kegiatan bermain di TK merupakan hal yang menyenangkan, kegiatan belajar di TK adalah bermain yang kreatif dan menyenangkan. Dengan demikian anak didik tidak akan canggung lagi menghadapi cara pembelajaran dijenjang berikutnya. Dalam memberikan kegiatan belajar pada anak didik harus diperhatikan kematangan atau tahap perkembang kreativitas anak didik, alat bermain atau alat bantu, metode yang digunakan, serta waktu dan tempat bermainya. Kegiatan percobaan sains ini merupakan salah satu cara agar anak lebih bersemangat mengikuti pembelajaran di TK, karena kegiatan percobaan sains dapat mengembangkan aspek perkembangan anak didik, yakni aspek bahasa, kognitif, kreativitas, psikososial, dan fisiologis, dalam kegiatan percobaan sains anak akan diajak bereksplorasi, mengidentifikasi melakukan klasifikasi, prediksi, eksperimen, dan melakukan evaluasi. (Depdiknas, 2003 :3) Menurut Hildebrand (1986), bahwa anak TK mempunyai dorongan yang kuat untuk mengenal lingkungan alam sekitar dan lingkungan sosialnya lebih

6

baik. Anak ingin memahami segala sesuatu yang dilihat dan didengar (Moeslichatoen, 1999 : 10). Segala sesuatu yang diamati oleh inderanya. Untuk menanggapi dorongan tersebut anak berusaha menemukan jawaban sendiri dengan berbagai cara. Misalnya jawaban terhadap segala sesuatu yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan atau diraba itu. Tentang bagaimana terjadinya, dari mana segala sesuatu itu berasal atau apa yang terjadi bila sesuatu itu dipegang, diubah kedudukanya, dibanting dan sebagainya. Untuk mendapatkan informasi dan pengalaman anak TK mempunyai dorongan yang kuat untuk menjelajahi dan meneliti lingkunganya. Dengan menggerakkan dan memainkan sesuatu, anak akan memperoleh pengalaman. Anak juga mempunyai dorongan yang kuat untuk menguji dan mencoba kemampuan dan ketrampilanya terhadap sesuatu. Kegiatan mencoba ini tidak hanya memberikan kesenangan bagi anak melainkan juga memberi pengalaman yang lebih baik tentang sifat-sifat yang dimiliki sesuatu benda. Karena itu, bila anak TK diberi kesempatan untuk bereksperimentasi, mencoba, menguji dengan berbagai sumber belajar mereka akan memperoleh penyempurnaan dalam cara kerja mereka dan juga dapat mengapresiasi cara kerja anak lain. Taman Kanak-kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran, khususnya kelompok A, dalam pembelajaran sains dari prestasi akademik sudah membanggakan. Hal ini terbukti dengan nilai rata-rata ulangan harian selama semester I adalah 7,1. ini berarti taraf serap siswa mencapai 7,1% (Dokumentasi Guru, 2004). Dengan demikian Tujuan Pengembangan Produk masih sangat merisaukan. Dari daftar Nilai Pengamatan, diperoleh rata-rata nilai anak didik untuk Kreativitas masih

7

5,4 yang berarti masih dibawah batas belajar tuntas, yakni 7,5% (Dokumentasi Guru, 2004). Jumlah anak didik kelompok A adalah 44 anak, yang terdiri dari kelompok A1 berjumlah 22 anak dan kelompok A2 berjumlah 22 anak, dengan latar belakang sosial ekonomi orang tua lebih dari 80% mampu dan sudah sadar akan pendidikan anaknya, sehingga setiap anak didik memiliki berbagai perlengkapan untuk menunjang belajarnya di Sekolah. Berpijak pada hal-hal tersebut diatas, secara khusus, patut dipertanyakan pula bagaimana percobaan sains di TK itu berlangsung dan dengan kata lain apakah percobaan sains dapat meningkatkan aspek perkembangan kreativitas anak didik di Taman Kanak-kanak. B. Fokus Permasalah Dari uraian latar belakang diatas, dapat diidentifikasi permaslahan yang timbul pada pembelajaran melalui percobaan sains di Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran adalah sebagai berikut : 1. Percobaan sains di TK masih menekankan pada tujuan pengembangan produk yang berupa prestasi akademik anak didik. Hal ini berarti baru potensi kecerdasan anak didik yang dikedepankan. 2. Proses ilmiah, khususnya kreativitas anak didik belum dikembangkan seoptimal mungkin. 3. Aktivitas guru dan siswa belum optimal, sehingga pembelajaran masih berpusat pada guru. Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka permasalahan yang akan diteliti dalam Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut :

8

C.

Rumusan Masalah Dari fokus masalah tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : “Bagaimanakah peningkakan aspek perkembangan kreativitas anak didik di Taman Kanak-kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran setelah dilakukan percobaan sains ?”

D.

Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan kreativitas anak didik di Taman Kanak-Kanak Hj Isriyati Moenadi Ungaran melalui percobaan-percobaan sains 2. Tujuan Khusus Penelitian Tindakan Kelas ini adalah setelah penelitian ini berahir, kreativitas siswa semakin meningkat secara bermakna yang ditunjukkan oleh indikator-indikator sebagai berikut : a. Sekurang-kurangnya guru terampil membuat rencana pembelajaran melalui percobaan sains dengan metode eksperimen b. Sekurang-kurangnya aktivitas guru selama percobaan sains dengan metode eksperimen meningkat baik. c. Sekurang-kurangnya aktivitas anak didik yang berupa gagasan kreatif dan sikap ilmiah baik.

E.

Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :

9

1. Peneliti Dengan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini peneliti memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengalaman tentang PTK, khususnya penerapan metode eksperimen yang benar dan tepat, serta peneliti mampu mendeteksi permasaslahan yang ada didalam proses pembelajaran sekaligus mencari alternatif solusi yang tepat. Selain itu ,peneliti mampu memperbaiki proses pembelajaran didalam kelas dalam rangka meningkatkan kreativitas siswa. 2. Anak Didik a. Anak Didik dapat berekspresi kreatif sesuai dengan potensi kreativitasnya b. Mengurangi rasa ketakutan untuk berbeda pendapat, karena didalam kreativitas memungkinkan adanya keberagaman. 3. Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran a. Penelitian Tindakan Kelas ini merupakan aset penting karena hal ini dalam rangka meningkatkan kreativitas siswa. b. Sebagai acuan jika akan melakukan kegiatan sejenis. F. Sistematika Skripsi Skripsi ini penulis susun dalam sistematika sebagai berikut: 1. Bagian Awal, berisi : halaman judul, halaman persetujan pembimbing, halaman pengesahan, motto dan persembahan, kata pengantar, sari, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar lampiran.

10

2. Bagian isi, terdiri dari : Bab I : Pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, fokus masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian,

sistematika skripsi. Bab II : Bab III : Landasan teori. Metode penelitian, yang terdiri dari rancangan penelitian, data dan teknik pengumpulanya, serta indikator kinerja. Bab IV : Hasil penelitian dan pembahasan Bab V : Penutup berisi : simpulan dan saran. 3. Bagian Ahir, berisi daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

11

BAB II LANDASAN TEORI

A.

Tugas Perkembangan Anak Usia Dini Awal masa kanak-kanak merupakan periode yang bahagia dalam kehidupan. Kalau tidak, kebiasaan tidak bahagia dengan mudah akan berkembang, dan sekali ini terjadi akan sulit dirubah. Berikut merupakan tugastugas perkembangan untuk anak usia dini. (Hurlock, 1991: 140) 1. Awal masa kanak-kanak yang berlangsung dari dua sampai enam tahun, oleh orang tua disebut sebagai usia yang problematis, menyulitkan atau mainan; oleh para pendidik dinamakan sebagai usia prasekolah; dan oleh ahli psikologi sebagai usia prakelompok, penjelajah atau usia bertanya. 2. Perkembangan fisik berjalan lambat tetapi kebiasaan fisiologis yang dasarnya diletakkan pada masa bayi, menjadi cukup baik. 3. Awal masa kanak-kanak dianggap sebagai saat belajar untuk mencapai pelbagai keterampilan karena anak senang mengulang, hal mana penting untuk belajar keterampilan; anak pemberani dan senang mencoba hal-hal baru; dan karena hanya memiliki beberapa keterampilan maka tidak mengganggu usaha penambahan keterampilan baru. 4. Perkembangan berbicara berlangsung cepat, seperti terlihat dalam

perkembanganya pengertian dan berbagai keterampilan berbicara. Ini mempunyai dampak yang kuat terhadap jumlah bicara dan isi pembicaraan. 5. Perkembangan emosi mengikuti pola yang dapat diramalkan, tetapi terdapat keanekaragaman dalam pola ini karena tingkat kecerdasan, seks besarnya keluarga, pendidikan anak dan kondisi-kondisi lain.

12

6. Awal masa kanak-kanak adalah usia prakelompok, saat diletakkanya dasar perkembangan sosial yang merupakan ciri usia berkelompok diahir masa kanak-kanak. 7. Bermain sangat dipengruhi oleh keterampilan motorik yang dicapai, tingkat popularitas yang ia senangi diantara teman-teman sebaya, bimbingan yang diterima dalam mempelajari berbagai pola bermain dan status sosial ekonomi keluarga. 8. Ketidak tepatan dalam mengerti sesuatu, merupakan hal yang umum pada awal masa kanak-kanak karena banyak konsep yang kekanak-kanakan dipelajari tanpa cukup bimbingan dan karena anak sering didorong untuk memandang kehidupan secara tidak realistis agar lebih menarik dan lebih semarak. 9. Awal masa kanak-kanak ditandai oleh moralitas dengan paksaan, suatu masa dimana anak belajar mematuhi peraturan secara otomatis melalui aturan hukuman dan pujian. Periode ini juga merupakan masa penegakan disiplin dengan cara yang berbeda, ada yang dikenakan disiplin yang otoriter, lemah dan demokratis. 10. Minat umum anak meliputi minat terhadap agama, tubuh manusia, diri sendiri, seks dan pakaian. 11. Awal masa kanak-kanak sering dianggap sebagai usia kritis dalam penggolongan peran seks dikuasai terutama belajar arti stereotip peran-seks dan menarima serta mamainkan peran-seks yang disetujui oleh kelompoknya.

13

12. Berbagai hubungan keluarga, orang tua anak, antar saudara dan hubungan dengan sanak keluarga, berperan dalam sosialisasi anak dan perkembangan konsep diri, dalam tingkat kepentingan yang berbeda. 13. Bahaya fisik yang penting meliputi kematian, penyakit, kecelakaan, penampilan yang tidak manarik, kegemukan dan kidal. 14. Diantara bahaya psikologis yang terpenting adalah isi pembicaraan yang bersifat tidak sosial, ketidakmampuan mengadakan kompleks empati, gagal belajar penyesuaian sosial karena kurangnya bimbingan, lebih menyukai teman khayalan atau hewan kesayangan, terlalu menekankan pada hiburan dan kurang penekanan pada bermain aktif, konsep-konsep dengan bobot emosi yang kurang baik, disiplin yang tidak konsisten atau disiplin yang terlalu didasarkan pada hukum, gagal dalam mengambil peran seks sesuai dengan pola yang disetujui oleh kelompok sosial, kemerosotan dalam hubungan keluarga dan konsep diri yang kurang baik. 15. Kebahagiaan pada awal masa kanak-kanak bergantung lebih pada kejadian yang menimpa anak di rumah dari pada kejadian diluar rumah. Meskipun dasar dari tugas dalam perkembangan yang diharapkan sudah dikuasai anak sebelum mereka memasuki sekolah diletakkan selama masa bayi, tetapi masih banyak yang harus dipelajari dalam waktu empat tahun, yaitu dalam periode awal masa kanak-kanak atau usia dini yang relatif singkat. Tugas perkembangan pada ahir nasa kanak-kanak antara lain : 1. Mempelajari keterampilan fisik yang diperlukan untuk permainan-permainan umum.

14

2. Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang tumbuh. 3. Belajar menyesuaikan diri dengan teman-teman seusianya. 4. Mulai mengembangkan peran sosial pria atau wanita yang tepat. 5. Mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung. 6. Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari. 7. Mengembangkan hati nurani, pengertian moral, tata dan tingkatan nilai. 8. Mengembangkan siakap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembagalembaga. 9. Mencapai kebebasan pribadi. Tujuan pendidikan yang ditarik dari tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaiakan itu tidak mungkin dilaksanakan sekaligus melainkan harus dijabarkan kedalam tugas-tugas yang kecil yang dinamakan tujuan kegiatan. Bila guru telah menetapkan tujuan kegiatan yang terlebih dahulu ditetapakan itu. Ditinjau dari segi perkembangan anak pembentukan tingkah laku melalui pembiasaan akan membantu anak tumbuh dan berkembang secara seimbang artinya memberikan rasa puas pada diri sendiri dan dapat diterima oleh masyarakat. Memungkinkan terjadinya hubungan antara pribadi yang baik, saling percaya, saling mendorong, bekerja sama untuk kepentingan bersama. Pembentukan tingkah laku hendaknya lebih banyak dinyatakan dalam perbuatan dan tidak dalam ucapan saja. Hal ini bisa dilaksanakan dengan cara : 1. Mendorong anak bertingakah laku sesuai yang diharapkan dan

menghilangkan tingkah laku yang tidak diharapkan. 2. Tingkah laku yang diharapkan apabila dilakukan anak akan memberikan konsekuensi yang menyenangkan, sedang tingkah laku yang tidak diharapkan akan menumbuhkan penyesalan pada diri anak.

15

3. Tingkah laku yang diharapkan apabila dibina secara terus menerus pada saatnya akan terjadi dengan sendirinya, atas prakarsa anak sendiri meskipun tidak ada pengawasan dari guru. 4. Anak perlu mendapatkan kesempatan untuk mengubah tingkah laku yang tidak diharapkan itu. Dalam membina hubungan dengan anak lain ada beberapa pendekatan dengan anak lain yang dapat dilaksanakan atau yang tidak dapat dilaksanakan berkaitan dengan ketrampilam bergaul, membina hubungan, memecahkan pertentangan dengan anak lain. Anak belajar cara yang dapat dilaksanakan dalam berbagai bahan, perlengkapan dengan anak lain atau saling mengemukakan gagasan dengan anak lain. Anak balajar mempertahankan diri, menuntut hak dengan cara yang dapat diterima, menerima giliran, mengkomunikasikan keinginan dan mengadakan negosiasi dengan cara yang dapat diterima kelompok: mempertahankan barang miliknya, meminta menggunakan alat permainan, menanti menggunakan alat permainan, menyatakan keinginan untuk melakukan sesuatu kepada anak lain, mengadakan kesepakatan dalam menggunakan alat permainan secara bergantian. Anak berusaha untuk dapat memberi informasi dan contoh cara menggunakan atau melakukan kepada anak lain misalnya: dimana membeli buku tulis yang dimilikinya, memberti contoh cara menggunakan alat permainan yang dimiliki, selanjutnya anak belajar untuk mengantisipasi apa yang bakal terjadi atau menghindari permasalahan berdasarkan pengharapanpengharapan yang realistis: dapat membayangkan apa yang terjadi bila air kalau dipanasi menjadi hangat, akan berjalan disisi kiri jalan untuk menuju kesekolah. Dalam membina hubungan dalam kelompok anak belajar untuk dapat berperan serta, meningkatkan hubungan kelompok, meningkatkan hubungan antar pribadi, mengenal identitas kelompok dan belajar bekerja dalam kelompok. disamping itu anak balajar untuk mengikuti jadwal dan pola kegiatan sehari-hari, mengadaptasi dengan hal-hal rutin di sekolah, serta mengenal peraturan dan pengharapan sekolah, misalnya : kegiatan piket, menjadi bagian kelompok, bekerja sama melaksanakan tugas guru, menaati jadwal dan kegiatan bermain dan kegiatan yang lain, mengetahui apa yang harus dilakukan setiap hari disekolah, menaati tata tertib dan peraturan sekolah (tidak boleh datang terlambat, jari-jari tangan bersih, kuku tidak boleh panjang dan sebagainya). Anak juga belajar menghargai hak, perasaan dan harta milik orang lain, serta belajar untuk bersabar menunda dan menaati giliran untuk melakukan sesuatu perbuatan. Dalam membina diri sebagai individu anak belajar untuk bertanggung jawab membantu diri sendiri, menjaga diri sendiri dan berprakarsa untuk melakukan kegiatan yang dipilihnya, misalnya anak menyiapkan alat tulis, menyiapkan bekal makanan, membersihkan bangku setelah melakukan kegiatan, anak juga belajar berdekatan dengan anak lain tanpa mengganggu, mengadakan kesepakatan,

16

berkomunikasi secara verbal dan non verbal, dan menerima penolakan, atau perasaaan yang menyakitkan atau kekecewaan dengan cara yang diterima kelompok misalnya, tidak merebut alat permainan teman didekatnya, mengadakan kesepakatan dalam berbagai alat permainan, menyuruh anak lain diam dengan menempatkan jari telunjuk pada mulutnya. Disamping itu anak juga belajar untuk mengenal keterbatasan kondisi anak lain sehingga anak dapat memahami bantuan apa yang bisa diberikan kepada anak tersebut. B. Pembelajaran di Taman Kanak-kanak Pentingnya bermain bagi perkembangan kepribadian telah diakui secara universal, karena merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, baik bagi anak maupun orang dewasa. Kesempatan bermain dan rekreasi memberikan anak kegembiraan disertai kepuasan emosional. Bermain merupakan kegiatan yang spontan dan kreatif, yang denganya seseorang dapat menemukan ekspresi dirinya sepenuhnya. (Freeman & Munandar, 1997 :262). Sebagaimana terdapat dalam Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar Taman Kanak-kanak (Depdikbud, 1994) tujuan program kegiatan belajar anak TK adalah untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam menyesuaikan diri dengan lingkunganya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya. Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar yang meliputi : pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan bahasa, daya pikir, daya cipta, ketrampilan dan jasmani. Pendidikan paling utama pada tataran kedua setelah pendidikan dikeluarga adalah pendidikan di sekolah. Anak adalah investasi paling besar yang dimiliki keluarganya, masyarakat dan bangsa. Anak memiliki sejuta kemampuan yang akan berkembang melalui tahapan-tahapan tertentu sesuai perkembangan kejiwaan anak. Namun demikian, perkembangan kemampuan itu tidak dapat mencapai tahap optimal, apabila proses perkembanganya tidak dituntut dan didesain secara sistematis. Anak membutuhkan bantuan dalam mempelajari suatu hal, bagaimana mangatasinya, dan sebagainya. Untuk membuat anak memecahkan masalah dengan efektif dan efisien, maka orang tua harus mamahami dunia anak-anak. Sehingga anak akan berada pada dunianya bersama teman sebaya. Kemandirianya pada anak hendaknya selalu didasarkan perkembangan anak dengan diberi kesempatan dan pengalaman dalam mengembangkan sifat-sifat alamiah. 1. Belajar Melalui Bermain

17

Ahli pendidikan anak menyatakan bahwa cara belajar anak yang paling efektif adalah dengan bermain. Dalam bermain anak dapat mengembangkan otot besar maupun otot halusnya, meningkatkan penalaran, memahami lingkungan, membentuk daya imajinasi, dunia nyata, dan mengikuti tata tertib dan disiplin. Unsur kebebasan pada pendidikan prasekolah, adalah penting sifatnya. Hal ini berkaitan dengan tujuan pendidikan prasekolah yaitu mengembangkan potensi anak secara optimal. Kebebasan dalam pendidikan anak prasekolah dalam aplikasinya adalah bermain. Secara alamiah bermain memotivasi anak untuk mengetahui sesuatu lebih mendalam dan secara spontan anak mengembangkan kreativitasnya. Dengan bermain anak mendapat banyak informasi tentang peristiwa, orang, binatang, dan segala sesuatu yang ada disekitarnya. Anak punya kesempatan bereksperimen, memahami konsep-konsep sesuai dengan perkembangan anak. “Bermain bukan bekerja, bermain adalah pura-pura, bermain bukan sesuatu yang sungguh-sungguh, bermain bukan suatu kegiatan yang produktif; dan sebagainya……bekerjapun dapat diartikan bermain sementara, kadang-kadang bermain dapat dialami sebagai bekerja, demikian pula anak yang sedang bermain dapat membentuk dunianya sehingga sering kali dianggap nyata, sungguh-sungguh, produktif dan menyerupai kehidupan sebenarnya” (Soemantri Patmodewo. 2000: 102). Bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak didik. Bermain merupakan cara alamiah anak untuk menemukan lingkungan, orang lain, dan dirinya sendiri. Pada prinsipnya

18

bermain mengandung rasa senang dan lebih mementingkan proses dari pada hasil ahir. Perkembangan bermain sebagai cara pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan, umur, dan kemampuan anak. Secara berangsur-angsur dikembangkan dari bermain sambil belajar (unsur bermain lebih besar) menjadi belajar sambil bermain (unsur belajar lebih banyak). (Depdikbud 1994 :11). Bermain sebagai bentuk belajar di Taman Kanak-kanak adalah bermain yang kreatif dan menyenangkan. Dengan demikian anak didik tidak akan canggung lagi menghadapi cara pembelajaran dijenjang pendidikan berikutnya. Oleh karena itu,dalam memberikan kegiatan belajar pada anak didik harus diperhatikan kematangan atau tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau alat Bantu, metode yang digunakan, serta waktu, tempat dan teman bermainya. Barmain adalah kegiatan yang spontan dan penuh usaha dan kegiatan tersebut merupakan dasar dari perkembangan. Dalam beberapa bentuk permainan terlihat adanya persamaan yang dilakukan oleh anak-anak. Setiap anak dengan caranya sendiri dan menurut tingkat perkembangan sendiri akan selalu mencari kegembiraan dan kepuasan dalam bermain. Untuk bermain, anak membutuhkan tempat bermacam-macam alat permainan, waktu dan kebebasan. Melalui bermain, memberikan kesempatan kepada anak untuk mengembangkan potensi-potensi dan kemampuanya yang kreatif dan konstruksi menurut pola perkembanganya sendiri secara wajar. Berkaitan dengan itu, maka tugas guru adalah merencanakan dan memberi kesempatan

19

dan pengalaman-pengalaman dengan berbagai alat bantu permainan yang fungsional untuk perkembangan harmonis anak. Dalam tatanan pendidikan Taman Kanak-Kanak, bermain dapat digambarkan sebagai suatu rangkaian kasatuan yang berujung pada bermain bebas, bermain dengan bimbingan dan berahir pada bermain dengan

diarahkan. Bermain bebas dapat didefinisikan sebagai suatu kegiatan bermain dimana anak mendapat kesempatan melakukan berbagai pilihan alat dan mereka dapat memilih bagaimana menggunakan alat tersebut. Bermain dengan bimbingan, model bermain dimana guru memilih alat permainan dan diharapkan anak-anak dapat memilih guna menemukan konsep (pengertian tertentu). Bermain diarahkan, guru mengajarkan bagaimana cara

menyelesaikan suatu tugas yang khusus. (Soemiarti Patmodewo, 2000:103). Barmain juga merupakan tuntutan dan kebutuhan yang esensial bagi anak TK. Melalui bermain anak akan dapat memuaskan tuntutan dan kebutuhan perkembangan dimensi motorik, kognitif, kreativitas, bahasa, emosi, sosial nilai dan sikap hidup. Melalui kegiatan bermain anak dapat mengembangkan kreativitasnya, yaitu melakukan kegiatan yang mengandung kelenturan; memanfaatkan imajinasi atau ekspresi diri; kegiatan-kegiatan pemecahan masalah, mencari cara baru dan sebagainya. Sesuai dengan pengertian bermain yang merupakan tuntutan dan kebutuhan bagi anak usia TK, menurut Hartley, Frank dan Goldenson (Gordon & Browne, 1985:268) ada 8 fungsi bermain bagi anak:

20

a. Menirukan apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Contohnya, meniru ibu memasak di dapur, dokter mengobati orang sakit dan sebagainya. b. Untuk melakukan berbagai peran yang ada di dalam kehidupan nyata seperti guru mengajar dikelas, sopir mengendarai bus, dan lain-lain. c. Untuk mencerminkan hubungan dalam keluarga alam pengalaman hidup yang nyata. Contohnya ibu memandikan adik, dan lain-lain. d. Untuk menyalurkan perasaan yang kuat seperti memukul-mukul kaleng, menepuk-nepuk air, dan sebagainya. e. Untuk melepaskan dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima seperti berperan sebagai pencuri, menjadi anak nakal, dan lain-lain. f. Untuk kilas balik untuk peran-peran yang biasa dilakukan seperti gosok gigi, sarapan pagi, dan lain sebagainya. g. Mencerminkan pertumbuhan seperti pertumbuhan misalnya semakin bertambah tinggi tubuhnya dan lain-lain. h. Untuk memecahkan masalah dan mencoba berbagai penyelesaian masalah seperti menghias ruangan dan lain-lain. Melalui bermain memberikan kesempatan pada anak untuk

mengembangkan potensi dan kemampuanya yang kreatif dan konstruktif menurut pola perkembanganya sendiri secara wajar, serta mengembangkan motorik dan daya pikir menjadi lebih meningkat. 2. Metode Pembelajaran di TK Metode merupakan cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan kegiatan. Sebagai alat untuk mencapai tujuan tidak

21

selamanya berfungsi secara memadai. Oleh karena itu dalam memilih suatu metode yang akan dipergunakan dalam program kegiatan anak di Taman Kanak-kanak seorang guru perlu mempunyai alasan yang kuat dan faktor yang mendukung pemilihan metode tersebut seperti : karakteristik tujuan kegiatan dan karakteristik anak yang diajar. Untuk mengembangkan kognisi anak dapat dipergunakan metodemetode yang mampu menggerakkan anak agar menumbuhkan berfikir dapat menalar, mampu menarik dan dapat membuat generalisasi. Caranya dengan memahami lingkungan disekitarnya, mengenal orang dan benda-benda yang ada, memahami tubuh dan perasaan mereka sendiri, melatih memahami untuk mengurus diri sendiri. Selain itu melatih anak menggunakan bahasa untuk berhubungan dengan orang lain, dan melakukan apa yang dianggap benar berdasar nilai yang ada dalam masyarakat. Guru mengembangkan kreativitas anak, metode-metode yang dipilih adalah metode yang dapat menggerakkan anak untuk meningkatkan motivasi rasa ingin tahu dan mengembangkan imajinasi. Dalam mengembangkan kreativitas anak metode yang dipergunakan mampu mendorong anak mencari dan menemukan jawabannya, membuat pertanyaan yang membantu memecahkan, memikirkan kembali, membangun kembali dan menemukan hubungan-hubungan baru. Guru mampu mengembangkan kemampuan bahasa anak dengan menggunakan metode yang dapat meningkatkan perkembangan kemampuan berbicara, mendengar, membaca dan menulis. Guru memberikan kesempatan anak memperoleh pengalaman yang luas dalam mendengarkan dan berbicara.

22

Guru mengembangkan emosi anak dengan menggunakan metode yang menggerakkan anak untuk mengekspresikan perasaan yang menyenangkan perasaan yang menyenangkan secara verbal dan tepat. Guru untuk mengembangkan kemampuan motorik anak dapat dipergunakan metode-metode yang menjamin anak tidak mengalami cidera. Oleh karena itu guru menciptakan lingkungan yang aman dan menantang, bahkan alat yang dipergunakan dalam keadaan baik, tidak menimbulkan perasaan takut, cemas dalam menggunakannya. Berbagai alat dan bahan yang dipergunakan juga menantang anak untuk melakukan aktivitas. Untuk mengembangkan nilai dan sikap anak dapat dipergunakan metode-metode yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama dan moral Pancasila agar anak dapat menjalani hidup sesuai dengan norma yang dianut masyarakat. Pemberian pengalaman belajar yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan kerja, kebiasaan menghargai waktu dan kebiasaan memelihara lingkungan. Selain dari tujuan kegiatan karakteristik anak juga ikut menentukan pemilihan metode. Perlu diingat oleh guru bahwa anak Taman Kanak-kanak pada umumnya adalah anak yang selalu bergerak, mempunyai rasa ingin tahu yang kuat, senang bereksperimen dan menguji, mampu mengekspresikan diri secara kreatif, mempunyai imajinasi dan senang berbicara. Pola kegiatan yang dapat dipilih guru Taman Kanak-kanak untuk mencapai tujuan kegiatan yaitu, kegiatan yang dilaksanakan dengan

pengarahan langsung oleh guru yakni kegiatan yang kondisinya berada dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan macam ini mempunyai ciri-ciri anaknya duduk tenang dibangku masing-masing dan memperhatikan apa yang harus

23

dikerjakan sesuai dengan perintah guru. Selain itu juga anak diperintah mengambil bahan yang dipergunakan dan memperhatikan peragaan guru tentang bagaimana menggunakan bahan tersebut. Dalam kegiatan yang berpola semi kreatif guru memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang menghasilkan karya berupa suatu tiruan atau hasil mencontoh model. Masing-masing anak diberi kesempatan untuk mewujudkan daya kreatifnya. Dalam hal ini anak telah melaksanakan sesuatu berdasar pendapatnya sendiri. Dalam pola kegiatan yang semi kreatif ini anak belum sepenuhnya kreatif karena masih mendapat bimbingan guru, yaitu anak masih berbuat berdasar pengarahan guru. Oleh karena itu kegiatan semacam ini dinamakan semi kreatif. Kegiatan yang kreatif dilaksanakan dengan cara manghadapkan anak pada berbagai masalah yang harus dipecahkan. Jadi, kegiatan memecahkan masalah adalah kegiatan yang kreatif sebenarnya. Dalam kegiatan menghadapkan anak untuk memecahkan masalah inilah yang merupakan kegiatan belajar kreatif yang sebenarnya. Pemecahan masalah ini dapat bersifat perorangan maupun kelompok. pola kegiatan kreatif memerlukan berbagai macam sumber belajar dan media belajar yang memadai. Fungsi guru dengan pola kegiatan kreatif adalah sebagai fasilitator yang selalau siap memberikan bantuan petunjuk, bimbingan, pujian, perbaikan yang

dibutuhakan oleh anak. Yang dimaksud dengan karakteristik tujuan adalah pengembangan kognitif, pengembangan kreativitas, pengembangan bahasa, pengembangan emosi, pengembangan motorik dan pengembangan sikap dan nilai.

24

Metode pembelajaran yang di gunakan di Taman Kanak-kanak adalah : (a) Metode Bercerita (b) Metode Bercakap-cakap (c) Metode Tanya Jawab (d) Metode Pemberian Tugas (e) Metode Karya Wisata (f) Metode Demonstrasi (g) Metode Sosiodrama (h) Metode Eksperimen (i) Metode Bermain Peran (j) Metode Proyek. ( Moeslichatun 1999) Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan metode eksperimen dan metode demonstrasi yang berarti menunjukkan, mengerjakan dan menjelaskan serta mencoba langsung. Jadi dalam demonstrasi kita menunjukkan dan menjelaskan cara-cara mengerjakan sesuatu dan langsung mencobanya. Melalui eksperimen dan demonstrasi diharapkan anak dapat mengenal langkah-langkah dan membangkitkan kreativitasnya untuk bisa mencoba. Percobaan sains disini dilakukan dengan metode demonstrasi dan eksperimen secara langsung, dimaksudkan agar anak bisa mencobanya sendiri setelah diberi contoh. Demontrasi mempunyai makna penting bagi anak Taman Kanak-Kanak yang antara lain : a. Dapat memperlihatkan secara konkrit apa yang dilakukan /

dilaksanakan/diperagakan. b. Dapat mengkomunikasikan gagasan, konsep, prinsip, dan peragaan. c. Membantu mengembangkan kemampuan mengamati secara teliti dan cermat. d. Membantu mengembangkan kemampuan untuk melakukan segala pekerjaan secara teliti, cermat dan tepat.

25

e. Membantu mengembangkan kemampuan peniruan dan pengenalan secara tepat. C. Konsep Kreativitas Anak 1. Pengertian Kretivitas Mungkin hal yang paling penting disadari oleh orang tua dan guru ialah bahwa setiap oarng memiliki potensi kreatif. Bebeapa orang memilikinya lebih dari orang lain, tetapi tak ada orang yang tidak kreatif sama sekali. Terutama anak-anak usia prasekolah sebetulnya sangat kreatif, mereka memiliki kreativitas alamiah. Sayangnya banyak orang tua dan guru yang kurang menyadari atau kurang dapat menghargai kreativitas anak. Mereka lebih menginginkan anak yang selalu patuh dan melakukan hal-hal yang diinginkan orang tua atau melakukan hal-hal yang sama seperti anak lain. Orisinalitas kurang dapat diterima, dianggap menyulitkan, dan bahkan dapat berbahaya. Tanpa menyadarinya, orang dewasa yang bermaksud baik, dengan dalih menanamkan disiplin dan kepatuhan, tidak memberi kesempatan benih-benih kreativitas anak tumbuh dan berkembang. Ini tidak berarti bahwa disiplin dan kepatuhan tidak penting. Di sinilah sering terjadi kesalah pahaman tentang arti dan makna dari kreativitas. Kreativitas tidak bertentangan dengan disiplin dan mengikuti peraturan yang ditentukan. Pengertian kreativitas menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti hasil dari kemampuan mencipta. Banyak hal yang dilakukan manusia ada

26

unsur kreativitasnya. Hal ini sesuai dengan program kegiatan yang dikembangkan di TK, yaitu pengembangan daya cipta. Kreativitas terjadi karena kebiasaan mencipta sesuatu yang baru (Anggani Sudono: 1997 :1). Dunia Taman Kanak-kanak adalah dunia pendidikan kreativitas, artinya aktivitas guru senantiasa dituntut kreativitasnya. Secara ideal konseptual, pendidikan di TK adalah proses pembelajaran yang dirancang secara sadar dan sistematis untuk memberi peluang kepada anak didik agar dapat mengembangkan potensi daya ciptanya untuk mengungkapkan apa yang ada dalam diri ataupun apa yang ada diluar dirinya. Kreativitas sebagai suatu produk dari hasil pemikiran atau perilaku manusia. Kreativitas dapat pula dilihat sebagai suatu proses dan mungkin inilah yang lebih esensial dan yang perlu dibina pada anak didik sejak dini untuk bersibuk diri secara kreatif (Conny Semiawan, AS. Munandar, SCU Munandar, 1990:8). Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan suatu komposisi, produk atau gagasan yang pada dasarnya baru (Hurlock, 1989 :4). Kreativitas ini dapat berupa kegiatan imaginative atau sintesis pemikiran yang hasilnya bukan hanya rangkuman, tapi mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperolah dari pengalaman sebelumnya, yang dihubungakan dengan situasi baru. Kreativias ini mempunyai maksud dan tujuan yang ditentukan bukan fantasi semata, tetapi merupakan hasil yang sempurna dan lengkap. Kreativitas ini dapat berupa produk, kesusastraan, seni produk ilmiah bahkan bisa bersifat metodologis dan prosedural. Pendapat lain menyatakan bahwa kreativitas adalah merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkanya

27

dalam pemecahan masalah. Kreativitas ini meliputi fleksibilitas atau keluwesan, kelancaran, keaslian atau orisinalitas dalam pemikiran. Kreativitas ini juga memiliki ciri lain yaitu afektif, seperti rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan dan ingin mencari pengalaman baru (Munandar, 1992 :7). Dari pendapat ini menunjukkan bahwa kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, yang berupa gagasan atau berupa suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan baru. Kreativitas sebagai konsep baru dari dua konsep tersebut dapat berupa sesuatu yang abstrak atau benda konkrit yaitu berupa produk atau jasa, cara serta tehnik atau berupa metodologi. Kreativitas dapat ditinjau dari emat aspek (4P), yaitu : a. Kreativitas dari aspek pribadi, muncul dari keunikan pribadi individu dalam interaksi dengan lingkunganya. Setiap anak mempunyai bakat kratif, namun masing-masing dalam bidang dan kadar yang berbeda-beda. Kreativitas sebagai kemampuan berpikir meliputi kelancaran, kelenturan, orisinalitas dan elaborasi. Kelancaran disini berkaitan dengan

kemampuan untuk membangkitkat sejumlah besar ide-ide. Seseorang yang kreatif dapat memiliki banyak ide, dengan hal tersebut akan semakin besar kesempatan untuk menemukan ide-ide yang baik. Kelenturan atau fleksibilitas adalah mampu melihat masalah dari beberapa sudut pandang. Orang yang kreatif memiliki kemampuan untuk membangkitkan banyak ide. Fleksibilitas secara tidak langsung, menunjukkan kemudahan mendapatkan informasi tertentu atau berkurangnya kepastian dan kekakuan. Fleksibilitas merupakan basis keaslian, kemurnian, dan

28

penemuan. Orisinalitas adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide luar biasa, memecahkan problem dengan cara yang luar biasa, atau menggunakan hal-hal atau situasi dalam cara yang luar biasa. Individu yang kreatif membuahkan tanggapan yang luar biasa, membuat asosiasi jarak jauh, dan membuahkan tanggapan yang cerdik serta mempunyai gagasan-gagasan yang jarang diberikan orang lain. Elaborasi adalah dapat merinci dan memperkaya suatu gagasan. Orang yang kreatif dapat mengembangkan gagasan-gagasannya secara luas. Penilaian merupakan kemampuan dalam mengapresiasikan sebuah ide. Orang yang kreatif memiliki cara-cara sendiri dalam menilai sebuah ide dan hal itu berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Kreativitas ditinjau dari aspek. b. Pendorong menunjuk pada perlunya dorongan dari dalam individu (berupa minat, hasrat, dan motivasi) dan dari luar (lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat) agar bakat kreatif dapat diwujudkan. Sehubungan dengan hal ini pendidik diharapkan dapat memberi dukungan, perhatian, serta sarana prasarana yang diperlukan. c. Kreativitas sebagai proses ialah proses bersibuk diri secara kreatif. Pada anak usia prasekolah hendaknya kreativitas sebagai proses yang diutamakan, dan jangan terlalu cepat mengharapkan produk kreatif yang bermakna dan bermanfaat. Jika pendidik terlalu cepat menuntut produk kreatif yang memenuhi standar mutu tertentu, hal ini akan mengurangi kesenangan dan keasyikan anak untuk berkreasi.

29

d. Kreativitas sebagai produk, merupakan suatu ciptaan yang baru dan bermakna bagi individu dan /atau bagi lingkunganya. Pada seorang anak, hasil karyanya sudah dapat disebut kreatif, jika baginya hal itu baru, ia belum pernah membuat itu sebelumnya, dan ia tidak meniru atau mencontoh pekerjaan orang lain. Dan yang penting, produk kreativitas anak perlu dihargai agar ia merasa puas dan tetap bersemangat dalam berkreasi. Kegiatan kreatif ini bertujuan membentangkan alam pikiran dan perasaan anak, menjangkau masa lalu, masa kini, dan masa depan, menantang maka menjajaki bidang-bidang baru, memikirkan hal-hal baru yang belum terpikir sebelumnya, mengantisipasi akibat-akibat dari kejadian-kejadian hipotesis, menggunakan daya imajinasi dan firasatnya dalam memecahkan masalah. (Freeman & Munandar, 1996 : 246). 2. Ciri-ciri Kreativias Ciri kreativitas dapat dibedakan dalam ciri kognitif dan ciri non kognitif. Menurut munandar (1990:51) menyatakan bahwa pemaduan ciri kognitif dan ciri afektif dalam pengembangan kreativitas dimaksudkan agar kreativitas yang dimiliki individu itu dapat terwujud secara nyata. Pengembangan kreativitas individu tidak hanya membutuhkan ketrampilan untuk berpikir kreatif saja, tetapi juga memerlukan pengembangan pembentukan sikap, perasaan dan kepribadian yang mencerminkan

kreativitas. Menurut Munandar (1990:51), ciri kreativitas yang berhubungan dengan afektif dan kognitif antara lain :

30

a. Ciri kreativitas yang berhubungan dengan affektif meliputi : rasa ingin tahu, bersifat imaginativ, merasa tergantung oleh kemajemukan, sikap berani mengambil resiko, sikap menghargai. b. Ciri kreativitas yang berhubungan dengan kognitif meliputi : ketrampilan berpikir lancar, ketrampilan berpikir luwes atau fleksibel, ketrampilan berpikir orisional, ketrampilan merinci atau mengelaborasi serta ketrampilan menilai. Ciri kreativitas digolongkan kedalam dua bagian yaitu anak yang kreativitasnya tinggi dan anak yang kreativitasnya rendah. Anak yang kreativitasnya tinggi cenderung lebih ambisius, mandiri, otonom, cenderung percaya diri, efisien dalam berpikir, tertarik pada hal-hal yang komplek dan perspektif, mampu mengambil resiko. Sedangkan anak yang rendah kreativitasnya kurang memiliki kesadaran diri akan arti hidup sehat dan sejahtera, kurang bisa mengendalikan dirinya dan kurang efisien dalam berpikir. Pada dasarnya seorang anak selalu mencotoh orang tua dan ingin mandiri seperti apa yang diperbuat orang tua. Dengan meniru orang tua, anak akan menunjukkan kreativitasnya, anak yang kreatif biasanya lebih percaya diri, penuh inisiatif, terbuka terhadap pengalaman yang baru, luwes dalam berpikir dan selalu ingin mandiri. Anak yang ingin mandiri pada dasarnya ingin mendapatkan pengakuan dari orang tua bahwa pada diri anak sudah tumbuh menuju kearah kedewasaan. Anak sudah mulai tidak senang diatur dan dikekang apalagi dipaksa. Kebebasan merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam diri anak. Bahwa tujuan anak melakukan sesuatu yang

31

menarik perhatian orang lain karena anak ingin mengetahui bagaimana reaksi orang lain karena anak tersebut ingin memperhatikan kepada orang tua maupun orang yang ada disekelilingnya bahwa kehadiranya perlu diperhatikan dan diakui. Hal itu mencerminkan kreativitas alamiah anak usia dini. Menurut Freeman & Munandar (1996) bahwa ada beberapa ciri perilaku yang mencerminkan kreativitas alamiah anak usia prasekolah menjadi nyata, seperti: a. Senang menjajaki lingkunganya. b. Mengamati dan memegang segala sesuatu, mendekati segala macam tempat atau pojok, seakan-akan haus akan pengalaman. c. Rasa ingin tahu mereka besar, karena itu mereka suka mengajukan pertanyaan, dan seakan-akan tidak pernah puas dengan jawaban yang diberikan. d. Anak usia prasekolah bersifat spontan dan cenderung menyatakan pikiran dan perasaannya sebagai mana adanya, tanpa merasakan hambatan, seperti tampak pada orang dewasa. e. Anak usia prasekolah selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru; ia senang “berpetualang”, dan terbuka terhadap rangsanganrangsangan baru yang mana sering mencemaskan orang tuanya. f. Mereka senang melakukan “eksperimen” hal ini tampak dari perilakunya senang mencoba-coba dan melakukan hal-hal yang sering membuat orang tuanya atau gurunya keheran-heranan dan tidak jarang pula merasa tidak berdaya menghadapi tingkah laku anaknya.

32

g. Anak usia prasekolah jarang merasa bosan, ia senang melakukan macammacam hal, dan ada-ada saja yang ingin dilakukan. h. Biasanya anak usia prasekolah mempunyai daya imajinasi tinggi, yang nyata jika orang dewasa menyempatkan untuk mendengar ungkapanungkapan dan mengamati perilakunya. Ada pula cirri-ciri kreativitas yang lain yaitu memiliki rasa ingin tahu yang mendalam, sering mengajukan pertanyaan yang berbobot (tidak asal tanya), memberikan banyak gagasan (usul-usul terhadap suatu masalah), mampu menyatakan pendapat secara spontan, mempunyai/ menghargai rasa keindahan, menonjol dalam satu atau lebih bidang studi, dapat mencari pemecahan masalah dari berbagai segi, mempunyai rasa humor, mempunyai daya imajinasi (memikirkan hal-hal baru dan tidak biasa), mampu mengajukan pikiran, gagasan pemecahan masalah yang berbeda dari orang lain (orisinil), kelancaran dalam menghasilkan bermacam-macan gagasan, serta mampu menghadapi masalah dari berbagai sudut pandangan. (Hawadi, Wihardjo & Wiyono, 2001:14). Dari beberapa pandangan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dapat menghasilkan keadaan yang baru, yang berupa gagasan-gagasan atau pemikiran-pemikiran yang masih abstrak serta dapat pula benda-benda yang konkrit. Hal ini dilakukan oleh anak agar mendapat pengakuan tentang keberadaan dirinya dan dianggap sejajar dengan orang dewasa, sehingga anak akan selalu menampilkan kreativitas yang sangat membantu perkembangan jiwanya. Dari kreativitas tersebut anak mampu berpandangan jauh kedepan dan mempunyai motivasi

33

yang tinggi untuk hidup mandiri tanpa selalu menggantungkan diri pada orang lain. 3. Perkembangan Kreativitas Hidup dalam suatu masa di mana ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat, suatu adaptasi kreatif merupakan satu-satunya kemungkinan bagi suatu bangsa yang sedang berkembang, untuk dapat mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi, untuk dapat menghadapi problemaproblema yang semakin kompleks. Oleh karena itu, pengembangan kreativitas sejak usia dini menjadi sangat penting untuk terus dipupuk dalam diri anak didik, mengapa demikian ? Pertama, karena dengan berkreasi orang dapat mewujudkan

(mengaktualisasikan) dirinya, dan aktualisasi merupakan kebutuhan pokok dalam hidup manusia (Maslow, 1967). Kreativitas merupakan manifestasi dari individu yang berfungsi sepenuhnya. Kedua, kreativitas atau berpikir kreatif sebagai kemampuan untuk

melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah. Ketiga, bersibuk diri secara kreatif tidak hanya bermanfaat (bagi diri pribadi dan bagi lingkungan) tetapi juga memberikan kepuasan kepada individu. Keempat, kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru. (Munandar, 1999:31)

34

Perkembangan kreativitas antara anak yang satu dan yang lain berbedabeda baik jenis maupun derajadnya. Karena perkembangan kreativitas muncul dalam setiap tahapan perkembangan manusia dari bayi sampai tahap perkembangan lanjut usia. Karena munculnya kreativitas sejak bayi maka kreativitas ini perlu dirangsang dan dikembangkan sejak awal mungkin. Pengembangan kreativitas ini harus sesuai dengan tahapan individu. Oleh karena itu rangsanganya perlu disesuaikan dan jangan dipaksakan. Karena pemaksanan kreativitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan justru akan membebani individu, sehingga individu tersebut tidak bekembang normal. Kreativitas akan tampak pada awal kehidupan dan pertama-tama terlihat dalam permainan anak, lalu secara bertahap menyebar keberbagai kehidupan lainya, seperti sekolah atau pendidikan, rekreasi dan pekerjaan. Kreativitas mencapai puncaknya pada masa usia tiga puluhan sampai empat puluhan. Pada diri anak sering terjadi kegelisahan dan gejolak, karena pada masa ini anak akan mulai menemukan identitasnya. Pada saat yang demikian, anak membutuhkan kreativitas untuk menemukan identitasnya. Dalam mencapai identitas tersebut, anak dituntut untuk berkarya melalui daya cipta kreativitasnya. Dari kegiatan tersebut diperoleh jati diri serta hal yang cocok maupun yang bertanggung jawab bagi anak. Secara tidak langsung anak akan belajar mengendalikan diri dari kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat. Oleh karena itu perlu terus dikembangkan kreativitas pada diri anak, perlu dipelihara rasa ingin tahu dan disalurkan melalui kesempatan mendapatkan pengalaman berharga dan melalui model atau tiruan yang ada dilingkungan

35

anak sehingga akan memunculkan pengalaman-pengalaman baru pada diri anak. Tugas perkembangan anak yang mendukung kreativitas adalah bahwa anak harus mampu mengembangkan ketrampilan-ketrampilan baru, anak diharapkan jika berlatih dan mengembangkan ketrampilan baru sesuai dengan tuntutan hidup. Sebaliknya anak yang tidak mampu mengembangkan kreativitas atau ketrampilan akan menunjukkan cenderung sikap mudah putus asa, merasa tidak aman sehingga menarik diri dari kegiatan dan takut memperlihatkan usaha-usahanya. Seorang anak yang mampu memperhatikan kreativitasnya akan mencapai masa produktif dan mempunyai peluang yang baik untuk mengembangkan diri lebih jauh yang disertai keterlibatan yang terus menerus dalam kegiatan kreatif disegala bidang . Dari pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kreativitas mempunyai peran yang penting dalam menentukan perkembangan manusia. Karena anak yang dapat menyalurkan kreativitasnya akan mempunyai makna pada tahap perkembanganya. 4. Faktor yang Mempengaruhi Munculnya Kreativitas Faktor yang mempengaruhi munculnya kreativitas pada anak adalah jenis kelamin, urutan kelahiran, intelegensi dan tingkat pendidikan orang tua (Hurlock, 1991:8). a. Jenis kelamin Jenis kelamin akan berpengaruh terhadap kreativitas. Anak laki-laki cenderung lebih besar kreativitasnya dari pada anak perempuan, terutama setelah masa kanak-kanak. Hal ini disebabkan adanya perbedaan

36

perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki dituntut untuk lebih mandiri, sehingga anak laki-laki biasanya lebih berani mengambil resiko dibandingkan anak perempuan. b. Urutan kelahiran Anak sulung, anak tengah dan anak bungsu akan berbeda tingkat kreativitasnya. Anak yang lahir ditengah, belakang dan anak tunggal cenderung lebih kreatif dari pada anak anak yang lahir pertama. Hal ini terjadi karena biasanya anak sulung lebih ditekan untuk lebih menyesuaikan diri oleh orang tua sehingga anak lebih penurut dan kreativitasnya mati.

c. Intelegensi Anak yang intelegensinya tinggi pada setiap tahapan perkembangan cenderung menunjukkan tingkah kreativitas yang tinggi dibandingkan anak yang intelegensinya rendah. Anak yang pandai lebih banyak mempunyai gagasan baru untuk menyelesaikan konflik sosial dan mampu merumuskan penyelesaian konflik tersebut. d. Tingkat pendidikan orang tua Anak yang orang tuanya berpendidikan tinggi cenderung lebih kreatif dibandingkan pendidikanya rendah. Hal ini disebabkan karena banyaknya prasarana serta tingginya dorongan dari orang tua sehingga memupuk anak untuk menampilkan daya inisiatif dan kreativitasnya.

37

Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa kreativitas tumbuh dan berkembang karena faktor internal dan faktor eksternal. 5. Desain Pembelajaran Kreatif Dalam pembelajaran kretaif, terdapat teknik-teknik tertentu yang penggunaanya harus disesuaikan dengan fungsi dan tahap pembelajaran. Metode dan teknik kreatif berikut mengacu kepada model pembelajaran kreatif dari Treffinger (1980) yang telah disusun oleh Conny R. Semiawan (1997). Model pembelajaran kreatif oleh Treffinger dikelompokkan menjadi tiga tingkat. Tingkat pertama, adalah pengembangan fungsi pemikiran divergen; tingkat kedua, adalah pengembangan proses pemikiran dan perasaan yang majemuk; Tingkat ketiga, adalah keterlibatan dalam tantangan nyata. Uraian dari masing tingkatan-tingkatan tesebut disajikan sebagai berikut : a. Teknik-teknik kreatif tingkat pertama Teknik pembelajaran kreatif tingkat pertama yang menekankan pada fungsi-fungsi divergen ini antara lain menggunakan teknik pemanasaan, pemikiran dan perasaan terbuka, sumbang saran dan penangguhan kritik, daftar penulisan gagasan, penyusunan sifat, dan hubungan yang dipaksakan. Metode pembelajaran kreatif tingkat pertama ini mempunyai beberapa ciri umum sebagai berikut: 1) Pengahiran terbuka (oopen endedess).kegiatan-kegiatan pada tingkat ini menghendaki ditemukanya sejumlah kemungkinan jawaban. Bukan dikemukakanya sebuah jawaban yang benar.

38

2) Penerimaan banyak gagasan dan jawaban yang berbeda. Konsekuensi dari bervariasinya jawaban yang diinginkan adalah ditemukanya jawaban-jawaban yang bervariasi, yang kadang-kadang ada yang tidak lazim, aneh, atau luar biasa. Terhadap yang demikian itu kita harus membina dan menghargai, sebagimana kita menghargai gagsan yang wajar. 3) Gagasan-gagasan tingkat satu meminta kita untuk menerima pandangan yang baru dan melihat melebihi pemikiran biasa atau pikiran yang terikat dengan kebiasaan kita. 4) Guru mencoba bertindak sebagai kamera yang menangkap sebanyak mungkin dalam setiap situasi. Beberapa teknik kreatif tingkat pertama seperti disebutkan diatas diuraikan sebagai berikut: 1) Pemanasan Teknik pemanasan ini pada intinya merupakan kegiatan prabelajar yang digunakan pada tahap awal pelajaran. Tahap pemanasan ini mengupayakan adanya kondisi pelepasan pikiran pebelajar dengan cara pembebasan diri dari peraturan-peraturan dan hukum-hukum berpikir yang berlaku. Pembelajar dikondisikan untuk terbebas dari kebiasan menjawab dengan tepat, dari batasan-batasan waktu, serta diarahkan untuk lebih banyak menghasilkan ide. Dengan kegiatan pemanasan tersebut diharapkan pembelajar sudah masuk pada suasana pemikiran yang siap untuk menelaah hal

39

dan masalah baru yang kan dipelajari pada tahapan pembelajaran berikutnya. 2) Pemikiran dan perasaan berahir terbuka Teknik pemikiran dan perasaan berahir ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar terdorong memunculkan perilaku divergen. Perilaku ini dapat dirangsang dengan cara mengajukan pertayaan yang memungkinkan pembelajar mengungkapkan segala peraaan dan pikiran sebagai jawaban. Adapun kegiatan pemikiran dan perasaan pengahiran terbuka (oopen-ended thoughtand feeling) dapat dicontohkan sebagai berikut : a) Andaikata Pertanyaan ini dapat diungkapkan melalui pertanyaan tentang situasi yang tidak benar atau sesuatu yang bertentangan dengan fakta. Contoh: andaikata reformasi tidak terjadi ditahun-tahun ini, apa yang bakal terjadi ditahun 2004 nanti? b) Peningkatan suatu produk. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui pengungkapn

pemikiran pengembangan atau peningkatan terhadap suatu kondisi yang telah ada. Contoh: bagaimana cara memperbaiki cara belajar yang biasa dilakukan sekarang. c) Permulaan yang tidak selesai. Pertanyaan ini dapat dikemukakan dengan menyajikan suatu kondisi yang belum selesai atau belum sempurna, untuk dipikirkan kemungkinan penyelesaian atau penyempurnaanya. Contoh:

40

penyelesaian sebuah kasus, cerita, desain, rancangan dan sebagainya. d) Pengguna baru dari objek-objek umum. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu benda atau hal untuk dipikirkan fungsi lainya dilain fungsi yang lazim. Contoh: tali sepatu, kancing baju, kumis, dan lain sebagainya. e) Alternatif judul. Pertanyaan ini dapat dikemukakan melalui penyajian suatu stimulasi untuk dipikirkan judulnya yang tepat. Contoh: kepada pembelajar ditunjukkan naskah sebuah cerita, dan bisa lukisan atau gambar-gambar tentang sesuatu. f) Membantu siswa atau anak untuk mengajukan pertanyaan. Kegiatan ini dilakukan mengingat pada biasanya siswa

beranggapan bahwa gurulah yang banyak mengajukan pertanyaan dalam konteks pembelajaran. Di sini siswa diberikan kesempatan banyak untuk memikirkan banyak pertanyaan. Melalui strategi

pemikiran dan perasan terbuka ini diharapkan pembelajar akan terangsang untuk meningkatkan rasa ingin tahunya, dan

menguatkan minat untuk terlibat dalam aktivitas pembelajaran. 3) Sumbang Saran Tekik sumbang saran (brainstorming) yang dikemukakakan oleh Osborn ini mengkondisikan agar pembelajar lebih bersikap terbuka, lebih terbuka terhadap lingkungan, dan produktif dalam melahirkan gagasan-gagasan.

41

Agar teknik sumbang saran ni dapat membuahkan hasil yang lebih baik, dalam pelaksanaanya perlu memperhatikan aturan-aturan sebagai berikut: a) Kritik harus tepat waktu Dalam kegiatan pemecahan masalah dengan tehnik sumbang saran ada dua tahapan yang penting diperhatikan, yaitu tahap pengungkapan gagasan, dan tahap penilaian dan kritik. Urutan tahapan ini harus dilaksana akan secara disiplin, karena sering kali terjadi, begitu seseorang/siswa tertentu melontarkan gagasanya, secepat itu muncul kritik dari pihak lain. Ini tidak dibenarkan, karena kritik secara dini akan berakibat mematikan ide, atau akan menghambat spontanitas pelahiran gagasan-gagasan baru. Karena itu, kritik seharusnya dilakukan setelah acara keseluruhan pembelajar telah menyampaikan ide atau gagasan-gagasanya. b) Kebebasan dalam memberikan gagasan Sangat penting untuk diketahui bahwa dalam teknik sumbang saran ini keutamaanya terletak pada kuantitas ide, terlepas dari kualitasnya. Karena itu, pembelajar perlu diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya untuk mencetuskan ide-gagasanya secara murni dan berani. Tentu akan terlahir gagasan dan ide yang beraneka ragam, yang sifatnya ada yang wajar, ada yang tidak atau kurang wajar atau bahkan tidak masuk akal sama sekali. Hal seperti itu tidak dipersoalkan, sebab dalam proses akan terjadi rangsang-merangsang, artinya, dari ide yang aneh tadi akan

42

tertelaah oleh pihak lain yang dalam tingkat atau saat tertentu akan mengakibatkan ide atau gagasan baru sebagai tindak lanjutnya. c) Penekanan pada kuantitas Hal terpenting dalam teknik ini adalah banyaknya ide-gagasan.

d)

Kombinasi dan peningkatan gagasan Berawal dari banyaknya gagasan sebagai orientasi dalam teknik ini, ada peluang kemungkinan untuk mengkombinasi gagasangagasan yang telah ada yang diperkirakan akan lahir gagasan yang lebih bermutu.

e)

Penekanan pada kualitas Diantara banyaknya gagasan, diharapkan akan adanya gagasan yang lebih berkualitas.

f) Tidak perlu mempersoalkan adanya gagasan yang sama. Hal tersebut tidak dipersoalkan, mengingat bahwa adanya gagasan itu akan lahir gagasan yang baru. 4) Daftar penulisan gagasan Teknik daftar penulisan gagasan ini mengkondisikan agar pembelajar menyalurkan kemampuanya untuk melihat hubunganhubungan baru, memanipulasi informasi dan gagasan agar

menghasilkan gagasan-gagasan baru yang orisinil. Dasar pemikiran teknik ini ialah bahwa melalui kombinasi dari unsur yang sebelumnya tidak ada hubungan, gagasan-gagasan yang kreatif itu lahir. Karena

43

itu, dalam teknik disiapkan daftar kata kerja dan masalahnya, kemudian pembelajar diminta untuk menuliskan gagasan-gagasan yang muncul sebagai hasil penghubungan dari kata kerja tersebut dengan masalahnya. Untuk ini, Conny R.

Semiawan menyusun kata kerja menurut Osborn sebagai berikut: a) Mengganti (substitute): siapa dan apa yang dapat diganti (unsurunsur, bahan, atau proses). b) Mengkombinasi(combine): mengkombinasikan tujuan-tujuan, ideide dan sebagainya. c) Mengubah (modify): Mengubah arti, warna, corak baru, suara, dan sebagainya. d) Memperbesar (magnify): menambahkan apa saja seperti: waktu, bentuk, kekeuatan, bahan, dan sebagainya. e) Memperkecil (minify): apa saja yang dapat dikurangi seperti : penden, lebih kecil, ringan, dan sebagainya. f) Menyusun kembali (rearrange): komponen yang saling dapat menggantikan seperti: pola, tata letak, urutan, dan sebagainya. Pada dasarnya, kata kerja tersebut dapat disusun sendiri dengan menyesuaikan dengan konteks atau masalah yang relevan. 5) Penyusunan sifat Seperti halnya teknik yang lain, teknik penyusunan sifat ini memiliki ciri guna tersendiri, yaitu untuk merangsang munculnya

44

banyak gagasan dalam memecahkan atau menganalisis satu objek. Langkah-langkah penting dalam teknik ini adalah pertama,

mengidentifikasi sifat atau ciri suatu objek atau masalah; kedua, meninjau satu persatu dari setiap ciri atau sifat untuk dipertimbangkan kemungkinan perubahan yang bisa terjadi; ketiga, menampung adanya berbagai gagasan dengan melakukan pencatatan; keempat, melakukan penilaian terhadap setiap gagasan dengan catatan bahwa penilaian ini baru boleh dilakukan apabila pencacatan terhadap semua gagasan telah selesai. Terdapat beberapa bidang atau masalah yang dapat didekati dengan teknik penyusunan sifat ini antara lain: a) Perbandingan, misalnya: membandingkan cara belajar siswa perkotaan dan siswa pedesaan. b) Analisis peristiwa atau pola-pola sejarah, misalnya: dampak reformasi terhadap mutu pendidikan. c) Menyadari nilai dan memperjelas perasaan, misalnya:

mempelajari ciri-ciri orang jujur, bahagia, penjahat, pengecut dan sebagainya. d) Menentukan kriteria penilaian, misalnya: ciri-ciri karya ilmiah, karangan, novel, dan sebagainya 6) Hubungan yang dipaksakan Teknik hubungan yang dipaksakan (forcedrelationships) kini merupakan teknik kreatif yang mencakup beberapa cara untuk melihat

45

kemungkinan dan kombinasi baru dari objek atau gagasan, yang tidak pernah kelihatan ada jika tidak dicoba untuk dipaksakan. Ada babarapa cara yang dapat digunakan, antara lain adalah teknik mendaftar dan teknik katalog. b. Teknik-teknik kreatif tingkat kedua Dalam teknik-teknik kreatif tingkat kedua ini pada intinya ingin mengupayakan agar pembelajar lebih meluaskan pemikiranya serta melakukan peran serta dalam kegiatan-kegiatan yang lebih majemuk dan menantang. Dalam teknik ini akan lebih terasa betapa penting pola berpikir divergen untuk memecahkan masalah secara efektif. Secara seingkat berikut ini akan menguraikan beberapa teknik kreatif tingkat kedua, antara lain: Teknik analisis morfologis, bermain peran dan sosiodrama, serta synectics. 1) Teknis analis morfologis Teknik analis morfologis ini merupakan gabungan teknik-teknik kreatif tingkat pertama yang telah dikemukakan, yaitu teknik sumbang saran, teknik hubungan yang dipaksakan, dan teknik penyusunan sifat. Teknik ini bertujuan agar pembelajar mampu mengidentifikasi ide-ide baru, dengan cara mengkaji secara cermat bentuk dan struktur masalah. Dengan mencermati struktur dari bagian-bagian utama dari masalah, pembelajar dapat mengembangkan berbegai alternatif atau gagasan-gagasan dari kombinasi unsur-unsur yang baru. 2) Teknik bermain peran dan sosiodrama

46

Bermain peran dan sosiodrama merupakan teknik pembelajaran untuk menghadapi proses pemikiran dan perasaan yang majemuk secara efektif. Teknik ini mengupayakan agar pembelajar dapat menangani konflik, stres, dan masalah yang timbul dari pengalaman dalam kehidupanya. 3) Synectics Oleh penemuan synectics ini W.j.j. Gordon (1980), teknik synectics merupakan teknik mempertemukan bersama berbagai macam unsur dengan menggunakan kiasan (metafor) untuk

memperoleh suatu pandangan yang baru. Ada dua prinsip dasar dalam teknik ini adalah, pertama, membuat yang asing menjadi yang lazim; dan kedua,membuat yang lazim menjadi yang asing, keduanya melalui kiasan dan analogi. Analogi disini dimaksudkan sebagai suatu pernyataan yang mengungkapkan kesamaan antara hal-hal atau gagasan-gagasan atas dasar pembandingan. c. Teknik kreatif tingkat ketiga Dalam tingkat ketiga ini teknik kreatif mengupayakan keterlibatan pembelajar dalam masalah dan tantangan nyata. Ini bermaksud agar kegiatan pembelajaran akan lebih bermakna bagi para pembelajar untuk menghadapi masalah nyata dalam kehidupanya. Pada tahap ini pembelajar telibat langsung dalam pengajuan pertanyaan secara mandiri dan diarahkan sendiri. Adapun teknik yang digunakan dalam tingkat ketiga ini adalah teknik pemecahan masalah (PMK) secara kreatif.

47

PMK ini merupakan teknik yang sistematik dalam mengorganisasi dan mengolah keterangan dan gagasan, sehingga masalah dapat dipahami dan dipecahkan secara imajinatif. Pemikiran yang logis, analitik dan divergen akan terlibat keras dalam teknik ini. Merancang suatu desain pembelajaran yang sifatnya amat khusus bagi anak kreatif adalah tugas yang paling kompleks dan yang paling sering diriset oleh para pakar, dan masih jauh dari pada sempurna. Namun begitu ada beberapa petunjuk yang dapat kita peroleh dalam merancang kegiatan ini. Dengan beranjak dari pengertian bahwa anak kreatif terus menerus memerlukan stimulasi mental untuk mencapai perkembangan unik yang optimal, maka Renzulli ( Clark, 1986) memaparkan tujuh langkah kunci dalam merancang suatu desain pembelajaran, yaitu mencakup : 1) Seleksi dan latihan guru; 2) Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dalam berbagai bidang untuk memenuhi kebutuhan belajar dalam segi akademis dan seni; 3) Prosedur identifikasi jamak; 4) Pematokan sasaran program yang sifatnya terdiferensiasi; 5) Orientasi staf dan peningkatan sikap kerja sama; 6) Rencana evaluasi 7) Peningkatan administrative. Suatu panitia khusus dalam setiap sekolah perlu diadakan, terdiri dari kepala sekolah, guru, orang tua, konselor dan pegawai administrasi

48

yang bertanggung jawab atas kegiatan sehari-hari perlu dibentuk dalam merancang program ini. Program seperti itu harus memenuhi beberapa kriteria kunci (Clark, 1986), yaitu program itu harus: 1) Memberi kesempatan dan pengalaman yang sifatnya khusus sehingga mereka terus-menerus dapat mengembangkan potensinya; 2) Mengembangkan lingkungan bermutu untuk meningkatkan

intelegensi, bakat, perkembangan afektif dan intuitif; 3) Memberi peluang untuk pertisipasi aktif dan kooperatif antar siswa maupun dengan orang tua; 4) Menyiapkan tempat, waktu, dan stimulasi bagi siswa berbakat untuk menentukan sendiri kemampuanya; 5) Memberi peluang pada siswa berbakat untuk bertemu berbagai individu berbakat untuk merasa tertantang mengembangkan dirinya; 6) Memberi stimulasi pada siswa berbakat untuk menentukan bidang yang akan digelutinya dalam evolusi manusia dan menemukan apa yang dapat mereka kontribusikan. 6. Proses Belajar Mengajar Kreatif Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengkondisikan suasana yang mendukung tumbuh dan berkembangnya kreativitas anak dalam kegiatan belajar, mengacu kepada pendapat Feldhusen dan Treffinger (1980) seperti diurai oleh Utami Munandar (1992) adalah sebagai berikut : a. Pengaturan fisik/lingkungan kelas

49

1) Pengturan fisik dalam kelas harus diperhatikan, seperti, pengaturan tempat duduk untuk berdiskusi secara melingkar, atau sebagian siswa dapat duduk dilantai dalam diskusi kelompok. 2) Menjadikan ruangan kelas menjadi ruang sumber yang mengundang para siswa untuk membaca, menjajaki dan meneliti, misalnya dipasang gambar-gambar, alat-alat laboratorium, alat paraga mata pelajaran yang sesuai dan sebagainya. 3) Ruang kelas perlu dilengkapi dengan perpustakaan mini yang lengkap. Akan lebih baik apabila dilengkapi dengan bahan peralatan yang memungkinkan siswa dapat melakukan kegiatan konstruktif. 4) Ruang kelas perlu dilengkapi dengan ruang kerja mandiri bagi siswa yang membutuhkan 5) Perlu diciptakan ruang kelas yang santai, tenang dan menyenangkan. b. Persiapan dan perilaku guru dalam layanan pembelajaran. 1) Di dalam pembelajaran, guru lebih bertugas sebagai fasilitator. Sebagai fasilitator, guru mempunyai tugas untuk mendorong siswa untuk mengembangkan ide/inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. 2) Guru memberikan rangsangan dan dukungan dalam konteks yang tepat dan tidak cepat memberikan kritik. 3) Gagasan-gagasan baru dari semua siswa harus diterima secara terbuka serta berupaya untuk memahami. 4) Semua siswa harus disikapi dan diberi perilaku secara adil, seperti tidak memuji siswa tertentu atau menolak siswa yang lain.

50

5) Menciptakan pelayanan pembelajaran yang menjadikan siswa merasa bebas mengemukakan pikiran atau pendapat serta gagasan-gagasan yang berbeda dengan yang lain yang aneh atau yang tidak lazim. 6) Guru bersedia memberikan dukungan, dorongan dan waktu yang cukup bagi setiap atau seluruh siswa untuk memberikan sesuatu masalah atau melakukan belajar secara mandiri. 7) Guru perlu memupuk kemampuan diri sendiri, mengkritik secara konstruktif dan memberikan penilaian terhadap diri sendiri secara objektif. 8) Guru berusaha tidak memberikan hukuman atau celaan terhadap gagasan atau ide baru yang dirasa aneh bagi siswa. 9) Guru perlu memahami dan menerima perbedaan kecepatan antar siswa dalam melahirkan ide-ide baru. Dalam kaitan ini Conny R. Semiawan (1997) mengemukakan saran untuk menciptakan iklim dan suasana yang mendorong dan menunjang pemikiran kreatif sebagai berikut : 1) Bersikaplah terbuka terhadap minat dan gagasan anak atau siswa. 2) Berilah waktu kepada siswa untuk memikirkan dan mengembangkan ide atau gagasan kreatif. Kreativitas tidak timbul secara langsung dan spontan. 3) Ciptakan lah suasana saling menghargai dan saling menerima antar anak atau siswa, antar anak dan orang tua, dan antara siswa dengan

51

guru atau pengasuh, sehingga antara mereka dapat belajar, bekerja secara bersama maupun mandiri dengan baik. 4) Kreativitas dapat diterapkan disemua bidang kurikulum dan bukan monopoli seni. 5) Doronglah kegiatan berpikir divergen dan jadilah nara sumber dan pengarah. 6) Suasana yang hangat dan mendukung memberi keamanan dan kebebasan untuk berpikir menyelidiki (eksploratif). 7) Berilah kesempatan kepada anak untuk berperan serta dan mengambil keputusan. 8) Usahakanlah agar semua anak terlibat dan dukunglah gagasan atau cara pemecahan masalah dari anak maupun rencana anak. Mendukung bukan berarti menyetujui, melainkan menerima, menghargai dan jika belum tepat mengusahakan mencari ketepatan secara bersama. 9) Bersikaplah positif terhadap kegagalan, dan bantulah anak/siswa untuk meyadari kesalahan atau kelemahan serta usahakan peningkatan gagaasan dan usahakan memeuhi syarat, dalam suasana yang menunjang atau mendukung. Uraian diatas merupakan syarat minimal yang harus diupayakan guru khususnya dalam kaitanya dengan terciptanya suasana pembelajaran yang kondusif bagi tumbuhnya kreativitas anak. Secara konseptual butirbutir upaya tersebut harus dipahami, untuk selanjutnya diterapkan secara nyata dalam praktek pembelajaran secara inovatif, kreatif, dan kontinu.

52

Dalam proses belajar mengajar kreatif digunakan baik proses berpikir divergen (proses berpikir yang menghasilkan banyak ide-ide pemecahan masalah) maupun proses berpiir konvergen (proses berpikir mencari jawaban tunggal yang paling tepat). Pendidikan formal sampai saat ini terutama melatih berpikir konvergen, sehingga kebanyakan anak terhambat dan tidak mampu menghadapi masalah-masalah yang menuntut imajinasi, pemikiran, dan pemecahan masalah secara kreatif. Batapapun pentingnya belajar awal pada usia prasekolah, belajar kreatif juga tak kurang maknanya. Bermain kreatif mempunyai beberapa fungsi yang berguna dalam hidup anak. Karena bermain merupakan : 1) Sumber kegembiraan dan belajar 2) Cara untuk mengembangkan persahabatan dan perasaan untuk anak lain. 3) Cara untuk belajar mengendalikan dan menyalurkan perasaan seseorang. Guru dan orang tua memerlukan pemahaman dan dukungan untuk memasukkan bermain dalam kurikulum. Mereka perlu memberi kesempatan kepada anak untuk bermain dan belajar dari observasi dan tindakan, dan tidak hanya dari petunjuk atau contoh bagaimana melakukan berbagai hal. Bermain sebagai aktivitas dinamis dan konstruktif perlu dan merupakan bagian terpadu dari masa kanak-kanak sampai masa remaja.

53

Dalam merencanakan dan melaksanakan program kegiatan kreatif, pendidik atau pembina perlu memperhatikan hal-hal berikut : 1) Menerima anak pada tingkat perkembangan saat ini, dengan memahami kemampuan dan keterbatasan anak. Guru berupaya memberikan kegiatan-kegiatan yang menantang, sehingga anak senang dan penuh semangat mengerjakanya, tetapi jangan sampai tugas itu terlalu sulit bagi anak mengingat tingkat perkembanganya. Keberhasilan dalam melaksanakan kegiatan membuat anak percaya diri dan kompeten. 2) Upayakan lingkungan yang nyaman untuk tingkat usia anak. Anak perlu merasa bebas dalam bersibuk diri secara kreatif, tanpa perlu takut bahwa ia akan mengotori lantai, baju dan sebagainya. 3) Rencanakan kegiatan dan sediakan bahan-bahan kreatif sesuai dengan tingkat umur dan kemampuan anak. 4) Jika anak membuat kesalahan, atau mengalami kegagalan, janganlah menunjukkan kekecewaan tetapi doronglah anak untuk mencoba lagi, sehingga ia memperoleh pengalaman keberhasilan. 5) Berilah pujian yang sungguh-sungguh untuk pekerjaan yang dilaksanakan dengan baik. Hal ini mendorong anak untuk berusaha sebaik-baiknya. 6) Kegiatan kreatif yang direncanakan dengan baik membantu anak mengembangkan perasaan positif mengenai diri sendiri dan

kemapuan-kemampuannya. Dengan bekerja bersama-sama anak-anak lain anak belajar keterampilan sosial, seperti penyesuaian diri,

54

komunikasi, toleransi dan kerjasama. (Freeman & Munandar, 1997:252). Pada proses belajar mengajar kreatif guru diharapkan dapat mengembangkan kurikulum. Dalam mengembangkan kurikulum untuk anak berbakat guru dapat merasa terikat pada tuntutan kurikulum dan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP). Hal ini bukan merupakan rintangan. Dengan memadukan komponen yang dituntut dengan pendekatan yang baru, dapat timbul perpaduan yang memberikan kesempatan pendidikan yang lebih baik bagi siswa. Orang tua dan guru diharapkan tidak hanya menyadari pentingnya bermain untuk pertumbuhan dan belajar anak, tetapi juga perlunya mereka berpartisipasi atau melibatkan diri dalam permainan anak. Bermain merupakan cara yang bermakna untuk menemukan, mengkomunikasikan, dan mengekspresikan kreativitas anak. Oleh karena itu, perlu disediakan peralatan dan bahan permainan yang memudahkan penemuan minatminat baru dan penyampaian gagasan, perasaan serta ekspresi daya kreasi anak. 7. Penilaian Kreativitas Ada lima pendekatan dalam menilai kreativitas yaitu (1) analisis objek terhadap produk kreatif; (2) pertimbangan subjektif ; (3) inventori kepribadian; dan (4) inventori biografis; serta (5) tes kreativitas. (Dedi Supritadi, 1997 : 24). Pertimbangan subyektif dengan cara mengamati orang atau produk lewat lembar observasi atau pengamatan dan hasilnya digunakan sebagai

55

pertimbangan pengamat yang kompeten, guru, orang tua dan teman sebaya untuk menilai kreativitas seseorang atau kelompok orang (Dedi Supriyadi, 1997:27). Kelebihan metode ini ialah penggunaan praktis, dapat diterapkan pada berbagai bidang kegiatan kreatif, dapat menjaring orang atau produk yang sesuai dengan kriteria kreativitas yang ditentukan oleh pengukur; dan sesuai dengan prinsip bahwa pada ahirnya kreativitas sesuatu atau seseorang ditentukan oleh apresiasi pengamat. Kelemahanya, setiap penimbang mempunyai persepsi yang berbeda-beda terhadap apa yang disebut kreatif itu, dan pertimbangan yang diberikan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar konteks kreativitas yang dinilai. Inventori kepribadian, merupakan suatu metode penelitian dengan cara mengisi angket dengan butir pertanyaan yang jawabanya berbentuk Forced Choice (ya/tidak) atau skala likert (sangat setuju, setuju, ragu, tidak setuju, sangan tidak setuju). Inventori biografis, merupakan suatu metode penelitian kreativitas dengan cara menginventaris biografi kehidupan seseorang, antara lain meliputi : identitas, latar belakang keluarga, riwayat pendidikan, riwayat pekerjaaan, riwayat hidup, karakteristik fisik dan lain-laian. Tes kreativitas merupakan metode penelitian kreativitas dengan menekankan pada kemampuan berpikir kreatif. Tes kreativitas dibedakan dalam dua hal, yakni tes verbal dan figural ( Torance dalam Dedi Supriyadi, 1997 :30). Tes verbal lebih menekankan pada aspek keunikan (Orisinalitas), keluwesan yaitu sejauh manakah yang satu dengan yang lain berbeda-beda

56

dan tidak monoton. Kelancaran yaitu berapa banyak jumlah jawaban. Penguraian yaitu seberapa rinci jawaban yang diberikan. Dalam penelitian ini akan digunakan alat ukur tes verbal yang dimodifikasikan dengan pertimbangan subyektif. Alat ini berupa instumen aspek pengamatan yang dilengkapi dengan indikator-indikator spesifik, sehingga pengamat secara individual tinggal memberikan tanda ( Check Point) pada kolom yang tersedia. Penilaian kreativitas merupakan hal yang sangat kompleks. Beberapap pendapat menegaskan tentang penilaian kreativitas. Antara lain Anastasi menyatakan, kreativitas merupakan lebih dari semata berpikir divergen,

karena kemajuan kreatif yang murni merupakan fase evaluasi kritis yang muncul setelah produksi divergen yang tak terhalang(uninhibited). Sejalan dengan pendapat ini, rancangan urun pikir (brainstorming approach), sebagai mana dikemukakan oleh Alex Osbron dan Sidney Parnes (khatena, 1992), yang harus diikuti dengan penilaian terhadap berbagai ide dan juga yang ditindak lanjuti dengan evaluasi yang didasarkan pada perangkat kriteria tentang nilai dan kegunaanya, merupakan langkah-langkah dalam proses ber-pikir kreatif yang penilaianya tidak terlalu sulit untuk dilaksanakan. Rogers (Kitano & Kirby, 1986), menjelaskan proses kreativitas yang menekankan produktivitas kreativitas adalah munculnya hasil ide yang diperoleh melelui interaksi antara keunikan individu dengan berbagai pengalamanya. ( Semiawan, 1997 : 104).

57

Kondisi yang diperlukan untuk itu, antara lain sebagai berikut. a. Keterbukaan terhadap pengalaman; toleransi untuk makna ganda sesuatu; dan fleksibilitas terhadap keterbatasan konseptual. b. Lokus internal evaluasi; artinya dapat memperoleh kepuasan atas evaluasinya sendiri tanpa terlalu tergantung dengan pikiran orang lain. c. Kemampuan untuk bergulir dengan macam-macam ide dan konsep ( Khatena, 1994). Penilaian berikutnya merupakan salah satu alat yang sering digunakan dalam model pengayaan sekolah, yaitu suatu protokol interview bila terjadi nominasi diri. Protokol interview nominasi diri itu mencakup pertanyaan sebagai berikut (Richert, dalam Colangelo & Davis, 1991) : a. Apa yang anda lakukan diluar sekolah bila boleh memilih sendiri kegiatan itu ? b. Berapa waktu digunakan untuk kegiatan yang anda gemari, senangi atau minati ? c. Dari mana anda belajar atau tahu tentang kegiatan ini ? d. Adakah sesuatu dan apakah yang dihasilkan dari kegiatan itu ? e. Bagaimana anda menilai kualitas, efektifitas dan originalitas dari yang anda hasilkan itu ? f. Adakah yang lain yang ingin anda ketahui berkenaan dengan kegiatan ini ? g. Apakah anda mau bicara dengan pakar atau baca buku tentang kegiatan ini ?

58

h. Kalau ada yang membantu anda dalam informasi tertentu yang terkait dengan kegiatan ini, maukah anda mempersiapkan model proyek atau karya ataupun menggunakan informasi baru untuk mengetasi masalah baru ? i. Masalah apa yang anda hadapi untuk kerja bebas ini, apakah berkenaan dengan waktu ataupun berkenaan dengan kendala memperoleh informasi sulit; atau susah menjelaskan ciri pekerjaan ? j. Apa anda perlu pertolongan untuk kemajuan karya itu ? Berikut ini akan dikemukakan Keberbakatan dan Perilaku Bermasalah menurut Richent, dalam Colangelo & Davis (1991).

59

Keberbakatan dan Perilaku Bermasalah Perilaku Terkait Dengan 1. Bosan dengan tugas rutin; Kreativitas menolak membuat pe- 1. Toleransi tinggi untuk makna kerjaan rumah. ganda. 2. Tidak berminat terhadap 2. Berpikir bebas, divergen detail dan pekerjaan kotor. 3. Berani ambil resiko 3. Membuat lelucon atau 4. Imaginative, sensitive. komentar pada saat tidak Motivasi tepat. 1. Tekun dalam bidang yang 4. Menolak otoritas, tidak diminatinya. koformistis; keras kepala. 2. Intens dalam menghayati 5. Sukar beralih pada topik lain. perasaan dan nilai. 6. Emosional sensitive; over 3. Bebas acting; cepat marah atau menangis kalau ada yang Berpikir kritis 1. Dapat melihat kesenjangan antara salah. kenyataan dan kebenaran 7. Kecenderungan dominasi. 8. Sering tak setuju ide orang 2. Mengacu pada hal-hal yang ideal menganalisis dan lain atau tak setuju ide 3. Mampu evaluasi. gurunya. 9. Kritis terhadap diri, tak sabar menghadapi kegagalan. 10. Kritis terhadap guru dan orang lain. Tabel. Keberbakatan dan Perilaku Bermasalah (Conny Semiawan, 1991:106) D. Percobaan sains 1. Hakekat Percobaan Sains Percobaan sains merupakan kegiatan bermain belajar, kegiatan percobaan sains ini dapat mengembangkan berbagai kreativitas yang dimiliki oleh anak didik, dengan kegiatan ini anak mencoba menemukan sesuatu yang baru belum pernah diketahui sebelumnya melalui eksperimen-eksperimen yang sederhana.

60

Kegiatan percobaan sains ini merupakan salah satu cara agar anak lebih bersemangat mengikuti pembelajaran di TK, karena kegiatan percobaan sains dapat mengembangkan aspek perkembangan kreativitas anak didik. Dalam kegiatan percobaan sains anak diajak bereksplorasi, mengidentifikasi, melakukan klasifikasi, prediksi, eksperimen dan melakukan evaluasi. Percobaan-percobaan sains di TK tidaklah begitu rumit dan mendalam, yang penting anak dapat terlibat langsung dalam kegiatan tersebut, anak dapat memahami apa yang dia lakukan, hasil apa yang didapat dalam kegiatan tersebut, dan anak melakukan dengan rasa senang tanpa paksaan, karena pada intinya kegiatan percobaan sains ini merupakan kegiatan yang

menyenangakan dalam rangka memperoleh informasi dan pengalaman, juga merangsang anak untuk lebih kreatif. Kegiatan percobaan sains di TK tidak perlu menggunakan alat-alat yang mahal dan canggih, karena hal ini membuat anak menjadi takut untuk bereksperimen, tapi harus menggunakan alat peraga yang sudah dikenal anak, alat peraga yang ada disekitar lingkungan anak, bahkan mungkin menggunakan bahan-bahan bekas namun dibuat sedemikian rupa yang dapat menarik minat, sehingga anak akan mencoba meraba, memegang, dan melakukan kegiatan dengan penuh keberanian. Penelitian ini akan memaparkan percobaan sains yang bisa dilakukan di Taman Kanak-kanak, percobaan tersebut terbagi atas : a. Percobaan-percobaan dengan menggunakan magnet(permainan

memancing, bermain magnet di bak pasir);

61

b. Percobaan-percobaan sains yang berkaitan dengan warna c. Percobaan-percobaan tentang berat benda dalam air, baik itu air tawar atau air yang mengandung garam. d. Percobaan-percobaan lainya, seperti mengenal benda kasar dan halus yang ada disekitar kita. Percobaan sains di TK tidak perlu terlalu rumit atau menggunakan teknologi canggih tetapi harus menggunakan alat peraga yang sudah dikenal anak dalam kehidupanya sehari-hari, murah dan mudah didapat, sehingga kegiatan sains bukan merupakan hal yang aneh bagi anak, dengan demikian percobaan sains merupakan hal yang sangat menyenangkan, bukan merupakan sesuatu yang menakutkan. Kegiatan sains ini memerlukan peran serta guru untuk mewujudkannya. Guru yang profesional, guru yang kreativitasnya tinggi, guru yang komunikatif, sabar dan mempunyai wawasan yang luas tentang sains. Hal ini akan sangat membantu tercapainya proses kegiatan percobaan sains. Kreativitas sebagai suatu proses pemikiran berbagai gagasan dalam menghadapi suatu persoalan atau masalah, sebagai proses bermain dengan gagasan-gagasan atau unsur-unsur dalam pikiran, merupakan keasyikan yang menyenangkan dan penuh tantangan bagi guru yang kreatif. Kreativitas dalam hal ini merupakan proses berpikir dimana guru berusaha untuk menemukan hubungan-hubungan baru, mendapatkan jawaban, metode atau cara baru dalam memecahkan suatu masalah. Sehubungan dengan percobaan sains di TK, ada beberapa alat peraga yang dapat membantu terciptanya percobaan ini. Alat peraga ini sebagian

62

besar terbuat dari bahan-bahan bekas, yakni bahan-bahan yang sudah dikenal oleh anak, murah dan mudah didapat karena ada dilingkungan anak. (Depdiknas, 2003). 2. Fungsi Percobaan Sains Melalui percobaan sains seorang pelajar dapat mengembangkan aspek kreativitasnya. Selain itu melalui percobaan sains juga dapat meningkatkan dan rasa ingin tahu serta daya imajinasinya. Dalam mengembangkan kreativitas anak percobaan sains dapat digunakan karena mampu mendorong anak mencari dan menemukan jawabanya, membuat pertanyaan dan membantu memecahkan, memikirkan kembali, membangun kembali, dan menemukan hubungan-hubungan baru. (Depdiknas, 2003).

63

BAB III METODE PENELITIAN

Rancangan Penelitian

1.

Latar dan Sasaran Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelompok A, di Taman KanakKanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran. Kelompok A terbagai menjadi dua kelas yaitu A1 dan A2. Kelas A1 terdiri atas 11 putra dan 11 putri, sedangkan A2 terdiri dari 11 putra dan 11 putri. Dari kedua kelas ini peneliti menggunakan satu kelas, yaitu kelas A1 yang berjumlah 22 siswa. Adapun latar belakang dipilihnya kelas tersebut sebagai objek penelitian adalah sebagai berikut : Minat siswa kelompok A, terhadap percobaan sains besar. Hal ini peneliti anggap penting sebagai pertimbangan penggunaan percobaan sains. Guru kelompok A1 merupakan guru senior di sekolah ini dan dari segi waktu lebih prospek sehingga dapat membantu peneliti dalam melaksanakan penelitian. Berdasarkan studi penelitian yang lakukan, kreativitas siswa kelompok A masih rendah dibandingkan siswa B sehingga perlu diadakan upaya untuk meningkatkanya. Selanjutnya sesuai dengan masalah yang dikemukakan sasaran kajian dalam penelitian ini adalah meningkatkan aspek perkembangan kreativitas anak didik melalui percobaan-percobaan sains yang dilakukan. Pertama sasaran kajian diarahkan pada kondisi lingkungan fisik, karakteristik guru dan murid dalam proses pembelajaran melalui percobaanpercobaan sains. Kedua, sasaran kajian diarahkan pada proses pembelajaran, materi pendidikan dimaksud, yang tercermin ada pola pengelolaan kelas,

64

penggunan sumber belajar, penggunaan metode dan media pembelajaran, dan aktifitas belajar para murid. Ketiga, kajian diarahkan pada faktor pendorong dan penghambat yang muncul dalam proses pelaksanaan percobaan sains. Variabel Penelitian Sutrisno Hadi mendefinisikan variabel sebagai gejala yang bervariasi. Gejala adalah objek penelitian, sehingga variabel adalah objek penelitian yang bervariasi. Jadi variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Ada dua hal yang menjadi variabel dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. a. Variabel terikat (dependen) adalah variabel yang tergantung atau variabel yang tidak bebas dan sebagai variabel akibat. Dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yang menjadi variabel terikat yaitu kreativitas siswa. b. Variabel bebas (independent) adalah variabel yang mempengaruhi atau disebut juga variabel bebas. Dalam Penelitian ini yang menjadi variabel bebasnya yaitu percobaan sains. Rencana Tindakan Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Secara singkat penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan

65

yang dilakukannya itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan (Depdikbud, 1999:6). Penelitian ini berbentuk penelian kolaboratif. Penelitian bentuk ini melibatkan guru kelas dan teman sejawat, untuk bersama-sama melakukan penelitian. Guru kelas bertindak sebagai pengajar, sedangkan, rekan sejawat serta peneliti sendiri adalah sebagai observer. Lebih jauh dikatakan, bahwa penelitian tindakan kolaboratif terdiri dari siklus-siklus dan tiap siklus terdiri empat tahapan, yakni (1) perencanaan (2) Pelaksanaan (3) Observasi (4) analisis refleksi. Sebelum tahap perencanaan, guru kelas merasakan adanya permasalahan di kelasnya, sehingga diperlukan refleksi awal terhadap permaslahan-permasalahan dikelasnya. Rencana tindakan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tindakan kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang mencakupi empat tahapan pada setiap siklusnya, yaitu tahap perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Untuk menujuk siklus pertama dilakukan kegiatan refleksi awal. Tahap ini berupa telaah terhadap permasalahan faktual yang teridentifiikasi dalam percobaan sains di Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran. Tolak ukur permasalahan ini adalah nilai kreativitas siswa yang masih cukup rendah. Berpijak dari refleksi awal diatas maka perlu adanya peningkatan kreativitas siswa dan perlu mendapat perhatian khusus tentang kreativitas

66

siswa dalam percobaan sains. Untuk lebih jelasnya dapat digambarkan pada bagan berikut ini.

1. Perencanaan SIKLUS I 4. Refleksi 2. Tindakan 4. Refleksi

1. Perencanaan SIKLUS II 2. Tindakan

3. Pengamatan

3. Pengamatan

Gambar 1. Bagan Tahap Penelitian Tindakan Kelas Siklus I Siklus satu dilaksanakan selama tiga kali pertemuan dengan tahapan sebagai berikut : a. Perencanaan umum Perencanaan ini merupakan refleksi awal berdasarkan hasil studi pendahuluan. Refleksi ini ditandai dengan ditemukannya beberapa kelemahan atau permasalahan berkaitan dengan kreativitas siswa, sehingga perlu dilakukan upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut yaitu dengan cara meningkatkan kreativitas mereka melalui percobaanpercobaan sains. Adapun yang dilakukan dalam tahap perencanaan ini yaitu sebagai berikut :

67

1) Membuat desain percobaan sains dengan menggunakan metode eksperimen yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya kreativitas siswa. 2) Simulasi percobaan berdasarkan pada desain percobaaan. 3) Revisi desain percobaan berdasar masukan dari hasil simulasi. 4) Menyusun empat instrumen, yakni instrumen 1 tentang Rencana Pembelajaran, instrumen 2 tentang aktivitas guru selama percobaan, instrumen 3 tentang kreativitas siswa dalam percobaan sains, dan instrumen 4 tentang sikap ilmiah siswa. b. Tindakan Tahap ini merupakan implementasi dari perencanaan yang telah disimulasikan dan revisi, yaitu percobaan sains dengan menggunakan metode eksperimen, yang menitik beratkan peluang munculnya kreativitas siswa. Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama ini, diawali dengan mengkondisikan kelas dengan apersepsi dan penjajagan kemampuan awal siswa sekaligus sebagai motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran. Tahapan berikutnya adalah guru memberi informasi singkat tentang materi yang akan dipelajari dan tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Selanjutnya guru merumuskan permasalahan. Berangkat dari permasalahn ini siswa bersama guru melakukan percobaan sains, yang dilakukan oleh guru dan kemudian siswa. Dalam hal ini merupakan wahana untuk menunjukkan gagasan kreatif dan produk kreatif siswa. Oleh karena itu

68

dalam pelaksanaan percobaan sains ini guru harus benar-benar menempatkan diri sebagai mediator percobaan sekaligus motivator dengan memberikan “perayaan bagi sang kreatif” dengan cara tepuk tangan atau bentuk lain. Guru melakukan kesimpulan dan harus mampu mengakomodasi simpulan dari siswa, karena pada hakikatnya temuan siswa merupakan temuan faktual oleh siswa sendiri, sehingga percobaan akan lebih bermakna bagi siswa. c. Pengamatan/observasi Tahap observasi dilaksanakan bersamaan dengan tahap tindakan, guru peneliti sebagai penyampai materi. Dalam tahap ini dilakukan pula pengumpulan data-data. Setiap tindakan yang dilakukan siswa dan guru akan diamati oleh observer yaitu peneliti dan guru dengan menggunakan pedoman pengamatan. Pengamatan dilakukan juga ketika siswa secara bergiliran mencoba melakukan percobaan sains yang telah diberikan. Dalam hal ini menggunakan lembar penilaian yang telah disediakan. Wawancara dilakukan setelah dilaksanakan proses percobaan. Pengisian jurnal dilakukan oleh guru yang mengajar. d. Refleksi Tahap ini berisi diskusi dari peneliti bersama guru. Materi diskusi berisi menitik beratkan tentang kekuatan dan kelemahan tindakan (percobaan), sekaligus menentukan sikap apa yang harus ditempuh untuk siklus selanjutnya.

69

Disamping itu dalam tahap ini juga dilakukan analisis data, untuk mengetahui sejauh manakah tujuan yang telah ditetapkan, sehingga dapat ditentukan apakah diperlukan siklus berikutnya atau tidak. Siklus I ini ternyata belum mampu menjawab tujuan penelitian tindakan kelas, sehingga masih diperlukan siklus II. Siklus II Siklus II dilaksanakan dua kali pertemuan dengan alokasi waktu 2X40 menit untuk satu kali pertemuan. a. Perencanaan Berangkat dari temuan faktual siklus I yang dibahas dalam analisis dan refleksi, maka perencanaan pada siklus II ini pada dasarnya hanya menyempurnakan siklus I. Perbedaaan yang dapat dikemukakan adalah bahwa pada siklus II, observer dapat memperoleh laporan hasil pengamatan secara utuh. Pada tahap perencanan ini Guru peneliti membuat perangkat pembelajaran, sebagaimana siklus I. b. Tindakan Tindakan pada siklus II dilakukan sesuai dengan rancangan pembelajaran yaitu pada satuan kegiatan harian, seperti yang dilakukan pada siklus I. Tetapi, pada siklus II akan dilakukan perbaikan untuk lebih meningkatkan hasil yang didapat pada siklus I. Pada tahap ini siswa melakukan percobaan setelah guru melakukan terlebih dahulu, dan kemudian siswa mencobanya kembali.

70

c. Pengamatan/observasi Pengamatan dilakukan pada setiap perubahan perilaku yang dialami oleh siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung, dengan membuat cacatan penting yang dapat dipakai sebagai data penelitian. Sebagaimana pada siklus I, pengamatan dilakukan pula terhadap proses mengajar dengan mengunakan pedoman pengamatan dan jurnal mengajar. d. Refleksi Setelah melakukan tindakan dan pengamatan peneliti kembali melakukan refleksi terhadap hasil yang didapat pada tahap sebelumnya pada siklus II. Tujuannya adalah untuk mengetahui peningkatan kreativitas. Data dan Teknik Pengumpulaan Data 1. Sumber Data Sumber utama data adalah guru dan siswa Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran. Disamping itu sumber data juga berasal dari dari studi pustaka, antara lain Buku Daftar Nilai Pengamatan untuk mengetahui Kreativitas siswa, dan Buku Daftar Nilai Harian untuk mengetahui nilai harian siswa. 2. Jenis Data Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data utama dan data pendukung. Data utama terdiri dari (1) rencana pembelajaran guru pada percobaan sains, (2) aktivitas guru selama percobaan sains berlangsung,

71

(3) kreativitas siswa, yang terdiri dari gagasan kreatif dan produk kreatif, (4) sikap ilmiah siswa. Sedangkan data pendukungnya adalah nilai kreativitas harian siswa. 3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode observasi dan Dokumen. a. Metode observasi Menurut Arikunto (1998:146-147) observasi adalah kegiatan pemuatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Lebih lanjut dikatakan, bahwa observasi dibedakan menjadi dua, yakni (1) observasi non sistematis, yakni observer didalam melaksanakan pengamatan tanpa dilengkapi alat (instrumen) pengamatan; dan (2) Observasi sitematis, yakni observer didalam bekerja

menggunakan instrumen pengamatan. Dalam penelitian ini terdapat empat instrumen pengamatan, yakni 1) Kemampuan guru dalam menyusun rencana pembelajaran diperoleh lewat instrumen 1 2) Aktivitas guru selama pembelajaran diperoleh lewat instrumen 2 3) Kreativitas siswa diperoleh lewat pengamatan selama berjalannya percobaan sains diperoleh lewat instrumen 3. 4) Sikap limiah siswa selama percobaan sains diperoleh lewat instrumen 4.

72

b.

Metode Dokumen Dokumen asal kata dokumen yang berarti barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan studi dokumen, peneliti menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. ( Arikunto, 1998:149). Dokumen digunakan dalam penelitian ini dengan alasan (1) selalu tersedia di kantor/lembaga, (2) dokumen merupakan sumber data yang data yang stabil, mudah didapat dan digunakan, (3) data/informasi yang digunakan bersifat faktual dan realistis dalam arti memuat apa adanya tentang hal-hal yang didokumenkan, (4) dokumen merupakan sumber data yang kaya berkaitan dengan keadaan subyek penelitian. Dalam penelitian ini dokumen yang diselidiki adalah Buku Daftar Nilai Siswa Kelompok A1 Tahun Pelajaran 2004/2005 Taman KanakKanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran.

4. Teknik Pengolahan Data Mengingat banyaknya instrumen dan masing-masing instrumen memiliki karakteristik tersendiri, maka cara pengolahanya pun berbeda. Adapun cara pengolahan data sebagai berikut : a. Instrumen I : Rencana Pembelajaran Instrumen I terdiri 3 item pertanyaan, masing-masing memiliki indikator sendiri-sendiri. Item satu memilki 8 indikator, item kedua memilki 10 indikator, dan item ketiga memiliki 10 indikator. Pengolahan nilainya sebagai berikut :

73

1) Item Pertanyaan
Rumus Pengolahan Nilai (Kategori) = Skore perolehan X 100% Skore maksimal

Keterangan : Kategori Cukup (C), Kurang (K), dan Sangat Kurang (SK). Skor Perolehan setiap item pertanyaan. Skor Maksimal item pertanyaan, 2) Rencana Pembelajaran Secara Keseluruhan
Rumus Pengolahan Nilai (Kategori) = Skore Perolehan X 100% Skore Maksimal

:

Amat Baik (AB), Baik (B),

:

Banyaknya indikator yang

muncul

:

Banyaknya

indikator

masing-masing

Keterangan : Kategori Cukup (C), Kurang (K), Sangat Kurang (SK) Skore Perolehan setiap item pertanyaan. : Banyaknya indikator yang muncul : Amat Baik (AB), Baik (B),

74

Skore Maksimal item

:

Banyaknya

indikator

masing-masing

pertanyaan, yakni 28 b. Instrumen 2 : Aktivitas Guru selama Percobaan Sains Instrumen 2 terdiri dari lima item pertanyaan, masing-masing memiliki indikator tersendiri. Item membina siswa melakukan percobaan sains ada 8 indikator, mengelola pelaksanaan praktikum ada 10 indikator, peningkatan kreativitas siswa ada 6 indikator, mendorong siswa untuk mengeluarkan pendapatnya ada 10 indikator, dan menempatkan guru bukan satu-satunya sumber belajar ada 10 indikator. Secara keseluruhan ada 44 indikator. Oleh karena itu pengolahan nilainya adalah sebagai berikut: 1) Item Pertanyaan
Rumus Pengolahan Nilai (kategori) = Skor Perolehan X 100% Skor Maksimal

Keterangan : Kategori Cukup(C), Kurang (K) dan Sangat Kurang (SK). Skore Perolehan setiap item pertanyaan. Skore Maksimal item : Banyaknya indikator masing-masing : Banyaknyan indikator yang muncul : Amat Baik (AB), Baik (B),

75

pertanyaan. 2) Aktivitas Guru Secara Keseluruhan
Rumus Pengolahan Nilai (kategori) = Skor Perolehan X 100% Skor Maksimal

Keterangan : Kategori Cukup(C), Kurang (K), dan Sangat Kurang (SK). Skore Perolehan setiap item pertanyaan. Skore Maksimal masing item pertanyaan, yakni 44 c. Kreativitas Siswa 1) Item Pertanyaan Instrumen 3 terdiri empat item pertanyaan yaitu: kepribadian kreatif yang jumlah seluruhnya adalah 25 indikator, pendorong kreatif 5 indikator, proses kreatif 5 indikator, dan sikap ilmiah yang jumlah seluruhnya adalah 22 indikator untuk sikap ilmiah. Oleh karena itu pengolahan nilainya untuk skor maksimal disesuaikan dengan banyaknya indikator. : Banyaknya indikator masing: Banyaknyan indikator yang muncul : Amat Baik (AB), Baik (B),

Rumus Pengolahan Nilai (Kategori) =
Keterangan :

Skor Perolehan X100% Skor Maksimal

76

Kategori Cukup(C), Kurang

:

Amat

Baik

(AB), Baik (B),

(K), dan Sangat Kurang (SK) Skore Perolehan setiap item pertanyaan. Skore Maksimal masing item pertanyaan 2) Kreativitas Siswa Secara Keseluruhan
Skor Perolehan X100% Skor Maksimal

:

Banyaknyan

indikator yang muncul

:

Banyaknya

indikator

masing-

Rumus Pengolahan Nilai (kategori) =

Keterangan : Kategori : Amat Baik (AB), Baik (B), Cukup(C), Kurang (K), dan Sangat Kurang (SK). Skore Perolehan : Banyaknyan indikator yang muncul setiap item pertanyaan. Skore Maksimal : Banyaknya indikator masing-masing item pertanyaan, yakni 30. d. Instrumen 4 : Sikap Ilmiah Siswa Adapun pengolahan nilainya untuk instrumen tersebut adalah: 1) Item Pertanyaan
Rumus Pengolahan Nilai (Kategori) = Skor Perolehan X100% Skor Maksimal

77

Keterangan : Kategori : Amat Baik (AB), Baik (B), Cukup(C), Kurang (K), dan Sangat Kurang (SK) Skore Perolehan : Banyaknyan indikator yang muncul setiap item pertanyaan. Skore Maksimal : Banyaknya indikator masing-masing item pertanyaan 2) Sikap Ilmiah Secara Keseluruhan
Skor Perolehan X100% Skor Maksimal

Rumus Pengolahan Nilai (kategori) =

Keterangan : Kategori : Amat Baik (AB), Baik (B), Cukup(C), Kurang (K), dan Sangat Kurang (SK) Skore Perolehan : Banyaknyan indikator yang muncul setiap item pertanyaan. Skore Maksimal : Banyaknya pertanyaan Hasil perolehan nilai untuk masing-masing instrumen kemudian dikonversikan kedalam tabel prosentase pengolahan nilai, seperti tersebut dibawah. Tabel 1 indikator masing-masing item

78

Prosentase Pengolahan Nilai Nomor 1 2 3 4 5

Interval (%) 85-100 70-84 55-69 40-54 0-39

Kategori Amat Baik (AB) Baik (B) Cukup (C) Kurang (K) Sangat Kurang (SK)

5. Subjek Penelitian Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa Taman KanakKanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran, kelompok A1 yang terdiri dari 22 orang siswa yang terdiri dari 11 siswa putra dan 11 siswa putri. C. Indikator Kinerja Indikator keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah manakala tujuan umum dan tujuan khusus penelitian ini sudah tercapai, yakni : 1. Umum Kreativitas siswa dalam percobaan sains meningkat 2. Khusus a. Sekurang-kurangnya guru terampil membuat rencana percobaan sains dengan metode eksperimen. b. Sekurang-kurangnya aktiuvitas guru selama percobaan sains meningkat baik. c. Sekurang-kurang kreativitas siswa yang berupa gagasan kreatif dan produk kreatif baik.

79

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian Taman Kanak-kanak Hj. Isriati Moenadi Ungaran, merupakan anggota dari Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Hj. Isriati moenadi. Terletak di Jalan Letjen Suprapto No. 29 Ungaran yang dipimpin oleh Ibu Hanik Munfiatun, S.Ag. TK ini mempunyai empat kelompok yaitu Kelompok A yang terdiri dari A1 dan A2, dan kelompok B yang terdiri dari B1 dan B2. Penelitian dilakukan pada kelompok A1 yang jumlah anak didiknya 22 anak. Model pembelajaran disini adalah belajar seraya bermain, sesuai dengan prinsip belajar di Taman Kanak-kanak yaitu belajar seraya bermain dan bermain seraya belajar. Dengan fokus belajar yang didalamnya ada permainan-permainan untuk menunjang belajarnya. Penelitian dilaksanakan pada bulan maret sampai dengan april 2005. Hasil penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus I dilaksanakan dalam tiga tindakan (pertemuan) dengan alokasi waktu 2X40 menit, dan siklus II dilaksanakan dalam dua kali tindakan dengan alokasi waktu 2X 40 menit untuk satu kali tindakan. Hasil penelitian dari masing-masing tindakan adalah sebagai berikut : 1. Rencana Pembelajaran (Sistem Kredit Harian/SKH) Selama penelitian guru menggunakan rencana pembelajaran yang berjumlah lima instrumen I. buah. Rencana pembelajaran tersebut diamati dengan

80

Fokus pengamatan dalam instrumen I meliputi : Perumusan tujuan, pengembangan materi, metode dan media pembelajaran, serta merencanakan skenario pembelajaran. Masing-masing fokus pengamatan dijabarkan dalam beberapa indikator. Indikator pengamatan untuk perumusan tujuan pembelajaran mampu merekam 8 indikator. Pengembangan materi, metode dan media pembelajaran mampu merekam 10 indikator, sedangkan merencanakan skenario pembelajaran mampu merekam 10 indikator. Jadi secara keseluruhan instrumen I (terlampir) mampu merekam 28 indikator yang diharapkan muncul untuk tiap kali pembelajaran dalam setiap siklusnya. Hasil observasi rencana pembelajaran guru dari siklus I sampai dengan silkus II dapat dilihat dalam tabel berikut. Berikut disajikan rerata prosentase hasil observasi rencana pembelajaran guru dalam melakukan percobaan sains. Tabel 2 Rerata Prosentase Rencana Pembelajaran Guru dalam Percobaan Sains
Nomor Jumlah Rerata Prosentase Kategori T1 18 64.3% Cukup Siklus I T2 24 85.7% Amat Baik Siklus II T1 T2 26 28 92.9% 100% Amat Amat Baik Baik

T3 27 96.4% Amat Baik

Dari tabel I dapat dilihat bahwa rerata prosentase Rencana Pembelajaran Guru dengan Percobaan Sains pada siklus I tindakan pertama, secara keseluruhan indikator yang muncul berjumlah 18 dengan rerata prosentase 64.3% yang termasuk dalam kategori Cukup (C). Siklus I tindakan kedua, secara keseluruhan muncul 24 indikator dengan rerata prosentase 85.7%, dan termasuk dalam

81

kategori Amat Baik (AB). Pada siklus I tindakan ke tiga, secara keseluruhan indikator yang muncul berjumlah 27, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Pada siklus II tindakan ke pertama, secara keseluruhan indikator yang muncul berjumlah 26 dengan prosentase 92.9% dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Tabel tentang pengolahan nilai instrumen I Rencana Pembelajaran Guru dengan Percobaan Sains (Terlampir), dapat diketahui bahwa banyaknya indikator yang muncul untuk aspek Perumusan Tujuan Pembelajaran pada siklus I tindakan pertama adalah 5 buah, dengan prosentase 62.5 %, dan termasuk dalam kategori Cukup (C). Pada siklus I tindakan kedua, muncul 6 buah indikator dengan prosentase 75.0 %, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Siklus I tindakan ketiga muncul 8 buah indikator dengan prosentase 100%, ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Pada siklus II tindakan pertama banyaknya indikator yang muncul adalah 8 buah dengan angka prosentase 100%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Siklus II tindakan kedua muncul 8 buah indikator dengan angka prosentase 100%, dan ini termasuk dalam kategori Amat baik (AB). Secara keseluruhan aspek Perumusan Tujuan Pembelajaran banyaknya indikator yang muncul untuk siklus I adalah 19 buah atau sama dengan 79.16% yang berarti bahwa Perumusan Tujuan Pembelajaran pada siklus I termasuk dalam kategori Baik (B). Sedang pada siklus II secara keseluruhan muncul 16

82

buah indikator atau sama dengan 100% yang berarti bahwa Perumusan Tujuan Pembelajaran termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Banyaknya indikator yang muncul untuk aspek Mengembangkan Materi, Metode dan Media Pembelajaran pada siklus I tindakan pertama adalah 7 buah dengan prosentase 70%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). siklus I tindakan kedua adalah 9 buah dengan prosentase 90%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Siklus I tindakan ketiga adalah 10 buah dengan prosentase 100%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Pada siklus II tindakan pertama banyaknya indikator yang muncul adalah 9 buah dengan prosentase 90%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Siklus II tindakan kedua banyaknya indikator yang muncul adalah 10 buah dengan prosentase 100%, dan ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Secara keseluruhan aspek Mengembangkan Meteri, Metode, dan Media Pembelajaran banyaknya indikator yang mucul untuk siklus I adalah 26 buah dengan prosentase 86.6%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Aspek Merencanakan Skenerio Pembelajaran, banyaknya indikator yang muncul untuk siklus I tindakan pertama adalah 6 buah dengan prosentase 60%, dan termasuk dalan kategori Cukup (C). Siklus I tindakan kedua adalah 9 buah indikator dengan prosentase 90%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Siklus I tindakan ketiga muncul 9 indikator dengan prosentase 90%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Pada siklus II tindakan pertama indikator yang muncul adalah 9 buah dengan prosentase 90%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Siklus II tindakan kedua muncul 10 buah dengan porosentase 100%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB).

83

Secara umum aspek Merencanakan Skenario Pembelajaran pada siklus I adalah 24 indikator yang muncul, dengan prosentase 80%, dan ini termasuk dalam kategori Baik (B). Pada siklus II muncul 19 buah indikator dengan prosentase 95%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Dari uraian tersebut telihat jelas adanya peningkatan Perencanaan Pembelajaran oleh Guru. 2. Aktivitas Guru Selama Pembelajaran dengan Percobaan Sains Aktivitas guru selama Pembelajaran dengan percobaan sains direkam melalai instrumen 2. Instrumen 2 pada dasarnya dibagi dalam dua fokus pengamatan yaitu : Pertama, mendemontrasikan kemampuan khusus dalam percobaan sains yang terdiri dari tiga aspek (item) pengamatan, yaitu (1) Membimbing siswa melakukan percobaan; (2) Mengelola pelaksanaan percobaan sains; dan (3) Hasil percobaan secara umum meningkatkan kreativitas siswa. Kedua, bersifat terbuka dan luwes dalam mengembangkan aktivitas siswa, yang terdiri dari dua aspek pengamatan, yakni (1) Mendorong siswa agar berani mengemukakan pendapat sendiri; dan (2) merasa guru bukan satu-satunya sumber balajar. Instrumen 2 (terlampir) mampu merekam 44 indikator yang diharapkan muncul dalam setiap pembelajaran untuk tiap-tiap siklusnya, karena masingmasing aspek pengamatan memiliki beberapa indikator tersendiri. Hasil observasi Aktivitas Guru selama Pembelajaran dengan Percobaan Sains, secara keseluruhan dapat dilihat dalam tabel 2 yaitu rerata prosentase berikut ini.

84

Tabel 3 Rerata Prosentase Aktivitas Guru Selama Pembelajaran dengan Percobaan Sains
Nomor T1 Jumlah Rerata Prosentase Kategori 32 65.3% Cukup Siklus T2 35 71.4% Cukup Siklus T1 T2 38 44 77.6% 89.8% Baik Amat Baik

T3 37 75.5% Baik

Dari tabel tersebut rerata prosentase Aktivitas Guru Selama Pembelajaran dalam Percobaan Sains. Pada siklus I tindakan pertama indikator yang muncul berjumlah 32 buah dengan prosentase 65.3 %, dan termasuk dalam kategori Cukup (C). siklus I tindakan kedua indikator yang muncul berjumlah 35 buah dengan prosentase 71.4%, dan termasuk dalam kategori Cukup (C). Siklus I tindakan ketiga indikator yang muncul berjumlah 37 d0engan prosentase 75.5%, dan ini termasuk dalam kategori Baik (B). Pada siklus II tindakan pertama banyaknya indikator yang muncul berjumlah 38 dengan prosentase 77.6%, dan ini ternasuk dalam kategori Baik (B). Siklus II tindakan kedua indikator yang muncul berjumlah 44 buah dengan prosentase 89.8%, dan ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Sementara dari tabel 2…(Terlampir), tentang pengolahan nilai Aktivitas Guru selama Pembelajaran dengan Percobaan Sains dapat diketahui bahwa aspek Membimbing siswa melakukan percobaan, banyaknya indikator yang muncul pada siklus I tindakan pertama adalah 6 buah dengan prosentase 75%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan kedua muncul 7 buah dengan prosentase 87.5%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB).

85

Sedangkan tindakan ke tiga muncul 7 buah dengan prosentase 87.5, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Siklus II tindakan pertama banyaknnya indikator yang muncul untuk aspek pengamatan Membimbing Siswa Melakukan Percobaan adalah 7 buah atau 87.5%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Tindakan kedua banyaknya indikator yang muncul berjumlah 8 buah dengan prosentase 100%, dan ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Secara keseluruhan aspek Membimbing Siswa Melakukan Percobaan, banyaknya indikator yang muncul adalah 35 buah atau sama dengan 87.5% yang berarti bahwa aspek Aspek Membimbing Siswa Melakukan Percobaan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Aspek Mengelola Pelaksanaan Percobaan, banyaknya indikator yang muncul pada siklus I tindakkan pertama adalah 7 buah, dengan prosentase 70%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan kedua muncul 7 buah, dengan prosentase 70%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan ketiga muncul 8 buah, dengan prosentase 80%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Pada siklus II tindakan pertama muncul 9 buah, dengan prosentase 90%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Tindakan ke 2 muncul 10 buah, dengan prosentase 100%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Secara keseluruhan aspek Mengelola Pelaksanaan Praktikum, banyaknya indikator yang muncul adalah adalah 41 buah atau dengan prosentase 82% yang berarti bahwa aspek Mengelola Pelaksanaan Praktikum termasuk dalam kategori Baik (B).

86

Aspek Hasil Percobaan Secara Umum Meningkatkan Kreativitas Siswa, banyaknya indikator yang muncul pada siklus I tindakan pertama adalah 4 buah, dengan prosentase 66.7%, dan termasuk dalam kategori Cukup (C). tindakan kedua muncul 5 buah, dengan prosentase 83.3%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan ketiga muncul 5 buah, dengan prosentase 83.3, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Pada siklus II tindakan pertama indikator yang muncul berjumlah 6 buah, dengan prosentase 100%, dan ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Tindakan kedua muncul 6 buah, dengan prosentase 100%, dan ini termasuk dalan kategori Amat Baik (AB). Secara keseluruhan aspek Hasil Percobaan Secara Umum Meningkatkan Kreativitas Siswa, banyaknya indikator yang muncul adalah 26 buah atau sama dengan 86.66% yang berarti bahwa aspek tersebut termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Aspek Pengamatan Mendorong Siswa Agar Berani Mengemukakan Pendapat Sendiri, banyaknya indikator yang muncul pada siklus I tindakan pertama adalah 8 buah, dengan prosentase 80% dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan kedua muncul lagi 8 buah, dengan prosentase 80%, dan termasuik dalam kategori Baik (B). Tindakan ketiga muincul 9 buah, dengan prosentase 90%, dan ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Pada skiklus II tindakan pertama muncul 8 buah, dengan prosentase 80%, dan ini termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan kedua muncul 10 buah, dengan prosentase 100%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB).

87

Aspek pengamatan Merasa Guru bukan Satu-satunya Sumber Belajar, banyaknnya indikator yang muncul pada siklus I tindakan pertama adalah 7 buah, dengan prosentase 70% cdan termasuk dalam kategori Baik (B). tindakan kedua muncul 8 buah, dengan prosentase 80%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan ketiga adalah 8 buah, dengan prosentase 80%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Pada siklus II tindakan pertama indikator yang muncul berjumlah 8 buah, dengan prosentase 80%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Tindakan kedua muncul 10 buah,dengan prosentase 100%, dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Secara keseluruhan aspek Merasa Guru Bukan Satu-satunya Sumber Belajar, banyaknya indikator yang muncul berjumlah 41 buah dengan prosentase 82% yang berarti bahwa aspek tersebut termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Perilaku guru yang kurang relevan dalam pembelajaran pada siklus I tindakan pertama muncul 2 buah indikator, tindakan kedua muncul 1 buah indikator, dan tindakan ketiga muncul 1 buah indikator. Pada siklus II tindakan pertama tidak ada satupun indikator yang muncul, demikian pula pada tindakan kedua tidak ada indikator yang muncul. 3. Kreativitas Siswa Kreativatas siswa diukur dan direkam melalui instrumen 3. dalam instrumen 3 terdapat empat bidang yaitu: Pertama, kepribadian kreatif yang terdiri dari lima fokus pengamatan, yakni (1) Kelancaran mengemukakan gagasan/pendapat, yang disertai 5 kindikator yang diharapkan muncul; (2) Keluwesan Gagasan yang disertai dengan 5 indikator yang diharapkan

88

muncul; (3) Kemampuan Berpikir Rasional yang disertai dengan 5 indikator yang diharapkan muncul; (4) Penguraian Gagasan yang disertai dengan yang diharapkan muncul; (5) Merumuskan Kembali Suatu Gagasasan yang diserta dengan 5 indikator yang diharapkan muncul. Kedua, pendorong kreatif yang diamati melalui 5 buah oindkikator yang diharapkan muncul. Ketiga, proses kreatif yang diamati melalui 5 buah indikator yang diharapkan muncul. Keempat, adalajh sikapm ilmiah yang terdiri dari 5 fokus pengamtan, yakni (1) Sikap Kejujuran yang memunculkan 3 buah indikator; (2) Sikap Kedisiplinan hyang disertai 5 indikator yang diharapkan muncul; (3) Sikap Tanggung Jawab yang disertai 5 indikator yang diharapkan muncul; (4) Sikapo Percaya Diri yang disertai dengan 5 buah indikator yang diharapkan muncul ; (5) Sikap Kerja Sama yang disertai 5 buah indikator yang diharapkan muncul. Adapun hasil pengolahan nilai kreativitas siswa secara lengkap dapat dilihat pada tabel 3… yakni tabel pengolahan nilai instrumen 4 Kreativitas Siswa (Terlampir). Secara rinci dengan melihat tabel 3…(Terlampir) tentang pengolahan nilai instrumen 3 tentang kreativitas siswa dapat disampaikan sebagai berikut. Fokus Pengamatan Kepribadian Kreatif Fokus Pengamatan Kepribadian Kreatif dengan aspek Kelancaran Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 229, observer 2 muncul 242. Tindakan kedua observer 1,

89

banyaknya indikator yang muncul adalah 254, observer 2 muncul 251. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 309, observer 2 muncul 311. Secara keseluruhan rerata skor untuk kelancaran pada siklus I adalah 266,00 dengan prosentase 48.4%, dan termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 441, observer 2 muncul 411. tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 464, observer 2 muncul 444. Secara keseluruhan rerata skor untuk siklus II adalah 440,00, dengan prosentase 80.0% dan termasuk dalam kategori baik (B). 2. Fokus Pengamatan Kepribadian Kreatif dengan Aspek Keluwesan Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 212, observer 2 muncul 226. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 248, observer 2 muncul 242. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 320, observer 2 muncul 308. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek keluwesan siklus I adalah 260.33 dengan prosentase 47.3% dan termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 434, observer 2 muncul 406. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 452, observer 2 muncul 442. Secara keseluruhan rerata skor aspek keluwesan pada siklus II adalah 433.50 dengan prosentase 78.8% dan ini termasuk dalam kategori Baik (B). Fokus Pengamatan Kepribadian Kreatif dengan Aspek Kemampuan Berpikir Rasional

90

Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 207, observer 2 muncul 216. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 238, observer 2 muncul 239. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul 311, observer 2 muncul 305. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek kemampuan berpikir rasional pada siklus I adalah 252.67 dengan prosentase 45.9% dan termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyakknya indikator yang muncul adalah 391, observer 2 muncul 405. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 445, observer 2 muncul 444. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek kemampuan berpikir rasional pada siklus II adalah 421.25 dengan prosengtase 76.6% dan termasuk dalam kategori Baik (B). 4. Fokus Pengamatan Kepribadian Kreatif dengan Aspek Penguraian Pada siklus I tindakan pertama Observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 218, observer 2 muncul 216. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 234, observer 2 muncul 245. Tindakan ketiga observer 1, bayaknya indikator yang muncul adalah 323, observer 2 muncul 304. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek penguraian siklus I adalah 256.67 dengan prosentase 46.7%, dan termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer pertama, banyaknya indikator yang muncul adalah 403, observer 2 muncjul 399. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul 436, observer 2 muncul 441. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek

91

penguraian siklus II adalah 419.75 dengan prosentase 76.3% dan termasuk dalam kategori Baik (B). Fokus Pengamatan Kepribadian Kreatif dengan aspek Menilai. Siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 237, observer 2 muncul 226. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 244, observer 2 muncul 240. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul 319, obserbver 2 muncul 302. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek menilai siklus I adalah 261.33 dengan prosentase 47.5%, dan termasuk dalam kategori kurang. Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 443, observer 2 muncul 408. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 443, observer 2 muncul 449. Secara keseluruhan rerata skor untuk aspek menilai siklus II adalah 435.75 dengan prosentase 79.2%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Jadi secara keseluruhan rerata skor untuk aspek kepribadsian kreatif pada siklus I adalah 1297.00 dengan prosentase 47.2%, dan termasuk dalam kategori kurang (K). Sedangkan pada siklus II adalah 2150.25, dengan prosentase 78.2%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Dengan demikian aspek kepribadian kreatif telah menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II.

92

Fokus Pengamatan Pendorong Kreatif Pendorong kreatif diamati melalui 5 buah indikator yang diharapkam muncul. Fokus pengamatan pendorong kreatif tersebut dapat diamati sebagai berikut. Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 261, observer 2 muncul 257. Tindakan kedua obsever 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 271, observer 2 muncul 270. Tindakan ketiga observer 1, bayaknya indikator yang muncul 273, observer 2 muncul 266. Rerata skor untuk aspek tersebut pada siklus I adalah 266.33 dengan prosentase 48.4%, dan ini termasuk dalam kategori Kurang (K). Sedangkan pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 444, observer 2 muncul 404. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 456. observer 2 muncul 426. Rerata skornya adalah 432.50 dengan prosentase 78.6%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Jadi secara keseluruhan fokus pengamatan pendorong kreatif telah menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Fokus Pengamatan Proses Kreatif Proses kreatif diamati melalui 5 buah indikator yang diharapkan muncul. Fokus pengamatan proses kreatif tersebut dapat diamati sebagai berikut. Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 266, observer 2 muncul 277. Tindakan kedua observer 1,

banyaknya indikator yang muncul adalah 286, observer 2 muncul 288. Tindakan

93

ke tiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 308, observer 2 muncul 315. Rerata skornya adalah 290.00 dengan prosentase 52,7%, dan ini termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 444, observer 2 muncul 404. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 456, observer 2 muncul 426. Rerata skornya adalah 432.50 dengan prosentase 78.6%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Fokus Pengamatan Sikap Ilmiah Sikap ilmiah terdiri dari 5 fokus pengamatan dengan masing-masing indikator yang diharapakan muncul yakni (1) Sikap Kejujuran yang memunculkan 3 indikator; (2) Sikap Kedisiplinan yang disertai 5 indikator; (3) Sikap Tanggung Jawab yang disertai 5 indikator; (4) Sikap Percaya Diri yang disertai dengan 5 indikator serta; (5) Sikap Kerjasama yang juga disertai 5 indikator. Fokus Pengamatan Sikap Ilmiah dengan Aspek Sikap Kejujuran Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 151, observer 2 muncul 160. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 174, observer 2 muncul 171. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 173, observer 2 muncul 175. Rerata skornya adalah 167.33 dengan prosentase 50.7%, dan ini termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 287, observer 2 muncul 248. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul

94

adalah 293, observer 2 muncul 262. Rerata skornya adalah 272.50 dengan prosentase 82.6%, dan ini termasuk dalam kategori Baik (B).

Fokus Pengamatan Sikap Ilmiah dengan Aspek Sikap Kedisiplinan Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 259, observer 2 muncul 256. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 271, observer 2 muncul 270. Tindakan ketiga kobserver 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 276, observer 2 muncul 273. Rerata skornya adalah 267.50 dengan prosentase 48.6%, dan ini termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindalan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 423, observer 2 muncul 397. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 456, observer 2 muncul 403. Rerata skornya adalah 419.75 dengan prosentase 76.3%, dan ini termasuk dalam kategori Baik (B). Fokus Pengamatan Sikap Ilmiah dengan Aspek Sikap Tanggung Jawab Pada siklus I tinadakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 276, observer 2 muncul 272. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 291, observer 2 muncul 283. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 290, observer 2 muncul 296. rerata skornya adalah 284.67 dengan prosentase 51.8%, dan ini termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 443, observer 2

95

muncul 401. Tindakan kedua observer 1, banyakya indikator yang muncul adalah 447, observer 2 muncul 432. Rerata skornya adalah 430.75 dengan prosentase 49.6%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Fokus Pengamatan Sikap Ilmiah dengan aspek Sikap Percaya Diri. Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 269, observer 2 muncul 267. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul 272, observer 2 muncul 275. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 277, observer 2 muncul 278. Rerata skornya adalah 273.00 dengan prosentase 49.6%, dan termasuk dalam kategori Kurang (K). Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 432, observer 2 muncul 407. Tindakan kedua observer 1, banyaiknya indikator yang muncul adalah 453, observer 2 muncul 407. Rerata skornya adalah 424.75 dengan prosentase 77.2%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). Fokus Pengamatan Sikap Ilmiah dengan Aspek Sikap Kerjasama Pada siklus I tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 266, observer 2 muncul 270. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 313, observer 2 muncul 307. Tindakan ketiga observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 315, observer 2 muncul 319. Pada siklus II tindakan pertama observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 423, observer 2 muncul 410. Tindakan kedua observer 1, banyaknya indikator yang muncul adalah 449, observer 2 muncul 470. Rerata

96

skornya adalah 438.00 dengan prosentase 79.6%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). B. Pembahasan Berdasarkan Hasil Penelitian di atas dan Refleksi setiap siklus serta temuan-temuan langsung Peneliti, maka pembahasan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Siklus I Pada siklus I Peneliti sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menerapkan rancangan penelitian yang telah disusun. Diawali dengan menyusun perangkat Pembelajaran yang meliputi Rencana Pembelajaran dan Skenario Pembelajaran yang diinginkan, serta media Pembelajaran. Rencana Pembelajaran Guru untuk Siklus I yang didesain dalam tiga kali pertemuan; telah disusun sedemikian rupa, sehingga hasil perekaman Observer terhadap Instruman 1 tentang Rencana Pembelajaran Siklus I ini secara umum telah mencapai 82.13% dalam kategori Baik (B). Rencana Pembelajaran yang Baik (B) tersebut ketika diterapkan dalam pembalajaran, yakni pada anak didik di Taman Kanak- Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran, ternyata hasilnya belum optimal. Aspek Tujuan Pembelajaran pada tindakan pertama dari delapan indikator yang diharapakan muncul baru lima indikator yang muncul. Secara umum tindakan pertama ini belum dapat merangsang siswa untuk berekspresi kreatif. Demikian pula pada Tujuan Pembelajran Khusus belum mencerminkan tiga ranah baik itu ranah kognitif,

97

afektif maupun psikomotorik, sehingga dalam hal ini Tujuan Pembelajaran Khusus belum dapat diukur. Pada tindakan kedua ada sedikit peningkatan yaitu muncul 6 indikator, namun dalam hal ini kelemahan pada Tujuan Pembelajaran Khhusus dimana Tujuan Pembelajaran Khusus belum mengandung satu unsur sehingga Tujuan Pembelajaran Khusus belum dapat diukur. Pada tindakan ketiga semua indikator muncul sehingga perumusan tujuan pembelajaran sudah dapat tercapai. Pengembangan Materi, Metode dan Media. Pada tindakan pertama dari sepuluh indikator yang diharapkan muncul baru tujuh indikator saja yang muncul. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaan percobaan sains metode yang dipilih belum mampu memperkuat pencapaian Tujuan Pembelajaran Khusus serta penggunaan metode yang hanya satu buah menjadikan anak didik jenuh, dan juga penggunaan media belum sesuai dengan metode yang disampaikan. Tindakan kedua ada sedikit peningkatan yaitu ada sembilan indikator yang muncul. Hanya ada satu indikator yang tidak muncul yaitu penggunaan metode yang seharusnya lebih dari satu buah, akan tetapi guru masih mengunakan satu metode saja. Dalam hal ini refleksi perlu dilakukan oleh guru untuk memperbaiki metode yang digunakan lebih dari satu buah. Pada tindakan ketiga semua indikator sudah muncul hingga tujuan pembelajaran disebut berhasil. Merencanakan skenario pembelajaran pada tindakan pertama dari sepuluh indikator baru muncul enam indikator. Hal ini karena guru dalam merencanakan skenario pembelajaran belum dibuat secara hierarkis, bertahap dan logis. Alokasi

98

waktu yang digunakan belum sesuai dengan derajat kepentingan tiap tahap. Fungsi guru belum sepenuhnya menjadi fasilitator dan dinamisator, serta karakteristik dari percobaan sains belum nampak. Pada tindakan kedua indikator yang muncul sebanyak sembilan buah, demikian pula pada tindakan ketiga, akan tetapi disini dalam merencanakan skenario masih belum dibuat secara hierarkis, bertahap, dan logis. Refleksi sangat perlu dilakukan untuk menungkatkan hasil pada siklus berikutnya. Siklus I Aktivitas Guru selama pembelajaran dapat dilihat dari masingmasing aspek. Aspek membina siswa melakukan percobaan, tindakan pertama dari delapan indikator yang diharapkan munjul ada enem yang muncul. Hal tersebut dikarenakan alat dan bahan percobaan masih kurang memadai, begitu pula karena minimnya penuntun ataun penduan percobaan. Tindakan kedua mengalami peningkatan, terbukti dengan munculnya tujuh indikator demikian pula pada tindakan ketiga. Namun sampai pada tindakan ketiga, adanya penuntun atau panduan percobaan masih belum muncul, dalam artian pandun tersebut maskih sangat kurang. Untuk itu perlu adanya refleksi pada indikator tersebut supaya pada siklus berikutnya bisa menampakjkan hasil. Aspek mengelola pelaksanaan percobaan, dari sepuluh indikator yang

diharapakan muncul, pada tinndakan pertama dan kedua muncul tujuh indikator, dan pada tindakan ketiga muncul delapan indikator. Hal ini karena dalam pelaksanaan percobaan sains guru masih membatasi pada ruang kelas saja. Jalanya percobaan sains hanya berlangsung dirung kelas saja, serta masih adanya

99

kerickihan yang terjadi antar siswa walaupun sedikit namun tidak sampai mengganggu jalanya percobaan sains. Hasil Praktikum Secara Umum dapat Meningkatkan Kreativitas anak didik. Pada aspek ini memiliki enem indikator yang diharapakan muncul. Tindakan pertama sudah memunculkan empat indikator, pada tindakan kedua dan ketiga sama yaitu lima indikator. Hal ini dikarenakan siswa belum merasa puas dengan percobaan yang dilakukan meskipun percobaanya sudah mendekati benar. Panduan praktikum yang seharusnya bermanfaat bagi siswa belum terpenuhi. Mendorong Anak Didik Untuk Mengeluarkan Pendapat, dari sepuluh indikator yang seharusnya muncul, pada tindakan pertama sudah muncul delapan demikian pula pada tindakan ketiga sudah mengalami peningkatan yaitu sudah muncul sembilan indikator. Dalam hal ini guru masih mengalami kesulitan dalam mendorong siswa untuk bisa berpendapat. Pertanyan-pertanyaan yang muncul masih didominasi oleh beberapa siswa saja, dan karena jawaban siswa yang beraneka ragam maka guru sedikit kesulitan dalam membuat kesimpulan. Menempatkan Guru Bukan Satu-satunya Sumber Balajar. Dari sepuluh indikator pada tindakan pertama sudah muncul tujuh indikator. Tindakan kedua dan ketiga sudah muncul delapan indikator. Tapi masih ada indikator yang belun juga muncul dari tindakan pertama sampe tindakan ketiga yaitu guru tidak memberikan kesempatan yang luas pada anak didik dalam mengadakan percobaan. Guru kurang menghargai pendapat dari anak didik yang beragam dengan alasan sebagai acun untuk penarikan kesimpulan, sedangkan anak didik tidak memiliki sumber lain selain yang diberikan oleh guru.

100

Kreatifitas Siswa pada tindakan pertama masih 47.2% dalam kategori Kurang (K). Gagasan Kreatif Siswa yanga meliputi kelancaran, keluwesan, kemampuan berpikir rasional, penguraian dan menilai, baru nampak sedikit. Suasana kelas masih gaduh, siswa tertentu berbicara sendiri dengan teman, dan ada sebagian siswa yang mengganggu teman lain. Hasil tersebut mengindikasikan bahwa kesungguhan siswa dalam mengikuti model pembelajaran yang diujicobakan belum muncul. Dengan demikian dapat direfleksikan sebagai acuan rencana tindakan pada siklus berikutnya untuk meningkatkan minat siswa terhadap model pembelajaran yang disampaikan dengan mengemasnya menjadi lebih menarik lagi, misalnya menyisipkan berbagai atraksi yang mempu menimbulkan kesan tersendiri pada masing-masing siswa terhadap materi yang sedang diajarkan. Pendorong Kreatif pada siklus I dari masing-masing tindakan terjadi peningkatan. Guru senantiasa membangkitkan dorongan-dorongan untuk kreatif. Dorongan kreatif tersebut diharapkan dapat mencapai tahap yang optimal pada siklus berikutnya. Pada awal pelajaran anak didik masih “takut” akan kehadiran observer, namun setelah selang beberapa waktu (ketika mulai percobaan) mereka justru melakukan tindakan yang kurang relevan terhadap pembelajaran. Keadaan ini masih dapat diterima karena model pembelajaran ini masih baru bagi mereka. Anak didik memiliki rasa ingin tahu yang mendalam, sehingga dalam melaksanakan percobaan anak didik memperhatkikan dengan seksama saat

101

percobaan sains sedang berlangsung. Mereka sangat bersemangat untuk melakukan percobaan kembali namun karena waktu yang ditentukan dan guru tidak memberikan waktu yang cukup luas, maka untuk melakukan percobaan kembeli percobaan kembali terbatas. Dalam melakukan percobaan sains anak didik menggunakan caranya sendir-sendiri dan dari sinilah kreativitas siswa mulai terlihat saat anak didik mencobanya kembali. Proses Kreatif pda siklus I ini terjadi peningkatan secara bertahap dari masing-masing tindakan oleh observer. Hal ini karena pengamatan dan juga refleksi yang dilakukan dalam setiap tindakan. Proses kreatif terjadi dalam empat tahap yaitu: tahap persiapan, tahap inkubasi, tahap inspirasi, dan tahap verifikasi. Pada tahap persiapan sebelum percobaan dmilakukan semua alat dan bahan dkipersiapkan terlebih dahulu. Tahap inkubasi disini adalah mengenai alokasi waktu yang harus jelas. Tahap inspirasi mengenai gagasan dari masing-masing anak didik dalam memecahkan masalah. Tahap verifikasi disini adalah anak didk dapat memahami menurut pemahamanya sendiri, sesuai dengan keadaan nyata atau kondisi realita. Sikap Ilmiah Siswa pada siklus I reratanya masih rendah dan semua masih termasuk dalam kategori kurang (K). Terlihat pada setiap aspeknya seperti, sikap kejujuran reratanya hanya 50.7%, sikap kedisiplinan reratanya hanya 48.6%, sikap tanggung jawab reratanya hanya 51.8%, sikap percaya diri reratanya hanya 49.6%, sikap kerja sama reratanya hanya 54.2%. Namun demikian pada siklus I ini telah terjadi peningkatan dari masing-masing tindakan oleh observer.

102

Pada Siklus I tindaka ketiga, aktivitas guru selama berlangsungnya percobaan sains setiapa aspek mengalami peningkatan, hal ini telihat dengan banyaknya indikator yang muncul. Aspek mendorong siswa untuk mengeluarkan pendapat sendiri mengalami peningkatan dengan

memunculkan indikator sebanyak 9 buah dengan prosentase 90% dan termasuk dalam kategori Baik (B). Skenario Pembelajaran mengalami peningkatan, banyak indikator yang muncul hingga mencapai 90%, dan ini termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Hal tersebut disebabkan oleh adanya interaksi antara siswa dan guru yang relatif meningkat. Kreativitas Siswa selama pembelajaran pada tindakan kedua siklus I mengalami peningkatan. Aspek gagasan kreatif sudah mulai menampakkan hasil, meskipun masih belum optimal. Aspek kelancaran dan kemampuan berpikir rasional masih merupakan pengamatan terlemah dan masih dalam kategori Kurang (K). Sikap Ilmiah Siswa tindakan ketiga siklus I mengalami peningkatan, hal ini didongkrak oleh sikap tanggung jawab dan sikap kerjasama siswa yang mulai meningkat. Perilaku Siswa yang Kurang Relevan Selama Pembelajaran pada siklus I adalah 434.33 dengan prosentase 79.0% dan ini termasuk dalam kategori tinggi. Hal ini dikarenakan masih ada siswa yang tidak konsentrasi dalam pelaksanaan percobaan sains, seperti halnya suka ngobrol sendiri dan mengganggu teman lain.

103

Berdasarkan temuan pada sikus I tersebut menunjukkan bahwa gendala yang menyebabkan masih rendahnya kreativitas siswa bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri. Dalam proses pembelajaran siswa masih menganggap model pembelajaran yang sedang dikembangkan masih asing baginya sehingga suasana kelas manjadi gaduh. Pernyataan tersebut senada dengan pendapat Hurlock (1989:4) yang menyatakan bahwa proses kreatif adalah suatu proses yang mengarahkan seseorang untuk dapat menghasilkan suatu komposisi, produk atau gagasan yang pada dasarnya baru sehingga diperlukan waktu untuk dapat beradaptasi. Secara umum dapat dijelaskan bahwa untuk dapat meningkatkan kreativitas siswa diperlukan tahapantahapan agar siswa dapat menghubungkan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya kedalam situasi yang baru. Dengan semakin banyaknya pengalaman yang diperoleh siswa maka akan tumbuh rasa ingin tahu dari dalam dirinya, perasaan untuk senang mengajukan pertanyaan guna mendapatkan pengalaman baru. 2. Siklus II Perencanaa Pembelajaras Guru pada siklus II tindakan kedua telah mencapai tahap yang optimal, rata-ratanya telah mencapai 100% dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Hal ini disebabkan oleh tajamnya observer didalam memanfaatkan analisis dan refleksi pada siklus I. Kegiatan kreatif yang direncanakan dengan baik membantu anak mengembangkan perasaan positif mengenai diri sendiri dan kemampuankemampuanya. Dengan bekerja bersama-sama anak lain, anak belajar

104

keterampilan sosial, seperti menyesuaikan diri, komunikasi, toleransi, dan kerja sama. (Freeman & Munandar, 1997:252) Rencana pembelajaran diupayakan mampu mengkondisikan suasana yang mendukung tumbuh dan berkembangnya kreativitas anak dalam belajar. Mengacu pada pendapat Feldhusen dan Treffinger (1990) seperti diuraikan oleh Utami Munandar (1992), meliputi pengaturan fisik/lingkungan kelas serta persiapan dan perilaku guru dalam layanan pembelajaran. Aktivitas Guru selama pembelajaran pada siklus II tindakan kedua mengalami peningkatan hingga mencapai 100% dalam kategori Amat Baik (AB). Semua aspek baik itu Membina siswa melakukan percobaan, mengeloloa pelaksanaan percobaan, peningkatan kreativitas siswa,

mendorong siswa untuk mengeluarkan pendapat serta menempatkan guru bukan satu-satunya sumber belajar, telah mengalami peningkatan hingga mencapai 100% dengan kategori Amat Baik (AB), dan ini sesuai dengan apa yang diharapakan. Hal ini disebabkan oleh sudah mantapnya guru peneliti di dalam melaksanakan tugasnya, karena sudah mendapat masukan yang bermakna dari tim kolaborasi. Jadi aktivitas guru secara keseluruhan pada siklus II adalah 89.8% dan termasuk dalam kategori Amat Baik (AB). Dari hasil tersebut diatas kita mengacu pada pendapat Conny R. Semiawan (1997) tentang saran untuk menciptakan iklim dan suasana yang mendorong dan menunjang pemikiran kreatif dalam pembelajaran sebagai berikut : Bersikaplah terbuka terhadap minat dan gagasan anak Berialah waktu kepada siswa untuk memikirkan dan mengembangkan ide atau gagasan kreatif

105

Ciptakanlah suasana saling menghargai dan saling menerima, sehingga antar mereka dapat belajar, bekerja secara bersama maupun mandiri dengan baik Kreativitas dapat diterapkan disemua bidang kurikulum dan bukan monopoli sini Dornglah kegiatan berpikir divergen dan jadilah narasumber dan pengarah Berikan suasana yang aman dan bebas untuk berpikir menyelidiki (eksplorasi) Berilah kesempatan pada anak untuk berperan serta dan mengambil keputusan Libatkan dan dukunglah gagasan dari semua anak Bersikap positif terhadap kegagalan untuk meningkatkan gagasan Kreativitas Siswa pada aspek kepribadian kreatif selama siklus II juga mengalami peningkatan dalam setiap aspek baik itu aspek kelancaran, keluwesan, kemampuan berpikir rasional, penguraian, serta menilai. Dari tindakan pertama dan kedua reratanya sudah mencapau 78.2% dan ini termasuk dalam kategori Baik (B), dan telah mencapai tahap yang optimal. Lebih jelasnya peningkatan kreatifitas siswa tersebut dapat disajikan pada gambar berikut ini :

106

Gambar 2. Peningkatan Kreatifitas Anak Didik Dari gambar tersebut menunjukkan dengan jelas adanya peningkatan kreativitas. Dari sinilah terlihat bahwa kreativitas mempunyai peran penting dalam menentukan perkembangan manusia. Karena anak yang dapat menyalurkan kreativitasnya akan mempunyai makna pada tahap

perkembanganya. Kreativitaslah yang memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. Dalam era pembangunan ini kesejahteraan dan kejayaan masyarakat dan negara bergantung pada sumbangan kreatif, berupa ide-ide baru, penemuan-penemuan baru, dan teknologi baru. (Munandar, 1999:31) Pendorong Kreatif pada siklus II telah mengalami peningkatan hingga mencapai 78.6% dan termasuk dalam kategori Baik (B). Hal ini karena guru yang selalu memberikan dorongan pada siswa yang belum berhasil dengan senantiasa disuruh untuk mencoba dan mencoba agar mencapai tahap yang optimal. Lebih jelasnya peningkatan pendorong kreatif tersebut dapat dilihat pada gambar 2 berikut :

107

Gambar 3. Peningkatan Pendorong Kreatif Dalam pembalajaran yang berlangsung, guru menjadi sangat penting dalam fungsinya sebagi fasilitator pendorong kreatif. Sebagai fasilitator guru mendorong siswa (motivator) untuk mengembangkan inisiatif dalam menjajagi tugas-tugas baru. Ia tidak capat memberikan kritik, tetapi memberikan dukungan dan rangsangan di mana perlu. Guru harus terbuka dan dapat menerima gagasan-gagasan dari semua anak (menerima tidak sama dengan menyetujui; menerima disini berarti terbuka dan berusaha memahami). Adlah tidak bijaksana memuji anak tertentu secara berlebihan dan bersikap menolak gagasan-gagasan anak lain. Guru harus berusaha manghilanghkan ketakutan dan kecemasan siswa yang menghambat pemikiran dan pemacahaan masalah secara kreatif. Anakanak pun harus belajar menunjukkan penghargaan terhadap peekerjaan anak lain dan tidak mengejek, mengkritik (dalam arti mencela), atau menertawakan, sebagaimana mereka juga harus belajar menghargai pekerjaan diri sendiri. Jadi, dalam peran sebagai fasilitator seorang guru harus: Mendorong balajar mandiri sebanyak mungkin Dapat menerima gagasan-gagasan dari semua anak Memupuk anak (dan diri sendiri) untuk memberikan kritik secara konstruktif dan untuk memberikan penilaian diri sendiri Berusaha menghindari pemberian hukuman atau celaan terhadap ide-ide yang tidak biasa

108

Dapat menerima perbedaan menurut waktu dan kecapatan antar anak dalam kemampuan memikirkan ide-ide baru.

Proses Kreatif

pada siklus II juga telah mengalami peningkatan

hingga mencapai 79.2% dan termasuk dalam kategori Baik (B). Hal ini karena guru senantiasa memberikan kesempatan pada anak didik untuk bersibuk diri secara kreatif dengan membantu mengusahakan sarana dan prasarana yang diperlukan. Dalam yang hal ini penting ialah memberi kebebasan kepada anak untuk mengekspresikan dirinya secara kreatif. Lebih jelasnya peningkatan proses kreatif tersebut dapat dilihat pada gambar 3 berikut :

Gambar 4. Peningkatan Proses Kreatif Rogers (Kitano & Kirby, 1986), menjelaskan proses kreativitas yang menekankan produktivitas kreativitas adalah munculnya hasil ide yang

109

diperoleh melalui interaksi antara keunikan individu dengan berbagai pengalamanya. (Semiawan, 1997:104) Kondisi yang diperlukan untuk itu, antara lain sebagai berikut. Keterbukaan terhadap pengalaman; toleransi untuk makna ganda sesuatu; dan fleksibilitas terhadap keterbatasan konseptual. Lokus internal evaluasi; artinya dapat memperoleh kepuasan atas evaluasinya sendiri tanpa terlalu tergantung dengan pikiran orang lain Kemampuan untuk bergulir dengan macam-macam ide dan konsep. (Khatena, 1994) Sikap Ilmiah Siswa pada siklus II tindakan kedua juga mengalami peningkatan hingga mencapai 72.2%, dan termasuk dalam kategori Baik (B). hal itu terjadi pada setiap aspek ba ik itu sikap kejujuran, sikap kedisiplinan, sikap tanggungjawab, sikap percaya diri, dan sikap kerjasama. Setiap aspek tersebut telah mencapai tahap yang optimal hingga memunculkan produk kreatif yang bisa dirasakan secara langsung. Hal ini dibuktikan dengan diadakanya bazar pada ahir penelitian dengan memamerkan produk-produk yang hasil karya anak didik selama penelitian. Lebih jelasnya peningkatan sikap ilmiah siswa tersebut dapat dilihat pada gambar 2 berikut :

110

Gambar 5. Peningkatan Sikap Ilmiah Siswa Berdasarkan temuan pada siklus II tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode demonstrasi yang diujicobakan telah mampu meningkatkan kreatifitas untuk seluruh aspek yaitu kelancaran, keluwesan, kemampuan berpikir rasional, penguraian, serta menilai. Pada sikus II ini telah muncul rasa ingin tahu yang mendalam dari para siswa ditunjukkan dari seringnya mereka mengajukan pertanyaan, mengajukan gagasan-gagasan, dan mengajukan pendapat secara spontan saat proses pembelajaran. Pernyataan tersebut didukung oleh pendapat Hawadi, Wihardjo & Wiyono (2001:14) yang menyatakan bahwa munculnya sikap kreatif siswa ditandai dengan munculnya rasa ingin tahu yang mendalam, sering mengajukan pertanyaan, memberikan banyak gagasan, mampu menyatakan pendapat secara spontan, dapat memecahkan masalah dari beberapa segi, mampu mengajukan gagasan yang berbeda dengan orang lain, dan mampu menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang. Dengan baiknya kreatifitas siswa setelah mendapatkan model pembelajaran demontrasi, maka model pembelajaran ini terbukti mampu mengantarkan siswa untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru dalam setiap model pembelajaran yang diikuti sebagai manifestasi kemampuan sesunguhnya dari masing-masing siswa. Maslow (1967) menjelaskan bahwa dengan

111

munculnya sikap kreatif siswa menunjukkan bahwa secara keseluruhan seluruh aspek kemampuan siswa yang meliputi ranah afektif, kognitif dan psikomotor telah berfungsi sepenuhnya dan dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi siswa terhadap kemampuan yang telah dicapainya tersebut dalam proses pembelajaran

Perilaku Siswa yang Kurang Relevan Selama Pembelajaran pada siklus II ini adalah 339.00 dengan prosentase 61.6% dan termasuk dalam kategori cukup. Hal ini karena siswa sudah mulai asik dengan pelaksanaan percobaan sains dan guru mencoba menekan sekecil mungkin tindakan siswa yang tidak relevan selama pembelajaran. Namun demikian tindakan itu masih muncul walaupun kecil. Lebih jelasnya penurunan perilaku siswa yang kurang relevan selama pembelajaran tersebut dapat dilihat pada gambar 5 berikut

112

Gambar 6. Penurunan Perilaku Siswa Yang Kurang Relevan Selama Pembelajaran

Respon Siswa terhadap model pembelajaran ini sangat baik. Responden merasa bahwa percobaan sains merupakan pembelajaran baru bagi mereka, hampir semua responden merasa tertarik dengan model pembalajaran ini dan mereka juga setuju jika model pembelajaran tersebut diterapkam di dalam kelas. Respon Observer terhadap percobaan sains mengatakan efektif untuk pembelajaran sains di Taman Kanak-kanak, dan mereka tertarik dengan model pembelajran ini serta pembalajaran dikelas. Berdasarkan data-data diatas, penelitian ini mampu menjawab tujuan penelitian, yakni bahwa penelitian tindakan kelas dengan menerapkan perclobaan-percobaan sains dapat meningkatkan kreativitas anak didik di Taman Kanak-kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran tahun pelajaran 2004/2005 telah terbukti dapat meningkatkan kreativitasnya. setuju jika model pembalajaran ini dalam

113

BAB V PENUTUP

Simpulan Berdasarkan data hasil penelitian beserta pembahasanya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut ; Penelitian ini mampu menjawab tujuan umum penelitian yakni meningkatkan kreativitas anak didik dalam pembelajaran melalui percobaan-percobaan sains di Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran. Penelitian ini juga mampu menjawab tujuan khusus penelitian yakni setelah penelitian ini berahir, kreativiras anak didik semakin meningkat secara signifikan yang ditunjukkan oleh indikator-indikator sebagai berikut : Guru terampil membuat rencana pembelajaran, yang terbukti dengan perolehan rerata prosentase Siklus I 96.4%, Siklus II mencapai rerata prosentase 100%. Aktivitas guru selama percobaan sains meningkat baik, hal ini terbukti dari perolehan rerata prosentase, dari Siklus I sampai Siklus II adalah 65.3%, 71.4%, 75.5%, 77.6%, 89.8%. Kreativitas anak didik yang berupa kepribadian kreatif, pendorong Kreatif, proses kreatif, sikap ilmiah semuanya mengalami peningkatan dari masing-masing siklus. Untuk kepribadian kreatif siklus I 47.2% dan siklus II 78.2%. Pendorong kreatif siklus I 48,4% dan siklus II 78.6%.

114

Proses kreatif siklus I 52.7% dan siklus II 79.2%. Sikap ilmiah Siklus I 46.9% dan siklus II 72.2%. Penelitian tersebut telah mampu menjawap permasalahan yaitu dengan percobaan sains dapat meningkatkan kreativitas anak didik di Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran tahun pelajaran 2004/2005. Saran Kepada para guru, tumbuh kembangkan kreativitas anak didiknya, khususnya melalui percobaan-percobaan sains. Agar kreatifitas siswa tidak mati di tangan guru, pegang teguh hakikat percobaan sains sebagai sikap ilmiah. Kepada para anak didik di Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran, jangan takut salah untuk selalu mencoba dan mencoba, karena didalam kreativitas dimungkinkan adanya kesalahan-kesalahan yang justru dapat membuat kita lebih kreatif. Kepada Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Taman Kanak-Kanak Hj. Isriyati Moenadi Ungaran, kreatifitas siswa yang dibina dengan baik akan dapat membawa nama harum sekolah. Oleh karena itu tumbuh kembangkan kreativitas anak didik di lembaga tersebut.

115

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful