PERAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH ( MBS) DALAM MENINGKATKAN MANAJEMEN MUTU TERPADU

Oleh : Prof. Dr. H. Endang Komara, M.Si A. Abstrak Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom, dengan tidak mereduksi peran pemerintah, terutama dalam bidang pendanaan. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki, maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. B. Pendahuluan Sejak bergulirnya reformasi pertengahan tahun 1998, telah terjadi gelombang perubahan dalam segala sendi kehidupan, baik kehidupan bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara. Perubahan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara saat ini merupakan pergeseran terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan. Selama ini penggunaan pradigma sentralistik selanjutnya terjadi pergeseran orientasi menuju paradigma desentralistik. Perubahan orientasi paradigma ini diberlakukan melalui penetapan perundang-undangan mengenaai Pemerintah Daerah, yang lebih sering kita dengar dengan terminologi otonomi daerah. Perubahan orientasi paradigma tersebut telah melahirkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang lebih dinamis. Seluruh aktivitas yang dilakukan cenderung berdasarkan aspirasi setempat (kedinasan), sehingga sasaran lebih terjamin pencapaiannya. Dengan demikian, prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal. Hal ini dimungkinkan terjadi karena pemetaan permasalahan bersifat objektif, aktual, konstektual dan berbagai masalah teridentifikasi secara objektif. Salah satu implementasi dari penerapan paradigma desentralisasi itu adalah di sektor pendidikan. Sektor pendidikan selama ini ditengarai terabaikan dan dianggap hanya sebagai bagian dari aktivitas sosial, budaya, ekonomi dan politik. Akibatnya, sektor pendidikan dijadikan komoditas berbagai variabel di atas oleh para pengambil kebijakan, baik oleh eksekutif maupun legislatif ketika mereka menganggap perlu mengangkat isu-isu kependidikan yang dapat meningkatkan perhatian publik terhadap mereka. Memang ironis dan memprihatinkan ketika bangsa lain justru menjadikan pendidikan sebagai leading sector pembangunannya, menuju keadilan dan kesejahteraan masyarakatnya. Begitulah sektor pendidikan ditempatkan selama ini, ia tidak menjadi leading sector dalam perencanaan pembangunan mutu manusia secara nasional. Padahal amanah terpenting dari kemerdekaan bangsa ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Seharusnya seluruh perencanaan dan aktivitas apa pun yang dilakukan adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar, 2000). Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono, 2000: iii). Oleh karenanya, upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya harus dilakukan secara terus menerus. Melalui pendidikan diharapkan pemberdayaan, kematangan, dan kemandirian serta mutu bangsa secara menyeluruh dapat terwujud. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang bersifat fungsional bagi setiap manusia dan memiliki kedudukan strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tantangan lainnya yang mempengaruhi pendidikan adalah perubahan yang terjadi akibat semakin mengglobalnya tatanan pergaulan kehidupan dunia saat ini. Di era globalisasi, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas tidak bisa ditawar lagi dengan adanya tantangan yang dihadapi yakni persaingan dengan negara lainnya, khususnya negara tetangga di kawasan ASEAN. Padahal saat ini kualitas sumber daya manusia negara kita berdasarkan parameter yang ditetapkan oleh UNDP pada tahun 2000 berada pada peringkat ke-109. Padahal Singapura, Malaysia, Thailand dan Fhilipina lebih baik peringkatnya dari kita. Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia, kita semua sepakat bahwa pendidikan memegang peran yang sangat penting. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri (Suryadi, 1999). Walaupun tujuh tahun telah berlalu sejak penetapan UNDP tahun 2000 tentang peringkat mutu sumber daya manusia Indonesia, ternyata hingga saat ini bukannya semakin meningkat meningkat, tetapi tetap jalan ditempat, bahkan teridentifikasi semakin menurun. Berdasarkan laporan World Economic Forum, tingkat daya saing Indonesia pada tahun 2006 berada diurutan ke-50, Malaysia ke-26, Singapura ke-5, India ke-43 dan Korea Selatan ke-24. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan mutu manusia Indonesia melalui pendidikan, dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan yang semakin mendesak. Terminologi pendidikan memiliki ruang lingkup yang luas, meliputi pendidikan persekolahan dan pendidikan luar sekolah. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa tumpuan utamanya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan berada pada pendidikan persekolahan. Karena itu, upaya reformasi pendidikan ditujukan untuk memperbaiki sistem pendidikan persekolahan agar dapat menjawab tantangan nasional, regional dan global yang berada di hadapan kita. Salah satu pendekatan yang dipilih di era desentralisasi sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan persekolahan adalah pemberian otonomi yang luas di tingkat sekolah serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Pendekatan tersebut dikenal dengan model Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) atau School Based Management. Mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam pendidikan, bisnis dan pemerintahan. Saat ini memang ada masalah dalam sistem pendidikan. Lulusan SMK atau perguruan tinggi tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. Para siswa yang tidak siap jadi warga negara yang bertanggung jawab dan produktif itu, akhirnya hanya jadi beban masyarakat. Para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu, yang akhirnya hanya memberatkan anggaran kesejahteraan sosial saja. Adanya lulusan lembaga pendidikan yang seperti itu berdampak pula pada sistem peradilan kriminal, lantaran mereka tak dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang, dan yang lebih parah lagi, akhirnya mereka menjadi warga negara yang merasa terasing dari masyarakatnya. Bila mutu pendidikan hendak diperbaiki, maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang memukul sistem pendidikan bangsa ini. Pengetahuan yang diperlukan untuk memperbaiki sistem pendidikan kita sebenarnya sudah ada dalam komunitas pendidikan kita sendiri. Kesulitan utama yang dihadapi para profesional pendidikan sekarang ini adalah ketidakmampuannya menghadapi sistem yang gagal sehingga menjadi tabir bagi para profesional pendidikan itu untuk mengembangkan atau menerapkan proses baru pendidikan yang akan memperbaiki mutu pendidikan. Pendidikan harus mengubah paradigmanya. Norma-norma dan keyakinan-keyakinan lama harus dipertanyakan. Sekolah mesti belajar untuk bisa berjalan dengan sumber daya yang sedikit. Para profesional pendidikan harus membantu para siswa mengembangkan keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk bersaing dalam perekonomian global. Sayangnya, kebanyakan sekolah masih memandang bahwa mutu akan meningkat hanya jika masyarakat bersedia memberi dana yang lebih besar. Padahal dana bukanlah hal utama dalam perbaikan mutu pendidikan. Mutu pendidikan akan meningkat bila administrator, guru, staf dan anggota dewan sekolah mengembangkan sikap baru yang terfokus pada kepemimpinan, kerja tim, kooperasi, ekuntabilitas dan pengakuan.

Para profesional pendidikan sekarang ini kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang diperlukan untuk menyiapkan para siswanya memasuki pasar kerja global. Tradisi rupanya menghalangi proses pendidikan untuk melakukan perubahan yang diperlukan agar programnya sesuai dengan kebutuhan siswa. Masyarakat menuntut mutu pendidikan diperbaiki, namun masyarakat enggan mendukung dunia pendidikan untuk mengupayakan perbaikan. Banyak profesional pendidikan yang takut pada perubahan dan tidak tahu cara menjawab tantangan zaman. Para profesional pendidikan mestinya sadar, program mutu di dunia komersial tidak bisa dijalankan dalam bidang pendidikan. Karena proses kerja, budaya dan lingkungan organisasi di kedua bidang itu berbeda. Para profesional pendidikan harus diberi program mutu yang khusus dirancang untuk dunia pendidikan. Salah satu komponen penting program mutu dalam pendidikan adalah mengembangkan sistem pengukuran yang memungkinkan para profesional pendidikan mendokumentasikan dan menunjukkan nilai tambah pendidikan bagi siswa dan komunitasnya. Masyarakat dan dunia pendidikan mesti mengeliminasi fokus jangka pendeknya. Salah satu ciri dunia modern adalah terjadinya perubahan yang konstan. Perubahan merupakan hal penting. Manajemen mutu dapat membantu sekolah menyesuaikan diri dengan perubahan melalui cara yang positif dan konstruktif. Penyelesaian yang cepat tidak akan memecahkan persoalan pendidikan masa kini. Penyelesaian masalah secara cepat sudah pernah dilakukan, dan terbukti gagal. Oleh sebab itu diperlukan dedikasi, fokus dan keajegan tujuan dalam memperbaiki mutu pendidikan. Untuk mencapai lingkungan pendidikan yang bermutu, semua stakeholder pendidikan mesti memiliki komitmen pada proses transformasi. C. Pembahasan 1. Peran Manajemen Berbasis Sekolah Lembaga pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi, penyadaran dan mediasi secara simultan. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran; fungsi progresif pendidikan dan; fungsi mediasi pendidikan ( Danim, 2007:1). Hal tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun, beradab, dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Pendidikn formal, informal dan pendidikan kemasyarakatan merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan, melainkan sebagai intinya. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan, masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan, berupa penciptaan norma, aturan, prosedur, dan kebijakan baru. Orang tua, guru, dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu, bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif, termasuk fenomena moralitas. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan, bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya, ditandai denga makin terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell

(1995), diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi, proses, dan struktur persekolahan. Bersamaan dengan itu, perubahan wajah dunia terus berakselerasi. Misalnya, pada abad ke20 telah diproduksi konsep dan teori yang radikal tentang alam, realitas dan epistemologi. Munculnya teori relativitas, mekanika kuantum, dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. Memang, evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Selain itu, fungsi ini juga berperan sebagai wahana pengembangan, reproduksi, dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Para peneliti, penulis buku, pengamat, pendidik, guru, tutor, widyaiswara, pemakalah seminar, dan sejenisnya adalah orang yang banyak bergulat dengan pengkajian, penelitian, penelaahan, dan desiminasi ilmu. Saat ini fungsi progresif sekolah sebagai lembaga pendidikan terus menampakkan sosoknya, meski belum menunjukkan capaian yang signifikan, setidaknya pada banyak daerah dan jenis sekolah. Di daerah pedalaman misalnya, masih banyak sekolah yang sulit mempertahankan kondisinya pada taraf sekarang, apalagi mendongkrak mutu kinerjanya. Meski harus diakui pula, pada banyak tempat telah lahir sekolah-sekolah unggulan atau sekolah-sekolah yang diunggulkan oleh masyarakat karena mampu mengukir prestasi, misalnya peningkatan hasil belajar siswa. Fungsi itu akan lebih lengkap jika pendidikan juga melakukan fungsi mediasi, yaitu menjembatani fungsi konservatif dan fungsi progresif. Hal-hal yang termasuk kerangka fungsi mediasi adalah kehadiran institusi pendidikan sebagai wahana seosialisasi, pembawa bendera moralitas, wahana proses pemanusiaan dan kemanusiaan umum, serta pembinaan idealisme sebagai manusia terpelajar. Di Negara kita, pelembagaan MBS dipandang urgen atau mendesak. Hal itu sejalan dengan tuntutan masyarakat agar lembaga pendidikan persekolahan dapat dikelola secara lebih demokratis dibandingkan dengan pola kerja ‘’dipandu dari atas’’ sebagaimana dianut oleh negara yang menerapkan pemerintahan sentralistik. Persoalan utama di sini bukan terletak pada apakah format manajemen sekolah yang dipandu secara sentralistik itu lebih buruk ketimbang pendekatan MBS yang memuat pesan demokratisasi pendidikan, demikian juga sebaliknya. Persoalan yang paling esensial adalah apakah dengan perubahan pendekatan manajemen sekolah itu akan bermaslahat lebih besar dibandingkan dengan format kerja secara sentralistik ini, terutama dilihat dari kepentingan pendidikan anak. Maslahat aplikasi MBS bagi peningkatan kinerja sekolah dan perbaikan mutu hasil belajar peserta didik pada sekolah-sekolah yang menerapkannya masih harus diuji di lapangan. Prakarsa menuju perbaikan mutu melalui perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi pengelolaan pendidikan tidak mungkin diperoleh secara segera. Hal ini sejalan dengan konsep Kaizen, bahwa kemajuan dicapai bukanlah sebuah lompatan besar ke depan. Menurut Kaizen kemajuan dicapai karena perubahan-perubahan kecil yang bersifat kontinu atau tanpa henti dalam beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu detail yang berhubungan dengan usaha menghasilkan produk atau pelayanan. Menurut Tony Barner (1998) asumsi yang mendasari perubahan dalam Kaizen adalah bahwa kesempurnaan itu sebenarnya tidak ada. Hal ini bermakna bahwa tidak ada kemajuan, produk, hubungan, sistem, atau struktur yang bisa memenuhi ideal. Kondisi ideal itu hanyalah sebuah abstraksi yang dituju. Oleh karena itu, selalu tersedia ruang dan waktu untuk mengadakan perbaikan dan peningkatan dengan jalan melakukan modifikasi, inovasi, atau bahkan imitasi kreatif. Terlepas dari itu semua, pelembagaan MBS hampir dipastikan bahwa aplikasi MBS akan mendorong tumbuhnya lembaga pendidikan persekolahan berbasis pada masyarakat (community-based education) ataua manajemen pendidikan berbasis masyarakat (MPBM), khususnya di bidang pendanaan, fungsi kontrol, dan pengguna lulusan. Pembentukan Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat persekolahan merupakan salah satu bentuk bahwa pendidikan berbasis masyarakat menjadi isu sentral kita. Di dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propernas) 2000-2004 disebutkan bahwa salah satu program pembinaan pendidikan dasar dan menengah adalah mewujudkan manajemen pendidikan yang berbasis seakolah/masyarakat (school/community-based education) dengan memperkenalkan Dewan Pendidikan (dalam UU

Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. kepala sekolah. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. orang tua. b. Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. f. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. c. d. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. . pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. g. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. Pelaporan hasil.ini disebut Dewan Sekolah) di tingkat kabupaten/kota serta pemberdayaan atau pembentukan Komite Sekolah di tingkat sekolah. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. khususnya orang tua siswa. Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. e. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. dan murid (Nurkolis. 2003:42). Ironisnya selama ini. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. Oleh karenanya. Juga secara proses. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. anggota masyarakat. Secara akademik. administrator. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan.

Beberapa pandangan Juran (Arcaro. administrator. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: a. Manajemen Mutu Terpadu dapat memberikan fokus pada pendidikan dan masyarakat. c. Manajemen Mutu Terpadu memudahkan sekolah mengelola perubahan. bukan program sekali jalan. bisnis dan pemerintahan. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Aliansi pendidikan memastikan bahwa para profesional sekolah atau wilayah memberikan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan program-program pendidikan. Dengan perangkat yang tepat. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Dr. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. Edward Deming (Arcaro. b. Seperti halnya Deming. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. Manajemen Mutu Terpadu merupakan metodologi yang dapat membantu para profesional pendidikan menjawab tantangan lingkungan masa kini. Juran adalah ahli statistik terpandang. siswa. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. Pelatihan. Manajemen Mutu Terpadu membentuk infrastruktur yang fleksibel yang dapat memberikan respons yang cepat terhadap perubahan tuntutan masyarakat. bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. c. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Manajemen Mutu Terpadu dapat digunakan sebagai perangkat untuk membangun aliansi antara pendidikan. Manajemen Mutu Terpadu dapat membantu pendidikan menyesuaikan diri dengan keterbatasan dana dan waktu. Asal diterapkan secara ketat. b. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa ‘’tepat untuk dipakai’’ lebih tepat ditentukan oleh pemakai bukan oleh pemberi. Juran (Arcaro. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Peran Manajemen Mutu Terpadu Dr. Juran sudah memperkirakan keberhasilan bangsa Jepang dalam sebuah pidatonya untuk Organisasi Kontrol Mutu Eropa pada tahun 1966. Prosesnya diawali dengan mengembangkan visi dan . Joseph M . penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. Bila diterapkan secara tepat. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. Juran menyebut mutu sebagai ‘’tepat untuk pakai’’ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah ‘’mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. misal merupakan prasyarat mutu. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. W. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu’’. dia mengatakan bahwa: Bangsa Jepang menonjol di dunia dalam kepemimpinan mutu dan akan menjadi pemimpin dunia dalam dua dekade mendatang karena tak ada pihak lain yang bergerak ke arah mutu dengan kecepatan yang sama dengan Bangsa Jepang. Dr. Seperti halnya Deming. e. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Manajemen Mutu Terpadu dapat dipergunakan untuk mengurangi rasa takut dan meningkatkan kepercayaan di lingkungan sekolah. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan dengan tepat. staf. guru dan komunitas.2. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama terhadap mutu oleh dewan sekolah. d.

ternyata cukup mengejutkan. Pendidikan mesti dipandang sebagai sebuah sistem. Komunitas menggunakan anggaran sekolah untuk mengukur efisiensi proses sekolah. setiap orang dalam sistem sekolah mesti mengakui bahwa setiap output lembaga pendidikan adalah kostumer. ‘’bila tidak rusak. Kostumer internal adalah orang tua. sekalipun ada sarana untuk mengukur kemajuan berdasarkan pencapaian standar tersebut. Cara pikir dan cara kerja lama harus disingkirkan. Mutu menuntut setiap orang memberi kontribusi bagi upaya mutu. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan. Agar sekolah mengembangkan fokus mutu. militer dan perguruan tinggi yang berada di luar organisasi. pengukuran. perbaikilah. mutu adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki. mendorong keterlibatan total komunitas dalam program. Bila mereka tidak memiliki komitmen. perusahaan. Komitmen pengawas sekolah dan dewan sekolah harus memiliki komitmen pada mutu. Para siswa menggunakan nilai ujian untuk mengukur kemajuan di kelas. komitmen dan perbaikan berkelanjutan. Sekolah memiliki kostumer internal dan eksternal. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas. Menurut filosofi manajemen yang baru. Ada dua keyakinan pokok yang menghalangi tiap upaya penciptaan mutu dalam sistem pendidikan seperti dijelaskan oleh Jerome S. rupanya 35% responden yang disurvai menunjukkan. administrator. Ini merupakan konsep yang amat sulit dipahami para profesional pendidikan. anda tidak dapat memperbaiki apa yang tidak dapat anda ukur. mereka tak yakin bila sekolah itu memiliki kostumer. (2) banyak profesional pendidikan yang tetap memandang pendidikan sebagai sebuah ‘’jaringan anak manis’’. Fungsi-fungsi bisa berjalan lantaran memang selalu dijalankan. Transformasi mutu diawali dengan mengadopsi paradigma baru pendidikan. Mutu didasarkan pada konsep bahwa setiap proses dapat diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna. Pengukuran. Banyak profesional pendidikan secara terbuka menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen terhadap transformasi mutu. namun memanfaatkan output proses pendidikan. Perguruan tinggi itu tak punya catatan tertulis mengenai proses atau prosedur kerja. Hanya dengan memandang pendidikan sebagai sebuah sistem maka para profesional pendidikan dapat mengeliminasi pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan. proses transformasi mutu tidak akan dapat dimulai karena kalaupun dijalankan pasti gagal. Dalam bidang pendidikan. Setiap orang perlu mendukung upaya mutu. memang sungguh sulit bagi orang-orangnya untuk mengembangkan paradigma baru pendidikan. Karakteristik Sekolah Bermutu Terpadu menurut Arcaro (2006:38-39) antara lain: Fokus pada kostumer. Memang masih lebih banyak pihak dalam komunitas pendidikan yang mengakui adanya kostumer untuk tiap keluaran pendidikan. Konsep dasarnya. Lebih banyak uang yang diinvestasikan dalam pendidikan maka lebih tinggi juga mutu pendidikan dan. menunjang sistem yang diperlukan staf dan siswa untuk mengelola perubahan. Inilah konsep perbaikan berkelanjutan. Menurut filosofi manajemen lama. Mutu merupakan perubahan budaya yang menyebabkan organisasi mengubah cara . siswa. keluarga. staf dan dewan sekolah yang berada di dalam sistem pendidikan. keterlibatan total. tapi mutu pendidikan tak kunjung diperbaiki. Sekolah tidak dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan masyarakat. Ascaro (2006:12). serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat produk pendidikan menjadi lebih baik. Dalam survai terakhir atas 150 pengawas sekolah untuk mengukur pemahaman mereka atas mutu. janganlah diperbaiki’’. Banyak hal yang baik terjadi dalam pendidikan sekarang ini. Mereka bersikukuh untuk bertahan dari tarikan profesional nonpendidikan yang mempengaruhi perubahan sistem. guru. Visi mutu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kostumer. Dengan kata lain. yakni: (1) banyak profesional pendidikan yakin bahwa mutu pendidikan bergantung pada besarnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan.misi mutu untuk wilayah dan setiap sekolah serta departemen dalam wilayah tersebut. namun para professional pendidikan yang terlibat dalam prosesnya menjadi begitu terfokus pada pemecahan masalah yang tidak bisa mereka ukur efektivitas upaya yang dilakukannya. Dalam sebuah analisa rinci atas perguruan tinggi di Inggris belum lama ini. Ini merupakan bidang yang seringkali gagal di banyak sekolah. Umumnya orang bekerja dalam bidang pendidikan memulai perbaikan sistem tanpa mengembangkan pemahaman yang penuh atas cara sistem tersebut bekerja. Keterlibatan total. Sedangkan kostumer eksternal adalah masyarakat. karena bila Anda tidak melakukannya orang lain pasti melakukannya’’. ‘’kalau belum rusak. setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu.

F. Bandung: IKIP. 2006. Ibrahim. Suryadi. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Yogyakarta. Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Ke Lembaga Akademik. No 1 Tahun X April 1991. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. sistem dan proses untuk meningkatkan mutu. Jakarta: Bumi Aksara. Kapitalisme Pendidikan – Antara Kompetisi dan Keadilan.kerjanya. Wahono. tapi manajemen harus mendukung proses perubahan dengan memberi pendidikan. Manajemen pendidikan berbasis sekolah.wordpress. DAFTAR PUSTAKA Arcaro. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. Yogyakarta:Insist Press. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jarome S. Cindelaras. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Kaizen Strategies for Successful Leadership (Kepemimpinan Sukses). 2003. 3. http://khoirulanwari. Quality in Education: An Impelentation Handbook. 2006. dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. Arcaro. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan.com/about/peran-manajemen-berbasis-sekolah-mbsdalam-meningkatkan-manajemen-mutu-terpadu/ . Mimbar Pendidikan. 1991. ‘’Biaya dan Keuntungan Pendidikan’’. Manajemen Berbasis Sekolah. misalnya mengisi kegiatan dengan hal-hal sebagaimana adanya dan sekalipun ada masalah tidak menganggapnya sebagai masalah. Jakarta: Grasindo. Oleh karena itu. Orang biasanya tidak mau berubah. Penutup Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal sebagai berikut: 1. Danim. Sudarwan. 2003. Perbaikan berkelanjutan secara konstan mencari cara untuk memperbaiki setiap proses pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Jakarta: Interaksara. Nurkolis. Bafadal. Barner. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. 1998. (7) pelaporan hasil. Pustaka Pelajar. Ace. 2007. perangkat. 2000. 2. Jerome S. D. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. menuntut adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Penterjemah Yosal Iriantara. Tony.

nggak apa-apa sih — tapi belum tentu aplikasi2 RISMA kita itu nantinya secara fungsional bisa bermanfaat bagi semua lini dalam struktur organisasi sekolah dan optimal membantu kegiatan mereka serta tidak membebani tugas/tanggung jawab fungsional mereka yg sudah ada. gw pikir perlu. namanya juga SIM — M yg terakhir kan “manajemen” tuh kepanjangannya. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran . Pembagian tugas mengajar dan tugas lain 2. Berikut ini komponen MPMPBS menurut Dr. Tidak digunakan. M. 7. Penyusunan Kalender Pendidikan Penyusunan Program Tahunan dengan memperhatikan kalender pendidikan dan hasil analisis materi pelajaran Penyusunan program caturwulan atau semester berdasarkan program tahunan yg telah disusun Penyusunan program satuan pembelajaran (PSP) Penyusunan rencana pembelajaran (RP) Penyusunan rencana bimbingan dan penyuluhan • • Pengorganisasian 1. 5. Sistem pada akhirnya akan menjadi obsolete. Manajemen Pembelajaran Perencanaan 1. Penyusunan jadwal pelajaran Penyusunan jadwal kegiatan perbaikan Penyusunan jadwal kegiatan pengayaan Penyusunan jadwal kegiatan ekstrakurikuler Penyusunan jadwal kegiatan bimbingan dan penyuluhan • Pengerahan 1. Itu hanya Actuating atau Pengerahan kalo dalam bahasa indonesia standar-nya. termasuk SIAP Online (yep: SIAP Online yg dibikin ama Telkom). atau cenderung berorientasi ke guru saja.Pd (2006): 1. Analisis Materi Pelajaran 2. 3. 6. Dalam ‘peta’ SIM Sekolah & Madrasah yg dulu pernah gw bikin DNA-nya (juga arrow-diagram-nya). Adalah salah kalo dalam membangun aplikasi-aplikasi sistem informasi manajemen (SIM) yg kita banjiri dengan kegiatan-kegiatan transaksional/operasional tapi tidak melibatkan aktivitas-aktivitas lainnya. aku nggak (belum) mengelompokkan modul-modul aplikasi mana yang masuk dalam kegiatan manajemen mana (dari POAC itu tadi). bagi gw pribadi dan bagi teman-teman di Cinox Area Network yg mungkin suatu saat akan diamanahkan membantu (atau bahkan menggantikan) peran gw di RISMA sebagai business analyst & software architect — untuk memahami konteks Manajemen Berbasis Sekolah dari perspektif multidimensional. Yach. 3. 4. bukan hanya dari sudut pandang fungsi operasional (per departemen) tapi juga dari sudut pandang fungsi manajemen. Kegiatan operasional organisasi itu sesungguhnya baru 25% dari keseluruhan fungsi MBS yg diharapkan. Banyak aplikasi2 yg berorientasi secara sepihak. Untuk itu.Posted by admin in News No comments AUG 10 Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Berbasis Sekolah atau yg dikenal sebagai MBS — atau di kita dikenal sebagai RISMA : Sistem Informasi Manajemen Sekolah & Madrasah — itu sama seperti fungsi-fungsi manajemen umumnya yang harus punya aspek-aspek POAC (Planning Organizing Actuating Controlling) sebagaimana yg diutarakan ama ’selebritis’ akademis Sir Henry Fayol. dan tidak mempertimbangkan elemen-elemen manajemen sekolah yg lain. Wal-hasil — emm. seperti: cenderung berorientasi ke siswa saja. Banyak aplikasi-aplikasi MBS yg kurang memperhatikan itu. Banyak juga aplikasi-aplikasi MBS yg setelah diimplementasikan JUSTRU menambah kerjaanguru-guru dan pada akhirnya disangka membebani lalu lambat laun ditinggalkan. Ibrahim Bafadal. 4. 6. 5. Pengaturan pelaksanaan kegiatan pembukaan tahun ajaran baru 2.

Pengelompokan siswa berdasarkan pola tertentu Pengerahan 1. 5. Pendistribusian sarana dan prasarana sekolah 2. Pembinaan karir guru dan pegawai Pembinaan kesejahteraan guru dan pegawai Pengaturan perpindahan guru dan pegawai Pengaturan pemberhentian guru dan pegawai • Pengawasan 1. • Manajemen Sarana/Prasarana Perencanaan 1. Perencanaan daya tampung Perencanaan penerimaan siswa baru Penerimaan siswa baru • • Pengorganisasian 1. 3. Pembinaan profesionalisme guru dan pegawai 2. Sensus anak usia prasekolah 2. Penataan sarana dan prasarana sekolah . • Manajemen Kesiswaan Perencanaan 1. Analisis kebutuhan sarana dan prasarana sekolah 2. Penyusunan formasi guru dan pegawai Perencanaan dan pengadaan guru dan pegawai baru • • Pengorganisasian 1. Perencanaan dan pengadaan sarana dan prasarana sekolah • Pengorganisasian 1. 3. Pembinaan disiplin belajar siswa 2. • Manajemen Kepegawaian Perencanaan 1. Penilaian siswa 3. Analisis pekerjaan di sekolah 2. Evaluasi proses dan hasil kegiatan bimbingan dan penyuluhan 2. 4. 3. Pembagian tugas guru dan pegawai Pengerahan 1. Pemantauan siswa 2. Penilaian kinerja guru dan pegawai 4. 4. 3. Pencatatan kehadiran siswa Pengaturan perpindahan siswa Pengaturan kelulusan siswa • Pengawasan 1. 4. Pelaksanaan kegiatan bimbingan dan penyuluhan Supervisi pelaksanaan pembelajaran Supervisi pelaksanaan bimbingan dan penyuluhan • Pengawasan 1. 5. 4.3. Pemantauan kinerja guru dan pegawai 2. Evaluasi proses dan hasil kegiatan pembelajaran 2.

Pengadaan dan pengalokasian anggaran berdasarkan RAPBS Pengerahan 1. Penilaian kinerja manajemen kuangan sekolah 6. Pengaturan pelaksanaan antar jemput siswa 2. Analisa kebutuhan keterlibatan masyarakat dalam penyelenggaraan sekolah 2. 3. 3. Pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah Inventarisasi sarana dan prasarana sekolah Penghapusan sarana dan prasarana sekolah • Pengawasan 1. Pelaksanaan anggaran sekolah 2. 4.• Pengerahan 1. Penilaian kinerja hubungan sekolah dengan masyarakat 7. Pembukuan keuangan sekolah Pertanggungjawaban keuangan sekolah • Pengawasan 1. 4. Pemantauan keuangan sekolah 2. Pembagian tugas melaksanakan program layanan khusus bagi warga sekolah Pengerahan 1. Penilaian kinerja penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah 5. Penyusunan program layanan khusus bagi warga sekolah • • Pengorganisasian 1. 4. 5. Menciptakan hubungan sekolah dengan orangtua siswa 2. • Manajemen Layanan Khusus Perencanaan 1. Pengaturan pelaksanaan asrama siswa Pengaturan pelaksanaan makan siang siswa Pengaturan pelaksanaan program koperasi sekolah . Analisis kebutuhan program layanan khusus bagi warga sekolah 2. 3. Mendorong orangtua menyediakan lingkungan belajar yang efektif Mengadakan komunikasi dengan tokoh masyarakat Mengadakan kerjasama dengan instansi pemerintah dan swasta Mengadakan kerjasama dengan organisasi sosial keagamaan • Pengawasan 1. Pemantauan hubungan sekolah dengan masyarakat 2. • Manajemen Humas Perencanaan 1. Penyusunan program hubungan sekolah dengan masyarakat • • Pengorganisasian 1. Pembagian tugas melaksanakan hubungan sekolah dengan masyarakat Pengerahan 1. Penyusunan RAPBS Pengorganisasian 1. • • • Manajemen Keuangan Perencanaan 1. Pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah secara efektif dan efisien 2. 3. Pemantauan kinerja penggunaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana sekolah 2.

erp-pendidikan. Dan hal inilah yg ingin di-injeksikan oleh pemerintah untuk ‘mendidik’ sekolah-sekolah negeri agar mampu berkembang secara mandiri dan berakibat positif pada peningkatan mutu output belajarnya. dan transparansi merupakan pilar/pondasi dari MBS yg ironisnya udah banyak diterapkan pada sekolah-sekolah swasta untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas eksistensinya. 2. Kemampuan manajemen yg baik adalah kunci suksesnya.5. 4. partisipasi. pengembangan visi sekolah evaluasi diri dalam rangka mengidentifikasi berbagai kebutuhan pengembangan identifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan perumusan tujuan (misi) sekolah penyusunan program peningkatan implementasi program evaluasi diri kembali untuk kepentingan peningkatan mutu berikutnya Dimana mutu. Memang. Pengaturan pelaksanaan program layanan khusus lainnya • Pengawasan 1. 6. 7. 5. Pemantauan program layanan khusus 2. Penilaian kinerja program layanan khusus bagi warga sekolah RISMA sebaiknya dikemas sedemikian rupa sehingga mampu memfasilitasi proses-proses dalam MBS yg bersiklus yg terdiri dari: 1. kemandirian. seringkali dalam aspek partisipatif melalui optimalisasi manajemen humas dan layananlayanan sekolah. http://www. 3.com/?p=378 FACEBOOK BADGE Suherli Kusmana Create Your Badge BLOG ARCHIVE • ► 2010 (6) . berbeda dengan sekolah negeri yg selalu dilindungi dan dinaungi oleh pemerintah — sekolah swasta lebih banyak bekerja keras membanting tulang untuk menyokong ‘kehidupan’ sekolahnya.

go.net http://jardiknas.com http://pusbuk.id http://e-dukasi.• • ► 2009 (14) ▼ 2008 (21) Desember 2008 (1) November 2008 (3) Oktober 2008 (2) September 2008 (1) Agustus 2008 (3) Juli 2008 (2) Juni 2008 (4) Mei 2008 (5) ○► ○► ○► ○► ○► ○► ○► ○▼  Menilik Kebijakan Sistem Pendidikan  Buku Teks Layak Pakai di Sekolah  Usia Buku Teks  Karangan Ilmiah  Puisiku SITUS BERKAITAN • • • • • • • • • • READ APBI SK dan KD Bahasa Indonesia Asosiasi Pengajar Bahasa Indonesia Translate Google www.id http://depdiknas.org ShoutMix chat widget LABELS • kalimat efektif (1) .ziddu.go.

sangat tepat jika dilakukan perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik menjadi desentralistik.30 Diposkan oleh Suherli Kusmana 2 komentar Suherli Dalam pemberlakuan Otonomi Daerah terjadi perubahan mendasar dalam penyelenggaraan pendidikan. Oleh karena itu. delegasi adalah pengalihan tanggung jawab untuk membuat keputusan dan mengatur pengelolaan layanan publik kepada pemerintah daerah. Desentralisasi pendidikan merupakan alternatif model pemberdayaan masyarakat. dan . dekonsentrasi adalah penyerahan tanggung jawab layanan sektor tertentu pada perwakilan pemerintah pusat di daerah. Landasan filosofis yang perlu diperhatikan dalam memahami konsepsi ini bertolak dari terminologi desentralisasi dan otonomi. Program yang digulirkan pemerintah untuk keperluan ini adalah School Based Management atau Manajemen Berbasis Sekolah. Salah satu implementasi dari desentralisasi pendidikan adalah dihidupkannya peran serta masyarakat untuk ikut menyelenggarakan dan mengawasi pendidikan. Hal itu bertolak dari kesadaran penentu kebijakan bahwa sektor pendidikan merupakan investasi jangka panjang dalam menyiapkan sumber daya manusia. dan beriman.• • • • • • • Kebahasaan (13) Kebijakan Publik (1) keguruan (2) Kependidikan (10) pendidikan (1) Perbukuan (11) Unduh BSE (2) Menilik Kebijakan Sistem Pendidikan di 16. fenomena krisis yang melanda bangsa kita menunjukkan bahwa pendidikan dianggap belum berhasil dalam menyiapkan SDM yang unggul. kompetitif. Desentralisasi adalah penyerahan otoritas pusat ke daerah-daerah. privatisasi adalah pengalihan otoritas sektoral kepada usaha-usaha swasta. Selain itu. dan otonomi merupakan arah balik dari desentralisasi (yang berangkat dari otoritas pusat yang diserahkan kepada daerah). Program MBS menyiratkan konsep mendasar atas penyelenggaraan pendidikan dengan prinsip desentralisasi pendidikan.

Dari terminologi tersebut maka desentralisasi pendidikan menganut prinsip good governance is less governing (penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah lebih kurang mengatur). Namun. Dari itu. kabupaten. Kebijakan pendidikan pada masa Orde Baru mengarah pada penyeragaman. yaitu pada masa Pra-Orde Baru. bukan untuk kebutuhan pasar melainkan untuk orientasi politik. Perubahan ini dirasakan sangat drastis karena selama 35 tahun sebelumnya. Kebijakan Pendidikan Sentralistik Kebijakan pendidikan yang sentralistik dialami dalam tiga periode. berbagai perubahan mendasar pengelolaan pendidikan diserahkan kepada stakeholder pendidikan. karena jika wewenang pusat hanya dipindahtangankan ke daerah. dengan berbekal konsep desentralisasi pendidikan seiring dengan era reformasi yang sedang bergulir. Pada masa ini pertumbuhan ekonomi yang dijadikan panglima dengan tidak berakar pada ekonomi rakyat dan sumber daya domestik serta ketergantungan pada utang luar negeri sehingga melahirkan sistem pendidikan yang tidak peka terhadap daya saing dan tidak produktif. Indroktrinasi pendidikan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai perndidikan tinggi diarahkan untuk perngembangan sikap militerisme yang militan sesuai dengan tuntutan kehidupan di suasana perang dingin pada saat itu. propinsi. . dan masyarakat (sekolah) yang bobotnya lebih besar kepada masyarakat dan stakeholder pendidikan. kita tidak merasakan perubahan yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan. Dengan demikian pendidikan bukan untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat. dan Masa Transisi.merupakan pengakuan atas otoritas daerah (Rondinelli. karena kita belum biasa. Jalal. 2001:75). Pendidikan tidak mempunyai akuntabilitas sosial oleh karena masyarakat tidak diikutsertakan di dalam manajemennya. kadang-kadang program yang digulirkan pemerintah seringkali masih membingungkan masyarakat pendidikan. maka yang akan terjadi adalah oversentralisasi pada tingkat kabupaten/kota. Pendidikan yang mengingkari kebhinekaan dengan toleransi yang semakin berkurang serta semakin dipertajam dengan bentuk primordialisme. Dengan demikian. desentralisasi bidang pendidikan berarti penyerahan kewenangan (otoritas) pemerintah pusat ke pemerintah daerah dan masyarakat. 1998. Penerapan pendidikan tidak diarahkan lagi pada peningkatan kualitas melainkan pada target kuantitas. Tilaar (2002:3) menjelaskan pendidikan di masa ini diarahkan kepada uniformalitas atau keseragaman di dalam berpikir dan bertindak. sesuai dengan prinsip dasar desentralisasi. semuanya diarahkan kepada terbentuknya masyarakat yang homogen. wadah-wadah tunggal dari organisasi sosial masyarakat. sehingga melahirkan disiplin semu dan melahirkan masyarakat peniru. A. Pakaian seragam. Oleh karena itu Program MBS merupakan pola implementasi pembagian porsi wewenang penyelenggaraan pendidikan antara pemerintah pusat. Masa Orde Baru. Kebijakan pada masa Pra-Orde Baru masih berorientasi politik. Sebagaimana dijelaskan oleh Tilaar (2000:2) bahwa kebijakan pendidikan di masa ini diarahkan kepada proses indoktrinasi dan menolak segala unsur budaya yang datangnya dari luar. Pemerintah hanya berperan sebagai pengatur. Besarnya peranan pemerintah dalam turut mengatur terlalu banyak hal-hal teknis dalam dunia pendidikan dianggap sebagai biang keladi dari semua keterpurukan kualitas pendidikan bangsa Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain. Desentraliasi pendidikan adalah penyerahan wewenang penyelenggaraan pendidikan kepada masyarakat. Pada masa ini tidak ada tempat bagi perbedaan pendapat.

Oleh karena pendidikan merupakan proses pembudayaan. Pada masa transisi. tenaga pengajar (guru). misalnya. sampai pemberian makanan tambahan bagi anak di sekolah. siswa kelas tiga dapat memperbaiki nilai atau angka hasil ulangan untuk mata pelajaran dasar (bidang studi pokok). kebijakan pendidikan merupakan masa refleksi terhadap arah pendidikan nasional.Akuntabilitas pendidikan sangat rendah walaupun diterapkan prinsip ‘link and match”. Untuk itu. bahwa kebijakan desentralisasi berpengaruh cukup signifikan terhadap kemajuan dan pembangunan pendidikan. perlu eksplorasi guna mencari cara-cara baru dalam membuat channelling of fund. Setidaknya. dan (4) perluasan/pemerataan. Dengan demikian. desentralisasi berdampak positif terhadap minat belajar siswa. B. dan "sponsorship dunia usaha" dalam pembiayaan pendidikan. Krisis kepercayaan telah menjadi warna yang dominan di dalam kebudayaan kita dewasa saat itu. karena proses pengambilan keputusan dapat dilakukan langsung di sekolah oleh guru. misalnya. 1. maka sekolah lebih leluasa mengelola dan mendayagunakan potensi sumber daya yang dimiliki. (2) efisien keuangan. sarana prasarana. misalnya. Tilaar (2000:5) menjelaskan bahwa pada masa krisis membawa masyarakat dan bangsa kepada keterpurukan dari krisis moneter membuat menjadi krisis ekonomi dan berakhir pada krisis kepercayaan. dan lain-lain. Kebijakan Pendidikan Desentralistik Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan. akan meningkatkan kapasitas dan memperbaiki manajemen sekolah. Hal ini dapat dicapai dengan memanfaatkan sumber-sumber pajak lokal dan mengurangi biaya operasional. desentralisasi dapat mendorong dan membangkitkan gairah serta semangat mereka untuk bekerja lebih giat dan lebih baik. sehingga berbagai perubahannya dirasakan sangat drastis. Sementara di Brazil. (3) efisien administrasi. Efisiensi Administrasi . Dengan kewenangan penuh yang dimiliki sekolah. atau matching grant. kurikulum. dengan menggunakan mekanisme vouchers. desentralisasi telah menurunkan biaya dan pelayanan pendidikan menjadi lebih baik. Bahkan yang lebih penting lagi. yaitu: (1) peningkatan mutu. desentralisasi diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan dan memperbaiki mutu belajarmengajar. dan sebagian pelaku pendidikan “tercengang” dan masih galau dalam menjalankan kebijakan baru. terdapat empat dampak positif yang dapat dikemukakan untuk mendukung kebijakan desentralisasi pendidikan. Pengalaman di New Zealand. kepala sekolah. Pada masa ini direfleksi berbagai pemikiran dalam memajukan sistem pendidikan kita. misalnya. 2. Mekanisme ini sudah lazim digunakan di negara-negara sedang berkembang dan anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Pengalaman di Brazil. dan tenaga administratif (staf manajemen). keuangan. pelatihan guru. maka krisis kebudayaan yang dialami merupakan refleksi dari krisis pendidikan nasional. Efisiensi Keuangan Desentralisasi dimaksudkan untuk menggali penerimaan tambahan bagi kegiatan pendidikan. 3. Peningkatan Mutu Desentralisasi pendidikan yang antara lain dimanifestasikan dalam pemberian otonomi pada sekolah. mulai dari pemeliharaan sekolah.

dan (3) Dengan menggunakan paradigma belajar atau learning paradigm yang akan menjadikan pelajar-pelajar atau learner menjadi manusia yang diberdayakan. 22 Tahun 1999 mengenai Otonomi Daerah dan sejalan dengan itu UU No. Dengan pendekatan itu setiap siswa diharapkan akan mendapatkan pembekalan life skills yang berisi pemahaman yang luas dan mendalam tentang lingkungan dan kemampuannya agar akrab dan saling memberi manfaat. sehingga dapat berkembang secara lebih seimbang. Namun. Program ini diyakini akan memberdayakan masyarakat pemerhati pendidikan (stakeholders) dalam memberikan perhatian dan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan. tak akan terjadi. Kompleksitas birokrasi seperti tercermin dalam penanganan pendidikan dasar. Dalam menerapkan konsep MBS. Perluasan dan Pemerataan Secara teoritis. yang ditandai dengan perampingan jumlah pegawai pada Departemen Pendidikan. Memang ada kemungkinan munculnya dampak negatif. Pada awal tahun 2001 digulirkan program MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). Desentralisasi akan meningkatkan permintaan pelayanan pendidikan yang lebih besar. C. (2) Pendidikan yang berbasis pada partisipasi komunitas (community based education) agar terjadi interaksi yang positif antara sekolah dengan masyarakat. tokoh masyarakat dan . yaitu. terutama bagi kelompok masyarakat di suatu daerah yang selama ini belum terlayani. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Kebijakan pemerintah yang tertuang dalam UU No. bagi daerah-daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi SDM. Ini berdampak pada efisiensi administrasi. (4) Pemerintah juga mencanangkan pendidikan berpendekatan Broad Base Education System (BBE) yang memberi pembekalan kepada pelajar untuk siap bekerja membangun keluarga sejahtera. namun mengikutsertakan pula guru. yang melibatkan tiga institusi (Depdiknas. desentralisasi membuka peluang kepada penyelenggara pendidikan di tingkat daerah dan lokal untuk melakukan ekspansi sehingga akan terjadi proses perluasan dan pemerataan pendidikan. misalnya. desentralisasi secara signifikan berhasil menurunkan biaya administrasi.Desentralisasi memotong mata rantai birokrasi yang panjang dengan menghilangkan prosedur bertingkat-tingkat. Desentralisasi akan memberdayakan aparat tingkat daerah dan lokal. Pengalaman di Cile. dan lingkungannya dapat memberikan topangan hidup yang mengantarkan manusia yang mencintainya menikmati kesejahteraan dunia akhirat. pemerintah pusat dapat melakukan intervensi dengan memberi dana khusus berupa block-grant kepada daerah-daerah miskin itu. 4. akan berkembang jauh lebih cepat sehingga meninggalkan daerah lain yang miskin. Lingkungan sekitarnya dapat memperoleh masukan baru dari insan yang mencintainya. Maka Di era otonomi daerah kebijakan strategis yang diambil Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah adalah : (1) Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (School Based Management) yang memberi kewenangan pada sekolah untuk merencanakan sendiri upaya peningkatan mutu secara keseluruhan. 25 tahun 1999 mengenai Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah merupakan konsekuensi dari keinginan era reformasi untuk menghidupkan kehidupan demokrasi. dan Depag). mensyaratkan sekolah membentuk Komite Sekolah yang keanggotaannya bukan hanya orangtua siswa yang belajar di sekolah tersebut. sekolah sebagai community learning centre. Depdagri. khususnya sekolah. siswa. dan membangkitkan motivasi aparat penyelenggara pendidikan bekerja lebih produktif.

termasuk pula untuk peningkatan kualitas kesejahteraan guru di sekolah itu. Kenyataan itu menunjukkan bahwa impelementasi MBS pada tataran mikro yang masih setengah hati diserahkan. Tentu saja. termasuk dari orangtua siswa untuk membantu operasional sekolah untuk menggapai kualitas pendidikan.pemerintahan di sekitar sekolah. sehingga dapat membantu kepedulian masyarakat dalam membantu pembiayaan pendidikan. funding father yaitu pemerintah. Program ini sesungguhnya sangat baik. Sehubungan dengan evaluasi kebijakan pendidikan Era Otonomi masih belum terformat secara jelas maka di lapangan masih timbul bermacam-macam metode dan cara dalam melaksanakan program peningkatan mutu pendidikan. dengan dalih “ikut-ikutan” pemerintah pusat mengendalikan mutu pendidikan di daerah. diharapkan dapat menetapkan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Berdasarkan kewenangan profesionalnya. ujian akhir masih menjadi kewenangan dinas pendidikan kabupaten/kota. penyelenggaraan pendidikan di kelas memang seluruhnya harus menjadi kewenangan guru. berkaitan dengan kebijakan pendidikan dalam rangka peningkatan mutu berbasis sekolah dan peningkatan mutu pendidikan berbasis masyarakat diimplementasikan sebagai berikut : (1) Telah berlakunya UAS dan UAN sebagai pengganti EBTA /EBTANAS . sambil berharap datang sang penyelamat. Salah satu di antaranya. Masyarakat dituntut perannya bukan hanya membantu pembiayaan operasional pendidikan di sekolah tersebut. guru bertugas merencanakan. sehingga kewenangan itu jangan “direbut” oleh birokrasi pendidikan. Demikian pula. menganggap seperti halnya BP3. tidak heran jika banyak sekolah yang rusak. maka penetapan akuntabilitas pendidikan melalui peran stakeholders pendidikan semakin menurun. peran komite di tingkatan pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs) yang sudah mulai bagus ini terhapus kembali oleh program berikutnya. Misalnya. peran komite sekolah mulai tampak. lapuk. sejak program MBS ini digulirkan. Namun. Namun. Pengelolaan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu (sekolah) menjadi kewenangan kepala sekolah. Demikian pula pada tingkat SD di kabupaten/kota. namun berbagai inprovisasi di daerah telah menunjukkan warna yang lebih baik. pada beberapa sekolah yang pemahaman anggota komite sekolah atau para pendidik masih kurang. dan bahkan pengusaha. Sampai saat ini hasil dari kebijakan tersebut belum tampak. melaksanakan. Tujuan program MBS di antaranya menuntut sekolah agar dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan dan layanan pendidikan (quality insurance) yang disusun secara bersama-sama dengan Komite sekolah. Maka. terutama dalam menghimpun sumber-sumber pendanaan pendidikan. komite menghimpun dana masyarakat. wacana yang dikembangkan adalah “Sekolah Gratis” sehingga mengubur kepedulian masyarakat terhadap pendidikan yang sudah mulai terbangun dalam MBS. melainkan membantu pula mengawasi dan mengontrol kualitas pendidikan. sebagai salah satu bentuk tanggungjawab pemerintah pada pendidikan. Namun. ditinjau dari hakikat pengajaran dan sejalan dengan desentralisasi pendidikan. Padahal. pada SMTP dan SMTA sebagian kewenangan meluluskan hasil belajar siswa masih menjadi “projek pemerintah pusat” dengan alasan sebagai pengendalian mutu lulusan. bahkan ambruk dibiarkan oleh komite sekolah. evaluasi merupakan bagian dari tugas pengajaran seorang guru. Sebetulnya. Dalam hal pengelolaan mikro pendidikan pun masih terdapat beberapa masalah. Dari hal di atas. dan mengukur hasil pembelajaran. baik sebagai dukungan terhadap penyediaan sarana dan prasarana pendidikan maupun untuk peningkatan kualitas pendidikan. Realisasi dari ini. beberapa langkah program yang telah dijalankan di Samarinda. yaitu Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

dengan menciptakan komitmen politik dari masyarakat dan pemerintah untuk membebaskan pendidikan sebagai alat penguasa. Peningkatan mutu pendidikan tersebut berkaitan dengan peningakatan SDM di daerah sehingga selalu dilakukan perbaikan berbagai kebijakan pada tataran meso sebagai rencana program oleh pemerintah daerah melalui dinas pendidikan. disertai dengan meningkatkan renumerasi profesi pendidikan yang memadai secara bertahap. (5) Melakukan perampingan birokrasi pendidikan dengan restrukturisasi departemen pusat agar lebih efisien. maka usulan program pengembangan pendidikan. . (3) Menciptakan SDM pendidikan yang profesional dengan penghargaan yang wajar. (9) Menjalin kerjasama yang erat antara lembaga pelatihan dengan dunia usaha (10) Melakukan depolitisasi pendidikan nasional.(2) Telah dibentuknya Komite Sekolah sebagai pengganti BP3. (7) Merevisi atau mengganti UU No. profileralisasi dan politisasi pendidikan nasional. SDM. mulai tingkat provinsi dengan sekaligus mempersiapkan sarana. serta bantuan peralatan praktik sekolah (7) Bantuan peningkatan SDM sebagai contoh pemberian beasiswa pada guru untuk mengikuti program Pascasarjana Universitas Mulawarman. syarat-syarat serta pemanfaatan tenaga profesional. dan dana yang memadai pada tingkat kabupaten. (3) Telah diterapkan muatan lokal dan pelajaran ketrampilan di sekolah SLTP (4) Dihapuskannya sistem Rayonisasi dalam penerimaan murid baru (5) Pemberian insentif kepada guru-guru negeri (6) Bantuan dana operasional sekolah. terutama di daerah dalam kesadarannya terhadap pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk membangun masyarakat Indonesia baru. (6) Menghapus berbagai peraturan perundangan yang menghalangi inovasi dan ekseperimen. Suatu wadah masyarakat diperlukan untuk menampung keterlibatan masyarakat tersebut. sebagaimana tercantum dalam Tilaar (2000:77-790 sebagai berikut : (1) Mengembangkan dan mewujudkan pendidikan berkualitas. dengan melaksanakan otonomi lembaga pendidikan. (4) Melakukan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan nasional secara bertahap. D. Kebijakan Pendidikan di Kabupaten/Kota Dengan berdasar pada keempat indikator sistem pendidikan nasional yaitu popularisasi. 2 Tahun 1989 tentang Sistem pendidikan Nasional dengan peraturan perundangan dan pelaksanaannya (8) Menumbuhkan partisipasi masyarakat. sistematisasi. (11) Meningkatkan harkat profesi pendidikan dengan meningkatkan mutu pendidikan. (2) Menyelenggarakan pendidikan guru dan tenaga kependidikan yang bermutu.

KF. Namun demikian. 3) Efisiensi dan Efektivitas Untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang efisien dan efektif maka penyelenggara pendidikan formal perlu dibekali dengan pengetahuan tentang : (1) Pengelolaan dan penyelenggaraan Administrasi Sekolah (2) Pengelolaan dan penyelenggaraan Administrasi Perkantoran (3) Kemampuan manajerial (4) Kemampuan Pengelola Proyek (5) Pengelolaan dan perencanaan pendidikan . dan Paket C). baik guru.Berdasarkan pada prinsip otonomi. Paket B. maka kebijakan pendidikan di daerah dapat dituangkan ke dalam Rencana Strategis Pembangunan Pendidikan. SLTP/MTs dan SMU/MA (7) Pemberian Dana Operasional Pendidikan bagi SD/MI (8) Pemberian bantuan perlengkapan belajar bagi siswa SD/MI dari keluarga tidak mampu. (9) Membina dan mendorong penyelenggaraan pendidikan luar sekolah oleh masyarakat dalam bentuk Pusat Kegiatan Belajar (yang menyelenggaraka Paket A. pemerintah setempat maupun swasta agar terkoordinasi dan terencana dalam menunjang peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. orangtua siswa. tampaknya daerah masih terus saja berbenah diri dalam hal kebijakan politik dan kepegawaian yang juga mengalami perubahan yang sangat drastis. Beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan kantor bidang pendidikan di daerah adalah: 1) Peningkatan Mutu Pendidikan Pemerintah daerah harus terus mendorong dan mengembangkan sekolah menerapkan konsep “Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah” (MPMBS) yakni usaha peningkatan mutu pendidikan dengan menggalang segala sumber daya yang ada di sekolah dan lingkungannya. 2) Perluasan Kesempatan Belajar Dalam rangka mempercepat penuntasan program wajib belajar Pendidikan Dasar 9 tahun dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan maka dapat ditempuh usaha baru sebagai berikut : (1) Pembangunan Unit Sekolah baru (USB) (2) Pembangunan Ruang Kelas baru (RKB) (3) Pemasayarakatan SLTP Terbuka (SLTPT) (4) Kampanye/Penyuluhan Wajib Belajar Pendidikian Dasar (5) Pemberian Beasiswa dan dana bantuan Operasional (DBO) (6) Pendidikan bagi SD/MI.

Semula kita menduga bahwa di Kabupaten/Kota di Jawa Barat sudah tidak ada lagi yang masih Buta Huruf (tidak bisa baca-tulis-bicara bahasa Indonesia). melaksanakan proses pembelajaran. Bertolak dari aturan ini maka beberapa kebijakan meso maupun mikro dapat dibuat dalam rangka menjalankan amanat Pembukaan Undang-undang Dasar 45. dan melakukan evaluasi hasil pendidikan. Sekolah diberi kewenangan untuk mengelola input pendidikan. dan Paket A dan B untuk dapat mengakselerasi Wajar Dikdas 9 tahun. 6) Angka Melek Huruf Penopang lain dari Indeks Pendidikan adalah Angka Melek Huruf (AMH).8 tahun atau setara dengan siswa SMP Kelas satu. Oleh karena itu. namun setelah dilakukan pendataan ulang di Jawa Barat telah diketahui terdapat sekitar 251. bahkan dalam proses pembentukannya pun dikuasai pihak-pihak tertentu yang kurang menguasai masalah pendidikan. Dalam rangka meningkatkan Indeks Pendidikan (Education Index) partisipasi masyarakat dalam mengikuti pendidikan harus terus dipacu.234 yang masih kurang dalam baca-tulis-bicara bahasa Indonesia. Tentu saja. (7) Partisipasi dan Peranserta Masyarakat. Demikian pula dengan Komite Sekolah/Madrasah. di antara mereka masih kurang memiliki pemahaman yang mantap tentang MBS dan bahkan ada di antara mereka yang hanya berfungsi sebagai stempel bagi sekolah dalam melegitimasi pungutan dari orangtua siswa. (8) Otonomi Sekolah Dalam menjalankan MBS. . Padahal wajib belajar 9 tahun sudah dikumandangkan sejak lama. mereka harus segera dientaskan melalui program yang fungsional (Keaksaraan Fungsional). sekolah memiliki otorita dalam mengelola pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. komite sekolah atau madrasah. maupun SMP Terbuka. diperlukan optimalisasi pendidikan dasar.(6) Kemampuan Monitoring dan Evaluasi 4) Menyusun Peraturan Daerah Pendidikan. 5) Angka Rata-rata Lama Sekolah. baik melalui SD/MI dan SMP/MTs. Berdasarkan laporan BPS diketahui bahwa Angka RLS masyarakat Jawa Barat hanya 6. Pada Pasal 56 UUSPN 20/2003 diungkapkan bahwa masyarakat berperan dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan melalui dewan pendidikan. Dengan demikian diperlukan perjuangan yang sangat erat bagi dinas pendidikan untuk meningkatkan wajib belajar 9 tahun. Perda tentang pendidikan di Kabupaten/Kota merupakan dasar hukum yang dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Kabupaten/Kota tersebut sebagai kelanjutan dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20/2003. Sebagaimana diketahui bahwa Dewan Pendidikan di Kabupaten/Kota pada umumnya belum banyak dirasakan perannya dalam peningkatan mutu pendidikan di kabupaten/kota.

Oleh karena itu. (10) Kesejahteraan Tenaga Kependidikan Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kinerja tenaga kependidikan salah satu penyebabnya adalah rendahnya kesejahteraan yang diterima (take home pay). tentu saja harus diiringi dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Kutai Kertanegara. untuk keperluan transportasi dan konsumsi biasanya tersedia pada institusi tersebut. Lembaga ini harus mampu memberikan jaminan kualitas hasil pendidikan dan melakukan pelatihan dan pembinaan terhadap tenaga kependidikan. tampaknya pemerintah daerah harus segera memikirkan “insentif” atau tunjangan profesi yang dapat diberikan kepada guru agar kinerja mereka meningkat dalam rangka mempersiapkan SDM pendidikan di Kabupaten/Kota yang lebih baik. Konsep learning based experience dan learning by doing masih belum secara mantap diterapkan para guru. Apalagi konsep dasar pengembangan kompetensi yang seharusnya dijadikan dasar bagi pengembangan kurikulum di sekolah. dalam beberapa hal pemerintah daerah harus melakukan pengawasan secara ketat untuk memberikan jaminan kualitas layanan yang diberikan sekolah kepada peserta didik. setara dengan eselon III yang membidangi peningkatan kualitas pendidikan dan tenaga kependidikan. Mungkin jika Anggaran Pendidikan di Kabupaten Ciamis dapat diungkit hingga 20%. Dengan demikian take home pay yang diterima para guru semakin kecil dan tidak manusiawi. Berbeda dengan profesi lain. menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Oleh karena itu. Dalam beberapa hal para guru masih menggunakan paradigma transfer of knowledge dalam penyelenggaraan pendidikan. Sistem kontrol itu. Dari gaji yang diterima para guru. Pada daerah-daerah tertentu. DKI Jakarta. (11) Organisasi Penjamin Kualitas Untuk melakukan jaminan kualitas pendidikan di Kabupaten/Kota. bukan penyeragaman buku laporan pendidikan atau melakukan Ulangan Umum Bersama melainkan menciptakan suatu mekanisme yang sahih. (9) Kualitas SDM Pendidikan Dalam menyikapi berbagai perubahan yang terjadi dalam bidang pendidikan. Lembaga ini dapat berfungsi melatih dan membina tenaga pemerintah daerah. para guru dapat segera diberi insentif supaya memacu mereka dalam berkompetensi meningkatkan mutu pendidikan. diperlukan suatu mekanisme sistem kontrol yang akurat dalam penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan. tampaknya diperlukan organisasi kedinasan. hal ini sudah dilaksanakan. sedangkan profesi guru harus merogoh saku gajinya. Propinsi Sumatera Barat. Sudah tidak sesuai lagi apabila lembaga penjamin kualitas pendidikan yang memberikan pelatihan kepada tenaga pendidikan dilaksanakan oleh Badan Kepegawaian Daerah. Harus diakui bahwa tenaga kependidikan yang saat ini tersedia merupakan produk dari LPTK yang belum mengantisipasi reformasi dalam bidang pendidikan. dan sebagainya. banyak di antara mereka yang masih hanya berfungsi sebagai guru.Namun. Dalam menyikapi hal ini. Padahal pola pikir ini telah lama ditinggalkan oleh kalangan innovator pendidikan. mereka harus rela membagi penggunaannya dengan biaya transportasi dan konsumsi (terutama jika harus mengajar sampai dengan siang). namun untuk tenaga kependidikan harus dilaksanakan secara khusus agar dapat memberikan pelatihan terhadap tenaga kependidikan (guru) mengarah . misalnya Kota Bandung.

tampaknya masih sangat diperlukan sosialisasi secara mantap dan menyeluruh bagi tenaga kependidikan di daerah. Dalam memilih buku ini. apabila kita coba berpikir dengan jernih. para guru dapat menganjurkan kepada orangtua atau peserta didik untuk menggunakan buku Teks Pelajaran yang telah berstandar nasional. yaitu Permen 22 tentang Standar Isi dan Permen 23 tentang Standar Kompetensi Lulusan. Berdasarkan ketentuan itu. padahal itu peristilah yang diberikan bagi kurikulum tersebut. sehingga kelak akan ada Kurikulum SD Negeri 8 Jatinagara atau Kurikulum SMP Ma’arif Banjarsari. bahwa pendidikan adalah sebuah investasi jangka panjang dalam mempersiapkan . menjual LKS kepada siswa. bahwa Pemerintah Pusat tidak akan lagi menerbitkan atau membagikan Buku Teks Pelajaran untuk sekolah. penerbit tidak boleh menjual buku langsung ke sekolah. tampaknya perlu segera kita kaji kembali secara saksama. lembaga ini perlu mengundang educational expert dari Lembaga Pendidikan Tinggi Tenaga Kependidikan. sehingga pengembangan kurikulum dapat mulai dipersiapkan oleh semua pihak dengan mengikutsertakan pakar di daerah yang menguasai bidang ini. Pemerintah telah menyampaikan kebijakan tentang Buku Teks Pelajaran. Mungkinkah konsep desentralisasi pendidikan ini masih menyiratkan berbagai persoalan atau mungkin pula kita yang salah dalam menapsirkan dan memahaminya. Demikian pula.kepada profesionalisasi sebagaimana dituntut oleh Undang-undang Nomor 14/2005 tentang Guru dan Dosen. dan Permen 24 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan masih sangat multi tafsir. tahun 2006. sekolah harus mengajak dan melibatkan Komite Sekolah (sebagai wakil masyarakat). mungkin karena low inforcement yang masih lemah di daerah. Untuk keperluan peserta didik. Banyak di antara tenaga kependidikan menyebutnya dengan Kurikulum 2006. Untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pelatihan. padahal dalam ketentuan itu diungkapkan bahwa kurikulum itu harus disusun oleh sekolah dengan mengikutsertakan komite sekolah. (12) Penggunaan Buku Teks Pelajaran Ketentuan tentang Buku Teks Pelajaran sebagaimana dituangkan dalam Permen 11/2005 masih belum diterapkan secara menyeluruh di sekolah. Pemerintah hanya menetapkan buku-buku berstandar nasional yang dapat dipilih oleh sekolah untuk digunakan sebagai buku teks pelajaran di sekolah. penentuan buku teks pelajaran tidak mengajak komite sekolah. Dalam tataran kebijakan. Bertolak dari kenyataan masih banyak persoalan yang dihadapi serta masih banyak pekerjaan bidang pendidikan yang belum diimplementasikan. sekolah harus mengembangkan kurikulumnya. Oleh karena itu. pemerintah daerah harus dengan segera menyusun rambu-rambu pengembangan KTSP sehingga dapat dijadikan acuan pengembangan kompetensi lokal yang harus dikembangkan di daerah. serta kesadaran masyarakat yang masih lemah. Masih banyak persoalan tentang buku teks ini. Akan sangat bijak. Berdasarkan ketentuan tersebut. Sekolah (guru dan kepala sekolah) dan Komite Sekolah dilarang menjual buku di sekolah. penerbit masih mengedrop buku ke sekolah. Ada pula yang menyebutnya dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (13) Pengembangan Kurikulum Sekolah Kebijakan pemerintah yang terbaru. masih ada sekolah atau guru menjual paksa buku kepada siswa. Kenyataan di lapangan.

Akhir-akhir ini.blogspot. Oleh karena itu. kewenangan. meso. Krisis tersebut secara umum telah mengganggu pelaksanaan sistem pemerintahan dan pembangunan bidang pendidikan. Dari berbagai pengalaman yang amat berharga tersebut. Pada tahun 1980-an. Pendidikan merupakan projek masa depan mempersiapkan bangsa berkualitas. telah diujicobakan model pembelajaran Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). telah banyak memperlihatkan hasil yang positif.SDM yang unggul dan kompetitif. Namun hasil itu banyak pula mengalami penurunan karena krisis ekonomi yang diikuti oleh krisis multidimensional yang melanda dunia dan negara kita. tampaknya harus segera diakses oleh semua pelaku pendidikan agar kita tidak tertinggal dengan kebijakan makro. yakni sekolah dan masyarakat. Perubahan sistem pemerintahan ini telah menggeser hak dan kewenangan penyelenggaraan pendidikan dari pusat ke lini terdepan pendidikan. sebaiknya marilah kita memposisikan diri pada fungsi. Beberapa Model Upaya peningkatan mutu pendidikan sudah bukan merupakan upaya baru dan memang seharusnya menjadi komitmen semua pihak. maka kebijakan dan program yang sedang dan akan diluncurkan harus dimulai melalui upaya pemberdayaan sekolah dan masyarakat sebagai pemilik . dan peran masing-masing sesuai kemampuan dan kompetensi dalam pendidikan. Upaya ini telah ditempuh melalui berbagai model. 07:45:09 UPAYA peningkatan Mutu Pendidikan Dasar yang ditandai dengan dikeluarkannya INPRES Nomor 5 Tahun 1994 tentang Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Perencanaan pendidikan di Kabupaten/Kota memerlukan kesungguhan dan peranserta dari berbagai pihak. bahkan telah direvisi melalui Undang-undang Nomor 32 tahun 2004. Itulah sebabnya. karena pendidikan merupakan sektor yang telah diotonomkan kepada pemerintah Kabupaten/Kota.html http://www.com/mod. kita mencoba pendekatan model pembelajaran "joyful learning" atau yang lebih dikenal dengan model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif. 14-April-2005.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=8457 Implementasi Konsep MBS di Sekolah Oleh redaksi Oleh: Kustrini Hardi Kamis. Efektif dan Menyenangkan).com/2008/05/menilik-kebijakan-sistempendidikan. http://suherlicentre. Berbagai kebijakan pendidikan terkini. Untuk menata kembali sistem pemerintahan.harianbatampos. Implementasi penyelenggaraan pendidikan yang berbasis kepada sekolah dan masyarakat ini diwujudkan melalui penerapan konsep manajemen berbasis sekolah (school-based management) dengan titik berat Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) dan partisipasi masyarakat (Community Based Participation) yang tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. maupun kebijakan mikro dalam bidang pendidikan. telah dilakukan perubahan paradigma pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. dapat disimpulkan bahwa apapun konsep yang diterapkan di sekolah akan sangat bergantung kepada sekolah dan seluruh stakeholder pendidikan yang ada di sekolah.

unsur komite sekolah/mejelis madrasah dalam aspek manajemen berbasis sekolah untuk peningkatan mutu sekolah. mulai dari proses perencanaan. pengorganisasian. Hal ini karena dalam melaksanakan program-program ini diterapkan prinsip-prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS). Program Retrival. hutang Pemerintah RI dengan pihak luar negeri yaitu negara-negara pemberi pinjaman. Pelaksanaan program ini dimaksudkan sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah. terlebih dahulu adalah merubah paradigma atau cara pandang yang dimiliki para pemegang kebijakan. propinsi maupun kabupaten/kota. transparan. MTs dan MA). Tujuan dan Strategi Pelaksanaan Tujuan program ini sebagaimana tujuan dari program Manajemen Berbasis Sekolah adalah (1) mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru. guru. Strategi pengelolaan program dengan menggunakan pendekatan ini dapat ditempuh antara lain dengan langkah-langkah sbb : * Memberdayakan komite sekolah/majelis madrasah dalam peningkatan mutu pembelajaran di sekolah * Unsur pemerintah Kab/Kota dalam hal ini instansi yang terkait antara lain Dinas Pendidikan. pembina dan pelaksana pendidikan. Peningkatan mutu pendidikan melalui MBS ini berlandaskan pada asumsi bahwa sekolah/madrasah akan meningkat mutunya jika kepala sekolah bersama guru. Dewan Pendidikan Kab/Kota terutama membantu dalam . baik dalam hal keuangan maupun pembelajaran secara umum. melaksanakan. Untuk melaksanakan hal ini memang diperlukan perubahan yang sangat mendasar. antara lain melalui kegiatan Rehabilitasi Gedung Sekolah. dll. Bantuan Imbal Swadaya (BIS) yang digunakan untuk membangun Ruang Kelas Baru (RKB). baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat setempat. Melalui pelaksanaan program ini para pengelola pendidikan di sekolah termasuk kepala sekolah. Pendekatan MBS Banyak manfaat yang telah dapat dirasakan baik oleh pemerintah daerah maupun pihak sekolah yang secara langsung menjadi sasaran pelaksanaan. sampai dengan proses pelaporan dan umpan baliknya. (3) mengembangkan peran serta masyarakat yang lebih aktif dalam masalah umum persekolahan dari unsur komite sekolah dalam membantu peningkatan mutu sekolah. dikelola langsung oleh Komite Sekolah/Majelis Madrasah sebagai langkah awal aplikasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). komite sekolah dan tokoh masyarakat setempat dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Upaya peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan melalui kegiatan-kegiatan yang disebutkan di atas. Dengan kata lain program-program yang dilaksanakan menganut prinsip-prinsip demokratis. pelaksanaan. Bukankah upaya peningkatan mutu pendidikan merupakan akumulasi dari upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah ? Oleh karena itu sudah saatnya sekolah diberikan kewenangan bersama seluruh komponen masyarakat yang ada di sekolah untuk merencanakan. Program School Grant. Disinilah proses pembelajaran itu berlangsung dan semua pihak saling memberikan kekuatan untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan sekolah. Program "Bantuan Operasional untuk Manajemen Mutu (BOMM)" yang telah diluncurkan sejak tahun 1999 merupakan langkah maju untuk memberikan kepercayaan secara penuh kepada sekolah dan masyarakat dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolahnya. Dana Bantuan Langsung (DBL). unsur komite sekolah/majelis madrasah dalam melaksanakan pembelajaran yang aktif dan menyenangkan. Program-program peningkatan mutu pendidikan dengan model sebagaimana disebutkan di atas juga telah dilaksanakan. orangtua siswa dan masyarakat setempat diberi kewenangan yang cukup besar untuk mengelola kegiatannya sendiri. (2) mengembangkan kemampuan kepala sekolah bersama guru.dan ujuk tombak pendidikan. mengorganisir kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan pembelajaran di sekolah masing-masing. Badan Perencanaan Kab/Kota. yang sebagian dananya antara lain berasal dari APBN. Departemen Agama (yang menangani pendidikan MI. Program seperti ini sudah seharusnya ditindaklanjuti dan dikembangkan melalui program-program lainnya dengan menggunakan sumber dana dari pusat. Pengelolaan ini meliputi perencanaan. profesional dan akuntabel. pengawasan dan pembinaan.

* Memberdayakan tenaga kependidikan. serta segera dapat diberikan solusi/pemecahan masalah yang diperlukan. Aspek partisipasi masyarakat ini pulalah yang menjadi bagian terpenting untuk membina kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat dalam memajukan dunia pendidikan. dengan membentuk Tim yang sifatnya khusus untuk menangani dan sekaligus melakukan dukungan dan pengawasan terhadap Tim bentukan sebagai pelaksana kegiatan tersebut. * Mengelola kegiatan yang bersifat bantuan langsung bagi setiap sekolah untuk peningkatan mutu pembelajaran. Rehabilitasi/Pembangunan sarana dan prasarana Pendidikan. * Mengadakan pelatihan dan pendampingan sistematis bagi para kepala sekolah. kepala sekolah. unsur komite sekolah tentang Manajemen Berbasis Sekolah. Hal ini mengingat pelaksanaan program dengan pendekatan ini telah mampu menumbuhkan semangat dan motivasi untuk menstimulasi unsur masyarakat agar mau berpartisipasi aktif dalam meningkatkan mutu pendidikan serta memberdayakan semua komponen yang ada di sekolah. unsur komite sekolah pada pelaksanaan peningkatan mutu pembelajaran * Melakukan supervisi dan monitoring yang sistematis dan konsisten terhadap pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah agar diketahui berbagai kendala dan masalah yang dihadapi. guru.yahoo. Model pelaksanaan program yang telah dikembangkan ini. pejabat-pejabat di tingkat kecamatan.*** *) Kustrini Hardi. Bukankah kita semua berharap bahwa wajah pendidikan kita ke depan akan semakin cerah dan semarak ? Maka sudah saatnya kita mengembalikan kewenangan perencanaan dan pelaksanaan peningkatan pendidikan dan pembelajaran itu dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dan pihak pemerintah berperan sebagai fasilitator dan stimulator. . baik tenaga pengajar (guru). sudah seharusnya mulai diupayakan untuk ditindaklanjuti. Hal ini juga telah tercantum dan terumus jelas dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. alumnus PPS UPI Bandung dan staf Bappedako Kota Batam [Non-text portions of this message have been removed] http://groups. petugas bimbingan dan penyuluhan (BP) maupun staf kantor. pembelajaran yang bermutu dan peran serta masyarakat. untuk tahun-tahun mendatang.mengkoordinasikan dan membuat jaringan kerja (akses) ke dalam siklus kegiatan pemerintahan dan pembangunan pada umumnya dalam bidang pendidikan.com/group/ppiindia/message/29218 Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran OPINI Wijaya Kusumah | 10 January 2010 | 23:50 2797 2 1 dari 1 Kompasianer menilai Inspiratif.

bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha. Pendekatan-pendekatan modern dalam proses pengajaran tidak akan banyak membantu untuk mengejar perkembangan ilmu dan teknologi jika sistem pendidikan masih dilakukan secara konvensional. serta implikasinya dalam pembelajaran. Para guru TIK dituntut agar para peserta didiknya mampu memanfaatkan TIK untuk mengembangkan kreativitas menulis. bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Dengan semakin banyaknya situs pertemanan seperti facebook. kualitas penilaian kemajuan siswa. . serta mampu memanfaatkan TIK untuk mendukung proses pembelajaran dan memanfatkannya dalam kehidupan sehari-hari. Siswa yang telah mengikuti dan memahami serta mempraktekkan TIK akan memiliki kapasitas dan kepercayaan diri untuk memahami berbagai TIK dan menggunakannya secara efektif. Adanya manajemen berbasis sekolah (MBS) memungkinkan setiap sekolah untuk mengembangkan dan mengaplikasikan TIK yang disesuaikan dengan tuntuntan zaman dan kemampuan/daya dukung sekolah yang bersangkutan. Keberhasilan dalam pendidikan selalu berhubungan erat dengan kemajuan suatu bangsa yang berdampak meningkatnya kesejahteraan kehidupan masyarakat. dan keterbatasan TIK. dan multiply. Oleh karena itu. Sekaligus juga mengeksplorasi kurikulum pendidikan TIK di Indonesia. livejurnal. dan kualitas administrasi sekolah. metode belajar. sabtu 23 januari 2010) Oleh: Wijaya Kusumah A. Membuat kita dituntut bukan hanya mampu mencari dan memanfaatkan informasi saja. Pada era teknologi tinggi (high technology)perkembangan dan transformasi ilmu berjalan begitu cepat. Di sanalah muncul kreativitas menulis yang membuat orang lain mendapatkan manfaat dari tulisan yang kita buat. twitter. Akibatnya. siswa mampu memahami dampak negatif. Namun sayangnya. friendster. termasuk guru dan siswa di sekolah. Manusia secara berkelanjutan membutuhkan pemahaman dan pengalaman agar bisa memanfaatkan TIK secara optimal dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman dan menyadari implikasinya bagi pribadi maupun masyarakat. segala aktivitas. Keperluan akan penguasaan TIK telah diantisipasi oleh pemerintah dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dengan dimasukkannya kurikulum TIK dalam kurikulum 2004 dan sekarang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai dari pendidikan dasar sampai ke perguruan tinggi. kebiasaan menulis dan membaca belum menjadi budaya masyarakat Indonesia.APLIKASI DAN POTENSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH (Makalah yang disusun untuk Seminar Nasional KEMAKOM di UPI Bandung. pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar. Selain dampak positif. dan myspacemembuat komunikasi dan saling bertukar informasi semakin mudah. PENDAHULUAN Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan terhadap pribadi maupun komunitas. Belum lagi semakin menjamurnya tempat membuat blog gratis di internet seperti wordpress. Pendidikan sebagai pondasi pembangunan suatu bangsa memerlukan pembahuruan-pembaharuan sesuai dengan tuntutan zaman. sistem pendidikan konvensional tidak akan mampu lagi mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi. apakah para guru yang merupakan garda terdepan di sekolah telah memanfaatkan TIK dengan optimal? Bagaimanakah mengaplikasikan TIK dalam pembelajaran di sekolah? Bagaimanakah peran guru di sekolah dalam mengaplikasikan TIK dalam proses pembelajarannya? Adakah potensi yang dapat dikembangkan dalam TIK ini? Apakah struktur dan kultur guru di sekolah telah siap dengan TIK? Bagaimanakah upaya perguruan tinggi menyiapkan tenaga guru profesional di bidang TIK? Makalah ini mencoba membahas aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dan peran guru dalam memanfaatkan TIK. blogspot. kehidupan. gaya hidup maupun cara berpikir. Munculnya berbagai hardware dansoftware-software baru sekarang ini sangat membantu guru dalam menyampaikan bahan ajarnya. cara kerja. Diharapkan dengan diimplementasikannya kurikulum TIK ini akan meningkatkan kualitas proses pengajaran. Permasalahannya adalah. tetapi juga mampu menciptakan informasi di internet melalui blog yang kita kelola dan terupdatedengan baik.

Di sinilah peran guru untuk membuat kurikulumnya sendiri yang dapat membuat peserta didik beajar secara aktif. menyimpan. artinya kehidupan ini sudah dipengaruhi oleh berbagai kebutuhan secara elektronik. PEMBAHASAN 1. Interaksi antara guru dan siswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Menurut Rosenberg (2001). Adanya laboratorium virtual (virtual lab) memungkinkan guru dan siswa dapat belajar menggunakan alat-alat laboratorium atau praktikum tidak di laboratorium secara fisik. (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar. yaitu: Learning to know (belajar untuk menguasai. LCC (Learner-Cemterted Classroom). e-laboratory. Perkembangan TIK memicu suatu cara baru dalam kehidupan. hobi. potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah dapat juga memanfaatkan e-laboratory dan e-library. dan (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Juga dapat berkomunikasi dengan biaya murah seperti fasilitas email yang dapat kita pergunakan dengan mudah di internet. kehidupan seperti ini dikenal dengan e-life. Dari semua e itu ada yang perlu endapatkan perhatian serius yaitu e-education. dari kehidupan dimulai sampai dengan berakhir. audio. dan sebagainya. akurat dan tepat waktu. dan pemerintahan juga merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. kelas ekonomi. Demikian pula siswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber spaceatau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. e-library. yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Distance Learning. (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. 2002). memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas. Distance Education. Istilah lain yang makin popuper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media TIK khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001). Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training). Sejalan dengan perkembangan TIK itu sendiri pengertian e-learning menjadi lebih luas yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa teknologi seperti telepon. CLE (Cybernetic Learning Environment). Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon. video tape. e-biodiversitiy. rekreasi. yang digunakan untuk keperluan pribadi. e-learningmerupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) elearning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui. bisnis. dan rohani. CBI (Computer Based Instruc-tion). dimana kita mempunyai kewajiban untuk mengembangkan TIK dalam proses pembelajaran yang tidak hanya mengajak peserta didik untuk mencari informasi. e-mail. (3) dari kertas ke “on line” atau saluran. Pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data. WBT (Web-Based Training). . Membuat mereka mampu memanfaatkan TIK dengan baik.B. transmisi satellite atau komputer (Soekartawi. Selain e-learning. termasuk memproses. sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan. ideologi atau faktor lainnya yang dapat menghambat bertukar pikiran antar sesama kita. yaitu informasi yang relevan. Perpustakaan elektronik (e-library) sekarang ini sudah menjangkau berbagai sumber buku yang tak terbatas untuk bisa diakses tanpa harus membeli buku/sumber belajar tersebut. Learning to be (belajar untuk mengembangkan diri). UNESCO melalui “The International Commission on Education for the Twenty First Century” merekomendasikan pendidikan yang berkelanjutan (seumur hidup) yang dilaksanakan berdasarkan empat pilar proses pembelajaran. Untuk dapat mewujudkan empat pilar pendidikan di era globalisasi informasi sekarang ini. dan lainnya yang berbasis TIK. tetapi juga menciptakan informasi. menyusun. e-medicine. dan Learning to live together (belajar untuk hidup bermasyarakat). e-journal. Mampu saling berkomunikasi dengan menggunakan berbagai aplikasi TIK yang membuat dirinya mampu saling berbagi tentang apa yang disukainya dan apa yang dikuasainya. komputer. internet. sarana kerjasama antara pribadi atau kelompok yang satu dengan pribadi atau kelompok yang lainnya sudah tidak lagi mengenal batas jarak dan waktu. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya. para guru sebagai agen pembelajaran perlu menguasai dan menerapkan TIK dalam pembelajaran di sekolah. (2) dari ruang kelas ke. dan sebagainya. Teleconferencing. Teknologi Komunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global. ILS (Integrated Learning System). egovernment. Peran yang dapat diberikan oleh aplikasi TIK adalah mendapatkan informasi untuk kehidupan pribadi seperti informasi tentang kesehatan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data. negara. mendapatkan. e-education. e-learning. dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan. Aplikasi dan Potensi TIK dalam Pembelajaran di Sekolah Menghadapi abad ke-21. Haryono dan Librero. mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi. 2. Desktop Videoconferencing. di mana dan kapan saja. pengetahuan) Learning to do (belajar untuk menguasai keterampilan ). menyimpan. Alangkah wajar bila sekarang ini sedang semarak dengan berbagai huruf yang dimulai dengan awalan e seperti e-commerce. Melalui TIK. tetapi dengan menggunakan media komputer. ras. (4) dari fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja.

Salah satu tulisan yang berkenaan dengan dunia pendidikan disampaikan oleh Robin Paul Ajjelo dengan judul “Rebooting: The Mind Starts at School”. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global. (4) alat-alat musik. Anakanak berhadapan dengan komputer dan melakukan aktivitas pembelajaran secara interaktif melalui jaringan internet untuk memperoleh materi belajar dari berbagai sumber belajar. Dalam kurun waktu yang amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi revolusi internet di berbagai negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang kehidupan. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau kebangsaan. tetapi buat sekolah-sekolah di daerah. Anak akan melakukan kegiatan belajar yang sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya sehingga anak yang lambat atau cepat akan memperoleh pelayanan pembelajaran yang sesuai dengan dirinya. namun di sisi lain masih banyak kelemahan dan kekurangan. Hal itu menunjukkan bahwa segala kelengkapan anak sekolah di masa itu nanti berupa perlengkapan yang bernuansa internet sebagai alat bantu belajar. maka pendidikan khususnya proses pembelajaran cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet sebagai alat bantu utama. Di berbagai kota besar seperti Jakarta misalnya. (5) alat olah raga. permainan. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Di masa-masa mendatang. yang bermuatan materi-materi belajar yang berupa bahan bacaan. dan dilengkapi dengan kamera digital serta perekam suara. akses internet. dan TV. setiap orang atau bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global. Dalam situasi seperti ini. di negeri kita yang kaya ini. dan (6) bingkisan untuk makan siang. mungkin masih jauh panggang dari api dalam mengaplikasikan TIK. guru bertindak sebagai fasilitator pembelajaran sesuai dengan peran-peran sebagaimana dikemukakan di atas. (3) Videophone bentuk saku dengan perangkat lunak. hal di atas masih seperti mimpi karena struktur dan kultur serta SDM guru yang profesional belum merata dengan baik. Dari aspek informasi yang diperoleh. dsb. Level 2: Applying . Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola kehidupan umat manusia secara keseluruhan. perlu meningkatkan kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. Karena games sangat menarik peserta didik untuk rehat sejenak dari segala pembelajaran yang diterimanya di sekolah. uang elektronik. yaitu: Level 1: Emerging . Ruang kelas di masa yang akan datang disebut sebagai “cyber classroom” atau “ruang kelas maya” sebagai tempat anak-anak melakukan aktivitas pembelajaran secara individual maupun kelompok dengan pola belajar yang disebut “interactive learning” atau pembelajaran interaktif melalui komputer dan internet. Dengan kondisi demikian. musik. kode sekuriti untuk masuk rumah. Meskipun TIK dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif. Dalam kaitan ini. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Dalam tulisan tersebut dikemukakan bahwa ruang kelas di era millenium yang akan datang akan jauh berbeda dengan ruang kelas seperti sekarang ini yaitu dalam bentuk seperti laboratorium komputer di mana tidak terdapat lagi format anak duduk di bangku dan guru berada di depan kelas. akan tetapi berupa: (1) komputer notebook dengan akses internet tanpa kabel. Namun sayangnya.baru mempelajari TIK (learning tom use ICT). Salah satu bentuk produk TIK yang sedang “ngetrend” saat ini adalah internet yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21.baru menyadari pentingnya TIK untuk pendidikan. Robin Paul Ajjelo juga mengemukakan secara ilustratif bahwa di masa-masa mendatang isi tas anak sekolah bukan lagi buku-buku dan alat tulis seperti sekarang ini. beberapa sekolah maju dan internasional telah mengaplikasikannya. kalkulator. Sebenarnya. arus informasi akan makin meningkat melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan jaman.dimana TIK telah menjadi katalis efektifitas dan efisiensi pembelajaran serta reformasi pendidikan secara umum. Terkadang anak-anak lebih senang bermain games ketimbang materi yang diberikan oleh guru.belajar melalui dan atau meng-gunakan TIK (using ICT to learn). Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada gilirannya akan memberikan pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Level 4:Transforming . dan terdiri dari berbagai pulau.Globalisasi telah memicu kecenderungan pergeseran dalam dunia pendidikan dari pendidikan tatap muka yang konvensional ke arah pendidikan yang lebih terbuka. (2) Jam tangan yang dilengkapi dengan data pribadi. ada empat level pemanfaatan TIK untuk pendidikan menurut UNESCO. Kurikulum dikembangkan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih kenyal atau lunak dan fleksibel sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi anak sehingga memberikan peluang untuk terjadinya proses pembelajaran maju berkelanjutan baik dalam dimensi waktu maupun ruang dan materi. materi untuk dilihat atau didengar. Globalisasi juga membawa peran yang sangat penting dalam mengarahkan dunia pendidikan kita dengan memanfaatkan TIK dalam pembelajaran. TIK telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas. tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari . Kehadirannya telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam berbagai aspek dan dimensi. Level 3:Integrating .

Hal itu telah mengubah peran guru dan siswa dalam pembelajaran. akselerasi. kecakapan. Pergeseran pandangan tentang pembelajaran Untuk dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran. dan sumber segala jawaban. menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. jelas sekali TIK mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap proses dan hasil pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. dan lembaga pendidikan guru. kreativitas memungkinkan orang dapat menemukan berbagai alternatif dalam pemecahan masalah. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi. pemecahan masalah. dan mitra belajar. dan kultur siswa. pe-nilaian acuan patokan Soal-soal pilihan berganda Portofolio. dan penampilan Latihan dan praktek Komunikasi. berhitung. Sejalan dengan perkembangan TIK telah terjadi perubahan pandangan mengenai pembelajaran yaitu pembelajaran sebagai: (1) proses alami. (2) dari mengendalikan dan mengarahkan semua aspek pembelajaran. (5) proses yang berlangsung integratif dan kontekstual. (2) proses sosial. Peran guru telah berubahdari: (1) sebagai penyampai pengetahuan.kreativitas dapat memberikan kepuasan hidup. (7) aktivitas yang dinilai berdasarkan pemenuhan tugas. ketiga. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas . (3) proses aktif dan pasif. sumber utama informasi. Dari segi kognitifnya. bermakna. menggambar. Secara rinci dapat digambarkan sebagai berikut: Lingkungan Aktivitas kelas Peran guru Penekanan pengajaran Konsep pengetahuan Penampilan keberhasilan Penilaian Penggunaan teknologi Berpusat pada GURU Berpusat pada SISWA Guru sebagai sentral dan bersifat didaktis Siswa sebagai sentral dan bersifat interaktif Menyampaikan fakta-fakta. Kreativitas sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain: pertama. Pembelajaran dengan menggunakan TIK menuntut kreativitas dan kemandirian diri sehingga memungkinkan mengembangkan semua potensi yang dimilikinya. (4) proses linear dan atau tidak linear. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang bersifat manual seperti menulis tangan. kolaborator. (2) dari mengungkapkan kembali pengetahuanmenjadi menghasilkan dan berbagai pengetahuan. kedua. akses. (5) kegiatan yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil dan terisolasi. (2) harus tersedia materi yang berkualitas. dan pemecahan masalah nyata baik individual maupun kelompok. (4) proses individual atau soliter. dan perincian. a. minat. Melalui penggunaan TIK setiap siswa akan terangsang untuk belajar maju berkelanjutan sesuai dengan potensi dan kecakapan yang dimilikinya. dan sebagainya. (2) upaya mengisi kekurangan siswa. Dalam pandangan tradisional proses pembelajaran dipandang sebagai: (1) sesuatu yang sulit dan berat. pengayaan. (6) suatu proses linear. ekspresi b.. (3) satu proses transfer dan penerimaan informasi. keluwesan. kolaborasi. efektivitas dan produktivitas pembelajaran yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai infrastruktur pengembangan SDM secara keseluruhan. dan dukungan kultural bagi siswa dan guru. ada tiga hal yang harus diwujudkan yaitu (1) siswa dan guru harus memiliki akses kepada teknologi digital dan internet dalam kelas. kini telah bergeser menjadi berpusat pada siswa. dan (3) guru harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam menggunakan alat-alat dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik. (6) aktivitas yang berbasis pada model kekuatan. kreativitas memungkinkan manusia meningkatkan kualitas hidupnya. kreativitas memberikan peluang bagi individu untuk mengaktualisasikan dirinya. navigator pengetahuan. perluasan. (3) dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter) menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain. maka telah terjadi pergeseran pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. perolehan hasil. menjadi sebagai fasilitator pembelajaran. Kreativitas dan kemandirian belajar Dengan memperhatikan pengalaman beberapa negara sebagaimana dikemukakan di atas. Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK. sekolah. Dalam hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing. Lingkungan pembelajaran yang di masa lalu berpusat pada guru. dan keempat.internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis terhadap informasi yang diperoleh. kreativitas merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran. Dalam menghadapi tantangan kehidupan modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu beradaptasi dengan berbagai tuntutan. ahli materi. kadang-kadang siswa ahli sebagai ahli Mengingat fakta-fakta Hubungan antara informasi dan temuan Akumulasi fakta secara kuantitas Transformasi fakta-fakta Penilaian acuan norma Kuantitas pemahaman. Sementara itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: (1) dari penerima informasi yang pasif menjadipartisipan aktif dalam proses pembelajaran. keaslian. pelatih. guru sebagai Kolaboratif.

pembelajar. seperti penguasaan power point. selalu ingin mencari pengalaman baru. di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan. Sayangnya saat ini. dengan dibentuknya gerakkan melek ICT di sekolah. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya. Mudah-mudahan. menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai: pelatih (coaches). bikin software untuk bahan ajarnya. Pembelajaran menjadi lebih interaktif. Camtasia. guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. dan lain sebagainya.ditandai dengan motivasi yang kuat. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan wawasannya.guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. dan dapat dikondensasikan. Kemandirian didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi tertentu. Disamping sebagai pengajar. Aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah yang dikembangkan oleh guru dapat memberikan beberapa manfaat antara lain. pemimpin. Karya-karya kreatif ditandai dengan orisinalitas. masih banyak guru kita yang belum melek TIK atau ICT (Information and Communcation Technology). Oleh karenanya. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. seperti menguasai program Macromedia Flash. di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Sebagai pelatih (coaches). diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku. kendali diri. dan memiliki komitmen yang kuat terhadap berbagai hal. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Sebagai konselor. berani menghadapi resiko. dapat ditransformasikan. dan menarik . memiliki rasa humor. jaman Presiden Soeharto. tertarik dengan tugas majemuk. maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. menghargai diri sendiri dan orang lain. kreatif dalam berfikir dan bertindak. menghargai keindahan. konsistensi terhadap pendiriannya. tidak mudah putus asa. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi. Sebagai pengarang. dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap pihak lain. guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar. simulatif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu. Dengan memperhatikan ciri-ciri kreativitas dan kemandirian tersebut. dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk kepentingan yang lebih bermakna. guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Dalam bukunya yang berjudul “Reinventing Education”. guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya. para guru dapat memaksimalkan potensi TIK dalam proses pembelajarannya. dan pengarang. guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luar mengajar. kreativitas. memiliki nilai. sudah saatnya “GERAKAN MELEK ICT (ICT LITERACY MOVEMENT)” menjadi gerakan nasional yang sama “urgent”nya atau lebih “urgent” dibandingkan dengan GERAKAN KELUARGA BERENCANA di jaman Orde Baru dahulu. mampu mengendalikan dirinya. Pemerintah maupun swasta perlu bekerja sama dalam membantu guru melakukan pelatihan-pelatihan di bidang ICT. Mengacu pada hal tersebut di atas. Sebagai pembelajar. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak. a. Pembelajaran dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang orsinil. ngeblog di internet. Sebagai manajer pembelajaran. Louis V. akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin. konselor. rasa ingin tahu. Sebagai partisipan. partisipan. Jr. dan sebagainya. manajer pembelajaran. guru memiliki kemandirian dan otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Peran guru dalam mengaplikasikan TIK di sekolah Semua hal itu tidak akan terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya. guru dituntut untuk membuat buku. guru diharapkan mampu memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal. Dalam kaitan ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara efektif. konsistensi. dkk (1995). Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. karena guru bukan satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu sumber informasi. Gerstmer. sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Disamping itu. melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif dalam bidangnya. memiliki nilai yang tinggi. 2.

Mengajak peserta didik untuk mampu memanfaatkannya dalam kehidupan seharihari..com Kusumah. Jakarta. Anak harus diajarkan untuk mampu membaca dan menulis. “Urgensi Gerakan Melek ICT di Sekolah“. . “Implikasi Teknologi Informasi Dan Internet Terhadap Pendidikan. Southeast Journal of Education (December 2002) Surya. Librero (2002). Guru SMAN 4 Tangerang. dan tidak ALERGI dengan TIK. Padahal dlam KTSP guru diberikan kebebasan untuk berkreativitas dalam memberikan materi pengayaan kepada para peserta didiknya. pasti dia akan menguasai dunia. Onno W. Budi. PENUTUP Aplikasi dan potensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah membawa pergeseran pandangan tentang pembelajaran dan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah. DAFTAR PUSTAKA Chaeruman. kita mempunyai tanggungjawab bersama dalam meminimalisasi dampak negatif yang muncul baik secara individual.. Bagaimanapun banyaknya dampak positif dalam penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah. B.Jakarta. Semoga struktur dan kultur berjalan seimbang di sekolah-sekolah kita. Haryono dan F. Dan Pemerintahan”. Penerapan TIK dalam pembelajaran memungkinkan kegiatan belajar mengajar lebih interaktif. “Perkembangan Reknologi Informasi untuk Pembelajaran Jarak Jauh. Mempercepat proses yang lama d. “Penelitian Tindakan Kelas”. dan KD (Kompetensi Dasar) yang masih harus dikembangkan oleh guru itu sendiri dalam mengaplikasikannya sesuai dengan kondisi sekolah. Kita pun merasakan bahwa masih banyak yang harus disempurnakan untuk memperbaharui kurikulum TIK yang ada di sekolah-sekolah kita. Rahardjo. Menghadirkan peristiwa yang jarang terjadi e. A. Soekartawi.. Rajagrafindo. Wijaya.. dan 9″. Jakarta.”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan komunikasi dalam Pembelajaran. Rajagrafindo.“. Mohamad. Mulai saat ini marilah kita tidak GATEK. C. Elex Media Komputindo. Guru TIK dituntut untuk membuat kurikulumnya sendiri sesuai dengan SK dan KD dengan berbagai ragam pengayaan yang dimiliki oleh guru di daerahnya masing-masing. maupun sosial.. “Yuk Kita Nge-Blog!”. “Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SMP kelas 7. walupun kita tahu dunia maya tak secantik Luna Maya yang terkena kasus dengan tulisannya di situs sosial Twitter. simulatif dan lebih menarik. E. Sayangnya. Januari 2002 Purbo.K. sehingga aplikasi dan potensi TIK dalam pembelajaran di sekolah berjalan dengan baik dan sesuai dengan kurikulum yang diharapkan oleh pemerintah.“. Mampu meciptakan informasi dengan membangun connecting and sharing. Menciptakan informasi di dunia maya. diselenggarakan oleh Pustekkom Depdiknas. Bisnis. Dapat menjelaskan sesuatu yang sulit / kompleks c. Entis. Wijaya.. 2009 Kusumah. Perlu kerjasama (kolaborasi) antara guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi untuk memperbaiki kualitas kurikulum TIK di Indonesia. Jangan iarkan anak-anak kita terlalu asyik dengan facebooknya dan games-games online lainnya. Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang beriorientasi pada penerapan TIK akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan yang pada akhirnya dapat mengejar ketertinggalan dari negaranegara lain di dunia. E. “Teknologi E-learning”. Pusat Penelitian Antar Univeristas bidang Mikroelektronika (PPAUME) Institut Teknologi Bandung tahun 2000. dan Dedi. “Perkembangan Teknologi Informasi di Indonesia.b. Jakarta. Oleh karena itu guru di era globalisasi informasi ini dituntut untuk mampu menguasai dan mengalipkasikan TIK dalam pembelajaran. Jangan sampai terjadi tumpang tindih materi dalam mengaplikasikan TIK.wordpress. 8. dkk. tahun 2006 . 2002Natakusumah. Indeks. Orasi Ilmiah disampaikan pada Wisuda STMIK BANDUNG. Greater Learning Opportunities Through Distance Education: Experiences in Indonesia and the Philippines. 2009 Kusumah.LIPI Bandung. banyak guru yang belum siap membuat kurikulumnya sendiri dan masih banyak guru yang copy and paste dalam membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Uwes Anis. Siapa yang menguasai TIK. tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta. Pusat Penelitian informatika . http://www.wijayalabs. 2002. Sutisna. Makalah dalam Seminar “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”. Menunjukkan peristiwa yang berbahaya atau di luar jangkauan Kurikulum TIK yang sekarang ini telah dibuat oleh pusat kurikulum yang bekerjsama dengan Badan standar Nasional (BSNP) adalah kurikulum standar yang terdiri dari SK (Standar Kompetensi). Wijaya. 2010 Natakusumah..K.

Secara esensial Manajemen Berbasis Sekolah menawarkan diskursus ketika sekolah tampil secara relatif otonom. Perubahan orientasi paradigma ini diberlakukan melalui penetapan perundang-undangan mengenaai Pemerintah Daerah. ekonomi dan politik. H. Memang ironis dan memprihatinkan ketika bangsa lain justru menjadikan pendidikan sebagai leading sector pembangunannya. konstektual dan berbagai masalah teridentifikasi secara objektif. prinsip efektivitas terhadap perencanaan nasional maupun daerah diharapkan terpenuhi secara maksimal dan optimal. . Dr. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang disentralisasikan yang berkaitan erat dengan filosofi otonomi daerah. M. Seharusnya seluruh perencanaan dan aktivitas apa pun yang dilakukan adalah dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Begitulah sektor pendidikan ditempatkan selama ini. ia tidak menjadi leading sector dalam perencanaan pembangunan mutu manusia secara nasional. Apabila mutu pendidikan hendak diperbaiki. Akibatnya. Endang Komara. Perubahan orientasi paradigma tersebut telah melahirkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang lebih dinamis. budaya.2009 Oleh : Prof.com/2010/01/10/aplikasi-dan-potensi-tik-dalampembelajaran/ PERAN MBS 7. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang akan bermuara pada sistem pendidikan bangsa kita. mohon masukan dari teman-teman! Salam Blogger Persahabatan Omjay http://edukasi. sehingga sasaran lebih terjamin pencapaiannya. Pendahuluan Sejak bergulirnya reformasi pertengahan tahun 1998. terutama dalam bidang pendanaan. Abstrak Manajemen Berbasis Sekolah merupakan satu bentuk agenda reformasi pendidikan di Indonesia yang menjadi sebuah kebutuhan untuk memberdayakan peranan sekolah dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. B. Padahal amanah terpenting dari kemerdekaan bangsa ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian. aktual. Seluruh aktivitas yang dilakukan cenderung berdasarkan aspirasi setempat (kedinasan). Hal ini dimungkinkan terjadi karena pemetaan permasalahan bersifat objektif.kompasiana.Catatan: Makalah ini akan dipresentasikan oleh Omjay pada 23 Januari 2010.09. dengan tidak mereduksi peran pemerintah. menuju keadilan dan kesejahteraan masyarakatnya. Salah satu implementasi dari penerapan paradigma desentralisasi itu adalah di sektor pendidikan. berbangsa maupun bernegara. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Sektor pendidikan selama ini ditengarai terabaikan dan dianggap hanya sebagai bagian dari aktivitas sosial. berbangsa dan bernegara saat ini merupakan pergeseran terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan. sektor pendidikan dijadikan komoditas berbagai variabel di atas oleh para pengambil kebijakan.Si A. Hal tersebut tentunya akan berakibat pada mutu pendidikan. baik kehidupan bermasyarakat. yang lebih sering kita dengar dengan terminologi otonomi daerah. Perubahan mendasar dalam kehidupan bermasyarakat. Selama ini penggunaan pradigma sentralistik selanjutnya terjadi pergeseran orientasi menuju paradigma desentralistik. baik oleh eksekutif maupun legislatif ketika mereka menganggap perlu mengangkat isu-isu kependidikan yang dapat meningkatkan perhatian publik terhadap mereka. telah terjadi gelombang perubahan dalam segala sendi kehidupan.

Karena itu. Manajemen mutu merupakan sarana yang memungkinkan para profesional pendidikan dapat beradaptasi dengan kekuatan perubahan yang memukul sistem pendidikan bangsa ini. Para profesional pendidikan harus membantu para . Oleh karena itu. upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya harus dilakukan secara terus menerus. Dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ia merupakan bentuk strategi budaya tertua bagi manusia untuk mempertahankan berlangsungnya eksistensi mereka (Fakih dalam Wahono. 2000: iii). Sekolah mesti belajar untuk bisa berjalan dengan sumber daya yang sedikit. Padahal Singapura. Namun demikian kenyataan menunjukkan bahwa tumpuan utamanya dalam pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan berada pada pendidikan persekolahan. kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas tidak bisa ditawar lagi dengan adanya tantangan yang dihadapi yakni persaingan dengan negara lainnya. bahkan teridentifikasi semakin menurun. Pendidikan merupakan salah satu aspek kehidupan yang bersifat fungsional bagi setiap manusia dan memiliki kedudukan strategis untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Terminologi pendidikan memiliki ruang lingkup yang luas. regional dan global yang berada di hadapan kita. upaya reformasi pendidikan ditujukan untuk memperbaiki sistem pendidikan persekolahan agar dapat menjawab tantangan nasional. Pendekatan tersebut dikenal dengan model Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah (MPBS) atau School Based Management. Salah satu pendekatan yang dipilih di era desentralisasi sebagai alternatif peningkatan kualitas pendidikan persekolahan adalah pemberian otonomi yang luas di tingkat sekolah serta partisipasi masyarakat yang tinggi dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Padahal saat ini kualitas sumber daya manusia negara kita berdasarkan parameter yang ditetapkan oleh UNDP pada tahun 2000 berada pada peringkat ke-109. Singapura ke-5. Malaysia ke-26. Adanya lulusan lembaga pendidikan yang seperti itu berdampak pula pada sistem peradilan kriminal. 1999). meliputi pendidikan persekolahan dan pendidikan luar sekolah. maka perlu ada pimpinan dari para profesional pendidikan. Melalui pendidikan diharapkan pemberdayaan. India ke-43 dan Korea Selatan ke-24. Malaysia. Lulusan SMK atau perguruan tinggi tidak siap memenuhi kebutuhan masyarakat. khususnya negara tetangga di kawasan ASEAN. Pendidikan harus mengubah paradigmanya. Pengetahuan yang diperlukan untuk memperbaiki sistem pendidikan kita sebenarnya sudah ada dalam komunitas pendidikan kita sendiri. lantaran mereka tak dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan generasi mendatang. Oleh karenanya. dilakukan secara terencana. kematangan. kita semua sepakat bahwa pendidikan memegang peran yang sangat penting. Di era globalisasi. Berdasarkan laporan World Economic Forum. sesuai dengan kebutuhan yang semakin mendesak. Mutu menjadi satu-satunya hal yang sangat penting dalam pendidikan. tetapi tetap jalan ditempat.Secara esensial landasan filosofis otonomi daerah adalah pemberdayaan dan kemandirian daerah menuju kematangan dan kualitas masyarakat yang dicita-citakan (Gafar. yang akhirnya hanya memberatkan anggaran kesejahteraan sosial saja. Walaupun tujuh tahun telah berlalu sejak penetapan UNDP tahun 2000 tentang peringkat mutu sumber daya manusia Indonesia. Para siswa itu adalah produk sistem pendidikan yang tidak terfokus pada mutu. 2000). dan yang lebih parah lagi. Saat ini memang ada masalah dalam sistem pendidikan. intensif. terarah. bisnis dan pemerintahan. Para siswa yang tidak siap jadi warga negara yang bertanggung jawab dan produktif itu. efektif dan efisien. Tantangan lainnya yang mempengaruhi pendidikan adalah perubahan yang terjadi akibat semakin mengglobalnya tatanan pergaulan kehidupan dunia saat ini. dan kemandirian serta mutu bangsa secara menyeluruh dapat terwujud. Bila mutu pendidikan hendak diperbaiki. akhirnya hanya jadi beban masyarakat. ternyata hingga saat ini bukannya semakin meningkat meningkat. akhirnya mereka menjadi warga negara yang merasa terasing dari masyarakatnya. Peningkatan kualitas pendidikan merupakan salah satu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri (Suryadi. Norma-norma dan keyakinan-keyakinan lama harus dipertanyakan. Pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam kehidupan manusia. Kesulitan utama yang dihadapi para profesional pendidikan sekarang ini adalah ketidakmampuannya menghadapi sistem yang gagal sehingga menjadi tabir bagi para profesional pendidikan itu untuk mengembangkan atau menerapkan proses baru pendidikan yang akan memperbaiki mutu pendidikan. tingkat daya saing Indonesia pada tahun 2006 berada diurutan ke-50. Thailand dan Fhilipina lebih baik peringkatnya dari kita. upaya untuk meningkatkan mutu manusia Indonesia melalui pendidikan.

guru. aturan. Para profesional pendidikan sekarang ini kurang memiliki pengetahuan atau pengalaman yang diperlukan untuk menyiapkan para siswanya memasuki pasar kerja global. fungsi mediasi pendidikan ( Danim. Pendidikn formal. Fungsi penyadaran atau fungsi konservatif bermakna bahwa sekolah bertanggung jawab untuk mempertahankan nilai-nilai budaya masyarakat dan membentuk kesejatian diri sebagai manusia. Sebagai bagian dari jaring-jaring kemasyarakatan. Oleh sebab itu diperlukan dedikasi. Hal tersebut nampak bahwa sekolah hanyalah salah satu dari subsistem pendidikan karena lembaga pendidikan itu sesungguhnya identik dengan jaringan-jaringan kemasyarakatan. namun masyarakat enggan mendukung dunia pendidikan untuk mengupayakan perbaikan. dan kebijakan baru. Pendidikan sebagai instrumen penyadaran bermakna bahwa sekolah berfungsi membangun kesadaran untuk tetap berada pada tataran sopan santun. ditandai denga makin . kooperasi. penyadaran dan mediasi secara simultan. Karena proses kerja. Pembahasan 1. program mutu di dunia komersial tidak bisa dijalankan dalam bidang pendidikan. Peran Manajemen Berbasis Sekolah Lembaga pendidikan formal atau sekolah dikonsepsikan untuk mengembangkan fungsi reproduksi. prosedur. kebanyakan sekolah masih memandang bahwa mutu akan meningkat hanya jika masyarakat bersedia memberi dana yang lebih besar.siswa mengembangkan keterampilan yang akan mereka butuhkan untuk bersaing dalam perekonomian global. Penyelesaian yang cepat tidak akan memecahkan persoalan pendidikan masa kini. guru. Penyelesaian masalah secara cepat sudah pernah dilakukan. Salah satu ciri dunia modern adalah terjadinya perubahan yang konstan. C. Mutu pendidikan akan meningkat bila administrator. bukan sebagai wahana pewarisan dan seleksi budaya. Padahal dana bukanlah hal utama dalam perbaikan mutu pendidikan. Manajemen mutu dapat membantu sekolah menyesuaikan diri dengan perubahan melalui cara yang positif dan konstruktif. Perubahan merupakan hal penting. Masyarakat menuntut mutu pendidikan diperbaiki. melainkan sebagai intinya. dan bermoral di mana hal ini menjadi tugas semua orang. Sayangnya. dan dosen harus mampu membebaskan anak-anak dari aneka belenggu. Masyarakat dan dunia pendidikan mesti mengeliminasi fokus jangka pendeknya. Fungsi-fungsi sekolah itu diwadahi melalui proses pendidikan dan pembelajaran sebagai inti bisnisnya. termasuk fenomena moralitas. Untuk mencapai lingkungan pendidikan yang bermutu. berupa penciptaan norma. Orang tua. Tradisi rupanya menghalangi proses pendidikan untuk melakukan perubahan yang diperlukan agar programnya sesuai dengan kebutuhan siswa. beradab. fokus dan keajegan tujuan dalam memperbaiki mutu pendidikan. Para profesional pendidikan mestinya sadar. semua stakeholder pendidikan mesti memiliki komitmen pada proses transformasi. budaya dan lingkungan organisasi di kedua bidang itu berbeda. Tidak menguntungkan jika anak dan anak didik diberi pilihan tunggal ketika mereka menghadapi fenomena relatif dan normatif. Banyak profesional pendidikan yang takut pada perubahan dan tidak tahu cara menjawab tantangan zaman. ekuntabilitas dan pengakuan. Pada proses pendidikan dan pembelajaran itulah terjadi aktivitas kemanusiaan dan pemanusiaan sejati. masyarakat pendidikan perlu mengemban tugas pembebasan. Tiga pilar fungsi sekolah yakni fungsi pendidikan sebagai penyadaran. 2007:1). bukan malah menindasnya dengan cara menetapkan norma tunggal atau menuntut kepatuhan secara membabi buta. fungsi progresif pendidikan dan. Para profesional pendidikan harus diberi program mutu yang khusus dirancang untuk dunia pendidikan. Mereka perlu membangun kesadaran bagi lahirnya proses dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk memecahkan masalah eksistensial mereka. staf dan anggota dewan sekolah mengembangkan sikap baru yang terfokus pada kepemimpinan. kerja tim. dan terbukti gagal. Fungsi konservatif atau fungsi penyadaran sekolah sebagai lembaga pendidikan masih menjelma dalam sosok konservatisme pendidikan persekolahan. Salah satu komponen penting program mutu dalam pendidikan adalah mengembangkan sistem pengukuran yang memungkinkan para profesional pendidikan mendokumentasikan dan menunjukkan nilai tambah pendidikan bagi siswa dan komunitasnya. Partisipasi anak didik dalam proses pendidikan dan pembelajaran bukan sebagai alat pendidikan. informal dan pendidikan kemasyarakatan merupakan pranata masyarakat bermoral dengan partisipasi total sebagai replica idealnya.

Misalnya. Bukti konservatisme pendidikan formal benar-benar nyata di dalam alur perjalanan sejarah. widyaiswara. Meski harus diakui pula. perubahan wajah dunia terus berakselerasi. reproduksi. Hal ini bermakna bahwa tidak ada kemajuan. sistem. fungsi kontrol. pelembagaan MBS hampir dipastikan bahwa aplikasi MBS akan mendorong tumbuhnya lembaga pendidikan persekolahan berbasis pada masyarakat (community-based education) ataua manajemen pendidikan berbasis masyarakat (MPBM). evolusi perilaku sosial jauh lebih cepat dibandingkan dengan evolusi spesies-genetik nonrekayasa. Para peneliti. pelembagaan MBS dipandang urgen atau mendesak. pemakalah seminar. Persoalan yang paling esensial adalah apakah dengan perubahan pendekatan manajemen sekolah itu akan bermaslahat lebih besar dibandingkan dengan format kerja secara sentralistik ini. Di daerah pedalaman misalnya. Maslahat aplikasi MBS bagi peningkatan kinerja sekolah dan perbaikan mutu hasil belajar peserta didik pada sekolahsekolah yang menerapkannya masih harus diuji di lapangan. proses. Di Negara kita. Prakarsa menuju perbaikan mutu melalui perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi pengelolaan pendidikan tidak mungkin diperoleh secara segera. Meski kita harus pula menerima realitas bahwa pendidikan formal belum menampakkan pergeseran fungsi progresifnya yang signifikan. Persoalan utama di sini bukan terletak pada apakah format manajemen sekolah yang dipandu secara sentralistik itu lebih buruk ketimbang pendekatan MBS yang memuat pesan demokratisasi pendidikan. pembawa bendera moralitas. Fungsi reproduksi atau fungsi progresif merujuk pada eksistensi sekolah sebagai pembaru atau pengubah kondisi masyarakat kekinian ke sosok yang lebih maju. Menurut Kaizen kemajuan dicapai karena perubahan-perubahan kecil yang bersifat kontinu atau tanpa henti dalam beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu detail yang berhubungan dengan usaha menghasilkan produk atau pelayanan. dan struktur persekolahan. bahwa kemajuan dicapai bukanlah sebuah lompatan besar ke depan. Selain itu. dan pengguna lulusan.terperosoknya kearifan generasi dalam mewarisi nilai-nilai mulai peradaban masa lampau. yaitu menjembatani fungsi konservatif dan fungsi progresif. penulis buku. Fungsi itu akan lebih lengkap jika pendidikan juga melakukan fungsi mediasi. atau bahkan imitasi kreatif. dan penemuan ilmiah lainnya adalah contoh nyata revolusi di bidang keilmuan. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propernas) 2000-2004 disebutkan bahwa salah satu program pembinaan pendidikan dasar dan menengah adalah mewujudkan manajemen pendidikan yang berbasis seakolah/masyarakat . pada abad ke-20 telah diproduksi konsep dan teori yang radikal tentang alam. Di dalam Undang-Undang No. Saat ini fungsi progresif sekolah sebagai lembaga pendidikan terus menampakkan sosoknya. tutor. setidaknya pada banyak daerah dan jenis sekolah. apalagi mendongkrak mutu kinerjanya. demikian juga sebaliknya. mekanika kuantum. terutama dilihat dari kepentingan pendidikan anak. masih banyak sekolah yang sulit mempertahankan kondisinya pada taraf sekarang. khususnya di bidang pendanaan. wahana proses pemanusiaan dan kemanusiaan umum. realitas dan epistemologi. Terlepas dari itu semua. Hal itu sejalan dengan tuntutan masyarakat agar lembaga pendidikan persekolahan dapat dikelola secara lebih demokratis dibandingkan dengan pola kerja ‘’dipandu dari atas’’ sebagaimana dianut oleh negara yang menerapkan pemerintahan sentralistik. inovasi. produk. Bersamaan dengan itu. pada banyak tempat telah lahir sekolah-sekolah unggulan atau sekolah-sekolah yang diunggulkan oleh masyarakat karena mampu mengukir prestasi. Kondisi ideal itu hanyalah sebuah abstraksi yang dituju. Hal ini sejalan dengan konsep Kaizen. Oleh karena itu. meski belum menunjukkan capaian yang signifikan. pengamat. penelaahan. Pembentukan Dewan Pendidikan di tingkat kabupaten/kota dan Komite Sekolah di tingkat persekolahan merupakan salah satu bentuk bahwa pendidikan berbasis masyarakat menjadi isu sentral kita. hubungan. guru. fungsi ini juga berperan sebagai wahana pengembangan. selalu tersedia ruang dan waktu untuk mengadakan perbaikan dan peningkatan dengan jalan melakukan modifikasi. dan desiminasi ilmu. dan desiminasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Munculnya teori relativitas. dan sejenisnya adalah orang yang banyak bergulat dengan pengkajian. atau struktur yang bisa memenuhi ideal. Seperti dikemukakan oleh Ash Hatwell (1995). Menurut Tony Barner (1998) asumsi yang mendasari perubahan dalam Kaizen adalah bahwa kesempurnaan itu sebenarnya tidak ada. serta pembinaan idealisme sebagai manusia terpelajar. penelitian. Memang. pendidik. misalnya peningkatan hasil belajar siswa. diperlukan waktu sekitar 100 tahun bagi teori dan ide ilmiah untuk dapat mempengaruhi isi. Hal-hal yang termasuk kerangka fungsi mediasi adalah kehadiran institusi pendidikan sebagai wahana seosialisasi.

political will tersebut tidak utuh sebagai pendukung utama. mengingat pendidikan persekolahan itu tidak gratis (education is not free). Review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah sebelumnya. menunjukkan bahwa masih diperlukan kemauan yang kuat dari pihak pemerintah dan lingkungan sekolah dalam melakukan perubahan sistem penyelenggaraan manajemen persekolahan. Sekolah dalam hal ini bukan lagi hanya milik sekolah tetapi hakikat sekolah sebagai sub-sistem dalam sistem masyarakat direkonstruksi sehingga fungsi pendidikan dikembalikan secara utuh dalam melestarikan nilai-nilai yang ada di masyarakat. Penggunaan MBS secara ekonomi mendorong masyarakat. Juga secara proses. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. bahkan dalam beberapa terminology Site-Based Leadership digunakan sebagai pengganti Site-Based Management. d. dan murid (Nurkolis. Pengembangan prioritas kerja dan jadwal waktu pelaksanaan. Pemikiran ini tidak mereduksi peran pemerintah yang dari tahaun ke tahun diharapkan dapat mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada kadar yang makin meningkat. jika semua pihak yang terlibat tidak menunjukkan kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan itu. Tidak mungkin melakukan perubahan secara utuh dan komprehensif. Implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Di sini akuntabilitas sekolah akan teruji. pengenalan secara mendalam dan mendasar tujuan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah merupakan sebuah keharusan oleh siapa saja yang bertanggung jawab dan merasa berkepentingan terhadap pertumbuhan dan perkembangan persekolahan. Perluasan keikutsertaan masyarakat dalam sistem manajemen persekolahan merupakan upaya untuk meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan pendidikan. masyarakat akan melakukan fungsi kontrol sekaligus pengguna lulusan. berhak mengkritisi kinerja sekolah agar lembaga milik publik ini tidak keluar dari tugas pokok dan fungsi utamanya. g. Serta MBS merupakan salah satu bentuk reformasi manajemen pendidikan (reformation in education management) di tanah air. Lebih lanjut Levacic (1995) dalam Bafadal (2003:91) proses menajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah (MPMPBS) meliputi: a. anggota masyarakat.(school/community-based education) dengan memperkenalkan Dewan Pendidikan (dalam UU ini disebut Dewan Sekolah) di tingkat kabupaten/kota serta pemberdayaan atau pembentukan Komite Sekolah di tingkat sekolah. Ironisnya selama ini. Dengan MBS unsur pokok sekolah (constituent) memegang kontrol yang lebih besar pada setiap kejadian di sekolah. c. Berbagai fenomena yang terlihat dalam penerapan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Menurut Nurkolis (2003:141) kepemimpinan adalah isu kunci dalam MBS. Dalam implementasi MBS maka diperlukan perspektif dalam keterampilan kepemimpinan baik pada tingkat pemerintahan maupun tingkat sekolah. kepala sekolah. Perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Secara akademik. khususnya orang tua siswa. seharusya diimbangi dengan format kepemimpinan kepala sekolah yang handal dalam memimpin persekolahan. 2. Oleh karenanya. f. administrator. untuk menjadi salah satu fondasi utama secara finansial bagi operasi sekolah. 2006:8) diakui sebagai “Bapak Mutu’’. Beberapa prinsip pokok yang dapat diterapkan dalam bidang pendidikan antara lain: . demikian juga kepemimpinan di persekolahan yang cenderung memakai pendekatan birokratis hirarkis dan bukannya demokratis. Edward Deming (Arcaro. Walaupun political will adakalanya terlihat tidak begitu utuh dalam menerapkan prinsip-prinsip manajemen pendidikan berbasis sekolah. Pelaporan hasil. Penetapan dan atau telaah tujuan sekolah. Peran Manajemen Mutu Terpadu Dr. Justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. W. Dengan MBS adalah keharusan bagi masyarakat untuk menjadi fondasi sekaligus tiang penyangga utama pendidikan persekolahan yang berada pada radius tertentu tempaat masyarakat itu bermukim. b. 2003:42). Unsur pokok sekolah inilah yang kemudian menjadi lembaga nonstruktural yang disebut dewan sekolah yang anggotanya terdiri dari guru. orang tua. e.

a. Prosesnya diawali dengan mengembangkan visi dan misi mutu untuk wilayah dan setiap sekolah serta departemen dalam wilayah tersebut. Manajemen Mutu Terpadu membentuk infrastruktur yang fleksibel yang dapat memberikan respons yang cepat terhadap perubahan tuntutan masyarakat. Transformasi menuju sekolah bermutu terpadu diawali dengan mengadopsi dedikasi bersama terhadap mutu oleh dewan sekolah. bisnis dan pemerintahan. Juran berlatar pendidikan teknik dan hukum. Juran pun memainkan peran penting dalam membangun kembali Jepang setelah perang Dunia II. Menekankan pada upaya pencegahan kegagalan pada siswa. siswa. menunjang sistem yang diperlukan staf dan siswa untuk mengelola perubahan. dia mengatakan bahwa: Bangsa Jepang menonjol di dunia dalam kepemimpinan mutu dan akan menjadi pemimpin dunia dalam dua dekade mendatang karena tak ada pihak lain yang bergerak ke arah mutu dengan kecepatan yang sama dengan Bangsa Jepang. Mutu memerlukan kepemimpinan dari anggota dewan sekolah dan administrator. e. c. Pelatihan. Setiap orang di sekolah mesti mendapatkan pelatihan. Manajemen Mutu Terpadu dapat memberikan fokus pada pendidikan dan masyarakat. mengembangkan sistem pengukuran nilai tambah pendidikan. para pekerja akan membuat produk dan jasa yang secara konsisten sesuai dengan harapan kostumer. Manajemen Mutu Terpadu dapat membantu pendidikan menyesuaikan diri dengan keterbatasan dana dan waktu. penggunaan metode kontrol statistik dapat membantu memperbaiki autcomes siswa dan administratif. Dr. Manajemen Mutu Terpadu merupakan metodologi yang dapat membantu para profesional pendidikan menjawab tantangan lingkungan masa kini. setiap orang dalam sistem sekolah mesti mengakui bahwa setiap output . administrator. Manajemen Mutu Terpadu dapat dipergunakan untuk mengurangi rasa takut dan meningkatkan kepercayaan di lingkungan sekolah. Juran sudah memperkirakan keberhasilan bangsa Jepang dalam sebuah pidatonya untuk Organisasi Kontrol Mutu Eropa pada tahun 1966. Juran adalah ahli statistik terpandang. Manajemen Mutu Terpadu dapat digunakan sebagai perangkat untuk membangun aliansi antara pendidikan. Bila diterapkan secara tepat. bukan program sekali jalan. b. Titik fokus filosofi manajemen mutunya adalah keyakinan organisasi terhadap produktivitas individual. Asal diterapkan secara ketat. Lebih lanjut Juran mengatakan bahwa ‘’tepat untuk dipakai’’ lebih tepat ditentukan oleh pemakai bukan oleh pemberi. Upaya Juran menemukan prinsip-prinsip dasar proses manajemen membawanya untuk memfokuskan diri pada mutu sebagai tujuan utama. 2006:9) tentang mutu sebagai berikut: a. Juran menyebut mutu sebagai ‘’tepat untuk pakai’’ dan menegaskan bahwa dasar misi mutu sebuah sekolah adalah ‘’mengembangkan program dan layanan yang memenuhi kebutuhan pengguna seperti siswa dan masyarakat. Juran (Arcaro. Seperti halnya Deming. 2006:8) diakui sebagai salah seorang “Bapak Mutu” . bukannya mendeteksi kegagalan setelah peristiwanya terjadi. Joseph M . Aliansi pendidikan memastikan bahwa para profesional sekolah atau wilayah memberikan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan programprogram pendidikan. guru dan komunitas. Visi mutu difokuskan pada pemenuhan kebutuhan kostumer. misal merupakan prasyarat mutu. Agar sekolah mengembangkan fokus mutu. Mutu dapat dijamin dengan cara memastikan bahwa setiap individu memiliki bidang yang diperlukannya untuk menjalankan pekerjaan dengan tepat. Dia diakui jasanya oleh bangsa Jepang dan memfasilitasi persahabatan Amerika Serikat dan Jepang. Beberapa pandangan Juran (Arcaro. d. serta perbaikan berkelanjutan dengan selalu berupaya keras membuat produk pendidikan menjadi lebih baik. Meraih mutu merupakan proses yang tidak mengenal akhir. Anggota dewan sekolah dan administrator harus menerapkan tujuan mutu pendidikan yang akan dicapai. Dengan perangkat yang tepat. c. staf. mendorong keterlibatan total komunitas dalam program. b. Perbaikan mutu merupakan proses berkesinambungan. Pandangan Juran tentang mutu merefleksikan pendekatan rasional yang berdasarkan fakta terhadap organisasi bisnis dan amat menekankan pentingnya proses perencanaan dan kontrol mutu. Seperti halnya Deming. Dr. Manajemen Mutu Terpadu memudahkan sekolah mengelola perubahan.

pengukuran. Para siswa menggunakan nilai ujian untuk mengukur kemajuan di kelas. Ascaro (2006:12). Cara pikir dan cara kerja lama harus disingkirkan. misalnya mengisi kegiatan dengan hal-hal sebagaimana adanya dan sekalipun ada masalah tidak menganggapnya sebagai masalah. Mutu merupakan perubahan budaya yang menyebabkan organisasi mengubah cara kerjanya. Inilah konsep perbaikan berkelanjutan. keterlibatan total. tapi manajemen harus mendukung proses perubahan dengan memberi pendidikan. Banyak profesional pendidikan secara terbuka menyatakan bahwa mereka memiliki komitmen terhadap transformasi mutu. ‘’kalau belum rusak. Menurut filosofi manajemen lama. ‘’bila tidak rusak. Memang masih lebih banyak pihak dalam komunitas pendidikan yang mengakui adanya kostumer untuk tiap keluaran pendidikan. (2) banyak profesional pendidikan yang tetap memandang pendidikan sebagai sebuah ‘’jaringan anak manis’’. Dalam survai terakhir atas 150 pengawas sekolah untuk mengukur pemahaman mereka atas mutu. Hanya dengan memandang pendidikan sebagai sebuah sistem maka para profesional pendidikan dapat mengeliminasi pemborosan dari pendidikan dan dapat memperbaiki mutu setiap proses pendidikan. siswa. tapi mutu pendidikan tak kunjung diperbaiki. Komitmen pengawas sekolah dan dewan sekolah harus memiliki komitmen pada mutu. janganlah diperbaiki’’. Kostumer internal adalah orang tua. Mutu bukan hanya tanggung jawab dewan sekolah atau pengawas. Ini merupakan konsep yang amat sulit dipahami para profesional pendidikan. Perbaikan berkelanjutan secara konstan mencari cara untuk memperbaiki setiap proses pendidikan. sekalipun ada sarana untuk mengukur kemajuan berdasarkan pencapaian standar tersebut. namun para professional pendidikan yang terlibat dalam prosesnya menjadi begitu terfokus pada pemecahan masalah yang tidak bisa mereka ukur efektivitas upaya yang dilakukannya. D.lembaga pendidikan adalah kostumer. Komunitas menggunakan anggaran sekolah untuk mengukur efisiensi proses sekolah. Menurut filosofi manajemen yang baru. anda tidak dapat memperbaiki apa yang tidak dapat anda ukur. Banyak hal yang baik terjadi dalam pendidikan sekarang ini. Sedangkan kostumer eksternal adalah masyarakat. Umumnya orang bekerja dalam bidang pendidikan memulai perbaikan sistem tanpa mengembangkan pemahaman yang penuh atas cara sistem tersebut bekerja. Konsep dasarnya. militer dan perguruan tinggi yang berada di luar organisasi. keluarga. Sekolah tidak dapat memenuhi standar mutu yang ditetapkan masyarakat. Mutu didasarkan pada konsep bahwa setiap proses dapat diperbaiki dan tidak ada proses yang sempurna. karena bila Anda tidak melakukannya orang lain pasti melakukannya’’. Transformasi mutu diawali dengan mengadopsi paradigma baru pendidikan. ternyata cukup mengejutkan. Pengukuran. setiap orang harus berpartisipasi dalam transformasi mutu. rupanya 35% responden yang disurvai menunjukkan. sistem dan proses untuk meningkatkan mutu. komitmen dan perbaikan berkelanjutan. guru. namun memanfaatkan output proses pendidikan. Sekolah memiliki kostumer internal dan eksternal. Mereka bersikukuh untuk bertahan dari tarikan profesional nonpendidikan yang mempengaruhi perubahan sistem. Lebih banyak uang yang diinvestasikan dalam pendidikan maka lebih tinggi juga mutu pendidikan dan. perbaikilah. Dalam bidang pendidikan. proses transformasi mutu tidak akan dapat dimulai karena kalaupun dijalankan pasti gagal. Dengan kata lain. Setiap orang perlu mendukung upaya mutu. Bila mereka tidak memiliki komitmen. perusahaan. mutu adalah segala sesuatu yang dapat diperbaiki. Karakteristik Sekolah Bermutu Terpadu menurut Arcaro (2006:38-39) antara lain: Fokus pada kostumer. Mutu menuntut setiap orang memberi kontribusi bagi upaya mutu. Penutup . Ini merupakan bidang yang seringkali gagal di banyak sekolah. mereka tak yakin bila sekolah itu memiliki kostumer. Perguruan tinggi itu tak punya catatan tertulis mengenai proses atau prosedur kerja. Pendidikan mesti dipandang sebagai sebuah sistem. Dalam sebuah analisa rinci atas perguruan tinggi di Inggris belum lama ini. Keterlibatan total. perangkat. memang sungguh sulit bagi orang-orangnya untuk mengembangkan paradigma baru pendidikan. yakni: (1) banyak profesional pendidikan yakin bahwa mutu pendidikan bergantung pada besarnya dana yang dialokasikan untuk pendidikan. administrator. staf dan dewan sekolah yang berada di dalam sistem pendidikan. Ada dua keyakinan pokok yang menghalangi tiap upaya penciptaan mutu dalam sistem pendidikan seperti dijelaskan oleh Jerome S. Orang biasanya tidak mau berubah. Fungsi-fungsi bisa berjalan lantaran memang selalu dijalankan.

dari Sentralisasi menuju Desentralisasi. No 1 Tahun X April 1991. Danim. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.sdn3-leuwimunding. Mimbar Pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Arcaro. Suryadi. 2006. (3) pengembangan prioritas kerja dan jdwal waktu pelaksanaan. Tony.html . Visi Baru Manajemen Sekolah: Dari Unit Birokrasi Ke Lembaga Akademik. Jakarta: Grasindo. Penterjemah Yosal Iriantara. Quality in Education: An Impelentation Handbook. Bandung: IKIP. (6) implikasi sumber daya dalam pelaksanaan program prioritas dan. Jakarta: Interaksara. Pendidikan Berbasis Mutu: Prinsip-prinsip Perumusan dan Tata Langkah Penerapan. Bafadal. (4) justifikasi program prioritas dalam kesesuaiannya dengan konteks sekolah. khususnya otonomi kepemimpinan atas sekolah yang dipimpinnya. Manajemen Berbasis Sekolah. F. Arcaro.Berdasarkan beberapa penjelasan di atas maka dapat disimpulkan ke dalam beberapa hal sebagai berikut: 1.co. 1998. perlu langkah-langkah yang bersifat implementatif dan aplikatif untuk merealisir manajemen pendidikan berbasis sekolah di lembaga pendidikan persekolahan. 2006. Pustaka Pelajar. menuntut adanya sekolah yang otonom dan kepala sekolah yang memiliki otonomi. Kaizen Strategies for Successful Leadership (Kepemimpinan Sukses). 3. Ibrahim. 2007. Wahono.cc/2009/07/peran-mbs. Ace. 2003. 2003. (5) perbaikan rencana dengan melengkapi berbagai aspek perencanaan. Cindelaras. Jakarta: Bumi Aksara. 1991. 2000. Barner. Diposkan oleh Endang Komara's Blog di 16:42 http://www. Manajemen Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. Yogyakarta. Oleh karena itu. Jakarta: Bumi Aksara. Jerome S. Manajemen pendidikan berbasis sekolah. 2. ‘’Biaya dan Keuntungan Pendidikan’’. (2) review keberhasilan pelaksanaan rencana tahunan sekolah. Keberhasilan penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah sangat ditentukan oleh political will pemerintah dan kepemimpinan di persekolahan. Nurkolis. Sudarwan. Yogyakarta:Insist Press. (7) pelaporan hasil. Kapitalisme Pendidikan – Antara Kompetisi dan Keadilan. Proses manajemen peningkatan mutu pendidikan berbasis sekolah meliputi kegiatan: (1) penetapan dan telaah tujuan sekolah. Jarome S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful