Pengertian Komunikasi Terapeutik Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan

untuk kesembuhan pasien (Indrawati, 2003 48). Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dan komunikasi in adalah adanya saling membutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan (Indrawati, 2003 : 48). Komunikasi terapeutik bukan pekerjaan yang bisa dikesampingkan, namun harus direncanakan, disengaja, dan merupakan tindakan profesional. Akan tetapi, jangan sampai karena terlalu asyik bekerja, kemudian melupakan pasien sebagai manusia dengan beragam latar belakang dan masalahnya (Arwani, 2003 50). Manfaat Komunikasi Terapeutik Manfaat komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Mengidentifikasi. mengungkap perasaan dan mengkaji masalah dan evaluasi tindakan yang dilakukan oleh perawat (Indrawati, 2003 : 50). Tujuan Komunikasi Terapeutik (Indrawati, 2003 48). Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien, membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri. Kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan perawat-klien, Bila perawat tidak memperhatikan hal ini, hubungan perawatklien tersebut bukanlah hubungan yang memberikan dampak terapeutik yang mempercepat kesembuhan klien, tetapi hubungan sosial biasa. Jenis Komunikasi Terapeutik Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Menurut Potter dan Perry (1993) dalam Purba (2003), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal dan publik. Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) dalam Purba (2003) ada tiga jenis komunikasi yaitu verbal, tertulis dan non-verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik. 1. Komunikasi Verbal Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kata-kata adalah alat atau simbol yang dipakai untuk mengekspresikan ide atau perasaan, membangkitkan respon emosional, atau menguraikan obyek, observasi dan ingatan. Sering juga untuk menyampaikan arti yang tersembunyi, dan menguji minat seseorang. Keuntungan komunikasi verbal dalam tatap muka yaitu memungkinkan tiap individu untuk berespon secara langsung. Komunikasi Verbal yang efektif harus:

dengan menggunakan kata-kata yang mengekspresikan ide secara sederhana. Selaan yang lama dan pengalihan yang cepat pada pokok pembicaraan lain mungkin akan menimbulkan kesan bahwa perawat sedang menyembunyikan sesuatu terhadap klien. Makin sedikit kata-kata yang digunakan makin kecil keniungkinan teijadinya kerancuan. terapi dan kondisi klien. Begitu pula . 5) Waktu dan Relevansi Waktu yang tepat sangat penting untuk menangkap pesan. tetapi waktu tidak tepat dapat menghalangi penerimaan pesan secara akurat. Perawat sebaiknya tidak berbicara dengan cepat sehingga kata-kata tidak jelas. kapan. jika pengirim pesan tidak mampu menerjemahkan kata dan ucapan. Kendatipun pesan diucapkan secara jelas dan singkat. Kata serius dipahami klien sebagai suatu kondisi mendekati kematian. sedangkan arti konotatif merupakan pikiran. 2) Perbendaharaan Kata (Mudah dipahami) Komunikasi tidak akan berhasil. Daripada mengatakan “Duduk. Selaan yang tepat dapat dilakukan dengan memikirkan apa yang akan dikatakan sebelum mengucapkannya. Selaan perlu digunakan untuk menekankan pada hal tertentu. sementara saya akan mengauskultasi paru paru anda” akan lebih baik jika dikatakan “Duduklah sementara saya mendengarkan paru-paru anda”.1) Jelas dan ringkas Komunikasi yang efektif harus sederhana. klien dapat menjadi bingung dan tidak mampu mengikuti petunjuk atau mempelajari informasi penting. Ketika berkomunikasi dengan keperawat harus hati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk disalah tafsirkan. 3) Arti denotatif dan konotatif Arti denotatif memberikan pengertian yang sama terhadap kata yang digunakan. Ringkas. Banyak istilah teknis yang digunakan dalam keperawatan dan kedokteran. memberi waktu kepada pendengar untuk mendengarkan dan memahami arti kata. Bila klien sedang menangis kesakitan. Ucapkan pesan dengan istilah yang dimengerti klien. terutama sangat penting ketika menjelaskan tujuan terapi. 4) Selaan dan kesempatan berbicara Kecepatan dan tempo bicara yang tepat turut menentukan keberhasilan komunikasi verbal. Perawat juga bisa menanyakan kepada pendengar apakah ia berbicara terlalu lambat atau terlalu cepat dan perlu untuk diulang. mengapa. Penggunaan contoh bisa membuat penjelasan lebih mudah untuk dipahami. tetapi perawat akan menggunakan kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati kematian. Ulang bagian yang penting dari pesan yang disampaikan. perawat harus peka terhadap ketepatan waktu untuk berkomunikasi. siapa dan dimana. perasaan atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Kejelasan dapat dicapai dengan berbicara secara lambat dan mengucapkannya dengan jelas. tidak waktunya untuk menjelaskan resiko operasi. dan jika ini digunakan oleh perawat. Oleh karena itu. menyimak isyarat nonverbal dari pendengar yang mungkin menunjukkan. bagaimana. Penerimaan pesan perlu mengetahui apa. pendek dan langsung.

mengurangi ansietas. evaluasi dan ringkasan 5) menyebarkan informasi kepada khalayak ramai 6) Dapat menegaskan.lain. misalnya surat keputusan. iklan di surat kabar dan lain. surat pengangkatan. pembuatan memo. dan meningkatkan keberhasilan perawat dalam memberikan dukungan emosional terhadap klien. misalnya surat yang telah diarsipkan. Keuntungan Komunikasi tertulis adalah: 1) Adanya dokumen tertulis 2) Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman 3) Dapat meyampaikan ide yang rumit 4) Memberikan analisa. 2. misalnya surat dalam arsip lama yang digali kembali untuk mengetahui perkembangan masa lampau. Prinsip-prinsip komunikasi tertulis terdiri dari : 1) Lengkap 2) Ringkas 3) Pertimbangan 4) Konkrit 5) Jelas 6) Sopan 7) Benar Fungsi komunikasi tertulis adalah: 1) Sebagai tanda bukti tertulis yang otentik. seperti komunikasi melalui surat menyurat. misalnya. . memfasilitasi relaksasi pernapasan dan menggunakan humor untuk menutupi rasa takut dan tidak enak atau menutupi ketidak mampuannya untuk berkomunikasi dengan klien. 3) Dokumentasi historis. Sullivan dan Deane (1988) dalam Purba (2006) melaporkan bahwa humor merangsang produksi catecholamines dan hormon yang menimbulkan perasaan sehat. laporan. 6) Humor Dugan (1989) dalam Purba (2003) mengatakan bahwa tertawa membantu pengurangi ketegangan dan rasa sakit yang disebabkan oleh stres. persetujuan operasi.komunikasi verbal akan lebih bermakna jika pesan yang disampaikan berkaitan dengan minat dan kebutuhan klien. Komunikasi Tertulis Komunikasi tertulis merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sering digunakan dalam bisnis. 4) Jaminan keamanan. 2) Alat pengingat/berpikir bilamana diperlukan. menafsirkan dan menjelaskan komunikasi lisan. 5) Pedoman atau dasar bertindak. surat perintah. meningkatkan toleransi terhadap rasa sakit. umpamanya surat keterangan jalan.

orang-orang Muang Thai merupakan orang yang rendah hati. memegang. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan. 3. Komunikasi Non Verbal Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Perawat yang mendektesi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan. mengelus dan mencubit. Perhatikan bahwa dalam pengalihan informasi mengenai kesehatan. cara memakai kondom.7) Membentuk dasar kontrak atau perjanjian 8) Untuk penelitian dan bukti di pengadilan Kerugian Komunikasi tertulis adalah: 1) Memakan waktu lama untuk membuatnya 2) Memakan biaya yang mahal 3) Komunikasi tertulis cenderung lebih formal 4) Dapat menimbulkan masalah karena salah penafsiran 5) Susah untuk mendapatkan umpan balik segera 6) Bentuk dan isi surat tidak dapat di ubah bila telah dikirimkan 7) Bila penulisan kurang baik maka akan membingungkan Si pembaca. 4) Paralinguistik Paralinguistik meliputi setiap penggunaan suara sehingga dia bermanfaat kalau kita hendak menginterprestasikan simbol verbal. 2) Proksemik Proksemik yaitn bahasa non verbal yang ditunjukkan oleh “ruang” dan “jarak” antara individu dengan orang lain waktu berkomunikasi atau antara individu dengan objek. Atas dasar itu maka ada ahli kumunikasi non verbal yang mengatakan haptik itu sama dengan menepuk-nepuk. Sebagai contoh. para penyuluh tidak saja menggunakan kata-kata secara verbal tetapi juga memperkuat pesan-pesan itu dengan bahasa isyarat untuk mengatakan suatu penyakit yang berbahaya. cara mengaduk obat. Morris (1977) dalam Liliweni (2004) membagi pesan non verbal sebagai berikut: 1) Kinesik Kinesik adalah pesan non verbal yang diimplementasikan dalam bentuk bahasa isyarat tubuh atau anggota tubuh. Ini . artinya tidak ada lagi jarak di antara dua orang waktu berkomunikasi. obat yang mujarab. Mengeritik orang lain biasanya tidak diungkapkan secara langsung tetapi dengan anekdot. karena isyarat non verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Merupakan cara yang paling meyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. dan lain-lain. Haptik mengkomunikasikan relasi anda dengan seseorang. 3) Haptik Haptik seringkali disebut zero proxemics. mirip dengan orang jawa yang tidak mengungkapkan kemarahan dengan suara yang keras. meraba-raba.

Makin mahal mobil yang mereka pakai. 5) Artifak Kita memehami artifak dalam komunikasi komunikasi non verbal dengan pelbagai benda material disekitar kita. televisi. Kita dapat menduga status sosial seseorang dan pakaian atau mobil yang mereka gunakan. kurus. pakaian. 3. mobil. 2. komputer mungkin sekedar benda. Karakteristik Komunikasi Terapeutik Ada tiga hal mendasar yang memberi ciri-ciri komunikasi terapeutik yaitu sebagai berikut: (Arwani. Bentuk logo umumnya berukuran kecil dengan pilihan bentuk. Namun dalam situasi sosial tertentu benda-benda itu memberikan pesan kepada orang lain. (Liliweri. artinya bagaimana kita merancang pesan sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi orang lain agar mereka dapat mengetahui informasi. tipe tubuh (atletis. sehingga pasien bisa mengekspresikan perasaannya lebih mendalam. namun model keija m dapat ditirn dalam komunikasi kesehatan. menikmati informasi. Empati (Empathy) Merupakan sikap jujur dalam menerima kondisi pasien. maka makin tinggi status sosial orang itu. memutuskan untuk membeli atau menolak produk bisnis yang disebarluaskan oleh sumber informasi. Biasanya logo dirancang untuk dijadikan simbol da suatu karaya organisasi atau produk da suatu organisasi.berbeda dengan orang Batak dan Timor yang mengungkapkan segala sesuatu dengan suara keras. lalu bagaimana cara benda-benda itu digunakan untuk menampilkan pesan tatkala dipergunakan. 1. gemuk. warna dan huruf yang mengandung visi dan misi organisasi. kulkas. Tipe tubuh itu merupakan cap atau warna yang kita berikan kepada orang itu. 2007:108). terutama bagi organisasi swasta. 2003 : 54). . Hangat (Warmth) Kehangatan dan sikap permisif yang diberikan diharapkan pasien dapat memberikan dan mewujudkan ide-idenya tanpa rasa takut. gendut. Ikhlas (Genuiness) Semua perasaan negatif yang dimiliki oleh pasien barus bisa diterima dan pendekatan individu dengan verbal maupun non verbal akan memberikan bantuan kepada pasien untuk mengkomunikasikan kondisinya secara tepat. Obyektif dalam memberikan penilaian terhadap kondisi pasien dan tidak berlebihan. dan lain-lain). Kita sering menilai seseorang mulai dari warna kulitnya. 7) Tampilan Fisik Tubuh Acapkali anda mempunyai kesan tertentu terhadap tampilan fisik tubuh dari lawan bicara anda. bungkuk. 6) Logo dan Warna Kreasi pan perancang untuk menciptakan logo dalam penyuluhan merupaka karya komunikasi bisnis. ceking. Sepeda motor. Salah satu keutamaan pesan atau informasi kesehatan adalah persuasif.

Fase – fase dalam komunikasi terapeutik 1. Lingkungan. Jenis Kelamin. Perkembangan. Fase ini terdiri dari dua kegiatan pokok yaitu menyatukan proses komunikasi dengan tindakan perawatan dan membangun suasana yang mendukung untuk proses perubahan. Persepsi. 2. Faktor – faktor penghambat komunikasi Faktor-faktor yang menghambat komunikasi terapeutik adalah (Indrawati. . 3. Jarak. agar tujuan yang tercapai adalah kondisi yang saling menguntungkan dan memuaskan. Penyelesaian (Termination) Paa fase ini perawat mendorong pasien untuk memberikan penilaian atas tujuan telah dicapai. clarification of roles dan contract formation. Kegiatan pada fase ini adalah penilaian pencapaian tujuan dan perpisahan (Arwani. 2003 61). Emosi. 4. 7. 8. Peran dan hubungan. 10. 2. Pengetahuan. Fase ini dicirikan oleh lima kegiatan pokok yaitu testing. Kerja (Working) Pada fase ini perawat dituntut untuk bekerja keras untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan pada fase orientasi. 9. Nilai. identification of problems and goals. Kondisi Fisik. Orientasi (Orientation) Pada fase ini hubungan yang terjadi masih dangkal dan komunikasi yang terjadi bersifat penggalian informasi antara perawat dan pasien. 5. 2003 : 21): 1. CitraDiri. 6. Bekerja sama dengan pasien untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang merintangi pencapaian tujuan. 11. 12. 3. building trust. Latar belakang sosial budaya.

kecepatan yang semuanya menggambarkan suasana emosi. perawat perlu mengetahui proses komunikasi dan keterampilan berkomunikasi dalam membantu klien memecahkan masalahnya. postur. Bermain merupakan cara berkomunikasi dan berhubungan yang baik dengan klien anak. Perawat dapat menyampaikan atau mengkaji pesan secara non verbal antara lain: 1. karena: 1. 3. Gerakan: refleks. 1987. Khusus gerakan dan ekspresi muka dapat diartikan sebagai suasana hati. Dalam proses komunikasi terjadi penyampaian informasi dan pertukaran perasaan dan pikiran. Jarak (space): jarak dalam berkomunikasi dengan orang lain menggambarkan tingkat keintiman hubungan. Sentuhan: dikatakan sangat penting tetapi perlu mempertimbangkan aspek budaya dan kebiasaan setempat.Teori komunikasi sangat sesuai dalam praktek keperawatan (Stuart dan Sundeen. Hubungan perawat-klien yang terapeutik tidak mungkin dicapai tanpa komunikasi. penerima pesan. Komunikasi merupakan cara untuk membina hubungan terapeutik. Semua perilaku individu (pengirim dan penerima) adalah komunikasi yang akan memberikan efek pada perilaku. Vokal: nada. gerakan yang berulang atau gerakangerakan yang lain. keras atau lembut. 2. media dan umpan balik. Pesan yang disampaikan dapat verbal maupun non verbal. 2. SIKAP PERAWAT DALAM BERKOMUNIKASI . 3. Komunikasi adalah hubungan. pesan. Berarti keberhasilan intervensi keperawatan tergantung pada komunikasi karena proses keperawatan ditujukan untuk merubah perilaku dalam mencapai tingkat kesehatan yang optimal. Maksud komunikasi adalah mempengaruhi perilaku orang lain. 4. 111). kualitas. Dalam membina hubungan terapeutik dengan klien. ekspresi muka. Elemen yang harus ada pada proses komunikasi adalah pengirim pesan.

Kontak mata dan ekspresi muka adalah alat pertama yang dipakai untuk pendidikan dan sosialisasi. Mempertahankan sikap terbuka. Arti dari posisi ini adalah ”saya siap untuk anda”. 3. Perawat tidak cukup hanya mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi tetapi yang sangat penting adalah sikap atau penampilan dalam berkomunikasi. Konsep diri didasari oleh asuhan ibu yang memperlihatkan perasaan menerima dan mengakui. 5. suara dan sentuhan yang menjadi elemen . Perawat perlu mengetahui perkembangan kontak mata. 2. Posisi ini menunjukkan keinginan untuk mengatakan atau mendengar sesuatu. Ekspresi muka Ekspresi muka umumnya dipakai sebagai bahasa non verbal namun banyak dipengaruhi oleh budaya. 171). Berhadapan. 2. Anak sangat mengerti akan ekspresi ibu yang marah. Sentuhan Sentuhan merupakan cara interaksi yang mendasar. sedih atau tidak setuju. Tetap relaks. Membungkuk ke arah klien. 372) mengidentifikasi 5 sikap atau cara untuk menghadirkan diri secara fisik. Bayi dan anak memperlihatkan reaksi yang tinggi terhadap rangsangan visual (Mahler. 1991. misalnya usia 2 bulan bayi tersenyum jika kontak mata dengan ibu. yaitu: 1. 168-173) yang perlu diketahui dalam merawat anak adalah: 1. Mempertahankan kontak mata. dikutip oleh Kozier dan Erb. Kontak mata pada level yang sama berarti menghargai klien dan menyatakan keinginan untuk tetap berkomunikasi.Perawat hadir secara utuh (fisik dan psikologis) pada waktu berkomunikasi dengan klien. Sikap fisik dapat pula disebut sebagai perilaku non verbal yang perlu dipelajari pada setiap tindakan keperawatan. KEHADIRAN DIRI SECARA FISIK Egan (1975. 1983. Tidak melipat kaki atau tangan menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi. Kontak mata antara ibu dan bayi merupakan cara interaksi dan kontak sosial. Gerakan mata dapat dipakai untuk memberikan perhatian. Orang yang tidak percaya pasti akan tampak dari ekspresi muka tanpa ia sadari. 3. Beberapa perilaku non verbal yang dikemukakan oleh Clunn (1991. Tetap dapat mengontrol keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam memberi respon terhadap klien. Kontak mata berkembang pada anak sejak lahir. Gerakan mata. dikutip oleh Clunn. 4. Ikatan kasih sayang dibentuk oleh pandangan.

Dimensi respon sangat penting pada awal berhubungan dengan klien untuk membina hubungan saling percaya dan komunikasi yang terbuka. minta maaf atas hal yang tidak disukai klien dan menerima permintaan klien untuk tidak menanyakan pengalaman tertentu. 129) mengidentifikasi perilaku verbal dan non verbal yang menunjukkan tingkat empati yang tinggi sebagai berikut: • Memperkenalkan diri kepada klien. Mansfield (dikutip oleh Stuart dan Sundeen. dikutip oleh Stuart dan Sundeen. Keikhlasan Perawat menyatakan melalui keterbukaan. mengekspresikan perasaan yang sebenarnya dan spontan. merasakan melalui perasaan klien dan kemudian mengidentifikasi masalah klien serta membantu klien mengatasi masalah tersebut. Empati Empati merupakan kemampuan masuk dalam kehidupan klien agar dapat merasakan pikiran dan perasaannya.penting dalam pembentukan ego. Dimensi Respon Dimensi respon terdiri dari respon perawat yang ikhlas. 1987. 173). 2. 1991. 1987. tidak berpurapura. khususnya pada kekuatan dan sumber daya klien. perpisahan dan kemandirian (Rubin. Rasa menghargai dapat dikomunikasikan melalui: duduk diam bersama klien yang menangis. 126). Melalui penelitian. Respon ini harus terus dipertahankan sampai pada akhir hubungan. Carkhoff dan Benerson. • Kepala dan badan membungkuk ke arah klien. kasih sayang yang pada kemudian hari (dewasa) mengembangkan hal yang sama baginya. KEHADIRAN DIRI SECARA PSIKOLOGIS Kehadiran diri secara psikologis dapat dibagi dalam 2 dimensi yanitu dimensi respon dan dimensi tindakan (Truax. Perawat memandang melalui pandangan klien. 1. Sentuhan sangat penting bagi anak sebagai alat komunikasi dan memperlihatkan kehangatan. ketulusan dan berperan aktif dalam berhubungan demgan klien. menghargai. Menghargai Perawat menerima klien apa adanya. Perawat berespon dengan tulus. tidak mengejek dan tidak menghina. • Respon verbal terhadap pendapat klien. tidak mengkritik. . Sikap perawat harus tidak menghakimi. kejujuran. 3. empati dan konkrit. dikutip oleh Clunn.

2. • Nada suara konsisten dengan ekspresi wajah dan respon verbal. Dimensi respon membawa klien pada tingkat penilikan diri yang tinggi dan kemudian dilanjutkan dengan dimensi tindakan. mengidentifikasi 3 katagori konfrontasi. Konfrontasi berguna untuk meningkatkan kesadaran klien terhadap kesesuaian perasaan. kehangatan. Hal ini perlu untuk menghindarkan keraguan dan ketidakjelasan. 131). Ketidaksesuaian antara pengalaman klien dan pengalaman perawat. Konfrontasi merupakan ekspresi perasaan perawat tentang perilaku klien ynag tidak sesuai. Kesegeraan Kesegeraan berfokus pada interaksi dan hubungan perawat-klien saat ini. 131) 1. 3. c. bukan yang abstrak. Konfrontasi sangat diperlukan pada klien yang telah mempunyai kesadaran diri tetapi perilakunya belum berubah. gelisah. ekspresi wajah. Perawat sensitif terhadap perasaan klien dan berkeinginan membantu dengan segera. kesegeraan. Konkrit Perawat menggunakan terminologi yang spesifik. 1987. Dimensi tindakan terdiri dari konfrontasi. Carkhoff (dikutip oleh Stuart dan Sundeen. bukan marah atau agresif. 4. Ketidaksesuaian antara ekspresi non verbal dan perilaku klien. Sebelum melakukan konfrontasi perawat perlu mengkaji antara lain: tingkat hubungan saling percaya. Konfrontasi. minat. Ketidaksesuaian antara konsep diri klien (ekspresi klien tentang dirinya) dan ideal diri klien (keinginan klien) b. • Tunjukkan perhatian. melalui ekspresi wajah. sikap. keterbukaan. Dimensi Tindakan Dimensi tindakan tidak dapat dipisahkan dengan dimensi respon. emotional chatarsis dan bermain peran (Stuart dan Sundeen. Keterbukaan . 1987. Ada 3 kegunaannya. Tindakan yang dilaksanakan harus dalam konteks kehangatan dan pengertian. tingkat kecemasan klien dan kekuatan koping klien. Perawat senior sering segera masuk dimensi tindakan tanpa membina hubungan yang adekuat sesuai dengan dimensi respon. Konfrontasi dilakukan secara asertif. yaitu: • Mempertahankan respon perawat terhadap perasaan klien • Memberi penjelasan yang akurat oleh perawat • Mendorong klien memikirkan masalah yang spesifik. waktu yang tepat. kepercayaan dan perilaku. yaitu: a.• Kontak mata dan berespon pada tanda non verbal klien misalnya nada suara.

Hal ini berguna untuk meningkatkan kesadaran dalam berhubungan dan kemampuan melihat situasi dari pandangan orang lain. perasaan. Jika klien mengalami kesukaran mengekspresikan perasaannya. perasaan dan pengalaman dibuka dan menjadi topik diskusi antara perawat-klien. 134). 4. Tabel 4. perawat dapat membantu dengan mengekspresikan perasaannya jika berada pada situasi klien. dikutip oleh Stuart dan Sundeen. cara dan sikap yang dapat meningkatkan efektivitas komunikasi dan hubungan perawat-klien. Ketakutan. Perawat membuka diri tentang pengalaman yang berguna untuk terapi klien. Respek (Menghargai) 3. Tukar pengalaman ini memberi keuntungan pada klien untuk mendukung kerjasama dan memberi sokongan. 5. sikap dan nilai yang dianutnya. Empati . Perawat harus dapat mengkaji kesiapan klien mendiskusikan masalahnya. Bermain peran menjembatani anatara pikiran serta perilaku dan klien akan merasa bebas mempraktekkan perilaku baru pada lingkungan yang aman. Bermain Peran Bermain peran adalah melakukan peran pada situasi tertentu.Perawat harus terbuka memberikan informasi tentang dirinya. Ikhlas 2. 1987. Respon dan Tindakan Terapeutik dalam Hubungan Perawat-Klien Dimensi Karakteristik Respon: 1. Emotional Chatarsis Emotional chatarsis terjadi jika klien diminta bicara tentang hal yang sangat mengganggu dirinya. Melalui penelitian ditemukan bahwa peningkatan keterbukaan antara perawat-klien dapat menurunkan tingkat kecemasan perawat-klien (Johnson. Ringkasan dimensi respon dan tindakan dapat dilihat pada Tabel 4. ideal diri. Perawat senantiasa harus mencoba berbagai teknik.

Konkrit . dapat dipercaya . Keterbukaan 4. Konfrontasi 2.Peka terhadap perasaan klien saat ini .Perawat terbuka.Menghargai klien tanpa syarat .Menggunakan terminologi yang spesifik bukan yang abstrak dalam mendiskusikan perasaan.Memandang klien melalui pandangan klien sendiri (internal) . pengalaman dan perilaku Tindakan: 1. Segera 3.Dapat mengidentifikasi masalah klien dan memberi alternatif pemecahan pada klien sesuai dengan ilmu dan pengalaman perawat tanpa menggangu integritas diri perawat .Menerima klien. Bermain peran . mempercayai klien mempunyai kemampuan memecahkan masalah dengan bantuan . Emotional chatarsis 5. realistis. jujur.4.

ide. 1987. Nada suara Bicara lambat dan jika tidak dijawab harus diulang lebih jelas dengan pengarahan yang sederhana.Perawat mengekspresikan kesenjangan perilaku klien untuk meningkatkan kesadaran dirinya.Memberi respon segera pada hal yang terjadi sekarang di tempat ini. Marah Perawat perlu mempelajari tanda kontrol perilaku yang rendah pada anak untuk .Bermain peran tentang situasi tertentu untuk meningkatkan kesadaran dalam hubungan interaksi dan kemampuan melihat situasi dari pandangan yang berbeda . 4. Mengalihkan aktivitas Kegiatan anak yang berpindah-pindah dapat meningkatkan rasa cemas terapis dan mengartikannya sebagai tanda hiperaktif. 2. KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN KLIEN ANAK Cara yang terapeutik dalam berkomunikasi dengan anak adalah sebagai berikut: 1. 13. Anak lebih tertarik pada aktivitas yang disukai sehingga perlu dibuat jadual yang bergantian antara aktivitas yang disukai dan aktivitas terapi yang diprogramkan. pengalaman dan kecemasan didiskusikan secara terbuka .Mendorong klien bicara hal yang mencemaskan. . Hindari sikap mendesak untuk dijawab dengan mengatakan “jawab dong”.Perawat mengemukakan informasi tentang dirinya. Jarak interaksi Perawat yang mengobservasi tindakan non verbal dan sikap tubuh anak harus mempertahankan jarak yang aman dalam berinteraksi. perasaan takut. 3. perasaan. nilai dan sikapnya untuk mendukung kerjasama dengan klien .Klien belajar perilaku baru pada situasi yang aman..Terjadi pada waktu interaksi dan dipakai untuk mempelajari fungsi klien dalam hubungan interpersonal . . Sumber: Stuart dan Sundeen.

Kesadaran diri Perawat harus menghindari konfrontasi secara langsung. Perawat menghindari bicara yang keras dan otoriter serta mengurangi kontak mata jika respon anak meningkat. apa yang akan kita bicarakan hari ini?. Perawat harus menjadi pendengar yang aktif. 2. 1987. Perawat secara non verbal selalu memberi dorongan. Sentuhan Jangan sentuh anak tanpa izin dari anak. Meja tidak diletakkan antara perawat dan anak. Refleksi a. perasaan dan persepsi perawat-klien. 5. perawat dapat menggunakan berbagai teknik komunikasi terapeutik sebagai berikut (Stuart dan Sundeen. duduk yang terlalu dekat dan berhadapan. 6. Mengulang (Restarting) Mengulang pokok pikiran yang diungkapkan klien. Mendengar (Listening) Merupakan dasar utama dalam komunikasi. tidak jelas. Contoh: dapatkah anda menjelaskan kembali tentang …? Gunanya untuk kejelasan dan kesamaan ide. Refleksi isi. tidak mendengar atau klien berhenti karena malu mengemukakan informasi. Klarifikasi Dilakukan bila perawat ragu. saya mengerti atau oohh . Dengan mendengar perawat mengetahui perasaan klien. 5. Salaman dengan anak merupakan cara untuk menghilangkan stres dan cemas khususnya pada anak laki-laki. Pertanyaan Terbuka (Broad Opening) Memberi kesempatan untuk memilih. informasi yang diperoleh tidak lengkap atau mengemukakannya berpindah-pindah. Jika anak mulai dapat mengontrol perilaku maka kontak mata dimulai kembali namun sentuhan ditunda dahulu. 4. TEKNIK KOMUNIKASI TERAPEUTIK Dalam menanggapi pesan yang disampaikan klien.… 3. penerimaan dan persetujuan jika diperlukan.mencegah temper tantrum. contoh: apakah yang sedang saudara pikirkan?. memvalidasi apa yang didengar. 124): 1. Beri dorongan dengan cara mendengar atau mengatakan. Beri kesempatan lebih banyak pada klien untuk bicara. Klarifikasi ide yang diekspresikan . Gunanya untuk menguatkan ungkapan klien dan memberi indikasi perawat mengikuti pembicaraan klien.

Saran Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah. Refleksi perasaan. Gunanya untuk meningkatkan pengertian dan mengeksplorasi masalah yang penting. Contoh: Klien : Wanita sering jadi bulan-bulanan. Identifikasi Tema Mengidentifikasi latar belakang masalah yang dialami klien yang muncul selama percakapan. Kerugiannya adalah: a. Pada klien yang menarik diri. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan. Perawat perlu menganalisa teknik komunikasi yang tepat setiapkali ia berhubungan . mengetahui dan menerima ide dan perasaan b. Tujuannya untuk memberi kesempatan berpikir dan memotivasi klien untuk bicara. tetapi saya rasa anda marah kepada saya. mengoreksi c. 6. Contoh: Anda tertawa. 11. iritasi dan frustasi.klien dengan pengertian perawat. Membagi Persepsi Meminta pendapat klien tentang hal yang perawat rasakan dan pikirkan. memberi keterangan lebih jelas. 8. Diam (Silence) Cara yang sukar. Perawat : Coba ceritakan bagaimana perasaan anda sebagai wanita. dapat menimbulkan marah. Apakah ini latar belakang masalahnya? 9. teknik diam berarti perawat menerima klien. Informing Memberi informasi dan fakta untuk pendidikan kesehatan. 10. anda telah disakiti. Dengan cara ini perawat dapat meminta umpan balik dan memberi informasi. Memfokuskan Membantu klien bicara pada topik yang telah dipilih dan yang penting serta menjaga pembicaraan tetap menuju tujuan yaitu lebih spesifik. b. lebih jelas dan berfokus pada realitas. Misalnya: Saya lihat dari semua keterangan yang anda jelaskan. Gunanya untuk: a. biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan. mengulang terlalu sering tema yang sama b. memberi respon pada perasaan klien terhadap isi pembicaraan agar klien mengetahui dan menerima perasaannya. 7.

ia harus menganalisa dirinya: kesadaran diri. Analisa hubungan intim yang terapeutik perlu dilakukan untuk evaluasi perkembangan hubungan dan menentukan teknik dan keterampilan yang tepat dalam setiap tahap untuk mengatasi masalah klien dengan prinsip di sini dan saat ini (here and now). . Dalam hal ini perawat memakai dirinya secara terpeutik dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar perilaku klien berubah ke arah yang positif seoptimal mungkin.dengan klien. Dengan mengerti proses komunikasi dan menguasai berbagai keterampilan berkomunikasi. Rasa aman merupakan hal utama yang harus diberikan pada anak agar anak bebas mengemukakan perasaannya tanpa kritik dan hukuman. Melalui komunikasi verbal dapat disampaikan informasi yang akurat tetapi aspek emosi dan perasaan tidak dapat diungkapkan seluruhnya secara verbal. diharapkan perawat dapat memakai dirinya secara utuh (verbal dan non verbal) untuk memberi efek terapeutik kepada klien. KESIMPULAN Hubungan perawat-klien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman perbaikan emosi klien. klarifikasi nilai. Agar perawat dapat berperan efektif dan terapeutik. persaan dan mampu menjadi model yang bertanggung jawab. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat (verbal atau non verbal) hendaknya bertujuan terapeutik untuk klien.

Melalui komunikasi verbal dapat disampaikan informasi yang akurat tetapi aspek emosi dan perasaan tidak dapat diungkapkan seluruhnya secara verbal. Pada klien yang menarik diri. . Saran Memberi alternatif ide untuk pemecahan masalah. Seluruh perilaku dan pesan yang disampaikan perawat (verbal atau non verbal) hendaknya bertujuan terapeutik untuk klien. Dalam hal ini perawat memakai dirinya secara terpeutik dengan menggunakan berbagai teknik komunikasi agar perilaku klien berubah ke arah yang positif seoptimal mungkin. ia harus menganalisa dirinya: kesadaran diri. 11. teknik diam berarti perawat menerima klien. Dengan mengerti proses komunikasi dan menguasai berbagai keterampilan berkomunikasi. Tepat dipakai pada fase kerja dan tidak tepat pada fase awal hubungan. Rasa aman merupakan hal utama yang harus diberikan pada anak agar anak bebas mengemukakan perasaannya tanpa kritik dan hukuman. Informing Memberi informasi dan fakta untuk pendidikan kesehatan. biasanya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan. klarifikasi nilai.Cara yang sukar. 10. Agar perawat dapat berperan efektif dan terapeutik. Tujuannya untuk memberi kesempatan berpikir dan memotivasi klien untuk bicara. Analisa hubungan intim yang terapeutik perlu dilakukan untuk evaluasi perkembangan hubungan dan menentukan teknik dan keterampilan yang tepat dalam setiap tahap untuk mengatasi masalah klien dengan prinsip di sini dan saat ini (here and now). Perawat perlu menganalisa teknik komunikasi yang tepat setiapkali ia berhubungan dengan klien. KESIMPULAN Hubungan perawat-klien yang terapeutik adalah pengalaman belajar bersama dan pengalaman perbaikan emosi klien. diharapkan perawat dapat memakai dirinya secara utuh (verbal dan non verbal) untuk memberi efek terapeutik kepada klien. persaan dan mampu menjadi model yang bertanggung jawab.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful