TUGAS AKHIR II UJI KUALITAS VCO BERDASARKAN CARA PEMBUATAN DARI PROSES PENGADUKAN TANPA PEMANCINGAN DAN PROSES

PENGADUKAN DENGAN PEMANCINGAN
Diajukan alam Rangka Penyelesaian Studi Strata I Untuk Mencapai Gelar Sarjana Sains

Oleh Ika Erna Wardani 4350403022

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2007

i

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Tugas Akhir II telah disetujui oleh pembiming untuk diajukan ke sidang panitia ujian Tugas Akhir II

Semarang, September 2007 Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Sukirno, Apt NIP. 130515765

Drs. Wisnu Sunarto, M.Si NIP. 131412511

ii

HALAMAN PENGESAHAN Tugas akhir ini telah dipertahankan dihadapan sidang panitia Ujian Tugas Akhir Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang pada: hari tanggal : :

Panitia Ujian Ketua Sekretaris

Drs. Kasmadi Imam S, M.S NIP. 130781011 Penguji I

Drs. Sigit Priatmoko, M.Si NIP. 131065839 Penguji II

Dra. Mantini Rahayu S, M.Si NIP.130529945

Drs. Wisnu Sunarto, M.Si NIP. 131412511

Penguji III

Drs. Sukirno, Apt NIP. 130515765

iii

Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam Tugas Akhir II ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. September 2007 Ika Erna Wardani NIM. 4350403022 iv . Semarang.PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam Tugas Akhir II ini benarbenar hasil karya sendiri. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain baik sebagian atau seluruhnya.

Yuni. Adikku Fitri dan Sinta yang aku Sayangi..MOTTO DAN PERSEMBAHAN Motto: ¾ ”Bermimpi adalah langkah pertama. simpati. Temantemanku kimia 2003 khususnya Siska. (Khalil Gibran) Karyaku ini segala do’a dan dukungannya. Dia adalah sumber kebaikan. Cinta dan Rahmat Allah adalah sumber keberuntungan yang membuat mimpi menjadi kenyataan”. kebahagian dan maaf”. kerja keras dan ketekunan adalah langkah selanjutnya..dan arif yang selalu membantuku dan teman-teman kos khususnya indah dan yunita. (I love U all.) kupersembahkan untuk: Bapak dan Ibuku tercinta atas . ¾ ”Sahabat sejati adalah penghibur kita dalam sedih. harapan kita dalam susah dan saudara kita tatkala lemah. Dan hanya kepada Allahlah hendaknya kamu berharap”. Seseorang yang selalu dihatiku terima kasih yang selalu menasehatiku dan memberiku semangat. Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan kerjakanlah dengan sungguhsungguh urusan yang lain. ¾ ”Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Nenek dan Kakekku yang selalu memberiku semangat dan menasehatiku.

v .

5. 3. Bapak Drs. Sri Mantini Rahayu S. Bapak Drs. Tugas Akhir ini dibuat untuk memenuhi syarat menyelesaikan Studi Strata I untuk mencapai gelar Sarjana Sains di Jurusan Kimia Fakulatas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. M. Bapak Drs. Penulisan Tugas Akhir ini tidak dapat terselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari berbagai pihak. 2. 4. M.KATA PENGANTAR Pertama-tama penulis panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia-Nya sehingga penulisan Tugas Akhir II ini dengan judul: ”UJI KUALITAS VCO BERDASARKAN CARA PEMBUATAN DARI PROSES PENGADUKAN TANPA PEMANCINGAN DAN PROSES PENGADUKAN DENGAN PEMANCINGAN”. Ibu Dra.Si selaku Ketua Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Soedjiono Sastroamojo selaku Rektor Universitas Negeri Semarang.S selaku Dekan Fakultas Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang. Apt selaku dosen pembimbing I yang selalu membimbing dalam penyususnan Tugas Akhir II ini.Si selaku penguji yang memberi saran untuk kesempurnaan Tugas Akhir II ini. Bapak Prof. M. Sigit Priatmoko. Kasmadi Imam S. Sukirno. untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. vi .

Temanku Indah dan Sisca yang telah meminjami komputer dalam penyusunan Tugas Akhir ini (Makacih ya. 12. Adikku Fitri dan Sinta yang selalu aku sayangi. Wisnu Sunarto. Ayah dan ibu tercinta atas segala nasehat.). Semarang. 10. Atas bantuan dari semua pihak.. penulis mengucapkan terima kasih dan semoga Allah memberikan pahala atas bantuan yang mereka berikan .. 8. terima kasih atas semangatnya. 7.. 11... dan omenk yang selalu siap membantuku dan teman-teman kos yunita. dukungan dan doanya.. Seseorang yang nan jauh yang selalu memberiku nasehat dan semangat dalam segala hal. Penulis berharap dengan Tugas Akhir II ini dapat memberi manfaat bagi para pembaca umumnya dan bagi kita semua khususnya teman-teman dan adikadik di jurusan kimia Universitas Negeri Semarang. M. Bapak Drs. inunk dan semuanya makasih atas bantuannya.6. Teman-teman satu angkatan 2003 khususnya yuni. dian.Si selaku dosen pembimbing II yang telah membimbing dan membantu dalam penyususnan Tugas Akhir II ini. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu. September 2007 Penulis vii .. 9.

Tugas Akhir II. setelah diketahui waktu optimum pengdukan. Dalam penelitian yang telah dilakukan telah disimpulkan tidak ada perbedaan kualitas kadar air. Uji Kualitas VCO Berdasarkan Cara Pembuatan Dari Proses Pengadukan Tanpa Pemancingan Dan Proses Pengadukan Dengan Pemancingan. pengadukan. dan tahan terhadap proses degradasi. pemancingan. Dalam pembuatan VCO tidak ada proses fermentasi ataupun penambahan enzim. Pada pembuatan VCO dengan cara pengadukan tanpa pemancingan. Kata kunci : VCO.Si. VCO dapat dikonsumsi secara langsung. Universitas Negeri Semarang. antara lain dengan pemanasan suhu rendah. 2007. viii . 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5). Pembuatan VCO dapat dilakukan dengan berbagai cara. angka asam. 10. M. 800 mL:400 mL (2). Hal ini yang mendorong peniliti untuk meneliti bagaimana perbandingan kualitas VCO yang dihasilkan dari pembuatan berdasarkan cara pengadukan tanpa pemancingan dan VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan dengan pemancingan. minyak ini bersifat tahan terhadap panas. Erna Wardani. sehingga hasil yang diperoleh berupa VCO yang berwarna bening. Dengan sifat tersebut.ABSTRAK Ika. cahaya. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sukirno. 800 mL:267 mL (3). Pembimbing II: Drs. cara pemancingan dan cara pengadukan. Berdasarkan uji komposisi VCO menggunakan GC maka kualitas VCO yang paling baik adalah VCO yang dibuat menggunakan cara pengadukan dengan pemancingan yang mengandung asam laurat sebesar 52. waktu tersebut digunakan dalam pembuatan VCO dengan cara pengadukan dengan pemancingan dengan 5 variasi perbandingan santan kanil dan VCO jadi dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1). VCO merupakan minyak murni yang dalam proses pembuatannya tidak mengalami proses pemanasan atau tambahan bahan apapun sehingga komponen anti oksidannya tidak mengalami kerusakan. Apt. tidak berbau tengik tetapi beraroma khas kelapa. angka penyabunan dan angka iod pada VCO yang telah dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan maupun VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan tetapi memiliki angka peroksida yang berbeda. 15. 20 dan 25 menit. Wisnu Sunarto. Jurusan Kimia. Dalam pemanfaatannya. Pembimbing I: Drs. atau dipakai untuk memasak. asam laurat. VCO dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun. oksigen. indeks bias. VCO dibuat dengan 5 variasi lama pengadukan yaitu 5.6809%.

..................................33 D..............................................................................................22 BAB III METODE PENELITIAN .......... Tujuan............................................................4 D........................................... Cara kerja .......... Pembuatan sampel virgin coconut oil (VCO) ................. Metode Pengambilan Data ....................................17 G. Prosedur Penelitian .................................. Virgin Coconut Oil (VCO) .........................................................................................................32 B.........63 ix ....................................................................................................................... Latar Belakang Masalah... vi ABSTRAK ............................................................................................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN.......................... Asam lemak .....................................................................................................37 E........................... i PERSETUJUAN PEMBIMBING............................43 A.............................32 A........................................5 A.......41 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................................................................................. Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO)...................... Variabel Penelitian .................................................................................. Kromatografi Gas .............................................. Permasalahan .................................... Metode Analisis Data ....................... Manfaat ............. Metode Penentuan Objek Penelitian .......................................................... Analisis Anava (Analysis of Varians) ................................ Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) ........................................ Buah Kelapa ...................................... iii PERNYATAN ...................................................10 E. Lemak Dan Minyak ...........................................................45 B...........................................................................................35 2.................................................35 1..........................................................................5 B.. xiv BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................3 C..........................................40 F..................................... xi DAFTAR GAMBAR ................................................................v KATA PENGANTAR ............8 D.....................................................................4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................................. xiii DAFTAR GRAFIK ..... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN .1 A...............................................................................................12 F......................................…1 B..............7 C.......................32 C............................................................................................................................................ ix DAFTAR TABEL .............................................................................................................................. Emulsi ......................................................................................................................................... Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) ..............................................................................DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL . viii DAFTAR ISI ..........

..................................................... x ......................70 LAMPIRAN ......................................................................69 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. Kesimpulan ....................................................................................................................................................................72 ....................................69 B..........BAB V KESIMPULAN ........... Saran ........................69 A................

.......56 Tabel 17..............................49 Tabel 12................. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan Pemancingan......................................... Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan...... Jumlah VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan tanpa pemancingan45 Tabel 8..............................................45 Tabel 9.......................................................DAFTAR TABEL Tabel 1. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan ................ Komposisi asam lemak Virgin Coconut Oil (VCO) .....................55 Tabel 16.52 Tabel 14........................................................... Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan ... Komposisi kimia daging buah kelapa pada berbagai tingkat kematangan 6 Tabel 3......47 Tabel 10........13 Tabel 4................................................ Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan................................................................................................................6 Tabel 2..................................14 Tabel 5......................... Standart mutu Virgin Coconut Oil (VCO) ............................................................ Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.................... Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan xi ....................... Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan ........................................... Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan ........ Komposisi buah kelapa .......50 Tabel 13......... Karakteristik fisika-kimia minyak kelapa ....................................................................................... Jumlah VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan tanpa pemancingan44 Tabel 7.................................................................48 Tabel 11.15 Tabel 6..................53 Tabel 15...................... Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.............

............................59 Tabel 20..........................................67 Tabel 27...................................................... Hasil perhitungan anava angka asam antar berbagai perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum ... Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan ............... Perbandingan %relatif komponen-komponen yang terkandung dalam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan........................ Hasil Uji BNT 5% kadar air berbagai per perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum..........................................64 Tabel 23. Hasil Uji BNT 5% angka asam berbagai per perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum........................................64 Tabel 24...58 Tabel 19................. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan............... 61 Tabel 21.................................................... Hasil perhitungan anava kadar air antar berbagai perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum..........................57 Tabel 18.66 Tabel 26.......................65 Tabel 25........ Hasil perhitungan anava angka peroksida antar berbagai perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum ..........................................................67 xii .dengan pemancingan ...................... 62 Tabel 22...... Perbandingan waktu retensi yang dihasilkan dalam uji GC pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan.............................................. Hasil Uji BNT 5% angka peroksida berbagai per perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum......

............................................23 xiii .......................DAFTAR GAMBAR Gambar 1....... Instrumen kromatografi gas ....... Buah kelapa ..........................................5 Gambar 2.....................................

DAFTAR GRAFIK

Grafik 1. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan ............................................................................................45 Grafik 2. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan ................................................................................47 Grafik 3. Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.................................................................................48 Grafik 4. Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan ..............................................................................49 Grafik 5. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.................................................................................51 Grafik 6. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan ..............................................................................52 Grafik 7. Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan ............................................................54 Grafik 8. Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan..........................................................55 Grafik 9. Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.................................................................................56 Grafik 10. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan ..............................................................................57 Grafik 11. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan ............................................................58 Grafik 12. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan..........................................................59

xiv

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Kelapa (Cocos nucifera) mempunyai peran yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, karena kelapa banyak dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat sebagai tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomis dan sosial. Kelapa juga sering disebut sebagai pohon kehidupan (tree of life) dan pohon surga (a heavenly tree) karena hampir semua bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk kehidupan (Andi, 2005). Luas areal perkebunan kelapa di Indonesia mencapai 3.712 juta hektar dengan produksi sebesar 12.915 milyar butir per tahun, namun permasalahannya bukan pada luas areal dan produksi, akan tetapi produk yang dihasilkan masih berupa produk primer sehingga tidak kompetitif (Andi, 2005). Kelapa dapat diproduksi menjadi beraneka produk, misalnya kopra dan bahan makanan seperti nata de coco yang terbuat dair air kelapa, selain itu buah kelapa juga dapat diambil untuk pembuatan minyak kelapa murni atau pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO). VCO merupakan nama lazim dari minyak kelapa murni yang saat ini menjadi pusat perhatian, karena dapat digunakan untuk pengobatan alternatif. Hal ini telah dirintis oleh Dr. Bambang Setiadi dari UGM melalui proses yang lama. Seorang doktor dari UGM ini telah mengubah wajah minyak kelapa dari anggapan sebagai “pembunuh” menjadi “juru selamat” (Julia, 2005). Selama ini ada anggapan bahwa VCO dapat menyebabkan penyakit stroke dan jantung koroner

2

sehingga masyarakat secara sengaja menghindari VCO. Kurangnya informasi tentang manfaat VCO bagi kesehatan menyebabkan kalah pamor dengan minyak sawit yang banyak mengandung asam oleat, minyak kedelai dan minyak jagung (Anonim, 2005). Komponen utama VCO adalah asam lemak jenuh sekitar 90% dan asam lemak tak jenuh sekitar 10%. Asam lemak jenuh VCO didominasi oleh asam laurat yang memiliki rantai C12. VCO mengandung ± 53% asam laurat dan sekitar 7% asam kapriat. Keduanya merupakan asam lemak jenuh rantai sedang yang biasa disebut Medium Chain Fatty Acid atau MCFA. Asam lemak jenuh rantai sedang ini apabila dikonsumsi manusia tidak bersifat merugikan, bila terserap tubuh asam laurat akan diubah menjadi monolaurin dan asam kapriat diubah menjadi monokaprin. Monolaurin merupakan senyawa monogliserida yang bersifat antivirus, antibakteri dan antiprotozoa sehingga dapat menanggulangi serangan virus seperti influenza, HIV, maupun herpes simplex virus-1 (HSV-1), berbagai macam bakteri patogen seperti Listeria monocytogenes dan Helicobacter pyloryd serta protozoa seperti Glambia lamblia (Andi, 2005). Monokaprin merupakan senyawa monogliserida yang mengandung asam lemak (asam kapriat) rantai sedang berantai karbon 10 yang dalam tubuh manusia bermanfaat bagi kesehatan untuk mengatasi penyakit seksual (Andi, 2005). Adanya asam lemak jenuh rantai sedang (MCFA) dalam VCO mempunyai beberapa keuntungan yaitu mudah dicerna langsung oleh hati menjadi energi, mudah dibakar, tetapi tidak dapat bersintesa menjadi kolesterol, tidak tersimpan dalam tubuh sebagai lemak dan tidak terjadi trans pada reaksi oksidasi serta tahan

VCO dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun. oksigen dan proses degradasi karena struktur kimianya tidak mengandung ikatan ganda (Andi. antara lain dengan pemanasan suhu rendah. minyak ini bersifat tahan terhadap panas. B. tidak berbau tengik tetapi beraroma khas kelapa. Pembuatan VCO dapat dilakukan dengan berbagai cara. VCO dapat dikonsumsi secara langsung. diantaranya dengan proses pemancingan dan pengadukan. oksigen. Hal ini yang mendorong peniliti untuk meneliti perbandingan kualitas VCO yang dihasilkan dari pembuatan berdasarkan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan dengan pemancingan. cahaya. Permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ada perbedaan kualitas VCO . Dalam pemanfaatannya. sehingga hasil yang diperoleh berupa VCO yang berwarna bening. 2005). Permasalahan Dalam pembuatan VCO dapat dilakukan dengan berbagai cara.3 terhadap panas. Dalam pembuatan VCO tidak ada proses fermentasi ataupun penambahan enzim. cahaya. Dengan struktur kimia yang terdiri dari single bond (ikatan tunggal). Dengan sifat itu. cara pemancingan dan cara pengadukan. Diduga dengan cara pembuatan yang berbeda. VCO merupakan minyak murni yang dalam proses pembuatannya tidak mengalami proses pemanasan atau tambahan bahan apapun sehingga komponen anti oksidannya tidak mengalami kerusakan. dan tahan terhadap proses degradasi. atau dipakai untuk memasak. maka kualitas VCO yang dihasilkan juga berbeda.

Manfaat Hasil penelitian ini diharapkan akan menambah pengatahuan masyarakat tentang metode apa yang cocok dalam pembuatan VCO dengan kualitas yang baik dan dengan jumlah hasil yang banyak. .4 yang dihasilkan dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan dengan pemancingan C. Tujuan Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kualitas VCO yang dihasilkan dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan dengan pemancingan D.

2005). Buah Kelapa Kelapa (Cocos nucifera) adalah tanaman yang sangat lazim ditemukan di daerah tropis. air. dan tempurung (Andi. Kelapa sangat popular di masyarakat karena memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia.wikipedia. Buah kelapa Klasifikasi dari kelapa adalah: Divisi : Magnoliophyta Class : Liliopsida Order : Arecales Famili : Arecaceae Genus : Cocos Spesies : C. sabut. nucifera (www.org.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.com) . Gambar 1. Beragam manfaat tersebut diperoleh dari daging buah.

9 g 53. Komposisi kimia daging buah kelapa pada berbagai tingkat kematangan. Analisis (dalam 100 g) Kalori Protein Lemak Karbohidrat Kalsium Fosfor Besi Aktivitas vitamin A Thiamin Asam askorbat Air Bagian yang dapat dimakan Sumber: Ketaren.0 mg 0.0 g 10. Tabel 1.0 mg 1. 1986 Jumlah berat (%) 35 12 28 25 Daging buah kelapa yang sudah masak dapat dijadikan kopra dan bahan makanan.0 g 0.5 mg 4.4 g 34.0 g 53.0 mg 70.0 g 17.0 kal 4. Tabel 2.0 g 13.0 Iu 0.0 kal 1.0 mg 21. Tebal sabut kelapa kurang lebih 5 cm dan daging buah 1 cm atau lebih.0 Iu 0.0 mg 83.1 mg 2.0 mg 35.3 g 53.0 Iu 0.0 g 8. 1986 Buah Muda 68. tempurung (endocarp).6 Buah kelapa berbentuk bulat panjang dengan ukuran kurang lebih sebesar kepala manusia. daging buah (endosperm) dan air buah (Ketaren. Komposisi buah kelapa: Daging buah (buah tua) Sabut Tempurung Daging buah Air buah Sumber: Ketaren.3 g Buah Tua 359.0 g 21.0 g Buah Setengah Tua 180.0 mg 46.0 mg 4.0 mg 0.0 g .3 mg 10. 1986).9 g 14.0 kal 3.0 mg 30.0 mg 1. daging buah merupakan sumber protein yang penting dan mudah dicerna. Buah terdiri dari sabut (ekskarp dan mesokarp).0 mg 2.7 g 14.

dapat digolongkan menjadi asam lemak rantai pendek (Short Chain Fatty Acid). dan C10 dapat menguap dan asam lemak C12 dan C14 sedikit menguap.7 B. Asam-asam lemak dengan jumlah atom C genap mempunyai nama umum sebagai berikut: C4 = asam butirat (asam butanoat) . Asam Lemak Asam-asam lemak yang biasa ditemukan di alam biasanya merupakan asam-asam monokarboksilat dengan rantai yang tidak bercabang dan mempunyai jumlah atam karbon genap. Garam-garam dari asam lemak yang mempunyai berat molekul rendah dan tidak jenuh lebih mudah larut dalam alkohol daripada garam-garam dari asam lemak yang mempunyai berat molekul tinggi dan jenuh. C8. Asam-asam lemak tidak jenuh berbeda dalam jumlah dan posisi ikatan rangkapnya. Cara penggolongan asam lemak selain asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam-asam lemak yang ditemukan di alam dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu. Pada umumnya asam lemak rantai pendek mengandung C4-C10. Asam lemak dar C4. C6. rantai menengah mengandung C12 atau C14. asam lemak rantai menengah (Medium Chain Fatty Acid) dan asam lemak rantai panjang (Long Chain Fatty Acid).1997). dan rantai panjang mengandung C16 atau lebih. dan berbeda dengan asam lemak jenuh dalam bentuk molekul keseluruhannya (Winarno. asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh. Asam lemak dengan atom C lebih dari dua belas tidak larut dalam air dingin maupun air panas.

benzena. 12. Manfaat dari asam laurat yaitu membunuh berbagai jenis mikroba yang membran selnya berasal dari asam lemak. kloroform dan tidak larut . C. 2006). 1999 dalam Haryani.8 C6 C8 C10 C12 C14 C16 C18 C24 C18:1 C18:2 C18:3 C20:4 = asam kaproat (asam heksanoat) = asam kaprilat (asam oktanoat) = asam kaprat (asam dekanoat) = asam laurat (asam dodekanoat) = asam miristat (asam tetradekanoat) = asam palmitat (asam heksadekanoat) = asam stearat = asam lignoserat = asam oleat (asam 9-oktadekanoat) = asam linoleat (asam 9. Sifat asam laurat dapat melarutkan membran virus yang berupa asam lemak sehingga akan mengganggu kekebalan virus yang menyebabkan virus inaktif. yang merupakan lemak jenuh rantai menengah dengan 12 karbon tanpa ikatan rangkap dan mempunyai nama IUPAC asam dodekanoat serta mempunyai berat molekul 200 (Cotter. Satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah mudah larut dalam pelarut organik seperti eter.12-oktadekanoat) = asam linolenat (asam 9. 11. 8. 14-eiokosatetraenoat) Asam lemak yang jumlahnya terbesar dalam VCO adalah asam laurat. 15-oktadekanoat) = asam arakidonat (5. Lemak Dan Minyak Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida.

O H2C – OH HC – OH H2C . sehingga memiliki titik lebur ang rendah.OH Gliserol asam lemak + 3HOOCR H2C – O – C . ini disebakan rendahnya kandungan asam lemak jenuh dan tingginya kandungan asam tidak jenuh. titik leleh dan cita rasa lemak dan minyak sangat erat hubungannya dengan panjang rantai karbon serta tingkat kejenuhan asam lemaknya. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Semakin panjang rantai atom C. Secara umum di Indonesia (daerah tropis) lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang berada dalam keadaan padat. namun apabila ada ikatan tak jenuhnya. sehingga mempunyai titik lebur yang tinggi. Secara alami bentuk lemak dan minyak ditentukan oleh asam lemak yang terikat pada gliserida.9 dalam air.R + 3 H2O O H2C – O – C . maka titik cair asam lemak yang mempunyai jumlah rantai C yang sama akan turun. Lemak dan minyak secara kimia adalah trigliserida yang merupakan bagian terbesar dari kelompok lipida. semakin tinggi titik cairnya.R O HC – O – C . hal ini disebabkan kandungannya yang tinggi akan asam lemak jenuh yang secara kimia tidak mempunyai ikatan rangkap.R trigliserida air . Minyak adalah trigliserida yang dalam suhu ruang berbentuk cair. Tingkat kekerasan.

Ketiga sifat ini penting dalam penentuan mutu lemak yang digunakan sebagai minyak goreng. yang dapat diperkuat dengan senyawa aktif permukaan dan beberapa senyawa lain. biasanya mengandung dua fase. Bila pemanasan diteruskan akan mencapai flash point. pada suhu tertentu timbul asap tipis kebiruan. yang menyebabkan minyak menjadi tengik karena teroksidasi. ketiga suhu tersebut akan menjadi lebih rendah. . sehingga air di dalam makanan yang digoreng sebagian besar akan hilang dan menjadi kering. yaitu minak mulai terbakar (terlihat nyala). Dengan demikian bila berat molekul rendah. molekul-molekul kedua cairan tersebut tidak saling bercampur (Winarno. Emulsi merupakan sistem heterogen yang terdiri atas cairan yang tidak tercampurkan yang terdispersi dengan baik dalam cairan lain (Becher. yaitu minyak dan air. Dalam makanan. D. Jika minyak sudah terbakar secara tetap disebut fire point. titik ini disebut titik asap (smoke point). 1965 dalam Winarno. 1997). Suhu terjadinya smoke point ini bervariasi dan dipengaruhi oleh jumlah asam lemak bebas. Stabilitas sistem ini minimum.1997).10 Bila suatu lemak dipanaskan. Emulsi Yang disebut dengan emulsi adalah suatu sistem dispersi cairan dalam cairan yang lain. Minyak yang sering digunakan untuk menggoreng akan mengalami hidrolisis sehingga akan melepaskan asam lemak bebas. Di dalam teknologi makanan lemak dan minyak memegang peranan yang penting karena dapat menggoreng makanan (titik didihnya 200oC).

yang jumlah airnya lebih banyak daripada jumlah minyak. maka emulsi ini disebut dengan emulsi minyak dalam air (M/A). . 1997).. 1997). Pengemulsi merupakan senyawa aktif permukaan yang mampu menurunkan tegangan permukaan antara antarmuka udara-cairan dan cairancairan. dan bagian yang ketiga adalah emulsifier yang berfungsi menjaga agar butir minyak tetap tersuspensi di dalam air. yang jumlah minyaknya lebih banyak daripada jumlah air (deMan. Senyawa ini molekulmolekulnya mempunyai afinitas terhadap kedua cairan tersebut. yaitu bagian yang terdispersi yang terdiri dari butir-butir yang biasanya terdiri dari lemak. Protein (berupa lipoprotein) yang terdapat di dalam santan berfungsi sebagai pengemulsi. Suatu emulsi biasanya terdapat tiga bagian utama.11 Air dan minyak merupakan cairan yang tidak saling bercampur karena mempunyai berat jenis dan tingkat kepolaran yang berbeda. Hal ini berarti bahwa protein mengalami denaturasi sehingga kelarutannya berkurang. Santan merupakan suatu emulsi minyak dalam air. dan sebaliknya yang disebut dengan emulsi air dalam minyak (A/M). Salah satu penyebab hilangnya stabilitas protein adalah adanya pengadukan. yaitu bagian yang bersifat polar (sifat hidrofil) dan bagian yang bersifat nonpolar (sifat hidrofob) (deMan. Kemampuan ini merupakan akibat dari struktur molekul pengemulsi yang mengandung dua bagian. Daya afinitas harus parsial dan tidak sama terhadap kedua cairan tersebut (Winarno. Lapisan molekul protein bagian dalam yang bersifat hidrofob berbalik ke luar. 1997). Jika air sebagai fase pendispersi dan minyak sebagai fase terdispersi. bagian kedua disebut media pendispersi yang juga dikenal sebagai continuous phase yang biasanya terdiri dari air.

Menurut Codex Alimentarius. Hal ini menyebabkan protein mengalami koagulasi dan akhirnya akan mengalami pengendapan. VCO mengandung ± 53% asam laurat dan sekitar 7% asam kapriat. tidak mudah tengik dan tahan hingga dua tahun (Andi. 2005).12 sedangkan bagian luar yang bersifat hidrofil terlipat ke dalam. sehingga lapisan minyak dan air dapat terpisah (Winarno. Asam lemak jenuh VCO didominasi oleh asam laurat yang memiliki rantai C12. sedangkan menurut Price (2004). VCO diperoleh dari daging buah kelapa yang sudah tua tetapi masih segar yang diproses tanpa pemanasan. Keduanya merupakan asam lemak jenuh rantai sedang yang biasa disebut Medium Chain Fatty Acid (MCFA). VCO adalah minyak dan lemak makan yang dihasilkan tanpa mengubah minyak. VCO mengandung 92% lemak jenuh. hanya diperoleh dengan perlakuan mekanis dan pemakaian panas minimal. Keunggulan dari VCO ini adalah jernih. Komponen utama VCO adalah asam lemak jenuh sekitar 90% dan asam lemak tak jenuh sekitar 10%. 1997). Menurut standart APCC komposisi asam lemak VCO terdapat dalam tabel 3. Virgin Coconut Oil (VCO) Virgin Coconut Oil terbuat dari daging kelapa segar. E. tanpa penambahan bahan kimia apapun. 6% lemak mono tidak jenuh dan 2% lemak poli tidak jenuh. tidak berwarna. diproses dengan cara sederhana sehingga diperoleh minyak kelapa murni yang berkualitas tinggi. .

org .0 – 4.0 – 10.0 – 10.0 – 53.4 – 0.0 – 21.apccsec.0 2.0 16.0 – 2.0 4.0 43.5 – 8.0 1.6 5. Asam Lemak Tak Jenuh Asam Oleat Asam Linoleat C17H33COOH C17H31COOH 5.13 Tabel 3. Komposisi asam lemak Virgin Coconut Oil (VCO) Asam Lemak a.0 7.5 – 10.5 229 237 16 -5 C5H11COOH C7H17COOH C9H19COOH C11H23COOH C13H27COOH C15H31COOH C17H35COOH 0.0 60 80 135 225 390 361 -4 16 31 44 54 63 72 Rumus Kimia Jumlah (%) Titik Didih o Titik Lebur o C C Sumber: http://www. Asam lemak jenuh Asam Kaproat Asam Kaprilat Asam Kaprat Asam Laurat Asam Miristat Asam Palmitat Asam Stearat b.

450 248-265 6-11 . Virgin oil 2.6 max 4 max 10 max 6-8.448-1. Non-virgin oil Bilangan peroksida Bilangan Reichert-Meissel Bilangan Polenske Angka tak tersaponifikasi Sumber: Salunkhe et al.14 Tabel 4.908-0.890-0.895 0. 2005 0. Karakteristik fisika-kimia minyak kelapa Karakteristik Titik cair (oC) Densitas (60oC) Berat spesifik (40oC/air pada 20oC) Titer (oC) Indeks refraktif/bias pada 40oC Bilangan penyabunan Bilangan iod Bilangan asam 1.5 13-18 15 g/kg max Kandungan 22-26 0.921 20-24oC 1. 1992 dalam Andi.

5% ≤ 3 meq/kg minyak < 10 cfu 0. 2005 0. Kontaminan Matter volatile pada 105oC Besi Copper Lead Arsenic Sumber: Codex Stan.1 mg/kg Jernih kristal (air bersih) ≤ 0.4492 0.1-0.5 13 13-18 Kandungan . Standart Mutu Virgin Coconut Oil (VCO) Karakteristik a. Karakteristik Kualitas Warna Asam lemak bebas (FFA) Bilangan peroksida Total Plate Count c.2% 5 mg/kg 0.15 Tabel 5.1-11 0.4 mg/kg 0.19-1981 dalam Andi. Karakteristik Identitas Densitas relative Indeks refraktif/bias pada 40oC Kadar air Bilangan penyabunan Bilangan iod Bilangan asam maks Bilangan Polenske b.1 mg/kg 0.2-0.915-0.5 4.920 1.4480-1.

Dengan peningkatan metabolisme. MCFA membentuk sel-sel baru serta mengganti sel-sel yang rusak dengan lebih cepat. Herpes simplex virus-1 (HSV-1). Manfaat lain dapat meningkatkan tingkat energi kita dan seiring dengan peningkatan metabolisme adalah peningkatan daya tahan terhadap penyakit dan percepatan penyembuhan dari sakit. Penambahan energi yang dihasilkan oleh metabolisme itu menghasilkan efek stimulant di seluruh tubuh. HIV. cytomegalovirus (CMV). pikun.16 Asam laurat merupakan suatu asam lemak jenuh dengan rantai karbon sedang (memiliki 12 atom karbon). mencegah serangan jantung. kegemukan. Visna virus.greengalur. yaitu tidak membutuhkan enzim untuk percepatan saat menembus dinding mitokondria sehingga proses metabolisme tubuh akan meningkat dan energi dihasilkan dengan cepat dan efisien. Di dalam tubuh MCFA mempunyai sifat unik. Mengkonsumsi VCO juga akan mengaktifkan hormon anti-penuaan. . termasuk Medium Chain Fatty Acid atau MCFA. kanker dan penyakit-penyakit lainnya yang berhubungan dengan penuaan dini. sel-sel kita bekerja lebih efisien. salah satunya dengan penggunaan VCO sebagai minyak goreng Dari uji tersebut didapat hasil bahwa VCO berkhasiat untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap beberapa penyakit diantaranya virus-virus seperti Vesicular stomatitis influenza.com). Dengan sifat-sifat seperti di atas minyak kelapa virgin dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun (www. VCO merupakan salah satu cooking oil terbaik karena sangat stabil terhadap panas tinggi. Uji akan khasiat MCFA ini telah dilakukan. dan virus (VSV).

kimianet.17 berbagai bakteri patogen termasuk Listeria monocytogenes dan Helicobacter pyloryd. Jika dalam minyak terdapat air maka akan mengakibatkan reaksi hidrolisis yang dapat menyebabkan kerusakan minyak.R Trigliserida (Ketaren. Reaksi hidrolisis minyak yaitu: O H2C – O – C . Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) 1. yang menyebabkan rasa dan bau tengik pada minyak. dan C10 menghasilkan bau tengik karena dapat berubah menjadi senyawa keton. C6. 1997).id). serta Protozoa seperti Giadia lamblia (www.lipi. Indeks bias Indeks bias minyak atau lemak merupakan perbandingan sinus sudut sinar jatuh dan sinus sudut sinar pantul cahaya yang melalui minyak.go. Air H2C – OH HC – OH H2C – OH Gliserol Asam lemak + 3RCOOH .R + 3 H2O O H2C – O – C . C8. F.R O HC – O – C . Kadar air Kadar air adalah jumlah (dalam%) bahan yang menguap pada pemanasan dengan suhu dan waktu tertentu. Asam lemak bebas yang mudah menguap dengan jumlah C4. 2.

18 Pembiasan ini disebabkan karena adanya interaksi antara gaya elektrostatik dan elektromagnetik atom-atom dalam molekul minyak. sedangkan untuk lemak pada suhu 40oC (Sudarmadji dkk. Untuk pengukuran indeks bias lemak yang bertitik cair tinggi dilakukan pada suhu 40oC atau 60oC.000365 dan untuk minyak = 0.000385 (Ketaren. . 1986). Alat yang digunakan untuk menentukan indeks bias minyak adalah refraktometer. Penentuan indeks bias minyak pada suhu 25oC. Pengujian indeks bias dapat digunakan untuk mengetahui kemurnian minyak. 1986). untuk lemak = 0. Nilai indeks bias dipengaruhi oleh suhu dan dapat dihitung sebagai berikut: R = R’ + K (T’ – T) Keterangan: R R’ K = Indeks bias pada suhu ToC = Indeks bias pada suhu T’oC = Faktor koreksi. Indeks bias iniakan meningkat pada minyak atau lemak dengan rantai karbon yang panjang dan juga terdapatnya ikatan rangkap. selama pengukuran suhu harus dikontrol dan dicatat. 1997). Nilai indeks bias dari asam lemak juga akan bertambah dengan meningkatnya bobot molekul (Ketaren.

1 Angka asam = Berat sample (g) Kadang-kadang juga dinyatakan dengan derajat asam. 100 x mL KOH x N KOH Derajat asam = Berat sample (g) Selain itu juga sering dinyatakan sebagai kadar asam lemak bebas (%FFA). mL KOH x N KOH x 56. yaitu banyaknya milliliter KOH 0. Angka asam Angka asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram minyak atau lemak (Ketaren. mL KOH x N KOH x Mr x 100% FFA = Berat sample (g) x 1000 mL KOH x N KOH x Mr = Berat sample (g) x 10 Mr = Massa Relatif molekul Asam Lemak Hubungan kadar asam lemak (%FFA) dengan angka asam adalah: Mr KOH Angka Asam = Mr asam lemak bebas / 10 x %FFA x% .1 N yang diperlukan untuk menetralkan 100 gram minyak atau lemak. Angka asam yang besar menunjukkan asam lemak bebas yang berasal dari hidrolisa minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. 1997). 1986).19 3. Makin tinggi angka asam maka semakin rendah kualitas dari minyak (Sudarmadji dkk.

Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyak (mg) KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram minyak atau lemak. R – COOH + Asam lemak KOH R – COOK + H2O = 1. Reaksi yang terjadi dalam penentuan angka asam adalah. akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya minyak dengan berat molekul besar mempunyai angka penyabunan relatif kecil.01 4.99 = 2.20 Angka Asam = Faktor konversi x %FFA Faktor konversi untuk: Oleat Palmitat Laurat Linoleat (Sudarmadji dkk. Angka penyabunan Angka penyabunan dapat dipergunakan untuk menentukan besar molekul minyak dan lemak secara kasar. 1997). Reaksi penyabunan yang terjadi: O H2C – O – C .R + 3 KOH O H2C – O – C .R Trigliserida H2C – OH HC – OH H2C – OH + 3RCOOK .19 = 2.R O HC – O – C . Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai C pendek berarti mempunyai berat molekul relatif kecil.80 = 2.

Angka iod Angka iod menjelaskan ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak dan lemak. sedangkan cara Wijs menggunakan larutan iod dalam asam asetat pekat yang mengandung iodium klorida sebagai pemicu reaksi (Winarno.CH = CH – R + IBrexces IBrsisa + I2 + 2KI 2 Na2S2O3 I2 + x N Na2S2O3 x 12. larutan iod standarnya dibuat dalam asam asetat pekat (glacial) yang berisi bukan saja iod tetapi juga iodium bromide. Penentuan angka iod dapat dilakukan dengan cara Hanus atau cara Kaufmaun dan cara Von Hubl atau cara Wijs (Sudarmadji dkk.1997).05 R-CH – CH – R + IBrsisa KBr 2NaI + + KI Na2S4O6 (Nielsen. 1997). Banyaknya iod yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap. Adanya iodium bromide dapat mempercepat reaksi. Angka iod dinyatakan sebagai banyaknya gram iod yang diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. 1986) 5. 691 I Br x 28. ml titrasi (blanko-sampel) Angka iod = Berat sampel (g) R .21 mL titrasi (blanko-sampel) Angka Penyabunan = Berat sampel (g) (Ketaren. Asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iod dan membentuk senyawaan yang jenuh. 1998) . Pada cara Hanus.

22 5. Bau tengik atau rancid pada minyak disebabkan karena adanya aldehid dan keton. mL titrasi (sampel – blanko) N Na2S2O3 Berat sampel (g) O RC I2 + O H+. Angka peroksida dinyatakan dalam miliequivalen dari peroksida dalam setiap 1000 g minyak atau lemak. heat Angka peroksida = x 1000 CR 2 Na2S2O3 ROOH + KI 2NaI + ROH + KOH + I2 Na2S4O6 (Nielsen. Angka peroksida Kerusakan lemak atau minyak yang utama adalah karena peristiwa oksidasi dan hidrolitik. baik enzimatik maupun nonenzimatik. Diantara kerusakan minyak yang mungkin terjadi ternyata kerusakan karena autoksidasi yang paling besar pengaruhnya terhadap cita rasa. 1998) G. Kromatografi Gas Dasar pemisahan secara kromatografi gas adalah penyebaran cuplikan di antara dua fasa. Untuk mengetahui tingkat kerusakan minyak dapat dinyatakan sebagai angka peroksida. Cara yang sering digunakan untuk menentukan bilangan peroksida berdasarkan pada reaksi antara alkali iodida dalam larutan asam dengan ikatan peroksida. Kromatografi gas merupakan cara atau metode pemisahan yang mendasarkan partisi antara cuplikan dengan fasa gerak dan fasa diam (Mcnair. 1988). Bila fasa diam yang dipakai bersifat polar maka zat-zat yang .

23 bersifat nonpolar akan terpisah terlebih dahulu karena zat yang bersifat polar terikat kuat pada fasa diam (kolom). Sebaliknya bila fasa diam yang dipakai bersifat nonpolar maka zat-zat yang bersifat polar akan terpisah terlebih dahulu dan zat yang bersifat nonpolar akan terikat kuat oleh fasa diam. Kolom kromatografi 4. Gerbang suntik 3. Instrumen kromatografi gas Sumber: Hendayana. 2006 Bagian-bagian yang terpenting dari sebuah kromatografi gas meliputi: 1. Detektor . Gambar di bawah ini menggambarkan sistematika instrument sebuah kromatografi gas yang sederhana. Depo gas pembawa sebagai fasa gerak 2. Gambar 2. Control temperature 5.

dengan syarat cuplikan tersebut mudah menguap dan stabil (tidak rusak pada kondisi operasional). Cuplikan disuntikkan dengan bantuan alat suntik melalui karet septum kemudian diuapkan di dalam tabung gelas. Jumlah cuplikan yang disuntikkan ke dalam aliran fasa gerak sekitar 5 µL. Gas pembawa mendorong uap cuplikan melalui kolom kromatografi. 2. Di tempat pemasukan cuplikan terdapat pemanas yang suhunya dapat diatur untuk menguapkan cuplikan. argon dan nitrogen.24 1. Pemasukan cuplikan Cuplikan yang dapat dianalisis dengan dengan kromatografi gas dapat berupa zat cair atau gas.1-10 µL cuplikan cair sedangkan kolom . Gas-gas yang biasa digunakan adalah gas hidrogen. Oleh karena gas pembawa mengalir dengan cepat maka pemisahan dengan teknik kromatografi gas hanya memerlukan waktu beberapa menit saja (Hendayana. Suhu tempat penyuntikan cup. 2006). Karena gas disimpan dalam silinder baja bertekanan tinggi maka gas tersebut akan mengalir dengan sendirinya secara cepat sambil membawa komponen-komponen campuran yang akan atau yang sudah dipisahkan. helium. Gas pembawa Gas yang digunakan sebagai fasa gerak dalam kromatografi gas harus bersifat inert (tidak bereaksi) dengan cuplikan maupun dengan fasa diam.ikan biasanya berkisar 50oC diatas titik didih cuplikan. Dengan demikian gas tersebut disebut juga gas pembawa (carrier gas) digunakan. Untuk kolom analitik memerlukan antara 0.

Untuk mempermudah penyimpanannya. 3.25 preparative memerlukan antara 20-1000 µL. kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan. Diameter kolom terbuka berkisar antara 0.10. Jenis kolom pak ini lebih disukai untuk tujuan preparative karena dapat menampung jumlah cuplikan yang banyak. Kolom pak Kolom pak terbuat dari stainless steel atau gelas dengan garis tengah 3-6 mm dan panjang 1-5 m. b. Kolom terbuka Kolom terbuka (kolom kapiler) lebih panjang dan lebih kecil daripada kolom pak. biasanya kolom terbuka dibentuk spiral dengan garis tengah 18 cm. Kolom diisi dengan serbuk zat padta halus atau zat padat sebagai zat pendukung yang dilapisi zat cair kental yang sukar menguap sebagai fasa diam. Kolom Dalam kromatografi gas.7 mm dan panjangnya berkisar antara 15-100 m. a. Kolom pak mengandung zat cair kental yang sukar menguap yang dilapiskan pada partikel yang tidak bereaksi yang disebut zat padat pendukung. kuat dan . Cuplikan berbentuk gas dapat dimasukkan dengan bantuan alat suntik gas (gas-tight syringe) atau kran gas (gas-sampling valve). Zat padat pendukung harus berupa partikel halus. Untuk kromatografi gas dikenal dua jenis kolom yaitu jenis pak (packed column) dan jenis terbuka (open tubular column).

Untuk suatu kolom. Makin tinggi laju migrasi akan makin pendek waktu yang diperlukan. detektor ionosasi nyala (flame ionization detector). 4. . Fasa diam yang sering digunakan dalam kromatografi gas berbentuk zat cair kental yang sukar menguap. Jumlah yang umum berkisar antara 2-10%. Waktu yang diperlukan oleh suau komponen untuk bermigrasi sepanjang kolom kromatografi sangat bergantung pada laju migrasi komponen itu dalam kromatogram. jika fasa diam melebihi 30% dari zat padat pendukung maka efisiensi kolom mulai berkurang. detektor fotometri nyala (flame photometric detector) detektor nyala alkali (alkali flame detector) dan detector spektroskopi massa (massa spectroscopy detector). detektor penangkap elektron (electron cupture detector). proses terbawanya komponen dalam suatu campuran oleh fasa gerak dari ujung atas (awal) kolom dampai dengan bawah (akhir) kolom disebut elusi (elution).26 berbentuk sama serta memiliki luas permukaan besar serta tidak boleh berinteraksi dengan solut. sangat bergantung pada kesetimbangan distribusi komponen itu. Dalam sistem kromatografi. Jumlah fasa diam yang digunakan dinyatakan dalam persen zat padat pengdukung. Detektor Berbagai jenis detektor dapat digunakan untuk mendeteksi komponen-komponen yang telah terpisahkan di dalam kolom kromatografi gas. Jenis detektor meliputi detektor daya hantar panas (thermal conductivity detector). waktu yang diperlukan oleh suatu komponen untuk bermigrasi.

di samping itu tinggi puncak kromatogram suatu komponen juga digunakan sebagai respon analitik dalam analisis kuantitatif komponen itu. Waktu retensi dan koefisian distribusi . karena tinggi puncak kromatogram suatu komponen umumnya berbanding lurus dengan konsentrasi komponen itu. yang sering disingkat sebagai VR. sehingga luas puncak kromatogram suatu komponen dapat digunakan sebagai respon analitik dalam analisis kuantitatif komponen itu.27 K = CS/CM Dimana. sedangkan waktu yang diperlukan oleh suatu komponen untuk bermigrasi sepanjang kolom dinamakan waktu retensi (retention time). K CS CM : Kesetimbangan distribusi : Konsentrasi molar pada fasa diam : Konsentrasi molar pada fasa gerak Luas puncak kromatogram suatu komponen akan berbanding lurus dengan konsentrasi komponen itu dalam sampel. Volume fasa gerak yang dibutuhkan untuk membawa komponen dari titik awal kolom sampai ujung akhir kolom didefinisikan sebagai volum retensi (volume retention). Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pemisahan dalam kolom adalah: 1. yang biasanya disingkat tR. Retensi suatu komponen dalam kolom kromatografi merupakan petunjuk bahwa selama pemisahan komponen iu terdistribusi diantara fasa gerak dan fasa diam.

sehingga laju migrasi komponen (v) merupakan fraksi kecepatan linier fasa gerak (u) yang secara matematis dapat dinyatakan: v = u x (tR/tM) Fraksi waktu komponen yang dihabiskan untuk berada dalam fasa gerak (tR/tM) akan sama dengan rasio jumlah mol rata-rata komponen yang berada dalam fasa gerak terhadap jumlah mol total komponen dalam kolom.yang dapat didefinisikan sebagai rasio jumlah komponen dalam fasa diam terhadap jumlah mol komponen dalam fasa gerak. sehingga dengan mempertimbangkan koefisien distribusi K = CS/CM. yang dapat dinyatakan: k’ = nS/nM = [CSVS]/[CMVM] Hubungan antara faktor kapasitas dan waktu retensi adalah: k’ = (tR . k’. kecepatan aliran dan jenis dari gas pengangkut (Sastrohamidjojo.tM) / tM 1 1 .28 Suatu komponen akan mengalami migrasi dalam kolom apabila komponen itu berada fasa gerak. jenis dan jumlah dari fasa cair. Faktor kapasitas (Capacity Factor) Kolom Faktor kapasitas suatu kolom. suhu kolom. 2. hubungan antara waktu retensi dengan koefisien distribusi dapat dinyatakan sebagai: 1 = tR tM [ 1 + K (VS/VM] Waktu retensi tergantung pada panjang dan diameter kolom. 2002).

29 Jika t’R = (tR . Hubungan antara Faktor selektivitas dengan waktu retensi dapat dinyatakan sebagai berikut: tR(B) – tM α= tR(A) – tM . Makin tinggi faktor kapasitas akan makin tinggi kualitas pemisahan komponen melalui kolom itu. maka harga faktor kapasitas suatu kolom akan sangat mempengaruhi kualitas pemisahan. hubungan antara factor selektivitas dan factor kapasitas kolom adalah: α = k’B / k’A dengan k’B dan k’A masing-masing adalah faktor kapasitas kolom untuk komponen B dan komponen A. Untuk suatu kolom. maka faktor kapasitas kolom dapat dievaluasi dengan rumus: k’ = t’R/ tM Berdasarkan hubungan tR = tM (1 + k’). Faktor selektivitas (Selectivity Factor) Faktor selektivitas (α) didefinisikan sebagai rasio koefisien distribusi dua komponen yang akan dipisahkan: α = KB/BA Dengan KB adalah koefisien distribusi komponen B dan KA adalah koefisien distribusi komponen A. 3.tM)sebagai waktu retensi netto (waktu retensi terkoreksi).

Plot ini disebut dengan kromatogram yang berguna untuk analisis kualitatif dan kuantitatif.30 4. perpindahan komponen hanya dapat terjadi dalam fasa gerak. yaitu ada komponen yang suka berada dalam fasa diam dan ada komponen yang suka berada pada fasa gerak. Kecepatan rata-rata perpindahan suatu komponen tergantung pada waktu yang diperlukan fasa itu. Oleh karena itu. Bila suatu dedektor yang peka terhadap komponen-komponen tersebut ditempatkan di ujung kolom dan sinyalnya diplot sebagai fungsi waktu dan akan diperoleh sejumlah waktu. dan WB dinyatakan dalam satuan waktu. Resolusi kolom (Coloum Resolution) Z RS = 0. WA. Posisi . Komponen-komponen berdistribusi diantara dua fasa. Z : jarak puncak A dan puncak B WA : = 2 x Z / (WA + WB ) lebar dasar kromatogram komponen A WB : lebar dasar kromatogram komponen B Apabila Z.5 WB Dengan. Perbedaan sifat ini menyebabkan komponen-komponen campuran memisah. maka persamaan tersebut dapat dikonversi menjadi: RS = 2 [tR(B) – tR(A)] WA + WB Cara kerja kromatografi gas adalah larutan yang akan dianalisis dimasukkan ke dalam mulut kolom (injeksi).5 WA + 0. Penambahan fasa gerak (eluen) berfungsi untuk mendesak pelarut yang mengandung bagian cuplikan turun ke bawah bagian kolom.

31 puncak pada sumbu waktu berfungsi untuk mengidentifikasi komponen cuplikan sedangkan luas puncak merupakan ukuran kuantitatif tiap komponen. Waktu analisis pendek 5. Keuntungan Sastrohamidjojo 1999: 1. penggunaan kromatografi gas dijelaskan oleh . Dapat diautomatisasi 6. 1984). Dalam penelitian ini pengunaan instrumen kromatografi gas adalah untuk analisis secara kualitatif maupun kuantitatif. tetapi senyawa yang tidak stabil secara termal ataupun tidak mudah menguap. pictogram bahkan fregmen) 3. dapat juga dianalisis dengan kromatografi gas yaitu dengan cara mengubahnya menjadi terunan-turunannya yang lebih menguap dan stabil (Khopkar. Daya pisah tinggi 2. Akurasi dan reproduktibilitas tinggi 4. yaitu untuk mengetahui komponen-komponen apa saja terdapat dalam VCO beserta jumlahnya. Sensitif (tingkat nanogram. Harga instrument dapat terjangkau Senyawa yang dapat dianalisis dengan kromatografi gas adalah senyawa yang mudah menguap.

Populasi dalam penelitian ini adalah VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengandukan dengan pemancingan. Populasi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto. angka asam. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kualitas (kadar air. . Variabel Terkendali Variabel terkendali dalam penelitian ini adalah asal. Variabel Penelitian 1. 2. 2002). yaitu VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengandukan dengan pemancingan. 2. Variabel Bebas Variabel bebas dalam penelitian ini adalah cara pembuatan VCO. angka iod. angka penyabunan. angka peroksida) dan komposisi VCO.32 BAB III METODE PENELITIAN A. B. Sampel Sampel dalam penelitian ini adalah VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengandukan dengan pemancingan. indeks bias. 3. Metode Penentuan Objek Penelitian 1. jenis dan umur kelapa.

250 mL. Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. buret mikro 10 mL i. 50 mL g. corong buchner m.33 C. penangas air l. botol timbang h. Prosedur Penelitian 1. statif dan klem k. 500 mL. 15 mL. 20 mL. labu Erlenmeyer 250 mL yang dilengkapi dengan tutup e. pengaduk magnetic o. 10 mL. labu Erlenmeyer 250 mL d. pipet volume 1 mL. labu ukur 100 mL. GC . 25 mL. refaktometer Bausch & Lomb Abbe p. pendingin tegak f. oven c. neraca digital b. 1000 mL j. desikator n.

Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. asam asetat (CH3COOH) glasial d. larutan N2S2O3 0.01 N n. larutan HCl 0. indikator pp p. boron triflorida (BF3) – methanol (CH3OH) r. b.1 N h. VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan. KI 15% l. n-heksana (CH3(CH)2CH3) .34 2. aquades q. amilum o.5 N dalam alkohol g. larutan N2S2O3 0. alkohol netral 96% c. kloroform (CHCl3) e. larutan KI jenuh k. karbon tetraklorida (CCl4) f.1 N m.5 N i. reagen hanus (IBr) j. larutan KOH 0. larutan KOH 0.

yaitu minyak pada lapisan atas. (Haryani. 15. Memisahkan dan menyaring minyak kelapa murni dengan kertas saring Whatman 42. tiap satu butir kelapa ditambah dengan 300 mL aquades. 20. Cara Kerja 1. dan 25 menit). c. 10.35 D. Membiarkan santan selama 2 jam dalam corong pisah atau botol aqua) sampai terpisah antara air dan santan kanil. Pembuatan sampel virgin coconut oil (VCO) dengan metode pengadukan tanpa pemancingan a. 2006) . Pembuatan sampel virgin coconut oil (VCO) 1. kemudian parut dan timbang lalu buat santan. Menyaring kembali dengan bentonit. f. Menyediakan dua daging kelapa yang sudah tua. e. Memindahkan santan kanil yang telah dimixer ke dalam corong pisah atau botol aqua dan didiamkan selama 6-7 jam sampai terbentuk tiga lapisan. Mengaduk santan kanil dengan mixer (dengan waktu pengadukan selama 5. g. Memisahkan santan kanil dengan membuang air menggunakan selang. d.1. b. blondo pada lapisan tengah dan air pada lapisan bawah.

yaitu minyak pada lapisan atas. 800 mL:400 mL. g.36 1. Membiarkan santan selama 2 jam dalam corong pisah atau botol aqua sampai terpisah antara air dan santan kanil. 800 mL:200 mL dan 800 mL:160 mL). Secara perlahan-lahan. Memisahkan santan kanil dengan membuang air menggunakan selang. e. c. kemudian parut dan timbang lalu buat santan. Pembuatan sampel virgin coconut oil (VCO) dengan metode pengadukan dengan pemancingan a. b. Memindahkan santan kanil ke dalam corong pisah atau botol aqua kemudian tambahkan VCO yang sudah jadi (dengan perbandingan santan kanil:VCO adalah 800 mL:800 mL. tiap satu butir kelapa ditambah dengan 300 mL aquades. 2005) . 800 mL:267 mL. Menyaring kembali dengan bentonit. blondo pada lapisan tengah dan air pada lapisan bawah. d. Menyediakan dua daging kelapa yang sudah tua. (Andi.2. Campuran kanil dengan minyak pemancing didiamkan selama 6-7 jam. Setelah itu diaduk dengan waktu optimum (15 menit) pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan. Memisahkan dan menyaring minyak kelapa murni dengan kertas saring Whatman 42. f. campuran kanil dengan minyak pemancing akan terpisah menjadi tiga lapisan.

b.37 2. Mengulangi pemanasan dan penimbangan sampai diperoleh berat f. Memanaskan dengan oven pada suhu 105oC selama 1 jam.2oC. x 100% . (Sudarmadji dkk. konstan.1. Indeks bias Indeks bias ditetapkan menggunakan alat Refaktometer Abbe pada suhu 40oC a.3. Mendinginkan dalam desikator selama 30 menit. Memasukkan sampel ke dalam refraktometer (suhu sampel sama dengan suhu refraktometer). Penentuan angka asam a. Berat awal – berat akhir Kadar air = Berat sampel (g) (Sudarmadji dkk. c. Menimbang sampel ± 10 g dengan botol timbang. 1997) 2.2. 1997) 2. Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) 2. Memasukkan sampel sebanyak10-20 g dalam Erlenmeyer 250 mL. d. Menimbang botol timbang tersebut e. Kadar air a. Mengalirkan air melalui refraktometer sampai 40oC dan dipertahankan dengan toleransi ± 0. b.

Menambahkan dengan perlahan 50 mL KOH 0.5 N dalam alkohol dengan pipet dan menambah beberapa butir batu didih.1 x N HCl x (titrasi blanko – titrasi sampel) Angka Penyabunan = Berat sampel (g) (Sudarmadji dkk. 1997) .38 b.1 N sampai tepat berwarna merah jambu. b. c. Menghubungkan dengan pendingin balik dan mendidihkan dengan hatihati sampai minyak tersabunkan secara sempurna yang ditandai dengan tidak adanya butir-butir minyak dalam larutan. 1997) 2. c.5 N HCl sampai tidak berwarna. Setelah dingin tambahkan beberapa tetes indikator pp dan menitrasi kelebihan KOH dengan larutan 0. d.1 Angka asam = Berat sampel (g) (Sudarmadji dkk. ml KOH x N KOH x 56. Menambahkan 50 mL alkohol netral 95% kemudian dipanaskan selama 10 menit dalam penangas air sambil diaduk dan ditutup dengan pendingin balik. Melakukan hal yang sama terhadap blanko (tanpa sampel).4. Menimbang 5 g sampel dalam botol timbang kemudian dipindahkan ke dalam Erlenmeyer 250 mL. Setelah didinginkan kemudian sampel ditambah indikator pp kemudian menitrasi dengan KOH 0. Penentuan angka penyabunan a. 56. e.

d. Menimbang 5 g sampel dan memasukkannya ke dalam erlenmeyer 300 mL. b. Menambahkan 10 mL larutan KI 15% dan 50-100 mL aquades yang telah dididihkan. e. lalu menambahkan larutan amilum 3 tetes hingga warna biru dan titrasi lagi hingga warna biru hilang. tutup dengan segara kemudian kocok.1 N. Menimbang 0. tutup dan kocok.5. Menambahkan dengan tepat 25 mL reagen Hanus (larutan iodin bromida dalam asam asetat glacial) dan diamkan selama 30 menit di tempat gelap yang kadang-kadang digojog.5 g sampel dalam botol timbang. Penentuan angka peroksida a. b. Menambahkan 10 mL kloroform untuk melarutkan minyak.1-0. Berat sampel (g) x N Na2S2O3 x 12. Penentuan angka iod a. Melakukan hal yang sama pada blanko (tanpa menggunakan sampel).39 2.5 mL KI jenuh.6. 691 . c. 1997) 2. Menambahkan 0. Setelah itu menitrasi dengan larutan standar Na2S2O3 0. Menambahkan 30 mL campuran pelarut (terdiri dari 40% kloroform dan 60% asam asetat glasial) melarutkan sampel dengan cara menggoyanggoyang erlenmeyer dengan kuat c. mL titrasi (blanko-sampel) Angka iod = (Ketaren. kemudian dipindahkan ke dalam erlenmeyer bertutup.

Dalam penelitian yang akan dilaksanakan VCO dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan . Jenis dari kelapa tersebut adalah kelapa hijau dengan umur 3 bulan. Melakukan hal yang sama pada blanko (tanpa menggunakan sampel).40 d. Mengambil 2 µL kemudian menyuntikkan (injeksi) ke dalam injektor GC.01 N dengan larutan amilum sebagai indikator. Menghitung % relatif komponen-komponen dalam sampel. 1979 dalam Winarni.7. 1997) 2. Menambahkan 30 mL aquades dan mengocoknya dengan kuat. Analisis komposisi virgin coconut oil (VCO) a. Metode Pengambilan Data Buah kelapa yang digunakan dalam penelitian yang akan dilaksanakan berasal dari Desa Beringin Kecamatan Gembong Kabupaten Pati. b. c. 2001) x 100% x N Na2S2O3 x 1000 E. f. Mengambil sampel 0. mL titrasi (sampel – blanko) Angka Peroksida = Berat sampel (g) (Ketaren.2 g untuk ditransesterifikasi dengan BF3metanol dan panaskan pada suhu 45-50oC kemudian mendinginkan dan melarutkan dalam n-heksana. Luas puncak A dalam sampel %Relatif A = Total luas puncak komponen dari sampel (IUPAC. e. Kelebihan iod dititrasi dengan Na2S2O3 0.1 – 0.

10. Seluruh data yang didapat kemudian dimasukkan dalam tabel dihitung untuk mengetahui perbandingan kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) yang meliputi kadar air. angka asam. angka peroksida dan komposisi Virgin Coconut Oil (VCO) yang dibuat menggunakan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan. untuk mengetahui pengaruh perbandingan antara santan kanil dengan VCO yang sudah jadi terhadap waktu pengadukan optimum. 15. 800 mL:267 mL (3). Adapun ringkasan analisis varians satu jalan untuk rancangan acak lengkap menurut Sujihno (1986) adalah sebagai berikut: SK Perlakuan Galat Total Keterangan: SK JK : sumber keragaman : jumlah kuadrat db KT : derajat bebas : kuadrat tengah db n-1 n (r .41 dengan variabel waktu pengadukan 5. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5). Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian yang akan dilaksanakan ini adalah uji analisis varians (ANAVA) satu jalan. angka iod. setelah didapat waktu yang optimum digunakan untuk membuat VCO cara pengadukan menggunakan pemancing dengan variabel santan kanil:VCO adalah 800 mL:800 mL (1). 20 dan 25 menit. angka penyabunan.1) (n x r) . indeks bias. 800 mL:400 mL (2).1 JK Pxx Gxx KT Pxx / t-1 Gxx /t(r-1) F Hitung KTP/KTG F Tabel . F.

maka hipotesis diterima : tidak berbeda nyata.FK r JKT = ΣΣ X2ij – FK KTP = JKP/db perlakuan db perlakuan = n – 1 Fh (F hitung) = KTP/KTG JKP = JKG = JKT – JKP KTG = JKG/db galat db galat = n (r – 1) Setelah F hitung (Fh) diketahui. Adapun rumus uji BNT menurut Sutjihno (1986) adalah sebagai berikut: √2(KTG) BNTα = tα (db galat) x r Keterangan: t = nilai tengah tabel r = replikasi (ulangan) Bila nilai tengah dua perlakuan lebih besar dari nilai BNT.. maka hipotesis ditolak Apabila hasilnya signifikan. Untuk mengetahui pengaruh perbandingan antara santan kanil dengan VCO yang sudah jadi terhadap waktu pengadukan optimum dilakukan Uji Beda Nyata (BNT). apabila: Fh > Ft 1% Fh < Ft 1% : sangat berbeda nyata. . berarti ada perbedaan. untuk dapat menolak atau menerima hipotesis maka F hitung (Fh) harus dikonsultasikan dengan F abel (Ft). maka kedua perlakuan itu dikatakan mempunyai pengaruh yang berbeda nyata dan sebaliknya. N adalah jumlah seluruh pengamaan Σ(ΣXi)2 .42 KTP n FK (ΣΣ X )2 N : kuadrat tengah perlakuan : perlakuan (treatment) : faktor korelasi KTG : kuadrat tengah galat r : pengulangan (replikasi) .

Setiap bagian santan didiamkan sampai santan santan kanil terpisah dengan air. yaitu uji kadar air. 10. bilangan asam dan bilangan peroksida. lapisan tengah adalah blondo dan lapisan bawah adalah air. Perlakuan tersebut dilakukan untuk menentukan waktu optimum yang akan digunakan dalam pembuatan VCO dengan cara pengadukan dengan pemancingan. dimana setiap bagian berisi 1 liter santan. 15. Waktu optimum yang digunakan adalah . Waktu optimum dilihat dari uji analisis VCO. Sampel yang digunakan adalah VCO yang dibuat dengan proses pengadukan tanpa pemancingan dan proses pengadukan dengan pemancingan. 20 dan 25 menit. setelah itu santan kanil ang sudah diaduk didiamkan sampai terbentuk 3 lapisan yaitu lapisan atas adalah minyak. sedangkan analisis GC dilakukan di Laboratorium Organik FMIPA UGM. Cara membuat VCO dengan proses pengadukan tanpa pemancingan adalah menyediakan 15 buah kelapa yang sejenis kemudian diparut dan dibuat santan dengan menambah 5 liter air yang sudah masak. Santan kanil yang diperoleh kemudian diaduk menggunakan mixer dengan waktu pengadukan 5. Sampel dari penelitian ini adalah VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan. Lapisan minyak dipisahkan kemudian disaring menggunakan bentonit.43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Agustus 2007 di Laboratorium Kimia Organik dan Kimia Fisika FMIPA UNNES. Santan yang dihasilkan dibagi menjadi 5 bagian.

Dalam penelitian ini waktu optimum yang digunakan dalam pembuatan VCO dengan cara pengadukan dengan pemancingan adalah 15 menit. 5. 800 mL:400 mL (2). . karena pada VCO yang dibuat dengan waktu pengadukan 15 menit memiliki kualitas VCO yang memenuhi standart. Jumlah VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan tanpa pemancingan Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 Jumlah Santan (mL) 1000 1000 1000 1000 1000 Jumlah Santan Kanil (mL) 820 807 798 799 800 Jumlah VCO Yang Dihasilkan (mL) 83 50 160 90 25 No 1. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5). bilangan asam dan angka peroksida yang memenuhi standart serta jumlah VCO yang dihasilkan lebih banyak.44 waktu pengadukan yang digunakan dalam pembuatan VCO yang memiliki kadar air. selain itu VCO yang dihasilkan dalam jumlah banyak bila dibanding dengan waktu pengadukan 5. 3. 2. 4. Selanjutnya waktu optimum ini digunakan untuk membuat VCO dengan cara pemancingan dengan variasi perbandingan santan kanil dengan VCO yang sudah jadi adalah 800 mL:800 mL (1). 800 mL:267 mL (3). maka jumlah VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan dapat dilihat dari Tabel 6. 10. Tabel 6. dibawah ini. 20 dan 25 menit. Dari penelitian yang telah dilakukan.

0700 Grafik 1. Waktu Pengadukan Jumlah Santan (mL) 1000 1000 1000 1000 1000 Jumlah Santan Kanil (mL) 800 800 800 800 800 15 menit A.45 Tabel 7. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 0. 5.1 0 0 5 10 15 20 25 30 Wa kt u Pe nga du ka n Kadar Air (%) 0.4 0. 3.3 0. Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) 1.5 0. Jumlah VCO yang dihasilkan dari cara pengadukan dengan pemancingan Santan Kanil (mL):VCO Jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) Jumlah VCO Yang Dihasilkan (mL) 960 480 400 320 208 No 1.3000 0. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan . 4. 2.2 0.6 0. Analisis kadar air Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi waktu pengadukan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8.5200 0.1500 0.4500 0.

kadar air dalam VCO pada penelitian ini memenuhi standart mutu VCO yaitu 0.1-0.5.R + 3 H2O O H2C – O – C .R O HC – O – C . Dari kelima hasil tersebut. . Hal ini terjadi karena adanya asam lemak bebas yang dihasilkan dalam reaksi hidrolisis. Reaksi hidrolisis yang terjadi dalam minyak adalah: O H2C – O – C .R Trigliserida Air H2C – OH HC – OH H2C – OH Gliserol Asam lemak + RCOOH Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan dapat dilihat pada tabel 9.46 Penentuan kadar air dalam minyak sangat penting dilakukan karena adanya air dalam minyak akan mengakibatkan reaksi hidrolisis yang dapat menyebabkan minyak menjadi tengik. Diperkirakan yang menguap pada penentuan kadar air tidak hanya air tetapi juga asam lemak rantai C pendek seperti asam kaproat dan asam kaprilat. Dapat dilihat dari Tabel 8. semakin lama waktu pengadukan kadar air dalam minyak semakin menurun. Pada penelitian ini hasil analisis kadar air dengan waktu pengadukan yang berbeda-beda dapat dilihat dalam Tabel 8.

2.05 0 0 1 2 3 4 5 6 Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi Kadar air (%) 0.1799 0.2305 0. Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan Dapat dilihat pada Tabel 9.2692 0.2 0.25 0. Analisis indeks bias Indeks bias minyak atau lemak merupakan perbandingan sinus sudut sinar jatuh dan sinus sudut sinar pantul cahaya yang melalui minyak.1691 Grafik 2. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5). 800 mL:267 mL (3). Pengujian indeks bias dapat digunakan untuk . 800 mL:400 mL (2). Hasil analisis kadar air VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) 0.47 Tabel 9.2332 0.15 0. hasil analisis kadar air juga semakin menurun pada pembuatan VCO menggunakan cara pengadukan dengan pemancingan yang divariasi antara santan kanil dan VCO jadi dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1).3 0. Pembiasan ini disebabkan karena adanya interaksi antara gaya elektrostatik dan elektromagnetik atom-atom dalam molekul minyak.1 0.

1986). Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan .44825 1.4484 Grafik 3.44815 1.4481 1. derajat ketidakjenuhan dan suhu yang semakin tinggi (Ketaren.44845 1. Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.4483 1.4481 1. Indeks bias ini akan meningkat pada minyak atau lemak dengan rantai karbon yang panjang dan juga terdapatnya ikatan rangkap. Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 1.4482 1.48 mengetahui kemurnian minyak (Ketaren. Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi waktu pengadukan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 10.4482 1.4480 1. 1986). Tabel 10.44835 1.4483 1.44795 0 5 10 15 20 25 30 Waktu pengadukan Indeks Bias 1. Nilai indeks bias dari asam lemak juga akan bertambah dengan meningkatnya bobot molekul.448 1.44805 1. penentuan indeks bias menggunakan alat ”Refraktometer Abbe” pada suhu 40 oC. Untuk hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan dapat dilihat pada Tabel 11. Dalam penelitian ini.4484 1.

semakin banyak komposisi asam lemak rantai panjang penyususn VCO yang terekstrak.4482 1. dapat dilihat bahwa dengan betambahnya waktu pengadukan maka harga indeks bias juga bertambah. dimana semakin kecil perbandingan antara santan kanil dengan VCO jadi maka haga indeks biasnya semakin bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu.4480-1. Begitu juga pada VCO yang dibuat dengan variasi perbandingan santan kanil dengan VCO jadi yang dapat dilihat pada Tabel 11.4485 1.14492.4485 1. Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan Pada Tabel 10.4483 1. .4487 1.4486 1.49 Tabel 11. Hasil indeks bias dalam penelitian ini sesuai dengan standart mutu VCO yaitu 1.4488 1.4482 1.4486 1.4487 Grafik 4.4484 1.4481 0 1 2 3 4 5 6 Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi Indeks Bias 1. Hasil analisis indeks bias VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan. Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) 1.4484 1.

2437 .3101 0. sehingga meghasilkan konsentrasi KOH 0.2881 0. Hasil tersebut sesuai dengan standart mutu VCO yaitu untuk bilangan asam maksimal 0.0988 N. Reaksi yang terjadi dalam penentuan angka asam adalah: R – COOH + Asam lemak KOH R – COOK + H2O Dalam penelitian ini. setelah minyak larut lalu dititrasi dengan KOH yang telah distandarisasi. Tabel 12. Analisis angka asam Angka asam dinyatakan sebagai jumlah milligram KOH yang diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram minyak atau lemak (Ketaren. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan. 1986). penentuan angka asam dilakukan dengan menimbang 5 g sampel minyak kemudian ditambah dengan alkohol netral (96%) yang berfungsi untuk melarutkan minyak.3249 0.50 3. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi waktu pengadukan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 12. Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 Angka Asam 0.2734 0.5.

R + 3 H2O O H2C – O – C . Reaksi hidrolisis yang terjadi dalam minyak adalah: O H2C – O – C .25 0. merupakan hasil analisis angka asam dari VCO yang dibuat dengan lama pengadukan yang berbeda-beda. hal ini juga didukung dengan analisis kadar air dengan semakin lama waktu pengadukan maka kadar airnya juga menurun.15 0. Angka asam yang besar menunjukkan asam lemak bebas yang berasal dari hidrolisis minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik.R Trigliserida Air H2C – OH HC – OH H2C – OH Gliserol + 3RCOOH Asam lemak . 1997).05 0 0 5 10 15 20 25 30 Waktu Pengadukan Grafik 5.1 0. menunjukkan bahwa dengan semakin lama waktu pengadukan dalam pembuatan VCO maka angka asam semakin menurun. Dari Tabel 12.51 0.2 0. Ini berarti bahwa asam lemak bebas yang dihasilkan pada reaksi hidrolisis menurun dengan semakin lama waktu pengadukan. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan Tabel 12.3 0. Makin tinggi angka asam maka semakin rendah kualitas dari minyak (Sudarmadji dkk.R O HC – O – C .35 0.

25 0.1253 0.1 0. merupakan hasil analisis dari VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan. dapat dilihat bahwa angka asam juga semakin menurun terhadap perbandingan santan kanil dengan VCO jadi yang semakin kecil.52 Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan dapat dilihat pada Tabel 13.1733 0. Tabel 13. dengan semakin sedikitnya VCO yang ditambahkan maka angka asam dari VCO yang .1585 0.1180 Grafik 6. 800 mL:400 mL (2).2 0. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan Tabel 13. 800 mL:267 mL (3).2065 0. Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) 0. Hasil analisis angka asam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5).05 0 0 1 2 3 4 5 6 Perbandingan santan kanil de ngan VCO jadi Angka Asam 0. Hal ini disebabkan karena semakin kecil perbandingan maka VCO yang ditambahkan juga semakin sedikit. Dari Tabel 14.15 0. Variasi perbandingan santan kanil dengan VCO jadi adalah 800 mL:800 mL (1).

R Trigliserida H2C – OH HC – OH H2C – OH + 3RCOOK Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi waktu pengadukan yang berbedabeda dapat dilihat pada Tabel 14.2166 4.3611 4. Reaksi penyabunan yang terjadi: O H2C – O – C . Analisis angka penyabunan Angka penyabunan dapat dipergunakan untuk menentukan besar molekul minyak dan lemak secara kasar. Hasil analisis angka penyabunan tersebut sesuai dengan standart mutu yaitu 4.1052 . Angka penyabunan dinyatakan sebagai banyak (mg) KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram minyak atau lemak. Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 Angka Penyabunan 4. 4. Hal ini menunjukkan bahwa asam lemak bebas yang dihasilkan juga semakin menurun.6585 4.4776 4. Tabel 14. Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan.53 dihasilkan juga semakin kecil.R O HC – O – C .1-11.R + 3 KOH O H2C – O – C .

Semakin kecil perbandingan santan kanil dengan VCO jadi maka semakin kecil angka penyabunan.6 4.2 4. Minyak yang disusun oleh asam lemak dengan berat molekul relatif kecil mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya minyak dengan berat molekul besar mempunyai angka penyabunan relatif kecil. Begitu juga dengan hasil analisis angka penyabunan dari VCO yang dibuat dengan perbandingan santan kanil dengan VCO jadi.5 4. Hasil analisis ini dapat dilihat pada Tabel 15.54 4. dapat dilihat bahwa dengan semakin lama waktu pengadukan dalam pembuatan VCO maka angka penyabunannya semakin menurun. Dari hasil analisis tersebut. Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan Pada penelitian ini dilakukan analisis angka penyabunan karena digunakan untuk menentukan berat molekul dari VCO. Hasil analisis angka penyabunan dari VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi lama pengadukan yang berbedabeda dapat dilihat pada Tabel 14. .7 4.4 4.1 4 0 5 10 15 20 25 30 Waktu Pengadu kan Grafik 7.3 4.

5944 Grafik 8.8 4. Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan Dengan semakin kecilnya angka penyabunan berarti berat molekul dari asam lemak penyusun minyak akan semakin besar dan sebaliknya.55 Tabel 15.3758 5.9 4. 1997). Angka iod dinyatakan sebagai banyaknya gram iod yang diikat oleh 100 gram minyak atau lemak. Banyaknya iod yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap.2 5. Asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iod dan membentuk senyawaan yang jenuh. 5. Penentuan angka iod dapat dilakukan dengan cara Hanus atau cara Kaufmaun dan cara Von Hubl atau cara Wijs (Sudarmadji dkk.9305 4. Pada .7 4.5 5.7100 4.5 0 1 2 3 4 5 6 Pe rbandingan santa n kanil dengan VCO jadi Angka Penyabunan 5.1 5 4. Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) 5. Analisis angka iod Angka iod menjelaskan ketidakjenuhan asam lemak penyusun minyak dan lemak. Hasil analisis angka penyabunan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan.6 4.4 5.3 5.1155 4.

1076 0.0581 Grafik 9.56 penelitian ini.0840 0.12 0. penentuan angka iod ditentukan dengan cara hanus yaitu menggunakan larutan Iodin Bromida (IBr) yang berfungsi untuk mempercepat reaksi.CH = CH – R + IBrexces IBrsisa + I2 + 2KI 2 Na2S2O3 I2 + Br R-CH – CH – R + IBrsisa KBr + KI 2NaI + Na2S4O6 (Nielsen. Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 0.08 0. Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan. Reaksi yang terjadi: I R .02 0 0 5 10 15 20 25 30 Waktu pengadukan Angka Iod 0.06 0.0792 0. Tabel 16.1 0.0811 0. 1998) Hasil analisis angka iod dari VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi waktu pengadukan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 16. Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan .04 0.

2-0.1106 0.12 0.1 0. Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan dapat dilihat pada Tabel 17.0411 0.0233 Grafik 10. yaitu 0.04 0. Tabel 17.0827 0.06 0.0335 0. Hal ini berarti bahwa asam lemak penyusun VCO yang dibuat dengan cara pangadukan tanpa pemancingan mempunyai ikatan rangkap dalam jumlah sedikit atau asam lemak penyusunnnya semakin jenuh dengan bertambahnya lama pengadukan. Hasil analisis angka iod yang diperoleh sesuai dengan standart mutu VCO.02 0 0 1 2 3 4 5 6 Perbandingan santan kanil de ngan VCO jadi Angka Iod 0. Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan .57 Pada Tabel 16. dapat dilihat bahwa semakin lama pengadukan dalam pembuatan VCO maka angka iodnya semakin kecil. Hasil analisis angka iod VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) 0.5.08 0. yang menunjukkan bahwa semakin kecil perbandingan santan kanil dengan VCO jadi maka semakin kecil juga angka iodnya.

1 0. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan. Asam lemak tak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan . Reaksi yang terjadi adalah: O RC I2 + O H+.25 0.05 0 5 10 15 20 25 30 Angka Peroksida 0 0 0 0 0. heat CR 2 Na2S2O3 On + KI 2NaI + ROH + KOH + I2 Na2S4O6 (Nielsen.2 0. Analisis angka peroksida Angka peroksida sangat penting untuk menentukan derajat kerusakan minyak. 1998) Hasil analisis angka peroksida dari VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dengan variasi waktu pengadukan yang berbeda dapat dilihat pada Tabel 18.15 0. Semakin kecil angka peroksida maka kualitas minyak semakin baik.05 0 -0.2033 Waktu Pengadukan Grafik 11. Tabel 18. Waktu Pengadukan (menit) 5 10 15 20 25 0.58 6.

15 dan 20 menit memiliki angka peroksida 0 yang berarti tidak terdapat peroksida dalam minyak tersebut. 10.15 0. Tingkat selanjutnya adalah terurainya asam-asam lemak disertai dengan konversi hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam-asam lemak bebas (Ketaren. 1986).1493 0 0 0 Pe rba ndinga n sa ntan kanil de nga n VCO ja di Grafik 12.1904 0. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan.2 0.05 0 -0.2033 meq/g. Hasil tersebut sesuai dengan standart mutu yaitu ≤3 meq/kg minyak. Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) 0. menunjukkan bahwa VCO yang dibuat dengan waktu pengadukan 5.59 Pada Tabel 18. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan . Tabel 19.1 0.05 0 1 2 3 4 5 6 Angka Peroksida 0. sedangkan VCO yang dibuat dengan waktu pengadukan 25 menit mempunyai angka peroksida 0. Hasil analisis angka peroksida VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan dapat dilihat pada Tabel 19.25 0. Hal ini dikarenakan adanya panas dari mixer saat pengolahan dan lamanya kontak dengan oksigen diudara. Oksidasi dimulai dengan pembentukan peroksida dan hidroperoksida.

Dari instrumen ini diperoleh kromatogram yang di dalamya memuat waktu retensi. yaitu VCO yang memiliki kadar air. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5) memiliki angka peroksida 0. di bawah ini adalah hasil perbandingan waktu retensi yang dihasilkan dalam uji GC pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan. Analisis komposisi virgin coconut oil (VCO) dengan kromatografi gas Analisis komposisi VCO dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif menggunakan instrumen kromatografi gas (GC).60 Pada Tabel 19. Tabel 20. angka asam dan angka peroksida yang paling baik dari masing-masing cara pembuatan. Komponen 4 pada VCO yang dibuat dari cara pengadukan tanpa pemancingan mempunyai waktu retensi 10. Dengan banyaknya variasi pembuatan VCO dari dua cara pembuatannya hanya diambil dua sampel yang dianalisis dengan VCO. Hal ini dikarenakan pada perbandingan 800 mL:800 mL (1) dan 800 mL:400 mL (2). menunjukkan bahwa VCO yang dibuat dengan perbandingan santan kanil dan VCO jadi 800 mL:800 mL (1) dan 800 mL:400 mL (2).795 sedangkan pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan .1493 sedangkan pada pada perbandingan 800 mL:267 mL (3).2036 dan 0. luas area dan konsentrasi tiap komponen dari VCO. memiliki angka peroksida 0. VCO jadi yang ditambahkan dalam jumlah yang besar yang sebanding dengan kanilnya. 7. Dalam penelitian ini VCO yang dihasilkan diproses melalui dua cara yaitu cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan.

780.795 10.780 14.775.941 29. dapat diperkirakan komponen apa saja yang terkandung dalam VCO.301 8. Hasil tersebut mendekati waktu retensi dari zat standart asam laurat yang merupakan salah satu komponen yang terkandung dalam VCO. 2002).469 29. Dengan demikian komponen 4 yang dhasilkan tersebut merupakan asam laurat.500 29.062 6.343 6. titik didih asam kaprilat 80 oC. titik didih asam oleat 229 oC dan titik didih asam linoleat 237 oC (Sastrohamidjojo.61 pemancingan menghasilkan waktu retensi 10.144 14. Tabel 20. Perbandingan waktu retensi yang dihasilkan dalam uji GC pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan. Waktu retensi asam laurat adalah 10. Komponen Asam kaproat Asam kaprilat Asam Kaprat Asam laurat Asam miristat Asam palmitat Asam stearat Asam oleat Asam linoleat Waktu Retensi Cara Pengadukan Tanpa Cara Pengadukan Pemancingan Dengan Pemancingan 4.756 31.120 29.570 4. titik didih asam kaprat 135 oC.795 Berdasarkan titik didih komponen-komponen penyusun VCO.961 31. tiitk didih asam laurat 225 oC. Dengan semakin tingginya titik didih komponen penyusun VCO maka puncak pada kromatogram akan keluar paling terakhir. titik didih asam palmitat 390 oC. Titik didih asam kaproat 60 oC. menunjukkan perbandingan waktu retensi yang dihasilkan dalam uji GC pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan.302 10. . Tabel 20.139 20. titik didih asam stearat 361 oC.065 8.109 20.

0505.0501 0. Tabel 21. komponen 6 adalah asam palmitat. komponen 8 adalah asam oleat dan komponen 9 adalah asam linoleat (Haryani. Titik didih asam palmiat dan asam stearat lebih tinggi daripada titik didih asam oleat dan asam linoleat karena bentuk dari asam palmitat dan asam stearat adalah padat sedangkan asam oleat dan linoleat berbentuk cair karena adanya ikatan rangkap.5194 0.0386 0. 2006). komponen 5 adalah asam miristat.7993. Perbandingan %relatif komponen-komponen yang terkandung dalam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan. komponen 7 adalah asam stearat.0592 9. hal inilah yang menyebabkan Titik didih asam palmiat dan asam stearat lebih tinggi daripada titik didih asam oleat dan asam linoleat.1793 0. Komponen Asam kaproat Asam kaprilat Asam Kaprat Asam laurat Asam miristat Asam palmitat Asam stearat Asam oleat Asam linoleat % Relatif Cara Pengadukan Tanpa Cara Pengadukan Pemancingan Dengan Pemancingan 5.0216 0.0669 0.0379 0.0726 0.0155 . komponen 4 asam laurat.62 Diketahuinya titik didih asam lemak penyusun VCO tersebut dan dari kromatrogram uji GC maka dapat diperkirakan bahwa komponen 1 adalah asam kaproat.0074 0. komponen 3 adalah asam kaprat.0751 0. Tabel 21.E-3 0.5268 0. komponen 2 adalah asam kaprilat.0732 0. Perbandingan %relatif komponen-komponen yang terkandung dalam VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan.1613 0.0800 0.E-3 0.

20 dan 25 menit. Pada VCO yang dibuat dengan cara pengandukan tanpa pemancingan dilakukan variasi dengan lam pengadukan 5. 800 mL:267 mL (3). 800 mL:400 mL (2). dapat dilihat bahawa %relatif komponen VCO yang terbesar adalah asam laurat yang merupakan asam lemak rantai menengah. sedangkan pada cara pengadukan tanpa pemancingan tidak ada penambahan VCO tetapi pembuatannya dengan mengaduk santan kanil sehingga dengan pengadukan tersebut dapat memisahkan antara air. blondo dan minyaknya dapat terpisah dengan baik. Dari dua cara pembuatan VCO ini yang menghasilkan asam laurat dalam jumlah banyak adalah dengan cara pengadukan dengan pemancingan. B. Dari tabel 21. Hal ini dikarenakan adanya tambahan VCO yang sudah jadi dalam pembuatannya. tetapi hasilnya tidak sebaik dan sebanyak dengan cara pengadukan dengan pemancingan. 10. cara pengadukan dengan pemancingan dan cara pengadukan dengan pemancingan.63 Dari Tabel 21. 15. blondo dan minyaknya. menunjukkan bahwa %relatif komponen-komponen VCO adalah berbeda seiring dengan proses pembuatan yang berbeda pula. sehingga VCO tambahan tersebut menarik butir-butir minyak yang terdapat dalam santan sehingga antara air. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5). Analisis Varian (Analysis of Varians) Dalam penelitian ini pembuatan VCO dibuat melalui dua cara yaitu. Untuk mengetahui pengaruh perbandingan antara santan kanil . sedangkan pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan dilakukan variasi perbandingan santan kanil dengan VCO jadi dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1).

002840169 Total 14 0.048907517 SK db JK KT Fhit Untuk mengetahui perbedaan antara perbandingan santan kanil dengan VCO jadi dapat dilihat dengan uji beda nyata terkecil (BNT α=5%) dalam Tabel 23.096956 Keterangan : Notasi huruf kecil yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan taraf signifikan (α=5%) . Tabel 23.478 Galat 10 0.2692a 0.028401687 0. Hasil uji BNT α=5% kadar air antar berbagai perbandingan santan kanil dengan VCO jadi Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) Rata-rata 0.1691b BNT (α=5%) 0.80498353 3.64 dengan VCO jadi terhadap waktu pengadukan 15 menit dilakukan uji analisis varian (ANAVA).005126458 1.2332ab 0.2305ab 0.020505831 0.1799ab 0. Tabel 22. Hasil perhitungan anava kadar air antar berbagai perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum. Ftab (α=5%) Perlakuan 4 0. Kadar air Untuk kadar air. sebelum melakukan uji anava terlebih dahulu diuji dengan pengujian hipotesis statistik dengan Ho adalah kadar air tidak berbeda dan Ha adalah kadar air berbeda. 1. Hasil uji anava pengaruh perbandingan antara santan kanil dengan VCO jadi terhadap waktu pengadukan 15 menit dapat dilihat pada Tabel 22. dibawah ini.

43330412 3.001141100 0. 2.015716737 0. diketahui bahwa F hitung sebesar 1. Berdasarkan uji BNT (α=5%) yang dapat dilihat pada Tabel 23. sebelum melakukan uji anava terlebih dahulu diuji dengan pengujian hipotesis statistik dengan Ho adalah angka asam tidak berbeda dan Ha adalah angka asam berbeda.478 Galat 10 0. sedangkan kadar air yang berbeda adalah VCO yang dibuat dengan perbandingan santan kanil dengan VCO jadi pada perbandingan 800 mL:800 mL (1) dan 800 mL:400 mL (2). Ftab (α=5%) Perlakuan 4 0.65 Berdasarkan hasil analisis varians pada Tabel 22.80498353 sedangkan F tabel sebesar 3. Tabel 24.016857837 SK db JK KT Fhit . Hasil perhitungan anava angka asam antar berbagai perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum. kadar airnya tidak berbeda.000114110 Total 14 0. Hasil uji anava pengaruh perbandingan antara santan kanil dengan VCO jadi terhadap waktu pengadukan 15 menit dapat dilihat pada Tabel 24. Angka asam Untuk angka asam. menunjukkan bahwa pada perbandingan santan kanil dengan VCO jadi dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1). Dengan demikian F hitung lebih kecil daripada F tabel (α=5%) sehingga Ho diterima dan Ha ditolak yang menjadikan hipotesis tidak dapat diterima yang berarti tidak ada perbedaan kadar air pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan pada berbagai perbandingan santan kanil dengan VCO jadi. dibawah ini.478.003929184 34.

Dari Tabel 24. 800 mL:267 mL (3).1253c 800:160 (5) 0. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5).1106c Keterangan : Notasi huruf kecil yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan taraf signifikan (α=5%).66 Untuk mengetahui perbedaan antara perbandingan santan kanil dengan VCO jadi dapat dilihat dengan uji beda nyata terkecil (BNT α=5%) dalam Tabel 25.478. Hal ini berarti F hitung lebih besar daripada F tabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang menjadikan hipotesis ini dapat diterima yang berarti bahwa VCO yang dibuat dengan berbagai perbandingan santan kanil dengan VCO jadi mempunyai angka asam yang berbeda.1585b 0. dibawah ini.2065a 800:400 (2) 0. Hasil uji BNT α=5% angka asam antar berbagai perbandingan santan kanil dengan VCO jadi Perbandingan santan kanil Rata-rata BNT (α=5%) dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 0. VCO yang dibuat dengan perbandingan 800 mL:400 mL (2).096956 800:200 (4) 0. sedangkan pada VCO yang dibuat dengan perbandingan 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5) mempunyai . yang menunjukkan bahwa VCO yang dibuat pada perbandingan santan kanil dengan VCO 800 mL:800 mL (1) memiliki angka asam yang berbeda dengan perbandingan 800 mL:400 mL (2). diatas menunjukkan bahwa F hitung sebesar 34. 800 mL:267 mL (3) memiliki angka asam yang tidak berbeda tetapi berbeda dengan angka asam dari VCO dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1). Berdasarkan uji BNT (Beda Nyata Terkecil α=5%) yang dapat dilihat pada Tabel 25.43330412 sedangkan F tabelnya sebesar 3.1733b 800:267 (3) 0. Tabel 25. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5).

8037756 3. Tabel 26. dibawah ini. Hasil uji BNT α=5% angka peroksida antar berbagai Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi Perbandingan santan kanil dengan VCO jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) Rata-rata 0. Hasil uji anava pengaruh perbandingan antara santan kanil dengan VCO jadi terhadap waktu pengadukan 15 menit dapat dilihat pada Tabel 26. Angka peroksida Untuk angka peroksida. Tabel 27.000444586 4..7071c BNT (α=5%) 0.67 angka asam yang tidak berbeda tetapi berbeda dengan VCO yang dibuat dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1). 3.7071c 0.041756167 0.44586. Ftab (α=5%) Perlakuan 4 0.042200753 SK db JK KT Fhit Untuk mengetahui perbedaan antara perbandingan santan kanil dengan VCO jadi dapat dilihat dengan uji beda nyata terkecil (BNT α=5%) dalam Tabel 27.096956 Keterangan : Notasi huruf kecil yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda dengan taraf signifikan (α=5%).E-5 Total 14 0. sebelum melakukan uji anava terlebih dahulu diuji dengan pengujian hipotesis statistik dengan Ho adalah angka peroksida tidak berbeda dan Ha adalah angka peroksida berbeda.7071c 0. 800 mL:400 mL (2). Hasil perhitungan anava angka peroksida antar berbagai perbandingan santan kanil dan VCO jadi terhadap waktu optimum.478 Galat 10 0. . 800 mL:267 mL (3).8057b 0. dibawah ini.8308a 0.010439042 234.

800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5). sedangkan VCO yang dibuat dengan perbandingan (3). Hal ini berarti F hitung lebih besar daripada F tabel sehingga Ho ditolak dan Ha diterima yang menjadikan hipotesis ini dapat diterima yang berarti bahwa VCO yang dibuat dengan berbagai perbandingan santan kanil dengan VCO jadi mempunyai angka asam yang berbeda. Pada VCO yang dibuat dengan perbandingan 800 mL:400 mL (2) memiliki angka peroksida yang berbeda dengan perlakuan pada perbandingan 800 mL:800 mL (1). 800 mL:267 mL (3). menunjukkan bahwa VCO yang dibuat dengan santan kanil dengan VCO jadi dengan perbandingan 800 mL:800 mL (1) memiliki angka peroksida yang berbeda dengan perbandingan 800 mL:400 mL (2). . Berdasarkan uji BNT (Beda Nyata Terkecil α=5%).478. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5) memiliki angka peroksida yang tidak berbeda atau sama. 800 mL:267 mL (3). diatas menunjukkan bahwa F hitung sebesar 234. 800 mL:200 mL (4) dan 800 mL:160 mL (5).8037756 dan F tabelnya sebesar 3.68 Dari Tabel 26.

B. 2. Saran 1. angka penyabunan dan angka iodnya pada VCO yang dibuat dengan cara pengadukan tanpa pemancingan dan VCO yang dibuat dengan cara pengadukan dengan pemancingan.69 BAB V KESIMPULAN A. ”Uji Kualitas Vco Berdasarkan Cara Pembuatan Dari Proses Pengadukan Tanpa Pemancingan Dan Proses Pengadukan Dengan Pemancingan” maka peneliti mendapatkan beberapa hal yang disimpulkan sebagai berikut: 1. . Berdasarkan uji komposisi VCO menggunakan GC maka kualitas VCO yang paling baik adalah VCO yang dibuat menggunakan cara pengadukan dengan pemancingan yang mengandung asam laurat sebesar 52. angka asam. indeks bias. Perlu dilakukan penelitian tentang pembuatan VCO dengan varisasi kecepatan pengadukan. 2. tetapi memiliki angka peroksida yang berbeda. Perlu dilakukan penelitian tentang daya anti mikroba VCO karena asam laurat dalam VCO dapat dimanfaatkan sebagai antimikroba.6809%. Simpulan Dalam penelitian yang telah dilakukan yaitu. Tidak ada perbedaan kualitas kadar air.

70

DAFTAR PUSTAKA

Andi, N.A. 2005. Virgin Coconut Oil Minyak Penakluk Aneka Penyakit. Tangerang:PT AgroMedia Pustaka. Anonim. 2005. Manfaat Lengkap VCO. http://www.alat kesehatan.com/index.php. Anonim. 2004. Pokok Kelapa. http://www.wikipedia.org.com. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian:Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:PT Rineka Cipta. deMan, John M. 1997. Kimia Makanan. Terjemahan Prof. Dr. Kokasih Padmawinata. Bandung:ITB. Haryani, Sri. 2006. Pengaruh Waktu Pengadukan Terhadap Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO). Semarang:Skripsi FMIPA UNNES. Hendayana, Sumar. 2006. Kimia Pemisahan Metode Kromatografi dan Elektroforesis Modern. Bandung:PT remaja Posdakarya. Julia, C. 2005. Minyak kelapa Murni Merupakan Penyembuh??. http://www.mailarchive. Kateran, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:UI Press. Mcnair, H.M dan Bronelli, E.J. 1988. Dasar Kromatografi Gas. Terjemahan Prof. Dr. Kokasih Padmawinata. Bandung:ITB Mulja, Muhammad dan Achmad Syahrani. 1992. Kromatografi Gas:Teori Dasar, Instrumen dan Aplikasi.Surabaya:Mecphiso Grafika. Nielsen, S. Suzane. 1998. Food Analysis. Second Edition. New York:Kluwer Academic/Plenum Publisher. Price, Murray. 2004. Terapi Minyak Kelapa. Terjemaham Drs. Bahrul Ulum, SE. Jakarta:Prestasi Pustaka Publisher. Purnomo, Yudi. 2006. Optimasi Penambahan Crude Papain dan Suhu Inkubasi Pada Proses Pembuatan VCO. http://www.kimianet.lipi.go.id. Sastrohamidjojo, Hardjono. 2002. Kromatografi. Yogyakarta:Liberty.

71

Sudarmadji, Slamet., Bambang Haryono dan suhardi. 1997. Analisa Bahan Makanan Dan Pertanian. Jakarta.Liberty. Sutjihno. 1986. Pengantar Rancangan Percobaan Penelitian Pertanian. Bogor: Pusat penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Badan Penelitian dan pengembangan pertanian: Departemen Pertanian Winarni. 2001. Efektivitas Vitamin E dan BHT Sebagai Penghambat Oksidasi Asam Lemak Omega-3 jenis EPA dan DHA Pada Daging Ikan Manyung (Arius Thalassinus). Tesis. Yogyakarta:FMIPA UGM. Winarni. 2006. Petunjuk Praktikum Kimia Bahan Makanan. Semarang:UNNES .Winarni., Sri Haryani dan Sri Wardani. 2003. Diktat Kuliah Dasar Pemisahan Analitik. Semarang:Universitas Negeri Semarang. Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta:PT Gramedia.

72

Lampiran
Skema Kerja Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Dengan Cara Pengadukan Tanpa Pemancingan Daging buah kelapa Parut, timbang dan buat santan (1 buah kelapa + 300 ml air) Santan • • Santan kanil • • Mengaduk dengan mixer selama 5,10,15,20 dan 25 menit Mendiamkan selama 6-7 jam sampai terbentuk 3 lapisan Membiarkan 2 jam Memisahkan santan kanil dari air

3 lapisan (minyak, blondo dan air) • • Memisahkan minyak dengan corong pisah Menyaring dengan bentonit

Virgin Coconut Oil (VCO)

73 Skema Kerja Pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) Dengan Cara Penagdukan Dengan Pemancingan Daging buah kelapa Parut. 3:1. blondo dan air • • Memisahkan minyak dengan corong pisah Menyaring dengan bentonit Virgin Coconut Oil (VCO) . 2:1. timbang dan buat santan (1 buah kelapa + 300 mL air) Santan • • Membiarkan 2 jam Memisahkan santan kanil dari air Santan kanil • • • Menambah VCO yang sudah jadi (dengan Perbandingan 1:1. 4:1 dan 5:1) Mengaduk dengan mixer selama 10 menit Mendiamkan selama 6-7 jam sampai terbentuk 3 lapisan 3 lapisan (minyak.

panaskan 10 menit dengan penangas air sambil diaduk dan tutup dengan pendingin balik + indicator pp kemudian titrasi dengan KOH 0. Angka Asam 10-20 g sampel • Masukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL • + 50 mL alkohol netral 95%. Indeks Bias Sampel minyak (T = 40oC) Refraktometer (T = 40oC) ND40 3.74 Skema Kerja Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) 1.1 N sampai berwarna merah jambu . Kadar Air 5 g sampel • Panaskan dalam oven pada suhu 105oC selama 1 jam • Dinginkan dalam desikator • Timbang Berat konstan 2.

kadang dikocok • + 10 mL larutan KI 15% dan + 50-100 mL aquades.5 g sampel • Masukkan ke dalam erlenmeyer bertutup • + 10 mL kloroform • + 25 mL reagen hanus.75 4.5 N 5. Angka Iod 0.1-0. Angka Penyabunan 5 g sampel Timbang dalam botol timbang.5 M dalam alkohol Ditutup dengan pendingin balik Didihkan sampai minyak tersabunkan sempurna Dinginkan dan + indikator pp Titrasi denagan HCl 0. diamkan tempat gelap selama 30 menit.1 N + 3 tetes amilum sampai warna biru Titrasi lagi sampai warna biru hilang . tutup dan kocok Titrasi dengan Na2S2O3 0. pindah ke erlenmeyer + 50 mL KOH 0.

2 g sampel • Tambah BF3-metanol. goyangkan dengan kuat Minyak larut • 0. panaskan kemudian dinginkan • Larutkan dalam n-heksana Sampel tertransesterifikasi Analisis dengan GC Puncak-puncak komponen VCO .76 6. kocok • + 30 mL aqudes Titrasi dengan Na2S2O3 0.01 N 7. Analisis Komposisi Virgin Coconut Oil (VCO) 0.5 mL KI jenuh. Angka Peroksida 5 g sampel • Masukkan ke dalam erlenmeyer • + 30 mL campuran pelarut (40% kloroform dan 60% asam asetat glasial).1-0.

2900 0.4480 1.1200 0.5200 0.4918 2.4482 1.1700 0.4903 2.5017 2.0900 0.5137 2.5021 2.77 Perhitungan Analisis Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) Yang Dibuat Dengan Cara Pengadukan Tanpa Pemancingan 1. 4.4931 2.5198 2.4885 2.5166 2.5022 2. Waktu Pengadukan 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit ND40 1.4482 1.5019 2.3000 0. Indeks bias No.4481 1.4484 Rata-rata 1.5104 2.5010 2.4484 .5080 2.4484 1. 4.4480 1.5229 2. 3.4200 0.4482 1.5027 2.4484 1.5142 2.3000 0.4481 1.0700 2.4481 1.3200 0.5056 2.1500 0.5035 2.5100 2.5035 2. 1.5083 2.4500 0.1500 0.4481 1. 5.4000 0.5029 Berat VCO akhir 2.5000 2.0200 0.4483 1.5030 2.5000 0.4480 1. 2.5127 2.5006 2. Waktu Pengadukan 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit Berat VCO awal 2.4483 1.4483 1. Kadar air No 1.5300 0.5002 Kadar Air (%) 0. 3.4480 1.5036 2.4483 1.4482 1.5200 0.5400 0. 5. 2.4943 2.1100 RataRata 0.

20 0.26 0.2660 0.18 0.0036 Volume KOH 0.0168 5.22 0. Waktu pengadukan 5 menit 10 menit 15 menit Berat VCO 5.30 0.0116 5.0116 5.0306 Rata-rata 4.0107 5.24 0. 3.20 0.24 0.1420 4.30 0.0116 5. 5.0016 5. 20 menit 25 menit .0114 5.0168 5.5800 4.26 0. Angka Asam No 1.22 0.28 0.28 V HCl Blanko Angka Penyabunan 4.2734 0.0107 V HCl VCO 0.0114 5.2539 4. 4.2437 0.1425 4.22 0.2437 0.5878 4.22 0.28 0.2881 0.28 0.0038 5.0023 5.0135 5.5878 4.3611 4. Angka Penyabunan No.2881 0.3101 0.18 0.4776 1.0135 5.24 0.3611 4.4776 4. Waktu Pengadukan 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit Berat VCO 5.1425 4.3611 4.3323 0.4776 4.6585 4. 5.20 0.3102 0.2437 Rata-Rata 0.0107 5.28 0.0168 5.3101 0.2881 0.3101 0.78 3. 2.1052 4.0135 5.2660 0.26 0.3101 0.3249 0.26 0.0114 5.4776 4. 2.26 0.26 0.2166 4.3611 4.2881 0.0047 5. 3.22 Angka Asam 0.22 0.2881 0.2437 4.00 4.24 0.2539 4.26 0. 1.3323 0.20 0.

2033 4.0792 0. Angka Peroksida No.10 0.0058 5.10 V thio Blanko Angka Peroksida 0.0173 5.0008 5.0581 4.0171 5. 2. 3.0058 5.0842 0. 1.0877 0.0702 0.70 V thio Blanko Angka Iod 0.0840 3.5063 V thio VCO 3. 2. 20 menit 25 menit .60 3.40 3.0303 5.0802 0.64 3.5055 0.0811 0. Angka Iod No.70 3.0008 5.1076 0.0173 5.00 0.56 3. 5.5063 0. 20 menit 25 menit 6.68 3.0058 5.5060 0.0785 0.62 3. 1. 5.0008 5.0171 5.1221 0.0745 0.5055 0.40 3.1221 0.0802 0.96 0.0941 0.64 3.10 0.2033 0.60 3.5030 0.58 3.5030 0.0173 5.79 5. 3.60 3.0303 5.5030 0.5031 0.0566 0.0303 5.5055 0.54 3.0566 Rata-rata 0.5031 0. Waktu Pengadukan 5 menit 10 menit 15 menit Berat VCO 5.2033 Rata-rata - 0.5063 0.0171 V thio VCO 0.0610 0.0789 0.5031 0.5060 0. Waktu Pengadukan 5 menit 10 menit 15 menit Berat VCO 0.5060 0.60 3.0829 0.2033 0.

5001 2.4483 1.4998 2.4487 1.1837 0.4485 800:200 (4) 1.1599 0.1799 0.4482 1.5020 2.2305 0. Kadar air No 1. 2.5018 2.4967 2.5021 2.5022 2.4948 2.4484 1.5044 2.4992 2. 800:26715 Menit 4.2118 0.4482 1.4484 1.4929 2.2758 0. Waktu Pengadukan Optimum Santan Kanil:VCO 40 40 Rata-rata Jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) ND 1.4956 2.1997 0.4487 1.3597 0.5022 2.4486 5.4485 1.4485 1.2332 0.4961 2. 800:200 (4) 5.4487 1.2399 0.2692 0.1691 2.5007 2.2598 0.5045 2.5024 2.4487 1.4946 2.4982 2.2039 0.5019 2. (3) 1. 3.2439 0.4486 1.2119 0.4967 2.4484 1.5015 2.4481 1.1478 RataRata 0.5008 2.2518 0.5033 Berat VCO akhir 2.4483 1. Indeks bias No. 15 menit 4.1757 0.4486 1.4487 . 800:160 (5) 800:267 (3) Waktu Pengadukan Optimum Santan Kanil:VCO Jadi (mL) Berat VCO awal 2.4996 Kadar Air (%) 0. 800:160 (5) 1.5020 2.4951 2. 800:400 (2) 3.4962 2.4970 2.80 Perhitungan Analisis Uji Kualitas Virgin Coconut Oil (VCO) Yang Dibuat Dengan Cara Pengadukan Dengan Pemancingan 1.5020 2.4485 1. 800:800 (1) 2.1199 0.

5944 4.0081 0.0112 5.0113 5.0113 5.7100 4. 2.1770 0.0113 5.15 0.18 0. 1.5944 4. 800:160 (5) 4.0090 0.18 0.9305 800:200 (4) 5.18 0.00 5.1529 5.1327 0.1106 RataRata 0.12 0.0081 0.12 0.04 5.08 5.1155 (3) 5.16 0.0025 5.0081 0.0114 Volume KOH 0.04 5.1327 0.0115 5.20 0.10 5.15 0.0113 5.0113 5.3758 5.2212 0.04 5.16 5.1770 0.5944 4.0063 0.1991 0.1106 0.12 5.3758 5.3758 5. 800:26715 menit 4.7100 Ratarata 5.0090 0.1659 0.0113 5.1991 0.0064 0.12 5.5944 .1733 (3) 0.0064 0.1180 4.14 0.0025 5.1529 4.0063 5.1585 800:200 (4) 0.7100 4. 800:26715 menit 4.2065 0.1548 0.16 0.18 0. 800:160 (5) 0.1548 0. 3. 2.0114 5.0112 5.0408 5.0090 0.12 0.0063 5.1106 0.14 0.0115 5.0114 5. Waktu Pengadukan Optimum Santan Kanil:VCO Jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) Berat VCO 5.10 0.0025 0.9305 4.9305 4. Angka Asam No 1.93051.1253 5.16 0.3758 5.18 4.10 Angka Asam 0.0112 5.0115 5.7100 4. Waktu Pengadukan Optimum Santan Kanil:VCO Jadi (mL) 800:800 (1) 800:400 (2) Berat VCO V HCl VCO V HCl Blanko Angka Penyabunan 5.16 0.0064 0.12 4.08 5.10 0. 3.1106 0. Angka Penyabunan No .81 3.1659 0.

0233 4.5053 0.07 0.0411 0.0079 5. 3. Pengadukan Kanil:VCO Optimum Jadi (mL) 1.0653 0.0086 5.44 3.0335 0.0086 5.5066 0.80 3.0097 5.0396 0.0097 5.66 3.0396 0.0075 5.1425 0.0108 5.1091 0.96 0.0079 5. 0 - 4.0097 5.0218 0.46 3.80 0.0218 Ratarata 0.0079 5. 3.10 0.5053 0.82 5. 800:800 (1) 800:400 (2) 15 menit 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) Berat VCO 5.1135 0. .07 V thio Blanko Angka Peroksida 0.0086 5. 6.84 0.5043 0.5053 0.0350 0.5055 V thio VCO 3.0108 5.1132 0. Pengadukan Kanil:VCO Optimum Jadi (mL) 1.1106 0.0108 5.0075 5.44 3.5055 0. Angka Iod Waktu Santan No.5066 0.06 0.0306 0.0262 0.5043 0. 5.1091 0.10 0. 3.86 V thio Blanko Angka Iod 0.64 3.78 3.76 3.78 3.5043 0. 5.5017 0.5066 0.1493 2.1425 Ratarata 0.0440 0.0827 2.2036 0.46 3.0350 0. 800:800 (1) 800:400 (2) 15 Menit 800:267 (3) 800:200 (4) 800:160 (5) Berat VCO 0.82 3.0697 0.2036 0.1222 0.1629 0.5017 0.5017 0.86 0.2036 0.0075 V thio VCO 0.5055 0.08 0. Angka Peroksida Waktu Santan No.

2 g As.2H2O) masukkan ke dalam erlenmeyer kemudian larutkan dengan 50 mL aquades dan ttambah 2-3 tetes indicator pp lalu titrasi dengan larutan KOH yang akan distandarisasi sampai berwarna merah muda.83 PEMBUATAN LARUTAN 1.8210 g Na2S2O3.0992 0.1 g Volume KOH (ml) 16 16 16.0630 g asam Oksalat (H2C2O4.1 N adalah dengan menimbang 0. Larutan Na2S2O3 0. Larutan KOH 0.5H2O.126 x ml KOH 2.0980 N KOH Rata-rata 0.1 g 0. Dengan cepat setelah penambahan HCl larutan dititrasi N KOH 0. masukkan ke dalam labu takar 1 l dan tambah ke dalamnya 0. Standarisasi larutan KOH 0. Standarisasi 140-150 mg KIO3 (Mr = 214.016) dan pindah ke dalam Erlenmeyer 300 m kemudian larukan dengan aquades secukupnya.1 N Menimbang 24.1 N Menimbang 2.0988 .1 g 0.3 NaCO3 kemudian larutkan dengan aquades sampai tanda tera. Lalu tambah dengan 2 g KI (padat atau sebagai larutan 10-20%).0992 0. Perhitungan Standarisasi KOH 0.1 N: Massa As. Oksalat 0.8055 g KOH (Mr = 56. Selanjutnya ditambah lagi dengan 10 mL 2 N HCl.1) kemudian masukkan dalam labu ukur 500 mL dan dilarutkan dengan aquades sampai tanda tera. Oksalat x 2 N Larutan KOH = 0.

kemudian tambah 1-2 mL larutan amilum dan lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang. Perhitungan Standarisasi Na2S2O3 0.0100 0.0102 0.1000 0.1038 0.0100 0.60 27.016) dan pindah ke dalam Erlenmeyer 300 m kemudian larukan dengan aquades secukupnya.1000 0.80 g KIO3 N Larutan Na2S2O3 = 0.01 N: Massa KIO3 (g) 0. Larutan Na2S2O3 0. Selanjutnya ditambah lagi dengan 10 mL 2 N HCl.1046 N Na2S2O3 Ratarata 0.0101 N Na2S2O3 Rata-rata 0.1046 0.01 N Mengambil 50 mL larutan Na2S2O3 0.80 N Na2S2O3 0.0102 N Na2S2O3 0. Lalu tambah dengan 2 g KI (padat atau sebagai larutan 10-20%).1 N kemudian encerkan ke dalam labu takar 500 mL sampai tanda tera. Dengan cepat setelah penambahan HCl larutan dititrasi dengan Na2S2O3 yang akan distandarisasi sampai berubah warnanya dari merah bata menjadi kuning pucat.1000 Vol Na2S2O3 (mL) 26. Perhitungan Standarisasi Na2S2O3 0.0100 Vol Na2S2O3 (mL) 27.00 26. Standarisasi 140-150 mg KIO3 (Mr = 214.1043 .84 dengan Na2S2O3 yang akan distandarisasi sampai berubah warnanya dari merah bata menjadi kuning pucat.0102 0.60 27.80 27. kemudian tambah 1-2 mL larutan amilum dan lanjutkan titrasi sampai warna biru hilang.1 N: Massa KIO3 (g) 0.03567 x mL Na2S2O3 3.

5 N adalah menganbil 50 mL HCL kemudian dititrasi dengan NaOH 0.85 g KIO3 N Larutan Na2S2O3 = 0. Standarisasi larutan HCl 0. 7. Larutan HCl 0. masukkan ke dalam labu takar 500 mL dan diencerkan dengan aquades sampai tanda tera. misalnya memerlukan A mL.5 N yang telah Distandarisasi menggunakan indikator pp. Setelah dingin diambil dengan pipet sebanyak 25 mL lalu diencerkan sampai 200 mL Dan dititrasi dengan Na2S2O3 0.5 N KOH Dalam Alkohol Menimbang 28.03567 x mL Na2S2O3 4. 5. kemudian encerkan dengan etanol 96% sampai 1 L dan simpan di dalam botol cokelat.5 N Mengambil HCl pekat sebanyak 20. Larutan 0. agar mudah larut diambah 1 mg HgI dan 3 mL aquades dan tambah 100 mL aquades yang sedang mendidih. Larutan KI 15% Menimbang 15 g KI masukkan Dalam labu takar 100 mL kemudian encerkan dengan aquades sampai tanda tera. 8. Larutan Amilum 1% Menimbang 1 g pati (amilum).1 N. . 6.73 mL. Reagen Hanus Menimbang Yodium kristal sebanyak 13.615 g ditambah 825 m asam asetat glacial kemudian dipanaskan dan diaduk.05 g KOH dan larutkan dengan 25 mL aquades.

08 mL 1. Dipipet 5 mL kemudian diencerkan sampai 150 mL Dengan air dan Ditambah 10 mL KI 15% dan dititrasi dengan Na2S2O3 0.2533 : 2.5 = 80.1 N 1.875 g V Na2S2O3 0.1 N 1.24 mL 1.86 Bromin sebanyak 3 mL dipipet ditambah dengan 200 mL asam asetat glacial kemudian dicampur dengan baik. misalnya memerlukan B mL. Perhitungan pembuatan reagen hanus: Iodium (I2) 6.0733 : 10 = 377 x 1.5 1.1 N.26 mL 1.0733 Bromin (Br2) 1.08 mL V Na2S2O3 0.2533 .5 mL Rata-Rata (B) 1.26 mL A : 10 Penambahan Bromin ke dalam Iodium = I2 x B : 2. Perhitungan: Jumlah bromin yang ditambahkan pada 800 mL larutan yodium adalah: A : 25 mL larutan bromin yang digunakan = 800 B:5 Setelah larutan yodium dan bromin dicampur kemudian diencerkan sampai 1 L dengan asam asetat.7137 mL Rata-Rata (A) 1.06 mL 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful