Majalah Ilmiah SK Kep. LIPI No.

536/D/2007 tanggal 26 Juni 2007

ISSN : 1410 - 8291

1
JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI

DEPARTEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SDM BALAI PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA BANDUNG

JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI

 Merupakan terbitan berkala setiap caturwulan, yang menyajikan hasil-hasil penelitian : pendapat khalayak, mencakup : praktek dan teori, tinjauan buku, gagasan dan ide-ide baru serta pengembangan dan rekayasa di bidang komunikasi dan informatika..  Merupakan media informasi dan sarana pengembangan ilmu yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi Departemen Komunikasi dan Informatika dalam menyusun kebijakan di bidang komunikasi dan informatika.  Sasaran penyebaran ditujukan bagi masyarakat ilmiah, para peneliti dan praktisi komunikasi. Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Bandung Kepala Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika Bandung  C. Suprapti Dwi Takariani, SH.

PENERBIT PENANGGUNG JAWAB KETUA PENYUNTING PENYUNTING AHLI

   

Prof. Ris. Rusdi Mukhtar, MA. Dr. Atie Rachmiati, M.Si. Drs. Dian Wardiana Sjuchro, M.Si. Dra. Siti Karlinah, M.Si.

PENYUNTING PELAKSANA SEKRETARIS PENYUNTING ADMINISTRASI DISAIN & TATA LETAK KOREKTOR PELAKSANA DISTRIBUSI ALAMAT REDAKSI PENGIRIMAN NASKAH

 Drs. Ramon, M.Si.  Drs. Mulyono Yalia  Drs. Nana Suryana  Dra. Betty Djuliati

 Yoyo Suhawaya, Sm. Hk.  Widdie Budhiarta, A.Md.

 Ati Sumiati  Hj. Rosariah (Distribusi : Cuma-cuma, tukar menukar, dihadiahkan) Jl. Pajajaran No. 88 Bandung 40173; Telp. : (022) 6017493. Fax. (022) 6021740 E-mail : bppi_wil_3_bandung@depkominfo.go.id Redaksi menerima kiriman naskah dari pembaca yang ditujukan pada alamat redaksi. Naskah yang diterima harus asli dan belum pernah diterbitkan/dimuat di media lain, diketik dengan spasi 1,5 pada kertas A4 minimal 15 halaman maksimal 20 halaman, dilengkapi dengan identitas jati diri penulis. Sumber dituliskan : nama pengarang, tahun karangan dan halaman sumber di antara kurung. Contoh : (Amri Jahi, 1988 : 33). Daftar Pustaka ditulis pada halaman terpisah dan disusun menurut abjad, dengan urutan : nama pengarang atau penyunting, tahun penerbitan, judul buku, artikel, kota dan nama penerbit. Contoh : Costanza R. (ed.) 1991, Ecological Economic, New York : Colombia University Press. Naskah yang tidak diterbitkan menjadi hak milik redaksi dan tidak dapat diminta kembali Jurnal Edisi Perdana Terbit Tahun 1997

ISSN : 1410-8291

 ii Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No.1

KATA PENGANTAR Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini begitu pesat dan telah merambah di segala bidang kehidupan masyarakat. Beberapa lembaga-lembaga masyarakat telah memanfaatkan TIK sebagai sarana untuk memberdayakan masyarakatnya, namun masih banyak ditemukan berbagai kendala dalam memanfaatkan TIK tersebut. Dalam Jurnal volume 12 No. 1 Tahun 2009 ini, disajikan tujuh tulisan yang merupakan resume hasil penelitian. Ketersediaan alat komunikasi dan informasi yang belum cukup dan belum maksimal serta kemampuan Sumber Daya Manusia yang masih terbatas dalam menggunakan TIK menjadi salah satu kendala dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD), hal tersebut terungkap dalam hasil penelitian yang diangkat oleh Ramon, dengan judul tulisan ”Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) 2010”. Kendala tersebut juga ditemukan dalam lembaga-lembaga masyarakat yang mencoba memanfaatkan TIK untuk memberdayakan masyarakatnya, seperti terungkap dalam penelitian tentang ”BALAI INFORMASI MASYARAKAT (BIM) CIHIDEUNG : Memberdayakan Masyarakat Perdesaan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi” yang diangkat oleh Sumarsono. Sementara itu keberadaan Warung Masyarakat Informasi (warmasif) yang merupakan model pengembangan Community Access Point (CAP) dan dibangun untuk mempercepat tercapainya masyarakat informasi ternyata belum dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan tujuan dan sasarannya. Syarif Budhirianto dalam tulisannya, ” Motivasi Pengguna Warung masyarakat Informasi dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermedia di Propinsi Jawa Barat”, menyimpulkan keberadaan warmasif untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan komunikasi kurang optimal, warmasif baru dimanfaatkan sebatas untuk memenuhi kebutuhan hiburan bagi masyarakat. Perkembangan TIK dewasa ini telah dimanfaatkan oleh Perguruan Tinggi Negeri dengan mempraktekkan penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran. Dalam tulisan, ”Social Software sebagai Media Komunikasi dalam Proses Pengajaran di Perguruan Tinggi Negeri”, Akhmad Riza Faizal dan Wulan Suciska, menyimpulkan penggunaan social software sebagai

Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

 iii

12 No. namun jumlah mereka dari tahun ke tahun tidak pernah menyusut.media komunikasi dalam proses pengajaran mampu mendorong kemampuan menulis siswa. dalam tulisan ”Perilaku Politik Pemilih Pada Pemilihan Gubernur Jawa Timur Periode 2008-2013”. menerbitkan hasil ujian semester. mengkaji mengenai kaum pengamen jalanan yang selama ini selalu identik dengan ketidaktertiban. dimana setiap warga bisa melaporkan peristiwa yang terjadi kepada media. agama. budaya mataraman.1 . menyimpulkan bahwa preferensi pemilih lebih banyak karena kesamaan asal daerah. kesamaan jenis kelamin terutama pada budaya arek. Namun di sisi lain perkembangan TIK telah mengubah dunia jurnalistik yakni dengan hadirnya citizen journalism. ”Konstruksi Identitas Sosial Kaum Remaja Marjinal” studi kasus di kalangan remaja pengamen jalanan di Purwokerto. yang ditulis oleh Irtanto. menyebarkan materi perkuliahan. Hasil penelitian tersebut adalah terbentuknya model penanganan yang lebih tepat bagi para pengamen jalanan. dan budaya pandalungan. Penyunting  iv Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sementara itu. Agus Ganjar Runtiko. dan selalu ditertibkan. Bagaimana sikap Jurnalis terhadap citizen journalism? Permasalahan tersebut diangkat oleh Dida Dirgahayu dalam penelitiannya yang berjudul ”Sikap Jurnalis Terhadap Citizen Journalism” Dalam tulisan lainnya.

...................VOL.......................... 43-62 BALAI INFORMASI MASYARAKAT (BIM) CIHIDEUNG : Memberdayakan Masyarakat Perdesaan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Sumarsono ........... 12 No.................................................. 12 No........................ 81-98 Jurnal Penelitian Komunikasi Vol........................................................ 23-42 PERILAKU POLITIK PEMILIH PADA PEMILIHAN GUBERNUR JAWA TIMUR PERIODE 2008-2013 Irtanto ......................... 63-80 SOCIAL SOFTWARE SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI DALAM PROSES PENGAJARAN DI PERGURUAN TINGGI NEGERI Akhmad Riza Faizal dan Wulan Suciska ....................................... 1  v ..................... 1-22 KONSTRUKSI IDENTITAS SOSIAL KAUM REMAJA MARJINAL (Studi Kasus di Kalangan Remaja Pengamen Jalanan di Purwokerto) Agus Ganjar Runtiko ................. 1 Tahun 2009 ISSN : 1410 ..............8291 JURNAL PENELITIAN KOMUNIKASI DAFTAR ISI STUDI KESIAPAN INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI INFORMASI MENYONGSONG MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA (MKPD) 2010 Ramon ...................................................

........................MOTIVASI PENGGUNA WARUNG MASYARAKAT INFORMASI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN BERMEDIA DI PROVINSI JAWA BARAT Syarif Budhirianto ..................................... 12 No. 99-118 SIKAP JURNALIS TERHADAP CITIZEN JOURNALISM Dida Dirgahayu ....................................1 ............ 119-137  vi Jurnal Penelitian Komunikasi Vol............................

Ketersediaan alat komunikasi dan informasi belum cukup serta belum maksimal sebagai dukungan sarana dan prasarana menyongsong MKPD tahun 2010. baik yang bisa diperbaharui (renewable resources) maupun yang tidak bisa di perbaharui (non-renewable resources). Komunikasi Informasi. Yang menjadi kendala lainnya kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) -nya. 1 1 . Penggunaan internet hanya dipakai untuk mengakses informasi saja belum sampai pada taraf penambahan pengetahuan/referensi tentang dunia wisata dalam persiapan menyongsong MKPD tahun 2010. Kata kunci : Infrastruktur. Penulis adalah Peneliti Madya bidang Komunikasi Politik pada Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BP2KI) Bandung. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan analisis deskriptif. Ramon. PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia terkenal kaya sumber daya alamnya. sedangkan metode penelitian bersifat sosiologis/empiris.STUDI KESIAPAN INFRASTRUKTUR KOMUNIKASI INFORMASI MENYONGSONG MANADO KOTA PARIWISATA DUNIA (MKPD) 2010 Ramon* Abstraksi Penelitian ini ingin melihat kesiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia (MKPD) tahun 2010.. M. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Padahal dari laut ini bisa * Drs. MKPD 2010. Instrumen utama interview guide bersifat terbuka dan terstruktur.Si. Laut Indonesia itu seluas dua per tiga dari kawasan Nusantara. Oleh karena itu perlu sosialisasi secara kontinyu kepada wisatawan mancanegara dan domestik baik melalui dunia maya maupun secara langsung. 12 No. namun baru dimanfaatkan sebagian kecil saja-terutama potensi ikannya saja.

Visi Kota Manado secara lebih lengkap adalah “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 menuju terwujudnya masyarakat Kota Manado yang aman. dalam usaha mencapai tujuannya menetapkan visi Kota Manado sebagai “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”.dihasilkan sebagai energi melalui pemanfaatan gelombang air laut atau angin laut yang dihasilkannya. Oleh karena adanya Otonomi Daerah ini. Hal ini berakibat pengelolaan kelautan semakin runyam dengan berbagai pengkaplingan dan diberlakukannya Otonomi Daerah dan Otonomi Khusus. sebelum batas wilayah ini jelas. Selanjutnya akan terdapat keengganan daerah untuk memberdayakan kekayaan alam yang terkandung di daerah batas wilayah tersebut. berdaya saing. Pengkaplingan tersebut berimplikasi pada pembagian 18. Pembangunan sebagai program yang direncanakan untuk melakukan perubahan-perubahan dengan sengaja untuk menyejahterakan masyarakat. Hal ini terkait dengan pelaksanaan Otonomi Daerah yang memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri dengan mengandalkan pada sumber daya alam sekaligus sumber daya manusianya.04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado Tahun 2005-2010. maka pembangunan daerah harus bertumpu pada kemampuan daerah dengan segala sumber yang ada serta juga dituntut adanya kreatifitas daerah dalam mewujudkan pembangunan Propinsi Sulawesi Utara khususnya ibukota propinsinya yaitu Kota Manado. dan dipandu oleh visi tertentu dalam tahapan tertentu pula. berkeadilan dan bermartabat”. tetapi juga terkait kewenangan daerah untuk mengeksploitasikan. nelayan dengan pemangku kekuasaan daerah dan antar pemangku kekuasaan daerah walaupun ikan yang akan ditangkap para nelayan itu “tidak paham batas territorial daerah”.100 pulau di Indonesia ke dalam wilayah-wilayah territorial kabupaten dan kota. ini membuat munculnya berbagai konflik antara nelayan dan nelayan. Persoalan saat ini adanya pengkaplingan batas-batas territorial oleh pemerintah daerah dalam menyikapi implementasi desentralisasi dan Otonomi Daerah saluas-luasnya itu. 12 No. sejahtera. Penetapan batas titik-titik itu sekaligus tak hanya menetapkan diantara peran dan fungsinya. Hal ini tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Manado No. Tentu. 1 . 2  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

Dalam melaksanakan misi tersebut telah ditetapkan 4 (empat) sasaran strategis yaitu: terlaksananya sistem pemerintahan dan pelayanan publik yang efisien dan efektif. terkoordinasi. 1 3 . terciptanya lingkungan perkotaan yang menyenangkan. terwujudnya infrastruktur perkotaan bertaraf internasional. maka kita dapat tampilkan kekayaan dasar laut yang dikenal dengan nama BUNAKEN sebagai salah satu obyek wisatanya. terintegrasi dan sinergis. Manado yang terletak di pulau Sulawesi menjadi salah satu andalan Indonesia dari keindahan alamnya untuk mendatangkan devisa negara melalui pariwisata. Upaya-upaya untuk mewujudkan pembangunan ditopang oleh berbagai faktor salah satu yang berperan ialah komunikasi. terwujudnya tata ruang kota berbasis pariwisata. Salah satu sasaran strategisnya adalah “terbangunnya infrastuktur perkotaan bertaraf internasional” yang akan diwujudkan melalui strategi-strategi pembangunan yaitu : “Infrastruktur Telekomunikasi dan Informasi yang handal dan mampu menghubungkan masyarakat kota Manado dengan dunia internasional“. Hal ini terbukti dengan masih kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana komunikasi informasi serta pengelolaan informasi dan diseminasi yang efektif dari kalangan infrastruktur secara terorganisasi. Namun ternyata belum terlihat adanya kesiapan infrastruktur komunikasi informasi di Kota Manado dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. 12 No. Sesuai dengan strategi pembangunan yang salah satunya peran komunikasi dan informasi. dalam hal ini akan terwujud jika ditunjang oleh infrastruktur yang dibutuhkan. maka sektor infrastruktur komunikasi informasi menjadi faktor penunjang keberhasilan mewujudkan visi dan misi Kota Manado. Untuk mendapatkan gambaran tentang peran komunikasi dan informasi dalam pembangunan menuju Manado Kota Pariwisata Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Dari ketentuan ini. Berdasarkan kekayaan alam yang dimiliki Pulau Sulawesi khususnya wisata bahari. untuk dapat secara cepat mengakses berbagai informasi di bidang pariwisata di Kota Manado yang akan ditawarkan kepada publik.Untuk mewujudkan Visi tersebut dirumuskan Misi: “Menciptakan lingkungan perkotaan yang menyenangkan dimana setiap orang dapat mewujudkan potensi dan impiannya”. terutama infrastruktur komunikasi informasi.

why various communication events are related. Miller & Nicholson. 5-6) (Tujuan utama suatu teori 4  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. (pp. Tucker et al. dan agar dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya dibidang teknologi informasi dan komunikasi. Kegunaan 1. 12 No. 1973. hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi tentang kesiapan infrastruktur komunikasi informasi kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 untuk menjadi bahan masukan kepada Pemerintah Kota Manado dan pimpinan Departemen Komunikasi dan Informatika dalam pengambilan kebijakan.Dunia Tahun 2010. Secara Praktis. Monge (1973) mengatakan : “The primary purpose of a scientific theory is scientific explanation … To establish a theory of communication is to seek a set of propositians that explain how communication operates.e. Monge. 1 . 1975. 1976. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang pemasalahan di atas. i. 1981). maka dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut: Bagaimana Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 ? Tujuan dan Kegunaan Penelitian Tujuan Untuk mengetahui Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu komunikasi informatika. 2. Tinjauan Teori Sarjana komunikasi sepakat bahwa tujuan utama teori ialah eksplanasi (Hawes. maka perlu dilakukan penelitian tentang Studi Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi di Kota Manado dalam rangka menuju Manado Kota Pariwisata Dunia di tahun 2010. Secara Teoretis.

Teknologi informasi dapat digunakan untuk memfasilitasi hampir semua kegiatan manusia. berasal dari kata dasar “siap”. sudah selesai (dibuat atau dikerjakan). 1990:835) yang berarti sudah sedia. pemanfaatan informasi oleh individual. Untuk membangun suatu teori komunikasi diperlukan adanya seperangkat proposisi yang mampu menjelaskan bagaimana komunikasi memiliki keterkaitan satu sama lain). maka kehadiran perangkat infrastruktur komunikasi informasi menjadi suatu keharusan yang sangat mendesak. Dalam ilmu pengetahuan. sangat besar peran komunikasi informasi di dalamnya. Pada saat yang bersamaan dan dalam perkembangan kebutuhan akan akses informasi yang cepat terlebih informasi yang terkait dengan pariwisata di Kota Manado. Dalam dekade terakhir ini sangat dirasakan peran teknologi komunikasi informasi bagi kehidupan manusia. sudah disediakan (tinggal memakai atau menggunakan saja) . (Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sri Astuti. yang dimaksudkan kesiapan komunikasi informasi adalah sebagai kesudah-tersediaan sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung program Manado Kota Wisata Dunia Tahun 2010. Infrastruktur yang dimaksud dalam hal ini berupa peralatan komputerisasi. eksplanasi untuk satu peristiwa memerlukan spesifikasi sebab-sebab atau kondisi-kondisi anteseden yang menyebabkan peristiwa itu dan menguraikan kondisi-kondisi bagaimana sehingga eksplanasi itu berlaku (Monge. 1983).ilmiah adalah memberi eksplanasi secara ilmiah. hal ini berkaitan dengan perilaku yang ada pada individu/ organisasi yang menggunakan teknologi komputer. (2001) berpendapat bahwa penggunaan teknologi informasi. Dalam penelitian ini. 1973. dalam rangka menunjang kesuksesan Manado sebagai Kota Wisata Dunia di Tahun 2010. sebab sebelum digunakan pertama terlebih dahulu dipastikan tentang penerimaan atau penolakan di gunakannya teknologi informasi tersebut. akan dilihat faktor-faktor yang menyebabkan peristiwa yang terkait dengan kesiapan infrastruktur komunikasi informasi sebagai salah satu strategi pembangunan yang akan diwujudkan dalam Misi Manado Kota Wisata Dunia 2010. Kesiapan. Oleh karena itu. internet serta sarana dan prasarana lain yang Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Harre. kelompok atau organisasi merupakan variabel inti dalam riset sistem informasi. Dalam penelitian ini. 1 5 . 12 No.

Di lain sisi. Jika kesiapan telah dilakukan sejak Tahun 2005. Dalam beberapa tahun terakhir. jumlah propinsi meningkat dari 26 menjadi 33 Propinsi. 04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado Tahun 2005-2010. branding yang tepat dan bagus niscaya membuat suatu daerah tampil lebih atraktif dan eksotis. “Ujung-ujungnya. kabupaten maupun kota dalam menjalankan berbagai kewenangan yang telah diserahkan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. sementara jumlah Kabupaten/Kota meningkat. maka kesiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam hal ini mengenai ketersediaan alat komunikasi yang telah menggunakan teknologi informasi dan komputerisasi juga seharusnya telah dilakukan sejak tahun 2005. dan multifier effect yang ditimbulkan jauh lebih banyak. telah terjadi perubahan paradigma. “Selain mendatangkan manfaat nyata berupa pendapatan daerah yang akan meningkat. Ragamnya pun akan semakin banyak. keengganan pemerintah pusat untuk menyerahkan kewenangan yang harus dimiliki Pemerintah Daerah (berdasarkan Undang-Undang yang berlaku). upaya menggali dan mengoptimalkan potensi daerah juga bisa menjadi masukan penting untuk branding suatu daerah” ungkap Gubernur Sulawesi Utara. Hasil yang tampak jelas. Pandangan jauh kedepan untuk menumbuhkan perekonomian yang berkelanjutan. sumber pendapatan daerah juga akan timbul dengan sendirinya. dengan kekuatan yang bertumpu pada keunggulan potensi daerah. Sinyo Harry Sarundayang. dari 300 menjadi 458 Kabupaten/Kota. bahwa arogansi lokal muncul diantara propinsi. 12 No. Tujuh tahun sudah implementasi Desentralisasi dan Otonomi Daerah (OTDA) seluas-luasnya di Indonesia. Namun yang menyedihkan.menggunakan teknologi informasi dalam mengomunikasikan pariwisata di Kota Manado guna mendukung program Manado Kota Wisata Dunia di Tahun 2010. Kesiapan untuk menuju Manado menjadi Kota Wisata Dunia tersebut telah dimulai sejak tahun 2005 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Kota Manado No. 1 . tampaknya masih belum secara tegas dan jelas. Hal ini diperkuat oleh statement Johnny Karinda “Manado sebagai pusat kegiatan nasional di Sulawesi Utara 6  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. sehingga memikat para investor untuk berlomba-lomba menanamkan investasinya . Bagi Harry.“ tandasnya.

regional maupun nasional secara geografis berada di kawasan Pasifik Rim memberi peluang bagi Kota Tinutuan ini berkembang menjadi kota pariwisata penting dan unggulan di skala nasional maupun internasional. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. institusi. dan Gubernur Sulawesi Utara SHS Sarundayang mempromosikannya secara domestik maupun ke mancanegara secara besar-besaran. perkebunan kelapa dan perikanan sebagai tumpuan ekonominya. yaitu suatu pendekatan yang dilakukan untuk mempelajari secara mendalam terhadap suatu individu.sebagaimana arahan RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) menjadi penting sebagai kota tujuan utama (Primary Destination) maupun sebagai kota transit sekaligus pusat pertumbuhan wilayah di kawasan Indonesia Timur. dalam hal ini adalah terhadap ketersediaannya sarana dan prasarana komunikasi dan informasi sekaligus sumber daya manusianya dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. Kini Sulawesi Utara bertekad menggarap sektor pariwisata. Selanjutnya sedang gencar-gencarnya pula Walikota Manado Jimmy Rimba Rogi. hal 4 ). 13 juli 2008. atau interaksi-interaksi (sosial) yang terjadi di dalamnya. yang akan menjadi instrumen utama dalam analisis data.Sos. S. kemudian didukung oleh perolehan data dari informan yang terkait dengan permasalahan yang akan diteliti.“ (Manado Post. Pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sosiologis terhadap kasus. Metode Penelitian Jenis Penelitian Metode Penelitian dalam hal ini adalah sosiologis atau empiris atau non doctrinal. Dengan kedudukan dan posisi strategis dalam konstalasi ekonomi lokal. kelompok. artinya bahwa data dikumpulkan dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara) yang bersifat terbuka dan terstruktur. 1 7 . Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan analisis yang bersifat deskriptif analitis. 12 No. Apalagi “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010“ sudah dijadikan Peraturan Daerah.

darat. Dinas Pekerjaan Umum dan Pengelola Pelabuhan Darat Laut maupun Udara. Bappeda Kota Manado. Aparat Pemerintah Kota Manado yang terkait bidang tugasnya dengan kepariwisataan di kota Manado. Pengamat Pariwisata. LSM bidang terkait. 1 . Dinas Komunikasi dan Informatika. Tokoh Lintas Agama. dalam hal ini adalah masyarakat umum pihak dinas terkait yakni Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Dunia Hiburan (Pub. dalam hal ini terpilih : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Manado. PT. Pos dan Giro. Tokoh Masyarakat. Pengelola Pelabuhan (laut. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh di lapangan yang akan dilakukan data dikumpulkan dengan menggunakan interview 8  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. Balai Pengelola Data Elektronik (BPDE). Bar). Café.Populasi dan Sampel 1. Akademisi bidang IT. Selanjutnya untuk kebutuhan akurasi data akan dilakukan cross check (cek silang) terhadap informan yang menjadi sasaran penelitian ini dengan melakukan wawancara mendalam (eksploratif). Sekertariat MKPD Provinsi dan Kota. PT. Yang berarti bahwa setiap individu yang menjadi responden akan dipilih secara sengaja dan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dalam hal ini adalah : Masyarakat yang menggunakan alat komunikasi informasi untuk mengakses informasi terkait dengan kepariwisataan di Kota Manado. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat Kota Manado sebagai responden yang menggunakan teknologi informasi dalam kaitannya dengan persiapan menyambut Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. Teknik Pengumpulan Data 1. Dinas Tata Kota. BPDE. Telkom dan Dinas Kominfo Kota Manado. Pengusaha yang tergabung dalam PHRI. Pakar Komunikasi. 2. sehingga terpilih: Dosen Pariwisata. Diskotik. Sampel Dalam penarikan sampelnya digunakan teknik purposive random sampling yang dipilih secara sengaja. Pengusaha Warnet. dan udara). Sosiolog. Karaoke.

kemudian didukung oleh perolehan data dari informan yang terkait dengan permasalahan yang akan di teliti. Demikian juga faktor-faktor pendorong yang menyebabkan ketidaksiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Dengan demikian saat berlangsungnya wawancara sangat dimungkinkan berkembang sesuai dengan kenyataan yang diperoleh di lapangan. koran yang terkait dengan permasalahan penelitian serta juga diperoleh melalui internet. Pertanyaan yang diajukan akan berkisar pada kesiapan infrastruktur komunikasi informasi dalam menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. Artinya walaupun jawaban sedikit diluar kuesioner asalkan dalam koridor substansi masih dimungkinkan diteruskan pertanyaan lanjutan. Analisis Data Analisis data yang bersifat deskriptif. yang akan menjadi instrumen utama dalam analisis data. Kesiapan Kesiapan adalah sebagai kesudah-tersediaan sarana dan prasarana komunikasi dan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung program Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. artinya bahwa data yang diperoleh akan dianalisis dengan cara menggambarkan secara kritis data dikumpulkan dengan menggunakan interview guide (pedoman wawancara) yang bersifat terbuka dan terstruktur. 1 9 . Data yang diperoleh akan menjadi instrumen utama dalam analisis deskriptif tersebut. Definisi Konsep 1.guide (pedoman wawancara) yang bersifat terbuka dan terstruktur. majalah. Data Sekunder Data sekunder diperoleh melalui berbagai literatur. kemudian didukung oleh perolehan data dari informan yang terkait dengan permasalahan yang akan diteliti untuk memberikan gambaran secara kritis. Wawancara yang dilakukan bersifat terbuka dan terstruktur tersebut sangat tergantung pada tanggapan para responden maupun informan yang menjadi sasaran penelitian. 2. 12 No.

Infrastruktur Komunikasi Informasi Infrastruktur komunikasi informasi yang dimaksud dalam hal ini berupa peralatan komputer. 3. warung telepon dan juga kantor pemerintah maupun swasta yang berhubungan dengan dunia pariwisata. telepon dan semua peralatan komunikasi di tempat-tempat yang berhubungan dengan kepariwisataan untuk menginformasikan pariwisata di Kota Manado. internet. telepon serta sarana dan prasarana lain yang menggunakan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk mengakses informasi yang cepat terkait dengan pariwisata di Kota Manado guna mendukung program Manado Kota Pariwisata Dunia 2010. 12 No. internet. Definisi Operasional 1. Infrastruktur Komunikasi Informasi Infrastruktur komunikasi informasi yang dimaksud dalam hal ini berupa peralatan komputerisasi. Kesiapan Dengan indikator telah tersedianya komputer. 1 . 2.2. pusat-pusat perbelanjaan. internet serta sarana dan prasarana lain yang menggunakan teknologi informasi yang dapat digunakan untuk mengakses informasi yang cepat terkait dengan pariwisata di Kota Manado guna mendukung program Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010. perusahaan biro perjalanan. warung internet. Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 Yang dimaksud dalam hal ini adalah menyambut diadakannya perhelatan besar Pemerintah Kota Manado sebagai tujuan wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara yang puncaknya di tahun 2010. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Kondisi Geografis Kota Manado terletak diujung utara pulau Sulawesi dan merupakan kota terbesar di belahan Sulawesi Utara sekaligus sebagai ibukota Propinsi Sulawesi Utara secara geografis Kota Manado 10  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. yang dalam hal ini diambil di hotel-hotel.

yaitu Pulau Manado Tua. Pulau Bunaken dan Pulau Siladen. d. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Dengan luas wilayah 157. c. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk laki-laki di Kota Manado lebih kecil daripada jumlah penduduk perempuan.26 Km2.726 hektar (157. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk tahun 2006 berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS 2005) berjumlah 417.656 jiwa/Km2. Sedangkan batas administratif adalah sebagai berikut : a.700 jiwa.26 Km2). Kota Manado mempunyai 3 wilayah pulau dan berpenghuni.terletak diantara : 10 25‟ 88”-10 39‟ 50” LU dan 1240 47‟ 00-1240 56‟ 00 BT. Berdasarkan SUSENAS 2006. Sebelah Selatan : Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa.41 persen. rasio jenis kelamin penduduk Kota Manado lebih dari 100 dengan angka 93. Sebelah Timur : Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa. Sebelah Barat : Laut Manado /Laut Sulawesi. berarti kepadatan penduduknya mencapai 2. 12 No. Sebelah Utara : Kecamatan Wori dan Teluk Manado Kabupaten Minahasa Utara. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kesiapan Infrastruktur Komunikasi Informasi Tabel 1 Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Menyongsong “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” No 1 2 3 4 Ketersediaan alat komunikasi informasi Ya Tidak Belum Jawaban lain N 91 91 F (%) 100 100 Keterangan Internet - Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti. 1 11 . Luas Kota Manado adalah 15. b.

1 . karena kalau ditinjau dari jenis sarana dan prasarana yang tersedia sebagian besar dari masyarakat hanya melihat ketersediaan atau ketidak tersedianya internet. Kemudian bila dilihat lebih lanjut ketersediaan internet harus juga di barengi dengan kemanfaatannya sekitar persiapan menyambut “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketersediaan infrastruktur komunikasi informasi kurang menunjang program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Padahal alat komunikasi informasi tidak hanya internet saja. namun yang dijadikan barometer masyarakat saat ini adalah internet. Jumlah Ketersediaan Alat Komunikasi dan Informasi Tabel 2 Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Berdasar Jumlah Dalam Menunjang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” Ketersediaan alat komunikasi informasi 1 Sangat memadai 2 Cukup memadai 3 Kurang memadai 4 Tidak memadai Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti.Bahwa telah tersedia alat komunikasi dan informasi (100%) dalam rangka menunjang persiapan menyambut Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010.08 62. sehingga belum maksimal sebagai dukungan sarana dan prasarana menyongsong “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Pengertian “telah tersedia” dalam hal ini dapat dikonotasikan relatif tersedia. Inilah yang menjadi tanda tanya lebih lanjut apakah internet yang ada telah digunakan sebagaimana yang dimaksud dalam penelitian ini ? Ternyata berdasarkan cross check di lapangan dari informan dapat dicermati bahwa penggunaan internet masih terbatas untuk kepentingan pribadi masing-masing pengguna. jadi yang menjadi barometernya adalah tersedia atau tidaknya internet. No N 21 57 13 91 F (%) 23.63 14.29 100 Keterangan Internet - 12  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. hal ini terlihat dari telah banyak dijumpai internet. 12 No.

ketersediaannya alat komunikasi informasi masih dikategorikan kurang memadai (62. karena sektor swasta lebih merasakan dampak dari keterbatasan jumlah alat komunikasi informasi dari sisi promosi produknya untuk di jual kepada masyarakat.63%) jika dibandingkan dengan jumlah penduduk kota Manado. Hal tersebut didukung juga oleh sebuah artikel dari Johnny Karinda yang mengatakan : “Kegiatan promosi dan pemasaran pariwisata tampak kurang padu antara pihak-pihak yang berkompeten (Pemprov. serta stakeholder) masing-masing berjalan sendirisendiri sehingga sasaran yang dituju kurang maksimal. jika dirasa dari sisi jumlah Pemerintah Kota Manado tidak dapat memenuhi jumlah idealnya. 16 juli 2008.09 65.28 100 Keterangan Internet - Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.Data yang diperoleh menunjukkan bahwa ketersediaan alat komunikasi informasi dalam menunjang program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” Kurang memadai (62. Tabel 3 Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Menunjang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” Ketersediaan alat komunikasi informasi dalam menunjang “MKPD” 1 Telah menunjang 2 Kurang menunjang 3 Belum menunjang 4 Tidak menunjang Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti. 1 13 . maka selama ini persiapan dari sisi infrastuktur komunikasi informasi masih dapat dikatakan belum cukup. tidak salah jika pihak swasta yang terkait dengan penyelenggaraan kepariwisataan di kota Manado terlibat maupun dilibatkan. Oleh karena itu. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ketersediaan alat komunikasi informasi dalam menunjang program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” secara kuantitatif dapat dikatakan cukup memadai. hal 4). No N 7 11 60 13 91 F (%) 7.70 12.93 14. Tidak heran bila pariwisata Manado kalah bersaing dengan DTW (Daerah Tujuan Wisata) lain seperti Bali. 12 No. Kemudian jika dilihat dari sisi jumlahnya. Lombok dan lain-lain di Nusantara” (Manado Post.63%). tetapi secara kualitatif masih sangat kurang. Pemkot.

apakah alat komunikasi informasi yang belum menunjang tersebut akan segera dapat diatasi permasalahannya?. hal 8). kalau tidak dibarengi dengan upaya untuk secara nyata dan terarah segala kemampuan terfokus pada program tersebut. tetapi terdapat keraguan kerena waktu yang sudah dekat. Dengan demikian masih perlu ditingkatkan lagi ketersediaan alat komunikasi informasi sekaligus dibarengi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang kapabel. Menurut observasi peneliti sudah lebih dari cukup (minimal 20 kali) berkunjung ke Bandara Sam Ratulangi Manado tapi ternyata Ruangan Tourist Information Centre (TIC) kosong melompong tidak ada penjaganya. Hal selaras dengan pendapat informan dari hasil wawancara yang menunjukkan bahwa ada keyakinan bahwa program “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010” akan tercapai. Disamping itu informan juga menambahkan perlu adanya satu pusat informasi yang dapat diakses dengan mudah tentang program “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010” yang akan dapat memberikan informasi secara lengkap kepada semua pihak terkait dengan program tersebut. Apapun program yang dikampanyekan. Hal ini sangat disesalkan pengamat Pariwisata Sulut Chefie Nelwan SE. 3 Oktober 2008. lanjutnya lagi dengan adanya informasi yang jelas tentang potensi pariwisata membuat wisatawan tidak ragu-ragu untuk memperpanjang Length Of Stay di Sulut. karena menyangkut semua komponen kepariwisataan yang ada di Kota Manado. lisan maupun tulisan serta media lain yang tersedia.Dengan demikian menjadi bahan perenungan bersama. 1 . Untuk itu diperlukan kerja sama yang baik dari semua komponen masyarakat yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam kesiapan menyongsong program “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”. “ (Manado Post. Par dengan mengatakan : “Mestinya Disparbud Sulut tetap stand by untuk memberikan informasi sebanyak mungkin obyek wisata yang ada di Sulut. maka kita menjadi pesimis melihat perencanaan waktu yang tidak lama lagi yaitu tahun 2010 tersebut. 12 No. Sangat kompleks permasalahan yang ada di dalamnya. Informasi yang diberikan baik berupa informasi langsung maupun tidak langsung. 14  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. namun pembenahan tidak segencar kampanyenya.

Sebaran Lokasi Ketersediaan Alat Komunikasi dan Informasi Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4 bahwa sebaran keberadaan alat tersebut belum merata, karena berdasarkan data di lapangan alat tersebut masih berada ditempat tertentu selain di kampus (33,50%) ataupun perkantoran swasta (11,49%) maupun pemerintah (5,74%), hanya terdapat disekitar pusat perbelanjaan tertentu (Mall sebesar 5,26%), Warung Internet (16,74%) serta biro perjalanan (21,53%) dan juga lain-lain yang dalam hal ini dimaksud adalah internet maupun komputer milik pribadi sebesar 5,74%. Tabel 4 Sebaran Lokasi Ketersediaan Alat Komunikasi Informasi Dalam Menunjang “Manado Kota Pariwisata Dunia 2010”
Lokasi Ketersediaan F N Keterangan alat komunikasi informasi (%) 1 Kampus 70 33,50 Internet,computer 2 Kantor Pemerintah 12 5,74 Internet,computer 3 Kantor swasta 24 11,49 Internet,computer 4 Mall 11 5,26 Internet 5 Warung Internet 35 16,74 Internet 6 Biro Perjalanan 45 21,53 Internet 7 Lain-Lain 12 5,74 Internet,computer Jumlah 209 100 n = 60 responden + 31 informan, responden boleh memilih jawaban lebih dari satu. Sumber : Data diolah oleh peneliti. No

Berdasarkan hasil wawancara rechecking dengan informan dari PHRI (Perusahaan Hotel dan Restoran Indonesia) cabang Manado, sebaran alat komunikasi informasi tersebut belum dibarengi dengan kemampuan sumber daya manusianya atau SDM nya, karena masih sangat kurangnya pengetahuan maupun kemampuan penggunaan alat-alat teknologi informasi yang tersedia. Lebih lanjut diungkapkan bahwa sebenarnya dari alat yang tersedia itupun masih kurang dibandingkan jumlah penduduk di Kota Manado, namun karena yang dapat menggunakan hanya sebagian kecil masyarakat, maka tampaknya ketersediaan alat komunikasi untuk sementara dapat dikatakan cukup memadai, namun belum dapat menunjang sepenuhnya persiapan Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”.
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 15

Selanjutnya terkait dengan ketersediaan infrastruktur komunikasi informasi data di lapangan menunjukkan bahwa di samping perlu disediakan infrastruktur komunikasi informasi juga perlu sumber daya manusia yang handal di bidang tersebut. Untuk tingkat pemanfaatan komputer yang dalam hal ini penggunaan fasilitas internet, masih terbatas pada fasilitas standar, karena fungsi internet belum dapat dimaksimalkan sebagai media mengakses informasi, mempermudah komunikasi. Penggunaan internet sampai saat ini hanya untuk mengakses informasi saja, belum sampai pada taraf penambahan pengetahuan atau mencari referensi yang diperlukan tentang dunia wisata di Kota Manado terkait dengan persiapan “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Selanjutnya terkait dengan penyediaan fasilitas komunikasi informasi sebagai infrastruktur, sebagian besar responden maupun informan menghendaki sebaiknya persiapan alat komunikasi informasi pertama-tama diawali dari pihak Pemerintah Kota Manado khususnya Dinas Pariwisata Kebudayaan, Pengetahuan Tentang Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 Sementara itu, kalau ditinjau dari konten info yang disediakan melalui internet maupun media massa lain, info tentang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” tetapi apa itu dan bagaimana itu, masih sangat kurang memuat informasi dan pengetahuan seputar rencana besar tersebut, Walaupun data menunjukkan bahwa responden sangat mengetahui adanya program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” sebagaimana tertuang dalam tabel berikut : Tabel 5 Pengetahuan Tentang “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”
No. 1 2 3 Mengetahui tentang MKPD N 91 91 F (%) 100 100

Ya Tidak Jawaban lain Jumlah n = 60 responden + 31 informan Sumber : Data diolah oleh peneliti.
16  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

Berdasarkan tabel tersebut di atas tampak sangat menyakinkan bahwa semua komponen masyarakat, pariwisata di Kota Manado mengetahui adanya program Pemerintah Kota Manado yakni “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa program ini telah diketahui oleh masyarakat Manado seluruhnya khususnya masyarakat yang terkait langsung dengan penyelenggaraan pariwisata di Kota Manado. Selanjutnya “tahu”nya perlu dipertanyakan lebih lanjut, apakah benar-benar tahu adanya Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” tersebut dalam artian bahwa konten dari isi pesan kampanye Pemerintah Kota Manado tersebut benar diketahui?. Ternyata tampak penyajian informasi terkait dengan program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010” sebagai pesan, belum efektif, hal ini terbukti dengan ketidaktahuan secara mendalam konten dari pesan kampanye Pemerintah Kota Manado tersebut. Dalam efektifitas penyajian informasi dalam bentuk gambar, secara deskriptif menunjukkan tingkat efektifitas yang tinggi, terhadap komponen afeksi dari masyarakat usaha pariwisata yang sebagian besar memiliki tingkat intensitas penerimaan tinggi. Jelas di sini, bahwa pesan yang berbentuk gambar atau foto dengan latar belakang musik, lebih menyentuh perasaan seseorang, sehingga menimbulkan rasa senang untuk mengamatinya. Namun tidak begitu tinggi efeknya terhadap tingkat pemahaman dan komunikasi dari isi pesan tersebut. Hal ini terungkap dari hasil observasi di lapangan melalui wawancara dengan para pengusaha yang tergabung dalam PHRI. Pengaruh penyajian pesan dalam bentuk naturalis persuatif terhadap perilaku masyarakat mengenai program Pemerintah Kota Manado menuju “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”, ada kecenderungan persamaan dengan penyajian pesan dalam bentuk atraktif informatif, yaitu pengaruh terhadap perilaku menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan pengaruh terhadap sikap mengenai Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Pendidikan Terakhir Responden Penyajian pesan dalam bentuk gambar, efektif dalam memengaruhi perilaku, sudah barang tentu tidak terlepas dari variabel lain yang dimiliki oleh masyarakat usaha pariwisata, diantaranya unsur pendidikan. Mereka yang berpendidikan tinggi mampu
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 17

67 41. data memperlihatkan bahwa tingkat pendidikan terakhir responden tamatan SMU yakni sebanyak 41. juga melengkapi mereka dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi dalam beberapa topik. yang menyatakan ketrampilan berkomunikasi yang diperlukan. (Rager. dan Betham. Dalam penelitian ini.67%.memahami pesan yang sangat abstrak yaitu berupa gambar. ikut menentukan adanya kesenjangan efek komunikasi. 12 No. 1977. 1981. 18  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. ditemukan bahwa tingkat pendidikan. dan tingkat persuasibilitas yang ditentukan oleh pengetahuan pemahaman. 1 .67%. 1 2 3 4 5 6 7 Pendidikan Terahir Tamat SD Tamat SMP Tamat SMU Tamat D 1/2/3 Tamat S1/Sederajat Tamat S2/Sederajat Tamat S3/Sederajat N 1 25 21 11 2 60 F (%) 1. Kesenjangan efek komunikasi terjadi karena : 1. penggunaan media yang tinggi. (Betinghaus EP. Perbedaan tingkat ketrampilan berkomunikasi di antara segmensegmen suatu khalayak secara keseluruhan. Nelson. Schramm. maka semakin tinggi kemampuannya untuk memahami pesan-pesan (stimulus) yang bersifat visual. tidak ada yang tamatan SD dan S3.33 3. 1973). 1983). Tabel 6 Pendidikan Terakhir Responden No. perhatian. intensitas penerimaan suatu pesan. Hal ini mendukung pada penemuanpenemuan terdahulu yang dilakukan oleh Schramm.67 35 18. Sedangkan yang terkecil adalah tamatan SMP yakni 1. Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir. Teori mengatakan : “Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang. Sumber : Data diolah oleh peneliti. dan kemampuan mendapatkan informasi. motif.33 100 Jumlah n = 60 responden. non verbal dan emosional”.

1976. Fett. Kontak sosial yang relevan dengan orang-orang yang memiliki lebih banyak informasi. tetapi mampu memasyarakatkan pemahaman yang baik mengenai psikologi wisatawan melalui komunikasi antar budaya. Tingkat pengetahuan tentang suatu isu yang dikuasai sebelumnya. Bantuan yang tidak memadai dari badan yang melakukan intervensi sosial. Memang masyarakat yang sedang membangun sangat berkepentingan dengan inovasi. sebab bukan lingkungan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Bias urban pada media massa. 12 No. Goulet. Tidak hanya mengadakan perbaikan obyek-obyek wisata. Penekanan pada peran serta atau partisipasi masyarakat sangat popular dalam program pembangunan. atau motivasi. disertai dengan penemuan-penemuan atau rangsangan-rangsangan. 1974. 10. Tugas usaha pariwisata adalah menciptakan kondisi yang menyenangkan ini. Akses yang berbeda pada sumber daya yang terbatas. 1973). Hyman dan Sheatley. 4. Persepsi selektif. Menurut kaum behaviorism. 7. minat. 1972. Kerelevanan fungsional atau utilitas. (Esman dan Uphoff. 8. Kurangnya partisipasi dari khalayak sasaran dalam pembuatan keputusan dan implementasi keputusan tersebut. Riset mengenai kepariwisataan merupakan umpan balik yang dicari dan dilakukan secara formal. kurangnya informasi rambu-rambu di tempat strategis. karena fasilitas yang tidak bersih atau keadaan kurang aman di tempat rekreasi. Umpan balik dapat diperoleh dengan sengaja. 5. 3. Perbedaan pendidikan.2. 1984. maka peran serta masyarakat akan lebih tergugah. Sebab masih ada umpan balik yang bersifat non-formal. yang menunjukkan adanya komunikasi umpan balik (komunikasi resiprokal ). Techenor. 1983. dkk. 1 19 . orang cenderung mengulangi kembali pengalaman yang menyenangkan selama hidupnya. misalnya dengan mengadakan riset tentang salah satu unsur kepariwisataan. perlunya buku petunjuk/guide. 9. tindakan atau informasi yang relevan dengan kebutuhannya. 6. Shingi dan Mody. baik yang berupa gagasan. Apabila faktor ini dipenuhi. dan lain-lain. Misalnya dengan adanya keluhan-keluhan dari masyarakat yang mengunjungi suatu obyek wisata.

artinya bahwa kata “siap” ini belum dapat dikatakan siap yang sesungguhnya sesuai dengan tingkat kebutuhan akan alat komunikasi informasi seputar dunia wisata di Kota Manado. Pantai Malalayang. Dengan demikian WOC (World Ocean Converence) atau Konferensi Kelautan Sedunia yang akan dilangsungkan tanggal 5-11 Mei 2009. Program ini menggunakan gaya hiburan yang cukup tinggi guna menghadirkan atau mengangkat keadaan yang sesungguhnya melalui bahasa yang mampu dipahami serta berasal dari sumber yang terpercaya. 1 . kemudian Obyek wisata lain di luar Kota Manado yang menarik seperti Bukit Kasih. akan tetapi diterima bergantung pada hal ini. meskipun durasinya pendek namun program ini dipublikasikan lewat jaringan luas ke seluruh jaringan komunikasi informasi yang telah dipercaya dan mempunyai kredibilitas. Berkaitan dengan obyek wisata yang ditawarkan. sebab untuk mendukung kesuksesan WOC tersebut pemerintah dan stakeholder sudah melakukan persiapan-persiapan yang selanjutnya dapat 20  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. sangat membantu implementasi MKPD 2010. bahwa keberhasilan dari program ini bergantung pada daya tarik pribadi yang dirasakan oleh sebagian khalayak. dan lain-lain. Kemudian dalam meninjau persiapan infrastruktur komunikasi informasi. data di lapangan menunjukkan bahwa infrastruktur komunikasi informasi yang telah ada sudah dapat dikatakan “siap” untuk menyongsong “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. Hampir semua jenis informasi. tetapi persepsi kita yang memberi makna terhadap lingkungan tersebut. Suatu kenyataan. Rurukan. Makam Imam Bonjol. tetapi juga wisata lain yang saat ini belum dikelola secara baik namun cukup punya potensi untuk dikembangkan sebagai alternatif pilihan yaitu Pulau Siladen. dikonsepkan dan di produksi secara baik. Pulau Manado Tua kemudian misalnya keindahan kota sekitar Manado seperti Kota Bunga Tomohon.yang menyenangkan dan menyusahkan kita. Intensitas dari kebutuhan yang pasti akan adanya informasi adalah faktor yang merupakan kunci untuk memperkirakan tingkat penerimaan suatu kampanye. tidak menjadi soal bagaimana cara pelaksanaannya. 12 No. Di bawah faktor inilah elemen-elemen kualitatif dari pesan yang akan disampaikan. terlihat baik responden maupun informan menghendaki tidak hanya wisata bahari yakni Pulau Bunaken yang ditawarkan. Danau Tondano.

Brosur. di lokasi-lokasi strategis. Kepada Pemerintah Kota Manado. 12 No. perlu adanya kerja keras dalam penyediaan infrasruktur komunikasi informasi yang terfokus pada info tentang dunia wisata di Kota Manado. Pemerintah Kota Manado diharapkan dapat bekerjasama dengan pihak swasta yang terkait dengan dunia wisata di Kota Manado untuk bersama-sama mengusahakan Pusat Informasi Wisata dalam rangka Program “Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010”. 1 21 . Perlunya segera menyediakan tenaga yang terampil mengoperasikan peralatan komunikasi informasi yang semakin canggih (SDM IT). maka dapat disimpulkan bahwa kesiapan infrastruktur komunikasi informasi Kota Manado Menyongsong Manado Kota Pariwisata Dunia Tahun 2010 dapat dikatakan belum siap. 5. 2. Banner. Leaflet. Saran-saran 1. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. karena masih kurangnya ketersediaan alat komunikasi informasi yang terfokus untuk memberikan informasi Seputar Dunia Wisata Kota Manado sebagai pusat informasi. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas. Misalnya membuat MOU atau pertukaran informasi antar Kabupaten/Kota dengan Pemkot Manado yang ada di Propinsi Sulawesi Utara tentang infrastruktur komunikasi dan informasi. 4.dimanfaatkan secara optimal dalam upaya mendukung MKPD tahun 2010. Seperti : Penambahan Baliho. Perlu segera dilakukan sosialisasi yang sifatnya sustainable di era globalisasi. termasuk kemampuan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional. yang mempunyai obyek wisata yang layak jual sebagai satu paket wisata. Spanduk. salah satunya dengan memasukkan program MKPD 2010 ke dunia maya (internet) secara berkesinambungan. 3. serta seputar obyek pariwisata yang belum dikelola dengan baik. Pemerintah Kota Manado perlu memberikan alternatif obyek wisata dengan bekerjasama dengan Pemerintah Kota maupun Kabupaten yang ada di Propinsi Sulawesi Utara.

Rinehart and Winston. Peraturan Daerah Kota Manado No. Jakarta : Gunadarma. 1990. Harian Manado Post : Jumat. halaman 4. Harian Komentar Manado. 6 Tahun 2001 tentang Pemanfaatan Teknologi Informasi. Suryadarma. Inc. 2006. Bandung : Yrama Widya. Ginsu. halaman 8. Perkembangan Teknologi Informatika. 22  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Birokrasi dan Teknologi informatika. 2005. Blade. 1973. Berkomunikasi Dengan Teknologi. 2006. A. Jakarta : Elex Media Komputindo. Jakarta : Sentra Informasi Mandala. 2004. Persuasive Communication. E-Governance Dalam Era Informasi. Komputerisasi dan Perkembanganny. 16 Juli 2008. Sawyer. 2003. Bacaan Tambahan : Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2003. 12 No. Harian Manado Post : Rabu. Penerbit Balai Pustaka Depdikbud Jakarta. 3 Oktober 2008. Undang-Undang No. Bandung : Yrama Widya. Teknologi Komputerisasi Dalam Pemerintahan. Bandung : Armico. Peraturan Perundang-undangan : Instruksi Presiden No. Ishadi. Johnny Karinda.DAFTAR PUSTAKA Betinghaus EP. Haris. New York : Holt. Fransisca. Artikel judul “ Mewujudkan Manado Tujuan Utama Pariwisata ” Oleh Drs.04 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Manado Tahun 2005-2010. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Wesart. 1 .

Secara kuantitatif. adalah pengajar di FISIP Universitas Jendral Sudirman Purwokerto Jurusan Ilmu Komunikasi. S. Wacana yang berkembang di media. Ironisnya. Kebanyakan mereka diarahkan untuk menghuni pantipanti yang telah didirikan oleh pemerintah. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.. Namun. Dengan mengkaji tentang konstruksi identitas sosial mereka. tidak jauh dari persoalan klasik bahwa pengamen adalah salah satu faktor pengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat. memahami faktor-faktor penyebab. kita disuguhi pemandangan yang memprihatinkan bahwa ternyata tidak sedikit kaum muda atau remaja yang tidak bisa meneruskan sekolah dengan berbagai sebab tentunya dan harus memilih mengisi hidupnya dengan mengamen. 12 No. jumlah mereka dari tahun ke tahun tidak pernah menyusut. remaja marjinal. PENDAHULUAN Latar Belakang Pemberitaan di media massa seputar penertiban pengamen jalanan sudah bukan hal asing lagi ditemui di negeri ini. Di mana-mana para pengamen ini selalu „ditertibkan‟. jumlah remaja pengamen jalanan di Purwokerto menurut data dari Sub Dinas * Agus Ganjar Runtiko.Sos. Lewat berita di surat kabar atau tayangan televisi.KONSTRUKSI IDENTITAS SOSIAL KAUM REMAJA MARJINAL (Studi Kasus di Kalangan Remaja Pengamen Jalanan di Purwokerto) Agus Ganjar Runtiko* Abstraksi Kaum pengamen jalanan selama ini selalu identik dengan ketidaktertiban. respon remaja pengamen ketika penertiban akan membentuk model penanganan yang lebih tepat terhadap mereka. 1 23 . jumlah remaja pengamen jalanan dari tahun ke tahun cenderung mengalami peningkatan. Kata kunci : identitas sosial.

Melakukan kajian dengan fokus sebagaimana dimaksud di atas maka setidaknya akan diperoleh konsepsi pemahaman menurut kacamata mereka sendiri tentang siapa dan bagaimana identitas sosial kaum remaja pengamen ini. Bagaimanapun remaja pengamen adalah sebagian generasi bangsa yang kepada mereka pemerintah dan lembaga sosial lainnya turut bertanggung jawab mempersiapkannya agar tidak terlanjur menjadi generasi tanpa masa depan. Jumlah ini menunjukkan semakin banyaknya remaja yang memilih jalanan sebagai tempat mencari uang dan menjalani kehidupannya. Para pengamen jalanan ini tidak harus selalu ditempatkan sebagai semata penyakit sosial tanpa melihat terlebih dahulu akar penyebab timbulnya tindakan seperti itu. Pertanyaan Penelitian Masalah pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah : 1. sementara pada tahun 2000 hanya terdapat 354 remaja (Suara Merdeka. Khusus di Purwokerto. 1 . Informasi ini akan sangat bermanfaat sebagai dasar bagi perumusan berbagai kebijakan pemerintah yang utamanya ditujukan untuk kaum remaja terpinggirkan ini. pada tahun 2003 terdapat 214 remaja pengamen jalanan. Bila kita mencoba menengok kehidupan remaja pengamen sesungguhnya kita perlu tergugah untuk bisa menanganinya dengan pendekatan yang tidak semata represif. Berangkat dari fenomena inilah maka penelitian ini beranjak. Senin. Mereka tidak perlu dianggap semata-mata sebagai penyakit atau seonggok persoalan yang harus disingkirkan melainkan harus ditempatkan sebagai bagian masyarakat yang memiliki hak hidup yang sama dan tentu saja memiliki segenap kemungkinan yang sama untuk tumbuh dan berkarya di negeri ini.Kesejahteraan Sosial Banyumas tahun 2003 menunjukkan angka mencapai 723 remaja. 24 Agustus 2003). Apa yang menjadi faktor penyebab sehingga kaum remaja ini memilih tinggal di jalanan dan menjadi pengamen? 24  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Dengan mencoba mengkaji persoalan dengan pendekatan konstruktivis penelitian ini mencoba memahami secara mendalam bagaimana kaum remaja pengamen ini membangun/mengkonstruksi identitas sosial mereka. Bagaimana proses pembentukan/konstruksi identitas sosial di kalangan remaja pengamen jalanan di Purwokerto? 2. 12 No.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan pembinaan anak jalanan selama ini sesuai dengan standar layanan dari Dinas Sosial. Penelitian yang berlokasi di Jakarta ini berfokus pada konsep diri pengguna narkoba. Bagaimana model penanganan terhadap persoalan remaja pengamen jalanan yang telah dilakukan pemerintah dan lembagalembaga terkait? Tujuan Penelitian Penelitian ini mengarahkan kajiannya secara teliti mengenai : 1. penelitian yang berhubungan adalah mengenai konsep diri. Model penanganan terhadap persoalan remaja pengamen jalanan yang telah dilakukan pemerintah dan lembaga-lembaga terkait 4. Kesimpulan penelitian ini antara lain adalah bahwa para pengguna narkoba ini rata-rata mempunyai konsep diri yang negatif. perspektif yang diambil adalah dari stakeholder. Selain mengenai anak jalanan. Selain itu para pengguna narkoba juga cenderung susah untuk kembali ke hubungan komunikasi antarpribadi yang normal seperti sebelum memakai Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 25 . Penelitian yang membahas mengenai model pembinaan anak jalanan ini memilih perspektif pemerintah dalam membina anak jalanan. 12 No.3. Artinya disini. Respon kaum remaja pangamen terhadap segala bentuk tindakan penertiban yang dilakukan oleh pemerintah Kajian Pustaka dan Kerangka Pemikiran Kajian Pustaka Penelitian mengenai remaja marjinal. Semuanya dinyatakan masih dalam taraf proses program pembinaan dengan menggunakan gabungan beberapa pendekatan yang ada. Faktor-Faktor penyebab sehingga kaum remaja ini memilih tinggal di jalanan dan menjadi pengamen 3. Bagaimana respon kaum remaja pangamen terhadap segala bentuk tindakan penertiban yang dilakukan oleh pemerintah? 4. diantaranya adalah rendah diri. yang dilakukan oleh Rahman (2004). Proses pembentukan/konstruksi identitas sosial di kalangan remaja pengamen jalanan di Purwokerto 2. Terdapat variasi pengembangan sesuai kebutuhan di lapangan menurut perkiraan para penentu dan pelaksana program. atau lazim disebut sebagai anak-anak jalanan salah satunya dilakukan oleh Astutik (2004).

adapula „bos‟ sebagai penguasa kelompok tempat ia berada. Radikal. dalam Keesing. Pengelompokan tersebut terkait dengan periode mereka dijalanan..narkoba. Kelompok ini bisa dikatakan sebagai kelas rendah di perkotaan. UNICEF (dalam Musyarofah. tetapi memberontak dan sepenuhnya melepaskan diri dari keluarga. Sebagian anak-anak ini masih sekolah dan berada di jalanan sekadar mencari tambahan bagi nafkah keluarga. dalam Alfian et. Remaja/Anak-Anak dari Luar Kota Kelompok ini tinggal bersama teman sebaya dan orang yang lebih tua. sementara orangtua berada di kampung. kriminal. Remaja kelompok ini ada yang memiliki „bos‟ terkait dengan pekerjaan mereka. Remaja/Anak-Anak yang memberontak dan lepas dari orangtua Kelompok ini biasanya masih memiliki orangtua. 1992 : 233 – 249). Gambaran negatif tentang kelas proletar marjinal ini beberapa bahkan didapatkan oleh seorang antropolog (Lihat Lewis. c. Mereka antara lain terbagi dalam kelompok : a. 1 . adalah remaja /anak-anak yang berada dijalanan dalam tempo sesaat. b. sehingga mereka semakin tak berdaya untuk keluar dari kungkungan marjinalisasi struktural. Kerangka Pemikiran 1. Dalam kategori on the street. 12 No. apatis dan patologis adalah kata-kata yang sering dilabelkan pada kelas proletar marjinal oleh baik kelas borjuis maupun kelas menengah. al. 2006 : 27) mengelompokkan remaja/anak-anak yang mencari penghidupannya dijalanan sebagai on the street dan of the street. yang merupakan penduduk asli maupun para urbanisan yang mendiami tempat-tempat kumuh (slum area) perkotaan. yakni orang yang 26  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Remaja Pengamen dalam Tinjauan Sosiologis Remaja pengamen di kawasan perkotaan secara teoritis dapat ditinjau dari perspektif struktur sosial dalam masyarakat. Labelisasi seperti ini akan terus menjebak kelas proletar marjinal ke dalam kemiskinan struktural (lihat Soemardjan. sekali lagi karena diakibatkan konsep diri mereka yang negatif. 1980 :1-11). Remaja/Anak-Anak Miskin Perkotaan Kelompok ini berasal dari dalam kota dan masih tinggal bersama orangtuanya.

terdapat dua sisi yang melekat pada personalitas seseorang : yakni Person dan Self. Pertama. Self terdiri dari seperangkat elemen yang bisa dikaji secara relatif terpisah.mewajibkan setoran untuk kelangsungan pekerjaan atau jaminan keamanan. Umumnya berasal dari keluarga yang berkonflik atau tidak tahu siapa orang tuanya dan dimana keluarganya. Sedangkan Self adalah gambaran pribadi seseorang atas dirinya sendiri. Selanjutnya masih menurut Rom Harre. sejauh mana gambaran terhadap diri seseorang diyakini berasal dari orang itu Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2002). Person adalah karakteristik yang melekat pada diri seseorang yang bisa dilihat atau dikenali oleh publik yang ditandai oleh beberapa atribut dan karakter yang relatif mapan dalam sebuah kebudayaan atau kelompok sosial tertentu. communities. Konsep diri termasuk “realitas”. and culture” (Littlejohn. but is constructed through a process of interaction in groups. Display yakni sejauh mana aspek-aspek dalam diri seseorang bisa diketahui oleh publik atau sebaliknya tetap menjadi bagian pribadi seseorang. stasiun. Sedangkan. Ini didapat dari interaksi seseorang itu dengan orang-orang lain. Premis dasar teori ini tentang self adalah bahwa seseorang memahami dirinya sendiri dengan menggunakan “teori” yang mendefinisikan dirinya (Littlejohn. yang sesungguhnya adalah hasil konstruksi sosial. 2. Kedua. adalah mereka yang berpartisipasi penuh baik secara ekonomi maupun sosial di jalanan. 2002: 168) “the idea of self as a socially constructed “object” is profound and important in the constructionist movement”. tinggal di emperan toko. Mereka tidak mempunyai rumah. kelompok yang dikategorikan sebagai of the street. Konsep Diri dalam Perspektif The Social Construction Of Reality Konsep diri menjadi perhatian utama tidak saja bagi teoritisi yang menggeluti fenomena sosial dalam perspektif interaksi simbolik namun juga bagi para ahli yang mengembangkan teori konstruksi realitas sosial. Adapun thesis dasar tentang “realitas” menurut teori konstruksi realitas sosial adalah bahwa “reality is not an objective set of arrangements outside ourselves. terminal. Realization. 2002). kolong jembatan atau taman-taman kota. Demikian menurut Rom Harre (seperti dikutip Littlejohn. 12 No. 1 27 .

guru. Muslim. 3. 1 . identifikasi dan komparasi (Tajwel. Kristiani. bodoh. putih. Setiap individu mengidentifikasikan dirinya lebih dengan ingroupnya dan hal ini akan mengurangi perbedaan di antara diri dan ingroupnya.sendiri atau dari kelompok-keompok yang ada di sekeliling dia. 12 No. Agency : sejauh mana kekuatan aktif menjadi atribusi diri seseorang. Sedangkan proses identifikasi terjadi pada saat seseorang mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok tempat ia bergabung. yaitu persepsi terhadap anggota suatu kelompok yang memiliki karakteristik tertentu yang dapat dijadikan acuan untuk membedakannya dari kelompok lain. Seseorang menggunakan penanda adalah dalam rangka mencari konsep diri yang dipandang positif. Secara umum konsep ini diterjemahkan menjadi 3 (tiga) ide utama. identitas sosial dikonsepsikan dengan mengaitkan pengetahuan individu tentang perasaan memiliki suatu kelompok sosial tertentu dan emosi. individu membutuhkan pandangan positif yang melekat pada sikap dan perilaku dirinya. tinggi dan lainnya lahir dari adanya komparasi (perbandingan). Identitas sosial menghadirkan relasi antar kelompok dalam konteks sosial yang nyata (Tajfel 1978. Tajfel (1978) menyatakan bahwa. Jika terjadi peningkatan identifikasi terhadap kelompok (ingroup). juga evaluasi signifikan yang dihasilkan dari keanggotaan suatu kelompok. dan seterusnya. Active elemen seperti percakapan dan Passive elements seperti mendengarkan. pintar. Identitas Sosial Identitas sosial berkenaan dengan bagaimana seseorang menggunakan kelompok sosial tertentu yang dipandangnya dapat memberikan perasaan positif tertentu pada dirinya. Ketiga. Di sini ada dua elemen. buruk. bersih. Seseorang merubah dari kutub personal ke intergorupnya. hitam. Untuk menghadapi dunia ini. Kategorisasi individu. Pernyataan tentang baik. Penggunaan kategorisasi misalnya murid. Berkaitan dengan hal ini. Tajfel & Turner 1979) di 28  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan hal ini merupakan bagian dari fungsi normal psikologi seseorang. yaitu kategorisasi. merupakan proses pengelompokkan individu dalam upaya memahami lingkungan sosialnya. proses kategorisasi merupakan proses pengelompokkan obyek yang dilakukan untuk memahami obyek tersebut. 1978) Menurut Hogg & Abrams (1998) pada dasarnya proses kategorisasi menghasilkan persepsi stereotype.

Namun saat ini. religiusitas. 4. Dalam konteks komunikasi antar budaya semacam ini akan membawa persoalan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. self esteem individu akan ikut naik. Pada keadaan itu individu merasa harus mempertinggi ketertarikan kepada kelompoknya dan meningkatkan rasa nyaman kepada kelompok lain. konsepsi tersebut digambarkan melalui fenomena yang dikenal luas. 1 29 . 2003).mana secara komprehensif memaparkan relasi antar kelompok dalam perubahan sosial dalam masyarakat yang terkelompokkan secara sosial. Konsepsi awal menunjukkan bahwa keyakinan kelompok termasuk semua keyakinan terdapat di dalam alam pikir individu. Keanggotaan dalam kelompok itu membuat individu memiliki identitas diri dan self esteem. etnisitas. masyarakat membutuhkan identitas sosial positif yang menuntut mereka untuk membangun nilai pembeda yang positif bagi kelompok mereka sendiri yang dibandingkan dengan kelompok lain. Alih-alih identitas personal yang berhubungan dengan perilaku interpersonal yang berarti perbedaan di antara diri dan orang lain maka identitas sosial terkait dengan perilaku intergroupnya yang berarti perbedaan di antara kelompok atau „kita‟ dan „mereka‟ Identitas sosial. konflik sosial. di mana anggota kelompok berbagi keyakinan dan keyakinan itu dipandang menghadirkan dasar bagi identitas sosial anggota. dalam bentuk kategorisasi seperti nasionalitas. dan sebaliknya ketika kelompok mendapatkan kegagalan maka self esteem individu turut terancam. terinternalisasi dan membentuk suatu bagian penting yang potensial dari self-concept seseorang di mana fokus pada konsep ini adalah pada definisi „ke-kita-an‟ (we-ness) suatu anggota kelompok dalam konteks „kita milik dari satu kelompok‟. Pada saat kelompok memperolah kesuksesan. profesi. serta relasi antar kelompok. Cultural Biases dalam Intercultural Communication Konsepsi teoritik yang dipakai dalam melihat respon kaum remaja pengamen jalanan dalam menghadapi tindakan pemerintah diambil dari perspektif teori komunikasi antar budaya. Komunikasi antarbudaya didefinisikan sebagai interaksi di antara orang-orang yang setidaknya memiliki satu perbedaan budaya di antara mereka (Lustig & Koester. Secara sederhana. atau orientasi politik. selain itu juga diartikan sebagai esensi kelompok. gender.

Jenis penelitian ini 30  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan lain-lain). Terdapat beberapa situasi dan nilai-nilai yang kemudian memengaruhi respon atau persepsi seseorang terhadap orang lain yang berbeda budayanya.dalam hal rasa aman. yang lebih menekankan pada masalah proses dan makna (konstruksi identitas sosial). Secara singkat. Bentuk dan Strategi Penelitian Berdasarkan masalah yang diajukan dalam penelitian ini. Faktor–faktor yang memengaruhi proses pengolahan informasi tentang orang lain dalam konteks komunikasi antarbudaya lalu diidentifikasi sebagai aspek yang dikenal dengan cultural biases. maka jenis penelitian dengan strateginya yang terbaik adalah penelitian kualitatif deskriptif. kenyamananan dan tingkat sejauh mana kita bisa memprediksikan lawan interaksi kita. bagan kerangka pemikiran penelitian ini adalah sebagai berikut: Metode Penelitian a. kaum remaja pengamen jalanan diasumsikan memiliki identitas kultural yang berbeda dengan misalnya kaum remaja umumnya yang bisa menikmati kehidupan rumah tangga biasa dan menjalankan aktivitas hidup layaknya remaja mapan (sekolah. 1 . 12 No. Dalam konteks penelitian ini.

akan mampu menangkap berbagai informasi kualitatif dengan deskriptif teliti dan penuh nuansa, yang lebih berharga daripada sekedar pernyataan jumlah atau pun frekuensi dalam bentuk angka. Strategi yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, dan karena sasaran studi kasus ini hanyalah di kalangan kaum remaja pengamen jalanan. Maka studi kasus ini termasuk penelitian dengan strategi kasus tunggal (Yin, 1987). Selain itu, karena permasalahan dan fokus penelitian sudah ditentukan dalam usul penelitian ini maka jenis strategi penelitian kasus ini secara khusus bisa disebut studi kasus terpancang (embedded case study research). b. Jenis dan Informasi Sumber Data Data atau informasi yang paling penting untuk dikumpulkan dan dikaji dalam penelitian ini sebagian besar adalah data kualitatif. Informasi tersebut akan digali dari beragam sumber data, dan jenis sumber data yang akan dimanfaatkan dalam penelitian ini meliputi: 1. Informan atau nara sumber, dalam hal ini adalah kaum remaja pengamen jalanan di Purwokerto, pemerintah Kabupaten Banyumas, dan lembaga terkait. 2. Dokumen, baik hasil liputan media atau browsing internet c. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan bentuk penelitian kualitatif dan juga jenis sumber data yang dimanfaatkan, maka teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Wawancara mendalam (in-depth interviewing) Wawancara jenis ini bersifat lentur dan terbuka, tidak terstruktur ketat, tidak dalam suasana formal, dan bisa dilakukan berulang pada informan yang sama (Sutopo, 2002) 2. Observasi langsung Observasi ini dalam penelitian kualitatif sering disebut sebagai observasi berperan pasif (Spradley, 1980) 3. Focus Group Discussion (FGD). Metode ini bermanfaat untuk memperoleh data bagaimana individu sebagai bagian dari sebuah kelompok mendiskusikan sesuatu topik atau isu tertentu, jadi tidak semata melihat
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 31

informan sebagai individu. Dengan kata lain, FGD diterapkan untuk memahami orang menanggapi berbagai pandangan orang-orang lain dalam kelompok diskusi, dan bagaimana kemudian informan membangun sebuah pandangan tersendiri berdasarkan interaksi yang dilakukannya dalam sebuah kelompok. (Bryman, 2001) Sampling Penelitian kualitatif cenderung menggunakan teknik cuplikan yang bersifat selektif dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan konsep teoritis yang digunakan, keingintahuan pribadi peneliti, karakteristik empirisnya, dan lain-lain. Oleh karena itu cuplikan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat purposive sampling, atau lebih tepat disebut sebagai cuplikan dengan “criterionbased selection” (Goetz & Le Compte, 1984). Dalam hal ini peneliti akan memilih informan yang dipandang paling tahu, sehingga kemungkinan pilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti dalam memperoleh data (Patton, 1980). Pengembangan Validitas Guna menjamin dan mengembangkan validitas data yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini maka diperlukan teknik pengembangan validitas data sebagaimana biasa digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu teknik triangulasi. Dari empat teknik triangulasi yang ada (Patton, 1980), hanya akan digunakan tiga di antaranya yakni (1) Triangulasi data (sumber) yaitu mengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. (2) Triangulasi peneliti yaitu mendiskusikan data yang diperoleh dengan peneliti lain dalam hal ini adalah rekan sejawat dalam sebuah forum diskusi informal yang menyajikan draft awal hasil penelitian lapangan. (3) Triangulasi teori dilakukan dengan menggunakan perspektif lebih dari satu teori dalam membahas permasalahan yang dikaji. Model Analisis Proses analisis dalam penelitian kualitatif pada dasarnya bersifat induktif di mana analisis dilakukan secara bersamaan dengan
32  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

proses pelaksanakan pengumpulan data. Ada tiga komponen analisis yang saling berkaitan dan berinteraksi, tak bisa dipisahkan dengan kegiatan pengumpulan data yaitu reduksi data, sajian data dan penarikan kesimpulan. Model analisis yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif (Miles dan Huberman 1984). Dalam model analisis ini, tiga komponen aktivitasnya dilakukan dalam bentuk interaktif dengan proses pengumpulan data sebagai suatu proses siklus. Dalam melaksanakan proses ini peneliti aktivitasnya tetap bergerak di antara komponen analisis dengan pengumpulan datanya selama proses pengumpulan data masih berlangsung. Kemudian selanjutnya peneliti hanya bergerak di antara tiga komponen analisis tersebut sesudah pengumpulan data selesai pada setiap unitnya dengan menggunakan waktu yang masih tersisa dalam penelitian ini.

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Eks-Kota Administratif Purwokerto terletak di sebelah barat daya Propinsi Jawa Tengah, dan merupakan bagian dari Kabupaten Banyumas. Terletak di antara garis Bujur Timur 108° 39' 17'' sampai 109° 27' 15'' & di antara garis Lintang Selatan 7° 15' 05'' sampai 7° 37' 10'' yang berarti berada di belahan selatan garis khatulistiwa. Jumlah penduduk Purwokerto sebanyak 239.532 jiwa, yang terbagi menjadi 73.019 jiwa di Kecamatan Purwokerto Selatan, 52.922 jiwa penduduk Kecamatan Purwokerto Barat, 63.360 jiwa penduduk Kecamatan Purwokerto Timur, dan 50.231 penduduk Kecamatan Purwokerto Utara (www.banyumas.go.id diakses pada 2 Juli 2008).

HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Pelaku Penelitian dan Informan Pendukung Terdapat beberapa orang remaja marjinal yang diwawancarai dalam proses penelitian ini. Pertama, Andri yang berusia 24 tahun. Andri adalah seorang lulusan SMU tahun 2001, semenjak tahun 2002 sudah „mangkal‟ di pertigaan Sri Ratu Purwokerto. Andri merupakan

Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

33

waria. Tomi menolaknya. Informan pendukung dalam penelitian ini antara lain adalah Pak Rujito. dan memang kampung ini identik dengan dunia marjinal. Pak Rujito berusia 52 tahun. seperti wanita tuna susila. Pak Budi sampai hapal siapa-siapa yang sering mangkal. sehingga dalam komunitasnya tidak dikenal adanya ketua. wakil atau sebagainya. Di kampung ini terdapat banyak komunitas marjinal. Keluarga yang berantakan mendorongnya untuk masuk ke jalanan. waria dan sebagainya. berusia 21 tahun. Namun. Alasan Jalak masuk STM adalah agar bisa meneruskan pekerjaan bapaknya di bengkel. Awalnya dia mengamen. 1 . selanjutnya jalanan menjadi rumahnya. artinya bukan keluarga berantakan. Beliau adalah Ketua RW di Kampung Sri Rahayu. Pak Adi telah bekerja di Dinas Sosial Purwokerto semenjak tahun 1991. Pelaku penelitian kedua adalah Jalak. Pelaku penelitian ketiga adalah Tomi. Tomi ini merupakan salah satu anggota „senior‟ dalam komunitas mereka. serta perbedaanperbedaan antara beberapa komunitas yang mangkal di depan rukonya tersebut. Bapak Adi adalah pegawai Dinas Sosial yang sering berhubungan dengan anakanak jalanan. Pelaku penelitian keempat adalah Anjar. Jalak baru lulus STM tiga tahun lalu (2005). Anjar hanya bersekolah sampai tingkat SMP saja. Pak Budi adalah pemilik ruko yang terasnya sering dijadikan tempat mangkal oleh anak-anak komunitas. Alasannya bahwa komunitas tersebut muncul untuk menolak segala bentuk keteraturan (komunitas remaja marjinal yang peneliti masuki ternyata adalah komunitas Punk dan komunitas Skinheads). serta anakanak jalanan. 34  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.salah seorang remaja marjinal yang selalu memperhatikan perkembangan politik dan berita yang terjadi saat ini. Informan pendukung ketiga adalah Bapak Adi. saat disebut sebagai ketua dalam komunitas. dan dia salah seorang anggota komunitas yang paling rajin mangkal. Jalak mengerti sedikit-sedikit tentang mesin. 12 No. Informan pendukung kedua adalah Pak Budi. berdagang asongan. Jalak hidup dalam keluarga yang utuh. bagaimana tingkah polah mereka. Kampung Dayak sendiri merupakan sebuah kampung yang terletak di belakang terminal lama Purwokerto. atau lebih banyak dikenal sebagai Kampung Dayak. 27 tahun.

Seperti Anjar yang mengatakan. tapi malah digunakan yang lain. apa kaos atau sepatu. Sebagaimana diungkapkan oleh informan pendukung. Jadi kayak masalah-masalah sepele gitu. salah seorang pelaku penelitian mengatakan. Terbukti. ilang atau dibarter sama yang lain. komunisme kamu itulah karya kamu!” Komunitas remaja marjinal ini juga bukan tidak percaya Tuhan. terus lama nggak balik-balik. Sekarang mereka sudah ndak punya rumah singgah. kadang-kadang fasilitas disitu juga hilang.” Keberadaan rumah singgah bagi kaum remaja marjinal ini nampaknya juga merupakan masalah tersendiri. belum mempunyai karya nih. “Dulu kan ada rumah singgah. Kalau mati. ketika diwawancara mereka juga sempat membicarakan puasa. 1 35 . Jadi nggak mesti kumpul-kumpul. Karena rumah singgah yang biasanya dijadikan tempat mereka berkumpul ternyata sudah tidak difungsikan lagi. “Kalau puasa aku nggak kaget. Aku pakai ini. yakni Pak Rujito. Sebenarnya disuruh bertempat ke rumah singgah buat istirahat. tapi kalau ada masalah apa gitu dipanjang-panjangin. kan punyanya cuma sedikit. 12 No. Misalnya pakaian. Salah satunya adalah keharusan untuk berkarya. seorang sesepuh di Kampung Sri Rahayu. “(Kita itu) akrab. masalah laper-laper aku nggak kaget. kamu pakai itu. jadi sering barter. yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya para kaum marjinal. Sebagaimana diceritakan oleh Jalak. kumpul-kumpulnya ya kalau ada kegiatan-kegiatan. Mereka yang kesitu seringnya nggak punya identitas.” Konsep Diri Terdapat beberapa nilai yang menjadi bentuk-bentuk identitas sosial.” Masalah kaum remaja marjinal ini juga muncul berkaitan dengan interaksi sesama mereka. sebelum bulan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. apa yang ditinggalkan di dunia ini? Harus meninggalkan karya. sudah dirusak sama anak-anak. Anjar. sehingga bingung mendatanya. “Jangan bicara kematian dong. namun juga dirasakan oleh mereka sendiri. tapi sekarang rumah singgahnya sudah nggak ada. jadi masalah. Sosialisme kamu.Masalah Kaum Remaja Marjinal Masalah kaum remaja marjinal tidak hanya dirasakan pemerintah atau masyarakat semata. “Kadangkadang malah (kegiatannya di rumah singgah) ndak sesuai. seperti kata Pak Rujito.

Pelibatan aparat kepolisian Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. kalau mau pulang ya pulang.puasa sering nggak makan. Masalahnya kalau tidur di sini (di emper toko) nanti di garuk juga sama orang-orang kanan (orang-orang yang tidak mau kehilangan tempat tinggal mereka). bingung kan!” Tomi ketika itu menambahkan. tapi dia mempunyai keyakinan mengenai kemungkinannya kembali menikmati hidup.” Para remaja marjinal ini mengkonstruksi identitas sosial mereka sebagai orang kiri. “Ya ngomong enak bae.” Konsep kepercayaan kepada Tuhan diaplikasikan oleh para remaja marjinal sebagai perilaku sosial manusia. 1 . Konstruksi identitas sosial yang mereka miliki selanjutnya adalah bahwa sebenarnya mereka tidak begitu menikmati menjadi remaja marjinal. Kalau di sini paling dibelakang sana. pas saur ada orang yang ngasih makanan. „Orang baik‟ menurut remaja marjinal ini adalah orang yang mempunyai rasa keberpihakan kepada mereka. 12 No. ada kaya ada miskin. ya disini. jadi orang enak. cari kerja (aja) kenapa mas? Apa enak jadi pengamen mas? Gimana jawabnya. “Ya udah pernah sih ngrasain kerja. bahwa dia sedang merasa tidak enak. sering laper. rokok. ada baik ada buruk. sebagaimana yang dikatakan Tomi. Pernah dulu waktu tidur disini. “Kalau aku nggak puasa sih. “Malem kalau mau di sini.” Bahkan Jalak merasa bahwa kehidupannya saat ini merupakan titik nadhir. mereka cenderung membedakan orang berdasarkan terminologi „orang baik‟ dan „orang tidak baik‟.” Model Penanganan Pemerintah Kabupaten anak-anak jalanan ini kepada tertentu. Sehingga. Ada siang ada malem. tapi ada orang baik yang ngasih makananlah. Uniknya konsep baik yang kita kenal dengan simbolisasi „kanan‟. Dinas Sosial bekerja kadang juga melibatkan aparat 36  Banyumas menyerahkan penanganan Dinas Sosial. tidak dikenal mereka secara sama. sebagaimana dikatakannya. Pada keadaan-keadaan sama dengan Satpol PP dan kadangkepolisian. ada gundul ada gondrong. “Pernah dulu aku ditanyain. kadang-kadang duit. di empang. Seperti yang dikatakan Jalak.” Tetapi konsep kepercayaan kepada Tuhan ini tidak diaplikasikan sebagaimana umumnya pemeluk agama. orang yang senantiasa selalu berbagi. Adapun pihak-pihak yang dianggap tidak menaruh keberpihakan kepada mereka akan mendapat label sebagai „orang tidak baik‟. bahwa dia sedang berada di bawah. Sebagaimana yang dikatakan Jalak.

anak jalanan juga diberi penyuluhan mengenai HIV/AIDS. terutama dengan beberapa LSM. Pendekatan penanganan di rumah singgah ini bermacam-macam. Selain dua instansi pemerintah ini. Penanganan terhadap anak jalanan juga meliputi perlakuan terhadap keluarga mereka. Sebagaimana yang dikatakan Bapak Adi. Kabid Dinas Sosial Banyumas. “Selama ini penanganannya bekerja sama dengan pihak-pihak terkait. Di pantipanti ini pembinaan dilakukan. untuk dimasukkan ke panti-panti yang umumnya ada di luar kota. 12 No. Selain panti-panti. Jalak misalnya mengatakan. Tujuannya disamping anak-anak jalanan ini lebih terkontrol. Lingkungan tempat tinggal mereka yang permisif terhadap perilaku seks bebas membuat rentan munculnya penyakit menular seksual. pemerintah memberikan anak jalanan ini Askeskin untuk digunakan di Puskesmas-Puskesmas terdekat. bagi anak jalanan juga tersedia rumah singgah.ini sebagai bentuk antisipasi apabila terdapat pelaku kriminal diantara anak-anak jalanan. Persepsi terhadap Model Penanganan Komunitas remaja marjinal ini umumnya mempunyai pandangan negatif terhadap model penanganan dari pemerintah. Menurut Bapak Adi. 1 37 . anak jalanan ini mengenal seks semenjak mereka berusia sepuluh tahun. rumah singgah juga dapat digunakan pengelola untuk menyisipkan pesan-pesan mengenai hal-hal positif. sehingga mereka tidak perlu kembali lagi ke jalan. “(Ketika ditangkap Satpol PP) ada juga yang Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Mengenai masalah kesehatan. antara lain Biyung Emban dan Kuncup Mas. Selain itu. Seks bebas dengan berganti-ganti pasangan sudah mereka jalani pada usia belasan. mengingat perilaku seks mereka. sesuai dengan tujuan awal pendiriannya. Keluarga yang mandiri secara ekonomi akan mengurangi peluang anak-anak turun ke jalan. Ada beberapa LSM yang sering berhubungan dengan kita. melainkan tempat anak-anak jalanan ini berkumpul saja. yakni anak jalanan dirazia. Dinas Sosial juga bekerja sama dengan LSM yang bergerak dalam penanganan anak jalanan. Umumnya pembinaan itu berupa materi-materi yang dianggap dapat membekali anak jalanan ini. Sifat rumah singgah sendiri sebenarnya bukan merupakan tempat pendidikan.” Model penanganan yang dilakukan oleh Dinas Sosial selama ini melalui metode pemantian.

Hanya saja program pemerintah dirasakan hanya sesaat-sesaat saja. merupakan salah satu bentuk keterikatan dengan aturan. Jarang orang baik itu jarang. Keseharian mereka berkumpul di pelataran gedung toko. Organisasi mereka tidak mengenal ketua atau pimpinan. keterbukaan ini tidak berlaku untuk publikasi. (Ada yang) ngerasa dirinya baik. Kita nggak mandi apa dia mau mandiin kita. tapi kalau penjahat kan susah nangkepnya (karena lari terus). biasanya tidak kontinyu. kata mereka. Soalnya nangkepnya yang mudah dicari. “Paling kalau ditangkep di omeli thok. Ketua RW Kampung Sri Rahayu (dulu Kampung Dayak). bentuk pernyataan mereka. aku jawabnya tiga hari nggak mandi. bingung kan?” Model penanganan yang seperti ini sebenarnya tidak terjadi setiap saat. Sebagaimana dikemukakan oleh Pak Rujito. merupakan proses pencarian ide. bentuk karya mereka. “Yang nangkepin kita itu polisi yang murah. Jadi hasilnya juga sangat minim. Jadi berkumpul adalah salah satu bentuk progresifitas mereka. Publikasi.” Bentuk Komunikasi Antarpersona Remaja marjinal ini kebanyakan membentuk komunitas secara terbuka. jadi cari kerja (aja) kenapa mas? Apa enak jadi pengamen mas? Gimana jawabnya. kalau ngamen kan jelas lokasinya disini. Ya pihak manapun yang meluncurkan program tidak berkelanjutan. Pernah dulu aku ditanyain. 1 . apabila ada aparat yang menangkap mereka. Namun. Mabuk pun. Demikian juga pilihan mereka untuk mabuk ternyata tidak semata-mata kesenangan. bahwa komunitas ini merasa penangkapan itu tidak diperlukan. berapa hari nggak mandi. nggak mungkin lah. disebut sebagai aparat murah. 12 No. Bahkan. tapi yang menilai itu kan orang lain. kita nggak makan apa dia mau nawarin.” Saat ditanya apa saja yang mereka dapatkan ketika berada ditempat penampungan sementara. Namanya mandi itu kan urusan pribadi ya.nanyain. Paling tahun ini program apa itu saja. atau di tanah kosong ternyata tidak semata-mata berkumpul saja. Jalak mengatakan. 38  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. “Pemerintah biasanya kan memberikan program. Mereka tidak ingin dipublikasi. dipandang tidak mempunyai kerjaan. tapi kan program itu kan seolaholah tidak berjalan. kata Andi lagi. Struktur komuniksi antarpersona mereka sangat egaliter.” Tampak dari hasil wawancara ini. itu ya hasilnya sesaat-sesaat. Seolah-olah sepintas hanya meluncurkan program saja. sangat terbuka.

Komunitas Punk dicirikan dengan pakaian yang seadanya. yakni komunitas Punk. Tentu saja pertemuan ini bukan pertemuan rutin. ketika ditanya mengenai keakraban antaranggota komunitasnnya. Pertemuan ini lazim disebut sebagai „Punk Party‟ atau „Skinhead Party‟. Mereka lebih suka mendapatkan sebutan sebagai komunitas tertentu. Hal ini lebih mengungkap realitas bahwa mereka juga ingin mendapatkan pengakuan mengenai eksistensinya. kelompok atau komunitas remaja marjinal pengamen jalanan terbagi menjadi tiga. Komunitas Skinhead. Sedangkan komunitas ketiga. namun lebih mementingkan kebutuhan ekonomi. maklum mereka adalah komunitas yang antikemapanan. Minuman beralkohol merupakan perekat komunikasi antarpersona mereka. Kaum remaja marjinal pengamen jalanan ini ada yang tidak mengakui labelisasi kebanyakan orang. “(Hubungannya) akrab tapi. Bahkan. 12 No. pada saat-saat tertentu mereka juga mengadakan pertemuan. Secara garis besar. Secara lebih dalam eksistensi mereka sebagai manusia yang berhak mendapatkan perlakuan adil. komunitas Skinhead dan komunitas pengamen jalanan biasa. Kerekatan mereka dalam jalinan komunikasi antarpersona juga sering diwarnai dengan konflik. cenderung tidak peduli dengan isu-isu sosial saat ini. Seperti kata Jalak. Masing-masing mempunyai ciri khas. terkesan „lebih bersih‟ tetapi cenderung kurang responsif dengan isu-isu sosial saat ini. akan tetapi sangat peka dengan isu-isu sosial yang sedang berkembang. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1.” Mafhum kiranya kalau konflik tersebut kadangkala menimbulkan perkelahian antarsesamanya. Pertemuan seperti ini biasanya diisi dengan pertunjukan musik-musik keras. pesta minuman beralkohol ini identik dengan rasa solidaritas antarsesama mereka. Pemicu konflik ini kerapkali adalah masalah-masalah yang sebenarnya dianggap sepele oleh mereka sendiri. terkesan kumuh.Selain sehari-hari berkumpul di tempat-tempat yang telah ditentukan. serta tidak lupa pesta minuman beralkohol. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 39 . kalau ada masalah apa gitu (sukanya) dipanjang-panjangin.

remaja marjinal pengamen jalanan akan kembali beroperasi sebagaimana biasa. 4. remaja yang bermasalah dengan keluarga kurang begitu diterima. yang cenderung tidak mempedulikan latar belakang keluarga teman-temannya. Pada komunitas Punk dan Skinhead. Penanganan pemerintah tidak hanya terpancang pada remaja pengamen jalanan saja. tetapi juga terhadap keluarganya. Mereka menyebut pihak-pihak yang berlaku 'kurang adil' itu sebagai 'orang jahat'. Yakni para remaja pengamen jalanan dimasukkan di panti untuk dilatih keterampilan-keterampilan guna bekal hidup mereka. bukan sebagai penyakit. Terbukti dengan tindakan mereka yang selalu melarikan diri dari panti-panti yang disediakan oleh pemerintah. Model penanganan yang ada selama ini adalah 'pemantian'. yakni penanganan secara menyeluruh. penyuluhan kepada keluarga. yakni penanganan yang hanya berorientasi pada remaja pengamen jalanan saja tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Akibatnya bagaimanapun penanganannya. tanpa pernah berusaha mengungkap sisi lain dunia mereka. namun ada juga yang karena faktor pengaruh teman. 40  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. yang meliputi penanganan terhadap remaja pengamen jalanan. Penanganan secara makro. Remaja marjinal pengamen jalanan perlu dipandang sebagai bentuk pemiskinan struktural. Kaum remaja pengamen jalanan ini cenderung tidak suka dengan perlakuan yang mereka terima dari pemerintah. 2. Bentuk penanganan ini berupa pengarahan atau penyuluhan. Faktor-faktor yang menyebabkan para remaja pengamen jalanan ini memilih tinggal di jalanan dan menjadi pengamen antara lain adalah faktor keluarga yang berantakan.2. Saran-Saran 1. Pemerintah dan pihak-pihak terkait perlu berusaha menggali hal-hal yang dirasakan oleh mereka. 1 . Sehingga. Lain halnya dengan komunitas pengamen biasa. Sementara label 'orang baik' disematkan pada mereka yang dianggap 'tidak adil'. penanganan mikro saja. 3. dan pelatihan bagi petugas lapangan yang berhubungan langsung dengan mereka akan lebih memberikan hasil. Penanganan anak jalanan selama ini cenderung hanya dipandang dari sebuah sisi.

Monterey : Brooks. J. Antropologi Budaya : Suatu Perspektif Kontemporer. Jakarta : YIIS Patton. Inc. An Integrative Theory of Intergroup Conflict : the Social Psychology of Intergroup relation.or. Soekadijo. Kemiskinan Struktural : Suatu Bunga Rampai.Y. & LeCompte. M.& Abrams. 1980. M. R. 1978. Selo Soemardjan 1980. Tan. Ethnography And Qualitative Design on Educational Research.Y.P.K. Tajfel.3. 2001. remaja marjinal pengamen jalanan dan keluarga. J. Jakarta : Erlangga Bryman. Rediscovering the social group : A Selfcategorization theory. H. and Winston Tajfel. 1987. Astutik. Case Study Research : Design and Methods. New York. New York. Perlu dibangun sebuah komunikasi dialogis segitiga antara pemerintah atau lembaga yang terkait.: Holt. Social Identification: A Social Psychology of Intergroup relations and Group Processes. C.Q.A. 12 No. USA : Oxford University Press. 1979. N.P.damandiri.G. & Turner. DAFTAR PUSTAKA Tajfel. 1980. Roger M. Pengembangan Model Pembinaan Anak Jalanan melalui Rumah Singgah di Jawa Timur. Turner.: Academic Press.php?q=Surabaya Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1981. 1992. Participation Observation. Rinehart. Beverly Hills. Human Groups and Social Categories: studies in the Social Psychology.C. Social Research Methods. Beverly Hills. N. Alfian. Differentiation between social gorups : Studies om the social psychology of intergroup relation.C. H. CA. 1984.K. 1 41 . U. London : Routledge. CA : Sage Publications Hogg. Cambridge : Cambridge University Press Goetz.A. sehingga diperoleh kesepahaman. J.D. :Sage Publication Spradley. Mely G. 1987. Alan. J. 1988. M. (edisi kedua).id / search. London: Academic Press. Keesing. Alih bahasa : R. D. Dalam www. Blackwell : Oxford Yin. Qualitative Evaluation Methods. 2004. Dwi. H.

Purwokerto : tidak diterbitkan Sumber lain : Astutik.Littlejohn.Stephen W. Dwi. Muhayatun 2006.or. 12 No. (7ed). diakses pada 2 Juli 2008 42  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2004. diakses 9 Juli 2008 Pemerintah Kabupaten Banyumas. Dalam www. 1 . 2003.banyumas.damandiri.id. Pengembangan Model Pembinaan Anak Jalanan Melalui Rumah Singgah di Jawa Timur. USA : Wadsworth /Thomson Learning Lustig. 2002.go. Intercultural Competence :Interpersonal Communication across Cultures. Myron W. Theories of Human Communication. USA : Allyn & Bacon Musyarofah. Dalam www. Jolene.id. & Koester. Konsep Diri Anak Jalanan (Studi Deskriptif Konsep Diri Anak Jalanan di Terminal Purwokerto dengan Menggunakan Perspektif Interaksi Simbolik). D. Letak Geografis Banyumas.

teman. Sistem politik di Indonesia dari waktu ke waktu mengalami perubahan seiring dengan bergantian rezim yang berkuasa. status pendidikan memiliki status ekonomi tinggi. putra daerah baik itu pada budaya mataraman. kalangan profesional. kesamaan jenis kelamin terutama pada budaya arek.PERILAKU POLITIK PEMILIH PADA PEMILIHAN GUBERNUR JAWA TIMUR PERIODE 2008-2013 Irtanto* Abstraksi Penelitian ini bersifat eksploratif dengan pendekatan kualitif bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi pemilih kandidat gubernur Jawa Timur periode 2008-2013. budaya. agama. pengalaman memimpin organisasi. 1 43 . Sedangkan sumber informasi tentang pilgub kebanyakan media massa televisi. iklan politik. orang yang lebih tua usianya. kandidat. kredibilitas calon. Irtanto adalah peneliti politik dan pemerintahan pada Balitbang Propinsi Jawa Timur. Di era reformasi sistem politik demokrasi mengalami penguatan dan legitimate sebagai harapan akan munculnya ruang partisipasi politik yang semakin transparan. intelektual. Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku politik pemilih pilgub periode 2008-2013 antara lain seagama. 12 No. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preferensi pemilih lebih banyak karena kesamaan asal daerah. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. budaya pendalungan dan budaya arek. Kata Kunci: pemilihan gubernur. isu-isu kampanye menarik. Transparansi dan terbukanya ruang partisipasi dalam sistem politik * Drs. visi dan misi kandidat. pilihan. PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Perilaku politik massa tentu tidak lepas dari pengaruh faktor budaya dan sistem politik yang berlaku saat itu. dan program kerja yang jelas.

Sistem Pilkada langsung oleh rakyat yang telah menggeser sistem perwakilan. Konsekuensi perubahan sistem pemilihan rakyatlah yang menentukan pilihan politik bukan lagi pada sekelompok elit politik yang namanya legislatif. Sistem Pilkada langsung lebih menjanjikan dibandingkan sistem yang berlaku sebelumnya.demokrasi sangat dirasakan oleh masyarakat Indonesia sejak pemilu 2004. Akibatnya iklan-iklan politik bertebaran dimana-mana dalam bentuk baliho maupun bentuk lainnya seperti memanfaatkan media massa baik media cetak maupun media elektronika. merekapun mencoba-coba untuk menawarkan berbagai janji-janji politiknya. Soetjipto-Ridwan Hisyam (SR) diusung oleh 44  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Dalam pilgub Jawa Timur 2008-2013 diikuti oleh lima kandidat.1/71/KPU-Jtm/VI/2008 tentang penentuan dan penetapan nomor urut pasangan calon kepala daaerah dan wakil kepala daerah. dan kultur arek. kultur mataraman. Perkembangan politik lokal di Jawa Timur cukup menarik publik terutama persoalan pemilihan gubernur Jawa Timur. 12 No. terutama pilkada langsung berupa Pilgub Jawa Timur periode 2008-2013. maka pasangan calon gubernur dan wakil gubernur periode 2008-2023 yang dapat memenuhinya adalah sebagai berikut: Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (Kaji Mantep) diusulkan oleh PPP dan Partai Patriot. Demikian pula banyak latar belakang geografis seperti desa dan kota. sehingga masyarakat di daerah memiliki kesempatan untuk memilih secara bebas pemimpin daerahnya. Berdasarkan berita acara Komisi Pemilihan Umum Propinsi Jawa Timur Nomor: 821. 1 . kultur pendalungan. Melalui iklan politiknya. Latar belakang kultur maupun geografis tersebut diperkirakan akan mempengaruhi pilihan politiknya. Pilkada langsung termasuk pemilihan gubernur Jawa Timur diyakini memiliki kapasitas yang memadai untuk memperluas partisipasi politik masyarakat. baik partai politik maupun kandidat kepala daerah harus mendekat pada rakyat. Strategi pendekatan terhadap publik sebagai pemilik suara banyak dilakukan oleh para calon kandidat kepala daerah. Masyarakat Jawa Timur mempunyai banyak latar belakang kultur. Pilkada langsung merupakan munculnya berbagai varian preferensi pemilih yang menjadikan berbagai faktor determinan dalam melakukan tindakan politiknya untuk mengapresiasi sistem politik demokrasi tersebut. demikian pula demokratisasi di tingkat lokal Sistem politik demokratis semakin dirasakan masyarakat Jawa Timur.

Pemahaman terhadap pengelompokan sosial baik secara formal. jenis kelamin. umur. ataupun kelompok kecil lainnya memiliki peranan besar dalam membentuk sikap. organisasi profesi. 3) Bagaimana pendapat publik terhadap nilai-nilai demokrasi dalam pilgub ? 4) Media apa yang dipakai untuk memperoleh informasi tentang pilgub Jatim ?.PDIP. dan sebagainya) merupakan faktor penting dalam menentukan pilihan politik. rasional dan struktural sosial. 2) Faktor-faktor apa yang memengaruhi perilaku politik pemilih pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur periode 2008-2013?. persepsi. KERANGKA PEMIKIRAN Pendekatan Perilaku Pemilih 1. 1 45 . Pendekatan Sosiologis Pendekatan ini pada dasarnya menjelaskan bahwa karakteristik sosial dan pengelompokan-pengelompokan sosial mempunyai pengaruh yang cukup signifikan dalam menentukan perilaku memilih seseorang. 5) Kapan mereka menentukan pilihan politiknya ? Lingkup Penelitian Penelitian tentang perilaku memilih Gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 ini dilaksanakan pada bulan Juli 2008 sampai Desember 2008 yang difokuskan pada ruang lingkup perilaku yang pendekatan dilihat dari sisi sosiologi. pertemanan. Karakteristik sosial (seperti pekerjaan. maupun pengelompokan informal seperti keluarga. Achamady-Suhartono (Achsan) dicalonkan PKB dan Soekarwo-Syaifullah Yusuf (Karsa) dicalonkan oleh Partai Demokrat dan PAN. seperti kelompok keagamaan. wilayah. dan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Soenaryo-Ali Maschan Musa (Salam) diusung oleh Partai Golkar. pendidikan dan sebagainya) dan karakteristik atau latar belakang sosiologis (seperti agama. psikologis. 12 No. Perumusan Masalah Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana preferensi pemilih kandidat gubernur Jawa Timur periode 2008-2013?.

(Anwar. seperti desa-kota. bukan hanya terbelenggu oleh karakteristik sosiologis tetapi juga bebas bertindak. Gerald Pomper (dalam Asfar. Faktor-faktor situasional itu bisa berupa isu-isu politik ataupun kandidat yang dicalonkan. para pemilih tidak hanya pasif tetapi juga aktif. 3. (Lipset. yaitu ikatan emosional pada suatu partai politik. 1995: 1346-1353) Aspek geografis mempunyai hubungan dengan perilaku memilih. yang nanti sebagai dasar atau preferensi dalam menentukan pilihan politiknya. 2006: 140) Dalam berbagai ragam perbedaan struktur sosial. yaitu variabel predisposisi sosial-ekonomi keluarga pemilih dan predisposisi sosialekonomi pemilih. apakah preferensi politik ayah atau preferensi politik ibu akan berpengaruh pada preferensi politik anak. Pendekatan Psikologis Pendekatan ini menjelaskan bahwa sikap seseorang-sebagai refleksi dari kepribadian seseorang. predisposisi sosial pemilih dan keluarga pemilih mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku memilih seseorang. Preferensi-preferensi politik keluarga.orientasi seseorang. merupakan faktor-faktor yang cukup signifikan dalam menjelaskan aktivitas dan pilihan politik seseorang.Ikatan kedaerahan terutama sangat kuat dalam mempengaruhi pilihan seseorang terhadap kandidat. Dengan begitu. 12 No. Penelitian-penelitian Rose di Norwegia menunjukkan bahwa ikatan-ikatan kedaerahan. 2006) memerinci pengaruh pengelompokan sosial dalam studi voting behavior ke dalam variabel. merupakan variabel yang cukup menentukan dalam memengaruhi perilaku politik seseorang. 1984: 9-12) Pendekatan psikologis menganggap sikap merupakan variabel sentral dalam menjelaskan perilaku politik seorang. Pendekatan psikologis menekankan pada tiga aspek psikologis. 1 . yang paling tinggi pengaruhnya terhadap perilaku politik adalah faktor kelas (status ekonomi). (Asfar. (Niemi and Herbert F. Adanya rasa kedaerahan memengaruhi dukungan seseorang terhadap partai politik. 2004 : 23-24). orientasi terhadap isu-isu dan orientasi terhadap kandidat. Pendekatan Rasional Ada faktor situasional yang ikut perperan dalam mempengaruhi pilihan politik seseorang. 2. Menurutnya. Dengan demikian isu-isu politik menjadi pertimbangan 46  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Weisberg.

sistem pemilihan umum. kecamatan. Peran Media Massa Peran media massa sangat penting dalam memengaruhi pemilih. Para pemilih akan menentukan pilihan berdasarkan penilaiannya terhadap isu-isu politik dan kandidat yang diajukan. dan kabupaten. sistem partai. 12 No. seperti jenis kelamin. pendapatan. Pendekatan sosiologis cenderung menempatkan kegiatan memilih dalam kaitan dengan konteks sosial. karena merekalah salah satu profesi penting yang memiliki perangkat dan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat luas. Sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah mereka Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. pendidikan. Komunikasi politik kerapkali terjadi secara tidak langsung melalui pemberitaan-pemberitaan yang dilakukan oleh media massa. Seseorang memilih kontestan atau kandidat tertentu dapat dilihat dari lima pendekatan yakni pendekatan struktural melihat kegiatan memilih sebagai produk dari konteks struktur yang luas.yang penting. Pendekatan psikologi sosial. pilihan seseorang dipengaruhi latar belakang demografi dan sosial ekonomi. pekerjaan. seperti struktur sosial. 1 47 . Salah satu kunci persaingan politik adalah media massa.2008:265) METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN Penelitian ini bersifat eksploratif dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengambil lokasi penelitian di wilayah Jawa Timur. kelas. permasalahan dan program yang ditonjolkan.(Firmansyah. Media massa ini diartikan sebagai suatu entitas yang memiliki peran dan fungsi untuk mengumpulkan sekaligus mendistribusikan informasi dari dan ke masyarakat. Pendekatan pilihan rasional melihat kegiatan memilih sebagai produk kalkulasi untung dan rugi. kelurahan. dan agama. Efektivitas komunikasi politik membutuhkan peran serta media massa. Pendekatan ekologis cenderung hanya relevan apabila dalam suatu daerah pemilihan terdapat perbedaan karakteristik pemilih berdasarkan unit teritorial seperti desa. tempat tinggal (kota-desa). secara emosional dirasakan sangat dekat dengan partai politik atau kandidat. Mereka melihat adanya analogi antar pasar (ekonomi) dan perilaku memilih (politik).

12 No. Masing-masing daerah penelitian yang menjadi lokasi penelitian masing-masing ditentukan sebanyak 200 orang. diwakili oleh Kabupaten Blitar dan Kota Kediri serta Kabupaten Blitar dan Kota Blitar. Metode penentuan sampel dengan sistem kuota atas dasar mereka mempunyai hak-hak politik dalam pilgub Jatim 2008-2013. Daerah tapalkuda yang identik dengan budaya pendalungan yang didominasi dengan budaya Madura diwakili oleh daerah penelitian Kabupaten Banyuwangi. maka pengambilan sampel menggunakan sistem acak yang dapat mewakili tiga budaya yang ada di Jawa Timur. Menurut pengakuan mereka mayoritas beragama Islam.2008:135). Sedangkan untuk mengumpulkan data primer dengan menggunakan instrumen daftar pertanyaan yang semi terstruktur baik terbuka maupun tertutup dengan mewancarai pemilih pada pilgub Jatim 20082013. Pengumpulan data kualitatif berupa data sekunder dilakukan dengan studi dokumentasi. Kemudian budaya arek akan diwakili oleh Kota Surabaya dan Kota Mojokerto. 2007). Daerah penelitian adalah dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut. Adapun sasaran pendistribusian kuesioner adalah para pemilih yang terpilih dengan mempertimbangkan penelitian yang bersifat deskriptif dan eksploratif.yang sudah memiliki hak-hak politik dalam pilgub 2008-2010. Sedangkan mereka 48  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Setelah data terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknis analisis komparasi (Muhadjir. Selain itu pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan jenis penelitian fenomenologi yang berusaha memahami perilaku manusia dari segi kerangka berpikir maupun bertindak orang itu sendiri (Upe. Pengumpulan data menggunakan teknik wawancara dengan instrumen kuesioner tertutup dan terbuka kepada mereka yang mempunyai hak politik pada Pilgub Jatim. TEMUAN DAN PEMBAHASAN Identitas Reponden Responden sebanyak 600 orang pemilih calon gubernur Jawa Timur memiliki agama yang berbeda satu sama lainnya. 1 . Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo. Sedangkan budaya mataraman. sehingga semua responden sebanyak 600 orang.

0%) dan budaya arek (30. Walaupun demikian mereka yang memiliki budaya mataraman (30. Mereka yang mempunyai budaya pendalungan ada kesamaan dalam memilih kandidat gubenur Jatim periode 2008-2013 baik pada putaran pertama maupun kedua.0%.berjenis kelamin laki-laki 57. Pendidikan responden bervariasi yaitu lulusan SD sebanyak 15. Mereka yang mempunyai budaya pendalungan yang kebanyakan menempati daerah tapalkuda yaitu di daerah bagian pantai utara Jawa Timur yang menggunakan bahasa sehari-harinya bahasa Madura dalam memilih kandidat gubernur mempunyai kecenderungan yang sama dalam memilih terutama mereka tidak mempertimbangkan kesamaan parpol (54. Hampir relatif sama dengan mereka yang memiliki budaya mataraman. 12 No.0%). Responden yang diambil sebagai sampel di daerah Mataraman ini kebanyakan Suku Jawa yaitu sebanyak 85. Mereka yang memiliki budaya arek juga tidak mempersoalkan latar belakang parpol kandidat gubernur (58. bahkan ada pula yang sangat pertimbangan kesamaan parpol dalam memilih calon gubernur.0%.0%. mereka dalam memilih tidak mempertimbangkan pula asal parpol atau partai apa yang mencalonkannya.0%.0%.0% dan Sarjana/Pasca Sarjana sebanyak 16.0% dan perempuan 43. SLTA sebanyak 36. SMP sebanyak 19.0%). dan Keturunan Thionghoa sebanyak 14. Bagaimana mereka yang mempunyai latar belakang budaya pendalungan.0%.0%). Demikian pula mereka yang memiliki budaya mempunyai kecenderungan yang sama pula dalam memilih kandidat gubernur Jatim 2008-2013. budaya pendalungan (35.0%) ada yang mempertimbangkan kesamaan parpol.0%. mereka yang menyatakan tidak mempertimbangkan soal latar belakang parpol kandidat sebanyak 63. Perilaku dalam memilih ada kecenderungan yang sama dengan mereka yang mempunyai budaya mataraman. mereka yang menempati daerah tapalkuda. Akademi sebanyak 14. Preferensi Pemilih Kandidat Gubernur : Perbandingan Budaya Dalam realitasnya mereka yang mempunyai budaya mataraman dalam memilih kandidat gubernur Jatim periode 20082013 cenderung tidak mempertimbangkan latar belakang kesamaan parpol yang mereka pilih pada saat pemilu 2004 yang lalu.0%. ada Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%. budaya pendalungan dan budaya arek. Suku Madura 1. 1 49 .

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kesamaan antara mereka yang berbudaya mataraman.0%. budaya arek mempertimbangkan asal daerah dalam memilih calon gubernur Jatim menjadi salah satu faktor yang ikut mewarnainya. Hal yang sama terjadi pada budaya pendalungan yang menyatakan putra daerah dipertimbangkan untuk dipilih sebanyak 57. 1 . Mereka yang mempunyai budaya mataraman. Kondisi seperti ini dapat dilihat bahwa mereka yang memiliki budaya mataraman yang menyatakan mempertimbangkan dan sangat mempertimbangkan putra daerah untuk dipilih sebanyak 63. Tampaknya ada kesamaan dalam mempertimbangkan kandidat apakah berasal dari daerah atau tidak. pendalungan dan arek sama-sama lebih mempertimbangkan putra daerah. 12 No. pendalungan maupun arek yang mempertimbangkan untuk memilih kandidat yang 50  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Demikian juga mereka yang memiliki budaya arek. artinya mereka lebih menghendaki yang menjadi gubernur berasal dari daerah Jawa Timur. Hal ini terbukti mereka yang tinggal di daerah budaya mataraman sebanyak 53. Dan mereka yang menyatakan sangat mempertimbangkan pada budaya mataraman 15.0% mempertimbangkan. budaya pendalungan maupun budaya arek dalam memilih calon gubernur masih ada unsur pertimbangan primordialisme yaitu latar belakang agama calon gubernur. pemuka agama dalam pilgub Jatim periode 2008-2013 baik putaran pertama maupun putaran kedua jumlahnya sangat besar.kecenderungan dalam memilih calon gubernur tidak mempertimbangkan parpol yang mengusungnya atau mereka cenderung meninggalkan parpol yang mereka pilih pada pemilu tahun 2004. dalam realitasnya pada budaya mataraman. budaya pendalungan mereka bertempat tinggal di daerah tapalkuda sebanyak 51. Apakah latar belakang putra daerah dijadikan referensi dalam memilih kandidat gubernur Jawa ? Mereka yang mempunyai latar belakang budaya mataraman. pada budaya pendalungan 21. sebanyak 4. Dengan demikian mereka yang mempertimbangkan asal agama.0% yang menyatakan dipertimbangkan.0%.0% yang menyatakan putra daerah sangat dipertimbangkan untuk memilih dan sebanyak 66.0% mempertimbankan agama kandidat gubernur.0%.0 dan pada budaya arek sebanyak 20.0% mempertimbangkan.0% dan mereka yang menyatakan sangat dipertimbangkan sebanyak 6. dan budaya arek sebanyak 72. budaya pendalungan.0%.

berpengalaman untuk memimpin sebuah organisasi. Demikian juga mereka yang memiliki budaya pendalungan lebih cenderung kandidat yang profesional dipertimbangkan untuk dipilih (72. 12 No.0%).0%) yang mempersyaratkan status pendidikan calon berpendidikan tinggi. profesional dalam mengurus organisasi massa lainnya dijadikan referensi untuk dipilih dalam pilgub Jatim 2008-2013.0%). Demikian pula hal yang hampir sama terjadi pada mereka yang mempunyai latar belakang budaya pendalungan cenderung mempertimbangkan status pendidikan kandidat gubernur (57.0%) bahkan ada yang sangat dipertimbangkannya (12. Mereka yang memiliki budaya mataraman dalam memilih juga lebih cenderung mempertimbangkan status pendidikan kandidat gubernur (63. 1 51 . Dengan demikian masalah status pendidikan dan tentunya kemampuan intelektualitasnya serta kredibilitasnya dijadikan hal yang sangat penting dalam pemilihan gubernur. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Tampak sekali hasil penelitian menunjukkan bahwa kandidat yang profesional dalam menangani sebuah organisasi birokrasi. Hal yang sama terjadi pada mereka yang memiliki budaya arek. Demikian pula pada budaya arek ada kecenderungan kuat pula kandidat yang profesional dipertimbangkan untuk dipilih (88.0%).0%) yang mempersyaratkan status pendidikan calon berpendidikan tinggi.0%). bahkan mereka ada pula yang sangat mempertimbangkan status pendidikan calon (16. mereka lebih cenderung kandidat yang memiliki latar belakang pengalaman memimpin organisasi dipertimbangkan untuk dipilih (61.0%). ataupun organisasi partai politik maupun ormas. meliter.0%). Demikian pula mereka yang memiliki budaya arek lebih cenderung status pendidikan dipertimbangkan untuk dipilih (74.0%) pengalamannya dalam memimpin sebuah organisasi apakah organisasi itu formal pemerintahan.0%). Pada budaya mataraman ada kecenderungan kandidat yang profesional dipertimbangkan untuk dipilih (74. bahkan mereka ada pula yang sangat mempertimbangkannya untuk dipilih dalam pilgub Jatim periode 2008-2013.0%) bahkan ada yang sangat mempertimbangkan (14. Demikian juga mereka yang berbudaya pendalungan banyak yang menyatakan mempertimbangkannya (61. Mereka yang berbudaya mataraman lebih memilih mempertimbangkan kandidat yang berpengalaman untuk memimpin sebuah organisasi (71. bahkan ada yang sangat mempertimbangkannya (11.0%).

tetapi dari sisi jumlahnya sangat relatif kecil sekali. sedangkan mereka yang menyatakan dipertimbangkan sebanyak 87. baik itu putaran pertama maupun putaran kedua. Selain persyaratan intelektualitas kandidat yang menjadi salah satu pertimbangan dalam memilih juga ketertarikan isu-isu kampanye yang menarik.0% dan mereka yang mempertimbangkannya sebanyak 72. Pada budaya mataraman mereka yang menyatakan sangat mempertimbangkan intelektualitas kandidat sebanyak 13.Latar belakang intelektualitas kandidat menjadi pertimbangan pula dalam pilgub Jatim periode 2008-2013.0% dan mereka yang menyatakan sangat dipertimbangkannya sebanyak 6. dan mereka yang menyatakan sangat mempertimbangkan isu-isu kampanye sebanyak 9. 1 .0%. Kredibilitas kandidat gubernur Jawa Timur memengaruhi perilaku politik pemilih baik itu budaya mataraman. pendalungan maupun budaya arek. Namun demikian ada pula yang tidak mempersoalkan kemampuan intelektualitas kandidat. Kondisi ini dapat dilihat pada budaya mataraman. 12 No. yaitu pada budaya mataraman mereka yang menyatakan kredibilitas calon sangat dipertimbangkan untuk dipilih dalam pemilihan gubernur Jawa Timur yaitu sebanyak 31.0%. demikian pula tentunya terjadi pada budaya pendalungan maupun budaya arek isu-isu kampanye menarik salah satu menjadi perhatian para pemilih. dan mereka yang menyatakan dipertimbangkanya sebanyak 66. dan mereka yang menyatakan sangat dipertimbangkan sebanyak 11. Hasil penelitian membuktikan hal itu.0%.0%. Demikian juga yang terjadi pada budaya pendalungan isu-isu kampanye menarik dijadikan pertimbangan sebanyak 65. Hal ini bisa dilihat pada budaya mataraman mereka mempertimbangkan memilih karena isuisu kampanye sebanyak 61.0%.0%.0%.0%. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada mereka yang memiliki budaya pendalungan.0%). Dengan demikian kalau kedua 52  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%. Demikian juga pada budaya arek yang menyatakan sangat dipertimbangkan kemampuan intelektualitasnya sebanyak 8. pendalungan maupun arek. bahkan mereka yang menyatakan dipertimbangkannya sebanyak (72.0%. intelektualitas kandidat sangat dipertimbangkan sebanyak 15. Para pemilih yang berada di lingkungan yang mempunyai budaya mataraman isu-isu kampanye menjadi salah satu pertimbangan untuk memilih.0%. Sedangkan budaya arek isu-isu kampanye yang dijadikan pertimbangan untuk memilih gubernur sebanyak 76.

Namun sebaliknya faktor agama pada budaya mataraman (61.0%) dan budaya arek (80.0% yang menyatakan kredibilitas calon dipertimbangkan untuk dipilih. Dengan demikian mereka semua yang mempertimbangkan kredibilitas calon untuk dipilih pada pilgub Jatim. Berbeda dengan saran dari orang yang lebih tua usianya dalam memilih tampaknya mempunyai pengaruh. Hasil temuan ini menggambarkan bahwa kredibilitas calon sangat memengaruhi perilaku politik pemilih pada pilgub Jatim.0%). Demikian pula mereka yang mempunyai budaya pendalungan.0%). perilaku politik mereka pada pilgub Jatim dipengaruhi oleh kredibilitas calon. mereka yang tinggal di wilayah pantai utara Jawa Timur yang dikenal dengan daerah tapalkuda memperlihatkan bahwa perilaku politik pada pilgub Jatim dipengaruhi juga oleh kredibiltas calon. walaupun pengaruhnya tidak dominan sekali. Tampaknya fatwa ulama pada budaya tertentu tidak begitu memengaruhi pilihan politik pemilih. maupun bentuk lainnya. Faktor yang Memengaruhi Pilihan Politik Pemilih gubernur dalam menentukan pilihannya tampak terlihat lebih independen tidak dipengaruh oleh atasan dalam bekerja. budaya pendalungan dan budaya arek perilaku politiknya dipengaruhi iklan politik. Hal yang sama terjadi pada budaya arek. budaya pendalungan (58.0% menyatakan kredibilitas calon sangat dipertimbangkan dan sebanyak 61. Hasil penelitian membuktikan sebanyak 39. tetapi pada budaya tertentu masih efektif untuk memengaruhi perilaku politik pemilih. budaya pendalungan (70. 12 No.0%. Iklan politik efektif memengaruhi perilaku politiknya dapat dibuktikan bahwa mereka yang menyatakan memengaruhi cenderung besar jumlahnya.0%) dan budaya arek (76. Fatwa ulama masih mempunyai pengaruh terhadap perilaku pemilih pada budaya pendalungan yang mereka tinggal di daerah tapalkuda. baik itu dalam bentuk kampanye maupun iklan politik berupa baliho. baik itu mereka yang memiliki budaya mataraman (77. 1 53 .0%) cenderung dijadikan pertimbangan untuk menentukan pilihan politiknya dalam pilgub Jatim 2008-2013.0%).hal antara mereka yang sangat mempertimbangkan dan yang mempertimbangkannya jumlahnya sangatlah besar yaitu sebanyak 97. yaitu Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. bahkan mereka ada sebagian yang menyatakan sangat memengaruhi dalam menentukan pilihan politiknya. Mereka yang mempunyai budaya mataraman.

Mereka mengenal pasangan calon gubernur Khofifah-Mudjiono baik yang memiliki budaya mataraman. Probolinggo. 12 No. baik itu dari media massa elektronik. Lumajang. Situbondo dan Banyuwangi. Demikian juga pasangan kandidat pasangan SoekarwoSaifullah dikenal oleh para pemilih lewat media televisi. Bukan berarti media lainnya tidak digunakan. umbul-umbul. selebaran. radio maupun televisi. Namun mereka ada pula yang menyatakan tidak memengaruhinya (40. PNS. Mereka yang memperoleh informasi pemilihan gubernur langsung dari akses media massa tersebut dari berbagai kalangan profesi. Hal ini dapat dibuktikan bahwa sebanyak 10. tetangga. baliho. pegawai BUMN/BUMD. Bondowoso. organisasi keagamaan dan organisasi partai politik.0%). Mereka yang menyatakan tidak berpengaruh ini kebanyakan pemilih rasional dan rata-rata berpendidikan tinggi dan ada pula yang berpendidikan SLTA. Media radio lebih banyak digunakan oleh masyarakat memiliki budaya arek. mahasiswa. dan berbagai kalangan pendidikan baik berpendidikan tidak sekolah sampai sarjana/pascasarjana serta mereka yang aktif di berbagai organisasi maupun yang tidak aktif yang kapasitasnya sebagai pengurus dan sebagai anggota. Jember. TNI/Polri. namun jumlahnya relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan media televisi. guru.0% menyatakan berpengaruh. pengusaha. karyawan swasta. kampanye/rapat umum.daerah Pasuruan. baik itu sebagai dosen. budaya pendalungan dan budaya arek lebih banyak mengenalnya lewat televisi. Sedangkan media massa surat kabar hampir merata digunakan oleh semua kalangan yang baik yang memiliki budaya 54  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0% yang menyatakan sangat berpengaruh dan sebanyak 50. teman. wiraswasta. media cetak seperti surat kabar harian (Koran). Sumber Informasi Sumber informasi tentang pemilihan gubernur langsung yang mereka peroleh beraneka ragam. Tampak bahwa media televisi lebih efektif dijadikan sarana kampanye dari pada media lainnya. 1 . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber informasi yang mereka dapatkan tentang kandidat calon gubernur kebanyakan bersumber dari media televisi. Fatwa ulama tidak begitu mempunyai pengaruh terhadap perilaku pemilih yang mempunyai budaya mataraman maupun mereka yang memiliki budaya arek.

elektronika dan cetak. Tidak Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. budaya pendalungan dan budaya arek. serta mereka memperoleh informasi atau mengenal kandidat berasal dari selebaran/baliho. Namun mereka ada yang berpendapat bahwa pilgub langsung tidak membatasi pengaruh konfigurasi politk DPRD dengan gubernur terpilih. Mereka yang berpendapat seperti ini sebagian kecil berbudaya mataraman (9. Namun mereka ada yang tidak setuju bahkan tidak tahu menahu apakah kepala daerah akan memosisikan sebagai representasi rakyat ataukah tidak.0%). budaya pendalungan (11.0%) dan budaya arek (87. seperti pada proses laporan pertanggung jawaban kepala daerah. Mereka yang berpandangan seperti ini kebanyakan memiliki budaya mataraman (84.0%).0%). organisasi partai politik.0%). Mereka kebanyakan berpendapat bahwa dengan adanya pilgub langsung akan berdampak positif terhadap praktekpraktek politik uang atau paling tidak mengurangi praktek politik uang dalam proses pilgub.0%).0%). budaya pendalungan (69. 1 55 . sehingga pemerintahan menjadi lebih efektif. Dengan adanya pilgub langsung tersebut legitimasi pemerintahan daerah lebih kuat. dan budaya arek (8.0%).mataraman. baik itu budaya mataraman (81. umbul-umbul. Praktek politik uang tidak lagi berada hanya pada elit politik seperti pada masa berlakunya UU No 22 tahun 1999. dan budaya arek (82. budaya pendalungan (80. dan budaya arek (66. Tidak ketinggalan juga mereka memperoleh informasi berasal dari media televisi dan radio. 12 No.0%). budaya pendalungan (81. Dari sinilah terlihat dengan jelas mereka mengenal program-program kampanye lewat berbagai media tersebut. tetapi jumlah mereka hanya relatif kecil sekali.0%) mempunyai kecenderungan yang sama dalam memandang pilgub langsung.0%). Pendapat Publik Terhadap Nilai-nilai Demokrasi Proses Demokratisasi Dalam pilgub langsung dipandang oleh sebagian besar rakyat yang memiliki budaya mataraman (75. Mereka yang mengandalkan sumber informasi pilkada langsung tersebut selain tersebut di atas juga berasal dari organisasi keagamaan.0%) siapapun yang terpilih akan memosisikan sebagai representasi rakyat. Mereka berpandangan seperti itu dikarenakan gubernur terpilih akan sulit dijatuhkan oleh DPRD kecuali ada kasus pidananya. Mereka yang memiliki ketiga budaya.

Mereka baik yang memiliki budaya mataraman (83.0%) cenderung mempunyai keyakinan bahwa pilgub langsung dengan perangkat UU No. 1 . Mereka yang mempunyai pandangan seperti ini relatif sama pada ketiga budaya mataraman (95.0%) sebagian besar mempunyai keyakinan bahwa pilgub langsung akan muncul kepada 56  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%) dan budaya arek (84. budaya pendalungan (77. 32 tahun 2004 akan berdampak positif terhadap menegakkan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.0%) dan budaya arek (82. pendalungan (79. TNI/Polri. Mereka yang menyatakan seperti ini di kalangan mereka yang memiliki budaya mataraman (89. guru. 12 No.0%). dosen. Mereka yang berpendapat seperti itu kebanyakan profesinya sebagai mahasiswa. wiraswasta.0%). Walaupun demikian mereka ada yang tidak tahu-menahu akan persoalan partisipasi politik rakyat di daerahnya. dan dengan keterlibatan rakyat secara langsung akan berdampak pada peningkatan demokratisasi di tingkat lokal. Tidak selamanya pemimpin dapat menyelesaikan secara sendirian ada faktor lain yang ikut berperan. pendalungan (88. budaya pendalungan (88.0%).0%) dan budaya arek (96.0).0%). Bagaimana hubungannya dengan kualitas gubernur teripilih?. pilgub langsung selain akan mengurangi praktek-praktek politik uang hal ini diakui oleh sebagian besar mereka yang memiliki budaya mataraman (81. Namun mereka sedikit yang tidak mengakui bahwa dengan pilgub langsung tidak akan meningkatkan partisipasi politik dan keterlibatan rakyat secara langsung tidak selalu akan meningkatkan demokratisasi di tingkat lokal. Keyakinan Rakyat Terhadap Pilgub Mereka baik yang memiliki budaya mataraman (92. budaya pendalungan (80.0%). PNS. rakyat akan dapat menentukan siapa calon pemimpinnya yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan di daerah.0%) dan budaya arek (90.itu saja.0%). Pilgub langsung juga akan meningkatkan partisipasi politik. wartawan dan berpendidikan peguruan tinggi serta mereka kebanyakan aktif di organisasi.0%). Namun mereka ada yang tidak sependapat kalau pilgub langsung tersebut akan dapat menentukan pemimpin yang mampu menyelesaikan persoalan di daerah.0) dan mereka yang memiliki budaya arek (87. Mereka rupanya sebagian besar sepakat bahwa dengan pilgub langsung.

RT.0%). Polri/TNI. SLTP maupun sebagian besar SLTA serta mereka bukan aktifis organisasi. mahasiswa. pengusaha dan aktifis organisasi baik di parpol. PNS. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.0%). sarjana. Namun mereka tidak semua berkeyakinan gubernur terpilih lebih berkualitas. hal ini terbukti masih ada budaya mataraman (9. kebanyakan aktif di organisasi LSM. masih minimnya NGO atau tidak ada lembaga independen untuk mengontrol kekuasaannya. Mereka yang berpendapat publik tidak mudah untuk melakukan kontrol kebanyakan berpendidikan akademi sampai pascasarjana. LSM. pendalungan (90. namun tidak menjamin soal kualitasnya. guru. berpendidikan SD. wiraswasta.0%) dan budaya arek (10. mahasiswa. PNS. Mereka melihat masih ada kelemahannya yaitu civil society masih belum berkembang. Mereka yang tidak tahu menahu soal kualitas tidaknya gubernur terpilih kebanyakan profesinya sebagai petani penggarap. profesinya sebagai dosen. 12 No. pendalungan (17. sedangkan profesinya sebagai PNS. aktif di organisasi dan berpendidikan menengah ke atas. Mereka sebagian besar berkeyakinan bahwa dengan adanya pilgub langsung akan mampu meningkatkan pelayanan pemerintah kepada rakyatnya. pendalungan dan budaya arek kebanyakan mempunyai keyakinan bahwa dengan adanya pilgub langsung publik akan lebih mudah melakukan kontrol. Mereka baik yang memiliki budaya mataraman. Mereka yang memiliki budaya mataraman (91. wiraswasta.0%) dan budaya arek (81. Bahkan mereka ada sebagian kecil yang tidak tahu menahu soal apakah dalam pilgub tersebut akan memunculkan kepala daerah yang berkualitas atau tidak. mahasiswa. TNI/Polri dan pegawai BUMN/BUMD.daerah yang lebih berkualitas. maupun PKK. Mereka yang memandang bahwa pilgub langsung akan memunculkan kepala daerah yang berkualitas kebanyakan profesinya sebagai dosen. wiraswasta.0%) yang berpendapat seperti itu. Mereka yang berpendapat seperti itu kebanyakan berpendidikan akademi. ibu-ibu rumah tangga. partai politik. Walaupun calon gubernur mendapatkan suara mayoritas. Namun mereka ada yang tidak yakin bahwa publik akan mudah untuk mengontrol gubernur terpilih. Selama ini semuanya harus melalui parpol yang mau tidak mau rakyat harus memilih diantara mereka yang disodorkan oleh parpol tersebut. 1 57 .0%) cenderung berkeyakinan pilgub langsung akan berdampak positif terhadap pelayanan publik. RW. kemahasiswaan.

Mereka beralasan dengan adanya pilgub langsung. guru.Tidak semua mempunyai keyakinan bahwa pilgub langsung mempunyai dampak positif terhadap pemerintah lokal.0%) dan budaya arek (84.0%).0%). Namun ada sebagian kecil mereka yang tidak sependapat kalau pilgub langsung ini akan menghasilkan gubernur yang peka terhadap kebutuhan masyarakat. Pilgub langsung akan menciptakan stabilitas politik dan pemerintahan lokal. 1 . wiraswasta. Hal ini terjadi pada budaya mataraman (92.0%) dan budaya arek (88. karyawan swasta. rakyatlah yang menentukan pimpinannya dan rakyat akan semakin sadar akan hak-hak politiknya. Namun demikian ada sebagian kecil dari mereka yang tidak sepenuhnya sependapat bahwa pilgub langsung meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal. dosen. pengusaha. PNS. TNI/Polri. Mereka yang menyatakan demikian itu mayoritas memiliki budaya mataraman (86.0%) dan budaya arek (98.0%). Mereka sebagian besar berpendapat bahwa pilgub langsung meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal. mereka yang mempunyai keyakinan seperti ini adalah mereka yang mempunyai budaya mataraman (90. pegawai BUMN/BUMD. profesinya sebagai mahasiswa. pendalungan (76. pendalungan (73. Namun sebagian kecil lainnya mereka menyatakan bahwa pilgub langsung tidak menjamin dapat menciptakan stabilitas politik dan pemerintahan di tingkat lokal Aspek Pembelajaran Politik Pilgub langsung mempunyai aspek pembelajaran politik.0%). transparan dan mampu mengelola sumber daya. Mereka yang mempunyai pendapat bahwa pilgub langsung dapat menciptakan stabalitas politik kebanyakan berpendidikan lulus SLTA sampai pascasarjana. apalagi akan semakin transparan dalam mengelola anggaran daerah. Mereka yang mempunyai pendapat seperti itu kebanyakan latar belakang profesinya sebagai dosen.0%). budaya pendalungan (90.0%). 12 No. pengusaha. Mereka beralasan dengan memilihan langsung oleh rakyat merupakan implementasi demokrasi di daerah. Mereka yang melihat bahwa salah satu dampak positif pilgub terhadap kepekaan pemerintah lokal akan kebutuhan masyarakat. Birokrasi selama ini selalu tertutup dalam mengelola anggaran. terutama mereka yang memiliki budaya mataraman (2. Tetapi 58  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. berpendidikan minimal lulus SLTA dan aktifis di organisasi.0%).

kesamaan jenis kelamin Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. karyawan swasta.0%). petani penggarap dan sebagian karyawan swasta. Mereka berpendapat masyarakat lokal masih akan sulit untuk mengakses kekuasaan di tingkat propinsi. 12 No. budaya pendalungan (10. PNS. berpendidikan minimal lulus SLTA serta aktif di organisasi yang kapasitasnya sebagai pengurus maupun sebagai anggota. apalagi memengaruhi proses pengambilan keputusan untuk kepentingan masyarakat lokal. Mereka beralasan dengan adanya pilgub langsung akan tumbuh NGO atau LSM baru yang memberi peluang terhadap aktivitas politk rakyat yang dapat melakukan kontrol terhadap berbagai kebijakan pemerintah. hal ini terjadi pada budaya mataraman (6. mahasiswa. mereka yang mempunyai pendapat seperti itu terjadi pada semua budaya. KESIMPULAN Preferensi pemilih pada pemilihan gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 lebih banyak dilatar belakangi oleh beberapa hal yaitu kesamaan asal daerah. kesamaan agama.ada pula mereka yang tidak tahu menahu apakah dengan adanya pilgub langsung ini akan meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal atukah tidak. profesinya sebagai ibu rumah tangga. Hal ini terjadi di ketiga budaya. SLTP. 1 59 . Demikian juga pilgub langsung akan berdampak terhadap mengorganisir masyarakat ke dalam suatu aktivitas politik yang memberi peluang lebih besar pada setiap orang untuk berpartisipasi. guru. Disamping itu mereka sebagian besar tidak sependapat kalau dikatakan bahwa pilgub langsung mempunyai aspek pembelajaran politik terutama memperluas akses masyarakat lokal untuk memengaruhi proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat lokal. Sangat ironis masyarakat daerah dalam jangka pendek dapat mengakses kekuasaan.Mereka yang tidak tahu menahu soal itu kebanyakan latar belakang pendidikan hanya lulus SD.0%) maupun budaya arek (2.0%). mana mungkin masyarakat lokal akan dapat mengakses dan memengaruhi proses pengambilan keputusan. TNI/Polri. Hal itu masih dipengaruhi oleh masih elitisme kekuasaan dan pengaruh geografis yang jauh untuk dijangkaunya. Mereka yang mempunyai pendapat seperti itu profesinya sebagai dosen.

budaya pendalungan dan budaya arek. kredibilitas calon. mengurangi arogansi DPRD. 12 No. b. Dari aspek pembelajaran politik. Pengaruh pemilihan gubernur terhadap kinerja birokrasi. 60  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Mereka yang memiliki budaya mataraman. peka terhadap aspirasi dan kebutuhan masyarakat. sehingga pemerintahan menjadi lebih efektif. yaitu tentang a. Dengan adanya pilgub langsung akan meningkatkan kesadaran politik masyarakat lokal. pengalaman memimpin organisasi. c. kalangan professional. memiliki status ekonomi tinggi. Pemerintah lokal lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat dan akan dapat menciptakan stabilitas politik. teman atau orang lain yang status ekonominya lebih tinggi. Akuntabilitas calon yang terpilih akan lebih tinggi. kesejahteraan rakyat akan lebih diperhatikan. orang yang lebih tua usianya terutama bagi mereka yang memiliki budaya pendalungan. rakyat akan dapat menentukan pilihan calon pemimpinnya yang dianggap mampu menyelesaikan persoalan di daerah. menjamin terciptanya legitimasi pemerintahan daerah. Sedangkan sumber informasi tentang pilgub kebanyakan media massa televisi Pendapat publik terhadap nilai-nilai demokrasi pada pilgub. penguatan proses demokratisasi. Salain itu akan muncul gubernur yang lebih berkualitas. dan program kerja yang jelas. Merek juga berkeyakinan kontrol menjadi lebih mudah dilakukan oleh publik. membatasi pengaruh konfigurasi politik DPRD dengan gubernur terpilih. Tentang penguatan proses demokratisasi mereka berpendapat bahwa dengan pilgub langsung gubernur memosisikan sebagai representasi masyarakat. 1 . Karena iklan politik. Pemerintah daerah akan lebih responsif. pendalungan maupun arek berpendapat bahwa dengan pilgub langsung menegakkan kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan. Keyakinan rakyat terhadap pilgub. mengurangi praktek politik uang terutama dalam proses laporan bertanggung jawaban gubernur. Gubernur yang terpilih akan kuat legitimasinya. d.terutama pada budaya arek. Dengan adanya pilgub langsung akan meningkatkan kinerja pemerintah. keterlibatan rakyat secara langsung akan meningkatkan demokratisasi di tingkat lokal. putra daerah baik itu pada budaya mataraman. Selain itu memberi peluang lebih besar pada setiap orang untuk berpartisipasi. Faktor-faktor yang memengaruhi perilku politik pemilih pemilihan gubernur periode 2008-2013 antara lain seagama. status pendidikan calon gubernur. mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. kalangan intelektual. visi dan misi kandidat. isu-isu kampanye menarik.

Erlangga. Depari. Komunikasi Politik. dan Media. Bandung : Citra Aditya Bakti. Memahami Ilmu Politik. Komunikator. Mc. Model-Model Komunikasi. dalam Memperkokoh Otonomi Daerah Kebijakan. Yogyakarta : UII Pres. Andrews (Ed). Partai Politik dan Kebijakan Publik. 1 61 . Yogjakarta : Pustaka Pelajar. Washington DC : Congressional Quarterly Inc. Udi. Volume IV. 1992. Yogyakarta : Gajah Mada University Press.meningkatkan akuntabilitas pemerintah. Dan. Psikolgi Komunikasi. Surabaya : Java Pustaka. Rosadi. 1999. Jakarta.. Gafar. Bandung : Remaja Rosdakarya. Mc Quail. 1999.1993. 1991. Ni‟matul.. Alo. Sedangkan mereka yang memiliki budaya mataraman. Evaluasi dan Saran. Mark N. Suksesi Pilkada. Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan. 2003. Ramlan . Mufti. 1995. “Teori dan Model Penelitian Efek Agenda Setting Media Masa”. 1989. 12 No. Politik Indonesia.. Surbakti. 1995. M.. 1998. Jakarta : makalah Pendidikan dan Latihan Penelitian Deppen RI Putra. Memahami Peran Komunikasi Massa dalam Masyarakat. 2004. The Encyclopedia of Democracy. budaya pendalungan dan budaya arek dalam memutuskan untuk menentukan pilihan politik sudah ditentukan beberapa minggu sebelum mencoblosan. dalam Symour Martin Lipset. “Pemilihan Kepala daerah Secara Langsung di Era Otonomi Luas. Denis and Seven Weindahl. Jalahuddin. ………………. 2005. Afan. Franklin. Dennis. Khalayak dan Efek. Transisi Menuju Demokasi. Fadillah. Jakarta: Gramedia Widiasarana. 1995. Eduard dan Mac Colin. Rakhmat. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1996. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Pesan. Bandung : Rosdakarya Liliweri. Jakarta. Teori Komunikasi Massa. Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. DAFTAR PUSTAKA Nimmo. “Voting Behavior”. Quali. Huda. Bandung : Rosdakarya. Mubarok. Komunikasi Politik.

Peta. Upe. Subhan dkk. Prihatmoko. Yogyakarta : Fisip UPN”Veteran”. Tempointeraktif. Kajian Tentang Rasionalitas Perilaku Politik Pemilih di Era Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung. Marketing Politik. Hubungan Kepala daerah dengan DPRD. 2008. Komunikasi Politik di Indonesia : Dinamika Islam Politik Pasca Orde Baru. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Saptopo. Pemilihan Kepala daerah Langsung. Bambang Ilkobar. Firmanzah. M. Jakarta : Prestasi Pustaka. Sistim Politik Indonesia: Kestabilan. 62  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Perilaku Partai Politik Studi Perilaku Partai Politik dalam Kampanye dan Kecenderungan Pemilih pada Pemilu 2004. Pemilihan Kepala Daerah Langsung: Filsafat. 2008. Kumorotomo. Arbi. Yogyakarta : FISIP UPUN “Veteran‟. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. 2005.Thalhah M. 2006. Evaluasi dan Saran. Kekuatan Politik dan Pembangunan. Afiti. Sosiologi Politik Kontemporer. Sketsa pada masa Transisi. Pilkada Langsung dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah.com/hg/ nusa/jawamadura/2008/01/25. Joko J. Akuntabilitas Birokrasi Publik. 1 . 2004. Muhtadi. Pilkada Langsung dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. 2005. 2005. Bandung : Remaja Rosdakarya. Asep Saeful. 2008. http://www. “Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung: Garansi Moral dan Demokrasi?. Ambo. dalam Subhan Afiti (Editor). dan Akuntabilitas Pemerintah Daerah. Sistem dan Problema Penerapan di Indonesia. Yogyakarta : UII Pres. dalam Memperkokoh Otonomi Daerah Kebijakan. 2005. Wahyudi. Sanit.tempointeraktif. Khoirul dkk. 12 No. PNS Kediri Terlibat Pilkada Akan Dipecat. Malang : Universitas Muhammadyah. Undang-Undang Nomor 32/2004 tentang Perintahan Daerah. Jakarta : Raja Grafindo Persada Anwar.

Anggapan yang demikian tidak sepenuhnya benar. tradisional dan nyaris tanpa dinamika. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif dengan tujuan mendeskripsikan profil BIM berikut berbagai kegiatannya. M. Sumarsono. sanitasi yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa BIM Cihideung dalam upaya memberdayakan masyarakat masih banyak menemui permasalahan yang tidak hanya terkait pada pemanfaatan/penguasaan teknologinya tetapi juga dengan penyerapan dan pengolahan informasi sebagai kontennya Kata kunci : BIM.Si. 12 No. adalah Peneliti Madya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Profesi Balitbang SDM Depkominfo RI.BALAI INFORMASI MASYARAKAT (BIM) CIHIDEUNG : Memberdayakan Masyarakat Perdesaan Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Sumarsono* Abstraksi Balai Informasi Masyarakat (BIM) Cihideung adalah lembaga informasi masyarakat yang didirikan atas prakarsa Masyarakat Telekomunikasi (MASTEL) bertujuan untuk memberdayakan masyarakat perdesaan sekitarnya melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi. teknologi informasi dan komunikasi PENDAHULUAN Latar Belakang Dahulu desa seringkali dianggap sebagai simbol keterbelakangan. terbuka pada berbagai akses informasi dan isolasi.. * Drs. kesenjangan dan lain-lain. Desa seringkali juga dikonotasikan sebagai serba kekurangan. bahkan menuju tingkatan sejahtera. 1 63 . sebuah desa penghasil tanaman hias yang sangat terkenal di Bandung. kini banyak desa yang mulai menggeliat dan berangsur angsur berubah menjadi lebih maju. pemberdayaan masyarakat.Penelitian ini dilaksanakan di desa Cihideung. kemiskinan.

Sebagai contoh Bappenas memaknai kemiskinan dengan konsep absolut yaitu dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang konkrit (a fixed yardstick) dan berorientasi pada kebutuhan hidup dasar minimum anggota masyarakat yaitu sandang. berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan dan kesempatan memperoleh keadilan. yaitu dengan memperhatikan dimensi tempat dan waktu (Sunyoto. Sedangkan konsep kemiskinan subjektif yaitu ukurannya berdasarkan perasaan diri sendiri. tepatnya pada Pelita III tahun 1979/80 s/d 1983/84 kita kenal dua program pokok yang dicanangkan pemerintah waktu itu. Selain absolut. berusaha. Konsep kemiskinan relatif dirumuskan berdasarkan the idea of relative standard. saling terkait dan memengaruhi yang satu dengan yang lainnya. kesempatan memperoleh pendidikan. Hal ini disebabkan karena kehidupan masyarakat kini semakin kompleks.Namun demikian kita juga tidak menutup mata bahwa masih banyak desa yang tetap menyandang sebutan miskin dan tidak mudah untuk mencari tahu penyebab utamanya. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan lain-lain. Padahal pemerintah juga sudah banyak campur tangan dalam penanggulangan kemiskinan ini. kesehatan. Banyak program yang telah dicanangkan Pemerintah Pusat dan Daerah.2004 : 126) yang artinya kemiskinan di suatu daerah tidak sama dengan kemiskinan di daerah lain dan demikian juga pada suatu waktu tertentu tidak sama dengan waktu yang lain. Sebenarnya program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat ini sudah lama diterapkan. kita kenal pula konsep kemiskinan relatif dan konsep kemiskinan subjektif . kesempatan kerja. Namun pada kenyataannya kemiskinan masih tetap ada hanya saja jumlahnya bergeser maju mundur sesuai dengan cara mengukur atau memaknai konsep kemiskinan itu sendiri. apalagi menemukan jalan keluarnya. Ada yang konsisten dan berkesinambungan dari tahun ke tahun serta menyeluruh secara nasional namun ada pula yang parsial lokal sifatnya. penyebaran pembangunan di seluruh daerah. Pada masa pemerintahan presiden SBY kita juga kenal program subsidi BBM atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) dan pembagian beras untuk masyarakat miskin. Boleh saja kita mengira 64  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 . 12 No. yaitu (1) mengurangi jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan dan (2) melaksanakan delapan jalur pemerataan yang meliputi pemerataan pembagian pendapatan. pangan dan papan. contohnya pada era Orde Baru.

kemiskinan ditandai dengan jumlah anggota keluarga yang besar dan free union or consensual marriages. Jawabnya apabila kita menganggap bahwa akar kemiskinan berkaitan dengan faktor kultural. tergantung dan inferior. dan menata kembali institusi-institusi ekonomi kita supaya dapat mewadahi kebutuhan serta aspirasi kelompok miskin. Sedangkan apabila kita mengganggap bahwa kemiskinan berakar pada masalah struktural. 12 No.2004: 128).bahwa seseorang itu berada di bawah garis kemiskinan tetapi menurut perasaan mereka sendiri tidak dan demikian pula sebaliknya seseorang yang kita anggap hidup layak tapi perasaan mereka menganggap dirinya miskin. (Sunyoto. Masih menurut Sunyoto sedikitnya ada dua macam perspektif yang lazim dipergunakan untuk mendekati masalah kemiskinan. 1 65 . Kini indikator penentu kemiskinan bertambah lagi dengan kemudahan pada akses informasi. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa perspektif situasional/struktural masalah kemiskinan dilihat sebagai dampak dari sistem ekonomi yang mengutamakan akumulasi kapital dan produk-produk teknologi modern. Dan pada tingkat masyarakat. keluarga dan masyarakat. Kesenjangan informasi dapat ditempatkan sebagai salah satu indikator kemiskinan. apatisme. fatalisme atau pasrah pada nasib. “Kesenjangan info” menunjukkan ketidak mampuan mengakses dan menggunakan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. kemiskinan ditandai dengan sifat yang lazim disebut a strong feeling of marginality seperti : sikap parokial. strategi pembangunan kita perlu dirumuskan kembali. kemiskinan terutama ditunjukkan oleh tidak terintegrasinya kaum miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif. Pada tingkat individual. Perspektif kultural mendekati masalah kemiskinan pada tiga tingkat analisis : individu. tetapi seharusnya lebih mementingkan pemerataan kesempatan (Sunyoto. yaitu: perspektif kultural dan perspektif struktural atau perspektif situasional. meningkatkan pendidikan supaya lebih memiliki pola pikir yang melihat ke masa depan. Pada tingkat keluarga. Jika demikian halnya. 2004:130). Strategi pembangunan tidak lagi mementingkan pertumbuhan. kita perlu menyusun strategi yang meningkatkan etos kerja kelompok miskin. acuan dan metodologi sendiri yang berbeda dalam menganalisis masalah kemiskinan. Masing-masing perspektif tersebut memiliki tekanan. boros. bagaimana mencari jalan keluar atau strategi untuk memberdayakan masyarakat atau mengentaskan dari kemiskinan.

wawancara dilakukan dengan melalui telepon. Materi pertanyaan sekitar keberadaan dan peranan BIM beserta seluruh kegiatannya di lapangan sehingga dengan demikian diharapkan dapat diperoleh gambaran ataupun deskripsi tentang profil BIM secara utuh dan lengkap.2007:18) Sekarang ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) demikian pesatnya hingga merambah keberbagai kota di berbagai negara belahan dunia ini. pengumpulan data dilakukan dengan cara mewawancarai berbagai key person diantaranya Kepala Desa Cihideung. dan pengelola BIM antara lain Fitria. Ika serta Pengujung BIM dari SMA Cisarua. Adil Hendra. Bendaharawan KTGM. 66  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Warmasif. Landjar Nursalim. (Pe-PP Bappenas-UNDP. Ida Hidayat. Agenda World Summit of the Information Society (WSIS) dimana Indonesia bergabung di dalamnya menegaskan bahwa pada tahun 2015 mendatang separuh penduduk dunia telah memiliki akses ke internet termasuk penduduk perdesaan agar mereka menjadi lebih berdaya. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan BIM Cihideung beserta seluruh kegiatannya sebagai lembaga informasi masyarakat yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Metodologi Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan kualitatif.Warung Informasi Teknologi (Warintek).informasi yang akan berdampak pada kesejahteraan seseorang. Trisna. Oleh karena itu diperlukan jalan pintas untuk percepatan penguasaan teknologi informasi tersebut terutama ke perdesaan melalui berbagai cara diantaranya fasilitasi untuk pembangunan Community Acces Point (CAP) atau sejenisnya seperti Telecenter. Ayi Sudrajat. dan lain-lain baik yang stasioner maupun yang mobile. 12 No. Humas KTGM. Balai Informasi Masyarakat (BIM). Wawancara dilakukan secara langsung di lapangan dan bagi yang sulit ditemui. Perkembangan ini tidak berhenti di sini akan tetapi ketika diciptakan sistem hubungan antara satu komputer ke komputer yang lain maka lahirlah apa yang disebut internet. 1 . Ketua Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM).

Sentra penjualan tanaman hias Cihideung ini diatur sedemikian rupa sehingga menarik minat calon pembeli yang lewat di sekitarnya. macammacam anggrek. dahlia.150 meter persegi ini terletak memanjang dipinggir kanan-kiri jalan utama desa Cihideung. Muneng. melati. Diperkirakan lebih dari 80% penduduk desa Cihideung yang berjumlah sekitar 12. Untuk mencapai desa Cihideung tidaklah terlalu sulit. 1 67 . yang berada tidak jauh dari Kampus Universitas Pendidikan (UPI) Bandung. lili. Yogyakarta serta studi kepustakaan dari berbagai sumber data. Dengan menyusuri jalan Sersan Bajuri menuju desa Cihideung yang memiliki luas wilayah 445. Sedangkan pusat penjualan tanaman hias yang luasnya sekitar 1. Mekarsari Putra. sedap malam. Madiun. Budidaya tanaman hias dan bunga potong di desa ini telah berjalan cukup baik dimana telah berperannya beberapa kelompok tani seperti Kelompok Petapa. Kabupaten Bandung Barat. Desa Cihideung bisa dicapai dari terminal Ledeng.900 jiwa ini hidup sebagai petani bunga/tanaman hias yang secara lebih rinci 50% diantaranya sebagai petani bunga hias yaitu jenis tanaman yang berfungsi untuk memperindah taman.Untuk memperkaya data dan informasi dilakukan pengamatan langsung di lapangan serta studi banding di Telecenter.44 ha ini kita dapat menikmati pemandangan hijaunya perbukitan dan tegalan yang penuh dengan tanaman bunga dan strowbery. Jawa Timur dan Pabelan. Disisi lain. 12 No. yang selalu berupaya memajukan keterampilan budidaya para petani terutama yang menjadi anggotanya. krisan. dan lain-lain. Budidaya tanaman hias ini cukup maju sehingga dapat menopang kehidupan para petaninya secara lebih baik. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Cihideung adalah salah satu desa yang terletak di wilayah Kecamatan Parongpong. agar hasil produksi tanaman hias ini harganya tidak anjlog di pasaran karena dipermainkan oleh tengkulak atau kelompok orang tertentu. Jenis tanaman yang dijualnya antara lain meliputi bunga seperti mawar. sisanya (30%) sebagai petani bunga potong yang umumnya dipergunakan sebagai bahan dekorasi. maka telah dibentuk Asosiasi Pedagang dan Petani Tanaman Hias Cihideung yang selalu berupaya melancarkan tata niaga sekaligus Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan lain-lain. kemuning. aster. Giri Mekar. bougenvile. banyak kendaraan umum menuju desa yang terkenal dengan tanaman hiasnya ini.

Sebagai daerah wisata selain ditunjang keindahan alam dan tanaman hiasnya. Sebagai sentra penjualan tanaman hias dan bunga. BIM yang ada sekarang ini merupakan BIM generasi ketiga di desa Cihideung yang didirikan kembali pada tanggal 10 November 2006. Dalam operasionalnya sehari-hari BIM yang dibuka mulai jam 8 pagi sampai jam 20 malam hari rata-rata dikunjungi oleh 8 68  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Banyak pengunjung dari berbagai daerah baik sekitar Bandung atau kota lain seperti Jakarta terutama dihari libur. Pelatihan komputer yang pernah diselenggarakan diikuti oleh 52 orang yang umumnya terdiri dari pelajar SD dan SLTP dengan membayar masing masing Rp 20. Pusat kegiatan atau yang disebut sekretariat BIM berada di gedung seluas 28 meter persegi yang lokasinya berada di RT 03/RW 10 Kampung Penyairan Desa Cihideung. 1 .yang sebagian besar diperoleh dari biaya pelatihan komputer. Dari kegiatan-kegiatan pelayanan tersebut di atas.Adapun materi pelatihan meliputi : pengenalan komputer. Cihideung juga memiliki potensi wisata kuliner dimana sekitar desa ini banyak terdapat cafécafé yang sudah cukup populer di seantero Bandung.melindungi para petani dan pedagang dari pengaruh sindikat yang mengakibatkan kerugian .000. Word Processor. BIM mendapatkan pemasukan sebesar Rp 875. Sedangkan pelatihnya adalah para sukarelawan setempat yang dianggap sudah melek komputer yang tentu saja sebelumnya mendapatkan pengarahan dari Staf IT Specialist MASTEL yaitu Rochman Fathoni. Sebagai lembaga informasi masyarakat yang berada di perdesaan BIM dilengkapi dengan berbagai infrastruktur pokok dan pendukung yang diharapkan akan melegitimasi eksistensi dan memperlancar operasionalnya di lapangan. Spread Sheet. Bandung Barat. 12 No. Berbeda dengan BIM sebelumnya kepengurusan BIM kali ini sepenuhnya dipegang oleh anak-anak muda. Balai Informasi Masyarakat (BIM) Cihideung Berdirinya BIM Cihideung diprakarsai oleh Masyarakat Telekomunikasi (MASTEL) dengan tujuan memberikan pengenalan kepada masyarakat terhadap teknologi informasi (internet) yang sekaligus pada gilirannya diharapkan dapat memetik manfaatnya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya.800. Cihideung memiliki potensi wisata yang prospektif.

Sikap dan pendapat mereka selalu diperhitungkan dan dipedomani. BIM didirikan dengan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat yang disebut Dewan Pembina BIM yang terdiri dari Kepala Desa Cihideung (Ayi Sudrajat). Anggota sistem sosial yang berbeda tersebut menciptakan struktur di dalamnya dimana ada heararki sosial yang harus diperhatikan. Permasalahan yang sering ditemui di lapangan adalah apabila komputer tersebut rusak maka harus tunggu ahlinya yang tinggal di Jakarta.model dekorasi bunga dari berbagai situs. dalam rangka mencapai tujuan bersama. Ketua Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM) Landjar Nursalim. Singkat kata mereka memiliki tempat tersendiri yang lebih tinggi dan terhormat di masyarakat.Oleh karena itu tidak jarang mereka dijadikan panutan dan teladan bagi masyarakat sekitarnya. Mereka juga mendominasi forum-forum yang ada di perdesaan seperti rembug desa atau musyawarah desa. organisasi modern atau sub sistem. 12 No. Masyarakat sekitarnya khususnya yang berprofesi sebagai dekorator ada pula yang sering mengunjungi BIM untuk mencari inspirasi dari model.orang yang pada umumnya pelajar untuk berbagai keperluan seperti mengerjakan tugas sekolah. dan lain-lain. Oleh karena itu pendirian BIM juga memperhitungkan peran para tokoh masyarakat Desa Cihideung . keputusan keputusan komunal dan lain-lain. 1 69 . Tokoh Masyarakat Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1991: 31). kelompok informal.Tanpa restu mereka jangan harap ide-ide baru akan bisa masuk dan diterima masyarakat.Tokoh-tokoh tersebut dihormati dan disegani oleh masyarakat perdesaan karena peranannya sebagai orang yang dianggap lebih tahu dibidangnya. Kelembagaan Di perdesaan masih berlaku sistem sosial tertentu yaitu suatu kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah. adat dan tokoh formal yang masing masing diakui peranannya bagi masyarakat. Oleh karena itu setiap kali ada pengenalan ide-ide baru atau inovasi dipedesaan akan selalu melibatkan para tokoh tersebut untuk mendukungnya. Di perdesaan kita kenal tokoh-tokoh agama. Anggota atau unit-unit sistem sosial itu bisa berupa perorangan (individu). (Rogers. Oleh karena itu mereka berharap punya teknisi sendiri yang selalu stand by kapanpun kalau ada kerusakan.

Site Manager: Ida Elvira. staf pengembangan media/IT admin dan staf pengembangan komunitas/Fasilitator Infomobilisasi (FI) yang bertugas mengelola kegiatan Infomobilisasi melalui kegiatan pendampingan kelompok. Perwakilan Pemuda (Deden Kosasih). Bappenas UNDP. mencari data yang terkait penugasan guru di sekolah atau sekedar chatting atau main game. Humas : Rusli. Bendahara : Fitri. Tidak semua staf pengelola BIM seperti tersebut di atas aktif melaksanakan tugasnya karena berbagai alasan. yang berbasis masyarakat oleh karena itu sudah seharusnya sederhana dan tidak elitis untuk ukuran perdesaan. Mereka bertiga inilah yang disebut Badan Pengelola Harian (BPH) telcenter. Koordinator Kegiatan : Deden Kosasih. Bandung dan mengunjungi pameran ICT Expo di Jakarta yang diselenggarakan tanggal 20-24 Mei 2008. Sebagai reward yang sekaligus upaya meningkatkan wawasannya para pengurus BIM ini pernah diajak ke Seminar di Yogyakarta. sedangkan kedua orang tadi yaitu Trisna dan Ika sebagai pengurus harian. Mereka melayani pengunjung yang datang dengan berbagai keperluan seperti mengetik. 12 No. BPH ini merupakan tim inti yang berfungsi sebagai motor penggerak lembaga.Ayi Sudrajat). 70  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. pengelola Telecenter atau sejenisnya yang ideal terdiri dari tiga orang yang disebut tim-3 (The Three Musketeer) yaitu manager telecenter. Pelatihan komputer di Politeknik Telkom di Gegerkalong. Struktur kepengurusan BIM yang demikian tidaklah terlalu muluk karena memang BIM diharapkan menjadi lembaga milik masyarakat. 1 . Sukarelawan umumnya terdiri dari para pemuda/pemudi setempat yang bertugas menjaga sekretariat BIM sehari-harinya. oleh karena itu seharusnya bekerja secara penuh dan mendapatkan imbalan/gaji.(H. Koordinator Sukarelawan: Dani. Sekretaris : Mega.Tayub). Menurut buku panduan untuk Fasilitator Infomobilisasi. Staf Pengelola definitif terdiri dari Project Manager : Taru J Wisnu dari Mastel. 2007:39). (Pe-PP. Pengelola BIM BIM Cihideung dikelola oleh staf pengelola yang terdiri dari pengelola definitif dan pengelola sukarelawan. Hanya beberapa orang sukarelawan yang biasa menunggu pelanggan di sekretariat BIM diantaranya ialah Fitria yang menyebut dirinya sebagai Ketua. perwakilan ibu-ibu PKK (Ny.

Seperti diketahui bahwa kegiatan BIM ada yang bersifat layanan komersial dan ada pula yang bersifat sosial dimana keduanya mempunyai bobot yang sama. majalah dinding. dan lain-lain. Partisipasi Masyarakat Sebagai lembaga informasi perdesaan BIM telah dirancang sedemikian rupa agar mampu berperan sebagai agen pembaharuan di perdesaan. peresmian BIM. pembuatan data basis tanaman hias. 12 No. festival.Sebagai tanggung jawabnya BPH. Rencana Aksi ini disusun cukup bagus dan rinci yang dimulai pada 3 Januari 2007. kegiatan publikasi. dan lainlain. Untuk pengolahannya dapat dilakukan melalui saling belajar. Pendampingan kelompok dapat dilakukan secara berkala atau insidental atas insiatif sendiri ataupun permintaan dari kelompok. 1 71 . Kegiatan pencarian informasi dapat berupa menyediakan informasi dari berbagai sumber apakah media massa. kegiatan BIM akan lebih lengkap apabila ditambahkan dengan kegiatan Infomobilisasi atau pendampingan masyarakat/kelompok dalam hal pencarian. fund raising. Macam-macam pelatihan yang telah dan akan dilaksanakan meliputi antara lain: pelatihan partisipasi masyarakat. website. diskusi dan pemecahan masalah. kompetisi. studi banding dan perpustakaan. website atau nara sumber yang kompeten. Sebagaimana diuraikan terdahulu BIM telah dibentuk Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Untuk kegiatan publikasi meliputi : pembuatan buletin BIM. dekorasi tanaman hias. usaha sampingan. pelatihan komputer. manajemen. bahasa Inggris. Kegiatan-kegiatan dimaksud sangat beragam yang antara lain mulai dari persiapan pendirian BIM. membuat coklat candy. pemetaan daerah. Sebagai lembaga yang bergerak dibidang informasi. penyelenggaraan berbagai pelatihan dan praktek. sedangkan penerapan di lapangan berupa aplikasi atau praktek di lapangan yang biasanya didampingi oleh tenaga ahli/pengalaman dibidangnya. evaluasi. seleksi. Kegiatan BIM Sebagaimana diuraikan terdahulu kegiatan BIM selain melaksanakan layanan rutin sekretariat juga kegiatan terjadwal yang telah tersusun dalam program kerja ataupun Rencana Aksi BIM. pengolahan dan penerapan informasi di lapangan. khususnya manager harus dapat mencari dana untuk membiayai sendiri operasionalnya dari penjualan jasa dan layanan lembaga.

BIM telah dilengkapi dengan struktur organisasi beserta personil pengurusnya. Memang biaya operasional BIM sehari-harinya tidak disediakan namun partisipasi dan swadaya masyarakatlah yang diharapkan untuk dapat mengisi kegiatan lembaga tersebut. kamera. sekretariat tetap. Bila kita lihat BIM periode sekarang dimana hubungannya dengan para tokoh masyarakat setempat yang cukup baik maka boleh jadi permasalahan yang timbul tidaklah terlalu banyak dan substansial. dan lain-lain. Secara teoritis. dewan pembina. Sedangkan bila dilihat pada pengunjung yang datang. hal ini terbukti bila kita mau berkunjung ke sana tidak akan mengalami kesulitan ketika menanyakan arah menuju ke lokasi BIM kepada penduduk. printer. seringkali juga ditemui para pelajar yang berasal dari desa tetangga. Ibarat kata pepatah: tak kenal maka tak sayang sehingga tingginya pengenalan dapat diartikan tinggi pula pemanfaatan BIM oleh masyarakat. perangkat pendukung jaringan. Padahal sebagaimana diketahui bahwa keberadaan BIM ini didesain untuk memberdayakan masyarakat itu sendiri. Keberadaan BIM sudah pasti dikenal oleh masyarakat luas. Kekosongan kegiatan memang terjadi di BIM periode yang lalu dan mudah-mudahan permasalahan tersebut tidaklah terulang kembali atau setidaknya masih menjadi ganjalan.dengan berbagai infrastruktur dan sarana penunjangnya agar mudah memainkan peranannya di perdesaan secara maksimal. Pada kenyataannya menggalang partisipasi dan swadaya masyarakat ini tidaklah mudah ini terbukti bahwa kegiatan BIM pernah vakum atau terhenti selama beberapa tahun karena berbagai alasan. 12 No. dengan infrastruktur dan sarana perlengkapan yang boleh dibilang telah memadai tentunya lembaga tersebut telah dapat melaksanakan programnya dan berperan banyak bagi masyarakat sekelilingnya. program kerja dan peralatan yang berupa komputer. malahan masyarakat desa-desa sekitar Cihideung pun banyak yang mengenalnya. Kenyataan yang menunjukkan kurang maksimalnya 72  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Popularitas BIM yang tinggi identik dengan tingginya pengenalan masyarakat terhadap BIM. bagi sebuah lembaga di perdesaan. Tentu ada permasalahan diantara keduanya yang mengakibatkan terciptanya jarak atau hambatan itu. scanner. Popularitas BIM ini didapat dari upaya berbagai publikasi yang dilakukan pengelola melalui berbagai cara. Menurut penelitian permasalahan yang timbul hanyalah bagaimana menarik partisipasi dan swadaya masyarakat secara lebih baik. 1 .

meningkatkan kesadaran masyarakat desa atas manfaat teknologi informasi dan komunikasi dan kegunaannya untuk kemudahan hidup dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Partisipasi umumnya tidak tumbuh secara spontan. menumbuhkan pemahaman awal yang benar atas fungsi CAP/BIM serta manfaat yang dapat diambil dari keberadaannya.tersambungkan dengan sumber informasi. Oleh karena itu para pengelola BIM harus lebih proaktif memecahkan permasalahan tersebut dengan membuka sumber pendapatan yang lebih beragam dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. 2006: 13). 12 No.pemanfaatan BIM bukan karena pengenalan masyarakat yang rendah akan tetapi bisa jadi karena kondisi masyarakat desa itu sendiri yang masih belum melek komputer. asosiasi petani dan pedagang bunga. ketiga. pengelola BIM khususnya Fasilitator Infomobilisasi (FI) juga dituntut proaktif untuk mengadakan pendekatan dan pendampingan pada kelompok-kelompok yang ada maupun masyarakat yang memerlukan. saluran dan simpul komunikasi-informasi terpercaya. jasa komputer. Selain itu bidang usaha BIM seperti foto copy. pembuatan pas foto. Tujuannya adalah agar kelompok dan masyarakat merasa lebih dekat dengan BIM. memperoleh persetujuan dan dukungan masyarakat desa atas pendirian BIM untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap BIM sejak awal (Djuzan. 1 73 . dan lain-lain yang masih kurang diperlukan masyarakat desa yang pada umumnya merupakan petani tanaman hias. Untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat tersebut bisa dimulai dari hal hal yang kecil dan dimulai sejak dini. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Selain itu mereka juga termotivasi untuk saling belajar/bertukar pengetahuan. Selain aktifitas ke dalam untuk menggali dana operasionalnya sendiri. kedua. Agar partisipasi masyarakat lebih mantap lagi para pengelola BIM harus dapat membuktikan bahwa kegiatan BIM memang bermanfaat bagi masyarakat baik secara sosial maupun ekonomi. Untuk membuktikannya harus dicoba menerobos keberbagai lembaga perdesaan yang berpengaruh pada peningkatan ekonomi masyarakat seperti kelompok-kelompok tani. Langkah-langkah yang perlu diambil untuk menumbuhkan partisipasi diantaranya : pertama. merasa ikut memiliki dan memanfaatkannya sehingga dengan demikian kapasitas masyarakat dalam penggunaan TIK meningkat. Mereka hanya sesekali saja memakai jasa-jasa tersebut.

membuat pola pembinaan. antisipasi permasalahan sekaligus koordinasi untuk solusinya. dan lain-lain. Satu hal lain yang juga sangat penting untuk dilakukan oleh Dewan Pembina ialah memfasilitasi lembaga untuk menjalin kemitraan dengan berbagai fihak baik instansi pemerintah maupun swasta. Keberadaan Dewan pembina yang aktif dapat mendinamisir kegiatan BIM.pemberian reward.produksi konten. Terobosan disini dapat diartikan kerjasama ataupun kemitraan yang saling memerlukan dan menguntungkan bagi anggota khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. Peran Dewan Pembina Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa BIM telah memiliki Dewan Pembina yang terdiri dari para tokoh masyarakat setempat baik formal maupun informal. Depkominfo dan Instansi lain yang terkait. produsen pupuk dan asosiasi lain yang ada serta penguasa setempat. 74  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.Hal yang demikian dapat dimaklumi karena para tokoh tersebut kesehariannya memiliki kesibukannya sendiri sesuai bidangnya. Sebagai contoh wakil dari Depatemen Pertanian. Oleh karena itu ada baiknya jika dipilih pembina yang fungsional yaitu pembina yang betul betul bisa aktif dan mempunyai tugas yang ada relevansinya dibidang itu. Kemitraan ini sangat penting dalam upaya aktualisasi informasi. tidak semuanya aktif melaksanakan pembinaan. Boleh jadi mereka juga menganggap kedudukannya sebagai Dewan Pembina adalah sebagai kehormatan sehingga mereka tidak perlu repot-repot ikut turun tangan. Dari beberapa tokoh masyarakat yang terpilih sebagai Dewan Pembina.asosisi pembibitan. Apakah upaya menempatkan para tokoh masyarakat tersebut sebagai Dewan Pembina BIM akan berhasil memperlancar operasionalnya ? Ini sangat tergantung pada kemampuan dan aktifitas para tokoh masyarakat tersebut. Mereka dapat memberi arahan operasional dengan membuat program kerja yang baik dan sekaligus memotivasinya.Kemitraan sudah seharusnya dijaga agar tetap berkelanjutan dan selalu bersifat terbuka untuk melakukan hal-hal yang inovatif. 12 No. monitoring dan evaluasi serta kegiatan lainnya seperti kompetisi antar lembaga sejenis. 1 . festival.

Most smart companies or organizations quickly realize that succes depends on your ability to control not just a couple of these core value-but all of them at the same time . 2001 :27) Secara umum pembangunan BIM bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat disekitarnya melalui penyediaan akses informasi dari berbagai sumber dan media terutama internet. Konsep BIM dapat disamakan dengan Telecenter dan sejenisnya yang berperan sebagai fasilitator program komunikasiinformasi (Infomobilisasi). memfasilitasi proses saling belajar/bertukar pengetahuan. dan sebagainya.customers/consumers. Bank Data Desa. cost.menjadi simpul komunikasi-informasi dan sebagainya. BIM sengaja dibangun di daerah perdesaan karena masyarakat perdesaan dianggap masih perlu lebih diberdayakan dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraannya yang lebih baik. dapat mengembangkan diri menjadi Pusat Informasi Pembangunan Desa. Generically expressed. (Sargent. Selain itu juga dapat berperan sebagai pelaku komunikasi di desanya. yaitu menjadi sumber informasi. Artinya BIM dapat melaksanakan atau mengontrol seluruh kegiatan operasionalnya secara baik dan dapat mengatasi semua hambatan yang ditemuinya.time. 12 No. (Tim Pe-PP Bappenas-UNDP. menjadi saluran/media komunikasi-informasi.2007:39) Lebih jauh BIM sebagai sumber informasi. these values are about: quality. safety.Sentra Pembelajaran Masyarakat. yaitu : mendampingi kelompok. 1 75 . Menurut Andrew Sargent: all organizations are driven by a series of “core values”. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam penggunaan TIK. dan lain-lain Pemberdayaan Masyarakat melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Istilah pemberdayaan masyarakat telah secara luas dipergunakan di negara kita paska krisis ekonomi 1997. Kantor Berita Komunitas. sudah seharusnya BIM terlebih dahulu berdaya. output. Pusat Informasi Desa. Istilah ini Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.PEMBAHASAN BIM Yang Ideal Sebelum BIM dapat memberdayakan masyarakat sekitarnya.

diterjemahkan dari kata empowerment yang memiliki arti lebih komprehensif. Simon dalam bukunya Rethinking Empowerment (1990) menyatakan bahwa pemberdayaan adalah aktifitas reflektif, atau proses yang mampu diinisiasikan dan dipertahankan hanya oleh agen atau subyek tertentu yang mencari kekuatan atau penentuan diri sendiri (self-determination). Sementara itu, proses lainnya hanya memberikan iklim, menciptakan hubungan, sumber-sumber dan alatalat prosedural yang dengan perantaranya masyarakat dapat meningkatkan kualitas kehidupannya. Pemberdayaan merupakan sistem yang berinteraksi dan berkolaborasi dengan lingkungan sosial dan fisik (Harry Hikmat, 2006 : 134). Selanjutnya pengertian tersebut diperjelas sebagai berikut : pemberdayaan bukanlah merupakan upaya pemaksaan kehendak, atau proses yang dipaksakan, atau kegiatan untuk kepentingan pemrakarsa dari luar, atau keterlibatan dalam kegiatan tetentu saja, dan makna-makna lain yang tidak sesuai dengan pendelegasian kekuasaan atau kekuatan sesuai potensi yang dimiliki oleh masyarakat yang bersangkutan. (Harry Hikmat, 2006 : 135). Sementara itu pemberdayaan masyarakat melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) bukanlah suatu hal yang mudah. Pada dasarnya pemberdayaan melalui TIK tidak hanya mengenalkan masyarakat pada komputer saja tetapi lebih kearah bagaimana mengambil manfaat dari informasi yang didapat dari Internet. Yang jadi nilai ekonomis (economic value) dari teknologi ini bukanlah komputer dan komponen-komponennya secara fisik, melainkan penekanan pada informasi yang dibawa dan diolahnya. (Indrajit, 2000:208) Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang memiliki kesadaran dan kebutuhan terhadap informasi sebagai sumber kekuatan (power). Masyarakat yang dapat menggunakan informasi untuk mengambil keputusan yang baik bagi dirinya sendiri, bertindak secara kritis dalam upaya memperbaiki keadaan dan mengatasi masalahnya sendiri, mampu terlibat dalam proses-proses sosial dan politik termasuk dalam proses pengambilan keputusan publik yang dilakukan komunitasnya (Tim Pe-PP Bappenas-UNDP,2007:5) Memberdayakan masyarakat dengan informasi tidaklah mudah apalagi menyejahterakannya sebab informasi memiliki dimensi yang sangat luas dan beragam serta taksonomikal oleh karena itu tidak secara langsung merubah keadaan dari kurang sejahtera menjadi lebih sejahtera. Kita boleh berharap banyak bahwa masyarakat Cihideung
76  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

menjadi semakin sejahtera ketika BIM didirikan di desa tersebut. Karena masyarakat dapat informasi tentang berbagai jenis tanaman hias yang berprospek ekonomi lebih baik, juga mendapat informasi berkaitan dengan dimana bibit-bibit tananam hias yang berkualitas itu didapatkan. Selanjutnya juga bagaimana menyemai bibit bibit unggul tersebut hingga besar dan laku dijual. Tidak berhenti disitu , informasi tentang pasar yang baik dan bagaimana mengirimkannya juga sangat diperlukan, karena tidak jarang produsen tanaman hias diperdaya oleh tengkulak karena kurangnya informasi ini. Diharapkan dengan informasi-informasi yang berharga tersebut masyarakat mendapatkan kemudahan dalam membudidayakan tanaman hias sekaligus dapat menjualnya dengan harga yang baik. Pada kenyataannya di lapangan tidak semua informasi seperti tersebut di atas tersedia, bilamana tersedia itupun baru informasi ”mentah” yang masih perlu diolah, diterjemahkan, dipilah dan disaring agar dapat diambil manfaatnya. Dari kondisi tersebut di atas menunjukkan bahwa informasi dari internet belum dapat di akses dan dimanfaatkan oleh semua orang karena adanya hambatan teknis atau hambatan digital. Banyak orang yang belum faham dengan teknologi internet ini sedangkan bagi yang sudah memanfaatkan informasi umumnya masih mempergunakannya untuk keperluan mereka sendiri. Selain hambatan digital, hambatan budaya juga sangat berperan dalam pemanfaatan internet sebagai sumber informasi. Selain internet merupakan barang baru yang dianggap canggih di perdesaan, umumnya masyarakat juga masih terbiasa dengan komunikasi lisan. Mereka mencari informasi dari kawan, tetangga, atau opinion leader setempat melalui forum dan arena sosial yang ada. Sedangkan mereka menyebarkannya melalui getok-tular atau dari mulut kemulut diberbagai kesempatan. Mereka masih terbiasa ngobrol di warung kopi daripada nongkrong di depan komputer layaknya orang kantoran. Salah satu cara sederhana yang mungkin dapat membantu mengenalkan masyarakat terhadap komputer sekaligus memperlancar pencarian situs penting ialah disediakannya para pendamping yang memahami internet dan mampu berbahasa Inggris. Karena bahasa yang dipergunakan di internet tidak hanya bahasa Indonesia tetapi banyak yang mempergunakan bahasa Inggris. Dari uraian di atas terlihat bahwa untuk memberdayakan masyarakat melalui BIM memang masih diperlukan kerja keras dan perlu dicari terobosan agar terhindar dari berbagai hambatan.
Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1 77

Peranan Kelompok Di perdesaan dengan mudah dapat kita jumpai berbagai kelompok masyarakat. Selain kelompok formal yang dibentuk pemerintah ada juga kelompok yang terbentuk karena interest, primordialisme dan tatanan sosial tradisional. Kelompok-kelompok ini biasanya berperan penting dalam memecahkan berbagai permasalahan desa termasuk permasalahan yang ada di BIM. Kelompok masyarakat yang ada di desa Cihideung diantaranya kelompok tani, kelompok tani nelayan andalan, kelompok arisan. Masing masing kelompok punya kegiatan yang berbeda tetapi tujuannya sama yaitu berkeinginan memberdayakan dan menyejahterakan anggotanya. Oleh karena itu tidaklah salah bila ada upaya memfasilitasi kelompok-kelompok yang ada untuk memberdayakan masyarakat sekitarnya. Karena kelompok diyakini memiliki potensi dan ciri-ciri yang menunjang upaya pemberdayaan yang diantaranya : (1) orang-orang dalam kelompok cenderung untuk berlomba (2), mereka membentuk identitas mereka sendiri yang menjadikan personaliti kelompok. (3), kekompakan yaitu daya tarikan anggota kelompok satu sama lain dan keinginan mereka untuk bersatu; (4), ada komitmen terhadap tugas. (Arni Muhammad,2000 ;186). Namun ketika kelompok-kelompok telah terbentuk dan memiliki potensi, upaya untuk menarik partisipasi mereka pada kegiatan BIM tidaklah berjalan linier. Sebab kegiatan BIM yang berbasis internet merupakan hal yang baru dan sama halnya dengan memperkenalkan inovasi atau ide-ide baru pada masyarakat. Sebuah inovasi biasanya penuh liku sehingga memperkenalkannya ke masyarakat sebaiknya dilakukan secara pelan-pelan, berkesinambungan dan hati-hati dengan melalui berbagai cara seperti penyuluhan, komunikasi kelompok dan diskusi pemecahan masalah, demonstrasi atau percontohan, dan lain-lain. Fisher telah mengidentifikasikan empat fase yang dilalui pemecahan masalah yaitu :orientasi, konflik, pemunculan ide, dan dukungan terhadap ide-ide baru. (Goldberg & Larson, 1985 :45). Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa peran kelompok dalam sebuah inovasi sangatlah diharapkan oleh karena itu Fasilitator Infomobilisasi haruslah dapat mendekati kelompok-kelompok yang ada di desa ini .Kelompok-kelompok yang ada di desa ini memiliki potensi dan dapat berperan banyak untuk menarik partisipasi
78  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. 1

Oleh karena itu peran manajer sebagai pencari dana untuk membiayai operasionalnya sendiri Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. untuk memanfaatkan komputer/ internet sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi pengembangan dirinya. pemahaman dan pemecahan masalah yang ada di masyarakat melalui diskusi dan kegiatan lainnya. 1 79 . Bantuan dan bimbingan orang lain dalam hal ini sangat diperlukan karena selain materi yang ada di internet begitu luas dan beragam juga seringkali disajikan dalam bahasa asing. KESIMPULAN Mengaktifkan dan membesarkan lembaga informasi masyarakat di perdesaan seperti halnya BIM ini memang tidak mudah.Kendala yang paling dominan ialah upaya memperkenalkan masyarakat perdesaan yang masih memiliki banyak keterbatasan dan masih cenderung menyukai komunikasi lisan. banyak kendala teknis dan non teknis yang selalu menghadang.Apalagi mengambil manfaat dari informasi yang terdapat di internet untuk memberdayakan diri mereka sendiri dimana diperlukan upaya pencarian. Peran kelompok yang ada di masyarakat juga sangat penting sebab melalui kelompok ini FI akan terbantu dalam hal deseminasi. Untuk mendorong masyarakat agar melek komputer saja sudah sulit karena komputer/internet merupakan teknologi baru yang tergolong canggih. Keberadaan BIM yang sudah populer itu telah menjadi modal untuk menarik minat masyarakat dalam memanfaatkan BIM secara lebih aktif apalagi bila dibarengi program program yang menarik dan dapat dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.masyarakat dalam memanfaatkan BIM sekaligus memberdayakan masyarakat desa pada umumnya dan anggota kelompok pada khususnya. 12 No. pemilahan dan pengolahan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat.Oleh karena itu kerjasama hendaknya diperluas dengan kelompok lain yang ada di masyarakat dengan tanpa mengabaikan peran Kelompok Tani Giri Mekar (KTGM) yang telah terjalin dengan baik. Oleh karena itu peran para pengelola BIM khususnya Fasilitator Infomobilisasi (FI) sangat diharapkan. Tanpa peran FI yang lebih aktif tidak akan terjadi pembelajaran-pembelajaran serta jalinan hubungan ataupun interaksi positif dengan masyarakat sekelilingnya yang pada dasarnya telah memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.

Jakarta : Bumi Aksara. Lebih lengkap lagi bila peran Dewan Pembina lebih diaktifkan untuk memfasilitasi dan mengarahkan setiap program dan kegiatan BIM agar lebih menyentuh kepentingan masyarakat sekitarnya. Rogers. Muhammad. Bandung : Humaniora Utama Press. Manajemen Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Memberdayakan Masyarakat dengan Mendayagunakan Telecenter. Communication of Innovations. Bisnis Model Community Acces Point (CAP) Yang Ideal Bagi Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat. Strategi Memberdayakan Masyarakat. DAFTAR PUSTAKA Alvin A. 2004. 2001. 2000. 1987. 1985. Mumbai : Jaico Publishing House. Arni.ruangkeluarga. Komunikasi Organisasi. Sargent. Jakarta : Elex Media Komputindo. Sumber lain : Kompas. Aizirman.UNDP. Andrew.blogspot. Surabaya : Usaha Nasional. 2006. Usman.cihideung. Djusan. Aspek Sosial Budaya dalam Pembangunan Perdesaan.mastel. Jakarta : UI-Press.com http://www. Politeknik Pos Indonesia. Floyd Shoemaker.juga tidak kalah pentingnya agar program yang telah tersusun secara baik tersebut dapat terealisir. How to Motivate People. Richardus Eko. 1 . Proses-Proses Diskusi Dan Penerapannya. kuliah umum mahasiswa jurusan teknik informatika.id http://www. Hikmat. 2007. Soedjito. 2000. Yogyakarta : Tiara Wacana. Sosrodihardjo. Indrajit. Bandung 24 November 2006.com 80  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sunyoto. Everett M & F. Harry. Goldberg & Carl E Larson. diterjemahkan Abdillah Hanafi dengan judul Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat. Komunikasi Kelompok. Sabtu 25 Oktober 2008 http://www. 12 No. Yogyakarta : Pustaka Pelajar. Tim Partnerships for e-Prosperity for the Poor (Pe-PP).or. Jakarta : Bappenas.

. S. (3) menerbitkan hasil ujian semester pada blog sang dosen. Kata kunci : social software. teknologi pendidikan PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan social software sebagai bagian dari komunikasi dalam proses belajar-mengajar telah diteliti dan dilaporkan oleh * Akhmad Riza Faizal. (2) menggunakan contoh-contoh dari “media-sharing website” untuk menjelaskan materi kelas.. menunjukkan empati sang pengajar melalui situs jejaring sosial.Kom. teknologi komunikasi. Berdasarkan survei awal yang dilakukan pada situs-situs PTN di Indonesia didapati bahwa penggunaan ”social software” masih rendah. ”Social software” dapat diartikan sebagai perangkat lunak yang dapat mendukung interaksi kelompok. Penggunaannya semakin terkenal bersamaan dengan munculnya teknologi Web 2. Pendalaman data ditelusuri melalui metode wawancara dengan beberapa dosen PTN. (1) mendorong kemampuan menulis siswa dengan menggunakan blog. (4) menyebarluaskan materi perkuliahan dengan menggunakan “file-sharing websites”. 1 81 . S.0. terungkap beberapa praktek penggunaan ”social software” sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran antara lain. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. Pengajar Jurusan Komunikasi.I. Studi ini bertujuan untuk memberikan bukti empirik secara kualitatif dan mendukung contohcontoh penggunaan ”social software” sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran pada beberapa perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia. FISIP Universitas Negeri Lampung.Social Software Sebagai Media Komunikasi Dalam Proses Pengajaran Di Perguruan Tinggi Negeri Akhmad Riza Faizal* Wulan Suciska* Abstraksi Pesatnya perkembangan teknologi komunikasi seiring kemajuan teknologi Web menjadikan fenomena ini sangat menarik untuk dikaji dalam kacamata ilmu komunikasi. Hasilnya. dan Wulan Suciska.Sos.

2. 2008. Penggunan internet di Indonesia telah mencapai 20 juta orang atau masuk kelompok pengguna besar di Asia setelah Cina (210 juta).. Eijkman. belum adanya data kuat tentang pemanfaatan social software sebagai media komunikasi pada pendidikan di Indonesia itu sendiri menjadikan dasar bahwa penelitian ini bisa dianggap sebagai studi perintis (pilot study). Peneliti mengkhususkan objek penelitian pada proses pengajaran di perguruan tinggi negeri (PTN) di Indonesia dikarenakan. Munculnya fenomena teknologi Web 2. maka akan dapat diteliti pula bagaimana memanfaatkan teknologi ini sesuai dengan perkondisian Indonesia. diikuti Jepang. Kedua. T. 2007.. 2007. 2007. Argumentasi tersebut didasarkan pada dua hal : 1. 1 . karena munculnya berbagai teknologi web ini telah berdampak secara global dan penggunaan perangkat lunak ini pun sebenarnya cukup besar di Indonesia. India. Namun. Topper. Maxymuk. Sehingga diharapkan dapat dihasilkan teknologi lanjutan karya anak bangsa yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Bryant. Namun. 2007. Franklin. Kondisi ini cukup ironis. kondisi penggunaan perangkat lunak ini terutama dalam kaitannya dengan proses belajar-mengajar di Indonesia masih belum jelas sehingga perlu untuk ditelaah dan diteliti. salah satunya sebagai media komunikasi pada bidang pendidikan. dan Korea kemudian Indonesia (APJII. Shim dkk. 12 No. 2006. Virkus.. Terutama mengenai pemanfaatan teknologi ini pada berbagai bidang. Anderson. 2007. Jika topik ini dapat ditelaah lebih lanjut. G. informasi atau penelitian yang menulis tentang implementasi software ini di negaranegara berkembang masih tetap rendah bahkan tidak terlalu signifikan. Setidaknya sesuai dengan karakter pendidikan di Indonesia.banyak ahli di negara-negara maju (Alexander. pertama.0 telah dirasakan beberapa tahun belakangan ini di Indonesia. 2008). 2007. Untuk itu pembatasan lingkup penelitian dapat dianggap sebagai 82  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. penelitian spesifik yang bisa menyajikan dasar terutama dalam kacamata ilmu komunikasi masih kurang. Namun. Miners & Pascopella. 2008). PTN di Indonesia adalah gerbang terdepan (center of exellence) dalam hal pemanfaatan teknologi komunikasi dibandingkan pada beberapa institusi-institusi pendidikan lainnya seperti sekolah dasar atau sekolah kejuruan. Franklin. Kirriemuir . 2007. 2007. 2007.

Signifikansi dari artikel ini terutama ditujukan untuk pendidik dan peneliti yang memiliki minat untuk menyelidiki lebih lanjut dan menerapkan teknologi web pada berbagai bidang. pada penerapannya sebagai bagian dari sistem pendidikan yang digunakan oleh universitasuniversitas negeri di tanah air. Khususnya. Dengan menemukan beberapa contoh penggunaan dan menggunakan perangkat lunak ini pada sistem pendidikan di Indonesia. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti mengajukan pertanyaan bagaimana penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran pada perguruan tinggi di Indonesia? Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan 1. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 83 . hal ini bisa menjadi acuan untuk penelitian berikutnya. dengan minat yang sama kita dapat membangun jaringan pada topik ini. Baik menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif untuk mencari dan mendesain penggunaan yang sesuai dengan pola pendidikan yang sudah diterapkan di Indonesia. Dengan menemukan beberapa contoh penggunaan dan menggunakan perangkat lunak ini pada sistem pendidikan di Indonesia. Artikel ini adalah bertujuan untuk menyajikan informasi mengenai praktek-praktek penerapan social software sebagai suatu media komunikasi dalam proses belajar-mengajar di Indonesia. Baik menggunakan pendekatan kuantitatif atau kualitatif untuk mencari dan mendesain penggunaan yang sesuai dengan pola pendidikan yang sudah diterapkan di Indonesia. Khususnya. hal ini bisa menjadi acuan untuk penelitian berikutnya.generator bagi peneliti lain untuk meneliti pada bidang-bidang pendidikan yang searah (linear). 12 No. Mudah-mudahan. pada penerapannya sebagai bagian dari sistem pendidikan yang digunakan oleh universitas-universitas negeri di tanah air. Menyajikan informasi mengenai praktek-praktek penerapan social software sebagai suatu media komunikasi dalam proses belajarmengajar di Indonesia.

sebagaimana terefleksi dalam pertanyaan penelitian. Pada teknik pengumpulan data. dengan mengutip pendapat Robert Yin. dengan minat yang sama kita dapat membangun jaringan pada topik ini. 1 . dalam Robson. METODE PENELITIAN Fokus dari penelitian adalah memberikan penjelasan mengenai praktik-praktik penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran pada perguruan tinggi di Indonesia. Proses pengumpulan dan analisa data dilakukan antara Juli hingga Desember 2008. 12 No. Sebagai validasi.2. dalam bidang pendidikan. Metode yang digunakan dalam memperoleh data kualitatif adalah studi kasus (case study). 2002:178-179) menjelaskan bahwa metode studi kasus dalam penelitian kualitatif mengikutsertakan strategi investigasi secara empirik terhadap fenomena tertentu pada konteks kehidupan nyata (real life context). Mudah-mudahan. Memperkaya kajian ilmu komunikasi di Indonesia terutama mengenai penelitian pemanfaatan teknologi komunikasi. untuk lebih memahami tentang kualitas penggunaan social software pada proses pengajaran di tingkat universitas maka dilakukan kombinasi pengamatan berupa survei pada situs-situs PTN Indonesia dan wawancara dengan beberapa dosen PTN yang telah menggunakan social software sebagai bagian media komunikasi dari proses pengajaran yang mereka lakukan. Hasil dari validasi kemudian digunakan untuk melengkapi hasil penelitian 84  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. maka data hasil wawancara telah diulang pada Februari 2009 untuk melihat apakah informan masih mengajukan jawaban yang sama pada pertanyaan yang sama. untuk wawancara dilakukan kombinasi antara wawancara melalui email. telepon dan tatap muka. Robson. Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini terutama ditujukan untuk pendidik dan peneliti yang memiliki minat untuk menyelidiki lebih lanjut dan menerapkan teknologi web pada berbagai bidang. dan social software pada khususnya. (1994.

0 (Bryan. 2007).TINJAUAN KEPUSTAKAAN Sosial Software : Sebuah Tinjauan Istilah social software sebenarnya bukan merupakan sebuah aplikasi yang baru muncul walaupun akhir-akhir ini pengertiannya mengarah pada konteks penggunaan yang lebih pada konteks "kemanusiaan" dibandingkan konteks "teknologi" (Bryant. argumentasi bahwa social software sebuah konvergensi pemikiran dari domain jaringan sosial Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. memungkinkan komunikasi antara banyak orang. Hal yang harus diingat adalah bahwa social software tidak sama pengertiannya dengan Web 2. "as We May Think". office automation dan Electronic Information Exchange System/EIES (1970-an). Groupware dan Computer-Supported Collaborative Work/CSCW (1980-an and 1990-an). Patrick dan Dotsika (2006). sebuah organisasi nirlaba di bidang pendidikan yang berbasis di Inggris. menyediakan fasilitas untuk menyatukan pengetahuan (knowledge aggregation) dan menciptakan pengetahuan baru. Walaupun kemunculan social software dapat dikatakan hadir sebagai komponen utama dari fenomena Web 2. 1 85 . dapat mengumpulkan dan mengindeks informasi. lalu pada perkembangan selanjutnya dari teknologi yang dapat mendukung kerja kolaboratif (collaborative technology) seperti ARPA. berusaha untuk memperjelas konsep social software dengan menunjukkan beberapa atribut kunci dari social software dalam kaitannya dengan pendidikan. menyediakan fasilitas untuk mengumpulkan dan berbagi informasi. berbeda. Futurelab.0. 2006). Christopher Allen (2004) telah melakukan pekerjaan yang sangat bagus dalam menelusuri sejarah social software. 2006) tetapi sejarah teknologi ini mungkin akan berjalan dalam arah yang berbeda dengan perkembangan teknologi Web itu sendiri. memungkinkan sindikasi informasi dan membantu personalisasi dari prioritas-prioritas yang dibuat pengguna. 12 No. serta menyebarluaskan pengetahuan tersebut ke banyak platform yang sesuai dengan keinginan pencipta pengetahuan. Dia mengaitkan keberadaan social software hingga kembali ke tahun 1940-an ketika Vannevar Bush menulis artikelnya yang terkenal. perangkat lunak ini menjembatani komunikasi antar kelompok. dan konteks penerimanya (Futurelab. Licklider dan teknologi augmentation ( 1960-an). Atribut-atribut tersebut antara lain.

Shim. Wiki adalah salah satu platform menulis paling populer diantara platform social software lainnya (Alexander. (2007) telah melakukan penelitian dengan menggunakan teori kekayaan-media (media richness theory) untuk menguji faktor yang memengaruhi siswa untuk menggunakan RSS podcast dan juga fitur yang sudah termasuk dalam teknologi ini. dkk. dibandingkan meminta pengguna untuk menyesuaikan diri dengan perangkat lunak tersebut.0 ". dikaitkan dengan proses belajar mereka.manusia. interaksi manusia-komputer (human-computer interaction/HCI) dan layanan web. Menurut mereka. Perubahan ini membalik arah teknologi informasi yang sebelumnya lebih ke arah menarik (pull) menjadi mendorong (push). Meskipun begitu teknologi podcasting tidak dapat digunakan untuk mengganti model pengajaran kelas konvensional. sedangkan Patrick & Dotsika lebih memahami social software sebagai variasi dari berbagai layanan Web. dan aplikasi yang mungkin belum disampaikan di kelas. 2007). 12 No.0 (O'Reilly. 1 . teori. social software sebaliknya lebih berupaya agar bisa menyesuaikan dirinya dengan lingkungan pengguna sehingga pemanfaatannya lebih intuitif dan menarik pengguna untuk terus menggunakannya (Patrick & Dotsika. Futurelab melihat berbagai macam social software dalam kaitannya dengan teknologi pendidikan. Wikipedia mencoba mendaftar kategori social software dari pendekatan fungsional. Sebaliknya Shim. Teknologi ini kemudian lebih menonjol seiring dengan hadirnya model terkini dari teknologi web atau yang oleh O'Reilly disebut sebagai Web 2. dkk. 2006). teknologi podcast dapat digunakan untuk mendukung materi-materi yang diberikan di kelas sehingga siswa dapat lebih memahami konsep. (Shim dkk. implikasinya adalah aplikasi social software dapat ditemukan di sebagian besar dari teknologi Web "2. Mereka menemukan bahwa teknologi podcast telah memberikan banyak manfaat termasuk mudahnya siswa dalam memahami materi melalui teknologi baru ini dan tingkat efektivitas biaya dalam jangka panjang yang lebih baik. 2005). Sosial Software Untuk Pendidikan Personalisasi merupakan salah satu aspek kunci dalam pengembangan social software saat ini dan selanjutnya.. 2006) dan keberadaaannya telah digunakan dalam berbagai cara dalam bidang 86  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. menambahkan.

Franklin. GoogleDocs. 2007. Socialtext. Contoh penggunaan wiki itu yaitu sebagai sebuah situs sebuah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah di mana siswa dapat mempresentasikan hasil belajar mereka. Rector (2007) telah melakukan studi perbandingan antara artikel dari Wikipedia dan artikel dari Encyclopedia Britannica. dan sabotase oleh kelompok-kelompok tertentu ( Stvilia dkk. 2005 dalam Anderson. Secara keseluruhan. Diskursus tersebut muncul karena muatan dari social software itu sendiri yang rentan terhadap suntingan tidak bertanggungjawab. masih ada beberapa keraguan dan perdebatan tentang kredibilitas dan konsistensi isinya. Kajian ini Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan TWiki telah terbukti sangat berguna untuk menjadi media komunikasi dalam pendidikan. 12 No.. vandalisme. the Dictionary of American History dan American National Biography Online tentang kelengkapan dan keakuratan muatan artikel. 2007) yang dianggap sebagai suatu standar keterampilan abad ke-21 di samping literasi media (media literacy) dan literasi ICT (ICT literacy). Meskipun beberapa perangkat lunak dengan akses-terbuka (open access software) seperti Wikipedia. G. Dia mengungkapkan ketidakakuratan dalam delapan dari sembilan masukan (entries) dan memiliki cacat keakuratan yang besar dalam setidaknya dua dari sembilan artikel Wikipedia. 2006). Dengan memungkinkan kerja kolaborasi ini Wiki tidak hanya menyediakan media dalam proses belajar-mengajar melainkan juga mendorong baik siswa dan guru agar aktif berdasarkan kemampuan mereka sendiri dalam menulis (Bryant. Rector menilai bahwa tingkat akurasi Wikipedia berkisar 80 persen dibandingkan dengan tingkat akurasi sumber-sumber lain yang mencapai 95-96 persen. (2007) menyoroti alat seperti Wiki menawarkan cara-cara baru untuk terlibat dan berkomunikasi dengan para siswa. 2007). Dengan menggunakan Wiki. Selain itu Wiki dapat dipergunakan untuk mengumpulkan dan menyimpan data yang berkaitan dengan proses belajar-mengajar di kelas.pendidikan. Pada tingkatan tertentu Wiki dapat digunakan sebagai suatu refleksi terutama bila berkaitan dengan tingkat literasi informasi (information literacy) para siswa. Futurelab. siswa dan guru dapat dengan cepat dan mudah menjelajahi wilayah pengetahuan yang sedang dibahas dan mengembangkan struktur informasi sebanyak yang mereka perlukan. bahkan termasuk gurunya sendiri. 1 87 . Literasi informasi merupakan salah satu keterampilan literasi baru (Miners dan Pascopella.

2007)..mendukung klaim bahwa Wikipedia kurang dapat diandalkan dibandingkan sumber-sumber referensi lainnya. Bryant (2007) menekankan bahwa social bookmark ideal dan cocok untuk digunakan sebagai bagian dari proses belajar-mengajar di ruang kelas dengan memungkinkan sekelompok siswa untuk membangun berbagai jenis struktur informasi untuk topik tertentu.5% dari total penduduk. Platform social software lainnya adalah social bookmark. Adopsi Internet di Indonesia Jumlah pengguna internet di Indonesia telah meningkat pesat lebih dari 1. Contoh kegiatan yang menggunakan blog untuk tujuan pendidikan antara lain guru dapat menggunakan blog untuk sebagai media pengumuman. (Internet World Statistic. penguna dapat membuka dan mengakses halaman situs yang sama tanpa perlu mencarinya kembali lewat mesin pencari (search engine). T. yaitu fasilitas di internet yang dapat digunakan untuk menandai (bookmark) atau memberikan label (tagging) dari halaman situs yang ingin disimpan. 12 No. Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2004 menemukan bahwa dua pertiga dari pengguna internet di Indonesia mengakses internet melalui warung internet (warnet) dan 68% dari pengguna warung internet adalah lakilaki (Wahid. berita dan umpan balik ke mahasiswa dan dalam penggunaanya dapat digabungkan dengan teknologi sindikasi (RSS feed) yang memungkinkan kelompok peserta didik dengan mudah melacak tulisan (posting) yang baru (Franklin. Walaupun cukup mencengangkan dalam segi kuantitas tingkat pertumbuhan tetapi mengingat jumlah penduduknya yang sudah 238 juta jiwa. 2008). Furuholt. Dengan fasilitas ini. kepadatan pengguna internet di Indonesia hanyalah 10. 2007). Selain Wiki. Dengan menggunakan fitur RSS atau tag. dan Kristiansen.150% dari 2 juta pengguna di tahun 2000 menjadi 25 juta pengguna pada kuartal kedua 2008 (Internet World Statistic. Dengan menggunakan model adopsi teknologi (Technology Adoption 88  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2007). 2004 dalam Wahid. guru dan siswa juga dapat menggunakan situs-situs seperti Technorati dan IceRocket untuk mencari blog tertentu berkaitan dengan subjek pelajaran. 2008). platform social software yang menyediakan wadah untuk menulis adalah weblog (blogs) dan mungkin adalah perangkat lunak yang paling banyak digunakan dalam praktek pendidikan (Bryant. 1 .

Proporsi perempuan yang menggunakan internet untuk berbincang (chatting) dan aktivitas yang berkaitan dengan proses belajar lebih besar dari laki-laki. Namun. termasuk lembaga. Untuk definisi operasional.Model /TAM) Wahid (2007) meneliti perbedaan adopsi internet di antara laki-laki dan perempuan di Indonesia. dan mengunjungi situs porno lebih besar dari perempuan. fenomena sebaliknya ditemui dalam adopsi internet oleh perempuan. Biaya akses internet yang tinggi. berbelanja. Peneliti menggunakan daftar yang ada di Wikipedia dikarenakan dua alasan. 1 89 . 2004). mencari lowongan pekerjaan. Penggunaan Social Software Pada PTN-PTN di Indonesia Di tahun 2004 telah terdapat 46 PTN dan lebih dari 2. Untuk mendapatkan landasan data yang kuat sehingga dapat dipergunakan untuk menyelidiki lebih dalam mengenai perilaku penggunaan social software di tingkat universitas maka langkah awal yang peneliti lakukan adalah mengumpulkan data mengenai penggunaan social software sebagai bagian dari infrastrukstur-maya (cyberinfrastructure) dari PTN-PTN di Indonesia. rendahnya kecepatan akses internet dan kurangnya kemampuan berbahasa Inggris diidentifikasi menjadi kendala paling besar dalam adopsi internet di Indonesia.200 institusi pendidikan tinggi. dan akademi di seluruh Indonesia (DIKTI. hiburan. perguruan tinggi. Wahid memberikan kesimpulan umum bahwa tingkat adopsi internet di Indonesia pada kalangan wanita lebih rendah daripada lakilaki. Oleh karena itu survei yang sederhana dilakukan untuk melihat seberapa banyak dari situssitus PTN tersebut yang telah memasukkan setidaknya satu dari banyak platform social software di situs mereka. peneliti mengambil kategori social software berdasarkan daftar yang dibuat oleh Wikipedia. Studinya menemukan bahwa adopsi internet di kalangan laki-laki lebih dipengaruhi oleh persepsi dari kegunaan internet dibandingkan persepsi kemudahan penggunaannya. Studi itu juga menujukkan bahwa laki-laki menujukkan fleksibelitas tempat akses internet yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. proporsi laki-laki yang menggunakan internet untuk membaca berita online. pengujian dan download software. 12 No. Sebaliknya. daftar kategori yang dimuat Wikipedia menggunakan istilah yang sudah dikenal oleh Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. pertama.

Diantara platform lainnya. Situs ini merupakan suatu terobosan terdepan diantara situs-situs resmi PTN di Indonesia bahkan di tingkat Asia Tenggara dalam melaksanakan pendidikan berbasis teknologi web. dan 5-6 (skor tinggi). terdapat satu hal yang sangat positif pada situs Universitas Paddjajaran yang telah menciptakan sebuah media-sharing websites (http://video.unpad. menengah dan rendah untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Di mana dokumen-dokumen visual perkuliahan dapat disimpan dan terbuka untuk umum. 1 . Hasil dari survei sederhana sebagaimana ditunjukkan oleh Diagram 1. 12 No. Berdasarkan data awal seperti terlihat pada diagaram 1 peneliti kemudian memberikan skor penggunaan social software oleh PTN. Skor tersebut didistribusikan sebagai 1-2 (skor rendah).pengguna social software secara umum. peneliti menemukan dari 18 kategori social software di Wikipedia hanya 5 yang digunakan dalam situs-situs diamati termasuk e-Learning. 90  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. penggunaan kategorikategori yang dibuat dimiliki oleh Wikipedia adalah untuk menghindari ambiguisitas dari penggunaan label social software itu sendiri.ac. peneliti juga menghitung keberadaan perpustakaan digital (digital library) pada situs-situs PTN tersebut. Asumsi di balik pengikutsertaan ini adalah bahwa melihat perkembangan teknologi yang pesat membuat kebutuhan atas social software berada pada tingkatan yang sama dengan keberadaan perpustakaan digital. 3 undangan untuk masing-masing tingkat skor PTN dengan skor tinggi. 3-4 (skor sedang).0 telah dikenal di seluruh dunia setidaknya sejak 2004. menunjukkan bahwa keberadaan e-Learning dan perpustakaan digital berdiri di persentase tertinggi di antara aplikasi dan perangkat lunak lainnya (50%). 3 laki-laki dan 1 perempuan. Kedua.id/). 9 undangan kemudian didistribusikan ke 9 PTN berdasarkan penggunaan social software di situs mereka. Sebagai perbandingan keberadaan infrastruktur-maya di bidang pendidikan. Persentase penggunaan dapat dikatakan tidak cukup signifikan berdasarkan kuantitas terutama jika kita mengingat bahwa aplikasi Web 2. peneliti hanya menerima tanggapan dari 4 perguruan tinggi. Kemudian proses wawancara dilakukan antara Juli hingga Oktober 2008 terhadap 4 responden. 2 tanggapan dari PTN dengan skor tinggi yaitu Universitas Padjadjaran dan Universitas Lampung. Walaupun demikian. dan 2 dari PTN dengan skor rendah yaitu Universitas Sriwijaya dan Universitas Jenderal Soedirman. Dari 9 undangan.

Responden pada penelitian ini mempunyai kriteria sebagai tenaga pengajar tetap pada universitas yang bersangkutan. Diagram 1 Penggunaan Social Software Pada Website PTN Di Indonesia (Per Juli 2008) Tehnik wawancara dipilih sebagai teknik pengumpulan data dikarenakan waktu penelitian yang dilakukan selama masa liburan perkuliahan dan awal tahun ajaran 2008/2009 sehingga sulit bagi peneliti untuk melakukan pengamatan lapangan terhadap responden di lingkungan mereka sebenarnya. 12 No. PEMBAHASAN Keberadaan fasilitas internet memang memengaruhi penggunaan internet di antara para informan. karakteristik responden lain yang muncul kemudian adalah responden telah mempunyai pengalaman mengajar antara 3 sampai 6 tahun.dengan rentang usia responden antara 26 hingga 38 tahun. 1 91 . penelitian ini bersifat independen atau tidak didanai oleh siapapun sehingga peneliti berusaha menekan biaya pengeluaran seminimal mungkin. 3 dari mereka mengatakan bahwa fasilitas wifi yang disediakan oleh pihak Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. berpendidikan sekurangkurangnya S2 dan telah mempunyai pengalaman menggunakan social software. Fokus utama dalam wawancara adalah mencari data mengenai aktivitas dan pengalaman para responden berkaitan dengan penggunaan social software dan proses pengajaran yang mereka lakukan. Selain itu.

Blogspot untuk weblog. Dari wawancara. Furuholt. Temuan ini mungkin tidak mendukung penelitian sebelumnya tentang adopsi internet di Indonesia oleh Wahid (2007). 1 . kemudian YouTube untuk media-sharing website. Alasan utama mereka memilih untuk mengakses internet dari universitas dikarenakan fasilitas tersebut gratis. dan Friendster. Untuk platform lainnya mereka akui bahwa mereka mengetahui aplikasi tersebut tetapi tidak pernah menggunakannya. Multiply. Sedangkan informan lainnya mengatakan bahwa mereka belajar bagaimana menggunakan internet dan social software secara otodidak. 92  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Salah seorang informan mengatakan bahwa dia baru saja mulai mengakrabkan diri dengan penggunaan social software sekitar setahun belakangan dan menurutnya sangat melelahkan untuk terus menerus beradaptasi dengan versi-versi terbaru dari social software. data di atas mendukung penelitian yang terdahulu oleh Wahid. Tempat kedua para informan mengakses internet setelah universitas adalah di warung internet (warnet) dengan intensitas antara 1 sampai 6 jam per minggu. 12 No. kesemuanya menjawab dari social software yang paling populer seperti situs-situs jejaring sosial yaitu Facebook. 2007) bahwa sebagian besar pengguna internet di Indonesia mendapat akses mereka dari warung internet. Popularitas adalah motif utama mengapa mereka menggunakan social software sementara ada juga beberapa yang berpendapat hal ini sebagai usaha mereka untuk lebih dekat dengan perkembangan teknologi terbaru. Sekalipun demikian. Mengenai asal mulanya mereka belajar internet seorang informan mengatakan bahwa seorang teman yang mengajarkan kepada dia bagaimana cara menggunakan internet.universitas memang meningkatkan waktu mereka mengakses internet (online) antara 6 hingga 12 jam per minggu. dan Wikipedia. Dengan alasan tersebut maka mudah dimengerti ketika para informan ditanya mengenai social software apa sajakah yang mereka gunakan. dan Kristiansen (2004 dalam Wahid. Hal ini dikarenakan penelitian ini lebih melihat pada aspek kualitatif dari penggunaan internet di Indonesia terlebih pada karakteristik informan yang spesifik sekali. Hanya seorang informan yang menggunakan sambungan dial-up (modem) untuk mengakses internet dikarenakan tidak adanya fasilitas wifi di fakultasnya. peneliti menemukan bahwa penggunaan social software telah dilakukan oleh para informan sebagai media komunikasi dari proses pengajaran di kelas.

b. meng-upload. Sementara fitur fitur social software seperti berbagi (sharing). Namun. Mudahnya penggunaan dan banyaknya pilihan platform membuat blog tidak hanya cocok sebagai media untuk membantu mahasiswa dalam proses belajar mereka tetapi juga media bagi sang dosen untuk mengekspresikan pemikiran mereka mengenai bahan kuliah yang diajarkannya. 12 No. komentar (commenting).Beberapa perilaku dasar dari penggunaan internet seperti mengunduh (download). 23 mahasiswa kemudian memiliki blog mereka pribadi. a. Salah satu kegiatan yang dapat membawa mahasiswa untuk belajar bagaimana mengekspresikan pemikiran mereka adalah dengan menulis artikel. Ia menugaskan mahasiswanya untuk menempatkan tulisan-tulisan mereka dalam blog yang sudah dipersiapkan oleh sang dosen. Temuan ini menarik dikarenakan sesungguhnya fasilitas-fasilitas yang paling sedikit digunakan itulah yang membuat social software begitu terkenal penggunaannya. Setelah itu dia memilih beberapa artikel terbaik sebagai komponen dalam ujian semester. Dari 40 mahasiswa yang berpartisipasi dalam matakuliah komunikasi politiknya. memberikan tanda bendera (flagging). terutama bagi mahasiswa ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan. mencari (searching). Seorang informan berusaha untuk menggabungkan apresiasi mahasiswa di kelasnya dengan kesukaan mereka untuk menulis di blog. dan mengikutsertakan (embedding) adalah fasilitas-fasilitas yang paling sedikit digunakan oleh para informan. mereka juga harus dimotivasi dan didorong untuk mengemukakan pendapatnya tentang fenomena sosial di dunia nyata. berkaitan dengan penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran. Menggunakan contoh dari media-sharing website untuk menjelaskan materi kelas. peneliti menemukan beberapa model kegiatan. 1 93 . Belajar tidak selalu tentang hasil akhir. membaca. dan menonton adalah aktivitas yang paling banyak informan-informan tersebut lakukan dengan menggunakan social software. menjelajah (browsing). Ada banyak subjek studi yang kadang-kadang membuat mahasiswa benar-benar harus berusaha keras untuk bisa Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. antara lain. melabel (tagging). Mendorong kemampuan menulis mahasiswa dengan menggunakan blog.

1 .memahaminya. Menerbitkan hasil ujian semester pada blog sang dosen. 12 No. Seorang informan memberikan alasan bahwa dia memilih untuk menggunakan blog dalam menyebarluaskan materi kuliahnya dikarenakan dengan memanfaatkan media komunikasi tersebut lebih mudah baginya untuk menjangkau mahasiswamahasiswanya. Sang informan mengatakan bahwa dia menggunakan video contoh iklan layanan masyarakat (Public Service Adds/PSA) yang ia temukan dari YouTube di dalam kelas Social Marketing-nya. sebagian besar dari mereka mengakui bahwa mereka telah menggunakan sekurang-kurangnya memublikasikan nilai ujian kelas dan juga bahan kuliah di blog mereka. Sebelumnya ia kesulitan memberikan contoh video PSA dikarenakan hak cipta dan keterbatasan anggaran untuk kegiatan pengajaran di universitasnya. Dia juga berpendapat bahwa dengan menggunakan blog. dia memberikan kepada mahasiswa waktu yang lebih leluasa untuk mengakses materi kuliah di luar kelas atau membaca bahan ujian atau nilai tanpa harus kuatir tercampur dengan jam belajar mereka di kampus. Bagi informan. Rapidshare dan Slideshare adalah kemampuannya untuk menyimpan dokumen-dokumen digital secara gratis ataupun mengunduh dokumen-dokumen lainnya. Informan lain juga merasakan bahwa mahasiswanya terlihat lebih aktif dalam mencari bahan perkuliahan dan lebih bisa mengingatnya. c. ia dapat membantu mahasiswanya untuk memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai fenomena sosial yang sedang dibahas dikelasnya. d. Fasilitas yang menonjol dari file-sharing website seperti Megaupload. Dengan menggunakan media-sharing website seperti YouTube. situs seperti ini membantu mereka untuk menyebarluaskan materi perkuliahan dan menyediakannya secara online sepanjang waktu sehingga bisa diakses mahasiswanya kapan saja dan dimana saja. Menyebarluaskan materi perkuliahan dengan menggunakan file-sharing websites. Semua informan mengakui mereka adalah pengguna YouTube tetapi hanya seorang informan yang telah menggunakan YouTube sebagai bagian dari proses pengajarannya. Ketika mereka ditanya apakah mereka telah menggunakan perangkat lunak sosial untuk membantu aktivitas mereka mengajar dan untuk alasan apa. 94  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. kecuali jika sang dosen membantu mereka dengan visualisasi contoh.

f. Mahasiswa-mahasiswa tersebut kadang bertanya kepadanya mengenai jadwal kelas. ia merasa lebih dekat dengan anak-anak didiknya atau anak didiknya pun lebih terbuka kepadanya. Tantangan tersebut terutama datang dari pihakpihak yang belum dirangkul oleh teknologi ini. dia menerima protes dari salah seorang mahasiswa karena hal tersebut menyebabkan sang mahasiswa menghabiskan lebih banyak uang dan waktu untuk mengakses internet di warnet. " Secara umum di lingkungan fakultas saya memang belum banyak yang paham. Dengan menyetujui undangan mahasiswanya untuk menjadi teman-teman mereka. Meskipun pihak fakultas telah memfasilitasinya.e. Menunjukkan empati sang pengajar melalui situs jejaring sosial. terutama karena sudah berumur/senior dan biaya yang mesti dikeluarkan. Beberapa Tantangan Dalam Penerapan Social Software Meskipun penggunaan social software sudah terbukti membantu dan dapat berperan sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran tetapi dalam penyebarluasannya masih menemui banyak tantangan. seperti menjadi anggota situs jejaring sosial. Diluar hambatan Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 No. ia bertemu dengan mahasiswanya lebih sering dibandingkan dia bertemu dengan rekan-rekannya seprofesi. Seperti yang dikatakan seorang informan. Tantangan tidak hanya datang dari mahasiswa tetapi juga dari rekan-rekan informan lainnya yang tidak menggunakan teknologi tersebut karena banyak faktor. pada saat itu memang belum ada akses internet gratis di universitas sang informan. Seorang informan menyebutkan bahwa sejak ia bergabung di tahun 2005 sebagai anggota salah satu situs jejaring sosial yang populer. "(Informan 2). 1 95 . terutama yang populer. Karena pada dasarnya ketidaktahuan mereka hanyalah pada kurangnya keinginan mereka untuk belajar. Peneliti menemukan fakta menarik yang berkaitan dengan penggunaan social software. Dua orang informan menyatakan dengan bergabung pada situs jejaring sosial tersebut mereka merasa lebih dekat dengan anak didiknya dibandingkan sebelum menggunakannya. Kemudian. Seorang informan berkata bahwa ia pernah memberikan tugas di kelasnya dengan menggunakan blog dan meminta mahasiswanya untuk mengirim jawaban mereka melalui email kepadanya. dan ingin berbicara 'dari hati ke hati' dengannya.

tantangan mungkin datang dari diri mereka sendiri. DAFTAR PUSTAKA Yuhetty. 1 . Kedua. KESIMPULAN 1. 3. dosen menggunakan contoh-contoh dari media-sharing website untuk menjelaskan materi kelas. Temuan selanjutnya bahwa. dapat menunjukkan empati sang pengajar melalui situs jejaring sosial kepada mahasiswa. model praktek-praktek penggunaan social software sebagai media komunikasi dalam proses pengajaran adalah : pertama. 12 No. Walaupun berbagai studi tentang penggunaan teknologi web ini dalam dunia pendidikan telah dilakukan di banyak negara maju. Keempat.di atas. Social software sebagai suatu media komunikasi dalam proses belajar-mengajar di Indonesia sudah diterapkan oleh sebagian sistem pendidikan di universitas-universitas negeri di tanah air. 2. 2002. H. mendorong kemampuan menulis siswa dengan menggunakan blog. Salah seorang informan mengatakan bahwa dia mengalami hambatan dalam menggunakan beberapa social software dikarenakan kurangnya pemahaman dia tentang penggunaan perangkat lunak itu sendiri. ICT and Education in Indonesia. seperti pengetahuan mereka tentang perangkat lunak dan bagaimana menggunakannya. Survei awal ini menemukan bahwa penggunaan social software oleh PTN-PTN di Indonesia masih rendah. Hadirnya social software atau juga dikenal sebagai social media telah memengaruhi berbagai aspek kegiatan manusia saat ini. Ketiga. Meskipun sebagian besar social software yang populer saat ini sangat mudah digunakan dan lebih intuitif. studi tentang pemanfaatannya di negara-negara berkembang masih rendah termasuk di Indonesia. Diunduh pada tanggal 24 Oktober 2008. dosen menerbitkan hasil ujian semester pada blog dan menyebarluaskan materi perkuliahan dengan menggunakan file-sharing websites. dari Indonesia Ministry of National Education official website: 96  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

2007. M. T.http://eprints. Jakarta: DIKTI. 8-20.0. March/April. Statistik APJII. 33-44.com/2004/10/tracing_the_evo.lifewithalacrity. London. Franklin. December. 406-422. Futurelab. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2006. B. 2007. September 30. Social Software and Learning.com/pub/a/oreilly/tim/news/2005/09/3 0/what-is-web-20.php?lang=ind Bryant. A New Wave of Innovation for Teaching and Learning? Educause Review . Tracing the Evolution of Social Software. C. Emerging Technologies for Learning . P.0 for Content for Learning and Teaching in Higher Education. Social software in libraries: building collaboration. 1 97 . dari Life With Alacrity: http://www. 2007.or.0. G. October 13). What is Web 2. Opening Education.. UK: JISC Technology and Standards Watch. Farkas.ht ml DIKTI.org/archive/00007507/01/Indonesia-ICTpaper. 2006. (2004. Anderson. 2005.oreillynet. 2007. 2004. dari APJII: http://www. VINE: The Journal of Information and Knowledge Management Systems . Wiki anyone? Reflections on an information literacy class wiki. 36 (4). Journal of information literacy . UK: Futurelab.rclis. L.0? Ideas. Diunduh pada tanggal 6 Oktober 2008.id/dokumentasi/statistik. M. T. Web 2. 2006. Franklin. pp. 12 No. v. Diunduh pada tanggal 12 Juni 2008. 2007. Strategi Pendidikan Tinggi Jangka Panjang 2003-2010. 1 (3). Medford. O'Reilly. pp. Diunduh pada tanggal 12 Juni 2008.html Dotsika. UK: Franklin Consulting.apjii. APJII. Alexander. F.pdf Allen. dari O'Reilly: http://www. & Harmelen. and community online. Design Patterns and Business Models for the Next Generation of Software. NJ: Information Today Inc. G. technologies and implications for education. Web 2. What Is Web 2. Towards The New Generation of Web Knowledge. Emerging Trends in Social Software for Education. a. communication. 2007. 2.

Shropshire. A. and Use. Eijkman.wikipedia. Harris. October.. 32 (6). dari Check Point e-Learning: http://www. J. Wikipedia. 2007..0 technologies in LIS education: experiences at Tallinn University. 2007. 378-380. J. Diunduh pada tanggal 8 Oktober 2008. District Administration . 12 No. N. L. and depth in historical articles. 2008. Behaviours.html Stats. I. 93-104. The Second Life of UK Academics.. 25 (2). 20 (2). J. Electronic Library and Information Systems . 2007. Diunduh pada tanggal 12 Oktober 2008. 97-100. K. 2008. Miners. 2007. August. 2007. Wahid.checkpointelearning. Bits & Bytes. H. Web 2. S. and delivery. 107 (4). Park. Shim. 2008. Seegmüller. 108 (7/8). October. Estonia. F. Using the Technology Adoption Model to Analyze Internet Adoption and Use Among Men and Women in Indonesia. 1-8.org/wiki/List_of_social_software 98  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2007. S. What's New In Libraries.com/article/5813. & Campbell. breadth. E. dari Wikipedia: http://en. W. H.. 26-34. 2008. F. Internet Usage in Asia.Kirriemuir. pp. communication. London: Ofcomm Media. from Internet World Stats: http://www. Social Networking: A Quantitative and Qualitative Research Report Into Attitudes. Social Networking In Libraries. Reference Services Review . August. Z. J. 587-600. 7-22. New Library World . Topper. Ofcomm. EJISDC . 2008.com/stats3. October 8. Can Social Software Change Teaching and Learning? Diunduh pada tanggal 10 Oktober 2008. 36 (1). H. Campus-Wide Information Systems . Industrial Management & Data Sytems . 1 . Whose Space? The Bottom Line: Managing Library Finances . Maxymuk.htm Virkus. 2008. & Pascopella. Rector. Ariadne (53). List of Social Software.internetworldstats.. 262-274. The New Literacies. Podcasting for e-learning. 2008. Use of Web 2.0 as a Non-foundational Network-centric Learning Space. Comparison of Wikipedia and other encyclopedias for accuracy.

* Drs. kebutuhan bermedia. segala aktivitas informasi dan komunikasi dapat berjalan dengan cepat tanpa ada hambatan batas-batas suatu negara. PENDAHULUAN Latar Belakang Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) merupakan salah satu pilar utama pembangunan bangsa saat ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa keberadaan Warmasif untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan komunikasi kurang optimal dimanfaatkan sesuai dengan tujuan dan sasarannya.. yang ditempatkan dan dikelola oleh unit Bisnis Kantor Pos setempat.MOTIVASI PENGGUNA WARUNG MASYARAKAT INFORMASI DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN BERMEDIA DI PROVINSI JAWA BARAT Syarif Budhirianto* Abstraksi Warung Masyarakat Informasi (Warmasif) merupakan model pengembangan Community Access Point (CAP). Syarif Budhirianto adalah peneliti muda di Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika(BP2KI) Bandung. Kata kunci: CAP. yakni dengan melakukan akses informasi. dan tidak satu bidang kehidupan/sektor pembangunan nasional yang tidak memerlukan penggunaan TIK. Keberadaannya penting dalam mempercepat tercapainya masyarakat informasi yang ditargetkan tahun 2015 tercapai. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 99 . Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tentang motivasi pengguna Warmasif dalam pemenuhan kebutuhan bermedia bagi masyarakat 7 (tujuh) kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat. interaksi sosial/komunikasi melalui fasilitas teknologi informasi dan komunikasi (TIK) kepada masyarakat. sementara pemenuhan kebutuhan hiburan dinilai cukup tinggi pemanfaatannya. 12 No. Bahkan maju tidaknya suatu negara ditentukan oleh penguasaan TIK oleh masyarakatnya. Dengan penguasaan teknologi tersebut. Warmasif.

Di Indonesia tempat-tempat sejenis ini tumbuh dengan beragam nama. diantaranya Balai Informasi Masyarakat (BIM). Namun 100  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Warung Informasi Teknologi (WARINTEK). sehingga mereka dapat mengenal lebih jauh tentang manfaat dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi informasi dan komunikasi. misalnya wartel atau warnet. Community Training and Learning Center (CTLC). E-Business dengan Kanwil Pos setempat dan Pemerintah Daerah setempat adalah Warmasif. jenis CAP sudah dilakukan dengan baik. India dan lain-lain. Salah satu model pengembangan CAP hasil kerja sama Ditjen Aplikasi Telematika cq Dit. Jordan . Salah satu fasilitas yang sudah dilakukan adalah dengan pemberdayaan telematika dan pemerataan infrastruktur informasi . usaha kelautan dan perdagangan komoditi unggulan melalui e-commerce atau e-UKM yang terdapat di wilayah setempat (Studi Pemberdayaan CAP. Dengan demikian masyarakat dapat memanfaatkan informasi secara optimal melalui sarana CAP. Telecenter. sehingga seorang petani dapat memperkirakan harga yang sesuai untuk hasil produksinya dan dapat belajar mengenai cara mengolah hasil tani. Saat ini keterlibatan masyarakat lebih banyak difasilitasi oleh sejumlah inisiatif penyediaan TIK yang berorientasi bisnis. Keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaannya harus mampu mendorong upaya mewujudkan masyarakat informasi dalam menciptakan peluangpeluang digital. Warung Masyarakat Informasi (Warmasif). Di negara berkembang lainnya. Community Learning Centre.Untuk terwujudnya masyarakat informasi yang efektif dan efisien dalam meningkatkan kesejahteraan. serta mengurangi kesenjangan digital/digital device (Infomobilitas. seperti memfasilitasi pembangunan Community Access Point (CAP) di berbagai daerah di Indonesia. CAP merupakan fasilitas yang diberikan kepada masyarakat di bidang TIK. dan lain-lain. CAP sebagai wahana multiguna untuk pengembangan masyarakat sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. diantaranya mengetahui hargaharga pasar dari produk pertanian atau perikanan. Salah satu tujuannya adalah mempercepat dan menunjang tumbuh dan berkembangnya usaha pertanian. China. komunitas sekolah atau kampus yang didukung dengan fasilitas internet. seperti Peru.2007 :20).2007:25) . maka pemerintah memberikan fasilitas teknologi informasi dan telematika (TIK) kepada masyarakat. 1 . 12 No.

Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 2. dan Kab. Untuk mengetahui pemanfaatan warmasif oleh pengguna dalam pemenuhan kebutuhan informasi. baik sosial. Bagaimana motivasi pengguna dalam mengakses fasilitas-fasilitas di Warmasif dalam pemenuhan kebutuhan informasinya. Kuningan. melainkan juga tatanan kehidupan masyarakat itu. Kab. Dari kasus-kasus gagal inilah masyarakat pada umumnya menganggap bahwa strategi peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan memanfaatkan TIK tidak tepat sasaran.Upaya dalam pembangunan Warmasif memang bukan hal yang mudah dilakukan. Selain itu dapat bermanfaat untuk membantu mengatasi masalah kehidupan masyarakat dengan tidak mengabaikan faktor manusia. maka masalah penelitian ini adalah bagaimana motivasi pengguna Warmasif dalam memenuhi kebutuhan bermedia di Provinsi Jawa Barat? Identifikasinya adalah : 1. Masalah Berdasarkan latar belakang. 1 101 . Bagaimana motivasi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan hiburannya 3. Kota Bandung. sikap dan perilaku yang melandasi kearifan budaya lokal merupakan sesuatu yang penting dan strategis. Kab. Kota Tasikmalaya. Tuntutannya bukan saja agar masyarakat mendapatkan akses terhadap informasi. Garut. Kab. Tujuan 1. 12 No. Bagaimana motivasi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan komunikasi (interaksi sosial). ada juga CAP yang dibangun dan menuai kegagalan memberikan manfaat ekonomis untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan. karena diperlukan upaya dan pemahaman yang cukup mendalam.Purwakarta) yang berdiri awal tahun 2007 perkembangannya belum memenuhi harapan sesuai dengan tujuan dan sasarannya. budaya dan ekonomi juga memerlukan dukungan agar menjadi lebih baik. lebih transparan dan membuka peluang setiap anggota masyarakat dalam memanfaatkan TIK. perubahan budaya. Karawang.dengan tidak bermaksud menutupi fakta. Keberadaan 7 (tujuh) Warmasif yang berlokasi di Provinsi Jawa Barat (Kota Bekasi.

alasan-alasan. peran dan pemanfaatan secara optimal berguna bagi masyarakat untuk mendukung upaya mempercepat tercapainya masyarakat informasi Indonesia yang ditargetkan tahun 2015. 102  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. setiap individu dapat mencapainya dengan cara pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhannya itu. interaksi sosial. 3. Berkaitan dengan motif manusia yang menggunakan media internet. Lebih lanjut menurut Katz. 12 No. atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu “. beberapa kategori kebutuhan individu yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media diantaranya kebutuhan kognitif. Menurut Gerungan (1983: 25).2. Kerangka Pemikiran Motivasi dan Kebutuhan Media Kebutuhan manusia yang berkaitan dengan media menurut McQuail dalam Lull (1998:120) meliputi kebutuhan akan informasi. 3. . afektif. 1 . strategi dan kebijakan pemberdayaan Warmasif sebagai sarana pemenuhan kebutuhan informasi sesuai dengan sasaran dan tujuannya. Manfaat 1. 2. Untuk mengetahui motivasi pengguna dalam mengakses fasilitasfasilitas dalam pemenuhan kebutuhan hiburan dan komunikasi/interaksi sosialnya. Untuk mengetahui motivasi pengguna dalam pemenuhan kebutuhan berkomunikasi (interaksi sosial). hiburan dan integrasi sosial. menurut Katz dalam Marshall (2000). bahwa untuk memenuhi kebutuhan bermedia . Melalui peningkatan fungsi. integrative personal. dan kebutuhan akan pelarian. motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak. Bermanfaat bagi Ditjen Aplikasi dan Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika dalam rangka penyusunan program. hal ini didasarkan pada suatu kebutuhan tertentu. Berguna bagi pengelola Warmasif dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Internet juga memberikan kemungkinan dan kemudahan untuk mencari dan mengakses berbagai macam informasi. hiburan. 2000) Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat dicapai dengan dua cara. Sehingga bagi masyarakat pengguna teknologi informasi dan komunikasi dapat meningkatkan terpaan media alternatif . Dari media inilah mereka mencari informasi dan mendapatkan hiburan untuk memuaskan kebutuhan pribadi dan sosial mereka”. Hunter beranggapan bahwa “Audiens tidak sepenuhnya pasif tetapi mereka merupakan individu yang secara sadar memilih jenis dan isi media. yang semuanya berasal dari fungsi sosial dan psikologi dari media. teori ini menunjukan bahwa “ yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak.. kategori ini antara lain: 1. interaksi sosial. dengan alam sekitar. yaitu : (1) Pemenuhan kebutuhan yang didapatkan dengan cara mengakses/menggunakan media yang diharapkan dapat memenuhi kebutuhan (2) Pemenuhan kebutuhan didapatkan dengan cara mempelajari isi informasi dalam media yang kemudian diterapkan dalam praktek. 1 103 . Dengan kata lain.Media internet merupakan salah satu media massa yang pada pemunculannya bisa disebut membuat revolusi tersendiri baik untuk dunia komputer maupun pada dunia media massa. kebutuhan akan hiburan. 2.Jr. Dalam hal daya tarik komunikasi. 12 No. melepaskan ketegangan. tetapi bagaimana media memenuhi kebutuhan pribadi dan sosial khalayak” (Effendi. (Marshall. internet menawarkan kemampuan berkomunikasi secara elektronik (e-mail dan chatting) yang relatif mudah dan murah selama 24 jam penuh. Kebutuhan akan pelarian : hasrat melarikan diri dari kenyataan. Media ini memiliki daya tarik tersendiri. yaitu :pemenuhan kebutuhan informasi. serta kebutuhan pendidikan. Kebutuhan interaksi sosial : memperkuat hubungan dengan keluarga. teman. dapatlah diambil suatu modifikasi tentang macam-macam kebutuhan yang menjadi dasar motivasi para pengguna media internet ke dalam empat bagian yang mencakup fenomena penggunaan media internet dan www. di samping penggunaan media ini sebagai pemberdayaan dalam Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Berdasarkan hal tersebut.1993:289) Kemudian Katz Hass dan Gurevitch memberikan beberapa kategori kebutuhan individu.

meningkatkan pemakaian TIK. Fasilitas search engine : fasilitas pada media internet yang dirancang khusus untuk menyimpan serta menyusun jutaan alamat 104  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. kini semakin banyak orang yang memanfaatkan internet untuk bermacam-macam kebutuhan. Selain telah secara revolusioner mengubah metode komunikasi massa dan penyebaran data atau informasi. 1 . 2. Media internet dapat dengan mudah mengintegrasikan seluruh bentuk media massa konvensional seperti media cetak dan audio visual bahkan tradisi lisan (oral tradition) melalui fasilitas-fasilitas yang ada. bahkan untuk keperluan bisnis. Menurut Halloran. hiburan maupun interaksi sosial. dan pelaksanaan pemuasan kebutuhan itu (the accomplishment or the satisfaction of that need)(Effendi. atau mengeleminir kesenjangan digital di masyarakat digital divide. psikologis atau sosiologis. (Kominfo. internet juga telah membuktikan sebagai medium berjangkauan massal yang paling fleksibel. 3. 1993:113).2001:54) Manusia mempunyai kebutuhan yang diusahakan untuk dipenuhi atau berusaha untuk dipuaskan. 12 No. Dorongan (drives): berorientasi pada tindakan untuk mencapai tujuan. Kebutuhan (needs): kebutuhan merupakan suatu kekurangan dalam pengertian keseimbangan. motivasi adalah proses yang terdiri dari 3 tahap . kegiatan untuk memuaskan kebutuhan (a behavioral action to satisfy that need). seperti kebutuhan akan informasi. yakni : 1. Tujuan (goals): segala sesuatu yang akan meredakan suatu kebutuhan dan akan mengurangi dorongan. yaitu : kebutuhan internal (internal need). kebutuhan tercipta apabila terjadi ketidakseimbangan fisiologis.2002) Adapun pengertian dari motivasi menurut Sumantri adalah suatu proses penting untuk memahami tentang mengapa dan bagaimana perilaku seseorang dalam melakukan kegiatan tertentu. Kegiatan untuk memenuhi kebutuhan inilah yang menjadi motivasi setiap individu. Fasilitas tersebut menurut Yuswanto adalah : 1. (Sumantri. Media Internet dan Community Access Point Di Provinsi Jawa Barat termasuk di tujuh kabupaten dan kota yang terdapat Warmasif.

12 No. Fasilitas e-mail (electronic mail) : fasilitas pada media internet dan www yang berguna untuk mengirimkan pesan dalam format data elektronik dari satu komputer ke komputer lainnya. seperti peningkatan wawasan. Proyek Partnerships for e-Prosperity for the Poor (Pe-PP) kerjasama Bappenas dengan UNDP. 4. keahlian melalui pendidikan dan latihan bagi masyarakat. seperti www. akses internet. 3. faksimili. terutama telepon. Ketika mengirimkan e-mail. Fasilitas FTP (file transfer protocol) : fasilitas pada media internet yang dirancang untuk mengirimkan (upload) dan menerima (download) suatu data. 1 105 . komputer berikut perangkat pendukungnya. Walaupun Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. bahkan dengan dunia internasional melalui internet. Fasilitas order : fasilitas pada media internet yang memungkinkan para penggunanya melakukan suatu transaksi ekonomi dengan sistem keamanan yang sangat pribadi. belajar . 6. pesan tersebut dikirimkan ke komputer yang ada di ISP (internet service provider) yang kemudian dikirimkan kepada penerima pesan. Fasilitas situs web (web sites) : fasilitas pada media internet yang menyimpan semua jenis informasi (file tulisan. dengan pengembangan telesenter sebagai model dari CAP. video dan suara). merupakan suatu fasilitas tempat masyarakat dapat berinteraksi. bekerja dan mendapat hiburan dengan memanfaatkan komputer. gambar. Telecenter memungkinkan masyarakat melakukan hal tersebut dengan pihak di luar daerahnya. serta layanan yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. dan layanan informasi lainnya.yahoo. Pada situs web ini tersimpan halaman web (web page) yang saling terhubung. ketrampilan.situs yang sudah didaftarkan sebelumnya berdasarkan topik-topik tertentu. (Yuswanto. internet dan berbagai teknologi informasi dan komunikasi (TIK) lainnya. Fasilitas Internet Relay Chat (chatting) : fasilitas pada media internet dan www yang memungkinkan para penggunanya untuk melakukan percakapan mengenai topik tertentu 5.com 2.2000:3) CAP merupakan sebuah pusat atau sentra di mana masyarakat (khususnya yang berada di perdesaan) dapat melakukan berbagai aktivitas komunikasi dan pengaksesan informasi dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang tersedia.

berbeda-beda bentuknya. Ketiga. meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan melalui perbaikan tingkat pendapatan. berdemokrasi dan pembangunan. memberikan peluang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat perdesaan dengan memanfaatkan ICT. kemudian daftar tersebut di satukan untuk diberi nomor secara berurutan mulai dari nomor satu sampai terakhir. 106  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pengambilan responden untuk masing-masing Warmasif dilakukan dengan sampel random secara ordinal (Ordinal random sampling). Responden penelitian untuk masing-masing Warmasif adalah 10 orang . 2. 2007:17). mengurangi keterisoliran. 12 No. (Proyek Bappenas & UNDP. Kota Tasikmalaya. seperti membantu meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kehidupan bernegara. yakni untuk mengungkapkan motivasi pengguna (user) Warmasif sebagai pemenuhan kebutuhan bermedia di 7 ( tujuh ) kabupaten/kota di Jawa Barat terhadap pemenuhan bermedia. Kuningan. Kota Bekasi. Kab. Kedua. Dari 26 jumlah kota dan kabupaten yang ada. meningkatkan kapasitas masyarakat dalam berorganisasi dan melakukan usaha . pendekatannya kuantitatif. Kab. Kota Bandung. dan sebagainya. Kab. yaitu berdasarkan kesepakatan Direktorat Aplikasi dan Telekomunikasi (Depkominfo) dengan PT. hanya ada 7 (tujuh) kabupaten dan kota yang terdapat fasilitas Warung Masyarakat Informasi ( Warmasif ). meningkatkan kesadaran masyarakat perdesaan tentang arti penting informasi dan penguasaan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Garut. telecenter mempunyai karakteristik khusus. jumlah keseluruhan 70 responden. mengurangi kesenjangan digital. Pos Indonesia yakni. yaitu mendukung kegiatan pemberdayaan masyarakat. Adapun dalam konteks pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah berdasarkan daftar catatan pengunjung dalam sebulan terakhir. Metode Penelitian 1. dan Kab. sekaligus mengurangi kesenjangan akses informasi antara masyarakat perkotaan dan perdesaan. Karawang. Sifat penelitian ini adalah deskriptif. Untuk pengambilan sampel. Purwakarta. Pada dasarnya CAP bertujuan untuk : Pertama. meningkatkan peran serta pemuda/i dan perempuan. Lokasi penelitian adalah di Provinsi Jawa Barat. 1 . Keempat. memerangi kemiskinan dengan memanfaatkan ICT.

Kota Tasikmalaya 78 orang 3.1983) Warmasif adalah model pengembangan Community Access Point (CAP) dimana masyarakat yang berada di suatu wilayah dapat melakukan komunikasi. 4. 12 No. akses informasi global. Pengolahan data dilakukan dengan menginventarisir seluruh data yang terkumpul dari hasil pengisian kuesioner serta hasil wawancara. Purwakarta 19 orang 7. Definisi dan Operasionalisasi Konsep Definisi Konsep Motivasi merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua penggerak. macam-macam kebutuhan yang menjadi dasar motivasi para pengguna media internet digolongkan ke dalam empat bagian yang mencakup : pemenuhan kebutuhan informasi.3. Kab. Kota Bekasi 35 orang 2.Kuningan 12 orang 5. Lokasi Warmasif Jumlah Pengguna Kota Bandung 130 orang 1. selanjutnya dilakukan perhitungan tabulasi frekuensi. hiburan. Sumber:Pengelola Warmasif Setempat. sebagai berikut : No. Motif manusia merupakan kebutuhan tertentu dalam mengakses media internet di Warmasif. dan dianalisis dengan menggunakan metode deskripsi. dan interaksi sosial/komunikasi . Kab. alasan-alasan. (Gerungan. Garut 101 orang 6. atau dorongan-dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu . Karawang 52 orang 4. Kab. pemasaran melalui Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Kab.5 dan seterusnya sampai mendapat 10 sampel) Adapun data populasi atau pengunjung warung masyarakat informasi tanggal 1 – 30 April 2007 (Minggu tutup) per lokasi penelitian berdasarkan data hasil pra penelitian.diambil secara purposif mulai dari nomor ganjil terkecil (nomor 1. Sedangkan data sekunder melalui studi kepustakaan dan literatur. Pengumpulan data primer adalah kuesioner serta wawancara dengan pengelola dan nara sumber di lokasi penelitian. 1 107 . April 2007 (diolah) 3.

dan sikap para pengguna tentang informasi yang didapat. Mempercepat dan menunjang tumbuh dan berkembangnya usaha pertanian.Warmasif dibentuk berdasarkan kesepakatan kerja sama antara Ditjen Aplikasi Telematika Depkominfo dengan Dirut PT POS INDONESIA. meningkatkan layanan informasi dan pendidikan masyarakat. dengan indikator : pengetahuan para pengguna tentang hiburan .internet. penggunaan fasilitas internet di Warmasif untuk melakukan interaksi sosial. pemenuhan kebutuhan hiburan. jenis-jenis informasi. 2. dan sikap para pengguna tentang hiburan. dan sikap para pengguna tentang interaksi sosial . 1 . dengan indikator : pengetahuan para pengguna tentang komunikasi pada media internet. usaha kelautan dan perdagangan komoditi unggulan 108  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pemenuhan kebutuhan hiburan. yaitu dalam upaya mengembangkan perdagangan komoditi unggulan melalui perdagangan elektronik / e-commerce atau e-UKM. 2. Pemenuhan kebutuhan informasi. Tujuan Warmasif adalah : 1. transaksi online dan akses perpustakaan digital. dan pemenuhan kebutuhan berkomunikasi. 12 No. pengguna menggunakan fasilitas internet untuk mencari hiburan. 1. Operasionalisasi Variabel Variabel motivasi kebutuhan bermedia terdiri atas sub variabel : pemenuhan kebutuhan informasi. Mempercepat tercapainya masyarakat informasi Indonesia (MII) yang ditargetkan tahun 2015 tercapai. Pemenuhan kebutuhan komunikasi. 3. dengan indikator : asal mula mengenal Warmasif. fasilitas internet Warmasif dalam proses pencarian informasi. WARUNG MASYARAKAT INFORMASI Tujuan dan Sasaran Warmasif dibentuk berdasarkan kesepakatan kerja sama antara Ditjen Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika dengan Dirut PT POS INDONESIA.

58%)).57 %. disusul antara 25 – 32 tahun. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Bekasi: 5. Pekerjaan responden sebagian besar adalah dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Mempercepat terwujudnya Universal Service Obligation (USO) dalam bidang komunikasi dan informasi. Tetapi Kategori jenis kelamin ini bukan merupakan satu-satunya faktor yang diteliti.Purwakarta:7. profesional. 4. Jenis kelamin responden. Data secara rinci dapat dilihat pada tabel 1. yakni 40 orang dan sebagian kecil lainnya adalah petani. Dari 70 responden yang berada di 7 (tujuh) lokasi Warmasif di kota dan kabupaten di Jawa Barat. perempuan (Bandung) : 3.Purwakarta: 3. laki-laki (Bandung):7. karena pengetahuan dan pergaulan mereka semasa di bangku sekolah lebih tertarik mempelajari TIK.Bekasi: 5. Kuningan: 8 = 43 (61. pengusaha. dan pensiunan. dan sebagian kecil lagi adalah mereka yang berumur lebih dari 57 tahun. Sedangkan usia mereka yang terbesar adalah antara 17 – 24 tahun.42%)).Tasikmalaya:4. identitasnya meliputi : jenis kelamin. sebagian besar berjenis kelamin laki-laki. 3. Banyaknya mereka yang mengunjungi Warmasif dari kalangan usia muda. dan hanya sebagian kecil saja dari sekolah dasar. Hal ini menunjukan keberadaan Warmasif masih didominir oleh mereka yang berlatar belakang pelajar dan mahasiswa. 12 No. Pendidikan masyarakat melalui perpustakaan digital dan layanan informasi kesehatan serta layanan informasi lain-lain. pekerjaan.Kuningan:2 = 27 (38. Usia mereka sebagian besar adalah antara 17 – 24 tahun yaitu sejumlah 41 orang atau 58.melalui e-commerce atau e-UKM yang terdapat di wilayah setempat.Garut: 5. usia. dan pendidikan.Tasikmalaya: 6.Karawang: 9. Karawang:1. yaitu masing-masing satu orang. HASIL PENELITIAN Identitas Responden Jumlah responden penelitian adalah 70 (tujuh puluh) orang . 1 109 .Garut:5. Sedangkan pendidikannya sebagian besar berlatarbelakang SMA.

Karyawan Petani/nelayan PNS/ABRI Pengusaha Profesional Pensiunan Tidak kerja Ibu rumah tgg.85 %) 5 (7.57 %) 9 (12.57 %) 5 (7.57 %) 13 (18. 12 No. Bks.14 %) 12 (18. Krwng Tskml Pwkrt Grt.42 %) 1 (1.71 %) 2 (2. Jumlah Pendidikan SD SMP SMA Diploma Sarjana Jumlah 1 2 5 2 10 3 4 3 10 5 4 1 10 2 6 2 10 1 7 2 10 7 3 10 1 1 4 3 1 10 2 (2... lebih Jumlah Pekerjaan Pelajar/mhsw.85 %) 38 (55. 25-32 th. 41-48 th. Lain-lain .42 %) 9 (12.14 %) 3 (4. 57 th.Tabel 1 Identitas Responden Identitas Responden Usia Krg.57 %) 1 (1.85 %) 70 (100 %) 3 10 5 2 2 1 10 6 1 1 1 2 10 5 1 1 1 1 10 7 10 1 1 10 8 1 1 3 2 2 1 2 2 10 6 40 (57.14 %) 5 (7.42 %) 3 (4. 49-56 th.28 %) 70 (100 %) 4 2 1 2 1 10 3 4 1 2 10 3 1 3 3 10 2 7 1 10 1 1 5 1 1 1 10 3 3 3 1 10 4 3 1 2 10 20 (28.85%) 9 (12. Dr.42 %) 1 (1.14 %) 6 (8. Kng Total 7 kota (Persentase) 110  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 17 th. 1 .28 %) 1 (1.85 %) 70 (100 %) Bdg.95%) 21 (29. 33-40 th.14 %) 4 (5. 17-24 th.

43%). 1 111 . 7. 2. Tabel 3 Asal Mula Mengetahui Warmasif No. sebagian besar dari Kantor Pos. secara keseluruhan dari jawaban yang diberikan dipandang cukup memenuhi syarat untuk diikutsertakan dalam pembahasan hasil penelitian. atau mengetahui ketika lewat ke kantor pos secara tidak sengaja. Kurangnya masyarakat menggunakan Warmasif dimungkinkan karena letaknya hanya di kantor pos. radio. Sebagian besar pengguna Warmasif pemanfaatannya antara 1 sampai 3 kali . 7-9 kali 4 (5. 12 No.43 2. Keberadaan Warmasif tergolong baru. 8. baik sewaktu ada urusan dengan perposan. 5. Hal ini wajar karena Warmasif keberadaannya masih satu Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.14 2. 3. adalah 1-3 kali 51 (72. dan tidak ada seorangpun yang telah mengunjungi 10 kali lebih. Pemanfaatan Warmasif Frekuensi pemanfaatan Warmasif di Kantor Pos sejak berdirinya awal tahun 2007. dan belum semua masyarakat mengetahui . 4.71%).) Di Kantor Pos Lainnya Jumlah Frekuensi 9 11 1 7 8 28 5 70 Persentase 15. serta ada persaingan dari usaha sejenis yang bertebaran di sudut-sudut kota.86%).71 21.86 100 Asal mula para responden mengetahui keberadaan Warmasif. seperti warnet (warung internet). 1.Berdasarkan karakteristik/identitas responden tersebut.86 11.) Media elektronik (televisi. Sumber Keluarga Teman Tempat kerja Pemerintah Media cetak (surat kabar. internet dll. hal ini karena sosialisasi belum optimal. 6. 4-6 kali 15 (21.majalah dll.43 14.28 27.

14 9 12. Ya Tidak F % F % 61 87. asal mula mengetahui Warmasif dari pihak keluarga. 1 .atap dengan Kantor Pos. teman.1987:72). Bila dari keluarga dan teman diperoleh dari informasi langsung. sehingga dari 70 responden tidak ada yang tersentuh. Pemenuhan kebutuhan hiburan 3 Pemenuhan kebutuhan komunikasi/interaksi sosial 49 70. Selanjutnya . hal ini menunjukkan bahwa media ini sangat berguna untuk dijadikan sebagai media untuk mencari informasi dan hiburan.00 Motif Motif penggunaan Warmasif oleh pengguna sebagian besar adalah untuk pemenuhan kebutuhan informasi dan hiburan. frekuensi per minggu . masyarakat dan dunia. fasilitas yang sering digunakan . dan masih dikelola oleh pegawai pos sendiri.29 2.71 10 14. 112  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Sebagaimana dikemukakan oleh MC Quail bahwa “media massa harus dapat digunakan untuk mencari informasi tentang peristiwa dan kondisi yang berkaitan dengan lingkungan terdekat. dan dari media elektronik berimbang. Pemenuhan kebutuhan informasi 60 85. sedangkan media didasarkan pada terpaan yang mereka peroleh. (McQuail. Sedangkan dari kalangan pemerintah dinilai usaha sosialisasi kurang optimal.00 21 30. dan sebagian kecil lainnya adalah untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. jenis informasi yang dicari. 12 No. Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pemenuhan kebutuhan informasi yang diungkap adalah : kebiasaan dalam mencari informasi. Sedangkan mereka yang menyatakan lainnya adalah yang tidak menyebut secara pasti darimana asal mula mengetahui istilah Warmasif atau ragu menyebut sumber beritanya. dan sikap mengenai informasi media internet.86 1. Tabel 4 Motif Pemanfaatan Warmasif No.

26 6. disamping itu tidak sedikit yang mengakses tentang informasi di bidang pendidikan (e-education). 1 113 .02 4. olah raga dll. Hal ini karena sebagian pengunjung Warmasif dari kalangan generasi muda (pelajar dan mahasiswa) yang kurang begitu berkepentingan (concern) dengan masalah-masalah perdagangan dan kesehatan. mereka justru sering mengakses dengan tren-tren yang berkembang dengan tuntutannya.82 18.Tabel 5 Jenis Informasi No. 8 (umum). Jumlah n: 70. seperti menjual. mencari referensi perpustakaan (library online).07 3.01 25. sep. 1 Jenis Informasi Frekuensi 22 14 27 10 8 30 5 43 7 166 Persentase 13. 4 promosi produk (e-commerce) Belajar tentang menggunakan komputer 5 Mencari pekerjaan melalui internet 6 Mencari informasi pemerintahan (e7 government) Informasi sosial. Lainnya 9. budaya. Menjual. dan informasi tentang lowongan pekerjaan. serta di bidang kesehatan yang notabene program dari Warmasif kurang diminati oleh penggunanya. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. promosi produk (ecommerce) utamanya dari sektor usaha kecil dan menengah (UKM) . 12 No.25 8. budaya. membeli. membeli.politik.90 4. Sebaliknya informasi yang berhubungan dengan bidang perdagangan. lebih dari satu jawaban.43 16. olah raga dan lain-lain) yang sering di akses oleh para pengunjung warmasif.21 100 Informasi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan dan bidang pendidikan (e-learning atau e-education) Informasi yang berhubungan dengan bidang 2 kesehatan Referensi perpustakaan (library online) 3 Mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam bidang perdagangan. politik. Jenis informasi yang bersifat umum (sosial.

4 35. Sebaliknya. 2.1%). Pemenuhan Kebutuhan Hiburan Tabel 6 Jenis Hiburan Ketika Mengakses Media Internet No. 1. 1 . 9. Dengan cara inilah keberadaan media internet akan eksis dicari oleh user serta menyediakan data terbaru ( actual information) dibandingkan dengan media lainnya.8 9 7.5 100 Dari tabel di atas tergambar bahwa salah satu jenis hiburan yang paling banyak dicari oleh pengguna Warmasif adalah chatting . koran ataupun majalah. seperti media televisi. 4. 7.5 9 17. Jenis Hiburan Lagu (MP3) Chatting On-line games Adult web. 6. Hal ini 114  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Selanjutnya Website atau situs 8 (8. Dari berbagai informasi yang ada di internet ternyata sebagian besar responden menyatakan berita-berita yang ada pada media ini sangat aktual serta selalu mendapatkan topik informasi tertentu yang dicari. Chatting 7 (5.5%). sebagian kecil dari mereka yang menilai bahwa berita-beritanya tidak aktual dan kurang dipercaya.4%). 3. dikarenakan saat mengakses pemegang website tidak meng up date data yang terbaru.1%)Sikap pengguna tentang informasi yang di akses di Warmasif tergolong bagus .9 7. situs porno Lagu (MP3) danchatting Lagu (MP3) dan on-line games Lagu (MP3) dan situs porno Chatting dan on-line games Chatting dan situs porno Jumlah Frekuensi 8 22 5 7 5 10 3 60 Persentase 13. e-mail (surat elektronik) 5 (9. radio. kecuali mereka yang ingin mendapatkan pekerjaan sesuai dengan yang diinginkan yang tergolong berimbang atau cukup bagus. 8.Fasilitas yang paling sering digunakan para responden untuk mencari informasi adalah fasilitas search engine (mesin untuk mencari) diantaranya yang paling terkenal adalah yahoo dan google yakni 40 (73%). 12 No. Hal ini karena pemegang website atau situs di internet selalu di updating sesuai dengan kejadian faktual di masyarakat. FTP/order 1(4. 5.

5%).5%. bahkan berkenalan dengan orang yang tinggal di luar negeri.8%. Banyaknya yang melakukan interaksi berupa percakapan secara online dengan sebutan chatting. Salah satu situs yang paling terkenal dan paling banyak digemari adalah www. chatting 38. karena sebagai salah satu cara menjalin komunikasi dengan kerabatnya secara realtime. seperti file gambar. website atau situs 4. tidak hanya dalam kecepatan proses pengiriman. 12 No. e-mail 1. tidak hanya sekedar berkenalan secara online. tetapi juga dilakukan dengan individu yang sama sekali tidak saling mengenal.com. FTP 9%. Jenis hiburan lainnya adalah mendengarkan dan men-download lagu-lagu berformat MP3. 1 115 . keluarga. Hal ini karena pada Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. website atau situs 4 orang (6. chatting 39 orang (53. sehingga penggunaan fasilitas ini sangat membantu dalam hal pencarian alamat situs yang dimaksud. suara bahkan file video. Fasilitas yang sering digunakan untuk berkomunikasi / interaksi sosial tergambar sebagai berikut : search engine 2 orang (3.7%. mereka dapat berkiriman surat dengan berbagai macam data.7%). begitu pula dalam hal kerahasiaan atau privacy menyatakan penggunaan e-mail cukup terjaga. lagu.dilakukan tidak hanya untuk berinteraksi dengan teman atau dengan sanak saudara yang tinggal saling berjauhan. Begitu pula berkiriman surat secara online.3%. baik lagu baru atau lama yang tak kalah kualitasnya dengan CD audio yang berformat Wav. e-mail 21 orang (30. Responden beranggapan bahwa berkirim surat secara online cukup mudah. tetapi menyangkut biaya yang murah.mp3. dan berkirim surat secara online 46.1%). Pemenuhan Kebutuhan Berkomunikasi Jenis interaksi sosial yang sering dilakukan adalah percakapan online dinyatakan oleh 53.1%).5%. Begitu pula penggunaan e-mail.3%.7%) dan e-mail serta chatting 4 orang (6. Fasilitas chatting juga dapat digunakan untuk menghibur diri dengan cara melakukan percakapan dengan teman. Fasilitas yang paling sering digunakan untuk mencari hiburan adalah : search engine 46. Banyaknya yang tertarik menggunakan fasilitas chat dikarenakan mereka dapat menjadi bagian dari penduduk dunia yang sedang on line. Hampir setengah responden menggunakan search engine karena tidak mengetahui alamat situs yang akan dituju.

3 46. serta jenis hiburan yang berbeda dengan yang didapat media lainnya. serta meningkatkan layanan informasi pendidikan masyarakat. dan lainnya. olah raga. yakni dalam upaya mengembangkan perdagangan komoditi unggulan melalui perdagangan elektronik/ecommerce.4 18.setiap alamat e-mail yang responden miliki dilindungi oleh password atau kata kunci yang hanya diketahui oleh para responden itu sendiri. yakni keinginan untuk sejenak melarikan diri dari realitas hidup. cari kerja.1 44. 1 . men-download atau 116  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. budaya.7 53. mencari kesenangan hedonistik.6 81. mencari kepuasan pribadi dan pelepasan emosi.8 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Sebaliknya mereka lebih banyak mengakses jenis informasi bersifat umum. 2.8 55. Tabel 7 Sikap Pengguna Tentang berkomunikasi Pada Media Internet Sikap No. 12 No. Pemenuhan kebutuhan hiburan biasanya dilakukan dengan cara melakukan chatting. Seperti terlihat pada tabel berikut.2 F 1 14 12 39 Tidak % 1. 1 2 3 4 Interaksi Sosial/komunikasi F Berkiriman surat secara on-line cukup mudah Berkiriman surat secara on-line kerahasiaannya cukup terjaga Merasa aman berbicara terus terang ketika chatting Mempercayai perkataan lawan bicara ketika chatting 48 35 37 10 Ya % 98. yaitu informasi politik. Motivasi dalam pemenuhan kebutuhan hiburan di Warmasif dinilai tinggi. Pemenuhan kebutuhan informasi pada warung masyarakat informasi (Warmasif) di Provinsi Jawa Barat kurang optimal dimanfaatkan oleh masyarakat pengguna (user) sesuai dengan tujuan dan sasarannya.

Saran 1. Jakarta : Erlangga. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 3. Denis. Motivasi dalam melakukan komunikasi dapat menyerupai interaksi dunia nyata yakni dengan menggunakan webcam ketika melakukan chatting. Yogyakarta : Rineka Cipta. promosi barang dan akses digital lainnya. WA. Untuk selanjutnya dapat diberdayakan lagi. Effendi. seperti pertanian. tetapi menyangkut biaya yang murah. 2. dan lain-lain. transaksi online. atau membuka situs-situs porno.mendengarkan lagu berformat MP3.1993. Onong U. Teori Komunikasi Massa. Hendaknya kesepakatan kerja sama antara Ditjen Aplikasi Telematika dengan PT POS Indonesia tentang Warmasif lebih ditingkatkan sosialisasinya. 1983. 3. Bandung : Citra Aditya Bakti. seperti pemasaran melalui internet. Idealnya Warmasif berada di daerah-daerah yang memiliki komoditas unggulan tetap. Suatu Pendekatan Praktek. Teori dan Filsafat Komunikasi. sehingga akan termotivasi lagi menggunakannya sebagai media informasi dan komunikasi. serta biaya akses internet yang lebih murah lagi kepada masyarakat. 1993. tidak hanya dalam kecepatan proses pengiriman. Psychology Sosial. Mc. DAFTAR PUSTAKA Gerungan. Hendaknya pengelola Warmasif untuk lebih meningkatkan kemampuan mengakses internet. Bandung : PT Erasco. Ilmu. perikanan. Prosedur Penelitian. hasil kerajinan. 1 117 . 12 No. sehingga masyarakat dapat mengetahui keberadaannya didalam upaya meningkatkan layanan informasi dan pendidikan masyarakat. menambah fasilitas yang dapat memanjakan pelanggan. Begitu pula berkiriman surat secara online. Arikunto. Pemenuhan kebutuhan interaksi sosial biasanya dilakukan dengan percakapan secara on-line dengan sebutan internet relay chat (IRC) atau chatting.. bermain game online. 1994. Suharsimi.Quail. karena sebagai salah satu cara menjalani komunikasi dengan kerabatnya secara realtime.

co.Febrian. 2000. Proyek Bappenas dan UNDP.Rakhmat. -------------------------. Tahun 2006. Bandung : Remaja Rosda Karya. Sumber lainnya : 1.Sam Abede. Dirjen Aplikasi Telematika. Warung Masyarakat Informasi Indonesia. Indonesiatelecenter.id) dan situs http://www. 2001. Situs lainnya : yahoo. Depkominfo.or. 6. Perilaku Organisasi.com. berita. 1996. Badan Litbang SDM. Web Design Plus. Pusat Litbang Aptel dan SKDI. Sumantri. 2. Situs resmi Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) (http://www. 2002. Direktorat E-Business. Hasil Pengumpulan Data Basis Tentang Lembaga Komunikasi Massa di Provinsi Jawa Barat. Jakarta.id 5. Sistem Informasi Nasional. Tersedia di : http//www. 2007. 1 . Yuswanto. Kominfo. Jalaluddin. Bandung : Remaja Rosda Karya. Jack. BPPI Wil. Departemen Komunikasi dan Informatika. Studi Pemberdayaan CAP Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Pedesaan. Infomobilisasi .2005. Antara Realitas dan Mimpi. Bandung : Universitas Pajajaran. Bandung : Informatika. 2006. Suryana. Metode Penelitian Komunikasi. Psikologi Komunikasi. Depkominfo RI. 12 No. 118  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan detik .2002. Toni Edi.id Pareno.com. Departemen Komunikasi dan Informatika. google. Menggunakan Internet. 2007 4. Bandung : Multiunion. Media Massa.com. Surabaya : Papyrus. 3. III Bandung. 2000.com.go.depkominfo.apjii.

kalau dulu media didirikan oleh lembaga. Selain itu. 1 119 . setiap individu juga adalah media. Jurnalis. Manfaat penelitian ini diantaranya untuk memberikan gambaran tentang eksistensi citizen journalism diantara civic journalis (media mainstream) yang lazim disebut media massa. Yaitu perkembangan jurnalistik dan perkembangan media. berkembang juga weblog atau blog. kini setiap individu bisa membuat media. Karena itu. pers berada dalam situasi di mana pengertian wartawan dan media mengalami pergeseran penting sebagai akibat dari berkembangnya dua hal. 12 No. S.SIKAP JURNALIS TERHADAP CITIZEN JOURNALISM Dida Dirgahayu* Abstraksi Saat ini. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dulu reportase adalah tugas khusus yang dibebankan kepada wartawan atau reporter media massa. Kata kunci : Sikap. Merupakan penelitian deskriptif (descriftive studies) dengan metode pendekatan kuantitatif. Citizen Journalism PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi telah mengubah hakekat media. atau individu yang mempunyai uang dan kekuasaan (power).Sos adalah peneliti pertama Balai Pengkajian dan Pengembangan Komunikasi dan Informatika (BP2KI) Bandung. Inilah yang kemudian disebut sebagai citizen journalism. melaporkan gagasannya kepada publik. di zaman internet ini. Dunia jurnalistik kini mulai mengalami perubahan. atau paling tidak. Dengan demikian. di mana setiap orang bisa melaporkan peristiwa di sekelilingnya. kini berkembang situs-situs lembaga maupun pribadi. Dengan perkawinan jurnalistik baru dengan perkembangan teknologi * Dida Dirgahayu. Dengan internet. maka sekarang setiap warga bisa melaporkan peristiwa kepada media. Permasalahan penelitian ini adalah : bagaimana sikap jurnalis terhadap citizen journalism.

Apakah citizen journaslism dapat disetarakan atau masuk dalam katagori jenis jurnalistik ( media mainstream) atau sebatas ruang publik. tetapi dikabarkan dengan baik oleh masyarakat. Hasil penelitian dan kajian ini akan memberikan data awal. begitu banyak warga masyarakat yang memberikan informasi kepada radio. apakah laporan awam bisa dikatagorikan sebagai berita. 120  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. ternyata fungsi melaporkan sudah bukan tugas eksklusif wartawan/ reporter. dan setiap individu adalah media. Reaksi jurnalis terhadap citizen journalism Manfaat Penelitian ini layak dilakukan karena bermanfaat untuk memperoleh gambaran tentang sikap jurnalis terhadap citizen journaslism. Pengetahuan dan pemahaman jurnalis tentang citizen journaslism 2. gambaran dan aspirasi para jurnalis. Bagaimana penilaian jurnalis terhadap citizen journaslism ? 3. dan menjadi foto utama media cetak. Permasalahan Pokok Dan Indetifikasi Masalah Permasalahan pokok dari penelitian ini adalah : Bagaimana sikap jurnalis terhadap citizen journaslism? Identifikasi masalahnya adalah : 1. Dengan berkembangnya citizen journalism. 12 No. Pertanyaannya adalah. Penilaian jurnalis terhadap citizen journaslism 3. Ketika banjir. misalnya. televisi. Bagaimana reaksi jurnalis terhadap citizen journalism ? Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkan : 1. media online. Berdasarkan realitas inilah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana sikap jurnalis surat kabar terhadap citizen journaslism.media kita menyaksikan bahwa setiap individu adalah reporter. 1 . Begitu banyak peristiwa di sudut kota yang tidak ter-cover oleh media mainstream. hasil rekaman masyarakat awam lah yang ditayangkan oleh media elektronik. Bagaimana pengetahuan dan pemahaman jurnalis tentang citizen journaslism ? 2. Pada saat bom Bali I dan II meluluh lantakkan bangunan.

com. berhubungan dengan kecenderungan untuk beraksi. pengertian. 3. Komponen afektif. Reaksi ini dipengaruhi kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi suatu objek. Oleh karena itu.(Severin-Tankard. merupakan model jurnalistik baru ini disebut sebagai Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.(SeverinTankard 2005:295). adalah proses sentral yang menghubungkan peristiwa-peristiwa di luar (eksternal) dan di dalam (internal) diri sendiri.2005 : 295) Citizen journalism. Berdasarkan pendekatan ini setiap orang akan mencari keseimbangan dalam bidang kognisinya dan terbentuk dari sikap yang bersangkutan. Apabila terjadi ketidakseimbangan. afektif. komponen konasi akan menjawab pertanyaan bagaimana kesediaan/kesiapan untuk bertindak terhadap obyek (Shaver. akan tetapi menunjukkan bahwa manusia merupakan suatu sistem kognitif. pengalaman. pengetahuan. Aspek kognisi merupakan aspek penggerak perubahan karena informasi yang diterima menentukan perasaan dan kemauan berbuat. menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap.Kerangka Teori Kognisi menurut Scheerer. bertingkah laku dengan cara tertentu. Komponen kognisi menjawab pertanyaan tentang apa yang dirasakan (senang atau tidak senang) terhadap obyek. menurut Lily Yulianti (panyingkul. Masing-masing komponen tidak dapat berdiri sendiri. 2006). Ketiga komponen tersebut tidak berdiri sendiri. Objek dirasakan sebagai hal yang menyenangkan. pemahaman jurnalis tentang citizen journalism. dan konatif. Komponen kognitif. dimana masing-masing mempunyai fungsi yang diarahkan terhadap objek tertentu/ stimulus tertentu. pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan secara kognitif. 12 No. 2. namun merupakan interaksi dari komponen-komponen tersebut secara komplek. Penekanan Scheerer tidak hanya peristiwaperistiwa yang sifatnya eksternal tetapi lebih jauh adalah peristiwa yang ada dalam dirinya atau faktor internal.177). 1 121 . tapi konatif ini tidak meramalkan tingkah laku aktual itu sendiri. individu akan berusaha mengubahnya sehinggga terjadi keseimbangan kembali. Yaitu : 1. Ini berarti bahwa yang dipikirkan seseorang tidak akan terlepas dari perasaannya. Operasional konsep dari sikap mengacu kepada tiga komponen dari sikap sebagai indikator. hal disukai atau tidak. Komponen konatif.

persepsi. pengolahan. Dalam sebuah lembaga penerbitan pers. Jurnalis Wartawan (journalist) adalah orang yang terlibat dalam pencarian. 1 . atau perasaan tidak mendukung (unfavourable) pada objek tersebut. Menurut Gerungan (1996:150). Merekalah yang memburu berita (fakta atau kejadian). dan feature untuk media massa. wartawan adalah ”orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.com). dengan perspektif masing-masing. maupun melakukan interperetasi terhadap suatu peristiwa tertentu. (Azwar. dimana kecenderungan bereaksi ini merupakan cara yang khas tergantung dari motivasi. Mulai dari Pemimpin Redaksi hingga koresponden yang terhimpun dalam bagian redaksi. friendster. 12 No. ”Di mana terjadi suatu peristiwa. Wartawan ( journalist ) adalah orang yang secara rutin melakukan aktivitas jurnalistik. tapi sebagai alternatif yang memperkaya pilihan dan referensi. dan penulisan berita. Masyarakat biasa seharusnya masuk dalam ekosistem media sebagai unsur yang aktif berinteraksi (http://sulungz.“Jurnalisme Orang Biasa” . emosi.Seperti namanya. dan penulisan berita. yakni aktivitas peliputan. Citizen Journalism tidak hadir sebagai saingan. dan proses kognitifnya. Tinjauan Pustaka Sikap Menurut Louis Thurstone dan Charles Osgood.blogs. 2003:5). tidak semua orang yang bekerja di sebuah perusahaan pers (media massa) adalah wartawan. sikap merupakan kecenderungan bereaksi terhadap objek-objek. opini. Jadi. meliput berbagai peristiwa. wartawan masuk dalam Bagian Redaksi (Editor Department) yang dipimpin oleh Pemimpin Redaksi (Editor in Chief). dan menuliskannya untuk dikonsumsi orang banyak. setiap individu bebas melakukan kegiatan-kegiatan jurnalistik. baik perasaan mendukung atau memihak ( favourable ). 122  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Citizen Jurnalism ini memberi pengertian bahwa.40/1999 tentang Pers (pasal 1 poin 4). Semua individu bebas melakukan hal itu. Menuliskan pengalaman yang ditemui sehari-hari di lingkungannya. sikap merupakan suatu bentuk evolusi atau reaksi perasaan terhadap suatu objek. perekaman. Menurut UU No. Berita tidak lagi dilihat sebagai produk yang didominasi wartawan dan institusi pers.

(http://www. Citizen Journalism dinilai sebagai bentuk partisipasi aktif masyarakat untuk menyuarakan pendapat secara lebih leluasa. dengan menggunakan visual dari masyarakat (kameramen amatir). terstruktur. hanya terletak pada kecepatan penyampaian. sejumlah orang melakukan pemikiran-pemikiran untuk menembus batas ini. media kontemporer yang memberi wahana baru dalam aktualitas pemberitaan. ”Seperti mata dan telinga para pembaca suatu harian. Keunggulan itu akhirnya dipergunakan oleh sebagian pihak untuk menjadikan media internet sebagai salah satu wadah media mainstream.” Wartawan adalah suatu profesi yang penuh tanggungjawab dan risiko. Walhasil. Bahkan lebih kuat dan leluasa. Bentuk Citizen Journalism dapat dilihat pada proses penayangan berita di televisi. Jadi ketika kita masuk ke internet.L Stein (1993:5). misalnya membaca berita surat kabar atau salah satu informasi departemen pemerintah atau perusahaan. Perbedaan mendasar antara media mainstream yang tumbuh lebih awal dengan media mainstream pada internet. Berdasar kesadaran itu. Kendati begitu.pontianakpost. Website seperti kita ketahui adalah satu lembaran informasi yang ada di internet. Wartawan bukanlah dunia bagi orang yang ingin bekerja dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore setiap hari dan libur pada hari minggu. berdialog dengan orang yang memiliki blog. Tidak ada seorangpun tahu kapan kebakaran atau bencana lain akan terjadi. awan pun mendapatkan kembali posisi lamanya. 1 123 . Lebih dari media apa pun yang telah ada. ia harus memiliki idealisme dan ketangguhan. Disebut mutakhir karena di weblog kita bisa berkomunikasi.wartawan akan berada disana” kata M. 12 No. Karenanya. Karena regulasi pers maupun undang-undang pada media internet ini sangat kabur dan tidak tegas. pemberitaan atau penyebaran informasi di media internet ini tetap terpolarisasi pada model diktum. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Blog sebenarnya sebuah website juga. Weblog atau blog adalah versi mutakhir dari web. (Romli :2003 :8) Citizen Journalism Internet kini menjadi new media. itu yang kita sebut dengan Website. seperti halnya tenggat deadline di media mainstream. serta dapat diakses secara umum dan sekaligus menjadi rujukan alternatif.com) Pemberitaan Citizen Journalism lebih mendalam dengan proses yang tak terikat waktu.

" Seorang penulis pada Citizen Journalism melakukan tugasnya dengan proses penetrasi terhadap obyek pemberitaan dengan totalitas dan penuh atmosfir. dan feature untuk dipublikasikan atau dimuat di media massa tentang peristiwa atau gagasan. Citizen Journalism menjadi wadah 'gairah bercerita' dari semua individu. wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik. opini. Citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu. Citizen Journalism menjadi pengimbang dari media-media yang selama ini melakukan pemberitaan berdasar kepentingan. Perspektif pembaca yang muncul dari suatu berita media mainstream yang terbiasa terpola 124  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Perbedaan nyata antara citizen journalist dan wartawan yang bekerja di media massa. wartawan setidaknya mempunyai standar profesi sejati (real journalist) disamping aturan profesi lainnya. tapi mereka ingin berkontribusi secara nyata dengan menuliskan pikiran atau pendapat mereka tentang suatu hal. Menurut UU No. sangat pasti tidak mengenal polarisasi pemberitaan karena semuanya tergantung kepada interest kemampuan penulis (bloger). guru besar madya pada Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS. Wartawan media mainstream melakukan peliputan atas peristiwa berdasar pada tugas keredaksian. sementara seorang citizen journalist menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya.Antara jurnalis dengan aktifitas bloger Penulisan informasi adalah aktifitas penulisan atau penyusunan berita. Dalam aktifitas seorang bloger. Aktivitas tersebut dilakukan oleh wartawan (journalist) dan penulis (writter). Bentley. jurnalistik disebut sebagai “dunia kewartawanan”. 1 . 12 No. 40/1999 tentang Pers (pasal 1 poin 4).(M. melakukan liputan karena penugasan. salah satunya adalah penggunaan weblog yang memungkinkan orang untuk menyuarakan opini terhadap berbagai peristiwa secara bebas. menilai bahwa meski sebagian besar masyarakat tidak ingin menjadi jurnalis. Jurnalisme yang berkembang saat adalah jurnalisme yang berbasis pada penggunaan teknologi internet. Karenanya. wartawan media mainstream membatasi diri pada 'informasi apa dan yang bagaimana' diinginkan pasar. 2005 : 6) Sebagai ujung tombak bagi suatu penerbitan surat kabar atau media massa lainnya. dijelaskan dengan rinci oleh Bentley (2005) sbb: "Seorang wartawan yang bekerja di media massa. Clyde H. Romli.

berbeda dan tidak bisa disamakan dengan dengan media mainstream pada umumnya. Isi media pada hakikatnya adalah hasil rekonstruksi realitas dengan bahasa sebagai perangkat dasarnya. aktifitas maupun media yang digunakan dalam citizen journalism bukanlah sebuah jurnalistik baru atau bagian dari civic journalism. relatif akan lebih murni di citizen journalism ini. 12 No. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. sedangkan bahasa bukan saja alat untuk merefresentasikan realitas. Bukan hanya memberitakan peristiwa atau fenomena dalam sikap yang objektif dan imparsial. Berdasarkan kaidah jurnalistik dan teori tentang media massa seperti dikemukakan di atas. Jumlah informasi yang di tawarkan citizen journalism akan lebih banyak dan beragam sementara media mainstream terikat dengan jumlah halaman (suratkabar). Demikian pula dipandang dari sudut pelakunya. Pekerjaan media pada hakikatnya adalah mengkonstruksikan realitas suatu fakta atau peristiwa yang dipilihnya. Sedangkan civic journalism adalah upaya wartawan profesional dan media tempat mereka bekerja untuk lebih mendekat dengan persoalan warga (pembacanya). 1 125 . Disebabkan sifat dan faktanya bahwa pekerjaan media massa adalah menceriterakan peristiwa-peristiwa. durasi penayangan (televisi) atau durasi penyiaran (radio). Hal positif yang perlu disambut baik oleh kalangan citizen journalism maupun civic journalism adalah bahwa keduanya dapat saling mengisi dan memosisikan dirinya sebagai sumber informasi. Media massa sebagai media mainstream (civic journalism) Sebenarnya apa yang disebut sebagai civic journalism. Mungkin akan banyak orang yang rancu dengan istilah citizen journalism.berdasar visi dan misi suatu media. serta ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan itu secara langsung. maka seluruh isi media adalah realitas yang telah dikonstruksikan (constructed reality). padahal keduanya sama sekali berbeda. aktifitasnya seorang bloger tidak sama dengan profesi seorang wartawan. diantaranya realitas dari proses kampanye pemilu. tapi lebih menyatu dan terlibat dalam membimbing warga dan mendorong warga untuk melakukan sesuatu. Citizen journalism adalah keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu (dalam pengertian setiap orang adalah wartawan dan kerja wartawan bisa dilakukan oleh setiap orang).

Sehubungan dengan itu. Meskipun setiap individu atau kelompok memang memiliki dunia persepsi dan pengalaman yang unik. Jadi. Secara umum.namun juga bisa menentukan relief seperti apa yang akan diciptakan oleh bahasa tentang realitas tersebut. media massa dapat menyediakan saluran penghubung bagi berbagi institusi yang berbeda. dan menyalurkan kita untuk menghubungi pihak lain. Pengetahuan tersebut membuat kita mampu untuk memetik pelajaran dari pengalaman. namun mereka memerlukan kadar persepsi yang sama terhadap realitas tertentu sebagai prasyarat kehidupan sosial yang baik. lingkungan simbolik di sekitar (informasi. dan memperkaya khasanah pengetahuan masa lalu. Media massa berperan sebagai penengah dan penghubung dalam pengertian bahwa: media massa seringkali berada diantara kita. (Sobur. 1 . 2002 : 88). dan lain-lain) seringkali kita ketahui melalui media massa. media massa seringkali menyediakan bahan bagi kita untuk membentuk persepsi 126  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Institusi media menyelenggarakan produksi. 12 No. Pada dasarnya hubungan antara pengirim dan penerima seimbang dan sama. media massa dapat saja berada diantara kita dengan institusi lainnya yang ada kaitannya dengan kegiatan kita. orang tua. membentuk persepsi kita terhadap pengalaman itu. serta menjamin kelangsungan perkembangan pengetahuan kita. gagasan. dan media pulalah yang dapat mengaitkan semua unsur lingkungan simbolik yang berbeda. reproduksi dan distribusi pengetahuan dalam pengertian serangkaian simbol yang mengandung acuan bermakna tentang pengalaman dalam kehidupan sosial. agama. Asumsi dasar kedua ialah media massa memiliki peran mediasi (penengah/ penghubung) antara realitas sosial yang objektif dengan pengalaman pribadi. dalam beberapa segi media massa berbeda dengan institusi pengetahuan lainnya (misalnya seni. dan lain-lain) : Media massa memiliki fungsi pengantar (pembawa) bagi segenap macam pengetahuan. media juga menyalurkan pihak lain untuk menghubungi kita. agama. pendidikan. Media menjangkau lebih banyak orang daripada institusi lainnya dan sudah sejak dahulu ”mengambil alih” peran sekolah. media massa juga memainkan peran institusi lainnya. Lingkungan simbolik itu semakin kita memiliki bersama jika kita semakin berorientasi pada sumber media yang sama. dan lain-lain. Menurut asumsi dasar di atas. kepercayaan. sumbangan media massa dalam menciptakan persepsi demikian mungkin lebih besar daripada institusi lainnya.

menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. dimana masing-masing mempunyai fungsi yang diarahkan terhadap objek tertentu/ stimulus tertentu. dengan perspektif masing-masing.com. sikap merupakan kecenderungan bereaksi terhadap objek-objek. Semua individu bebas melakukan hal itu. Operasional konsep dari sikap mengacu kepada tiga komponen dari sikap sebagai indikator. pengertian. mengenai situasi-situasi.1983:19) Menggambarkan sikap jurnalis terhadap citizen Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Komponen afektif. dan faktual. hal disukai atau tidak. 2006). fakta-fakta dari populasi tertentu (Suryabrata.kita terhadap kelompok dan organisasi lain. akurat.Seperti namanya. 1 127 . dimana kecenderungan bereaksi ini merupakan cara yang khas tergantung dari motivasi. Komponen konatif. dan proses kognitifnya. emosi. 3. Yaitu : 1. Sikap Menurut Gerungan ( 1996:150). berhubungan dengan kecenderungan untuk beraksi. Menuliskan pengalaman yang ditemui seharihari di lingkungannya. bertingkah laku dengan cara tertentu. Metode Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif ( descriptive research). Melalui pengalaman langsung kita hanya mampu memperoleh sedikit pengetahuan. tapi konatif ini tidak meramalkan tingkah laku aktual itu sendiri. pemahaman jurnalis tentang citizen journalism. Citizen Jurnalism ini memberi pengertian bahwa. Reaksi ini dipengaruhi kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku bagi suatu objek. 12 No. serta peristiwa tertentu. persepsi. bertujuan untuk menggambarkan secara sistematis. 2. di Indonesia model jurnalistik baru ini disebut sebagai “Jurnalisme Orang Biasa” . Komponen kognitif. pengalaman. pengetahuan. Citizen journalism Menurut Lily Yulianti (panyingkul. setiap individu bebas melakukan kegiatankegiatan jurnalistik. Objek dirasakan sebagai hal yang menyenangkan. Definisi Konsep Dan Operasional Konsep Definisi konsep dalam penelitian ini adalah : 1. 2. maupun melakukan interperetasi terhadap suatu peristiwa tertentu.

Sampel ditentukan secara purposive sampling yaitu 64 jurnalis ( yang bekerja / mempunyai bidang tugas redaksi/ baik redaktur maupun wartawan.di daerah tersebut mempunyai jumlah wartawan yang banyak. Kota Bogor mempunyai jumlah wartawan yang bertugas sebanyak 317 orang. 1 . tidak dimungkinkan dibuat kerangka sampling. Dengan keterbatasan yang ada. calon responden memiliki pengetahuan tentang citizen journalism. 12 No. penelitian dilakukan melalui pengumpulan data kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah jurnalis surat kabar di Kota Bogor. Sejalan dengan paradigma tersebut. Pengolahan data dilakukan dengan mengolah jawaban hasil wawancara dan kuesioner. lokasi ini dipilih karena berdasarkan data dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat. Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2007 di Kota Bogor. dimasukan dalam tabel frekuensi dan persentase yang selanjutnya diinterpretasikan dan dianalisis. melalui pertanyaanpertanyaan.1997). Jurnalis dalam penelitian ini dibatasi pada jurnalis yang bekerja / mempunyai bidang tugas redaksi/ baik redaktur maupun wartawan pada media massa surat kabar dan melakukan pencarian (peliputan) berita yang ada di Kota Bogor. satu cara mengumpulkan data melalui komunikasi dengan individu-individu dalam suatu sampel (Zikmund. melakukan pencarian (peliputan) berita. dan untuk memperoleh data yang lebih mendalam dilakukan juga pengumpulan data kualitatif melalui wawancara mendalam. Tehnik penelitian ini adalah survey. merupakan daerah perkotaan sehingga akses jurnalis terhadap internet relatif lebih dimungkinkan. Survey adalah satu bentuk teknik penelitian di mana informasi dikumpulkan dari sejumlah sampel berupa orang. 128  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pemilihan sampel dilakukan secara tidak acak (non probability sampling).journalism.

57%) memiliki perangkat komputer tanpa koneksi internet. Semua responden ( 64 orang ) memiliki perangkat komputer. bahkan inspirasi melalui content yang tersedia dalam internet. Tingginya tingkat kebutuhan responden terhadap berbagai ragam informasi yang tersedia di berbagai situs internet.15%) memiliki handphone sebagai alat yang memiliki/ bisa koneksi internet.62%) mengakses internet setiap hari. dan teknologi komunikasi handphone berkoneksi internet. dan 17 responden (26.ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pengetahuan. Analisis di atas diperjelas dengan gambaran tentang frekuensi penggunaan fasilitas internet. handphone bukan saja berfungsi sebagai komunikasi diantara perseorangan. dan sebanyak 47 orang (73.43%) memiliki fasilitas internet. telah memungkinkan seorang jurnalis melakukan pencarian sumber informasi. 1 129 . baik dalam bentuk kata-kata atau gambar kepada perusahaan/ penerbitnya.38%) mengakses internet sesuai keperluan. bahwa handphone dan internet sebagai salah satu bentuk teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi fasilitas yang dimiliki dan mendukung pekerjaan jurnalis. Journaslism dan Pemahaman Jurnalis Tentang Citizen Dari 64 orang responden. semuanya menyatakan tetap mengakses internet di kantor tempat bekerja. 8 responden (13. Secara aplikatif. Analisis tentang tingkat kebutuhan jurnalis terhadap teknologi informasi berupa akses internet. 12 No. diperkuat dengan gambaran tentang frekuensi Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.85%) memiliki handphone tidak memiliki koneksi internet. sebanyak 56 responden (86. dan 6 responden (9. tetapi kelengkapan fitur internet menunjukan bahwa kebutuhan informasi yang bisa diperoleh melalui akses internet lewat handphone telah menjadi kebutuhan. koneksi internet memungkinksn seorang jurnalis di lapangan untuk mengirim berita.Jawaban di atas menunjukan. Demikian pula dengan kepemilikan perangkat komputer yang mempunyai fasilitas koneksi internet. sebanyak 58 responden (90. Dari 64 responden. Bagi responden yang tidak memiliki handphone dan perangkat komputer berkoneksi internet. Data di atas menunjukan bahwa handphone dan internet telah menjadi bagian dari seorang jurnalis (wartawan).

57 responden (89. Data di atas diperkuat dengan jawaban responden yang sebagain besar menyatakan selain mengenal juga mengetahui aktifitas bloger dalam dunia citizen journalism.68%) mengenal dari internet. dan 9 responden (10. hal ini tergambar dari sebagian besar responden mempergunakan internet untuk mengirim e-mail. seluruhnya mengenal istilah bloger sebagai aktifitas citizen journalism. Dari 64 responden. Dalam mengakses internet. dapat dianalisis bahwa soorang responden yang melakukan pekerjaan sebagai jurnalis dapat mengirimkan beritanya ke penerbit dengan mempergunakan e-mail. sebanyak 51 responden (79. Dari 57 responden.81%) melakukannya antara 1 – 2 jam. 12 responden (18. Data ini menunjukan bahwa. tetapi mengenal juga perkembangan dalam dunia internet. 23 responden (40. frekuensi maupun kebutuhan responden terhadap internet berkaitan langsung dengan pekerjaannya. dan 18 responden (38. 1 . 12 No.25%) sangat mengetahui aktifitas bloger. bahwa responden selain mempergunakan fasilitas yang berhubungan langsung dengan pekerjaannya sebagai jurnalis. dimana sebagian besar responden menyatakan setiap hari mengakses internet. seperti halnya istilah blog dan bloger. bahwa handphone berakses internet serta perangkat komputer berkoneksi internet merupakan perangkat atau fasilitas pendukung responden yang berprofesi wartawan. 37 responden (57.06%) melakukannya berkaitan dengan pekerjaan. semua responden menyatakan dalam setiap mengakses internet rata-rata di atas satu jam.13%) menyatakan memgkses internet dengan frekuesi yang tidak menentu.94%) mengakses tidak berhubungan dengan pekerjaan sebagai jurnalis.29%) untuk mencari data / berita . . Dari 64 responden yang mengenal istilah citizen journalism..33%) mengakses internet dengan keperluan yang beragam ( keperluan lainnya). Data ini menunjukan. 11 responden (19. 9 responden (14. Data di atas menununjukan. 15 responden (26.6%) antara 3 – 4 jam. Tentang citizen journalism. Sebanyak 52 responden (81. Dalam mempergunakan fasilitas internet.03%) melakukan komunikasi . 5 responden 130  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.75%) menyatakan cukup mengetahui aktifitas citizen journalism.penggunaa.35%) mengakses internet untuk mengirim e-mail tentang berita ke redaksi. Data di atas menunjukan bahwa. 8 responden (14.

31%) menyatakan dua hari sekali . Data di atas menunjukan bahwa. Namun bagi reponden yang menyatakan bahwa citizen journalism tidak membantu pekerjaanya.81%) mengenal citizen journalism membaca dari buku. 8 responden (12. dimana internet telah menjadi sumber informasi tentang perkembangan dunia internet. 8 responden (12. dimungkinkan karena Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 1 131 .18%) menyatakan setiap hari membuka web-bloger. dan . Hal ini menunjukan bahwa memang responden memanfaatkan internet dalam menunjang pekerjaannya serta sebagai sumber informasi bagi penambahan wawasannya.. Sama halnya dengan jawaban responden dalam membuka situs internet.56%) menyatakan mencari artikel tentang informasi aktual.51%) menyatakan kadang-kadang membuka web bloger.(7.51%) menyatakan membuka blog karena sesuai dengan keperluan. dan 5 responden (7. Penilaian Jurnalis Tentang Citizen Journalism Sebanyak 49 responden (76.06.30%) mengenal dari pembicaraan non formal. Sebagian besar responden menyatakan rata-rata setiap hari membuka blog dalam internet. 3 responden (4.93%) menyatakan mencari informasi lokal yang tidak tercover oleh media massa. 29 responden (45. Jawaban responden di atas sangat cocok dan sinkron dengan jawaban sebelumnya. Sebagian besar responden menyatakan mengetahui istilah dan aktifitas citizen journalism justru dari media internet sendiri.%) menyatakan bahwa citizen journalism membantu tugas mereka sebagai wartawan. Tentang keperluan membuka web para bloger. 17 responden (26. 12 No. dan sebanyak 15 responden (23. responden dalam mengakses situs atau blog cukup tinggi frekuensinya.94%) menyatakan tidak membantu tugas wartawan . Responden telah menempatkan citizen journalism sebagai back up data dan informasi terhadap hala-hal yang tidak diperoleh oleh dirinya sebagai jurnalis. Sebanyak 27 responden (42. citizen journalism telah berfungsi sebagai media informasi dan sumber data bagi pekerjaannya sebagai jurnalis. Sebagian besar responden menyatakan bahwa citizen journalism telah membantu dirinya sebagai jurnalis seperti telah di analisa pada jawaban sebelumnya. Sebanyak 39 responden (60.81%) mengenal dari artikel surat kabar.

12 No. 17 responden (26. responden sebagai seorang jurnalis menyatakan apresiasinya terhadap aktifitas menulis oleh kalangan bloger. Tentang penilaian responden. 17 responden (26. Sebagian responden menilai bahwa isi dari aktifitas citizen journalism sebagian besar hanya berupa opini penulis.20%) menyatakan senang terhadap kehadiran citizen journalism karena menunjukan aktifitas menulis masyarakat yang tinggi. sarana penambahan wawasan dan sarana hiburan.51%) menyatakan ragu-ragu. 1 . responden sangat kritis dan selektif dalam memberikan penilaian tentang isi blog atau isi dari citizen jounalism. Tentang data. 23 responden (35. 39 responden (60. 13 responden (20. fakta. dan 5 responden (4.sumber informasi lain diluar internet masih memadai responden dalam melakukan pekerjaannya. Data di atas menunjukan bahwa semua responden menyambut baik aktifitas citizen journalism. seluruhnya merasa senang dengan kehadiran citizen journalism. Tentang isi atau content yang ada dalam aktifitas citizen journalism.31%) karena dapat menambah wawasan. Hal ini dimungkinkan karena penilaian responden sebagai jurnalis yang tidak begitu saja menyerap informasi tanpa melalui penelusuran kebenaran informasi.Jawaban ini menyiratkan bahwa responden menempatkan citizen journalism sebatas sebagai pendukung dan bukan sebagai sumber berita.93%) menyatakan tidak percaya dan 8 responden (12. 52 responden (81.56%) karena alasan hiburan. dan 11 responden (11. bahwa sebagian besar responden menyatakan tidak percaya terhadap isi citizen journalism. dapat dianalisis bahwa di samping menyatakan bahwa citizen journalism bermanfaat bagi mendukung bidang kerjanya. Terdapat jawaban responden yang menarik untuk dianalisis.06%) menyatakan informasi. data atau lainnya. Reaksi Jurnalis Terhadap Citizen Journalism Dari 64 responden. selain sebagai sumber informasi.56%) menyatakan percaya.93%) senang karena menambah sumber informasi. atau informasi yang ada dalam aktifitas citizen journalism. 9 responden (14.25%) menyatakan bersifat opini.69%) menyatakan lebih bersifat ulasan atau pendapat pribadi. 132  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

1 133 .62%) menyatakan tidak setuju apabila citizen journalis disamakan dengan media mainstream. Pernyataan responden melalui jawabannya tentang tidak bisa disamakannya antara media massa dengan citizen journalism.66%) karena bisa menjadi sumber inspirasi. kembali responden menunjukan sikap kritis dan objektifnya. 52 responden (91. dan 6 responden (9. Sebagian besar responden menyatakan bahwa tidak bisa disamakan antara aktifitas Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. 12 responden (18.Namun berkaitan dengan kontribusi citizen journalism terhadap tugas responden sebagai wartawan.62%) menyatakan tidak setuju apabila bloger disamakan dengan wartawan. dan 4 responden (33. dan 6 responden (9. 5 responden (41. menegaskan bahwa citizen journalism hanya berkontribusi sebagi sumber inspirasi.38%) menyatakan tidak tahu.25%) menyatakan bahwa citizen journalism tidak berkontribusi terhadap tugas responden sebagai jurnalis. Data yang menunjukan jawaban responden yang menyatakan bahwa terdapat kontribusi citizen journalism bagi dirinya sebagai jurnalis. bahwa memang tidak bisa disamakan antara media massa pada umumnya dengan citizen journalism. sebanyak 58 responden (90. Data di atas menunjukan kesamaan dengan pendapat para pakar/ ahli dibidang jurnalistik. diperkuat dengan jawaban responden di atas. Data di atas menunjukan. sebagian responden menyatakan bahwa citizen jounalism tidak berkontribusi secara langsung terhadap profesinya sebagai jurnalis.38%) menyatakan tidak tahu. sama dengan pernyataan responden tentang eksistensi antara bloger dengan wartawan. Bagi 12 responden yang menyatakan citizen journalism berkontribusi terhadap profesi wartawan. Sebanyak 58 responden (90.34%) menyatakan bahwa citizen journalism berkontribusi dalam hal memberikan wartawan ruang untuk beraktifitas di luar media mainstream.75%) menyatakan ada kontrinbusinya. dalam hal kontribusi terhadap pekerjaannya. Tentang eksistensi citizen journalism dalam media mainstream (media massa pada umumnya). Kendatipun menyambut baik kehadiran citizen journalism. Jawaban responden di atas. Tidak ada keterkaitan antara civic journalism/ media mainstream (media massa pada umumnya) dengan citizen journalism. 12 No.Jawaban tersebut dimungkinkan karena memang tidak ada keterkaitan langsung antara seorang jurnalis aktifitas blog yang lazim disebut bloger. 3 responden (24%) beralasan karena citizen jornalism biasa menjadi sumber informasi.

Senada dengan ketidak setujuan dan penolakannya terhadap disamakannya antara aktifitas bloger dengan profesi wartawan. pengetahuan. penilaian (aspek afektif). pemahaman. radio. dan 6 responden (10.38%) menyatakan tidak tahu. sebanyak 37 responden (53. responden menilai bahwa tidak bisa disamakannya antara civic journalism/ media mainstream atau media massa pada umumnya dengan citizen journalism.bloger dengan aktifitas seorang jurnalis. dibentuk dan melaksanakan tugas dan fungsinya berdasarkan aturan main yang baku. Responden sebagai seorang yang berprofesi jurnalis melalui jawabannya telah memberikan gambaran dan reaksinya tentang citizen journalism.dll) disamakan dengan citizen journalism. sebagian besar menyatakan tidak setuju apabila media massa pada umumnya (surat kabar. Persentase jawaban yang sama juga diperoleh dari jawaban tentang eksistensi citizen journalism dengan media mainstream (civic journalism) atau media massa pada umumnya. dan 6 responden (9.20%) karena audiensnya berbeda. Lebih jelas sebagian responden menyatakan bahwa tidak setuju apabila aktifitas bloger disamakan dengan profesi wartawan. 21 responden (36. jawaban responden yang menggambarkan pengetahuan. Sebagai jurnalis.01%) beralasan karena tidak ada persamaan sama sekali.62%) menyatakan tidak setuju apabila citizen journalism disamakan dengan media massa (media mainstream). Selain bentuk medianya yang berbeda. karena faktor audiencenya pun sangat berbeda. dan kecenderungan reaksi ( aspek konatif) responden sebagai seorang jurnalis sangat sesuai dengan teori yang dipakai dalam penelitian ini. pemahaman sebagai (aspek kognitif). 1 . Sebanyak 58 responden (90.79%) beralasan karena medianya berbeda. media massa dan segala perangkatnya. 134rgument. Jawaban responden tersebut memang objektif dan sangat argumentatif. Tentang alasan tidak bisa disamakannya antara citizen journalism dengan civic journalism (media massa) yang diberikan oleh 58 responden. 12 No. PEMBAHASAN Berdasarkan jawaban responden yang diberikan dan telah dianalisis di atas. penilaian dan reaksinya terhadap citizen 134  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol.

Yaitu : 1. Penilaian jurnalis tentang citizen journaslism. para jurnalis mempunyai frekuensi dan intensitas waktu yang tinggi. citizen journalism juga berfungsi sebagai sumber inspirasi dalam melaksanakan tugasnya sebagai jurnalis. 12 No. Komponen konatif. Para jurnalis menilai bahwa Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pengetahuan dan pemahaman jurnalis tentang citizen journaslism. bertingkah laku dengan cara tertentu. Para jurnalis dalam penelitian ini telah mengetahui dan memahami istilah dan aktivitas citizen journalism. menceriterakan apa yang terjadi disekitarnya. Para jurnalis telah mempergunakan weblog dengan frekuensi dan intensitas waktu penggunaan yang cukup tinggi 2. Komponen kognitif.journalism. tapi konatif ini tidak meramalkan tingkah laku aktual itu sendiri. pengalaman. 2. 3. menyangkut masalah emosional subjektif seorang jurnalis terhadap citizen journalism. penilaian ini argumentatif karena sebagai seorang jurnalis dalam membuat berita tidak mencampurkan antara opini dan fakta. dipengaruhi kepercayaan atau apa yang responden percayai sebagai benar dan berlaku bagi suatu objek. bahwa isi atau content dari blog sebagai media citizen journalism sebagian merupakan tulisan berbentuk opini dan ulasan. pemahaman jurnalis tentang citizen jounalism. Dari penilaian tersebut memunculkan penilaian lainnya bahwa opini dan ulasan kurang dipercaya validitasnya. Selain sebagai sumber informasi dan data tambahan. Terdapat penilaian yang kritis dan objektif dari para jurnalis. pengetahuan. 1 135 . Dalam memanfaatkan blog sebagai aktivitas citizen journalism. pengertian. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Sumber informasi tentang citizen journalism berasal dari informasi/ content dalam internet dan buku . Para jurnalis memahami timbulnya citizen journalism sebagai ruang publik melalui media internet dalam rangka partisipasi masyarakat dalam mengemukakan pendapatnya. Gambaran sikap responden tersebut secara teoritis mengacu kepada teori atau konsep tentang sikap. berhubungan dengan kecenderungan untuk beraksi. Komponen afektif.

dan keberadaannya masing-masing. tegas dan argumentatif. dan menulis berita). 1 . sehingga dapat mendudukan keduanya dalam porsi. Lebih jauh para jurnalis menyatakan sukapnya. dan setiap individu adalah media. Saran Perlu adanya kesamaan persepsi yang konstruktif diantara jurnalis. Reaksi jurnalis tentang citizen journalism. bloger. para jurnalis menyatakan bahwa tidak ada kontribusi atau manfaat secara langsung antara keberadaan citizen journalism dengan profesinya sebagai jurnalis. 12 No. praktisi telematika dan masyarakat pengguna media tentang keberadaan citizen journalism. Kendatipun demikian. Ia memiliki keahlian tersendiri yang tidak dimiliki profesi lain (memburu. bahwa tidak bisa disamakan atau tidak sama antara aktifitas bloger melalui media blog dalam citizen journalism dengan profesi wartawan. Ia juga punya tanggungjawab dan kode etik tertentu. serta mengangkat sesuatu yang terjadi pada lingkungan sekitarnya. mengolah. mekanisme kerja dan pelakunya. seperti halnya dokter atau pengacara. Kesamaan persepsi diantaranya mengenai perbedaan. 3. radio. praktisi pers dan komunikasi. Terhadap anggapan bahwa setiap individu adalah reporter. eksistensi. karena merupakan satu media bagi penyaluran dan peningkatan kemampuan menulis. secara eksplisit. 136  Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. dan persamaan tentang tugas pokok dan fungsi. televisi. Perbedaan secara substantif maupun kelembagaan. para jurnalis menyatakan bahwa tidak bisa disamakan atau tidak sama antara citizen journalism yang berkiprah dalam dunia internet dengan civic journalism ( media mainsteram) atau media massa umumnya seperti surat kabar. Kontribusi yang diberikan citizen journalism diantaranya berupa sumber informasi dan inspirasi dalam hal informasi. penyampaikan pendapat. Para jurnalis merasa senang dan menyambut baik aktifitas citizen journalism. Kesimpulan ini sesuai dengan eksistensi wartawan dimana seorang wartawan adalah orang yang profesional.kehadiran citizen journalism melalui aktifitas bloger telah membantu pekerjaannya sebagai jurnalis.

Jurnalistik Terapan. 1 137 . James W. Jurnal Penelitian Komunikasi Vol. Pusat Data Redaksi (Unit: Cyber MediaDokumentasi Digital). 2005. Severin. Edisi kelima. Jakarta : Prenada Media.friendster.DAFTAR PUSTAKA Sobur. Analisis Teks Media. Bandung : Remaja Rosda Karya Romli. 12 No. Teori Komunikasi : Sejarah. 2006. 2003. Asep Syamsul M.blogs. & Terapan Di Dalam Media Massa.. Metode. 2002.com http://www. Tankard Jr.. Alex. Sumber lain : http://sulungz. Bandung .pontianakpost. Bandung : Batic Press.com Pikiran Rakyat. Werner J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful