http://mershaly.wordpress.com/2010/01/05/laporan-praktikum-kimia-air/ http://ivanhodgson.wordpress.

com/2010/07/13/laporan-praktikum-limnologi/ LAPORAN PRAKTIKUM LIMNOLOGI Oleh : Kelompok A2 Bagian 2 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010 Daftar Nama Kelompok A2 Bagian 2 Praktikum Limnologi Mahasiswa Perikanan 2010 No. Nama NPM Tanda tangan 1. Yeni Nur Hafifah 230110090053 1. 2. Naylaturohmah 230110090061 2. 3. Humaira Nurrafita 230110090062 3. 4. Adistyo Mulyonugroho 230110090064 4. 5. Januar C. Wibowo 230110090065 5. 6. Muchamad Syihabulhaq 230110090066 6. 7. Ria Ariati 230110090067 7. 8. Latifah 230110090068 8. 9. Paksi Widhyan Prakoso 230110090073 9. 10. Poberson Naibaho 230110090074 10. 11. Yulianti 230110090075 11. 12. Ahmadi Sofwan Kamal 230110090079 12. 13. Maulana Ridwan 230110090080 13. 14. Kusma I.I. 230110090081 14. 15. Dendy Firmansyah 230110090052 15. 16. Boy Dwikiyarto 230110090054 16. BAB I PENDAHULUAN Limnologi (dari bahasa Inggris: limnology, dari bahasa Yunani: lymne, ³danau´, dan logos, ³pengetahuan´) merupakan padanan bagi biologi perairan darat, terutama perairan tawar. Lingkup kajiannya kadang-kadang mencakup juga perairan payau (estuaria). Limnologi merupakan kajian menyeluruh mengenai kehidupan di perairan darat, sehingga digolongkan sebagai bagian dari ekologi.Dalam bidang perikanan, limnologi dipelajari sebagai dasar bagi

budidaya perairan (akuakultura) darat. Istilah Limnologi pertama kali digunakan oleh seorang ilmuwan berkebangsaan Swiss (François Alfonse Forel) pada tahun 1892 yang mendefinisikan limnologi sebagai cabang ilmu yang mempelajari komponen biotik di perairan darat permukaan yang bersifat menggenang atau lentik. Tahun 1966, Dussart melengkapi definisi tersebut menjadi cabang ilmu yang mempelajari seluruh fenomena dan saling interaksi antar komponen biotik dan abiotik yang terjadi di dalamnya, baik pada ekosistem perairan darat permukaan yang tergenang (lentik) maupun pada perairan darat permukaan yang mengalir (lotik). Para ahli mencoba menyederhanakan pengertian limnologi ini dengan ³ilmu yang mempelajari proses interaksi faktor fisika, kimia dan biologi dalam sistem perairan darat (inland waters), dimulai dari garis pantai ke arah darat´, yang dimaksud adalah perairan tergenang dan mengalir yang berada di daratan. Ilmu limnologi selain mendeskripsikan sifat morfologis, tipe habitat, keaneka-ragaman hayati, dan proses-proses dasar yang terjadi di dalamnya. Berdasarkan definisi tersebut, maka objek kajian limnologi mencakup areal garapan yang meliputi biota (flora dan fauna) yang hidup di dalam badan air dan sedimennya, kualitas air serta tipe perairan atau bentuk cekungan morfologi perairan dan hidrodinamikanya (yang sangat mempengaruhi komunitas biota dan kualitas air). Lebih jauh lagi, karena perairan darat itu sangat terkait dengan daerah/kawasan yang berfungsi sebagai pensuplai airnya (Daerah Aliran Sungai=DAS), maka pengaruh aktivitas antropogenik di DAS masing-masing perairan darat itu pun termasuk dalam kajian cabang ilmu yang disebut limnology. Di dalam ruang lingkup limnology tentu saja banyak factor yang memberikan pengaruh terhadap perairan. Salah satunya mikroorganisme seperti bakteri yang bertanggung jawab untuk mendekomposisi limbah organik. Bila bahan organik seperti tanaman mati, daun, kliping rumput, pupuk, kotoran, atau bahkan sampah makanan hadir dalam pasokan air, bakteri akan memulai proses pemecahan limbah ini. Ketika ini terjadi, banyak yang tersedia oksigen terlarut dikonsumsi oleh bakteri aerobik, organisme air lainnya mengambil oksigen yang mereka butuhkan untuk hidup. BOD ( Biochemical Oxygen Demand) kebutuhan oksigen biologis merupakan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan dalam air. Dengan kata lain, BOD menunjukkan kebutuhan oksigen oleh organisme untuk mengoksidasi bahan-bahan buangan yang terlarut dalam air Nitrat dan fosfat dalam tubuh air dapat berkontribusi terhadap tingkat BOD yang tinggi. Yang menyebabkan kehidupan tanaman dan ganggang untuk tumbuh dengan cepat. Jika tanaman tumbuh dengan cepat, mereka juga mati dengan cepat. Ini berkontribusi pada limbah organik di dalam air, yang kemudian diurai oleh bakteri. Hal ini menyebabkan tingkat BOD yang tinggi. Para suhu air juga dapat berkontribusi untuk tingkat BOD yang tinggi. Seiring dengan peningkatan suhu air, laju fotosintesis oleh ganggang dan tanaman lainnya di dalam air juga meningkat. Ketika ini terjadi, tanaman tumbuh lebih cepat dan juga mati lebih cepat. Ketika tanaman mati, mereka jatuh ke bawah di mana mereka terurai oleh bakteri. Bakteri yang membutuhkan oksigen untuk proses ini sehingga Direksi tinggi di lokasi ini. Oleh karena itu, peningkatan suhu air akan mempercepat dekomposisi bakteri dan menghasilkan tingkat BOD lebih tinggi. DO (Dissolved Oxygen) atau oksigen terlarut adalah oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Ketika Direksi tingkat tinggi, oksigen terlarut (DO) menurun karena tingkat oksigen yang tersedia di dalam air sedang dikonsumsi oleh bakteri. kurang oksigen terlarut Sejak tersedia dalam air, ikan dan organisme air

Termometer air raksa : Untuk mengukur suhu air yang berada di cekdam . Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum I š Tempat : Cekdam š Waktu : Pukul 08. sehingga tidak bisa digunakan untuk berbagai keperluan baik untuk air minum.00 wib Praktikum II š Tempat : Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan š Waktu : Pukul 08. Perbedaan antara dua tingkat DO merupakan jumlah oksigen yang diperlukan untuk dekomposisi dari berbagai bahan organik dalam sampel dan merupakan pendekatan yang baik dari tingkat Direksi.00 wib 2. BAB II KEGIATAN PRAKTIKUM 1. Organisme yang membutuhkan tingkat oksigen yang lebih tinggi (yaitu caddisfly larva dan nimfa mayfly) tidak bertahan. Untuk mengetahui tingkat BOD. Jika tidak ada hadir sampah organik dalam air.Apabila kandungan berbagai zat maupun mikroorganisme yang terdapat di dalam air melebihi ambang batas yang diperbolehkan.lainnya tidak mungkin bertahan hidup.00 wib Praktikum III š Tempat : Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan.Seechi disk : Untuk mengukur tranparansi cahaya .pH meter : Untuk mengukur pH air . Hal ini karena permintaan oksigen oleh bakteri yang tinggi dan mereka mengambil oksigen dari oksigen yang terlarut dalam air. diperlukan waktu 5 hari untuk melengkapi dan dilakukan dengan menggunakan uji oksigen terlarut kit. Alat dan Bahan Praktikum 2. sehingga air di alam tidak pernah murni akan tetapi selalu mengandung berbagai zat terlarut maupun zat tidak terlarut serta mengandung mikroorganisme atau jasad renik. Oleh karena itu pratikum ini dilakukan untuk meneliti kadar DO dan BOD yang terdapat dalam air.1 Alat Praktikum : . terjadi penurunan DO di tingkat. Ketika tingkat BOD tinggi. Pada tingkat BOD yang tinggi.Air merupakan pelarut yang baik. dan Cekdam š Waktu : Pukul 08. Penghitungan BOD dan DO dilakukan untuk mengetahui kadar oksigen serta kualitas air. organisme seperti makroinvertebrata yang toleran lebih rendah oksigen terlarut (yaitu lintah dan cacing lumpur) dapat muncul dan menjadi banyak bertahan. mandi.Refractometer : Untuk mengukur salinitas air . kualitas air akan terganggu. tidak akan ada seperti sekarang banyak bakteri untuk menguraikannya Direksi dan dengan demikian akan cenderung lebih rendah dan tingkat DO akan cenderung lebih tinggi. Tingkat BOD ditentukan dengan membandingkan tingkat DO dari sampel air yang diambil langsung dengan tingkat DO dari sampel air yang telah diinkubasi di lokasi yang gelap selama 5 hari. Air yang terganggu kualitasnya ini dikatakan sebagai air yang tercemar. mencuci atau keperluan lainya.Erlenmeyer 100ml : Untuk menampung sample air .

Cekdam Cekdam Cekdam Praktikum 2 Parameter Alat Metode Tempat Kadar Oksigen Terlarut Kadar Amonia Kadar Absorban DO meter electrode selektif ion . Parameter. Metode.Pipet tetes : Untuk mengambil sample yang digunakan .2 Bahan Praktikum .Kertas saring (wattmen) : Untuk menyaring sample air .Stopwatch : Sebagai pengukur waktu dalam percobaan .02 N : Sebagai indikator titrasi .Aquades : Sebagai bahan pengencer air .larutan H2SO4 : Sebagai indikator asam 3.Spektrofotometri : Untuk mengukur transmitan atau absorban .1 N : Sebagai indikator asam .Gelas ukur : Sebagai media dalam mengukur sample air .larutan indicator Phenolphtalein : Sebagai indikator asam .alat yang Digunakan Praktikum 1 Parameter Alat Metode Tempat Suhu air Transparansi cahaya Ph air Termometer air raksa Seechi disk Ph meter Termometrik .1 N : Sebagai indikator basa . dan Alat.larutan Na2S2O3 0.Corong kecil : Untuk mempermudah dalam memasukkan air .Buret : Untuk mengeluarkan larutan dengan volume tertentu 2.larutan HCL 0..larutan indicator Methyl Orange : Sebagai indikator basa .larutan MnSO4 : Sebagai indikator titrasi ± larutan O2 Reagent : Sebagai indikator titrasi .larutan NaOH 0.Botol winkler 300 ml : Sebagai media sample dalam percobaan .

Spectrofotometer Titrasi Titrasi Spectrofotometrik Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan Laboratorium Manajemen Sumber Daya Perairan Praktikum 3 Parameter Alat Metode Tempat Produktivitas Primer Oksigen Botol Winkler Titrasi Cekdam Prosedur Percobaan : Praktikum I No Alat dan bahan Metode 1 2 3 4 5 6 7 Termometer air raksa Seechi disk pH meter gelas ukur dan gelas Erlenmeyer 100ml MnSO4 dan O2 Reagent H2SO4 pekat NaS2O3 0. . pada saat melihat skala thermometer.02 N Ukur suhu air pada beberapa titik sampling (rata-rata suhu). ujung termometer harus tetap berada dalam air.

hasilnya dirata-ratakan).02 N hingga warna berubah jadi bening stabil. lalu tambahkan 1/2 ml/8 tetes larutan MnSO4 dan 1 ml larutan O2 Reagent. pembacaan nilai pH pada display pH-meter. Buka tutup botol. Buka tutup botol. tutup botol lalu kocok dan biarkan hingga endapan mengendap sempurna hingga menjadi warna coklat. lalu kocok dan biarkan endapan larut sempurna hingga berwarna kuning. lakukan 2 kali untuk point 4 ini. lalu tambahkan 2 ml/15 tetes H2SO4 pekat dengan hati-hati. Ambil sample air dari suatu perairan (sungai/danau) sebanyak 50 ml dengan gelas ukur.Ukur Transparansi cahaya dengan alat Seechi disk pada beberapa titik dan mahasiswa yang berbeda agar diperoleh data rata-rata yang akurat. Catat Na2S2O3 yang terpakai (untuk akurasi data. Masukan 50 ml sample kedalam gelas Erlenmeyer lalu titrasi dengan larutan NaS2O3 0. dicatat paa saat angka/nilai pH yang terbaca stabil. masukan kedalam gelas Erlenmeyer 100ml. kemudian tutup kembali botol winker tersebut. Ukur pH air dengan alat pH meter. Praktikum II No Alat dan Bahan Metode 1 2 3 4 5 Sample kertas saring Air saringan dan akuades yang jenuh botol Winkler Inkubator Air dari Cekdam Saring sample air yang diambil dari periran dengan menggunakan kertas saring bebas abu .

Cara Pengukuran / Analisis Praktikum I Perhitungan Alkalinitas Permukaan Mg/l CO2-bebas= 1000/50 x (ml NaOH terpakai) x 0. Kemudian DO kedua botol itu dibandingkan dengan botol yang dari awal langsung dicari DO nya. setelah lima hari diukur DO dengan prosedur yang sama. 44 = Berat molekul CO2 (Sample Permukaan) 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 0.1 x 44 Dimana . Kemudian di biarkan selama 4 jam.Masukan air hasil saringan sebanyak 200 ml kedalam gelas ukur 1000 ml dan encerkan dengan akuadest 200 ml yang telah jenuh dengan oksigen (telah diareasi sebelumnya). selanjutnya disebut DO5 (DO5 hari). 4. Masukan sample air tersebut kedalam 2 buah botol Winkler hingga penuh dan tutup kedua botol tersebut dengan hati-hati (jangan terjadi gelembung udara) Dari 2 botol tersebut.kocok agar homogen. Botol winkler gelap dimasukkan ke dalam plastik dan kemudian dimasukkan kedalam air. hingga volume mencapai 400 ml (pengenceran 2 x). botol dikerjakan saat itu juga dengan prosedur analisis DO ( seperti pada praktikum I) DO diukur dari kedua botol yang telah ditenggelamkan selama 4 jam. satu botol dikerjakan saat itu juga (dengan prosedur analisis DO) selanjutnya disebut DO0 (DO Nol hari). Botol winkler bening diikat dengan tali kemudian dimasukkan dalam air. Dan botol winkler yang satu lagi disimpan inkubator dengan suhu 200C selama 5 hari. 2 botol bening ) 1 botol gelap dan 1 botol bening 1 botol bening Botol winkler gelap dan bening yang telah di masukkan dalam air selama 4 jam Ambil sample air dari permukaan kemudian dimasukkan ke dalam 3 botol winkler sampai meluber lalu ditutup. Praktikum III No Alat dan bahan Metode 1 2 3 4 3 botol winkler (1 botol gelap.41 = ml NaOH Terpakai .1 = Normalita NaOH 0.

64 = ml HCL Terpakai Jawab : 1000/50 x 0.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : DO0 = 8000 x 1. 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 1.32 ml Keterangan : Hasil kalibrasi pipet tetes yang digunakan adalah 22 tetes = 1 ml (maka untuk perhitungan diatas.294 ml x 0.08 ml Keterangan : Hasil kalibrasi pipet tetes yang digunakan adalah 22 tetes = 1 ml (maka untuk perhitungan diatas.02 ml ««««««« 50 Perhitungan DO5(setelah dimasukkan ke dalam inkubator) DO5 = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 «««««««««««« 50 Dimana .1 = Normalita NaOH 0.02 = 6. jumlah tetes NaOH yang terpakai titrasi harus dikonversi ke ml) Perhitungan Alkalinitas Kedalaman Mg/l CO2-bebas= 1000/50 x (ml HCL terpakai) x 0. 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 0. 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 1.1 x 44 = 36. 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 0.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : = 8000 x 1.09 ml ««««««« 50 Perhitungan DO Permukaan : DO = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 «««««««««««« 50 Dimana .82 = ml Na2S2O3 terpakai 0.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : = 8000 x 0.02 = 5.88 = ml Na2S2O3 terpakai 0.02 = 0.83 ml ««««««« 50 Praktikum 2 Perhitungan DO0(tidak dimasukkan ke dalam inkubator) DO0 = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 «««««««««««« 50 Dimana .1 x 44 Dimana .1 x 44 = 56. jumlah tetes NaOH yang terpakai titrasi harus dikonversi ke ml) Perhitungan DO Kedalaman : DO= 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 «««««««««««« 50 Dimana .53 ml x 0.294 = ml Na2S2O3 terpakai 0.Jawab : 1000/50 x 0.53 = ml Na2S2O3 terpakai 0.88 ml x 0.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : DO5 = 8000 x 0.64 x 0.69 ml ««««««« 50 Perhitungan Kadar Amonia TAN = 1000 Absorban Contoh 5 mikro 25 Absorban Standar . 44 = Berat molekul CO2 (Sample Kedalaman) 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 0.82 ml x 0.41 x 0.02 = 1.

032 5 mikro 25 0.05 = ml Na2S2O3 terpakai 0.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : = 8000 x 3.88 ml x 0.99 mg/l Praktikum 3 Perhitungan DO(Botol Gelap) DO = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 «««««««««««« 50 Dimana .02 ± 1.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : = 8000 x 1.69) x 3 = 12.02 ml ««««««« 50 Perhitungan DO(Botol Terang) DO = 8000 x ml Na2S2O3 terpakai x Normalita Na2So2O3 «««««««««««« 50 Dimana .032 = Absorban Contoh 0.02 = 9.05 ml x 0. 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 1.024 = Absorban Standar 5 = Standar Alat Perhitungan BOD Kadar BOD-5 (mg/l) = DO0 (mg/l) ± DO5 (mg/l) x ³pengenceran´pl (pengenceran tergantung jumlah pengenceran yang anda lakukan) DO0 = 8000 x 1.69 ml ««««««« 50 BOD = DO0 (mg/l) ± DO5 (mg/l) x ³pengenceran´pl = (6.02 = 6.024 = 0. 1000 = Volume air 25 = Banyaknya sample yang di titrasi 0.27 mg/l Dimana . 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 50 = Banyaknya sample yang di titrasi 3.76 ml ««««««« 50 Perhitungan Net Primary Production Keterangan : LB = Jumlah tetes botol terang (Light Bettle) DB = Jumlah tetes botol gelap (Dark Bettle) IB = Jumlah tetes botol langsung dititrasi Diketahui : LB = 35 tetes DB = 27 tetes IB = 32 tetes Respirasi = (IB DB) = (32 27) = 5 tetes GPP = (LB DB) = (35 27) = 8 tetes NPP = (LB DB) (IB DB) .02 = 6.02 ml ««««««« 50 DO5 = 8000 x 0.88 = ml Na2S2O3 terpakai 0.88 ml x 0.= 1000 0.02 = 1.53 ml x 0.

transparasi cahaya. Sedangkan pada praktikum II menghasilkan data parameter Kadar Oksigen Terlarut. Pada perhitungan praktikum I : Perhitungan Alkalinitas Kedalaman = 36. 8000 = Berat molekul O2 dalam 100 ml 35 = Jumlah tetes botol terang (Light Bettle) 1 = Faktor Pengali 0.57 ml KESIMPULAN Pengertian dari BOD itu sendiri adalah kebutuhan oksigen biokima yang menunjukkan jumlah oksigen yang digunakan dalam reaksi oksidasi oleh bakteri.99 mg/l Pada perhitungan praktikum III : Perhitungan DO(Botol Gelap) = 6. Kadar Amonia.02 = 4. makin besar B.08 ml Perhitungan Alkalinitas Kedalaman = 56. pH air yang dilakukan pada tempat cekdam.27 mg/l Perhitungan BOD = DO0 = 6. Hasil Dan Evaluasi Praktikum 1 Hasil dan Evaluasi pada praktikum I menghasilkan data parameter suhu air. Dan pada praktikum III menghasilkan data parameter Produktivitas Primer Oksigen dan dilakukan pada cekdam seperti praktikum I.02 = Normalita Na2So2O3 Jawab : = 8000 x 1 x 0.32 ml Perhitungan DO Kedalaman = 0. Sehingga makin banyak bahan organik dalam air.69 ml Perhitungan Kadar Amonia = 0.02 ml Perhitungan DO5(setelah dimasukkan ke dalam inkubator) = 1.D nya.57 ml ««««««« 35 4.02 ml DO5 = 1.= (32 27) (32 27) =85 = 3 tetes Perhitungan DO(Net Primary Production) DO = 8000 x faktor pengali x Normalita Na2So2O3 «««««««««««3335 Dimana . Berdasarkan PPMPL (Pusat Penelitian Masalah Pencemaran Lingkungan) .02 ml Perhitungan DO(Botol Terang) = 9.76 ml Respirasi = 5 GPP = 8 NPP = 3 Perhitungan DO(Net Primary Production) = 4.09 ml Perhitungan DO permukaan = 5.O.83 ml Pada perhitungan praktikum II : Perhitungan DO0 (tidak dimasukkan ke dalam inkubator) = 6. Kadar Absorban yang dilakukan pada Laboratorium Manajemen Sumberdaya Perairan.69 ml BOD = 12.

htm file:///F:/Semester%202/Lymnology/PRTKM%20LIMNO/LIMNOLOGI=DARI%20IRA/silabus matakuliah.htm .Graw Hill. Semakin tinggi nilai DO maka semakin banyak kandungan bahan organik pada limbah. Mc. Sumber utama oksigen diperairan berasal dari proses difusi udara bebas dan hasil proses fotosintesis. parameter oksigen terlarut (DO) dan kebutuhan oksigen biokimia (BOD) memegang peranan penting. Prinsip penentuannya bisa dilakukan dengan cara titrasi iodometri atau langsung dengan alat DO meter.html PUSTEKKOM©2005. 3.Eddy. New York PPMPL (Pusat Penelitian Masalah Pencemaran Lingkungan). DAFTAR PUSTAKA Metclaf.html file:///F:/Semester%202/Lymnology/PRTKM%20LIMNO/LIMNOLOGI=DARI%20IRA/Oksige n. Suatu perairan yang tingkat pencemarannya rendah dan bisa dikatagorikan sebagai perairan yang baik yaitu kadar oksigen terlarutnya (DO) > 5 ppm dan kadar oksigen biokimianya (BOD) berkisar 0 ± 10 ppm. Hal ini menunjukkan indikasi limbah berat.TINGKAT PENCEMARAN Tingkat BOD (mg/l) COD (mg/l) DO (mg/l) Rendah 0 ± 10 0 ± 30 > 5 Sedang 10 ± 25 30 ± 60 0 ± 5 Tinggi > 25 > 60 0 Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan maka secara umum dapat disimpulkan bahwa Dalam perairan oksigen berperan penting dalam proses oksidasi dan reduksi bahan kimia menjadi senyawa yang lebih sederhana sebagai nutrien yang sangat dibutuhkan organisme perairan.html file:///F:/Semester%202/Lymnology/PRTKM%20LIMNO/LIMNOLOGI=DARI%20IRA/transla te. Waste Water Engineering Design. Untuk mengetahui kualitas suatu perairan. Semakin tinggi nilai BOD menunjukkan banyaknya bahan organik yang dapat diuraikan oleh bakteri. 2003.Indonesia F:\dissolved-oxygen-biochemical-oxygen.

Banyak reaksi kimia penting yang terjadi pada tingkatan pH yang sulit. Untuk mengetahui teknik analisis perbandingan pH dari masing ± masing titik dan atau waktu pengambilan sampel. Menurut jenis dan aktivitas biologinya suatu perairan dapat mengubah pH dari unit penanganan limbahnya . TINJAUAN PUSTAKA Nilai pH merupakan salah satu parameter yang praktis bagi pengukuran kesuburan suatu perairan. dan Chemical Oxigen Demand (COD). Dengan terlarutnya unsur dan senyawa tersebut. tetapi harus memenuhi kriteria dalam setiap parameternya masing-masing. Tujuan Derajat keasaman (pH) Tujuan dari praktikum pengukuran pH adalah : Untuk mengetahui teknik pengambilan dan pengawetan sampel air untuk menganalisis pH. maka akan mengganggu demikian juga kualitas airnya harus sesuai dengan peruntukannya. maka tidak ada air dan perairan alami yang murni. Apabila jumlah airnya berlebihan atau kurang dari yang dibutuhkan. Karbondioksida bebas (CO2) Tujuan dari praktikum penentuan karbondioksida bebas adalah : Untuk mengetahui teknik pengambilan sampel air untuk karbondioksida bebas. Untuk mengetahui teknik pengukuran air untuk COD. Dalam menentukan kualitas air atau baik buruknya perairan dapat ditentukan oleh berbagai faktor. karena sifatnya tersebut. maka air merupakan faktor ekologi bagi makhluk hidup. Untuk mengetahui teknik analisis perbandingan karbondioksida bebas dari masing ± masing titik dan atau waktu pengambilan sampel. oksigen terlarut. yaitu : derajat keasaman (pH). Untuk mengetahui teknik analisis perbandingan oksigen terlarut dari masing ± masing titik atau waktu pengambilan sampel. Walaupun demikian ternyata tidak semua air dapat secara langsung digunakan memenuhi kebutuhan makhluk hidup. Daya Menggabung Asam (DMA) Tujuan dari praktikum penentuan DMA adalah : Untuk mengetahui teknik pengambilan sampel air untuk DMA Untuk mengetahui teknik analisis DMA Chemical Oxigen Demand (COD) Tujuan dari praktikum penentuan COD adalah : Untuk mengetahuai teknik pengambilan dan pengawetan sampel air untuk analisis COD. salinitas air. daya menggabung asam (DMA). karbondioksida bebas. terutama hara mineral. Tetapi didalamnya terdapat unsur dan senyawa yang lain.PENDAHULUAN Latar Belakang Air merupakan senyawa yang bersifat pelarut universal. Kebutuhan air untuk berbagai aspek kehidupan menyangkut baik kuantitas maupun kualitasnya. Oksigen terlarut (O2) Tujuan dari praktikum penentuan oksigen terlarut adalah : Untuk mengetahui teknik pengambilan sampel air untuk oksigen terlarut.

hewan-hewan air sudah mati karena kekurangan . 1968). Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (Salmin. fisika perairan (Welch. dengan mengetahui jumlah kadar pH suatu perairan kita dapat mengetahui tingkat produktifitas perairan tersebut. karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. dan menurut Widjadja (1975) karbondioksida bebas dalam perairan berasal dari hasil penguraian bahan-bahan organik oleh bakteri dekomposer atau mikroorganisme. Kandungan karbondioksida bebas dalam suatu perairan lebih tinggi dari 12 ppm dapat membahayakan kehidupan organisme perairan. KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (Anonimous. Kandungan Karbondioksida bebas (CO2) dalam suatu perairan maksimal 20 ppm (Rahmatin. Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan normal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Jumlah ion hidrogen dalam suatu larutan merupakan suatu tolak ukur keasaman. tetapi pada umumnya batas toleransi ikan adalah berkisar pada pH 4 ³Aerd penth point´ sampai pH 2 ³Basie death point´.tinggi (Nybakken. Satuan ini disebut pH dan skalanya skala pH. Oleh karena itu. Idealnya. agilasi suhu. 1984). seperti kekeruhan air. Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan. Kandungan pH dalam suatu perairan dapat berubah-ubah sepanjang hari akibat dari proses fotosintesis tumbuhan air. kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1. Kecepatan difusi oksigen dari udara tergantung sari beberapa faktor.(Mahida. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. suhu.7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (Huet. pH. gelombang dan pasang surut. Derajat keasaman suatu perairan juga sangat menentukan kelangsungan hidup organisme dan merupakan resultan sifat kimia.dan sedikit ion H+. 1988). Perairan yang memiliki kadar pH 6. Derajat keasaman sering juga digunakan untuk memperoleh gambaran tentang kemampuan atau perairan dalam memproduksi garam mineral. nilai pH rendah menunjukan kondisi asam. Sumber CO2 bebas berasal dari proses pembangunan bahan organik oleh jasad renik dan respirasi organisme (Soesono 1970). 2000). naiknya CO2 selalu diiringi oleh turunya kadar O2 terlarut yang diperlukan bagi pernafasan hewan-hewan air. dan nilai pH yang tinggi menunjukan konsentrasi H+ rendah atau konsentrasi OH. pergerakan massa air dan udara seperti arus. dapat diasumsikan bahwa bila dalam suatu perairan kadar Karbondioksida (CO2) berlebihan dapat berdampak kritis bagi kehidupan binatang air (Spotte. Karbondioksida bebas (CO2) merupakan salah satu gas respirasi yang penting bagi sistem perairan.5 ± 8. Derajat keasaman perairan merupakan suatu parameter penting dalam pemantauan kualitas air. maka membahayakan biota laut bahkan meracuni kehidupan organisme perairan. Lebih banyak ion H+ berarti lebih asam suatu larutan dan lebih sedikit ion H+ berarti lebih basa larutan tersebut. Larutan yang bersifat basa banyak mengandung OH. 1976). 2004). salinitas. Kandungan Karbondioksida bebas (CO2) pada suatu perairan melebihi 20 ppm.5 merupakan perairan yang sangat ideal untuk tempat hidup dan produktifitas organisme air. dan aktivitas fotosintesis. Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle. 1970). 1920). Dengan demikian walaupun CO2 belum mencapai kadar tinggi yang mematikan. Garam mineral merupakan faktor penentu bagi semua proses produksi di suatu perairan. 1952). kandungan karbondioksida bebas dipengaruhi oleh kandungan bahan organik terurai. Keasaman dan kebasaan diukur dengan skala logaritma antara 1 sampai 14 satuan.

dan apabila DMA perairan rendah maka perairan itu kurang baik daya penyangganya (soft water). Ion ini mendominasi sekitar 60 ± 90% bentuk karbon organik total di perairan (McNeeley. Berdasarkan penentuan DMA menurut (asmawi. 1983) perairan dibagi menjadi 4 golongan yaitu: Perairan dengan DMA 0 sampai 0. dan produktifitas kandungan bahan organik sudah tergolong tinggi.5 sampai 2. Perairan dengan DMA 0.55 ± 0. Perairan yang memiliki kadar sodium tinggi mengandung karbonat sekitar 50 mg/L. Perairan golongan ini terlalu asam dan tidak produktif sehingga tidak baik untuk memelihara ikan.5. 1970). alkalinitas atau DMA suatu perairan dapat digunakan sebagai indikator subur atau tidaknya suatu perairan. kandungan karbonat biasanya sekitar 10 mg/L karena sifat tanah yang cenderung alkalis.0. Air hujan yang jatuh di permukaan bumi secara teoretis memiliki kandungan karbondioksida sebesar 0.O2. K. 1948). Sehingga air hujan selalu bersifat asam dengan nilai pH sekitar 5. Daya Menggabung Asam (DMA) adalah suatu cara menyatakan alkalinitas suatu perairan. dan bakteri aerob maupun anaerob. Tanah organik yang mengalami dekomposisi mengandung relatif banyak karbondioksida sebagai hasil proses dekomposisi. . selain yang berada dalam bentuk terikat sebagai ion bikarbonat ( HCO3) dan ion karbonat ( CO32-). Perairan tawar alami hampir tidak memiliki pH > 9 sehingga tidak ditemukan karbon dalam bentuk karbonat. 1988 dalam Mahida.6. Ca. Istilah karbondioksida bebas digunakan untuk menjelaskan CO2 yang terlarut dalam air. berasal dari karbondioksida yang terdapat di atmosfer. Kadar CO2 yang dikehendaki oleh ikan adalah tidak lebih dari 12 ppm dengan kandungan O2 terendah adalah 2 ppm (Asmawi. evaporasi dan agitasi air. Kadar karbon di perairan dapat mengalami penurunan bahkan hilang akibat proses fotosintesis. Jika DMA rendah. Sebagian besar organisme akuatik dapat bertahan hidup hingga kadar karbondioksida bebas mencapai sebesar 60 mg/L (Byod. Perairan ini pH-nya masih belum mantap tetapi sudah dapat di pakai untuk memelihara ikan. Respirasi tumbuhan. 1983). Alkalinitas juga menggambarkan kandungan basa dalam kation NH4. Soeseno (1974) menyatakan apabila DMA suatu perairan tinggi maka daya produksinya secara hayati bisa besar. Nilai CO2 yang terukur biasanya berupa CO2 bebas. Pada air tanah. karbondioksida yang terdapat di atmosfer mengalami difusi secara langsung ke dalam air. Sebagian kecil karbondioksida yang terdapat di atmosfer larut ke dalam air membentuk asam karbonat. 2003). dan Fe yang pada umumnya bersenyawa dengan anion karbonat dan bikarbonat. yaitu sebagai berikut : Difusi dari atmosfer. Menurut Wardoyo (1981). perairan itu kurang baik daya penyangganya. Mg. Kadar karbondioksida sebesar 10 mg/L masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik. Perairan tawar alami yang memiliki pH 7 ± 8 biasanya mengandung ion karbonat < 500 mg/L dan hampir tidak pernah kurang dari 25 mg/L. hewan. Na. maka perairan tersebut daya produksinya secara hayati bisa menjadi lebih besar dalam batas tertentu (Soeseno. 1979 dalam Effendi. Perairan yang diperuntukan untuk kepentingan perikanan sebaiknya mengandung kadar karbondioksida bebas < 5 mg/L.60 mg/L. sebaliknya jika DMA tinggi. Karbondioksida bebas (CO2) bebas menggambarkan keberadaan gas CO2 di perairan yang membentuk keseimbangan dengan CO2 di atmosfer. asam lemah dan hidroksida. Karbondioksida bebas dalam perairan dapat berasal dari berbagai sumber. yang selanjutnya jatuh sebagai hujan. asal disertai oksigen yang cukup.

Perairan dengan DMA 2. larutan Na2CO3 0. dalam melakukan percobaan COD ini dapat menggunakan metode permanganat dan bikromat (Soeseno. larutan asam asetat 0. larutan Na2S2O3 0. 1978).025 N. penangas air. labu Erlenmeyer. nilai COD akan semakin tinggi dan kemudian akan menurun dengan adanya dekomposer lebih lanjut dari bahan organik. Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah larutan KCI jenuh. gelas ukur. dan 1 ml larutan KOH-KI dengan bantuan pipet seukuran. magnetic stirrer. daya menggabung asam (DMA). dan Chemical Oxygen Demand (COD) dilaksanakan di Loboratorium Aquatik (Jurusan Perikanan dan Kelautan) Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman.01 N. Untuk menghindari kontak dengan kulit sarung tangan digunakan. larutan KOH-KI. akuades. dengan demikian berarti kurang baik untuk memelihara ikan. semakin banyak bahan organik yang menumpuk dalam suatu perairan. Kemudian perubahan warna yang terjadi pada ke kertas pH tersebut dicocokkan dengan warna standar dan hasilnya dicatat. Perairan golongan ini pH-nya sudah agak basa. Menurut (lee at al. Sabtu. dan refluks. beker gelas. larutan H2SO4 4 N. dengan reduktornya KMnO4 atau K7Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (Oxidixing Agent). 24 Oktober 2009.5%. botol. indikator amilum0. sangat produktif dan sangat baik untuk kehidupan ikan. karbondiokosida bebas (CO2). dan asam sulfamat.01 N.0.atau pipet seukuran. buret dan statif. larutan MnSO4. Perairan dengan DMA 5.0 . Chemical Oxygen Demand (COD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik secara kimiawi. Waktu dan Tempat Praktikum penentuan derajat keasaman (pH). larutan KMnO4 0. MATERI DAN METODE Materi Alat Alat yang digunakan dalam praktikum adalah kertas pH universal (0-14). indikator methyl orange 0. Prosedur pengukuran O2 terlarut yaitu : Sampel air diambil dengan menggunakan botol Winkler 250 ml. botol winkler. lalu ke dalamnya ditambahkan 1 ml larutan MnSO4. Metode Prosedur penelitian ini yaitu : Kertas indikator pH diambil selembar dan dicelupkan ke dalam air kran selama beberapa menit ( 5 menit).. sampel air.025 N.1%. Selain itu. Perairan yang ini tarmasuk golongan perairan yang terlalu basa. oksigen terlarut (O2). bubuk HgSO4. 1970). labu takar. Botol sampel ditutup dengan hati-hati agar udara tidak masuk ke dalam botol dan dibolak balik minimal sebanyak 15 kali dan sesudahnya didiamkan ( 2 menit) sampai terjadi endapan berwarna coklat atau sampai sekurang kurangnya cairan supernatan menjadi tampak jernih.1 N.5%. larutan HCl 0. larutan K2Cr2O7 0. indikator phenolpthalein 0. pipet karet. penetapannya di dasarkan atas reaksi oksidasi bahan organik dengan oksigen dan proses tersebut berlangsung secara kimia dalam kondisi asam dan mendidih. Selanjutnya larutan H2SO4 pekat sebanyak 1 ml dimasukkan ke dalamnya dengan bantuan pipet .01 N.0 sampai 5.

1% atau bahkan lebih kecil lagi. Rumus perhitungannya adalah : Kadar CO2 bebas = x p x q x 22 ml/L Keterangan : p= jumlah Na2CO3 yang terpakai q= normalitas larutan Na2CO3 22= bobot setara CO3 Prosedur Penentuan DMA yaitu : Sampel air diambil dengan botol sampel 250 ml dengan gelas ukur diambil 100 ml dan dipindahkan ke dalam labu erlenmeyer. Rumus perhitungannya adalah : Kadar O2 terlarut = x p x q x 8 ml/L Keterangan : p = jumlah ml Na2S2O3 yang terpakai q = normalitas larutan Na2S2O3 8 = bobot setara O2 Prosedur pengukuran CO2 bebas yaitu : Sampel air diambil dengan botol Winkler 250 ml. Kedalamnya ditambahkan indikator amilum sebanyak 10 tetes hingga larutan berubah menjadi warna biru. diambil 100 ml dengan menggunakan gelas ukur dan dipindahkan ke dalam labu erlenmeyer.025 N yang sudah distandardisasi dan labu erlenmeyer dikocok hingga tercampur merata sampai terjadi perubahan warna larutan dari coklat sampai kuning muda. Lalu pengocokkan dilakukan lagi sampai semua endapan menjadi larut dan berwarna coklat kekuningan. Titran ditambahkan 1 tetes bila saat titik akhir dicapai dan titrasi dilakukan duplo.tetes. Kemudian dititrasi dengan larutan HCl 0. khususnya untuk sampel air dari limbah industri tertentu). 0. Ditambahkan 3 tetes indikator methyl orange (MO). Botol ditutup kembali dengan hati-hati dan dikocok dengan baik-baik agar seluruh isi botol tercampur rata. Rumus perhitungannya adalah : Kadar DMA : x p x q ml/L Keterangan : p= jumlah ml larutan HCl yang terpakai q= normalitas larutan HCl. Prosedur penentuan Oxygen Demand yaitu : Sampel air diambil dengan botol sampel dan bila perlu lakukan pengenceran (tingkat pengenceran tergantung pada kondisi sampel air yang akan diteliti.01 N sampai larutan berwarna merah muda tipis (pink). Kemudian ditempatkan ke dalam labu Erlenmeyer sebanyak 100 ml dan ditambahkan sebanyak 5 . Kemudian dititrasi dengan larutan Na2CO3 0. Titrasi dilanjutkan kembali sampai warna biru tepat hilang (kembali seperti warna asal). Sebanyak 100 ml larutan di atas diambil dengan menggunakan gelas ukur dan dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer. Kedalamnya ditambahkan 10 tetes indikator phenolptalein (pp).5%.1 N sampai larutan berwarna merah bata dan titrasi dilakukan duplo. Kemudian dititrasi dengan larutan Na2S2O3 0. Volume titrasi yang dipergunakan dicatat. misalnya dapat 0.

8 3.1 8 30 24.4.8 .6= berat eqivalen KMnO4 Prosedur penentuan faktor koreksi : Aquades diambil sebanyak 100 ml dan ditempatkan didalam jabu erlenmeyer.64 3. Hal ini berarti air kran baik untuk budidaya ikan.01 N.18 Pembahasan Keterangan : <8. Perbandingan hasil percobaan.2 2.0.ml larutan H2SO4 4 N dan 10 ml larutan KMnO4 0.6 mg/L Keterangan : a = ml KMnO4 yang terpakai F = faktor koreksi KMnO4 31. 4 = tidak terdapat organisme akuatik.41 2 Air Kolam 8. karena pH dibawah 6.5 sedangkan pada sore hari dapat mencapai 8-9. air kolam 7 air payau 8. Berdasarkan hasil percobaan dari setiap kelompok.5 = tidak bisa digunakan untuk perikanan.6 7 0 20. Pada kolam yang banyak dijumpai alga atau tumbuhan lainnya.39 3 Air Payau 7. air hujan 5.01 N. air laut 8.4 . Kel Sampel Air Parameter O2 CO2 DMA pH Salinitas Air COD 1 Air Kran 9.01 N. Sebagian besar ikan dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan perairan yang mempunyai derajat keasaman berkisar antara 5-9. Selanjutnya dititrasi dengan larutan KMnO4 0.4 1.98 1 5 0 18. Rumus perhitungannya adalah : Faktor Koreksi = 10/(ml KMnO4) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1.36 5 Air Hujan 10.5 produktifitas lambat atau bahkan mematikan dan tidak ada reproduksi sedangkan tingkat .38 8 1.96 1. fluktuasi sangat dipengaruhi oleh proses respirasi karena gas karbondioksida yang dihasilkannya.5 7 0 22. Kemudian ditambahkan sebanyak 5 ml larutan H2SO4 4 N dan 10 ml larutan asam oksalat 0.6 4 Air Laut 7. Rumus perhitungannya adalah : Kadar COD = 1000/100 × {( 10 + a ) F-10 } × 0. pH air pada pagi hari biasanya mencapai kurang dari 6.01 N sampai terbentuk larutan berwarna merah muda (ros). Dititrasi dengan larutan KMnO4 0. Pada kolam budidaya. sampel air mempunyai nilai pH yang berbeda ± beda yaitu : air kran 7.01 × 31. Air kran memiliki tingkat derajat keasaman (pH) 7 artinya ikan yang hidup dalam air kran mempunyai produktifitas sedang dan pengaruh air kran terhadap ikan adalah baik untuk reproduksi. Lalu digoyang ± goyangkan hingga merata dan didiamkan 10 menit.01 N sampai terbentuk larutan yang berwarna merah muda (ros). Didihkan selama 10 menit dan setelah dingin ditambah sebanyak 10 ml larutan asam oksalat 0.5 -59.

air kolam sebanyak 3. Kisaran pH Pengaruh Terhadap Ikan 4-5 Tingkat keasaman yang mematikan dan tidak ada reproduksi 4-6. Artinya bahwa air hujan adalah air yang paling efektif untuk kehidupan makhluk hidup di perairan yang berkualitas.8 ml/L. 60 mg/l = batas akhir perairan yang baik untuk perikanan.4 ml/L sedangkan pada air hujan adalah 10. Hasil praktikum kelompok 1 menggunakan air kran mempunyai kandungan CO2 sebanyak 2.5 Pertumbuhan Lambat 6.64 ml/L. kandungan karbondioksida bebas pada masing-masing sampel air berbeda. Dalam suatu perairan terdapat perbandingan antara CO2. COD lebih tinggi. DMA. air kolam 8. jadi kandungan CO2 dalam perairan tersebut bertambah. sehingga . Sumber utama dalam perairan berasal dari suatu proses difusi dari udara bebas dari hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan (Salmin. Kadar oksigen terlarut suatu perairan dapat juga digunakan sebagai petunjuk kualitas suatu perairan (Welch.8 ml/L. Perbandingan tersebut yaitu apabila suatu perairan memiliki kandungan CO2 tinggi maka perairan tersebut akan memiliki kandungan O2 rendah. di perairan tawar kadar oksigen terlarut pada perairan alami biasanya kurang dari 10 ml/L. O2. sehingga O2 dalam perairan tersebut berkurang. Hal tersebut dikarenakan dalam suatu perairan yang terdapat banyak organisme.2 ml/L. Tabel 2. maka dibutuhkan banyak O2. Pengaruh kisaran pH terhadap ikan. Terlihat bahwa kandungan CO2 bebas pada tiap-tiap sampel air memiliki masing-masing kandungan CO2 bebas yang berbeda ± beda.98 ml/L.5 kondisi air terlalu basa sehingga tidak ada reproduksi dan tidak bisa untuk budidaya ikan.96 ml/L.5 mg/L. Dari data tersebut menunjukan perbandingan antara sampel air yang satu dengan sampel air yang lain. air laut sebanyak 0 ml/L dan pada air payau sebanyak 0 ml/L. COD dan pH. Data yang diperoleh yaitu : pada air kran kandungan CO2 sebanyak 2. diatas maka hasil praktikum sesuai dengan pendapat Mc Neely et al karena air kolam memiliki nilai oksigen terlarut 6. air laut 7. dan organisme tersebut mengeluarkan banyak CO2.64 ml/L. sehingga air kran baik untuk budidaya perikanan.2 ml/L. Berdasarkan grafik di atas. 1990). DMA lebih rendah dan pH yang tinggi. angin. 10 mg/l = masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik. 1952).4 ml/L. tetapi berfluktuasi dengan nyata tergantung pada kedalaman suhu. air hujan sebanyak 1. Hal ini ditunjukan pada grafik diatas bahwa air hujan adalah air yang memiliki kadar oksigen terlarut terbesar diantara air yang lain. 2000). Keterangan : < 5 mg/l = baik untuk perikanan.5-9 Baik untuk Reproduksi >11 Tingkat alkalinitas mematikan Keterangan : <2 = mengakibatkan kematian 5 = baik untuk perairan (perikanan) Berdasarkan grafik diatas nilai oksigen terlarut pada sampel berbeda ± beda yaitu : air kran 9. air payau 7. Menurut Mc Neely et al (1979). Jumlah oksigen terlarut dalam perairan tidak konstan seperti di udara. dan banyaknya kegiatan (Ewusie. Berdasarkan pendapat Mc Neely et al.keasaman >8. Hasil praktikum kelompok 1 dengan menggunakan sampel air kran didapat nilai oksigen terlarut sebesar 9.

Perairan dengan DMA 2. Alaerts (1984) menyatakan bahwa alkanitas/DMA adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan. Perairan dengan DMA 5.0 memiliki pH belum mantap tapi sudah dapat dipakai untuk memelihara dan produktifitasnya tergolong tinggi.5ml/L. penetapannya di dasarkan atas reaksi oksidasi bahan organik dengan oksigen dan proses tersebut berlangsung secara kimia dalam kondisi asam dan mendidih.5 terlalu asam dan tidak produktif sehingga tidak baik untuk pemeliharaan ikan. Apabila setelah di titrasi air tersebut berwarna merah muda. Banyaknya Na2CO3 yang terpakai dalam titrasi menunjukan CO2 bebas dalam air. Demikian pula sebaliknya apabila kandungan CO2 rendah. Data yang diperoleh yaitu : air kran 3. Alerts (1987) COD . Ca. artinya bahwa air laut memiliki daya menggabung asam yang baik dan juga memiliki daya ikat proton yang baik pula. asal disertai dengan kadar oksigen yang cukup. 1974).1 ml/L. Keterangan : <0.0 maka tergolong terlampau basa sehingga kurang baik untuk pemeliharaan ikan (Soeseno.5 = perairan tidak produktif 0. Air dengan kesadahan rendah diklasifikasikan sebagai badan air yang mengandung kurang dari 50 mg/L kalsium karbonat. Dalam melakukan percobaan COD ini dapat menggunakan metode permanganat dan bikromat (Soeseno. dengan reduktornya KMnO4 atau K7Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (Oxidixing Agent). 1981). DMA perairan berkisar antara 2. Alkanitas juga merupakan kapasitas air untuk menerima proton. Kesadahan air merupakan banyaknya garamgaram magnesium dan kalsium yang terlarut yang digambarkan sebagai mg/L kalsium karbonat. perbandingan daya menggabung asam (DMA) pada masing-masing sampel air berbeda. Chemical Oxygen Demand (COD) adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik secara kimiawi. Semakin tinggi tingkat DMA suatu perairan maka semakin tinggi kapasitas penyangga dan semakin tinggi tingkat kesuburannya. Alkanitas merupakan gambaran kadar basa dari kation NH4.38 ml/L. Perairan dengan DMA 0.0-5. air kolam 2. bikarbonat.5-2. Pada air dingin diteteskan indikator phenolphthalein sebanyak 10 tetes dan di titrasi sampai berwarna merah muda.0 pH sudah agak basa.5-2 = produktifitas sedang <2-2. air laut 4. 1970). Sebagian besar organisme akuatik masih dapat bertahan hidup hingga kadar karbondioksida bebas mencapai sebesar 60 mg/L (Wardoyo. Na. Dari grafik diatas diketahui bahwa air laut adalah air yang paling banyak mengandung DMA.0-4. K. Mg. dan hidroksil.5 = produktifitas tinggi Berdasarkan grafik di atas. air hujan 1 ml/L.kandungan pH dalam air tersebut tinggi (bersifat basa). asam lemah. air payau 0. Besar kecilnya nilai alkanitas total atau DMA suatu perairan dapat menunjukkan kapasitas penyangga dan tingkat kesuburannya. dan Fe yang umumnya bersenyawa dengan anion karbonat. Nilai alkanitas yang terlalu tinggi atau rendah dapat menghambat perkembangan organisme perairan. Karbondioksida bebas ditentukan berdasarkan teori bahwa CO2 bebas hanya terdapat dalam air pada pH di bawah 7.6 ml/L. Selain itu.0 ppm dan membagi perairan menjadi empat golongan sebagai berikut: Perairan dengan DMA 0-0. Kadar CO2 bebas sebesar 10 mg/L masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik. sangat produktif dan baik untuk pemeliharaan ikan. Menurut Santika dan G. berarti pH pada sampel air tersebut diatas 7.

Air Breating Fishes. Quano. 1984. 999-WP-25.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum adalah : Nilai perbandingan pH pada pustaka dan air kran berbeda. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan Perairan. Ricky Rositasari dan S. Kadar oksigen terlarut dalam perairan sangat bervariasi tergantung pada suhu. Graham. W. Boyd. 1988. Third edition. 1997. 1978 dalam Effendi Hefni. Tangerang (Djoko P. PT. In E. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Rajawali. serta sifat fisika dan kimia lain pada perairan tersebut. L. Karbondioksida sebesar 10ml/L masih dapat ditolerir oleh organisme akuatik asal disertai oksigen yang cukup. Penerbit Kanius. Goba. Academic Press.B. Semakin besar suhu dan ketinggian serta semakin kecil tekanan atmosferkadar oksigen terlarut di air semkin kecil. Fourt Printing.) P3O ± LIPI hal 42 ± 46. S. Asian Ins. Fundamental of ecology. . Untuk menunjukkan kapasitas penyangga dan tingkat kesuburan suatu perairan dapat dilihat berdasarkan besar kecilnya nilai alkalinitas total atau DMA. Hadi Riyono. Lee. 2003. Pemeliharaan Ikan Dalam Keramba . 395. Santika. C. Salmin. turbulensi air. 160-167 pp.S. 1970. Jakarta. Kadar Oksigen Terlarut di Perairan Sungai Dadap. Soeseno. E. PHS. Limnologi. London. S. Praseno. Benthos Makro invertebrate and fish as biologycal indikator of water quality. V.N. 5.A. Proses aerasi adalah proses penambahan oksigen (Sugiharto. Semakin banyak bahan organik yang menumpuk dalam suatu perairan. tingkat kecerahan air. 1983. Dalam : Foraminifera Sebagai Bioindikator Pencemaran.C.2 Saran Dalam hal ini praktikan hanya memberikan saran bahwa air kran dapat digunakan sebagai media untuk budidaya perikanan karena fakor ± faktor yang mempengaruhi kondisi kimia air sudah cocok dan tepat untuk reproduksi dan kelangsungan hidup organisme akuatik. warna. Philadelphia. Yogyakarta. Muara Karang dan Teluk Banten. Metoda Penelitian Air. Mc Neelev. Huet. Apabila kandungan CO2 dalam suatu perairan tinggi. Mahida.R.P. U. dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (Oxidizing Agent). Jakarta. C. CO. salinitas. maka kadar O2 perairan tersebut rendah dan pHnya tinggi sehingga perairan tersebut bersifat basa. Bangkok. N. 1987). Water Quality Criteria for Fish Life Bioiogical Problems in Water Pollution. Hasil Studi di Perairan Estuarin Sungai Dadap. (1987). No. 1971. saunders.adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat -zat organik yang ada dalam 1 liter sampel air. Publ. Kandungan CO2 bebas dalam suatu perairan tidak sama. wang and C. Water Quality in Warmwater Fish Ponds. J.E. eds. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor suhu. Jakarta. Teach. Alabama USA. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. nilai COD akan semakin tinggi dan kemudian akan menurun dengan adanya dekomposer lebih lanjut dari bahan organik. G. Auburn University Agricultural Experiment Station. Odum. Gramedia. Dengan menambahkan oksigen maka kadar COD akan mengalami perubahan sehingga proses aerasi dapat menurunkan kadar COD. Alaerts dan S. Kuo 1978. Direktorat JenderaL Perikanan Departemen Perikanan. 2000. 1970. dan tekanan atmosfer.D. DAFTAR PUSTAKA Asmawi.B. Surabaya: Usaha Nasional. H.

Bogor. IPB. Fish. T. (1987).Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perikanan : Jakarta. 379 ± 406 pp. Limnologi untuk Sekolah Perikanan Menengah Atas. Kriteria Kualitas Air Untuk Perikanan dalam Analisa Dampak Lingkungan. 4 . S.1974. Bogor.A. F. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah. Soeseno. Standardization of Chemical Analysis for Water and Pond Muds. Rep. Soeseno. Jakarta: UIP: 6-7. Pencemaran Lingkunga. Dasar-dasar Pengelolaan Air Limbah. PLN-PUDSI. Wardoyo. 1970. Sugiharto. . S .Limnologi.S.Soeseno. H. IPB.O. 44. 1968. 1981.S. 1970. Swingle.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful