METODOLOGI ILMU PEMERINTAHAN PENDEKATAN LINTASIDISIPLIN KYBERNOLOGI POLITIK

Sebuah Telaah Awal Taliziduhu Ndraha, Kybernolog Judul di atas tidak berarti ada suatu disiplin bernama Ilmu Pemerintahan dan Politik. Dari sudutpandang Kybernologi, fenomena pemerintahan merupakan bidang kajian bersama bagi semua disiplin ilmu pengetahuan, juga bagi Ilmu Politik, sebagaimana fenomena politik merupakan bidang kajian bersama, yang dipelajari juga oleh Kybernologi. Sejak dekade duapuluhan abad yang lalu di Eropa, dua-duanya setara, berderajat Doktor. Setiap disiplin mempunyai metodologi. Oleh sebab itu, saya menafsirkan judul di atas sebagai penggunaan atau penerapan Metodologi Ilmu Pemerintahan dalam mengamati ruang politik (perpolitikan) dengan segala peristiwa yang berproses di dalamnya. Sebaliknya juga (bisa) dilakukan oleh para ilmuwan Ilmu Politik terhadap fenomena pemerintahan. Sudah barang tentu berbeda halnya jika orang berpendapat bahwa fenomena pemerintahan adalah fenomena politik sehingga apa yang disebut Ilmu Pemerintahan dianggap hanya satu bidang kajian Ilmu Politik seperti sejauh ini terdapat di lingkungan UGM (Laporan Lampung, lihat Bab XIII Kybernologi dan Pembangunan, 2008). Lima tahun sebelumnya, pendekatan Kybernologi seperti ini telah dilakukan terhadap fenomena pertanian. Pada tgl 10 dan 11 Desember 2003 bertempat di Departemen Pertanian Ragunan Jakarta Selatan berlangsung Lokakarya Penyusunan Evaluasi Kinerja Pembangunan Pertanian. Sesi pertama lokakarya diisi dengan penyajian makalah berjudul Kybernologi Pertanian. Sejumlah pelaku acara, baik penyaji, pembahas, maupun moderator, adalah pembelajar Kybernologi. Laporan lokakarya ini terdapat dalam Bab IV Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (April 2005). Tidaklah mengherankan manakala Disertasi Dr Ir A. H. Rahadian, MSi, dan Dr Ir H. Abdul Samad Melleng, MM, dua di antara sejumlah pembelajar, peserta Program S3 kerjasama IIP-UNPAD dari Departemen Pertanian, disemangati oleh semangat dua hibrida baru Kybernologi Pertanian vs Agro-Pemerintahan. Laporannya ada di Bab IV Kybernologi Sebuah Rekonstruksi Ilmu Pemerintahan (2005). Ternyata tidak sampai setahun kemudian “kajian Lampung” ini mendorong penggunaan Metodologi Ilmu Pemerintahan terhadap fenomena politik, dan menghasilkan hibrida baru yang kelak dapat diberi nama Kybernologi Politik, sementara hibrida lainnya telah dikenal bernama Politik Pemerintahan telah dilakukan di lingkungan Fakultas Politik Pemerintahan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). (Bab IX Kybernologi Sebuah Metamorphosis, 2008). Dengan penyesuaian sana-sini, tulisan terakhir dikemas di bawah judul seperti di atas. 1

Juga oleh wartawan dan tim konsultan pemilu.MANUSIA. dicari. juga di halaman 8.lagi-lagi --. dan bahwa “bersama kita bisa!” mewujudkannya.” sedangkan yang lain dengan semboyan “Hidup adalah Perbuatan. manusia yang sehariharinya dianggap sampah. Apakah dengan memberikan sebingkis hadiah kepada keluarga kumuh itu. Itulah yang terbaca tgl 7 Oktober 09 di halaman 8 Kompas. . mengidentifikasi dirinya dengan simbol-simbol tertentu guna menarik simpati. Yang penting adalah udang di balik batunya: guna menaikkan rating TV doang. “Narasi Baru Partai bla bla bla. pasti dikejar. mendadak sontak diburu. tokoh politik bisa berkomunikasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. legislatif maupun eksekutif. Tentu saja itu bingkisan apa segepok uang diterima bak jatuh dari langit dengan syukur dan cium tangan oleh keluarga yang ketiban. Apa pasal? Rupanya ia mempunyai sesuatu yang setara . Atau melancarkan “Surat Buat Semua” (Kompas 5 Agustus 08. dirayu dan diiming-iming oleh Tim Kampanye atau Tim Sukses yang tersebar di mana-mana. memperkenalkan diri siapa dia. Bahkan penyandang tuna sekalipun. 8 Oktober 09. . Sebuah keluarga kumuh sekali-sekalinya seperti mendadak (padahal sudah direkayasa sebelumnya) dikunjungi seorang selebriti TV biasanya perempuan didampingi seorang kamerawan lelaki yang membawa sebuah bingkisan yang berharga disertai ucapan selamat dan pelukan mesra dari siperempuan. Bahasa gaulnya taktik tebarpesona. YANG DIINGAT APANYA? Sekarang manusia jadi rebutan. halaman 11). memikat ratusan ribu pemudik. Yang sehari-harinya dipandang sampah! Kabarnya menjelang pemilu 2009 KPU telah menyiapkan alat dan cara buat para penyandang tuna dan onggokan sampah ini suatu saat bagi orang lain tahun depan. dibutuhkan. Sebenarnya metodologi ini sudah lama digunakan oleh sektor bisnis. . Memperkenalkan diri saja menggunakan berbagai cara. ada yang memromosikan partainya. perseorangan juga yang merasa terpanggil untuk dipilih. Siasat partai politik (parpol) demikian jualah. . memunculkan sisi kemanusiaan. Foto diri berpakaian rapi dengan senyuman manis. wuih bau dan joroknya!. maunya supaya bla bla bla. yang satu dengan semboyan “Berjuang Untuk Rakyat. menggunakan komunikasi politik dalam bentuk iklan.” pembawa “Harapan Baru. Terutama marketing.” Bukan hanya parpol. menjelang setiap pemilihan umum (pemilu). Rupanya jasad yang tinggal kulit pembalut tulang itu semasih bisa nyoblos (nyontreng) atau memberi tanda bahwa ia masih bernyawa. Mula-mula ia menyapa sini-sana. Ada yang memperkenalkan diri sebagai “Generasi Baru.dalam Kompas. Parpol lantas menirunya dengan menggunakan label kepedulian kiri kanan.” Nampaknya.” agar kampanye “.” seperti yang terbaca --. “Amien Rais Beri Nasihat. baik nasional maupun lokal (pilkada). mengapa dia dan bukan orang lain. kemiskinan berkurang? Andalah yang menjawab. . .” bintang tunggal di angkasa dua nol nol sembilan. terlunta-lunta.” Atau label “kemanusiaan.

” berdialog dengan rakyat. atau limasepuluh-ribuan buat nyeterik mentari seharian sembari berteriak “Hidup!!!” dan mendengar slogan-slogan. rakyat mencurahkan uneg-unegnya. dan Adrianus Meliala berbicara tentang kejahatan Negara (Kompas 23 November 06). Semuanya lancar sesuai skenario dan arahan sutradara. disatukan oleh kepatuhan dan kesetiaan pada rezim yang berkuasa. teratur.” “sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sebenarnya. Luarbiasa! Bahwa kendatipun demikian. Itulah yang terjadi di ruang politik. di waktu sesudahnya manusia diingat karena butuh telinganya untuk mendengar kebohongan.dengan “Vox Dei. halaman 15. dipanggung sandiwara. bersih. sementara Budiarto Shambazy menyatakan: “Saya janji mau ‘nyoblos’ capres yang punya resep mengurangi jumlah orang miskin?” (Kompas 7 Oktober 08. ibarat sapulidi yang terikat dengan tali di pangkalnya. dan GBHN. Tidak kurang dari Kementerian Negara Daerah Tertinggal menetapkan lima prinsip pembangunan daerah tertinggal. sebaju kaosoblong. Diperhatikan! Masih teringat tiap kali Soeharto “turun kebawah.” Tetapi mengapa. Rupanya pada saat-saat menjelang pemilu seperti sekarang manusia diingat karena butuh suaranya.” dan “tidak diskriminatif. Soeharto menyimak dengan senyumnya yang memikat. Rakyat bertanya. sementara itu mata manusia selamanya tidak dibutuhkan supaya ia tidak melihat kenyataan lalu pasrah belaka. manusia seutuhnya tidak diperhatikan? Itu termasuk ritual Pancasila. Soeharto menjawab. Tetapi mengapa Mei sembilan-puluhdelapan rakyat yang sama meng“ impeach”-nya? Sekarangpun begitu. indah.” suara Tuhan. Syamsuddin Haris menulis tentang korupsi dan delegitimasi DPR (Kompas 5 Agustus 08). dan dimainkan statistiknya. Dengan sebuah tandatangan diubah saja tolokukur. mengapa golput semakin membadai. 2 APATAH SALAH IBU MENGANDUNG? Apakah di masa lebih tiga dasawarsa Soeharto berkuasa. seragam. UUD45. membelalak dibohongi. walau kemiskinan tetap bahkan semakin berkualitas. siapa yang peduli? Anti klimaks memang.” “sesuai dengan adatistiadat dan budaya setempat. menggeliat lalu mati. siapa yang mempersoalkannya? Cacing yang terinjak. gampang. Kenyataan selalu bersifat . jumlah orang miskinpun jamin bisa naik bisa turun dalam sekejap. Jadi ada yang tidak beres! Rupanya bukan SALAH IBU MENGANDUNG (rakyat begitulah adanya) melainkan 3 SALAH BAPA MEMANDANG (MENGGUNAKAN KACAMATA KEKUASAAN) Pemerintah ingin supaya mereka yang-diperintah berperilaku tertib. pak Budi. Itulah sisi rakyat sebagai pelanggan. hehehe). sesudah itu kemudian “Vox Populi” hanya dihargai seikatkepala. Semuanya bertepuk tangan. bila diperintah bergerak serentak. yaitu “berorientasi pada masyarakat.” “berwawasan lingkungan. Tetapi sabda alam lain.

dia bisa juga murka tidak alang kepalang dia adalah semar dia badai dan topan itu yang menggeliat karena gencetan yang bergerak karena penindasan yang menggilas karena hinaan yang sanggup mengubah roda zaman rakyat jelata di mana saja. Definisi Daerah Tertinggal (DT) menurut Pemerintah. Di sana dijelaskan bahwa kedua pendekatan itu direkonstruksi berdasarkan Metodologi Kualitatif.” sebagai contoh. Jadi harus digunakan pendekatan lintasdisiplin. Demikian juga penelitian antar disiplin seperti telah dikemukakan dalam pengantar tulisan ini. 1995). (Riantiarno dalam Semar Gugat. kapan saja dan di mana saja. . yaitu “suatu daerah kabupaten yang masyarakat serta wilayahnya relatif kurang berkembang dibandingkan daerah lain dalam skala nasional. antara keduanya terbentuk perlahan tapi pasti hubungan lain yang bersifat kategorial. force. sindiran. Dalam sejarah. jika sudah melampaui ambang batas kesabarannya. Pemerintah tidak eksis tanpa yang-diperintah. jahitmulut. sedangkan bahasa subkultur sosial (SKS. Jadi harus digunakan pendekatan lintasbudaya. Dalam kondisi kategorial itu. Frame-of-reference (FOR) subkultur yang satu tidak sah untuk digunakan buat mengukur dan mengevaluasi subkultur yang lain yang FOR-nya berbeda. Setiap eksistensi terdiri dari dua sisi ini. dan jika tidak mempan. “janji” yang dijualnya kepada pelanggan adalah “janji. demikian sebaliknya. kiasan. “janji” adalah “apa yang dijanjikan. bahasa yang digunakan subkultur kekuasaan (SKK) adalah bahasa authority. Dalam bahasa Teori Governance. Pemerintah) dan kemasyarakatan adalah dua subkultur yang berbeda yang hadir di dalam setiap masyarakat. Menurut fihak yang berkampanye. masingmasing memiliki referensi yang berbeda tentang hal yang sama. Misalnya “janji” dalam kampanye. Masing-masing ilmu memiliki metodologinya sendiri. Oleh perbedaan budaya itu. timbullah konflik. elusdada.” dan oleh sebab itu ditagih pada suatu saat. Tetapi menurut fihak pelanggan. Pendekatan lintasbudaya dan pendekatan lintasdisiplin yang digunakan dalam penelitian antar ruang atau antar disiplin yang berbeda terdapat dalam Bab 36 Kybernologi (2003). fihak yang satu tidak kompatibel menggunakan norma-normanya untuk mengevaluasi fihak yang lain.jamak dan serbadua. misalnya antara ruang Ilmu Politik dengan ruang Ilmu Pemerintahan. terang dan gelap. di samping hubungan eksistensial. benar dan salah. . violence. pria dan wanita. Siang dan malam. pelanggan) adalah bahasa cacing (diam. Hubungan ini merupakan salah satu anggap dasar Teori Governance. coercion. “Relatif kurang berkembang dibandingkan . . kekuasaan (Negara. Jika itu terjadi. Menurut Teori Budaya. tutupmulut.” yang dianggap sudah terpenuhi pada saat “janji” itu dipercaya (dibayar).

Dengan metodologi itu. dalam hal ini Pemerintah melalui penelitian pesanan oleh konsultan dalam bentuk projek. dan pemberdayaan masyarakat. Sementara fihak A dapat dianggap homogen. dengan subkultur (FOR) yang berbeda. yang diimplementasikan ke dalam lima program. 4 METODOLOGI Sesuai dengan judul. Definisi DT akan lain jika Pemerintahan menggunakan Metodologi Kualitatif menurut Metodologi Ilmu Pemerintahan (Kybernologi). atau skala nasional. pengembangan sarana dan prasarana. Rupanya SALAH BAPA MEMANDANG (menggunakan kacamata kekuasaan). FOR fihak A dapat dianggap seragam. Pemerintah menetapkan 199 kabupaten sebagai Daerah Tertinggal (termasuk 20 kabupaten di perbatasan). maju atau berkembang. sedangkan yang di atas rerata. benda itu terlihat hitam. fihak Yangdiperintah. bisa terbentuk fihak ketiga (C). yaitu pengembangan ekonomi lokal. sumberdaya alam.dengan daerah lain” dalam “skala nasional” Berdasarkan definisi itu. sumberdaya manusia. pencegahan dan rehabilitasi bencana.B1 sudut A sudut B A <----------------------------->B Gambar 1 Triangulasi Antara A Dengan B Guna Menemukan Titiktemu X. dan menggunakan FOR peneliti atau fihak yang berkepentingan. Ibarat seorang yang melihat suatu benda putih dengan kacamata hitam. dan kebijakan pembangunan. Di ruang politik terdapat Pemerintah (A) dengan FORnya sendiri. ditetapkanlah tiga kebijakan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT). yaitu manusia atau masyarakat “terlihat” seperti yang dikehendaki atau sesuai dengan rancangan Pemerintah. Dengan akal sehat segera dapat diketahui bahwa Pemerintah membuat definisi DT tersebut menurut pendekatan kuantitatif. yaitu kebijakan pemihakan. Pendekatan kuantitatif beranjak dari teori. heterogen (beragam). kerawanan bencana alam dan konflik sosial. yang disoroti dengan menggunakan Metodologi Ilmu Pemerintahan (Gambar 1) oleh yangdiperintah (B). beragam. yang ditelusuri dalam tulisan ini adalah Metodologi Ilmu Pemerintahan (Kybernologi) yang digunakan dalam mempelajari fenomena politik. Dengan demikian. FOR fihak B. pemberdayaan masyarakat. analisis deduktif. fihak B yaitu masyarakat. yaitu “pecahan” . terdiri dari berbagai X X1 X2 jembatan Y A1 --------------. Sudut = Sikap sub-FOR. pengembangan daerah perbatasan. rerata skor sejumlah variabel makro. Daerah di bawah rerata ditetapkan sebagai tertinggal. sarana dan prasarana daerah. percepatan. Berdasarkan anggapan bahwa ketertinggalan itu disebabkan oleh faktor geografik.

” dengan syarat. motivation. Salah satu cara yang dikenal dalam metodologi adalah pembentukan pengertian dan pencapaian saling-mengerti melalui empati (empathy. 100% kategorial. Salah satu bentuk understanding adalah empathic understanding yang dalam bahasa Jerman disebut Verstehen. Misalnya ungkapan Jawa yang diucapkan hari ini Jumat tgl 10. . Demikian juga sebaliknya. Semakin majemuk FOR. belief. disebut saling-mengerti. semakin berbeda besaran sudut A ketimbang sudut B. jika besaran sudut (A + B) < 180°.e. semakin jauh jalan dan jarak yang ditempuh untuk menemukan titiktemu X. . Si Melayu murka karena merasa ditipu mentah-mentah. berbunyi “. identitasnya tetap orang Melayu. entah di mana. Kondisi itu terjadi.fihak B. besok. Titik temu itu jadi mustahil manakala besaran sudut (A + B) = 180° atau (A + B) > 180°. . Titik temu terjadi entah kapan. intention. Pengertian dan saling-mengerti.” Konflik dapat dihindarkan jika orang Melayu mengerti ungkapan Jawa tersebut tanpa berubah menjadi orang Jawa. yang dicari bukan “titiktemu” X melainkan “garistemu” Y yang pada Gambar 1 disebut “jembatan. motives. Semakin berbeda besaran sudut A ketimbang besaran sudut B. Artinya tidak ada kompromi.” Jembatan itu bisa dibangun pada setiap titik yang berseberangan pada garis AX1 dan garis BX2. . Satu-satunya jembatan antar(a) berbagai fihak yang FOR-nya berbeda-beda yang dapat dilalui oleh suatu fihak tanpa berubah menjadi seperti yang lain. Padahal sebenarnya yang dimaksudkan oleh si Jawa adalah “kapan-kapan. and thoughts behind the action of others. Menurut Max Weber. bukan emphaty). adalah pengertian (understanding).” demikian Schwandt.” Dengan menggunakan FOR pemerintah (FOR politik). Verstehen adalah “empathic understanding or an ability to reproduce in one’s own mind the feelings. semakin sulit menemukan titiktemu X. Fihak-fihak yang terhubung dengan (berjembatan) suatu pengertian. cepat atau lambat dapat terbentuk dan tercapai melalui pelbagai cara di dalam masyarakat. manakala salah satu mensakralisasi ideologinya sehingga baginya dua terdiri dari putih dan hitam belaka. Konsep empati tidak terpisahkan dengan konsep pengertian (understanding). or the like) of an individual actor. Bisa saja peneliti bermaksud mengenal seorang aktor dengan motif ketertarikan (sympathetic imagination) dan bukan karena ingin mengenalnya sebagaimana adanya. “It (Verstehen) must mean an act of sympathetic imagination or empathic identification on the part of inquirers that allowed them to grasp the psychological state (i. Adakah kemungkin terjadinya “temu” dalam kondisi besaran sudut (A + B) = 180° atau (A + B) > 180°? Jawabannya ialah “ada. seorang pejabat atau peneliti politik bertanya (berdasarkan laporan bahwa para PKL kembali mengais di KL semula. .” jika oleh orang Melayu “besok” disimak “Sabtu tgl 11. bukan di lokasi baru): “Mengapa implementasi kebijakan relokasi PKL gagal?” Pertanyaan itu muncul karena .” maka dunia bisa kiamat. yaitu titik-titik A1B1. lokasi lama.

mudah dirayu dan gampang diajak bertepuktangan. . fokus perhatian penelitian berFOR pelanggan bertolak dari pengenalan dan pengertian terhadap PKL. dan dilindungi oleh Pasal 27 (2) dan Pasal 34 UUD1945. . Mudah-mudahan melalui penelitian pesanan berbentuk projek dengan konsultan rekanan yang beken dapat ditemukan alasan pembenaran bahwa biaya kurang. . mangkanya sudah barang tentu kecuali menjelang pemilu! Iya nggak?). . A A A turun secara pribadi (personally) serendah mungkin dari posisinya. menempatkan diri seutuhnya setara dgn kondisi . perhatian terhadap PKL harus jernih dan cerah. Ia menggunakan metodologi kuantitatif jika ia berargumentasi: “Domba yang hilang hanya satu persen. melainkan sebagai manusia yang ingin hidup meski melarat. bagaimana membangun jembatan? Siapa mengempati siapa? Verstehen tentang apa atau siapa yang perlu ditemukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut. Seorang gembala yang kehilangan seekor di antara 100 domba peliharaannya dalam perjalanan kembali ke kandang pada suatu saat bisa menggunakan metodologi kuantitatif dan bisa kualitatif. . bertanya “Mengapa PKL kembali mengais di lokasi lama?” Jawaban terhadap dua macam pertanyaan itu sangat berbeda. PKL jangan dilihat sebagai pelanggar UU/Perda yang harus diusir dan digelandang oleh satuan PPP.implementor kebijakan adalah pemerintah. Jika fokus perhatian penelitian berFOR pemerintah terarah pada implementor kebijakan. dan oleh sebab itu dianggap sampah masyarakat (tapi nyontreng atawa nyoblos sih bisa. dsb. Sedangkan lapis bawah ke bawah boro-boro menyumbang. Jembatan antara A1 dengan B1 tidak terbangun. bahkan menjadi beban bagi struktursupra. dengan menempatkan kekuasaan di atas dan rakyat di bawah. Tetapi seorang pejabat atau peneliti yang menggunakan FOR pelanggan (FOR Kybernologi). . mobil kurang. persentase. Oleh sebab itu. pertanyaan ini yang paling disukai. Pejabat tidak perlu mengenal dan mengerti kondisi pelanggan.” Tetapi ia menggunakan metodologi kualitatif jika ia mengambil keputusan untuk berhenti dan mencari seekor yang hilang sampai dapat. Angka-angka. sehingga ada dasar untuk meminta semakin banyak anggaran. ” Jawaban hipotetik ini membangun jembatan yang kokoh antara A1 dengan B1. Jawaban teoretik terhadap pertanyaan “Mengapa PKL kembali mengais di lokasi lama?” tentu saja menyentuh si implementor: “Karena kebijakan relokasi PKL tidak diimplementasikan. dan grafik. sudah cukup baginya. struktursupra dengan strukturinfra. tenaga kurang. Kybernologi meminjam konstruksi Ilmu Politik yang menggambarkan body-of-knowledge (BOK) dengan model atasbawah (below). Sudah barang tentu. masih ada 99% lagi. . Persoalannya. . . Lapis tengah dan lapis atas ke atas biasanya kekasih kesayangan kekuasaan. Rakyat yang di bawah itu berlapislapis. karena bisa menyumbang pajak besar. .

Melalui metodologi itu. sambil merekam. Tidak dipersoalkan apakah hilangnya si domba karena kesalahannya sendiri. dapat terbentuk di dalam benak seorang peneliti. empathic understanding yang sejati tentang apa saja. sehingga oleh B ia diterima sebagai seorang sesama di antara mereka. turun dan turun lagi untuk mengenal. naik dan naik lagi untuk memasuki kawasan istana negara atau halaman balaikota untuk menyampaikan isi hatinya. kemungkinan bagi seorang PKL naik ke atas. waktu yg harus disediakannya utk mendengar. Makna ilustrasi di atas ialah. definisi kekuasaan pasti lain. Namun kenyataannya. Ialah Semar. dan menyelamatkan manusia terhilang di liang terbawah? Mengapa ALLAH peduli terhadap alam semesta dan Turun melalui FirmanNYA untuk Menyelamatkan bumi renta dan manusia berdosa? Peneliti bisa menggunakan Metodologi Ilmu Pemerintahan berdesain kualitatif seperti Gambar 2. membangun kebersamaan melalui perilaku etik & emik. 10 x 10 = 100 menit. A melawan arus? Ya. misalnya. prilaku & perkataan B sebagaimana adanya begitu keluar dari B tanpa dipengaruhi oleh A. Yang penting ialah maknanya. ialah Nelson Mandela B B Gambar 2 Membentuk (Membangun) Pengertian Yang Empatik Ini hanya ilustrasi. bahkan oleh parpol ia dituduh pengkhianat. 99% rakyat ada di didepannya dan sejarah bertinta emas terbentang di belakangnya. ia tdk populer di kalangan politisi dan birokrasi. memang keduabelah fihak bisa memulai pemasangan jembatan dari fihaknya (B1) ke fihak lain (A1). membangun rapport. memahami. maka jika waktu yg digunakan A = utk berbicara 10 menit. kemiskinan. Mengingat B heterogen. Jika pejabat atau peneliti menempuh prosedur seperti itu. emik & etik. tidak menaati peraturan. mengamati & merekam amatannya. Teori tentang Verstehen terdapat dalam Bab 14 Kybernologi Beberapa Konsturksi Utama. manakah yang lebih terbuka. 2005. mendengar & merekam isyarat. katakanlah terdiri dari 10 sub-B. ketimbang kemudahan bagi presiden atau walikota turun. belum terhitung waktu yang diperlukannya untuk bersosialisasi. berbuka diri mengamati. dan sebaliknya. Lakukanlah! 1010081417 0609090652SDG File mip dan politik unila .B dgn tulus. Tetapi percayalah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful