PENERAPAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS

)

MAKALAH
Diajukan sebagai persyaratan Seleksi Calon Kepala Sekolah Dasar Tahun 2010

Oleh : NAMA : AGUS SHOLEH, S.Pd NIP : 19651214 199307 1 001

UPT DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAM OLAHRAGA KECAMATAN KEDUNGREJA – KABUPATEN CILACAP

2009

i

LEMBAR PENGESAHAN Makalah ini telah disahkan pada : HARI : TANGGAL : ii .

.................... B.......................PEMBAHASAN A....................................................... Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).............................................................................. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)............................................................................DAFTAR ISI halaman I..................... III..................................................................................... C..................................Tujuan dan Manfaat Penelitian 2 II.....................................................................................................PENDAHULUAN A................................................ Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS............Latar Belakang 1 B.............................KESIMPULAN ...........................................................Rumusan Masalah 2 C....................10 DAFTAR PUSTAKA 2 4 8 iii ............

nama-nama tersebut memiliki roh yang sama. juga dapat mempersiapkan tenaga-tenaga pembangunan. Masyarakat adalah pemilik sekolah. keduanya saling membutuhkan. Tujuan utama adalah untuk mengembangkan rosedur kebijakan sekolah. Namun. yakni man. memecahkan masalah-masalah umum. Penyerahan otonomi dalam pengelolaan sekolah ini diberikan tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan. di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional. dan bahkan juga dikenal dengan school site management atau manajemen yang bermarkas di sekolah. manajemen mandiri sekolah (school self-manegement). PENDAHULUAN A. sekolah adlah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota2 masyarakat dalam bidang pendidikan. ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat. Sehingga sekolah selain dapat mencetak orang yang cerdas serta emosional tinggi. khususnya dalam penggunakaan 3M-nya. sekolah ada karena masyarakat memerlukannya. kemajuan sekolah dan masyarkat saling berkolerasi. mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan. Istilah-istilah tersebut memang mempunyai pengertian dengan penekanan yang sedikit berbeda. memanfaatkan semua potensi individu yang tergabung dalam tim tersebut. Oleh karena itu. maka Direktorat Pembinaan SMP menamakan MBS sebagai Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS). MBS terlahir dengan beberapa nama yang berbeda. yakni sekolah diharapkan dapat menjadi lebih otonom dalam pelaksanaan manajemen sekolahnya. Latar Belakang Sekolah adalah salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul. sekolah adalah bagian yang integral dari masyarakat. Oleh karena itu perlu diketahui pandangan filosofis tentang hakekat sekolah dan masyarakat dalam kehidupan kita. hak hidup dan kelangsungan hidup sekolah bergantung pada masyarakat. bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi. Desain organisasi sekolah adalah di dalamnya terdapat tim administrasi sekolah yang terdiri dari sekelompok orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan oranisasi. yaitu tata kelola berbasis sekolah (school-based governance). 1 .PENERAPAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS) I. money. dan material.

melihat manajemen lebih 2 . Lebih lanjut istilah manajemen sekolah acapkali disandingkan dengan istilah administrasi sekolah. PEMBAHASAN A. mengartikan administrasi lebih luas dari pada manajemen (manajemen merupakan inti dari administrasi). orang tua siswa. II. manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS) dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan mendorong pengambilan keputusan partisipatif yang melibatkan secara langsung semua warga sekolah (guru. pertama.B. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) 1) Pengertian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari “school-based management”. Secara umum. Rumusan Masalah : 1) Apa yang dimaksud dengan manajemen berbasis sekolah (MBS)? 2) Bagaimana penerapan manajemen berbasis sekolah (MBS)? Adapun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah : C. Berkaitan dengan itu. karyawan. dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkan kebijakan pendidikan nasional. terdapat tiga pandangan berbeda. siswa. kepala sekolah. Menurut Edmond yang dikutip Suryosubroto merupakan alternatif baru dalam pengelolaan pendidikan yang lebih menekankan kepada kemandirian dan kreatifitas sekolah. Tujuan dan Manfaat Penulisan Karya tulis ini bertujuan : 1) Untuk mengetahui Manajemen berbasis sekolah (MBS)? 2) Untuk mengetahui penerapan Manajemen berbasis sekolah (MBS)? Karya tulis ini diharapkan : 1) Sebagai solusi alternatif dalam mengolola dan memanejemen pendidikan di sekolah 2) Menambah wawasan penulis pembaca makalah ini dalam memahami contoh dari perubahan dan inovasi pendidikan dalam aspek manejemen dan pengololaan pendidikan khususnya di sekolah. MBS merupakan paradigma baru pendidikan. kedua. Nurcholis mengatakan Manajemen berbasis sekolah (MBS) adalah bentuk alternatif sekolah sebagai hasil dari desentralisasi pendidikan. yang memberikan otonomi luas pada tingkat sekolah ( pelibatan masyarakat ) dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional.

yaitu segala usaha bersama untuk mendayagunakan sumber-sumber. secara efektif dan efisien guna menunjang tercapainya tujuan pendidikan di sekolah secara optimal. b. tingkat putus sekolah. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama. 3 tetapi membutuhkan orang lain . dan d. mengarahkan (directing). Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam megelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orang tua. dan mengevaluasi (evaluation). dan guru. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu pendidikan yang akan dicapai. Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran. Definisi manajemen tersebut menjelaskan pada kita bahwa untuk mencapai tujuan tertentu. tingkat pengulangan. mengawasi (controlling). dan ketiga yang menganggap bahwa manajemen identik dengan administrasi. orang tua. moral guru. mengkoordinasikan (coordinating). 2) Tujuan MBS a. c. istilah manajemen diartikan sama dengan istilah administrasi atau pengelolaan. Menurut Gaffar (1989) mengemukakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas tinggi serta memberikan beberapa keuntungan berikut: a. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. Dalam hal ini. dan pemerintah tentang mutu sekolahnya. maka kita tidak bergerak sendiri. dan iklim sekolah. sitemik. baik personal maupun material. mengorganisasikan (organizing). b. c. Berdasarkan fungsi pokoknya. untuk bekerja sama dengan baik. Pengertian manajemen menurut Hasibuan merupakan ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. istilah manajemen dan administrasi mempunyai fungsi yang sama. dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional.luas dari pada administrasi (administrasi merupakan inti dari manajemen). yaitu: merencanakan (planning). masyarakat. hasil belajar.

Di Amerika Serikat. mendorong profesionalisme kepala sekolah. B. Umumnya dipandang bahwa para kepala sekolah merasa tak berdaya karena terperangkap dalam ketergantungan berlebihan terhadap konteks pendidikan. Adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan. manajemen sekolah. Semua kebijakan tentang penyelenggaran pendidikan di sekolah umumnya diadakan di tingkat pemerintah pusat atau sebagian di instansi vertikal dan sekolah hanya menerima apa adanya. and National Association of Secondary School Principals.d. gagasan penerapan pendekatan ini muncul belakangan sejalan dengan pelaksanaan otonomi daerah sebagai paradigma baru dalam pengoperasian sekolah. sekolah hanyalah kepanjangan tangan birokrasi pemerintah pusat untuk menyelenggarakan urusan politik pendidikan. Para pengelola sekolah sama sekali tidak memiliki banyak kelonggaran untuk mengoperasikan sekolahnya secara mandiri. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Sejak beberapa waktu terakhir. Rasa tanggap sekolah terhadap kebutuhan setempat meningkat dan menjamin layanan pendidikan sesuai dengan tuntutan masyarakat sekolah dan peserta didik. Guru didorong untuk berinovasi. Pada 1988 American Association of School Administrators. peran utama mereka sebagai pemimpin pendidikan semakin dikerdilkan dengan rutinitas urusan birokrasi yang menumpulkan kreativitas berinovasi. pendekatan ini sebenarnya telah berkembang cukup lama. Di Indonesia. 4 . memberdayakan guru. kita dikenalkan dengan pendekatan “baru” dalam manajemen sekolah yang diacu sebagai manajemen berbasis sekolah (school based management) atau disingkat MBS. b. Selama ini. dan perubahan perencanaan. sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan guru sehingga dapat lebih berkonsentrasi pada tugasnya. 3) Manfaat MBS MBS memberikan beberapa manfaat diantaranya a. a strategy for better learning. Dengan kondisi setempat. rancangan ulang sekolah. Keleluasaan dalam mengelola sumberdaya dan dalam menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi. National Association of Elementary School Principals. menerbitkan dokumen berjudul school based management. d. Akibatnya. c. Munculnya gagasan ini dipicu oleh ketidakpuasan atau kegerahan para pengelola pendidikan pada level operasional atas keterbatasan kewenangan yang mereka miliki untuk dapat mengelola sekolah secara mandiri. dalam peranannya sebagai manajer maupun pemimpin sekolah.

Para menteri sangat menyarankan (endorse) 5 . Oleh sebab itu. dengan demikian memberikan kontribusi pada kesejahteraan ekonomi dan sosial suatu negara. mengakibatkan hasil belajar siswa yang meningkat di segala keadaan (setting). Manajemen berbasis sekolah selalu diusulkan sebagai satu strategi untuk mencapai transformasi sekolah. Tampaknya pemerintah dari setiap negara ingin melihat adanya transformasi sekolah. yang memunculkan berbagai isu kebijakan dan melibatkan banyak lini kewenangan dalam pengambilan keputusan serta tanggung jawab dan akuntabilitas atas konsekuensi keputusan yang diambil. Perhatian khusus diarahkan pada desentralisasi. Tidak heran jika nilai akhir yang diterima di tingkat paling operasional telah menyusut lebih dari separuhnya. semua pihak yang terlibat perlu memahami benar pengertian MBS. MBS adalah upaya serius yang rumit. Australia atau di beberapa sistem sekolah yang besar) di Kanada dan Amerika Serikat. dimana terdapat pengalaman sejenis selama lebih dari satu dekade. dan yang terpenting adalah pengaruhnya terhadap prestasi belajar murid.Apa saja muatan kurikulum pendidikan di sekolah adalah urusan pusat. Manajemen berbasis sekolah dapat bermakna adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan. kurikulum. Anggaran pendidikan mengalir dari pusat ke daerah menelusuri saluran birokrasi dengan begitu banyak simpul yang masingmasing menginginkan bagian. standar.000 sekolah telah mempraktikkannya lebih dari satu dekade. Satu indikasi skala dan lingkup minat terhadap manajemen berbasis sekolah diagendakan pada Pertemuan Menteri-menteri Pendidikan dari Negara APEC di Chili pada April 2004. kebijakan. jangan-jangan selama ini lebih dari separuh dana pendidikan sebenarnya dipakai untuk hal-hal yang sama sekali tidak atau kurang berurusan dengan proses pembelajaran di level yang paling operasional. dan berlanjut terjadi. dimana lebih dari 25. Tema dari pertemuan adalah “mutu dalam pendidikan” dan tata kelola merupakan satu dari empat sub tema. sekolah. sistematik. APEC (Asia Pacific Economic Cooperation) merupakan satu jejaring 21 negara yang mengandung sepertiga dari populasi dunia. dan akuntabilitas. kepala sekolah dan guru harus melaksanakannya sesuai dengan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknisnya. masalah-masalah dalam penerapannya. manfaat. Transformasi diperoleh ketika perubahan yang signifikan. Manajemen berbasis sekolah telah dilembagakan di tempat-tempat seperti Inggris. Atau seperti Selandia Baru atau Victoria. Kita khawatir. Praktik manajemen berbasis sekolah di tempat-tempat ini tampaknya tidak dapat dilacak mundur.

Akan tetapi. Ia telah diimplementasikan dengan cara yang berbeda dan untuk tujuan berbeda dan pada laju yang berbeda di tempat yang berbeda. penerapan MBS mensyaratkan yang berikut : 1. Mereka mengakui bahwa pengaturannya akan bervariasi di masingmasing negara. yang merefleksikan keunikan tiap-tiap setting. Dengan kata lain. kepala sekolah kemungkinan besar memerlukan tambahan pelatihan kepemimpinan. 6 . Sejak awal. dan apa rencana selanjutnya. seperti kerangka kerja bagi akuntabilitas. 2. manajemen stress. Bahkan konsep yang lebih mendasar dari “sekolah” dan “manajemen” adalah berbeda. Untuk memenuhi tantangan pekerjaan. teknik presentasi. dinas pendidikan daerah. MBS harus mendapat dukungan staf sekolah. alasan yang sama di seluruh tempat dimana manajemen berbasis sekolah diimplementasikan adalah bahwa adanya peningkatan otoritas dan tanggung jawab di tingkat sekolah. Satu implikasi penting adalah bahwa para pemimpin sekolah harus memiliki kapasitas membuat keputusan terhadap hal-hal signifikan terkait operasi sekolah dan mengakui dan mengambil unsur-unsur yang ditetapkan dalam kerangka kerja pusat yang berlaku di seluruh sekolah. pemerintah (pusat dan daerah) haruslah suportif atas gagasan MBS. dan dewan sekolah. Kesepakatan itu harus dengan jelas menyatakan standar yang akan dipakai sebagai dasar penilaian akuntabilitas sekolah. bagaimana sekolah menggunakan sumber dayanya. tatapi juga menyetujui aspek-aspek sentralisasi. Pelatihan ini ditujukan bagi semua pihak yang terlibat di sekolah dan anggota masyarakat. Setiap sekolah perlu menyusun laporan kinerja tahunan yang mencakup “seberapa baik kinerja sekolah dalam upayanya mencapai tujuan dan sasaran. MBS lebih mungkin berhasil jika diterapkan secara bertahap. serta komunikasi antarpribadi dalam kelompok. khususnya pada tahap awal penerapan MBS. kepala sekolah. seperti berbedanya budaya dan nilai yang melandasi upaya-upaya pembuat kebijakan dan praktisi. Manajemen berbasis sekolah memiliki banyak bayangan makna.” Perlu diadakan pelatihan dalam bidang-bidang seperti dinamika kelompok.manajemen berbasis sekolah sebagai satu strategi dalam reformasi pendidikan. Mereka harus mempercayai kepala sekolah dan dewan sekolah untuk menentukan cara mencapai sasaran pendidikan di masing-masing sekolah. tetapi masih dalam kerangka kerja yang ditetapkan di pusat untuk memastikan bahwa satu makna sistem terpelihara. Penting artinya memiliki kesepakatan tertulis yang memuat secara rinci peran dan tanggung jawab dewan pendidikan daerah. pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. penanganan konflik.

pada saat yang sama juga harus belajar menyesuaikan diri dengan peran dan saluran komunikasi yang baru. Pikiran Kelompok Setelah beberapa saat bersama. Tidak Efisien Pengambilan keputusan yang dilakukan secara partisipatif adakalanya menimbulkan frustrasi dan seringkali lebih lamban dibandingkan dengan caracara yang otokratis. Beberapa hambatan yang mungkin dihadapi pihak-pihak berkepentingan dalam penerapan MBS adalah sebagai berikut : 1. 2.3.” Ini berbahaya karena keputusan yang diambil kemungkinan besar tidak lagi realistis. Pada saat inilah dewan sekolah mulai terjangkit “pikiran kelompok. 7 . Para anggota dewan sekolah harus dapat bekerja sama dan memusatkan perhatian pada tugas. Staf sekolah dan kantor dinas harus memperoleh pelatihan penerapannya. Tidak semua guru akan berminat dalam proses penyusunan anggaran atau tidak ingin menyediakan waktunya untuk urusan itu. kohesivitas itu menyebabkan anggota terlalu kompromis hanya karena tidak merasa enak berlainan pendapat dengan anggota lainnya. Akibatnya kepala sekolah dan guru tidak memiliki banyak waktu lagi yang tersisa untuk memikirkan aspek-aspek lain dari pekerjaan mereka. Harus disediakan dukungan anggaran untuk pelatihan dan penyediaan waktu bagi staf untuk bertemu secara teratur. para anggota dewan sekolah kemungkinan besar akan semakin kohesif. 5. Pemerintah pusat dan daerah harus mendelegasikan wewenang kepada kepala sekolah. 4. 3. bukan pada hal-hal lain di luar itu. Tidak Berminat Untuk Terlibat Sebagian orang tidak menginginkan kerja tambahan selain pekerjaan yang sekarang mereka lakukan. Anggota dewan sekolah harus lebih banyak menggunakan waktunya dalam hal-hal yang menyangkut perencanaan dan anggaran. Di satu sisi hal ini berdampak positif karena mereka akan saling mendukung satu sama lain. Di sisi lain. dan kepala sekolah selanjutnya berbagi kewenangan ini dengan para guru dan orang tua murid. Mereka tidak berminat untuk ikut serta dalam kegiatan yang menurut mereka hanya menambah beban.

Tanpa itu. 5. Selain itu. Anggota masyarakat sekolah harus menyadari bahwa adakalanya harapan yang dibebankan kepada sekolah terlalu tinggi. Pengalaman penerapannya di tempat lain menunjukkan bahwa daerah yang paling berhasil menerapkan MBS telah memfokuskan harapan mereka pada dua maslahat: meningkatkan keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menghasilkan keputusan lebih baik. dan sebagainya. komunikasi. kegiatan yang beragam akan berjalan sendiri ke tujuannya masing-masing yang kemungkinan besar sama sekali menjauh dari tujuan sekolah. pengambilan keputusan. Kesulitan Koordinasi Setiap penerapan model yang rumit dan mencakup kegiatan yang beragam mengharuskan adanya koordinasi yang efektif dan efisien. Apabila pihak-pihak yang berkepentingan telah dilibatkan sejak awal. semua yang terlibat harus memahami apa saja tanggung jawab pengambilan keputusan yang dapat dibagi. dan pada level mana dalam organisasi. Memerlukan Pelatihan Pihak-pihak yang berkepentingan kemungkinan besar sama sekali tidak atau belum berpengalaman menerapkan model yang rumit dan partisipatif ini. yakni : 8 . Mereka kemungkinan besar tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang hakikat MBS sebenarnya dan bagaimana cara kerjanya. Penerapan MBS mengubah peran dan tanggung jawab pihak-pihak yang berkepentingan. Strategi apa yang diharapkan agar penerapan MBS dapat benar-benar meningkatkan mutu pendidikan. Salah satu strategi adalah menciptakan prakondisi yang kondusif untuk dapat menerapkan MBS. mereka dapat memastikan bahwa setiap hambatan telah ditangani sebelum penerapan MBS. Perubahan yang mendadak kemungkinan besar akan menimbulkan kejutan dan kebingungan sehingga mereka ragu untuk memikul tanggung jawab pengambilan keputusan.4. Kebingungan Atas Peran dan Tanggung Jawab Baru Pihak-pihak yang terlibat kemungkinan besar telah sangat terkondisi dengan iklim kerja yang selama ini mereka geluti. oleh siapa. Dua unsur penting adalah pelatihan yang cukup tentang MBS dan klarifikasi peran dan tanggung jawab serta hasil yang diharapkan kepada semua pihak yang berkepentingan. Strategi Peningkatan Mutu Pendidikan Melalui Penerapan MBS Konsep MBS merupakan kebijakan baru yang sejalan dengan paradigma desentraliasi dalam pemerintahan. 6. C.

2. Model memajangkan RAPBS di papan pengumuman sekolah yang dilakukan oleh Managing Basic Education (MBE) merupakan tahap awal yang sangat positif. 4. dan akuntabel. 3.1. yang lebih banyak dipenuhi dengan pemberian informasi kepada sekolah. 4. transparan. dan produktif. leaflet. Peningkatan kapasitas dan komitmen seluruh warga sekolah. Alangkah serasinya jika kepala sekolah dan ketua Komite Sekolah dapat tampil bersama dalam media tersebut. Upaya untuk memperkuat peran kepala sekolah harus menjadi kebijakan yang mengiringi penerapan kebijakan MBS. Juga membuat laporan secara insidental berupa booklet. Model pemberdayaan sekolah berupa pendampingan atau fasilitasi dinilai lebih memberikan hasil yang lebih nyata dibandingkan dengan pola-pola lama berupa penataran MBS. Bukan hanya sekedar melakukan pelatihan MBS. Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik. Kepemimpinan kepala sekolah yang efektif dalam MBS dapat dilihat berdasarkan kriteria berikut: 1. Dengan kata lain. Mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan. membuat laporan Membangun budaya sekolah (school culture) yang demokratis. Bekerja dengan tim manajemen 9 . 2. termasuk masyarakat dan orangtua siswa. termasuk pelaksanaan block grant yang diterima sekolah. Berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai lain disekolah. atau poster tentang rencana kegiatan sekolah. 5. 3. lancar. Pemerintah pusat lebih memainkan peran monitoring dan evaluasi. Termasuk membiasakan sekolah untuk pertanggungjawaban kepada masyarakat. ”An essential point is that schools and teachers will need capacity building if school-based management is to work”. Demikian De grouwe menegaskan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu melakukan kegiatan bersama dalam rangka monitoring dan evaluasi pelaksanaan MBS di sekolah. Mengembangkan model program pemberdayaan sekolah. Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.

Ini berarti secara interaktif menghubungkan lapisan-lapisan dan fungsi tata kelola yang berbeda. Kita membutuhkan sistem-sistem baru yang terus-menerus mampu merekonfigurasi kembali dirinya untuk menciptakan sumber nilai publik baru. Berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan. Bila diimplementasikan dengan kondisi yg benar. dan sukarela. Justeru. kita perlu bertanya Bagaimana suatu sistem secara keseluruhan menjadi lebih dari sekedar jumlah dari bagian-bagiannya?. Secara sederhana dikatakan. dan lokal atau antara sektor-sektor berbeda: publik. III. 10 . dewan manajemen sekolah dalam satu sistem sekolah. manajemen berbasis sekolah bukanlah “senjata ampuh” yang akan menghantar pada harapan reformasi sekolah. bukan mencari cetak biru (blueprint) yang statis yang membatasi berat relatifnya. swasta. ia menjadi satu dari sekian strategi yang diterapkan dalam pembaharuan terus-menerus dengan strategi yang melibatkan pemerintah. penyelenggara.6. Pertanyaan mendasar bukannya bagaimana kita secara tepat dapat mencapai keseimbangan yang tepat antara lapisan-lapisan pusat.KESIMPULAN Satu cara yang berguna dalam menyimpulkan adalah melihat tantangan sebagai satu cara menciptakan suatu jenis sistem pendidikan baru yang sesuai abad ke-21. regional.

Semarang: UPT UNNES Press. Panduan Monitoring dan Evaluasi dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah.DAFTAR PUSTAKA Depdiknas. Jakarta: Grasindo. 2002. Jakarta: P2LPTK. Model dan Aplikasi. Strategi dan Implementasi. Jakarta: Dikmenum. 2003. Nurkolis. 2001. Manajemen Sekolah. Depdiknas. Mansoer. Konsep dan Pelaksanaan dalam Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya. 11 . Manajemen Dasar. E. Malayu. Jakarta: Bumi Aksara. Pengertian dan Masalah. Suprihatin dkk. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep. Jakarta: Dikmenum. Hasibuan. 2004. Pengantar Manajemen. Mulyasa. Hamdan. Manajemen Berbasis sekolah Teori. 2001. 1989.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful