Cedera Kepala TK adalah trauma yang mengenai calvaria dan atau basis cranii serta organ-organ di dalamnya

, dimana kerusakan tersebut bersifat non-degeneratif/non-kongenital, yang disebabkan oleh gaya mekanik dari luar kemudian menimbul gangguan fisik, kognitif maupun sosial serta berhubungan dengan atau tanpa penurunan tingkat kesadaran. 1.Anatomi Sistem persyarafan terdiri dari : a. Susunan saraf sentral terbagi atas medulla spinalis dan otak. Dalam medulla spinalis keluar 31 pasang saraf yang terdiri dari : saraf servikalis 8 pasang, toraka 12 pasang, tumbal 5 pasang, sacral 5 pasang dan koksigeal 1 pasang. Otak terbagi atas : 1. Otak besar (serebrum) a) Serebrum (otak besar) merupakan bagian terluas dan terbesar dari otak, berbentuk telur, mengisi penuh bagian depan atas rongga tengkorak, pada serebrum ditemukan beberapa lobus yaitu : lobus frontalis, lobus parietalis, lobus temporalis dan lobus oksipitalis. b) Fungsi serebrum adalah : (1) Mengingat pengalaman-pengalaman yang lalu. (2) Pusat persyarafan yang menangani aktivitas mental, akal, intelegensi, keinginan dan memori. (3) Pusat menangis, buang air besar dan buang air kecil. 2. Otak kecil (serebelum)

Serebelum (otak kecil) terletak pada bagian bawah dan belakang tengkorak, dipisahkan dengan serebrum oleh fisura transversalis dibelakangi oleh ponsvaroli dan di atas medulla oblongata. Serebelum merupakan pusat koordinasi dan integritasi, bentuk oval bagian yang mengecil pada sentral disebut vermis dan bagian yang melebar pada laferal disebut hemisfer. a) Fungsi serebelum adalah : (1) Arkhio serebelum (vestibula serebelum) untuk keseimbangan dan ransangan pendengaran otak. (2) Plea serebelum (spino serebelum) sebagai pusat penerima impuls. (3) Neo serebelum (ponto serebelum) menerima informasi tentang gerakan yang sedang dilakukan dan yang akan dikerjakan dan mengatur gerakan sisi badan. b. Susunan syaraf perifer, terdiri dari : 1) Susunan syaraf somatik. Susunan syaraf somatik yang mempunyai peranan spesifik untuk mengatur aktivitas otot sadar atau serat lintang. 2) Susunan syaraf otonom . Terdiri dari : susunan syaraf simpatis dan susunan syaraf parasimpatis. Susunan syaraf otonom mempunyai peranan penting mempengaruhi pekerjaan otot tidak sadar (otot polos) seperti jantung, hati, pankreas, jalan pencernaan, kalenjar dan lainlain. (Drs. Syaifuddin, B.Ac, 1997 : 139-144). Syaraf kepala ada 12 pasang (susunan syaraf tepi).

Tabel 1. Fungsi syaraf kranial Syaraf Karnial Fungsi II. (Olfaktorius) III. (Optikus) IV. (Okulomotorius) V. (Troklear) VI. (Trigeminus) VII. (Abdusen) VIII. (Fasial) IX. (Vestibulkokhlearlis) X. (Glasofaringeal) XI. (Vagus) XII. (Asesoris) XIII. (Hipoglosus) 3) Batang otak (trunkus serebri) terdiri atas : a. Diensefalon, bagian batang otak paling atas terdapat di antara serebelum dengan mesensepalon. Fungsi diensefalon adalah : (1) Vasokonstruktur, mengecilkan pembuluh darah. (2) Respirasi membantu proses persyarafan. (3) Mengontrol kegiatan reflek. (4) Membantu pekerjaan jantung. b. Mesensepalon, atap dari mesensepalon terdiri dari 4 bagian yang menonjol ke atas, 2 sebelah atas disebut korpus kuadrigeminus superior dan 2 sebelah bawah disebut korpus kuadrigeminus inferior. Fungsi dari mesensepalon adalah :

Pons varoli adalah pita melingkar yang luas. occipitalis. di sini terdapat prematoksoid yang mengatur gerakan pernafasan dan reflek. parietalis. merupakan bagian dari batang otak yang paling basah yang menghubungkan pons varoli dengan medulla spinalis. Medulla oblongata. media dan posterior. mastoideus. d.(1) Membantu pergerakan mata dan mengangkat kelopak mata. (2) Pusat syaraf trigeminus. tulang. meninges dan cairan serebrospinal (LCS) . ethmoidalis. dan temporalis). • • Calvaria (os frontalis. kulit. Bagian bawah medulla oblongata merupakan persambungan medulla spinalis ke atas dan bagian atas medulla oblongata melebar disebut kanalis sentralis di daerah tengah bagian ventral medulla oblongata. c. Fungsi oblongata adalah : (1) Mengontrol pekerjaan jantung. Basis cranii (os petrosus. sphenoidalis. Fungsi pons varoli adalah : (1) Penghubung antara kedua bagian serebelum dan juga antara medulla oblongata dan serebrum. dan atap orbita)  fossa crania anterior. • Struktur pelindung otak : Rambut. (2) Memutar mata dan pusat pergerakan mata. (2) Mengecilkan pembuluh darah (vasokonstruktur) (3) Pusat pernafasan (respiratory center) (4) Mengontrol kegiatan reflek. yang menghubungkan kedua sisi serebelum.

cerebellum dan batang otak. vertebralis. Setiap tahun yang mengalami cedera kepala lebih dari 2 juta orang. Lebih dari 100.000 orang di antaranya meninggal dunia. Klasifikasi Klasifikasi Berdasarkan Patofisiologis . o o 2. Pasokan darah otak dari : a. dan merupakan penyebab kematian nomor 4 pada seluruh populasi. Epidemiologi Trauma merupakan penyebab utama kematian pada populasi di bawah 45 tahun. carotis interna dan a. Berat ± 1400 gram atau 2% BB manusia. dikelilingi LCS → mengisi ruang Subaraknoid.000 orang yang selamat akan mengalami disabilitas permanen. 75. Sebab-sebab cedera kepala diantaranya: Kecelakaan lalu lintas Terjatuh Kekerasan Rekreasi dan olahraga Lain-lain 7% 21% 12% 10% 50% 3. Komponen otak : cerebrum. Lebih dari 50% kematian disebabkan oleh cedera kepala dan kecelakaan kendaraan bermotor.• Struktur otak: o o Otak → 100 milyar neuron & 1 trilyun neuroglia.

hematom. Lesi intrakranial : • • Lesi fokal (Kontusio cerebri. penyebab TK sekunder adalah: • Penyebab Penyebab sistemik (hipotensi. 3. luka kulit kepala  luka Tulang (fraktur calvaria  linear. hipertermi. lecet dan luka robek). b. Lesi difus (Konkusio/comutio cerebri. PSA). PIS. Cedera Axonal Difus. fraktur basis cranii). dimana kerusakan neurologis langsung disebabkan oleh suatu benda/serpihan tulang yang menembus/merobek jaringan otak karena efek percepatan-perlambatan (Lombardo. depresi. kejang.a. hiponatremia). • intrakranial meningkat. 1995). Laserasi cerebri). 2. TK Primer TK primer merupakan efek langsung trauma pada fungsi otak. Klasifikasi berdasarkan tingkat keparahan . ekspresi. edema. vasospasme dan infeksi). TK Sekunder Menurut Listiono (1998) dan Fauzi (2002). Kulit (hematom kulit kepala. PSD. impresi. PED. (TIK hipoksia. Jaringan yang mungkin terkena pada TK adalah: 1.

respon . Perlu ditekankan di sini bahwa penilaian derajat gangguan kesadaran ini dilakukan sesudah stabilisasi sirkulasi dan pernafasan guna memastikan bahwa defisit tersebut diakibatkan oleh cedera otak dan bukan oleh sebab yang lain. mual. Penilaiannya adalah berdasarkan respons membuka mata (= E). 2. amnesia.Mengingat fasilitas pemeriksaan neuroradiologis berupa CTscan masih jarang. maka agar dapat mengelola dengan baik. khususnya jenis tertutup. Cedera kepala sedang GCS : 9-13 atau lebih dari 12 tetapi disertai kelainan neurologis fokal. sakit kepala. Skala ini yang digunakan untuk menilai derajat gangguan kesadaran. Disini pasien masih bisa mengikuti/menuruti perintah sederhana. Cedera kepala ringan GCS : 14-15 bisa disertai disorientasi. 3. Cedera kepala berat GCS : 8 atau kurang (penderita koma). pasien-pasien cedera otak. muntah. dikemukakan pertama kali oleh Jennet dan Teasdale pada tahun 1974. dengan atau tanpa disertai gangguan fungsi batang otak. berdasarkan gangguan kesadarannya (berdasarkan Glasgow Coma Scale + GCS) dikelompokkkan menjadi : 1.

Pemeriksaan GCS tidak memerlukan alat bantu. Kemampuan motorik (M) • • • • • • Kemampuan menurut perintah 6 Reaksi setempat 5 Menghindar Ekstensi 2 4 Fleksi abnormal 3 Tidak bereaksi 1 * GCS sum score = (E + M + V). 1. best possible score = 15. Kemampuan membuka kelopak mata (E) • • • • Secara spontan 4 Atas perintah 3 Rangsangan nyeri 2 Tidak bereaksi 1 Orientasi baik 5 Jawaban kacau 4 Kata-kata tidak berarti 3 Mengerang 2 Tidak bersuara 1 2. worst possible score = 3 . Daftar penilaian GCS selengkapnya adalah seperti terlihat pada tabel di bawah ini.motorik (= M) dan respon verbal (= V). mudah dikerjakan sehingga dapat dilakukan dimana saja oleh siapa saja. Kemampuan komunikasi (V) • • • • • 3.

Cedera kepala sedang (kelompok resiko sedang). 5) Tidak adanya kriteria cedera (sedang-berat). latergi atau tupar) 2) Konkusi. b. 4) Pasien dapat mengeluh nyeri kepala dan pusing. 5) Tanda kemungkinan fraktur kranium. 6) Kejang.Menilai tingkat keparahan cedera kepala : a. 4) Muntah. c. 1) Skor skala koma glasglow 9-12 (konfusi. 2) Tidak ada hilang kesadaran (misal konkusio). Cedera kepala berat (kelompok resiko berat) 1) Skor skala koma glasglow 3-8 (coma) . Cedera kepala ringan (kelompok resiko rendah) 1) Skor skala koma glasglow 14-15 (sadar penuh atentif dan orientif). 3) Tidak ada intoksikasi alcohol atau obat terlarang. 3) Amnesia pasca trauma dan disorientasi ringan (bingung).

Klasifikasi Berdasarkan Mekanisme Luka tumpul • • High velocity Low velocity Luka tembus • • Gun shoot wound dsb Klasifikasi Berdasarkan morfologi • Fraktur tengkorak • Kranium Linear . 3) Tanda neorologi lokal. stellate Depressed / non depressed Open .2) Penurunan derajat kesehatan secara progresif. 4) Cedera kepala penetrasi atau teraba fraktur depresi kranium.

• Basis Dengan atau tanpa kebocoran CSF Dengan atau tanpa kelumpuhan saraf cranial • Lesi intracranial • Fokal • Epidural Subdural Intracerebral Subarachnoid Intraventricular Difus Mild concussion Classic concussion Diffuse axonal injury 4. tidak boleh kurang . Patofisiologi Otak dapat berfungsi dengan baik bila kebutuhan oksigen dan glukosa dapat terpenuhi. Energi yang dihasilkan di dalam selsel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. jadi kekurangan aliran darah ke otak walaupun sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen.

a. dimana penurunan tekanan vaskuler menyebabkan pembuluh darah arteriol akan berkontraksi. Pada saat otak mengalami hipoksia. Faktor Respiratori Adanya edema paru pada trauma kepala dan vasokontriksi paru atau hipertensi paru menyebabkan hiperpnoe dan bronkokonstriksi tekanan sistolik. karena akan menimbulkan koma. Pengaruh dari adanya peningkatan tekanan atrium kiri adalah terjadinya edema . perubahan tekanan vaskuler dan edema paru. Hal ini menyebabkan penurunan curah jantung dan meningkatkan tekanan atrium kiri. Faktor Kardiovaskuler Trauma kepala menyebabkan perubahan fungsi jantung mencakup aktivitas atipikal myocardial. yang dapat menyebabkan dilatasi pembuluh darah. tubuh berusaha memenuhi kebutuhan oksigen melalui proses metabolik anaerob.dari 20 mg%. akibatnya tubuh berkompensasi dengan meningkatkan paru. Aktivitas miokard berubah termasuk peningkatan frekuensi jantung dan menurunnya stroke work dimana pembacaan CVP abnormal. b. Akibat adanya pendarahan otak akan mempengaruhi tekanan vaskuler. tidak adanya stimulus endogen syaraf simpatis mempengaruhi penurunan kontraktilitas ventrikel. sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70% akan terjadi gejala-gejala permulaan disfungsi serebral. kebutuhan glukosa sebanyak 25% dari seluruh kebutuhan glukosa tubuh.

Skp. Faktor Psikososial Selain dampak masalah yang mempengaruhi fisik pasien. setelah trauma kepala (3 hari) terdapat respon tubuh dengan merangsang aktivitas hipotalamus dan stimulus vagal.Edema otot karena trauma adalah bentuk vasogenik. Faktor Respiratori Trauma kepala yang mempengaruhi sistem gastrointestinal. 1996 : 54). Gejala sisa yang timbul pascatrauma akan mempengaruhi psikis pasien. Edema otak ini dapat menyebabkan kematian otak (iskemia) dan tingginya tik yang dapat menyebabkan herniasi dan penekanan batang otak atau medulla oblongata. trauma kepala pada pasien adalah suatu pengalaman yang menakutkan. c. S Laura Siahaan. d. (Elyna. Demikian pula pada trauma berat yang menyebabkan penurunan kesadaran dan penurunan fungsi neorologis akan mempengaruhi psikososial pasien dan keluarga. Patofisiologi Peningkatan TIK Tekanan intra krania Compartment rongga kepala orang dewasa rigid tidak dapat berkembang yang terisi 3 komponen . Akibat penekanan darah medulla oblongata dapat menyebabkan pernafasan ataksia dimana ditandai dengan irama nafas tidak teratur atau pola nafas tidak efektif. Dan hal ini akan merangsang lambung menjadi hiperasiditas. edema otak terjadi karena penekanan terhadap pembuluh darah dan jaringan sekitarnya. Hiperasiditas yang tidak ditangani akan menyebabkan pendarahan lambung.

Darah dan pembuluh darah seberat 150 gram. Cairan liquor serebrospinalis seberat 150 gram. jumlah massa yang ada dalam rongga kepala adalah konstan jika terdapat penambahan massa (misal hematom. Jika kompensasi kedua komponen isi rongga intrakranial sudah terlampaui sedangkan penambahan massa masih terus berlangsung maka jaringan otak akan melakukan kompensasi yaitu berpindah ketempat yang kosong (“locus minoris”) perpindahan jaringan otak tersebut disebut herniasi cerebri. Muntah. Denyut nadi menurun (bradikardia).yaitu Jaringan otak seberat 1200 gram. pada umumnya klinis dari peningkatan tekanan intrakranial adalah Nyeri kepala. edema. Tanda tanda klinis herniasi cerebri tergantung dari macamnya.1999) . abses) maka sebagian dari komponen tersebut mengalami kompensasi/bergeser. Menurut doktrin Monroe – kellie. yang mula – mula ataupun canalis centralis yang ada di medulla spinalis yang tampak pada klinis penderita mengalami kaku kuduk serta pinggang terasa sakit dan berat. Jika kompensasi dari cairan serebrospinalis sudah terlampaui sedangkan penambahan massa masih terus berlangsung maka terjadi kompensasi kedua yaitu kompensasi dari pembuluh darah dan isinya yang bertujuan untuk mengurangi isi rongga intrakranial dengan cara Vaso konstriksi yang berakibat tekanan darah meningkat. Pupil bendung (Sumarmo Markam et. Mual.al . yang merupakan tanda awal dari peningkatan tekanan intrakranial. kedua tanda ini jika disertai dengan ganguan pola napas disebut “trias cushing”. tumor.

a) Uncal atau tentorial herniation. kesadaran dan tanda kenaikan tekanan intrakranial yang lain.dosis untuk dewasa biasanya 200 ml. Dengan demikian terjadi pendesakan pada struktur otak yang telah lebih dulu ada disitu yaitu mesensefalon dengan jaras piramidal serta nervus III. Biasanya disertai dengan penurunan Tindakan : Berikan larutan hiperosmolar seperti mannitol. Berikan dexamethason. b) Herniasi lewat foramen magnum. Secara singkat : tergantung letaknya bisa terjadi hernia lewat hiatus tentorii yang dikenal juga sebagai uncal herniation atau hernia lewat foramen magnum untuk tumor di fossa posterior. 5 mg intravena. 20%. Perdarahan yang makin lama makin besar pada suatu saat akan mengadakan herniasi. 4x sehari. . Konsulkan ke ahli Bedah Saraf bila mungkin. Yang mengadakan herniasi adalah sebagian dari lobus temporalis ( uncus ) yang terdorong lewat lobang atau hiatus pada tentorium.Herniasi otak Herniasi otak adalah berpindahnya jaringan otak dari satu kompartimen otak kelainnya. Untuk perdarahan infratentorial proses terjadinya herniasi bahkan lebih cepat. Gejala yang nampak pada pasien adalah gejala terganggunya nervus III + gejala piramidal. diberi secara cepat dalam tempo 20-30 menit.

Gejala Klinis confusion. 5. Secara teoretis masih ada beberapa jenis herniasi otak yang lain namun relatif lebih jarang dan kiranya tidak penting untuk seorang dokter umum. . Umumnya terjadi periode ketidaksadaran yang berlangsung selama beberapa detik sampai beberapa menit. seizures Nausea & Vomiting Blurred Vision Papilloedema In Paediatrics – Persistent Crying & Refusal to eat Cushing responses : • • • Hipertensi Bradikardi Change of respiratory pattern Kehilangan fungsi neorologis sementara tanpa penampilan kerusakan struktural. agitation. 1. Prognosa biasanya buruk walaupun diberi terapi untuk mengurangi tekanan intrakranial dengan cepat. Tonsilla cerebelli merosot kebawah lewat foramen magnum hingga terjadi penekanan pada medulla oblongata. Gejala yang timbul adalah terjadinya decerebrate rigidity ditambah dengan gangguan pernafasan.Biasanya terjadi karena tumor di fossa posterior. drowsiness changes in pupillary response weakness on one side of the body Headache.

terkena lobus temporal. * trauma II → gelombang dialirkan kembali kearah semula sehingga terjadi benturan 2 gelombang yang mengakibatkan kerusakan berupa kontusio/comutio. Direct Impact → lesi berada satu sisi dengan trauma 2. Shock wave injury .Dasar : trauma merupakan gelombang yang dijalarkan melalui kranium dan cerebrum. 2.2. pasien mungkin akan menunjukkan perilaku kacau (bizare) irasional. Jika Jika mengenai yang lobus frontalis. 3. 4. 3.Terjadi pada trauma beberapa kali sekaligus: * trauma I → terjadi perambatan gelombang. Getaran pada otak mungkin sangat ringan sehingga hanya menyebabkan pusing dan mata berkunang-kunang. Mekanisme Cedera Kepala 1. pasien menunjukkan amnesia temporer atau disorientasi. . Akselerasi-Deselerasi * Dasar : massa jenis kranium > massa jenis otak. . * Terjadi percepatan kranium searah dengan trauma padahal cerebrum sedang dalam perjalanan searah trauma→ terjadi benturan antara kranium dengan cerebrum.

Suku. dan auskultasi unutk menentukan kelainan : Dari ujung rambut sampai ujung kaki . narkotika  Penyakit penyerta : Epilepsi. asma. jantung. kontusi otak b. kenaikan tekanan intra cranial c. riwayat operasi kepala. ”diffuse axonal injury” d. Empat mekanisme utama pada cedera kepala yaitu: a. DM. Pemeriksaan Anamnesis Informasi yang diperlukan:       Identitas pasien: Nama. kejang. hipertensi. palpasi. Usia. gangguan faal pembekuan darah Pemeriksaan fisik umum Pemeriksaan dengan inspeksi. Sex. alkohol. Pekerjaan.4. Rotational injury Trauma dengan membentuk sudut akibat putaran kepala (pemuntiran). perkusi. Alamat Mekanisme trauma Pernah pingsan atau sadar setelah trauma Amnesia retrograde atau antegrade Keluhan: Nyeri kepala seberapa berat. iskemik dan perdarahan 6. vertigo Riwayat mabuk. Agama.

pergeseran jaringan otak. hemoragik. Brain. M. deformitas. Scan (tanpa / dengan kontras) Mengidentifikasi adanya sol. EEG : serebral seperti untuk : menunjukkan kelainan otak sirkulasi akibatnya atau pergeseran jaringan oedema.T. Blood. autonomik.carotis Pemeriksaan leher dan tulang belakang : Jejas. Bowel. memperlihatkan keberadaan berkembangnya gelombang patologis.R. Bladder. sub galeal. C. sensorik. 3. status motorik. Pemeriksaan Tambahan 1.I. luka tembus dan benda asing Tanda fraktur basis kranii Fraktur tulang wajah Trauma mata Auskultasi a.Per sistem B1-B6 (Breath. (tanpa / dengan kontras) Angiografi serebral. . pendarahan trauma. Pemeriksaan neurologis : Tingkat kesadaran : GCS Lesi Saraf kranial Funduskopi : edema pupil Motoris. Bone) Pemeriksaan kepala : Jejas di kepala : hematome sub kutan. sensoris. 2. autonomis 7. luka terbuka. menentukan ukuran ventrikuler.

4. Fungsi lumbal. Indikasi foto polos: • • • • • Kehilangan kesadaran. BAER (Brain Auditory Evoked Respons) Menentukan fungsi korteks dan batang otak. 7. Kadar antikonsulvan darah : dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang. 5. CSS : dapat menduga adanya kemungkinan pendarahan subaraknoid. 10. 9. PET (Positron Emission Tomography) Menunjukkan perubahan aktivitas metabolisme pada otak. pergeseran struktur dari garis tengah (karena pendarahan edema). 8. Kimia/ elektrolit darah : mengetahui ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan TIK/ perubahan mental. 6. Pemeriksaan toksiologi : mendeteksi obat yang mungkin bertanggung jawab terhadap penurunan kesadaran.Sinar X : mendeteksi adanya perubahan struktur tulang (fraktur). adanya fragmen tulang. amnesia Nyeri kepala menetap Gejala neorologis fokal Jejas pada kulit kepala Kecurigaan luka tembus . GDA (Gas Darah Arteri ) : dapat mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenasi yang akan dapat meningkatkan TIK.

terlihat atau teraba Kesulitan dalam penilaian klinis : mabuk. atau kecurigaan trauma tembus Evaluasi pasca operasi Pasien multitrauma (trauma signifikan lebih dari 1 organ) Indikasi sosial Kebingungan kesadaran Keluhan dan gejala neurologis. kejang Nyeri kepala. termasuk nyeri kepala menetap dan muntah Kesulitan dalam penilaian klinis : alkohol. epilepsi. apilepsi atau riwayat pingsan/penurunan Kriteria masuk rumah sakit . hemiparesis. intoksikasi. tetapi mempunyai resiko benturan langsung atau jatuh pada permukaan yang keras. muntah yang menetap Terdapat tanda fokal neurologis Terdapat tanda fraktur atau kecurigaan fraktur Trauma tembus. pasien usia >50 tahun Indikasi CT Scan • • • • • • • • • • • • GCS <13 setelah resusitasi Deteriorisasi neurologis : penurunan GCS 2 poin atau lebih.• • • • Keluar cairan cerebrospinal atau darah dari hidung atau telinga Deformitas tulang kepala. tanpa keluhan dan gejala. pasien anak Pasien dengan GCS 15.

muntah atau nyri kepala hilang Tak ada fraktur kepala atau basis kranii Ada yang mengawasi di rumah Tempat tinggal dalam kota Kriteria pulang dari RS: 8. diabates mellitus Fraktur cranii CT Scan kepala abnormal Tak ada yang dapat bertanggung jawab untuk observasi di luar rumah sakit Umur pasien > 50 tahun Anak-anak (<18 tahun) Indiksi sosial Sadar orientasi baik. Diagnosa Jenis-jenis Lesi : • o Fraktur kranium  o Fraktur kalvaria Fraktur linier Fraktur stelate Fraktur depressed/impresi (Tertutup/Terbuka) Ditandai adanya memar biru hitam pada kelopak mata (Racoon eyes) atau memar diatas prosesus mastoid Fraktur basis kranii . tidak pernah pingsan Tidak ada gejala neurologis Keluhan berkurang.• • • • • • • • • • • • • Kondisi medik lain : gangguan koagulasi.

pergerakan dari otak mungkin akan menyebabkan pengikisan atau robekan dari pembuluh darah yang mengelilingi otak dan dura. LOKASI Fossa anterior Fossa media Fossa posterior STRUKTUR BASIS KRANII  Kasar Duramater : . Fungsinya untuk melindungi otak.Nervi cranialis .Sinus venosus duralis Foramina .(Battle’s    - sign) dan atau kebocoran cairan serebrospinalis yang menetes dari telinga atau hidung. ketika pembuluh . Otak di tutupi olek tulang tengkorak yang kaku dan keras.Brain stem • Parenkim otak Epidural hematoma Epidural hematom adalah salah satu jenis perdarahan intracranial yang paling sering terjadi karena fraktur tulang tengkorak.Vessels . dan membentuk periosteum tabula interna. Ketika seorang mendapat benturan yang hebat di kepala kemungkinan akan terbentuk suatu lubang..Melekat erat . menutupi sinus-sinus vena. Otak juga di kelilingi oleh sesuatu yang berguna sebagai pembungkus yang di sebut dura.

Pada hematom epidural. perdarahan terjadi di antara tulang tengkorak dan dura meter. Robekan ini sering terjadi bila fraktur tulang tengkorak di daerah bersangkutan. Venous epidural hematom berhubungan dengan robekan pembuluh vena dan berlangsung perlahan-lahan. Arterial hematom terjadi pada middle meningeal artery yang terletak di bawah tulang temporal.darah mengalami robekan maka darah akan terakumulasi dalam ruang antara dura dan tulang tengkorak. Perdarahan ini lebih sering terjadi di daerah temporal bila salah satu cabang arteria meningea media robek. Perdarahan yang terjadi menimbulkan hematom epidural. sehingga menimbulkan perdarahan. keadaan inlah yang di kenal dengan sebutan epidural hematom. desakan oleh hematoma akan melepaskan durameter lebih lanjut dari tulang kepala sehingga hematom bertambah besar. bila terjadi perdarahan arteri maka hematom akan cepat terjadi. Perdarahan masuk ke dalam ruang epidural. Hematom dapat pula terjadi di daerah frontal atau oksipital. Epidural hematom sebagai keadaan neurologist yang bersifat emergency dan biasanya berhubungan dengan linear fraktur yang memutuskan arteri yang lebih besar. . Arteri meningea media yang masuk di dalam tengkorak melalui foramen spinosum dan jalan antara durameter dan tulang di permukaan dan os temporale.

Tekanan pada lintasan kortikospinalis yang berjalan naik pada daerah ini. refleks hiperaktif atau sangat cepat. Dengan makin membesarnya hematoma. maka darah akan terpompa terus keluar hingga makin lama makin besar. Karena perdarahan ini berasal dari arteri. Di tempat ini terdapat nuclei saraf cranial ketiga (okulomotorius). menyebabkan kelemahan respons motorik kontralateral. Ketika kepala terbanting atau terbentur mungkin penderita pingsan sebentar dan segera sadar kembali. dan tanda babinski positif. Keadaan ini menyebabkan timbulnya tanda-tanda neurologik yang dapat dikenal oleh tim medis. menyebabkan tekanan intracranial yang besar. Masa antara dua penurunan kesadaran ini selama penderita sadar setelah terjadi kecelakaan di sebut interval lucid. Tekanan dari herniasi unkus pada sirkulasi arteria yang mengurus formation retikularis di medulla oblongata menyebabkan hilangnya kesadaran. kemudian kesadaran berangsur menurun. Dalam waktu beberapa jam . Tekanan pada saraf ini mengakibatkan dilatasi pupil dan ptosis kelopak mata.Hematoma yang membesar di daerah temporal menyebabkan tekanan pada lobus temporalis otak kearah bawah dan dalam. maka seluruh isi otak akan terdorong kearah yang berlawanan. Fenomena lucid interval terjadi . Tekanan ini menyebabkan bagian medial lobus mengalami herniasi di bawah pinggiran tentorium. penderita akan merasakan nyeri kepala yang progersif memberat. Timbul tanda-tanda lanjut peningkatan tekanan intracranial antara lain kekakuan deserebrasi dan gangguan tanda-tanda vital dan fungsi pernafasan.

Karena itu setiap penderita dengan trauma kepala yang mengeluh nyeri kepala yang berlangsung lama. apalagi progresif memberat. Kalau pada subdural hematoma cedera primernya hamper selalu berat atau epidural hematoma dengan trauma primer berat tidak terjadi lucid interval karena pasien langsung tidak sadarkan diri dan tidak pernah mengalami fase sadar. diploica dan vena diploica Epidural hematoma merupakan kasus yang paling emergensi di bedah saraf karena progresifitasnya yang cepat karena durameter melekat erat pada sutura sehingga langsung mendesak ke parenkim otak menyebabkan mudah herniasi trans dan infra tentorial. Dengan CT-scan dan MRI. Sumber perdarahan : • • • Artery meningea ( lucid interval : 2 – 3 jam ) Sinus duramatis Diploe (lubang yang mengisis kalvaria kranii) yang berisi a. Dengan proyeksi Antero-Posterior (AP).karena cedera primer yang ringan pada Epidural hematom. perdarahan intrakranial akibat trauma kepala lebih mudah dikenali. harus segera di rawat dan diperiksa dengan teliti. lateral dengan sisi yang mengalami trauma pada film untuk mencari adanya fraktur tulang yang memotong sulcus arteria . kita tidak dapat mendiagnosa pasti sebagai epidural hematoma. Foto Polos Kepala Pada foto polos kepala.

Fraktur impresi dan linier pada tulang parietal. Terdapat pula garis fraktur pada area epidural hematoma. berada diantara tulang tengkorak dan duramater. Pada epidural biasanya pada satu bagian saja (single) tetapi dapat pula terjadi pada kedua sisi (bilateral). Computed Tomography (CT-Scan) Pemeriksaan CT-Scan dapat menunjukkan lokasi. ditandai dengan adanya peregangan dari pembuluh darah. frontal dan temporal. • Subdural hematoma Hematoma subdural terjadi akibat pengumpulan darah diantara dura mater dan arachnoid. midline terdorong ke sisi kontralateral. Densitas darah yang homogen (hiperdens). Bisa di sebabkan oleh trauma hebat pada kepala yang menyebabkan bergesernya seluruh parenkim otak mengenai tulang sehingga merusak a. Magnetic Resonance Imaging (MRI) MRI akan menggambarkan massa hiperintens bikonveks yang menggeser posisi duramater. dan potensi cedara intracranial lainnya. kortikalis.meningea media. volume. Secara klinis hematoma subdural akut sukar dibedakan dengan hematoma epidural yang berkembang lambat. MRI juga dapat menggambarkan batas fraktur yang terjadi. Biasanya di sertai dengan . efek. paling sering di daerah temporoparietal. MRI merupakan salah satu jenis pemeriksaan yang dipilih untuk menegakkan diagnosis. berbentuk bikonfeks. berbatas tegas. Densitas yang tinggi pada stage yang akut ( 60 – 90 HU).

Gambaran CT-Scan hematoma subdural. dan kronik bila timbul sesudah minggu ketiga. Obat-obatan digunakan untuk menghilangkan sakit kepala dan untuk mengendalikan tekanan darah. ruang subdural. subakut. Hematom subdural atau perdarahan subdural adalah salah satu bentuk cedera otak dimana darah berkumpul antara duramater (lapisan pelindung terluar dari otak) dan arachnoid (lapisan tengah menings). . • Subarachnoid hemorrhage Subarachnoid hemorrhage adalah pendarahan ke dalam ruang (ruang subarachnoid) diantara lapisan dalam (pia mater) dan lapisan tengah (arachnoid mater) para jaringan yang melindungan otak (meninges). kadangkala spinal tap belakang. dan kronik. Penyebab yang paling umum adalah pecahnya tonjolan pada pembuluh (aneurysm). Biasanya. Hematom subdural dibagi menjadi hematom subdural akut.perdarahan jaringan otak. Hematom subdural akut bila gejala pada hari pertama sampai dengan hari ke tiga. Waktu antara timbulnya gejala bervariasi antara kurang dari 48 jam sampai beberapa minggu atau lebih. Computed tomography. seringkali diikuti kehilangan singkat pada kesadaran. subakut bila timbul antara hari ketiga hingga minggu ketiga. dan angiography dilakukan untuk memastikan diagnosa. sakit kepala berat. tampak penumpukan cairan ekstraaksial yang hiperdens berbentuk bulan sabit. dan operasi dilakukan untuk menghentikan pendarahan. pecah pada pembuluh menyebabkan tiba-tiba.

Subarachnoid hemorrhage adalah gangguan yang mengancam nyawa yang bisa cepat menghasilkan cacat permanen yang serius. 10. seperti : • Obstruksi jalan nafas . Terapi ABCDE DALAM TRAUMA Pengelolaan trauma ganda yang berat memerlukan kejelasan dalam menetapkan prioritas. • Intracerebral hematoma / contusio cerebri Perdarahan parenkim otak Terbanyak frontal dan temporal CT : o Densitas heterogen o Salt and pepper • Intraventrikel hemorrhagic Perdarahan dalam rongga ventrikel Tidak menyebabkan efek massa Hidrosefalus External Ventrikular Drainage 9. kita hrs membedakan cedera kepala tertutup dengan penyebab lainnya. Diagnosa Banding Jika riwayat trauma kurang jelas dan pasien tidak sadar. koma alkoholik. CVD atau epilepsy (jika pasien kejang). seperti: koma diabetik. Tujuannya adalah segera mengenali cedera yang mengancam jiwa dengan Survey Primer.

• Cedera dada dengan kesukaran bernafas • Perdarahan berat eksternal dan internal • Cedera abdomen Jika ditemukan lebih dari satu orang korban maka pengelolaan dilakukan berdasar prioritas (triage) Hal ini tergantung pada pengalaman penolong dan fasilitas yang ada.5 menit. Survei ABCDE (Airway. Apakah pasien dapat bicara dan bernafas dengan bebas ? Jika ada obstruksi maka lakukan : • Chin lift / jaw thrust (lidah itu bertaut pada rahang bawah) • Suction / hisap (jika alat tersedia) • Guedel airway / nasopharyngeal airway • Intubasi trakhea dengan leher di tahan (imobilisasi) pada posisi netral Breathing Menilai pernafasan cukup. Terapi dikerjakan serentak jika korban mengalami ancaman jiwa akibat banyak sistim yang cedera : Airway Menilai jalan nafas bebas. Disability. . Breathing. Jika pernafasan tidak memadai maka lakukan : • Dekompresi rongga pleura (pneumotoraks) • Tutuplah jika ada luka robek pada dinding dada • Pernafasan buatan Berikan oksigen jika ada. Circulation. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas. Exposure) ini disebut survei primer yang harus selesai dilakukan dalam 2 .

Jika ada kecurigaan cedera leher atau tulang belakang. Eksposure Lepaskan baju dan penutup tubuh pasien agar dapat dicari semua cedera yang mungkin ada.16 G) • Berikan infus cairan Disability Menilai kesadaran dengan cepat.Penilaian ulang ABC harus dilakukan lagi jika kondisi pasien tidak stabil Sirkulasi Menilai sirkulasi / peredaran darah. hanya respons terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Sementara itu nilai ulang apakah jalan nafas bebas dan pernafasan cukup. Penanganan darurat : • • Dekompresi dengan trepanasi sederhana Kraniotomi untuk mengevakuasi hematome . maka imobilisasi in-line harus dikerjakan. apakah pasien sadar. Jika sirkulasi tidak memadai maka lakukan : • Hentikan perdarahan eksternal • Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14 . Tidak dianjurkan mengukur Glasgow Coma Scale AWAKE = A RESPONS BICARA (verbal) = V RESPONS NYERI = P TAK ADA RESPONS = U Cara ini cukup jelas dan cepat.

Dianjurkan untuk memberikan terapi profilaksis dengan fenitoin sedini mungkin (24 jam pertama) untuk mencegah timbulnya focus epileptogenic dan untuk penggunaan jangka panjang dapat dilanjutkan dengan karbamazepin.Terapi medikamentosa Elevasi kepala 300 dari tempat tidur setelah memastikan tidak ada cedera spinal atau gunakan posisi trendelenburg terbalik untuk mengurang tekanan intracranial dan meningkakan drainase vena. Pengobatan yang lazim diberikan pada cedera kepala adalah golongan dexametason (dengan dosis awal 10 mg kemudian dilanjutkan 4 mg tiap 6 jam). Terapi Operatif Operasi di lakukan bila terdapat : • (15) Volume hamatom > 30 ml ( kepustakaan lain > 44 ml) . dalam hal ini untuk mengurangi tekanan intracranial. Tri-hidroksimetilamino-metana (THAM) merupakan suatu buffer yang dapat masuk ke susunan saraf pusat dan secara teoritis lebih superior dari natrium bikarbonat. Barbiturat dapat dipakai unuk mengatasi tekanan inrakranial yang meninggi dan mempunyai efek protektif terhadap otak dari anoksia dan iskemik dosis yang biasa diterapkan adalah diawali dengan 10 mg/kgBB dalam 30 menit dan kemudian dilanjutkan dengan 5 mg/ kgBB setiap 3 jam serta drip 1 mg/kgBB/jam unuk mencapai kadar serum 3-4mg%. mannitol 20% (dosis 1-3 mg/kgBB/hari) yang bertujuan untuk mengatasi edema cerebri yang terjadi akan tetapi hal ini masih kontroversi dalam memilih mana yang terbaik.

. terjadi di awal cedera 4-25% (dalam 7 hari cedera). Kejang pasca trauma: Merupakan salah satu komplikasi serius. Biasanya keadaan emergenci ini di sebabkan oleh lesi desak ruang. Jika untuk keduanya tujuan tersebut maka operasinya menjadi operasi emergenci.• • Keadaan pasien memburuk Pendorongan garis tengah > 3 mm Indikasi operasi di bidang bedah saraf adalah untuk life saving dan untuk fungsional saving. Faktor risikonya adalah trauma penetrasi. Indikasi untuk life saving adalah jika lesi desak ruang bervolume : • • • > 25 cc  desak ruang supra tentorial > 10 cc  desak ruang infratentorial > 5 cc  desak ruang thalamus Sedangakan indikasi evakuasi life saving adalah efek masa yang signifikan : • • Penurunan klinis Efek massa dengan volume > 20 cc dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif. terjadi terlambat 9-42% (setelah 7 hari trauma). Komplikasi a. Insidensinya 10 %. hematom (subdural. epidural. Tebal epidural hematoma > 1 cm dengan midline shift > 5 mm dengan penurunan klinis yang progresif • 11.

Sering terjadi kekurangan Penatalaksanaan dengan asetaminofen. e. Gejala klinis hidrosefalus dengan nyeri kepala. Terapi primer dengan koreksi posisi dan latihan ROM. terapi sekunder dengan splinting. Agitasi : . efek neuro kebutuhan sentral. fraktur depresi kranium. c. meningkatkan infeksi.parenkim). GCS <10. koma barbiturat. asetazolamid. gangguan miksi. Merupakan gambaran lesi pada UMN. sekunder papil penyumbatan di sistem ventrikel. Demam dan mengigil : Demam akibat dan mengigil akan cairan. b. benzodiasepin. Beberapa penanganan ditujukan pada : Pembatasan fungsi gerak. dimensia. akibat udema. komunikan dan non komunikan. paralisis. Nyeri. casting. Hidrosefalus: Berdasar sering lokasi penyebab cedera obstruksi kepala terjadi dibagi dengan menjadi obstruksi. kontusio serebri. d. baklofen. botulinum. Pencegahan kontraktur. Spastisitas : Spastisitas adalah fungsi tonus yang meningkat tergantung pada kecepatan gerakan. farmakologi: dantrolen. Hidrosefalus komunikan lebih terjadi pada non Hidrosefalus ditandai komunikan muntah. Bantuan dalam posisioning. Membentuk ekstrimitas pada posisi ekstensi. Penanganan lain dengan cairan hipertonik. ataksia. muscular metabolism dan memperburuk “outcome”. tizanidin.

buspiron. disinhibisi. beratnya cedera kepala. dan emosi labil. benzodisepin dan terapi modifikasi lingkungan. Cicerone (2002) meneliti rehabilitasi kognitif berperan penting untuk perbaikan gangguan kognitif. agresi. antihipertensi. inisiasi dan hipoarousal (Whyte). Penanganan farmakologi antara lain dengan menggunakan antikonvulsan. amantadinae dilaporkan dapat memperbaiki fungsi perhatian dan fungsi luhur. antipsikotik. Depresi mayor dan minor ditemukan 40-50%. Faktor resiko depresi pasca cedera kepala adalah wanita. pre morbid dan gangguan tingkah laku dapat membaik dengan antidepresan. Penelitian Pons Ford.menunjukkan 2 tahun setelah cedera kepala masih terdapat gangguan kognitif. Sindroma post kontusio : . g. Agitasi juga sering terjadi akibat nyeri dan penggunaan obat-obat yang berpotensi sentral. f. stimulant. gangguan konsentrasi 62%. tingkah laku atau emosi termasuk problem daya ingat pada 74 %. Sensitif dan Iritabel 64%. Mood. tingkah laku dan kognitif : Gangguan kognitif dan tingkah laku lebih menonjol dibanding gangguan fisik setelah cedera kepala dalam jangka lama. Methyl phenidate sering digunakan pada pasien dengan problem gangguan perhatian. gangguan mudah lelah (fatigue) 72%. Donepezil dapat memperbaiki daya ingat dan tingkah laku dalam 12 minggu. akatisia. gangguan kecepatan berpikir 67%.Agitasi pasca cedera kepala terjadi > 1/3 pasien pada stadium awal dalam bentuk delirium. Dopamine.

Merupakan komplek gejala yang berhubungan dengan cedera kepala 80% pada 1 bulan pertama. Prognosa Penanganan pada cedera kepala harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah cedera otak sekunder dan akibat lainnya yang dapat meningkatkan angka mortalitas. vertigo/dizzines. gangguan tidur. memori. mual. sensitif terhadap suara dan cahaya. Hampir 20% penderita cedera kepala meninggal akibat penanganan atau perawatan yang salah sebelum sampai di rumah sakit. hipoksemia dan hiperkarbia. dada & pelvis. -Pengangkutan/transport yang tidak adekuat. tulang belakang. konsentrasi. -Dikirim ke RS yang tidak adekuat. Oleh sebab itu pada penderita cedera kepala stabilisasi kardiopulmuner juga sangat penting. . mudah lelah. Penderita cedera kepala yang dalam keadaan hipotensi mempunyai angka mortalitas dua kali lebih besar dibandingkan dengan yang tidak. breathing dan circulation) harus dilaksanakan dengan tidak melakukan manipulasi yang berlebihan yang dapat memperberat cedera pada anggota tubuh yang lain seperti leher. cemas. emosi labil 12. depresi. Penyebab tersering adalah syok. Afektif: iritabel. 30% pada 3 bulan pertama dan 15% pada tahun pertama: Somatik : nyeri kepala. Dengan demikian prinsip penanganan ABC (airway. Faktor-faktor yang memperburuk prognosis adalah : -Terlambatnya penanganan awal dan resusitasi. kognitif: perhatian.

Faktor-faktor yang dapat menjadikan ”Predictor outcome” cedera kepala adalah: lamanya koma. penurunan kesadaran < 30 menit.-Tindakan bedah yang terlambat. -Besar lesi dan lokasinya ( infratentorial lebih jelek) Mortalitas pasien dengan peningkatan tekanan Intrakranial > 20 mmHg selama perawatan mencapai 47%. durasi amnesia post trauma. amnesia < 24 jam) William. Pemeriksaan penunjang preditor prognosis cedera kepala: Skor GCS (Penurunan kesadaran pada saat kejadian. Rontgen tulang tidak direkomendasikan untuk evaluasi cedera kepala ringan dan sedang dan sensitifitasnya rendah terhadap adanya lesi intrakranial. penurunan kesadaran setelah 30 menit. 2001 meneliti 215 cedera kepala : pasien-pasien cedera kepala sedang dengan komplikasi (CT Scan +) terdapat gangguan fungsi neuropsikiatri setelah 6 bulan. Tujuh belas persen pasien sakit cedera kepala berat mengalami gangguan kejang-kejang dalam dua tahun pertama post trauma. Pengukuran outcome: Beberapa pengukuran outcome setelah cedera kepala yang sering digunakan antara lain: . Lamanya koma berhubungan signifikan dengan pemulihan amnesia. sedangkan TIK di bawah 20 mmhg kematiannya 39%. area kerusakan cedera pada otak mekanisme cedera dan umur. -Disertai dengan cedera multipel yang lain.

terapi farmakologi yang dapat memperbaiki peningkatan resistensi mikrosirkulasi dan terapi hipotermi yang dapat memproteksi neuron akibat iskemik. perawatan diri. komponen kesadaran (GCS). kembali pulih sempurna (dapat kembali bekerja/sekolah). 13. Kesimpulan . kecacaatan sedang (dapat hidup mandiri tetapi tidak dapat kembali ke sekolah dan pekerjaannya).• Glasgow Outcome Scale (GOS) : Terdiri 5 kategori. status vegetative. kognitif. • Fungsional Independent Measure (FIM) Banyak digunakan untuk rehabilitasi terdiri dari 18 items skala yang digunakan untuk mengevalusi tingkat kemandirian mobilitas. meninggal. Strategi terapi masa yang akan datang lebih ditujukan pada fase hipoperfusi awal antara lain: induksi hipertensi arterial. kecacatan (activity of daily living. • Dissabily Rating Scale (DRS) Merupakan perbaikan skala dari tunggal koma Terdiri untuk 8 melihat ke kategori progress ke termasuk sampai dari kembali lingkungannya. handicap dalam bekerja). kecacatan yang berat. Beberapa pendekatan farmakologi yang digunakan banyak yang tidak efektif.

pemantauan tingkat kesadaran dan kemungkinan komplikasi lainnya amat penting. Penanganan fase akut yang tepat dapat memperbesar kemungkinan hidup pasien dan mencegah kecacadan di kemudian hari. Di samping penanganan dan pengawasan fungsi vital.Penanganan awal cedera kepala sangat penting karena dapat mencegah terjadinya cedera otak sekunder sehingga dapat menekan morbiditas dan mortalitasnya. Cedera kepala merupakan masalah kesehatan yang akan makin bertambah besar. . Pengobatan terutama ditujukan untuk mengurangi edema otak dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi. Tujuan dari penanganan cedera kepala bukan lagi sekadar menolong jiwa tetapi menyembuhkan penderita dengan sequele yang seminimal mungkin.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful