Welywahyura

Visum et Repertum
VISUM ET REPERTUM Pendahuluan VISUM et Repertum atau VER adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan pemeriksaan terhadap orang atau yang diduga orang, berdasarkan permintaan tertulis dari pihak yang berwenang, dan dibuat dengan mengingat sumpah jabatan dan KUHP (Kitab UndangUndang Hukum Pidana). Esensinya adalah laporan tertulis mengenai apa yang dilihat dan ditemukan pada orang yang sudah meninggal atau orang hidup (untuk mengetahui sebab kematian dan/atau sebab luka) yang dilakukan atas permintaan polisi demi kepentingan peradilan dan membuat pendapat dari sudut pandang kedokteran forensik. Surat permintaan VER ditujukan kepada Kepala Bagian Kedokteran Forensik. Dokter yang sedang mendapat giliran melakukan pemeriksaan jenazah pada hari itu adalah yang melakukan pemeriksaan jenazah tersebut. Jenazah yang bersangkutan disita sementara waktu untuk pemeriksaan. Selesai pemeriksaan, jenazah dikembalikan dan sepenuhnya menjadi milik keluarga kembali. Surat permintaan pemeriksaan jenazah ditandatangani oleh polisi berpangkat serendahrendahnya Inspektur Dua. Namun, bila polisi berpangkat sedemikian tidak ada di tempat, maka surat permintaan itu ditandatangani oleh polisi berpangkat lebih rendah namun dengan catatan “atas nama”. Polisi tidak mempunyai wewenang menunjuk dokter tertentu untuk memeriksa jenazah tertentu. Dan untuk pemeriksaan jenazah tersebut, dokter yang memeriksa tidak boleh menerima balas jasa dalam bentuk materi atau dalam bentuk apa pun (uang dan lain sebagainya). Dokter forensik menyerahkan VER kepada polisi yang meminta. Yang berwenang mengemukakan isi VER itu adalah polisi yang bersangkutan dan bukan dokter yang melakukan pemeriksaan. Adalah hak polisi untuk memberikan keterangan atau menolak memberikan keterangan yang diminta kepada khalayak ramai/wartawan, sedangkan dokter forensik tidak berwenang sehingga tidak diperkenankan untuk mengungkapkan isi VER kepada siapa pun juga (misalnya pers)- apalagi sampai pada detail-detailnya-yang dapat menyinggung pihak-pihak tertentu (misalnya pihak keluarga korban yang diotopsi). Dokter forensik hanya diperkenankan untuk mengemukakan isi VER kepada majelis hakim dalam sidang pengadilan apabila ia dipanggil oleh pengadilan sebagai saksi ahli (kedokteran forensik). Hal ini sedikit banyak berkaitan juga dengan sumpah dokter yang diucapkannya sewaktu dilantik sebagai dokter untuk menjaga kerahasiaan dalam profesinya maupun korban yang sudah meninggal sebagai benda bukti seperti yang akan diuraikan di bawah.

Dokter forensik tidak pernah berkewajiban ataupun perlu merasa berkewajiban membuka rahasia mengenai suatu kasus, tetapi ia berkewajiban melaporkan dengan sejujur-jujurnya atas sumpah jabatan bahwa ia akan melaporkan dalam VER semua hal yang dilihat dan ditemukan pada jenazah yang diperiksanya. Seorang dokter ahli forensik pada dasarnya adalah seorang dokter. Ia telah diangkat dan telah diambil sumpahnya sebagai dokter, sedangkan sebagai ahli Ilmu Kedokteran Forensik ia tidak mengucapkan sumpah lain. Pendapat yang menyatakan bahwa dasar Ilmu Kedokteran Forensik ialah Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) adalah sangat keliru. KUHAP adalah peraturan hukum, bukan sumpah. Dokter forensik tidak diperkenankan memberikan informasi apa pun kepada pihak lain (misalnya media massa kecuali dalam sidang pengadilan) karena tetap saja dokter forensik adalah seorang dokter yang pernah mengucapkan sumpah dokter dan sesuai sumpah dokter, ia harus menyimpan rahasia kedokteran (dalam hal ini termasuk apa yang dilihat dan ditemukannya dalam pemeriksaan forensik). Yang berwenang adalah polisi yang meminta VER. Dan tidak jelas pula pendapat ahli kedokteran forensik yang menyatakan bahwa demi kepentingan umum, dokter forensik diperkenankan memberikan keterangan apabila diperlukan kepada media massa (kepentingan pribadi demi popularitas atau sensasi?). Jenazah tidak dapat disamakan dengan benda bukti lainnya, misalnya sepotong kayu yang telah dipakai untuk membunuh, karena sebelumnya ia adalah seorang manusia hidup yang bernyawa, yang mempunyai riwayat kehidupan tertentu, dan dengan demikian juga terdapat ikatan-ikatan tertentu, seperti hubungan dengan anggota keluarganya yang masih hidup maupun dengan kaum kerabat lainnya. Oleh karena itu, hal-hal tertentu yang ditemukan dalam pemeriksaan yang dapat mencemarkan nama baik orang yang sudah meninggal-juga keluarga serta kawan-kawannya yang masih hidup-itu tidak dapat dibeberkan kepada pihak lain, apalagi untuk dikemukakan kepada publik. Sesuatu yang memburukkan nama baik orang yang sudah meninggal (jenazah) itu pasti akan berakibat aib bagi pihak keluarga yang ditinggalkan.

Definisi Dalam undang-undang ada satu ketentuan hukum yang menuliskan langsung tentang visum et repertum, yaitu pada staatsblad (lembaga Negara) Tahun 1937 No. 350. Ketentuan dalam Staatsblad ini sebetulnya merupakan terobosan untuk mengatasi masalah yang dihadapi dokter dalam membuat visum, yaitu mereka tidak perlu disumpah tiap kali sebelum membuat visum. Seperti diketahui setiap keterangan yang akan disampaikan untuk pengadilan haruslah keterangan dibawah sumpah. Dengan adanya ketentuan ini, maka sumpah yang telah diikrarkan dokter waktu menamatkan pendidikannya, dianggap sebagai sumpah yang syah untuk kepentingan membuat VeR, biarpun lafal dan maksudnya berbeda. Visum et repertum (VeR) adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup ataupun mati, ataupun

bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah, untuk kepentingan peradilan. Peranan dan Fungsi Visum et repertum berperan sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam proses pembuktian perkara pidana terhadap kesehatan dan jiwa manusia. Dalam VeR terdapat uraian hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian pemberitaan, yang karenanya dapat dianggap sebagai pengganti barang bukti. VeR juga memuat keterangan atau pendapat dokter mengenai hasil pemeriksaan medis yang tertuang dalam bagian kesimpulan. Bila VeR belum dapat menjernihkan persoalan di sidang pengadilan, hakim dapat meminta keterangan ahli atau diajukannya bahan baru, seperti yang tercantum dalam Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yang memberi kemungkinan dilakukannya pemeriksaan atau penelitian ulang atas barang bukti, apabila timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasehat hukumnya terhadap suatu hasil pemeriksaan. Perbedaan VeR dengan Catatan Medis dan Surat Keterangan Medis Lain Catatan medis adalah catatan tentang seluruh hasil pemeriksaan medis beserta tindakan pengobatan/perawatannya yang merupakan milik pasien, meskipun dipegang oleh dokter/institusi kesehatan. Catatan medis ini terikat pada rahasia pekerjaan dokter yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1966 tentang rahasia kedokteran dengan sanksi hukum seperti pasal 322 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Dokter boleh membuka isi catatan medis kepada pihak ketiga, misalnya dalam bentuk keterangan medik, hanya setelah memperoleh izin dari pasien, baik langsung maupun berupa perjanjuan yang dibuat sebelumnya antara pasien dengan pihak ketiga tertentu, misalnya pada klaim asuransi. Karena Visum et repertum dibuat berdasarkan undang-undang yaitu pasal 120, 179, dan 133 ayat 1 KUHAP, maka dokter tidak dapat dituntut karena membuka rahasia pekerjaan sebagaimana diatur dalam pasal 322 KUHP, meskipun dokter membuatnya tanpa seizin pasien. Pasal 50 KUHP mengatakan bahwa barangsiapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang, tidak dipidana, sepanjang visum et repertum tersebut hanya diberikan kepada instansi penyidik yang memintnya, untuk selanjutnya dipergunakan dalam proses pengadilan. Jenis dan Bentuk Visum et Repertum Ada beberapa jenis visum et repertum, yaitu visum et repertum perlukaan (termasuk keracunan), visum et repertum kejahatan susila, visum et repertum jenazah, dan visum et repertum psikiatrik. Tiga jenis visum yang pertama adalah visum et repertum mengenai tubuh/raga manusia yang dalam hal ini berstatus sebagai korban tindak pidana, sedangkan jenis terakhir adalah mengenai jiwa/mental tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak pidana.

dokter berkewajiban mencari identitas tersangka melalui pemeriksaan golongan darah serta DNA dari benda-benda bukti tersebut. dan kelainan psikiatrik sebagai akibat dari tindakan pidana tersebut. kehamilan. Di dalam bagian pemberitaa biasanya disebutkan keadaan umum korban sewaktu datang. sehingga surat permintaan datang terlambat. Bila ditemukan adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tanda-tanda perlawanan berupa darah pada kuku korban. 3. di atas sebuah kertas putih dengan kepala surat institusi kesehatan yang melakukan pemeriksaan. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan. dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan atau perbuatan cabul. Terhadap setiap pasien yang diduga korban tindak pidana meskipun belum ada surat permintaan visum et repertum dari polisi. karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan. Selain itu juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual. dan keadaan akhir saat perawatan selesai. Untuk kepentingan peradilan. lukaluka atau cedera atau penyakit yang diketemukan pada pemeriksaan fisik berikut uraian tentang letak. Dalam kesimpulan diharapkan tercantum perkiraan tentang usia korban. 1. Keterlambatan dapat diperkecil dengan komunikasi dan kerjasama antara institusi kesehatan dengan penyidik. serta perbuatan cabul). dalam bahasa Indonesia. Visum et Repertum Korban Kejahatan Susila Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan. korban dengan luka ringan datang ke dokter setelah melapor ke penyidik. tindakan medis yang dilakukan. Visum et Repertum Jenazah . tanpa memuat singkatan dan sedapat mungkin tanpa istilah asing. menyebutkan kapan perkiraan terjadinya. riwayat perjalanan penyakit selama perawatan.Visum et repertum dibuat secara tertulis. sehingga membawa surat permintaan visum et repertum. dan ada atau tidaknya tanda kekerasan. sebaiknya dengan mesin ketik. dokter harus membuat catatan medis atas semua hasil pemeriksaan medisnya secara lengkap dan jelas sehingga dapat digunakan untuk pembuatan visum et repertum. Gejala yang dapat dibuktikan secara obyektif dapat dimasukkan. Visum et Repertum pada Kasus Perlukaan. bila terpaksa digunakan agar diberi penjelasan bahasa Indonesia. ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin. Sedangkan korban dengan luka sedang/berat akan datang ke dokter sebelum melapor ke penyidik. sedangkan yang subyektif dan tidak dapat dibuktikan tidak dimasukkan ke dalam visum et repertum. adanya kekerasan (termasuk keracunan). 2. jenis dan sifat luka serta ukurannya. serta usia korban. Umumnya. persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya. perkosaan. pemeriksaan khusus/penunjang. persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur.

baik POLRI maupun Polisi Militer. Pada surat permintaan visum et repertum harus jelas tertulis jenis pemeriksaan yang diminta. dan sebagainya. Hakim juga dapat meminta visum et repertum (psikiatrik) sesuai dengan pasal 180 jo pasal 187 KUHAP. Pemeriksaan bedah jenazah. toksikologi. leher. Dalam Keadaan tertentu di mana kesaksian seseorang amat diperlukan sedangkan ia diragukan kondisi kejiwaannya jika ia bersaksi di depan pengadilan maka kadangkala hakim juga meminta evaluasi kejiwaan saksi tersebut dalam bentuk visum et repertum psikiatrik. Visum et Repertum Psikiatrik Visum et repertum psikiatrik perlu dibuat oleh karena adanya pasal 44 (1) KUHP yang berbunyi ”Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya disebabkan karena jiwanya cacat dalam tumbuhnya atau terganggu karena penyakit. dan panggul. diikatkan pada ibu jari kaki atau bagian tubuh lainnya. jenis kekerasan penyebabnya. Pemeriksaan forensik terhadap jenazah meliputi : 1. Selain itu visum ini juga menguraikan tentang segi kejiwaan manusia. Visum ini diperuntukkan bagi tersangka atau terdakwa pelaku tindak pidana. biasanya melalui jaksa penuntut umum. 4. bukan segi fisik atau raga manusia. 2. dilak dengan diberi cap jabatan. serta saat kematian seperti tersebut di atas. pemeriksaan secara menyeluruh dengan membuka rongga tengkorak. Pemeriksaan luar jenazah yang berupa tindakan yang tidak merusak keutuhan jaringan jenazah secara teliti dan sistematik. Dari pemeriksaan dapat disimpulkan sebab. Selain itu jaksa penyidik berwenang pula meminta visum et repertum pada perkara pelanggaran Hak Asasi Manusia. Karena menyangkut masalah dapat dipidana atau tidaknya seseorang atas tindak pidana yang dilakukannya. serologi. tidak dipidana”. apakah pemeriksaan luar (pemeriksaan jenazah) atau pemeriksaan dalam/autopsi (pemeriksaan bedah jenazah). jenis luka atau kelainan. Aspek Pengadaan Visum Et Repertum Pejabat yang dapat meminta visum et repertum atas seseorang korban tindak pidana kejahatan terhadap kesehatan dan nyawa manusia adalah penyidik dan penyidik pembantu polisi. sesuai dengan jurisdiksinya masing-masing. Jadi selain orang yang menderita penyakit jiwa. . maka adalah lebih baik bila pembuat visum ini hanya dokter spesialis psikiatri yang bekerja di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum. dada. orang yang retardasi mental juga terkena pasal ini. sebab dan mekanisme kematian.Jenazah yang akan dimintakan visum et repertumnya harus diberi label yang memuat identitas mayat. perut. Kadangkala dilakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti pemeriksaan histopatologi. bukan bagi korban sebagaimana yang lainnya.

kesulitan komunikasi dan sarana perhubungan. dengan segala hak dan kewajibannya. baru kemudian dilaporkan ke penyidik. Hal ini membawa kemungkinan bahwa surat permintaan visum et repertum korban luka akan datang “terlambat” dibandingkan dengan pemeriksaan korbannya. Akan tetapi mereka berhak memperoleh informasi tentang korban pada saat yang tepat dari penyidik.Penasehat hukum tersangka tidak diberi kewenangan untuk meminta visum et repertum kepada dokter. Penasehat hukum tersangka dapat meminta salinan visum et repertum dari penyidik atau dari pengadilan pada masa menjelang persidangan. Perlu diingat bahwa selain sebagai korban (pidana). maka keterlambatan ini tidak boleh dianggap sebagai hambatan pembuatan visum et repertum. Sebagai contoh keterlambatan seperti ini adalah keterlambatan pelaporan kepada penyidik seperti yang dimaksud di atas. maka dokter pemeriksa berhak untuk memberitahukan hasil pemeriksaannya kepada korban. dan mereka juga dapat memperoleh salinan visum et repertum dari penyidik atau dari pengadilan pada masa menjelang persidangan. Ketentuan tentang perlakuan terhadap korban hidup tidak menunjukkan bahwa ia adalah barang bukti. Hal ini . demikian pula tidak boleh meminta salinan visum et repertum langsung dari dokter. Tidak ada ketentuan yang mengatur tentang pemeriksaan apa saja yang harus dan boleh dilakukan oleh dokter (dalam pasal 133 hanya tertulis pemeriksaan luka). ia juga berperan sebagai pasien. apalagi disita oleh negara. orang dengan luka-luka akan dibawa langsung ke dokter. Korban atau keluarga korban juga tidak memiliki kewenangan untuk meminta visum et repertum langsung dari dokter. dimana dokter turut bertanggung-jawab atas pemastian kesesuaian antara identitas yang tertera di dalam surat permintaan visum et repertum dengan identitas korban yang diperiksa. prosedur permintaan visum et repertum korban hidup (luka. overmacht (berat lawan) dan noodtoestand (keadaan darurat). Situasi tersebut membawa kita kepada keadaan. Berbeda dengan prosedur pemeriksaan korban mati yang telah mempunyai ketentuan yang mengaturnya dan bahkan mempunyai ancaman hukuman bagi pelanggarnya. ia tidak diberi label dan tidak disegel. dan berkaitan dengan hak pasien atas informasi medis dirinya. Dalam hal visum et repertum tersebut merupakan hasil pemeriksaan atas seseorang korban hidup. Tidak ada alasan bagi dokter untuk menolak permintaan resmi tersebut. keracunan dan kejahatan seksual / abortus) tidak diatur secara rinci di dalam KUHAP. yaitu seorang manusia yang merupakan subyek hukum. Hal ini berarti bahwa pemilihan jenis pemeriksaan yang dilakukan diserahkan sepenuhnya kepada dokter dengan mengandalkan tanggung-jawab profesi kedokteran. Sikap ini masih dapat dibenarkan dari segi etika kedokteran. Sepanjang keterlambatan ini masih cukup beralasan dan dapat diterima. Syarat pembuatan visum et repertum sebagai alat bukti surat sebagaimana tercantum dalam pasal 187 butir c sudah terpenuhi dengan adanya surat permintaan resmi dari penyidik. Hanya korban dengan luka ringan atau tampak ringan saja yang akan lebih dahulu melapor ke penyidik sebelum pergi ke dokter. KUHAP juga tidak memuat ketentuan tentang bagaimana menjamin keabsahan seseorang korban sebagai “barang bukti”. Dalam praktek sehari-hari.

Selain adanya surat permintaan visum et repertum dan persetujuan korban.(2) Struktur Dan Isi Visum Et Repertum . Tindakan yang akan dilakukan harus didahului dengan penjelasan dan permintaan persetujuan korban. serta tentu saja hak untuk dirahasiakan ihwalnya. pemeriksaan harus disaksikan oleh chaperone (saksi yang berjenis kelamin sama dengan korban) guna menghindari keadaan yang tidak diinginkan. Hal ini juga didukung oleh segi keilmuan yang digunakan dalam memeriksa korban kejahatan seksual. Apabila korban belum cukup umur. baik oleh korban maupun oleh orangtuanya. maka disarankan agar persetujuan tersebut ditandatangani oleh bersama. dalam hal ini sebagai pasien. maka tidak dapat disegel maupun disita. Ketentuan hukum mengenai siapa yang paling berwenang dalam pembuatan visum et repertum korban kejahatan seksual tidaklah jelas.berarti bahwa seseorang korban hidup tidak secara “en block” (seutuhnya) merupakan barang bukti. untuk tidak dapat menolak sesuatu pemeriksaan. dan bahwa pemeriksaan yang harus dilakukan bukan hanya sekedar pemeriksaan fisik dan tujuannya adalah untuk pembuktian. Adanya keharusan membuat visum et repertum atas seseorang korban tidak berarti bahwa korban tersebut. Hal penting yang harus diperhatikan adalah bahwa pemeriksa adalah dokter yang memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang memadai. yaitu ilmu-ilmu forensik dan bukan ilmu obstetri maupun ginekologi. maka dokter spesialis forensik tampaknya akan mempunyai peranan yang lebih besar. dianggap paling berwenang dalam pembuatan visum et repertum korban kejahatan seksual. hak menentukan nasibnya sendiri (rights to self determination). Umumnya korban tidak akan menolak pemeriksaan dokter bila telah dijelaskan manfaatnya bagi korban sendiri sehubungan dengan perkara pidananya. Dengan demikian. Selama ini para dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan. Sedangkan orangnya sebagai manusia tetap diakui sebagai subyek hukum dengan segala hak dan kewajibannya. atau bila korban tidak cakap memberi persetujuan dimintakan dari orang tuanya atau keluarga terdekatnya. Korban hidup adalah juga pasien sehingga mempunyai hak untuk memperoleh informasi medik tentang dirinya. baik di bidang ginekologi maupun di bidang kedokteran forensik. Yang merupakan “barang bukti” pada tubuh korban hidup tersebut adalah perlukaannya beserta akibatnya. maka hendaknya dokter meminta pernyataan tertulis singkat penolakan tersebut dari pasien disertai alasannya atau bila hal itu tidak mungkin dilakukan. yang memang terbiasa memeriksa pasien wanita. hak untuk menerima atau menolak suatu pemeriksaan dan hak memperoleh pendapat kedua (second opinion). Namun apabila diingat bahwa korban kejahatan seksual pada dasarnya adalah korban “perlukaan”. dan segala sesuatu yang berkaitan dengan perkara pidananya. Yang dapat dilakukan adalah “menyalin” barang bukti tersebut ke dalam bentuk visum et repertum. Terlebih bila diingat bahwa biasanya pemeriksaan tersebut dikaitkan dengan upaya pengobatan dirinya. Apabila suatu pemeriksaan dianggap perlu oleh dokter pemeriksa tetapi pasien menolaknya. agar mencatatnya di dalam catatan medis. Keadaan ini berbeda dengan korban mati yang tidak merangkap perannya sebagai pasien dengan segala haknya. oleh karena barang bukti tersebut tidak dapat dipisahkan dari orangnya.

dokter menuliskan pada visum suatu luka berbentuk panjang. Untuk pemakai visum. edisi kedua. hari dan jam). karena apa yang dilihat dan ditemukan dokter sebagai terjemahan dari visum et repertum itu terdapat pada bagian ini. siapa yang diperiksa. Pada korban luka perlu . Oleh karena biarpun Pro Yustitia hanya kata-kata biasa. tetapi kalau dokter menyadari arti dan makna yang terkandung di dalamnya maka kata-kata atau tulisan ini menjadi sangat penting artinya. maka saat mulai memeriksa korban ia telah menyadari bantuan yang diberikan akan dipakai sebagai salah satu alat bukti yang sah dalam menegakkan hukum dan keadilan. 4. Pro Yustitia. di mana diperiksa. Bagian terpenting dari visum sebetulnya terletak pada bagian ini. Sutomo Tjokronegoro sejak puluhan tahun yang lalu (Nyowito Hamdani. ini adalah bagian yang penting. saat pemeriksa (tanggal. 2. Kesimpulan. Penulisan kata Pro Yustitia pada bagian atas dari visum lebih diartikan agar pembuat maupun pemakai visum dari semula menyadari bahwa laporan itu adalah demi keadilan (Pro Yustitia). Data diri korban diisi sesuai dengan yang tercantum dalam permintaan visum. Sebagai tambahan pada bagian pemeriksaan ini. Biasanya pada bagian ini dokter menuliskan luka. maka bila dokter menulis Pro Yustitia di bagian atas visum maka ini sudah dianggap sama dengan kertas materai. Berpedoman kepada Peraturan Pos. misalnya didapati suatu luka. karena diharapkan dokter dapat menyimpulkan kelainan yang terjadi pada korban menurut keahliannya. Pemeriksaan. mengapa diperiksa dan atas permintaan siapa visum itu dibuat. Prof. Pada bagian ini dokter melaporkan hasil pemeriksaannya secara objektif. Muller. lebar luka 2 cm dan dalam luka 4 cm. Menyadari bahwa semua surat baru sah di pengadilan bila dibuat di atas kertas materai dan hal ini akan menyulitkan bagi dokter bila setiap visum yang dibuat harus memakai kertas materai. Hal ini sering terabaikan oleh pembuat maupun pemakan tentang arti sebenarnya kata Pro yustitia ini. bila dokter mendapatkan kelainan yang banyak atau luas dan akan sulit menjelaskannya dengan katakata. Mas Sutejo Mertodidjojo dan Prof.Konsep visum yang digunakan selama ini merupakan karya pakar bidang kedokteran kehakiman yaitu Prof. 1992). Ilmu Kedokteran kehakiman. 3. pinggir luka rata. maka sebaiknya penjelasan ini disertai dengan lampiran foto atau sketsa. Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi tentang siapa yang memeriksa. Bila dokter sejak semula memahami bahwa laporan yang dibuatnya tersebut adalah sebagai partisipasinya secara tidak langsung dalam menegakkan hukum dan keadilan. Konsep visum ini disusun dalam kerangka dasar yang terdiri dari : 1. dengan panjang 10 cm. cedera dan kelainan pada tubuh korban seperti apa adanya. jaringan dalam luka terputus tanpa menyebutkan jenis luka.

tentang pelaksanaan KUHAP pasal 2 yang berbunyi : Penyidik adalah Pejabat Polri yang sekurang-kurang berpangkat Pelda Polisi 1. adapun tata cara permintaannya sabagai berikut : a. dimana dalam hal penyidik atau kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. maka Kapolsek yang berpangkat Serda tersebut karena Jabatannya adalah Penyidik c. 2. Surat permintaan Visum et Repertum kepada Dokter. Bagian ini mengingatkan pembuat dan pemakai visum bahwa laporan tersebut dibuat sejujurjujurnya dan mengingat sumpah.(IJO) Tatacara permintaan Visum Et Repertum Seperti tercantum dalam KUHAP pasal 133 ayat 1. tanda-tanda kekerasan. Syarat kepangkatan Penyidik seperti ditentukan oleh Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1983.penjelasan tentang jenis kekerasan. Dokter ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya. Barang bukti yang dimintakan Visum et Repertum dapat merupakan : 1) Korban Mati. hubungan sebab akibat dari kelainan. Kapolsek yang berpangkat Bintara dibawah Pelda Polisi karena 3. Untuk menguatkan pernyataan itu dokter mencantumkan Staatsblad 1937 No. b. kesadaran korban serta bila perlu umur korban (terutama pada anak belum cukup umur atau belum mampu untuk dikawini). Penyidik Pembantu adalah Pejabat Polri yang sekurang-kurangnya berpangkat Serda Polisi. bagian kesimpulan ini perlu mendapat perhatian agar visum lebih berdaya guna dan lebih informatif. Penutup. yang diduga karena peristiwa tindak pidana. sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah No 27 tahun 1983 Pasal 2 ayat (2). ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau Dokter lainnya. berapa lama korban dirawat dan bagaimana harapan kesembuhan. keracunan ataupun mati. . harus diajukan secara tertulis dengan menggunakan formulir sesuai dengan kasusnya dan ditanda tangani oleh penyidik yang berwenang. Pada kebanyakan visum yang dibuat dokter. Jabatannya adalah Penyidik Catatan : Kapolsek yang dijabat oleh Bintara berpangkat Serda Polisi. Pada korban perkosaan atau pelanggaran kesusilaan perlu penjelasan tentang tanda-tanda persetubuhan. tentang derajat kualifikasi luka. 5.350 atau dalam konsep visum yang baru ditulis sesuai KUHP.

d. luka akibat kejahatan kesusilaan menjadi sakit. 2) Korban Hidup. kelangkapan data-data jalannya peristiwa dan data lain yang tercantum dalam formulir. korban menjadi sembuh atau meninggal dunia. Contoh : 1) Pada kecelakaan lalu lintas perlu dicantumkan apakah korban pejalan kaki/pengemudi/penumpang dan jenis kendaraan yang menabrak. Visum et Repertum ini akan berguna bagi santunan kecelakaan. senjata tajam. karena data-data itu dapat membantu Dokter mengarahkan pemeriksaan mayat yang sedang diperiksa. Bila korban memerlukan / meminta pindah perawatan ke Rumah Sakit lain. Untuk keperluan ini penyidik harus memperlakukan mayat dengan penuh penghormatan. menaruh label yang memuat identitas mayat. Bila korban sembuh Visum et Repertum definitif perlu diminta lagi karena Visum et Repertum ini akan memberikan kesimpulan tentang hasil akhir keadaan korban. senjata api. penyidik perlu memintakan Visum et Repertum sementara tentang keadaan korban. Khusus bagi korban kecelakaan lalu lintas. Dalam perawatan ini dapat terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan yang lain adalah korban meninggal dunia.Dalam hal korban mati jenis Visum et Repertum yang diminta merupakan Visum et Repertum Jenazah. Gambaran luka-luka dan tempat luka pada tubuh dapat menggambarkan bagaimana posisi korban pada waktu terjadi kecelakaan. diletakkan pada ibu jari atau bagian lain badan mayat. sebutkan keterangan tentang jenis senjata yang diduga dipergunakan pelaku. permintaan Visum et Repertum lanjutan perlu dimintakan lagi. Petugas penyidik selanjutnya memberi informasi yang diperlukan Dokter dan mengikuti pemeriksaan badan mayat untuk memperoleh barang-barang bukti lain yang ada pada korban serta keterangan segera tentang sebab dan cara kematiannya. Penilaian keadaan korban ini dapat digunakan untuk mempertimbangkan perlu atau tidaknya tersangka ditahan. korban diduga meninggal karena pembunuhan atau penganiayaan saja. keracunan. Mayat selanjutnya dikirim ke Rumah Sakit (Kamar Jenazah) bersama surat permintaan Visum et Repertum yang dibawa oleh petugas Penyidik yang melakukan pemeriksaan TKP. memerlukan perawatan/berobat jalan. 2) Dalam kasus pembunuhan jangan hanya diisi. . agar diisi selengkapnya. Dalam hal korban luka. Dalam surat permintaan Visum et Repertum. di lak dengan diberi cap jabatan . untuk itu permintaan Visum et Repertum Jenazah diperlukan guna mengetahui secara pasti apakah luka paksa yang terjadi pada korban merupakan penyebab kematian langsung atau adakah penyebab kematian lainnya. racun.

) Bersama dengan korban perlu dikirim sisa-sisa makanan/racun yang dicurigai sebagai penyebab 4) Pada kasus diduga bunuh diri data-data tentang alat ataupun racun yang dipergunakan korban agar diisi slengkapnya.Sebaiknya jenis senjata yang diduga dipergunakan pelaku diikut sertakan sebagai barang bukti. cantumkan keterangan tentang tanda-tanda atau gejala-gejala keracunan (dari saksi serta perkiraan racun yang dipergunakan. disertai surat permintaannya 4) Ditempat yang tidak memiliki fasilitas tersebut. 3) Pada kasus keracunan atau yang diduga mati karena keracunan. permintaan ditujukan kepada Dokter pemerintah di Puskesmas atau Dokter ABRI/ khususnya Dokter Polri. Apabila korban dirawat. baru dimintakan ke Dokter swasta . sehingga dapat diperiksa apakah senjata / alat yang ditemukan sesuai dengan luka-luka yang terdapat pada tubuh korban. Catatan : Dokter ahli Kedokteran Kehakiman biasanya hanya ada di Ibu Kota Propinsi yang terdapat Fakultas Kedokteran nya Ditempat-tempat dimana tidak ada Dokter ahli Kedokteran Kehakiman maka biasanya surat permintaan Visum et Repertum ini ditujukan kepada Dokter. sertakan salinan rekaman medis pada waktu perawatan e. Permintaan Visum et Repertum ini diajukan kepada Dokter ahli Kedokteran Kehakiman atau Dokter dan atau ahli lainnya. Dalam pelaksanaannya maka sebaiknya : 1) Prioritas Dokter Pemerintah. permintaan ditujukan kepada bagian yang sesuai yaitu : Untuk korban hidup : a) Terluka dan kecelakaan lalu lintas : kebagian bedah b) Kejahatan susila / perkosaan : ke bagian kebidanan Untuk korban mati : bagian Kedokteran Kehakiman 3) Korban. baik hidup ataupun mati harus diantar sendiri oleh petugas Polri. ditempat dinasnya (bukan tempat praktek partikelir) 2) Ditempat yang ada fasilitas rumah sakit umum / Fakultas Kedokteran. Bila hal ini tidak memungkinkan.

g. maka penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan bedah jenazah tersebut. sesuai dengan ketentuan KUHAP Pasal 134 ayat 2. Pencabutan permintaan Visum et Repertum pada prinsipnya tidak dibenarkan. 3)Apakah korban dipindah 4) Senjata/alat jenis apa yang melukai korban 5) Apakah jenis alat/ senjata yang ditemukan di TKP sesuai dengan bentuk luka yang ada pada tubuh korban 6) Bagaimana caranya alat /senjata tersebut mengenai tubuh korban 7) Apakah ada tanda-tanda perlawanan Apakah luka-luka yang ada pada tubuh korban terjadi sebelum atau sesudah kematian 9) Kapan kira-kira korban meninggal 10) Apakah korban minum obat-obatan atau minuman keras sebelum meninggal(3) Tata Cara Pencabutan Visum Et Repertum a. namun kadang kala dijumpai hambatan dari keluarga korban yang keberatan untuk dilaksanakan bedah mayat dengan alasan larangan Agama. Sebaiknya petugas penyidik dapat segera memperoleh informasi yang perlu tentang korban seperti : 1) Berapa lama korban hidup setelah terjadi serangan yang fatal. keadaan korban di TKP hal-hal lain yang diperlukan. Sebaiknya petugas yang meminta Visum / petugas penyidik hadir ditempat otopsi dilakukan untuk dapat memberikan informasi kepada Dokter yang membedah mayat tentang situasi TKP. Disamping itu perlu pula dijelaskan bahwa bedah mayat Forensik : 1) Menurut Agama Islam hukumnya Mubah Fatwa Majelis Kesehatan dan Syurat Nomor 4 / 1955. agar memudahkan Dokter mencari sebab dan cara kematian korban. 2) Bila keluarga tetap menghalangi bedah mayat penyidik dapat memberi penjelasan tentang ketentuan KUHP Pasal 2 yang tertulis : Barang siapa dengan sengaja mencegah menghalangi . b. 2) Sejauh mana korban masih dapat berlari / jalan. adat dan lain-lain.f. barang-barang bukti relevan yang ditemukan. Bila timbul keberatan dari pihak keluarga.

4) Mendapat cacat berat. 6) Terganggunya daya pikir selama empat minggu lebih. Pasal KUHP Yang Berkaitan Dengan Visum Et Repertum Pasal 90 KUHP Luka berat berarti : 1) Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. maka pelaksanaan pencabutan harus diajukan tertulis secara resmi dengan menggunakan formulir pencabutan dan ditanda tangani oleh Pejabat. dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya sembilan bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. . 5) Menderita sakit lumpuh.atau menggagalkan pemeriksaan mayat untuk pengadilan. 4) Dengan pencabutan permintaan Visum et Repertum maka penyidik harus menyadari sepenuhnya bahwa tidak ada sesuatu yang jelas dapat diharapkan lagi sebagai keterangan dari barang bukti berupa manusia sebagai corpus delicti yang berkaian erat dengan masalah penyidikan yang sedang ditangani. 3) Bilamana permintaan Visum et Repertum terpaksa harus dibatalkan. 7) Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan. atau yang menimbulkan bahaya mati. serta terlebih dahulu membahasnya secara mendalam. diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun. petugas yang berwenang dimana pangkatnya satu tingkat diatas peminta. 3) Kehilangan salah satu panca indera. Pasal 351 KUHP (1) Penganiayaan diancam dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. (3) Jika mengakibatkan mati. (4) Dengan penganiayaan dimaksud sengaja merusak kesehatan. 2) Tidak mampu untuk terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan pencarian.

diancam karena membunuh anak sendiri.(5) Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. (3) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian. Percobaan untuk melakukan kejahatan ini tidak dipidana. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. sebagai penganiayaan ringan dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. (2) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sepuluh tahun. Pasal 352 KUHP Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356. Pasal 354 KUHP (1) Barang siapa melakukan penganiayaan kepada orang dengan pidana penjara paling lama delapan tahun. Pasal 342 KUHP Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak. dengan sengaja mematikan anaknya. diancam karena akan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. diancam. atau menjadi bawahannya. yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 89 KUHP . Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian. pada anak yang dilahirkan atau tidak lama kemudian. Pidana dapat ditambah sepertiga bagi orang yang melakukan kejahatan atau terhadap orang yang bekerja padanya. yang berarti dekenakan pidana penjara pailing lama tujuh tahun. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. Pasal 353 KUHP (1) Penganiayaan dengan rencana lebih dahulu.

dijatuhkan penjara paling lama delapan tahun. maka hakim dapat memerintahkan . diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. tidak dipidana. bahwa belum waktunya untuk dikawin. (3) Jika mengakibatkan mati. (2) Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit. Pasal 287 KUHP (1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa belum lima belas tahun. apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. diancam karena memperkosa. (2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan. Pasal 286 KUHP Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan hal itu diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya. kecuali jika wanita belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu berdasarkan pasal 291 dan pasal 294. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas ahun. karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. atau kalau umurnya tidak jelas. Pasal 285 KUHP Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa bersetubuh dengan dia di luar perkawinan.Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan. (2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat. Pasal 44 KUHP (1) Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit. Pasal 289 KUHP Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Pasal 288 KUHP (1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan belum waktunya untuk dikawin.

syarat untuk melakukan perceraian dan syarat waktu tunggu (idah) seorang janda. menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik.tetapi memerintahkan kepada jaksa untuk melengkapi berita acara pemeriksaan dengan visum et repertum. Hakim agama mengadili perkara yang bersangkutan dengan agama islam.hakim perdata dan hakim agama. Hakim perdata Dasar hukumnya:HIR pasal 154 Karena di sidang pengadilan perdata tidak ada jaksa. Yang berhak meminta visum et repertum Yang berhak meminta visum et repertum adalah penyidik.(2) .supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa.Di daerah terpencil mungkin saja seorang dengan pangkat serda diberi wewenang sebagai penyidik karena ia komandan. Pasal 222 KHUP Barang siapa dengan sengaja mencegah. Hakim Agama Dasar hukumnya:Undang-undang No.maka hakim perdata minta langsung visum et repertum kepada dokter. paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.14.sehingga permintaan visum et repertum hanya berkenaan dengan hal syarat untuk berpoligami. dan Pengadilan Negeri.Sebagai contoh adalah sidang pengadilan mengenai penggantian kelamin Iwan robyanto iskandar menjadi Vivian rubiyanti iskandar.sedangkan pangkat terendah untuk penyidik pembantu adalah serda.hakim pidana. (3) Ketentuan dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung pengadilan Tinggi. Penyidik Penyidik adalah pejabat polisi negara tertentu dengan pangkat serendah-rendahnya pelda. Hakim pidana Hakim pidana biasanya tidak langsung minta visum et repertum pada dokter. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.tahun 1970 tentang ketentuan pokok kekuasaan kehakiman pasal 10.Kemudian jaksa melimpahkan permintaan hakim kepada penyidik.

Semarang. MH. Prof.Dr. B002. NIP. SH. Paulus Hadisuprapto. SH. Susi Hadidjah. telah diberikan penghargaan dengan mengutip nama sumber penulis secara benar dan semua isi dari Karya Ilmiah/Tesis ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya sebagai penulis. 130 529 438 NIP. MH. PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 ii PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY Disusun Oleh: SUSI HADIDJAH.039 Dipertahankan di hadapan Dewan Penguji Pada Tanggal : 24 Desember 2008 Tesis ini telah diterima sebagai persyaratan untuk memperoleh Gelar Magister Ilmu Hukum Mengetahui. Nyoman Serikat Putra Jaya. 130 531 702 iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH Dengan ini saya.93. SH Pembimbing: PROF.Dr. Ketua Program Magister Ilmu Hukum Prof. SH.MH.. SH NIM. SH.PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY TESIS Disusun Dalam Rangka Memenuhi Persyaratan Program Magister Ilmu Hukum Oleh: SUSI HADIDJAH. menyatakan bahwa Karya Ilmiah/Tesis ini adalah asli hasil karya saya sendiri dan Karya Ilmiah ini belum pernah diajukan sebagai pemenuhan persyaratan untuk memperoleh gelar kesarjanaan Strata Satu (S1) maupun Magister (S2) dari Universitas Diponegoro maupun Perguruan Tinggi lain. NYOMAN SERIKAT PUTRA JAYA. Semua informasi yang dimuat dalam Karya Ilmiah ini yang berasal dari penulis lain baik yang dipublikasikan atau tidak. 24 Desember 2008 Penulis . DR. Pembimbing.

the rule of criminalsm law enforcement inthe future legislation. news that neonatal founded in death condition which got into the plastic bag or in garbage issue at mass media frequenly.s case.Sedangkan pengaturan penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan yang akan datang yaitu Pasal 526 dan Pasal 527 KONSEP KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA Tahun 2008 mengatur mengenai meninggalkan anak dan membuang anak. Penegakan Hukum Pidana secara umum dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini yaitu Pasal 341 dan Pasal 342 KUHP. Keywords: criminal’s law. criminal’s act. tetapi tidak khusus mengatur tentang pembunuhan bayi. . Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga.Undang Dasar Tahun 1945. Masyarakat Indonesia telah lama mengenal hak asasi yang bersumber pada Pancasila dan Undang. sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. rules about abandon and dump the child but not specifically rules for infanticide. To know and analized law enforcement which in abbreviation in to the legislation in the future. So. Bagaimana penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi. Conclusions: Generally law enforcement of infanticed management in legislation recently enforcement at DIY area solved as same as criminal. To know and analized law enforcement rights at infanticide in DIY area. Praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY dalam penyelesaiannya sama dengan penyelesaian kasus pidana. Penelitian ini digunakan pendekatan yang berorientasi pada pendekatan hukum yang ditempuh lewat pendekatan yuridis empiris. Permasalahan. Nowdays. Objectives: Generally to know and analized law enforcement rights to do infanticide as legislation now a days.? Metode Penelitian. Jadi dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia juga mempunyai perhatian yang besar terhadap hak asasi manusia yang pada prinsipnya untuk melindungi hak-hak individu. v ABSTRAK Latar Belakang. Child is lovely one who preciousless for every family. it can be said that Inndnesia people also has great attention of human right principally for protecting individual’s right. Bagaimana penegakan hukum pidana secara umumdalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini? Bagaimana praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY. Hasil pembahasan. yang sebaiknya dirumuskan dalam perundang-undangan di masa yang akan datang. Sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi baru lahir dalam keadaan meninggal yang dimasukan dalam tas plastik atau di bak sampah sering dimuat di media masa. infanticide.iv ABSTRACT Background: Indonesian people has been longly human right that origin from Pancasila and Undang-undang Dasar 1945. concept of KUHP Paragraf 526 and Paragraf 527 in 2008. as heir and someone that continuos both of his parents. However. Methods: This reasearch uses approach which oriented in legislation approach by empiric yuridical approach.

namun penulis tetap berharap.. dan anak-anak Harumurti Kusumawardhana.. BARDA NAWAWI ARIEF..Kata kunci.. PAULUS HADISUPRAPTO. Semoga amal kebaikan bapak.. DR.. Yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Bapak Kepala Kejaksaan Negeri Yogyakarta.. Para Guru Besar. yang selalu memberi dorongan semangat. 9. 3. SH. .MH. Bapak Prof.dan Bagian Pendidikan Program Magister Ilmu Hukum Universitas Diponegoro Semarang yang telah memberikan bimbingan dalam memperdalam keilmuan sebagai akademisi selama perkuliahan.. Daerah Istimewa Yogyakarta.. 8... Daerah Istimewa Yogyakarta. Bantul. ST dan Whisnu Agus Suryanto.. 12.. Kepala Kepolisian Yogyakarta.MH. DR.Yang telah memberikan ijin untuk menyelesaikan studi Pasca Sarjana Ilmu Hukum di Semarang. SH..... sebagai syarat akhir studi Pasca Sarjana Bidang Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro Semarang... Penulis menyadari tesis ini masih kurang ada kekurangannya atau masih jauh dari sempurna. 2.MH. vii 7. Sleman.. Bapak Hartono Brojokusumo (suami). dan tesis ini bermanfaat bagi para pembaca. Bapak EKO SOPONYONO. selaku Tim Review Proposal.. selaku Tim Review Proposal 5. SH. selaku Ketua Program Pasca Sarjana Ilmu Hukum dan selaku Tim Review Proposal. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak memberikan bantuan baik dalam doa maupun perbuatan selama penulis mengikuti pendidikan Program Magister Ilmu Hukum di Universitas Diponegoro Semarang. H. Sleman..Sleman. SH.. Daerah Istimewa Yogyakarta.Juga memberikan ijin untuk penelitian.... 6. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Yth. karena atas perkenannya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul Penegakan Hukum Pidana Dalam Penanggulangan Pembunuhan Bayi Di Wilayah DIY. 11.. vi KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT. Yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Bantul.. Bapak Prof. semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. 1. Perbuatan Pidana. Bapak Prof..MH.. . NYOMAN SERIKAT PUTRA JAYA. Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada 10. doa dan bantuan selama proses studi dan penyelesaian tesis ini... 4... Yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian. Semarang. ibu dan saudara sekalian mendapatkan pahala dari ALLAH SWT.SH. Bapak Ketua Pengadilan Negeri Yogyakarta. Pembunuhan bayi. Staf Pengajar. DR. SH. Hukum Pidana.Bantul.2008 Penulis SUSI HADIDJAH. Ibu Kepala Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.. selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan tesis ini.

.................................................... KERANGKA TEORI ... KESIMPULAN..................................... LATAR BELAKANG .......... PRAKTEK PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY...................... viii BAB I PENDAHULUAN A.............................................. 20 B.....viii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................ 40 2... POLRES BANTUL........ 34 BAB III HASIL PENELITIAN DAN ANALISA A.... KONSEP PEMBERIAN PIDANA DAN SISTEM PERADILAN PIDANA DALAM KASUS PEMBUNUHAN BAYI ............................................... PENGERTIAN PEMBUNUHAN BAYI (INFANTICIDE) DALAM PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA ......................................... 9 E........................................................... 66 1....................................................................................................... PRINSIP YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN OLEH HAKIM DALAM MEMERIKSA KASUS PEMBUNUHAN BAYI .................................. 9 F................................................ KEGUNAAN PENELITIAN ................................................................... TUJUAN PENELITIAN ............................................................. 79 LAMPIRAN: 1......... 31 C...... PERUMUSAN MASALAH ..................... 54 C..................................... i LEMBAR PENGESAHAN ................................ SISTEMATIKA PENULISAN ............. METODE PENELITIAN ............................................ 19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.......... 69 BAB IV PENUTUP A..................................................................................................... iv KATA PENGANTAR ............................... 9 D................................... PERAN BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK PADA PEMBUNUHAN KASUS BAYI .................................................................................................................................................................. PENEGAKAN HUKUM PIDANA SECARA UMUM DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DEWASA INI .. 78 DAFTAR PUSTAKA ....... PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI MASA YANG AKAN DATANG .... 38 1........................................... SARAN ........... ......................... PERBUATAN PIDANA................ vi DAFTAR ISI ........ 44 ix B........................................................................................................................................................... iii ABSTRAK ....................................................... 77 B......... PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DAN PEMIDANAAN.. 16 G. POLRES SLEMAN.......................... PROSES PENYIDIKAN PEMBUNUHAN BAYI .......... 1 B.............................. 8 C............ SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI KEPOLISIAN KOTA BESAR DIY......... ii LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ILMIAH ........

seorang pelajar SMA Swasta. Dalam Negara hukum Republik Indonesia penghayatan. Daerah Istimewa Yogyakarta. BANTUL. Hal ini dikarenakan hak-hak asasi manusia merupakan hak dasar manusia yang dimiliki sejak bayi dalam kandungan lahir dan hidup di dalam kehidupan masyarakat. apapun dikorbankan demi anak buah hati. xi Indonesia telah lama mengenal hak asasi yang bersumber pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. DAN SLEMAN. T (17 tahun) membunuh bayinya yang baru dilahirkan karena hubungan gelap dengan pacarnya yang tidak mau bertanggung jawab3. Hal ini terbukti dengan lahirnya naskah-naskah keuniversalan dan keasasian beberapa hak yang mengandung inti yang sama yaitu manusia tidak ingin dirampas hak asasinya. 3. Seorang gadis berparas cantik X ( 17 tahun ) Warga Purwobinangun. tak sedikit yang mencatat kejadian dimana seseorang atau segolongan manusia memperjuangkan apa yang dianggap haknya. Kumpulan Hasil Seminar Nasional ke-1 s/d ke-.2. Bantul. Pustaka Magister. sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. Dalam sejarah kemanusiaan. . BANTUL. DAN SLEMAN x BAB I PENDAHULUAN A. SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI PENGADILAN NEGERI YOGYAKARTA. Jadi. Namun. Sedangkan seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang. Kecamatan Jetis. Semarang. LATAR BELAKANG Negara Hukum menurut Undang-undang Dasar 1945 adalah negara hukum dalam arti yang luas. Sebenarnya masyarakat 1 Barda Nawawi Arief. dapat dikatakan bahwa masyarakat Indonesia juga mempunyai perhatian yang besar terhadap hak asasi manusia yang pada prinsipnya untuk melindungi hak-hak individu. Pakem Sleman. dan Konvensi Hukum Nasional 2008. SURAT KETERANGAN PENELITIAN DARI KEJAKSAAN NEGERI YOGYAKARTA. Apabila hak asasi seseorang dilanggar oleh orang lain. yang menjamin hak-hak dan kewajiban asasi warga negara/manusia. Kenekatan X di duga karena merasa malu mengingat bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu merupakan hasil hubungan gelap dengan F yang tak lain kakak iparnya sendiri2 . maka orang tersebut akan selalu menuntut dan memperjuangkan terlaksananya hak asasi ini dengan segala cara. Selain. Di Sumber Agung. 2008. pengamalan dan pelaksanaan hak asasi manusia maupun hak serta kewajiban warga negara untuk menegakkan keadilan tidak boleh ditinggalkan oleh setiap warga negara.Daerah Istimewa Yogyakarta nekat membunuh bayi yang baru di lahirkannya. Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga. memajukan kesejahteraan rakyat dan keadilan sosial berdasarkan Pancasila1. Tetapi sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi baru lahir dalam keadaan meninggal yang dimasukan dalam tas platik sering dimuat di media masa. Hal ini berarti bahwa Negara Indonesia menjunjung tinggi hak asasi manusia. hak asasi bangsa Indonesia yang dikenal dalam kehidupan masyarakat tidak hanya menonjolkan hak-haknya saja sebagai hak individu yang dituntutnya melainkan harus dipenuhi pula kewajiban-kewajibannya.

141 5 Barda xiii tanda perawatan. Sardjito Yogyakarta. Semarang. Inilah yang menjadi . Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi/anak lebih ringan dibandingkan dengan kasus-kasus pembunuhan lainnya. Yogyakarta: 12 Oktober 2007. bisa juga dilihat kasus yang diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr. menurut Barda Nawawi Arif. oleh karena anak tersebut adalah anak sebagai hasil hubungan gelap atau anak yang tidak diinginkan. dipotong tali pusatnya. xii WIB. hal. Di dusun Bongoskenthi. membunuh bayi yang baru dilahirkannya dengan memasukkan bayi ke dalam lubang kloset. Hukum sebagai salah satu tiang utama dalam menjamin ketertiban masyarakat. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. bingung serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu sehingga perbuatan itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang. melahirkan dan menyusui sangat labil dan mudah terguncang akibat gangguan keseimbangan hormon. sedangkan infanticide (yang dikenal di negara-negara Common Law) merupakan sebutan yang bersifat khusus bagi tindakan merampas nyawa bayi yang belum berumur satu tahun oleh ibu kandungnya sendiri. Yogyakarta: Maret 2008. sekitar pukul 06.dua kasus di atas.6 Disamping alasan tersebut ada motivasi untuk melakukan kejahatan adalah karena si ibu takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak. Hukum pidana yang paling dekat dan paling syarat dengan nilai-nilai kejiwaan atau moralitas. Nawawi Arif. Dalam Pembukaan UUD 1945 telah dirumuskan. atau diberi pakaian. Badan Penerbit UNDIP. desa Murtigading. takut. Bandung 2001 6 Dahlan Sofwan. Sanden. seorang ibu.30 2 Surat 3 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. 2000. Hukum harus dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat.4 Kejahatan pembunuhan bayi bukan hanya merusak nilai-nilai asas manusia. sadar serta perhitungan yang matang. Kabar Kedaulatan Rakyat. ”melindungi segenap bangsa Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum.T Citra Aditya Bakti. pada hari minggu 23 Maret 2008. Selain alasan itu adalah saat dilakukan tindakan menghilangkan nyawa si anak. mencerdaskan kehidupan bangsa berdasarkan Pancasila. yaitu pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian yang dalam hal ini patokannya adalah sudah ada atau belum ada tanda4 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat. benci. Yogyakarta: 11 September 2008. Pengkhususan infanticide sebagai tindak pidana yang hukumannya lebih ringan tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa kondisi mental pada saat hamil. Saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu dimana selain rasa malu. Ny. Oleh sebab itu.5 Masalah pembunuhan bayi merupakan sebutan yang bersifat umum bagi setiap perbuatan merampas nyawa bayi di luar kandungan. tujuan negara ialah. P. karena masalah moralitas agama melekat pada seorang manusia juga tidak kalah memegang peranan penting dalam terjadinya tindak pidana pembunuhan bayi. tetapi telah merendahkan derajat manusia. diharapkan mampu mengantisipasi segala tantangan kebutuhan. Kabupaten Bantul. kendala-kendala yang menyangkut sarana dan prasarana serta peluang yang terjadi sebagai akibat dari hasil pembangunan yang telah dicapai. dibersihkan. IW (40 tahun).

Penerbit Citra Umbawa. . a. baik fisik. Pemerintah Indonesia mengakui Deklarasi Hak-Hak Anak (Universal) dalam Undang-Undang No.4 Tahun 1979 yang antara lain menyebutkan bahwa anak berhak atas 7 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan Negara pada masa depan. dalam mukadimahnya bahwa seorang anak dalam keadaan masih belum matang jasmani dan rokhani membutuhkan upaya pembinaan dan perlindungan khusus (termasuk perlindungan hukum) baik sebelum maupun sesudah lahir. bahwa agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut. Upaya penanggulangan kejahatan dapat ditempuh dengan:10 a. tetapi tidak menyurutkan seorang remaja atau ibu melakukan pembunuhan bayi Hal semacam ini dapat dipahami karena proses penegakan hukum dalam upaya penanggulangan pembunuhan bayi. Tahap kebijakan Yudikafif atau Aplikatif. bahwa anak adalah tunas. bahwa anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. mental maupun sosial. Penerapan Hukum Pidana ( Criminal Law Aplication). 1. c. serta kebijakan atau upaya penanggulangan kejahatan pembunuhan bayi di Indonesia. Pencegahan tanpa Pidana (Prevention Without Punishment). b. yaitu. potensi. Tahap kebijakan Eksekusi atau Administratif. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. 2. Dengan adanya reformasi maka semangat untuk menanggulangi pembunuhan bayi yang sudah sejak lama ada lebih digiatkan dan sangsinya berat. bahwa kebijakan penanggulangan kejahatan atau yang biasanya dikenal dengan istilah’’Politik Kriminal’’dapat meliputi ruang lingkup yang lebih luas.9 Lebih jauh Peter Hoefnagels sebagaimana dikutip oleh Barda Nawawi Arief mengemukakan. b. dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. Oleh karena itu apabila tujuan dan dasar pemikiran kepada upaya xiv pencegahan dan penanggulangan pembunuhan bayi sebagaimana dirumuskan dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002: bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. Tahap kebijakan Formulasi atau legislatif. dan 3. dan berakhlak mulia. Bandung: 2003 xv pemeliharaan dan perlindungan baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan. maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. masih menunjukkan permasalahan dan kendala. 8 Dalam menggunakan dasar penal.praktek penegakan hukum khususnya dalam proses penanggulangan pembunuhan bayi bersumber pada 3 hal.landasan dan tujuan politik hukum di Indonesia dan usaha pembaharuan hukum termasuk pembaharuan di bidang hukum pidana.7 Dalam Deklarasi hak-hak anak yang ditetapkan oleh PBB pada 20 November 1959 dalam Resolusi Sidang Majelis Umum PBB.

2001. 2001. penangkalan. penumpasan). Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. Citra Aditya Bakri. Hal ini dapat dilihat dari skema berikut:11 Gambar 1. Kerja sama Kantor Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat RI dengan Departemen Sosial Jakarta. Social Policy Social-DefencePolicy Criminal Policy Goal SW/SD Penal: .Eksekusi Non Penal xvii Kebijakan hukum pidana (penal policy) atau penal law enforcement policy operasionalisasinya melalui beberapa tahap yaitu tahap formulasi (kebijakan legislatif).Formulasi . Bandung. Bunga Rampai Kebijakan Kriminal. hal 73-74. Law Enforcement Policy secara umum sebagai kebijakan hukum. upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi dua. pemberantasan.Bandung. dan juga korbannya. 2002. 1988.c. hal 75. tahap aplikasi (kebijakan yudikatif/yudicial) dan tahap eksekusi (kebijakan eksekutif/administratif). Citra Aditya Bakri. 1. Dengan demikian. 9 Barda Nawawi Arief. dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari upaya perlindungan terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan bayi. yaitu. Citra Aditya Bakri. lewat jalur penal (hukum pidana). . Berdasarkan uraian tersebut di atas maka penulisan ini didasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut. Penal policy menurut Barda Nawawi Arif 11 Barda Nawawi Arief. maka kebijakan hukum pidana harus diarahkan pada tujuan dari kebijakan sosial (social policy) yang terdiri dari kebijakan/upaya-upaya untuk kesejahteraan sosial (social welfare policy) dan kebijakan/upaya-upaya untuk perlindungan masyarakat (social defence policy). Upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur penal lebih menitikberatkan pada sifat represif (penindasan. Perbedaannya adalah: 8 Anonim. Upaya-upaya penanggulangan kejahatan lewat jalur non penal (pencegahan. Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. pengendalian) sebelum kejahatan terjadi. b. 2. Bandung.Aplikasi . 1. xvi Social-Welfare Policy a. Mempengaruhi pandangan masyarakat dan pemidanaan lewat media massa (Influencing Views of Society on Crime andPunishment Mass Media). lewat jalur non penal (di luar hukum pidana) Upaya yang disebut dalam butir (b) dan (c) dapat dimasukkan dalam kelompok upaya non penal. sekiranya dalam kebijakan penanggulangan kejahatan atau politik kriminal digunakan upaya/sarana hukum pidana (penal). Menurut Barda Nawawi Arief. Citra Anak Indonesia. 10 Barda Nawawi Arief. sesudah kejahatan terjadi.

Hakim dalam melaksanakan tugas sudah sesuai belum dengan peraturan/undang-undang yanng berlaku. penahanan. xix 2. penulis mengambil judul: “PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY” . 2. Untuk mengetahui dan menganalisis penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi. yang sebaiknya dirumuskan dalam perundang-undangan di masa yang akan datang. KEGUNAAN PENELITIAN 1. yang dirumuskan dalam perundang-undangan di masa yang akan datang? C.Tetapi sekarang ini berita-berita tentang ditemukannya bayi yang baru lahir dalam keadaan meninggal karena dibunuh oleh ibunya. Untuk mengetahui dan menganalisis penegakan hukum pidana secara umum dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini. 3. PERUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut di atas. KERANGKA TEORI Anak adalah buah hati yang sangat berharga bagi setiap keluarga. Bagaimana sebaiknya pengaturan penanggulangan pembunuhan bayi. . 3. Secara Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi terhadap penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi serta sumbangan penelitian pada bidang ilmu hukum pidana. Secara Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan penelitian dalam rangka meningkatkan kualitas penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di dalam pengambilan keputusan. Berdasarkan latar belakang seperti yang diuraikan di atas. Oleh karena itu seorang anak harus mendapatkan perlindungan baik masih dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. Bagaimana praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY? 3. maka permasalahan yang akan dibahas adalah: 1. Jaksa. D. TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini bertolak dari perumusan tersebut di atas adalah: 1. maka dalam penulisan ini. apapun dikorbankan demi anak buah hatinya. Sedangkan seorang ibu adalah sosok yang penuh kasih sayang. E. sebagai pewaris dan penerus kedua orang tuanya. Penegakan hukum pidana terhadap pelaku pembunuhan bayi para pelaksana hukum dari mulai penangkapan. ada tidak pelanggaran hak asasi manusia. Polisi. dalam penanggulangan pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini? xviii 2. Bagaimana pengaturan penegakan hukum pidana secara umum. seringkali dijumpai di media massa. Untuk mengetahui dan menganalisis praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY.2. dan sampai pemeriksaan. B.

Kejahatan pembunuhan bayi bukan hanya merusak nilai-nilai asas manusia . karena 13 Satjipta Rahardjo. Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman. Perumusan pikiran pembuat undang-undang (hukum) yang dituangkan dalam peraturan hukum akan turut menentukan bagaimana penegakan hukum itu dijalankan. hal 24.13 Sedangkan menurut Soerjono Soekanto: Secara konsepsional. atau stafrecht politeik. tetapi telah merendahkan derajat manusia.sungguh terjadi (onrecht in actu) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin akan terjadi (onrecht in potenti)12 Sedangkan menurut Satjipto Rahardjo. tanggal 25 November 1959. 1983. karena masalah moralitas agama melekat pada seorang manusia juga tidak kalah memegang peranan penting dalam terjadinya tindak pidana pembunuhan bayi. diantaranya adalah penal policy.Bandung Alumni 1985. Berkaitan dengan kebijakan hukum pidana dalam kepustakaan asing. Pembicaraan mengenai proses penegakan hukum ini menjangkau pula sampai 12 Sudarto. Masalah Penegakan Hukum. criminal law policy. seorang bayi harus ditempatkan pada posisi yang aman sebagai mana yang ditegaskan pada akhir Deklarasi PBB. Bandung Alumni 1988. untuk menciptakan. Penegakan hukum adalah suatu proses untuk mewujudkan keinginan-keinginan hukum menjadi kenyataan. perdamaian dan persaudaraan yang bersifat universal. Faktor-faktor yang MempengaruhiPenegakan Hukum. PT. 1983. menurut Barda Nawawi Arief. xxi masyarakat memegang teguh nilai-nilai kemasyarakatan sebagai pedoman untuk berbuat dan tidak berbuat.14 Sebagai generasi penerus bangsa. Jakarta. penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep menjadi kenyataan. akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi dan pada hakekatnya diskresi berada diantara hukum dan moral. toleransi persahabatan antar bangsa. tentang Hak-hak anak. Hukum dan Hukum Pidana.15 . maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang dijabarkan di dalam kaidahkaidah yang mantap dan mengejawantah dan sikap tindak sebagai rangkuman penjabaran nilai tahap akhir. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. dan dalam rangka pembaharuan hukum pidana yang dimaksud menciptakan hukum positif secara nasional. RajaGrafindo Persada.Soedarto memberi arti pada penegakan hukum adalah perhatian dan penggarapan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang sungguh.Penegakan Hukum sebagai suatu proses yang pada hakekatnya merupakan diskresi menyangkut pembuatan keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum. bahwa anak-anak haruslah dibesarkan dalam semangat jiwa yang penuh pengertian. 14 Soerjono Soekanto. Suatu Tinjauan Sosiologis. xx kepada pembuatan hukum. Oleh sebab itu. Kapita Selekta Hukum Pidana.peraturan hukum itu. tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai yang timbul dan berkembang dalam masyarakat hukum yang hidup dalam masyarakat. hal 5. Jakarta. Yang disebut sebagai keinginan hukum disini tidak lain adalah pikiranpikiran pembuat undang-undang yang dirumuskan dalam peraturan. juga dikenal dengan berbagai istilah lain.

di dalam pengertian social policy tercakup pengertian social welfare policy dan social defence policy. hal . tidaklah mengherankan apabila orang mengatakan bahwa hukum tidak bisa lagi disebut sebagai hukum 15 Barda Nawawi Arief . Masalah Penegakan Hukum (Suatu Tinjauan Sosiologis). Bandung. TujuanTujuan . Beberapa Aspek Pengembangan Ilmu Hukum Pidana (Menyongsong Generasi Baru Hukum Pidana Indonesia). Citra Aditya Bakri. Loc. wajar apabila kebijakan atau politik hukum pidana juga merupakan bagian integral dan kebijakan politik atau social policy. Cetakan Kedua Edisi Revisi.18 Dan diketahui pula. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana. hal16 20 Satjipto Rahardjo. teknik-teknik dan informasi. Kebijakan sosial dapat diartikan sebagai segala usaha yang rasional untuk mencapai kesejahteraan masyarakat dan sekaligus mencakup perlindungan masyarakat. pemasyarakatan. Cit. sebagaimana telah dikutip oleh Satjipto Rahardjo. 16 Barda Nawawi Arief. hal 16. pada hakekatnya juga merupakan bagian integral dari usaha perlindungan masyarakat atau social defence. Dan.2002 17 Sudarto. Bandung Tanpa Tahun 19 Satjipto Rahardjo. dan juga badan perundang-undangan. dan dijalankan dalam kerangka suatu strukur organisasi.16 Penggunaan hukum pidana sebagai suatu upaya untuk mengatasi masalah sosial atau kejahatan termasuk dalam bidang penegakan hukum.17 Hukum dibuat untuk dilaksanakan. maka sebetulnya kita sudah memasuki bidang manajemen. Oleh karena itu. Jadi.Usaha penanggulangan kejahatan lewat pembuatan undang-undang atau hukum pidana. Pidato Pengukuhan Guru Besar Fakultas Hukum UNDIP( Semarang 1984) hal 28. xxii manakala ia tidak pernah dilaksanakan (lagi). manajemen adalah seperangkat kegiatan atau suatu proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan penggunaan sumber-sumber daya dengan tujuan untuk mencapai tujuan organisasi melalui orang-orang. PT. hal 5 23 Satjipto Rahardjo. yang tidak lain berupa penegakan hukum itu. kepolisian.19 Untuk mewujudkan hukum sebagai ide-ide menjadi kenyataan.22 Hal ini dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:23 18 Satjipto Rahardjo.Cit. khususnya hukum pidana sehingga sering dikatakan bahwa politik atau kebijakan hukum pidana merupakan bagian dari penegakan hukum (law enforcement policy). bahwa hukum dapat dilihat bentuknya melalui kaidah-kaidah yang dirumuskan secara eksplisit. Negara yang harus campur tangan dalam mewujudkan hukum yang21. seperti pengadilan. Loc. Sinar Baru. Di dalam kaidah-kaidah atau peraturan-peraturan hukum itulah terkandung tindakantindakan yang harus dilaksanakan. menurut Shrode dan Voich. kejaksaan. hal 16-17 21 Ibid. Hukum dan Hukum Pidana. Cit. Alumni Bandung.20 Perwujudan hukum sebagai ide-ide membutuhkan suatu organisasi yang cukup kompleks. Loc. 1983.16 22 Ibid. abstrak ternyata harus mengadakan berbagai macam badan untuk keperluan tersebut. dan usaha mencapai kesejahteraan masyarakat atau social welfare. Oleh karena itu.

Perwujudan Tujuan Hukum Melalui Organisasi Untuk dapat menjalankan tugasnya. jaksa. keamanan . bahwa masalah pokok dari penegak hukum sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mungkin mempengaruhinya. seperti gedung.Kondisi Ketertiban. Alumni. Hal. 24 Satjipto Rahardjo.Hukum Organisasi Organisasi Organisasi Organisasi . organisasi yang dituntut untuk mewujudkan tujuan-tujuan hukum itu perlu mempunyai suatu tingkat otonomi tertentu. perlengkapan. Sumber daya keuangan. 2. 4. Sumber daya selebihnya yang dibutuhkan untuk menggerakkan organisasi dalam usahanya mencapai tujuan.5 25 Soerjono xxiv 5. seperti hakim. Faktor kebudayaan. Sumber daya fisik. Faktor Penegak Hukum. Hukum dan Masyarakat. 4. . PT. Loc. Robert B. Kewajiban. panitera. Cit. Jakarta.Dan sebagainya. Seidman. yakni lingkungan di mana hukum tersebut berlaku dan diterapkan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum.Keputusan-keputusan Pengadilan . yaitu pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum. 2. kendaraan.Perumusan UU. Hubungan Hukum dan sebagainya. 3. Bandung: 1980. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum. belanja negara dan sumber-sumber lain. cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup. hal. Hak. xxiii Gambar 2. 1983. yakni sebagai hasil karya. polisi.27 Lembaga Pembuat Peraturan Lembaga Penerap Peraturan Lembaga Penerap . 3. Faktor hukum (Undang-Undang). Menurut Soerjono Soekanto. RajaGrafindo Persada. Sumber daya manusia. secara teoritis memberikan penjelasan sebagaimana dikutip oleh Satjipto Rahardjo yang dapat digambarkan dalam sebuah bagan sebagai berikut:26 26 Satjipto Rahardjo. Otonomi mencapai tujuan organisasi. Mengenai penegakan hukum atau bekerjanya hukum di dalam masyarakat. Sumber-sumber daya ini menurut Satjipto Rahardjo adalah:24 1. Faktor masyarakat. yaitu:25 1. hal 18 Soekanto.

serta umpan-umpan balik yang datang dari para pemegang peran. terdapat tiga komponen utama pendukung bekerjanya hukum dalam masyarakat. dan lain-lain mengenai dirinya. 3) Pemegang Peran. yang bertujuan untuk mempelajari satu atau lebih gejala-gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya kecuali itu maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap faktafakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan yang timbul dalam segala hal yang bersangkutan. Hal. Sanksi-sanksi. Metode Pendekatan . Sedangkan Sudarto memberi arti pada penegakan hukum adalah perhatian dan penggarapan perbuatan-perbuatan yang melawan hukum yang sungguh-sungguh terjadi (onrecht in actu) maupun perbuatan melawan hukum yang mungkin akan terjadi (onrecht in potentie)28 F. sistematika dan pemikiran tertentu. Bagaimana para pembuat undang-undang itu akan bertindak merupakan fungsi peraturan-peraturan yang mengatur tingkah laku mereka.tentang penelitian dengan mengatakan: Penelitian hukum dimaksudkan sebagai kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode. Dan dari ketiga komponen dasar tersebut. Seidman mengajukan beberapa dalil. Bagaimana lembaga-lembaga pelaksana itu akan bertindak sebagai respon terhadap peraturan hukum yang ditujukan kepada mereka. sanksisanksinya keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial. Ketiga komponen tersebut meliputi: 1) Lembaga Pembuat Peraturan. dan lain-lain yang mengenai diri mereka.29 1. sebagaimana dikutip Satjipto Rahardjo. Dalam teori tersebut. METODE PENELITIAN Pendapat Soerjono Soekanto . Op. sebagai berikut:27 Setiap peraturan hukum memberitahukan tentang bagaimana seorang pemegang peran itu diharapkan bertindak. ideologis. 2. Bagaimana seorang pemegang peran itu akan bertindak sebagai suatu respon terhadap peraturan-peraturan yang ditujukan kepadanya.Peraturan Aktivitas Penerapan Faktor-faktor sosial dan personal lainnya Faktor-faktor sosial dan personal lainnya Umpan Balik Umpan Balik xxv Gambar 3. politik. serta keseluruhan kompleks kekuatan sosial. 3. aktivitas dari lembaga-lembaga pelaksana. serta umpan-umpan balik yang datang dari para pemegang peran serta birokrasi. sanksi-sanksinya keseluruhan kompleks kekuatan-kekuatan sosial.Cit. Diagram Chambliss dan Seidman mengenai Proses Penegakan Hukum. 2) Lembaga Penerap Peraturan.28 xxvi dan lain-lain yang mengenai diri mereka. 27 Satjipto Rahardjo. 1. Robert B. politik. politik.

1986. meneliti dokumendokumen atau berkas. Undang-Undang No. Sedangkan. Pengantar Penelitian Hukum. Metode Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data untuk penyusunan dan pembahasan penulisan hukum ini. xxviii 2) Wawancara dengan daftar pertanyaan yang bersifat terbuka. Sumber sekunder yang digunakan berupa dokumen atau Konsep KUHP 2008. 4. Wawancara/interview 1) Wawancara secara langsung kepada pihak-pihak yang bersangkutan sebagai responden. Untuk data sekunder. Penerbit Alumni. Metode Analisis Data Setelah data berhasil dikumpulkan. 2. xxvii Sumber data yang digunakan dari sumber primer dan sumber sekunder. selanjutnya akan dianalisa secara kualitatif dengan penguraian secara deskriptif. Spesifikasi Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Bandung. Deskriptif. karena penelitian ini bertolak dari peraturan-peraturan yang ada sebagai norma hukum positif. 1981. dan ahli kedokteran forensik Yogyakarta. hakim. data empiris digunakan data primer dari hasil wawancara dengan polisi. Oleh karena itu. dengan menggunakan pedoman yang berupa penanggulangan pembunuhan bayi.23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Di samping itu.Permasalahan pokok dalam penelitian ini merupakan bagian pokok dari penegakan hukum. c. data primer lebih bersifat sebagai penunjang. 29 Soerjono Kapita Selekta Hukum Pidana. penulis memakai metode-metode: a. jaksa. Pengadilan Negeri Bantul. yaitu: KUHP. 5. Peraturan Pemerintah No. karena berkas yang berkaitan dengan pembunuhan bayi. Soekanto. sehingga tidak menutup kemungkinan diajukannya pertanyaan-pertanyaan baru. Jakarta. digunakan pula data sekunder yang berupa putusan perkara pembunuhan bayi di Pengadilan Negeri Kota Yogyakarta dan Pengadilan Negeri Sleman. sumber primer yang digunakan berpusat pada perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang mengatur tentang pembunuhan bayi. pendekatan yang digunakan adalah pendekatan yang berorientasi pada pendekatan hukum yang ditempuh lewat pendekatan yuridis normatif . Kepustakaan (Library Research) Yaitu dengan mempelajari buku-buku jurnal. dalam arti pertanyaan tersebut hanya memuat garis besar saja.UI Press. Data dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder.26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter. 3. b. Teknik Dokumentasi Yaitu mengumpulkan data dengan cara mempelajari. Jenis Data 28 Soedarto. makalah dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan penelitian ini. Normatif. sepanjang masih ada hubungannya dengan permasalahan. ahli medis serta hasil penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya yang menyangkut pembunuhan bayi. pendapat para ahli hukum. karena penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan secara . disajikan secara sistematis.

bahwa kalau ada alasan pemaaf.keseluruhan dan sistematis mengenai kebijakan legislatif dalam merumuskan peraturan perundangan yang berlaku sekarang dan yang akan datang. Pengantar Ilmu Hukum Pidana. Perbuatan pidana (criminal act) harus dibedakan dengan pertanggung jawaban pidana 30 Moeljatno. 1983 xxxi (criminal responsibility). Unsur perbuatan pidana adalah sifat melawan hukumnya perbuatan. (3) penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi. khususnya apabila dikaitkan pengertian pembunuhan bayi oleh ibu kandung sendiri (infanticide) baik disengaja maupun direncanakan akibat perzinahan dan perkosaan. sedangkan unsur pertanggung jawaban pidana adalah bentuk-bentuk kesalahan yang terdiri dari kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa) serta tidak adanya alasan pemaaf. dari penelitian berikut akhirnya. yang lazim disebut dengan actu reus. Pengertian Pembunuh Bayi Menurut Perundang-undangan Di Indonesia. Perbuatan Pidana. serta penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di DIY. Dan Pemidanaan. maka Bab III berisi tentang Hasil Penelitian dan Pembahasan. terdakwa harus dilepas dari tuntutan hukum (ontslag van rechtsvervolging). Roeslan Saleh juga mengatakan bahwa perbuatan pidana itu dapat disamakan dengan criminal act. dalam berbagai tulisannya pernah mengatakan bahwa perbuatan pidana dapat disamakan dengan Criminal act. xxx BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. PERBUATAN PIDANA. Yogyakarta. Alasan pemaaf yaitu alasan-alasan yang menghapuskan kesalahan dari terdakwa. xxix Sesuai dengan uraian dalam Bab I dan Bab II. Konsep Pemberian Pidana dalam kasus pembunuhan Bayi Di Wilayah DIY. Criminal act menurutnya berarti kelakuan dan akibat. (2) praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi di wilayah DIY. yang dirumuskan dalam perundang-undangan dimasa datang. Pertanggung jawaban Pidanna.30 Senada dengan pendapat Moeljatno. Oleh karena itu pengertian perbuatan pidana tidak meliputi pertanggung jawaban pidana. SISTEMATIKA PENULISAN Penulisan. G. Moeljatno. untuk Bab I: Pendahuluan dilanjutkan Bab II: Tinjauan Pustaka. akan dibahas tentang: A. Beliau menolak dengan tegas untuk menggunakan istilah tindak pidana sebagai pengganti istilah Strafbaar feit atau delict. Ini berarti. merupakan Penutup yang berisi Kesimpulan dan Saran. PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA DAN PEMIDANAAN Dalam penulisan tesis ini diketengahkan 3 (tiga) masalah :(1) penegakan hukum pidana dalam menanggulangi pembunuhan bayi dalam perundang-undangan dewasa ini. merupakan masalah penting. . B. tesis ini diakhiri dengan Bab IV. C. Adapun asas dari pertanggung jawaban pidana adalah’’ tidak dipidana apabila tidak ada kesalahan’’. jadi berbeda dengan istilah Strafbaar feit yang meliputi pertanggung jawaban pidana.

ini berarti bebas tidak murni (ontslag van rehctsvervolging) sesuai dengan Pasal 191 ayat (2) KUHAP. dalam hal memformulasikan pidana tersebut xxxiii dalam batasan-batasan yang sejelas mungkin dengan sanksi yang tegas. maka dalam amar putusan Pengadilan harus memuat rehabilitasi yang berbunyi: “Memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan. yaitu dalam aspek lamanya pidana. sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) BABV tentang Rehabilitasi dalam PP tentang pelaksanaan KUHAP. Aksara Baru. dengan menamakan kesengajaan dan kealpaan itu sebagai bentuk-bentuk kesalahan. 32 Roeslan Saleh. Dalam praktek Pengadilan. dan upaya hukumnya adalah kasasi ke Mahkamah Agung RI. yaitu lebih luas dari pada bertentangan dengan undang-undang. penulis akan membatasi pembicaraan dalam konteks.sesuai dengan pasal 191 ayat (1) KUHAP. Sifat melawan hukum dari pada perbuatan pidana’’adalah bagian dari Ilmu Hukum Pidana. Sifat Melawan Hukum dari Perbuatan Pidana. sehingga pidana dapat diartikan sebagai susunan dan pemidanaan diartikan sebagai cara. Perbuatan pidana dan Pertanggung Jawaban Pidana. hal 150.Alasan pembenar inilah yang menghapuskan sifat melawan hukumnya perbuatan. Memulai pembicaraan ini. Beliau menambahkan bahwa32. Cetakan ketiga. 1981. Berbicara tentang pidana dan pemidanaan sangat luas sekali lingkupnya. ‘’Untuk menentukan ada tidaknya kesalahan. Strafaatmaat. sehingga dapat mereaksi perbuatan pidana yang dilakukan oleh individu maupun oleh Badan hukum.1981. Apabila ada alasan pemaaf. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hukum pidana merupakan hasil konsruksi lembaga yang berwenang. Selain dari pada peraturan undang-undang disini haruslah diperhatikan aturan-aturan yang tidak tertulis. bahwa sifat 31 Roeslan Saleh. oleh karena itu dalam pembahasan kali ini. Sifat-sifatnya ini dilihat pada saat dia melakukan perbuatan pidana’’ 31. Cetakan kedua. xxxii melawan hukumnya perbuatan. yang dimuat dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP.Jakarta. Seperti telah dikemukakan dimuka. terdakwa harus dilepas dari tuntutan hukum. Dalam memformulasikan pidana (susunan). Dalam hal putusan Pengadilan bebas dari segala dakwaan atau lepas dari tuntutan hukuman. kiranya tidak perlu lagi diuraikan mengenai pengertian pidana dan pemidanaan itu secara harfiah/ maknawiah. berarti tidak ada alasan pembenar. Adapun asas daripada perbuatan pidana adalah asas legalitas. kedudukan dan harkat serta martabatnya”. maka yang ditinjau adalah sifat-sifat dari orang yang melakukan perbuatan tersebut. . Aksara Baru. maka terdakwa haruslah dibebaskan dari segala dakwaan (Vrijspraak) yang lazim disebut bebas murni. apabila ada alasan pembenar.. Jakarta. ‘’Bersifat melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum. formulasi pidana dan pedoman pemidanaan nya sehingga dengan demikian dapat terarah dengan jelas. demikian pendapat dari Roeslan Saleh. Namun secara singkat dapat diartikan dalam konsep sistem. hukum pidana dapat dilihat dalam sudut pandang sebagai berikut: a.Roeslan Saleh mengikuti pendapat Moeljatno.

C. Cetakan Ketiga xxxiv A. Tujuan pemidanaan. 28 Januari 2000. Pola pemidanaan . Aspek nilai kesusilaan nasional. walaupun inti deliknya sama. Aspek tujuan dari kebijakan / politik kriminal 3. Jakarta. Diklat Aparatur Penegak Hukum. tetapi dalam perkembangan terakhir Maret 1993. 34 Bahan Ceramah. dimana remaja sebagai korbannya. diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.33 Berbicara tentang pembunuhan bayi oleh ibu kandungnya setelah melahirkan yang diatur Pasal 341 dan Pasal 342 KUHP juga terdapat dalam Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak. faktor kriminogen dan dampak negatif . banyak faktor dan alternatif yang perlu dipertimbangkan. delik permukahan ini oleh Konsep tidak lagi dijadikan delik aduan (berarti menjadi delik biasa). Sedangkan pemidanaan(cara) dipandang dalam konteks.b.1981). Perumusan delik perzinahan dalam Pasal 284 KUHP (yang didalam Konsep disebut dengan istilah permukahan) mengalami perubahan redaksional. Pengadilan tidak berwenang untuk memerintahkan upaya-upaya adat tersebut diatas. Depkumdang. Kejahatan dalam arti kriminologi menurut Roeslan Saleh masih dibutuhkan upaya-upaya adat untuk memulihkan kembali keseimbangan masyarakat yang terganggu (misalnya terhadap delik perkosaan). yaitu dalam aspek pelaksanaan pidana. maupun remaja sebagai pelakunya. Sifat Melawan Hukum Perbuatan Pidana (Jakarta. 1. dirubah kembali menjadi delik aduan. Strafaatmodus. dan c. • Sejak Konsep pertama Buku II tahun 1977 (disebut KonsepBAS) s/d Konsep 1991/1992 edisi revisi bulan Desember 1992. Di Pusdiklat Cinere. xxxv 2.Barang siapa dengan kekerasan dan ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dia diluar perkawinan. masyarakat belum bersih dari kotoran batin. melakukan persetubuhan dengan orang lain yang bukan istri/suaminya. Pidana penjara saja tidaklah cukup. baik yang dilakukan oleh orang dewasa maupun remaja. Pedoman pemidanaan. 2. Perumusan delik perkosaan yang diatur dalam pasal 285 KUHP.Aksara Baru. Strafsoort yaitu dalam aspek jenis pidana.34 Dilihat sebagai salah satu delik masalah kebijakan (policy). 1.Hal semacam ini seharusnya dilihat dari pendekatan kebijakan (policy-oriented approach) B.antara lain. kecuali sebagai syarat istimewa pada pidana bersyarat. Barda Nawawi Arief memaparkan sebagai berikut: 33 Roeslan Saleh. dan • Seorang yang melakukan persetubuhan dengan orang lain yang sudah kawin. dan 3. Konsep nilai dan kepentingan yang melatar belakangi sifat dan hakikat delik perzinahan. yaitu: • Pria/Wanita telah kawin. Selain itu masih ada lagi pasal 287 dan pasal 289 KUHP. Adanya aturan dalam Pasal 341 dan Pasal 342 sebagai akibat Pasal 284 KUHP tentang delik perzinahan.

xxxvii Sedangkan Konsep Tahun 2008 KUHP yang baru tidak memformulasikan pembunuhan bayi dalam Pasal 526. 1. atau kepentingan pihak lain di luar istri/suami yang bersangkutan.35 Masalah perzinahan dan lembaga perkawinan dalam pandangan dan struktur sosial budaya masyarakat yang lebih bersifat kekeluargaan. Menurut Rene David. tidak hanya masalah privat dan kebebasan individual. konsekuensinya perzinahan dipandang delik aduan. Sementara di lain pihak ada juga kepentingan umum. liberalism dan individual rights.kaum dan kepentingan lingkungan. Terlebih apabila sudah ada korban di pihak wanita (misal terjadi kehamilan). Sepanjang hubungan seksual/moral itu bersifat individual. 1984. Pengertian Kesengajaan dan Kealpaan Pengertian atau definisi mengenai kesengajaan dan kealpaan tidak kita jumpai dalam KUHP kita saat ini . Jakarta. ini ada hubungannya dengan pembunuhan bayi yang kelahirannya tidak dikehendaki.2007 Ed I. minimal kepentingan keluarga. kolektivistik dan monodualistik. Jadi masalah sentralnya bukan berkisar masalah. (1) Setiap orang yang meninggalkan anak yang belum berumur 7 (tujuh) tahun . Yang melatar belakangi konsep delik aduan menurut WvS (KUHP) yang termasuk keluarga civil law system atau The Romano xxxvi Gormanic Family. keluarga hukum ini dipengaruhi oleh ajaran yang menonjolkan paham individualism. Buku Pedoman Pengadaan Visum Et Repertum. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Kejahatan. Baru yang akan datang bermaksud merumuskan kedua bentuk kesalahan itu. Konsep Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Menurut pandangan ‘’Barat’’yang individualistik-liberalistik. Kencana. Fakultas Kedokteran UGM.4. tetapi masalah sentralnya harus melihat pada masalah pandangan dan konsep nilai masyarakat mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan kesucian dari lembaga perkawinan itu sendiri. hak-hak dan kebebasan individu (termasuk dibidang hubungan seksual/moral) sangat menonjol dan dijunjung tinggi. Dengan demikian dilihat dari sudut kebijakan. bebas tanpa paksaan dianggap wajar dan tidak tercela. Oleh karena itu wajar perzinahan dalam lembaga perkawinan bersifat sangat pribadi (privat). apabila delik perzinahan dijadikan delik aduan absolute (menjadi hak absolut istri/suami untuk mengadu/menuntut). Bagian Ilmu Kedokteran Forensik. tetapi terkait pula nilai-nilai dan kepentingan masyarakat luar. Aspek kepentingan individu dan alternatif teknik perumusan delik aduan.. Soegandhi. Delik perzinahan pada hakekatnya termasuk salah satu delik kesusilaan yang erat hubungannya dengan nilai-nilai kesucian dari lembaga perkawinan. Sedangkan pihak istri dari pria yang menghamili tidak melakukan pengaduan atas dasar perzinahan. Faktor-faktor inilah yang menyebabkan terjadinya kehamilan diluar nikah. 35 Barda Nawawi Arief. sedangkan Pasal 284 s/d 289 KUHP sebagai akibat terjadinya pembunuhan bayi baik yang dilakukan oleh remaja maupun ibu. apakah cukup bijaksana. Cet I 32.Yogyakarta. sehingga kelahiran nya tidak dikehendaki maka seorang ibu nekat membunuh bayinya. Dalam pasal 287 s/d pasal 289 KUHP yang mengatur mengenai delik perkosaan dan percabulan dalam konsep KUHP yang akan datang lebih diperluas. apakah perzinahan itu delik aduan atau bukan.

Pasal 527. Penegakan Hukum sebagai suatu proses yang pada hakekatnya merupakan diskresi menyangkut pembuatan keputusan yang tidak secara ketat diatur oleh kaidah hukum.38 Kebijakan dari Negara melalui badan-badan yang berwenang untuk menetapkan peraturan-peraturan yang dikehendaki dan diperkirakan bisa digunakan untuk diekspresikan apa yang dicita-citakan. Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada Yogyakarta. atau b. maksimum pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 dikurangi 1/2 (satu per dua). pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun. pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun. (2) Pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan: a.39 Dalam konsepsi tujuan demikian. merupakan keajiban Negara untuk satu pihak melindungi mensejahterakan masyarakat pada umumnya dari gangguangangguan perbuatan jahat dan dilain pihak juga berarti melindungi dan mensejahterakan si pelaku kejahatan. secara konsepsional maka inti dan arti penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan hubungan nilai-nilai yang terjabarkan didalam kaidah-kaidah yang mantap dan mengejawantah dalam sikap tindak sebagai rangkuman penjabaran nilai tahap akhir untuk menciptakan. akan tetapi mempunyai unsur penilaian pribadi dan pada hakekatnya diskresi berada diantara hukum dan moral. Seorang ibu yang membuang atau meninggalkan anaknya tidak lama setelah dilahirkan karena takut kelahiran anak tersebut diketahui oleh orang lain. politik hukum adalah: Usaha untuk mengajukan peraturan-peraturan yang baik sesuai dengan keadaan dan situasi pada suatu saat. . dengan maksud agar anak tersebut ditemukan orang lain atau dengan maksud melepas tanggung jawabnya atas anak yang dilahirkan. Ancaman pidana yang didasarkan pada pertimbangan bahwa rasa takut seorang ibu yang melahirkan diketahui orang lain sudah dianggap suatu penderitaan. dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV. Bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman. Buku Pedoman Pengadaan Visum et Repertum. Sedangkan dalam pembunuhan bayi ada yang disengaja dan direncanakan. jika perbuatan tersebut mengakibatkan luka berat pada anak yang ditinggalkan. Dalam ilmu kedokteran hal seperti ini bisa ditentukan sebab-sebab kematiannya contoh apakah dicekik atau dibekap dan akan dituangkan/ditulis dalam Visum et Repertum.dengan maksud supaya ditemukan orang lain. 1984. hal ini bisa dilihat dari tanda-tanda bayi yang telah dilahirkan apakah bayi lahir hidup atau lahir mati. Ini berarti bahwa dalam konsepsi tujuan untuk melindungi dan mensejahterakan masyarakat untuk pandangan hidup bangsa Indonesia.37 Menurut Soedarto. jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya anak yang ditinggalkan. pengertian politik hukum pidana dapat dilihat dari politik hukum maupun politik kriminal. memelihara dan mempertahankan kedamaian pergaulan hidup. sehingga dapat melepaskan tanggung jawab atas anak tersebut. sekaligus 36 Soegandhi. masalah seperti ini akan xxxviii membantu dalam proses peyidikan oleh polisi dan dapat untuk alat bukti di Pengadilan akan mempengaruhi sanksi pidananya.36 Menurut Soerjono Soekanto mengartikan penegakan hukum sebagai berikut.

PT. mendidik dan mensejahterakan si pelaku kejahatan itu sendiri.000. Pasal 80 ayat (3). bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya.000.000. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. atau penganiayaan terhadap anak. Jakarta. Al Gumni 1981).00 (seratus juta rupiah). Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. dituntut dan atau . Pasal 289 KUHP Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul. 1983.00 (tujuh puluh dua juta rupiah). termasuk anak yang masih dalam kandungan. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup.37Soerjono Soekanto. tumbuh. mengatur tentang definisi anak dan perlindungan anak. pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). berkembang. Salah satu asas terpenting dalam pasal 8 Undang-undang No.000. Pasal 297 KUHP.40 Dalam KUHP Pasal 286. maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200. Pasal 1 ayat (2). ditangkap. Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (! ) luka berat. Setiap orang yang melakukan kekejaman. Pasal 1 ayat (1). 38 Sudarto.(Bandung. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72. secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Pasal 80 ayat (1). maka dalam KUHAP yang diutamakan mengenai perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia. ditahan.diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.Alumni. xl Pasal 80 ayat (4). dan berpartisipasi.000.00(dua ratus juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling lama enam tahun. hal 20 xxxix juga mengandung tujuan untuk melindungi. dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya. Setiap orang yang disangka. Hukum dan Hukum Pidana . Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati. memperbaiki. Bahwa tujuan Hukum Acara Pidana adalah memberi perlindungan kepada Hak-hak Asasi Manusia dalam keseimbangannya dengan kepentingan umum. Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum cukup umur. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. RajaGrafindo Persada. kekerasan atau ancaman kekerasan. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100. Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan. ayat (2).1981). 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok-Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi. (Bandung. diancam karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan.hal 159 39 Sudarto Hukum Pidana dan Perkembangan Masyarakat. serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Undang-undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak pada Ketentuan Umum Pasal 1 ayat (1) dan ayat (2). padahal diketahui.000. Pasal 80 ayat (2).

wajib dianggap tidak bersalah sebelum adanya putusan pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan memperoleh kekuatan hukum yang tetap. Kesan yang didapat dari beberapa definisi tentang infanticide adalah merujuk kepada pelaku adalah ibu dari korban.dihadapkan di depan pengadilan. PENGERTIAN PEMBUNUHAN BAYI (INFANTICIDE) DALAM PERUNDANG-UNDANGAN INDONESIA B. ataupun komunitas korban. but at the time of the act or omission the balance of her mind was disturbed by reason of her not having fully recovered from the effect for lactation concequent upon the birth of the child...42 Infanticide juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan yang secara sengaja. Infanticide adalah: Where a women by any wiilful act or omission causes the death of her child. menyatakan bahwa infanticide (bahasa Latin) untuk menggambarkan adanya pembunuhan terhadap anak (child). keluarga.. Being a child under the age of 12 months. she shall be guilty.41 40 UU 41 UU No. yang menyebabkan kematian infant atau bayi. Infanticide adalah di mana seorang wanita dengan sengaja atau karena kelalaiannya mengakibatkan kematian atas anaknya yang berumur di bawah 12 bulan. namun ilmu kriminologi menyatakan bahwa berbagai macam bentuk pembunuhan anak yang bisa juga dilakukan selain ibu dari bayi. pada tahun 2007. xli Bersumberkan pada asas tersebut maka wajar apabila tersangka /terdakwa dalam proses peradilan pidana wajib mendapat hak-haknya sebagai seorang yang belum dinyatakan bersalah maka ia mendapat hak-haknya seperti hak segera mendapatkan pemeriksaan oleh pengadilan dan mendapat putusan seadil-adilnya. dan dinyatakan bersalah sebagai infanticide. dengan korban adalah anak-anak yang dititikberatkan pada bayi. Pada ensiklopedi yang diterbitkan oleh Columbia University Press. Sedangkan menurut Infanticide Act 1938. article I yang disepakati di London.of infanticide.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Hal tersebut dapat dinyatakan sebagai pembunuhan. that but for this act the offence would have amounted to murder.. Namun pada saat tindakan ataupun kelalaiannya tersebut terjadi. atau efek dari menyusui sebagai konsekuensi melahirkan bayi tanpa perkecualian. keamanan dan ketentraman dalam masyarakat baik itu merupakan usaha pencegahan maupun merupakan pemberantasan atau penindakan setelah terjadi pelanggaran hukum. Pada umumnya dilakukan oleh ibunya. yang menyebabkan kematian terhadap bayi yang baru lahir dengan persetujuan atau diketahui oleh orang tua. Sebagaimana diketahui penegakan hukum merupakan salah satu usaha untuk menciptakan tata tertib. yaitu dengan usia di bawah 12 bulan. No.14 Tahun 1970. Secara .1 Pengertian Umum Pembunuhan Bayi (Infanticide) Pembunuhan bayi atau secara umum disebut dengan infanticide adalah sebuah istilah hukum yang menggambarkan tentang pembunuhan anak dengan usia di bawah 1 tahun oleh ibu sang anak. B. then not withstanding. tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. xlii didapatkan gangguan mental dikarenakan oleh alasan belum pulihnya efek dari kelahiran anaknya.

infanticide juga bisa dilakukan oleh orang tua secara umum.2004.43 42 Spinelli. dinyatakan sebagai berikut: Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. d engan kejahatan pembunuhan biasa. Demikian juga yang tertuang pada pasal 342 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sebagai berikut: Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak. Hal ini dapat dicermati adanya unsur-unsur sengaja ataupun terkaitnya unsur tanpa kesengajaan yang dilakukan oleh ibu dari anak yang kemudian melakukan pembunuhan setelah bayi itu lahir ataupun saat bayi itu lahir menjadi batasan terhadap infanticide di Negara Republik Indonesia. Classification and Description of Parents who Commit Filicide. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. KUHAP serta peraturan-peraturan pelaksananya dan Undang-Undang Perlindungan Anak. dan segala bentuk pidana tersebut diberikan oleh Negara dengan xliv asumsi bahwa warga negaranya adalah mahluk yang bertanggung jawab dan dapat mempertanggung jawabkan perbuatannya.Villanola University Journal.umum.page 16 43 Cyle. diancam karena membunuh anak sendiri. kurang dari pada itu disebut sebagai neonaticide. pada saat 24 jam setelah kelahiran. xliii B. C. telah ada dalam KUHP. yang intinya tiada seorang pun dapat . KONSEP PEMBERIAN PIDANA DAN SISTEM PERADILAN PIDANA DALAM KASUS PEMBUNUHAN BAYI Telah disebutkan sebelumnya bahwa pemberian pidana dan penjatuhan pidana dalam praktek peradilan selama ini dengan mempertimbangkan kualifikasi kejahatannya. 2004.2 Pengertian Pembunuhan Bayi (Infanticide) Menurut Perundang-undangan di Indonesia Dalam wilayah tutorial hukum Indonesia yang tertuang pada Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Maternal Infanticide Associated With Mental Illness. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian.. Linda. yang di dunia barat dikenal sebagai filicide.14 Tahun 1970 (Undang-undang ini sudah dicabut). Prevention and The Promised of Saved Lives America Journal. dengan sengaja merampas nyawa anaknya. Dalam praktek pelaksanaannya pedoman pemidanaan yang digunakan oleh hakim adalah Pasal 7 UU Pokok Kekuasaan Kehakiman NO. penyelenggaraan Peradilan bagi ibu dan remaja yang melakukan pembunuhan bayi dalam Sistem Peradilan Pidana. diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. Filicide sendiri lebih spesifik menggambarkan adanya pembunuhan bayi di bawah 12 bulan. Margaret. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Filicide adalah pembunuhan terhadap seorang anak oleh orang tuanya sendiri. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. Sementara remaja dan ibupun dianggap sebagai individu yang dapat sepenuhnya mempertanggung jawabkan perbuatannya. Dengan demikian akan muncul semacam kontradiksi ketika pemberian pidana dan penjatuhan pidana terjadi pada pelaku ibu dan remaja yang melakukan pembunuhan bayi. Dalam Tata Peradilan di Indonesia. pada pasal 341.

BPUNDIP. ialah yang dibuat oleh pembuat UU yang memuat asas-asasyang perlu diperhatikan oleh hakim dalam menjatuhkan pidana. pemidanaan merupakan satu rangkaian proses dan kebijakan yang konkretisasinya sengaja direncanakan melalui tahap ‘dan’formulasi’’ oleh pembuat UU.hal 107 dan 153-154.BP UNDIP. (lihat pula dalam 47Barda Nawawi Arief. penahanan. Tidak seorang juapun dapat dihadapkan ke Pengadilan selain dari pada yang ditentukan oleh undang-undang.op.yang ada hanya aturan pemberian pidana (straftoemettinggregels)’’. agar ada keterjalinan dan keterpaduan antara ketiga tahap. yang mengatakan45. selain atas perintah tertulis oleh kekuasaan yang sah. kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam perundang-undangan yang telah ada. Pedoman Pemidanaan merupakan pedoman bagi hakim untuk menjatuhkan atau menerapkan pemidanan atau merupakan pedoman’’yudicial/yudikatif’’ bagi hakim.46 Pedoman Pemidanaan merupakan pedoman bagi hakim untuk menjatuhkan atau menerapkan pemidanaan atau merupakan pedoman’’yudicial/yudikatif’’bagi hakim.44 Pasal 5 ayat (1). Tidak adanya pedoman penjatuhan pidana ini pernah diakui Sudarto. Barda Nawawi Arief pernah pula mengemukakan bahwa. Pasal 6 ayat (1).cit .dan penyitaan. Tidak seorang juapun dapat dijatuhi pidana kecuali bila Pengadilan karena alat bukti yang sah dan orang yang dianggap bertanggung jawab dinyatakan bersalah. 44 UU No. Pasal 6 ayat (2). ditangkap. Jika sesudah perbuatan dilakukan ada perubahan dalam perundang-undangan. xlv Pasal 8. diperlukan perumusan tujuan dan pedoman pemidanaan”. Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang . Tiada suatu perbuatan dapat dipidana. dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa. tahap ‘’aplikasi’’ oleh badan/aparat yang berwenang tahap’’ eksekusi’’ oleh aparat/instansi pelaksana pidana. Bila dihubungkan dengan Pasal 66 KUHAP tentang Asas Praduga Tidak Bersalah Pasal 1 KUHP: Nulum delictum nula poena sine previa lege punali. penggeledahan. dituntut dan atau dihadapkan ke Pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sampai adanya keputusan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap.14 Tahun 1970. Secara singkat dapat dikemukakan bahwa sebelum seorang hakim ..Semarang 2000 hal144 ) xlvi Dilihat dari fungsional dan operasional. Kebijakan Legislatif Dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. 2. Bunga Rampai Kebijakan Hukum Pidana (Bandung Citra Aditya Bakti. Hukum-Hukum Pidana (Bandung Alumni. Semarang 2002 hal 108. 46 Barda Nawawi Arief. Setiap orang yang disangka. KUHP kita tidak memuat pedoman pemberian pidana (straftoemettingsliddraad) yang umum. tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. ditahan.itu sebagai satu kesatuan sistem pemidanaan. 1986 ). Sehubungan dengan hal tersebut diatas. hal 45-46 (Periksa pula dalam Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana). sebelum perbuatan dilakukan. 1.dikenakan penangkapan.47 45 Sudarto.

5.opcit. sehingga pidana bersifat proporsional dan dapat dipahami dengan baik oleh masyarakat ataupun oleh terpidana itu sendiri. 49 RM Suharto. Hal ikhwal yang mempengaruhi dan menentukan sifat perbuatan dari orang yang melakukan tindak pidana itu merupakan unsur inti dari delik. Cara melakukan tindak pidana. Pasal 342 KUHP dan Pasal 281 KUHP.hal 147-148 xlvii harus diuraikan secara jelas. Tindak pidana dilakukan dengan berencana. Suatu delik dapat terjadi karena adanya kelakuan dan akibat. 7. Jakarta. Dalam kasus ini terdakwa telah melakukan perbuatan telah merampas nyawa orang lain itu segera setelah anak dilahirkan. seperti melalui pendidikan baik . Hal-hal seperti terurai diatas. xlviii BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. khususnya melalui sarana non penal. 3. PENEGAKAN HUKUM PIDANA SECARA UMUM DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANGUNDANGAN DEWASA INI Penegakan hukum dengan penerapan hukum pidana sebagaimana sebelumnya telah dikatakan bahwa menjadi sebuah senjata terakhir apabila upaya lain telah dilakukan. Motif dan tujuan dilakukan tindak pidana. 4. tetapi sifat dan tindak pidana ini masih ada yang mempengaruhi terhadap diri pelaku antara lain berupa hal ikhwal yang menyertai kelakuan dan akibat itu.. Keadaan yang sifatnya mempengaruhi perbuatan tersebut diuraikan dalam surat dakwaan sebagai tambahan unsur yang dapat meringankan ancaman pidana. Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat. Pengaruh tindak pidana terhadap korban atau keluarga korban. Kesalahan pembuat 2. Unsur yang menentukan sifatnya perbuatan (voorwaardendie de straf baarheid bepalen). menunjukkan bahwa perbuatan itu dilakukan karena ada rasa takut akan diketahui orang lain yang merupakan alasan yang meringankan pidana apabila dibanding dengan ancaman pidana terhadap tindak pidana pembunuhan pada umumnya. Kebijakan Legislatif . akan membantu hakim dalam menjatuhkan pidana.49 Bentuk pidana pokok seperti yang diatur dalam Pasal 341 KUHP ini. Sikap batin pembuat. dan 10. adalah sama bentuk sengaja merampas nyawa orang lain seperti yang diatur dalam Pasal 338 KUHP. 6. Penuntutan dalam Praktek Peradilan. Sikap dan tindakan pembuat pidana sesudah melakukan tindak pidana. Hal-hal yang perlu diperhatikan atau dipertimbangkan adalah sebagai berikut48: 1. Cetakan Kedua. sampai di mana pengaruhnya terhadap perbuatan yang dilakukan itu. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat. 9. 2004. Delik yang mengandung unsur yang menentukan sifatnya perbuatan yaitu Pasal 341 KUHP. Sinar Grafika. 8. Pandangan masyarakat terhadap tindak Pidana yang dilakukan. Dalam membuat surat dakwaan unsur ini 48 Barda Nawawi Arief.menjatuhkan pidana.

Dengan berlandaskan beberapa pendapat ahli hukum atau pakar Hukum Pidana. penyelidik wajib segera melakukan tindakan yang diperlukan dalam rangka penyelidikan sebagaimana tersebut pada Pasal 5 ayat(1) huruf b. Penyelidik adalah pejabat polisi negara Republik Indonesia yang diberi wewenang. Cetakan Ketiga. yaitu sebagai ‘’penyelidik dan penyidik’’. Jakarta. (2) Penyelidik yang mengetahui. 2002 l Pasal 7 (1) Penyidik sebagaimana dimaksud Pasal 6 ayat (1) huruf a karena kewajibannya mempunyai wewenang. (2) Syarat kepangkatan pejabat sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) akan diatur lebih lanjut dalam PP 27/1983 50 KUHAP dan KUHP. Pasal 6 (1) Penyidik adalah : a. Sinar Grafika.50 Adapun dasar hukum Penyelidik adalah Pasal 1 KUHAP berbunyi. menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana b. yaitu sebagai bagian integral dari SPP. penahanan. Pejabat Pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. tentang terjadinya suatu peristiwa yang patut diduga merupakan tindak pidana wajib segera melakukan tindakan penyelidikan yang diperlukan.2/2002). penggeledahan. . Penyidik pejabat polisi negara Republik Indonesia b. melakukan tindakan pertama pada saat ditempat kejadian c. xlix Status POLRI sebagai komponen /unsur/subsistem dari SPP sudah jelas terlihat dalam Perundang-undangan yang berlaku saat ini (baik dalam KUHAP maupun dalam UU Kepolisian No. Persoalan perlindungan terhadap korban maupun pelaku tidak hanya menjadi perhatian negara saja akan tetapi telah menjadi perhatian dunia. Status atau eksistensi kepolisian dalam Sistem Peradilan Pidana sudah jelas. Pasal 102 KUHAP berbunyi. maka yang dimaksudkan sebagai penegak hukum dalam Sistem Peradilan Pidana pada rumusan masalah yang pertama dalam penulisan tesis ini adalah mereka yang bertugas dibidang Kepolisian.28/1997 yang sudah diganti dengan UU No. (3) Dalam hal tertangkap tangan tanpa menunggu perintah penyidik. Kehakiman dan Lembaga Pemasyarakatan serta Pengacara yang menangani pembunuhan bayi. Secara internasional hal inipun bisa terlihat dalam laporan Kongres PBB ke 5/1975 (mengenai The Prevention of Crime and Treatment of Offenders. Oleh undang-undang ini untuk melakukan penyidikan. menerima laporan. melakukan penangkapan . menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka. d. It was recognized that the police were component of the large system of criminal justice which operated against criminality. Kejaksaan. atau pengaduan. khususnya dalam membicarakan masalah the emerging roles of the police and other lawenforcement agencies) yang menegaskan .formal maupun non formal dan lain. dan penyitaan. a.

the weak against oppression or intimidation. pemelihara hukum atau penegak hukum harus bersikap jujur dalam Mengurus atau menangani hukum. j. to safeguard lives and property. (4) Kejujuran. memanggil orang untuk diperiksa dan didengar esbagai tersangka atau saksi. Noto Hamidjojo. mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara. and to respect the constituonal rights of all man liberty. norma kemanusiaan menuntut supaya dalam penegakan hukum Manusia senantiasa diperlakukan sebagai manusia.51 (1) Kemanusiaan. protect the innocent againts deception. (2) Keadilan adalah kehendak yang ajeg dan kekal untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang menjadi haknya. Atau dalam kata lain . Di dalam International Association of Chiefs of Police.52 Yang terpenting dalam penegakan hukum haruslah didasarkan pada hati nurani dengan hati nurani kita bisa menilai apakah tindakan kita sudah . (3) Kepatutan atau equity adalah yang wajib dipelihara dalam pemberlakuan undang-undang dengan maksud untuk menghilangkan ketajamannya. Jaksa (Penuntut). antara lain ditentukan As a law Enforcement officer.e.Notohamidjojo. 1970. i. Etika profesi hukum itu harus dijadikan pedoman para penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya menciptakan ketertiban didalam masyarakat.1975 lii menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang curang dalam mengurus perkara. Soal-soal Pokok Filsafat Hukum. Menurut O. sebab ia mempunyai keluhuran budi. my fundamental duty is to serve mankind. Proses Penyidikan Pembunuhan Bayi Bahwa proses penyidikan tindak pidana pembunuhan bayi dilakukan oleh Polri merupakan subsistem dari pada Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) yang terdiri dari Polri (Penyidik). equality and justice. h. mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab 1. dan Pengadilan/Hakim (pemutus perkara). mengadakan penghentian penyidikan. mengambil sidik jari dan memotret seseorang g. Kode Etik Profesi ini jangan hanya dijadikan pajangan yang menghiasi dinding. serta dalam melayani justiciable yang berupaya mencari hukum dan keadilan. Kepatutan perlu diperhatikan terutama dalam pergaulan hidup manusia dalam masyarakat. and the peaceful against violence or disorder. ada empat norma yang harus ditaati oleh para penegak hukum atau para pemelihara hukum yaitu. BPK Gunung Muria. setiap yurist diharapkan sedapat mungkin memelihara kejujuran dalam dirinya dan 51 O. yang memuat Law Enforcement Code of Ethics. f. melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat. li Di dalam melakukan proses penyidikan maka Polri mendasari undang – undang dan ketentuan – ketentuan yang berlaku dengan tetap menjunjung tinggi kode etik profesi dan hak azasi manusia.

Penyerahan berkas perkara Dari keempat kegiatan pokok proses penyidikan pembunuhan bayi maka hasilnya harus memenuhi persyaratan formil yaitu menyangkut format administrasi penyidikan biasanya penyidiknya perempuan dalam kasus ini. patut. Ahli c. Penindak a. Peran Bagian Ilmu Kedokteran Forensik pada Pembunuhan Kasus Bayi Bahwa kembali mengacu pada Pasal 183 dan Pasal 184 KUHAP. Saksi b. Penyidik 2. maka penyidik sekurang-kurangnya harus dapat membuktikan dua alat bukti yang sah untuk dapat diajukan ke sidang pengadilan. Di samping dalam rangka mendukung pembuktian seperti yang diuraikan .Makalah yang disampaiakan pada Simposium Penyelidikan Ilmiah Medis dalam Penegakan Hukum dalam rangka HUT Fakultas Kedokteran UGM ke-58 dan RS Dr Sardjito ke-22.dan persyaratan materiil yaitu yang menyangkut substansi Hukum( unsur-unsur pasal yang dipersangkakan) Pasal 341 KUHP. Pembuatan Resume b.54 54 Kepolisian Negara Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta. Little Brown and Company Boston /Toronto 1975 53 Nyoman Serikat Putera Jaya. liii 3. Penyitaan 52 Richard Quinney. Criminology Analysis and Critique of crime in America. sehingga keterangan saksi dan tersangka yang biasa selama ini dikerjakan oleh penyidik.manusiawi.dengan alasan seorang perempuan lebih halus dan sabar didalam melakukan pemeriksaan. Penahanan d. liv 2. Pemanggilan b. Peran ScientificInvestigation dalam Pengungkapan Kecelakaan/Kejahatan terhadap Manusia.53 Adapun kegiatan pokok dalam rangka proses penyidikan tindak pidana meliputi : 1.dan Pasal 342 KUHP yang kedua-duanya harus terpenuhi. adil. Penangkapan c. Tersangka 4. Pemeriksaan a. Penyelesaian dan Penyerahan berkas perkara a. maka penyidik harus dibantu oleh dukungan Bagian Ilmu Kedokteran Forensik dalam rangka mencapai hasil penyidikan yang lebih profesional dan ilmiah serta juga dalam rangka menciptakan budaya criminalistic mindedness. Penegakan Hukum Dalam Era Reformasi Disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Universitas Pekalongan dalam rangka Dies Natalis XVI dan Wisuda Sarjana XII 5 September 1998 Pengajar pada Fakultas Hukum UNDIP. Penyusunan berkas perkara c. dan jujur. maka peran forensik dalam rangka penyidikan sangat diperlukan dan harus dilakukan karena kapasitasnya sesuai Pasal 184 KUHAP adalah sebagai Keterangan Ahli dan Surat sebagaimana diatur pada Pasal 187 huruf c KUHAP yaitu Surat keterangan dari . Penggeledahan e.

b. Kristal-Kristal Kedokteran Forensik. 1981 56 Kepolisian Negara RI DIY. melakukan pemeriksaan terhadap. a. umur bayi. e.dan sudah dilakukan perawatan /belum. seperti akibat oleh asam kuat( contoh air aki) atau basa kuat serta gas beracun Pembongkaran kuburan dan pemakaman kembali.Budisampurno. Identifikasi melalui daktiloscopy c. penting untuk identifikasi Jenazah yang tidak dikenal/ rusak atau korban pada korban massal.55 Adapun mengenai kemampuan Forensik Polri dalam rangka mendukung proses penyidikan adalah:56 (1) Personal Identification Forensic. yaitu RPK (Ruang Pelayanan Khusus) di rumah sakit Polri maupun Pemerintah yang telah ditunjuk. Jakarta. khusus untuk menangani korban kejahatan ini. yang melakukan tugas antara lain. d. tugas ini diemban oleh fungsi Identifikasi.seorang ahli yang memuat pendapat berdasarkan mengenai sesuatu hal atau sesuatu keadaan yang diminta secara resmi dari padanya. yang meliputi pemeriksaan tentang. 6 Maret 2004 lv (2) Physical Identification Forensic. Herkutanto. yang meliputi. a. . tugas ini diemban oleh fungsi laboratorium Forensic Polri. seperti akibat panas. atau arus listrik Luka akibat kekerasan kimiawi. Odontologi Forensik. Fotography kepolisian. Bagian IKF. sperma. produk industri dan bahan kimia tertentu narkoba keracunan pencemaran dan kerusakan lingkungan material biologis (darah. Cara kematian Sebab kematian Tanda-tanda kematian c.HUT Fakultas Kedokteran UGM Ke 58 dan RS. Simposium Penyelidikan Ilmiah Medis Dalam Penegakan Hukum . tajam atau senjata api Luka akibat kekerasan fisik. Identifikasi raut wajah b. Pemeriksaan pada luka-luka yaitu. Kimia biologi forensik. Penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. 55 Agus Purwodianto. Pemeriksaan bekas gigitan (bite mark) lvi Pemeriksaan odontogram (rumus gigi). Dalam pembunuhan bayi peran penyidik minta bantuan kepada Ahli Kedokteran Forensik untuk menentukan apakah bayi yang ditemukan lahir hidup atau lahir mati . Luka akibat kekerasan mekanis. Pemeriksaan dan penanganan korban mati. DR Sardjito Ke 22. air ludah). Yogyakarta. yang melakukan tugas antara lain. yang dalam hal ini korban dikirim kepada Pusat Pelayanan Terpadu (PPT). seperti oleh benda tumpul.

Keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan . Peranan Penuntut Umum dalam upaya pembuktian pembunuhan bayi Dasar hukum UU No.Gossita Masalah Korban Kejahatan. Tingkat penyesalan terdakwa 57 Arief 58 Kejaksaan . Sebagai Mandatory Prosecutoral System (MPS). lvii b. 2008. Kemampuan penyidik yang masih terbatas baik terhadap perundangundangan maupun pemahaman terhadap peran forensik. Faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam mengajukan Tuntutan Pidana:58 1.(3) Pembutan VER (Visum et Repertum) sebagai Keterangan Ahli dokter Polri maupan dokter Pemerintah.Jakarta 1983. 1. Sebagai Discetionary Prosecutorial System (DPS). Jaksa dalam menangani perkara hanya berdasarkan alat-alat bukti yang sudah ditentukan dan tidak terhadap hal-hal yang berada diluar yang sudah ditentukan. c. Kesadaran dan pemahaman masyarakat secara umum terhadap hukum masih belum memberikan kontribusi yang positif. Masih banyak dijumpai keengganan masyarakat untuk bersedia menjadi saksi dalam kepentingan penyidikan. kecuali dalam keadaan tertentu.hal ini sangat menyulitkan penyidik di dalam melakukan pengolahan TKP. Negeri Yogyakarta.Jaksa bisa melakukan berbagai kebijakan tertentu dan bisa mengambil keputusan selain mempertimbangkan alat-alat bukti yang sudah ditemukan. Atribut-atribut pribadi dari terdakwa maupun korban 3. Tingkat pemaafan korban atau keluarga korban 5. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia57 1. lviii 4. Pertimbangan-pertimbanganan kebijakan publik. b.Kumpulan Karangan. 2. juga mempertimbangkan faktor-faktor yang melatar belakangi terjadinya suatu tindak pidana. Di tempat kejadian perkara sering kali dijumpai situasi dan kondisi TKP yang sudah rusak akibat banyak masyarakat yang ingin melihat dan bahkan masuk ke TKP . Secara Internal. dan putusan lepas bersyarat. a. Dukungan peralatan penyidikan dilapangan dan biaya operasional yang masih terbatas. Akademi Pressindo. a. Sleman. 2. 3 Melakukan pengawasan. Bantul. . Secara Eksternal. Di bidang Hukum Pidana: 1 Melakukan penuntutan 2 Melaksanakan Penetapan Hakim dan Putusan Pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. yang meliputi: Visum luar Visum dalam Dalam proses penyidikan pembunuhan bayi masih terdapat hambatanhambatan baik secara internal maupun eksternal antara lain. 2.

3) Perlu diperhitungkan apakah biaya yang harus dikeluarkan (cost) dalam pembuatan suatu undang-undang. tidak lix berperikemanusiaan dan perbuatan yang benar-benar tidak dikehendaki. 2) Berkaitan dengan butir (1). upaya penghapusan pembunuhan bayi tidak hanya berdasar pada instrumen legal tetapi juga harus mampu merubah budaya masyarakat yang permisif terhadap praktek pembunuhan bayi. Bertolak dari pendekatan kebijakan (mencakup kebijakan sosial. 5 Melengkapi berkas perkara dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan tambahan sebelum dilimpahkan ke Pengadilan yang dalam pelaksanaannya dikoordinasikan dengan Penyidik. maka faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan perbuatan pembunuhan bayi sebagai tindak pidana adalah . 4) Selanjutnya perlu juga dipertimbangkan kapasitas atau kemampuan daya kerja dari badan-badan penegak hukum di Indonesia dalam menegakkan ketentuan-ketentuan yang mengatur delik pembunuhan anak (bayi) . Tetapi dalam hal tindak pidana pembunuhan manusia (bayi) menurut penulis pertimbangan tentang biaya (cost) bukan merupakan pertimbangan yang penting hal ini disebabkan karena menyangkut harta dan martabat manusia yang seharusnya dijunjung tinggi. Selain harus pula ditinjau bagaimana kondisi-kondisi yang menyangkut pelaksanaan tugasnya atau cara kerjanya. 5) Akhirnya perlu pula dikaji akibat sosial dari pengkriminalisasian atau pendekriminalisasian dari kejahatan pembunuhan manusia (bayi). 1) Seorang anak (bayi) merupakan aset pembangunan nasional yang sangat besar artinya Masa depan bangsa terletak ditangan generasi-generasi penerus yang bermula dari bayi. sangat dibenci dan merugikan. lx Harus disadari. tingkat profesionalisme. kebijakan kriminal.4 Melakukan penyidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasar undangundang. pengalamannya serta bagaimana penyebarannya di Indonesia. . prosedurnya maupun birokrasinya. misalnya menyangkut tngkat pendidikan. dan kebijakan penegakan hukum yang berkaitan secara integral). Karena masalah pembunuhan bayi (manusia) ini sudah berskala kejahatan transnasional bahkan internasional. misalnya. Selain itu harus pula dipertimbangkan sejauh mana perbuatan membunuh bayi itu telah bertentangan bahkan merusak nilainilai fundamental kemanusiaan dalam masyarakat. Oleh sebab itu perhatian dan perlindungan terhadap seorang anak (bayi) serta kualitas kehidupan adalah sangat penting demi kemajuan bangsa dan negara. Maka harus diprediksi bagaimana kondisi personil aparat penegak hukum baik secara kuantitas maupun kualitas.bagi prilaku atau sikap pelaku pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. perbuatan membunuh bayi yang baru dilahirkan harus ditempatkan pada keadaan yang sangat membahayakan. Penegakan hukum pidana dalam pembunuhan bayi di Indonesia saat ini menggunakan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. menyangkut sistem hukum negara lain.

Pasal 307 KUHP Jika yang melakukan kejahatan kejahatan tersebut Pasal 305 bapak atau ibu dari anak itu. Dengan sengaja merampas nyawa anaknya. yang bersalah dikenakan pidana penjara tujuh tahun enam bulan (2). maka maksimum pidana tersebut dalam Pasal 305 dan 306 dikurangi separuh.takut. 59 Soesilo R. dengan pidana paling lama tujuh tahun. dengan maksud untuk melepaskan diri dari lxi padanya. menempatkan anaknya untuk ditemu atau meninggalkannya. atau meninggalkan anak itu. lxii Kedua pasal ini dalam rumusan sudah jelas dan bisa untuk menghukum/menjerat pelaku tindak pidana pembunuhan bayi. Pasal 306 KUHP (1) Jika salah satu perbuatan tersebut dalam Pasal 304 dan 305 mengakibatkan luka-luka berat.Sedangkan pasal-pasal yang ada hubungannya dengan pembunuhan bayi juga diterapkan ialah Pasal 305 KUHP Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemu. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentar-komnetarnya Lengkap Pasal demi Pasal. benci. dengan sengaja merampas nyawa anakanya. Pasal 308 KUHP Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya. bingung serta rasa nyeri bercampur aduk menjadi satu sehingga perbuatannya itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang. tidak lama setelah melahirkan. diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak. maka penyidik bisa minta bantuan /dokter ahli forensik untuk melakukan pemeriksaan . Seorang ibu yang takut ketahuan melahirkan seorang anak b. dikenakan pidana penjara paling lama sembilan tahun. tetapi mengatur mengenai menempatkan anak dan meninggalkan anak. Dalam pasal 308 ancaman dikurangi separo dengan alasan saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu dimana selain rasa malu . dengan maksud untuk melepaskan diri dari padanya diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. maka pidana yang ditentukan dalam Pasal 305 dan 306 dapat ditambah dengan sepertiga. Untuk mengungkap tindak pidana yang mengakibatkan korban jiwa. Pasal 342 KUHP Seorang ibu. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.59 Kalau dicermati rumusan pasal 305 sampai dengan pasal 308 sudah jelas bukan mengenai pembunuhan bayi. Jika mengakibatkan mati. Pasal 341 KUHP Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak. tetapi harus memenuhi unsur-unsur : a. diancam karena membunuh anaknya sendiri. Bogor 1983. sadar serta dengan perhitungan yang matang Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi lebih ringan bila dibandingkan dengan kasus-kasus pembunuhan lainnya. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya.

Penegakan hukum melalui sistem peradilan pidana harus sesuai dengan cita-cita penegakan hukum pada umumnya yang tercermin pada kebersamaan antara Kepolisian. perampasan hak-hak tertentu dan 3.Hasil pemeriksaan ini dituangkan dalam bentuk Visum et Repertum. atau penganiayaan terhadap anak. Sistem Peradilan Pidana. 60 Susi Hadidjah.00 (duaratus juta rupiah).000. pencabutan hak-hak tertentu. lxiv Sistem peradilan pidana mempunyai perangkat struktur atau sub sistem yang seharusnya bekerja secara koordinatif agar dapat tercapai efisiensi dan .. Kejaksaan.terhadap korban sehingga ditemukan sebab-sebab kematian korban. pidana mati 2. pidana pokok: 1. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau denda paling banyak Rp100. ayat(2). Yogyakarta 1994. Fakultas Kedokteran UGM. 61 Pasal 10 menyebutkan tentang jenis-jenis pidana yaitu. Bunyi pasal 80 dalam Undang-Undang No. 1996).00(seratus juta rupiah).000. 23 Tahun 2002 pidananya lebih berat dan dendanya cukup besar dibandingkan dengan ancaman pidana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. (3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat(2) mati. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10(sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp200. Romli Atmasasmita mengatakan bahwa:62 ‘’Dalam konteks sistem peradilan pidana justru seharusnya lebih diutamakan pandangan yang mengangkat kebersamaan yang tulus dan ikhlas serta positif diantara aparatur penegak hukum untuk mengemban tugas penegakan keadilan hukum (legal justice)’’. pidana tambahan.00 (tujuh puluh juta rupiah) (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud ayat (1)luka berat..60 Pasal 80 Undang-undang No 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman.000. dan ayat(3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya. kekerasan atau ancaman kekerasan. pidana tutupan b. dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun 6(enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp72. pidana penjara 3. 2.000. hal 26. a. lxiii (4) Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1). 1. dan 5. Visum et Repertum Kaitannya Dengan Penyelesaian Perkara Pidana Di Pengadilan.000. pidana denda.ancaman hukuman ditambah sepertiganya. pengumuman putusan hakim 62 Romli Atmasasmita. Sedangkan jenis-jenis pidana diatur dalam pasal 10 KUHP:61 Pasal 80 ayat (4) ini bisa untuk menjerat pelaku tindak pidana pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Lembaga Pemasyarakatan. Eresco.000. Pengadilan . pidana kurungan 4.(Bandung.

Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana. budaya dan juga kota pelajar. sengaja melakukan aborsi atau membunuh bayi yang baru dilahirkan. B. PRAKTEK PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DI WILAYAH DIY Daerah Istimewa Yogyakarta terkenal sebagai kota wisata. maupun sosial. pemidanaan dan pelaksanaan pidana.Untuk mencegah terjadinya korban kejahatan maupun mencegah telah selesai menjalani pidana. mental. (Semarang tanpa nama penerbit . baik fisik. dilain pihak sistem peradilan pidana juga berfungsi untuk mencegah sekunder (Secondary Prevention) yakni untuk mencoba mengurangi kriminalitas diantara yang pernah melakukan melalui proses deteksi.dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. norma agama dan etika.efektifitas yang maksimum.para pelajar dan mahasiswa yang jauh dari orang tua sering kurang pengawasan dan iman yang kurang kuat. mahasiswa dan masyarakat semakin berat. Kombinasi antara efisiensi dan efektifitas sangat penting guna mencapai fungsi sistem Peradilan pidana yang diharapkan. sering terjadi pergaulan bebas yang sampai 63 Muladi. Akhirnya pelajar/mahasiswa sampai hamil dan tidak ada yang mau bertanggung jawab. Kemajuan tehnologi membawa dampak positif dan negatif . Perbuatan seperti ini melanggar hak asasi manusia. Agar setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab tersebut. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun. maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.hal 21 lxv mengakibatkan pelajar/mahasiswa melakukan hubungan layaknya suami-isteri di luar nikah. sehingga berbuat nekat untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum.1995). termasuk anak yang masih dalam kandungan Penulis mengemukakan hasil penelitian bahwa kasus pembunuhan bayi yang dilakukan seorang pelajar bernama T kelas I SMA Swasta hamil oleh pacarnya yang . Muladi berpendapat63 Sistem Peradilan Pidana disatu pihak berfungsi sebagai sarana untuk menahan dan mengendalikan kejahatan pada tingkat tertentu (Crime Containment System). Dalam memberlakukan Undang-Undang tersebut dalam pelaksanaannya dapat mencapai tujuan yang diinginkan pembentuk undang-undang tersebut. memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan. yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. perlu dilakukan upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan tanpa diskriminasi. potensi. Juga ibu kost yang kurang perhatian pada anak kostnya . Pengertian Undang-Undang yang umum adalah peraturan tertulis yang dibuat oleh penguasa pusat maupun daerah yang sah.64 Anak adalah tunas. tidak mengulangi perbuatan mereka yang melanggar hukum itu. Senada dengan Romli Atmasasmita. Dengan menyandang predikat seperti itu . dan berakhlak mulia. Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa. Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya. sehingga tanggung jawab sebagai pelajar. termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia.

Kalau Berita Acara Pemeriksaan sudah lengkap selanjutnya akan diserahkan ke Kejaksaan Negeri Bantul dan sidang perkara pidana di Pengadilan Negeri Bantul. Jaksa Penuntut Umum seorang wanita berpendapat . namun T merasa tidak enak. T terasa mau buang air besar selanjutnya ia berjalan menuju ke Sungai (Kali) Derman dan ditempat tersebut T langsung mengambil posisi jongkok (ndodok) hanya dengan celana diturunkan dan tidak lama kemudian ia merasakan ada sesuatu yang keluar dan ternyata yang keluar tersebut bukan kotoran dan ternyata adalah bayi dari kandungan T. Semula T tidak tahu kalau yang keluar tersebut adalah bayi. mengangkut. 64 Undang-Undang No 23 /2002 Tentang Perlindungan Anak.Bandung. Pol. Ia diperiksa dan didengar keterangannya selaku tersangka dalam perkara pidana. bantuan dokter sangat penting artinya terutama untuk pemeriksaan korban. Penerbit Umbara.tidak mau bertanggung jawab di Kabupaten Bantul. serta mengakui segala perbuatannya .Dr Sardjito. maka Penyidik membawa bayi (anak kandung T) yang baru dilahirkan ke Instalasi Kedokteran Forensik RS . dengan maksud hendak menyembunyikannya kematian dan kelahiran orang itu. dan cara kematian. Keterangan Ahli merupakan alat bukti yang sangat penting artinya di dalam mengajukan tersangka/terdakwa ke pengadilan untuk meyakinkan hakim terhadap kebenaran tindak pidana yang didakwakan kepada tersangka/terdakwa. Dalam hal ini pemeriksaan mengenai apakah korban pada waktu dilahirkan hidup atau tidak. atau menghilangkan mayat. dengan alasan seorang wanita lebih halus dan sabar didalam melakukan pemeriksaan.LP/92/K/X/2007/Sek. sebagaimana dimaksud dalam pasal 342 jo 341jo 305 jo 306 jo 307 jo 306 jo 181 KUHP sesuai dengan Laporan Polisi No.merasa menyesal. namun tidak ketemu T langsung pulang. Daerah Istimewa Yogyakarta. untuk mengetahui sebab-sebab kematian. tidak melapor kepada orang tua ataupun pengurus kampung lainnya. untuk dilakukan pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam atau otopsi. Setelah bayi tersebut hanyut T tidak langsung pulang tetapi tetap mencari selama kurang lebih 30 menit. Praktek penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi Di Wilayah DIY sama saja seperti menangani kasus-kasus tindak pidana umumnya. 2003. dan atau barang siapa mengubur.00 wib.65 Pada hari Jumat tanggal 12 Oktober 2007 sekitar pukul 24.terdadap seorang ibu atau remaja sebagai tersangka. saat kematian. Dalam hal penanganan kasus yang pembuktiannnya perlu mendapatkan keterangan ahli atau Visum et Repertum. lxvi Berita Acara Pemeriksaan oleh penyidik. menyembunyikan. Umur T 18 (delapan belas) tahun sedangkan yang menghamili laki-laki bernama S umur 23 (dua puluh tiga) tahun. Jts tanggal 13 Oktober 2007 lxvii perempuan. Dalam kasus pembunuhan bayi.Pada kasus ini sebagai penyidik dan penuntut umum adalah seorang 65 wawancara dengan Penyidik Polres Bantul: Dengan sengaja seorang ibu menghilangkan jiwa anaknya ketika dilahirkan atau tidak berapa lama setelah dilahirkan karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan.namun saat akan dibawa naik tersebut T terjatuh dan ari-arinya putus sedangkan bayinya hanyut disungai dan ia cari tidak ada. Pada kasus dengan tersangka T dalam pemeriksaan berjalan lancar dan semua pertanyaan yang diajukan penyidik dijawab dengan tenang dan lancar. kemudian T menengok ternyata bayi selanjutnya ia pegang pada bagian leher belakang ternyata bayi tersebut sudah tidak bergerak dan tidak menangis selanjutnya dibawa keatas.

. sehingga oleh karenanya Majelis hakim harus mempertimbangkan terlebih dahulu dakwaan alternatif kesatu yang tercantum dalam pasal 80 ayat (4) Undang-Undang No 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak adalah sebagai berikut. Terdapat memar pada otot leher kanan kiri akibat kekerasan tumpu pada kepala sehingga mengakibatkan pendarahan pada otak. 1.(seribu rupiah). SpF dengan hasil kesimpulan: 1. cukup bulan. tidak ada tanda-tanda perawatan.Menjatuhkan Pidana terhadap terdakwa T dengan pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dikurangi selama terdakwa dalam tahanan. jenis kelamin perempuan. Terdapat memar pada seluruh atap kepala.Menetapkan supaya terdakwa di bebani membayar biaya perkara sebesar Rp 1000.Satu potong rok panjang berbahan jean warna biru dikembalikan pada terdakwa . Dakwaan terhadap terdakwa tersebut disusun secara dakwaan alternative. Di persidangan telah di hadapkan T sebagai terdakwa yang telah membenarkan semua identitasnya sebagaimana termuat dalam surat Dakwaan Jaksa Penuntut Umum.. Dalam sidang pengadilan Negeri Bantul Majelis Hakim setelah memperhatikan keterangan saksi-saksi dan keterangan Terdakwa. Membunuh Anaknya sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 341 KUHP oleh karenanya Jaksa Penuntut Umum menuntut: . Selama dalam pemeriksaan persidangan terdakwa mampu dan bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatan dan tidak pula ditemukan alasan-alasan pembenar maupun alasan pemaaf yang dapat menghapus .. terdapat jendolan darah pada otak bagian belakang akibat kekerasan tumpul. Surya Putra P. 3. Jenasah orok. Setiap orang dalam UU no 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 1 huruf a adalah orang perseorangan yang merupakan subyek hukum yang sehat dan mampu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya. tidak ada tanda-tanda cacat bawaan. barang bukti dan Visum et Repertum ternyata antara satu dan lainnya terdapat persesuaian sehingga diperoleh fakta-fakta yang mana dari fakta-fakta tersebut selanjutnya akan Majelis lxix Hakim pertimbangkan apakah perbuatan yang dilakukan terdakwa tersebut memenuhi kesemua unsure dari pasal yang di dakwakan oleh Jaksa Penuntut umum kepada Terdakwa.Menyatakan barang bukti berupa . Hasil Visum et Repertum dari RS Dr Sasdjito No 149/2007 tanggal. 2.Satu potong celana dalam warna putih .2 (dua) ampul PP tes kehamilan yang dinyatakan positif . Perbuatan terdakwa melanggar ketentuan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 341 KUHP .21 Oktober 2007 yang di tanda tangani oleh Dr IBG. .Satu potong kaos lengan panjang warna biru. lxviii .bahwa terdakwa T telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana.

maka terhadap terdakwa haruslah di nyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ‘’Melakukan kekejaman terhadap anak yang dilahirkan’’. atau ancaman kekerasan atau penganiayaan. mengharuskan hakim menggali. melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya. lxxi Berdasarkan fakta-fakta di persidangan maka benar pada hari kamis tanggal 12 Oktober 2007.Hal-hal yang memberatkan . Pasal 5 Undang-undang No 4 Tahun 2004. Terhadap anak kandung. Terdakwa telah melahirkan anak yang telah di kandungnya hasil hubungan gelap dengan pacar terdakwa.aborsi dan pembunuhan bayi. Melakukan kekejaman. Oleh karena itu pengadilan merupakan tempat pelarian terakhir bagi para pencari keadilan (Lastste-toevlucht). yang akhir-akhir ini dimuat di media massa. Unsur ini adalah bersifat alternatif yang artinya dengan dipenuhinya salah satu unsur maka keseluruhan unsur tersebut telah terpenuhi. Pengadilan mengadili menurut hukum. baik bagi orang dewasa maupun ibu-ibu. kekerasan. Pasal 27 Undang-undang No. lxx Undang-Undang No 4 Tahun 2004 Tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang berbunyi: Pengadilan tidak boleh menolak untuk memeriksa dan mengadili sesuatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak atau kurang jelas. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa remaja merupakan generasi penerus bangsa yang diharapkan dapat menggantikan generasi-generasi terdahulu. Dengan adanya teknologi yang canggih seperti internet.Terdakwa telah menyembunyikan kehamilan dan kelahirannya. Pergaulan bebas sehingga melakukan perbuatan yang melanggar hukum seperti hamil di luar nikah. sehingga dengan demikian unsur setiap orang telah terpenuhi dan terbukti terhadap diri terdakwa. 3. Berdasarkan itu semua bagi hakim tetap berlaku adagium atau pemeo. Oleh karena semua unsur yang didakwakan dalam dakwaan alternatif ke satu telah terpenuhi dan terbukti. . 2.4 Tahun 2004. masuknya kebudayaan barat yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia.dengan kualitas kinerja dan mental yang lebih baik. Sebelum menjatuhkan pidana terhadap terdakwa haruslah di pertimbangkan hal-hal yang menyangkut diri terdakwa. . sehingga remaja bisa mengakses film-film yang melanggar kesusilaan. Terdakwa melahirkan seorang bayi perempuan namun karena panik bayi tersebut telah diperlakukan dengan kejam oleh terdakwa sehingga jatuh ke sungai dan hanyut sampai ke dusun Balakan Sumberagung Jetis Bantul yang akhirnya di temukan sudah tidak bernyawa oleh saksi Budi Marsono dan Doyo Utomo. mengikuti dan memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Ius Curia Novit.pertanggung jawaban Terdakwa.

Terdakwa menyesali perbuatannya .1000. Memerintahkan terdakwa tetap ditahan. lxxiii 3. Memerintahkan agar barang bukti berupa. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 6 (enam) bulan.30 WIB telah melahirkan bayi laki-laki dalam keadaan hidup karena sempat menangis.1 (satu) potong celana dalam warna putih . Sebelum melahirkan terdakwa juga merasakan mulas dan sakit pada perut tetapi tidak minta tolong karena orang tua sedang pergi ke pengajian..(seribu rupiah). UU No 8 Tahun 1981 maupun pasal-pasal dari UU lainnya yang berkaitan dengan perkara ini. Pendapat Penasehat Hukum Terdakwa yang menyatakan bahwa terdakwa adalah sekaligus korban dari perbuatannya bersama dengan pacar terdakwa serta atas pula kesimpulan dan saran dari hasil Litmas yang dilakukan Bapas terhadap diri terdakwa dan keluarga terdakwa maka Majelis Hakim dapat menerima dan lxxii mempertimbangkan namun terhadap saran agar di kembalikan kepada orang tua terdakwa tentulah tidak relevansi karena dari fakta dipersidangan di mana orang tua terdakwa tidak mengetahui atas kehamilan puterinya sehingga sampai melahirkan bayi yang artinya orang tua terdakwa ternyata tidak mampu menguasai perkembangan dan pergaulan terdakwa..Terdakwa masih ingin melanjutkan sekolahnya. Mengingat dan memperhatikan Pasal 80. Menyatakan terdakwa T terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana.Hal-hal yang meringankan .1 (satu) potong kaos lengan panjang warna biru . Menetapkan lamanya masa tahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Tujuan pemidanaan bukanlah semata-mata sebagai sarana balas dendam. pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2008 sekira pukul 06. . 5.1 (satu) potong rok panjang jeans warna biru Dikembalikan kepada terdakwa 6.2 (dua) ampul PP tes kehamilan yang positif . Mengadili: 1. Melakukan kekejaman terhadap anak yang dilahirkannya. 4. UU No 3 Tahun 1997. Atas kesalahan terdakwa akan tetapi lebih bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki tingkah laku terdakwa serta untuk mencegah orang lain berbuat hal yang sama tanpa mengurangi keseimbangan antara keadilan terdakwa dan keadilan masyarakat.ayat (4) UU No 23 Tahun 2002. Nama terdakwa Ny I W. Berdasarkan keseluruhan pertimbangan di atas maka Majelis Hakim berpendapat bahwa putusan yang dijatuhkan terhadap diri terdakwa dalam amar putusan di bawah ini sudah patut. adil dan setimpal dengan kesalahan terdakwa. 2. . . Membebankan pula pada terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.

Visum et Repertum Nomor. Kabupaten Bantul dengan cara jongkok di atas kloset yang ada airnya sehingga bayi masuk ke dalam lubang kloset. Pada hari Kamis sore sewaktu suami terdakwa pulang.Terdakwa melahirkan di WC di rumah terdakwa di Dusun Bongoskenthi RT. 350/51/Sdn/IV/08 tanggal 9 April 2008 yang ditandatangani oleh dr. serta barang bukti yang ada dimana satu dengan lainnya terdapat persesuaian maka didapat petunjuk yang bahwa benar terdakwa IW melakukan tindak pidana kekejaman. Perkataan suami tersebut dan takut pada Polisi maka pada hari Minggu 30 Maret 2008 selepas Isyak terdakwa kemudian membongkar kuburan bayi dengan menggunakan golok /bendo.W. diduga/disimpulkan korban benar dalam kondisi nifas (setelah melahirkan) dan diperkirakan melahirkan dalam waktu lebih dari sepuluh hari sejak tanggal pemeriksaan dikarenakan rahim sudah tidak teraba. kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak yang mengakibatkan mati. dokter pada Puskesmas Kecamatan Sanden Kab. 02. Barang bukti yang diajukan di muka persidangan yaitu: 1. Bantul yang telah memeriksa I. Bantul. Sewaktu kepala bayi kemudian disusul seluruh tubuh masuk ke dalam kloset terdakwa tidak segera menolong tetapi membiarkannya beberapa saat sampai ari-ari keluar dan bayi sudah tidak menangis lagi. Bahwa alasan terdakwa melakukan perbuatannya karena tidak mampu membiayai dan suami yang pekerjaannya sebagai sopir jarang pulang serta mempunyai istri lagi. payudara. Melihat dampak/akibat yang diderita korban/pasien dan pemeriksaan secara medis. umur 40 tahun. Vagina/Jalan lahir. Sanden. Bahwa terdakwa telah memikirkan perbuatan tersebut salama 1 bulan sebelum melahirkan. setelah yakin meninggal lalu lxxiv bayi dibungkus kaos dan dimasukkan ke dalam ember kemudian disembunyikan di dalam kamar kemudian dikubur di samping rumah dekat pohon pisang dan terlebih dahulu terdakwa meminjam cangkul dari saksi Suratijo. warna merah. mengeluarkan air susu. Kecamatan Sanden. 1 (satu) buah cangkul dengan gagang kayu warna kuning gading. Dada. surat. terdakwa menceritakan kepada suaminya bahwa ia telah melahirkan anak dan meninggal kemudian dikubur di samping rumah kemudian suaminya menyarankan agar kuburan tersebut dipindahkan saja. 2. Sewaktu diangkat sudah dalam keadaan biru dan diam untuk memastikan bayinya meninggal terdakwa memegang leher bayi. masih didapatkan darah seperti menstruasi/nifas. mengambil mayatnya lalu menghanyutkannya ke sungai di dekat rumah yng arusnya deras sehingga bayi sampai sekarang tidak diketemukan. Rahim. dengan kesimpulan: 1. Bongoskenthi. Berdasarkan ketentuan Pasal 188 KUHAP dari keterangan para saksi dihubungkan dengan keterangan terdakwa di persidangan. alamat Dsn. sudah tidak teraba lxxv 3. . Murtigading.Puji Astuti. Ds Murtigading.

panjang kurang lebih 1 meter. 8. sehingga kepala bayi masuk ke lubang closet yang ada airnya. 1 (satu) buah ember plastic warna merah. Bahwa pada hari Minggu tanggal 23 Maret 2008 sekira pukul 06. 6. Bahwa untuk menggali tanah untuk menguburkan bayinya terdakwa menggunakan cangkul yang dipinjamnya dari saksi Suratijo. Barang bukti tersebut telah disita secara sah menurut hukum dan telah diperlihatkan kepada para saksi dan terdakwa. surat serta barang bukti yang terungkap di persidangan. lxxvii 7. 4. 1 (satu) potong kaos warna biru lengan pendek bergaris putih. 1 (satu) bilah bendo (golok). 5. terhadapnya yang bersangkutan membenarkan sehingga dapat dipergunakan untuk memperkuat dalam pembuktian. Bahwa bayi terdakwa tidak ditemukan namun disamping rumah terdakwa ada tanah bekas digali(galian baru) yang diatasnya ditaruh batu. maka dapat diketemukan fakta-fakta hukum sebagai berikut: 1. karena suaminya kawin lagi. Kabupaten Bantul terdakwa telah melahirkan bayi laki-laki dalam keadaan hidup(sempat menangis). disekitar tanah tersebut didatangi lalat dan tercium bau busuk/bangkai dan terdakwa mengakui bayinya yang sudah meninggal dikuburkan di samping rumah. Bahwa terdakwa sengaja tidak segera memberikan pertolongan/mengangkat bayinya tersebut malah menunggu hingga ari-arinya/plasentanya keluar. Bahwa ketika dilakukan penggalian kuburan bayi tersebut ternyata mayatnya tidak diketemukan dan terdakwa mengakui bahwa terdakwa telah menggali kembali kubur bayi tersebut dan mengambil mayatnya kemudian membuangnya ke sungai di dekat rumah yang arusnya deras sehingga sampai sekarang tidak diketemukan. lxxvi Fakta-fakta hukum: Berdasarkan keterangan para saksi dan keterangan terdakwa. Kecamatan Sanden. 3. 2. dan masalah kesulitan ekonomi Analisa Yuridis: Bahwa tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa berbentuk alternatif yaitu Pertama Pasal 80 ayat (3) UU No23 Tahun 2002 tentang .02. Bahwa yang melatar belakangi perbuatan tersebut adalah ketidakharmonisan hubungan antara terdakwa dengan suaminya. Ds Murtigading. Bahwa terdakwa sengaja melahirkan di atas closet yang ada airnya. 2. Bahwa saksi Ny Surabinah menemukan tanda-tanda terdakwa telah melahirkan antara lain menemukan darah seperti benang (kiler-kiler) selain itu saksi juga menemukan celana gojak-gajek milik terdakwa yang sedang direndam di ember berbau amis karena terdapat darah yang telah menyatu dengan air serta tingkah laku terdakwa yang aneh dan tidak menyangkal ketika dikatakan telah melahirkan.30 WIB di rumahnya Dusun Bongoskenthi RT. 3. 4. 9. Bahwa tangisan bayi tersebut sempat didengar oleh saksi Anton Huda Wibowo yang rumahnya bersebelahan dengan rumah terdakwa.

Hal-hal yang memberatkan . maka kesimpulannya bahwa tindak pidana yang didakwakan kepada terdakwa dalam dakwaan pertama melanggar Pasal 80 ayat(3) UU No. dengan mengingat fakta-fakta yang terungkap di persidangan dan alat-alat bukti yang ada serta dakwaan yang berbentuk alternatif maka akan membuktikan salah satu dari dakwaan Pertama. lxxviii Kesimpulan.Perlindungan Anak atau Kedua Primair melanggar Pasal 342 KUHP Subsidair.000. Berdasarkan analisa yuridis sebagaimana tersebut di atas.. Yang mengakibatkan mati.(dua puluh juta rupiah) subsidair 4(empat) bulan kurungan. kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak yang mengakibatkan mati. sehingga sudah sepantasnya apabila terdakwa dijatuhi pidana yang setimpal dengan perbuatan yang dilakukan. jumlah kasus selama Tahun 2007 ada 6 kasus yang diperiksa di Instalasi Kedokteran Forensik. Hal-hal yang meringankan. 1. 3) Perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. 2. Barang siapa. tetapi yang sampai ke Pengadilan 3( tiga) kasus disebabkan karena sebagian besar. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak telah dapat dibuktikan secara sah dan meyakinkan bahwa terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana melakukan kekejaman. merupakan kasus pembuangan bayi atau . Pasal 341 KUHP. 2. Pasal 80 ayat (3) UU No. terdakwa terlihat normal dan sehat serta tidak diketemukan adanya alasan pemaaf atau pembenar yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana yang dilakukan. 1) Bahwa terdakwa menyesali perbuatannya 2) Bahwa terdakwa masih mempunyai anak balita 3) Bahwa terdakwa belum pernah dihukum. Melakukan kekejaman. 1) Perbuatan terdakwa sangat kejam karena dilakukan terhadap anak kandungnya yang baru saja lahir yang seharusnya dijaga dan dilindunginya 2) Perbuatan terdakwa telah mengakibatkan korban meninggal dunia. 1 (satu) potong kaos warna biru lengan pendek bergaris putih. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. d. kekerasan atau ancaman kekerasan atau penganiayaan terhadap anak. 3. dengan unsur-unsur sebagai berikut.000. Menyatakan barang bukti berupa. 3. Bahwa dari pengamatan selama pemeriksaan di persidangan. 1. 1 (satu) buah ember plastik warna merah. lxxix Menjatuhkan pidana kepada terdakwa IW dengan pidana penjara 5 (lima) tahun dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan sementara dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan dan denda sebesar Rp 20. c. 1 (satu) buah cangkul dengan gagang kayu warna kuning gading. a. b. Di DIY. panjang kurang lebih 1 meter.

Selain itu. Yogyakarta. Peranan Kepolisian Dalam Penanganan Kasus Kedokteran Forensik. sehingga hal ini secara terselubung atau tidak terangterangan digunakan sebagai pendorong untuk tidak mengirimkan korban/jenasah di Kedokteran Forensik. Informasi minim. 3. dalam hal ini termasuk hubungan seksual di luar pernikahan yang dapat berujung kepada terjadinya infanticide. Mengajarkan kepada anak gadisnya untuk selalu tampil sopan dan santun dalam berpakaian dan bertingkah laku. Misalnya untuk tidak bepergian pada suatu tempat tak dikenal seorang diri hingga larut malam.66 Hasil wawancara penulis dengan Polisi. sejak dini orang tua harus mengajarkan kepada anak gadisnya. . Dari point 1dan 2 menyebabkan kesulitan mengindentifikasikan pelaku. dan orang tua dapat memantau dengan baik perkembangan putera-puterinya. tidak akan sering timbul konflik sehingga anak terutama yang sedang beranjak remaja dapat hidup dengan nyaman dan meminimalisir untuk dapat terjerumus dalam kenakalan-kenakalan remaja. untuk “menjaga dirinya”. lxxxi terhadap anak. orangtua dapat langsung mengingatkan. Tidak ada biaya dari Negara cq. dan mau untuk mendengarkan keluh kesah mereka. tidak ada koordinasi informasi antara masyarakat dengan aparat penegak hukum. 1996. sehingga bila terdapat hal-hal yang menyimpang. keluarga dan lingkungan.Hal semacam ini biasanya terjadi pada masyarakat pelosok. sehingga tidak mengundang orang-orang yang memiliki niat jahat untuk melakukan hal yang tidak senonoh kepada dirinya. Orang tua juga harus bersikap terbuka 66 Sumartono. namun hal ini harus disampaikan secara tepat dan bijaksana sehingga anak akan memahami dengan baik dan benar. Hal yang menjadi kendala adalah . sehingga yang menjadi saksi biasanya perangkat desa. Jaksa dan Hakim di DIY bahwa Upaya Menanggulangi Pembunuhan Bayi/Infanticide dapat dimulai dari kita sendiri. kadang-kadang tersangka pihak keluarga. berpegang teguh terhadap ajaran agama merupakan hal mutlak yang harus diajarkan kepada anak bahkan semenjak mereka masih di usia yang sangat muda. bukan malah memiliki pandangan yang salah mengenai seksualisme. lxxx 4. sejak masih muda sebaiknya orang tua mulai memberikan edukasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual. 2. Pertemuan Ilmiah Koordinasi Pelayanan Kedoteran Forensik. Dengan adanya situasi dalam keluarga harmonis dan tenang. Disamping itu masyarakat jarang mau menjadi saksi . Kesadaran kurang. Sebagai keluarga. rasa kasih sayang antar anggota keluarga harus terus dibina dengan baik. Hal ini dapat mendekatkan anak dengan orang tua. Polri untuk pemeriksaan kedokteran forensik (otopsi). Sedangkan untuk menghindari terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan akibat pemerkosaan. Dengan ketaatan terhadap ajaran agama maka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. 1.penelantaran yang tidak ada tersangkanya. dan penanganan awalnya dilakukan oleh perangkat desa dengan tujuan supaya melaporkan ke polisi. Jadi menutup-nutupi keadaan tersangka.

Empat norma yang harus ditaati oleh para penegak hukum atau pemelihara hukum. masih ditemukan fakta para pelaku tindak pidana pembunuhan bayi ternyata dijatuhkan pidana tidak setimpal dengan jenis dan akibat dari kejahatan tersebut. maka harus kita jaga sebaik-baiknya dan bukan dengan menolak rezeki tersebut. adalah kehendak yang ajeg dan kekal untuk memberikan kepada orang lain apa saja yang menjadi haknya. setiap yurist diharapkan sedapat mungkin memelihara kejujuran dalam dirinya dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang curang dalam mengurus perkara. Atau dalam kata lain. Kepatutan. Notohamidjojo. Hal ini memang disebabkan karena adanya pedoman dan peraturan yang berlaku untuk para Penegak Hukum. yaitu:68 . Masalah rezeki. sebab ia memiliki keluhuran budi. Keadilan. lxxxii C. yaitu:67 1. maka satu hal yang harus kita tekankan pada diri kita dan orang lain adalah bahwa anak merupakan rezeki yang sudah diberikan kepada Allah SWT kepada kita. PENEGAKAN HUKUM PIDANA DALAM PENANGGULANGAN PEMBUNUHAN BAYI DALAM PERUNDANG-UNDANGAN DI MASA YANG AKAN DATANG Sampai saat ini. namun sebagai warga masyarakat yang baik hendaknya kita juga melakukan tindakan-tindakan tersebut kepada orang lain. Hal-hal yang diuraikan di atas hanya merupakan sedikit dari sekian banyak tindakan untuk menanggulangi terjadinya infanticide. Penerbit BPK Gunung Mulia. 4. Soal-soal Pokok Filsafat Hukum.. yang tidak hanya dapat kita lakukan kepada diri kita dan keluarga kita sendiri. para penegak hukum dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus menciptakan ketertiban dan keamanan masyarakat. Kemanusiaan. sudah ada yang mengatur. Penyidik dalam melakukan penyidikan kasus tindak pidana pembunuhan bayi mendasari dengan Undang-Undang dan ketentuan yang berlaku dengan tetap menjunjung tinggi kode etik profesi dan hak-hak asasi manusia. Di dalam penegakan hukum khususnya dalam penanggulangan pembunuhan bayi. atau equity adalah hal yang wajib dipelihara dalam pemberlakuan undang-undang dengan maksud untuk menghilangkan ketajamannya. 67 O. 3. 2. norma kemanusiaan menuntut supaya dalam penegakan hukum manusia senantiasa diperlakukan sebagai manusia. pemelihara hukum atau penegak hukum harus bersikap jujur dalam mengurus atau menangani hukum serta dalam melayani justiciable yang berupaya untuk mencari hukum dan keadilan. 1975 lxxxiii Kepatutan ini perlu diperhatikan terutama dalam pergaulan hidup manusia dalam masyarakat. misalnya dengan mengingatkan atau memberi nasihat. maka manusia tidak berhak untuk melakukan tindakan-tindakan seperti infanticide. Penuntut Umum pun dalam melakukan penuntutan kasus tindak pidana pembunuhan bayi juga mempunyai faktor-faktor pertimbangan yang melatar belakangi terjadinya suatu tindak pidana pembunuhan bayi. Kejujuran.Sedangkan untuk infanticide yang dilakukan sebagai alat pengontrol populasi keluarga karena memikirkan masalah beban ekonomi.

(2) Pembuat tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan: c. Pasal-pasal yang diatur dalam KONSEP KUHP 2008 menurut pendapat para penegak hukum yaitu Penyidik. jika perbuatan tersebut mengakibatkan luka berat pada anak yang ditinggalkan. Pasal 527.00 (dua ratus juta rupiah). Kalau diperhatikan ancaman pidana untuk tindak pidana pembunuhan bayi lebih berat yang terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dari pada . dan ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuanya. Pertimbangan-pertimbangan kebijakan publik Majelis Hakim di dalam memutus perkara atau menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa juga mempunyai pertimbangan-pertimbangan di samping harus memenuhi rumusan pasal-pasal yang dituduhkan. jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya anak yang ditinggalkan. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 200. Keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan 2. sehingga dapat melepaskan tanggung jawab atas anak tersebut.000.1. Atribut-atribut pribadi dari terdakwa maupun korban 3. maksimum pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 526 dikurangi 1/2 (satu per dua). terdapat juga dalam Undang.000.Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. (1) Setiap orang yang meninggalkan anak yang belum berumur 7 (tujuh) tahun 68 UU No. Tingkat penyesalan terdakwa 4. Selain Pasal–pasal dalam KONSEP KUHP 2008.000. Pidana ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat(1). ayat (2). lxxxiv dengan maksud supaya ditemukan orang lain. atau penganiayaan terhadap anak. maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.00 (seratus juta rupiah). Pasal 80: (1) Setiap orang yang melakukan kekejaman. dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau pidana denda paling banyak Kategori IV. pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun.000. Tingkat pemaafan korban atau keluarga korban 5. dipidana dengan pidana paling lama 3 (tiga) tahun 6 (enam) bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72. Pasal 526.16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. kekerasan atau ancaman kekerasan. b. dengan maksud agar anak tersebut ditemukan orang lain atau dengan maksud melepas tanggung jawabnya atas anak yang dilahirkan.000. atau d. Seorang ibu yang membuang atau meninggalkan anaknya tidak lama setelah dilahirkan karena takut kelahiran anak tersebut diketahui oleh orang lain. pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun.00 (tujuh puluh dua juta rupiah) (2) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) luka berat. Penuntut Umum dan Hakim.000. yaitu: a. lxxxv (3) Dalam hal anak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) mati. sebagai berikut: a.

sesuai dengan aspirasi masyarakat. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. faktor yang membentuk maupun yang menerapkan hukum. mungkin berasal dan dirinya sendiri atau dari lingkungan. Lebih jauh beliau berpendapat bahwa halangan-halangan yang memerlukan penanggulangan tersebut antara lain dapat berupa:70 1. Hal ini sudah diterapkan oleh para Penegak Hukum di dalam penyidikan. Tingkat aspirasi yang belum tinggi. yang hendaknya mempunyai kemampuan tertentu. 3) Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum 69 Soerjono Soekanto. sehingga dapat menggerakan partisipasi dari golongan sasaran atau masyarakat luas. terutama kebutuhan materiil. 5. Prinsip yang harus Dipertimbangkan oleh Hakim dalam Memeriksa Kasus Pembunuhan Bayi Menurut Soerjono Soekanto. Keterbatasan kemampuan untuk mendapatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa mereka berinteraksi. sehingga sulit sekali untuk membuat proyeksi. 4. Halangan-halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golongan panutan atau penegak hukum. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan koservatif . 3. yakni sebagai hasil karya cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia. maupun Hakim untuk pertimbangan dalam memutuskan/menjatuhkan pidana. Masyarakat harus dapat berkomunikasi dan mendapatkan pengertian dari golongan dan sasaran. yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan 5) Faktor kebudayaan. antara lain adalah69 : 1) Faktor hukumnya sendiri 2) Faktor penegak hukum.(Jakarta.KONSEP KUHP 2008. penuntutan.hlm 4-5 lxxxvi 4) Faktor masyarakat.Rajawali. di samping mampu membawakan atau menjalankan peranan yang dapat diterima oleh mereka.1983).hal 6 lxxxvii 2. Belum adanya kemampuan untuk menunda pengawasan suatu kebutuhan tertentu. di dalam pergaulan hidup Kelima faktor tersebut diatas menurut Soerjono Soekanto saling berkaitan eratnya. Golongan panutan juga harus dapat memilih waktu dan lingkungan yang tepat di dalam memperkenalkan normanorma atau kaidah-kaidah hukum yang baru. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan. Kecuali itu maka golongan panutan harus dapat memanfaatkan semua unsur-unsur tradisional tertentu. serta memberikan keteladanan yang baik. masalah pokok dan pada penegak hukum (law enforcement) sebenarnya terletak pada faktor-faktor yang mempengaruhinya. 70 Ibid. faktorfaktor tersebut mempunyai arti yang netral sehingga dampak positif atau negatifnya terletak pada isi faktor-faktor tersebut. oleh karenanya merupakan esensi dari penegakan hukum serta merupakan tolok ukur (parameter) dari efektifitas penegakan hukum (law enforcement) Penegakan hukum merupakan golongan panutan dalam masyarakat.

9) Menyadari dan menghormati hak. 2004). 2) Pengadilan harus menjamin bahwa proses peradilan dilaksanakan secara jujur . Muchsin. Seri Hukum Peradilan Kekuasaan Kehakiman Yang Merdeka dan Kebijakan Asasi. melatih dan membiasakan diri untuk mempunyai sikap-sikap sebagai berikut:71 1) Sikap yang terbuka terhadap pengalaman-pengalaman maupun penemuanpenemuan baru. 7) Berpegang pada suatu perencanaan dan tidak pasrah pada nasib (yang buruk). 10) Perpegang teguh pada keputusan-keputusan yang diambil atas dasar penalaran dan perhitungan yang mantap. 71 Ibid hal 6-7 lxxxviii 6) Menyadari potensi-potensi yang ada di dalam dirinya dan percaya bahwa potensi-potensi tersebut akan dikembangkan. Persoalan lain yang ada erat kaitannya dengan masalah kebebasan peradilan dalam usaha pencapaian penegakan hukum di Indonesia untuk mengembangkan sarana kontrol terhadap lembaga peradilan baik yang berupa kontrol dari pada lembaga ilmiah (Scientific Control) maupun kontrol dari masyarakat (Sosial Control). Independence Judiciary dalam arti luas meliputi hal-hal sebagai berikut:72 72 M.Halangan-halangan tersebut selanjutnya oleh Soejorno Soekanto disebutkan dapat diatasi dengan cara mendidik. bahwa persoalan-persoalan tersebut berkaitan dengan dirinya. maka perlu dilakukan pembaharuan baik pada tingkat PPU maupun terhadap aparatur pelaksanaannya. 2) Senantiasa siap untuk menerima perubahan-perubahan setelah menilai kekurangan-kekurangan yang ada pada saat ini. 3) Peka terhadap masalah-masalah yang terjadi disekitarnya dengan dilandasi suatu kesadaran. Untuk dapat mewujudkan sistem penegakan hukum yang berorientasi pada perempuan dan remaja. artinya sebanyak mungkin menghilangkan prasangka terhadap hal-hal yang baru atau yang berasal dari luar seebelum dicoba manfaatnya. Secara spesifik. Kontrol ini memang harus diakui sangat membatasi kebebasan peradilan. 8) Percaya kepada kemampuan ilmu pengetahuan dan tehnologi di dalam meningkatkan kesejahteraan umat manusia. kewajiban maupun kehormatan diri sendiri maupun pihak-pihak lain. namun untuk menegakan obyektifitas maka kontrol yang demikian mutlak diperlukan untuk mencegah kemungkinan disalah gunakan kebebasan yang diberikan kepada lembaga peradilan. 4) Senantiasa mempunyai informasi yang selengkap mungkin mengenai pendiriannya 5) Orientasi ke masa kini dan masa depan yang sebenarnya merupakan suatu urutan.(Jakarta STIH IBLAM. hlm 8 lxxxix 1) Peradilan memiliki yurisdiksi yang tidak terbatas terhadap seluruh isu-isu yang menyangkut peradilan dan harus memiliki wewenang untuk menetapkan apakah isu-isu yang dihadapkan adalah dalam lingkup sebagaimana diperintahkan dalam Undang-undang.

apabila dilakukan pelanggaran sehingga merusak kesadaran hukum yang ada dalam masyarakat itu sendiri. dan orangtua dapat memantau dengan baik perkembangan putra-putrinya. Dengan adanya situasi dalam keluarga yang harmonis dan hangat.Rumah pondokan ataupun kost bebas menjadi sebuah tempat dengan berjuta karakternya. Hal yang demikian sangat erat kaitannya dengan apa yang menjadi fungsi dari pada hukum di dalam masyarakat terutama sekali dalam masyarakat yang sedang membangun yaitu sebagai suatu sarana pembaharuan masyarakat. Hal ini dapat mendekatkan anak dengan orangtua. hal utama sehubungan masalah kesadaran hukum ini adalah:73 Bagaimanakah memberikan kesadaran hukum dalam diri para penegak hukum ini sendiri agar supaya para penegak hukum itu tidak hanya memaksakan pelaksanaan hukum kepada orang lain saja sedangkan ia sendiri. dalam hal ini termasuk hubungan seksual di luar pernikahan yang dapat berujung kepada terjadinya infantiside. sehingga bila terdapat hal-hal yang menyimpang. pelanggaran-pelanggaran hukum oleh para penegak hukum sangatlah merusak kepercayaan masyarakat hukum yang berarti pula akan merusak kesadaran hukum masyarakat. agar pembinaan kesadaran hukum pada masyarakat dapat berjalan dengan baik dan memperoleh hasil yang memuaskan sehingga peraturan hukum dapat diperlakukan secara efektif. Sedangkan upaya penanggulangan pembunuhan bayi dengan memberikan ajaran agama merupakan hal mutlak yang harus diajarkan kepada anak bahkan semenjak mereka masih di usia muda. orangtua dapat langsung mengingatkan. 3) Perlindungan dan hak-hak asasi manusia para hakim dalam melaksanakan tugasnya terutama dalam menghadapi setiap tuduhan-tuduhan dalam rangka melaksanakan tugasnya. Dengan adanya ketaatan terhadap ajaran agama maka dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama. dan mau mendengarkan keluh kesah mereka. Sebagai keluarga rasa kasih sayang antar anggota keluarga harus terus dipelihara dengan baik.dan hak-hak para pihak (yang berperkara) dihormati dan dilindungi. seleksi. 5) Penegakan disiplin para hakim dan penggajiannya. Menurut Abdurrahman. mutasi pelatihan dan promosi hakim . munculnya kemaksiatan dan penyakit masyarakat yang lain tanpa adanya pengawasan terpadu xci .(Bandung Alumni. Sebagai warga negara sekaligus masyarakat dalam lingkup sosial. pencegahan dapat berawal dari apa yang ada di sekitar kita. tidak akan sering timbul konflik sehingga anak terutama yang sedang beranjak remaja dapat hidup dengan nyaman dan meminimalisir untuk dapat terjerumus dalam kenakalan-kenakalan remaja. tidak atau kurang mentaati ketentuan hukum yang sebenarnya berlaku bagi dirinya sendiri. Pendapat Abdurrahman di atas dapat disimpulkan bahwa para penegak hukum seharusnya menjadi contoh atau panutan bagi masyarakat dalam hal mentaati 73 Abdurrahman.1980) xc hukum yang berlaku. untuk itu kesadaran hukum bagi para penegak hukum harus benar-benar ditingkatkan. Aneka Masalah Dalam Praktek Hukum Di Indonesia. Sebaliknya kepatuhan seseorang penegak hukum dalam melaksanakan suatu ketentuan hukum dapat dipandang sebagai langkah pertama kearah pembinaan kesadaran hukum masyarakat. 4) Persoalan rekruitment. Orang tua harus bersikap terbuka kepada anak.

norma . represif. Hukum menyumbangkan peraturan bagi tata kehidupan masyarakat untuk dapat menjaga nilai. Kebudayaan luar yang tak terfiltrasi menjadi masalah yang sangat pelik dihadapi. pelaku. sehingga diharapkan edukasi xcii religi menjadi lebih intens dalam membentuk pribadi-pribadi baru yang bertanggung jawab. Moral dapat dipertebal dengan pendidikan dan religi. sehingga sebuah langkah awal yang diharapkan. Disamping itu masih tetap untuk pedoman para penegak hukum adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. dan komisi khusus dalam menghadapi salah satu tindakan pemusnahan manusia dalam bentuk infanticide atau bahkan aborsi merupakan langkah yang dapat diwujudkan pada awalnya di kemudian hari. dan kontrakan seyogyanya mendapatkan perhatian lebih lanjut.menjadi sebuah keleluasaan tindakan yang mengarah kepada kebebasan tak bertanggung jawab. sehingga belum bisa disosialisasikan xciii BAB IV PENUTUP A. Tata tertib ataupun Peraturan Daerah yang melibatkan para pengusaha rumah pondokan. ataupun pergaulan bebas yang lebih tajam dalam artian lebih tegas. langsung dengan kasus tersebut juga perlu diperhatikan agar ruang gerak ataupun ruang lingkup kebebasan yang tak bertanggung jawab tersebut menjadi lebih terbatas. KESIMPULAN Dari uraian yang telah penulis sampaikan dalam penulisan tesis ini. dan menjadikan phobia ataupun ketakutan bagi pelaku ataupun masyarakat agar tidak terjadi hal-hal tersebut di kemudian hari. Hukum pidana mempunyai fungsi menjadi dasar orang melindungi dan sekaligus mempertahankan keseimbangan hak dan kewajiban masyarakat. Penegak hukum. dan juga kemudahan teknologi global menjadi hal tersendiri yang selanjutnya membutuhkan penanganan multidimensional. perkosaan. kos. moral penyiaran.bermasyarakat dan juga pengaturan kebijakan. Hukum perlu menegakan peraturan baru khusus menangani masalah infanticide. Penegakan Hukum Pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi yang dirumuskan dalam perundang-undangan dewasa ini adalah: Kitab UndangUndang Hukum Pidana sudah mengatur mengenai penanggulangan pembunuhan . Law Enforcement penting untuk lebih bersifat aktif dalam menangani infanticide. Akan tetapi para penegak hukum atau pelaksana hukum mengenai isi Pasal 526 dan Pasal 527 KONSEP KUHP 2008 belum begitu paham. maka dapat penulis simpulkan dalam uraian yang singkat dalam bab ini sebagai berikut: 1. Kemudian informasi didapat. dan punitif tidak menjadi faktor viktimogen. Penegakan Hukum Pidana dalam Penaggulangan Pembunuhan Bayi Pada Masa Yang Akan Datang sudah diatur dalam KONSEP KUHP 2008 yaitu dalam Pasal 526 dan Pasal 527. mengingat kewenangan yang luas sekalipun mengambil hak-hak asasi manusia (menunda hak untuk merdeka atau bebas dengan penjara). Dalam pembaharuan ini harus diusahakan agar sistem peradilan pembunuhan bayi yang bersifat preventif. karena memang belum disahkan dan diundangkan. negara. dan korban tindak pidana.

B. Bandung Alumni. Penegakan Hukum Pidana dalam praktek Penanggulangan Pembunuhan Bayi di Wilayah DIY. Penelitian mengenai penegakan hukum pidana dalam penanggulangan pembunuhan bayi bisa di lakukan lagi pada Daerah yang lebih luas. Kebijakan Legislatif dalam Penanggulangan Kejahatan dengan Pidana Penjara. Masalah Penegakan Hukum dan Kebijakan Penanggulangan Kejahatan. SARAN Dalam penulisan tesis ini penulis menyarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Penegak hukum dan Pelaksana hukum seharusnya juga membaca mengenai KONSEP KUHP 2008 agar bisa memberi masukan atau perbaikan . atribut-atribut pribadi dari terdakwa maupun korban. 3. 1980. BAndung. Semarang. tingkat penyesalan terdakwa. sabar dan hati-hati serta menghormati hak-hak asasi manusia. Barda Nawawi. Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan Hukum Pidana. 3. sedangkan pasal yang berkaitan dengan penelantaran anak diatur dalam Pasal 306 s/d 308 dan Pasal 338.bayi yaitu Pasal 341 dan Pasal 342. Penegakan Hukum Pidana dalam Penanggulangan Pembunuhan Bayi Pada Masa Yang Akan Datang terdapat dalam KONSEP KUHP 2008. KONSEP KUHP 2008 lebih cepat disahkan akan lebih baik untuk pedoman bagi para penegak hukum dan pelaksana hukum. Citra Aditya Bhakti. 2. Penuntut Umum. 2. namun secara garis besar belum mengatur tentang pembunuhan bayi. 2001 __________________. Selain itu juga mempunyai faktor-faktor pertimbangan yang melatar belakangi terjadinya suatu tindak pidana pembunuhan bayi. tingkat pemaafan korban atau keluarga korban. Peraturan-Peraturan/Undang-Undang ini sudah diterapkan oleh para Penegak Hukum/Pelaksana Hukum baik Penyidik. Disamping itu masih tetap untuk pedoman para penegak hukum adalah Undang-Undang No 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. xcv DAFTAR PUSTAKA A. Citra Aditya Bhakti. hanya mengatur tentang penelantaran anak. Aneka Masalah Dalam Praktek Hukum Di Indonesia. keadaan dimana tindak pidana itu dilakukan. Buku-buku Abdurahman. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. BAndung. sudah mengetrapkan peraturan dan Undang-Undang yang berlaku serta Pasal-Pasal yang bisa untuk menjerat pelaku pembunuhan bayi dan pelaksanaannya sama dengan penyelesaian kasus-kasus tindak pidana pada umumnya. Penyidik dalam melakukan pemeriksaan terhadap tersangka pembunuhan bayi biasanya penyidiknya perempuan karena lebih teliti . xciv Jaksa melakukan penuntutan berdasar Pasal 341 KUHP dan Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang No 23 Tahun 2002. pertimbangan-pertimbangan publik. 2001 __________________. hal 15 Arief. maupun Hakim. Selain itu masih ada Pasal 80 ayat (3) Undang-Undang Perlindungan Anak yang ancaman hukumannya lebih berat dibandingkan dengan KUHP. 2000 . yaitu dalam Pasal 526 dan Pasal 527.

Teori Kapita Selekta Kriminologi. Jakarta 1983. Jakarta. ________________. 1983 Soesilo R. Soerjono Soekanto. Bagian IKF FK UI/Lembaga Kriminologi UI Jakarta 1981. Citra Aditya Bhakti. Cet 21. Kapita Selekta Hukum Pidana. Sinar Grafika. Fakultas Kedokteran UGM. Semarang 2001 O. 1975. Nyoman Sarikat. Roeslan Saleh.Budi Sampurna. Bandung 1982. 1975 RM. Fakultas Hukum. Cetakan 21. Rajagrafindo Persada. Masalah Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologis. Cyle. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Classification and Description of Parents who Commit Filicide. Suharto. Jakarta. Kumpulan Hasil Seminar Nasional ke-1 s/d ke-. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum. Eresco. Bandung 1983. 1978. Bogor 1983. 1984 Sofwan Dahlan. Agus. Boston/Toronto. Hukum dan Masyarakat. Jakarta: Sinar Grafika. Teori-teori Kebijakan Pidana. Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana. Yogyakarta. 2002. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. . Bandung. Cetakan Kedua. Suatu Reorientasi Dalam Hukum Pidana. xcvi Purwadianto. Aumni Bandung. 2004. Soegandhi. 2000. Penerbit BPK Gunung Mulia. Aksara Baru. Aksara Baru. Penuntutan Dalam Praktek Peradilan.__________________. Richard Quinney. Kapita Selekta Hukum Pidana. Sari Kuliah Perbandingan Hukum Pidana. 1981 ______. Kristal-kristal Ilmu Kedokteran Forensik. Ilmu Kedokteran Forensik Pedoman Bagi Dokter dan Penegak Hukum. Jakarta 2002. Putra Jaya.. Analysis and Critique of Crime in America. Sistem Peradilan Pidana Bandung Eresco 1996 hal 26. Muladi dan Barda Nawawi Arief. Notohamidjojo. Jakarta. Nyoman Serikat Putera Jaya. dan Konvensi Hukum Nasional 2008. Linda. ________________. PT RajaGrafindo Persada. Semarang 2001.Villanola University Journal Moelyatno. ____________. Jakarta. Satjipto Rahardjo. Criminology. 1986. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Romli. Bagian Ilmu Kedokteran Kehakiman. Badan Pembinaan Hukum Nasional-Departemen Kehakiman. 2008 Atmasasmita. 2001. PT. Kapita Selekta Hukum Pidana. BP. Jakarta. 2004. Rajawali. 2002 __________________. Pustaka Magister. Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang. CV. Penelitian Hukum Normatif. Soal-soal Pokok Filsafat Hukum. Bunga Rampai Kebijakan Kriminal. Herkutanto. Pidato Pengukuhan Guru Besar. __________________. Penerbit PT. ________________. Buku Pedoman Pengadaan Visum et Repertum. Semarang. Little Brownond Company.2001. Jakarta. Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) serta Komentarkomnetarnya Lengkap Pasal demi Pasal. Universitas Indonesia. ________________. Universitas Diponegoro. Sinar Grafika.

1981 xcvii Sumartono. Susi Hadidjah. Jurnal Pembaharuan Hukum Volume 1/No.8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. dan Makalah Undang-undang RI No. Jurnal Pembaharuan Hukum Volume 3/No 2/Oktober 2007. Pertemuan Ilmiah Koordinasi Pelayanan Kedokteran Forensik. Yogyakarta. 1996. 6 Maret 2004.39 tahun 1999: Tentang Hak Asasi Manusia Undang-undang RI No. Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UNDIP Semarang.23 Tahun 2002: Tentang Perlindungan Anak Undang-undang RI No. Visum et Repertum KaitannyaDengan Penyelesaian Perkara Pidana Di Pengadilan. 1994. Undang-undang. Undang-Undang RI No.page 16.Spinelli.16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia Undang-Undang RI No. Peranan Kepolisian Dalam Penanganan Kasus Kedokteran Forensik. Sudarto. 2004. Jurnal. Maternal Infanticide Associated With Mental Illness. America Journal. Prevention and The Promised of Saved Lives.2/Februari 2006. Fakultas Kedokteran UGM. B. Hukum dan Hukum Pidana.14 Tahun 1970 Tentang Pokok-pokok Kekuasaan Kehakiman. Makalah disampaikan pada Simposium Penyelidikan Ilmiah Medis dalam Penegakan Hukum dalam Rangka HUT Fakultas Kedokteran UGM ke-58 dan RS Dr Sardjito ke-22. Peran Scientific Investigtion dalam Pengungkapan Kecelakaan/Kejahatan terhadap Manusia. Margaret. Masalah-Masalah Hukum Edisi II/Juli-September 1998 Majalah Ilmiah Fakultas Hukum UNDIP Semarang Surat kabar Kedaulatan Rakyat 12 Oktober 2007 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat 24 Maret 2008 Surat Kabar Kedaulatan Rakyat 11 September 2008 Xcviii Bunuh Bayi Posted by admin in Health 0 Comments 25Apr . Kepolisian Negara RI Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana UNDIP Semarang.

seperti stillbirth dan sudden infant death syndrome. (2) DEFINISI Infantisida adalah tindakan pembunuhan terhadap bayi baru lahir atau bayi yang berusia dibawah 12 bulan (1 tahun). Pelakunya biasanya adalah sang ibu. (3) Neonaticide adalah tindakan pembunuhan terhadap anak berumur 24 jam setelah kelahirannya. menghilangkan nyawa bayi yang baru lahir (dalam segala keadaan) adalah pembunuhan. bersalah namun gila atau menyembunyikan kelahiran tergantung keputusan juri. walaupun demikian keadaan demikian tetap berlaku sebagai pembunuhan…” dia dinyatakan bersalah telah melakukan infantisida secara kejam dan kemungkinan dapat diancam atau dihukum seperti dia telah membantai manusia. bahwa bayi dan anak-anak bukan hanya orang dewasa kecil dan mereka mempunyai problem yang unik masing-masing. jika dia didakwa melakukan pembunuhan. Pencegahan juga dibuat pada keadaan. dimana mempunyai aspek medikolegal yang penting. sebagai tuduhan alternatif dari pembantaian. Undang-undang Infantisida tahun 1922. Sangat penting diingat. tetapi pada saat itu kegiatan melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan tersebut keadaan pikirannya terganggu dengan alasan belum pulih dari pengaruh melahirkan dan pengaruh menyusui setelah melahirkan. yang mengatur tentang kejahatan infantisida membatasi kemungkinan terjadinya hal ini. namun tidak mendefinisikan keadaan “baru lahir” dan apakah benar adanya kemungkinan lanjut bahwa menyusui juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan mental secara sementara. (2) Undang-undang Infantisida tahun 1938 bagian 1 menyebutkan “Ketika wanita melakukan tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kematian anak kandungnya yang berusia di bawah 12 bulan. Mereka juga sangat tergantung dari orang lain dan mempunyai kecenderungan untuk mengalami kekerasan. tetapi ada gambaran yang spesial untuk cedera pada bayi dan anak-anak yang perlu diperhatikan. Keadaan ini tidak mengijinkan fakta bahwa melahirkan dapat berefek yang secara sementara mengganggu keadaan jiwa ibu sehingga dia harus bertanggung jawab atas tindakan membunuh anaknya. baik fisik maupun seksual. (4) Pembunuhan bayi menurut hukum pidana Indonesia ialah pembunuhan terhadap bayi yang . (1) Sampai tahun 1922.Hasil dan akibat dari penyakit dan trauma pada umumnya sama untuk semua korban atau pasien.

yakni fase embrio murni. Meskipun ia dapat menyembunyikan kandungannya. 2. (3) Untuk dapat dituntut sebagai pembunuhan bayi. fase embrio lanjutan. sehingga perbuatannya itu dianggap dilakukan tidak dalam keadaan mental yang tenang. yaitu : 1.dilahirkan hidup yang dilakukan oleh wanita yang melahirkannya pada saat bayi tersebut dilahirkan atau tidak lama setelah dilahirkan. takut. Si pelaku haruslah ibu kandung korban 2. Inilah yang menjelaskan mengapa ancaman hukuman pada kasus pembunuhan bayi lebih ringan bila dibandingkan dengan kasus pembunuhan lainnya. serta nyeri bercampur aduk menjadi satu. benci. (5) Berdasarkan penjelasan diatas. yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan. supaya tidak ada orang yang menyaksikan ia telah melahirkan anak. serta dengan perhitungan matang. jaksa harus membuktikan bahwa bayi dilahirkan dalam keadaan hidup dan kematian bayi itu adalah akibat tindakan criminal berupa kekerasan terhadap bayi tersebut. belum dapat bergerak dan peredaran darahnya belum berjalan sebagaimana mestinya. oleh karena anak tersebut adalah anak sebagai hasil hubungan gelap. Alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan akan melahirkan anak 3. Pada waktu ini belum . sadar. Karena adanya rasa takut akan ketahuan melahirkan anak. Unik dalam arti si pelaku pembunuhan haruslah ibu kandungnya sendiri. (6) Pada kasus bunuh bayi. maka dokter harus memeriksa mayat bayi dan ibu (tersangka) untuk mencari bukti berupa tanda-tanda baru melahirkan. (6) Pada kasus pembunuhan bayi terdapat 3 unsur yang penting. dan fase foetus murni. harus memenuhi syarat sebagai berikut : 1. Selain kedua hal tadi. tetapi ada beberapa orang dekat yang mengetahuinya. Saat dilakukannya kejahatan tersebut dikaitkan dengan keadaan mental emosional dari si ibu. yaitu pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. (5) Perkembangan janin di dalam kandungan dibagi menjadi 3 fase. Sedangkan tidak lama setelah dilahirkan berarti sejak selesainya proses kelahiran sampai dengan selesainya perawatan post partus. Dalam hal ini. Telah lama sekali diketahui. pengertian pembunuhan bayi dapat diartikan membunuh feotus yang hidup dalam kandungan dan membunuh bayi yang hidup pada saat dilahirkan. organ-organ vital telah ada dan peredaran darah sudah berfungsi sebagaimana mestinya. Feotus murni adalah janin yang berusia 16-40 minggu yang bentuknya telah menyerupai manusia secara sempurna. Adanya rasa takut akan ketahuan melahirkan anak. (5) Bunuh bayi adalah merupakan suatu bentuk kejahatan terhadap nyawa yang unik sifatnya. atau diberi pakaian. keunikan lainnya adalah saat dilakukannya tindakan untuk menghilangkan nyawa si anak. si calon ibu jauh sebelumnya berusaha menyembunyikan kehamilannya. selain rasa malu. bila kontraksi rahim atau his sudah mulai teratur. Pembunuhan dilakukan pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. dibersihkan. bahwa seorang bayi yang bayi lahir mudah sekali menjadi korban tindakan criminal . yang dalam hal ini patokannya adalah sudah ada atau belum ada tanda-tanda perawatan. Anak mulai dilahirkan. Embrio murni adalah janin yang berusia 2-8 minggu post konsepsi yang bentuknya segumpal darah dan belum dapat disamakan dengan manusia walaupun telah hidup. dipotong tali pusatnya. ia berusaha bersembunyi. dan alasan atau motifasi untuk melakukannya kejahatan tersebut adalah karena si ibu takut ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak. Embrio lanjutan adalah peralihan embrio menjadi foetus yang berusia 9-16 minggu yang bentuknya telah menyerupai manusia tapi belum sempurna. Pembunuhan segera dilakukan pada saat anak dilahirkan atau tidak berapa lama kemudian. Pada waktu melahirkan anak. Pada saat dilahirkan diartikan sejak mulai terjadinya kelahiran bayi sampai dengan keluarnya plasenta secara tuntas.

yang dapat tergantung dari perubahan struktural yang kecil. pisau dan alat potong lainnya 6 kasus. Untuk tujuan saat ini perbedaan kecil dalam diagnosis. menutup lubang pernapasan dengan kain basah. akan tetapi bila tenaga yang diberikan terlalu besar (dimana hal tersebut sering terjadi) maka akan meninggalkan bekas kekerasan. yang dapat menyingkirkan kemungkinan jeratan tak sengaja dan menunjukkan penggunaan tali pusat oleh ibunya (atau orang lain) sebagai alat jerat. Pada kejadian tersebut juga dapat ditemukan tanda kekerasan pada leher bayi. ia dapat melakukan beberapa tindakan : mencekik. Perhatian saat ini adalah untuk mempertimbangkan cara yang mungkin untuk infantisida atau membunuh dan untuk menunjukkan diperlukannya perhatian sebelum menyatakan temuan-temuan yang ada sebagai bukti tindak kriminal. c) Kekerasan tumpul pada kepala Infantisida dengan menghantam kepala bayi ke dinding atau lantai jarang terjadi. a) Penjeratan Penjeratan adalah cara yang umum. b) Pembekapan Pembekapan adalah cara yang mudah dan nyaman dan dapat tanpa meninggalkan bekas. di Amerika Serikat. Data tahun 1999. untuk memastikan sebab kematiannya. Senjata yang paling sering digunakan adalah senjata personal seperti tangan dan kaki sebanyak 105 kasus. 95 pembunuhan untuk anak umur 5-8 tahun. dimana dilaporkan seribu anak dibunuh setiap tahunnya. (4) CARA INFANTISIDA(2) Ketika ada kemungkinan bahwa bayi tersebut lahir hidup. ataukah akibat tindak kriminal. objek tumpul 10 kasus. kurang lebih 205 anak berumur kurang dari 1 tahun dilaporkan dibunuh. luka bakar 4 kasus. meskipun tanpa bukti. yang dapat terlihat di leher. Senjata atau kekerasan lainnya adalah pencekikan dan asfiksia sebanyak 29 kasus. yaitu sebagai berikut : 205 pembunuhan untuk infant (dibawah 1 tahun). 280 pembunuhan untuk anak umur 1-4 tahun.nampak bagian anak. bahwa jeratan dapat dilakukan oleh ibu untuk membantu persalinan sendiri. dan yang lainnya sebanyak 51 kasus. yang harus dibuktikan apakah hal tersebut dilakukan sebelum kematian. Tindakan tersebut menghasilkan bekas jeratan. atau terjadi saat kehamilan. Langkah pertama adalah menentukan apakah kematian terjadi akibat kekerasan. dan 79 pembunuhan untuk anak umur 9-12 tahun. kemudian baru dibedakan apakah cedera terjadi karena pers alinan. hanya memiliki kepentingan kecil. Hal tersebut . Penjelasan lain yang mungkin adalah bahwa bayi terjerat secara tidak sengaja oleh tali pusat. Bila kepala sudah keluar dan dapat dijangkau si ibu. Pemeriksaan tali pusat dapat menunjukkan bahwa tali pusat telah dipegang secara kasar yaitu hilangnya jelly Wharton. (7) EPIDEMIOLOGI Angka pembunuhan anak di Amerika Serikat setiap tahun relatif kecil bila dihubungkan dengan angka total kematian. (4) Tahun 1999. menunjukkan angka pembunuhan anak berdasarkan umur. adalah penting ketika dapat dilakukan. Fakta ini sudah dipublikasikan oleh media. Dapat dinyatakan. menusuk ubun-ubun.

pembakaran sering merupakan cara untuk membuang korban infantisida atau bayi lahir mati. Pada kejadian manapun sangatlah penting untuk menentukan apakah cedera yang ditemukan mungkin akibat kecelakaan. meskipun mungkin. Mungkin demonstrasi saturasi karbonmonoksida yang tinggi adalah bukti kematian karena pembakaran pada kasus ini. seperti penenggelaman. Dapat pula dipikirkan bahwa fraktur terjadi sebagai akibat persalinan cepat saat ibu dalam keadaan berdiri. persalinan tidak terjadi dengan cepat dan hal ini dapat menimbulkan keraguan terhadap cerita si ibu. tenaga yang diterima tidak akan cukup untuk menimbulkan fraktur. Radtke (1933) menemukan bahwa bahwa tes yang biasa pada kematian akibat pembakaran tidak dapat diterapkan seluruhnya. Bentuknya daalah fraktur garis. Jenis alat yang digunakan sangat penting karena . Fraktur tengkorak yang terjadi saat atau akibat persalinan memiliki karakteristik tertentu. Bila ditemukan caput succedaneum dan molase yang jelas. . Bahkan bila bayi jatuh ke tanah. akan tetapi tindakan tersebut tetap menunjukkan serangan yang diniatkan. Fraktur akibat forceps dapat disertai laserasi kulit kepala. tuduhan penyembunyian kelahiran mungkin dapat diberikan. di paru-paru bayi yang terbakar. Cara ini menunjukkan niat untuk membunuh. fraktur terjadi pada titik yang secara normal dipegang oleh forceps dan biasanya berupa fraktur beralur. Ibu dapat menaruh bayi di kloset dan menyatakan ia melahirkan saat menggunakannya atau bila ia memakai ember. Sisa-sisa kalsifikasi dapat ditemukan di tempat pembakaran tapi hal tersebut jelas tidak mungkin membuktikan infantisida. panjang tali pusat tentu saja berariasi yaitu di bawah 5-6 ini. d) Penenggelaman Penenggelaman dapat juga menjadi cara untuk membuang bayi lahir mati. Akan tetapi persalinan tidak dapat menghasilkan ekspulsi yang kuat dan cepat dan panjang tali pusat normal yaitu sekitar 20 inci sangat mungkin akan mencegah bayi jatuh dengan keras.dapat menimbulkan fraktur kominutif dengan laserasi kulit kepala dan mungkin dapat ditemukan bekas yang menunjukkan bahwa bayi dipegangi saat kejadian. kemungkinannya sangat kecil bahwa cedera akibat pisau cukur atau pisau lipat merupakan kecelakaan. e) Pembakaran Infantisida dengan membakar jarang terjadi meskipun. fraktur dapat terjadi dari ubunubun depan ke eminensia frontalis. e) Menggorok leher Infantisida dengan melukai seperti menggorok leher jarang ditemukan. Sebuah luka iris yang luas di leher hampir pasti menyingkirkan kecelakaan. hal yang mungkin bila alatnya adalah gunting. Orang yang memasang forceps juga harus ada untuk memberi keterangan menganai cedera yang terjadi. Pada kejadian lebih jarang. Fraktur tersebut tidak menimbulkan laserasi pada kulit kepala. Kemungkinan pelaku panik saat kejadian dapat membuat seorang wanita melakukan tindakan dimana ia tidak dapat bertangung jawab. ia mengaku bayi lahir ke dalam ember. tapi ia menekankan pentingnya ditemukan benda asing. sesuatu yang lebih dari partikel karbon. Fraktur biasanya terjadi pada tulang parietal dan berjalan ke bawah pada sudut tertentu ke arah sutura sagital sepanjang sekitar satu inci.

f) Penelantaran bayi Infantisida dengan tidak memberi makan atau dengan penelantaran jarang terjadi. Adakah tanda-tanda kekerasan? 7. Bila terbukti lahir hidup. atau postmatur? 4. berapa jam/hari umur bayi tersebut (umur setelah dilahirkan)? 6. matur. Anak masih berhubunggan dengan uri. Bila terbukti lahir hidup dan telah dirawat. Viability ini adalah sebagai berikut : • 28 minggu atau lebih dalam kandungan • Berat badan 1500 gram atau lebih • panjang badan kepala-tumit 35 cm atau lebih • lingkaran kepala oksipitofrontal 32 cm atau lebih . (7) Bayi baru lahir dan belum dirawat Keadaan baru lahir dan belum dirawat sebagai petunjuk dari tidak lama setelah dilahirkan. Bila tali pusat sudah kering. verniks kaseosa. lipat siku. Bila tali pusat sudah terputus.7) Bayi baru lahir dan sudah dirawat Anak yang baru dilahirkan tubuhnya diliputi suatu bahan seperti salep.ketiak. Menurut ponsold. belakang daun telinga. tempat untuk memelihara bayi prematur dalam suatu lingkungan dengan suhu dan kelembapan yang stabil. lipat lutut. apakah sebab matinya? (3. premature. tetapi belum diikat (belum dirawat). Dapat pula terjadi bahwa si ibu menunggu di sekitar tempat si bayi ditinggalkan sampai ia tahu bahwa bayinya ada di tempat yang aman. Umur bayi dalam kandungan. Dalam hal bayi tercemplung atau dicemplungkan dalam air maka darah dan sebagian dari verniks kaseosa dapat tersingkirkan dari tubuhnya. couveuse. namun masih bisa ditemukan pada lipat-lipat kulit dileher. ujungnya perlu diperiksa untuk menentukan apakah tali pusat dipotong dengan benda tajam atau robek. Apakah bayi sudah mampu hidup terus di luar kandungan ibu (viable) atau belum (nonviable)? 3. berarti tubuh bayi masih berlumuran darah dan verniks kaseosa serta tali pusat mungkin masih berhubungan dengan uri atau sudah terpisah. bayi baru lahir adalah bayi yang baru dilahirkan dan belum dirawat. HAL-HAL YANG PERLU DITENTUKAN PADA AUTOPSI Terdapat beberapa hal yang perlu ditentukan pada autopsi mayat bayi yang baru lahir seperti : 1. dan tali pusat yang belum diikat merupakan petunjuk terpenting dari keadaan belum dirawat. Apakah bayi baru dilahirkan sudah dirawat atau belum dirawat? 2. Sudah bernapas (lahir hidup) atau belum (lahir mati)? 5. dan selangkangan. terlebih dahulu direndam dalam air supaya tali pusat mengembang lagi dan diperiksa dibawah mikroskop. Pengalaman yang sering terjadi adalah ibu yang mengabaikan anaknya meninggalkan si anak terbungkus rapi dan meletakkannya di tempat dimana bayi tersebut dapat segera ditemukan dan dirawat oleh orang lain. (7) Bayi yang dapat hidup diluar kandungan ibu (viable) Dapat hidup di luar kandungan berarti dapat hidup tanpa pertolongan inkubator.

• Skin opacity cukup tebal sehingga pembuluh darah yang agak besar pada dinding perut tidak tampak atau tampak samara-samar. yakni bagian lateralnya sudah ada.• tidak mengadung cacat bawaan yang tidak memungkinkannya untuk hidup terus (incompatible with life). pada helix teraba tulang rawan yang keras pada bagian dorsokrnialnya dan bila dilipat cepat kembali ke keadaan semula. sudah berbatas tegas. labia minor sudah tertutup dengan baik oleh labia mayor. masing-masing helai terpisah satu sama laindan tampak mengkilat. menunjukkan pembentukan tulang rawan yang sudah sempurna. • Terdapat garis-garis pada seluruh telapak kaki. • Kuku jari tangan sudah panjang. sedangkan bayi premature membengkok keventral atau satu bidang dengan korpus manubrium sterni. • Processus xyphoideus membengkok kedorsal. • Pada bayi laki-laki matur. dari depan hingga tumit. melampaui ujung jari. (7) Bayi yang tidak dapat hidup diluar kandungan ibu (non-viable) Dalam kasus-kasus tertentu meskipun bayi yang dilahirkan itu telah cukup usia kandunganya. batas rambut pada dahi jelas. Yang dinilai garis yang relative lebar dan dalam. testis sudah turun dengan sempurna. areola menonjol diatas permukaan kulit dan diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih. ujung distalnya tegas dan relative keras sehingga tersa bila digarukkan pada telapak tangan. • Puting susu pada bayi yang matur. • Rambut kepala relative kasar. . yakni sampai pada dasar skrotum dan rugae pada kulit skrotum sudah lengkap. Dan pada bayi perempuan yang matur.7) Umur bayi cukup bulan (aterm/matur) Pada bayi yang lahir genap bulan setelah dikandung selama 37 minggu atau lebih tetapi kurang dari 42 minggu penuh didapatkan (259 sampai 293 hari). • Alis mata sudah lengkap. akan tetapi bayi tersebut mengalami kelainan pertumbuhan yang menyebabkan anak tidak dapat hidup di luar kandungan : a) anak lahir tanpa dinding dada sampai terlihat◊Ectopia kordis jantungnya anak dilahirkan dengan tulang punggung◊b) Rakiskisis terbuka tanpa ditutupi kulit saluran kero◊c) Atresia Esofagus ngkongan tidak terbentuk batang◊d) Fistula Tracheo oesophagus tengkorok dan kerongkongan berubah menjadi satu anak◊e) Anensefalus dilahirkan tanpa otak besar (5. • Panjang badan kepala-tumit 46-50 cm • Panjang kepala tungging 30 cm atau lebih • Lingkar kepala oksipito-frontal 33-34 cm • Lingkar dada 30-33 cm • Lingkar perut 28-30 cm Ciri-Ciri Eksternal : • Daun telinga pada bayi lahir cukup bulan. Ukuran Antopometrik: • Berat badan ± 3000 gram (2500-4000).

• Pada bayi cukup bulan terdapat pusat penulangan epifisial diujung distal femur dengan diameter 4-5 mm.dan adanya pusat penulangan pada tallus dan calcaneus. (3,7) Umur bayi tidak cukup bulan (prematur) Untuk menentukan umur anak dalam kandungan selain mengukur panjang badan menrut rumus Haase, perlu diperiksa initi penulangan, sentrum osifikasi. • Calcaneus (24 minggu) • Talus (28 minggu) • Distal Femur (38 minggu) • Proximal tibia (genap bulan) Kesimpulan bila tidak ditemukan inti penulangan adalah anak belum sampai unur tersebut di atas atau mungkin pembentukan inti penulangan terlambat. (7) Bayi dilahirkan dalam keadaan hidup dan bernapas Untuk mengetahui apakah bayi yang dilahirkan benar-benar hidup, hal ini dapat diketahui melalui pemeriksaan terhadap tiga fungsi utama organ tubuh manusia yaitu respirasi, sirkulasi dan aktivitas otak.Terdapat beberapa pemeriksaan yang harus dilakaukan bagi menentukan bayi sudah bernapas atau tidak • Rongga dada yang telah mengembang, pada pemeriksaan didapati diafragma yang letaknya rendah, setinggi iga ke-5 atau ke-6. • Pada bayi yang telah bernapas, paru tampak mengembang dan telah mengisi sebagian besar rongga dada. • Tertelannya udara (yang menyertai pernapasan) mangakibatkan telinga tengah dan saluran pencernaan mengandung udara. • Gambaran makroskopis paru Paru-paru bayi yang sudah bernapas (sudah teraerasikan) berwarna merah muda tidak homogen tetapi berupa bercak-bercak (mottled) dan menunjukkan gambaran mozaik berupa daerah-daerah poligonal yang berwarna lebih muda dan menimbul di atas permukaan berselang-seling dengan yang berwarna lebih tua dan kurang menimbul. Gambaran tersebut tampak jelas pada tepi lobus paru. Tepi-tepi paru tumpul. Paru-paru bayi yang belum bernapas (belum teraerasikan) berwarna merah hitam seperti warna hati bayi, homogen, tidak menunjukkan gambaran mozaik dan tepi-tepinya tajam. Kadangkadang tampak guratan-guratan yang membentuk pola daerah-daerah poligonal pada permukaan paru. Warna daerah-daerah yang poligonal itu tidak berbeda satu sama lain dan juga tidak berbeda dengan warna paru di bagian lainnya. • Uji apung paru positif yang membuktikan telah terdapatnya udara dalam alveoli paru. Dengan cara mengeluarkan seluruh alat rongga dada kemudian dimasukkan dalam air, dan memperhatikan apakah kedua paru terapung. Kemudian dilanjutkan dengn mengapungkan paru kanan dan kiri secara tersendiri. Dan lobus paru dipisah dan diapungkan diair. Selanjutnya membuat 5 potongan kecil (± 5 mm x 10 mm x 10 mm) dari masing-masing lobus dan diapungkan kembali. Pada paru yang telah mengalami pembusukan, potongan kecil dari paru dapat mengapung sekalipun paru belum pernah bernapas. Hal ini disebabkan oleh pengumpulan gas pembusukan pada jaringan interstisial paru, yang dengan menekan potongan paru yang bersangkutan antara 2 karton, gas pembusukan dapat didesak keluar. Uji apung paru dinyatakan positif bila potongan paru yang telah ditekan antara dua karton sebagian besar masih tetap mengapung.

Penekanan tersebut bertujuan untuk menyingkirkan gas pembusukan dan tidal air, yang terdapat dalam jaringan intertisial paru-paru yang membusuk. Namun, bila paru tersebut sudah mebusuk sekali, alveoli sudah pecah atau menjadi pecah pada penekanan, maka residual air tersingkirkan sehingga jaringan paru akan tenggelam. Dengan demikian bayi yang telah bernapas dapat dinilai sebagai belum bernapas setelah dilahirkan. Hal ini merupakan salah satu alasan mengapa pada hasil uji apung paru yang negatif tidak dapat dibuat kesimpulan bahwa bayi pasti belum bernapas. Bila uji apung paru negatif, hanya dapat dibuat kesimpulan bayi mungkin belum bernapas. Kepastian bahwa bayi belum bernapas baru diperoleh setelah dipadu dengan tidak ditemukannya gambaran mozaik pada permukaan paru dan tidak ditemukannya gambaran histologik yang khas untuk paru-paru yang belum mengalami aerasi, yakni crumpled sac alveoli atau karusselalveolen. • Pada pemeriksaan mikroskopik akan tampak jaringan paru dengan alveoli yang telah terbuka dengan dinding alveoli yang tipis. Cara pengambilan jaringan untuk pemeriksaan mikrosopis, yaitu dengan memasukkan seluruh paru kanan ke dalam formalin netral 10%. Setelah kira-kira 12 jam dibuat beberapa irisan melintang pada paru untuk memungkinkan fiksatif meresap dengan baik ke dalamnya. Setelah difiksasi selama 48 jam diambil potongan-potongan melintang dari ketiga lobus dengan menggunakan scalpel yang tajam atau pisau silet. juga dari sisa paru kiri diambil beberapa potongan jaringan. Biasanya digunakan pewarnaan hematoksilin eosin, namun untuk paru yang sudah membusuk , Reh (34) menganjurkan pewarnaan cara Gomori, tatapi dapat pula dilakukan dengan pewarnaan cara Ladewig yang lebih murah. Dengan pewarnaan cara Gomori, ruang kosong akibat gas pembusukan atau akibat aerasi dapat dibedakan, karena serabut-serabut retikulin yang terdapt pada septa alveoli relatif resisten terhadap pembusukan. Pada pembusukan, ruang kosong menunjukkan batas yang tidak rata karena tidak dibatasi oleh serabut retikulin yang tegang, sebaliknya pada ruang kosong akibat aerasi, menunujukkan batas yang rata dimanan tampak serabut yang tegang. Di sini sukar untuk menentukan, apakah anak bernapas pada waktu sebelum atau sesudah dilahirkan. Ada kalanya anak masih dalam kandungan sudah bernapas dan menangis, vagitus uterinus/vaginalis. Dimana apabila selaput ketuban pecah dan air ketuban keluar, sehingga terjadi hubungan antara dunia luar dengan anak dalam kandungan. Pada saat yang singkat ini, udara terisap oleh anak, anak benapas kemudian menangis. Bila rahim berkontraksi kembali, vagitus uterinus tidak terjadi lagi. (3,5,7) Bayi dilahirkan dalam keadaan still born atau dead born Still born adalah jika bayi dilahirkan setelah melewati usia kehamilan 28 minggu dan setelah dilahirkan tidak pernah menunjukkan adanya tanda kehidupan. Karena bayi berada dalam lingkungan steril maka proses pembusukan dimulai dari permukaan kulit menuju ke jaringan yang lebih dalam. Dead born adalah bayi yang meninggal dalam uterus dan setelah dilahirkan menunjukkan : • tanda-tanda rigor mortis saat dilahirkan • tanda-tanda maserasi yaitu proses otolisis yang aseptic dimana bayi berada dalam uterus 3-4 hari setelah meninggal. Mayat menjadi lunak, kempis dan mengeluarkan bau busuk. Pada kulit terdapat lepuhan yang berisi cairan serosa dan kulit bewarna merah. Jaringan tubuh membengkak dan sutura pada tulang tengkorak terpisah. Tali pusat bewarna merah, lunak dan tebal. • Mumifikasi akibat berkurangnya aliran darah ke jaringan terutama jika cairan amnion sudah

sangat berkurang dan tidak ada udara yang masuk ke dalam uterus. Janin menjadi kering dan menyusut. (3) Bayi yang dilahirkan hidup dan penentuan berapa lama bayi itu hidup Terdapat beberapa pemeriksaan medis yang harus dilakukan melalui autopsi untuk menentukan berapa lama bayi tersebut telah hidup sebelum dibunuh seperti : 1. Perubahan pada kulit ( Kulit bayi baru lahir bewarna merah terang disertai lapisan verniks kaseosa yang terdapat pada lipat paha, ketiak, dan leher. Verniks kaseosa ini baru bisa hilang jika dibersihkan dalam waktu 2 hari. Warna kulit menjadi lebih gelap pada hari ke-2 dan ke-3 akhirnya berubah menjadi bewarna merah bata san sedikit kuning. Warna kulit normal akan tampak dalam waktu 1 minggu. 2. Perubahan pada kaput suksedaneum dimana pada proses persalinan jaringan kulit kepala bayi mengalami pembengkakan yang berisi cairan darah atau lebih sering berisi serum. Pembengkakan ini akan hilang setelah 1 hingga 3 hari. 3. Perubahan pada usus besar dan lambung dimana jika terdapat udara di dalam usus besar, berarti bayi telah hidup beberapa jam. Jika lambung berisi udara, berarti bayi telah hidup selama satu hari. 4. Perubaan pada mekonium, jika meckonium telah hilang sama sekali, berarti bayi sudah hidup selama 4 hari. 5. Perubahan pada cephal hematom yaitu bila menghilang, berarti bayi tersebut telah hidup selama 8-14 hari 6. Perubahan pada tali pusat a. Bekuan darah pada bekas potongan : setelah 2 jam b. Tali pusat mulai kering masih menempel pada bayi : 12-14 jam c. Peradangan sekitar tali pusat bayi : 36-48 jam d. Tali pusat terlepas dari bayi : 5-8 hari e. Luka menyembuh atau pembentukan jaringan parut : 8-12 hari (3,5) Bayi yang lahir hidup dan penyebab yang meyebabkan kematian i. Prematuritas yang disertai penyakit kongenital, malformasi, kelemahan bayi sendiri, perdarahan, penyakit plasenta dan eritroblastosis fetalis ii. Akibat kecelakaan seperti persalinan yang lama, prolaps tali pusat, terbelit tali pusat, cedera pada bagian abdomen ibu, kematian ibu, sufokasi, proses persalinan terlalu cepat. iii. Tindakan kriminal aktif atau pasif (3) ASPEK MEDIKO-LEGAL Dokter yang memeriksa sering mendapatkan pertanyaan berikut ini pada sidang pengadilan sehubungan dengan kasus pembunuhan bayi. i. Apakah bayi tersebut lahir dalam keadaan hidup atau mati ? ii. Jika bayi lahir hidup, berapa lama bayi tersebut bertahan ? iii. Apa penyebab kematian bayi ? PASAL-PASAL YANG BERKAITAN DENGAN PEMBUNUHAN BAYI PEMBUNUHAN ANAK SENDIRI Pasal 341 Seorang ibu yang karena takut akan ketahuan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau

undangundang tidak memberikan tafsiran otentik. diancam karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana.Undang-undang menetapkan tenggang waktu pada saat dilahirkan hingga tidak lama kemudian. Dari uraian tersebut d atas. (7) Pasal 343 Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang bagi orang lain yang turut serta melakukan. terdapat tiga unsur yang khas. diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun (7) Pasal 340 Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain. akan dipidana karena melakukan pembunuhan (KUHP pasal 338) atau pembunuhan dengan rencana (KUHP pasal 340). (7) Pada tindak pidana Pembunuhan Anak Sendiri. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. maka ia dapat dipidana karena melakukan pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. jam. ukuran ini tidaklah mutlak. Dengan perkataan lain selama bayi tersebut masih dalam keadaan seperti pada saat ia meninggalkan jalan lahir. karena takut akan ketahuan bahwa karenanya telah lahir anak itu. Namun. tidak ditentukan berapa menit. dan apakah anak itu didapat didalam perkawinan atau diluar perkawinan. paling lama dua puluh tahun. dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Tidak dipermasalahkan. (5) Undang-undang tidak dijelaskan apa yang dimaksud dengan tidak lama kemudian. Tenggang waktu Apa yang dimaksud dengan perkataan pada saat atau tidak lama setelah dilahirkan. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. dengan sengaja merampas nyawa anaknya. Dalam hal ibu kandung membunuh anaknya setelah batas waktu tidak lama kemudian. Seorang ayah yang membunuh anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Hendaknya “tidak lama kemudian” diartikan sebagai selama bayi baru lahir itu belum dirawat. yaitu pelaku adalah ibu kandung dari bayi yang bersangkutan. atau hari setelah kelahiran. diancam karena membunuh anak sendiri. dapatlah disimpulkan bahwa pengertian pada saat bayi dilahirkan sebagaimana tercantum dalam KUHP adalah saat keluarnya bayi dari kandungan sampai dengan saat keluarnya placenta yang mana pada kelahiran normal proses ini berlangsung dalam waktu kurang lebih 15-20 menit. Ibu kandung Hanya seorang ibu kandung yang dapat dipidana karena melakukan pembunuhan anak sendiri (kinderdoodslag) ataupun pembunuhan anak sendiri yang direncanakan (kindermoord). apakah wanita terdakwa tersebut mempunyai suami atau tidak. Tubuh yang masih . (7) Pasal 342 Seorang ibu yang untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa ia akan melahirkan anak pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. pembunuhan dilakukan dalam tenggang waktu tertentu dan si ibu dalam keadaan kejiwaan takut akan ketahuan bahwa ia melahirkan anak. sebagai pembunuhan atau pembunuhan anak dengan rencana (7) Pasal 338 Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain. diancam karena pembunuhan dengan rencana.tidak lama kemudian.

diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lirna ratus rupiah. mendorong si ibu untuk melakukan pembunuhan terhadap anaknya pada saat dilahirkan atau tidak lama kemudian. Tidak dipermasalahkan jangka waktu antar saat pengambilan keputusan dengan saat pelaksanaan PAS itu. Sekalipun jangka waktu tersebut sangat pendek. menyembunyikan. Dalam hal terbukti bayi lahir mati atau tidak dapat dibuktikan (karena mayat sudah sangat busuk atau tida k terdapatnya alat bukti lain). Bila keputusan untuk membunuh anak telah diambil sebelum anak dilahirkan. Terdorong oleh rasa takut akan ketahuan bahwa ia telah melahirkan anak. (7) TINDAK PIDANA LAIN YANG MENYANGKUT ANAK YANG BARU DILAHIRKAN Pasal 308 Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya.(3) Keadaan kejiwaan si ibu Keadaan kejiwaan takut akan ketahuan ia melahirkan anak. seorang ibu mungkin tidak membunuh anaknya yang baru dilahirkannya. maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya. atau terbukti bayi lahir hidup. maka ia diancam . maka pidana penjara atau denda karena menyembunyikan kelahiran dan kematian anaknya dapat dijatuhkan kepada yang bersangkutan. (2) Jika mengakibatkan kematian pidana penjara paling lama sembilan tahun. tetapi tidak lama kemudian meninggal karena sebab yang wajar serta tidak terbukti bahwa si ibu dengan sengaja meninggalkan anaknya itu. MENYEMBUNYIKAN KELAHIRAN DAN KEMATIAN ANAK Pasal 181 Barang siapa mengubur. apakah karena melahirkan anak haram atau karena hal lain. pembunuhan anak itu tetap dianggap sebagai pembunuhan anak sendiri dengan rencana. Unsur kejiwaan inilah yang merupakan alasan yang mendasari ditentukannya hukuman yang lebih ringan (dibandingkan dengan pidana pembunuan biasa) pada tindak pidana Pembunuhan Anka Sendiri. Tidak dipersoalkan hal apa yang menyebabkan rasa takut ketahuan melahirkan anak itu. Bila perbuatan si ibu tidak menimbulkan luka berat pada bayinya. (7)  Pasal 305 Barang siapa menempatkan anak yang umurnya belum tujuh tahun untuk ditemukan atau meninggalkan anak itu dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya. yang bersalah diancamdengan pidana penjara paling lama tujuh tahun enam bulan.(7) Pasal 306 (1) Jika salah satu perbuatan berdasarkan pasal 304 dan 305 mengakibatkan luka-luka berat. maka si ibu diancam dengan pidana telah melakukan Pembunuhan Anak Sendiri dengan rencana (pasal 342 KUHP). Syarat takut ketahuan sudah terpenuhi bila si ibu mempunyai alasan untuk merahasiakan kelahiran anak tersebut. tidak lama sesudah melahirkan.berlumuran darah serta tali pusat yang belum diikat dan dipisahkan dari uri menunjukkan bayi tersebut belum dirawat. menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya. tetapi menempatkannya di suatu tempat untuk ditemukan oleh seseorang atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya.

Infantisida. Hamdani N. Neonaticide.dengan pidana maksimal 2 tahun 9 bulan (separuh dari 5 tahun 6 bulan). Available from : URL : http://www. Second Edition. [cited 2008 September]. Shepherd R. [Online]. . Bila si bayi mengalami luka berat. Chadha PV.freewebs. 2003. Perdanakusuma M. Jakarta : Binarupa Aksara. s forensic medicine. Deaths and injury in infancy. Jakarta : Ghalia Indonesia. 1984. 5. Dimaio VJ. Edisi I. 2006. London : Arnold A Member Of The Hodder Headline Group. 1997. 6. 4. 2. infanticide. and child homicide. Dalam : Ilmu kedokteran kehakiman. Edisi V. In : Simpson . Jakarta : Widya Medika. 1995. Dimaio D. In : Forensic pathology. 1992. Beberapa permasalahan mengenai kasus pembunuhan. Anonim. Dalam : Catatan kuliah ilmu forensik dan toksikologi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Pembunuhan anak.com/pas_pengguguran_kandungan_by_summervernith/carainfantisida. PAS dan pengguguran kandungan stop infanticide. (7) DAFTAR PUSTAKA 1. Twelfth Edition. Idries AM. Dalam : Pedoman ilmu kedokteran forensik. Dalam : Bab-bab tentang kedokteran forensik.htm 3. Pembunuhan anak. 7. ancaman pidana menjadi maksimal 3 tahun 9 bulan (separuh dari 9 tahun).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful