Demokrasi menurut jj rousseau

Konsep demokrasi bukanlah konsep yang mudah dipahami, sebab ia banyak memiliki konotasi makna, variatif, evolutif, dan dinamis. Maka tidak mudah membuat suatu definisi yang jelas mengenai demokrasi. Demokrasi juga merupakan konsep evolutif dan dinamis, bukan konsep yang statis. Artinya, konsep demokrasi selalu mengalami perubahan, baik bentuk-bentuk formalnya maupun substansinya sesuai dengan konteks dan dinamika sosio historis di mana konsep demokrasi lahir dan berkembang. Sejak runtuhnya dominasi pemikiran politik lama dan tradisi agama (yakni saat bergulirnya gerakan renaisance dan reformasi), diskursus pemikiran politik lebih memberi porsi kepada keterlibatan atau partisipasi warga negara (citizen) dalam pemerintahan. Para filosof politik tertarik untuk membincang bagaimana demokrasi mempunyai kekuatan untuk menjadi pusat mekanisme dalam membangun dan memberdayakan masyarakat. Gerakan dan pemikiran mereka telah memberikan blue-print perkembangan gagasan-gagasan demokrasi dengan perjuangannya menentang kekuasaan sewenang-wenang, desakralisasi gereja, memperjuangkan kebebasan berfikir dan memelopori gagasan pembentukan negara bangsa (nation-state). Dalam tulisan ini akan dikaji pemikiran demokrasi Jean -Jacques Rousseau (17121778), Marry Wollstonecraft (1759 -1797) dan John Stuart Mill (1806-1873). Ketiganya mempunyai konsep demokrasi yang berbeda walau sama-sama berangkat dari tradisi individualisme liberal. Rousseau memulai gagasannya berangkat dari isu-isu utama yang signifikan pada teori demokrasi. Cara kerja Rousseau yang demikian itu telah memberi inspirasi pada beberapa pemikir lainnya, salah satunya adalah Mary Wollstonecraft. Dia adalah pioneer dalam mengamati fenomena interkoneksi natural antara wilayah publik dan privat.. Di tengah ranah perbedaan yang sangat kontras gagasan radikalisme demokrasi antara Rousseau dan Wollstonecraft, John Stuart Mill, bagaimanapun, telah memberi gagasan tentang developmental democracy yang lebih liberal. Konsep Mill tentang demokrasi tidak berhenti pada demokrasi protektif sebagai akhir seluruh agenda kerja, sebagai contoh, demokrasi Athena, yang menurut Mill bukan sama sekali contoh model baru demokrasi. Tetapi pemikiran dia mempresentasikan sebuah kelangsungan yang penting tradisi liberal, sebuah eksplorasi ide yang berhubungan langsung terhadap demokrasi protektif tetapi juga melenggang melewatinya dalam beberapa bagian.

Demokrasi Langsung ala Rousseau Rousseau dapat dikatakan sebagai Machiavelli abad 18. Perbandingan ini berguna untuk melihat posisi keduanya yang berada dalam aras gagasan yang searah, yaitu bagaimana mereka telah mencoba mereartikulasikan teori-teori politik klasik. Rousseau mengarahkan preferensi sistem politik yang dia gagas sebagai republicanism, yang memfokuskan pada sentralitas kewajiban pada wilayah publik. Dalam karya klasik Rousseau, The Sosial Contract, dia berasumsi bahwa walaupun manusia bahagia dalam sebuah komunitas asli dan alami, mereka menggunakan kontrak sosial untuk menghadapi segala rintangan yang datang kepada mereka. Manusia selalu ingin mewujudkan pembangunan alamiah mereka, merealisasikan kapasitas berfikir,

mengekspresikan kebebasan secara maksimal, dan itu semua dapat dicapai melalui kontrak social dengan sisstem hukum yang mapan. Rousseau menyatakan bahwa semua manusia memiliki hak absolut untuk bebas. Argumennya adalah bahwa apa yang membedakan manusia dari binatang bukanlah karena manusia memiliki akal, tetapi fakta bahwa manusia dapat melakukan pilihan moral, dan karena itu, manusia harus bebas agar dapat menjalankan pilihannya. Jika rakyat tidak bebas, atau jika kebebasannya diingkari, maka kemanusiaan mereka diingkari dan mereka diperlakukan setengah manusia, sebagai budak atau binatang. Dalam kontrak social versi Hobbes dan Locke, kedaulatan ditransfer dari rakyat ke negara, walaupun untuk Locke penyerahan hak pemerintah adalah urusan yang kondisional. Rousseau jelas berbeda dengan keduanya, ia berpendapat bahwa kedaulatan tidak dapat direpresentasikan dengan dan oleh apapun. Rousseau menulis : Sovereignity cannot be represented, for the same reason that it cannot be alienated « the people¶s deputies are not, and could not be, its representatives; there are merely agent; the cannot decide anything finally. Any law which the people has not ratified in person is void; it is law in all. The English people believes itself to be free; it is gravely mistake; it is free only during the election of members of parliament; as soon as the members are elected, the people is enslaved. (Kedaulatan tidak dapat direpresentasikan, untuk pikiran yang sama tidak dapat dialienasikan « para wakil rakyat tidak, dan tidak akan dapat, menjadi representasi rakyat, mereka hanya sekedar agen saja, dan mereka tidak dapat menentukan keputusan apapun secara final. Beberapa hukum yang diratifikasi tidak oleh rakyat secara langsung adalah sebuah kehampaan. Rakyat Inggris percaya mereka akan menjadi bebas; akan mengubur kesalahan : akan bebas hanya selama pemilihan anggota parlemen; segera setelah anggota-anggota terpilih, maka rakyat akan menjadi budak.)

Sebagaimana Rousseau. Wollstonecraft menulis salah satu karya yang luar biasa di bidang teori social dan politik ³Vindication of the Right of Women (1792). Terinspirasi oleh beberapa isu yang diguliskan Roesseau. jelas tidak mungkin dipraktikkan di negara modern. mereka tidak akan bebas. Ia adalah teoritikus demokrasi modern yang pertama. dia melihat bahwa siapa saja yang µmengharuskan untuk menimbang konsekwensi setiap yang dalam . tetapi ia percaya pada bentuk demokrasi langsung yang tidak dapat direalisasikan. ini hanya dimungkinkan jika rakyat hidup dalam undang-undang yang mereka buat sendiri.Rousseau kemudian menegaskan bahwa jika rakyat harus hidup menurut undang-undang yang tidak mereka buat sendiri. Masalah yang dikemukakan Rousseau adalah : bagaimana rakyat dapat hidup dalam masyarakat namun tetap bebas? Menurut Rousseau. gagasan Rousseau tentang majelis warga. mereka yang tunduk pada badan ini masih diingkari kebebasannya. Ia juga menegaskan bahwa kehendak umum selalu benar. bukan oleh orang lain atas ama mereka. meskipun rakyat tersebut tidak memberikan suara pada undang-undang tersebut (seolah-olah rakyat tidak berfikir egois). Bagaimanapun. Rousseau menghendaki kekuasaan rakyat dan kesetaraan semua warga negara. bahwa µsuara rakyat adalah suara Tuhan¶ (vox populi vox dei).Rousseau adalah pemikir politik yang paling menjengkelkan. Marry Wollstonecraft (1759-1797) telah menemukan banyak buah pikiran Rousseau yang patut dipuji. beberapa penulis memandang Rousseau sebagai bapak intelektual totalitarianisme modern. diingkari hak alamiahnya sebagai manusia. mereka akan menjadi budak. Ia tidak percaya pada partai atau kelompok penekan (pressure group). Keadaan akan sedikit berubah jika badan pembuat undang-undang dipilih langsung oleh rakyat. Menurutnya undang-undang baru ini merupakan ekspresi dari µkehendak umum¶. Dan ini pada gilirannya hanya dimungkinkan jika seluruh warga negara berkumpul di suatu tempat dan secara spontan memilih undang-undang baru yang diusulkan. Ia percaya bahwa rakyat hanya terikat dengan undang-undang ynag disetujui suara bulat. Dengan pandangan seperti ini. Wollstonecraft menerima argumentasi bahwa kebebasan (liberty) dan persamaan (equality) adalah dua hal yang saling memenangkan. Tetapi karena masih orang lain yang membuat undang-undang tersebut. Membongkar Ruang Publik dan Privat Refleksi atas signifikansi revolusi Perancis dan perbedaan yang radikal antara Inggris dan negara-negara lain di Eropa. terlepas dari teori ini.

Dalam demokrasi leberal. Namun berbeda dengan Rousseau. yang terus-menrus merusaha membenarkan kekuasaan negara berdaulat. Menurut pandangannya. maka mereka terlempar¶ maka tidak dapat menikmasti kebebasan µhati dan pikiran¶. menurut Wollstonecraft. Harus ada wakil-wakil perempuan dalam badan-badan negara. kegagalan untuk mengeksplorasi isu-isu tentang peran politik perempuan tidak hanya akan merusak kesetaraan hidup laki-laki dan perempuan. Pandangan ini setidaknya telah membongkar konstruksi kultural dalam masyarakat yang selama ini menaruh perempuan dengan segala eksistensinya dalam ruang ³privat´ di mana ruang lain yang ³publik´ menjadi milik laki-laki taken for granted. Di pihak lain. Menuju Demokrasi Perwakilan Liberal Para filosof politik sampai pada tahap pemikiran yang kemudian menjadi tonggak teori liberal modern. Secara singkat Wollstonecraft mengingatkan. membenarkan batas-batas kekuasaan tersebut. Di satu pihak. kekuasan dan hukum. negara harus memegang monopoli kekuasaan memaksa untuk menjamin kemakmuran dan kesejahteraan kehidupan masyarakat. hubungan antara laki-laki dan perempuan dinisbatkan pada sebagian besar asumsi yang tidak benar (tentang pembedaan secara kodrati laki-laki dan perempuan) dan institusi yang tidak tepat (dari nikah kontrak sampai absennya perwakilan perempuan di dalam institusi negara). tetapi agar aspirasi kaum perempuan dapat terakomodir secara efektif. dan jika produk politik diatur oleh keputusan pikiran dan suara rakyat. Wollstonecraft mengkritik beberapa asumsi tentang kepentingan laki-laki. Wollstonecraft tidak dapat menerima jika kekuasaan kandas di pemikiran politik tradisional yang mensubordinatkan kepentingan perempuan dan anak-anak di bawah µindividualisme¶ warga negara yang µlaki-laki¶. dia berargumen bahwa dari respek yang terlalu berlebihan untuk hak milik dan arus kepemilikan akan menimbukan banyak kejahatan dan sifat buruk di dunia ini. bahwa kebebasan dapat dikreasikan dalam masyarakat jika warga negara (citizen) mendapat pencerahan pemahaman tentang dunia mereka. Upaya ini merupakan langkah untuk menyeimbangkan antara kekuatan dan hak. kewajiban dan hak. Menurut Wollstonecraft. Seperti Rousseau.posisi terjauh. sehingga tidak sekedar ada nuansa keterwakilan (representativeness). sebagaimana Rousseau. perempuan harus diposisikan yang setara dengan laki-laki. jika . perempuan dan anak-anak. dan secara mendalam mengkritik gambaran Rousseau tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan yang mengingkari peran perempuan di ruang publik. pada saat bersamaan. tetapi juga akan merusak rasio dan moralitas mereka yang alami. baik tentang hak dan kewajiban.

Menurut Madison. maka yang terjadi adalah penghancuran kemerdekaan politik dan sosial warganya. µdemokrasi murni¶ selalu tidak toleran. ataupun kelompok-kelompok yang lain. bukan hanya lingkungan sosial yang aman di mana rakyat bebas melakukan aktifitas-aktifitas dan kepentingan-kepentingan pribadi mereka. yang masing -masing berharga dalam keunikan mereka. demokrasi perwakilan merupakan pembaharuan kelembagaan pokok untuk mengatasi problem keseimbangan antara kekuasaan memaksa dan kebebasan. Pemerintahan demokratis model ini akan menjamin perlindungan warganegaranya dari penggunaan kekuasan politik yang despotis. pemerintahan hukum dan kebebasan memilih hanya bisa ditegakkan secara layak dengan mengakui kesamaan politik semua orang dewasa. estetik. Mill terpengaruh oleh gagasan Romantik tentang individualitas. yang melihat setiap orang sebagai suatu keseluruhan yang kompleks.Sejalan dengan itu. Menurutnya. akan melaksanakan apa yang terbaik bagi kepentingan umum atau kepentingan publik. yang bisa bertahan terhadap proses-proses politik. yang mampu melihat kepentingan negara mereka yang sesungguhnya. Bentham menyatakan bahwa demokrasi perwakilan ³memiliki pengaruh dan tujuan yang khas « melindungi anggota-anggotanya dari penekanan dan penghinaan di tagan para fungsionaris yang mempergunakan praktek-praktek tersebut untuk mempertahankan dirinya´. dan emosional dari manusia.Bentham mengambangkan sebuah versi liberalisme yang berbeda dari versi liberalisme yang radikal dan demokratis. tetapi µnonsense on stilts¶. teman yang sangat berpengaruh terhadap bentham. yang memiliki pandangan berseberangan dengan tradisi utilitarianisme.Menurut para pemikir politik ± yang kemudian diidentikkan sebagai demokrat-demokrat liberal ±. tidak adil dan tidak stabil. Dua pernyataan klasik mengenai posisi baru tersebut bisa ditemukan dalam filsafat James Madison dan karya seorang tokoh kunci liberalisme Inggris abad ke-19.Adalah John Stuart Mill.kekuasan negara tersebut dibiarkan tanpa kontrol. Kebebasan dalam hal penalaran. Kesamaan demikian akan menjamin. . Ini berbeda dari versi-versi liberalisme sebelumnya yang menghapuskan ide tentang hak-hak alami (rights of nature). Sebaliknya pemerintahan perwakilan mengatasi ekses-ekses µdemokrasi murni¶ karena pemilihan yang teratur memaksa suatu klarifikasi terhadap persoalan-persoalan publik. dan kelompo kecil yang terpilih. utilitarianisme telah melupakan sisi spiritual. Hal senada juga diungkapkan oleh James Mill. melainkan juga negara yang berada di bawah saksi mata wakil wakil politik yang bertanggungjawab kepada orang-orang yang berhak memilih. apakah itu oleh monarkhi. aristokrasi. Jeremy Bentham. anak James Mill. yang dianggap Bentham tidak hanya nonsense.

pada sisi lain ketakutan pada demokrasi (tirani mayoritas) telah mengarahkan dirinya pada semua jenis alat untuk mencegah pemerintah mengungkapkan kehendak langsung dari mayoritas. maka ada alasan bagi munculnya regulasi dari negara. tetapi mereka sama sekali tidak mengantisipasi masalah yang timbul setelah orang terbebas dari kedua tirani ini. Mill menyatakan bahwa. tempat kerja industri. 1. Saat parlemen harus mewakili semua rakyat dan memiliki otoritas untuk memutuskan undang -undang. yakni liberalisme sosial. Komponen pertama adalah landasan normatif yang bermuatan seperangkat nilai-nilai dasar bagi suatu tatanan (sistem) kehidupan politik dan ketatanegaraan yang keberadaanya mutlak diperlukan serta membedakannya dengan sistem yang lain. Akibatnya. J. Jika komponen yang pertama pada hakekatnya bersifat universal dan . Dan ini menjadi inspirasi untuk mengembangkan liberalisme baru. bahwa meskipun setiap orang dewasa harus memberikan suara. Kaum liberal telah lama berjuang melawan tirani pendeta dan raja. telah menakutkan Mill. namun mereka yang berpendidikan harus lebih banyak memberikan suara. Akhirnya. Ia percaya demokrasi perwakilan sebagai kekuatan pendidik (the power of educate). Demokrasi memiliki dua komponen dasar: substantif dan prosedural. maka negara tidak memiliki hak untuk campur tangan. adalah keinginan untuk mencegah mengganggu orang lain. Mill. bagaimanapun Mill sangat percaya terhadap individualisme. Apabila tindakan individu adalah menyangkut diri sendiri. namun ia takut dengan apa yang ia sebut µtirani mayoritas¶.Dalam memahami implikasi politis dari arti individualitas yang baru ini. Mill adalah salah satu pemikir liberal pertama yang mendukung intervensi negara dalam wilayah pendidikan. undang-undang itu harus disusun oleh komisi undang-undang yang terdiri atas kaum intelektual. Maka ia menegaskan. Mill adalah seorang demokrat yang enggan. Hanya ketika tindakan individu mempengaruhi orang lain. yaitu tidak mempengaruhi orang lain. Analisis de Tocqueville tentang demokrasi Amerika yang melihat kecenderungan Demokrasi Amerika yang telah mengangkat opini publik dan tekanan sosial dari kelompok penekan (pressure group) sebagai sumber otoritas. melakukan pembedaan ynag sulit antara µtindakan menyangkut diri sendiri¶ dan µtindakan menyangkut orang lain¶. Komponen kedua adalah seperangkat tata cara yang dipergunakan agar sistem tersebut dapat bekerja secara optimal dalam suatu konteks masyarakat tertentu. Ia secara umum beranggapan bahwa kedatangan demokrasi adalah benar dan tidak terhindarkan. Ini menimbulkan dilema dalam sikap Mill terhadap pemerintahan demokratis. satu-satunya tujuan di mana kekuasan dapat digunakan dengan benar oleh anggota komunitas beradab yang berlawanan dengan kehendak sendiri.S. dan lain-lain.

tata kelola yang baik (good governance) dalam pemerintahan. harus diingat bahwa selalu ada diskrepansi atau gap antara ³pemikiran´. Berdasarkan kedua komponan diatas. tetapi bisa terjadi overlapping dan bahkan ruptures. dan Fase Kontemporer (Paska Perang Dingin). Landasan utama demokrasi adalah norma-norma egalitarianism (persamaan) dan liberty (kebebasan) yang dalam perkembangan modern dikukuhkan dalam Hak-hak Asasi Manusia Universal. Pada sistem demokrasi yang masih belum berkembang. dsb. atau yang belum berkembang (underdeveloped) karena masih adanya kelemahan-kelemahan dalam komponen dasarnya. Fase Modern. dapat dikatakan bahwa ancaman terhadap kedua komponan masih belum terselesaikan secara keseluruhan sehingga masih ada kecenderungan dege nerasi dan degradasi kualitas sistem demokrasi yang berjalan. Sebuah sistem politik dan ketatanegaraan dapat disebut demokratis apabila ia memenuhi kedua komponen dasar tersebut. Kendati keduanya tak dapat dipisahkan. penerapan mekanisme checks and balances antar lembaga negara. Seterusnya. 2. Pada sistem demokrasi yang masih berkembang.³gagasan . kecenderungan degenerasi dan degradasi sangat dominan dan bahkan ancamanakan terjadinya proses pembalikan kea rah non demokrasi sangat besar. 3.permanen. dan pertanggungjawaban penguasa kepada rakyat (baik langsung maupun tidak langsung) juga merupakan norma-norma dasar dalam demokrasi. rule of law. Pada kenyataannya tidak ada praktik demokrasi yang ³paripurna´ dan telah selesai. komponen prosedural demokrasi antara lain adalah sistem perwakilan. namun kedua elemen tersebut dapat dibedakan satu dari yang lain. menyatakan pendapat. Praktik demokrasi pada fasefase tersebut tidak berarti selalu berjalan berkesinambungan. Demikian pula. adanya pemisahan kekuasaan atas cabang-cabang pemerintahan. Khususnya. yang menjadi persoalan pada dasarnya adalah pada komponen prosedur yang mengalami pengembangan karena terjadinya perubahan structural yang harus diakomodasi sehingga tidak terjadi degenerasi sistem. kedaulatan rakyat.Sementara itu. Yang bisa dibuat adalah suatu spektrum praktik dari sebuah sistem politik dan ketatanegaraan yang telah mapan (established) atau yang dalam tahap masih berkembang (developing). Fase Pra-Pencerahan. maka sejarah pemikiran dan praktik demokrasi bisa digambarkan dalam tiga fase utama: Fase Klasik (Demokrasi Athena). maka komponen kedua bersifat kontekstual dan bentuknya terus menerus mengalami perkembangan serta terbuka (open-ended). Pada sebuah sistem demokrasi yang mapan. partisipasi yang tinggi oleh warganegara dalam urusan publik. hak-hak dasar yang berkaitan dengan hak berbicara. sehingga perkembangan tersebut tidaklah berjalan linear. pola-pola pemilihan dan rotasi yang berkala atas mereka yang diberi amanat/mandat oleh rakyat. berserikat dan berkumpul adalah norma paling dasar.

misalnya. Plato. Fase Klasik ditandai dengan munculnya pemikiran-pemikiran filosofis dan praksis politik dan ketatanegaraan sekitar abad ke 5 SM yang menjadi kebutuhan dari negara-negara kota (city states) di Yunani. bukan budak. yaitu persamaan (egalitarianism) dan kebebasan (liberty) individu diperkenalkan dan dianggap sebagai dasar sistem politik yang lebih baik ketimbang yang sudah ada waktu itu.(ideas)´ dengan praksis dan realitas yang sedang berkembang. Kendati Plato mendukung gagasan kebebasan individu tetapi ia lebih mendukung sebuah sistem politik dimana kekuasaan mengatur Polis diserahkan kepada kelompok elite yang memiliki kualitas moral. baik dari dimensi pemikiran dan praksis. Filsuf-filsuf seperti Thucydides (460-499 SM). Tentu saja para filsuf Yunani tersebut memiliki pandangan berbeda terhadap kekuatan dan kelemahan sistem demokrasi itu sendiri. khususnya Athena. Aristoteles (384-322 SM) merupakan beberapa tokoh terkemuka yang mengajukan pemikiran-pemikiran mengenai bagaimana sebuah Polis seharusnya dikelola sebagai ganti dari model kekuasaan para autocrats dan tyrants. Socrates (469-399 SM). jelas bukan sebuah demokrasi yang memenuhi kriteria sebagai demokrasi substantif. Aristoteles memandang justru sistem demokrasi yang akan memberikan kemungkinan Polis berkembang dan bertahan karena para warganya yang bebas dan egaliter dapat terlibat langsung dalam pembuatan keputusan publik. Sebaliknya. Warga yang benar-benar memiliki hak dan . Bisa jadi bahwa gagasan yang muncul pada suatu era ternyata masih merupakan gagasan yang belum terealisasi sebelumnya. Mereka ini adalah kaum pria yang berusia di atas 20 th. Demokrasi klasik di Athena. dapat dikatakan sebagai pengritik sistem demokrasi yang paling keras karena dianggap dapat mendegenerasi dan mendegradasi kualitas sebuah Polis dan warganya. dan secara bergiliran mereka memegang kekuasaan yang harus dipertanggungjawabkan kepada warga. 4. karena pengertian warga (citizens) yang ³egaliter´ dan ³bebas´ pada kenyataannya sangat terbatas. Dari buah pikiran merekalah prinsip-prinsip dasar sistem demokrasi. Munculnya pemikiran yang mengedepankan demokrasi (democratia. dan bukan kaum pendatang (imigran). dari demos + kratos) disebabkan gagalnya sistem politik yang dikusai para Tyrants atau autocrats untuk memberikan jaminan keberlangsungan terhadap Polis dan perlindungan terhadap warganya. Plato (427-347SM). Dengan demikian tidak berarti bahwa dalam fase klasik realitas politik di Athena merupakan pengejawantahan total gagasan demokrasi yang ada. pengetahuan. dan kekuatan fisik yang terbaik atau yang dikenal dengan nama ³the philosopher Kings´. Demikian pula demokrasi langsung di Athena dimungkinkan karena wilayah dan penduduk yang kecil (60000-80000 orang). atau kalaupun terealisasi ternyata mengalami berbagai penyimpangan atau perbedaan.

Thomas Hobbes (1588-1679). Gagasan dan praktik pembangkangan sipil (civil disobedience) sebagai suatu perlawanan yang sah kepada penguasa sangat dipengaruhi oleh pemikiran Rousseau. Tokoh-tokoh pemikir era ini antara lain adalah Niccolo Machiavelli (14691527). para warga dapat sepenuhnya berkiprah dalam proses politik karena mereka tidak tergantung secara ekonomi. serta pendatang atau orang asing! Demikian pula. John Locke (1632-1704). Friedrich Engels (1820-1895). Pada fase Pencerahan (Abad 15 sampai awal 18M) yang mengemuka adalah gagasan alternatif terhadap sistem Monarki Absolut yang dijalankan oleh para raja Eropa dengan legitimasi Gereja. kaum perempuan dan anak-anak. kaum perempuan. masalah kelas dan konflik kelas. yaitu Revolusi Amerika (1776) dan Revolusi Perancis (1789). Max Weber (1864-1920). dan imigran. Fase Modern (awal abad 18-akhir abad 20) menyaksikan bermunculannya berbagai pemikiran tentang demokrasi berkaitan dengan teori-teori tentang negara. Karl Marx (1818-1883). Lebih jauh.berpartisipasi dalm Polis kurang dari sepertiganya dan selebihnya adalah para budak. dan Montesquieu (16891755). Schumpeter (1883-1946). dan J. Alexis de Tocqueville (1805-1859). yang dijalankan sepenuhnya oleh para budak. ideologi. Mill mengembangkan konsepsi tentang kebebasan (liberty) yang . Pemikir-pemikir demokrasi modern yang paling berpengaruh termasuk JJ Rousseau (17121778). nasionalisme. gagasan awal tentang sistem pemisahan kekuasaan (Montesquieu) diperkenalkan sebagai alternative dari model absolutis. Pemikiran awal dalam sistem demokrasi modern ini merupakan buah dari Pencerahan dan Revolusi Industri yang mendobrak dominasi Gereja sebagai pemberi legitimasi sistem Monarki Absolut dan mengantarkan pada dua revolusi besar yang membuka jalan bagi terbentuknya sistem demokrasi modern. 6. John S Mill (1806-1873). sedangkan Revolusi Perancis mengakhiri Monarki Absolut dan meletakkan dasar bagi perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia secara universal. Era ini ditandai dengan munculnya pemikiran Republikanisme (Machiavelli) dan liberalisme awal (Locke) serta konsep negara yang berdaulat dan terpisah dari kekuasan eklesiastikal (Hobbes). Disamping itu. Revolusi Amerika melahirkan sebuah sistem demokrasi liberal dan federalisme (James Madison) sebagai bentuk negara. dan dapat dicabut sewaktu -waktu apabila ia dianggap melakukan penyelewengan. Rousseau membuat konsepsi tentang kontrak sosial antara rakyat dan penguasa dengan mana legitimasi pihak yang kedua akan diberikan. terjadi perkembangan dalam sistem politik dan bermunculannya negaranegara baru sebagai akibat Perang Dunia I dan II serta pertikaian ideologi khusunya antara kapitalisme dan komunisme. hubungan antara negara dan masyarakat dsb. 5.

Perkembangan pemikiran demokrasi dan praksisnya pada era kontemporer menjadi semakin kompleks.Max Weber dan Schumpeter adalah dua pemikir yang menolak gagasan demokrasi langsung ala Marx dan lebih menonjolkan sistem demokrasi perwakilan. maka tidak mungkin lagi membuat suatu sistem pemerintahan yang betul-betul mampu secara langsung mengakomodasi kepentingan rakyat. 7. Di negara-negara Barat seperti Amerika dan Eropa. kenbdatipun variannya sangat besar dan bahkan bertentangan satu dengan yang lain. sesuai dengan roses perubahan masyarakat modern yang semakin terpilah-pilah menurut fungsi dan peran.menjadi landasan utama demokrasi liberal dan sistem demokrasi perwakilan modern (Parliamentary system) di mana ia menekankan pentingnya menjaga hak-hak individu dari intervensi negara/pemerintah. Demokrasi yang efektif adalah melalui perwakilan dan dijalankan oleh mereka yang memiliki kemampuan. oleh karenanya pada hakekatnya demokrasi modern adalah kompetisi kaum elit. Marx dan Engels merupakan pelopor pemikir radikal dan gerakan sosialis-komunis yang menghendaki hilangnya negara dan munculnya demokrasi langsung. ilmu pengetahuan dan teknologi. pemahaman demokrasi semakin mengarah kepada aspek prosedural. Negara dianggap sebagai ³panitia eksekutif kaum burjuis´ dan alat yang dibuat untuk melakukan kontrol terhadap kaum proletar. kapitalisme dan sosialisme/komunisme. Sejauh negara masih merupakan alat kelas burjuis. Dengan makin berkembangnya birokrasi. Dengan mendasari analisa mereka mengikuti teori perjuangan kelas dan materialism dialektis. dan sistem pembagian kerja modern. maka keberadaannya haruslah dihapuskan (withering away of the state) dan digantikan dengan suatu model pemerintahan langsung di bawah sebuah diktator proletariat. Demokrasi menjadi jargon bagi kedua belah pihak dan hampir semua negara dan masyarakat pada abad keduapuluh. De Toqcueville juga memberikan kritik terhadap kecenderungan negara untuk intervensi dalam kehidupan sosial dan individu sehingga diperlukan kekuatan kontra yaitu masyarakat sipil yang mandiri. baik totaliter maupun otoriter di seluruh dunia. Gagasan pemerintahan yang kecil dan terbatas merupakan inti pemikiran Mill yang kemudian berkembang di Amerika dan Eropa Barat. Mereka berdua mengemukakan demokrasi sebagai sebuah sistem kompetisi kelompok elite dalam masyarakat. apalagi dengan bermunculannya negara-negara bangsa dan pertarungan ideologis yang melahirkan blok Barat dan Timur. Marx dan Engels menganggap sistem demokrasi perwakilan yang diajukan oleh kaum liberal adalah alat mempertahankan kekuasaan kelas burjuis dan karenanya bukan sebagai wahana politik yang murni (genuine) serta mampu mengartikulasikan kepentingan kaum proletar. khususnya tata kelola pemerintahan . Demokrasi kemudian menjadi alat legitimasi para penguasa.

Kendati ideologi besar seperti sosialisme telah pudar. dsb telah tampil sebagai pemain dan penantang baru terhadap demokrasi. 8. . Pemikir seperti Robert Dahl umpamanya menyebutkan bahwa teori demokrasi bertujuan memahami bagaimana warganegara melakukan control terhadap para pemimpinnya. kehidupan bangsa. Termasuk juga gerakan anti kapitalisme global yang bukan hanya berideologi kiri. sistem demokrasi di dunia masih mengalami persoalan yang cukup pelik karena komponenkomponen substantif dan prosedural terus mengalami penyesuaian dean tantangan. etnis. Munculnya berbagai pemikiran dan gerakan advokasi juga menjadi tantangan bagi sistem politik demokrasi liberal.Rousseau berpendapat bahwa landasan kehidupan bangsa/masyarakat tidak dapat lagi disandarkan pada kedaulatan Tuhan yang dijalankan oleh Raja dan Otoritas Agama. Dengan demikian focus pemikiran dan teori demokrasi semakin tertuju pada masalah proses-proses pemilihan umum atau kompetisi partai-partai politik. masyarakat dan negara di Eropah dilandasi oleh paham agama. tetapi juga dari kubu liberal sendiri. menjadi pemenang terakhir. kaum gay. yang artinya pemerintahan/negara berdasarkan Hukum/Kedaulatan Tuhan. khususnya demokrasi liberal. Pada kenyataannya. semakin menuntut terjadinya terobosan baru dalam pemikiran tentang demokrasi. seperti gerakan feminisme. atau dinamakan juga dengan ³Teokrasi´. Penyelewengan paham Teokrasi yang dilakukan oleh pihak Raja dan otoritas Agama. dsb. mengakibatkan kehidupan negara-negara di Eropah mengalami kemunduran yang sangat drastis. Contoh yang dapat disebutkan disini adalah upaya mencari jalan ke tiga (the Third Way) yang menggabungkan liberalisme dan populisme di Eropa dan AS. demokrasi seolah-olah tidak lagi memiliki pesaing dan diterima secara global. bahkan hampir-hampir memporak-poranda seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat dan negara disana. dan pribadi-pribadi tertentu yan memiliki pengaruh kekuasaan. Ditengah situasi kegelapan yang melanda Eropah inilah JJ. Kondisi saat ini di mana globalisasi telah berlangsung. Bahkan negara/masyarakat berdiri karena semata-mata berdasarkan Kontrak yang dibuat oleh rakyatnya (Teori Kontrak Sosial). kelompok kepentingan.(governance). Sebelum paham atau ajaran demokrasi muncul. pembela lingkungan. maka demokrasi pun mengalami pengembangan baik pada tataran pemikiran maupun prkasis. Fukuyama bahkan menyebut era paska perang dingin sebagai Ujung Sejarah (the End of History) di mana demokrasi (liberal). ras. Dengan hancurnya blok komunis/sosialis pada penghujung abad ke duapuluh. karena sesungguhnya kedaulatan tertinggi di dalam suatu negara/masyarakat berada ditangan rakyatnya dan bukan bersumber dari Tuhan. menurutnya. namun munculnya ideologi alternatif seperti fundamentalisme agama.

Ajaran Demokrasi adalah sepenuhnya merupakan hasil olah pikir JJ.Pada Demokrasi Perwakilan. ditambah lagi sebagai akibat perkembangan lembaga negara menjadi ³National State´ yang mencakup wilayah luas serta perkembangan rakyatnya yang menjadi semakin banyak jumlahnya dan tingkat kehidupannya yang komplek. Karena justru kenyataannya menunjukan bahwa segelintir (sedikit) oranglah yang memegang kendali pemerintahan negara dan memerintah kumpulan orang yang banyak.Rousseau sebagai ³Mitos Abad XIX´. Rousseau yang bersifat hipotetis. Siapa yang mendapatkan suara terbanyak dari calon-calon yang ada. Atau dapat juga dikatakan sebagai ajaran tentang Pemerintahan Negara berada ditangan Rakyat. Adalah bertentangan dengan kenyataan dimana rakyat secara langsung dan mutlak (keseluruhan) memegang kendali pemerintahan negara. Adanya 2 (dua) atau lebih calon yang harus dipilih . dan karenanya rakyat yang menentukan segala sesuatu berkenaan dengan negara serta kelembagaannya.Rousseau (yang bersifat mutlak dan langsung) dengan kenyataan empirik kehidupan manusia (yang sedikit memerintah yang banyak). Bahkan pada ³Polis´ atau City State´ di Yunani yang digunakan oleh Rousseau sebagai contoh didalam membangun Ajaran Demokrasi yang bersifat mutlak dan langsung. karena tidak memiliki pijakan pada kenyataan kehidupan umat manusia. maka Ajaran Demokrasi yang awalnya dicetuskan oleh JJ. rakyat secara keseluruhan tidak ikut serta menentukan jalannya pemerintahan negara. yaitu rakyat. yang sampai saat itu belum pernah ada pembuktian empiriknya. Oleh karenanya Logemann mengatakan bahwa Ajaran Demokrasi JJ.Singkatnya ajaran/teori Kedaulatan Rakyat atau ³demokrasi´ ini mengatakan bahwa kehendak tertinggi pada suatu negara berada ditangan rakyat. tetapi rakyat mewakilkan kepada wakil-wakilnya yang duduk di Badan Perwakilan Rakyat untuk menentukan jalannya pemerintahan negara.Rousseau yang terpenting dan merupakan awal menuju kearah demokrasi modern yaitu Demokrasi Perwakilan yang dikenal sampai kini.adalah dengan dibentuknya Dewan Perwakilan Rakyat di Inggris pada pertengahan Abad XIII (1265). tidak dapat ditemui adanya unsur-unsur demokrasi. 2. Langkah penyempurnaan terhadap Ajaran Demokrasi JJ.Benturan yang tidak terdamaikan antara Ajaran Demokrasi JJ.Untuk menentukan siapakah individuindividu rakyat yang akan mewakili keseluruhan jumlah rakyat di Badan Perwakilan Rakyat ini digunakan mekanisme Pemilihan (Umum) yang bercirikan : 1.Rousseau ini masih memerlukan penyempurnaan-penyempurnaan. maka dialah .

Demokrasi Perwakilan menjadi tidak bisa dilepaskan dari penyelenggaraan pemilihan (umum) dan prinsip mayoritas vs minoritas.Pembedanya: Model Demokrasi yang dilaksanakan sangat tergantung pada 2 (dua) aspek. sistem pembagian kekuasaan diantara lembaga-lembaga negara. Kemudian hari tata-cara dan model Pemilihan wakil-wakil rakyat berkembang menjadi model-model pemilihan yang bervariasi.Tujuannya: Mencapai kebaikan kehidupan bersama di dalam wadah suatu negara. .Sarananya: Partai Politik.Rousseau telah berkembang menjadi Ajaran/Teori Demokrasi Perwakilan yang kemudian berkembang lagi menjadi berbagai model demokrasi perwakilan yang saling bervariasi antara satu dengan lainnya. ³. .apa yang kita sebut demokrasi adalah hanya sebuah permulaan dan bukan sesuatu yang bersifat final«.Mottonya: Vox populi vox dei = Suara rakyat (mayoritas) adalah suara Tuhan. dan (2). Demikianlah Ajaran/Teori Demokrasi berkembang dari waktu ke waktu dan berkembang sesuai pula dengan kebutuhan suatu negara tertentu. yaitu : (1).´. tergantung pada kondisi masing-masing negara yang bersangkutan.Mekanismenya: Keputusan tertinggi yang pasti benar & baik adalah yang ditentukan oleh mayoritas manusia/warganegara yang dipilih melalui pemilihan umum. berdasarkan Sistem Dua Partai atau Sistem Banyak Partai. dan Suara yang minoritas adalah suara setan.Sejarahnya: Sebagai pengganti Ajaran Kedaulatan Tuhan (Teokrasi) yang diselewengkan di Eropah pada Abad XIX. sifat hubungan antara lembaga legislatif dan lembaga eksekutif.Sumbernya:Gagasan seorang manusia (Filosuf) yang bernama JJ.. . sedangkan keputusan yang dibuat oleh minoritas manusia/warganegara pasti salah & tidak baik. Dibawah ini akan diuraikan secara singkat rincian unsur demokrasi perwakilan : .yang akan duduk di Badan Perwakilan Rakyat guna mewakili mayoritas rakyat pemilih. khususnya dalam tata hubungan antara manusia sebagai warganegara dengan negaranya. tetapi tetap berintikan kedua ciri di atas. Sehingga Ajaran/Teori Demokrasi yang awalnya dicetuskan oleh JJ. . sejalan dengan ucapkan Mac Iver . . . Rousseau (Abad XIX) . Dengan demikian.

dimana pada Kitab Suci Al Qur¶an terdapat cukup banyak ayat-ayat yang bernada negatif atau bahkan mengecam prinsip suara terbanyak ini. dimana Konstitusi negara yang bersangkut harus menetapkan bahwa kedaulatan yang dimiliki oleh rakyat itu dilaksanakan oleh sebuah atau beberapa lembaga perwakilan rakyat . Manusia tidaklah sama semuanya dalam berbagai aspek. maka Prinsip Suara Mayoritas yang paling banyak mengundang kritik. Prinsip Suara Mayoritas. dan secara khusus pada gilirannya tercermin melalui perbedaan pada sistem pembagian kekuasaan dan sifat hubungan antar lembaga-lembaga negara (terutama antara Lembaga Legislatif dan Lembaga Eksekutif). harus diselenggarakan melalui pemilihan umum 4. Prinsip Suara Mayoritas bertentangan dengan ajaran agama. seperti sebagian contoh ayat-ayat Al Qur¶an dibawah ini : . khususnya Agama Islam. dimana Konstitusi negara yang bersangkut harus menetapkan bahwa kekuasaan tertinggi (kedaulatan) berada ditangan rakyat . dimana mekanisme pengambilan keputusan dilaksanakan berdasarkan keberpihakan kepada suara mayoritas. yang ditetapkan oleh masing-masing negara yang bersangkutan. Namun semua variasi model demokrasi perwakilan harus tetap berpegang pada 4 (empat) prinsip. karena : 1. yaitu : 1. maka suatu tatanan kenegaraan tidak dapat dikatakan sebagai Model Demokrasi. 3.Timbulnya variasi model demokrasi perwakilan ini menurut kacamata Ilmu Hukum Tata Negara bersumber dari perbedaan nilai-nilai dasar bersama yang dianut oleh rakyat pada masing-masing negara. sehingga keputusan yang diambil dengan suara mayoritas (kuantitatif) sama sekali tidak menjamin keputusan itu adalah baik atau benar. Prinsip Pemilihan Umum. 2. 2. Prinsip Kedaulatan Rakyat. dimana untuk menetapkan siapakah diantara warganegara yang akan duduk di lembaga-lembaga perwakilan rakyat yang menjalankan kedaulatan rakyat itu. Diantara ke-4 prinsip Model Demokrasi tersebut diatas. terutama dalam hal aspek kualitas intelektualitasnya. Tanpa adanya ke-4 ciri pokok diatas secara lengkap. Prinsip Perwakilan.

dan naluri seperti yang mencekamnya dalam keadaan alami. Kemauan bersama yang berkwalitas dapat mengalahkan kepentingan diri. (QS. Negara yang disokong oleh kemauan bersama akan menjadikan manusia seperti manusia sempurna dan membebaskan manusia dari ikatan keinginan. Rakyat seluruhnya. Al Anam [6]: 116) Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). kekuasaan legislatif harus di tangan rakyat sedang eksekutif harus berdasar pada kemauan bersama. Menurutnya. Manusia akan sadar dan tunduk pada hukum yang bersumber dari kemauan bersama. Selanjutnya. akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. . Sesungguhnya Kami mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik.(QS. Ketahuilah. tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. nafsu. badan legislatif (the legislator) yang ³maha tahu´ membuat dasar aturan/ hukum namun sama sekali tidak memiliki kekuasaan memerintah orang. dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah). mereka berkata: "Ini adalah karena (usaha) kami". Asy-Syu¶ara [26]: 103) Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji. Namun. Oleh karena itu. mengadakan sidang secara periodik dan ini meminggirkan fungsi eksekutif. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka. seperti yang menjadi pokok permasalahan pemikiran Hobbes.(QS. Al A¶raaf [7]: 131) Rousseau berpendapat bahwa dalam mendirikan negara dan masyarakat kontrak sosial sangat dibutuhkan.Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini. niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. sesungguhnya kesialan mereka itu adalah ketetapan dari Allah. keterlibatan masyarakat yang seperti ini sulit terjadi pada kota yang sangat besar. Rousseau menyebut setiap negara yang diperintah oleh hukum dengan Republik. Dan jika mereka ditimpa kesusahan. dianggap sejajar dengan penguasa manapun. mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang besertanya. (QS. Rousseau berpendapat bahwa negara dan masyarakat yang bersumber dari kontrak sosial hanya mungkin terjadi tanpa paksaan. Konsep pertama Rousseau tentang negara adalah hukum (law). Al A¶raaf [7]: 102) Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran. entah bagaimanapun bentuk administrasinya.

Jika dilihat lebih lanjut. ketika setiap . Kontrak Sosial versi Hobbes dibandingkan dengan Rousseau Thomas Hobbes (1558-1676) menggambarkan keadaan yang kacau balau. yaitu perjanjian masyarakat yang sebenarnya. Rousseau mengubah sistem politik penuh kekerasan menjadi musyawarah. bukan sebaliknya. pemikiran Rousseau tentang kontrak sosial sebenarnya dapat dibandingkan dengan teori kontrak sosial sebelumnya. Selain itu. Ia menghendaki bentuk negara di mana kekuasaanya di tangan rakyat. Teori dan perjanjian ini juga akan menunjukkan tanggung jawab pemerintah terhadap rakyatnya. Rousseau seakan tidak konsekuen. Rousseau tidak menjelaskan jika ada kemauan bersama yang telah disepakati namun ada beberapa orang yang merasa berbeda pendapat maka orang itu tidak dapat dikatakan dipimpin atas kemauan bersama. Ia dengan tegas menolak adanya agama Protestan di negaranya. Namun. Hal itu dikarenakan Protestan mementingkan isolasi diri dan berpotensi memecah-belah negara. Pemikiran Rousseau tentang agama sangat aneh.Rousseau tidak membenarkan adanya persekutuan. namun di Inggris tidak sama sekali. Kelemahannya teori ini antara lain tidak berdasar historis dan setiap orang mau tidak mau terikat kontrak sosial. diktator. di mana konsep negara sangat abstrak. Agama baginya adalah sebagai penguat negara. Pemikiran Locke tentang keterwakilan dilanjutkan oleh John Stuart Mill. Kebaikan Teori Rousseau antara lain sebagai landasan demokrasi modern dan menonjolkan fungsi warga negara dalam masyarakat dan negara. Teori Kontrak Sosial-nya menganut aliran pactum unionis. Selain itu. hal ini juga dilihat perubahan agamanya dari Calvinisme menjadi Katholik dan kembali Calvinisme. Rousseau lebih membenarkan negara seperti Nabi Muhammad dan khalifahkhalifahnya yang memiliki perpaduan antara rohaniah dan duniawiah. disarankan sebesar polis. Selain itu. versi Thomas Hobbes dan John Locke. dikarenakan ia mementingkan pungutan suara. juga dapat mempengaruhi terwujudnya pemerintahan yang totaliter. Pemikiran Rousseau tentang negara. negara jangan terlalu besar dan terlalu kecil dengan masalahnya masing-masing. padahal bersumber dari kwantitas. menurutnya. Walaupun Rousseau sangat terkenal di Perancis. bukan sukarela. termasuk partai yang menurutnya hanya berujung pada penyelewengan. atau Demokrasi Mutlak.

Tidak seperti pemikiran Hobbes yang memuat nilai-nilai hewan pada manusia. Walaupun sebenarnya manusia juga berkeinginan untuk hidup damai dan rukun. Locke menganggap penguasa absolut yang notabene manusia biasa akan dapat terpengaruh sifat kotor manusia dan memperburuk kondisi. Pihak-pihak yang berjanji menyerahkan kekuatan dan kekuasaannya kepada sang penguasa. solusi Locke .manusia berperang dengan manusia lain. sangat berkebalikan dengan versi Hobbes dengan pactum subyectionis. Teori Kontrak Sosial Rousseau dan Hobbes sama-sama mengelompokkan manusia pada dua masa. akan terdorong untuk melakukan perjanjian dengan memilih penguasa di antara mereka. menurut Hobbes seseorang dapat menentang jika sudah menyakiti secara jasmaniah. Kontrak Sosial versi Locke dibandingkan dengan Rousseau John Locke (1632-1704) bertentangan dengan Hobbes dalam hal ini. Dengan sendirinya. suatu keadaan di mana fitrah dan tabiat manusia terdapat tanpa ada hambatan dan restriksi apapun. Penguasa versi Rousseau hanya sekedar ³pelayan´ dari kepentingan rakyat banyak. Oleh karena itu. pra-negara dan bernegara. Akibat pandangan Hobbes bagi hidup bermasyarakat dan bernegara diungkapkannya dengan keadaan alami (state of nature). hal ini menyebabkan sang penguasa memiliki kekuatan dan kekuasaan yang absolut. Namun. Walaupun sang penguasa memiliki kekuasan absolut. Belum lagi nilai-nilai hewan pada diri manusia pada pemikiran Hobbes tidak berlaku pada Rousseau. tentunya dengan menguasai akan lebih efektif. Konsep penguasa pada pemikiran Hobbes yang tidak terikat janji berbeda dengan perjanjian yang mengikat semua pada pemikiran Rousseau. menjadi masalah ketika sang penguasa tidak mengikatkan diri pada perjanjian. namun tingkatannya masih kalah dari kekuasaan. Wajar jika seperti itu. setiap manusia memiliki keinginan yang sangat kuat untuk memiliki kekuasaan demi kekuasaan dan keinginannya hanya akan diberhentikan oleh ajal. Hobbes melupakan pertimbangan akal budi manusia yang sebenarnya dapat mempengaruhi tindakan mereka. potensi perselisihan dan perang dengan kekerasan sekalipun akan terjadi untuk mempertahankan kebebasannya.Teori Kontrak Sosial-nya menganut aliran pactum subyectionis. Hobbes lantas memberi solusi berupa kontrak sosial dan manusia. sedangkan menurut Hobbes sangat berkuasa. Locke menganggap adanya nilai kemanusiaan. yang selalu dihantui ketakutan. Teori milik Rousseau yang menganut aliran pactum unionis. Menurut Hobbes.

kekuasaan eksekutif yang menjalankan undang-undang. Kelemahan pemikiran Locke adalah berkurangnya peran pemerintah. dan kekuasaan . tidak mutlak. Sempat menyinggung tentang pentingnya pengadilan.adalah menyusun badan legislatif yang membuat hukum. pra-negara dan bernegara. di mana legislatif merupakan amanah rakyat. Teori Kontrak Sosial-nya menganut aliran pactum unionis dan pactum subyectionis. Para penguasa menurut keduanya sama-sama berkurang kekuasaannya. Locke juga jauh mementingkan masalah mayoritas daripada minoritas. walaupun kenyataan berkata lain. asal usul negara menurut Locke dan Rousseau hampir sama. tidak seperti Hobbes. Teori Kontrak Sosial Locke yang menganut kedua aliran. seperti perbedaan mendasar Kontrak Sosial versi Locke dan Hobbes. Inggris menurutnya sebagai contoh terbaik. pemikirannya sangat berpengaruh di negara-negara Barat. namun Locke melupakan badan yudikatif begitu saja. tentunya dengan perbedaan. Jika Locke mengenal keterwakilan rakyat. Teori Kontrak Sosial Rousseau dan Locke juga sama-sama mengelompokkan manusia pada dua masa. yaitu kehidupan individu bebas dan sederajat. Jika ditilik. Keduanya juga memasukkan nilai kemanusiaan pada pemikirannya. mengingat eksekutif tergantung legislatif. bagi Rousseau cukup pactum unionis. Pemikiran Locke tentang Kontrak Sosial untuk selanjutnya diikuti oleh Rousseau. namun pemikiran Locke memiliki rangka untuk dikembangkannya Trias Politika oleh Montesquieu. teorinya tentang pemisahan kekuasaan (separation of powers) dikembangkan oleh Montesquieu. penyuburan dinasti ekonomi menyebabkan si miskin tanpa milik tidak memiliki suara. tetapi Rousseau menginginkan rakyat sendiri dan ini bukan ide cemerlang untuk negara besar. dan kekuasaan federatif yang menyangkut dalam pembuatan perjanjian dan persekutuan. Selain itu. Locke dan Rousseau sama-sama mengaburkan kekuasaan judikatif. Pemikiran Locke tentang kekuasaan legislatif dan eksekutif dipisahkan namun dapat saling mempengaruhi. Walaupun banyak kelemahan. pactum unionis dan pactum subyectionis. Trias Politika dibandingkan dengan Kontrak Sosial Rousseau Trias Politika (Tiga Pembagian Kekuasaan) adalah kekuasaan legislatif sebagai pembentuk undang-undang. badan eksekutif yang melaksanakan.

· Judikatif + Legislatif = Kehidupan dan kemerdekaan negara dikuasai pengawasan suka-hati. menganggap eksekutif dan judikatif adalah berbeda. Giliran pada taraf Montesquieu ditafsirkan sebagai pemisahan kekuasaan (separation of powers) . Legislatif pada Trias Politika harus terletak pada seluruh rakyat. selanjutnya tergantung kelakuannya. presiden Amerika tidak dapat dijatuhkan Congress. Doktrin Trias Politika pertama kali disinggung oleh John Locke. Doktrin Trias Politika Montesquieu banyak mempengaruhi orang Amerika saat undangundangnya dirumuskan. Mahkamah Agung berkedudukan bebas. Montesquieu juga bangsawan. walaupun ia tahu pentingnya pengadilan. Berbeda dengan Locke yang memasukkan judikatif pada eksekutif. Kebebasan kekuasaan judikatif yang ditekankan Montesquieu di sinilah letak kemerdekaan individu dan hak azasi manusia dijamin dan dipertaruhkan. dan sebaliknya. Montesquieu. dilakukan dengan perwakilan rakyat. Misalnya. hakim juga membuat undang-undang. yaitu eksekutif dan judikatif. · Judikatif + Eksekutif + Legislatif = Tidak akan terjadi kemerdekaan. Pemikiran Locke dengan kekuasaan eksekutif. berpikiran masyarakat seluruhnya sebagai pemegang kekuasaan yang sama . serta presiden tidak diperkenankan membimbing Congress. Perwakilan bangsawan. sekali diangkat presiden. dan untuk selanjutnya diperjelas oleh Montesquieu (1689-1755). Locke pernah menyinggung tentang eksekutif dan legislatif. legislatif. sehingga Amerika dianggap mencerminkan Trias Politika dalam konsep aslinya. bukan Rousseau. Rousseau dengan demokrasi absolutnya. dan ketiganya harus terpisah-pisah dikarenakan jika: · Eksekutif + Legislatif = Tidak akan terjadi kemerdekaan. · Judikatif + Eksekutif = Hakim akan sangat keras dan menindas. Presiden dan menteri dilarang merangkap sebagai anggota Congress.judikatif yang mengadili pelanggaran. Mengingat Trias Politika Montesquieu melanjutkan pemikiran John Locke. dan federatif serta juga menganut keterwakilan rakyat inilah yang dimaksud. Latar belakang dari Trias Politika yaitu untuk menjamin adanya kemerdekaan. terdiri dari dua kekuasaan. namun melupakan judikatif. sebagai seorang hakim. Jika Kontrak Sosial Rousseau dibandingkan dengan Trias Politika maka akan terdapat banyak perbedaan.

legislatif. dan judikatif. Montesquieu menganggap kekuasaan harus dipisah dan tidak pada orang yang sama. -Presiden boleh menandatangani perjanjian internasional dianggap sah jika Senat mendukungnya. Namun hal ini juga beresiko dominasi oleh tiap kekuasaan. Jadi. khususnya dengan penyempurnaan segi judikatif. Dalam rangka checks and balance ini karakteristik Trias Politika Amerika Serikat berubah menjadi: -Presiden diberi wewenang memveto rancangan undang-undang yang telah diterima -Congress. -Hakim Agung yang diangkat badan eksekutif dapat dibatalkan Congress jika terkena masalah kriminal. -Pernyataan perang hanya boleh diselenggarkan Congress. namun para penyusun UUD Amerika Serikat masih menganggap perlunya menjamin bahwa masingmasing kekuasaan tidak melampaui batas. namun veto dapat dibatalkan Congress dengan dukungan 2/3 suara dari kedua Majelis. pemikiran Trias Politika versi Montesquieu ini memisahkan kekuasaan antara eksekutif. Kekuasaan eksekutif dan legislatif sangat tergantung pada rakyat. Tidak seperti Rousseau yang berpikiran kekuasaan rakyat mendominasi. Padahal. -Pengangkatan jabatan-jabatan yang termasuk wewenang Presiden perlu persetujuan Senat. -Presiden juga dapat di-impeach oleh Congress. solusi yang diambil Amerika Serikat adalah pengadaan sistem checks and balance (pengawasan dan keseimbangan) di mana setiap kekuasaan dapat mengawasi dan mengimbangi kekuasaan lainnya. oleh karena itulah ada checks and balance. Walaupun ketiganya sudah dipisah sesempurna mungkin. -Mahkamah Agung mengecek badan eksekutif dan legislatif melalui judicial review (hak uji). tidak dimaksud untuk memperbesar efisiensi kerja (seperti di Inggris dalam fungsi dari kekuasaan eksekutif dan legislatif). Checks and Balance dibandingkan dengan Kontrak Sosial Rousseau Amerika dianggap mencerminkan dipengaruhi doktrin Trias Politika Montesquieu dalam konsep aslinya. sistem checks and balance ini mengakibatkan satu cabang kekuasaan dalam batas-batas tertentu dapat turut campur dalam tindakan cabang kekuasaan lain. Oleh karena itu.dengan penguasanya. tetapi untuk membatasi kekuasaan dari setiap cabang kekuasaan secara lebih .

checks and balance adalah pengembangan dari Trias Politika Montesquieu. Namun.efektif. tetapi untuk selebihnya kerjasama di antara fungsi-fungsi tersebut tetap diperlukan untuk kelancaran organisasi. Trias Politika Montesquieu menganut pemikiran Locke. . pemikiran Rousseau. musyawarah rakyat. yang agak berbeda dengan Rousseau. Pertama. negara berbasis komunis secara tegas menolak Trias Politika. Mengamati dari beberapa negara yang menganut Trias Politika ada kesulitan dalam praktek penafsirannya. Keanehan di Inggris. Selain itu.Jika pemikiran Rousseau dibandingkan dengan Trias Politika yang sudah menganut checks and balance jelas berbeda. Ada kecenderungan untuk menafsirkan Trias Politika tidak lagi sebagai pemisahan kekuasaan (separation of powers). tetapi sebagai pembagian kekuasaan (division of powers) yang diartikan hanya fungsi pokok yang dibedakan menurut sifatnya serta diserahkan kepada badan yang berbeda (distinct hands). merupakan landasan demokrasi modern yang juga dipertimbangkan. Kedua. menurut Montesquieu yang merupakan suri-teladan dari Trias Politika sama sekali tidak ada pemisahan kekuasaan. dengan tanggung jawab pemerintah kepada rakyatnya.

DWI WINDYASTUTI.MA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA 2011 .TUGAS PEMIKIRAN POLITIK BARAT DEMOKRASI MENURUT PEMIKIRAN JJ ROUSSEAU DICKYAK ALKALABY (070913091) Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful