Mubtada

(
Mubtada ( Fikar ) dan Khabar (

) dan Khabar (
)

)

In Bahasa Arab on December 15, 2005 at 11:25 am

Sebelum berbicara mengenai Mubtada dan Khabar, sepatutnya untuk diketahui terlebih dahulu bahwa kalimat ( ) baik kalimat sempurna maupun tidak, dalam bahasa arab terbagi menjadi dua, yaitu Jumlah ismiyah ( ) adalah kalimat yang didahului oleh isim dan setiap isim yang berada di awal kalimat tersebut dinamakan mubtada dan bagian yang melengkapinya dinamakan Khabar yang mana hukumnya dalam I¶rab harus mengikuti kepada mubtada. Dan Jumlah Fi¶liyah ( ) yaitu kalimat yang didahului oleh fi¶il. Dengan mengetahui pembagian jumlah tersebut akan mempermudah dalam memahami akan mubtada dan khabar, dan dalam kesempatan kali ini kita akan membahas secara garis besar tentang mubtada dan khabar yang sekiranya akan semakin membantu dalam mempelajari bahasa Arab, adapun pembahasan secara terperinci akan dibahas pada kesempatan berikutnya bila tidak ada halangan ataupun bisa kembali melihat pada buku-buku yang menerangkannya lebih mendetail, seperti Syarah Alfiya Ibnu Malik baik yang disyarah oleh Ibnu µAgil atau Ibnu Hisyam dan Asymuni. Mubtada ( ) Mubtada adalah setiap isim yang dimulai pada awal kalimat baik didahului oleh nafyu maupun istifham, contoh ( =Muhammad tersenyum), contoh didahului oleh nafyu ( =tamu itu tidak datang) dan contoh isim yang didahului oleh kata Tanya ( =apakah yang lulus adalah Ali). Dan hukum isim yang dimulai pada awal kalimat tersebut ( ) adalah Marfu¶ (dibaca akhir katanya dengan harakah dhamma), kecuali apabila isim tersebut didahului oleh huruf Jarr tambahan atau yang menyerupainya maka hukumnya secara Lafadznya adalah Majrur namun kedudukannya dalam

Macam-macam Mubtada Apabila dilihat dari Khabarnya maka Mubtada terbagi menjadi dua. yaitu Mubtada yang mempunyai khabar.kalimat tetaplah Marfu¶.) ). contohnya ( =dia bersungguh-sungguh) atau ( =kamu ikhlas). yang Kedua adalah Mubtada Muawwal ( ) dari An ( ) dan fi¶ilnya. . Mubtada boleh terdiri dari banyak kata sedangkan khabarnya hanyalah satu. contohnya ( ). sedangkan mubtada yang tidak memiliki khabar tidak boleh menta¶wilkannya dan penggunaanya haruslah selalu disertai dengan Nafyu atau istifham. Contohnya firman Allah SWT : kata Ilah pada ayat tersebut secara lafadznya adalah majrur namun kedudukannya tetaplah Rafa¶. contohnya firman Allah SWT ( ) dan ( ) mubtada pada contoh ini adalah An dan Fi¶ilnya dita¶wilkan menjadi isim mashdar sebagai mubtada. dan juga terdiri dari Dhamir.( = = ( . yaitu Mubtada Sharih ( ) yang mencakup semua isim dhahir seperti pada contoh di atas. contohnya ( =apakah bayi telah tidur) Naim adalah mubtada sedangkan Thifl adalah Fa¶il yang menempati posisi khabar. akan tetapi mempunyai isim marfu¶yang menempati posisi dari pada khabar. mahmud=terpuji adalah mubtada dan bukhli adalah Naib Fa¶il yang menempati tempatnya khabar. atau dengan kata lain An dan fi¶ilnya dijadikan mashdar sebagai mubtada sehingga An Tashumu menjadi Shiyamukum dan An Tattahidu menjadi itthidadukum karena mashdar dari kata Shama-Yashumu=berpuasa adalah Shiyam dan Ittahada-yattahidu=bersatu mashdarnya adalah ittihad. Dan Mubtada terbagi menjadi dua. contohnya ( ) dan Mubtada yang tidak memiliki Khabar. Mubtada yang memiliki khabar haruslah terdiri dari isim sharih atau dhahir ataupun yang telah dita¶wilkan menjadi mashdar yang sharih. contoh lain ( =tidaklah terpuji orang kikir).

3. Kedua: Sifat yang pertama (musafir) adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) sedangkan kata (rajul) adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar). atau Naib Fa¶il apabila terletak setelah isim maf¶ul. Apabila sifat yang pertama berbentu dua (mutsanna) atau Jamak dan setelahnya adalah mutsanna atau jamak maka isim yang pertama adalah khabar yang didahulukan (khabar muqaddam) dan isim yang setelahnya adalah mubtada yang diakhirkan (mubtada muakkhar). Pertama: sifat yang pertama setelah istifham (musafir) adalah mubtada dan setelahnya adalah Fa¶il karena letaknya setelah Isim Fa¶il. keduanya marfu¶menempati kedudukan khabar. kecuali apabila didahului oleh nafyu atau istifham maka boleh mubtada itu nakirah dengan catatan kenakirahannya tidaklah mengurangi dan mempengaruhi makna yang dapat diperincikan sebagai berikut: . contohnya ( ) dan ( ). 2. dan kata Mahbub adalah mubtada sedangkan Muqshirun adalah Naíb Fa¶il karena terletak setelah Isim Maf¶ul. contoh ( ) dan ( ) kata Muhmil adalah mubtada sedangkan thalibani adalah Fa¶il karena terletak setelah isim Fa¶il.Adapun Isim marfu¶yang terletak setelah mubtada yang tidak memiliki khabar yang dibarengi oleh Nafyu atau istifham maka kedudukannya dalam I¶rab kalimat adalah sebagai berikut: 1. Apabila sifat yang pertama menunjukkan pada isim tunggal kemudian setelahnya adalah Mutsanna (yang menunjukkan bentuk dua) atau Jamak. Asal dari Mubtada adalah Ma¶rifah atau mubtada haruslah isim yang ma¶rifah sebagaimana pada contoh-contoh di atas. kata musafirani dan muqshirun adalah khabar muqaddam sedangkan dhaifani dan mujtahidun adalah Mubtada muakkhar. Apabila menunjukkan kepada sifat yang tunggal dan setelahnya adalah isim yang tunggal contohnya ( ) atau ( ) maka I¶rabnya ada dua kemungkinan. maka sifat yang pertama adalah mubtada dan isim setelahnya tersebut adalah Fa¶il atau naib fa¶il yang menempati posisi khabar.

c. e. kata asyjar adalah nakirah karena didahului oleh dzharf. mubtada di sini adalah nakirah karena di dahului oleh jar majrur. d. b. baik mubtadanya adalah bentuk yang umum. contoh ( ). f. Mubtada yang nakirah merupakan jawaban atas pertanyaan. Maupun mubtada yang nakirah tersebut terletak dalam kalimat yang didahului oleh nafyu atau istifham. contohnya ( ) dan contoh yang idhaf ( ). Nakirah tersebut menunjukkan kekhususan baik dengan menyebutkan sifat atau tidak. dan ( ) kata rajul diikutkan pada yusuf. kesemuanya itu mempunyai aturan yang wajib didahulukan maupun boleh didahulukan. dan ( ).a. Nakirah yang menunjukkan pada sesuatu yang umum. Terletak setelah Laula ( ). Mubtada yang nakirah haruslah didahului oleh kalimat yang terdiri dari jar majrurr atau dharf. Nakirah harus Athaf (mengikuti) pada ma¶rifah atau diikutkan pada ma¶rifah. ada yang bertanya ( ) maka jawabannya ( dengan menggunakan nakirah. ) g. contohnya ( ). contohnya. ataupun nakirah tersebut secara lafadznya bersandar pada ma¶rifat. kata man di sini adalah bentuk nakirah yang umum. contohnya ( ) dan ( ). Apabila kita melihat dari contoh-contoh di atas dapat dilihat perbedaan kedudukan mubtada yang kadang didahulukan (mubtada muqaddam) dan kadang diakhirkan (mubtada muakkhar). takdirnya adalah ( ). contohnya ( ). contohnya ( =pohon bersujud). contohnya ( ) kata rajul di sini nakirah karena ikut pada Muhammad. Wajib mendahulukan Mubtada Mubtada itu wajib didahulukan apabila: . Jika khabarnya adalah sesuatu yang aneh yang keluar dari kebiasaan.

contohnya ( =yang menang maka baginya piala). Apabila khabarnya adalah jumlah fi¶liyah dan fa¶ilnya adalah dhamir yang tersembunyi yang kembali kepada mubtada. contohnya ( =Muhammad bermain bola) kata yal¶ab adalah khabar jumlah fi¶liyah dan fa¶ilnya dhamir tersembunyi kembali ke Muhammad. contoh lain ( =alangkah indahnya musim semi) Kata Ma disini adalah Ma takjub yang mana harus dan wajib didahulukan. Mubtada teringkas khabarnya oleh Illa atau Innama. 6. Mubtada dan khabarnya adalah Ma¶rifat atau kedua-duanya nakirah dan tidak adanya kata yang menjelaskannya. 7. contohnya ( =barangsiapa yang membaca syair maka akan bertambah kekayaannya dengan bahasa). Mubtada yang menyerupai isim syarat. dan ( ) dimasuki lam tawkid. contoh lain ( =siapakah yang akan bepergian besok). contoh ( ) kata addar dimasuki oleh lam ibtida. 3. 4. Isim yang mempunyai kedudukan sebagai pendahuluan di dalam kalimat. kata allazi dalam kalimat ini menyerupai isim syarat. 2. atau istifham atau Ma yang menunjukkan ketakjuban. . Isim tersebut haruslah disandarkan kepada isim yang menempati posisi dan kedudukan kata pendahuluan. kata man di sini adalah kata Tanya yang harus selalu didahulukan dan ia adalah mubtada. contohnya ( ) jika ingin memberitahukan tentang bapaknya maka wajib didahulukannya. kata Man di sini adalah mubtada yang harus di dahulukan karena posisinya dalam kalimat sebagai pembukaan dan pendahuluan. dan ( ) jika ingin memberitahukan tentang Muhammad.1. Isim tersebut haruslah disertai dengan huruf Lam untuk memulai atau Lam tauwkid. contohnya ( ) kata µamal disandarkan pada Man yang kedudukannya sebagai pendahuluan. contohnya ( ) dan ( ). seperti isim syarat. 5.

Selain dari empat masalah ini. contohnya ( ) asalnya adalah ( ) maka wajib menghilangkan mubtadanya. asalnya adalah ( ) mubtada nya wajib dihilangkan karena disifati oleh sifat yang marfu´. 2. Wajib menghilangkan Mubtada Mubtada wajib dihilangkan dalam hal-hal sebagai berikut: 1. contohnya ( =alangkah baiknya pelajar yaitu Muhammad) dan ( =alangkah buruknya pelajar yang pemalas). Atau mubtadanya terletak setelah Fa sebagai jawban dari syarat. 3. Contoh lain ( =jauhilah dari orang jahat yang jelek sifatnya). Jika khabarnya adalah mashdar yang mengganti fi¶ilnya. contohnya ( ) mubtadanya dihilangkan karena disifati oleh sifat yang rafa¶. asalny adalah ( ) dan ( ). Apabila mubtada ikut kepada Sifat yang marfu¶ dengan tujuan memuji atau menghina atau sebagai rasa iba dan saying. contoh lain. mubtada juga kebanyakan dihilangkan jika terletak setelah kata qaul (berkata). Jika khabarnya dikhususkan pada pujian atau cercaan setelah kata Ni¶ma ( ) dan Bi¶sa ( ) dan terletak diakhir. contohnya ( ) asalnya adalah ( ). . contohnya ( ) asalnya adalah ( ) dengan menghilangkan mubtadanya yaitu µahd.Selain dari tujuh masalah di atas. asalnya adalah ( ). asalnya adalah ( ). muhammad dan kusul pada contoh di atas adalah khabar dari mubtada yang dihilangkan. 4. ( ) dan ( ) asalnya adalah ( ) dan ( ). maka boleh mendahulukan atau mengakhirkan mubtada. Jika menunjukkan jawaban terhadap sumpah. contohnya ( ) mubtadanya dihilangkan.

Para pakar Nahwu menyebut bagian pertama dari jumlah ismiah ini dengan Mubtada karena ia adalah bagian yang dimulai dalam pembicaraan.Boleh menghilangkan Mubtada Mubtada boleh dihilangkan dan dihapus sebagai jawaban atas pertanyaan orang yang bertanya ( )?. ( ) dan ( ). Khabar ( ) Sebagaimana telah dijelaskan di atas mengenai Jumlah Ismiah ( ) yang terdiri dari dua bagian yang memberikan petunjuk serta pemahaman kepada pendengar agar diterima. sedangkan bagian keduanya dinamakan Khabar karena ia memberitahukan keadaan yang ada pada mubtada. dan jawabnya ( ) aslinya adalah ( ). atau maf¶ul ataupun tafdhil. Hukum Khabar Para ahli nahwu menyebutkan hukum dari pada khabar adalah sebagai berikut: . asalnya adalah ( ) dan ( ). dan bisa saja terdiri dari segala bentuk sifat baik ia isim fa¶il. contohnya. contohnya firman Allah SWT ( ) kata Falinafsihi kedudukannya rafa¶ khabar dan dhamir Ha majrur bil idhafah sedangkan mubtadanya mahzuf (dihilangkan) begitu juga pada wa man asaa fa¶alaiha. atau Mubtada itu boleh dihilangkan apabila ada kalimat atau kata yang menunjukkan tentangnya. Dan boleh juga menghilangkan Mubtada dan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya. contohnya ( ) yang dihapus dari kalimat tersebut adalah mubtada dan khabarnya yaitu ( ) aslinya haruslah ( ) dihapus karena telah dijelaskan pada kalimat sebelumnya.

Khabar haruslah disesuaikan atau ikut kepada mubtada dari segi tunggalnya atau tasniyah (bentuk duanya) ataupun jamak. yaitu: 1. ( =pelajar pr itu sopan). contoh ( (. Khabar pada dasarnya haruslah nakirah. Contoh lain ( ) Khair khabar mubtada marfu¶. 7. dan pembahasan ini pun akan di bahas pada pembahasannya. Contoh ( =bulan bersinar). Boleh menghilangkan khabarnya apabila ada dalil yang menunjukkan kepadanya.) ). Macam-macam Khabar Khabar terbagi menjadi tiga. mutsanna dan jamak.1. Wajib merafa¶ (memberi harakah dhamma) khabar. contohnya ( fadhil adalah nakirah dan ia khabar mubtada. Boleh dan wajib didahulukan khabar dari pada mubtada. 6. . Khabar Mufrad ( ) yaitu khabar yang bukan berbentuk kalimat atau yang menyerupai kalimat. 5. penyebab khabar itu marfu¶adalah mubtada . contohnya ( ) zakiyun dan fithn adalah khabar mubtada. 2. Khabar boleh banyak dan beragam sedangkan mubtadanya hanya satu. dan harus disesuaikan dengan Mubtada dalam pentazkiran (berbentuk muzakkarf=lk) atau ta¶nis juga dalam bentuk tunggal. dan ( ). masalh ini pun akan dibahas nanti pada pembahasannya. akan tetapi terdiri dari satu kata baik menunjukkan pada tunggal atau mutsanna (bentuk dua) ataupun jamak. 4. dan masalah ini nanti akan dibahas pada pembahasannya. contoh lain ( ). contohnya ( ) Karim adalah khabar marfu¶disebabkan oleh mubtada. ) 3. Wajib menghilangkan khabarnya.

Contoh khabar jumlah ismiah ( =taman itu pepohonannya berwarna hijau) atau ( =pakaian itu warnanya bersih). Atsaub =adalah mubtada pertama. Contoh khabar dari dharf makan (keterangan tempat). ( =akan bepergian setelah seminggu). contoh dharf zaman (keterangan waktu). Wajib mendahulukan Khabar Khabar wajib di dahulukan dari mubtada dalam keadaan sebagai berikut: 1. yaitu khabar yang berbentuk kalimat baik jumlah ismiah ( ) maupun fi¶liyah ( ).( ). Lawn=Mubtada kedua dan mudhaf. Khabar jumlah baik ismiah maupun fi¶liyah haruslah berhubungan dengan mubtada. ( =burung di atas pohon).2. ( =surga dibawah telapak kaki ibu). ( =air di dalam teko). dhamir Hu=mudhaf ilaih. Apabila mubtada nya adalah isim nakirah yang semata-mata tidak untuk memberitahukan dan khabarnya adalah jar wal majrur atau dharf. contohnya ( ). ( =ada tamu). Adapaun contoh khabar mubtada dari jumlah fi¶liyah. ( =anak-anak bermain di taman) yal¶abun adalah fi¶il mudhari¶marfu¶karena khabar mubtada yang berbentuk jumlah fi¶liyah. Khabar Jumlah ( ). contohnya ( =di sekolah ada para guru). Contoh khabar dari jar wal majrur ( =buku di dalam tas). Jumlah dari mubtada kedua dan khabarnya menempati posisi rafa¶ yaitu khabar dari mubtada pertama. terdiri dari Jarr wal majrur ( ) dan dharf =kata keterangan. Khabar syibhu jumlah ( ) yaitu khabar yang bukan mufrad atau jumlah akan tetapi menyerupai jumlah. . 3. ( =bepergian pada hari kamis). Jika mubtadanya nakirah dengan maksud untuk memberitahukan maka hukumnya boleh didahulukan atau pada tempatnya semula. Nashi¶=khabar mubtada kedua.

4. Boleh mendahulukan atau mengakhirkan khabar apabila khabarnya sebagai pengkhususan setelah kata Ni¶ ( ) ma dan Bi¶sa ( ). Muhammad di sini bisa saja mubtada muakkhar dan jumlah fi¶liyah sebelumnya adalah khabar muqaddam. ( =di sekolah ada murid-murid-nya). Jika khabarnya adalah istifham (kata Tanya) atau disandarkan pada kata Tanya. contohnya ( =alangkah baiknya lelaki itu muhammad). dhamir yang ada pada mubtada kembali kepada khabarnya. contohnya ( =bagaimana kabarmu). ( =tiada yang menang kecuali Muhammad). Apabila ada dhamir yang berhubungan atau bergandengan dengan mubtada sedangkan kembalinya dhamir tersebut kepada khabarnya atau sebagian dari khabarnya. misalanya ada yang bertanya ( =siapa yang alpa?). ( =saya sampai tiba-tiba hujan). contohnya ( =saya keluar tiba tiba ada harimau). khabarnya dihilangkan. Boleh menghilangkan Khabar Khabar boleh dihilangkan apabila terletak setelah Iza al fajaiyah (tibatiba). dalam contoh ini kata faiz diringkas atau dipendekkan sebagai sifat dari Muhammad. Apabila ada dalil yang menjelaskannya maka khabar pun boleh dihilangkan. yang dapat ditemukan pada jawaban dari pertanyaan. dan bisa saja mubtadanya dihilangkan dan Muhammad di sini adalah khabarnya. Meringkas khabar mubtada dengan Illa ( ) atau Innama ( ). jawabannya ( ) dengan menghapus khabarnya yaitu ( ) karena telah . asli dari kalimat tersebut adalah ( ) dan ( ). contohnya. ( =di tama nada anak-anak-nya). ( =yang menang adalah Muhammad). contohnya. ( =alangkah buruknya perbuatan khianat). ( =anak siapa ini) atau ( =jam berapa perginya). karena apabila pengkhususan setelah ni¶ ma dan bi¶ sa didahulukan atas fi¶ilnya maka ia adalah mubtada dan jumlah fi¶liyahnya adalah khabar muakhhar oleh sebab itu boleh didahulukan atau diakhirkan.2. 3.

apabila mubtadanya adalah isim yang sharih yang menunjukkan pada sumpah. maka mobil akan menabrak anak itu). ( =buku berada di atas meja). contohnya ( =jika tidak ada Allah. khabarnya wajib dihilangkan. Wajib menghilangkan Khabar Adapun tempat-tempat dimana khabar itu wajib dihilangkan adalah sebagai berikut: 1. dan hal itu terdapat pada kata yang bergandengan dengan jar majrur atau dharf. khabar yang dihilangkan adalah kata ( ) pada contoh ini. 2. (: =sebaik-baik shalatnya sorang hamba dalam keadaan khusu¶) asalnya adalah ( ). contohnya ( =air berada di dalam teko). Khabarnya menunjukkan pada sifat yang mutlak artinya sifat tersebut menunjukkan akan keberadaan dari sesuatu.dijelaskan pada pertanyaannya. 3. Dan apabila jumlah ismiah mengikuti (athf) pada jumlah ismiah yang tidak dihilangkan khabarnya. yang menunjukkan khabarnya telah dihilangkan yaitu ( ). asal dari kalimat di atas ( ). . Jika mubtadanya adalah mashdar atau isim tafdhil yang disandarkan pada mashdar dan setelahnya bukanlah khabar melainkan hal yang menduduki tempatnya khabar. contohnya ( =saya mendukung pelajar yang berprestasi). contohnya ( =muhammad rajin dan ahmad juga). dihilangkan khabar jumlah ismiah yang ma¶tuf karena telah dijelaskan pada sebelumnya. Dan apabila mubtadanya terletak setelah Lau la ( ) maka khabarnya yang berarti keberadaan pun wajib dihilangkan. asalnya adalah ( ). contohnya ( =demi hidupmu saya bersaksi dengan kebenaran). maka boleh menghilangkan khabar pada jumlah ismiah yang ma¶thuf.

( =semua pelajar bersama kawanya). sama dengan ( ). 2. contohnya ( ) dan ( ) mubtadanya ma¶rifah dan khabarnya pun ma¶rifah karena idhafah. contohnya ( ). 4. akan tetapi ada sebagian ayat-ayat Al Quran yang membingungkan dan menimbulkan kesan bertentangan dengan hukum penyesuaian tersebut. 3. maka mubtadanya boleh didahulukan. namun kadang ada mubtada datang dalam bentuk ma¶rifat dan khabarnya pun ma¶rifat. dan khabar yang dihilangkan adalah kata ( ). penulis dan penulis kisah semuanya adalah khabar dari mubtada yang menunjukkan bolehnya ta¶addud khabar terhadap mubtada. Khabar yang terdiri dari jarr dan majrur atau dharf pada dasarnya bukanlah khabar. Asal dari pada mubtada adalah ma¶rifah sedangkan khabar adalah Nakirah. contohnya ( ). tapi bisa juga assabiqun dan anta yang kedua adalah taukid (menegaskan) pada yang pertama. Khabarnya terletak setelah huruf Wau ( ) yang berarti dengan/bersama ( ). Jika mubtadanya adalah mashdar marfu¶. terdiri dari mubtada dan khabar.4. Kesimpulan dan Perhatian 1. contohnya. contohnya ( ) kata penyair. Contoh lain ( ) assabiqun yang pertama adalah mubtada dan yang kedua adalah khabarnya. namun boleh saja khabar terhadap mubtada menjadi banyak. Haruslah memperhatikan pnyesuaian antara khabar dan mubtada. melainkan ia berhubungan dengan kata yang dihilangkan. sebagaimana yang telah disebutkan pada hukum-hukum khabar di atas. dan kata yang dihilangkan tersebutlah yang marfu¶ yang . padahal jika dilihat dengan seksama ternyata semua itu ada kesesuaian antar keduanya. Asal dari khabar mubtada adalah satu. wau di sini berarti bersama sehingga khabarnya dihilangkan. 5.

dan yuqinun adalah khabarnya. Khabar mufrad boleh diikutkan (athaf) kepada khabar jarr majrur. Boleh memisahkan antara mubtada dan khabar. 7. contohnya ( ). dipisahkan oleh jar majrur yang berkaitan dengan khabarnya yaitu yuqinun. 6. contohnya ( ) aysaddu qaswah khabar yang diathafkan pada jar majrur yaitu kal hijarah. ( ) jarr majrur di sini hanyalah berhubungan dengan kata yang dihilangkan yaitu khabar mubtada.menunjukkan ia adalah khabar. kata hum adalah mubtada. contohnya. . takdirnya adalah ( ) atau ( ).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful