Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

1

TIM KAJIAN RENCANA TINDAK UNTUK MEWUJUDKAN REFORMASI BIROKRASI
(SK. Deputi Bidang Polhankam Bappenas No. 001/D-2/03/2004)

Tenaga Ahli: 1. Prof. Dr. Mustopadidjaja AR, MPIA 2. Prof. Dr. Miftah Toha, MPA

Pengarah Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan : 1. I Dewa Putu Rai, SIP, MM

Tim Perumus Rekomendasi Kebijakan : 2. Dr. Ir. Bima Haria Wibisana, MSIS. 3. Drs. Bustang, MSi. 4. Agus Sudrajat, S.Sos, MA 5. Drs. Sandjaja Sarwohadi, MPM 6. Drs. Dadang Solihin, MA 7. Ir. Ikak G. MSP

Focus Group of Discussion : 1. Dr. Ir. Yahya R. Hidayat, MSc 2. Ir. Sumardiayanto, MA 3. Drs. Bogat W. MA 4. Kurniawan Ariandi, SIP, M.Com 5. Dra. Rd. Siliwanti, MPIA

Tim Teknis : 1. Firda Hidayati, S.Sos, MPA 2. Irfan, SH. MH. 3. Dia Firdaus, SE

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas kelancaran daan terlaksananya kajian ini dengan baik. Ucapan terima kasih kami tujukan kepada yang terhormat Bapak Prof. Dr. Mustopadidjaja, AR, MPIA dan Bapak Prof. Dr. Miftah Thoha, MPA, masing-masing sebagai tenaga ahli yang telah banyak memberikan masukan substansi selama kajian ini dilaksanankan. Demikian pula ucapan terima kasih kepada Bapak Prof. Bintaro Tjokroamidjojo, MA; Prof. Dr. Maswadi rauf MA; dan Dr. J, Kristiadi, masing-masing sebagai nara sumber dalam acara seminar “Rencana Tindak Reformasi Birokrasi” dalam rangka mendapatkan masukan yang lebih komprehensif untuk memperkaya kajian ini. Birokrasi yang Handal dan mamapu bekerja dengan Baik, merupakan harapan bagi seluruh bangsa Indonesia. harapan tersebut, merupakan salah satu tuntunan gerakan reformasi birokrasi tahun 1998, agar birokrasi menjadi tempat layanan masyarakat yang cepat, murah, tidak diskriminatif dan transparan. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Direktorat Aparatur Negara dalam tahun anggaran 2004 melakukan suatu kajian mengenai “Rencana Tindak Reformasi Birokrasi” yang diharapkan menjadi salah satu landasan berpikir terhadap upaya penyusunan dan pembenahan birokrasi kini dan di masa mendatang. Demikian, semoga kajian “Rencana Tindak Reformasi Birokrasi” dapat menjadi salah satu bahan acuan dalam menyusun “Kebijakan Nasional Reformasi Birokrasi” yang lebih komprehensif di masa mendatang.

Wassalamu’ Alaikum Wr. Wb.

Jakarta, maret 2005

Direktur Aparatur Negara

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

iii

3............ 4................. 4............ Pelayanan Publik ..... Pemerintahan Yang Bersih .............................................................. 5............................................. Faktor Eksternal ……………………………………..................................... 1................... Kompetensi SDM Aparatur ...................... BAB I PENDAHULUAN .................. 3............................................. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi iv ................................................................ BAB III ISU STRATEGIS REFORMASI BIROKRASI ……………............................ 2...... Desentralisasi Kewenangan ......................... 5.......... BAB IV RENCANA TINDAK ...... 2..... 1 1 2 7 8 8 9 9 18 33 34 42 45 51 61 68 69 71 72 75 77 79 93 95 DAFTAR PUSTAKA . Tujuan Penulisan …………………………………….. 2..... Permasalahan Birokrasi ……………………………… 3.................. Latar Belakang ………………………………………............. Aktualisasi prinsip-prinsip Good Governance ...........................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR........................................................... Metodologi …………………………………………. 1.......................... BAB II GAMBARAN UMUM BIROKRASI DI INDONESIA ………… 1.............. MATRIK RENCANA TINDAK ....... 2............. Kompetensi SDM Aparatur ................................... 5........................................... Pelayanan Publik ............... 4................... Ruang Lingkup Kegiatan …………………………….............. Desentralisasi Kewenangan ........ BAB V PENUTUP ............................... Aktualisasi prinsip-prinsip Good Governance ...................... Faktor Internal ………………………………………........................ Pemerintahan Yang Bersih .......................... … 1.................

Daya saing yang rendah berpotensi mengucilkan Indonesia dari dinamika dan persaingan dalam pergaulan dunia. berpeluang akan mampu memfasilitasi kepercayaan dunia internasional untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi. yang merupakan harapan seluruh bangsa Indonesia. Birokrasi sebagai organisasi formal memiliki kedudukan dan cara kerja yang terikat dengan peraturan. memiliki semangat pelayanan public. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Birokrasi. dunia usaha. dan dapat bekerja dengan baik dan bersih dalam mengemban perjuangan mewujudkan keseluruhan cita-cita dan tujuan bernegara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu. serta sumber daya organisasi yang tidak bebas dari pengawasan eksternal. Dalam konteks pemahaman seperti ini. yaitu “memajukan kesejahteraan umum. Implikasinya investasi yang tertuju pada negara Indonesia secara langsung akan memberikan efek dinamis yang baik bagi perekonomian Indonesia. Kondisi dan dinamika global ini sesungguhnya merupakan peluang sekaligus ancaman bagi keberadaan birokrasi di satu sisi dan berimplikasi terhadap eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa di sisi lainnya. Pengertian ini dimaksudkan bahwa birokrasi harus dipahami dalam konteks peran dan kemampuannya dalam menunjang tugas tugas pemerintahan. Dengan demikian birokrasi yang mampu merespon dinamika global secara positif. dan masyarakat merupakan tiga pilar utama dalam upaya mewujudkan pelaksanaan kepemerintahan yang baik (good Governance). Artinya ketidakmampuan birokrasi merespon dinamika global berimplikasi pada daya saing Indonesia di tingkat internasional. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi . dan mewujudkan keadilan sosial”. mencerdaskan kehidupan bangsa. baik dalam merespon berbagai permasalahan maupun dalam memberikan pelayanan terhadap masyarakat dan warga dunia.Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1. maka eksistensi birokrasi yang dapat diandalkan memiliki implikasi pada peluang yang lebih besar dalam mengemban misi perjuangan bangsa mencapai tujuan bernegara sesuai dengan amanat UUD 1945. birokrasi yang konsisten seperti itu. pemisahan yang tegas antara milik organisasi dan individu. memiliki kompetensi sesuai jabatan dan pekerjaan.

2. kolutif. Pada 3 tahun terakhir ini. kelembagaan birokrasi semakin transparan dalam melakukan korupsi dan akuntabilitas publik menjadi pertanyaan besar. memiliki kecenderungan untuk memusatkan kewenangan. Masyarakat secara umum enggan untuk berurusan dengan birokrasi. perbaikan birokrasi belum juga menunjukkan gejala perbaikan-perbaikan yang positif. dan tidak terdapatnya budaya dan etika yang baik. Bahkan banyak pihak menilai bahwa kondisi birokrasi pemerintah telah menjadi semakin mengkuatirkan. masih rendahnya profesionalisme. Tingginya Tingkat Penyalahgunaan Kewenangan dalam Bentuk KKN Upaya pemberantasan KKN merupakan salah satu tuntutan penting pada awal reformasi.Pendahuluan Selama hampir 60 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. regulasi. Selama masa Orde Baru birokrasi di Indonesia juga memiliki andil besar dalam proses pembangunan. Berbagai upaya perbaikan memang telah diupayakan. Citra negatif dalam birokrasi tersebut. Beberapa diantaranya akan diuraikan secara lebih rinci dalam analisis di bawah ini. birokrasi telah berperan besar dalam perjalanan hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan seperti pelayanan publik. PERMASALAHAN BIROKRASI Berbagai permasalahan di lingkungan birokrasi dewasa ini berkaitan dengan citra dan kinerja birokrasi yang belum dapat memenuhi keinginan masyarakat banyak. masih tertanam bahkan setelah lima tahun reformasi 1998 bergulir. Bahkan sebaliknya. pentingnya peran birokrasi di Indonesia ternyata tidak serta merta menunjukkan suatu potret birokrasi yang baik. Tuntutan akan peningkatan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 2 . Namun prevalensi KKN semakin meningkat dan menjadi permasalahan di seluruh lini pemerintahan dari pusat hingga daerah. Perbaikan birokrasi yang dicanangkan permerintah selama ini belum berjalan secara optimal. menurut Toha (2002). Namun demikian. dan nepotis (KKN). dan distribusi pada dasarnya telah ditopang oleh birokrasi. Persepsi masyarakat masih memperlihatkan bahwa citra dan kinerja birokrasi masih harus lebih ditingkatkan. namun belum dapat menciptakan sistem birokrasi yang mantap dan membawa konsekuensi terlaksananya agenda reformasi secara cepat dan tepat. Birokrasi lebih banyak berkonotasi dengan citra negatif seperti rendahnya kualitas pelayanan publik. proteksi. berperilaku korup. Upaya-upaya pembaharuan dalam manajemen pemerintahan terus dilakukan untuk meningkatkan kinerja birokrasi.

Perbaikan pelayanan publik di era reformasi merupakan harapan seluruh masyarakat. Di samping itu. Ini berkaitan dengan semakin buruknya citra dan kinerja birokrasi dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan. tetapi mengabaikan esensi dan tujuan kebijakan tersebut. akuntabel dan partisipatif masih memerlukan solusi tersendiri. produktif dan bebas KKN serta sistem yang transparan. ternyata tidak mengalami perubahan yang signifikan. Rendahnya Kualitas Pelayanan Publik Rendahnya kualitas pelayanan publik merupakan salah satu sorotan yang diarahkan kepada birokrasi pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. (3) Otonomi daerah tidak dibarengi dengan peningkatan kemandirian Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 3 . penerapan desentralisasi dan otonomi daerah merupakan intrumen utama untuk mencapai suatu negara yang mampu menghadapi tantangan-tatangan tersebut.Pendahuluan profesionalisme sumber daya manusia aparatur negara yang berdaya guna. dan sumber daya manusia yang lamban dalam memberikan pelayanan juga merupakan aspek layanan publik yang banyak disoroti. dalam kebijakan otonomi dearah masih terdapat beberapa kelemahan. penerapan desentralisasi kewenangan dan otonomi daerah juga merupakan prasyarat dalam rangka mewujudkan demokrasi dan pemerintahan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat. Berdasarkan hasil survei Transparency International (TI) dari 133 negara. Belum Berjalannya Desentralisasi Kewenangan Secara Efektif Indonesia saat ini dihadapkan oleh berbagai tantangan yang muncul sebagai akibat dari perkembangan global. KKN telah menjadi extraordinary state of affairs di Indonesia Laporan terakhir di penghujung tahun 2003 mengukuhkan Indonesia di urutan ke-6 negara terkorup didunia. nasional dan lokal pada hampir seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem dan prosedur pelayanan yang berbelit-belit. Dari sisi manajemen pemerintahan. seperti: (a) Otonomi daerah hanya dipahami sebagai kebijakan yang bersifat institutional belaka. Indonesia berada di urutan ke-122 dari 133 negara terkorup. Namun dalam pelaksanaannya selama ini. (b) Perhatian dalam otonomi daerah hanya pada masalah pengalihan kewenangan dari Pusat ke Daerah. namun dalam perjalanan reformasi yang memasuki tahun ke enam. regional. Berbagai tanggapan masyarakat justru cenderung menunjukkan bahwa berbagai jenis pelayanan publik mengalami kemunduran yang utamanya ditandai dengan banyaknya penyimpangan dalam layanan publik tersebut.

(d) Pelayanan publik . Dalam upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas.Pendahuluan dan prakarsa masyarakat di daerah sesuai tuntutan alam demokrasi. Di samping itu. (i) menuntaskan penanggulangan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk KKN dengan menerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance). Dalam kaitan dengan permasalahan tersebut ada beberapa isu strategis dalam pembenahan birokrasi yaitu berkaitan dengan masalah-masalah: (a) Pemerintahan yang bersih (clean government). tidak berlebihan kiranya kalau menempatkan reformasi birokrasi pemerintah menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional 2005-2009. Mengingat reformasi bidang lainnya tidak akan berjalan dengan baik tanpa terlebih dahulu melakukan reformasi di lingkungan birokrasi pemerintah. dan daya saing nasional. berimplikasi terhadap ekonomi. reformasi birokrasi ke depan perlu diarahkan pada upaya-upaya untuk. perlu upaya yang lebih komprehensif untuk menemukenali dan menentukan alternatif kebijakan yang bagaimana yang harus diambil. dan (4) Konsep dasarnya yang mengandung prinsip-prinsip federalisme. kesinambungan dan ketertiban sebagai kesatuan komponen yang saling terkait dan berinteraksi dengan tujuan untuk mewujudkan tujuan reformasi birokrasi. Seperti dijelaskan sebelumnya. Hal ini memerlukan suatu telaahan yang mendalam terhadap permasalahan dan penyebab yang menjadi isu strategis reformasi birokrasi. Pemerintahan yang tidak bersih yang dicirikan dengan penyalahgunaan kewenangan dalam bentuk KKN. aparatur negara memiliki peran yang sangat menentukan mengenai berjalan tidaknya agenda reformasi. Reformasi birokrasi bertujuan untuk mewujudkan aparatur negara yang amanah dan mampu mendukung pembangunan nasional serta menjawab kebutuhan dinamika bangsa berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. sosial. dan (iii) meningkatkan kualitas pelayanan publik terutama pelayanan dasar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Untuk mewujudkan birokrasi sebagaimana disebutkan di atas tidaklah mudah. Reformasi birokrasi memerlukan proses. Tingginya tingkat penyalahgunaan kewenganan ini diakibatkan oleh masih rendahnya Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 4 . (b) Aktualisasi prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik (Good Governance). (ii) meningkatkan kualitas penyelenggaraan administrasi negara. (e) Desentralisasi kewenangan. tahapan waktu. (c) Kompetensi Sumber daya manusia Aparatur.

kondisi birokrasi di masa depan masih cukup memprihatinkan. masyarakat. dan lemahnya inisiatif dan inovatif. Di sisi lain pola patron-client masih menguat dan dapat dilihat pada setiap jajaran pemerintah yang secara langsung memberikan pelayanan kepada masyarakat. pemalsuan. dan tidak adanya komitmen para pemimpin bangsa untuk menciptakan birokrasi yang bersih. dan dunia usaha (swasta). pilih kasih. Di sisi lain. Hal ini juga akibat dari masih rendahnya kualitas SDM Aparatur yang ditandai dengan masih tingginya (73 persen) jumlah PNS yang berpendidikan SD. dan lain sebagainya telah menggerogoti kehidupan birokrasi dewasa ini. gaung perubahan paradigma dengan mengedepankan profesionalisme dan pelayanan masih belum bisa diterapkan secara optimal. komisi.Pendahuluan sistem pengawasan. Kondisi yang memprihatinkan ini juga utamanya karena hampir 50 persen PNS belum produktif. Belum teraktualisasikannya tata kepemerintahan yang baik juga dipengaruhi oleh masih rendahnya kompetensi SDM aparatur. Hal ini akan menjadi ancaman yang pada saatnya nanti akan menghancurkan bangsa dan negara ini. pemerasan. Dengan demikian. sehingga dalam pelaksanaannya seringkali hanya menjadi jargon. rendahnya kemampuan atas tugas dan tanggung jawabnya. dan efektif sehingga harapan akan “terbangunnya kultur birokrasi pemerintah” yang profesional dan akuntabel belum dapat tercapai. nepotisme. Berbagai bentuk korupsi seperti suap. namun hal tersebut kemudian menjadi kebiasaan dan sekaligus merupakan penyakit yang tidak dapat “sangat sulit disembuhkan” disembuhkan bahkan menjadi kronis. Rendahnya Kompetensi ditandai dengan masih rendahnya komitmen dan integritas. Masih tingginya Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 5 . dan DIII. Indikasinya dapat dilihat dari belum berimbangnya interaksi di antara pemerintah. Kondisi ini juga dipengaruhi oleh buruknya sistem rekruitmen pegawai yang ditandai dengan tidak adanya perencanaan pegawai yang matang yang berakibat pada tidak relevansinya antara kompetensi seseorang yang diseleksi dengan jabatan yang dibutuhkan. rendahnya etika dan moral para birokrat. sumbangan ilegal. SLTA. DI. penggelapan. SLTP. Faktanya adalah bahwa esensi dari prinsip-prinsip Good Governance belum dipahami sebagai bagian dari amanah yang harus dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. penyalahgunaan wewenang/jabatan. DII. Berbagai bentuk penyimpangan ini pada awalnya mungkin saja dilakukan dengan terpaksa agar dapat bertahan hidup. Tindakan-tindakan tersebut memiliki daya rusak yang dahsyat yang telah merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. efisien.

dll) dari pemerintah pusat ke tingkat pemerintahan di bawahnya. pemerasan. dan kemudian dilaksanakan oleh pemerintah. Namun demikian. dan belum adanya standar tolok ukur terhadap optimalisasi pelayanan publik oleh aparatur kepada masyarakat. Di samping itu rendahnya partisipasi masyarakat dalam menggerakkan fungsi-fungsi pelayanan. Walaupun mungkin pada awalnya penyalahgunaan dilakukan dengan terpaksa untuk dapat bertahan hidup. dihadapkan pada permasalahan bagaimana kualitas pelayanan publik yang cenderung berbelit-belit. sumbangan ilegal. adalah untuk memindahkan proses pengambilan keputusan ke tempat yang lebih dekat dengan masyarakat. pilih kasih. nepotisme. Pusat cenderung masih menarik ulur beberapa Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 6 . yaitu kepada mereka yang merasakan efek langsung dari program dan perencanaan serta pelaksanaan pelayanan yang dilakukan oleh pemerintah. pelimpahan kewenangan sebagai implikasi dari UU Nomor 22 dan 25 Tahun 1999. internal trading telah menggerogoti kehidupan birokrasi dewasa ini. yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2003 Tentang Pemerintahan Daerah dan UU 33 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. penggelapan. Prinsip dasar dari inisiatif diberlakukannya UU Nomor 22 Tahun 1999 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah dan 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. komisi. lambat. penyalahgunaan wewenang/jabatan. serta berbudaya bukan melayani melainkan dilayani. mahal. Desentralisasi merupakan isu strategis lainnya yang menjadi perhatian dalam reformasi birokrasi. tertutup. Gejala korupsi dengan berbagai bentuk seperti suap. berbagai bentuk KKN tersebut memiliki daya rusak yang dahsyat yang dapat mengganggu sendi kehidupan serta menghancurkan tatanan semua aspek berbangsa dan bernegara saat ini. Karena merekalah yang akan merasakan langsung pengaruh program pelayanan yang dirancang. dan diskriminatif. wewenang dan sumber-sumber daya (dana. pemalsuan. Desentralisasi adalah sebuah bentuk pemindahan tanggung jawab.Pendahuluan jumlah PNS yang berpendidikan non sarjana berimplikasi pada rendahnya kemampuan PNS tersebut dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai abdi dan pelayanan masyarakat. Dasar dari inisiatif ini adalah bahwa proses desentralisasi dapat memindahkan proses pengambilan keputusan ke tingkat pemerintahan yang lebih dekat dengan masyarakat. Dalam bidang pelayanan publik. yang kemudian diganti dengan UU Nomor 32 dan 33 Tahun 2004 ini. belum sepenuhnya diserahkan ke daerah. personil.

TUJUAN PENULISAN Tujuan dari penulisan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi ini adalah untuk: a. jelas dan efektif. Sehubungan dengan hal tersebut sedikitnya terdapat tiga hal mendasar yang digunakan sebagai pendekatan dalam rencana tindak reformasi birokrasi yang harus dilakukan. Untuk itu. Berbagai fenomena di atas. (b) Manajemen. etika dan aturan birokrasi yang baik. hanya dapat diatasi dengan melakukan reformasi birokrasi secara tegas. regional maupun global yang sangat kompleks. masih banyak pemimpin dan aparatur negara yang mengabaikan norma-norma. manakala reformasi birokrasi belum dijalankan. c. pemerintah harus berupaya secara sungguh-sungguh untuk merubah sisisisi negatif dalam birokrasinya.kewenangannya karena dianggap bahwa daerah belum mampu menangani sebagian kewenangan seperti antara lain: kewenangan dalam pemberian perijinan. dan (c) Sumber daya Manusia Aparatur. berkaitan dengan kompetensi SDM aparatur yang di dalamnya mencakup etika dan budaya kerja. sistem perpajakan dan perkreditan. Kesadaran ini berasumsi bahwa reformasi politik yang yang sedang berlangsung belum akan memperoleh hasil yang optimal. b. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 7 . Memberikan alternatif rekomendasi kebijakan mengenai reformasi birokrasi. Memberikan usulan rencana tindak reformasi birokrasi yang mungkin dilakukan untuk jangka waktu 2005-2009. 3. manajemen dan sumber daya manusia aparatur. Sebagai salah satu isu strategis dalam reformasi birokrasi. dan hal-hal lain yang berkaitan dalam rangka mengatur rumah tangganya masing-masing sehingga mengakibatkan belum efektif dan efisiensinya pelayanan publik di daerah. yakni: (a) Kelembagaan. yang ditandai dengan semakin tingginya persaingan ekonomi antar negara. sehingga harapan akan suatu kultur birokrasi pemerintah yang profesional dan akuntabel belum dapat tercapai. Memberikan gambaran akurat tentang permasalahan di lingkungan birokrasi yang terkait dengan kelembagaan. Indikasinya adalah masih tingginya penyalahgunaan kewenangan sehingga menimbulkan ketidakefisienan dan ketidakefektifan dalam penyelenggaraan negara dan pembangunan. Fenomena seperti ini menunjukkan keadaan yang sangat memperihatinkan mengingat dewasa ini terdapat tantangan lokal. sehingga ke depan mampu merespon dan beradaptasi dengan tantangan global yang semakin rumit dan kompleks.

Melakukan seminar/presentasi terhadap hasil kajian reformasi birokrasi. Melakukan analisis dan pendalaman terhadap reformasi birokrasi. Pengidentifikasian isu-isu strategis yang krusial (Analisa CSF). 5.4. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 8 . c. Pengkajian lingkungan strategis yang berpengaruh terhadap birokrasi (Analisa SWOT). RUANG LINGKUP KEGIATAN Ruang lingkup kegiatan ini meliputi: a. b. METODOLOGI Metodologi yang digunakan adalah Strategic Planning Framework yang meliputi: a. b. d. c. Melakukan pengumpulan data. yang berkaitan berkaitan dengan permasalahan birokrasi. Penyusunan langkah-langkah implementasi kebijakan (Action Plan). dan d. Menyusun rencana tindak. Pengidentifikasian arah dan tujuan masa depan (Analisa VMGO).

minimnya korupsi. Dalam kondisi Indonesia yang masih dihadapkan berbagai permasalahan ekonomi. dan sampai saat ini belum mengalami perubahan yang cukup signifikan. Salah satu aspek penilaian adalah birokrasi pemerintah (kelembagaan pemerintah) yang mengindikasikan sejauhmana lembaga pemerintah memberikan kemampuan pelayanan yang baik berorientasi pada pelanggan. meskipun upaya-upaya untuk melakukan reformasi birokrasi dalam konteks yang lebih luas telah berlangsung.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia BAB II GAMBARAN UMUM BIROKRASI DI INDONESIA Birokrasi tetap menjadi salah satu problem terbesar yang dihadapi bangsa-bangsa di Asia. Namun demikian. birokrasi masih tetap diyakini sebagai mesin utama untuk memutar roda kegiatan di berbagai sektor pembangunan. Banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk menjelaskan kondisi keterpurukan birokrasi di Indonesia yang kemudian dikelompokkan ke dalam dua bagian. Kedua adalah faktor-faktor eksternal yang merupakan lingkungan strategis dimana birokrasi terlaksana. FAKTOR INTERNAL Peran birokrasi memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat signifikan dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pertama. birokrasi akan menjadi alat pembaharu. maka peranan birokrasi di dalam suatu masyarakat yang senantiasa mengadakan perubahan-perubahan ke arah pembaharuan menjadi sangat vital. dan tidak dapat digantikan fungsinya oleh lembaga-lembaga negara lainnya dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dalam kaitan dengan hal tersebut. Hasil penelitian oleh lembaga think-tank Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang dilakukan pada tahun 2002. Indonesia termasuk negara yang terpuruk dalam birokrasinya. jika mesin-mesin penggerak lainnya memiliki Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 9 .1. bahwa birokrasi sebagai sebuah organisasi memiliki faktor-faktor internal yang dapat menjadi determinan dinamika kehidupan Birokrasi. berorientasi pada kerangka hukum yang jelas. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa di negara-negara Asia yang paling parah terpukul oleh krisis finansial tahun 1997 itu lebih disebabkan oleh kecenderungan birokrasi yang buruk. Laporan terakhir World Economic Forum (WEF) tahun 2004 ini tentang Global Competitiveness Ranking (GCR) menempatkan Indonesia berada di urutan ke 69 dari 104 negara yang diamati. 2. sosial dan politik yang serba komplek dan rumit.

Namun di sisi lain. terjadi karena lebih mengutamakan pada pengangkatan pada posisi di dalam jabatan struktural. Di samping itu. Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 22 Tahun 1999 (telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah). peradilan. namun juga bisa terjadi sebaliknya menjadi kelemahan dan bahkan penghambat dalam melakukan perubahan. moneter. yaitu politik luar negeri. Di masa reformasi banyak yang optimis bahwa kinerja birokrasi di Indonesia akan semakin membaik. Hal tersebut. masyarakat yang memahami dengan baik akan peran dan fungsi birokrasi akan menjadi kekuatan yang baik dalam melakukan perubahan secara efisien. dalam pelaksanaan desentralisasi pemerintahan di era reformasi ini timbul penafsiran yang beragam dan bahkan kebablasan. masyarakat akan dapat memahami dan merasakan peran dan fungsi birokrasi yang sesungguhnya pada saat mendapatkan pelayanan. Oleh karena itu. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 10 . yang lebih diutamakan karena ruang pangkat golongan. pertahanan keamanan. Hal ini juga mendorong bangkitnya prakarsa dan kreaktivitas pemerintah daerah bersama-sama dengan masyarakat dan swasta untuk menciptakan kerjasama yang harmonis dalam rangka membangun pelayanan yang baik. terutama di daerah. fiskal dan agama. Artinya dalam pelaksanaannya ada kecenderungan sebagian pemerintah daerah menafsirkan bahwa mereka memiliki kekuasaan yang sangat tinggi dalam mengurus rumah tangganya tanpa memperhatikan hubungan koordinasi dengan pemerintah pusat. atau karena senioritas.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia kemauan dan kemampuan untuk melakukan prinsip-prinsip good governance dengan baik. banyaknya posisi/jabatan di birokrasi di isi oleh orangorang yang tidak memiliki kemampuan dan ketrampilan yang sesuai dengan pekerjaannya. Sistem pemerintahan yang desentralisasi yang digulirkan sejak era reformasi merupakan angin segar dalam pelaksanaan birokrasi. bukan karena kompetensinya. pemerintah hanya mengelola enam bidang saja. Konsekuensinya tentu memberikan perubahan kelembagaan yang sangat berarti dalam konteks desentralisasi yang tentunya membawa implikasi baru dalam manajemen publik dimana domain pemerintah berada di relasikan dengan kondisi geografis dan demografis. Daerah dengan kewenangan dan tanggungjawab yang diembannya dapat merancang dan melaksanakan pelayanan terhadap masyarakat sesuai dengan kondisi geografis dan demografisnya. sehingga terkesan menciptakan penguasa-penguasa dan raja-raja kecil di daerah. dan beberapa bidang lainnya. Demikian pula tidak dapat dipungkiri. Hal ini diperkuat oleh adanya perubahan mendasar dalam administrasi publik dalam arti administrasi pemerintahan.

Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia

Kondisi ini masih tetap berlangsung pada era reformasi, baik di tingkat aparatur pemerintah pusat maupun daerah. Akibatnya dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya sering menyimpang atau terjadi penyalah gunaan kekuasaan yang pada akhirnya mendorong tumbuh suburnya praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam mengisi suatu jabatan terntentu. Birokrasi yang demikian, tentunya bukan menjadi harapan masyarakat, yang dibuktikan dengan upaya-upaya serius dari pemerintah untuk melakukan memberantasan tergadap segala bentuk KKN yang terus menerus dengan diupayakan melalui kegiatan penjegahan dan penindakan. Untuk mengatasi hal tersebut, kemudian pemerintah telah membuat regulasi sebagai payung hukum dalam upaya memberantas korupsi. Berbagai kebijakan pemerintah antara lain meliputi Tap MPR RI No. XI/MPR/1999 dan UU No. 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, serta UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberatasan Tindak Pidana Korupsi dan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1999 tentang Komisi Pemeriksaan Kekayaan Negara, demikian pula dengan UU Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Berbagai kebijakan tersebut, menunjukkan keseriusan dan tekat pemerintah secara bersungguh-sungguh mewujudkan penyelenggaran pemerintah yang bersih. Praktek-praktek KKN yang tumbuh subur sejak pemeritahan Orde Baru sampai dengan ”orde reformasi” telah menimbulkan berbagai masalah dalam pengelolaan kepemerintahan yang baik. Permasalahan tersebut , antara lain SDM aparatur yang kurang berkualitas dan birokrasi yang semakin gemuk dan kurang efisien. Hal ini dapat kita jumpai diberbagai departemen yang memiliki pegawai yang tidak berimbang antara jumlah pegawai dengan pekerjaan yang harus dikerjakan dan tidak sesuainya antara jenis pekerjaan dengan kemampuan dan ketrampilan pegawai. SDM aparatur saat ini seringkali dikonotasikan dengan SDM yang memiliki tingkat profesionalitas yang relatif rendah. Kondisi semacam ini dapat dilihat pada beberapa indikator berikut; kemampuan pelayanan yang tidak optimal, sebagian besar waktu tidak digunakan secara produktif, dan belum optimalnya peran-peran dalam menemukan terobosan menjalankan tugas sebagaimana diamanatkan. Perlu dicermati adalah dimensi profesionalitas yang terkait dengan seberapa besar sosok aparatur mampu melaksanakan standar kinerja yang telah ditetapkan. Berbagai karakteristik sebagai bentuk dari tanggapan masyarakat terhadap atribut SDM organisasi pemerintah, diidentifikasi dengan ciri-ciri sebagai berikut: (i) Masih rendahnya tingkat reliability, assurance, tangibility, emphaty, dan responsiveness dalam bentuk pelayanan yang diselenggarakan oleh aparatur

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

11

Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia

(ii)

Adanya perasaan tidak bangga bekerja pada organisasi bersangkutan (pemerintah), sehingga berkecenderungan tidak atau belum memiliki daya ikat emosional yang terlalu tinggi dengan organisasi

Demikian pula beberapa faktor yang memberikan pengaruh terhadap kondisi rendahnya kemampuan melaksanakan standar kinerja birokrasi sebagaimana diharapkan, adalah: • Masih belum jelasnya standar kinerja yang dapat diukur untuk menentukan mutu output yang dihasilkan aparatur. Hal tersebut terkait dengan asumsi bahwa seberapapun kualitas dari output kegiatan yang dilaksanakan tidak akan memberikan perubahan terhadap penghargaan kepada aparatur yang bersangkutan. Kondisi ini terkait dengan motivasi. Selanjutnya motivasi dalam hal ini dapat dilihat dari dua hal yakni, kebutuhan terhadap sanksi baik reward maupun punishment. Konsep sanksi yang tidak berjalan sebagaimana diharapkan adalah salah satu faktor determinan kinerja yang tidak optimal dari aparatur SDM. Pengawasan sebagai bagian dari proses interaksi pembelajaran sekaligus memberikan wahana dijalankannya sistem sanksi, penghargaan tidak atau belum berjalan sebagaimana diharapkan. Konsep pengawasan yang dijalankan saat ini masih merupakan ritual administratif yang tidak memilik banyak manfaat dalam pengembangan SDM Aparatur. Kecenderungan lemahnya kompetensi terkait dengan penggunaan teknologi informasi menuju e-government merupakan salah satu satu tantangan dan kebutuhan. Dan kondisi ini terkait dengan paradigma pragmatis dimana pendidikan dan pemberdayaan SDM masih dipandang belum memberikan kontribusi pada peningkatan kinerja organisasi. Hubungan dan komunikasi yang kurang terbuka diantara aparatur. Hal ini masih terkait dengan kondisi distrust (Fukuyama, 1999) yang ada sehingga memberikan fasilitasi komunikasi diagonal, dan rendahnya gagasan untuk pengembangan karena hubungan masih dilihat dalam konteks “siapa” yang berbicara dan bukan “apa” yang dibicarakannya. Masih besarnya pejabat publik yang diberikan amanah memangku jabatan tertentu berkecenderungan untuk memperkaya diri sendiri (PERC, 2000). Indikasinya adalah kecenderungan untuk memajukan usaha bisnisnya melalui pemanfaatan jabatan yang dimilikinya Program pendidikan dan pelatihan di lingkungan birokrasi, yang terkadang dilaksanakan sendiri oleh kelembagaan bersangkutan tidak kompetitif terkait dengan kebutuhan kompetensi yang diharapkan dari pelatihan; di samping adanya penentuan pelatihan tanpa melalui metode

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

12

Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia

analisis diskrepansi kompetensi kerja yang baik (Padmowihardjo, 2004). Implikasinya adalah pelatihan dilaksanakan untuk formalitas saja.

Rendahnya kualitas SDM aparatur, tercermin dari kondisi: kesejahteraan pegawai, rekruitmen dan pembinaan karir, budaya kerja, dan profesionalisme sumberdaya aparatur yang belum sepenuhnya mampu memberikan pengaruh positif dalam proses perkembangan aparatur negara. Kesejahteraan pegawai di republik ini diakui banyak pihak relatif masih belum layak. Sistem gaji pegawai negeri saat ini tidak mempertimbangkan kebutuhan hidup layak dan prestasi kerja. Sistem penggajian belum secara tegas mempertimbangkan pegawai dengan tingkat pendidikan, prestasi, produktivitas dan disiplin yang tinggi. Saat ini PNS pada tingkat struktural yang sama, pegawai yang memiliki produktivitas tinggi, ranjin dengan PNS yang malas, tidak produktif, dipastikan akan memiliki nilai gaji yang sama apabila mereka memiliki golongan, masa kerja dan ruangan pangkat yang sama. Sistem penggajian yang demikian, dalam jangka waktu yang panjang dapat menurunkan semangat, etos, dan disiplin kerja, terhadap pegawai yang produktif dan yang rajing. Budaya dan pola pikir memanfaatkan setiap kesempatan melakukan tindakan yang tidak 'jujur', asal dilakukan dengan hati-hati, tidak terlalu besar dan mencolok, serta asal dapat 'dipertanggungjawabkan secara semu kepada badan pengawas sudah menjadi hal biasa terjadi dalam urusan birokrasi saat ini. Alasan yang digunakan adalah tidak mungkin bagi pegawai negeri untuk dapat memenuhi standar kehidupan yang layak sesuai dengan ”amanat Undang-Undang 43 Tahun 1999” tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian” dalam pasal 7 Ayat 1, 2, dan 3. Belum lagi jika dicermati mengenai sistem rekrutmen dan sistem pembinaan karir selama ini telah memberikan kontribusi terhadap rendahnya kompetensi dan motivasi pegawai negeri dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Beberapa fakta di dalam pemerintahan menunjukkan bahwa rekrutmen pegawai dilakukan tidak secara terbuka misalnya melalui media massa atau media lainnya yang memiliki akses luas kepada masyarakat. Tindakan KKN telah mendominasi mekanisme penerimaan pegawai di hampir seluruh lembaga pemerintahan termasuk TNI dan Polri. Terdapat bukti pula bahwa pegawai yang masuk melalui mekanisme KKN, tidak menunjukkan kinerja yang diharapkan. Ketidaksesuaian kualifikasi yang dibutuhkan, rendahnya kapabilitas, motivasi, serta tidak adanya kreativitas merupakan keluhan yang sering disampaikan masyarakat terhadap pegawai negeri. Demikian pula, maraknya laporan dari berbagai daerah tentang suap untuk lolos seleksi CPNS telah mendorong lemahnya kepecayaan masyarakat terhadap kinerja birokrasi. Pembinaan karir yang diharapkan menjadi wadah penggodokan serta seleksi selanjutnya bagi pegawai negeri juga tidak dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

13

Meningkatnya jenjang karir seharusnya berkorelasi positif dengan meningkatnya kualitas. kapabilitas dan motivasi pegawai dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pelayan msyarakat. tidak ada kerjasama dan koordinasi dengan rekan kerja. pasal 7 dan pasal 9 PP 12 tahun 2002 tentang perubahan atas PP 99 tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil. Demikian pula keprihatinan yang ditujukan atas budaya kerja dan praktik korupsi. betapa keadaan birokrasi dalam memberikan pelayanan publik sangat rendah. kolusi dan nepotisme (KKN) di lingkungan birokrasi yang terus berlangsung tanpa ada gejala pengendalian yang ketat. menunda-nunda pekerjaan. Hal ini secara normatif telah tertuang pada Pasa17. termasuk di bidang manajerial. pasal 17a PP 13 tahun 2002 tentang Perubahan atas PP 100 tahun 2000 tentang Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam Jabatan Struktural dan pasal 6.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia kualitas kinerja pegawai negeri.Perilaku birokrasi yang demikian dapat ditemui pada saat pengurusan pembuatan surat perizinan. Meskipun regulasi tersebut tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kualitas. yang tidak tepat waktu akibat penundaan suatu pekerjaan. Selain itu. mentalitas dan budaya kekuasaan masih merupakan karakter sebagian besar aparat birokrasi pada masa reformasi. Selain itu gejala menunda pelayanan ketimbang melanjutkan pelayanan jika pimpinan tidak hadir merupakan gejala tersendiri. Banyak pengalaman menunjukkan untuk ikut pendidikan dan latihan kepemimpinan. kapabilitas dan kompetensi pegawai. Lebih lanjut gejala tersebut dapat dilihat pada Tabel I berikut ini. Perilaku-perilaku tersebut telah menyebabkan antara lain budaya kerja yang tidak disiplin. di samping kurang adanya kerjasama dengan diantara pegawai kerja untuk menyelesaikan surat perizinan sesuai waktunya. Kultur kekuasaan yang telah terbentuk semenjak masa kerajaan ternyata masih sulit untuk dilepaskan dari perilaku aparat atau pejabat birokrasi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 14 . tidak tepat waktu. para calon harus membayar sejumlah biaya tertentu hingga bisa mendapat promosi untuk menduduki jabatan yang lebih tinggi. Kultur seperti itu telah menyebabkan perilaku pejabat birokrasi menjadi bersikap acuh dan arogan terhadap masyarakat (Bagir:2002). Ini mencerminkan tidak diterapkannya sistem dan mekanisme pembinaan karir pegawai negeri dengan sasaran dan arah yang jelas serta mekanisme yang disepakati bersama.

maupun diklat jangka pendek. Di sisi lain bahwa birokrasi masih tambun yang berimplikasi pada kurang efisien dan efektifnya dalam melaksanakan tugasnya. Demikian juga aparat yang memiliki tingkat pendidikan sarjana dan master diberi kesempatan yang sama untuk melanjutkan pendidikan program master dan doktor. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah menyebabkan adanya pemekaran. non gelar. Aceh (%) 43.6 100 N=300 Namun demikian. Hal tersebut terkait dengan rendahnya kesadaran aparatur bahwa kekuasaan/ kedaulatan berasal dari rakyat dengan birokrasi hanya sebagai pelaksana dari amanat saja.Tabel I Inisiatif Pelayanan Birokrasi Saat Pimpinan Tidak Ada Jenis Tindakan Penundaan Pelayanan Bantuan rekan kerja Inisiatif sendiri Total N= 912 PSKK-UGM : 2002 Sumatra Barat (%) 37. masih membutuhkan penataan ulang kelembagaan agar menjadi instrumen pemerintahan yang bersih. jangka panjang di luar dan dalam negeri. efektif dan efisien dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai pelayan masyarakat. Demikian juga di tingkat pemerintahan daerah.I.4 100 N= 287 D. pelebaran dan pembentukan PEMDA baru yang pada gilirannya memiliki pengaruh terhadap peningkatan jumlah anggaran pemerintah untuk membiayai operasional lembaga-lembaga tersebut dan penambahan jumlah penjabat.7 39. kemudian di ubah dengan UU No. Di samping itu. pemerintah sebenarnya telah dan terus mengupayakan peningkatkan kualitas SDM aparat birokrasi.3 15. kredibel. Kondisi yang demikian.4 29. Implikasinya adalah semakin Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 15 .3 47. terbuka kesempatan kepada seluruh birokrat yang memiliki keinginan mengikuti pendidikan dan pelatihan. Kesempatan ini sangat baik terutama bagi mereka yang tingkat pendidikannya SLTA ke bawah untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi minimal sarjana.1 27. sumberdaya manusia aparatur dalam menjalankan birokrasi masih banyak diisi oleh sumberdaya manusia aparatur yang kurang kompeten pada bidangnya serta mental dan niat baik untuk mewujudkan birokrasi yang bermartabat masih rendah.5 100 N= 325 Sulawesi Selatan (%) 49. Sebagai konsekuensi Undang-Undang Nomor. Kemudian di era reformasi. kelembagaan birokrasi cenderung masih tambun di samping prilaku arogansi yang dimiliki aparat saat berhadapan dengan masyarakat sebagai pemegang kedaulatan. Berbagai pendidikan dan pelatihan (Diklat) baik diklat gelar .7 10. 22 tahun 1999.

Perubahan struktur politik di era reformasi juga mengakibatkan lemahnya dukungan politik terhadap birokrasi. aparat birokrasi yang sejak semula tidak memiliki netralitas politik kemudian menjadi semacam penghambat dari dalam terhadap kinerja birokrasi di bawah kepemimpinan yang baru. Hal ini dibuktikan dengan masih dirasakannya infleksibilitas dan unresponsiveness dari organisasi pemerintah dalam menawarkan dan memberikan pelayanan kepada pelanggan.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia membengkaknya birokrasi. Sebagai contoh. masyarakat. yang membuat birokrasi sangat lemah kinerjanya adalah mekanismenya yang sangat hirarkis. Hal tersebut terkait dengan belum banyak kelembagaan pemerintah yang didesain sedemikian rupa sehingga mampu merespon dinamika masyarakat informasi yang terus berkembang. Peran-peran dominan dan bersifat monopoli oleh pemerintah di bidang pelayanan publik. sebaliknya oprasionalisasi dari setiap unitnya dari organisasi tersebut semakin mengecil. Perubahan struktur kepemimpinan ternyata tidak serta merta menjadikan kinerja birokrasi menjadi baik dan bahkan cenderung sebaliknya. Di samping itu. Artinya perspektif tata aturan suatu pemerintah yang kaku harus mulai dipikirkan dan dipertimbangkan perubahan kearah bondaryless organizations. hal ini disebabkan pemegang monopoli tertentu pada administrasi publik tidak memberikan peluang untuk merespon terhadap kritik. Demikian juga orientasi kepada pelanggan internal yang berlebihan. memberikan kecenderungan yang kurang sehat dimana agak sulit masyarakat memberikan kritik. Akibatnya kreativitas. Kecenderungan orientasi birokrasi hanya kepada Negara “kepada penguasa saja” dan mengabaikan pengabdiannya kepada masyarakat telah memberikan andil ketidakseimbangan peran ketiga aktor baik pemerintah sendiri. inisiatif dan sikap kemandirian para birokrat kurang berkembang. di mana era reformasi struktur jabatan ”khususnya jabatan struktural” semakin banyak. ternyata belum banyak mengalami perubahan dalam kaitannya dengan peningkatan kemampuan yang optimal dalam melakukan pelayanan. tidak netralnya birokrasi PNS” selama ini merupakan salah satu akar permasalahan birokrasi pemerintah Indonesia yang menghambat kinerja birokrasi dalam merespon Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 16 . dan sektor swasta. Sementara itu. Ini terlihat dari budaya kerja bahwa setiap pekerjaan/urusan harus menunggu petunjuk. perintah dan persetujuan dari atasan. Gejala tersebut dapat dilihat dengan adanya kecenderungan pertumbuhan organisasi dengan struktur yang semakin gemuk. Kondisi yang tidak berimbang ini memfasilitasi munculnya pemerintah dengan perilaku kurang bisa bersaing.

622.491 PNS masih banyak yang memiliki niat kuat untuk mewakili kepentingan masyarakat pada umumnya. secara tegas sudah mengamanatkan netralitas birokrasi terhadap semua golongan dan partai politik serta tidak diskriminatif. sistem dan opini warisan pada era sebelumnya yang tidak bisa menghindari kepentingan kelompok atau golongan tertentu dalam mempertahankan kekuasaan. Rakyat hanya menjadi objek untuk memenangkan pemilu dan mengantarkan elit pimpinannya menjadi pimpinan negara dan pemerintah. Ini terkait dengan posisi PNS yang menduduki jabatan struktural yang diduduki setelah menjadi mantan pejabat negara yang kembali berstatus PNS. sikap dan perilaku demokratis masih jauh dari yang diharapkan. perilaku. Setelah memenangkan pemilu. Meskipun diakui bahwa 3. tepat. Namun upaya tersebut belum banyak dinikmati masyarakat. tidak merespon kepentingan pelanggan. saat menjadi pejabat negara. masih belum tegasnya pengaturan soal boleh atau tidaknya seorang PNS non aktif. dan BUMN yang harus disesuaikan dengan nafas politik menterinya. Hal tersebut sesuai dalam Pasal 3 ayat 2 dan ayat 3. Hal ini menyebabkan tak terhindarkannya proses kooptasi dan intervensi partai politik terhadap birokrasi. Dengan kata lain. dan lain-lain adalah sederetan atribut negatif yang ditimpakan kepada birokrasi. lamban. Akibat tidak dipatuhinya masalah netralitas pegawai negeri yang terdapat dalam berbagai ketentuan di atas membuat rakyat semakin jauh dari pelayanan birokrasi yang berkualitas. Hal itu menunjukkan sangat lemahnya akuntabilitas dan pertanggungjawaban kepada publik. Hal tersebut merupakan dampak dari semakin meresapnya sikap. Indikasi tersebut merupakan cerminan bahwa kondisi birokrasi dewasa ini dalam Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 17 . dengan harapan pelayanan yang cepat. Namun faktor eksternal khususnya partai politik senantiasa tarik menarik untuk merebut hati birokrasi sehingga ada juga PNS yang terpengaruh untuk menjadi anggota dari partai-partai tertetu walaupun itu tidak diperbolehkan menurut aturan main yang terlihat cukup jelas misalnya Pasa13 Undang-Undang nomor 43 tahun 1999 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Masih banyak pengangkatan jabatan eselon I berbagai kementerian. dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu untuk menjamin agar PNS tetap netral maka setiap PNS dilarang untuk menjadi anggota dan/atau pengurus dari pada salah satu parai politik. Hal tersebut terkait dengan pelaksanaan sistem dan prosedur pelayanan yang kurang efektif. untuk kembali berstatus PNS setelah selesai statusnya sebagai pejabat negara. murah dan transparan dapat terwujud. upaya-upaya telah dilakukan dengan menetapkan standar pelayanan publik. Selain itu. departemen. partai politik tersebut melupakan kepentingan rakyat dengan memperkaya diri sendiri.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia agenda dan tantangan pembangunan. Dalam bidang pelayanan publik. berbelit-belit.

Proses koordinasi bertujuan mengurangi salah pengertian dan konflik antara orang-orang yang melakukan berbagai kegiatan. Sebagai sebuah organisasi yang pada awalnya didesain untuk Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 18 . Besarnya kekuatan hubungan yang bersifat formal yang dicerminkan dalam komunikasi antara staf yang di bawah dengan yang di atasnya yang masih didominasi oleh perasaan “ewuh-pakewuh”. Masing-masing individu yang ada dalam organisasi memiliki peranan. Aktivitas organisasi terjadi atas hubungan antar peranan. Fakta bahwa birokrasi sangat dipengaruhi oleh lingkungan eksternalnya. sehingga di antara anggota dapat saling mengerti dan memahami tentang tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan tugas guna mencapai tujuan. komunikasi akan berhasil dengan baik apabila pesan yang disampaikan dapat dimengerti oleh si penerima pesan dan sesuai apa yang dimaksudkan oleh sumber. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah lingkungan dalam pemerintahan dalam hal ini terkait dengan sistem politik yang ada. maupun lingkungan global sebagai interaksi antar negara. sesuai dengan harapan dan keinginan Latar belakang pemahaman politik yang berbeda dan kepentingan sektoral yang berbeda pula pada birokrat juga memberikan andil dalam merepresentasikan kecenderungan perilaku yang kurang harmoni di antara kelembagaan pemerintah. dapat dilihat dari perkembangan pelaksanaan birokrasi. komunikasi juga merupakan bagian penting. Kondisi ini juga dipengaruhi masih rendahnya penggunaan alat komunikasi bermedia dalam komunikasi antara staf pada bagian bawah dengan atasnya (Sumardjo. adanya pemusatan tindakan. Beberapa faktor pada umumnya bukan merupakan faktor-faktor yang berdiri sendiri. akan tetapi lebih sering faktor-faktor ini saling kait-mengait dalam mempengaruhi dinamika birokrasi. 1999). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam koordinasi antara lain adalah adanya kesatuan tindakan. Sebagai organisasi birokrasi dipengaruhi lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor atau komponen-komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menentukan kinerja birokrasi. karena peranan akan melekat pada individu-individu atau posisi-posisi yang ada dalam organisasi. FAKTOR EKSTERNAL Birokrasi sebagai organisasi pada prakteknya tidak berada dalam ruang hampa. Komunikasi menunjukkan proses penyampaian pesan dari sumber kepada penerima. Oleh karena itu. sehingga dapat dipastikan bahwa semua anggota bergerak ke arah tujuan yang sama. 2. dan adanya pedoman dalam pelaksanaan koordinasi. Kemampuan berkoordinasi dan fokus pada kegiatan untuk maju bersama sukar dilakukan. Koordinasi harus dilakukan antar anggota. dinamika masyarakat yang dilayaninya.2. Selain koordinasi.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia memberikan pelayanan kepada masyarakat masih belum masyarakat.

Demokrasi kemudian menjadi salah satu nilai justifikasi yang menentukan daya terima masyarakat dunia terhadap suatu pemerintahan. Birokrasi di Indonesia. Implikasinya setiap pemerintahan dituntut Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 19 . Di sisi lainnya lingkungan eksternal berpotensi menjadi ancaman bagi keberadaan birokrasi. khususnya dinegara-negara dunia ketiga terhadap implementasi demokrasi dalam kehidupan bernegara. adopsi demokrasi. Kondisi menguatnya demokratisasi dapat dilihat dari perkembangan dramatis ketika Uni Sovyet sebagai salah satu blok kekuatan besar dunia runtuh dan berakhirnya perang dingin. lingkungan eksternal memiliki beberapa potensi terhadap birokrasi di Indonesia. Di satu sisi adalah terdapat peluang lingkungan eksternal mampu memberikan fasilitasi dan stimulasi terhadap semakin meningkatnya kinerja birokrasi. Lingkungan eksternal yang mempengaruhi birokrasi Indonesia dapat dilihat dalam dua aspek. serta gelombang IT yang semakin meningkat. Pertama adalah lingkungan global dimana dinamikanya sangat ditentukan oleh interaksi antar negara. interaksi masyarakat Indonesia sebagai bangsa. Saat ini justru pemerintahan yang dianggap terlalu “birokratis” dianggap tidak efektif. Lingkungan eksternal strategis yang dapat menjadi peluang memicu peningkatan kinerja birokrasi adalah adanya gelombang demoktarisasi yang menjadi mainstream pandangan global.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia mampu melaksanakan fungsi-fungsi pemerintahan dengan aturan dan hirarki yang sangat ketat. Pergeseran dan pemikiran kembali birokrasi yang saat ini berlangsung tidak terlepas dari berubahnya kondisi dinamis hubungan antara negara. Dalam konteks pemikiran semacam itu. dan meningkatnya gelombang teknologi informatika. Kondisi yang terakhir ini amat mungkin terjadi apabila biokrasi di Indonesia tidak mampu merespon atau mengantisipasi lingkungan eksternal secara tepat. saat ini mulai mengalami beberapa modifikasi dari pemikiran awal. Kedua adalah lingkungan yang merupakan kondisi dinamika sistem politik dan pemerintahan Indonesia. dan dinamika interaksi antara peran-peran pemerintah masyarakat dan swasta. Namun pembagian lingkungan eksternal birokrasi semacam ini tidak serta merta membagi lingkungan eksternal yang berpengaruh terhadap birokrasi berdiri sendiri dan terlepas satu dengan yang lain. dapat dipahami dinamikanya dalam kontek keterkaitan dan saling mempengaruhi faktor-faktor yang dapat dikategorikan sebagai lingkungan eksternal. adalah meningkatnya tuntutan akan penerapan prinsip-prinsip ”Good Governance”oleh masyarakat dunia terhadap pelaksanaan pemerintahan. Salah satu indikator yang paling dirasakan dari proses demokratisasi global tersebut. Karena faktanya dimensi lingkungan global amat mempengaruhi dinamika pemerintahan termasuk birokrasi suatu negara. tetapi pemahaman lingkungan eksternal ini tetap dalam pengertian saling ada ketarkaitan satu dengan yang lainnya. Kondisi yang demikian berimplikasi pada semakin besar daya terima global. cara pandang.

masyarakat dan dunia usaha memberikan suatu kondisi yang baik. dan keterbukaan. sehingga memberikan peluang bagi terciptanya kinerja aparatur pemerintahan sesuai harapan dan tuntutan masyarakat. Dikaitkan dengan keseimbangan tiga pilar dari prinsip Good Governanve yang meliputi keseimbangan peran pemerintah. akan mendorong menguatnya ekonomi masyarakat. transparan. menuntut pengelolaan pemerintahan sesuai dengan prinsipprinsip Good Governance. sebagian telah diberikan dan dikelola langsung kepada swasta. Di sisi lain dengan semakin tingginya peranserta masyarakat berimplikasi pada semakin menguatnya peran-peran sipil dalam pengelolaan pembangunan. Dewasa ini. Implikasi dari meluasnya pandangan dunia mengenai demokratisasi yang menjadi idiologi global. pelaksanaan dan pengawasan. taat hukum. namun pada di era reformasi kegiatan-kegiatan publik. Implikasi dari kondisi yang semakin terbukanya pengelolaan kepemerintahan berimplikasi pada semakin mulai menguatnya peranserta masyarakat dalam pengelolaan pembangunan termasuk dalam melakukan pengawasan terhadap jalannya pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan dan pembangunan. Demikian halnya. akan mendorong penerapan secara konsistensi terhadap seluruh peraturan perundang-undangan. partisipasi. kegiatan yang bersifat publik.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia kemampuannya untuk menerapkan prinsip-prinsip demokratisasi dalam melayani masyarakat sekaligus warga dunia. Oleh karena itu kalau ketiga pilar tersebut dilakukan penguatan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 20 . demokratisasi. Arus pandangan global tersebut juga telah berpengaruh besar yang pada akhirnya mengubah seluruh tatatanan pemerintahan dengan terjadinya gerakan reformasi pada tahun 1998. bagi tumbuhnya rasa kebersamaan dalam penyelenggaraan negara. Gerakan reformasi tersebut. Demikian halnya kalau peran dunia usaha semakin kuat. dan berdimensi dalam kerangka hukum yang kuat. akuntabilitas. Keberlangsungan penerapan pemerintahan yang baik. kemudian kalau asumsinya peran masyarakat yang menguat mendorong terfasilitasinya pengawasan terhadap kinerja pemerintah. yang antara lain transparansi. menjadi monopoli pemerintah. dengan sendirinya akan memberikan suatu kondisi yang dinamis di dalam proses perencanaan. Pemikiran tersebut di atas dengan asumsi bahwa kalau peran pemerintah yang kuat. mengalami kemajuan yang cukup berarti dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelum era reformasi. desentralisasi. akuntabel. tidak dapat disangkal akses masyarakat terhadap perolehan informasi. tidak terkecuali Indonesia. Artinya setiap negara dituntut untuk meningkatkan kemampuannya dalam melakukan pelayanan kepada pelanggannya baik internal maupun pelanggan eksternal dengan lebih terbuka. di era sebelum reformasi. serta evaluasi kerja.

merupakan salah satu indikasi kehidupan demokrasi mulai bersemai dan tumbuh (Fukuyama. Pemikiran ini menghantarkan pada kehidupan yang melaksanakan aktivitas edemocracy. sehingga rakyat mempunyai kewenangan dalam memberikan kontribusi dan mengawasi terhadap apa yang menjadi keputusan. 2000). Kondisi ini mengandung pengertian bahwa pemerintah sebagai pelaksana amanah kekuasaan yang diberikan oleh rakyat. akuntabel. Selain itu kesadaran dan upaya memberikan peluang yang lebih besar terhadap peran-peran masyarakat. Jadi peran fasilitasi untuk memberdayakan masyarakat memberikan suatu iklim yang kondusif. Hal terkait dengan peran masyarakat yang merupakan penyeimbang daripada peran-peran yang dilakukan oleh pemerintah dan dunia usaha. sehingga birokrasi perlu terus berbenah diri dalam memperbaiki kenerjanya terkait dengan kemampuan bagaimana melakukan birokrasi proses fasilitasi tersebut dapat dijalankan dan dioptimalkan. Dengan demikian peluang dan kesempatan ikut dalam pembuatan keputusan (involvement ot the citizen in decision making) benar-benar dijamin sebagai suatu hak seluruh warga tanpa kecuali. yang berarti mendekatkan hasil kinerja dengan harapan dan kebutuhan yang menjadi khalayaknya. masyarakat dan dunia usaha. Namun demikian kondisi ini amat dipengaruhi sejauhmana keseimbangan selain peran pemerintah.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia secara terintegrasi. Keadaan ini banyak dilatarbelakngi oleh kesadaran terhadap hak-hak sebagai konsumen yang telah melakukan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 21 . Kondisi ini dapat dilihat dari peran-peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sudah menjadi bagian aktif dalam proses pembangunan. Dengan demikian pembangunan berorientasi masyarakat memberikan ruang bagi masayarakat untuk menemukenali masalahnya sendiri untuk kemudian dicarikan pemecahannya. referendum. maka akan melahirkan suatu pemerintahan yang kokoh. bersih dan Salah satu pemikiran yang mengatakan bahwa menguatnya peran masyarakat. Dalam satu sisi masyarakat semakin sadar akan haknya sebagai warga negara. panel warga. Peran-peran pemberdayaan masyarakat yang dilakukan LSM telah mengantarkan proses pembelajaran yang cukup bermanfaat bagi masyarakat. Implikasi lain mulai menguatnya demokratisasi di Indonesia adalah semakin menguatnya tuntutan untuk memperoleh pelayanan publik yang lebih baik dari birokrasi. dan bentuk lainnya sebagai bagian urgen bagi pemerintah untuk terus meningkatkan kemampuannya. di dalam era reformasi telah mulai kelihatan hasilnya. kuat. di sisi lain pemerintah juga semakin menyadari akan arti penting melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan yang pada hakekatnya menyangkut kepentingan dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. diharapkan mampu menjadi dinamisator. focus group. juga dibutuhkan saling keterkaitan dari ketiganya. dengan fasilitasi dari pemerintah.

Asumsinya pemerintah daerah yang kemudian memiliki kewenangan. yakni pemerintah. reformulasi kembali paradigma pengelolan pelayanan. Kemampuan memberikan pelayanan yang lebih baik akan dapat dilakukan apabila pemerintah mampu untuk menilai secara seksama. Aktifitas pelayanan yang berorientasi pelanggan dalam arti sebenarnya dengan demikian menjadikan birokrasi tidak boleh lagi berorientasi hanya kepada pelanggan internal. cheaper. Era teknologi informasi yang semakin cepat telah memberikan suatu implikasi bahwa informasi menjadi sesuatu yang sangat penting. Dengan demikian desentralisasi merupakan salah satu jawaban untuk mendekatkan dan mengefektifkan pelayanan kepada pelanggan. Kemampuan menangkap momentum ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi birokrasi di Indonesia. Prinsip dasar yang terkandung dari kedua UU tersebut adalah keinginan untuk meningkatkan pelayanan yang lebih tepat. Selain demokratisasi keadaan dunia saat ini berbeda jauh dengan dunia sebelumnya ketika era teknologi informasi (TI) belum hadir. Teknologi informasi juga telah merubah perkembangan global yang jauh berbeda dibanding sebelum era informatika lahir. sesungguhnya birokrasi Indonesia saat ini. lebih responsif dalam kepada masyarakat. upaya memberikan pelayanan yang lebih baik oleh pemerintah salah satunya dengan melakukan desentralisasi sebagaimana diamanatkan dalam UU No 32 dan No 33 tahun 2004. Dengan demikian. dunia saat ini seperti sebuah desa global dengan sekat-sekat geografis dan kewilayahan semakin kabur sebagai akibat perkembangan TI yang begitu pesat. Asumsinya adalah pemerintah daerah yang paling mengetahui masalah dan kebutuhan masyarakatnya. memiliki pelanggan sendiri-sendiri dengan karakteristik yang berbeda-beda. better…”. Dalam konteks pelayanan ini. apakah sebenarnya kebutuhan para pelanggannya. Reorientasi dimaksudkan bahwa tuntutan pelayanan secara menyeluruh tidak lagi dilakukan secara terpusat. Kesadaran terhadap hak diartikulasikan dalam bentuk tuntutan perbaikan pelayanan yang diselenggarakan oleh pemerintah. Kejadian apapun mengenai suatu pemerintahan di belahan bumi manapun dapat disaksikan pada saat yang sama di belahan bumi lainnya. Gelombang kecepatan teknologi informasi telah menghantarkan perubahan-perubahan yang sangat cepat. Desentralisasi yang memberikan kewenangan lebih besar kepada pemerintah daerah merupakan peluang yang menguntungkan dilihat dari perspektif upaya mengoptimalkan dan upaya membuat pelayanan lebih tepat sasaran dan berdaya guna. Karena dalam pengertian pelanggan maka pelanggan sesungguhnya adalah pelanggan eksternal dalam hal ini masyarakat luas. Gelombang atau fase menguatnya teknologi informasi telah memberikan ruang hidup Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 22 . yang diharapkan terdapat pelayanan publik yang “ faster. lebih baik. tetapi telah dapat dilaksanakan oleh pemerintah Daerah.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia kewajibannya dalam hal ini membayar pajak.

kualitas pemerintahan. kemampuan untuk menggali potensi dan cara baru guna meningkatkan daya saing atau melakukan aliansi strategis (innovator entrepreneual bureaucracy) seiring dengan tuntutan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Apabila suatu informasi berkenaan dengan pemerintahan dan pelaksanaan birokrasi di suatu negara dinilai baik. e-audit atau tesedianya TI dalam mendukung kerangka hukum dan kebijakan: semisal cyberlaw. Selain gelombang demokratisasi dan era teknologi informasi. maka akan memunculkan efek image yang baik terhadap pemerintahan tersebut. Dan kondisi seperti ini mendatangkan implikasi lebih luas berkenaan dengan persepsi terhadap bangsa. Pada perkembangan selanjutnya tuntutan kinerja birokrasi kemudian diukur dengan indikatorindikator yang sama dengan kinerja birokrasi di tempat lain. Informasi yang cepat diterima akan menimbulkan pemaknaan atas informasi. Suatu gagasan atau ide yang berasal dari tempat lain akan sangat mudah diketahui. didialogkan. Artinya pemerintah di setiap negara dituntut untuk memperbaiki kinerjanya sehingga mampu memberikan standar pelayanan yang berimplikasi pada kemampuan bersaing dengan negara lain yang pada gilirannya merupakan upaya Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 23 . maka birokrasi Indonesia memiliki peluang untuk mampu mendongkrak kinerja pemerintah dengan memanfaatkan teknologi yang semakin berkembang. stabilitas politik. dan banyak aspek lainnya. telecourt. sejauhmana rasa keamanan dapat tumbuh dan sejauhmana suatu pemerintahan dipercaya oleh warga dunia. APEC. ebusiness. Teknologi informasi telah menghantarkan kehidupan dunia yang semakin tidak ada batasnya. maka faktor global yang dapat menjadi peluang dan tantangan bagi birokrasi di Indonesia adalah semakin terintegrasinya ekonomi regional dan dunia yang mewujud dalam kelembagaan mengatur ekonomi bersama seperti AFTA. e-procurement. Budaya dari belahan dunia manapun mudah untuk diketahui. Dalam kesepakatan dan teritegrasinya perekonomian dunia terkandung pesan singkat baik bahwa kemampuan beradaptasi dan berkompetisi dalam memuaskan pelanggan (masyarakat) dimanapun menjadi standar dan nilai yang amat vital.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia tersendiri bagi birokrasi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Terkait dengan kondisi seperti ini. WTO. Dengan demikian TI telah mengahantarkan semakin diterimanya produk massal berupa gagasan oleh penduduk dunia. Teknologi informasi mampu dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya menyerap informasi dari pelanggan (masyarakat) secara cepat dan murah. Tersedianya TI dalam mendukung metode dan mekanisme kerja: e-government. Pada gilirannya informasi yang diterima oleh warga dunia akan berimplikasi pada sejauh mana warga dunia merespon untuk menanamkan investasi. dan apabila bermanfaat pastilah akan diadopsi. Pengetahuan yang tepat terhadap harapan dan kebutuhan pelanggan pada dasarnya diharapkan dapat memberikan implikasi kemauan meningkatkan kompetensi.

nabi sosialisme tersebut sesungguhnya telah meramalkan globalisasi ekonomi yang tak tercegahkan dan punya dampak luas sekali. John Micklethwait dan Adrian Wooldridge mengutip pandangan Marx dan Engels justru dalam konteks argumentasi tentang keniscayaan globalisasi. 2001). Apa yang telah diuraikan sebelumnya pada dasarnya adalah potensi-potensi positif implikasiimplikasi perubahan dan dinamika global yang berpengaruh terhadap dinamika di Indonesia yang dapat dijadikan dasar perlunya meningkatkan kinerja birokrasi. Namun demikian perlu disadari bahwa lingkungan eksternal juga memiliki suatu kondisi yang dapat mengancam eksistensi birokrasi di Indonesia. Dan kondisi ini mampu memberikan dinamika yang lebih besar dalam memutar roda perekonomian negara tersebut. Gagasan-gagasan dasar penyelenggaraan pemerintahan semakin hari menunjukkan kecenderungan mengerucut pada Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 24 .Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia mempertahankan eksistensi diri bangsa dan negara. ada paradoks dari globalisasi berupa kuatnya dan tak tertahankannya proses globalisasi di satu pihak. Karena ekonomi yang terintegrasi menggunakan indikator-indikator yang sama dalam melihat dan menilai pemerintahan suatu negara. Peluang-peluang tersebut akan memberikan fasilitasi dan stimulasi sehingga birokrasi memiliki momentum untuk meningkatkan kinerjanya. Dalam kutipan panjang dari The Communist Manifesto. Globalisasi telah menghilangkan batas geografis bangsa-bangsa di dunia. Kemampuan bersaing suatu negara dalam konteks ini dipengaruhi oleh seberapa cerdas suatu pemerintah mampu mengelaborasi potensinya untuk meningkatkan kemampuannya dan seberapa kompeten birokrasi mampu merespon dan melaksanakan fungsinya dikaitkan dengan tuntutan kualitas yang semakin deras. Eksistensi dalam pengertian ini adalah bagaimana peran birokrasi tetap aktual. Kemampuan birokrasi dalam merespon dan beradaptasi dengan dinamika lingkungan seperti ini akan berpengaruh terhadap “daya jual” suatu negara sehingga negara atau warga negara lainnya tertarik berinvestasi. yang tak sepenuhnya dapat dihadapi oleh negara-negara yang tidak siap untuk itu. Menurut mereka. Terintegrasi ekonomi dunia dapat dikatakan berpotensi menjadi peluang bagi pemerintahan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pelayanan sehingga Indonesia melalui fasilitasi birokrasi menjadi salah satu negara yang diperhitungkan sebagai tempat investasi yang dapat dipercaya. mampu merespon perkembangan dan dapat diterima oleh pelanggannya. Artinya standar minimal pelayanan oleh birokrasi di Indonesia harus mampu meyakinkan para investor bahwa Indonesia layak ditempatkan sebagai tujuan investasi. dan upaya merealisasikan cita-cita bangsa yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. dan di pihak lain adanya kerawanan (fragility). Menurut mereka. Mereka berpendapat. paradoks inilah yang menjadi tantangan terbesar dalam abad baru ini (Syahrir.

serta tidak adanya jaminan keamanan dalam mengelola usaha.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia gagasan upaya melayani pelanggan internasional sebaik mungkin. masih terbangunnya asumsi di kalangan birokrasi yang dilayani bukannya melayani. parlemen atau lembaga demokrasi. Beberapa pengusaha/pemodal yang telah membatalkan untuk menanamkan modalnya di Indonesia. maka yang terjadi adalah investasi ke Indonesia tidak bergerak. akan berimplikasi pada produk dagangan Indonesia di pasar internasional lebih mahal dibanding barang serupa dari negara lain akibat biaya yang tidak tertuga yang membengkak. yang pada perkembangan selanjutnya berdampak pada kesejahteraan bangsa Indonesia. Dengan memahami fenomena globalisasi akan memberikan kesadaran bahwa kinerja birokrasi kita senantiasa dipantau oleh orang lain. Pernyataan atas kondisi birokrasi yang kurang baik sebagaimana diungkapkan di atas. Maka ketika birokrasi Indonesia belum menunjukkan kinerja yang optimal berdasarkan lembaga-lembaga pemantau Internasional. regulasi. pemahaman globalisasi tidak sekedar kondisi keterkaitan antar negara. atau terpaksa menyelundup ke Malaysia dan menjual harga diri di Arab Saudi untuk mencari penghidupan (Wibawa. Ini terkait dengan persoalan keunggulan-komparatif kita di mata para penanaman modal internasional. Kalau birokrasi yang berbelit-belit. Ekonomi biaya tinggi. maka akan diperoleh masalah yang cukup serius dari sisi bagaimana suatu sistem demokrasi berlaku (Syahrir. Di era reformasi birokrasi harus mampu berkompetisi dengan perdagangan internasional. terkait satu sama lain dan bila lembaga-lembaga tersebut kurang berfungsi secara baik. Birokrasi Indonesia bersaing dengan birokrasi negara lain. Dengan demikian. lebih jauh dari itu adalah pencitraan yang tercipta dari kinerja Birokrasi Indonesia yang berdampak terhadap perekonomian Indonesia. yang antara lain diakibatkan oleh cara kerja birokrasi yang tidak profesional. Atas kondisi ini maka Niall Ferguson mencoba menjelaskan betapa birokrasi yang memungut pajak. Sebagai illustrasi Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 25 . Akibatnya kegiatan produksi dan industri pada umumnya menurun. karena investor berprinsip wait and see. memang sulit untuk bersikap optimistis dalam membangun kinerja yang lebih baik dalam memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Banyak tenaga kerja kemudian menganggur. proteksi maupun distribusi. 2001). Bila kita lihat birokrasi dewasa ini. karena alasan klasik yaitu biaya-sampingan yang relatif sangat tinggi untuk membuka usaha di Indonesia. Ini terkait dengan kecenderungan birokrasi menjadi monopoli terhadap produk layanan. 1998). Demikian pula. utang nasional dan Bank Sentral. menjadikan daya-saing kita lemah. Dalam konteks inilah birokrasi Indonesia berada. di samping itu juga berkaitan pengurusan izin yang bertele-tele di lingkungan birokrasi. memberikan pengertian bahwa Birokrasi akan berdampak kepada pencitraan Indonesia di luar dan memberikan kontribusi yang kurang optimal dalam pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintah dalam memberikan pelayanan publik.

regulasi. Hal lain yang perlu dicermati dalam perilaku birokrasi kita adalah netralitas terhadap pemimpin terpilih. bilamana birokrasi itu sendiri tidak memiliki kemampuan dan kejujuran sesuai yang dibutuhkan dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu akan semakin meruncingkan secara psikologis perbedaan orang kaya dan kalangan miskin (the have little). kecemburuan dan disitegritas dalam kehidupan berbangsa. Gejala ini berdampak negatif terhadap suportifitas pelayanan kepada seluruh lapisan masyarakat. ini akan memunculkan potensi yang bersifat berbahaya. perbedaan yang lebar antara yang kaya dan miskin dalam konteks pelayanan.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia bahwa birokrasi yang ada sekarang dapat efektif menjadi institusi tugas dan fungsi memungut pajak dari masyarakat. kecenderungan mengalami kesulitan pada proses produk dan layanan sampai kepada masyarakat. Birokrasi sebagai mesin dari pemerintah. maka pelayanan yang berpihak pada golongan tertentu saja. Itu dapat dilihat bagaimana oknum tertentu yang senantisa mendekatkan diri atau berafiliasi pada partai politik tertentu untuk mendapatkan suatu jabatan tertentu. Karena apabila tidak demikian maka sesungguhnya reformasi Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 26 . Namun birokrasi yang memonopoli memproduksi barang untuk kebutuhan dan kepentingan publik. adalah untuk menjaga kemampuan melayani pelanggan internal maupun eksternal tanpa diskriminatif. Demikian halnya bagaimana mungkin birokrasi sebagai organisasi yang melaksanakan dan mengaktualisasikan fungsi-fungsi pemerintah seperti pelayanan publik. Di samping itu aparat birokrasi masih melakukan aktivitas ekonomi baik pada waktu jam kerja maupun sesudah jam kerja. misalnya pada golongan yang memiliki uang atau yang mampu membayar berpotensi untuk merusak citra birokrasi secara institusional dan bisa berimplikasi luar terhadap keutuhan bangsa. kalau kemampuan untuk melaksanakan masih jauh dari harapan masyarakat. pada dasarnya memproduksi barang baik dalam bentuk benda maupun jasa untuk kepentingan seluruh warga tanpa kecuali. salah satu pertimbangan penting yaitu perlunya memperkuat netralitas birokrasi. yang tujuannya untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya. dan pada tahapan tertentu dapat meledak dan merugikan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Apabila ketidakmerataan dan ketidakadilan ini terus-menerus. Potensi ini antara lain terjadinya disintegrasi bangsa. peningkatan ekonomi yang lamban. relatif belum dilaksanakan secara utuh. Kecenderungan birokrasi ”yang berpihak” kepada salah satu segmen pelanggan. Sehingga harapan dari keseluruhan fungsi-fungsi tersebut belum mampu mencerminkan yang lebih baik sampai di era reformasi dewasa ini. Di samping harapan birokrasi sebagai institusi yang netral sesuai amanah UU Nomor 43 Tahun 1999. Terdapat kecenderungan bahwa birokrasi umumnya cenderung melakukan afiliasi politik terhadap pemerintah berkuasa. Oleh karena itu. proteksi dan distribusi.

Birokrasi yang merupakan organisasi yang memberikan pelayanan sejak lama telah dikenal sebagai organisasi yang mengabdi kepada penguasa. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 27 . Terdapat banyak alasan yang berusaha memberikan argumen terhadap kondisi ini. Fenomena yang dimaksud adalah kurangnya keterkaitan kegiatan antar wilayah. Dengan demikian tantangan terbesar birokrasi adalah bagaimana birokrasi mampu menjalankan kinerja yang mampu mempererat daerah dalam bingkai NKRI. menjalin sinergi. Namun dalam implementasinya otonomi daerah masih memunculkan fenomena-fenomena yang sebenarnya tidak diharapkan. Dalam konteks pengertian ini terdapat pemahaman yang cenderung memaknai otonomi dengan bekerja secara sendirian. sehingga orientasi pelayanan di daerah pun masih memiliki nuansa yang kuat mengabdi kepada penguasa daerah Kerangka pemikiran otonomi belum dimaknai secara benar. dan kecenderungan konflik pengelolaan SDA antar daerah dan antara daerah dengan pusat. meningkatnya keinginan untuk meningkatkan pembanguna di daerahnya sendiri tanpa memperdulikan daerah lain. Implementasi UU No. Pemikiran yang menguat adalah bahwa otonomi daerah adalah upaya untuk mengelola daerah dengan sumberdaya sendiri untuk kesejahteraan masayarakatnya sendiri. • Kondisi semacam ini merupakan fenomena yang harus dihadapi oleh birokrasi di Indonesia. munculnya daerah-daerah miskin baru karena kompetisi yang tinggi antar wilayah. dengan memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah untuk menyelenggarakan pengelolaan daerahnya. 32 dan 33 tahun 2004 telah mengisyaratkan komitmen pemerintah dalam menyikapi dinamika masyarakat.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia politik yang sedang dijalankan akan menemui batu sandungan ketika birokrasi belum mampu menempatkan dirinya dalam koridor netralitas. Pada saatnya lemahnya kemampuan untuk bersikap netral akan menyebabkan terjadinya stagnasi Reformasi. Semestinya otonomi adalah upaya untuk memaksimalkan peran daerah dalam memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menjadi lebih sejahtera dengan jalan memampukan masyarakat. Pemerintah Indonesia dalam perkembangannya telah berusaha merespon dinamika lingkungan. potensi peningkatan disparitas antar-daerah karena perbedaan sumberdaya yang dimiliki. Namun bila di kelompokkan maka alasan munculnya fenomena yang cenderung dapat dikategorikan negatif tersebut adalah: • • Cukup lamanya berada dalam kondisi sistem pemerintahan yang sentralistik telah memberikan nuansa yang kuat munculnya distrust antar daerah. dan mengkonstruksi aktivitas yang dapat memberikan kontribusi yang menguntungkan pada daerah-daerah yang saling bersinergi.

Kajian ini diarahkan untuk mengoptimalkan kekuatan–kekuatan birokrasi dan meminimalkan atau bahkan meredusir kelemahan-kelemahan yang ada untuk menangkap peluang dan mengantisipasi tantangan dan ancaman yang semakin hari semakin bertambah dan semakin kompleks. maka reformasi birokrasi merupakan upaya untuk mewujudkan prinsip-prinsip demokrasi dalam konteks pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintah yang penting yaitu pelayanan publik.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia Pemahaman terpenting dari paparan kondisi birokrasi Indonesia adalah bahwa bergeraknya roda reformasi politik. Dan apabila kekuatan ini dapat dimanfaatkan. Jadi masih terdapat kecenderungan birokrasi mengabdi kepada kepentingan pemerintah berkuasa. Dalam hal ini terdapat kecenderungan bahwa birokrasi masih belum mampu membuat orientasi yang berimbang antara pelayanan terhadap pelanggan internal dengan pelanggan eksternal. Di samping kondisi-kondisi yang bersifat positif tersebut. Selain adanya sistem pengawasan internal yang relatif cukup baik. Kekuatan-kekuatan tersebut yaitu bahwa birokrasi ditinjau secara kelembagaan telah memiliki perangkat yang memadai. Ditambah lagi implmentasi otonomi daerah merupakan harapan baru yang memberikan ruang gerak birokrasi untuk lebih mendekatkan pelayanan kepada masayarakat dan lebih akurat mengenali kebutuhan masyarakat. SDM yang cukup besar untuk mengawaki birokrasi disamping adanya kecenderungan peningkatan keterampilan karena adanya sistem pelatihan yang berjalan cukup baik. pastilah berpotensi menjadi kekuatan yang mampu menggerakkan birokrasi sebagaimana diharapkan. Banyak masalah yang melingkupi birokrasi di Indonesia. Yang dimaksud perangkat disini adalah keberadaan organisasi yang jelas. Kondisi seperti inipun terjadi di daerah. akan sulit mencapai hasil maksimal seandainya belum dibarengi dengan reformasi birokrasi. dan sebenarnya juga terdapat sistem manajemen yang mampu mengoperasionalkan sekaligus pola pengawasan fungsi-fungsi pemerintah yang menghasilkan pelayanan kepada masyarakat. Bila reformasi politik merupakan upaya meletakkan prinsip-prinsip demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. regulasi. distribusi dan proteksi. harus diakui terdapat beberapa kelemahan yang masih melekat pada birokrasi Indonesia yang secara umum dapat disebutkan antara lain masih belum kuatnya posisi birokrasi terkait dengan relasinya terhadap pemerintah berkuasa. terdapat kondisi atau iklim kehidupan demokratis yang semakin meningkat yang dapat ditunjukkan dengan semakin menguatnya peran pers sebagai salah satu instrumen penting dalam kehidupan demokrasi. baik secara internal maupun eksternal di mana birokrasi berada. berturut-turut hal ini adalah pelanggan negara sendiri dan pelanggan masyarakat. Apabila dicermati maka pada dasarnya terdapat beberapa hal penting yang sesungguhnya merupakan kekuatan-kekuatan birokrasi di Indonesia. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 28 .

akuntabel. Kondisi-kondisi ini memunculkan menyuburnya penyimpangan pelaksanaan. Pada perkembangan selanjutnya masyarakat akan apatis terhadap perkembangan reformasi yang sedang berjalan. maka antara seseorang yang berprestasi atau tidak berprestasi tidak terdapat perbedaan disebabkan reward-nya sama saja. dan pada perkembangan selanjutnya terjadi stagnasi reformasi. sehingga terjadi proses seakan-akan “pengaplingan wilayah” sebagai implementasi pemahaman otonomi yang bersifat kewilayahan. Demikian pula. dapat kita lihat dari kenyataan semakin diakuinya pandangan sinis. dan memiliki kerangka hukum yang jelas yang akan eksis dan diminati warga dunia untuk memutar roda ekonomi melalui investasi. Apabila kondisi ini terjadi terus menerus. Kemandirian belum dimaknakan sebagai peluang sinergi dan membentuk networking antardaerah. Fakta yang lain adalah semakin terintegrasinya dunia dalam kelembagaan-kelembagaan ekonomi bersama. koordinasi yang belum berjalan antar lembaga. bahwa bila bekerja sebagai PNS. pandangan dunia yang semakin meningkat (menjadi mainstream) terhadap perspektif kehidupan demokratis. Artinya pengelolaannya masih belum berjalan on the right track. Rakyat yang semakin sadar dan tahu politik. Kondisi semacam ini bukan tidak mungkin mengingat proses reformasi politik yang berlangsung. maka bukan tidak mungkin reformasi politik yang saat ini terus bergulir dan sedang berproses.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia Dalam konteks lokal terdapat beberapa pemahaman umum bahwa implementasi otonomi daerah ternyata masih dimaknakan secara tidak tepat. tanpa secara simultan disertai dengan reformasi birokrasi akan semakin membuat masyarakat tidak puas. Pemahaman terhadap kekuatan dan kelemahan birokrasi dengan lingkungan strategis eksternal yang dapat mengancam birokrasi sendiri dan keseluruhan pemerintahan yang melayani rakyat Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 29 . tetapi justru terdapat kecenderungan meningkatkan persaingan yang ujung-ujungnya kurang bermanfaat kepada masyarakat. Pada faktanya terdapat tantangan dan ancaman yang besar bila birokrasi tidak segera dibenahi. dan masih lemahnya merit sistem aparatur di kalangan pelaksana birokrasi. yang memiliki konsekuensi hanya pemerintah dan birokrasi yang credibel. kehidupan dunia pers yang semakin meningkat. Di samping kelemahan seperti ini terdapat kenyataan bahwa dalam implementasinya sistem manajemen yang sudah tersedia dalam biokrasi belum berjalan sebagaimana diharapkan. dan terbuka. Terdapat beberapa kasus misalnya seperti bangunan fisik kantor pemerintah yang demikian megah. transparan. sementara pihak lain masyarakat daerah bersangkutan belum sejahtera. sudah pasti akan memunculkan tuntutan-tuntutan pelayanan yang semakin besar dan meningkat dari segi kualitas maupun kuantitasnya. tidak akan mencapai hasil maksimal.

maka harus diupayakan suatu upaya sungguh-sungguh dan terencana dalam rangka menginternalisasikan prinsip-prinsip good governance (GG) sebagai nilai dalam keseluruhan pelaksanaan birokrasi. dan swasta. Artinya harus terdapat suatu sistem yang menjamin agar GG tidak hanya sekedar paradigma.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia Indonesia. Artinya perlu diupayakan secara sungguh-sungguh agar kinerja birokrasi berkompetensi menjadi pemerintahan yang baik dan bersih. dengan peran swasta dan masyarakat di sisi lainnya. Dengan kesadaran kekuatan dan kelemahan serta tantangan yang dihadapi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 30 . Selaras dengan semakin menguatnya tuntutan terhadap penerapan dan aktualisasi tata kepemerintahan yang baik. utamanya tercermin dalam kerangka keseimbangan peran pemerintah. Dari paparan diatas dapat dicermati bahwa secara keseluruhan terdapat faktor-faktor yang bisa mendorong timbulnya pembaharuan aparatur negara/pemerintah terkait dengan birokrasi sebagai sistem (Thoha. masyarakat. seiring dengan berjalannya reformasi politik. transparan. maka reformasi birokrasi dapat segera diupayakan dengan menguatkan kembali kemampuan untuk berperilaku kredibel. akan tetapi merupakan nilai yang teraplikasi dalam kehidupan sehari-hari. serta standar yang jelas dari dunia Internasional mengenai kinerja birokrasi yang baik. yakni: Pertama. dan kerangka hukum yang jelas sehingga menjadi ruh sekaligus jasad dari birokrasi Indonesia. 2004) yaitu: Adanya kebutuhan melakukan perubahan dan pembaharuan Memahami perubahan yang terjadi di lingkungan strategis nasional Memahami perubahan yang terjadi di lingkungan strategis global Memahami perubahan yang terjadi dalam paradigma manajemen pemerintahan Dengan demikian terdapat beberapa pemikiran terkait dengan pembenahan birokrasi yang mempertimbangkan lingkungan strategis internal dan eksternal serta birokrasi. sebenarnya birokrasi memiliki peluang meningkatkan kinerja justru dalam konteks semakin derasnya tuntutan perbaikan. akuntabel. Kedua. keterbukaan. memberikan pemaknaan lain bahwa masih terdapat peluang yang sangat berpotensi mengangkat birokrasi untuk lebih berperan optimal sebagaimana diharapkan dan diamahkan. yang mampu memberikan ruang sehingga terjadi perimbangan peran antara pemerintah di satu sisi. semakin meningkatnya partisipasi masyarakat dan kesadaran politik.

Dengan demikian tidak dikenali lagi birokrasi pemerintah daerah yang menjalankan fungsi-fungsi dengan hanya bersandar pada sentimen kedaerahan yang berujung pada egoisme daerah dan menjebak birokrasi untuk hanya melayani kepentingan pemerintah daerah. Kelima. Implikasinya diperlukan suatu upaya untuk menjamin agar terjadi proses pembelajaran yang berkesinambungan dan peningkatan diri terus-menerus dan upaya terencana untuk mengidentifikasi kesenjangan kinerja dan merespon dengan solusi yang tepat dan efektif. Diharapkan pendalaman Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 31 . Artinya harus diupayakan dengan sungguh-sungguh agar birokrasi memiliki kompetensi orientasi pelanggan internal dan eksternal yang jelas dan berimbang. Keempat. Ketiga. dan tidak dikenal lagi birokrasi yang mewujud sebagai agen yang berpotensi memunculkan polarisasi karena perbedaan pemberian pelayanan terhadap kelompok masyarakat berpunya (the have) dengan kelompok masayarakat yang kurang beruntung (the have not atau the have little). terkait dengan interaksi ligkungan strategis internal birokrasi dan lingkungan eksternal birokrasi Indonesia yang harus dihadapi. Konsekuensinya pemikiran-pemikiran ini perlu dipertajam sehingga dapat memberikan arah yang jelas bagaimana upaya membenahi birokrasi yang lebih sistemis. dan menukik pada akar masalah birokrasi. dan juga pemerintah pusat untuk mengupayakan orientasi pelayanan yang tepat terhadap masyarakat. Keberhasilan pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintah akan sangat ditentukan seberapa kompeten SDM aparatur dalam memegang jabatannya (Jobs). terstruktur. tetapi melupakan substansi dan esensi fungsi pemerintah yang melayani masayarakat. Artinya harus diupayakan dengan sungguh-sungguh pemerintah daerah yang mampu menjalin sinergi (networking) dengan pemerintah daerah lain. birokrasi yang tidak memiliki ukuran dasar (bottom line) untuk dinilai kinerjanya. kesadaran terhadap implementasi fungsi-fungsi penting pemerintah pada dasarnya mengerucut pada pelayanan publik yang optimal. Pelaksanaan desentralisasi yang pada ujungnya adalah memeratakan kesejahteraan dan keadilan serta semakin mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dengan upaya desentralisasi melalui otonomi harus tetap menjaga kesatuan dalam bingkai NKRI yang mewujud pada otonomi masyarakat dan bukan pada otonomi wilayah.Gambaran Umum Birokrasi di Indonesia Keadaan ini memerlukan daya dukung lingkungan (sistem dan kelembagaan) dan kemampuan aparatur SDM. Sehingga tidak dikenal lagi birokrasi yang melayani dirinya sendiri atau hanya melayani Pemerintah. Dorongan kebutuhan untuk perubahan dalam rangka merespon dinamika lingkungan lokal dan global yang semakin kompleks dan penuh persaingan memerlukan dukungan kompetensi dari SDM aparatur. Kelima pemikiran di atas pada dasarnya adalah upaya-upaya yang perlu dipikirkan dalam membenahi birokrasi.

terhadap pemikiran ini menghantarkan pada penjabaran yang lebih jelas terhadap faktor-faktor atau determinan-determinan yang melingkupi masalah birokrasi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 32 .

sudah sepatutnyalah pemerintahan terlebih dahulu melakukan reformasi di lingkungan birokrasi pemerintah agar birokrasi mampu melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih efisien dan efektif. beragam keinginan. Dalam konteks ini maka pemahaman terhadap birokrasi yang belum optimal menjalankan fungsinya dapat dipahami pada aspek kelembagaan. Oleh karena itu. maka semua level yang dianggap pemerintah (government) pada hakikatnya memperoleh mandat dari rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Dalam pemerintah dengan rakyat dalam kehidupan berbangsa. proses. tidak berlebihan kiranya kalau menempatkan birokrasi pemerintah menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional 2005-2009. Tujuan dari Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 33 . namun pada saat ini konotasi birokrasi memiliki stigma yang tidak baik. Birokrasi yang tidak berjalan sebagaimana diharapkan dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan dari input. karena keberhasilan pembangunan lainnya sangat tergantung pada kinerja birokrasi. Kondisi seperti ini kemudian memunculkan kerancuan hubungan antara pemerintah dengan rakyat yang dilayaninya. Artinya pemerintah dalam hal ini memperoleh sebagian kekuasaan dari rakyat untuk melaksanakan proses fasilitasi atas kebutuhan rakyat yang bervariasi. dan sumberdaya manusia aparatur yang mengawaki birokrasi. dan faktor-faktor peluang dan ancaman di mana birokrasi tersebut berada. dan beragam status sosial budaya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bila ditelaah lebih jauh pemaknaan dengan diskripsi dari sekumpulan karakter tidak baik yang menunjukkan betapa frustrasinya masyarakat ketika berhubungan dengan organisasi publik yang terlalu “birokratis”. memperlancar proses (birokrasi weberian). Dengan demikian reformasi bidang lainnya tidak akan berjalan dengan baik tanpa terlebih dahulu ada mereformasi birokrasi pemerintah.Isu Strategis Reformasi Birokrasi BAB III ISU STRATEGIS REFORMASI BIROKRASI Pemahaman terhadap kata “birokrasi” dalam masyarakat umumnya mengarah kepada suatu pemaknaan dengan konotasi yang negatif. Untuk itu. kelambanan. Selanjutnya sebagaimana telah dijabarkan dalam uraian sebelumnya maka pemahaman terhadap birokrasi dalam kerangka untuk membenahi birokrasi harus dilihat secara seksama pada faktor-faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan birokrasi sebagai organisasi. berbelit-belit. dan output dari pelaksanaan konsep administrasi publik. dan nada miring lainnya. Kata birokrasi sering diasosiasikan dengan perilaku pemerintah yang merujuk pada inefisiensi. manajemen. Walaupun pengertian awal dari birokrasi sebenarnya adalah merujuk pada proses dan ketatalaksanaan untuk mengatur urusan-urusan publik dengan segala maksud untuk memudahkan.

misalnya sejauhmana tingkat implementasi demokrasi dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tantangan perubahan jaman. akan banyak dipengaruhi oleh aktivitas warga dunia yang memiliki kesamaan pandang. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 34 . Namun. dan menentukan alternatif kebijakan bagaimana yang harus diambil. akan tetapi lebih banyak kepada kesamaan visi dan misi dan sejauh mana pemerintah mampu memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggan. (d) pelayanan publik yang lebih optimal dan berorientasi pada pelanggan. dengan perkembangan teknologi informasi berdampak kepada pola komunikasi yang jauh dari gambaran sebelumnya. (c) kompetensi SDM aparatur yang semakin meningkat. sehingga muncul konsep-konsep yang berupaya untuk memperbaki konsep-konsep organisasi birokratis yang pernah digagas oleh Max Weber.Isu Strategis Reformasi Birokrasi mereformasi birokrasi ini adalah untuk menciptakan suatu kepemerintahan yang baik dengan didukung oleh aparatur pemerintahan yang handal. profesional. Dengan demikian pada akhirnya kemampuan suatu pemerintah merespon dinamika lingkungannya amat mempengaruhi eksistensi dan daya survive pemerintah bersangkutan . di samping perlu menemukenali permasalahan utamanya. untuk mewujudkan birokrasi seperti di atas tidaklah mudah. dan (e) pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah berjalan sesuai dengan tujuannya yaitu memberdayakan potensi daerahnya untuk kesejahteraan masyarakat. dan secara berkesinambungan akan dapat mencapai tujuan dan sasaran pembangunan nasional sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi. Dengan demikian. efektif dan kreatif. Sejak reformasi bergulir. (b) aktualisasi tata kepemerintahan yang lebih baik (good governance). Pemerintah yang bersih (Clean government) Perkembangan dan upaya memperbaharui pemerintah telah banyak dilakukan. birokrasi diharapkan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Pelanggan-pelanggan eksternal suatu organisasi (pemerintah) tidak lagi dipengaruhi oleh batas kewilayahan geografis. Perubahan dan perjalanan suatu negara pada saat ini sudah banyak dipengaruhi oleh sejauhmana kemampuan merespon cara pandang dunia. inovatif. yang menjadikan dunia seakan tanpa batas (borderless). hal ini memerlukan telaahan mendalam terhadap permasalahan dan penyebab yang menjadi isu Strategis Reformasi Birokrasi. Dalam konteks ini maka kajian difokuskan pada isu strategis mengupayakan (a) pemerintahan yang lebih bersih. masyarakat mengharapkan untuk dapat memiliki birokrasi yang mampu melaksanakan tugas-tugas kepemerintahan dan pembangunan yang sebaik-baiknya dan mampu bersaing di era globalisasi.

dan mengalir melalui ruas-ruas monopoli (Johnston dan Alan Doig. terorganisir.9 dari rentang angka 0 – 10. Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia 1998 – 2003 TAHUN 1998 1999 2000 2001 2002 2003 IPK 2. Salah satu bentuk penyimpangan (yang sudah mengakar?) adalah korupsi.7 1. 1999). Tabel 2. Memang tidaklah mudah memberantas atau paling tidak mengurangi kejahatan korupsi. Tak pelak. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 35 .maupun masyarakat luas. mencapai 1. yang merembes.0 1.9 1. Apalagi kalau korupsi telah mendarah daging atau telah berurat berakar (entrenched corruption) dalam kehidupan masyarakat sebuah bangsa. kelompok terpelajar maupun berpendidikan rendah. kolusi dan nepotisme atau sering disebut dengan KKN. Bentuk-bentuk penyimpangan kerap kali menjadi indikator bahwa pemerintahan belum sepenuhnya bersih (merujuk pada pemahaman tata kepemerintahan yang baik dan bersih). Berdasarkan hasil survei Transparency International (TI) dari 133 negara.7 1.9 URUTAN 80 dari 85 negara 96 dari 98 negara 85 dari 90 negara 88 dari 91 negara 96 dari 122 negara 122 dari 133 negara Sumber: Transparacy International (TI) Indonesia (2003) Tingginya angka korupsi memang sangat memprihatinkan dan merupakan informasi bagi bangsa lain akan betapa korupnya bangsa ini. Indonesia berada di urutan ke-122 dari 133 negara terkorup. Laporan terkahir di penghujung tahun 2003 mengukuhkan Indonesia di urutan ke-6 sebagai negara terkorup didunia. Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK) tahun 2003. Peringkat Indonesia yang sangat parah disebabkan karena korupsi telah menjamur hampir di semua lapisan masyarakat. sebagaimana ditunjukkan tabel berikut. Dengan pemahaman ini maka sebenarnya terdapat fakta bahwa kinerja birokrasi pemerintahan dinilai sangat buruk. Artinya aktivitas korupsi dilakukan oleh pemerintah. mulai dari level aparatur tertinggi sampai level terendah. swasta.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Tidak dapat dipungkiri bahwa birokrasi Indonesia masih berkutat dengan keadaan yang tidak menyenangkan. 2003). perlahan namun pasti akan mengubur sebuah bangsa menuju jurang kemiskinan yang paling dalam dan menjadi bangsa yang tidak bermartabat atau bangsa dan negara yang berdaya saing rendah (Nur Cholis majid.9 1.

masyarakat dan dunia usaha (swasta) akan memfasilitasi dominasi peran oleh pelaku tertentu. formulanya dapat di tuliskan C = M + D – A ( Corrupution = Monopoly power + Discretion – Accountability). Dari konsep ini maka rendahnya akuntabilatas akan mendorong peluang terjadinya maladministrasi dalam hal ini korupsi. Selain aspek akuntabilitas beberapa ahli mensinyalir bahwa kekuatan kepemimpinan memiliki faktor penting dalam konteks tumbuh atau malah meredupnya korupsi dalam kelembagaan tertentu. kelemahan manajemen. kultur organisasi kurang benar. lambatnya pertumbuhan ekonomi serta belum terciptanya masyarakat madani (civil society). (Klitgard. Moral disagreement dijunjung tinggi tanpa ada rasa dendam dan dilaksanakan secara terbuka (Thoha. Untuk menyiasati kondisi ini maka korupsi dalam bentuk suap-menyuap menjadi rumus umum untuk Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 36 . dan memiliki kebijakan untuk menerima atau menolak. akuntabilitas kurang memadai. Pemerintahan yang demokratis menjalankan tata kepemerintahan yang terbuka terhadap kritik dan kontrol dari rakyatnya. manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasinya. serta diikuti akuntabilitas yang samar-samar atau bahkan tidak ada. tingginya praktek KKN. (Johnston dan Alan doig. bahwa ketidakseimbangan peran dan konstelasi dari ketiga komponen yakni pemerintahan. 1996). Pada sisi lain. Konsekuensinya adalah sulitnya mencapai akuntabilitas administasi dan pemerintah yang peka terhadap tuntutan masyarakat sehingga memunculkan ketidakbebasan aliran informasi. Pada faktanya suatu pemerintahan yang kurang representatif dan legitimate karena sulitnya pemilihan dan keterpilihan tidak berdasar sistem demokratis yang benar. Dalam aspek organisasi umumnya disebabkan oleh keteladanan kepemimpinan yang lemah. 2003). Terlihat juga bahwa kelembagaan yang memiliki peran atas monopoli jasa atau pelayanan tertentu akan mendorong terjadinya maladministrasi bila tidak diawasi dengan baik secara berkala. Sementara itu. Korupsi terjadi bila terjadi monopoli atas barang atau jasa tertentu. Perlu disadari bahwa salah satu sebab munculnya maladministrasi adalah masih dianggap panjangnya rantai birokrasi dalam pelaksanaan fungsi pemerintah terutama pelayanan publik. korupsi yang terus hidup dan relatif stabil ini banyak disebabkan dan dipengaruhi oleh lemahnya kompetisi politik. 1999). ketidakefektifan auditing internal maupun eksternal. Lebih jauh konsep Klitgard ini memberikan gambaran. rendahnya kompeten SDM aparatur. dan kebijakan yang tidak realistis.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Dinamika korupsi merupakan gabungan Monopoly power dan Discretion dikurangi dengan accountability. pembagian kekuasaan yang tidak jelas. sebenarnya dalam masyarakat madani terdapat praktek-praktek penghargaan terhadap keberagaman. fasilitasi perbedaan yang akan memperkuat sistem demokratis dan lahirnya pemerintahan yang demokratis.

Isu Strategis Reformasi Birokrasi memperpendek jalur birokrasi. tapi dapat dipastikan bahwa biaya barang yang diproduksi dan pelayanan menjadi lebih mahal. Selanjutnya penggunaan uang sebagai ukuran dalam transaksi publik (baca: pelayanan publik) akan memperdalam jurang dan fragmentasi sosial antara si kaya dan si miskin. sebuah pintu emergency akibat ketidakpuasan dan mengakibatkan bergantinya regime melalui proses kekerasan. Banyak kasus dimana korupsi yang menggurita menyebabkan chaos. Suatu tatanan di mana kentalnya semangat nepotisme seringkali memberikan kondisi di mana praktek menafikan (baca: ketidakpercayaan) terhadap keberadaan individu lain yang secara sosial budaya berbeda dari individu lainnya. korupsi jelas-jelas telah merusak sebuah kehidupan ekonomi masyarakat. GONE theory yang dikemukakan oleh Jack Bologne menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kecurangan meliputi Greeds (Keserakahan). Needs (Kebutuhan). dan Exposures (pengungkapan). Dalam konteks ini adalah pelanggan eksternal yakni masyarakat (civil society). Opportunities (Kesempatan). Dalam perspektif lain. 2000). Sejalan dengan hal itu. meningkatkan investasi yang tidak produktif. Walaupun faktanya pada batas tertentu korupsi dapat memperpendek jalur birokrasi yang rumit dan panjang. 1999). pemerintah yang tidak peka. karena sulitnya akses yang rendah bagi si miskin karena tidak memperoleh pelayanan layak karena tidak memiliki “alat transaksi” (baca: uang suap). serta tumpul dalam penyelesaian pemenuhan kebutuhan masyarakat. Padahal pelaksanaan administrasi publik senantiasa diselenggarakan dalam koridor orientasi untuk memenuhi kebuhan pelanggan. apatisme masyarakat. Implikasi dari kondisi ini adalah munculnya rasa ketidakpuasan. di dalam masyarakat itu sendiri telah terjadi kekentalan semangat etnisisme dan melemahnya kepercayaan (trust) di antara anggota masyarakat itu sendiri (Fukuyama. Persoalannya walaupun terdapat kondisi pemotongan “alur” birokrasi karena ada pelicin sesungguhnya kondisi ini tetap bagian yang merugikan karena mamiliki andil pada high cost yang harus ditanggung oleh masyarakat. Dalam batas-batas tertentu apabila modal sosial (social capital) kian melemah. sebuah bangsa berada pada titik nadir kebangkrutan. Faktor-faktor Greeds dan Needs berkaitan dengan individu pelaku (actor) kecurangan. Dengan demikian sejauhmana keberhasilan proses dan prosedur penyelenggaraan fungsi pemerintah pada hakikatnya terukur dari sejauhmana kebutuhan dan harapan dari pelangganya terpenuhi. Dengan demikian. sedangkan Opportunities Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 37 . berkontribusi terhadap menurunnya standart kualitas pada proses pembangunan baik fisik maupun non fisik yang mengakibatkan meningkatnya peluang berhutang (indebtedness) dan pemiskinan (inpoverishment) (Stapenhurst dan Shahrzad.

Ada yang berani tetapi tidak punya kuasa. Pemikiran ini relevan dengan konsep pemenuhan kebutuhan manusia di satu sisi. Konteks SDM dalam pendekatan kedua teori diatas terkait dengan keberadaan SDM aparatur yang sudah ada dalam kelembagaan pemerintahan. Konsep Carrot and stick dalam upaya menanggulangi KKN merupakan upaya rasional dengan meningkatkan kecukupan pada satu sisi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 38 . Pendekatan ini menjelaskan bahwa suatu perbuatan kriminal (termasuk korupsi) yang dilakukan oleh pelaku dapat terjadi karena adanya niat dari diri pelaku dan karena adanya kesempatan untuk melakukannya. dan visioner mampu menerapkan prinsip-prinsip pelayanan yang berkualitas kepada masyarakat. Ada yang mampu tetapi tidak boleh. Ada yang tahu tetapi berlagak tidak tahu atau tidak mau tahu. Artinya dengan memahami bahwa KKN terus merajalela. punya kemauan dan keberanian tetapi tidak tahu” (Ismail Saleh. transparansi. Pemberantasan KKN memang pelik dan rumit untuk dilaksanakan bila tidak ada kemauan kuat dari semua pihak atau stakeholders yang terkait. Berdasarkan teori ini maka korupsi dapat terjadi apabila terdapat keadaan G-O-N-E yang kondusif untuk korupsi. Ada yang punya kuasa tetapi tidak mau. Ada yang mengetahui telah terjadi kebocoran keuangan negara tetapi tidak rela melaporkannya kepada penegak hukum. akuntabilitas publik. Kerumitan ini tercermin bahwa “pemberantasan korupsi tersebut diibaratkan lingkaran setan. (Niat + Kesempatan = Criminal). sehingga mampu melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya.Isu Strategis Reformasi Birokrasi dan berhubungan dengan korban perbuatan kecurangan (Victim). Ada yang boleh tetapi tidak berani. Pendekatan kedua. Syarat kompetensi diharapkan memberikan saringan bagi individu yang layak untuk menempati posisi yang sesuai. maka Kepemimpinan menjadi satu faktor yang amat penting dan urgen. Hal ini dilatarbelakangi asumsi. bersih. meningkatkan otonomi manajerial. Sebaliknya ada pula yang punya kuasa. SH 1988). dilihat dari faktor Internal dan eksternal. kepemimpinan yang kuat (dalam arti tegas). dan menciptakan pengelolaan manajerial yang bersih dan bebas dari KKN. maka harus diupayakan suatu sistem pengobatan yang layak dan yang tepat bagi SDM aparatur pemerintahan. kejelasan baku kinerja dengan implementasi sanksi dan penghargaan pada sisi yang lain untuk meningkatkan kompetensi seseorang (Gie. 2003). dan menegaskan sanksi berupa hukuman apabila pelanggaran terjadi. Dengan melihat faktor-faktor determinan dalam upaya membersihkan KKN sebagai wujud clean governance. Ada juga yang tahu tetapi tidak mampu. yang umum dikenal dalam bidang kepolisian dengan formula N + K = C. Pada tataran pencegahan memang sangat dibutuhkan SDM yang benar-benar memiliki suatu kompetensi layak yang dibutuhkan pada bidang tertentu.

Aturan dan perundangan dalam konteks ini digunakan untuk memfasilitasi proses-proses pengurangan terhadap bentuk-bentuk penyimpangan. 8. 3. 13. dan Nepotisme tersebut. 7. Diharapkan dalam aturan-aturan yang ada Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 39 . Perangkat Hukum dan Perundangan Dalam Rangka Bersih dan Bebas KKN 1. 5. 4. 6. UU Nomor 24 Prp Tahun 1968 tentang pengusutan dan pemeriksaan Tindak Pidana Korupsi UU Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Tap MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN Tap MPR Nomor VIII/MPR/2001 Pemberantasan dan Pencegahan KKN tentang Rrekomendasi Arah Kebijakan UU Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN PP Nomor 65 tahun 1999 tentang Tata cara Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara PP Nomor 66 tahun 1999 tentang Persyaratan dan Tatacara Pengangkatan serta Pemberhentian anggota Komisi Pemeriksa PP Nomor 67 tahun 1999 tentang Tata cara Pemantauan dan Evaluasi Pelaksanaan Tugas dan Wewenang PP Nomor 68 tahun 1999 tentang Tata cara Pelaksanaan Peranserta Masyarakat dalam Penyelenggaraan Negara PP Nomor 19 tahun 2000 tentang Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Kepres Nomor 127 tahun 1999 tetang Pembentukan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi UU Nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi UU Nomor 30 tahun 2002 tetang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 2.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Pada dasarnya Indonesia telah berupaya untuk melakukan komitmen dan implementasi pelaksanaan bebas dan bersih dari Korupsi. 11. 12. Dan perangkat hukum dan perundang-undangan dalam rangka bersih dan bebas KKN sebagai mana tersebut dalam tabel 3 di bawah ini. 9. 14. antara lain: Tabel 3. kolusi. 10.

Selanjutnya aturanaturan yang jelas sebagai instrumen yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian dan penyelidikan terhadap adanya dugaan penyimpangan. transparansi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 40 . Di sisi lain maka upaya mendorong proses akuntabilitas. serta antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan penguatan kerangka hukum menjadi bagian yang tidak terelakkan. Seringkali pelaksanaan maladministrasi sebagai bentuk manifestasi bad governance belum disadari secara utuh. antara pemerintah dan masyarakat. masyarakat kurang menyadari akan keterlibatan dalam KKN. masyarakat kurang menyadari terhadap kerugian berakibat pada masyarakat sendiri. keterbukaan. Bila kondisi ini dapat tercipta maka sesungguhnya mekanisme check and balance akan berjalan baik pada tataran internal pemegang kekuasaan dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pelayanan publik. belum memiliki kemampuan yang optimal dalam menanggulangi praktek-praktek KKN. dan masayarakat. Kondisi ini. Namun demikian perlu disadari bahwa kondisi ideal sebagaimana yang diharapkan harus terus diperjuangkan. masyarakat kurang menyadari terhadap aktivitas pencegahan dan pemberantasan KKN butuh dukungan masyarakat. Ketidakseimbangan antar komponen sebagai ciri tata kepemerintahan yang baik akan memperlemah daya kontrol antar komponen yang satu dengan yang lain. masyarakat. umumnya disebabkan oleh beberapa sebab antara lain: nilai yang kondusif bagi KKN. dan swasta dapat diwujudkan. Pada tahap awal upaya-upaya untuk memberikan dukungan terhadap individu-individu bersih dan konsisten yang berjumlah sedikit dalam organisasi harus mulai dilakukan. tidak bisa tidak maka peran masyarakat dalam pengawasan sangat dibutuhkan. Sebagaimana telah disampaikan di depan bahwa instrumen aturan dan perundangan yang berupaya untuk memonitor sehingga memperlemah bahkan mengeliminasi bibit-bibit KKN sebenarnya sudah dilakukan. penyalah artian pengertian-pengertian dalam budaya bangsa yang tidak tepat. Memahami kompleksnya faktor-faktor determinan yang mempengaruhi tegaknya good governance dan clean government. sehingga keseimbangan peran antara pemerintah. Kejelasan aturan diharapkan dapat memfasilitasi pelaksanaan sanksi yang tegas bagi pihak-pihak yang melakukan penyimpangan. Dengan demikian perimbangan kekuasaan antar ketiga komponen akan memfasilitasi terjadinya check and balance. Pada akhirnya modal kesaling kepercayaan akan memberikan penguatan untuk melaksanakan kontrol secara bersama.Isu Strategis Reformasi Birokrasi terdapat proses-proses pembinaan sehingga berimplikasi munculnya pencegahan. Terdapat nuansa ketidakseimbangan yang kental dalam kondisi ini di mana pemerintah sebagai suatu komponen masih dirasakan lebih tinggi kedudukannya dibandingkan komponen swasta. Persoalannya efektifitas instrumen dan perangkat hukum.

desentralisasi. Clean governance (CG) terkait erat dengan akuntabilitas administrasi publik dalam menjalankan tugas. Dengan demikian etika administrasi publik akan memberikan suatu peran standarisasi baik dan buruk. mereka tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari etika administrasi publik. dan daya saing. efektivitas. Keberhasilan mewujudkan keduanya. dan dunia usaha (swasta). 1999). Untuk menemukan pemerintahan yang bersih dan berwibawa sangat tergantung kepada hal-hal berikut ini (Thoha. pengaliran informasi. professionalitas. Untuk itu. 2004): • Pelaku-pelaku dari pemerintahan. sensitivitas. masyarakat dan dunia usaha yang memiliki kompetensi. masyarakat. Bila ditarik pada pengertian bahwa kepemerintahan didefinisikan sebagai penggunaan kewenangan secara politis yang dipraktekkan dalam rangka mengontrol dan mengelola sumberdaya sebesar-besar untuk kepentingan masyarakat atau warganya melalui proses pembangunan ekonomi maupun sosial. dan wewenang yang diberikan kepadanya. serta upaya-upaya penertiban kehidupan berbangsa dan bernegara (Alan Doig. maka pemerintah memiliki kewenangan untuk pengaturan struktur dan kelembagaan. perumusan kebijakan. hanya dapat dicapai melalui keterlibatan pemerintah. tranparansi.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Sejauh ini padanan good governance dan clean government sudah sering kita dengar. komitmen dan konsistensi serta memiliki peran yang seimbang (check and balaces) dengan memelihara nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat. Apakah dalam menjalankan tugas. Perimbangan antar ketiganya tersebut akan memberikan suatu kondisi keseimbangan yang menghidupkan proses demokrasi di Indonesia. fungsi dan tanggungjawabnya. aktivitas kepemimpinan. fungsi. partisipasi. berbangsa. proses pembuatan keputusan. dan bernegara. efisiensi. Keduanya memiliki makna tata kepemerintahan yang baik dan pemerintah yang bersih merujuk pada suatu sistem penyelenggraan pemerintahan yang komit terhadap nilai dan prinsip kepastian hukum. penerapan good governance (GG) tidak dapat dilepaskan dari peran-peran baik pemerintah. dalam hal ini sangat ditentukan oleh kualitas sumberdaya aparaturnya Kelembagaan yang dipergunakakan mengaktualisasaikan kinerjanya oleh pelaku-pelaku pemerintahan untuk • • Perimbangan kekuasaan yang mencerminkan seberapa jauh sistem pemerintahan itu harus diberlakukan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 41 . kapasitas implementasi.

Kondisi ini lazim disebut sebagai pola patron-client. Dalam konteks ini maka para aparatur birokrasi yang seharusnya melayani justru memiliki paradigma minta dilayani. serta Bangladesh (102) atau negara-negara Afrika yang berada di urutan terbawah. dan filiphina (76). Peringkat ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Tiga faktor ini kemudian dinilai untuk menjelaskan seberapa jauh kemajuan sebuah negara dibandingkan dengan negara lain. dan kemajuan teknologi. Penyusunan GCR didasarkan pada tiga pilar yakni lingkungan ekonomi makro. dan peran swasta. Ini berarti seberapa jauh kepahaman. 2004) tentang global competitiveness ranking (GCR) menempatkan Indonesia berada di urutan ke 69 dari 104 negara yang diamati. demokratis dan responsif. Perimbangan antar ketiga peran tersebut akan memberikan suatu kondisi keseimbangan yang menghidupkan proses demokrasi di Indonesia. dan masyarakat yang inferior. Bila dilihat dari SDM aparatur pemerintah (pelaksana birokrasi) terdapat kelemahan yang cukup mencolok yakni adanya budaya aparatur yang belum mendukung terhadap upaya menerapkan dan mengaktualisasikan GG. maupun swasta. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 42 . Kondisi ranking Indonesia berdasar GCR dari WEF tahun 2004 ini menunjukkan seberapa jauh sebenarnya peran-peran pemerintah. Aktualisasi Prinsip-Prinsip Good Governance Laporan terbaru dari Forum Ekonomi Dunia (WEF. Sehingga dalam kondisi ini terdapat pihak yang superior yakni birokrat. Salah satu budaya yang juga merupakan bagian dari pewarisan pemerintah kolonial adalah adanya budaya birokrat yang ingin dilayani. Nampak jelas kebutuhan bagi dilaksanakannya deregulasi dan debirokratisasi untuk memfasilitasi tumbuh dan berkembangnya peran-peran yang optimal dari ketiga domain tersebut. masyarakat. Artinya peran-peran yang seimbang baik yang dimainkan oleh pemerintah. kemauan. dan swasta akan memberikan dukungan terhadap kondisi perbaikan Indonesia. tidak dapat dilepaskan dari peran-peran pemerintah. Penerapan good governance (GG) atau tata kepemerintahan yang baik. masyarakat. peran masyarakat sipil. Dengan demikian maka penerapan GG tidak dapat dilepaskan dari SDM dari ketiga domain baik pemerintah. yang mana Indonesia pada tahun 2003 menempati urutan ke 72. Walaupun urutan ini membaik akan tetapi secara umum posisi yang membaik ini terutama hanya unggul atas negara yang tercabik-cabik perang seperti Srilanka (73). Dalam konteks ini akan berpengaruh terhadap kemampuannya bersaing dengan negara lainnya. masyarakat dan swasta mampu bersinergi untuk mendinamisir keseimbangan peran.Isu Strategis Reformasi Birokrasi • Kepemimpinan dalam birokrasi publik yang berkahlak (visionary). dan kemampuan para pelaksana akan memberikan pengaruh terhadap penerapan GG. kesadaran. keberadaan lembaga pemerintah.

Isu Strategis Reformasi Birokrasi Pola patron-client ini telah mengakar dan menggejala hampir di keseluruhan level pemerintahan baik di tingkat pemerintah pusat. sedangkan aspek transparansi sebagai proses komunikasi dan memperoleh feedback belum dipahami secara tepat. sehingga yang terjadi adalah internalisasi nilai bahwa para pelaksana sistem birokrasi adalah orang yang berhak dilayani oleh masyarakat yang meminta pelayanan kepadanya. maupun di tingkat pemerintah daerah. Kondisi ini banyak dilatarbelakangi oleh pewarisan dan proses pembelajaran yang efektif utamanya ketika masa sentralisasi di jaman orde baru demikian kuat. Pengembangan organisasi dalam hal ini diarahkan pada organisasi yang memberikan ruang untuk belajar. akan tetapi dalam prakteknya bagaimana mengolah informasi dan digunakan untuk sebesar-besar menjadi pertimbangan yang berorientasi pelanggan masih belum diimplementasikan. dan terdapat kecenderungan birokrasi berpihak kepada golongan masyarakat kaya. Salah satu indikasinya antara lain adalah aspek transparansi yang merupakan salah satu dari prinsip GG yang telah diterapkan yaitu antara lain dengan membuka dan memfasilitasi keluhan masyarakat. Namun demikian perlu dipahami pengembangan SDM harus dilakukan secara simultan dan merupakan sinergi dengan pengembangan organisasi. Sehingga dengan demikian komunikasi konvergen yang diharapkan terjadi karena adanya aspek transparansi belum optimal terwujud. nyatanya belum sepenuhnya memberikan pengaruh signifikan dalam proses pergeseran/perubahan paradigma pemerintah sebagai pelayan dan sekaligus fasilitator. Dengan demikian organisasi dan peningkatan individu dalam proses pembelajaran harus mencerminkan: Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 43 . Harus disadari bahwa lemahnya penerapan dan aktualisasi prinsip-prinsip GG banyak dipengaruhi oleh keadaan. kondisi politik di Indonesia yang mulai berubah sejak digaungkannya reformasi politik dan munculnya orde reformasi. Kondisi di atas mencerminkan masih lemahnya SDM aparatur dalam mengaktualisasikan GG. dan menunjukkan gejala belum berubahnya paradigma tersebut terutama bila dilihat secara aktual dan faktual pelayanan publik. Namun GG dalam konteks proses dan bagaimana mengaktualisasikannya masih banyak yang belum memahami secara utuh. Proses pembelajaran dari para pemimpin birokrasi di level yang lebih tinggi memperoleh peneguhan ketika kondisi hirarkis organisasi pemerintah demikian kuat. Gaung perubahan paradigma “sikap melayani” pada aparatur pemerintah. Pemahaman bahwa GG adalah merupakan suatu syarat mutlak untuk memperbaiki kinerja pemerintah memang sudah dipahami. Indikasinya adalah masih begitu banyaknya keluhan masyarakat yang mempersoalkan demikian sulitnya berurusan dengan birokrasi. Jadi dalam hal ini aspek transparansi hanya dipahami dalam konteks keterbukaan saja. belum terinternalisasi secara substansial. yang mana pada dasarnya SDM birokrasi belum sepenuhnya memahami apa sebenarnya GG. memberikan informasi yang dibutuhkan masyarakat. Di samping itu.

Isu Strategis Reformasi Birokrasi (i) Sebuah kemampuan organisasi untuk menerima dan mengadaptasi sebagai sebuah sistem pembelajaran. Dalam hal ini perlu bertitik tolak dari konsep perbedaan atau kesenjangan performansi (Performance discrepancies) dimaknai sebagai selisih atau perbedaan antara apa dan bagaimana seharusnya seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What should be) dengan apa dan bagaimana yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What is). afeksi. Selanjutnya terdapat kesadaran untuk mengimplementasikan dalam tugas kesehariannya. Dalam konteks ini maka organisasi memfasilitasi pemahaman terhadap aturan baru. dan mungkin keterampilan yang baru Adanya perubahan jabatan yang berbeda (sama sekali) dengan jabatan yang aada atau dipegang seseorang dengan sebelumnya (iii) Dengan demikian maka upaya mengaktualisasikan GG harus benar-benar dilakukan dengan mengedepankan apa sebenarnya kebutuhan pemeberdayaan SDM aparatur. semacam komunikasi. dll Sebuah kapasitas untuk mempelajari keahlian interpersonal yang baru. mendorong komunikasi yang terbuka. Dengan demikian suatu kebutuhan atas peningkatan pemberdayaan terkait dengan aktualisasi GG pada dasarnya bersumber dari perbedaan atau kesenjangan antara what should be dengan What is dalam melakasanakan pekerjaannya sesuai posisi. (ii) (iii) (iv) Dalam pengembangan SDM terkait dengan penerapan dan aktualisasi GG. sikap. dan psikomotor dengan materi GG ditambah dengan memberian iklim yang kondusif sehingga SDM aparatur memiliki keinginan dan kemampuan untuk belajar. produktif dan kreatif. Perbedaan ini pada dasarnya dapat dibedakan menjadi: (i) (ii) lemah atau kurang baiknya seseorang dalam melaksanakan jabatan yang disandangnya saat ini Adanya suatu tambahan tugas spesifik dalam jabatan yang sama. Pemberdayaan kemudian dapat diarahkan pada kognitif. Pemberdayaan individu meliputi proses peningkatan kompetensi. maka dapat dilakukan pada pemberdayaan individu dan pemberdayaan kelompok. dan penggunaan informasi secara tepat Memunculkan sebuah iklim kelembagaan yang efektif Memantapkan lingkungan yang memfasilitasi dan memberdayakan individu untuk mampu bertanggung jawab. sehingga merupakan pengetahuan. iklim baru. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 44 .

Selain itu belum adanya upaya yang terencana untuk mengantisipasi era TI sebagai bentuk kemampuan pemerintah untuk melayani masyarakatnya. selanjutnya dengan sadar mencoba. Apabila kondisi ini berlanjut bukan tidak mungkin Indonesia tidak mampu bersaing dengan negara lain. Kesadaran pribadi diharapkan pada fase lanjut menjadi kesadaran kolektif dari birokrasi secara keseluruhan dalam mengaktualisasikan GG. kemudian terjadi proses evaluasi. Dalam konteks ini maka peningkatan kemampan SDM aparatur harus merupakan upaya sungguh-sungguh dan terencana dalam memberikan kesadaran. Perwujudan mutual understanding yang dibangun oleh komunikasi yang efektif sesungguhnya menjadi awal bagi perwujudan sinergi dan jaringan kelembagaan yang saling memberdayakan (enabling networking). Dalam masa-masa dimana informasi menjadi sangat penting dan sangat berpengaruh. dan pada akhirnya terdapat kesadaran yang jernih bahwa GG memang diperlukan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari. Kesadaran terhadap TI masih dikonotasikan dengan biaya mahal dan sulit menjalankan atau mengoperasikannya. Kondisi TI di Indonesia yang masih belum optimal lebih banyak dipengaruhi oleh rendahnya atau masih terdapat kesenjangan SDM pemerintah dalam mengaplikasikan TI dalam pelayanan-pelayanan publik. Dengan kesadaran bahwa aktualisasi GG belum optimal. maka sesungguhnya faktor teknologi dan sistem informasi juga memberikan pengaruh bagi belum optimalnya aktualisasi GG. Implementasi GG pada dasarnya memerlukan suatu kerjasama selain kebutuhan sama-sama kerja antar semua lembaga.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Selain kelemahan-kelemahan yang disebabkan oleh faktor SDM. Dalam konteks ini maka upaya koordinasi yang kuat menjadi suatu kebutuhan yang tidak dapat ditawar. lemahnya penerapan dan penguasaan TI oleh pemerintah tentu bukan kondisi yang menggembirakan. Kompetensi SDM Aparatur Salah satu upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan yang baik terhadap masyarakat adalah dengan diterbitkannya UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Implikasinya maka diperlukan suatu komunikasi yang efektif antar lembaga sehingga terjadi saling pengertian yang baik atau mutual understanding dalam pelaksanaan GG. atau bahkan tergilas oleh negara lain yang lebih maju TI-nya karena lebih banyak menguasai informasi. UU ini merupakan konsekuesi dari penerapan pemerintahan desentralistik yang salah satu tujuannya adalah Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 45 . lalu menjadi tertarik. Hasil GCR WEF tahun 2004 yang menempatkan Indonesia masih belum banyak fasilitasi teknologi dan sistem informasi yang mendukung daya saingnya. maka penting kiranya mengedepankan proses peningkatan kemampuan SDM dan daya dukung lingkungan organisasi (kelembagaan) dan TI.

yang dapat meningkatkan kemampuan diri dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja barunya. (3) komunikator harus mampu menampilkan sikap yang santun dan memberikan kesempatan terhadap komunikan untuk Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 46 . Dalam melakukan pelayanan yang baik. memahami cara-cara berkomunikasi yang baik. Kompentesi yang harus dimiliki oleh seorang aparat birokrasi sekarang dan yang akan datang agar dapat memberikan pelayanan secara profesional paling tidak harus memiliki kompetensi dengan karakter sebagai berikut: Memiliki pengetahuan dan ketrampilan serta wawasan yang luas terhadap pekerjaannya. memahami pengetahuan dasar hubungan interpersonal dan psikologi sosial. yaitu: (1) komunikator dan komunikan harus sama-sama berpola pikir positif yang didasarkan pada pola pikir yang sehat dan logis. memahami cara memposisikan diri dalam berbagai situasi sehingga muda beradaptasi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Artinya seleksi terhadap calon aparatur untuk menempati suatu jabatan tertentu belum secara optimal didasarkan pada analisis kebutuhan dan jabatan yang tepat.Isu Strategis Reformasi Birokrasi adanya pembagian dan distribusi kewenangan antara pusat dan daerah agar terwujud pelayanan secara efektif. minimal yang harus ada pada diri seseorang. memiliki pengetahuan yang sesuai dengan bidang tugasnya. Banyak pihak mengakui bahwa proses rekruitmen yang dijalankan masih belum menunjukkan pengaruh kinerja aparat yang bersangkutan. termasuk lingkungan yang dapat memperluas wawasan pengetahuan dan ketrampilannya. (2) komunikator dan komunikan harus mampu menempatkan diri pada kondisi yang tepat pada saat melakukan komunikasi atau komunikator harus mampu menempatkan komunikan pada posisi yang bebas dan manusiawi. Tidak dapat dipungkiri. yang berkaitan dengan pengetahuan dan ketrampilannya adalah: memiliki ketrampilan yang sesuai dengan bidang tugasnya. bahwa saat ini banyak posisi/jabatan di birokrasi diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kompentesi yang sesuai dengan pekerjaannya. memiliki daya kreativitas yang baik. Kita harus mengakui bahwa sikap dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor di dalam lingkungan hidupnya. seorang pelayan harus memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik terhadap yang dilayaninya. terjangkau dan transparan. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan aparat birokrasi yang memiliki kompetensi terhadap jabatan/posisi atau pekerjaannya. Sehubungan dengan pelaksanaan pelayanan yang baik. Implikasinya banyak aparatur yang memiliki latar belakang pendidikan (kompetensi) tertentu akan tetapi tidak berada pada posisi yang relevan dengan kompetensinya. dan mampu mengendalikan emosi. akuntabel.

dan (4) kemampuan memilih dan menggunakan bahasan yang sederhana dan gampang dimengerti oleh komunikan. Pengorganisasi dan pengendalian emosional dalam hidup bermasyarakat sangat penting. hubungan interpersonal dapat diartikan sebagai hubungan baik dengan pelanggan internal dan eksternal. Pemberian pelayanan yang baik terhadap pelanggan (masyarakat) akan lebih mudah bila antara pelayan dan yang dilayani mempu membina hubungan yang baik. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 47 . Hal ini dimaksudkan agar seorang pelayan memiliki pengetahuan tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku. Dengan mengetahui perilaku dan sikap individu dan kelompok masyarakat diharapkan seorang pelayan akan dapat memberikan respon yang tepat. Kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengorganisasi dan mengendalikan emosinya secara efektif. Memiliki pengetahuan dasar psikologi sosial. artinya setiap masyarakat yang membutuhkan pelayanan harus diperlakukan sama. Memiliki kecerdasan emosional yang stabil. ada yang perlu waktu untuk mempertimbangkan dan ada pula yang langsung menolak. Kemampuan untuk menjalin hubungan interpersonal juga merupakan hal penting dalam mewujudkan pelayanan yang baik. Hubungan interpersonal (personal relationship) dapat diartikan sebagai hubungan dengan orang lain yang ada disekeliling kita dengan cara-cara yang baik. dasar pengetahuan pembentukan sikap dan perubahan. Kaitannya dengan kegiatan pelayanan. Seseorang terdorong untuk menerima apabila dia senang. Kadang orang tidak sadar bahwa kekecewaan atau permasalahan di rumah terbawah di tempat kerjannya dan sebaliknya kekecewaan dan permasalahan di tempat kerjanya terbawah sampai ke rumah. merasa dihormati dan dihargai dan akan kecewa dan menolak apabila terjadi sebaliknya. Misalnya perlakuan pelayanan terhadap orang kaya dan orang miskin. fakta menunjukan bahwa orang miskin selalu di nomor duakan. serta pengetahuan tentang individu dan kelompok. Selain itu. Perlu diingat bahwa banyak keragaman perilaku manusia.Isu Strategis Reformasi Birokrasi memahami isi pesan sampai dengan memberikan umpan balik. Hal ini sangat penting karena selama ini. kekecawaan dan bahkan penolakan terhadap layanan yang diterima oleh pelanggan/komsumen juga sangat erat kaitannya dengan sikap seseorang. masyarakat sering mengeluhkan terhadap perbedaan pelayan yang dilakukan oleh oknum aparatur. baik dalam keadaan senang maupun susah. Orang semacam ini hampir dapat dipastikan akan akan memberikan pelayanan terhadap pelanggan/ komsumennya kurang baik. ada yang langsung terbuka untuk menerima.

Dengan memahami ini maka orientasi peningkatan kompetensi untuk menunjang pencapaian kinerja harus didasarkan pada empat dinamika sistem yang akan diberi perlakuan sehingga terjadi perubahan kompetensi. karena diakui uang atau suap yang besar lebih banyak merupakan faktor penentu bagi seseorang untuk berkarir atau bekerja dalam lingkungan birokrasi. kurangnya wawasan. minimnya penguasaan teknologi informasi merupakan karakter umum SDM aparatur birokrasi. Belum jelasnya penetapan kinerja secara detail dengan standar kompetensi kerja yang jelas sehingga memberikan peluang bagi seseorang yang sebenarnya belum memiliki kompetensi yang relevan dapat masuk pada posisi atau jabatan tertentu Disinyalir oleh banyak pihak bahwa kebutuhan atas penerimaan pegawai belum didasarkan pada kebutuhan nyata yang dihubungkan dengan tugas pokok suatu organisasi. (ii) (iii) (iv) Rendahnya kompetensi seperti di paparkan diatas harus dipahami dalam kerangka kompleksitas dan keterkaitan antara individu. jadi dalam hal ini pada standar komptensi kerja. Dinamika sistem yang dimaksudkan adalah: (1) Sistem Kepribadian individu. sehingga cenderunga rekruitmen pegawai semata-mata hanya menambah besar kuantitas aparat tetapi belum berkorelasi dengan kualitas Lemahnya pengawasan dalam rekruitmen pegawai semakin memperburuk kondisi kompetensi calon pegawai yang diterima dan menyuburkan praktek-praktek KKN. Setiap orang memiliki pengetahuan. Lebih jauh sebenarnya bila dicermati maka permasalahan masih rendahnya kompetensi SDM aparatur birokrasi dapat dilihat dari beberapa aspek: (i) Masih terdapat stigma di masyarakat bahwa persyaratan kompetensi tertentu untuk menduduki suatu jabatan (Jobs) di birokrasi tidaklah diperlukan secara ketat. Rendahnya inisiatif. lingkungan kerja. dan fasilitasi kebijakan dan pengawasan yang mempengaruhi kinerja.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Kondisi di atas merupakan kondisi ideal yang diharapkan ada dan menjadi melekat pada aparat yang memiliki jabatan (Jobs) tertentu. Namun demikian harus disadari faktanya kondisi SDM aparatur birokrasi masih belum optimal sebagaimana diharapkan. Kalaupun tidak maka standar minimal kompetensi adalah pada orientasi tugas dari pekerjaan yang diembannya. dan keterampilan tertentu yang akan menentukan bagaimana individu tersebut bertindak. Respon seseorang Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 48 . sikap.

disebabkan perbedaan unsur-unsur perilaku tersebut. Sistem kelompok. kecenderungan. dll. (3) (4) (5) Dengan demikian dalam peningkatan kompetensi SDM aparatur tetap dalam kerangka bahwa setiap individu memiliki potensi. kebijakan.Isu Strategis Reformasi Birokrasi (2) terhadap suatu stimuli permasalahan akan berbeda. Aspek Organisasi Pengawasan yang eksesif. Sama seperti kelompok. Sistem masyarakat (komunitas). maupun organisasi serta lingkungannya. struktur kelompok dll. dan peraturan diperlukan untuk memfasilitasi proses pembelajaran Konflik dapat difungsionalkan jika dapat disalurkan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 49 . individu berhubungan dengan kelompok. maupun interaksi eksternal organisasi dengan lingkungannya. sub kelompok. Sehingga dalam pengembangannya asumsi-asumsi berikut ini harus diperhatikan: a. maka organisasi terdiri dari beberapa bagian yang saling berinteraksi secara internal. Pemimpin dengan anggota. Secara Kelompok Kelompok-kelompok dan team adalah entitas kritis dalam keberhasiolan organisasi Kelompok-kelompok memiliki pengaruyh yang kuat pada perilaku individu Peran-peran kompleks dimainkan dalam kelompok membutuhkan pengembangan keahlian c. pertetanggaan yang umumnya bisa memiliki heterogenitas dari berbagai aspek seperti kesenangan. Interaksi yang terbentuk dalam komunitas lebih kepada antar bagian meliputi individu. membentuk dinamika sistem tertentu Sistem organisasi. Setiap bagian dalam kelompok akan berinteraksi secara khas. Secara Individu: Setiap orang ingin berkembang dan matang Pekerja pada dasarnya memiliki daya yang terkadang belum tergunakan dalam bekerja Banyak pekerja yang berharap peluang untuk berkontribusi b.

lebih didasarkan pada ukuran performansi dan pengalaman Pelayanan dengan melibatkan banyak orang (pihak) tentu bersifat sangat heterogen. dkk: 1990): Pelayanan bersifat tidak teraba (intangible). Kondisi ini disebabkan (Zeithaml. yaitu: penampakan (tangibles). Kompetensi (competence). Faktor-faktor yang mempengaruhi harapan para pelanggan: komunikasi dari mulut ke mulut atas suatau mutu pelayanan kebutuhan-kebutuhan personal pelanggan pengalaman-pengalaman masa yang lalu terkait dengan suatu mutu pelayanan komunikasi eksternal (komunikasi yang dilakukan oleh penyedia jasa atas jasanya) 3) Dimensi-dimensi mutu pelayanan. komunikasi (communication). sehingga proses ini mencakup bagian panjang sampai sebuah produk diterima oleh pelanggan Selanjutnya memperhatikan karakteristik pelayanan. Dalam banyak hal terdapat kesulitan dan kerumitan tersendiri untuk mengukur mutu pelayanan sebagai sebuah jasa pengantaran produk dan/ atau jasa pelayanan yang berdiri sendiri dibandingkan dengan suatu produksi produk tertentu. Sehubungan dengan hal ini maka penetapan suatu kinerja Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 50 . 2) Dalam pengembangan SDM terkait dengan kompetensi atas jabatannya dan kemampuan merespon dinamika lingkungan yang semakin kompleks.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Tujuan individu dan organisasi dapat disesuaikan Secara umum peran SDM aparatur birokrasi adalah pelayanan terhadap publik. Ketanggapan (responsiveness). kepercayaan (reliability). Kesopanan (courtesy). maka upaya –upaya terencana harus bertitik tolak dari konsep perbedaan atau kesenjangan performansi (Performance discrepancies) dimaknai sebagai selisih atau perbedaan antara apa dan bagaimana seharusnya seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What should be) dengan dan apa dan bagaimana yang dilakukan seseorang dalam melaksanakan jabatannya (What is). Keamanan (security). dan pemahaman (understanding) pelanggan. maka perlu diperhatikan mutu pelayanan: 1) Definisi mutu pelayanan menurut pelanggan adalah kesenjanagan antara harapan pelanggan dan persepsinya. kredibilitas (credibility). kemudahan mengakses (acces). berdampak pada kemungkinan perbedaan tingkat pelayanan antar orang/pihak Pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan produksi dan konsumsi.

Ketidakpuasan terhadap kinerja pelayanan publik dapat dilihat dari keengganan masyarakat berhubungan dengan birokrasi pemerintah atau dengan kata lain adanya kesan keinginan sejauh mungkin untuk menghindari dan bersentuhan dengan birokrasi pemerintah apabila menghadapi urusan. Pelayanan Publik Salah satu aspek selain pemerintahan yang belum bersih. Dengan penetapan Standar ini maka analisis jabatan dan identifikasi kesenjangan atau diskrepansi kompetensi kerja dapat dilakukan. Masih terkait dengan pasal-pasal tersebut. dalam pasal 9 UU 22 Tahun 1999 mengemukakan bahwa kewenangan provinsi Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 51 . 22 Tahun 1999 sesungguhnya dapat dilihat sebagai upaya pemerintah untuk lebih meningkatkan pelayanan. akuntabel. penanaman modal. Pemahaman terhadap fakta lemahnya birokrasi dilihat dari sejauhmana kemampuan mengaktualisasikan fungsi-fungsi pemerintah. pertahanan keamanan. serta kewenangan bidang lain.Isu Strategis Reformasi Birokrasi kemudian dilanjtkan dengan penetapan suatu standar kompetensi kerja mutlak perlu dilaksanakan. Artinya sejauhmana pemerintah mampu dan dapat berprilaku transparan. Kondisi ini menandakan keidakpuasan terhadap kinerja pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan terhadap publik dinilai masih jauh dari optimal. dan distribusi. yang berujung pada sejauhmana pelayanan publik dapat dijalankan. Implikasinya solusi yang lebih efektif dapat dilakukan. lingkungan hidup. Selanjutnya dalam Pasal 11 UU 22 tahun 1999 menyatakan bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh daerah kebupaten dan daerah kota meliputi pekerjaan umum. Pelayanan publik merupakan proses sekaligus output yang menunjukkan bagaimana fungsi pemerintah dijalankan. pertanahan. yang sangat mempengaruhi kinerja birokrasi. perhubungan. proteksi. Pelayanan publik adalah salah satu fungsi penting pemerintah selain regulasi. maka pelayanan publik yang tidak baik juga dinilai sebagai salah satu indikator buruknya birokrasi di Indonesia. peradilan. Pelayanan publik seringkali menjadi ukuran paling mudah dipahami sejauhmana kinerja pemerintah dalam melaksanakan fungsi-fungsinya. dalam Pasal 7 UU 22 Tahun 1999 menyatakan bahwa peranan Pemerintah Daerah dalam pelayanan publik mencakup seluruh bidang pemerintahan kecuali bidang politik luar negeri. industri dan perdagangan. Kondisi-kondisi seperti ini sebagian besar ditemui pada keseluruhan level organisasi publik yang memberikan pelayanan. Serangkaian pokok aturan dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh pemerintah daerah dinyatakan dalam beberapa pasal UU 22 Tahun 1999. Fenomena “high cost” ketika berhubungan dengan birokrasi pemerintah menjadi suatu keniscayaan yang terpaksa diterima. Pelaksanaan otonomi daerah yang telah digulirkan oleh pemerintah melalui UU No. agama. moneter dan fiskal. pertanian. pendidikan dan kebudayaan. kesehatan. demokratis akan berdampak pada sejauhmana pelayanan publik yang akan dan sudah dilakukan. koperasi dan tenaga kerja. belum teraktualisasinya tata kepemrintahan yang baik.

misi. Namun. (f) pada hal tertentu pemerintah juga berperan untuk memperoleh pendapat dari masyarakat dari pelayanan yang dilaksanakan. tujuan dan sasaran yang berorientasi pada hasil (outcomes) sesuai dengan masukan yang digunakan. Pengelola pelayanan publik cenderung lebih bersifat direktif yang hanya memperhatikan/mengutamakan kepentingan pimpinan/ organisasinya saja. (b) lebih memfokuskan diri pada pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat mempunyai rasa memiliki yang tinggi terhadap fasilitas-fasilitas pelayanan yang telah dibangun bersama. Salah satu indikator yang dapat dilihat dari fenomena ini adalah pada fungsi pelayanan publik. dan (i) menerapkan sistem pasar dalam memberikan pelayanan.Isu Strategis Reformasi Birokrasi sebagai daerah otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota serta kewenangan bidang tertentu lainnya. Seharusnya. di mana paradigma pelayanan publik beralih dari pelayanan yang sifatnya sentralistik ke pelayanan yang lebih memberikan fokus pada pengelolaan yang berorientasi kepuasan pelanggan (customer-driven government) dengan ciri-ciri: (a) lebih memfokuskan diri pada fungsi pengaturan melalui berbagai kebijakan yang memfasilitasi berkembangnya kondisi kondusif bagi kegiatan pelayanan kepada masyarakat. (2) memiliki wide stakeholders. dalam konteks desentralisasi. pelayanan publik juga memiliki beberapa sifat antara lain: (1) memiliki dasar hukum yang jelas dalam penyelenggaraannya. mereka harus tunduk kepada pengelolanya. Selanjutnya. suka tidak suak. pelayanan publik seharusnya menjadi lebih responsif terhadap kepentingan publik. serta (6) seringkali menjadi sasaran isu politik (Mohamad. Upaya-upaya yang telah ditempuh oleh pemerintah nampaknya belum optimal. hasil survey yang dilakukan UGM pada tahun 2002 Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 52 . (h) lebih mengutamakan desetralisasi dalam pelaksanaan pelayanan. pelayanan public sikelola dengan paradigma yang bersifat supportif dimana lebih memfokuskan diri kepada kepentingan masyarakatnya. (4) dituntut untuk akuntabel kepada publik. Masyarakat sebagai pengguna seperti tidak memiliki kemampuan apapun untuk berkreasi. Secara umum stakeholders menilai bahwa kualitas pelayanan publik mengalami perbaikan setelah diberlakukannya otonomi daerah. (3) memiliki tujuan sosial. (e) lebih mengutamakan apa yang diinginkan oleh masyarakat. (c) menerapkan sistem kompetisi dalam hal penyediaan pelayanan publik tertentu sehingga masyarakat memperoleh pelayanan yang berkualitas. (d) terfokus pada pencapaian visi. mau tidak mau. pengelola pelayanan harus mampu bersikap menjadi pelayan yang sadar untuk melayani dan bukan dilayani. Pelayanan publik yang banyak dikenal dengan sifat birokratis dan banyak mendapat keluhan dari masyarakat masih belum memperhatikan kepentingan masyarakat penggunanya. 2003). Namun dilain pihak. (g) lebih mengutamakan antisipasi terhadap permasalahan pelayanan. (5) memiliki complex and debated performance indicators.

Hal ini seperti terlihat dari beberapa sumber. Dengan melihat hasil-hasil kajian dari berbagai lembaga tersebut di atas. Di pihak lain kualitas dan kuantitas yang diinginkan belum terpenuhi. (b) Pelanggan telepon selular kita urutan ke-9 (12 negara). • Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 53 . Indonesia urutan ke-138. (3) Country Risk (Marvin Zonish & Assciate) dari 185 negara. aspirasi. kesehatan. Berbagai informasi yang seharusnya disampaikan kepada masyarakat. Transparansi Akuntabilitas dalam pelayanan publik diperlukan untuk mengatasi kesenjangan pihak-pihak yang terkait dalam pelayanan publik. tuntutan kualitas dan kuantitas jasa layanan publik oleh pengguna (user) semakin meningkat. Cina dan Vietnam. Respon terhadap berbagai keluhan. akses rakyat terhadap pelayanan publik masih rendah (pendidikan. dan (5) World Development Report 2004. (c) Akses sanitasi urutan ke-7. Pengguna telah membayar jasa layanan publik. lambat atau bahkan tidak sampai kepada masyarakat. Di luar pengguna jasa pelayanan publik (non user) perlu diperhatikan kepentingannya. di pihak operator pelayanan publik menghadapi kendala dalam menyajikan jasa layanan publik. Indonesia urutan ke – 150 di bawah kita Afganistan.Isu Strategis Reformasi Birokrasi menyimpulkan bahwa dilihat dari sisi efisiensi dan efektivitas. air bersih). khususnya tuntutan lingkungan stratejik. (d) Akses jalan urutan ke-8. Kondisi ini terjadi pada hampir semua tingkatan unsur pelayanan. mulai pada tingkatan petugas pelayanan (front line) sampai dengan tingkatan penanggungjawab instansi. Kurang informatif. Beberapa kajian juga membuktikan bahwa kualitas dan mutu pelayanan publik masih rendah. Berkaitan dengan hal-hal tersebut. antara lain (1) World Investment Report 2003 Indeks Foreigan Direct Investment periode 1999 – 2001. dapat disimpulkan betapa rendahnya kualitas pelayanan di Indonesia. responsivitas. Burundi dan Somalia. Indonesia pada urutan terakhir dari 12 negara Asia. (e) Air bersih urutan ke-7 (air bersih menjangkau 16% total populasi). dari 173 negara. dari 140 negara. 2003): • Kurang responsif. dituntut pula regulator yang mampu mengalokasikan sumber daya yang ada sehingga terjadi keseimbangan pihak-pihak yang terkait dalam layanan publik. hingga saat ini pelayanan publik masih memiliki berbagai kelemahan antara lain (Mohamad. untuk itu. maupun harapan masyarakat seringkali lambat atau bahkan diabaikan sama sekali. UNDP. (2) Human Development Report 2002. kesamaan perlakuan dan besar kecilnya rente birokrasi masih jauh dari yang diharapkan. padahal. (4) Kepala Perwakilan Bank Dunia (Andrew Steer) 8 Juni 2004: (a) Tingkat penggunaan listrik. Indonesia berada urutan ke-110 di bawah Fhilipina.

pelayanan dilaksanakan dengan apa adanya. pelayanan pemerintah tidak mengenal “bottom line” artinya seburuk apapun kinerjanya. sering terjadi tumpang tindih ataupun pertentangan kebijakan antara satu instansi pelayanan dengan instansi pelayanan lain yang terkait. berbagai masalah pelayanan memerlukan waktu yang lama untuk diselesaikan. Dalam kaitan dengan penyelesaian masalah pelayanan. kelemahan utama terletak pada disain organisasi yang tidak dirancang khusus dalam rangka pemberian pelayanan kepada masyarakat. fungsi pengaturan dan fungsi penyelenggaraan. Berbagai unit pelaksana pelayanan terletak jauh dari jangkauan masyarakat. Akibatnya. organisasi pelayanan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 54 . Kurang koordinasi. pelayanan pemerintah tidak mengenal istilah bangkrut. berbeda dengan mekanisme pasar yang memiliki kelemahan dalam memecahkan masalah eksternalities. Birokratis. Inefisien. Akibatnya. Berbagai persyaratan yang diperlukan (khususnya dalam pelayanan perijinan) seringkali tidak relevan dengan pelayanan yang diberikan • Sementara itu. Akibatnya. • • • Kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. Berbagai unit pelayanan yang terkait satu dengan lainnya sangat kurang berkoordinasi. Pelayanan (khususnya pelayanan perijinan) pada umumnya dilakukan dengan melalui proses yang terdiri dari berbagai level. juga sangat sulit. Berbagai pelayanan publik yang disediakan oleh pemerintah tersebut masih menimbulkan persoalan. penuh dengan hirarki yang membuat pelayanan menjadi berbelit-belit (birokratis). Kecenderungan untuk melaksanakan dua fungsi sekaligus. Pada umumnya aparat pelayanan kurang memiliki kemauan untuk mendengar keluhan/saran/aspirasi dari masyarakat. 2003). tanpa ada perbaikan dari waktu ke waktu. Ketiga. dalam rangka menyelesaikan masalah yang terjadi ketika pelayanan diberikan.Isu Strategis Reformasi Birokrasi • Kurang accessible. yang juga menyebabkan pelayanan publik menjadi tidak efisien (Mohamad. masih sangat kental dilakukan oleh pemerintah. dan tidak terkoordinasi. adalah kelemahan yang berasal dari sulitnya menentukan atau mengukur output maupun kualitas dari pelayanan yang diberikan oleh pemerintah. Kedua. kemungkinan staf pelayanan (front line staff) untuk dapat menyelesaikan masalah sangat kecil. dan dilain pihak kemungkinan masyarakat untuk bertemu dengan penanggungjawab pelayanan. dari sisi kelembagaan. sehingga menyulitkan bagi mereka yang memerlukan pelayanan tersebut. Kelemahan mendasar antara lain: pertama. sehingga menyebabkan penyelesaian pelayanan yang terlalu lama.

Hal tersebut berakibat mereka tidak dapat melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Akibat permasalahan tersebut. Lebih buruk lagi kondisi ini menjadikan sebagian pengelola pelayanan memanfaatkan untuk mengambil keuntungan pribadi. Kenyataan ini merupakan tantangan yang harus segera diatasi terlebih pada era persaingan bebas pada saat ini. sesungguhnya juga disebabkan beberapa faktor di bawah ini (Parasuraman dkk. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 55 . Sikap tidak profesional ini selain dikarenakan salah satu karakteristik dari pelayanan publik yang tidak memiliki persaingan ini. Artinya. dan cenderung mempersulit prosedur pelayanannya. Sementara itu. Poor employee job fit Dalam suatu organisasi pemerintah seringkali dijumpai ketidak sesuaian antara kemampuan yang dimiliki pegawai dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Role conflict Permasalahan ini muncul ini dikarenakan pegawai menghadapi persoalan antara mengutamakan kepuasan kepada pelanggan internal (pimpinan organisasi) ataukah mengutamakan kepuasan pelanggan eksternalnya (masyarakat) dari setiap pekerjaan yang mereka lakukan. karakteristik pelayanan pemerintah sebagian besar adalah bersifat monopoli sehingga tidak memiliki pesaing di pasaran.1990): 1. citra buruk pada pengelolaan pelayanan publik masih melekat sampai saat ini sehingga tidak ada kepercayaan masyarakat pada pengelola pelayanan. organisasi pemerintah sangat sulit mencegah pengaruh nilai-nilai dan kepentingan para birokrat dari kepentingan umum masyarakat yang seharusnya dilayaninya. Hal ini terjadi dikarenakan mereka tidak memiliki ketrampilan yang cukup serta tidak mendapatkan pelatihan yang berkaitan dengan permasalahan yang mereka hadapi. Selai itu beban pekerjaan yang terlalu besar juga dapat menimbulkan memunculkan permasalahan ini. Hal ini menjadikan lemahnya perhatian pengelola pelayanan publik akan penyediaan pelayanan yang berkualitas. 2. Poor technology job-fit 3. Role ambiguity Role ambiguity terjadi dikarenakan ketidaktahuan pegawai akan apa yang menjadi harapan pimpinan akan pelayanan yang disediakan dan bagaimana cara memenuhi harapan tersebut.Isu Strategis Reformasi Birokrasi pemerintah menghadapi masalah berupa internalities. 4. Profesionalitas dalam pengelolaan pelayanan publik dan pengembalian kepercayaan masyarakat kepada pemerintah harus diwujudkan.

"yang pada gilirannya akan mendorong munculnya kreativitas di segala bidang. Pada faktanya terdapat kecenderungan sistem dan prosedur pelayanan yang dilakukan aparatur negara masih berbelit-belit. Kondisi ini yang juga memberikan kesan pada masyarakat bahwa pelayanan yang disediakan pemerintah cenderung lamban dan terkadang dijumpai banyak kesalahan. tambah Sitorus. Kecenderungannya organisasi melihat kinerja pegawai melalui hasil kerja mereka." Salah satu yang perlu dilakukan aparat. Terlalu minim peralatan serta tehnologi yang dipergunakan akan berakibat pelayanan yang diberikan tidak dapat sesuai dengan yang diharapkan. Lack of team work Tidak adanya kerjasama antara pegawai dan pimpinan organisasi dalam memberikan pelayanan akan berakibat buruk terhadap kinerja yang dihasilkan. tidak akomodatif dan kurang konsisten. tidak transparan. 7. sehingga tidak menjamin adanya kepastian hukum. Lack of perceived control Permasalahan ini muncul diakibatkan ketidakmampu-an pegawai dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam proses pemberian pelayanan yang disebabkan wewenang yang tidak mereka miliki sehingga mereka juga tidak terlatih untuk mengatasi permasalahan yang muncul dengan lebih baik. dimana output control system sering kali tidak sesuai dengan tujuan dari pelayanan melainkan didasarkan pada tujuan lain dari organisasi. Bahkan citra buruk yang masih melekat pada sebagian besar pelayanan publik di Indonesia salah satunya dikarenakan masih kurang profesionalnya petugas pada organisasi pelayanan. Inappropriate supervisory control system Tidak adanya sistem evaluasi dan penghargaan dalam instansi pemerintah. Selain itu pengelolaan pegawai yang tepat atau sesuai dengan kompetensi yang diniliki juga menjadi keharusan bagi organisasi penyedia pelayanan publik. baik melalui perubahan sikap dan perilaku maupun melalui penataan sistem pelayanan yang lebih efektif dan efisien. Kenyataan ini menyadarkan kita semua akan perlunya memberikan perhatian yang khusus pada para pegawai khususnya yang bertugas langsung dalam penyediaan pelayanan publik. Dengan kondisi demikian. aparatur pemerintah dapat benar-benar memberikan pelayanan yang prima kepada masyarakat. katanya. Dengan begitu. 6. 5. Sitorus menyatakan bahwa seluruh jajaran aparatur pemerintah perlu memiliki komitmen kuat untuk membenahi seluruh aspek pelayanan publik. Permasalahan juga bisa diakibatkan kurang adanya dukungan pegawai lain (back office) terdapat customer contact personel.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Kinerja pegawai sangat dipengaruhi oleh peralatan maupun tehnologi yang mereka pergunakan dalam memberikan pelayanan. kurang informatif. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 56 . adalah memberikan perhatian yang lebih besar kepada masyarakat yang tidak puas terhadap kualitas layanan yang diberikan aparatur pemerintah.

strategi. Intervensi politik terhadap proses hukum menyebabkan lembaga peradilan hanya menjadi komoditas politik kekuasaan. 8 tahun 2003. Dalam rangka mendukung upaya peningkatan kualitas pelayanan publik tersebut. Birokrasi justru menjadi mesin keuangan politik bagi kekuatan oligharki yang berkuasa. publik harus membayar mahal. Dengan kekuasaan uang dan perlindungan politik. Permasalahan pengawasan publik selama ini menjadi agenda penting. Hukum yang seharusnya memberikan jaminan terwujudnya keadilan dan penegakan aturan juga tak luput dari ganasnya korupsi. Mafia peradilan kian merajalela dan lembaga peradilan tak ubah laksana lembaga lelang perkara yang membuat buncit perut aparat penegak hukum busuk. kesehatan. Kekuasaan politik tidak memiliki prioritas untuk membuat perubahan di birokrasi dan memperbaiki pelayanan kebutuhan dasar yang menjadi hak rakyat. Partisipasi masyarakat dalam pengawasan pelayanan publik juga merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari persoalan tersebut.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Lemahnya kontrol publik memiliki dampak yang sangat luas terutama pada usaha reformasi birokrasi pemerintahan. Berpijak dari kondisi-kondisi ini maka perhatian yang serius harus dilakukan pemerintah dalam rangka melaksanakan fungsi pelayanan publik. Pelayanan publik masih sarat dengan korupsi. Kementerian PAN mewajibkan bagi instansi pelayanan masyarakat untuk mempublikasikan jenis pelayanan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 57 . dinas-dinas atau organisasi yang disusun oleh pemerintah daerah diharapkan lebih dapat memberikan pelayanan publik yang memuaskan bagi penggunanya. Dalam rangka efektivitas pelaksanaan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diubah dengan UU Nomor 32 Tentang Pemerintahan Daerah. Tidak ada kasus korupsi yang benar-benar divonis setimpal dengan perbuatannya. terutama yang menjadi ujung tombak pelayanan mendasar kebutuhan publik seperti pendidikan. Rasa keadilan digadaikan oleh praktek suap menyuap. susunan dan struktur organisasi perangkat daerah. Memberikan cara. Korupsi berkembang subur di birokrasi. Karena intinya adalah dengan diberikannya otonomi daerah dan terbitnya PP yang mengatur perangkat organisasi daerah bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat dan menyediakan pelayanan publik. pemerintah Indonesia telah mengeluarkan sebuah Peraturan Pemerintah dengan Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah yang isinya mengatur lebih lanjut mengenai kriteria. Sejauh ini upaya-upaya nyata telah dilakukan pemerintah melalui berbagai instrumen kebijakan. Dengan pelayanan yang buruk. koruptor dapat menghirup udara bebas tanpa perlu takut dijerat hukum. dan listrik. namun sering diabaikan oleh para pengambil kebijakan. dan penyadaran tentang pengawasan terhadap pelayanan publik sangat relevan. air minum. Dengan diterbitkannya PP No.

baik mahasiswa maupun civitas akademia lainnya. 503/125/PUOD/1999.PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah. 56/Wasbangpan/6/98 tentang Langkah-langkah Nyata Memperbaiki Pelayanan Masyarakat. Tujuan dari penulisan buku ini adalah untuk dapat dijadikan referensi bagi penyelenggara pelayanan publik. Hal ini dilakukan melalui surat Keputusan MENPAN Nomor KEP/25/M. dan melalu surat Keputusan MENPAN Nomor KEP/26/M. masyarakat pengguna pelayanan dapat juga memanfaatkannya sebagai acuan tentang bagaimana bersama-sama pihal penyelenggara menciptakan suatu pelayanan publik yang berkualitas. jangka waktu dan biaya yang dibutuhkan kepada masyarakat. Kemudian. baik secara personal maupun secara institusional dalam penyusunan stadar pelayanan publik. 20/1996. Di samping itu. kondisional. Buku tersebut juga dapat dimanfaatkan bagi para akademisi di perguruan tinggi. yang kesemuanya itu bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan. Selanjutnya. akuntabilitas. Berkaitan dengan kedua Keputusan Menpan terseut telah dilakaukan sosialisasi pada berbagai instansi baik di pusat maupun di daerah. 63/KEP/M. Wasbangpan/6/98. partisipatif. 1 Tahun 1995 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah Kepada Masyarakat. Surat Menkowasbangpan No. Instruksi Mendagri No. upaya penekanan terhadap upaya peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat lebih ditekankan lagi melalui Surat Edaran Menko Wasbangpan No. yang kemudian dilanjutkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 56/MK. Lembaga Administrasi Negara juga telah menerbitkan sebuah Buku Penyusunan Standar Pelayanan Publik. dalam mempelajari dan menyusun berbagai estándar pelayanan. Lebih jauh lagi buku tersebut diharapkan pula dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum dalam rangka upaya pemerintah meningkatkan pelayanan publik. 5 Tahun 1984 tentang Pedoman Penyederhanaan dan Pengendalian Perijinan di Bidang Usaha. hingga Surat Edaran Mendagri No. Waspan/3 /1999.PAN/2/2004 tentang Petujunk Teknis Transparansi dan Akuntabilitas Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) telah merevisi Kep Men PAN No. 81/1993 tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum melalui Kep Men PAN No.PAN/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik sebagai upaya lebih lanjut terhadap perbaikan pelayanan publik. berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah antara lain ditunjukan dengan terbitnya berbagai kebijakan seperti: Inpres No. 81 Tahun 1993 tentang Pedoman Tatalaksana Pelayanan Umum. 145/MK. Di dalam Kep Men PAN tersebut memuat asasasas pelayanan publik seperti transparansi. kesamaan hak serta Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 58 . Di samping hal-hal tersebut.Isu Strategis Reformasi Birokrasi tertentu yang diberikan. Surat Edaran Menkowasbangpan No. Pada tahun 1995 pemerintah kembali menerbitkan Inpres No.

Inilah yang akan menjadi jalan bagi peningkatan partisipasi masyarakat di bidang pelayanan publik. peraturan perundangundangan yang ada tampaknya belum mampu membawa perubahan yang signifikan padahal tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang lebih baik tersebut semakin tinggi. kedisiplinan. bukan mempersulit". bukan menghambat". Dengan begitu. Hal substansial yang harus dipahami dalam konteks Reformasi pelayanan publik adalah bahwa upaya-upaya nyata ini haruslah dimulai dari aspek yang paling mendasar. seluruh perangkat birokrasi. kelengkapan sarana dan prasarana. Pelayanan yang berkualitas akan melibatkan seluruh komponen organisasi secara terintegrasi melaksanakan tanggung jawab dan peranannya dalam memberikan pelayanan. 2003). Pemberian pelayanan yang berkualitas merupakan cerminan dari praktek professional yang menjadi senjata ampuh dalam bersaing meraih dan mempertahankan pasar. kepastian waktu. "mendorong. Upaya peningkatan kualitas pelayanan melalui berbagai kebijakan di bidang pelayanan sampai saat ini masih terus dilaksanakan oleh pemerintah dengan di canangkannya Bulan Peningkatan Pelayanan Publik yang dimulai pada tanggal 2 September sampai dengan Nopember 2003. Keinginan pemerintah akan penyediaan pelayanan yang bekualitas bagi masyarakat nampaknya masih belum terwujud meskipun berbagi upaya telah dilakukan. bukan dilayani".Isu Strategis Reformasi Birokrasi keseimbangan hak dan kewajiban. kejelasan. Namun. kesopanan dan keramahan. "terbuka untuk setiap orang. tanggung jawab. sehingga penyampaian informasi dan pemberian fasilitas/jasa palayanan kepada pelanggan dapat secara Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 59 . keamanan. Kualitas pelayanan mencakup tata cara. Dalam era demokratisasi dan desentralisasi saat ini. yang dimanifestasikan antara lain dalam perilaku "melayani. Sedangkan prinsip-prinsip penyelenggaraan pelayanan publik seperti yang termuat dalam kebijakan tersebut adalah kesederhanaan. akurasi. Bahkan pada Tahun 2004 akan dicanangkan sebagai tahun Pelayanan Publik. kemudahan akses. bukan berbelit-belit". tak ada pintu masuk alternatif untuk memulai perbaikan pelayanan publik selain sesegera mungkin mendengarkan suara publik itu sendiri. yaitu: reformasi pola pikir (paradigma) penyelenggaraan pelayanan publik. perlu menyadari bahwa pelayanan berarti pula semangat pengabdian yang mengutamakan efisiensi dan keberhasilan bangsa dalam membangun. Reformasi paradigma pelayanan publik ini adalah penggeseran pola penyelenggaraan pelayanan publik dari yang semula berorientasi pemerintah sebagai penyedia menjadi pelayanan yang berorientasi kepada kebutuhan masyarakat sebagai pengguna. bukan hanya untuk segelintir orang" (Mustopadidjaja. "sederhana. "mempermudah. dan kenyamanan. perilaku dan juga penguasaan pengetahuan tentang produk dari penyelenggara layanan.

upaya perbaikan kualitas pelayanan perlu mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. Untuk itu. Studi-studi Bank Dunia acap kali mampu menunjukkan pokok perkara dengan amat jelas. 2003). Jika diekstrapolasi dengan rentetan kebijakan yang telah direkomendasikan. pelayanan publik akan dapat memberikan kinerja yang lebih baik jika dikelola oleh masyarakat itu sendiri atau dengan cara privatisasi (Ricardi S. Tetapi dari pengalaman selama ini. profesional. maka serahkan saja pada swasta untuk mengelola layanan publik. Untuk itu organisasi pemerintah diperlukan untuk menjamin kepentingan publik dan mempertangung-jawabkannya. Adnan.Isu Strategis Reformasi Birokrasi optimal memenuhi kebutuhan yang diharapkan pelanggan. Pertama. mungkin saja Bank Dunia akan merekomendasi untuk memprivatisasi birokrasi di Indonesia. pelayanan publik tidak bisa serta-merta diserahkan kepada swasta. sehingga pelanggan akan merasa puas dan perusahaan akan mendapatkan manfaatnya. akuntabel dan transparan. Berikut adalah asumsi-asumsi penting yang harus dipenuhi. solusi yang ditawarkan cenderung menyederhanakan masalah. Namun demikian. investasi dan perdagangan sebagai realisasi dari pemulihan ekonomi tidak akan pernah tercapai jika tidak ada dukungan birokrasi yang menyediakan layanan publik yang memadai. tetapi masyarakat itu sendiri belum sepenuhnya mampu melakukan dan memenuhi kebutuhannya. kebutuhan dan keberadaan organisasi pemerintahan dalam rangka pemenuhan kebutuhan masyarakat masih sangat penting bagi masyarakat. Cara dan strategi pelayanan tersebut mengarah pada pelaksanan secara lebih operasional dan implementatif sebagai suatu solusi perbaikan kualitas pelayanan publik. Logikanya sederhana karena birokrasi gagal menyediakan layanan publik. Untuk itu. Karena ternyata persoalannya bukan pada aktor ekonomi. Hal ini ternyata telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan jalan menswastakan beberapa perusahaan milik negara yang pada masa lalu merupakan tugas dan kewenangan pemerintah semata. Di samping cara ini juga merupakan upaya untuk mempertemukan harapan masyarakat dan harapan penyedia pelayanan dalam mempertanggung jawabkan akuntabilitasnya kepada masyarakat selaku pemberi mandat. tetapi pada tata cara pengelolaan baik pada tataran Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 60 . tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat sangat membutuhkan pelayanan publik baik karena peraturan ataupun karena kebutuhan. Kedua. entah birokrasi pemerintah atau swasta. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui berbagai cara dan strategi pelayanan publik pada setiap unit organisasi pelayanan. terutama dalam menjamin kepentingan masyarakat dengan menyediakan pelayanan publik yang tidak disediakan oleh organisasi swasta dengan baik. Agar pelayanan publik ini dapat dilakukan dengan baik. Privatisasi telah dianggap obat mujarab yang bersifat generik. Manjur untuk menyembuhkan segala penyakit.

untuk itu. birokrasi harus segera direformasi agar kualitas pelayanan publik dapat ditingkatkan. masih banyak ketimpangan dan kesenjangan sosial. sebenarnya telah diletakkan dasar-dasarnya jauh sebelum terjadinya gelombang reformasi yang terjadi pada pertengahan 1998 lalu. yaitu dalam UUD 1945. Sehubungan dengan hal tersebut dan untuk mencapai suatu negara yang demokratis diperlukan berbagai syarat. Otonomi Daerah (OTODA) mengimperasikan hak. Salah satu langkah strategis dalam upaya meningkatkan pelayanan publik adalah melalui kebijakan pemberian otonomi. kreativitas. adil dan bijaksana yang utamanya menerapkan demokrasi di segala aspek kehidupan masyarakat. Desentralisasi merupakan amanat konstitusi yang harus dilaksanakan. Namun. peningkatan peranserta masyarakat. Untuk itu. Penyelenggaraan pemerintahan yang efisien dan efektif. makmur dan sejahtera sebagaimana yang diamanatkan oleh para founding father dalam Pembukaan UUD 1945 hanya dapat diraih apabila pemerintah Indonesia benar-benar dapat menyelenggarakan pemerintahan negara ini secara arief. dan tanggung jawab ataupun kewenangan daerah untuk mengurus “rumah tangga (pemerintahan dan pembangunan)” daerah dalam mewujudkan cita-cita dan tujuan otonomi. dan pembangunan yang terarah pada perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat di seluruh wilayah tanah air mensyaratkan berkembangnya otonomi.Isu Strategis Reformasi Birokrasi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Syarat utama terwujudnya pemerintahan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat adalah dengan penerapan desentralisasi dan otonomi daerah. Desentralisasi Kewenangan Terwujudnya masyarakat yang adil. diperlukan suatu pembagian kewenangan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah agar penyelenggaraan pemerintah menjadi lebih efisien dan efektif. kewajiban. Untuk itu. kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah bahwa kondisi demokrasi bila dikaitkan dengan realita dalam kehidupan bangsa ini. dan pemerataan keadilan dengan memperhitungkan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 61 . dan (3) menjaga keserasian hubungan antar daerah dan antara Pusat dan Daerah (Mustopadidjaja. Dan sesungguhnya penyelenggaraan otonomi daerah tersebut menekankan pentingnya prinsip-prinsip demokrasi. yaitu utamanya (1) meningkatkan kapabilitas dan kesejahteraaan rakyat daerah. demokrasi akan sulit terwujud apabila masih terdapat ketimpangan dan kesenjangan sosial masih sangat tinggi. 2002). (2) meningkatkan prakarsa. dan peranserta masyarakat. Kebijakan otonomi daerah.

Kemudian dalam rangka menjawab tuntutan masyarakat akan pentingnya otonomi daerah di negara kita. sesuai prinsip-prinsip demokrasi. maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali mempercepat pelaksanaan kebijakan otonomi daerah itu. karena tantangan perkembangan lokal. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 62 . peranserta masyarakat. dan UU No.5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (LN Tahun 1979 No. pembagian. UndangUndang yang dinyatakan tidak berlaku lagi itu adalah UU No.IV/MPR/2000 tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaran Otonomi Daerah yang antara lain merekomendasikan bahwa prinsip otonomi daerah itu harus dilaksanakan dengan menekankan pentingnya kemandirian dan keprakarsaan dari daerah-daerah-daerah otonom untuk menyelenggarakan otonomi daerah tanpa harus terlebih dulu menunggu petunjuk dan pengaturan dari pemerintahan pusat. dan pemanfaatan sumberdaya masing-masing serta perimbangan keuangan pusat dan daerah. Bahkan. Sehubungan dengan hal itu.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang dilengkapi oleh UU No. dalam Sidang Tahunan MPR tahun 2000 telah pula ditetapkan Ketetapan MPR No.77 dan TLN Tahun 1956 No. regional. 56 dan TLN Tahun 1979 No. nyata dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. politik dan kebudayaan terus meningkat dan mengharuskan diselenggarakannya otonomi daerah yang luas. Dalam rangka itu.Isu Strategis Reformasi Birokrasi berbagai aspek yang berkenaan dengan potensi dan keanekaragaman antar daerah. Namun. Kemudian untuk memperkuat kebijakan otonomi daerah itu. serta potensi dan keanekaragaman antar daerah. perumusan kebijakan otonomi daerah pada saat itu masih bersifat setengah-setengah dan dilakukan tahap demi tahap yang sangat lamban. 38 dan Tambahan Lembaran Negara Tahun 1974 No. maka UU yang mengatur materi yang sama yang ada sebelumnya dan dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan kebutuhan. kebijakan nasional otonomi daerah ini telah dikukuhkan pula dalam materi perubahan Pasal 18 UUD 1945.3037).25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.32 Tahun 1956 tentang Perimbangan Keuangan antara Negara dengan Daerah-daerah yang Berhak Mengurus Rumah Tangganya Sendiri (LN Tahun 1956 No. Dengan ditetapkannya kedua UU ini. Pelaksanaan otonomi daerah itu diwujudkan dengan pengaturan. 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 No. pelaksanaan otonomi daerah ini dianggap sangat penting. nasional. dan internasional di berbagai bidang ekonomi.3153). kebijakan nasional mengenai otonomi daerah dan pemerintahan daerah ini. Setelah terjadinya reformasi yang disertai pula oleh gemlobang tuntutan ketidakpuasan masyarakat di berbagai daerah mengenai pola hubungan antara pusat dan daerah yang dirasakan tidak adil.1442). UU No. dan bahkan dengan skala yang sangat luas yang diletakkan di atas landasan konstitusional dan operasional yang lebih radikal. telah dituangkan dalam bentuk UU No. dinyatakan tidak berlaku lagi. pemerataan dan keadilan.

Dalam kultur masyarakat kita yang paternalistik. Jika dalam kondisi semula arus kekuasaan pemerintahan bergerak dari daerah ke tingkat pusat. Dalam keseluruhan perangkat perundang-undangan yang mengatur kebijkan otonomi daerah itu. 25. Dalam hal ini. seperti PP No. sehingga terwujud pergeseran kekuasaan dari pusat ke daerah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. sangat dirasakan oleh daerah-daerah besarnya jurang ketidakadilan struktural yang tercipta dalam hubungan antara pusat dan daerah-daerah. 105. Dalam proses desentralisasi itu. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah itu tidak akan berhasil apabila tidak dibarengi dengan upaya sadar untuk membangun keprakarsaan dan kemandirian daerah sendiri. terutama dalam hubungannya dengan kegiatan investasi dan upaya mendorong tumbuhnya roda kegiatan ekonomi dalam masyarakat di daerah-daerah. arus dinamika kekuasaan akan bergerak sebaliknya. 84. 104. Untuk menjamin agar perasaan diperlakukan tidak adil yang muncul di berbagai daerah seluruh Indonesia tidak makin meluas dan terus meningkat yang pada gilirannya akan sangat membahayakan integrasi nasional. yaitu dari pusat ke daerah. 106 dan 107 yang mengamanatkan bahwa sebagian besar kewenangan pemerintah pusat telah diserahkan kepada pemerintah daerah kabupaten dan kota.Isu Strategis Reformasi Birokrasi selanjutnya berbagai Peraturan Pemerintah (PP) lainnya yang mendukung pelaksanaan UndangUndang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 tersebut diterbitkan. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 63 . dapat ditemukan beberapa prinsip dasar yang dapat dijadikan paradigma pemikiran dalam menelaah mengenai berbagai kemungkinan yang akan terjadi di daerah. kekuasaan pemerintah pusat dialihkan dari tingkat pusat ke pemerintahan daerah sebagaimana mestinya. maka diidealkan bahwa sejak diterapkannya kebijakan otonomi daerah itu. kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi kewenangan tidak hanya menyangkut pengalihan kewenangan dari atas ke bawah. maka kebijakan otonomi daerah ini dinilai mutlak harus diterapkan dalam waktu yang secepatcepatnya sesuai dengan tingkat kesiapan daerah sendiri. Dengan demikian. Kebijakan otonomi dan desentralisasi kewenangan ini dinilai sangat penting terutama untuk menjamin agar proses integrasi nasional dapat dipelihara dengan sebaik-baiknya. kebijakan otonomi daerah dilakukan dengan mendesentralisasikan kewenangankewenangan yang selama ini tersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Karena dalam sistem yang berlaku sebelumnya. tetapi pada pokoknya juga perlu diwujudkan atas dasar keprakarsaan dari bawah untuk mendorong tumbuhnya kemandirian pemerintahan daerah sendiri sebagai faktor yang menentukan keberhasilan kebijakan otonomi daerah itu.

Jika kebijakan desentralisasi merupakan konsep pembagian kewenangan secara vertikal. maka kebijakan dekonsentrasi pada pokoknya merupakan kebijakan pembagian kewenangan birokrasi pemerintahan secara horizontal. Oleh karena itu. Bahkan ada kehawatiran bahwa sistem otonomi pemerintahan daerah saat ini justru dapat menimbulkan otoritarianisme pemerintahan lokal di seluruh Indonesia. tetapi juga menyangkut pengalihan kewenangan dari pemerintahan ke masyarakat. Namun demikian. keberadaan UU Nomor 22 dan 25 tahun 1999. tetapi esensi kebijakan otonomi daerah itu sebenarnya berkaitan pula dengan gelombang demokratisasi yang berkembang luas dalam kehidupan nasional bangsa kita dewasa ini. kebijakan otonomi daerah tidak dibarengi dengan peningkatan kemandirian dan keprakarsaan masyarakat di daerah-daerah sesuai tuntutan alam demokrasi. ternyata upaya-upaya yang telah dilaksanakan belum memberikan suatu result yang menggembirakan dilihat dari Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 64 . Otonomi daerah berarti otonomi masyarakat di daerah-daerah yang diharapkan dapat terus tumbuh dan berkembang keprakarsaan dan kemandiriannya dalam iklim demokrasi dewasa ini. tetap muncul dalam hubungan antara pemerintahan di daerah dengan masyarakatnya. kebijakan otonomi daerah itu dikembangkan seiring dengan agenda dekonsentrasi kewenangan. otonomi daerah kadang-kadang hanya dipahami sebagai kebijakan yang bersifat institutional belaka yang hanya dikaitkan dengan fungsi-fungsi kekuasaan organ pemerintahan. pada prinsipnya pemerintah telah berupaya memperbaharui dirinya dengan menyeimbangkan peran-peran yang dapat dimainkan antara pusat dan daerah otonom kabupaten/kota di Indonesia. kebijakan otonomi daerah itu tidak hanya perlu dilihat kaitannya dengan agenda pengalihan kewenangan dari Pemerintah Pusat ke Pemerintah Daerah. Para pejabat daerah yang sebelumnya tidak memiliki banyak kewenangan dalam waktu singkat tiba-tiba mendapatkan kekuasaan dan kesempatan yang sangat besar yang dalam waktu singkat belum tentu dapat dikendalikan sebagaimana mestinya. Pada tingkat suprastruktur kenegaraan maupun dalam rangka restrukturisasi manajemen pemerintahan. Inilah yang perlu diperhatikan sebagai esensi pokok dari kebijakan otonomi daerah itu dalam arti yang sesungguhnya. Oleh karena itu. Desentralisasi menjadi progres report penting dalam perkembangan tata pemerintahan di Indonesia. Namun demikian. Kedua-duanya bersifat membatasi kekuasaan dan berperan sangat penting dalam rangka menciptakan iklim kekuasaan yang makin demokratis dan berdasar atas hukum. yang menjadi perhatian hanyalah soal pengalihan kewenangan pemerintahan dari tingkat pusat ke tingkat daerah.Isu Strategis Reformasi Birokrasi Namun demikian. praktek-praktek kekuasaan yang menindas seperti yang dialami dalam sistem lama yang tersentralisasi. Namun demikian sebagaimana banyak di sinyalir oleh para ahli.

malpraktek pelayanan publik. pemerintah daerah mau tidak mau harus mampu melaksanakan berbagai kewenangan yang selama ini dilaksanakan oleh pemerintah pusat. terdapat pendelegasian wewenang yang cukup besar dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. penanaman modal. pemerintah daerah diharapkan lebih mengutamakan penyampaian pelayanan kepada masyarakat secara lebih baik dan memperhatikan upaya peningkatan kinerja pelayanan yang diberikan kepada masyarakatnya.Isu Strategis Reformasi Birokrasi implementasi birokrasi di Indonesia. Pemerintah diberikan kewenangan yang luas untuk langsung melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat. manusiawi dan bertanggung jawab. pertanian. Artinya. seiring dengan pelayanan yang harus disediakan. Indikator-indikator sebagaimana disebutkan di atas seperti kelambanan. Seperti yang tertuang dalam Pasal 11 Ayat (2): "Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. terutama pemerintah kabupaten dan kota. Dengan kata lain pelaksanaan otonomi daerah adalah juga upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan (Mohamad. 2003). Hal ini selaras dengan tujuan desentralisasi bahwa kualitas pelayanan publik harus benar-benar menjunjung nilai-nilai demokrasi dan kemandirian yang berakar pada masyarakat setempat. kita melihat luasnya kewenangan yang didapat oleh pemerintah daerah. bagaimana cara Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 65 . Pelaksanaan otonomi daerah mempunyai banyak alasan untuk diselenggarakan. perhubungan. ketidakseimbangan peran masih banyak di keluhkan oleh masyarakat. pemerintah daerah dituntut untuk lebih mampu memberikan pelayanan yang lebih berkualitas. pemerintah telah menunjukan komitmennya dalam upaya meningkatkan pelayanan terhadap masayarakat. dengan adanya desentralisasi. Oleh karenanya pemerintah daerah diharapkan dapat memahami dan memberikan perhatian pada bidang pelayanan apa saja yang mendapat prioritas. Pemerintah daerah sudah dapat menjadi garis depan yang melayani masyarakat dan dapat mengurusi hal-hal yang selama ini secara tidak langsung dimiliki oleh pemerintah pusat. pendidikan dan kebudayaan." Dengan pasal itu. kesehatan. Dalam rangka mengisi pelaksanaan Undang-undang tersebut. Dalam UU tersebut kewenangan-kewenangan itu terbaca jelas di dalam beberapa pasal dalam UU No 22/1999. Dari sini diharapkan aparat birokrasi daerah dapat mendeteksi langsung persoalan-persoalan di masyarakat dan dapat melayani langsung kebutuhan masyarakat tanpa harus menunggu rantai birokrasi yang panjang dari Jakarta. efektif. dan tenaga kerja. Konseksuensinya. Sesungguhnya dengan diimplementasikannya UU No 22 dan No 25 1999 itu. pertanahan. bagaimana cara menentukan prioritas. dalam arti lebih berorientasi kepada aspirasi masyarakat. Dengan demikian. koperasi. industri dan perdagangan. lebih efisien. lingkungan hidup.

setiap organisasi penyedia jasa pelayanan haruslah memperhatikan kualitas pelayanannya. karena akan berkonotasi adanya negara didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang tidak sesuai dengan Undang Undang Dasar 1945. keberadaan Mahkamah Konstitusi yang walapun sempat diragukan kapasitas dan kredibilitasnya. atau karena pengalaman masa lalu yang diwarnai berbagai peristiwa pemberontakan yang mengarah kepada disintegrasi nasional. yaitu pertama. Untuk itu. atau daerah yang memiliki pemerintahan sendiri yang berdaulat atau independen. dan sasaran dari manajemen pelayanan adalah kepuasan. Oleh karena itu. Di samping berbagai kemajuan politik lainnya yang ditandai dengan keberadaan institusi-institusi baru demokrasi yang pelaksanaan perannya memberikan optimisme terhadap penguaan proses demokrasi. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman yang tepat. Pelayanan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan. yaitu kebebasan untuk menyelenggarakan administrasi pemerintahan sendiri yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia (SANKRI). harus dipahami bersama bahwa otonomi daerah di Indonesia pada dasarnya bersifat administratif. Dalam konteks Indonesia pengertian independen atau bebas atau berdaulat inilah barangkali yang tidak diinginkan. 2002). masalah lain yang timbul dalam rangka pelaksanaan UU mengenai Otonomi daerah ini. Di samping itu. kepuasan pelanggan dapat diwujudkan. Meskipun sasaran itu sederhana. Dengan demikian dalam konteks Indonesia. Kedua. telah berjalan pada jalur dan arah yang benar. 2002). namun pencapaiannya memerlukan sesungguhan dan syarat-syarat yang seringkali tidak mudak untuk dilakukan. pengertian Otonomi Daerah menunjukkan hubungan keterikatan antara daerah yang memiliki hak untuk menyelenggarakan pemerintahan sendiri dengan kesatuan yang lebih besar yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). dapat dikatakan bahwa proses demokratisasi hasil Pemilu 1999. beranjak dari rumusan pengertian otonomi tersebut bahwa otonomi daerah secara ringkas adalah daerah yang menyelenggarakan pemerintahan sendiri. Bukan berarti daerah otonom yang merdeka dan berdiri sendiri bebas dari ikatan dengan NKRI (Mustopadidjaja.Isu Strategis Reformasi Birokrasi melaksanakan pelayanan tersebut secara efisien dan efektif sesuai dengan sumber daya yang ada di daerah serta bagaimana mengukur kinerja pelayanan publik yang telah diberikan. Hanya dengan pemberian pelayanan yang berkualitaslah. ternyata mampu mengeluarkan keputusan yang menjadi hak-hak azasi warganegara di depan hukum dan konstitusi. Hal ini ditandai dengan sikap antusias masyarakat dalam berpolitik yang cukup tinggi. Otonomi dicurigai memiliki 'cacat alami' yang senantiasa mengancam kesatuan (Bagir Manan dalam Mustopadidjaja. penyelenggaraan pemilihan umum yang dilaksanakan oleh lembaga Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 66 . Penerapan demokrasi di Indonesia selama kurun waktu lima tahun belakang.

dan sektor bisnis. dan bahkan kita sendiri. Ketika fungsi-fungsi penting pemerintah seperti pelayanan publik. sedangkan masyarakat sudah sampai pada tahapan apatisme terhadap pemerintah. Perspektif kedua. Dan kondisi terakhir ini sudah banyak contohnya di negara lain. dan kewenangan yang ada belum secara optimal dapat dijalankan sebagaimana diharapkan. Peran yang tidak seimbang menyebabkan kondisi-kondisi frustasi dan apatisme dari kalangan masyarakat. maka kondisi ini dapat dilihat dari beberapa perspektif. misi. nilai. Baik perspektif pertama dan kedua bermuara pada pandangan tidak optimalnya fungsi-fungsi pemerintah sebagai pemangku kepentingan yang telah diamanahkan. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 67 . Ketidakseimbangan yang ada saat ini menunjukkan secara psikologis pamaknaan peran pemerintah lebih besar dibanding masyarakat dan sektor bisnis.Isu Strategis Reformasi Birokrasi independen Komisi Pemilihan Umum (KPU). rakyat. proteksi. dan distribusi tidak berjalan optimal. merupakan suatu perkembangan positif yang perlu dipeliraha dalam menjada kebebasan dan keadilan proses pemilu yang demokratis. dengan pemerintah hanya bertindak sebagai fasilitator. pemerintah memiliki kecenderungan inkonsistensi dalam pelaksanaan wewenang dan kekuasaan sebagaimana diamanahkan. tujuan yang ditetapkan. Lebih jauh ketidakseimbangan peran yang terjadi terus menerus. Implikasinya akan sangat sulit kemudian mengharapkan mampu menggerakkan masyarakat untuk berperan lebih jauh dalam pembangunan. bangsa Indonesia telah mengalami masa-masa sulit terjadinya kekacauan akibat benturan-benturan ini di tahun 1997. akan menimbulkan ketidakpuasan yang dapat memicu kekacauan karena benturan “kepentingan” pemerintah dan masyarakat tidak dapat dipertemukan. Artinya ketidakoptimalan peran yang ditunjukkan dengan perwujudan birokrasi pemerintah lebih disebabkan karena kecenderungan menyalahi atau menyelewengkan amanah kekuasaan yang telah diberikan oleh rakyat. Jadi dalam hal ini amat terkait dengan kompetensi pemerintah dalam mengimplementasikan fungsi-fungsi yang diembannya. Pertama. Pada perkembangan selanjutnya hal ini menyebabkan adanya kondisi ketidakseimbangan peran yang dimainkan oleh pemerintah. kapasitas. regulasi.

rencana reformasi birokrasi bertolak dari berbagai fenomena yang dinilai menjadi kelemahan birokrasi yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya untuk selanjutnya dicarikan solusinya. termasuk pemahaman mengenai posisi dan peran birokrasi dalam sistem administrasi negara kita. Dalam hubungan itu. Dengan menggunakan pendekatan manajemen strategis. serta terpeliharanya kedaulatan dan keutuhan wilayah negara bangsa. konsep dan prakarsa reformasi birokrasi tidak terlepas dari pertimbangan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi. dinamika. pelayanan publik. Rencana tindak dalam konteks ini adalah rencana yang ingin diimplementasikan sehingga birokrasi didorong ke arah birokrasi yang lebih baik yang mampu merespon dinamika lingkungan strategis. Keseluruhan faktor tersebut perlu dipertimbangkan dalam menentukan “format birokrasi” yang dikehendaki dan berkemampuan merespon tantangan lingkungan strategis yang semakin kompleks dan meningkat. Pentingnya birokrasi terletak pada pengaruhnya terhadap efektifitas pelaksanaan tugas pemerintahan dalam perjuangan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa bernegara sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. dan kinerja birokrasi. aktualisasi prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik. dan desentralisasi kewenangan. meliputi baik faktor-faktor internal birokrasi maupun faktor-faktor lingkungan strategis. birokrasi memiliki arti dan peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa dan bernegara. Terdapat lima isu strategis terkait dengan reformasi birokrasi yang perlu ditindaklanjuti secara cermat dalam rencana tindak. Rencana tindak ini diharapkan akan dapat secara bertahap memperbaiki sosok dan kinerja birokrasi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 68 . Solusi tersebut terarah pada pengurangan kelemahan sehingga terwujud birokrasi yang mampu menangkap peluang-peluang dan merespon tantangan yang merupakan tuntutan masyarakat dan dinamika global.Rencana Tindak BAB IV RENCANA TINDAK Melalui pelaksanaan fungsi-fungsi kepemerintahan. Hal tersebut dilakukannya melalui pelaksanaan pengelolaan kebijakan dan pelayanan masyarakat secara professional dan senantiasa terarah pada meningkanya kesejahteraan. kemajuan perekonomian seluruh rakyat. yaitu pemerintahan yang bersih. kompetensi SDM aparatur. kemandirian. daya saing.

secara kelembagaan dibentuk komisikomisi yang bertugas melakukan pemantauan. Lebih lanjut Tabel 4. Selain itu. serta masih adanya sikap kurang menghargai profesionalisme. Pemerintahan yang Bersih Berbagai upaya untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih (Clean Government) telah banyak dilakukan oleh pemerintahan Indonesia. pengawasan dan evaluasi kinerja di masa lalu antara lain disebabkan belum dikalukannya “pemantauan. ketrampilan. Langkah ini sangat penting artinya dalam mewujudkan tujuan yang diharapkan secara mantap. standar pengelolaan kebijakan dan pelayanan publik yang belum jelas dan tidak transparan. Hal tersebut antara lain terlihat dengan diterbitkannya berbagai peraturan perundang-undangan yang terarah pada terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. terus menerus. serta perilaku dan sikap aparat Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 69 . dan menyentuh akar permasalahnya. adanya duplikasi aturan dan kewenangan lembaga-lembaga pengawasan internal. Dalam penegakan hukum. Oleh karena itu. upaya ini dapat berhasil jika dikuti oleh peningkatan pengetahuan. Bertolak dari identifikasi kelemahan-klemahan dalam mewujudkan clean government tersebut. serta didukung oleh sistem yang mantap dan dapat menemukenali akar permasalahannya. demikian pula sistem kerja internal lembaga. pengawasan dan evaluasi kinerja lembaga-lembaga penegak hukum yang dilakukan secara bertahap. kompentesi dan integritas aparatur belum secara optimal mendukung. lemahnya tindak lanjut hasil-hasil pengawasan termasuk partisipasi masyarakat dalam pengawasan. konsisten dan berkelanjutan. yang memuat identifikasi kelemahan-kelemahan dalam mengupayakan terciptanya pemerintahan yang bersih dan upaya-upaya untuk mengatasinya. pemerintahan yang bersih pada kenyataannya sangat sulit diwujudkan mengingat masih banyaknya kelemahan-kelemahan yang bertalian dengan birokrasi. pengawasan dan evaluasi kinerja secara terkoordinasi. Belum optimalnya pelaksanaan pemantauan. antara lain dengan menyediakan sarana dan prasarana yang dapat dijadikan tempat bagi perbaikan kinerja melalui penyediaan kotak-kotak pengaduan. Matriks Rencana Tindak Dengan Issu Strategic Clean Government. ketidakjelasan dan ketidaklengkapan peraturan. Sejalan dengan hal itu.Rencana Tindak 1. Namun. seperti antara lain lemahnya penegakan hukum. rencana tindak berisikan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut adalah sbb: Pertama. untuk mengatasi kelemahan law enforcement. dalam upaya penegakan hukum perlu adanya usaha perbaikan terhadap sistem kerja internal dan hubungan tata kerja antara lembaga penegak hukum dan lembaga pengawasan. sistemik. pemerintah juga berupaya untuk terus meningkatkan peran masyarakat dalam mengawasi jalannya pemerintahan.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap sistem pengawasan dan pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan. kompetensi dan kesejahtraan para penegak hukum. mereview. untuk menghindari adanya duplikasi aturan dan kewenangan lembaga-lembaga pengawasan internal perlu adanya tindakan perbaikan aparatur pengawasan internal.Rencana Tindak penegak hukum yang mumpuni. adanya standar opersional pelayanan (SOP) sangat penting untuk memperbaiki citra dan mengukur kinerja lembaga pelayanan. Ketiga. standar pengelolaan pelayanan publik belum jelas dan pelaksana-annya tidak trasparan. Kedua. Keempat. dan prosedur pengelolaan pelayanan publik. pengem-bangan e-audit. Dalam hubungan itu. serta peningkatan disiplin. menganalisa. sehingga peraturan yang ada dapat terdistribusi dan terlembagakan. lemahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan pelaksanaan tugas pemerintahan. dan (d) melakukan pemantauan dan penilaian atas capaian kinerja (lembaga independen). ketidakjelasan dan ketidaklengkapan peraturan merupakan celah hukum yang dapat dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu. (b) memperkuat fungsi dan kewenangan unit yang mengelola informasi. (c) mensosialisasikan SOP pengelolaan pelayanan dan indikator kinerja pada lembaga-lembaga terkait. meliputi : hubungan kelembagaan. sistem dan proses kerja internal. Untuk itu diperlukan tindakan konkrit yang mempertegas institusi yang bertanggungjawab untuk (a) menyusun norma. memperkuat pemahaman dan menumbuhkan rasa tanggungjawab masyarakat dalam penyenggaraan pemerintahan disertai penyediaan fasilitas yang menunjang proses pembelajaran mengenai civic education. Kaitannya dengan hal ini maka perlu adanya tindakan yang nyata dalam melakukan review terhadap peraturan yang memungkinkan adanya celah hukum yang dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan KKN dan memperbaiki substasi peraturan perundang-undangan tersebut. untuk dapat merespon berbagai permasalahan yang dihapi secara tepat dan efektif. sehingga perlu adanya upaya pemberdayaan masyarakat terutama dengan meng-hidupkan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang memiliki fungsi pengawasan. terutama yang memungkinkan terjadinya multi interprestasi (ambiguitas). standar. sertifikasi pendidikan dan pelatihan di bidang pengawasan dan pemeriksaan. Selanjutnya perbaikan atas peraturan yang ada memerlukan suatu dukungan sistem pelaksanaan sosialisasi dan diseminasi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 70 . merumuskan dan menetapkan indikator kinerja. Kelima. aplikasi standar akuntasi pemerintahan yang sesuai dengan standar internasional. Semua itu dapat dilakukan dengan baik jika diikuti upaya peningkatan kompetensi SDM dan penerapan reward and punishment yang konsisten dan berkelanjutan.

Dengan demikian tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi perannya. masyarakat dan dunia usaha (swasta) dalam penyelenggaraan negara. karena semua pihak memahami bahwa masingmasing mempunyai posisi dan peran yang vital dalam upaya mencapai cita-cita dan tujuan bersama. Matriks Rencana Tindak dengan Isu strategik Aktualisasi Good Governance menunjukkan identifikasi terhadap kelemahan-kelemahan dalam mengaktualisasikan tata kepemerintahan yang baik dan upaya-upaya untuk mengatasinya. kesenjangannya jika dibandingkan dengan sektor swasta masih jauh. GG dipahami juga mengandung makna adanya keseimbangan peran antara pemerintah. Oleh karena itu pemerintah perlu mengadakan regulasi standar kinerja profesional individu dan institusi. 2. memperkuat kelembagaan kepegawaian dalam pembinaan profesionalitas. dan dalam upaya melaksanakan GG belum didukung sistem informasi yang memadai. Rencana tindak ke depan untuk mengurangi atau menghilangkan kelemahan-kelemahan dalam mewujudkan GG selanjutnya. tidak ada dominasi antara satu atas lainnya. Sehingga GG kemudian menjadi fenomena yang dikenal tapi belum dibumikan. antara lain adalah sbb. Beberapa kendala yang diakui sebagai kelemahan dalam mengaktualisasikan GG antara lain adalah lemahnya pemahaman dan kemampuan menerapkan prinsip-prinsip GG. Namun ibarat sebuah kampanye. Aktualisasi Prinsip-Prinsip Good Governance Isu strategis kedua yang memerlukan penanganan adalah bagaimana mengaktualisasikan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance). Mengak-tualisasikan nilai-nilai dan prinsipprinsip yang terkandung dalam good governance (GG) masih belum terwujud secara nyata dalam pengelolaan pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan secara berkeseimbangan. lemahnya komitmen 3 pilar GG (masih sebatas retorika). Solusi atas berbagai kelemahan tersebut harus dilakukan secara simultan. melakukan review sistem dan proses pengelolaan kebijakan remunerasi. menyusun dan menerapkan sistem remunerasi yang sesuai dengan standar hidup yang layak serta penegakan reward and punishment. Dorongan ke arah terwujudnya GG sudah banyak dilakukan oleh pemerintah. Tabel 5. banyak diretorikakan akan tetapi banyak pula pihak mengakui nilai-nilai GG belum benar-benar teraktualisasikan. untuk mengatasi lemahnya pemahaman dan kemampuan menerapkan prinsispprinsip GG perlu upaya menginternalisasikan nilai dan prinsip-prinsip GG dalam manajemen setiap Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 71 . profesionalitas belum dihargai secara layak. Keseimbangan peran akan memungkinkan terjadinya kesetaraan. nilai dan prinsip yang terkandung di dalamnya belum diterapkan secara efektip. Pertama.Rencana Tindak Keenam.

dan masyarakat) sangat mempengaruhi kualitas implementasi dan aktualisasi prinsip-prinsip GG dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. tetapi juga berupa pengetahuan dasar psikologi sosial. Oleh karena itu. serta kemampuan berkomunikasi dengan baik dan dalam menjalin hubungan interpersonal. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 72 . Dalam konteks ini pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya informasi dapat dilakukan melalui out sourching dengan memanfaatkan kerjasama dengan pihak swasta yang kompeten. Untuk mengatasai permasa-lahan ini. lemahnya komitmen ketiga pilar GG (pemerintah. Upaya-upaya ini amat membutuhkan fasilitasi bagi peningkatan kompetensi aparatur khususnya di bidang TI. swasta. upaya membangun konsensus dalam dan antara pemerintah. membangun pola kemitraan dengan pihak swasta dibidang informasi. Berkaitan dengan hal ini maka pemerintah perlu melakukan terobosan untuk membangun sistem informasi pada setiap lembaga secara terintergrasi. kecerdasan emosional yang stabil. Kelembagaan birokrasi yang baik hanya bisa berjalan baik kalau diisi dan dijalankan oleh sumber daya manusia yang memiliki komitmen dan kompetensi yang memadai dalam mengemban tugas jabatan dan pekerjaan kepemerintahannya. dan masyarakat sebagai pilar GG menjadi amat urgen. mekanisme penerapannya pada setiap lembaga. mengembangkan aplikasi prinsip-prinsip GG dalam manejeman pemerintahan di pusat dan daerah disertai kegiatan sosialisasi dan diseminasi prinsip-prinsip GG kepada seluruh stakeholders. dimengerti. tindakan yang perlu dilakukan adalah memberdayakan lembaga yang mengaplikasikan prinsip-prinsip GG. disertai perilaku dan sikap yang konsisten dengan misi keberadaannya dalam “memberikan pelayanan kepada masyarakat”. dipahami dan dimilki kemahiran dalam pemanfaatannya.Rencana Tindak lembaga. diawali dengan pembakuan konsep (termasuk indikator operasional GG). modul dan proses pembelajaran. Ketiga. Kedua. 3. di masa datang para birokrat diharapkan memiliki kompetensi bukan saja berupa pengetahuan dan keterampilan serta wawasan yang luas terhadap pekerjaannya. Kompetensi SDM Aparatur Sumber daya manusia aparatur merupakan sumber daya birokrasi yang sangat penting. Dalam hubungan ini. sekaligus disertai perubahan sistem insentif dalam pengembangan TI. Sistem informasi dalam era globalisasi dan keterbukaan saat ini sangatlah penting bagi penyelengaraan pemerintahan untuk dikenali. swasta. dan pelaksanaan penilaian dan pengendalian terhadap pelaksanaan GG. menyusun SOP pada setiap lembaga dalam pemanfaatan Sistem Informasi (SI) untuk mendukung penerapan prinsip-prinsip GG. belum adanya dukungan sistem informasi yang memadai dalam mengaplikasikan prinsip-prinsip GG.

penegakan hukum yang lemah dan infrastruktur pendukung yang belum memadai. sistem rekruitmen dan pembinaan karir yang tidak jelas akan membuka kran praktek KKN dalam penerimaan pegawai. yang menunjukkan identifikasi terhadap kelemahan-kelemahan dalam meningkatkan kompetensi SDM aparatur dan upaya-upaya untuk mengatasinya. baik di tingkat pusat maupun daerah. Semua ini menggambarkan menejemen SDM yang belum mantap mulai dari rekruitmen sampai dengan pesiun. menetapkan standar pendidikan dan pelatihan aparatur untuk setiap jenis pekerjaan dan jenjang jabatan. dan menimbulkan kerancuan dalam pembinaan selanjutnya. banyak pihak mengeluhkan bahwa pejabat terkait kurang mampu menjalankan tugasnya. pembinaan karir yang tidak jelas. ketidak sesuaian antara kemampuan/ketrampilan SDM dengan tugas yang diemban sangat mempengaruhi kualitas kinerja aparatur dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat. disiplin yang rendah. Untuk mengatasi permasalahan ini maka pemerintah perlu meninjau kembali persyaratan setiap pekerjaan dan jabatan negeri. Oleh karena itu ke depan agar kita memperoleh SDM aparatur yang memiliki integritas dan kompetensi yang diharapkan. Selain itu beberapa penyebab lainnya antara lain adalah belum adanya standar baku kinerja yang jelas. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 73 . Kondisi tersebut perlu penanganan yang tepat dan berdasarkan rencana tindak yang jelas. membuat persyaratan dan mekanisme pengangkatan dalam jabatan secara transparan dan akuntabel. Selanjutnya dalam Tabel 6 Matriks Rencana Tindak dengan Strategik Kompetensi SDM. sistemik dan lugas. menyusun sistem relokasi pegawai ke instansi dan tempat lain secara jelas dan dilakukan secara kosisten. antara lain sbb: Pertama. Sumber penyebab kondisi ini antara lain berupa standar kualifikasi dan mekanisme rekruitmen pegawai belum mantap. Kondisi ini masih tetap berlangsung pada era reformasi saat ini. Kedua. menetapkan standar kompetensi pekerjaan dan jabatan pegawai negeri. sistem reward and punishment yang belum mantap konsep dan pelaksanaannya. jelas dan mantap. ketidaksesuaian antara kemampuan/ ketrampilan SDM dengan tugas yang diemban. lemahnya sistem pengawasan dan penilaian. harus menetapkan standar kualifikasi dan mekanisme penerimaan dan pembinaan pegawai yang komprehensif. berisikan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan kelemahankelemahan pokok yang dihadapi. dalam menjalankan tugasnya. dan masih kentalnya praktek KKN dalam penerimaan dan pembinaan pegawai maupun dalam pengangkatan untuk menduduki jabatan tertentu. melakukan pengawasan terhadap pelaksanaannya secara rasional.Rencana Tindak Pada kenyataannya. uraian tugas dan kewenangan yang belum jelas. mengakibatkan pegawai yang diterima tidak cukup memenuhi persyaratan kompetensi yang diharapkan.

Rencana Tindak Ketiga. Untuk mendorong penerapan sistem reward and punishment perlu upaya peninjauan kembali peraturan perundang-undangan yang mengatur sistem sistem reward and punishment. menyusun atau menyumpurnakan sistem reward and punishment. Keempat. kemampuan. pola seleksi yang belum kompetitif. penegakan dan pelaksanaan hukum dan perundang-undangan yang masih lemah akan mempengaruhi kewibawaan dan ketaatan aparat terhadap hukum dan perundang-undangan yang menjadi aturan dalam melaksanakan tugas dan tanggungjwabnya. terbuka dan memenuhi prinsip kesadilan dan belum adanya konsistensi terhadap perencanaan dan sistem penghargaan dan sangsi terhadap para aparatur yang berprestasi dan yang melakukan penyewengawan dan pelanggaran terhadap aturan kepegawaian. menata kembali sistem diklat. menajemen SDM yang belum mantap mulai dari rekruitmen sampai dengan pesiun merupakan salah satu indikator bahwa kualitas dan kompetensi aparatur masih rendah. Kelima. menciptakan suatu mekanisme yang efektif dalam mengaplikasikan hukum dan perundang-undangan. dan kemauan untuk melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya secara sebaik-baiknya. perlu upaya penetapan batas kewenangan antar jenjang jabatan dan antar jabatan tertentu. penerapan sistem reward and punishment yang tidak jelas akan menyebabkan rendahnya kualitas kinerja aparatur dan menggambarkan rendahnya kompetensi SDM. Untuk mengatasi permasalahan ini diperlukan adanya perubahan perilaku yang mendasar. Hal ini disebabkan oleh belum adanya perencanaan yang mantap dalam mengelolah pegawai secara rasional dan layak. melalui revitalisasi pembinaan kepegawaian dan proses pembelajaran yang membangun komitmen dan kompetensi yang kuat dalam mengemban tugas sebagai Pegawai Republik. menetapkan standar akreditasi sistem Diklat jabatan dan diikuti kegiatan sosialisasi peraturan dan perundang-undangan melalui berbagai Diklat dan seminar. dan menciptakan SDM yang memiliki komitmen terhadap tujuan bernegara dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pancasila dan UUD 1945. Oleh karena itu perlu adanya upaya pemrosesan sacara hukum terhadap penyalagunaan kewenangan. uraian tugas dan kewenangan yang tidak jelas akan menimbulkan ketidakpastian di kalangan aparatur dalam melaksanakan tugas dan tanggung-jawabnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Keenam. disiplin SDM aparatur yang masih rendah merupakan cerminan masih buruknya birokrasi pemerintahan. melakukan pembimbingan teknis dan manajerial secara bertahap dan berkelanjutan. menyusun jod description dan kewenangan setiap jabatan secara jelas. Oleh karena itu. penyusunan kembali tentang etika birokrasi dan budaya kerja secara jelas. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 74 . disertai pengembangan sistem rewards and punishment yang tepat dan efektip agar terbangun semangat. menyusun kriteria mengenai sistem merit and sistem karir. Ketujuh.

Proses. yang menunjukkan identifikasi terhadap kelemahan-kelemahan dalam meningkatkan pelayanan publik dan upaya-upaya untuk mengatasinya. kurang responsif. karena pelayanan publik merupakan aktivitas dengan berbagai input sarana. meningkatkann komitmen dan kompetensi pelayanan. kurang koordinasi. dan menempatkan orang yang tepat pada jabatan/pekerjaan yang tepat. 4. kurang mau mendengar keluhan/saran/aspirasi masyarakat. menyusun SOP dalam rangka pemanfaatan infrastruktur pendukung dan meningkatkan kualitas dan ketrampilan SDM aparatur. kualitas proses sangat berpengaruh terhadap kinerja tersebut. kurang informatif.Rencana Tindak Kedelapan. dan mekanisme kemudian berinteraksi secara internal dan eksternal membentuk proses. Sehingga kedepan perlu penyediaan sarana dan prasarana pendukung. Pertama. Fenomena “high cost”. dan SDM. penghargaan dan sanksi belum memadai. prasarana. Rencana tindak ke depan berisikan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi atau menghilangkan kelemahan-kelemahan tersebut. Pelayanan Publik Pelayanan publik dapat dipandang sebagai proses sekaligus kinerja yang menunjukkan bagaimana fungsi pemerintahan dijalankan birokrasi. Fenomena pelayanan publik tersebut disebabkan antara lain oleh masih banyaknya fungsi dan peran kelembagaan yang tumpang tindih. Tabel 7 Matriks Rencana Tindak dengan Isu Strategik Pelayanan Publik. serta sistem insentif. ketatalaksanaan. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 75 . peninjauan kembali peraturan perundang-undangan mengenai memberikan pelayanan publik yang tumpang tindih. kurang accessible. Dalam hubungan ini. menata kembali sistem dan prosedur pelayanan publik. masih menguatnya budaya dilayani bukan melayani. SDM. dan impact) pelayanan publik. lemahnya infrastruktur pendukung pelaksanaan birokrasi juga akan berpengaruhi terhadap kelancaran dan kualitas kinerja aparatur. kurangnya infrastruktur e-Government. pemerintahan yang dirasakan masih sentralistik. Kelemahan-kelemahan yang melekat pada pelayanan publik meliputi aspek kelembagaan. outcome. merupakan kondisi pelayanan publik yang dirasakan oleh masyarakat selama ini. inefisiensi dan birokratis. Proses tersebut selanjutnya menghasilkan kinerja (berupa output. untuk mengatasi tumpang tindihnya fungsi dan peran kelembagaan perlu dilakukan reformulasi kelembagaan yang ada dengan pembenahan struktur penjabaran stugas dan fungsi yang jelas dan tidak tumpang tindih. Ketidakpuasan terhadap kinerja pelayanan publik dapat dilihat dari keengganan masyarakat berhubungan dengan birokrasi pemerintah atau dengan kata lain adanya kesan untuk sejauh mungkin menghindari birokrasi pemerintah. transparansi biaya dan prosedur pelayanan yang belum jelas.

sistem insentif yang lemah perlu diperbaiki dengan lebih menekankan keseimbangan “kualifikasi. dan menyiapkan SDM yang memiliki kompetensi e-Government. dan mengembangkan sistem yang berorientasi pada kepuasan pelanggan. Hal ini dapat dirubah dengan melakukan dan membangun pola pikir aparatur yang berorientasi pada pelayanan. masih menguatnya sikap dan perilaku dilayani bukan melayani merupakan penyakit birokrasi yang akut. merubah peraturan perun-dang-undangan tentang sistem remunerasi yang menjamin terpemenuhinya standar hidup layak dan kesejahtraan PNS. untuk mencegah berulangnya pemerintahan yang sentralistik perlu dilakukan di samping penataan struktur organisasi pemerintah pusat dan daerah. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 76 . kinerja. membangun organisasi pemerintah berdasarkan pada kepercayaan. standar pelayanan yang meliputi tingkat biaya. dan meningkatkan kepedulian aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. mempercepat sosialisasi dan internalisasi budaya otonomi dalam rangka implementasi UU OTDA yang baru secara tuntas. dengan membangun sistem standarisasi pelayanan publik mulai dari input. mempercepat penyusunan peraturan perudang-undangan yang bertalian dgn e-Government. kemudian dituangkan dalam SOP yang transparan sebagai pedoman bagi setiap lembaga pelayanan. Ketiga. Kelima. serta berorientasi pada “kelayakan kualifikasi dan kinerja pegawai dengan penghasilan yang diterima”. dan jangka waktu pelayanan yang belum jelas. Hal ini perlu ditangani dengan jalan mendorong terciptanya lembaga pelayanan publik yang standar dan terukur. prosedur pelayanan. proses dan output dalam pelayanan. juga sistem hubungan yang menunjukan kesetaraan tanggung jawab antara pemerintah pusat dan daerah dan antar pemerintah daerah dalam mengelola tugas pelayanan. Keempat. Hal ini perlu diperbaiki dengan membangun sistem penilaian kinerja dan pengawasan yang berorientasi pada pemberian penghargaan dan sanksi pada individu pada setiap institusi pemerintah. mengurangi peran lembaga pemerintah untuk hal-hal yang sudah dapat dilakukan masyarakat. Ketujuh.Rencana Tindak Kedua. lemahnya aplikasi e-Government diatasi dengan membangun tata kelola pelayanan berbasis e-Government. membangun kemitraan antara pemerintah dan masyarakat dalam penyelenmggaraan pelayanan publik. penghargaan dan sanksi belum memadai. dan didukung dengan peraturan dan ketentuan perundang-undangan tentang pemberian penghargaan dan sanksi yang tepat. dalam upaya mendorong dan prosedur yang lebih baik dalam pelayanan. dan penghargaan”. Keenam. dan meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM yang lebih merata dalam pelayanan.

secara ideal normatif sesungguhnya konsep desentralisasi (otonomi daerah) pada dasarnya merupakan upaya pencerahan untuk memberdayakan pemerintah daerah beserta masyarakatnya. perbaikan sistem rekrutmen dan sistem karier. dalam aplikasinya belum secara optimal terlaksana secara baik. Desentralisasi Kewenangan Sistem pemerintahan desentralistik bertujuan untuk menciptaan pemerintahan yang efektif. sudah ada. responsif. Namun. rendahnya kapasitas aparatur daerah dapat diatasi dengan memperkuat lembaga yang ada sesuai dengan peraturan tentang hak dan kewajiban daerah dalam mengelola pemerintahan dan pembangunan daerah. demokrasi. serta peningkatan pendidikan dan pelatihan. lambannya penyesuaian kelembagaan pusat (resistensi). ternyata hanya mampu memberikan harapan secara konseptual normatif. yang menunjukkan identifikasi terhadap kelemahan-kelemahan dalam implementasi desentralisasi dan upaya-upaya untuk mengatasinya. meningkatkan kompetensi SDM melalui outsourcing bagi supporting office. Tabel 8 Matriks Rencana Tindak dengan Issu stategik Desentralisasi Kewenangan. kenyataan menunjukkan bahwa implementasi densentralisasi kewenangan seperti yang tertuan pada UU 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keungan Daerah dan peraturan perundang-undangan lainnya yang berkaitan dengan Pemerintahan Daerah lainnya. di mana urusan-urusan pemerintahan dibagi dan didistribusikan kepada daerah. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 77 . antara lain: rendahnya kapasitas aparatur daerah. masih belum optimal aspek keserasian dan keterpaduan regulasi/kebijakan antara pusat dan daerah. konstitusional. kemajuan kemanusiaan dan kesejahteraan. Jadi. Upaya menangani kelemahan ini harus didasarkan pada kenyataan bahwa desentralisasi merupakan kebijakan yang lebih menjanjikan keadilan. Konsep yang demikian bagus. tetapi tidak pada tataran implementatif. perbaikan sistem remunerasi.Rencana Tindak 5. serta kebijakan pusat (sektor) yang tidak sejalan dengan kebijakan desentralisasi. Rencana tindak ke depan berisikan berbagai upaya yang dapat dilakukan selanjutnya untuk mengurangi atau menghilangkan kelemahan-kelemahan yang dihadapi. belum tuntasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah dan antar daerah. dan harus dilaksanakan secara konsisten. dan belum secara optimal dipahami pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah yang didasarkan pada Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI) sebagai guiding principle. dan partisipatif. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama. Output yang ingin dicapai dengan strategi ini adalah agar masyarakat lokal dapat terlayani dengan baik oleh pemerintah daerah.

Keempat. termasuk pensiun dini. Ketiga. oleh karena itu perlu adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman tentang SANKRI sebagai landasan untuk membangun komitmen dan kompetensi dasar dalam bernegara. mereview berbagai peraturan terkait di tingkat pusat. serta kebijakan pusat (sektor) yang tidak sejalan dengan kebijakan desentralisasi. tiadanya keserasian dan keterpaduan regulasi/kebijakan antar pusat dan daerah (perda bermasalah). Dalam konteks ini kesadaran untuk mensejahterakan masyarakat lokal harus dimaknai dalam konteks meningkatkan ketahanan nasional dalam bingkai NKRI serta peningkatan jaringan yang saling memberdayakan (enabling networking). dan antar daerah harus ditangani secara serius dimasa yang akan datang dengan meningkatkan kapasitas daerah. Kelima. penetapan SOP penyusunan regulasi daerah dan pusat. relokasi SDM pusat yang berlebih ke daerah yang memerlukan.Rencana Tindak Kedua. dan memantapkan koordinasi Pusat–Daerah. belum tuntasnya pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dengan daerah. dan rotasi. dan peningkatan kemampuan SDM dalam policy making dan legal drafting. Hal ini perlu diatasi dengan peningkatan koordinasi Pusat–Daerah. perlu didasarkan pada SANKRI sebagai guiding principle dalam pengelolaan p emerintahan pusat dan daerah. mutasi. menyusun program legislasi daerah. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 78 . optimasi pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah. lambannya penyesuaian kelembagaan pusat (resistensi) dapat dilakukan dengan restrukturisasi kelembagaan di pusat.

keterampilan) aparat penegak hukum dalam merespon kuantitas dan kualitas kriminalitas (white colar crime) INDIKATOR KINERJA (Jangka Menengah) • Banyaknya hasil pemantauan yang akurat terhadap kinerja lembaga penegak hukum • Banyaknya hasil pemantauan yang direspon dan ditindaklanjuti • Banyaknya kasus KKN yang diselesaikan dengan tuntas • Tingkat efektifitas penyelesaian suatu perkara/ kasus KKN • Banyaknya kasus KKN yang diselesaikan dengan tuntas • Tingkat efektifitas penyelesaian suatu perkara/ kasus KKN Instansi Penanggungjawab Departemen Kehakiman dan HAM (Koordinator). Mahkamah Agung. Kejaksaan. Kejaksaan. KPK. BPK. Mahkamah Agung. BPKP Ketidakjelasan dan ketidaklengakapan peraturan (pemanfaatan celah hukum) • Disiminasi dan Sosialisasi Departemen Kehakiman dan HAM (Koordinator). BPK.Tabel 4 Matriks Rencana Tindak dengan Issu Stratejik Clean Government RENCANA TINDAK ISU Strategik Pemerintahan yang bersih (Clean Government) ISU Pendukung Law Enforcement yang lemah Kelembagaan • Membentuk komisi yang memantau kinerja lembaga penegak hukum Ketatalaksanaan • Memperbaiki sistem kerja internal lembagalembaga penegak hukum • Memperbaiki hubungan tata kerja antar lembaga penegak hukum dan pengawasan • Melakukan review terhadap peraturan seluruh peraturan terkait dengan KKN • Memperbaiki substansi peraturanperaturan yang memungkinkan terjadinya multi interpretasi/ ambiguitas SDM • Meningkatkan kapasitas (pengetahuan. BPKP Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 79 . KPK. sikap. Kepolisian. Kepolisian.

KPK. Kejaksaan. kompetensi dan kesejahteraan aparatur penegak hukum Departemen Kehakiman dan HAM (Koordinator). Mahkamah Agung. BPK. fungsi dan kewenangan lembagalembaga pengawasan internal • Terbangunnya sistem yang berstandar internasional • Diterapkannya e-audit secara selektif • Meningkatnya kualitas SDM aparatur pengawasan dan kinerja pengawasan baik kualitatif maupun kuantitatif • Kejelasan pembagian tugas. proses dan produk pendidikan dan pelatihan di bidang pengawasan dan auditing • Kejelasan pembagian tugas. fungsi dan kewenangan lembagalembaga penegak hukum • Meningkatnya kualitas SDM aparatur penegak hukum • Meningkatnya kinerja aparatur penegak hukum khususnya dalam penyelesaian perkara/kasus KKN dan penerapan hukum tindak pidana korupsi secara efektif • Tersedianya SOP yang jelas. BPKP • Diseminasi dan Sosialisasi SOP dan indikator kinerja lembaga Menpan (Koordinator). Mahkamah Agung. BPK. BPKP Tidakefektifnya pelaksanaan fungsi lembaga-lembaga penegak hukum (Adanya ketidakjelasan. Kepolisian. lemahnya pembinaan profesionalisme) Standar pengelolaan kebijakan dan pelayanan publik • Memperbaiki hubungan tata kerja antar lembaga penegak hukum • Memperbaiki substansi peraturanperaturan yang multi interpretasi/ ambiguitas • Pengendalian mutu proses penegakan hukum • Mereview terhadap SOP lembagalembaga • Mengadakan sertifikasi sistem. Depdagri. seluruh lembaga penyelenggara negara dan pemerintahan Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 80 .Adanya duplikasi aturan dan kewenangan lembaga-lembaga pengawasan internal (BPKP. proses dan produk pendidikan dan pelatihan di bidang penegakan hukum • Meningkatkan disiplin. mudah dipahami dan dilaksanakan • Terciptanya keserasian Departemen Kehakiman dan HAM (Koordinator). Kejaksaan. KPK. dan duplikasi kewenangan. Itjen. Bawasda) Tidakefektifnya pelaksanaan) • Melakukan review kewenangan dan fungsi masingmasing Lembaga pengawasan internal • Memperbaiki struktur fungsi lembagalembaga pengawasan internal • Melakukan review kewenangan dan fungsi lembagalembaga penegak hukum • Memperbaiki struktur fungsi lembagalembaga penegak hukum • Mempertega s institusi yang bertanggungj • Memperbaiki sistem kerja internal lembagalembaga pengawasan • Memantapkan standar akuntansi pemerintah sesuai dengan standar internasional • Mengembangk an e-audit • Mengadakan sertifikasi sistem. Kepolisian.

yang belum jelas dan tidak transparan (SOP dan berorientasi pada pencapaian tujuan bernegara dan kepentingan publik)

awab untuk menyusun norma, standar, dan prosedur dalam pengelolaan kebijakan publik • Memperkuat fungsi dan kewenangan unit yang mengelola informasi

penyelenggara negara dan pemerintahan Memperbaiki dan merumuskan kembali SOP. Menetapkan indikator kinerja (input, proses, output, outcome) masing-masing lembaga. Memperkuat sistem dan manajeman informasi pada setiap lembaga informasi yang ada Menetapkan aturan mengenai klasifikasi informasi yang wajib, dapat atau tidak dapat disampaikan kepada publik

• Peningkatan kompetensi SDM • Penerapan reward and punishment

• •

dan keterpaduan kebijakan publik Tersedianya indikator kinerja (input, proses, output, outcome) yang jelas dan terukur Terbitnya laporan akuntabilitas kinerja yang dapat diakses oleh publik Meningkatnya kompetensi SDM Tersedianya informasi kebijakan publik yang terpercaya, mutakhir, serta mudah dijangkau

Lemahnya partisipasi masyarakat dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan

• Memberdaya kan lembagalembaga kemasyaraka tan (sipil) yang

• Menetapkan pedoman untuk mengakomodas ikan aspirasi masyarakat

• Memperkuat pemahaman dan tanggungjawab masyarakat dalam proses penyelenggaraan pemerintahan

• Meningkatnya partisipasi dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan (masukan yang berkualitas dari

seluruh lembaga penyelenggara negara dan pemerintahan

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

81

memiliki fungsi pengawasan

(civic education) • Memfasilitasi learning process mengenai civic education • Melakukan review sistem dan proses pengelolaan kebijakan remunerasi • Menyusun dan menerapkan sistem remunerasi sesuai dengan standar kelayakan (kinerja, biaya hidup dan saving). • Menegakkan reward and punishment

masyarakat untuk penyusunan, perbaikan implementasi, dan evaluasi kinerja) • Meningkatnya kinerja lembaga dan SDM aparatur • Remunerasi yang mengakomodasi standar kelayakan (Y=C+S).

Profesionalitas tidak dihargai secara layak (misalnya remunerasi belum sesuai standar sektor swasta dengan tingkat produktivitas)

• Regulasi standar kinerja profesional individu dan institusi • Memperkuat kelembagaan kepegawaian dalam pembinaan profesionalit as

Menpan dan BKN (Koordinator)

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

82

Tabel. 5 Matriks Rencana Tindak dengan Isu Stratejik Aktualisasi Good Governance (GG)

RENCANA TINDAK ISU Strategik Aktualisasi prinsip-prinsip GG ISU Pendukung Lemahnya pemahaman dan kemampuan mengaktualisasika n prinsip-prinsip GG Kelembagaan • Menginternal isasi kan nilai-nilai GG dalam proses kebijakan pada setiap lembaga Ketatalaksanaan • Menyusun konsep, mekanisme, dan indikator operasional GG • Melakukan kendali mutu terhadap pelaksanaan GG • • SDM Sosialisasi dan diseminasi GG Meningkatkan learning process INDIKATOR KINERJA (Jangka Menengah) • Terinternalisasikannya nilai-nilai GG dalam proses kebijakan pada setiap lembaga • Tersedianya konsep, mekanisme, dan indikator operasional GG • Diterapkannya kendali mutu terhadap pelaksanaan GG • Meningkatnya pemahaman, komitmen, dan kompetensi SDM dalam menerapkan GG • Meningkatnya kapasitas lembaga dalam mewujudkan prinsip GG • Teraplikasikannya prinsip GG dalam manajemen pemerintahan di pusat dan daerah • Tersosialisasikannya prinsip GG kepada seluruh stakeholder • Terbangunnya konsensus dalam dan Instansi Penanggungjawab Menpan (Koordinator)

Lemahnya komitmen 3 pilar GG (masih sebatas retorika)

• Memberdaya kan lembaga untuk mengaplikasi kan prinsipprinsip GG

Mengembang kan aplikasi prinsip-prinsip GG dalam manajemen pemerintahan di pusat dan daerah

• Sosialisasi dan diseminasi prinsip GG kepada seluruh stakeholdernya • Membangun konsensus dalam dan antar tiga pilar GG

Rencana Tindak Reformasi Birokrasi

83

antar tiga pilar GG Belum didukung Sistem Informasi yang memadai. • Membangun sistem informasi pada setiap lembaga yang terintegrasi • Membangun kemitraan dengan pihak swasta di bidang sistem informasi • Menyusun SOP pada setiap lembaga dalam rangka pemanfaatan SI untuk mendukung penerapan prinsip GG • Mengadakan sistem insentif untuk pengembangan sistem informasi • Meningkatan kapasitas SDM aparatur di bidang sistem informasi • Memanfaatkan sumber daya luar (outsourcing) untuk mengelola dan mengembangkan SI • Terbangunnya sistem informasi (banyaknya lembaga yang telah membangun dan menerapkan sistem informasi) • Tersusunnya SOP dalam rangka pemanfaatan sistem informasi untuk mendukung penerapan prinsip GG • Meningkatnya kapasitas dan kualitas SDM aparatur di bidang sistem informasi Menegkominfo (Koordinator) Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 84 .

BADIKLAT DAERAH • Ketidaksesuain antara kemampuan/ ketrampilan SDM dengan tugas yang diembannya. BKN. • Diklat. Terpenuhinya SDM yang sesuai antara beban kerja dan kemampuan yang dimiliki MENPAN. BKN. • Penetapan standar kompetensi jabatan • Penetapan standar Diklat untuk setiap jabatan • Penyusunan SOP relokasi pegawai • Penyusunan SOP Diklat • Relokasi pegawai ke tempat lain. DEPDAGRI. DEPDAGRI. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 85 . Matriks Rencana Tindak dengan Issu Stratejik Kompetensi SDM RENCANA TINDAK ISU Strategik Kompentesi SDM Aparatur ISU Pendukung Quality at Entry Kelembagaan • Penetapan syarat dan standar perekrutan pegawai Ketatalaksanaan • Merevie w dan menyusu n SOP Rekruitm en pegawai baru Pengawa san terhadap pelaksan aan SOP rekruitm en SDM Perekrutan SDM yang kompetensinya sesuai dengan kebutuhan INDIKATOR KINERJA (Jangka Menengah) • • • • Tingkat Pendidikan Nilai TPA Nilai TOEFL Nilai ujian masuk Instansi Penanggungjawab MENPAN.Tabel 6. OTOBAPPENAS. BADIKLAT DAERAH MENPAN. • Merekrut pegawai baru.

pension). BPK. terbuka dan adil. BAPPENAS.Kedisiplinan. Tersedianya dokumen perencanaan SDM yang bersifat nasional dan lokal Tersusunnya rencana kebutuhan pegawai. LAN. KEJAKSANAAN AGUNG. dan Bawasda • Pengawasan dan bimbingan. Tertatanya pola seleksi yang lebih baik. BKN. BPKP. BKN. DEPDAGRI Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 86 . • Pembinaan Moral • Perencanaan pegawai yang rasional dan layak. BKN. • Penyusunan/ penyempurnaan Sosialisasi peraturan perundangudanganan melalui berbagai diklat dan seminar • Tersusunnya mekanisme sistem penghargaan. DEPKEU. POLRI. MENPAN. DEPDAGRI Sistem penghargaan dan sanksi yang tidak jelas (a) Merit and • Perbaikan sistem penghargaan. LAN. BKN. Pola seleksi yang kompetitif. • Memaksimal kan fungsi inspektorat.d. Konsistensi terhadap penerapan sistem penghargaan dan sanksi Jumlah pelanggaran peraturan KEJAKSAAN. • Tersusunnya mekanisme sistem MENPAN. Terlaksananya penerapan sistem penghargaan dan sanksi MENPAN. LAN. • • • • • • • Tersedianya dokumen review SDM. ITJEN DEPDAGRI Manajemen SDM (yang belum mantap) (dari proses rekruitmen s. DEPDAGRI Uraian tugas dan kewenangan yang tidak jelas • • Penetapan batas kewenangan antar jenjang jabatan dan antara jabatan tertentu • Meninjau kembali peraturan perundangundangan Penyusunan job description (uraian tugas) dan kewenangannya secara jelas Bimbingan teknis dan manajerial Tersusunnya uraian tugas yang lebih baik untuk setiap jabatan.

KEJAKSANAAN. sanksi. LAN. • Meningkatnya kualitas SDM aparatur negara. • Menata kembali sistem diklat jabatan • • Pemrosesan secara hukum terhadap penyalahgun aan kewenangan. • Tersusunnya kode etik birokrasi. BAPPENAS. merit dan karier. BKN. • Penyusunan etika birokrasi dan budaya kerja. (b) Diklat. • Penyusunan kriteria mengenai sistem merit and sistem karir • Penetapan standar akreditasi sistem diklat jabatan sanksi. Law enforcement Menciptakan suatu mekanisme yang efektif dalam mengaplikasikan peraturan perundangan Menciptakan SDM yang memiliki komitmen terhadap tujuan bernegara dgn menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945 • Meningkatnya jumlah pelanggaran hukum yang diproses secara hukum. DEPDAGRI Infrastruktur pendukung yang masih lemah Menyusun SOP dalam rangka pemanfaatan infrastruktur pendukung Peningkatan kualitas dan ketrampilan SDM Tersedianya infrastruktur yang mendukung penyelenggaaan negara dan pembangunan MENPAN. MENPAN. BKN.carier system. • • Penyediaan sarana dan prasarana pendukung. POLRI. • Tersusunnya peraturan perundangan-undangan yang mengatur sistem merit dan sistem karir berdasarkan prestasi. yang mengatur sistem penghargaan. DEPKEU Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 87 . sistem sanksi.

• Tersusunnya sistem pelayanan yang efektif yang didukung oleh SDM aparatur yang profesional • • • • • Instansi Penanggungjawab Sekneg Mendagri Menpan Depart. INDIKATOR KINERJA (Jangka Menengah) • Berkurangnya peraturan perundang-undangan yang tumpang tindih terhadap fungsi dan peran kelembagaan. • Kualitas dan kuantitas SDM yang lebih merata dalam pelayanan • • • Mendagri Menpan Pemda Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 88 .Tabel 7. SDM • Menempatkan orang yang tepat pada jabatan yang tepat. • Membangun hubungan kesetaraan antara pemerintah pusat dan daerah dan antar Ketatalaksanaan • Menata kembali sistem dan prosedur pelayanan publik yang diberikan oleh instansi pemerintah . Matriks Rencana Tindak dengan Issu Stratejik Pelayanan Publik RENCANA TINDAK ISU Strategik Pelayanan Publik ISU Pendukung Masih banyak tumpang tindihnya fungsi dan peran Kelembagaan Kelembagaan • Reformulasi tugas & fungsi serta struktur kelembagaan yang ada (meninjau kembali peraturan Perundangan yang tumpang tindih dalam memberikan pelayanan publik) • Menata kembali struktur organisasi pemerintah pusat dan daerah. lain Pemda Pemerint ahan yang sentralistik • Mempercepat sosialisasi dan implementasi UU OTDA yang baru secara tuntas • Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM yang lebih merata dalam pelayanan • Implementasi sistem pemerintahan yang desentralistik.

• Terpenuhinya infrastruktur kelembagaan berbasis eGovernment. • Implementasi undangundang yang berorientasi eGovernment • Tersedianya SDM yang berkompen-tensi dan berbudaya eGovernment • Berkurangnya keluhan masyarakat berkaitan dengan pelayanan pemerintah • • • • Menegkominfo Menpan Depart. • Membangun organisasi pemerintah • Menciptakan sistem yang berorientasi pada kepuasan pelanggan • Membangun pola pikir aparatur yang pro aktif dalam pelayanan • Semua lembaga pemerintahan telah memiliki web site. • Mengurangi peran lembaga pemerintah yang berorintasi serba negara.lain Pemda • Mendagri • Menpan • Pemda Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 89 .Kurangn ya infrastruktur e-Government pemerintah daerah • Membangun infrastruktur kelembagaan berbasis eGovernment • Mempercepat penyusunan peraturan perudangundangan yang berorientasi eGovernment • Menyiapkan SDM yang berkompentensi dan berbudaya e-Government Budaya dilayani bukan melayani • Membangun kemitraan antara pemerintah dan organisasi masyarakat dalam rangka pelayanan publik.

dari remunerasi yang diterima. • Mendagri • Menpan • Menkeu • Pemda Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 90 . dan prosedur yang lebih baik dalam pelayanan. proses dan output dalam pelayanan publik • Pembuatan SOP dalam upaya mendorong transparansi. tepat dan biaya yang terjangkau serta transparan • Mendagri • Menpan • Pemda Sistem insentif yang lemah • Membangun lembaga berbasis kinerja • Meningkatkan • Peraturan Perundangkesejahtraan PNS undangan tentang dan meningkatkan sistem remunerasi yang gaji yang layak memenuhi standar hidup layak. • Tersusunnya peraturan perundangundangan tentang sistem remunerasi yang memenuhi standar hidup layak • Meningkatkan kepedulian aparatur dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat Adanya pelayanan yang cepat. • Terpenuhinya kebutuhan PNS yang layak.berdasarkan pada kepercayaan Standar pelayanan yang meliputi transparansi biaya dan prosedur pelayanan yang belum jelas • Mendorong terciptanya lembaga pelayanan publik yang standar dan terukur • Membangun sistem standarisasi mulai dari input.

dan seluruh Sekretariat Daerah Depkeu. pelatihan. MenpanN. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 91 . dan pembekalan Belum tuntasnya • Meningkatka • Adanya Peraturan Presiden tentang kelembagaan di pusat • Boundary less organization • Tidak terlalu hierarkis • Pengambilan keputusan yang lebih cepat dan sederhana • Meningkatnya porsi Menpan. • profesionalitas INDIKATOR KINERJA (Jangka Menengah) Meningkatnya kompetensi SDM Instansi Penanggungjawab Depdagri dan Seluruh Badan Diklat Prop. • Penataan SDM pusat yang berlebih ke daerah yang memerlukan termasuk pensiunan dini. mutasi. RENCANA TINDAK ISU Strategik Desentralisasi kewenangan ISU Pendukung Rendahnya kapasitas aparatur daerah Kelembagaan • Outsourcing bagi supporting office • perbaikan sistem remunerasi • Memperkuat lembaga yang ada • Implementasi peraturan tentang hak dan kewajiban daerah dalam mengelola aparatur daerah Restrukturisasi kelembagaan di pusat Penyusunan sistem dan standar pelatihan Ketatalaksanaan SDM Meningkatkan kompetensi SDM melalui: • perbaikan sistem rekrutmen dan sistem karier • pelatihan dan pendidikan.Tabel 8. Matriks Rencana Tindak dengan Issu Stratejik Desentralisasi Kewenangan. Kab/Kota Lambannya penyesuaian kelembagaan pusat (resistensi).

dan antar daerah. dan Bappenas serta Dep/Lembaga Depdagri. Keppres) Kualitas SDM perencana kebijakan meningkat Berkurangnya konflik antar peraturan perundang-undangan Depdagri. serta kebijakan pusat (sektor) yang tidak sejalan dengan kebijakan desentralisasi Perlu didasarkan pada SANKRI sebagai guiding principle dalam pengelolaan pemerintahan pusat dan daerah Peningkatan koordinasi Pusat -Daerah Peningkatan kemampuan SDM dalam legal planning dan legal drafting • • dana perimbangan dalam APBN Menurunnya kesenjangan pembangunan antar daerah Efektifnya pemerintahan di pusat dan daerah Berkurangnya struktur kelembagaan pusat yang kewenangannya sudah diserahkan ke daerah Berkurangnya kewenangan yang tumpang tindih Tersusunnya program legislasi daerah (Prolegda) Adanya SOP (dapat berbentuk PP. Perda. Pemda SANKRI sebagai landasan untuk membangun komitmen dalam bernegara Terciptanya keserasian dan keterpaduan dalam perumusan kebijakan publik LAN.pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dengan daerah. Depdagri Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 92 . n kapasitas fiskal daerah • Optimasi pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah • Koordinasi Pusat – Daerah • • • • • Me-review berbagai peraturan terkait di tingkat pusat • Menyusun program legislasi daerah • Penetapan SOP penyusunan regulasi daerah dan pusat • Tiadanya keserasian dan keterpaduan regulasi/ kebijakan antar pusat dan daerah (perda bermasalah).Bappenas. Depkeh.

merupakan salah satu upaya untuk merespon kondisi birokrasi saat ini dan tuntutan perbaikan knerjanya. Predikat negatif ini. Upaya tersebut. Kesadaran diri untuk melakukan upaya perubahan ke arah yang lebih baik.Penutup BAB V PENUTUP Reformasi birokrasi pada dasarnya merupakan upaya perubahan yang dilakukan secara sadar. kajian rencana tindak reformasi birokrasi ini. Realitas ini. Di samping itu. sesungguhnya juga menunjukkan kesadaran bahwa terdapat kesenjangan antara apa sebenarnya diharapkan dengan fakta aktual mengenai peran birokrasi dewasa ini. Respon ini pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi tiga hal besar yakni: Pertama. berakibat pada tingkat kredibilitas birokrasi yang makin merosok. senantiasa menempatkan Indonesia pada urutan terbawah dalam pelayanan publik. dikakukan untuk melaksanakan peran dan fungsi secara tepat dan konsisten. Indikasi tersebut merupakan salah satu indikator negatif akan rendahnya kinerja birokrasi pemerintah dewasa ini. berbagai publikasi hasil kajian ilmiah yang dilakukan oleh beberapa lembaga independen internasional. Kondisi demikian. untuk memposisikan diri (birokrasi) kembali. merupakan cerminan dari sebuah kebutuhan. efisien dan efektif serta andal dalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan. dan ketiga dapat menjadi salah satu landasan gerak dalam penyusunan kebijakan nasional mengenai “Rencana Aksi” percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi. Berbagai predikat negatif ditujukan terhadap birokrasi pemerintah dalam melaksanakan tugastugas pemerintahan dan pembangunan dewasa ini. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 93 . Kebutuhan tersebut. bertitik tolak dari fakta adanya peran birokrasi saat ini yang masih jauh dari harapan. dan bahkan timbul ketidakpercayaan dan skeptis dari masyarakat terhadap kinerja birokrasi. dan rendahnya kinerjanya yang dapat diukur dengan lambatnya dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat. upaya mengkaji faktor-faktor yang turut mempengaruhi masih rendahnya kinerja birokrasi. guna menghasilkan manfaat sebagaimana diamanatkan konstitusi. kedua adalah memformulasikan ikhtiar-ikhtiar “rencana tindak” yang dapat dilakukan untuk merubah kondisi birokrasi saat ini menuju birokrasi yang professional. Sehubungan dengan hal tersebut di atas. dalam rangka menyesuaikan diri dengan dinamika lingkungan yang dinamis. terkait dengan penyakit birokrasi “korupsi kolusi dan nepotisme” (KKN).

Di samping itu. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 94 . perlunya mengutamakan peningkatan kesadaran dan tanggung jawab profesional seluruh aparat birokrasi. penataan kelembagaan dan manajemen. Reformasi birokrasi bukanlah pekerjaan yang mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Reformasi birokrasi akan berhasil bila terdapat komitmen aparatur yang kuat dan diikuti dengan tindakan nyata untuk merubah perilaku dan budaya birokrasi. Untuk melaksanakan komitmen tersebut juga tidak terlepas dengan dukungan. kerjasama dan pengawasan dari masyarakat sebagai salah satu pilar dari penerapan good governance. swasta dan masyarakat. Peningkatan upaya penguatan aktualisasi dan implementasi good governance pada seluruh pemerintahan di pusat dan daerah dalam melaksanakan tugas dan fungsi pemerintahan dan pembangunan.Penutup Ikhtiar-ikhtiar tersebut didasarkan pada 5 (lima) hal yang dianggap strategis dalam konteks reformasi birokrasi saat ini. Karena tanpa dukungan dari masyarakat. Peningkatan kinerja dengan terus-menerus meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan SDM aparatur dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan. . melalui peningkatan kompetensi dan kesejahteraan PNS. dengan tetap menjaga perimbangan peran antara pemerintah. mustahil untuk melaksanakan reformasi birokrasi. serta sistem dan pelaksanaan pengawasan aparatur negara secara bersamaan juga musti diperbaiki. Peningkatan kapasitas birokrasi dalam merespon aspirasi yang berkembang di masyarakat dan tuntutan terhadap perbaikan pelayanan publik. antara pemerintah pusat dan daerah dan antar pemerintah daerah sendiri dalam melaksanakan tugas pemerintahan dan pembangunan. Peningkatan sinergi (networking) antar pemerintah pusat. Oleh karena itu. yaitu: Peningkatan komitmen bersama dalam mendorong peningkatan kinerja birokrasi dalam upaya mewujudkan pemerintahan yang baik dan bersih.

1958. Brace &World. Watson J. 2000. Johnston M.. dan Nepotisme. Jakarta Pusat. Tanggal 19 Juli 2004. Kwik Kian Gie : Pemberantasan Korupsi Untuk Meraih Kemandirian.X.N. The Planned Change. Disampaikan pada Peserta Diklatpim Tingkat II Angkatan XIII Kls.Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Anwar Suprijadi: Kebijakan Peningkatan Kompetensi Aparatur Dalam Pelayanan Publik. The World Bank.T. New York. 2004. Kansil C. Jakarta.S. Bandung: Fukuyama F: The Great Disruption Human Nature and The Reconstitution of Social Order. 1958. Alan Doig: Different Views on Good Government and Sustainable Anticorruption Strategies dalam Stapenhurst S. 2000. Jakarta BAPPENAS: Kajian Pembangunan Penyelenggaraan Negara. Bersih dan Bebas Korupsi. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 95 . Curbing Corruption: Toward a Model for Building National Integrity.S. pada tanggal 18 Desember 2003. 1999. Remaja Rosdakarya. Kolusi. 1999. Perca. 1999. Kemakmuran. Westley B. Arifin F. Jakarta. Disampaikan dalam acara Seminar “Pelayanan Publik Dalam Era Desentralisasi” yang diselenggarakan oleh Bappenas. Lippit R. Jakarta: Jangka Badan Pengawasan Keuangan dan Panjang (PJP) 2025 Sub Bidang Dwidjowijoto R. Inu Kencana Syafiie: Birokrasi Pemerintahan Indonesia.S.. Pelayanan Publik Dalam Era Desentralisasi . di Kantor Bappenas. Harcourt. New york. Shahr J. di Jakarta. 2004. Elex Media Komputindo. BPKP: Strategi Pemberantasan Korupsi Nasional. Kesejahteraan dan Keadilan. 2000. 2003. Pesan dan Media.T. Ismail Mohamad.K. Komunikasi Pemerintahan: Sebuah Agenda bagi Pemimpin Pemerintahan Indonesia. Dan Nimmo: Komunikasi Politik Komunikator. Mandar Maju.A dan B. Kansil C. Simon & Schuster.. Jakarta. 2003. Pembangunan. Jakarta. Washington DC.

dan Universitas Mulawarman. Pemerintah Prov. Sistem Dan Dinamika Kebijakan Publik Dalam Perspektif Otonomi Daerah Dan Peningkatan Daya Saing. 2000 Jakarta. Kompetensi Aparatur Dalam Memikul Tanggung Jawab Otonomi Daerah Dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mifthah Thoha:Birokrasi Politik di Indonesia. Plastrik P. Bogor. LAN: Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI): Buku II Dalam Perspektif Perkembangan Sejarah Jilid 1 Dari Prakemerdekaan hingga 1965. LAN: Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI): Buku II Dalam Perspektif Perkembangan Sejarah Jilid 2 Dari 1966 hingga 2004. Kaltim. Lembaga Administrasi Negara. Ceramah Perdana Pada Program Magister Manajemen Pembangunan Daerah. Padmowiharjo P: Manajemen Pelatihan. Pope J: Strategi Memberantas Korupsi Elemen Sistem Integritas Nasional. Bandung. Sistem Perencanaan. Mustopadidjaja. 2003. PPM.: Lembaga Administrasi Negara. Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 96 . Jakarta. Memangkas Birokrasi Lima Strategi Menuju Pemerintahan Wirausaha: Terjemahan.Lembaga Administrasi Negara. Disampaikan pada Lokakarya “Dinamika PerencanaanPembangunan danKeuangan Daerah”Kerjasama Bappeprov. Lembaga Administrasi Negara. 2003. Jakarta. Kerjasama STIA-LAN. Widodo J. 2003. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. ____________. Insan Cendekia. 1 Agustus 2002. _____________. 2004. Good Governance Telaah dari Akuntabilitas dan Kontrol Birokrasi Pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Samarinda.Daftar Pustaka LAN: Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (SANKRI): Buku I Prinsip Prinsip Penyelenggaraan Negara. Jakarta. Jakarta. 2003. 2001. Surabaya. Jakarta. 2002. Rajawali Press. Osborne D. 15 Januari. Jakarta. 2002. Tidak dipublikasikan 2004. Muksin: Upaya Meretas Jalan Hidup Berbangsa tanpa Korupsi: Kajian Pembangunan Masyarakat (Community Development). Keserasian Kebijakan Dan Dinamika Pelaksanaan Otonomi Daerah. Tidak dipublikasikan 2004. Jawa Timur dengan Pusdiklat SPIMNAS Bidang TMKP.

Harper and Collins Publisher. 1990. The World Bank. http://www. McIntire S. Zeithaml V. 2001. Gramedia. Jakarta. Jakarta. Shahrzad S: Introduction An Overview of The Cost s of Cooruption and Strategies to deal With it dalam Stapenhurst S.Daftar Pustaka Shelton K (Editor). Sitorus: Kementerian PAN Canangkan Bulan Pelayanan Publik. The Free Press. In Search of Quality: Terjemahan.A: Delivering Quality Service Balancing Customer Perception and Experience. 1996.M. Washington DC. Smither R.. New York: Rencana Tindak Reformasi Birokrasi 97 . Shahr J. New York Syahrir. 1997. Tantangan Indonesia Ke Depan: Dari Korban Cyberkompas.com [11 Agustus 2004].D. Menjadi Pelaku. Stapenhurst S.D: Organization Development Strategies for Changing Environment.. 1999. 2003. Curbing Corruption: Toward a Model for Building National Integrity. Houston J. Jakarta.K.1999.