A. PENDAHULUAN Otak merupakan organ penting bagi kehidupan manusia yang terletak di dalam rongga kranium.

Berat otak manusia sekitar 1400 gram dan tersusun oleh kurang lebih 100 triliun neuron. Otak terdiri dari empat bagian besar yaitu serebrum (otak besar), serebelum (otak kecil), brainstein (batang otak) dan diensefalon. Otak menerima 17 % curah jantung dan menggunakan 20 % konsumsi oksigen total tubuh manusia untuk metabolisme aerobiknya. Otak diperdarahi oleh 2 pasang arteri yaitu arteri karotis interna dan arteri vertebralis. Dalam rongga kranium, keempat arteri ini saling berhubungan dan membentuk sistem anastomosis, yaitu sirkulus Willis. Sebagai bagian dari organ tubuh manusia, otak dapat mengalami gangguan yang dapat diakibatkan karena berbagai penyebab diantaranya tumor. Klien yang menderita tumor otak akan mengalami gejala dan defisit neurologi yang tergantung histologi, tipe, lokasi dan cara pertumbuhan tumor. Diagnosa awal dari tumor sangat penting untuk mencegah kerusakan neurologis secara permanen. Melihat fenomena di atas, tumor otak merupakan penyakit yang menjadi momok bagi manusia. Orang yang menderita tumor otak sering tidak menyadari bahwa dia terkena tumor otak. Tiba-tiba saja penderita merasakan dan mengalami nyeri kepala, kelainan pada syarafnya, pandangan kabur dan lain sebagainya tergantung bagian otak mana yang terkena. Oleh karena itu penting bagi perawat untuk mempelajari patofisiologi, manifestasi klinis, prosedur diagnostik dan asuhan keperawatan yang komprehensif pada klien tumor otak beserta keluarganya. B. TUJUAN Tujuan penulisan laporan pendahuluan ini adalah: a. Mengetahui dan mempelajari lebih dalam mengenai tumor otak. b. Mengetahui tata laksana dan asuhan keperawatan pada klien tumor otak. c. Memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan paripurna kepada klien tumor otak. KONSEP TEORI A. Pengertian 1. Tumor cerebri / tumor otak adalah lesi intracranial setempat yang menempati ruang didalam tulang tengkorak (Baughman, Piaree, 2000). 2. Tumor cerebri adalah lesi desak ruang jinak maupun ganas, yang tumbuh di otak, meningen dan tengkorak (Price, Slyvia, 2000). 3. Tumor otak adalah sebuah lesi terletak pada intrakranial yang menempati ruang di dalam tengkorak (Brunner & Suddarth, 2002). 4. Tumor otak adalah neoplasma yang berasal dari sel saraf, neuro epithelium, sel glia, saraf kranial, pembuluh darah, kelenjar pineal, hipofisis (Donna L. Wong, 2002). B. Klasifikasi Tumor otak ada bermacam-macam menurut Price, Sylvia Ardeson,2000, yaitu : 1. Glioma adalah tumor jaringan glia (jaringan penunjang dalam system saraf pusat

Gangguan imunologi tubuh 3. Virus 5. Gangguan fungsi hipofisis 4. Tumor saraf pendengaran (neurilemoma) merupakan 3 sampai 10 % tumor intrakranial. C. Patofisiologi Menurut Brunner dan Suddarth 1987. Gangguan pada otak 2. terjadi apabila terdapat penekanan pada jaringan otak dan infiltrasi atau invasi langsung pada parekim otak dengan kerusakan jaringan neuron. 3. eosinofil atau basofil dari hipofisis anterior 4. sel-sel mesofel dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan dura dari paling penting. biasanya tumor paru dan payudara D. Tumor ini berasal dari sel schawan selubung saraf. gangguan neurologi pada tumor otak disebabkan oleh 2 faktor yaitu gangguan fokal disebabkan oleh tumor dan kenaikan TIK. b. 2. Tumor congenital (gangguan perkembangan).(misalnya euroligis). Tumor kongenital yang jarang antara lain kondoma. namun menurut beberapa ahli dapat terjadi akibat proses primer dan sekunder. . 5. angiosmatosis retina dan kista ginjal serta pancreas. bertanggung jawab atas kira-kira 40 sampai 50 % tumor otak. Tentu saja disfungsi yang paling besar terjadi pada tumor yang tumbuh paling cepat (misalnya glioblastama multiforme). Sindrom non hippel-lindan adalah gabungan antara hemagioblastoma serebelum. Primer 1. Tumor hipofisis berasal dari sel-sel kromofob. Perubahan suplai darah akibat tekanan yang ditimbulkan tumor yang bertumbuh menyebabkan nekrosis jaringan otak. 1. terdiri atas sel-sel yang berasal dari sisa-sisa horokoida embrional dan dijumpai pada dasar tengkorak. 6. Toksin Sekunder: Metastase tumor lain. Hemangiomablastoma adalah neoplasma yang terdiri dari unsur-unsur vaskuler embriologis yang paling sering dijumpai dalam serebelum c. Etiologi Etiologi pasti terjadinya tumor otak belum diketahui. Gagguan fokal. Angioma adalah pembesaran massa pada pembuluh darah abnormal yang didapat didalam atau diluar daerah otak. Tumor meningen (meningioma) merupakan tumor asal meningen. Gangguan suplai darah arteri pada umumnya bermanifestasi sebagai kehilangan fungsi secara akut dan mungkin dapat dikacaukan dengan gangguan perubahan serebrovaskuler primer. Tumor ini diderita sejak lahir yang lambat laun membesar. Tumor pembuluh darah antara lain : a. Tumor metastatis adalah lesi-lesi metastasis merupakan kira-kira 5-10 % dari seluruh tumor otak dan dapat berasal dari sembarang tempat primer.

Serangan kejang sebagai manifestasi perubahan kepekaan neuron dihubungkan dengan kompresi. Tumor ganas menyebabkan oedema dalam jaringan otak sekitarnya. Perubahan fisiologis lain terjadi dengan cepat. Kenaikan tekanan yang tidak diobati mengakibatkan herniasi ulkus / serebellum. tetapi diduga disebabkan oleh selisih osmotik yang menyebabkan penyeparan cairan tumor. Mekanismenya belum seluruhnya dipahami. Mekanisme kompensasi antara lain : bekerja menurunkan volume darah intrakranial. Pathway Keperawatan . Peningkatan TIK akan membahayakan jiwa bila terjadi cepat akibat salah satu penyebab yang akan telah dibicarakan sebelumnya. terbentuknya oedema sekitar tumor dan perubahan sirkulasi cairan serebrospinal. Obstruksi vena dan oedema yang disebabkan oleh kerusakan sawar darah-otak. Kompresi medulla oblongata dari henti pernafasan terjadi dengan cepat. (pelebaran tekanan nadi) dan gangguan pernafasan. Pertumbuhan tumor menyebabkan bertambahnya massa karena ia mengambil tempat dalam ruang yang relatif tetap dari ruangan tengkorak yang kaku. hipertensi sitemik. kandungan cairan intra sel dan mengurangi sel-sel parenkim. Obstruksi sirkulasi cairan serebrospinal dari ventrikel lateral ke ruangan sub araknoid menimbulkan hidrosepalus. semuanya menimbulkan kenaikan volume intrakranial dan kenaikan TIK. Beberapa tumor membentuk kista yang juga menekan parenkim otak sekitarnya sehingga memperberat gangguan neurologis fokal. invasi dan perubahan suplai darah kejaringan otak. Beberapa tumor dapat menyebabkan perdarahan. volume cairan serebrospinal. E. Pada herniasi cerebellum tergeser ke bawah melalui foramen magnum oleh suatu massa posterior. Peningkatan TIK dapat diakibatkan oleh bebrapa faktor : bertambahnya massa dalam tengkorak. Herniasi ulkus menekan mensesefalon menyebabkan hilangnya kesadaran saraf otak ketiga. Perubahan fisiologis lain terjadi akibat peningkatan TIK yang cepat adalah bradikardia progesif. Mekanisme kompensasi memerlukan waktu berhari-hari atau berbulan-bulan untuk menjadi efektif dan oleh karena itu tidak berguna apabila TIK timbul cepat. 2.

hemiaropsia humunimus kontralateral (hilangnya penglihatan pada setengah lapang pandang. menyebabkan pusing. pada sisi yang berlawanan dari tumor) dan halusinasi penglihatan. 3. Rasa sakit dapat digambarkan bersifat dalam dan terus menerus. Papiledema Disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan papilla nervioptist. Nausea dan muntah Terjadi sebagai akibat rangsangan pusat muntah pada medulla oblongata. 2. Sylvia Ardeson. c. Ini termasuk pembesaran bintik buta dan amaurusis fugun (perasaan berkurangnya penglihatan). Tumor serebelum. Nyeri sedikit berkurang jika diberi aspirin dan kompres dingin pada tempat yang sakit. Nyeri ini paling hebat pada pagi hari dan lebih menjadi lebih hebat oleh aktivitas yang biasanya meningkatkan TIK seperti membungkuk. tetapi ini lebih cenderung mempunyai nilai melokalisasi : a. memanifestasikan diri dengan menyebabkan gerakan seperti kejang yang terletak pada satu sisi tubuh yang disebut Kejang Jacksonian. Dalam hubungannya dengan papiledema mungkin terjadi beberapa gangguan penglihatan. Muntah dapat terjadoi tanpa didahului nausea dan dapat proyektif. ataksia (kehilangan keseimbangan) atau gaya berjalan yang sempoyongan dengan kecenderungan jatuh ke sisi yang . Seringkali sulit untuk menggunakan tanda ini sebagai diagnosis tumor otak oleh karena pada beberapa individu fundus tidak memperlihatkan edema meskipun TIK tidak amat tinggi. tumpul dan kadang-kadang hebat sekali.2000 : 1.F. b. 4. Sakit kepala Sakit kepala merupakan gejala umum yang paling sering dijumpai pada penderita tumor otak. Tumor korteks motorik. Muntah paling sering terjadi pada anak-anak berhubungan dengan peningkatan TIK diserta pergeseran batang otak. Bila terlihat pada pemeriksaan funduskopi akan mengingatkan pada kenaikan TIK. Tumor lobus oksipital menimbulkan gejala visual. batuk. Gejala fokal Tanda-tanda dan gejala-gejala tumor otak antara lainnya juga terjadi. mengejan pada waktu BAB. Manifestasi Klinis Menurut Price.

H. b. otot-otot tidak terkoordinasi dan nistagmus (gerakan mata berirama tidak disengaja) biasanya menunjukkan gerakan horizontal. Tumor ventrikel dan hipotalamus mengakibatkan somnolensia. Penggunaan steroid oral akan menurunkan oedema serebral dan mungkin dapat mengontrol gejala tersebut.Bercak putih menunjukkan tumor otak 2. a. 2. Peningkatan TIK dari tumor dalam ruang kranium yang terbatas. Pemeriksaan Penunjang 1. terjadi kelemahan atau paralisis (saraf cranial-7) 4) Akhirnya. MRI. diikuti terjadinya tuli (saraf cranial-8) 2) Berikutnya kesemutan dan rasa gatal pada wajah dan lidah (saraf cranial-5) 3) Selanjutnya. Biasanya menimbulkan gejala-gejala neurologis seperti perdarahan dan infeksi. Tumor lobus frontal sering menyebabkan gangguan kepribadian perubahan status emosional dan tingkah laku. e. c. . membantu dalam mendeteksi tumor didalam batang otak dan daerah hipofisis. karena pembesaran tumor menekan serebelum.Ct-Scan Tm b. komplikasi yang dapat terjadi adalah : 1. Adanya lesi yang mengganggu fungsi normal yang dikontrol oleh bagian otak tersebut 3. f. dan gangguan pengaturan suhu. Pasien sering menjadi ekstrem yang tidak teratur dan kurang merawat diri dan menggunakan bahasa cabul. memberikan informasi spesifik yang menyangkut jumlah ukuran dan kepadatan jejas tumor dan meluasnya tumor serebral sekunder. CT Scan. selain itu alat ini juga member informasi tentang system ventrikuler. G. digunakan untuk menghasilkan deteksi jejas yang kecil. obesitas. dan disintegrasi perilaku mental. diabetes insipidus. d. Komplikasi Menurut Brunner dan Suddarth 1987.lesi. mungkin ada abnormalitas pada fungsi motorik. tinnitus dan kelihatan vertigo. konfusi.Head CT Scan menunjukkan 2 buah tumor yang masih tersisa. Gejala yang dialami pasien secara langsung diakibatkan dengan lokasi tumor otak. Tumor sudut serebroponsin biasanya diawali pada sarung saraf akustik dan member rangkaian gejala yang timbul dengan semua karakteriatik gejala pada tumor otak : 1) Pertama. a. gangguan fungsi bicara dan gangguan gaya berjalan. Tumor intrakranial dapat menghasilkan gangguan kepribadian. c. Pengobatan kemoterapi mungkin memberikan kontribusi pada oedema serebral sementara yang mungkin memerlukan peningkatan pemberian steroid atau obat anti konvulsan.

tumor. keju. apabila diagnose yang diduga sedemikian rumitnya sehingga pungsi spinal atau pungsi lumbal tidak bias dilakukan karena kontra indikasi peningkatan TIK. Radioterapi. (1) (2) Gambar 1 : Pencitraan 3D CT scan memberikan gambaran detail struktur anatomi. EEG. untuk mendekati sel-sel ganas. 4. Dengan menggunakan antibody monoclonal yang diciptakan secara khusus untuk menyerang dan menghancurkan sel tumor otal. lesi. Interleukin-2 digunakan untuk mengganti lesi-lesi metastatic dari kanker primer ginjal dan melanoma. yogurt. Gambar2 : Tumor yang terakhir dioperasi dari bagian belakang otak. Prokabazine dikaitkan dengan mual dan muntah yang mungkin hilang atau berkurang saat pertama kali atau saat pengobatan sedang dilakukan. 6. Tujuan diagnosis definitive dan memperkecil tumor tersebut. Angiografi serebral. Kemoterapi. BCNU dan CCNU karena obat ini mampu melewati sawar darah / otak.3. Imunoterapi a. hati ayam. untuk mengatasi kalignasi tumor otak. karena pokorbazine menghambat dan melemahkan aktivitas inhibitor monoamine oksidase (MAO). Terapi radiasi a. 7. Biopsi stereotaktik bantuan computer (3 dimensi) dapat digunakan untuk mendiagnosis kedudukan tumor yang dalam dan untuk memberikan dasadasarpengobatan dan informasi prognosis. Pengobatan penyelidikan a. pisang) dan alcohol. Penelitian sitologis pada CSF. 3. akan tetapi kemanjurannya masih perlu dibuktikan. BCNU digabungkan dalam bentuk tablet tipis yang mematikan secra biologis untuk ditempatkan pada daerah tumor selama pembedahan kraniotomi. untuk mengatasi daerak eksisi dimana lesi metastatic tumor telah diangkat. dapat mendekati gelombang otak abnormal pada daerah yang ditempati tumor dan dapat memungkinkan untuk mengevaluasi lobus temporal pada waktu kejang. Obat-obatan yang digunakan : Nitroseurea. Penatalaksanaan Menurut Brunner dan Suddarth 1987 : 1. Selama pemberian obat-obatan ini pasien harus menghindari makanan yang tinggi tiramin (misalnya anggur. 2. Pengangkatan dari semua tumor menimbulkan defisit neurologis yang berat. b. memberikan gambaran pembuluh darah serebral dan letak tumor serebral. Ventriculogram / Arteriografi. 5. . I. 4. Pembedahan Merupakan pilihan pertama bagi pasien dengan tumor otak. b. karena tumor-tumor pada system saraf pusat mampu menggusur sel-sel ke dalam cairan serebrospinal.

Tanda : Kontrol motorik halus buruk Hiporefleksia atau hiperfleksia Tanda babinski positif Paralisis 2. Sirkulasi Gejala : Peningkatan tekanan darah Perubahan frekuensi jantung (bradikardi. keletihan. 1. penurunan nafsu makan. jatuh. c. cemas. perilaku aneh (bengong. Tanda : Peka rangsang. gagal tumbuh. Penempatan kateter arteri dekat dengan tumor. takikardi) 3. Data Fokus Pengkajian Pengkajian keperawatan berfokus pada bagaimana pasien berfungsi bergerak dan berjalan beradaptasi terhadap kelemahan atau paralisisdan untuk melihat dan kehilangan kemampuan bicara dan adanya kejang. Aktivitas / Istirahat Gejala : Inkoordinasi. hilang keseimbangan (berdiri dengan dasar kaki lebar. mudah tersinggung. Beri infus manitol untuk perusakan dari barier darah atau otak. Makanan / Cairan Gejala : Dengan atau tanpa mual atau makan . Transplantasi sumsum tulang juga sedang digunakan dalan uji klinis untuk penatalaksanaan astrosiloma. kelemahan. Integritas Ego Gejala : Perubahan perilaku. Eliminasi Gejala : Inkontinensia kandung kemih atau mengalami gangguan fungsi. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TUMOR CEREBRI A. membentuk obyek). kesandung. koma 4. letargi.b. kekakuan. gerakan otomatis). 5.

makin berat saat menunduhkan kepala / mengejan (defekasi. episode “graying out”. Nyeri / Kenyamanan Gejala : Sakit kepala kambuhan dan progresif. diplopia. Diagnosa Keperawatan Pre Op 1.Mengalami perubahan / penurunan nafsu makan Muntah secara progresif. lebih parah dipagi hari muntah (mungkin proyektif) Muntah hilang dengan bergerak dan mengubah posisi. Perubahan persepsi sensori visual berhubungan dengan gangguan persepsi. Konflik pengambilan keputusan berhubungan dengan kurang informasi yang relevan 6. hipotermi. Tanda : menengadahkan kepala. Intervensi Pre operasi Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK NOC : Perilaku Mengendalikan Nyeri Tujuan : Klien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima klien . pada area frontal atau oksipital. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi Post Op 1. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan 6. 6. Keamanan Gejala : Edema karena kejang Tanda : Gangguan penglihatan Kejang. memutar kepala 8. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan trauma intrakranial 3. transmisi 4. pembesaran cranial papiledema. pada penglihatan. Nyeri berhubungan dengan peningkatan TIK 2. Gangguan komunikais verbal berhubungan dengan tumor otak 5. strabismus. Cemas berhubungan dengan ancaman kematian C. 7. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahan fungsi neurologis 3. Nyeri berhubungan dengan prosedur bedah 2. Pernapasan Tanda : Perubahan pola napas Penurunan pernapasan 9. hipertermi B. biasanya tumpul dan berdenyut memburuk saat bangun berkurang disiang hari. Keterlambatan tumbang berhubungan dengan efek dari kecatatan fisik 4. Neurosensori Gejala : Defek visual (nistagmus. defek lapang pandang). Resiko infeksi berhubungan dengan luka post op 5. bersin) Tanda : Menangis. batuk.

observasi adanya efek samping. Sering 5. Bantu ambulasi dan aktivitas hidup sehari-hari dengan tepat Dx 3 : Perubahan persepsi sensori visual berhubungan dengan gangguan persepsi. Lakukan strategi sesuai non farmakologi untuk membantu mengatasi nyeri. Jaga agar penghalang tempat tidur tetap terpasang 4. Berat 3.Kriteria hasil : a. Sedang 4. Tekankan pentingnya mematuhi program terapeutik 2. Tidak menunjukkan adanya nyeri atau minimalnya bukti-bukti ketidaknyamanan b. 3. Gunakan strategi yang dikenal klien atau gambarkan beberapa strategi dan biarkan klien memilih. 5. Belajar dan mengimplementasikan strategi koping yang efektif. Tidak pernah 2. Berikan analgesia sesuai ketentuan. Ekstrem 2. Libatkan keluarga dalam pemilihan strategi 6. Dx 2 : Resiko tinggi cedera berhubungan dengan perubahan fungsi neurologis NOC : Keamanan Sosial Tujuan : Klien tidak mengalami cedera Kriteria hasil : • Bebas dari cedera • Klien dan keluarga menyetujui aktivitas atau modifikasi aktivitas yang tepat Skala : 1. Tidak menunjukkan bukti-bukti peningkatan TIK d. Dampingi klien selama aktivitas yang diijinkan 3. tidak ada gerakan tiba-tiba). Skala : 1. transmisi . 2. Kadang 4. Ringan 5. tidak ada kebisingan. Berikan pereda nyeri dengan manipulasi lingkungan (misal lampu ruangan redup. Konsisten NIC : Mencegah Jatuh 1. Jarang 3. 4. TIK dalam batas normal c. Tidak Ada NIC : Menejemen Nyeri Intervensi : 1. Ajarkan klien untuk menggunakan strategi non farmakologi sebelum terjadi nyeri atau sebelum menjadi lebih berat.

Kriteria hasil : a. Kriteria Hasil: a.NOC : Pengendalian Ansietas Tujuan : Klien menunjukkan tanda-tanda penyesuaian terhadap defisit sensoris / persepsi Kriteria hasil : • Klien menyesuaikan diri pada defisit sensoris / persepsi • Klien menunjukkan sikap dan rasa aman dalam lingkungan Skala : 1. Instruksikan klien dan keluarga untuk menggunakan bantuan berbicara 5. TTV dbn Skala : 1. Diskusikan bersama keluarga pentingnya membatasi lingkungan Dx 4 : Gangguan komunikais verbal berhubungan dengan tumor otak NOC : Neurogical Status Tujuan : Klien menunjukkan komunikasi verbal yang efektif. Konsisten NIC : Pengelolaan Lingkungan 1. Tidak pernah 2. Beri pujian positif ketika klien bisa bicara Dx 5 : Konflik pengambilan keputusan berhubungan dengan kurang informasi yang relevan NOC: Decision Making Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama proses keperawatan diharapkan tidak terjadi konflik dalam keluarga. Menggunakan kata dan kalimat yang singkat 4. Anjurkan klien untuk mengulangi pembicaraannya jika belum jelas 6. Kadang-kadang 4. Sering 5. Fungsi neurologis b. Identifikasi informasi yang relevan b. Jarang 3. Sering 5. Konsisten NIC : Pengelolaan Lingkungan 1. TIK dbn c. Jarang 3. Dorong partipasi dalam bermain aktif 3. Identifikasi alternatif c. Berbicara kepada klien dengan suara yang jelas 3. Membantu keluarga dalam memahami pembicaraan 2. Komunikasi d. Memilih berbagai alternatif . Kadang-kadang 4. Berikan lingkungan yang mendorong rasa akrab dan rasa aman 2. Tidak pernah 2.

Kadang menunjukkan 4. Bantu keluarga mengidentifikasi keuntungan dan kerugian alternatif lain c. Tawarkan informasi konsen d. antara lain penurunan nyeri pada tingkat yang dapat diterima Kriteria hasil : c. Sering menunjukkan 5. Jarang menunjukkan 3. Bantu keluarga dalam menjelaskan keputusannyapada anggota keluarga yang lain. Tidak menunjukkan tanda-tanda nyeri . Informasikan kepada keluarga tentang alternatif pilihan atau solusi b. Tentukan hubungan individu dengan latar belakang sosial budaya pada individu.Keterangan skala: 1. Mengikutsertakan keluarga (bila memungkinkan) dalam melaksanakan pengobatan/ terapi Post operasi Dx 1 : Nyeri berhubungan dengan prosedur bedah NOC : Tingkat Nyeri Tujuan : Klien tidak mengalami nyeri. Identifikasi faktor dalam atau luar untuk menambah / meningkatkan motivasi pengobatan 2. Berikan dukungan secara penuh Dx 6 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan informasi Tujuan : Keluarganya dapat mengerti / lebih paham mengenai penyakit anaknya dan pengobatannya. NOC : Knowledge: Proses Penyakit • Mengidentifikasi keperluan untuk penambahan informasi perawatan anak • Menjelaskan proses penyakit • Menjelaskan sebab atau faktor yang mempengaruhi • Kolaborasi aktif dengan tim kesehatan dalam pengobatan anaknya Ket: 1 : Tidak mengetahui 2 : Terbatas pengetahuannya 3 : Sedikit mengetahui 4 : Banyak pengetahuannya 5 : Intensif atau mengetahuinya secara kompleks NIC : Pengatahuan Proses Penyakit 1. jika diperlikan e. Hindari menggunakan teknik menakut-nakuti 4. Selalu menunjukkan NIC: Family Support a. keluarga atau masyarakat mengenai tingkah laku kesehatannya. 3. Tidak pernah menunjukkan 2.

Sering 5. bukan terlentang atau tinggikan kepala 3. Kriteria hasil : a. batasi pengunkung). Cegah peningkatan TIK Dx 2 : Resiko tinggi cedera berhubungan dengan trauma intrakranial NOC : Pengendalian Resiko Tujuan : Klien mengalami stress minimal pada sisi operasi Kriteria hasil : a. 2. Elastisitas kulit d. Stress minimal pada sisi operasi b. 2. Berikan analgesia sesuai ketentuan 3. Kadang-kadang 4. Ringan 5.d. Rata-rata berat badan b. Tidak Ada NIC : Menejemen Nyeri Intervensi : 1. Konsul dengan ahli bedah mengenai pemberian posisi. Ekstream 2. Hindari posisi trendelenburg Dx 3 : Keterlambatan tumbang berhubungan dengan efek dari kecatatan fisik NOC : Physical Aging Status Tujuan : Klien mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang normal sesuai usianya. Sedang 4. Tidak pernah 2. Kekuatan otot Skala : 1. Klien tetap pada posisi yang diinginkan Skala : 1. Nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima Skala : 1. Posisikan klien datar dan mirirng. Sedang . Cegah adanya gerakan yang mengejutkan seperti membentur tempat tidur 4. Cardiat out put c. Konsisten NIC : Positioning 1. Berat 3. Berikan pereda nyeri dengan manipulasi lingkungan (missal ruangan tenang. termasuk derajat fleksi leher. Jarang 3. Berat 3. Ekstrem 2. Balikkan klien dengan hati-hati 4.

Sering 5. Pantau tanda / gejala infeksi 2. Monitor status hidrasi seperti membran mukosa. tekanan darah dengan cepat. nadi. 4. Bina hubungan saling percaya dengan anak 2. batasi jumlah pengunjung 4. Kriteria hasil : a. Jarang 3. Konsisten NIC : Pengendalian Infeksi 1. Bina kesempatan untuk mendukung latihan aktivitas motorik/verbal klien 5. Kriteria hasil : Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi Skala : 1. Tidak terjadi demam. Kulit dan membran mukosa lembab b. Kadang-kadang 4. Ganti peralatan perawatan pasien sesuai dengan protap Dx 5 : Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan NOC : Fluid balance Tujuan : Klien tidak mengalami dehidrasi atau cairan tubuh klien adekuat. Tidak pernah 2. Kadang-kadang 4. Tingan 5. Jarang 3. Catat intake dan output 3. Tidak ada NIC : Developmental Enhancement 1. TTV normal Skala : 1.4. Rawat luka op dengan teknik steril 3. Memelihara teknik isolasi. Berikan reinforcement positif Dx 4 : Resiko infeksi berhubungan dengan luka post op NOC : Pengenalian Resiko Tujuan : Klien tidak mengalami infeksi atau tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada klien. Bantu anak belajar ketrampilan 4. Monitor BB tiap hari 2. Konsisten NIC : Manajemen cairan 1. Demonstrasikan aktivitas yang meningkatkan perkembangan anak sesuai dengan umurnya (contoh bermain icik-icik) 3. Tidak pernah 2. Monitor status nutrisi . Sering 5.

hjmi.net/Pustaka/Ilmiah/CPA . http://images.Kapita selekta Kedokteran.Wong.1996.co.Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Kadang-kadang dilakukan 4. Suddarth.5.J. 2002.google.Buku Saku Keperawatan Edisi 6 ALih Bahasa Monica Ester. Carpenito. Kondisikan lingkungan nyaman Skala : 1.Joanne C. Mc.2000. Tetap dampingi kien untuk menjaga keselamatan klien dan mengurangi 3. treatment dan prognosis 2.IOWA Intervention Project nursing Intervention Clasification (NIC) Edisi 2. Kriteria hasil : a. Anjurkan pada keluarga untuk memberikan banyak minum Dx 6 : Cemas berhubungan dengan ancaman kematian NOC : Kontrol Cemas Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kecemasan hilang atau berkurang. Jarang dilakukan 3. Santosa. Wesline Industrial Drive. Louis : Mosby. Selalu dilakukan NIC : Enhancement Coping 1. Rencanakan strategi koping untuk mengurangi stress c. Gunakan teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan d.Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006 Definisi dan Klasifikasi.Yogyakarta : Prima Medika. Monitor intensitas kecemasan b. Arif. Bantu pasien mengidentifikasi situasi yang menimbulkan ansietas. Jakarta : Media Aesculapius.1997. L. Instruksikan klien untuk melakukan ternik relaksasi 4.2001.Jakarta : EGC. St. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah Edisi 8 Volume 2. Donna. Beri cairan yang sesuai dengan terapi 6. Mansjoer.Keperawatan Pediatrik. Sering dilakukan 5. Closkey.Doengoes.Jakarta : EGC.id/imgres?imgurl=http://www. Tidak pernah dilakukan 2.Jakarta : EGC. Marilynn E. Budi. Sediakan informasi yang sesungguhnya meliputi diagnosis.2002.Jakarta : EGC. L.2005. DAFTAR PUSTAKA Brunner.

beritaiptek. H. Adril Arsyad Hakim.%2520tumor-Permasalahan serta Penanggulangan Tumor Otak dan Sumsum Tulang Belakang/Prof. Sp BS (K). dr. Sp S.com/images/agussyaraf2.google.com (diakses pada tanggal 18 Juni 2008) http://images.id/imgres? imgurl=http://www.com/zberita-beritaiptek-2007-11-03-Teknologi-sistem-informasi-dapatmembantu-operasi-bedah-saraf. beritaiptek.JPG&imgrefurl=http://www.co. (diakses pada tanggal 28 September 200 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful