PSIKOANALISIS TOKOH BUYUNG DALAM HARIMAU! HARIMAU!

KARYA MOCHTAR LUBIS Makalah Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Lulus Mata Kuliah Sosiologi Sastra

Oleh Christopher Allen Woodrich : NIM 084114001

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2010

1

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa makalah yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta,

........................................ Penulis

Christopher Allen Woodrich

2

KATA PENGANTAR Atas bantuan mereka dalam penyelesaian makalah ini saya ucapkan terima kasih kepada orang-orang berikut: y y y Sie Yulyani Retno Nugroho, atas dukungannya yang setia. Dra. F. Tjandrasih Adji, M. Hum., untuk bantuan dan kesabarannya Mochtar Lubis, untuk karyanya yang amat menarik dibaca.

Makalah ini tidak sempurna dan apabila terjadi kekurangan saya mohon maaf lebih dahulu. Terima kasih.

Yogyakarta, «««««««.. 2010

Christopher Allen Woodrich NIM: 084114001

3

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..................................................................................... PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ......................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................... DAFTAR ISI ................................................................................................. BAB 1: PENDAHULUAN ....................................................................... i ii iii v 1 1 1 2 2 3 7 9

1.1 Latar Belakang Masalah .............................................................. 1.2 Tujuan dan Metode Analisis ........................................................ 1.3 Landasan Teori ............................................................................ 1.3.1 Strukturalisme ..................................................................... 1.3.2 Sosiologi Sastra .................................................................. 1.3.2.1 Psikologi Sastra ......................................................... 1.4 Sistematika Penyajian .................................................................. BAB 2: 3.1 3.2 3.3

KAJIAN STRUKTURAL HARIMAU! HARIMAU! ..................... 11 Sudut Pandang .......................................................................... 11 Alur ........................................................................................... 12 Latar ......................................................................................... 23 3.3.1 Latar Tempat ................................................................. 23 3.3.2 Latar Waktu ................................................................... 24 3.3.3 Latar Sosio-Budaya ........................................................ 24

3.4

Penokohan ................................................................................ 26 3.4.1 Buyung .......................................................................... 26 3.4.2 Wak Katok ..................................................................... 27 3.4.3 Pak Haji ......................................................................... 29 3.4.4 Pak Balam ..................................................................... 30 3.4.5 Sutan ............................................................................. 31 3.4.6 Sanip ............................................................................. 32 3.4.7 Talib .............................................................................. 33 4

3.4.8 Wak Hitam .................................................................... 33 3.4.9 Siti Rubiyah ................................................................... 34 3.5 Tema ......................................................................................... 34 3.5.1 Keselamatan .................................................................. 34 3.5.2 Topeng Manusia ............................................................ 35 3.5.3 Menjadi Dewasa ............................................................ 36 BAB 3: BAB 4: PSIKOANALISIS TOKOH BUYUNG ....................................... 38 KESIMPULAN ........................................................................... 60

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 61 LAMPIRAN .................................................................................................. 62

5

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Novel Harimau! Harimau! oleh Mochtar Lubis merupakan salah satu karyanya yang terbaik. Cerita dikembangkan dengan baik, penokohan dilakukan dengan seksama, dan unsur psikologis yang amat kuat. Biarpun novel lainnya, seperti Jalan Tak Ada Ujung, mempunyai gambaran psikologi tokoh utama, dalam Harimau! Harimau! masalah psikologi mendorong cerita. Perkembangan psikologis Buyung, dari seorang pemuda yang lugu, kurang percaya diri dan tidak berpengalaman dalam dunia cinta menjadi pemimpin yang dipercaya dan banyak pengalaman sangat berkesan. Namun, harus dijelaskan bagaimana tokoh ini dapat berkembang. Apa yang memaknai dosa dan kebaikan? Bagaimana latar sosio-budayanya telah mewarnai pikirannya? Dengan pemahaman pertanyaan di atas, novel luar biasa ini dapat lebih dinikmati.

1.2 Tujuan dan Metode Penelitian Penelitian ini dimaksud untuk menjelaskan bagaimana perkembangan psikologis tokoh Buyung dalam novel Harimau! Harimau!, karya Mochtar Lubis. Ini akan dilakukan dengan menggunakan metode analitis.

6

1.3 Landasan Teori 1.3.1 Strukturalisme Teori strukturalisme dalam sastra merupakan pengertian terhadap sebuah karya, baik prosa, puisi maupun drama. Berdasarkan strukturnya; penelitian ini akan menelusuri sudut pandang naskah, alur cerita, latar, penokohan dan tema. Namun, yang digunakan dalam penjelasan perkembangan psikologis Buyung adalah penokohan dan alur. Sudut pandang merupakan bagaimana suatu cerita disampaikan. Apabila disampaikan dengan pengakuan (tokoh utama ialah si ³Aku´), maka sudut pandangnya disebut orang pertama. Apabila cerita disampaikan dengan menggunakan nama tokoh dan narator yang mempunyai kedudukan di luar cerita, maka naskah mempunyai sudut pandang orang ketiga atau ³dia-an´. Sudut pandang orang ketiga ini dapat dibagi lagi menjadi dua jenis yaitu terbatas (hanya mengetahui beberapa tokoh saja), dan mahatahu (mengetahui keadaan dan pikiran semua tokoh).1 Alur cerita (plot) adalah apa yang terjadi dalam cerita. Alur ini dibagi dalam lima bagian, yakni perkenalan, munculnya konflik, perkembangan konflik, klimaks dan penyelesaian. Walaupun secara umum kelima bagian tersebut berurutan, ada juga karya yang menggunakan urutan yang berbeda, dengan menggunakan teknik seperti flashback untuk mengembangkan cerita.2

1

2

Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Cetakan Kelima. 2009. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Hal. 319 ± 320 Ibid. Hal. 240 ± 243.

7

Adapun latar yang terdiri dari tiga bagian, yaitu latar tempat, latar waktu, dan latar sosio-budaya. Latar tempat adalah ruang lingkup di mana cerita terjadi, baik secara sempit (misalnya istana presiden) maupun luas (misalnya Jawa Barat). Latar waktu adalah kurung waktu di mana sebuah peristiwa itu terjadi, baik secara sempit (misalnya jam tiga siang), maupun luas (misalnya tahun 1998). Latar sosio-budaya adalah keseluruhan adat dan kebudayaan di tempat dan waktu di mana cerita terjadi.3 Penokohan adalah perkembangan tokoh-tokoh dalam cerita. Ada tiga jenis tokoh, yaitu protagonis (pelaku/pendorong cerita), antagonis (penghambat

protagonis), dan tritagonis (pembantu protagonis dan / atau antagonis). Hubungan di antara para tokoh dapat menyebabkan dan menyelesaikan konflik.4 Tema adalah pembahasan terhadap hal-hal mendasar dalam naskah yang merupakan perjuangan universal. Ada tema klasik, seperti µyang baik mengalahkan yang jahat,¶ dan ada juga yang lebih jarang digunakan seperti µyang jahat mengalahkan yang baik.¶5

1.3.2 Sosiologi Sastra Sosiologi sastra (juga disebut sosiokritik) adalah ilmu sastra interdisiplin (ilmu sastra dengan ilmu sosiologi)6 yang dipicu sebagai tanggapan atas kekurangan teori strukturalisme. Oleh karena dipercaya bahwa karya sastra harus dipahami
3

4 5 6

Obstfeld, Raymond. Fiction First Aid: Instant Remedies for Novels, Stories and Scripts. 2002 Cincinnati, OH: Writer's Digest Books. Hal. 1, 65, 115, 171. Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 318. Obstfeld, Raymond. Op. Cit. Hal. 1, 65, 115, 171. Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 338.

8

sebagai satu aspek kebudayaan yang melengkapi kebudayaan lain, sosiologi sastra berusaha untuk memahaminya dalam konteks kebudayaan itu. Semua aspek saling melengkapi, baik pengarang, artifak, pembaca, maupun interteks.7 Menurut Jonathan Culler, karya sastra, yang merupakan suatu sistem simbol, hanya dapat mempunyai arti apabila dijelaskan dari mana asal-usulnya dan untuk siapa dimanfaatkan. Penelitian yang tidak memperhatikan ini tidak dapat menjelaskan karya sastra dengan sesungguhnya.8 Dalam penerapannya, teori sosiologi sastra dinyatakan lebih mudah dipergunakan untuk prosa, khususnya novel. Menurut Nyoman Kutha Ratna, ini terjadi karena: y Novel menampilkan unsur-unsur cerita yang paling lengkap, serta paling luas. y Bahasa yang digunakan cenderung bahasa sehari-hari, sehingga paling mudah dipahami.9 Sosiologi sastra dianggap teori yang baru. Biarpun dinyatakan telah lahir pada abad ke-18, baru ada buku teks yang diterbitkan pada tahun 1970. 10 Walaupun demikian, perkembangannya sudah pesat. Di bawah ini dijelaskan berbagai aspek teori sosiologi sastra.

7 8

9 10

Ibid. Hal. 332. Culler, Jonathan. 1977. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. Routledge & Kegan Paul: London. Hal. 5. dalam Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 337. Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 335 ± 336. Ibid. Hal. 331.

9

Menurut Nyoman Kutha Ratna, kedudukan karya sastra adalah sebagai berikut: 1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin. Ketiga subjek itu adalah anggota masyarakat. 2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat, yang pada gilirannya juga digunakan masyarakat. 3. Medium karya sastra, baik lisan maupun tulisan, dipinjam melalui kompetensi masyarakat, yang dengan sendirinya telah mengandung masalah-masalah kemasyarakatan. 4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat, dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetika, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentingan terhadap ketiga aspek tersebut. 5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas; artinya, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.11 Dengan demikian, menurut Nyoman Kutha Ratna kekayaan karya sastra terjadi karena dua hal, sebagaimana dijelaskan di bawah: 1. Pengarang, dengan pengetahuan intersubjektivitasnya, menggali kebudayaan masyarakat lalu memasukkan kebudayaan itu dalam karyanya. Keberhasilan pemasukan kebudayaan itu bertitik tolak pada kemampuan pengarang dalam melukiskannya.

11

Ibid. Hal. 333.

10

2. Pembaca, dengan pengertian kebudayaan itu, memahami apa yang dibaca dengan kaca mata budaya itu. Apabila pembaca tidak memahami atau berasal dari kebudayaan itu, sangat susah untuk karya sastra berhasil mengesankan pembaca.12 Menurut Nyoman Kutha Ratna, karya sastra selamanya milik masyarakat yang melahirkan pengarangnya. Selama hidup pengarang, dia dapat diakui sebagai pengarang karya sastra. Namun, setelah kematiannya pengarang tunggal itu diganti dengan pengarang jemak, yaitu masyarakat yang melahirkan situasi sosio-budaya yang mewarnai karya sastra. Pengarang jemak ini yang dinamakan pengarang implisit. Tidak ada karya sastra yang merupakan hanya hasil dunia batin pengarang sendiri.13 Pernyataan serupa dinyatakan oleh ahli ilmu sastra lain. Menurut Jonathan Culler, tidak ada karya sastra yang berasal dari pikiran yang benar-benar independen yang dapat dimengerti oleh masyarakat luas. Apabila karya sastra diharapkan untuk dibaca, dipahami, dan dinikmati masyarakat, harus termasuk horison harapan pembaca, atau sistem kebiasaan dan pikiran umum di masyarakat itu yang sudah pasti akan dipahami pembaca. 14 Sebagai ilmu interdisiplin antara ilmu sastra dan sosiologi, sosiologi sastra juga menerapkan berbagai aspek kebudayaan, di antara lain sejarah, filsafat, agama,

12 13 14

Ibid. Hal. 333 ± 334. Ibid. Hal. 336. Culler, Jonathan. Op. Cit. Hal. 5. dalam Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 337.

11

ekonomi, dan politik. Namun, prioritas dalam penelitian sosiologi sastra adalah karya sastra sendiri, dengan ilmu-ilmu lain sebagai ilmu pembantu.15 Ada tiga macam model penelitian karya sastra yang dapat digunakan seorang peneliti, sebagai berikut: 1. Menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. 2. Sama dengan di atas, tetapi dengan cara menemukan hubungan antarstruktur, bukan aspek-aspek tertentu. 3. Menganalisis karya dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu, dilakukan dengan menggunakan disiplin tertentu. Model ini mudah diterapkan dengan cara yang salah, sehingga karya sastra menjadi objek kedua.16 Dalam penelitian ini, aspek sosiologi sastra yang akan diteliti adalah psikologi. Dengan demikian, perlu ada penjelasan tentang pendekatan psikologi sastra.

1.3.2.1 Psikologi Sastra Psikologi sastra berdasarkan teori-teori psikologi Freud dan Jung, dengan perkembangan oleh beberapa tokoh lain seperti Spivak, Milner dan Makaryk. 17 Secara garis besar, ada tiga aliran psikologi sastra, yaitu:

15 16 17

Ratna, Nyoman Kutha. Op. Cit. Hal. 339. Ibid. Hal. 340 Endraswara, Suwardi. Metode Penelitian Psikologi Sastra: Teori, Langkah, dan Penerapannya. Cetakan Pertama. 2008. MedPress: Yogyakarta. Hal. 1 ± 7.

12

1. Psikologi sastra pengarang, yang mengkaji bagaimana dunia di bawah sadar (subconscious) pengarang mendorong penciptaan karya sastra secara sadar (conscious).18 2. Psikologi sastra pembaca, yang mengkaji bagaimana psikologi pembaca dapat menerima nilai-nilai yang ada di karya sastra.19 3. Psikologi sastra penokohan, yang mempunyai dua tujuan berbeda dalam penelitian: a. Menggunakan perkembangan tokoh untuk memahami aliran pikiran dan psikologi pengarang. b. Menggambarkan proses pikiran tokoh.20 Dari kesemua aliran di atas, yang akan digunakan ialah psikologi sastra penokohan yang menggambarkan proses pikiran dan perkembangan psikologis tokoh. Sebagaimana dijelaskan di atas, kajian pada Bab 3 ini akan menggunakan informasi dari penelusuran penokohan dan alur pada Bab 2. Dalam karya sastra, tentu saja tokoh yang bulat mengalami perubahan psikologis serta mempunyai perasaan. Penangkapan perasaan tokoh ini oleh pembaca belum tentu sama dengan yang dimaksud pengarang, tetapi tetap ada perasaan.21

18 19 20 21

Ibid. Hal. 7. Ibid. Hal. 55. Ibid. Hal. 179 ± 185. Ibid. Hal. 181 ± 182.

13

Oleh karena tokoh utama yang paling dikembangkan, penelitian psikologi sastra cenderung diterapkan pada tokoh utama; tokoh lain, karena tidak dikembangkan dengan cukup, tidak diteliti. Perasaan dan perkembangan tokoh dapat dijelaskan dengan teori-teori psikologi, sama seperti halnya manusia nyata. Sebagaimana dijelaskan Suwardi Endraswara, tokoh yang berbuat dosa mengalami moral anxiety (kecemasan moral), dan tokoh remaja pasti dipengaruhi oleh pencarian ego identity (identitas diri), mengalami role confusion (kebingungan akan peran) dan intimacy issues (masalah dengan kemesraan).22 Menurut Ann Jefferson dan David Robey, psikologi tokoh tidak mungkin lepas dari aspek lingkungan sekitar.23 Dengan demikian, pengertian dosa tokoh tidak lepas dari agama tokoh itu. Pengertian keluarga atau tanggung jawab orang tua tidak lepas dari lingkungan kekeluargaan.

1.4 Sistematika Penyajian Makalah ini dibagi menjadi empat bab. Bab satu adalah bab pendahuluan, yang berfungsi sebagai pengantar. Bab ini dibagi menjadi empat subbab dan menjelaskan latar belakang masalah, tujuan dan metode penelitian, jenis teori yang digunakan, dan sistem penyajian.

22 23

Ibid. Hal. 183. Jefferson, Ann dan David Robey. Modern Literary Theory. 1991. B.T. Batsford Ltd.: London. Hal. 9. dalam Ibid. Hal. 181.

14

Bab dua menjelaskan Harimau! Harimau! dari sudut pandang strukturalis. Gambaran ini, yang bersifat lebih umum, dimaksud untuk menjelaskan cerita Harimau! Harimau! kepada pembaca, supaya analisis lebih mudah dipahami. Bab tiga adalah analisis psikologi Buyung, yang menjelaskan pembentukan dan perkembangan psikisnya oleh karena pengalaman dan pendidikan, sebagaimana dijelaskan di teks. Hal-hal yang tidak disinggung dalam teks tidak akan menjadi bahan analisis. Bab terakhir adalah bab empat. Bab ini merupakan kesimpulan dari makalah.

15

BAB 2 KAJIAN STRUKTURAL HARIMAU! HARIMAU! Berikut ada kajian struktural Harimau! Harimau! sebagai informasi latar belakang untuk kajian perkembangan psikologis tokoh Buyung. Pertama dijelaskan bagaimana cerita disampaikan, dengan menelusuri sudut pandang yang digunakan dalam novel. Kemudian, akan dijelaskan alur cerita secara garis besar, lalu secara mendalam: latar tempat, latar waktu, latar sosio-budaya, dan penokohan. Terakhir akan dijelaskan unsur suprasegmental yang mewarnai pemahaman novel, yaitu tema.

3.1 Sudut Pandang Harimau! Harimau! diceritakan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga maha-tahu, tetapi dengan kecenderungan untuk hanya menyatakan pikiran dan perasaan Buyung. Ini dapat dilihat dari kutipan di bawah: ³Dia merasa bahwa apa yang terjadi di antara dirinya dengan Siti Rubiyah adalah sesuatu yang wajar, yang harus terjadi, dan telah ditakdirkan harus terjadi demikian. Dia masih dapat merasakan panas badan Siti Rubiyah. Dan napasnya yang hangat. Seluruh badannya terasa panas kembali mengingat perempuan muda itu. « Perasaan tidak berdosanya diperkuat pula oleh cerita Siti Rubiyah tentang kejahatankejahatan Wak Hitam.´24 Sementara, pikiran tokoh lain kadang-kadang diberitahukan, sebagaimana

digambarkan di bawah: ³Akan tetapi mengakui dosa-dosa di depan kawan-kawan semua? Aku tak berdosa, tak ada dosa yang harus aku akui, pikir Sanip.
24

Lubis, Mochtar. Harimau! Harimau!. Edisi Kedelapan. 2008. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta. Hal. 72.

16

Aku tak punya dosa yang mesti aku akui, kata Talib dalam hatinya. Aku tak punya dosa, kata Sutan pada dirinya. Buyung menyuruh hatinya dan pikirannya diam, jangan mengingatkannya pada dosa-dosanya. Pak Haji juga demikian. Wak Katok duduk diam dengan air muka yang keras « tentang dosanya yang terakhir, dia yakin sekali, tak seorang juga yang tahu, dan dia tak akan hendak menceritakannya kepada siapa pun juga.´25

3.2 Alur Sekelompok tujuh pendamar dari suatu desa di Sumatra sudah lama di Hutan Raya. Mereka (Wak Katok, Pak Haji, Pak Balam, Sutan, Talib, Sanip, dan Buyung) dianggap orang baik di kampung Air Jernih, berani dan terhormat. Wak Katok dan Buyung terkenal sebagai pemburu yang amat pintar. Buyung sangat senang karena dapat belajar dengan Wak Katok. Diharapkan bahwa dia bisa belajar semua ilmu Wak Katok, seperti menghilang, membunuh orang dengan mata saja, dan membuat orang sakit perut sampai mati. Namun, yang paling dia inginkan ialah ilmu pekasih; ini mau digunakan untuk menarik hati seorang gadis di kampungnya, Zaitun, yang dia sukai tetapi tidak tahu hatinya. Selama dua minggu mengumpulkan damar, mereka berpangkalan di rumah orang yang sangat pintar berilmu sihir, Wak Hitam, gurunya Wak Katok, beserta istri mudanya Siti Rubiyah. Konon ilmu Wak Hitam jauh lebih dahsyat daripada ilmu Wak Katok; konon dia pernah tertembak tanpa terluka, dengan melihat perempuan
25

Ibid. Hal. 101.

17

saja pun menghamilinya, dan sering naik haji naik harimau peliharaannya yang bisa terbang. Karena Wak Hitam sedang sakit dan di kamar sendiri, kegiatan mereka hanya mengobrol. Namun, Siti Rubiyah menarik nafsu birahi mereka dan mereka sering membicarakan cantiknya. Wak Katok (tanpa diketahui orang lainnya) pun hilang dengannya untuk sejenak. Akhirnya mereka berangkat pulang. Setelah berjalan tiga puluh menit, Buyung sadar bahwa dia belum memeriksa perangkap kancilnya. Dia diizinkan kembali untuk memeriksanya, dan membayangkan betapa senangnya Zaitun kalau dia kembali dengan membawa kancil untuk dipeliharakannya. Ternyata ada. Setelah mengambil kancilnya, dia bersiap kembali ke teman-temannya. Namun, dia terhenti ketika dia melihat Siti Rubiyah yang tampak kesepian. Mereka berbicara, dan akhirnya Buyung menyerahkan kancil itu kepada Siti Rubiyah. Siti Rubiyah kemudian curhat bahwa semenjak Wak Hitam jatuh sakit dia terpaksa tidur berpelukan dengannya tanpa berbaju dan digigit oleh Wak Hitam supaya Wak Hitam jadi sehat kembali. Mendengar ini, Buyung amat terharu dan mengungkapkan hendaknya untuk membantu Siti Rubiyah. Dia berpikir keras tapi tidak tahu bagaimana bisa membantunya. Tanpa sadar, Buyung memeluk Siti Rubiyah, sampai akhirnya mereka bersetubuh. Itu pertama kali Buyung bersetubuh. Akhirnya Buyung kembali ke kawan-kawannya, dan dia ditanya apabila mendapatkan kancil. Dia jawab iya, tetapi meninggalkannya dengan Siti Rubiyah. Kemudian, dia diejek oleh teman-teman muda yang bilang ada banyak yang dapat 18

ditangkap di rumah Wak Hitam. Malu meskipun dia tahu mereka tidak tahu kenyataannya, Buyung pergi mengambil air untuk bersembahyang. Dia berpikir mengenai peristiwa dengan Siti Rubiyah, dan agaknya merasa bersalah. Dia mulai menyesal perbuatannya dengan istri Wak Hitam itu, tetapi menganggap dirinya tidak menggoda Siti Rubiyah; itu semua terjadi secara alamiah, dia berpikir. Bagaimana pun, dia tetap minta ampun kepada Tuhan. Dia kembali ke kelompoknya dan mereka tidur. Esok paginya mereka bangun dan melihat ada rusa di dekat sana. Mereka memburunya dan berhasil menembaknya. Mereka ke sana untuk mengambil dagingnya, tetapi menjadi amat takut ketika ada auman harimau. Karena takut, mereka cepat-cepat potong rusa lalu pergi membawa dagingnya tanpa diasapi. Ternyata mereka diburu harimau. Sore hari mereka berhenti untuk mengasapi dan makan daging rusa serta bermalam. Habis makan Pak Balam pergi ke sungai dekat tempat istirahat mereka. Namun, dia diserang harimau. Dia berhasil diselamatkan oleh kawan-kawannya, tetapi dia luka berat. Setelah kembali ke tempat istirahat, Pak Balam menyatakan bahwa sebelum meninggalkan rumah Wak Hitam dia bermimpi bahwa mereka semua akan mengalami kecelakaan akibat dosa mereka. Buyung bertanya-tanya dalam pikirannya apakah dia yang membawa maut untuk semua. Namun, Pak Balam menceritakan dosa dirinya dan Wak Katok. Ternyata saat perang melawan Belanda di tahun 1926, mereka berada di satu pasukan. Dalam berontakan pasukan itu menjadi bercerai berai, dan hanya 19

Pak Balam dan seorang prajurit lain, Sarip, ada bersama Wak Katok. Namun, Sarip luka di paha dan lemas. Dia tidak bisa melarikan diri dan bila ditinggal dikhawatirkan akan menunjukkan tempat persembunyian pasukan mereka. Akhirnya, Pak Balam diminta pergi oleh Wak Katok dan Sarip dibunuh dan mayatnya dibuang ke dalam sumur. Pak Balam merasa bersalah karena sudah tahu maksud Wak Katok, tapi lebih menghargai hidupnya sendiri daripada hidup temannya. Pak Balam berbaring lemas dan menyatakan bahwa harimau itu dikirim Tuhan untuk menghukum mereka untuk dosa mereka. Dalam hari mereka, Sanip, Sutan, dan Talib menyatakan bahwa mereka tidak berdosa, tetapi Buyung berusaha untuk tidak memikirkan dosanya. Pak Balam mulai setengah tidur, menyatakan berulang kali ³Akuilah dosamu.´ Wak Katok mulai menjadi gila memikirkan hal yang baru dikemukakan dan menyesal menyelamatkan Pak Balam. Dia khawatirkan apa yang akan dikatakan orang sekampung ketika mereka pulang. Dia juga menuduh diam-diam orang lain; tidak adillah bila mereka tahu dosanya tapi dia tidak tahu dosa mereka. Dia juga khawatirkan dosa terakhirnya, bercinta dengan Siti Rubiyah. Mereka mulai berdiskusi, menanyakan jenis harimau yang mengejar mereka. Menurut Pak Haji, ada dua jenis harimau: harimau biasa dan harimau siluman, atau yang dikirim oleh pemiliknya karena kesalahan seseorang. Mendengar ini, Buyung langsung berpikir itu harimaunya Wak Hitam, datang untuk menghukumnya karena telah meniduri Siti Rubiyah. Sementara Wak Katok mencari keuntungan yang paling 20

besar dalam menyatakan jenis harimaunya. Akhirnya, Wak Katok berpendapat bahwa harimau itu adalah harimau biasa; jadi, dosa mereka tidak berpengaruh. Akhirnya mereka tertidur. Esok paginya mereka bangun dan berangkat, mengangkat Pak Balam. Pak Balam sudah kena demam ringan, lukanya infeksi, dan, akibat lukanya, tidak bisa berjalan. Mereka jalan pelan-pelan, Wak Katok di depan membawa senapan. Pada siang hari, Talib tertinggal sejenak untuk kencing. Kedengaran auman harimau, dan orang-orang lainnya terbeku, tak bisa jalan. Akhirnya terdengar jeritan Talib, dan baru mereka dapat bergerak. Mereka berlari ke tempat kencing Talib, dan akhirnya berhasil menakutkan harimaunya. Talib terluka berat, dan tidak bisa jalan. Mereka ambil keputusan untuk meninggalkan keranjang berisi damar dan membawa orang luka ke tempat bermalam dulu, baru kembali untuk keranjang. Setelah tiba di tempat bermalam dan Buyung, Sanip dan Sutan mengambil keranjang, Wak Katok menyatakan bahwa Talib telah amat berat, dan bila bisa sadar itu sudah suatu keajaiban. Pada saat itu juga, Talib terbangun dan bilang ³Aku« berdosa« mencuri«,´ lalu meninggal. Wak Katok bertanya apa yang dicuri. Sanip dan Sutan pandang-memandang, lalu Sanip mengakui bahwa mereka bertiga telah mencari empat ekor kerbau dari orang di desa tetangga. Talib telah menikam penjaga kerbau, biarpun tidak sampai mati. Sutan, mendengar dosanya diakui Sanip, marah kepadanya. Sanip kemudian dipaksakan menceritakan semua dosanya.

21

Sanip ternyata dari kecil mencari durian, mangga, dan duku. Ketika kecil dia juga membuang Quran ke tengah jalan. Ketika berusia sembilan belas, dia ke kota dan mengunjungi rumah perempuan lacur. Dia selalu birahi ketika melihat perempuan yang cantik. Terasa bagai ada iblis di dekatnya. Mereka bersiap untuk tidur, tetapi keadaan Pak Balam kelihatan jauh lebih buruk. Lukanya busuk sekali, dan dia tidak karuan. Esok paginya mereka menguburkan Talib di tempat dan hendak berangkat, tetapi Pak Balam mengalami krisis demam dan tidak dapat dipindahkan. Oleh karena itu, Wak Katok menyarankan memburu sang harimau. Dia berangkat bersama Buyung dan Sanip, dan meninggalkan Pak Haji dan Sutan bersama Pak Balam. Pak Balam dalam demamnya terus meminta agar Pak Haji dan Sutan mengakui dosanya. Ini membuat Sutan berpikir tentang dosanya, biarpun tidak diakui: Sutan pernah makan saat harusnya puasa, merokok biarpun dilarang ayah, dan mencuri-curi. Dia juga suka main wanita. Namun, ini tidak mengganggu hati nuraninya. Yang menjadi tekanan di hati nuraninya, yang secara di bawah sadar dia tahu adalah dosa yang tidak dapat diampuni, adalah perkosaan. Dia pernah memerkosa dan membunuh Siti Nurbaiti, seorang yatimpiatu dari desanya yang hanya berusia tiga belas tahun. Tertekan dan menjadi gila karena pikirannya dan ungkapan Pak Balam yang tidak berhenti, Sutan melarikan diri.

22

Sementara, kelompok pemburu mengikuti jejak harimau. Jalannya tidak teratur, seakan harimaunya memburu babi hutan atau hewan lain. Jejaknya hilang di sungai, dan mereka mengikuti aliran sungai mencari jejak baru. Namun, setelah mereka temukan jejaknya, tampak bahwa sekarang mereka yang diburu harimau. Mereka menyiapkan perangkap untuk sang harimau. Saat menunggu sang harimau, mereka berpikir. Buyung hendak merokok, dan Sanip ingin meniduri istrinya. Namun, Wak Katok memikirkan betapa celakanya sekarang, dan hidupnya yang mudah akan menjadi kacau. Tidak akan ada yang percaya bahwa dia ahli sihir lagi kalau gagal di sini, dan kemudahan yang dia memperoleh dari pura-pura mengatakan mantra dan memberi obat akan hilang. Setelah berjam-jam menunggu, terdengarlah suara berteriak ³Tolong!´ Kemudian terdengar auman harimau, dan mereka terbeku di tempat. Setelah dapat bergerak, Sanip mulai menangis. Buyung hendak menolong orang yang teriak, tetapi Wak Katok menyatakan bahwa itu tak ada gunanya; mereka nanti terlalu lama ke sana dan orangnya sudah dimakan harimau. Mereka kembali ke tempat Pak Haji dan Pak Balam. Setiba di sana, mereka ditanya Pak Haji apakah pernah bertemu Sutan. Dengar itu, mereka sadar bahwa Sutan-lah yang dimakan harimau. Mengetahui ini, Buyung berusaha untuk mengerti dosa Sutan, dan memikirkan dosanya; dia juga memikirkan Zaitun. Akhirnya Wak Katok berjaga, dan lainnya tertidur. Wak Katok memikirkan membunuh mereka semua biar dia dapat dianggap lebih hebat lagi di desa, sebagai satu-satu orang yang selamat, tetapi dia pun tertidur. 23

Pada malam itu Pak Balam meninggal, dan mereka menguburkannya. Setelah Pak Balam dikuburkan, mereka mengambil keputusan untuk mencari Sutan. Mereka menganggap masih ada kemungkinan dia selamat. Wak Katok mengantar mereka ke dalam hutan yang belum pernah dilewati. Mereka putar-putar di hutan itu. Buyung memikirkan Zaitun, dan Pak Haji memikirkan dosanya: Saat muda dia telah beristri dan beranak. Namun, anak itu jatuh sakit dan Pak Haji mencari bantuan. Ketika manusia lain tidak bisa bantu, dia berdoa kepada Tuhan agar anaknya diselamatkan. Anaknya meninggal pada hari berikutnya, dan istrinya enam bulan kemudian. Dia mulai kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan, lalu mengembara. Selama dia mengembara di dunia, dia sering ditipu oleh orang lain. Akhirnya, dia kehilangan kepercayaannya dalam kebaikan manusia... dan Tuhan. Untuk menghindari tipuan, dia tidak campur urusan dengan orang lain. Mendamar pun hanya kerja sama untuk menguntungkan masing-masing, dan bukan untuk kepentingan umum. Pak Haji mempertanyakan maksud Wak Katok, tetapi tidak bisa percaya Buyung dan Sanip, jadi tidak mengungkapkan keraguannya. Sementara, Wak Katok mengambil keputusan untuk sengaja menyesatkan mereka. Setelah berjalan lama dan benar-benar sesat, mereka berhenti untuk makan. Buyung melihat ular berbisa dekat Pak Haji, dan, tanpa memandang keselamatannya

24

sendiri, mendorong Pak Haji agar tidak kena ularnya. Ini membuat Pak Haji percaya pada Buyung. Akhirnya Buyung menyatakan terus terang bahwa mereka tersesat. Wak Katok menyatakan bahwa mereka mengikuti jalan yang benar, dan menuju sungai. Mereka menyiapkan pondok, hendak bermalam, dan Wak Katok duduk berjaga, memegang senapannya amat erat. Ketika Buyung memperingati dia agar membersihkan senjata, Wak Katok menganggap mereka berkomplot untuk menghancurkannya. Pikiran ini menjadi dorongan terakhir untuk Wak Katok. Dia menjadi gila, dan teriak pada lainnya ³Mengakui dosamu! Mengakui dosamu!´ Senapannya diacungkan ke arah Buyung dan dia berusaha untuk memaksakan Buyung mengakui dosanya. Namun, dosa menolak, biarpun diancam akan ditembak. Pak Haji akhirnya mencampur dan minta agar mereka bersabar. Wak Katok menyuruhnya diam, tetapi Pak Haji menyatakan bahwa pengakuan dosa tidak dapat dipaksakan. Dia lalu mengakui dosanya secara suka rela. Telah membunuh, telah berzina, telah merampok... Tidak siap menghadapi Pak Haji, Wak Katok kembali mengancam Buyung. Namun, mendadak terdengar auman harimau. Wak Katok terkejut dan lihat ke manamana. Dia hendak lari, tapi harimaunya sudah tiba. Wak Katok berusaha untuk menembak, tapi senapannya tidak berfungsi karena mesiunya telah basah. Buyung melempar kayu dan harimau pergi, takut.

25

Wak Katok sangat ketakutan. Melihat demikian, Sanip menyatakan bahwa Wak Katok adalah guru palsu dengan mantera dan jimat palsu. Dia membuang batu jimat itu, lalu menyatakan ³Aku lihat kamu dengan Siti Rubiyah. Kamu memaksanya´ Ini membuat Buyung terkejut. Jawaban Wak Katok lebih mengejutkan lagi. ³Aku tidak memaksakan dia. Dia dibayar, dibeli baju, mau dengan siapa saja. Terus mengapa kau di sana, kalau bukan mengintip perempuan yang mandi?´ Mendengar ini, Buyung merasa kecewa. Pengalamannya dengan Siti Rubiyah tidak ada arti. Dia bagai wanita sundal. Wak Katok menyuruh mereka pergi. Mereka mulai berangkat, tetapi sadar bahwa tidak bisa melewati hutan dalam kegelapan. Mereka ambil tindakan untuk mengambil senapan dari Wak Katok. Mereka berhasil, tetapi Pak Haji kena bedil. Pak Haji tidak dapat diselamatkan, dan mati setelah memohon mereka agar mengampuni yang telah berdosa dan selalu ingat pada Tuhan, karena manusia tidak hidup sendiri. Setelah kematian Pak Haji, Buyung dan Sanip mengikat Wak Katok dan membawanya ke dalam pondok, duduk bertiga di sana. Setelah Wak Katok sadar diri, dia mohon dilepaskan dan berusaha untuk mengancam dan menyuap Buyung dan Sanip. Namun, mereka tidak mau terima. Mereka jelaskan bahwa mereka hendak menyerahkannya ke polisi setiba di desa. Betapa pun Wak Katok mengancam, mereka tidak percaya. Bahkan tawaran pekasih tidak diterima, dan Buyung mengatakan hendak menikah Zaitun. Pada hari berikutnya, mereka bertiga berangkat untuk memburu harimau. Wak Katok masih diikat, dan dipaksakan mengikuti mereka. Mereka mengikuti jejak 26

harimau, dan menemukan tulang dan pakaian sobek Sutan. Dagingnya sudah dimakan harimau. Mereka mengikuti jejaknya lagi, lalu Buyung merasa bahwa harimaunya dekat. Kaki Wak Katok diikat, lalu dia diikat di pohon; dia dijadikan umpan harimau. Buyung dan Sanip bersembunyi di pohon. Sebentar kemudian terlihat harimaunya datang, mendekati Wak Katok. Wak Katok teriak keras, minta tolong. Duduk di pohon, Buyung berpikir: apakah sebaiknya biarkan harimau itu menerkam Wak Katok sebelum menembak. Namun, dia ingat kata Pak Haji dan mencuek suara itu. Dia menembak sekali, dan harimau jatuh mati. Wak Katok pingsan. Mereka melepaskan Wak Katok dari pohon. Mereka bersiap untuk pulang, membawa Wak Katok. Buyung memikirkan Siti Rubiyah, dan bagaimana yang berlalu sudah selesai. Dia mengampuni Siti Rubiyah telah membujuknya, dan mengingat Zaitun yang akan dia nikahi. Sebagaimana dijelaskan di atas, aliran plot di Harimau! Harimau! adalah aliran kronologis dan konvensional, dengan urutan:
Perkenalan tokoh ± perkenalan konflik ± peningkatan konflik ± klimaks ± penyelesaian

Biarpun ada flashback, seperti ketika Sutan mengingat dosanya telah memerkosa Siti Nurbaiti, itu tidak berpengaruh dalam aliran utama plot.

27

3.3 Latar 3.3.1 Latar Tempat Cerita terjadi di Hutan Raya, di Sumatra. Hutan ini sangat luas dan padat dengan pohon dan hewan liar. Ini dinyatakan pada awal cerita, sebagaimana dikutip di bawah: ³Hutan Raya terhampar di seluruh pulau, dari tepi pantai hingga tempat ombak-ombak samudera yang terentang hingga ke Kutub Selatan menghempaskan diri setelah perjalanan yang amat jauhnya hingga ke puncak-puncak gunung yang menjulang tinggi dan setiap hari diselimuti awan tebal. Hutan raya berubah-ubah wajahnya. Yang dekat pantai merupakan hutan-hutan kayu bakau, dan semakin jauh ke darat dan semakin tinggi letaknya, berubah pula kayu-kayu dan tanaman di dalamnya, hingga tiba pada pohon-pohon besar dan tinggi, sepanjang masa ditutup lumut, yang merupakan renda-renda terurai dari cabang dan dahan.26 Di tengah-tengah Hutan Raya, ada desa-desa kecil, di antara lain desa Air Jernih, tempat asal para pendamar. Desa-desa ini masih tradisional, dan tidak menggunakan teknologi yang tinggi. Penduduk adalah orang-orang Muslim. Latar tempat sempit ada beberapa, di antara lain: y y y Rumah Wak Hitam Di pinggir sungai Di tengah hutan

26

Ibid. Hal. 1.

28

3.3.2 Latar Waktu Tahun keterjadian cerita tidak dinyatakan dengan jelas. Namun, dari informasi yang ada dapat ditarik kesimpulan bahwa cerita terjadi pada akhir dasawarsa 40-an atau awal dasawarsa 50-an. Kesimpulan ini ditarik berdasarkan usia Wak Katok dan Pak Balam. Wak Katok dan Pak Balam pernah berperang melawan Belanda pada tahun 1926, dengan Wak Katok sebagai prajurit senior.27 Dengan menggunakan usia remaja tua (18 ± 24) pada tahun itu (usia merata untuk prajurit resmi), dan dengan mengetahui bahwa pada tahun keterjadian cerita usia Wak Katok sudah 50 tahun,28 dapat dipahami bahwa cerita terjadi di antara tahun 1948 dan 1954. Ada banyak latar waktu sempit, di antara lain siang hari dan sore hari. Namun, tidak ada jam yang tepat.

3.3.3 Latar Sosio-Budaya Di desa Air Jernih dan Hutan Raya, ilmu sihir dipercaya mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga orang yang sudah pintar berilmu sihir dipercaya (tapi juga ditakuti). Hal yang dianggap dapat dilakukan oleh ahli ilmu sihir tidak terbatas, sebagaimana dijelaskan di bawah: ³Wak Hitam« ada yang berani bersumpah dan mengatakan, bahwa umur Wak Hitam lebih dari seratus tahun. « Bininya empat. Dan kata orang selama hidupnya dia telah kawin lebih dari seratus kali, dan setiap kawin selalu dengan anak perawan. « menurut Sanip, perempuan
27 28

Ibid. Hal. 97 ± 98. Ibid. Hal. 3

29

kalau bersalaman saja pun dengan Wak Hitam tentu akan bunting « Kata orang dia berkali-kali pergi naik haji ke Mekkah terbang mengendarai harimau silumannya. « Menurut cerita dia kebal.´29 Agama pegangan orang-orang di Hutan Raya ialah Islam. Orang di desa Air Jernih memegang prinsip-prinsip Islam, dan ini telah menentukan pengertian mereka tentang dosa, kebaikan, dan tanggung jawab. Di desa Air Jernih ada mesjid, dan Pak Haji pernah diminta menjadi pemimpin salat. Selain itu, Pak Haji sangat dihormati karena sudah berhasil naik haji. 30 Namun, Islam ini bukan Islam murni; masih ada kepercayaan-kepercayaan animis, seperti kepercayaan bahwa ada harimau siluman. Namun, biarpun ada teologi Islam yang sudah membentuk psikologi diri tokoh, mereka tetap manusia. Ada yang mencuri, berzina, dan bahkan membunuh. Dosa ini tidak pasti menjadi beban dalam pikiran tokoh; hanya Buyung dan Pak Haji yang berani mengaku berdosa pada diri sendiri. Mereka bukanlah orang yang sempurna. Mata pencaharian di desa Air Jernih cenderung tradisional. Selain mendamar, yang dilakukan oleh para tokoh utama, ada pekerjaan lain seperti dukun dan pemburu. Dalam pernikahan, tampak bahwa orang menikah demi cinta, tetapi dengan mempertimbangkan keturunan dan status sosial keluarga.31 Namun, ini tidak selalu berhasil. Masih sering terjadi perselingkuhan dan pelacuran.32

29 30 31 32

Ibid. Hal. 25 ± 27. Ibid. Hal. 6. Ibid. Hal. 10 ± 15. Ibid. Hal. 130

30

3.4 Penokohan 3.4.1 Buyung Buyung adalah tokoh utama dalam novel ini. Dia berusia 19 tahun dan belum menikah. Pekerjaaannya sebagai seorang pendamar; selain itu, Buyung pintar berburu. Dia dianggap anak yang baik di Desa Air Jernih, dan dibesarkan secara Islamiah. Biarpun Buyung dibesarkan secara Islamiah, akibat dibesarkan di desa terpencil dia mempercayai hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dia salah satu murid ilmu sihir Wak Katok, dan mempercayai ketakhyulan; dia tidak mengatakan ³Harimau´ di hutan, dan percaya bahwa jimat-jimat Wak Katok dapat melindunginya dari kecelakaan. Namun, akhirnya dia mengetahui bahwa ilmu Wak Katok palsu, dan tidak percaya lagi: ³¶Jimat-jimatmu palsu, matera-materamu palsu. Inilah jimat-jimat yang dipakai juga oleh Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan, lihatlah, di mana mereka kini, telah binasa.¶´ ± Buyung, kepada Wak Katok.33 Buyung belum berpengalaman dalam dunia cinta. Dia mengharapkan gadis sekampung, Zaitun, untuk menjadi istrinya, tetapi tidak berani untuk mengakui cintanya. Dia hanya bisa berdiam saja, mengagumi Zaitun dari jauh. Di awal novel dia masih perjaka, tetapi menyerahkan keperjakaan itu kepada Siti Rubiyah tanpa ada ikatan pernikahan. Ini menjadi beban dalam pikiran Buyung. Pada akhir novel, Buyung mengambil keputusan untuk melupakan Siti Rubiyah dan mengakui cintanya kepada Zaitun.

33

Ibid. Hal. 192.

31

Biarpun Buyung mempunyai keterampilan yang baik, dia merasa tidak percaya diri. Dia sering menjadi sasaran ejekan dari pendamar lain karena dia yang paling muda dan belum menikah. Dia senang bergaul dengan pendamar lain, tetapi menganggap dirinya tidak sebaik atau sehebat mereka; dia juga susah mengambil keputusan. Namun, setelah dia menjadi pemimpin dan berhasil membunuh harimau, dia mulai percaya diri dan mampu mengambil keputusan.

3.4.2 Wak Katok Wak Katok adalah seorang dukun, pemburu terkemuka, dan pemimpin di Desa Air Jernih. Dia berusia lima puluh tahun dan dianggap sebagai ahli ilmu sihir yang luar biasa kuat, sehingga menjadi guru Talib, Sutan, Sanip, dan Buyung. Dia mengakui telah belajar ilmu dengan Wak Hitam. Keahliannya sebagai dukun banyak dibicarakan: ³Menurut cerita orang, jika bersilat, Wak Katok dapat membunuh lawannya, tanpa tangan, kaki, atau pisau mengenai lawannya.. Cukup dengan gerak tangan atau kaki saja yang ditujukan ke arah kepala, perut atau ulu hati lawan, dan lawannya pasti akan jatuh, mati terhampar di tanah. Sebagai dukun dia terkenal ke kampung lain. Dia pandai mengobati penyakit biasa, akan tetapi juga dapat mengobati perempuan atau lelaki yang kena guna-guna; dia punya ilmu yang dapat membuat seseorang sakit perut sampai mati, dia pandai membuat jimat yang ampuh, yang dapat mengelakkan bahaya ular, atau binatang buas yang lain, membuat orang jatuh takut atau takut atau segan, membuat orang menerima permintaan orang, dia punya ilmu pemanis untuk orang muda, lelaki atau perempuan, dia punya mantera dan jimat supaya orang selamat dalam perjalanan, jimat supaya kebal terhadap senjata, atau jimat supaya kebal terhadap racun ular, dia dapat membuat orang muntah darah

32

sampai mati, dan dia punya mantera untuk menghilang, hingga tak dapat terlihat oleh orang lain.´34 Wak Katok satu-satu orang dari ketujuh pendamar yang mempunyai senjata, yang merupakan peninggalan dari pemberontakan melawan Belanda pada tahun 1926. Senjata itu masih berfungsi, tetapi Wak Katok tidak rajin membersihkannya. Dia menggunakan senjata untuk berburu, dan cukup mapan dalam pemburuannya. Dosa Wak Katok cukup banyak. Setelah serangan harimau pertama, dosa Wak Katok telah membunuh salah satu prajurit di bawah pemimpinannya dikemukakan oleh Pak Balam. Namun, ada dosa lain yang hanya dikemukakan pada akhir cerita; Wak Katok suka main perempuan, dan akhirnya membunuh Pak Haji. Akhirnya dinyatakan bahwa ilmu Wak Katok pun palsu; jadi, dia telah berdosa membohongi orang-orang desa. Wak Katok sangat menikmati keuntungan yang dia memperoleh sebagai pemimpin di desa, dan mengkhawatirkan kehilangan muka. Ini menjadi alasan mengapa dia mulai tidak percaya pendamar lain, dan akhirnya menjadi gila dan menembak Pak Haji. Pada akhir novel, Wak Katok diikat kaki dan tangan oleh Sanip dan Buyung. Dia hendak dibawa pulang ke desa, lalu diserahkan ke polisi.

34

Ibid. Hal. 9 ± 10.

33

3.4.3 Pak Haji Pak Haji Rakhmat, berusia 60 tahun, adalah orang yang paling tua di desa, seorang haji, dan pendamar. Di waktu masih muda, Pak Haji mengembara ke luar negeri selama berpuluh tahun. Dia menikah di India, tetapi anak dan istrinya meninggal. Dia akhirnya pulang ke Desa Air Jernih dan tinggal di sana sendirian. Pada akhir novel dia mati, ditembak Wak Katok. Di desa, Pak Haji terkenal sebagai orang yang saleh dan pintar bercerita. Orang-orang kampung sangat senang mendengarkan cerita Pak Haji, dan banyak mengaguminya. Di antara para pendamar pun dia banyak diminta pendapat. Sebagai akibat semua kejahatan yang dia mengalami dan berbuat selama mengembara, Pak Haji merasa putus asa akan manusia. Dia tidak mau bergaul dengan orang lain di desa, dan biarpun dihormati tidak mau dijadikan pemimpin. Dia hanya ingin hidup sendiri. Sifat ini mulai berubah setelah hidupnya diselamatkan Buyung, dan akhirnya Pak Haji membantu Buyung dan Sanip mengambil senjata dari Wak Katok. Selain kehilangan kepercayaan atas sikap manusia, Pak Haji akhirnya kehilangan kepercayaannya kepada Tuhan; ini sebagai akibat istri dan anaknya telah meninggal, biarpun keselamatan mereka didoakan. Berdoa dan bersembahyang hanya supaya tidak kelihatan beda dari yang lain. Naik haji pun hanya karena tuan yang diikutinya melakukan ibadah haji: ³Berkali-kali dia mengalami [kejahatan manusia] sejak waktu mudanya. Bukan saja dia telah kehilangan kepercayaannya terhadap sesama manusia, akan tetapi kepercayaan Tuhan pun sebenarnya telah 34

hilang dari hatinya. Dia memang telah naik haji, telah menunaikan rukun Islam yang kelima. Dia memang berpuasa dan bersembahyang, akan tetapi semua ini dilakukannya supaya dia jangan kelihatan berbeda dengan orang lain. Dia melakukannya karena hal ini perlu dilakukannya untuk dapat hidup damai dengan orang lain di kampung.35

3.4.4 Pak Balam Pak Balam adalah seorang warga Desa Air Jernih yang terkenal saleh dan berani. Dulu dia pernah berjuang melawan Belanda dalam pemberontakan pada tahun 1926, dan ditangkap; akhirnya dibuang ke Tanah Merah selama beberapa tahun. Dia sudah menikah, tetapi tidak beranak; istrinya pernah hamil waktu mereka di Tanah Merah, tetapi gugur. Pak Balam adalah pendamar pertama yang diterkam harimau, waktu dia berhajat di pinggir kali. Selama berhari-hari setelah diterkam harimau, Pak Balam mengalami demam berat, sampai akhirnya meninggal. Selama demam itu, Pak Balam membujuk pendamar lain untuk mengakui dosa. Namun, dia juga bersedia untuk mengakui dosanya: ³Aku ikut bersalah. Aku berdosa. Barangkali aku yang lebih berdosa lagi dari Wak Katok. Karena dalam hatiku aku telah tahu [bahwa Wak Katok ingin membunuh pasukan lain, Sarip] ketika dia membawa aku pergi ke sumur. Tetapi hatiku begitu cinta pada hidup diriku, hingga aku rela untuk membayar apa saja agar aku dapat hidup terus. Biarlah Sarip yang mati, asal aku dapat hidup. Aku amat pengecut sekali, aku takut mati, aku tak mau mati.´36

35 36

Ibid. Hal. 172. Ibid. Hal. 99.

35

3.4.5 Sutan Sutan adalah seorang pemuda berusia 22 tahun yang dianggap sebagai orang baik di kampung. Dia sudah menikah dan punya beberapa anak. Dia salah satu siswa Wak Katok dan juga menjadi seorang pendamar. Sifatnya cepat marah, dan dia tidak dapat menerima hal yang bertentangan dengan keinginannya sendiri. Setelah Pak Balam diterkam harimau, Sutan berusaha untuk membantu menjaga pendamar yang lain. Namun, dia lama-kelamaan menjadi gila, pertama karena Sanip mengakui dosa mereka bersama Talib, lalu setelah berkali-kali mendengar teriakan Pak Balam untuk mengakui dosa mereka. Dosa Sutan sangat banyak. Bersama dengan Talib dan Sanip, Sutan mencuri kerbau dari desa tetangga. Selain itu, Sutan pernah makan saat harusnya puasa, berselingkuh, berbohong, dan menantang orang tua. Namun, dosa ini tidak mengganggu dia. Dosa yang paling menekankan batinnya sehingga menjadi gila ialah pembunuhan dan perkosaan Siti Nurbaiti, seorang anak yatim-piatu di Desa Air Jernih: ³Dia mendatangi anak itu, dan mengatakan dia akan menolongnya memetik buah rimbang. Dan kemudian dia memeluk anak itu, dan melemparkannya ke tanah, dan kemudian « ketika anak itu melawan « dan dia « dan dia « Sutan berteriak berseru µdiam! diam¶ dan melompat hendak mencekik Pak Balam, hendak mendiamkan mulutnya yang terus mengigau --dosa--dosa--dosa akui-akui dosa kalian, dosa kalian.´37

37

Ibid. Hal. 142.

36

Setelah berusaha untuk mencekik Pak Balam karena menjadi gila mendengar ³Dosa! Dosa!´, Sutan melarikan diri ke hutan. Dia diterkam harimau di sana, sehingga dosanya yang diketahui orang lain hanyalah pencurian kerbau.

3.4.6 Sanip Sanip adalah seorang pemuda yang berusia 25 tahun dan terhormat di desanya. Dia sudah menikah dan mempunyai anak. Dia suka bercanda dan bersuka ria dengan orang lain, sehingga suaranya selalu seperti ada nada bercanda. Biarpun dia suka mengejek orang lain, mereka mengerti bahwa dia tidak ada maksud buruk. Selain menjadi muridnya Wak Katok, Sanip ikut menjadi pendamar. Setelah teman akrabnya Talib diterkam mati harimau, Sanip menjadi takut akan hukuman Tuhan, sebagaimana dinyatakan Pak Balam. Akibatnya, Sanip mengakui dosanya, baik dosa mencuri kerbau bersama Talib dan Sutan maupun dosadosa lain: ³Sanip tertegun, dalam hatinya teringat pada rahasianya, ketika dia berumur sembilan belas tahun, pergi ke kota, dan berkunjung ke rumah perempuan lacur. « Atau ketika dia masih kecil, sering benar dia mencuri durian, mangga, duku. Dan waktu dia kecil, disuruh mengaji, sedang dia ingin pergi main bola, hingga dia menendang Qur¶an di tengah jalan ke mesjid tempatnya mengaji. Dia melawan pada ibunya. Hawa nafsu yang timbul dalam dirinya tiap kali dia melihat perempuan yang cantik.´38 Sanip, bersama dengan Buyung, akhirnya berhasil membunuh harimau dan membawa Wak Katok ke aparat di Desa Air Jernih.

38

Ibid. Hal. 130

37

3.4.7 Talib Talib adalah seorang pemuda berusia 27 tahun yang dihormati di Desa Air Jernih. Dia sudah menikah dan beranak. Selain belajar ilmu sihir dari Wak Katok, Talib bekerja sebagai pendamar. Talib adalah orang yang sering mengeluh dan tidak percaya diri. Akhirnya Talib diterkam harimau dan mati, setelah mengakui bahwa dia telah berdosa. Dosa Talib akhirnya diceritakan Sanip: ³Kami bertiga mencuri [kerbau] malam-malam, dan ketika penjaga kerbau mengetahui pekerjaan kami, maka Talib yang menikamnya, hingga dia rubuh. Dia tak mengenal kami, dan kami berhasil melarikan kerbau dan menyembelih kerbau dan menjual dagingnya ke kota. Penjaga kerbau tak mati. Itulah dosa kami bertiga, tapi Sutan tak suka aku cerita.´39 3.4.8 Wak Hitam Wak Hitam adalah seorang ahli ilmu hitam yang dikatakan amat dahsyat yang sudah berusia lebih dari 70 tahun. Di antara ilmu-ilmunya, konon dia dapat menghamili wanita dengan sekilas pandangan saja, memiliki harimau siluman yang dapat terbang, dan kebal. Namun, dia sakit-sakitan selama para pendamar menginap di rumahnya di tengah hutan. Biarpun Wak Hitam mempunyai berbagai istri, hanya istrinya Siti Rubiyah berperan dalam cerita. Oleh Siti Rubiyah, Wak Hitam dinyatakan kejam dan suka menggunakan kekerasan saat berhubungan. Dia juga dinyatakan berperan di pasar gelap.
39

Ibid. Hal. 130.

38

3.4.9 Siti Rubiyah Siti Rubiyah adalah istri muda Wak Hitam, yang usianya hanya 19 tahun. Dia sangat cantik, sehingga para pendamar merasa birahi melihat dia. Biarpun di muka umum dia tampak setia, sebenarnya dia sering berhubungan seks dengan orang selain Wak Hitam; dalam cerita, dia berhubungan seks dengan Wak Katok dan juga Buyung. Waktu dia curhat dengan Buyung, Siti Rubiyah mengakui telah diperlakukan dengan keras oleh Wak Hitam, sampai ada bekas gigitan dan goresan yang menodai kulitnya. Oleh karena itu, Siti Rubiyah dijanjikan akan diselamatkan dari Wak Hitam. Namun, ini tidak terjadi setelah Buyung mengetahui sifat Siti Rubiyah yang sebenarnya.

3.5 Tema 3.5.1 Keselamatan Tema keselamatan menjadi dorongan utama para tokoh. Wak Katok, Pak Haji, Pak Balam, dan pendamar lain berusaha sebisa mungkin untuk menyelamatkan diri. Pada awal cerita, mereka membawa jimat-jimat yang dijanjikan Wak Katok akan dapat melindungi mereka dari celaka. Setelah Pak Balam dan Talib diterkam harimau, Wak Katok berusaha untuk memimpin Buyung dan Sanip memburu harimau. Namun, mereka menyadari bahwa harimau telah kembali ke tempat bermalam, dan akhirnya mendengar jeritan Sutan, yang diterkam harimau.

39

Setelah mereka kembali ke tempat bermalam, mereka ambil keputusan bersama untuk kembali memburu harimau. Pak Haji menyatakan bahwa mereka tidak perlu membunuh harimau, tetapi Buyung menyatakan bahwa orang lain akan diterkam harimau apabila mereka tidak menghentikannya. Akhirnya mereka berhasil membunuh harimau, biarpun Pak Haji dibunuh Wak Katok. Sebagaimana dijelaskan di atas, para pendamar berusaha untuk

menyelamatkan diri dari bahaya harimau. Ini mencerminkan ketidakmampuan jiwa manusia untuk dibatasi. Selama hidup, manusia tetap akan mengutamakan hidup mereka. Bila ada dua jalan, satu yang sudah pasti mati dan satu yang ada kemungkinan untuk selamat, manusia pasti akan memilih jalan yang mengizinkan mereka selamat.

3.5.2 Topeng Manusia Selama cerita berjalan, tema topeng manusia, atau persembunyian sifat asli dari pandangan umum, didalami. Pada awal cerita, para tokoh dikemukakan sebagai orang yang sangat terhormat di desa mereka. Wak Katok terkenal untuk ilmu sihirnya yang amat dahsyat, Pak Haji dan Pak Balam terkenal saleh, dan Buyung, Sutan, Talib, dan Sanip dianggap anak yang baik-baik. Namun, sedikit demi sedikit sifat asli tokoh dikemukakan. Hati mereka telanjang, dapat dibaca oleh tokoh lain. Wak Katok yang pura-pura pintar berilmu sihir dibuktikan tanpa dasar. Pak Haji dikemukakan tidak percaya pada adanya Allah

40

SWT, dan tokoh lain mempunyai kekurangan dan dosa dan disembunyikan dari orang lain. Pengemukaan fakta-fakta ini mempunyai pengaruh yang luar biasa besar di pikiran tokoh, baik yang dosanya dikemukakan maupun yang mengetahui dosa itu. Sutan dan Wak Katok lama-kelamaan menjadi gila karena takut sifat aslinya diketahui, dan Buyung menjadi kecewa akan kenyataan tentang teman-temannya: ³[Buyung] kini tahu bahwa hidup manusia tak semudah yang disangkanya. Siapakah yang menyangka hal-hal yang demikian dalam diri Pak Balam, Sanip, Wak Katok, Pak Haji, Talib dan Sutan «?´40 Oleh karena harus dapat tinggal bersama-sama dengan manusia lain, manusia tidak mempunyai kebebasan untuk mengucapkan kenyataan seadanya. Untuk dapat hidup dengan manusia lain dalam keadaan damai, harus membentuk topeng, wajah yang disediakan untuk orang lain. Apa yang ada di balik topeng itu, bila diketahui manusia lain, dapat menimbulkan masalah yang besar.

3.5.3 Menjadi Dewasa Tema terakhir yang dieksplorasi dalam novel ini ialah perkembangan Buyung menjadi dewasa. Di awal cerita, Buyung adalah seorang perjaka yang masih malumalu bicara dengan wanita. Dia hanya berani melihat wanita dan mengandaiandaikan hidup bersamanya. Ketika dia bercinta untuk pertama kalinya, dengan Siti Rubiyah, Buyung merasa banyak emosi, di antara lain ragu, bahagia, dan bersalah. Dia sudah
40

Ibid. Hal. 211

41

kehilangan keperjakaannya; ini melambangkan kehilangan keluguannya. Buyung sudah menjadi dewasa yang sesungguhnya. Setelah dibawa masuk ke dunia dewasa tanpa disadarinya, Buyung langsung harus menghadapi masalah yang baru, yaitu serangan harimau. Awalnya Buyung tidak merasa mampu menghadapi tantangan itu. Namun, setelah mengetahui bahwa orang lain tidak mampu mengatasi masalah itu, Buyung terpaksa harus berusaha sebisa mungkin untuk membunuh harimau. Setelah dia berhasil, Buyung menjadi dewasa yang unggul. Dia mampu memaafkan Wak Katok atas kejahatan yang dilakukannya, dan menahan keinginan untuk balas dendam. Secara fisik dan mental, Buyung sudah menjadi dewasa.

42

BAB 3 PSIKOANALISIS TOKOH BUYUNG Perkembangan psikologis tokoh Buyung dapat dipahami dari tiga latar belakang, yaitu latar belakang agamis, latar belakang sosio-budaya, dan latar belakang universal manusia. Latar belakang agamis Buyung ialah ajaran agama Islam yang dianut Buyung. Latar belakang sosio-budaya ialah segala ajaran dari kampung, di antara lain kepercayaan akan hal ajaib dan Pancasila.41 Latar belakang universal ialah hal-hal yang menurut psikologi dirasakan oleh setiap insan. Ini akan dijelaskan secara kronologis, dari perkenalan Buyung sehingga penyelesaian cerita. Ketika Buyung diperkenalkan di awal novel, dia mempunyai banyak sekali sifat yang dianggap positif oleh orang sekampung. Dia belum menikah, dan masih perjaka sebagaimana layaknya orang Muslim yang belum menikah.42 Kesalehannya menonjol dalam sifat lain, seperti rajin salat dan berdoa serta menganggap bahwa dosa adalah hal yang sebaiknya dihindari. Namun, Islam yang dianutnya bukanlah Islam murni; karena dibesarkan di desa dengan kepercayaan itu, Buyung pun masih mempercayai ketakhyulan, seperti adanya hewan siluman, ilmu sihir, mantera, dan kekuatan jimat. Latar belakang sosio-budaya Buyung telah membentuk kepercayaan lain dan mempengaruhi perkembangannya. Dibesarkan di Desa Air Jernih yang bersifat
41

42

Tidak dinyatakan secara langsung di dalam novel. Di sini, Pancasila dianggap mempengaruhi perkembangan psikis Buyung berdasarkan pernyataan Notonagaro bahwa Pancasila telah selamalamanya dimiliki oleh bangsa Indonesia, yang tercantum di Notonagoro. Pancasila: Dasar Filsafah Negara (Kumpulan Tiga Uraian Pokok-Pokok Persoalan tentang Pancasila). 1988. Cetakan ketujuh. PT. Bina Aksara: Jakarta. Hal. 183. Wawancara pribadi dengan Sedya Santosa, 4 November 2010.

43

patriarkis, Buyung belajar dari kecil bagaimana bertanggung jawab, baik atas dirinya sendiri maupun atas orang lain. Dia juga belajar hal-hal yang dianggap layak untuk seorang pria, di antara lain berburu dan mendamar. Kesadaran atas adanya gotong royong pun sudah ada, sebagaimana dijelaskan oleh harapan Buyung untuk uang hasil mendamar43 dan penjelasan Buyung mengapa mereka harus memburu harimau: µ³Untuk menuntut bela, karena harimau telah bersalah membunuh kawan-kawan kita,¶ jawab Buyung kemudian, µdan jika tak kita buru kini, maka harimau akan datang ke kampung, menyerang ternak. Akan habis lembu dan kambing, dan siapa tahu orang kampung pun akan jadi korban. « [M]enurut rasa hatiku, di mana kita bertemu dengan yang jahat, dan hendak merusak kita, atau merusak orang lain, merusak orang banyak, maka kita yang paling dekat melawannya.¶´44 Namun, Buyung masih ada kekurangan dalam maskulinitasnya. Dia masih merasa minder dan tidak percaya diri, baik ketika bicara dengan orang yang lebih tua maupun ketika bicara dengan lawan jenis. Biarpun memang ada kebudayaan bahwa pemuda harus menghormati orang yang lebih tua, itu tidak berarti Buyung diharapkan untuk selalu menganggap orang lain lebih hebat daripada dirinya sendiri. Selain itu, Buyung masih tidak berani memikirkan seksualitas dan cinta, sehingga tidak berani melamar Zaitun. Biarpun ada ajaran rohani dan budayawi, dasar naluri Buyung masih ada. Naluri birahi tampil di rumah Wak Hitam, ketika Buyung tergoda melihat kecantikan Siti Rubiyah: ³¶Aduh, coba kalau dia belum kawin,¶ tambah Buyung. µKemarin aku mimpikan dia,¶ tambah Sanip.
43 44

Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 59 ± 60. Ibid. Hal. 181 ± 182.

44

µEngkau lihat bahagian atas buah dadanya, jika dia membungkuk meniup kayu di tungku? Tadi pagi aku tolong dia memasang api,¶ kata Buyung.´45 Buyung juga merasa agak malu mengenai keperjakaannya ketika pemuda lain, Sanip, Sutan, dan Talib, menggoda dia. Ketika dikatakan bahwa Buyung akan memahami nafsunya bila sudah dipeluk Zaitun, wajah Buyung langsung memerah.46 Tampak bahwa kadang-kadang keperjakaannya membuatnya malu. Perkembangan psikologis Buyung mulai pada bab-bab awal. Ketika para pendamar sudah bersiap untuk pulang, Buyung diingatkan bahwa dia belum memeriksa perangkap kancilnya. Kesalehan Buyung dijadikan bahan godaan untuk Talib, yang menyatakan bahwa kalau Buyung tidak memeriksa perangkap kancilnya dan sudah ada yang ditangkap, kancil itu akan mati dan Buyung telah berdosa. Buyung mengambil keputusan untuk kembali ke rumah Wak Hitam untuk memeriksa perangkapnya.47 Setiba di rumah Wak Hitam, Buyung menemukan kancil di perangkapnya. Sebelum dia mulai menempuh jalan pulang, Buyung mendengar suara tangisan Siti Rubiyah dari dekat sungai. Untuk menenangkan Siti Rubiyah, Buyung menawarkan kancil yang baru ditangkapnya, biarpun sebenarnya dia hendak membawanya sebagai hadiah untuk Zaitun. Buyung juga berbicara dengan Siti Rubiyah, supaya dia dapat mengucapkan masalahnya dan menjadi tenang.48 Tindakan ini mempunyai dasarnya

45 46 47 48

Ibid. Hal. 31. Ibid. Hal. 32. Ibid. Hal. 58. Ibid. Hal. 65 ± 68.

45

baik dalam ajaran Islam (orang harus berusaha untuk membantu orang lain)49 maupun budaya (gotong royong). Namun, usaha Buyung untuk menenangkan Siti Rubiyah membawanya ke jalan dosa. Buyung menjadi terlalu dekat dengan Siti Rubiyah, sehingga rasa kasihan dan nafsu birahinya melebihi ajaran Islam dan budaya; dia terbawa nafsu dan mereka bercinta. Saat bercinta, naluri Buyung-lah yang memenuhi pikirannya, sehingga dia berzina berkali-kali: ³Buyung tak hendak pergi. Dia belum hendak melepaskan perempuan muda dari pelukannya. Dia belum hendak berpisah dari kenikmatan baru yang belum pernah dirasakannya selama ini. Dan tak lama kemudian mereka kembali menaiki arus panas yang membawa mereka ke puncak-puncak yang tinggi, lepas dari daya tarik bumi«.´50 Ketika Buyung kembali ke pendamar lain, nafsu birahinya sudah mereda dan ajaran agamis dan sosio-budaya sudah diingat. Oleh karena itu, Buyung mulai merasa bersalah telah bercinta dengan Siti Rubiyah. Dia tidak ingin mengakui perbuatannya kepada pendamar lain karena takut diketahui telah berdosa, tetapi masih saja ditanya dan digoda setelah Buyung, terbiasa jujur, mengakui telah mendapatkan kancil, tetapi memberinya kepada Siti Rubiyah. ³µTetapi aku tinggalkan pada Siti Rubiyah¶ kata [Buyung]«. µNah, sedikitnya Buyung dapat kancil¶ kata Pak Haji. µAsa sungguh dia hanya dapat kancil,¶ Sutan menyindir mengganggu. Muka Buyung jadi merah malu dan terkejut, serta takutnya kembali, akan tetapi dalam samar-samar senja tak ada mereka yang

49 50

Wawancara pribadi dengan Sedya Santosa, tanggal 5 November 2010. Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 69.

46

melihat perubahan air mukanya. Buyung memperbaiki perasaannya, lalu tertawa kecil.´51 Untuk menghindari sindiran teman-teman, Buyung pergi mandi di kali. Ketika mandi, Buyung berpikir ulang mengenai perbuatannya bersama Siti Rubiyah. Dia bimbang kalau telah berdosa, 52 tetapi ajaran Islamnya (yang menyatakan bahwa memang berdosa) 53 awalnya dilupakan ketika Buyung membenarkan tindakannya, dipengaruhi oleh bekas-bekas nafsu birahinya: ³Dia merasa bahwa apa yang terjadi antara dirinya dengan Siti Rubiyah adalah sesuatu yang wajar, yang harus terjadi, dan telah ditakdirkan harus terjadi demikian. Dia masih dapat merasakan panas badan Siti Rubiyah. Dan napasnya yang hangat. Seluruh badannya terasa panas kembali mengingat perempuan muda itu. « Tidak, dia tak merasa terlalu berdosa. Malahan dia merasa gembira. Dia telah dapat memberikan kebahagiaan pula pada Siti Rubiyah, seperti Siti Rubiyah telah memberikan kebahagiaan kepadanya.´54 Namun, ketika Buyung teringat pada Zaitun, dia mulai merasa lagi kalau telah berdosa. Oleh karena mempunyai cinta yang tulus untuk Zaitun, Buyung menyadari bahwa, selain berzina, dia telah mengkhianati cintanya kepada Zaitun. Bahkan alasan mengapa dia melakukan dosa itu disadarinya, biarpun tidak dinamakan naluri: ³Tiba-tiba dia teringat pada Zaitun. Ah, berat juga perasaannya. Apa yang telah dilakukannya, tak dapat dibantahnya adalah mengkhianati cintanya terhadap Zaitun. Akan tetapi apa dayanya? Dia telah melakukannya seakan di luar kehendak sadarnya sendiri, seakan ada dorongan tenaga gaib yang amat kuat dan yang tidak kuasa dia lawan. Engkau telah mengikuti bisikan setan bahwa nafsumu, suara kecil berkata dalam hatinya. « Dengan tiba-tiba Buyung merasa, bahwa dia telah melakukan sesuatu, yang melontarkannya ke dalam sebuah
51 52 53 54

Ibid. Hal. Ibid. Hal. 72. Wawancara pribadi dengan Sedya Santosa, 4 November 2010. Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 72 ± 73.

47

persoalan yang jauh lebih besar dari yang diduganya semula, sebuah persoalan yang dia mungkin tak sanggup akan menyelesaikan atau mengatasinya. « Dan perlahan-lahan mulai timbul pula sedikit rasa menyesal dalam dirinya, mengapa dia berbuat demikian?´55 Akhirnya Buyung meminta maaf kepada Allah. Namun, dia masih ada rasa bersalah dan berdosa karena kecewa akan tindakannya. 56 Tobatnya belum selesai karena dia masih merasakan dirinya berdosa dan menganggap dirinya belum dimaafkan.57 Perasaan kecewa akan tindakan dirinya ini menjadi beban berat dalam pikiran Buyung. Di malam hari, setelah mereka salat, Buyung memimpikan badai yang amat besar datang, membawa celaka. Dalam mimpi itu, Zaitun memanggil, seakan khawatir akan keadaan Buyung: ³Buyung bermimpi dia rasanya naik perahu hendak menyeberang danau, dan di langit berkumpul awan gelap menandakan badai hendak turun, akan tetapi dia hendak menyeberangi danau juga, dan ketika dia telah agak jauh dari pantai, dia melihat Zaitun datang berlari memanggilmanggilnya. Mimpinya demikian nyata terasa olehnya, hingga ketika dia terbangun dan duduk terkejut, di telinganya masih mengiang seruan Zaitun memanggilnya pulang: µYuuuuuungng!¶´58 Pada hari berikutnya, Buyung dan pendamar lain pergi memburu rusa. Dalam pemburuan itu, Buyung dapat melupakan dosa yang telah dilakukannya akibat kegembiraan saat berburu, dan malah merasa percaya diri setelah menembak rusa dengan baik.59 Rasa percaya diri yang timbul akibat kemahiran Buyung ini membuat dia tidak takut ketika mendengar auman harimau yang tidak jauh dari tempat
55 56 57 58 59

Ibid. Hal. 74. Ibid. Hal. 74. Wawancara pribadi dengan Sedya Santosa, 4 November 2010. Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 79. Ibid. Hal. 81 ± 83.

48

pemburuan rusa, biarpun secara adat ada ketakutan besar terhadap harimau, termasuk kepercayaan untuk tidak menyebut kata harimau. Sebaliknya, Buyung berusaha untuk menenangkan pendamar lain: µ³Jangan-jangan dia lagi memburu rusa ini, ketika kalian menembaknya dan merebutnya dari dia¶ kata Pak Balam«. µAh, tadi tak ada di sana,¶ kata Buyung, membela diri, µrusa jantan ini malahan menunggu-nunggu betinanya, ketika kami tiba. Kalau dia diburu oleh si nenek tak akan dia memanggil-manggil betinanya di sana.¶ µAh, benar juga,¶ kata Sanip, merasa lega.´60 Ketika mereka membawa daging rusa pulang, Buyung ikut berjalan cepat, lalu setiba di tempat bermalam mengasapi daging. Ketenangan yang dia merasa akibat mampu berburu rusa masih ada, dan dia tidak memikirkan dosanya. Setelah salat magrib, dia masih tidak memikirkan dosanya; dia hanya makan dan minum dengan tenang bersama pendamar lain. 61 Namun, ketenangan ini hilang sama sekali setelah Pak Balam diterkam harimau. Bersama dengan Sanip, Sutan, dan Talib, dia langsung masuk ke hutan untuk membantu Pak Balam setelah mendengar jeritannya. Bersama Wak Katok, mereka berhasil menakuti harimau dan mengangkut Pak Balam kembali ke tempat bermalam.62 Ketenangan Buyung hilang dalam stress pada saat itu. Pikiran Buyung menjadi semakin kusut ketika Pak Balam menyatakan bahwa dia dapat firasat dalam mimpi bahwa mereka akan celaka di jalan, dan Tuhan akan menghukum mereka karena dosa mereka:
60 61 62

Ibid. Hal. 85 Ibid. Hal. 87 ± 88. Ibid. Hal. 91 ± 93.

49

³Buyung tiba-tiba sejuk dalam hatinya, mendengar ucapan Pak Balam ini. Tahukah Pak Balam tentang dosanya? Dia melihat kepada kawan-kawannya yang lain, ingin tahu apakah air mereka berubah juga mendengar kisah Pak Balam, apakah mereka juga masing-masing menyimpan dosa-dosa besar yang mereka sembunyikan dari orang lain? Ataukah dia sendiri saja yang mempunyai dosa besar yang harus ditebusnya? Tetapi tidakkah dia telah minta ampun kepada Tuhan?´63 Setelah menceritakan mimpinya, Pak Balam menceritakan dosa dirinya dan Wak Katok, lalu akhirnya menyatakan bahwa, menurut dia, dia diterkam harimau siluman yang dikirim Allah untuk menghukum mereka untuk dosa-dosa mereka. Pernyataan ini membuat Buyung semakin khawatir dan merasa bersalah. Oleh karena tidak mengetahui dosa pendamar lain, Buyung berpikir bahwa dosanya yang membawa celaka dan mengancam mereka semua. Tidak ada ketenangan lagi. Ini membuat Buyung merasa semakin bersalah, apalagi karena Buyung percaya bahwa itu mungkin harimau siluman Wak Hitam yang datang untuk menerkamnya karena telah menggauli Siti Rubiyah: .´Dalam pikiran Buyung lain pula yang timbul. Apakah tak mungkin itu harimau suruhan Wak Hitam, karena kata orang memang dia memelihara seekor harimau? Mungkin sebenarnya dialah yang harus jadi mangsa harimau, akan tetapi harimau salah terkam.´64 Untuk mengetahui apakah harimau yang menyerang mereka itu harimau biasa atau harimau biasa, Buyung dan pendamar lain memeriksa apabila jimat mereka dipakai. Adanya jimat itu, yang dipercaya dapat melindungi mereka dari serangan hewan buas, membuat mereka yakin bahwa harimau yang menyerang itu bukanlah

63 64

Ibid. Hal. 93 ± 94. Ibid. Hal. 107.

50

harimau biasa. Buyung dan pendamar lain tidur, tetapi karena takut tidak dapat tidur dengan nyaman. Buyung menjadi semakin yakin kalau dia yang membawa celaka untuk mereka.65 Hari berikutnya setelah mereka berangkat dan Talib diterkam mati harimau, Buyung merasa sangat takut. Bukan hanya takut akan dosanya seperti malam sebelumnya, tetapi takut untuk keselamatannya. Dia melihat keadaan Talib dan ada di sana ketika Talib mati, jadi sangat khawatir akan keselamatan mereka: ³Kini ancaman terasa lebih dekat dan lebih dahsyat. Dan rasa tak berdaya tambah terasa. Seakan pegangan tangan dengan jari-jari es yang sejuk memeras-meras hati mereka. Di dalam setiap kegelapan, di belakang setiap daun, di belakang setiap pohon, di belakang setiap dahan dan di belakang setiap bunyi mereka seakan mendengar bunyi tapak harimau yang melangkah dengan halus dan hati-hati mendekati, mendekati, mendekati, mendekati«´66 Biarpun dia sangat takut, Buyung masih bersikeras mengenai dosanya. Dia tidak ingin menceritakan dosanya kepada orang lain, biarpun tampak bahwa Wak Katok hendak memaksakan. Selain takut, dia masih merasa bersalah dan tidak ingin orang lain tahu dosanya.67 Di saat-saat setelah kematian Talib, Buyung masih mampu menjaga tempat bermalam, biarpun ketakutan. Dia menjadi pengganti Wak Katok dalam pemegangan senapan. Jadi, rasa bertanggung jawab Buyung lebih kuat daripada rasa takutnya.68

65 66 67 68

Ibid. Hal. 113 ± 119. Ibid. Hal. 134 ± 135. Ibid. Hal. 132. Ibid. Hal. 124 ± 125.

51

Ini ditampilkan lebih kuat di hari berikutnya, ketika mereka tidak dapat berangkat pulang karena Pak Balam menghadapi puncak krisis demam. Buyung-lah yang menyatakan bahwa mereka sebaiknya berusaha untuk memburu harimau, daripada mereka yang diburu saja. Pendamar lain awalnya terkejut, tetapi akhirnya mereka menyetujui usulan Buyung. Akhirnya, Buyung menemui keberanian untuk menghadapi ketakutannya.69 Dengan tujuan yang pasti, Buyung dan pendamar lain dapat mengusir perasaan yang mengganggu, baik rasa takut maupun rasa berdosa.70 Rasa takut itu semakin berkurang setelah mengikuti jejak harimau, karena dengan melihat jejak harimau Buyung, Sanip, dan Wak Katok mulai percaya bahwa ³harimau adalah makhluk dari daging dan tulang juga, « yang dapat diburu dan ditembak mati,´ dan bukanlah hewan siluman.71 Dalam berburu harimau, Buyung sangat pintar. Buyung-lah yang menemukan jejak harimau yang hilang setelah harimau menyeberang sungai, dan karena itu mereka mengetahui bahwa harimau sudah tahu bahwa mereka memburunya dan berbalik arus. Dengan pengetahuan itu, Buyung dan pemburu lain menjadi semakin percaya diri, biarpun lebih was-was. Buyung sadar bahwa mereka harus menggunakan akal untuk menangkap harimau, dan merasa bahwa mereka pasti bisa. Kemahiran Buyung dalam berburu menjadi hal yang sangat membantu pemburuan.72

69 70 71 72

Ibid. Hal. 137. Ibid. Hal. 138. Ibid. Hal. 145. Ibid. Hal. 145 ± 147.

52

Namun, setelah lama menunggu dan Buyung mulai bosan, rasa takut, rasa bimbang, dan rasa berdosa kembali. Dia ada hasrat untuk merokok, lalu memikirkan Zaitun yang menanti di Desa Air Jernih« dan kemudian memikirkan Siti Rubiyah. Namun, ini tidak membuat dia memikirkan berzinanya, melainkan bagaimana cara memenuhi janjinya untuk membantunya.73 Biarpun bosan, Buyung tetap bertanggung jawab atas tugasnya. Buyung masih memperhatikan suara-suara yang ada di hutan, dan akibatnya dia yang pertama mendengar suara orang teriak ³Tolong.´ Setelah mendengar suara itu, rasa takutnya kembali; dia berpikir itu mungkin harimau siluman yang berusaha untuk menipu mereka. Namun, setelah berpikir dia sadar bahwa itu orang yang minta tolong, dan hendak membantunya. Akan tetapi, Wak Katok tidak mengizinkan, dengan alasan bahwa mereka tidak akan tiba dalam waktu yang cukup untuk membantu orangnya. Ini membuat Buyung hendak memprotes berdasarkan rasa humanis dan agamisnya, tetapi diam-diam dia senang karena tidak harus membahayakan diri; keselamatannya dianggap lebih penting. Akhirnya mereka kembali ke tempat bermalam.74 Setiba di tempat bermalam, Buyung diberi tahu bahwa Sutan telah berusaha untuk mencekik Pak Balam lalu melarikan diri. Ini membuat Buyung memikirkan dan menyesal perasaannya di hutan: ³« Sutan, jika seandainya dialah yang menjadi korban harimau, telah lama mati dan habis dikoyak-koyak harimau. « Tiba-tiba Buyung menyesal mengapa tidak lebih kuat mengajak Wak Katok dan Sanip untuk segera mengejar ke tempat auman harimau menerkam orang.
73 74

Ibid. Hal. 147. Ibid. Hal. 154 ± 157.

53

Pikirannya bingung. Mengapa Sutan melakukan apa yang telah dilakukannya? Mengapa dia hendak mencekik Pak Balam yang sakit? « Dosa besar apakah yang disimpan Sutan, hingga dia berlaku demikian?´75 Dalam kebingungannya akan dosa Sutan, Buyung mulai memikirkan dosa orang lain. Dia bingung: sesungguhnya dosa pendamar lain apa saja? Bagaimana mereka bisa bersifat seperti orang baik, ketika sesungguhnya mereka berbuat jahat. Bagaimanakah manusia bisa hidup dalam dosa tetapi berpura-pura baik? Pikirannya mengalir, mengingat dosanya. Dia kembali merasa berdosa dan bingung mengapa orang lain dapat menjalani hidup seperti biasa, biarpun berdosa, ketika dia sendiri merasa kacau setelah berdosa: ³Tiba-tiba Buyung teringat pada dosa-dosanya sendiri, dan pikirannya bertambah kacau. Mengapa selama ini, meskipun masingmasing berdosa, mereka dapat hidup biasa? « Buyung sendiri merasakan ketegangan yang amat sangat. Dia pun bingung dan rusuh, akan tetapi satu hal tetap jelas baginya. dia tidak akan menceritakan apa yang telah terjadi antara dia dengan Siti Rubiyah kepada « siapa pun juga. Lebih baik dia mati, daripada harus mengakui.´76 Kegelisahan dan ketakutan akan dosanya ini akhirnya membuat Buyung merasa kecapekan, dan tertidur. Namun, karena tertidur dia tidak menjalani kewajiban salat magrib dan salat isa.77 Oleh karena gelisah mengingat dosa-dosanya, Buyung berdosa lagi; tobatnya belum ditunaikan tuntas.78 Pagi berikutnya Buyung bangun tidur dan menjalani salat subuh bersama pendamar lain, lalu mereka mendoakan mayat Pak Balam, yang meninggal akibat
75 76 77 78

Ibid. Hal. 158 ± 159. Ibid. Hal. 159 ± 160. Ibid. Hal. 161. Wawancara pribadi dengan Sedya Santosa, 4 November 2010.

54

demam pada malam itu. Setelah selesai menguburkan Pak Balam, Buyung terbawa emosi amarahnya, dan dengan panas hati membujuk Wak Katok agar mereka memburu dan membunuh harimau; dia ingin membalas dendam. Karena bingung akibat tidak dapat memahami dosanya atau dosa orang lain, Buyung ingin menenangkan diri dengan menghilangkan hal yang membuatnya memikirkan dosa. Namun, Buyung disuruh menunggu oleh Wak Katok, dan biarpun dia ingin membantah, Buyung mengingat adatnya dan menahan diri. Akhirnya, setelah dipertimbangkan mereka berangkat memburu harimau lagi. 79 Di pagi hari ketika mereka berangkat untuk berburu harimau, Buyung senang bahwa mereka tidak mengikuti jejak harimau, tetapi berusaha untuk melewati jalan pintas; rasa takut dan bimbang akan dosanya akan cepat dihilangkan. Namun, setelah lebih dari satu jam ³melintasi tebing dan ngarai³ dan mereka melalui bagian hutan yang ³separuh gelap´ dengan banyak nyamuk dan tanah basah, Buyung dan pendamar lain tidak ingin bercakap-cakap. Suasana gelap membuat mereka merasa sedih dan menjadi pendiam. Akhirnya, dipengaruhi suasana gelap itu Buyung mulai menyesal telah mengambil jalan pintas itu dan juga mulai putus asa: ³Buyung merasa setengah menyesal karena telah mengambil jalan memintas yang tak pernah ditempuh orang ini. Entah berapa lama lagi mereka harus mengharungi rimba jahat ini. Mereka ak[a]n lebih terlambat tiba di tempat harimau menyerang Sutan.´80 Selain menyesal sikap dirinya, Buyung mulai tidak percaya pada Wak Katok. Biarpun di awal mereka semua menganggap Wak Katok sebagai pemimpin dan guru,
79 80

Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 164 ± 166. Ibid. Hal. 167 ± 169.

55

melihat bagaimana dia membawa mereka semakin masuk hutan membuat Buyung tidak percaya petunjuk Wak Katok. Rasa takutnya kembali, bukan terhadap harimau maupun terhadap ketersesatan di hutan. Namun, supaya tidak takut dan supaya tetap patut pada gurunya, Buyung memaksakan diri memikirkan hal lain.81 Untuk menghindari pikiran yang menurut adat tidak baik itu, Buyung memikirkan Zaitun. Namun, pikirannya tentang Zaitun membawa pikiran mengenai Siti Rubiyah. Bukan rasa berdosa yang menonjol, melainkan rasa bingung akan perasaannya. Buyung mulai menyadari bahwa cintanya terhadap Zaitun adalah cinta yang tulus, sementara perlakuannya bersama Siti Rubiyah hanya nafsu: ³Dia mengalihkan [pikirannya] dengan mencoba mengingat Zaitun. Apa kiranya kerja Zaitun kini? Sedang memasakkah dia di rumah? Atau dia menjahit? Teringat pada Zaitun membawa pula ingatannya kepada Siti Rubiyah. Dia masih tak mengerti benar apa perasaannya sebenarnya terhadap Siti Rubiyah, tetapi tak serupa dengan apa yang dirasakannya terhadap Zaitun. Dia merasa hanya dapat hidup dengan Zaitun. Hanya jika dia kawin dengan Zaitun baru dia merasa dirinya lengkap, baru hidupnya sempurna, baru terisi kekosongan yang ada di samping dirinya.´82 Setelah mereka makan siang dekat jejak badak yang ditemukan Buyung, Buyung bertanya kepada Wak Katok berapa lama lagi mereka harus menempuh jalan yang gelap itu. Biarpun Wak Katok jawab bahwa mereka tidak lama lagi akan keluar dari hutan, Buyung merasa semakin putus asa dan tidak akan kepemimpinan Wak Katok. Dia masih takut akan tersesat di hutan.83

81 82 83

Ibid. Hal. 169 ± 170. Ibid. Hal. 170. Ibid. Hal. 178 ± 179.

56

Biarpun dia banyak pikiran, keahlian berburu dan pergi ke hutan Buyung masih menonjol. Biarpun Pak Haji tidak melihatnya, Buyung melihat dan membunuh ular berbisa yang mengancam Pak Haji. Sebagaimana dijelaskan di atas, ketika ditanya mengapa dia menyelamatkan Pak Haji dan mengapa dia merasa harus memburu harimau, Buyung menjelaskan bahwa dia mempunyai kewajiban untuk membantu orang lain. Ketaatan pada ajaran agama dan adat ini membuat Pak Haji akhirnya lebih percaya Buyung, sehingga Pak Haji mengambil keputusan untuk membagi pikirannya tentang Wak Katok.84 Namun, sebelum Pak Haji dapat membagi pikirannya dengan Buyung, Buyung sendiri sudah putus asa dan tidak percaya lagi dengan pemimpinan Wak Katok. Setelah melihat bahwa hutan semakin gelap, emosi Buyung mengatasi adat untuk hormat pada orang tua dan dia menyatakan bahwa mereka sudah tersesat. Wak Katok memberi penjelasan yang Buyung menerima, tetapi dia menjadi semakin enggan akan sikap dan maksud Wak Katok, biarpun menurut adat tidak boleh menyatakan itu: ³µWak Katok, kita tersesat sudah. Kita kembali lagi ke tempat yang sudah kita lalui!¶ Dan Buyung menunjuk pada daun-daun pandan berdiri dan dahan kayu bekas kena tebas parang, dan ke bekas jejak-jejak kaki di tanah. « µMengapa tersesat? Sengaja memang aku bawa kalian ke mari karena jalan terus lebih berat lagi. Ini soal biasa jika kita mencoba memintas hutan,¶ jawabnya dengan singkat. Dengan enggan Buyung menahan dirinya.´85

84 85

Ibid. Hal. 179 ± 182. Ibid. Hal. 182 ± 183.

57

Tidak lama kemudian, mereka bersiap untuk bermalam. Oleh karena Wak Katok sudah memegang senapan sepanjang hari dan dia sendiri adalah pemburu yang mahir, Buyung minta supaya dapat memeriksa dan membersihkannya, atau setidaknya Wak Katok mengganti mesiu. Namun, karena Wak Katok sudah tidak percaya pada pengikutnya dan menjadi semakin gila akibat stress, Wak Katok membantah dan menolak, sehingga menyuruh Buyung mengakui dosanya. Namun, Buyung bersikeras; dia tidak hendak mengakui dosanya kepada siapa pun, biarpun Wak Katok sedang membidik senapan ke arahnya. Dia lebih memilih mati daripada mengakui dosanya.86 Dia merasa bahwa pengetahuan dosanya hanya untuk dirinya dan Allah, dan bukan manusia lain. 87 µ³Sungguh hendak Wak Katok tembakkah aku?¶ tanyanya dengan suara yang agak tergoncang, karena menahan rasa marahnya. « µApakah hak Wak Katok memaksaku? « dosa-dosaku adalah soalku sendiri. Mengapa aku harus dipaksa mengakuinya?¶´88 Untuk membantu Buyung, Pak Haji menceritakan dosanya. Namun, Buyung baru selamat ketika terdengar auman harimau dari dekat sekali. Senapan tidak meletus, maka Buyung terpaksa menggunakan api untuk menakuti harimau. Karena melihat ketidakmampuan Wak Katok menghadapi harimau, Buyung, Sanip, dan Pak Haji menyadari bahwa dia sudah takut dan tidak waras.89

86 87 88 89

Ibid. Hal. 184 ± 188. Wawancara Pribadi dengan Sedya Santosa. 4 November 2010. Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 187. Ibid. Hal. 191 ± 192.

58

Setelah harimau ditakuti dan pergi, Sanip mengakui bahwa dia telah melihat Wak Katok menggauli Siti Rubiyah. Jawaban Wak Katok membuat Buyung sangat terkejut, tetapi juga lega: Siti Rubiyah ternyata dapat digauli siapa saja, asal bersedia memberikan sesuatu. Buyung sangat kecewa karena telah merasa bahwa pengalamannya dengan Siti Rubiyah istimewa, tetapi juga merasa lega karena tidak perlu memenuhi janjinya; Buyung tidak perlu melakukan hal yang bisa membuat dosanya diketahui umum, dan dosa yang dia takuti tidak menjadi hal yang menakutkan lagi. ³« Buyung tak tahu apa yang dirasakannya. Rasa kecewa, bercampur dengan rasa lega. Bukan dia sendiri « akan tetapi entah bagaimana, dia merasa seakan kehilangan sesuatu, sesuatu yang bersih«.´90 Setelah informasi itu dikemukakan, Wak Katok kembali memaksakan Buyung. Ini membuat pendamar lain menjadi yakin bahwa Wak Katok tidak diajak berbicara lagi. Mereka disuruh pergi ke kegelapan, dekat harimau. Di sana, Buyung, Sanip, dan Pak Haji merencanakan cara untuk mengambil senapan dari Wak Katok dan menyelamatkan diri.91 Dengan menggunakan kecerdasannya, Buyung membuat rencana untuk menyerang dari berbagai arah supaya Wak Katok tidak mungkin menembak mereka semua. Biarpun rencana cerdik Buyung berhasil mendapatkan senjata, Pak Haji tertembak mati oleh Wak Katok. Buyung berusaha untuk membantu Pak Haji, tetapi tidak mampu. Setelah Pak Haji memberi saran kepada Buyung supaya dapat
90 91

Ibid. Hal. 192 ± 193. Ibid. Hal. 193 ± 194.

59

mengampuni Wak Katok, dia meninggal. Seperti layaknya untuk orang Muslim, Buyung mendoakan Pak Haji. µ³« kasihani Wak Katok « Orang yang berkuasa, jika dihinggapi ketakutan, selalu berbuat zalim « sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri«¶ [kata Pak Haji.] « Dan tiba-tiba « Pak Haji pun telah meninggal dunia. « Buyung « berkata dengan sederhana: µInna lillahi wa inna roji¶un «¶´92 Setelah Pak Haji ditembak mati dan Wak Katok diikat karena perilakunya, Buyung terpaksa harus menjadi pemimpin untuk menyelamatkan dirinya dan Sanip, serta membawa pulang Wak Katok. Ini terjadi secara natural, dipengaruhi rasa percaya dirinya dalam memburu. Dia mulai memberi perintah kepada Sanip, dan bersama mereka berjaga-jaga sepanjang malam. Di waktu bencana, Buyung merasa tanggung jawabnya dan mampu memenuhinya.93 Setelah Wak Katok bangun dari pingsannya, dia berusaha untuk mengancam lalu menyuap Buyung. Namun, setelah melihat ketakutan dan kekurangan dalam diri Wak Katok, Buyung tidak takut atau hormat padanya. Apalagi, ilmu sihir yang dulu hendak dipelajari Buyung akhirnya diketahui palsu.94 Dengan menyadari bahwa ilmu sihir, hewan siluman, mantera, dan jimat-jimat tidak ada kemampuan yang nyata, Buyung menjadi Muslim yang lebih baik. 95 Selain itu, Buyung menjadi tambah berani dalam menentang Wak Katok, yang sudah dibuktikan tidak dapat dipercaya:

92 93 94 95

Sesungguhnya kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Ibid. Hal. 199 ± 200. Ibid. Hal. 200 ± 201. Ibid. Hal. 201 ± 202. Wawancara dengan Sedya Santosa. 4 November 2010.

60

³« [setelah diancam Wak Katok] mereka ingat kata Pak Haji -percayalah pada adanya Tuhan, dan Buyung membalas. [µ]Kami sudah tak takut dan percaya lagi pada mantera dan jimat dan sihir Wak Katok. Takhyul yang palsu saja.¶´96 Buyung juga menyatakan bahwa dia tidak hendak membunuh Wak Katok, seperti yang Wak Katok lakukan kepada Pak Haji. Menurut pernyataannya, Buyung tidak hendak membalas dendam atas perilaku Wak Katok. Sebaliknya, rencana Buyung ialah untuk menyerahkan Wak Katok kepada polisi. 97 Buyung tidak ingin berdosa lagi dengan membunuh orang, jadi dia melakukan yang diharapkan, baik dari segi moralitas maupun agama.98 Di pagi hari mereka menguburkan Pak Haji lalu berangkat berburu harimau. Buyung tidak ingin ada masalah terjadi, maka tangan Wak Katok masih diikat. Buyung menggunakan semua keahliannya untuk mencari tempat Sutan diterkam harimau, tetapi tidak masuk ke hutan yang gelap; dia masih takut pada hutan yang gelap. Akhirnya, dekat waktu salat lohor, mereka menemukan tempat Sutan diterkam, dengan banyak jejak kaki harimau yang lama.99 Buyung, Sanip, dan Wak Katok mengikuti jejak harimau selama satu jam, ketika Buyung menyadari bahwa harimau masih mengikuti mereka dan tidak akan pernah berhenti memburu mereka. Dengan pengetahuan itu, Buyung menyadari bahwa dia harus membunuh harimau, karena tidak dapat melarikan diri; dia tidak takut, tetapi malah merasa lebih percaya diri karena dia sendiri yang memburu
96 97 98 99

Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 203. Ibid. Hal. 202. Wawancara dengan Sedya Santosa. 4 November 2010. Lubis, Mochtar. Op. Cit. Hal. 204.

61

harimau, tanpa pengaruh dari orang lain. Untuk membunuh harimau, Buyung membuat rencana yang cerdik, yang tidak diberitahukan kepada Sanip.100 Bagian awal dari rencana itu ialah mengikat kaki dan tangan Wak Katok ke pohon, supaya Wak Katok dijadikan umpan. Ketika Wak Katok hendak melarikan diri, Buyung menakutinya dengan menyatakan bahwa harimau menunggu di hutan; Buyung tidak menunjukkan emosinya karena mengutamakan tugasnya. Akhirnya Wak Katok bertanya apa dosanya, sampai dijadikan umpan. Buyung menjawab demikian di bawah, yang menunjukkan bahwa secara sadar Buyung tidak ada maksud menghakimi Wak Katok: ³µDosa Wak Katok? « dengarlah, dosa-dosa Wak Katok dahulu kami lupakan, dosa Wak Katok hendak membunuh kami, dan telah membunuh Pak Haji, kami maafkan, dan biarlah hakim yang mengadili Wak Katok di dunia ini, dan Tuhan nanti di akhirat untuk dosa-dosa itu semuanya. Tetapi Wak Katok telah menipu orang banyak, Wak Katok katanya guru dan pemimpin, tapi Wak Katok telah memberi pelajaran palsu, mantera palsu, jimat palsu, pimpinan palsu. Dalam hati Wak Katok selama ini bukan manusia yang bersarung, tetapi harimau yang buas. Kami hanya hendak mengumpan harimau dengan harimau« µ´101 Wak Katok diikat kencang ke pohon, lalu ditinggal. Buyung tidak mengindahkan teriakannya minta tolong, karena mengutamakan tugas membunuh harimau; emosi dan rasa humanis Buyung yang kuat dipinggirkan, dengan tugasnya diutamakan. Akhirnya, ketika harimau datang dan hendak menyerang Wak Katok, emosi Buyung menonjol, menyatakan bahwa baiknya membiarkan Wak Katok dimakan. Namun, Buyung mengingat bisikan Pak Haji ± ³bunuhlah dahulu harimau

100 101

Ibid. Hal. 205. Ibid. Hal. 206.

62

dalam hatimu sendiri´ ± dan dengan mengingat ajaran agama, budaya, dan kata Pak Haji, rasa hendak balas dendam itu ditangani dan dengan professional Buyung menembak harimau tepat di tengah-tengah kedua mata.102 Setelah memeriksa bahwa harimau sudah mati dan Wak Katok masih selamat, Buyung merasa tenang kembali. Terbawa keberanian dan rasa percaya diri dari berburu, dia dapat tersenyum dan merasa senang lagi. Selain itu, dia menyadari hal baru, yang menunjukkan betapa dia telah menjadi dewasa: ³Sebuah kesadaran baru tentang hidup dan manusia tumbuh dalam dirinya. Dia tahu benar kini, mereka esok akan pulang ke kampung -- dan tahu, dia tak akan kembali memenuhi janjinya pada Siti Rubiyah. Apa yang terjadi antara Siti Rubiyah dengan dia adalah sebagai air sungai yang telah mengalir jauh di belakang -- telah tertutup, telah habis -- dia kini tahu bahwa hidup manusia tidak semudah yang disangkanya. Siapakah yang menyangka hal-hal yang demikian dalam diri Pak Balam, Sanip, Wak Katok, Pak Haji, Talib, dan Sutan «?´103 Dengan kesadaran itu, Buyung telah selesai bertobat, dengan akhirnya menyadari bahwa yang lalu telah berlalu dan tidak dapat berubah, dan akhirnya memaafkan dirinya sendiri; dosanya tidak hanya harus diampuni Tuhan, tetapi juga oleh dirinya sendiri. Selain itu, Buyung akhirnya menyadari bahwa dunia dewasa tidak pernah mudah ditebak, dan harus ada pengertian. Apalagi, jimat-jimat yang dikasih Wak Katok dibuang oleh Buyung. 104 Ini melambangkan bahwa Buyung sudah benar-benar tidak percaya pada ilmu sihir. Dia mempercaya hanya ajaran agama Islam, dan bukan hal-hal ajaib yang tidak diakui

102 103 104

Ibid. Hal. 209. Ibid. Hal. 210 ± 211. Ibid. Hal. 211 ± 212.

63

Islam. Dengan demikian, sifat agamis Buyung menjadi semakin kuat, biarpun ajaran adat mulai berkurang. Selain itu, pengalaman Buyung sebagai pemimpin memberinya keberanian untuk membuat keputusan lain. Dia mengambil keputusan untuk melamar Zaitun sepulang kampung.105 Dia sudah tidak ragu-ragu lagi, dan merasa sangat percaya diri. Sebagaimana dikemukakan di atas, di awal novel Buyung merasa minder dan takut pada ilmu sihir. Setelah mengalami kehilangan keperjakaannya dan trauma besar karena diburu harimau, Buyung berkembang menjadi dewasa yang berani dan percaya diri. Akhirnya, dia bisa bertobat untuk minta maaf akan dosanya telah berzina dengan Siti Rubiyah, dan memulai hidup baru dengan pengalaman baru.

105

Ibid. Hal. 212.

64

BAB 4 KESIMPULAN Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis merupakan novel yang mempunyai dasar psikologis yang amat kuat. Biarpun memang ada konflik fisik, yaitu pemburuan harimau, konflik paling didorong oleh masalah batin tokoh utama, Buyung. Dia berkembang dari pemuda yang lugu dan tidak berpengalaman menjadi seorang pemimpin yang matur dan dewasa. Perkembangan psikis Buyung harus dilihat dari latar belakangnya sebagai tokoh, yaitu agama, latar sosio-budaya, dan dasar naluri manusia. Biarpun menurut orang-orang sekampung Buyung merupakan anak yang baik dan saleh, dia pun dapat terbawa nafsu. Yang membedakan Buyung dari pendamar lain ialah bagaimana Buyung mengatasi masalah psikisnya, yaitu Buyung mampu bertobat. Dengan mengalami hubungan seksual pertama dan memburu harimau yang menerkam teman-temannya, Buyung menjadi semakin dewasa, baik dalam pandangan orang lain maupun dalam pikiran sendiri. Dalam bertobat dan mengakui telah berdosa pada dirinya sendiri, Buyung belajar bertanggung jawab atas tindakannya sendiri, baik di hadapannya maupun di hadapan Tuhan. Sementara, dengan membunuh harimau dan menyelamatkan Sanip, Buyung dipandang sebagai orang luar biasa oleh orang sekampung, dan bertanggung jawab atas kebaikan masyarakat.

65

DAFTAR PUSTAKA Culler, Jonathan. 1977. Structuralist Poetics: Structuralism, Linguistics, and the Study of Literature. Routledge & Kegan Paul: London. dalam Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Cetakan Pertama. 2004. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Endraswara, Suwardi. Metode Penelitian Psikologi Sastra: Teori, Langkah, dan Penerapannya. Cetakan Pertama. 2008. MedPress: Yogyakarta. Jefferson, Ann dan David Robey. Modern Literary Theory. 1991. B.T. Batsford Ltd.: London. dalam Endraswara, Suwardi. Metode Penelitian Psikologi Sastra: Teori, Langkah, dan Penerapannya. Cetakan Pertama. 2008. MedPress: Yogyakarta. Lubis, Mochtar. Harimau! Harimau!. Edisi Kedelapan. 2008. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta. Notonagoro. Pancasila: Dasar Filsafah Negara (Kumpulan Tiga Uraian PokokPokok Persoalan tentang Pancasila). 1988. Cetakan ketujuh. PT. Bina Aksara: Jakarta. Obstfeld, Raymond. Fiction First Aid: Instant Remedies for Novels, Stories and Scripts. 2002. Writer's Digest Books: Cincinnati, Amerika Serikat. Ratna, Nyoman Kutha. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra: dari Strukturalisme hingga Postrukturalisme Perspektif Wacana Naratif. Cetakan Kelima. 2009. Pustaka Pelajar: Yogyakarta. Wawancara pribadi dengan Sedya Santosa, tanggal 4 November 2010.

66

LAMPIRAN: Wawancara dengan Sedya Santosa, Dosen UIN. Tanya: Jawab: Apa moralitas dalam agama Islam? Artinya moralitas itu sumbernya dari mana, untuk Islam yang ada di Indonesia. Oleh karena itu saya akan cerita kepada saudara Christopher yang pertama bahwa Islam di Indonesia, khususnya di Jawa, itu memiliki moralitas kebebasan yang kesatu moral umum. Kalau di dalam Islam itu namanya akhlak. Itu berbentuk dari kitab Al-Qur¶an dan dari sunah Nabi atau Hadis, jadi ada dua yaitu yang satu dari Al-Qur¶an kitab sucinya orang Islam dan yang kedua dari Hadis RasulAllah atau yang disebut dengan sunah-sunahnya itu. Kemudian, kalau di Jawa ini apa yang tercatat dalam Al-Qur¶an dan Hadis itu kebetulan sesuai dengan yang di Jawa ya kan. Sehingga nanti yang sesuai dengan di Jawa yang ada di AlQur¶an itu, ya itu yang kita anggap sebagai moralitas, kalau tidak sesuai maka tidak dianggap sebagai moralitas gitu. Tadi itu apakah ada perbedaan baik-buruknya dosa? Artinya, ada tingkattingkatnya? Jadi nanti dalam moralitas kan ada dua, ada moralitas yang baik dan ada moralitas yang buruk. Kalau moralitas buruk, itu yang dilarang agama. Ada dosa berat, dan dosa ringan. Dosa yang berat ada dua jenis, dosa kepada Allah dan dosa kepada manusia. Dosa pada manusia itu seperti membunuh, mencuri atau berzina. Dosa pada Allah itu seperti tidak salat. Untuk mengampuni dosa berat harus bertobat. Kalau dosa ringan, itu seperti menyakiti orang atau berbohong. Harus minta maaf. Tadi disebut berzina. Kalau berzina yang bersalah itu apakah hanya pihak laki atau dua-duanya? Kalau berzina, ya artinya berhubungan sebelum menikah, kedua belah pihak bersalah. Untuk menghindari itu, yang namanya pacaran dijalani dengan orang lain supaya ada yang bisa ingatkan ³Jangan melakukan itu, itu dosa.´ Tidak boleh ada hubungan sampai menikah dengan sah. Apa pentingnya keperawanan dan keperjakaan dalam agama Islam? Apakah kehilangan keperawanan dan keperjakaan melambangkan kalau orang menjadi dewasa? Kalau masalah perawan atau keperjakaan sendiri, tidak dianggap melambangkan kedewasaan. Itu harus ada kedewasaan mental dan fisik, bukan hanya soal sudah berhubungan, sudah menikah, atau belum. Kalau zaman dulu, karena pencarian nafkah hanya di desa saja, menikahnya ketika masih muda. Zaman sekarang, bekerja harus pindah ke kota dan apa, jadi menikah lebih tua. Jadi kalau di Indonesia ada UU Pernikahan yang menentukan batas usia 18 untuk menikah. Tapi ya, kalau mau menikah harus perawan. Kalau bukan perawan, ya berarti sudah berdosa. Bagaimana dengan pencurian? 67

Tanya: Jawab :

Tanya: Jawab:

Tanya:

Jawab:

Tanya:

Jawab:

Tanya:

Jawab:

Jadi orang yang mencuri itu hukumannya berat; kalau menurut orang Islam itu harus dipotong tangan kanannya dulu, nanti mencuri kedua itu dipotong tangan kirinya, kakinya berturut-turut seperti itu. Itu Islam sesungguhnya, tapi Islam yang kita kenal di Indonesia itu kan nggak seperti itu ya, kita itu kan, ya kalau orang mencuri kemudian dia itu kalau konteksnya kan kalau tidak diberi maaf ya, kalau kita di Indonesia ini kan di desa itu mencuri hampir tidak diproses itu karena dimaafkan. Saya sendiri itu pernah kecurian ya, kecurian mengambil barang saya karena saya tahu ya saya justru kasihan ya maaf sehingga tidak ada hukuman, tapi kalau dia sudah bertobat ya selesai. Dengan catatan ya tobat maksud saya tadi ya, kalau mencuri sudah diterapkan kalau dia sudah siap bertobat ya sudah itu selesai. Yang saya pahami seperti itu tetapi nanti kenyataannya kan orang juga tidak tahu hatinya ya, hati itu tidak bisa diketahui. Kadang-kadang ada orang yang kita maafkan tetapi di lain tempat di berbuat lahi dengan harapan dimaafkan lagi dan seterusnya. Sehingga walaupun kita itu umat Islam di Indonesia itu kan tidak, kan berlaku hukum Negara tidak berlaku hukum syariat, saya kira itu sudah tidak. Lalu bagaimana dengan perkosaan? Apakah itu memang dosa? Bagaimana pandangan dengan hukuman dan arahan? Tingkat keburukannya? Ya perkosaan itu tetap, apa itu, di dalam Islam juga tetap tidak boleh itu. Yang pertama dia menganiaya yang kedua kalau sampai berbuat zina dan itu merugikan orang lain. Pokoknya dalam Islam itu kalau sampai merugikan orang lain itu dilarang kalau dilanggar dia berdosa lah. Hukumannya itu kan, kalau di Islam ada di dunia dan di akhirat. Kalau orang berbuat zina itu hukumannya kan di dunia aja dirajam, ya kalau dilempar batu sampai 100 kali dengan harapan dia itu akan tobat kan begitu. Kalau dia itu sudah menikah punya suami dan istri sendiri berzina dengan orang lain tertangkap itu kan dirajam sampai mati lah. Kalau di Indonesia tidak sampai seperti itu. Ya pokoknya itu, pokoknya dia itu berdosa gitu aja. Tidak boleh berzina itu. Walaupun demikian, ya, umat Islam kita ya kadang-kadang masih juga ya ada yang orang berbuat seperti itu. Kemudian ya dosanya setingkat apa? Ya, kalau sampai ketahuan berzina ya dosanya kayak dosanya orang zina, kemudian yang kedua siapa yang salah ya kedua-duanya dulu. Kenapa ke dua-duanya, itu kemudian kita tahu konteksnya diperkosa. Kalau memperkosa itu kan yang aktif yang laki-laki, ya itu konteksnya belum nikah toh, kalau diperkosa kan belum menikah ya? Ada pemuda dengan pemudi temannya kemudian pemuda ini memperkosa pemudi? Kalau dia pake berzina itu, ya tetap berdosa. Andaikata yang wanita ini wanita ini tidak ada tahan, ya tidak kuasa untuk melarikan diri hingga dia itu diperkosa tapi di hatinya dia itu berontak, la ini dalam umat Islam itu terpaksa kan itu yang betul 68

Tanya: Jawab:

Tanya: Jawab:

Tanya : Jawab:

Tanya: Jawab:

dia menolak itu, itu tidak apa-apa ya, yang aktif ini yang mendapat dosa besar ini. Karena dia berusaha mempertahankan diri kok tidak kuasa sampai dia melawan itu malah tidak apa-apa. Tapi kita lihat dulu konteksnya karena dia itu menarik atau karena laki-laki itu terangsang dan seterusnya, la ini kita lihat juga maka dalam umat Islam itu yang wanita itu diminta untuk menutup aurat agar laki-laki melihatnya juga tenang. Lalu bagaimana dengan orang yang kehilangan kepercayaan kepada Allah, apakah dosa dan bagaimana beratnya? Orang yang kehilangan kepercayaan kepada Allah yang kita pahami dalam Islam berarti itu karena umpamanya kurang. Apakah tidak sengaja atau sengaja dulu? Misalnya karena melihat orang meninggal, biarpun kita sudah berdoa demi keselamatannya. Kalau hilangnya itu disengaja ya dosa, kalau tidak disengaja saya kira gak pa-pa. Jadi kalau kayak kehilangan akal tapi tetap percaya, tapi dia masih sadar ya itu tetap dalam Islam itu diharapkan tidak hilang tapi kenyataannya mereka itu tetap hilang ya. Hilang itu mungkin karena faktor pengaruh luar ya, dan itu tidak dipedulikan secara faktual gak boleh atau faktualnya nanti kita lihat di lapangan. Apabila orang mengetahui orang lain berdosa, maka orang itu seharusnya bagaimana ? Itu dalam ajaran kita itu ada sabda Rasulallah, atau Hadis. Kalau kamu melihat kemungkaran atau kemaksiatan itu, maka kamu itu diharapkan mau merubah dengan tangannya artinya dengan kekuatannya. Wailam yasati, apabila kamu tidak mampu hendaknya melarang dengan ucapan la kan ada orang berzina itu to itu langsung dipisah dengan ³Oh, jangan´ tapi kalau takut dan tidak kuasa pake itu ya jangan zina, jangan zina gak boleh itu buka tapi kalau dia tidak kuasa karena yang melakukan orang banyak gitu dan dia sampai takut gitu nanti kalau saya mengingatkan nanti malah jadi bahaya ya... Yang artinya ada perasaan kalau keberatan itu tidak boleh dalam ajaran agama nanti dosa, artinya apa dalam keadaan apapun orang saleh atau siapa saja kalau melihat hal-hal yang tidak baik dalam moralitas itu wajib untuk mengendalikan, kalau bisa dikendalikan dengan tenaganya, kalau tidak ya dengan lisannya kalau tidak ya dengan hatinya saja kalau lemah. Lalu kalau yang diketahui melakukan dosa itu anak atau keluarga, misalnya Bapak mengetahui anak Bapak mencuri? Kalau saya, dalam ajaran Islam itu, kita beri pelajaran, kita sadarkan kalau itu perbuatan tidak baik. Kita tanya, permasalahannya kenapa kamu sampai mencuri mangga, harus diketahui itu. Apalagi masih anak-anak, anak-anak itu harus dididik dengan betul-betul, tetapi kadang-kadang itu kalau di kita karena mencuri saja sudah bertentangan dengan moralitas, 69

Tanya:

Jawab:

Tanya: Jawab:

budaya dan orang tua di desa itu tidak tahu ajaran agama itu banyak yang langsung mereka tahu dan mereka malu dan sebagainya anak itu langsung dipukul itu ada. Tetapi mereka juga Islam ya, tetapi dalam Islam sendiri itu tidak boleh. Menyakiti anak itu tidak boleh, tetapi harus kita berikan penjelasan dan seterusnya kemudian kita ke tempat siapa yang kecurian tadi, kemudian kita bilang kita matur ya, kita bicara untuk diikhlaskan atau kalau dia tidak ikhlas minta ganti, ya kita gantikan bila kita mampu. Lalu, kalau kita tidak mampu menghentikannya, tapi berhasil menangkap pelakunya, Itu baiknya ditangani bagaimana, baik oleh orang perorangan atau aparat? Kalo menurut ajaran agama Islam, kalau kita itu begini, ya umat Islam di Indonesia itu ada dua, ya artinya gini: yang pertama kita itu sebagai umat Islam itu tetap mempertahankan syariah umat Islam, melaksanakan semaksimal mungkin tetapi kita kan juga harus hidup di negara. Lah, itu yang dianjurkan kita ini kalau mengetahui itu, menangkap ya kita laporkan ke aparat pemerintah karena nanti kalau kita selesaikan dengan masyarakat itu, masyarakat kan banyak yang tidak dewasa ya, pemahaman Islam itu kan sangat luas, dipahami oleh orang Islam itu pun juga berbeda-beda persepsinya ya, jadi yang memiliki pemahaman yang luas itu akan lunak orang yang tidak memiliki pemahaman yang luas atau yang sempit. Mereka itu akan tekstual itu, yang harusnya kalau ketahuan berzina ya harus kita rajam nah itu kan ada tetapi karena kita itu di Indonesia itu, maaf, ini karena Islam kita itu sudah sangat lunak sekali artinya kita itu sudah hidup yang pada intinya itu kita berikan pada aparat. Bagaimana pandangan masyarakat Islam mengenai ketakhyulan, misalnya kepada hewan siluman dan jimat-jimat? Ya, dalam Islam sendiri sebenarnya itu tidak mengajarkan itu, apalagi tokoh-tokoh fiktif gitu ya, selama itu diyakini dan dianggap itu kepercayaan yang menyangkut aqidah itu dilarang, tetapi kalau kepercayaan itu hanya sekedar untuk umpanya dongeng sebagai media pendidikan ya boleh saja, gak pa-pa tapi tarafnya hanya sebagai media ya. Di Indonesia, banyak sekali hal yang dikaitkan dengan hal seperti itu, umpanya di desa itu ada namanya memedi, ada genderuwo. Genderuwo itu raksasa yang dibayangkan oleh orang-orang kita itu, yaitu akan datang dan menakut-nakuti orang. Nanti ada kepercayaan, yaitu wedon dan seterusnya. Wedon itu orang mati yang dipocong itu loh, la itu masih ada. La, itu sekarang ini setelah umat Islam semakin banyak belajar agama itu semakin menipis. Semakin berkurang, tetapi kalau keyakinan kepercayaan seperti itu kita yakini betul itu tidak boleh. Itu namanya musrik. Jadi di satu sisi masih ada kekuatan Allah, di lain sisi kok percaya kepada yang gaib-gaib yang tidak ada dalam Al-Qur¶an, kecuali yang gaib itu dalam Al Qur¶an. Itu kan ada malaikat, ada iblis ada setan, kemudian ada surga dan ada neraka. Nah, itu yang kita percayai, tapi 70

Tanya: Jawab :

Tanya: Jawab:

Tanya :

kalau kita bicarakan apakah kita percaya kepada siluman dan seterusnya itu, kemudian jimat itu dalam Islam tidak diperkenankan. Termasuk musrik itu, karena jimat dianggap memiliki kelebihan. Lah, itu kalau orang pegang jimat saya bisa ke mana-mana, kebal gitu. Lalu, bagaimana dengan pernyataan Sunan Kalijaga ³Bawalah budayamu, tapi belajarlah agamamu?´ Lah, ya itulah yang sampai sekarang, apa yang disampaikan oleh wali songo yang kita kenal dengan Sunan Kalijaga. Memang Sunan Kalijaga itu orang yang sangat luar biasa, beliau mendakwahkan Islam sesuai dengan sosiologi masyarakat pada waktu itu. Mayoritas Islam di bawah itu masih erat dengan ajaran Hindu, kemudian dia membawa ajaran baru maka kemudian dia itu, selain dia mengajarkan agama Islam, dia menggunakan media budaya jadi sangat luar biasa, tetapi akibat yang lain pemahaman seperti itu masih ada jadi mereka ya tetap orang beragama Islam, tetapi mereka juga masih percaya kepada adat istiadat itu masih ada maka dalam penelitiannya ada dua jenis Islam di Jawa« Ada santri, kemudian ada abangan ada priyayi itu, itu menurut saya kalau diamati itu mereka itu ya masih ada. Mereka itu kalau yang santri itu Islam yang murni yang mengerjakan agama dan meninggalkan budaya, adat, ya kan, kemudian yang abangan ini yaitu orang Islam yang masih nyuri-nyuri adat termasuk nyuri-nyuri keyakinan-keyakinan terkait dengan siluman dan sebagainya itu. Oleh karena itu, kalau menurut saya, yang disampaikan oleh sunan Kalijaga itu tujuannya itu bagus, prinsipnya itu Islam itu rohmanaing alami untuk kedamaian, maka untuk berjalan itu dia harus dengan damai dengan santun dan seterusnya. Misalnya dalam keadaan bahaya, apakah orang bisa dipaksakan mengakui dosanya? Ya itu kalau dalam Islam itu jelas kok. Allahuma Arinalato haqo ya robbinas minsaha wa alhalbatila batila warhikmat sinabah, artinya ya Allah tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar itu memang benar kemudian kalau jalan yang jelek itu memang betul-betul jelek. Oleh karena itu, dalam keterpaksaan darurat itu kita lihat kalau itu menyangkut aqidah ya dipertahankan sampai mati, ya itu umpanya kalau tidak berbuat kemudian disuruh mengaku dan seterusnya. Tetapi kembali lagi kepada orangnya, Pak. Kalau orangnya imannya kuat mereka akan mempertahankan ya sampai titik darah terakhir, tapi kalau orangnya itu karena diteror, disiksa harus mengakui biasanya yang orang imannya tidak kuat, ya bisa saja itu terjadi mengakui sehingga kalau kita lihat, maaf, seumpanya ada kasus-kasus ,umpamanya orang sampai mengambil atau cabut berita acara di kepolisian. Itu katanya mengaku karena yaitu ditakuti, nah itu namanya dalam keadaan seperti itu Tapi apakah mengaku itu sebenarnya tidak boleh dipaksakan? Harus dari dalam hati? 71

Jawab:

Tanya: Jawab:

Tanya: Jawab:

Tanya:

Ya, betul, dalam hati, tetapi kan kembali lagi orang hidup itu kan inginnya, ya, tidak tersiksa dan seterusnya ya. Tapi kenyataannya kan ga begitu, sangat terkait dengan keimanan seseorang, maka orang yang memahami jihad itu sendiri, yang memahami kalau jihad itu perang umpamanya ya harus berperang. Tapi kita-kita ini kan wong yang namanya perang kan sudah tidak musim ya. Memerangi kebodohan, memerangi kemiskinan, memerangi, ya, umpamanya keimanan yang individu, maksudnya lewat berdakwah to. Yang namanya berjihad itu ya untuk menjadikan dunia ini menjadi bijak, damai, kemudian apa itu bagus, hidupnya bahagia di dunia dan akhirat. Itu kembali lagi kepada memahami Islamiah. Pertanyaan terakhir, bagaimana proses bertobat ? Bertobat, dalam agama kita agama Islam yang saya pahami, itu dalam bertobat kalau seseorang itu melakukan dosa besar, maka dia itu harus taubatan Nasuka taubat yang sungguh-sungguh. Dalam prosedur tobat itu sederhana, dia mangakui kesalahannya di hadapan Allah, kemudian dia itu berjanji dalam dirinya sendiri kalau itu tidak akan dilakukan lagi, selesai. Kemudian melakukan perintah Allah, yaitu sebagai umat Islam yang sungguh-sungguh, yaitu mengerjakan perintah-Nya, tidak mengulangi perbuatan lagi yang jelek-jelek seperti itu. Tetapi ada pemahaman orang lain yaitu katanya taubatan Nausuka, yaitu setelah mengakui orang itu harus mandi, mandi besar maksude keramas itu, ya, sampai bersih baru itu kemudian dia memohon maaf kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu lagi kemudian melaksanakan yang baik-baik saja. Berarti tidak harus ada pengakuan kepada orang lain ? Dalam hadis sendiri tidak ada, andaikata itu mau dipersaksikan saya kira bukan masalah, menurut pemahaman saya itu hanya untuk menyalahkan saja ya, tetapi dalam hati sendiri tidak. Maka kita sendiri itu juga sangat sulit. Seseorang itu bertaubat sendiri atau bertaubat atau tidak setelah melakukan kejahatan, kita juga tidak bisa melihat kan, kita hanya bisa melihat dari gejala lahiriah aja, ³oh si A ini pernah mencuri di tempat saya oh sudah taubat, o kalau bisa ya kemudian kepada saya santun , kepada tetangga juga santun,´ dia itu kan gejalanya kan kemudian dia melakukan ibadah. Kalau umat Islam yang taat sudah ya seperti itu, siapa tahu hati seseorang kan kita tidak tahu. Secara psikologi bisa diketahui tapi kenyataannya itu kan kita juga tahu karena dalam orang mengatakan itu Al imanu yaziki waysn itu. Iman seseorang itu kadang-kadang itu bertambah, kadang-kadang itu berkurang, kalau bertambah itu kan taat kepada Tuhan, Allah itu kan luar biasa, kalau ketika berkurang maka dia itu kan cenderung mengikuti perbuatan setan itu tadi, maka dalam Islam itu harus iman, taqwa itu harus dijaga sampai titik darah terakhir. Baik, terima kasih sekali atas bantuan Bapak. 72

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.