ISSN 1858 - 4268 Vol.

2 No_6 Tahun 2006

am Konservasi Bersama TNGL

"The World Heritage Site", sebuah gelar membanggakan, sarat beban, namunjuga sebagai pelecut kami, warga TN Gunung Leuser, untuk bisa melangkah lebih maju di dunia konservasi.

Di edisi ini, pada liputan Utama kami coba tampilkan tulisan-tulisan seputar Taman Nasional Gunung Leuser sebagai "Tropical Rainforest Heritage of Sumatra" - kami ucapkan terima kasih untuk Mr. Koen UNESCO yang diantara kesibukannya masih menyempatkan diri menulis di buletin ini ...

Rubrik Kehati tetap setia muncul di Jejak Leuser, kali ini kami coba mengenalkan Badak Sumatera - salah satu spesies kunci TN. Gunung Leuser yang seiring berjalannya waktu semakin menipis populasinya. Di rubrik Dinamika, Bambang Setyo menyumbangkan tulisan "Politik Hujan", Apa maksudnya? Kami persilahkan anda menyimak di halaman 16. Kajian tentang hal-hal yang tidakjauh dari air juga coba dilemparkan Rina, apakah benar deforestasi merupakan penyebab utama tanah longsor? Temukanjawaban Rina di JL edisi ini.

Redaksi juga mengucapkan terima kasih kepada Kang Suer dengan 'kopi' -nya yang enak dibaca dan Kang Iwan dengan wacana-wacananya tentang mikrohidro demi meningkatkan kualitas hidup 'orang kecil' di sekitar Leuser. Akhirnya di rubrik Wanasastra, Moko seakan ingin menyuarakan isi hati para pengungsi di Barak Induk yang selalu merasa dalam ketidakpastian hidup.

Selamat membaca ...

Balai Taman Nasional Gunung Leuser

Jl. Blangkejeren 37 Tanah Merah Kutacane Aceh Tenggara PO BOX 16 Kode Pos 24601

Telp. (0629) 21358 Fax. (0629) 21016

Jl. Suka Cita 12 Kel. Suka Maju Medan Johor, Medan, Sumatera Utara Telp/ Fax. (061) 7879378

Email: jejakleuser@yahoo.co.id

Sumber dana: DrPA 029 2006 BTNGL

Cover depan

: Hutan Leuser (Foto: Koen Meyers)

Cover belakang

: Sunset di TapakTuan (foto: Gunawan Alza)

Desain

: Bisro Sya' bani

Redaksi Buletin "Jejak Leuser" menerima sumbangan tulisan yang berkaitan dengan aspek konservasi. Tulisan diketik dengan spasi tunggal, maksimal 5 halamam dan minimal 3 halaman kuarto dengan font Times New Roman 12. Naskah dikirim ke email : jejakleuser@yahoo.co.id dengan disertai identitas diri (termasuk foto penulis), serta foto-foto dan/atau gambar-gambar yang dapat mendukung tema tulisan. Naskah yang dikirimkan menjadi hak penuh redaksi Buletin "Jejak Leuser" untuk dilakukan proses editing seperlunya.

Rebowo Wasgito

.,

;J>.

I~., :_,

UNESCO,

P el11erin tah Span~ 01, dan World Iierittl$e Center (WliC)

nl,tHUJ-NO 'I'N. (HJNIJN(, U~IJSI~U

I)clitik. tiuja

./

(Jtvo~ eo~ ~'I;~:

RI'PIIe PADA TAMAN NA'.GNAt

~~E]61 RAKYiT DI PEDESAAN GUNUNG LEUSER:

Peneemb'l.nean Potensi Enerei Terbarukaf Melalui Pembanekit Listrik Tenaea Mikro'hidro

/f_[11~~~ ')(~)I~ @II

G lobalisasi dunia telah menjadi kenyataan, bukan lagi, sekedar wacana. Dunia yang menjadi "big village' ini juga menjangkiti penggerak konservasi global. Apa saja yang terjadi di Leuser, misalnya, dapat langsung dipantau dari negara manapun di seluruh dunia. Sebagai contoh, dengan adanya teknologi yang dikembangkan oleh GoogleEarth, kita bukan saja seolah-olah "ditelanjangi", namun kita sudah tidak bisa bersembunyi di manapun dan kapanpun. Illegal logging dan perambahan di TNGL akan dengan mudah diketahui, kecepatan kerusakannyapun juga bisa dihitung, dan seterusnya. Namun, kita juga dapat memanfaatkan teknologi satelit itu, tentunya dikombinasi dengan memobilitasi tim reaksi cepat, untuk meningkatkan pemantauan lapangan yang menjadi bagian dari strategi operasi memberantas pelaku-pelaku pengrusakan taman nasional. Dengan menggunakan citra Econos, nomor truk pengangkut kayu illegal pun dapat dibaca. Luar biasa!

N amun apakah teknologi canggih seperti ini juga mampu memberikan solusi terhadap upaya penegakan hukum? Jawabannya belum tentu. Upaya penegakan hukum terhadap pelaku, khususnya otak pelaku illegal logging dan perambahan masih belum maksimal sehingga mereka seringkali lepas dari jeratan hukum. Teknologi canggih seperti itu masih harus dikombinasi dengan ground check dalam rangka pemetaan persoalan, penelusuran alur sejarah

kerusakan, dan membangun forum komunikasi dengan aparat penegak hukum untuk memulai komitmen bersama dalam memerangi mafia perusak hutan dengan lebih efektif dan konsisten.

Ba,ai TNGL memiliki pengalaman yang menarik dalam upaya penegakan hukum. Proses hukum terhadap 11 perambah di Besitang, Langkat memerlukan waktu '12 tahun. Pengembangan penyidikan mengarah pada salah satu aktor intelektual dan kini telah dihukum penjara selama 3 tahun. Diprediksi perlu waktu lebih dari 1 tahun untuk memproses hukum 1 tokoh intelektual perusak TNGL. Proses hukum tersebut juga harus dikawal, mulai dari pemberkasan di kepolisian dan terutama di kejaksaan dan pengadilan.

Seperempat Abad sejak Leuser ditunjuk sebagai taman nasional, telah banyak terjadi perubahan-perubahan geopolitik dan tata guna lahan akibat intervensi pembangunan di seluruh kabupaten sekitar Leuser. Di wilayah Sumatera Utara, Leuser dikepung oleh berkebunan sawit. Peningkatan luas perkebunan sawit tersebut cukup signifikan. Pada tahun 1992, luas perkebunan sawit rakyat, swasta, dan milik pemerintah tersebut 513.101 Ha dan meningkat pada tahun 1998 menjadi seluas 697.553 Ha, dengan demikian peningkatannya rata-rata 30.742 Ha per tahun!

Data pad a tahun 2000 menunjukkan bahwa luas

4

--------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

perkebunan sawit telah mencapai angka 905.000 Ha. Perubahan pola tata guna lahan dan semakin sempitnya lahan yang dapat ditanami, serta stabilnya pasar dan harga sawit, mendorong masyarakat untuk masuk ke dalam kawasan TNGL. Tekanan yang terjadi di wilayah Kabupaten Aceh Tenggara, lebih disebabkan oleh perluasan kebunkebun rakyat untuk penanaman berbagai komoditi dan perluasan tersebut mengarah ke kawasan dengan kelerengan yang curam. Pertambahan penduduk dan kurangnya teknologi pertanian mendorong masyarakat cenderung melakukan perluasan ladangnya dan bukan intensifikasi. Apalagi lahan pertanian juga terbatas karena lebih dari 60% kawasan kabupaten sebenarnya merupakan wilayah TNGL.

M empertimbangkan kompleksitas persoalan di luar taman nasional yang tentu saja berdampak langsung pada kelestariannya, maka kita memerlukan kolaborasi multipihak. Global network seharusnya dapat mendukung taman nasional dalam upaya penyelesaian masalah, termasuk kelemahan manajemen dan kapasitas staf taman nasional. Melalui perbaikan manajemen dan arah organisasi Balai TNGL, kini mulai masuk dukungan global, seperti masuknya dukungan

World Heritage Center UNESCO di Paris dan dukungan pendanaan dari pemerintah Spanyol. Beberapa mitra yang telah lama bekerja dengan TNGL juga terus menunjukkan komitmennya, seperti Fauna Flora International (FFI), Yayasan Leuser International (YU), OIC dan Sumatran

Orangutan Conservation Program (SOCP). Ke depan, segera menyusul Wildlife Conservation Society (WCS), Save Tiger Fund (STF), dan beberapa mitra lainnya. Bahkan Universitas Syiah Kuala bekerja sama dengan BRR Aceh Nias telah menunjukkan dukungannya untuk membangun program di Stasiun Riset Ketambe dan Suaq Belimbing. Mitra strategis lainnya adalah Walhi di NAD dan Sumatera Utara yang bersama-sama melakukan kampanye konservasi dengan melibatkan masyarakat, serta advokasi kebijakan di berbagai tingkatan. Dukungan dari berbagai mitra ini bukan saja dalam bentuk dana, tetapi yang juga sangat penting adalah alih teknologi, knowledge and skill dari kepakaran mereka.

Semoga globalisasi di bidang konservasi tidak terjebak ke dalam dominasi dan kooptasi konservasi. Globlalisasi konservasi tidak boleh dibelokkan menjadi semacam diskursus pembangunan yang kemudian menjadi alat dominasi, seperti yang telah terjadi selama empat dekade pembangunan sebagai alat dominasi. Globalisasi konservasi justru harus dimanfaatkan untuk memperkuat jaringan kepakaran yang multidisiplin, untuk dapat memecahkan berbagai persoalan konservasi dan manajemen taman nasional secara lebih sistematis, komprehensif serta arif sesuai dengan kondisi sumberdaya dan ragam aspirasi dan modal sosial di tingkat lokal.***

inung_w2000@yahoo.com

Vol. 2 No.6 Tahun 2006---------------------------------

5

Oleh: Ir Wiratno,M.Sc *)

"Harta" yang terpendam di bumi Leuser akhirnya diakui sebagai Warisan (Alam) Dunia oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization) pada tahun 2004. Proses untuk menjadi Warisan Dunia (atau disebut sebagai World Heritage) ini dilakukan atas usulan pemerintah Indonesia kepada salah satu PBB yang bermarkas di Paris tersebut. Seperti biasanya, banyak pertanyaan kritis dan sebagian juga sinis mengenai diakuinya Leuser ini sebagai Warisan Dunia. Untuk apa dan apa manfaatnya bagi Indonesia? Apakah kebijakan ini sekedar "ikut-ikutan" trend global, yang berlomba-Iomba untuk mendapatkan pengakuan global? Atau ada cerita di balik kebijakan pemerintah ini? Penunjukan Leuser dilakukan dalam satu paket bersama TN.Kerinci Seblat, dan TN.Bukit Barisan Selatan, dengan nama: "Tropical Rainforest Heritage of Sumatra". Dengan menjadi Warisan Dunia, maka Leuser sejajar dengan Yellowstone dan Grand Canyon National Park di Amerika yang terkenal itu, Galapagos di Equador, The Great Wall di China, Taj Mahal di India, dan seterusnya.

Sejarah

Konvensi Warisan Dunia mengenai Perlindungan Warisan Budaya dan Alam diadopsi dari Konferensi Umum pada Sidangnya yang ke 17 yang diselenggarakan di kantor pusat UNESCO di Paris, Perancis pada tanggal 16 November 1972, dan berlaku efektif sejak tanggal 17 Desember 1975. Konvensi tersebut melengkapi program-program konvensi di tingkat nasional dan mendukung pembentukan Komite Warisan Dunia dan Dana Warisan Dunia. Sampai dengan bulan Maret 2005, Konvensi Warisan Dunia telah diratifikasi oleh lebih dari 180 negara. Dan pada Juli 2005, terdapat 812 propertis yang telah tercantum di dalam Daftar Warisan Dunia, terdiri dari 628 situs budaya, 160

situs alami dan 24 situs campuran yang berasal dari 137 negara anggota.

Pengertian 'Warisan Dunia' menurut UNESCO (2004) memuat hal-hal sebagai berikut: (1) Warisan dunia dapat terdiri dari Warisan Alam dan Warisan Budaya, (2) Melestarikan warisan yang tidak dapat digantikan dan warisan yang memiliki "Nilai Universal Istimewa", (3) Perlu melindungi Warisan yang tidak dapat dipindahkan, dan (4) Menj adi tanggnngjawab kesadaran dan kerjasama ko lektif intemasional.

Indonesia telah meratifikasi Konvensi Warisan Dunia melalui Keputusan Presiden No.29, pada bulan Juli 1989. Sampai saat ini, Indonesia telah memiliki 9 situs yang tercantum dalam Daftar Warisan Dunia. Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), dan

6

---------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

situs arkeologis Sangiran (1996) termasuk dalam Situs

Warisan Budaya. Untuk Situs Warisan Alam, ditetapkan TN. Ujung Kulon (1991), TN.Komodo (1991), TN. Lorentz (1999) dan Tropical Rainforest Heritage of Sumatra, yaitu hutan hujan tropis Sumatera yang terdiri dari tiga taman nasional, yaitu TN.Gunung Leuser, TN. Kerinci Seblat dan TN.Bukit Barisan, pada tahun 2004. Ketiga kawasan ini tercantum dalam Daftar Kelompok Situs Warisan Dunia pada Sidang ke 28 Komite Warisan Dunia di Suzhou, Cina, pada tanggal27 Juni sampai 7 Juli 2004.

Nilai Leuser

a. Keragaman Hayati

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) merupakan suaka tropis terbesar dan terkaya di dunia. MacKinnon dan MacKinnon (1986) menilai TN G L memiliki skor tertinggi di antara kawasan konservasi di seluruh Indo-Malaya. TNGL merupakan habitat dari sejumlah besar spesies fauna mulai dari mamalia, burung, reptil, ampibi, ikan, dan invertebrate. Kawasan ini memiliki daftar spesies burung yang panjang, dimana dari 380 spesies burung yang ada (65% dari total jumlah spesies burung di seluruh Pulau Sumatera), 350 di antaranya tinggal di kawasan ini. Di TNGL juga terdapat 36 dari 50 jenis burung endemik di Sundaland. Hampir 65% atau 129 spesies mamalia dari total 205 spesies (mamalia besar dan kecil) di Sumatra tercatat tinggal di taman nasional ini. TNGL merupakan habitat dari orang utan Sumatra (Pongo abelii), harimau Sumatran (Panthera tigris), badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), tapir (Tapirus indicus), gajah Sumatra (Elephas maxim us sumatranus), siamang (Hylobathes lar), leaf monkey (Presby tis thomasi) dan lain-lain.

Stasiun Riset Orang utan di Ketambe, Aceh Tenggara merupakan stasiun riset tertua di dunia (didirikan pada tahun 1971) dan tempat paling penting untuk penelitian primata khususnya orang utan. Dari Ketambe yang dibangun pertama kali oleh H.D. Rijksen itulah kemudian lahir beberapa tokoh dan pakar orang utan dunia, antara lain C.P. van Schaik, J. Sugardjito, Jatna Supriatna, Barita o Manullang, dan Suci Utami. Selanjutnya van Schaik membangun stasiun riset orangutan Suaq Belimbing di Aceh Selatan pada tahun 1998.

Pentingnya kawasan ini dibuktikan dengan ekspedisi van Steenis tahun 1937, dan dilanjutkan dengan ekspedisiekspedisi lainnya, membuktikan kayanya keragaman hayati taman nasional ini. Tidak kurang dari 4.000 spesies tumbuhan dapat dijumpai, termasuk yang paling fenomenal adalah ditemukannya 3 dari 15 tanaman parasit yang terkenal, yaitu jenis Rafflesia. TNGL juga habitat jenis bunga tertinggi di dunia yaitu Amorphophalus titanum (Whitten et al., 1997). Komposisi vegetasinya tersebar dalam beberapa zonasi (menurut ketinggian dari permukaan laut), yaitu Coastal Vegetation, Tropical Zone

Rafflesia atjehensis, salah satu kemolekan tersembunyi di tanah Leuser

(0-1000 m), Colline Sub-Zone, (500-1000 m), Submontane Zone (1000-1500 m), Montane Zone (1500-2400 m), Subalpine Zone (2400-3400 m), Mountain Blang Vegetation (2600-3000 m), dan Anthropogenic Vegetatinon. Selain itu, taman nasional ini juga temp at yang penting sebagai habitat tumbuhan obat (Brimacombe & Elliot, 1996).

b. SumberdayaAir

TNGL merupakan hulu dari 10 daerah aliran sungai (DAS), yaitu Sei Wampu, Sei Lepan, Sei Besitang di Propinsi Sumut; Lawe Alas, Kr.Kluet, A. Simpang Kanan, Kr. Trip a, Kr.Baru, Kr.Susok, dan Kr.Batee di Propinsi NAD. Kesepuluh DAS ini menyediakan suplai air bagi sekitar 4 juta masyarakat yang tinggal di NAD maupun Sumatra Utara.

Hampir 11 kabupaten tergantung pada jasa lingkungan TNGL, yaitu jasa berupa ketersediaan air konsumsi, air pengairan, penjaga kesuburan tanah, pengendali banjir, dan sebagainya. Berdasarkan studi yang dilaknkan oleh Beukering, dkk (2003), Nilai Ekonomi Total TNGL dihitung dengan suku bunga 4% selama 30 tahun adalah USD 7.0 milyar (bila terdeforestasi), USD 9.5 milyar (bila dikonservasi), dan USD 9.l milyar (bila dimanfaatkan secara lestari).

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006---------------------------------------

7

utuh di kawasan hotspot saat ini tidak memperoleh berbagai bentuk perlindungan. Di kawasan hotspot ini ditemukan lebih dari 57% endangered mammals dan lebih dari 81 % endangered bird. Lima belas dari 25 hotspot terdapat di kawasan hutan hujan tropis. Dua hotspot terdapat di Indonesia, yaitu Sundaland Hotspot dan Walacea Hotspot.

Posisi Strategis Leuser di Tataran Global

Berdasarkan Studi Myers, suatu kawasan bisa disebut sebagai hotspot bila memiliki minimal 1,500 spesies tumbuhan.endemik. Studi ini menggunakan 0,5% dari total tumbuhan vaskuler endemik di seluruh dunia. Perhitungan lain penentuan hotspot adalah; bila suatu kawasan memiliki habitat alami kurang dari 30% dari kondisi awal tumbuhan tersebut, maka kawasan itu termasuk hotspot. Di samping tumbuhan, informasi mengenai hewanjuga dimasukkan sebagai faktor penentu dan yang paling lengkap informasinya adalah burung, mamalia, reptil, dan ampibi.

Kawasan Sundaland Hotspot meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan. Kawasan TNGL dan kawasan lindung di sekitaruya (yang disebut sebagai Ekosistem Leuser), merupakan salah satu dari kawasan Hotspot di Sumatra. Inilah posisi strategis TNGL dalam kancah konservasi global.

Saat ini, Conservation Interuational telah mengidentifikasi 25 kawasan hotspot di seluruh dunia. Semula, kawasan ini merupakan habitat alami seluas 17 juta km2 atau 11,8% dari permukaan bumi. Sekarang, kawasan ini telah kehilangan habitat alaminya hingga 88% dan hanya tersisa seluas 2,13 juta km2 atau 1,4% dari luas permukaan bumi. Walaupun luasannya terbatas, kawasan ini merupakan habitat bagi 43,8% seluruh spesies tumbuhan endemik di bumi dan merupakan habitat 35,4% dari seluruh vertebrata non ikan endemik.

Warisan Dunia sebagai GlobalNetwork

Kembali pada pertanyaan awal tentang manfaat ditetapkannya TNGL sebagai salah satu dari 812 Warisan Dunia yang tersebar di 180 negara di seluruh dunia. Salah satu manfaat yang sangat strategis adalah kita harus dapat memanfaatkanjaringal global ini untuk upaya pelestarian TNGL. Dan hal ini sangat tergantung pada tingkat keseriusan site manager untuk menggalang dukungan internasional. Dengan perubahan-perubahan yang dilakukan sejak awal tahun 2005 misalnya, Balai TNGL telah berhasil mendapatkan dukungan dari World Heritage Center di Paris dan Pemerintah Spanyol, melalui UNESCO Jakarta Office, Semua dukungan tersebut

Secara global, hanya 884.904 km2 hotspot (0,7% dari luas permukaan bumi) terletak di kawasan yang dilindungi. Hal ini berarti lebih dari 50% kawasan bervegetasi yang masih

Peta daerah Hotspot dunia (berwarna gelap) - sumber: Conservation International, 2002

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

8

diinvestasikan ke dalam TNGL dalam berbagai bentuk penguatan kapasitas kelembagaan dan dukungan infrastruktur yang selama ini sangat lemah. Nampaknya, tamantaman nasional yang secara global diakui dan masuk ke dalam jaringan global, seperti Cagar Biosfer atau Warisan Dunia ini harus dikelola secara profesional, dengan menggunakan network sebagai kendaraan untuk mendorong terbangunnya leadership dan manajemen yang lebih efektif. Oleh karena itu, Balai TNGL akan terus membangun berbagai inisiatif kolaborasi di seluruh tingkatan. Ditunjuknya TNGL sebagai salah satu dari 20 Taman Nasional Model di seluruh Indonesia, yang akan dimulai tahun 2007, merupakan bukti komitmen pemerintah,

c.q. Departemen Kehutanan, perkembangan pengelolaan TNGL status TNGLsebagai WarisanDunia.

Bolong-bolong dalam kawasan, salah satu tantangan pengelola TNGL

dalam merespon dan terkait dengan

Jaringan global yang terdiri dari berbagai pakar ini juga dapat dijadikan kendaraan untuk negosiasi kebijakan, khususnya kebijakan yang kurang memihak atau bertentangan dengan kebijakan konservasi. Jaringan global juga dapat berfungsi sebagai sarana kampanye global yang sangat efektif sekaligus juga watchdog terhadap persoalan-persoalan di site, untuk diangkat ke skala global, agar menjadi perhatian komunitas global. Pembangunan jalan Ladiagalaska yang memotong Ekosistem Leuser, misalnya, segera menjadi perbincangan global karena diperkirakan dampaknya merusak dan berpengaruh langsung pada keselamatan TNGL. Ratusan pakar primata alumni Stasiun Riset Ketambe sejak 30 tahun lalu, yang tersebar di seluruh dunia, sampai saat ini masih peduli akan keselamatan dan kelestarian bukan saja stasiun risetnya, tetapi juga isu-isu seputar TNGL. Global network dan collective awareness seperti inilah yang harus

dijadikan sebagai sarana untukmempertahankan TNGLdi mas a depan. Kolaborasi dan network merupakan modal so sial dan kendaraan organisasi untuk menyongsong masa depan konservasi,yang semakin penuh dengan tantangan danketidakpastian. ***

*) Kepala Balai Taman N asional Gunung Leuser Email: inung_w2000@yahoo.com

Referensi:

Van Schaik,C. Jatna,S. 1996. Leuser, A Sumatran Sanctuary. Yayasan Bina Sains Hayati Indonesia. Jakarta.

Government of Indonesia. 2004. Sumatran Tropical Rainforests Cluster Nomination. PHKA. Jakarta

WneV'v tJou tWc,n tJOUr SOV'v, tJOU tWc,n tJOUr SOV'v'S SOV'v

(Turkish proverb)

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006

9

UNESCO,

P ernerin tali SpalllJ 01, dall World IieritaBe Cellter (WIiC)

Oleh Koen Meyers

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menyongsong era baru pada akhir tahun 2005, dengan adanya dukungan UNESCO dan Pemerintah Spanyol untuk membantu meningkatkan kapasitas pengelolaan kawasan. Dukungan itu sangat tepat dan

memang dibutuhkan oleh TNGL yang sej ak tahun 1981 telah diakui masyarakat intemasional sebagai Cagar Biosfer. Bahkan pada tahun 2004, TNGL bersama-sama dengan TN. Kerinci Seblat, dan TN. Bukit Barisan Selatan, ditetapkan oleh UNESCO sebagai "Warisan Dunia", yang disebut sebagai "Tropical Rainforest Heritage of Sumatra ".

Namun pada saat ini, ketiga taman nasional itu mendapatkan tekanan dalam bentuk perambahan, illegal logging, dan perburuan hidupan liar. Misalnya di TNGL, perambahan di

sekitar Besitang-Sumatera Utara telah merusak hutan dataran rendahnya seluas 22.000 hektar. Hutan Besitang yang merupakan habitat spesies kunci seperti Gajah Sumatera (Elephas maxim us) dan Orangutan (Pongo abelii). Sementara bagian lain dari TNGL di Aceh Tenggara juga mendapatkan tekanan dari illegal logging.

WarisanAlam Dunia merupakan bagian dari Konvensi Warisan Dunia yang bertujuan untuk melestarikan kekayaan alam yang penting bagi kesejahteraan manusia. Konvensi tersebut telah diratifikasi oleh Pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989. Tujuh situs WarisanAlam Dunia di Indonesia, termasuk TNGL,

merupakan penghargaan masyarakat dunia kepada Indonesia yang telah mempertahankan keindahan, keunikan, dan keanekaragaman hayatinya. Status itu harus dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Indonesia untuk menjadi alat promosi bagi peningkatan investasi dan penerimaan daerah.

Ancaman terhadap kelestarian warisan dunia merupakan tanggung j awab kita semua, termasuk lembaga-Iembaga intemasional sehingga tidak berstatus "gawat darurat" (World Heritage in Danger). Melihat perkembangan tersebut, UNESCO melalui World Heritage Center (WHC) memberikan dukungan dengan meningkatkan fasilitas sarana dan prasarana pengelolaan, efektivitas

pengelolaan, kinerja dan motivasi staf untuk kembali bekerja di lapangan, dan khususnya berkonsentrasi untuk menyelesaikan masalah kerusakan di Besitang tersebut.

10

Sementara itu, Pemerintah Spanyol mendukung Vol. 2 No 6 Tahun 2006

Renovasi Visitor Center Bukit Lawang, didukung penuh oleh UNESCO dan Pemerintah Spanyol

pendanaannya yang disalurkan melalui UNESCO Jakarta Office. Konsentrasi investasinya juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas staf Balai TNGL, melalui beberapa kegiatan kunci seperti dukungan staf untuk membangun sistem GIS, pendampingan lawyer-bila Balai TNGL menghadapi tuntutan dari berbagai pihak dalam langkahnya menegakkan hukum, pengadaan sarana dan prasarana pengelolaan, termasuk renovasi Visitor Center di Bukitlawang, renovasi resort-resort di Aceh Selatan, pelatihan database, pembangunan jaringan komunikasi radio yang akan menghubungkan selurnh kantor Seksi Wilayah, Kantor Balai di Kutacane, dan beberapa kantor perwakilannya di Medan maupun di Banda Aceh, pembangunan pangkalan data resort-resort, studi banding penegakan hukum, pembuatan berbagai leaflet, booklet, poster, dan bahankampanye lainnya.

Yang menarik dari investasi ini adalah bahwa Balai TN.Gunung Leuser juga mengalokasikan beberapa kegiatan strategis yang memang sudah dirancang sebelum dukungan UNESCO dan Pemerintah Spanyol tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, program-program bantuan tersebut dapat disinergikan dengan program-program di Balai TNGL. Hal itu dapat dicapai melalui penyusunan proposal secara bersama, sehingga perencanaan yang disiapkan oleh UNESCO dan Pemerintah Spanyol adalah program yang

diprioritaskan oleh Balai TNGL. Prinsip-prinsip yang selalu mencari sinergi inilah yang cukup menarik dikembangkan dalam upaya membangun kolaborasi multipihak di Leuser. Investasi tersebut dialokasikan untuk membantu Balai TNGL dalam menyelesaikan berbagai persoalan akut yang telah bertahun-tahun tidak pernah dapat diselesaikan dengan tuntas dan komprehensif. Pola-pola dukungan seperti ini rencananya akan dikembangkan di kluster warisan dunia lainnya, yaitu di TN.Kerinci Seblat dan TN.Bukit Barisan Selatan, sebagai bagian dari upaya penyelamatan hutan hujan tropis Sumatera.

Dukungan Multipihak

Mempertimbangkan besaran persoalan dan luasnya TNGL ini, pihak Balai tidak akan pernah mampu mengelolanya sendirian. Dukungan dari UNESCO dan Pemerintah Spanyol juga masih sangat terbatas dibandingkan dengan kompleksitas permasalahan. Oleh karena itu, masih diperlukan dukungan dari pihak-pihallain sehingga masalah dapat diselesaikan secara tuntas sesuai dengan kapasitas para pihak. Beberapa mitra strategis yang telah bekerja di sekitar TNGL tentunya perlu terns meningkatkan dukungannya, seperti Yayasan Leuser International, Fauna & Flora International, Sumatran Orangutan Conservation Program, OIC, Conservation International, Walhi NAD dan Sumatera

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006---------------------------------------

11

Utara, dan banyak mitra lokallainnya.

Pihak pemerintah kabupaten merupakan mitra utama bagi upaya pengelolaan TNGL ke depan, khususnya dalam pengembangan daerah-daerah penyangga di sekitar taman nasional. Dukungan pemerintah pusat, dalam hal ini Departemen Kehutanan dan departemen terkait lainnya juga sangat strategis dan menentukan, misalnya dalam hal kebijakan penggunaan lahan, alokasi pemanfaatan ruang untuk eksploitasi sumberdaya alamo Melalui mekanisme kebijakan Tata Ruang Propinsi dan Kabupaten yang konsisten, maka proses-proses negosiasi untuk penggunaan ruang yang lebih mendukung konservasi dapat dilakukan. Wilayah-wilayah di sekitar TNGL, yang dikenal dengan Ekosistem Leuser, yaitu kawasan berhutan yang luasnya tidak kurang dari 2,4 juta hektar, perlu didukung dengan kebijakan pengembangan industri yang non-extractive, seperti produk hutan non-kayu.

Pengelolaan kawasan-kawasan konservasi memerlukan

dukungan kolektifkarena besaran (magnitude) pengelolaan kawasan-kawasan konservasi yang luas, meliputi jutaan hektar. Latar belakang lain adalah bahwa kita berhadapan dengan sumberdaya yang termasuk ke dalam kategori "common pool resource"(CPR), misalnya hutan dan laut yang hampir tidak mungkin dikelola secara eksklusif. Kalaupun dapat dikelola akan memerlukan biaya yang sangat mahal sehingga dapat dikatakan tidak seorangpun yang mampu membayamya. Oleh karena itu, konsep pengelolaannya harus dilakukan dengan melibatkan banyak pihak di berbagai tingkatan. Tidak ada satu organisasi pun yang dapat mengklaim bahwa hanya organisasinya yang paling berhasil dalam mengelola suatu sumberdaya. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tumbuh subumya ego lembaga, baik itu di tingkat pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat. * * *

*) TechnicalAdviser for Environmental Sciences UNESCO Jakarta Office

Penulis (kanan) dan Hugo dari Pemerintah Spayol pada saat kunjungan ke Bukit Lawang

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization

~ ...

" MINISTERIO

~ DE ASUNTOS EXTERIORES _ _ llt' Y DE COOPERACION

MINISTERIO

DE MEDIO AMBIENTE

C! Arel

----------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

12

In

S"llinatera

Oleh: Bisro Sya'bani,S.Hut *)

Iri rasanya kala kulihat di sana, sekumpulan orang sedang bersandau-gurau di ladang luas mereka yang hijau. Ladang hasil mereka merampas tempat istirahatku selama ini. Sedih rasanya ketika nku pandangi sekelompok orang bersenjata bedil tertawa-tawa riang keluar dari rumah besarku dengan membawa mayat sahabatku, Si Belang. Lemas knki ini suet kuintip segerombol manusia bejat yang ternyata sedang sibuk menggergaji gading ternan curhatku selama ini, si Bona.

Apakah nasibku kelak nknn snmu dengan kedua sobatku itu?

By the way, di dunia tercatat setidaknya ada 5 (lima) jenis badak, yaitu: White Rhino (Ceratothetium almum), Black Rhino (Diceros bicornis), Indian Rhino (Rhinoceros unicornis), Javan Rhinos (Rhinoceros sondaicus), dan Sumatran Rhino (Dicerorrhinus sumatrensis). Menurut Animal Planet, dari kelima jenis badak tersebut di atas, badak Sumatera merupakan generasi tertua (para ahli memperkirakan bahwa Badak Sumatera merupakan nenek moyang dari semua jenis badak di dunia) dan mempunyai ukuran tubuhrata-rata paling kecil.

Yang terjadi saat ini, populasi Badak Sumatra semakin menipis oleh karena kegiatan perburuan serta fragmentasi habitat. Oleh IUCN, Badak Sumatra dimasukkan ke dalam status konservasi "critically endangered" pada tahun 2002. Dan di CITES masuk dalam Appendix I (tahun 2001).

Kenalkan, Badak Sumatera ....

Keluhan kepedihan itu terumpamakan muncul dari mulut Badak Sumatera saat melihat begitu banyak manusia yang dengan buasnya membantai temantemannya sesama hewan. Yah, tidak ada yang bisa memungkiri bahwa saat ini perburuan terhadap satwa liar, termasuk badak, semakin merajalela. Cula Badak sebagai obat mujarab berbagai penyakit adalah alasan utama mereka memburu binatang itu. Kapan ya pemburupemburu biadab itu akan insyaf. .. ?

Sebelum bercerita lebihjauh tentang Sang Badak, marikita simak urut-urutan klasifikasi hewan bercula itu. Uruturutannya adalah sebagai berikut:

Kingdom Phylum Class Order Family Genus Species

: Animalia : Chordata

: Mammalia

: Perissodactyla : Rhinocerotidae : Dicerorhinus

: Dicerorhinus sumatrensis

Vol. 2 No.6 Tahun 2006---------------------------------------

13

In

Badak Sumatera sendiri terdiri atas 3 (tiga) anak jenis, yaitu Dicerorhinus sumatrensis lasiotis, Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis, Dicerorhinus sumatrensis harrisoni.

D. sumatrensis lasiotis dipereaya sudah mengalami kepunahan di Bangladesh serta India; dan di Myanmar jumlahnya sudah sangat sangat kritis, bahkan keberadaannya sangat sulit untuk dideteksi. D. sumatrensis sumatrensis yang berada di Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan keadaannya tidak kalah memprihatinkan, meskipun jumlah individu di alam tidak sesedikit saudaranya, D.s. lasiotis.

Seperti halnya White Rhino dan Black Rhino, Badak Sumatera memiliki dua tanduk (= eula), dimana tanduk belakang berukuran keeil sehingga kadang seeara sepintas tidak kelihatan. Cula jantan selalu lebih besar daripada badak betina. Badak Sumatera hanya memiliki satu lipatan kulit, berbeda dengan Badak Jawa yang kulitnya berlipat tiga. Selain itu, Badak Sumatera juga terkenal di kalangan peneliti sebagai badak yang paling berbulu.

Seeara umum, karakteristik Badak Sumatera adalah sebagai berikut; panjang antara 236 sampai dengan 315 em, tinggi 112 - 145 em, panjang ekor sekitar 50 em dan berat badan antara 2200 sampai 4400 pon. Lama hidup Badak Sumatera bisa meneapai 35 tahun dan masa kedewasaan badak dieapai pada umur 7 sampai 8 tahun. Masa kehamilan Badak Sumatera berkisar antara 12 - 16 bulan dan mereka hanya mampu melahirkan 1 (satu) anak di setiap kelahirannya. Interval kelahiran Badak Sumatera adalah sekitar 3 sampai 4 tahun. Bayi badak pada saat dilahirkan mempunyai panjang sekitar 90 em, tinggi 60 em dan berat 25 kilogram dan akan terus bersama induknya sampai pada umur 6 tahun.

kebanyakan dilakukan pada malam hari, sedangkan untuk siang hari mereka gunakan untuk berkubang di lumpur. Pergerakan badak ini bersifat musiman, pada saat musim penghujan, mereka bergerak ke daerah yang lebih tinggi, dan turun ke lembah-lembah di musim yang lain. Home range antara badak jantan dan betina berbeda, dimana badak jantan bisa meneapai 30 kilometer persegi sedangkan home range badak betina 'hanya' berkisar antara 10 - 15 kilometer persegi yang umumnya berpusat pada tempat mengasin (saltlick area). Mereka manandai trail-nya dengan menggunakan urine, kotoran atau bekas pij akan kaki di tanah.

Badak Sumatera di Leuser ...

Badak Sumatera merupakan salah satu spesies kunei di Taman Nasional Gunung Leuser, selain orangutan, gajah sumatera, dan harimau sumatera. Catatan sejarah menyatakan bahwa keberadaan Badak Sumatera ini terdapat di hampir seluruh wilayah-wilayah terpeneil di Sumatera, dan TN.Gunung Leuser merupakan tempat dengan dokumentasi yang baik. Dij elaskan bahwa di mas a lalu, Badak Sumatera dapat dijumpai di hampir seluruh penjuru taman nasional, di lembah-lembah maupun di pegunungan, sepanjang pantai barat, dan daratanrendah di Langkat dan Deli.

Perburuan badak merupakan profesi tua di Aeeh, dan di beberapa desa dikenal sebagai des a pemburu badak. Ketika survai pertama kali dilakukan di Gunung Leuser pada tahun 1930an, badak sudah menjadi langka di wilayah utara Gunung Leuser di dekat Blangkejeren, yang dikenal sebagai pusat pemburu badak. Keeenderungan

Selain daun (terutama daun-daun muda), badak juga menyukai tunas, buah-buahan, bambu-bambuan, ranting-ranting muda dan j ahe-j ahean sebagai makanannya. Mereka mampu menghabiskan 50 kilogram makanan dalam sehari.

Aktifitas pergerakan Badak Sumatera, paling menyukai daun muda ....

hewan so liter ini

14

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

UJ o c.

E o o c

·cu

«

Berkubang, aktifitas sebagian besar waktu badak di siang hari

akan penurunan populasi badak ini terus berlanjut, dan ketika proyek penelitian badak dari seorang ahli zoology Swiss-Marcus Bomer (yang dilanjutkan oleh Nico van Strein pada awal 1970an), badak telah menghilang dari seluruh batas taman nasional. Tahun 1975 Nico melakukan penelitian di suatu wilayah yang hanya dapat dicapai melalui udara atau mengikuti j alur jelaj ah gaj ah.

Dalam jangka waktu studi 358 hari di tempat penelitian tersebut, 4.000 kmjalan patroli telah dilalui dan lebih dari 600 casts telah dibuat pada 360 jalur jelajah badak. Disimpulkan telah ditemukan tidak kurang dari 39 individu badak, 12 individu diantaranya adalah anak badak yang lahir pada masa studio Di wilayah penelitian tersebut (yang berada pada salah satu pusat taman nasional) juga diprediksi bahwa kepadatan individu diperkirakan 1 badak/800 hektar, dan ini adalah jumlah yang maksimum yang dapat didukung oleh kondisi di Gunung Leuser, dan sangat mungkin merupakan ukuran untuk badak pegunungan di seluruh Sumatera.

Balai Taman Nasional Gunung Leuser mempunyai pegawai yang sekaligus sebagai pawang badak, Pak Rahman. Dengan cara-cara tradisionalnya, Pak Rahman dipercaya mampu memanggil badak sampai dengan pada radius tertentu. Pak Rahman ini juga yang peruah diajak

Nico van Strein ketika melakukan penelitian badak di ranah Leuser.

Menurut Pak Rahman, untuk mengamati badak diperlukan kesabaran dan kehati-hatian yang ekstra karena badak melalui indranya mampu medeteksi gerakan kita pada radius 2 sampai 3 kilometer. Bahkan dulu (mung kin sekarang juga masih ada), para mafia perdagangan cula badak sampai bertempat tinggal di tempat yang mereka

yakini akan dilewati badak. Hewan ini dianggap paling

mudah diburu karena rute pulang-pergi badak sarna. Para pemburu akan memasang perangkap sepanj ang rute badak terse but. Kebanyakan perangkap tersbut dibuat sedemikian rupa sehingga badak yang masuk perangkap dapat lang sung mati di temp at. Hmmm kej am memang .. !

Dengan keadaan yang seperti ini, akankah kita 'berbuat' untuk Sang Badak Sumatera ... ?***

*) Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai TNGL di Kantor Perwakilan Medan

email: bisro_s@yahoo.com

Bahan Bacaan:

www.kerinci.org www.ultimateungulate.comlPerissodactylaiDicerorhinu s sumatrensis.html animaldiversity.ummz.umich.edu/site/ .. .!Dicerorhinus_s umatrensis.html www.iucmedlist.org/search!details.php/6554/all

(diakses pada tanggal 9 Oktober 2006)

Vol. 2 No.6 Tahun 2006---------------------------------------

15

Oleh: Bambang Set yo Antoko, S.Hut *)

Mungkin hujan menggambarkan suatu perumpamaan tentang kesedihan, tentang kemuraman -- Luapannya yang kadang menggelegak adalah ledakan dari emosional jiwa-:

Secara harafiah, hujan adalah kejadian wajar yang tak tertampung dari awan yang disebut mendung kemudian menjadi tetestetes air dan selanjutnya merupakan sebuah siklus, salah satu di alam ini. Kadang fenomenal, jika kita membutuhkannya di saat-saat gersang. Pun di waktu sekarang, kehadirannya mungkin dianggap sebagai murka sang Kuasa. Saat banjir bandang datang, saat longsor yang menghabiskan semua yang tersisa; Tempat tinggal, lahan pertanian, tempat usaha, bahkan keluarga terkasih atau sanak saudara.

S esuatu yang wajar, menurut logika alam semesta, jika limpahan air yang semestinya mendapat temp at resapan yang akan meredam amarah kemurkaannya itu, dalam perjalanannya tidak kunjung tiba maka sebagai gantinya adalah bencana. Sebenaruya daerah-daerah yang menjadi sasaran kemarahannya selama ini merupakan daerah jelajah atau home range -jika di dunia satwadalam perj alanan air mendistribusikan alirannya pada hutan, tajuk, semak belukar, pepohonan di perkotaan atau pekarangan, sebelum akhirnya sampai di depan rumah kita, --pada got-got kita, kali-kali (hitam) kita-- tentunya dalam aliran normal dan keadaan yang bersahabat serta tidak liar lagi.

Hujan yang sekarang kerap terjadi adalah hujan yang mengalir secara cepat di atas permukaan bumi tanpa sempat lagi membiarkan tanah dan penyangganya berupa tanaman mereguk dan menyimpan alirannya. Semata karena memang sudah jarang sekali ditemui tanaman yang kokoh - berkayu keras - yang secara efektif meredam dan melambatkan laju aliran air sekaligus menjadikannya cadangan air yang sangat dibutuhkan di musim-musim kemarau panjang. Kalaupun ada manusia lebih suka menggantinya dengan bangunan-bangunan kesombongan manusia. Bahasa gaulnya: alih fungsi lahan. Hujan kini lebih identik dengan banjir bandang; ataupun luapan kali-kali hitam yang keruh dengan sedimen tinggi hasil karya khas manusia moderu mas a kini. Banjir yang semakin sering terjadi

16

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

biasanya identik dengan penurunan secara tajam terhadap luasan hutan atau kawasan-kawasan dengan fungsi lindung. Hujan yang seharusnya menjadi anugrah dan sumber kehidup an buat m a.n u s i a namun untuk saat ini justru sangat ditakuti kehadirannya karena alasan bencana yang menyertainya.

I

Hujan yang berakhir kepada banjir bandang yang merusak sebenaruya hanyalah suatu usaha dari alam untuk menyeimbangkan dirinya, a self defense to recovery itself. Keseimbangankeseimbangan yang saat ini digoyahkan oleh ulah manusia sang perusak.

Perubahan fungsi

lahan dari kawasan lindung menjadi kawasan dengan peruntukan lain juga semakin mengebiri harmonisasi alamo Menurut hasil penelitian, dampak yang terjadi akibat alih fungsi lahan pertanian menjadi peruntukan lain antara lain adalah penurunan volume air hujan yang dapat diserap tanah, dari 15 persen sampai di bawah sembilan persen; peningkatan volume aliran permukaan dari sekitar 30 persen menjadi 40 - 60 persen; kecepatan aliran permukaan dari kurang 0,7 meter per detik menjadi lebih dari 1,2 meter per detik. Rendahnya recharge atau penambahan air tanah melalui mekanisme infiltrasi pada musim hujan juga akan menyebabkan menurunnya pasokan air di musim kemarau. Ujung-ujungnya, kekeringan dan langka air terjadi dimanamana. Selain itu pembabatan hutan hujan tropis di seluruh wilayah di negeri ini juga sudah sampai pada tingkat kerusakan yang tidak peruah masuk dalam hitungan akal manusia, berjuta-juta hektar dalam setahun atau sebesar 3,3 hektar dalam tiap menitnya. Laju kerusakan hutan yang terus meningkat ini temyata juga berbanding lurus dengan tingkat kemiskinan masyarakat. Artinya sebagian besar laba yang diperoleh dari menjual kayu-kayu hutan (baik legal maupun illegal) temyata tidak juga mensejahterakan masyarakat khususnya masyarakat sekitar (adat maupun lokal). Uang kayu hutan tersebut justru mengalir kepada oknum-oknum pemodal yang tinggal jauh dari hutan. Ataupun tercecer kepada orang-orang yang sekedar

Akibat banjir bandang di Aceh Tenggara, mungkin salah satu buah kemarahan sang hujan

memandang hutan sebagai kumpulan kayu-kayu semata tanpa sense of belonging. Hasilnya, biasanya adalah hamparan lahan kosong yang telah terdegradasi penuh ditumbuhi ilalang ataupun belukar yang ditinggalkan begitu saja. Berarti, tingkat kerusakan yang ditimbulkan lebih besar dibandingkan dengan usaha reforestasi, penghutanan kembali yang andaipun berhasil tentu akan membutuhkan waktu lama untuk dapat sampai pada kondisi dan iklim mikro semula. Selain itu keberadaan aktivitas pertambangan yang dilegalkan bahkan di kawasan lindung -- kawasan yang notabene adalah salah satu temp at dimana keseimbangan alam itu berada -juga semakin menambah daftar panjang polemik kebijakan demi investasi sesaat. Beberapa ekses negatif yang timbul akibat aktivitas pertambangan di kawasan lindung antara lain adalah laju kerusakan hutan alam yang semakin tinggi, hancumya ekosistem sungai dan laut akibat pembuangan limbah beracun, kontaminasi air bersih oleh logam berat, harga mineral yang diberi gratis, ditinggalkannya danau-danau besar beracun pasca penambangan, menurunnya pendapatan penduduk lokal dan hilangnya keanekaragaman hayati akibat kegiatan penambangan. Tentunya secara logika dampak positif yang diberikan oleh kegiatan ini (baca: uang milyaran dollar US) akan sangat kecil dibandingkan dengan dampak negatif yang terjadi dan dirasakan oleh lingkungan maupun masyarakat

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006---------------------------------------

17

setempat.

Penelitian terkait yang telah dilakukan mengilustrasikan besamya kontribusi yang ditimbulkan akibat perubahan tata guna lahan terhadap kenaikan debit sungai secara tajam sebagai berikut: Pada suatu Daerah Pengaliran Sungai (DPS) yang berupa hutan mempunyai debit 10 m'zdetik, apabila diubah menjadi sawah maka debit sungainya akan berubah menjadi 25 - 90 m'zdetik, sehingga terdapat kenaikan debit sebesar 2,5 - 9 kali dari debit semula. Bila hutan tersebut diubah menjadi kawasan perdagangan atau perindustrian maka debitnya akan meningkat antara 60 - 250 m'zdetik atau meningkat menjadi 6 - 25 kali debit semula. Perubahan yang paling besar adalah apabila kawasan hutan tersebut dij adikan daerah beton atau beraspal dimana debitnya meningkat menjadi 6,3 - 35 kali debit semula. Hal ini terjadi karena hujan yang turun semuanya akan mengalir di permukaan (menjadi aliran permukaan) dan tidak ada yang meresap ke dalam tanah. Yang harus digarisbawahi dari hasil penelitian di atas adalah setiap usaha alih fungsi kawasan hutan menj adi kawasan lain akan terakumulasi pada penurunan kualitas lingkungan, pada akhimya akan memicu born waktu bahaya bencana global. Sebuah situasi dimana kita tidak akan bisa kembali kepada hidup harmonis dengan alam dan lingkungan.

Potensi hujan yang besar dan kemudian menjadi banjir bandang serta kerugian besar yang ditimbulkan merupakan sebuah konsekuensi logis dari sebuah skenario oleh manusia untuk menghancurkan eksistensi manusia itu sendiri. Tanpa usaha yang nyata dan terpadu dari manusia sebagai sang pemegang peran maka alam yang selalu diperlakukan sebagai obyek akan merubah diri menjadi sang perusak. Dimulai dari kini, alam akan terus menyeimbangkan diri sebagai upaya recovery akibat kebijakan dan kegiatan

manusia yang tidak bijaksana, cenderung selfish tanpa peduli nasib generasi mendatang. Jadijangan heranjika selama kurun waktu tertentu, bumi manusia ini akan terus bergejolak menimbulkan bencana bagi penghuninya: banjir bandang, tsunami, gempa bumi, wabah mas a kini seperti aids, flu burung; serta bencana dan wabah yang belum teridentifikasi dan terpikirkan oleh manusia. Tentunya, sebuah konsekuensi yang logis dan sangat masukakal. ***

") Staf Peneliti pada Balai Litbang Kehutanan Sumatera, Pematangsiantar, Sumatera Utara

email: bs_antoko@yahoo.com

BAHANBACAAN

AMAN. 2004. Tambang di Taman Nasional. http://dte.gn.apc.org/ AMAN/gaung/Gaung_ Ag ustus _ 2004/Laporan%20Utama. pdf. diakses

15 Desember 2005.

Gatot Irianto. 2003. Kumpulan Pemikiran: Banjir dan Kekeringan - Penyebab, Antisipasi dan Solusinya. Edisi 1. Cetakan 1. Universal Pustaka Media. Bogor.

Kodoatie, R. J dan Sugiyanto. 2002. Banjir: Beberapa Penyebab dan Metode Pengendaliannya dalam PersfektifLingkungan. Cetakan l. Pustaka

Tetesan hujan di atas rumput, alangkah indahnya ....

18

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

Oleh Rina Purwaningsih, S.Si *)

S ampai saat ini orang masih meyakini bahwa terjadinya bene ana tanah longsor di daerah hulu pasti akibat dari penebangan atau perusakan hutan (deforestasi) yang dilaknkan di daerah hulu. Seiring dengan rusaknya hutan dituduh sebagai biang keladi terjadinya tanah longs or, kadang kita melupakan bahwa sebenarnya keberadaan hutan justru kurang mendukung bagi tereiptanya stabilitas lereng perbukitan yang rawan akan longsor. Tidak dipungkiri bahwa hut an dapat mengendalikan erosi dan aliran permukaan, namun bersamaan dengan hal tersebut hutan juga berfungsi untuk meningkatkan laju infiltrasi yang justru akan meningkatkan kekritisan lereng terhadap terj adinya longsor.

menjadi penyebab utama terjadinya beneana tanah longsor. Bahkan pihak masyarakat dan kalangan ilmiah sendiri kadang membenarkan adanya fakta tersebut dengan bukti ditemukannya kayukayu hasil penebangan, sebagai akibat praktek illegal logging. Sementara itu di tempat lain pihak pemerintah menyatakan bahwa tidak ada praktek penggundulan hutan di kawasan hulu. Hal tersebut mendorong pemerintah untuk menindaklanjuti penemuan tersebut yang menimbulkan kontroversi penyebab terjadinya tanah longsor. Dari sini kita bisa menilai bagaimana sebenaruya pengaruh keberadaan hutan terhadap terjadinya beneana tanah longsor. Benarkah deforestasi (baea: degradasi hutan, perambahan/penebangan kayu, perusakan hutan) bisa digeneralisir sebagai penyebab terjadinya longsor?

Berbagai peristiwa tanah longsor di tanah air masih menuai kontroversi seputar faktor penyebabnya. Sebagian orang

meyakini bahwa terjadinya beneana tanah longsor disebabkan oleh faktor alam, dimana salah satu penyebabnya adalah kondisi tanah yang labil. Sementara itu beberapa fakta menunjukkan bahwa di daerah hulu ditemui adanya aktivitas penebangan kayu. Dari sini muneul isu illegal logging

Faktor-faktor penyebab terjadinya tanah longsor :

Penyebab terjadinya longsor adalah gaya gravitasi bumi yang bekerja pada suatu material batuan dan atau tanah sebagai massanya. Gaya gravitasi terse but

Vol. 2 No.6 Tahun 2006---------------------------------------

19

mengakibatkan terjadinya ketidakstabilan lereng. Suatu lereng akan menjadi tidak stabil apabila keseimbangan gaya gesek antara material longsor dengan bidang gelincimya terganggu. Ketidakstabilan pada suatu lereng biasanya dipicu oleh adanya curah hujan yang tinggi atau getaranigempa. Selain itu peningkatan kekuatan geser yang mendorong massa tanah untuk longsor dapat ditimbulkan oleh beberapa faktor sbb:

1. Meningkatnya beban pada massa tanah, hal ini diantaranya disebabkan oleh semakin teballapisan tanah di

dan akan menjadi bidang gelincir jika ada air hujan yang masuk.

Pengaruh Keberadaan Hutan Terhadap Terjadinya Longsor

Kestabilan suatu lereng ditentukan oleh banyak faktor, salah satu diantaranya adalah keberadaan vegetasi hutan. Curah hujan yang jatuh di muka bumi terdistribusi

melalui proses infiltrasi, aliran permukaan, penguapan, dan retensi. Keberadaan hutan di permukaan tanah meningkatkan laju infiltrasi yang juga akan meningkatkan kadar air tanah sekaligus mengurangi jumlah aliran permukaan. Tanah di kawasan hutan cenderung mengandung banyak humus sehingga memiliki permeabilitas tinggi. Perlu disadari bahwa masuknya air ke dalam tanah meningkatkan air pori yang akan menambah berat tanah dan mengurangi kekuatan penahan geser. Padahal berat tanah mempakan salah satu gaya pendorong terjadinya longsor. Dengan kata lain hutan tidak mampu merubah seluruh karakteristik hidrologi tanah yang tidak menguntungkan. Dalam kondisi yang demikian, bagaimanapun bagusnya penutupan hutan, kapasitas jenuh air tetap terbatas.

atas batuan dasar sebagai akibat perkembangan tanah. Turunnya air hujan di permukaan bumi menyebabkan meningkatnya air tanah. Infiltrasi air ke dalam tanah membuatnya menjadi jenuh dan tidak stabil. Kapasitas infiltrasi merupakan kemampuan tanah untuk meresapkan air, diukur dalam milimeter per satuan waktu. Kapasitas infiltrasi air meningkat seiring dengan pertumbuhan vegetasi penutup lahan. Keberadaan hutan meningkatkan laju infiltrasi yang meningkatkan kadar air tanah dan mengurangi jumlah aliran permukaan sehingga menurunkan laju erosi. Selain itu meningkatnya infiltrasi juga disebabkan oleh pengolahan lahan di atas lereng seperti terasering, irigasi, dll, Timbulnya gaya yang diakibatkan oleh adanya getaranigempa akan menyebabkan massa tanah di atas bidang gelincir menjadi semakin tidak stabil.

2. Berkurangnya kekuatan penahan yang melawan kekuatan geser, ini disebabkan oleh menurunnya daya kohesi tanah akibat infiltrasi air. Adanya curah hujan yang tinggi menyebabkan proses pelindian lempung semakin intensif. Air yang masuk ke tanah akan terhenti di atas lapisan tanah/batuan yang bersifat relatif impermeabel (kedap air)

Rutan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air, mendorong terbentuknya mata air, terutama jika terdapat lapis an kedap air di dasar lereng. Munculnya mata air akan

membawa butiran tanah dan menyebabkan erosi piping pada dasar lapisan tanah sehingga membentuk bidang kritis pada bidang kontak antara lapis an tanah dan batuan dasar, dengan demikian longsor akan mudah terjadi. Sementara itu vegetasi hutan merupakan salah satu faktor pembentuk tanah. Keberadaan tumbuhan sebagai organisme mempercepat laju pelapukan batuan menjadi tanah. Tanah di daerah bervegetasi akan lebih cepat berkembang daripada yang berada di daerah tidak bervegetasi. Meskipun sarna-sarna memiliki kemiringan lereng yang terjal, tanah dengan solum tebal dan berkembang cenderung bertekstur lempungan pada tanah lapisan bawahnya. Jika dipicu adanya curah huj an yang tinggi proses pelindian lempung akan lebih intensif. Air yang masuk ke tanah akan terhenti di atas lapisan yang di dominasi oleh lempung. Lapisan tanah tersebut bersifat relatif impermeable (kedap air) dan akan menjadi bidang gelincir jika ada air hujan yang masuk.

Sistem perakaran dalam hutan tidak terdesain untuk mengendalikan longsor, melainkan untuk menjaga

20

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

stabilitas pohon agar bisa berdiri tegak. Sering dijumpai di lapangan, lereng yang ditumbuhi pepohonan yang memiliki sistem perakaran yang kuat masih bisa mengalami longsor. Hal ini bisa dilihat pada material longsoran yang disertai adanya batang pohon beserta akar-akamya. Lereng yang bertumpu di atas lapisan batuan kedap air, menyebabkan akar pohon tidak dapat menembus batuan dasar. Saat musim hujan dan terj adi infiltrasi, air akan terhenti di atas batuan kedap air tersebut sehingga tanah bagian dasar menjadi jenuh. Keberadaan air yang berlebihan justm bisa menyebabkan pembusukan di zona perakaran. Hal tersebut mengakibatkan bidang kontak antara lapisan tanah dengan batuan dasar menj adi lebih licin sehingga mudah mengalami longsor.

Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana jika hutan tidak ada dan atau ditebang habis? Tentu saja beberapa hal di atas yang mendorong terjadinya longsor akibat keberadaan hutan setidaknya akan berkurang. Akan tetapi apakah masalah akan selesai sampai disini saja?

Lereng perbukitan yang tidak bervegetasi, secara alami akan mengalami perubahan-perubahan seperti meningkatnya laju erosi permukaan akibat meningkatnya aliran permukaan dan infiltrasi. Erosi akan menyebabkan lapisan tanah menipis sehingga akan bermunculan lahan-lahan kritis yang tidak produktif. Hutan sebagai pam-pam bumi sumber oksigen dan daerah tangkapan air akan hilang. Mungkin benar perubahan tersebut sebetulnya menambah stabilitas lereng terhadap terjadinya longsor di daerah perbukitan tetapi di daerah dataran rendah hal ini akan memicu terjadinya banjir bandangjika ada huj an lebat turun,

Tidak heran, dalam sebuah pengendalian bencana alam sering terjadi konflik kepentingan antara stabilitasi lereng dengan upaya konservasi lahan yang bertujuan mengendalikan erosi dan banjir. Secara teori lereng perbukitan bisa distabilkan dengan mengubah geonetrinya

Mala air

e-mail: rina_sambi7@yahoo.com

yaitu memotong tanah bagian puncak dan menimbunnya di kaki lereng. Selain itu juga bisa dilakukan injeksi pada bidang gelincir dengan semen. Untuk lokasi-lokasi vital hal ini mungkin bisa dilakukan, namun hal ini menjadi tidak efektif untuk lahan yang kurang produktif sehingga dalam konfliknya dengan upaya konservasi lahan kadang stabilitasi lereng hams dikalahkan mengingat ancaman bahaya erosi dan banjir lebih besar dengan frekuensi kejadian lebih sering. Mengingat hal tersebut, salah satu cara meminimalkan dampak bencana tanah longsor adalah dengan cara menghindari atau mengosongkan lokasi-Iokasi yang rawan terjadi longsor. ***

*) Geography Information System and Database Specialist di Balai TN. Gunung Leuser, Kantor Perwakilan Medan

Tanah longsor di Semadam September 2005, karena hutan rusak?

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006---------------------------------------

21

(Jtvo~ e()~ 1f;~~:

III'PII( PADA TAMAN NA'IONAl

Oleh: Suer Suryadi *)

Waktu istirahat di sela-sela seminar, workshop atau pertemuan seringkali dinamakan Coffee Break (CB). Memang ada kaitannya dengan kopi, karena itu adalah saat peserta ngopi, nge-teh, ngemil dan ngudut. Acara informal ini dilakukan sambil berdiri atau duduk mengelilingi meja-meja yang disediakan. Dalam satu meja itu bisa berisi 4-8 orang, yang belum tentu saling mengenal.

Fenomena CB ini menarik karena obrolannya ringan tapi sarat info, ajang curhat atau tanya jawab dengan narasumber. Ada yang sekedar basa-basi lalu asik menyeruput kopi dan mengunyah cemilannya. Ada pula yang reuni, membahas perkembangan program atau beropini ria atas beritaberita terkini.

Perambahan hutan dan illegal logging di taman nasional menjadi topik hangat dalam Workshop Pengelolaan Kawasan Konservasi yang diadakan di Hotel Asean-Medan pada tanggal 1-3 Agustus 2006. Pesertanya adalah para Kepala Balai Taman Nasional dan KSDA di Sumatera, Pejabat Dinas Kehutanan, dan LSM.

Banyak pejabat yang menanggalkan aura kepejabatan saat CB, sehingga obrolan setengah jam itu menjadi lebih menarik.

Di satu kelompok meja CB, seorang pejabat

KSDA Padang dengan antusias bercerita tentang adanya zona hutan larangan yang dianut sebuah masyarakat adat di Sumatera Barat secara turun temurun. Tidak ada anggota masyarakatnya yang

berani merambah hutan larangan itu. Cerita kearifan tradisional bergulir. Tidak jelas apa yang terjadi jika perambahnya dari luar kelompok masyarakat adat, karena cerita segera bergeser ke prospek menjual Carbon.

Pada meja lain terdengar cerita mengenai penduduk asli Siberut yang lebih menghormati tata batas antar suku mereka daripada tata batas TN Siberut. "Taman nasional itu kan milik orang Jakarta," kata seseorang yang menyitir pernyataan penduduk Siberut. Wah ...

Perambahan memang pantas menjadi topik utama. Berdasarkan data Rapid Assessment and Prioritization of Protected Area Mangement

(Mei 2004), sebanyak 30 dari 41 taman nasional di Indonesia menghadapi masalah perambahan pada berbagai tingkat keseriusan. Perambahan menempati peringkat ketiga setelah penebangan dan perburuan liar.

22

--------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

CB diperoleh kesan bahwa perambahan terjadi karena ketiadaan respek masyarakat terhadap hutan taman nasional dan tata batasnya. Kenapa tidak ada respek, padahal penetapan taman nasional sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku?

Menurut ahli hukum Prof. Mertokusumo, kekuatan keberlakuan suatu aturan dipengaruhi oleh aspek yuridis, filosofis dan sosiologis. Secara yuridis, aturan itu dibuat oleh lembaga berwenang, tidak bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi hirarkinya, atau yang sederajat. Secara filosofis, aturan itu menganut keseimbangan antara hak dan kewajiban, peran dan tanggung jawab para pihak. Secara sosiologis, aturan itu menyerap norma-norma yang berlaku di masyarakat. Rapuhnya salah satu aspek itu akan membuat peraturan menjadi rawan dilanggar.

Meskipun taman nasional dibentuk sesuai aturan (aspek yuridis), namun jika mengesampingkan aspek filosofis (mengkerdilkan peran masyarakat)

dan aspek sosiologis (hubungan religius dan

budaya masyarakat dengan hutan dianggap

angin lalu), maka akan sulit berharap

adanya kepatuhan dan respek

masyarakat terhadap eksistensi taman nasional. Atas dasar itu, kita perlu memastikan apakah perambahan merupakan akar masalah atau gejala dari masalah yang sebenarnya. Penanganan sporadis atas gejala biasanya menghasilkan masalah

baru, atau modifikasi dari masalah lama.

Kenapa penduduk asli Siberut menghormati batas wilayah antar suku padahal tidak ada patoknya?

Mungkinkah telah terjadi consensus di masa lalu mengenai tata batas antar suku yang memenuhi aspek yuridis, filosofis dan

sosiologis adat mereka. Meskipun tak terdokumentasi, mereka tahu mana wilayah hutannya berdasarkan cerita turun temurun. Mengambil sumberdaya di luar wilayahnya berarti mengganggu keseimbangan kosmis-ekologis sehingga perlu dihukum (denda/fisik) untuk memulihkan keseimbangan. Belum lagi hukuman dalam bentuk "rasa takut" karena "kualat" terhadap leluhurnya.

Masalahnya, terminologi kualat ini seringkali tidak diyakini oleh orang dari luar komunitas itu kecuali timbul "hal-hal" aneh akibat kualat. Di sebuah desa di Pegunungan Cyclops-Papua, seseorang mati dengan perilaku mirip seekor babi hutan menggerusgerus tanah setelah menembak burung di hutan terlarang. Akibat kualat tersebut melambang-kan penegakan hukum secara gaib yang tidak pandang

Vol. 2 No.6 Tahun 2006

bulu. Hukuman itu membuat penduduk gemetar, dan bahkan orang lainpun ikut gentar.

Para ahli biologi-konservasi dan park managers pasti sudah paham luar-dalam mengenai pentingnya taman nasional bagi kehidupan manusia di masa kini dan mendatang. Masyarakat sekitar taman juga memahaminya dengan bentuk dan cara berbeda. Kekurangsinkronan dua pemahaman itulah yang memungkinkan rendahnya respek masyarakat pada eksistensi taman nasional. Tantangan berikutnya adalah mengkondisikan agar masyarakat yang jauh dari taman nasional tidak menganggapnya sebagai "hutan tak bertuan".

Rasanya kita sadari bersama, seberapapun luasnya taman nasional, tak akan bisa ditangani oleh personilnya tanpa partisipasi pihak lain terutama masyarakat sekitar. Jika taman nasional diumpamakan sebagai tubuh manusia, maka masyarakat sekitar adalah pasukan sel-sel darah putih atau antibodi yang secara organik akan mengamankan tubuh dari berbagai kuman penyakit

dari luar tubuh. Untuk membantu kerja selsel darah putih, kadang kita perlu menyuntikkan antibiotik, imunisasi, dan vaksin.

Antibiotik itu adalah

operasi keamanan terpadu.

Sebagaimana antibiotik yang harus diminum sesuai resep dokter dan harus habis, maka operasi keamanan ini juga dilakukan sesuai kebutuhan dan harus tuntas. Imunisasi merupakan program-program

penyadaran masyarakat untuk bersama-sama melindungi dan memanfaatkan taman nasional secara lestari. Vaksin merupakan intervensi dalam bentuk programprogram kemasyarakatan yang menaikkan harkat masyarakat, pendapatan masyarakat sekitar, dan membuat perilaku masyarakat menjadi supportif kepada taman nasional.

Wah, itu semua sekedar konsep dan resep yang belum tentu benar, tapi layak dicoba sesuai karakter kawasan konservasi. Saya kok yakin, ketika sudah ada respek dari masyarakat, lalu membentuk pertahanan alami di lini terluar taman nasional, maka cerita perambahan tak lagi terdengar saat kita Coffee Break ... Semoga. ***

*) Technical Adviser, UNESCO Jakarta Office

email: s.suryadi@unesco.org

23

P enaenlbc.Unaan P otensi Enerai Terbarukan

Melal ui P enlbanaki t Listrik Tenaaa Mikrohidro

Oleh: Iwan Setiawan*)

Kemiskinan energi dapat didefinisikan sebagai tidak mencukupinya pilihan untuk memperoleh pelayanan energi yang layak; mencukupi, dapat diandalkan, berkualitas, aman dan ramah lingkungan untuk mendukung perekonomian dan pembangunan manusia (world energy assessment, 2000).

Jika indikator kemiskinan dihubungkan pula dengan dimensi pendidikan, kesehatan serta tingkat partisipasi masyarakat dalam kehidupan politik, maka setengah jumlah penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini hampir setara denganjumlah 90 juta penduduk Indonesia yang belum memiliki akses terhadap energi listrik yang layak. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa energi merupakan faktor penting dalam upaya pengentasan kemiskinan serta keberhasilan program peningkatan Indek Pembangunan Manusia (IP M).

Ada perbedaan pendapat mengenai cara untuk mengatasi masalah kelangkaan energi di mas a depan atau untuk menanggulangi krisis energi listrik seperti yang terjadi di di beberapa negara termasuk Indonesia sekarang ini. Adanya fakta sekitar 1,2 milyar penduduk bumi yang belum memiliki akses yang layak terhadap energi listrik, di satu sisi menimbulkan keprihatinan namun di sisi lain; dari sisi bisnis, hal ini merupakan peluang pangsa pasar yang sangat besar dari sektor suplai energi.

Lembaga keuangan intemasional seperti WorldBank, IMF dan ADB memandang energi listrik lebih sebagai komoditas kebutuhan individu ketimbang sebagai bentuk pelayanan terhadap publik. Menurut mereka, cara mengatasi krisis ini adalah dengan kebijakan privatisasi,

'resep' ini sudah gencar dilakukan sejak tahun 1990. Sejumlah BUMN yang umumnya dikelola secara tidak sehat harus segera dilakukan langkah restrukturisasi dan

privatisasi, termasuk sektor energi listrik yang dikelola PLN, atau di sektor suplai air bersih yang dikelola oleh PDAM. Argumentasi dasamya ialah bahwa langkah privatisasi merupakan cara yang tepat untuk mendorong adanya efisiensi manajemen, perbaikan cash-flow dan inovasi teknologi. Dengan demikian, tarif dasar yang begitu tinggi akan cenderung menurun sesuai dengan iklim kompetisi dan elastisitas pasar. Privatisasi juga dianggap sebagai jalan keluar untuk mengatasi kebutuhan investasi baru dibidang energi listrik yang sampai tahun 2007 diperkirakan akan mencapai 750 juta sampai 1 milyar dollar, tentu saja melalui masuknya modal dari perusahaan multinasional dalam bisnis suplai energi listrik ke Indonesia.

Resep privatisasi dari Bank Dunia ini mendapat tentangan keras mulai dari praktisi, LSM dan serta para pihak lain. Kebijakan ini dinilai lebih mementingkan bisnis daripada

24

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

upaya pengentasan kemiskinan yang sudah menjadi konsensus internasional, karena privatisasi yang dimaksud bukan hanya privatisasi manajemen, tetapi juga privatisasi ownership terhadap sektor ekonomi dan sumberdaya vital yang mempengaruhi kehidupan orang banyak. Menurnt mereka, terj adinya krisis energi listrik sekarang ini justru disebabkan oleh penyimpangan dalam kebijakan yang dikendalikan oleh pendekatan kepentingan bisnis yang mengutamakan distribusi dan suplai energi listrik secara sangat berlebihan ke wilayah pasar industri dan konsumen kelas menengah ke atas yang ada di perkotaan.

Premis bahwa tarif akan cenderung turun melalui kompetisi pasar itu juga banyak dibantah, hasil studi kasus yang telah dilakukan di sejumlah negara menyimpulkan bahwa menciptakan kompetisi pasar di sektor industri listrik hampir mustahil bisa dilakukan. Kecenderungan yang terjadi justru memunculkan adanya oligarki di bidang bisnis ketenagalistrikan melalui praktek merger dan akuisisi di antara perusahaan perusahaan besar. Atau seperti kasus di Indonesia, salah satu faktor penyebab tingginya tariflistrik ialah karena PLN harus membeli dengan harga mahal dari perusahaan listrik swasta asing yang beroperasi di Indonesia.

Krisis Energi Listrik di Pedesaan.

Air di kawasan TNGL, 'harta' yang berharga tiada tara

"Kami penduduk miskin, tapi karena kami ingin mendapatkan listrik, maka kami harus mampu menyediakan seluruh biaya jaringan yang dibutuhkannya", papar sebagian besar masyarakat pedesaan di kawasan Leuser yang umumnya masih terpencil dan tidak mudah diakses. Ini adalah bagian kecil dari berjuta-juta jumlah penduduk Indonesia yang belum memperoleh akses terhadap pelayanan listrik dari PLN. Krisis seperti ini menurut Cowel (2002) dibayangi perasaan bahwa masyarakat tidak akan terjangkau olehjaringan listrik dari pus at, dan juga tidak akan mampu untuk membeli unit impor pembangkit listrik energi terbarukan yang dikenai pajak untuk barang mewah sebesar seratus persen. Akhirnya masyarakat memilih untuk mencari jalan keluarnya sendiri. Berbagai cara yang dilakukan masyarakat untuk mendapatkan energi listriknya sendiri diantaranya:

1. Membuat kincir listrik tenaga air tradisional yang biasanya terbuat dari pembangkit dinamo bekas yang dimodifikasi dan konstruksi roda penggerak yang terbuat dari kayu.

2. Membeli mesin diesel pembangkit listrik secara kelompok untuk ukuran me sin yang cukup besar, dan juga beberapa individu yang memiliki mesin diesel ukuran kecil untuk penggunaan sendiri.

3. Menjadi pelanggan listrik dari PLN dengan

mendorong adanya pemasangan di daerahnya, hanya saja belum pihak PLN tidak mau mengambil resiko karena investasinya terlalu tinggi.

Dengan kondisi seperti di atas dan ditambah dengan masih minimnya sarana infrastruktur lainnya yang dikarenakan pula oleh kondisi geografis seperti umumnya terjadi di wilayah pegunungan, telah mengakibatkan wilayah ini menjadi terisolasi. Secara garis besar, dampak yang disebabkan oleh adanya masalah energi listrik dapat diindikasikan:

1. Keterbatasan sarana pendidikan umum terutama untuk proses belaj ar anak usia sekolah, sehingga melemahkan kemampuan dan peluang untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilannya diluar jam seko lah.

2. Keterbatasan akses informasi dan komunikasi, dan ini j elas akan berdampak terhadap:

• Secara politis masyarakat masih mengalami masalah dalam meraih posisi kesetaraan untuk berpartisipasi dalam perencanaan pembangunan, menyuarakan kepentingan masyarakat dalam memperoleh keadilan.

• Secara ekonomi masyarakat kesulitan memperoleh akses pasar dan harus menanggung biaya ekonomi tinggi yang menyangkut semua aspek kebutuhan pokok yang disebabkan buruknya sarana transportasi.

• Secara sosial, masyarakat juga mengalami hambatan untuk dapat saling beinteraksi dan membentuk ikatan sosial yang lebih luas,.

• Arus perubahan budaya dari luar telah membawa dampak kecenderungan perubahan yang negatif dalam tatanan budaya lokal tak dapat ditangkallagi, karena masyarakat tidak memiliki media penyeimbang untuk mempertahaukan kearifan dan

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006---------------------------------------

25

nilai budaya yang mereka miliki.

• Penangulangan situasi darurat seperti terjadinya bencana tanah longsor yang sering terjadi dan pertolongan pertama untuk ibu melahirkan.

Solusi Energi Terbarukan

Energi terbarukan seringkali diasumsikan tak akan bisa memecahkan masalah kekurangan energi karena sulit dan biayanya terlalu mahal. Pandangan ini menutup mata terhadap besaruya biaya subsidi dan dana masyarakat yang dikucurkan untuk industri energi bahan bakar fosil yang sudah malang melintang (Cowell, 2002).

Cadangan minyak bumi Indonesia diperkirakan akan habis dalam dua dekade yang akan datang, di samping itu penggunaan bahan bakar fosil sudah diambang membahayakan bagi kelangsungan hidup manusia yang menyangkut permasalahan polusi dan pemanasan global yang semakin tinggi. Sementara di lain pihak, di tengah kelangkaan sumberdaya yang semakin menipis, angka pertumbuhan kebutuhan energi akan terus meningkat sebesar 10 sampai 25 persen tiap tahunnya.

Upaya pemecahan masalah ini tidak seharusnya selalu terhenti karena masalah dana segar yang dapat menutupi keseluruhan biaya investasi yang dibutuhkan. Pengalaman selama ini memperlihatkan bahwa masyarakat telah mampu untuk survive mengatasi masalah kebutuhan energi listriknya sendirian selama berpuluh puluh tahun meskipun dengan hasil yang tidak layak karena kapasitas penguasaan teknologi dan keorganisasian yang masih lemah.

Seringkali terjadi, karena keterbatasan sumber pendanaan, menjadikan perhatian kemudian tertuju kepada potensi sumberdaya alam yang notabene menjadi modal utama untuk pengembangan sumber energi terbarukan. Tabel 1 menunjukkan besaruya potensi dan kapasitas terpasang energi terbarukan di Indonesia.

Selain memiliki potensi sumberdaya alam, modal utama yang tersedia terutama di pedesaan ialah potensi sosial ekonomi, budaya dan sumberdaya manusia yang tidak

T b 11 P

i d K

b k di d

dapat disepelekan .

1. Masyarakat pedesaan memiliki keterampilan dan daya juang wirausaha yang tinggi disamping budaya gotong royong.

2. Ada bermacam diversifikasi usaha dari sektor pertanian untuk perolehan income masyarakat, hanya sedikit golongan masyarakat yang menjadi buruh pekerja.

3. Setiap rumah tangga, meskipun yang tergolong sangat miskin tetap mengeluarkan biaya untuk penerangan.

Aspek paling penting dari program pengembangan energi terbarukan di pedesaan ialah untuk tujuan pembangunan ekonomi dan peningkatan kapasitas sumberdaya masyarakat di masa depan. Wilayah pedesaan sangat membutuhkan percepatan kemampuan untuk meningkatkan peningkatan taraf ekonomi dan pembangunan sumber manusia di mas a depan. Memiliki sumber daya energi secara mandiri menjadi salah satu kunci utama.

Pengembangan Pembangkit Listrik Mikrohidro

Pembangunan pembangkit listrik tenaga mikrohidro di pedesaan kawasan Gunung Leuser adalah salah satu solusi yang terbaik dan tentunya menj adi rangkaian rencana yang harus diprogramkan dalamjangka panjang. Energi menjadi salah satu syarat utama peningkatan kualitas SDM dan ekonomi masyarakat. Sesuai dengan motto "air pembawa kesejahteraan", pengembangan ekonomi dibangun berdasarkan pada pemanfaatan potensi sumberdaya air yang dihasilkan dari hutan yang telah mereka jaga kelestariannya.

Mekanisme inisiatif ini dibangun dengan atas dasar kemitraan masyarakat dengan berbagai pihak di daerah. Nantinya, Pusat Listrik Tenaga Mikrohydro (PLTMH) di pedesaan kawasan Gunung Leuser diharapkan bukan sekedar sebuah model teknis sarana pembanglit listrik semata. Mulai dari perencanaan, pembangunan hingga pengelolaannya dirancang sebagai "community enterprise" dimana masyarakat bukan hanya menjadi konsumen akan tetapi secara bertahap sesuai dengan upaya peningkatan kapasitasnya, mereka menjadi pengelola dan

a e otensi an apasitas terpasanz energi ter aru an 1 In onesia
RE Resources Potential Installed Capacity (MW)
Hydro power 75,674MW 3,854
Mini/Micro hydro 460MW 64
Geothermal 19,658 MW 802
Biomass 49,807 MW 302
Solar power 4.8 kWh/sq.m/day (1,203 TW) 5
Wind energy 3-6 m/sec. (9,287 MW) 0.5 Sumber : ASEAN Centre for Energy (ACE), Jakarta.

26

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

Suplai Air

Perlindungan

Pengelolaan

I MIKROHIDRO I ~

- Penerangan

_ Industri Hasil Bumi Peningkatan IPM

-Infokom

sekaligus pemiliknya.

didalamnya perspektif kesetaraan gender dan penguatan perempuan.

Dengan kapasitas sekitar puluhan kilo watt, energi listrik ini tidak saja dapat dimanfaatkan untuk sarana penerangan rumah tangga di malam hari. Tahapan berikutnya, sejumlah kapasitas energi listrik tersebut dapat digunakan di siang hari menjadi modal awal penggerak industri kecil dalam upaya peningkatan nilai tambah hasil bumi masyarakat serta akses teknologi sarana informasi dankomunikasi.

D Menginisiasi usaha ekonomi produktif berbasis sumberdaya local dengan memanfaatkan pasokan listrik untuk peningkatan pendapatan

D Memperkuat kelembagaan pengelolaan listrik dan bentukan kelembagaan lain yang terkait, termasuk didalamnya adalah menerapkan mekanisme perguliran dana dalam hubungannya dengan kemandirian, usaha ekonomi produktif, mengembangkan kerangka kerja kelembagaan, dan membangun iklim yang kondusif untuk pelestarian air danhutan.

Interkoneksi kegiatan ini didasarkan kepada tujuan umum dalam mendorong pengelolaan sumberdaya alam dengan cara-cara berkelanjutan. Adapaun tujuan khusus pembangunan PLTMH ini :

D Menyediakan listrik milik masyarakat dengan memanfaatkan teknologi pembangkit listrik tenaga air yang efektif dan efisien.

D Mengembangkan sistem pendokumentasian yang sistematis, sehingga selain menjadi media yang efektif untuk proses pembelajaran dan untuk tujuan replikasi dan adopsi formal (policy dialog), juga untuk memperoleh dukungan dan akses-akses J anngan pemasaran hasil usaha ekonomi masyarakat. ***

D Mengurangi ketergantungan pada sumber energi yang berasal dari bahan bakar fosil dan kayu bakar dengan mempromosikan teknologi energi terbarukan sebagai alteruative dan substitusi emisi gas rumah kaca dari penggunaan solar dan minyak tanah.

*) Diretur Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), Bogor

D Meningkatkan taraf kehidupan sosial dan pertumbuhan ekonomi di pedesaan yang terpencil dengan penyediaan pasokan listrik, termasuk

email: is@pili.or.id

Vol. 2 NO.6 Tahun 2006---------------------------------------

27

Ketika Pak Menteri

Menumbang Sawit Terlarang dan Menanam Asa ....

Tanggal24 November 2006 Menteri Kehutanan RI, MS. Kaban, melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Utara. Salah satu agenda penting dari kegiatan ini adalah melakukan pemusnahan areal tanaman pohon kelapa sawit di dalam kawasan TN. Gunung Leuser, serta 'menghijaukan' kembali lokasi itu, secara simbolik. Pada acara itu Menteri Kehutanan didampingi oleh Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA), Dirjen Bina Produksi Kehutanan (BPK), Gubemur Sumatera Utara, Kapolda Sumut, Kapolres Langkat, Bupati Langkat, Kepala Dinas Kehutanan Sumut, Kepala Dinas Kehutanan Langkat, dan tentu saja Kepala Balai TN. Gunung Leuser. -Bsb-

Keterangan foto:

1. Masyarakat sekitar lokasi penumbangan sawit menunggu dengan antusias kedatangan Pak Menteri.

2. Yang ditunggu-tunggu akhirnya datangjuga. Selamat datang Pak Menteri ...

3. "Jangan coba-coba melakukan tindakan pelanggaran hukum dengan perambah areal hutan diluar HPH", inilah salah satu penegasan Pak Menteri.

4. Didampingi Dirjen PHKA (Bapak Ir. Arman Mallolongan, MM; berdiri paling kiri), Kapolda Sumut (Irjen Pol Bambang Hendarso), dan Gubemur Sumut (RudolfPardede, berdiri paling kanan), Pak Menteri dibantu oleh dua anggota Brigade Satuan Polisi Hutan Reaksi Cepat (SPORe) Macan Tutul melakukan pemancangan papan kawasan TN Gunung Leuser.

5. Sang Eskavator dengan garangnya menghancurkan sawit-sawit terlarang itu ...

6. Secara simbolik,Gubemur Sumut ikut serta melakukan penanaman Sungkai di areal bekas sawit yang telah dirobohkan.

7. Bapak Pak Menteri bersiap meninggalkan lokasi acara.

8. Daa daaaa Pak Menteri .... Semoga Sungkai yang Bapak tanam dapat tumbuh subur, sesubur cita-cita kita melestarikan hutan Indonesia ...

All pic by: Wiratno.

28

--------------------------------------- Vol. 2 No 6 Tahun 2006

Musyawaram lLlesa

Rangkaian kegiatan Musyawarah Desa ini dilaksanakan pada Bulan September - Oktober 2006. Kegiatan yang diselenggarakan Balai TNGL dan didukung penuh oleh UNESCO tersebut dilaksanakan di empat titik lokasi dengan

, pokok permasalah yang beragam di tiap titik. Keempat lokasi musyawarah desa tersebut adalah: Desa Batu Jongjong, Desa Kuta Gajah, Desa Sei Musam, dan Desa Gurah.

Secara umum, tujuan dari musyawarah desa tersebut antara lain adalah untuk membangun visi dan memperkuat kerjasama Balai TNGL dengan masyarakat lokal, menampung aspirasi dan pandangan masyarakat mengenai keberadaan kawasan TNGL terutama potensi wisata alam dan pemanfaatannya

• merumuskan pola interaksi masyarakat desa dengan kawasan

• memperkuat organisasi pengelolaan di tingkat masyarakat lokal. -Bsb-

Salah satu mata agenda Operasi Rutan Lestari II di Langkat adalah pemusnahan tanaman sawit yang berada di dalam kawasan TN. Gunung Leuser. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal15 September 2006 ini dipimpin langsung oleh Kapolres Langkat, AKBP Anang Syarif Hidayat dan dilaksanakan oleh Polres Langkat, Balai TNGL, Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORe) Brigade Macan Tutul serta yayasan Leuser Interuasional.

Pemusnahan sawit selain menggunakan chainsaw juga melibatkan tenaga gajah-gajah dariAras Napal- YLI. -Bsb-

All pic by: Ujang WB

29

Memberikan nama untuk anak itu susah-susah gampang, salah-salah nama bisa jadi beban buat si Anak. Maka hatihatilah dalam memberikan nama untuk anak tersayang karena nama akan disandang seumur hidupnya.

1. Nama itu mengandung do'a.

Nama anak itu cermin harapan orang tua. Nama itu mengandung do'a. Tetapi do'anya yang singkat saja, kalau terlalu panjang nanti dikira Tahlil atau Wirid. Kalau dipanggil bukannya nengok, malah bilang "Amiinn .. "

2. Nama jangan nyusahin orang kelurahan.

V sahakan nama anak mudah dibaca dan mudah ditulis. Meskipun tampaknya bagus, kalau bisa j angan pakai huruf mati yang didobel-dobel (mis. Lloyd, Nikky, Thasya dll), Biasanya sarna petugas Kelurahan akan terjadi salah tulis dalam pembuatan Akta Kelahiran, Kartu Keluarga, KTP dll, Nah, nggak enaknya lagi kalo kita minta revisi biasanya kena biaya dan prosesnya lama lagi.

3. Nama jangan cuma satu kata

Minimal ada first name dan family name gitu loh .... Ini penting terutama kalo pas lagi ngurus paspor atau visa. Bisa-bisa nggakjadi berangkat ke Amrik hanya gara-gara namanya cuma Paijo atau Pamuji atau Paryono khan kesiaan ...

4. Nama jangan terlalu panjang

Nama yang panjang bererot bisa bikin susah si pemilik nama. Disamping susah ngingetnya, juga ngerepotin waktu ngisi formulir pendaftaran masuk Perguruan Tinggi Negeri (dulu VMPTN). Itu lho .. yang ngitemin buletan-buletan pakai pensil 2B. Capeek khaan .. ??? Nama panjang seperti Siti Hartati Riwayati Mulianingsih Adiningrum Mekar Berseri Sepanjang Hari adalah sangat-sangat not recommended.

5. Nama anak bersifat internasional

Anak kita hidup dimasa depan, di era globalisasi dimana hubungan dengan dunia intemasional amat sangat intens. Jadi jangan mempersulit anak dengan nama-nama yang sulit di-eja. Nama Saklitinov misalnya orang Jepang nyebutnya Sakuritino, orang Sunda bilang Saktinop, orang Amrik bilang Sechlaytinove ... Syusah khaaannn? Padahal maksudnya Sabtu Kliwon Tiga November ...

6. Ketahuilah arti nama anak

Ketahuilah arti nama anak. Jangan memberikan nama hanya karena enak diucapkan atau bagus ditulisnya. Nama Jalmowono memang sepintas nama yang gagah, enak diucapkan dan bagus kalo ditulis tetapi ketahuilah bahwa Jalmowono itu artinya Orang Vtan.

7. Jangan pakai nama artis

Nama artis memang bagus-bagus, cuma masalahnya kalau artis itu kelakuannya baik... lha kalau jadi bahan go sip melulu khanjadi bebanjuga buat si anak. Lagian pakai nama artis itu tandanya anda gak kreatif dalam bikin nama.

8. Abjad hurufpertama nama anak

Huruf pertama "A" pada nama anak ada enak gak enaknya. Gak enaknya kalau pas ada ujianltestlwawancara sering dipanggil duluan, gak sempet nanya-nanya ama temannya. Tapi kadang-kadang juga pas giliran dapat pembagian apa gitu, dapetnya juga sering duluan. Sebaiknya ambil huruf pertama itu antara D sampai K cukupanlah ... Huruf depan Z? Wah, biasanya adanya clibawah ...

di'comot' dari sebuah email ke sobisz18@yahoo.com medio September 2006

,f:_ Vol. 2 No 6 Tahun 2006

30

,

,

,

,

Kata mereka, tanah dan kebunku telah dihanyutkan air konflik Kata mereka, rumahku telah dibakar api konflik

Kata mereka, orang tuaku, suamiku, istriku, anakku, tetanggaku telah diberondong peluru konflik

Kata mereka, bangsaku adalah bangsa yang beradab Kata mereka, bangsaku adalah bangsa yang damai

Kata mereka, bangsaku adalah bangsa yang hidup rukun

Kata mereka, negaraku adalah negara yang kava r aya Kata mereka, negaraku adalah negara yang merdeka Kata mereka, negaraku adalah negara yang demokratis

Kata mereka, kekayaan alam ini digunakan untuk kesejahter aan rakyat Kata mereka, hutan ini digunakan untuk kesjahter aan rakyat

Kata mereka, tanah ini digunakan untuk kemakmuran rakyat

Kata mereka, hutan ini harus dilestarikan Kata mereka, rumah ini harus dirobohkan Kata mereka, kami harus per gi

Maafkan kami yang telah membabat ilalang untuk tempat gubug kami Maafkan kami yang telah menebang pohon untuk tiang gubug kami Maafkan kami yang telah datang tanpa diundang

Kata hatiku, kami bukan binatang, tapi kami manusia

Kata hatiku, kami bukan orang yang rakus, tapi kami hanya anak bangsa yang sedang kelaparan

Kata hatiku, kami bukan sekelompok perampok, tapi kami hanya berusaha melanjutkan hidup kami

Gunung Leuser.... Kami mohon kearifan....

Diilhami oleh temen-temen pengungsi Barak Induk Besitang R Hendratmoko

Related Interests