You are on page 1of 32

ISSN 1858 - 4268

Vol. 3 No.7 Tahun 2007

b u l e t i n
Jejak Leuser Menapak Alam Konservasi Bersama TNGL

Jangan ganggu leuserku...!


N A S
N I
A

O
M

N
TA

A
L
R
G

E
U

N S
U U
N G L E
sekapur sirih
Memang, banyak jalan berliku nan terjal yang harus dihadapi para pendekar lingkungan di negara yang kita cinta ini.
Maksud hati ingin menyelamatkan nafas orang sedunia dengan berjuang supaya lingkungan (baca: hutan) menjadi semakin
baik, namun terkadang masih banyak jegalan-jegalan dari orang-orang berpikiran naif... Pun di penegakan hukum, para
perusak hutan yang jelas-jelas sudah diatur oleh banyak perundangan dan segepok aturan pemerintah, masih saja bisa
berlenggang bebas. Kalaupun dapat hukuman, masih sering terjadi di negeri Indonesia yang bercita-cita menjadi negara
yang adil dan beradab ini, mereka diibaratkan hanya mendapat cubitan kecil yang hanya berbekas sesaat.
Apakah itu terjadi pada usaha penegakan hukum di Tanah Leuser? Kang Suer akan membahas bersama di Laput JL edisi ini.

Selain itu, kajian awal tentang banjir besar yang secara tidak terduga menyerang Langkat dan beberapa kabupaten di
Nanggroe Aceh Darussalam di akhir tahun lalu menghiasi rubrik Dinamika di edisi ini. Apakah benar bahwa banjir di
Langkat berkait langsung dengan rusaknya ribuan hektar kawasan TNGL?
Masih banyak rubrik-rubrik tetap yang akan Pembaca temukan di edisi ini.

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada Kang Suer, Noni, Iskandar, Rina, Pak Wir, Bisro, Ujang dan Bobby yang telah
memberikan kontribusi tulisan pada JL edisi 7 ini. Ucapan terima kasih juga tidak luput kami sampaikan kepada UNESCO,
Departemen Lingkungan Hidup Spanyol serta Badan Kerjasama Internasional Spanyol (AECI) atas dukungannya dalam
penerbitan JL edisi ini.

Selamat membaca....

b u l e t i n

Jejak Leuser
Pelindung
Kepala Balai TNGL

Pemimpin Redaksi
Bisro Sya'bani

Dewan Redaksi
Ratna Hendratmoko
Rina Purwaningsih
Ujang Wisnu Barata
Bisro Sya'bani

Distribusi
Isra Imran
Dumohar Tampubolon Cover depan : Menteri Kehutanan RI dan Gubernur
Sumut di Besitang
(Foto: Ujang WB)
Administrasi
Cover belakang : Damar (Shorea sp.) di Track 1
Immam Prabudi BukitLawang
(Foto: Bisro Sya’bani)

Umum Design ‘n Layout : Bisro Sya’bani


Rebowo Wasgito

Catatan Redaksi
Diterbitkan oleh: Redaksi Buletin “Jejak Leuser” menerima sumbangan
Balai Taman Nasional Gunung Leuser tulisan yang berkaitan dengan aspek konservasi.
Jl. Blangkejeren 37 Tanah Merah Kutacane Aceh Tenggara Tulisan diketik dengan spasi tunggal, maksimal 5
halamam dan minimal 3 halaman A4 dengan font Times
PO BOX 16 Kode Pos 24601 New Roman 11. Naskah dikirim ke email :
Telp. (0629) 21358 Fax. (0629) 21016 jejakleuser@yahoo.co.id dengan disertai identitas
diri (termasuk foto penulis), serta foto-foto
Jl. Suka Cita 12 Kel. Suka Maju dan/atau gambar-gambar yang dapat mendukung tema
tulisan. Naskah yang dikirimkan menjadi hak penuh
Medan Johor, Medan, Sumatera Utara redaksi Buletin “Jejak Leuser” untuk dilakukan
Telp/ Fax. (061) 7879378 proses editing seperlunya.

Email: jejakleuser@yahoo.co.id
Menu Hari Ini

6
Liputan Utama

Penegakan Hukum di TNGL


(Bukan) Basa Basi
K e h a t i

13 PACET
PACET
sang penghisap darah dari hutan tropis

sang penghisap darah dari hutan tropis

15
K e h a t i

pasak bumi ?
Jantan...!

18 manusia, udara
Khasanah

MANUSIA, dan hutan


UDARA DAN HUTAN

21 Dinamika

Banjir Langkat,
dalam sebuah kajian awal....

26
W a c a n a

Hutan untuk Masyarakat,


Pemanfaatan Lestasi Hutan Konservasi

4 Dari Kepala Balai

29 Seputar Kita

30 Intermezzo

31 Wanasastra
b u l e t i n

Dari Kepala Balai Jejak Leuser

SHOCK
SHOCK THERAPY
THERAPY
P engelolaan taman nasional di Indonesia
menghadapi berbagai persoalan yang
mendasar dan klasik. Namun, sampai dengan
saat ini belum ditemukan solusi yang tepat. TN.
Gunung Leuser merupakan
orang mencoba untuk merambah, baik yang akhirnya
bertempat tinggal ataupun yang memakai beberapa
perantara untuk dapat “menguasai” lahan tersebut
dengan menanam berbagai komoditi. Dalam kasusi
TNGL di Besitang, sebuah
contoh rumitnya persoalan kecamatan di Kabupaten Langkat,
pengelolaan kawasan. Di satu sisi kondisi open access ini telah
manajemen yang lemah di masa terjadi beberapa tahun yang lalu,
lalu mengakibatkan sebagian sehingga pendudukan,
kawasan TNGL yang berbatasan perambahan dan spekulasi lahan
langsung dengan lahan menjadi suatu keniscayaan. Pada
masyarakat, dianggap sebagai awal tahun 2000, terjadi
”no man land” atau lahan tidur gelombang pengungsi dari Aceh
dan lahan yang terjebak ke dalam Timur, yang semula hanya 6
klasifikasi ”open access”. kepala keluarga. Ketika tidak
Sumberdaya lahan yang tidak dilakukan penyelesaian secara
dimiliki oleh siapapun (karena di tuntas dan bahkan terjadi proses
masa lalu Polhut atau ”pemilik” ”pembiaran” sekian tahun, maka
kawasan tidak pernah ada di jumlah pengungsi telah mencapai
tempat), tetapi sekaligus juga 557 kepala keluarga. Hal yang
”milik setiap orang” (siapa kuat ia sama juga terjadi pada perambah
dapat). Kondisi open access ini yang menguasai ribuan hektar
juga terjadi di logged-over area lahan TNGL dan dijadikan
(LOA), bekas tebangan HPH. perkebunan sawit.

Apabila di suatu taman nasional, Ketika proses penegakan hukum


terdapat areal dalam kategori open access, maka yang dilakukan terhadap 38 perambah di Resort Sekoci,
seringkali terjadi adalah spekulasi. Satu atau beberapa pada akhir 2006 dan dilanjutkan dengan

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


4
b u l e t i n

Dari Kepala Balai Jejak Leuser

penumbangan sawit ilegal pada Januari 2007, Balai manfaat atau lapangan pekerjaan dengan melakukan
TNGL beserta Polres Langkat dituduh telah reboisasi kawasan dan atau melakukan
melakukan pelanggaran HAM berat oleh LBH penjagaan/patroli bersama. Kedua, pihak Balai
Medan. TNGL akan sangat terbantu dalam mengemban
tugasnya menyelamatkan sisa-sisa hutan hujan tropis
Saat ini telah divonis 13 perambah dan 1 dalang terpenting di Prop.Sumatera Utara tersebut. Upaya
perambah oleh PN Stabat. Masih dalam proses win-win solution inilah yang akan ditempuh dalam
pengadilan 2 mantan anggota dewan, dengan kasus mensikapi perkembangan pengelolaan TNGL di
yang sama. Kerusakan yang diakibatkan oleh pola- wilayah Propinsi Sumatera Utara.
pola perambahan terorganisir seperti ini sangat
massif. Tidak kurang dari 10.000 Ha kawasan hutan Oleh karena itu, membangun kelembagaan kerjasama
hujan tropis dataran rendah di Resort Sekoci, yang kuat merupakan tantangan ke depan. TNGL
Besitang, telah hancur. Pembakaran yang berulang akan dijaga oleh masyarakatnya sendiri sebagai salah
untuk penanaman sawit telah menghentikan proses satu pilar konservasi taman nasional ke depan. Dan
suksesi alami di wilayah ini. Berdasarkan penelitian, membangun suatu kelembagaan lokal, bukanlah
dengan mengamati plot permanen di Besitang, tugas yang mudah, namun juga bukanlah hal yang
diperlukan waktu lebih dari 100 tahun untuk tidak mungkin dilakukan. Francis Fukuyama dalam
mengembalikan hutan pada kondisi awalnya. bukunya berjudul ”Memperkuat Negara” (2005),
Kerusakan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) menyatakan bahwa: ” Suatu negara yang kuat
Besitang dan Sei Lepan sendiri saat ini telah mencapai ditandai dengan kemampuannya menjamin bahwa
37%. Selain faktor curah hujan, hancurnya DAS hukum dan kebijakan yang dilahirkannya ditaati oleh
inilah yang menjadi salah satu faktor utama masyarakat, tanpa harus menebarkan ancaman,
pendorong banjir bandang di Kabupaten Langkat dan paksaan, dan kecemasan berlebihan. Elemen dasar
sekitarnya pada 21-22 Desember 2006 tersebut. yang ada pada negara yang kuat adalah otoritas yang
efektif dan terlembaga”.
Penegakan hukum yang sedang dilakukan oleh Balai
TNGL beserta jajaran penegak hukum lainnya adalah Oleh konteks pengelolaan TNGL, maka persoalan
sebagai “shock therapy” bagi siapapun yang kelembagaan menjadi salah satu isu sentral yang
mencoba untuk berspekulasi melakukan perambahan harus dilakukan penguatan. Kolaborasi pengelolaan
dan aktivitas haram di dalam kawasan TN Gunung merupakan salah satu pilihan di mana diharapkan
Leuser. Sejak dilakukannya penegakan hukum dan kebijakan konservasi di tingkat global dan nasional
ujicoba pemusnahan sawit ilegal, telah berdampak dapat diterjemahkan menjadi paket-paket
pada menurunnya upaya spekulasi pada cukong- kelembagaan pengelolaan yang tetap
cukong lahan dan atau kelompok-kelompok yang mempertimbangkan keseimbangan antara aspek
tidak bertanggungjawab untuk memperluas (mikro) ekonomi-sosial/budaya-lingkungan. Tiga
perambahannya. Kelompok-kelompok terorganisir aspek pembangunan yang terlanjutkan ini menjadi
ini bukanlah orang miskin atau tak berlahan. Mereka pilar dari berbagai inisiatif kelembagaan pengelolaan
memiliki lahan di tempat asalnya. Sementara, TNGL ke depan. Dalam beberapa tahun, diharapkan
beberapa keluarga yang mencoba berspekulasi telah terbentuk kelembagaan kolaborasi desa-desa mitra
dimanfaatkan oleh kelompok terorganisir tersebut TNGL atau TNGL mitra desa, di sepanjang batas
untuk merambah masuk ke dalam wilayah taman taman nasional.
nasional.
Ketika hal ini dapat terwujud, penegakan hukum tidak
Ke depan, pola pengelolaan TNGL akan melibatkan lagi berwajah garang dan menimbulkan kecemasan.
berbagai komponen masyarakat setempat. Diakui Ia akan diposisikan menjadi sekedar ”shock therapy”
bahwa penegakan hukum saja tidaklah cukup untuk saja, dan oleh karenanya hanya ditujukan kepada
menghentikan laju kerusakan hutan tersebut. Oleh master mind-nya atau aktor intelektualnya.***
karena itu, berbagai pola kolaborasi dan kerjasama
dengan masyarakat akan terus dilakukan secara
intensif. Pertama, masyarakat akan mendapatkan inung_w2000@yahoo.com

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


5
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser

Penegakan Hukum di TNGL


(Bukan) Basa Basi
Oleh:
Suer Suryadi *)

T aman Nasional Gunung Leuser (TNGL)


dideklarasikan pada tahun 1980 oleh Menteri
Pertanian yang ketika itu masih
membawahi bidang Kehutanan. Setahun
kemudian, TNGL ditetapkan UNESCO
daerah aliran sungai (DAS), TNGL telah menyuplai air
bagi 4 juta penduduk di sekitarnya. Bahkan nilai ekonomi
TNGL dapat mencapai US$ 9,1 miliar
jika dikelola dan dimanfaatkan secara
lestari.
sebagai Cagar Biosfer atas usulan dari
Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1984, Sebaliknya, rusaknya hutan-hutan dan
TNGL juga ditetapkan sebagai salah satu DAS di TNGL akan menyengsarakan
dari sebelas Asean Heritage Parks. Areal masyarakat dalam arti luas. Banjir yang
TNGL diperluas menjadi 1.094.692 belum lama ini terjadi di Besitang,
hektar oleh Menteri Kehutanan pada Langkat tentu masih melekat dalam
tahun 1997. Akhirnya pada tahun 2004, ingatan. Kerugian harta dan kehilangan
TNGL menjadi bagian Warisan Dunia jiwa tidak hanya dirasakan oleh pihak-
sebagai salah satu cluster dari Tropical pihak yang merusak kawasan TNGL,
Rainforest Heritage of Sumatra. tetapi juga oleh masyarakat tak berdosa.
Pemerintah pun harus mengeluarkan dana
Dengan sederet status regional dan penanggulangan bencana yang tidak
internasional itu, TNGL memang makin kecil. Apakah kita masih harus berdiam
dikenal luas dalam komunitas diri dan berbasa-basi?
internasional. Namun ancaman terhadap
kawasan juga semakin nyata. Mulai dari perambahan Penegakan Hukum Demi Keadilan
kawasan oleh perorangan, kelompok, dan perusahaan
hingga penebangan liar dengan berbagai skala. Khusus Penegakan Hukum menjadi istilah yang segera mencuat
untuk kawasan TNGL di Besitang saja, kawasan yang ketika ancaman di kawasan hutan konservasi tidak kunjung
rusak diperkirakan telah mencapai + 20.000 hektar. usai. Peristiwa dan perbuatan hukum yang kontra
produktif dengan upaya konservasi terus terjadi tetapi
Hutan dan keanekaragaman hayati di TNGL merupakan sanksi hukumnya nyaris tak terdengar. Lemahnya
laboratorium alam yang melahirkan ratusan sarjana, penegakan hukum selalu menjadi penjelasan atas
master, dan doktor dari berbagai negara. Ekosistem yang kerusakan yang melanda kawasan konservasi, termasuk
beragam menjadikan TNGL sebagai harapan terakhir bagi TNGL.
kelangsungan hidup satwa langka khas Sumatera, seperti
orangutan, gajah, badak, dan harimau. Sebagai hulu dari12 Di manakah letak kelemahan tersebut? Pada peraturan
Vol. 3 No 7 Tahun 2007
6
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser


perundang-undangannya, atau pada pelaksananya?
Kemauan politik (political will) tidaklah cukup dalam Sesungguhnya, untuk siapakah penegak hukum bekerja?
konteks penegakan hukum tetapi harus diwujudkan dalam Jika mereka bekerja sebatas menunaikan kewajiban,
tindakan nyata (political action). Ahli hukum dari sekedar menjalankan perintah pimpinan, atau menjalankan
Belanda, Taverne mengatakan, " Geef me goede Rechters, kewenangan, maka penegakan hukum akan berubah
goede Rechters Commissarissen, goede Officieren Van menjadi komoditas. Kewajiban, perintah, dan kewenangan
Justitie en goede Politie Ambtenaren, en ik zal met een yang ternoda oleh kepentingan pribadi menghasilkan
slecht wetboek van strafprocesrecht goed bereiken konflik kepentingan yang bermuara pada penegakan
(Berikan saya hakim yang baik, hakim pengawas yang hukum yang pilih kasih. Klausul di dalam undang-undang
baik, jaksa yang baik, dan polisi yang baik, maka pun menjadi multitafsir. Penegakan hukum demi keadilan
penegakan hukum akan berjalan walaupun dengan sebagaimana tertulis di awal amar putusan, DEMI
hukum pidana yang lemah). K E A D I L A N YA N G B E R D A S A R K A N
KETUHANAN YANG MAHA ESA, menjadi
Hukum yang berkembang di bidang konservasi barang langka.
dan kehutanan ditandai dengan terbitnya UU
No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Penegakan hukum demi keadilan tentu
Sumberdaya Alam Hayati dan juga mencakup adil bagi terdakwa, adil
Ekosistemnya. Selanjutnya diperkuat bagi penegak hukum, dan adil bagi
lagi dengan UU No. 41 tahun 1999 masyarakat yang terkena dampak
tentang Kehutanan. Di dalam kedua UU akibat perbuatan terdakwa. Sesuatu
tersebut, telah memuat larangan yang yang adil bagi penegak hukum,
disertai ancaman pidananya (Lihat belum tentu adil bagi terdakwa dan
Lampiran). Sejumlah peraturan sebaliknya. Kata adil menjadi
perundang-undangan yang terkait sesuatu yang abstrak namun dapat
dengan pemidanaan di bidang dirasakan oleh hati nurani karena
kehutanan dan konservasi juga terus hati nurani tak pernah bohong.
bertambah, misalnya UU No. 23 tahun
1997 tentang Pengelolaan Lingkungah Dengan kata lain, penegakan hukum
Hidup dan UU No. 15 tahun 2002 demi keadilan tunduk pada
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang moralitas, hati nurani, dan norma-
sebagaimana telah dirubah oleh UU No. norma yang berkembang di
25 tahun 2003. masyarakat. Bahkan kepatuhan pada
hukum itu harus lebih dari sekedar
Namun keberadaan undang-undang yang tunduk pada kewajiban, perintah
spesifik mengatur tentang konservasi dan pimpinan, dan kewenangan yang didapat
kehutanan, tidak serta merta penegakan dari undang-undang yang berlaku. Tanpa itu
hukumnya menjadi hal yang mudah. Penegakan semua, akan tercipta penegakan hukum rimba.
hukum dalam bentuk preventif dan represif harus Siapa yang kuat (financial dan kekuasaan),
dilakukan secara bersamaan. Preventif hanya akan dialah yang menang.
menjadi “gertak sambal” jika tidak diiringin oleh tindakan
represif yang terukur. Preventif dimulai dari berbagai Upaya-upaya Preventif
upaya penyadaran kepada masyarakat hingga pola
pembangunan ekonomi dan sumberdaya manusia yang Istilah mencegah lebih baik dari mengobati juga cocok
mengurangi hasrat manusia untuk berbuat kejahatan. diterapkan dalam penegakan hukum. Beberapa upaya
Tahap represif bermula dari peringatan, denda pencegahan untuk TNGL dapat dilakukan dengan berbagai
administratif hingga pemidanaan sesuai criminal justice cara, antara lain:
system yang berlaku.
1. Penyebarluasan informasi mengenai batas kawasan
Pihak yang masuk dalam kategori penegak hukum dalam TNGL, keanekaragaman hayati, status kawasan, nilai
konteks konservasi TNGL adalah petugas TNGL, termasuk pentingnya, dan peraturan pendukungnya kepada
Polisi Kehutanan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) pemerintah daerah (Propinsi hingga Kelurahan/Desa),
sebagai lapis pertama. Lapis berikutnya adalah Polisi, masyarakat (kedatukan, pimpinan informal),
Jaksa, dan Hakim. Aparat hukum tersebut, secara sendiri- perusahaan perkebunan, sekolah dan pesantren, dan
sendiri atau bersama-sama tidak akan mampu melakukan lembaga-lembaga non pemerintah. Penyebarluasan
upaya preventif dan represif tanpa dukungan masyarakat informasi itu dapat dilakukan oleh siapapun,
dan unsur lembaga pemerintahan lainnya. Lebih jauh lagi, sepanjang informasi yang diberikan sudah diverifikasi
akan kita temukan adanya berbagai faktor teknis dan non- kebenarannya oleh pengelola TNGL.
teknis yang mempengaruhi kinerja penegakan hukum. 2. Pemasangan pal batas di sepanjang perbatasan TNGL
Misalnya sistem deteksi dini yang memerlukan partisipasi dan papan-papan informasi mengenai status kawasan
masyarakat, pendanaan untuk penyelidikan, penyidikan, TNGL dan Warisan Dunia di sekitar TNGL dan kota-
penahanan, dan penyitaan/penyimpanan barang bukti. kota di sekitarnya, serta papan penunjuk arah ke
Vol. 3 No. 7 Tahun 2007
7
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser


daerah tujuan wisata di TNGL. penegak hukum, kemudian diserahkan kepada
3. Mengedepankan peran serta masyarakat sekitar TNGL kesatuannya untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut dari
untuk turut membantu pengelolaan TNGL, dalam pimpinannya.
bentuk perlindungan, pengamanan, dan pemanfaatan
lestari pada zona-zona pemanfaatan. Untuk Sanksi administratif diberikan ketika kejahatan
terwujudnya pendekatan ini, diperlukan staf TNGL konservasi/kehutanan dilakukan oleh pihak-pihak yang
pada setiap kantor resort menunjukkan eksistensinya menyalahgunakan ijin pemanfaatan hutan. Sanksi tersebut
di lapangan dan berbaur dengan masyarakat. dapat berupa denda hingga pencabutan ijin. Sanksi
4. Paradigma pembangunan daerah di sekitar TNGL administratif tersebut tidak menutup kemungkinan
tetap memperhatikan eksistensi TNGL sebagai situs dimintainya ganti rugi kepada penanggungjawab yang
warisan dunia, dan menunjang pemanfaatan lestari telah membuat kerusakan kawasan (pasal 80 ayat (1) UU
kawasan di sekitar TNGL. Peningkatan manfaat No. 41 tahun 1999). Sedangkan sanksi pidana diberikan
kawasan bagi masyarakat secara terkendali, kepada siapapun yang terbukti secara sah dan meyakinkan
merupakan posisi tawar bagi TNGL untuk mempadu melakukan kejahataan konservasi dan kehutanan
serasikan antara konservasi dan pengembangan berdasarkan undang-undang yang berlaku. Sanksi pidana
ekonomi masyarakat. tersebut dapat dilihat di dalam tabel.

Upaya-upaya preventif itu tidak terbatas pada apa yang Dari sisi proses, penegakan hukum mencakup deteksi dan
disampaikan di atas, namun dapat dikembangkan menjadi pelaporan, penyelidikan & penyidikan, penuntutan,
berbagai kegiatan yang berdampak positif bagi masyarakat putusan pengadilan, dan eksekusi putusan. Tata cara untuk
dan pengelola TNGL. Gap atau perbedaan kepentingan proses tersebut sebagian besar diatur di dalam Undang-
yang selama ini terjadi dapat dipersempit melalui upaya Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
preventif sehingga kecenderungan masyarakat sekitar (KUHAP, Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana).
untuk merusak kawasan dapat diminimalisir. Bahkan,
masyarakat sekitar dapat menjadi benteng pertahanan Kinerja penegakan hukum sangat bergantung pada tindak
ketika ada pihak luar yang ingin menggangu kawasan. lanjut dari satu proses ke proses berikutnya dalam
Berbagai komponen masyarakat dapat menjadi agen rangkaian penegakan hukum, nilai hukuman berupa denda
perubahan untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini dan lamanya hukuman pidana. Keberhasilan dalam
terhadap kejahatan di kawasan TNGL dan sekitarnya. mendeteksi tindak pidana kejahatan, yang tidak diiringi
oleh penyidikan dan penuntutan yang profesional, akan
Upaya-upaya Represif menurunkan kinerja penegakan hukum secara
keseluruhan. Di sisi lain, menimbulkan ketidakpercayaan
Untuk membangun dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum (Lihat BOX INFO)
masyarakat terhadap aparat penegak hukum, maka harus
ada ketegasan di kalangan penegak hukum untuk Upaya represif berawal dari deteksi dini yang dilakukan
membersihkan dirinya terlebih dahulu. Kemungkinan oleh masyarakat, petugas lapangan di tingkat resort TNGL,
adanya keterlibatan oknum aparat penegak hukum (sejak dan aparat pemda atau penegak hukum lainnya yang berada
dari perencanaan, pelaksanaan, hingga paska kejahatan) di sekitar TNGL (azas locus delicti). Pada dasarnya deteksi
harus ditiadakan. Pihak-pihak yang melaporkan adanya dan pelaporan dapat dilakukan oleh siapapun, sebagaimana
keterlibatan oknum harus dilindungi, sementara oknumnya diatur di dalam pasal 1 angka 24, angka 25, dan pasal 108
ditindak tegas (secara administratif atau pidana) jika KUHAP. Isi pasal 108 selengkapnya adalah:
keterlibatannya terbukti. Sulit mengharapkan adanya
penegakan hukum demi keadilan, ketika masyarakat (1) Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan
menilai ada pilih kasih dalam penerapan hukum. dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak
pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan
Meskipun di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun
pasal 10 terdapat 8 macam sanksi pidana. Dalam tertulis.
kenyataannya, kita lebih sering mendengar tiga macam (2) Setiap orang yang mengetahui permufakatan jahat
sanksi sebagai bentuk tindakan represif, yaitu surat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketenteraman dan
peringatan (pasal 131, 134 PP No. 6 tahun 2007), sanksi keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak
administratif (Pasal 80 UU No. 41 tahun 1999), dan sanksi milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut
pidana penjara/denda (Pasal 78 UU No. 41 tahun 1999). kepada penyelidik atau penyidik.
Surat peringatan sebagaimana diatur di dalam PP No. 6 (3) Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan
tahun 2007 merupakan tahapan awal sebelum diberikan tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa
sanksi administratif. Peringatan secara lisan/tertulis juga yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan
kerapkali diterapkan kepada pelaku yang dampak hal itu kepada penyelidik atau penyidik.
kejahatannya dianggap tidak signifikan. Pelaku tersebut (4) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara tertulis
selanjutnya menandatangani pernyataan tidak akan harus ditanda-tangani oleh pelapor atau pengadu.
mengulangi perbuatannya. Bentuk peringatan yang sama (5) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara lisan
diberikan ketika kejahatan itu melibatkan oknum aparat harus dicatat oleh penyidik dan ditandatangani oleh pelapor
Vol. 3 No 7 Tahun 2007
8
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser


atau pengadu dan penyidik. Dalam praktik penegakan hukum di TNGL, kehadiran dan
(6) Setelah menerima laporan atau pengaduan, penyelidik peran PPNS nyaris tidak terdengar. Penyidik PNS yang
atau penyidik harus memberikan surat tanda penerimaan dapat melakukan tugas penyidikan tidak selalu berasal dari
laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan. TNGL, tapi juga memanfaatkan PPNS dari Balai KSDA,
Dinas Kehutanan atau Unit Penyidikan Satuan Polhut
Jelas bahwa masyarakat memiliki hak yang dilindungi Reaksi Cepat (SPORC). Mereka ada tapi tak diberdayakan,
undang-undang untuk melaporkan kejahatan yang sedang mereka berwenang tapi tidak berdaya. Di mana letak
dan akan dilakukan di sekitar TNGL. Hal itu menjadi wajib masalahnya? Pendanaan? Sumberdaya manusia? Teknis
bagi petugas TNGL dan pegawai negeri lainnya. Per penyidikan? Atau kemauan?
definisi, hak untuk melapor itu dapat digunakan atau tidak
digunakan oleh masyarakat. Agar masyarakat dapat secara Penuntutan merupakan tanggung jawab dan kewenangan
aktif menggunakan haknya untuk membantu pengamanan kejaksaan negeri yang akan menunjuk jaksa penuntut
di TNGL, diperlukan rangkaian pendekatan dan upaya umum (JPU) untuk suatu perkara. Setelah JPU menyatakan
preventif sebagaimana digambarkan pada bagian P21 (berkas acara pemeriksaan/penyidikan) diterima,
sebelumnya. maka JPU yang akan memasukkan berkas ke pengadilan
negeri setempat. Masalahnya kadang tidak semudah itu
Penyelidikan dan penyidikan umumnya dilakukan oleh bagi JPU untuk mem-P21-kan perkara. Ada kalanya berkas
Penyidik Polisi (pasal 4 dan pasal 6 KUHAP). Namun dikembalikan kepada penyidik disertai saran perbaikan
berdasarkan pasal 6 KUHAP, pasal 39 UU No. 5 tahun (P18 dan P19). Sangat dimungkinkan terjadi
1990, dan pasal 77 UU No. 41 tahun 1999, dimungkinkan ketidaksepahaman antara penyidik dan JPU dalam
adanya Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang penggunaan pasal yang akan didakwakan/dituntut. Ada
Konservasi dan Kehutanan. Bahkan Departemen kalanya isi dakwaan sedikit ”berbeda” dengan berkas acara
Kehutanan memiliki Direktorat Penyidikan dan penyidikan. Dari proses penyidikan hingga ke penuntutan
Perlindungan Hutan yang tentunya mengawal proses atau terdapat ruang negosiasi yang kadang terlalu jelas, di pihak
melakukan sendiri penyidikan perkara pidana konservasi mana JPU berdiri.
dan kehutanan. Kewenangan PPNS tidak jauh berbeda
dengan Penyidik Polri, namun dalam pelaksanaan tugasnya Sebagai contoh, kasus terdakwa DS (mantan anggota
tetap berada di bawah koordinasi dan pengawasan Penyidik DPRD Langkat, dalam kasus perambahan TNGL - red).
Polri dan mengikuti KUHAP. Dakwaan primer dan subsider menggunakan nama DS,
tetapi dakwaan lebih subsidernya mencantumkan nama
A. Yasin
terdakwa NS (kasus
lain yang belum
disidangkan). Secara
subtansi, terdapat
perbedaan keterangan
antara hasil berita
acara penyidikan
dengan surat dakwaan.
Hal itu jelas membuka
peluang dakwaan
menjadi ”kabur” atau
obscuur libel. Padahal,
p e m e r i k s a a n
persidangan tidak
boleh menyimpang
dari apa yang
dirumuskan dalam
surat dakwaan.

Te r h a d a p h a l i t u ,
majelis hakim yang
m e m i m p i n
persidangan memiliki
kewenangan untuk
m e n e n t u k a n
batal/tidaknya suatu
dakwaan. Namun
m e n u r u t Ya h y a
Police Line sudah direntangkan mengitari salah satu kilang kayu haram di Aceh Tenggara.
Tersentuh hukumkah si empunya kilang dan pemain-pemain di dalamnya? Semoga...

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


9
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser

Tabel 1. Upaya penegakan hukum kepada terhadap pelaku badan usaha di TNGL tahun 2006
No Lokasi Kasus Pelaku Status Akhir
1. Kutacane Menebang di dalam TNGL CV Armana Putusan PN Bebas
2. Kutacane Menebang di dalam TNGL PT PUKB Putusan PN Bebas
3. Besitang Penyerobotan lahan 200 ha PT Rapala Lahan dikembalikan
4. Besitang Penyerobotan lahan 150 ha PT Putri Hijau Lahan dikembalikan
5. Besitang Penyerobotan lahan 75 ha PT Bandar Meriah Klarifikasi status oleh BPN
6. Besitang Penyerobotan lahan 32,5 ha PIR ADB Klarifikasi status oleh BPN
7. Besitang Penyerobotan lahan 53,5 ha PT Tunas Baru ex Mutiara Sei Lepan Lahan dikembalikan

Tabel 2. Proses dan Hasil Persidangan Pidana Kehutanan di TNGL tahun 2006-2007
(berdasarkan data terakhir 21 Maret 2007)
No Nama Tsk/Tdw/Thkm Status Terkini Sanksi

1 Tsk: DMS Baca Tuntutan


Sidang awal, Tsk Sakit,
2 Tsk: NKS
penangguhan penahanan
Penjara 1 tahun 6 bulan, denda
3 Amo 17 Januari 2007
Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 1 tahun 6 bulan, denda
4 Saryono 17 Januari 2007
Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan
5 Suruhan Pinem 6 Sep 2006 Penjara 3 tahun
Penjara 2 tahun 6 bulan, Denda
6 Moh. Thayib 28 Jul 2006
Rp 5 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 1 tahun 3 bulan, Denda
7 Boimin 27 Jul 2006
Rp 2 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 1 tahun 3 bulan, Denda
8 Gono 27 Jul 2006
Rp 2 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 1 tahun 3 bulan, Denda
9 Suwarno 27 Jul 2006
Rp 2 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 1 tahun 3 bulan, Denda
10 Rudi Prawongso 27 Jul 2006
Rp 2 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 1 tahun 3 bulan, Denda
11 Jumali 27 Jul 2006
Rp 2 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 2 tahun 6 bulan, Denda
12 Sugito 28 Jul 2006
Rp 5 Juta subsider 1 bulan kurungan
Kasim Penjara 2 tahun 6 bulan, Denda
13 28 Jul 2006
Rp 5 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 2 tahun 6 bulan, Denda
14 Abdul Khalid 28 Jul 2006
Rp 5 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 2 tahun 6 bulan, Denda
15 Harto 28 Jul 2006
Rp 5 Juta subsider 1 bulan kurungan
Penjara 8 bulan, Denda Rp 1 Juta
16 TW 9 Mar 2006
subsider 1 bulan kurungan

Harahap, ukuran objektif melakukan penilaian surat Lebih Dari Sekedar Tupoksi...
dakwaan berdasarkan apakah terdakwa dirugikan untuk
melakukan pembelaan diri, dan jika surat dakwaan tidak Ada faktor lain, secara teknis dan non-teknis, yang
jelas dan tidak lengkap memuat elemen atau unsur-unsur mempengaruhi proses penegakan hukum. Keterlibatan
tindak pidana yang didakwakan. Jadi putusan terakhir masyarakat dan unsur-unsur di luar aparat penegak hukum
terhadap suatu tindak pidana konservasi dan kehutanan serta kepentingan yang melekat pada mereka juga
terletak di tangan majelis hakim, untuk kemudian mempengaruhi proses penegakan hukum. Adanya
dieksekusi oleh JPU. kepentingan-kepentingan itu, baik positif maupun negatif,
yang mengakibatkan terjadinya distorsi dalam hukum.

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


10
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser

Bahkan menimbulkan disparitas (perbedaan sanksi) yang Berdasarkan tupoksinya, aparat TNGL dan penyidik tentu
jauh berbeda antara terdakwa-terdakwa yang melanggar tak lagi berperan di dalam proses penuntutan dan
delik pidana yang sama. persidangan, kecuali diminta menjadi saksi. Namun
menjadi luar biasa ketika aparat TNGL dan penyidik terus
Mungkin peraturan perundang-undangan yang ada belum memantau perkembangan dari kasus yang ditemukan dan
sempurna namun tidak berarti hukum tidak dapat disidiknya.
ditegakkan. Salah satu hal terpenting dalam penanganan
suatu perkara pidana ialah masalah pembuktian. Tindakan Keluhan yang sama pasti terjadi pada aparat penegak
aparat penyidik dan penuntut umum diarahkan kepada hukum, bahwa dana untuk penegakan hukum jauh dari
upaya pencarian alat-alat bukti yang berkaitan dengan apa memadai. Di sisi lain, penegakan hukum harus terjadi dan
yang dilakukan tersangka yang akhirnya harus dibuktikan mencuat di masyarakat. Pada kondisi yang demikianlah,
oleh JPU di depan sidang pengadilan. Dengan demikian, seringkali ruang ”negosiasi” terbuka sesuai dengan
dalam memfungsikan suatu UU, faktor yang terpenting kepentingan-kepentingan yang melekat. Oleh karena itu,
ialah manusia pelaksananya penegakan hukum harus dimulai dari lembaga masing-
masing agar penegak hukum juga dapat berdiri tegak dan
Menegakkan hukum demi keadilan harus dilakukan lebih bangga dengan profesinya.***
dari sekedar menjalankan kewenangan berdasarkan tugas
pokok dan fungsinya (tupoksi). Itupun tetap harus
dilakukan sesuai dengan koridor hukum yang ada. Sebagai *) Technical advisor for UNESCO
contoh digambarkan oleh Paulus E Lotulung, salah satu
hakim Agung. Dalam konteks kebebasan hakim s.suryadi@unesco.org
(independency of judiciary) harus diimbangi oleh
akuntabilitas peradilan (judicial accountability). Artinya,
kemandirian dan kebebasan kekuasaan kehakiman dibatasi Pendapat dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini
oleh akuntabilitas, transpransi, dan integritas moral/etika, merupakan tanggung jawab penulis sepenuhnya, dan tidak
profesionalisme dan imparsialitas. merefleksikan pendapat atau kebijakan UNESCO.

Nilai Disinsentif Tindak Pidana


Tentu kita berharap agar setiap operasi penegakan jumlah penuntutan terhadap jumlah penyidikan,
hukum akan menimbulkan efek jera bagi pelaku probabilitas terbukti bersalah terhadap penuntutan.
kejahatan konservasi dan kehutanan. Dalam Hasil perkalian probabilitas itu dikalikan lagi dengan
Enforcement Economic terdapat formula untuk nilai denda (dalam rupiah) dan eksponensial
mengukur kinerja penegakan hukum berdasarkan matematika terhadap rata-rata suku bunga dan waktu
besarnya nilai disinsentif, yaitu nilai kerugian yang yang dibutuhkan sejak kasus terdeteksi hingga
diderita pelaku tindak pidana atas suatu kejahatan. eksekusi putusan sidang yang telah berkekuatan
hukum tetap. Nilai denda dalam perhitungan tersebut
Efek jera akan timbul jika Nilai Disinsentif Ekonomi mencakup nilai ekonomi yang hilang saat terdakwa
(NDE) bagi pelaku dapat dibuat sebesar mungkin. menjalani hukuman.
Ketika nilai disinsentif tetap kecil, atau ketika
keuntungan dari hasil kejahatan lebih besar daripada Dengan formula tersebut, kinerja penegak hukum
kegiatan yang sah, para pelaku kejahatan akan tetap dalam setiap proses hukum sangat mempengaruhi
tertawa. Sebagai contoh, hasil perhitungan NDE dari NDE. Jika probabilitas dalam suatu proses hukum
kasus-kasus illegal logging di Papua adalah US$6,47 tersebut nol (0), sia-sialah kerja aparat penegak
sedangkan keuntungan dari illegal logging adalah hukum lainnya. Artinya tidak ada disinsentif sama
US$ 91.967. Artinya, penegakan hukum menjadi sekali atau tidak ada efek jera bagi pelaku kejahatan
kurang berarti ketika nilai ekonomi dari kejahatan konservasi dan kehutanan. Untuk meningkatkan efek
yang dilakukannya lebih besar daripada nilai jera atau memperbesar NDE, meningkatkan
disinsentifnya. probabilitas deteksi adalah langkah awal, kemudian
meningkatkan kuantitas dan kualitas penyelidikan,
Nilai Disinsentif diperoleh dari perkalian penyidikan, penuntutan, dan pengadilan. Sanksi
probabilitas deteksi dengan probabilitas jumlah berat, denda besar, dan waktu sidang yang cepat
penyidikan terhadap jumlah deteksi, probabilitas dapat meningkatkan NDE secara signifikan.***

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


11
b u l e t i n

Liputan Utama Jejak Leuser


Tabel Perbuatan Pidana yang diatur dalam undang-undang bidang konservasi, kehutanan, dan lingkungan di Indonesia
Tabel 3. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Sanksi Pidana
Perbuatan Pasal yang mengatur
Penjara/ Kurungan Denda
Kesengajaan:
Melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan Pasal 19 (1) jo. Pasal 40 (1) maksimal Rp. 200.000.000.
Kesengajaan: maksimal penjara 10 tahun.
terhadap keutuhan kawasan suaka alam. dan (3) Kelalaian:
Kelalaian: maksimal kurungan 1 tahun.
maksimal Rp. 100.000.000
Mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, Kesengajaan:
memelihara, mengangkut, dan memperniagakan timbuhan yang Pasal 21 (1) huruf a maksimal Rp. 100.000.000.
Kesengajaan: maksimal penjara 5 tahun.
dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. jo. Pasal 22 jo. Pasal 40 (2) Kelalaian:
Kelalaian: maksimal kurungan 1 tahun.
(kecuali untuk keperluan penelitian) dan (4) maksimal Rp. 50.000.000
Kesengajaan:
Pasal 33 (1) jo. Pasal 40 (1) maksimal Rp. 200.000.000.
Melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan dan (3) Kesengajaan: maksimal penjara 10 tahun.
Kelalaian:
terhadap keutuhan zona inti taman nasional. Kelalaian: maksimal kurungan 1 tahun.
maksimal Rp. 100.000.000
Kesengajaan:
Melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona Pasal 33 (3) jo. Pasal 40 (2) maksimal Rp. 100.000.000.
dan (4) Kesengajaan: maksimal penjara 5 tahun.
pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, Kelalaian:
Kelalaian: maksimal kurungan 1 tahun.
dan taman wisata alam. maksimal Rp. 50.000.000

Tabel 4. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup


Sanksi Pidana
Perbuatan Pasal yang Mengatur
Penjara/ Kurungan Denda
Kesengajaan:
maksimal Rp. 500.000.000.
Kesengajaan: maksimal penjara 10 tahun. Kealpaan:
Menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap Kealpaan: maksimal penjara 3 tahun. Maksimal Rp. 100.000.000.
Pasal 1 angka 14 jo.
sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan
Pasal 41 dan 42 Menyebabkan orang lain mati/ luka berat:
hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan Menyebabkan orang mati/ luka berat:
berkelanjutan. (perusakan lingkungan hidup) Kesengajaan: maksimal penjara 15 tahun. Kesengajaan:
Kealpaan: maksimal penjara 5 tahun. maksimal Rp. 750.000.000.
Kealpaan:
Maksimal Rp. 150.000.000

Tabel 5. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan


Sanksi Pidana
Perbuatan Pasal yang Mengatur
Penjara/ kurungan Denda
Pemanfaatan hutan lindung yang berupa pemungutan hasil hutan
Pasal 26 (1) jo. Pasal 50 (3) Maksimal
kayu. Maksimal penjara 10 tahun
huruf e jo. Pasal 78 (5) Rp. 5.000.000.000
Pemanfaatan hutan produksi berupa pemanfaatan hasil hutan
Pasal 28 (2) jo. Pasal 50 (3) Maksimal
kayu yang dilakukan tanpa izin. Maksimal penjara 10 tahun
huruf e jo. Pasal 78 (5) Rp. 5.000.000.000
Pemanfaatan hasil hutan kayu dan pemungutan hasil hutan kayu Pasal 50 (1) (2), dan
oleh pemegang ijin, yang menimbulkan perubahan fisik, sifat penjelasan, Maksimal
Maksimal penjara 10 tahun
fisik, atau hayatinya, yang menyebabkan hutan tersebut jo Pasal 78 (1) Rp. 5.000.000.000
terganggu atau tidak dapat berperan sesuai dengan fungsinya.
Merambah kawasan hutan, melakukan penebangan pohon dalam
kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan:
1. 500 m dari tepi waduk/ danau.
2. 200 m dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa. Pasal 50 (3) huruf b dan huruf
c jo. Maksimal
3. 100 m dari kiri kanan tepi sungai. Maksimal penjara 10 tahun
Rp. 5.000.000.000
4. 50 m dari dari kiri kanan tepi anak sungai. Pasal 78 (2)
5. 2 kali kedalaman jurang tepi jurang
6. 130 kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi
pantai
Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di
Pasal 50 (3) huruf e jo. Maksimal
dalam hutan tanpa memiliki hak atau ijin dari pejabat yang Maksimal penjara 10 tahun
Pasal 78 (5) Rp. 5.000.000.000
berwenang.
Menerima, membeli, atau menjual, menerima tukar, menerima
titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui Pasal 50 (3) huruf f jo. Maksimal
Maksimal penjara 10 tahun
atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau Pasal 78 (5) Rp. 5.000.000.000
dipungut secara tidak sah.
Mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak
Pasal 50 (3) huruf h jo. Maksimal
dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil Maksimal penjara 5 tahun
Pasal 78 (7) Rp. 10.000.000.000
hutan
Membawa alat-alat berat atau alat-alat lainnya yang lazim atau
Pasal 50 (3) huruf j jo. Maksimal
patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di Maksimal penjara 5 tahun
Pasal 78 (9) Rp. 5.000.000.000
dalam kawasan hutan, tanpa ijin pejabat yang berwenang.
Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang,
Pasal 50 (3) huruf k jo. Maksimal penjara 3 tahun Maksimal
memotong atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa
Pasal 78 (10) Rp. 1.000.000.000
ijin pejabat yang berwenang.

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


12
b u l e t i n

K e h a t i Jejak Leuser

PACET
PACET
sang penghisap darah dari hutan tropis

Oleh:sang penghisap darah dari hutan tropis


Noni Eko Rahayu*)

K etambe, surganya para pacet. Slogan ini sempat


membuat saya gentar. Masuk hutan adalah satu
hal, menghadapi pacet itu hal lain. Untungnya
phobia saya ini (kadang) masih bisa dikendalikan dan
bahkan menggelitik saya untuk tahu sebenarnya pacet itu
dilengkapi satu atau beberapa pasang mata, terdiri dari 30 -
100 sel photoreceptive dalam cup pigmen yang dalam. Cup
inilah yang mengumpulkan cahaya.

Benarkah pacet = vampir penghisap darah?


hewan yang seperti apa, kok saya begitu ketakutan (belum Pacet mungkin bukan vampir, karena dia tidak mengenal
ada sejarah yang mengatakan orang akan mati jika digigit siang malam saat berburu mangsa, tapi dia memang
pacet, tapi itu tidak membantu). penghisap darah, tepatnya sanguivorous atau sebagai
Tidak mudah menemukan hasil penelitian tentang pacet. parasit yang menghisap darah pada host yang disuka. Pacet
Mungkin orang hanya sekedar tahu, tetapi belum ada yang yang lapar sangat
tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam mengenai responsif terhadap
vampir kecil ini, terutama di Indonesia. Studi yang ada c a h a y a d a n
lebih banyak mengenai lintah, saudaranya, khususnya rangsangan mekanis
untuk pengobatan alternatif. Saya memulai pencarian (gerakan/getaran).
informasi tentang pacet ini dengan mengajukan Dalam keadaan seperti
pertanyaan-pertanyaan sederhana. itu dia akan sering
menggerakkan kepala
Binatang apakah pacet itu? dan badannya untuk
Pacet yang saya bicarakan ini adalah pacet tanah mendeteksi mangsa,
(Haemadipsa zeylanica) yang banyak terdapat di Stasiun atau sebaliknya,
Riset Ketambe dan pastinya di hutan hujan tropis Sumatra. m e m b i a r k a n
Dari silsilah taksonominya, pacet termasuk: badannya berdiri tegak
lurus dan tidak
Filum : Annelida bergerak untuk
Sub filum : Clitellata memaksimalkan
Klas : Hirudinea fungsi alat sensor di
Ordo : Gnathobdellida kulit. Ketika
Famili : Haemadipsidae m e r a s a k a n
Genus : Haemadipsa kedatangan mangsa,
mulailah dia bergerak
Pacet merupakan jenis cacing bersegmen (memiliki 34 mendekat dengan trial dan error sampai penghisap
segmen), dengan alat penghisap di tiap ujungnya. Mulut anteriornya menyentuh mangsa. Kena kau!
pacet ada di alat penghisap bagian depan (anterior),
sedangkan anusnya ada di permukaan dorsal (atas) dekat Ketika menggigit mangsa, pacet mengeluarkan zat
alat penghisap di bagian belakang (posterior). Binatang anestetik yang membius daerah sekitar gigitan, ini
kecil ini ternyata memiliki 3 rahang yang dipersenjatai sebabnya sering manusia tidak menyadari telah digigit.
dengan gigi-gigi (untunglah pacet berukuran kecil...). Dia Pacet juga mengeluarkan zat non enzimatik yang
mempunyai organ pengindera di kepala dan di permukaan mencegah penggumpalan darah, disebut Hirudin.
tubuh yang mampu mendeteksi perubahan intensitas Penghisapan darah bisa berlangsung sampai 20 menit dan
cahaya, temperatur dan getaran. Di kepala pacet terdapat setelah ”makan” berat badan pacet bisa mencapai 4- 6 kali
receptor kimia yang berfungsi sebagai indera pencium, dari berat badan semula. Pacet yang kenyang kemudian
Vol. 3 No. 7 Tahun 2007
13
b u l e t i n

K e h a t i Jejak Leuser
akan memecahkan telur dengan
kepalanya dan keluar untuk memasuki
dunia baru setelah beberapa minggu.

Sekali berarti lalu mati?


Sebelumnya saya menduga pacet akan
mati setelah selesai makan, ternyata
tidak. Rugi sekali kalau demikian,
bukan? Menurut studi yang telah
dilakukan, pacet akan mati (diluar
dimangsa oleh predator ataupun
”dibunuh” manusia) setelah 1 atau 2 kali
bereproduksi. Reproduksi sendiri akan terjadi ketika
pacet mencapai usia dewasa dimana dia telah
mencapai berat badan tertentu atau setelah makan
beberapa kali. Lalu apakah hidup pacet hanya untuk
menjadi dewasa dengan makan lalu bereproduksi
kemudian mati? Mungkin tidak, karena saudara
pacet, yaitu beberapa jenis lintah, telah digunakan
untuk pengobatan lebih dari 2000 tahun. Nah, siapa
tahu pacet nantinya juga akan menjadi salah satu dari bahan
obat yang akan menyelamatkan banyak manusia di masa
depan. Tertantang melakukan penelitian?
akan mencari tempat gelap untuk mencerna makanan. ”Tidak sah masuk hutan kalau tidak digigit pacet,” kata
Karena pacet hanya memiliki enzim pencernaan yang seorang teman. Saya boleh berbangga hati karena sudah
sangat sedikit, dia dibantu oleh bakteri yang ada di ususnya mengalaminya......sekali dan sah!
untuk mencerna darah yang telah dihisap. Pencernaan itu ****
sendiri bisa berlangsung hingga berbulan-bulan.

Dimana sih rumah pacet?


Pacet tanah tentu tinggal di tanah, tetapi ada juga pacet *) Staf di Penilaian Kinerja Industri dan Pemasaran Hasil
yang lebih sering berada di daun, dikenal sebagai pacet Hutan, Direktorat Bina Pengolahan dan Pemasaran hasil
daun (Haemadipsa picta), yang memiliki warna lebih Hutan, Departemen Kehutanan
menarik dengan garis kuning dan hijau di badannya.
Habitat pacet selain di tanah juga di lapisan seresah yang Peserta Magang CPNS Departemen Kehutanan Formasi
basah di hutan hujan tropis. Di hutan yang lebih kering 2005 di Balai Taman Nasional Gunung Leuser.
pacet dapat ditemukan di tanah yang lembab. Studi
menyatakan ada jenis pacet yang membenamkan tubuhnya noni_e_rahayu@yahoo.com
di tanah dan bertahan hidup beberapa bulan meski
kekurangan air. Dalam keadaan seperti ini tubuhnya kering
dan kaku, penghisapnya tidak bisa dibedakan dan kulitnya
benar-benar kering, tapi setelah dia dapat tetesan air selama PUSTAKA
sepuluh menit, maka dia akan kembali segar bugar. Kenapa
seperti itu? Saya belum tahu. Australian Museum.2003. Leeches.
http//www.amonline.net.au
Mana yang cewek mana yang cowok?
Karena pacet hermaprodit, dia betina sekaligus jantan. Ginsber, D & Burch, J. 1998. Natural History of Leeches
Lalu bagaimana perkawinan antar pacet? Ketika (Annelids:Hirudenia).
bereproduksi, dua pacet akan saling memilin dan
melepaskan sperma di area clitellar pasangan. Sperma Kumar et al. 1984. Field Evaluation of Three Repellents
tersebut kemudian akan mencari jalan sendiri menuju Against Mosquitoes, Black Flies and Land Leeches. Indian
ovarium. Perjalanan ini cukup memakan waktu sehingga J. Med. Res 80;541 545.
pembuahan bisa terjadi 2 hari hingga beberapa bulan
setelah kopulasi. Kokon yang bergelatin akan dikeluarkan Leeches. http//www.parasitology.informatik.uni-wuer
dari clitellum (bagian kulit yang menebal selama periode zburg.de.
reproduksi) setelah terjadi pembuahan. Gelatin tersebut
mengandung nutrisi yang akan memberikan suplai Leeches. Http//www.encyclopedia.jrank.org
makanan bagi 1 - 200 telur di dalam kokon. Kokon tersebut
biasanya diletakkan di bebatuan atau di kayu, biasanya Leech. Http//www.pherobase.com
mengering berupa gumpalan berbuih. Pacet-pacet muda

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


14
b u l e t i n

K e h a t i Jejak Leuser

pasak bumi ?
Jantan...!
Oleh:
Iskandar *)

B agi anda yang bermukim dekat dengan kawasan


hutan atau di daerah pedesaan barangkali sudah
tidak asing lagi dengan jenis tumbuhan ini. Atau
bagi anda yang sering berpetualang di hutan untuk rekreasi
dan hiburan mungkin pernah mendengar tentang tumbuhan
macam penyakit.

Deskripsi

Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) adalah jenis


ini. Yah...Pasak Bumi! Tumbuhan tumbuhan tingkat tiang (poles), termasuk suku
yang selama ini identik dengan Simaroubaceae. Pohon yang tingginya mampu
'ramuan perkasa'. Disamping mencapai 10 meter ini termasuk tanaman dioecious,
sering digunakan untuk berbagai yaitu mempunyai dua jenis kelamin bunga. Daun
ramuan, Pasak Bumi juga sering majemuk menyirip bentuk memanjang, mengumpul
digunakan untuk industri pada ujung ranting. Kedudukan anak daun
pembuatan jamu. berhadapan-berpasangan, bentuk bulat telur atau
lanset. Pangkal anak daun tumpul, ujung anak daun
Selain bernama Pasak Buni, meruncing dan bertepi rata, serta helaian anak daun
tumbuhan ini memiliki beberapa berserat sehingga tidak mudah robek. Ketika daun
nama lokal lain, antara lain gugur maka akan meninggalkan bekas di tangkai.
Tongkat Ali, Bidara Pait Bunganya mengalami masa puber seperti halnya
(melayu), Bidara Laut manusia, dan pada saat menginjak usia dewasa akan
(Melayu), dan Babi Kurus tumbuh bulu-bulu pendek. Pembungaan biseksual,
(Batak). Flora yang secara ilmiah bunga jantan tumbuh dengan benang sari steril, dan
dinamakan Eurycoma longifolia bunga betinanya juga dilengkapi dengan putik steril.
Jack ini banyak tumbuh di hutan- Buah berukuran 10 x 5 s/d 17 x 12 mm. Buahnya
hutan dataran rendah. Dengan berbentuk elips, berwarna hijau dan berubah menjadi
perawakan batang yang lurus dan hitam kemerahan saat masak. (Sinar Harapan dalam
tidak banyak cabang, serta akar yang lurus menghujam ke Fitriani, 2005 dan Padua dalam Fitriani, 2004 ).
tanah (akar tungggang) membuat tumbuhan ini lebih Berikut kita lihat Pasak Bumi dari urutan taksonominya;
mudah untuk dicabut dengan tangan sehingga gampang
dikenali. Di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ada Kingdom : Plantae (tumbuhan)
nggak yah? Oooo buanyak...! Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Saat ini banyak peneliti baik lokal maupun mancanegara Kelas : Dicotyledonae
yang mulai tertarik melakukan riset terhadap Pasak Bumi. Ordo : Geraniales
Khusus di daerah ekowisata Bukit Lawang, tumbuhan ini Famili : Simaroubaceae
menjadi flora yang menarik untuk diperkenalkan kepada Genus : Eurycoma
turis yang sedang melakukan tracking di dalam taman Species : Eurycoma longifolia Jack
nasional. Beberapa hal yang menjadi alasan mengapa
masyarakat tradisional sering menggunakan tumbuhan ini Ekologi
adalah karena ketersediaan tanaman ini yang relatif lebih
mudah didapat di dalam hutan. Selain itu, masyarakat Tumbuhan ini menyukai tanah asam, berpasir, memiliki
tradisional juga sudah bisa membuktikan bahwa tanaman drainase tanah yang baik, dengan ketinggian tempat 700
ini memang sangat manjur untuk pengobatan beberapa meter di atas permukaan laut. Biasanya Pasak Bumi hidup

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


15
b u l e t i n

K e h a t i Jejak Leuser
gizi untuk anak yang baru lahir. Masyarakat Lampung
dan Belitung memakainya juga sebagai obat disentri,
Iskandar

sedangkan penduduk Sabah dan Kalimantan


meminumnya sebagai penghilang rasa nyeri tulang dan
larutan daunnya dipercaya sebagai penghilang rasa
gatal. Di Riau diyakini sebagai obat malaria, dan
kepercayaan penduduk Sakai, Sumatera, beberapa
bagian tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat
pencegah cacar (Hadiah dalam Fitriani, 2004).
Manfaat-manfaat 'penyembuhan' tersebut
dimungkinkan adanya kandungan kimia tertentu dalam
tumbuhan tersebut, sebagaimana disebutkan Zuhud
dan Haryanto dalam Fitriani (2005), bahwa Pasak
Bumi mempunyai kandungan kimia berupa
Eurykomolakton dan Amaroli.

Menurut Krisnatuti dan Lina dalam Fitriani (2005),


tumbuhan ini berkhasiat untuk meningkatkan
kejantanan pada pria, sehingga banyak industri yang
menggunakan tumbuhan ini sebagai bahan baku
pengobatan modern (untuk industri obat yang berkaitan
dengan vitalitas pria). Dari hasil penelitian mahasiswa
FSIIM Universitas Mulawarman disebutkan bahwa
tumbuhan ini berkhasiat untuk menghambat
perombakan protein kadar gula tinggi dan Diabetes
Mellitus. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa
kerusakan protein karena Diabetes Mellitus berhasil
diturunkan sebanyak 54, 0628 % oleh akar Pasak Bumi.
Kemampuan Pasak Bumi dalam menghambat
kerusakan protein tersebut disebabkan oleh senyawa
antraquinon yang merupakan turunan quinon yang
mampu mengikat radikal bebas dari reaksi glikolisis
Pasak bumi, flora penuh guna (Indonetwork dalam Fitriani, 2005).
di hutan dekat pantai, baik itu hutan primer atau sekunder Keterbatasan data potensi tumbuhan obat yang akurat serta
(Hadiah dalam Fitriani,2004). Pasak bumi dapat dijumpai tingginya permintaan pasar pada saat ini dan
pada daerah-daerah punggung bukit/pematang dan daerah kecenderungan peningkatannya hingga tahun-tahun yang
berlereng (Nuryamin dalam Fitriani,2004). Tumbuhan ini akan datang, merupakan salah satu titik kritis upaya
tumbuh pada temperatur rata-rata 25 0 C dengan pelestarian pemanfaatan tumbuhan obat di Indonesia.
kelembaban udara 86 %. Sebetulnya daerah ini tidak subur Ketepatan tindakan penanggulangan permasalahan dalam
tetapi sejenis jamur yang tumbuh di dekatnya sangat skala waktu yang tepat merupakan kunci keberhasilan
membantu pertumbuhan pohon ini. Setelah melalui masa pemanfaatan tumbuhan obat di Indonesia, baik ditinjau dari
muda, tanaman ini membutuhkan lebih banyak sinar segi ekologi (kepunahan), sosial budaya maupun ekonomi
matahari untuk membantu perkembangan vegetatif dan (Zuhud dan Haryanto, 1994). Dan hal ini yang sebenarnya
sistem reproduksinya. Pasak Bumi berbunga dan berbuah harus kita lakukan dan budayakan kepada paling tidak ke
sepanjang tahun. Biasanya bunga mekar sekitar bulan Juni orang-orang terdekat kita.
sampai Juli. Sementara buahnya masak pada bulan
September (Padua et al dalam Fitriani, 2005). Upaya pelestarian tumbuhan Pasak Bumi dapat
ditingkatkan dengan cara menjaga kawasan dan upaya lain
Penyebaran dan Pemanfaatan dapat ditempuh dengan cara pembudidayaan tumbuhan ini
di luar kawasan Taman Nasional. Pasak Bumi juga dapat
Tanaman ini bisa dijumpai di sekitar Asia Tenggara, seperti dibudidayakan di hutan tanaman (Sitepu dan Paribroto,
Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, dalam Fitriani, 2005). Penanamannya dapat dikaitkan
serta di Filipina. Di Indonesia hanya terdapat di Sumatera dengan pengembangan hutan tanaman tanpa mengurangi
dan Kalimantan, itu pun dalam jumlah terbatas. Bagian tujuan asalnya sehingga perekonomian dari segi
yang digunakan dari tumbuhan ini berupa akar, kulit batang pendapatan dapat ditingkatkan. Syukus dan Hernani dalam
dan daun dengan cara direbus. Penduduk tradisional biasa Fitriani (2005) menyatakan bahwa pembudidayaan
memanfaatkan akarnya untuk obat demam, sakit perut, tumbuhan obat tidak berbeda dengan tumbuhan lain.
infeksi saluran kencing dan cacingan (Burkhill dalam Tumbuhan obat menghendaki tempat tumbuh yang
Elliot, 1985). Bisa juga dipakai sebagai vitamin penambah beragam, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


16
b u l e t i n

K e h a t i Jejak Leuser
Perpaduan tingkat kesuburan tanah dan iklim yang ideal
dapat menciptakan tempat tumbuh yang memenuhi syarat Fitriani, 2004. Studi Potensi Pasak Bumi Sebagai
bagi tumbuhan obat, termasuk di dalamnya Pasak Bumi. Tumbuhan Obat di Pusat Penelitian Orangutan
Kapan kita bisa mulai? *** Bukit Lawang Sumatra Utara. Usulan Penelitian.
Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,
*) Pengendali Ekosistem Hutan TNGL di Kantor Seksi Medan
Konservasi Wilayah III Bukit Lawang.
Fitriani, 2005. Potensi Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia
iscand_2004@yahoo.com Jack) Di Pusat Penelitian Orangutan Bukit
Lawang Taman Nasional Gunung Leuser
Sumatra Utara. Skripsi. Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan
Bahan Bacaan
Monel Dan Sipayung,J. 1990. Dokumen Spesimen
Among Prawira, R.S.,Dkk. Diktat Dendrologi, Sekolah Herbarium Tumbuhan Obat Taman Nasional
Kehutanan Menengah Atas. Pusat Pembinaan Gunung Leuser Seksi Konservasi Wilayah III
Pendidikan Dan Latihan Kehutanan, Departemen Bukit Lawang. Sumatera Utara.
Kehutanan, Bogor
Usdayani,I. 2004. Skrining Metabolit Sekunder Tumbuhan
Elliott,S & Brimacombe,J. 1985. The Medicinal Plants Of Obat Di Taman Nasional Gunung Leuser (Tngl)
Gunung Leuser National Park Indonesia. Wyeth Bukit Lawang- Bohorok. Skripsi. Fakultas Mipa
Research Ltd. England. Unimed. Medan

FILOSOFI KISS....
Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya mencari cara terbaik waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah
untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi, saat pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi
menghadapi suatu masalah seringkali kita terkecoh, sehingga walaupun nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal
masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai
suatu pemecahan yang efisien dan justru malah terlalu rumit. lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang
Mari kita coba lihat dalam kasus di bawah ini : Rusia? Mereka menggunakan pensil!

3. Suatu hari, seorang pemilik apartemen menerima komplain dari


1. Kasus kotak sabun yang kosong terjadi di salah satu perusahaan pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di
kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu.
keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli Sang pemilik apartemen mengundang sejumlah pakar untuk
kotak sabun yang kosong. Dengan segera para pimpinan perusahaan memecahkan masalah tersebut. Seorang pakar menyarankan agar
menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas menambah jumlah lift. Pakar kedua meminta pemilik untuk mengganti
untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani.
departemen pengiriman. Tim manajemen meminta para teknisi untuk Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.Tetapi,
memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja pakar ketiga hanya menyarankan satu hal, bahwa inti dari komplain
keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu. Pakar tadi
tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak hanya menyarankan kepada sang pemilik apartemen untuk
sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak menginvestasikan kaca cermin di depan lift, supaya para pelanggan
tersebut tidak kosong. teralihkan perhatiannya dari pekerjaan 'menunggu'dan merasa'tidak
Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang menunggu lift'. It works !
dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan di
sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia
tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan Filosofi KISS ( Keep It Simple Stupid ), yaitu selalu
solusi yang berbeda. mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh
Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling
tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada.
menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada
melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang pada berfokus pada masalah. Bila kita melihat pada apa yang tidak
kosong keluar dari jalur pengepakan. kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa.
Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita
2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, memiliki segalanya
mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di
gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata - diunduh dari sebuah email ke bisro_s@yahoo.com di akhir desember
pena.Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan ‘06. thx ya na... -

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


17
b u l e t i n

Khasanah Jejak Leuser

MANUSIA, UDARA DAN HUTAN


manusia, udara dan hutan Oleh :
Rina Purwaningsih

Berapa lama kita bisa hidup tanpa makan?......beberapa hari.


Berapa lama kita bisa hidup tanpa air?.....2 atau 3 hari. Tapi berapa
lama kita bisa hidup tanpa udara?....satu atau dua menit saja

Oksigen dan Kehidupan dipungkiri bahwa tingkah manusia menjadi penyebab


utama perubahan kualitas udara di atas bumi ini.
Bernafas. Bagaimana kita bisa bernafas tanpa udara? Apa
jadinya kalo oksigen sebagai element paling vital di Mengapa kita perlu oksigen? Karena oksigen mempunyai
kehidupan manusia diperjual-belikan? Apa jadinya kalo kelebihan sebagai suplemen bagi tubuh manusia,
untuk bernafas saja orang harus merogoh kocek? Padahal diantaranya adalah : meningkatkan kesehatan secara
kurang lebih 90% dari energi hidup diproduksi oleh menyeluruh; banyaknya oksigen yang masuk ke sel kulit,
oksigen. Dan tahukah kita bahwa pada maka kulit akan lebih sehat dan terlihat lebih
awal terbentuknya bumi ini, jumlah muda; banyaknya oksigen yang masuk ke
oksigen sangat sedikit dan lapisan ozon dalam otot akan meningkatkan energi dan
yang esensial untuk kehidupan belum kinerja; meningkatkan fungsi otak agar lebih
ada. Dibutuhkan milyaran tahun bagi jernih dan cepat tanggap; meningkatkan
organisme primitif di lautan untuk metabolisme tubuh dan pengeluaran sisa-
berfotosintesa sehingga menghasilkan sisa; meningkatkan kemampuan tubuh
oksigen bumi yang berguna bagi untuk melawan bakteri dan virus; serta
kehidupan makhluk yang memperbaiki penyerapan vitamin, mineral
menghuninya. Mungkin saja salah satu dan nutrisi lain oleh tubuh.
dari oksigen yang kita hirup saat ini
adalah oksigen yang tercipta di masa Keseimbangan Alam
lalu, ribuan atau jutaan tahun yang lalu.
Sebenarnya, dengan sendirinya alam
Ditemukannya gelembung udara yang mampu mempertahankan sumberdaya yang
terperangkap di batuan tua dimilikinya tanpa bantuan siapapun.
menunjukkan bahwa tingkat oksigen Sebelum manusia diciptakan dan menghuni
pada atmosfer jaman dulu terukur 70% planet bumi ini, alam sudah ada lebih dahulu
lebih tinggi dibandingkan masa berkembang menurut ekosistemnya masing-
sekarang. Saat ini, sekitar 23% dari udara adalah oksigen. masing secara lestari dan seimbang tanpa campur tangan
Tetapi jumlah oksigen tersebut bervariasi, berbeda antara manusia. Berbeda dengan manusia yang tidak akan bisa
wilayah satu dengan lainnya. Kandungan oksigen untuk bertahan hidup tanpa alam. Alam sebagai penyedia jasa
daerah perkotaan lebih rendah sampai dengan 15% di lingkungan memang tidak pernah meminta imbalan
beberapa kota, dan akan semakin rendah sejalan dengan apapun kepada manusia. Tetapi apakah kita sebagai
tingginya polusi dan penggundulan hutan. Tak bisa pengguna jasa tersebut hanya akan menikmatinya secara
Vol. 3 No 7 Tahun 2007
18
b u l e t i n

Khasanah Jejak Leuser


terus menerus sampai alam kelelahan dan tidak mampu lagi permukaan daun juga akan menguap ke udara yang akan
menyediakan jasanya? menambah kelembaban udara. Saat udara panas oleh
pancaran sinar matahari, sebatang pohon mungkin akan
Sumberdaya alam yang tersedia di bumi ini tak terhitung menyerap berliter-liter air dari tanah dan akan
jumlahnya, salah satunya adalah hutan. Suatu kawasan menguapkannya ke atmosfer. Suhu udara di kawasan hutan
hutan dapat mendukung kehidupan manusia dalam menjadi lebih rendah karena tutupan pohon yang banyak.
berbagai aspek diantaranya adalah kebutuhan akan Proses fotosintesis secara tidak langsung mengurangi
oksigen, kenyamanan (iklim mikro), dan sebagai penyerap jumlah karbon dioksida dan menambah jumlah oksigen di
karbon (carbon sink). Hutan juga berperan sebagai atmosfer bumi. Hal ini mengakibatkan berkurangnya “efek
penstabil cuaca bumi, bahkan hampir 70% keberadaan rumah kaca” sehingga peningkatan suhu bumi lebih
oksigen di dunia datangnya dari hutan hujan tropika. terkendali. Melalui proses fotosintesis ini pula hutan
Saat ini di dunia internasional telah berkembang sebuah berperan sebagai agen pembersih udara, karena uap air
trend baru yaitu perdagangan karbon (CO2). Trend ini yang dilepaskan melalui proses tersebut menambah tingkat
diawali dengan disepakatinya Kyoto Protocol. Negara- kelembapan dan kenyamanan udara.
negara penghasil emisi karbon wajib menurunkan tingkat
emisinya dengan penerapan teknologi tinggi. Selain itu Dalam Foto Udara, Citra Landsat atau SPOT hutan
juga harus menyalurkan dana kepada negara-negara yang cenderung memiliki rona/warna gelap. Ini disebabkan
memiliki potensi sumberdaya alam tinggi yang mampu karena hutan menyerap lebih banyak radiasi matahari
menyerap emisi karbon secara alami misalnya melalui (solar radiation) daripada tipe vegetasi atau penutup lahan
penyerapan vegetasi (hutan). Sebagai pemilik hutan terluas lain. Hutan lebih sedikit memantulkan gelombang pendek.
ketiga di dunia, Indonesia mempunyai peran penting dalam Semakin tinggi radiasi gelombang pendek yang
upaya pengurangan emisi karbon tersebut. Hal ini bisa dipantulkan oleh tanaman maka semakin rendah energi
terjadi apabila hutan yang ada dijaga kelestariannya serta panas (latent heat) yang tersedia untuk proses
terus melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak evapotranspirasi (proses penguapan oleh tanaman) dan
dengan cara penghutanan kembali (reforestasi). Namun semakin besar pengaruhnya terhadap pemanasan udara
fakta berkata lain, berdasarkan hasil inventarisasi gas-gas sekitar. Selain itu berkurangnya laju evapotranspirasi
rumah kaca di Indonesia diketahui bahwa pada tahun 1994 berakibat pada menurunnya kandungan uap air di udara
emisi total CO2 adalah 748,607 Gg (Giga gram), CH4 sehingga udara menjadi lebih kering. Hutan juga memiliki
sebanyak 6,409 Gg, N2O sekitar 61 Gg, NOX sebanyak 928 albedo yang rendah yaitu sekitar 12%. Albedo merupakan
Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Sementara kemampuan perbandingan antara radiasi matahari yang mengenai
hutan menyerap CO2 kurang lebih sebanyak 364,726 Gg. benda dengan total radiasi matahari yang datang ke benda.
Dapat disimpulkan bahwa untuk tahun 1994 tingkat emisi Setiap kegiatan konversi hutan menjadi penutup vegetasi
CO2 di Indonesia sudah lebih lain berarti meningkatkan albedo. Deforestasi berakibat
tinggi dari tingkat
penyerapannya. Padahal

Suer S
pada tahun 1990 hutan
Indonesia masih mempunyai
tingkat penyerapan lebih
tinggi dari tingkat emisi. Saat
ini berapapun kecilnya,
Indonesia tetap saja sudah
memberikan kontribusi bagi
meningkatnya konsentrasi
gas-gas rumah kaca secara
global di atmosfer dunia.

Hutan Sebagai
Penyeimbang Iklim Mikro

Hutan sangat berpengaruh


terhadap keadaan cuaca dan
iklim suatu tempat.
Keberadaan pohon dan
tumbuhan mampu merubah
iklim mikro di sekitarnya. Air
tanah yang diserap oleh
tumbuh-tumbuhan akan
dikeluarkan melalui proses
transpirasi. Air yang ada di
Hutan sehat, salah satu unsur penjamin udara sehat

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


19
b u l e t i n

Khasanah Jejak Leuser


pada perubahan neraca panas (heat balance) lapisan kalinya flu burung muncul di daratan Cina pada akhir tahun
atmosfer bagian bawah. Dengan demikian deforestasi 90-an. Menurut Dr. Feng Lili, hal itu terjadi karena
menyebabkan perubahan iklim secara lokal. kerusakan lingkungan yang terjadi di Cina sudah
sedemikian parah. Sebenarnya virus dan bakteri di alam,
Seberapa besar pengaruh penurunan luas hutan terhadap masing-masing mempunyai ekosistem yang seimbang dan
perubahan iklim secara global? Pertanyaan ini mungkin saling terkait. Apabila kondisi ekosistem masih seimbang,
belum bisa dijawab secara jelas karena iklim adalah proses kehidupan virus dan bakteri tidak akan sampai menyerang
alam global yang amat kompleks sebagai hasil interaksi manusia. Tapi apa boleh buat, justru manusia itu sendiri
berbagai sistem baik di permukaan bumi, atmosfer maupun yang merusak keseimbangan ekologi mikroba menjadi
lautan. Selain itu penutupan lahan hanya salah satu faktor berubah. Perubahan itu menyebabkan mikroba mengalami
yang berpengaruh. Analisis statistik jangka panjang bisa transformasi dalam kehidupannya. Mikroba transformatif
saja dilakukan dengan membandingkan penyusutan luas itulah yang akhirnya menyerang manusia.
hutan dengan kecenderungan perubahan unsur-unsur
iklim. Seandainya pun hubungan itu ada, kita tidak bisa Menurut Feng Lili, Flu Burung dan SARS merupakan
menentukan secara pasti bahwa sebab utamanya adalah penyakit yang menular malalui pernafasan. Berdasarkan
semata karena proses deforestasi. Di Indonesia sendiri penelitiannya di Cina, kedua penyakit tersebut disebabkan
sebagai negara wilayah tropika sering terjadi oleh polusi udara dan penebangan hutan yang liar. Polusi
penyimpangan (anomali) peredaran udara global yang udara yang sudah mencapai tahap mengkhawatirkan
dikenal dengan ENSO (El Nino Southern Oscilation) yang ditambah lagi dengan minimnya suplai oksigen (O2) yang
berakibat pada peristiwa kemarau panjang (catastropic berasal dari tumbuh-tumbuhan. Mikroba menjadi tumbuh
droughts) yang diantaranya berdampak terhadap subur dan perkembangbiakannya tak terkendali. Sebab,
kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Dengan oksigen - yang bila terkena sinar ultraviolet dari matahari
demikian apabila dilakukan analisis statistik dan berubah menjadi ozon (O3) dan O nascend - adalah
ditemukan korelasi positif antara penurunan luas hutan pembunuh mikroba dan virus yang amat efektif.
dengan timbulnya kemarau panjang sulit disimpulkan dari
pengaruh deforestasinya sendiri, mengingat bertumpang Sementara itu, penyebaran Flu Burung di Indonesia akhir-
tindihnya berbagai faktor lain. akhir ini sangat mengkhawatirkan. Bahkan dunia
menyebut Indonesia sebagai "negeri penyebar Flu
Keterkaitan Akumulasi Greenhouse Effect Dengan Burung". Walau untuk pertama kalinya virus Flu Burung
Perubahan Iklim Global muncul di Cina, tapi begitu datang ke Indonesia , seakan
virus ini menemukan lahan hidup yang cocok. Kita tahu
Sering kita mendengar tentang gas rumah kaca bahwa pencemaran lingkungan dan kerusakan hutan di
(greenhouse). Mengapa disebut dengan gas rumah kaca? Indonesia terjadi dimana-mana. Hal ini diperparah oleh
CO2, methana dan berbagai nitrogen oksida serta berbagai sikap masyarakat yang kurang peduli dan waspada
terhadap penyebaran virus Flu Burung. Di samping
gas tertentu pada atmosfer bagian bawah bertindak sebagai
memusnahkan ternak unggas yang terserang FB,
penghalang pantulan radiasi gelombang panjang dan
pencegahan jangka panjang penularan penyakit ini bisa
memiliki karakteristik seperti kaca. Radiasi matahari
diefektifkan dengan penghutanan kembali tanah-tanah
sebagai gelombang pendek yang menembus rumah kaca
gundul (reforestasi). Reforestasi ini sangat penting untuk
akan dipantulkan sebagai gelombang panjang yang tidak
memperbesar suplai oksigen di atmosfer. Sebab jika suplai
mampu menembus kaca. Efek rumah kaca menyebabkan
oksigen tersebut cukup memadai, niscaya penyebaran virus
naiknya suhu permukaan bumi. Sering juga disebut
FB setidaknya bisa berkurang.***
pemanasan global. Banyak hal yang menjadi penyebab
terjadinya greenhouse effect. Diantaranya aktifitas
*) Junior Project Assistant for GNLP, UNESCO
perindustrian yang banyak melepaskan gas seperti karbon
dioksida, dan karbon monoksida. Asap kendaraan
r.purwaningsih@unesco.org
bermotor merupakan sumber hampir seluruh karbon
monoksida yang dikeluarkan terutama di daerah perkotaan.
Selain menyebabkan terjadinya gas rumah kaca tingginya
DAFTAR BACAAN
karbon dioksida akan menyebabkan penipisan lapisan ozon
yang mengancam kehidupan makhluk hidup di bumi ini.
Alikodra, Hadi S . http://www.indonesia.go.id. Flu
Burung dan Deforestasi
Kaitan Deforestasi dengan Flu Burung
http://pkukmweb.ukm.my/ Hutan Hujan Tropika dan
Apakah ada kaitan antara penyakit Flu Burung dengan Kepentingannya
kehancuran hutan (deforestasi)? Secara langsung
hubungan antara penyakit yang disebabkan oleh virus O2 Technologies Inc.
HxNy tersebut dengan deforestasi sulit dijelaskan. Seperti http://www.o2techno.com/indonesian/o2def.htm
yang telah diungkapkan oleh Prof.Dr.Hadi S.Alikodra
(Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB) untuk pertama

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


20
Dinamika

Banjir Langkat,
dalam sebuah kajian awal....
Oleh:
Bisro Sya’bani *)
Ujang Wisnu Barata **)

22 desember 2006
pak piyu termangu….
pak leman terdiam….
mereka tidak berada di satu tempat, tapi pandangan mata mereka sama... mereka memandang rumahnya yang
dikunyah-kunyah pekatnya lumpur langkat. Jangankan berpikir untuk bagaimana membersihkan lumpur-
lumpur yang telah mematuk beras mereka, bahkan untuk tidur nanti malampun mereka belum tau...

K isah di atas hanya sebagian kecil penggalan cerita


tragis keganasan banjir yang meluluhlantakkan
Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam di
penghujung tahun 2006 itu. Saat itu, banyak desa,
kecamatan dan kabupaten di dua propinsi ujung barat
berikut: sebelah utara berbatasan dengan Prop. Nangroe
Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan Kabupaten
Karo, sebelah barat dengan Prop. NAD dan Tanah Alas, dan
sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang
dan Kota Binjai
Indonesia itu yang tergenang oleh murkanya sang air.
Sendi-sendi kehidupan masyarakat Kabupaten ini memiliki
banyak tercederai oleh kejadian- luas wilayah 902.986 Ha
kejadian itu. Ada apakah gerangan ini? dengan jumlah penduduk
Apakah karena Taman Nasional 944.752 jiwa yang
Gunung Leuser sudah terlalu banyak tersebar di 20 kecamatan
ternoda oleh tangan pencuri kayu dan dan 85 desa. Tujuh
perambah lahan? kecamatan di antaranya,
berbatasan langsung
Di Kabupaten Langkat, banjir paling dengan kawasan TNGL,
parah terjadi di Kecamatan Besitang. yaitu Kecamatan
Setidaknya terdapat 50.598 orang yang Bohorok, Salapian, Sei
secara langsung menjadi korban Bingei, Batang
keganasan sang air dan lumpur itu, dan Serangan, Padang
18 diantaranya meninggal dunia. Tualang, Sei Lepan dan
Dengan data yang ada (yang mungkin Besitang. Kerapatan
masih belum sempurna 100%), mari penduduk Kabupaten
kita kaji apa sebenarnya dibalik “Banjir Langkat” itu. Langkat adalah 1,58 jiwa/Ha.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita berkenalan dulu Topografi wilayah Kabupaten Langkat dapat dibedakan
dengan Langkat.... atas : pesisir pantai dengan ketinggian 0 - 4 meter dpl,
Kabupaten Langkat, yang beribukota di Stabat, merupakan dataran rendah dengan ketinggian 4 - 30 meter dpl dan
batas Timur dari kawasan TNGL. Wilayah Kabupaten dataran tinggi dengan ketinggian 30 - 1.200 meter dpl.
Langkat terletak pada koordinat 3°14’ - 4°13’ LU dan Sebagian lahan datar dan lainnya berupa pegunungan dan
97°52’ - 98°45’ BT dengan batas-batas wilayah sebagai perbukitan. Pemukiman sebagian besar terdapat di dataran
Vol. 3 No. 7 Tahun 2007
21
b u l e t i n

Dinamika Jejak Leuser


Tabel 6. Penggunaan Lahan Kabupaten Langkat
No. Penggunaan Luas (Ha) % Keterangan
Besitang, S.Lepan, S.Seberang, B.Serangan,
1 Hutan 239.328,40 38.38
Bahorok, Selapian, Sei Bingai, Kuala
2 Hutan Bakau 21.090,00 3.38 Sebelah Utara Langkat
Utama : K-Sawit, karet, Lainnya:
3 Kebun 188.707,30 30.25
kelapa,coklat,kopi,tebu.
4 Kebun Campuran/ Pemukiman 114.436,10 18.35 Tersebar
5 Pemukiman Padat 127,70 0.02 Binjai, Selesai.
6 Sawah 38.273,70 6.14 Tersebar: kecuali Sw. Seberang dan Bahorok.
7 Tegalan 2.633,80 0.42 Sayuran, kacang, buah2an Binjai, Stabat.
8 Rawa 79,20 0.01 Brandan Barat.
Ikan, Udang : P. Susu, B. Barat, Babalan, Gebang, T.
9 Tambak 7.215,80 1.16
Pura dan Secanggang
10 Lahan Terbuka 3.066,10 0.49 Lahan terbuka = lahan tandus---> Pemukiman
11 Sungai 11.370,90 1.40
Jumlah 626.329,00
Sumber: Rencana Strategis TN.Gunung Leuser (2006)
rendah. Wilayah Kabupaten Langkat beriklim tropis. Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Pusat Pengembangan
Dengan perincian musim kemarau pada bulan Februari s/d dan Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh, LAPAN.
Agustus dan musim hujan pada bulan September s/d Peta ini menyajikan informasi yang dihasilkan dengan
Januari. Curah hujan rata-rata adalah 3.268 mm/tahun dan melakukan analisa perkiraan potensi terjadinya hujan lebat
suhu rata-rata sebesar 28°C. yang diintegrasikan dengan peta kerawanan bencana banjir
yang sudah ada. Dengan demikian, dapat diketahui dimana
Jenis tanah di Kabupaten Langkat yaitu di daerah pantai dan kapan kemungkinan akan terjadi banjir. Pemantauan
terdiri dari tanah aluvial (Entisol, Inceptisol), dataran daerah potensi banjir yang disediakan oleh LAPAN
rendah terdiri dari tanah jenis glei humus rendah tersebut ditentukan berdasarkan analisis komponen darat
(Inceptisol), hidromorf kelabu (Ultisol) dan planosol yang dipadukan dengan data curah hujan harian yang
(Alfisol) serta dataran tinggi dan
perbukitan terdiri dari tanah podsolid
merah kuning (Ultisol).

Analisis Iklim

Menurut BMG, wilayah Kabupaten di


NAD dan Sumatera Utara yang termasuk
ke dalam klasifikasi Zona Prakiraan
Iklim (ZPI) untuk sifat hujan di atas
normal adalah Kabupaten Aceh Besar
bagian utara dan timur laut, Langkat,
Serdang Bedagai, Deli Serdang (bagian
barat), Simalungun (bagian barat),
Asahan (bagian barat), Toba-Samosir,
Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan,
dan Mandailing Natal (bagian Timur).
Curah hujan rata-rata pada Desember
2006, di wilayah Sumatera Utara sebesar
151 - 200 mm/bulan; sedangkan di
Sumatera Utara bagian barat sebesar 201
- 300 mm/bulan.

Peta Informasi Spasial Daerah Potensi


Banjir dan Curah Hujan Pulau Sumatera
di bagian bawah halaman ini Peta Informasi Spasian Daerah Potensi Banjir dan Curah Hujan Pulau Sumatera
dipublikasikan oleh Bidang Pemantauan
Vol. 3 No 7 Tahun 2007
22
b u l e t i n

Dinamika Jejak Leuser


diperoleh dari data set Qmorph yang diperoleh dari bahwa 88% arealnya tidak layak diusahakan. Apabila
National Center for Environmental Prediction (NCEP), dan dikaitkan dengan luas DAS Tamiang, maka areal kedua
didukung oleh hasil pengkelasan awan berpotensi hujan HPH tersebut meliputi areal seluas 201.862 Ha atau 41%
lebat dengan menggunakan data satelit penginderaan jauh dari penggunaan lahan di DAS Tamiang.
NOAA-12/AVHRR. Peta tanggal 22 Desember 2006
tersebut di atas menunjukkan penutupan awan yang Investigasi Balai TNGL bekerjasama dengan Walhi NAD
berpotensi hujan lebat berada di wilayah TN.Gunung perwakilan Aceh Tenggara yang dilakukan pada tanggal 31
Leuser, wilayah Gayo Lues dan wilayah Aceh Tamiang dan Januari - 2 Februari 2006 di titik Pulau Tiga, Kuala
Langkat. Simpang dan sepanjang aliran Sungai Tamiang, Kab.Aceh
Tamiang membuktikan telah terjadinya illegal logging
Dari data rata-rata curah hujan di Sumatera Utara pada pada titik N. 04 21 27.7 E 097 45.51. Beberapa lokasi yang
periode 1982-2003, menunjukkan bahwa pada periode ditengarai sebagai tempat praktek illegal logging tersebut
bulan Agustus-Desember rata-rata curah hujan di atas 250 adalah : 1) Tempat Penumpukan Kayu (TPK) 1: Simpang
mm (Outgoing Longvawe Radiation,2003). Jernih (koordinat N 0421'27.7” E 09745'51.7”), 2) TPK 2:
Desa Serkil, koordinat N 0419'58.1” E 09747'41.7”, 3)
Analisis Daerah Aliran Sungai (DAS) TPK 3 (koordinat N 0418'02.4” E 09755'58.2”), 4) TPK 4 :
Desa Prupuk, koordinat N 0417'45.9” E 09756'50.8”), dan
Bencana banjir bandang 22 Desember 2006 di Kabupaten 5) TPK 5 (koordinat N 0417'27.7” E 09759'06.1”).
Langkat dan sekitarnya, termasuk di Kab.Aceh Tamiang
terjadi di 4 Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Kasus Kerusakan DAS Besitang dan Sei Lepan
Tamiang (Kab.Aceh Tamiang), DAS Besitang, DAS Sei
Lepan, dan DAS Sei Wampu di Kab.Langkat, Sumatera Kerusakan hutan yang terjadi pada wilayah DAS Besitang
Utara. Luas keempat DAS tersebut terlihat pada Tabel 7. dan Lepan seluas + 20.000 Ha, yang disebabkan oleh
kegagalan pelaksanaan kebijakan di masa lalu, antara lain:
ijin HPHH (1970an) dan kebijakan pembinaan habitat
Kasus Kerusakan DAS Tamiang dengan menebang pohon > 50 cm yang diberikan kepada
PT. Raja Garuda Mas-pada kawasan seluas 30.000 Ha
DAS Tamiang seluas 487.692 Ha telah mengalami selama periode 1977-1984. Kerusakan berlanjut ketika
kerusakan hutan sebesar 154.983 Ha atau 31,7 % dari luas manajemen Balai Taman Nasional Gunung Leuser belum
DAS (analisis citra landsat 2002). Kerusakan hutan ini mampu melakukan penegakan hukum secara efektif di
diduga akibat praktek pengelolaan hutan dengan sistem tingkat lapangan. Berdasarkan Citra Landsat 1995-2002,
HPH di masa lalu, yaitu PT. TRD (Tjipta Rimba Djaja) tingkat kerusakan di kawasan ini sebesar 1.800 Ha/tahun
(luas 139.440 Ha) dan PT. Inhutani IV eks PT.Kuala Langsa atau 150 Ha/bulan dan setara dengan 5 Ha/hari.
(luas 62.422 Ha). PT. TRD telah berakhir masa konsesinya
pada tahun 2000. Berdasarkan kajian dari Yayasan Leuser Total kerusakan hutan di DAS Besitang dan Sei Lepan ini
International (YLI) tahun 2005, menunjukkan bahwa terhadap luas DAS adalah 23,7%. Sedangkan proporsi
berdasarkan kemiringan dan jenis lahan, maka 96% dari kerusakan hutan terhadap luas hutan di kedua DAS
areal PT. TRD tidak layak diusahakan. Sedangkan di areal tersebut telah mencapai 37%.
PT. Inhutani IV eks PT. Kuala Langsa, diperoleh data

Tabel 7. Kondisi degradasi lahan di DAS sekitar Kabupaten Langkat


Degradasi Lahan (Ha) % %
Luas Di dalam Di luar Kerusakan Kerusakan
Daerah Aliran Luas
DAS TNGL TNGL Hutan Lahan
Sungai (DAS) Hutan (Ha)
(Ha) (kerusakan (lahan kritis) Terhadap Terhadap
hutan) DAS DAS
Tamiang- 798.895 216.105 141.291*) 384.050 17,7% 48,0%
Peureulak
Besitang 105.044 31.513 15.540 - 14,8% -
Sei Lepan 72.150 15.670 6.460 - 8,9% -
Wampu 576.608 229.232 5.330 155.575**) 0,9% 26,9%
Sumber: Analisis Citra Landsat 2002;

Catatan:
Hanya 3 DAS, Besitang, Sei Lepan, dan Wampu yang berhulu di kawasan TN.Gunung Leuser
*) Kerusakan hutan di DAS Tamiang terjadi di luar kawasan TN.Gunung Leuser
**) Kerusakan lahan kritis DAS Wampu dihitung dari kerusakan di Kab.Karo dan Kab.Langkat.

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


23
b u l e t i n

Dinamika Jejak Leuser


Berdasarkan data dari Stasiun Curah Hujan di Besitang, Pola Penggunaan Lahan di Kabupaten Langkat
Curah Hujan Bulanan sebesar 174,6 mm/bulan dengan
bulan basah selama 8 bulan diambil dari data 1996-2004 Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa luas kawasan hutan di
(BP-DAS Wampu Sei Ular, 2005). Kab.Langkat sekitar 38,8% dari total luas kabupaten,
diikuti dengan dominasi perkebunan (sawit dan karet) yang
Berdasarkan analisa kepekaan tanah terhadap erosi, meliputi porsi 30%. Dominasi penggunaan lahan
sebagian besar jenis tanah di DAS Besitang termasuk peka perkebunan sawit ini terdapat di 3 kecamatan, yaitu
terhadap erosi seluas 82.105 Ha (78,1%), yang terdiri atas Kec.Besitang, Kec.Sei Lepan, dan Kec. Bohorok. Pola
jenis tanah Dystropepts, Tropudults, Humitropepts, perkebunan sawit ini mendominasi sebagian besar
Troportents, Troposamment, dan Tropoquents (RTL RKT penggunaan lahan di Prop.Sumatera Utara. Permintaan
DAS Besitang, 2005). Kondisi kelerengan di DAS Besitang yang tinggi akan sawit telah mendorong banyak fihak
menunjukkan bahwa hanya 12,1% yang masuk kelas I atau untuk melakukan perambahan di dalam kawasan
datar. Sedangkan sisanya merupakan kelerengan agak TN.Gunung Leuser, khususnya di Besitang, Kabupaten
curam-sangat curam. Langkat. Saat ini, ribuan hektar kawasan TN.Gunung
Leuser telah berubah menjadi perkebunan sawit.
Data curah hujan rata-rata selama 9 tahun pada gambar di
bawah ini menunjukkan bahwa pada bulan September- Beberapa Kesimpulan
Desember terjadi konsentrasi curah hujan yang sangat
tinggi, yaitu di atas 200 mm/bulan. Data curah hujan pada Dari kajian sederhana di atas, banjir bandang di Kabupaten
22 Desember 2006 ketika terjadi banjir bandang tidak dapat Langkat dan sekitarnya yang terjadi pada tanggal 22
diperoleh. Menurut keterangan dari Stasiun Pengukur Desember 2006 disebabkan oleh 2 faktor utama. Pertama,
Curah Hujan di Sampali, sejak 2005, stasiun pemantau faktor iklim, yaitu curah hujan yang tinggi atau di atas rata-
curah hujan di Besitang mengalami kerusakan, sehingga rata dan telah terbukti menyebabkan banjir bandang yang
sejak 2005 tidak terdapat data pengukuran yang dapat melanda di 12 Kecamatan di Kabupaten Langkat. Kedua,
dipantau. faktor kerusakan DAS Besitang, DAS Tamiang, DAS Sei
Lepan, dan DAS Wampu. Untuk sementara, kerusakan di
DAS Besitang dan Sei Lepan seluas + 20.000 Ha
R ata-rata C urah H ujan D AS B esitang (1996-2004) atau 37% dari total luas di kedua DAS tersebut.
Selain 2 hal utama di atas, kerusakan di
50 0
beberapa bagian dari kawasan Taman Nasional
40 0 Gunung Leuser oleh praktek illegal logging dan
perambahan sedikit banyak juga menjadi faktor
m m /b u lan

30 0
pendorong kuat terjadinya bencana itu.
20 0
Beberapa Usulan Langkah Tindak Lanjut
10 0

0 Dan dari kajian itu juga, perlu dipertimbangkan


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 langkah-langkah tindak lanjut sebagai upaya
bula n meminimalisir terjadinya bencana serupa di
kemudian hari. Rekomendasi langkah-langkah
Sumber: Data analisis RTL DAS Besitang (2005) tersebut antara lain:

1. Membangun jaringan komunikasi dalam rangka Early


Kasus Kerusakan DAS Wampu Warning System, bekerjasama dengan BMG Jakarta,
LAPAN, Dinas Meteorologi Bandara Polonia, dan
DAS Wampu terletak di kabupaten Langkat, Karo, Deli Stasiun Pemantau Curah Hujan di Sampali, Medan;
Serdang dan Simalungun, dengan total luas 576.608 Ha.
Luas kawasan hutan di DAS Wampu adalah 229.232 Ha 2. Jaringan internal UPT Departemen Kehutanan yang
atau 39,7% (analisis citra landsat 2002). Suatu proporsi perlu dibangun secara lebih sistematis dan terpadu
yang berada di atas batas yang ditentukan (30% luas DAS). adalah antara Balai KSDA Prop.Sumatera Utara dan
Sementara itu, luas kawasan hutan di wilayah TN.Gunung NAD, TN.Gunung Leuser, BPDAS, dan kemudian
Leuser yang mengalami kerusakan sebesar 5.300 Ha atau dikoordinasikan dengan Satkorlak kabupaten-
0,9%. Namun demikian, lahan kritis di wilayah DAS kabupaten yang rentan terhadap bencana banjir
Wampu telah mencapai luas 155.575 Ha atau 26,9%. bandang dan tanah longsor;
Penggunaan lahan di luar kawasan TN.Gunung Leuser,
khususnya di daerah DAS hilir Kab.Langkat didominasi 3. Melakukan sosialisasi tentang hasil-hasil kajian atau
dengan meluasnya perkebunan sawit, baik skala kecil update data terbaru tentang kondisi dan prediksi
maupun besar. iklim, bekerjasama dengan jaringan media massa
cetak dan elektronik (radio dan TV setempat);
sehingga informasi pemantauan bahaya banjir/longsor

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


24
b u l e t i n

Dinamika Jejak Leuser


dapat terdistribusi dengan baik di masyarakat

4. Mendorong Pemda untuk membangun stasiun


pemantau curah hujan di beberapa lokasi strategis,
di seluruh kabupaten yang rawan bencana banjir
bandang dan tanah longsor;

5. Menyediakan Peta Daerah Aliran Sungai (DAS) dan


dikaitkan dengan Tingkat Kerawanan Bahaya
Banjir/Longsor dan membantu Pemda dalam
rangka sosialisasi kepada masyarakat target.***

*) Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGL di Kantor


Perwakilan Medan, bisro_s@yahoo.com Evakuasi.... (foto: ujang wb)

**) Pengendali Ekosistem Hutan Balai TNGL di


Kantor Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang,
wisnoe_bharata@yahoo.com

Sumber Informasi

BP-DAS Wampu Sei Ular. Rencana Teknik Lapangan.


Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS
Besitang. BP-DAS, Desember 2005.

BMG. 2006. Informasi Perdiksi Iklim Akibat El-


Nino/La-Nina Bulanan, November 2006-Seluruh
Indonesia; Alamat: www.bmg.go.id

Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Ceria di pengungsian (foto: bisro)


Lingkungan, Lapan., 2006. Pemantauan Daerah Potensi
Banjir di P.Jawa, P.Sumatera, dan Kalimantan.
N o v e m b e r 2 0 0 6 . A l a m a t :
www.lapanrs.com/SMBA/smba.php

Lapan., 2006. Laporan pemantauan bencana banjir


Propinsi Naggroe Aceh Darussalam. Pusat
Pengembangan Pemanfaatan dan teknologi
Penginderaan Jauh. Lapan.Jakarta.

Lab.Geographic Information System, Balai TN.Gunung


Leuser.Kantor Perwakilan Medan.

Metereologi Polonia. Seksi Data dan Informasi. Zona


Prakiraan Iklim Kab.Langkat.

Hancur...! (foto: ujang wb)

Kegagalan, kesedihan, kesengsaraan, dan kekalahan adalah asah yang


paling baik untuk menajamkan pisau hati dan pikiran manusia

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


25
b u l e t i n

W a c a n a Jejak Leuser

Hutan untuk Masyarakat,


Pemanfaatan Lestasi Hutan Konservasi
Oleh:
Bobby Nopandry*)

S atu hal yang selalu muncul di benak masyarakat


termasuk di tempat saya bertugas-berkenaan dengan
keberadaan kawasan konservasi di sekitar desa
mereka adalah bahwa keberadaan hutan tersebut tidak
memberi manfaat bagi kesejahteraan mereka. Larangan
berupa pangan dan pemukiman ? Lebih jauh lagi bagi
negara berkembang apakah pengadaan suatu taman
nasional, cagar alam, dan suaka margasatwa bukan
merupakan barang luks, lebih-lebih bagi daerah yang sudah
kekurangan tanah untuk pemukiman dan pertanian
memasuki, mengambil kayu, menguasai lahan dan penduduk ?
berbagai peraturan yang rajin disosialisasikan pemerintah
kepada mereka juga melahirkan pertanyaan, “Apakah Benarkah demikian adanya ? Padahal, banyak cara
memang lebih penting menyelamatkan hewan dan memanfaatkan keberadaan hutan konservasi secara lestari.
tetumbuhan itu daripada Berbagai potensi yang terkandung di dalam
peningkatan kesejahteraan kami?”. hutan-hutan konservasi tersebut sebenarnya
Sementara, tujuan dari tidak haram dimanfaatkan. Paradigma
pembangunan kehutanan di pembangunan berkelanjutan yang menjadi
Indonesia selalu 'dikoarkan' kerangka pembangunan di berbagai belahan
bermuara pada dua titik : kelestarian dunia beberapa tahun belakangan ini
hutan dan peningkatan kemakmuran 'memberikan' solusi dan jawaban tentang
rakyat, sesuai dengan visi bagaimana seharusnya kawasan hutan,
Departemen Kehutanan. khususnya hutan konservasi, dapat memberi
manfaat tanpa harus dirusak keberadaannya.
Emil Salim dalam bukunya
'Pembangunan Berwawasan Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan
Lingkungan' (1993) pernah Balai Taman Nasional sebagai pemangku
mengungkapkan perihal pertanyaan- kawasan konservasi tentu memikul tanggung
pertanyaan menarik yang timbul di jawab utama berkenaan dengan hal ini. Yaitu
benak masyarakat terhadap mengelola kawasan konservasi dengan pola
keberadaan kawasan konservasi : yang dapat secara maksimal meramu potensi
mengapa rakyat tidak boleh sosial dan fisik sumberdaya alam agar dapat
memanfaatkan isi hutan suaka alam memberi manfaat ekologis bagi lingkungan
anugerah Tuhan, apakah isi alam ini dan manfaat ekonomis bagi masyarakat, sesuai
tidak diperuntukkan bagi kemakmuran manusia, mengapa amanat konservasi.
binatang dan tetumbuhan harus dilindungi dari manusia
yang memerlukan ? Apakah kita mengembangkan taman Forest Value
nasional hanya untuk kaum ilmuwan yang mau menggali Di beberapa negara, kawasan konservasi yang mereka
ilmu di dalam hutan itu, atau hanya untuk kaum terpelajar miliki secara signifikan bahkan menjadi penyumbang
yang ingin belajar dari tanaman dan binatang yang ada di devisa negara. Di Kosta Rika contohnya, kawasan-
dalam hutan suaka alam, ataukah hanya untuk wisatawan kawasan konservasi yang mereka miliki dapat menjadi
agar bisa menikmati rakagatra-nya alam ini ? daya tarik andalan dalam industri ekowisata negara ini.
Bagaimanakah nasib ribuan rakyat yang memerlukan World Bank mencatat bahwa industri ekowisata di negara
hutan itu untuk diolah guna memenuhi kebutuhan pokok ini merupakan sumber devisa utama. Padahal kekayaan

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


26
b u l e t i n

W a c a n a Jejak Leuser
keanekaragaman hayati yang mereka miliki hanya berkisar Inilah ciri utama interaksi masyarakat dengan kawasan
40 % dari total kekayaan keanekaragaman hayati yang hutan secara umum saat ini.
dimiliki Indonesia. Hasil ini mereka dapatkan dengan
'menjual' potensi taman-taman nasional yang meliputi 12 Imej penilaian kawasan hutan seperti ini terutama melekat
% luas wilayah negara dengan motto yang mereka kuat di kalangan masyarakat sekitar hutan. Akibatnya,
dengung-dengungkan : ”Menjual hutan tanpa menebang, konversi lahan menjadi perkebunan sawit atau karet dan
akan lebih mudah daripada menebangnya” (Ali, et al., pencurian kayu dari dalam kawasan selalu menjadi
2001). keniscayaan setiap kawasan konservasi.

Selain Kosta Rika, di Kenya, dengan motto ”Wildlife Pays Euforia reformasi juga ikut mendukung aksi 'pemanfaatan'
Wildlife Stay” devisa yang bisa dihasilkan dari ekowisata hutan yang tidak lestari ini. Jebolnya rasa takut dan segan
per tahunnya dapat mencapai US$ 250 juta. Hasil ini terhadap pemerintahan dan aparatnya telah menjadikan
diperoleh termasuk dari pemanfaatan potensi singa yang bentuk pertanyaan-pertanyaan terhadap kemubaziran
memberi kontribusi sampai US$ 27 ribu/singa/tahun dan kawasan konservasi yang kami sebutkan di atas menjadi
kontribusi gajah yang mencapai US$ 610/kelompok bentuk-bentuk aksi langsung 'pemanfaatan' kawasan hutan.
gajah/tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang pada Sebuah jawaban dan solusi yang diciptakan masyarakat
kisaran tahun yang sama 'hanya' menerima pemasukan akan ketidakberdayaan kawasan konservasi mendukung
devisa dari ekowisata sebesar US$ 3.987.600 (Ali, et al., peningkatan kesejahteraan mereka. Bagi mereka : hutan
2001). konservasi adalah lahan tidur yang tak termanfaatkan.

Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati Potensi Masyarakat


mencapai 10 % dari seluruh kekayaan tanaman dunia, Masyarakat sebenarnya merupakan stake holder utama
ditambah dengan kekayaan fauna yang mencapai ±1.600 pengelolaan sumberdaya hutan. Keutamaan ini muncul bila
jenis burung dan ± 500 jenis mamalia, saat ini malah penilaiannya dikaitkan kepada intensitas interaksi fisik
disibukkan dengan penanganan kasus-kasus perambahan masyarakat sekitar hutan dengan ekosistem hutan yang
dan pencurian kayu yang menguras uang negara. Bukannya lebih tinggi dan lebih nyata dibandingkan dengan stake
menghasilkan devisa, pengelolaan kawasan konservasi di holder lain. Keberadaan hutan juga berkorelasi linear
negara ini malah menjadi beban bagi APBN setiap (disadari ataupun tidak) dengan kesejahteraan masyarakat.
tahunnya. Kejadian banjir di sekitar Kecamatan Besitang di
Kabupaten Langkat merupakan bukti bagaimana
Yang menjadi penyebab seperti yang sudah kami kerusakan hutan (TNGL) dapat memberi dampak negatif
sampaikan di atas adalah tidak termanfaatkannya potensi- terhadap masyarakat.
potensi kawasan konservasi secara maksimal. Misalnya
kawasan konservasi A : idealnya, dengan pemanfaatan Demikian juga dengan pola pengembangan ekowisata
potensi biotik dan abiotik kawasan, seluruh biaya
pengelolaan kawasan konservasi A seperti biaya
operasional harian, bulanan dan tahunan, honor
Ujang WB

pegawai, pengadaan alat, pemeliharaan batas dan lain-


lain sudah dapat dibiayai sendiri tanpa kucuran dana
pemerintah. Bahkan, seperti yang dicontohkan Kosta
Rika dan Kenya, kawasan konservasi A tersebut malah
dapat memberi sumbangan kepada negara berupa
devisa.

Namun, yang terjadi di Indonesia, jangankan untuk


memberi sumbangan bagi devisa, sekedar untuk
membiayai pengelolaan kawasan konservasi itu sendiri
saja (manajemen) kawasan konservasi kita belum
mampu. Apalagi kalau kita bicara tentang penjaminan
kesejahteraan bagi masyarakat sekitar kawasan
konservasi tersebut.

Jadi sebenarnya mau tidak mau kita harus mengakui


kewajaran perambahan dan pencurian kayu yang terus
berlangsung. Dampak ketidakberdayaan kawasan
konservasi Indonesia 'membuktikan diri' sebagai
kekayaan negara menjadikan masyarakat memandang
kawasan konservasi hanya dapat memberi manfaat
bagi mereka dengan mengeksploitasi potensi dengan Masyarakat (sekitar hutan),salah satu komponen paling penting
nilai langsung (direct value)-nya saja ; lahan dan kayu. untuk menuju hutan lestari.

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


27
b u l e t i n

W a c a n a Jejak Leuser
berbasis masyarakat di Tangkahan, juga di TNGL, yang secara illegal.
menyodorkan bukti bahwa 'persahabatan' masyarakat
dengan hutan yang diciptakan dengan sistem yang Dalam mengimplementasikan program-program
terprogram dapat memberi dampak positif terhadap pemberdayaan masyarakat di lapangan, satu hal yang
kelestarian hutan sekaligus kesejahteraan masyarakat. penting adalah menunjukkan bahwa hutan dapat memberi
manfaat ekonomi langsung. Oleh karena itu,
Sebenarnya, secara tradisional, masyarakat memiliki pengembangan ekonomi alternatif merupakan arah utama
potensi dan kekuatan untuk menjadi pengelola kawasan dari pendampingan masyarakat, selain peningkatan
hutan. Keberadaan mereka yang diiringi dengan eksistensi kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan.
hutan selama beratus-ratus tahun peradaban adalah bukti
potensi pengelolaan hutan oleh masyarakat. Dengan Bentuk pendampingan yang dilaksanakan di tengah
metode interaksi tradisional yang mereka terapkan, banyak masyarakat seharusnya upaya mencapai format
contoh masyarakat yang mewujudkan hubungan saling pemanfaatan hutan yang 'eksklusif' dalam artian
menguntungkan dengan kawasan hutan. Masyarakat kekhususannya dengan karakteristik masing-masing
Badui di Banten, Dayak di Kalimantan, Suku Mentawai di masyarakat- dengan sarana kearifan lokal dan potensi
Pulau Pagai, dan Orang Kubu di Jambi adalah sederet sumberdaya yang ada. Artinya, ada penghormatan
contoh masyarakat yang beratus-ratus tahun akrab dengan terhadap masing-masing potensi dan pengetahuan
alam tanpa meninggalkan jejak perusakan. kelompok masyarakat dan sekaligus menjadi jaminan
bahwa program pemberdayaan tidak berdasarkan program
Namun demikian, faktor pertambahan penduduk dan global yang disusun di atas meja tanpa memperhatikan
kemajuan teknologi tidak bisa diabaikan sebagai kondisi riil di lapangan. Tantangan ini merupakan
pendorong ancaman. Peningkatan kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab stake holder aktif kehutanan selain
kemajuan sarana transportasi menjadikan masyarakat desa masyarakat tersebut.
di sekitar hutan terpencil sekalipun tidak jauh berbeda
dengan masyarakat lain dalam hal mengenali nilai Berkaitan dengan hal ini, pemerintah tentu menempati
ekonomi langsung lahan hutan dan hasil kayunya. porsi tanggung jawab yang besar. Depertemen Kehutanan
Katalisnya, jamak kita ketahui peran dominan aktor sendiri berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat di
intelektual dan pemodal yang bergentayangan sekitar kawasan konservasi merupakan keharusan yang
bersembunyi dan mengatasnamakan masyarakat di banyak menjadi tanggung jawab pemerintah, untuk mencapai
medan perusakan kawasan konservasi. Contoh paling kondisi yang diharapkan yaitu peningkatan status sosial
relevan adalah kasus Kopermas di Papua dimana ekonomi masyarakat dan kelestarian kawasan konservasi
masyarakat dengan campur tangan dan kepentingan itu sendiri. Pengelolaan kawasan konservasi tidak akan
pengusaha mengakibatkan perusakan hutan besar-besaran terlepas dari masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu
dengan dalih pemanfaatan hutan adat. masyarakat sangat penting untuk dilibatkan di dalam suatu
sistem pengelolaan kawasan konservasi.
Pengelolaan Hutan oleh Masyarakat
Untuk mengatasi tekanan terhadap sumberdaya hutan
sebenarnya yang diperlukan adalah suatu sistem Hadirnya keberadaan masyarakat yang berperan aktif
terprogram pengelolaan kawasan konservasi berbasis dalam pengelolaan hutan, terutama kawasan konservasi,
masyarakat. Sistem yang dapat memadukan potensi merupakan impian dunia konservasi. Lembaga-lembaga
kearifan masyarakat dengan potensi sumberdaya alam konservasi, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat
yang ada sehingga dapat terwujud pola-pola partisipatif sendiri tentunya mengidam-idamkan perwujudan pola
pengelolaan sumberdaya alam dan hutan. Sehingga, dapat pengelolaan seperti ini. Karena selain berbasis manfaat,
'dibuktikan' bahwa kawasan konservasi benar-benar dapat pola seperti ini banyak menjawab tantangan konservasi :
memberikan manfaat tanpa harus diokupasi lahannya dan kesejahteraan masyarakat, kelestarian kawasan, pelibatan
ditebang kayunya. Contoh yang bisa kita lihat di Sumatera masyarakat, dan permasalahan sumber dana konservasi.
Utara adalah sistem pemanfaatan sumberdaya alam Optimalisasi peran dan 'keikhlasan kerja' tentu merupakan
dengan pola ekowisata berbasis masyarakat di Tangkahan hal utama untuk mewujudkan hal ini. Keikhlasan dalam
seperti yang disebutkan di atas. konteks tidak lagi menjadikan konservasi dan masyarakat
sebagai komoditi, tetapi menjadikan mereka (konservasi
Keberadaan sistem pengelolaan partisipatif juga dapat dan masyarakat) saling berinteraksi demi dua tujuan :
menjadi simbol eksistensi masyarakat secara legal formal manfaat ekonomi dan lestari.***
sebagai stake holder kehutanan di negara ini, sesuatu yang
selama ini hanya menjadi wacana dan laporan-laporan di *) Kepala Pengelola SM Dolok Surungan I - Balai
atas kertas saja. Oleh karena itu, sistem pengelolaan KSDA Sumut II
partisipatif ini seharusnya diimplementasikan di lapangan
bukan hanya sebatas konsep- dengan fasilitasi yang baik Peserta Magang CPNS Departemen Kehutanan
dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat Formasi 2004 di Balai TN. Gunung Leuser
disamping efek positif minimalisir kerusakan kawasan
akibat perambahan kawasan hutan dan penebangan kayu nopandry@yahoo.co.id

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


28
b u l e t i n

Seputar Kita Jejak Leuser

Welcome to The Jungle Mr Ambassador...

K embali, TNGL mendapat kehormatan dengan menerima kunjungan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Damaso
de Lario. Dengan didampingi Matteous dan Ugo (Staf Kedubes Spanyol), Han Quni dan Koen Meyers (UNESCO
Jakarta Office), Pak Dubes beserta istri dan putrinya, Carmen, mengunjungi Bukit Lawang selama 3 (tiga) hari, 9
sampai 11 Maret 2007 yang lalu.
Kunjungan ini sekaligus sebagai pelipur lara warga TNGL atas gagalnya
(tertundanya?) kunjungan Ratu Sophia yang sedianya akan mengunjungi
bisro

Bukit Lawang pada tanggal 8 Februari 2007 karena meninggalnya adik


Sang Ibu Ratu.
Selain melihat orangutan yang ada di kawasan itu, Pak Dubes dan
rombongan juga mengelilingi Visitor Center Bukit Lawang yang sudah
direnovasi atas bantuan dana dari Pemerintah Spanyol.
Muchas Gracias...!!!
Pada kunjungan ini Pak Dubes juga menghadiri presentasi oleh Koen
dan Kepala Balai tentang Leuser secara umum serta program UNESCO
dan Pemerintah Spanyol di TNGL.
Ada kejadian menarik ketika rombongan melakukan tracking di hutan
Bukit Lawang, Pak Dubes sempat hampir dicakar Suma, salah satu
Dari kiri: Pak Dubes, Carmen, Ugo, Matteous, Ibu Dubes orangutan di Bukit Lawang, ketika sedang berfotoria. Hati-hati Sinor...
-bisro-

Pemusnahan Tanaman Perambah

T anggal 5 s/d 8 Maret 2007, tim gabungan Polres Langkat, Balai TNGL, dan KSM Gepal (Kelompok Swadaya
Masyarakat Gerakan Pecinta Alam Leuser, desa Sekoci dan PIR ADB) melakukan kegiatan pemusnahan tanaman di
Resort Sekoci. Kegiatan ini mengerahkan kekuatan sebanyak 80 personil, menggunakan 5 unit chainsaw dan 1 alat berat,
dan 200 liter minyak tanah untuk meracuni tanaman.

Sebelumnya, pada tanggal 20 dan 21 Desember 2006 lalu melalui OHL Toba II Sumatera Utara telah dilakukan pengusiran
terhadap 38 KK perambah di Sekoci (6 KK diantaranya adalah pengungsi). Namun, sampai dengan bulan Maret 2007, sebanyak
19 KK masih bertahan di sekitar kawasan meskipun gubuk kerja dan tempat tinggal serta beberapa tanaman mereka telah
dibongkar Desember lalu. Ke-19 KK tersebut bertahan dengan membuat barak di seberang batas kawasan TNGL yang
merupakan areal perkebunan sawit PIR ADB. Back-up penuh dilakukan oleh LBH Medan yang berada di belakang Kelompok
Petani Maju Bersama, bermaksud menguasai lahan TNGL. Kelompok ini telah memasang plang nama di beberapa lokasi yang
mengklaim lahan TNGL. Pada operasi ini plang tersebut telah dicabut, dan berhasil dimusnahkan tanaman perambah seluas ± 38
hektar. Hasil selangkapnya operasi ini dapat dilihat pada tabel 8.
Tabel 8. Data Pemusnahan Tanaman Perambah di Resort Sekoci
No Jenis Tanaman Lokasi Pemilik Luas Keterangan
Pal TN 307 – 308, DPO Polda Sumut, aktor
1 Sawit Beres Purba 4 Ha
N 03°56.444’, E 098°09.398’ perambahan/jual beli lahan
Pal TN 309, Pengungsi Aceh Tengah, sudah
2 Sawit Muhtar 2 Ha
N 03°56.454’, E 098°09.484’ kembali ke Takengon
Pal TN 310
3 Sawit Sudirman / Uteh 2 Ha
N 03°56.452’, E 098°09.543’
Oknum aparat, sudah diadili secara
4 Sawit Pal TN 313 Ginting 4 Ha
internal
5 Sawit dan karet Pal TN 314 Asril Siregar 4 Ha Salah satu provokator di lapangan
Pal TN 315 Provokator di lapangan, orang
6 Sawit Dani Sitepu 6 Ha
N 03°56.469’, E 098°09.753 kepercayaan Beres Purba
7 Sawit Pal TN 316 Anto Kumis 2 Ha
Lokasi di sekitar kantor resort
8 Sawit Pal TN 318 Kepemilikan bersama 2 Ha sekoci, masih ada mushala yang
belum dibongkar
Sisa tanaman pada operasi
9 Sawit Pal TN 305 Idris Ginting 2 Ha
pembongkaran rumah
Total 4 Ha belum selesai
10 Sawit N 03°56.885’, E 098°08.819’ Sutrisno 2 Ha
seluruhnya, lahan beli dari Ginting
11 Sawit Abda 6 Ha
12 Sawit N 03°56.379’, E 098°09.153’ Anak Pak Muhtar 2 Ha
JUMLAH 38 Ha
-ujang wb-
Vol. 3 No. 7 Tahun 2007
29
b u l e t i n

Intermezzo Jejak Leuser

Tujuh Langkah Mengadakan Rapat Yang Efektif

S etiap rapat atau pertemuan pasti memiliki tujuan. Suatu hal yang sangat mendasar, tetapi jika kita tidak dapat
menemukan outcome yang kita inginkan, kenapa melakukan rapat? Terdapat banyak sekali alasan untuk mengadakan
rapat, antara lain mengkomunikasi informasi, penyelesaian masalah, mengetahui hal-hal baru, dan lain-lain. Namun
apabila kita tidak dapat menemukan satu atau beberapa alasan melakukan rapat, jangan lewatkan tahap perencanaan ini.
Menuliskan tujuan rapat akan membantu kita untuk mengklairifikasi dan mengevalusi hasil-hasil rapat secara kritis.

Jika telah berhasil mendapatkan tujuan rapat, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang akan dan harus menghadiri rapat itu.
Undanglah orang-orang tertentu yang memiliki informasi dan/atau menentukan hasil rapat. Berapa kali kita pernah
menghadiri pertemuan sambil mengira-ngira kenapa kita ada di pertemuan ini? Menarik untuk dicatat bahwa produktivitas
kelompok meningkat dengan bertambahnya peserta, hingga tercapai jumlah tertentu yang membuat efektivitas rapat menjadi
optimal. Jika pesertanya terus bertambah melampaui titik optimal tersebut, maka produktivitas mulai menurun..

Ketika tujuan dan pserta rapat telah disiapkan, beberapa aturan main berikut ini sangat penting untuk dilakukan:

1. Siapkan agenda tertulis.


Tulis dan distribusikan agenda kepada para peserta rapat meskipun hanya memuat satu agenda.

2. Datanglah lebih awal.


Periksalah apakah ruang rapat telah bersih, perlengkapan dan materi rapat yang diperlukan telah tersedia. Biasanya, ada
saja hal yang perlu dilakukan agar tempat rapat siap digunakan..

3. Mulai tepat waktu, akhiri tepat waktu.


Tidak adil bagi peserta rapat yang telah datang tepat waktu untuk menunggu peserta yang terlambat. Lakukan
pembicaraan sesuai tatawaktu yang telah ditentukan

4. Jangan melakukan interupsi.


Jangan biarkan terjadi saling interupsi ketika peserta rapat sedang bicara. Jika seseorang bersedia menghadiri rapat,
maka pendapatnya juga penting untuk didengar.

5. Jadilah peserta rapat yang baik.


Jika kita yang menjadi peserta rapat, maka kita sepantasnya mendapatkan rapat yang terorganisir dan berjalan dengan
baik. Sebaliknya, kita juga diharapkan berkontribusi demi sukses dan efektifnya rapat.

6. Jadilah fasilitator yang baik.


Jika kita menjadi fasilitator/moderator rapat, sampaikan maksud dan tujuan rapat, memperhatikan tata waktu
(schedule), dan libatkan semua orang di dalam prosesnya.

7. Catatan hasil rapat dan tindak lanjut.


Selalu meninjau kembali catatan hasil rapat dan membuat rencana tindak lanjut untuk memastikan terlaksananya
apapun yang telah disepakati

Diadaptasi dari Gregory P. Smith, penulis The New Leader, and How to Attract, Keep and Motivate Your Workforce.
Diterjemahkan oleh Suer Suryadi.

Vol. 3 No 7 Tahun 2007


30
b u l e t i n

Wanasastra Jejak Leuser

nah....
nah....
Sepiring roti di atas meja
Kunyah! Kunyah! Kunyah!
Kata Tuan Laba-laba
Turun dia dari palang kayu diikuti yang lainnya
Mencari satu dua

Nyonya Semut mondar mandir


Tampaknya perut sudah memanggil
Anak-anak bersiap menjadi barisan
Maju! Maju! Maju!
Melewati Paman Lalat yang terpekur diam

Tidak
Dia tidak diam
Melainkan menunggu
Sepasukan datang untuk terbang
Serbu! Serbu! Serbu!

Mendenung lebah di jendela


Madu telah habis tak bersisa
Hisap! Hisap! Hisap!

Sepiring roti di atas meja


Laba-laba, semut, lalat, dan lebah
Masing-masing merasa memiliki
Tentang nasi, tentang mimpi

Kunyah! Maju! Serbu! Hisap!

Datang lagi rombongan ngengat


Menyergap tempat ke tempat
Berebut berdesak berderak

Jika roti itu hutan


Siapa laba-laba
Siapa semut
Siapa lalat
Siapa lebah dan ngengat
....... Akan kuberitahu setelah kubersihkan sungutku

-noni-

Vol. 3 No. 7 Tahun 2007


31
O NIO MUN
IM D
TR
IA
PA

UNESCO
O N D IA L
W O R LD H

EM

United Nations
ER

TA
OI
N
I

GE Educational, Scientific and


PATRIM Cultural Organization

Penerbitan ini didukung oleh


Departemen Lingkungan Hidup Spanyol dan
Badan Kerjasama Internasional Spanyol (AECI)