ISSN 1858 - 4268 VoL 3 No_7 Tahun 2007

~4btd,- _

Memang, banyakjalan berliku nan terjal yang harus dihadapi para pendekar lingkungan di negara yang kita cinta ini. Maksud hati ingin menyelamatkan nafas orang sedunia dengan berjuang supaya lingkungan (baca: hutan) menjadi semakin baik, namun terkadang masih banyakjegalan-jegalan dari orang-orang berpikiran naif... Pun di penegakan hukum, para perusak hutan yang jelas-jelas sudah diatur oleh banyak perundangan dan segepok aturan pemerintah, masih saja bisa berlenggang bebas. Kalaupun dapat hukuman, masih sering terjadi di negeri Indonesia yang bercita-cita menjadi negara yang adil dan beradab ini, mereka diibaratkan hanya mendapat cubitan kecil yang hanya berbekas sesaat.

Apakah itu terjadi pada us aha penegakan hukum di Tanah Leuser? Kang Suer akan membahas bersama di Laput JL edisi ini.

Selain itu, kajian awal tentang banjir besar yang secara tidak terduga menyerang Langkat dan beberapa kabupaten di Nanggroe Aceh Darussalam di akhir tahun lalu menghiasi rubrik Dinamika di edisi ini. Apakah benar bahwa banjir di Langkat berkait langsung dengan rusaknya ribuan hektar kawasan TNGL?

Masih banyak rubrik-rubrik tetap yang akan Pembaca temukan di edisi ini.

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada Kang Suer, Noni, Iskandar, Rina, Pak Wir, Bisro, Ujang dan Bobby yang telah memberikan kontribusi tulisan pada JL edisi 7 ini. Ucapan terima kasih juga tidak luput kami sampaikan kepada UNESCO, Departemen Lingkungan Hidup Spanyol serta Badan Kerjasama Interuasional Spanyol (AECI) atas dukungannya dalam penerbitan JL edisi ini.

Selamat membaca ....

p~

Kepala Balai TNGL

P~R~

Bisro Sya'bani

lflwM-R~

Ratna Hendratmoko Rina Purwaningsih Ujang Wisnu Barata Bisro Sya'bani

~

Isra Imran

Dumohar Tampubolon

Cover depan

: Menteri Kehutanan RI dan Gubernur Sumut di Besitang

(Foro Ujang VvJ3)

A~

Immam Prabudi

Cover belakang

: Damar (Shorea sp.) di Track 1 BukitLawang

(Foro 815m Sya'bam)

lJ~

Rebowo Wasgito

Design 'n Layout

: Bisro Sya'bani

~.cU.:

Balai Taman Nasional Gunung Leuser

JI. Blangkejeren 37 Tanah Merah Kutacane Aceh Tenggara PO BOX 16 Kode Pos 24601

Telp. (0629) 21358 Fax. (0629) 21016

~~~

Redaksi Buletin "Jejak Leuser" menerima sumbangan tulisan yang berkaitan dengan aspek konservasi. Tulisan diketik dengan spasi tunggal, maksimal 5 halamam dan minimal 3 halaman A4 dengan font Times New Roman 11. Naskah dikirim ke email: jejakleuser@yahoo.co.id dengan disertai identitas diri (t ermasuk foto penul i s l , serta f'o to Tot.o dan/atau gambar-gambar yang dapat mendukung tema tulisan. Naskah yang dikirimkan menjadi hak penuh redaksi Buletin "Jejak Leuser" untuk dilakukan proses editing seperlunya.

JI. Suka Cit a 12 Kel. Suka Maju Medan Johor, Medan, Sumatera Utara Telp/ Fax. (061) 7879378

Email: jejakleuser@yahoo.co.id

- ene~akan Hukum di TNGL (DmeAI'IJ D4S4 14S1

pasak hOlDi ?

~ ~li.!Pfr ~li.! oooV

- utan untuk Masyarakat,

P~MI 14M ~JMI KoMWIAA _'(IIi,

~ .... ,"'.~._~...; j"'."' . ...,,,,,,,f~

~g) #-':"'-'TV,<c 1"Y~,,!"h '''c~ ~® 1'f-.,...,.-,.r~"''''C-H''''.~_-,.~

~D

P engelolaan taman nasional di Indonesia menghadapi berbagai persoalan yang mendasar dan klasik. N amun, sampai dengan saat ini belum ditemukan solusi yang tepat. TN. Gunung Leuser merupakan

contoh rumitnya persoalan pengelolaan kawasan. Di satu sisi manajemen yang lemah di masa lalu mengakibatkan sebagian kawasan TNGL yang berbatasan langsung dengan lahan masyarakat, dianggap sebagai "no man land" atau lahan tidur dan lahan yang terjebak ke dalam klasifikasi "open access". Sumberdaya lahan yang tidak dimiliki oleh siapapun (karena di masa lalu Polhut atau "pemilik" kawasan tidak pemah ada di temp at), tetapi sekaligus juga "milik setiap orang" (siapa kuat ia dapat). Kondisi open access ini juga terjadi di logged-over area (LOA), bekas tebangan HPH.

orang mencoba untuk merambah, baik yang akhimya bertempat tinggal ataupun yang memakai beberapa perantara untuk dapat "menguasai" lahan tersebut dengan menanam berbagai komoditi. Dalam kasusi

TNGL di Besitang, sebuah kecamatan di Kabupaten Langkat, kondisi open access ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu, sehingga pendudukan, perambahan dan spekulasi lahan menjadi suatu keniscayaan. Pada awal tahun 2000, terjadi gelombang pengungsi dari Aceh Timur, yang semula hanya 6 kepala keluarga. Ketika tidak dilakukan penyelesaian secara tuntas dan bahkan terjadi proses "pembiaran" sekian tahun, maka jumlah pengungsi telah mencapai 557 kepala keluarga. Hal yang sarna juga terjadi pada perambah yang menguasai ribuan hektar

.; lahan TNGL dan dijadikan perkebunan sawit.

r ,

Apabila di suatu taman nasional,

terdapat areal dalam kategori open access, maka yang seringkali terjadi adalah spekulasi. Satu atau beberapa

Ketika proses penegakan hukum dilakukan terhadap 38 perambah di Resort Sekoci, pada akhir 2006 dan dilanjutkan dengan

4

---------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

penumbangan sawit ilegal pada J anuari 2007, Balai TNGL beserta Polres Langkat dituduh telah melakukan pelanggaran HAM berat oleh LBH Medan.

Saat ini telah divonis 13 perambah dan 1 dalang perambah oleh PN Stabat. Masih dalam proses pengadilan 2 mantan anggota dewan, dengan kasus yang sarna. Kerusakan yang diakibatkan oleh polapola perambahan terorganisir seperti ini sangat massif. Tidak kurang dari 10.000 Ha kawasan hutan hujan tropis dataran rendah di Resort Sekoci, Besitang, telah hancur. Pembakaran yang berulang untuk penanaman sawit telah menghentikan proses suksesi alami di wilayah ini. Berdasarkan penelitian, dengan mengamati plot permanen di Besitang, diperlukan waktu lebih dari 100 tahun untuk mengembalikan hutan pada kondisi awalnya. Kerusakan di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Besitang dan Sei Lepan sendiri saat ini telah mencapai 37%. Selain faktor curah hujan, hancumya DAS inilah yang menjadi salah satu faktor utama pendorong banjir bandang di Kabupaten Langkat dan sekitamya pada 21-22 Desember 2006 tersebut.

Penegakan hukum yang sedang dilakukan oleh Balai TNGL besertajajaran penegak hukum lainnya adalah sebagai "shock therapy" bagi siapapun yang mencoba untuk berspekulasi melakukan perambahan dan aktivitas haram di dalam kawasan TN Gunung Leuser. Sejak dilakukannya penegakan hukum dan ujicoba pemusnahan sawit ilegal, telah berdampak pada menurunnya upaya spekulasi pada cukongcukong lahan dan atau kelompok-kelompok yang tidak bertanggungjawab untuk memperluas perambahannya. Kelompok-kelompok terorganisir ini bukanlah orang miskin atau tak berlahan. Mereka memiliki lahan di temp at asalnya. Sementara, beberapa keluarga yang mencoba berspekulasi telah dimanfaatkan oleh kelompok terorganisir tersebut untuk merambah masuk ke dalam wilayah taman nasional.

Ke depan, pola pengelolaan TNGL akan melibatkan berbagai komponen masyarakat setempat. Diakui bahwa penegakan hukum saja tidaklah cukup untuk menghentikan laju kerusakan hutan tersebut. Oleh karena itu, berbagai pola kolaborasi dan kerjasama dengan masyarakat akan terus dilakukan secara intensif. Pertama, masyarakat akan mendapatkan

manfaat atau lapangan pekerjaan dengan melakukan reboisasi kawasan dan atau melakukan penjagaan/patroli bersama. Kedua, pihak Balai TNGL akan sangat terbantu dalam mengemban tugasnya menyelamatkan sisa-sisa hutan hujan tropis terpenting di Prop.Sumatera Utara tersebut. Upaya win-win solution inilah yang akan ditempuh dalam mensikapi perkembangan pengelolaan TNGL di wilayah Propinsi Sumatera Utara.

o leh karena itu, membangun kelembagaan kerj asama yang kuat merupakan tantangan ke depan. TNGL akan dijaga oleh masyarakatnya sendiri sebagai salah satu pilar konservasi taman nasional ke depan. Dan membangun suatu kelembagaan lokal, bukanlah tugas yang mudah, namun juga bukanlah hal yang tidak mungkin dilakukan. Francis Fukuyama dalam bukunya berjudul "Memperkuat Negara" (2005), menyatakan bahwa: " Suatu negara yang kuat ditandai dengan kemampuannya menjamin bahwa hukum dan kebijakan yang dilahirkannya ditaati oleh masyarakat, tanpa harus menebarkan ancaman, paksaan, dan kecemasan berlebihan. Elemen dasar yang ada pada negara yang kuat adalah otoritas yang efektif dan terlembaga",

Oleh konteks pengelolaan TNGL, maka persoalan kelembagaan menjadi salah satu isu sentral yang harus dilakukan penguatan. Kolaborasi pengelolaan merupakan salah satu pilihan di mana diharapkan kebijakan konservasi di tingkat global dan nasional dapat diterjemahkan menjadi paket-paket kelembagaan pengelolaan yang tetap mempertimbangkan keseimbangan antara aspek (mikro) ekonomi-sosiallbudaya-lingkungan. Tiga aspek pembangunan yang terlanjutkan ini menjadi pilar dari berbagai inisiatifkelembagaan pengelolaan TNGL ke depan. Dalam beberapa tahun, diharapkan terbentuk kelembagaan kolaborasi desa-desa mitra TNGL atau TNGL mitra desa, di sepanjang batas taman nasional.

Ketika hal ini dapat terwujud, penegakan hukum tidak lagi berwajah garang dan menimbulkan kecemasan. Ia akan diposisikan menjadi sekedar "shock therapy" saja, dan oleh karenanya hanya ditujukan kepada master mind- nya atau aktor intelektualnya. * * *

inung_ w2000@yahoo.com

Vol. 3 NO.7 Tahun 2007------------------------------------

5

Oleh:

Suer Suryadi *)

Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) dideklarasikan pada tahun 1980 oleh Menteri Pertanian yang ketika itu masih membawahi bidang Kehutanan. Setahun kemudian, TNGL ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer atas usulan dari Pemerintah Indonesia. Pada tahun 1984, TNGL juga ditetapkan sebagai salah satu dari sebelas Asean Heritage Parks. Areal TNGL diperluas menjadi l.094.692 hektar oleh Menteri Kehutanan pada tahun 1997. Akhirnya pada tahun 2004, TNGL menjadi bagian Warisan Dunia sebagai salah satu cluster dari Tropical Rainforest Heritage of Sumatra.

daerah aliran sungai (DAS), TNGL telah menyuplai air bagi 4 juta penduduk di sekitamya. Bahkan nilai ekonomi TNGL dapat mencapai US$ 9,1 miliar jika dikelola dan dimanfaatkan secara lestari.

Dengan sederet status regional dan intemasional itu, TNGL memang makin dikenal luas dalam komunitas intemasional. N amun ancaman terhadap

kawasan juga semakin nyata. Mulai dari perambahan kawasan oleh perorangan, kelompok, dan pemsahaan hingga penebangan liar dengan berbagai skala. Khusus untuk kawasan TNGL di Besitang saja, kawasan yang msak diperkirakan telah mencapai ± 20.000 hektar.

Rutan dan keanekaragaman hayati di TNGL mempakan laboratorium alam yang melahirkan ratusan sarjana, master, dan doktor dari berbagai negara. Ekosistem yang beragam menjadikan TNGL sebagai harapan terakhir bagi kelangsungan hidup satwa langka khas Sumatera, seperti orangutan, gajah, badak, dan harimau. Sebagai hulu dari12

Sebaliknya, msaknya hutan-hutan dan DAS di TNGL akan menyengsarakan masyarakat dalam arti luas. Banjir yang belum lama ini terjadi di Besitang, Langkat tentu masih melekat dalam ingatan. Kerngian harta dan kehilangan jiwa tidak hanya dirasakan oleh pihakpihak yang mernsak kawasan TNGL, tetapi juga oleh masyarakat tak berdosa. Pemerintah pun hams mengeluarkan dana penanggulangan bencana yang tidak kecil. Apakah kita masih hams berdiam diri dan berbasa-basi?

Penegakan Hukum Demi Keadilan

Penegakan Hukum menjadi istilah yang segera mencuat ketika ancaman di kawasan hutan konservasi tidak kunjung usai. Peristiwa dan perbuatan hukum yang kontra produktif dengan upaya konservasi terns terjadi tetapi sanksi hukumnya nyaris tak terdengar. Lemahnya penegakan hukum selalu menjadi penjelasan atas kernsakan yang melanda kawasan konservasi, termasuk TNGL.

Di manakah letak kelemahan tersebut? Pada peraturan

6

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

perundang-undangannya, atau pada pelaksananya? Kemauan politik (political will) tidaklah cukup dalam konteks penegakan hukum tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata (political action). Ahli hukum dari Belanda, Taveme mengatakan, " Geef me goede Rechters, goede Rechters Commissarissen, goede Officieren Van Justitie en goede Politie Ambtenaren, en ik zal met een slecht wetboek van strafprocesrecht goed bereiken (Berikan saya hakim yang baik, hakim pengawas yang baik, jaksa yang baik, dan polisi yang baik, maka penegakan hukum akan berjalan walaupun dengan hukum pidana yang lemah).

Hukum yang berkembang di bidang konservasi dan kehutanan ditandai dengan terbitnya UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan

Ekosistemnya. Selanjutnya diperkuat

lagi dengan UU No. 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Di dalam kedua UU tersebut, telah memuat larangan yang disertai ancaman pidananya (Lihat Lampiran). Sejumlah peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pemidanaan di bidang kehutanan dan konservasi juga terus bertambah, misalnya UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungah Hidup dan UU No. 15 tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah dirubah oleh UU No. 25 tahun 2003.

Namun keberadaan undang-undang yang spesifik mengatur tentang konservasi dan kehutanan, tidak serta merta penegakan hukumnya menjadi hal yang mudah. Penegakan hukum dalam bentuk preventif dan represif harus dilakukan secara bersamaan. Preventif hanya akan menjadi "gertak sambal" jika tidak diiringin oleh tindakan represif yang terukur. Preventif dimulai dari berbagai upaya penyadaran kepada masyarakat hingga pola pembangunan ekonomi dan sumberdaya manusia yang mengurangi hasrat manusia untuk berbuat kejahatan. Tahap represif bermula dari peringatan, denda administratif hingga pemidanaan sesuai criminal justice system yang berlaku.

Pihak yang masuk dalam kategori penegak hukum dalam konteks konservasi TNGL adalah petugas TNGL, termasuk Polisi Kehutanan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) sebagai lapis pertama. Lapis berikutnya adalah Polisi, Jaksa, dan Hakim. Aparat hukum tersebut, secara sendirisendiri atau bersama-sama tidak akan mampu melakukan upaya preventif dan represif tanpa dukungan masyarakat dan unsur lembaga pemerintahan lainnya. Lebihjauh lagi, akan kita temukan adanya berbagai faktor teknis dan nonteknis yang mempengaruhi kinerja penegakan hukum. Misalnya sistem deteksi dini yang memerlukan partisipasi masyarakat, pendanaan untuk penyelidikan, penyidikan, penahanan, dan penyitaanipenyimpanan barang bukti.

Sesungguhnya, untuk siapakah penegak hukum bekerja? Jika mereka bekerja sebatas menunaikan kewajiban, sekedar menj alankan perintah pimpinan, atau menj alankan kewenangan, maka penegakan hukum akan berubah menj adi komoditas. Kewajiban, perintah, dan kewenangan yang temoda oleh kepentingan pribadi menghasilkan konflik kepentingan yang bermuara pada penegakan hukum yang pilih kasih. Klausul di dalam undang-undang pun menjadi multitafsir. Penegakan hukum demi keadilan

sebagaimana tertulis di awal amar putusan, DEMI KEADILAN YANG BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA, menjadi barang langka.

Penegakan hukum demi keadilan tentu juga mencakup adil bagi terdakwa, adil

bagi penegak hukum, dan adil bagi masyarakat yang terkena dampak akibat perbuatan terdakwa. Sesuatu yang adil bagi penegak hukum, belum tentu adil bagi terdakwa dan sebaliknya. Kata adil menjadi sesuatu yang abstrak namun dapat dirasakan oleh hati nurani karena hati nurani tak pemah bohong.

Dengankata lain, penegakan hukum demi keadilan tunduk pada moralitas, hati nurani, dan normanorma yang berkembang di

masyarakat. Bahkan kepatuhan pada hukum itu harus lebih dari sekedar tunduk pada kewajiban, perintah pimpinan, dan kewenangan yang didapat dari undang-undang yang berlaku. Tanpa itu semua, akan tercipta penegakan hukum rimba.

Siapa yang kuat (financial dan kekuasaan), dialah yang menang.

Upaya-upaya Preventif

Istilah mencegah lebih baik dari mengobati juga cocok diterapkan dalam penegakan hukum. Beberapa upaya pencegahan untuk TNGL dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain:

1. Penyebarluasan informasi mengenai batas kawasan TNGL, keanekaragaman hayati, status kawasan, nilai pentingnya, dan peraturan pendukungnya kepada pemerintah daerah (Propinsi hingga KelurahanIDesa), masyarakat (kedatukan, pimpinan informal), perusahaan perkebunan, sekolah dan pesantren, dan lembaga-lembaga non pemerintah. Penyebarluasan informasi itu dapat dilakukan oleh siapapun, sepanj ang informasi yang diberikan sudah diverifikasi kebenarannya oleh pengelola TNGL.

2. Pemasangan pal batas di sepanjang perbatasan TNGL dan papan-papan informasi mengenai status kawasan TNGL dan Warisan Dunia di sekitar TNGL dan kotakota di sekitamya, serta papan penunjuk arah ke

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

7

daerah tujuan wisata di TNGL.

3. Mengedepankan peran serta masyarakat sekitar TN GL untuk turut membantu pengelolaan TNGL, dalam bentuk perlindungan, pengamanan, dan pemanfaatan lestari pada zona-zona pemanfaatan. Untuk terwujudnya pendekatan ini, diperlukan staf TNGL pada setiap kantor resort menunjukkan eksistensinya di lapangan dan berbaur dengan masyarakat.

4. Paradigma pembangunan daerah di sekitar TNGL tetap memperhatikan eksistensi TNGL sebagai situs warisan dunia, dan menunjang pemanfaatan lestari kawasan di sekitar TNGL. Peningkatan manfaat kawasan bagi masyarakat secara terkendali, merupakan posisi tawar bagi TNGL untuk mempadu serasikan antara konservasi dan pengembangan ekonomi masyarakat.

Upaya-upaya preventif itu tidak terbatas pada apa yang disampaikan di atas, namun dapat dikembangkan menjadi berbagai kegiatan yang berdampak positifbagi masyarakat dan pengelola TNGL. Gap atau perbedaan kepentingan yang selama ini terjadi dapat dipersempit melalui upaya preventif sehingga kecenderungan masyarakat sekitar untuk merusak kawasan dapat diminimalisir. Bahkan, masyarakat sekitar dapat menjadi benteng pertahanan ketika ada pihak luar yang ingin menggangu kawasan. Berbagai komponen masyarakat dapat menjadi agen perubahan untuk melakukan pencegahan dan deteksi dini terhadap kej ahatan di kawasan TNGL dan sekitaruya.

U paya-upaya Represif

Untuk membangun dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum, maka harus ada ketegasan di kalangan penegak hukum untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu. Kemungkinan adanya keterlibatan oknum aparat penegak hukum (sejak dari perencanaan, pelaksanaan, hingga paska kejahatan) harus ditiadakan. Pihak-pihak yang melaporkan adanya keterlibatan oknum harus dilindungi, sementara oknumnya ditindak tegas (secara administratif atau pidana) jika keterlibatannya terbukti. Sulit mengharapkan adanya penegakan hukum demi keadilan, ketika masyarakat menilai ada pilih kasih dalam penerapan hukum.

Meskipun di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana pasal 10 terdapat 8 macam sanksi pidana. Dalam kenyataannya, kita lebih sering mendengar tiga macam sanksi sebagai bentuk tindakan represif, yaitu surat peringatan (pasal 131, 134 PP No.6 tahun 2007), sanksi administratif (Pasal80 UUNo. 41 tahun 1999), dan sanksi pidana penjaraidenda(Pasal78 UUNo. 41 tahun 1999).

Surat peringatan sebagaimana diatur di dalam PP No. 6 tahun 2007 merupakan tahapan awal sebelum diberikan sanksi administratif. Peringatan secara lisanltertulis juga kerapkali diterapkan kepada pelaku yang dampak kejahatannya dianggap tidak signifikan, Pelaku tersebut selanjutnya menandatangani pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. Bentuk peringatan yang sama diberikan ketika kejahatan itu melibatkan oknum aparat

8

penegak hukum, kemudian diserahkan kepada kesatuannya untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut dari pimpmannya,

Sanksi administratif diberikan ketika kej ahatan konservasilkehutanan dilakukan oleh pihak-pihak yang menyalahgunakan ijin pemanfaatan hutan. Sanksi tersebut dapat berupa denda hingga pencabutan ijin. Sanksi administratif tersebut tidak menutup kemungkinan dimintainya ganti rugi kepada penanggungjawab yang telah membuat kerusakan kawasan (pasal 80 ayat (1) UU No. 41 tahun 1999). Sedangkan sanksi pidana diberikan kepada siapapun yang terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kejahataan konservasi dan kehutanan berdasarkan undang-undang yang berlaku. Sanksi pidana tersebut dapat dilihat di dalam tabel.

Dari sisi proses, penegakan hukum mencakup deteksi dan pelaporan, penyelidikan & penyidikan, penuntutan, putusan pengadilan, dan eksekusi putusan. Tata cara untuk proses tersebut sebagian besar diatur di dalam UndangUndang Nomor 8 tahun 1981 tentang HukumAcaraPidana (KUHAP, Kitab Undang-undangHukumAcaraPidana).

Kinerja penegakan hukum sangat bergantung pada tindak lanjut dari satu proses ke proses berikutnya dalam rangkaian penegakan hukum, nilai hukuman berupa denda dan lamanya hukuman pidana. Keberhasilan dalam mendeteksi tindak pidana kejahatan, yang tidak diiringi oleh penyidikan dan penuntutan yang profesional, akan menurunkan kinerja penegakan hukum secara keseluruhan. Di sisi lain, menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap hukum (Lihat BOX INFO)

Upaya represif berawal dari deteksi dini yang dilakukan oleh masyarakat, petugas lapangan di tingkat resort TNGL, dan aparat pemda atau penegak hukum lainnya yang berada di sekitar TNGL (azas locus delicti). Pada dasarnya deteksi dan pelaporan dapat dilakukan oleh siapapun, sebagaimana diatur di dalam pasal1 angka 24, angka 25, dan pasal108 KUHAP. lsi pasal1 08 selengkapnya adalah:

(1) Setiap orang yang mengalami, melihat, menyaksikan dan atau menjadi korban peristiwa yang merupakan tindak pidana berhak untuk mengajukan laporan atau pengaduan kepada penyelidik dan atau penyidik baik lisan maupun tertulis.

(2) Setiap orang yang mengetahui permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana terhadap ketenteraman dan keamanan umum atau terhadap jiwa atau terhadap hak milik wajib seketika itu juga melaporkan hal tersebut kepada penyelidik atau penyidik.

(3) Setiap pegawai negeri dalam rangka melaksanakan tugasnya yang mengetahui tentang terjadinya peristiwa yang merupakan tindak pidana wajib segera melaporkan hal itu kepada penyelidik atau penyidik.

(4) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara tertulis harus ditanda-tangani oleh pelapor atau pengadu.

(5) Laporan atau pengaduan yang diajukan secara lisan harus dicatat oleh penyidik dan ditandatangani oleh pelapor

Vol. 3 No 7 Tahun 2007

atau pengadu dan penyidik.

(6) Setelah menerima laporan atau pengaduan, penyelidik atau penyidik harus memberikan surat tanda penerimaan laporan atau pengaduan kepada yang bersangkutan.

Jelas bahwa masyarakat memiliki hak yang dilindungi undang-undang untuk melaporkan kejahatan yang sedang dan akandilakukandi sekitarTNGL. Halitu menjadi wajib bagi petugas TNGL dan pegawai negeri lainnya. Per definisi, hak untuk melapor itu dapat digunakan atau tidak digunakan oleh masyarakat. Agar masyarakat dapat secara aktif menggunakan haknya untuk membantu pengamanan di TNGL, diperlukan rangkaian pendekatan dan upaya preventif sebagaimana digambarkan pada bagian sebelumnya.

Penyelidikan dan penyidikan umumnya dilakukan oleh Penyidik Polisi (pasal 4 dan pasal 6 KUHAP). Namun berdasarkan pasal 6 KUHAP, pasal 39 UU No.5 tahun 1990, dan pasal 77 UU No. 41 tahun 1999, dimungkinkan adanya Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) bidang Konservasi dan Kehutanan. Bahkan Departemen Kehutanan memiliki Direktorat Penyidikan dan Perlindungan Hutan yang tentunya mengawal proses atau melakukan sendiri penyidikan perkara pidana konservasi dan kehutanan. Kewenangan PPNS tidak jauh berbeda dengan Penyidik Polri, namun dalam pelaksanaan tugasnya tetap berada di bawah koordinasi dan pengawasan Penyidik Polri dan mengikuti KUHAP.

A. Yasin

Dalam praktik penegakan hukum di TNGL, kehadiran dan peran PPNS nyaris tidak terdengar. Penyidik PNS yang dapat melakukan tugas penyidikan tidak selalu berasal dari TNGL, tapi juga memanfaatkan PPNS dari Balai KSDA, Dinas Kehutanan atau Unit Penyidikan Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC). Mereka ada tapi tak diberdayakan, mereka berwenang tapi tidak berdaya. Di mana letak masalahnya? Pendanaan? Sumberdaya manusia? Teknis penyidikan? Atau kemauan?

Penuntutan merupakan tanggung jawab dan kewenangan kejaksaan negeri yang akan menunjuk jaksa penuntut umum (JPU) untuk suatu perkara. Setelah JPU menyatakan P21 (berkas acara pemeriksaanlpenyidikan) diterima, maka JPU yang akan memasukkan berkas ke pengadilan negeri setempat. Masalahnya kadang tidak semudah itu bagi JPU untuk mem-P21-kan perkara. Ada kalanya berkas dikembalikan kepada penyidik disertai saran perbaikan (P 18 dan P 19). Sangat dimungkinkan terjadi ketidaksepahaman antara penyidik dan JPU dalam penggunaan pasal yang akan didakwakanldituntut. Ada kalanya isi dakwaan sedikit "berbeda" dengan berkas acara penyidikan. Dari proses penyidikan hingga ke penuntutan terdapat ruang negosiasi yang kadang terlalu jelas, di pihak mana JPU berdiri.

Sebagai contoh, kasus terdakwa DS (mantan anggota DPRD Langkat, dalam kasus perambahan TNGL - red). Dakwaan primer dan subsider menggunakan nama DS, tetapi dakwaan lebih subsideruya mencantumkan nama

terdakwa NS (kasus lain yang belum disidangkan). Secara subtansi, terdapat perbedaan keterangan antara hasil berita acara penyidikan dengan surat dakwaan. Hal itu jelas membuka peluang dakwaan menjadi "kabur" atau obscuur libel. Padahal, pemeriksaan persidangan tidak boleh menyimpang dari apa yang dirumuskan dalam surat dakwaan.

Police Line sudah direntangkan mengitari salah satu kilang kayu haram di Aceh Tenggara. Tersentuh hukumkah si empunya kilang dan pemain-pemain di dalamnya? Semoga ...

Terhadap hal itu, majelis hakim yang memimpin persidangan memiliki kewenangan untuk menentukan batalltidaknya suatu dakwaan. N amun menurut Yahya

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

9

Tabel 2. Proses dan Hasil Persidangan Pidana Kehutanan di TNGL tahun 2006-2007 (berdasarkan data terakhir 21 Maret 2007)

2 Tsk: NKS
3 Amo
4 Saryono 17 Januari 2007
5 Suruhan Pinem 6 Sep 2006
6 Moh. Thayib 28 Ju12006
7 Boimin 27 Ju1 2006
8 Gono 27 Ju1 2006
9 Suwarno 27 Ju1 2006
10 Rudi Prawongso 27 Ju1 2006
11 Juma1i 27 Ju1 2006
12 Sugito 28 Ju12006
13 Kasim 28 Ju12006
14 Abdul Kha1id 28 Ju12006
15 Harto 28 Ju12006
16 TW 9 Mar 2006 Lebih Dari SekedarTupoksi...

Ada faktor lain, secara teknis dan non-teknis, yang mempengaruhi proses penegakan hukum. Keterlibatan masyarakat dan unsur-unsur di luar aparat penegak hukum serta kepentingan yang melekat pada mereka juga mempengaruhi proses penegakan hukum. Adanya kepentingan-kepentingan itu, baik positif maupun negatif, yang mengakibatkan terjadinya distorsi dalam hukum.

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

Harahap, ukuran objektif melakukan penilaian surat dakwaan berdasarkan apakah terdakwa dirugikan untuk melakukan pembelaan diri, dan jika surat dakwaan tidak jelas dan tidak lengkap memuat elemen atau unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan. Jadi putusan terakhir terhadap suatu tindak pidana konservasi dan kehutanan terletak di tang an majelis hakim, untuk kemudian dieksekusi oleh JPu.

10

Bahkan menimbulkan disparitas (perbedaan sanksi) yang jauh berbeda antara terdakwa-terdakwa yang melanggar delik pidana yang sarna.

Mungkin peraturan perundang-undangan yang ada belum sempurua namun tidak berarti hukum tidak dapat ditegakkan. Salah satu hal terpenting dalam penanganan suatu perkara pidana ialah masalah pembuktian. Tindakan aparat penyidik dan penuntut umum diarahkan kepada upaya pencarian alat-alat bukti yang berkaitan dengan apa yang dilakukan tersangka yang akhiruya harus dibuktikan oleh JPU di depan sidang pengadilan. Dengan demikian, dalam memfungsikan suatu UU, faktor yang terpenting ialah manusia pelaksananya

Menegakkan hukum demi keadilan harus dilakukan lebih dari sekedar menjalankan kewenangan berdasarkan tugas pokok dan fungsinya (tupoksi). Itupun tetap harus dilakukan sesuai dengan koridor hukum yang ada. Sebagai contoh digambarkan oleh Paulus E Lotulung, salah satu hakim Agung. Dalam konteks kebebasan hakim (independency of judiciary) harus diimbangi oleh akuntabilitas peradilan (judicial accountability). Artinya, kemandirian dan kebebasan kekuasaan kehakiman dibatasi oleh akuntabilitas, transpransi, dan integritas moralietika, profesionalisme dan imparsialitas.

Berdasarkan tupoksinya, aparat TNGL dan penyidik tentu tak lagi berperan di dalam proses penuntutan dan persidangan, kecuali diminta menjadi saksi. Namun menjadi luar biasa ketika aparat TNGL dan penyidik terus memantau perkembangan dari kasus yang ditemukan dan disidiknya.

Keluhan yang sarna pasti terjadi pada aparat penegak hukum, bahwa dana untuk penegakan hukum jauh dari memadai. Di sisi lain, penegakan hukum harus terjadi dan mencuat di masyarakat. Pada kondisi yang demikianlah, seringkali ruang "negosiasi" terbuka sesuai dengan kepentingan-kepentingan yang melekat. Oleh karena itu, penegakan hukum harus dimulai dari lembaga masingmasing agar penegak hukum juga dapat berdiri tegak dan bangga dengan profesinya. * * *

*) Technical advisor for UNESCO

s. suryadi@unesco.org

Pendapat dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini merupakan tanggungjawab penulis sepenuhnya, dan tidak merefleksikan pendapat atau kebijakan UNESCO.

Nilai Disinsentif Tindak Pidana

Tentu kita berharap agar setiap operasi penegakan hukum akan menimbulkan efekjera bagi pelaku kejahatan konservasi dan kehutanan. Dalam Enforcement Economic terdapat formula untuk mengukur kinerja penegakan hukum berdasarkan besaruya nilai disinsentif, yaitu nilai kerugian yang diderita pelaku tindak pidana atas suatu kejahatan.

Efek j era akan timbul jika N ilai Disinsentif Ekonomi (NDE) bagi pelaku dapat dibuat sebesar mungkin. Ketika nilai disinsentif tetap kecil, atau ketika keuntungan dari hasil kejahatan lebih besar daripada kegiatan yang sah, para pelaku kejahatan akan tetap tertawa. Sebagai contoh, hasil perhitungan NDE dari kasus-kasus illegal logging di Papua adalah US$6,47 sedangkan keuntungan dari illegal logging adalah US$ 9l.967. Artinya, penegakan hukum menjadi kurang berarti ketika nilai ekonomi dari kejahatan yang dilakukannya lebih besar daripada nilai disinsentifnya.

Nilai Disinsentif diperoleh dari perkalian probabilitas deteksi dengan probabilitas jumlah penyidikan terhadap jumlah deteksi, probabilitas

jumlah penuntutan terhadap jumlah penyidikan, probabilitas terbukti bersalah terhadap penuntutan. Hasil perkalian probabilitas itu dikalikan lagi dengan nilai denda (dalam rupiah) dan eksponensial matematika terhadap rata-rata suku bunga dan waktu yang dibutuhkan sejak kasus terdeteksi hingga eksekusi putusan sidang yang telah berkekuatan hukum tetap. Nilai denda dalam perhitungan tersebut mencakup nilai ekonomi yang hilang saat terdakwa menjalani hukuman.

Dengan formula tersebut, kinerja penegak hukum dalam setiap proses hukum sangat mempengaruhi NDE. Jika probabilitas dalam suatu proses hukum tersebut nol (0), sia-sialah kerja aparat penegak hukum lainnya. Artinya tidak ada disinsentif sarna sekali atau tidak ada efekjera bagi pelaku kejahatan konservasi dan kehutanan. Untuk meningkatkan efek jera atau memperbesar NDE, meningkatkan probabilitas deteksi adalah langkah awal, kemudian meningkatkan kuantitas dan kualitas penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pengadilan. Sanksi berat, denda besar, dan waktu sidang yang cepat dapat meningkatkan NDE secara signifikan. ***

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

11

Tabel Perbuatan Pidana yang diatur dalam undang-undang bidang konservasi, kehutanan, dan lingkungan di Indonesia Tabel3. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya

Perbuatan Pasal yang mengatur Sanksi Pidana
Penjara/ Kurungan Denda
Kesengajaan:
Melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan Pasal 19 (I) jo. Pasal40 (I) Kesengajaan: maksimal penjara 10 tahun. maksimal Rp. 200.000.000.
terhadap keutuhan kawasan suaka alam. dan (3) Kelalaian:
Kelalaian: maksimal kurungan I tahun. maksimal Rp. 100.000.000
Mengambil, menebang, memiliki, merusak, memusnahkan, Kesengajaan:
memelihara, mengangkut, dan memperniagakan timbuhan yang Pasal 21 (I) huruf a Kesengajaan: maksimal penjara 5 tahun. maksimal Rp. 100.000.000.
dilindungi atau bagian-bagiaunya dalam keadaan hidup atau mati. jo. Pasal 22 jo. Pasal 40 (2) Kelalaian: maksimal kurungan I tahun. Kelalaian:
(kecuali untuk keperluan penelitian) dan (4) maksimal Rp. 50.000.000
Pasal 33 (I) jo. Pasal40 (I) Kesengajaan:
maksimal Rp. 200.000.000.
Melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan dan (3) Kesengajaan: maksimal penjara 10 tahun. Kelalaian:
terhadap keutuhan zona inti taman nasional. Kelalaian: maksimal kurungan I tahun. maksimal Rp. 100.000.000
Pasal 33 (3) jo. Pasal40 (2) Kesengajaan:
Melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona maksimal Rp. 100.000.000.
pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional, taman hutan raya, dan (4) Kesengajaan: maksimal penjara 5 tahun. Kelalaian:
dan taman wisata alam. Kelalaian: maksimal kurungan I tahun. maksimal Rp. 50.000.000 Tabel4. Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup

Perbuatan Pasal yang Mengatur Sanksi Pidana
Penjara/ Kurungan Denda
Kesengajaan:
Kesengajaan: maksimal penjara 10 tahun. maksimal Rp. 500.000.000.
Kealpaan:
Menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap Kealpaan: maksimal penjara 3 tahun. Maksimal Rp. 100.000.000.
sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan Pasall angka 14 jo.
hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan Pasa14l dan 42 Menyebabkan orang lain matilluka berat: Menyebabkan orang mati/ luka berat:
berkelanjutan. (perusakan lingkungan hidup) Kesengajaan: maksimal penjara 15 tahun. Kesengajaan:
Kealpaan: maksimal penjara 5 tahun. maksimal Rp. 750.000.000.
Kealpaan:
Maksimal Rp. 150.000.000 Tabel5. Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan

Perbuatan Pasal yang Mengatur Sanksi Pidana
Penjara/ kurungan Denda
Pemanfaatan hutan lindung yang berupa pemungutan hasil hutan Pasal 26 (I) jo. Pasal 50 (3) Maksimal
kayu. huruf e jo. Pasal 78 (5) Maksimal penj ara 10 tahun Rp. 5.000.000.000
Pemanfaatan hutan produksi berupa pemanfaatan hasil hutan Pasal 28 (2) jo. Pasal 50 (3) Maksimal
kayu yang dilakukan tanpa izin. huruf e jo. Pasal 78 (5) Maksimal penj ara 10 tahun Rp. 5.000.000.000
Pemanfaatan hasil hutan kayu dan pemungutan hasil hutan kayu Pasal 50 (I) (2), dan
oleh pemegang ijin, yang menimbulkan perubahan fisik, sifat penjelasan, Maksimal penj ara 10 tahun Maksimal
fisik, atau hayatinya, yang menyebabkan hutan tersebut jo Pasal 78 (I) Rp. 5.000.000.000
terganggu atau tidak dapat berperan sesuai dengan fungsinya.
Merambah kawasan hutan, melakukan penebangan pohon dalam
kawasan hutan dengan radius atau jarak sampai dengan:
1. 500 m dari tepi wadukl danau. Pasa150 (3) hurufb dan huruf
2. 200 m dari tepi mata air dan kiri kanan sungai di daerah rawa.
3. 100 m dari kiri kanan tepi sungai. cjo. Maksimal penj ara 10 tahun Maksimal
4. 50 m dari dari kiri kanan tepi anak sungai. Rp. 5.000.000.000
5. 2 kali kedalaman jurang tepi jurang Pasal 78 (2)
6. 130 kali selisih pasang tertinggi dan pasang terendah dari tepi
pantai
Menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di Pasal 50 (3) huruf e jo. Maksimal
dalam hutan tanpa memiliki hak atau ijin dari pejabat yang Pasal 78 (5) Maksimal penj ara 10 tahun Rp. 5.000.000.000
berwenang.
Menerima, membeli, atau menjual, menerima tukar, menerima
titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui Pasal 50 (3) huruf f jo. Maksimal penj ara 10 tahun Maksimal
atau patut diduga berasal dari kawasan hutan yang diambil atau Pasal 78 (5) Rp. 5.000.000.000
dipungut secara tidak sah.
Mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak Pasal 50 (3) huruf h jo. Maksimal
dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil Pasal 78 (7) Maksimal penjara 5 tahun Rp. 10.000.000.000
hutan
Membawa alat-alat berat atau alat-alat lainnya yang lazim atau Pasal 50 (3) huruf j jo. Maksimal
patut diduga akan digunakan untuk mengangkut hasil hutan di Pasal 78 (9) Maksimal penjara 5 tahun Rp. 5.000.000.000
dalam kawasan hutan, tanpa iiin peiabat yang berwenang.
Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk menebang, Pasal 50 (3) huruf k jo. Maksimal penjara 3 tahun Maksimal
memo tong atau membelah pohon di dalam kawasan hutan tanpa Pasal 78 (10) Rp. 1.000.000.000
ijin pejabat yang berwenang. ----------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

12

leh:

Noni Eko Rahayu*)

tambe, surganya para pacet. Slogan ini sempat membuat saya gentar. Masuk hutan adalah satu al, menghadapi pacet itu hal lain. Untungnya phobia saya ini (kadang) masih bisa dikendalikan dan bahkan menggelitik saya untuk tahu sebenamya pacet itu hewan yang seperti apa, kok saya begitu ketakutan (belum ada sejarah yang mengatakan orang akan mati jika digigit pacet, tapiitu tidakmembantu).

Tidak mudah menemukan hasil penelitian tentang pacet. Mungkin orang hanya sekedar tahu, tetapi belum ada yang tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam mengenai vampir kecil ini, temtama di Indonesia. Studi yang ada lebih banyak mengenai lintah, saudaranya, khususnya untuk pengobatan altematif. Saya memulai pencarian informasi tentang pacet ini dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sederhana.

Binatang apakah pacet itu?

Pacet yang saya bicarakan ini adalah pacet tanah (Haemadipsa zeylanica) yang banyak terdapat di Stasiun Riset Ketambe dan pastinya di hutan hujan tropis Sumatra. Dari silsilah taksonominya, pacet termasuk:

Filum Sub filum Klas Ordo Famili Genus

: Annelida : Clitellata : Hirudinea

: Gnathobdellida : Haemadipsidae : Haemadipsa

Pacet mempakan jenis cacing bersegmen (memiliki 34 segmen), dengan alat penghisap di tiap ujungnya. Mulut pacet ada di alat penghisap bagian depan (anterior), sedangkan anusnya ada di permukaan dorsal (atas) dekat alat penghisap di bagian belakang (posterior). Binatang kecil ini temyata memiliki 3 rahang yang dipersenjatai dengan gigi-gigi (untunglah pacet bemkuran kecil...). Dia mempunyai organ pengindera di kepala dan di permukaan tubuh yang mampu mendeteksi pembahan intensitas cahaya, temperatur dan getaran. Di kepala pacet terdapat receptor kimia yang berfungsi sebagai indera pencium,

dilengkapi satu atau beberapa pasang mata, terdiri dari 30 - 100 sel photoreceptive dalam cup pigmen yang dalam. Cup inilah yang mengumpulkan cahaya.

Benarkah pacet = vampir penghisap darah?

Pacet mungkin bukan vampir, karena dia tidak mengenal siang malam saat berbum mangsa, tapi dia memang penghisap darah, tepatnya sanguivorous atau sebagai parasit yang menghisap darah pada host yang disuka. Pacet

yang lapar sangat responsif terhadap cahaya dan rangsangan mekanis (gerakanl getaran). Dalam keadaan seperti itu dia akan sering menggerakkan kepala dan badannya untuk mendeteksi mangsa, atau sebaliknya, membiarkan badannya berdiri tegak lurus dan tidak bergerak untuk memaksimalkan fungsi alat sensor di kulit. Ketika merasakan kedatangan mangsa,

mulailah dia bergerak mendekat dengan trial dan error sampai penghisap anteriomya menyentuh mangsa. Kena kau!

Ketika menggigit mangsa, pacet mengeluarkan zat anestetik yang membius daerah sekitar gigitan, Ill! sebabnya sering manusia tidak menyadari telah digigit. Pacet juga mengeluarkan zat non enzimatik yang mencegah penggumpalan darah, disebut Hirudin. Penghisapan darah bisa berlangsung sampai 20 menit dan setelah "makan" berat badan pacet bisa mencapai 4- 6 kali dari berat badan semula. Pacet yang kenyang kemudian

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

13

akan mencari tempat gelap untuk mencema makanan. Karena pacet hanya memiliki enzim pencemaan yang sangat sedikit, dia dibantu oleh bakteri yang ada di ususnya untuk mencema darah yang telah dihisap. Pencemaan itu sendiri bisa berlangsung hingga berbulan-bulan.

Dimana sih rumah pacet?

Pacet tanah tentu tinggal di tanah, tetapi ada juga pacet yang lebih sering berada di daun, dikenal sebagai pacet daun (Haemadipsa pieta), yang memiliki wama lebih menarik dengan garis kuning dan hijau di badannya. Habitat pacet selain di tanah juga di lapisan seresah yang basah di hutan hujan tropis. Di hutan yang lebih kering pacet dapat ditemukan di tanah yang lembab. Studi menyatakan ada j enis pacet yang membenamkan tubuhnya di tanah dan bertahan hidup beberapa bulan meski kekurangan air. Dalam keadaan seperti ini tubuhnya kering dan kaku, penghisapnya tidak bisa dibedakan dan kulitnya benar-benar kering, tapi setelah dia dapat tete san air selama sepuluh menit, maka dia akan kembali segar bugar. Kenapa seperti itu? Saya belum tahu.

Mana yang cewek mana yang cowok?

Karena pacet hermaprodit, dia betina sekaligus jantan. Lalu bagaimana perkawinan antar pacet? Ketika bereproduksi, dua pacet akan saling memilin dan melepaskan sperma di area clitellar pasangan. Sperma tersebut kemudian akan mencari jalan sendiri menuju ovarium. Perjalanan ini cukup memakan waktu sehingga pembuahan bisa terjadi 2 hari hingga beberapa bulan setelah kopulasi. Kokon yang bergelatin akan dikeluarkan dari clitellum (bagian kulit yang menebal selama periode reproduksi) setelah terjadi pembuahan. Gelatin tersebut mengandung nutrisi yang akan memberikan suplai makanan bagi 1 - 200 telur di dalam kokon. Kokon tersebut biasanya diletakkan di bebatuan atau di kayu, biasanya mengering bempa gumpalan berbuih. Pacet-pacet muda

akan memecahkan telur dengan kepalanya dan keluar untuk memasuki dunia bam setelah beberapa minggu.

Sekali berarti lalu mati?

Sebelumnya saya menduga pacet akan mati setelah selesai makan, temyata tidak. Rugi sekali kalau demikian, bukan? Menurut studi yang telah dilakukan, pacet akan mati (diluar dimangsa oleh predator ataupun "dibunuh" manusia) setelah 1 atau 2 kali bereproduksi. Reproduksi sendiri akan terjadi ketika pacet mencapai usia dewasa dimana dia telah mencapai berat badan tertentu atau setelah makan beberapa kali. Lalu apakah hidup pacet hanya untuk menjadi dewasa dengan makan lalu bereproduksi kemudian mati? Mungkin tidak, karena saudara pacet, yaitu beberapa jenis lintah, telah digunakan untuk pengobatan lebih dari 2000 tahun. Nah, siapa tahu pacet nantinya juga akan menj adi salah satu dari bahan obat yang akan menyelamatkan banyak manusia di masa depan. Tertantang melakukan penelitian?

"Tidak sah masuk hutan kalau tidak digigit pacet," kata seorang ternan. Saya boleh berbangga hati karena sudah mengalaminya ...... sekali dan sah!

****

*) Staf di Penilaian Kinerja Industri dan Pemasaran Hasil Hutan, Direktorat Bina Pengolahan dan Pemasaran hasil Hutan, Departemen Kehutanan

Peserta Magang CPNS Departemen Kehutanan F ormasi 2005 di Balai Taman N asional Gunung Leuser.

noni_ e _rahayu@yahoo.com

PUSTAKA

Australian Museum.2003. Leeches. http//www.amonline.net.au

Ginsber, D & Burch, J. 1998. Natural History of Leeches (Annelids: Himdenia).

Kumar et al. 1984. Field Evaluation of Three Repellents Against Mosquitoes, Black Flies and Land Leeches. Indian J. Med. Res 80;541 545.

Le ec he s. http//www.parasitology.informatik. uni - wuer zburg.de.

Leeches. Http//www.encyclopedia.jrank.org

Leech. Http//www.pherobase.com

14

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

asak bUlBi?

B agi anda yang bermukim dekat dengan kawasan hutan atau di daerah pedesaan barangkali sudah tidak asing lagi dengan jenis tumbuhan ini. Atau bagi anda yang sering berpetualang di hutan untuk rekreasi dan hiburan m ungkin pernah mendengar tentang tumbuhan ini. Yah ... Pasak Bumi! Tumbuhan

yang selama ini identik dengan 'ramuan perkasa'. Disamping sering digunakan untuk berbagai ramuan, Pasak Bumi juga sering digunakan untuk industri pembuatanjamu.

mac am penyakit.

Deskripsi

Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) adalah jenis

tumbuhan tingkat tiang (poles), termasuk suku Simaroubaceae. Pohon yang tingginya mampu mencapai 10 meter ini termasuk tanaman dioecious, yaitu mempunyai dua jenis kelamin bunga. Daun majemuk menyirip bentuk memanjang, mengumpul pada ujung ranting. Kedudukan anak daun berhadapan-berpasangan, bentuk bulat telur atau lanset. Pangkal anak daun tumpul, ujung anak daun mernncing dan bertepi rata, serta helaian anak daun berserat sehingga tidak mudah robek. Ketika daun gugur maka akan meninggalkan bekas di tangkai. Bunganya mengalami mas a puber seperti halnya manusia, dan pada saat menginjak usia dewasa akan tumbuh bulu-bulu pendek. Pembungaan biseksual, bunga jantan tumbuh dengan benang sari steril, dan bunga betinanya juga dilengkapi dengan putik steril. Buah bernkuran 10 x 5 sid 17 x 12 mm. Buahnya berbentuk elips, berwarna hijau dan bernbah menjadi

hitam kemerahan saat masak. (Sinar Harapan dalam Fitriani,2005 dan Padua dalam Fitriani, 2004). Berikutkita lihatPasak Bumi dari urntan taksonominya;

Selain bernama Pasak Buni, tumbuhan ini memiliki beberapa nama lokal lain, antara lain Tongkat Ali, Bidara Pait (melayu), Bidara Laut (Melayu), dan Babi Kurus (Batak). Flora yang secara ilmiah dinamakan Eurycoma longifolia Jack ini banyak tumbuh di hutanhutan dataran rendah. Dengan perawakan batang yang lurns dan

tidak banyak cabang, serta akar yang lurns menghujam ke tanah (akar tungggang) membuat tumbuhan ini lebih mudah untuk dicabut dengan tang an sehingga gampang dikenali. Di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser ada nggakyah? 0000 buanyak. .. !

Saat ini banyak peneliti baik lokal maupun mancanegara yang mulai tertarik melakukan riset terhadap Pasak Bumi. Khusus di daerah ekowisata Bukit Lawang, tumbuhan ini menjadi flora yang menarik untuk diperkenalkan kepada turis yang sedang melakukan tracking di dalam taman nasional. Beberapa hal yang menjadi alasan mengapa masyarakat tradisional sering menggunakan tumbuhan ini adalah karena ketersediaan tanaman ini yang relatif lebih mudah didapat di dalam hutan. Selain itu, masyarakat tradisional juga sudah bisa membuktikan bahwa tanaman ini memang sangat manjur untuk pengobatan beberapa

Kingdom Divisi

Sub Divisi Kelas Ordo Famili Genus Species

: Plantae (tumbuhan) : Spermatophyta

: Angiospermae

: Dicotyledonae

: Geraniales

: Simaroubaceae : Eurycoma

: Eurycoma longifolia Jack

Ekologi

Tumbuhan ini menyukai tanah as am, berpasir, memiliki drainase tanah yang baik, dengan ketinggian tempat 700 meter di atas permukaan laut. Biasanya Pasak Bumi hidup

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

15

Pasak bumi, flora penuh guna

di hutan dekat pantai, baik itu hutan primer atau sekunder (Hadiah dalam Fitriani,2004). Pasak bumi dapat dijumpai pada daerah-daerah punggung bukitipematang dan daerah berlereng (Nuryamin dalam Fitriani,2004). Tumbuhan ini tumbuh pada temperatur rata-rata 25° C dengan kelembaban udara 86 %. Sebetulnya daerah ini tidak subur tetapi sejenis jamur yang tumbuh di dekatnya sangat membantu pertumbuhan pohon ini. Setelah melalui mas a muda, tanaman ini membutuhkan lebih banyak sinar matahari untuk membantu perkembangan vegetatif dan sistem reproduksinya. Pasak Bumi berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Biasanya bunga mekar sekitar bulan Juni sampai Juli. Sementara buahnya masak pada bulan September (Padua et al dalam Fitriani, 2005).

Penyebaran dan Pemanfaatan

Tanaman ini bisa dijumpai di sekitar Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, serta di Filipina. Di Indonesia hanya terdapat di Sumatera dan Kalimantan, itu pun dalam jumlah terbatas. Bagian yang digunakan dari tumbuhan ini berupa akar, kulit batang dan daun dengan cara direbus. Penduduk tradisional biasa memanfaatkan akaruya untuk obat demam, sakit perut, infeksi saluran kencing dan cacingan (Burkhill dalam Elliot, 1985). Bisa juga dipakai sebagai vitamin penambah

J !OJ I~ (U letin

eJ all( _eu self'

gizi untuk anak yang baru lahir. Masyarakat Lampung dan Belitung memakainya juga sebagai obat disentri, sedangkan penduduk Sabah dan Kalimantan meminumnya sebagai penghilang rasa nyeri tulang dan larutan daunnya dipercaya sebagai penghilang rasa gatal. Di Riau diyakini sebagai obat malaria, dan kepercayaan penduduk Sakai, Sumatera, beberapa bagian tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat pencegah cacar (Hadiah dalam Fitriani, 2004). Manfaat-manfaat 'penyembuhan' tersebut dimungkinkan adanya kandungan kimia tertentu dalam tumbuhan tersebut, sebagaimana disebutkan Zuhud dan Haryanto dalam Fitriani (2005), bahwa Pasak Bumi mempunyai kandungan kimia berupa Eurykomolakton danAmaroli.

Menurut Krisnatuti dan Lina dalam Fitriani (2005), tumbuhan ini berkhasiat untuk meningkatkan kejantanan pada pria, sehingga banyak industri yang menggunakan tumbuhan ini sebagai bahan baku pengobatan moderu (untuk industri obat yang berkaitan dengan vitalitas pria). Dari hasil penelitian mahasiswa FSIIM Universitas Mulawarman disebutkan bahwa tumbuhan ini berkhasiat untuk menghambat perombakan protein kadar gula tinggi dan Diabetes Mellitus. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa kerusakan protein karena Diabetes Mellitus berhasil diturunkan sebanyak 54,0628 % oleh akar Pasak Bumi. Kemampuan Pasak Bumi dalam menghambat kerusakan protein tersebut disebabkan oleh senyawa antraquinon yang merupakan turunan quinon yang mampu mengikat radikal bebas dari reaksi glikolisis (Indonetwork dalam Fitriani, 2005).

Keterbatasan data potensi tumbuhan obat yang akurat serta tingginya permintaan pasar pada saat ini dan kecenderungan peningkatannya hingga tahun-tahun yang akan datang, merupakan salah satu titik kritis upaya pelestarian pemanfaatan tumbuhan obat di Indonesia. Ketepatan tindakan penanggulangan permasalahan dalam skala waktu yang tepat merupakan kunci keberhasilan pemanfaatan tumbuhan obat di Indonesia, baik ditinj au da~ segi ekologi (kepunahan), sosial budaya maupun ekonomi (Zuhud dan Haryanto, 1994). Dan hal ini yang sebenaruya harus kita lakukan dan budayakan kepada paling tidak ke orang -orang terdekat kita.

Upaya pelestarian tumbuhan Pasak Bumi dapat ditingkatkan dengan cara menjaga kawasan dan upaya lain dapat ditempuh dengan cara pembudidayaan tumbuhan ini di luar kawasan Taman Nasional. Pasak Bumi juga dapat dibudidayakan di hutan tanaman (Sitepu dan Paribroto, dalam Fitriani, 2005). Penanamannya dapat dikaitkan dengan pengembangan hutan tanaman tanpa mengurangi tujuan asalnya sehingga perekonomian dari segi pendapatan dapat ditingkatkan. Syukus dan Hemani dalam F itri ani (2005) menyatakan bahwa pembudidayaan tumbuhan obat tidak berbeda dengan tumbuhan lain. Tumbuhan obat menghendaki temp at tumbuh yang beragam, mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi.

16

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

tanah dan iklim yang ideal dapat menciptakan temp at tumbuh yang memenuhi syarat bagi tumbuhan obat, termasuk di dalamnya Pasak Bumi. Kapankita bisamulai? ***

*) Pengendali Ekosistem Rutan TNGL di Kantor Seksi Konservasi Wilayah III Bukit Lawang.

iscand _ 2004@yahoo.com

Bahan Bacaan

Among Prawira, R.S.,Dkk. Diktat Dendrologi, Sekolah Kehutanan Menengah Atas. Pusat Pembinaan Pendidikan Dan Latihan Kehutanan, Departemen Kehutanan, Bogor

Elliott,S & Brimacombe,J. 1985. The Medicinal Plants Of Gunung Leuser National Park Indonesia. Wyeth Research Ltd. England.

Fitriani, 2004. Studi Potensi Pasak Bumi Sebagai Tumbuhan Obat di Pusat Penelitian Orangutan Bukit Lawang Sumatra Utara. Usulan Penelitian. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Fitriani, 2005. Potensi Pasak Bumi (Eurycoma Longifolia Jack) Di Pusat Penelitian Orangutan Bukit Lawang Taman Nasional Gunung Leuser Sumatra Utara. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan

Monel Dan Sipayung,J. 1990. Dokumen Spesimen Herbarium Tumbuhan Obat Taman Nasional Gunung Leuser Seksi Konservasi Wilayah III BukitLawang. Sumatera Utara.

Usdayani,I. 2004. Skrining Metabolit Sekunder Tumbuhan Obat Di Taman Nasional Gunung Leuser (Tngl) Bukit Lawang- Bohorok. Skripsi. Fakultas Mipa Unimed. Medan

FI LOSOFI KISS ....

Dalam kehidupan sehari-hari, kita hendaknya mencari cara terbaik untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi. Tetapi, saat menghadapi suatu masalah seringkali kita terkecoh, sehingga walaupun masalah tersebut terpecahkan, tetapi pemecahan yang ada bukanlah suatu pemecahan yang efisien danjustru malah terlalu rumit.

Mari kita coba lihat dalam kasus di bawah ini :

1. Kasus kotak sabun yang kosong terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun yang kosong. Dengan segera para pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.

Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sarna, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda.

Ia membeli sebuah kip as angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkaunya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kip as angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kip as tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan.

2. Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena.Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan

waktu satu decade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulp en yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik bekn sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia? Mereka menggunakan pensil!

3. Suatu hari, seorang pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggaunya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift teras a lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Sang pemilik apartemen mengundang sejumlah pakar untuk memecahkan masalah tersebut. Seorang pakar menyarankan agar menambahjumlah lift. Pakar kedua meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.Tetapi, pakar ketiga hanya menyarankan satu hal, bahwa inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu. Pakar tadi hanya menyaraukan kepada sang pemilik apartemen untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, supaya para pelanggan teralihkan perhatiaunya dari pekerjaan 'menunggu'dan merasa'tidak menunggu lift'. It works!

Filosofi KISS ( Keep It Simple Stupid ), yaitu selalu

mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukaunya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkiukan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus bela jar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah. Bila kita melihat pada apa yang tidak kita punya di dalam hidup kita, kita tidak akan memiliki apa-apa:

Tetapi bila kita melihat pada apa yang ada di tangan kita, kita memiliki segalanya

- diunduh dari sebuah email ke bisro_s@yahoo.com di akhir desember '06. thx ya na ... -

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

17

Rina Purwaningsih

Berapa lama kita bisa hidup tanpa makan? ..... beberapa hari.

Berapa lama kita bisa hidup tanpa air? .... 2 atau 3 hari. Tapi berapa lama kita bisa hidup tanpa udara? ... satu atau dua menit saja

dipungkiri bahwa tingkah manusia menjadi penyebab utama perubahan kualitas udara di atas bumi ini.

Beruafas. Bagaimana kita bisa beruafas tanpa udara? Apa jadinya kalo oksigen sebagai element paling vital di kehidupan manusia diperjual-belikan? Apa jadinya kalo untuk bemafas saja orang harus merogoh kocek? Padahal kurang lebih 90% dari energi hidup diproduksi oleh oksigen. Dan tahukah kita bahwa pada

awal terbentuknya bumi ini, jumlah oksigen sangat sedikit dan lapisan ozon yang esensial untuk kehidupan belum ada. Dibutuhkan milyaran tahun bagi organisme primitif di lautan untuk berfotosintesa sehingga menghasilkan oksigen bumi yang berguna bagi kehidupan makhluk yang menghuninya. Mungkin saja salah satu dari oksigen yang kita hirup saat ini adalah oksigen yang tercipta di masa lalu, ribuan atau jutaan tahun yang lalu.

Mengapa kita perlu oksigen? Karena oksigen mempunyai kelebihan sebagai suplemen bagi tubuh manusia, diantaranya adalah : meningkatkan kesehatan secara menyeluruh; banyaknya oksigen yang masuk ke sel kulit,

maka kulit akan lebih sehat dan terlihat lebih muda; banyaknya oksigen yang masuk ke dalam otot akan meningkatkan energi dan kinerj a; meningkatkan fungsi otak agar lebih jernih dan cepat tanggap; meningkatkan metabolisme tubuh dan pengeluaran sisasisa; meningkatkan kemampuan tubuh untuk melawan bakteri dan virus; serta memperbaiki penyerapan vitamin, mineral dan nutrisi lain oleh tubuh.

KeseimbanganAlam

Ditemukannya gelembung udara yang terperangkap di batuan tua menunjukkan bahwa tingkat oksigen pada atmosfer jaman dulu terukur 70% lebih tinggi dibandingkan mas a

sekarang. Saat ini, sekitar 23% dari udara adalah oksigen. Tetapi jumlah oksigen terse but bervariasi, berbeda antara wilayah satu dengan lainnya. Kandungan oksigen untuk daerah perkotaan lebih rendah sampai dengan 15% di beberapa kota, dan akan semakin rendah sejalan dengan tingginya polusi dan penggundulan hutan. Tak bisa

Sebenarnya, dengan sendirinya alam mampu mempertahaukan sumberdaya yang dimilikinya tanpa bantuan siapapun. Sebelum manusia diciptakan dan menghuni planet bumi ini, alam sudah ada lebih dahulu

berkembang menurut ekosistemnya masingmasing secara lestari dan seimbang tanpa campur tangan manusia. Berbeda dengan manusia yang tidak akan bisa bertahan hidup tanpa alamo Alam sebagai penyedia jasa lingkungan memang tidak pemah meminta imbalan apapun kepada manusia. Tetapi apakah kita sebagai pengguna jasa tersebut hanya akan menikmatinya secara

18

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

Sumberdaya alam yang tersedia di bumi ini tak terhitung jumlahnya, salah satunya adalah hutan. Suatu kawasan hutan dapat mendukung kehidupan manusia dalam berbagai aspek diantaranya adalah kebutuhan akan oksigen, kenyamanan (iklim mikro), dan sebagai penyerap karbon (carbon sink). Rutan juga berperan sebagai penstabil cuaca bumi, bahkan hampir 70% keberadaan oksigen di dunia datangnya dari hutan hujan tropika.

Saat ini di dunia intemasional telah berkembang sebuah trend bam yaitu perdagangan karbon (COJ Trend ini diawali dengan disepakatinya Kyoto Protocol. Negaranegara penghasil emisi karbon wajib menumnkan tingkat emisinya dengan penerapan teknologi tinggi. Selain itu juga harus menyalurkan dana kepada negara-negara yang memiliki potensi sumberdaya alam tinggi yang mampu menyerap emisi karbon secara alami misalnya melalui penyerapan vegetasi (hutan). Sebagai pemilik hutan terluas ketiga di dunia, Indonesia mempunyai peran penting dalam upaya pengurangan emisi karbon tersebut. Hal ini bisa terjadi apabila hutan yang ada dijaga kelestariannya serta terus melakukan perbaikan kawasan hutan yang rusak dengan cara penghutanan kembali (reforestasi). Namun fakta berkata lain, berdasarkan hasil inventarisasi gas-gas rumah kaca di Indonesia diketahui bahwa pada tahun 1994 emisi total CO2 adalah 748,607 Gg (Giga gram), CR4 sebanyak 6,409 Gg, N20 sekitar 61 Gg, NOX sebanyak 928 Gg dan CO sebanyak 11,966 Gg. Sementara kemampuan hutan menyerap CO2 kurang lebih sebanyak 364,726 Gg. Dapat disimpulkan bahwa untuk tahun 1994 tingkat emisi CO2 di Indonesia sudah lebih

tinggi dari tingkat penyerapannya. Padahal pada tahun 1990 hutan Indonesia masih mempunyai tingkat penyerapan lebih tinggi dari tingkat emisi. Saat ini berapapun kecilnya, Indonesia tetap saja sudah memberikan kontribusi bagi meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca secara global di atmosfer dunia.

Hutan Sebagai Penyeimbang Iklim Mikro

Rutan sangat berpengaruh terhadap keadaan cuaca dan iklim suatu tempat. Keberadaan pohon dan tumbuhan mampu merubah iklim mikro di sekitamya. Air tanah yang diserap oleh tumbuh-tumbuhan akan dikeluarkan melalui proses transpirasi. Air yang ada di

dan tidak mampu lagi

permukaan daun juga akan menguap ke udara yang akan menambah kelembaban udara. Saat udara panas oleh pancaran sinar matahari, sebatang pohon mungkin akan menyerap berliter-liter air dari tanah dan akan menguapkannya ke atmosfer. Suhu udara di kawasan hutan menjadi lebih rendah karena tutupan pohon yang banyak. Proses fotosintesis secara tidak lang sung mengurangi jumlah karbon dioksida dan menambah jumlah oksigen di atmosfer bumi. Hal ini mengakibatkan berkurangnya "efek rumah kaca" sehingga peningkatan suhu bumi lebih terkendali. Melalui proses fotosintesis ini pula hutan berperan sebagai agen pembersih udara, karena uap air yang dilepaskan melalui proses tersebut menambah tingkat kelembapan dan kenyamanan udara.

Dalam Foto Udara, Citra Landsat atau SPOT hutan cenderung memiliki rona/wama gelap. Ini disebabkan karena hutan menyerap lebih banyak radiasi matahari (solar radiation) daripada tipe vegetasi atau penutup lahan lain. Rutan lebih sedikit memantulkan gelombang pendek. Semakin tinggi radiasi gelombang pendek yang dipantulkan oleh tanaman maka semakin rendah energi panas (latent heat) yang tersedia untuk proses evapotranspirasi (proses penguapan oleh tanaman) dan semakin besar pengaruhnya terhadap pemanasan udara sekitar. Selain itu berkurangnya laju evapotranspirasi berakibat pada menurunnya kandungan uap air di udara sehingga udara menj adi lebih kering. Rutan juga memiliki albedo yang rendah yaitu sekitar 12%. Albedo merupakan perbandingan antara radiasi matahari yang mengenai benda dengan total radiasi matahari yang datang ke benda. Setiap kegiatan konversi hutan menjadi penutup vegetasi lain berarti meningkatkan albedo. Deforestasi berakibat

Rutan sehat, salah satu unsur penjamin udara sehat

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

19

pada (heat balance) lapisan atmosfer bagian bawah. Dengan demikian deforestasi menyebabkan pernbahan iklim secara lokal.

Seberapa besar pengarnh pennrnnan luas hutan terhadap pernbahan iklim secara global? Pertanyaan ini mungkin belum bisa dij awab secara j elas karena iklim adalah proses alam global yang amat kompleks sebagai hasil interaksi berbagai sistem baik di permukaan bumi, atmosfer maupun lautan. Selain itu penutupan lahan hanya salah satu faktor yang berpengarnh. Analisis statistik jangka panjang bisa saja dilakukan dengan membandingkan penyusutan luas hutan dengan kecendernngan pernbahan unsur-unsur iklim. Seandainya pun hubungan itu ada, kita tidak bisa menentukan secara pasti bahwa sebab utamanya adalah semata karena proses deforestasi. Di Indonesia sendiri sebagai negara wilayah tropika sering terjadi penyimpangan (anomali) peredaran udara global yang dikenal dengan ENSO (El Nino Southern Oscilationi yang berakibat pada peristiwa kemarau panjang (catastropic droughts) yang diantaranya berdampak terhadap kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Dengan demikian apabila dilakukan analisis statistik dan ditemukan korelasi positif antara penurnnan luas hutan dengan timbulnya kemarau panjang sulit disimpulkan dari pengarnh deforestasinya sendiri, mengingat bertumpang tindihnya berbagai faktor lain.

Keterkaitan Akumulasi Greenhouse Effect Dengan Perubahan Iklim Global

Sering kita mendengar tentang gas rumah kaca (greenhouse). Mengapa disebut dengan gas rnmah kaca? CO2, methana dan berbagai nitrogen oksida serta berbagai gas tertentu pada atmosfer bagian bawah bertindak sebagai penghalang pantulan radiasi gelombang panjang dan memiliki karakteristik seperti kaca. Radiasi matahari sebagai gelombang pendek yang menembus rnmah kaca akan dipantulkan sebagai gelombang panjang yang tidak mampu menembus kaca. Efek rnmah kaca menyebabkan naiknya suhu permukaan bumi. Sering juga disebut pemanasan global. Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya greenhouse effect. Diantaranya aktifitas perindustrian yang banyak melepaskan gas seperti karbon dioksida, dan karbon monoksida. Asap kendaraan bermotor mernpakan sumber hampir selurnh karbon monoksida yang dikeluarkan terntama di daerah perkotaan. Selain menyebabkan terjadinya gas rnmah kaca tingginya karbon dioksida akan menyebabkan penipisan lapisan ozon yang mengancam kehidupan makhluk hidup di bumi ini.

Kaitan Deforestasi dengan Flu Burung

Apakah ada kaitan antara penyakit Flu Burnng dengan kehancuran hut an (deforestasi)? Secara langsung hubungan antara penyakit yang disebabkan oleh virns HxNy tersebut dengan deforestasi sulit dijelaskan. Seperti yang telah diungkapkan oleh Prof.Dr.Hadi S.Alikodra (Gurn Besar Fakultas Kehutanan IPB) untuk pertama

kalinya flu burnng muncul di daratan Cina pada akhir tahun 90-an. Menurnt Dr. Feng Lili, hal itu terjadi karena kernsakan lingkungan yang terjadi di Cina sudah sedemikian parah. Sebenarnya virns dan bakteri di alam, masing-masing mempunyai ekosistem yang seimbang dan saling terkait. Apabila kondisi ekosistem masih seimbang, kehidupan virns dan bakteri tidak akan sampai menyerang manusia. Tapi apa boleh buat, justrn manusia itu sendiri yang mernsak keseimbangan ekologi mikroba menjadi bernbah. Pernbahan itu menyebabkan mikroba mengalami transformasi dalam kehidupannya. Mikroba transformatif itulah yang akhimya menyerang manusia.

Menurnt Feng Lili, Flu Burnng dan SARS mernpakan penyakit yang menular malalui pemafasan. Berdasarkan penelitiannya di Cina, kedua penyakit tersebut disebabkan oleh polusi udara dan penebangan hutan yang liar. Polusi udara yang sudah mencapai tahap mengkhawatirkan ditambah lagi dengan minimnya suplai oksigen (02) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Mikroba menjadi tumbuh subur dan perkembangbiakannya tak terkendali. Sebab, oksigen - yang bila terkena sinar ultraviolet dari matahari bernbah menjadi ozon (03) dan 0 nascend - adalah pembunuh mikroba dan virus yang amat efektif.

Sementara itu, penyebaran Flu Burnng di Indonesia akhirakhir ini sangat mengkhawatirkan. Bahkan dunia menyebut Indonesia sebagai "negeri penyebar Flu Burnng". Walau untuk pertama kalinya virus Flu Burnng muncul di Cina, tapi begitu datang ke Indonesia, seakan virns ini menemukan lahan hidup yang cocok. Kita tahu bahwa pencemaran lingkungan dan kernsakan hutan di Indonesia terjadi dimana-mana. Hal ini diperparah oleh sikap masyarakat yang kurang peduli dan wasp ada terhadap penyebaran virus Flu Burnng. Di samping memusnahkan ternak unggas yang terserang FB, pencegahan jangka panjang penularan penyakit ini bisa diefektitkan dengan penghutanan kembali tanah-tanah gundul (reforestasi). Reforestasi ini sangat penting untuk memperbesar suplai oksigen di atmosfer. Sebab jika suplai oksigen tersebut cukup memadai, niscaya penyebaran virns FB setidaknya bisa berkurang. ***

*) Junior ProjectAssistant for GNLP, UNESCO

r.purwaningsih@unesco.org

DAFTARBACAAN

Alikodra, Hadi S_. http://www.indonesia.go.id. Flu Burung dan Deforestasi

http://pkukmweb.ukm.my/Hutan Hujan Tropika dan Kepentingannya

O2 Technologies Inc. http://www.o2techno.com/indonesian!o2def.htm

20

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

, , ,

Oleh:

Bisro Sya'bani *) Ujang Wisnu Barata **)

ZZ~~Z006 ~ry"'-;(~~"'", . ~ t'.m"",....,-;(~eIi_,., ....

""~ek,,. -:tide,,4 ~""cf.,. eli ~.,.-;(~ -;(~ ~~",...., ""d/t"" ""~ek"._",, ... ""~ek",, """"""'",....,~ ~~"" 'l~

~~t>4 pekd/t""l"" ~ ~Iu:;;t. ?~~",...., ~ u-Wtuk ~Mm-"""""" """"""'~",...., ~

~'l~-;(de"4""""",,,d/tuk ~~""~, ~",....,u-Wtuk-:ti~...,~""""~""~ek,,,, ~-;(".,.,. ...

Kisah di atas hanya sebagian kecil penggalan cerita tragis keganasan banjir yang meluluhlantakkan Sumatera Utara dan Nangroe Aceh Darussalam di penghujung tahun 2006 itu. Saat itu, banyak desa, kecamatan dan kabupaten di dua propinsi ujung barat Indonesia itu yang tergenang oleh murkanya sang air, Sendi-sendi kehidupan masyarakat

banyak tercederai oleh kejadiankejadian itu. Ada apakah gerangan ini? Apakah karena Taman Nasional Gunung Leuser sudah terlalu banyak teruoda oleh tangan pencuri kayu dan perambah lahan?

Di Kabupaten Langkat, banjir paling parah terjadi di Kecamatan Besitang. Setidaknya terdapat 50.598 orang yang secara langsung menjadi korban keganasan sang air dan lumpur itu, dan 18 diantaranya meninggal dunia. Dengan data yang ada (yang mungkin masih belum sempurua 100%), mari kitakaji apa sebenaruya dibalik "Banjir Langkat" itu.

Sebelum melangkah lebih jauh, kita berkenalan dulu dengan Langkat. ...

Kabupaten Langkat, yang beribukota di Stab at, merupakan batas Timur dari kawasan TNGL. Wilayah Kabupaten Langkat terletak pada koordinat 3°14' - 4°13' LV dan 97°52' - 98°45' BT dengan batas-batas wilayah sebagai

Vol. 3 NO.7 Tahun 2007

berikut: sebelah utara berbatasan dengan Prop. Nangroe Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan Kabupaten Karo, sebelah barat dengan Prop. NAD dan TanahAlas, dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai

Kabupaten ini memiliki luas wilayah 902.986 Ha denganjumlah penduduk 944.752 jiwa yang tersebar di 20 kecamatan dan 85 desa. Tujuh kecamatan di antaranya, berbatasan lang sung dengan kawasan TNGL, yaitu Kecamatan Bohorok, Salapian, Sei Bingei, Batang Serangan, Padang Tualang, Sei Lepan dan Besitang. Kerapatan penduduk Kabupaten

Langkatadalah 1,58jiwaiHa.

Topografi wilayah Kabupaten Langkat dapat dibedakan atas : pesisir pantai dengan ketinggian 0 - 4 meter dpl, dataran rendah dengan ketinggian 4 - 30 meter dpl dan dataran tinggi dengan ketinggian 30 - 1.200 meter dpl. Sebagian lahan datar dan lainnya berupa pegunungan dan perbukitan. Pemukiman sebagian besar terdapat di dataran

21

Tabel 6. Penggunaan Lahan Kabupaten Langkat

No. Penggunaan Luas (Ha) 0/0 Keterangan
1 Hutan 239.328,40 38.38 Besitang, S.Lepan, S.Seberang, B.Serangan,
Bahorok, Selapian, Sei Bingai, Kuala
2 Hutan Bakau 21.090,00 3.38 Sebelah Utara Langkat
3 Kebun 188.707,30 30.25 Utama: K-Sawit, karet, Lainnya:
kelapa,coklat,kopi,tebu.
4 Kebun Campuranl Pemukiman 114.436,10 18.35 Tersebar
5 Pemukiman Padat 127,70 0.02 Binjai, Selesai.
6 Sawah 38.273,70 6.l4 Tersebar: kecuali Sw. Seberang dan Bahorok.
7 Tegalan 2.633,80 0.42 Sayuran, kacang, buah2an Binjai, Stabat.
8 Rawa 79,20 0.01 Brandan Barat.
9 Tambak 7.215,80 1.16 Ikan, Udang : P. Susu, B. Barat, Babalan, Gebang]:
Pura dan Secanggang
10 Lahan Terbuka 3.066,10 0.49 Lahan terbuka = lahan tandus---> Pemukiman
11 Sungai 11.370,90 1.40
Jumlah 626.329,00 Sumber: Rencana Strategis TN Gunung Leuser (2006) rendah. Wilayah Kabupaten Langkat beriklim tropis. Dengan perincian musim kemarau pada bulan Februari sid Agustus dan musim hujan pada bulan September sid Januari. Curah hujan rata-rata adalah 3.268 mmltahun dan suhu rata-rata sebesar 28°C.

Jenis tanah di Kabupaten Langkat yaitu di daerah pantai terdiri dari tanah aluvial (Entisol, Inceptisol), dataran rendah terdiri dari tanah jenis glei humus rendah (Inceptisol), hidromorf kelabu (Ultisol) dan plano sol (Alfisol) serta dataran tinggi dan

perbukitan terdiri dari tanah podsolid merahkuning (Ultisol).

Analisis Iklim

Menurut BMG, wilayah Kabupaten di NAD dan Sumatera Utara yang termasuk ke dalam klasifikasi Zona Prakiraan Iklim (ZPI) untuk sifat hujan di atas normal adalah Kabupaten Aceh Besar bagian utara dan timur laut, Langkat, Serdang Bedagai, Deli Serdang (bagian barat), Simalungun (bagian barat), Asahan (bagian barat), Toba-Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, dan Mandailing Natal (bagian Timur). Curah hujan rata-rata pada Desember 2006, di wilayah Sumatera Utara sebesar 151 - 200 mmlbulan; sedangkan di Sumatera Utara bagian barat sebesar 201 - 300 mmlbulan.

Peta Informasi Spasial Daerah Potensi Banjir dan Curah Hujan Pulau Sumatera di bagian bawah halaman ini dipublikasikan oleh Bidang Pemantauan

SumberdayaAlam dan Lingkungan, Pus at Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Penginderaan Jauh, LAPAN. Peta ini menyajikan informasi yang dihasilkan dengan melakukan analisa perkiraan potensi terjadinya hujan lebat yang diintegrasikan dengan peta kerawanan bencana banjir yang sudah ada. Dengan demikian, dapat diketahui dimana dan kapan kemungkinan akan terjadi banjir. Pemantauan daerah potensi banjir yang disediakan oleh LAPAN tersebut ditentukan berdasarkan analisis komponen darat yang dipadukan dengan data curah hujan harian yang

...

INFORMASI SPASIAL OAERAH POTENSI BANJIR DAN CURAH HUJAN PULAU SUMATERA

22 Oesember 2006

ro p ro 100 '240 KIll

Pro(l~<2bs1 : .•••••••••••. " cecoetc

~~tem Grid: .. " Grid ~r~fl

D<I'w1ll WGS8+

_ ().aet<lhGen~ng.iln

_ v...~ .. ll~~ y<lI'S! bap;';-erl.>i l.J¥J,iil Cur.ah 1'nI~1l (I'r1nvtklri~

$lIMe.frl;[I,11,TA'

1. "'k~Ia-;1 (lira!) twjaon Qmorph seeme 24 ja~1 T"fl9il~1 :l:li12,l2.Q(h5j~IlJQ6..00 UTO( ~mp<li ta~ooalll!12/200IS.I<n'J'105_tlOUK

L. F1!t3 ()a~.ailG~~~ (~":1I1~1!~ F'l!t:1!(\3UI Ur'J'Iun)

3. Dl'.Ji~1 £1eI'(i(io:!n ~lodEl (DE~' :SftTI-1 91) Il'IE'ter)

4. ceta A.ljmiF1is1:r~';i Pvi;ll) SYllloll'tf!l"" 5_Citr~ lando;al ETthT<ohun.Lc::m

LEt,laAGA I"ENHI'MN""rJ DAti ..... ~,I,~ IKS,I, N,I,~IOf'.ll,.L (lJl."M ~ Of:PLJTIIlIDA~I'(;' F'ENGltlDEFlMN JAI-ii PUS.l.TPEI<llEU~!OIl.P.~PEJd.l.tJFAAIJi~II!t:),,\QL(!(lIPE~GtlDER'.AN.lltlJH IllDOIGPEUArilA_IJJ.NSi\J~BERIl.I"~L.wI)MjLitJG)(lJfJG,r,N

JI_ LJ!_F'''''~ 10, F'~~:JOIIi, PUIit eeee. J£""U TiMl1r1:J110,

T~~ [Y.!1·87'10DEi5, .l!111178oD, I'~U_ D21-.1!71an~

Peta Informasi Spasian Daerah Potensi Banjir dan Curah Hujan Pulau Sumatera

22

----------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

dipero yang diperoleh dari National Center for Environmental Prediction (NCEP), dan didukung oleh hasil pengkelasan awan berpotensi hujan lebat dengan menggunakan data satelit penginderaan jauh NOAA-12/AVHRR. Peta tanggal 22 Desember 2006 tersebut di atas menunjukkan penutupan awan yang berpotensi hujan lebat berada di wilayah TN.Gunung Leuser, wilayah Gayo Lues dan wilayahAceh Tamiang dan Langkat.

Dari data rata-rata curah hujan di Sumatera Utara pada periode 1982-2003, menunjukkan bahwa pada periode bulan Agustus-Desember rata-rata curah hujan di atas 250 mm (Outgoing Longvawe Radiation,2003).

Analisis DaerahAliran Sungai (DAS)

Bencana banjir bandang 22 Desember 2006 di Kabupaten Langkat dan sekitarnya, termasuk di Kab.Aceh Tamiang terjadi di 4 Daerah Aliran Sungai (DAS), yaitu DAS Tamiang (Kab.Aceh Tamiang), DAS Besitang, DAS Sei Lepan, dan DAS Sei Wampu di Kab.Langkat, Sumatera Utara. Luas keempat DAS tersebutterlihat pada Tabel 7.

Kasus Kerusakan DAS Tamiang

DAS Tamiang seluas 487.692 Ha telah mengalami kernsakan hutan sebesar 154.983 Ha atau 31,7 % dari luas DAS (analisis citra landsat 2002). Kernsakan hutan ini diduga akibat praktek pengelolaan hutan dengan sistem HPH di masa lalu, yaitu PT. TRD (Tjipta Rimba Djaja) (luas 139.440 Ha) danPT. InhutaniIV eks PT.KualaLangsa (luas 62.422 Ha). PT. TRD telah berakhir mas a konsesinya pada tahun 2000. Berdasarkan kajian dari Yayasan Leuser International (YLI) tahun 2005, menunjukkan bahwa berdasarkan kemiringan dan jenis lahan, maka 96% dari areal PT. TRD tidak layak diusahakan. Sedangkan di areal PT. Inhutani IV eks PT. Kuala Langsa, diperoleh data

bahwa 88% arealnya tidak layak diusahakan. Apabila dikaitkan dengan luas DAS Tamiang, maka areal kedua HPH tersebut meliputi areal seluas 201.862 Ha atau 41 % dari penggunaan lahan di DAS Tamiang.

Investigasi Balai TNGL bekerjasama dengan Walhi NAD perwakilanAceh Tenggara yang dilakukan pada tanggal31 Januari - 2 Febrnari 2006 di titik Pulau Tiga, Kuala Simpang dan sepanjang aliran Sungai Tamiang, Kab.Aceh Tamiang membuktikan telah terjadinya illegal logging pada titikN. 042127.7 E 097 45.5l. Beberapa lokasi yang ditengarai sebagai temp at praktek illegal logging tersebut adalah : 1) Tempat Penumpukan Kayu (TPK) 1: Simpang Jernih (koordinat N 0421'27.7" E 09745'5l.7"), 2) TPK 2:

Desa Serkil, koordinat N 0419'58.1" E 09747'4l.7", 3) TPK 3 (koordinat N 0418'02.4" E 09755'58.2"), 4) TPK 4 :

DesaPrnpuk, koordinatN 0417'45.9" E 09756'50.8"), dan 5)TPK5 (koordinatN 0417'27.7" E 09759'06.1").

Kasus Kerusakan DAS Besitang dan Sei Lepan

Kernsakan hutan yang terjadi pada wilayah DAS Besitang dan Lepan seluas ± 20.000 Ha, yang disebabkan oleh kegagalan pelaksanaan kebijakan di mas a lalu, antara lain: ijin HPHH (1970an) dan kebijakan pembinaan habitat dengan menebang pohon > 50 em yang diberikan kepada PT. Raja Garnda Mas-pada kawasan seluas 30.000 Ha selama periode 1977-1984. Kernsakan berlanjut ketika manajemen Balai Taman Nasional Gunung Leuser belum mampu melakukan penegakan hukum secara efektif di tingkat lapangan. Berdasarkan Citra Landsat 1995-2002, tingkat kernsakan di kawasan ini sebesar l.800 Ha/tahun atau 150 Ha/bulan dan setara dengan 5 Ha/hari,

Total kernsakan hutan di DAS Besitang dan Sei Lepan ini terhadap luas DAS adalah 23,7%. Sedangkan proporsi kernsakan hutan terhadap luas hutan di kedua DAS tersebuttelahmencapai 37%.

Tabel 7. Kondisi degradasi lahan di DAS sekitar Kabupaten Langkat

Degradasi Lahan (Ha) 0/0 0/0
Daerah Aliran Luas Luas Di dalam Di luar Kerusakan Kerusakan
Sungai (DAS) DAS Hutan (Ha) TNGL TNGL Hutan Lahan
(Ha) (kerusakan (lahan kritis) Terhadap Terhadap
hutan) DAS DAS
Tamiang- 798.895 216.l05 141.291*) 384.050 17,7% 48,0%
Peureulak
Besitang 105.044 3l.513 15.540 - 14,8% -
Sei Lepan 72.150 15.670 6.460 - 8,9% -
Wampu 576.608 229.232 5.330 155.575**) 0,9% 26,9% Sumber: Analisis Citra Landsat 2002;

Catatan:

Hanya 3 DAS, Besitang, Sei Lepan, dan Wampu yang berhulu di kawasan TN. Gunung Leuser *) Kerusakan hutan di DAS Tamiang terjadi di luar kawasan TN. Gunung Leuser

**) Kerusakan lahan kritis DAS Wampu dihitung dari kerusakan di Kab.Karo dan Kab.Langkat.

Vo1.3No. 7 Tahun 2007---------------------------------------------------------------------------

23

Curah Hujan di Besitang, Curah Hujan Bulanan sebesar 174,6 mm/bulan dengan bulan basah selama 8 bulan diambil dari data 1996-2004 (BP-DAS Wampu Sei Ular, 2005).

Berdasarkan analisa kepekaan tanah terhadap erosi, sebagian besar jenis tanah di DAS Besitang termasuk peka terhadap erosi seluas 82.105 Ha (78,1 %), yang terdiri atas jenis tanah Dystropepts, Tropudults, Humitropepts, Troportents, Troposamment, dan Tropoquents (RTL RKT DAS Besitang, 2005). Kondisi kelerengan di DAS Besitang menunjukkan bahwa hanya 12,1 % yang masuk kelas I atau datar. Sedangkan sisanya merupakan kelerengan agak curam -sangat curam.

Data curah hujan rata-rata selama 9 tahun pada gambar di bawah ini menunjukkan bahwa pada bulan SeptemberDesember terjadi konsentrasi curah hujan yang sangat tinggi, yaitu di atas 200 mmlbulan. Data curah hujan pada 22 Desember 2006 ketika terjadi banjir bandang tidak dapat diperoleh. Menurut keterangan dari Stasiun Pengukur Curah Hujan di Sampali, sejak 2005, stasiun pemantau curah hujan di Besitang mengalami kerusakan, sehingga sejak 2005 tidak terdapat data pengukuran yang dapat dipantau.

Pola Penggunaan Lahan di Kabupaten Langkat

Dari Tabel 6 dapat diketahui bahwa luas kawasan hutan di Kab.Langkat sekitar 38,8% dari total luas kabupaten, diikuti dengan dominasi perkebunan (sawit dan karet) yang meliputi porsi 30%. Dominasi penggunaan lahan perkebunan sawit ini terdapat di 3 kecamatan, yaitu Kec.Besitang, Kec.Sei Lepan, dan Kec. Bohorok. Pola perkebunan sawit ini mendominasi sebagian besar penggunaan lahan di Prop.Sumatera Utara. Permintaan yang tinggi akan sawit telah mendorong banyak fihak untuk melakukan perambahan di dalam kawasan TN.Gunung Leuser, khususnya di Besitang, Kabupaten Langkat. Saat ini, ribuan hektar kawasan TN.Gunung Leuser telah berubah menj adi perkebunan sawit.

Beberapa Kesimpulan

Dari kajian sederhana di atas, banjir bandang di Kabupaten Langkat dan sekitaruya yang terjadi pada tanggal 22 Desember 2006 disebabkan oleh 2 faktor utama. Pertama, faktor iklim, yaitu curah hujan yang tinggi atau di atas ratarata dan telah terbukti menyebabkan banjir bandang yang melanda di 12 Kecamatan di Kabupaten Langkat. Kedua, faktor kerusakan DAS Besitang, DAS Tamiang, DAS Sei Lepan, dan DAS Wampu. Untuk sementara, kerusakan di

DAS Besitang dan Sei Lepan seluas ±20.000 Ha atau 37% dari totalluas dikeduaDAS tersebut.

Selain 2 hal utama di atas, kerusakan di beberapa bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Leuser oleh praktek illegal logging dan perambahan sedikit banyakjuga menjadi faktor pendorong kuat terj adinya bencana itu.

Rata-rata Curah Hujan CAS Besitang (1996-2004) 500

400 _ 300

~

E

E 200

100 O~~~~~~~~~~~~~--~~~~

2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

bulan

Beberapa Usulan Langkah TindakLanjut

Dan dari kajian itu juga, perlu dipertimbangkan Iangkah-langkah tindak lanjut sebagai upaya meminimalisir terjadinya bencana serupa di kemudian hari. Rekomendasi langkah-langkah tersebut antara lain:

Sumber: Data analisis RTL DAS Besitang (2005)

Kasus Kerusakan DAS Wampu

DAS Wampu terletak di kabupaten Langkat, Karo, Deli Serdang dan Simalungun, dengan totalluas 576.608 Ha. Luas kawasan hutan di DAS Wampu adalah 229.232 Ha atau 39,7% (analisis citra landsat 2002). Suatu proporsi yang berada di atas batas yang ditentukan (30% luas DAS). Sementara itu, luas kawasan hutan di wilayah TN.Gunung Leuser yang mengalami kerusakan sebesar 5.300 Ha atau 0,9%. Namun demikian, lahan kritis di wilayah DAS Wampu telah mencapai luas 155.575 Ha atau 26,9%. Penggunaan lahan di luar kawasan TN.Gunung Leuser, khususnya di daerah DAS hilir Kab.Langkat didominasi dengan meluasnya perkebunan sawit, baik skala kecil maupun besar.

1. Membangun jaringan komunikasi dalam rangka Early Warning System, bekerjasama dengan BMG Jakarta, LAPAN, Dinas Meteorologi Bandara Polonia, dan Stasiun Pemantau Curah Hujan di Sampali, Medan;

2. Jaringan internal UPT Departemen Kehutanan yang perlu dibangun secara lebih sistematis dan terpadu adalah antara Balai KSDA Prop.Sumatera Utara dan NAD, TN.Gunung Leuser, BPDAS, dan kemudian dikoordinasikan dengan Satkorlak kabupatenkabupaten yang rentan terhadap bencana banjir bandang dan tanah longsor;

3. Melakukan sosialisasi tentang hasil-hasil kajian atau update data terbaru tentang kondisi dan prediksi iklim, bekerjasama dengan jaringan media massa cetak dan elektronik (radio dan TV setempat); sehingga informasi pemantauan bahaya banjir/longsor

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

24

dapat terdistribusi dengan baik di masyarakat

4. Mendorong Pemda untuk membangun stasiun pemantau curah hujan di beberapa lokasi strate gis, di seluruh kabupaten yang rawan bencana banjir bandang dan tanah longsor;

5. Menyediakan Peta DaerahAliran Sungai (DAS) dan dikaitkan dengan Tingkat Kerawanan Bahaya Banjir/Longsor dan membantu Pemda dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat target. * * *

*) Pengendali Ekosistem Rutan Balai TNGL di Kantor Perwakilan Medan, bisro_s@yahoo.com

**) Pengendali Ekosistem Rutan Balai TNGL di Kantor Seksi Konservasi Wilayah IV Besitang, wisnoe _ bharata@yahoo.com

Sumber Informasi

BP-DAS Wampu Sei Ular. Rencana Teknik Lapangan. Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah DAS Besitang. BP-DAS, Desember 2005.

BMG. 2006. Informasi Perdiksi Iklim Akibat EINino/La-Nina Bulanan, November 2006-Seluruh Indonesia; Alamat: www.bmg.go.id

Bidang Pemantauan Sumberdaya Alam dan Lingkungan, Lapan., 2006. Pemantauan Daerah Potensi Banjir di P.Jawa, P.Sumatera, dan Kalimantan. November 2006.Alamat: www.lapanrs.comISMBAlsmbaphp

Lapan., 2006. Laporan pemantauan bencana banjir Propinsi Naggroe Aceh Darussalam. Pusat Pengembangan Pemanfaatan dan teknologi P enginderaan J auh. Lapan.J akarta.

Lab.Geographic Information System, Balai TN.Gunung Leuser.Kantor Perwakilan Medan.

Metereologi Polonia. Seksi Data dan Informasi. Zona Prakiraan Iklim Kab. Langkat.

Evakuasi .... (foto: ujang wb)

Ceria di pengungsian (foto: bisro)

Hancur ... ! (foto: uj ang wb)

~/~/~/~~~Md.~ ~W~~~U~~~

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

25

Hutan untuk Masyarakat, p~ J~ idf~ #J~ K~MfMI~

S hal yang selalu muneul di benak masyarakat di tempat saya bertugas-berkenaan dengan keberadaan kawasan konservasi di sekitar desa mereka adalah bahwa keberadaan hutan tersebut tidak mernberi manfaat bagi kesejahteraan mereka. Larangan memasuki, mengambil kayu, menguasai lahan dan berbagai peraturan yang rajin disosialisasikan pemerintah kepada mereka juga melahirkan pertanyaan, "Apakah memang lebih penting menyelamatkan hewan dan tetumbuhan itu daripada

peningkatan kesejahteraan kami?".

Sementara, tujuan dari pembangunan kehutanan di Indonesia selalu 'dikoarkan' bermuara pada dua titik : kelestarian hutan dan peningkatan kemakmuran rakyat, sesuai dengan VISI Departemen Kehutanan.

Emil Salim dalam bukunya 'Pembangunan Berwawasan Lingkungan' (1993) pernah mengungkapkan perihal pertanyaanpertanyaan menarik yang timbul di benak masyarakat terhadap keberadaan kawasan konservasi : mengapa rakyat tidak boleh memanfaatkan isi hutan suaka alam anugerah Tuhan, apakah isi alam ini

tidak diperuntukkan bagi kemakmuran manusia, mengapa binatang dan tetumbuhan harus dilindungi dari manusia yang memerlukan ? Apakah kita mengembangkan taman nasional hanya untuk kaum ilmuwan yang mau menggali ilmu di dalam hutan itu, atau hanya untuk kaum terpelajar yang ingin belajar dari tanaman dan binatang yang ada di dalam hutan suaka alam, ataukah hanya untuk wisatawan agar bisa menikmati rakagatra-nya alam ini ? Bagaimanakah nasib ribuan rakyat yang memerlukan hutan itu untuk diolah guna memenuhi kebutuhan pokok

Oleh:

Bobby Nopandry*)

berupa pangan dan pemukiman ? Lebih jauh lagi bagi negara berkembang apakah pengadaan suatu taman nasional, eagar alam, dan suaka margasatwa bukan merupakan barang luks, Iebih-lebih bagi daerah yang sudah kekurangan tanah untuk pemukiman dan pertanian penduduk?

Benarkah demikian adanya ? Padahal, banyak eara memanfaatkan keberadaan hutan konservasi seeara lestari.

Berbagai potensi yang terkandung di dalam hutan-hutan konservasi tersebut sebenaruya tidak haram dimanfaatkan. Paradigma pembangunan berkelanjutan yang menjadi kerangka pembangunan di berbagai belahan dunia beberapa tahun belakangan ini 'memberikan' solusi dan jawaban tentang bagaimana seharusnya kawasan hutan, khususnya hutan konservasi, dapat memberi manfaat tanpa harus dirusak keberadaannya.

Balai Konservasi Sumber Daya Alam dan Balai Taman Nasional sebagai pemangku kawasan konservasi tentu memikul tanggung jawab utama berkenaan dengan hal ini. Yaitu mengelola kawasan konservasi dengan pola yang dapat seeara maksimal meramu potensi so sial dan fisik sumberdaya alam agar dapat memberi manfaat ekologis bagi lingkungan

dan manfaat ekonomis bagi masyarakat, sesuai amanat konservasi.

Forest Value

Di beberapa negara, kawasan konservasi yang mereka miliki seeara signifikan bahkan menjadi penyumbang devisa negara. Di Kosta Rika eontohnya, kawasankawasan konservasi yang mereka miliki dapat menjadi daya tarik andalan dalam industri ekowisata negara ini. World Bauk meneatat bahwa industri ekowisata di negara ini merupakan sumber devisa utama. Padahal kekayaan

26

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

ill ereka miliki hanya berkisar 40 % dari total kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Hasil ini mereka dapatkan dengan 'menjual' potensi taman-taman nasional yang meliputi 12 % luas wilayah negara dengan motto yang mereka dengung-dengungkan : "Menjual hutan tanpa menebang, akan lebih mudah daripada menebangnya" (Ali, et al., 2001).

Selain Kosta Rika, di Kenya, dengan motto "Wildlife Pays Wildlife Stay" devisa yang bisa dihasilkan dari ekowisata per tahunnya dapat mencapai US$ 250 juta. Hasil ini diperoleh termasuk dari pemanfaatan potensi singa yang memberi kontribusi sampai US$ 27 ribu/singa/tahun dan kontribusi gajah yang mencapai US$ 610lkelompok gajahitahun. Bandingkan dengan Indonesia yang pada kisaran tahun yang sarna 'hanya' menerima pemasukan devisa dari ekowisata sebesar US$ 3.987.600 (Ali, et aI., 2001).

Indonesia, yang memiliki keanekaragaman hayati mencapai 10 % dari seluruh kekayaan tanaman dunia, ditambah dengan kekayaan fauna yang mencapai ±1.600 jenis burung dan ± 500 jenis mamalia, saat ini malah disibukkan dengan penanganan kasus-kasus perambahan dan pencurian kayu yang menguras uang negara. Bukannya menghasilkan devisa, pengelolaan kawasan konservasi di negara nu malah menjadi beban bagi APBN setiap tahunnya.

Yang menjadi penyebab seperti yang sudah kami sampaikan di atas adalah tidak termanfaatkannya potensipotensi kawasan konservasi secara maksimaI. Misalnya kawasan konservasi A : idealnya, dengan pemanfaatan potensi biotik dan abiotik kawasan, seluruh biaya pengelolaan kawasan konservasi A seperti biaya operasional harian, bulanan dan tahunan, honor pegawai, pengadaan alat, pemeliharaan batas dan lainlain sudah dapat dibiayai sendiri tanpa kucuran dana pemerintah. Bahkan, seperti yang dicontohkan Kosta Rika dan Kenya, kawasan konservasi A tersebut malah dapat memberi sumbangan kepada negara berupa devisa.

Namun, yang terjadi di Indonesia, jangankan untuk memberi sumbangan bagi devisa, sekedar untuk membiayai pengelolaan kawasan konservasi itu sendiri saja (manajemen) kawasan konservasi kita belum mampu. Apalagi kalau kita bicara tentang penjaminan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi tersebut.

Jadi sebenaruya mau tidak mau kita harus mengakui kewajaran perambahan dan pencurian kayu yang terus berlangsung. Dampak ketidakberdayaan kawasan konservasi Indonesia 'membuktikan diri' sebagai kekayaan negara menjadikan masyarakat memandang kawasan konservasi hanya dapat memberi manfaat bagi mereka dengan mengeksploitasi potensi dengan nilai langsung (direct value )-nya saj a ; lahan dan kayu.

Inilah ciri utama interaksi masyarakat dengan kawasan hutan secara umum saat ini.

Imej penilaian kawasan hutan seperti ini terutama melekat kuat di kalangan masyarakat sekitar hutan. Akibatnya, konversi lahan menjadi perkebunan sawit atau karet dan pencurian kayu dari dalam kawasan selalu menjadi keniscayaan setiap kawasan konservasi.

Euforia reformasi juga ikut mendukung aksi 'pemanfaatan' hutan yang tidak lestari ini. Jebolnya rasa takut dan segan terhadap pemerintahan dan aparatnya telah menjadikan bentuk pertanyaan-pertanyaan terhadap kemubaziran kawasan konservasi yang kami sebutkan di atas menjadi bentuk-bentuk aksi lang sung 'pemanfaatan' kawasan hutan. Sebuah jawaban dan solusi yang diciptakan masyarakat akan ketidakberdayaan kawasan konservasi mendukung peningkatan kesejahteraan mereka. Bagi mereka : hutan konservasi adalah lahan tidur yang tak termanfaatkan.

Potensi Masyarakat

Masyarakat sebenaruya merupakan stake holder utama pengelolaan sumberdaya hutan. Keutamaan ini muncul bila penilaiannya dikaitkan kepada intensitas interaksi fisik masyarakat sekitar hutan dengan ekosistem hutan yang lebih tinggi dan lebih nyata dibandingkan dengan stake holder lain. Keberadaan hutan juga berkorelasi linear (disadari ataupun tidak) dengan kesejahteraan masyarakat. Kejadian banjir di sekitar Kecamatan Besitang di Kabupaten Langkat merupakan bukti bagaimana kerusakan hutan (TNGL) dapat memberi dampak negatif terhadap masyarakat.

Demikian juga dengan pola pengembangan ekowisata

Masyarakat (sekitar hutan),salah satu komponen paling penting untuk menuju hutan lestari.

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

27

juga di TNGL, yang menyodorkan bukti bahwa 'persahabatan' masyarakat dengan hutan yang diciptakan dengan sistem yang terprogram dapat memberi dampak positif terhadap kelestarian hutan sekaligus kesej ahteraan masyarakat.

Sebenamya, secara tradisional, masyarakat memiliki potensi dan kekuatan untuk menjadi pengelola kawasan hutan. Keberadaan mereka yang diiringi dengan eksistensi hutan selama beratus-ratus tahun peradaban adalah bukti potensi pengelolaan hutan oleh masyarakat. Dengan metode interaksi tradisional yang mereka terapkan, banyak contoh masyarakat yang mewujudkan hubungan saling menguntungkan dengan kawasan hutan. Masyarakat Badui di Banten, Dayak di Kalimantan, Suku Mentawai di Pulau Pagai, dan Orang Kubu di Jambi adalah sederet contoh masyarakat yang beratus-ratus tahun akrab dengan alam tanpa meninggalkan j ej ak pemsakan.

Namun demikian, faktor pertambahan penduduk dan kemajuan teknologi tidak bisa diabaikan sebagai pendorong ancaman. Peningkatan kebutuhan ekonomi dan kemajuan sarana transportasi menj adikan masyarakat desa di sekitar hutan terpencil sekalipun tidak jauh berbeda dengan masyarakat lain dalam hal mengenali nilai ekonomi langsung lahan hutan dan hasil kayunya. Katalisnya, jamak kita ketahui peran dominan aktor intelektual dan pemodal yang bergentayangan bersembunyi dan mengatasnamakan masyarakat di banyak medan perusakan kawasan konservasi. Contoh paling relevan adalah kasus Kopermas di Papua dimana masyarakat dengan campur tangan dan kepentingan pengusaha mengakibatkan perusakan hutan besar-besaran dengan dalih pemanfaatan hutan adat.

Pengelolaan Hutan oleh Masyarakat

Untuk mengatasi tekanan terhadap sumberdaya hutan sebenarnya yang diperlukan adalah suatu sistem terprogram pengelolaan kawasan konservasi berbasis masyarakat. Sistem yang dapat memadukan potensi kearifan masyarakat dengan potensi sumberdaya alam yang ada sehingga dapat terwujud pola-pola partisipatif pengelolaan sumberdaya alam dan hutan. Sehingga, dapat 'dibuktikan' bahwa kawasan konservasi benar-benar dapat memberikan manfaat tanpa harus diokupasi lahannya dan ditebang kayunya. Contoh yang bisa kita lihat di Sumatera Utara adalah sistem pemanfaatan sumberdaya alam dengan pola ekowisata berbasis masyarakat di Tangkahan seperti yang disebutkan di atas.

Keberadaan sistem pengelolaan partisipatif juga dapat menjadi simbol eksistensi masyarakat secara legal formal sebagai stake holder kehutanan di negara ini, sesuatu yang selama ini hanya menjadi wac ana dan laporan-laporan di atas kertas saja. Oleh karena itu, sistem pengelolaan partisipatif ini seharusnya diimplementasikan di lapangan bukan hanya sebatas konsep- dengan fasilitasi yang baik dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat disamping efek positif minimalisir kerusakan kawasan akibat perambahan kawasan hutan dan penebangan kayu

secara illegal.

Dalam mengimplementasikan program-program pemberdayaan masyarakat di lapangan, satu hal yang penting adalah menunjukkan bahwa hutan dapat memberi manfaat ekonomi langsung. Oleh karena itu, pengembangan ekonomi alternatif merupakan arah utama dari pendampingan masyarakat, selain peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan.

Bentuk pendampingan yang dilaksanakan di tengah masyarakat seharusnya upaya mencapai format pemanfaatan hutan yang 'eksklusif' dalam artian kekhususannya dengan karakteristik masing-masing masyarakat- dengan sarana kearifan lokal dan potensi sumberdaya yang ada. Artinya, ada penghormatan terhadap masing-masing potensi dan pengetahuan kelompok masyarakat dan sekaligus menjadi jaminan bahwa program pemberdayaan tidak berdasarkan program global yang disusun di atas meja tanpa memperhatikan kondisi riil di lapangan. Tantangan ini merupakan tanggung jawab stake holder aktif kehutanan selain masyarakat tersebut.

Berkaitan dengan hal ini, pemerintah tentu menempati porsi tanggung jawab yang besar. Depertemen Kehutanan sendiri berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi merupakan keharusan yang menjadi tanggung jawab pemerintah, untuk mencapai kondisi yang diharapkan yaitu peningkatan status sosial ekonomi masyarakat dan kelestarian kawasan konservasi itu sendiri. Pengelolaan kawasan konservasi tidak akan terlepas dari masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu masyarakat sangat penting untuk dilibatkan di dalam suatu sistem pengelolaan kawasan konservasi.

Hadirnya keberadaan masyarakat yang berperan aktif dalam pengelolaan hutan, terutama kawasan konservasi, merupakan impian dunia konservasi. Lembaga-lembaga konservasi, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat sendiri tentunya mengidam-idamkan perwujudan pola pengelolaan seperti ini. Karena selain berbasis manfaat, pola seperti ini banyak menjawab tantangan konservasi : kesejahteraan masyarakat, kelestarian kawasan, pelibatan masyarakat, dan permasalahan sumber dana konservasi. Optimalisasi peran dan 'keikhlasan kerj a' tentu merupakan hal utama untuk mewujudkan hal ini. Keikhlasan dalam konteks tidak lagi menjadikan konservasi dan masyarakat sebagai komoditi, tetapi menjadikan mereka (konservasi dan masyarakat) saling berinteraksi demi dua tujuan : manfaat ekonomi dan lestari. * * *

*) Kepala Pengelola SM Dolok Surungan I - Balai KSDA Sumut II

Peserta Magang CPNS Departemen Kehutanan Formasi 2004 di Balai TN. Gunung Leuser

nopandry@yahoo.co.id

28

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

Welcome to The Jungle Mr Ambassador ...

embali, TNGL mendapat kehormatan dengan menerima kunjungan Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Damaso de Lario. Dengan didampingi Matteous dan Ugo (StafKedubes Spanyol), Han Quni dan Koen Meyers (UNESCO akarta Office), Pak Dubes beserta istri dan putrinya, Carmen, mengunjungi Bukit Lawang selama 3 (tiga) hari, 9 sampai 11 Maret 2007 yang lalu.

-

Dari kiri: Pak Dubes, Carmen, U go, Matteous, Ibu Dubes

Kunjungan ini sekaligus sebagai pelipur lara warga TNGL atas gagalnya (tertundanya?) kunjungan Ratu Sophia yang sedianya akan mengunjungi Bukit Lawang pada tanggal 8 Februari 2007 karena meninggalnya adik Sang Ibu Ratu.

Selain melihat orangutan yang ada di kawasan itu, Pak Dubes dan rombongan juga mengelilingi Visitor Center Bukit Lawang yang sudah direnovasi atas bantuan dana dari Pemerintah Spanyol.

Muchas Gracias ... !!!

Pada kunjungan ini Pak Dubes juga menghadiri presentasi oleh Koen dan Kepala Balai tentang Leuser secara umum serta program UNESCO dan Pemerintah Spanyol di TNGL.

Ada kejadian menarik ketika rombongan melakukan tracking di hutan Bukit Lawang, Pak Dubes sempat hampir dicakar Suma, salah satu orangutan di Bukit Lawang, ketika sedang berfotoria. Hati-hati Sinor. .. -bisro-

I Pemusnahan Tanaman Perambah

Tanggal 5 sid 8 Maret 2007, tim gabungan Polres Langkat, Balai TNGL, dan KSM Gepal (Kelompok Swadaya Masyarakat Gerakan Pecinta Alam Leuser, desa Sekoci dan PIR ADB) melakukan kegiatan pemusnahan tanaman di Resort Sekoci. Kegiatan ini mengerahkankekuatan sebanyak 80 personil, menggunakan 5 unit chainsaw dan 1 alat berat, dan 200 liter minyak tanah untuk meracuni tanaman.

Sebelumnya, pada tanggal 20 dan 21 Desember 2006 lalu melalui OHL Toba II Sumatera Utara telah dilakukan pengusiran terhadap 38 KK perambah di Sekoci (6 KK diantaranya adalah pengungsi). Namun, sampai dengan bulan Maret 2007, sebanyak 19 KK masih bertahan di sekitar kawasan meskipun gubuk kerja dan temp at tinggal serta beberapa tanaman mereka telah dibongkar Desember lalu. Ke-19 KK tersebut bertahan dengan membuat barak di seberang batas kawasan TNGL yang merupakan areal perkebunan sawit PIRADB. Back-up penuh dilakukan oleh LBH Medan yang berada di belakang Kelompok Petani Maju Bersama, bermaksud menguasai lahan TNGL. Kelompok ini telah memasang plang nama di beberapa lokasi yang mengklaim lahan TNGL. Pada operasi ini plang tersebut telah dicabut, dan berhasil dimusnahkan tanaman perambah seluas ± 38 hektar. Hasil selangkapnya operasi ini dapat dilihat pada tabel8.

Tabel8. Data Pemusnahan Tanaman Perambah di Resort Sekoci

No Jenis Tanaman Lokasi Pemilik Luas Keterangan
1 Sawit Pal TN 307 - 308, Beres Purba 4Ha DPO Polda Sumut, aktor
N 03 °56.444', E 098°09.398' perambahan/jual beli lahan
2 Sawit Pal TN 309, Muhtar 2 Ha Pengungsi Aceh Tengah, sudah
N 03°56.454', E 098°09.484' kembali ke Takengon
3 Sawit Pal TN 310 Sudirman / Uteh 2 Ha
N 03°56.452', E 098°09.543'
4 Sawit Pal TN 313 Ginting 4Ha Oknum aparat, sudah diadili secara
internal
5 Sawit dan karet Pal TN 314 Asril Siregar 4Ha Salah satu provokator di lapangan
6 Sawit Pal TN 315 Dani Sitepu 6 Ha Provokator di lapangan, orang
N 03°56.469', E 098°09.753 kepercayaan Beres Purba
7 Sawit Pal TN 316 AntoKumis 2 Ha
Lokasi di seki tar kantor resort
8 Sawit Pal TN 318 Kepemilikan bersama 2 Ha sekoci, masih ada mushala yang
belum dibongkar
9 Sawit Pal TN 305 Idris Ginting 2 Ha Sisa tanaman pada operasi
pembongkaran rumah
10 Sawit N 03°56.885', E 098°08.819' Sutrisno 2 Ha Total 4 Ha belum selesai
seluruhnya, lahan beli dari Ginting
11 Sawit Abda 6 Ha
12 Sawit N 03°56.379', E 098°09.153' Anak Pak Muhtar 2 Ha
JUMLAH 38 Ha -ujang wb-

Vo1.3No. 7 Tahun 2007------------------------------------------------------------------------------

29

S etiap rapat atau pertemuan pasti memiliki tujuan. Suatu hal yang sangat mendasar, tetapi jika kita tidak dapat menemukan outcome yang kita inginkan, kenapa melaknkan rap at? Terdapat banyak sekali alasan untuk mengadakan rapat, antara lain mengkomunikasi informasi, penyelesaian masalah, mengetahui hal-hal baru, dan lain-lain. Namun apabila kita tidak dapat menemnkan satu atau beberapa alasan melaknkan rapat, jangan lewatkan tahap perencanaan ini. Menuliskan tujuan rapat akan membantu kita untuk mengklairifikasi dan mengevalusi hasil-hasil rapat secara kritis.

Jika telah berhasil mendapatkan tujuan rapat, pertanyaan berikutnya adalah siapa yang akan dan harus menghadiri rapat itu. Undanglah orang-orang tertentu yang memiliki informasi danlatau menentukan hasil rapat. Berapa kali kita peruah menghadiri pertemuan sambil mengira-ngira kenapa kita ada di pertemuan ini? Menarik untuk dicatat bahwa produktivitas kelompok meningkat dengan bertambahnya peserta, hingga tercapaijumlah tertentu yang membuat efektivitas rapat menjadi optimal. Jika pesertanya terus bertambah melampaui titik optimal tersebut, maka produktivitas mulai menurun ..

Ketika tujuan dan pserta rapat telah disiapkan, beberapa aturan main berikut ini sangat penting untuk dilakukan:

f. >t,~ ~~k 'It f3/l/tu~.

Tulis dan distribusikan agenda kepada para peserta rapat meskipun hanya memuat satu agenda.

Z. tf)d/t~U te-M C'fMJC'f,t,

Periksalah apakah ruang rapat telah bersih, perlengkapan dan materi rapat yang diperlukan telah tersedia. Biasanya, ada saja hal yang perlu dilakukan agar tempat rapat siap digunakan ..

3. 'J11u~'It~w~u, ~'It~w~u.

Tidak adil bagi peserta rapat yang telah datang tepat waktu untuk menunggu peserta yang terlambat. Laknkan pembicaraan sesuai tatawaktu yang telah ditentnkan

1-. 9~~ ?14~~ uvt~.

Jangan biarkan terjadi saling interupsi ketika peserta rapat sedang bicara. Jika seseorang bersedia menghadiri rap at, maka pendapatnya juga penting untuk didengar.

5. 9C'f,c4U ~C'f, ~~r~ ~.

Jika kita yang menjadi peserta rap at, maka kita sepantasnya mendapatkan rapat yang terorganisir dan berjalan dengan baik. Sebaliknya, kita juga diharapkan berkontribusi demi snkses dan efektifnya rapat.

6. 9C'f,c4U ~ktd/tO~ r~ ~.

Jika kita menjadi fasilitator/moderator rapat, sampaikan maksud dan tujuan rapat, memperhatikan tata waktu (schedule), dan lib atkan semua orang di dalam prosesnya.

7. {}d/td/t~ ~t ~~ ~ 'ltU-t,~ ~wt.

Selalu meninjau kembali catatan hasil rapat dan membuat rencana tindak lanjut untuk memastikan terlaksananya apapun yang telah disepakati

Diadaptasi dari Gregory P. Smith, penulis The New Leader, and How to Attract, Keep and Motivate Your Workforce. Diterjemahkan oleh Suer Suryadi.

--------------------------------------- Vol. 3 No 7 Tahun 2007

30

Sepiring roti di atas meja Kunyah! Kunyah! Kunyah! Kata Tuan Laba-Iaba

Turun dia dari palang kayu diikuti yang lainnya Mencari satu dua

Nyonya Semut mondar mandir Tampaknya perut sudah memanggil Anak-anak bersiap menjadi barisan Maju! Maju! Maju!

Melewati Paman Lalat yang terpekur diam

Tidak

Dia tidak diam Melainkan menunggu

Sepasukan datang untuk terbang Serbu! Serbu! Serbu!

Mendenung lebah di jendela Madu telah habis tak bersisa Hisap! Hisap! Hisap!

Sepiring roti di atas meja Laba-Iaba, semut, lalat, dan lebah Masing-masing merasa memiliki Tentang nasi, tentang mimpi

Kunyah! Maju! Serbu! Hisap!

Datang lagi rombongan ngenga Menyergap tempat ke tempat Berebut berdesak berdera

Jika roti itu hutan Siapa laba-Iaba Siapa semut Siapa lalat

Siapa lebah dan ngeng ....... Akan kuberitahu

-noni-

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful