You are on page 1of 15

BAB 2

KAJIAN PUSTAKA

1. DEFINISI CACAT SUMBING


Bibir sumbing dan langit-langit sumbing adalah kelainan kongenital yang
sering ditemukan dan menyebabkan kelainan penampakan wajah dan gangguan
bicara. 1)

2. KLASIFIKASI CACAT SUMBING


Foramen insisivum dianggap sebagai penanda utama yang membagi cacat
sumbing anterior dan posterior. Celah yang terletak di anterior dari foramen insisivum
adalah bibir sumbing lateral, sumbing rahang atas, dan sumbing antara palatum
primer dan sekunder. Cacat-cacat ini disebabkan oleh tidak menyatunya sebagian atau
seluruh prominensia maksilaris dengan prominensia nasalis mediana di satu atau
kedua sisi. Cacat yang terletak posterior dari foramen insisivum mencakup langit-
langit (sekunder) sumbing dan uvula sumbing.
Langit-langit sumbing terjadi karena gagalnya penyatuan bilah-bilah palatum
yang mungkin disebabkan oleh ukurannya yang terlalu kecil, kegagalan bilah-bilah
palatum untuk meninggi, hambatan terhadap proses penyatuan itu sendiri, atau
kegagalan lidah untuk turun dari antara kedua bilah palatum karena mikrognatia.
Kategori ketiga dibentuk oleh kombinasi celah yang terletak anterior serta posterior
dari foramen insisivum. Sumbing anterior memiliki keparahan bervariasi dari cacat
yang hampir tidak terlihat di vermilion bibir hingga perluasan ke hidung. Pada kasus
berat, sumbing meluas ke tingkat lebih dalam, membentuk celah di atas rahang atas,
dan maksila terbelah antara gigi seri lateral dan gigi taring. Sumbing semacam ini
biasanya meluas ke foramen insisivum. Demikian juga, sumbing posterior memiliki
keparahan bervariasi dari pembelahan seluruh palatum sekunder hingga pembelahan
hanya uvula.
Sumbing wajah oblik terjadi karena kegagalan prominensia maksilaris
menyatu dengan prominensia nasalis lateralis. Pada kelainan ini, duktus
nasolakrimalis biasanya terpajan ke permukaan.
Bibir sumbing (garis tengah) median, suatu kelainan yang jarang ditemukan,
disebabkan oleh penyatuan tak sempurna kedua prominensia nasalis mediana di garis
tengah. Anomali ini biasanya disertai oleh alur dalam di antara sisi kanan dan kiri

1
hidung. Bayi dengan sumbing garis tengah sering mengalami retardasi mental dan
mungkin mengidap kelainan otak yang mencakup hilangnya struktur-struktur di garis
tengah dengan keparahan bervariasi. Hilangnya jaringan di garis tengah juga dapat
ssedemikian luas sehingga kedua ventrikel lateral menyatu (holoprosensefalus).
Cacat-cacat ini terjadi pada awal perkembangan, pada permulaan neurulasi (hari 19-
21) saat garis tengah otak depan sedang terbentuk. 1)

3. GANGGUAN YANG DIALAMI OLEH PENDERITA CACAT SUMBING


a. Gangguan asupan makanan

Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi


penderita labioschisis. Adanya labioschisis memberikan
kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada
payudara ibu atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi
dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan
kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang
ditemukan adalah reflex hisap dan reflek menelan pada
bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi
dapat menghisap lebih banyak udara pada saat menyusu.
Memegang bayi dengan posisi tegak lurus mungkin dapat
membantu proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk
punggung bayi secara berkala juga dapat membantu. Bayi
yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil
pada palatum biasanya dapat menyusui, namun pada bayi
dengan labioplatoschisis biasanya membutuhkan
penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini
dapat keluar dengan tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk
bayi dengan labio-palatoschisis dan bayi dengan masalah
pemberian makan/ asupan makanan tertentu.

b. Gangguan dental

Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin


mempunyai masalah tertentu yang berhubungan dengan

2
kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada
area dari celah bibir yang terbentuk. 2)
Gigi tidak akan tumbuh
secara normal, dan umumnya diperlukan perawatan khusus untuk
3)
mengatasi hal ini.

c. Infeksi telinga

Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk


menderita infeksi telinga karena terdapatnya abnormalitas
perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan
dan penutupan tuba eustachius.

d. Gangguan berbicara

Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga


memiliki abnormalitas pada perkembangan otot-otot yang
mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat
menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara, maka
didapatkan suara dengan kualitas nada yang lebih tinggi
(hypernasal quality of 6 speech). Meskipun telah dilakukan
reparasi palatum, kemampuan otot-otot tersebut diatas
untuk menutup ruang atau rongga nasal pada saat bicara
mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal.
Penderita celah palatum memiliki kesulitan bicara,
sebagian karena palatum lunak cenderung pendek dan
kurang dapat bergerak sehingga selama berbicara udara
keluar dari hidung. Anak mungkin mempunyai kesulitan
untuk menproduksi suara atau kata "p, b, d, t, h, k, g, s, sh,
dan ch", dan terapi bicara (speech therapy) biasanya
sangat membantu. 2)

e. Gangguan psikologis

3
Bibir sumbing menyebabkan timbulnya rasa kurang percaya diri pada
penderita yang bisa menyebabkan stress dan terbatasnya hubungan sosial
dengan orang lain. 3)

f. Gangguan pertumbuhan tulang muka 3)

4. FAKTOR PENYEBAB CACAT SUMBING

Bibir Sumbing merupakan kelainan formasi bibir akibat terganggunya fusi


(menyatunya) selama masa pertumbuhan intra uterine (dalam kandungan). Gangguan
fusi ini terutama terjadi pada trimester pertama kehamilan yang bisa disebabkan oleh
berbagai faktor yang dapat dibagi menjadi faktor herediter dan faktor eksternal.

a. Faktor herediter

Faktor herediter ini berarti menyangkut gen penyebab bibir sumbing yang
dibawa penderita. Hal ini dapat berupa :

• Mutasi gen.
• Kelainan kromosom : 75% dari faktor keturunan resesif dan 25% bersifat
dominan. 3)

b. Faktor eksternal / lingkungan

Faktor eksternal merupakan hal-hal diluar tubuh penderita selama masa


pertumbuhan dalam andungan yang mempengaruhi atau menyebaban
terjadinya bibir sumbing yaitu :

• Pengaruh lingkungan juga dapat menyebabkan, atau


berinteraksi dengan genetika untuk memproduksi, celah
orofacial. Pada manusia, bibir sumbing janin dan kelainan
bawaan lain juga telah dihubungkan dengan hipoksia ibu,
seperti yang disebabkan oleh misalnya ibu merokok, ibu
penyalahgunaan alkohol atau beberapa bentuk pengobatan
hipertensi. 2)

4
• Penyebab musiman (seperti eksposur pestisida)
• Obat-obatan, seperti: Asetosal, Aspirin (SCHARDEIN-1985) Rifampisin,
Fenasetin, Sulfonamid, Aminoglikosid, Indometasin, Asam Flufetamat,
Ibuprofen, Penisilamin, Antihistamin dapat menyebabkan celah langit-
langit. Retinoid (yang merupakan anggota vitamin A
keluarga), senyawa nitrat, obat-obatan antikonvulsan,
alcohol, obat-obatan terlarang (kokain, heroin, dll). 2)

• Diet ibu dan asupan vitamin


• Penggunaan rokok
• Pelarut organik
• Faktor usia ibu
• Nutrisi, terutama pada ibu yang kekurangan folat
• Penyakit infeksi Sifilis, virus rubella
• Radiasi
• Stres emosional
• Trauma (trimester pertama)
• Kondisi ibu hamil yang mengalami rasa mual dan muntah berlebihan,
berisiko melahirkan bayi dengan bibir sumbing. 3)

5. PENANGANAN CACAT SUMBING

Bayi yang terlahir dengan bibir sumbing harus ditangani oleh klinisi dari
multidisiplin dengan pendekatan team-based, agar memungkinkan koordinasi efektif
dari berbagai aspek multidisiplin tersebut. Selain masalah rekonstruksi bibir yang
sumbing, masih ada masalah lain yang perlu dipertimbangkan yaitu masalah
pendengaran, bicara, gigi-geligi dan psikososial. Masalah-masalah ini sama
pentingnya dengan rekonstruksi anatomis, dan pada akhirnya hasil fungsional yang
baik dari rekonstruksi yang dikerjakan juga dipengaruhi oleh masalah-masalah
tersebut. Dengan pendekatan multidisipliner, tatalaksana yang komprehensif dapat
diberikan, dan sebaiknya kontinyu sejak bayi lahir sampai remaja. Diperlukan tenaga
spesialis bidang kesehatan anak, 4) diantaranya:

5
• Ahli bedah plastik untuk memperbaiki bentuk bibir sehingga normal/
mendekati normal.
• Ahli THT, untuk memantau dan atau memperbaiki kelainan sekitar hidung dan
telinga.
• Dokter gigi/Orthodontist untuk memantau dan atau memperbaiki kelainan
pertumbuhan gigi.
• Speech therapist untuk membantu penderita agar dapat berbicara dengan
normal
• Psikolog/Psikiater untuk menangani masalah psikologis yang timbul terutama
rasa rendah diri. 3)

Perawatan dan dukungan pada bayi dan keluarganya


diberikan sejak bayi tersebut lahir sampai berhenti tumbuh pada
usia kira-kira 18 tahun. Tindakan pembedahan dapat dilakukan
pada saat usia anak 3 bulan. 2)

Ada tiga tahap penatalaksanaan labioschisis yaitu : 2)

1. Tahap sebelum operasi

Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah


ketahanan tubuh bayi menerima tindakan operasi, asupan gizi
yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang
dicapai dan usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai
adalah rule of ten meliputi: berat badan lebih dari 10 pounds
atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari
10 minggu , jika bayi belum mencapai rule of ten ada
beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang tua agar
kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah.
Misalnya memberi minum harus dengan dot khusus dimana
ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar sendiri dengan
jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga
membuat bayi tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat
asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot dengan besar lubang
khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan

6
bantuan sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk
atau tegak untuk menghindari masuknya susu melewati
langit-langit yang terbelah.

Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan


menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga
agar celah pada bibir menjadi tidak terlalu jauh akibat proses
tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi
kearah depan (protrusio pre maxilla) akibat dorongan lidah
pada prolabium , karena jika hal ini terjadi tindakan koreksi
pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika
hasil akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik
tadi harus tetap direkatkan sampai waktu operasi tiba.

2. Tahap sewaktu operasi

Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat


ini yang diperhatikan adalah soal kesiapan tubuh si bayi
menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan
oleh seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir
sumbing (labioplasty) adalah usia 3 bulan. Usia ini dipilih
mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6
bulan sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut
maka pengucapan huruf bibir sudah terlanjur salah sehingga
kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi
kurang sempurna.

Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada


usia 18 – 20 bulan mengingat anak aktif bicara usia 2 tahun
dan sebelum anak masuk sekolah. Palatoplasty dilakukan
sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anak mulai bicara
lengkap sehingga pusat bicara di otak belum membentuk cara
bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat, sering hasil
operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal

7
atau tidak sengau sulit dicapai. Operasi yang dilakukan
sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech
teraphy karena jika tidak, setelah operasi suara sengau pada
saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa
melafalkan suara yang salah, sudah ada mekanisme
kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang salah. Bila
gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi
labiognatopalatoschizis, koreksi untuk gusi dilakukan pada
saat usia 8–9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi /
orthodontist.

3. Tahap setelah operasi

Tahap selanjutnya adalah tahap setelah operasi,


penatalaksanaanya tergantung dari tiap-tiap jenis operasi
yang dilakukan, biasanya dokter bedah yang menangani akan
memberikan instruksi pada orang tua pasien misalnya setelah
operasi bibir sumbing luka bekas operasi dibiarkan terbuka
dan tetap menggunakan sendok atau dot khusus untuk
memberikan minum bayi. Banyaknya penderita bibir sumbing
yang datang ketika usia sudah melebihi batas usia optimal
untuk operasi membuat operasi hanya untuk keperluan
kosmetika saja sedangkan secara fisiologis tidak tercapai,
fungsi bicara tetap terganggu seperti sengau dan lafalisasi
beberapa huruf tetap tidak sempurna, tindakan speech
teraphy pun tidak banyak bermanfaat.

6. PENCEGAHAN CACAT SUMBING

1. Menghindari merokok

Ibu yang merokok mungkin merupakan faktor risiko


lingkungan terbaik yang telah dipelajari untuk terjadinya celah
orofacial. Ibu yang menggunakan tembakau selama
kehamilan secara konsisten terkait dengan peningkatan resiko

8
terjadinya celah-celah orofacial. Mengingat frekuensi
kebiasaan kalangan perempuan di Amerika Serikat, merokok
dapat menjelaskan sebanyak 20% dari celah orofacial yang
terjadi pada populasi negara itu.

Lebih dari satu miliar orang merokok di seluruh dunia


dan hampir tiga perempatnya tinggal di negara berkembang,
sering kali dengan adanya dukungan public dan politik tingkat
yang relatif rendah untuk upaya pengendalian tembakau.
(Aghi et al.,2002). Banyak laporan telah mendokumentasikan
bahwa tingkat prevalensi merokok pada kalangan perempuan
berusia 15-25 tahun terus meningkat secara global pada
dekade terakhir (Windsor, 2002). Diperkirakan bahwa pada
tahun 1995, 12-14 juta perempuan di seluruh dunia merokok
selama kehamilan mereka dan, ketika merokok secara pasif
juga dicatat, 50 juta perempuan hamil, dari total 130 juta
terpapar asap tembakau selama kehamilan mereka (Windsor,
2002). 2)

2. Menghindari alkohol

Peminum alkohol berat selama kehamilan diketahui


dapat mempengaruhi tumbuh kembang embrio, dan langit-
langit mulut sumbing telah dijelaskan memiliki hubungan
dengan terjadinya defek sebanyak 10% kasus pada sindrom
alkohol fetal (fetal alcohol syndrome). Pada tinjauan yang
dipresentasikan di Utah Amerika Serikat pada acara
pertemuan konsensus WHO (bulan Mei 2001), diketahui
bahwa interpretasi hubungan antara alkohol dan celah
orofasial dirumitkan oleh bias yang terjadi di masyarakat.
Dalam banyak penelitian tentang merokok, alkohol
diketemukan juga sebagai pendamping, namun tidak ada
hasil yang benar-benar disebabkan murni karena alkohol. 2)

9
3. Memperbaiki Nutrisi Ibu

Nutrisi yang adekuat dari ibu hamil saat konsepsi dan


trimester I kehamilan sangat penting bagi tumbuh kembang
bibir, palatum dan struktur kraniofasial yang normal dari
fetus.

a. Asam Folat

Peran asupan folat pada ibu dalam kaitannya enan celah


orofasial sulit untuk ditentukan dalam studi kasus-kontrol
manusia karena folat dari sumber makanan memiliki
bioavaibilitas yang luas dan suplemen asam folat biasanya
diambil dengan vitamin, mineral dan elemen-elemen lainnya
yang juga mungkin memiliki efek protektif terhadap terjadinya
celah orofasial. Folat merupakan bentuk poliglutamat alami
dan asam folat ialah bentuk monoglutamat sintetis.
Pemberian asam folat pada ibu hamil sangat penting pada
setiap tahap kehamilan sejak konsepsi sampai persalinan.
Asam folat memiliki dua peran dalam menentukan hasil
kehamilan. Satu, ialah dalam proses maturasi janin jangka
panjang untuk mencegah anemia pada kehamilan lanjut.
Kedua, ialah dalam mencegah defek kongenital selama
tumbuh kembang embrionik. Telah disarankan bahwa
suplemen asam folat pada ibu hamil memiliki peran dalam
mencegah celah orofasial yang non sindromik seperti bibir
dan/atau langit-langit sumbing. 2)

b. Vitamin B-6

Vitamin B-6 diketahui dapat melindungi terhadap


induksi terjadinya celah orofasial secara laboratorium pada
binatang oleh sifat teratogennya demikian juga kortikosteroid,
kelebihan vitamin A, dan siklofosfamid. Deoksipiridin, atau
antagonis vitamin B-6, diketahui menginduksi celah orofasial

10
dan defisiensi vitamin B-6 sendiri cukup untuk membuktikan
terjadinya langit-langit mulut sumbing dan defek lahir lainnya
pada binatang percoban. Namun penelitian pada manusia
masih kurang untuk membuktikan peran vitamin B-6 dalam
terjadinya vitamin B-6. 2)

c. Vitamin A

Asupan vitamn A yang kurang atau berlebih dikaitkan


dengan peningkatan resiko terjadinya celah orofasial dan
kelainan kraniofasial lainnya. Hale adalah peneliti pertama
yang menemukan bahwa defisiensi vitamin A pada ibu
menyebabkan defek pada mata, celah orofasial, dan defek
kelahiran lainya pada babi. Penelitian klinis manusia
menyatakan bahwa paparan fetus terhadap retinoid dan diet
tinggi vitamin A jugadapat menghasilkan kelainan kraniofasial
yang gawat. Pada penelitian prospektif lebih dari 22.000
kelahiran pada wanita di Amerika Serikat, kelainan
kraniofasial dan malformasi lainnya umum terjadi pada wanita
yang mengkonsumsi lebih dari 10.000 IU vitamin A pada masa
perikonsepsional. 2)

4. Modifikasi Pekerjaan

Dari data-data yang ada dan penelitian skala besar


menyerankan bahwa ada hubungan antara celah orofasial
dengan pekerjaan ibu hamil (pegawai kesehatan, industri
reparasi, pegawai agrikulutur). Teratogenesis karena
trichloroethylene dan tetrachloroethylene pada air yang
diketahui berhubungan dengan pekerjaan bertani
mengindikasikan adanya peran dari pestisida, hal ini diketahui
dari beberapa penelitian. namun tidak semua.(35) Maka
sebaiknya pada wanita hamil lebih baik mengurangi jenis
pekerjaan yang terkait.

11
Pekerjaan ayah dalam industri cetak, seperti pabrik cat,
operator motor, pemadam kebakaran atau bertani telah
diketahui meningkatkan resiko terjadinya celah orofasial. 2)

5. Suplemen Nutrisi

Beberapa usaha telah dilakukan untuk merangsang


percobaan pada manusia untuk mengevaluasi suplementasi
vitamin pada ibu selama kehamilan yang dimaksudkan
sebagai tindakan pencegahan. Hal ini dimotivasi oleh hasil
baik yang dilakukan pada percobaan pada binatang. Usaha
pertama dilakukan tahun 1958 di Amerika Serikat namun
penelitiannya kecil, metodenya sedikit dan tidak ada analisis
statistik yang dilaporkan. Penelitian lainnya dalam usaha
memberikan suplemen multivitamin dalam mencegah celah
orofasial dilakukan di Eropa dan penelitinya mengklaim bahwa
hasil pemberian suplemen nutrisi adalah efektif, namun
penelitian tersebut memiliki data yang tidak mencukupi untuk
mengevaluasi hasilnya. Salah satu tantangan terbesar dalam
penelitian pencegahan terjadinya celah orofasial adalah
mengikutsertakan banyak wanita dengan resiko tinggi pada
masa produktifnya. 2)

7. PROSENTASE BAYI BERIKUTNYA YANG MENGIDAP CACAT YANG


SAMA

Sebagian besar kasus bibir sumbing dan langit-langit sumbing bersifat


multifaktor. Bibir sumbing (sekitar 1/1000 kelahiran) terjadi lebih sering pada pria
(80%) daripada wanita; insidensnya sedikit meningkat sesuai usia ibu dan bervariasi
di antara berbagai populasi. Jika orang tua normal memiliki satu anak dengan bibir
sumbing, kemungkinan bayi berikutnya mengidap cacat yang sama adalah 4%. Jika
dua anak terkena, risiko pada anak berikutnya meningkat menjadi 9%. Jika salah satu
orang tua mengidap bibir sumbing dan memiliki satu anak dengan cacat yang sama,

12
kemungkina bahawa bayi berikutnya mengidap cacat serupa meningkat menjadi
adalah 17%.
Frekuensi langit-langit sumbing sebagai kelainan tersendiri jauh lebih rendah
daripada frekuensi bibir sumbing (1/2500 kelahiran), lebih sering ditemukan pada
wanita (67%) daripada pria, dan tidak berkaitan dengan usia ibu. Jika orang tua
normal memiliki satu anak dengan langit-langit sumbing, kemungkinan anak
berikutnya terkena adalah 2%. Namun, jika terdapat anak dan saudara yang juga
terkena atau kedua orang tua mengidap langit-langit sumbing, kemungkinannya
masing-masing meningkat, menjadi 7% dan 15%. Pada wanita, bilah-bilah palatum
menyatu sekitar 1 minggu lebih lambat daripada pada pria. Perbedaan ini dapat
menjelaskan mengapa cacat langit-langit sumbing saja lebih sering terjadi pada wanita
daripada pria. Obat antikejang, misalnya fenobarbital dan difenilhidantion yang
diberikan selama kehamilan meningkatkan risiko langit-langit sumbing. 1)

8. MASALAH PSIKOLOGIS YANG TIMBUL

Memiliki bibir dan/atau langit-langit sumbing mengakibatkan


masalah psikososial. Sebagian besar anak yang telah dioperasi
celahnya dapat memiliki masa anak-anak yang bahagia dan
kehidupan sosial yang sehat. Namun, penting untuk diingat bahwa
pada remaja dengan bibir dan/atau langit-langit sumbing dapat
meningkatkan risiko adanya masalah psikososial khususnya yang
berkaitan dengan konsep diri, romantika, dan penampilan. Hal ini
penting bagi orang tua untuk menyadari permasalahan psikososial
anak remaja mereka agar dapat menghadapi masalahnya dan
mengetahui di mana mencari bantuan tenaga profesional jika
masalah timbul.

Bukti-bukti menunjukkan bahwa masalah komunikasi


berhubungan dengan bibir dan langit-langit sumbing yang tampak
pada masa anak-anak. Penelitian perkembangan anak pada bibir
dan langit-langit sumbing pada infant dan toddler (anak baru bisa
berdiri dan berjalan), atau sejak lahir sampai usia 3 tahun,
menyatakan bahwa bibir sumbing pada todler memiliki penundaan

13
atau keterlambatan perkembangan dalam daerah bahasa ekspresif
pada usia 36 bulan. Respon negatif dari orang lain, secara nyata
atau hanya perasaan saja, dapat mempengaruhi kesan terhadap diri
sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa pilihan untuk menarik
secara individual mempengaruhi harga diri, kompentensi sosial, dan
penilaian terhadap daya tarik di masa depan. Daya tarik fisik
menunjukkan peran yang signifikan dalam kehidupan sosial seperti
membangun hubungan kekerabatan dalam setiap tahap kehidupan,
sekolah, romantika, kerja dan lain-lain. Penerimaan sosial seringkali
tergantung pada fisik seseorang. Hubungan tersebut antara
kecantikan secara fisik dan penerimaan sosial merupakan hambatan
pada orang dengan bibir dan langit-langit sumbing dalam
berkomunikasi.

Sudah menjadi bukti bahwa terdapat keterbatasan-


keterbatasan yang dimiliki orang dengan bibir dan langit-langit
sumbing mengalami berbagai kesulitan. Oleh karena itu,
keterbatasan tersebut dibangun dalam banyak periode waktu
karena masalah psikologis yang dihadapi. Sebagai contoh,
gangguan komunikasi pada individu dengan bibir dan langit-langit
sumbing tidak dihasilkan dari gangguan bicaranya (fonasinya)
namun dari masalah psikologis yang dapat mempengaruhi
keseluruhan perkembangan anak. Gangguan kecemasan dan
depresi dilaporkan mempunyai prevalensi dua kali lebih besar pada
orang dewasa bibir dan langit-langit sumbing dibandingkan kontrol
normal. Kecemasan, depresi dan palpitasi dilaporkan dua kali lebih
sering pada orang bibir dan langit-langit sumbing dibandingkan
dengan kontrol, dan masalah psikologis ini memiliki hubungan yang
kuat dengan hal-hal menyangkut penampilan, pertumbuhan gigi,
dialog, dan hasrat untuk pengobatan lebih lanjut. Masalah psikologis
yang didapat oleh anak dengan bibir dan langit-langit sumbing tidak
hanya terbatas pada anak/individualnya saja, tetapi juga pada
orang tuanya. Penelitian menunjukkan orang tuanya dapat

14
mengalami krisis mental, disebabkan latar belakang orang tuanya,
juga stres ketika membawa anak dengan bibir sumbing. 2)

DAFTAR PUSTAKA

1. Sadler, T.W. 2006. Embriologi Kedokteran Langman Ed 10. Jakarta: EGC.


2. Epidemiologi bibir sumbing. Diunduh dari: http://referensikedokteran
.blogspot.com/2010/10/epidemiologi-bibir-sumbing.html
3. Kenapa Bibir Bisa Sumbing?. Diunduh dari:
http://www.tanyadokteranda.com/artikel/2008/02/kenapa-bibir-bisa-sumbing
4. Bibir Sumbing. Diunduh dari:
http://www.klikdokter.com/medisaz/read/2010/07/05/104/bibir-sumbing

15