Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Sepuluh tahun sudah reformasi berlalu, namun reformasi belum dapat membawa perubahan yang substansional pada kehidupan rakyat Indonesia. Pada makalah ini akan dibahas mengenai suatu permasalahan dasar yang sangat penting untuk dianalisis, yakni Pancasila yang merupakan ideologi bangsa seharusnya dapat ditegakkan agar proses pembangunan nasional yang sesuai dengan reformasi dapat berjalan dengan baik. Di kesempatan kali ini pula penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini. Harapan penulis, kiranya makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca untuk dijadikan sebagai bahan referensi dalam mempelajari bahasan ini. Akhir kata, tak ada gading yang tak retak. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis dengan senang hati akan menerima kritik, saran dan masukan yang membangun

….…………………………………………4 B.…13 BAB III……………………………………………………………………………………………………15 Penutup a..2 Pengertian Pancasila……………………………………………………………………………………. 1 BAB I Pendahuluan………………………………………………………………………………………. Saran…………………………………………………………………………………………….7 BAB II Pembahasan…………………………………………………………………………………….. Rumusan Masalah………………………………………………………………………………….Daftar Isi Kata Pengantar…………………………………………………………………………………………….. Kesimpulan……………………………………………………………………………………………15 b.2 A.……16 Daftar Pustaka……………………………………………………………………………………………17 . Latar Belakang………………………………………….

di mana kata-kata dalam Pancasila adalah: . terdapat perubahan kata dalam Pancasila sebagai berikut: 1.) Internasionalisme atau peri kemanusiaan. pemikiran yang mendalam. Semenjak dikumandangkan pada tanggal 1 Juni 1945. Dan perjuangan suatu bangsa senantiasa memiliki karakter sendiri yang berasal dari kepribadian bangsa.) Kemanusiaan yang adil dan beradab. 3. Dalam rumusan Soekarno sebagai berikut: 1. Sesuai dengan rumusan ini. dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Perubahan berikutnya terlihat dalam Mukadimah UUD RIS tahun 1950. Pancasila mengalami beberapa kali perubahan urutan sila maupun kata. tepatnya adalah dasar bagi negara Indonesia yang merdeka. serta jiwa dan hasrat yang mendalam. filsafat. Soekarno menekankan pentingnya sebuah dasar negara. 2. Pada awal pidato dalam sidang tersebut. Istilah dasar negara ini kemudian disamakan dengan fundamen. secara etimologis berasal dari dua kata yaitu Panca yang berarti lima dan Sila yang berarti dasar. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Pancasila secara formal yudiris terdapat dalam alinea IV pembukaan UUD 1945.) Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa atau prinsip Ketuhanan.) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan 5. Di samping pengertian formal dalam arti formal menurut hukum atau formal yudiris maka Pancasila juga mempunyai bentuk dan juga mempunyai isi dan arti (unsur-unsur yang menyusun Pancasila tersebut).) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila dari akar kata berarti lima dasar. 3.) Kebangsaan Indonesia. maka sejak pertama kali dikumandangkan. yakni pada saat berlangsungnya sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Republik Indonesia (BPUPKI). Berikut dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945.) Kesejahteraan sosial dan 5. kepribadian bangsa sekaligus merupakan alat pemersatu seluruh bangsa untuk mencapai tujuan perjuangan kemerdekaan. Pancasila. Pancasila diartikan sebagai ideologi yang mencerminkan identitas.) Persatuan Indonesia. 4.) Mufakat atau demokrasi. 2. 4. Hal ini didasarkan pada interpretasi histories diamana rumusan dalam alinea IV pembukaan UUD 1945 diberi nama dengan bentuk istilah “Pancasila” sejak tanggal 1 Juni 1945.BAB I PENDAHULUAN Pengertian Pancasila Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang dikumandangkan pertama kali oleh Soekarno pada tanggal I Juni 1945.) Ketuhanan.

) Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. 2.) Kerakyatan dan 5. 3. 4.) Peri kemanusiaan. Adapun urutan dan kata-kata dalam Pancasila yang digunakan saat ini adalah seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD’45 yakni: 1.) Ketuhanan Yang Maha Esa.) Persatuan Indonesia. Pancasila dapat diterima sebagai ideologi nasional karena sifatnya yang menyatukan berbagai kelompok masyarakat.) Kebangsaan 4. memberi arah dan pedoman tingkah laku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta menjadi prosedur penyelesaian konflik.1. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.) Keadilan sosial.) Kemanusiaan yang adil dan beradab.) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. .) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dan 5. 3.

Kesatuan aksi (KAMI. Penataan kembali seluruh aspek kehidupan rakyat. bangsa. 8. 9.KAPPI. Keadaan politik dan keamanan negara menjadi kacau karena peristiwa Gerakan 30 September 1965 ditambah adanya konflik di angkatan darat yang sudah berlangsung lama. Semangat tersebut muncul berdasarkan pengalaman sejarah dari pemerintahan sebelumnya yang telah menyelewengkan Pancasila serta menyalahgunakan UUD 45 untuk kepentingan kekuasaan. Kesatuan Aksi “Front Pancasila” pada 10 Januari 1966 di depan gedung DPR-GR mengajukan tuntutan”TRITURA”(Tri Tuntutan Rakyat) yang berisi : ü Pembubaran PKI berserta Organisasi Massanya ü Pembersihan Kabinet Dwikora ü Penurunan Harga-harga barang. Reaksi keras dan meluas dari masyarakat yang mengutuk peristiwa pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh PKI. Dari embrio inilah dibangun suatu tatanan Pemerintahan yang disebut Ode Baru. 4. 7. 5. 2. Nama itu dipilih untuk menunjukan bahwa orde ini merupakan tatanan hidup berbangsa dan . 3. Maka Presiden mengeluarkan Surat Perintah Sebelas Maret 1966 (SUPERSEMAR) yang ditujukan bagi Letjen Suharto guna mengambil langkah yang dianggap perlu untuk mengatasi keadaan negara yang semakin kacau dan sulit dikendalikan.dsb) yang ada di masyarakat bergabung membentuk Kesatuan Aksi berupa “Front Pancasila” yang selanjutnya lebih dikenal dengan “Angkatan 66” untuk menghacurkan tokoh yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965.KASI.A. Orde baru lahir sebagai upaya untuk : Mengoreksi total penyimpangan yang dilakukan pada masa Orde Lama. Babak baru dalam sejarah perjuangan bangsa muncul sejalan dengan berakhirnya pemerintahan Orde Lama. Rakyat melakukan demonstrasi menuntut agar PKI berserta Organisasi Masanya dibubarkan serta tokoh-tokohnya diadili. Latar Belakang Pancasila Pada Masa Orde Baru Orde baru merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk memisahkan antara kekuasaan masa Sukarno(Orde Lama) dengan masa Suharto. Upaya reshuffle kabinet Dwikora pada 21 Februari 1966 dan Pembentukan Kabinet Seratus Menteri tidak juga memuaskan rakyat sebab rakyat menganggap di kabinet tersebut duduk tokohtokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Sebagai masa yang menandai sebuah masa baru setelah pemberontakan PKI tahun 1965. Latar belakang lahirnya Orde Baru : 1. Menyusun kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa.KAPI. Sebuah kekuatan baru muncul dengan tekad melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen. Sidang Paripurna kabinet dalam rangka mencari solusi dari masalah yang sedang bergejolak tak juga berhasil. Melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. 6. Keadaan perekonomian semakin memburuk dimana inflasi mencapai 600% sedangkan upaya pemerintah melakukan devaluasi rupiah dan kenaikan harga bahan bakar menyebabkan timbulnya keresahan masyarakat. dan negara Indonesia. Terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Wibawa dan kekuasaan presiden Sukarno semakin menurun setelah upaya untuk mengadili tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak berhasil dilakukan meskipun telah dibentuk Mahkamah Militer Luar Biasa(Mahmilub).

tanpa sesuatu karya yang nyata bagi rakyat banyak. Akibatnya. bagi rakyat hanyalah omong kosong yang tidak mempunyai makna apapun. Salah satu agenda besar adalah menghilangkan kotak-kotak ideologi politik dalam masyarakat yang menjadi warisan masa lalu dan membangun sistem kekuasaan yang berorientasi kepada kekaryaan. Sejalan dengan semakin dominannya kekuatan negara. Sebab setiap ungkapan para pemimpin mengenai nilai-nilai kehidupan tidak disertai dengan keteladanan serta tindakan yang nyata sehingga Pancasila yang berisi nilai-nilai luhur bangsa dan merupakan landasan filosofi untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. atau nama sejenisnya. Dalam dimensi supra-struktur politik. dalam perspektif politik kemasyarakatan pemerintah Orde Baru melakukan restrukturisasi kehidupan kepartaian. Sementara itu. Sikap politik masyarakat yang kritis dan berbeda pendapat dengan negara dalam prakteknya diperlakukan sebagai pelaku tindak kriminal atau subversif. Penafsiran dan implementasi Pancasila sebagai ideologi terbuka. bukan nilai-nilai Pancasila yang meresap ke dalam kehidupan masyakat. Hal itu terutama disebabkan oleh karena . Pancasila yang berisi nilai-nilai luhur. Dalam pada itu. pemilu lebih merupakan seremoni dan pesta politik elit dari pada kompetisi politik.bernegara yang bertujuan mengoreksi pemerintahan masa lalu dengan janji melaksanakan Pancasila dan UUD 45 secara murni dan konsekwen. Salah satu upaya dalam tataran politik misalnya adalah menciptakan sistem politik yang menegarakan semua organisasi sosial dan politik dengan tujuan agar tercapai stabilitas politik. nasib Pancasila dan UUD 45 tidak banyak berbeda bila dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya. sehingga sebagaimana diketahui partai yang berkuasa selalu memperoleh kemenangan sekitar 60 persen dari jumlah pemilih dalam setiap pemilihan umum. Cara melakukan pendidikan semacam itu. Pemilu yang berlangsung secara rutin dan diatur serta diselenggarakan oleh negara memihak kepentingan penguasa. Pada tahun-tahun berikutnya. Organisasi kekaryaan tersebut ikut pemilihan umum dan memperoleh kemenangan lebih dari 60% dari popular vote. Kemenangan tersebut di samping karena Golkar dijagokan oleh pemerintah. Politik yang stabil dibutuhkan untuk membangun perekonomian yang kacau akibat ketidakstabilan politik masa lalu. lembaga-lembaga negara secara formal-struktural ditata sehingga hubungan dan kewenangan menjadi lebih jelas dibanding dengan struktur kelembagaan kekuasaan pada masa Orde Lama. Lebih-lebih pendidikan Pancasila dan UUD 45 yang dilakukan melalui metode indoktrinasi dan unilateral. Penafsiran yang berbeda terhadap kedua hal tersebut selalu diredam secara represif. penanaman nilai-nilai Pancasila dilakukan secara indoktrinatif dan birokratis. tetapi juga memonopoli kebenaran. Kedua pemerintahan selalu menempatkan Pancasila dan UUD ˜45 sebagai benda keramat dan azimat yang sakti serta tidak boleh diganggu gugat. berakibat fatal. jelaslah bahwa Orde Baru tidak hanya memonopoli kekuasaan. Untuk itu diperlukan stablitas politik sebagai cara melaksanakan karya-karya yang dianggap secara kongkrit dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. terutama bagi generasi muda. Dengan demikian. kalau perlu dengan mempergunakan kekerasan. semakin mempertumpul pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai Pancasila. dengan terlebih dahulu mendirikan organisasi kekaryaan dengan nama Golongan Karya (Golkar) yang merupakan gabungan dari berbagai macam organisasi masyarakat. setelah dikemas dalam pendidikan yang disebut penataran P4 atau PMP ( Pendidikan Moral Pancasila). Ideologi kekaryaan ini dikumandangkan untuk membedakan secara lebih jelas dengan pemerintahan sebelumnya yang hanya dianggap bermain pada tataran ideologis. serta UUD 45 sebagai landasan konstitusi berada di tangan negara. tetapi kemunafikan yang tumbuh subur dalam masyarakat. yang tidak memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat. Upaya tersebut diawali oleh pemerintah Orde Baru dengan menata struktur politik berdasarkan UUD 45 dan mencoba membuat garis pemisah yang jelas antara apa yang disebut supra-struktur politik (kehidupan politik pada tataran negara) dan infrastruktur politik (kehidupan politik pada tataran masyarakat). ternyata justru mematikan hati nurani generasi muda terhadap makna dari nilai luhur Pancasila tersebut. masyarakatpun sudah jenuh dengan permainan politik para elit yang dirasakan tidak pernah mengerti kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

pada masa Orde Lama Pancasila dimanipulasi menjadi kekuatan politik dalam bentuk bersatunya tiga kekuatan yang bersumber dari tiga aliran yaitu nasionalisme. sementara itu rakyat tinggal menerima apa adanya. pada zaman Orde Baru ancaman terhadap bangsa dan negara adalah komunisme. Pendidikan ideologi yang hanya dilakukan secara sepihak dan doktriner serta tanpa keteladanan selain tidak akan memperkuat bangsa bahkan dapat merusak hati nurani dan moral generasi muda. dalam pespektif politik keduanya sama dan sebangun yaitu bagaimana menjadikan ideologi Pancasila hanya sebagai instrumen penguasa agar kekuasaan dapat dipusatkan pada seorang pemimpin. sedangkan pada masa Orde Baru Pancasila disalahgunakan sebagai ideologi penguasa untuk memasung pluralisme dan mengekang kebebasan berpendapat masyarakat dengan dalih menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Seluruh tatanan diatur oleh negara. komunisme dan agama. Sebab. Namun pada dasarnya. Ukurannya hanya satu: sesuatu dianggap benar kalau hal itu sesuai dengan keinginan penguasa. tetapi dalam kenyataannya masyarakat tahu bahwa kelakuan mereka jauh dari apa yang mereka katakan. Mereka yang setiap hari berpidato dengan selalu mengucapkan kata-kata keramat: Pancasila dan UUD 45. pada zaman Orde Baru di tangan Bapak Pembangunan. Perilaku itu justru semakin membuat persepsi yang buruk bagi para pemimpin serta meredupnya Pancasila sebagai landasan hidup bernegara. Pengalaman pahit yang pernah dilakukan pada masa Orde Lama dalam memanfaatkan Pancasila yang hanya retorika politik dan sebagai instrumen menggalang kekuasaan ternyata diteruskan pada masa Orde Baru. karena masyarakat menilai bahwa aturan dan norma hanya untuk orang lain (rakyat) tetapi bukan atau tidak berlaku bagi para pemimpin. bahwa persatuan dan kesatuan bangsa yang dibentuk secara unilateral tidak akan bertahan lama. Hasilnya. . Hanya bedanya.pendidikan yang doktriner tidak disertai dengan keteladanan yang benar. Pelajaran yang dapat dipetik adalah. Uniformitas menjadi hasil konkrit dari kebijakan politik pembangunan yang unilateral. Gagasan mengenai pluralisme tidak mendapatkan tempat untuk didiskusikan secara intensif. Retorika persatuan kesatuan menyebabkan bangsa Indonesia yang sangat plural diseragamkan. pada masa Orde Lama kekuasaan memusat di tangan Pemimpin Besar Revolusi. Kekuasaan yang semakin akumulatif dan monopolistik di tangan seorang pemimpin menjadikan mereka juga berkuasa menentukan apa yang dianggap benar dan apa yang dianggap salah. Pada masa Orde Lama ancaman bangsa dan negara adalah neo-kolonialisme. sebaliknya sesuatu dianggap salah kalau bertentangan dengan kehendaknya. pendidikan semacam itu hanya menyuburkan kemunafikan.

Pakistan. system pemerintahan Parlementer merupakan suatu system pemerintahan di mana pemerintah (eksekutif) bertanggung jawab kepada parlemen. Contoh Negara: AS. Malaysia. legislative maupun yudikatif. Filiphina. 2.B. Dalam system pemerintahan ini. 2. Pemerintahan dalam arti luas adalah pemerintah/ lembaga-lembaga Negara yang menjalankan segala tugas pemerintah baik sebagai lembaga eksekutif. Tahun 1945 – 1949 Terjadi penyimpangan dari ketentuan UUD ’45 antara lain: . Ciri-ciri dan syarat system pemerintahan Parlementer: 1. system pemerintahan Presidensial merupakan system pemerintahan di mana kepala pemerintahan dipegang oleh presiden dan pemerintah tidak bertanggung jawab kepada parlemen (legislative). Pemerintahan Presidensial didasarkan pada prinsip pemisahan kekuasaan. Pemerintahan Parlementer didasarkan pada prinsip pembagian kekuasaan. Australia. eksekutif dipilih melalui pemilu. juga memiliki perdana menteri sebagai kepala pemerintahan. 4. Eksekutif tidak mempunyai kekuasaan untuk menyatu dengan Legislatif.  Pelaksanaan Sistem Pemerintahan Negara Indonesia 1. 3. India. Menteri dan perdana menteri bertanggung jawab kepada parlemen. 3. Sistem Pemerintahan pada Masa Orde Baru Sistem berarti suatu keseluruhan yang terdiri atas beberapa bagian yang mempunyai hubungan fungsional. Selain memiliki presiden sebagai kepala Negara. Indonesia. dan antara presiden dan kabinet. Kabinet bertanggung jawab kepada presiden. Argentina. 2. Menteri bertanggung jawab kepada presiden karena presiden berkedudukan sebagai kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. 3.  Pengelompokkan system pemerintahan: 1. Ciri-ciri system pemerintahan Presidensial: 1. Contoh Negara: Perancis. Eksekutif dipilih oleh kepala pemerintahan dengan persetujuan legislatif. Adanya tanggung jawab yang saling menguntungkan antara legislatif dengan eksekutif. parlemen mempunyai kekuasaan yang besar dan mempunyai kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap eksekutif. Contoh Negara: Kerajaan Inggris. system pemerintahan Campuran dalam system pemerintahan ini diambil hal-hal yang terbaik dari system pemerintahan Presidensial dan system pemerintahan Parlemen. Rumusan Masalah Bagaimanakah system pemerintahan pada masa orde Baru Apa Bentuk dari Pelanggaran Kesalahan pada Masa Orde Baru Apa saja Dampak dari Kesalahan dalam sebuah Orde Baru a. Belanda.

Menteri bertanggung jawab atas kebijakan pemerintahan. Tahun 1949 – 1950 Didasarkan pada konstitusi RIS. 1. Presiden tidak dapat membubarkan DPR. Ciri-ciri: a. MA sebagai lembaga pengadilan dan penguji aturan. Presiden sebagai penyelenggara pemerintahan. Presiden dan wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat.  Sistem Pemerintahan setelah amandemen (1999 – 2002) MPR bukan lembaga tertinggi lagi. presiden dan wakil presiden tidak dapat diganggu gugat. Perbandingan SisPem Indonesia dengan SisPem Negara Lain Berdasarkan penjelasan UUD ’45. Kekuasaan Legislatif lebih dominan. b. DPA sebagai pemberi saran kepada pemerintahan. 3.  . BPK pengaudit keuangan.  Sistem Pemerintahan menurut UUD ’45 sebelum diamandemen:  ekuasaan tertinggi diberikan rakyat kepada MPR. c. Tapi dalam praktiknya banyak elemen-elemen Sistem Pemerintahan Parlementer. Sistem Pemerintahan yang dianut pada masa konstitusi RIS bukan cabinet parlementer murni karena dalam system parlementer murni. Jadi dapat dikatakan Sistem Pemerintahan Indonesia adalah perpaduan antara Presidensial dan Parlementer. Namun lama kelamaan banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan. Sistem Pemerintahan yang dianut adalah parlementer cabinet dengan demokrasi liberal yang masih bersifat semu. 4. Perdana Menteri diangkat oleh Presiden. Terjadinya perubahan sistem kabinet presidensial menjadi kabinet parlementer berdasarkan usul BP – KNIP. d. Indonesia menganut sistem Presidensia. Komposisi MPR terdiri atas seluruh anggota DPR ditambah DPD yang dipilih oleh rakyat. K DPR sebagai pembuat UU. Tahun 1966 – 1998 Orde baru pimpinan Soeharto lahir dengan tekad untuk melakukan koreksi terpimpin pada era orde lama. Pemerintahan yang diterapkan saat itu adalah system parlementer cabinet semu (Quasy Parlementary). Tahun 1950 – 1959 Landasannya adalah UUD ’50 pengganti konstitusi RIS ’49. Tidak ada kebebasan mengeluarkan pendapat. parlemen mempunyai kedudukan yang sangat menentukan terhadap kekuasaan pemerintah. Berubah fungsi komite nasional Indonesia pusat dari pembantu presiden menjadi badan yang diserahi kekuasaan legislatif dan ikut menetapkan GBHN yang merupakan wewenang MPR. b. 2.a. Soeharto mundur pada 21 Mei ’98. Presiden berhak membubarkan DPR. Tahun 1998 – Sekarang (Reformasi) Pelaksanaan demokrasi pancasila pada era reformasi telah banyak memberikan ruang gerak pada parpol maupun DPR untuk mengawasi pemerintah secara kritis dan dibenarkan untuk unjuk rasa. Tahun 1959 – 1966 (Demokrasi Terpimpin) Presiden mempunyai kekuasaan mutlak dan dijadikannya alat untuk melenyapkan kekuasaankekuasaan yang menghalanginya sehingga nasib parpol ditentukan oleh presiden (10 parpol yang diakui). 5.

Lembaga Bantuan Hukum Pers mencatat 40 persen dari 52 kasus kekerasan pada wartawan dilakukan oleh tentara dan polisi. Kebebasan pers masih dalam ancaman. Pengaruh rakyat terhadap kebijaksanaan politik kurang mendapat perhatian.  Perbedaan Sistem Pemerintahan Indonesia dan Sistem Pemerintahan Malaysia 1. Pengawasan rakyat terhadap pemerintah kurang berpengaruh. Kekerasan Terhadap Wartawan 40 Persen Dilakukan Aparat Jakarta . Kasus pelanggaran terhadap wartawan meningkat sepanjang tahun 2008." jelas Hendra. Jakarta Selatan. Sering terjadinya pergantian para pejabat karena adanya hak perogatif presiden. Pemerintah punya waktu untuk menjalankan programnya dengan tidak dibayangi krisis kabinet.” beber Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Pers . 2. Tercatat ada 32 kasus mulai dari PHK." ujar Direktur Eksekutif LBH Pers Hendrayana saat menggelar jumpa pers catatan akhir tahun di kantornya Jl Prof DR Soepomo. Karena dalam pasal 27 UU ITE diatur tentang pencemaran nama baik. Bentuk dari pelanggaran Kesalahan Pada masa orde Baru Kasus Pelanggaran Terhadap Wartawan Meningkat. Badan Eksekutif Malaysia terletak pada Perdana Menteri sebagai penggerak pemerintahan negara. Di Malaysia ada 2 Dewan Utama dalam badan perundangan yaitu Dewan Negara dan Dewan Rakyat yang perannyan membuat undang-undang. Badan Eksekutif Indonesia terletak pada Presiden yang mempunyai 2 kedudukan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan.Jumlah ini meningkat dari tahun 2007 yang mencatat ada 25 kasus. Presiden tidak dapat memberlakukan dan atau membubarkan DPR.Selain itu ancaman hukumannya melebihi KUHP yaitu 6 tahun dan denda Rp 1 miliar. intimidasi hingga kekerasan terhadap wartawan. “Separuh lebih berupa kekerasan nonfisik. b. Di Indonesia berada di tangan DPR yang perannya membuat undang-undang dengan persetujuan Presiden  b.LBH juga menilai dengan diterbitkannya UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi ekektronik (ITE) menjadi ancaman serius bagi dunia jurnalisme yang dibuat oleh wartawan dan masyarakat melalui surat pembaca maupun blog. Hal ini tentu sangat membungkam terhadap kebebasan media. "Pasal tersebut sangat multitafsir dan juga dinilai sebagai pasal karet karena setiap orang berhak menggunakan pasal tersebut. Badan Eksekutif a. Badan Legislatif a. LBH Pers pun menyoroti kebebasan pers yang masih menjadi ancaman. Selasa (23/12/2008).Sepanjang Mei 2008-Mei 2009.  Kelemahan Sistem Pemerintahan Indonesia Ada kecenderungan terlalu kuatnya otoritas dan konsentrasi kekuasaan di tangan Presiden. "Hal ini bisa dilihat dari pasal-pasal KUHP tentang pencemaran nama baik.kelebihan Sistem Pemerintahan Indonesia Presiden dan menteri selama masa jabatannya tidak dapat dijatuhkan DPR. b.Rencananya Rabu (23/12/2008) LBH pers akan mengajukan judicial review terhadap UU tersebut.

Sepuluh gugatan masalah perburuhan. Sumber: Tempo Penjelasan Kekerasan terhadap wartawan .” imbuhnhya.” ucapnya. “Upaya hukumnya bukan untuk mendidik. “Tapi media juga harus memperbaiki kekurangan internalnya. organisasi massa. dari kekerasan fisik yang tercatat 25 kasus.” ungkap Sholeh. menurut Hendrayana kini pemerintah tampaknya ingin masuk ranah kebebasan pers. pelarangan peliputan tercatat 27 kasus. diikuti sembilan gugatan pidana. lanjutnya merupakan bentuk ancaman pada wartawan agar tidak menyebarkan informasi.semua diatur didalam hukum dan jelas-jelas tindakan kekerasan tidak dibenarkan sama sekali (no excuse for that). gara-gara tulisan seorang jurnalis dipecat pemimpin medianya. lima gugatan perdata. partai politik.” Ia mencontohkan tuntutan Rp 10 miliar mantan Kepala Polisi Daerah Sulawesi Selatan kepada Jupriadi Asmaradhana serta gugatan Rp 1 triliun terhadap majalah Time. Ancaman pencabutan izin.kita hidup di Negara Indonesia. Maka lembaga Bantuan menuntut pemerintah dapat mencabut regulasi yang mengancam kebebasan pers.” tutupnya.” Padahal sudah ada Dewan Pers. anggota parlemen.” jelasnya. aparat keamanan dan mahasiswa. Hendrayanan menyimpulkan lebih ke arah pembangkrutan media atau jurnalisnya.tindakan kekerasan merupakan tindakan yang primitive. Beda tipis. Sisanya masih dalam proses hukum.setiap tindakan yang kita lakukan itu tertulis ataupun tidak tertulis. Kasus yang dimediasi Lembaganya. pelaku kekerasan baik fisik dan nonfisik dilakukan pula oleh massa. “Kami menang di tingkat Pengadilan Hubungan Industrial.” jelasnya. “Kami menerima dua kasus. Catatan Lembaga Bantuan Hukum. Sholeh menyatakan kepentingan media terhadap pemberitaan ternyata mempengaruhi status kepegawaian jurnalis.baik itu fisik maupun non-fisik. Hendrayana menambahkan juga terlihat pada pasal 57 UU Pemilihan Presiden (UU nomer 42 tahun 2008).” Maka Hendrayana turut senang ketika Surat Edaran Mahkamah Agung no 13/2008 tentang saksi ahli dalam kasus pers. “Ini angin segar bagi kebebasn pers. sebuah Negara hukum. jelas Hendrayan. aparat pemerintah.itu tetap saja merupaka sebuah ganjalan dalam menuju suatu kebebasan pers yang absolute. preman. Diakuinya banyaknya kekerasan dalam peliputan ini justru terjadi di daerah. Peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia yang jatuh pada tanggal 3 mei juga masih diwarnai gugatan terhadap media dan jurnalis dan regulasi yang membungkam. Sepanjang Mei 2008-2009 tercatat 26 gugatan yang diterima Lembaga Bantuan. Hendrayana melanjutkan yang mayoritas menang masalah gugatan perdata. “Ada klausul untuk bisa mengatur surat izin penerbitan dalam revisi UU Pers (No 40/1999).Sekali lagi ini merupakan pelajaran bagi Bangsa Indonesia bangsa yang menjunjung tinggi hukum. Kepala Divisi Litigasi Lembaga Bantuan Hukum Pers Sholeh Ali menyatakan kekerasan aparat bertujuan membuat wartawan menjadi takut. Tren gugatan terhadap media dan jurnalis.Hendrayana di kantornya Ahad (3/5) Kekerasan non fisik seperti perampasan kamera. Kerusuhan di Sentani pekan lalu. tapi lebih ke pembungkaman.” Adapun masalah regulasi. “Mereka banyak menggunakan pasal pencemaran nama baik. “Sebagian besar (40 persen) gugatan masalah perburuhan.kita harus bisa meningalkan praktik-praktik . satu gugatan sengketa Tata Usaha Negara dan satu gugatan masalah kebebasan pers.

c.2 milyar hasil ekspor kayu yang hampir separuhnya ke Jepang. buku karya Sajogyo berjudul Ekologi Pedesaan: Sebuah Bunga Rampai mungkin (jika bisa berbicara) akan berkata "Non omnis moriar (Aku takkan pernah mati. meskipun pada akhirnya karya intelektual yang melampaui zamannya ini harus dibayar mahal berupa pencekalan dan pencopotan jabatan Sajogyo ketika itu sebagai ketua Badan Pelaksana Survei Agroekonomi. Jepang mengimpor kayu US $7. Sebagaimana Karl J. misalnya tergusurnya suatu kelompok masyarakat dari wilayahnya sehingga kehilangan sumbersumber kehidupannya. V). Sebagai contoh pada 1979. Dalam buku yang berumur seperempat abad ini. lingkungan hidup telah kehilangan nilai estetika dan etikanya sebagai akibat dari kebijakan pembangunan pemerintah yang tidak berorientasi pada pelestarian fungsi lingkungan hidup dan SDA. yang terus menerus mengeksploitasi sumber daya alam (SDA). pemerintah adalah manusia politik yang memiliki tanggung jawab ekologis. politik memiliki peran penting mengubah wajah alam bangsa Indonesia (hal. yakni keselarasan pembangunan dengan lingkungan di Indonesia. Dampak dari kesalahan dalam sebuah Orde Baru Dampak dari kesalahan kebijakan ini tidak hanya akan menyebabkan terjadinya bencana yang mengakibatkan kerugian harta benda. Bagi Sajogyo. Dengan demikian. Pada 1979. hanya akan menciptakan disharmonisasi dan perusakan lingkungan. di beberapa negara termasuk Indonesia. Bagaimana tidak? Sejak awal tahun 1970-an. Upaya ke arah itu ditempuh setelah penulis melakukan serangkaian riset masif dengan meletakkan dasar-dasar pemikiran pembangunan pertanian dan pedesaan di awal pemerintah Orde Baru. 23). Pelzer dalam salah satu bab buku tersebut mengatakan.3 milyar. antara lain dari Indonesia sekitar 21% sehingga setiap tahunnya Jepang dapat membangun satu setengah juta rumah baru di negerinya (hal.kekerasan untuk mencapai kebebasan pers yang bertanggung jawab sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. Horace). Tujuannya semata-mata untuk mendapatkan devisa bagi negara. tapi juga bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa manusia. Benarkah demikian? Selama kebijakan-kebijakan pemerintah bangsa Indonesia hingga saat ini tidak berpihak pada lingkungan hidup. kayu-kayu dari Kalimantan menghasilkan US $3. Profesor Sajogyo mengingatkan pemerintah (Orde Baru) ketika itu bahwa model pembangunan yang dijalankan negara ini." Inilah buku karya Sajogyo (1982) yang menyajikan tema besar (dan mungkin terlalu besar pada zamannya) dan entah kapan akan terwujud. Kebijakan pemerintah lebih mengarah pada eksploitasi dan eksplorasi SDA yang ada secara besar-besaran dan tidak terencana. Menarik untuk diperhatikan di sini karena Jepang sendiri merupakan negara penghasil kayu (dua per tiga tanahnya diliputi hutan). Pemerintah sebagai pemegang kewenangan melaksanakan dan menyelenggarakan pengelolaan lingkungan .

kami mencoba memberikan penjelasan singkat seputar konfigurasi politik yang dibatasi pada dua era. Moh. Wujud berbagai hambatan adalah disintegrasi dan instabilisasi nasional sejak periode orde lama yang berpuncak pada pemberontakan PKI 30 September 1945 sampai lahirlah Supersemar sebagai titik balik lahirnya tonggak pemerintahan era Orde Baru yang merupakan koreksi total terhadap budaya dan sistem politik Orde Lama dimana masih terlihat kentalnya mekanisme. Pada tanggal 1 Maret 1966 Presiden Soekarno dituntut untuk menandatangani sebuah surat yang memerintahkan pada Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu untuk keselamatan negara dan melindungi Soekarno sebagai . KONFIGURASI POLITIK ERA ORDE BARU Peristiwa yang lazim disebut Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI) menandai pergantian orde dari Orde Lama ke Orde Baru. Sedangkan dibawah kepemimpinan rezim Orde Baru yang mengakhiri tahapan tradisional tersebut pembangunan politik hukum memasuki era lepas landas lewat proses Rencana Pembangunan Lima Tahun yang berkesinambungan dengan pengharapan Indonesia dapat menuju tahap kedewasaan (maturing society) dan selanjutnya berkembang menuju bangsa yang adil dan makmur. menurut Dr. Konfigurasi politik yang ada pada periode orde lama membawa bangsa Indonesia berada dalam suatu rezim pemerintahan yang otoriter dengan berbagai produk-produk hukum yang konservatif dan pergeseran struktur pemerintahan yang lebih sentralistik melalui ketatnya pengawasan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. BAB II PEMBAHASAN Sejak proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia masuk dalam suatu babak kehidupan baru sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat penuh. serta pemahaman terhadap partai politiknya. yakni Orde Lama dan Orde Baru. paham. melainkan menimbulkan pada pelanggaran hak asasi manusia. yaitu konfigurasi politik demokratis dan konfigurasi politik otoriter. Dampak kesalahan kebijakan ekologis ini tidak hanya akan menimbulkan kerusakan lingkungan semata. Mahfud MD. fungsi dan struktur politik yang tradisional berlandaskan ideoligi sosialisme komunisme.hidup seharusnya mampu menjaga dan mengelola lingkungan hidup dan SDA dengan baik. Konfigurasi politik. mengandung arti sebagai susunan atau konstelasi kekuatan politik yang secara dikotomis dibagi atas dua konsep yang bertentangan secara diametral. Dalam penulisan ini. ideologi dan doktrin dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam perjalanan sejarahnya bangsa Indonesia mengalami berbagai perubahan asas. SH. Pada masa ini pula politik kepartaian sangat mendominasi konfigurasi politik yang terlihat melalui revolusi fisik serta sistem yang otoriter sebagai esensi feodalisme. berbangsa dan bernegara dan melalui berbagai hambatan dan ancaman yang membahayakan perjuangan bangsa indonesia dalam mempertahankan serta mengisi kemerdekaan. Pertanggungjawaban ekologis pemerintah ini sangat penting mengingat efek dari kesalahan kebijakan tentang pengelolaan lingkungan hidup berdampak besar.

XX/1966. spiritual dan karya. KOSGORO. Pertama berwujud kebulatan tekad pemerintah dan masyarakat untuk melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. yaitu : 1. elemen-elemen penting yang terlibat dalam perumusan konsensus nasional antara lain pemerintah. sebagian besar lainnya diasingkan ke pulau Buru. masyumi harus mengganti nama sehingga terkesan sebagai partai baru. Dalam pemilu kali ini didapati Golongan Karya (Golkar) menjadi peserta pemilu. Pertama. Sekber Golkar ini merupakan organisasi besar yang dikonsolidasikan dalam kelompok-kelompok induk organisasi seperti SOKSI. Terlebih kepada PNI yang nota bene partai besar dan dinilai memiliki kedekatan dengan rezim terdahulu. sistem fusi ini berlangsung hingga lima kali Pemilu selama pemerintahan orde baru (1977. Pemerintah orde baru juga melakukan tekanan terhadap partai-partai dengan basis massa Islam. setiap orang yang pernah terlibat dalam aktivitas PKI ditahan. 1992 dan 1997). Tujuannya antara lain memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok fungsional dan mengkoordinir mereka dalam front nasional. Surat yang kemudian dikenal dengan sebutan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) itu diartikan sebagai media pemberian wewenang kepada Soeharto secara penuh. Artinya. Kedua. Pada mulanya Golkar merupakan gabungan dari berbagai macam organisasi fungsional dan kekaryaan. pemerintah memberi izin dengan dua syarat. yang kemudian pula pada 20 Oktober 1984 mendirikan Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Satu contoh ketika para tokoh Masyumi ingin menghidupkan kembali partainya yang telah dibekukan pemerintah Orde Lama.[11] Pada tahun 1973 konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) sudah dapat diterima oleh partai-partai yang ada dan dikukuhkan melalui Undang-Undang No.[10] Pada Pemilu 1971 partai-partai politik disaring melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu.[8] Pada masa Orde Baru pula pemerintahan menekankan stabilitas nasional dalam program politiknya dan untuk mencapai stabilitas nasional terlebih dahulu diawali dengan apa yang disebut dengan konsensus nasional. gagasan ini menimbulkan sikap Pro dan Kontra karena dianggap membatasi atau mengekang aspirasi politik dan membentuk partai-partai hanya kedalam golongan nasional. Konsensus kedua lahir antara pemerintah dan partai-partai politik dan masyarakat. Menyusul PKI sebagai partai terlarang. Konsensus ini kemudian dituangkan kedalam TAP MPRS No. Sedangkan konsensus kedua adalah konsensus mengenai cara-cara melaksanakan konsensus utama. Berdasarkan semangat konsensus nasional itu pemerintah Orde Baru dapat melakukan tekanan-tekanan politik terhadap partai politik yang memiliki basis massa luas. Secara umum. MKGR dan lainnya sebagai “Political Battle Unit “ rezim orde baru. 1987. Orde Baru dikukuhkan dalam sebuah sidang MPRS yang berlangsung pada Juni-Juli 1966. 3/1975 tentang Partai Politik dan Golongan. Konsensus pertama ini disebut juga dengan konsensus utama. Ada dua macam konsensus nasional. Pasca pemilu 1971 muncul kembali ide-ide penyederhanaan partai yang dilandasi penilaian hal tersebut harus dilakukan karena partai politik selalu menjadi sumber yang mengganggu stabilitas. konsensus kedua lahir sebagai lanjutan dari konsensus utama dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan.Presiden. tokoh-tokoh lama tidak boleh duduk dalam kepengurusan partai. TNI dan beberapa organisasi massa. . diantara ketetapan yang dihasilkan sidang tersebut adalah mengukuhkan Supersemar dan melarang PKI berikut ideologinya tubuh dan berkembang di Indonesia. 1982. sejak itu konsensus nasional memiliki kekuatan hukum yang mengikat bagi seluruh rakyat Indonesia. 2. Sebagian diadili dan dieksekusi.[9] Beberapa hasil konsensus tersebut antara lain penyederhanaan partai politik dan keikutsertaan TNI/Polri dalam keanggotaan MPR/DPR.

2. 4. Pembaharuan susunan Dewan Perwakilan Rakyat melalui penetapan Presiden No. III Tahun 1963 yang jelas-jelas melanggar ketentuan pasal 7 UUD 1945. 3 Tahun 1960. Jatuhnya legitimasi Presiden Soekarno dalam memegang kekuasaan Negara ditandai oleh peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia hingga berakibat pembunuhan besar-besaran terhadap anggota Partai Komunis Indonesia di berbagai daerah serta dikeluarkannya Supersemar yang pada hakekatnya merupakan bentuk penyerahan kekuasaan kepada Soeharto. Dikeluarkannya Penetapan Presiden No. MPRS yang dibentuk oleh Soekarno kemudian menetapkan Soekarno sebagai Presiden seumur hidup melalui Ketetapan MPRS No. serta mengingat bahwa lembaga-lembaga Negara sebagaimana digariskan oleh UUD 1945 belum lengkap.BAB III PENUTUP a. Yamin. beranggapan bahwa dasar hukum dari dekrit ini berdasarkan doktrin staatsnoodrecht dan noodstaatsrechts yaitu hak darurat yang dimiliki penguasa untuk mengeluarkan produk hukum yang menyimpang dari asas perundang-undangan yang baik karena adanya keadaan yang memaksa dan membahayakan keselamatan Negara.[20] Pada era Orde Baru dengan gagalnya Gerakan 30 September 1965 dan turunnya Soekarno dari kekuasaan menimbulkan suatu situasi baru (disebut Orde Baru). Kesimpulan Dengan melihat keseluruhan materi pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa politik hukum pada era Orde Lama dan Orde Baru memiliki perbedaan. Nasution. A. Penyusunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara dengan Penetapan Presiden No. 12 Tahun 1960. maka Presiden Soekarno melakukan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Penyusunan Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) dengan Penetapan Presiden No. Moh. Dikeluarkannya Penetapan Presiden No. Dengan pemberlakuan kembali UUD 1945. Ruslan Abdul Gani dan Wirjono Prodjodikoro. 3 Tahun 1959 tentang Dewan Pertimbangan Agung Sementara. 3. Pada era Orde Lama sejak Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang membubarkan konstituante lewat rumusan sebuah panitia kecil yang terdiri dari: Djuanda.H. 2 Tahun 1999 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). 5. 4 Tahun 1960 sekaligus pemberhentian dengan hormat Dewan Perwakilan Rakyat. semboyan untuk melaksanakan UUD 1945 secara murni dan konsekuen banyak dikemukakan pemerintah Orde Baru Pimpinan Soeharto yang lebih mengkonsentrasikan penyelenggaraan sistem pemerintahan dengan menitikberatkan pada .

Saran Adapun saran dari kami dari kelompok 3 (tiga yaitu) semoga apa yang telah kami paparkan dalam makalah kami ini mudah – mudahan dapat bermanfaat dan bisa dipelajari dengan sebaik – baiknya. .[21] Pada era ini pula mulai memasukkan hak-hak politik warga Negara dan munculnya konsep penyederhanaan partai (Konsep Fusi) yang dikukuhkan melalui Undang-Undang No. 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik dan Undang-Undang No. dan kami akan terima dengan lapang dada. Kami dari Kelompok 3 sangat mengharapkan kritik dari teman – teman apabila didalam makalah kami ini terdapat kesalahan. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu. Selain itu pemerintahan Orde Baru berusaha menciptakan single majority lewat eksistensi partai Golongan Karya. b. spiritual dan karya.aspek kestabilan politik dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Karena kritik dari teman-teman sangat berguna bagi kami agar kami bisa memperbaikinya. 4 Tahun 1975 yang membatasi organisasi peserta Pemilu. Dan kami sangat berharap kepada teman – teman apabila didalam makalah kami ini terdapat kesalahan maupun kekeliruan kami mohon maaf yang sebesar – besarnya karena kita sebagai manusia biasa tidak pernah luput dari kesalahan dan kehilafan. serta memberikan tekanan-tekanan politik terhadap partai politik yang memiliki basis massa luas sekaligus penyaringan partai politik melalui verifikasi hingga tinggal sepuluh partai politik yang dinilai memenuhi syarat untuk menjadi peserta pemilu pada tahun 1971 hingga partai-partai hanya terbagi kedalam golongan partai yang berbasis nasional.

68 dan 102. 2005). (Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI. Hukum Tata Negara RI Era Reformasi. 2001). 1996. Atmadji. Moh. Jakarta: Grafiti Press. Nur. Pengalaman Indonesia Orde Baru. hal. hal. Sumarkidjo. 27-49. 2000. CIA. 1985. 1999). Jakarta: Gramedia. 1983. Mahfud. 2005. Faith. Nugroho. Kusnardi. (Jakarta: Grafiti Press. 1998. [12] Miriam Budiardjo. (Yogyakarta: FH UII PRESS.DAFTAR PUSTAKA Asshiddiqie. Pemaksaan dan Ketaatan serta Interprestasi Hukum di Indonesia: Jurnal Tata Negara. Pengantar Ilmu Politik. hal. Budiardjo. Pembangunan Politik Satu Abad. Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: Ramdina Prakarsa. Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia. M. MD. Willem. Jimly. Pergumulan Islam di Indonesia. [2] Morrisan. 2001 Serbo. (Jakarta: Pusat Studi HTN FHUI." dalam Sistem-Sistem Pemilihan Umum: Suatu Himpunan Pemikiran. 1985. 2004. Yogyakarta: FH UII PRESS. [8] BJ Boland. (Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. Jakarta: Konpress. 2005). Pengantar Ilmu Politik. (Jakarta: Konpress. Syam. B. Serbo. 24. Hukum.41. Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969. *** [1] M. 1999. [9] Nugroho Notosusanto. Jakarta: Badan Penerbit FHUI. Mendung di Atas Istana Merdeka. 2003). Jakarta: Yayasan Lestari Budaya. Jakarta: Pusat Studi HTN FHUI. __________. [4] Moh. Abdul Bari. (Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XVII. hal. (Jakarta: Balai Pustaka. Mahfud MD. Teori dan Politik Konstitusi. [3] Suhardiman. Politik Hukum Diktat Program Pasca Sarjana UII Tahun 1998/1999. 1996). Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?. Manan. 109. 2000). Pergumulan Islam di Indonesia. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. Jakarta: KPG. The Indonesian Elections of 1955. . [6] Bagir Manan. Hukum. hal. [5] Moh. 2000. Herbert. Jurnal IAIN Sunan Ampel Edisi XVII. 1985). Suhardiman. 1999. Mahfud MD. hal. Azed. (Jakarta: Aksara Karunia. 190. Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik. Teori dan Politik Konstitusi. 1998). 9. 2004). Yogyakarta: UII. hal. hal. 25. [7] Sebagian pengamat sejarah asing berpendapat bahwa peristiwa Jakarta 1965 merupakan skenario hebat dari sebuah kup yang didalangi oleh Dinas Intelijen AS.J. M. hal. [11] Nur Syam. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. Hukum Tata Negara RI: Era Reformasi. (Jakarta: Gramedia. Oltmans. Miriam. hal. 1985). 1998. Pembangunan Politik Satu Abad.n. Pemaksaan dan Ketaatan serta Interprestasi Hukum di Indonesia: Jurnal Tata Negara. [10] Jimly Asshiddiqie. Pemilu dan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FH UI. Politik Hukum di Indonesia. Kegagalan Mendekatkan Jarak Ideologi Partai Politik. hal. 2005). Jakarta: FH UI. 133-134. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia. (Yogyakarta: penerbit UII. 1998). 141. Politik Hukum Diktat Program Pasca Sarjana UII Tahun 1998/1999. Jakarta: Aksara Karunia. Pengalaman Indonesia Orde Baru. "Sistem Pemilihan Umum di Indonesia. 2000. hal. 2003. (Jakarta: Ramdina Prakarsa. Tercapainya Konsensus Nasional 1966-1969. Notosusanto. ___________ dan Makmur Amir. 148-150. Morissan. Kemerdekaan Berserikat Pembubaran Partai Politik dan Mahkamah Konstitusi. 2005. Jakarta: s. 163-164. Lihat: Willem Oltmans. Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati?. 50. (Jakarta: Yayasan Lestari Budaya. [13] Abdul Bari Azed dan Makmur Amir. Bagir. Boland. 2005.

[14] Abdul Bari Azed. (Jakarta: Badan Penerbit FHUI. 2000). 7. hal. "Sistem Pemilihan Umum di Indonesia." dalam Sistem-Sistem Pemilihan Umum: Suatu Himpunan Pemikiran. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful