Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal

METODOLOGI
Data yang akan digunakan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara survei dan pengukuran langsung di lapangan serta pengambilan contoh, disamping itu akan dilakukan pengambilan data sosial ekonomi budaya dengan cara wawancara. Dari data tersebut akan di input
kedalam Peta.

Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan terdiri dari : 1. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi di dalam kawasan hutan (RPRH)
2. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi di lahan (RPRL)

3.1 TAHAPAN PENYUSUNAN RP RHL 3.1.1 Penentuan Wilayah Penyusunan RPRHL Rencana Teknik Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RTkRHL) disusun dengan satuan unit wilayah pengelolaan DAS (SWP DAS), yang pada umumnya meliputi beberapa wilayah kabupaten / kota bahkan lintas propinsi. Oleh karena itu langkah awal dalam penyusunan RPRHL adalah menetapkan wilayah penyusunan RPRHL sesuai dengan batas wilayah pemangkuan, yaitu wilayah administrasi kabupaten / kota untuk RPRL dan wilayah pemangkuan hutan untuk RPRH.

Pada dasarnya, pada peta Rencana Teknis RHL DAS (RTkRHL DAS) sudah terdapat batas administrasi / fungsi hutan. Namun apabila belum terdapat batas sampai tingkat desa maka untuk menetapkan wilayah penyusunan RPRH / RPRL ditempuh dengan
Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi

1

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal

mengoverlaykan peta RTkRHL DAS dengan peta administrasi pemerintahan / pemangkuan hutan..

Hasil overlay peta akan diketahui wilayah sasaran penyusunan RPRHL dan selanjutnya dituangkan dalam Tabel 1 (untuk RPRHL Hutan Produksi, Hutan Lindung, dan Luar Kawasan) dan Tabel 2 (untuk RPRH Hutan Konservasi). Tabel 1. Wilayah Penyusunan RPRHL Kabupaten : Muaro Jambi No. 1 Kecamatan / Desa 2 DAS/Sub DAS 3 LMU Dalam Kawasan Hutan (Ha) HP HL 5 6 Luar Kawasan Hutan (Ha) Lindung 8 Budidaya 9

Tabel 2. Wilayah Penyusunan RPRH BKSDA / BTN / TAHURA : .............................. No 1 Kecamatan / Desa 2 DAS / Sub DAS 3 LMU 4 Luas (Ha) 5

3.1.2

Pembuatan Unit Terkecil Pengelolaan RHL (UTP RHL)

Satuan perencanaan RHL adalah suatu unit ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS), karena tujuan RHL dalam jangka panjang adalah mengembalikan fungsi-fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung DAS menjadi optimal. Dalam skala mikro, unit
Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi

2

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal

pengelolaan RHL juga idealnya adalah suatu daerah tangkapan air mini (miniwatershed). Dengan unit mini-watershed ini maka kegiatan RHL akan menghasilkan suatu ekosistem-ekosistem hidrologis mini yang hasil RHL dan dampaknya dapat diukur. Dengan alasan inilah maka unit terkecil pelaksanaan RHL juga dilaksanakan pada hamparan lahan dalam satu satuan sistem hidrologi yang untuk selanjutnya disebut dengan Unit Terkecil Pengelolaan Rehabilitasi Hutan (UTP RH) dan Unit Terkecil Pengelolaan Rehabilitasi Lahan (UTP RL). Secara manual untuk menentukan UTP-RH / UTP-RL tersebut dibuat dengan cara mengoverlaykan peta LMU dengan peta topografi selanjutnya dilakukan deliniasi dan memberikan batas hamparan pada peta yang berada pada satu satuan sistem hidrologi / satu daerah tangkapan air (DTA) terkecil. Untuk mempermudah para pelaksana penyusun RP RHL di daerah maka Direktorat Bina RHL Ditjen RLPS telah menyusun unit terkecil hidrologi (mini-watershed) seluas antara 200-300 Ha dengan metoda analisis spasial dari Citra Shuttle Radar Tophographyc Mission (SRTM) dengan peralatan GIS. Setiap unit mini-watershed mempunyai identitas (ID) secara nasional. UTP RH/UTP RL adalah hasil overlay antara mini-watershed ini dengan LMU terpilih (berikut MRT vegetatif dan Sipil Teknis) pada RTk-RHL DAS. Dari peta mini-watershed dan dengan ID yang dibakukan secara nasional, setelah di overlaykan dengan wilayah kerja, penyusun RP-RHL dapat mengidentifikasi dan menginventarisasi unit-unit mini-watershed yang berada di wilayah kerja nya. Wilayah kerja penyusunan RP-RHL akan terbagi habis oleh unit mini-watershed. Unit mini-watershed yang akan ditetapkan sebagai UTP RH-UTP RL adalah unit mini-watershed yang di dalamnya terdapat hamparan lahan kritis (LMU terpilih). UTP-RH/UTP-RL yang di dalamnya terdapat LMU terpilih dapat diidentifikasi kegiatan RHL nya baik vegetatif maupun sipil teknis. Kemudian setelah di overlaykan dengan batas wilayah administratif maka UTP-RH/UTP-RL akan dapat
Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi

3

Dalam kasus satu UTP terdiri dari lebih satu desa maka UTP tersebut akan ditangani oleh dua desa atau lebih. UTP-RHL tersebut harus terpetakan dalam peta rencana RHL 5 tahun dan masingmasing UTP RH / UTP RL harus ditentukan koordinatnya.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal diketahui posisi/letak administratif nya. maka akan ditemui: a. UTP RH/UTP RL bisa memotong batas kawasan hutan. Bila satu UTP terdapat lebih satu (bagian) LMU maka dalam UTP tersebut akan terdapat beberapa perlakuan/kegiatan RHL. Untuk menentukan kodifikasi UTP RH/ UTP RL terdiri dari tiga bagian yaitu: - Menunjuk kode / ID mini watershed yang sudah ada. c. Satu UTP RH / UTP RL bisa merupakan gabungan beberapa LMU atau merupakan bagian dari LMU dengan luas 200-300 Ha. - Wilayah administratif terkecil yaitu desa untuk UTP RL dan blok untuk UTP RH. Hal ini diperlukan untuk mempermudah dalam menemukan UTP ini di lapangan. Kode kegiatan RHL (vegetatif maupun sipil teknis). Disamping itu dengan wilayah administratif ini dapat dirancang calon pelaksana lapangan kegiatan RHL pada UTP-RH/UTP-RL ini yaitu misalnya kelompok tani desa tersebut. b. Pada daerah-daerah yang berbatasan dengan kawasan hutan. UTP RH/UTP RL bisa berada pada satu atau lebih wilayah administratif desa. Pada kasus UTP di perbatasan kawasan hutan ( UTP memotong batas kawasan hutan ) atau pada beberapa LMU maka kode kegiatan RHL bisa lebih dari satu. Pada kasus UTP di perbatasan kawasan hutan maka wilayah administratif desa dan blok kawasan hutan bisa dua-dua nya disebut. sehingga satu UTP bisa sekaligus terdiri dari kegiatan reboisasi maupun penghijauan. kecamatan atau kabupaten. Dalam pembuatan UTP-RH / UTP-RL seperti diuraikan diatas. Secara umum format kodifikasi UTP RHL adalah sebagai berikut: Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi 4 . UTP RH/UTP RL bisa terdiri dari satu atau lebih LMU.

Tg HL / DPn / ID mini watershed 00346 / Hutan Reboisasi dan Dam Penahan – Lengkop pada DAS Bagian Tengah – Hutan Lindung / Lokasi Blok Lengkop 00476 / R – Hi HP / ID mini watershed 00476 / Reboisasi – pada DAS Bagian Tenjolaya Hilir – Hutan Produksi / Lokasi Blok Tenjolaya Pada Wilayah 00576 / R – Hu HL / P – ID mini watershed 00576 / Reboisasi – pada DAS Bagian Perbatasan Kawasan Hu KL / Pasir Muncang Hulu – Hutan Lindung / Hutan/ Perifer – Sirna Galih Penghijauan pada DAS Hulu Kawsan Lindung / Lokasi Blok Pasir Muncang dan desa Sirna Galih 07562 / P – Tg KL / ID mini watershed 07562 / Penghijauan – pada DAS Bagian Sukaresmi Tengah – Kawasan Lindung / Lokasi Desa Sukaresmi 05743 / P – Hi KB / Dpi / ID mini watershed 05743 / Luar Kawasan Penghijauan dan Dam Pengendali Kandangsapi Hutan – pada DAS Bagian Hilir – Kawasan Budidaya / Lokasi Desa Kandangsapi 04310 / P – Hu KL / ID mini watershed 04310 / Penghijauan – pada DAS Bagian Sukamanah-Nagrok Hulu – Kawasan Lindung / Lokasi Desa Sukamanah dan Nagrok Posisi UTP RHL Contoh 05672 / R.HuHK / Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi 5 .pada DAS Bagian Cihanjuang Hulu – Hutan Konservasi / Lokasi Dalam Kawasan Blok Cihanjuang 00346 / R.ID Mini Watershed / Kode Rekomendasi Kegiatan RHL / Wil.Administratif Terkecil Contoh kodifikasi UTP RHL adalah seperti pada Tabel 3 berikut ini.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal No. Tabel 3 : Contoh Kodifikasi UTP RHL Keterangan ID mini watershed 05672 / Reboisasi .

12. 15. 4. 6. 5. 14. 2. Letak UTP RH / UTP RL Dalam Kawasan Hutan Hutan Konservasi (HK) a. Hutan Lindung di DAS Tengah Kode HuHK TgHK HiHK HuHL TgHL 6 2. 6. B. 3. 8. 5. Hutan Konservasi di DAS Hilir Hutan Lindung (HL) a. Kode Lokasi / Letak UTP RH / UTP RL No. 11. Jenis Kegiatan Rehabilitasi Vegetatif Reboisasi Pengkayaan Reboisasi Penghijauan Pengkayaan Penghijauan Hutan Rakyat Hutan Kota Penghijauan Lingkungan Rehabilitasi Sipil Teknis Dam Pengendali Dam Penahan Pengendali Jurang / Gully Plug Sumur Resapan Air Embung Rorak Strip Rumput Perlindungan Kanan Kiri Sungai Saluran Pembuangan Air dan Bangunan Biopori Teras Datar Teras Gulud Teras Kredit Teras Individu Teras Kebun Kode R PR P PP HR HKt PL DPi DPn GP SRA E R SR KKS SPA B TD TG TK TI TKb Tabel 5. 3. 1. Hutan Lindung di DAS Hulu b. 2. 7. 9. 13. 4. Kode Kegiatan RHL No. Tabel 4. Hutan Konservasi di DAS Tengah c. 1. 7. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . A. Hutan Konservasi di DAS Hulu b. 1.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Kodifikasi jenis kegiatan dan lokasi UTP RH / UTP RL disajikan pada tabel 4 dan 5 sebagai berikut. A. 10.

Kawasan Budidaya di DAS Hulu b. Kawasan Lindung di DAS Hilir Kawasan Budidaya a. Hutan Produksi di DAS Hilir Luar Kawasan Hutan Kawasan Lindung a. Kawasan Lindung di DAS Hulu b.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal c. UTP RH / UTP RL Berdasarkan LMU Terpilih No. Kawasan Budidaya di DAS Tengah c. 1. Tabel 6. HuKL TgKL HiKL HuKB TgKB HiKB 2. Kawasan Budidaya di DAS Hilir HiHL HuHP TgHP HiHP B. Hutan Produksi di DAS Hulu b. Hutan Produksi (HP) a. Kawasan Lindung di DAS Tengah c. Hutan Produksi di DAS Tengah c. Hutan Lindung di DAS Hilir 3. Hasil penyusunan UTP RHL selanjutnya disajikan dengan tabel seperti berikut ini. 1 UTP RH / UTP RL Kode 2 Luas (Ha) 3 Koordinat 4 Kecamatan / Desa 5 DAS / Sub DAS Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi 7 .

selanjutnya hasilnya disajikan dalam bentuk peta UTP RH / UTP RL seperti contoh pada gambar 1.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Pembuatan Unit Terkecil Pengelolaan RHL yang diuraikan diatas adalah hanya berlaku pada wilayah yang secara geomorfologis dapat dibedakan punggung-lembah dengan nyata di lapangan.3 Pemetaan Wilayah Penyusunan RPRHL Setelah tahap 1 dan 2 dilakukan. Untuk kawasan ini unit pengelolaan RHL adalah menggunakan Land Mapping Unit (LMU) dalam RTk-RHL DAS yang dioverlaykan dengan batas-batas administratif/satuan pengelolaan hutan yang ada. Sedangkan informasi yang memuat rekomendasi untuk masing-masing UTP-RL / UTP-RH disajikan dengan menggunakan format Tabel 7.1. Berikut ini disajikan diagram alir penyusunan RPRH dan RPRL. kawasan ekosistem mangrove – rawa – gambut. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi 8 . 3. Sistem UTP RHL ini tidak dapat diidentifikasi pada wilayah hilir DAS.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal RTk RHL DAS PETA RENCANA TEKNIS RTkRHLDAS PETA WILAYAH HUTAN Overlay RTk RHL DAS Peta Topografi / PETA WILAYAH Citra SRTM PENYUSUNAN RPRH PETA RENCANA PETA TEKNIS RTkRHLADMINISTRASI DAS Overlay Overlay Ground Check Peta Topografi / Citra SRTM UTP RH PETA WILAYAH PENYUSUNAN RPRL RH RENCANA SEMI DEFINITIF INPUT PETA / DATA Fungsi Hutan/Zona Pemanfaatan Iklim KPH Perambahan Hutan Pemanfaatan Hutan dan Lahan Jenis Vegetasi Kegiatan Reboisasi Bencana Alam (Banjir. longsor. longsor. DAERAH POTENSI ANGGARAN RH SELAMA 5 THN STRATEGI PEMBANGUNAN RH KAWASAN HUTAN KEBIJAKAN UMUM PROYEKSI RH PENGEMBANGA LIMA dan Lahan (RPRHL) Rencana Pengelolaan Rehabilitasi HutanTAHUN N (termasuk Kegiatan KELEMBAGAAN Kabupaten Muaro Jambi Gambar 1. Diagram Alir Penyusunan RPRH POTENSI SDM (Tenaga Teknis) dan SARPRAS 9 Pendukung) STANDAR BIAYA (Bahan dan Upah) RENCANA PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN DAERAH . POTENSI ANGGARAN RH SELAMA 5 THN Ground Check STRATEGI PEMBANGUNAN RH KAWASAN HUTAN KEBIJAKAN UMUM PENGEMBANGA N KELEMBAGAAN STANDAR BIAYA (Bahan dan Upah) Overlay PROYEKSI RH LIMA TAHUN (termasuk Kegiatan Pendukung) UTP RL RENCANA RL SEMI DEFINITIF INPUT PETA / DATA Penggunaan / Pemanfaatan Lahan POTENSI SDM Iklim (Tenaga Teknis) dan Jenis Vegetasi SARPRAS Tanah/ Kesuburan Tanah / Kemampuan Lahan Kegiatan RHL yang sudah ada Sarana Prasarana Jalan RENCANA Sosekbud PENGEMBANGAN Bencana Alam (Banjir. KELEMBAGAAN kekeringan. kekeringan.

Diagram Alir Penyusunan RPRL Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi 10 .Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Gambar 2.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Tabel 7. Kode 1 2 Luas (Ha) 3 Koordinat Kecamatan / Desa 4 DAS / Sub DAS 5 Rekomendasi Teknik RHL (Dalam Kawasan Hutan) HP 7 HL 8 HK 9 Rekomendasi Teknik RHL (Luar Kawasan Hutan) Lindung 9 Budidaya 10 Jumlah Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi 22 . Sasaran Wilayah Penyusunan RPRHL Kabupaten / Kota / Wilayah Hutan : Muaro Jambi (untuk jangka waktu 15 tahun) UTP RH / UTP RL No.

peta Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) diperlukan untuk mengetahui batas wilayah suatu KPH sesuai dengan fungsi kawasannya. Rehabilitasi di hutan produksi dititikberatkan kepada peningkatan produktivitas kawasan. Fungsi kawasan / Zonasi Fungsi kawasan berguna untuk mengetahui suatu kawasan hutan termasuk dalam hutan produksi. Setelah diketahui fungsinya maka yang penting adalah menentukan jenis tanamannya. sedangkan pada hutan konservasi adalah untuk pembinaan habitat. b. Perambahan Hutan Informasi/data perambahan hutan suatu kawasan hutan sangat diperlukan untuk menentukan perlakuan yang akan diterapkan pada kawasan hutan yang memiliki potensi atau telah terjadi perambahan di dalamnya. Zonasi digunakan untuk mengetahui pembagian zona dalam wilayah kawasan hutan konservasi. c. dimana sasaran rehabilitasi tidak diperkenankan pada cagar alam dan zona inti taman nasional. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . pada hutan lindung ditekankan pada fungsi perlindungan / penyangga sistem kehidupan.2 PENAJAMAN ANALISIS Dalam rangka menetapkan proyeksi rencana kegiatan untuk jangka waktu 5 (lima) tahun ke depan yang semi definitif perlu adanya penajaman kajian/analisis terhadap rencana yang tertuang dalam tabel 6 sebelumnya (yang sifatnya masih indikatif) berdasarkan data/peta/ketentuan sebagai berikut : a.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal 3. Peta KPH Apabila sudah ditetapkan. hutan lindung atau hutan konservasi. Hal ini karena rehabilitasi di setiap fungsi kawasan mempunyai tujuan yang berbeda.

sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam penyusunan perencanaan RHL. siapa yang merambah. Jenis Vegetasi Peta/informasi untuk jenis vegetasi baik di dalam maupun di luar kawasan hutan diperlukan untuk menentukan jenis-jenis tanaman yang cocok tumbuh di suatu wilayah tertentu. sudah berapa lama dan sebagainya. dengan tetap mendasarkan pada fungsi hutan / fungsi kawasan dan tujuan RHL Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Jenis tanaman yang direkomendasikan dalam RTkRHL masih alternatif dan pemilihannya baru didasarkan pada ketentuan teknis utamanya agroklimat. d. Pemanfaatan dan Penggunaan Hutan / Lahan Bahwa rehabilitasi pada hutan produksi oleh pemerintah hanya boleh dilaksanakan pada kawasan hutan produksi yang tidak dibebani hak dan atau yang masih / sedang dalam proses perijinan. Areal hutan yang diatasnya terdapat ijin pemanfaatan /ijin pinjam pakai atau sedang dalam proses perijinan (misalnya. sehingga dalam penentuan lokasi kegiatan RHL sesuai dengan arahan penggunaan yang telah ditetapkan. Penggunaan lahan diperlukan untuk mengetahui jenis-jenis penggunaan lahan yang ada. Pemilihan lokasi lebih diprioritaskan pada kawasan – kawasan yang tidak ada perambahan (clear and clean) Apabila belum terdapat data/peta potensi perambahan hutan maka terlebih dahulu dibuat data/peta dimaksud. e. HPH/HTI/HTR/Pertanahan dll) agar dikeluarkan dari sasaran RPRHL. luas hutan yang dirambah.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Informasi / data yang diperlukan antara lain meliputi penggunaan kawasan yang dirambah. Oleh karena itu pemilihan jenis tanaman dalam RPRHL perlu pengkajian lebih dalam lagi dengan memperhatikan :   Sosial Ekonomi Dan Budaya Masyarakat Kebutuhan pasar (untuk hutan produksi dan hutan rakyat).

Pada setiap jalur di letakan petak contoh berukuran 20 m x 20 m sepanjang 200 m dengan jumlah jalur sebanyak 10 jalur. Kegiatan RHL Peta/data tentang kegiatan RHL yang pernah dilakukan. Kejelasan lokasi tersebut sangat diperlukan apabila pada lokasi tersebut akan dilaksanakan kegiatan lagi.1). Sedangkan di dalam kawasan hutan adalah HP dan HL yang tanahnya miskin / kritis yang tidak dibebani hak atau tidak dalam proses perijinan / pencadangan areal HTI / HTR / HKm/ Hutan Desa/ Pertambangan. Metode yang digunakan adalah metode jalur. f. diperlukan untuk menghindari terjadinya tumpang tindih lokasi RHL yang akan direncanakan dengan yang pernah dilaksanakan. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . 5 x 5 m. Penentuan banyaknya petak contoh dilakukan dengan menentukan intensitas sampling di masing-masing tipe vegetasi berbeda. serta Pengembangan Sumberdaya Air). Pemetaan / pendataan kegiatan RHL yang pernah dilaksanakan sedapat mungkin termasuk sumber dana yang digunakan. dan lain-lain. Penutupan Lahan Penetapan sasaran lokasi berdasarkan penutupan lahan untuk wilayah di luar kawasan hutan diprioritaskan pada lahan usaha tani yang tidak / kurang produktif. Pengendalian Erosi dan Sedimentasi. Untuk memudahkan perisalahan tegakan dan pengukuran pohon. dan 20 x 20 m. intensitas sempling yang digunakan adalah 10 % atau (0.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal (Rencana Pemulihan Huran dan Lahan. serta HK (kecuali Cagar Alam dan Zona Inti Taman Nasional). 10 x 10 m. g. pada setiap jalur dibagi-bagi menjadi petak-petak unit contoh berukuran 2 x 2 m. Tersaji pada gambar berikut. yaitu didahului dengan pembuatan Berita Acara Tanaman Gagal terlebih dahulu. Metode yang digunakan untuk menentukan titik pengamatan yaitu metode Sistematik With Random Start.

yaitu : 1. epifit dan parasit serta pohon inang. (B) 5 m x 5 m . Petak 20 m x 20 m. tingkat pancang. dilakukan pengukuran dan pencatatan terhadap Petak 10 m x 10 m. dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk Pétak 5 m x 5 m. 2. (D) 20 m x 20 m Pada setiap petak ukur dilakukan pengukuran terhadap semua tingkat tumbuhan. (C) 10 m x 10 m . tingkat tiang. liana. dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk Petak 2 m x 2 m. 4. dilakukan pengukuran dan pencatatan untuk tingkat pohon. tingkat semai dan tumbuhan bawah. Parameter yang diukur pada setiap petak contoh meliputi : Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi .Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal D C A B A B Arah rintisan C D Gambar Petak Contoh Analisis Vegetasi Keterangan : (A) 2 m x 2 m . 3.

1998) sebagai berikut : Kerapatan (ind /ha) = Jumlah individu suatu jenis Luas seluruh petak Kerapatan Relafif (%) = Kerapa tan suatu jenis Kerapa tan seluruhjen is X 100 % Dominansi (m2/ha) = Luas b a d sar sua jenis id ng a tu Lu s selu h p k a ru eta Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . jumlah. 2.20 cm). frekuensi dan dominansi untuk masingmasing jenis tumbuhan. 3. Pengolahan dan Analisis Data Indeks Nilai Penting Untuk mengetahui struktur dan komposisi vegetasi. rumput. maka pada masing-masing jalur dilakukan perhitungan kerapatan. herba dan semak belukar 2.di atas banir adalah 10 . dan diameter tingkat tiang (pohon-pohon yang memiliki diameter setinggi dada dari permukaan tanah atau 20 cm .5 m) dan tumbuhan bawah yaitu tumbuhan selain permudaan pohon misalnya. 4. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumusrumus (Soerianegara dan Indrawan. Jenis. dan diameter tingkat pohon (pohon-pohon yang memiliki diameter setinggi dada atau dbh = 130 cm dari permukaan tanah atau 20 cm di atas banir lebih besar dari 20 cm). jumlah. Jenis dan jumlah tingkat pancang (anakan pohon dengan tinggi > 1.5 atau pohon muda dengan diameter setinggi dada < 10 cm) Jenis dan jumlah tingkat semai (anakan pohon mula yang memiliki tinggi < 1. Jenis.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal 1.

Wilayah Pengembangan Pangan / Daerah Bencana Wilayah pengembangan pangan perlu terhindar dari berbagai bencana terutama banjir dan kekeringan.10/Menhut-V/2007. pancang dan tumbuhan bawah. Nomor : 06/PKS/M/2007 dan Nomor : 100/TU. Di samping data banjir dan kekeringan.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Dominansi Relatif (%) = Dom iansi suatu jenis X 100 % Dom inan seluruh jenis Frekuensi = Jum lah petak terisi suatu jenis Jum lah seluruh petak Frekuensi Relatif (%) = Frekuensi suatu jenis X 100 % Frekuensi seluruh jenis lndeks Nilai Penting (INP) untuk pohon dan tiang adalah KR + FR + DR. sedangkan. epifit dan parasit adalah KR + FR. Tanah/ Kesuburan Tanah/ Kemampuan Lahan Jenis tanah / kesuburan tanah / kemampuan lahan termasuk kepekaan tanah terhadap erosi digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan jenis dan perlakuan RHL pada suatu lokasi. liana. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Dalam hal ini. i. Oleh karenanya daerah tangkapan wilayah-wilayah pengembangan pangan harus mendapatkan prioritas untuk direhabilitasi. h.210/M/5/2007 tanggal 9 Mei 2007 dapat dijadikan acuan. untuk tingkat semai. Kesepakatan Bersama antara Menteri Kehutanan. data / informasi daerah longsor juga sangat diperlukan untuk menentukan prioritas RHL yang akan dilaksanakan. sehingga tidak mengganggu stock pangan daerah yang bersangkutan baik skala regional maupun nasional. Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Pertanian Nomor PKS.

Data dan informasi mulai dan berakhirnya musim hujan sangat diperlukan untuk awal dan akhir penanaman dan penentuan waktu pelaksanaan pembangunan bangunan sipil teknis. rata-rata curah hujan tahunan. debit air. bulan lembab dan bulan kering. Bangunan Vital Peta dan data bangunan vital berupa dam / bendungan / waduk / danau meliputi lokasi. dan pemanfaatannya. k. jenis bangunan. Data lokasi bangunan vital diperlukan untuk menentukan kegiatan RHL di daerah tangkapan air bangunan tersebut yang bertujuan untuk melindungi / bangunan tersebut agar dapat berfungsi dalam waktu yang lama. m. dapat diketahui / dihitung besarnya rata-rata curah hujan bulanan. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Keberadaan jalan tersebut (baik jalan negara. sedimentasi yang terjadi. Aksesbilitas Sarana / prasarana jalan sangat penting dalam menunjang kegiatan ekonomi. manfaat. termasuk dalam kegiatan RHL. kinerja (hidup / mati). Data / informasi mata air meliputi jumlah. maupun jalan desa) diperlukan sebagai salah satu kriteria penentuan lokasi kegiatan RHL. Sumber peta dimaksud berasal dari Dinas PU setempat. Iklim Kesesuaian musim adalah salah satu faktor utama keberhasilan pelaksanaan kegiatan RHL. Dari data curah hujan yang ada. l.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal j. kabupaten/ kota. luas daerah tangkapan air dan kondisinya. provinsi. jumlah bulan basah. baik dalam pelaksanaan maupun sebagai penunjang kegiatan pemasaran hasil RHL terutama yang bertujuan produksi di masa yang akan datang. Hal ini berkaitan erat dengan kegiatan RHL yang akan dilakukan dalam rangka perlindungan sumber mata air. Mata Air Keberadaan mata air merupakan salah satu indikator tingkat kerusakan hutan / lahan pada suatu wilayah.

Klasifikasi umur tersebut dikategorikan sebagai angkatan kerja produktif. dan ketersedian tenaga kerja. Karena keadaan tersebut berada dalam satu wilayah. sangat diperlukan dalam penyusunan RPRHL. p. maka tenaga kerja tidak produktif secara konsumtif menjadi beban tanggungan tenaga kerja produktif untuk menopang kehidupannya. jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui antara lain : sebaran penduduk. Luas Kepemilikan Lahan Luas kepemilikan lahan penting diketahui untuk menduga besarnya pendapatan petani rata-rata dan sebagai salah satu bahan masukan dalam menentukan lokasi kegiatan RHL di luar kawasan hutan. Data tersebut dirinci per kecamatan / desa. Sedang yang berumur di bawah 16 tahun dan di atas 55 tahun dikategorikan sebagai angkatan kerja tidak produktif. terdiri dari : Jumlah penduduk/KK. o. pertambahan penduduk. sex ratio. Luas kepemilikan lahan dibedakan menjadi : sawah dan lahan kering (tegal. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . kebun dan pekarangan). kepadatan penduduk. jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan mata pencaharian.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal n. adopsi masyarakat terhadap perkembangan teknologi. Keadaan Tenaga Kerja Tenaga kerja atau angkatan kerja yang dimaksud adalah setiap penduduk yang berusia antara 16-55 tahun baik laki-laki maupun perempuan. Kependudukan Kependudukan.

jenis kayu yang diperlukan. koperasi. antara lain. Sarana dan Prasarana Perekonomian Data sarana dan prasarana perekonomian diperlukan untuk mengetahui potensi suatu wilayah terutama yang berkaitan langsung dengan kegiatan RHL yang akan dilaksanakan. kebutuhan bahan baku. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Data / informasi tersebut di atas agar ditampilkan dalam bentuk tabel pada Buku RPRHL yang disusun. Industri perkayuan Data/informasi industri perkayuan yang perlu dihimpun adalah menyangkut nama perusahaan. s. Besarnya biaya tersebut menggunakan HSPK yang berlaku di masing-masing daerah atau yang telah ditetapkan oleh Bupati / Walikota. Tingkat Upah dan Harga Upah. Sarana dan Prasarana Penyuluhan Data sarana dan prasarana penyuluhan diperlukan untuk mengetahui sampai sejauh mana sarana dan prasarana yang ada mampu mendukung kegiatan penyuluhan yang dilakukan. r. dan bank.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal q. harga barang dan bahan setempat sangat diperlukan dalam perhitungan pembiayaan kegiatan. t. lokasi perusahaan. kelompok tani. Data/informasi tersebut sangat berguna antara lain untuk menetapkan jenis tanaman RHL pada hutan produksi / hutan rakyat serta upaya pemenuhan bahan bakunya. produk akhir. asal bahan baku dan sebagainya. kecukupan bahan baku.

maka penentuan RP RHL-nya tetap harus dilakukan. apabila tidak terdapat LMU terpilih dalam RTkRHL DAS dikarenakan tidak adanya lahan kritis di wilayah tersebut. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Pada wilayah administrasi kota / kabupaten. kebijakan umum pembangunan daerah. Embung. dengan cara sebagai berikut : 3. Jenis kegiatan yang direncanakan berpedoman pada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. Pengendali Jurang) yang direkomendasikan RTk-RHL belum sampai pada “titik lokasi”. Untuk rencana kegiatan sipil teknis (Dam Pengendali.1 Pilih UTP-RH/UTP-RL pada DAS/Sub DAS Prioritas dengan urutan dimulai dari urutan prioritas tertinggi (I. serta hasil pendalaman analisis tersebut di atas.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal 3.70/Menhut-II/2008. II. potensi SDM.2 Penetapan teknik RHL yang akan dilaksanakan didasarkan pada potensi anggaran.4. Jenis kegiatan RHL (vegetatif maupun sipil teknis) yang akan dilaksanakan ditentukan berdasarkan hasil pengecekan lapangan / ground check dan hasil pendalaman analisis data / informasi yang ada pada wilayah tersebut atau memperhatikan kondisi dan urgensinya.4. Langkah selanjutnya adalah menetapkan rencana untuk jangka waktu 5 (lima) tahun. sesuai dengan kodifikasi yang tercantum dalam setiap UTP-RH/UTP-RL. 3.4 PENETAPAN RENCANA Setelah diadakan penajaman analisis terhadap seluruh rencana yang direkomendasikan RTk-RHL maka diperoleh gambaran dan informasi tentang kondisi lokasi yang lebih kongkrit. dam Penahan. sehingga dalam penyusunan RP-RHL ini perlu ditentukan titik / site lokasinya dengan mempedomani Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P. III dst). Sumur Resapan. 70/Menhut-II/2008.

perakaran dalam dan lebih dominan dengan jenis-jenis MPTS. terletak pada wilayah/areal sebagaimana ditunjukkan dalam peta RTk-RHLDAS. e. b. Sedangkan hutan rakyat di kawsasan budidaya. b. Penyuluhan usahatani dan atau konservasi tanah di lahan kering telah berjalan dengan baik. g. Jenis yang ditanam adalah tanaman penghasil kayu-kayuan berdaur pendek yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar. tanah garapan (bukan tanah negara) yang statusnya dikuasai oleh petani yang bersangkutan. Lokasi diusahakan tanah milik. d. Jenis tanaman hutan rakyat pada kawasan lindung agar dipilih jenis yang berdaur panjang. hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangannya adalah : a. berdasarkan fungsi kawasannya dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu di kawasan lindung dan kawasan budidaya (berdasarkan Rencana Tata Ruang dan ketentuan dalam Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung). c. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Untuk kegiatan hutan rakyat. Lokasi tersebut tidak sedang menjadi sasaran kegiatan/proyek dan sumber dana lain yang belum dinyatakan selesai. f. Pola tanam berupa baris. larikan. pola tanam jalur atau jarak tanam merata.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Ketentuan lain yang harus diperhatikan untuk menentukan calon lokasi kegiatan RHL di luar kawasan hutan adalah sebagai berikut : a. Dapat dilaksanakan secara tumpangsari dengan tanaman semusim. Lahan kering yang berada dalam satu hamparan usahatani. Lokasi tidak dalam sengketa dan status tanah jelas. Lahan yang dipilih menjadi lokasi tidak diperjualbelikan / dipindahtangankan selama kegiatan masih didanai oleh pemerintah. dengan pola tanam searah/mengikuti kontur.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal c.4. Berdasarkan hasil cek lapangan akan dapat ditentukan / dipastikan lokasi. Adanya lokasi dan potensi biofisik dan ekonomi hutan rakyat yang merupakan kesatuan pengelolaan termasuk industrinya.3 Ground Check Sebelum ditetapkan menjadi sasaran rencana RP-RHL untuk 5 (lima) tahun maka terlebih dahulu dilakukan cek lapangan (ground check). 3. pengusaha. dengan intensitas sampling sebesar 2. dengan jumlah tanaman pengkayaan / sisipan maksimal 200 batang / ha. Sedangkan calon lokasi RHL di dalam kawasan hutan yang berupa kegiatan reboisasi yaitu areal yang kondisi kerapatan tegakannya < 500 batang / Ha (untuk kegiatan penanaman) dan 500-700 batang/Ha (untuk kegiatan pengkayaan). d. Hutan rakyat pada lahan-lahan tertentu (misalnya tegalan) apabila sudah terdapat tanaman kayu-kayuan maupun MPTS dapat dilakukan dengan pengkayaan tanaman.4.4 Rencana RHL untuk jangka waktu 5 tahun yang sudah ditetapkan dirinci setiap tahun dan dikelompokkan ke dalam : a) Rencana Pemulihan Hutan dan Lahan Rencana pemulihan hutan dan lahan kegiatan utamanya yaitu kegiatan vegetatif / tanam–menanam baik di dalam kawasan hutan (reboisasi dan Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Kepentingan seluruh stakeholder (kelompok tani. LSM dan pemerintah) dapat terakomodir dengan baik. menggunakan metode Stratified Purposive With Random Sampling. luas serta teknik RHL yang akan diterapkan pada lokasi tertentu. 3.5%-5% dari jumlah UTP RH / UTP RL.

Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . sumur resapan air dan lubang biopori. batas UTP RL dan UTP RH beserta kodifikasinya. selanjutnya dibuat Peta Rencana Pengelolaan RHL (selama lima tahun) dengan skala minimal 1 : 50. saluran pembuangan air.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal pengkayaan) maupun di luar kawasan hutan (penghijauan berupa hutan rakyat / hutan kota / penghijauan lingkungan/ pengkayaan). Rencana RHL tersebut selanjutnya disajikan dengan menggunakan format tabel 7 dan 8. c) Pengembangan Sumberdaya Air Kegiatan pengembangan sumber daya air lebih ditekankan kepada bagaimana upaya pengendalian tata air DAS dan konservasi air. 3. dam penahan.000. dan rorak. pengendali jurang.5 Setelah langkah-langkah tersebut di atas dilaksanakan. teras. Di samping itu dapat dilakukan perlindungan dan pelestarian mata air dengan penanganan di daerah tangkapannya pada radius 200 meter di sekeliling mata air. b) Pengendalian Erosi dan Sedimentasi Pengendalian erosi dan sedimentasi berupa penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif maupun sipil teknis. Upaya pengendalian tata air DAS dan konservasi air pada prinsipnya adalah memperkecil aliran permukaan (surface run off) dan memperbesar infiltrasi air hujan dengan kegiatan pembuatan embung. Secara vegetatif berupa budidaya tanaman lorong dan strip rumput. sedangkan secara sipil teknis antara lain berupa pembuatan dam pengendali. Muatan minimal peta tersebut adalah batas wilayah administrasi sampai tingkat desa.4.

....... . 1................... 1........ Jenis Kegiatan 7 .......................... ............ Rencana 2 Pemulihan Hutan dan Lahan Pengendalian Erosi dan Sedimentasi Pengembangan Sumberdaya Air DAS/Sub DAS 3 1................. ..... 1............. C........................................................................................... .. Rencana Kegiatan RHL Per Tahun Kabupaten/Kota/Wilayah Hutan Propinsi Tahun No 1 A................ 3... ................ 2......................................................... ............ ..... ................................... 2........ Volume 8 .. ....... ......... ............ .......... B. ............. .......................................... 2................. 3......................... 2............... ........ 2..................................... .......... ....................................... Koordinat UTPRH/UTP-RL 6 ..................... .............. 1... ................. 3..... 3...... : ………………………………… …............................................ ......... 3........ ... 3........................................ ...... .... .............. : ………………………………… ….... ............. . ............ ........................................... ......... ....... ........................................................... : 2010/2011/2012/2013/2014 Kecamatan/Des Nomor UTPa RH/UTP-RL 4 5 1.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Tabel 7. .......................................... Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi ................... 2...................

.......................................... 3......... 2.................................................................. Rekapitulasi Rencana Kegiatan RHL 5 tahun (2010-2014) Kabupaten/Kota/Wilayah Hutan : Propinsi : No Rencana DAS/Sub DAS 1 2 3 A...... 3. ..................... 2..... Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi ... ................ 1............ Keterangan 7 B... C.. Pengembangan Sumberdaya Air 1.................................... ........................................................... ............................ ..... 3........................... 2. ............................................... 2................................... 3....................................................................................... ........................................................ .................................................... .................................................................................... 3.... ................................. .................................... ................................................................. 2........ ....................... 2.............................. 3........ Kecamatan/Desa 4 1....... ........ Pengendalian Erosi dan Sedimentasi 1... ........... ...... .......... Pemulihan Hutan dan Lahan 1........................... Jenis Kegiatan 5 ... 1............................................... ........................................... Volume 6 .....Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Tabel 8...............................

kelembagaaan. bahwa baik RPRH maupun RPRL paling sedikit memuat kebijakan dan strategi. jenis kegiatan. Kebijakan yang akan diambil tidak bertentangan dengan kebijakan di tingkat yang lebih atas. cara terbaik untuk mencapai tujuan. 76 Tahun 2008. lokasi. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . a. Strategi adalah cara untuk mencapai tujuan dan sasaran. Kebijakan dan Strategi Kebijakan merupakan ketentuan yang ditetapkan oleh yang berwenang untuk dijadikan pedoman. Dalam hal ini perlu dirumuskan kebijakan yang telah dan akan diambil berkaitan dengan rehabilitasi hutan dan lahan yang meliputi kebijakan pembangunan bidang RHL. Manfaat strategi adalah untuk mengoptimalkan sumberdaya unggulan dalam memaksimalkan pencapaian sasaran. pasal 15 angka (1) dan Pasal 16 angka (1).1 MUATAN RPRHL Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah No. kebijakan pendanaan. Penyusunan strategi dapat dilakukan dengan memakai analisis SWOT atau metode analisis lainnya. Dalam konsep manajemen.5. sasaran kinerja adalah dengan memberdayakan secara efektif dan efisien.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal 3. kebijakan operasional dan lain-lain. pembiayaan dan tata waktu. pegangan atau petunjuk dalam pengembangan atau pelaksanaan kegiatan dalam memadukan dan melancarkan kegiatan untuk mencapai sasaran.

b. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. Rencana biaya pada dasarnya merupakan terjemahan dari input menjadi unit uang dengan menggunakan satuan biaya (unit cost) yang berlaku serta asumsiasumsi tertentu. maka dapat diketahui kemampuan suatu instansi / satker dalam melaksanakan suatu kegiatan. 2. Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan RHL harus didukung dengan biaya yang cukup untuk menjamin ketersediaan sumber daya yang diperlukan. Dengan melihat jumlah serta realisasi penyerapan dana. 3. Efektif dalam mencapai sasaran Paling murah biayanya Paling praktis pelaksanaannya Pembiayaan Besarnya anggaran RHL lima tahun terakhir (dari berbagai sumber anggaran) beserta realisasinya merupakan salah satu masukan dalam merencanakan jumlah anggaran yang disiapkan untuk lima tahun berikutnya. Sehingga dalam merencanakan anggaran lebih realistis sesuai dengan kemampuan penyerapan pada tahun-tahun sebelumnya. Untuk itu perlu dilakukan perhitungan yang cermat agar sumber daya yang dibutuhkan selalu tersedia. Satuan biaya yang digunakan sejauh mungkin didasarkan pada hasil studi lapangan pada waktu dan tempat tertentu dan / atau ketetapan instansi-instansi yang berwenang. dan Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota bahwa kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan khususnya di dalam kawasan hutan lindung dan produksi serta Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Pemerintah Daerah Provinsi.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Kriteria penentuan strategi yang akan diterapkan adalah : 1.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal di luar kawasan hutan merupakan kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten / Kota. Apabila berdasarkan identifikasi kelembagaan tersebut dinilai masih relatif lemah. DAK Bidang Kehutanan. Kegiatan Pendukung Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . d. sumberdaya manusia. Pada dasarnya pengembangan kelembagaan diarahkan kepada organisasi. Pengembangan Kelembagaan Proyeksi pengembangan kelembagaan RHL 5 (lima) tahun ke depan meliputi penyiapan tenaga pelaksana dan pengendalian kegiatan RHL (baik aparat maupun masyarakat). penyiapan organisasi pemerintahan/masyarakat/ kelompok tani. c. pelaksanaan serta pengendalian. kewenangan serta tata hubungan kerja dalam setiap dimensi penyelenggaraan program RHL yaitu perencanaan. pengorganisasian. maka perlu dilakukan upaya-upaya pengembangan yang bertujuan meningkatkan kualitas kelembagaan yang ada. penyiapan kelembagaan antar stakeholders. dengan jenis kegiatan sesuai dengan Rencana Pengembangan Kelembagaan yang tertuang dalam RTkRHL DAS. Kelembagaan dimaksud baik kelembagaan pemerintah maupun non pemerintah. DBH DR. Selain itu pembiayaan kegiatan RHL juga bisa berasal dari APBN. dan perumusan tata hubungan kerja antar unit kerja dan pelaksanaannya. dan lain-lain termasuk pembiayaan RHL secara swadaya masyarakat maupun kemitraan. dengan demikian pembiayaan kegiatan RHL lebih ditekankan menggunakan APBD. Kegiatan-kegiatan dalam rangka pengembangan kelembagaan dijabarkan untuk tiap tahun selama 5 (lima) tahun sesuai dengan masa berlakunya RPRHL.

unsur pendamping dan aparatur pelaksana kegiatan. maka harus dirumuskan rencana peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang ditujukan kepada semua unsur tersebut. perluasan akses pasar. pada pelaksanaannya diperlukan juga kegiatan pendukung. serta pembinaan kelompok. Dalam hal ini kegiatan pendukung dimaksud bertujuan untuk lebih memperkuat kondisi organisasi pelaksana kegiatan (baik instansi pelaksana maupun stakeholder lainnya). Pendampingan Pendampingan adalah upaya untuk meningkatkan kemapuan kelompok pelaksana RHL dengan cara pengembangan kelembagaan. Dengan demikian terdapat 3 (tiga) kelompok pelatihan. kelembagaan dan administasi. Apabila unsur-unsur yang nantinya akan terlibat dalam kegiatan RHL dirasakan memiliki kualitas pengetahuan dan keterampilan yang kurang. Pelatihan diberikan kepada semua pelaku RHL. dan adminisrtrasi RHL.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Selain kegiatan utama berupa kegiatan fisik rehabilitasi hutan dan lahan. Kondisi organisasi pelaksana kegiatan merupakan salah satu modal penting dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. yaitu unsur masyarakat. Peran instansi terkait baik yang langsung maupun tidak langsung juga sangat diperlukan guna menunjang keberhasilan pelaksanaan RHL. baik pelatihan teknis. kelembagaan maupun adminstrasi Pelatihan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap masalah teknis. yaitu pelatihan teknis. pengembangan kemampuan teknis dan administrasi. kelembagaan. Kegiatan pendampingan kelompok antara lain terdiri dari pengembangan organisasi Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dapat dilakukan melalui kegiatan : Pelatihan. pengembangan usaha. pengembangan teknologi.

Kegiatan fisik RHL. penyusunan rencana RHL. Penyuluhan Penyuluhan merupakan pendidikan non formal yang bertujuan untuk merubah perilaku masyarakat menjadi pihak yang peduli terhadap kelestarian fungsi hutan dan lahan. penyelenggaraan administrasi kelompok dan administrasi proyek. baik yang berifat langsung maupun tidak langsung dalam pelaksanaan RHL. pengembangan kelembagaan. kampanye. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . dan sebagainya. Sasaran penyuluhan adalah seluruh masyarakat yang hidup dan kehidupannya terkait dengan pelestarian hutan dan lahan. lomba. dan lain-lain. Penyuluhan harus dilakukan secara berkesinambungan. pameran. kunjungan lapangan. diskusi kelompok. antara lain latihan. tetapi melalui proses yang secara umum terdiri dari tahu. mau dan mampu melakukan pelestarian hutan dan lahan melalui kegiatan RHL. Penyuluhan dilaksanakan melalui berbagai pendekatan. juga dirinci besarnya biaya yang diperlukan untuk setiap jenis kegiatan. ceramah.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal kelompok. karena perubahan perilaku tidak dapat serta merta terjadi. temu wicara. dan kegiatan pendukung selain diuraikan tata waktu per tahun (selama 5 tahun). pelaksnaan kegiatan RHL. Rincian tata waktu dan biaya kegiatan disajikan sebagaimana format Tabel 9 berikut ini. penyebaran brosur / leaflet / majalah.

1.000.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Tabel 9. Kegiatan Pemulihan Hutan dan Lahan Pengendalian Erosi dan Sedimentasi SSedimentasiSedimentasi Pengembangan Sumberdaya Air Pengembangan Kelembagaan Kegiatan Pendukung Monitoring dan Evaluasi Jumlah Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . dst B. A. dst E. 1. dst F.00) Thn I Thn II*) Thn III*) Thn IV Thn V Jumlah (Rp) Alternatif Sumber Dana No. dst C. 1. 1. dst D. 1. Tata Waktu dan Pembiayaan Kegiatan Biaya Pelaksanaan (x Rp 1.

1. Dalam penyusunan RPRHL.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal e. dengan cara menghitung :    Net Present Value (NPV) Internal Rate of Return (IRR) Benefit Cost Ratio (BCR) Oleh karena itu. atau tidak langsung dan tidak dapat dinilai dengan uang (intangable). pendekatan kelayakan ekonomi digunakan untuk menilai kegiatan atau program RHL tersebut. Analisis Finansial Analisa finansial dimaksudkan untuk menentukan sampai seberapa besar suatu program / kegiatan dapat memberikan manfaat yang lebih besar dari biaya (investasi) yang diperlukan dari sudut ekonomi maupun perbaikan kondisi lingkungan.Ct ) NPV = Σ ----------t-i ( 1 + i )t dimana : t i Bt Ct Bila nilai = = = = umur proyek tingkat bunga benefit (manfaat proyek) pada tahun t cost ratio (biaya) pada tahun t Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . misalnya perbaikan lingkungan hidup. meningkatkan stabilitas nasional dan sebagainya. Keuntungan atau manfaat dari program / kegiatan dapat berupa keuntungan langsung. Net Present Value (NPV) NPV merupakan selisih antara “present value benefit” dan “present value” dari biaya yang dinyatakan dengan rumus : n (Bt . Analisa finansial tersebut merupakan alat bagi pembuat keputusan untuk menetapkan layak atau tidaknya apabila suatu program / kegiatan dilaksanakan. perbaikan iklim mikro. dalam penyusunan RPRHL ini analisis finansial RHL hanya dilakukan untuk rencana RHL di luar kawasan hutan dan di kawasan hutan produksi.

3. program/proyek tidak layak untuk dilaksanakan. Internal Rate of Return (IRR) Nilai IRR adalah nilai discount rate ( i ) sehingga NPV program/proyek sama dengan nol. 2. Benefit Cost Ratio (B/C) Benefit Cost Ratio adalah perbandingan antara benefit dan cost yang sudah disesuaikan dengan nilai sekarang (present value). maka program / kegiatan tidak layak dilaksanakan. NPV dapat dinyatakan dengan persamaan : n Bt . B/C ratio dapat dinyatakan dengan persamaan : n Bt Σ ----------t-i ( l + t ) t B/C = ---------------n Ct Σ ----------t-i ( 1 + i ) t Apabila nilai B/C > 1. NPV < 0 maka proyek tidak akan memberikan manfaat sehingga tidak layak untuk dilaksanakan.= 0 t-i ( 1 + IRR ) t Bila nilai IRR > sosial discount rate. Apabila nilai B/C < 1. karena akan memberikan manfaat. maka program/proyek layak dilaksanakan dan bila nilai IRR < sosial discount rate. program/proyek layak untuk dilaksanakan.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal NPV < 1 dan positif berarti proyek dapat dilaksanakan. NPV = 0. berarti proyek tersebut mengembalikan persis sebesar biaya (cost) yang dilakukan.Ct NPV = Σ -------------. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi .

Di samping itu juga untuk mengetahui masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan kegiatan untuk dijadikan bahan masukan dalam merumuskan upaya pemecahannya. e. Sasaran monitoring dan evaluasi.  kegiatan RTkRHL-DAS yang disarankan. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . Monitoring dilaksanakan untuk mengetahui kemajuan pelaksanaan kegiatan RHL. Metode monitoring dan evaluasi yang akan diterapkan. Pelaporan hasil monitoring dan evaluasi. d. bangunan konservasi tanah. Tim / pelaksana monitoring dan evaluasi. b.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Untuk mendukung analisa program/kegiatan RPRHL diperlukan data dan informasi yang mendukung dalam analisa tersebut. e. antara lain :  Uraian kegiatan RPRHL secara keseluruhan (di dalam Perincian biaya tiap tahun untuk masing-masing usulan Rincian nilai tiap tahun untuk setiap jenis usaha tani wilayah kabupaten / kota / wilayah hutan ). tahunan dan kombinasinya dalam RTkRHL-DAS yang disarankan. Waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi. c. Rencana Monitoring dan Evaluasi Kegiatan pemantauan dan evaluasi meliputi pemantauan / evaluasi pelaksanaan kegiatan di lapangan. Unsur-unsur yang dimonitoring meliputi kemajuan atau perkembangan fisik pekerjaaan antara lain fisik tanaman. Dalam menentukan rencana monitoring dan evaluasi yang perlu ditetapkan adalah : a.  musiman. sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan RHL.

pemeliharaan dan pasca proyek. luas tanaman. Rencana Pengelolaan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RPRHL) Kabupaten Muaro Jambi . jumlah bangunan. Kegiatan yang dievaluasi meliputi : a. Evaluasi untuk setiap kegiatan dilakukan oleh Tim Evaluasi dengan sasaran kegiatan tahun berjalan. jumlah dan jenis tanaman. kondisi (baik/rusak). Penilaian bangunan konservasi tanah : kesesuaian dengan rancangan teknis. fungsi bangunan (berfungsi / kurang berfungsi / tidak berfungsi). persentase tumbuh tanaman sehat dan keberhasilan. b.Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi Bappeda dan Penanaman Modal Evaluasi merupakan suatu proses untuk menilai hasil akhir kegiatan dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas serta untuk memberikan masukan dalam penyempurnaan rencana kegiatan di masa mendatang. Penilaian tanaman : kesesuaian dengan rancangan teknis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful