TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi pendidikan. Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Pendidikan diarahkan untuk melahirkan individuindividu pragmatis yang bekerja untuk meraih kesuksesan materi dan profesi sosial yang akan memakmuran diri, perusahaan dan Negara. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi. Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang sekular. Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak

berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-Muslim yang baik dan berbahagia. Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta

akhlak kehidupan Muslim. Ini terjadi disebabkan visi dan misi pendidikan yang pragmatis. Sebenarnya, agama Islam memiliki tujuan yang lebih komprehensif dan integratif dibanding dengan sistem pendidikan sekular yang semata-mata menghasilkan para anak didik yang memiliki paradigma yang pragmatis. Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang sudah ada dalam al-Qur’an maupun al-Hadits, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita kekinian. II. PEMBAHASAN 1. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Dzariyat [51] ayat 56 “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Q.S. al-Dzariyat [51] : 56) Ayat ini dengan sangat jelas mengabarkan kepada kita bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia tidak lain hanyalah untuk “mengabdi” kepada Allah SWT. Dalam gerak langkah dan hidup manusia haruslah senantiasa diniatkan untuk mengabdi kepada Allah. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut Al-Qur’an adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal mula penciptaannya, yaitu sebagai abid. Sehingga dalam melaksanakan proses pendidikan, baik dari sisi pendidik atau anak didik, harus didasari sebagai pengabdian kepada Allah SWT semata. Mengabdi dalam terminologi Islam sering diartikan dengan beribadah. Ibadah bukan sekedar ketaatan dan ketundukan, tetapi ia adalah satu bentuk ketundukan dan ketaatan yang mencapai puncaknya akibat adanya rasa keagungan dalam jiwa seseorang terhadap siapa yang kepadanya ia mengabdi. Ibadah juga merupakan dampak keyakinan bahwa pengabdian itu tertuju kepada yang memiliki kekuasaan yang tidak terjangkau dan tidak terbatas. Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua

kurang lebihnya yaitu segala bentuk aktivitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari Allah SWT. Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk. namun juga untuk membawa peserta didik pada tingkat manusiawi dan peradaban. belajar-mengajar dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori ibadah. terutama pada zaman modern dengan berbagai kompleksitas yang ada. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh adalah sebaliknya.R. Kedua fungsi tersebut juga dijelaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya berikut. manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dengan dua fungsi. hati dan rohani.R Ibn Abdulbari) ‫)من خرج فى طلب العلم فهو فى سبيل ال حتى يرجع )رواه الترمذى‬ “Barangsiapa yang pergi untuk menuntut ilmu. kadar atau waktunya seperti halnya sholat. dan tingkah laku. Melalui pendidikan. setiap potensi yang di anugerahkan oleh Allah SWT dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi sebagai khalifah di muka bumi. yaitu fungsi sebagai khalifah di muka bumi dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk menyembah-Nya. maka dia telah termasuk golongan sabilillah (orang yang menegakkan agama Allah) hingga ia sampai pulang kembali”. (H. Turmudzi) Pendidikan sebagai upaya perbaikan yang meliputi keseluruhan hidup individu termasuk akal. Sehingga pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting tidak hanya dalam hal pengembangan kecerdasannya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW : ‫)طلب العلم فريضة على كل مسلم و مسلمة )رواه ابن عبد البر‬ “Menuntut ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap orang-orang Islam laki-laki dan perempuan” (H. jasmani. . Dalam penciptaaannya. puasa dan haji. Segala aktivitas pendidikan. zakat. akhlak.yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh.

Kandungan Al-Qur’an Surat al-Baqarah [2] ayat 247 . Ketika Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan dengannya Allah SWT mengamanahkan bumi beserta isi kehidupannya kepada manusia. maka manusia merupakan wakil yang memiliki tugas sebagai pemimpin dibumi Allah. inovator dan teladan bagi orang-orang yang bertaqwa. Inti dari makna takwa ada dua macam yaitu. pendidikan diarahkan untuk mengembangkan manusia seutuhnya. pada umumnya para ulama berpendapat bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah ”untuk beribadah kepada Allah SWT”. Kalau dalam sistem pendidikan nasional.“…’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’…” [Q. yang berlalu di alam ini). yaitu sesuai dengan filsafatnya. Orang yang itiba’ sunnatullah adalah orang-orang yang memiliki keluasan ilmu dan kematangan profesionalisme sesuai dengan bidang keahliannya. maka kita perlu mengkaji makna takwa itu sendiri. 2. Untuk memahami profil imam/pemimpin bagi orang yang bertaqwa. penggerak. maka dalam konteks pendidikan Islam justru harus lebih dari itu. dalam arti. yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa. Ghozali melukiskan tujuan pendidikan sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. pendorong.S Al-Baqarah(2): 30]. pendidikan Islam bukan sekedar diarahkan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertaqwa. juga mampu menjadi pemimpin. itba’ syariatillah (mengikuti ajaran Allah yang tertuang dalam al-Qur’an dan Hadits) dan sekaligus itiba’ sunnatullah (mengikuti aturan-aturan Allah. Dalam khazanah pemikiran pendidikan Islam. tetapi justru berusaha mengembangkan manusia menjadi imam/pemimpin bagi orang beriman dan bertaqwa (waj’alna li al-muttaqina imaama). yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. artinya disamping dia sebagai orang yang memiki profil sebagai itba’ syaria’tillah sekaligus itba’ sunnatillah. Imam bagi orang-orang yang bertaqwa.

“Bagaimana Thalut akan memerintah kami. yang boleh dijadikan raja itu hanyalah dari kabilah Yahudi. Allah menceritakan kisah ini dengan sangat indah. padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya. sedang Thalut sendiri bukan seorang hartawan.“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah Telah mengangkat Thalut menjadi rajamu. bahwa Allah SWT telah mengangkat Thalut sebagai raja. al-Baqarah [2] : 247) Ayat ini menerangkan mengenai kisah pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Oleh karena itu secara spontan mereka membantah. sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?” Nabi Syamuil menjawab bahwa Thalut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah SWT karena itu Allah menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga ia mampu untuk memimpin Bani Israil.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Q. Kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai kepala negara. .S. Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Thalut sebagai raja dengan alasan.” mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami. Nabi Syamuil mengatakan kepada Bani Israil. Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja itu harus seorang hartawan. dimana orang yang berpendidikan dan mempunyai fisik kuatlah yang pantas menjadi pemimpin dan melaksanakan titah sebagai khalifah fil ardl. sedangkan Thalut sendiri adalah dari kabilah Bunyamin. padahal kami lebih berhak untuk mengendalikan pemerintahan daripadanya. bahwa menurut tradisi. Dari ayat ini diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja ataupun pemimpin itu hendaklah memiliki sifat-sifat sebagai berikut: 1.

Hujair A. maka mudahlah baginya untuk mendapatkan harta yang diperlukan sebab Allah Maha Luas Pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. sebenarnya konsep dasar filosofis pendidikan Islam lebih mendalam dan menyangkut persoalan hidup multi dimensional. akhlak yang baik dan ketaqwaan kepada Sang Kholik. Kandungan Al-Qur’an Surat al-Qashash [28] ayat 26 . Pendidikan rohani akan menghasilkan pengetahuan yang luas. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang ideal. 4. sehingga dapat memimpinnya dengan penuh kebijaksanaan. dinamis. Ilmu pengetahuan yang luas. kuat dan tangguh. 3. damai. Pendidikan jasmani akan menghasilkan raga yang sehat. Menurutnya sebenarnya pendidikan Islam telah memiki visi dan misi yang ideal. sebab visi dan misinya adalah “Rohmatan Lil ‘Alamin”. Karakter-karakter tersebut hanya bisa diperoleh dengan pendidikan yang baik dan usaha yang terus menerus. adil. harmonis dan lestari sebagaimana diisyaratkan oleh Allah dalam al Qur’an. dan harmonis. yaitu untuk membangun kehidupan dunia yang yang makmur. Kedua jenis pendidikan ini saling terkait dan sama pentingnya untuk menghasilkan manusia-manusia paripurna yang bisa mengemban amanat sebagai khalifah.H. mengetahui di mana letaknya kekuatan umat dan kelemahannya. yaitu “Rohmatan Lil ‘Alamin”. yaitu pendidikan yang tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan manusia. 1. Kesehatan jasmani dan kecerdasan pikiran. Sanaky menyebut istilah tujuan pendidikan Islam dengan visi dan misi pendidikan Islam. taat hukum. demokratis.2. Selain itu. dinamis. atau lebih khusus lagi sebagai penyiapan kader-kader khalifah dalam rangka membangun kehidupan dunia yang makmur. Manusia sebagai khalifah di bumi bisa melaksanakan amanah memakmurkan bumi jika manusia tersebut mempunyai 4 karakter diatas. Bertakwa kepada Allah supaya mendapat taufik daripada-Nya untuk mengatasi segala kesulitan yang tidak mungkin diatasinya sendiri kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya. Adapun harta kekayaan tidak dimasukkan menjadi syarat untuk menjadi raja (pemimpin) karena bila syarat-syarat yang empat tersebut telah dipenuhi.

pandai memimpin dan jujur lagi dapat dipercaya. “Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia (Yusuf). Terpikirlah salah seorang putri itu untuk memintanya supaya datang memenuhi undangan bapaknya alangkah baiknya kalau Musa yang nampaknya amat baik sikap dan budi pekertinya dan kuat tenaganya diangkat menjadi pembantu di rumah ini. malah ia hendak mengawinkan putrinya itu dengan Musa dan sebagai maharnya Musa harus bekerja di sana selama delapan tahun dan bila Musa menyanggupi sepuluh tahun dengan suka rela itulah yang lebih baik. di samping mengurus rumah tangga. Konon Nabi Musa adalah seorang yang gagah perkasa. Nabi Syuaib adalah seorang pemuka agama dan masyarakat di negeri Madyan.“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Usul itu berkenan di hati bapaknya. Karena sifat-sifat terpuji itulah yang membuat anak gadis Nabi Syuaib terkesima dan Nabi Syuaib juga berencana menikahkan salah satu diantara anak gadisnya dengan Nabi Musa. kuat. Putri itu mengusulkan kepada bapaknya angkatlah Musa itu sebagai pembantu kita yang akan mengurus sebagian urusan kita sebagai penggembala kambing. demikian juga ucapan penguasa Mesir ketika memilih dan mengangkat Nabi Yusuf A.S sebagai kepala badan logistik negara. Ibnu Taimiyah dalam bukunya as-Syiasah Asyriyyah merujuk pada ayat di atas. sampai keduanya terpaksa menggembala kambing mereka. Oleh sebab itu yang mengurus semua urusan keluarga itu hanyalah kedua putrinya saja. bahkan bapaknya bukan saja ingin mengangkatnya sebagai pembantu. Karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. mengambil air dan sebagainya. Rupanya orang tua itu (Nabi Syuaib) tidak mempunyai anak laki-laki dan tidak pula mempunyai pembantu. dia berkata: “Sesungguhnya kamu (mulai) hari Ini menjadi . Ayat di atas mengisahkan mengenai pelarian Nabi Musa dari kejaran tentara Fir’aun untuk dibunuh hingga akhirnya bertemu dengan dua putri dari Nabi Syuaib dan membantunya mengambilkan air minum untuk ternaknya. Saya lihat dia seorang yang jujur dapat dipercaya dan kuat juga tenaganya.

seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai pada sisi kami” (Q. Hal ini menegaskan bahwa pentingnya kedua sifat tersebut. Di zaman modern sekarang ini diperlukan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing dan mempunyai integritas pribadi yang unggul dan terpuji guna mengembangkan segala aspek kehidupan yang lebih bermakna. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah menjadi lemah. jangan berkata: Seandainya aku berbuat begini. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka.A bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Oleh karena itu terlebih dahulu harus dilihat bidang apa yang akan ditugaskan kepada yang dipilih. yaitu kuat dan dipercaya.” Ayat diatas menunjukkan sebagai berita dari Allah SWT yang menyatakan bahwa tidak ada agama yang diterima dari seseorang di sisi-Nya selain Islam. Pengertian kuat disini adalah kekuatan dalam berbagai aspek dan bidang. Sebab kata-kata seandainya membuat pekerjaan setan. Jika engkau ditimpa sesuatu. dan masing-masing mempunyai kebaikan. hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Dari Abu Hurairah R. untuk dimiliki oleh orang yang diberi amanat mengemban tugas berat. Muslim). Tetapi katakanlah: Allah telah mentakdirkan dan terserah Allah dengan apa yang Dia perbuat. Diharapkan orang mukmin mempunyai spesialisasi tertentu di bidang iptek dan punya integritas pribadi tangguh untuk mengembangkan ummat Islam menuju kejayaan. hingga diakhiri dengan Nabi Muhammad SAW yang membawa agama yang menutup semua jalan . Yusuf [12] : 54).R. Mukmin kuat dalam berbagai bidang lebih baik dibandingkan dengan mukmin lemah. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Kandungan Al-Qur’an Surat Ali Imron [3] ayat 19 “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. 1.S. Gemarlah kepada hal-hal yang berguna bagimu. maka akan begini dan begitu. Sedangkan kepercayaan tersebut diatas yang dimaksud adalah integritas pribadi dari orang yang diberi amanat.” (H. yaitu mengikuti para Rasul yang diutus oleh Allah SWT di setiap masa.

tetapi karena hatinya tertutup oleh rasa sombong dan dengki terhadap Islam sehingga tidak mau menerima kebenaran Islam. mereka membacanya kasrah. Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas membaca firman Allah diatas dengan innahu yang di-kasrah-kan dan anna di-fathah-kan. Walaupun mereka diberi akal dan pengetahuan oleh Allah SWT. lalu mereka berselisih pendapat dalam perkara kebenaran. artinya “Allah telah menyatakan. yakni sesudah para Rasul diutus kepada mereka dan kitab-kitab samawi diturunkan buat mereka. Karena itu. seperti dapat kita lihat di negara-negara yang mayoritas penduduknya Yahudi dan Nasrani.lain kecuali jalan yang telah ditempuhnya. Sebagian dari mereka merasa dengki terhadap sebagian yang lainnya. menyombongkan diri . Pengetahuan yang mereka peroleh digunakan untuk menuruti hawa nafsu mereka belaka. Keterangan di atas menunjukkan kedengkian dan kebencian umat Yahudi dan Nasrani terhadap umat Islam pada zaman sekarang setelah hujjah dan penjelasan datang pada mereka tentang kebenaran Islam. Hal tersebut terjadi karena terdorong oleh rasa dengki. Sedangkan menurut jumhur ulama’. maka hal itu tidak diterima oleh Allah. dan akan menghukumnya akibat ia menentang Kitab-Nya. mereka berselisih pendapat hanya setelah hujjah ditegakkan atas mereka. benci dan saling menjatuhkan. Kemudian Allah SWT memberitakan bahwa orang-orang yang telah diberikan AlKitab kepada mereka di masa-masa yang lalu. barangsiapa yang menghadap kepada Allah – sesudah Nabi Muhammad SAW diutus – dengan membawa agama yang bukan syariatnya. tetapi menurut bacaan jumhur ulama lebih kuat. sekalipun benar. Pengetahuan yang telah diperoleh untuk memperkaya diri. begitu pula para malaikat dan orang-orang berilmu. bahwa agama yang diridloi di sisi Allah adalah Islam”. maka sesungguhnya Allah akan membalas perbuatannya dan melakukan perhitungan terhadapnya atas kedustaannya itu. yaitu ‘innad diina’ sebagai kalimat berita. hingga sebagian dari mereka berusaha menjatuhkan sebagian yang lain dengan menentangnya dalam semua ucapan dan perbuatannya. Bacaan tersebut kedua-duanya benar. Terhadap orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Allah yang telah diturunkan.

Dalam tujuan pendidikan. identiuk dengan tujuan hidup orang muslim. juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi keberhasilan proses pendidikan. III. ANALISIS KRITIS AYAT-AYAT TUJUAN PENDIDIKAN Tujuan adalah suatu yang diharapakan tercapai setelah sesuatu kegiatan selesai atau tujuan adalah cita. Ahmad D Marimba. maka tentunya dalam merumuskan tujuan harus selaras dengan syari’at Islam.bahkan saling berusaha menguasai dan menjajah diantara satu dengan lainnya dalam segala bidang kehidupan. Sehingga pengetahuan yang mereka peroleh kering dari makna serta membuat semakin kehilangan arah ke-ilahi-an dan miskin dimensi transendental. yakni suasana ideal itu nampak yang ingin diwujudkan. . Pengetahuan yang didapatpun akan lebih didayagunakan untuk kemaslahatan umat Islam pada khususnya dan rahmatan lil alamin pada umumnya. baik pada tingkah laku individu dan kehidupan pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana individu hidup. Sebagai pendidikan yang notabenenya Islam. suasana ideal itu tampak pada tujuan akhir (ultimate aims of education). Tujuan pendidikan ala Al-Qur’an jelas beda dengan konsep pendidikan di Barat yang mengedepankan materialistik. tujuan pendidikan Islam adalah. Hal ini mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya . Adapun tujuan pendidikan adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami proses pendidikan. Tujuan hidup manusia munurut Islam adalah untuk menjadi hamba allah. selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan pendidikan. Dengan bekal pendidikan dan pengetahuan yang didapat dari proses belajar-mengajar secara Islami diharapkan akan terbentuk muslim yang lebih tangguh. berpengetahuan luas dan yakin akan kebenaran ajaran Islam. Adapun rumusan tujuan pendidikan Islam yang disampaikan beberapa tokoh adalah : 1.

“the fist and highest goal of Islamic is moral refinment and spiritual.2. Syahminan Zaini. Dr. berotak cerdas dan berilmua banyak. masyarakat dan kemanusiaan pada umumnya”. disiplin yang tinggi dan berpendirian teguh”. Ali Ashraf. “tujuan akhir pendidikan Islam adalah manusia yang menyerahkan diri secara mutlak kepada Allah pada tingkat individu. untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. . 3. “Tujuan Pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang berjasmani kuat dan sehat dan trampil. dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohani serta moral yang tinggi. training” (tujuan pertama dan tertinggi dari pendidikan Islam adalah kehalusan budi pekerti dan pendidikan jiwa)” 4. Muhammad Athiyah al-Abrasy. Dari berbagai pendapat tentang tujuan pendidikan Islam diatas. berhati tunduk kepada Allah serta mempunyai semangat kerja yang hebat. baik sebagai makhluk individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam sejarah. . maka penulis memfokus masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut: <!--[if !supportLists]-->1. Lebihlebih lagi adil merupakan hak azazi manusia. penetapan sebuah ketentuan hukum adalah melalui peradilan. sama ada bentuknya itu secara formal seperti di peradilan yang diiktiraf negara. <!--[endif]-->Menyampaikan amanat dan menghukum dengan adil. B.Tafsir Ayat-Ayat tentang Keadilan BAB I PENDAHULUAN <!--[if !supportLists]-->A. tentunya dengan mudah wujudnya sebuah permasalahan. Penyelesaian secara hukum ini tentunya harus berdasarkan keadilan. Bukan hanya filsafat modern yang menetapkan itu. akan tetapi banyak sekali ayat dalam Alquran – sebagai sumber utama muslim – mewajibkan menghukumi sesuatu perkara harus dengan adil. Fenomena ini sejak dulu memiliki jalan keluar. terdapat banyak ayat tentang adil yang ditemukan oleh penulis dalam Alquran. yaitu penyelesaian secara hukum. <!--[endif]-->Latar Belakang Pergaulan antar manusia tentunya pasti menimbulkan sebuah masalah. Ibarat kata lidah saja tergigit apatah lagi suami istri. maupun peradilan non formal seperti mediasi maupun abritase. Setelah dibaca setiap satunya. Fokus Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut. apatah lagi antar masyarakat yang tidak ada hubungan tali kasih. karena batasan adil sendiri masih sangat umum dan terdapat banyak versi. Pemahaman adil dalam menghukumi ini tentunya memerlukan pentafsiran yang valid. Begitu juga suami istri saja ada masalah. Hanya dengan meneliti tafsir ahkam bagi ayat-ayat tentang adil sahaja yang dapat menghasilkan konsep menghukumi dengan adil dalam Islam.

dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. <!--[endif]-->Perlakuan sama di dalam peradilan dan persaksian.<!--[if !supportLists]-->2. akan tetapi ayat ini tetap berlaku secara umum dan bukan hanya tertakluk pada sebab kisah ini. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.<!--[if !supportFootnotes]-->[1]<!-[endif]--> Walaupun ayat ini diturunkan oleh sebab yang tertentu. Setelah itu. penjaga ka’bah adalah ‘Utsmân bin ‘Abd al-Dâr. Maka ‘Utsmân bin ‘Abd al-Dâr pun memeluk Islam. Beliau mengunci ka’bah.”بخصوص السبب‬if !supportFootnotes]-->[2]<!--[endif]--> . ‘Alî RA pun menceritakan pada ‘Utsmân bin ‘Abd al-Dâr bahwa ayat ini diturunkan kepadanya. BAB II PEMBAHASAN A. Ketika itu. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Lalu Rasulullah mengutus ‘Alî RA untuk meminta ‘Abbâs mengembalikan kunci tersebut dan meminta maaf kepada ‘Utsmân bin ‘Abd al-Dâr. Ini dikarenakan oleh sebuah kaedah dalam ‘ulûm al-Qur`ân yang berbunyi “‫العبرة بعموم اللفظ ل‬ ‫[--!<. <!--[endif]-->Keadilan tidak hanya bagi orang Islam. Menyampaikan Amanat dan Menghukum dengan Adil Allah SWT berfirman dalam surah al-Nisâ` ayat 58 sebagai berikut: ‫إن ال يأمركم أن تؤدوا المانات إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل إن ال نعما‬ ّ ِ ِ ّ ّ ِ ِ ْ َ ْ ِ ُ ُ ْ َ ْ َ ِ ّ َ ْ َ ْ ُ ْ َ َ َ َِ َ ِْ َ َِ ِ َ َ َْ ّ َ ُ ْ َ ْ ُ ُ ُ ْ َ ّ ّ ِ َ َ ‫يعظكم به إن ال كان سميعا بصيرا‬ ً ِ َ ً َِ َ َ ّ ّ ِ ِِ ُُْ َِ َ Terjemahan: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Maka ‘Abbâs mengambil dengan paksa kunci tersebut. Sebuah riwayat yang menceritakan ayat tentang memberikan amanat dan hak kepada yang berhak serta menghukum dengan adil ini adalah sebuah kisah ketika terjadinya pembukaan kota Mekkah. <!--[if !supportLists]-->3.

maka datanglah giliran menghukumi dengan adil diantara manusia. Asal usulnya bermakna “‫ ”المنضضضع‬yaitu mencegah. wajib bagi hakim dan perangkat pemerintahan melestarikan keadilan sehingga hak-hak tersentuh ahlinya.<!--[if !supportFootnotes]->[3]<!--[endif]--> Contoh menjaga amanah dalam hak Allah adalah seperti mematuhi perintahnya dan menjauhi larangannya.”أنزلنا إليك الكتاب بالحق لتحكم بين الناس بما أراك الض‬Menurut Syaikh Wahbah al-Zuhaylî. Dalam firman Allah yang berbunyi “‫”حكمتم‬ ْ ُْ َ َ adalah merupakan fi’il mâdli yang bertemu dengan dlamîr muttashil “‫ . Seperti contoh Surah al-Nahl ayat 90 yang berbunyi: ْ ُ ُ ِ َ ِ ْ َ ْ َ ِ َ ْ ُ ْ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ َ َ َ ْ ُ ْ ِ ِ َ َِ ِ َ ْ ِْ َ ِ ْ َ ْ ِ ُ ُ ْ َ ّ ّ ِ ‫إن ال يأمر بالعدل والحسان وإيتاء ذي القربى وينهضضى عضن الفحشضضاء والمنكضر والبغضي يعظكضم‬ َ ‫لعلكم تذكرون‬ ُ ّ َ َ ْ ُ َّ َ . Ia adalah dituntut dalam Islam berdasarkan firman Allah “‫إنا‬ ‫. berjihad.Secara istilah.Setelah menetapkan amanah. Contohnya: “ ‫حكمت عليه بكذا إذا منعته من خلفه فلم يقدر على الخروج من ذلك وح َمت بين القوم فصلت بينهم‬ ْ ُ َ ْ َ ُ ْ َ َ ِ ْ َ ْ َ ْ َ ُ ْ ‫ِ ْ ِ َ ِ ِ ََ ْ َ ْ ِ ْ ََ ْ ُ ُ ِ ِ ْ َِ َ َ َك‬ ٌ ِ َ َ ََ ‫ ”فأنا حاكم‬yang berarti: “aku menghukum terhadapnya begini ketika akau menghalangnya dari melakukan sebaliknya.”أنتم‬Ia memiliki arti “‫ ”القضضضضاء‬yaitu menghukumi. Wajib ada bagi masyarakat sosial agar yang lemah dapat mengambil haknya. Dan aku menghukum di antara kaum yaitu memutuskan di antara mereka maka aku adalah seorang hakim”. kata menghukumi atau dalam bahasa Arab yang lebih dikenali dengan kata “‫ ”القضضضاء‬itu adalah memisah pertengkarang/persengketaan dan menghilangkan perselisihan. Terlestarilah keamanan. maka dia tidak mampu melakukan selain itu. Ia adalah asal dari dasar-dasar hukum di dalam Islam.Keadilan adalah merupkan asas kepimpinan. Maka dari itu. Menjaga amanah bagi hak manusia itu sendiri adalah seperti tidak melakukan kecuali apa yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat.Dalam membahas tentang adil ini. Sedangkan menjaga amanah bagi orang lain adalah seperti tidak menipu ketika bermuamalat. Seluruh syariat yang datang dari Allah (seperti agama Yahudi dan Nasrani) itu mewajibkan mendirikan keadilan. Alquran menyebutkannya di lebih dari satu tempat. bahwa kata “adil” di dalam ayat ini adalah “‫ ”إيصضضال الحضضق إلضضى صضضاحبه مضضن أقضضرب طريضضق‬yaitu “memberikan hak kepada pemiliknya dengan jalan yang terdekat”. Yang kuat tidak merampas dari yang lemah. Sama ada hak bagi dirinya sendiri maupun hak bagi orang lain serta hak Allah secara umum. dan nasihat.Perintah awal dari ayat ini adalah supaya menjalani amanat dengan memberikannya kepada ahlinya bagi setiap muslimin.

memberi kepada kaum kerabat. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.<!--[if ! supportFootnotes]-->[10]<!--[endif]--> Dalam ayat ini. jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan. Kata adil menurut `Ibn ‘Athiyyah: “telah berkata al-Qâdlî `Abû Muhammad: Adil adalah melakukan segala perkara yang difardukan dari segi akidah dan syariat. kata adil digunakan dengan kata “‫ ”القسط‬yang secara bahasa memiliki arti adil.<!--[if !supportFootnotes]-->[9]<!--[endif]--> B. Maka Allah enggan menerimanya kecuali menegakkan keadilan dalam arti seimbang di antara yang kaya dan fakir. Perlakuan Sama di Dalam Peradilan dan Persaksian Allah SWT berfirman dalam surah al-Nisâ` ayat 138 sebagai berikut: ْ ِ َ ِ َ ْ َْ َ ِ ْ َ ِ َ ْ ِ َ ْ ُ ِ ُ ْ َ ََ ْ ََ ّ َ َ َ ُ ِ ْ ِ ْ ِ َ ِ ّ َ ُ ُ ُ َ َ َ ِ ّ َ َّ َ ‫يا أيها الذين آمنوا كونوا قوامين بالقسط شهداء ل ولضو علضضى أنفس ضكم أو الوال ضدين والقربي ضن إن‬ ِ َ َ ّ ّ َِ ُ ِ ْ ُ ْ َ ُ ْ َ ْ َِ ُِ ْ َ ْ َ َ َ ْ ُ ِ ّ َ َ َ َ ِ ِ َْ َ ّ َ ً ِ َ ْ َ ّ ِ َ ْ ُ َ ‫يكن غنيا أو فقيرا فال أولى بهما فل تتبعوا الهوى أن تعدلوا وإن تلووا أو تعرضوا فإن ال كان‬ َ ُ ‫بما تعملون خبيرا‬ ً ِ َ َ َُ ْ َ َ ِ Terjemahan: Wahai orang-orang yang beriman. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi. kemungkaran dan permusuhan. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Ketika ayat ini diturunkan. Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. dan Allah melarang dari perbuatan keji. Sebab turunya ayat ini ditakhrîj `Ibn Jarîr dari al-Sadiyyi. Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.Terjemahan: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) Berlaku adil dan berbuat kebajikan. dengan pandangan orang fakir tidak mungkin menzalimi yang kaya. menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. memberikan sesuatu yang hak”.<!--[if ! supportFootnotes]-->[11]<!--[endif]--> Ini sama seperti yang terdapat di dalam surah al`A’râf ayat 29: ْ ُ ََ َ َ َ َ ّ ُ َ َ ِ ِْ ُ ُ ُ ْ َ ٍ ِ ْ َ ّ ُ َ ْ ِ ْ ُ َ ُ ُ ُ ِ ََ ِ ْ ِ ْ ِ ّ َ َ َ َ ْ ُ ‫قل أمر ربي بالقسط وأقيموا وجوهكم عنضد كضل مسضجد وادعضضوه مخلصضضين لضه الضدين كمضضا بضدأكم‬ َ ُ َُ ‫تعودون‬ . terdapat dua orang lelaki yang sedang bersengketa yaitu satu kaya dan satu fakir. Sedangkan Nabi Muhammad SAW menyebelahi yang fakir. kehidupan sesama manusia di dalam melaksanakan amanat dan meninggalkan kezaliman. jika ia Kaya ataupun miskin. tengah-tengah di dalam segala perkara. seimbang.

<!--[endif]-->Penekanan untuk sangat-sangat di dalam menegakkan keadilan dan membantu. orang tua atau kerabat. ini terjadi perbedaan pendapat. <!--[if !supportLists]-->2. dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di Setiap sembahyang dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Menurut al-Zuhrî. Oleh karena itu tidak diperbolehkan untuk persaksian anak. keadilan yang dimaksud Allah SWT adalah seimbang dengan tidak condong ke kanan atau ke kiri. sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepadaNya)". bahwa ayat ini menegaskan dua hal:<!--[if ! supportFootnotes]-->[13]<!--[endif]--> <!--[if !supportLists]-->1.<!--[if !supportFootnotes]-->[12]<!--[endif]--> Menurut Wahbah al-Zuhaylî. keadilan dalam Islam tidak hanya diperuntukan bagi orang muslim.”كونوا قوامين بالقسط شهدآء ل‬Lalu jelaslah dari manusia beberapa perkara yang memungkinkan terjadi penuduhan. Walaupun persaksian itu merugikan orang tua. Mereka berkata tidak ada khilaf di dalam persaksian seorang anak terhadap orang tua. Ulama fiqh menuturkan beberapa perkara yang berkaitan dengan syahadah bagi orang tua atau terhadap orang tua. <!--[endif]-->Seumpama dalam peradilan hakim harus bersikap adil. bukan menyulitkan atau berpaling di dalam peradilan. Ini dikarenakan hak itu unggul dan tidak diungguli oleh yang lain. kedua orang tua. tidak lain ini demi kebaikan mereka.Terjemahan: Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". maka persaksian juga harus dengan yang hak walau terhadap diri sendiri. . Dalam hal. Perkara ini jelas diperbolehkan (diterima). ulama salaf soleh memperkenan persaksian seperti ini. Dalam hal ini. Maka persaksian tuduhan itu harus ditinggal. Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memerintah hambanya yang mukmin agar menjadi orang yang benar-benar menegakkan keadilan.<!--[if !supportFootnotes]-->[15]<!--[endif]--> Sedangkan persaksian kedua orang tua terhadap anak. tapi juga non muslim. Ini berdasarkan ayat “‫ . saudara. Ini senada dengan ayat “‫[--!<”قوا أنفسضضكم وأهليكضضم نضضارا‬if !supportFootnotes]-->[14]<!--[endif]->.

Ini dikarenakan sudah wataknya ayah cinta pada anaknya dan condong padanya. Menurut catatan Imam Fakhr al-Dîn al-Râzî. al-Syâfi’î. Imam al-Syafi’i berkata tentang persamaan hak dalam peradilan:<!--[if !supportFootnotes]-->[21]<!--[endif]--> ‫ينبغي للقاضي أن يسوي بين الخصمين في خمسة أشضضياء : فضضي الضضدخول عليضضه ، والجلضضوس بيضضن‬ ‫يديه ، والقبال عليهما ، والستماع منهما ، والحكم عليهما‬ Terjemahan: Sebaiknya bagi hakim itu memberi persamaan di antara kedua orang yang berperkara dalam lima hal. dan menghukumi keduanya. al-Nakha’î. Ini diriwayatkan oleh ‘Umar bin al-Khathâb dam ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azîz. duduk di hadapannya. `Abî Hanîfah. menerima keduanya. Surah al-Hujjarât ayat 9<!--[if ! supportFootnotes]-->[20]<!--[endif]--> juga memiliki tafsiran yang sama. juga ditegaskan `Ishâq dan al-Muzanni. al-Sya’bî. al-Tsaurî.”وإذا حكمتضضم بيضضن النضضاس أن تحكمضضوا بالعضضدل‬if !supportFootnotes]-->[22]<!-[endif]--> . Imam al-Syâfi’I membenarkan persaksian kedua mereka karena mereka berdua adalah orang lain ( ‫[--!<. `Ibn Hanbal. Mâlik. Imam Fakhr al-Dîn al-Râzî menegaskan inilah yang dimaksud dari firman Allah SWT “‫[--!<.<!--[if !supportFootnotes]->[16]<!--[endif]--> Sebagian kaum membenarkan persaksian setengah dari mereka terhadap setengah yang lain ketika mereka itu adil. mendengar dari keduanya.<!--[if ! supportFootnotes]-->[18]<!--[endif]--> Selain dari surah al-Nisâ` ayat 138 ini. yaitu dalam masuk ke hadapannya.suami-istri.‫أخيه ورد شهادة القانع لهل البيت وأجازها لغيرهم‬ ْ ِ ِ ْ َ ِ َ َ َ ََ ِ ْ َ ْ ِ ْ ِ ِ ِ َ ْ َ َ َ َ ّ َ َ ِ ِ َ َ Hadis ini adalah hujjah bagi orang yang memperbolehkan kesaksiannya ayah pada anaknya karena dia menarik kemanfaatan dengan kesaksiannya. Ini adalah mazhab al-Hasan. Surah al-Mâ`idah ayat 8<!--[if ! supportFootnotes]-->[19]<!--[endif]-->. Syuraih. dan murid-muridnya.)أجنبي‬if !supportFootnotes]-->[17]<!--[endif]--> Terdapat sebuah hadis riwayat Abû Daud seperti berikut: ْ َ ٍ ْ َ ُ ِ ْ ِ ْ َ ْ َ َ ُ ُ ْ ُ َ ْ َُ َ َ ّ َ ٍ ِ َ ُ ْ ُ ّ َ ُ َ َ ّ َ َ َ ُ ُ ْ ُ ْ َ َ َ ّ َ ‫حدثنا حفص بن عمر حدثنا محمد بن راشد حدثنا سليمان بن موسى عن عمرو بضن شضعيب عضن‬ ‫أبيه عن جده أن رسول ال صلى ال عليه وسضلم رد شضهادة الخضضائن والخائنضة وذي الغمضر علضضى‬ ََ ِ ْ ِ ْ ِ َ ِ َ ِ َ ْ َ ِ ِ َ ْ َ َ َ َ ّ َ َ ّ َ َ ِ ْ ََ ّ َّ ّ َ ُ َ ّ َ ِ ّ َ ْ َ ِ ِ َ ُ ِ .

atau berpalinglah dari mereka.”سماعون للكذب أكالون للسحت‬Ada ِ ْ ّ ِ َ ُ ّ َ ِ ِ َ ِْ َ ُ ّ َ suatu pendapat bahwa ia dinisbatkan kepada mereka yang berpegangan pada Taurat yang membuat mereka memakan riba sebagaimana firman Allah SWT: “‫وأخذهم الربوا وقد نهوا‬ ‫[--!<.<!--[if !supportFootnotes]-->[24]<!--[endif]--> . dan jika kamu memutuskan perkara mereka. Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. Dan adanya ahli fakir dari orang Yahudi itu mengambil dari orang kaya Yahudi harta supaya menegakkan pada apa yang mereka mau bagi golongan Yahudi. ayat ini menunjukkan kaum Yahudi menghukumi Nabi Muhammad SAW. Maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil. Keadilan Tidak Hanya Bagi Orang Islam Allah SWT berfirman dalam Surah al-Mâ`idah ayat 42 sebagai berikut: ْ ُ ْ َ ْ ِ ْ ُ ْ َِ ْ ُ ْ َ ْ ِ َ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ُ َ ْ ِ َ ِ ْ ّ ِ َ ُ ّ َ ِ ِ َ ْ ِ َ ُ ّ َ ‫سماعون للكذب أكالون للسحت فإن جاءوك فاحكم بينه ضم أو أعْضرض عنه ضم وإن تعضرض عنه ضم‬ َ ِ ِ ْ ُ ْ ّ ِ ُ ّ ّ ِ ِ ْ ِ ْ ِ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ْ َ َ ْ َِ ً ْ َ َ ّ ُ َ ْ ََ ‫فلن يضروك شيئا وإن حكمت فاحكم بينهم بالقسط إن ال يحب المقسطين‬ َ Terjemahan: Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong. Mereka mendengarkan dari orang kaya Yahudi itu penipuan-penipuan demi melariskan pemahaman Yahudi dan mencacatkan Islam. Maka hakim ini memakan barang haram dan mendengarkan sebuah penipuan. Sebab turunnya ayat ini adalah terhadap orang Yahudi. jika kamu berpaling dari mereka Maka mereka tidak akan memberi mudharat kepadamu sedikitpun. maka imam harus menghukumi di antara mereka dan melarang mereka menghukumi sendiri tanpa ada perbedaan pendapat ulama. jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan).”عنه‬if !supportFootnotes]-->[23]<!--[endif]--> Menurut Syaikh Wahbah al-Zuhaylî.C. dan percaya terhadapnya. Ahli fakir itu memakan uang haram yang mereka ambil dari mereka. maka jika yang mereka angkat itu berupa kezaliman seperti membunuh dan lain-lain yang berhubungan dengan tindak pidana. Mereka mendengarkan penipuan. Inilah yang ditunjukkan dengan firman Allah “‫ . Hakim itu tidak berpaling dari pertikaiannya. Maka ketika ada “‫ ”أهل الذمة‬mengangkat permasalahan kepada imam. banyak memakan yang haram. Adanya hakim dari kalangan Yahudi ketika didatangi orang yang batil di dalam dakwaannya disebabkan suap maka hakim itu tetap mendengarkan ucapan orang tersebut. kemudian Nabi menghukumi mereka dengan apa yang ada di dalam kitab Taurat.

beliau menyuap dengan dua dinar lalu berkata: “dosa hanya terhadap penerima bukan pemberi . Maka suap ini adalah yang diharamkan terhadap penerimanya dan tidak diharamkan terhadap pemberinya. karena menerima suap untuk menghukumi sesuai yang diingini. ini berdasarkan ayat “‫وأن احكم بينهم بما‬ ‫[--!<”أنضضضضزل الضضضض‬if !supportFootnotes]-->[25]<!--[endif]-->.”فإن جاءوك فاحكم بينهم أو أعرض عنهم‬Menurut Imam al-Syafi’I tidak boleh ْ ُ ْ َ ْ ِ ْ َ ْ َ ْ ُ َ ْ َ ْ ُ ْ َ َ ُ َ ْ َِ menghukumi mereka bagi masalah hudud. Seumpama dia sampai menghukum dengan kebatilan. mendengar ahli dukun. maka ia adalah fasiq juga. Sedangkan menurut Abû Hanîfah tetap menghukumi mereka dalam keadaan apa pun itu. Hanya saja ia adalah fatwa. Nabi Muhammad SAW bersabda: ‫لعن ال الراشي والمرتشي والرائش الذي يمشي بينهما – رواه أحمد في مسنده عن ثوبان وهضضو‬ . Mereka juga tidak mengambil kekuasaan hukum. dan lain-lain yang telah disebutkan. Ia diharamkan bagi yang menyuap juga yang disuap. seperti apa yang dikatakan hasan: “‫ل بأس أن‬ ‫ .<!--[if !supportFootnotes]->[26]<!--[endif]--> Ayat ini juga menegaskan bolehnya proses abritase (tahkîm) di dalam Islam. semisal seseorang menyuap hakim agar dia menghilangkan kezaliman yang terjadi terhadapnya.Seumpama bukan berupa tindak pidana. ‫حديث صحيح‬ Apabila hakim – yang disuap – seumpama menghukum terhadap penyuap dengan apa yang hak. Menurut Imam al-Syafi’I. dan banyaknya mereka makan harta haram seperti suap dalam peradilan. abritase itu boleh. ayat “‫ ”سضضضمعون للكضضضذب أكلضضضون للسضضضحت‬ini menunjukkan banyaknya orang Yahudi mendengarkan kebohongan. Suap kadang terjadi di dalam menghukum dan peradilan. maka ia adalah fasiq.”يدفع الرجل مضضن مضضاله مضضا يصضضون بضضه عرضضضه‬Ketika adanya `Ibn Mas’ûd berada di Etopia. ini berdasarkan ayat “‫ . Ini dikarenakan orang yang abritase tidak mengajukan perkara mereka ke pemimpin atau para hakim. akan tetapi ia tidak tetap. maka imam diperkenankan memilih sama ada menghukumi atau tidak menurut Imam Malik dan Imam al-Syafi’i.Selain dari itu.Suap juga kadangkala terjadi pada selain menghukumi dan peradilan.Suap diharamkan dalam hal apapun. dikarenakan dia mengambil suap dan menghukum dengan kebatilan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful