PENDAHULUAN BAB I I.

1 LATAR BELAKANG Reposisi hidrostatik pada kasus invaginasi merupakan terapi pilihan yang sudah digunakan semenjak tahun 1876, dan didapatkan hasil yang memuaskan dari terapi ini. Invaginasi sendiri merupakan keadaan akut suatu gangguan peristaltic usus, dimana suatu segmen usus menjorok masuk ke segmen sebelahnya. Umumnya segmen proximal masuk ke segmen distal.(1) Invaginasi sering ditemukan pada anak dan jarang pada orang muda dan dewasa. Invaginasi pada anak dan bayi merupakan hal yang masih sulit ditemukan dibandingkan dengan invaginasi pada orang dewasa. Invaginasi pada anak dan bayi sering dijumpai pada usia di bawah 2 tahun dan terbanyak ditemukan pada usia 5-9 bulan. Penyebab invaginasi pada anak dan bayi 70%-90% tidak diketahui; beberapa kepustakaan menghubungkan dengan hypertrophied peyer's patches akibat infeksi oleh virus, perubahan cuaca atau perubahan pola makanan. Sedangkan invaginasi pada anak yang besar dan orang dewasa penyebabnya adalah suatu kelainan patologis (divertikel Meckel, polip, tumor). Pada referensi lain dikatakan 70% pasien dibawah umur 1 tahun (sering pada usia 6-7 bulan). Insidensi bervariasi dari 1-4 per 1000 kelahiran hidup, dan pria 4 kali lebih banyak daripada wanita. Serta lebih banyak ditemukan pada bayi dengan gizi baik.(1,2) Kasus invaginasi masuk ke rumah sakit sebagai kasus gawat darurat. Tindakan pertama yaitu mengatasi kekurangan cairan, elektrolit & keseimbangan asam basa. I.2. EPIDEMIOLOGI Angka kejadian intususepsi (invaginasi) dewasa sangat jarang , menurut angka yang pernah dilaporkan adalah 0,08% dari semua kasus pembedahan lewat abdomen dan 3% dari kejadian obstruksi usus , angka lain melaporkan 1% dari semua kasus obstruksi usus, 5% dari semua kasus invaginasi (anak-anak dan dewasa), sedangkan angka-angka yang menggambarkan angka kejadian berdasarkan jenis kelamin dan umur belum pernah dilaporkan, sedangkan segmen usus yang telibat yang pernah dilaporkan Anderson 281 pasien terjadi pada usus halus (Jejunum, Ileum) 7 pasien ileocolica, 12 pasien cecocolica dan 36 colocolica dari 336 kasus yang ia laporkan . Desai pada 667 pasien 1

menggambarkan 53% pada duodenum,jejunum atau ileum, 14% lead pointnya pada ileoseccal, 16% kolon dan 5% termasuk appendik veriformis. Hampir 70 % kasus invaginasi terjadi pada anak-anak umur kurang dari 1 tahun (Bisset et all, 1988) sedangkan Orloff mendapatkan 69% dari 1814 kasus pada bayi dan anakanak umur kurang dari 1 tahun (Cohn 1976). Chairl Ismail 1988 mendapatkan insiden tertinggi dicapai pada anak-anak umur antara 4 sampai dengan 9 bulan. Perbandingan antara laki-laki dan wanita adalah 2:1 (Kartono, 1986; Cohn 1976; Chairul Ismail !988). Insidensi tertinggi dari inttususepsi terdapat pada usia dibawah 2 tahun (Ellis 1990). Orloof mendapatkan 69% dari1814 kasus pada anak-anak terjadi pada usia kurang dari 1 tahun (Cohn 1976). Pada bayi dan anak-anak intususepsi merupakan penyebab kira-kira 80-90% dari kasus obstruksi. Pada orang dewasa intususepsi lebih jarang terjadi dan diperkirakan menjadi penyebab kira-kira 5% dari kasus obstruksi (Ellis, 1990)(3) I.3 TUJUAN • Tujuan Umum Untuk mengetahui dan memahami tekhnik penatalaksanaan penyakit invaginasi terutama dalam hal reposisi hidrostatik, dan memberikan gambaran dan penanganannya serta akibat yang ditumbulkan bila ada keterlambatan dalam penanganan. • Tujuan Khusus Sebagai syarat ujian stase ko-assisten bagian Ilmu Bedah di Rumah Sakit Umum Daerah Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto

2

panjang usus halus sekitar 12 kaki/ sekitar ± 3.Anatomy of the digestive tract www. berlipat-lipat yang membentang dari pylorus sampai katup ileosekal. ANATOMI Usus halus merupakan tabung komplek.II. air dan mineral yang memungkinkan pemeliharaan normal. Usus ini mengisi bagian tengah dan bawah rongga abdomen.8 cm. Sepertinya terlihat perubahan bertahap dari ketebalan dinding usus yang menurun dengan lebih jauh ke distal usus. Sehingga obstruksi lebih mudah timbul dalam ileum distalis dibandingkan jejunum proximalis.6 meter. 2/3 yang berikut merupakan ileum. pertumbuhan dan perkembangan.yoursurgery. Tak ada batas pasti antara bagian usus halus.5 cm. Lebar lumen juga mengikuti pola serupa.(1) Figure 1 .com (5) 3 . jejunum dan ileum. Sepertiga proximal usus halus terdiri dari jejunum. tetapi semakin ke bawah lambat laun garis tengahnya semakin berkurang sampai sekitar 2. Pada orang hidup. Ujung proximalnya bergaris tengah sekitar 3. 1. Ia bertanggung jawab bagi sebagian besar panjang saluran pencernaan dan luas permukaan mukosanya yang luas merupakan tempat absorpsi bahan makanan. TINJAUAN PUSTAKA II. (4) Usus halus mencakup duodenum.

Dalam ruang ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh limfe. Tela Submukosa. Ia terdiri dari agregasi lymphaticus yang dikelilingi oleh plexus lymphaticus di atas permukaan mesenterica usus. Tunica mukosa usus halus. 4. Tunica Serosa. Lapisan ini paling tebal di dalam duodenum dan berkurang dalamnya kearah distal. Juga ditemukan neuroplexus Meissner. Kalau pada ileum. Masingmasing lipatan ini ditutup dengan tonjolan. Tunica Mukosa. Tunica Muscularis.(6) Dinding usus halus di bagi dalam 4 lapisan : 1. 4 . sehingga bertanggung jawab lebih besar permukaan absorbsi dalam bagian usus ini. vili. Plaque peyer Plaque peyer terutama berada di dalam ileum dan lebih banyak ke distal. yaitu pada mesenterium jejunum lemak yang terkandung di antara lembaran berakhir tepat sebelum batas usus dalam area Bering dan pembuluh darah dapar terlihat. Dua selubung otot polos tidak bergaris membentuk tunica muskularis usus halus. Usus halus mesenterika seluruhnya dilayani oleh a. mesenterika superior melalui 12 -15 cabang yang membentuk “arcades” yang kemudian menimbulkan arteri lurus yang menyilang mesenterium langsung ke dinding usus.Ada perbedaan antara usus halus proximal dan distal dalam mesenterium. kecuali pars superior duodenum tersusun dalam lipatan sirkuler tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa.6) 3. Tela Submukosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunika muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa. lemak terbentang sampai dinding usus sehingga pembuluh darah sulit dilihat. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak di antara kedua lapisan otot ini. Lipatan dan vili lebih banyak di dalam jejunum dibandingkan di dalam ileum.(1. Ada dua area dalam tingkatan submukosa dan bagian spesifik usus halus : 1. 2. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum sirkulare. yang terletak dibawah mukosa. Terdiri dari jaringan ikat longgar yang dilapisi oleh mesotel.

Tunika Muscularis Terdiri atas stratum longitudinal di sebelah luar dan stratum circular di sebelah dalam. yaitu: 1. permukaan dalamnya mempunyai lipatan-Lipatan (plicae mucosae) berbentuk bulan sabit karena tidak mencapai seluruh lingkaran lumen dan dinamakan plicae semilunares. Arteri mesenterika superior (memperdarahi belahan 5 . Pada sekum terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. 3. Tunika Serosa Membentuk apendises epiploica. Tunika Mukosa Licin karena tidak mempunyai vili. dan berkurang menjadi ± 2. Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen kanan disebut fleksura hepatica dan kiri fleksura lienalis. (4) Dinding kolon terdiri dari 4 lapisan. Usus besar terdiri dari sekum. descenden dan sigmoid.2. 2. Glandula Brunner Glandula Brunner ada hampir seluruhnya di dalam duodenum.5 meter. terbentang dari ileum terminalis sampai anus. Vaskularisasi Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri dan kanan berdasarkan suplai darah yang diterimanya. kolon dan rectum.5 cm dalam sekum. (4) Kolon dibagi lagi menjadi kolon ascenden.Sphincter ani internus sedangkan stratum longitudinale membentuk 3 pita yang disebut taenia coli. Stratum circular membentuk m.5 cm dalam sigmoid. yang lebih pendek dari kolon itu sendiri sehingga membentuk kolon berlipat-lipat seperti kantong (haustrae). tetapi di dalam jejunum proximal ia terdapat di proximal dan menurun dengan penuaan. panjangnya sekitar 1. Tela Submucosa Dibentuk oleh jaringan penyambung longgar yang berisi pembuluh darah dan kelenjar getah bening. 4. Diameter terbesarnya pada saat kosong ±6. tranversum. kecuali pada rectum. yaitu kantong-kantong kecil yang berisi lemak dan menonjol dari serosa. Katup ileosekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke usus halus.

ileokolika.para aorta. Sedangkan rectum dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari plexus mesenterikus inferior dan dari system parasakral yang terbentuk dari ganglion simpatis L 2-4 serta serabut simpatis yang berasal dari S 2-4. (8) II.vagus. kelenjar iliaka interna. (4. kolon descenden. kelenjar para aorta pada pangkal a.hemoroidalis superior dan inferior. a.mesenterika inferior) dan a.hemoroidalis inferior (cabang dari a.(4) Aliran balik vena dari kolon berjalan parallel dengan arterinya. a.9. Rektum disuplai oleh a.1 DEFINISI Invaginasi atau intususepsi adalah suatu keadaan akut saluran cerna dimana suatu segmen usus bagian proximal masuk ke bagian distal yang umumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. INVAGINASI II.mesenterika superior untuk kolon ascenden dan transversum.(1. a. (8) Persyarafan Usus besar diperarafi oleh system otonom kecuali sfingter externa diatur secara volunter.kanan. kelenjar dalam mesenterium.hemoroidalis superior.mesenterika superior dan inferior.10) Bila disertai strangulasi harus diingat kemungkinan terjadinya peritonitis setelah perforasi.kolika sinistra. kelenjar para kolik. V. sigmoid dan rectum. Invaginasi hampir selalu terjadi di ileum terminal. kelenjar di mesenterium. sigmoid dan bagian proximal rectum) akan bercabang ke a. 2. Sedang arteri mesenterika inferior (memperdarahi sepertiga kolon transversum.pudenda interna).4. Sedang aliran venanya yaitu v. Aliran limfe pada rectum yaitu. dan kel.kolika dextra. kolon ascenden dan duapertiga proximal kolon transversum) akan bercabang ke a.splannikus dan pleksus presakralis serta serabut yang berasal dari n.hemoroidalis superior (cabang dari a.mesenterika inferior untuk kolon descenden.7) Aliran Limfe Sejalan dengan perdarahannya antara lain kelenjar para kolik. Sedang v. Kolon dipersarafi oleh system parasimpatis yang berasal dari n.sigmoid. 6 . sekum.2. inguinal.

edu/healthinfo/images (11) Figure 2 - Anatomy of a typical intussusception of ileum into the colon.utah. colon segment (intussuscipens). © C. Sedangkan bagian usus yang mengandung intususeptum disebut intususipien. The leading proximal. McKee www. http:// uuhsc.yoursurgery. small bowel segment (intussusceptum) telescopes into the distal.Bagian segmen usus yang masuk ke bagian distal disebut intususeptum.com (12) 7 .

Perubahan flora memang terjadi pada usia 6-9 bulan sehubungan dengan perubahan pola makan pada bayi.2. dan mesenteric hematom. 8 . misalnya: polip.2 ETIOLOGI Penyebab kebanyakan invaginasi belum diketahui. Adanya penebalan Plaque Peyer akibat suatu proses dari infeksi virus pada usus. (1. dimana disebabkan oleh penebalan plaque Peyeri yaitu suatu jaringan limfoid di dinding ileum bagian distal.9) Sekali usus bagian proximal masuk ke bagian usus distal. Sedangkan pada anak di atas usia 2 tahun atau orang dewasa umumnya ditemukan pencetus gerakan peristaltic yang berlebihan tersebut. divertikel Meckel. Invaginasi pada anak biasanya disebut idiopatik.4. (1.4.10) 2. Berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan dari bayi-bayi dengan invaginasi didapatkan hal-hal sebagai berikut : 1. maka bagian usus proximal ini akan tetap ada dan bahkan lebih jauh masuk dalam usus bagian distal. Adenovirus ditemukan dari limfonodi mesenterika pada pembedahan dan juga dari biakan permukaan dengan presentase yang lebih tinggi pada anak dengan invaginasi daripada control. limfoma. Adanya perubahan flora usus sehingga timbul peristaltic yang meniggi.7) 3. oleh adanya peristaltic. hemangioma.(1. yang dapat merangsang peristaltic usus sebagai upaya untuk mengeluarkan massa tersebut sehingga menyebabkan invaginasi.2.II.

Akan tetapi tidak jarang pula lumen tetap patent. selanjutnya terjadi pembengkakan intususeptum. Edema dan pembengkakan dapat terjadi. Hiperperistaltik usus bagian proksimal yang lebih mobil menyebabkan usus tersebut masuk ke lumen usus distal. Invaginasi merupakan keadaan yang potensial berbahaya.3 PATOFISIOLOGI Berbagai variasi etiologi yang mengakibatkan terjadinya intususepsi pada dewasa pada intinya adalah gangguan motilitas usus terdiri dari dua komponen yaitu satu bagian usus yang bergerak bebas dan satu bagian usus lainya yang terfiksir/atau kurang bebas dibandingkan bagian lainnya. Ulserasi pada dindidng usus dapat terjadi. karena edema dan perdarahan 9 . karena arah peristaltik adalah dari oral keanal sehingga bagian yang masuk kelumen usus adalah yang arah oral atau proksimal. 1956). karena bukan saja terjadi obstruksi tetapi termasuk jenis strangulasi dimana pembuluh-pembuluh darah dalam mesenterium dari usus bagian proximal yang masuk ke bagian distal (intususeptum) terjepit diantara kedua dinding usus tersebut. Invaginasi akan menimbulkan gangguan pasase usus (obstruksi) baik partiil maupun total dan strangulasi (Boyd. sehingga kemungkinan intususeptum mengalami nekrosis. Intususepien biasanya tidak mengalami kerusakan. Adanya bendungan menimbulkan perembesan (ozing) lendir dan darah ke dalam lumen. Pembengkakan dapat sedemikian besarnya sehingga menghambat reduksi. Gangren dapat berakibat lepasnya bagian yang mengalami prolaps. Konstriksi mesenterium menyumbat aliran balik vena.II. Perubahan pada intususeptum ditimbulkan oleh penekanan bagian ini oleh karena kontraksi dari intususepien. Akibatnya terjadi perlekatan yang tidak dapat kembali normal sehingga terjadi invaginasi. keadaan lainnya karena suatu disritmik peristaltik usus. Pembengkakan dari intisuseptum umumnya menutup lumen usus. Usus bagian distal yang menerima (intussucipient) ini kemudian berkontraksi. Akibat adanya segmen usus yang masuk kesegmen usus lainnya akan menyebabkan dinding usus yang terjepit sehingga akan mengakibatkan aliran darah menurun dan keadaan akhir adalah akan menyebabkan nekrosis dinding usus Perubahan patologik yang diakibatkan intususepsi terutama mengenai intususeptum. dan juga karena terganggunya aliran darah sebagai akibat penekanan dan tertariknya mesenterium. Sebagai akibat strangulasi tidak jarang terjadi gangren. pada keadaan khusus dapat terjadi sebaliknya yang disebut retrograd intususepsi pada pasien pasca gastrojejunostomi .2. terjadi edema. sehingga obstruksi komplit kadang-kadang tidak terjadi pada intususepsi (Tumen 1964).

The dashed lines indicate the appendix. Serangan sakit mula-mula hilang timbul kemudian menetap. The cecum (C) and ileocecal valve have invaginated into the ascending colon (AC).(13) II.2. Umumnya setelah 10-12 jam sampai menjelang 24 jam gejala.mukosa menyebabkan tinja mengandung darah.7%) 2. tetapi penampilan klinik obstruksi memerlukan waktu. sigmoid.2. Ileosekal : valvula ileosekalis mengalami invaginasi prolaps ke sekum dan menarik ileum di belakangnya.4 KLASIFIKASI Intususepsi dibedakan dalam 4 tipe : 1. (1. (10) Right-Hemicolectomy Specimen (External View) Showing the Ileocecal Intussusception. I denotes the terminal ileum. kadang mengandung mucus (red currant jelly-selai kismis merah).9. Valvula tersebut merupakan apex dari intususepsi. desenden. Kolokolika : kolon ke kolon. (39 %) 3. (1. Proses obstruksi usus sebenarnya sudah dimulai sejak invaginasi terjadi.7%) 10 . Enterik : usus halus ke usus halus(6.9) . (1. bahkan sampai & melewati anus pada kasus yang ditelantarkan. Tanda ini harus dibedakan dari prolaps rectum. gelisah sewaktu serangan dan sering disertai rangsangan muntah.(4.4) Puncak invaginasi dapat berjalan sampai ke kolon tranversum.10) Pada proses strangulasi tersirat oleh adanya rasa sakit & perdarahan per rectal.

menangis dan mengankat kaki (Craping pain).Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan . Muntah berupa minuman atau makanan yang masuk.9) Pada kasus-kasus yang khas. Mungkin beberapa hari sebelumnya terdapat peradangan saluran nafas bagian atas. Bayi tiba-tiba menangis seperti menahan rasa sakit untuk beberapa saat. Keadaan ini disebut sebagai “Dance’s Sign”.2. Beberapa jam kemudian (antara 6-8 jam setelah serangan pertama) bayi defekasi disertai darah segar dan lendir.(31. nyeri kolik hebat yang timbul mendadak.5%) II.2. lalu main atau tidur kembali.4.(1) Selanjutnya defekasi hanya darah dan lendir. pada pemeriksaan abdomen dapat teraba massa. terdapatnya masa yang teraba di perut • • • TRIAS INVAGINASI : • Anak mendadak kesakitan episodic. bila lanjut sakitnya kontinyu Muntah warna hijau (cairan lambung) Defekasi feses campur lendir (kerusakan mukosa) atau darah (lapisan dalam) à currant jelly stool • • Pemeriksaan Klinik Umumnya bayi dalam keadaan sehat. gizi baik.4. Bila massa teraba di kanan atau kiri atas maka perabaan pada abdomen kanan bawah terus kosong.10) Pemeriksaan colok dubur terdapat feses dengan darah segar serta lendir pada sarung tangan. Sering disertai rangsangan muntah. kemudian diam. 11 . Sementara gejala & tanda obstruksi belum tampak.5 DIAGNOSIS Tanda & Gejala : • serangan rasa sakit/kholik (Rasa sakit berhubungan dengan passase dari intususepsi). hilang timbul. Ileokoloika : ileum prolaps melalui valvula ileosekalis ke kolon. (1.(1.9.Obstruksi kolon : onset muntah lama) keluarnya darah melalui rektum. Muntah(Stenosis Pilorus : Encer dan asam .

 Barium enema akan menunjukkan defek pengisian atau bentuk seperti mangkuk di ujung barium. seperti abdomen yang membuncit dengan terlihat kontur & peristaltic usus.  Ultrasonografi sekarang juga mulai digunakan untuk menunjukkan kelainan invaginasi. Muntah sudah berwarna hijau. Sarung tangan hanya terdapat darah dan lendir. karena mengandung empedu atau sudah fekal. Children's Healthcare of Atlanta at Scottish Rite.emedicine. Barium enema juga dapat digunakan untuk terapi. Pemeriksaan Radiologi  Pada foto polos abdomen. tidak ada feses lagi. Kelly Marshall. karena alirannya tersumbat oleh invaginasi.(1) Caption:. Pic. Note intussusception in the left upper quadrant on this plain film of an infant with pain vomiting.Menjelang 24 jam sejak serangan sakit. Pemeriksaan colok dubur mungkin teraba ujung invaginatum. gejala obstruksi berjalan menahun & intususeptum dapat prolaps melalui anus. Pada anak yang menderita malnutrisi. gejala nyeri tidak hebat.Type X-RAY www. Pengeluaran cairan yang terus menerus akan menyebabkan dehidrasi yang bila tidak segera ditangani akan menyebabkan syok & mungkin kenaikan suhu tubuh. Courtesy of Dr. seperti perabaan pada portio yang dikenal sebagai pseudoportio. sumbatan oleh invaginatum dapat menunjukkan padatan di daerah invaginasi. usus yang tadinya tersumbat parsial dapat berubah menjadi sumbatan totalis.(2) Massa intra abdomen sulit teraba lagi.com (1) 12 .

A plain film of the abdomen (Panel A) disclosed multiple airfilled lucencies in the right upper quadrant that were suggestive of the presence of pneumatosis coli. Obat-obat penenang untuk penahan rasa sakit. 4. bila jelas telah tampak tanda-tanda obstruksi usus.2. Atau dilakukan tindakan reposisi bila tidak terdapat kontraindikasi. A computed tomographic scan revealed air within the wall of the ascending colon and the typical target lesion of a colonic intussusceptions (arrow in Panel B). (13) II. 5. Dasar pengobatan pada invaginasi ialah reposisi usus yang masuk ke lumen usus lainnya. Tindakan pertama yaitu: 1. Reposisi dapat dicapai dengan barium enema. (1. reposisi pneumostatik atau melalui pembedahan. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi & mencegah aspirasi. Tindakan perbaikan keadaan umum mutlak perlu dikerjakan sebelum melakukan tindakan apa pun. 2. 3. Reduksi hidrostatik 13 .3 REPOSISI HIDROSTATIK Kasus invaginasi masuk RS sebagai kasus gawat darurat. Hati-hati tanda dehidrasi kadang-kadang tidak jelas tampak karena bayi bergizi baik & malah sering gemuk. Rehidrasi. Setelah keadaan umum baik dilakukan tindakan pembedahan.9) a.

invaginasi rekuren 3. (1) Pemberian sedikit sedative yang cukup sebelum prosedur enema sangat banyak membantu berhasilnya reduksi hidrostatik ini. tekanan hidrostatik tidak boleh melewati 1 meter air dan tidak boleh dilakukan pengurutan atau penekanan manual di perut sewaktu dilakukan reposisis hidrostatik Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum terminalis. distensi abdomen yang berlebihan. Reposisi barium diikuti oleh X-ray. gejala invaginasi kurang dari 48 jam kontra indikasi:.(14) Indikasi: 1. Dengan tekanan hidrostatik sebesar ¾ . gejala invaginasi lebih dari 48 jam. barium didorong ke arah.1 meter air. Pada saat itu. 1.proksimal. norit yang diberikan per os akan keluar melalui dubur.Metode ini dengan cara memasukkan barium melalui anus menggunakan kateter dengan tekanan tertentu. Mula-mula tampak bayangan barium bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi. kurang lebih 75% berhasil mereduksi invaginasi. Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat terlihat coiled spring appearance. pasase usus kembali normal. Pertama kali keberhasilannya dikemukakan oleh Ladd tahun 1913 dan diulang keberhasilannya oleh Hirschprung tahun 1976. tidak dehidrasi 4. 2. peritonitis 14 . 4. tidak terdapat gejala & tanda rangsangan peritoneum 2. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa barium pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi Pada saat sekarang ini barium enema yang digunakan untuk prosedur diagnostic. tidak toksik juga tidak terdapat obstruksi tinggi 3.

o Sejak 1876. o Seiring dengan pemeriksaan zat kontras kembali dapat terlihat coiled spring appearance. Hanya sedikit kemungkinan terjadi 15 . pasase usus kembali normal. norit yang diberikan per os akan keluar melalui dubur. reposisi secara manual dan hasilnya langsung diketahui. o Bergantung pada keadaan penderita. Mula-mula tampak bayangan barium bergerak berbentuk cupping pada tempat invaginasi.html (15) pengelolaan o Masukan oral dihentikan. penderita diberi cairan intravena dan selanjutkan dilakukan reposisi usus. reposisi dilakukan dengan operasi atau barium enema.pennhealth.www. barium didorong ke arah proksimal. Pada operasi. Gambaran tersebut disebabkan oleh sisa-sisa barium pada haustra sepanjang bekas tempat invaginasi. Pada saat itu. o Reposisi barium diikuti oleh X-ray.com/intestobstruct_2. Dengan tekanan hidrostatik sebesar 3/4 meter air. barium enema sudah dipergunakan untuk pengobatan invaginasi dan hasilnya memuaskan. o Pengobatan dianggap berhasil bila barium sudah mencapai ileum terminalis.

misalnya pada umur kurang 3 bulan dan invaginasi ileo-ileal. o Dengan kelebihan yang disebut tadi. peritonitis dan tanda-tanda obstruksi. mengalami gejala berkepanjangan atau ditemukan sudah lanjut yang ditandai dengan distensi abdomen. feces berdarah. dikerjakan operasi tanpa barium enema(3). Survival rate 55%. o Usus yang mengalami invaginasi nampak kebiruan.perforasi walaupun usus telah mengalami gangren. o Demikian pula lamanya perawatan pada reposisi barium lebih pendek daripada operasi. angka lekosit.4 REDUKSI MANUAL (MILKING) DAN RESEKSI USUS Pasien dengan keadaan tidak stabil. pasien segera dipersiapkan untuk suatu operasi Laparotomi dengan incisi transversal interspina Jika ditemukan kelainan telah mengalami nekrose. di Skandinavia reposisi barium lebih banyak digunakan. Invaginasi berulang 11% setelah reposisi barium dan 3% pada operasi tanpa reseksi usus. o Demikian pula pada kasus-kasus relapse. Keadaan ini biasanya pada invaginasi yang sudah berlangsung 48 jam. didapatkan peningkatan suhu. 16 . Pada perawatan ke2x. Bayangan kontras dalam bentuk cupping tidak mencapai ileum terminalis sehingga memerlukan operasi. o Operasi dini tanpa terapi barium dikerjakan bila terjadi perforasi. masing-masing 81% pada umur kurang 1 tahun dan 15% pada usia kurang 3 bulan. sehingga lebih mudah terjadi ruptur usus. Sebaliknya dengan reduksi manual pada operasi ternyata lebih bersifat traumatik. Bisanya reseksi dilakukan jika aliran darah tidak pulih kembali setelah dihangatkan dengan larutan fisiologik. reduksi tidak perlu dikerjakan dan reseksi segera dilakukan (Ellis. gangguan sistema usus yang berat sampai timbul shock atau peritonitis. III. o Kadang-kadang reposisi barium tidak berhasil. asal tekanan hidrostatik tidak melebihi 1 meter. 1990).

pendapat lainnya pada sisi proksimal minimum 30 cm dari lesi. Biasanya dengan pemberian cairan sejumlah 50% dari kebutuhan ( untuk koreksi & kebutuhan normal). Pembedahan sudah dapat dilakukan kalau perfusi jaringan sudah cukup yang dapat diukur secara klinis dari produksi urin. 17 .Penanganan Lain: 1. dan paling utama kesadaran yang baik. turgor kulit membaik. yaitu 0. Bayi baru dapat dibius dan dioperasi bila kita sudah yakin perfusi darah ke jaringan sudah baik. Durante Operatif reseksi anastosmose segmen usus yang terlibat dengan memastikan lead pointnya Batas reseksi pada umumnya adalah 10cm dari tepi – tepi segmen usus yang terlibat. Operasi tidak akan dilakukan pada keadaan umum bayi yang jelek. dan hal ini akan mengakibatkan oksigenasi jaringan yang buruk. Kalau proses penyakit diduga sudah lebih dari 24 jam atau bayi menderita demam maka diharuskan pemberian antibiotik berspektrum luas. Pembedahan dan anestesi yang dikerjakan pada waktu perfusi jaringan tidak memadai akan menyebabkan tertimbunnya hasil-hasil metabolisme yang seharusnya dikeluarkan dari tubuh. perfusi jaringan sudah dapat dicapai. nadi kurang dari 120 kali per menit. Pre-operatif Penanganan intususepsi pada dewasa secara umum sama seperti penangan pada kasus obstruksi usus lainnya yaitu perbaikan keadaan umum seperti rehidrasi dan koreksi elektrolit bila sudah terjadi defisit elektrolit 2. yang dapat berakibat kerusakan sel yang irreversible. kemudian dilakukan anastosmose end to end atau side to side. dan bila menyangkut organ vital akan menyebabkan kematian. Akral yang tadinya dingin jadi hangat kembali. Kriteria lainnya adalah suhu tubuh kurang dari 38ºC.5 – 1 ml/kgBB/jam melalui kateter. pernapasan tidak lebih dari 40 kali/ menit.

tindakan selanjutnya tergantung pada temuan yang ada.Sewaktu operasi akan dicoba reposisi manual dengan mendorong invaginatum dari anal kearah sudut ileo-sekal. Pasca Operasi • • • • Hindari Dehidrasi Pertahankan stabilitas elektrolit Pengawasan akan inflamasi dan infeksi Pemberian analgetika yang tidak mempunyai efek menggangu motilitas usus 18 . danbanyak bagian dari usus itu yang harus diangkat. dorongan dilakukan dengan hatihati tanpa tarikan dari bagian proximal. Jangan sekali-kali menarik bagian usus yang masuk ke dalam usus lainnya. Apabila terdapat kerusakan usus yang cukup luas. harus colostomy supaya proses digestive tetap berjalan. tetapi diperas dari pihak lainnya. Reposisi dikerjakan secara manual diperas seperti memeras susu sapi yang disebut milking. Reposisi dengan pembedahan dicapai melalui laparatomi. Maka pada kasus ini tidak dapat dilakukan anastomosis end to end. dikerjakan secara halus dan perlahan dengan sabar. kemudian anastomosa end to end. Pada penderita yang berhasil dengan cara milking umumnya sudah dapat meninggalkan rumah sakit pada hari ke-4 dan ke-5 pascabedah. (16) Kalau ditemukan penyebab yang menjadi factor pencetus seperti divertikulum atau duplikasi maka perlu dilakukan reseksi. Kalau kita berhasil dengan milking. dan diselingi dengan istirahat beberapa waktu untuk memberi kesempatan agar aliran darah balik yang mengurangi edema sehingga mempermudah usaha milking selanjutnya. Kalau terjadi kebocoran usus sebelum atau sesudah milking maka dilakukan dengan reseksi usus. 3. maka sebagian besar pakar tidak melakukan fiksasi sekum. Setelah dinding perut dibuka.

Akan tampak gambaran cupping dan coiled spring yang menghilang bersamaan dengan terisinya ileum oleh barium. bayi sudah bisa minum dan bisa pulang dalam beberapa hari. dengan menggunakan kateter melalui anus dengan tekanan tertentu. sehingga perlu dilakukan pembedahan darurat 19 . diharapkan dapat memperbaiki keadaan colon yang mengalami intussusepsi. terdapat metode udara enema. Jika metode ini tidak berhasil perlu dilakukan operasi. Reduksi dengan barium enema hanya dilakukan bila tidak ada distensi yang hebat. tanda peritonitis. Jika metode ini berhasil. Selain barium enema. Reduksi dengan barium enema dikatakan berhasil bila barium cukup jauh mengisi ileum atau tampak jendela kolon. Invaginasi cenderung menyumbat usus dan menghentikan aliran darah ke usus. cara kerja kedua metode ini sama. dan demam tinggi.BAB III KESIMPULAN Penggunaan barium enema pada penatalaksanaan penyakit invaginasi dengan menggunakan prinsip hidrostatik sudah digunakan semenjak tahun 1876.

Cetakan II 1994.edu/healthinfo/pediatric/digestive/intussus. Sylvia A. 1985 4.26_2005. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2010 14. 2.html.Jr. S. Soelarto Reksoprodjo editor ketua.S Dr. Buku I. http://www.M..L. Robbins.emedicinehealth. STAF PENGAJAR ILMU KESEHATAN MASYARAKAT.nejm.. M. Arvin.html. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. http://www. V. Gastroenterologi Anak Praktis.html 16.pedisurg.1995.D. Kliegman. http://www.drhull. Sabiston.org/DiseaseHealthInfo/HealthLibrary/digest/intussus. hal : 846 – 850.com/procedures/intussusception 13. http://www. 15.lpch.pennhealth. (eds). July 15. Wilson.com/intestobstrucy_3. 4.P. Cipto Mangunkusumo. Penerbit Binarupa Aksara. 2003 12. 1994. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Behrman. 10.2000. April. http://www.utah.htm. Edisi Revisi.com/intestinal_obstruction. Cetakan I 1997. Price. 7. ILMU KESEHATAN ANAK. Penerbit Buku Kedokteran EGC. hal : 119 – 121. Buku Ajar Ilmu Bedah.uuhsc. hal : 269-273. hal : 435-458 5. Jilid 2. Cetakan I 2006. Balai Penerbit FKUI 1998. Copyrigh 2006.Sjamsuhidajat.copyright. http://www. Lorraine M. Adrianto. hal : 421 -423. 8.asp_october. Ilmu Bedah Anak. Penerbit Buku Kedokteran EGC 3. http://www. http://www.. NELSON Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15.com/encymaster/intussusception. Cetakan I 1995. Traktus Gastrointestinal dalam Buku Ajar Patologi II. dan Kumar.C. 20 . Suharyono.htm. R. JAKARTA: ILMU KESEHATAN ANAK FAKULTAS KEDOKTERAN UI. Aswitha Boediarso.DAFTAR PUSTAKA 1.D. Penerbit Buku Kedokteran EGC. EM Halimun.yoursurgery.com/includes/basicsearch. ed. 11. Buku Ajar Bedah. Dr. Edisi 6.1999 6. Wim de Jong. D.org on March 11. FKUI Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/R. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. hal 281-293 9.

21 .