B.

PROSES MIGRASI PERADABAN AWAL MASYARAKAT TERHADAP PERADABAN INDONESIA BAB II

DI

DUNIA

YANG

BERPENGARUH

A. Proses Migrasi Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu ke Kawasan Asia Teggara dan Indonesia Menurut pendapat para ahli, pada periode 40.000 tahun yang lalu jenis manusia purba Meganthropus, Pithecanthropus dan jenis Homo telah mengalami kepunahan. Penghuni kepulauan Indonesia kemudian bergeser ke manusia-manusia migran yang datang dari berbagai wilayah di Asia dan Australia. Proses migrasi awal menunjukkan bahwa populasipopulasi kepulauan Indonesia berasal dari bangsa Australo-Melanesia (Australoid) dan Mongoloid (atau lebih khusus lagi adalah Mongoloid Selatan). Setelah itu datang lagi gelombang migrasi kedua yaitu bangsa Austronesia (Melayu/Proto Melayu/Melayu Tua) yang berasal dari Yunan (wilayah di propinsi Cina bagian Selatan). Migrasi mereka sendiri ke kepulauan Indonesia berlangsung dalam dua gelombang. Periode gelombang pertama terjadi pada sekitar tahun 1500 SM, melalui dua jalur utama. Jalur pertama dari Yunan melewati Siam, Malaya dan Sumatera (jalur Barat dan Selatan). Jalur kedua dari Yunan, Vietnam, Filipina kemudian masuk ke Indonesia melalui wilayah Sulawesi (jalur Timur dan Utara). Dalam proses persebarannya mereka membawa kebudayaan neolitikum dari pusatnya di Basson-Hoabinh, yang diantaranya adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Tua atau Proto Melayu misalnya suku Toraja dan Dayak. Migrasi periode kedua dari bangsa Malayu (Deutro Melayu/Melayu Muda) terjadi pada sekitar tahun 500 SM. Proses persebarannya melalui jalur daratan Asia kemudian Semenanjung Malaya dan masuk ke Indonesia melalui Sumatera. Kedatangan bangsa ini sambil membawa pengaruh budaya logam dari Dongson, seperti nekara, moko, dan kapak perunggu. Suku bangsa Indonesia sekarang yang termasuk keturunan bangsa Melayu Muda atau Deutero Melayu misalnya suku Jawa, Melayu, dan Bugis. B. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn / Bacson, dan Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia 1. Pengaruh Budaya Hoa-Bihn Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Budaya Hoabihn merupakan diantara budaya besar yang memiliki situs-situs temuan di seluruh daratan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Budaya Hoabihn ini berkembang di Asia Tenggara dalam kurun waktu antara 18.000 hingga 3.000-an tahun yang lalu. Istilah “Hoabihn” sendiri mulai dipakai sejak tahun 1920-an untuk menyebut pada suatu industri alat batu yang berasal dari jenis batu kerakal dengan ciri khas berupa pangkasan pada satu atau dua sisi permukaannya. Manusia pemilik budaya Hoabihn diperkirakan hidup pada kala Holosen. Pendahulu Hoabinhian awalnya berada di Vietnam bagian Utara, Thailand bagian Selatan dan Malaysia. Pengaruh utama budaya Hoabihn terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah berkaitan dengan tradisi pembuatan alat terbuat dari batu. Beberapa ciri pokok budaya Hoabihn ini antara lain: • Pembuatan alat kelengkapan hidup manusia yang terbuat dari batu • Batu yang dipakai untuk alat umumnya berasal dari batu kerakal sungai.

dimana budaya Dongson berkembang. segi empat. sabit. Bersama dengan wilayah Muangthai (bagian tengah dan Timur Laut) kawasan ini memiliki bukti paling awal tentang tradisi pembuatan perunggu di Asia Tenggara. kail dan aneka bentuk gelang. Nekara dari pulau Selayar bergambar gajah dan burung merak. Dibandingkan dengan budaya Hoabihn yang sesungguhnya.• Alat batu ini telah dikerjakan dengan teknik penyerpihan menyeluruh pada satu atau dua sisi batu. terutama adalah perunggu. Jenis-jenis barang perunggu yang mereka hasilkan antara lain kapak corong (corong merupakan pangkal yang berongga untuk memasukkan tangkai atau pegangannya). Nekara dari Kepulauan Kai berhiaskan gambar kijang dan adegan perburuan macan. dengan pola-pola hiasan yang tidak terpadu berupa gambar prajurit dan motif perahu. Tradisi pembuatan barang budaya dari perunggu di Vietnam (bagian Utara) sendiri dimulai pada sekitar pertengahan milenium kedua sebelum masehi. dekat Sumbawa. Contohnya adalah nekara Heger tipe I. Hal ini lebih dikarenakan letaknya yang lebih dekat dengan tempat asal budaya ini. pembuatan alat batu yang ditemukan di Sumatra ini dibuat dengan teknologi lebih sederhana. Ditinjau dari segi perekonomiannya. tepatnya sekitar 130 km antara Lhokseumawe dan Medan. Awalnya lembaran lilin ditempelkan pada inti tanah liat . sejarawan Bernet Kempers memberi gambaran tentang penggunaan teknik cetaknya. Tentang cara pembuatan jenis nekara itu. Paling tidak ada sekitar 56 nekara atau bagian-bagian dari nekara yang tersebar di pulau Jawa. 2. dan kehadiran benda-benda besi untuk yang pertama kalinya. pendukung budaya Hoabihn lebih menekankan pada aktivitas perburuan dan mengumpulkan makanan di daerah sekitar pantai dan daerah pedalaman. • Hasil penyerpihan menunjukkan adanya keragaman bentuk. Kebanyakan alat-alat batu tersebut ditemukan diantara atau terdapat dalam bukit sampah kerang. di wilayah. Sebagian besar alat batu yang ditemukan adalah alat batu kerakal yang diserpih pada satu sisi dengan bentuk lonjong atau bulat telur. Pada tahun sekitar 300 SM. Ada yang berbentuk lonjong. Diantara contoh nekara yang penting dari Indonesia adalah nekara “Makalamau” dari pulau Sangeang. dan benda-benda kecil lainnya seperti pisau. Nekara dari Bali memiliki empat patung katak pada bagian bidang pukulnya. Pengaruh Budaya Dongson Terhadap Perkembangan Budaya Masyarakat Awal Kepulauan Indonesia Pengaruh kuat budaya Dongson terhadap perkembangan budaya masyarakat awal kepulauan Indonesia adalah dalam hal pembuatan barang dari logam. segi tiga dan beberapa diantaranya ada yang berbentuk berpinggang. Tradisi perunggu itu sendiri menurut para arkeolog Vietnam berasal dari budaya masyarakat Dong Dau dan Go Mun. Nekara “Makalamau” memiliki hiasan berupa gambar orang yang berpakaian seragam menyerupai pakaian jaman dinasti Han di Cina atau Kushan (India Utara) atau Satavahana (India Tengah). mulai muncul tradisi pembuatan nekara perunggu. Nekara dari Bali mempunyai gambaran bentuk yang berbeda. Semua itu menunjukkan kesamaan dengan nekara-nekara yang ditemukan di Vietnam. Pengaruh budaya Hoabihn di Kepulauan Indonesia sebagian besar terdapat di daerah Sumatra. mata panah. Banyak sekali daerah-daerah di kepulauan Indonesia darinya ditemukan benda-benada budaya yang memiliki kesamaan corak dengan benda-benda atau barang tradisi Dongson. Tradisi-tradisi Dongson inilah yang berpengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan masyarakat awal kelupauan Indonesia secara umum. ujung tombak. penguburan orang yang memiliki status sosial tinggi. Sumatra dan Maluku Selatan. Situs-situs Hoabihn di Sumatra secara khusus banyak ditemukan di daerah pedalaman pantai Timur Laut Sumatra.

lalu dihias dengan cap-cap dari tanah liat atau batu yang berhias perahu. Situs-situs Peninggalan Budaya Perunggu di Indonesia Situs-situs peninggalan budaya perunggu di Indonesia. yang disebut dengan Moko atau Mako. Budaya Logam di Indonesia 1. Setelah itu dibakar sehingga lilinya meleleh keluar. Kemudian lembaran lilin berhias tadi ditutup dengan tanah liat yang berfungsi sebagai cetakan bagian luar setelah terlebih dulu diberi paku-paku yang berfungsi untuk menyatukan cetakan luar dan dalam. Selain di Sumatra situs-situs ditemukannya peninggalan budaya perunggu di Indonesia antara lain terdapat di: • Jawa Timur (daerah Lumajang) berupa nekara tipe Heger I. Disamping dibawa sendiri oleh orang-orang Dongson. Sama seperti penemuan di Sumatra. cincin. Sebuah nekara biasanya dihiasi dengan berbagai ornamentasi dengan pola seperti geometrik. cincin dan gelang-gelang. besi dan perunggu kemungkinan besar dikenal dalam waktu yang bersamaan. Nekara adalah benda yang terbuat dari perunggu dengan bentuk seperti gendang (alat musik tabuh tradisional Jawa). Daerah asal kebudayaan ini adalah di Indo-Cina. mata tombak. dan manik-manik. berupa kapak corong. bagian tengah yang berbentuk silinder dan bagian bawah atau bagian kaki yang melebar. orang dan lainna. tipe Heger dan Pejeng adalah yang paling terkenal. Di Sumatra bagian Selatan (daerah Bangkinang dan Kerinci) ditemukan bendabenda perunggu berupa aneka patung dalam ukuran kecil. 2. Gelanggelang tersebut kebanyakan ditemukan dalam kubur peti batu atau sarkofagus sebagai bekal kubur. Pada periode ini manusia telah mampu membuat alat-alat penunjang kehidupan mereka dari perunggu. pahatan. dekat Wonosari) berupa kapak. Dan diantara jenis nekara yang ditemukan. Masuk ke . • Jawa Tengah (daerah Gunung Kidul. Bernet Kempers menyebutnya sebagai teknik cetak cire perdue (lilin hilang). diantara benda-benda perunggu yang paling menarik perhatian adalah nekara. semua temuan benda perunggu di Jawa ditemukan di dlam kubur peti batu atau sarkofagus dan berfungsi sebagai bekal kubur bagi yang meninggal. cincin perunggu. Terdapat juga jenis nekara yang ukurannya lebih kecil. pisau bertangkai. Rongga yang ditinggalkan oleh lilin kemudian diisi dengan cairan logam. banyak barang-barang logam dari tradisi Dongson itu yang dikirim ke Indonesia sebagai barang hadiah yang diberikan pada penguasa setempat sebagai lambang martabat raja dan kekuasaannya oleh para penguasa politik dan agama di Vietnam. Teknik Pembuatan Berbagai Benda Peninggalan Perunggu di Indonesia Pada periode tradisi pengecoran logam. C. gambar-gambar manusia dan binatang dan berbagai ornamentasi lainnya.(menerupai bentuk nekara dan berfungsi sebagai cetakan bagian dalam). • Jawa Barat. • Bali (daerah Pacung dekat Sembiran) berupa nekara Pejeng • NTT berupa nekara bertipe Heger I Di Indonesia. kapak-kapak yang berkaitan dengan benda upacara (candrasa) • Sulawesi Selatan (Makasar) berupa bejana perunggu berbentuk pipih. tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. pisau belati atau pisau pendek dengan mata pisau dari besi dan pegangan dari perunggu. yaitu bagian atas yang yang terdiri dari bidang pukul datar. Terdiri dari tiga bagian. Akibat terjadinya pengenalan benda dan teknologi perunggu dari Dongson (Vietnam) ke wilayah kepulauan Indonesia menyebabkan di beberapa daerah kemudian muncul pusat-pusat pembuatan logam.

arca dan perhiasan. jenis kapak. teknik bivalve Teknik cetakan ini menggunakan dua cetakan dengan bentuk sesuai benda yang diinginkan yang dapat ditangkupkan. Situssitus ditemukannya peninggalan perunggu meliputi Jawa. gelang-gelang besi dan sebagainya. Kebanyakan benda-benda besi ini ditemukan dalam kubur batu atau kubur langsung sebagai benda bekal kubur. Disamping perunggu dan besi. teknik cetakan lilin Teknik cetakan lilin menggunakan bentuk bendanya yang terlebih dahulu dibuat dari lilin yang berisis tanah liat sebagai intinya. tajak. cetakan dipecah untuk mengambil bendanya yang sudah jadi. Bentuk lilin dihias menurut keperluan dengan berbagai pola hias. Besuki. . Cetakan seperti ini hanya dapat digunakan sekali saja. Situs-situs Peninggalan Budaya Besi di Indonesia Berbeda dengan benda perunggu. Disamping tradisi pembuatan alat-alat perunggu manusia pada periode ini sudah mampu melebur bijih-bijih besi dalam bentuk alat-alat yang sesuai dengan keinginan dan kegunaannya. bejana. Dari lubang bagian atas kemudian dituangkan cairan perunggu dan dari lubang di bawah mengalir lelehan lilin.Indonesia pada sekitar tahun 500 SM. Di Indonesia. Teknik pertama adalah yang dikenal dengan teknik setangkup atau bivalve. Bentuk lilin yang sudah lengkap kemudian dibungkus dengan tanah liat. Tuban. senjata. Madiun dan Pacitan (semuanya ada di Jawa Timur). Bila sudah dingin. Pertama. cetakan baru dibuka. Diantara situs-situs ditemukannya benda-benda besi ini antara lain adalah di Wonosari (tepatnya dalam peti kubur batu di daerah Gunung Kidul. Cetakan diberi lubang pada bagian atasnya dan dari lubang tersebut kemudian dituangkan cairan logam. dan teknik kedua adalah teknik cetakan lilin (a cire perdue). mata tombak. 3. Selayar. benda-benda hasil peninggalan zaman perunggu diantaranya adalah nekara. Bali. Ada dua teknik pembuatan barang-barang dari perunggu. Luang. mata sabit yang berbentuk melingkar. Kedua. Jawa Tengah). Roti dan Leti. penemuan benda besi di Indonesia sangat terbatas jumlahnya. Benda-benda besi yang banyak ditemukan di Indonesia antara lain berupa mata kapak. Pada bagian atas dan bawah diberi lubang. emas juga telah dimanfaatkan utamanya untuk membuat perhiasan dan benda-benda persembahan kubur. berbagai jenis pisau dalam berbagai ukuran. Bila cairan perunggu yang dituang sudah dingin.

Pembekuan dan pencairan permukaan air laut pada jaman glassial-interglassial terjadi hanya di wilayah Utara dan Selatan bumi. Di awali dengan temuan spektakuler fosil atap tengkorak (cranial) dan tulang paha (femur) manusia di bantaran Sungai Bengawan Solo (Jawa) pada tahun 1891-1892 oleh Eugene Dubois. melakukan migrasi ke kawasan yang memungkinkan masih menyediakan berbagai sumber makanan. asumsi Heakle dan Huxley terbukti dengan banyak ditemukannya situs-situs prasejarah tempat ditemukannya fosil manusia purba di Asia dan Afrika. banyak para ahli yang melakukan penelitian mengenai manusia purba dan menemukan fragmen-fragmen fosil manusia purba lainnya serta sisa-sisa kebudayaannya di Indonesia. pada saat terjadi fluktuasi jaman glassial-interglassial di muka bumi pada periode pleistocen telah mengakibatkan terjadikan ketidakseimbangan ekosistem. logika yang berkaitan dengan asumsi Heakle dan Huxley adalah manusia purba yang hidup di luar kawasan katulistiwa dan terancam kepunahan akibat ketidakseimbangan ekosistem pada jaman glassial-interglassial. hanya terjadi penaikan dan penurunan tinggi permukaan air laut dengan iklim kering dan lembab). Terjadi kepunahan pada beberapa spesies makhluk hidup di sebagian wilayah muka bumi yang merupakan sumber makanan bagi makhluk hidup yang lain.Manusia purba merupakan terminologi yang digunakan untuk manusia yang hidup pada masa lampau dan dibuktikan dengan temuan-temuan fosil tulang manusia di situs-situs prasejarah. Seiring dengan perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology. Asia memiliki situs-situs manusia purba . Sementara di kawasan garis katulistiwa terjadi pluvial-interpluvial (tidak mengalami pembekuan dan pencairan permukaan air laut. Asumsi itu berdasarkan pemahaman bahwa. Ernest Heakle dan Thomas Huxley berasumsi. Semenjak berita temuan tersebut dipublikasikan dengan nama spesies Pithecanthropus erectus (manusia kera yang berjalan tegak). Dengan demikian. Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan temuan-temuan fosil manusia purba. Berdasarkan penelitaian yang dilakukan mulai akhir abad XIX hingga XX. jika ingin mencari fosil manusia purba maka pergilah ke kawasan katulistiwa (Heakle menyarankan ke Asia. Migrasi yang dilakukan adalah melakukan perjalanan ke wilayah katulistiwa. Kondisi yang demikian mengakibatkan kawasan katulistiwa tetap mampu menjadi tempat hidup bagi spesies flora dan fauna. Huxley menyarankan ke Afrika). sehingga yang tidak mampu bertahan akan musnah dengan sendirinya. seorang dokter tentara pemerintah kolonial Belanda yang tertarik dengan kajian palaeoanthropology di Indonesia.

dan Danau Turkana (Kenya). Terletak di wilayah administrasi Kabupaten Sragen Provinsi Jawa Tengah. Aliran Sungai Cemoro yang melintasi wilayah tersebut juga mengakibatkan terkikisnya kubah Sangiran menjadi lembah yang besar yang dikelilingi oleh tebing-tebing terjal dan pinggiran-pinggiran yang landai. situs Sangiran. Pada tahun 1934 penelitian yang dilakukan oleh G. dan lapisan Ngandong. Berdasarkan penelitian geologis. Beberapa aktifitas alam di atas mengakibatkan tersingkapnya lapisan tanah/formasi periode pleistocen yang susunannya terbentuk pada tingkat-tingkat pleistocen bawah (lapisan Pucangan). situs Sangiran merupakan kawasan yang tersingkap lapisan tanahnya akibat proses orogenesa (pengangkatan dan penurunan permukaan tanah) dan kekuatan getaran di bawah permukaan bumi (endogen) maupun di atas permukaan bumi (eksogen). von Koenigswald yang menemukan beberapa alat sepih yang terbuat dari batu kalsedon di atas bukit Ngebung. dan Gua Kepah (Malaysia).H. Teknologi Periode Geologi Atas Palaeolithi c Pleistocen Tengah Bawah Lapisan Temuan Fosil Manusia Fauna Notopuro Kabuh Pucangan Ngandong Trinil Jetis Secara umum situs-situs arkeologi diklasifikasikan menjadi dua jenis. pleistocen tengah (lapisan Kabuh). Situs Sangiran Dome Bentang lahan situs tersebut meliputi areal seluas ± 48 km2 yang berbentuk seolah seperti kubah (dome). Bantaran Sungai Omo (Ethiopia). Sangiran berada ± 15 km ke arah Utara kota Surakarta. yaitu situs hominid (ciri-ciri banyak ditemukan fosil manusia dan fauna) dan situs artefak (ciri-ciri banyak ditemukan perkakas atau hasil budaya fisik manusia masa lampau). Gua Tabon (Filipina). sehingga situs tersebut dinamakan dengan Sangiran Dome. Di Indonesia. lapisan Trinil. arah Baratlaut Sangiran Dome. situs Trinil. Situs Sangiran merupakan salah satu situs manusia purba yang sangat berperan penting dalam perkembangan penelitian di bidang palaeoanthropology di Indonesia. Pacitan (Indonesia).antara lain Sangiran. dan situs Kedungbrubus adalah contoh beberapa .R. Fosil-fosil manusia purba yang ditemukan di laipsan-lapisan tersebut berasosiasi dengan fosil-fosil fauna yang setara dengan lapisan Jetis. Afrika memiliki situs-situs manusia purba antara lain Olduvai Gorge (Tanzania). dan pleistocen atas (lapisan Notopuro). Konversi tingkatan lapisan tanah/formasi periode situs Sangiran menurut von Koenigswald dapat digambarkan sebagai berikut.

. dan Cabenge adalah contoh beberapa situs atrtefak. Bila dibandingkan dengan situs-situs hominid lainnya di Indonesia seperti situs Tirinil. Mereka membuat pangkalan (station) dalam aktifitas perburuan untuk m. Keberadaanya di wilayah katulistiwa. fauna. semak belukar. Indikasi suatu situs sebagai tempat hunian dan ruang subsistensi adalah temuan fosil manusia purba. Tanzania (Afrika). situs Ngandong.8 .0. Dengan demikian kawasan sangiran pada kala pleistocen menjadi tempat hunian dan ruang subsistensi bagi manusia pada masa itu. situs Kali Ogan. Pilihan situs Sangiran dome sebagai pangkalan aktifitas perburuan mengingatkan kita dengan living floor (lantai hidup) atau old camp site di lembah Olduvai. dan artefak perkakas yang ditemukan saling berasosiasi.endapatkan sumber kebutuhan hidupnya.7 . Temuan-temuan fosil tersebut berada pada lapisan Pucngan. Pithecanthropus classic ditemukan di lapisan Kabuh (pleistocen tengah) berumur ± 0. Tempat-tempat terbuka seperti padang rumput. mulai tahun 1936-1978 telah dilakukan penelitian tentang manusia purba di situs Sangiran dome dan berhasil menemukan fragmen-fragmen fosil manusia purba yang diberi kode penomoran S1a . A.0. Sangiran Dome Sebagai Tempat Hunian dan Ruang Subsistensi Manusia Purba Diperkirakan situs Sangiran pada masa lampu merupakan kawasan subur tempat sumber makanan bagi ekosistem kehidupan. Keseluruhan temuan spesies tersebut secara garis besar berdasarkan karakter fisik dibedakan menjadi tiga.situs hominid.S28. situs Kedungbrubus. sedangkan situs Kali Baksoka. hambir 60% temuan fragmen fosil manusia purba di Indonesia ditemukan di situs Sangiran. situs Sangiran merupakan situs hominid terbesar berdasarkan jumlah temuannya. lapisan Kabuh. Jenis spesies manusia purba yang ditemukan di Sangiran disamakan dengan jenis Pithecanthropus. dan situs Wajak. dan lapisan Notopuro. Temuan Fosil Manusia Purba dan Fauna di Situs Sangiran Dome Sejak ditemukannya Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois. Bisa dikatakan bahwa. yaitu:   Pithecanthropus archaic ditemukan di lapisan Pucangan (pleistocen bawah) berumur ± 1. hutan kecil dekat sungai atau danau menjadi pilihan sebagai tempat hunian manusia pada kala pleistocen. pada jaman fluktuasi jaman glassial-interglassial menjadi tempat tujuan migrasi manusia purba untuk mendapatkan sumber penghidupan.8 juta tahun yang lalu.4 juta tahun yang lalu.

felis tigris. Bukti adanya migrasi fauna tersebut. dan bubalus palaeokarabau (sejenis banteng). rhinoceros sondaicus (sejenis kuda). cervus janvanicus (sejenis rusa). Penelitian tersebut tidak satupun menemukan fosil manusia purba. dan epimachairodus (sejenis harimau). dan bubalus palaeokarabau (sejenis banteng). Selenka melakukan ekskavasi di tempat penemuan species Pithecanthropus erectus oleh Eugene Dubois. cervus hippelaphus (sejenis rusa). Namun dalam penelitian lanjutan pada tahun 1938 yang dilakukan Teihard de Cardin. stegodon trigonocephalus (gajah) dan epimachairodus zwierzykii (sejenis harimau). dan stegodon (gajah). Jenis-jenis hewan yang diperkirakan pernah hidup di masing-masing lapisan antara lain adalah:  Lapisan Jetis ditemukan fragmen fosil leptobos (lembu purba). Pada tahun 1907-1908 L. Jenis-jenis fauna yang ditemukan di situs Sangiran Dome berasal dari migrasi fauna Asia daratan ke Indonesia yang terjadi pada jaman glassial-interglassial melalui “jembatan darat” dataran Sunda. hippopotamus namadicus (kuda nil). cervus hippelaphus.1 juta tahun yang lalu. dan Hallam L. dan “Siva-Malaya” (karakter fauna yang hidup di India dan Semenanjuung Malaya) misalnya leptobos (lembu purba).R.H. gibbon. Helmut de Terra. B. Temuan perkakas di Situs Sangiran Dome Perkakas batu yang ditemukan di situs Sangiran Dome berupa alat-alat serpih bilah (flakes). cervus zwaani (sejenis rusa). beruang Malaya. Movius mengindikasikan temuan-temuan serpih bilah yang terletak di lapisan Notopuro (pleistocen atas) di atas endapan lapisan Kabuh. felis palaeojavanica (sejenis harimau). felis palaeojavanica (sejenis harimau). yaitu ditemukannya fosil-fosil hewan pada lapisan Jetis dan lapisan Trinil yang mempunyai karakter “Sino-Malaya” (karakter fauna yang hidup di Cina dan Semenanjuung Malaya) misalnya wauwau.4 . von Koenigswald pada tahun 1934 diasumsikan terletak pada lapisan Kabuh (pleistocen tengah).  Lapisan Ngandong ditemukan fragmen fosil stegodon trigonocephalus (gajah). tetapi justru banyak menemukan fosil-fosil berbagai fauna. Penemuan serpih bilah pertama kali oleh G.  Lapisan Trinil ditemukan fragmen fosil stegodon trigonocephalus (gajah). hippopotamus (kuda nil). Pithecanthropus progressive ditemukan di lapisan Notopuro (pleistocen atas) berumur ± 0. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Tim Puslit Arkenas(Indonesia) bekerja sama dengan Museum National d’Histoire Naturelle (Perancis) berhasil menemukan konsentrasi .0.

kapak pembelah. kapak penetak. Penelitian mereka didorong oleh penemuan peralatan batu terbesar di dasar danau. Mereka telah mendokumentasikan ribuan peralatan batu dari dasar danau. Professor David Thomas pimpinan dari School of Geography and the Environment di universitas Oxford mengatakan: banyak peralatan yang ditemukan dari dasar danau yang mengering. namun bukan di pinggirannya yang mengasumsikan bahwa hanya menarik bagi manusia saat masih dipenuhi air. Afrika memberikan informasi tentang kemungkinan rute migrasi dan praktek perburuan manusia purba periode zaman batu pertengahan dan akhir. Peneliti dari universitas Oxford menemukan bukti baru dari sebuah lembah danau di Botswana. Peneliti dari school of Geography and Eniroment di Universitas Oxford meneliti lembah sungai yang sekarang mengering di danau Makgadikgadi di gurun Kalahari. Banyak arkeolog yakin jika danau di gurun Sahara.serpih bilah pada lapisan Grenzbank (lapisan konglomerat yang membatasi lapisan Pucangan dan lapisan Kabuh). Yang sama menakjubkannya adalah dasar danau yang mengering tersebut merupakan tempat yang sama dengan ditemukannya ribuan peralatan dan serpihan zaman batu lainnya. Yang mengherankan adalah kami menemukan artefak dari zaman batu pertengahan tersebar di areal luas dari danau. Penelitian yang semakin intensif dilakukan di situs Sangiran Dome berhasil menemukan perkakas lain selain serpih bilah. penemuan keempat belum dilaporkan secara ilmiah sampai sekarang. sekitar 150 ribu dan 10 ribu tahun yang lalu. Empat kapak batu besar berukuran panjang 30 centimeter dan tidak diketahui usianya ditemukan di kolam danau. Daerah tersebut dalam periode tertentu pernah kering dan menjadi lebih berair. Afrika Utara punya peranan penting dalam teori ekspansi manusia keluar dari Afrika. yang membuka bagaimana manusia di Afrika beradptasi terhadap beberapa perubahan iklim di periode yang bertepatan dengan zaman es terakhir di Eropa. Walaupun penemuan pertama terjadi pada tahun 90an. yang memiliki luas 66 ribu kilometer persegi atau seluas danau Victoria pada saat ini. Professor Thomas mengatakan kondisi alam dari selatan Afrika biasanya tidak terlihat oleh arkeologi. kapak perimbas. Penelitian baru ini merupakan yang pertama kali menjadi fokus penelitian ilmiah di danau . antara lain polyedric (bola batu) dalam jumlah besar. dan perkutor yang ‘sophisticated’.

Professor Thomas dan Dr Burrough merencanakan penelitian lebih lanjut tentang bagaiman danau tersebut terbentuk. Penelitian tersebut akan dimulai pada tahun 2010 dan akan meneliti kemungkinan keterkaitan antara danau dan sungai Zambezi.[ito] . Hal ini dapat menghadirkan bukti baru yang dapat mendukung teori migrasi dan ekspansi dari Afrika.Botswana di selatan Afrika.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful