SISTEM HUKUM DAN PERADILAN INTERNASIONAL A.

Pengertian Hukum Internasional Pada dasarnya yang dimaksud hukum internasional dalam pembahasan ini adalah hukum internasional publik, karena dalam penerapannya, hukum internasional terbagi menjadi dua, yaitu: hukum internasional publik dan hukum perdata internasional. Hukum internasional publik adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas negara, yang bukan bersifat perdata. Sedangkan hukum perdata internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang melintasi batas negara, dengan perkataan lain, hukum yang mengatur hubungan hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing tunduk pada hukum perdata yang berbeda. (Kusumaatmadja, 1999; 1) Awalnya, beberapa sarjana mengemukakan pendapatnya mengenai definisi dari hukum internasional, antara lain yang dikemukakan oleh Grotius dalam bukunya De Jure Belli ac Pacis (Perihal Perang dan Damai). Menurutnya “hukum dan hubungan internasional didasarkan pada kemauan bebas dan persetujuan beberapa atau semua negara. Ini ditujukan demi kepentingan bersama dari mereka yang menyatakan diri di dalamnya ”. Sedang menurut Akehurst : “hukum internasional adalah sistem hukum yang di bentuk dari hubungan antara negara-negara” Definisi hukum internasional yang diberikan oleh pakar-pakar hukum terkenal di masa lalu, termasuk Grotius atau Akehurst, terbatas pada negara sebagai satusatunya pelaku hukum dan tidak memasukkan subjek-subjek hukum lainnya. Salah satu definisi yang lebih lengkap yang dikemukakan oleh para sarjana mengenai hukum internasional adalah definisi yang dibuat oleh Charles Cheny Hyde : “ hukum internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan hukum yang sebagian besar terdiri atas prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh negara-negara, dan oleh karena itu juga harus ditaati dalam hubungan-hubungan antara mereka satu dengan lainnya, serta yang juga mencakup : a. organisasi internasional, hubungan antara organisasi internasional satu dengan lainnya, hubungan peraturan-peraturan hukum yang berkenaan dengan fungsifungsi lembaga atau antara organisasi internasional dengan negara atau negaranegara ; dan hubungan antara organisasi internasional dengan individu atau individu-individu ; b. peraturan-peraturan hukum tertentu yang berkenaan dengan individu-individu dan subyek-subyek hukum bukan negara (non-state entities) sepanjang hak-hak dan kewajiban-kewajiban individu dan subyek hukum bukan negara tersebut bersangkut paut dengan masalah masyarakat internasional” (Phartiana, 2003; 4) Sejalan dengan definisi yang dikeluarkan Hyde, Mochtar Kusumaatmadja mengartikan ’’hukum internasional sebagai keseluruhan kaidah-kaidah dan asas-asas hukum yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas-batas negara, antara negara dengan negara dan negara dengan subjek hukum lain bukan negara atau subyek hukum bukan negara satu sama lain’’. (Kusumaatmadja, 1999; 2) Berdasarkan pada definisi-definisi di atas, secara sepintas sudah diperoleh gambaran umum tentang ruang lingkup dan substansi dari hukum internasional, yang di dalamnya terkandung unsur subyek atau pelaku, hubungan-hubungan hukum antar subyek atau pelaku, serta hal-hal atau obyek yang tercakup dalam pengaturannya, serta prinsip-prinsip dan kaidah atau peraturan-peraturan hukumnya. Sedangkan mengenai subyek hukumnya, tampak bahwa negara tidak lagi menjadi

hukum internasional mengalami perkembangan yang sangat pesat. Bermunculannya . antara lain : (1) Setelah Kongres Wina 1815. netralitas. prinsip-prinsip hukum dalam semua sistem hukum bukan berasal dari buatan manusia. hukum yang mengatur hubungan antar negara adalah prinsip-prinsip yang dibuat oleh negara-negara dan atas kemauan mereka sendiri. Droit de Gens (Perancis) dan kemudian juga dikenal sebagai Law of Nations (Inggris). (3). bahwa hukum adalah pernyataan kehendak bersama. sedangkan Ius Gentium adalah hukum yang diterapkan bagi orang asing. Dalam perkembangannya. Dalam kondisi semacam inilah sangat dimungkinkan tumbuh dan berkembangnya prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah hukum internasional. Kemajuan pesat teknologi dan ilmu pengetahuan yang mengharuskan dibuatnya ketentuan-ketentuan baru yang mengatur kerjasama antar negara di berbagai bidang. yaitu sejak ditandatanganinya Perjanjian Westphalia 1648. dan bukan dibuat. Sejarah dan Perkembangan Hukum Internasional Hukum internasional sebenarnya sudah sejak lama dikenal eksisitensinya. (2). dimanapun mereka berada. Menurut golongan Naturalis. Tokoh terkemuka dari golongan ini adalah Hugo de Groot atau Grotius. yaitu Ius Ceville dan Ius Gentium. sepanjang masa dan yang dapat ditemui oleh akal sehat. sebagaimana pernah jadi pandangan yang berlaku umum di kalangan para sarjana sebelumnya. yang terbagi menjadi dua aliran utama. Seperti yang dinyatakan oleh Jean-Jacques Rousseau dalam bukunya Du Contract Social. Orang-orang Romawi Kuno mengenal dua jenis hukum. yang bukan berkebangsaan Romawi. (2). yaitu golongan Naturalis dan golongan Positivis. menurut golongan Positivis. (Mauna. Fransisco Suarez dan Alberico Gentillis. 1999 . kewilayahan atau territorial. B. (4). La loi c’est l’expression de la Volonte Generale. Tokoh lain yang menganut aliran Positivis ini. 2003 .satu-satunya subyek hukum internasional. juga dipengaruhi oleh karya-karya tokoh kenamaan Eropa. 2003 . peradilan dan arbitrase. baik bersifat bilateral. kedaulatan. Sejak saat itulah. 6) Sementara itu. Banyak dibuatnya perjanjian-perjanjian (law-making treaties) di bidang perang. Hukum harus dicari. antara lain Cornelius van Bynkershoek. Fransisco de Vittoria. karena adanya faktor-faktor penunjang. Di abad XX. kemerdekaan dan persamaan derajat. (Phartiana. 4) Sesungguhnya. yang mengakhiri perang 30 tahun (thirty years war) di Eropa. regional maupun bersifat global. hukum internasional berkembang dengan cepat. (Kusumaatmadja. (3). yaitu pada zaman Romawi Kuno. Dasar hukum internasional adalah kesepakatan bersama antara negara-negara yang diwujudkan dalam perjanjian-perjanjian dan kebiasaankebiasaan internasional. Prof. 41) Perkembangan hukum internasional modern ini. Berkembangnya perundingan-perundingan multilateral yang juga melahirkan ketentuan-ketentuan hukum baru. tetapi berasal dari prinsip-prinsip yang berlaku secara universal. negaranegara Eropa berjanji untuk selalu menggunakan prinsip-prinsip hukum internasional dalam hubungannya satu sama lain. Ricard Zouche dan Emerich de Vattel Pada abad XIX. Ius Gentium berubah menjadi Ius Inter Gentium yang lebih dikenal juga dengan Volkenrecth (Jerman). Golongan Naturalis mendasarkan prinsip-prinsip atas dasar hukum alam yang bersumber dari ajaran Tuhan. mulai muncul negaranegara yang bercirikan kebangsaan. Banyaknya perjanjian-perjanjian internasional yang dibuat. Ius Ceville adalah hukum nasional yang berlaku bagi masyarakat Romawi. karena dipengaruhi faktor-faktor sebagai berikut: (1). hukum internasional modern mulai berkembang pesat pada abad XVI. Banyaknya negara-negara baru yang lahir sebagai akibat dekolonisasi dan meningkatnya hubungan antar negara.

2003. maupun khusus. 7) C. 197) D. sumber-sumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara.organisasi-organisasi internasional. seperti Perserikatan Bangsa Bangsa dan berbagai organ subsidernya. Subyek Hukum Internasional Subyek hukum internasional diartikan sebagai pemilik. International . 3. penduduk yang tetap. pemerintahan. 4. dasar kekuatan mengikatnya hukum internasional. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. 2003. hanya negaralah yang dipandang sebagai subjek hukum internasional Dewasa ini subjek-subjek hukum internasional yang diakui oleh masyarakat internasional. contohnya adalah Perserikatan Bangsa Bangsa . 3. adalah: 1. 1990. contohnya adalah World Bank. Sumber hukum dalam arti materiil adalah sumber hukum yang membahas materi dasar yang menjadi substansi dari pembuatan hukum itu sendiri. kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain 1. kualifikasi suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum internasional adalah: a. yaitu: sumber hukum dalam arti materiil dan sumber hukum dalam arti formal. Dalam bentuk atau wujud apa sajakah hukum itu tampak dan berlaku. 14) Menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. dari kelahiran dan pertumbuhan hukum internasional. serta Badan-badan Khusus dalam kerangka Perserikatan BangsaBangsa yang menyiapkan ketentuan-ketentuan baru dalam berbagai bidang. baik yang bersifat umum. 2. pemegang atau pendukung hak dan pemikul kewajiban berdasarkan hukum internasional. adalah: 1. wilayah tertentu. 2. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan secara global dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum. UNESCO. Dalam bentuk atau wujud inilah dapat ditemukan hukum yang mengatur suatu masalah tertentu. tempat diketemukannya ketentuan-ketentuan hukum internasional yang dapat diterapkan pada suatu persoalan konkrit. (Burhan Tsani. Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat spesifik. Sumber hukum dalam arti formal adalah sumber hukum yang membahas bentuk atau wujud nyata dari hukum itu sendiri. Sumber-sumber Hukum Internasional Pada azasnya. c. b. Negara Menurut Konvensi Montevideo 1949. Perjanjian internasional (international conventions). mengenai Hak dan Kewajiban Negara. Wolfe : a. Kebiasaan internasional (international custom). sumber hukum terbagi menjadi dua. Pada awal mula. d. (Mauna. Organisasi Internasional Klasifikasi organisasi internasional menurut Theodore A Couloumbis dan James H. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. metode penciptaan hukum internasional. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negaranegara beradab. (Phartiana. Sumber hukum internasional dapat diartikan sebagai: 1. b.

dengan cara menempatkan kedutaan besarnya di Vatikan dan demikian juga sebaliknya Tahta Suci juga menempatkan kedutaan besarnya di berbagai negara. terutama setelah Perang Dunia II. 7. International Labor Organization. Palang Merah Internasional Sebenarnya Palang Merah Internasional. antara lain: Association of South East Asian Nation (ASEAN). Tahta Suci Vatikan Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929. kaum pemberontak menempati status sebagai pribadi atau subyek hukum internasional 1. maka salah satu sikap yang dapat diambil oleh adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri. 125) 1. Palang Merah Nasional dari negar-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan berkedudukan di Jenewa. Oleh karena itu. (Phartiana. seperti perang saudara dengan akibat-akibat di luar kemanusiaan. sudah diakui secara luas di seluruh dunia. Individu Pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah hukum internasional yang memberikan hak dan membebani kewajiban serta tanggungjawab secara langsung kepada individu semakin bertambah pesat. Europe Union. dan lain-lain. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara. yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. hanyalah merupakan salah satu jenis organisasi internasional. sehingga hanya memiliki kekuatan moral saja. Perjanjian Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Tahta Suci sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri sendiri. antara pemerintah Italia dan Tahta Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. dan hal ini semakin mengukuhkan eksistensi individu sebagai subyek hukum internasional yang mandiri. Organisasi internasional dengan keanggotaan regional dengan maksud dan tujuan global. 2003. Pada awal mulanya. Dengan pengakuan tersebut. 1. Namun karena faktor sejarah. Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai kawasan. Oleh karena itu. namun wibawa Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat Katholik sedunia. 123) 1. 2003. didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss. berarti bahwa dari sudut pandang negara yang mengakuinya. Kaum Pemberontak / Beligerensi (belligerent) Kaum belligerensi pada awalnya muncul sebagai akibat dari masalah dalam negeri suatu negara berdaulat. Perusahaan Multinasional . Namun apabila pemberontakan tersebut bersenjata dan terus berkembang. c. walaupun tugas dan kewenangannya. yaitu Swiss. walaupun sikap ini akan dipandang sebagai tindakan tidak bersahabat oleh pemerintah negara tempat pemberontakan terjadi. tidak seluas tugas dan kewenangan negara. (Phartiana. keberadaan Palang Merah Internasional di dalam hubungan dan hukum internasional menjadi sangat unik dan di samping itu juga menjadi sangat strategis. Swiss. penyelesaian sepenuhnya merupakan urusan negara yang bersangkutan. bahkan meluas ke negara-negara lain. yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan.Monetary Fund. banyak negara membuka hubungan diplomatik dengan Tahta Suci. Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional. sebab hanya terbatas pada bidang kerohanian dan kemanusiaan.

hukum nasional kedudukannya lebih rendah dibanding dengan hukum internasional. Menurut teori Dualisme. hukum internasional itu adalah lanjutan dari hukum nasional. yang memberi keputusan dengan tidak harus terlalu terpaku pada pertimbanganpertimbangan hukum. tidak saling mempunyai hubungan superioritas atau subordinasi. Kalau ada pertentangan antar keduanya. Arbitrase terdiri dari seorang arbitrator atau komisi bersama antar anggota-anggota yang ditunjuk oleh para pihak atau dan komisi campuran. Keharusan ini seperti tercantum pada Pasal 1 Konvensi mengenai Penyelesaian Sengketa-Sengketa Secara Damai yang ditandatangani di Den Haag pada tanggal 18 Oktober 1907. 26) F. (Burhan Tsani. hukum internasional dan hukum nasional saling berkaitan satu sama lainnya. Sedangkan menurut teori Monisme. yang terdiri dari orang- .Perusahaan multinasional memang merupakan fenomena baru dalam hukum dan hubungan internasional. Perlunya persetujuan para pihak dalam setiap tahap proses arbitrase. yang tentu saja berpengaruh terhadap eksistensi. merupakan dua sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. yaitu hukum nasional untuk urusan luar negeri. dan (2). Berlakunya hukum internasional dalam lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi menjadi hukum nasional. Penyelesaian melalui pengadilan dapat ditempuh melalui: 1. Penyelesaian sengketa secara damai dibedakan menjadi: penyelesaian melalui pengadilan dan di luar pengadilan. Hukum nasional tunduk dan harus sesuai dengan hukum internasional. Yang akan dibahas pada kesemapatan kali ini hanyalah penyelesaian perkara melalui pengadilan. 211) Secara esensial. Ketentuan hukum internasional telah melarang penggunaan kekerasan dalam hubungan antar negara. (Burhan Tsani. Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai. arbitrase merupakan prosedur konsensus. karenanya persetujuan para pihaklah yang mengatur pengadilan arbitrase. memang merupakan suatu fakta yang tidak bisa disangkal lagi. 1990. Menurut teori ini. hukum internasional dan hukum nasional. Menurut teori Monisme. Hal-hal yang penting dalam arbitrase adalah : (1). 1990. negara-negara dan organisasi internasional mengadakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang kemudian melahirkan hak-hak dan kewajiban internasional. Hubungan Hukum Internasional dengan Hukum Nasional Ada dua teori yang dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara hukum internasional dan hukum nasional. maka yang diutamakan adalah hukum nasional suatu negara. yaitu: teori Dualisme dan teori Monisme. Di beberapa tempat. struktur substansi dan ruang lingkup hukum internasional itu sendiri. Arbitrase adalah merupakan suatu cara penerapan prinsip hukum terhadap suatu sengketa dalam batas-batas yang telah disetujui sebelumnya oleh para pihak yang bersengketa. Hukum internasional dan hukum nasional merupakan dua sistem hukum yang terpisah. Sengketa diselesaikan atas dasar menghormati hukum. keamanan internasional dan keadilan tidak sampai terganggu”. yang kemudian dikukuhkan oleh pasal 2 ayat (3) Piagan Perserikatan bangsa-Bangsa dan selanjutnya oleh Deklarasi PrinsipPrinsip Hukum Internasional mengenai Hubungan Bersahabat dan Kerjasama antar Negara. Eksistensinya dewasa ini. Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa internasional melalui arbitrase internasional adalah pengajuan sengketa internasional kepada arbitrator yang dipilih secara bebas oleh para pihak. E. Deklarasi tersebut meminta agar “semua negara menyelesaikan sengketa mereka dengan cara damai sedemikian rupa agar perdamaian.

orang yang diajukan oleh para pihak dan anggota tambahan yang dipilih dengan cara lain. waktu dan tempat hearing (dengar pendapat). yaitu yurisdiksi atas perkara biasa. tahun 1919. Perjanjian internasional (international conventions). metode pemilihan panel arbitrase. Liga Bangsa-Bangsa mendorong masyarakat internasional untuk membentuk suatu badan peradilan yang bersifat permanent. 2. 1990. Malaysia. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Afrika (Regional Centre for Commercial Arbitration). dan. namun biasanya diberlakukan sebagai “Compulsory Ruling”. yang didasarkan pada persetujuan para pihak yang bersengketa. pada dasarnya hanyalah merupakan kelanjutan dari Mahkamah Internasional yang lama. Di San Fransisco inilah. adalah: 1. atau dengan perjanjian arbitrase yang telah ada. Mesir. Persetujuan arbitrase tersebut dikenal dengan compromis (kompromi) yang memuat: 1. 216) 1. antara lain: 1. persetujuan para pihak untuk terikat pada keputusan arbitrase. batas-batas fakta yang harus dipertimbangkan. Mahkamah Permanen Internasional. Pengadilan arbitrase dilaksanakan oleh suatu “panel hakim” atau arbitrator yang dibentuk atas dasar persetujuan khusus para pihak. kemudian dirumuskan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Statuta Mahkamah Internasional. menurut Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional. walaupun didirikan oleh Liga Bangsa-Bangsa. Hingga pada tahun 1945. Mahkamah Internasional mempunyai kewenangan untuk: 1. 4. bukanlah organ dari Organisasi Internasional tersebut. (Burhan Tsani. setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pengadilan Internasional Pada permulaan abad XX. maka negara-negara di dunia mengadakan konferensi di San Fransisco untuk membentuk Mahkamah Internasional yang baru. 3. . berkedudukan di Kairo. melaksanakan “Contentious Jurisdiction”. organisasi. berkedudukan di Kuala Lumpur. pendirian Mahkamah Internasional yang baru ini. wewenang dan tata kerjanya sudah dibuat sebelumnya dan bebas dari kehendak negara-negara yang bersengketa. yaitu keputusan wajib yang mempunyai kuasa persuasive kuat (Burhan Tsani. sumbersumber hukum internasional yang dipakai oleh Mahkamah dalam mengadili perkara. Pusat Penyelesaian Sengketa Penanaman Modal Internasional (International Centre for Settlement of Investment Disputes) yang berkedudukan di Washington DC. yaitu pendapat mahkamah yang bersifat nasehat. Pasal 14 Liga Bangsa-Bangsa menugaskan Dewan untuk menyiapkan sebuah institusi Mahkamah Permanen Internasional. Pusat Arbitrase Dagang Regional untuk Asia (Regional Centre for Commercial Arbitration). prinsip-prinsip hukum atau keadilan yang harus diterapkan untuk mencapai suatu kesepakatan. baik yang bersifat umum. Namun. karena banyak nomor-nomor dan pasal-pasal yang tidak mengalami perubahan secara signifikan Secara umum. Menurut Pasal 92 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa disebutkan bahwa Mahkamah Internasional merupakan organ hukum utama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. memberikan “Advisory Opinion”. Advisory Opinion tidaklah memiliki sifat mengikat bagi yang meminta. 5. 217) Sedangkan. 214) Masyarakat internasional sudah menyediakan beberapa institusi arbitrase internasional. 3. Pengadilan Arbitrase Kamar Dagang Internasional (Court of Arbitration of the International Chamber of Commerce) yang didirikan di Paris. yaitu mulai dari komposisi. Namun sesungguhnya. 1990. 4. 2. 2. (Burhan Tsani.

pada bulan Juni 1998. Negara-negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak secara otomatis terikat dengan yurisdiksi Mahkamah ini. Mahkamah Internasional juga sebenarnya bisa mengajukan keputusan ex aequo et bono. Yang dapat menjadi pihak hanyalah negara. yang merupakan sumber hukum internasional tambahan. adalah di bidang hukum pidana internasional yang akan mengadili individu yang melanggar Hak Asasi Manusia dan kejahatan perang. Peradilan-Peradilan Lainnya di Bawah Kerangka Perserikatan Bangsa-bangsa 1. yaitu didasarkan pada keadilan dan kebaikan. karena Mahkamah Internasional tidak akan memutus perkara secara in-absensia (tidak hadirnya para pihak). 263) 2. Milan . genosida (pemusnahan ras).maupun khusus. tetapi harus melalui pernyataan mengikatkan diri dan menjadi pihak pada Statuta Mahkamah Pidana Internasional. Tugas Mahkamah ini adalah untuk mengadili orang-orang yang bertanggungjawab atas pelanggaran-pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional yang terjadi di negara bekas Yugoslavia. Jika tidak ada persetujuan. 3. 2. Keputusan pengadilan (judicial decision) dan pendapat para ahli yang telah diakui kepakarannya. Belanda. tuduhan juga dikeluarkan terhadap pemimpin-pemimpin terkenal. namun semua jenis sengketa dapat diajukan ke Mahkamah Internasional. G. Keputusan juga diambil atas dasar suara mayoritas. jika telah disahkan oleh 60 negara. Belanda. namun kemudian harus ada persetujuan dari pihak yang lain. Keputusan Mahkamah Internasional sifatnya final. saat ini Perserikatan Bangsa-bangsa juga sedang berupaya untuk menyelesaikan “hukum acara” bagi berfungsinya Mahkamah Pidana Internasional (International Criminal Court/ICC). Kebiasaan internasional (international custom). kejahatan humaniter (kemanusiaan) serta agresi. tanggal 25 Mei 1993. Selain Mahkamah Internasional (International Court of Justice/ICJ) yang berkedudukan di Den Haag. Berbeda dengan Mahkamah Internasional. yang bertempat di Den Haag. Perserikatan Bangsa-Bangsa membentuk The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia. yurisdiksi (kewenangan hukum) Mahkamah Pidana Internasional ini. maka perkara akan di hapus dari daftar Mahkamah Internasional. tidak dapat banding dan hanya mengikat para pihak. Prinsip-prinsip hukum umum (general principles of law) yang diakui oleh negaranegara beradab. (Mauna. yang statuta pembentukannya telah disahkan melalui Konferensi Internasional di Roma. 2003. dan bukan berdasarkan hukum. Italia. namun hal ini bisa dilakukan jika ada kesepakatan antar negara-negara yang bersengketa. sudah 84 orang yang dituduh melakukan pelanggaran berat dan 20 diantaranya telah ditahan. Mahkamah Pidana Internasional (International Court of Justice/ICJ) Perserikatan Bangsa-Bangsa sejak pembentukannya telah memainkan peranan penting dalam bidang hukum inetrnasional sebagai upaya untuk menciptakan perdamaian dunia. Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia (The International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia/ICTY) Melalui Resolusi Dewan Keamanan Nomor 827. Statuta tersebut akan berlaku. 4. Pada tanggal 27 Mei 1999. Semenjak Mahkamah ini dibentuk. seperti Slobodan Milosevic (Presiden Republik Federal Yugoslavia). Masalah pengajuan sengketa bisa dilakukan oleh salah satu pihak secara unilateral.

264) 3. sebagai sebuah kelompok suku. Pengertian. Cetakan ke-9. 1990. Hukum Internasional. pada tahun 1994. Yogyakarta : Penerbit Liberty. Alumni. Mahkamah mulai menjatuhkan hukuman pada tahun 1998 terhadap Jean-Paul Akayesu. maka Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa akan mengeluarkan resolusi untuk membubarkan kedua Mahkamah tersebut. tanggal 8 November 1994. dan juga Clement Kayishema dan Obed Ruzindana yang telah dituduh melakukan pemusnahan ras (genosida) . Bandung . PT.700. (Mauna. Oxford Burhantsani. Walaupun tugas dari Mahkamah Kriminal Internasional untuk Bekas Yugoslavia dan Mahkamah Kriminal untuk Rwanda belum selesai. yang dituduh telah melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan melanggar hukum perang.untuk Kamboja untuk mengadili para penjahat perang di zaman pemerintahan Pol Pot dan Khmer Merah. terutama dari suku Tutsi. Fourth Edition. 1999. Identifikasi dan Reformulasi Sumber-Sumber Hukum Internasional. Hukum Internasional. Cetakan ke-4. Peran dan Fungsi dalam Era Dinamika Global. Putra Abardin Mauna Boer. yaitu pemusnahan orang-orang Tutsi. Bunga Rampai.000 orang. 1999. tugas Mahkamah ini adalah untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku kejahatan pembunuhan missal sekitar 800. namun Perserikatan BangsaBangsa juga telah menyiapkan pembentukan mahkamah. 2003. Muhammad. Penerbit Mandar maju. Hukum dan Hubungan Internasional.000 orang Rwanda. 2003. yang sebagaimana diketahui memiliki sifat ad hoc (sementara). 2003. Penerbit Mandar Maju. 1989. 2003. Bandung Brownlie Ian. Bandung Situni F. mantan Walikota Taba. Jika diperkirakan bahwa tugas Mahkamah Peradilan Yugoslavia dan Rwanda telah menyelesaikan tugas mereka. Alumni. 265) REFERENSI Ardiwisastra Yudha Bhakti. 2003. Bandung Phartiana I Wayan. (Mauna. Principles of Public International Law. A. Pengantar Hukum Internasional. Pengantar Hukum Internasional. Mahkamah mengungkap bahwa bahwa pembunuhan massal tersebut mempunyai tujuan khusus. antara tahun 1975 sampai dengan 1979 yang telah membunuh sekitar 1. Tanzania dan didirikan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 955. Clarendon Press. Mahkamah Kriminal untuk Rwanda (International Criminal Tribunal for Rwanda) Mahkamah ini bertempat di Arusha. Kusamaatmadja Mochtar.Milutinovic (Presiden Serbia). Whisnu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful