BAB I PENDAHULUAN Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa.

Pada masa remaja, individu akan mengahadapi banyak tantangan, konflik serta kebingungan dalam proses menemukan jati diri dan menemukan posisi mereka dalam masyarakat. Pada umumnya remaja masih belajar di sekolah menengah atau tingkat awal perguruan tinggi. Remaja yang menuntut ilmu di sekolah menengah disebut dengan siswa atau peserta didik. Pada masa ini, remaja dituntut untuk tidak hanya bergantung pada guru untuk mendapatkan bahan ajar, tetapi juga dituntut untuk belajar lebih mandiri dalam mendapatkan bahan ajar dan mengerjakan tugas akademik secara mandiri sehingga dapat menunjukkan prestasi yang optimal pada tingkatan pendidikan selanjutnya dan diharapkan dapat sukses dalam menjalani kehidupannya di masa mendatang. Banyak dijumpai siswa yang memiliki intelegensi tinggi tetapi prestasi belajarnya rendah, karena kemampuan intelektual yang dimilikinya kurang berfungsi secara optimal. Salah satu factor pendukung agar kemampuan intelektual siswa berrfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi dalam dirinya. individu akan berusaha secara optimal apabila memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan belajar yang telah direncanakan. Maksud motivasi di sini adalah dorongan untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan suatu standar keunggulan tertentu. Yang dimaksud dengan ukuran standar keunggulan antara lain prestasi individu itu sendiri, prestasi orang lain, ataupun prestasi untuk menyelesaikan tugas. Motivasi pada setiap siswa akan berbeda antara siswa yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini disebabkan karena pada dasarnya setiap siswa adalah individu yang unik, yang memiliki perbedaan dengan siswa yang lain termasuk dalam hal motivasi berprestasi yang dimiliki. Motivasi berprestasi menurut McClelland adalah motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang dengan focus perhatian pada bagaimana prestasi tersebut

12

dapat tercapai. 12 . Kebanyakan siswa memiliki motivasi berprestai yang tinggi berasala dari keluarga dengan orang tua yang bersikap positif. yang disebut juga dengan pola asuh orang tua yang bersikap positif. mendidik dan membimbing anggota keluarga khususnya siswa sebagai anak dalam keluarga dan pola asuh asuh ini akan berbeda antara keluarga yang satu dengan yang lain. Bagaimana orang tua mendidik atau pola asuh seperti apa yang diterapkan pada anak diperkirakan memberikan pengaruh dalam pembentukan motif berprestasi pada siswa. Motivasi berprestasi individu dipengaruhi oleh banyak factor. Keluarga adalah salah satu factor eksternal yang mempengaruhi motivasi. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui perbedaan pola asuh orang tua akan membentuk motivasi berprestasi yang berbeda pula. salah satu diantaranya adalah pola asuh orang tua. Setiap keluarga memiliki cara tersendiri dalam mengasuh.

Menurut Atkinson. kebutuhan atau keinginan untuk melakukan sesuatu yang khusus atau umum. motif adalah sesuatu yang mendorong individu untuk mencapai tujuan tertentu. Pengertian Motif Motif berasal dari bahasa latin yaitu movere yang berarti bergerak. Pengertian Motivasi Berprestasi Motivasi berprestasi menurut McClelland adalah motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang dengan focus perhatian bagaimana 12 . keinginan. Motivasi Berprestasi 1.BAB II LANDASAN TEORI A. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah dorongan dalam diri individu yang mengarahkan perilaku individu untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan menurut Morgan motivasi merupakan dorongan yang mendorong individu untuk menampilkan tingkah laku yang persisten yang diarahkan untuk mencapai tujuan. 3. motivasi adalah factor yang menguatkan perilaku dan arahan perilaku individu. Sedangkan menurut Hersey and Blanchard kebutuhan. Pengertian Motivasi Menurut Djiwandono. Motivasi juga menggambarkan kecenderungan umum seseorang dalam usahanya mencapai tujuan tertentu. Menurut Atkinson. karena itu motif dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang mendorong untuk berbuat atau melakukan sesuatu. motivasi adalah dorongan. dorongan atau gerak hati dalam diri individu atau sesuatu yang menggerakkan seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu atau sekurang-kurangnya mengembangkan sesuatu. 2.

Motivasi berprestasi dipengaruhi banyak factor. Adanya kebutuhan untuk mendapatkan umpan balik atas pekerjaan yang dilakukan sehingga dapat diketahui dengan cepat hasil yang diperoleh dari kegiatannya lebih baik atau lebih buruk. 3. tetapi akan memilih tugas-tugas yang tingkat kesulitannya sedang. Memiliki tanggung jawab pribadi terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Ciri-ciri Motivasi Berprestasi McClelland mengatakan bahwa ciri-ciri individu yang memiliki motivasi beprestasi yang tinggi adalah : 1. efisien dan lebih baik daripada sebelumnya. Berprestasi yang dihubungkan dengan seperangkat standar. Menghindarkan tugas-tugas yang sulit atau terlalu mudah. ajli lain yang mengungkapkan cirri-ciri individu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah Atkinson dan Birch. 4. Hal ini dilakukan agar individu mendapatkan cara-cara yang lebih menguntungkan dalam pencapaian tujuan. Menurut MCClelland motivasi berprestasi paling penting dalam proses pembelajaran. Salah satu factor yang mempengaruhi yaitu pola asuh orang tua. prestasi diri sendiri yang lampau serta tugas yang harus dilakukannya. 6. Hal ini karena motivasi berprestasi mendorong individu untuk melakukan aktivitas dengan tujuan mencapai kesuseksan dalam bidang yang ditekuni. 2. Tidak menyukai keberhasilan yang bersifat kebetulan atau karena tindakan orang lain dan ingin merasakan sukses atau kegagalan disebabkan oleh tindakan individu itu sendiri Selain McClelland. Seperangkat standar tersebut bisa dihubungkan dengan prestasi orang lain. 5. 4.prestasi tersebut tercapai. Inovatif yaitu dalam melakukan suatu pekerjaan dilakukan dengan cara yang berbeda. Atkinson dan Birch mengatakan bahwa cirri-ciri indvidu yang memiliki motivasi berprestasi tinggi adalah : 12 .

Menurut Atkinson dan Feather cirri-ciri individu yang memiliki motivasi berprestasi rendah adalah individu yang termotivasi oleh ketakutan akan kegagalan. Tidak merasa terganggu oleh kegagalan yang diperolehnya. Sebagai hasilnya dalam mencari tugas. Peranan dari konsep diri Konsep diri merupakan bagaimana individu berpikir mengenai dirinya sendiri. 2. Pengaruh keluarga Pengaruh keluarga yang dimaksud adalah pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap individu. 3. 4. Sedangkan kebudayaan yang berpengaruh terhadap motivasi berprestasi individu adalah produk kebudayaan suatu negara seperti cerita rakyat yang sering mengandung tema-tema prestasi yang bisa meningkatkan semangat warga negaranya. Apabila individu percaya bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu. Merasakan puas setelah mendapatkan kesuksesan. Individu akan tetap menghindari tugas yang tingkat kesulitannya menengah karena individu mungkin akan gagal sementara yang lain berhasil.1. Terus mengejar kesuksesan dan mau mengambil resiko pada suatu kegiatan. 12 . namun terus berusaha untuk menjadi yang terbaik. individu cenderung untuk mengambil tugas yang mudah sehingga dirinya yakin akan terhindar dari kegagalan atau mencari tugas yang sangat sulit sehingga kegagalan bukanlah hal negative karena hampir semua individu akan gagal melakukannya. individu tidak memikirkan bahwa dirinya akan mendapatkan kesuksesan tetapi lebih terfokus pada kegagalan. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi Fernald dan Fernald mengatakan bahwa terdapat empat factor yang mempengaruhi motivasi berprestasi individu : 1. Dalam mengerjakan tugas. Menetapkan tujuan yang menantang dan sulit namun realistic. maka individu akan termotivasi untuk melakukan hal tersebut sehingga berpengaruh dalam bertingkah laku. 2. 5.

sehingga banyak para pelajar perempuan tidak maksimal khususnya jika wanita tersebut berada diantara laki-laki. dimana orangtua menanamkan nilai-nilai yang dipercayai dalam bentuk interaksi yang meliputi kepemimpinan. B. dapat dikatakan bahwa pola asuh adalah proses mempengaruhi seseorang. Sedangkan menurut Hersey dan Blanchard. Pola Asuh Orang Tua 1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua Pola asuh menurut Gunarsa adalah cara orang tua bertindak sebagai orang tua terhadap anak-anaknya dimana mereka melakukan serangkaian usaha aktif. tempat dimana aktivitas-aktivitas dan keahlian-keahlian orang dewasa ditampilkan dalam keterampilan merawat anak. Pola asuh otoriter Pola asuh otoriter adalah pola asuh yang kaku. Pengaruh dari peran jenis kelamin Prestasi yang tinggi biasanya diidentikkan dengan maskulinitas. pola asuh merupakan bentuk dari kepemimpinan dalam rangka mempengaruhi seseorang. Pengakuan dan prestasi Individu akan termotivasi untuk berprestasi jika dirinya merasa dipedulikan oleh orang lain. yaitu : 1. dictator dan memaksa anak untuk mengikuti apa yang dikatakan orang tua tanpa ada alasan/bantahan. membimbing dan melindungi anak. Dalam pola asuh ini biasa ditemukan penerapan hukuman 12 . 2. Diana Baumrind ada empat jenis pola asuh orang tua. Jenis-jenis Pola Asuh Orang Tua Menurut seorang pakar psikologi. mendidik. Berdasarkan uraian di atas. Lain halnya menurut Arendell yang mengatakan bahwa pola adalah adalah sebuah paying atau pelindung.3. 4. Dalam hal ini peran kepemimpinan orang tua adalah ketika mereka mencoba memberi pengaruh yang kuat pada anaknya. pengasuhan.

Pola asuh permissive. 2. 12 . 3. Biasanya orang tua yang menerapkan pola asuh ini tidak begitu mengetahui perkembangan anak mereka. 4. Pola asuh authoritative Pola asuh authoritative adalah pola asuh dimana orang tua mendorong anak untuk mandiri tetapi orang tua tetap menetapkan batas dan control.fisik dan aturan-aturan tanpa merasa perlu menjelaskan kepada anak apa guna dan alasan di balik aturan tersebut.indifferent Pola asuh permissive. tanpa tuntutan dan control dari orang tua terhadap anak. Pola asuh permissive-indulgent Pola asuh permissive-indulgent adalah pola asuh dimana orang tua selalu terlibat dalam semua aspek kehidupan anak. dapat menerima alas an dari semua tindakan anak. Orang tua cenderung mengijinkan anak melakukan apa saja sesuai dengan keinginnan anak. Orang tua biasanya bersikap hangat dan penuh welas asih kepada anak.indifferent adalah pola asuh dimana orang tua tidak mau terlibat dan tidak mau dipusingkan oleh kehidupan anaknya. mendukung tindakan anak yang konstruktif. Orang tua selalu menuruti semua keinginan anak tanpa mempertimbangkan dampak positif atau negatif dari keinginan anak.

Menurut McClelland. Para orang menyadari kebutuhan anak untuk mandiri dan tidak ingin dicampuri. orangtua hendaknya secara bertahap mengubah pola asuh dari mengontrol atau mendikte anak kepada pemberian kesempatan anak untuk mulai memutuskan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan tersebut. motivasi berprestasi dipengaruhi oleh pola asuh orang tua. Peran orangtua pada masa ini adalah sebagai konsultan. Hubungan 12 . Salah satu faktor pendukung agar kemampuan intelektual siswa dapat berfungsi secara optimal adalah adanya motivasi untuk berprestasi yang tinggi dalam dirinya. Bagaimana cara orang tua mendidik anak memberikan pengaruh pada pembentukan motivasi untuk berprestasi pada anak. Ketika anak memasuki masa remaja yang merupakan masa peralihan menuju masa kedewasaan. Motivasi berprestasi menurut McClelland adalah dorongan yang mengarahkan tingkah laku seseorang dengan fokus bagaimana prestasi yang optimal dapat dicapai. SMA. SMA dan SMK) yang memiliki kemampuan intelektual tinggi tetapi prestasi akademik yang dicapainya rendah karena kemampuan intelektual yang dimiliki kurang berfungsi secara optimal. tetapi orangtua juga menyadari bahwa anak mereka belum siap untuk mandiri secara utuh. pendukung dan fasilitator. SMK) Banyak dijumpai siswa sekolah lanjutan (SMP. Kebanyakan siswa yang memiliki prestasi yang baik berasal dari keluarga dengan orang tua yang bersikap positif dan komunikatif. SMA atau SMK. Pola asuh yang digunakan akan berbeda antara kelurga yang satu dengan keluarga yang lain. Setiap keluarga memiliki cara tersendiri dalam mengasuh. Pola asuh yang diterapkan orang tua pada anak akan mempengaruhi tindakan anak selanjutnya. Keluarga adalah salah satu faktor motivasi eksternal.BAB III DAMPAK POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI SISWA SEKOLAH LANJUTAN (SMP. Banyak orang tua yang merasa serba salah dalam menghadapi anak ketika anak sudah menjadi siswa SMP. mendidik dan membimbing anak.

Anak tidak diberikan kesempatan mengemukakan keinginan yang dimiliki. Pola asuh otoriter hanya memungkinkan terjadinya komunikasi satu arah.indifferent tidak memungkinkan terjadi komunikasi antara orangtua dengan anak karena orangtua tidak mau terlibat dalam kehidupan 12 . saling percaya.orangtua dengan anak akan lebih berhasil bila didasarkan pada rasa saling menghormati. Tetapi tidak menutup kemungkinan siswa yang berasal dari keluarga dengan pola asuh ini akan memiliki motivasi berprestasi tinggi karena ingin membuktikan bahwa dirinya dapat berhasil dan sukses tanpa dukungan dari orangtuanya. Orangtua juga yang menetapkan prestasi yang harus dicapai oleh anak mereka.indifferent akan memiliki motivasi berprestasi yang rendah karena siswa tersebut akan berpendapat sebaik apapun prestasi yang dicapai tidak akan mendapat respon apapun dari orangtua. Siswa yang berasal dari keluarga yang menerapkan pola asuh otoriter biasanya akan memiliki motivasi berprestasi yang rendah karena melakukan aktivitas dengan prinsip “asal orangtua senang”.indifferent tidak ingin terlibat dalam kehidupan anak. perhatian dan cinta. yaitu dari orangtua ke anak saja. Sebenarnya orangtua yang menerapkan pola asuh ini dalam keluarga memiliki harapan agar anaknya sukses dan berhasil. Dampak dari pola asuh otoriter ini adalah anak cenderug menjadi cemas dan tertekan. tetapi sangat disayangkan orangtua tidak mempertimbangkan apakah semua tuntutan yang diberikan kepada anak mampu dipenuhi oleh anak dan sesuai dengan kemampuan. gagal memprakarsai kegiatan dan memiliki keterampilan komunikasi yang rendah. Pola asuh permissive. Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter akan memaksa dan menuntut anak untuk mengikuti semua perintah dan keinginan orang tua. Orangtua yang menerapkan pola asuh permissive. Orangtua yang menentukan sekolah dan kegiatan lain yang akan dilakukan oleh anak di dalam lingkungan sekolah (seperti kegiatan ekstrakurikuler yang akan ditekuni) maupun kegiatan di luar sekolah (les mata pelajaran atau les non-mata pelajaran). minat dan bakat yang dimiliki oleh anak. Siswa yang berasal dari keluarga dengan pola asuh permissive. Orangtua cenderung lebih memperhatikan kepentingan diri sendiri dibandingkan kepentingan anak.

Orang tua juga memperlihatkan kehangatan serta kasih sayang terhadap anak. Hal ini karena apapun hasil yang dicapai siswa akan diterima oleh orangtua mereka tanpa ada konsekuensi apapun dari pihak orangtua. Siswa yang berasal dari keluarga yang menerapkan pola asuh permissive-indulgent cenderung memiliki motivasi berprestasi rendah. Pola asuh permissive-indulgent akan memungkinkan komunikasi dua arah yang cenderung didominasi oleh anak. Anak akan berpikiran bahwa berhasil atau tidak hidupnya. orangtua akan selalu mendukung dan membantu dirinya. karena sikap orangtua yang tidak memberikan batas dan kendali atas keinginan dan perilaku anak. Orangtua akan sering melakukan diskusi terbuka dengan anak sehingga anak dapat mengemukakan keinginnan dan minat mereka terhadap suatu hal. Orangtua yang menerapkan pola asuh authoritative akan sangat terlibat dalam kehidupan anak tetapi menentukan batas dan control atas tindakan anak mereka. Orangtua akan membiarkan anak melakukan apa saja yang diinginkan. Pola asuh authoritative memberikan kesempatan terjadinya komunikasi dua arah antara anak dengan orangtua. anak menjadi tidak menghargai orangtua dan orang di sekitarnya.anak dan berpikiran bahwa aspek lain dari kehidupannya lebih penting daripada anak. Orangtua yang menerapkan pola asuh permissive-indulgent sangat terlibat dalam kehidupan anak tanpa menetapkan batas atau kendali pada anak. Dampak dari pola asuh ini adalah anak tidak pernah belajar mengendalikan perilaku dirinya sendiri dan selalu mengharapkan kemauan mereka diikuti. sehingga anak dapat mengemukakan minat yang dimiliki untuk menggeluti sutu bidang dan orangtua pun dapat mengetahui minat yang dimiliki anak serta dapat memberikan dorongan dan arahan sehingga 12 . Siswa yang berasal dari keluarga yang menerapkan pola asuh authoritative akan memiliki motivasi berprestasi yang tinggi karena mereka mendapat dorongan dan arahan yang positif dari orangtua sehingga mereka cenderung ingin menunjukkan keberhasilan yang dapat membuat orangtua mereka bangga. sehingga perkembangan atau kemunduran apapun yang dialami oleh anak jarang diketahui oleh orang tua.

12 .anak dapat mengembangkan minat yang dimiliki sesuai dengan bakat yang dimiliki anak.

Hubungan antara pola asuh orangtua dengan motivasi berprestasi terjalin dari sikap dan perilaku orangtua terhadap anak. Orangtua yang menjalin hubungan dan komunikasi dengan anak serta mampu memberikan batasan-batasan dan kendali atas keputusan dan perilaku anak dapat meningkatkan motivasi berprestasi anak.BAB IV KESIMPULAN Pola asuh yang diterapkan oleh orangtua akan menhasilkan motivasi berprestasi yang berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lain. Hal ini karena setiap orangtua menerapkan pola asuh yang berbeda dalam setiap keluarga. 12 .

id/parenting2. Pola Asuh Orangtua.DAFTAR PUSTAKA Clara.com/david_mcclelland.sd-binatalenta.htm 12 .devpsy.com/essay_search/David_McClelland.megaessays. [Online].com/khasanah/khasanah06279-02.org/teaching/parent/baumrind_styles. [Online].com/tampilberita. Pola Asuh http://www.html .htm Anak.ci.competencyinternational. [Online].(2006). (1999). David McClelland’s Human Motivational Theory. Diana Baumrind's (1966) Prototypical Descriptions of 3 Parenting Styles. (2006). (2007).php?noseri=30 .tabloidnakita. (2001). [Online].htm Debri Pristinela. Tersedia : http://www. Tersedia : http://www. Tersedia : Siti Amaliya. (2003).Psi . http://www.heartline. Ragam Pola Asuh Orangtua. Tersedia : http://www. Tersedia : http://www. [Online]. [Online]. David McClelland.html Tersedia : . S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful