You are on page 1of 95

Konversi Akad Murabahah

Thursday, 18 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 49/DSN-MUI/II/2005
tentang Konversi Akad Murabahah.

Menimbang :

a. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada
umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan
nasabah;

b. bahwa dalam hal nasabah mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan, maka ia
dapat diberi keringanan;

c. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk konversi
dengan membuat akad baru dalam penyelesaian pembayaran kewajiban;

d. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam, Dewan Syari'ah
Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman.

Mengingat :

1. Firman Allah SWT, antara lain:

o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal
Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya."

o QS. al-Nisa' [4]: 29:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan
jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan

janganlah kamu membunuh dirimu,. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu."

o QS. al-Ma'idah [5]: 1:

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang
akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu
sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang
dikehendaki-Nya."

o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syrar-,Nyrar Allah, dan jangan melanggar
kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatang-
binatang qala'id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang
mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan
ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum
karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya
(kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan
jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah,
sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

o QS. al-Baqarah [2]: 280:

"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan.
Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."

Mengingat :

Hadis-hadis Nabi s.a.w.; antara lain:

o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban :

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh
dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak.

o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang
menyatakan bahwa hadis ini shahih:

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani
Nadhir, datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah,
sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai
piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah
keringanan dan tagihlah lebih cepat".

o Hadits Nabi Riwayat Muslim, beliau bersabda:

"Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan
kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong
saudaranya".

o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, beliau bersabda:

"Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang
halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. "

3. Kaidah fiqh:

o "Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya."

o "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan".

Memperhatikan:

o Surat Direksi BSM No.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan
fatwa.

o Hasil workshop BPH-DSN, 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004.

o Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Jum'at, 16
Muharram 1426/ 25 Februari 2005.

MEMUTUSKAN

Menetapkan FATWA TENTANG KONVERSI AKAD MURABAHAH

Pertama: Ketentuan Konversi Akad

LKS boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru bagi nasabah yang tidak bisa
menyelesaikan/ melunasi pembiayaan murabahahnya sesuai jumlah dan waktu yang telah
disepakati, tetapi ia masih prospektif, dengan ketentuan:

a. Akad murabahah dihentikan dengan cara:

o Obyek murabahah dijual oleh nasabah kepada LKS dengan harga pasar;

o Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan;

o Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka kelebihan itu dapat dijadikan uang

Mudharabah dengan merujuk kepada fatwa DSN No.A Sahal Mahfudh Prof. atau Musyarakah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. Sekretaris. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. H. b. o Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. LKS dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad: Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik atas barang tersebut di atas dengan merujuk kepada fatwa DSN No. 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al Ijarah AlMuntahiyah Bi Al-Tamlik. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah. Dr. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. o Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah yang cara pelunasannya disepakati antara LKS dan nasabah. KH. Din Syamsuddin . akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). muka untuk akad ijarah atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah. M. M.

Orang yang mengulangi (mengambil . bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk penjadwalan kembali dalam pembayaran kewajibannya. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. dan urusannya (terserah) kepada Allah. Penjadwalan Kembali Murabahah Thursday. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah. b. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. Menimbang : a. d. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. c. bahwa dalam hal nasabah mengalami penuruan kemampuan dalam pembayaran cicilan. antara lain: o QS. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). Firman Allah SWT. Mengingat : 1. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. maka ia dapat diberi keringanan.

dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji.riba). dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. dan binatang-binatang qala'id.a. al-Nisa' [4]: 29 "Hai orang yang beriman. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. jangan (mengganggu) binatang binatang hadya." o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia." o QS.. al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu." o QS. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. mereka kekal di dalamnya. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. maka bolehlah berburu. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." 2. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. Dihalalkan bagimu binatang ternak. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. Hadis-hadis Nabi s. jika kamu mengetahui. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram." o QS. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). kecuali yang akan dibacakan kepadamu." o QS.w. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal .

o Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. o Fatwa ini herlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekel iruan. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005 o Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. o Pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya riil. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H ." 3. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. o Hasil workshop BPH-DSN. dengan ketentuan: o Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.atau menghalalkan yang haram. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya." Memperhatikan: o Surat Direksi BSM No. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENJADWALAN KEMBALI TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Penjadwalan Kembali LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati.

M.A Sahal Mahfudh Prof. Sekretaris. KH. DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Din Syamsuddin . H. Dr. M.

Firman Allah SWT. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. Dewan Syari'ah Nasonal memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Mengingat : 1. al-Nisa' [4]: 29: " Hai orang yang beriman. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. c. bahwa dalam hal nasabah tidak mampu membayar. al-Ma'idah [5]: 2: . al-Baqarah [2]: 180: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. maka diselesaikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 47/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar. Menimbang : a. antara lain: o QS." o QS. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. jika kamu mengetahui. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yung batil. b. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Penyelesaian Piutang Murabahah Thursday. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. " o QS.

maka bolehlah berburu. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". Kaidah fiqh: • "Pada dasarnya. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah.w. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." • "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan" Memperhatikan: • Fatwa DSN No. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Bailullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah . dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". Dan bertakwalah kamu kepada Allah. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."Hai orang yang beriman. dan binatang-binatang qala'id. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya." 3. antara lain: • Hadits Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban : Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih sanadnya : Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak.a. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). • Hadits Nabi riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat." 2. Hadits-hadits Nabi s.

• Hasil workshop BPH-DSN. • Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka LKS mengembalikan sisanya kepada nasabah. • Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. Kedua: Ketentuan Penutup • 1. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. • Apabila nasabah tidak mampu membayar sisa hutangnya. • 2.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak- pihak terkait. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG MURABAHAH BAGI NASABAH TIDAK MAMPU MEMBAYAR Pertama: Ketentuan Penyelesaian LKS boleh melakukan penyelesaian murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. • Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan. dengan ketentuan: • Obyek murabahah dan atau jaminan lainnya dijual oleh nasabah kepada atau melalui LKS dengan harga pasar yang disepakati. • Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. maka LKS dapat membebaskannya. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL . Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005. • Surat Direksi BSM No.

Dr. Din Syamsuddin . M.A Sahal Mahfudh Prof. KH. M. H. MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Sekretaris.

Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). b. Firman Allah SWT. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). bahwa penghargaan dan keringanan yang merupakan mukafa 'ah tasyji 'iyah (insentif) tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk potongan dari total kewajiban pembayaran. Sedangkan nasabah yang mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan dapat diberi keringanan c. d. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. antara lain: o QS. maka ia dapat diberi penghargaan. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. . al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Potongan Tagihan Murahabah Thursday. Mengingat : 1. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 46/DSN- MUI/II/2005 tentang Potongan Tagihan Murahabah. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. bahwa dalam hal nasabah telah melakukan pembayaran cicilan dengan tepat waktu. Menimbang : a.

dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. bersabda: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. mereka kekal di dalamnya. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).w. Dan bertakwalah kamu kepada Allah.w. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya. Orang yang mengulangi (mengambil riba). Dan janganlah kamu membunuh dirimu. o QS." o Hadis Nabi riwayat Imam Tirmidzi dari `Amr bin `Auf al-Muzani. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. Al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu." . Al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu." o QS. Dihalalkan bagimu binatang ternak. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. Hadis-hadis Nabi s." o QS. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dcngan kerelaan kedua belah pihak. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. maka bolehlah berburu. dan dishahih-kan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda.a. Al-Nisa' [4]: 29: "Hai orang yang beriman. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." o QS." 2. jika kamu mengetahui. kecuali yang akan dibacakan kepadamu..a. Nabi s. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.dan urusannya (terserah) kepada Allah. dan binatang-binatang qala'id.

3. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan tepat waktu dan/atau nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran. " Memperhatikan: o Fatwa DSN No. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS. Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". o Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. Kedua: Ketentuan Penutup 1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. 2. tanggal 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Nabi Saw. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabi Allah. memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah o Hasil workshop BPH-DSN. o Surat Direksi BSM No. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai . Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG POTONGAN TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Pemberian Potongan 1. o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. 3.

A Sahal Mahfudh Prof.kesepakatan melalui musyawarah. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 2. Sekretaris. Din Syamsuddin . M. M. KH. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. H. Dr.

Menimbang : a. 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita)." o QS. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bahwa LKS perlu merespon kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan jasa tersebut c. Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya. Mengingat : 1. dan aku menjamin .Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Pembiayaan Multijasa Thursday. Bahwa salah satu bentuk \pelayanan jasa keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pembiayaan multi jasa. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. al-Baqarah [2]: 233: ". Dewan Syariah Nasional MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang pembiayaan multijasa untuk dijadikan pedoman.. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 44/DSN-MUI/VII/2004 tentang Pembiayaan Multi Jasa. Firman Allah SWT. akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. Bertaqwalah kepada Allah. al-Qashash [28]: 26: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata.. Yusuf [12]: 72: "Penyeru-penyeru itu berseru: `Kami kehilangan piala Raja." o QS. yaitu pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat atas suatu jasa b. antara lain: o QS.

ya Rasulullah'. antara lain: o Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar.w." o Hadis riwayat `Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri.terhadapnya. al-Isra' [17]: 34: " . beliau men-salatkannya. bahwa Nabi bersabda: "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering." (HR." o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.. Maka. dan yang lain. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran." o QS. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.". beritahukanlah upahnya." o QS.." 2. o Hadits Nabi riwayat Imam Ibnu Majah.a.. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjcnvabannya. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain.w. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja. Nabi s. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. Lalu Abu Qatadah berkata.a. `Apakah ia mem-punyai hutang?' Sahabat menjawab. `Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). dari Abu Sa'id al-Khudri.Dan penuhilah janji." o Hadis Nabi riwayat Bukhari: "Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. `Apakah ia mempunyai hutang?' Sahabat menjawab. . o QS.. al-Ma'idah [5]: I : "Hai orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu. Rasulullah saw bertanya. Bukhari dari Salamah bin Akwa')." o Hadis riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash. al-Ma'idah [5]: 2: "Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. `Saya menjamin hutangnya. `Ya'. al-Daraquthni. Rasulullah berkata.. maka. Rasulullah pun bertanya. Hadis-hadis Nabi s. `Tidak'.

.' Penjaminan tersebut tidak sah.. Kitab I'anah al-Thalibin." o b. pensyarah telah menuturkan masalah ini .. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan. antara lain: o "Pada dasarnya. Kaidah fiqh. Redaksi dalam fasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata. " Memperhatikan : 1. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (awjah)..a. per-nyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain. Nabi s.-penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum fix-. Dalam pasal tentang Qardh. (Qaul qadim --Imam menyatakan sah pen- jaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban)." o Hadits Nabi riwayat Abu Daud. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban.. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku men--jaminnya. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menja-minnya." 3. Kitab Mughni al-Muhtajj. jilid II: 201-202: (Hal yang dijamin) yaitu hutang disyaratkan harus berupa hak yang bersifat fix pada saat akad. antara lain: o a. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu . Oleh karena itu. Pendapat para ulama. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau seba- giannya." o "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. karena hutang orang itu belum fix. Tirmizi dan Ibn Hibban o Sabda Rasulullah SAW : "Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya." o "Kesulitan dapat menarik kemudahan" o "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari 'at).w.dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin.' Dengan demikian. jilid 111/77-78 "Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban.

LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee. • 5." 2. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah. Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. Oleh karena akad jual beli atas benda dibolehkan. • 3. Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. juz I Kitab al-Ijarah hal. Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004 5..yang akan dihutangkan." o c. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTAG PEMBIAYAAN MULTI JASA Pertama : Ketentuan Umum • 1. Substansi Fatwa DSN No. Ketiga : Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. Keempat : Ketentuan Penutup . • 4. maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah. maka sudah seharusnya boleh pula akad ijarah atas manfaat. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. B. 11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah 4. Hasil Rapat Pleno DSN-MUI. Kitab al-Muhadzdzab. Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah.. • 2.02-DPS/UUS/04/2004 perihal Permohonan Fatwa DSN tentang Pembiayaan Multi Jasa. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah 3.terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan. Surat dari BRI Syariah No. Substansi Fatwa DSN No. hari Rabu. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah.

A Sahal Mahfudh Prof. Dr. M. jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Din Syamsuddin . Sekretaris. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan. H. KH.

18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang Ganti Rugi (Ta'Widh). DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang ganti rugi (ta'widh) untuk dijadikan pedoman Mengingat : 1. termasuk masalah denda finansial yang biasa dilakukan oleh lembaga keuangan konvensional b. c. Menimbang : a. Bahwa kerugian yang benar-benar dialami secara riil oleh para pihak dalam transaksi wajib diganti oleh pihak yang menimbulkan kerugian tersebut e. Firman Allah SWT. d. . antara lain: o QS. al-Ma'idah [5]: 1 “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”. Ganti Rugi (Ta' Widh) Thursday. baik nasabah maupun LKS. sehingga tidak boleh ada satu pihak pun yang dirugikan hak-haknya. Bahwa dalam upaya melindungi para pihak yang bertransaksi. dalam hal ini para pihak yang bertransaksi dalam LKS meminta fatwa kepada DSN tentang ganti rugi akibat penunda-nundaan pembayaran dalam kondisi mampu f. Bahwa para pihak yang melakukan transaksi dalam LKS terkadang mengalami risiko kerugian akibat wanprestasi atau kelalaian dengan menunda-nunda pembayaran oleh pihak lain yang melanggar perjanjian. Bahwa lembaga keuangan syari'ah (LKS) beroperasi berdasarkan prinsip syari'ah untuk menghindarkan praktik riba atau praktik yang menjurus kepada riba. Bahwa syari'ah Islam melindungi kepentingan semua pihak yang bertransaksi. Bahwa masyarakat...

" o Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari `Ubadah bin Shamit." o Hadis Nabi riwayat Nasa'i dari Syuraid bin Suwaid. al-Baqarah [2]: 194: . antara lain: o Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. al-Baqarah [2]: 279-280: ".. Nasa'i dari Abu Hurairah. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Abu Daud dari Abu Hurairah.. seimbang dengan kerugian yang telah ia timpakan kepadamu." o QS. dan Darami dari Abu Hurairah): "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.a. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar. Tirmizi dari Abu Hurairah dan Ibn Umar." o Hadis Nabi riwayat jama'ah (Bukhari dari Abu Hurairah. jika kamu mengetahui. Muslim dari Abu Hurairah. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu. Ahmad dari Abu Hurairah dan Ibn Umar. segala bentuk mu' amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang ." o QS. lebih baik bagimu. riwayat Ahmad dari Ibnu `Abbas. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya." 3. barang siapa melakukan aniaya (kerugian) kepadamu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah.w. Ibu Majah dari Syuraid bin Suwaid.. Kaidah Fiqh. al-Isra' [17]: 34: ".maka.Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. dan Ahmad dari Syuraid bin Suwaid: "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. Malik dari Abu Hurairah... bahwa Allah beserta orang- orang yang bertakwa. Abu Dawud dari Syuraid bin Suwaid.. dan Malik dari Yahya: "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.Dan penuhilah janji. balaslah ia. o QS.. antara lain: o "Pada dasarnya. Hadis-hadis Nabi s." 2..

" Memperhatikan: o Pendapat Ibnu Qudamah dalam al-Mughni. mengharamkannya.. (b) memperbaiki benda yang dirusak menjadi utuh kembali seperti semula selama dimungkinkan. ia boleh melakukan perjalanan tersebut. seperti mengembalikan benda yang dipecahkan menjadi utuh kembali. hlm 342. bahaya). 96). 87). ia menyatakan: "Jika orang berhutang (debitur) bermaksud melakukan perjalanan.maka kreditur boleh melarangnya melakukan perjalanan. karena dengan demikian. "Ketentuan umum yang berlaku pada ganti rugi dapat berupa: (a) menutup kerugian dalam bentuk benda (dharar. 1998: "Ta'widh (ganti rugi) adalah menutup kerugian yang terjadi akibat pelanggaran atau kekeliruan" (h. 93). maka wajib menggantinya dengan benda yang sama (sejenis) atau dengan uang" (h. apabila debitur menunjuk penjamin atau menyerahkan jaminan (qadai) yang cukup untuk membayar hutangnya pada saat jatuh tempo. 1996: "Ganti rugi karena penundaan pembayaran oleh orang yang mampu didasarkan pada kerugian yang terjadi secara riil akibat penundaan pembayaran dan kerugian itu merupakan akibat logis dari keterlambatan . kerugian kreditur dapat dihindarkan. hilangnya keuntungan dan terjadinya kerugian yang belum pasti di masa akan datang atau kerugian immateriil." o Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang dhaman atau ta'widh. Hal itu karena obyek ganti rugi adalah harta yang ada dan konkret serta berharga (diijinkan syariat untuk memanfaatkannya" (h. atau jika pihak berpiutang (kreditur) bermaksud melarang debitur (melakukan perjalanan)." o Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. al-Qahirah: al-Ma'had al-`Alami li-al-Fikr al-Islami. Akan tetapi. Apabila hal tersebut sulit dilakukan.  Pendapat 'Abd al-Hamid Mahmud al-Ba'li. Mafahim Asasiyyah fi al-Bunuk al-Islamiyah. Apabila jatuh tempo hutang ternyata sebelum masa kedatangannya dari perjalanan --misalnya.. juz IV. bahwa penundaan pembayaran kewajiban dapat menimbulkan kerugian (dharar) dan karenanya harus dihindarkan. maka menurut ketentuan hukum fiqh hal tersebut tidak dapat diganti (dimintakan ganti rugi). Nazariyah al-Dhaman. Damsyiq: Dar al-Fikr. perlu kita perhatikan sebagai berikut. seperti memperbaiki dinding. Hal ini karena ia (kreditur) akan menderita kerugian (dharar) akibat keterlambatan (memperoleh) haknya pada saat jatuh tempo. antara lain sebagai berikut:  Pendapat Wahbah al-Zuhaili. perjalanan untuk berhaji di mana debitur masih dalam perjalanan haji sedangkan jatuh tempo hutang pada bulan Muharram atau Dzulhijjah-. Sementara itu.

sedangkan penjatuhan sanksi atas debitur mampu yang menunda-nunda pembayaran tidak akan memberikan manfaaat bagi kreditur yang dirugikan. seyogyanya stastus hukumnya pun sama. Penundaan pembayaran hak sama dengan ghashab. hari Rabu. Kerugian riil sebagaimana dimaksud ayat 2 adalah biaya-biaya riil yg dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yg seharusnya dibayarkan. o Fatwa DSN No 18/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pencadangan Penghapusan Aktiva Produktif dalam LKS o Rapat BPH DSN MUI – BI – Perbankan Syari'ah. Kerugian yang dapat dikenakan ta'widh sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas. Hukm al-Gharamah al-Maliyah fi al-Fiqh al-Islami.widh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain. menurut mayoritas ulama. karena itu. 18 Juli 2004 di Lippo Karawaci-Tangerang. 4. yaitu bahwa pelaku ghashab bertanggung jawab atas manfaat benda yang di-ghasab selama masa ghashab.pembayaran tersebut. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004. o Rapat Pleno DSN-MUI. di samping ia pun harus menanggung harga (nilai) barang tersebut bila rusak. 3. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG GANTI RUGI (TA'WIDH) Pertama: KETENTUAN UMUM 1. 2.17/DSN-MUI/IX/2000 tentang S anksi Atas Nasabah Mampu Yang Menunda- nunda Pembayaran. Ganti rugi (ta‘widh) hanya boleh dikenakan pada transaksi (akad) yang menimbulkan utang piutang . al-Qahirah: al-Ma'had al `Alami li-al-Fikr al-Islami. 5." o Fatwa DSN No."  Pendapat ulama yang membolehkan ta'widh sebagaimana dikutip oleh 'Isham Anas al- Zaftawi. Besar ganti rugi (ta'widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss atau al-furshah al-dha-i' ah). Ganti rugi (ta. 1997: "Kerugian harus dihilangkan berdasarkan kaidah syari'ah dan kerugian itu tidak akan hilang kecuali jika diganti.

(dain), seperti salam, istishna' serta murabahah dan ijarah.

6. Dalam akad Mudharabah dan Musyarakah, ganti rugi hanya boleh dikenakan oleh shahibul mal atau salah
satu pihak dalam musyarakah apabila bagian keuntungannya sudah jelas tetapi tidak dibayarkan.

Kedua: KETENTUAN KHUSUS

1. Ganti rugi yang diterima dalam transaksi di LKS dapat diakui sebagai hak (pendapatan) bagi pihak yang
menerimanya.

2. Jumlah ganti rugi besarnya harus tetap sesuai dengan kerugian riil dan tata cara pembayarannya
tergantung kesepakatan para pihak.

3. Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad.

4. Pihak yang cedera janji bertanggung jawab atas biaya perkara dan biaya lainnya yang timbul akibat
proses penyelesaian perkara.

Ketiga: Penyelesaian Perselisihan

Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak,
maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan
melalui musyawarah.

Keempat: Ketentuan Penutup

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, jika di kemudian hari ternyata terdapat
kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H

DEWAN SYARI’AH NASIONAL

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua, Sekretaris,

KH. M.A Sahal Mahfudh Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Syariah Charge Card
Wednesday, 17 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 42/DSN-MUI/V/2004 tentang
Syariah Charge Card.

Menimbang :

a. Bahwa untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan
transaksi dan penarikan tunai diperlukan charge card

b. Bahwa fasilitas charge card yang ada dewasa ini masih belum sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

c. Bahwa agar fasilitas tersebut dilaksanakan sesuai dengan Syari'ah, Dewan Syari'ah Nasional
memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman.

Mengingat :

1. Firman Allah SWT, antara lain:

o QS. al-Ma'idah [5]: 1

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...”.

o QS.Yusuf [12]: 72:

"Penyeru-penyeru itu berseru: 'Kami kehilangan piala Raja,. dan barang siapa yang dapat
mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin
terhadapnya."

o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong
dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran..."

o QS. al-Furqan [25]: 67

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak herlebih-lebihan, dan tidak (pula)
kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian."

o QS. Al-Isra' [17]:

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-
pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

o QS. al-Isra' [17]: 34:

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya."

o QS. al-Qashash [28]: 26:

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada
kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah
orang yang kuat lagi dapat dipercaya."

o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah
disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari
Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu
(sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil
riba), maka orang itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."

o QS. al-Baqarah [2]: 282:

"Hai orang yang beriman! Jika kamu bermu'amalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah
secara tertulis..."

o QS. al-Bagarah [2]: 280:

"Dan jika ia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai ia berkelapangan..."

2. Hadist-hadist Nabi SAW, antara lain:

• Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, Nabi s.a.w. bersabda:

"Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau
menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang
mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram."

• Hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, al-Daraquthni, dan yang lain, dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi

Maka.w. Ibn Majah." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud. Rasulullah berkata.w. dan Allah senantiasa menolong hanzba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" • Hadis Nabi riwayat Jama'ah.. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu.a. antara lain: • "Pada dasarnya. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. menghalalkan harga diri dan memberikan sanksi kepadanya. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut. Tirmizi dan lbn Hibban: "Za'im (penjamin) adalah gharinz (orang yang menanggung hutang). Nabi bersabda: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. Rasulullah pun bertanya." • Hadis Nabi riwayat Muslim." Kaidah Fiqh. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. Nabi bersabda: "Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. `Saya menjamin hutangnya. Abu Daud.w. `Ya'. a. jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan. Lalu Abu Qatadah berkata. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain." • Hadis Nabi riwayat Nasa'i." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash. s. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang .." • Hadis Nabi riwayat Bukhari. beliau mensalatkannya. Apakah ia mempunyai hutang?' Mereka menjawab. `Tidak'. Rasulullah bertanya. ya Rasulullah'. dan Ahmad. Nabi s. maka. 'Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). beritahukanlah upahnya.a." • Hadis Nabi riwayat Bukhari dari Salamah bin al-Akwa': "Telah dihadapkan kepada Rasidullah s. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak " • Hadis riwayat 'Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. "Apakah ia mempunyai hutang?" Sahabat menjawab.

” o Kitab al-Muhadzdzab. Manakala akad jual beli atas benda dibolehkan. (Qaul qadim --Imam al-Syafl'i-- menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban). pensyarah telah menuturkan masalah ini --penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum terjadi dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin. Oleh karena itu.." . mengharamkannya.." o Kitab Mughni al-Muhtaj. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya. juz I Kitab al-Ijarah hal. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan." • "Keperluan dapat menduduki posisi darurat. jilid 111/77-78 : "(Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya." • "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari'at)." • "Kesulitan dapat menarik kemudahan.. Dalam pasal tentang Qardh. Redaksi dalam pasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan. pernyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman. karena hutang orang itu belum terjadi. maka sudah seharusnya dibolehkan pula akad ijarah atas manfaat.terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut..' Dengan demikian. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu yang akan dihutangkan.' Penjaminan tersebut tidak sah." • "Menghindarkan kerusakan (kerugian) harus didahulukan (diprioritaskan) atas mendatangkan kemaslahatan.. jilid II: 201-202: "(Hal yang dijamin) yaitu hutang (disyaratkan harus berupa hak yang telah terjadi) pada saat akad." Memperhatikan: • Pendapat fuqaha' antara lain dalam: o Kitab I'anah al-Thalibin. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (aitjah)...

19/DSN-MUI/IV/2001 tentang Qardh. • Substansi Fatwa DSN No. / 27 Mei 2004. Bank BNI Syariah. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG SYARIAH CHARGE CARD Pertama: HUKUM Penggunaan charge card secara syariah dibolehkan. yang dimaksud dengan: a. b. Substansi Fatwa DSN No. Substansi Fatwa DSN No. Syariah Charge Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh pemegang kartu (hamil al- bithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditetapkan. . termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin menggunakan fasilitas kartu. Bank Danamon Syariah dan lain-lain. 07 Rabi'ul Akhir 1425 H. dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Kedua: KETENTUAN UMUM Dalam fatwa ini. • Pendapat Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional MUI pada hari Kamis. Membership Fee (rusum al-'udhwiyah) adalah iuran keanggotaan. 9/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. c. nomor 2 tentang Bithaqah al-Hasm wa Bithaqah alI'timan." o Pendapat Majma' al-Fiqh al-Islami & Hai'ah al-Muhasabah wa al-Muraja'ah li-al-Mu'assasah al-Maliyah al-Islamiyah.11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah. Merchant Fee adalah fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil aldayn). al-Ma 'ayir al-Syar 'iyah Mei 2001: al-Mi'yar alSyar'i. perihal permohonan fatwa tentang kartu berdasarkan prinsip syariah. Bahrain. o Kitab Fiqh al-Sunnah jilid 4/221-222 : "Kafalah (jaminan) harta yaitu kajil (penjamin) berkewaj iban memberikan jaminan dalam bentuk harta. • Surat-surat masuk Bank BII Syariah.

Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) adalah denda yang dikenakan karena melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. • Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada waktunya. Untuk transaksi pengambilan uang tunai digunakan akad al-Qardh wal Ijarah. Denda keterlambatan (Late Charge) adalah denda akibat keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. b. f. Fee Penarikan Uang Tunai adalah fee atas penggunaan fasilitas untuk penarikan uang tunai (rusum sahb alnuqud) e. • Ujrah (Merchant Fee) Penerbit kartu boleh menerima fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). Keempat: 1. • Tidak mengakibatkan hutang yang tidak pernah lunas (ghalabah al-dayn). Untuk transaksi pemegang kartu (hamil cd-bithaqah) melalui merchant (qabil al-bithaqahlpenerima kartu). • Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat.d. 2. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil al-dayn). Ketentuan Fee: • Iuran keanggotaan (Membership fee) Penerbit kartu boleh menerima iuran keanggotaan (rusum al-'udhwiyah) termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin penggunaan fasilitas kartu. • Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan cara menetapkan pagu. Ketiga: KETENTUAN AKAD Akad yang dapat digunakan untuk Syariah Charge Card adalah: a. Ketentuan dan batasan (dhawabith wa hudud) Syariah Charge Card : • Tidak boleh menimbulkan riba. akad yang digunakan adalah akad Kafalah wal Ijarah. • Fee Penarikan Uang Tunai .

akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.A Sahal Mahfudh Prof. Sekretaris. 3. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 27 Mei 2004 / 07 Rabiul Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Ketentuan Denda • Denda Keterlambatan (Late Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. Din Syamsuddin . Dr. Keenam : Ketentuan Penutup • Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak- pihak terkait. M. • Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda karena pemegang kartu melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. KH. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. M. H.Penerbit kartu boleh menerima fee penarikan uang tunai (rusum sahb al-nuqud) sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya tidak dikaitkan dengan jumlah penarikan. • Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.

Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya • Firman Allah QS.. tentang Pengalihan Hutang. penuhilah aqad-aqad itu. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyrakat adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi non-syariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang sesuai dengan syariah b.. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. al-Isra [17] : 34: dan penuhilah janji. Pengalihan Hutang Sunday. al-Baqarah [2] : 275 : “dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Menimbang : a. c.” • Firman Allah QS. dan . al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya melalui akad pengalihan hutang oleh LKS. Bahwa agar akad tersebut dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah Islam. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 31/DSN- MUI/VI/2002.. Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman.. Mengingat : • Firman Allah QS. • Firman Allah QS.

mereka kekal di dalamnya. Pertama : Ketentuan Umum Dalam fatwa ini.a. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. dan yang lain. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. • Firman Allah QS. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. keadaan mereka yang demikian itu. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. orang yang kembali (mengambil riba). dan urusannya (terserah) kepada Allah. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada Hari Rabu. Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. tanggal 15 Rabiul Akhir1423H/ 26 Juni 2002. al-Baqarah [2] : 275: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. al-Daraquthni. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PENGALIHAN HUTANG.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” “Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syari’at). bertakwalah kamu kepada Allah. adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat).w bersabda: “Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. dari Abu Sa’id al-Khudri. Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. yang dimaksud dengan: .”. Nabi s. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. • Hadis nabi riwayat Imam Ibnu Majah.

Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. Fatwa DSN no. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardh-nya kepada LKS. LKS memberikan qardh kepada nasabah. c. 4. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nyal dan dengan demikian asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. a. d. Al-Qardh adalah akad pinjaman dari LKS kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan pokok pinjaman yang diterimanya kepada LKS pada waktu dan dengan cara pengembalian yang telah disepakati. dengan pembayaran secara cicilan.19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud alternatif I ini. 2. yang ingin mengalihkan hutangya ke LKS. LKS menjual secara murabahah aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. Pengalihan hutang adalah pemindahan hutang nasabah dari bank/lembaga keuangan konvensional ke bank/lembaga keuangan syariah. Kedua : Ketentuan Akad Akad dapat dilakukan melalui empat alternatif berikut: Alternatif I : 1. 3. Nasabah adalah (calon) nasabah LKS yang mempunyai kredit (hutang) kepada Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) untuk pembelian aset. Aset adalah aset nasabah yang dibelinya melalui kredit dari LKK dan belum lunas pembayaran kreditnya. Alternatif II : . b.

LKS memberikan qardh kepada nasabah. dengan seizin LKK. 1. Bagian aset yang dibeli oleh LKS sebagaimana dimaksud angka 1 adalah bagian aset yang senilai dengan hutang (sisa cicilan) nasabah kepada LKK. 3. asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. . 9/DSN-MUI/IV/2002. Alternatif III : 1. sesuai dengan fatwa DSN-MUI no. dan dengan demikian. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nya. 2. LKS menjual secara murabahah bagian asset yang menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. 4. dengan pembayaran secara cicilan. 2. sehingga dengan demikian. 19/DSN- MUI/IV/2001. nasabah dapat melakukan kad Ijarah dengan LKS. Fatwa DSN no: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif II ini. 3. Akad ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh dipersyaratkan dengan (harus terpisah dari) pemberian talangan sebagaimana dimaksudkan angka 2. 4. terjadilah syirkah al-milk antara LKS dan nasabah terhadap aset tersebut. Apabila diperlukan. Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas aset. Alternatif IV : 1. Besar imbalan jasa Ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan yang diberikan LKS kepada nasabah sebagaimana dimaksudkan angka 2. LKS dapat membantu menalangi kewajiban nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. LKS membeli sebagaian aset nasabah.

Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. 2. . dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardhnya kepada LKS. dengan akad al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Fatwa DSN no: 19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no: 27/DSN-MUI/III/2002 tentang al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif IV ini. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. Sekretaris. 3. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. 2. Ketiga : Ketentuan Penutup 1. 4. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. LKS menyewakan aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah.

Din Syamsuddin Pembiayaan Pengurusan Haji LKS Sunday. Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. kecuali yang akan dibacakan kepadamu. penuhilah aqad-aqad itu. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. c. Sahal Mahfudh Prof. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 29/DSN- MUI/VI/2002. dihalalkan bagimu binatang ternak. ‘Hai ayahku! . tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah. M. H. • Firman Allah QS. Dr.A. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. K. Menimbang : a. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. M. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pengurusan haji dan talangan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH). b. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang pengurusan dan pembiayaan haji oleh LKS untuk dijadikan pedoman.H. Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah.

a. (QS. Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat.w riwayat al-Bukhari: Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya. Al-Maidah [5] : 2).a. antara lain QS.. dan bertakwalah kamu kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Nabi s.w bersabda: Barang siapa mempekerjakan pekerja..W tentang beberapa prinsip bermuamalah. buatlah secara tertulis.”. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya. Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.w riwayat al-Nasa’i. beritahukanlah upahnya.” • Hadis Nabi s.. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.a. • Firman Allah. Al-Baqarah [2] : 280 : Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. • Hadis-hadis Nabi S. • Hadis Nabi s. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”. dan Ahmad: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga dirinya dan memberikan sanksi kepadanya. • Hadis Nabi s. Abu Daud.A. • Firman Allah tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. • Firman Allah QS.”.a.” • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Ibn Majah. QS.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” ..w riwayat Jama’ah: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Al-Baqarah [2] : 282 : Hai orang yang beriman! Jika kamu bermuamalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu. antara lain hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia. Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-ijarah sesuai fatwa DSN-MUI no. Apabila diperlukan. Asy-Syarkhasi dalam Takmilah Fathul Qadir (VI/2). Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada tanggal 14 September 2002 / 7 Rajab 1423 H. 2. Mudharabah. 19/DSN- MUI/IV/2001. Jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji. Pertama : Ketentuan Umum 1. LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. Murabahah. Dalam pengurusan haji bagi nasabah. 9/DSN- MUI/IV/2000. Pendapat para ulama tentang Al-Bai’ (jual-beli) dan mewakilkan dalam jual-beli. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di . Surat Direksi BMI Nomor 150/BMI/FSG/VII/2002 tertanggal 11 juli 2002 perihal permohonan fatwa tentang skema transaksi LC impor dan LC ekspor. 4. Qardh. 2. 3.Memperhatikan : 1. dan Musyarakah. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (V/85). 3. Kedua : 1. 4. Fatwa-fatwa DSN-MUI mengenai Ijarah. Pendapat ulama tentang Wakalah bil Ujrah. Besar imbalan jasa al-ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah. 5. Salam/Istishna’. Wahbah Al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (V/4058). Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN PENGURUSAN HAJI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH.

H. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Sahal Mahfudh Prof. Dr.A. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. K. 2. M. Sekretaris. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. M.H. antara para pihak. Din Syamsuddin .

. Rahn Emas Sunday." . Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal itu untuk menjadikan pedoman. yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Bahwa bank syari'ah perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 26/DSN-MUI/III/2002. b.. tentang Rahn Emas. Bahwa masyarakat pada umumnya telah lazim menjadikan emas sebagai barang berharga yang disimpan dan menjadikannya objek rahn sebagai jaminan hutang untuk mendapatkan pinjaman uang d. Mengingat : • Firman Allah. QS. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah Rahn. Al-Baqarah[2]:283 : "Dan apabila kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak memperoleh seorang juru tulis maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. c. Menimbang : a.

2. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat . al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.W bersabda: "Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat fatwa DSN nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn). Nabi S. V:181). Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.W bersabda: "Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. 3/305/DPM Tanggal 23 Oktober 2001 Tentang Permohonan Fatwa atas Produk Gadai Emas. dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya. Hasil Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Kamis. al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.A. MEMUTUSKAN Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN EMAS." Memperhatikan : 1. • Hadis Nabi Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah. Pertama : 1. Biaya penyimpanan barang (marhun) dilakukan berdasarkan akad ijarah.W pernah membeli makanan dengan berhutang dari seroang Yahudi. 2. 3. Surat dari Bank Syariah Mandiri No." • Hadis Nabi riwayat al-Syafi'i. 14 Muharram 1423 H/28 Maret 2002 M. kecuali Muslim dan al-Nasai'i." • Hadis Nabi riwayat Jama'ah. • Kaidah Fiqh:"Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." • Ijma' : Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (al-Zuhaili. ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah S. Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya. Nabi S.A. 4. 1985. Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.A. Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin).

kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M

DEWAN SYARI’AH NASIONAL

MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua, Sekretaris,

K.H. M.A. Sahal Mahfudh Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Rahn
Sunday, 16 April 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 25/DSN-MUI/III/2002,
tentang Rahn.

Menimbang :

a. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah
pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang

b. Bahwa lembaga keuangan syariah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam
berbagai produknya

c. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, Dewan Syariah Nasional
memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal untuk dijadikan pedoman tentang Rahn, yaitu
menahan barang sebagai jaminan atas hutang.

Mengingat :

• Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 283: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak
secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang
tanggungan yang dipegang...”.

• Hadis nabi riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah
s.a.w pernah membeli makanan dengan berhutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan
sebuah baju besi kepadanya.”.

• Hadis Nabi riwayat al-Syafi’i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w
bersabda: “Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia

memperoleh manfaat dan menanggung resikonya.”

• Hadis nabi riwayat Jama’ah kecuali Muslim dan al-Nasai, Nabi s.a.w bersabda: “Tunggangan
(kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak
yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Orang yang
menggunakan kendaraan dan memerah susu tersebut wajib menanggung biaya perawatan dan
pemeliharaan.”.

• Ijma: Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (Al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu,
1985, V:181).

• Kaidah Fiqh: Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang
mengharamkannya.

Memperhatikan :

1. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423
H / 28 Maret 2002 dan hari rabu, 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002.

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN.

Pertama : Hukum

Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk
rahn dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut.

Kedua : Ketentuan Umum

1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang)
sampai semua hutang Rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi.

2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya, Marhun tidak
boleh dimanfaatkan oleh Murtahin kecuali seizin Rahin ,dengan tidak mengurangi
nilai Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan
perawatannya.

3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin,

d. Penjualan Marhun a. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban Rahin. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. maka Marhun dijual paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah. 5. 4. Ketiga : Ketentuan Penutup 1. c. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban Rahin. Apabila jatuh tempo. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M . biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penujualan. b. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera melunasi hutangnya. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi hutangnya. namun dapat dilakukan juga oleh Murtahin. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi hutang. 2.

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Dr. H.A. M. Din Syamsuddin . Sahal Mahfudh Prof. Sekretaris.H. K. M.

tentang potongan pelunasan dalam murabahah. Mengingat : • Firman Allah QS. Bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu... . Menimbang : a. Bahwa dalam hal nasabah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati.. b. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan pelunasan dalam murabahah sebagai pedoman bagi LKS dab nastarajat secara umum.. LKS sering diminta nasabah untuk memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran tersebut.. Bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut ajaran Islam. • Firman Allah QS. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 23/DSN-MUI/III/2002.. c. Al-Baqarah (2): 275: “. Potongan Pelunasan Murabahah Sunday.”.”.

”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Maka Rasulullah saw berkata: ‘Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat’ “.. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan .’ (HR. ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. • Firman Allah QS. • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”.dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo’. Pertama : Ketentuan Umum 1. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: ‘Wahay Nabiyallah. Al-Ma’idah (5): 2: “. dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.. • Firman Allah QS. Ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut.. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.. 2.. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG POTONGAN PELUNASAN DALAM MURABAHAH. tanggal 14 Muharram1423H/ 28 Maret 2002.. 2. Surat dari pimpinan Unit Usaha Syariah Bank BNI no: UUS/2/878.”. Memperhatikan : 1.”. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw.

Sahal Mahfudh Prof. Dr. M. pertimbangan LKS. Din Syamsuddin . K. Sekretaris. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.A. H. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.H. M. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

kecuali dengan jalan perniagaan yang . meminta fatwa kepada DSN tentang tindakan atau sanksi apakah yang dapat dilakukan terhadap nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran tersebut menurut syariat Islam. Menimbang : a. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Bahwa nasabah mampu terkadang menunda-nunda kewajiban pembayaran baik dalam akad jual beli maupun akad yang lain. dalam hal ini pihak LKS. Bahwa oleh karena itu. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 17/DSN- MUI/IX/2000. DSN perlu menetapkan fatwa tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran menurut prinsip syariah Islam. c. Sanksi Atas Nasabah Sunday. Mengingat : • Firman Allah QS. b. untuk dijadikan pedoman oleh LKS. pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan di antara kedua belah pihak. d. tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran. Bahwa masyarakat banyak memerlukan pembiayaan dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan pada prinsip jual beli maupun akad lain yang pembayarannya kepada LKS dilakukan secara angsuran. An-Nisa [4]: 29 Hai orang-orang yang beriman. Bahwa masyarakat.

Tirmidzi. Abu Dawud. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG SANKSI ATAS NASABAH YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN Pertama : Ketentuan Umum . Abu Daud. • Hadis Nabi riwayat jama’ah (Bukhari. berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.”... Darami dari Abu Hurairah. b. Memperhatikan : a. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. Nasai. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000.. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain.”.. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Firman Allah QS. Muslim. Malik.” • Hadis Nabi riwayat Nasai.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Ibn Majah dan Ahmad dari syraid bin Suwaid: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan.”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar): “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Ahmad.”.

akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 4. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang mampu membayar. Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi. 6. 2. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M . Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. 5. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi. tetapi menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya. 3. 1.

A. M. Din Syamsuddin .H. Sekretaris. Sahal Mahfudh Prof. M. Dr. K. H. DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

. Menimbang : a. ataukah merupakan hak pembeli (nasabah) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) mengugnakan harga setelah diskon. Bahwa untuk mendapatkan kepastian hukum. c. Bahwa salah satu prinsip dasar dalam murabahah adalah penjualan suatu barang kepada pembeli dengan harga (tsaman) pembelian dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. LKS) terkadang memperoleh potongan harga (diskon) dari penjual pertama (supplier). 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 16/DSN-MUI/IX/2000. Bahwa penjual (Lembaga Keuangan Syariah. Diskon Murabahah Sunday. Mengingat : • Firman Allah QS. b. . Bahwa dengan adanya diskon timbul permasalahan: apakah diskon tersebut menjadi hak penjual (LKS) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) menggunakan harga sebelum diskon.”. tentang status diskon dalam transaksi murabahah tersebut. sesuai dengan prinsip syariah Islam. d. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. tentang Diskon dalam Murabahah.. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan harga (diskon) dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS.

baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jual beli. • “Dimana terdapat kemaslahatan. Jika pemberian diskon terjadi setelah akad. Harga dalam jual beli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. di sana terdapat hukum Allah”. Dalam akad. 3. 2.”. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. lebih tinggi maupun lebih rendah. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. 4. b. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Jika dalam jual beli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier.”. 5. karena itu diskon adalah hak nasabah. harga sebenarnya adalah setelah diskon. pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DISKON DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum 1. Memperhatikan : a. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan . Harga (tsaman) dalam jual beli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.

M. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Sahal Mahfudh Prof. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.A. Dr. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. K. Sekretaris. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum.H. H. M. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Din Syamsuddin . ditandatangani.

tentang Uang Muka dalam Murabahah.”..”. Uang Muka Murabahah Sunday. Al-Baqarah (2) : 282: “Hai orang yang beriman! Jika kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk jangka waktu yang ditentukan.. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. b. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang . Bahwa agar dalam pelaksanaan akad murabahah dengan memakai uang muka tidak ada pihak yang dirugikan. • Firman Allah QS. sesuai dengan prinsip ajaran Islam. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang uang muka dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 13/DSN-MUI/IX/2000. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit.”. tuliskanlah. Mengingat : • Firman Allah QS. LKS dapat meminta uang muka... Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Menimbang : a. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Bahwa untuk menunjukkan kesungguhan nasabah dalam permintaan pembiayaan murabahah dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS).

tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. 2.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada nasabah. Memperhatikan : a. lain. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 3. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai . Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian. nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. Jika nasabah membatalkan akad murabahah.”. b. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG UANG MUKA DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Uang Muka: 1. Dalam akad pembiayaan murabahah. LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah. • Para ulama sepakat bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz). 5. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu.”. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. 4.

H. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Sekretaris. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum.A. K. M. Dr. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Din Syamsuddin . Sahal Mahfudh Prof. kesepakatan melalui musyawarah. M. H.

dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. tentang Pembiayaan Ijarah. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.. Bertaqwalah kepada . Al-Zukhruf (43) : 32: “Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperoleh manfaat suatu barang sering memerlukan pihak lain melalui akad ijarah. yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Bahwa agar akad tersebut sesuai dengan ajaran Islam. Bahwa kebutuhan akan ijarah kini dapat dilayani oleh lembaga keuangan syariah (LKS) melalui akad pembiayaan ijarah. Menimbang : a. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. • Firman Allah QS.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang akad ijarah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS. Pembiayaan Ijarah Saturday. c.. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 09/DSN-MUI/IV/2000. b. Al-Baqarah (2) : “.

”.w bersabda: “Barangsiapa mempekerjakan pekerja.” Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. beritahukanlah upahnya.”. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. • Hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar. ‘Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. maka. • Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa.”.”. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN IJARAH Pertama : Rukun dan Syarat Ijarah : . • Kaidah Fiqh: • “Pada dasarnya. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.”. • “Memghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan. Allah. ia berkata: “Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. Nabi s. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. • Hadis riwayat Abu daud dari Sa’ad Ibn Abi Waqqash. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”. bahwa Nabi bersabda: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering. • Firman Allah QS.a.”.

pemilik aset. 7. Ketentuan (flexibility) dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu. 5. dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah). Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syari’ah. Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak. Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan. 1. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa. 3. tempat dan jarak. pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset. 9. 4. termasuk jangka waktunya. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijararah. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik. Kedua : Ketentuan Obyek Ijarah: 1. 5. Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah obyek kontrak yang harus dijamin. Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) : terdiri atas pemberi sewa (lessor. 8. nasabah). 2. LKS) dan penyewa (lesee. karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri. Ketiga : Kewajiban LKS dan Nasabah dalam pembiayaan Ijarah . 3. Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. Pernyataan Ijab dan Qabul. Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa. 6. 2. Obyek kontrak: pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset. Sighat Ijarah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak. 4. baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent.

Jika aset yang disewa rusak. . b. c. Menyediakan aset yang disewakan. Menanggung biaya pemeliharaan aset. 2. Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa: a. Sekretaris. 1. juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya. b. Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak. c. Keempat : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan. Kewajiban nasabah sebagai penyewa: a. ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak materiil). maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan usaha terkadang memerlukan dana dari pihak lain. kini telah dilakukan oleh lembaga keuangan syraiah. Menimbang : a. Ali Yafie Drs.. A. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang musyarakah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS. KH. Shad (38) : 24: “. Bahwa pembiayaan musyarakah yang memiliki keunggulan dari segi kebersamaan dan keadilan.Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebagian lain.. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. baik dalam berbagi keuntungan maupun resiko kerugian. kecuali orang yang beriman . Nazri Adlani Musyarakah Saturday. b. antara lain melalui pembiayaan musyarakah. tentang Pembiayaan Musyarakah. Prof.H. yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. c. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 08/DSN-MUI/IV/2000.

. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. melalui korespondensi. . tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000. • Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. c. dan amat sedikitlan mereka ini.” • Firman Allah QS. Rasulullah berkata: “Allah swt berfiman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain.”. atau dengan menggunakan cara- cara komunikasi modern. Jika salah satu pihak telah berkhianat.. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Beberapa Ketentuan : 1.. dan mengerjakan amal shaleh. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.. b. Abu Daud. aku keluar dari mereka. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.”.”. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. • Ijma’ Ulama atas bolehnya musyarakah. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). • Taqrir Nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan masyarakat pada saat itu. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis.’ (HR. Akad dituangkan secara tertulis. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. yang dishahihkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah).

Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal. meminjamkan. akan tetapi. menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan. Kerja i. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi weewnang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya. b. Modal i. Pada prinsipnya. Modal yang diberikan harus uang tunai.2. dan memperhatikan hal-hal berikut: a. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya. dan sebagainya. seperti barang-barang. dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan . Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum. perak atau yang nilainya sama. keuntungan dan kerugian) a. LKS dapat meminta jaminan. b. Para pihak tidak boleh meminjam. Obyek akad (modal. tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja. d. emas. harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. properti. Jika modal berbentuk aset. iii. e. c. dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. 3. ii. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan. namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan. kecuali atas dasar kesepakatan. kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan. kerja.

Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. iii. a. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. Biaya operasional dipersengkatakan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M . Kedudukan masing- masing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. d. c. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya. ii. ii. 4. iv. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. b. Kerugian Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masing- masing dalam modal. tambahan bagi dirinya. Keuntungan i.

shahib al-mal. b. mudharib. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 07/DSN-MUI/IV/2000. Sekretaris. Prof. Bahwa dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dana lembaga keuangan syari’ah (LKS). Ali Yafie Drs. KH. Menimbang : a. tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). pihak LKS dapat menyalurkan dananya kepada pihak lain dengan cara mudharabah. kecuali dengan jalan perniagaan yang . Nazri Adlani Mudharabah (Qiradh) Saturday. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang mudharabah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. A. dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. nasabah) bertindak selaku pengelola. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik. LKS) menyediakan seluruh modal. sedang pihak kedua (‘amil. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam.H. Mengingat : • Firman Allah QS.

dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 1989.. Thabrani dari Ibnu Abbas). hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. • Ijma.. berlaku dengan sukarela di antaramu. Ibnu Majah dari Shuhaib).”.. Karenanya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUDHARABAH (QIRADH) .” (HR. Al-Baqarah (2): 283: “.. muqaradhah (mudharabah). bukan untuk dijual. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. 4/838).”. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Diriwayatkan. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000. Jika persyaratan itu dilanggar. serta tidak membeli hewan ternak. Daaqauthni.”. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. beliau membenarkannya” (HR.. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”. • Firman Allah QS.Maka. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. • Firman Allah QS. Ibnu Majah. ia (mudharib) harus menanggung resikonya.”..

Pertama : Ketentuan Pembiayaan : 1. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib. 6. dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN. Dalam hal penyandang dana (LKS ) tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan. Pada prinsipnya. 2. 7. Jangka waktu usaha. tatacara pengembalian dana. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) menbiayai 100% kebutuhan suatu proyek (usaha) sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha. Kriteria pengusaha. 4. 9. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja. dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha). Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. . dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan. 10. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang. mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan. Mudharab boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan seusai dengan syari’ah. atau menyalahi perjanjian. LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. lalai. dan LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan. prosedur pembiayaan. 5. namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan. 8. 3.

dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja. 3. b. 2. baik secara bertahap maupun tidak. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib. Modal adalah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut: a. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. Akad dituangkan secara tertulis. 4. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. kelalaian atau pelanggaran kesepakatan. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi: a. c. b. melalui korespondensi. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk satu pihak. b. maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah.Kedua : Rukun dan Syarat Pembiayaan: 1. sesuai dengan kesepakatan dalam akad. Jika modal diberikan dalam bentuk aset. c. atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern. . Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). c. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Penyedia dana (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum.

4. Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. kelalaian. Pada dasarnya. c. b. 5. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA . Ketiga : Beberapa ketentuan hukum pembiayaan: 1. dalam mudharabah tidak ada ganti rugi. 2. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib) sebagai perimbangan modal yang disediakan oleh pneyedia dana. yaitu keuntungan. kecuali akibat dari kesalahan disengaja. dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu. karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah). tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. 3. Pengenlola tidak boleh menyalahi hukum syari’ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah. atau pelanggaran kesepakatan. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. tanpa campur tangan penyedia dana. harus memperhatikan hal-hal berikut: a. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah.

Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang istishna’ untuk menjadi pedoman. dan hal seperti itu dapat dilakukan melalui jual beli istishna’. Bahwa transaksi istishna’ pada saat ini telah dipraktekkan oleh lembaga keuangan syariah. KH. tentang Jual Beli Istishna'. Ketua. c. Menimbang : a. Nazri Adlani Jual Beli Istishna' Saturday. Prof. sering memerlukan pihak lain untuk membuatkannya. b. mustashni’) dan penjual (pembuat. Bahwa kebutuhan masyarkat untuk memperoleh sesuatu. A. Mengingat : . shani’). Ali Yafie Drs.H. yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 06/DSN-MUI/IV/2000. Sekretaris.

tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000. • Menurut mazhab Hanafi. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan. 2. Ibnu Majah. 2. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. 3. barang atau manfaat. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri).”.”. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI ISTHISHNA’ Pertama : Ketentuan tentang pembayaran : 1. baik berupa uang. Penyerahannya dilakukan kemudian. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya. 3. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR. Daaqauthni. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Kedua : Ketentuan tentang Barang: 1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya. istishna’ hukumnya boleh (jawaz) karena hal itu telah dilakukan oleh masyrakat muslim sejak masa awal tanpa ada pihak (ulama) yang mengingkarinya. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. . • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.

KH.H. Nazri Adlani . maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Tidak boleh menukar barang. A. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan. pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad. 3. kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan. Ali Yafie Drs. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. 5. Pembeli (mushtashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’. Sekretaris. hukumnya mengikat. Ketiga : Ketentuan Lain 1. Prof. 6. 4. 2. 7. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan.

15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 04/DSN-MUI/IV/2000. yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan. Murabahah Saturday. . Bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank berdasarkan prinsip jual beli. bank syari’ah perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya. tentang Murabahah. b. Menimbang : a.

Bada’i as-Sana’i V/220-222). . Ibnu Majah dan Ahmad: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.. Bidayah al-Mujtahid.. Al-Baqarah (2) : 280 : “..”. ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang Murabahah untuk dijadikan pedoman oleh bank syari’ah Mengingat : • Firman Allah QS. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. • Hadis Nabi riwayat ‘Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam: “Rasulullah SAW. • Firman Allah QS. • Hadis Nabi riwayat Nasa’i Abu Dawud. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai.” • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan. al-Kasani. • Firman Allah QS. muqaradhah (mudharabah). • Firman Allah QS. maka beliau menghalalkannya. • Ijma’ Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara Murabahah (Ibnu Rusyd..... ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli..”.’ (HR.”. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban).”. II/161... • Hadis Nabi riwayat Jama’ah: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.” (HR. bukan untuk dijual.. Al-Baqarah (2): 275: “..Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Bahwa oleh karena itu.”.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.. Ibnu Majah dari Shuhaib). Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil.c.. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.

9. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. 2. misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang. 7. 5. 8. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya. . 6. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah: 1. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri. secara prinsip menjadi milik bank. 3. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepaki. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah. 4.Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian.

6. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. Jika nasabah batal membeli. ia tinggal membayar sisa harga. karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Ketiga : Jaminan dalam Murabahah: 1. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank. kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. 5. dan jika uang muka tidak mencukupi.Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah: 1. Jaminan dalam murabahah dibolehkan. 2. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka. 2. agar nasabah serius dengan pesanannya. b. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang. maka: a. 7. 3. nasabah wajib melunasi kekurangannya. bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah. Jika bank menerima permohonan tersebut. Keempat : Hutang dalam Murabahah: . Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. 4. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut.

maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya. ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya. Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah: 1. 1. 2. atau berdasarkan kesepakatan. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank. Secara prinsip. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 . Keenam : Bangkrut dalam Murabahah: Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan. 2. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. 3.

b. Menimbang : a. Ali Yafie Drs. Prof. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. tentang Deposito. KH.H. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan deposito pada bank syari’ah. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah deposito. Bahwa oleh karena itu. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 03/DSN-MUI/IV/2000. DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. kecuali dengan jalan perniagaan yang . pada masa kini. c. Nazri Adlani Deposito Saturday. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. A. bahwa kegiatan deposito tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). Sekretaris. yaitu simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimapanan dengan bank. memerlukan jasa perbankan. Mengingat : • Firman Allah QS.

beliau membenarkannya” (HR.” (HR. • Firman Allah QS. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. • Para ulama menyatakan. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya... jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. 1989. • Qiyas. Oleh karena itu. Ibnu Majah dari Shuhaib). hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.”. modal) dari satu pihak (malik. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. Jika persyaratan itu dilanggar.. Al-Baqarah (2) : 198 : “.”. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah.”.Maka.. serta tidak membeli hewan ternak. Memperhatikan : . dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut.” • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.”.. Transaksi mudharabah. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. • Firman Allah QS. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin...... semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. 4/838).Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. Al-Baqarah (2): 283: “. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. • Ijma. Karenanya. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. berlaku dengan sukarela di antaramu.. • Firman Allah QS. Thabrani dari Ibnu Abbas). bukan untuk dijual..”. muqaradhah (mudharabah). Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. Diriwayatkan.

dalam bentuk tunai dan bukan piutang. yaitu Deposito yang berdasarkan perhitungan bunga. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. yaitu Deposito yang berdasarkan prinsip Mudharabah. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. 4. 6. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Ditetapkan di : Jakarta . 2. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DEPOSITO Pertama : Deposito ada dua jenis: 1. 3. Deposito yang dibenarkan. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. Deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya.Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. 2. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. Kedua : Ketentuan Umum Deposito berdasarkan Mudharabah: 1. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 5. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

Nazri Adlani .H. A. Prof. Sekretaris. KH. Ali Yafie Drs.Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 02/DSN-MUI/IV/2000. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah tabungan. . Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Tabungan Saturday. yaitu simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati tetapi tidak dapat ditarik dengan cek.. b. memerlukan jasa perbankan. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. bahwa kegiatan tabungan tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan tabungan pada bank syari’ah. Bahwa oleh karena itu. c. Menimbang : a. bilyet giro dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu.”. tentang Tabungan. pada masa kini.. Mengingat : • Firman Allah QS.

Transaksi mudharabah.Maka. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Al-Baqarah (2): 283: “. • Firman Allah QS. beliau membenarkannya” (HR. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut.. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. Ibnu Majah dari Shuhaib). al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. bukan untuk dijual. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. • Qiyas.. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang.”. • Firman Allah QS.” (HR. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”.. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. serta tidak membeli hewan ternak. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. Thabrani dari Ibnu Abbas).. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 1989. 4/838). jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. modal) dari satu pihak (malik. Diriwayatkan. Karenanya. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan.”.... dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. muqaradhah (mudharabah).”. • Firman Allah QS. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah.”. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. • Ijma. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. Oleh karena itu. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. Jika persyaratan itu dilanggar. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.. • Para ulama menyatakan.. .

6. Tabungan yang dibenarkan. yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak betentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. 2. 4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Bersifat simpanan. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 2. Ketiga : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Wadi’ah: 1. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. . Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG TABUNGAN Pertama : Tabungan ada dua jenis: 1. 3. yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan Wadi’ah. Kedua : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Mudharabah: 1. 5.

3. Prof. Sekretaris. 2. A. Ali Yafie Drs. Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepatakan. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank. Nazri Adlani .H. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. Tidak ada imbalan yang disyaratkan.

dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah giro. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. bahwa kegiatan giro tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). Mengingat : • Firman Allah QS. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. • Firman Allah QS.. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. b. c. Giro Saturday..”.. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. Al-Baqarah (2): 283: “. yaitu simpanan dana yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan penggunaan cek. bilyet giro. atau dengan pemindahbukuan.. tentang Tabungan. Bahwa oleh karena itu.. . pada masa kini.”. Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan giro pada bank syari’ah. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. sarana perintah pembayaran lainnya.Maka. memerlukan jasa perbankan. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 01/DSN-MUI/IV/2000. Menimbang : a..

kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. beliau membenarkannya” (HR. • Ijma. • Qiyas.”. • Firman Allah QS. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.”. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. yakni penyerahan sejumlah harta (dana.. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. Karenanya.”. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. Ibnu Majah dari Shuhaib)... • Firman Allah QS. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Oleh karena itu. Jika persyaratan itu dilanggar. modal) dari satu pihak (malik. Thabrani dari Ibnu Abbas).” (HR. 1989. Transaksi mudharabah. serta tidak membeli hewan ternak. bukan untuk dijual. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.. Diriwayatkan. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Para ulama menyatakan. . Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. 4/838). tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000.”. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. muqaradhah (mudharabah). hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan.

5. Titipan bisa diambil kapan saja (on call). 4. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan ditunangkan dalam akad pembukaan rekening. 3. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 6. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. Giro yang dibenarkan secara syari’ah. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentang dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. Giro yang tidak dibenarkan secara syari’ah. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. 2. 2. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. Kedua : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Mudharabah: 1. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat . 3. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah. Bersifat titipan. 2.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG GIRO Pertama : Giro ada dua jenis: 1. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga. Ketiga : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Wadi’ah : 1.

H. sukarela dari pihak bank. Ali Yafie Drs. Prof. KH. A. Nazri Adlani . Sekretaris. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.