Konversi Akad Murabahah

Thursday, 18 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 49/DSN-MUI/II/2005 tentang Konversi Akad Murabahah. Menimbang : a. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah; b. bahwa dalam hal nasabah mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan, maka ia dapat diberi keringanan; c. bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk konversi dengan membuat akad baru dalam penyelesaian pembayaran kewajiban; d. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam, Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain: o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Nisa' [4]: 29:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dan

janganlah kamu membunuh dirimu,. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu." o QS. al-Ma'idah [5]: 1:

"Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya." o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Hai orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syrar-,Nyrar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang hadya, dan binatangbinatang qala'id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya." o QS. al-Baqarah [2]: 280:

"Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." Mengingat : Hadis-hadis Nabi s.a.w.; antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban :

Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir, datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat".

o

Hadits Nabi Riwayat Muslim, beliau bersabda:

"Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia, Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, beliau bersabda:

"Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. " 3. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya, semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." o "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan".

Memperhatikan: o Surat Direksi BSM No.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. o o Hasil workshop BPH-DSN, 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Jum'at, 16 Muharram 1426/ 25 Februari 2005. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG KONVERSI AKAD MURABAHAH Pertama: Ketentuan Konversi Akad LKS boleh melakukan konversi dengan membuat akad baru bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/ melunasi pembiayaan murabahahnya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati, tetapi ia masih prospektif, dengan ketentuan: a. Akad murabahah dihentikan dengan cara: o o o Obyek murabahah dijual oleh nasabah kepada LKS dengan harga pasar; Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan; Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka kelebihan itu dapat dijadikan uang

maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. o Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah yang cara pelunasannya disepakati antara LKS dan nasabah. b. H. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. M. Dr. atau Musyarakah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. LKS dan nasabah eks-murabahah tersebut dapat membuat akad baru dengan akad: Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik atas barang tersebut di atas dengan merujuk kepada fatwa DSN No. M. 08/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Musyarakah. 07/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). 27/DSN-MUI/III/2002 tentang Al Ijarah AlMuntahiyah Bi Al-Tamlik. Sekretaris. o Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Din Syamsuddin . Mudharabah dengan merujuk kepada fatwa DSN No. KH.A Sahal Mahfudh Prof.muka untuk akad ijarah atau bagian modal dari mudharabah dan musyarakah.

bahwa keringanan sebagaimana dimaksud di atas dapat diwujudkan dalam bentuk penjadwalan kembali dalam pembayaran kewajibannya. d. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 48/DSN-MUI/II/2005 tentang Penjadwalan Kembali Tagihan Murabahah. b. dan urusannya (terserah) kepada Allah. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). maka ia dapat diberi keringanan. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. bahwa dalam hal nasabah mengalami penuruan kemampuan dalam pembayaran cicilan. Firman Allah SWT. padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Menimbang : a. c. Orang yang mengulangi (mengambil . Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. Mengingat : 1.Penjadwalan Kembali Murabahah Thursday. al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). lalu terus berhenti (dari mengambil riba). antara lain: o QS.

" 2. maka bolehlah berburu." o QS. mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Nisa' [4]: 29 "Hai orang yang beriman.a. Dan janganlah kamu membunuh dirimu.. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal . jangan (mengganggu) binatang binatang hadya. Hadis-hadis Nabi s. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.w. Dihalalkan bagimu binatang ternak. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." o QS. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. dan binatang-binatang qala'id. al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. jika kamu mengetahui. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.riba). kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan shahihkan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan." o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat." o QS.

13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. Hasil workshop BPH-DSN. Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya.atau menghalalkan yang haram. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah." Memperhatikan: o o o Surat Direksi BSM No. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 25 Feburari 2005 / 16 Muharram 1426 H . akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Pembebanan biaya dalam proses penjadualan kembali adalah biaya riil. Perpanjangan masa pembayaran harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. dengan ketentuan: o o o Tidak menambah jumlah tagihan yang tersisa." 3. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENJADWALAN KEMBALI TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Penjadwalan Kembali LKS boleh melakukan penjadwalan kembali (rescheduling) tagihan murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. Kedua: Ketentuan Penutup o Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. o Fatwa ini herlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekel iruan. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005 Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa.

Dr. M. H. Din Syamsuddin .DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. M.A Sahal Mahfudh Prof. Sekretaris.

antara lain: o QS. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yung batil. al-Nisa' [4]: 29: " Hai orang yang beriman. al-Ma'idah [5]: 2: . Dewan Syari'ah Nasonal memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. maka diselesaikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Firman Allah SWT. b.Penyelesaian Piutang Murabahah Thursday. bahwa dalam hal nasabah tidak mampu membayar. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. c. Menimbang : a. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu." o QS. al-Baqarah [2]: 180: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. " o QS. Mengingat : 1. jika kamu mengetahui. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 47/DSN-MUI/II/2005 tentang Penyelesaian Piutang Murabahah Bagi Nasabah Tidak Mampu Membayar.

• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabiyallah. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). maka bolehlah berburu. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. Hadits-hadits Nabi s."Hai orang yang beriman. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dengan kerelaan kedua belah pihak. • Hadits Nabi riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih sanadnya : Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya." 3. Dan bertakwalah kamu kepada Allah..w. Kaidah fiqh: • • "Pada dasarnya. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah . dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Bailullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." 2. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan binatang-binatang qala'id.a. antara lain: • Hadits Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban : Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda." "Kesulitan dapat mendatangkan kemudahan" Memperhatikan: • Fatwa DSN No.

dengan ketentuan: • Obyek murabahah dan atau jaminan lainnya dijual oleh nasabah kepada atau melalui LKS dengan harga pasar yang disepakati. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2005. Apabila hasil penjualan lebih kecil dari sisa hutang maka sisa hutang tetap menjadi hutang nasabah. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Kedua: Ketentuan Penutup • 1. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihakpihak terkait. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG PENYELESAIAN PIUTANG MURABAHAH BAGI NASABAH TIDAK MAMPU MEMBAYAR Pertama: Ketentuan Penyelesaian LKS boleh melakukan penyelesaian murabahah bagi nasabah yang tidak bisa menyelesaikan/melunasi pembiayaannya sesuai jumlah dan waktu yang telah disepakati. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL . Apabila nasabah tidak mampu membayar sisa hutangnya. • • • • Nasabah melunasi sisa hutangnya kepada LKS dari hasil penjualan.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. maka LKS dapat membebaskannya. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.• • • Hasil workshop BPH-DSN. Apabila hasil penjualan melebihi sisa hutang maka LKS mengembalikan sisanya kepada nasabah. • 2. Surat Direksi BSM No. 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa.

Din Syamsuddin . M. Dr.MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. H. M.A Sahal Mahfudh Prof. KH. Sekretaris.

sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. Sedangkan nasabah yang mengalami penurunan kemampuan dalam pembayaran cicilan dapat diberi keringanan c. d. bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syari'ah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat). maka ia dapat diberi penghargaan. Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa untuk dijadikan pedoman. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 46/DSNMUI/II/2005 tentang Potongan Tagihan Murahabah. antara lain: o QS. Firman Allah SWT. maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Menimbang : a. Mengingat : 1. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya.Potongan Tagihan Murahabah Thursday. bahwa dalam hal nasabah telah melakukan pembayaran cicilan dengan tepat waktu. bahwa penghargaan dan keringanan yang merupakan mukafa 'ah tasyji 'iyah (insentif) tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk potongan dari total kewajiban pembayaran. al-Baqarah [2]: 275: "Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut Syari'ah Islam. . b.

maka bolehlah berburu. maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. antara lain: o Hadis Nabi riwayat al-Baihaqi dan Ibnu Majah. bersabda: "Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.dan urusannya (terserah) kepada Allah. Al-Nisa' [4]: 29: "Hai orang yang beriman. janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah. dan jangan tolongmenolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.w. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Orang yang mengulangi (mengambil riba). Al-Ma'idah [5]: 1: "Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu." o QS. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. janganlah kamu saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil.w." o Hadis Nabi riwayat Imam Tirmidzi dari `Amr bin `Auf al-Muzani. "Sesungguhnya jual beli itu hanya boleh dilakukan dcngan kerelaan kedua belah pihak. dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. o QS.. Al-Ma'idah [5]: 2: "Hai orang yang beriman. mereka kekal di dalamnya." o QS. Hadis-hadis Nabi s. jika kamu mengetahui." o QS. Dan bertakwalah kamu kepada Allah. dan binatang-binatang qala'id." ." 2. Nabi s. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antara kamu. Dihalalkan bagimu binatang ternak. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji.a. mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan janganlah sekali-kali kebencian-(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam. kecuali yang akan dibacakan kepadamu. al-Baqarah [2]: 280: "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.a. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu lebih baik bagimu. dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. jangan (mengganggu) binatangbinatang hadya. dan dishahih-kan oleh Ibnu Hibban : "Dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Kaidah fiqh: o "Pada dasarnya. tanggal 13 Muharram 1426/ 22 Februari 2005.o Hadis Nabi Riwayat Muslim: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia. 2. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihak-pihak terkait. 3. o Hadis Nabi riwayat al-Thabrani dalam al-Kabir dan alHakim dalam al-Mustadrak yang menyatakan bahwa hadis ini shahih: "Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa ketika Nabi Saw. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: "Wahai Nabi Allah. " Memperhatikan: o o o o Fatwa DSN No. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional pada hari Selasa. Surat Direksi BSM No. memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir. MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG POTONGAN TAGIHAN MURABAHAH Pertama: Ketentuan Pemberian Potongan 1. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya". Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan LKS. 23/DSN-MUI/III/2002 tentang Potongan Pelunasan dalam Murabahah Hasil workshop BPH-DSN. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Kedua: Ketentuan Penutup 1. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo" Maka Rasulullah saw berkata: "Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat". 3. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah Nasional setelah tidak tercapai . Pemberian potongan tidak boleh diperjanjikan dalam akad.6/552/DIR tertanggal 21 September 2004 perihal permohonan fatwa. LKS boleh memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran kepada nasabah dalam transaksi (akad) murabahah yang telah melakukan kewajiban pembayaran cicilannya dengan tepat waktu dan/atau nasabah yang mengalami penurunan kemampuan pembayaran. 9-10 Dzulqa'dah 1425/21-22 Desember 2004.

kesepakatan melalui musyawarah. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 22 Feburari 2005 / 13 Muharram 1426 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. H. M. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 2. Sekretaris. M. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Din Syamsuddin .A Sahal Mahfudh Prof. KH. Dr.

dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta. Firman Allah SWT. Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah." o QS." o QS. Yusuf [12]: 72: "Penyeru-penyeru itu berseru: `Kami kehilangan piala Raja. Menimbang : a.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. Bahwa salah satu bentuk \pelayanan jasa keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pembiayaan multi jasa. Bahwa LKS perlu merespon kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan jasa tersebut c. antara lain: o QS.Pembiayaan Multijasa Thursday.. yaitu pembiayaan yang diberikan oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat atas suatu jasa b. Bertaqwalah kepada Allah. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 44/DSN-MUI/VII/2004 tentang Pembiayaan Multi Jasa. dan aku menjamin . 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita).. al-Baqarah [2]: 233: ". Dewan Syariah Nasional MUI memandang perlu menetapkan fatwa tentang pembiayaan multijasa untuk dijadikan pedoman. al-Qashash [28]: 26: "Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya. Mengingat : 1.

al-Isra' [17]: 34: " . Hadis-hadis Nabi s.Dan penuhilah janji. Bukhari dari Salamah bin Akwa')." o QS.. antara lain: o Hadis riwayat Ibn Majah dari Ibnu Umar." o Hadis Nabi riwayat Bukhari: "Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan."." o Hadis riwayat `Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. `Apakah ia mem-punyai hutang?' Sahabat menjawab." (HR.. `Apakah ia mempunyai hutang?' Sahabat menjawab. Rasulullah saw bertanya. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja. al-Ma'idah [5]: 2: "Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak. Rasulullah pun bertanya. beritahukanlah upahnya. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut..w. `Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya).a. dari Abu Sa'id al-Khudri. al-Ma'idah [5]: I : "Hai orang yang beriman! Penuhilah aqad-aqad itu. dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran. beliau men-salatkannya.. Nabi s. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain. `Ya'.a. ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. maka. dan yang lain. Maka." o Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. o QS. Lalu Abu Qatadah berkata.terhadapnya." o QS. o Hadits Nabi riwayat Imam Ibnu Majah. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjcnvabannya. `Tidak'.w. bahwa Nabi bersabda: "Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering.. ya Rasulullah'. . Rasulullah berkata. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." o Hadis riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash. `Saya menjamin hutangnya. al-Daraquthni." 2.

Redaksi dalam fasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menja-minnya. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu . jilid 111/77-78 "Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban. jilid II: 201-202: (Hal yang dijamin) yaitu hutang disyaratkan harus berupa hak yang bersifat fix pada saat akad." o o Hadits Nabi riwayat Abu Daud.. karena hutang orang itu belum fix.. Kaidah fiqh." "Kesulitan dapat menarik kemudahan" "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari 'at)..Nabi s..dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin.' Dengan demikian.' Penjaminan tersebut tidak sah.. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya." o o o "Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. per-nyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman." o b. maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (awjah). antara lain: o a.-penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum fix-. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban.a. antara lain: o "Pada dasarnya. Tirmizi dan Ibn Hibban Sabda Rasulullah SAW : "Allah menolong hamba selama hamba menolong saudaranya.w. (Qaul qadim --Imam menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban). semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Dalam pasal tentang Qardh. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku men--jaminnya. Kitab Mughni al-Muhtajj. Oleh karena itu. Pendapat para ulama. seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan. " Memperhatikan : 1. pensyarah telah menuturkan masalah ini . Kitab I'anah al-Thalibin. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain." 3.

maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Kafalah. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004 5. 5. Dalam kedua pembiayaan multijasa tersebut. Surat dari BRI Syariah No. Hasil Rapat Pleno DSN-MUI. maka harus mengikuti semua ketentuan yang ada dalam Fatwa Ijarah.. Ketiga : Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. B. 11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah 4. hari Rabu. Oleh karena akad jual beli atas benda dibolehkan. Dalam hal LKS menggunakan akad Kafalah. Substansi Fatwa DSN No. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda. Besar ujrah atau fee harus disepakati di awal dan dinyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam bentuk prosentase. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan.02-DPS/UUS/04/2004 perihal Permohonan Fatwa DSN tentang Pembiayaan Multi Jasa. maka sudah seharusnya boleh pula akad ijarah atas manfaat. • 3. maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan : FATWA TENTAG PEMBIAYAAN MULTI JASA Pertama : Ketentuan Umum • • 1." o c. LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) atau fee. juz I Kitab al-Ijarah hal.." 2. Substansi Fatwa DSN No. Kitab al-Muhadzdzab. • • 4. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah 3. Pembiayaan Multijasa hukumnya boleh (jaiz) dengan menggunakan akad Ijarah atau Kafalah. Dalam hal LKS menggunakan akad ijarah. Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. 2.yang akan dihutangkan. Keempat : Ketentuan Penutup .terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut.

M.Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan.A Sahal Mahfudh Prof. KH. jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Sekretaris. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Dr. M. H. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Din Syamsuddin .

Bahwa dalam upaya melindungi para pihak yang bertransaksi. c. antara lain: o QS. sehingga tidak boleh ada satu pihak pun yang dirugikan hak-haknya.. Firman Allah SWT. al-Ma'idah [5]: 1 “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. termasuk masalah denda finansial yang biasa dilakukan oleh lembaga keuangan konvensional b. dalam hal ini para pihak yang bertransaksi dalam LKS meminta fatwa kepada DSN tentang ganti rugi akibat penunda-nundaan pembayaran dalam kondisi mampu f. Bahwa kerugian yang benar-benar dialami secara riil oleh para pihak dalam transaksi wajib diganti oleh pihak yang menimbulkan kerugian tersebut e. Bahwa syari'ah Islam melindungi kepentingan semua pihak yang bertransaksi.. Bahwa lembaga keuangan syari'ah (LKS) beroperasi berdasarkan prinsip syari'ah untuk menghindarkan praktik riba atau praktik yang menjurus kepada riba. Bahwa para pihak yang melakukan transaksi dalam LKS terkadang mengalami risiko kerugian akibat wanprestasi atau kelalaian dengan menunda-nunda pembayaran oleh pihak lain yang melanggar perjanjian. d. Bahwa masyarakat.”. . DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang ganti rugi (ta'widh) untuk dijadikan pedoman Mengingat : 1. Menimbang : a.Ganti Rugi (Ta' Widh) Thursday. 18 May 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 43/DSN-MUI/VIII/2004 tentang Ganti Rugi (Ta'Widh). baik nasabah maupun LKS.

lebih baik bagimu.. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah." o Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari `Ubadah bin Shamit. riwayat Ahmad dari Ibnu `Abbas.." 2. dan Malik dari Yahya: "Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain. al-Isra' [17]: 34: "." o QS. barang siapa melakukan aniaya (kerugian) kepadamu.maka. dan Ahmad dari Syuraid bin Suwaid: "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. Hadis-hadis Nabi s.. sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya." o Hadis Nabi riwayat Nasa'i dari Syuraid bin Suwaid." o Hadis Nabi riwayat jama'ah (Bukhari dari Abu Hurairah." 3." o QS. jika kamu mengetahui. Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. Ibu Majah dari Syuraid bin Suwaid..o QS. maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Tirmizi dari Abu Hurairah dan Ibn Umar. bahwa Allah beserta orangorang yang bertakwa. Kaidah Fiqh. antara lain: o "Pada dasarnya. segala bentuk mu' amalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang . al-Baqarah [2]: 279-280: ". seimbang dengan kerugian yang telah ia timpakan kepadamu.. Ahmad dari Abu Hurairah dan Ibn Umar. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu..Kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.. balaslah ia. Malik dari Abu Hurairah. Nasa'i dari Abu Hurairah. dan Darami dari Abu Hurairah): "Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.a.Dan penuhilah janji. Abu Daud dari Abu Hurairah. al-Baqarah [2]: 194: . Muslim dari Abu Hurairah.. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar. Abu Dawud dari Syuraid bin Suwaid.w. antara lain: o Hadis Nabi riwayat Tirmizi dari `Amr bin `Auf: "Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

perlu kita perhatikan sebagai berikut." Memperhatikan: o Pendapat Ibnu Qudamah dalam al-Mughni. antara lain sebagai berikut:  Pendapat Wahbah al-Zuhaili.." o Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. Hal ini karena ia (kreditur) akan menderita kerugian (dharar) akibat keterlambatan (memperoleh) haknya pada saat jatuh tempo. Apabila jatuh tempo hutang ternyata sebelum masa kedatangannya dari perjalanan --misalnya. 96). "Ketentuan umum yang berlaku pada ganti rugi dapat berupa: (a) menutup kerugian dalam bentuk benda (dharar.mengharamkannya.. seperti memperbaiki dinding. bahwa penundaan pembayaran kewajiban dapat menimbulkan kerugian (dharar) dan karenanya harus dihindarkan. atau jika pihak berpiutang (kreditur) bermaksud melarang debitur (melakukan perjalanan). 87).maka kreditur boleh melarangnya melakukan perjalanan. Sementara itu.  Pendapat 'Abd al-Hamid Mahmud al-Ba'li. kerugian kreditur dapat dihindarkan. ia menyatakan: "Jika orang berhutang (debitur) bermaksud melakukan perjalanan. hilangnya keuntungan dan terjadinya kerugian yang belum pasti di masa akan datang atau kerugian immateriil. Damsyiq: Dar al-Fikr. Mafahim Asasiyyah fi al-Bunuk al-Islamiyah. Nazariyah al-Dhaman. 1996: "Ganti rugi karena penundaan pembayaran oleh orang yang mampu didasarkan pada kerugian yang terjadi secara riil akibat penundaan pembayaran dan kerugian itu merupakan akibat logis dari keterlambatan . 1998: "Ta'widh (ganti rugi) adalah menutup kerugian yang terjadi akibat pelanggaran atau kekeliruan" (h. maka wajib menggantinya dengan benda yang sama (sejenis) atau dengan uang" (h. perjalanan untuk berhaji di mana debitur masih dalam perjalanan haji sedangkan jatuh tempo hutang pada bulan Muharram atau Dzulhijjah-. Hal itu karena obyek ganti rugi adalah harta yang ada dan konkret serta berharga (diijinkan syariat untuk memanfaatkannya" (h. hlm 342. Apabila hal tersebut sulit dilakukan. seperti mengembalikan benda yang dipecahkan menjadi utuh kembali. al-Qahirah: al-Ma'had al-`Alami li-al-Fikr al-Islami. juz IV. ia boleh melakukan perjalanan tersebut. 93). bahaya). (b) memperbaiki benda yang dirusak menjadi utuh kembali seperti semula selama dimungkinkan. apabila debitur menunjuk penjamin atau menyerahkan jaminan (qadai) yang cukup untuk membayar hutangnya pada saat jatuh tempo." o Pendapat beberapa ulama kontemporer tentang dhaman atau ta'widh. maka menurut ketentuan hukum fiqh hal tersebut tidak dapat diganti (dimintakan ganti rugi). Akan tetapi. karena dengan demikian.

1997: "Kerugian harus dihilangkan berdasarkan kaidah syari'ah dan kerugian itu tidak akan hilang kecuali jika diganti. Rapat Pleno DSN-MUI.pembayaran tersebut. 5. Dengan memohon taufiq dan ridho Allah SWT MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG GANTI RUGI (TA'WIDH) Pertama: KETENTUAN UMUM 1. Hukm al-Gharamah al-Maliyah fi al-Fiqh al-Islami. di samping ia pun harus menanggung harga (nilai) barang tersebut bila rusak. 18 Juli 2004 di Lippo Karawaci-Tangerang. Penundaan pembayaran hak sama dengan ghashab."  Pendapat ulama yang membolehkan ta'widh sebagaimana dikutip oleh 'Isham Anas alZaftawi. seyogyanya stastus hukumnya pun sama. yaitu bahwa pelaku ghashab bertanggung jawab atas manfaat benda yang di-ghasab selama masa ghashab.widh) hanya boleh dikenakan atas pihak yang dengan sengaja atau karena kelalaian melakukan sesuatu yang menyimpang dari ketentuan akad dan menimbulkan kerugian pada pihak lain. Kerugian yang dapat dikenakan ta'widh sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 adalah kerugian riil yang dapat diperhitungkan dengan jelas. sedangkan penjatuhan sanksi atas debitur mampu yang menunda-nunda pembayaran tidak akan memberikan manfaaat bagi kreditur yang dirugikan. 4.17/DSN-MUI/IX/2000 tentang S anksi Atas Nasabah Mampu Yang Menundanunda Pembayaran. Besar ganti rugi (ta'widh) adalah sesuai dengan nilai kerugian riil (real loss) yang pasti dialami (fixed cost) dalam transaksi tersebut dan bukan kerugian yang diperkirakan akan terjadi (potential loss) karena adanya peluang yang hilang (opportunity loss atau al-furshah al-dha-i' ah). hari Rabu. 24 Jumadil Akhir 1325 H/11 Agustus 2004. al-Qahirah: al-Ma'had al `Alami li-al-Fikr al-Islami. menurut mayoritas ulama. 3. karena itu. o Fatwa DSN No 18/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pencadangan Penghapusan Aktiva Produktif dalam LKS o o Rapat BPH DSN MUI – BI – Perbankan Syari'ah. Kerugian riil sebagaimana dimaksud ayat 2 adalah biaya-biaya riil yg dikeluarkan dalam rangka penagihan hak yg seharusnya dibayarkan. Ganti rugi (ta‘widh) hanya boleh dikenakan pada transaksi (akad) yang menimbulkan utang piutang ." o Fatwa DSN No. 2. Ganti rugi (ta.

(dain), seperti salam, istishna' serta murabahah dan ijarah. 6. Dalam akad Mudharabah dan Musyarakah, ganti rugi hanya boleh dikenakan oleh shahibul mal atau salah satu pihak dalam musyarakah apabila bagian keuntungannya sudah jelas tetapi tidak dibayarkan. Kedua: KETENTUAN KHUSUS 1. Ganti rugi yang diterima dalam transaksi di LKS dapat diakui sebagai hak (pendapatan) bagi pihak yang menerimanya. 2. Jumlah ganti rugi besarnya harus tetap sesuai dengan kerugian riil dan tata cara pembayarannya tergantung kesepakatan para pihak. 3. Besarnya ganti rugi ini tidak boleh dicantumkan dalam akad. 4. Pihak yang cedera janji bertanggung jawab atas biaya perkara dan biaya lainnya yang timbul akibat proses penyelesaian perkara. Ketiga: Penyelesaian Perselisihan Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak, maka penyelesaiaannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Keempat: Ketentuan Penutup Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan, jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 11 Agustus 2004 / 24 Jumadil Akhir 1425 H

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,

KH. M.A Sahal Mahfudh

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Syariah Charge Card
Wednesday, 17 May 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 42/DSN-MUI/V/2004 tentang Syariah Charge Card. Menimbang : a. Bahwa untuk memberikan kemudahan, keamanan, dan kenyamanan bagi nasabah dalam melakukan transaksi dan penarikan tunai diperlukan charge card b. Bahwa fasilitas charge card yang ada dewasa ini masih belum sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. c. Bahwa agar fasilitas tersebut dilaksanakan sesuai dengan Syari'ah, Dewan Syari'ah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. Mengingat : 1. Firman Allah SWT, antara lain: o QS. al-Ma'idah [5]: 1

“Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu...”. o QS.Yusuf [12]: 72:

"Penyeru-penyeru itu berseru: 'Kami kehilangan piala Raja,. dan barang siapa yang dapat mengembalikannya, akan memperoleh bahan makanan (seberat) beban unta, dan aku menjamin terhadapnya." o QS. al-Ma'idah [5]: 2:

"Dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah tolong-menolong dalam (mengerjakan) dosa dan pelanggaran..." o QS. al-Furqan [25]: 67

"Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak herlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian." o QS. Al-Isra' [17]:

"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemborospemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya." o QS. al-Isra' [17]: 34:

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggunganjawabannya." o QS. al-Qashash [28]: 26:

"Salah seorang dari kedua wanita itu berkata, 'Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." o QS. al-Baqarah [2]: 275:

"Orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." o QS. al-Baqarah [2]: 282:

"Hai orang yang beriman! Jika kamu bermu'amalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu, buatlah secara tertulis..." o QS. al-Bagarah [2]: 280:

"Dan jika ia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, berilah tangguh sampai ia berkelapangan..." 2. Hadist-hadist Nabi SAW, antara lain: • Hadis Nabi riwayat Imam al-Tirmidzi dari `Amr bin `Auf alMuzani, Nabi s.a.w. bersabda:

"Perjanjian boleh dilakukan di antara kaum kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram." • Hadis Nabi riwayat Imam Ibnu Majah, al-Daraquthni, dan yang lain, dari Abu Sa'id al-Khudri, Nabi

ya Rasulullah'.w. `Ya'. Nabi s. Abu Daud." • Hadis Nabi riwayat Bukhari. Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain. dan Ahmad. Rasulullah berkata." • Hadis Nabi riwayat Muslim. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak " • Hadis riwayat 'Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudri. Maka Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut." • Hadis Nabi riwayat Bukhari dari Salamah bin al-Akwa': "Telah dihadapkan kepada Rasidullah s. 'Salatkanlah temanmu itu' (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). ia berkata: "Kami pernah menyewankan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya." • Hadis Nabi riwayat Nasa'i. Rasulullah bertanya. Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat. `Tidak'.a. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang .s. Lalu Abu Qatadah berkata..a. Nabi bersabda: "Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya.w. bersabda: "Barang siapa mempekerjakan pekerja. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu. Maka." Kaidah Fiqh. "Apakah ia mempunyai hutang?" Sahabat menjawab. dan Allah senantiasa menolong hanzba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya" • Hadis Nabi riwayat Jama'ah. maka. Tirmizi dan lbn Hibban: "Za'im (penjamin) adalah gharinz (orang yang menanggung hutang). Apakah ia mempunyai hutang?' Mereka menjawab. menghalalkan harga diri dan memberikan sanksi kepadanya." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud dari Sa'd Ibn Abi Waqqash. beliau mensalatkannya.. jenazah seorang laki-laki untuk disalatkan.w. Nabi bersabda: "Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. a. Ibn Majah. antara lain: • "Pada dasarnya. Rasulullah pun bertanya. `Saya menjamin hutangnya. beritahukanlah upahnya. Nabi bersabda: "Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia." • Hadis Nabi riwayat Abu Daud. bersabda: "Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain.

.. karena keperluan terhadap manfaat sama dengan keperluan terhadap benda." "Keperluan dapat menduduki posisi darurat." Memperhatikan: • Pendapat fuqaha' antara lain dalam: o Kitab I'anah al-Thalibin. seperti harga barang yang akan dijual atau sesuatu yang akan dihutangkan. Kemudian orang yang diajak bicara memberikan hutang kepada orang dimaksud sebanyak seratus atau sebagiannya. 394: "Boleh melakukan akad ijarah (sewa menyewa) atas manfaat yang dibolehkan. juz I Kitab al-Ijarah hal.' Dengan demikian. pensyarah telah menuturkan masalah ini --penjaminan terhadap suatu kewajiban (hutang) yang belum terjadi dan menyatakan bahwa ia sah menjadi penjamin.. Oleh karena itu. (Qaul qadim --Imam al-Syafl'i-menyatakan sah penjaminan terhadap hutang yang akan menjadi kewajiban). maka orang tersebut menjadi penjamin menurut pendapat yang paling kuat (aitjah). Hal itu karena hajat --kebutuhan orang-. jilid II: 201-202: "(Hal yang dijamin) yaitu hutang (disyaratkan harus berupa hak yang telah terjadi) pada saat akad." . Dalam pasal tentang Qardh." • • • "Kesulitan dapat menarik kemudahan.” o Kitab al-Muhadzdzab." "Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara' (selama tidak bertentangan dengan syari'at).." o Kitab Mughni al-Muhtaj.. pernyataan pensyarah di sini (dalam pasal tentang dhaman) yang menyatakan dhaman (terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban) itu tidak sah bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam pasal tentang qardh di atas yang menegaskan bahwa hal tersebut adalah (sah sebagai) dhaman. tidak sah menjamin hutang yang belum menjadi kewajiban. Redaksi dalam pasal tersebut adalah sebagai berikut: `Seandainya seseorang berkata. Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya.' Penjaminan tersebut tidak sah.. jilid 111/77-78 : "(Tidak sah akad penjaminan [dhaman] terhadap sesuatu yang akan menjadi kewajiban.. karena hutang orang itu belum terjadi.terkadang mendorong adanya penjaminan tersebut. maka sudah seharusnya dibolehkan pula akad ijarah atas manfaat. Manakala akad jual beli atas benda dibolehkan. seperti hutang dari akad qardh) yang akan dilakukan.mengharamkannya. Misalnya ia berkata: `Berilah orang ini hutang sebanyak seratus dan aku menjaminnya." • "Menghindarkan kerusakan (kerugian) harus didahulukan (diprioritaskan) atas mendatangkan kemaslahatan.

MEMUTUSKAN Menetapkan FATWA TENTANG SYARIAH CHARGE CARD Pertama: HUKUM Penggunaan charge card secara syariah dibolehkan. 9/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah. Substansi Fatwa DSN No. perihal permohonan fatwa tentang kartu berdasarkan prinsip syariah. c. dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: Kedua: KETENTUAN UMUM Dalam fatwa ini. b. • Substansi Fatwa DSN No.19/DSN-MUI/IV/2001 tentang Qardh. Membership Fee (rusum al-'udhwiyah) adalah iuran keanggotaan. Bank BNI Syariah. • Surat-surat masuk Bank BII Syariah. Syariah Charge Card adalah fasilitas kartu talangan yang dipergunakan oleh pemegang kartu (hamil albithaqah) sebagai alat bayar atau pengambilan uang tunai pada tempat-tempat tertentu yang harus dibayar lunas kepada pihak yang memberikan talangan (mushdir al-bithaqah) pada waktu yang telah ditetapkan. Bank Danamon Syariah dan lain-lain. Bahrain. ." o Pendapat Majma' al-Fiqh al-Islami & Hai'ah al-Muhasabah wa al-Muraja'ah li-al-Mu'assasah al-Maliyah al-Islamiyah.11/DSN-MUI/IV/2000 tentang Kafalah. al-Ma 'ayir al-Syar 'iyah Mei 2001: al-Mi'yar alSyar'i. nomor 2 tentang Bithaqah al-Hasm wa Bithaqah alI'timan.o Kitab Fiqh al-Sunnah jilid 4/221-222 : "Kafalah (jaminan) harta yaitu kajil (penjamin) berkewaj iban memberikan jaminan dalam bentuk harta. Merchant Fee adalah fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah). • Pendapat Rapat Pleno Dewan Syari'ah Nasional MUI pada hari Kamis. Substansi Fatwa DSN No. 07 Rabi'ul Akhir 1425 H. yang dimaksud dengan: a. termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin menggunakan fasilitas kartu. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil aldayn). / 27 Mei 2004.

Tidak mengakibatkan hutang yang tidak pernah lunas (ghalabah al-dayn). Untuk transaksi pengambilan uang tunai digunakan akad al-Qardh wal Ijarah. Fee Penarikan Uang Tunai adalah fee atas penggunaan fasilitas untuk penarikan uang tunai (rusum sahb alnuqud) e. Ketiga: KETENTUAN AKAD Akad yang dapat digunakan untuk Syariah Charge Card adalah: a. Denda keterlambatan (Late Charge) adalah denda akibat keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. Ketentuan Fee: • Iuran keanggotaan (Membership fee) Penerbit kartu boleh menerima iuran keanggotaan (rusum al-'udhwiyah) termasuk perpanjangan masa keanggotaan dari pemegang kartu sebagai imbalan izin penggunaan fasilitas kartu. Tidak digunakan untuk transaksi objek yang haram atau maksiat. Keempat: 1. Untuk transaksi pemegang kartu (hamil cd-bithaqah) melalui merchant (qabil al-bithaqahlpenerima kartu). f. • Fee Penarikan Uang Tunai . Pemegang kartu utama harus memiliki kemampuan finansial untuk melunasi pada waktunya. pemasaran (taswiq) dan penagihan (tahsil al-dayn). 2. Tidak mendorong israf (pengeluaran yang berlebihan) antara lain dengan cara menetapkan pagu. Ketentuan dan batasan (dhawabith wa hudud) Syariah Charge Card : • • • • • Tidak boleh menimbulkan riba. • Ujrah (Merchant Fee) Penerbit kartu boleh menerima fee yang diambil dari harga objek transaksi atau pelayanan sebagai upah/imbalan (ujrah samsarah).d. akad yang digunakan adalah akad Kafalah wal Ijarah. Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) adalah denda yang dikenakan karena melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. b.

A Sahal Mahfudh Prof. Din Syamsuddin . • Denda karena melampaui pagu (Overlimit Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda karena pemegang kartu melampaui pagu yang diberikan (overlimit charge) tanpa persetujuan penerbit kartu dan akan diakui sebagai dana sosial. M. Sekretaris. H.Penerbit kartu boleh menerima fee penarikan uang tunai (rusum sahb al-nuqud) sebagai fee atas pelayanan dan penggunaan fasilitas yang besarnya tidak dikaitkan dengan jumlah penarikan. Keenam : Ketentuan Penutup • Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara pihakpihak terkait. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari'ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 3. Dr. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 27 Mei 2004 / 07 Rabiul Akhir 1425 H DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. KH. • Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ketentuan Denda • Denda Keterlambatan (Late Charge) Penerbit kartu boleh mengenakan denda keterlambatan pembayaran yang akan diakui sebagai dana sosial. M.

al-Isra [17] : 34: dan penuhilah janji. al-Baqarah [2] : 275 : “dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya melalui akad pengalihan hutang oleh LKS. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. c. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyrakat adalah membantu masyarakat untuk mengalihkan transaksi non-syariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang sesuai dengan syariah b.. Menimbang : a.. Mengingat : • • Firman Allah QS. tentang Pengalihan Hutang.Pengalihan Hutang Sunday.. al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..” • Firman Allah QS. Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya • Firman Allah QS. penuhilah aqad-aqad itu. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa mengenai hal tersebut untuk dijadikan pedoman. Bahwa agar akad tersebut dilaksanakan sesuai dengan prinsip syariah Islam. dan . Firman Allah QS. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 31/DSNMUI/VI/2002.

Nabi s. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Maka baginya apa yang Telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan). dari Abu Sa’id al-Khudri. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.bertakwalah kamu kepada Allah.a. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. dan urusannya (terserah) kepada Allah. dan yang lain. mereka kekal di dalamnya. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PENGALIHAN HUTANG.”. keadaan mereka yang demikian itu. lalu terus berhenti (dari mengambil riba). tanggal 15 Rabiul Akhir1423H/ 26 Juni 2002. Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” “Sesuatu yang berlaku berdasarkan adat kebiasaan sama dengan sesuatu yang berlaku berdasarkan syara’ (selama tidak bertentangan dengan syari’at). al-Baqarah [2] : 275: Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.w bersabda: “Tidak boleh membahayakan (merugikan) diri sendiri maupun orang lain” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Pertama : Ketentuan Umum Dalam fatwa ini. yang dimaksud dengan: . Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. orang-orang yang Telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya. al-Daraquthni. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada Hari Rabu. • Firman Allah QS. adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat). padahal Allah Telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. • Hadis nabi riwayat Imam Ibnu Majah. orang yang kembali (mengambil riba).

b. d. 2. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nyal dan dengan demikian asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. Aset adalah aset nasabah yang dibelinya melalui kredit dari LKK dan belum lunas pembayaran kreditnya. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardh-nya kepada LKS. Alternatif II : .19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud alternatif I ini. c. Nasabah adalah (calon) nasabah LKS yang mempunyai kredit (hutang) kepada Lembaga Keuangan Konvensional (LKK) untuk pembelian aset. LKS memberikan qardh kepada nasabah. Pengalihan hutang adalah pemindahan hutang nasabah dari bank/lembaga keuangan konvensional ke bank/lembaga keuangan syariah. yang ingin mengalihkan hutangya ke LKS. 3. 4. Fatwa DSN no. Kedua : Ketentuan Akad Akad dapat dilakukan melalui empat alternatif berikut: Alternatif I : 1. Al-Qardh adalah akad pinjaman dari LKS kepada nasabah dengan ketentuan bahwa nasabah wajib mengembalikan pokok pinjaman yang diterimanya kepada LKS pada waktu dan dengan cara pengembalian yang telah disepakati. LKS menjual secara murabahah aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah.a. dengan pembayaran secara cicilan.

LKS dapat membantu menalangi kewajiban nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. terjadilah syirkah al-milk antara LKS dan nasabah terhadap aset tersebut. 2. Akad ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh dipersyaratkan dengan (harus terpisah dari) pemberian talangan sebagaimana dimaksudkan angka 2.1. 3. 3. Apabila diperlukan. sesuai dengan fatwa DSN-MUI no. Fatwa DSN no: 04/DSN-MUI/IV/2000 tentang murabahah berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif II ini. Besar imbalan jasa Ijarah sebagaimana dimaksudkan angka1 tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan yang diberikan LKS kepada nasabah sebagaimana dimaksudkan angka 2. dan dengan demikian. 4. LKS memberikan qardh kepada nasabah. Bagian aset yang dibeli oleh LKS sebagaimana dimaksud angka 1 adalah bagian aset yang senilai dengan hutang (sisa cicilan) nasabah kepada LKK. Alternatif IV : 1. Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas aset. 2. LKS membeli sebagaian aset nasabah. . asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi milik nasabah secara penuh. sehingga dengan demikian. LKS menjual secara murabahah bagian asset yang menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. 9/DSN-MUI/IV/2002. Alternatif III : 1. 4. dengan seizin LKK. dengan pembayaran secara cicilan. 19/DSNMUI/IV/2001. Dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit (hutang)-nya. nasabah dapat melakukan kad Ijarah dengan LKS.

akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 4. Sekretaris. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Ketiga : Ketentuan Penutup 1. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Nasabah menjual aset dimaksud angka 1 kepada LKS. 3. LKS menyewakan aset yang telah menjadi miliknya tersebut kepada nasabah. . dengan akad al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik. dan dengan hasil penjualan itu nasabah melunasi qardhnya kepada LKS. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. 2.2. Fatwa DSN no: 19/DSN-MUI/IV/2001 tentang al-Qardh dan fatwa DSN no: 27/DSN-MUI/III/2002 tentang al-ijarah al-muntahiyah bi al-tamlik berlaku pula dalam pelaksanaan pembiayaan pengalihan hutang sebagaimana dimaksud dalam alternatif IV ini.

Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. Din Syamsuddin Pembiayaan Pengurusan Haji LKS Sunday.A. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya. M. (yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. b. penuhilah aqad-aqad itu. Sahal Mahfudh Prof. M. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 29/DSNMUI/VI/2002.K. Dr. ‘Hai ayahku! . kecuali yang akan dibacakan kepadamu. • Firman Allah QS. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang pengurusan dan pembiayaan haji oleh LKS untuk dijadikan pedoman. Bahwa agar pelaksanaan transaksi tersebut sesuai dengan prinsip syariah. c. tentang Pembiayaan Pengurusan Haji Lembaga Keuangan Syariah. Al-Maidah [5]: 1: Hai orang-orang yang beriman. Mengingat : • Firman Allah QS. Menimbang : a. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pengurusan haji dan talangan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH).H. Bahwa lembaga keuangan syarah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya. dihalalkan bagimu binatang ternak. H.

• Hadis Nabi s. Abu Daud.a. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.a. • Hadis-hadis Nabi S. Al-Baqarah [2] : 280 : Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran. • Firman Allah tentang perintah untuk saling tolong menolong dalam perbuatan positif. beritahukanlah upahnya. antara lain QS.A. dan bertakwalah kamu kepada Allah. dan Ahmad: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga dirinya dan memberikan sanksi kepadanya. dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya. Al-Maidah [5] : 2). semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.”. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya.Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). Allah akan melepaskan kesulitan darinya pada hari kiamat. kecuali perjanjian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Firman Allah QS. buatlah secara tertulis.w bersabda: Barang siapa mempekerjakan pekerja.w riwayat Jama’ah: Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman.a. Ibn Majah. dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Al-Baqarah [2] : 282 : Hai orang yang beriman! Jika kamu bermuamalah tidak secara tunai sampai waktu tertentu.”.. Al-Maidah [5] : 2: dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa. • Firman Allah. Maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. antara lain hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah: “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim suatu kesulitan di dunia.”... karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” • Hadis Nabi s. • Hadis Nabi s..a. (QS. Nabi s.w riwayat al-Nasa’i. QS. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri.” “Kesulitan dapat menarik kemudahan” “Keperluan dapat menduduki posisi darurat” .W tentang beberapa prinsip bermuamalah. Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.w riwayat al-Bukhari: Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran hutangnya.

Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di . 2. Jasa pengurusan haji yang dilakukan LKS tidak boleh dipersyaratkan dengan pemberian talangan haji. Qardh.Memperhatikan : 1. Asy-Syarkhasi dalam Takmilah Fathul Qadir (VI/2). Pendapat peserta Rapat Pleno DSN pada tanggal 14 September 2002 / 7 Rajab 1423 H. 5. Surat Direksi BMI Nomor 150/BMI/FSG/VII/2002 tertanggal 11 juli 2002 perihal permohonan fatwa tentang skema transaksi LC impor dan LC ekspor. Pendapat ulama tentang Wakalah bil Ujrah. 4. Besar imbalan jasa al-ijarah tidak boleh didasarkan pada jumlah talangan al-Qardh yang diberikan LKS kepada nasabah. Mudharabah. 9/DSNMUI/IV/2000. Salam/Istishna’. 19/DSNMUI/IV/2001. Pertama : Ketentuan Umum 1. Apabila diperlukan. Kedua : 1. Wahbah Al-Zuhaili dalam al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (V/4058). LKS dapat memperoleh imbalan jasa (ujrah) dengan menggunakan prinsip al-ijarah sesuai fatwa DSN-MUI no. Dalam pengurusan haji bagi nasabah. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN PENGURUSAN HAJI LEMBAGA KEUANGAN SYARIAH. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (V/85). Pendapat para ulama tentang Al-Bai’ (jual-beli) dan mewakilkan dalam jual-beli. dan Musyarakah. 4. LKS dapat membantu menalangi pembayaran BPIH nasabah dengan menggunakan prinsip al-Qardh sesuai fatwa DSN-MUI no. Fatwa-fatwa DSN-MUI mengenai Ijarah. Murabahah. 3. 2. 3.

antara para pihak. Din Syamsuddin . dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. M. 2. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Dr.A.H. Sahal Mahfudh Prof. H. K. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Sekretaris. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. M.

Rahn Emas Sunday. Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal itu untuk menjadikan pedoman. Bahwa bank syari'ah perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya." . c. Mengingat : • Firman Allah. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah Rahn. QS. tentang Rahn Emas. yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang.. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 26/DSN-MUI/III/2002. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Menimbang : a. Bahwa masyarakat pada umumnya telah lazim menjadikan emas sebagai barang berharga yang disimpan dan menjadikannya objek rahn sebagai jaminan hutang untuk mendapatkan pinjaman uang d.. b. Al-Baqarah[2]:283 : "Dan apabila kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak memperoleh seorang juru tulis maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang.

Biaya penyimpanan barang (marhun) dilakukan berdasarkan akad ijarah. 2.W pernah membeli makanan dengan berhutang dari seroang Yahudi. 3. 3/305/DPM Tanggal 23 Oktober 2001 Tentang Permohonan Fatwa atas Produk Gadai Emas. Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.W bersabda: "Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. MEMUTUSKAN Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN EMAS. V:181)." • Ijma' : Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (al-Zuhaili. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu." • Hadis Nabi riwayat al-Syafi'i. Ia memperoleh manfaat dan menanggung resikonya." Memperhatikan : 1. Nabi S. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan. al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah.A. Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin). ia berkata: "Sesungguhnya Rasulullah S. kecuali Muslim dan al-Nasai'i. Pertama : 1. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat .W bersabda: "Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Surat dari Bank Syariah Mandiri No. • Kaidah Fiqh:"Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Hasil Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Kamis. 14 Muharram 1423 H/28 Maret 2002 M.A.• Hadis Nabi Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari 'Aisyah. 2.A. Rahn Emas dibolehkan berdasarkan prinsip Rahn (lihat fatwa DSN nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn). dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya. Nabi S." • Hadis Nabi riwayat Jama'ah. 4. 1985.

kekeliruan, akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M

DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA

Ketua,

Sekretaris,

K.H. M.A. Sahal Mahfudh

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin

Rahn
Sunday, 16 April 2006

Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 25/DSN-MUI/III/2002, tentang Rahn. Menimbang : a. Bahwa salah satu bentuk jasa pelayanan keuangan yang menjadi kebutuhan masyarakat adalah pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang b. Bahwa lembaga keuangan syariah (LKS) perlu merespon kebutuhan masyarakat tersebut dalam berbagai produknya c. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, Dewan Syariah Nasional memandang perlu menetapkan fatwa tentang hal untuk dijadikan pedoman tentang Rahn, yaitu menahan barang sebagai jaminan atas hutang. Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 283: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang...”. • Hadis nabi riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a, ia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w pernah membeli makanan dengan berhutang dari seorang Yahudi, dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya.”. • Hadis Nabi riwayat al-Syafi’i, al-Daraquthni dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi s.a.w bersabda: “Tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang menggadaikannya. Ia

memperoleh manfaat dan menanggung resikonya.” • Hadis nabi riwayat Jama’ah kecuali Muslim dan al-Nasai, Nabi s.a.w bersabda: “Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya. Orang yang menggunakan kendaraan dan memerah susu tersebut wajib menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan.”. • Ijma: Para ulama sepakat membolehkan akad Rahn (Al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, 1985, V:181). • Kaidah Fiqh: Pada dasarnya segala bentuk muamalat boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Memperhatikan : 1. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis, tanggal 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 dan hari rabu, 15 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002.

Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG RAHN.

Pertama

: Hukum Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan hutang dalam bentuk rahn dibolehkan dengan ketentuan sebagai berikut.

Kedua

: Ketentuan Umum 1. Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan Marhun (barang) sampai semua hutang Rahin (yang menyerahkan barang) dilunasi. 2. Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik Rahin. Pada prinsipnya, Marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh Murtahin kecuali seizin Rahin ,dengan tidak mengurangi nilai Marhun dan pemanfaatannya itu sekedar pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya. 3. Pemeliharaan dan penyimpanan Marhun pada dasarnya menjadi kewajiban Rahin,

Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban Rahin. maka penyelesaiannya dilakukan melalui badan arbitrase syariah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyarawah. 5. 4. c. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi hutangnya. d. 2. maka Marhun dijual paksa/dieksekusi melalui lelang sesuai syariah. Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan Marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman. Apabila jatuh tempo. sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban Rahin. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Penjualan Marhun a. biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penujualan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Rabiul Akhir 1423 H / 26 Juni 2002 M . Ketiga : Ketentuan Penutup 1.namun dapat dilakukan juga oleh Murtahin. b. dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera melunasi hutangnya. Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi hutang.

Sekretaris.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.H. M. M. K. Dr.A. Sahal Mahfudh Prof. Din Syamsuddin . H.

Al-Baqarah (2): 275: “.. .”.Potongan Pelunasan Murabahah Sunday. c. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan pelunasan dalam murabahah sebagai pedoman bagi LKS dab nastarajat secara umum... Bahwa dalam hal nasabah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. b. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu.... Bahwa untuk kepastian hukum tentang masalah tersebut menurut ajaran Islam. Mengingat : • Firman Allah QS.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Bahwa sistem pembayaran dalam akad murabahah pada Lembaga Keuangan Syariah (LKS) pada umumnya dilakukan secara cicilan dalam kurun waktu yang telah disepakati antara LKS dengan nasabah. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 23/DSN-MUI/III/2002. tentang potongan pelunasan dalam murabahah. Menimbang : a. LKS sering diminta nasabah untuk memberikan potongan dari total kewajiban pembayaran tersebut. • Firman Allah QS.

dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa. 2. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Saw. LKS boleh memberikan potongan dari kewajiban pembayaran tersebut. sesungguhnya Engkau telah memerintahkan untuk mengusir kami sementara kami mempunyai piutang pada orang-orang yang belum jatuh tempo’.’ (HR. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 2..”. Besar potongan sebagaimana dimaksud di atas diserahkan pada kebijakan dan . • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda.• • Firman Allah QS. dengan syarat tidak diperjanjikan dalam akad.. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Ketika beliau memerintahkan untuk mengusir Bani Nadhir.”.. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. tanggal 14 Muharram1423H/ 28 Maret 2002. Pertama : Ketentuan Umum 1.”. Al-Ma’idah (5): 2: “. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perjanjian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Surat dari pimpinan Unit Usaha Syariah Bank BNI no: UUS/2/878... Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. Firman Allah QS.. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG POTONGAN PELUNASAN DALAM MURABAHAH. Memperhatikan : 1.”. Jika nasabah dalam transaksi murabahah melakukan pelunasan pembayaran tepat waktu atau lebih cepat dari waktu yang telah disepakati. Maka Rasulullah saw berkata: ‘Berilah keringanan dan tagihlah lebih cepat’ “. datanglah beberapa orang dari mereka seraya mengatakan: ‘Wahay Nabiyallah. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.A. Sekretaris. Sahal Mahfudh Prof.H. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. Dr.pertimbangan LKS. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 14 Muharram 1423 H / 28 Maret 2002 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. M. K. Din Syamsuddin . M. H. Kedua : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Menimbang : a. kecuali dengan jalan perniagaan yang . Bahwa nasabah mampu terkadang menunda-nunda kewajiban pembayaran baik dalam akad jual beli maupun akad yang lain. dalam hal ini pihak LKS. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 17/DSNMUI/IX/2000. tentang Sanksi Atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran.Sanksi Atas Nasabah Sunday. Bahwa oleh karena itu. Bahwa masyarakat. b. d. DSN perlu menetapkan fatwa tentang sanksi atas nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran menurut prinsip syariah Islam. Bahwa masyarakat banyak memerlukan pembiayaan dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan pada prinsip jual beli maupun akad lain yang pembayarannya kepada LKS dilakukan secara angsuran. Mengingat : • Firman Allah QS. untuk dijadikan pedoman oleh LKS. An-Nisa [4]: 29 Hai orang-orang yang beriman. pada waktu yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan yang telah ditentukan berdasarkan kesepakatan di antara kedua belah pihak. c. meminta fatwa kepada DSN tentang tindakan atau sanksi apakah yang dapat dilakukan terhadap nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran tersebut menurut syariat Islam.

Abu Daud.. Darami dari Abu Hurairah. Malik. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Muslim. Nasai." • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG SANKSI ATAS NASABAH YANG MENUNDA-NUNDA PEMBAYARAN Pertama : Ketentuan Umum . Memperhatikan : a.”. Ibn Majah dari Abu Hurairah dan Ibn Umar): “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. Ibn Majah dan Ahmad dari syraid bin Suwaid: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya.”. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. Ahmad.. b. • Hadis Nabi riwayat jama’ah (Bukhari. • • Firman Allah QS.. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. Abu Dawud. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan.” • Hadis Nabi riwayat Nasai.”. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang lain..berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”. Tirmidzi.

akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. 4. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Sanksi yang disebut dalam fatwa ini adalah sanksi yang dikenakan LKS kepada nasabah yang mampu membayar. Dana yang berasal dari denda diperuntukkan sebagai dana sosial. yaitu bertujuan agar nasabah lebih disiplin dalam melaksanakan kewajibannya. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. 5. tetapi menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. 6. Sanksi didasarkan pada prinsip ta’zir.1. Sanksi dapat berupa denda sejumlah uang yang besarnya ditentukan atas dasar kesepakatan dan dibuat saat akad ditandatangani. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. Akhir 1421 H / 16 September 2000 M . 3. Nasabah mampu yang menunda-nunda pembayaran dan/atau tidak mempunyai kemauan dan itikad baik untuk membayar hutangnya boleh dikenakan sanksi. Nasabah yang tidak/belum mampu membayar disebabkan force majeur tidak boleh dikenakan sanksi. 2. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan.

K. Din Syamsuddin .A. H. M.H. Dr. Sekretaris. M. Sahal Mahfudh Prof.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

...Diskon Murabahah Sunday. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang potongan harga (diskon) dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. d. LKS) terkadang memperoleh potongan harga (diskon) dari penjual pertama (supplier). Bahwa penjual (Lembaga Keuangan Syariah. ataukah merupakan hak pembeli (nasabah) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) mengugnakan harga setelah diskon.”. tentang Diskon dalam Murabahah. Bahwa untuk mendapatkan kepastian hukum. Menimbang : a. sesuai dengan prinsip syariah Islam. c. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 16/DSN-MUI/IX/2000. b. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Mengingat : • Firman Allah QS. Bahwa salah satu prinsip dasar dalam murabahah adalah penjualan suatu barang kepada pembeli dengan harga (tsaman) pembelian dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. tentang status diskon dalam transaksi murabahah tersebut. Bahwa dengan adanya diskon timbul permasalahan: apakah diskon tersebut menjadi hak penjual (LKS) sehingga harga penjualan kepada pembeli (nasabah) menggunakan harga sebelum diskon.

• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. karena itu diskon adalah hak nasabah.”. • “Dimana terdapat kemaslahatan. Jika dalam jual beli murabahah LKS mendapat diskon dari supplier. lebih tinggi maupun lebih rendah. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. 4. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. 5. 2. 3. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Harga (tsaman) dalam jual beli adalah suatu jumlah yang disepakati oleh kedua belah pihak. Dalam akad.”. • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Memperhatikan : a. b. di sana terdapat hukum Allah”. Harga dalam jual beli murabahah adalah harga beli dan biaya yang diperlukan ditambah keuntungan sesuai dengan kesepakatan. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. pembagian diskon setelah akad hendaklah diperjanjikan dan . baik sama dengan nilai (qimah) benda yang menjadi obyek jual beli. Jika pemberian diskon terjadi setelah akad. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DISKON DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum 1. harga sebenarnya adalah setelah diskon. pembagian diskon tersebut dilakukan berdasarkan perjanjian (persetujuan) yang dimuat dalam akad.

Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.A. Dr. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Din Syamsuddin . Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. H. M. Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. M.H. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya.ditandatangani. K. Sahal Mahfudh Prof. Sekretaris.

Mengingat : • Firman Allah QS. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram... Bahwa agar dalam pelaksanaan akad murabahah dengan memakai uang muka tidak ada pihak yang dirugikan.Uang Muka Murabahah Sunday. • • Firman Allah QS. Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. tuliskanlah. Menimbang : a. tentang Uang Muka dalam Murabahah.. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.”. riwayat Ahmad dari Ibnu Abbas dan Malik dari Yahya: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan orang .. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang uang muka dalam murabahah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. 16 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 13/DSN-MUI/IX/2000. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah dari Ubadah bin Shamit.”.”. b. Al-Baqarah (2) : 282: “Hai orang yang beriman! Jika kamu melakukan transaksi hutang piutang untuk jangka waktu yang ditentukan. LKS dapat meminta uang muka. sesuai dengan prinsip ajaran Islam. Bahwa untuk menunjukkan kesungguhan nasabah dalam permintaan pembiayaan murabahah dari Lembaga Keuangan Syariah (LKS). dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.

Kedua : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak.lain. tanggal 7 Rabbiul Awal 1421 H / 10 Juni 2000. 5. Jika nasabah membatalkan akad murabahah. Besar jumlah uang muka ditentukan berdasarkan kesepakatan. Lembaga Keuangan Syari’ah (LKS) dibolehkan untuk meminta uang muka apabila kedua belah pihak bersepakat. Memperhatikan : a. LKS dapat meminta tambahan kepada nasabah. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional bersama dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia pada hari Sabtu. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.”. 2. “Bahaya (beban berat) harus dihilangkan. 4. tanggal 17 Jumadil Akhir 1421 H / 16 September 2000. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG UANG MUKA DALAM MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Uang Muka: 1. Dalam akad pembiayaan murabahah. Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syariah Nasional pada hari Sabtu. b. Jika jumlah uang muka lebih besar dari kerugian. nasabah harus memberikan ganti rugi kepada LKS dari uang muka tersebut.” • Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. Jika jumlah uang muka lebih kecil dari kerugian. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai . LKS harus mengembalikan kelebihannya kepada nasabah. 3. • Para ulama sepakat bahwa meminta uang muka dalam akad jual beli adalah boleh (jawaz).”.

Akhir 1421 H / 16 September 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.H. akan diubah dan disempurnakan sebagaimana mestinya. M. Din Syamsuddin .A. Dr. K. Sekretaris. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 17 Jum. Sahal Mahfudh Prof. H.kesepakatan melalui musyawarah. Ketiga : Fatwa ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan jika di kemudian hari ternyata terdapat kekeliruan. M.

Bahwa kebutuhan akan ijarah kini dapat dilayani oleh lembaga keuangan syariah (LKS) melalui akad pembiayaan ijarah. Al-Zukhruf (43) : 32: “Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. c.. Bahwa agar akad tersebut sesuai dengan ajaran Islam. • Firman Allah QS. b. tentang Pembiayaan Ijarah. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang akad ijarah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS.Pembiayaan Ijarah Saturday. Menimbang : a. Al-Baqarah (2) : “. Bertaqwalah kepada . agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 09/DSN-MUI/IV/2000.. yaitu akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa/upah tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan barang itu sendiri. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperoleh manfaat suatu barang sering memerlukan pihak lain melalui akad ijarah. tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain. dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

a. beritahukanlah upahnya. • “Memghindarkan mafsadat (kerusakan/bahaya) harus didahulukan atas mendatangkan kemaslahatan.” Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis.”. • Firman Allah QS. Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. • • • Ijma ulama tentang kebolehan melakukan akad sewa menyewa. Al-Qashas (28) : 26: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata. • Hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar. ‘Hai ayahku! Ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita). ia berkata: “Kami pernah menyewakan tanah dengan (bayaran) hasil pertaniannya. dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) adalah orang yang kuat lagi dapat dipercaya. • Hadis riwayat Abu daud dari Sa’ad Ibn Abi Waqqash.”. Rasulullah melarang kami melakukan hal tersebut dan memerintahkan agar kami menyewakannya dengan emas atau perak.”. maka. bahwa Nabi bersabda: “Berikanlah upah pekerja sebelum keringatnya kering. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya.w bersabda: “Barangsiapa mempekerjakan pekerja. Nabi s.”.”.Allah. • Hadis riwayat ‘Abd ar-Razzaq dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id al-Khudri. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000.”. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN IJARAH Pertama : Rukun dan Syarat Ijarah : . kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”.

5. 9. Obyek Ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa. Pemenuhan manfaat harus yang bersifat dibolehkan. karena ia rukun yang harus dipenuhi sebagai ganti dari sewa dan bukan aset itu sendiri. termasuk jangka waktunya. Ketentuan (flexibility) dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu. 3. pemilik aset. pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan aset. 5. dengan cara penawaran dari pemilik aset (LKS) dan penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah). 4. LKS) dan penyewa (lesee. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas. baik secara verbal atau dalam bentuk lain yang equivalent. Manfaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. Pihak-pihak yang berakad (berkontrak) : terdiri atas pemberi sewa (lessor. Bisa juga dikenali dengan spesifikasi atau identifikasi fisik. Kedua : Ketentuan Obyek Ijarah: 1. Obyek kontrak: pembayaran (sewa) dan manfaat dari penggunaan aset. Ketiga : Kewajiban LKS dan Nasabah dalam pembiayaan Ijarah .1. 7. 4. Pernyataan Ijab dan Qabul. tempat dan jarak. 3. Manfaat dari penggunaan aset dalam ijarah adalah obyek kontrak yang harus dijamin. Kesanggupan memenuhi manfaat harus nyata dan sesuai dengan syari’ah. Pembayaran sewa boleh berbentuk jasa (manfaat lain) dari jenis yang sama dengan obyek kontrak. 2. 6. 8. nasabah). 2. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar nasabah kepada LKS sebagai pembayaran manfaat. Sesuatu yang dapat dijadikan harga dalam jual beli dapat pula dijadikan sewa dalam Ijararah. Sighat Ijarah berupa pernyataan dari kedua belah pihak yang berkontrak. Manfaat harus dikenali secara spesifik sedemikian rupa untuk menghilangkan jahalah (ketidaktahuan) yang akan mengakibatkan sengketa.

Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan. c. . bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan. Sekretaris. Jika aset yang disewa rusak. Menanggung biaya pemeliharaan aset yang sifatnya ringan (tidak materiil). Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. c. Menanggung biaya pemeliharaan aset. Menyediakan aset yang disewakan. 2. Kewajiban LKS sebagai pemberi sewa: a.1. Kewajiban nasabah sebagai penyewa: a. ia tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Keempat : Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. Membayar sewa dan bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan aset yang disewa serta menggunakannya sesuai kontrak. juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya. b. b. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

kecuali orang yang beriman . A. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 08/DSN-MUI/IV/2000. c. b. Nazri Adlani Musyarakah Saturday.. Menimbang : a. di mana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang musyarakah untuk dijadikan pedoman oleh LKS Mengingat : • Firman Allah QS.Prof.Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang bersyarikat itu sebagian dari mereka berbuat zalim kepada sebagian lain.. Ali Yafie Drs. Bahwa kebutuhan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan dan usaha terkadang memerlukan dana dari pihak lain. KH. tentang Pembiayaan Musyarakah.H. antara lain melalui pembiayaan musyarakah. yaitu pembiayaan berdasarkan akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. Shad (38) : 24: “. kini telah dilakukan oleh lembaga keuangan syraiah. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. baik dalam berbagi keuntungan maupun resiko kerugian. Bahwa pembiayaan musyarakah yang memiliki keunggulan dari segi kebersamaan dan keadilan.

. Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad).’ (HR.. dan amat sedikitlan mereka ini. Abu Daud. c. Hadis riwayat Abu Daud dari Abu Hurairah. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Kamis. yang dishahihkan oleh al-Hakim dari Abu Hurairah). Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. Rasulullah berkata: “Allah swt berfiman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. tanggal 8 Muharram 1421 H / 13 April 2000. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Akad dituangkan secara tertulis. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. atau dengan menggunakan caracara komunikasi modern. Ijma’ Ulama atas bolehnya musyarakah.. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). aku keluar dari mereka. melalui korespondensi.” • • Firman Allah QS. Kaidah Fiqh: “Pada dasarnya. b. .”.”.”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • • • Taqrir Nabi terhadap kegiatan musyarakah yang dilakukan masyarakat pada saat itu.. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Jika salah satu pihak telah berkhianat. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUSYARAKAH Beberapa Ketentuan : 1. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.dan mengerjakan amal shaleh.

dan dalam hal ini ia boleh menuntut bagian keuntungan . LKS dapat meminta jaminan. Pada prinsipnya. Seorang mitra tidak diizinkan untuk mencairkan atau menginvestasikan dana untuk kepentingannya sendiri. Setiap mitra memiliki hak untuk mengatur aset musyarakah dalam proses bisnis normal. akan tetapi. e. kerja. c. Kerja i. Setiap mitra harus menyediakan dana dan pekerjaan. dan setiap mitra melaksanakan kerja sebagai wakil. tanpa melakukan kelalaian dan kesalahan yang disengaja. properti. d. Kompeten dalam memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan. perak atau yang nilainya sama. Para pihak tidak boleh meminjam. dan memperhatikan hal-hal berikut: a. Partisipasi para mitra dalam pekerjaan merupakan dasar pelaksanaan musyarakah. Jika modal berbentuk aset. iii. dalam pembiayaan musyarakah tidak ada jaminan. seperti barang-barang. 3. kesamaan porsi kerja bukanlah merupakan syarat. Seorang mitra boleh melaksanakan kerja lebih banyak dari yang lainnya. namun untuk menghindari terjadinya penyimpangan. Modal yang diberikan harus uang tunai. Setiap mitra memberi wewenang kepada mitra yang lain untuk mengelola aset dan masing-masing dianggap telah diberi weewnang untuk melakukan aktifitas musyarakah dengan memperhatikan kepentingan mitranya. Modal i. harus terlebih dahulu dinilai dengan tunai dan disepakati oleh para mitra. keuntungan dan kerugian) a. Modal dapat terdiri dari aset perdagangan. b. ii. Obyek akad (modal. kecuali atas dasar kesepakatan.2. meminjamkan. menyumbangkan atau menghadiahkan modal musyarakah kepada pihak lain. emas. Pihak-pihak yang berkontrak harus cakap hukum. b. dan sebagainya.

ii. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 08 Muharram 1421 H / 13 April 2000 M . Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara para pihak. b. ii. 4. Kerugian Kerugian harus dibagi di antara para mitra secara proporsional menurut saham masingmasing dalam modal. Setiap keuntungan mitra harus dibagikan secara proporsional atas dasar seluruh keuntungan dan tidak ada jumlah yang ditentukan di awal yang ditetapkan bagi seorang mitra. iv. kelebihan atau prosentase itu diberikan kepadanya.tambahan bagi dirinya. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. c. Keuntungan i. d. Seorang mitra boleh mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu. Sistem pembagian keuntungan harus tertuang dengan jelas dalam akad. iii. Biaya operasional dipersengkatakan. Kedudukan masingmasing dalam organisasi kerja harus dijelaskan dalam kontrak. a. Setiap mitra melaksanakan kerja dalam musyarakah atas nama pribadi dan wakil dari mitranya. Keuntungan harus dikuantifikasi dengan jelas untuk menghindarkan perbedaan dan sengketa pada waktu alokasi keuntungan atau ketika penghentian musyarakah. Biaya operasional dibebankan pada modal bersama.

LKS) menyediakan seluruh modal. b. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang mudharabah untuk dijadikan pedoman oleh LKS. mudharib. Sekretaris. Mengingat : • Firman Allah QS.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Bahwa dalam rangka mengembangkan dan meningkatkan dana lembaga keuangan syari’ah (LKS). 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 07/DSN-MUI/IV/2000. tentang Pembiayaan Mudharabah (Qiradh). yaitu akad kerjasama suatu usaha antara dua pihak di mana pihak pertama (malik. kecuali dengan jalan perniagaan yang . shahib al-mal. dan keuntungan usaha dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. KH. A. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. Menimbang : a. Ali Yafie Drs. pihak LKS dapat menyalurkan dananya kepada pihak lain dengan cara mudharabah. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam.H. Nazri Adlani Mudharabah (Qiradh) Saturday. sedang pihak kedua (‘amil. Prof. nasabah) bertindak selaku pengelola.

Firman Allah QS. Ibnu Majah dari Shuhaib). Ibnu Majah. muqaradhah (mudharabah). Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.. 4/838). beliau membenarkannya” (HR. bukan untuk dijual.. Daaqauthni.”.” (HR. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah.”.. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Al-Baqarah (2): 283: “. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Thabrani dari Ibnu Abbas). dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. Diriwayatkan. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG PEMBIAYAAN MUDHARABAH (QIRADH) . • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000.. 1989. Karenanya.”. • Ijma.. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. • • Firman Allah QS. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. serta tidak membeli hewan ternak.. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Jika persyaratan itu dilanggar. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya.. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.Maka.”.. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR.”. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain.berlaku dengan sukarela di antaramu.

dan pembagian keuntungan ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak (LKS dengan pengusaha).Pertama : Ketentuan Pembiayaan : 1. Dalam hal penyandang dana (LKS ) tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan. LKS sebagai penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah kecuali jika mudharib (nasabah) melakukan kesalahan yang disengaja. 7. lalai. tatacara pengembalian dana. LKS dapat meminta jaminan dari mudharib atau pihak ketiga. 4. 8. dan mekanisme pembagian keuntungan diatur oleh LKS dengan memperhatikan fatwa DSN. . 5. namun agar mudharib tidak melakukan penyimpangan. mudharib berhak mendapat ganti rugi atau biaya yang telah dikeluarkan. Jaminan ini hanya dapat dicairkan apabila mudharib terbukti melakukan pelanggaran terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama dalam akad. 6. atau menyalahi perjanjian. Biaya operasional dibebankan kepada mudharib. Kriteria pengusaha. Dalam pembiayaan ini LKS sebagai shahibul maal (pemilik dana) menbiayai 100% kebutuhan suatu proyek (usaha) sedangkan pengusaha (nasabah) bertindak sebagai mudharib atau pengelola usaha. Pada prinsipnya. 3. dalam pembiayaan mudharabah tidak ada jaminan. 9. 10. Jumlah dana pembiayaan harus dinyatakan dengan jelas dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Pembiayaan Mudharabah adalah pembiayaan yang disalurkan oleh LKS kepada pihak lain untuk suatu usaha yang produktif. dan LKS tidak ikut serta dalam manajemen perusahaan atau proyek tetapi mempunyai hak untuk melakukan pembinaan dan pengawasan. Mudharab boleh melakukan berbagai macam usaha yang telah disepakati bersama dan seusai dengan syari’ah. Jangka waktu usaha. 2. prosedur pembiayaan.

Pernyataan ijab dan qabul harus dinyatakan oleh para pihak untuk menunjukkan kehendak mereka dalam mengadakan kontrak (akad). b. Modal tidak dapat berbentuk piutang dan harus dibayarkan kepada mudharib. 4. baik secara bertahap maupun tidak. c. Bagian keuntungan proporsional bagi setiap pihak harus diketahui dan dinyatakan pada waktu kontrak disepakati dan harus dalam bentuk prosentasi (nisbah) dari keuntungan sesuai kesepakatan. Akad dituangkan secara tertulis. Modal adalah sejumlah uang dan/atau aset yang diberikan oleh penyedia dana kepada mudharib untuk tujuan usaha dengan syarat sebagai berikut: a. c. 3. .Kedua : Rukun dan Syarat Pembiayaan: 1. Penerimaan dari penawaran dilakukan pada saat kontrak. b. Modal harus diketahui jumlah dan jenisnya. maka aset tersebut harus dinilai pada waktu akad. Penyedia dana menanggung semua kerugian akibat dari mudharabah. Syarat keuntungan berikut ini harus dipenuhi: a. kelalaian atau pelanggaran kesepakatan. melalui korespondensi. b. Penawaran dan penerimaan harus secara eksplisit menunjukkan tujuan kontrak (akad). Penyedia dana (shahibul mal) dan pengelola (mudharib) harus cakap hukum. dan pengelola tidak boleh menanggung kerugian apapun kecuali diakibatkan dari kesalahan disengaja. Jika modal diberikan dalam bentuk aset. dengan memperhatikan hal-hal berikut: a. Keuntungan mudharabah adalah jumlah yang didapat sebagai kelebihan dari modal. c. Modal dapat berbentuk uang atau barang yang dinilai. 2. Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan. atau dengan menggunakan cara-cara komunikasi modern. Harus diperuntukkan bagi kedua pihak dan tidak boleh disyaratkan hanya untuk satu pihak. sesuai dengan kesepakatan dalam akad.

Mudharabah boleh dibatasi pada periode tertentu. Kegiatan usaha adalah hak eksklusif mudharib. harus memperhatikan hal-hal berikut: a. Penyedia dana tidak boleh mempersempit tindakan pengelola sedemikian rupa yang dapat menghalangi tercapainya tujuan mudharabah. tetapi ia mempunyai hak untuk melakukan pengawasan.5. tanpa campur tangan penyedia dana. Pengenlola tidak boleh menyalahi hukum syari’ah Islam dalam tindakannya yang berhubungan dengan mudharabah. Kegiatan usaha oleh pengelola (mudharib) sebagai perimbangan modal yang disediakan oleh pneyedia dana. yaitu keuntungan. maka penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. dan harus mematuhi kebiasaan yang berlaku dalam aktifitas itu. karena pada dasarnya akad ini bersifat amanah (yad al-amanah). Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. kelalaian. kecuali akibat dari kesalahan disengaja. Pada dasarnya. Ketiga : Beberapa ketentuan hukum pembiayaan: 1. c. Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA . 2. 3. 4. b. atau pelanggaran kesepakatan. dalam mudharabah tidak ada ganti rugi.

Nazri Adlani Jual Beli Istishna' Saturday.H. c. Menimbang : a. Ali Yafie Drs. Bahwa kebutuhan masyarkat untuk memperoleh sesuatu. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 06/DSN-MUI/IV/2000. yaitu akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli. tentang Jual Beli Istishna'. Sekretaris. A. sering memerlukan pihak lain untuk membuatkannya. Bahwa transaksi istishna’ pada saat ini telah dipraktekkan oleh lembaga keuangan syariah.Ketua. dan hal seperti itu dapat dilakukan melalui jual beli istishna’. b. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang istishna’ untuk menjadi pedoman. shani’). Mengingat : . Prof. KH. mustashni’) dan penjual (pembuat. Bahwa agar cara tersebut dilakukan sesuai dengan ajaran Islam.

semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan.”. 2. dan yang lain dari Abu Sa’id al-Khudri). 3. 3. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Daaqauthni. . istishna’ hukumnya boleh (jawaz) karena hal itu telah dilakukan oleh masyrakat muslim sejak masa awal tanpa ada pihak (ulama) yang mengingkarinya. barang atau manfaat. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang.”. Ibnu Majah. Kedua : Ketentuan tentang Barang: 1. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG JUAL BELI ISTHISHNA’ Pertama : Ketentuan tentang pembayaran : 1. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. baik berupa uang. • Hadis Nabi: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain: (HR. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. Penyerahannya dilakukan kemudian. Pembayaran dilakukan sesuai dengan kesepakatan. 2. tanggal 29 Dzulhijjah 1420H/ 4 April 2000. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya. • Menurut mazhab Hanafi.• Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu.

Jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya atau jika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. Sekretaris. Ketiga : Ketentuan Lain 1. Ali Yafie Drs. 5. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.H. KH. Semua ketentuan dalam jual beli salam yang tidak disebutkan di atas berlaku pula pada jual beli istishna’. 7. hukumnya mengikat. pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih) untuk melanjutkan atau membatalkan akad. 6. Nazri Adlani . 2. maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan. 3. A. Tidak boleh menukar barang. kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai dengan kesepakatan. Prof.4. Pembeli (mushtashni’) tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 29 Dzulhijjah 1420 H / 4 April 2000 DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua.

. Bahwa dalam rangka membantu masyarakat guna melangsungkan dan meningkatkan kesejahteraan dan berbagai kegiatan. tentang Murabahah. b. bank syari’ah perlu memiliki fasilitas murabahah bagi yang memerlukannya. yaitu menjual suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 04/DSN-MUI/IV/2000.Murabahah Saturday. Bahwa masyarakat banyak memerlukan bantuan penyaluran dana dari bank berdasarkan prinsip jual beli. Menimbang : a.

Firman Allah QS. • Firman Allah QS. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu.. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya... maka beliau menghalalkannya.”. ‘Sesungguhnya jual beli itu harus dilakukan suka sama suka.”. Bidayah al-Mujtahid. Ibnu Majah dari Shuhaib). Al-Baqarah (2): 275: “. • Hadis Nabi riwayat Jama’ah: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu adalah suatu kezaliman. . Al-Baihaqi dan Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban). • Hadis Nabi riwayat Nasa’i Abu Dawud.. Bahwa oleh karena itu. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.” (HR..c.Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran. • Hadis Nabi riwayat ‘Abd al-Raziq dari Zaid bin Aslam: “Rasulullah SAW. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil.” • Hadis Nabi dari Abu Said al-Khudri: “Dari Abu Sa’id Al-Khudri bahwa Rasulullah SAW bersabda. bukan untuk dijual. • • Firman Allah QS. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu.”. Al-Baqarah (2) : 280 : “. maka berilah tangguh sampai ia berkelapangan. Bada’i as-Sana’i V/220-222)..’ (HR.Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Ibnu Majah dan Ahmad: “Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi kepadanya. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. muqaradhah (mudharabah).. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang Murabahah untuk dijadikan pedoman oleh bank syari’ah Mengingat : • Firman Allah QS. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan..”.”. II/161.. al-Kasani.”..”..”. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. ditanya tentang ‘urban (uang muka) dalam jual beli. • Ijma’ Mayoritas ulama tentang kebolehan jual beli dengan cara Murabahah (Ibnu Rusyd....

6. Bank dan nasabah harus melakukan akad murabahah yang bebas riba. Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri. 9. 8. Untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG MURABAHAH Pertama : Ketentuan Umum Murabahah dalam Bank Syari’ah: 1. Barang yang diperjualbelikan tidak diharamkan oleh syari’ah Islam. . 2. akad jual beli murabahah harus dilakukan setelah barang. 5. 4. Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian. 3. Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang dari pihak ketiga. 7. Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepaki. Bank kemudian menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya. dan pembelian ini harus sah dan bebas riba. pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah. Dalam kaitan ini Bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut biaya yang diperlukan. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. secara prinsip menjadi milik bank.

6. Jika bank menerima permohonan tersebut. Bank kemudian menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus menerima (membeli)-nya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya. agar nasabah serius dengan pesanannya. Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank. Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang. dan jika uang muka tidak mencukupi. biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut. 2.Kedua : Ketentuan Murabahah kepada Nasabah: 1. Jika nasabah kemudian menolak membeli barang tersebut. Ketiga : Jaminan dalam Murabahah: 1. 4. uang muka menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. Jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut. 3. 7. nasabah wajib melunasi kekurangannya. Jika nasabah batal membeli. Dalam jual beli ini bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan. Jaminan dalam murabahah dibolehkan. Keempat : Hutang dalam Murabahah: . 2. ia harus membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang. ia tinggal membayar sisa harga. Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang harus ditanggung oleh bank. maka: a. 5. karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat. Jika uang muka memakai kontrak ‘urbun sebagai alternatif dari uang muka. kemudian kedua belah pihak harus membuat kontrak jual beli. b. bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah.

ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya. Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya. Keenam : Bangkrut dalam Murabahah: Jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya. 3. ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank. Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian. Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja. Secara prinsip. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan. atau berdasarkan kesepakatan. Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir. atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya.1. 2. bank harus menunda tagihan hutang sampai ia menjadi sanggup kembali. penyelesaian hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. nasabah tetap harus menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 . Kelima : Penundaan Pembayaran dalam Murabahah: 1. 2. maka penyelesaian dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tidak tercapai kesepakatan melalui musyawarah.

KH. Mengingat : • Firman Allah QS. DSN memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan deposito pada bank syari’ah. pada masa kini. tentang Deposito. Nazri Adlani Deposito Saturday. yaitu simpanan dana berjangka yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimapanan dengan bank.DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Ali Yafie Drs. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 03/DSN-MUI/IV/2000. b. Prof. Sekretaris. Bahwa oleh karena itu.H. c. memerlukan jasa perbankan. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah deposito. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. bahwa kegiatan deposito tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). kecuali dengan jalan perniagaan yang . A. Menimbang : a.

..”. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. modal) dari satu pihak (malik. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. beliau membenarkannya” (HR. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. serta tidak membeli hewan ternak....Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia dari Tuhanmu. 1989.. Memperhatikan : . jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Jika persyaratan itu dilanggar. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. Oleh karena itu.” (HR. bukan untuk dijual.. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. Diriwayatkan. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. 4/838). Firman Allah QS.”. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu....”.” • Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. muqaradhah (mudharabah). Al-Baqarah (2): 283: “. • Ijma.berlaku dengan sukarela di antaramu. Thabrani dari Ibnu Abbas). • • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2) : 198 : “. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. Karenanya..”.. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. • Qiyas. Transaksi mudharabah. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. • Firman Allah QS. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. • Para ulama menyatakan.Maka. Ibnu Majah dari Shuhaib).”.

tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. 4. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. 3. Deposito yang dibenarkan. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya.Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. 2. Ditetapkan di : Jakarta . Kedua : Ketentuan Umum Deposito berdasarkan Mudharabah: 1. 2. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional deposito dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Bank tidak diperkenankan untuk mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. yaitu Deposito yang berdasarkan perhitungan bunga. Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG DEPOSITO Pertama : Deposito ada dua jenis: 1. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening. Deposito yang tidak dibenarkan secara syari’ah. 5. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. 6. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. yaitu Deposito yang berdasarkan prinsip Mudharabah.

H. Sekretaris. Nazri Adlani . KH.Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. A. Prof. Ali Yafie Drs.

Tabungan Saturday. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 02/DSN-MUI/IV/2000.”. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi.. bahwa kegiatan tabungan tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah). pada masa kini. memerlukan jasa perbankan. Mengingat : • Firman Allah QS. Bahwa oleh karena itu. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. yaitu simpanan dana yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu yang telah disepakati tetapi tidak dapat ditarik dengan cek. bilyet giro dan/atau alat lainnya yang dipersamakan dengan itu. Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan tabungan pada bank syari’ah. Menimbang : a. . tentang Tabungan. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. c. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah tabungan.. b.

”. beliau membenarkannya” (HR. Oleh karena itu. serta tidak membeli hewan ternak. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.Maka.”. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu.. ia (mudharib) harus menanggung resikonya.”. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. bukan untuk dijual.. modal) dari satu pihak (malik. • Ijma. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. Karenanya. Jika persyaratan itu dilanggar. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin. Firman Allah QS..”. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. • Para ulama menyatakan.. Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah.. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. Thabrani dari Ibnu Abbas). ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. Ibnu Majah dari Shuhaib).” (HR.. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya. Al-Baqarah (2): 283: “. • • • Firman Allah QS. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan. . hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya. • Qiyas. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya.. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga. Transaksi mudharabah.• Firman Allah QS. muqaradhah (mudharabah). hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. 1989. 4/838).”. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Diriwayatkan...

2. 3. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak betentangan dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional tabungan dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Tabungan yang dibenarkan. . yaitu tabungan yang berdasarkan perhitungan bunga. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. Tabungan yang tidak dibenarkan secara syari’ah.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG TABUNGAN Pertama : Tabungan ada dua jenis: 1. Kedua : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Mudharabah: 1. Ketiga : Ketentuan Umum Tabungan berdasarkan Wadi’ah: 1. 4. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul mal atau pemilik dana. 2. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya dalam bentuk tunai dan bukan piutang. 6. 5. Bersifat simpanan. yaitu tabungan yang berdasarkan prinsip mudharabah dan Wadi’ah. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan dituangkan dalam akad pembukaan rekening.

Sekretaris.H. Ali Yafie Drs. Prof. Simpanan bisa diambil kapan saja (on call) atau berdasarkan kesepatakan. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. Nazri Adlani . A. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat sukarela dari pihak bank. 3.2. KH.

. hendalkah yang dipercayai itu mennuaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya.”. c. yaitu simpanan dana yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan penggunaan cek.. 15 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional Majelis Ulama Indonesia no: 01/DSN-MUI/IV/2000.. tentang Tabungan. .Giro Saturday. atau dengan pemindahbukuan.. pada masa kini.Maka.”. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan sukarela di antaramu. jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain. Dewan Syari’ah Nasional (DSN) memandang perlu menetapkan fatwa tentang bentuk-bentuk mu’amalah syari’ah untuk dijadijkan pedoman dalam pelaksanaan giro pada bank syari’ah. • Firman Allah QS. memerlukan jasa perbankan.. Menimbang : a. Bahwa keperluan masyrakat dalam peningkatan kesejahteraan dan dalam bidang investasi. b. Bahwa oleh karena itu. bilyet giro.. dan salah satu produk perbankan di bidang penghimpunan dana dari masyarakat adalah giro. sarana perintah pembayaran lainnya. Mengingat : • Firman Allah QS. Al-Baqarah (2): 283: “. Al-Nisa’ (4) : 29: “Hai orang yang beriman! Janganlah kalian saling memakan (mengambil) harta sesamamu dengan jalan yang batil. bahwa kegiatan giro tidak semuanya dapat dibenarkan oleh hukum Islam (syari’ah).

Memperhatikan : Pendapat peserta Rapat Pleno Dewan Syari’ah Nasional pada Hari Sabtu. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu. Thabrani dari Ibnu Abbas). Ketika persyaratan yang ditetapkan Abbas itu didengar Rasulullah. diqiyaskan kepada transaksi musaqah. • Hadis Nabi riwayat Ibnu Majah: “Nabi bersabda: ‘Ada tiga hal yang mengandung berkah: jual beli tidak secara tunai. 1989. serta tidak membeli hewan ternak. • Para ulama menyatakan. Transaksi mudharabah.”. diperlukan adanya kerjasama di antara kedua pihak tersebut. ia mensyaratkan kepada mudharib-nya agar tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah. modal) dari satu pihak (malik. shahib al-mal) kepada pihak lain (‘amil. sejumlah sahabat menyerahkan (kepada orang. • Kaidah fiqh: “Pada dasarnya.” (HR. muqaradhah (mudharabah).. Karenanya. • Qiyas. dalam kenyataan banyak orang yang mempunyai harta namun tidak mempunyai kepandaian dalam usaha memproduktifkannya. sementara itu tidak sedikit pula orang yang tidak memiliki harta namun ia mempunyai kemampuan dalam memproduktifkannya. Hadis Nabi riwayat al-Thabrani: “Abbas bin Abdul Muthallib jika menyerahkan harga sebagai mudharabah..”. bukan untuk dijual.”. ia (mudharib) harus menanggung resikonya. tanggal 26 Dzulhijjah 1420H/ 1 April 2000. • Hadis Nabi riwayat Tirmidzi dari Amr bin Auf: “Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin.. Diriwayatkan. Jika persyaratan itu dilanggar. Al-Ma’idah (5): 2: “dan tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebaikan. mudharib) harta anak yatim sebagai mudharabah dan tak ada seorang pun mengingkari mereka.• • • Firman Allah QS. yakni penyerahan sejumlah harta (dana. hal itu dipandang sebagai ijma’ (Zuhaily. Firman Allah QS. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkan. Al-Ma’idah (5): 1: “Hai orang yang beriman! Penuhilah akad-akad itu. mudharib) untuk diperniagakan (diproduktifkan) dan keuntungan dibagi di antara mereka sesuai kesepakatan.. Oleh karena itu. dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. . • Ijma. dan mencampur gandum dengan jewawut untuk keperluan rumah tangga.”. beliau membenarkannya” (HR. Ibnu Majah dari Shuhaib). 4/838)..

Ketiga : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Wadi’ah : 1. Tidak ada imbalan yang disyaratkan. Kedua : Ketentuan Umum Giro berdasarkan Mudharabah: 1. 2.Dewan Syari’ah Nasional Menetapkan : FATWA TENTANG GIRO Pertama : Giro ada dua jenis: 1. dalam bentuk tunai dan bukan piutang. Dalam transaksi ini nasabah bertindak sebagai shahibul maal atau pemilik dana. Bank tidak diperkenankan mengurangi nisbah keuntungan nasabah tanpa persetujuan yang bersangkutan. 2. yaitu giro yang berdasarkan perhitungan bunga. Bank sebagai mudharib menutup biaya operasional giro dengan menggunakan nisbah keuntungan yang menjadi haknya. Modal harus dinyatakan dengan jumlahnya. termasuk di dalamnya mudharabah dengan pihak lain. yaitu giro yang berdasarkan prinsip Mudharabah dan Wadi’ah. bank dapat melakukan berbagai macam usaha yang tidak bertentang dengan prinsip syari’ah dan mengembangkannya. Titipan bisa diambil kapan saja (on call). 3. 3. kecuali dalam bentuk pemberian (‘athaya) yang bersifat . dan bank bertindak sebagai mudharib atau pengelola dana. Giro yang tidak dibenarkan secara syari’ah. Dalam kapasitasnya sebagai mudharib. Pembagian keuntungan harus dinyatakan dalam bentuk nisbah dan ditunangkan dalam akad pembukaan rekening. 6. 5. 4. Bersifat titipan. Giro yang dibenarkan secara syari’ah. 2.

KH. Ali Yafie Drs. Prof. Ditetapkan di : Jakarta Tanggal : 26 Dzulhijjjah 1420 H / 1 April 2000 M DEWAN SYARI’AH NASIONAL MAJELIS ULAMA INDONESIA Ketua. A. Nazri Adlani .H. Sekretaris.sukarela dari pihak bank.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful