Pendidikan Moral Anak

MEMBENTUK moral anak bisa dilakukan lewat story telling (dongeng). Kegiatan membaca dongeng dan berdiskusi antara orangtua dan anak ini dapat dilakukan di rumah.

Anak tentu saja menjadi anugerah terindah bagi setiap orangtua. Namun, ketika sang buah hati beranjak remaja atau dewasa, bisa jadi anak yang telah dibesarkan dan dididik sebaik mungkin, menjadi anak yang tidak mengerti nilai-nilai moral dalam kehidupan.

Kondisi tersebut tentu saja mengecewakan karena apa yang sejak dini ditanamkan, hilang begitu saja. Padahal, membentuk moral anak bisa dilakukan sejak dini, bahkan ketika anak memasuki tahun pertama usianya.

Hal tersebut terungkap dalam seminar pendidikan dan parenting bertajuk Education in the Changing World, di Kemang Village, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Hadir sebagai pembicara, Kepala Sekolah Pelita Harapan (SPH) Brian Cox M Ed dan Koordinator Sekolah SPH James T Riady.

Selain dua pembicara tersebut, seminar juga dihadiri oleh Pendiri Layanan Konseling Keluarga dan Karier Roswitha Ndraha, Sport and Arts Director Universitas Pelita Harapan Karawaci Stephen Metcalfe BA, dan Rektor Universitas Pelita Harapan Jonathan Parapak. Berbagai topik seminar diangkat dengan tujuan memberikan yang terbaik bagi anak-anak Indonesia.

Seperti diungkapkan James T Riady, yang membawakan makalah bertajuk Youth with a Vision. Dalam makalahnya, dia banyak menyinggung tentang perkembangan moral anak yang tidak saja didapatkan di sekolah.

"Pengetahuan yang tinggi, tidak menjamin seseorang bisa memiliki moral yang baik. Namun, ketika anak-anak memiliki moral yang baik, otomatis mereka bisa menilai mana pendidikan yang baik dan buruk," papar James. Peran orangtua dalam mempersiapkan anak-anak yang memiliki visi dan masa depan, menurut James, sangatlah penting. Lewat orangtua, anak-anak belajar segala sesuatu.

"Pendidikan formal berfungsi melatih anak-anak untuk memperbaiki lingkungan sekitarnya. Sedangkan dengan pengetahuan moral, anak-anak diajak berpikir dan membangun etika dan karakter dirinya yang baik," tambah James dalam seminar yang diselenggarakan oleh Sekolah Harapan Kita itu.

Sedikit berbeda dengan James, peserta seminar yang juga pengajar di Jakarta, William Pakpahan mengatakan, pendidikan moral untuk anak-anak bisa dilakukan di rumah, bisa dengan membahas buku-buku cerita bersama orangtua, membaca kitab suci ataupun mendongeng.

"Saya memang seorang pengajar, namun saya tidak yakin di sekolah-sekolah formal anak bisa mendapatkan pendidikan moral yang benar-benar bisa menjamin anak kita menjadi anak yang baik," kata pengajar yang juga ayah tiga putra ini. Karena itu, lanjutnya, ketika berkumpul dengan anak-anak saya di rumah, saya menanamkan nilai-nilai moral dengan menceritakan kisah-kisah dalam kitab suci.

Menanamkan pendidikan moral untuk anak-anaknya juga dilakukan William dengan sesering mungkin mengajak anak-anaknya yang masih belia mengunjungi panti-panti asuhan, panti jompo, hingga memberikan sumbangan untuk anak-anak jalanan.

''Pernah suatu waktu anak saya bertanya, mengapa banyak anak kecil menyanyi di lampu merah. Setelah itu, untuk mengetuk hatinya dan menggugah rasa simpatinya, saya mengajak anak saya untuk melihat lebih dekat bagaimana anak-anak kecil itu mencari sesuap nasi," terangnya.

Mengajak anak langsung menyaksikan kejadian sehari-hari yang membuatnya trenyuh, ternyata sangat mengena di benak anak-anak William. "Sejak itu, mereka tidak pernah lagi membuangbuang nasi ketika makan," tutur William. Dari pengalaman tersebut, William berkesimpulan bahwa pendidikan moral harus bisa dipraktikkan pada anak-anak, dari rumah hingga di lingkungan sekitar, termasuk di jalanan.

Tahap Perkembangan Moral Anak

1. Perkembangan kuantitas menuju kualitas Ketika anak mulai mengenal larangan orangtua, anak cenderung menilai dosa atau kesalahan

Anak juga sangat peka terhadap ketidakkonsistenan orangtua bila orangtua melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan yang diajarkannya. Bila perkembangan moral anak berjalan baik. Inilah kesempatan terbaik orangtua untuk mengajarkan apa yang harus diajarkannya karena masa ini akan cepat berlalu. 3. Bila perkembangan moral anak berjalan baik. Tujuan suatu perbuatan adalah kesenangan pribadi dan kenikmatan. individu dapat melihat kepentingan orang lain dalam melakukan tindakan moralnya.com/2010/02/pendidikan-moral-anak. Bukan itu saja. Misalnya dengan membagi permen yang dimilikinya. Ketaatan mutlak menuju inisiatif pribadi Pada mulanya seorang anak akan menaati apa yang dikatakan orangtuanya. Setelah itu.blogspot. Pada tahap ini.berdasarkan besar-kecilnya akibat perbuatan yang ditimbulkannya. Sebaliknya. Kepentingan diri menuju kepentingan orang lain Tahap awal perkembangan moral anak adalah egosentris karena anak masih memusatkan perhatian pada dirinya. pengorbanan kepentingan diri dapat dilakukan demi kesejahteraan teman-teman sebayanya. pada usia remaja akhir anak telah memiliki prinsip moral yang menjadi miliknya pribadi dan yang mengarahkan tingkah lakunya. anak menganggap bahwa menjatuhkan beberapa gelas secara tidak sengaja lebih besar dosanya daripada menjatuhkan satu gelas secara sengaja. 2. Anak tidak mudah lagi dipengaruhi lingkungannya. http://longlifeducation. ia mulai memahami bahwa kualitas suatu perbuatan harus diperhitungkan dalam menilai benar-salah. Misalnya. Pada tahap awal perkembangan moral. anak akan bermain dengan peraturan yang dapat diubah sesuai perjanjian sebelumnya. anak akan melakukan perbuatan berdasarkan prinsip moral yang dimilikinya. Karena itu. anak akan lebih terikat dengan perjanjian-perjanjian. ataupun mengajak teman-temannya untuk berbagi boneka kesayangan. Baru pada usia yang lebih besar. orangtua pun seharusnya terikat dengan peraturan yang mereka tetapkan bagi anak-anaknya. barulah pada usia yang lebih dewasa. teriakan ?'curang'' sewaktu anak bermain akan terdengar keras ketika peraturan bersama ini dilanggar. anak tidak memperhitungkan unsur motivasi.html . Bagi mereka.

Adalah hubungan yang kenyataannya lebih sering memusingkan kepala. dan membuat orang tua seolah tidak berdaya karena ketidak mampuan orangtua untuk menyiasatinya. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menanamkan nilai-nilai moral dan mendorong perkembangan moral anak-anak kita agar bergerak kearah yang lebih baik. semua warga desa sibuk mempersiapkan anaknya dan serentak berlomba. indah dan menyenangkan. kesehatan dan penampilan anak-anak mereka. yaitu dengan cara menjanjikan akan mengadopsi dua orang anak (putera dan putri) yang akan dijadikan pangeran dan puteri raja kelak dari kalangan suatu desa terpencil. Akan tetapi seringkali terjadi adalah kebalikan dari hal itu.tengahnya( mengalami menjadi orang tua). tidak pernah ada sekolah khusus bagi untuk mendidik orang menjadi orang tua. Dengan segala pertanyaan besar di benak setiap orang tua. Hubungan orang tua dengan anak. lebih memperhatikan pendidikan. kemudian seringkali diartikan sebagai ‘permasalahan’ orang tua dan anak. dengan memberi tenggang waktu satu tahun untuk mempersiapkan anak-anak tersebut.. Yang jelas. karena anak-anak secara sederhana adalah merupakan cermin dari orang tua. Melihat kisah di atas. Satu hal terberat saat menghadapi anak-anak adalah.MENANAMKAN MORAL KEPADA ANAK USIA DINI BABI PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Kisah seorang raja yang hendak mendidik warganya agar dapat mendidik anaknya dengan baik. hubungan yang tidak terbatas. Oleh karena itu . sesuatu yang mampu membuat dada terasa lega dan senyum cerah tersungging dibibir saat megingatnya. akan berhasilkah mereka mendidik anakanaknya? Apakah hasil dari didikan mereka nantinya? Apalagi jika berpikir tentang pendidikan moral bagi anak-anak. sebagai orang tua memang harus bersedia untuk selalu berbuat yang terbaik. Semuanya mesti dipelajari dengan berada ditengah. Hubungan.. Sang Raja berkata “Apa yang kalian lakukan selama setahun ini adalah memang selayaknya kalian lakukan sebagai orang tua….1. Ketika semua rakyat berharap akan mendapatkan anaknya terpilih sebagai puteri/pangeran. Dengan harapan akan bahwa anak mereka akan terpilih menjadi pangeran/puteri yang di janjikan sang raja. seperti apakah yang terbaik? Benar memang. menambah beban yang ada. seolah orang tua dihadapkan pada dirinya sendiri. sejak saat itu anak-anak di desa itu mendapatkan yang terbaik untuk kebutuhan mereka. semestinya adalah sebuah hubungan yang manis. Hubungan yang seharusnya mampu menyenangkan kedua belah pihak. Kalian memberikan yang terbaik bagi anak-anak kalian …Karena memang sebenarnya setiap anak adalah pangeran dan puteri yang berhak mendapat semua yang terbaik bagi kebutuhan mereka…! Selamat dan terima kasih aku ucapkan atas yang telah kalian lakukan bagi anak-anak kalian. dengan ditambah sedikit bekal dari pengalaman yang diberikan orang tua dulu. baik orang tua maupun anak. Karena hubungan orang tua dan anak adalah hubungan kasih sayang.Sehingga mereka akan tumbuh menjadi anak-anak terbaik dan harapan terbaik bagi Negara ini. dengan terus memperkaya diri kita demi anak-anak. Satu tahun berlalu ketika sang raja kembali ke desa tersebut.

Dan dalam tahap ke 3 ini. berempati. maka anak akan terlihat sangat patuh dan berbuat baik untuk menghindari hukuman. maka.2. mengenai apa yang baik atau benar dalam cara hidup seseorang. misal memukul pantatnya). Misalnya. bahwa setiap orang tua diharapkan banyak belajar demi keberhasilannya dalam mendidik putera-puterinya terutama dalam hal pendidikan moral bagi anak. Pada tahap ini anak sudah mulai tidak egosentris lagi. tanggung jawab social? Untuk mejawab semua pertanyaan diatas. setia kawan.3. TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL MANUSIA Dan anak-anak mengembangkan nilai-nilai moral ini secara perlahan dan melalui beberapa tahapan tertentu. dermawan. anak akan mulai dapat membedakan akibat fisik (Jika hukuman fisik terpaksa dilakukan orang tua.sudah selayaknya jika setiap orang tua selalu berupaya untuk belajar. Disini pemikiran anak mengenai benar atau salah belum jelas. ada (3) tingkatan perkembangan moral anak. nilai. Pada anak-anak. yaitu. bersahabat. dan belajar untuk menjadi orang tua yang lebih baik. lembut. dapat dipercaya. Anak akan bertindak tertentu karena menganggap prilaku itu baik untuk keluaga atau kelompoknya. Jujur. baik hati. dan masing-masing tingkatan memiliki (2) tahapan. Dibutuhkan kesabaran orangtua untuk memahami perkembangan moral sebagai proses panjang dan tidak pernah berhenti dalam kehidupan seorang manusia. Menurut teorinya. ramah. BABII KAJIANTEORI 2. pada umumnya akan terdengar sebagai sikap dan perbuatan seseorang terhadap orang lain. penuh kasih.” Ketika orang berbicara tentang nilai-nilai moral. 1. Misalnya tidak akan bermain jauh karena akan dimarahi orang tua.1. • Bagaimana anak belajar membedakan yang benar dan yang salah? • Bagaimana cara mengajar anak menjadi manusia yang lebih enhance (meningkatkan kualitas kehidupan) daripada disminish (menurunkan) kualitas kehidupan dalam masyarakat? • Bagaimanakah cara orang tua menyampaikan kepada mereka sebuah kepekaan moralitas. 2. anak berkata. hanyalah beberapa ciri-ciri yang dapat ditemui pada orang-orang yang dianggap memiliki nilai-nilai moral yang baik. Salah satu tokoh yang menekuni masalah perkembangan moral adalah Kohlberg. Tahap 2: Naïve Hedonistic and Instrumental Orientation Dalam tahap ini. DEFINISI MORAL Jika istilah moral didefinisikan akan berbunyi. menghargai orang lain. yang akan di bahas dalam kajian teori. Biasanya tingkat dan tahapan ini ditemui pada usia anak dibawah 10 tahun. maka makalah ini akan mengawalinya dengan memahami makna moral terlebih dulu. ceria.” moral berkenaan dengan norma-norma umum.” Saya akan mengerjakan PR kalau nanti malam boleh nonton TV”. serta lebih lengkapnya akan dibahas dalam bab pembahasan masalah. • Tingkat pertama dikenal dengan Preconventional Morality Tahap 1: Obedience and Punishment orientation Dalam tingkat ini anak cenderung menghindari hukuman. nilai-nilai moral akan terlihat dari mampu tidaknya seorang anak membedakan antara yang baik dan yang buruk. tergantung apakah itu memuaskan keinginannya atau tidak. anak akan menaruh perhatiannya pada harapan-harapan social yang ada di sekitarnya. • Tingkat kedua dikenal dengan Conventional Tahap 3: Good Boy Nice Girl Morality Dalam tingkat ini anak lebih memfokuskan diri pada apa yang diharapkan oleh orang lain (keluarga atau kelompok lain seperti sekolah). PERUMUSAN MASALAH Melihat latar belakang permasalahan. . belajar. setiap orang tua hendaklah memahami hal hal seperti.

PRINSIP-PRINSIP DASAR TENTANG MORAL Sebelum sampai pada cara-cara bagaimana mengajarkan moral kepada anak.2. jika orang tua mengharapkan penghargaan dari anak. dan keadilan yang orang tua harapkan dari anak. ini berarti memberikan anak sebuah perasaan bahwa orang tua mempertimbangkan sudut pandang anak. berarti memperlakukan mereka sebagai seorang manusia.1. . Tahap-tahap ini adalah perasaan yang baik dan buruk yang terus ada sejak masa anak-anak hingga dewasa. Anak mengembangkan moralitas secara gradual dan bertahap.1. Mengajarkan Dengan Contoh Sebuah cara paling pasti untuk membantu anak mengubah pemikiran moral mereka ke arah prilaku moral yang positif adalah mengajari mereka dengan contoh. Tahap 5: Social Legality Dalam tahapan ini. Moralitas Adalah Penghargaan Orang tua perlu menghargai anak dan mengharapkkan penghargaan yang serupa dari anak. B A B III PEMBAHASAN 3. Maka berdasarkan teori perkembangan moral anak. Mendengarkan pun adalah sebuah contohsalah satu cara menyampaikan nilai-nilai kepada anakanak adalah dengan mendengarkan mereka. Orang tua mengajarkan penghargaan bagi semua orang dengan contoh-contoh langsung (dalam menghargai orang) yang orang tua berikan. jika sesuai ia akan mengikuti aturan tersebut dan sebaliknya. Namun yang menjadi masalah adalah tidak setiap orang tua mampu atau mengetahui/memahami bagaimana cara mengkomunikasikan moral kepada anak. Tindakan dalam tahapan ini sebagai keputusan kata hatinya . dalam pembahasan akan dibahas mengenai bagaimana orang tua dapat mendidik anak dan dapat mengembangkan moral anak dengan baik. Masing-masing tahap membawa anak menjadi lebih dekat dengan kematangan perkembangan moralnya. • Tingkat ketiga disebut dengan Post Conventional Dalam Tingkat ini anak sudah mengerti aturan social yang ada. Tingkat dan tahapan ini terjadi pada anak usia 10-21 tahun.3. tidak statis dan tergantung pada banyak faktor. terlebih dahulu yang harus dipahami adalah beberapa prinsip dasar tentang moral.1. 3. Namun teori Kohlberg diatas tentu bersifat dinamis. Tahap 6: Morality of individual principles and Conscience Dalam tahap terakhir ini. maka orang tua harus sangat berhati-hati dalam menjalani kegiatan mereka sehari hari. penalaran moral sudah merupakan kata hati/ rilekunya sehari hari. Memperlakukan anak dengan penghargaan.1. berlaku adil dengan anak.yaitu. Maka anak-anak akan belajar mendengarkan pula. Tidak ada hal lain yang lebih terpatri dan menggores lebih dalam di dalam benak anak-anak selain contoh perilaku orang tua atau orang dewasa lain disekelilingnya. anak menganggap nilai moral baik atau buruk merupakan suatu kewajiban dengan tujuan menjaga keseimbangan dan ketertiban masyarakat. Dan menciptakan sejumlah penghargaan bagi tercapainya kematangan tahap perkembangan anak. kelembutan.Tahap 4: Authority and Morality Dalam tahap ini. Karena moralitas adalah jalan dua arah. 3.1. karena anak selalu dapat belajar dari apapun yang orang tua lakukan. Menghargai Anak Dan Mengharapkan Penghargaan yang Serupa Dari Mereka. Dan peranan orang tua dalam setiap perkembangan moral anak tentu sangat penting karena anak akan selalu butuh bimbingan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Disiplin harus benar benar mendapat penghargaan dan merupakan contoh bentuk pengendalian. 3. anak akan menentukan apakah aturan tersebut sesuai dengan moral atau tidak.

mintalah pada anak untuk berpikir dan merefleksikan diri. Terlalu banyak kontrol dari orang tua menyebabkan anak berontak dan akan melakukan apa saja untuk mendapat sedikit kebebasan. akan membuat anak-anak selalu teringat bahwa kebersamaan adalah bentuk cinta kasih. karena anak hanya akan menganggap hal itu sebagai hiburan tanpa nilai. Hal ini cukup rumit. namun kedekatan dengan orang tua. Membantu Anak Memikul Tanggung Jawab Nyata Upayakan agar anak ikut memikul tanggung jawab tugas di rumah dan dorong mereka agar dapat menyelesaikanya. Seimbangkan Antara Kemandirian Dan Kontrol Yang di Berikan Anak-anak membutuhkan batasan dalam kemandirian. atau menciptakan sesuatu yang membahagiakan keluarga. maka anak-anak membutuhkan kata-kata orang tua seperti halnya anak membutuhkan contoh dari orangtua. Sempatkan waktu membacakan cerita-cerita rakyat yang dapat dijadikan ilustrasi suatu nilai moral. Membantu Anak Belajar Berpikir. akan membuat anak mempercayai orang tua serta menjadikan orang tua sebagai satu-satunya tempat anak mencurahkan segalanya. 3. antara tetap berpegang dengan sayap yang mereka miliki. berarti orang tua melakukan hal yang lainnya. Memupuk Perkembangan Moral dan Menciptakan Keluarga Yang Bahagia Membantu anak tumbuh dengan moral yang baik dan menciptakan keluarga yang baik adalah benar-benar hal yang sama.8. Salah satunya adalah dengan meluangkan waktu untuk anak. Cintailah Anak Dan Bantu Mereka Mengembangkan Konsep Diri Positif Cinta dan kasih sayang orang tua membantu anak menangkap nilai-nilai dan peraturan orang tua. Hal ini akan sangat membantu anak untuk memahami prinsip-prinsip yang diajarkan melalui sikapsikap dalam tokoh cerita. Orang tua dapat membantu perkembangan moral anak dengan member mereka dorongan yang konstan untuk berhenti sejenak dan berpikir. Orang tua yang melewatkan waktu bersama anak secara kuantitatif dan kualitatif sebaik mereka mencintai anak-anak mereka. atau menjaga adik.1. membuka mata hati dan telinga untuk anak. Mencintai anak-anak bukan berarti memanjakan mereka dan merusak konsep diri yang positif dari anak.7. Anak-anak yang lebih banyak berpikir akan lebih banyak mendiskusikan isu-isu moral. Karena anak di kelilingi dengan contoh yang buruk juga. namun hal itu tidak cukup. Yaitu berpikir untuk mereka sendiri.1. JIka orang tua melakukan salah satunya. 3.1. akan memiliki anak-anak yang mempunyai level perkembangan moral yang tinggi. Namun dengan kebabasan yang melimpah .5. 3. Membuat variasi kebersamaan dengan anak. Biarkan mereka kerjakan sendiri tugas-tugas sekolahnya.4. Mengajarkan Dengan mengatakan Meski penting mengajar anak dengan contoh. mereka akan mendapatkan kemudi yang membantu . Caranya.1.Jika orang tua bersikap lebih demokratis maka perkembangan moral anak akan terkontrol dengan lebih baik. menciptakan jalan yang lebih baik melalui tahap-tahap pemikiran moral daripada anak-anak yang tidak banyak berpikir. Tanyakan padanya bagaimana kalau hal ini terjadi padanya? Berikan anak wakt untuk merefleksikan diri atas perilakunya.6. 3. 3.7. dan untuk mengambil keadaan/kondisi orang lain sebagai bahan pertimbangan. Bagi anak yang terpenting bukan ceritanya.1. atau memelihara hewan peliharaan. Jika anakanak merasa ‘terhubung’ dengan keluarga.3. Jangan biarkan anak menonton film sendirian tanpa ada interaksi bertukar nilai-nilai. membuat anak menjadi tidak disiplin.1.

Anak-anak melihat dan kemudian membuat imajinasi dalam pikirannya. bagaimana berperilaku di dunia ini. yaitu keluarga maupun lingkungan luas di sekitar. karena pada dasarnya manusia adalah mahluk social. pasti akan berpikir bagaiman cara menerangkannya pada anak-anak. Selain itu menyusun sebuah aturan tentang perilaku yang diharapkan dan yang dilarang juga akan membantu anak. Hal-hal diatas merupakan komunikasi yang jelas dan mudah dipahami oleh anak. 3. . pelajaran apa yang ditimbulkan oleh tindakan yang kita lihat dan kita dengar. akan membantu anak untuk mengingat perilaku yang orang tua harapkan. misalnya dari teman sebaya. KOMUNIKASI MORAL SEBAGAI PROSES MENGEMBANGKAN MORAL ANAK Berbicara mengenai moral. Interaksi atau hubungan timbale balik satu sama lain adalah kebutuhan hakiki manusia. Proses terjadi sejak pada linkungan terkecil. hanya dengan diskusi abstrak di sekolah atau di dapur. yaitu nilai-nilai moral. Dengan menetapkan hal-hal rutin atau prosedur spesifik bagi perilaku tertentu seperti mengerjakan tugas-tugas di rumah atau bersiap-siap untuk pergi tidur.2. sehingga membantu proses kemampuan anak untuk mampu merenungkan dan mengolah sesuai dengan kemampuan penangkapannya.mereka bertahan pada sebuah jalur yang bertanggung jawab dalam menghadapi tekanan dalam kehidupannya.2. 3.2. Diperlukan tata cara hidup yang diperlukan agar tidak saling merugikan satu sama lain. Memahami Makna Komunikasi Komunikasi pada dasarnya adalah suatu proses saling berbagi informasi antar semua mahluk di dunia. Dan orang tua harus selalu ingat tingkat perkembangan anak agar tidak mengharapkan lebih dari kemampuan yang dimiliki anak atau membanjiri anak dengan daftar aturan yang panjang. dan anak biasanya belum mampu menterjemahkan kata-kata verbal. tatacara ini diwujudakan dalam bentuk nilai-nilai yang disepakati bersama. Manusia tidak dapat hidup tanpa manusia lainnya untuk mengisi dan melanjutkan hidupnya. Dalam waktu tak terbatas orang akan selalu mengkomunikasikan moral. Moral akan tumbuh dengan mempelajari bagaimana bersikap terhadap orang lain. Dan hal tersebut merupakan sesuatu yang abstrak utnuk dikatakan dengan cara apapun. termasuk dalam membangun moral.2. komunikasi Yang efektif Komunikasi adalah kunci semua aspek dalam keluarga. Ada beberapa hal mengenai cara berkomunikasi secara efektif dengan anak: Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang jelas Orang tua terlebih dulu perlu untuk mendefinisikan harapan-harapan orang tua bagi anak anak. Mengutip Robert Coles tentang kecerdasan moral “Kecerdasan moral tidaklah dicapai hanya dengan mengingat kaidah dan aturan.I. Komunikasi yang efektif adalah kooperatif Lebih dari sekedar mendiktekan harapan yang ada kepada anak. tidak melalui kata-kata namun dengan seluruh pengalaman hidupnya. 3. Nilai-nilai moral untuk tingkatan anak-anak adalah membedakan baik dan buruk. aau menuntut hal-hal tertentu. bahwa suatu tindakan itu benar atau salah memerlukan suatu pengalaman langsung yang dapat dilihat dan dirasakan secara langsung. Perlu diingat pembentukan watak memrlukan waktu bertahun-tahun. dan diolah dalam hati mengenai baik buruknya” Orang tua sebaiknya tidak tergesa-gesa dalam member pemahaman kepada anak. Imajinasi dalam pikiran anak.

akan tetapi juga alasan mengapa mereka melakukannya. Yaitu orang tua mampu merendahkan hatinya untuk memahami pikiran anak? Pikiran anak kadang berbeda dengan apa yang orang tua bayangkan karena rentang usia dan pengalaman hidup. Komunikasi efektif harus lengkap Lengkap dalam arti anak tidak hanya tahu apa yang harus dilakukannya. serta mencari media lain yang bervariasi.3. Dan dalam ini kebaikan hati orang dewasa cukup menentukan nasib mereka selanjutnya. sehingga makna yang dimiliki dapat dimaknai bersama. Hal terakhir dan tidak kalah pentingnya adalah pengkomunikasian alasan tentang perilaku yang diharapkan. anak-anak adalah saksi yang selalu memperhatikan moralitas orang dewasa atau tiadanya moralitas orang dewasa. Sebenarnya proses komunikasi adalah proses berbagi nilai-nilai.Komunikasi efektif berarti Berbicara kepada anak. Moral tidak cukup hanya diinformasikan. Misalnya menyusun tugas. seakan-akan orangtua adalah bagian dari pesan itu. bersahabat tidak berjarak. “Anak anak merupakan saksi. diantaranya adalah bahasa tubuh dan tatapan mata orang tua adalah media yang menarik perhatian anak. Mengemas pesan moral dalam kalimat sederhana dan menarik perhatian anak. Oleh karena itu Orang tua harus menggunakan contoh konkret untuk memperjelas harapan orang tua kepada anak. Mereka kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Komunikasi dua arah tidak cukup untuk menjamin keberhasilan proses transformasi nilai apabila tidak terjadi proses dialog yang setara antara anak dengan orang tua. dia adalah subyek yang sedang mencoba menghayati nilai-nilai. Komunikasi Moral Yang Manusiawi Setelah memahami makna komunikasi. Ada umpan balik didalamnya yang saling berinteraksi antara orang tua dan anak. orang tua akan dapat menjadi komunikator yang baik. Hal ini berarti orang tua tidak hanya mengatakan kepada anak tentang perilaku yang diharapkan akan tetapi juga mengapa perilaku tersebut penting. anak sangat konkre dalam pemikiran. Komunikasi yang dimaksud disini bukan hanya saling memberi informasi atau sekedar menceramahi nilai-nilai moral denga kata-kata. komunikasi yang bersifat dua arah adalah dengan membiarkan anak mengambil bagian dalam pengambilan keputusan. tetapi bagaimana nilai-nilai tersebut didialogkan secara horizhontal seperti halnya dua teman yang saling berbagi. Orang tua harus meluangkan waktu untuk memaknai nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari bersama anak. Komunikasi yang efektif harus konkret Sampai menginjak masa remaja.tugas di rumah atau membuat aturan di rumah.2. 3.2. malaksanakannya dan meyakini hal itu sebagai hal yang baik dalam hidupnya. Bukan seperti hubungan yang atas dengan bawah . menggunakan media yang tepat. Anak Bukan Obyek Tetapi Subyek Anak bukan obyek sasaran yang dapat dicekoki dengan berbagai nasihat moral.4. anak-anak melihat dan mencari isyarat bagaimana orang orang berperilaku” (Robert Coles) 3. yang menjadi pertanyaan adalah apakah sudah menggunakan pendekatan komunikasi yang manusiawi? Karena pada dasarnya orang tua dan anak mempunyai kedekatan yang sangat manusiawi. Salah satu kegagalan dalam membagikan nilai-nilai moral adalah orang tua tidak memperhatikan unsur-unsur komunikasi.

• Pengetahuan Pemahaman seseorang biasanya dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu mengenai sesuatu hal.5. Mengembangkan wawasan kepada anak bukan hal yang mudah. apakah baru sampai tingkat pengetahuan semata atau sudah sampai pada tingkat kesadaran dan akhirnya menjadi perilaku yang diharapkan.atau vertical. benar-benar jauh lebih bermanfaat daripada sekedar jika kita mengucapkannya dalam kata-kata. • Sikap Setelah anak mempunyai wawasan yang cukup. anak biasanya mengetahui dari apa yang dia lihat dan dia dengar. Pada saat yang tepat hendaknya anak diajak melaksanakan nilai moral. Ada saat anak sangat bersifat egois. Lambat laun anak akan mampu membuat keputusan dan melakukan dengan caranya sendiri. ada masa anak sangat ingin berinteraksi dan mulai bersikap social. perlu kehati-hatian dan kesabaran orang tua untuk mengembangkan wawasan mengenai anak dan pengembangan moralnya. Pada tahapan dimana anak memahami nilai-nilai moral. anak akan tergerak untuk melakukannya. sebagai orang tua. maka orang tua harus sabar dalam mendampingi agar anak dapat melakukannya. Misal dalam nilai-nilai moral. karena pada dasarnya anak harus mengetahui terlebih dahulu atau berwawasan mengenai nilainilai moral. 3. Pembentukan sikap ke arah nilai-nilai moral perlu melihat kecenderungan pada umur umur tertentu. • Perilaku Beranjak dari proses kesadaran.2. Lambat laun perilaku tersebut akan berubah menjadi adat kebiasaan. Pada awalnya anak baru sampai tahap meniru atau imitasi.3. Proses ini berlangsung dalam kesatuan waktu dan saling melengkapi satu sama lain. akan sangat mempermudah. Contoh-contoh konkret dari orang tua cara melakukannya untuk ditiru pada awalnya . Komunikasi yang terjadi akan sekaligus mengarah pada proses penyadaran dalam diri anak. Setelah menyadari anak akan melakukan perbuatan tersebut. maka akan berproses untuk mengolahnya sampai pada tahap menyadari dan meyakini sehingga membentuk suatu sikap. Tujuan utama membentuk perilaku inilah yang paling sulit. Dalam hal ini ada beberapa hal . tapi horizhontal dalam bentuk berbagi tentang suatu pengalaman hidup. anak-anak akan meyakininya bahwa tindakan itu baik dan pantas ditiru. Wawasan ini akan masuk dalam pikirannya dan akhirnya menggerakan kesadaran dalam dirinya dan meyakini sebagai sikap yang benar. Sejak usia dini harus ditanamkan wawasan ini melalui kata-kata ataupun bahasa tubuh. Apabila orang tua menunjukkan sikap yang konsisten. Perilaku yang terbentuk pada diri manusia mempunyai tahapan yang seharusnya mempertimbangkan aspek intelektual dan emosional anak secara utuh. Dan anak akan tertarik untuk mengembangkannya sejak mereka belajar bicara. Mempertimbangkan Proses Menangkap Pesan Moral Pada dasarnya suatu proses komunikasi moral bertujuan mengembangkan perilaku anak menjadi manusia yang mampu menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan social masyarakatnya. 3. ACTION DO SPEAK LOUDER THAN WORDS Memilih bagaimana harus berperilaku. Orang tua perlu mempertimbangkan tahapan dimana proses komunikasi moral sedang berlangsung. Dengan tetap mempertimbangkan tingkatan usia anak. Anak cenderung cepat frustasi bila merasa tidak bisa.

video game. Contoh. Roberts Cole mengatakan bahwa “kehidupan moral anak mendahului kemampuan berbahasanya” Saat anak belum mempunyai kosakata untuk berbicara. Orang tua dapat menyimak pemikiran moral anak dan “menarik” anak ke tingkatan moral yang lebih tinggi.Dengan kata-kata yang sederhana dan sikap konsisten yang meyakinkan bahwa semua penyimpangan itu bukanlah prinsip orang tuanya. Sehingga Anak Dapat Mendengar Keyakinan Moral Yang Orang tua Miliki Bahan pembicaran yang menarik bagi banyak orang biasanya menarik perhatian anak. terutama dalam mengembangkan nilai-nila moral yang menjadi penopang dalam keutuhan pribadinya.music. Terutama anak-anak. Dan orang yang telah terbiasa hidup didalam image visual (kebudayaan citra dan virtual)akan sangat sulit tergerak oleh kata-kata. serta bertahan pada apa yang telah ditetapkan. Orang tua harus menunjukan bahwa orang tua sependapat dengannya bahwa mencelakakan orang lain itu SALAH. Satu hal yang penting dari metode ini adalah anak belajar mengangkat pelajaran tentang nilai empati terhadap suatu peristiwa. Ambilah Sikap Aktif Melawan “racun” Perkembangan Moral Anak Banyak racun yang sering bertentangan dengan nilai moral seperti acara televisi tertentu. tayangan visual ini sangat berpengaruh pada jiwa anak. Mengunakan Pertanyaan Untuk Memperluas Kemampuan Anak dengan Menggambarkan perspektif Orang Lain Menggunakan pertanyaan jauh lebih baik daripada sekedar pernyataan.semua itu menunjukan ia belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan terdekatnya. Misalkan anak menyakiti adiknya. jika anak sudah menyukainya akan sulit orang tua memberitahu salah dan benar melalui kata-kata verbal.”Apa yang . Sebaik tidak hanya sekedar mnenghardiknya dan mengatakanitu tidak baik. dan situs internet. karena yang dapat merangsang pengaruh pada perasaan dan pikiran adalah image visual . Orang Tua Mencoba Menemukan Isu-isu Moral Untuk Dibicarakan (pada saat isu-isu itu timbul). Oleh karena itu orang tua haruslah bersikap tegas terhadap penyimpangan-penyimpangan moral yang terlihat oleh anak di televisi atau dimanapun. film. Lewat perbincangan dalam keluarga . (misalnya. Kekasaran dan pertengkaran yang terjadi di depan anak yang sedang belajar mengenai moral akan menjadi trauma negative yang akan merusak perkembangan jiwanya. Anak telah belajar banyak sejak awal. kasus pemboman Bali) bagaimana ia berdoa agar orang yang jahat terhadap orang lain ditangkap. Pada awal kehidupannya anak telah dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. ia telah belajar mengungkapkan lewat tindak-tanduknya. Oleh karena itu orang tua harus dapat memastikan perilaku moral yang akan diambil oleh anak adalah perilaku moral terbaik yang diharapakan oleh orang tua dan orang tua inginkan sebagai contoh untuk anak. Orang tua harus mencoba menjelaskan tentang kekhawatiran tersebut kepada anak. dan menetapkan standar. tanpa disadari orang tua sudah mengungkapkan nilai mereka dengan cara mempengaruhi orang lain. bahkan sebelum dilahirkan. tetapi dengan mengembangkan pertanyaan yang harus dijawab oleh anak.yang harus disadari oleh orang tua: Orang tua Adalah Guru Moral Pertama Bagi Anak Keluarga adalah kunci pendidikan dasar bagi anak. Hal lain yang harus diperhatikan adalah bahwa hampir semua orang tertarik pada televisi dan multi media.

Memperhatikan Anak dan “tangkap” Mereka ketika bertindak secara Moral yang Baik Dengan memberitahukan kepada anak perilakunya yang baik. dengan menggambarkan apa yang telah dilakukannya dengan baik dan bagaimana orang tua menghargai hal itu.wordpress.kamu rasakan jika orang lain memperlakukanmu seperti itu?.com/2009/08/10/menanamkan-moral-kepada-anak-usia-dini/ . http://paudfip.

Hukuman dapat mengakibatkan dendam dan bersikap kasar. Kalau misalnya anak mengotori lantai. karena ada yang berpendapat potong rambut itu gundul. Konsekwensi berbeda dengan hukuman. jika tidak tidur keesokan harinya akan mengantuk dan sebagainya. dipesantren.” Maka jika anak melakukan meninggalkan meja makan dengan piring kotor berserakan maka ia harus mencuci piring. sedangkan laki-laki sudah biasa pemandangan kepala gundul. listriknya diputus.D (2002) ada dua perbedaan antara hukuman dan Konsekwensi Pertama Konsekwensi memberikan anak pelajaran sedangkan hukuman jarang sekali memberikan pelajaran. Konsekwensi Logis Konsekwensi logis sering terjadi di masyarakat. pemberian konsekwensi. sehingga menimbulkan hukuman lain. Contoh jika tidak makan kita akan lapar.Pendidikan Moral Anak Tanpa Kekerasan Murid perlu dididik untuk memahami bahwa setiap tindakan dan prilakunya ada konsekwensi yang haru ia terima. seperti yang terjadi disebuah pesantren di Pekanbaru )3 Kalau menurut saya tidak mempermalukan karena anak tersebut memakai Jilbab. Tetapi konsekwensi disampaikan dengan rasa sedih dan empati Anda menunjukkan tanggung jawab ada dipundak anak. Konsekwensi Relevan Konsekwensi Relevan adalah konsekwensi yang secara langsung berkaitan dengan perilaku buruk anak dan membuat anak memperbaiki sikapnya. anak yang malas bergerak konsekwensi signifikan adalah menyuruh dia berolah raga. menurut Ray Levi Ph.. “cuci piring. maka disuruh ia untuk membersihkan lantai yang kotor tersebut. begitu menurut sunah nabi.. jika merampok mendekam di penjara dan sebagainya. Konsekwensi yang diajarkan pada murid-murid guna untuk merubah perilaku buruk anak didik dan sebagai alternatif pengajaran yang benar untuk menghindari tindak kekerasan pada anak.)1 Berbagai konsekwensi yang perlu dan patut di terapkan sebagaimana menurut Levy2 Konsekwensi Alam Konsekwensi alami terjadi akibat langsung dari peristiwa yang terjadi secara alamiah. jika tidak membayar listrik. Asal jangan hukuman yang memalukan seperti menggunduli kepala anak padahal ia cewek. Kedua Hukuman disampaikan dengan cara marah-marah karena anak telah membuat sesuatu yang membuat anda marah. . .. dan pemberian penghargaan bagi yang berprilaku baik. Sebaliknya konsekwensi mengajarkan perilaku yang baik pada anak karena menunjukkan perilaku yang benar sebagaimana yang anda inginkan. Pemahaman akan konsekwensi bagi anak hanya didapat dengan cara menegakkan kedisiplinan. Contoh seorang anak meninggalkan meja makan dengan piring kotor berserakan maka perilaku apa yang diharapkan jika anak berbuat demikian. Kalau memecahkan kaca disuruh ia mengganti (Tidak Efektif: karena bagi siswa yang orang tuanya kaya akan mudah baginya untuk mengganti berulang-ulang sampai puluhan kali – penulis). Konsekwensi alami ini perlu dipahami murid-murid karena berkaitan langsung dengan kehidupan. Tapi jika anak kedapatan merokok konsekwensi relevannya adalah menghirup udara bersih. Konsekwensi berkaitan Konsekwensi jika anak kedapat merokok misalnya maka suruh anak ke perpustakaan untuk membaca akan bahaya merokok ditambah misalnya membuat kliping atas bahaya-bahaya merokok. Konsekweensi Signifikan Konsekwensi Signifikan yaitu konsekwensi yang efektif terhadap anak. dengan cara kongkrit yang dipahami anak. Djauzak Ahmad dalam Riau Pos menekankan: “Tetapi kalau tetap melakukan. diberi hukuman sesuai dengan perbuatannya (Konsekwensi relevan – Penulis). bukan hukuman. Konsekwensi dari perilaku buruk digantikan dengan perilaku baik yang diharapkan. tidak efektif!! Maka ada konsekwensi berkaitan yang cocok. mulai kiyai sampai ustad-ustadnya semua berbuat demikian.

kejam dan keji terhadap anak-anak. tanpa belas kasihan sedikitpun. Kalau mengajarkan dan mendidik anak dengan menerapkan konsekwensi maka kita dapat menghindari penggunaan kekerasan dalam pembelajaran anak didik di sekolah. b.Kalau anak memainkan senjata tajam hukumannya tidak dibiarkan sampai anak terluka. Sekedar Strap. kekerasan. perlakuan salah lainnya.php? option=com_content&view=article&id=269:pendidikan-moral-anak-tanpakekerasan&catid=47:pendidikan-dasar . dan f. ketidakadilan. Konsekwensi dengan berakibat fatal memang harus dihindari. seperti perkelahian harus dilerai. dan tidak semata-mata fisik. membersihkan WC. Ini penerapan konsekwensi yang salah karena berakibat fatal. tetapi jika terjadi kecelakaan akibat kebut-kebutan anak mendapat pelajaran. atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan. Pejelasan dari butir d ayat 1 tersebut adalah: Perlakuan yang kejam. tapi anak tidak boleh dikasih tahu akan pelajaran dari konsekwensi dari yang telah ia perbuat biarkan anak yang menyipulkan sendiri. dan sebagainya tidaklah disebut sebagai kekerasan dalam rangka atau maksud mendidik. baik ekonomi maupun seksual. Jika memanjat tinggi jangan tunggu sampai anak jatuh. c.Setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua. dan penganiayaan. wali. berhak mendapat perlindungan dari perlakuan: a. jangan dibiarkan saja. Kalau yang disebut kekerasan terhadap anak-anak itu tidak bermaksud mendidik. atau tidak menaruh belas kasihan kepada anak.dinaspendidikan-parepare. menyuruh anak membersihkan lantai. kekejaman. Adapun yang dimaksud kekeran menurut UU Perlindungan Anak No. berdiri diluar kelas. eksploitasi. misalnya perbuatan melukai dan/atau mencederai anak.info/index. Konsekwensi dapat berupa strap didepan kelas atau konsekwensi seperti yang telah diterangkan diatas. penelantaran. diskriminasi. Perlakuan kekerasan dan peng¬aniayaan. e. bengis. d. tetapi juga mental dan sosial http://www. misalnya tindakan atau perbuatan secara zalim. kebut-kebutan harus dilarang. keji.23 Tahun 2002 terdapat dalam pasal 13 ayat 1: Pasal 13 ayat: 1.

dengan demikian cerita adalah suatu ungkapan. tulisan yang berisikan runtutan peristiwa. kejadian dan sebagainya)[3] selain itu cerita juga bisa diartikan sebagai suatu ungkapan. membimbing. 1. seperti metode bermain. baik itu mengenai pengalamannya pribadi maupun pengalaman orang lain yang benar-benar terjadi ataupun hanya merupakan khayalan atau imajinasi saja. sehat dan terampil. tulisan yang dituturkan oleh seseorang kepada orang lain.[8] Taman Kanak-kanak juga sebuah lembaga pendidikan yang mengelolah. bernyanyi dan lain-lain. Sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya atau yang diharapkan supaya dapat menjadikan sumber daya manusia yang berkualitas.METODE CERITA DALAM PENDIDIKAN ISLAM (DI TAMAN KANAK-KANAK AISYIYAH BUSTANUL ATHFAL SAPEN). Sedangkan menurut istilah ialah suatu sistem atau cara yang mengatur cita-cita. penulis akan membatasi permasalahan atau memfokuskan diri pada metode cerita dalam pendidikan Islam Dari penjelasan dan penegasan beberapa istilah yang dimaksud dalam judul penelitian disini. 1. kejadian yang bisa disebut juga dengan dongeng atau kisah. Cerita Cerita adalah hiburan yang membentangkan bagaimana terjadinya sesuatu hal (peristiwa. mengajar anakanak untuk menjadi anak yang cerdas. dan dengan berbagai macam metode. umum. pendaftaran pertama tercatat sebanyak 40 anak. TK Aisyiyah Bustanul Athfal sebagai institusi pendidikan. terdiri dari anak yang berumur 3 s/d 7 tahun. seimbang antara kedewasaan jasmani dan rohaninya. maka pada penelitian ini. sehat cerdas dan terampil. Dalam Proses pendidikan. bercerita. 1. TK Taman-Kanak-kanak (TK) adalah sekolah untuk anak-anak yang berumur 5-6 tahun. cara atau. sistem atau ketertiban dalam mengerjakan sesuatu. Salah satu yang menjadi tanggung jawab sekolah yaitu mempersiapkan siswa agar mampu mengembangkan kepribadian yang selaras. Dalam bahasa arab disebut dengan “thariqah” artinya jalan. 1. kelompok. . Mengingat banyaknya metode yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut. kreatif dan berakhlak mulia.[1] Metode yaitu cara kerja yang bersistem yang memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. didalamnya tentu memuat berbagai macam kegiatan dan pelajaran baik yang dilaksanakan didalam kelas maupun diluar kelas. yang ingin kami maksudkan adalah: ingin melihat bagaimana penerapan dan pengaruh metode cerita dalam pendidikan Islam yang dilaksanakan dan dikembangkan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal dalam rangka membentuk anak-anak yang berkualitas. TK Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen Taman Kanak-Kanak Aisyiyah Bustanul Athfal Sapen merupakan lembaga pendidikan yang dirintis dan didirikan oleh Muhamaddiyah Ranting Sapen Yogyakarta pada tanggal 27 Februari 1967. Metode Metode berasal dari bahasa latin “meta” yang berarti melalui dan “hodes” yang berarti jalan atau cara ke.[2] Jadi yang dimaksud dengan metode disini adalah sistem atau cara yang digunakan dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam dalam diri anak dan untuk mencapai tujuan pendidikan Islam melalaui cerita.

Hal. 22 3 Muhammad Quthb.342 ayat ada lebih dari 1600 ayat mengenai kisah-kisah. ia berhasil dimana metode-metode yang lain gagal. Oleh karena itu Islam mengeksploitasi cerita itu untuk dijadikan salah satu metode atau teknik dalam pendidikan. 246 2 A.2 Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi ceita. Pent.3 Cerita sangat erat kaitannya dengan dunia terbiyah. Sistem Pendidikan Islam. Cerita atau kisah termasuk salah satu metode yang sukses. 1984). setiap took pendidikan tidak memungkiri pengaruh cerita pada jiwa pendengarnya. yaitu bersikap jujur dan terbuka. Cerita atau kisah merupakan salah satu cara mendidik anak pada masa lampau da modern. Abdul Hadi Basulthanah. sebab metode merupakan salah satu faktor yang urgen dalam menentukan keberhasilan dan juga sarana dalam mencapai tujuan tersebut. Dari keseluruhan ayat al-Qur’an yang berjumlah kurang lebih 6. (Bandung : PT. Hal ini terbukti. (Jakarta : Pustaka Al-Husna. Hal penting yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya adalah upaya untuk membantu mengembangkan pola pikir realistis.t. 1993). al-Qur’an dalam usahanya mendidik ummat manusia banyak menggunakan jalan mengungkapkan kisahkisah yang mengandung suri tauladan yang baik. Alma’arif. Hal.1 Dalam Islam metode cerita atau kisah ini telah dipergunakan sejak munculnya Islam itu sendiri.t.). Metode dalam pendidikan merupakan masalah penting dalam pencapaian tujuan. setiap pendidik terlebih orang tua untuk senantiasa membiasakan mendidik anak dengan banyak bercerita. Salman Harun. 382 1 . dan menyadari pengaruhnya yang besar terhadap perasaan. Cerita/kisah berkembang seiring dengan lahirnya manusia dan mengikuti perkembangannya. (Surabaya : Mutiara Ilm. konsekwensinya. Hal. Pent. Melalui cerita Abdurrahman Umdirah.Jadi yang dimaksud dari judul metode cerita dalam pendidikan Islam disini ialah menanamkan nilai-nilai ajaran Islam kepada diri anak dengan menggunakan metode cerita yang dilaksanakan/diterapkan di Taman Kanak-kanak Aisyiyah Bustanul Athfal sapen Yogyakarta. meskipun berbeda masa. Hanafi. Segi-segi Kesusastraan pada Kisah-kisah Al-qur’an. sebagaimana Allah memerintahkan kepada Rasulullah. Metode Al-Qur’an Dalam Pendidikan.

Hal. Pemilihan Cerita Sebagian orang. Seperti penguasaan terhadap ceritacerita humor. mampu menceritakan suatu bentuk cerita tertentu dengan baik di bandingkan jenis cerita yang lain. maka harus memahami terlebih dahulu jenis cerita apa yang hendak disampaikan.5 a. suasana (situasai dan kondisi) pendengar dan sebagainya. di awal tahun sangat baik memilih cerita “Sakinah Dan Anaknya”. (Jakarta. Gema Insani Press. terlebih dahulu harus menentukan jenis ceritanya.disamping mengembangkan hal tersebut juga emosi anak perlu dilatih menghayati. Sedangkan jika mengambil bahan dari selain buku ini maka sebaiknya guru memakai satu bentuk cerita saja. Cit. memuat berbagai cerita dengan aneka bentuk. Hal. seorang guru tetap di tuntut untuk menguasai penceritaan dari berbagai jenis dongeng. khususnya apabila di ambil dari buku ini. Karena tokoh-tokoh dalam cerita tersebut sangat dekat dan di kenal anak-anak 4 5 T. 3 . oleh karena itu agar dapat bercerita dengan tepat. Pemilihan jenis cerita ditentukan oleh tingkat usia pendengar. suasana acara. Karena cerita banyak sekali macamnya. tentunya dengan melakukan latihan yang terus-menerus. Misalnya. merenungkan dan merasakan berbagai lakon kehidupan manusia. Tetapi lain halnya untuk seorang guru. Op. Mendiddik Anak Secara Lisan. 74 Jaudah Muhammad Anwad. Masing-masing cerita mempunyai karakteristik yang berbeda. binatang. Handayu.4 Sebelum seseorang bercerita. Ada faktor lain yang dapat membantu dalam pemilihan cerita. Karena keadaan jiwa pendongeng akan berpengaruh pula pada setiap ceritanya. Namun. 1995). tampaknya ia agak sulit jika membatasi diri pada satu bentuk cerita. Memang sebaiknya pendongeng hendaknya memilih jenis yang sangat ia kuasai. misteri. guru sebaiknya dapat memilih cerita yang sesuai dengan kondisi jiwanya saat akan bercerita. jumlah pendengar tingkat heterogenitas (keragaman pendengar). Antara yang menyedihkan dan yang menyenangkan. tujuan penyampaiaan materi. Sebab cerita yang akan di sampaikannya. secara piawai. dan sebagainya. Dalam hal ini. yaitu situasi dan kondisi siswa. Ada cerita yang bernada sedih dan gembira.

apa yang terjadi di luar dan di dalam kelas bisa membantu dalam pemilihan cerita. dalam cerita yang menyedihkan mereka mereka malah tertawa atau sebaliknya. Cit. Kemudian di akhir tahun cukup baik bila memilih kisah “Cerita Tak Berujung”.sebelum masuk sekolah. Misalnya. Cet. kita juga harus mengetahui cerita yang berkualitas sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan jiwa dan watak anak-anak karena itu seorang guru harus memperhatikan beberapa hal dibawah ini :7 a) b) Cerita itu memikat (absorsing) dan menghibur Cerita itu mengembangkan imajinasi anak c) Cerita itu yang memberikan pengalaman emosional yang mendalam d) Cerita itu menimbulkan rasa humor yang menyeluruh e) Cerita itu memperluas cakrawala pandangan anak f)Cerita itu memberikan kepuasan terhadap kebutuhan ekspresi diri 6 7 Abdul Aziz Abdul Majid. 20 . Hal. Atau ketika seorang murid menemukan seekor tikus memasuki kelas. 2001). Hal. Oleh karena itu. untuk menanamkan dasar budi pekerti yang baik maka dapat memilih cerita Singa Dan Tikus. Adapun di pertengahan tahun. (Cimanggis Depok : Bina Mitra Press. yaitu gambaran semut memasuki gudang gandum. Seni Bercerita Islami. maka guru dapat memilih cerita “Mahjubah Yang Malas”. mengambil sebuah gandum lalu keluar. ia harus bercerita dengan menggunakan cara yang tepat agar murid tidak salah mengekspresikannya. Kemudian semut yang lainnya memasuki gudang untuk melakuakan hal yang sama. Sebab cerita ini akan memberi kesan di hati para siswa menjelang kelulusannya diakahir tahun. dan seterusnya. dan seterusnya. Op. Kriteria Cerita yang Baik dan Islami 1) Ciri-ciri cerita yang baik Sebagai metode dalam pendidikan. Misalnya. harus di ingat bahwa dalam menyampaikan cerita yang lucu dan sedih. ada seorang murid yang datang terlambat tanpa alasan. Sebagai catatan bagi guru.6 b. 30 Sukanto SA. II. guru harus menyiapkan dan membaca seluruh cerita yang hendak di sajikan. Dalam cerita ini di gambarkan sesuatu yang berulang-ulang dan terus-menerus berlangsung.

b) c) d) Menceritakan kisah kepahlawanan para pahlawan Islami Mengajarkan sifat mulia para Nabi dan Rasul serta para salafus shaleh Menceritakan kehidupan sehari-hari dan cerita kehidupan yang mengandung nilai-nilai moral ajaran Islam e) Cerita yang dapat digunakan untuk berdakwah kepada anak-anak. Cit. Dalam hubungan ini penting untuk mengoreksi atau memilih cerita yang mempunyai kwalitas dalam mendukung dunia pendidikan. Op. Sebuah cerita yang baik disamping kriteria tersebut diatas. yang mengandung kebaikan dan keburukan. syirik. maupun dalam bentuk lain seperti buku cerita dan komik. Adapun ciri-ciri cerita yang Islami antara lain : a) Menceritakan orang-orang terdahulu yang disebutkan dalam al-Qur’an dan tak pernah basi untuk diceritakan. bid’ah dan khurafat) c) d) Menanamkan rasa dendam. berdampak pada aqidah dan akhlak. Cit. pemerosotan moral maka harus dihindarkan sifatsifat cerita yang kurang mendidik : a) Mengandung falsafah yang salah b) Tidak Islami (kebohongan. yaitu sejenis cerita yang penyampaiannya berasal dari al-Qur’an dan kisah teladan lain yang dibaur. 116 . takhayyul. untuk itu perlu menilai cerita yang didalamnya terdapat nilai-nilai yang negatif. Hal. mistis. meskipun isinya baik harus diperhatikan pula misi yang dikandungnya atau makna yang ada didalamnya. Hal. 21 T. Handayu.Dan tentu lebih dari itu semua. Op. kita harus mempertanyakan cerita tersebut bersifat edukatif Islami atau tidak.9 Dewasa ini buku-buku cerita Islami banyak diterbitkan dalam bentuk majalah aku anak shaleh. permusuhan dan kekerasan Membuat anak malas untuk beribadah. sehingga anak dapat membedakannya f) Cerita yang didalamnya sarat dengan hikmah-hikmah 8 9 Sukanto SA.8 2) Ciri-ciri Cerita yang Islami Cerita yang Islami dikenal dengan sebutan kisah.

konflik yang muncul dalam cerita dan klimaks. teras bawah pohon. bergerak mengubah posisi gerakan dan diusahakan jangan duduk terus. Pada permulaan cerita guru hendaknya memulai dengan suara 1) 2) 3) 4) 10 Ibid. Pada saat itu ia harus mempersiapkan hal-hal berikut : Tempat bercerita Bercerita tidak selalu harus dilakukan didalam kelas. Bahasa dalam bercerita hendaknya menggunakan gaya bahasa yang lebih tingi dari gaya bahasa siswa sehari-hari. c. Bisa dihalaman sekolah. tetapi juga boleh juga diluar kelas yang dianggap baik oleh guru agar para siswa bisa duduk dan mendengarkan cerita. tetapi lebih ringan dibandingkan dengan bahasa cerita dibuku. Metode Penyampaian Cerita Setelah guru selesai mempersiapkan cerita ia bersiap-siap utnuk menyampaikan saat waktunya tiba. Kemudian guru duduk ditempat yang sesuai dan mulai bercerita. agama dan cara pandang asing.g) Cerita yang diambil dari pengalaman rasulullah saw dan para sahabat- sahabatnya. guru tidak langsung duduk pada awal bercerita tetapi memulainya dengan berdiri kemudian duduk.10 Cerita. 124 . Hal. cerita bagi anak merupakan sarana untuk memperoleh petunjuk-petunjuk termasuk didalamnya budaya. baik cerita umum maupun Islami dari buku maupun cerita langsung hendaklah menghindari sikap taklid. Posisi duduk Sebelum guru memulai bercerita sebaiknya ia memposisikan para siswa dengan posisi yang baik untuk mendengarkan cerita. Sebaiknya. Anak sebagai pribadi yang belum matang dapat mudah mengikuti segala hal yang diceritakan. dan sebagainya. Intonasi guru Cerita itu mencakup pengantar. rangkaian peristiwa. Bahasa cerita Bahasa cerita adalah bahasa yang baik dan mudah dimengerti.

Jika situasinya menunjukkan rasa kasihan. marah dan mengejek maka intonasi dan kerut wajah harus menunjukkan hal tersebut. Penampakan emosi Saat bercerita guru harus dapat menampakkan keadaan jiwa dan emosi para tokohnya dengan memberi gambaran kepada para pendengar bahwa seolah-olah hal itu adala emosi si guru sendiri. Menghindari ucapan spontan Guru acapkali mengucapkan ungkapan spontan setiap kali menceritakan sesuatu peristiwa. Peniruan suara Sebagian orang ada yang mampu meniru suara-suara binatang dan benda-benda tertentu. Apabila guru melihat para siswa mulai bosan. protes. Kebiasaan ini tidak baik karena bisa memutuskan rangkain peristiwa dalam cerita. Penguasaan terhadap siswa yang tidak serius Perhatian siswa ditengah cerita haruslah dibangkitkan sehingga mereka bisa mendengarkan cerita dengan senang hati dan berkesan. gelegar petir dan arus sungai yang deras. jika penyampaiannya bagus. jenuh dan banyak bercanda. kucing. anjing.tenang. karena bercerita dengan gaya yang monoton. Kemudian mengeraskannya sedikit demi sedikit. maka ia harus mencari penyebabnya. 5) 6) 7) 8) 9) . seperti suara singa. Para siswa biasanya diam mendengarkan cerita. Pemunculan tokoh-tokoh Telah disebutkan bahwa ketika mempersiapkan cerita. mungkin ia sendiri yang menjadi penyebabnya. seorang guru harus mempelajari terlebih dahulu tokoh-tokohnya agar dapat memunculkan secara hidup didepan para siswa. Perubahan naik turunnya suara disesuaikan dengan peristiwa dalam cerita. Sebagai seorang guru jangan malu-malu untuk melakukan itu supaya ceritanya akan lebih menarik untuk di perhatikan. gemercik air.

47-54 . kita tidak melupakan menfaat dari latihan dan belajar dalam menguasahakan metode yang tepat untuk itu. rata-rata adalah sesuatu yang bersifat alami dari pada dibuat-buat.html 11 Ibid. Namun. Hal. Memang kita menganggap bahwa bercerita dengan cara yang baik.11 http://www.com/metode-cerita-dalam-pendidikan-islam-di-taman-kanak-kanakaisyiyah-bustanul-athfal-sapen-405.pustakaskripsi.Kesembilan hal tersebut sangat penting untuk diketahui dan diperhatikan oleh guru ketika bercerita.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful