mautnya+batubara

Mautnya Batubara

Pengerukan Batubara & Generasi Suram Kalimantan
Penulis: - Abdullah Naim - Abu Meridian - Ade Fadli - Andi Manurung - Arief Wicaksono - Dwitho Frasetiandy - Faisal - Indra Russu - Kahar Al Bahri - Merah Johansyah - Muhammad Purnomo Susanto - Pradarma Rupang - Siti Maemunah Editor: - Arief Wicaksono - Siti Maemunah Desain & Tata letak Dodo Cetakan Pertama, Februari, 2010 Mautnya Batubara Pengerukan Batubara & Generasi Suram Kalimantan Cet. I - Jakarta: JATAM, 2010 210 x 297 mm ISBN : 978-602-96076-1-1

KATA PENGANTAR

Ambruknya satuan-satuan sosio-ekologik Pulau Kalimantan adalah bukti tak-terbantahkan gagalnya industri pertambangan menjadi pintu kesejahteraan penduduknya. Sejak tahun 1968 PT Unocal/Chevron telah menyedot minyak bumi Kalimantan Timur, yang digenapi oleh pengerukan emas oleh Rio Tinto di Kelian sejak 1986 yang bahkan telah mewariskan 77 juta ton tailing di provinsi yang sama. Kini warga berhadapan dengan pengerukan batubara skala raksasa (gigantik) yang mencapai lebih 200 juta ton per tahun. Dari rejim kekuasaan satu ke rejim berikutnya Kalimantan diperlakukan sebagai komoditas dagang guna mengamankan kinerja ekonomi makro nasional ketimbang sebagai ruang yang mampu menjamin keselamatan warga. Hasil jual beli komoditas itu mengucurkan keran devisa - membiayai pembangunan Indonesia yang laju, tetapi senantiasa melibatkan terus meningkatnya kasus korupsi, pelanggaran HAM dan kerusakan lingkungan. Pengerukan dan penghisapan Pulau Kalimantan hanya bergeser dari satu komoditas ke komoditas lain: kayu, minyak, emas, kelapa sawit dan kini batubara. Sejak industri ekstraktif menjadi dewa penggerak ekonomi, ketahanan pangan dan energi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan porak poranda. Batu bara membuat pengurus provinsi lupa daratan. Bukan kemakmuran dan kesejahteraan yang dinikmati warga, justru derita berkelanjutan yang mengarah kepada kebangkrutan sosialekologik-ekonomik. Semua kisah derita di atas dilakukan secara terencana dan sistematik oleh pengurus negara. Pola serupa terlihat jelas pada pulau besar lain di Indonesia; Sumatera, Sulawesi dan Papua – sebuah paradoks Indonesia. Pulau-pulau yang memiliki kekayaan alam melimpah, tapi penduduknya bagai ayam mati di lumbung padi. Laporan mautnya batubara (deadly coal) ini ingin menunjukkan bagaimana pengerukan batubara telah menjadi alat penghancur masa depan warga Pulau Kalimantan. Laporan hasil studi dan putaran belajar JATAM dan WALHI Kalsel sepanjang 2007 hingga 2009 ini adalah alarm bagi pengurus negara dan warga Pulau Kalimantan. Alarm untuk segera melakukan tindakan penyelamatan sebelum kehilangan masa depan akibat kemerosotan kemampuan ekologiknya tidak terpulihkan. Mari berpikir mencari jalan keluar dan bertindak bersama!
- Siti Maemunah, Koordinator Nasional JATAM

Diterbitkan oleh:

Jaringan Adovaksi Tambang Jl. Mampang Prapatan II no.30 RT.04 RW.07 Jakarta Selatan - 12790 Tlp: 021-79181583 Fax: 021-7941559 Email: www.jatam.org Website: jatam@jatam.org

Daftar Isi
Kata Pengantar ________________________________________________________ Bagian Satu: Pembangunan: Keledai yang terperosok ratusan kali di lubang yang sama __________

3 6

Bagian Dua : Kalimantan, Lepas dari Mulut Harimau Jatuh ke Mulut Buaya _____________________ 10 Bagian Tiga : Bagai Menggali Kubur sendiri ______________________________________________ 16 PT KPC Menjamin Suramnya Kutai Timur ____________________________________ 18 Pesta Perizinan dan Korupsi di Kutai Kartanegara _____________________________ 20 Generasi Suram Kutai Barat _______________________________________________ 22 Banjir, Berkah Batubara Samarinda _________________________________________ 24 Paser, Kabupaten Konservasi menuju Kabupaten Bencana ______________________ 26 Merampok Energi Warga Kalimantan Selatan _________________________________ 28 Serangan Terhadap Hutan Lindung Meratus Kalimantan Selatan __________________ 30 Pengerukan Tinggi, Kemiskinan Tinggi ______________________________________ 32 Mautnya Batubara Kalimantan Selatan ______________________________________ 34 Bagian Empat : Penegakkan Keadilan Antargenerasi Tidak Dapat Ditunda! _______________________ 36

Gb.01

Gb.02

Bagian Satu

Pembangunan: Keledai yang terperosok ratusan kali di lubang yang sama

Setelah kapasitas yang mampu dikeruk dari Pulau Jawa rontok, kemudian Pulau Sumatra juga dikeruk habis-habisan sepanjang lebih dari satu abad, praktikpraktik keruk skala kolosal pun dilanjutkan di Pulau Kalimantan.
Durian runtuh industri minyak – gas di awal tahun 70an (oil bonanza) yang pernah dinikmati rejim Suharto tidak akan pernah kembali. Demikian halnya dengan masa-masa penebangan kolosal hutan-hutan alam di pulau-pulau di Indonesia, lewat Hak Pengusahaan Hutan (HPH), yang marak dan intensif pada akhir 70an hingga kemerosotannya pada awal 90an. Ketika terjadi krisis politik, yang dibuka oleh kejadian pembakaran lahan besar-besaran, bencana asap dan kekeringan panjang, dilanjutkan anjloknya kinerja ekonomi makro Indonesia pada periode 1977 – 1998, mestinya ada satu evaluasi serius tentang pilihan paradigma pembangunan pada masa rejim Suharto berkuasa. Tetapi ini Indonesia, Bung! Model dan pendekatan pembangunan ekonomi masa rejim Suharto menguat kembali sejak masa rejim Megawati hingga saat ini. Sekarang adalah masa pertunjukkan ulang model pembangunan a la Suharto, dengan buruh migran, kelapa sawit dan batubara sebagai komoditi keruknya! Cara berpikir linear seperti itu secara gamblang telah membuktikan beberapa hal kunci, bahwa pembangunan ekonomi makro yang dipraktekkan Indonesia sejak masa rejim Suharto hingga sekarang senantiasa: • Membutuhkan stabilitas sosial dan politik, yang diwujudkan dengan penggunaan alat-alat dan pendekatan memaksa, baik secara halus maupun melibatkan tindak kekerasan; Membutuhkan lahan-lahan luas yang dapat diperoleh secara mudah oleh kuasa-kuasa modal, yang diwujudkan melalui kebijakan pertanahan yang menafikkan keberadaan hak-hak adat atas tanah, perjinan perolehan lahan untuk investasi dan usaha yang dipermudah; Membutuhkan kapasitas terpasang buruh-buruh taktrampil dan tak-terdidik yang murah, ini diwujudkan dengan produksi skala kolosal populasi buruh tersebut lewat konversi populasi petani pemilik dan penggarap menjadi buruh, seperti pengambilalihan dan konversi lahan-lahan produktif menjadi sarana umum skala besar, lahan-lahan industri dan perumahan; Membutuhkan teknologi siap-pakai yang dikabarkan telah teruji di negara lain, yang diwujudkan lewat importasi skala kolosal teknologi-teknologi produksi dan pencangkokkan pengetahuan untuk pengoperasiannya; Membutuhkan sarana dan prasarana (infrastruktur) pelayan industri, yang diwujudkan lewat pembukaan jejaring jalan raya, jembatan, pelabuhan laut dari berbagai kelas, hingga bandar udara, demi kelancaran pengaliran bahan-bahan mentah yang telah dikeruk menuju ke pasar; • Membutuhkan perangkat-perangkat kepastian hukum yang memudahkan tumbuhnya investasi modal, lewat kebijakan-kebijakan debirokratisasi investasi dan usaha serta kemudahan-kemudahan pajak (fiskal).

Komoditi andalan saat ini, buruh migran, kelapa sawit dan batubara, memang menunjukkan angka-angka tolok-ukur pertumbuhan ekonomi makro yang mencengangkan. Namun ongkos sesungguhnya yang diemban rakyat dan lingkungan tidak ditampilkan sejelas potret-potret kemilau dan tabel-tabel pertumbuhan pembangunan yang disiarkan pemerintah. Ongkos tersebut ditampilkan sebagai bentuk kebodohan dan ketidakpahaman rakyat terhadap pembangunan. Bahkan kerap menjadi tuduhan anti-pembangunan yang terwujud lewat kriminalisasi rakyat penentang pengambilalihan lahan-lahan produktif yang selama bergenerasi-generasi telah mereka kuasai dan olah. Kini lahan-lahan itu dijadikan ruang keruk bagi industri skala besar oleh pemerintah sebagai wujud kebijakan yang mempermudah perolehan lahan investasi dan usaha. Potret ini tergambar gamblang tidak hanya di pulau-pulau besar dan utama, seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua, juga terjadi di gugusgugus pulau kecil, seperti Bali dan Nusa Tenggara, serta Maluku. Pulau Kalimantan tergolong pulau yang secara geologik berumur tua dan bersifat stabil, dicirikan absennya gunung-gunung berapi aktif. Artinya, kemerosotan kemampuan ekologik baik yang terjadi secara alami maupun akibat kegiatan keruk manusia sulit untuk dipulihkan. Kekayaan alam Pulau Kalimantan, yang meliputi hutan alam dataran rendah dan hutan mangrove, ekosistem gambut, ekosistem karst, batubara, sungaisungai besar, serta potensi minyak dan gas, tidak berarti membuat rakyat di pulau ini hidup selamat dan sejahtera. Setelah kapasitas yang mampu dikeruk dari Pulau Jawa rontok, kemudian Pulau Sumatra juga dikeruk habishabisan sepanjang lebih dari satu abad, praktik-praktik keruk skala kolosal pun dilanjutkan di Pulau Kalimantan. Proyek pengadaan lahan-lahan sawah guna mencapai swasembada pangan nasional dengan membuka ekosistem gambut seluas satu juta hektar di Kalimantan Tengah adalah bukti kongkret cara berpikir linear rejim pembangunan Indonesia. Rejim yang secara sengaja dan terencana mengenyampingkan biaya sosial dan ekologik yang diemban rakyat, terutama masyarakat yang hidup di kawasan tersebut. Proyek yang membutuhkan biaya trilyunan rupiah itu, sudah meratakan lahan penduduk, jauh sebelum Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) disetujui. Sejak program Pengembangan Lahan Gambut (PLG ) diluncurkan 19951, baru 300.000 hektar yang dimanfaatkan, termasuk untuk lahan pertanian, hingga jatuhnya Suharto dari kekuasaan pada Mei 1998.

Gb.03

Gb.04

Gb.05

[6]

[7]

Gb.09

Gb.10

Kegagalan rejim Suharto menangani tantangantantangan fisik ekosistem gambut menjadikan proyek kolosal ini neraka bagi masyarakat adat dan masyarakat setempat. Pembukaan kanal-kanal yang membelah ekosistem sensitif ini telah menyebabkan penurunan tabel air, yang mendorong kemerosotan ketersediaan air, anjloknya produksi perikanan masyarakat, serta menjadi kawasan rawan kebakaran. Bahkan pada 1997 kawasan Proyek PLG ini menyumbang persebaran asap yang luas akibat kegiatan penebangan hutan rawa gambut dan pembukaan lahan perkebunan ketika terjadi musim kemarau berkepanjangan yang dipicu gejala El Nino. Kebijakan melakukan rehabilitasi ekosistem gambut yang ditinggalkan begitu saja oleh rejim Suharto dimulai sejak rejim Megawati, yang kemudian diwujudkan rejim SBYMJK, dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden (Inpres) No 2 Tahun 20072. Inpres tersebut boleh dikatakan tidak lebih dari sekedar janji di atas kertas, karena tidak ada arahan penganggaran yang jelas untuk pelaksanaannya, serta lebih berorientasi kepada pilihan-pilihan investasi keruk lain setelah diperbaiki dan dipulihkan. Kenyataannya, tanpa menanti selesainya Rencana Induk Rehabilitasi dan Revitalisasi, ijin-ijin untuk pembukan lahan-lahan perkebunan kelapa sawit dan penambangan batubara terus mengalir dari kabupaten-kabupaten setempat. Pembukaan dan pengeringan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah, menimbulkan oksidasi yang pada gilirannya akan meningkatkan emisi karbondioksida, selain emisi yang dilepas dari meluasnya kebakaran gambut. Menurut Laporan Wetland International (2006)3, emisi CO2 dari lahan gambut diseluruh Asia Tenggara pada tahun 1997 hingga 2006 adalah sekitar 2 Gt per tahun (1,400 Mt dari kebakaran hutan dan 600 Mt dari dekomposisi yang disebabkan oleh drainase). Sekitar 1.8 Gt (90%) diperkirakan berasal dari Indonesia. Pembukaan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah merupakan penyumbang emisi karbondioksida terbesar, bersama Provinsi Riau, Sumatra, yang mendongkrak posisi Indonesia menjadi nomor tiga pengemisi karbondioksida terbesar di tingkat global setelah Amerika Serikat dan Cina pada tahun 20064. Sejak Konvensi Para Pihak (Convention of the Parties, COP) dari Kerangka Kerja Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) ke-13 dilaksanakan di Bali, pada Desember 2007, seluruh mata dunia mengarah kepada Kalimantan Tengah. Kontribusi Kalimantan Tengah, berupa emisi karbondioksida terhadap perubahan iklim global,

dipandang sebagai peluang bagi peluang prakarsaprakarsa penghimpunan dana melalui skema pembiayaan berbasis karbon, melalui skema Pemangkasan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD). Sedikit sekali pembahasan tentang langkah-langkah kongkret menanangani faktor-faktor penyebab tingginya emisi karbondioksida dari ekosistem gambut di Kalimantan Tengah, karena logika yang digunakan adalah, upaya rehabilitasi tidak akan pernah terlaksana tanpa biaya. Rehabilitasi yang dibutuhkan ekosistem gambut di Kalimantan Tengah dikatakan harus dilakukan pada skala luas, sehingga membutuhkan biaya yang luar biasa besar. Yang menjadi ironi, praktik-praktik ‘bisnis seperti biasanya’ atau business as usual, tetap berlangsung tertib dan rapih. Kegiatan pengerukan batubara di kawasan-kawasan sepanjang hulu Sungai Kapuas seperti tidak terganggu oleh gaung upaya-upaya penanganan perubahan iklim yang akan dilaksanakan di Kalimantan Tengah. Demikian halnya dengan perluasan perkebunan-perkebunan kelapa sawit. Tapi politik infrastruktur yang telah terbukti efektif menghancurkan tatanan sosial dan ekologik, karena tujuannya yang lebih melayani industri ketimbang meningkatkan jaminan keselamatan dan produktifitas masyarakat, kembali dilakukan di Kalimantan Tengah. Salah satunya lewat rencana pengembangan sarana kereta api yang diprioritaskan untuk mengangkut hasilhasil keruk ke pasar, baik itu untuk komoditi batubara, hasil hutan maupun hasil perkebunan. Demikian halnya dengan rencana pengembangan jalan raya TransKalimantan, yang hingga saat ini masih dalam tahap perencanaan. Hiruk-pikuk rencana-rencana pembangunan tersebut sama sekali tidak ada urusannya dengan kenyataan pahit yang diemban rakyat, berupa pemadaman listrik yang berlangsung teratur, mulai dari satu kali dalam sehari hingga beberapa kali dalam sehari. Karena kekayaan alam Pulau Kalimantan memang tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat Pulau Kalimantan, tetapi untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Pemerintah tidak kenal lelah meyakinkan publik bahwa kebutuhan rakyat akan dipenuhi dari hasil perdagangan komoditi ekspor, yang jelas-jelas menghina akal sehat, karena tidak belajar dari kegagalan rejim Suharto yang menganut paradigma “jual mentah-jual murah-jual habis”, baik untuk minyak – gas, mineral, hutan, kelapa sawit, hingga beras.

Gb.06

Gb.07

Gb.08

[8]

[9]

Eropa 10% (Italia 3%, Swiss 2,1%, Belanda 2,1%, Spanyol 1,9%, Inggris 1,3%) 18 million ton Amerika Utara 1,2% (Amerika Serikat, Kanada) 2 million ton

Tujuan eksport Batubara Kalimantan
Asia 88% (Jepang 20%, Korea Selatan14%, Taiwan 13%, India 11%) 140 million ton

Dulu, tahun 80-an, Kalimantan Timur memasok kayu ke Cina, Korea, Jepang, Malaysia dan Eropa
Amerika Selatan 0,35% (Chili 0,3%, Mexico 0,1%) 550.000 ton Afrika 0,1% (Shiera Leone 0,04%, Marocco 0,04%, Andorra 0,03%) 170.000 ton

Australia Pacific 0,4% (Selandia Baru 0,37%, PNG 0,1%) 650.000 ton

Bagian Dua

Kalimantan, Lepas dari Mulut Harimau Jatuh ke Mulut Buaya
Dulu, tahun 80-an, Kalimantan Timur (Kaltim) memasok kayu 11 juta meter kubik5, yang sebagian besar dikirim ke negara lain. Saat ini, penebangan berganti pengerukan batubara. Bahkan paling tinggi angkanya di Indonesia, sekitar 120 juta ton per tahun. Meski kekayaan alamnya melimpah. Kalimantan Timur terus identik dengan kemiskinan, ketertinggalan dan keterbelakangan di hampir semua bidang dibanding daerah lain. Bahkan, penghuni asli pulau – sang tuan rumah, masyarakat adat dayak di kawasan-kawasan tepi hutan, makin miskin dan menyusut populasinya. Pemerintah, dulunya di pusat, hingga era otonomi daerah saat ini, lebih suka memperlakukan hutan-hutan Kalimantan Timur sebagai komoditas dibanding ekosistem penopang hidup warga. Hasil jual beli komoditas mengucurkan keran devisa untuk membiayai pembangunan Indonesia, dengan catatan skandal korupsi yang tak sedikit. Gelombang eksploitasi sumber daya alam, mulai kayu, minyak, mineral hingga batubara, hanya berubah komoditasnya. Sebelum 1980, kayu-kayu dipasarkan ke Cina, Korea, Jepang, Malaysia dan Eropa. Tak beda dengan era pengerukan batubara kini. Moda pengerukan, aktor yang terlibat, dan kucuran pendapatan, tak berubah. Kalimatan Timur bagai lepas dari mulut harimau, jatuh ke mulut buaya.

Kini industri perkayuan limbung, berganti industri ekstraktif lainnya, pengerukan mineral, batubara dan migas

Setahun setelah keluarnya UU Pokok Kehutanan No 5 tahun 1967, ditandai penebangan kolosal hutan alam seantero provinsi. Sungai Mahakam menjadi alat transportasi utama keluarnya kayu-kayu hutan Kalimantan ini ke Jawa, Sulawesi hingga Cina, Jepang dan Malaysia. Masa itu, 1968-1982 ini dikenal ramai dengan istilah banjir kap. Kini industri perkayuan limbung, keserakahan menebang kayu tanpa mau menanam, bak badai menghantam dan memukul industri ini. Pasokan kayu tak memenuhi kapasitas mesin-mesin mereka yang rakus. Celakanya hukuman bagi warga tepi hutan bertambah, kebakaran hutan kini langganan. Dalam kurun 20 tahun terakhir terjadi tiga kali kebakaran besar di Kutai6. Tahun 1982, 1994, dan 1997. Hutan yang hancur karena pembalakan sebelumnya, sungguh-sungguh habis dilalap api. Dalam setahun terakhir, sejumlah industri kayu lapis dan HPH di Kaltim berhenti. Selain melakukan PHK, sejumlah perusahaan merumahkan 4.562 karyawan7, yang berpotensi di PHK juga. Era industri kayu, bersamaan juga datangnya industri ekstraktif lain, tambang, minyak dan gas. Ditandai kehadiran PT. Unocal dari Amerika Serikat di Kutai Kartanegara tahun 1968 dan perusahaan-perusahaan asing lainnya di pesisir dan Delta. Sementara di pegunungannya hadir Rio Tinto, tambang emas dari Inggris dan Australia, yang mewariskan sekitar 77 juta ton limbah tailing di dam Namuk, Kelian Kutai Barat8. Era industri kayu Kalimantan Timur dilanjutkan era Perkebunan kelapa sawit skala besar dan pengerukan batubara. Dan, enam tahun terkahir, ada 33 Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan 1.212 Kuasa

[10]

[11]

Enam Penguasa Kalimantan Timur
Interrex Sacra Raya
Kontrak: 1988 Kontrak: 1983 Kontrak: 1978 Konsesi: 5.361 ha Produksi: • (2004) 1.8 juta ton • (2005) 1.6 juta ton • (2006) 1.6 juta ton • (2007) 0.0 juta ton • (2008) 0.0 juta ton Saham: Tahun 2008, PT. Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITM) memiliki saham 99,99% PT. Kitadin Ekspor: Tercatat PT. Kitadin melakukan ekspor sekitar 80.000 ton ke Korea Selatan dan Taiwan Konsumen: Sino-Indo Co. Ltd. (Taiwan), Korea Western Power Co. Ltd. (Korea Selatan) Kontrak: 1982 - 2023 Konsesi: 50.400 ha Produksi: • (1993) 1 juta ton • (2007) 20,5 juta ton, persentase penjualan: • 70% ekspor • 30% dalam negeri • (2008) diperkirakan 22 juta ton Saham: Saham dimiliki oleh: • 49% Samtan Co Ltd (Korea Selatan) • 46% PT. Indika Inti Corpindo (anak perusahaan PT. Indika Energy Tbk (Indika Group (Indonesia) • 5% PT. Muji Inti Utama (Indonesia) Ekspor: Pada tahun 2008, persentase ekspor PT. Kideco Jaya Agung adalah: • 85% ke Asia (Korea Selatan 22%, Taiwan 13%, India 11%) • 12% ke Eropa (Inggris 5%, Slovenia 3%, Italia 2%). • 3% untuk negara lainnya (Selandia Baru) Konsumen: Korea East West Power Co. Ltd (Korea Selatan), TNB Fuel Services Sdn. Bhd. (Malaysia), Kumho Petrochemical Co. Ltd (Korea Selatan), J-Power Resources Co. Ltd (Jepang), China Minerals Co. Ltd. (Cina), Taiwan Power Company (Taiwan), Castle Peak Power Company Ltd Hk (Hongkong), Feni Industry (Slovenia), Genesis Power Ltd (New Zealand), International Power Fuel Company Ltd (Inggris), Korea Southern Power Ltd (Korea Selatan), dll Kontrak: 1982 - 2021 Konsesi: 90.960 ha Produksi: • (1991) sebesar 2 juta ton • (2007) sebesar 38,4 juta ton, dimana persentase penjualan : • Ekspor 90% • Dalam negeri 5% • (2008) 37.5 juta ton, persentase ekspor adalah 87% Saham: Saham PT. Kaltim Prima Coal dipegang oleh: • 65 % PT. Bumi Resources Tbk (Indonesia) • 30 % Tata Power Ltd (India) • 5 % PT. Kutai Timur Energi (Indonesia Ekspor: Pada 2008, persentase ekspor PT. Kaltim Prima Coal adalah: • 83% ke Asia (Jepang 31%, Taiwan 19%, India 10%) • 16% ke Eropa (Swiss 6,9%, Belanda 5,6%, Inggris 1,5% ) • dan sisanya ke Amerika Konsumen: Taiwan Power Company (Taiwan), NS Resource Net (Jepang), National Power Corporation (Filipina), IEG Limited (Hongkong), CLP Power Hong Kong Limited (Hongkong), TNB Fuel Services SDN, BHD (Malaysia), Toyota Tsuho Corporations (Jepang), Coaltal Energy Private, LTD (India), Hokuriku Electric Power Company (Jepang), BLCP Power (Thailand), Mitsubitshi Corporation (Jepang), Guangdong Power Industry Fuel Co. Ltd (Jepang), Korea Southern Power, Ltd (Korea Selatan), B.M.A. BV (Belanda), Nan Ya Plastics Corporation (Taiwan). Sedangkan konsumen dalam negeri adalah Indonesia Tanjung Jati B, Freeport, Inco. Konsesi: 120.000 ha Produksi: • (1994) sekitar 304 ribu ton • (2007) sekitar 11.821 juta ton, dimana persentase penjualan: • 60 % ekspor • 35% dalam negeri Saham: Saham Berau Coal dimiliki oleh: • 51% PT. Armadian Tritunggal (Indonesia) • 39% Rognar Holding B.V. (Netherlands) • 10% Sojitz Corporation (Japan) Ekspor: Pada tahun 2008, persentase ekspor PT. Berau Coal adalah: • Korea 26% • China 18% • India 16% • Negara lainnya 39% Konsumen: Adani Global Pte Ltd (Singapura), CLP Guangxi Fangchenggang Power Company, Ltd (Cina), Korea Western Power Co. Ltd (Korea Selatan), Sino-Indo Co. Ltd (Taipei Taiwan), Hua Yang Electric Power Co. Ltd Konsesi: 25.121 ha Produksi: • (2004) sekitar 7.9 juta ton • (2007) sekitar 11,5 juta ton Saham: Pada tahun 2008, PT. Indo Tambangraya Megah Tbk (ITM). memiliki 99,99% saham PT. Indominco Mandiri. Ekspor: Pada tahun 2008, persentase ekspor PT. Indominco Mandiri adalah: • 92% Ekspor ke Asia (Jepang 24%, Korea Selatan 16%, Cina 13%) • 8% Ekspor ke Eropa ( Italia7 %) Konsumen: CLP Guangxi Fangchenggang Power Company Ltd (Cina), Enel Tradespa (Italia), Ho-Ping Power Company (Taiwan), J-Power Resources Co. Ltd. (Jepang), National Power Corporation (Filipina), Sumitomo Corporation (Jepang), Formosa Plastic Corporation (Taiwan), Banpu International Ltd (Thailand), TNB Fuel Services Sdn. Bhd. (Malaysia), China Minerals Co. Ltd (Cina) Kontrak: 1997 Konsesi: 15.650 ha Produksi: • (2006) 213.000 ton • (2007) 223.000 ton Saham: Saham PT. Interex Sacra Raya dimiliki oleh: • 30% PT. Persada Capital Investama (Indonesia) • 30% PT. Sinar Ganda Jaya (Indonesia) • 25% Multi Corporation Pte. Ltd (Singapore) • 15% Individual investor (Indonesia) Ekspor: Ke Jepang.

3.112.690 hektar luas konsesi tambang di Kalimantan Timur

Bersamaan men ingkatnya pengerukan batu bara, pemerinta h daerah dan pusa t gagal mengata si permasalahan: Pemiskinan Pengangguran Kedaulatan pang an Bencana lingkun gan Pelanggaran HA M Gangguan kese hatan dan lainn ya

Pertambangan (KP) diterbitkan pemerintah9. Otonomi daerah jadi pintu ampuh pejabat, korporasi lokal hingga internasional mendapatkan perijinan mengeruk batubara perut Kaltim. Meski dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) provinsi 2005-2025 disebutkan, pencadangan lahan pertanian tanaman pangan dan hortikultura seluas 2,49 juta hektar. Justru 3,12 juta hektar lahannya malah dirubah konsesi tambang dengan perijinan KP. Ini hampir seluas Kalimantan Selatan, provinsi tetangganya. Cadangan terukur batubara sekitar 1,983 milyar ton membuat pemerintah dan warga Kaltim lupa daratan. Ditopang nilai Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim mencapai 176,1 trilyun (2005) membuat pemerintah daerah mengandalkan industri ekstraktif penopang utama ekonomi provinsi terluas di pulau Kalimantan ini. Bagi pemerintah pusat, Kaltim adalah Auto-Teller Machine (ATM), pada 2008, sekitar 70 persen produksi batubara nasional berasal dari Kaltim10.

[12]

Sa ma de ng an

L Luas provinsi Kalimantan K Selatan, 3.727.750 hektar

Gb.11

ATM Republik yang Compang-camping
Angka penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan hingga Maret 200711, berjumlah 324,8 ribu atau sekitar 11,04 persen total penduduk, 2.957.465 jiwa.. Jumlah ini meningkat 25,7 persen dibanding tahun sebelumnya, berjumlah 299,1 ribu atau 10,57 persen. Tiga Daerah kantong pengangguran terbesar12 adalah Kota Samarinda, 31.959 jiwa disusul Kota Balikpapan, 31.019 jiwa, serta Kabupaten Kutai kertanegara, 23.591 jiwa. Kota Samarinda dan Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki jumlah konsesi tambang terbanyak. Jika ditotal mencapai 781 konsesi13. Mustahil memecahkan masalah pengangguran menggunakan industri tambang, yang padat modal dan padat teknologi. Ketahanan pangan Kaltim juga memble. Provinsi ini tak mampu memenuhi kebutuhan pangan mandiri

penduduknya yang tumbuh 3,7 persen per tahunnya14. Pada 2008, produksi beras mencapai 570 ribu ton15, diprediksi tak akan mampu menutup kebutuhan. Dan harus mendatangkan 20 ribu ton beras dari Sulawesi Selatan dan Jawa16. Mereka juga harus mendatangkan 83 persen kebutuhan proteinnya dari 490 ekor sapi yang mereka butuhkan pertahun dari Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan17. Catatan ini belum ditambah daftar bencana lingkungan, penggusuran masyarakat, pelanggaran HAM, gangguan kesehatan dan lainnya, akibat pengerukan batubara.

[13]

Tiga Penguasa Kalimantan Selatan

Kalimantan Selatan
Kontrak: 1982 – October 2022 Kontrak: 1999 Konsesi: 6.486 ha Produksi: - (2000) sekitar 246 ribu ton - (2007) sekitar 3,7 juta ton Saham: Saham PD Baramarta dimiliki 100% oleh Pemerintah Kabupaten Banjar (Indonesia) Eksport: Negara tujuan utama ekspor PD Baramarta adalah Hongkong, India, Thailand, Malaysia, dan Jepang Kontrak: 1981 - 2011 Konsesi: 70.153 ha Produksi: - (1990) sekitar 454 ribu ton - (2006) sekitar 15,3 juta ton - (2008) sekitar 15,3 juta ton Saham: Saham PT. Arutmin Indonesia dimiliki oleh - PT. Bumi Resources Tbk 99.99% (Indonesia) - PT. Amara Bangun Cesta 0.01% (Indonesia) Eksport: Pada tahun 2008, persentase eksport PT. Arutmin Indonesia adalah - 90% Asia - 10% Eropa Konsumen: Hongkong Qinfa Trading Ltd (Hongkong), Indocoal Resources (Cayman) Limited (Pulau Cayman) Konsesi: 35.800 ha Produksi: - (1992) sekitar 1 juta ton - (2007) sebesar 36,1 juta ton, dimana persentase penjualan: - (2008) 38,5 juta ton Saham: Saham PT. Adaro Indonesia dimiliki oleh - PT. Alam Tri Abadi 60.23% (Indonesia) - PT. Viscaya Investment 28.33% (Indonesia) - PT. Dianlia Setyamukti 5.84% (Indonesia) - Indonesia Coal Pty, Ltd 4.67% (Australia) - Mec Indo Coal, B.V. 0.93% (Belanda) Eksport: Pada tahun 2008, persentase ekspor PT. Adaro Indonesia adalah: - 69% Asia - 23% Eropa - 5% Amerika Utara - 2% Negara lainnya Konsumen: Adani Enterprises Ltd (India), Atel Energy SRL (Italia), Castle Peak Power (Hongkong), China Steel Corporation (Taiwan), Coaltrade Service International PTE Ltd (Singapura), Coral Bay Nickel Corporation (Filipina), Devendran Coal International Ltd (India), Donholm-Barwil Limited (Inggris), Eastern Energi Corporation (Singapura), Glencore International AG (Swiss), Guangdong Zhenrong Energy Co. Ltd (China), IEG Limited (Hongkong), IMR Metallurgical Group Resources A.G (Amerika Serikat), Indocoal Resources (Cayman) Limited (Pulau Cayman), Japan Kenzai Co. Ltd (Jepang), J-Power Resources Co. Ltd (Jepang), Matias Gonzales Chas, S.L (Spanyol), Mitsubishi Material Corporation (Jepang), PSEG Energy Resources & Trade LLC (Amerika Serikat), Taiwan Power Company (Cina), Tata Power Company Limited (India), TNB Fuel ServiceSDN BHD (Malaysia), Union Fenosa Generacion S.A (Spanyol)

Gb.12

[14]

A A
Tak beda tetangganya, hutan Kalimantan Selatan (Kalsel) hanya menjadi ajang kerukan, yang berubah komoditasnya dari waktu ke waktu. Masa Orde Baru, hutan dipelakukan sebagai tegakan kayu, lantas bergeser komoditasnya menjadi kebun sawit skala besar, lantas pembongkaran lantai hutan menjadi kawasan tambang. Hingga 1995/199618, ada 11 buah ijin HPH meliputi luas 1.054.240 hektar. Sebagian besarnya di wilayah hutan lindung Meratus, kawasan lindung terakhir provinsi ini. Sebanyak 30 persen hutan Pegunungan Meratus hilang pada periode 2000. Dinas Kehutanan pronvinsi menyatakan jumlah lahan kritis dalam kawasan hutan lindung mencapai 187.384,59 hektar.
Gb.13 Gb.14

955.085 hektar19, tersebar 8 Kabupaten. Hingga 2004 telah dikembangkan sebesar 318.551 hektar20. Dan ekspansinya merengsek ke wilayah hutan. Tercatat 431.125,47 hektar kawasan hutan dipakai sektor perkebunan kelapa sawit21. Itu termasuk 6.219,67 hektar kawasan Suaka Alam dan 5.385,67 hektar kawasan Hutan Lindung. Kini hasil pengerukan mendominasi PDRB Kalimantan Selatan. Setidaknya, hingga tahun 2008 terdapat 280 perusahaan pemegang ijin KP di kawasan hutan ini dengan konsesi seluas 553.812 hektar22. Ini belum termasuk KP yang masih dalam proses pinjam pakai kawasan hutan (terdapat 97 perusahaan KP) dan 14 PKP2B seluas 50.278,59 hektar23. Apa prestasi pengerukan ini bagi Kalimantan Selatan?

Pada awal 2000-an, perkebunan kelapa sawit skala besar mulai marak. Cadangan luas lahan yang bisa dikembangkan untuk perkebunan kelapa sawit mencapai

[15]

Bagian Tiga

Bagai Menggali Kubur sendiri
Gelap gulita bergilir merupakan hal biasa bagi warga Kota Samarinda, ibukota Provinsi Kalimantan Timur, yang jumlah penduduknya 597.075 jiwa (2007)24. Lebih dari seperenam populasi penduduk tinggal di Kota Samarinda. Sepanjang Juli hingga November 2008, pemadaman bisa mencapai 6 – 10 jam setiap hari25. Sebuah potret ironi, karena Kalimantan Timur memasok lebih separuh produksi batubara Indonesia. Tujuh puluh persen batubara tersebut, atau sekitar 120,5 juta ton (tahun 2008), diekspor ke luar negeri26. Kabupaten Kutai Timur punya kisah berbeda. Hanya 37 desa dari 135 desa yang dihuni 50.175 rumah tangga yang bisa mendapatkan listrik27. Di saat sama, PT. Kaltim Prima Coal malah bebas menggunakan jatah listrik yang dapat digunakan 21 ribu rumah tangga28 demi melancarkan tambangnya beroperasi. Padahal 96% produksi perusahaan tersebut diekspor29. Provinsi ini bagai lilin yang membakar dirinya sendiri, agar dapat menghidupi pengusaha, korporasi raksasa dan negara lain. Tidak sebatas urusan energi. Lima kabupaten dan kota paling banyak dikeruk kekayaan batubaranya di provinsi ini – Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat dan Kota Samarinda, justru harus menanggung daya rusak mematikan batubara. Mulai dari krisis air, banjir, pelanggaran HAM hingga gangguan kesehatan.

Gb.15

[16]

[17]

Tabel Konsumsi Energi PT. KPC

PT. KPC Menjamin Suramnya Kutai Timur
68 ijin KP Batubara
Jika diteruskan menyandarkan pada eksploitasi kekayaan alam yang tidak dapat diperbaharui, seperti batubara, Kabupaten Kutai Timur pasca tambang akan menjadi kota mati.

Tambang Melahirkan Kemiskinan
Dari 203.156 Jiwa jumlah penduduk Kutim, tingkat kemiskinannya mencapai 48,25% atau setara 90.025 jiwa. Sebagian besar diantaranya hidup di sekitar tambang.

2006 Konsumsi Bahan Produksi Listrik Bakar 40.464,30 ton 1 Listrik PLTU KPC 66.886,80 MWh batubara 2 Listrik Genset 31.318,89 MWh 8.520,78 kL solar 3 Listrik PLN Nil Nil Sumber : Laporan Pembangunan Berkelanjutan, 2007 No Energy Sumber

2007 Produksi Listrik 68.069,2 MWh 34.256,64 MWh Nil Konsumsi Bahan Bakar 41.119,6 ton batubara 9.384,5 kL solar Nil

Menghabiskan 18,9 MW, atau setara listrik yang bisa menghidupi listik 21 ribu rumah tangga di Kutai Timur

Krisis Listrik Besarnya Angka Pengangguran
Sektor pertambangan bukanlah solusi ketenagakerjaan. Keberpihakan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur pada PAD dari sektor pertambangan hanya demi mengejar angka-angka kinerja ekonomi makro belaka. Dengan jumlah rumah tangga, 50.175. maka total kebutuhan hanya 45 MW. Artinya, kebutuhan PT. KPC tiga kali lipat lebih besar dibandingkan kebutuhan listrik masyarakat di Kabupaten Kutai Timur sendiri.

Gb.16

Lewat Sistem Mahakam, Kalimantan Timur memiliki daya terpasang 262 MW dan daya mampu 204 MW dengan beban puncak saat ini 196 MW30. Hanya 610 desa (43,26%) dari total 1.410 desa yang mampu dilayani31. Saat ini, daftar tunggu pelanggan listrik kebutuhannya mencapai 180 MW32. Terdapat tiga kabupaten yang pemenuhan kebutuhan listrik paling rendah33, yakni Kutai Barat, Kutai Timur dan Berau. Hanya 27% hingga 38% dari total 475 desa di tiga kabupaten tersebut dialiri listrik. Sementara di daerah tersebut beroperasi 3 perusahaan tambang raksasa yang memasok batubara paling banyak di Kalimantan Timur, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Indominco Mandiri, dan PT Perkasa Inakakerta. Total produksi ketiganya tahun 2008 mencapai 48,4 juta ton34. Kebobrokan tersebut gamblang di Kabupaten Kutai Timur. Pada 2008 kabupaten dihuni 50.175 rumah tangga yang tersebar di 135 desa35. Hanya 37 desa atau 27% desa yang mendapatkan pelayanan listrik pemerintah. Jika diasumsikan satu rumah menggunakan daya listrik sebesar 900 watt, maka total kebutuhan listriknya sebesar 45.157.500 Watt atau 45 MW36.

Di daerah yang sama beroperasi PT. Kaltim Prima Coal yang memproduksi 48 juta ton batubata37. PT. KPC membangun PLTU Tanjung Bara yang berkapasitas 10 MW38 dan cadangan dua PLTD berkapasitas 8,9 MW39. Mereka menghabiskan 18,9 MW, atau setara listrik untuk menerangi 21 ribu rumah tangga di Kutai Timur. PLTU yang berada di lahan seluas 1,8 ha setiap hari membutuhkan 96 ton batubara, 120 ribu liter air tawar untuk memasok ketel, dan sedikitnya 302.400 liter air laut untuk pendingin40. Kegiatan tersebut menghasilkan limbah 2,3 ton abu terbang (fly ash) dan 1,5 ton abu dasar perhari. Tahun 2010 perusahaan merencanakan peningkatkan pengerukan batubara hingga 70 juta ton41. Untuk itu dibutuhkan peningkatkan pasokan listrik hingga 152 MW42. Ini setara dengan tiga kali lebih kebutuhan listrik warga Kutai Timur. Hampir setara dengan tingkat kebutuhan listrik Sistem Mahakam, yang meliputi Kota Balikpapan, Kota Samarinda, dan Kabupaten Kutai Kartanegara; Kota Tenggarong, Loa Janan dan Samboja, yang mencapai 210 MW43.

[18]

[19]

Kekayaan sumber daya Alam

Pesta Perizinan dan Korupsi di Kutai Kartanegara

bukannya membuat rakyat 6 tahun penjara Kutai Kartanegara sejahtera, Nama : Syaukani HR Jabatan : Bupati Kukar tetapi malah menyuburkan (2005-2010) Korupsi Kasus : Korupsi Rp. 120 milyar44 Kutai  Kartanegara memiliki 687 perijinan KP
hingga 200945. Sepanjang 2007/ 2008 saja, dikeluarkan 247 perijinan46, artinya dalam dua hari minimal pemerintah mengeluarkan satu Ijin KP. Jika dibandingkan dengan jumlah desa di seluruh kabupaten  yang hanya berjumlah 227 desa, rasionya ada 2 perusahaan tambang dalam 1 desa. Kekayaan sumber daya Alam bukannya membuat rakyat Kutai Kartanegara sejahtera, tetapi malah menyuburkan korupsi. Kabupaten ini dikenal paling korup di Kaltim. Ada  8 pejabat sejak  6 tahun terakhir yang ditangkap dan dipenjara karena kasus Korupsi47. Mulai bupati, wakil Bupati, anggota dan  ketua DPRD, juga kepala dinas. Bupati Kutai Kartanegara (2005 - 2010) , dipenjara kerena korupsi 124 miliar rupiah48. Selain itu, ada 37  Anggota DPRD periode 2004 – 2009 yang terlibat dalam kasus korupsi bantuan sosial (Bansos), tetapi dari 37 Anggota DPRD Kabupaten Kartanegara hanya 2 Anggota DPRD yang menjadi tersangka49. p p g Kasus korupsi membuat pergantian pejabat berlangsung begitu cepat. Dalam 4 tahun terakhir sudah terjadi  4 kali pengg penggantian pelaksana tugas Bupati di sini50

4 tahun penjara Nama : Syamsuri Amsar Jabatan : Wakil Bupati Kukar (2005-2010) Kasus : Bansos Rp. 124 milyar

Banding Nama : Rachmat Santoso Jabatan : Ketua DPRD Kukar (2008-2009) Kasus : Pembangunan Tapal Batas KukarSamarinda, Rp. 1,182 milyar

Angka kemiskinan (2009) menempati urutan pertama di Kalimantan Timur dengan jumlah 30.125 KK miskin. Angka buta aksara juga urutan tertinggi, yakni 18.681 orang

Gb.18

Pelanggaran HAM. langgaran
li i li D h (P ld ) K li t Timur dan Polres Kriminalisasi warga t j di pada 20 A t 2008 k tik B i b Kepolisan Daerah (Polda) Kalimantan Ti terjadi d Agustus ketika Brimob K Kutai Kartanegara melakukan tindak kekerasan terhadap warga Kota Bangun yang saat itu warga sedang melakukan demonstrasi menuntut lahan mereka yang diserobot perusahan PT. Arkon di Desa Semaleh, Kecamatan Kota Bangun Kutai Kartanegara. Mereka dipukul, ditendang dan ditembak. Dalam peristiwa pembubaran aksi damai tersebut satu warga yang bernama Serin tewas diterjang peluru aparat, empat orang terluka dan dua orang cacat seumur hidup, serta 24 orang lainnya ditahan, dikriminalisasi. Belakangan mereka dijatuhi hukuman tujuh bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Tenggarong dengan alasan membawa senjata tajam dan dituduh mengganggu ketertiban umum. Sementara proses hukum terhadap aparat kepolisian yang melakukan penembakan dan pembunuhan terhadap masyarakat tidak dilakukan.
Gb.17

[20]

[21]

Generasi Suram Kutai Barat

Perijinan.
Ada sekitar 87 ijin KP ditambah 3 ijin PKP2B yang tersebar pada 20 kecamatan. Hanya dari 3 perusahaan dikeruk 9,7 juta ton pertahun.

Terdapat 21 kecamatan di Kabupaten Kutai Barat. Di sebagian besar kecamatan terdapat pengerukan batubara. Di lokasi-lokasi beroperasinya tambang batubara mudah ditemui lokasi-lokasi prostitusi, bahkan bisa mencapai tiga lokalisasi atau lebih. Kunjungilah Kecamatan Melak. Di kecamatan tersebut terdapat Kampung Muara Barong yang memiliki empat lokalisasi, berdekatan dengan tambang batu bara milik PT. Gunung Bayan Pratama Coal dan PT. Trubaindo Coal Mining. Keduanya adalah milik asing. Satu lokalisasi baru dipindahkan dari Kampung Muara Bunyut, karena berdekatan dengan rencana lokasi pemerintah membangun sebuah Sekolah Dasar (SD). Tetapi pemindahan ini tak terlalu jauh dari tempat lama. Kini, SD tersebut diapit beberapa lokalisasi serta menikmati pemandangan lalu lalang truk-truk tambang. Maraknya penyakit kelamin bukan hal baru di kawasan ini. Agustus 2009 lalu, Kaltim Post memberitakan penderita penyakit kelamin GO atau Gonorrhea sudah mencapai 39 orang warga. Tenaga medis Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) setempat menyebutkan angka penderita GO bisa lebih tinggi daripada yang diberitakan media, sebab kebanyakan penderita datang langsung ke tempat praktik dokter swasta. Jarang yang mendatangai Puskesmas atau instansi fasilitas kesehatan publik lainnya. Maklum, penyakit kelamin masih e dapa mendapat stigma memalukan dan kotor. Celakanya, penderita GO adalah kelompok usia produktif yaitu penderita t ra 20-40 tah 20-40 tahun. utai Ba In Ini belum termasuk angka penderita Infeksi Saluran Ini Pernafa Pernafasan Akut (ISPA). Pada 2007, Dinas Kesehatan Kab Ka upa Kabupaten Kutai Barat mencatat 19.375 penderita IS m ISPA, meningkat dari tahun sebelumnya, yang ISPA, ber be jum 17.373 penderita. Catatan tahun 2008 berjumlah menu menunjukkan, sebanyak 2.233 penderita ISPA adala bayi dan 5.071 anak-anak51. adalah Bisa Bisa dibayangkan, generasi suram macam apa ya yang yang akan lahir di Kabupaten Kutai Barat, jika di u di usia begitu dini, sudah terserang ISPA dan tera terancam penyakit kelamin.
2007

ta ISPA Penderi Jumlah
20.000 19.500 19.000 ita Pender 18.500 18.000 17.500 17.000 16.500 16.000 2006

K

Jumlah

Tahun

Krisis Listrik.
Ada 11 Kecamatan dari 21 Kecamatan yang belum merasakan listrik. Mereka biasanya membeli mesin dompeng untuk mengalirkan listrik di rumah. Hanya terdapat PLN Ranting Melak yang membawahi tujuh unit PLN dengan total 11.261 pelanggan. Sejak 2002 hingga 2009 akumulasi daftar tunggu calon pelanggan PLN sudah mencapai 5.400 rumah. Dengan pertumbuhan penduduk mencapai 1,7% pada 2006, membuat daftar antrian listrik semakin membengkak.

macam rasi Generasi suram r di an lahi apa yang ak i Barat, Kabupaten Kuta tu dini, jika di usia begi g ISPA sudah terseran penyakit dan terancam kelamin.

Gb.20

Gb.21

Gb.19

[22]

[23]

Banjir, Berkah Batubara Samarinda

Perijinan.
Ada 76 Ijin Kuasa Pertambangan dan 5 PKP2B , konsesinya meliputi 71 persen atau 50.742.76 ha dari luas Kota Samarinda. Sekitar 25% atau 16,294 hektar dari luas Kota Samarinda merupakan daerah rawa yang yang cocok untuk resapan air yang sekarang sudah berubah fungsi.

Banjir.
Di masa lalu banjir besar hanya datang tiga hingga lima tahun sekali, misalnya banjir yang terjadi pada Juli tahun 2008. Saat itu, banjir menyerang Kecamatan Samarinda Utara. Berbeda dengan banjir berikutnya, bulan November 2008 hingga Mei 2009, luasan banjir terjadi di hampir semua kecamatan di Samarinda. Sepanjang tujuh bulan tersebut, terjadi empat kali banjir besar. Sekali banjir kawasan empat kecamatan yang dihuni 10.204 KK tergenang banjir (Samarinda Utara, Ulu, Ilir dan Sungai Kunjang) kawasan-kawasan itu telah berubah menjadi daerah kantung rawan banjir di Kota Samarinda.

Gb.23 Gb.22

Dulunya, banjir besar di kota hanya datang 3 sampai 5 tahun sekali. Misalnya banjir yang terjadi pada Juli-agustus 2008 di Samarinda Utara. Air datang dari sungai Mahakam (Pasang). Volume air yang datang memang semakin meningkat. Tapi yang tak biasa, sejak pengerukan batubara naik dalam empat  tahun terakhir,  banjir jadi rutin. Sepanjang November 2008 hingga Mei 2009, Samarinda menjadi langganan banjir, dan meluas di hampir semua kecamatan di Samarinda52. Sepanjang 6 bulan, terjadi 4 kali banjir besar. Tiap banjir datang, menggenangi kawasan yang dihuni sekitar 10.204 KK pada 4 kecamatan, yaitu Samarinda Utara, Ulu, Ilir dan Sungai Kunjang53. Kawasan itu kini berubah menjadi kawasan rawan banjir. Hampir semua jalan utama Kota Samarinda tergenang saat banjir datang. Sejak itu, banyak warga mulai menaikkan pondasi dan tiang rumahnya, bahkan banyak yang menjualnya dengan harga murah. Banjir membuat  putaran ekonomi masyarakat menengah kebawah terganggu. Salah satunya transportasi, angkutan kota trayek B, yang jumlahnya sekitar 500 buah. Mereka melayani jalur kawasan banjir, yaitu Samarinda Utara, Ilir dan Ulu, harus mengutang setoran  yang besarnya rata-rata Rp. 85.000 per hari. Mereka tidak bisa beroperasi saat banjir datang.

Belum lagi, jalur banjir juga melawati tempat-tempat pasar tradisional seperti Pasar Inpres, Rahmad, Ijabah dan Segiri54. Banyak pembeli yang enggan belanja, setiap kali banjir datang. Akumulasi kerusakan sumber daya alam, khususnya akibat pengerukan batubara, telah membuat Samarinda menjadi kota banjir. Padahal pendapatan dari pengerukan itu tak seberapa jumlahnya bagi dompet daerah.  Pada 2008, pendapatan dari pertambangan batubara hanya Rp. 399.000.000,- atau 4,13 persen total Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Samarinda sebesar 112,5 miliar rupiah55. Celakanya untuk mengatasi banjir, biaya yang dibutuhkan lebih besar. Pada 2008 lalu, Kota Samarinda membiayai proyek penanggulangan banjir dan membangun polder (kolam raksasa penampung air). Biaya yang dibutuhkan perbuahnya mencapai 38 miliar rupiah. Biaya pembuatan polder air Hitam misalnya, menghabiskan biaya 63 miliar rupiah. Kini Kota Samarinda berencana akan membangun 5 polder lagi. Sungguh, dompet daerah bisa jebol jika Kota Samarinda terus mengeruk batubaranya.

Hutan Kota.
Hutan kota Samarinda sekarang tinggal 0,8% atau 256,50 ha. Di Samarinda terdapat empat daerah aliran sungai atau DAS, yakni Karang Asam Besar, Karang Asam Kecil, Loa Bakung, dan Karang Mumus. Hampir semua DAS di Samarinda terus mengalami pendangkalan akibat kegiatan pertambangan, galian C, pembangunan properti dan perumahan

Pendapatan.
Pada 2008 pendapatan daerah dari pertambangan batubara hanya sebesar 399 juta rupiah, hanya 4% dari total PAD Samarinda sebesar 112,5 miliar. Padahal, pada 2008 lalu biaya pembangunan proyek penanggulangan banjir dengan membangun Folder Penampung Banjir, butuh biaya 38 miliar rupiah per polder.

[24]

[25]

Paser,
Kabupaten Konservasi menuju Kabupaten Bencana
Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati di Kawasan Konservasi.
Hutan Lindung Gunung Ketam di Kabupaten Paser seluas 35.350 hektar dikeruk oleh tambang batubara, PT. Interex Sacra Raya dengan luas konsesi 6.947,58 hektar, serta Bulungan Mandiri Lestari dengan luas konsesi 8.333,17 hektar. Kedua perusahaan ini mengancam DAS Kandilo dengan sepuluh anak sungainya, juga sedikitnya 58 jenis pohon kayu, 14 reptil, macan kumbangdan kumpulan jenis ikan tawar yang menghuni hutan lindung ini.

DAS Kandilo Terancam Tambang, Sumber Air Lima Kecamatan Terancam.
Penduduk lima kecamatan di hilir DAS Kandilo, sejumlah 8.009 KK terancam terganggu dan terhenti pasokan air bersihnya. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Paser merugi, biaya produksi air bersih menggelembung empat kali lipat sejak 2004, uji laboratorium menunjukkan tingkat kekeruhan tinggi, 1600 NTU (Nephelometric Turbidity Unit), sehingga memaksa PDAM menggunakan bahan kimia hingga empat kali dari biasanya. DAS Kandilo adalah DAS terbesar di Kabupaten Paser, luasnya 441.619 hektar atau 30 persen dari total luas Kabupaten Paser56. Perusahaan tambang PT. Kideco Jaya Agung asal Korea Selatan, dan PT. Interex Sacra Raya di hulu Sungai Gunung Ketam-Kandilo adalah pihak yang harus bertanggungjawab.

Gb.24

Penggusuran Masyarakat Adat
Tambang juga memotong sungai, mencemari Sungai Samurangau dan Biu hingga tak layak lagi digunakan kebutuhan harian warga. Kini banjir makin sering terjadi, sedikitnya tiga kali setahun. Genangan banjir yang dahulu tidak mematikan kini merusak sejumlah tanaman milik warga karena air sudah bercampur lumpur dan limbah tambang. Sejak menambang pada 1982, Kideco telah menggusur tanah keramat masyarakat adat Dayak Paser, sekitar 27.000 hektar lahan digusur57, mereka dilarang berkebun atau melakukan kegiatan produktif lainnya Kabupaten ini telah mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Konservasi, 29 Juni 2006, Paser telah memiliki empat hutan lindung, Hutan Gunung Ketam di Kecamatan Muara Komam, Hutan Sungai Sawang (Muara Samu), Hutan Gunung Lumut (Kuaro), Muara Komam, Long Ikis, Long Kali) dan Hutan Sungai Samu (Muara Samu, Muara Komam) dan dua cagar alam, Teluk Adang dan Teluk Apar. Tapi, diramalkan dua tahun lagi kabupaten ini akan menjadi kabupaten bencana. Bagaimana tidak, jika saat yang bersamaan Bupati Paser justru menambah jumlah ijin KP dari 22 menjadi 67 buah58. Penambahan 45 ijin baru luasnya mencapai 248.978 hektar. Itu pun belum termasuk luas empat tambang batubara dengan ijin PKP2B. Padahal luas Kabupaten Paser hanya 1.148.209 hektar. Kawasan lindung yang kini terancam pengerukan batubara antara lain Hutan Lindung Gunung Ketam yang dirusak PT. Interex Sacra Raya (ISR) seluas 6.947,58 hektar59, dan PT. Bulungan Mandiri Lestari (BML) seluas 8.333,17 hektar60. Pertambangan ini mengancam keberadaan Sungai Kandilo. Bencana itu akan datang dari sumber utama air baku masyarakat Paser, urat nadi pasokan air PDAM, yaitu DAS Kendilo yang luasnya 441.619 hektar atau sekitar 30 persen total wilayah Kabupaten Paser. Panjang DAS Kendilo sekitar 235 km dengan 9 sub DAS. Bencana bermuara dari sedimentasi akibat pengerukan bahan tambang. Pada November 2006, lebih seminggu layanan air PDAM macet. Dari uji laboratorium menunjukkan error atau tidak terbaca dengan angka 1600 NTU, air berubah seperti warna kopi susu. Terdapat 43.161 rumah tangga di Kabupaten Paser yang terancam pasokan air bersihnya.
Gb.25

Perijinan
Sekarang Terdapat 67 ijin KP dan 4 ijin PKP2B, salah satu raksasa perusahaan pemegang konsesi PKP2B adalah Kideco Jaya Agung, yang mengeruk 21 juta ton batubara tiap tahun. Sepanjang 2007 – 2009, terdapat sekitar 45 perijinan KP dikeluarkan pemerintah kabupaten.

Tak hanya dari perbukitan, tanda-tanda bencana juga datang dari kawasan laut. Sejak 2004, nelayan Desa Air Mati, salah satu dari 17 desa pesisir sepanjang Cagar Alam Teluk Adang dan Teluk Apar, berkali-kali melaporkan ambruknya sumber penghidupan mereka kepada DPRD Kabupaten Paser. Rengge, alat tangkap ikan tradisional, dirusak oleh lalu lalang tongkang PT. Kideco jaya Agung. Hal yang sama juga mengancam Desa Pondong, yang dihuni 1.337 jiwa, dimana 79 persen-nya adalah nelayan tradisional, merengge dan sisanya petambak.

[26]

[27]

Merampok Energi Warga Kalimantan Selatan

Gb.27

Provinsi ini mengorbankan pemenuhan energi penduduknya, demi memenuhi kebutuhan asing

Tiap hari kebutuhan BBM truk batubara dapat menerangi 21 ribu rumah di Kalsel

Gb.26

PLTU asam-asam hanya menggunakan 1,06% batubara yang dikerjakan Kalimantan Selatan.

Kalimantan Selatan memproduksi batubara terbesar kedua di Indonesia. Tapi, tiap harinya, ada saja daerah yang harus mengalami pemadaman bergilir. Alasannya penghematan energi. Tidak ada jam pasti, setiap harinya bisa 2 hingga 3 jam, tiap dua hari sekali. Belum termasuk pembatasan penggunaan bagi industri hingga pemadaman lampu penerangan jalan. Kebutuhan listrik provinsi ini mencapai 270 MW61, tapi PLN defisit 30 MW, akibat berbagai kendala pembangkit. Bahkan ada 21 ribu antrian calon pelanggan yang belum menikmati listrik62. Provinsi ini mengorbankan pemenuhan energi penduduknya, demi memenuhi kebutuhan asing. Pengerukan batubara dan pasokan BBM Kalimantan Selatan tak dinikmati penduduknya. BBM Kalsel dirampok untuk mengangkut batubara dari ratusan tambang batubara berijin KP. Cerita ini dimulai dari jalan raya Kabupaten Tapin. Hingga tengah 2009, kepadatan angkutan batubara di sana mencapai 2.473 unit per hari63, belum ditambah dari kabupaten lainnya. Di Kabupaten Banjar dan Banjarbaru saja, tidak kurang 1.300 truk angkutan batubara lalu lalang. Kasat mata, hitungan konsumsi BBM untuk truk angkutan batubara, jika 20 liter solar per truk, sekali jalan. Kebutuhan solar sehari bisa mencapai 49.460 liter64. Jumlah ini bisa menerangi sedikitnya 21 ribu rumah di sana65. Ini belum menghitung BBM yang digunakan tambang skala besar lewat ijin PKP2B yang jumlahnya ratusan kali lipat. Lebih 73 persen batubara Kalsel dikirim keluar negeri, 27 hingga 29 persen sisanya untuk kebutuhan dalam negeri, memasok konsumsi energi dan industri di Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan sendiri. Celakanya, batubara yang diangkut bukan untuk kebutuhan warga. WALHI Kalsel memperkirakan batubara kebutuhan provinsi ini hanya berkisar 1,69 persen dari total produksi tahun 2008 mencapai 78,5 juta ton. Listrik pun harus dibagi dengan tetangganya Kalimantan Tengah – sama-sama dipasok PLTU Asam-asam, yang berkekuatan 230 MW. Pengguna listrik terbesar kedua adalah pabrik semen, hanya 380.398 ton atau 0,6 persen-nya. Ditaksir kebutuhan Batubara Kalsel meningkat tajam tahun-tahun mendatang, seiring pembangunan berbagai industri boros energi, macam pengolahan biji besi dan industri kertas & bubur kertas (pulp), yang ujungnya diekspor juga. Pemerintah berencana membangun PLTU Mulut Tambang, sebesar 110 MW66. Namun bila hampir semua perusahaan batu bara lebih suka menjual batubaranya keluar negeri, apakah rencana-rencana diatas akan berjalan? Apalagi yang menguasai produksi sebagian besar batubara Kalsel adalah perusahaan transnasional, yang terikat menjual batubaranya ke pihak asing. Hingga 2008, tiga pengerukan batubara utama kalsel adalah PT. Adaro Indonesia (38,5 juta ton pertahun), disusul PT. Arutmin Indonesia (16,8 juta ton per tahun) dan Perusahaan Daerah (PD) Baramarta sebesar 3,7 juta ton.

[28]

[29]

Masyarakat Meratus

Anggrek Bulan Meratus. Satu dari keanekaragaman hayati Meratus

Gb.28

Hamparan Pegunungan Meratus dan Sungai Amandit
Gb.32 Gb.29

Serangan Terhadap Hutan Lindung Meratus Kalimantan Selatan
Meratus kaya ragam hayati67. Di sana ada minimal 78 jenis dari 21 suku mamalia atau sekitar 35,14% mamalia Kalimantan, Avifauna sebanyak 316 jenis dari 47 suku atau sekitar 88.27% dari jumlah jenis burung di pulau Kalimantan yang mencapai 358 jenis68. Ada juga 130 jenis dari 20 suku Herpetofauna, 65 jenis ikan jenis dari 25 suku, dan 408 jenis serangga 408 dari 54 suku – dimana 173 jenis diantaranya adalah kupu-kupu. Tapi sejak lama kawasan ini terancam. Sebagai dampak maraknya pembalakan dan pertambangan liar, menurut Transtoto Handadhari69, sebanyak 30% hutan Pegunungan Meratus telah hilang per periode 2000. Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel menyatakan jumlah luasan lahan kritis di dalam kawasan hutan lindung mencapai 187.384,59 hektar. Padahal, Meratus rumah ribuan etnis masyarakat Dayak Meratus yang oleh Tjilik Riwut dalam desertasi Noerid Haloei Raddam (1987) di sebut Dayak Bukit (gunung) termasuk dalam rumpun Dayak Ngaju yang mendiami daerah Peleihari, hulu Riam Kiwa, dan Pegunungan Meratus. Umumnya berdiam dalam kelompok-kelompok kecil yang disebut “balai”. Etnis minoritas ini populasinya menyusut dari tahun ke tahun. Pada tahun 1995, jumlah mereka sekitar 5.569 keluarga, menjadi 5.309 pada 199870. Populasi mereka menyusut drastis pada 1997. Segala bentuk alih fungsi hutan Meratus telah berkontribusi terhadap pemusnahan etnis suku Dayak Meratus (Bukit) tersebut. Setelah pembalakan kayu dan perkebunan, ancaman Meratus berikutnya adalah pertambangan. Setidaknya, ada 280 perusahaan KP di kawasan hutan ini dengan konsesi area seluas 553.812 hektar71, jumlah ini belum termasuk KP yang masih dalam proses pinjam pakai kawasan hutan (terdapat 97 perusahaan KP) dan 14 PKP2B seluas 50.278,59 hektar72. Sebagian besar kawasan tambang berada di daerah aliran sungai penting. Selain masuk ke kawasan hutan, pertambangan juga merengsek ke kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) seluas 264.052 hektar73.
Gb.31 Gb.30

Bekantan Satu dari berbagai jenis binatang yang ada di sekitar Meratus

Kawasan Tambang Meratus

[30]

[31]

Pengerukan Tinggi, Kemiskinan Tinggi
Grafik Perbandingan Produksi Batubara VS Peringkat Indeks Pembangunan Manusia di Kalimantan Selatan

Serapan Tenaga Kerja Pertanian Lebih Besar dari pada Tambang
Indeks Gini Rasio Kalimantan Selatan rendah dan cenderung menurun, yaitu 0,270 pada tahun 200474 menjadi 0,239 tahun 200675. Angka tersebut menggambarkan terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan sangat tinggi. Masyarakat miskin tetap miskin, sementara yang kaya semakin kaya. Hasil penilitian Udiansyah dkk, bersama Economy and Environment Program for Southeast Asia (EEPSEA), menunjukkan eksploitasi batubara Kalsel belum dapat mewujudkan kesejahteraan masyarakat, dikarenakan: 1) bagian untuk daerah penghasil sangat kecil. 2) persentase "sewa" sumberdaya juga masih terlalu kecil, dan 3) walaupun angka itu kecil, tetapi sangat berpotensi untuk dikorupsi. Saat ini, penduduk Kalsel berjumlah 3.250.100 orang (2008), dengan jumlah tenaga kerja 1.468.590 orang76. Ada sekitar 45 persen penduduk 660 ribu yang bekerja. Sektor pertanian menyerap hampir 51 persen tenaga kerja, sekitar 741 298 orang77. Sementara, pertambangan yang saat ini mendominasi perekonomian Kalsel, hanya menyerap 2 persen-nya, sekitar 33.738 orang78. Inipun kebanyakan berasal dari luar desa bahkan dari luar provinsi. Besarnya output dan kebocoran (leakage) pendapatan keluar daerah mencapai 70 persen. Itupun, studi ini belum menyentuh ongkos mengurus daya rusak tambang. Ongkos yang harus ditanggung penduduk lokal sekitar tambang, bersama rusaknya bentang lahan, krisis air, hilangnya mata pencaharian hingga konflik sosial.

[32]

[33] [3 [33]

ENVIROCOAL

DEADLY COAL
• Pencemaran sungai, pada desa-desa sekitar : Padang Panjang, Dahai, Maburai. Warga tidak bisa menggunakan air sungai lagi untuk keperluan sehari-hari. Salah satu lubang pengerukan batubara PT. Adaro memiliki garis tengah 1 kilometer, sedalam 30-40 meter (PT. Adaro memiliki 2 lubang bekas tambang). Lubang di Desa Maburai, Murung Pudak itu kini menjadi genangan raksasa. Sengketa lahan terjadi dengan warga atas 300 hektar lahan. Proses dan jumlah ganti tidak adil dan merugikan warga. Belum lagi muncul konflik horizontal antara masyarakat karena klaim perebutan lahan akibat ketidakberesan proses pembebasan lahan Ada 2 desa, yaitu Desa Lamida Atas dan Juai, tergusur perluasan tambang tahun 2003. Premanisme kepada warga dan aktivis lingkungan meningkat seiring perusahaan beroperasi, sementara aparat keamanan seolah lepas tanggung jawab

Mautnya Batubara Kalimantan Selatan

• •

Emisi gas dan partikel emisi udara lebih rendah daripada bahan bakar padat lain. Jumlah limbah abu tertangkap sangat kecil pada dasar mutlak dan sangat rendah dibandingkan dengan batu bara Komposisi kimia di udara dan menangkap limbah abu menjadikan mereka ramah dan cocok untuk daur ulang. Mengurangi emisi SO2, penurunan emisi NOx, Limbah menurun.

Gb.33 Gb.34 Gb.36 Gb.35

Desa Tanta, Warukin, Kabupaten Tabalong Warga Tamiang dan Pulau Ku’u selalu terkena banjir.
Debu batubara merusak tanaman pertanian dan perkebunan warga Desa Bajut Warukin, Kecamatan Tanta. Debu, selain mengganggu pernafasan warga, juga mencemari.  Banyaknya perkebunan karet yang tergusur akibat dari perluasan jalan dan kawasan pengerukan Timbulnya konflik horizontal antara masyarakat yang tidak mau melepas kebun karetnya dengan masyarakat yang bersikap sebaliknya.

Sungai Mangkok tidak bisa lagi digunakan karena tingginya kandungan besi (Fe) di air sungai akibat penambangan batubara di hulu. Belum lagi konflik sosial berkepanjangan akibat sengketa lahan antara warga dan PT. Tanjung Alam Jaya.

Desa Batang Banyu dan Mangkok, Kecamatan Pengaron, Kabupaten Banjar.

PT. Bahari Cakrawala Sebuku (BCS) menambang hutan suaka alam di Pulau Kecil Sebuku, tapi dibiarkan oleh Pemerintah. Akibatnya, sejak beroperasi 1994, Desa Kanibungan dan Sekapung krisis air. Sejak tambang masuk, produksi kebun karet warga turun. Tiga buah sungai-Matangkarang, Kanibungan dan Daeng Setuju dirubah alur sungainya. Bahkan kuburan dan pelabuhan Speedboat digusur, digali batubaranya, tahun 2003.  Sungai Kanibungan dan Sarakaman tercemar air pencucian batubara. Hasil tangkapan ikan terutama Benur (bibit bandeng) dan nener (bibit udang) berkurang akibat pencemaran hingga ke laut. Ceceran batubara dan tumpahan minyak serta oli saat pengapalan batubara berakibat turunnya hasil tangkap ikan. Nener dan Benur yang terus berkurang karena hutan bakau (mangrove) di Selat Sebuku rusak. Biasanya dalam 3 hingga 4 jam sehari, warga bisa menangkap dan menjualnya hingga 200 ribu rupiah per hari, kini dibutuhkan 1 hingga 2 hari untuk medapat jumlah yang sama.

Tambang sebagian berada di hutan lindung pegunungan. Pengangkutan batubara dengan tongkang sejak 1999, telah membuat air sungai keruh, bercampur BBM. Sebelumnya nelayan Muara Sungai Satui menghasilkan 50 ribu hingga 200 ribu rupiah perhari menangkap ikan. Sekarang hanya 30.000 hingga 100.000 rupiah per hari. Pengerukan membuat Sungai Salajuan menjadi kering dan berwarna hitam, tak bisa lagi digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Mwnderita batuk, sesak napas, dan sakit mata jika sering melewati jalan darat sepanjang Simapang Empat Sumpol, sudah biasa.

Desa Sebamban dan Satui, Kabupaten Tanah Bumbu

Desa Sebuku, Kabupaten Kotabaru

[34 [34]]

[35]

Gb.37

Gb.38

Gb.39

Bagian Empat

Penegakkan Keadilan Antargenerasi Tidak Dapat Ditunda!
Karut-marut kekacauan tata-kelola tanah dan kekayaan alam di Indonesia yang berlangsung sejak awal tahun 70an hingga saat ini merupakan bom waktu bagi generasi ke depan. Ketika bom tersebut meledak Indonesia hanya menyisakan tanah-tanah tandus penuh lubanglubang menganga bekas galian tambang, sungai-sungai kering, laut penuh sampah dan bahan-bahan pencemar berbahaya, hutan yang gundul, serta udara tercemar yang menyebabkan meluasnya penyakit infeksi saluran pernapasan bagian atas (ISPA), yang mengancam degenerasi otak anak usia bawah lima tahun (balita). Di masa depan, jika tidak ada keseriusan dan kesungguhan pemerintah, termasuk para politikus, untuk menjamin keselamatan rakyat Indonesia dan produktifitasnya demi menjaga kemampuan mereka mempertahankan kelangsungan jasa alam, Indonesia hanya akan menjadi negeri penuh perang sipil, penyakit dengan tingkat kemiskinan tak terperikan, seperti yang kerap kita saksikan di negara-negara di benua Afrika yang telah habis terkuras kekayaan alamnya. Indonesia akan menjadi seonggok tubuh lemah penuh penyakit yang hidup bergantung kepada selang infus belas kasihan bantuan-bantuan asing. Semua kekhawatiran di atas sudah terjadi di negeri ini, meski masih sepotong sepotong. Indonesia adalah negara kaya yang diurus oleh orang-orang yang berilusi bahwa satu-satunya cara untuk mencapai kedaulatan yang hakiki hanya lewat pemompaan angka-angka kinerja ekonomi makro, dengan etalase buah pembangunan berupa gedung-gedung pencakar langit, jejaring jalan raya yang rumit, serta menguatnya kelompok masyarakat pengonsumsi barang dan jasa industrial. Sebuah mimpi yang dibangun di atas asumsi-asumsi berdasarkan contoh negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara, yang mengenyampingkan perbedaan mendasar latar-budaya, latar-sosial bahkan latar-geomorfologi yang dimiliki Indonesia. Mimpi yang dibangun hanya melalui peniruan (imitasi) dan pencangkokan (transplantasi) modelmodel pembangunan yang sudah banyak ditinggalkan di negara asalnya, karena memiliki kemampuan menciptakan bom waktu bagi generasi masa depan. JATAM mengajak seluruh unsur masyarakat di Indonesia dan dunia untuk menuntut keseriusan dan kesungguhan pengurus negara dan para politikus untuk, 1. Menunda semua ijin dan proses perijinan bagi pembukaan lahan-lahan baru di kepulauan untuk investasi yang memiliki jejak sosial dan ekologis sangat kotor, seperti pertambangan batubara, pertambangan mineral, agglomerasi* perkebunan kelapa sawit skala besar, pembukaan ekosistem gambut, pengkaplingan kawasan pesisir dan perairan laut baik perikanan skala besar maupun eksploitasi minyak, serta perluasan HPH di hutanhutan alam yang tersisa; • 3. 2. Mengusung visi pembangunan yang menjamin; • • Kemampuan rakyat untuk meraih dan mempertahankan keselamatan mereka; Kemampuan rakyat untuk meraih dan mempertahankan produktifitas guna menikmati kualitas hidup terbaik sesuai kemampuan sosial dan ekologik setempat; dan, Kemampuan rakyat untuk menjaga, melindungi dan memulihkan keberlangsungan jasa alam.

Meninjau-ulang dan merumuskan paradigma pembangunan baru yang menjamin terpenuhinya syarat-syarat bagi upaya jangka panjang mewujudkan keadilan antargenerasi.

agglomerasi* = Persekutuan satuan-satuan tata kelola yang membentuk kompleks kuasa yang lebih besar daripada konglomerasi

[36 [36]]

[37]

1.

Catatan Kaki

Keputusan Presiden No 82 Tahun 1995, tanggal 26 Desember 1995, tentang Pengembangan Lahan Gambut untuk Pertanian Tanaman Pangan di Kalimantan Tengah. Intruksi Presiden No 2 Tahun 2007, tanggal 16 Maret 2007, tentang Tentang Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan Tengah. Delft Hydraulics report Q3943: PEAT-CO2, Assessment of CO2 emissions from drained peatlands in SE Asia. Hooijer, A., Silvius, M., Wösten, H. and Page, S, 2006. WRI: Climate Analysis Indicators Tool vs 4.0, 2007. Makalah Presentasi Bernaulus Saragih – Forest Faculty of Mulawarman University: Changing Land Cover from Green Space to Black Surface, September 2009. GTZ: Bantuan Teknis Kebakaran Hutan, 2002. Harian Tibun Kaltim, April 2009 ; http://www. tribunkaltim.co.id/read/artikel/26058 diakses Desember 2009. JATAM Kaltim: Hasil Riset 2001. Dinas Pertambangan Provinsi Kaltim, Maret 2009.

27. Makalah Presentasi Gubernur Kaltim di hadapan Menteri ESDM: tentang Prioritas Pembangunan Pertambangan Energi dan Mineral, Januari 2009. 28. JATAM: Analisis dari berbagai sumber, Oktober 2009. 29. PT Bumi Resources Tbk: Laporan Tahunan 2008. 30. Makalah Presentasi Gubernur Kaltim di hadapan Menteri ESDM: tentang Prioritas Pembangunan Pertambangan Energi dan Mineral, Januari 2009. 31. Ibid. 32. Ibid. 33. Makalah Presentasi Gubernur Kaltim di hadapan Menteri ESDM: tentang Prioritas Pembangunan Pertambangan Energi dan Mineral, Januari 2009. 34. http://www.dpmb.esdm.go.id dan kompilasi Jatam Kaltim, 2009 35. BPS Kutim: Kutai Timur Dalam Angka, 2008. 36. Kaltim Post: “PLTU Milik Bakrie Power di Sengata Beroperasi 2013”, 15 Juli 2009. 37. PT Kaltim Prima Coal: Ringkasan Eksekutif Studi AMDAL Peningkatan Batubara hingga 48 Juta Ton Pertahun, 2005. 38. PT Kaltim Prima Coal: Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL), Studi Amdal Kapasitas Produksi Hingga 70 Juta Ton Per Tahun, 2009. 39. Ibid. 40. Ibid. 41. Ibid. 42. Ibid. 43. Kaltim Post: PLTU Milik Bakrie Power di Sengata Beroperasi 2013, 15 Juli 2009. 44. http://korupsi.vivanews.com/news/read/90882mahkamah_agung_tolak_pk_syaukani_hasan_rais 45. Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan Timur, 2008. 46. Dinas Pertambangan dan Energi Kalimantan Timur, 2008. 47. JATAM: Analisis dari berbagai sumber, Oktober 2009. 48. JATAM: Analisis dari berbagai sumber, Oktober 2009. 49. JATAM Kaltim: Analisis dari berbagai sumber, September – Okteber 2009. 50. JATAM: Analisis dari berbagai sumber, Oktober 2009. 51. Dinas Kesehatan Kutai Barat, Juni 2009. 52. Dinas Pengairan Kota Samarinda, Presentasi di Seminar Banjir Kota Samarinda, April 2009. 53. Dinas Pengairan Kota Samarinda, Presentasi di Semninar Banjir Kota Samarinda, April 2009. 54. JATAM Kaltim: Analisis dari berbagai sumber, Maret 2009.

55. Samarinda Pos, Juni, 2009. 56. Bapedalda Kabupaten Paser, 2002. 57. JATAM: Analisis dari berbagai sumber, Oktober 2009. 58. Perbandingan Data Distamben Provinsi Kaltim: tentang Jummlah Ijin KP dan Luasannya. 2007 dan Data Distamben Provinsi Kaltim tentang Jumlah Ijin KP dan Luasannya, 2009. 59. WALHI Kaltim: Keanekaragaman Hayati Gunung Ketam Paser Diambang Kehancuran. Muhammad Ramli, Edisi I, hal. 06, Oktober 2005. 60. Ibid 61. PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, 2008. 62. PLN Wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, 2008. 63. WALHI Kalsel – Investigasi Penggunaan Jalan Negara untuk Truk Batubara, 2005. 64. WALHI Kalsel: Analisis kebutuhan solar, Desember 2005. 65. WALHI Kalsel: Analisis kebutuhan solar, Desember 2005.

66. PLN Wilayah Kalsel - Kalteng, 2008. 67. YCHI bersama Masyarakat Adat: Data Tim Ekspedisi Meratus, 2005. 68. Lihat MacKinnon, dkk, 1998 69. Kompas: Hutan Lindung Meratus Harus Diselamatkan dari Penambang Liar. 29 Maret 2004 70. Bappeda/BPS Kalsel: Angka, 1998. 71. Bappedalda Kalsel, 2008. 72. Bappedalda Kalsel, 2008. 73. Bappedalda Kalsel, 2008. 74. Badan Pusat Statistik, 2007. 75. Badan Pusat Statistik, 2007. 76. Penelitian Udiansyah dkk bersama Economy and Environment Program for Southeast Asia (EEPSEA), 2007. 77. Penelitian Udiansyah dkk bersama Economy and Environment Program for Southeast Asia (EEPSEA), 2007. 78. Penelitian Udiansyah dkk bersama Economy and Environment Program for Southeast Asia (EEPSEA), 2007.

2.

3.

4. 5.

6. 7.

8. 9.

10. Makalah Presentasi Gubernur Kaltim di hadapan Menteri ESDM: tentang Prioritas Pembangunan Pertambangan Energi dan Mineral, Januari 2009. 11. Survey Angka Kemiskinan berdasarkan SUSENAS, Maret 2007. 12. Harian Tribun Kaltim, April 2008. 13. JATAM Kaltim: Analisis dari berbagai sumber, Maret 2009. 14. Pemprov Kaltim: RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) 2005 – 2025, Juni 2005. 15. Pemprov Kaltim: RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) 2005 – 2025, Juni 2005. 16. Pemprov Kaltim: RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah) 2005 – 2025, Juni 2005. 17. Kaltim Pos, Agustus 2009. 18. Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, 2000. 19. Dinas Perkebunan Provinsi Kalsel, 2008. 20. Dinas Perkebunan Provinsi Kalsel, 2006. 21. Dinas Perkebunan Provinsi Kalsel, 2006. 22. Bappeda Kalsel, 2008. 23. Bappeda Kalsel, 2008. 24. BPS: Kaltim Dalam Angka 2007, Maret 2008. 25. JATAM Kaltim: Hasil Analisis Kompilasi Jadwal Pemadaman Listrik Wilayah Kaltim dan Samarinda bulan Juli – November 2008 dari PLN Kaltim, Sep 2009. 26. Makalah Presentasi Gubernur Kaltim di hadapan Menteri ESDM: tentang Prioritas Pembangunan Pertambangan Energi dan Mineral, Januari 2009.

Kredit Photo
Cover Depan • Pradarma Rupang/JATAM Kaltim Cover Belakang • Fahmi Rahman, Tribun Kaltim Halaman 3 • Gb.01, JATAM Kaltim Halaman 4-5 • Gb.02, JATAM Kaltim Halaman 6 • Gb.03-gb.05, istimewa Halaman 8 • Gb.06, istimewa • Gb.07-gb.08, JATAM Kaltim Halaman 9 • Gb.09-gb.10, JATAM Kaltim Halaman 13 • Gb.11, istimewa Halaman 14 • Gb.12-gb.14, WALHI Kalsel Halaman 16-17 • Gb.15, istimewa Halaman 19 • Gb.16, Fahmi Rahman/Tribun Kaltim Halaman 20 • Gb.17, JATAM Kaltim Halaman 21 • Gb.18, istimewa Halaman 22 • Gb.19, dokumentasi Roby Johan, Kaltim Post • Gb.20, dokumentasi Fahmi Rahman, Tribun Kaltim Halaman 23 • Gb.21, istimewa Halaman 24 • Gb.22, dokumentasi Fahmi Rahman, Tribun Kaltim • Gb.23, dokumentasi Roby Johan, Kaltim Post Halaman 27 • Gb.24, WALHI Kalsel • Gb.25, Ade Fadli Halaman 29 • Gb.26-gb.27, Banjarmasin post Halaman 31 • Gb.28-gb.32, istimewa Halaman 34 • Gb.33, WALHI Kalsel • Gb.34-gb.35, istimewa • Gb.36, WALHI Kalsel Halaman 36-37 • Gb.37-gb.38, WALHI Kalsel • Gb.39, Robi Johan/ Kaltim Post

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful