PENGELOLAN DAERAH ALIRAN SUNGAI MELAWI

Oleh Nadia Amanah Program Studi S-1 Teknik Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

Abstrak Daerah aliran sungai Melawi meliputi wilayah kabupaten Sintang dan Kabupaten baru hasil pemekaran pada awal tahun 2004, yaitu kabupaten Melawi. Daerah Aliran Sungai merupakan kesatuan dengan sungai dan anak -anak sungainya yang melalui daerah tertentu yang fungsi nya untuk menampung air. Daerah aliran sungai memiliki beberapa sub DAS dimana air yang mengalir akan berkumpul pada DAS utama. Berbagai masalah sudah mulai bermunculan pada sub-DAS Melawi yang berada di propinsi Kalimantan Barat. munculnya beberpa pencemaran dan kerusakan lingkungan/degradasi pada sub-DAS tersebut dapat dinilai berdasarkan parameter fisik yang akan mengganggu fungsi DAS sebagai tempat penampung air. Untuk mengatasi masalah dari degradasi DAS maka diperlukan pengelolaan secara teknis, vegetatif dan kimia. Jika suatu DAS dan daerah sudah dikelola dengan baik maka hal ini akan berpengaruh dengan kondisi sosial dan ekonomi penduduk, sehingga keberhasilan pengelolaan DAS ini dapat dinikmati seluruh pihak. Kata kunci : DAS, sub-DAS, pengelolaan DAS dan Sosek masyarakat. Absract Melawi catchments area is covering the region that consists of two regencie Kabupaten Sintang and the newlyformed one in 2004, Kabupaten Melawi catchments area is whole with river and river¶s group to pass a region about funcion to catch a falling water. Catchments area has more subcatchments area to flowed in main catchments area. More problems catchments area Melawi in west Borneo was coming. Some pollution and environment damage/degradation on that sub- catchments area can be valued based on phisical parameter to intrude catchments area funcion to whole water. To solve the problem of degradation¶s catchments area, we should have technically management , vegetation style, and chemical style. If a catchments area and the other region have the right managed so this condition will influence to social condition and society¶s economy, so the success of the catchments area management can be comfortabled for all side. Key word : catchments area, sub catchments area, catchments area management dan society¶s socialeconomy.

1

PENDAHULUAN Latar Belakang Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur utamanya terdiri dari sumber daya alam vegetasi, tanah dan air serta sumber daya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumber daya alam. Pemanfaatan SDA mencerminkan pola perilaku, keadaan sosial ekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya dengan kelembagaan. Sebagai satu kesatuan unit pengelolaan, maka DAS dapat menampung kepentingan seluruh sektor dalam rangka pembangunan berkelanjutan dan yang berwawasan lingkungan. Untuk itu perlu dikembangkan pola tata ruang yang dapat menyerasikan tata guna lahan, air serta sumber daya lainn dalam satu ya kesatuan tata lingkungan yang harmonis dan dinamis serta ditunjang oleh pola perkembangan kependudukan yang serasi. Permasalahn yang menjadi perhatian utama dalam pengelolaan DAS sebagai bagian dari pembangunan wilayah sampai saat ini tergolong komplek dan saling terkait. Permasalhan tersebut antara lain terjadinya erosi, sedimentasi, banjir pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau yang sangat erat kaitannya dengan keadaan sumber daya alam vegetasi atau hutan tanah air serta unsur manusia yang terdapat dalam ekosistem DAS tersebut. Faktor kehilangan tanah, limpasan, infilltrasi, dan debit sedimen menjadi faktor domonan penyebab tingkat degradasi sangat tinggi. Dengan demikian perlu adanya pengelolaan naik secara teknis maupun vegetative dilakukan dalam upaya pengelolaan DAS. Batasan Masalah Batasan masalah ini yaitu hanya pada pengelolaan terhadap daerah aliran sungai Melawi. Tujuan Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mempelajari suatu masalah lingkungan hidup yang terjadi agar dapat dilakukan perbaikan atau dilakukannya konservasi terhadap lingkungan tersebut khususnya mengenai konservasi pada daerah aliran sungai. Sehingga penyusunan makalah ini dapat mendukung daripada mata kuliah pengelolaan konservasi lingkungan. Metode Penulisan Adapun metode penulisan yang penulis gunakan dalam penyusunan makalah ini adalah metode kepustakaan yaitu literature-literature yang bersumber dari internet berupa jurnal dan artikel yang relevan. TINJAUAN PUSTAKA Daerah Aliran Sungai (DAS) j Pengertian DAS Menurut UU No 7 tahun 2004 tentang sumber daya air yang dimaksud dengan DAS adalah suatu wilyah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak anak sungainya, yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktifitas daratan.

2

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur utamanya terdiri dari sumber daya alam vegetasi, tanah dan air serta sumber daya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumber daya alam . Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber air lainnya dan kemudian mengalirkannya melalui sungai utamanya (single outlet). Satu DAS dipisahkan dari wilayah lain disekitarnya (DAS-DAS lain) oleh pemisah dan topografi, seperti punggung perbukitan dan pegunungan. j Pengertian sub DAS Sub DAS adalah bagian DAS yang menerima air hujan dan mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi habis kedalam Sub DAS-Sub DAS. Wilayah Sungai (WS) atau wilayah DAS adalah suatu wilayah yang terdiri dari dua atau lebih DAS yang secara geografi dan fisik teknis layak digabungkan sebagai unit perencanaan dalam rangka penyusunan rencana maupun pengelolaannya. Klasifikasi DAS : y Hamparan/letak geografis DAS y Fungsi strategis y Kesepakatan Pemda Klasifikasi : y DAS lokal y DAS regional y DAS nasional y DAS internasional (Anonim1, 2009) Pengelolaan DAS Pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antara sumber daya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumber daya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekonomi DAS. Pengelolaan DAS pada prinsipnya adalah pengaturan tata guna lahan atau optimalisasi penggunaan lahan untuk berbagai kepentingan secara rasional serta praktek lainnya yang ramah lingkungan sehingga dapat dinilai dengan indikator kunci kuantitas, kualitas dan kontinuitas aliran sungai pada titik pengeluaran DAS. Tingkat kekeritisan DAS ditunjukkan oleh menurunnya penutupan vegetasi permanen dan meluasnya lahan kritis sehingga menurunkan kemampuan DAS dalam menyimpan air atau dengan kata lain menurunnya infiltrasi dimana akan berdampak pada meningkatnya frekuensi banjir, erosi dan penyebaran tanah longsor pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Kerusakan lahan atau tanah dapat menyebabkan berbagai dampak antara lain terjadinya erosi dan sedimentasi serta masih banyak hal yang ditimbulkan. Erosi mempunyai beberapa akibat buruk. Penurunan kesuburan tanah. Kedua menurunnya produksi sehingga akan mengurangi pendapatan petani. Erosi tanah dapat terjadi akibat adanya curah hujan yang tinggi, vegetasi penutup lahan yang kurang. Kemiringan lereng dan tata guna lahan yang kurang tepat. Pendangkalan sungai untuk mengalirkan juga 3

berkurang dan menyebabkan bahaya banjir. Pendangkalan saluran pengairan mengakibatkan naiknya dasar saluran, mengurangi luas lahan pertanian yang mendapat aliran irigasi (Anonim2, 2010) Kerusakan sumber daya air selain banjir dan erosi adalah kekeringan dan pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Kerusakan sumber daya tanah dan air merupakan masalah yang tidak dapat dipisahkan. Hal ini karena sebagai sumber daya alam,tanah mempunyai peranan yang sangat penting. Sebagai sumber unsur bagi tumbuhan dan sebagai media akar tumbuhan berjangkar dan tempat air tanah tersimpan. Erosi yang terjadi secara terus menerus dapat mengakibatkan sedimentasi. Sedimentasi adalah terbawanya material hasil dari pengikisan dan pelapukan oleh Air, angin atau gletser ke suatu wilayah yang kemudian diendapkan. Tingkat kesadaran dan kemampuan ekonomi masyarakat petani yang rendah akan mendahulukan kebutuhan primer dan sekunder (sandang, pangan, dan papan) bukan kepedulian terhadap lingkungan sehingga sering terjadi perambahan hutan di daerah hulu DAS, penebangan liar dan praktik-praktik pertanian lahan kering di perbukitan yang akan meningkatkan kekritisan DAS. Untuk mencapai tujuan pengelolaan DAS tersebut di atas, salah satu tahapan awal yang penting dalam rangka pengelolaan DAS adalah megetahui karakteristik suatu das meliputi data dasar berupa sifat fisik dan kondidi fisik teknis, sosial ekonomi dan kondisi lainnya terutama dalam penyusunan perencanaan das dan kebijaksanaan pengelolaan das secara keseluruhan. Pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan dengan tidak memperhatikan kaidah kaidah konservasi lahan dalam pelaksanaannya akan berakibat buruk pada sumver daya alam itu sendiri sehingga akan terjadi banjir di musim hu dan jan kekeringan pada musim kemarau. Semua ini akibat dari pemanfaatan lahan seperti pengesahaan hutan, penebangan liar (illegal logging), perambahan hutan, penmbangan batu bara, pemanfaatan pengguna lahan yang tidak memperhatikan kaidah kaidah konservasi alam. Dalam hal ini apabiala pemanfaatannya trelalu berlebihan maka akn berakibat buruk pada sumber daya alam itu sendiri dan bertambahnya lahan lahan kritis trelantar semakin bertambah. Sebagai suatu ekosistem alami yang mudah dikenali, sistem DAS terdiri dari unsur bio-fisik yang bersifat alami dan unsur-unsur non-biofisik. Unsur biofisik terdiri dari, vegetasi, hewan, satwa liar, jasad renik, tanah, iklim dan air. Sedangkan unsur nonbiofisik adalah manusia dengan berbagai ragam persoalannya, latar belakang budaya, sosial ekonomi, sikap politik, kelembagaan serta tatanan masyarakat itu sendiri. Beberapa masalah dalam pengelolaan DAS : 1) Degradasi Degradasi adalah perubahan yang mengarah kepada kerusakan di muka bumi. Degradasi di sini artinya penurunan kualitas maupun perusakan lahan.Luas kawasan hutan pada tahun 2007 adalah sekitar 133,695 juta hektare (Badan Planologi Kehutanan, tahun 2007) dan jumlah penduduk Indonesia lebih dari 220 juta. Degradasi hutan dan lahan semakin meluas sebagai akibat penambahan jumlah penduduk yang memerlukan lahan untuk sandang, pangan, papan dan energi. Pengurangan areal hutan untuk pertanian dan konversi lahan pertanian untuk bangunan akan menurunkan resapan air hujan dan meningkatkan aliran air permukaan sehingga frekuensi bencana banjir dan tanah longsor

4

semakin tinggi. Degradasi hutan dan lahan terutama di hulu DAS harus bisa direhabilitasi dengan adanya pengelolaan DAS yang dilakukan secara terpadu oleh semua pihak yang ada pada DAS dengan memperhitungkan biofosik dan semua aspek sosial ekonomi. Degradasi hutan dan lahan selama kurun waktu 2000-2005 sangat memprihatinkan yaitu rata-rata 1,089 juta hektar per tahun Degradasi dapat terjadi secara alami maupun karena pengaruh aktifitas manusia dalam mengelola lingkungan alamnya, jika degradasi desebabkan oleh pengaruh alam maka alam tesebut memiliki kemampuan untuk mengonbatinya sendiri, sedangkan akibat perbuatan manusia perlu dilakukan pengelolaan lebih khusus. Bahaya degradasi lahan bagi lingkungan dapat dilihat dari 3 segi, yaitu pertama segi fisik terutama pada tanah permukaan (penimbunan air dan pengapungan) dan pada profil tanah (penurunan porositas dan permeabilitas). Kedua dari segi khemis, dapat dilihat dari menurunnya kadar unsur hara makro dan mikro bagi tanaman. Ketiga dari segi biologis, makin berkurangnya atau menurunnya jumlah mikro organisma di dalam tanah 2. Ketahanan Pangan, Energi dan Air Saat ini luas areal irigasi tanaman padi di Indonesia berjumlah ±7,2 juta hektar dan sebagian sebagian besar ada pada hilir DAS, banyak areal pertanian yang subur dikonversi menjadi bangunan atau yang mengurangi lahan pangan produktif dan menurunkan fingsi hidrologis DAS. Terjadiinya banjir akibat pengelolaan DAS yang tidak optimal akan menyebabkan daya tampung waduk irigasi berkurang karena sedimentasi, dan pada musim hujan cenderung banjir sehingga areal-areal irigasi pada hilir DAS akan tergenang yang pada gilirannya akan menurunkan produksi beras nasional. Disamping itu kekeringan pada misim kemarau menyebabkan areal irigasi yang dapat dialiri berkurang sehingga produksi padi berkurang. Dengan semakin mahalnya energi minyak bumi, maka diperlukan energi alternatif berupa energi yang bisa diperbaharui seprti kayu bakar, bio-diesel, pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya kegiatan ekonomi, maka kebutuhan air untuk berbagai kepentingan sepeti air baku, pertanian, perindustrian dan PLTA akan semakin besar. Karena itu pengelolaan DAS dimasa mendatang seharusnya bisa mendukung ketersediaan pangan, air dan energi alternatif tersebut baik melalui manajemen kawasan lindung maupun kawasan budidaya (Anonim3, 2010) Pengelolaan DAS merupakan suatu kegiatan investasi untuk dipanen hasilnya pada waktu kedepan dengan belum tentu investor tersebut mendapatkan keuntungan secara langsung terutama berupa jasa lingkungan karena banyak sumber daya didalam DAS merupakan barang milik (common goods dan public domain). Oleh karena itu kesadaran orang /stakeholders berpartisipasi dalam pengelolaan DAS terutama menghargai jasa lingkungan merupakan kunci keberhasilan DAS,sementara itu pemerintah (interdepartemental, pemerintah pusat, dan daerah) secara kolektif harus mampu memfasilitasinya (Anonim2, 2010). Sasaran wilayah pengelolaan DAS adalah wilayah DAS yang utuh sebagai satu kesatuan ekosistem yang membentang dari hulu hingga hilir. Penentuan sasaran wilayah DAS secara utuh ini dimaksudkan agar upaya pengelolaan sumberdaya alam dapat dilakukan secara menyeluruh dan terpadu berdasarkan satu kesatuan perencanaan yang telah mempertimbangkan keterkaitan antar komponen-komponen penyusun ekosistem DAS (biogeofisik dan sosekbud)

5

termasuk pengaturan kelembagaan dan kegiatan monitoring dan evaluasi. Kegiatan yang disebutkan terakhir berfungsi sebagai instrumen pengelolaan yang akan menentukan apakah kegiatan yang dilakukan telah/tidak mencapai sasaran. Ruang lingkup pengelolaan DAS secara umum meliputi perencanaan, pengorganisasian, implementasi/pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap upaya - upaya pokok berikut: a) Pengelolaan ruang melalui usaha pengaturan penggunaan lahan (landuse) dan konservasi tanah dalam arti yang luas. b) Pengelolaan sumberdaya air melalui konservasi, pengembangan, penggunaan dan pengendalian daya rusak air. c) Pengelolaan vegetasi yang meliputi pengelolaan hutan dan jenis vegetasi terestria l lainnya yang memiliki fungsi produksi dan perlindungan terhadap tanah dan air. d) Pembinaan kesadaran dan kemampuan manusia termasuk pengembangan kapasitas kelembagaan dalam pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana, sehingga ikut berperan dalam upaya pengelolaan DAS (Anonim4, 2010). Arahan Pengelolaan dan Pengembangan Sosekbud Perkembangan/pertumbuhan penduduk yang cukup pesat pada wilayah DAS akan berakibat kepada intensitas penggunaan lahan yang semakin tinggi dan kecenderungan meluasnya lahan untuk pemenuhan kebutuhan akan bahan pangan. Dengan demikian, pola penggunaan lahan akan cenderung lebih memperhatikan faktor peningkatan produksi pertanian dan kurang perhatian kepada faktor konservasi lahan. Apabila kondisi ini tidak segera ditangani, maka kegiatan yang dilakukan penduduk di wilayah DAS dalam mencari nafkah tersebut dapat merusak sumberdaya air dan tanah. Pemanfaatan lahan yang kurang bijaksana oleh masyarakat yang bermukim pada wilayah DAS akan menimbulkan berbagai gangguan ekosistem antara lain terganggunya tata air DAS yang mengakibatkan banjir dan erosi. Lebih lanjut, kondisi ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan, penurunan produktivitas dan produksi usahatani, serta kesejahteraan masyarakat yang bersangkutan. Untuk mencegah terjadinya gangguan tersebut di atas, maka perlu dilakukan pengelolaan DAS dengan melibatkan masyarakat yang bermukim pada DAS yang bersangkutan. Dengan pengelolaan DAS dimaksudkan agar terjadi keseimbangan antara sumberdaya alam dengan manusia dan segala aktivitasnya, sehingga diharapkan dapat terwujud kondisi tata air yang optimal, baik dari segi kualitas, kuantitas maupun distribusinya, serta terkendalinya erosi pada tingkat yang diperkenankan. Kegiatan-kegiatan yang merusak sumberdaya air dan tanah di wilayah DAS harus dihentikan, dan usaha-usaha perbaikannya harus segera dilaksanakan melalui Program Konservasi Tanah dan Air. Program ini akan berhasil apabila dilaksanakan bersamaan dengan program peningkatan produksi pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani. Namun demikian, pada individu-individu warga masyarakat tani yang diharapkan terlibat dalam Program Konservasi Tanah dan Air ini terdapat masalah-masalah sosial ekonomi yang dapat menghambat partisipasi mereka. Masalah-masalah ini umumnya bersumber pada keterbatasan pemilikan sumberdaya (modal, tenaga kerja, dan lahan), pengetahuan dan keterampilan, selain hambatan hambatan dari masyarakat sekitarnya yang bersumber pada norma dan tradisi. Program yang dapat dilakukan

6

dalam kegiatan konservasi tanah dan air dengan melibatkan masyarakat yang bermukim pada wilayah DAS antara lain melalui pembinaan terhadap masyarakat yang bersangkutan. Tingkat kekritisan DAS sangat berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi masyarakat petani di daerah tengah hingga hulu DAS terutama jika kawasan hutan dalam DAS tidak luas seperti DAS-DAS di pulau Jawa dan Bali. Tingkat kesadaran dan kemampuan ekonomi masyarakat petani yang rendah akan mendahulukan kebutuhan primer dan sekunder (sandang, pangan, dan papan) bukan kepedulian terhadap lingkungan sehingga sering terjadi perambahan hutan di daerah hulu DAS, penebangan liar dan praktik-praktik pertanian lahan kering di perbukitan yang akan meningkatkan kekritisan DAS. Faktor lain yang menyebabkan pengelolaan DAS belum berhasil dengan baik adalah kurangnya keterpaduan dalam perencanaan, pelaksanaan dengan pemantauan pengelolaan DAS termasuk dalam hal pembiayaannya. Hal ini karena banyaknya instansi yang terlibat dalam pengelolaan DAS seperti Departemen Kehutanan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pertanian, Departemen Dalam Negeri, Bakosurtanal dan Kementerian Lingkungan Hidup, perusahaan swasta dan masyarakat. Pengelolaan DAS melibatkan banyak pihak mulai unsur pemerintahan, swasta dan masyarakat. Ada indikasi bahwa kesadaran dan kemampuan para pihak dalam melestarikan ekosistem DAS masih rendah, misalya masih banyak lahan yang seharusnya berupa kawasan lindung atau resapan air masih digunakan untuk fungsi budidaya yang diolah secara intensif atau dibangun untuk pemukiman baik secara legal maupun illegal, sehingga meningkatkan resiko erosi, longsor dan banjir. Dalam aliran sungai sendiri sering dijumpai sampah dan limbah dari berbagai sumber yang menyebabkan pendangkalan, penyumbatan, dan pencemaran air sungai sehingga kualitas air dan palung sungai menjadi rusak yang pada akhirnya merugikan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Rendahnya kesadaran, kemampuan dan partisipasi para pihak dalam pengelolaan DAS menjadi tantangan bagi para pengelola DAS dan unsure lain yang terkait dengan pendidikan, pelatihan dan penyuluhan kepada masyarakat secara luas Selanjutnya untuk mendukung pelaksanaan program pengelolaan DAS perlu adanya Forum Pengelolaan DAS pada berbagai tingkat yaitu tingkat nasional, propinsi dan kabupaten/kota dan atau tingkat DAS sebagai forum konsultasi dan koordinasi informal antar para pihak terkait yang dapat memberikan masukan atau rekomendasi kepada pembuat keputusan di pemerintahan. Forum DAS bukan lembaga eksekutif pengelolaan DAS karena pelaksanaan pengelolaan DAS tetap dilakukan oleh lembaga atau instansi teknis kementerian dan satuan kerja pemerintah daerah (SKPD) sesuai kewenangannya masing-masing (Anonim2, 2010). METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengamati secara langsung daerah aliran sungai dan sekitarnya yang diteliti dengan melakukan pengukuran-pengukuran terhadap parameter fisik yang menyebabkan degradasi.

7

HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil analisis terhadap jurnal yang membahas mengenai pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Melawi terdapat beberapa masalah yang mempengaruhi kondisi DAS tersebut menjadi berubah atau terjadinya degradasi pada daerah aliran sungai. Beberapa faktor yang dapat menjadikan pemicu tingkat degradasi dari mulai yang sangat tinggi, tinggi hingga sangat rendah adalah kondisi lahan dan penggunaan lahan yang dipakai oleh manusia. Apabila lahan yang rusak akibat faktor alam maka alam akan dapat mengobati didrinya sendiri namun perlu waktu yang cukup lama untuk memulihkannya sehingga perlu dilakukan pengelolaan suatu lahan, apabila kerusakan terjadi akibat ulah manusia maka perlu penanganan khusus untuk memulihkannya dimana perlunya pengelolaan baik secara hukum melalui peraturan perundang undangan dan kesadaran sosial dari berbagai pihak. Menurut data yang diperoleh terdapat beberapa kondisi parameter fisik yang mempengaruhi degradasi suatu daerah aliran sungai yaitu : : (1) kehilangan tanah, (2) limpasan permukaan, (3) infiltrasi,(4) kesuburan tanah, (5) debit aliran sungai, dan (6) sedimentasi. Degradasi pada DAS akan bernilai besar apabila faktor kehilangan tanah, limpasan permukaan, debit aliran sungai dan sedimentasi sangat tinggi sedangkan kesuburan tanah sangat rendah. Atau kondisi salah satu kondisi parameter fisik berupa kehilangan tanah, limpasan permukaan, infiltrasi, kesuburan tanah, debit aliran sungai, dan sedimentasi ada pada suatu sub DAS karena jika salah satu faktor fisik tersebut terdapat dalam sub DAS maka secara otomatis kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan pasti terjadi. Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi adanya masalah dalam parameter fisik diantaranya yaitu karena faktor alam misalnya rendahnya kesuburan tanah, jenis tanah (dimana pengaruhnya terhadap limpasan, infiltrasi dan sedimentasi) , luasan sub DAS, debit aliran sungai, curah hujan, kemiringan lereng dan jenis tanaman. Sedangkan dari faktor manusia adalah karena adanya kebutuhan sandang, pangan dan papan dimana. Kebanyakan daerah aliran sungai yang memiliki tingkat degradasi sangat tinggi maupun tinggi selalu dipengaruhi oleh faktor pemukiman perdagangan, dan industri. Penggunaan lahan untuk pemukiman cenderung meningkat dari tahjun ke tahun sehingga debit puncak menyebabkan peningkatan aliran langsung, hal ini disebabkan penggunaan lahan tersebut menyebabkan bertambahnya presentase daerah kedap air.Apalagi daerah yang merupakan pusat kota yang pengaruhnya terhadap degradasi akan sangat cepat karena kurangnya kesadaran dan pngaturan terhadap konservasi lahan. Selain itu faktor kimia yang mencemari sub-sub DAS melawi ini adalah kegiatan penduduk yang mencari penghasilan dengan menambang emas di daerah hulu sehingga banyak merkuri yang terbawa aliran sungai dan hasil yang diteliti kebanyakan kadar merkuri memiliki nilai di luar ambang batas, hal ini disebabkan kurang atau bahkan tidak adanya aturan yang ketat untuk opersi limbah penambangan agar tidak terjadi pencemaran. Kegiatan penduduk lainnya adalah penggunaan lahan penggundulan hutan, penggunaan ladang, dan tegalan. Sub daerah aliran sungai yang memiliki nilai sangat rendah biasanya dipengaruhi oleh sub DAS yang kecil karena debit alirannya jug akecil sehingga proses sedimentasi dan kehilangan tanah cukup kecil dan berjalan lambat. Hal ini mengakibatkan kerusakan dan penurunan kualitas lingkunganpun kecil. persentase tingkat

8

degradasi dari 20 sub-DAS yang diteliti sub-DAS yang memiliki tingkat degradasi sangat rendah 25%, rendah 35%, sedang 10%, tinggi 15%, dan yang sangat tinggi sekitar 15 %. Pengelolaan yang dapat diterapkan terhadap kerusakn fisik ini dapat diterapkan dengan sistem pengelolaan Selain itu pelaksanaan pengelolaan DAS umumnya melalui tiga upaya pokok : ‡ Pengelolaan tanah melalui usaha konservasi tanah dalam arti luas; ‡ Pengelolaan sumber daya air melalui usaha perlindungan sumber daya air; ‡ Pengelolaan hutan, khususnya hutan lindung. Ditinjau dari pengelolaan kondisi fisik DAS terdapat 3 jenis pengelolaan, yaitu: ‡ Secara teknis, yaitu pengelolaan dengan teknik-teknik konservasi lahan ‡ Secara vegetatif, yaitu dengan penghutanan kembali lahan ‡ Secara kimiawi, yaitu dengan pemanfaatan zat-zat kimia untuk meningkatkan kualitas lahan Pengelolaan secara teknis dilakukan apabila degradasi yang terjadi dipengaruhi oleh kondisi fisik meliputi topografis maupun geologis yang memerlukan teknik-teknik pengelolaan lahan misalnya dengan wilayah Lereng yang curam sehingga apabila hujan turun maka kemampuan tanah untuk meloloskan air cukup tinggi dan berakibat mineral-mineral yang terdapat dipermukaan tanah terbawa oleh aliran air hujan ke bawah atau turun mengikuti aliran sungai yang berakibat sungai menjadi keruh. Hal ini dapat disiasati dengan teknik pembuatn terasering pada lereng tersebut agar mineral tetap tertahan pada bagian tanah sehingga kesuburan tanah pada lereng tetap terjaga dan memperkecil koefisien aliran permukaan. Pengelolaan secara vegetatif dilakukan apabila terjadi kerusakan terhadap vegetasi sekitar DAS, penyebaran vegetasi tidak merata sehingga terdapat kawasan hutan yang tidak memiliki penutupan vegetasi yang membutuhkan untuk dilkaukan rehabilitasi yaitu dengan langkah penghutanan atau penghijauan/reboisasi. Penghijauan merupakan salah satu tindakan dalam pengelolaan DAS sebagai sumber daya, penghijauan atau penanaman hutan di wilayah DAS yang memiliki tingkat kesuburan yang bagus merupakan langkah secara vegetatif untuk menghindari erosi atau proses sedimentasi pada lahan sehingga rasio kehilangan tanah akan semakin berkurang. Jika lahan yang dilewati air hujan dan sebagai tempat jatuhnya air hujan tertutup oleh tanaman maka potensi terjadinya pengikisan lapisan permukaan tan airah dapat dihindari selain itu juga fungsi tanaman dapat meningkatkan infiltrasi sehingga tanah dapat menyimpan cadangan air agar tidak terjadinya banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau. Reboisasi akan berhasil dengan baik apabila pemerintah dapat memberikan lapangan pekerjaan atau lahan usaha lain bagi perambah hutan, pemilihan jenis tanama dalam reboisasi akan berpengaruh pada ekonomi masyarakat apbila jenis tanaman yang ditanam sesuai dengan minat masyarakat. Pengelolaan secara kimiawi dilakukan apabila terjadi pencemar pencemar kimia yang terdapat dalam DAS. Jika pemasalah yang terjadi bernacam -macam jenisnya yaitu meliputi gabungan beberpa atau bahkan semua substansi permasalahan fisik yang sedang diamati m aka pengelolaan teknis, pengelolaan vegetatif dan pengelolaan secara kimia dapat digabungkan secara bersamaan. Pertambangan emas banyak tersebar, antara lain di Kalimantan, tercatat sekita r

9

65.000 penambang emas tradisional, yang menggunakan air-raksa sebagai pelebur butir emas. Sudah pasti banyak keluarga termasuk anak-anak; yang terancam kesehatan dan masa depan mereka, karena mengakumulasi senyawa beracun atau logam berat melalui makanan.

PENUTUP Kesimpulan Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah : 1. Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur utamanya terdiri dari sumber daya alam vegetasi, tanah dan air serta sumber daya manusia sebagai pelaku pemanfaat sumber daya alam . 2. Pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik antara sumber daya alam terutama vegetasi, tanah dan air dengan sumber daya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekonomi DAS. 3. Beberapa masalah dalam pengelolaan das : Degradasi; Ketahanan Pangan, Energi dan Air 4. Untuk mendukung pelaksanaan program pengelolaan DAS perlu adanya Forum Pengelolaan DAS pada berbagai tingkat. 5. Pengelolaan kondisi fisik DAS terdapat 3 pengelolaan yaitu : secara teknis, vegetatif, dan kimia. DAFTAR PUSTAKA Anonim1. 2009. Daerah Aliran Sungai. http://www.acehpedia.org/Daerah_Aliran_Sungai Diakses pada tanggal12 Maret 2010 Anonim2. 2010. Pengelolaan DAS. http://www.chem-is-try.org/kategori/artikel_kimia Diakses pada tanggal12 Maret 2010 Anonim3. 2010. Pengelolaan DAS. http://elank37.wordpress.com/2008/01/07/pengelolaan-das/ Diakses pada tanggal12 Maret 2010 Anonim4. 2010. Pencemaran air. http://id.wikipedia.org/wiki/Pencemaran_air Diakses pada tanggal12 Maret 2010

10

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful