Agustina Lili /XI IPS 3/26

Tajuk Rencana
Sumber Jawa Pos 1. Fakta • Paragraf 1, kalimat 2 dan 3 “Mau berobat ke Ponari, pelajar 3 SD di Jombang, malah tewas. Jumlahnya empat orang.” • Paragraf 3, kalimat 3 “Juga diyakini banyak orang praktik dimaksudkan bisa menyembuhkan segala penyakit atau penderitaan lahir batin apa pun, mulai fisik, jiwa, sampai perbaikan nasib.” • Paragraf 8, kalimat 1 dan 3 “Bahwa, misalnya di era serbadigital elektronik ini hampir semua penyakit bisa dijelaskan melalui nalar dan logika medis. Bahwa, untuk menyembuhkan penyakit haruslah ke dokter atau ke rumah sakit.” • Paragraf 9 “Misalnya, mereka bilang ‘Kata dokter tidak ada penyakitnya. Padahal, keluhan penderitaan fisik tidak sembuh-sembuh.’ Maka upaya memperoleh kesembuhan dilakukan dengan mencari informasi dari mulut ke mulut tentang praktik pengobatan yang dilakukan Ponari.” Opini • Paragraf 1, kalimat 1 “Ini tragis” • Paragraf 2 “Mengapa? Karena sifat dan kondisi peristiwanya patut disesalkan semua orang yang waras. Mau berobat ke praktik ‘pengobatan’ irasional-dalam contoh yang dilakukan Ponari tidak pula bisa dikatakan pengobatan tradisional atau alternatif karena tidak ada ramuan bahan-bahan tradisional apa pun-justru nyawa melayang” • Paragraf 3 “Ponari mungkin hanya salah satu dari sekian banyak praktik irasional yang menjajikan penyembuhan terhadap semua penyakit. Sebab, di tempat lain dengan cara yang berbedabeda sudah banyak praktik yang kurang lebih serupa.” • Paragraf 4

” • Paragraf 7 “Komunitas kedokteran dan para insan kalangan terdidik di dunia kesehatan patut pula digugat. Permasalahan di dalam tajuk rencana ini adalah Tewasnya pasien yang ingin berobat ke Ponari.” • Paragraf 10 “Masyarakat pencari kesembuhan penderitaan fisik seperti ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan.’ Dari yang alternatif. merata. Bukankah mereka harus berikhtiar untuk sembuha dan sehat kembali? “ .” • Paragraf 8. tidak semua orang mampu ‘membelinya’” • Paragraf 6 “Ketidaketerjangkaun atau kemerataan pelayanan kesehatan modern lantas mendorong penderita yang tidak mampu mencari pengobatan ‘lain-lain. begitu penjelasan itu terjelentrehkan. Hanya. sampai cara-cara ‘penyembuhan’ (yang diyakini mujarab) seperti yang dilakukan Ponari. Bukankah mereka harus berikhtiar untuk sembuha dan sehat kembali? “ • Paragraf 11 “Karena itu kelompok masyarakat terdidik kesehatan yang ‘waras’-lah yang secara moral perlu turut bertanggung jawab” 2.Pendapat dari penulis terdapat di paragraph 10 dan juga 11 “Masyarakat pencari kesembuhan penderitaan fisik seperti ini tidak sepenuhnya bisa disalahkan. tradisioanal. serta terjangakau semua orang. untuk mendapatkan layanan penyembuhan melalui praktik medis dan pengobatn modern. 3. kalimat 3 “ Karena kebelumberhasilan kampanye pendidikan kesehatan modern itu di satu pihak dan di pihak lain jasa pengobatan modern belum terjangkau kalangan tidak mampu. Mengapa? Karena mereka sampai sekarang kurang memiliki program masal tentang pendidikan kesehatan modern. supernatural.Agustina Lili /XI IPS 3/26 “Masalahnya ialah kian banyak praktik serupa Ponari makin telanjang pula penjelasan tentang kebelumberhasilan pemerintah memberikan layanan kesehatan modern bermutu yang terjangkau semua lapisan masyarakat” • Paragraf 5 “Saat ini hampir tidak ada satu pun penyakit atau penderitaan fisik seseorang yang tidak bisa dijelaskan melaliu nalar medis dan logika kedokteran. lantas para penderita penyakit tertentu membuat kesimpulan tersendiri. Dukun cilik di Jombang. Tentu tidak adil jika penjelasan pada peristiwa peristiwa tewasnya empat orang yang ingin mendapatkan ‘penyembuhan’ ala Ponari karena faktor kegagalan pemerintah memberikan pelayanan kesehatan murah yang masal. Dan juga tentang pemerintah dan lembaga kesehatan yang belum bisa menyelenggarakan kesehatan bagi masyarakat dari segala lapisan.

Agustina Lili /XI IPS 3/26 “Karena itu kelompok masyarakat terdidik kesehatan yang ‘waras’-lah yang secara moral perlu turut bertanggung jawab” .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful