1.

Aisyiyah

adalah sebuah gerakan perempuan Muhammadiyah yang lahir hampir bersamaan dengan lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia ini. Dalam kiprahnya hampir satu abad di Indonesia, saat ini ‘Aisyiyah telah memiliki 33 Pimpinan Wilayah “Aisyiyah (setingkat Propinsi), 370 Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (setingkat kabupaten), 2332 Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (setingkat Kecamatan) dan 6924 Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (setingkat Kelurahan). Selain itu, ‘Aisyiyah juga memiliki amal usaha yang bergerak diberbagai bidang yaitu : pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Amal Usaha dibidang pendidikan saat ini berjumlah 4560 yang terdiri dari Kelompok Bermain, Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, Tempat Penitipan Anak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, dan lain-lain. Sedangkan amal usaha di bidang Kesehatan yang terdiri dari Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Badan Kesehatan Ibu dan Anak, Balai Pengobatan dan Posyandu berjumlah hingga 280 yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Sebagai gerakan yang peduli dengan kesejahteraan sosial kemasyarakatan, ‘Aisyiyah hingga kini juga memiliki sekitar 459 amal usaha yang bergerak di bidang ini meliputi : Rumah Singgah Anak Jalanan, Panti Asuhan, Dana Santunan Sosial, Tim Pengrukti Jenazah dan Posyandu. ‘Aisyiyah menyadari, bahwa harkat martabat perempuan Indonesia tidak akan meningkat tanpa peningkatan kemampuan ekonomi di lingkungan perempuan. Oleh sebab itu, berbagai amal usaha yang bergerak di bidang pemberdayaan ekonomi ini diantaranya koperasi, Baitul Maal wa Tamwil, Toko/kios, BU EKA, Simpan Pinjam, home industri, kursus ketrampilan dan arisan. Jumlah amal usaha tersebut hingga 503 buah. Aisyiyah sebagai organisasi perempuan keagamaan terbesar di Indonesia juga memiliki beragam kegiatan berbasis pemberdayaan masyarakat khususnya penyadaran terhadap kehidupan bermasyarakat muslim Indonesia. Hingga saat ini kegiatan yang mencakup pengajian, Qoryah Thayyibah, Kelompok Bimbingan Haji (KBIH), badan zakat infaq dan shodaqoh serta musholla berjumlah 3785.

dan paruh kedua dekade itu setiap cabang memiliki bagian Pemuda Muhammadiyah. suatu gerakan yang sejak awal diharapkan KH. Selanjutnya dengan persetujuan Majelis Tanwir. Pada 1937. dilaksanakan konferensi Pemuda Muhammadiyah di berbagai daerah. Ahmad Dahlan dapat melakukan kegiatan pembinaan terhadap remaja/pemuda Islam. yang merupakan bagian dari organisasi dalam Muhammadiyah yang secara khusus mengasuh dan mendidik para pemuda keluarga Muhammadiyah. Dengan demikian pembinaan Pemuda Muhammadiyah menjadi tanggung jawab pimpinan Muhammadiyah di masing-masing level. Cabang-cabang dan ranting mengadakan HW yang menjadi wadah pembinaan anak-anak muda Muhammadiyah. Misalnya. Pertumbuhan Pemuda Muhammadiyah pada dekade 1930-an tergolong dinamis. Usaha-usaha pendirian HW dilakukan oleh cabang dan ranting sejak awal pertumbuhan Muhammadiyah. Keputusan Muhammadiyah tersebut mendapat sambutan luar biasa dari kalangan pemuda keluarga Muhammadiyah. di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah tanggung jawab mengasuh. sehingga dalam waktu relatif singkat Muhammadiyah Bagian Pemuda telah terbentuk di hampir semua ranting dan cabang Muhammadiyah. Akhirnya pada 26 Dzulhijjah 1350 H bertepatan dengan 2 Mei 1932 secara resmi Pemuda Muhammadiyah berdiri sebagai ortom. Dinamika Gerakan Kendati secara resmi baru berdiri pada 2 Mei 1932.Awal berdirinya Pemuda Muhammadiyah secara kronologis dapat dikaitkan denga keberadaan Siswo Proyo Priyo (SPP). . mendidik dan membimbing Pemuda Muhammadiyah diserahkan kepada Majelis Pemuda. Di daerah-daerah di Jawa Timur. hingga pada Konggres Muhammadiyah ke-21 di Makasar pada tahun 1932 diputuskan berdirinya Muhammadiyah Bagian Pemuda. yaitu lembaga yang menjadi kepanjangan tangan dan pembantu Pimpinan Pusat yang memimpin gerakan pemuda. Dalam perkembangannya SPP mengalami kemajuan yang pesat. Pemuda Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari pertumbuhan awal Muhammadiyah. Muhammadiyah Bagian Pemuda dijadikan suatu ortom yang mempunyai kewenangan mengurusi rumah tangga organisasinya sendiri. Terbukti dengan pelaksanaan konferensi-konferensi daerah yang diikuti oleh pimpinan Pemuda Muhammadiyah cabang dan ranting. berdirinya Muhammadiyah sering didahului oleh kegiatan-kegiatan yang dipelopori oleh kalangan pemuda. cabang dan ranting mengadakan kegiatan-kegiatan di bidang kepemudaan dan kepanduan. Pada awal pertumbuhan Muhammadiyah di berbagai daerah.

upaya ini mendapat tantangan dari Muhammadiyah. termasuk Muhammadiyah. proses sejarah organisasi ini memang tidak sederhana. Pada tahun 1954. berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan . namun akhirnya dibubarkan oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. Setelah tahun 1947. berdirinya kantong-kantong pelajar Muhammadiyah untuk beraktivitas mulai mendapatkan resistensi dari berbagai pihak.2. Namun. Pada tahun 1919 didirikan Siswo Projo yang merupakan organisasi persatuan pelajar Muham-madiyah di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta. sebenarnya upaya para pelajar Muhammadiyah untuk mendirikan organisasi pelajar Muhammadiyah sudah dimulai jauh sebelum Ikatan Pelajar Muhammadiyah berdiri pada tahun 1961. Pada tahun 1926. yang juga mendapatkan resistensi dari Muhammadiyah sendiri. Jika dilacak jauh ke belakang. bahkan para aktifisnya diancam akan dikeluarkan dari sekolah Muhammadiyah bila tetap akan meneruskan rencananya. Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) Merupakan metamorfosis dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang berdiri tahun 1961. Jika merentang sejarah yang lebih luas. Selanjutnya pada tahun 1956 GKPM kembali didirikan di Yogyakarta. Akan tetapi. Selanjutnya pada tahun 1933 berdiri Hizbul Wathan yang di dalamnya berkumpul pelajar-pelajar Muhammadiyah. Latar belakang berdirinya IPM tidak terlepas kaitannya dengan latar belakang berdirinya Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi mungkar yang ingin melakukan pemurnian terhadap pengamalan ajaran Islam. Resistensi dari berbagai pihak. di Malang dan Surakarta berdiri GKPM (Gabungan Keluarga Pelajar Muham-madiyah). sekaligus sebagai salah satu konsekuensi dari banyaknya sekolah yang merupakan amal usaha Muhammadiyah untuk membina dan mendidik kader. terhadap upaya mendirikan wadah atau organisasi bagi pelajar Muhammadiyah sebenarnya merupakan refleksi sejarah dan politik di Indonesia yang terjadi pada awal gagasan ini digulirkan. Pada tahun 1950. Oleh karena itulah dirasakan perlu hadirnya Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai organisasi para pelajar yang terpanggil kepada misi Muhammadiyah dan ingin tampil sebagai pelopor. di Sulawesi (di daerah Wajo) didirikan Ikatan Pelajar Muhammadiyah. termasuk dari Muhammadiyah sendiri. Interpretasi sejarah bisa jadi berbeda-beda dalam memandang perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Remaja Muham-madiyah. pada tahun 1956 didirikan Uni SMA Muhammadiyah yang kemudian merencanakan akan mengadakan musyawarah se-Jawa Tengah. tetapi dibubarkan juga oleh Muhammadiyah (yaitu Majelis Pendidikan dan Pengajaran Muhammadiyah). pelangsung penyempurna perjuangan Muhammadiyah. di Yogyakarta berdiri GKPM yang berumur 2 bulan karena dibubarkan oleh Muhammadiyah. Pada tahun 1957 juga berdiri IPSM (Ikatan Pelajar Sekolah Muhammadiyah) di Surakarta. Setelah GKPM dibubarkan.

Ketika Partai Islam MASYUMI berdiri. yaitu Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). bahwa ummat Islam bersatu dalam satu partai Islam. satu gerakan pelajar Islam. Kesepakatan bulat organisasi-organisasi Islam ini tidak dapat bertahan lama. organisasi-organisasi Islam di Indonesia merapatkan sebuah barisan dengan membuat sebuah deklarasi (yang kemudian terkenal dengan Deklarasi Panca Cita) yang berisikan tentang satu kesatuan ummat Islam. satu gerakan pemuda Islam. karena pada tahun 1948 PSII keluar dari Masyumi yang kemudian diikuti oleh NU pada tahun 1952. Dengan kegigihan dan kemantapan para aktifis pelajar Muhammadiyah pada waktu itu untuk membentuk organisasi kader Muhammadiyah di kalangan pelajar akhirnya mulai mendapat titik-titik terang dan mulai menunjukan keberhasilanya. yaitu Pandu Islam (PI). Muktamar Pemuda Muhammadiyah mengama-natkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk menyusun konsepsi Ikatan Pelajar Muham-madiyah (IPM) dari pembahasan-pembahasan muktamar tersebut. dan untuk segera dilaksanakan setelah mencapai kesepakatan pendapat dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran. . Pembicaraan-pembicaraan mengenai perlunya berdiri organisai pelajar Muhammadiyah banyak dilakukan oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muham-madiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.sebuah background politik ummat Islam secara keseluruhan. intensif. Mulai saat itulah upaya pendirian organisasi pelajar Muhammdiyah dilakukan dengan serius. dan satu Kepanduan Islam. seperti Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul ‘Aisyiyah. Sedangkan Muhammadiyah tetap bertahan di dalam Masyumi sampai Masyumi membubarkan diri pada tahun 1959. dan sistematis. satu gerakan mahasiswa Islam. yaitu Masyumi. yaitu Pelajar Islam Indonesia (PII). Keputusan tersebut di antaranya ialah sebagai berikut : 1. Muktamar Pemuda Muhammadiyah meminta kepa-da Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendi-dikan dan Pengajaran supaya memberi kesem-patan dan memnyerahkan kompetensi pemben-tukan IPM kepada PP Pemuda Muhammadiyah. Dengan keputusan konferensi Pemuda Muham-madiyah di Garut tersebut akhirnya diperkuat pada Muktamar Pemuda Muhammadiyah ke II yang berlangsung pada tanggal 24-28 Juli 1960 di Yogyakarta. Bertahannya Muhammadiyah dalam Masyumi akhirnya menjadi mainstream yang kuat bahwa deklarasi Panca Cita hendaknya ditegakkan demi kesatuan ummat Islam Indonesia. resistensi dari Muhammadiyah terhadap gagasan IPM juga disebabkan adanya anggapan yang merasa cukup dengan adanya kantong-kantong angkatan muda Muhammadiyah. 2. yaitu dengan memutuskan untuk membentuk Ikatan Pelajar Muhammadiyah (Keputusan II/No. yang cukup bisa mengakomodasikan kepentingan para pelajar Muhammadiyah. yaitu ketika pada tahun 1958 Konferensi Pemuda Muhammadiyah Daerah di Garut berusaha melindungi aktifitas para pelajar Muhammadiyah di bawah pengawasan Pemuda Muham-madiyah. 4). Di samping itu.

secara resmi perubahan IPM menjadi IRM adalah sejak tanggal 18 Nopember 1992. agar IPM melakukan penye-suaian dengan kebijakan pemerintah. Pimpinan IPM (tingkat ranting) didirikan di setiap sekolah Muhammadiyah. anak jalanan. Bahkan pada Konferensi Pimpinan Wilayah IPM tahun 1992 di Yogyakarta. Keputusan pergantian nama ini tertuang dalam Surat Keputusan Pimpinan Pusat IPM Nomor VI/PP. Bahkan ada yang mengang-gap bahwa IPM tidak memiliki jiwa heroisme sebagai-mana yang dimiliki oleh PII yang tetap tidak mau menga-kui Pancasila sebagai satu-satunya asas organisasinya. Dalam situasi kontra-produktif tersebut. tetapi juga basis remaja yang lain. karena perubahannya mengandung unsur-unsur kooptasi dari pemerintah. Kesepakatan tersebut dicapai pada tanggal 15 Juni 1961 yang ditandatangani bersama antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran. seperti santri. Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu (Akbar Tanjung) secara khusus dan implisit menyampaikan kebijakan pemerintah kepada IPM. Berdirinya Pimpinan IPM di sekolah-sekolah Muhammadiyah ini akhirnya menimbulkan kontradiksi dengan kebijakan pemerintah Orde Baru dalam UU Keormasan. dan secara nasional melalui forum tersebut IPM dapat berdiri. Perubahan ini bisa jadi merupakan sebuah peristiwa yang tragis dalam sejarah organisasi. Rencana pendirian IPM tersebut dimatangkan lagi dalam Konferensi Pemuda Muhammadiyah di Surakarta tanggal 18-20 Juli 1961. Namun sesungguhnya perubahan nama tersebut merupakan blessing in disguise (rahmat tersembunyi). Sementara di sekolah-sekolah Muhammadiyah juga terdapat organisasi pelajar Muhammadiyah. .B/1. Dengan demikian. Tanggal 18 Juli 1961 ditetapkan sebagai hari kelahiran Ikatan Pelajar Muhammadiyah.Kata sepakat akhirnya dapat tercapai antara Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Majelis Pendidikan dan Pengajaran tentang organisasi pelajar Muhammadiyah.IPM/1992. yaitu IPM. akhirnya Pimpinan Pusat IPM membentuk team eksistensi yang bertugas secara khusus menyelesaikan permasalahan ini. Setelah dilakukan pengkajian yang intensif. ada dualisme organisasi pelajar di sekolah-sekolah Muhammadiyah. yang selanjutnya disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 18 Nopember 1992 melalui Surat Keputusan Pimpinan Pusat Muham-madiyah Nomor 53/SK-PP/IV. bahwa satu-satunya organisasi siswa di sekolah-sekolah yang ada di Indonesia hanyalah Organisasi Siswa IntraSekolah (OSIS). team eksistensi ini merekomendasikan perubahan nama dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke Ikatan Rema ja Muhammadiyah. Perkembangan IPM akhirnya bisa memperluas jaringan sehingga bisa menjangkau seluruh sekolah-sekolah Muhammadiyah yang ada di Indonesia. Dengan demikian. dan lain-lain.b/1992 tentang pergantian nama Ikatan Pelajar Muhammadiyah menjadi Ikatan Remaja Muhammadiyah. Perubahan nama dari IPM ke IRM sebenarnya semakin memperluas jaringan dan jangkauan organisasi ini yang tidak hanya menjangkau pelajar.

Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil. dan kemiskinan 7. Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah. Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus. Keinginan tersebut sangat logis dan realistis. yang berpesan bahwa "dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter. Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid'ah. Di samping itu. dan politik yang semakin memburuk Dengan latar belakang tersebut. Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah. Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah. kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM. Melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak. Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. serta adanya ancaman komunisme di Indonesia 2. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. bahkan ke-syirik-an. 1990: 102) : 1. serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler 6. sosial. . Di samping itu. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni.3. sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keha-rusan sejarah. kebodohan. karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya. khurafat. dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme 5. Dahlan. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan. Pada saat itu. serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi 8. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah. serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk 3. Kehidupan ekonomi. pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal. Hisyam (periode 1934-1937). Terbingkai-bingkainya kehidupan kampus (mahasiswa) yang berorientasi pada kepentingan politik praktis 4. dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. KHA. Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan.

Dengan demikian. lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Di samping itu. Maret II 1988. Abdul Kahar Mudzakir . Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang. baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain. maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah. Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung cukup sengit. sehingga gagasan untuk dapat secara langsung membina dan menghimpun para mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah tidak berhasil. terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah. Dengan demikian. Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama. gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. keinginan tersebut belum bisa diwujudkan. Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi pendirian HMI. Setidaknya. kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.meester. nomor 6 tahun ke-68. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-31 pada tahun 1950 di Yogyakarta. Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah. Dengan demikian. pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi'atul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri. Namun karena berbagai macam hal. Namun demikian. halaman 19). tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah" (Suara Muhammadiyah. dihembuskan kembali keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah. gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan. keinginan untuk membentuk wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah juga masih jauh dari kenyataan. insinyur. Dia bertukar pikiran dengan Prof. resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

. karena sebagian pimpinan (baik di Muhammadiyah. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan. tetapi juga dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas non-Muhammadiyah. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM.. maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM. serta amal-amal usaha Muhammadiyah) adalah kader-kader yang dibesarkan di HMI." Baru pada tahun 1961 (menjelang Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad di Jakarta) diseleng-garakan Kongres Mahasiswa Universitas Muham-madiyah di Yogyakarta (saat itu. menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah. karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi'atul Aisyiyah. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni. Nasyi'atul Aisyiyah. yang berarti bahwa Muhammadiyah tidak harus mengakui bahwa satu-satunya organisasi mahasiswa Islam di Indonesia adalah HMI). dikukuhkan dengan melepas-kan diri dari komitmen politik dengan Masyumi. Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM. Pemuda Muhammadiyah. Hal ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Keinginan kuat tersebut tercermin dari tindakan para tokoh Pemuda Muhammadiyah untuk melepaskan Departemen Kemahasiswaan di lingkungan Pemuda Muhammadiyah .. dan beliau setuju. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah. 1990: 94). pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). 1959. Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma'ruf nahi munkar (tiga tahun sesudahnya. Ketiga. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM.. maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan melalui HMI (Farid Fathoni. Pada saat itulah. perguruan tinggi Muham-madiyah telah banyak didirikan.(tokoh Muhammadiyah). Keempat. baik secara pribadi maupun kelembagaan. serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Keinginan tersebut ternyata tidak hanya dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah. Pertama. 1990: 98). Pengaruh hubungan dekat tersebut sangat besar bagi kelahiran IMM. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi'atul Aisyiyah. keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang ". Bila asumsi itu benar adanya. Perdebatan seputar kelahiran IMM tersebut cukup beralasan. Kedua. Muhammadiyah sudah mempunyai perguruan tinggi Muhammadiyah sebelas buah yang tersebar di berbagai kota). gagasan untuk mendirikan IMM digulirkan sekuat-kuatnya.

Drs.untuk berdiri sendiri. peraturan. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam 3. Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah 4. Rosyad Saleh (IAIN. Resepsi peresmian IMM dilaksanakan di Gedung Dinoto Yogyakarta dengan penandatanganan ‘Enam Pene-gasan IMM' oleh KHA. 1990: 102). sedang-kan ide pembentukannya dari Djazman al-Kindi (UGM. undang-undang.). Tahun 1963 dilakukan penjajagan untuk mendirikan wadah mahasiswa Muhammadiyah secara resmi oleh Lembaga Dakwah Muhammadiyah dengan disponsori oleh Djasman al-Kindi yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah.). Lembaga Dakwah Muhammadiyah (yang banyak dimotori oleh para mahasiswa Yogyakarta) inilah yang menjadi embrio lahirnya IMM dengan terbentuknya IMM Lokal Yogyakarta. Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah 6. Badawi. Sebagai upaya menopang. melangsungkan. lahirlah Lembaga Dakwah Muhammadiyah yang dikoordinasikan oleh Margono (UGM. Sudibyo Markus (UGM. serta dasar dan falsafah negara 5. Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam 2. Pimpinan Pusat Muhammadiyah meresmikan berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tanggal 29 Syawal 1384 Hijriyah atau 14 Maret 1964 Miladiyah. Badawi. yaitu : 1. Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta'ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat Tujuan akhir kehadiran Ikatan Mahasiswa Muham-madiyah untuk pertama kalinya ialah membentuk akademisi Islam dalam rangka melaksanakan tujuan Muhammadiyah. Menegaskan bahwa IMM adalah organisasi maha-siswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum. Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa 2.). sehingga seringkali IMM pada awal kelahirannya disebut sebagai Kelompok Pengajian Mahasiswa Yogya (Farid Fathoni. dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah . Sedangkan aktifitas IMM pada awal kehadirannya yang paling menonjol ialah kegiatan keagamaan dan pengkaderan. Tiga bulan setelah penjajagan tersebut. Ir.). Penandatanganan Piagam Pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dilakukan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu. Adapun maksud didirikannya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah antara lain adalah sebagai berikut : 1. yaitu KHA. Menegaskan bahwa Kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangan IMM 3. Oleh karena itu. dr. Dengan demikian. Drs.

Dengan demikian. Jember. Musyawarah Nasional tersebut bertujuan untuk mempersiapkan kemungkinan diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah pada bulan April atau Mei 1965.4. rancangan kerja. Atas prakarsa Pimpinan IMM Yogyakarta. dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah 5. mengingat semakin besarnya arus perkembangan IMM di hampir seluruh kota-kota universitas. Sebagai pelopor. Musyawarah Nasional Pendahuluan tersebut menyepakati penunjukan Pimpinan IMM Yogyakarta sebagai Dewan Pimpinan Pusat Sementara IMM (dengan Djazman al-Kindi sebagai Ketua dan Rosyad Saleh sebagai Sekretaris) sampai diselenggarakannya Musyawarah Nasional Pertama di Solo. termasuk lambang IMM. dan persyarikatan Dengan berdirinya IMM Lokal Yogyakarta. seperti Bandung. Dalam Musyawarah Pendahuluan tersebut juga disahkan asas IMM yang tersusun dalam ‘Enam Penegasan IMM'. Medan. Banjarmasin. dan memadukan iman dan ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa. Jakarta. serta berbagai konsep lainnya. maka dipandang perlu untuk meningkatkan IMM dari organisasi di tingkat lokal menjadi organisasi yang berskala nasional dan mempunyai struktur vertikal. . dan lain-lain. maka bersamaan dengan Musyawarah IMM se-Daerah Yogyakarta pada tanggal 11 . maka berdiri pulalah IMM lokal di beberapa kota lain di Indonesia. Surakarta. dan lain-lain. Gerak Arah IMM. Membina. pelangsung. ummat. Padang. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga IMM. Tuban. Sukabumi. bentuk kegiatan.13 Desember 1964 diselenggarakan Musyawarah Nasional Pendahuluan IMM seluruh Indonesia yang dihadiri oleh hampir seluruh Pimpinan IMM Lokal dari berbagai kota. meningkatkan.

seorang kepala guru agama di Standart School Muhammadiyah. Karangkajen. Bausasran. Tujuan dibentuknya Siswa Praja adalah menanamkan rasa persatuan. Muhammadiyah dalam membangun ummat memerlukan kader-kader yang tangguh yang akan meneruskan estafet perjuangan dari para pendahulu di lingkungan Muhammadiyah. Perkumpulan tersebut diberi nama Siswa Praja (SP). Dalam usahanya untuk memajukan Muhammadiyah. dan memperdalam agama. Jam'iatul Athfal dilaksanakan seminggu dua kali untuk anak-anak yang berumut 7-10 tahun. Hadirnya SP Wanita sangat dirasakan manfaatnya. Kultur patriarkhis saat itu benarbenar mendomestifikasi wanita dalam kegiatan-kegiatan rumah tangga. jama'ah subuh. diadakan pemisahan antara anggota laki-laki dan perempuan dalam SP. Dirasatul Bannat diselenggarakan dalam bentuk pengajian sesudah Maghrib bagi anak-anak kecil. Kegiatan SP Wanita merupakan terobosan yang inovatif dalam melakukan emansipasi wanita di tengah kultur masyarakat feodal saat itu. Dengan bantuan Hadjid. SP mempunyai ranting-ranting di sekolah Muhammadiyah yang ada. berpidato. maka pada tahun 1919 Somodirdjo berhasil mendirikan perkumpulan yang anggotanya terdiri dari para remaja putra-putri siswa Standart School Muhammadiyah. Gagasan mendirikan NA sebenarnya bermula dari ide Somodirdjo. Para orang tua seringkali melarang anak perempuannya keluar rumah untuk aktifitas-aktifitas yang emansipatif. dan diwadahi dalam kegiatan bersama. membunyikan kentongan untuk membangunkan umat Islam Kauman agar menjalankan kewajibannya yaitu shalat shubuh. Seminggu sekali anggota SP Pusat memberi tuntunan ke ranting-ranting. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya mulai segmented dan terklasifikasi dengan baik. Sementara itu juga diselenggarakan tamasya ke luar kota setiap satu bulan sekali. Perkembangan SP cukup pesat. intelektual. karena SP . seorang guru Standart School Muhammadiyah. Setelah lima bulan berjalan. memperbaiki akhlak. Kegiatan Thalabus Sa'adah diselenggerakan untuk anak-anak di atas umur 15 tahun.4 . Kegiatan SP Wanita adalah pengajian. yaitu di Suronatan. Nasyi'atul Aisyiyah (NA) Berdirinya Nasyi'atul Aisyiyah (NA) juga tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan rentang sejarah Muhammadiyah sendiri yang sangat memperhatikan keberlangsungan kader penerus perjuangan. Pada awalnya. kultur patriarkhis dan feodal tersebut bisa didobrak. ia menekankan bahwa perjuangan Muhammadiyah akan sangat terdorong dengan adanya peningkatan mutu ilmu pengetahuan yang diajarkan kepada para muridnya. Kegiatan SP Wanita dipusatkan di rumah Haji Irsyad (sekarang Musholla Aisyiyah Kauman). mengadakan peringatan hari-hari besar Islam. Gagasan Somodirdjo ini digulirkan dalam bentuk menambah pelajaran praktek kepada para muridnya. Namun dengan munculnya SP Wanita. dan Kotagede. maupun jasmaninya. baik dalam bidang spiritual. Aktivitas Tajmilul Akhlak diadakan untuk anak-anak berumur 10-15 tahun. dan kegiatan keputrian.

Pada tahun 1931 dalam Konggres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta diputuskan semua nama gerakan dalam Muhammadiyah harus memakai bahasa Arab atau bahasa Indonesia. Dengan demikian. Pada tahun 1926. maka nama Siswa Praja Wanita diganti menjadi Nasyi'atul Aisyiyah (NA) yang masih di bawah koordinasi Aisyiyah. Konggres Muhammadiyah yang ke-18 memutuskan bahwa semua cabang Muhammadiyah diharuskan mendirikan SP Wanita dengan sebutan Aisyiyah Urusan Siswa Praja. karena cabang-cabang Muham-madiyah di luar Jawa sudah banyak yang didirikan (saat itu Muhammadiyah telah mempunyai cabang kurang lebih 400 buah). Dengan adanya keputusan itu. Pada Konggres Muhammadiyah ke-26 tahun 1938 di Yogyakarta diputuskan bahwa Simbol Padi menjadi simbol NA. tahun 1950. minat. Organisasi NA mengalami kemacetan. Mereka menga-dakan shalat Jum'at bersama-sama. Tahun 1935 NA melaksanakan kegiatan yang semakin agresif menurut ukuran saat itu. yaitu pada tahun 1924. Perkembangan selanjutnya. Muktamar tersebut memutuskan bahwa Aisyiyah ditingkatkan menjadi otonom. percaturan politik dunia yang mempengaruhi Indonesia membawa akibat yang besar atas kehidupan masyarakat. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan aktifitas yang tidak wajar dilaksanakan oleh wanita pada saat itu. SP Wanita juga menerbitkan buku nyanyian berbahasa Jawa dengan nama Pujian Siswa Praja. hal ini berarti NA berhak mengadakan konferensi tersendiri. yang sekaligus juga menetapkan nyanyian Simbol Padi sebagai Mars NA. Perkembangan NA semakin pesat pada tahun 1939 dengan diseleng-garakannya Taman Aisyiyah yang mengakomodasikan potensi. Selain itu. dan kursus administrasi. dan bakat putri-putri NA untuk dikem-bangkan. Pada tahun 1929. Pada masa sekitar revolusi. NA hampir tidak terdengar lagi perannya di tengah-tengah masyarakat. SP Wanita telah mampu mendirikan Bustanul Athfal. Muhammadiyah mengadakan Muktamar untuk mendinamisasikan gerak dan langkahnya. Pelajaran pokok yang diberikan adalah dasardasar keislaman pada anak-anak. Pada Muktamar Muhammadiyah di Palembang tahun 1957. Pada tahun 1923. kegiatan SP Wanita sudah menjangkau cabang-cabang di luar Yogyakarta. mengadakan tabligh ke berbagai daerah.Wanita membekali wanita dan putri-putri Muhammadiyah dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan. dari Muktamar Aisyiyah disampaikan sebuah prasaran untuk mengaktifkan anggota NA yang pokok isinya . yakni suatu gerakan untuk membina anak laki-laki dan perempuan yang berumur 4-5 tahun. NA dijadikan bagian yang diistimewakan dalam Aisyiyah. SP Wanita mulai diintegrasikan menjadi urusan Aisyiyah. Taman Aisyiyah juga menghimpun lagu-lagu yang dikarang oleh komponis-komponis Muhammadiyah dan dibukukan dengan diberi nama Kumandang Nasyi'ah. Baru setelah situasi mengijinkan. sehingga terbentuk Pimpinan Aisyiyah seksi NA di seluruh level pimpinan Aisyiyah.

NA yang saat itu diketuai oleh Siti Karimah mulai mengadakan persiapan-persiapan untuk mengadakan musyawarahnya yang pertama di Bandung. Di bawah kepemimpinan Majelis Bimbingan Pemuda. Dengan didahului mengadakan konferensi di Solo. Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh NA dengan menghasilkan rencana kerja yang tersistematis sebagai sebuah organisasi. NA diberi kesempatan untuk mengadakan musyawarah tersendiri.mengharapkan kepada Aisyiyah untuk memberi hak otonom kepada NA. maka berhasillah NA dengan munasnya pada tahun 1965 bersama-sama dengan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah di Bandung. Pada Sidang Tanwir Muhammadiyah tahun 1963 diputuskan untuk memberi status otonom kepada NA. Selanjutnya pada Muktamar Muham-madiyah di Jakarta pada tahun 1962. Dalam Munas yang pertama kali. Prasaran tersebut disampaikan oleh Baroroh. tampaklah wajah-wajah baru dari 33 daerah dan 166 cabang dengan penuh semangat. akhirnya dengan secara organisatoris NA berhasil mendapatkan status yang baru sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. .

desakan itu semakin kuat. Busyro Syuhada. Tradisi pencak silat sudah berurat-berakar di kalangan masyarakat Indonesia sejak lama.5. maka gagasan untuk menyatukan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan dimulai. yaitu dua orang murid yang tangguh dari KH. Demikian pula bahwa seni beladiri pencak silat di Indonesia juga beragam dan memiliki ciri khas masing-masing. akibat gerakan perlawanan bersenjata yang dilakukannya sehingga ia menjadi sasaran penangkapan yang dilakukan rezim kolonial Belanda. Perguruan seni pencak silat ini didirikan pada tahun 1925 dan diberi nama Perguruan cik auman yang dipimpin langsung oleh Pendekar M. Seluruh perangkat organisasional dipersiapkan. yaitu KH. Perguruan Cikauman banyak melahirkan pendekar-pendekar muda yang akhirnya mengembangkan cabang perguruan untuk memperluas jangkauan yang lebih luas dengan nama Perguruan Seranoman pada tahun 1930. aliran ini kemudian berkembang menjadi perguruan seni bela diri di Kauman Yogyakarta karena perpindahan guru (pendekarnya). Sebagaimana seni beladiri di negara-negara lain. namun mendapatkan tentangan dari para ulama Kauman dan para pendekar tua yang merasa terlangkahi. Di Kauman inilah pendekar KH. Atas desakan murid-murid dari Perguruan Kasegu inilah inisiatif untuk menggabungkan semua perguruan silat yang sealiran dimulai. Tapak Suci sebagai salah satu varian seni beladiri pencak silat juga memiliki ciri khas yang bisa menunjukkan identitas yang kuat. . Pada tahun 1963. Ciri khas tersebut dikembangkan melalui proses panjang dalam akar sejarah yang dilaluinya. Busyro Syuhada mendapatkan murid-murid yang tangguh dan sanggup mewarisi keahliannya dalam seni pencak silat. Perkembangan kedua perguruan ini semakin hari semakin pesat dengan pertambahan murid yang cukup banyak. Berawal dari aliran pencak silat Banjaran di Pesantren Binorong Banjarnegara pada tahun 1872. dan akhirnya disepakati untuk menggabungkan kembali kekuatan-kekuatan perguruan yang terserak ke dalam satu kekuatan perguruan.A Wahib dan Pendekar A. Busyro Syuhada. Perguruan ini memiliki landasan agama dan kebangsaan yang kuat. pencak silat yang merupakan seni beladiri khas Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang dikembangkan untuk mewujudkan identitas. dan banyak yang gugur dalam perlawanan bersenjata. Dengan pendekatan yang intensif dan dengan pertimbangan bahwa harus ada kekuatan fisik yang dimiliki ummat Islam menghadapi kekuatan komunis yang melakukan provokasi terhadap ummat Islam. yang di antaranya ialah Perguruan Kasegu pada tahun 1951. yaitu mendirikan Perguruan Tapak Suci pada tanggal 31 Juli 1960 yang merupakan keberlanjutan sejarah dari perguruanperguruan sebelumnya. Dimyati. Lahirnya pendekar-pendekar muda hasil didikan perguruan Cikauman dan Seranoman memungkinkan untuk mendirikan perguruan-perguruan baru. Murid-murid dari perguruan ini kemudian banyak menjadi anggota Laskar Angkatan Perang Sabil (APS) untuk melawan penjajah. Perguruan ini menegaskan seluruh pengikutnya untuk bebas dari syirik (menyekutukan Tuhan) dan mengab-dikan perguruan untuk perjuangan agama dan bangsa.

Tapak Suci Putera Muhammadiyah ditetapkan menjadi organisasi otonom di lingkungan Muhammadiyah. Dan pada Sidang Tanwir Muham-madiyah tahun 1967. Perguruan Tapak Suci yang berkedudukan di Yogyakarta akhirnya berkembang di Yogyakarta dan daerah-daerah lainnya. Setelah meletusnya pemberontakan G30 S/PKI.Pada perkembangan selanjutnya. dan Perguruan Tapak Suci dikem-bangkan lagi namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah. karena Tapak Suci Putera Muham-madiyah juga mampu dijadikan wadah pengkaderan Muhammadiyah. . Pada saat itulah berhasil dirumuskan pemantapan organisasi secara nasional. pada tahun 1966 diselenggarakan Konferensi Nasional I Tapak Suci yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

bersifat nasional. Induk organisasi HW hanyalah Persyarikatan Muhammadiyah. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Ortom Muhammadiyah lainnya adalah: 'Aisyiyah. atau latar belakang pendidikan. Pemuda Muhammadiyah (PM). bersifat sukarela. artinya pendidikan kepanduan yang dilakukan oleh HW adalah untuk menanamkan aqidah Islam dan membentuk peserta didik berakhlak mulia. dan bangsa. Identitas HW 1. berilmu dan berteknologi serta berakhlak karimah dengan tujuan terwujudnya pribadi muslim yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan. tanpa paksaan atau tekanan orang lain 4. artinya keanggotaan HW terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. artinya secara organisatoris HW tidak berafiliasi kepada salah satu partai politik dan HW tidak melakukan aktivitas politik praktis.Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (disingkat HW) adalah salah satu organisasi otonom (ortom) di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah. yang merupakan pendiri Muhammadiyah. dan pemuda yang memiliki aqidah. Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Sifat. Identitas. mental dan fisik. Prakarsa itu timbul saat beliau selesai memberi pengajian di Solo. Nasyiatul 'Aisyiyah (NA). 3. dan Ciri Khas HW Sifat HW HW adalah sistem pendidikan untuk anak. HW didirikan untuk menyiapkan dan membina anak. dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). HW adalah kepanduan islami. profesi. Gerakan ini kemudian meleburkan diri ke dalam Gerakan Pramuka pada 1961. Penggolongan keanggotaan HW menurut usia hanyalah untuk membedakan status sebagai peserta didik atau anggota dewasa (pembina).b/1999 tanggal 10 Sya'ban 1420 H (18 November 1999 M) dan dipertegas dengan SK Nomor 10/Kep/I. remaja. artinya dasar seseorang menjadi anggota HW adalah suka dan rela. HW berasaskan Islam. bersifat terbuka. artinya ruang lingkup usaha HW meliputi seluruh wilayah Negara Kesatuan Repulik Indonesia. umat. dan dibangkitkan kembali oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan SK Nomor 92/SK-PP/VI-B/1. tanpa membedakan gender. usia. tidak berorientasi pada partai politik. . dan melihat latihan Pandu di alun-alun Mangkunegaran.O/B/2003 tanggal 1 Dzulhijjah 1423 H (2 Februari 2003). 2. remaja. dan pemuda di luar lingkungan keluarga dan sekolah : 1. HW didirikan pertama kali di Yogyakarta pada 1336 H (1918 M) atas prakarsa KH Ahmad Dahlan.

pembentukan dan pembinaan akhlak mulia menurut ajaran Islam c. . c. yang harus diterapkan dalam setiap kegiatan. pengamalan akidah Islamiyah. kebutuhan. situasi. sistem satuan dan kegiatan terpisah antara pandu putera dan pandu puteri.2. HW adalah organisasi otonom Muhammadiyah yang tugas utamanya mendidik anak. menyenangkan. kegiatan dilakukan di alam terbuka. 2. Metode Kepanduan a. serta kepentingan Persyarikatan Muhammadiyah. pemberdayaan anak didik lewat sistem beregu. Ciri Khas Hizbul Watahan Ciri khas HW adalah Prinsip Dasar Kepanduan dan Metode Kepanduan. pendidikan dengan metode yang menarik. pengamalan kode kehormatan pandu. Prinsip Dasar Kepanduan adala a. d. 1. b. Pelaksanaannya disesuaikan kepentingan. penggunaan sistem kenaikan tingkat dan tanda kecakapan. b. dan menantang. kondisi masyarakat. remaja. dan pemuda dengan sistem kepanduan. e.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful