Kompetensi Manajerial 02-B1

Pengawas Sekolah Pendidikan Dasar dan Menengah

METODE DAN TEKNIK SUPERVISI

DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN DIREKTORAT JENDERAL PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL 2008
1

KATA PENGANTAR
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah berisi standar kualifikasi dan kompetensi pengawas sekolah/madrasah. Standar kualifikasi menjelaskan persyaratan akademik dan nonakademik untuk diangkat menjadi pengawas sekolah. Standar kompetensi memuat seperangkat kemampuan yang harus dimiliki dan dikuasai pengawas sekolah untuk dapat melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawabnya. Ada enam dimensi kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah yakni: (a) kompetensi kepribadian, (b) kompetensi supervisi manajerial, (c) kompetensi supervisi akademik, (d) kompetensi evaluasi pendidikan, (e) kompetensi penelitian dan pengembangan, dan (f) kompetensi sosial. Dari hasil uji kompetensi di beberapa daerah menunjukkan kompetensi pengawas sekolah masih perlu ditingkatkan terutama dimensi kompetensi supervisi manajerial, supervisi akademik, evaluasi pendidikan dan kompetensi penelitian dan pengembangan. Untuk itu diperlukan adanya diklat peningkatan kompetensi pengawas sekolah baik bagi pengawas sekolah dalam jabatan, terlebih lagi bagi para calon pengawas sekolah. Materi dasar untuk semua dimensi kompetensi sengaja disiapkan agar dapat dijadikan rujukan oleh para pelatih dalam melaksanakan diklat peningkatan kompetensi pengawas sekolah di mana pun pelatihan tersebut dilaksanakan. Kepada tim penulis materi diklat kompetensi pengawas sekolah yang terdiri atas dosen LPTK dan widya iswara dari LPMP dan P4TK kami ucapkan terima kasih. Semoga tulisan ini ada manfaatnya. Jakarta, Juni 2008 Direktur Tenaga Kependidikan Ditjen PMPTK

Surya Dharma, MPA., Ph.D

i

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................ BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ A. Latar Belakang ............................................................................ B. Dimensi Kompetensi ................................................................... C. Kompetensi yang Hendak Dicapai .............................................. D. Indikator Pencapaian .................................................................... E. Alokasi Waktu .............................................................................. F. Skenario Pelatihan ........................................................................ BAB II KONSEP TEORETIK SUPERVISI PENDIDIKAN ................. A. Pengertian Supervisi Pendidikan .................................................. B. Supervisi Manajerial dan Supervisi Akademik ............................ C. Prinsip-prinsip Supervisi .............................................................. D. Dimensi-dimensi Substasi Supervisi Akademik .......................... BAB III METODE DAN TEKNIK SUPERVISI ................................... A. Supervisi Manajerial ................................................................... B. Supervisi Akademik ................................................................. BAB IV SUPERVISI KLINIK ............................................................... A. Konsep Supervisi Klinik .............................................................. B. Langkah-langkah Supervisi Klinik ............................................... DAFTAR PUSTAKA .............................................................................

i ii 1 1 1 1 2 3 3 4 4 7 13 15 18 18 21 34 34 36 46

ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Lembaga pendidikan dapat dikategorikan sebagai organisasi nirlaba yang melayani masyarakat. Meski pun sifatnya nirlaba, namun bukan berarti sekolah tidak dituntut untuk terus meningkatkan mutu proses maupun output pendidikannya. Sebaliknya, sekolah sangat diharapkan benar-benar memerhatikan mutu, karena tugas suci yang diembannya adalah turut mencerdaskan kehidupan bangsa, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dalam menjaga mutu proses tersebut, diperlukan adanya quality controll yang mengawasi jalannya proses dan segala komponen pendukungnya. Meski demikian pengawasan mutu dalam dunia pendidikan tentu berbeda dengan peruasahaan yang memproduksi barang/jasa. Sekolah adalah sebuah people changing institution, yang dalam proses kerjanya selalu berhadapan dengan uncertainty and interdependence (McPherson, Crowson and Pitner, 1986: 33-40). Maksudnya mekanisme kerja (produksi) di lembaga pendidikan secara teknologis tidak dapat dipastikan karena kondisi input dan lingkungan yang tidak pernah sama. Selain itu proses pendidikan di sekolah juga tidak terpisahkan dengan lingkungan keluarga maupun pergaulan peserta didik. Dalam situasi demikian, maka pengawasan terhadap sekolah pasti berbeda model dan pendekatannya. Peran seorang pengawas pendidikan pun tentu berbeda dengan pengawas pada perusahaan produksi. Oliva (1984: 1920) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan, yaitu sebagai: coordinator, consultant, group leader dan evaluator. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs, goups, materials, and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah, pengembangan kurikulum, teknologi pembelajaran, dan pengembangan staf. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru, baik secara kelompok maupun individual. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan 1

pengembangan kurikulum, pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum. Terakhir, supervisor juga harus melakukan evaluasi terhadap pengelolaan sekolah dan pembelajaran pada sekolah-sekolah yang menjadi lingkup tugasnya. Untuk dapat melaksanakan tugasnya tersebut pengawas tentu harus menguasai berbagai prinsip, metode dan teknik supervisi sehingga ia dapat menentukan strategi, pendekatan atau model supervisi yang cocok untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau program. Materi ini merupakan salah satu bahan yang ditujukan bagi supervisor untuk menguasai kompetensi tersebut. B. Dimensi Kompetensi Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir pendidikan dan pelatihan ini adalah dimensi supervisi manajerial. C. Kompetensi yang Hendak Dicapai Setelah menyelesaikan pelatihan ini, Pengawas diharapkan dapat menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. D. Indikator Pencapaian Setelah mempelajari matari pelatihan ini, Pengawas diharapkan dapat: 1. Memahami berbagai metode supervisi dan mampu mempraktikkannya dalam membina kepala sekolah/guru. 2. Memahami teknik-teknik supervisi dan mampu mempraktikkannya dalam membina kepala sekolah/guru 3. Memahami prinsip-prinsip supervisi dan mampu mempraktikkannya dalam membina kepala sekolah/guru. 4. Mengembangkan metode dan taknik supervisi sesuai dengan karakteristik permasalahan sekolah/guru yang dihadapi.

2

Teknik-teknik supervisi 3. baik supervisi akademik maupun manajerial melalui pendekatan andragogi. Post test. 5. yaitu lebih mengutamakan peng ungkapan kembali pengalaman peserta pelatihan. Pre-test 4. 8. Metode-metode supervisi 2. 6. Materi Diklat 1. Penutup 3 . Praktik/Simulasi Model-model supervisi. Prinsip-prinsip supervisi F. menganalisis. kreatif. teknik dan prinsip supervisi. dan mengeneralisasi dalam suasana diklat yang aktif. b.E. dan bermakna. 7. Peranan pelatih lebih sebagai fasilitator. c. Penyampaian Materi Diklat: a. Penjelasan tentang dimensi kompetensi. menyenangkan. indikator. menyimpulkan. Perkenalan 2. alokasi waktu dan skenario pendidikan dan pelatihan metode. Menggunakan pendekatan andragogi. Refleksi bersama antara peserta dengan pelatih mengenai jalannya pelatihan. efektif. Diskusi tentang indikator keberhasilan pelatihan metode dan teknik supervisi. 3. inovatif. teknik dan prinsip supervisi. Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan dengan metode. Alokasi Waktu Alokasi 3 jam 3 jam 2 jam No. Skenario 1.

Perumusan atau pengertian supervisi dapat dijelaskan dari berbagai sudut. maupun isi yang terkandung di dalam perkataanya itu (semantic). Ia membina pening. Pengertian supervisi secara etimologis masih menurut Ametembun (1993:2). baik menurut asal-usul (etimologi).BAB II KONSEP TEORETIK SUPERVISI PENDIDIKAN A. Pengertian Supervisi Pendidikan Istilah supervisi berasal dari dua kata. Vision = lihat.S Poerwadarminta yang dikutip oleh Ametembun (1993:1) : “Supervisi dialih bahasakan dari perkataan inggris “Supervision” artinya pengawasan. menggunakan kepekaan untuk memahaminya dan tidak hanya sekedar menggunakan penglihatan mata biasa. Secara etimologis. Supervisor adalah seorang yang profesional. supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas. Para ahli dalam bidang administrasi pendidikan memberikan kesepakatan bahwa supervisi pendidikan merupakan disiplin ilmu yang 4 . bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi. awasi. superior to (superintendent).J. tilik. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut.kan mutu pendidikan. lebih. Untuk melakukan supervise diperlukan kelebihan yang dapat melihat dengan tajam terhadap permasalahan peningkatan mutu pendidikan. menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi. as through mental acuteness or keen foresight (1991:1492). baik dalam hal fisik maupun lingkungan non fisik. Dalam Webster’s New World Dictionary istilah super berarti “higher in rank or position than. ia bertindak atas dasar kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkat. menyebutkan bahwa dilihat dari bentuk perkataannya. Wajowasito dan W. tugasnya adalah melihat. Dalam menjalankan tugasnya.katan mutu akademik melalui penciptaan situasi belajar yang lebih baik. bentuk perkataannya. supervisi menurut S. yaitu “super” dan “vision”. a greater or better than others” (1991:1343) sedangkan kata vision berarti “the ability to perceive something not actually visible.

Supervisi yang lakukan oleh pengawas satuan pendidikan. dan pendekatannya pun bukan lagi pengawasan manajemen biasa. administrasi. yakni identik dengan proses mana-jemen. 1993 dan Gregg Miller. sebab hal ini di samping bersifat lebih spesifik juga melakukan pengamatan terhadap kegiatan akademik yang mendasarkan pada kemampuan ilmiah. Supervisi pada dasarnya diarahkan pada dua aspek. sebab hal ini memiliki arti yang luas. . 1987:129) yang menyebutkan sebagai berikut: Almost all writers agree that the primary focus in educational supervision is-and should be-the improvement of teaching and learning. tetapi lebih bersifat menuntut kemampuan profesional yang demokratis dan humanistik oleh para pengawas pendidikan. 1995: 559). yakni: supervisi akademis. The term instructional supervision is widely used in the literature of embody all effort to those ends. Dalam hal ini supervisi lebih ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan. Hal ini diungkapkan pula dalam tulisan Asosiasi Supervisi dan Pengembangan Kurikulum di Amerika (Association for Supervision and Curriculum Development. Hal ini sejalan pula dengan pandangan L Drake (1980: 278) yang menyebutkan bahwa supervisi adalah suatu istilah yang sophisticated. Supervisi akademis menitikberatkan 5 . Rifa’i (1992: 20) merumuskan istilah supervisi merupakan pengawasan profesional. Some writers use the term instructional supervision synonymously with general supervision. Sergiovanni. evaluasi dan akuntabilitas atau berbagai aktivi. 1990. dan supervisi manajerial. tentu memiliki misi yang berbeda dengan supervisi oleh kepala sekolah. 2003). maka supervisi oleh pengawas satuan pendidikan antara lain kegiatannya berupa pengamatan secara intensif terhadap proses pembelajaran pada lembaga pendidikan. (Razik. 1966.memfokuskan diri pada pengkajian peningkatan situasi belajar-mengajar. kemudian ditindak lanjuti dengan pemberian feed back. Glickman Carl D.tas serta kreatifitas yang berhubungan dengan pengelolaan kelembagaan pada lingkungan kelembagaan setingkat sekolah. seperti yang diungkapkan oleh ( Gregorio. Dalam konteks pengawasan mutu pendidikan.

dual. Supervisi manajerial menitik beratkan pada pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung (supporting) terlaksananya pembelajaran. dan sasaran inspeksi adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi. Fungsi penelitian adalah mencari jalan keluar dari permasalahan yang berhubungan sedang dihadapi. mengumpulkan data. consultant. Gregorio (1966) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi. dan melakukan analisa guna menarik suatu kesimpulan atas apa yang berkembang dalam menyusun strategi keluar dari permasalahan diatas.pada pengamatan supervisor terhadap kegiatan akademis. pengembangan kurikulum. baik secara kelompok maupun indivi. group leader dan evaluator. Ia harus melayani kepala sekolah dan guru. dan pengembangan staf. and reports yang berkaitan dengan sekolah dan para guru. pelatihan. mengolah data. Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari kea.bangan kurikulum. siswa. angket. Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah dalam suatu bidang. Supervisor harus mampu mengkoordinasikan programs. dan pada lembaga terkait. dalam pertemuan-pertemuan yang berkaitan dengan pengem. yaitu sebagai: coordinator. Oliva (1984: 19-20) menjelaskan ada empat macam peran seorang pengawas atau supervisor pendidikan. pertemuan-pertemuan dan daftar isian. materials.daan dan kondisi sekolah. Ada kalanya supervisor harus berperan sebagai pemimpin kelompok. goups. penelitian. interview. pembelajaran atau manajemen sekolah secara umum. yakni merumuskan masalah yang akan diteliti. maka tugas seorang supevisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada guru. bimbingan dan penilaian. Supervisor juga harus mampu berperan sebagai konsultan dalam manajemen sekolah. berupa pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas. teknologi pembelajaran. Dalam pelatihan diperkenalkan kepada guru cara-cara baru yang lebih sesuai dalam 6 . yaitu: sebagai inspeksi. kurikulum tujuan belajar maupun metode mengajar. dan penelitian ini dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah.

Fungsi bimbingan sendiri diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. dan penelitian dan pengembangan. Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan. Adapun supervisi akademik esensinya berkenaan dengan tugas pengawas untuk untuk membina guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya. seminar. sehingga dapat berjalan dengan efektif dan efisien dalam rangka mencapai tujuan sekolah serta memenuhi standar pendidikan pendidikan nasional. seberapa besar telah dicapai dan penilaian ini dilakukan dengan beragai cara seperti test. B. serta membantu menerapkan sebuah prosedur mengajar yang baru. individual dan group conference. Kegiatan bimbingan dilakukan dengan cara membangkitkan kemauan. observasi. penilaian kemajuan belajar siswa. Esensi dari supervisi manajerial adalah berupa kegiatan pemantauan. memberi semangat. mengarahkan dan merangsang untuk melakukan percobaan. sosial. Dalam Peraturan tersebut. pembinaan dan pengawasan terhadap kepala sekolah dan seluruh elemen sekolah lainnya di dalam mengelola. Hal ini sesuai dengan dimensi kompetensi yang terdapat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 12 Tahun 2007 Tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. dan jenis pelatihan yang dapat dipergunakan antara lan melalui demonstrasi mengajar. Peraturan Menteri ini juga mengisyaratkan bahwa dalam profesi pengawas di Indonesia secara umum tidak dibedakan antara supervisor umum 7 . workshop. melihat perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. mengadministrasikan dan melaksanakan seluruh aktivitas sekolah. penetapan standar. serta kunjungan supervisi. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. tentu perlu pula dipaparkan pengertian supervisi manajerial dan supervisi akademik.melaksanakan suatu proses pembelajaran. Supervisi Manajerial dan Supervisi Akademik Setelah diuraikan pengertian supervisi secara umum. di samping kompetensi kepribadian. Pengawas satuan pendidikan dituntut memiliki kompetensi supervisi manajerial dan supervisi akademik.

Sedangkan supervisor spesialis lebih berkonsentrasi pada perbaikan proses belajar mengajar. dan dipandang sebagai ahli dalam bidang tertentu sehingga mampu mengembangkan materi. Sebagaimana diketahui dalam dasa warsa terakhir telah dikembangkan wacana manajemen berbasis sekolah (MBS). (d) tandar pendidik dan tenaga kependidikan. (g) standar pembiayaan. sebagai bentuk paradigma baru pengelolaan dari sentralisasi ke desentralisasi yang memberikan otonomi kepada pihak sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat 8 . terutama berkaitan dengan spesialisasi mereka. pembelajaran. dan memotivasi guru untuk bekerja dengan penuh gairah. (b) kesiswaan. yang antara lain meliputi: (a) manajemen kurikulum dan pembelajaran. (e) keuangan. Dengan demikian fokus supervisi ini ditujukan pada pelaksanaan bidang garapan manajemen sekolah. Supervisor umum tugasnya berkaitan dengan pemantauan pelaksanaan kurikulum serta upaya perbaikannya. Supervisi Manajerial Di muka telah dijelaskan bahwa esensi supervisi manajerial adalah pemantauan dan pembinaan terhadap pengelolaan dan administrasi sekolah. yaitu: (a) standar isi. dan (g) layanan khusus. Tujuan supervisi terhadap kedelapan aspek tersebut adalah agar sekolah terakreditasi dengan baik dan dapat memenuhi standar nasional pendidikan.dengan supervisor spesialis. Mereka disebut pula dengan supervisor bidang studi. (b) standar kompetensi lulusan. (f) hubungan sekolah dengan masyarakat. Sebagaimana dikemukakan oleh Made Pidarta (1995: 84-85) bahwa supervisor dapat dikelompokkan menjadi dua. Salah satu fokus penting lainnya dalam dalam supervisi manajerial oleh pengawas terhadap sekolah. (d) ketenagaan. Dalam melakukan supervisi terhadap hal-hal di atas. (c) sarana dan prasarana. media dan bahan-bahan lain yang dibutuhkan. yaitu supervisor umum dan supervisor spesialis. kecuali untuk mata pelajaran dan/atau jenis pendidikan tertentu. (e) standar sarana dan prasarana. dan menangani masalah-masalah pendidikan secara umum. (c) standar proses. dan (h) standar penilaian. pengawas sekaligus juga dituntut melakukan pematauan terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan yang meliputi delapan komponen. adalah berkaitan pengelolaan atau manajemen sekolah. (f) standar pengelolaan. 1.

Penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi kualitas unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. berarti. 1989). 1987). Meskipun demikian. (Daresh. melainkan membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalismenya. supervisi akademik tidak bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran. sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu dikembangkan dan cara mengembangkannya. Aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas di dalam kelas itu yang berarti bagi guru dan murid?. Apabila dikatakan bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya. esensi supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. Apa kelebihan dan kekurangan 9 . Apa yang telah dilakukan oleh guru dalam mencapai tujuan akademik?. merupakan bagian integral dari serangkaian kegiatan supervisi akademik. Apabila di atas dikatakan. bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran. Dengan demikian. 2. 2006: 4) Pengawas dituntut dapat menjelaskan sekaligus mengintroduksi model inovasi manajemen ini sesuai dengan konteks sosial budaya serta kondisi internal masing-masing sekolah. maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan prosesnya (Sergiovanni. Supervisi Akademik Glickman (1981). mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan muridmurid di dalam kelas?.(Sudarwan Danim. maka dalam pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan penilaian kemampuan guru. Supervisi akademik merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran. misalnya: Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kelas?. Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian unjuk kerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat realita kondisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan.

Oleh karena supervisi akademik merupakan tanggung jawab bersama antara supervisor dan guru. minat.guru dan bagaimana cara mengembangkannya?. dan Neville. melainkan harus dilanjutkan dengan perancangan dan pelaksanaan pengembangan kemampuannya. Alfonso. Secara rinci. 2. 1. melalui supervisi akademik guru akan semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya. Perilaku supervisor dalam membantu guru mengembangkan kemampuannya harus didesain secara ofisial. Tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran. sehingga jelas waktu mulai dan berakhirnya program pengembangan tersebut. dan Neville (1981) menegaskan Instructional supervision is herein defined as: behavior officially designed by the organization that directly affects teacher behavior in such a way to facilitate pupil learning and achieve the goals of organization. janganlah diasumsikan secara sempit. tingkat kemampuan. Desain tersebut terwujud dalam bentuk program supervisi akademik yang mengarah pada tujuan tertentu. ada tiga konsep pokok (kunci) dalam pengertian supervisi akademik. bahwa hanya ada satu cara terbaik yang bisa diaplikasikan dalam semua kegiatan pengembangan perilaku guru. 3. tujuan supervisi akademik akan diuraikan lebih lanjut berikut ini. kebutuhan. Inilah karakteristik esensial supervisi akademik. Dengan demikian. maka alangkah baik jika programnya didesain bersama oleh supervisor dan guru. dan kematangan profesional serta karakteristik personal guru lainnya harus dijadikan dasar pertimbangan dalam mengembangkan dan mengimplementasikan program supervisi akademik (Sergiovanni. Tidak ada satupun perilaku supervisi akademik yang baik dan cocok bagi semua guru (Glickman. Firth. Sehubungan dengan ini. 10 . Menurut Alfonso. 1989). 1981). Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan perilaku guru dalam mengelola proses pembelajaran. 1987 dan Daresh. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini. Firth. bahwa setelah melakukan penilaian unjuk kerja guru tidak berarti selesailah tugas atau kegiatan supervisi akademik. Tegasnya.

Pengembangan kemampuan dalam konteks ini janganlah ditafsirkan secara sempit. Tiga Tujuan Supervisi 1. kualitas pembelajaran akan meningkat. Kegiatan memonitor ini bisa dilakukan melalui kunjungan kepala sekolah ke kelas-kelas di saat guru 11 2. Melalui supervisi akademik diharapkan kualitas akademik yang dilakukan oleh guru semakin meningkat (Neagley.Tujuan supervisi akademik adalah membantu guru mengembangkan kemampuannya mencapai tujuan pembelajaran yang dicanangkan bagi murid-muridnya (Glickman.1. Sedangkang menurut Sergiovanni (1987) ada tiga tujuan supervisi akademik sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2. Supervisi akademik diselenggarakan dengan maksud membantu guru mengembangkan kemampuannya profesionalnnya dalam memahami aka demik. sebab dengan meningkatkan kemampuan dan motivasi kerja guru. 1981). 1980). Supervisi akademik diselenggarakan dengan maksud untuk memonitor kegiatan belajar mengajar di sekolah. semata-mata ditekankan pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan mengajar guru. . kehidupan kelas. Pengembangan Profesionalisme Penumbuhan Motivasi TIGA TUJUAN SUPERVISI Pengawas -an kualitas Gambar 2. melainkan juga pada peningkatan komitmen (commitmen) atau kemauan (willingness) atau motivasi (motivation) guru. mengembangkan keterampilan mengajarnya dan menggunakan kemampuannya melalui teknik-teknik tertentu.1.

teman sejawatnya. serta mendorong guru agar ia memiliki perhatian yang sungguh-sungguh (commitment) terhadap tugas dan tanggung jawabnya. Hanya dengan merefleksi ketiga tujuan inilah supervisi akademik akan berfungsi mengubah perilaku mengajar guru. Firth. 45. Firth.2 tersebut di bawah ini memperjelas kita dalam memahami sistem pengaruh perilaku supervisi akademik.2 Sistem Fungsi Supervisi Akademik Gambar 2. G. 3. RJ. Inc. supervisor mempengaruhi perilaku mengajar guru sehingga perilakunya semakin baik dalam mengelola proses 12 . Gambar 2. & Neville.R. A Behavior System. percakapan pribadi dengan guru.2... R. melalui supervisi akademik.sedang mengajar. Ini berarti. Perilaku Supervisi Akademik Perilaku Akademik Perilaku Belajar Siswa Sumber: Alfonso. Perilaku supervisi akademik secara langsung berhubungan dan berpengaruh terhadap perilaku guru.1981. Boston: Allyn and Bacon. Tidak ada keberhasilan bagi supervisi akademik jika hanya memerhatikan salah satu tujuan tertentu dengan mengesampingkan tujuan lainnya. dan Neville (1981) menggambarkan sistem pengaruh perilaku supervisi akademik sebagaimana gambar 2.F. Instructional Supervision. mendorong guru mengembangkan kemampuannya sendiri. Supervisi akademik diselenggarakan untuk mendorong guru menerapkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas-tugas mengajarnya. dan Neville (1981) Supervisi akademik yang baik adalah supervisi akademik yang mampu berfungsi mencapai multitujuan tersebut di atas.. maupun dengan sebagian murid-muridnya. Menurut Alfonso. Pada gilirannya nanti perubahan perilaku guru ke arah yang lebih berkualitas akan menimbulkan perilaku belajar murid yang lebih baik. Firth. Alfonso. p.

sebagaimana dikemukakan oleh para pakar supervisi akademik di muka. Semua ini merupakan prinsip-prinsip supervisi akademik modern yang harus direalisasikan pada setiap proses supervisi akademik di sekolahsekolah. Prinsip-prinsip Supervisi Akademik Konsep dan tujuan supervisi akademik. berikut ini ada beberapa prinsip lain yang harus diperhatikan dan direalisasikan oleh supervisor dalam melaksanakan supervisi akademik. memang tampak idealis bagi para praktisi supervisi akademik (kepala sekolah). kerja kelompok (team effort). Beberapa istilah. Dengan demikian. yaitu sebagai berikut. beberapa literatur telah banyak mengungkapkan teori supervisi akademik sebagai landasan bagi setiap perilaku supervisi akademik. sedangkan supervisor merupakan bagian darinya. Para kepala sekolah baik suka maupun tidak suka harus siap menghadapi problema dan kendala dalam melaksanakan supervisi akademik. Pembahasannya sematamata untuk menunjukkan kepada kita bahwa perilaku supervisi akademik itu harus menjauhkan diri dari sifat otoriter. dalam proses supervisi akademik. kesetiakawanan. Supervisi akademik harus mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis. seperti demokrasi (democratic). keseluruhan anggota (guru) harus aktif berpartisipasi. memang demikianlah seharusnya kenyataan normatif konsep dasarnya. Selanjutnya perilaku mengajar guru yang baik itu akan mempengaruhi perilaku belajar murid. di mana supervisor sebagai atasan dan guru sebagai bawahan. bahkan sebaiknya sebagai prakarsa. Hubungan demikian ini bukan saja antara supervisor dengan guru. bisa disimpulkan bahwa tujuan akhir supervisi akademik adalah terbinanya perilaku belajar murid yang lebih baik. Hubungan kemanusiaan yang harus diciptakan harus bersifat terbuka. Akhir-akhir ini. dan proses kelompok (group process) telah banyak dibahas dan dihubungkan dengan konsep supervisi akademik. Selain tersebut di atas. dan informal. Adanya problema dan kendala tersebut sedikit banyak bisa diatasi apabila dalam pelaksanaan supervisi akademik kepala sekolah menerapkan prinsip-prinsip supervisi akademik. melainkan juga antara super13 . C. 1.belajar mengajar. Begitu pula dalam latar sistem persekolahan. Namun.

dkk. sistem perilaku kesiswaan. Di dalam setiap organisasi pendidikan terdapat bermacam-macam sistem perilaku dengan tujuan sama. sistem perilaku pengembangan konseling. antusias. jujur. terbuka. 14 . yaitu tujuan pendidikan. program supervisi akademik sebaiknya direncanakan. sistem perilaku supervisi akademik (Alfonso. Perlu dipahami bahwa supervisi akademik merupakan salah satu essential function dalam keseluruhan program sekolah (Alfonso dkk. Dalam upaya perwujudan prinsip ini diperlukan hubungan yang baik dan harmonis antara supervisor dengan semua pihak pelaksana program pendidikan (Dodd... 1972). mengingat problema proses pembelajaran selalu muncul dan berkembang. Sistem perilaku tersebut antara lain berupa sistem perilaku administratif. Antara satu sistem dengan sistem lainnya harus dilaksanakan secara integral. Apabila guru telah berhasil mengembangkan dirinya tidaklah berarti selesailah tugas supervisor. dan penuh humor (Dodd. Oleh sebab itu. maka program supervisi akademik integral dengan program pendidikan secara keseluruhan. Tanggung jawab perbaikan program akademik bukan hanya pada supervisor melainkan juga pada guru. dikembangkan dan dilaksanakan bersama secara kooperatif dengan guru. kepala sekolah. dalam pelaksanaannya supervisor harus memiliki sifatsifat. Supervisor tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi akademiknya. 1972). Supervisor harus melibatkan secara aktif guru yang dibinanya. melainkan harus tetap dibina secara berkesinambungan. Program supervisi akademik harus integral dengan program pendidikan. sistem perilaku akademik. 2. sabar. seperti sikap membantu. 1981). Supervisi akademik bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktuwaktu jika ada kesempatan. Titik tekan supervisi akademik yang demokratis adalah aktif dan kooperatif. Oleh sebab itu. Supervisi akademik harus demokratis. Supervisi akademik harus dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini logis. 1981 dan Weingartner. ajeg. 4. memahami.visor dengan pihak lain yang terkait dengan program supervisi akademik. 1973). Dengan demikian. 3. dan pihak lain yang terkait di bawah koordinasi supervisor.

Program supervisi akademik harus mencakup keseluruhan aspek pengembangan akademik. sebagaimana telah dijelaskan di muka. Seseorang tidak akan bisa bekerja secara profesional apabila ia hanya memenuhi salah satu kompetensi di antara sekian kompetensi yang dipersyaratkan. Begitu pula dalam mengevaluasi keberhasilan program supervisi akademik. berupa pengawasan kualitas. tetapi tujuannya bukan untuk mencari kesalahankesalahannya. Dimensi-dimensi Substasi Supervisi Akademik. 7. betapapun tingginya motivasi kerja seseorang. Prinsip ini tiada lain hanyalah untuk memenuhi tuntutan multi tujuan supervisi akademik. walaupun mungkin saja ada penekanan pada aspek-aspek tertentu berdasarkan hasil analisis kebutuhan pengembangan akademik sebelumnya. 15 . ia tidak akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki motivasi kerja yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. 6.5. Dalam menyusun. melaksanakan. Betapapun tingginya kemampuan seseorang. Supervisi akademik harus obyektif. Para pakar pendidikan telah banyak menegaskan bahwa seseorang akan bekerja secara profesional apabila ia memiliki kompetensi yang memadai. Kompetensi tersebut merupakan perpaduan antara kemampuan dan motivasi. dan mengevaluasi. ia tidak akan bekerja secara profesional apabila ia tidak memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Sebaliknya. Di sinilah letak pentingnya instrumen pengukuran yang memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi untuk mengukur seberapa kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. dan memotivasi guru. pengembangan profesional. Supervisi akademik harus komprehensif. D. Memang dalam proses pelaksanaan supervisi akademik itu terdapat kegiatan penilaian unjuk kerjan guru. Objectivitas dalam penyusunan program berarti bahwa program supervisi akademik itu harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata pengembangan profesional guru. Supervisi akademik harus konstruktif. Supervisi akademik bukanlah sekali-kali untuk mencari kesalahan-kesalahan guru. keberhasilan program supervisi akademik harus obyektif. Supervisi akademik akan mengembangkan pertumbuhan dan kreativitas guru dalam memahami dan memecahkan problemproblem akademik yang dihadapi.

Proto tipe guru yang terbaik. apa yang disebut dengan professional development competency areas (yang selanjutnya akan disebut dengan aspek kompetensi). Menurutnya ada empat prototipe guru dalam mengelola proses pembelajaran. Kedua. adalah guru prototipe profesional. dan sosial. dan kompetensi sosial. penciptaan hubungan guru dan murid. Penjelasan di atas memberikan implikasi khusus kepada apa seharusnya program supervisi akademik. Penguasaannya merupakan sokongan terhadap keberhasilannya mengelola proses pembelajaran. Sehubungan dengan pengembangan kedua dimensi ini. yaitu guru semakin menguasai kompetensi. menurut Neagley (1980) terdapat dua aspek yang harus menjadi perhatian supervisi akademik baik dalam perencanaannya. professional. Ada empat kompetensi guru yang harus dikembangkan melalui supervisi akademik. bagaimana murid-murid belajar. kompetensi profesional. Oleh karena itu supervisi akademik harus menyentuh pada pengembangan seluruh kompetensi guru. Seorang guru bisa diklasifikasikan ke dalam prototipe profesional apabila ia memiliki kemampuan tinggi (high level of abstract) dan motivasi kerja tinggi (high level of commitment). dan faktor lainnya. Ia harus mengetahui bagaimana mengerjakan (know how to do) tugas-tugasnya. Ia harus memiliki pengetahuan tentang 16 . baik kompetensi kepribadian. Aspek ini menunjuk pada kompetensi guru yang harus dikembangkan melalui supervisi akademik. apa yang disebutkan dengan substantive aspects of professional development (yang selanjutnya akan disebut dengan aspek substantif). Aspek ketiga berkaitan dengan seberapa luas pengetahuan guru tentang materi atau bahan pelajaran pada bidang studi yang diajarkannya. yaitu yaitu kompetensi-kompetensi kepribadian. Guru tidak berbeda dengan kasus profesional lainnya. Pertama. maupun penilaiannya. menurut teori ini. pelaksanaannya. pedagogik. Aspek substansi pertama dan kedua merepresentasikan nilai. Supervisi akademik yang baik harus mampu membuat guru semakin kompeten. keyakinan. dan teori yang dipegang oleh guru tentang hakikat pengetahuan. Aspek ini menunjuk pada luasnya setiap aspek substansi. Aspek ini menunjuk pada kompetensi yang harus dikuasai guru. kompetensi pedagogik.Selaras dengan penjelasan ini adalah satu teori yang dikemukakan oleh Glickman (1981).

Tetapi. professional. seorang guru harus mau mengerjakan (will do) tugas-tugas berdasarkan kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan bilamana merujuk kepada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. murid-muridnya. 17 . ia harus bisa mengerjakan (can do). Selanjutnya. mengetahui dan memahami keempat aspek substansi ini belumlah cukup. Supervisi akademik yang baik adalah supervisi yang mampu menghantarkan guru-guru menjadi semakin kompeten. dan teknik akademik. Dengan kata lain. ada empat kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru dan harus dijadikan perhatian pengawas dalam melakukan supervisi akademik. materi pelajaran.bagaimana merumuskan tujuan akademik. Percumalah pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh seorang guru. Akhirnya seorang guru harus mau mengembangkan (will grow) kemampuan dirinya sendiri. Seorang guru harus mampu menerapkan pengetahuan dan pemahamannya. pedagogik. dan sosial. yaitu kompetensi-kompetensi kepribadian. apabila ia tidak mau mengerjakan tugas-tugasnya dengan sebaik-baiknya.

Monitoring dan Evaluasi Metode utama yang mesti dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan dalam supervisi manajerial tentu saja adalah monitoring dan evaluasi. dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan.BAB III METODE DAN TEKNIK SUPERVISI PENDIDIKAN Di muka telah diuraikan bahwa tugas pengawas satuan pendidikan mencakup pengawasan atau supervisi administrasi dan pengelolaan (manajerial) sekolah sekaligus supervisi akademik atau pembelajaran. (c) menganalisis apakah prestasi memenuhi standar. Karena fokus kedua hal tersebut berbeda. Monitoring/Pengawasan Monitoring adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah. Melalui monitoring. a. program. 2008: 115). Berikut ini akan diuraikan tentang metode supervisi manajerial dan supervisi akademik. Monitoring lebih berpusat pada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat klinis. apakah sudah sesuai dengan rencana. Aspekaspek yang dicermati dalam monitoring adalah hal-hal yang dikembangan dan dijalankan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). dan/atau standar yang telah ditetapkan. A. serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program (Rochiat. maka metode dan teknik yang dipergunakan tentu berbeda pula. Supervisi Manjerial 1. Secara tradisional pelaksanaan pengawasan melibatkan tahapan: (a) menetapkan standar untuk mengukur prestasi. (b) mengukur prestasi. Dalam melakukan monitoring ini tentunya pengawas harus melengkapi diri dengan parangkat atau daftar isian yang memuat seluruh indikator sekolah yang harus diamati dan dinilai. dan (d) mengambil 18 .

Refleksi dan Focused Group Discussion Sesuai dengan paradigma baru manajemen sekolah yaitu pemberdayaan dan partisipasi. 1996: 102).Tujuan dari FGD adalah untuk menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah. terutama kepala sekolah. kecenderungan pengawasan dalam dunia pendidikan juga mengikuti apa yang dilakukan pada industri. Pengawasan ini tentu saja terfokus pada pengendalian mutu dan lebih bersifat internal. serta menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional yang akan diambil untuk memajukan 19 . Forum untuk ini dapat berbentuk Focused Group Discussion (FGD).tindakan apabila prestasi kurang/tidak memenuhi standar (Nanang Fattah. b. Evaluasi Kegiatan evaluasi ditujukan untuk mengetahui sejauhmana kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah atau sejauhmana keberhasilan yang telah dicapai dalam kurun waktu tertentu. yang melibatkan unsur-unsur stakeholder sekolah. dan (d) memberikan penilaian (judgement) terhadap sekolah. Tujuan evaluasi utamanya adalah untuk (a) mengetahui tingkat keterlaksanaan program. Secara bersama-sama pihak sekolah dapat melakukan refleksi terhadap data yang ada. yaitu dengan menerapakan Total Quality Controll. 2. (b) mengetahui keberhasilan program. Dalam perkembangan terakhir. dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. komite sekolah dan guru. Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat dilakukan dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan. maka judgement keberhasilan atau kegagalan sebuah sekolah dalam melaksanakan program atau mencapai standar bukan hanya menjadi otoritas pengawas. Oleh karena itu pada akhir-akhir ini setiap lembaga pendidikan umumnya memiliki unit penjaminan mutu. wakil kepala sekolah. (c) mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikutnya.

Metode Delphi dapat disampaikan oleh pengawas kepada kepala sekolah ketika hendak mengambil keputusan yang melibatkan banyak pihak. Langkah-langkahnya menurut Gorton (1976: 26-27) adalah sebagai berikut: a. b. Peran pengawas dalam hal ini adalah sebagai fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila diperlukan. Selebihnya peserta hanya akan menjadi pendengar yang pasif. potensi daerah. dinas pendidikan. Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan dan hendak dimintai pendapatnya mengenai pengembangan sekolah. 3. Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai nama/identitas. Sesuai dengan konsep MBS. tokoh masyarakat. Metode Delphi Metode Delphi dapat digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi. peserta didik. serta pandangan seluruh stakeholder. Metode Delphi merupakan cara yang efisien untuk melibatkan banyak stakeholder sekolah tanpa memandang faktor-faktor status yang sering menjadi kendala dalam sebuah diskusi atau musyawarah. Akibatnya visi dan misi tersebut tidak realistis.sekolah. Sejauh ini kebanyakan sekolah merumuskan visi dan misi dalam susunan kalimat “yang bagus”. maka biasanya pembicaraan hanya didominasi oleh orang-orang tertentu yang percaya diri untuk berbicara dalam forum. orang murid dan guru. tanpa dilandasi oleh filosofi dan pendalaman terhadap potensi yang ada. dalam merumuskan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) sebuah sekolah harus memiliki rumusan visi. misi dan tujuan yang jelas dan realistis yang digali dari kondisi sekolah. untuk memberikan masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya. Misalnya sekolah mengadakan pertemuan bersama antara sekolah. dan tidak memberikan inspirasi kepada warga sekolah untuk mencapainya. 20 . misi dan tujuannya.

pengembangan kurikulum. wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah. dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama. laboratorium kurikulum. pengambangan petunjuk pembelajaran. e. Mengumpulkan pendapat yang masuk. darmawisata. dan dapat diselenggarakan bersama dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah atau organisasi sejenis lainnya. B. Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta. Supervisi Akademik Di muka telah dijelaskan bahwa supervisi akademik ditujukan untuk membantu guru meningkatkan pembelajaran. Pada setiap metode supervisi tentunya terdapat kekuatan dan kelamahan. Penyelenggaraan workshop ini tentu disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya. Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya. perpustakaan profesional. Metode-metode tersebut dibedakan antara yang bersifat individual dan kelompok. 4. sistem penilaian dan sebagainya.c. sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan belajar siswa. Sesuai dengan tujuannya tersebut maka istilah yang sering digunakan adalah supervisi pengajaran (instructional supervision). pengawas dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan workshop tentang pengembangan KTSP. kunjungan 21 . Ada bermacam-macam teknik supervisi akademik dalam upaya pembinaan kemampuan guru. peran serta masyarakat. sistem ddministrasi. Dalam hal ini meliputi pertemuan staf. dan menyampaikan hasil akhir prioritas keputusan dari seluruh peserta yang dimintai pendapatnya. kunjungan supervisi. Metode ini tentunya bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah. demonstrasi pembelajaran. penilaian guru. buletin profesional. Workshop Workshop atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat ditempuh pengawas dalam melakukan supervisi manajerial. Terdapat beberapa metode dan teknik supervisi yang dapat dilakukan pengawas. lokakarya. Sebagai contoh. d.

yaitu: (1) memiliki tujuan-tujuan tertentu. tahap pengamatan selama kunjungan. Ketiga. Teknik-teknik supervisi yang dikelompokkan sebagai teknik individual meliputi: kunjungan kelas. dan bisa juga atas dasar undangan dari guru itu sendiri. Tujuan kunjungan ini adalah semata-mata untuk menolong guru dalam mengatasi kesulitan atau masalah mereka di dalam kelas. Pada tahap ini. (3) menggunakan 22 . dan menilai diri sendiri. supervisor bersama guru mengadakan perjanjian untuk membicarakan hasil-hasil observasi. yaitu.antarkelas. sedangkan tahap terakhir adalah tahap tindak lanjut. tahap akhir kunjungan. dan pembina lainnya dalam rangka mengamati pelaksanaan proses belajar mengajar sehingga memperoleh data yang diperlukan dalam rangka pembinaan guru. supervisor merencanakan waktu. Supervisor di sini hanya berhadapan dengan seorang guru yang dipandang memiliki persoalan tertentu. Menganalisisnya secara kritis dan mendorong mereka untuk menemukan alternatif pemecahannya. pertemuan individual. Melalui kunjungan kelas. a. (2) mengungkapkan aspek-aspek yang dapat memperbaiki kemampuan guru. teknik supervisi individual. Berikut ini dijelaskan pengertian-pengertian dasarnya secara singkat satu persatu. Ada empat tahap kunjungan kelas. sasaran. danteknik supervisi kelompok. Pada tahap ini. tahap persiapan. Teknik Supervisi Individual Teknik supervisi individual di sini adalah pelaksanaan supervisi yang diberikan kepada guru tertentu yang mempunyai masalah khusus dan bersifat perorangan. supervisor mengamati jalannya proses pembelajaran berlangsung. Ada beberapa kriteria kunjungan kelas yang baik. Sedangkan menurut Gwyn. Pertama. Kunjungan Kelas Kunjungan kelas adalah teknik pembinaan guru oleh kepala sekolah. observasi kelas. kunjungan antarkelas. bacaan profesional. Kunjungan kelas ini bisa dilaksanakan dengan pemberitahuan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. teknik-teknik supervisi itu bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok. pengawas. dan survei masyarakat-sekolah. dan cara mengobservasi selama kunjungan kelas. 1. Pada tahap ini. Kedua. guru-guru dibantu melihat dengan jelas masalah-masalah yang mereka alami.

Pertemuan Individual Pertemuan individual adalah satu pertemuan. activity check-list. Tujuannya adalah untuk memperoleh data seobyektif mungkin mengenai aspek-aspek dalam situasi belajar mengajar. dan tukar pikiran antara pembina atau supervisor guru. dan (4) menghilangkan atau menghindari segala prasangka yang bukanbukan. (2) pelaksanaan observasi kelas. dialog. Observasi kelas adalah teknik observasi yang dilakukan oleh supervisor terhadap proses pembelajaran yang sedang berlangsung. (3) memperbaiki segala kelemahan dan kekurangan pada diri guru. Pelaksanaan observasi kelas ini melalui beberapa tahap. Tujuannya adalah: (1) memberikan kemungkinan pertumbuhan jabatan guru melalui pemecahan kesulitan yang dihadapi. guru dengan guru. aspek-aspek yang diamati selama proses pembelajaran yang sedang berlangsung adalah: 1) usaha-usaha dan aktivitas guru-siswa dalam proses pembelajaran 2) cara penggunaan media pengajaran 3) reaksi mental para siswa dalam proses belajar mengajar 4) keadaan media pengajaran yang dipakai dari segi materialnya. Dalam melaksanakan observasi kelas ini. (3) penutupan pelaksanaan observasi kelas. dan (5) tindak lanjut. percakapan.instrumen observasi tertentu untuk mendapatkan daya yang obyektif. sebaiknya supervisor menggunakan instrumen observasi tertentu. Secara umum. 23 . (2) mengembangkan hal mengajar yang lebih baik. yaitu: (1) persiapan observasi kelas. (4) penilaian hasil observasi. kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam usaha memperbaiki proses belajar mengajar. Observasi Kelas Observasi kelas secara sederhana bisa diartikan melihat dan memperhatikan secara teliti terhadap gejala yang nampak. antara lain berupa evaluative check-list. mengenai usaha meningkatkan kemampuan profesional guru. c. (6) pelaksanaannya diikuti dengan program tindak lanjut b. (5) pelaksanaan kunjungan kelas tidak menganggu proses belajar mengajar. (4) terjadi interaksi antara pembina dan yang dibina sehingga menimbulkan sikap saling pengertian.

office-conference. causal-conference. d. mendorong guru mengatasi kesulitankesulitannya. dan memberikan pengarahan. dan sebagainya. Guru dari yang satu berkunjung ke kelas yang lain dalam lingkungan sekolah itu sendiri. Kunjungan Antar Kelas Kunjungan antarkelas dapat juga digolongkan sebagai teknik supervisi secara perorangan. di mana sudah dilengkapi dengan alat-alat bantu yang dapat digunakan untuk memberikan penjelasan pada guru.Swearingen (1961) mengklasifikasi jenis percakapan individual ini menjadi empat macam sebagai berikut a. hal-hal yang masih meragukan sehingga terjadi kesepakatan konsep tentang situasi pembelajaran yang sedang dihadapi. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan setelah supervisor melakukan kunjungan kelas atau observasi kelas Dalam percakapan individual ini supervisor harus berusaha mengembangkan segi-segi positif guru. classroom-conference. Yaitu percakapan individual yang bersifat informal. guru akan memperoleh pengalaman baru dari teman sejawatnya mengenai pelaksanaan proses pembelajaran pengelolaan kelas. c. yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di dalam kelas ketika murid-murid sedang meninggalkan kelas (istirahat). yang dilaksanakan secara kebetulan bertemu dengan guru d. b. Guru-guru yang akan dikunjungi harus diseleksi dengan sebaikbaiknya. Agar kunjungan antarkelas ini betul-betul bermanfaat bagi pengembangan kemampuan guru. observational visitation. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh supervisor apabila menggunakan teknik ini dalam melaksanakan supervisi bagi guruguru. a. 24 . Upayakan mencari guru yang memang mampu memberikan pengalaman baru bagi guru-guru yang akan mengunjungi. Yaitu percakapan individual yang dilaksanakan di ruang kepala sekolah atau ruang guru. maka sebelumnya harus direncanakan dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya kunjungan antarkelas ini.

a. Penilaian diri sendiri memberikan informasi secara obyektif kepada guru tentang peranannya di kelas dan memberikan kesempatan kepada guru mempelajari metoda pengajarannya dalam mempengaruhi murid (House. Amatilah apa-apa yang ditampilkan secara cermat. antara lain sebagai berikut. penegasan. b. 1989). Adakan perjanjian-perjanjian untuk mengadakan kunjungan antar kelas berikutnya. Ada beberapa cara atau alat yang dapat digunakan untuk menilai diri sendiri. Biasanya disusun dalam bentuk pertanyaan baik secara tertutup maupun terbuka. Misalnya dalam bentuk percakapan pribadi. 1973). Menilai Diri Sendiri Menilai diri sendiri merupakan satu teknik individual dalam supervisi pendidikan. Tentukan guru-guru yang akan mengunjungi. Menganalisa tes-tes terhadap unit kerja. di samping menilai murid-muridnya. d. Adakah tindak lanjut setelah kunjungan antarkelas selesai. dan mencatatnya pada format-format tertentu. e. Sediakan segala fasilitas yang diperlukan dalam kunjungan kelas. c. dan pemberian tugastugas tertentu. Suatu daftar pandangan atau pendapat yang disampaikan kepada murid-murid untuk menilai pekerjaan atau suatu aktivitas. g. c. Penilaian diri sendiri merupakan satu teknik pengembangan profesional guru (Sutton. f. e. 25 . juga menilai dirinya sendiri. Daresh. Segera aplikasikan ke sekolah atau ke kelas guru bersangkutan. 1986). Synder & Anderson. Untuk mengukur kemampuan mengajarnya. dengan tidak perlu menyebut nama. Semua ini akan mendorong guru untuk mengembangkan kemampuan profesionalnya (DeRoche. 1989. 1985.b. dengan menyesuaikan pada situasi dan kondisi yang dihadapi. Mencatat aktivitas murid-murid dalam suatu catatan. Nilai diri sendiri merupakan tugas yang tidak mudah bagi guru. Supervisor hendaknya mengikuti acara ini dengan cermat. baik mereka bekerja secara perorangan maupun secara kelompok.

memiliki masalah atau kebutuhan atau kelemahan-kelemahan yang sama dikelompokkan atau dikumpulkan menjadi satu/bersama-sama. ada tiga belas teknik supervisi kelompok. Menurut Gwynn. karena sudah banyak buku yang secara khusus membahasnya. sebagai berikut. Kemudian kepada mereka diberikan layanan supervisi sesuai dengan permasalahan atau kebutuhan yang mereka hadapi. Oleh sebab itu. Artinya. Seorang pengawas . sesuai dengan analisis kebutuhan. Teknik Supervisi Kelompok Teknik supervisi kelompok adalah satu cara melaksanakan program supervisi yang ditujukan pada dua orang atau lebih. Menetapkan teknik-teknik supervisi akademik yang tepat tidaklah mudah.2. seorang kepala sekolah harus mampu menetapkan teknik-teknik mana yang sekiranya mampu membina keterampilan pembelajaran seorang guru. Satu hal yang perlu ditekankan di sini bahwa tidak ada satupun di antara teknik-teknik supervisi kelompok di atas yang cocok atau bisa diterapkan untuk semua pembinaan dan guru di sekolah. a) Kepanitiaan-kepanitiaan b) Kerja kelompok c) Laboratorium kurikulum d) Baca terpimpin e) Demonstrasi pembelajaran f) Darmawisata g) Kuliah/studi h) Diskusi panel i) Perpustakaan jabatan j) Organisasi profesional k) Buletin supervisi l) Pertemuan guru m) Lokakarya atau konferensi kelompok Teknik supervisi kelompok ini tidak akan dibahas satu persatu. selain harus mengetahui aspek atau bidang 26 . Guru-guru yang diduga. akan ditemui oleh kepala sekolah adanya satu teknik tertentu yang cocok diterapkan untuk membina seorang guru tetapi tidak cocok diterapkan pada guru lain.

Dalam upaya melaksanakan supervisi akademik memang diperlukan kejelasan informasi antar personil yang terkait. 3. Komunikasi antara kepala sekolah dan guru dikatakan efektif apabila guru benar-benar menerima supervisi akademik sebagai upaya pembinaan kemampuannya. sehingga teknik yang digunakan betul-betul sesuai dengan guru yang sedang dibina melalui supervisi akademik. Bagaimanakah berkomunikasi secara efektif. Dalam upaya memperjelas program supervisi akademik. yaitu kebutuhan guru. Sehubungan dengan kepribadian guru. Langkah-langkah Pembinaan Kemampuan Guru Ada lima langkah pembinaan kemampuan guru melalui supervisi akademik. Menciptakan Hubungan yang Harmonis. 27 . sebagai berikut.keterampilan yang akan dibina. Dalam upaya ini. sikap guru. guru akan kebingungan. sebagai langkah awal setiap pembinaan keterampilan pembelajaran melalui supervisi akademik. bakat guru. (4) menilai. Padahal seandainya ada kejelasan informasi. minat guru. adalah hanya untuk mengidentifikasi guru yang baik dan yang kurang terampil dalam mengajar. temperamen guru. tentu diperlukan suatu cara dan prinsip-prinsip tertentu dalam berkomunikasi. juga harus mengetahui karakteristik setiap teknik di atas dan sifat atau kepribadian guru. Stoops dan Stoops. tentu tidak akan terjadi guru yang demikian. Ada sejumlah prinsip komunikasi yang harus diterapkan oleh kepala sekolah. tidak tahu yang diharapkan kepala sekolah. sebagaimana dikemukakan oleh Marks. Langkah pertama dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru adalah menciptakan hubungan yang harmonis antara pengawas dan guru. dan meyakini bahwa tujuan pokok dalam pengukuran kemampuan guru. dan (5) revisi a. (3) mengembangkan strategi dan media. dan sifat-sifat somatic guru. serta semua pihak yang terkait dengan program pembinaan keterampilan pembelajaran guru. diperlukan kejelasan informasi mengenai hakikat dan tujuan supervisi akademik. Tanpa kejelasan informasi. yaitu: (1) menciptakan hubungan-hubungan yang harmonis. (2) analisis kebutuhan. Lucio dan McNeil (1979) menyarankan agar kepala sekolah mempertimbangkan enam faktor kepribadian guru.

artinya dalam penyusunan program supervisi pengajaran harus didasarkan pada kebutuhan nyata pengembangan profesional guru. dan sikap yang nyata dimiliki guru dan yang seharusnya dimiliki guru? Perbedaan di kelompok. 28 . keterampilan. sebagaimana telah dikemukakan di muka. Dalam upaya memenuhi prinsip ini diperlukan analisis kebutuhan tentang keterampilan pengajaran guru yang harus dikembangkan melalui supervisi pengajaran. Analisis Kebutuhan Sebagai langkah kedua dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah analisis kebutuhan (needs assessment). keterampilan. bukan pada dirimu sendiri 8) Kumpulkan materi untuk mengadakan diskusi bila perlu 9) Persingkat pembicaraan 10) Ciptakan ketidaksanggupan 11) Bersemangatlah 12) Raihlah sikap orang lain untuk membantu program 13) Berkomunikasilah dengan “eye communication” 14) Selalu mencoba 15) Jadilah pendengar yang baik 16) Ketahuilah kapan sebaiknya berhenti berkomunikasi b. Secara hakiki.1) Berbicaralah sebijaksana dan sebaik mungkin 2) Ikutilah pembicaraan orang lain secara saksama 3) Ciptakan hubungan interpersonal antar personil 4) Berpikirlah sebelum berbicara 5) Ikutilah norma-norma yang berlaku pada latar sekolah 6) Usahakanlah untuk memahami pendapat orang lain 7) Konsentrasikan pada pesanmu. disintesiskan. 1) Mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan atau masalah-masalah pendidikan – perbedaan (gap) apa saja yang ada antara pengetahuan. analisis kebutuhan merupakan upaya menentukan perbedaan antara pengetahuan. adalah obyektif. Prinsip supervisi pengajaran yang ketujuh. dan sikap yang dipersyaratkan dan yang secara nyata dimiliki. dan diklasifikasi. Adapun langkah-langkah menganalisis kebutuhan sebagai berikut.

seperti mengundang konsultan dari luar sekolah. seperti keuangan. Menurut Gwynn (1961). 5) Mencatat prosedur-prosedur untuk mengumpulkan informasi tambahan tentang pengetahuan. dan sikap yang dimiliki guru. Tujuan pengembangan strategi dan media supervisi akademik ini adalah sebagai berikut. 2) Mendaftar pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan melalui teknik supervisi kelompok. Pergunakanlah kata-kata perilaku atau performansi. 1) Mendaftar pembinaan-pembinaan keterampilan pengajaran yang akan dilakukan dengan menggunakan teknik supervisi individual. perlengkapan dan media. 3) Menetapkan tujuan umum jangka panjang. 3) Mendaftar mengidentifikasi dan memilih teknik dan media supervisi yang siap digunakan untuk membina keterampilan pengajaran guru yang diperlukan. Pelaksanaan Supervisi Akademik Setelah tujuan-tujuan pembinaan keterampilan pengajaran berdasarkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan yang diperoleh melalui analisis kebutuhan di atas. kepala sekolah menganalisis setiap tujuan untuk menentukan bentukbentuk teknik dan media supervisi akademik yang akan digunakan. 7) Menetapkan kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang bisa dibina melalui teknik dan media selain pendidikan. 6) Mengidentifikasi dan mencatat kebutuhan-kebutuhan khusus pembinaan keterampilan pembelajaran guru. keterampilan. dan kuesioner. 8) Mencatat dan memberi kode kebutuhan-kebutuhan pembinaan keterampilan pembelajaran guru yang akan dibina melalui cara-cara lainnya. yaitu teknik supervisi individual dan teknik supervisi kelompok. Pergunakanlah teknik-teknik tertentu. wawancara. teknik-teknik supervisi bila dikelompokkan menjadi dua kelompok. 4) Mengidentifikasi tugas-tugas manajemen yang dibutuhkan fase ini. 29 .2) Mengidentifikasi lingkungan dan hambatan-hambatannya. c. sumber-sumber.

dan (2) untuk menentukan validitas teknik pembinaan dan komponen-komponennya dalam rangka perbaikan proses pembinaan berikutnya. 4) Uji lapangan untuk mengetahui validitasnya. Mengenai teknik-teknik supervisi. dan rangkumlah hasilnya. e.Setelah mengembangkan teknik dan media supervisi akademik. d. sesuai dengan hasil penilaian yang telah dilakukan. dan medianya akan diuraikan secara khusus pada akhir bab ini. Langkah-langkahnya sebagai berikut. 3) Pilihlah atau kembangkan instrumen-instrumen pengukuran yang secara efektif bisa menilai hasil yang telah dispesifikasi. Tujuan penilaian pembinaan keterampilan pembelajaran adalah untuk: (1) menentukan apakah pengajar (guru) telah mencapai kriteria pengukuran sebagaimana dinyatakan dalam tujuan pembinaan. Dalam konteks supervisi akademik. Prinsip dasar dalam merancang dan melaksanakan program penilaian adalah bahwa penilaian harus mengukur performansi atau perilaku yang dispesifikasi pada tujuan supervisi akademik guru. 2) Tulislah masing-masing tujuan. Me-review rangkuman hasil penilaian. Revisi ini dilakukan seperlunya. analisis. mulailah dilakukan pembinaan keterampilan pembelajaran guru dengan menggunakan teknik dan media tertentu sebagaimana telah dikembangkan. Perbaikan Program Supervisi Akademik Sebagai langkah terakhir dalam pembinaan keterampilan pengajaran guru adalah merevisi program pembinaan. 30 . baik yang individual maupun kelompok. Penilaian Keberhasilan Supervisi Akademik Penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai. a. penilaian merupakan proses sistematik untuk menentukan tingkat keberhasilan yang dicapai dalam pembinaan keterampilan pembelajaran guru. 1) Katakan dengan jelas teknik-teknik penilaian. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. 5) Organisasikan.

keterampilan dan sikap guru yang menjadi tujuan pembinaan. 1987). sebagai sarana dan sumber belajar. Apabila digunakan perpustakaan jabatan sebagai pusat pembinaan keterampilan pembelajaran guru maka diperlukan buku-buku. Sarana. melainkan bagaimana membantu guru mengembangkan kemampuan profesionalnya. maka diperlukan buletin sebagai media atau sumbernya. sarana. dan Sumber Dalam setiap pembinaan keterampilan pembelajaran guru dengan menggunakan teknik supervisi akademik tertentu diperlukan media. Apabila ternyata memang tujuannya belum tercapaim maka mulailah merancang kembali program supervisi akademik guru untuk masa berikutnya. Apabila digunakan teknik darmawisata dan membina guru maka diperlukan tempat tertentu sebagai sumber belajarnya.b. Pengukuran kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan dalam proses supervisi pembelajaran (Sergiovanni. Media. dan sumber sebagai penunjang pelaksanaannya. Stoops dan Stoops. sarana. dan sarana khusus. 5. Meskipun demikian. c. Prinsip dasar ini tampak jelas sekali pada langkah-langkah pembinaan keterampilan pembelajaran guru. Apabila digunakan teknik buletin supervisi dalam membina keterampilan pembelajaran guru. Instrumen Pengukuran Kemampuan Guru Pada bab awal telah ditegaskan bahwa esensial supervisi akademik itu sama sekali bukan mengukur unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. semuanya memerlukan media. maka sebaiknya dilakukan penilaian ulang terhadap pengetahuan. ruang khusus. maupun sumber-sumber tertentu. sebagaimana telah 31 . supervisi akademik tidak bisa terlepas dari pengukuran kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Apabila ternyata tujuan pembinaan keterampilan pengajaran guru tidak dicapai. Menurut Marks. 4. d. Demikianlah seterusnya untuk teknik-teknik supervisi akademik lainnya. Mengimplementasikan program pembinaan yang telah dirancang kembali pada masa berikutnya.

dibahas di muka. APKG ini merupakan instrumen yang kembangkan dan resmi digunakan untuk mengukur kemampuan guru yang bersifat generic essensial. Ini tidak 32 . maupun dikembangkan sendiri oleh supervisor. misalnya skala tigas. Nantinya apabila telah digunakan. yang sudah valid dan reliabel. Khusus untuk mengukur kemampuan guru. di mana salah satu langkahnya berupa analisis kebutuhan. Instrumen pengukuran ini. Semakin rendah skornya berarti guru semakin tidak mampu mengelola proses pembelajaran. karena lebih berbentuk performansi atau perilaku (behavioral). Dikatakan essential karena kemampuan tersebut merupakan kemampuan-kemampuan yang penting saja. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI pernah mengembangkan satu instrumen pengukuran yang disebut dengan Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Apabila digunakan skala lima. Setiap jenis kemampuan yang dikembangkan dalam instrumen observasi harus disediakan skala pengukuran. Ada bermacam-macam skala pengukuran. Apabila digunakan skala tiga. bila berupa tes-tes tertentu yang secara valid dan reliabel bisa mengukur pengetahuan dan kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran. Ini berarti dalam setiap merencanakan dan memprogram supervisi akademik selalu diperlukan instrumen pengukuran. biasanya digunakan instrumen observasi yang mengamati unjuk kerja guru dalam mengelola proses pembelajaran. Esensial langkah atau fase analisis kebutuhan ini adalah mengukur pengetahuan dan kemampuan untuk menentukan pengetahuan dan kemampuan mana pada guru yang harus dibina. skala lima. maka semakin kecil skor kemampuannya (kategori kemampuannya) berarti semakin perlu dibina. Dikatakan generic karena kemampuan tersebut secara umum harus dimiliki oleh setiap guru bidang studi apapun. maka bentuknya menjadi sangat kurang mampu (1) kurang mampu (2) cukup mampu (3) mampu (4) dan sangat mampu (5). Apabila kepala sekolah ingin mengembangkan sendiri instrumen observasi maka disarankan agar merujuk kepada jenis-jenis kemampuan pembelajaran yang menang harus dimiliki oleh guru. Instrumen ini banyak diambil dari yang sudah ada. baik pengetahuan maupun kemampuan. maka bentuknya menjadi tidak mampu (1) cukup mampu (2) dan mampu (3). dan skala tujuh.

berarti bahwa kemampuan yang lain tidak perlu melainkan masih sangat diperlukan hanya harus diukur melalui instrumen lainnya (Depdikbud. 1982). 33 .

and strategies designed to improve the student’supervisi learning by improving the teacher’supervisi classroom behavior (Cogan 1973. pengajaran merupakan aktivitas yang sangat kompleks yang memerlukan pengamatan dan analisis secara berhati-hari melalui pengamatan dan analisis ini. supervisor pengajaran akan mudah mengembangkan kemampuan guru mengelola proses pembelajaran. supervisi klinik dirancang sebagai salah satu model atau pendekatan dalam melakukan supervisi pengajaran terhadap calon guru yang sedang berpraktek mengajar. Dalam supervisi ini ditekanannya pada klinik. supervisi klinik pada dasarnya merupakan pembinaan performansi guru mengelola proses belajar mengajar. dan Richarct Weller di Universitas Harvard pada akhir dasa warsa lima puluh tahun dan awal dasawarsa enam puluhan (Krajewski) 1982). Data dan hubungan antara guru dan supervisor merupakan dasar program prosedur. Sesuai dengan pendapat Cogan ini. Ada dua asumsi yang mendasari praktek supervisi klinik. Baik desainnya maupun pelaksanaannya dilakukan atas dasar analisis data mengenai kegiatan-kegiatan di kelas. Cogan (1973) mendefinisikan supervisi klinik sebagai berikut : The rational and practice designed to improve the teacher’supervisi classroom performance. Konsep Supervisi Klinik Supervisi klinik. Pada mulanya. Kedua. yang diwujudkan adalah bentuk hubungan tatap muka antara supervisor dan calon guru yang sedang berpraktek.BAB IV SUPERVISI KLINIK A. It takes its principal data from the events of the classroom. mula-mula diperkenalkan dan dikembangkan oleh Morris L. Pertama. The analysis of these data and the relationships between teacher and supervisor from the basis of the program. Cogan. halaman 54). Pelaksanaannya didesain dengan praktis secara rasional. 1987). Robert Goldhammer. guru-guru yang profesionalnya ingin dikembangkan lebih menghendaki cara yang kolegial daripada cara yang outoritarian (Sergiovanni. procedures. dan strategi pembinaan perilaku 34 .

Menurut Sergiovanni (1987) ada dua sasaran supervisi klinik. Demikianlah sekilas konsep spuervisi klinik bila disimpulkan. Tujuan supervisi klinik adalah untuk membantu memodifikasi polapola pengajaran yang tidak atau kurang efektif. Membantu guru mengembangkan keterampilannnya menggunakan strategi pengajaran. yaitu Acheson dan Gall (1987) tujuan supervisi klinik adalah meningkatkan pengajaran guru dikelas. yang menurut penulis merefleksi multi tujuan supervisi pengajaran. Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan. observasi harus dilakukan secara cermat dan mendetail. sebagaimana telah dikemukakan dalam bab I. 4. 2. tujuan supervisi klinik itu adalah untuk pengembangan profesional guru. supervisi klinik dilakukan untuk membangun motivasi dan komitmen kerja guru. (2) interaksi antara calon guru dan murid. analisis terhadap hasil observasi harus dilakukan 35 . Mengevaluasi guru untuk kepentingan promosi jabatan dan keputusan lainnya. khususnya pengembangan profesional dan motivasi kerja guru. Mendiagnosis dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran. (4) hubungan calon guru dengan supervisor. yang menurut penulis merefleksi multi tujuan supervisi klinik. Kegiatan supervisi klinik ditekankan pad aspek-aspek yang menjadi perhatian guru serta observasi kegiatan pengajaran di kelas. Sedangkan menurut dua orang teoritisi lainnya. (3) performansi calon guru dalam mengajar. maka karakteristik supervisi klinik sebagai berikut . 1. Di satu sisi. Tujuan ini dirinci lagi ke dalam tujuan yang lebih spesifik. Di sisi lain. Menyediakan umpan balik yang obyektif terhadap guru. Cogan sendiri menekankan aspek supervisi klinik pada lima hal. sebagai berikut. 3. supervisi klinik berlangsung dalam bentuk hubungan tatap muka antara supervisor dan guru. mengenai pengajaran yang dilaksanakannya. supervisi klinik dilakukan untuk menyediakan pengembangan staf bagi guru. yaitu (1) proses supervisi klinik. 5.mengajar guru dalam mengembangkan belajar murid-murid. dan (5) analisis data berdasarkan peristiwa aktual di kelas.

Sedangkan menurut Goldhammer. (5) tahap analisis proses pembelajaran. (6) tahap perencanaan strategi pertemuan. dan (3) tindak lanjut observasi kelas. Menurut Oliva (1984) ada tiga aktivitas esensial dalam proses supervisi klinik. prosedur supervisi klinik terdiri dari sejumlah tahapan yang merupakan proses yang berkesinambungan. yaitu (1) tahap perencanaan. yaitu B. sebenarnya langkah-langkah ini bisa dikembalikan pada tiga tahap esensial yang berbentuk siklus. Langkah-langkah Supervisi Klinik Penjelasan konsep supervisi klinik dan beberapa hasil penelitian tentang keefektifannya membawa kita untuk menyakini betapa pentingnya supervisi klinik sebagai satu pendekatan dalam mengembangkan pengajaran guru. Anderson. walaupun berbeda deskripsi pada para teriotisi di atas tentang langkah-langkah proses supervisi klinik. dan (5) analisis sesudah pertemuan supervisi. dan (3) tahap evaluasi dan analisis. (7) tahap pertemuan. yaitu (1) kontak dan komunikasi dengan guru untuk merencanakan observasi kelas (2) observasi kelas. 36 . Sudah seharusnyalah setiap supervisor pengajaran berusaha untuk menerapkannya bagi guru-guru yang menjadi kawasan tanggung jawabnya. (3) analisis dan strategi. Di sini istilah siklus mengandung dua pengertian pertama. Menurut Mosher dan Purpel (1972) ada tiga aktivitas dalam proses supervisui klinik. yang disebutnya dengan sequence of supervision. Demikianlah. bagaimana prosedurnya. dan Krajewski (1981) ada lima kegiatan dalam proses supervisi klinik. (4) tahap observasi pengajaran. dan (8) tahap penjajakan rencana pertemuan berikutnya. (3) tahap perencanaan strategi observasi.. (4) pertemuan supervisi. Menurut Cogan (1973) ada delapan kegitan dalam supervisi klinik yang dinamainya dengan siklus supervisi klinik. Kedelapan tahap yang dikemukakan oleh Cogan adalah sebagai berikut (1) tahap membangun dan memantapkan hubungan gurusupervisor. yaitu (1) pertemuan sebelum observasi (2) observasi. Pertanyaannya sekarang adalah. Kedua. hasil pertemuan tahap akhir menjadi masukan untuk tahap pertama pada siklus berikutnya.bersama antara supervisor dan guru dan hubungan antara supervisor dan guru harus bersifat kolegial bukan autoritarian. (2) tahap perencanaan bersama guru. (2) tahap observasi.

Dalam buku ajar sederhana ini penulis lebih cenderung membagi siklus supervisi klinik menajdi tiga tahap juga sebagaimana tersebut di atas. kecuali jika guru mempunyai permasalahan khusus yang membutuhkan diskusi panjang. Tujuan utama pertemuan awal ini adalah untuk mengembangkan. dilaksanakan secara rileks dan terbuka.(1) tahap pertemuan awal. Pertemuan ini sebaiknya dilaksanakan di satu ruangan yang netral. Tujuan ini bisa dicapai apabila dalam pertemuan awal ini tercipta kerja sama. Pertemuan pendahuluan ini tidak membutuhkan waktu yang lama. Tahap Pertemuan Awal Tahap pertama dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan awal (preconference). Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan (contract) kerja antara supervisor dan guru. atau bisa juga di kelas. kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan. ada delapan kegiatan yang harus 37 . Pertemuan di ruang kepala sekolah atau supervisor kemungkinannya akan membuat guru menjadi tidak bebas. Perlu sekali diciptakan kepercayaan guru terhadap supervisor. sebab kepercayaan ini akan mempengaruhi efektivitas pelaksanaan pertemuan awal ini. (2) tahap observasi mengajar. bersama antara supervisor dan guru. dan (3) tahap pertemuan balikan. Dalam pertemuan awal ini supervisor bisa menggunakan waktu 20 sampai 30 menit. Alexander Mackie College of advanced Education (1981) dan Mantja (1984). misalnya kafetaria. Deskripsi demikian juga dikemukakan oleh Acheson dan Gall (1987). Pertemuan awal ini dilakukan sebelum melaksanakan observasi kelas sehingga banyak juga para teoritisi supervisi klinik yang menyebutkan dengan istilah tahap pertemuan sebelum observasi (preobservation Conference). Oleh sebab itu para teoritisi banyak menyarankan agar pertemuan awal ini. 1. Secara teknis. Kepercayaan ini berkenaan dengan kenyakinan guru bahwa supervisor memperhatikan minat atau perhatian guru. Menurut Sergiovanni (1987) tidak ada tahap yang lebih penting daripada tahap pertemuan awal ini. hubungan kemanusian dan komunikasi yang baik antara supervisor dengan guru. Selanjutnya kualitas hubngan yang baik antara supervisor dan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinik.

1) Tujuan instruksional umum dan khusus pengajaran 2) Hubungan tujuan pengajaran dengan keseluruhan program pengajaran yang diimplementasikan. yaitu (1) menciptakan suasana yang akrab dan terbuka. dan Krajewski (1981) mendeskripsikan satu agenda yag harus dihasilkan pada akhir pertemuan awal. 3) Aktivitas yang akan diobservasi 4) Kemungkinan perubahan formal aktivitas. (4) mengidentifikasi prosedur untuk memperbaiki pengajaran guru. Anderson. dan unsur-unsur lain berdasarkan persetujuan interaktif antara supervisor dan guru. Goldhammer. 5) Deskripsi spesifik butir-butir atau masalah-masalah yang balikannya diinginkan guru.dilaksanakan dalam pertemuan awal ini. dan (8) memperjelas konteks pengajaran dengan melihat data yang akan direkam. Menetapkan kontrak atau persetujuan antara supervisor dan guru tentang apa saja yang akan diobservasi. sistem. (5) membantu guru memperbaiki tujuannya sendiri (6) menetapkan waktu observasi kelas. (3) menerjemahkan perhatian guru ke dalam tingkah laku yang bisa diamati. (7) menyeleksi instrumen observasi kelas. 4) Akankah supervisor berinteraksi dengan murid-murid 5) Perlukah adanya material atau persiapan khusus 6) Bagaimanakah supervisor akan mengakhiri observasi 38 . Menetapkan mekanisme atau aturan-aturan observasi meliputi : 1) Waktu (jadwal) observasi 2) Lamanya observasi 3) Tempat observasi c. (2) mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dikembangkan guru dalam pengajaran. kapan sebelum ataukah setelah pelajaran. Menetapkan rencana spesifik untuk melaksanakan observasi meliputi: 1) Dimana supervisor akan duduk selama observasi 2) Akankah supervisor menjelaskan kepada murid-murid mengenai tujuan observasinya jika demikian. Agenda tersebut adalah : a. 3) Akankah supervisor mencari satu tindakan khusus. b.

The supervisor concentrates on the presence or absence of the spesific behaviors (Oliva : 1984. Dengan demikian supervisor dituntut untuk menggunakan bermacam-macam ketrampilan. dan tidak jarang adanya supervisor yang mengalami kesulitan. Di sinilah letak pentingnya teknik dan instrumen oberservasi yang bisa digunakan untuk mengobservasi guru mengelola proses belajar mengajar. Acheson dan Gall (1987) 39 . Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk memperoleh informasi yang nantinya akan digunakan untuk mengadakan tukar pikiran dengan guru setelah observasi aktivitas yang telah dilakukan di kelas. Observasi mengajar. sebenarnya pada peneliti telah banyak yang mengembangkan bermacam-macam teknik yang bisa digunakan dalam mengobservasi pengajaran. Maksud baik supervisi akan tidak berarti apabila usaha-usaha observasi tidak bisa memperoleh data yang seharusnya diperoleh. Tahap Observasi Pembelajaran Tahap kedua dalam proses supervisi klinik adalah tahap observasi mengajar secara sistematis dan obyektif.Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil diskusi antara supervisor dan guru pada waktu pertemuan awal. Waktu dan tempat observasi mengajar ini sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dan guru pada waktu mengadakan pertemuan awal.2. Menurut Daresh (1989) ada dua aspek yang harus diputuskan dan dilaksanakan oleh supervisor sebelum dan sesudah melaksanakan observasi mengajar. mungkin akan terasa sangat kompleks dan sulit. halaman 502). Perhatian observasi ini ditujukan pada guru dalam bertindak dan kegiatan-kegiatan kelas sebagai hasil tindakan guru. Sehubungan dengan teknik dan instrumen ini. yaitu menentukan aspek-aspek yang akan diobservasi mengajar dan bagaimana cara mengobservasinta. Sedangkan mengenai bagaimana mengobservasi juga perlu mendapatkan perhatian. Aliva (1984) menegaskan sebagai berikut : If we follow through with the cycle of clinical supervisor the teacher and supervisor in the preobservation conference have decided on the specific behaviors of teacher and students which the supervisor will observe.

Transkrip ini bisa ditulis langsung berdasarkan pengamatan dan bisa juga menyalin dari apa yang direkam terlebih dahulu melalui tape recorder. Contoh yang paling baik prosedur ini dalam observasi supervisi klinik adalah skala analisis interaksi Flanders (Flanders. supervisor bisa mendokumentasikan secara grafis interaksi guru dengan murid-murid dengan murid. Wide-lens techniques.1 merupakan satu contoh analisis interaksi Flanders. aktivitas kelas diklasifikasikan menjadi tiga kategori besar. Checkliss and timeline coding. 1970).mereview beberapa teknik dan mengajurkan kita untuk menggunakannya dalam proses supervisi klinis beberapa teknik tersebut adalah sebagai berikut: a. yaitu pembicaraan guru. apakah semua murid atau hanya sebagian murid yang terlibat proses belajar mengajar. Sudah barang tentu tidak semua kejadian verbal harus direkam dan sesuai dengan kesepakatan bersama antara supervisor dan guru pada pertemuan awal. Di sini supervisor membuat semacam rekaman tertulis. pembicaraan murid dan tidak ada pembicaraan (silence). Di sini supervisor mengobservasi dan mengumpulkan data perilaku belajar mengajar. Sehingga dengan mudah diketahui apakah guru hanya berinteraksi dengan semua murid atau hanya dengan sebagian murid. d. yang bisa dibuat dengan a verbatim transcript. hanya kejadian-kejadian tertentu yang harus direkam secara selektif. Di sini. 40 . c. Rekaman observasional berupa a seating chart. Melalui penggunaan a seating chart ini. Dalam analisis ini. Selective verbatim. Di sini supervisor membuat catatan yang lengkap mengenai kejadian-kejadian di kelas dan cerita yang panjang lebar.Perilaku pembelajaran ini sebelumnya telah diklasifikasi atau dikategorikan. supervisor mendokumentasikan perilaku-perilaku murid-murid sebagaimana mereka berinteraksi dengan seorang guru selama pengajaran berlangsung. b. Teknik ini bisa juga disebut dengan anecdotal record. Tabel 4. Seluruh kompleksitas perilaku dan interaksi di deskripsikan secara bergambar.

di mana murid melakukan 7. 4. perintah. Istirahat. Di sini. 2. Memberikan petunjuk. supervisor mencatat perilaku guru maupun murid dalam waktu-waktu tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya selama waktu-waktu tertentu ditetapkan sebelumnya disediakan 41 . membangun. Kesunyian atau kebingungan. M. 8.A dan Gall. misalnya dengan mengatakan “um hum” atau teruskan. komando. memebrikan penjelasan sendiri 6. Menerima dan mengklasi.Tabel 4. Ini merupakan upaya menghindari ketegangan. Mengklasifikasi.fikasi sikap/perasaan murid dalam cara yang tidak menakutkan. Longman Checklist lainnya yang bisa digunakan untuk mengarahkan observasi pengajaran adalah apa yang disebut dengan istilah timeline coding technique yang telah dikembangkan sejak 20 tahun yang lalu. N. kebingunan karena komunikasi tidak bisa dimengerti pengamat. Guru Berbicara Inisiasi Respons Inisiasi Sumber: Acheson. Mengemukakan fakta atau opini tentang isi atau prosedur: mengekspresikan idenya sendiri. Perasaan ini bisa positif atau negatif. berdasarkan ide guru.D.1987. Murid berbicara-inisiasi. Murid berbicara-merespons. Menjawab pembicaraan murid. White Plains. Menerima atau menggunakan ide murid. 5. Berceramah. yang memang didesain untuk mempelajari strategi pengajaran.Penghargaan dan dorongan terhadap murid. Techniques in the the Clinical Supervision of Teachers. Penghargaan dan dorongan. Mengemukakan sesuatu untuk mengubah perilaku murid dari pola yang tak diterima menjadi pola yang diterima. Bertanya. Murid mengemukakan idenya baik secara spontan maupun dalam sosia lisasi guru. kesunyian sebentar. 10. 3. atau mengajukan pertanyan berdasarkan ide-ide murid. dengan maksud murid akan menjawabnya.Y.1 Kategori Analisis Interaksi Franders Respons 1. Mengkritik. Kebebasan mengembangkan opini/ pemikiran. Perasaan menerima. K. berjalan di luar struktur yang ada.. Bertanya tentang isi dan prosedur. Murid berbicara untuk merespons kontak guru yang situasinya terbatas 9. Memberi petunjuk.

Tujuan utama pertemuan balikan ini adalah ditindaklanjuti apa saja yang dilihat oleh supervisor. spesifik. bersifat memotivasi. yaitu . 1987). bisa digunakan untuk mengarahkan dan mempermudah tahap observasi dalam proses supervisi klinik. Namun sayangnya. dan akurat sehingga betul-betul bermanfaat bagi guru (Sergiovanni. terhadap proses belajar mengajr. aktual. Tahap Pertemuan Balikan Tahap ketiga dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan balikan. misalnya teknik analisis Interaksi Flanders. serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana yang seharusnya akan dilakukan sehubungan dengan perbedaan yang ada. Dan banyak hal. dengan melihat dari waktu ke waktu. Instrumen ini bisa mengarahkan supervisor dalam observasinya dan menyediakan balikan yang spesifik dalam klasifikasi waktu yang diinginkan. Pertemuan balikan ini merupakan tahap yang penting untuk mengembangkan perilaku guru dengan cara memberikan balikan tertentu. Demikianlah beberapa teknik yang telah direview oleh Acheson dan Gall telah dikemukakan. dan menggunakannya setiap teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. supervisor hanya belajar satu teknik observasi yang disukainya. dan Krajewski (1981). Pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran. Teknik ini bisa disediakan data terhadap guru yang mereka rasa harus diobservasi dan dikembangkan. konkrit. Supervisor yang efektif seharusnya menyadari adanya beberapa teknik ini dan berusaha memiliki satu atau lebih teknik sesuai dengan perhatian guru yang akan diobservasi.selama proses pembelajaran. Akan tetapi kelebihan-hkelebihan setiap teknik dengan cepat akan hilang apabila supervisor lebih berwawasan terhadap hanya satu teknik yang dipahami dan disukai dengan tidak mengikuti perhatian pengajaran guru. sebagai onserver. menurut Daresh (1989).s ebagaimana dikemukakan oleh Goldhammer. Pembicaraan dalam pertemuan balikan ini adalah ditekankan pada identifikasi dan analisis persamaan dan perbedaan antara perilaku guru dan murid yang direncanakan dan perilaku aktual guru dan murid. dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil observasi. Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan bagi guru. (1) guru bisa 42 . yang terjadi justru sebaliknya. 3. Anderson. Balikan ini harus deskriptif.

Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap pengajaran yang dilakukan. Oleh sebab banyak para teoritisi yang menganjurkan agar pertama-tama yang harus dilakukan oleh supervisor dalam setiap pertemuan balikan adalah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap guru. Bisa jadi pada saat ini supervisor menunjukkan hasil rekaman observasi. Baru setelah melanjutkan dengan analisis bersama setiap aspek pengajaran yang menjadi perhatian supervisi klinis. sehingga guru mengetahui apa yang telah dilakukan dan dicapai. Dalam pertemuan balikan ini sangat diperlukan adanya keterbukaan antara supervisor dan guru. kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan (reinforcement). b. Berikut ini beberapa langkah penting yang harus dilakukan selama pertemuan balikan. Begitu pula diharapkan guru menilai dirinya sendiri. c. pertama-tama supervisor menanamkan kepercayaan pada diri guru bahwa pertemuan balikan ini bukan untuk menyalahkan guru melainkan untuk memberikan masukan balikan. bisa berupaya mengintervensi secara langsung guru untuk memberikan bantuan didaktis dan bimbingan. (2) isu-isu dalam pengajaran bisa didefinisikan bersama supervisor dan guru dengan tepat. Tentunya sebelum mengadakan pertemuan balikan ini supervisor terlebih dahulu menganalisa hasil observasi dan merencanakan bahan yang akan dibicarakan dengan guru.diberik penguatan dan kepuasan. Sebaiknya. (3) supervisor bila mungkin dan perlu. a. sehingga bisa termotivasi dalam kerjanya. (4) guru bisa dilatih dengan teknik ini untuk melakukan supervisi terhadap dirinya sendiri. Di sini supervisor bersama guru mengidentifikasi perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dan tujuan pengajaran yang dicapai. Di sini (supervisor bersama guru mengidentifikasi target ketrampilan dan perhatian utama yang telah dicapai dan yang belum dicapai. Menganalisa target keterampilan dan perhatian utama guru. Menganalisa pencapaian tujuan pengajaran. dan (5) guru busa diberi pengetahuan tambahan untuk meningkatkan tingkat analisis profesional diri pada masa yang akan datang. Setelah itu dilakukan pertemuan balikan ini. dan yang belum sesuai dengan target ketrampilan dan perhatian utama 43 .

Apabila dalam kegiatan observasi supervisor merekam proses belajar mengajar dengan alat elektronik. dan tahap pertemuan balikan. yaitu tahap pertemuan awal. 44 . Demikian tiga pokok dalam proses supervisi klinik. 2. dan terangkum dalam gambar 6. misalnya dengan menggunakan alat syuting. Menyimpulkan hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisi klinik. Tahap Pertemuan Balikan  Menganalisa hasil observasi bersama guru. tahap observasi mengajar. Supervision Of Practice Teaching. Tahap Pertemuan Awal  Menganalisa rencana pelajaran. Australia: Primary. Disini supervisi memberikan kesempatan kepada guru untuk menyimpulkan target keterampilan dan perhatian utamanya yang telah dicapai selama proses supervisi klinis.1 Siklus Supervisi Klinis Sumber : Didapatkan dari Alexander Mackie. f. d. Rincian ketiga tahap ini telah dibahas di muka. 1981.  Menganalisa perilaku mengajar  Bersama menetapkan aspek-aspek yang harus dilakukan untuk membantu perkembangan keterampilan mengajar berikutnya Gambar 4. Sydney. Supervisor menanyakan perasaannya setelah enganalisis target keterampilan dan perhatian utamanya. Tahap Observasi Mengajar  Mencatat peristiwa selama pengajaran. Ketiga tahap ini sebenarnya berbentuk siklus.guru sebagaimana disepakati pada tahap pertemuan awal.  Menetapkan bersama guru aspek-aspek yang akan diobservasi dalam mengajar. Mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan berikut sekaligus menetapkan rencana berikutnya.1 berikut ini. e. maka sebaiknya hasil rekaman ini dipertontonkan kepada guru sehingga ia dengan bebas melihat dan menafsirkannya sendiri. p.  Catatan harus obyektif dan selektif.

halaman 218). maupun dalam pertemuan balikan. 45 . observasi pengajaran. Di samping ini.Dalam pelaksanaan supervisi klinik sangat diperlukan iklim kerja yang baik dalam pertemuan awal. Faktor yang sangat menentukan keberhasilan supervisi klinik sebagai satu pendekatan supervisi pengajaran adalah kepercayaan (trust) pada guru bahwa tugas supervisor semata-mata untuk membantu mengembangkan pengajaran guru. but as a peer-to-peer activity” (Daresh : 1989. Setiap pelaksanaan supervisi klinik akan memerlukan waktu yang lama. for example) does to a teacher. Pelaksanaan supervisi klinik bisa dikatakan telah memiliki iklim kolegial apabila antara supervisor dan guru bukan” … Something that a superordinate (an administrator or supervisor. untuk melaksanakan supervisi klinik sangat diperlukan kesediaan supervisor dan guru untuk meluangkan waktunya. Upaya memperoleh kepercayaan guru ini memerlukan satu iklim kerja yang oleh para teoritisi disebut dengan istilah kolegial (collegial).

Crowson. Sudarwan. Ohio: Charles E. 2006.J. --------------. Merrill Pub. R. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. Boston: Allyn And Bacon Inc.DAFTAR PUSTAKA Alfonso. Pedoman Supervisi Pengajaran. Danim. Jakarta: Depdikbud -------------.L. Oliva. Columbus. N. A Behavior System. 2003.1997. Supervision of Instruction.D 1995. Pedoman Kerja Pelaksanaan Supervisi. Supervision For Today’s School. 1961.. & Pitner. Gwynn. Jakarta: Ditjen Dikdasmen.1981. C.. Glickman. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya.. Co. New York: Longman. Jakarta: Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. dan Neville. Pedoman Pembinaan Profesional Guru Sekolah Dasar. Instructional Supervision. Panduan Umum Alat Penilaian Kemampuan Guru. RJ. Visi Baru Manajemen Sekolah. McPherson. Boston: Allyn and Bacon. Peter F.1996. Inc.1998. Jabatan Fungsional Pengawas Sekolah dan Angka Kreditnya Jakarta: Depdikbud. R. J. Alat Penilaian Kemampuan Guru: Buku I. G.. Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah: Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu Sekolah Dasar. R.M. ---------------. Jakarta: Bumi Aksara. 1986. 1997.F. New York: Dodd. 46 . 1984. 1982. 1996.R. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Theory and Practice of Supervision. Jakarta: Depdikbud. ----------------.B. 1982. --------------.. Firth. Mead & Company. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar --------------. TK dan SLB --------------. Managing Uncertainty: Administrative Theory and Practice in Education.

Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. The Principalship. Jakarta: Bumi Aksara.J. 47 . New York: McGraw-Hill Book Company. Boston: Allyn and Bacon. T. dan R. Bandung: Rosdakarya Sergiovanni.J. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Sergiovanni. Sergiovanni.J. T. Alexandria: Association for Supervision and Curriculum Development.2003. T. 1987.J. Purwanto. Editor. A Reflective Practice Perspective. Supervision of Teaching. Supervision: Human Perspective. 1979.Pidarta. Made. 1982. 1992. Starrat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful